Pencarian

Maut Merah 1

Gento Guyon 9 Maut Merah Bagian 1


1 Satu sosok berkelebat dalam kegelapan
malam melewati bukit gundul di sebelah selatan
gunung Mahameru. Sampai di satu pedataran
yang dikelilingi oleh sebuah lembah sosok ini hentikan langkah. Dalam gelapnya
malam kepala di-
julurkan sedangkan kedua mata dipentang lebar
mencoba mengenali keadaan tempat dia berada.
"Gelap begini aku bisa kesasar ke mana-
mana. Jelas aku bukan sedang menuju ke Kuil
Setan, tapi memasuki lembah." Sosok itu mengge-rutu sendiri. Dia lalu mengambil
sebuah benda berwarna putih sebesar telur dari balik kantong
celananya. "Batu Bulan... he... he... he. Batu ke-sayanganku. Banyak nyawa
terenggut karena
hendak merebut benda ini dari tanganku. Dasar
berjodoh denganku, benda ini sampai sekarang
tetap berada di tanganku." Sosok itu kemudian acungkan tangannya ke atas kepala.
Tenaga dalam dikerahkan ke arah batu di tangan. Hawa
panas mengalir deras ke arah batu, serta merta
batu memancarkan cahaya putih kekuningan
yang sangat terang menyilaukan mata. Begitu ca-
haya yang memancar dari batu menerangi, maka
terlihatlah wajah orang batu itu. Dia adalah seo-
rang laki-laki bertelanjang dada bercelana putih
komprang. Tubuhnya berkulit hitam legam, di-
tumbuhi bulu halus lebat. Perut buncit, pusar
bodong. Sedangkan kepala sosok berumur tiga
puluhan ini botak sulah, hidung mancung, dagu
lonjong dan mulut lancip. Yang anehnya, di seke-
liling pinggang orang ini tergantung bermacam-
macam makanan, juga beberapa jenis tengkorak
kepala binatang. Sedangkan dari lubang hidung-
nya selalu mengeluarkan asap biru pada setiap
tarikan nafasnya.
"Aku sudah sampai di lembah. Kuil Setan
pasti tak jauh dari sini. Sekarang dengan suluh
Batu Bulan aku tidak mungkin kesasar lagi." katanya. Dia tersenyum lalu
mengambil makanan
dari dalam kantong yang tergantung di pinggang.
Krauuk! "Ha... ha... ha, enak. Semua makanan yang
kutemukan rasanya pasti enak!" katanya sambil tertawa-tawa.
Kraaauk! Kembali terdengar suara berkerotakan se-
perti binatang buas memakan tulang. Sambil ter-
senyum sendiri orang yang ujudnya mirip monyet
besar ini lalu berlari menuruni lembah. Begitu sosok ini menginjakkan kaki di
dasar lembah berba-
tu dan dipenuhi timbunan tulang belulang manu-
sia mendadak terdengar suara ledakan beruntun.
Sosok hitam ini menjerit panik dan terus berlari
puntang-panting menyeberangi lembah.
Di satu tempat dalam kegelapan di bawah
pohon besar, satu sosok lain yang mendekam di
tempat itu sejak tadi tersentak kaget begitu men-
dengar suara ledakan. Matanya yang terbuka le-
bar langsung memandang ke arah mana suara le-
dakan terdengar.
"Sial sekali bocah itu, mungkin makanan
melulu yang diurusnya sehingga tidak dapat ber-
sikap hati-hati. Dia rupanya tidak sadar sekarang ini tengah berada di mana"!"
rutuk orang di bawah pohon dengan perasaan geram. Dia kembali
memandang ke jurusan lembah, sementara pera-
saannya mulai diliputi kegelisahan. Satu titik cahaya kuning kemudian terlihat
di kejauhan. Ca-
haya itu terus bergerak ke arahnya. Sekali lagi
sosok di bawah pohon tercengang, mata melotot,
mulut memaki. "Bocah keparat! Otaknya benar-
benar tidak berguna. Di tempat berbahaya seperti
ini beraninya dia mempergunakan suluh segala.
Bocah goblok, dia rupanya ingin mampus lebih
cepat!" Perasaan cemas meliputi diri sosok yang mendekam itu. Dia lalu julurkan
kepala, mata menyapu sekitar kawasan di mana saat itu di-
rinya berada. Kuil Setan, satu tempat yang sela-
ma ini diselimuti kabut tebal dan menyimpan
berbagai macam keanehan terlihat di kejauhan
sana. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan atau
bahaya yang konon muncul secara tidak terduga.
Merasa aman sosok yang mendekam di bawah
pohon kembali menoleh, memandang ke arah se-
belah kirinya di mana cahaya kuning berkilau bu-
lat seperti bola semakin bertambah dekat.
Kraauuuk! Suara orang seperti memakan sesuatu
yang sangat keras terdengar.
"Keparat! Benar dugaanku, bocah setan itu
selalu disibukkan dengan makanannya!" rutuk
sosok hitam yang masih mendekam di tempatnya.
Begitu orangnya muncul, maka satu tam-
paran keras menghantam wajah orang yang
membawa suluh Batu Bulan. Orang itu terjajar,
sosok yang mendekam bangkit berdiri. Ternyata
dia adalah seorang kakek berumur sekitar sembi-
lan puluh tahun berbadan tinggi semampai seper-
ti galah. Wajah kakek itu dipenuhi keriput, mata
belok berhidung seperti burung kakak tua. Selain
pakaiannya yang berwarna hitam seperti daster,
bagian atas kepala tertutup kerudung berwarna
hitam. Beberapa saat lamanya kakek setinggi ga-
lah ini pandangi pemuda yang memegang Batu
Bulan. Setelah itu mulutnya yang tertutup kumis
lebat menghitam terbuka, satu bentakan mengu-
mandang memecahkan kesunyian.
"Kau hendak membunuh diri, Memedi San-
tap Segala?" hardik kakek itu berang.
"Datuk Labalang, aku tak tahu apa mak-
sudmu." kata pemuda bermuka seperti monyet
bingung. Satu tamparan keras mendarat di kepala
pemuda yang bernama Memedi Santap Segala la-
gi. Dia yang perawakannya seperti monyet besar
tergontai-gontai. Batu Bulan yang berada di tan-
gan kanannya nyaris terlepas.
"Datuk Labalang"!" seru Memedi Santap
Segala sambil mengusap-usap kepalanya yang
terkena tamparan. "Sekali lagi kau menamparku,
mungkin kepalaku ini bisa meledak!" keluh si pemuda meringis menahan sakit. Dia
memandan-gi Datuk setinggi galah, rasa takut ada, rasa kesal juga ada. Selama
ini sejak pembantu sang Datuk,
rasanya kakek tua ini sangat jarang sekali mema-
rahinya. Entah mengapa malam ini si Datuk
gampang sekali naik darah. "Tak mungkin dia
marah tak berkejuntrungan jika persoalan yang
dihadapinya kali ini tidak penting benar." batin Memedi Santap Segala yang
dikenal dengan julukan Mahluk Tangan Rembulan menghibur diri.
"Kau masih belum mengetahui kesalahan-
mu, Memedi sialan?" suara Datuk Labalang kembali memecahkan kesunyian.
"Aku... aku belum mengerti Datuk. Mung-
kin kau marah karena aku datang terlambat,
mungkin juga karena aku lebih banyak makan.
Maafkan Datuk. Malam ini udara terasa dingin
sekali, dalam dingin perutku mudah lapar." berucap Memedi Santap Segala dengan
perasaan ta- kut. "Mahluk tukang makan keparat! Perduli setan dengan dinginnya malam. Tarik
tenaga da- lammu dari Batu Bulan sialan itu. Aku tak ingin
ada cahaya, aku tak ingin ada mahluk apapun
yang melihat kehadiran kita di sini. Mengerti"!"
geram sang Datuk.
"Maaf Datuk aku baru mengerti. Aku baru
ingat kita sudah berada begitu dekat di sarang setan." sahut pemuda itu dengan
suara perlahan sekali. Memedi Santap Segata hentikan pengera-
han tenaga dalam ke Batu Bulan. Dengan begitu
batu aneh yang memancarkan cahaya putih kemi-
lau kekuningan ini berubah redup dan kemudian
padam. Batu dimasukkan ke dalam saku celana.
Sesosok berdaster hitam berkerudung hi-
tam kembali duduk di tempatnya. Dia menarik
nafas, masih agak jengkel melihat ketololan pem-
bantunya. Lama dia terdiam, sementara sepasang
matanya yang belok memandang lurus ke arah
satu bukit di mana di bagian puncak bukit yang
diselimuti kabut terdapat sebuah kuil angker
yang dikenal dengan nama Kuil Setan.
"Datuk, sejak berangkat dari tanah sebe-
rang kau mengatakan hendak menyambangi Kuil
Setan. Mengapa sekarang kita malah duduk di si-
ni" Kita berada di bawah pohon, bukan di dalam
sebuah gedung atau bangunan tempat ibadah
yang banyak bertebaran di daerah kita. Datuk...
di sini banyak nyamuk, aku mulai mengantuk.
Kalau diizinkan apakah boleh aku tidur barang
sekejap?" tanya Memedi Santap Segala. Pemuda berkulit hitam legam yang sekujur
tubuhnya di-tumbuhi bulu halus berperut besar berpuser bo-
dong menelan ludah ketika melihat sang Datuk
memandangnya dengan mata mendelik. Meskipun
saat itu dalam keadaan gelap gulita, tapi dalam
gelapnya malam mata sang Datuk memancarkan
cahaya merah, sehingga di saat kakek renta ini
delikkan matanya. Sepasang mata yang belok itu
bagai hendak melompat keluar.
"Sekali lagi kau bicara yang tidak berguna
lidahmu pasti kubetot lepas!" maki Datuk Labalang sengit.
Si pemuda berubah ciut nyalinya. Dia lalu
terdiam dan ikut memandang ke arah di mana
sang Datuk tengah memusatkan perhatiannya.
Kesunyian mencekam, di langit terlihat
bintang-bintang bertaburan memancarkan kerlip
cahaya bagaikan mutiara bertaburan di atas per-
madani biru. Sang Datuk menarik nafas pendek,
kini kepalanya yang tertutup kerudung hitam
memandang ke langit sebelah timur. Di sana ca-
haya kuning keemasan mulai terlihat, perlahan
bulan sabit lima hari munculkan diri. Sang Datuk
memperlihatkan satu seringai aneh. Melihat maji-
kannya menyeringai, Memedi Santap Segala ikut
pula memandang ke atas. Tiba-tiba pemuda itu
berjingkrak, wajahnya memperlihatkan rasa gem-
bira yang tiada tara.
"Bulan yang ku rindu... bulan pelita ku su-
dah menampakkan diri. Malam ini aku bersuka
ria, aku akan menari sambil menyanyi. Hi... hi...
hi." berkata begitu sekonyong-konyong Memedi Santap Segala alias Mahluk Tangan
Rembulan hendak bangkit. Tapi dengan cepat satu tangan
yang kokoh, besar dan panjang mencekal bela-
kang lehernya. Begitu kena dicekal tubuh si pe-
muda dibanting, hingga membuat Memedi Santap
Segala jatuh terhenyak.
"Datuk...! Aku...." Si pemuda tidak jadi me-neruskan ucapannya begitu melihat
Datuk Laba- lang menekankan jari telunjuknya ke bagian leh-
er. "Di sini bukan tanah seberang. Kita berada
di tempat asing, suatu daerah yang konon paling
rawan dengan segala macam bahaya. Jika kau ti-
dak mau diam atau coba membantah perintahku.
Kuberi kau satu kebebasan, pergi menjauh dariku
dan jangan pernah mencariku lagi. Jika kau ma-
sih mau ikut denganku dan mau menjadi pem-
bantu yang setia sampai aku mati. Sekarang su-
dah waktunya bagi kita untuk mempersiapkan di-
ri memasuki Kuil Setan!" tegas si Datuk.
Memedi Santap Segala mendadak merasa-
kan tenggorokannya menjadi kering, nafas ter-
sendat seperti tercekik.
"Datuk, jika kau mengusirku tak tahu aku
pergi ke mana. Dulu aku pernah berjanji menjadi
pembantumu yang paling setia sampai aku mati!"
sahut pemuda itu.
"Kalau begitu ikut perintahku. Jangan bi-
cara apapun jika tidak kutanya!" kata si kakek.
Memedi Santap Segala anggukkan kepala. Kemu-
dian diam dengan kepala tertunduk.
2 Di sampingnya kakek setinggi galah terus
memandang ke depan di mana sebuah bukit yang
diselimuti kabut berdiri tegak di tengah kesu-
nyian mencekam. Sementara bulan sabit di atas
sana nampak semakin bertambah jelas, pada saat
itu pula terdengar suara lolong serigala. Suara lolong yang datang sayup-sayup
di kejauhan sea-
kan mengingatkan seseorang akan datangnya
sang maut. "Kuil Setan, siapapun yang menghuni di
dalamnya aku tidak perduli. Begitu jauh aku
mengarungi lautan bukan untuk satu kesia-
siaan. Senjata pamungkas Bintang Penebar Ben-
cana sejak puluhan tahun yang silam merupakan
senjata yang menjadi idaman bagi setiap tokoh di
rimba persilatan untuk memilikinya. Aku seorang
Datuk, penguasa di daerah timur tanah seberang.
Sudah kudengar kehebatan Mandau dari tanah
hijau, sudah kudengar pula kehebatan rencong
dari tanah Aceh, tapi senjata yang satu ini konon memiliki seribu satu
kesaktian, mampu menghabisi sepuluh tokoh sakti sekaligus juga mengan-
dung racun hebat mematikan!" batin Datuk Labalang. Di langit bulan sudah berada


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

di tengah titik edarnya. Si kakek menyeringai, dia menoleh ke
samping di mana Memedi Santap Segala sambil
tundukkan kepala tampak sibuk menyantap ma-
kanan. "Pembantu kurang ajar, perut saja yang kau urusi!" dengus Datuk Labalang.
"Datuk, di hadapanmu apa saja yang kula-
kukan jadi salah. Saat aku sangat gugup sekali
Datuk. Dalam keadaan seperti itu aku tidak tahu
hendak berbuat apa selain makan." kata pemuda itu.
"Sekarang sudah waktunya bergerak lebih
mendekat ke kuil itu Mahluk Tangan Rembulan!"
kata Datuk setinggi galah sambil bangkit berdiri.
"Sekarang Datuk?" Mata Memedi Santap
Segala membulat besar, wajahnya jelas menun-
jukkan rasa kejut.
"Ya, sekaranglah waktunya." tegas Datuk Labalang.
"Tidak memakai suluh Datuk" Aku suka
ketakutan bila berjalan dalam kegelapan!"
"Keparat, jangan lakukan apapun tanpa
perintah dariku!" Kakek setinggi galah menggeram. Orang tua ini kemudian
melangkah lebar
melewati pucuk semak belukar yang menghampar
di depannya. Tidak jauh di belakang, Memedi
Santap Segala terus mengikuti.
Tak lama kemudian setelah sampai di sebe-
lah utara kaki bukit si kakek hentikan langkah-
nya. Di sini tercium olehnya bau harum yang
sangat menyengat.
"Datuk aku mencium bau sesuatu!" gu-
mam pemuda yang berada di belakang si kakek.
"Diaam!" hardik Datuk Labalang.
"Sialan Datuk ini apapun yang kulakukan
dilarang!" maki Memedi Santap Segala lama-
kelamaan jadi jengkel dan bosan. Dia pun akhir-
nya memilih berdiam diri, bibir dikatupkan se-
dangkan kedua tangan dilipat ke depan dada.
Bersikap seperti seorang raja dia berdiri tegak,
sementara sepasang matanya mengawasi ke ba-
gian puncak bukit yang diselimuti kabut tebal.
Tak berapa lama mereka berada di situ,
mendadak saja terdengar suara bergemuruh he-
bat di sekitar bukit. Suara bergemuruh disertai
dengan memancarnya satu cahaya merah di pun-
cak bukit. "Mereka rupanya sudah mulai terjaga. Se-
bentar lagi tempat ini sudah menjadi sebuah tem-
pat yang tidak aman lagi!" Datuk Labalang meng-gumam sendiri. Di belakangnya
Memedi Santap Segala diam tak menanggapi. Sementara itu suara
bergemuruh di puncak bukit di mana Kuil Setan
berada terus berlangsung. Cahaya merah yang
semula hanya terlihat samar kini tampak semakin
bertambah terang. Satu teriakan keras disertai
seperti terbukanya pintu batu terdengar, seiring
dengan itu pula kabut yang menyelimuti puncak
bukit mendadak hilang raib, tersedot ke satu arah di sebelah selatan puncak
bukit itu. Datuk Labalang terus memperhatikan se-
tiap kejadian yang berlangsung sampai kemudian
di balik kabut tebal yang lenyap terlihat satu pemandangan menakjubkan. Di
puncak bukit itu
kini terlihat satu bangunan yang tidak sebegitu
besar yang sepenuhnya terbuat dari batu yang di-
beri pewarna merah darah. Bangunan berupa kuil
inilah yang kiranya sejak tadi memancarkan ca-
haya kemerahan.
"Kuil Setan! Sungguh indah menakjubkan!"
desis Datuk Labalang. Sepasang matanya yang
belok berbinar gembira. Dia kemudian menoleh
ke arah pembantunya. "Sekarang sudah wak-
tunya bagi kita untuk mendaki ke puncak sana.
Kau ikuti aku!" kata sang Datuk.
Memedi Santap Segala hanya anggukkan
kepala, sedangkan matanya terus memandang ke
puncak bukit di mana bangunan batu yang ber-
nama Kuil Setan berada. Ketika pemuda yang
memiliki daya fikir rendah sedang memperhatikan
kuil itulah dia melihat dari bagian pintu depan
kuil melesat keluar tiga sosok berpakaian biru,
kuning dan merah. Tiga sosok besar dengan ujud
mengerikan itu kemudian raib begitu saja. Wa-
laupun Memedi Santap Segala sempat dibuat ka-
get dan jadi ketakutan setengah mati tapi dia sa-
ma sekali tidak mengatakan apa yang dilihatnya
ini pada Datuk Labalang.
Selagi keduanya mulai mendaki lereng bu-
kit, saat itu si kakek setinggi galah berkata. "Aku mendengar degup jantungmu
berubah menjadi
cepat, darahmu berdesir, kau seperti menahan
kencing. Apa yang kau lihat?"
"Aku tak melihat apapun Datuk." sahut
pemuda itu berbohong. Sementara itu Memedi
Santap Segala kali ini melihat ada satu bayangan
serba merah di bahunya memanggul satu sosok
berpakaian putih tampak pula memasuki Kuil Se-
tan itu. "Aku tak melihat apa-apa Datuk!" kata pemuda itu. Lagi-lagi dia membohongi Datuk
Laba- lang. Tak lama kemudian kakek berdaster hitam
ini dan pembantunya telah sampai di puncak bu-
kit di sebelah kiri samping kuil merah. "Tujuan hampir tercapai"!" gumam Datuk
Labalang. Dia lalu melangkah mendekati Kuil, sementara Memedi Santap Segala
masih tertegak di tempatnya
berdiri. Ketika jarak antara sang Datuk dengan
kuil hanya tinggal satu tombak lagi. Maka pada
saat itu pula dari empat lubang yang terdapat di
dinding kuil melesat empat leret cahaya merah
berhawa dingin luar biasa. Keempat cahaya itu
langsung menyambar ke arah si kakek setinggi
galah. Jika si pemuda pembantunya cepat jatuh-
kan diri, menelungkup hingga sama rata dengan
tanah, sebaliknya sambil memaki sang Datuk
angkat kedua tangannya.
Empat larik sinar merah dingin yang seha-
rusnya menghantam empat bagian tubuhnya kini
seolah tersedot oleh satu kekuatan yang tak terlihat di bagian telapak tangan
kanan kirinya. Deep! Blleep! Empat sinar merah amblas tersedot ke da-
lam telapak tangan, lenyap meninggalkan kepulan
asap. Belum sempat sang Datuk menarik nafas
pada saat itu pula dari belasan lubang yang ter-
dapat di sepanjang dinding kuil melesat belasan
mata tombak merah membara. Seluruh mata
tombak yang keluar tak terduga itu menyerbu ke
arah si kakek setinggi galah. Orang tua ini keluarkan suara menggereng marah.
"Mahluk-mahluk
keparat penghuni Kuil Setan. Pertunjukan apa-
pun yang kalian perlihatkan padaku, aku Datuk
Labalang, tidak mungkin mundur barang setapak
pun!" rutuk si kakek. Laksana kilat dia memutar tubuh dan kebutkan daster
hitamnya. Angin menyambar dahsyat dari jubah yang dikebutkan. Be-
lasan mata tombak berapi dibuat runtuh bermen-
talan ke berbagai penjuru arah, jatuh di tanah
berbatu disertai suara berkerontangan.
"Datuk memang hebat!" Memedi Santap
Segala berseru memuji sambil memasukkan se-
suatu ke dalam mulutnya.
Kraauk! "Keparat jahanam tukang makan, jangan
tiduran di situ. Cepat ikuti aku selagi pintu kuil masih terbuka!" teriak Datuk
Labalang dengan suara keras melengking.
Laksana kilat si pemuda berkulit hitam
berpusar bodong bangkit berdiri. Dia kemudian
mengikuti majikannya yang sudah melangkah le-
bar mendekati pintu kuil. Jika Datuk itu melang-
kah dalam beberapa tindakan, jangkauan yang
lebar membuat sang Datuk cepat sampai ke tem-
pat yang dia tuju. Sebaliknya Memedi Santap Se-
gala terpaksa berlari untuk mengimbangi langkah
kakek itu. Begitu sampai di depan pintu rendah, Da-
tuk Labalang rundukkan kepala dan hendak me-
langkah masuk. Tapi pada waktu yang bersamaan
dari dalam kuil yang memancarkan cahaya merah
berkilauan menderu segulung angin panas luar
biasa menerpa sang Datuk dan pembantunya.
"Hembusan Angin Neraka, cepat menying-
kir"!" teriak si kakek. Sambil melompat mundur dia hantamkan kedua tangannya ke
arah pintu. Benturan keras antara angin panas dengan puku-
lan kakek tinggi ini terjadi.
Buuum! Ledakan keras menggelegar mengguncang
puncak bukit. Datuk Labalang terhuyung, tubuh-
nya sempat tergontai. Sambil mengibaskan salah
satu tangannya yang terasa sakit Datuk Labalang
mengusap dadanya dengan satu kali sapuan. Ra-
sa menyesak di dalam dada lenyap seketika ber-
ganti dengan hawa dingin menyejukkan. Sepa-
sang mata belok si kakek tinggi memandang me-
lotot ke arah pintu. Tidak ada sesuatu pun yang
bergerak dari dalam sana setelah serangan hawa
panas tadi menerpanya. Dia mendadak teringat
sesuatu, dengan cepat Datuk Labalang menoleh
ke belakangnya.
"Pembantuku Mahluk Tangan Rembulan di
mana kau?" tanya orang tua lanjut usia ini agak cemas. "Eekh... aku... aku di
sini Datuk. Di bawah kakimu. Leherku kurasa mau putus, kaki kirimu
berat sekali." sahut Memedi Santap Segala.
Si kakek setinggi galah terkejut besar sam-
bil cepat angkat kaki kirinya dari leher si pemuda berpusar bodong. Pemuda itu
segera duduk sambil mengusap-usap lehernya yang serasa putus.
Melihat keadaan pembantunya, jika semula
sang Datuk sempat dibuat kesal dengan ulah si
pemuda, kini Datuk Labalang terpaksa menahan
senyum. "Cepat berdiri. Nampaknya kita harus
mencari jalan lain untuk masuk ke kuil ini." kata si kakek.
"Di belakang tidak ada pintu, Datuk.
Mungkin juga tak ada jalan rahasia. Jauh sebe-
lum Datuk datang saya sudah menyelidik. Di be-
lakang sana banyak tulang dan tengkorak manu-
sia. Dan saya juga yakin Datuk di sana banyak
jebakan. Menurutku kita masuk dari depan saja.
Kebiasaan para tetamu masuk selalu dari pintu
depan, begitulah katamu dulu. Bukankah begitu
Datuk?" ujar Memedi Santap Segala seolah mengingatkan.
"Tidak... tidak begitu Mahluk Tangan Rem-
bulan. Kita bukan tamu, kita tamu yang tidak di-
undang." sergah Datuk Labalang.
"Kalau begitu kita maling, Datuk?" tanya si pemuda tolol berbadan mirip manusia
dan mirip monyet besar. "Sesuatu yang tidak jauh dari yang kau se-
butkan!" kata kakek itu sambil kembali memandang ke arah pintu. Dalam hati
setelah berpikir
keras dia berkata. "Entah gerangan apa yang bersembunyi di balik pintu itu, tapi
hantaman hawa panas tadi walaupun dapat ku tangkis terasa
sangat panas sekali. Jika Memedi Santap Segala
yang kusuruh masuk tadi, pasti tubuhnya jadi le-
leh terkena sambaran hawa panas yang melesat
dari balik pintu batu." batin si kakek.
Sekejap dia benahi kerudungnya yang me-
nutupi sebagian kening. Setelah itu sang Datuk
memberi isyarat pada Memedi Santap Segala un-
tuk mengikutinya. Tak mengerti maksud maji-
kannya, pemuda itu hanya mengikuti Datuk La-
balang yang melangkah menuju ke belakang Kuil
Setan. Pada saat itu jika Datuk Labalang mengin-
jak permukaan batu pipih yang bertonjolan di
atas tanah secara teratur. Sebaliknya Memedi
Santap Segala berjalan seenaknya sendiri. Pada
satu kesempatan kakinya tergelincir dan terpero-
sok ke dalam legukan lubang kecil. Begitu ka-
kinya terperosok, maka tanah dan batu yang dipi-
jaknya selebar dua tombak dengan panjang tiga
tombak amblas ke bawah dengan disertai suara
bergemuruh hebat.
"Datuk, saya... aakh...!" Si pemuda menjerit keras. Tubuhnya terperosok masuk ke
dalam perut bukit. Datuk Labalang yang sempat dibuat
kaget namun sempat selamatkan diri mencoba
menggapai tubuh Memedi Santap Segala dengan
sepasang tangannya yang panjang. Sangat dis-
ayangkan tindakan penyelamatan yang dilaku-
kannya kalah cepat dengan daya luncur tubuh si
pemuda yang seakan tersedot ke bawah.
"Mahluk Tangan Rembulan, kau...!" seru si kakek tinggi. Sebenarnya dia hendak
ikut mener-junkan diri ke dalam lubang mengingat rasa
sayangnya pada pembantu bodoh yang sangat se-
tia itu. Tapi niatnya terpaksa diurungkan begitu
dia mendengar suara aneh yang berasal dari ba-
wah sana. Ternyata tanah yang amblas ke bawah
kini bergerak naik ke permukaan menutup bagian
dalam lubang, hingga lubang yang menganga tadi
kini menjadi rata kembali.
"Benar seperti katanya. Tempat ini men-
gandung banyak jebakan!" batin Datuk Labalang yang mulai gelisah memikirkan
keselamatan Memedi Santap Segala.
"Bocah muda itu harus kuselamatkan, tapi


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

senjata juga harus kudapatkan. Aku tak mungkin
kembali ke tanah Andalas dengan berhampa tan-
gan!" pikir si kakek tinggi.
Menyadari banyaknya bahaya yang muncul
secara tak terduga, kakek jangkung setinggi galah segera tingkatkan
kewaspadaannya. Dia sadar tak
mungkin masuk dari bagian depan kuil, walau-
pun saat itu pintunya masih tetap terbuka. Sete-
lah diam, berpikir sejenak si kakek akhirnya me-
neruskan niatnya semula untuk memasuki kuil
dari bagian belakang.
"Pintu rahasia... jalan rahasia. Aku punya
dugaan kuat pintu rahasia itu pasti ada. Tersem-
bunyi di satu tempat, sudah pasti." pikir si orang tua. Dia baru saja hendak
melanjutkan langkahnya ketika mendadak terdengar suara tawa
menggeledek tak jauh di sampingnya. Dalam ke-
jutnya dia cepat menoleh. Sepasang mata mende-
lik tak percaya. Yang membuat dia tidak habis
mengerti bagaimana satu sosok berpakaian serba
merah itu tiba-tiba hadir di depannya. Padahal
sebelum itu dia tidak mendengar tanda-tanda ke-
datangannya. "Hik... hik... hik. Selamat datang di Kuil Setan, manusia setinggi galah. Kau
adalah korban pertama yang berani menyabung nyawa dengan
menginjakkan kaki di tempat ini!" kata sosok berpakaian serba merah bertangan
empat yang me- miliki empat leher dan empat kepala pula. Dua
kepala sosok angker mengerikan itu menghadap
ke depan dan dua kepala lagi menghadap ke be-
lakang. Dan masing-masing dari keempat kepala
itu dapat diputar setengah lingkaran.
Sejenak lamanya Datuk Labalang yang di
daerah asalnya memiliki gelar Datuk Penguasa
Tujuh Telaga pandangi mahluk aneh di depannya.
Wajah empat kepala dari mahluk itu nam-
pak memerah seperti darah, beralis tebal, masing-
masing dari matanya yang satu berwarna seperti
darah, sedangkan hidung sama rata dengan bibir,
gigi-giginya runcing tajam mencuat seperti taring.
Di setiap kepalanya yang cuma sebesar kepalan
tangan tumbuh rambut panjang berwarna merah
pula. "Mahluk jahanam terkutuk. Bagaimana
mahluk penjaga Kuil ini bisa luput dari perha-
tianku. Mestinya dia berada di dalam sana. Mah-
luk ini konon sangat ganas sekali. Aku tak meli-
hat dua kembarannya yang lain. Apakah sudah
munculkan diri, keluar dari pintu kuil, atau ma-
sih mendekam di dalam sana." batin sang Datuk dalam hati.
"Kau sudah siap menjalani penyiksaan,
orang asing dari seberang"!" suara sosok merah berkepala empat berleher panjang
bergaung di udara. Setiap satu mulut berucap, maka ketiga
mulut lainnya juga ikut berucap, hingga menim-
bulkan suara tak berkeputusan.
"Siapa dirimu?" tanya Datuk Labalang. Di-am-diam dia mempersiapkan satu pukulan
sakti yang siap dilepaskan kapan saja kakek ini mau.
"Ha... ha... ha. Hik... hik... hik." terdengar empat suara serentak. Empat
kepala berleher
panjang sebesar kepalan tangan bergoyang keras.
Berbeda dengan tubuhnya yang besar, tubuh
mahluk merah itu diam tak bergeming. "Aku adalah Maut Merah! Mahluk penjaga Kuil
Setan. Te- lah dititahkan padaku oleh Yang Agung untuk
membunuh siapa saja yang hadir di sini. Terke-
cuali orang-orang yang memang diinginkan keda-
tangannya!" kata mahluk merah tegas. Karena setiap bicara diikuti oleh mulut-
mulutnya yang lain, maka Datuk Labalang merasakan suasana yang
sangat berisik luar biasa.
"Aku Datuk Labalang, datang ke sini bukan
dengan maksud mengusik ketenangan penguasa
Kuil Setan." jelas si kakek.
Mata tunggal beralis tebal mengedip. "Apa
keinginanmu?" tanyanya kemudian.
"Aku inginkan senjata ampuh Bintang Pe-
nebar Petaka!" jawab Datuk Labalang.
"Permintaanmu tak dapat kupertimbang-
kan, hanya Yang Agung saja yang paling pantas
memberikan jawaban. Sekarang aku akan mem-
bawamu menghadap Yang Agung," sahut Maut
Merah. Selesai berkata sosok berkepala empat
yang sekujur tubuhnya berwarna merah gerakkan
keempat tangannya ke arah si kakek.
Angin menyambar deras menerpa ke arah
si Datuk. Empat larik sinar berupa benang meli-
bat tubuh orang tua itu.
Jika semula dia mempunyai prasangka
baik atas ucapan Maut Merah, kini setelah meli-
hat empat lembar benang meluncur melibat tu-
buhnya berubah pikiran Datuk Labalang. Maut
Merah pasti hendak membuat dirinya celaka. Pi-
kir si kakek. Untuk itu dia melompat menghindar
selamatkan diri dari libatan benang sambil meng-
hantam benang itu dengan satu pukulan sakti.
Wuuus! Empat benang dipukul mental, ujungnya
meliuk berbalik hendak menghantam pemiliknya
sendiri. Maut Merah terkejut besar, sambil me-
lompat menghindari patukan ujung benang
mautnya. Maut Merah membentak. "Katanya kau
datang ingin meminta pusaka. Begitu aku ber-
maksud membawamu untuk menghadap Yang
Agung kau malah memukulku!"
"Ha... ha... ha. Kau hendak meringkusku
dengan benang celaka itu, bagaimana aku bisa
berdiam diri?" kata si kakek disertai senyum mengejek.
"Hanya dengan cara itu kau baru bisa me-
lewati Pintu Neraka di depan sana." tegas Maut Merah sambil menunjuk ke arah
pintu yang terbuka dengan salah satu tangannya. Selagi Datuk
Labalang menoleh memandang ke arah yang di-
maksud. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh
Maut Merah. Empat tangan kembali digerakkan.
Lima benang merah menderu melibat tubuh si
kakek. Orang tua ini tidak sempat lagi menghin-
dar, karena hanya dalam waktu tidak sampai sa-
tu detik tubuhnya mulai dari bagian leher, tangan dan kepala sudah terikat
benang, "Jahanam terkutuk apa yang kau lakukan
padaku!" teriak Datuk Labalang sambil meronta mencoba memutuskan benang. Maut
Merah tertawa terbahak-bahak. Tanpa bicara apapun tan-
gannya disentakkan, empat benang yang berada
di ujung jemari tangan Maut Merah ikut tersen-
tak. Tubuh Datuk Labalang ikut terbetot, me-
layang ke arah Maut Merah. Empat tangan dige-
rakkan ke depan menyambuti. Pada kesempatan
lain tubuh kakek berbadan tinggi ini sudah bera-
da dalam panggulan Maut Merah. Sosok mahluk
aneh itu lalu berkelebat masuk ke dalam pintu
berwarna merah.
Begitu Maut Merah lenyap di balik pintu,
maka pintu batu di bagian depan mengeluarkan
suara bergemuruh dan terus bergeser menutup.
Kemudian suasana berubah sunyi, di langit bulan
sabit sudah tak terlihat. Kabut kembali menyeli-
muti kuil, hingga keberadaan Kuil Setan tak terlihat lagi dalam pandangan mata.
3 Di dalam salah satu ruangan yang terdapat
di dalam Kuil Setan, seorang laki-laki berumur
sekitar empat puluh tahun berpakaian serba pu-
tih di atas sebuah pembaringan terbuat dari batu
merah. Selesai membaringkan gadis itu laki-laki
yang kedua belah tangannya berwarna hitam
sampai sebatas pangkal lengan segera mengambil
gelang besi yang biasa dipergunakan untuk mem-
belenggu tangan dan kaki. Gadis yang dalam kea-
daan tertotok itu hanya dapat memperhatikan
semua apa yang dilakukan terhadapnya tanpa
mampu berbuat apapun,
"Tangan Sial! Aku tahu seseorang telah
membuatmu kehilangan kewarasan. Tapi ingat-
lah, renungkan baik-baik, kau seorang manusia
yang mempunyai perasaan. Pergunakan pera-
saanmu untuk mengalahkan satu kekuatan yang
berada dalam dirimu!" Gadis berpakaian putih ti-ba-tiba berkata. Dia
memperhatikan laki-laki itu.
Nampak jelas kening si baju merah yang dikenal
dengan julukan Si Tangan Sial mengerut dalam.
Sesaat wajahnya nampak menegang. Apa yang
diucapkan oleh si gadis mengiang di telinganya.
Otak dan kesadarannya dipacu untuk mengingat
segala sesuatunya. Di saat ingatan SI Tangan Sial hampir muncul kembali. Pada
saat itu pula dia
menjerit keras. Satu sengatan mendera punggung
kanan kiri juga di bagian belakang leher laki-laki
ini. "Apa yang terjadi padanya" Kekuatan apa
sebenarnya yang telah mempengaruhi jalan piki-
ran paman Tangan Sial?" pikir si gadis yang bukan lain adalah Ambini.
"Aku tak bisa mengingat apapun. Aku tak
bisa mengingat masa lalu. Yang ada dalam piki-
ranku hanya berupa perintah seseorang." kata Si Tangan Sial kemudian sambil
gelengkan kepala.
Bibir laki-laki itu meringis menahan sengatan
hawa dingin luar biasa di bagian punggung dan
leher. "Tangan Sial, aku Ambini. Sahabatmu juga sahabat Gento Guyon!" teriak si
gadis. Dia sadar dalam keadaan seperti itu bahaya sewaktu-waktu
bisa datang dari arah yang tidak pernah disangka.
Apalagi mengingat kini dirinya terkurung di dalam ruangan yang segalanya serba
merah. Ruangan asing yang selalu dipenuhi kepulan asap. Satu
tempat aneh yang dia tidak pernah mengenal se-
belumnya. "Maafkan aku, perintah telah kuterima
jauh sebelum aku membawamu ke Kuil Setan ini.
Aku harus membunuh Gento Guyon, aku harus
mendapatkan senjata itu. Kau kujadikan jaminan,
jika Gento tidak muncul di tempat ini kau harus
kubunuh!" kata Si Tangan Sial.
"Tangan Sial, kau telah diperalat oleh orang lain. Kau bukan orang jahat,
seharusnya kau ingat akan hal itu!" Sekali lagi Ambini mengingatkan.
Nampaknya apa yang dilakukan Ambini
hanya sia-sia, karena Si Tangan Sial sudah tidak
perduli lagi. Gelang rantai yang dipergunakan un-
tuk memasung sudah dibuka oleh laki-laki itu.
Kemudian gelang itu dipasang masing-masing di
bagian tangan dan kaki.
Krak! Kraak! Empat gelang besi belenggu kini sudah ter-
pasang di tangan dan kedua kaki Ambini. Setelah
itu Si Tangan Sial melepaskan totokan di pung-
gung si gadis. Begitu dirinya terbebas dari totokan Ambini segera berusaha
membebaskan diri dari
gelang belenggu yang bagian ujungnya terbenam
di dalam dipan batu merah. Terdengar suara ge-
merincing berisik, tapi sampai tubuh Ambini ba-
sah kuyup bersimbah keringat gelang besi yang
membelenggu kedua tangan dan kaki tidak dapat
diputuskan. Megap-megap Ambini mencoba menarik
nafas. Sepasang matanya yang bening indah me-
natap ke langit-langit ruangan sempit itu. Ruan-
gan serba merah yang menebarkan bau aneh me-
nusuk penciuman. "Tidak ada jalan selamat,"
Ambini membatin dalam hati. Dia melirik ke arah
Si Tangan Sial. Dia jadi kaget karena Si Tangan
Sial ternyata sudah tidak berada lagi di situ. Si gadis kemudian gelengkan
kepalanya ke kiri. Di
sana ternyata masih ada sebuah ranjang batu
seukuran orang tidur. Sama seperti ranjang batu
yang dijadikan tempat memasung Ambini. Ran-
jang yang satu ini juga dilengkapi dengan empat
rantai yang ujungnya dipasangi gelang belenggu.
"Siapa lagi korban berikutnya!" membatin gadis ini dalam hati. Dalam keadaan
sedemikian rupa dan membayangkan nasib apa yang bakal
terjadi pada dirinya si gadis merasakan mendadak
sekujur tubuhnya telah berubah menjadi gundu-
kan es. Tapi bagaimanapun bentuk kematian
yang nantinya datang kepadanya, Ambini tak
mau bersikap pasrah menerima nasib begitu saja.
Dia harus melakukan sesuatu. Sekarang yang
paling baik adalah mengerahkan segenap daya
pikiran untuk mencari jalan keluar. Sementara
dalam keadaan berbaring seperti itu dia juga
punya kesempatan untuk memulihkan tenaga da-
lamnya yang sempat melemah begitu Si Tangan
Sial membawanya melewati pintu Kuil Setan tadi.
*** Di satu tempat, di sebelah selatan jauh di
luar kawasan Kuil Setan, di tepi sebuah rimba be-
lantara terdapat satu pohon besar yang mulai dari daun, batang, dan akarnya
berwarna hijau. Pohon
ini menjulang tinggi menggapai angkasa berdaun
lebar berbuah lebat seperti semangka namun
buah itu mengandung racun hijau yang memati-
kan. Sedangkan di bawah pohon itu sendiri ter-
dapat sebuah telaga kecil selebar sumur. Air tela-ga berwarna hijau. Hampir
setiap saat air telaga
selalu bergoyang tak mau diam.


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bila diperhatikan lebih dekat. Ternyata di
dalam telaga itu mendekam satu sosok serba hi-
jau. Bukan hanya kulitnya saja yang hijau, tapi
mulai dari rambut, mata, muka dan juga giginya
berwarna hijau. Sosok ini dalam keadaan duduk
dengan punggung disandarkan pada dinding tela-
ga. Air telaga tergenang sampai sebatas dadanya.
Sambil berendam sesekali matanya yang hijau
memandang ke atas pohon, ketika sepasang ma-
tanya dikedipkan maka buah pohon hijau melun-
cur jatuh ke arahnya. Salah satu tangan yang
terbenam dalam air berkelebat. Buah bulat sebe-
sar kelapa jatuh menempel di ujung jarinya.
"Di antara sekian banyak makananku tak
satupun yang sempat masak. Tak ada yang ma-
sak, yang mudapun sudah dapat ku nikmati!"
gumam orang tua berbadan serba hijau yang tu-
buhnya selalu basah seperti kodok. Sambil me-
nyeringai dan tersenyum-senyum sendiri buah di
ujung jarinya diambil lalu dihantamkan ke bagian
kepala. Proook!
Sungguh menakjubkan buah hijau yang
kerasnya melebihi batu kali itu hancur terbelah
menjadi empat bagian. Dari bagian dalam buah
mengucur cairan hijau. Sosok serba hijau mem-
buka mulut lebar. Cairan buah yang mengucur
seluruhnya masuk ke dalam mulut membasahi
tenggorokan. Lidah mahluk serba hijau ini terju-
lur menjilati bibir, setelah itu pecahan kulit buah hijau dilemparkannya ke arah
kawanan kodok di
tepi telaga. Begitu kodok-kodok tersentuh terkena
percikan air buah, tubuh binatang langsung han-
gus, mengepulkan asap tebal disertai terciumnya
bau daging terbakar.
Tanpa menghiraukan binatang yang berka-
paran terkena buah beracun yang dilemparkan-
nya, dia kembali bangkit berdiri. Ternyata air telaga yang berwarna hijau itu
dalamnya hanya se-
batas lutut. Orang tua ini kemudian gerakkan
kakinya. Di lain kejap dia telah berdiri di tepi telaga. Belum lagi sempat sosok
serba hijau berge-
rak meninggalkan telaga, pada saat bersamaan
mendadak terdengar suara bentakan menggeledek
disertai dengan berkelebatnya satu sosok serba
merah ke arahnya.
"Iblis Racun Hijau. Aku datang menagih
janji!" teriak satu suara. Ketika sosok serba hijau ini memandang ke depannya.
Di depan sana dalam jarak dua tombak berdiri tegak seorang pe-
muda berwajah tampan. Rambutnya yang pan-
jang menjulai diikat kain berwarna merah. Di ba-
gian depan ikat kepala itu terlihat satu gambar
seperti lintasan kilat dan bumi terbelah. Selain
ikat kepala, pakaian pemuda berhidung mancung
berdagu runcing ini juga berwarna merah. Di ba-
gian punggung pakaian terdapat sulaman gambar
berbentuk bumi; sedangkan di tengah gambar
bumi yang terbelah terdapat sebuah garis berke-
lok-kelok seperti kilat yang menyambar di tengah
hujan. Memperhatikan kehadiran pemuda ini se-
jenak sosok hijau bergelar Iblis Racun Hijau ini
hanya mendengus. Dia palingkan muka dan alih-
kan perhatiannya ke arah lain. Tak lama kemu-
dian mulutnya yang hijau berucap. "Lira Watu Sasangka... kau datang padaku hanya
untuk urusan itukah" Atau mungkin kau punya kepen-
tingan dan tujuan lain?"
"Ha... ha... ha! Guruku Begawan Panji
Kwalat pernah mengatakan padaku, jika kelak
aku telah selesai mempelajari segala ilmu yang
dia wariskan padaku, aku boleh menemuimu un-
tuk mendapatkan beberapa petunjuk penting
yang konon ada hubungannya dengan pusaka
Bintang Penebar Petaka. Dua puluh tahun silam
dari waktu yang dijanjikan sampai sudah. Sesuai
pesan guru, kini aku datang menagih janji!" kata Lira Watu Sasangka dengan sikap
angkuh dan sambil bertolak pinggang.
4 Iblis Racun Hijau tersenyum mendengar
ucapan si pemuda. Perlahan pandangan matanya
dialihkan ke arah si pemuda. Beberapa jenak la-
manya orang tua itu dan si pemuda saling ber-
pandangan. Meskipun pemuda itu sempat menja-
di kaget melihat tatapan mata si kakek yang ber-
warna hijau itu, namun jauh di lubuk hatinya ti-
dak ada rasa takut barang sedikitpun.
"Katamu kau datang menagih janji. Kapan-
kah aku pernah berjanji pada gurumu" Dua pu-
luh tahun yang lalu ketika kau masih merupakan
bayi batu yang membawa sengsara bahkan kema-
tian bagi ibumu sendiri. Aku hanya mengatakan,
kelak mungkin terbuka jalan bagimu untuk men-
cari senjata Bintang Penebar Bencana!" ujar si kakek tenang.
"Kau mengatakan! Apakah itu bukan jan-
ji"!" tanya si pemuda disertai senyum dingin.
"Gurumu mungkin salah mendengar. Perlu
kau ketahui, senjata itu tidak ada padaku. Dia
bersembunyi di satu tempat rahasia di dalam Kuil
Setan!" menerangkan Iblis Racun Hijau. Dalam hati dia berkata. "Meskipun kau
memiliki ilmu tinggi, kau tidak bakal selamat bila pergi ke sa-na." "Kuil Setan.
Tempat itu penuh maraba-haya. Konon banyak terdapat jebakan pula. Sia-
papun yang mencoba memasuki daerah itu tidak
pernah selamat. Aku yakin kau mengetahui seluk
beluk daerah itu. Mungkin pula kau bersedia
mengantarku ke sana!" kata Lira Watu Sasangka.
Permintaan yang bersifat memaksa pemu-
da itu tentu sangat mengejutkan bagi si orang
tua. Tapi siapa takutkan pemuda itu. Jika pada
gurunya Begawan Panji Kwalat saja dia tidak per-
nah merasa takut, apalagi pada Iblis Racun Hi-
jau" Dengan perasaan jengkel Iblis Racun Hijau
berucap. "Jika kau mau pergi ke Kuil Setan, dengan bekal ilmu hebat yang kau
miliki mengapa harus mengajak aku yang sudah tua ini. Kau per-
gilah sendiri. Tunggu bulan sabit muncul, karena
pada saat itu pintu Kuil Setan akan terbuka. Kau
bisa menemui seseorang...!"
"Seseorang siapa?" tanya si pemuda.
"Seseorang siapa saja yang mau menun-
jukkan di mana senjata Bintang Penebar Bencana
tersimpan." kata Iblis Racun Hijau.
"Orang tua, sejauh apakah persahabatan
antara dirimu dengan guruku?" tanya Lira Watu Sasangka yang oleh gurunya diberi
julukan Panji Anom Penggetar Jagad.
Orang tua itu tidak langsung menjawab,
dia memandang pemuda di depannya dengan so-
rot mata tajam menusuk. "Pemuda ini mungkin
kelak hanya akan membuat kekacauan di dunia
persilatan. Jika tak ada orang yang dapat meng-
hentikannya, bukan mustahil pada waktu menda-
tang dia menjadi raja diraja segala kejahatan!" batin si orang tua yang sekujur
tubuhnya mengan-
dung racun maha ganas mematikan. Setelah ber-
pikir Iblis Racun Hijau kemudian berkata: "Persa-habatanku dengan Begawan Panji
Kwalat boleh dibilang sudah cukup lama. Tapi satu hal yang
patut kiranya kau ketahui, persahabatan kami ti-
dak ubahnya seperti air dengan minyak. Gurumu
memiliki ilmu sangat tinggi, bahkan setiap uca-
pannya mempunyai keampuhan aneh. Tapi ba-
gaimanapun diriku mempunyai jalan hidup yang
berbeda dengan gurumu. Biarpun orang menge-
nalku sebagai iblis!" kata orang tua berbadan hijau tegas.
"Begitu?" Lira Watu Sasangka tersenyum
sinis. "Jika memang demikian keadaan yang sebenarnya, berarti kita tidak pernah
sejalan." kata si pemuda.
Sekarang sebaiknya katakan padaku siapa
yang harus kutemui di Kuil Setan?"
Kakek yang mulai ujung rambutnya sam-
pai ke bagian kaki berwarna hijau gelengkan ke-
pala. Dia semakin sebal melihat tingkah si pemu-
da, sebagaimana rasa sebalnya terhadap Begawan
Panji Kwalat yang hidup dalam kesesatan.
"Kau dengar, Lira Watu Sasangka. Di Kuil
Setan orang yang harus kau temui ada dua, satu
perempuan dan satunya lagi laki-laki. Setelah me-
lewati kedua orang ini kau harus minta izin dulu
pada sesepuh yang tinggal di sana. Jika perun-
tunganmu baik, mungkin orang tua itu berkenan
memberikan senjata itu padamu. Tapi andai na-
sibmu jelek mungkin tubuhmu akan dijadikan
kayu bakar untuk membuat senjata pusaka yang
baru. Aku sendiri tak tahu sesepuh yang kumak-
sudkan itu berada di dalam ruangan yang mana.
Kau bisa mencarinya sendiri." kata Iblis Racun Hijau. Penjelasan si orang tua
ini bagi Lira Watu Sasangka jelas bukan merupakan jawaban sebagaimana yang dia
inginkan. Bahkan dia cende-
rung menilai Iblis Racun Hijau bermaksud hen-
dak mengelabuinya. Sehingga pemuda inipun ter-
tawa terbahak-bahak.
"Tua bangka berkulit hijau, guruku menga-
takan agar aku memanggilmu paman, kuanggap
itu adalah sebutan penghormatan. Tapi aku tak
mau memanggil begitu karena kau tidak layak
kupanggil paman. Kurasa kau lebih pantas ku-
panggil monyet hijau. Ha... ha... ha!" kata Lira Watu Sasangka disertai tawa
tergelak-gelak.
Mendengar ucapan pemuda itu wajah hijau
si kakek bertambah hijau. Dia lalu melangkah
maju. "Apa maksud ucapanmu itu pemuda ku-
rang ajar?" teriak iblis Racun Hijau marah.
"Maksudku, melihat ujudmu kau tak pan-
tas disebut manusia. Kau lebih bagus disebut
monyet bermuka hijau."
"Kau sengaja mencari masalah, pemuda
keparat yang terlahir dalam bentuk batu?" hardik Iblis Racun Hijau.
"Setelah mendengar keteranganmu tentang
guruku, apakah kau mengira aku percaya dengan
segala ucapanmu" Malah aku punya dugaan kau
sengaja hendak menjerumuskan aku!"
"Pemuda keparat, mulutmu busuk sekali!"
maki si kakek. "Ha... ha... ha. Jika benar kau mau apa,
orang tua?" tantang Lira Watu Sasangka.
"Murid Begawan Panji Kwalat ini jika tak
kuberi pelajaran, sikapnya bisa lebih kurang ajar dari gurunya!" pikir Iblis
Racun Hijau. Dengan suara keras dia berkata. "Pemuda congkak, jika gurumu
manusia segala bisa jangan kau kira aku
takut padanya. Aku sudah berikan keterangan
yang kau minta. Kini kau malah berbalik menu-
duhku yang bukan-bukan! Majulah, tunjukkan
segala kehebatan yang diwariskan oleh gurumu!"
"Ha... ha... ha. Kau meminta aku akan
memberi," sahut Lira Watu Sasangka sambil tertawa lebar, Dia kemudian
membungkukkan ba-
dan. Semula Iblis Racun Hijau menyangka pemu-
da itu hendak menjura hormat, tapi apa yang ke-
mudian terjadi sungguh sangat mengejutkan. Da-
ri bagian ubun-ubun si pemuda mengepul asap
tipis yang bergulung-gulung menjulang ke langit.
Bersamaan dengan itu pula, Lira Watu Sasangka
alias Panji Anom Penggetar Jagad hentakkan kaki
kirinya. Bersamaan dengan hentakan kakinya,
mulut si pemuda berucap. "Melayanglah kau ke langit, berputar seperti titiran!"
"Ilmu Sabda Alam" Hemm...!" gumam Iblis Racun Hijau. Saat itu dia merasakan
sekujur tubuhnya mendadak berubah ringan, kakinya ber-
goyang hendak melambung ke atas. Sedangkan
tangan dan kepala mendadak bergetar keras dan
mulai terasa oleng. "Dewa Braga... apa yang tidak terjadi tidak akan pernah
terjadi. Ilmu rongsokan seperti itu tidak layak kau tunjukkan padaku,
heaah!" Iblis Racun Hijau hentakkan kaki kanannya. Di depannya sana Lira Watu
Sasangka terke-
jut besar, tubuhnya terhuyung seakan ada satu
kekuatan hebat yang mendorong tubuhnya den-
gan kerasnya. Bagaimana mungkin ilmunya yang
sangat hebat dan mampu menjatuhkan orang se-
suai dengan kehendak ucapannya ini di depan si
kakek seakan kehilangan fungsinya sama sekali.
Tak percaya dengan kenyataan yang diha-
dapinya si pemuda kembali merapal mantra-
mantra yang didapat dari gurunya. Setelah itu dia berteriak. "Jatuh...!"
Sebagaimana yang biasanya terjadi, teria-
kan itu tentu membuat lawan terjatuh. Tapi kini
dilihatnya Iblis Racun Hijau hanya termiring-
miring. Sedangkan mulut si kakek berucap.
"Eeh... minum tuak aku tidak pernah, bagaimana tubuhku kini seperti orang mabuk.
Ha... ha... ha!
Kuras semua mantra aji yang kau miliki, bocah.
Aku telah membentengi diriku dengan ajian Dewa
Braga. Ha... ha... ha. Sampai berbusa mulutmu,
sampai dower bibirmu ucapanmu itu hanya kesia-
siaan belaka!"
Bangsat terkutuk!" teriak Lira Watu Sa-
sangka kalap dan juga merasa malu karena pene-
rapan ajian yang dimilikinya ternyata tidak mem-
punyai pengaruh sama sekali bagi kakek berba-
dan hijau ini. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda
berpakaian serba merah ini lalu melesat ke depan
sambil melepaskan salah satu pukulan mautnya.


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Begitu si pemuda hantamkan tangannya ke arah
si kakek, sinar merah biru membersit, melesat de-
ras ke arah lawan disertai menderunya hawa pa-
nas luar biasa.
"Tiga Petaka Bumi!" teriak si kakek menye-but nama pukulan yang dilepaskan si
pemuda. Dia menyambuti sambil melanjutkan ucapannya.
"Belasan tahun yang lalu pukulan itu memang
sempat membuat geger rimba persilatan. Tapi
siapa yang takut?" desis Iblis Racun Hijau disertai senyum mengejek. Dia lalu
gerakkan tangannya
disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Seketi-
ka itu juga dari telapak tangan si kakek mencuat
sinar putih berhawa dingin luar biasa. Tak dapat
dihindari dua pukulan saling bertemu di udara.
Buuum! Terjadi ledakan berdentum, Lira Watu Sa-
sangka menjerit keras sedangkan tubuhnya sem-
pat terdorong dua langkah. Si kakek di depannya
sana nampak terhuyung, namun masih sempat
tersenyum meskipun mukanya yang hijau sempat
berubah menjadi hijau muda.
5 Kini orang tua itu berdiri tegak di hadapan
Lira Watu Sasangka. Mulutnya menyeringai se-
dangkan matanya yang hijau memandang nyalang
sambil berpikir apa kiranya yang hendak dilaku-
kan oleh orang itu selanjutnya. Tapi sebelum si
pemuda melakukan tindakan apapun, Iblis Racun
Hijau berucap: "Dua kali kau menyerangku, sekarang giliranku melakukan
serangan...!" kata si kakek. "Aku ingin menjajal apakah tubuhmu yang kabarnya
sangat atos seperti batu sebagaimana
saat kau terlahir ke dunia ini tidak mempan den-
gan racunku atau malah sebaliknya!" Selesai berkata si kakek serba hijau ini
segera menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu mulutnya meniup, dari
mulut yang sengaja dihembuskan dengan keras
menyembur cairan hijau pekat berbau harum se-
merbak. Begitu melesat di udara cairan itu lang-
sung menebar menyerang lawannya. Pemuda itu
sadar betapa racun ganas yang disemburkan si
kakek tidak ada duanya. Sehingga begitu menda-
pat serangan dia langsung melompat ke udara.
Selagi tubuhnya mengapung di udara dia han-
tamkan tangan kiri kanan melepas pukulan Ku-
tukan Mendera Bumi. Angin dahsyat menyambar
membuat semburan cairan racun berbalik meng-
hantam si kakek sendiri.
"Ha... ha... ha! Tidak kusangka aku harus
mandi air ludahku sendiri!" kata si kakek. Karena si kakek memang tidak berusaha
mengelak, maka tak ayal seluruh cairan racun membasahi tubuh-
nya. Setelah tubuhnya terkena racunnya sendiri,
dengan gerakan laksana kilat si kakek menghan-
tam ke depan menangkis pukulan yang dile-
paskan lawan. Desss! Dua pasang tangan saling membentur den-
gan sangat keras sekali. Lira Watu Sasangka me-
raung keras. Selagi di udara tubuhnya nampak
limbung namun masih sempat jatuh dengan ke-
dua kaki tertekuk. Wajah pemuda ini berubah,
tangannya yang membentur telapak tangan lawan
laksana dicucuki ribuan batang jarum, menim-
bulkan rasa sakit yang sangat laur biasa. Pemuda
ini bangkit berdiri.
"Jahanam hijau itu ternyata tidak dapat
dianggap enteng. Dia mengetahui kelemahan dari
ajianku. Jika kuteruskan, mungkin aku bisa ce-
laka. Kalau aku membunuhnya, guru pasti marah
besar. Untuk sementara sebaiknya ku tunda dulu
urusanku dengannya. Biar umurnya panjang se-
dikit tidak mengapa, nanti jika senjata itu telah kutemukan, di lain hari dan
kesempatan aku pasti membunuhnya!" batin si pemuda. Sejenak dia pandang ke
depan. Iblis Racun Hijau ternyata
saat itu sudah berdiri tegak. Orang tua ini se-
sungguhnya sempat mengalami guncangan hebat
di bagian dalam saat bentrok tangan dengan pe-
muda itu. Dia bahkan merasakan tangannya se-
perti menghantam batu karang yang sangat keras
sekali. Sungguh pun begitu kini dia siap mengha-
jar lagi Lira Watu Sasangka dengan pukulan dah-
syat dan juga dengan semburan racun dari mu-
lutnya. "Murid Begawan Panji Kwalat, apakah kau ingin melanjutkan perkelahian
ini sampai salah
seorang di antara kita ada yang menemui ajal?"
sindir Iblis Racun Hijau.
Lira Watu Sasangka tersenyum sinis. "Ma-
sih banyak waktu bagi kita untuk menentukan
siapa yang paling hebat di antara kita, monyet hijau. Saat ini aku belum kalah,
mungkin juga kau
merasa begitu bagiku tak jadi soal. Tapi suatu
saat kau akan tahu, aku Panji Anom Penggetar
Jagad pantas menjadi raja diraja dunia persilatan!
Ha... ha... ha!" Selesai bicara sambil tertawa pemuda congkak itu balikkan tubuh
lalu berkelebat
pergi tinggalkan si kakek yang termangu seorang
diri. "Kalau tidak mengingat kau murid sahabatku, aku pasti akan menghabisimu.
Tapi aku yakin kelak kau akan kesandung batunya. Kau
tidak sadar di atas langit masih ada langit yang
lain!" ujar si kakek sambil pandangi ke arah le-nyapnya Lira Watu Sasangka.
Hanya beberapa saat saja seperginya murid
Begawan Panji Kwalat Iblis Racun Hijau menden-
gar suara tawa di kejauhan. Menilik suara itu
nampaknya orang yang tertawa bukan satu
orang, tapi dua. Satu suaranya serak dan besar
dan yang satunya lagi melengking nyaring.
"Manusia edan mana lagi yang datang ke
mari" Padahal tubuhku sudah terasa panas dan
aku ingin kembali berendam di dalam telaga keti-
duranku!" gerutu si kakek sambil memandang ke satu jurusan. Di jurusan mana
suara tawa terdengar si kakek tidak melihat ada siapapun.
"Orangnya belum terlihat tapi suaranya
terdengar. Siapapun mereka pasti memiliki tenaga
dalam yang sangat tinggi." si kakek membatin dalam hati.
Kini semakin dekat suara orang yang ter-
tawa, maka suara itu makin keras terdengar
sampai si kakek jadi pengang sendiri. Dia tekap
telinganya, sementara matanya yang hijau dengan
bola hitam di bagian tengah memandang mende-
lik ke arah depan sana di mana dua sosok tubuh
berkelebat mendekat ke arahnya.
Tak lama kemudian dua sosok yang datang
disertai suara tawa itu telah berdiri tegak di depan Iblis Racun Hijau. Ternyata
dia bukan lain adalah seorang kakek berwajah bulat berkening
lebar, berbadan besar luar biasa berpakaian hi-
tam sedangkan baju tidak terkancing. Sedangkan
di samping kakek yang murah senyum dan gam-
pang tertawa ini berdiri tegak seorang pemuda
tampan berwajah polos bertelanjang dada. Bebe-
rapa jenak lamanya ketiga orang ini saling pan-
dang satu dengan yang lainnya.
Si kakek serba hijau membatin. "Berbadan
tinggi besar dengan berat lebih dari dua ratus ka-ti. Orang ini mengingatkan aku
pada salah seo-
rang tokoh kocak dari gunung Merbabu. Kalau
tak salah, namanya Gentong Ketawa. Apakah
orang tua yang berdiri di hadapanku ini orang-
nya" Lalu siapa pemuda yang ikut serta dengan-
nya ini?" Sebaliknya si kakek gendut besar yang
berdiri sambil berkipas-kipas dengan jari tangan-
nya itu juga berpikir. "Mahluk hijau seperti daun.
Tubuhnya mengandung racun jahat mematikan,
tapi dia sendiri bukan orang jahat. Mungkin di-
alah orangnya yang bergelar Iblis Racun Hijau?"
"Gendut, siapa kakek aneh ini" Sekujur
tubuhnya sampai ke rambut berwarna hijau.
Mungkinkah dia masih anak turun sapi yang su-
ka memakan rumput?" tanya si pemuda yang bu-
kan lain adalah Gento Guyon sambil menahan
senyum. "Mungkin dia masih merupakan bapak
moyangnya sapi. Tapi ketika masih dalam kan-
dungan ibunya selalu bermimpi ingin jadi manu-
sia, sehingga terlahirlah manusia aneh sebagai-
mana yang kau lihat." berkata seperti itu si kakek yang bukan lain adalah guru
pemuda itu sudah
tak dapat lagi menahan tawanya. Murid dan guru
akhirnya sama-sama tertawa.
"Manusia sinting salah kaprah apa yang
kalian tertawakan?" bentak Iblis Racun Hijau merasa tersinggung melihat tingkah
murid dan guru ini. Gentong Ketawa buru-buru mendekap mulut,
walau mulut sudah ditutup namun perutnya ma-
sih tetap bergoyang-goyang pertanda tawanya be-
lum lenyap sama sekali. Lain halnya dengan Gen-
to, begitu melihat mata kakek bermata hijau ini
mendelik dia langsung katupkan bibirnya.
"Gawat ndut, orang tua itu nampaknya ti-
dak terima kita tertawa-tawa di depannya. Ndut...
lihatlah, bukan hanya tubuh kakek ini saja yang
hijau, bahkan mata sampai ke giginya juga ber-
warna hijau!" berbisik si pemuda yang sering memanggil gurunya dengan sebutan
gendut itu. "Sudah kuduga, dia memang mahluk lang-
ka. Yang sering kulihat gigi orang berwarna kun-
ing, tapi yang ini memang lain." sahut si kakek.
Dia membuka mulut hendak tertawa lagi, tapi
Gento cepat menekap mulut gurunya dengan tan-
gan kirinya. "Eeh, apa-apaan kau murid edan" Orang
hendak tertawa kok dilarang!" kata si kakek gen-
dut sambil menepiskan tangan Gento.
"Hemm, rupanya kau dan tua bangka gen-
dut itu adalah murid dan guru?" kata Iblis Racun Hijau sinis.
"Kau benar sekali orang tua hijau?" sahut Gento. "Pantas, keduanya sama-sama
edan." Gentong Ketawa bukannya tersinggung,
sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak. Sambil
tertawa si kakek menunjuk ke arah si kakek ser-
ba hijau. "Kau orang yang tubuhnya seperti koto-ran kerbau, kalau tak salah aku
melihat bukan- kah kau manusianya yang bergelar Iblis Racun
Hijau?" tanya si kakek gendut. Pertanyaan ini membuat si kakek serba hijau
melengak. "Bertemu denganmu rasanya baru kali ini,
bagaimana kau bisa mengenali diriku?" tanya si kakek terheran-heran.
"Aku ini manusia kabur kanginan, delapan
penjuru angin menjadi tempat pengembaraanku.
Aku mendengar kabar apa saja, termasuk juga di-
rimu. Ha... ha... ha!" kata kakek Gentong Ketawa.
"Terima kasih kalau kau mengenali si bu-
ruk rupa ini. Dan kalau tidak salah pula pengli-
hatanku bukankah engkau orangnya yang keso-
hor dan sering dipanggil orang Gentong Ketawa?"
tanya si kakek hijau sambil pandangi orang tua
gendut di depannya. Si kakek tertawa mengekeh.
"Sebuah nama yang jelek kurasa. Mungkin
karena mereka melihat badanku yang begitu be-
sar mirip gentong, sedangkan aku kebiasaan se-
jak dari kecil suka tertawa bila melihat hal yang aneh dan lucu. Jadi enak saja
mereka menamai-ku Gentong Ketawa. Ha... ha... ha!"
"Eeh, apakah kau punya nama lain?" tanya Iblis Racun Hijau.
Si kakek gelengkan kepala, sedangkan wa-
jahnya berubah murung. Dia kemudian berucap.
"Namaku sendiri aku sudah lupa, mau bertanya pada ibuku siapa namaku yang
sebenarnya aku tak tahu apakah Ibuku sudah mati atau masih
hidup. Huk... huk... huk!" si kakek tiba-tiba menangis sesunggukan.
Muridnya jadi ikut prihatin. Dengan muka
serius dia mengusap kening si kakek yang lebar
sambil berkata. "Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku yakin cepat atau lambat
kau juga mati sendiri menyusul ibumu, guru!" kata Gento
menghibur. 6 Gentong Ketawa menepis tangan muridnya.
Mulut kakek itu komat-kamit menggerendeng
seakan tak senang mendengar ucapan Gento. Si
pemuda hanya menyengir sambil kedipkan ma-
tanya. Iblis Racun Hijau tersenyum melihat ting-
kah antara murid dan guru itu. Kemudian dia
bertanya, "Siapa nama muridmu ini?"
"Namaku Gento Guyon kakek hijau. Julu-
kanmu sendiri mengapa seram begitu" Apakah
tubuhmu benar-benar mengandung racun ga-
nas?" tanya si pemuda pula.
"Begitu kenyataan yang sebenarnya. Tu-
buhku sangat beracun sekali, jangankan cairan di
tubuhku, kulitku sendiri mengandung racun me-
matikan. Tapi walaupun aku dijuluki iblis, tapi
aku bukan manusia jahat!" kata si kakek serba hijau. Gento sempat tercengang
mendengar ucapan Iblis Racun Hijau. Dia merasa betapa berba-
hayanya berdekatan dengan orang tua ini.
"Kek, sebaiknya kita cepat pergi dari sini,"
ujar Gento dengan suara perlahan.
"Mengapa harus pergi, justru kita menemui
orang tua ini karena kita punya satu keperluan


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang sangat penting menyangkut keselamatan
Ambini." sahut si kakek gendut.
Iblis Racun Hijau yang sempat mendengar
pembicaraan antara Gento dan gurunya segera
ajukan pertanyaan. "Sebenarnya kalian berdua hendak ke mana?" tanya si kakek.
Gentong Ketawa dan muridnya saling ber-
pandangan. Gento melangkah maju mewakili gu-
runya. "Kami sebenarnya hendak pergi ke Kuil Setan." "Kuil Setan?" desis Iblis
Racun Hijau men-gulang ucapan Gento. "Buat apa kalian pergi ke tempat laknat
itu" Ingin mencari senjata Bintang
Penebar Bencana, atau punya maksud lain?"
"Kami ingin mencari seorang gadis yang di-
culik oleh seseorang. Gadis itu bernama Ambini,
hanya kami tidak tahu siapa yang menculik dan
membawa gadis sahabat kami itu ke sana!" menjelaskan si kakek gendut. Dia
kemudian menceri-
takan segala sesuatu secara panjang lebar. Untuk
lebih jelasnya (baca episode Topeng Ke Dua).
Mendengar penjelasan murid dan guru ini Iblis
Racun Hijau menggerendeng.
"Tidak mudah untuk dapat memasuki kuil
itu. Tempat itu dijaga ketat oleh tiga mahluk aneh yang bernama Maut Biru, Maut
Kuning dan Maut
Merah. Masing-masing dari ketiga mahluk yang
kusebutkan ini mempunyai kelebihan. Baik men-
genai ilmu atau kesaktiannya. Selain itu di sana
juga terdapat banyak jebakan dan perangkap-
perangkap maut." menerangkan Iblis Racun Hijau dengan perasaan khawatir.
"Ha... ha... ha. Berarti kami punya hara-
pan, bukankah begitu guru"!" ujar Gento sambil mengedipkan matanya ke arah si
kakek gendut. "Bertemu dengannya bukan suatu perjala-
nan yang sia-sia. Ha... ha... ha!" sahut si kakek pula disertai tawa tergelak-
gelak, Iblis Racun Hijau kerutkan keningnya.
"Apa maksud kalian?" tanya si kakek tidak mengerti. "Sobat, kau telah
menceritakan keadaan serta suasana di Kuil Setan. Walaupun apa yang
kau tuturkan kepada kami hanya merupakan ba-
gian terkecil, tapi kami merasa yakin kau tahu
banyak hal tentang kuil itu?" ujar Gento. Lagi-lagi si pemuda sungggingkan
seringai. Iblis Racun Hijau tercengang, tak mengira
dia terjebak oleh ucapannya sendiri. Mendadak
wajah orang tua itu berubah muram, dia meman-
dang ke langit.
"Gusti... gusti... agaknya segala sesuatu
yang telah menjadi takdir Mu tak seorang manu-
siapun yang kuasa merubahnya." ujar si kakek hijau dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, lihat kakek itu. Apakah tampang kita
begini menyedihkan hingga membuat kakek itu
menangis." bisik si pemuda.
Si kakek gendut tersenyum. "Tampangku
selalu menyenangkan, kurasa wajahmu yang
membuat Iblis Racun Hijau jadi prihatin. Hi... hi...
hi." "Gendut, kau kelewat percaya diri." dengus si pemuda. Dia kemudian terdiam
ketika dilihatnya Iblis Racun Hijau memandang kepadanya
dengan penuh rasa iba.
"Sahabat gendut dan kau anak muda. Te-
rus terang aku memang mengetahui daerah itu.
Kuil Setan bukan merupakan tempat asing bagi-
ku, karena antara aku dengan seorang penghu-
ninya masih ada hubungan kerabat. Tapi kalian
harus tahu. Walaupun aku mengenali tempat itu,
aku juga tidak dapat keluar masuk sesuai dengan
keinginanku. Di sana banyak tata cara serta atu-
ran yang selalu berubah-ubah, di samping itu
Kuil Setan mengandung banyak tipuan." jelas Iblis Racun Hijau. Dia kemudian
melanjutkan. "Jika memang benar sahabat kalian itu dibawa ke Kuil
Setan, seandainya dia dijadikan jaminan oleh
penculiknya. Mungkin saat ini sudah tidak keto-
longan lagi!"
"Apa?" seru Gento dan gurunya hampir serentak. Kedua orang ini sama-sama tak
dapat menutupi rasa kagetnya. Dengan perasaan cemas
Gento berkata tegas. "Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada
Ambini, penculiknya
akan mendapat hukuman yang sangat setimpal
dariku. Sedangkan Kuil Setan akan kubuat sama
rata dengan tanah!"
"Para setan di kuil itu akan kuusir dan ku-
suruh kembali ke neraka!" timpal si kakek gendut pula dengan mata mendelik dan
geraham bergemeletukan.
"Jangan bertindak gegabah perturutkan
hawa nafsu. Segala sesuatunya kurasa masih bi-
sa diatur asal kalian berdua tidak bertindak me-
nuruti kemarahan dan hawa nafsu sendiri." tegas Iblis Racun Hijau.
Mulut Gento berubah cemberut. "Siapa
yang tidak marah, sahabatku hendak digantung
orang masakan aku hanya tinggal diam sambil
uncang-uncang kaki?" gerutu si pemuda.
Gentong Ketawa yang lebih dapat mengua-
sai diri dan merasa percaya Iblis Racun Hijau bersedia membantunya berkata.
"Hubungan antara
muridku dengan gadis cantik itu bukan hanya
sekedar sahabat, tapi di antara mereka mung-
kin... ini mungkin, sudah terjalin benang kasih
yang sulit diputuskan. Sobatku hijau, kalau kau
melihat matanya kau segera tahu, mata muridku
itu jadi merah karena tidak tidur beberapa hari
ini memikirkan gadis itu." kata si kakek gendut, dalam hati dia tertawa sendiri.
Ucapan yang sesungguhnya hanya bercan-
da ini ditanggapi dengan serius oleh Iblis Racun
Hijau. Dengan nada prihatin dia berkata. "Aku ikut sedih mendengarnya. Aku
percaya cinta muridmu pada gadis itu adalah sebuah cinta sejati.
Cinta sejati terkadang membuat orang rela mela-
kukan apa saja, termasuk juga tidak tidur selama
bermalam-malam. Anak muda, aku sampaikan
rasa takjubku padamu. Aku berjanji untuk mem-
bantu kalian dalam membebaskan gadis itu. Tapi
untuk kalian ketahui, kurasa apa yang hendak ki-
ta lakukan tidak akan menjadi mudah. Malah aku
khawatir usaha kita akan mengalami banyak rin-
tangan yang besar lagi sulit!"
Gento yang semula bersemangat, karena
merasa ucapan gurunya yang ngaco telah menge-
na pada sasaran yang diinginkan kini tubuhnya
terasa lemas kembali.
Kakek Gentong Ketawa sadar betul apa
yang ada dalam pikiran muridnya sehingga dia
bertanya pada si kakek serba hijau. "Sobatku, manusia sejuta keindahan. Apakah
maksud dari ucapanmu itu?"
"Terus terang saat ini kurasa telah ber-
kumpul orang-orang yang menginginkan senjata
Bintang Penebar Petaka di Kuil Setan. Boleh jadi
tokoh dari semua golongan mengincar senjata itu.
Satu di antaranya adalah Lira Watu Sasangka,
bergelar Panji Anom Penggetar Jagad alias Bega-
wan Muda. Orang yang kusebutkan ini usianya
hampir sama dengan muridmu, aku kenal den-
gannya karena dia masih merupakan murid sa-
habat jauhku Begawan Panji Kwalat...."
"Begawan Panji Kwalat?" seru kakek Gen-
tong Ketawa. "Manusia jahat itu mempunyai seorang murid?" tanya si gendut dengan
mata mendelik. Iblis Racun Hijau mengangguk.
"Kiamat... kiamat. Aku yakin muridnya
pasti tidak lebih baik dari gurunya." kata si kakek. "Malah jauh lebih buruk
dari yang kau sangkakan sahabatku. Tadi sebelum kalian mun-
cul dia bahkan sudah datang ke mari dan memin-
taku untuk mengantarkannya ke Kuil Setan. Tapi
dengan tegas kutolak." ujar si kakek hijau. Secara singkat si kakek kemudian
menjelaskan apa yang
telah terjadi kepada si kakek gendut.
Sebaliknya Gento Guyon memang tidak ta-
hu siapa Begawan Panji Kwalat tidak memperli-
hatkan reaksi apapun, tetap tenang tapi juga gelisah. "Jika benar katamu murid
Begawan Panji Kwalat gentayangan di Kuil Setan, kurasa penguasa kuil itu
perhatiannya akan terpecah belah. Ki-ta punya kesempatan untuk menemukan Ambini
secepatnya!" kata Gentong Ketawa.
"Jadi engkau mau membantu kami, kakek
hijau?" tanya Gento.
"Mengingat kisah asmaramu, aku tentu sa-
ja mau membantu. Aku senang jika kalian dapat
berkumpul kembali. Syukur kalian berjodoh, jika
kalian menikah tentu selain dapat makanan enak
aku juga dapat pahala besar. Ha... ha... ha!" kata iblis Racun Hijau sambil
tertawa. Melihat si kakek tertawa untuk pertama
kalinya, Gento sempat surut satu langkah. Den-
gan mulut ternganga heran dalam hati dia berka-
ta. "Ternyata bukan tubuh kakek ini saja yang
hijau, lidah dan giginya juga hijau. Tapi dia juga manusia tolol, mau saja
dikibuli guruku!"
"Iblis Racun Hijau, jika sudah mencapai
kata sepakat, bukankah sebaiknya kita sekarang
berangkat!" suara si kakek gendut memecah ke-heningan.
"Tidak, kalian yang berangkat duluan. Aku
bisa menyusul nanti setelah berendam dulu di te-
laga hijau!" jawab si kakek.
"Hah... mengapa begitu?" tanya Gento Kaget. "Untuk diriku sendiri, segala
peraturannya aku yang membuat, bukan kau dan gurumu."
Gento dan gurunya tak mungkin memaksa
Iblis Racun Hijau untuk ikut serta dengan mere-
ka. Apalagi saat itu si kakek sudah memutar
langkah, lalu berjalan ke arah telaga. Tak lama
Iblis Racun Hijau sudah berendam di dalam tela-
ga kecil yang dangkal.
"Orang tua itu seperti kerbau saja. Berku-
bang di dalam telaga seolah tubuhnya selalu ke-
gerahan." gerutu si pemuda sambil tinggalkan tempat itu.
7 Di dalam salah satu ruangan yang terdapat
di dalam Kuil Setan, Si Tangan Sial duduk mene-
kuri lantai di depannya di atas dua buah kursi
berwarna merah dengan sandaran tinggi. Pada
masing-masing kursi yang saling berdampingan
duduk seorang laki-laki berwajah buruk mengeri-
kan. Berpakaian hijau. Bagian kening orang ini
seperti terkelupas, di atas kening yang terkelupas terdapat satu lubang
menghitam sebesar jari ke-lingking. Di dalam lubang mengerikan inilah ter-
dapat seekor ular berwarna merah, kepala ular
selalu keluar masuk hingga membuat merinding
siapapun yang melihatnya. Selain itu kulit pipi
pemuda itu juga nampak mengelupas meninggal-
kan bercak-bercak merah seperti sisik ular.
Jauh bertolak belakang dengan gadis yang
duduk di kursi sebelah. Gadis ini memiliki wajah
cantik jelita seperti bidadari. Kulitnya putih, rambut terurai panjang. Dia
memakai pakaian serba
hijau yang sangat tipis, sehingga keindahan dada
dan pinggulnya terlihat jelas mengundang perha-
tian laki-laki manapun yang melihatnya.
Jauh bertolak belakang dengan pemuda di
sampingnya, tubuh gadis secantik bidadari ini
menebarkan bau harum semerbak laksana bunga
yang mekar di pagi hari.
Beberapa saat lamanya pemuda dan gadis
ini memandang ke arah Si Tangan Sial. Lalu pe-
muda berwajah buruk yang di keningnya terdapat
sebuah lubang hitam menganga menarik nafas
pendek. "Paman Tangan Sial," katanya kemudian.
"Aku Maut Tanpa Suara dan saudaraku seguru
Dwi Kemala Hijau memang sudah menganggap
dirimu bukan lagi seperti orang lain, aku sudah
menganggapmu sebagai kerabat dekat. Sehingga
kau punya kebebasan keluar masuk di kuil ini.
Selama itu kau tidak pernah mengutarakan kein-
ginan apapun pada kami. Lalu bagaimana secara
tiba-tiba saja kau datang ke sini, membawa seo-
rang gadis kemudian ingin meminta senjata Bin-
tang Penebar Petaka. Buat apa senjata itu bagi-
mu?" "Aku membutuhkannya untuk satu keperluan besar." sahut Si Tangan Sial agak
gugup. "Paman Tangan Sial, kurasa untuk mela-
kukan semua hajat, kau cukup menggunakan
kedua tanganmu. Mengapa senjata itu yang kau
minta" Padahal dengan kedua tangan saktimu itu
kau bisa melakukan apa saja." kata Dwi Kemala Hijau ikut menimpali.
"Tidak. Kedua tanganku ini menjadi tidak
berguna di hadapan orang itu." sergah Si Tangan Sial. "Siapakah orang yang kau
maksudkan?"
tanya si gadis secantik bidadari ingin tahu.
"Dewa Penyanggah Langit!" jawab orang tua itu berbohong.
Bukan hanya Dwi Kemala Hijau saja yang
terkejut, tapi Maut Tanpa Suara jadi terkesiap
kaget. "Bagaimana kau bisa punya silang sengketa dengan manusia dari Puncak
Halilintar itu,
paman?" "Panjang ceritanya dan aku tak mau men-
gatakannya pada kalian berdua. Karena ini me-
nyangkut urusan yang sangat pribadi." ujar Si Tangan Sial, lagi-lagi apa yang
diucapkan si orang tua adalah merupakan kedustaan belaka.
"Kebiasaan di Kuil Setan, setiap persoalan
yang menyangkut urusan pribadi seseorang tidak
boleh orang lain ikut mencampurinya. Sungguh-
pun aku pribadi sangat ingin mengetahui geran-
gan apa yang menjadi persoalanmu sehingga kau
sampai berurusan dengan manusia yang satu ini.


Gento Guyon 9 Maut Merah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi walaupun kami berdua adalah sahabatmu,
kami tidak berani menyerahkan senjata itu pa-
damu begitu saja. Masih ada yang lebih berhak
menentukan dalam persoalanmu itu. Dia adalah
Yang Agung, dia penentu segalanya di sini." tegas Maut Tanpa Suara.
Meskipun Si Tangan Sial kecewa menden-
gar penjelasan pemuda berwajah buruk itu, da-
lam persoalan ini tentu saja dia tak dapat me-
maksa. Sehingga dia hanya dapat mengangguk-
kan kepala. "Sekarang, coba katakan pada kami, men-
gapa kau membawa gadis itu ke sini, paman Tan-
gan Sial?" tanya Dwi Kemala Hijau.
Untuk beberapa saat lamanya Si Tangan
Sial menjadi bingung, Begawan Panji Kwalat me-
merintahkan padanya untuk membunuh Gento
Guyon. Apa alasan Begawan sesat itu memberi
perintah demikian dia sendiri tidak tahu. Karena
Ambini masih merupakan sahabat pemuda yang
harus dibunuhnya, untuk memudahkan segala
perintah yang dibebankan kepadanya dia lalu
menculik Ambini. Setelah berpikir sejenak Si Tan-
gan Sial kemudian berucap. "Gadis itu masih
punya hubungan darah dengan Dewa Penyanggah
Langit. Aku membawanya untuk kujadikan jami-
nan, karena saat ini ada dua orang yang menge-
jarku. Mereka juga masih kerabat Ambini, na-
manya Gentong Ketawa dan Gento Guyon. Dua
orang ini sangat berbahaya, sengaja diutus oleh
Dewa Penyanggah Langit untuk menangkapku hi-
dup atau mati!" jelas Si Tangan Sial dengan wajah membayangkan rasa takut luar
biasa. "Mereka tidak mungkin datang ke mari.
Terkecuali jika mereka ingin mencari kematian-
nya sendiri. Ha... ha... ha!" kata Maut Tanpa Suara disertai tawa tergelak-
gelak. "Jangan menganggap remeh mereka. Ke-
dua orang itu bisa melakukan apa saja!" ujar Si Tangan Sial sengaja
memperlihatkan kesan bahwa Gentong Ketawa dan Gento Guyon yang diakui
sebagai orang yang menginginkan dirinya tidak
memandang sebelah mata pada mereka.
Maut Tanpa Suara mendengus geram. Tan-
gan kirinya yang menyambar sebuah cangkir dari
tanah liat. Cangkir itu lalu diremasnya hingga
hancur menjadi debu. "Apakah tubuh mereka
seatos besi?" tanya Maut Tanpa Suara.
"Aku tak tahu." sahut Si Tangan Sial.
Sebaliknya gadis secantik bidadari yang
masih merupakan saudara seperguruan Maut
Tanpa Suara tidak mudah terpancing, diam-diam
dia mulai berpikir menyiasati. Dalam pandangan-
nya dia melihat satu keanehan dalam diri Si Tan-
gan Sial. Beberapa kali orang tua itu datang ke
Kuil Setan pada waktu sebelumnya. Si Tangan Si-
al yang dulu sering dia lihat adalah sosok orang
tua yang selalu bicara tenang, tapi selalu menye-
sali nasib juga kemalangan dirinya. Tapi kali ini dia melihat orang tua itu
setiap bicara selalu gugup dan tundukkan kepala.
"Ada yang tidak beres! Ada sesuatu yang
terjadi dengannya. Terkadang kulihat dia seperti
kesakitan." batin Dwi Kemala Hijau.
"Paman Tangan Sial, besok kita harus
mengeluarkan gadis itu dari sini. Kita bisa mele-
takkannya di satu tempat, tubuhnya akan ku ikat
di tiang pancang biar terlihat oleh orang-orang
yang mengejarmu. Jika orang itu datang baru kita
meringkusnya!" kata Maut Tanpa Suara tegas.
"Aku sangat gembira sekali mendengarnya.
Di saat diriku sedang berada dalam ancaman ba-
haya besar, seorang sahabat bersedia membantu-
ku." kata si orang tua dengan mata berbinar gem-
bira. "Tapi bagaimana dengan senjata itu?" tanya Si Tangan Sial kemudian.
"Mengenai senjata, bukan persoalan yang
gampang untuk menyerahkannya padamu begitu
saja. Semuanya tergantung kemurahan hati Yang
Agung. Jika dia tidak berkenan memberikannya
padamu, nantinya kau jangan kecewa. Lagi pula
kami tidak tahu senjata itu disimpan di mana!"
Dwi Kemala Hijau akhirnya berkata dengan pe-
nuh ketegasan. "Apa yang dikatakan oleh saudara sepergu-
ruanku itu memang benar adanya paman. Mung-
kin segalanya akan menjadi mudah bila kau mau
bergabung dengan kami dan bersedia tinggal di
dalam Kuil Setan ini selamanya." kata Maut Tanpa Suara pula.
"Maksudmu aku berada di sini sampai tua
dan mati, kemudian setelah menjadi roh gen-
tayangan aku menjadi pengikut Yang Agung?"
tanya Si Tangan Sial penuh rasa kaget. Walaupun
saat itu dirinya dikuasai oleh satu kekuatan yang mampu membuat dirinya menjadi
patuh dengan segala perintah Begawan Panji Kwalat, tapi jauh
di lubuk hati dia tahu apa arti dari semua ucapan Maut Tanpa Suara. Dengan
menerima tinggal serta bergabung dengan kerabat Kuil Setan, berarti
dirinya kelak sepanjang hidup harus mengabdi-
kan diri pada Yang Agung. Satu mahluk jahat
berkekuatan besar yang belum pernah memperli-
hatkan diri di depan para pengikutnya.
"Apa yang kau katakan itu tidak keliru pa-
man." jawab Maut Suara beberapa saat kemu-
dian. "Aku tidak mau. Aku lebih suka hidup di alam bebas!" tegas Si Tangan Sial.
"Jika keberatan untuk sementara me-
nyingkirlah dari ruangan ini. Jika nasibmu baik,
mungkin apa yang kau inginkan segera kau da-
patkan. Jika takdirmu buruk permintaanmu itu
hanya mempercepat kematianmu sendiri!" ujar
Dwi Kemala Hijau.
"Aku tahu, segala akibatnya akan ku tang-
gungkan!" Selesai berkata begitu Si Tangan Sial bangkit berdiri. Tak lama
kemudian sosoknya telah menghilang dari pandangan mata.
Maut Tanpa Suara begitu Si Tangan Sial
meninggalkan ruangan di mana mereka berada
langsung menoleh kepada Dwi Kemala Hijau.
"Bagaimana pendapatmu tentang sahabat
kita yang satu itu?" tanya si pemuda berwajah buruk mengerikan.
"Selama ini dia adalah orang berhati jujur
dan polos. Tapi kali ini aku tidak melihat kejujuran itu. Ada sesuatu yang tidak
beres telah terjadi pada dirinya." gumam Dwi Kemala Hijau.
"Mungkin... mungkin apa yang kau
ucapkan itu ada benarnya, Aku akan membicara-
kan semua ini pada Yang Agung." ujar Maut Tan-pa Suara. Dwi Kemala Hijau diam.
Sama sekali dia tidak memberi tanggapan atas ucapan sauda-
ra seperguruannya itu.
8 Di sebelah timur puncak bukit tak jauh da-
ri Kuil Setan yang saat itu tidak terlihat karena tertutup kabut tebal Gento
Guyon dan gurunya
mendekam di balik rumpun semak belukar. Si
pemuda kemudian memandang ke arah gurunya
begitu selesai memperhatikan gumpalan kabut
yang bergulung-gulung menyelimuti kuil di pun-
cak bukit. "Aku belum pernah melihat pemandangan
yang seperti ini." berkata pemuda itu penuh rasa takjub juga heran. "Kabut yang
menyelimuti kuil itu tidak ubahnya seperti mendung yang bergulung ditiup angin
kencang. Begitu tebal sampai
keberadaan kuil itu sendiri tidak terlihat. Bagaimana kita bisa memasuki kuil
itu" Jika kita ma-
suk ke dalam lingkaran kabut aku khawatir akan
banyak bahaya yang muncul secara tidak terdu-
ga." ujar pemuda itu seakan ditujukan pada dirinya sendiri.
Si kakek gendut tidak segera menjawab,
sepasang matanya terus mengawasi bukit yang
diselimuti kabut. Saat itu panasnya terik mataha-
ri sudah tidak dihiraukannya lagi. Sampai akhir-
nya si kakek gelengkan kepala.
"Tempat itu memang aneh. Aku bahkan
merasakan adanya pengaruh kekuatan gaib ber-
cokol di tempat ini. Ku ingatkan padamu jangan
sampai lengah. Salah kita melangkah, mungkin
nyawamu tidak ketolongan!" ujar si kakek. Dia la-lu mengusap wajahnya yang
keringatan. Matanya
yang kecil sipit berkedap-kedip. Si kakek terus
memutar otak mencari jalan. Saat itu suasana di
sekitarnya memang sangat sunyi sekali, terkesan
Perjodohan Busur Kumala 19 Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi Jodoh Si Mata Keranjang 11
^