Pencarian

Dewa Cadas Pangeran 2

Joko Sableng 33 Dewa Cadas Pangeran Bagian 2


carakan tentu masalah laki-laki!" gumam Joko sambil
arahkan pandang matanya pada sosok Mei Hua Hingga
lenyap di depan sana.
"Aku harus segera ke Kuil Shaolin. Dugaan Bu Beng
La Ma dan Tiyang Pengembara Agung jika ada orang
dalam yang terlibat saat terjadinya pertumpahan darah di kuil itu serta
lenyapnya kotak wasiat yang berisi separo dari peta wasiat kurasa ada benarnya
dan perlu diselidiki! Sayang.... Aku belum pernah melihat tam-
pang Guru Besar Liang San. Tapi itu bukanlah hal
yang sulit!"
Murid Pendeta Sinting memastikan sesaat kepergian
Mei Hua dengan tegak agak lama seraya terus putar
pandangan dan pasang telinga. Begitu yakin dia sen-
dirian, dia segera berkelebat.
*** LIMA KITA tinggalkan dahulu murid Pendeta Sinting yang
teruskan perjalanan menuju Kuil Shaolin. Kita kembali sejenak ke tempat kediaman
Bu Beng La Ma di Kuil
Atap Langit. Seperti dituturkan, Guru Besar Liang San berhasil
berkelebat pergi hindarkan diri dari terlibat bentrok lebih lama dengan Hantu
Bulan Emas. Namun sebe-
narnya Guru Besar Liang San tidak begitu saja me-
ninggalkan tempat itu. Secara diam-diam dia menyeli-
nap dan mendekam sembunyi untuk mengetahui apa
yang akan diperbuat Hantu Bulan Emas terhadap Bu
Beng La Ma. Saat itulah mendadak muncul Ratu Se-
lendang Asmara dan Bayangan Tanpa Wajah. Kedua
orang ini sengaja mencari Bu Beng La Ma karena me-
reka yakin orang yang menyelamatkan Pendekar 131
adalah Bu Beng La Ma.
Antara Hantu Bulan Emas dengan Ratu Selendang
Asmara dan Bayangan Tanpa Wajah sempat terjadi
adu mulut. Malah kalau saja Bayangan Tanpa Wajah
tidak segera menengahi, niscaya akan terjadi bentrok antara Ratu Selendang
Asmara dengan Hantu Bulan
Emas. Hingga pada akhirnya terjadi kesepakatan dan
mereka bertiga naik ke Kuil Atap Langit bersama-sa-
ma. Namun mereka bertiga tidak lagi menemukan Bu
Beng La Ma. Saat Bayangan Tanpa Wajah melesat turun dari
Kuil Atap Langit dan kemudian disusul oleh Ratu Se-
lendang Asmara, Guru Besar Liang San yang terus
mem-perhatikan dari tempat persembunyiannya tam-
paknya sudah dapat membaca keadaan. Tanpa pikir
panjang lagi Guru Besar Liang San berkelebat pergi.
Berlari kira-kira seratus tombak, Guru Besar Liang
San berhenti lalu melompat menyelinap. Dia duduk
bersandar pada satu batangan pohon tidak begitu be-
sar yang di sekitarnya diranggasi semak belukar lebat hingga sosoknya tidak
kelihatan. "Urusan peta wasiat ini nyatanya tidak semudah
yang kuduga! Urusan di dalam Perguruan Shaolin me-
mang telah tuntas. Namun urusan separo dari peta
wasiat itu memerlukan waktu agak lama.... Apa yang
harus kulakukan sekarang"! Ratu Selendang Asmara,
Bayangan Tanpa Wajah, Hantu Bulan Emas, tampak-
nya sudah bergerak untuk menjajaki meski mereka ti-
dak secara jelas mengatakannya! Bu Beng La Ma sen-
diri rupanya ikut terlibat dalam urusan ini! Sementara aku datang terlambat....
Pemuda asing itu telah pergi!
Hem.... Apakah pemuda asing itu tahu masalah hari
ganda sepuluh"! Jika dia tahu, tentu dia akan menuju Kuil Shaolin! Tapi kalau
dia tidak tahu.... Maka urusan ini akan berantakan!"
Guru Besar Liang San terdiam beberapa lama. Ke-
palanya disandarkan pada batangan pohon. Saat lain
kembali dia bergumam sendiri. "Hari ganda sepuluh
sudah tinggal tiga hari di muka. Tiga hari bukan waktu yang cukup untuk mengejar
pemuda asing itu! Hem....
Terpaksa aku akan menunggunya di Perguruan Shao-
lin. Kalau dia tidak muncul dalam dua hari di depan, aku akan mengambil kotak
wasiat! Meski rencana besar ini gagal, tapi setidaknya aku telah memperoleh
separo dari peta wasiat itu. Dan siapa tahu, kelak kemudian hari aku mendapatkan
pemuda asing itu. Jika
peta wasiat utuh telah berada di tanganku, aku akan
berusaha menguak dengan caraku sendiri mesti tidak
tepat pada hari ganda sepuluh bulan dan tahun ini!
Aku yakin bisa melakukannya walau aku harus minta
bantuan beberapa orang! Tapi...."
Guru Besar Liang San putus gumamannya. Kepa-
lanya ditarik lalu disentakkan ke samping dengan ma-
ta dipentang besar. "Aku tidak sendirian di tempat ini!
Mungkinkah dia Hantu Bulan Emas" Atau Ratu Se-
lendang Asmara dan Bayangan Tanpa Wajah" Atau
jangan-jangan dia adalah Bu Beng La Ma...!"
Paras wajah Guru Besar Liang San berubah tegang.
Namun diam-diam dia cepat kerahkan tenaga dalam
pada kedua tangannya. Kejap lain dia bergerak bangkit dengan mata diarahkan pada
satu jurusan. Guru Besar Liang San tampak terkesiap dan makin
tegang tatkala begitu agak lama menyiasati keadaan
ternyata dia tidak menemukan siapa-siapa! Padahal
dia yakin dia tidak tengah sendirian di tempat itu.
"Gerakan semak tanpa adanya angin yang berhem-
bus satu bukti ada tenaga lain yang menggerakkan!
Tapi aku tidak bisa melihat sosok orang yang mengge-
rakkan! Ini satu bukti pula jika orang di balik semua ini bukan orang
sembarangan!" kata Guru Besar Liang
San dalam hati. Dia lipat gandakan tenaga dalamnya.
Kepalanya diputar berkeliling dengan mata makin dije-rangkan. Namun sejauh ini
dia belum juga berhasil
menemukan siapa-siapa.
"Amitaba.... Mudah-mudahan aku tidak salah pan-
dang! Dan mudah-mudahan pula kehadiranku tidak
membuat orang terkejut...."
Mendadak satu suara terdengar. Saat yang sama
satu bayangan berkelebat dari samping kiri. Semak belukar bergerak menyibak.
Tahu-tahu sejarak sepuluh
langkah di hadapan Guru Besar Liang San telah mun-
cul satu sosok tubuh!
Guru Besar Liang San berpaling. Karena dari suara
orang dia sudah tahu kalau yang muncul bukan salah
satu dari orang yang dicurigainya, Guru Besar Liang
San menarik napas lega meski dia belum bisa sembu-
nyikan rasa kejutnya.
Dari tempatnya tegak, Guru Besar Liang San me-
lihat satu sosok berpakaian compang-camping. Dia
adalah seorang laki-laki yang wajahnya tidak kelihatan karena tertutup oleh
sebuah benda bulat besar yang
berada tepat di depan wajahnya. Benda bulat itu di-
gantungkan pada sebuah tambang mirip cemeti dan
pangkal tambang itu berada di bagian punggung o-
rang. Anehnya, meski hanya merupakan sebuah tam-
bang, namun tambang itu lurus tegak di atas pung-
gung orang lalu begitu tepat di bagian atas kepala,
tambang itu melengkung hingga benda bulat yang be-
rada di ujung tambang tepat menutupi wajah orang!
Untuk beberapa lama Guru Besar Liang San mem-
perhatikan orang di hadapannya dengan mulut ter-
kancing. Namun diam-diam dia membatin.
"Selama bergulat di arena rimba persilatan, baru
kali ini aku melihat orang seperti dia! Aku juga belum pernah-dengar ciri-ciri
kaum persilatan yang bentuk-nya seperti manusia ini! Tapi dari nada suaranya,
sepertinya dia telah mengenaliku...."
Baru saja Guru Besar Liang San membatin, sosok
laki-laki di hadapannya membuat gerakan. Kedua ka-
kinya dipentangkan melebar. Sementara tangan ka-
nannya diputar ke belakang.
Guru Besar Liang San kerutkan dahi dan memper-
hatikan lebih seksama. Guru Besar Liang San terde-
ngar bergumam tak jelas kala sepasang matanya me-
lihat satu bumbung agak besar perlahan-lahan turun
dari bagian belakang tubuh orang. Bumbung dari
bambu berwarna kuning itu diberi tali di bagian kanan kirinya. Bumbung bambu itu
berhenti tepat di bawah
selangkangan orang.
Begitu gerakan bumbung terhenti, sosok di hada-
pan Guru Besar Liang San tarik pulang tangan kanan-
nya ke depan lalu ditakupkan ke tangan kiri yang be-
rada di depan dada. Saat lain terdengar dia berucap.
"Amitaba.... Mudah-mudahan pertemuan ini mem-
bawa berkah.... Mudah-mudahan pula kau tidak terke-
jut kalau aku mengenalimu meski kita sama yakin jika antara kita belum pernah
bertemu apalagi berkenalan!
Semua ini karena kau adalah orang yang sudah di-
kenal banyak kalangan sebagai salah satu guru besar
di Perguruan Shaolin!"
Guru Besar Liang San angkat kedua tangannya di-
takupkan di depan dada. Sedari tadi dia coba gerakkan kepala untuk melihat wajah
orang. Namun begitu kepalanya bergerak, sosok laki-laki di hadapannya se-
akan tahu. Dia juga bergerak mengikuti gerakan ke-
pala Guru Besar Liang San hingga Guru Besar Liang
San gagal melihat wajah orang.
"Amitaba...." Guru Besar Liang San akhirnya buka
suara. "Terima kasih kau telah mengenaliku. Namun
rasanya aku sulit untuk menentukan siapa dirimu!
Harap kau bersedia mengatakan siapa kau sebenar-
nya!" Wuuttt! Kepala laki-laki di hadapan Guru Besar Liang San
bergerak ke belakang. Satu sinar putih berkiblat. Ben-da bulat yang berada di
ujung tambang dan tadi menu-
tup wajah orang bergerak ke atas. Kini tambang itu lurus ke atas!
Guru Besar Liang San sempat terkesiap. Namun ka-
rena menangkap jika gerakan orang tidak untuk lepas-
kan pukulan meski sesaat tadi berkiblat sinar putih, Guru Besar Liang San tidak
berusaha membuat gerakan walau diam-diam dia terus waspada. Dia hanya
gerakkan kepala mengikuti gerakan benda bulat yang
berada di ujung tambang. Benda bulat itu ternyata
adalah sebuah batu berwarna putih mengkilat dan
tampak berputar-putar di atas kepala orang. Putaran
batu itu membersitkan sinar putih berkilau.
Guru Besar Liang San luruskan kepala memandang
pada wajah orang. Ternyata dia adalah seorang laki-
laki berusia lanjut. Kepalanya ditumbuhi rambut putih yang dikelabang kecil-
kecil hingga menyerupai gerom-bolan ulat. Sepasang matanya bulat besar dan
menjo- rok keluar seakan hendak meloncat keluar dari rong-
ganya. Kumisnya lebat dan telah memutih. Begitu le-
batnya kumis si kakek, Guru Besar Liang San tidak bi-sa melihat bentuk mulut
orang! Belum sampai Guru Besar Liang San buka mulut
lagi untuk bertanya karena orang di hadapannya be-
lum menjawab, mendadak si kakek gerakkan kembali
kepalanya. Tambang yang tegak lurus dari punggung
orang ini melengkung, saat lain batu putih yang ada di ujung tambang telah
menutup kembali wajahnya. Saat
yang sama tangan kanan si kakek bergerak ke bela-
kang. Bumbung bambu yang berada di bawah selang-
kangannya perlahan-lahan naik ke atas lalu lenyap ke balik punggungnya.
"Amitaba...," kata si kakek seraya tarik kembali tangannya dan ditakupkan di
depan dada. "Bukan aku
tak mau sebutkan diri. Tapi apalah artinya diriku....
Mudah-mudahan kau tidak kecewa!"
Meski hatinya tidak enak dengan sambutan orang,
namun Guru Besar Liang San coba tersenyum dan
berkata. "Aku tidak memaksa kalau kau keberatan un-
tuk sebutkan diri. Namun harap kau sudi menjelaskan
berkah apa yang tadi kau katakan atas pertemuan kita ini!"
"Amitaba.... Sebenarnya aku sungkan mengatakan-
nya. Tapi demi keselamatan dan kedamaian, mudah-
mudahan kau dapat memahaminya meski diperlukan
pengertian besar!"
Dada Guru Besar Liang San berdebar. "Aneh.... Dia
tidak hanya mengenaliku. Tapi sepertinya tahu urusan yang tengah kuhadapi!"
"Guru Besar Liang San.... Tidak semua kejadian a-
kan berjalan sesuai rencana.... Karena di atas rencana masih ada yang
menentukan. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu...."
Paras wajah Guru Besar Liang San berubah. Sesaat
dia rasakan aliran darahnya laksana sirna. Namun dia tak hendak tunjukkan sikap
kalau ucapan orang tepat
dengan apa yang tengah dihadapi. Dia cepat sambuti
ucapan orang. "Aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu! Ha-
rap kau mau menjelaskan!"
Kakek di hadapan Guru Besar Liang San perde-
ngarkan suara tawa panjang sebelum akhirnya sambu-
ngi dengan ucapan. "Rasanya sulit bagiku turuti per-
mintaanmu.... Lagi pula ucapanku tidak perlu penjelasan lagi! Mudah-mudahan kau
tidak kecewa...."
Guru Besar Liang San tegak dengan tubuh sedikit
berguncang. "Keparat benar! Apa dia benar-benar tahu rencanaku selama ini"! Tapi
dari mana dia bisa tahu.."
Rencana ini hanya aku dan Baginda Ku Nang yang ta-
hu. Apakah Baginda Ku Nang yang mengatakannya"!
Tapi kalau benar, mengapa dia memberi peringatan
padaku"! Ada yang tak beres dengan semua ini! Aku
harus tahu semuanya...."
Membatin begitu, akhirnya Guru Besar Liang San
angkat suara. "Kau tampaknya kenal akrab dengan
penguasa negeri ini. Betul"!"
"Amitaba...," kata kakek di hadapan Guru Besar
Liang San seraya gelengkan kepala. Batu Bulat di de-
pan wajahnya ikut bergoyang-goyang mengikuti gera-
kan kepala si kakek hingga Guru Besar Liang San ti-
dak bisa melihat mimik wajah orang. "Pada dirimu saja aku sungkan mengatakan
siapa diriku, bagaimana


Joko Sableng 33 Dewa Cadas Pangeran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mungkin aku bisa kau katakan kenal akrab dengan
penguasa negeri ini"!. Mudah-mudahan telingaku yang
salah dengar dan kau salah ucap...."
"Kau tidak salah dengar dan aku tidak keliru berka-
ta. Mungkin kau yang coba menutup diri!"
"Amitaba...! Harap kau tidak berburuk sangka de-
ngan sikapku. Aku memang selalu menutup mukaku
dengan batu putih ini. Tapi bukan berarti aku suka
menutupi diri! Apa yang kuucapkan hanyalah demi ke-
damaian dan keselamatan...."
"Hem.... Begitu"! Lalu dari mana kau tahu kalau
aku punya rencana"!" tanya Guru Besar Liang San de-
ngan suara agak tinggi.
Si kakek terdiam beberapa lama. Sementara Guru
Besar Liang San melangkah maju dua tindak. Sepa-
sang matanya menebar berkeliling. Meski dia merasa
yakin si kakek muncul sendirian, namun tampaknya
Guru Besar Liang San tidak mau berlaku ayal. Bagai-
manapun juga dia masih khawatir ada orang lain di
tempat itu. Dia tidak mau apa yang akan diucapkan
kakek di hadapannya didengar orang lain.
"Guru Besar Liang San.... Sekali lagi mudah-muda-
han kau tidak kecewa dengan jawabanku. Aku tidak
bisa menjelaskan apa yang jadi pertanyaanmu! Dan
yang pasti, aku tidak kenal akrab dengan penguasa
negeri ini!"
"Baik! Aku tanya sekali lagi. Bagaimana kau bisa
mengatakan bahwa rencanaku tidak akan berjalan se-
bagaimana mestinya"!"
"Aku tidak mengatakan begitu.... Aku tadi mengata-
kan...." Belum sampai orang teruskan ucapan, Guru Besar
Liang San telah menyahut. "Benar! Kau memang tidak
berkata begitu. Tapi bukankah nada bicaramu menju-
rus ke arah sana"! Kau seakan tahu apa rencanaku
dan menduga rencanaku tidak akan berhasil!"
Sekali lagi kepala si kakek bergerak menggeleng.
"Harap kau tidak terlalu jauh menduga. Kalaupun kau
punya rencana, mungkin saat ini satu kebetulan saja
kalau apa yang baru kuucapkan ada sangkut pautnya
dengan apa yang kini kau hadapi!"
Guru Besar Liang San menyeringai dingin. "Tidak
mungkin kau berkata sekaligus meramal apa yang
akan terjadi kalau kau tidak tahu apa yang kulakukan!
Pasti kau mendapat keterangan dari seseorang. Dan
jangan kira aku tak tahu siapa orang yang telah mem-
berimu keterangan!"
"Guru Besar Liang San.... Kita baru pertama kali ini bertemu. Aku berharap
mudah-mudahan pertemuan
ini bukan awal dari sebuah sengketa dan salah pa-
ham.... Sekarang aku harus segera pergi.... Kalau kau merasa apa yang kuucapkan
tadi ada sangkut pautnya
dengan dirimu, kuharap kau melupakan semuanya!
Dan anggap aku tidak pernah berkata apa-apa pada-
mu.... Selamat tinggal!"
"Harapanmu hanya tinggal harapan kalau kau tidak
mau mengatakan dari mana kau mendapatkan kete-
rangan!" sahut Guru Besar Liang San.
Seraya berkata begitu, Guru Besar Liang San berke-
lebat memotong gerakan si kakek dan tegak tujuh
langkah di hadapan orang dengan mata terpentang be-
sar dan kedua tangan terangkat ke atas.
Si kakek urungkan niat. Dia perdengarkan tawa
pendek pelan sebelum akhirnya berujar.
"Semua rencana ada yang menentukan.... Amita-
ba... Dan kalau kau ingin tahu dari mana aku men-
dapat keterangan, harap kau bertanya pada Sang Pe-
nentu Rencana...."
Tampang Guru Besar Liang San berubah beringas.
"Aku yakin dia adalah kaki tangan Baginda Ku Nang.
Dia sengaja diberi tugas untuk mengalihkan perhati-
anku.... Aku harus segera mengambil kotak wasiat itu sebelum orang lain
mendahului! Tapi orang ini harus
kulenyapkan dahulu. Dia bisa merusak semua renca-
na!" "Orang tak dikenal! Aku tanya sekali lagi! Dan ja-
wabanmu adalah penentu dari keselamatan selembar
nyawamu!" "Aku telah berkata tak mengharapkan pertemuan
ini adalah awal sebuah sengketa. Aku juga telah me-
ngatakan apa adanya tentang apa yang kuucapkan.
Rasanya aneh kalau aku harus menjawab...."
"Cukup!" potong Guru Besar Liang San. "Sekarang
jawab! Dari mana kau mendapat keterangan"!"
Yang ditanya tidak menyahut dengan ucapan me-
lainkan dengan tawa pendek. Guru Besar Liang San
tak bisa lagi meredam hawa kemarahan. Tanpa buka
suara lagi, kedua tangannya bergerak!
*** ENAM DUA gelombang dahsyat melesat ganas. Ranggasan
semak belukar menyibak dan langsung amblas porak-
poranda membubung ke udara.
Anehnya, meski mendapat serangan mendadak, si
kakek bukannya segera membuat gerakan mengha-
dang atau hindarkan diri. Sebaliknya tertawa berderai hingga batu putih di ujung
tambang yang terus menutupi wajahnya tampak bergoyang-goyang. Sesaat begi-
tu gelombang angin setengah tombak lagi menyapu, si
kakek sentakkan kepalanya ke belakang.
Wuttt! Batu putih di ujung tambang melenting ke udara.
Bersamaan dengan itu satu sinar putih berkilau ber-
kiblat perdengarkan suara bergemuruh.
Blamm! Blammm! Terdengar ledakan keras dua kali berturut-turut.
Gelombang yang melesat dari kedua tangan Guru Be-
sar Liang San semburat mental dan berbalik mener-
jang ke arah Guru Besar Liang San!
Guru Besar Liang San terpana sesaat. Saat lain dia
berkelebat ke samping.
Brakkk! Pohon di mana tadi Guru Besar Liang duduk ber-
sandar berderak roboh. Sementara batu putih di ujung tambang kembali melengkung
dan berhenti tepat menutupi wajah si kakek!
"Guru Besar Liang San.... Harap kita sudahi ke-
salahpahaman ini! Kalau tidak...." Si kakek tidak lanjutkan ucapan. Sebaliknya
gerakkan kepala ke sam-
ping. Batu putih di hadapannya ikut bergerak.
Guru Besar Liang San yang sudah tidak sabar tak
hiraukan ucapan orang. Mungkin merasa maklum jika
orang yang dihadapi memiliki ilmu tinggi, dia lipat
gandakan tenaga dalamnya. Saat lain kembali kedua
tangannya diangkat.
Namun mendadak Guru Besar Liang San urungkan
niat untuk lepas pukulan. Masih dengan kedua tangan
di atas kepala, kepalanya bergerak berpaling ke arah mana kepala si kakek
menoleh. "Guru Besar Liang San.... Aku tahu kalau kau tidak
senang dengan kehadiran mereka.... Untuk itu, biar-
kan aku pergi!"
"Hem..,. Dua sosok bayangan tampak berlari me-
nuju kemari," bisik Guru Besar Liang San dengan pi-
cingkan mata. "Jahanam! Mereka adalah Ratu Selen-
dang Asmara dan Bayangan Tanpa Wajah! Sialan be-
nar! Jangan-jangan Hantu Bulan Emas juga tengah
menuju kemari! Aku tidak takut dengan mereka.... Ta-
pi untuk saat ini tidak ada gunanya melayani mereka!
Ada hal lebih penting yang harus kuselesaikan!"
Guru Besar Liang San turunkan kedua tangannya.
Kepalanya berpaling pada kakek di seberang sana.
"Hem.... Tampaknya dia telah tahu pula urusan di ba-
wah Kuil Atap Langit. Jadi secara diam-diam selama
ini aku diikuti orang tanpa sadar! Siapa manusia ini sebenarnya"!"
"Guru Besar Liang San...."
"Orang tak dikenal!" tukas Guru Besar Liang San
sebelum si kakek lanjutkan ucapan. "Hari ini nyawa-
mu selamat. Tapi ini adalah hari kematianmu yang ter-tunda! Ingat! Kelak sudah
tidak ada liang bagimu un-
tuk selamat dari tanganku!"
"Amitaba.... Mudah-mudahan hari ini telingaku sa-
lah dengar! Mudah-mudahan pula kau hanya main-
main dengan ucapanmu...."
Sebenarnya Guru Besar Liang San sudah buka mu-
lut hendak menyahut. Namun begitu kepalanya berpa-
ling lagi ke arah mana kepala si kakek terus mengarah, Guru Besar Liang San
cepat katupkan mulut. Saat lain dia berkelebat dan lenyap di tengah ranggasan
semak belukar. Hampir bersamaan dengan berlalunya sosok Guru
Besar Liang San, dua sosok bayangan berkelebat dan
tahu-tahu telah tegak di samping batangan pohon
yang tumbang akibat gelombang pukulan Guru Besar
Liang San yang mental balik.
Di sebelah kanan tumbangan pohon adalah seorang
nenek mengenakan pakaian panjang berwarna hitam.
Di pundaknya menyelempang sebuah selendang hitam
yang menjulai panjang hingga menyapu tanah. Nenek
ini tidak lain adalah Ratu Selendang Asmara. Sedang
di sebelah kiri batangan pohon adalah seorang laki-laki berpakaian hitam panjang
sebatas lutut. Rambutnya
hitam lebat disanggul tinggi ke atas. Paras wajahnya agak bulat dengan sepasang
mata sipit. Kumis dan
jenggotnya lebat serta hitam. Dan ternyata bukan ha-
nya rambut, kumis, dan jenggotnya yang hitam. Na-
mun sekujur kulit tubuh laki-laki ini juga berwarna hitam legam! Laki-laki ini
bukan lain adalah Bayangan
Tanpa Wajah. "Kau dengar suara tadi"!" Si nenek buka suara de-
ngan kepala berputar. Sepasang matanya dijerengkan
tak berkesip. "Telingaku tidak tuli! Tumbangnya pohon ini juga
satu bukti bahwa baru saja terjadi bentrok di sekitar tempat ini! Tapi maha
manusianya"!"
Sahutan Bayangan Tanpa Wajah sebenarnya mem-
buat dada Ratu Selendang Asmara agak terbakar. Na-
mun gejolak hawa amarahnya lenyap seketika saat se-
pasang matanya menumbuk batu putih yang ber-
goyang-goyang di atas ranggasan semak belukar.
Ratu Selendang Asmara memperhatikan sesaat. La-
lu berpaling pada Bayangan Tanpa Wajah. Sementara
di lain pihak, mendadak kepala Bayangan Tanpa Wa-
jah juga menoleh sesaat setelah sepasang matanya me-
lihat apa yang juga dilihat oleh si nenek.
Belum sampai ada yang sempat buka mulut atau
membuat gerakan, mendadak terdengar suara, tawa
panjang yang bersumber dari ranggasan semak di ma-
na terlihat batu putih yang bergoyang-goyang.
Ratu Selendang Asmara dan Bayangan Tanpa Wa-
jah luruskan kepala ke arah gerakan batu putih. Saat bersamaan satu sosok tubuh
muncul dari semak belukar. Begitu cepatnya gerakan sosok ini, hingga baik
Ratu Selendang Asmara maupun Bayangan Tanpa Wa-
jah tidak bisa melihat raut wajah orang yang kini tertutup batu putih. Kedua
orang ini hanya bisa me-lihat bagian tubuh orang di bawah kepala.
"Kau mengenali orang itu"!" Bayangan Tanpa Wajah
berbisik tanpa berpaling. Sebaliknya edarkan panda-
ngan berkeliling karena dia yakin pasti ada lagi orang lain di tempat itu.
Sementara itu, begitu melihat munculnya sosok tu-
buh yang tidak sempat dilihat raut wajahnya, Ratu Selendang Asmara kerutkan dahi
seraya dongakkan ke-
pala. Diam-diam si nenek berkata dalam hati. "Aku
memang belum pernah bertemu dengan orang ini....
Tapi dari ciri-cirinya, apakah ini manusianya yang dikenal dengan julukan Dewa
Cadas Pangeran"! Kalau
saja aku tidak melihat sendiri, tentu aku masih belum percaya dengan apa yang
pernah kudengar.... Tapi kalau memang dia adalah Dewa Cadas Pangeran, masih
ada ciri yang belum kulihat dari apa yang pernah ku-
dengar!" Ratu Selendang Asmara luruskan kepalanya dan
kembali memandang ke arah orang yang tegak dengan
wajah tertutup bulatan batu putih di ujung tambang.
Hampir bersamaan dengan gerakan kepala Ratu Se-
lendang Asmara, tangan kakek yang wajahnya tertutup
bulatan batu putih tampak bergerak berputar ke bela-
kang. Saat lain dari bagian punggungnya melorot se-
buah bumbung bambu dan berhenti tepat di bawah se-
langkangannya. "Astaga! Dia benar-benar Dewa Cadas Pangeran!"
seru Ratu Selendang Asmara dalam hati seraya mem-
perhatikan gerakan bumbung bambu.
"Orang aneh.... Siapa dia sebenarnya"!" Bayangan
Tanpa Wajah kembali bergumam. Sepasang matanya
menatap tak berkesip pada bumbung bambu di bawah
selangkangan orang.
Mungkin tak sabar dan tak bisa mengenali orang,
sementara Ratu Selendang Asmara tidak juga menya-
huti pertanyaannya, laki-laki berkulit hitam legam ini menoleh pada si nenek.
"Kau mengenali orang ini"!"
"Hem.... Nyatanya telingaku masih lebih mendengar
daripada telingamu!" desis Ratu Selendang Asmara
tanpa berpaling pada Bayangan Tanpa Wajah.
Meski dadanya panas mendengar ucapan si nenek,
namun Bayangan Tanpa Wajah masih menahan diri.
Namun dia tak hendak ulangi pertanyaannya. Dia me-
nunggu dengan kepala kembali disentakkan mengha-
dap ke depan. "Dengar! Dia adalah seorang tokoh jajaran atas ge-
nerasi lama yang dikenal kalangan rimba persilatan
dengan gelar Dewa Cadas Pangeran!"
"Dari mana kau tahu nama gelar itu"!" tanya
Bayangan Tanpa Wajah seolah tidak percaya dengan


Joko Sableng 33 Dewa Cadas Pangeran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke-terangan Ratu Selendang Asmara.
"Kau tak perlu tahu. Tapi kau lihat batu putih yang
menutupi wajahnya! Batu putih itu bukan batu sem-
barangan. Batu itu diambil dari sebuah lembah yang
dikenal dengan Lembah Cadas Pangeran! Itulah me-
ngapa lantas kalangan dunia persilatan menggelarinya dengan Dewa Cadas
Pangeran!"
"Dan kau tahu," kata Ratu Selendang Asmara me-
lanjutkan setelah agak lama terdiam. "Selain berilmu sangat tinggi, orang itu
termasuk orang langka dan
aneh! Selama sepuluh tahun, dia hanya kencing satu
kali! Itu pun hanya beberapa tetes! Bumbung bambu
di bawah selangkangannya adalah tetesan air kencing-
nya selama dia hidup! Aku memang belum membukti-
kan dengan mata kepalaku sendiri. Tapi menurut yang
kudengar, meski tetesan air kencing itu telah mengendap berpuluh-puluh tahun,
namun tetesan air itu ti-
dak menguap lenyap!"
"Hem.... Aku ingin buktikan kebenaran ucapanmu!"
kata Bayangan Tanpa Wajah. Laki-laki berwajah hitam
legam ini maju tiga tindak. Lalu angkat suara.
"Benar kau adalah manusia bergelar Dewa Cadas
Pangeran"!"
Kakek yang wajahnya tertutup batu putih goyang-
kan pantatnya. Bumbung bambu di bawah selangkan-
gannya bergerak ke atas sebelum akhirnya lenyap ti-
dak kelihatan. "Ah, nyatanya masih ada orang yang mengenaliku.
Mudah-mudahan aku juga masih bisa mengenali siapa
adanya kalian berdua...."
"Hem.... Nada ucapannya jelas kalau dia memang
bergelar Dewa Cadas Pangeran! Tapi untuk apa aku
peduli dengannya"! Yang penting saat ini adalah men-
cari jejak lenyapnya pemuda asing itu!" kata Bayangan Tanpa Wajah dalam hati.
Dia melangkah mundur menjajari Ratu Selendang Asmara.
"Kita harus segera tinggalkan tempat ini! Siapa pun
dia adanya, tidak penting bagi urusan kita!"
Ratu Selendang Asmara gelengkan kepala. "Kau sa-
lah! Menurut apa yang pernah kudengar, meski dia ja-
rang sekali muncul namun dia banyak tahu tentang
apa yang terjadi dalam dunia persilatan! Pertemuan ini sangat berharga bagi
kita.... Aku hampir merasa yakin dia tahu apa yang tengah kita cari! Kita minta
petunjuk padanya!"
Ratu Selendang Asmara tidak menunggu sahutan
Bayangan Tanpa Wajah. Dia segera melangkah ke de-
pan beberapa tindak dan berhenti lima langkah di ha-
dapan si kakek yang dalam dunia persilatan memang
pernah punya nama besar meski hanya sebagian orang
yang tahu. Kakek ini tidak lain memang seorang tokoh yang digelari orang dengan
Dewa Cadas Pangeran.
Ratu Selendang Asmara tegak dengan kepala berge-
rak ke samping kiri kanan seolah ingin melihat raut
wajah orang. Namun bersamaan dengan gerakan ke-
pala si nenek, kepala Dewa Cadas Pangeran juga ber-
gerak seirama, hingga Ratu Selendang Asmara gagal
untuk mengetahui bagaimana raut wajah orang.
"Dewa Cadas Pangeran.... Senang sekali bisa ber-
jumpa dengan tokoh sepertimu. Kalau tidak keberatan, mau kau jawab beberapa
pertanyaanku"!"
Dewa Cadas Pangeran tertawa sesaat sebelum a-
khirnya perdengarkan suara. "Sosokmu mengingatkan
aku pada seseorang yang dalam kancah dunia persila-
tan dijuluki Ratu Selendang Asmara.... Mudah-muda-
han aku tidak salah ucap!"
Ratu Selendang Asmara sempat terkejut mendapati
orang telah tahu siapa dirinya meski dia merasa yakin belum pernah bertemu.
Namun hal ini lebih mengua-tkan keyakinan si nenek kalau orang di hadapannya
dapat memberi petunjuk. Sementara Bayangan Tanpa
Wajah juga tampak kaget. Dia kerutkan dahi dan ber-
kata dalam hati.
"Mereka belum pernah bertemu. Tapi nyatanya dia
telah tahu siapa adanya orang.... Apakah dia juga tahu siapa aku adanya"!"
Baru saja Bayangan Tanpa Wajah membatin begitu,
Dewa Cadas Pangeran anggukkan kepalanya. Batu pu-
tih di hadapannya ikut bergerak. Lalu terdengar uca-
pan. "Mudah-mudahan aku juga tak salah kira dengan
sahabat yang tegak di belakang sana.... Bukankah kau adalah seorang tokoh yang
dikenal dengan Bayangan
Tanpa Wajah...?"
Baik Ratu Selendang Asmara maupun Bayangan
Tanpa Wajah tak dapat lagi menahan rasa kejut ma-
sing-masing. Dan sebelum kedua orang ini ada yang
angkat suara, Dewa Cadas Pangeran telah perdengar-
kan ucapan lagi.
"Sebagai sahabat, dengan senang hati aku akan
menjawab beberapa pertanyaan yang akan kau ajukan
padaku.... Mudah-mudahan jawabanku nanti tidak
membuatmu kecewa apalagi bisa menimbulkan kesa-
lah-pahaman dan membuka sebuah urusan baru...."
"Terima kasih...," kata Ratu Selendang Asmara. Ne-
nek ini berpaling sesaat pada Bayangan Tanpa Wajah
dan memberi isyarat dengan jari. Bayangan Tanpa Wa-
jah maju dan tegak menjajari.
"Tanyakan di mana sebenarnya peta wasiat itu dan
siapa sebenarnya saat ini yang memegangnya.... Ta-
nyakan juga ke mana kira-kira perginya pemuda asing
yang tengah kita cari jejaknya!" Bayangan Tanpa Wajah segera berbisik.
"Dewa Cadas Pangeran.... Selama bertahun-tahun
semua kalangan persilatan telah tahu jika biara Per-
guruan Shaolin menyimpan sebuah peta wasiat. Dan
mungkin kau juga telah tahu kalau beberapa waktu
yang lalu telah terjadi musibah di Perguruan Shaolin.
Aku tak tahu apakah kejadian di biara Perguruan
Shaolin ada hubungannya dengan peta wasiat atau ti-
dak. Yang pasti, kami ingin tahu, di mana sebenarnya peta wasiat itu saat ini"!"
"Amitaba.... Sebagai orang rimba persilatan, aku tak kaget dengan
pertanyaanmu...," ujar Dewa Cadas Pangeran. Batu putih di ujung tambang tampak
bergerak ke atas mengikuti irama gerakan kepala Dewa Cadas
Pangeran yang mendongak. Untuk beberapa lama
orang ini terdiam. Ratu Selendang Asmara dan Bayan-
gan Tanpa Wajah menunggu tanpa ada yang membuat
gerakan atau buka suara.
"Biara Perguruan Shaolin memang menyimpan se
buah peta wasiat!" Akhirnya Dewa Cadas Pangeran
lanjutkan ucapan. "Namun peta wasiat itu terpisah sa-tu sama lain.... Kalau
kalian ingin tahu atau memili-kinya, kalian harus dapat menemukan keduanya....
Hanya saja separo peta wasiat itu saat ini tidak bisa di-tentukan tempatnya....
Peta itu akan terus berpindah tempat! Sementara separonya lagi tersimpan di
sebuah tempat tidak jauh dari sebuah aliran sungai...."
Ratu Selendang Asmara dan Bayangan Tanpa Wa-
jah saling pandang tidak mengerti ucapan Dewa Cadas
Pangeran. "Dewa Cadas Pangeran.... Aku tidak mengerti mak-
sudmu! Bagaimana mungkin sebuah peta wasiat terus
berpindah tempat"!" tanya Ratu Selendang Asmara.
"Ratu.... Itu satu bukti kalau separo peta wasiat itu telah berada dalam
genggaman tangan orang. Jadi peta wasiat itu akan terus berpindah mengikuti ke
mana orang itu melangkah! Sedangkan separonya lagi sudah
menetap di satu tempat yang tadi sudah kukatakan...."
"Siapa orang yang kini menggenggam separo dari
peta wasiat itu"!" Bayangan Tanpa Wajah cepat ajukan tanya.
Sepasang mata jereng Dewa Cadas Pangeran me-
natap lekat-lekat pada batu putih di hadapannya.
"Sayang sekali aku tidak bisa menyebut siapa orang-
nya karena terus terang aku belum mengenalnya...."
"Tapi kau bisa mengatakan bagaimana ciri-cirinya!"
Kali ini Ratu Selendang Asmara yang angkat suara.
Bola mata Dewa Cadas Pangeran berputar liar pan-
dangi bundaran batu putih yang menutupi wajahnya.
Kejap kemudian terdengar suara jawabannya. "Dia a-
dalah seorang pemuda berparas tampan. Dia datang
dari seberang laut...."
"Han Ko!" seru Ratu Selendang Asmara.
"Pemuda asing itu!" Bayangan Tanpa Wajah mende-
sis. Yang dimaksud Ratu Selendang Asmara dengan
Han Ko bukan lain memang murid Pendeta Sinting,
Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng. Karena
saat pertama kali bertemu, Pendekar 131 sebutkan diri bernama Han Ko pada si
nenek. "Sekarang jadi jelas dan aku tidak ragu-ragu lagi!
Selama ini aku memang masih bimbang...," kata Ratu
Selendang Asmara dalam hati.
"Dewa Cadas Pangeran.... Terima kasih atas ketera-
nganmu. Sekarang harap kau sudi mengatakannya
padaku. Ke mana kira-kira pemuda itu pergi"!"
Dewa Cadas Pangeran kembali tengadah dengan
mata menatap lekat-lekat pada bulatan batu putih di
depan wajahnya. Saat kemudian dia angkat tangan
kanannya dan diluruskan menunjuk pada satu arah.
"Dia telah mendapat separo dari peta wasiat. Ten-
tunya dia ingin mengambil separonya lagi. Saat ini dia tengah menuju sumber di
mana peta wasiat pertama
itu disimpan!"
Kepala Ratu Selendang Asmara dan Bayangan Tan-
pa Wajah sama bergerak ke arah mana tangan ka-nan
Dewa Cadas Pangeran bergerak menunjuk.
"Biara Perguruan Shaolin!" hampir bersamaan, Ratu
Selendang Asmara dan Bayangan Tanpa Wajah perde-
ngarkan gumaman.
"Sebelum terlambat, kita harus cepat ke sana!"
Bayangan Tanpa Wajah berucap.
Entah karena merasa gembira dapat petunjuk, tan-
pa buka suara lagi Ratu Selendang Asmara dan Baya-
ngan Tanpa Wajah membuat gerakan berkelebat.
Namun sebelum kedua orang ini sempat bergerak
lebih jauh, mendadak Dewa Cadas Pangeran goyang-
kan kepalanya ke atas.
Wuttt! Tambang yang berpangkal di punggungnya melen-
ting dan kini tegak lurus ke atas. Bersamaan itu satu sinar putih berkiblat
perdengarkan deruan keras,
membuat Ratu Selendang Asmara dan Bayangan Tan-
pa Wajah bukan saja urungkan kelebatan, tapi cepat
melompat mundur dan kerahkan tenaga dalam pada
kaki masing-masing, karena mereka berdua merasa-
kan getaran hebat!
"Harap tidak pergi dahulu...." Dewa Cadas Pangeran
berkata. Kepalanya digerakkan ke bawah. Bundaran
batu putih bergerak dan cepat menutup kembali raut
wajahnya hingga si nenek dan Bayangan Tanpa Wajah
tidak sempat melihat paras wajahnya.
Tindakan Dewa Cadas Pangeran membuat paras
Bayangan Tanpa Wajah yang hitam legam berubah ra-
ta laksana tidak berbentuk. Pertanda jika orang ini telah diamuk hawa amarah.
Mendapati gelagat tidak baik, Ratu Selendang As-
mara cepat bersuara. "Harap tidak membuat masalah
dengan dia! Bagaimanapun juga dia telah memberi ke-
terangan sangat berharga pada kita! Kita turuti apa
yang dia kehendaki!"
"Tapi...."
"Aku tak mau dengar dalih!" potong si nenek. "Lagi
pula aku yakin, apa yang dikehendakinya tidak mung-
kin merugikan kita!"
Habis berkata begitu, Ratu Selendang Asmara ber-
paling pada Dewa Cadas Pangeran. "Dewa Cadas Pan-
geran.... Kau mau mengatakan sesuatu"!"
*** TUJUH BATU putih di ujung tambang bergerak perlahan ke
atas tanda kepala Dewa Cadas Pangeran mendongak.
Saat kemudian terdengar ucapan.
"Kalian telah mendapat jawaban dari apa yang ka-
lian tanyakan.... Mudah-mudahan kalian tidak segan
untuk juga jawab beberapa tanyaku!"
"Aneh.... Dia telah tahu banyak apa yang tidak dike-
tahui orang lain. Mengapa dia masih akan ajukan ta-
nya"!" Diam-diam Ratu Selendang Asmara membatin.
Lalu buka suara.
"Kau telah menjawab pertanyaanku. Adalah kurang
pantas kalau aku tidak bersedia memberi jawaban atas pertanyaanmu...!"
"Terima kasih...," ujar Dewa Cadas Pangeran. "Ka-
lian menginginkan peta wasiat itu"!"
"Siapa pun yang kau tanya begitu pasti akan ang-
gukkan kepala!" jawab Ratu Selendang Asmara berte-
rus terang. Dewa Cadas Pangeran perdengarkan tawa panjang.
Lalu berucap. "Aku tidak akan halangi keinginan se-
seorang. Tapi demi kedamaian dan keselamatan, tidak
ada salahnya bukan kalau aku memberi satu saran?"
"Kau pasti akan mengatakan kami berdua tidak
akan berhasil mendapatkan peta wasiat itu! Benar"!"
Ratu Selendang Asmara tampaknya sudah dapat mem-
baca apa yang akan dikatakan Dewa Cadas Pangeran.
"Syukur kalau kau telah menangkap isyarat itu....
Sekali lagi mudah-mudahan kalian tidak berburuk
sangka padaku kalau aku mengatakan kalian bukan
saja tidak akan mendapatkan apa-apa, namun akan
mengalami musibah jika teruskan keinginan!"
Mendengar ucapan Dewa Cadas Pangeran, Ratu Se-
lendang Asmara tersenyum. "Dewa Cadas Pangeran.
Kuakui kau pandai memberi keterangan. Tapi jangan
kau lupa! Nasib seseorang adalah sebuah misteri yang tidak bisa dibaca oleh
siapa saja!"
"Ucapanmu tidak salah. Dan harap kau tak keliru.
Aku tidak membicarakan nasib seseorang. Aku hanya
memberi saran. Dan kalaupun aku mengatakan kalian
tidak akan mendapatkan apa-apa, aku menangkap


Joko Sableng 33 Dewa Cadas Pangeran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adanya beberapa orang punya keinginan seperti kalian.
Jika semua orang yang punya keinginan sama saling
bertemu, kalian dapat bayangkan apa yang akan terja-
di!" "Kita tak perlu pedulikan ucapannya!" Bayangan
Tanpa Wajah berbisik pada Ratu Selendang Asmara.
Si nenek anggukkan kepala lalu berkata. "Masih
ada yang ingin kau utarakan lagi?"
Dewa Cadas Pangeran tidak sambuti pertanyaan
Ratu Selendang Asmara. Sebaliknya dia putar diri
membelakangi orang. Kejap lain dia membuat gerakan
satu kali. Sosoknya melesat beberapa tombak ke de-
pan. Saat lain Ratu Selendang Asmara dan Bayangan
Tanpa Wajah hanya melihat gerakan batu putih yang
bergoyang-goyang di atas ranggasan semak belukar
yang sesekali semburatkan kiblatan sinar putih.
"Kita sekarang menuju biara Perguruan Shaolin!"
kata Bayangan Tanpa Wajah. Seraya berkata, laki-laki berkulit hitam legam ini
melangkah hendak tinggalkan tempat itu.
Namun begitu sadar kalau Ratu Selendang Asmara
tidak beranjak dari tempatnya tegak, Bayangan Tanpa
Wajah berkata agak keras.
"Kau takut"!"
"Setinggi apa pun ilmu orang, dia tak mungkin bisa
menang berhadapan dengan nasib! Itulah satu-satu-
nya hal yang paling kutakutkan dalam hidup!"
Ucapan Ratu Selendang Asmara membuat Baya-
ngan Tanpa Wajah tertawa ngakak lalu berkata. "Tam-
paknya kau termakan kata-kata orang!"
Kini ganti si nenek yang perdengarkan tawa begitu
mendengar sahutan Bayangan Tanpa Wajah. "Kau bo-
leh tertawa. Tapi aku yakin, dalam hatimu juga ada ra-sa takut berhadapan dengan
nasib! Apalagi seseorang
yang telah dikenal tahu banyak urusan mengatakan
nasibmu tidak baik!"
"Aku tak pernah berpikir tentang nasib! Itulah se-
babnya aku tak pernah punya rasa takut!"
Bayangan Tanpa Wajah arahkan pandang matanya
jauh ke depan. Lalu sambungi ucapannya. "Kita seka-
rang telah tahu di mana peta wasiat berada dan ke ma-na kita harus mencarinya.
Kau sekarang berhak me-
mutuskan untuk lanjutkan urusan ini atau...."
"Aku tak pernah menjilat ludah di tanah!" Ratu Se-
lendang Asmara menyahut sebelum Bayangan Tanpa
Wajah selesaikan ucapan. Bahkan begitu berkata, si
nenek segera melesat ke depan lalu berkelebat ke arah mana tadi tangan kanan
Dewa Cadas Pangeran menunjuk.
Bayangan Tanpa Wajah menyeringai. Dengan hen-
takkan kaki kanan, laki-laki berwajah hitam legam ini berkelebat menyusul Ratu
Selendang Asmara.
*** Sementara itu, di tempat kira-kira seratus tombak
dari biara Perguruan Shaolin, Pendekar 131 Joko Sab-
leng hentikan langkah. Dia memang sengaja bertindak
hati-hati saat tahu mulai memasuki kawasan Per-
guruan Shaolin.
Murid Pendeta Sinting tegak dengan mata meman-
dang jauh ke depan sana, di mana julangan puncak
bangunan Perguruan Shaolin terlihat.
"Hem.... Apa aku harus menggundul rambutku agar
leluasa masuk Perguruan Shaolin?" Joko bergumam
sambil usap rambutnya. "Jika aku masih berambut
panjang begini rupa, rasanya sulit bagiku memasuki
perguruan itu. Apalagi baru saja terjadi huru-hara
yang menewaskan beberapa pimpinan shaolin. Tapi
bagaimana bentuk rupaku nanti kalau aku memang
benar-benar menggundul rambut"! Lagi pula bagaima-
na caranya menggundul"! Ah...."
Joko gerakkan tangan kanan menyisir rambutnya
yang basah oleh keringat. "Apakah aku harus menung-
gu hingga hari berganti gelap"! Tapi aku pasti masih kesulitan untuk masuk!
Kalaupun aku berhasil masuk, tentu aku masih bingung karena aku belum tahu
seluk-beluk bangunan di Perguruan Shaolin! Hem....
Ataukah aku harus memancing keluarnya Guru Besar
Liang San"! Tapi bagaimana caranya"! Inilah sulitnya.
Aku belum tahu bagaimana tampang Guru Besar Liang
Sah.... Sementara...."
Joko katupkan mulut. Saat bersamaan kepalanya
berpaling. Sepasang matanya mendelik besar. Dia se-
benarnya ingin membuat gerakan, namun tampaknya
dia sadar, gerakan apa pun yang akan dilakukan su-
dah sangat terlambat. Karena tahu-tahu dua puluh
langkah di depan sana telah tegak satu sosok tubuh
dengan mata menatap tajam ke arahnya.
"Dari penampilannya, jelas dia orang Perguruan
Shaolin. Dari usia dan sikapnya, pasti dia tokoh di perguruan itu! Hem...," Joko
memperhatikan orang de-
ngan seksama seraya menduga-duga.
Di lain pihak, orang yang tegak di depan sana ke-
rutkan dahi dengan mata dipicingkan. Pandangannya
jelas membayangkan rasa curiga. Dia adalah seorang
laki-laki berwajah agak tirus. Kumisnya tipis. Jenggotnya jarang tapi panjang.
Sepasang matanya agak be-
sar. Kepalanya gundul dan terlihat beberapa titik putih pada batok kepalanya.
Orang ini mengenakan pakaian
panjang warna kuning tanpa leher. Di pundaknya me-
lapis kain warna merah yang terus dililitkan pada
pinggangnya. Laki-laki ini tidak lain adalah Guru Besar Liang San.
"Seorang pemuda.... Tampangnya sepertinya bukan
orang negeri ini! Tapi itu tidak, penting. Yang jelas dia seorang pemuda yang
mencurigakan karena memata-matai Perguruan Shaolin. Hem.... Aku hampir bisa
memastikan.... Dugaanku ternyata tidak jauh meleset!
Kemunculannya di sini merupakan satu petunjuk!"
Guru Besar Liang San membatin dengan sunggingkan
senyum. "Aku harus berlaku ramah.... Lagi pula dia
pasti belum tahu siapa yang kini di hadapannya!
Hem.... Akhirnya rencanaku berjalan tanpa hambatan!
Kini aku sudah tak sabar lagi menunggu hari ganda
sepuluh!" Guru Besar Liang San takupkan kedua tangannya
di depan dada. Lalu kepalanya ditundukkan seraya
berkata pelan. "Amitaba.... Boleh aku bertanya, Anak Muda...?"
Murid Pendeta Sinting membuat sikap seperti yang
dilakukan orang. Lalu sembari mengumbar senyum dia
buka suara. "Amitaba.... Apa yang hendak kau tanyakan, Orang
Tua"!"
"Siapa namamu?"
"Aku punya dua nama. Yang mana kau inginkan"
Nama semasa aku masih kecil atau setelah aku meng-
injak dewasa"!"
Guru Besar Liang San kerutkan dahi namun tetap
dengan bibir sunggingkan senyum. "Kalau tak kebera-
tan, aku ingin tahu keduanya...."
"Waktu kecil aku dipanggil Lon Tong Bu Lim...." Jo-
ko hentikan ucapannya sesaat sambil melirik wajah
orang. Lalu menyambung. "Begitu aku dewasa, entah
karena apa, aku dipanggil Han Ko!"
"Seperti halnya aku, mungkin anak ini tidak berka-
ta jujur!" kata Guru Besar Liang San dalam hati. Na-
mun dia tak mau tunjukkan sikap tidak percaya pada
ucapan orang. Dia anggukkan kepala dengan terse-
nyum. "Orang tua.... Aku telah mengatakan siapa diriku.
Rasanya tak enak kalau aku tidak tahu siapa diri-
mu..." Guru Besar Liang San kembali anggukkan kepala,
lalu berkata. "Kau beruntung, Anak Muda. Bisa memiliki dua
nama. Tidak seperti aku. Aku dilahirkan di sini tanpa kuketahui siapa kedua
orangtua ku karena mereka
meninggal saat aku masih bayi. Hingga aku sendiri tak tahu siapa yang memberi
nama padaku! Yang jelas aku
tahu sudah berada di lingkungan shaolin dan mereka
memanggilku Wang Kong Fu...."
Seperti halnya Pendekar 131, saat sebutkan diri
dengan Wang Kong Fu, Guru Besar Liang San melirik
seolah ingin tahu sikap orang.
Joko memperhatikan orang sekali lagi dengan lebih
seksama. Sulit baginya menduga apakah ucapan orang
benar atau tidak. "Aku belum kenal sebelumnya dan
masih buta sama sekali dengan orang-orang di ling-
kungan shaolin. Tapi aku punya cara untuk mengeta-
hui apakah dia berkata jujur atau berdusta!" kata Joko dalam hati setelah
terdiam beberapa lama. Dia sudah
buka mulut hendak berkata. Namun sebelum sua-
ranya terdengar, Guru Besar Liang San yang me-ngaku
bernama Wang Kong Fu sudah mendahului angkat su-
ara. "Anak muda.... kalau aku boleh menduga, keber-
adaanmu di sini tentu bukan karena sebuah kebetu-
lan! Kau tengah menunggu seseorang" Atau ada perlu
lain"!"
"Terus terang saja, sejak kecil aku tertarik dengan
shaolin. Hanya sayang sekali. Kedua orangtua ku tidak memberikan izin padaku
untuk memasuki biara shaolin. Sekarang kedua orangtua ku telah tiada. Namun
keinginanku tetap membara. Untuk itulah aku berada
di sini. Dan kebetulan bertemu denganmu.... Kalau boleh aku bertanya, apakah
mungkin aku bisa diterima
di biara shaolin"!"
"Amitaba.... Perguruan Shaolin tidak menolak siapa
saja yang ingin menjadi keluarga perguruan asal dia
mau menjalankan semua peraturan yang telah diten-
tukan! Hanya saja...."
Karena Guru Besar Liang San tidak lanjutkan uca-
pan, Joko cepat menyahut. "Hanya apa, Orang Tua"!"
"Aku ragu apakah kau mampu menjalankan peratu-
ran shaolin! Karena jika seseorang telah menjadi ke-
luarga besar shaolin, dia harus meninggalkan keingi-
nan duniawi...."
"Orang tua.... Aku yakin bisa melakukannya...."
"Amitaba.... Menjalankan tidak semudah berkata,
Anak Muda. Bukannya aku menghalangi keinginanmu.
Tapi usia dan lingkungan sangat berpengaruh!"
"Maksudmu..."!"
"Orang yang menjadi keluarga besar shaolin sejak
kecil akan lebih mudah menjalankan peraturan shao-
lin dibanding dengan orang yang memasuki shaolin
saat usianya sudah dewasa. Karena orang dewasa su-
dah mengenal manisnya duniawi sebelum masuk ke-
luarga shaolin. Dan hal itu nantinya sangat berpe-
ngaruh sekali. Lain dengan orang yang masuk keluar-
ga shaolin saat usianya masih kecil. Karena begitu masuk, dia belum kenal
manisnya rasa duniawi!"
Pendekar 131 terdiam beberapa lama. Guru Besar
Liang San arahkan pandang matanya jauh ke puncak
bangunan shaolin lalu berkata. "Anak Muda.... Aku
menghargai semangatmu. Namun kau harus berpikir
sekali lagi jika akan menjadi keluarga besar Perguruan Shaolin!"
"Orang tua.... Bukan aku mau unjuk diri. Tapi se-
benarnya sejak kecil aku telah dilatih untuk menjauhi segala macam yang berbau
duniawi! Kau boleh percaya
atau tidak, sampai seusia ini, aku belum pernah me-
ngenal yang namanya perempuan...."
Mendengar kata-kata Joko, Guru Besar Liang San
tertawa seraya gelengkan kepala. "Anak Muda.... Du-
niawi bukan saja perempuan.... itu hanya sebagian kecil saja!"
"Ah.... Ternyata tidak semudah yang kubayangkan!"
gumam Joko. Lagi-lagi Guru Besar Liang San tertawa. "Anak Mu-
da.... Mau kau katakan padaku, mengapa kau ingin
sekali menjadi keluarga shaolin"!"
Meski nada bicara Guru Besar Liang San bertanya,
ternyata sebelum murid Pendeta Sinting sempat men-
jawab, Guru Besar Liang San sudah angkat suara.
"Kau ingin mempelajari ilmu silat"!"
Karena tak ada alasan lain, akhirnya Joko angguk-
kan kepala. "Sejak kecil aku memang ingin sekali belajar ilmu silat. Dan menurut
yang kudengar, Perguruan Shaolin memiliki jurus-jurus yang sulit ditandingi!"
"Perguruan Shaolin lebih mementingkan pencucian
diri daripada pelajaran ilmu silat. Kalaupun di dalam perguruan diajarkan ilmu
silat, itu hanya untuk men-jaga kesehatan. Bukan untuk hal lain.... Jadi kau
salah duga kalau ingin masuk Perguruan Shaolin dengan
tujuan mempelajari ilmu silat!"
"Ah.... Lagi-lagi aku salah duga!"
"Anak muda.... Aku melihat kobaran semangatmu
begitu membara. Aku menawarkan sesuatu pada-
mu..." "Hem.... Orang yang baru kukenal tiba-tiba mena-
warkan sesuatu. Pasti di baliknya menyimpan sesua-
tu!" Joko membatin. Lalu berkata.
"Harap kau katakan apa yang hendak kau tawar-
kan." "Aku melihat bentuk tubuhmu bagus. Sayang kalau
disia-siakan. Aku akan mengajarkan padamu semua
ilmu silat Perguruan Shaolin tanpa harus masuk men-
jadi keluarga besar shaolin!"
Mendengar ucapan orang, Pendekar 131 buru-buru
bungkukkan tubuh. "Amitaba.... Kau tidak main-main,
Orang Tua"!"
"Salah satu ajaran shaolin adalah dilarang berdus-
ta!" "Ah.... Dari semula aku sudah menduga kalau kau adalah salah seorang tokoh
di Perguruan Shaolin. Kuucapkan terima kasih kalau kau memang benar-benar
hendak mengajarkan padaku ilmu silat!"
"Amitaba.... Kau jangan keburu memuji. Kalaupun
aku menawarkan hal itu, semata-mata karena aku
menghargai semangatmu! Tapi aku juga minta maaf..."
"Dugaanku tidak meleset. Ujung-ujungnya dia min-
ta sesuatu! Tapi aku akan coba menuruti...," kata Joko dalam hati. Namun dia
tidak segera buka suara. Sebaliknya arahkan pandang matanya jauh ke depan.
***

Joko Sableng 33 Dewa Cadas Pangeran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

DELAPAN KARENA Joko tidak segera sambuti ucapannya,
Guru Besar Liang San melirik lalu berkata. "Shaolin
memang mengajarkan tidak boleh minta imbalan atas
sesuatu! Tapi karena keadaannya lain, kau sendiri harus maklum.... Lagi pula aku
tidak akan minta syarat yang kau tidak mampu melakukannya!"
Pendekar 131 berpaling. "Orang tua.... Harap kau
katakan apa syarat yang harus kupenuhi!"
"Kau harus jujur padaku!"
Murid Pendeta Sinting kerutkan dahi. Dia sama se-
kali tidak menduga syarat yang diucapkan orang.
Hingga seraya tertawa dia bersuara.
"Hanya itu..."!"
Kepala Guru Besar Liang San bergerak mengang-
guk. "Tidak sulit bukan"!"
"Tampaknya memang tidak sulit. Tapi ini bisa Jadi
malapetaka bagiku!" Diam-diam Joko berkata sendiri
dalam hati. "Nada bicaranya lambat laun mencuriga-
kan. Jangan-jangan orang ini telah tahu siapa diri-
ku.... Hem.... Lalu bagaimana dengan tawarannya?"
"Bagaimana, Anak Muda"! Kau setuju dengan sya-
ratku"!"
"Syarat yang aneh...," gumam Joko.
"Tidak aneh, Anak Muda. Dalam segala hal kejuju-
ran adalah sesuatu yang utama. Apalagi kelak mung-
kin kita akan menjadi sahabat!"
"Baiklah.... Aku setuju syaratmu!" Akhirnya Joko
memutuskan setelah berpikir agak lama.
Guru Besar Liang San tersenyum. "Amitaba.... Se-
moga ini satu langkah awal yang baik bagi persahaba-
tan kita. Dan kuharap, meski aku nanti mengajarkan
ilmu silat padamu, jangan kau menganggapku sebagai
guru. Anggaplah aku sebagai sahabat, begitu pula se-
baliknya! Hubungan antara sahabat pasti lebih men-
dekatkan dua orang daripada hubungan antara guru
dan murid! Dan satu lagi. Kau harus merahasiakan
semua ini pada siapa saja!"
Joko anggukkan kepala lalu melangkah maju. Di
depan sana Guru Besar Liang San memperhatikan
tanpa membuat gerakan.
"Anak muda...."
"Kita sudah bersahabat. Harap panggil dengan na-
maku saja!" kata Joko seraya hentikan langkah dela-
pan tindak di hadapan Guru Besar Liang San.
"Han Ko.... Sebelum semuanya berjalan, aku ingin
tahu. Apakah sebelum ini kau pernah belajar ilmu si-
lat"!"
Murid Pendeta Sinting gelengkan kepala. Namun
baru saja kepalanya bergerak, mendadak Guru Besar
Liang San yang mengaku sebagai Wang Kong Fu gerak-
kan kedua tangannya.
Wuutt! Wuuttt! Dua gelombang angin melabrak ganas ke arah mu-
rid Pendeta Sinting.
Karena begitu mendadak, Joko tak sempat berpikir
lagi kalau baru saja gelengkan kepala memberi jawa-
ban kalau dia belum pernah belajar ilmu silat. Dia melompat ke samping hindarkan
diri dari hajaran gelom-
bang yang melesat dari kedua tangan Guru Besar
Liang San. "Astaga! Seharusnya aku tidak menghindar! Tapi...."
"Han Ko.... Kau masih ingin persahabatan ini terus
berlangsung"!" Guru Besar Liang San ajukan tanya
tanpa memandang.
"Apa maksudmu"!" Joko pura-pura tak mengerti.
"Kau telah tahu syaratnya!"
"Aku...."
Belum sampai Pendekar 131 teruskan ucapan,
Guru Besar Liang San telah menukas. "Mengapa kau
belum mau jujur padaku"!" Bersamaan dengan selesai-
nya ucapan, tiba-tiba kedua tangan Guru Besar Liang
San kembali bergerak lepaskan satu pukulan!
Joko tersentak. "Busyet! Apa yang harus kulaku-
kan! Kalau aku menghindar lagi, pasti dia lebih tidak
percaya kalau aku tidak tahu ilmu silat. Tapi kalau
aku tidak menghindar atau menghadang pukulannya,
bagaimana kalau aku terluka"!"
Karena tidak punya waktu banyak untuk berpikir,
pada akhirnya Joko memutuskan untuk tidak hindar-
kan diri dari pukulan orang. Namun diam-diam dia ke-
rahkan tenaga dalam seraya membuat gerakan sedikit
agar pukulan orang tidak telak menghajar bagian dada atau wajahnya!
Wusss! Wussss! Dua gelombang angin terus melesat. Begitu seten-
gah tombak lagi menghajar, Joko putar sedikit tubuh-
nya dan sengaja menghadangkan bahu kanannya.
Bukkkk! Bukkk! Sosok murid Pendeta Sinting terpental sebelum a-
khirnya terjengkang roboh di atas tanah.
Belum sampai Pendekar 131 bergerak bangkit,
Guru Besar Liang San telah berkelebat dan tahu-tahu
telah tegak dua langkah di sampingnya. Guru Besar
Liang San melirik sesaat. Tiba-tiba kaki kanannya
membuat gerakan menendang!
Selain tak sempat berpikir apa yang harus dilaku-
kan dan kalaupun membuat gerakan sudah sangat ter-
Pendekar Cacad 1 Hina Kelana Balada Kaum Kelana Siau-go-kangouw Karya Jin Yong Pedang Ular Mas 15
^