Pencarian

Kembalinya Si Tangan Setan 2

Pendekar Hina Kelana 8 Kembalinya Si Tangan Setan Bagian 2


Jangankan terhadap orang yang telah berkata kotor kasar. Sedangkan kepada semua
golongan persilatan yang tak punya urusan dengan dirinya saja, dia turunkan
tangan telengas. Kini ada pula keempat monyet hutan yang telah begitu berani
berkata sekurang ajar itu. Maka hanya ada satu dalam
hatinya. Membunuh dan terus membunuh.
"Segala begal bau! Tidak tahukah kalian siapa yang kalian hadapi...?"
Ditanya seperti itu, keempat
begal tertawa panjang pendek.
"Yang aku tahu, tentu engkau ini seorang bidadari yang sengaja dikirim oleh Dewa
untuk... he... he... he...!"
Tanpa meneruskan ucapannya yang cabul
itu. Sebaliknya keempat begal itu
terus mengekeh.
"Bagus! Aku memang oleh dewa
untuk mencabuti nyawa kalian. Lihatlah ini...!" Tiba-tiba si gadis membuka dua
buah kancing bajunya yang paling atas. Sehingga terlihatlah kebagusan bagian
dadanya yang nampak terbuka sebagian. Keempat begal itu nampak terbelalak tak
percaya. Mata mereka melotot bagai mau melompat ke luar.
Layaknya mereka seperti baru saja
mendapat hasil rampokan yang sangat mahal harganya. Darah di tubuh masing-masing
segera bergolak, nafas mereka nampak memburu dan membuat sesak
rongga dada. Tanpa fikir panjang lagi si kaki tunggal yang bertampang paling
sangar ini langsung menubruk ke muka.
Di luar dugaannya secepat kilat Hning Ksaban gerakkan jemari tangannya.
"Wuuut!"
Empat sinar biru melesat
sedemikian cepatnya ke arah empat
begal itu. Keempat orang ini tidak sempat menyadari apa yang sesungguhnya sedang
terjadi. Ketika sinar biru
berhawa dingin itu amblas ke dalam tubuh mereka. Sekejap langkah mereka
terhenti. Tiba-tiba saja mata keempat
begal itu melotot, bumi serasa semakin gelap dan berputar-putar. Kemudian
semaunya menjadi kabur dan samar-samar, lalu secara perlahan tubuh ke empat
orang ini mulai mengejang hingga akhirnya ambruk dengan menimbulkan suara
bergedebukkan. Orang-orang itu tewas secara menyedihkan pada saat itu juga.
Hning Ksaban tersenyum saja.
Seolah melakukan pekerjaan itu
merupakan suatu hal yang sudah sangat biasa dan wajar. Kemudian tanpa
menoleh lagi dengan tenang dia
berkelebat meninggalkan tempat itu.
Sudah hampir satu pekan Tabib
Setan Gila melarikan diri dari
rumahnya, hampir sepanjang perjalanan yang dia lalui. Nampak mayat-mayat
bergelimpangan, tak ada tanda-tanda lain dari kematian mereka, terkecuali akibat
pukulan beracun Raja Cobra.
Tabib Setan Gila sudah dapat
memastikan siapa gerangan yang telah melakukan tinda-kan keji itu. Si
Tangan Setan, ya hanya dialah manusia penyebar maut di mana-mana. Sungguhpun
hatinya merasa sangat iba melihat
nasib gadis di balik topeng itu. Tetapi pembunuhan yang dilakukan secara semena-
mena, telah menimbulkan
kebencian di hati Tabib yang arif ini.
Pembunuhan dengan alasan apapun dan dilakukan secara membabi buta tidak dapat
dia terima. Tiba-tiba fikiran kakek tua bertongkat tengkorak itu menjadi kacau.
Ingin rasanya dia
melaporkan kejadian itu pada Adipati Giris Rawa yang kini berkuasa kembali di
daerah Trengganu. Akan tetapi
hatinya menjadi bimbang. Dia tidak tega melihat nasib yang akan menimpa Hning
Ksaban andai nanti sampai
tertangkap oleh Giris Rawa dan orang-orangnya. Sudah barang tentu dia akan
menjadi korban nafsu Giris Rawa yang tak pernah bosan menikmati wanita-wanita
cantik. Walaupun sesungguhnya gadis itu
tak tahu bahwa Tabib Setan Gila masih merupakan sahabat baik ayahhandanya Panji
Paksi. Dan gadis itu memang
tidak pernah akan mengerti, karena kala itu dia masih merupakan seorang bocah
cilik berumur tiga tahun. Ah.
Entah dengan siapa keturunan Panji Paksi itu berguru, sehingga memiliki ilmu
kepandaian yang pada akhirnya menjadi biang bencana di mana-mana.
Tabib Setan Gila tiba-tiba saja
mengeluh dalam hati. Dalam keadaan
seperti itu, dia benar-benar tak tahu bagaimana harus mengambil sikap.
Haruskah bencana yang mengerikan
sebagai pelampiasan dendam itu dia biarkan terus-menerus, sementara dia sendiri
secara persis sudah mengetahui siapa sesungguhnya si Tangan Setan itu. Sedangkan
apabila melaporkannya pada sang Adipati, dia tak tega
melihat nasib putri sahabatnya itu, pula Adipati Giris Rawa sesungguhnya
merupakan manusia yang licik dan
tamak. Dulu manusia iblis itu pula yang telah membunuh dan membakar rumah
sahabat karibnya. Jalan satu-satunya adalah bungkam dan mengungsi sejauh-
jauhnya. Teringat sampai ke situ, tiba-tiba Tabib Setan Gila ambil
langkah seribu.
Namun baru saja beberapa tombak
dia beranjak, secara tiba-tiba dari arah depannya muncul belasan orang para
bawahan Adipati. Beberapa orang di antara para bawahan Adipati ini nampak
menyeringai menahan sakit.
Agaknya Tabib Setan Gila sudah
mengetahui bahwa orang-orang itu merupakan korban si Tangan Setan.
Meskipun begitu Tabib Setan Gila
nampak berpura-pura, dengan menegur marah.
"Siapakah kalian ini. Minggir aku mau lewat!" Salah seorang di antara mereka
yang mungkin saja sebagai
pimpinan, nampak melangkah beberapa tindak. Laki-laki ini berpakaian warna yang
kembang-kembang, wajahnya tirus dengan beberapa helai kumis hingga selain
berkesan menyeramkan namun juga lucu. Sambil menimang-nimang senjata yang berupa
sebilah pedang berwarna hitam legam. Laki-laki itu berucap.
"Tabib Setan Gila. Susah payah kami datang ke Lembah Tapis Angin, ternyata
engkau telah minggat dari pondokmu. Bahkan engkau biarkan mayat-mayat korban
kebiadaban si Tangan
Setan bergelimpangan begitu saja...!"
Alis si Tabib tua yang sudah
nampak memutih secara keseluruhannya itu nampak mengerut. Dia coba
mengingat-ingat dan rasa-rasanya dulu dia pernah melihat manusia berwajah tirus
itu, tetapi entah di mana. Hmm.
Tak salah, orang itulah dulu yang turut memperkosa istri sahabatnya
hingga tewas secara menyedihkan.
Mendadak hatinya menjadi panas bagai
terbakar. Tetapi sedapat-dapatnya dia mencoba menekan kemarahannya.
"Aku memang sengaja meninggalkan tempat itu, karena daerah itu sudah tak aman
lagi untuk kutinggali...!"
jawab Tabib tua ini berusaha jujur.
Laki-laki orang kepercayaan Adipati yang bernama Dingklang itu nampak
tersenyum mencibir.
"Tabib Setan Gila! Dengan orang kepercayaan Adipati, janganlah sekali engkau
coba-coba berdusta. Kami
melihat di tempat itu seperti baru saja beberapa hari
telah terjadi pertarungan. Masakan engkau tak tahu sebagai tuan rumah yang sah...!" Andai saja
tidak mengingat betapa besarnya pengaruh dan kekuasaan Adipati. Sudah barang
tentu Tebib Setan Gila
mendengar kata-kata yang setengah
menuduh itu. Sudah pasti langsung
melabrak laki-laki yang bernama
Dingklang itu. Tetapi demi menyadari akibat yang mungkin timbul bila dia
bertindak nekad, maka sambil berusaha menahan kedongkolannya dia berkata tegas.
"Kuakui, ketika aku meninggalkan
rumahku ada hampir lima belas orang
sedang dalam perawatanku, tetapi
mengenai pertarungan itu aku tak
tahu!" "Apa alasanmu hingga meninggalkan para pesakitan itu?" tanya laki-laki berwajah
tirus itu dipenuhi keingin tahuan
"Sudah kukatakan bahwa Lembah Tapis Angin sudah tak aman lagi
bagiku." jawah Tabib Setan Gila nampaknya sudah tak dapat menahan
kekesalannya lagi.
"Tentu ada sebabnya bukan?" Sela Dingkling mencemooh. Tabib Setan Gila nampak
terdiam dan meragu.
"Katakan saja, mengapa mesti
takut! Keberadaanmu sangat di perlukan oleh orang banyak. Dan sebagai orang-
orang pemerintahan kami punya
kewajiban untuk melindungi orang-orang yang sangat di perlukan...!" ucap laki-
laki itu dengan sombongnya. Tabib Setan Gila mengangguk, dalam hatinya mencaci
maki. Omongan saja yang besar.
Sedangkan untuk melindungi diri
sendiri saja tidak becus. Buktinya kawan-kawannya saja sampai terkena pukulan
beracun si Raja Cobra milik si Tangan Setan. Batinnya.
"Aku tak berani mengatakannya, Kisanak...!"
"Apakah dia pernah bertemu
denganmu...?" tanya laki-laki kumis ikan lele ini penasaran. Tabib Setan Gila
gelengkan kepalanya.
"Tidak pernah. Dia mengancamkan melalui ilmu menyusupkan suara." Bukan main
terkejutnya orang kepercayaan Adipati Giris Rawa ini demi mendengar apa yang
dikatakan oleh si Tabib. Hal yang serupa juga pernah terjadi pada mereka dua
hari yang lalu. Akibatnya sepuluh orang bawahannya terkena
pukulan beracun. Sementara dia sendiri malah sampai kehilangan jejak dalam
melacak si penyerang misterius itu.
"Tabib. Adakah orang yang
mengancam-mu itu seorang laki-laki?"
"Agaknya begitulah!"
"Dia memakai topeng..."!" tanya si Dingklang lebih lanjut.
"Sudah kukatakan aku tak tahu, sebab akupun tak pernah bertemu dengan orang
itu!" jawab Tabib Setan Gila sangat kesal sekali.
"Hemm. Baiklah... baiklah! Kalau engkau tak tahu, tak jadi soal.
Siapapun adanya si bangsat keji itu cepat atau lambat dia pasti akan
tertangkap juga. Lebih dari itu
sekarang ini kami sangat membutuhkan
pertolonganmu untuk mengobati kawan-kawanku yang terkena pukulan si Tangan
Setan! Cepatlah kerjakan sekarang
juga!" perintah Dingklang sedikit memaksa. Memerah paras laki-laki tua
bertongkat dari Lembah Tapis Angin itu demi mendengar kata-kata Dingklang yang
bernada memerintah. Seumur hidup belum pernah ada orang yang meminta
pertolongannya dengan cara memaksa seperti itu. Tetapi kini, seorang
bawahan Adipati yang sangat di
bencinya telah berani memberi perintah seperti itu. Menolong para gelandangan
yang hidup terlunta-lunta baginya akan baik daripada menolong manusia yang
mengaku dari golongan bersih, namun hati yang sesungguhnya dipenuhi dengan
kekejian. Tiba-tiba amarahnya yang sejak tadi dia tahan-tahan kini sudah tak
dapat dia bendung lagi. Tanpa
sungkan-sungkan lagi dia berkata
ketus. "Kisanak... apakah engkau
bermaksud memaksaku...?" tanya Tabib Setan Gila dengan pandangan berapi-api.
"Aku tak punya maksud memaksamu Tabib! Tetapi ini sebuah perintah yang tidak
bisa ditawar-tawar lagi...!"
"Kisanak! Sejak aku meninggalkan Lembah
Tapis Angin, aku sudah
memutuskan untuk tidak menjadi Tabib lagi...!"
"Ah! Keputusanmu terlalu tergesa-gesa Tabib. Mengapa pada saat tenagamu
dibutuhkan oleh banyak orang, tiba-tiba engkau mengambil keputusan yang sangat
picik seperti itu...?" Tanya laki-laki kepercayaan Adipati Giris Rawa sangat
herannya. "Kalian dengarlah. Meskipun aku berusaha mengobati setiap orang yang terkena
pukulan si tangan Setan. Tak seorangpun yang dapat kuselamatkan!
Racun itu teramat ganas, dan sejauh ini aku belum menemukan obatnya...!"
"Hok... hok... hok...! Jangan coba-coba mengelabuhi kami, Tabib, semua orang
tahu akan kehebatanmu, racun apapun pernah sembuh di
tanganmu. Kini engkau malah bertingkah yang tidak-tidak!" bentak si Dingklang
bukan main gusarnya.
* * * 6 Wajah Tabib Setan Gila berubah
kelam membesi, dia sadar walau secara apapun dia berusaha menerangkan, tidak
nantinya para begundal Adipati itu mau mempercayai kata-katanya. ,
"Mengapa engkau hanya diam saja, Tabib" Bukankah benar apa yang aku katakan
tadi...?" "Tidak benar sama sekali."
celetuk si Tabib Setan Gila. Dingklang katupkan bibir dan pelototkan matanya
yang hampir sebesar jengkol. Lalu
diapun membentak marah!
"Sialan betul engkau ini. Jadi engkau
tak mau mengobati kawan-
kawanku...?"
"Bukan tak mau, tapi aku telah memutuskan untuk dunia ketabiban..!"
jawab si Tabib tenang.
"Bedebah... rupanya engkau benar-benar hendak membangkang perintah
penguasa yang sah...."
"Di hatiku tidak pernah ada niat untuk membantah kekuasaan siapapun.
Aku hanya ingin menepati janjiku
sendiril" "Sekalipun kepalamu akan
menggelinding sebagai akibat
kesombonganmu itu?" menyela Dingklang berang sekali.
"Sekalipun nyawaku harus
melayang, aku tak akan pernah merobah keputusanku sendiri...!" ujar Tabib Setan
Gila mantap. Hal ini malah
membuat laki-laki dari Trengganu itu semakin bertambah murka.
"Keparaaat... akan sia-sialah keputusanmu itu, sebab aku tak akan pernah
membiarkan seorang pembangkang penguasa hidup lebih lama lagi...."
Berkata begitu dia menoleh pada orang-orangnya, kemudian segera memberi
perintah! "Anak-anak! Cincang Tabib munafik ini...!" perintahnya berang. Lalu diapun
segera melolos pedangriya yang berwarna hitam legam menakutkan.
Orang-orang yang sudah terluka dalam cukup serius itu, tanpa banyak kata
langsung saja mengurung si Tabib Setan Gila. Tatapi sebelum mereka bergerak
lebih lanjut dia berseru lantang.
"Kaki tangan Adipati iblis,
manusia licik berhati keji. Kulihat hanya engkau seoranglah yang tidak mengidap
pukulan beracun itu,
kuperingatkan bagimu. Lebih baik
engkau cabut ucapanmu, kemudian
menyingkirlah dari hadapanku. Andai tidak...!' Tabib Setan Gila hentikan
ucapannya. "Andai tidak, engkau bisa berbuat apa Tabib tolol...?" bentak si Dingklang
dengan pedang terhunus.
" Jika tidak, dua langkah di
depan orang-orangmu akan segera
lumpuh. Racun si Raja Kobra tak pernah ada obatnya! He... he., he...." kata
Tabib tua itu sembari mengekeh.


Pendekar Hina Kelana 8 Kembalinya Si Tangan Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bangsat, jangan coba-coba
menggertak kami...."
"Tak percaya. Cobalah...!"
"Anak-anak, tunggu apa lagi!
Bunuh dia...!" Secara serentak empat belas orang itu secara serentak
bergertak maju. Namun tepat seperti apa yang dikatakan oleh si Tabib Setan Gila.
Baru beberapa tindak mereka
melangkah, tiba-tiba langkah mereka terhenti di tengah jalan. Tubuh
keempat belas orang itu nampak
menggigil dan gemetaran. Wajah mereka sudah pucat kebiru-biruan itu nampak
semakin bertambah membiru. Kejut di hati Dingklang bukan alang kepalang, sedikitpun dia tiada
menyangka kalau
apa yang di katakan oleh Tabib Tangan Setan pada akhirnya akan menjadi
sebuah kenyataan. Dan yang semakin membuatnya terlongong-longong adalah karena
tidak begitu lama setelah itu.
Satu demi satu, para anak buahnya
nampak roboh tanpa daya. Mendidihlah darah, laki-laki yang merupakan tangan
kanan Adipati Trengganu ini. Sesaat lamanya Dingklang memandangi orang-orangnya
yang tewas secara
menggenaskan. Kemudian dia kembali berpaling pada Tabib Setan Gila, sorot
matanya begitu dingin, sesungging
seringai maut membias di wajahnya yang tirus dan sadis. Lalu dengan jerit
melengking tinggi, diapun kembali
membentak. "Setan Gila! Puaskah hatimu
setelah melihat kematian orang-
orangku?" Tabib Setan Gila gelengkan kepala, betapapun jiwa welas asih, hatinya
sempat terenyuh juga.
"Apapun yang menjadi sebab
kematian itu, sesungguhnya tiada
seorangpun yang punya kuasa untuk
mampu menolaknya, begitupun aku...!"
ujar laki-laki dari Lembah Tapis Angin itu pelan.
"Kurang ajar! Aku tak butuh
khotbahmu, Tabib kropok...!"
"Jadi apa maumu, Ki Sanak...?"
Dingklang memakin panjang pendek,
dia merasa Tabib Setan Gila sengaja mengulur-ulur waktu dengan cara
mempermainkannya.
"Tak ada yang kuinginkan darimu terkecuali memenggal kepalamu dan
meminum darahmu.kata Dingklang geram sekali.
"Ho... ho... ho...! Darahku
sangat pahit rasanya, Kisanak...
engkau pasti tidak menyukainya."
"Kalau darahmu memang tak enak, biarlah pedangku yang haus darah ini yang akan
menyantapnya...!" Teriak tangan kanan Adipati Trengganu.
Kemudian serentak mengirimkan
serangan-serangan kilat.
"Bagus! Bagus! Keluarkanlah
seluruh kepandaianmu, aku jadi ingin lihat seberapa hebat kepandaian tangan
kanan anjing Adipati...!"
"Bangsaaat...!" maki laki-laki berwajah tirus itu sambil kirimkan satu tusukan
satu babatan. Pada saat seperti itu kaki kanannya terayun ke atas. Mendapat
serangan sedemikian rupa. Tabib Setan Gila yang juga
memiliki kepandaian silat satu tingkat di atas Dingklang terlihat tenang-tenang
saja. Dia berkelit sedikit
begitu pedang di tangan Dingklang menderu mengancam bagian lehernya.
Sementara tongkatnya yang berupa
kepala tengkorak itu memapaki
datangnya satu sapuan kaki kanan
lawannya yang tiada menyangka si Tabib akan mempergunakan tongkatnya nampak
berseru kaget. Lalu
sedapatnya berusaha menarik balik kaki kanannya.
Tetapi tanpa disangka-sangka, tongkat tengkorak di tangan Tabib Setan Gila malah
bergerak lebih cepat lagi. Tak terhindarkan.
"Bletaak!"
Masih untung bagi Dingklang
karena Tabib Setan Gila tiada
mengerahkan segenap kemampuannya.
Seandainya laki-laki tua itu memang mempunyai maksud-maksud tak baik.
Sudah barang tentu, kaki Dingklang akan remuk atau setidak-tidaknya
menjadi patah. Begitupun laki-laki kepercayaan Adipati Trengganu itu
masih tetap menjerit-jerit kesakitan sambil memaki dengan kata-kata kotor.
Dia melompat-lompat bagai seekor
anjing yang kena gebuk. Begitu dia
memeriksa tulang betisnya bagian atas nampaklah olehnya bagian yang terpukul itu
memar dan membiru.
"Wah sial betul engkau ini Tabib dungu. Engkau telah memukul tulang
keringku...!"
"Tidak kuremukkan saja sudah
syukur!" ejek Tabib Setan Gila menyeringai. Hal ini malah semakin membuat laki-
laki berwajah tirus itu panas hatinya. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia kembali
menyerang si Tabib tua. Senjatanya yang berwarna hitam Itu kembali menderu
sebatnya. Dalam waktu sekejap saja pertarungan sudah mencapai puluhan jurus.
Karena Dingklang menyerang si Tabib secara nekad dan membabi buta, maka beberapa jurus
di depan laki-laki dari Lembah Tapis Angin irii sudah kena didesak.
Dengan penuh kesabaran si Tabib terus mengelak dan menangkis-.
Satu kesempatan Dingklang melihal salah satu sisi pertahanan lawan
nampak terbuka. Tangan kanan Adipati Trengganu itu menyeringai, lalu dengan satu
bentak kan keras dia segera putar pedangnya ke segala arah, tubuhnya berkelebat
sedemikian cepatnya. Tak ayal, laki-laki itu kini telah
mempergunakan jurus yang paling
menjadi andalannya. Tarian Sepasang Garuda, yang terkenal ganas dan sangat
mematikan itu. Senjata itu
terus berkiblat dan menderu-deru mencari sasarannya, tahulah kakek Tabib ini bahwa
lawan memang benar-benar
menghendaki nyawanya. Tanpa ampun
Tabib inipun memutar tongkatnya,
nehingga membentuk satu pertahanan yang sangat tangguh.
"Weeer!"
Pedang di tangan si Dingklang
menyambar pada bagian perut si Tabib, kakek ini pun dengan cepat menyambuti
dengan tongkat tengkoraknya.
"Hayaaa...!"
"Craak!"
Beradunya dua kekuatan besar,
membuat si Tabib yang tiada pernah memiliki keinginan untuk membunuh
lawannya itu nampak terguling-guling.
Tongkat di tangannya terbabat putus, sehingga tinggal sebagian saja. Demi
melihat kehebatannya sendiri laki-laki dari Trengganu itu nampak menyeringai
puas. Kini dia benar-benar merasa
berada di atas angin. Dengan sekali tebas lagi, maka menggelindinglah
kepala si Tabib tua itu. Begitulah dia
berfikir. Maka tanpa fikir panjang lagi, dia kirimkan satu serangan
puncak pada si Tabib Setan Gila. Sudah barang tentu hal itu dalam perhitungan si
Tabib dari Lembah Tapis Angin ini.
Maka diapun segera mencabut beberapa bantang jarum yang biasa di pergunakan
untuk pengobatan, dari balik jubahnya.
Begitulah, ketika serangan itu datang dengan cepat, kakek ini tidak berusaha
mengindar, seolah-olah dia sudah
pasrah menerima kematian. Namun begitu mata pedang yang menebarkan bau
menjijikkan itu sejengkal berada di depan dadanya. Dengan sisa tongkat yang
masih berada dalam genggamannya dia menangkis dengan tangan kirinya, sementara
tangan kanannya bergerak lebih cepat mengarah pada bagian
leher. "Craaak!"
"Creep!"
Bersamaan dengan membenturnya pe-
dang pihak lawan dengan sisa
tongkatnya, pada saat itu pula jarum-jarum di tangan si kakek ini pun
menembus jalan darah si Dingklang.
Tiada jerit maupun lolong kematian, seketika itu juga tubuh begundalnya Adipati
Trengganu itu terasa sangat
kaku dan sulit untuk digerakkan.
Laksana patung yang dibentuk
sedemikian rupa. Kedua bola matanya nampak melotot, senjatanya tetap
tergenggam seperti pada saat melakukan serangan tadi. Tubuh si Dingklang
memang dalam keadaan tertotok, tak siapapun yang mampu membebaskan laki-laki
itu. Tabib Setan Gila tertawa tergelak-gelak demi menyaksikan
kerjanya sendiri.
"Wei... bagus sekali posisimu itu, begundal Adipati. Kalau tubuhmu kujadikan
mummi kemudian kujual pada raja, sudah pasti akan sangat mahal sekali hargamu.
Sekarang yang mana satu yang akan kau pilih" Yang pertama kucongkel kedua
matamu, atau yang
kedua kutelanjangi saja...!" kata Tabib tua itu, mendadak berubah konyol
kekanak-kanakkan.
"Oh, sial betul aku hari ini!"
keluh Dingklang kumis ikan lele.
"Engkau tak perlu mengeluh cepat katakan yang mana satu yang engkau pilih?"
"Tabib kentut bau. Bebaskan
totokan terkutuk ini, mari kita
bertarung seribu jurus!" teriak laki-laki dari Trengganu itu marah sekali.
"Ho... ho... ho...! Tarian
Sepasang Garuda-ompong saja tak
mencapai seratus jurus, dari mana lagi engkau mau menambahi yang sembilan ratus
jurus lainnya...?" Tabib Setan Gila mengejek.
"Bangsat! Siapakah engkau ini, sehingga tahu kalau jurus-jurus
Sepasang Garuda milikku cuina seratus jurus...!" tanya Dingklang bloon.
"Aha., siapa sih yang tidak kenal pada iblis-iblis tukang perkosa dan perampas
kedudukan orang. Ingatkah engkau pada Panji Paksi dan istrinya yang tewas karena
kalian perkosa...?"
Bukan alang kepalang terkejutnya si Dingklang ini, sedikitpun dia tiada pernah
menyangka kalau Tabib tua itu mengetahui peristiwa yang pernah
terjadi sembilan belas tahun yang lalu itu. Tak berapa lama kemudian dengan
sangat ketakutan sekali dia bertanya.
"Siapa.. siapakah engkau ini
Tabib sial. Engkau jangan mengada-ada!
Semua orang tau kalau Panji Paksi tewas karena kepemimpinannya memang tidak
disukai oleh orang banyak!"
"Kurang ajar, masih jugakah
engkau mau bohong pada orang tua
sepertiku ini" Bukan si bangsat Giris
Rawa menghasut rakyat untuk
memberontak, hingga malam jahanam itu membuat puas hati kalian...!-" bentak
Tabib setan Gila, lalu diapun maju tiga langkah. Sehigga kini mereka
benar-benar telah berhadapan muka.
Tubuh Dingklang nampak menggigil bagai terserang demam malaria, apa yang
telah dikatakan oleh I si Tabib tua benar-benar bagai menelanjangi
tubuhnya bulat-bulat. Tiada kata yalig terucap, dia nampak semakin ketakutan
sekali begitu si Tabib mengulurkan tangannya pada bagian lehernya.
"Tabib! Apa yang hendak engkau lakukan?"
"He... he... he...! Semestinya aku harus memotong pusaka keramatmu, biar tak
bikin melapetaka bagi kaum perempuan. Tetapi aku berobah
pendirian, aku telah memutuskan untuk menghukummu seringan-ringannya.
Bagaimana kalau kuminta kumismu saja yang cuma beberapa helai itu?" tanya si
Tabib. *** 7 Kejut hati Dingklang bukan alang
kepalang, baginya daripada
diperlakukan seperti itu masih lebih baik dibunuh saja. Maka diapun
berteriak-teriak ketika Tabib Setan Gila mulai memilin-milin kumisnya yang cuma
beberapa lembar itu.
"Suakiit! Jangan kau cabut
kumisku. Lebih baik kau bunuh
saja...!" jeritnya histeris.
"Wee! Engkau ini tolol sekali.
Mencabut nyawa itu bukan wewenangku, mengapa engkau harus menjerit-jerit.
Sedangkan kala itu engkau malah
tertawa-tawa ketika istri Panji Paksi menjerit minta di ampuni...!"
Serentak dengan ucapannya itu,
Tabib Setan Gila mulai menarik kumis si Dingklang kanan kiri. Sebentar saja
bibir laki-laki dari Trengganu itu nampak terangkat ke atas mengikuti gerakan
tangan si Tabib.
"Nah... bagus sekali bibirmu ini!
Cengar-cengir bagai kambing bandot yang ketemu betinanya."
"Nah... nah... yang ini lebih bagus lagi. Engkau memang punya bakat
menjadi kambing bandot, bisa mengumbar nafsu seenak perutmu saja. He... he...
he... persis dan lucu sekali!" ujar laki-laki tua dari Lembah Tapis Angin bagai
orang senewen. Sejenak dia
melepaskan kumis si Dingklang, sumpah serapah segera berhamburan dari mulut
orang ini. "Tabib goublook, manusia sinting.
Bunuh saja aku! Aku benci pada
perlakuanmu." makinya panjang pendek.
"Wah engkau malah memakiku!
Kurang ajar sekali mulutmu. Tahukah engkau bahwa sesunguhnya aku sendiri sangat
benci pada Adipati gendeng dan begundalnya...?"
"Setan gila, segala
apa yang engkau katakan itu
nanti akan kulaporkan pada Adipati Yang Mulia.
Dan engkau akan menyesal seumur-umur!"
"Cerewet sekali mulutmu, kayak nenek-nenek saja. Nih...!" Berkata begitu, tangan
si Tabib berkelebat menyambar ke bagian atas bibir.
"Brut!.Bruut!"
Si Dingklang yang tak mampu
berbuat banyak itu nampak menjerit-jerit kesakitan.
Kumisnya yang cuma beberapa helai
itu, kini tercabut sudah. Tetapi si
Tabib mana mau perduli dengan keadaan itu, sebaliknya dia terus terkekeh-kekeh.
"He... he... he...!
Semuanya sudah beres, aku sudah muak melihat tampangmu. Maka baiknya aku pergi
saja...." Usai dengan ucapannya, Tabib
Setan Gila pun membalikkan langkah kemudian setapak demi setapak dia menjauh
dari pandangan si Dingklang.
Laki-laki ini menjerit-jerit. "Tabib sial bebaskan totokanku...
bebaskan...!" teriaknya.
"Tenang-tenang sajalah engkau di situ, dua hari mendatang engkau sudah terbebas
dari totokan. Kalau nasibmu baik, tentu harimau di hutan ini
enggan memangsa tubuhmu yang berlumur dengan dosa...!"
"Tabib tolonglah aku!" rintihnya bagai anak kecil. Si Tabib dari Lembah Tapis


Pendekar Hina Kelana 8 Kembalinya Si Tangan Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Angin itu terus berlalu, bahkan semakin lama semakin menjauh.
"Tabib.. toloooong...!" Tiada terdengar jawaban apapun lagi,
tinggallah si Dingklang seorang diri, menanti kebebasan dengan harap-harap
cemas. * * * Udara terasa sangat panas sekali,
sejauh-jauh mata memandang. Hanya
kegersangan tanah-tanah tandus dan hutan semak yang nampak mulai layu.
Hampir setiap tahunnya kemarau panjang memang berakibat buruk pada setiap
tanaman maupun mahluk hidup lainnya.
Apalagi daerah Trengganu dan wilayah sekitarnya merupakan daerah yang
sangat langka dari curahan air hujan.
Suasana yang terasa panas
membakar ini, membuat salah seorang dari dua orang yang sedang melakukan
perjalanan itu nampak sering mengeluh.
"Sudah berhari-hari kita
melakukan perjalanan. Tetapi masih belum ada tanda-tanda, kita bisa
secepatnya bertemu dengan manusia keji itu...."
"Cepat atau lambat kita pasti dapat menemukan sarangnya. Sabarlah, Winda?"
"Semua orang memburunya Kelana.
Aku merasa begitu yakin orang itu
sangat lihai sekali. Coba kita lihat saja, sepanjang perjalanan yang kita lalui
hanya mayat-mayat saja yang kita temui. Semuanya dari hasil pekerjaan yang sama,
mereka-mereka itu
bergelimpangan karena akibat pukulan beracun!" keluh gadis itu. Dalam pada itu
tiba-tiba Pendekar Hina Kelana berseru:
"Hei.. lihat! Di depan sana ada sebuah sungai...!"'teriaknya
kegirangan. "Wah kebetulan sekali, badanku terasa gerah dan lengket. Ada baiknya kalau kita
mandi dulu." berkata begitu, Winda Murti langsung berlari-lari mendahului si
pemuda. Memang benar adanya, kini di depan mereka terdapat sebuah sungai yang jernih airnya.
Sungai itupun tidak begitu dalam, atau mungkin hanya setinggi dada. Tanpa
sepengetahuan Winda Murti, Buang Sengketa nampak meneliti ke
sekitar daerah itu. Pohon-pohon liar yang subur, suasana sekitarnya yang terasa
dingin. Hal ini benar-benar sangat jauh berbeda dengan daerah yang mereka lalui,
kira-kira lima batu di belakang mereka. Gersang dan tandus.
Pendekar ini nampak tercenung, dalam hati dia merasa heran. Padahal di bagian
barat daya dan sekitarnya panas begitu terik, tetapi mengapa di tempat itu malah
sebaliknya. Pemuda itu tiba-tiba menjadi was-was. Diapun menoleh
untuk mengatakan sesuatu pada Winda Murti, akan tetapi ya ampun. Gadis itu kini
sudah dalam keadaan telanjang bulat dan sudah siap-siap untuk terjun ke dalam
sungai. Wajah si pemuda merah jengah dan sekejap kemudian dia telah memalingkan
mukanya. "Byuuur!"
Si gadis terjun ke dalam sungai,
laksana seekor ikan. Dia begitu lincah berenang kian ke mari. Tiba-tiba dia
berseru, "Kelana. Mengapa cuma berdiri di situ saja, engkau tak punya keinginan untuk
mandi?" Tanpa berpaling dari posisinya dia berucap.
"Winda, jangan berendam di situ terus. Naluriku mengatakan daerah ini sangat
tidak aman...!" kata si pemuda memberi peringatan.
"Ah engkau ini ada-ada saja!
Nampaknya pengecut sekali, apakah
engkau takut dengan kehadiran si
Tangan Setan...?"
"Janganlah berkata sembarangan, aku bersunggguh-sungguh!" tukas si pemuda
jengkel sekali.
"Hi... hi... hi... pengecut.
Kalaupun engkau tak mau mandi. Tapi jangan bersikap seperti itu. Aku bukan
setan, mengapa takut-takut
memandangku. Berpalinglah
ke mari, siapa tahu kata-katamu terbukti.
Setelah berkata begitu Winda
Murti berenang menjauh mengikuti arus sungai. Tanpa fikir panjang lagi si pemuda
menoleh. Dilihatnya si gadis sudah nampak menjauh dari tempatnya berdiri.
Meskipun tubuh si gadis
sepenuhnya berada di dalam air, tetapi si pemuda dapat melihat dengan jelas
lekuk lengkung tubuh Winda Murti yang kuning langsat, apalagi air sungai itu
memang benar-benar jernih sekali. Si pemuda menggerutu dalam hati. Sial betul
gadis itu, yang tidak-tidak saja tingkahnya. Tetapi biarlah daripada dia
terus berduka memikirkan
kekasihnya yang sudah tiada batinnya.
Di lain pihak sesungguhnya benar
apa yang diragukan oleh Pendekar Hina Kelana. Karena ternyata tidak begitu jauh
dari pinggiran sungai itu ada sepasang mata yang sejak tadi
memperhatikan gerak-gerik si gadis.
Begitu gadis itu mengikuti gerakan arus ke bawah, maka sepasang mata yag penuh
dendam itupun tanpa menimbulkan suara ikut bergerak. Hal ini sudah tentu di luar
sepengetahuan si pemuda.
Karena memang sesungguhnya pemuda ini nampak sangat acuh dan merasa sungkan
dengan keadaan si gadis. Sementara itu, Winda murti yang tak pernah
menyadari adanya ancaman bahaya maut itu nampak terus berenang-renang
mengikuti arus sungai hingga semakin lama semakin bertambah jauh. Sedangkan di
pinggiran sungai itu, dengan sangat ringannya sang pengintai berpakaian kuning
gading dengan selubung topeng merah itupun
mulai mempersiapkan
segala sesuatunya. Begitu dua buah taring Beracun Raja Cobra sudah siap di
tangannya, maka tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun
tangannya bergerak. "Wes! Crep!"
"Auuu!"
Bagai orang yang sedang bercanda,
Winda Murti merintih begitu senjata rahasia yang berupa Taring Raja Cobra itu
menembus punggungnya yang halus mulus. Sebentar kemudian dia berusaha meraba
punggungnya yang terasa hangat.
Tetapi mendadak kedua tangannya
menjadi kaku, seluruh permukaan
kulitnya terasa meremang. Seolah bagai orang yang sedang berada dalam gelora
asmara yang membara. Dia merintih,
tubuhnya menggeliat-geliat tak karuan.
Begitupun tiada satu patah katapun yang terucap, sesaat tubuhnya meronta-ronta,
air di dalam sungai itupun
beriak. Kemudian tubuh si gadis secara perlahan mulai tenggelam, terkulai dengan
nyawa melayang. Sesungging
senyum puas membias di wajah bertopeng itu. Setelah dia benar-benar yakin dengan
kematian Winda Murti, maka dia cepat-cepat berkelebat pergi.
Hampir setengah jam kejadian itu
berlalu, Buang Sengketa yang menunggu di pinggiran sungai lama-kelamaan
menjadi curiga. Tak ayal diapun mulai memanggil-manggil Winda Murti.
"Winda... cepatlah.. sebentar lagi matahari akan tenggelam. Apakah engkau mau
bermalam di dalam sungai ini...?" panggilnya. Tiada sahutan, hanya desau angin
senja saja yang
terdengar! "Winda...!" ulang si pemuda, kemudian dia bangkit dari tempatnya lalu berjalan
menelusuri sungai.
Jangan-jangan kecurigaannya beralasan.
Batinya lagi. Sambil terus menelusuri sungai itu, matanya nampak nanar
memandang ke sekelilingnya.
"Winda...!" jeritnya tertahan.
Wajah si pemuda mendadak pucat pasi, dalam air yang bening itu dia melihat tubuh
si gadis nampak tergeletak di dasarnya.
"Oh, Batara Yang Agung. Hari ini aku benar-benar telah kecolongan!
Bangsat betul. Pekerjaan siapa lagikan ini...?" Teriaknya marah sekali. Hanya
beberapa saat kemudian tanpa buang-buang waktu lagi dia langsung terjun ke dalam
sugai, secepatnya dia
berenang. Lalu diangkatnya tubuh Winda Murti yang tiada mengenakan sehelai
benangpun. Sesampainya di pinggiran sungai, cepat-cepat dia memeriksa
keadaan si gadis. Tubuh itu sudah
dingin dan kaku, tahulah si pemuda kalau Winda Murti telah tewas,
setidak-tidaknya setengah jam yang lalu. Setelah menutupi bagian-bagian sensitip
dengan pakaian si gadis yang sengaja di bawanya. Pendekar Hina
Kelana segera memeriksa bagian tubuh yang lainnya. Dia nampak terbelalak tak
percaya begitu beberapa saat
kemudian dia mendapati di bagian
punggung gadis itu terdapat benda
runcing berwarna putih. Ketika dia mencabut benda itu, mengertilah dia
bahwa Winda Murti tewas karena senjata beracun.
"Malang sekali nasibmu nona.
Susah payah aku menyelamatkanmu dari tangan Wimba. Tetapi kini di depan mataku
engkau tewas secara mengerikan.
Maafkan ketololanku Winda, seharusnya aku mengikutimu ke manapun engkau
pergi aku mesti mengikutimu... tetapi penampilanmu yang bersahaja membuat aku
tak sanggup melakukannya. Aku tak sanggup...!" ucapnya lirih dengan wajah
tertunduk sedih. Sesaat
setelahnya si pemuda tengadahkan
wajahnya, pandangan matanya kini
berubah liar. Kemarahan meledak secara tiba-tiba, kini secara perlahan dia
bangkit, pandangan matanya menerawang memandangi alam di sekitarnya. Dalam
keadaan seperti itulah tanpa dia
sadari tiba-tiba tenaga dalamnya
membuncah mencari jalan keluar. Lalu bagai orang yang sedang kesetanan dia
berteriak-teriak.
"Oh... tolol sekali aku ini.
Manusia hina tiada guna, tiada mampu berbuat apa-apa. Jauh di setiap aku
melangkah, mengapa selalu kudapati pembunuhan di mana-mana. Manusia tiada pernah
kenal damai...!" Sesaat
ucapannya terhenti, kedua tangannya kini dia tengadahkan di depan dada.
"Sang Hyang Widi, inikah jalan getir yang harus kutempuh, menyudahi
petualangan orang-orang sesat!
Haruskah aku menjadi pembunuh dari setiap mereka yang menyimpang dari jalanMu"
Oh... betapa dosa-dosaku akan lebih besar daripada apa yang tidak mereka
ketahui. Tidaaaak...!"
Jerit Buang Sengketa histeris.
Dan bersamaan dengan teriakannya itu, kedua tangannya pun terpentang ke
atas. Tubuhnya menggigil dibakar
amarahnya sendiri. Lalu dengan
disertai teriakan menggemuruh, karena sesungguhnya dalam suara itu disertai
dengan jeritan Ilmu Pemenggal Roh.
Maka sesaat kemudian kedua tangannya berkiblat ke segala arah.
"Haiikkgh!"
"Blar! Blar! Blar!"
Pohon-pohon besar di sekitarnya
berkerotakkan roboh, dilanda pukulan Si Hina Kelana Merana yang terkenal sangat
dahsyat itu. Angin senja terus mendesau menyibakkan anak-anak
rambutnya yang diikat sebatas bahu.
Kini setelah tenaga dalam yang
membucah itu tersalurkan, ada sedikit
perasaan lega di hati pemuda itu. Lalu seperti berjanji pada dirinya sendiri dia
berucap. "Winda. Siapapun adanya engkau ini, aku berjanji untuk meringkus si Tangan Setan
dalam waktu secepatnya.
Aku harus menghentikan sepak
terjangnya itu...!" Setelah itu cepat-cepat dia merapikan pakaian si mayat dan
di tempat itu pula dia menguburkan gadis dari Trengganu ini. Setelah
pekerjaannya selesai, malam sudah
sangat larut. Tetapi tanpa perduli dia terus melangkahkan kakinya. Pergi!
Untuk kemudian lenyap ditelan
kegelapan malam.
* * * 8 Wimba, Anom Kendor beserta tiga
orang murid yang lainnya nampak telah sampai di perbatasan antara Lembah Tapis
Angin dan Trengganu, daerah
kelahirannya sendiri. Sejak bertemu dengan Pendekar Hina Kelana, guru dan
murid itu telah mempercayakan tugasnya pada si pemuda untuk menyeret si
Tangan Setan hidup atau mati. Itu
sebabnya kini mereka kembali ke
Trengganu, sebab masih banyak urusan-urusan lain di kadipaten yang masih
membutuhkan uluran tangannya. Seperti diketahui, Wimba selajn merupakan
sesepuh dan penasehat Adipati Giris Rawa. Sekaligus merangkap jabatan
ketua keamanan di wilayah Trengganu.
Tak heran dengan munculnya si Tangan Setan, hati laki-laki setengah tua itu
begitu nampak diliputi kecemasan.
Pada saat itu dari arah yang
berlawanan, nampak pula seorang gadis berpakaian kuning gading terlihat pula
berjalan menyongsong kehadiran orang-orang ini. Dengan tenangnya dia terus
berjalan melenggang lenggok, hingga pada akhirnya merekapun saling
berpapasan. Masing-masing mata
menyiratkan rasa saling curiga, tetapi sebelum Wimba dan murid-muridnya
sempat berkata sesuatu apapun, Hning Ksaban sudah buka bicara.
"Orang tua, yang manakah jalan menuju Trengganu?" tanya si gadis dengan tatapan
mata dingin. Yang
ditanya bungkam, beberapa saat lamanya
dia nampak memperhatikan gadis itu, rasa-rasanya dia tak pernah melihat gadis
berwajah cantik seperti itu
berada di Trengganu, kalaupun ada hal itu sudah barang tentu tak luput dari
tangan Adipati yang paling gemar
mengumpulkan para wanita cantik. Lalu dia berfikir maka wajar saja kalau si
gadis tidak mengetahui jalan ke
Trengganu. Akhirnya dengan keramahan bercampur rasa curiga diapun berkata.
"Aha... kebetulan kami juga mau pulang ke Trengganu, kalau engkau mau bisa turut
serta bersama kami...!"
"Apakah kalian penduduk
Trengganu?" tanya si gadis dengan pandangan liar. Tetapi sejauh itu nampaknya
Wimba dan murid-muridnya sedikitpun tidak menaruh rasa curiga pada Hning Ksaban.
"Kami memang penduduk sana, dan aku sendiri sebenarnya merupakan
sesepuh Adipati Trengganu!" jawab Wimba sedikit bangga. Si gadis nampak
terkejut, tetapi hatinya sangat
gembira. Nafsu dendampun mulai membara di dalam pembuluh darahnya.
"Oh, jadi engkau termasuk orang tua yang mempunyai pengaruh di daerah
Trengganu...?"
"Bukan itu saja. Bahkan aku tahu sejarah yang terjadi di daerah yang subur
makmur ini!"
Hning Ksaban tersenyum misterius
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sudah lamakah engkau tinggal di sana orang tua...?" pancing si gadis.
"Ho... ho... sejak kecil aku
sudah ada di sana, ada apakah?" tanya Wimba lama-kelamaan menjadi curiga juga
rupanya. "Hemm... ingatkah engkau
peristiwa sembilan belas tahun yang lalu?"
Ditanya seperti itu, Wimba nampak
sangat terkejut sekali. Semua orang Trengganu sudah pasti tahu tentang kejadian
yang menimpa keluarga Panji Paksi. Jangankan lagi dia yang memang pada saat itu
ikut membakar rumah


Pendekar Hina Kelana 8 Kembalinya Si Tangan Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kediaman Adipati yang malang itu, lalu timbul pula pertanyaan dalam hati
laki-laki ini. Siapakah. sesungguhnya gadis yang sedang berada di hadapan mereka
itu" Hatinya mendadak menjadi gelisah tak menentu.
"Siapakah engkau ini yang
sesungguhnya, bocah...?" tanya Wimba dengan harap-harap cemas.
"Hiii... hi... hi...! Jangan
kira, cuma kalian sendiri yang punya hak untuk bercokol di Trengganu.
Kalian memang manusia-manusia serakah berhati keji!" ucap si gadis tiba-tiba.
Hal itu membuat Wimba dan
muridnya menjadi heran dan marah
sekali. "Guru, gadis sinting ini terlalu kurang ajar mulutnya. Ada baiknya
kalau kutebas saja lehernya!" tukas Anom Kendor kini ikut-ikut menyela.
"Jangan banyak bacot. Orang tua cepat katakan apa yang pernah terjadi sembilan
belas tahun yang lalu...!"
perintah si gadis, nampaknya dia sudah tak sabar lagi. Wimba gelengkan kepala
berulang-ulang. Agaknya dia sudah
mulai dapat mengetahui siapa adanya gadis yang tengah dia hadapi itu.
Tiba-tiba Wimba tertawa mengekeh.
"Hie... he., he...! Sekarang aku tahu, kiranya engkaulah anaknya
Adipati yang malang itu. Hemm, pucuk dicinta ulam tiba! Kalau dulu
seseorang masih dapat menyelamatkanmu, tetapi hari ini jangan sekali-kali engkau
mimpi dapat lolos dari
tanganku!" bentak laki-laki sesepuh Trengganu itu, lalu memberi isyarat
pada murid-muridnya. Mengetahui
gelagat sebaliknya Hning Ksaban balas membentak.
"Diam di tempat! Selangkah saja kalian bergerak, jiwa kalian pasti tidak akan
tertolong!"
"Hei... cepat kalian ringkus dia!
Jangan hiraukan ocehannya." perintah Wimba nampak gusar begitu melihat
murid-muridnya menjadi ragu-ragu
sesaat setelah mendengar ancaman si gadis. Betapapun hati murid-murid
Wimba itu menjadi ragu-ragu, tetapi mereka tak ingin mengabaikan perintah
gurunya. Bagi mereka, perintah seorang guru adalah di atas segala-galanya,
walaupun pada akhirnya dia harus
berkorban nyawa sekalipun. Maka tanpa mombuang-buang waktu lagi, mereka itu
langsung meloloskan senjata masing-masing. Secepatnya mereka bermaksud mengurung
si gadis berpakaian kuning gadis ini. Akan tetapi, sesuai dengan ancamannya.
Lebih cepat lagi tangannya bergerak.
"Wuuuuuss!"
"Wua.. arggkh!"
Keempat murid-murid Wimba
menjerit-jerit, begitu senjata-senjata rahasia yang disambitkan
oleh si gadis, menembus urat leher mereka.
Beberapa saat setelahnya, wajah orang-orang ini nampak menegang, pucat dan tiba-
tiba membiru. Bukan alang
kepalang kejut sang guru demi melihat keadaan murid-muridnya. Terlebih-lebih
lagi ketika beberapa saat kemudian keempat orang muridnya roboh dan tewas secara
mengenaskan. Marah bercampur penasaran berbaur menjadi satu, tanpa sadar kini
Wimba telah mencabut
pedangnya. Dengan pedang itu dia
menuding pada Hning Ksaban.
"Perempuan iblis, begitu berani engkau membunuh murid-muridku. Tidak tahukah
engkau, bahwa sesungguhnya kami ini merupakan keamanan
kadipaten?"
Si gadis mengekeh!
"Sekalipun engkau pengawal dari kerajaan iblis. Tidak nantinya aku lari
meninggalkan lawan-lawan yang telah membunuh orang tuaku." menyela Hning Ksaban.
"Bagus! Bagus! Hari ini juga akan ku-gusur keturunan si Panji Paksi dari kolong
langit ini...!"
"Hi... hi., hi...! Majulah...!"
Belum lagi Hning
Ksaban dengan ucapannya, mendadak pedang hitam di
tangan sesepuh dari daerah Trengganu itu sudah menderu, berkelebat mencecar si
gadis dengan serangan-serangan yang mematikan. Menghadapi serangan seperti itu,
sudah barang tentu Hning Ksaban tidak tinggal diam, sekalipun dia tahu bahwa
ilmu pedang yang dimiliki orang sesepuh Trengganu ini tak ada apa-apanya. Kini
tubuh si gadis berkelebat cepat. Hanya Hning Ksaban memang
sengaja memberi kesempatan pada Wimba, untuk mengumbar nafsu amarahnya.
Kini keringat mulai membasahi
tubuh si laki-laki, dia terus
mengarahkan segenap kemampuannya.
Tetapi sampai sejauh itu dia masih belum mampu mendesak lawannya. Hingga lama-
kelamaan hatinyapun menjadi
jengkel, timbul pula tekadnya untuk mengadu jiwa dengan si gadis. Maka kini
tanpa sungkan-sungkan lagi Wimba segera mamainkan jurus pedangnya yang paling
dia andalkan. Menebas Hutan Membongkar Gunung. Tak ayal gerakannya semakin lama
semakin bertambah cepat, pedang di tangannya yang berwarna
hitam menggiriskan menderu ke segala arah. Sese-kali pukulan-pukulan
mautpun dia lepaskan. Sialnya pukulan-pukulan itupun tak berarti banyak buat
Hning Ksaban. Karena dengan baik
selalu saja gadis itu dapat
menghindarinya. Geram bukan main hati si Wimba begitu melihat semua pukulan-
pukulan jarak jauhnya luput dari
sasaran. Padahal di daerah Tenggara, belum pernah ada seorangpun dapat
menghindar dari pukulan maut si Raja Gila hasil ciptaannya. Kalau kini
bocah keturunan Panji Paksi yang masih bau kencur itu dengan baik dapat
menghindar dari semua serangan. Timbul dalam
benaknya bahwa sesungguhnya
gadis yang dia hadapi itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Lalu, dengan
di awali bentakan-bentakan
melengking diapun kembali membangun serangan-serangan yang lebih gencar lagi.
Tetapi pada saat itu agaknya Hning Ksaban alias si Tangan Setan nampaknya sudah
tidak sabaran lagi.
Gadis inipun melompat mundur, detik berikutnya tangan kanan terangkat
tinggi-tinggi. Sedangkan tangan
sebelah kirinya merapat ke depan dada, sementara mulutnya menyunggingkan
senyum sinis. Wimba nampak te-belalak matanya demi menyaksikan gerakan-gerakan
tangan kiri si gadis yang
nampak mengelus-elus dadanya. Dia
benar-benar tak tahu kalau gerakan-gerakan tangan kiri itu sesungguhnya hanyalah
merupakan siasaat mengalihkan perhatian lawan. Hal itu sangat perlu karena
keadaan yang sesungguhnya, dia sedang menyalurkan tenaga dalamnya pada bagian
tangan kanannya yang sudah dia rasa sudah cukup, maka kini
terlihatlah betapa tangan kanannya yang sudah teraliri tenaga dalam itu nampak
menghitam sebatas pangkal
lengan. Tanpa kata dengan diawali satu teriakan tinggi meleking, gadis itupun
kirimkan satu pukulan mautnya. Wimba nampak terperanjat, tetapi satu
rangkaian gelombang sinar hitam itu datangnya lebih cepat dari perhi-tungannya.
Begitupun dia masih
berupaya untuk menghindar. Tetapi
tetap saja! "Wusss!"
Tiada terdengar keluhan. Tubuh
Wimba nampak terjengkang, lalu
terguling-guling. Seluruh permukaan kulit tubuhnya berubah hitam dan
melepuh di sana sini, pedang di
tanganya mental entah ke mana.
Begitupun dia masih berusaha bangkit dari tempatnya. Meskipun hal itu pada
akhirnya mampu dia lakukan, tetapi
tubuhnya nampak gemetaran. Dini dengan mata melotot karena menahan sakit, dia
memandang si gadis. Seolah-olah dia merasa tak percaya dengan apa yang
dialaminya. Hning Ksaban tertawa mengekeh,
nampaknya dia begitu puas dengan apa yang telah di lakukannya pada sesepuh dari
Trengganu itu. Begitu sinis dia berkata.
"Sesepuh Adipati sialan. Tidak sampai sepuluh menit di muka, engkau segera
mampus! Engkau memang pantas mampus, begitupun halnya dengan Giris Rawa si
bangsat Adipati yang telah membunuh kedua orang tuaku...!"
"A... apa... kah engkau yang
berjuluk si Tangan Setan..."!" Tanya laki-laki yang sudah terkena pukulan
beracun itu terbata-bata.
"Hii... hi., hi...! Karena engkau segera mampus, maka tak ada salahnya kalau
engkau tahu, bahwa akulah si Tangan Setan itu...!" Begitu mendengar ucapan
sigadis, sesepuh dari Trengganu berniat berniat menerjang kembali.
Tetapi sebelum niatnya kesampaian, tubuhnya malah terjerembab ke depan.
"Bruugkh! Arrgggkh!"
Wimba menekan lehernya yang bagai di cekik tangan raksasa. Sesaat
lamanya tubuhnya
bergoyang-goyang,
kemudian terdiam untuk selama-lamanya.
Lagi-lagi sesungging senyum sinis
mengembang di bibir Hning. Ksaban, kemudian dia memutar langkah dan
bermaksud cepat-cepat meninggalkan tempat itu, ketika di belakangnya terdengar
langkah dan suara pelan namun menegur.
"Gadis yang berjuluk si Tangan Setan! Sampai kapankah engkau
menyudahi petualanganmu. Ratusan jiwa telah melayang sebagai pelampiasan nafsu
dendammu dan apakah engkau tetap akan melakukan pembunuhan di mana-mana?"
Tanpa merasa terkejut sedikitpun
Hning Ksaban secara perlahan menoleh, tahulah dia dengan siapa berhadapan.
"Huh! Engkau Tabib Setan Gila.
Jangan kau kira aku tak tahu, bahwa sejak tadi engkau mengintip di balik batu
itu. Tapi bagus, kiranya engkau mematuhi semua perintahku...!"
bentaknya begitu dingin.
"Dengan pergi dari pondokku,
apakah engkau kira aku telah mematuhi
perintahmu yang mengancam itu...?" Si Tabib balik bertanya.
"Setidak-tidaknya begitulah kalau engkau memang ingin panjang umur!"
Tabib Setan Gila tertawa, begitu
mendengar ancaman si gadis putri
sahabatnya. "Setan! Engkau telah
mentertawaiku...! Apakah engkau ingin ku buat mampus seperti bangsat-bangsat
itu...?" bentaknya sambil menunjuk pada mayat-mayat yang bergelimpangan di
sekitar mereka.
"Kematian tetap kematian, tetapi jangan engkau kira semua itu bisa
sekehendakmu. Ada yang lebih berhak atas semua itu...." ujar si Tabib nampak
tenang-tenang saja.
"Sial! Engkau benar-benar ingin mampus, Tabib...!" Bersamaandengan kata-kata-
nya, si gadis mengangkat tinggi-tinggi. Tetapi Tabib Setan Gila buru-buru
menyela. * * * 9 "Tunggu dulu bocah. Bagimu
membunuhku adalah satu pekerjaan yang sangat mudah. Akupun tak akan
menghindar, kalau memang kematianku engkau menjadi puas. Tubuhku yang
kropok ini memang sudah tak ada
gunanya. Tetapi kalau dengan
kematianku engkau berjanji untuk
mengakhir petualanganmu. Maka aku rela mati di tanganmu...!" ucap si Tabib penuh
kesabaran. "Tidak! Aku tak pernah berhenti sebelum bangsat-bangsat itu mampus di tanganku.
Sesungguhnya aku tak butuh kematianmu, tabib. Engkau ingat-ingalah itu!" sergah
si gadis. "Nduk! Sebagai seorang anak,
engkau memang wajib berbakti pada orang tuamu. Tetapi pelampiasan dendam yang
membabi buta itu juga tidak baik.
Panji Paksi ayahmu juga pasti tidak rela melihat sepak terjang anaknya yang
begitu serampangan tak
karuan...!" ujar si Tabib. Hning Ksaban nampak terdiam, kedua alis
matanya terangkat ke atas. Dia merasa agak heran mengapa si Tabib bisa
mengenal nama ayahnya. Padahal
seingatnya dia tak pernah bertemu dengan Tabib itu. Dalam keheranannya itu
diapun langsung bertanya.
"Tabib Setan Gila! Siapakah
engkau ini yang sesungguhnya"
Bagaimana engkau bisa tahu nama orang tuaku. Cepat engkau katakan atau kalau
engkau hanya bermaksud mengada-ada, kubunuh nanti...!" Bentaknya geram dan
penasaran. "Hning Ksaban... ketahuilah, aku mengenal ayah dan ibumu tak jauh
bedanya seperti diriku sendiri. Bahkan ketika kami sama-sama masih seorang
bocah, kami sudah saling kenal. Cuma kalau ayahmu pada waktu itu cenderung
menyukai ilmu silat maka aku lebih suka belajar ilmu keTabiban. Setelah dewasa
ayahmu berkeluarga, kemudian memutuskan untuk merant'au di tanah seberang ini.
Maka akupun menyertainya, Hubungan ayahmu dengan aku bak ubahnya seperti saudara kembar saja
layaknya. Cuma karena kami
memiliki keahlian y'ahg berbeda.
Setelah sampai di negeri ini, kiranya ayah dan ibumu lebih suka tinggal di
Trengganu yang masih merupakan kota kecil kadipaten. Sedangkan aku lebih
suka tinggal di Lembah Tapis Angin yang sunyi. Aku hidup dari hasil
bercocok tanam, sekali dua kami saling kunjung mengunjungi. Aku tiada
menyangka kalau kiranya ayahmu pada akhirnya lebih suka berkecimpung dalam
bidang pemerintahan, dan yang lebih tak kumengerti lagi kiranya diapun akhirnya
tewas karena kekuasaan...!"
ujar si Tabib dengan wajah tertunduk sedih.
Hning Ksaban terperangah,
sedikitpun dia tiada pernah menyangka kalau orang selama ini dalam
ancamannya ternyata masih merupakan sahabat baik orang tuanya. Betapapun dia
sering berkata kasar pada Tabib dari Lembah Tapis Angin itu. Walaupun dia
merupakan yang paling sadis dalam hal menyudahi petualangan lawan-lawannya, Tak
urung berhadapan dengan si Tabib, hatinya tersentuh juga. Tiba-tiba si gadis
menundukkan kepala,
tanpa di sangka-sangka diapun menjura hormat. "Uwa Tabib, maafkanlah aku!
Sedikitpun aku tiada pernah menyangka kalau Uwa masih merupakan sahabat
ayah!" desah Hning Ksaban hampir tak terdengar. Begitu pun tiada air mata yang
menetetas. "Sudahlah, Nduk... semua ini
bukan kesalahanmu! Akupun minta maaf, karena pada saat itu aku tak mampu berbuat
banyak kala keluargamu
mendapat musibah. Mungkin semua itu sudah kehendak Sang Dewata, nduk...!"
"Aku tahu, Uwa... dan sebagai anaknya! Sudah selayaknya kalau aku berbakti pada
orang tuaku...!"
"Sepak terjangmu telah membuat dunia persilatan menjadi gempar.
Apakah engkau akan meneruskan dendam yang sesungguhnya tidak baik itu,
nduk...?" tanya Tabib Setan Gila was-was.
"Itu harus, Uwa! Aku tak akan berhenti selama Giris Rawa masih
bercokol di atas kekuasaannya." jawab Hning Ksaban mantap.
"Nduk! Apakah kematian sekian banyak orang di tanganmu tidak pernah membuatmu
menjadi puas" Ingatlah di antara mereka yang engkau bunuh itu, aku merasa yakin
sebagian besar di antaranya tidak tahu menahu tentang kejadian itu!"
"Siapapun adanya mereka itu, asal dari Trengganu, takkan pernah
kubiarkan hidup...!" ucap si gadis geram sekali.
"Aku sedih mendengarnya,
Pendekar Satu Jurus 8 Anak Berandalan Karya Khu Lung Pendekar Penyebar Maut 12
^