Pencarian

Kutukan Berdarah 2

Pendekar Gila 22 Kutukan Berdarah Bagian 2


siang itu. Sepasang muda-mudi yang tengah melang-
kah melintasi Desa Keligisan harus menutupkan tan-
gannya di wajah, agar terhindar dari terpaan debu dan daun kering yang
berterbangan ditiup angin.
"Aha, sebentar lagi akan musim penghujan,"
gumam Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang
konyol. Tangan kanannya menutupi muka, sedangkan
tangan kiri menggaruk-garuk kepala.
Gadis cantik yang sikapnya tenang namun agak
galak di sampingnya hanya memandangi dedaunan
kering berterbangan ditiup angin. Kemudian pandan-
gannya beralih ke wajah pemuda bertingkah laku aneh
yang tak lain Pendekar Gila.
"Dari mana Kakang tahu...?" tanya Mei Lie
sambil menatap wajah kekasihnya.
"Aha, itu sudah kebiasaan orang-orang Jawa.
Mereka menghitung musim dari angin. Hi hi hi...!" Se-na tertawa cekikikan.
Tangannya masih menggaruk-
garuk kepala. Sedangkan matanya memandang wajah
Mei Lie. Gadis itu tersenyum-senyum melihat tingkah
laku kekasihnya yang kadang menggemaskan dan ko-
nyol. "Bagaimana caranya, Kakang?" tanya Mei Lie tertarik ingin tahu.
"Hi hi hi...! Kau ingin tahu...?" goda Sena sambil cengengesan dengan tangan
masih menggaruk-
garuk kepala. Hal itu menjadikan Mei Lie kembali ge-
mas melihatnya. "Aha, semakin kau cemberut, semakin bertambah cantik saja...."
Mei Lie yang semula hendak cemberut, seketika
mengurungkan niatnya setelah mendengar selorohan
Sena. Kini di bibirnya tampak terurai senyum yang be-
gitu manis. Senyum yang mampu membuat hati Pen-
dekar Gila senantiasa ingin terus bersama gadis Cina
itu. Sambil melangkah menyelusuri Desa Keligisan,
kedua pendekar sejoli itu bercengkerama. Kadang ber-
canda ria, ngobrol, dan bermanja-manja. Sepertinya
mereka tak ingin membuang kesempatan pertemuan
itu begitu saja. Karena setelah keduanya sampai di
Goa Setan, maka Mei Lie akan dititipkan pada Eyang
Guru Singo Edan. Sekaligus agar Mei Lie dapat menda-
lami ilmu-ilmu silat dengan tenang, tanpa harus ter-
ganggu suasana dunia persilatan.
"Ayolah, katanya mau menceritakan tentang
bagaimana orang Jawa menghitung musim dengan
berpedoman pada angin," desak Mei Lie
Sena masih cengengesan dengan tangan kiri
menggaruk-garuk kepala. Ditatapnya wajah gadis Cina
yang menjadi kekasihnya itu, Mei Lie pun memandang
wajahnya dengan muka cemberut, merasa digoda oleh
Pendekar Gila. "Aha, baiklah akan kuceritakan," sahut Pendekar Gila sambil cengengesan dengan
tangan masih menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandang
wajah Mei Lie yang masih menunjukkan cemberutnya.
"Ayo, mau ceritakan tidak...?" desak Mei Lie setengah merengek, menjadikan Sena
semakin cen- gengesan dengan tangan kian keras menggaruk-garuk
kepala. "Aha, baiklah akan kuceritakan, tetapi kita harus mencari kedai dahulu,
karena perutku sudah min-
ta diisi. Hi hi hi...!"
Tanpa membantah, Mei Lie pun menurut me-
langkah seiring dengan kekasihnya untuk mencari se-
buah kedai. Di samping perut mereka memang lapar,
keduanya juga ingin meneduh agar terhindar dari rasa
panas yang menyengat. Debu yang berterbangan pun
terasa sangat mengganggu perjalanan mereka.
*** Setelah makan, Pendekar Gila dan Mei Lie be-
ristirahat sambil melepas lelah. Suasana siang itu masih terasa panas. Terik
matahari sepertinya tak men-
genal ampun. Angin siang yang berhembus pun bagai-
kan tak ada artinya sama sekali. Meskipun berhembus
kencang tak mampu mengusir hawa panas yang terasa
menyengat tubuh.
"Ouw...!" Sena menguap karena serangan rasa kantuk yang disebabkan terik
matahari bercampur
hembusan angin.
Mei Lie yang duduk di samping Pendekar Gila
hanya mampu memperhatikan tingkah laku kekasih-
nya yang konyol. Gadis itu tersenyum sambil mengge-
leng-gelengkan kepala.
"Kakang, masih jauhkah Goa Setan dari sini...?"
tanya Mei Lie. Matanya memandang ke luar kedai. Di
sekitar kedai itu pepohonan menghijau nampak sangat
subur. Gemerisik angin yang menerpa dedaunan ter-
dengar sampai dalam kedai.
"Aha, rupanya kau sudah ingin bertemu dengan
eyang. Hi hi hi...! Lucu sekali! Eyang galak sekali, Mei Lie," ujar Sena sambil
menggaruk-garuk kepala. Di bibirnya masih tersenyum cengengesan.
"Ah, kurasa eyang tak sekonyol dirimu, Ka-
kang...," desah Mei Lie dengan mata masih meman-
dang keluar kedai.
"Tolong...! Tolong...!"
Tiba-tiba terdengar suara jeritan seorang wani-
ta. "Heh..."!"
"Heh!"
Mei Lie dan Pendekar Gila yang sedang istira-
hat, tersentak kaget. Keduanya langsung bangun dari
tempat duduk. Mata mereka memandang keluar. Ke-
mudian Pendekar Gila telah melangkah keluar diikuti
Mei Lie. "Tolong...!" dari arah timur, nampak lima orang lelaki berkedok sedang
menyeret dan memaksa seorang gadis agar ikut bersama mereka. Gadis itu meron-
ta-ronta, berusaha melepaskan diri dari lelaki berke-
dok hitam yang membopong tubuhnya. Namun tena-
ganya yang tidak kuat, membuat dirinya tak mampu
lepas dari tangan lelaki berkedok hitam.
"Aha, rupanya ada lima tikus pemalu yang mau
menculik seorang gadis. Hi hi hi..., lucu sekali," gumam Pendekar Gila sambil
menggaruk-garuk kepala.
Hal itu membuat kelima lelaki berkedok yang memba-
wa tubuh gadis cantik jelita berambut panjang, seketi-ka menghentikan langkah
mereka. "Siapa kau..."!" bentak lelaki berkedok hitam.
"Aha, siapa pun aku, yang pasti aku tak suka
dengan perbuatan kalian!" sahut Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala.
Sedangkan Mei Lie nampak
masih tenang. Namun, sorot matanya sangat tajam,
menatap penuh kebengisan.
"Kurang ajar! Apa kau tak tahu kalau tingkah
lakumu yang seperti orang gila itu akan membuatmu
menderita"!" bentak Kedok Merah dengan nada tajam dan keras.
"Gila..." Aha, memang dunia ini sudah gila. Di
mana-mana orang bertingkah laku aneh-aneh!" ujar Sena dengan tingkah lakunya
yang seperti orang gila.
Mulutnya cengengesan, dengan tangan masih mengga-
ruk-garuk kepala.
"Pemuda gila, minggirlah! Jangan sampai hilang
kesabaran kami!" bentak Kedok Hitam dengan garang.
"Enak saja kalian ngomong!" bentak Mei Lie
yang sudah tak dapat lagi menahan amarah, menden-
gar kelima lelaki berkedok itu meremehkan Pendekar
Gila. "Kami mau minggir, asalkan kalian turunkan gadis itu." Kelima lelaki
berkedok itu saling pandang, mendengar ucapan Mei Lie. Mereka tak menyangka,
kalau gadis Cina yang di punggungnya tersandang pe-
dang itu akan berani membentak begitu tajam dan ke-
tus. "Siapa kau, Nini" Berani benar kau pada kami,"
dengus Kedok Ungu geram. Belum pernah ada seorang
wanita berani membentaknya seperti itu.
Mei Lie tersenyum sinis, mendengar ucapan le-
laki berkedok ungu. Begitu juga dengan Pendekar Gila,
mulutnya tampak cengengesan sambil menggaruk-
garuk kepala. "Aha, kenapa kalian tak menculik temanku sa-
ja" Bukankah temanku lebih cantik" Hi hi hi..!" ujar Sena dengan mulut
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat kelima lelaki
berkedok semakin bertambah marah. Sedangkan Mei Lie kini
nampak melototkan mata, membuat Sena semakin ke-
ras menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir.
"Pemuda gila! Lancang sekali mulutmu!" dengus Kedok Hitam gusar, sambil
menggerakkan tangan kiri
memerintah keempat temannya. "Bereskan mereka...!"
Keempat lelaki berkedok lainnya segera maju
mengepung Mei Lie dan Pendekar Gila yang telah siap
menghadapi serangan lawan.
"Hi hi hi...! Mei Lie, rupanya kita akan main-
main dengan para cecunguk itu," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya
memandang dengan sudut mata, seperti orang bermata jereng. Sedang-
kan mulutnya masih cengengesan. "Aha, apa kau telah siap, Mei...?"
"Untuk cecunguk macam mereka, aku siap,
Kakang," sahut Mei Lie dengan mata menatap tajam pada keempat lawannya yang
telah siap untuk menyerang. "Heaaa...!" dua orang menggebrak Mei Lie dengan
tebasan pedang dan golok. Namun secara cepat
Mei Lie berkelit dengan membuka kaki kiri ke samping.
Tubuhnya dirundukkan sambil kepalanya bergerak ce-
pat. Serangan mereka meleset, hanya beberapa jari da-
ri kepala Mei Lie.
Rupanya semenjak senjata mereka yang ber-
bentuk ranting bercabang, patah terbabat Pedang De-
wa Naga, kini mengganti senjata mereka dengan pe-
dang dan golok. Hal itu karena mereka menyesuaikan
diri dengan senjata milik sang Pemimpin, Sugali yang
menggunakan ilmu pedang. Tampaknya Sugali pun
sebagai pemimpin telah mulai menurunkan ilmu pe-
dangnya kepada kelima anak buah.
"Heaaa...!" dengan cepat Mei Lie menarik kaki kanan ditekuk ke atas, lalu dengan
tendangan 'Bidadari Menyapu Awan', gadis itu menendang kedua
lawannya dengan cepat. Hal itu membuat kedua la-
wannya tersentak kaget
"Heh"! Awas...!" seru Kedok Ungu berusaha
memperingatkan temannya, agar mengelak dari seran-
gan lawan. "Hah"!" Kedok Merah tersentak kaget. Dirinya berusaha menghindar dengan cara
menyurutkan kaki
kanan ke belakang. Sementara tubuhnya dimiringkan
ke kiri. "Heaaa...!"
Mei Lie terus menggebrak, masih dengan men-
gandalkan tangan kosong. Namun begitu, serangan
Mei Lie yang menggunakan jurus-jurus 'Bidadari Sakti'
mampu membuat kedua lawan yang menyerang nam-
pak kewalahan. Mereka harus menguras tenaga, agar
dapat mengelakkan serangan-serangan yang cepat dan
sangat berbahaya itu.
"Uts! Celaka! Ternyata gadis ini bukan gadis
sembarangan," gumam Kedok Merah setengah menge-
luh, sambil terus berusaha mengelakkan serangan-
serangan yang dilakukan Mei Lie. Mata Kedok Merah
membelalak, hampir tak percaya melihat gebrakan
yang dilancarkan Bidadari Pencabut Nyawa yang san-
gat cepat dan berbahaya.
"Kedok Merah, rupanya kita menghadapi wanita
bukan sembarangan," ujar Kedok" Ungu yang juga merasa kaget, menyaksikan
serangan Mei Lie. Dengan pe-
dang di tangan, dirinya tak mampu mendesak Mei Lie
yang hanya menggunakan tangan kosong. Gadis itu
sangat gesit dalam mengelak maupun melakukan se-
rangan. "Heaaa...!"
Tangan Mei Lie dengan jurus 'Bidadari Melepas
Himpitan Karang' bergerak menyerang. Tangan kanan
bergerak memukul ke tubuh Kedok Ungu, sementara
tangan kiri direntangkan ke atas, lalu memukul Kedok
Merah. Wrt! Kedok Ungu dan Kedok Merah benar-benar ke-
walahan menghadapi serangan yang dilakukan Mei Lie.
Keduanya terus berusaha mengelak dan balas menye-
rang. Namun rupanya Mei Lie tak mudah untuk dide-
sak. Bahkan keduanya yang terpaksa harus berjumpa-
litan mengelakkan serangan gencar yang dilancarkan
Mei Lie. *** 4 "Heaaa...!" Mei Lie terus menggebrak dengan pukulan dan tendangan yang
mengandung tenaga dalam. "Aits! Celaka...! Dia benar-benar bukan gadis
sembarangan," keluh Kedok Ungu sambil mengibaskan tangannya, berusaha menangkis
serangan Mei Lie yang
cepat dan sangat membahayakan. Kedok Ungu segera
melakukan salto ke udara, kemudian dengan masih
melayang Kedok Ungu berusaha menyerang Mei Lie
dengan sabetan goloknya.
Wrt! "Haits...!"
Dengan merundukkan tubuh, Mei Lie mengelak
dari babatan golok lawan. Kemudian dengan cepat,
tangan kanannya meraba gagang pedang yang ber-
tengger di pundak.
Srt! Wrt! Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa mengi-
baskan pedang, memapak serangan lawan.
Trang! Prak! "Ikh...!" Kedok Ungu tersentak kaget, dengan tubuh melompat ke belakang. Matanya
membelalak kaget, tak percaya kalau goloknya patah terbabat pe-
dang yang mengeluarkan sinar kuning kemerahan di
tangan gadis itu. "Celaka, dia bukan gadis sembarangan Gila...!"
Kedok Merah yang juga melihat kenyataan itu,


Pendekar Gila 22 Kutukan Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

agak ciut juga nyalinya. Dirinya sungguh tak menduga, kalau gadis Cina itu
memiliki ilmu silat yang tinggi.
"Heaaa...!" Mei Lie kembali menyerang dengan jurus 'Bidadari Merentang
Selendang'. Kedua tangannya bagaikan sepasang selendang, mengibas-ngibas
memburu Kedok Merah. Bukan hanya tangannya yang
melakukan serangan. Kakinya juga turut bergerak ce-
pat menyerang dengan sapuan dan tendangan keras.
"Aits!" Kedok Merah segera melompat sambil
berjumpalitan mengelak dari serangan yang dilancar-
kan Mei Lie. Hampir saja sambaran kaki dan tangan
Mei Lie mendarat di dada dan wajah Kedok Merah, ka-
lau saja Kedok Ungu tak segera membantunya. Seran-
gan bantuan Kedok Ungu membuat Mei Lie harus
mengalihkan perhatian kepadanya.
Sementara itu, Pendekar Gila yang sedang
menghadapi dua orang berkedok lainnya pun nampak
masih bertarung. Dengan mulut cengengesan, Sena
melayani dengan menggunakan jurus yang dirasa aneh
bagi kedua lawannya. Dengan jurus 'Gila Menari Me-
nepuk Lalat' Sena terus berkelebat mengelakkan se-
rangan. Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari disertai
dengan tepukan-tepukan tangannya yang aneh. Meski
pukulan telapak tangannya kelihatan pelan, tenaga
yang keluar sangat menyentakkan kedua lawannya.
Plak! "Aits...!"
"Heh"!"
Kedua lawannya langsung berlompatan mun-
dur, mengelakkan serangan yang dilancarkan Pende-
kar Gila. Mata keduanya membelalak kaget, menda-
patkan serangan yang sangat aneh itu. Mereka seakan-
akan tak percaya dengan jurus yang dilancarkan la-
wan. Jurus itu sepertinya hanya main-main. Namun
ternyata sangat berbahaya. Pukulan telapak tangan
yang kelihatan pelan, tahu-tahu mampu mengeluarkan
tenaga dalam yang sangat kuat
"Hi hi hi..! Kalian lucu sekali! Tentunya kalian bermuka buruk, sehingga harus
bersembunyi di balik
kedok. Hi hi hi...!" Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk
kepala. Kemudian dengan
tingkah laku seperti seekor kera, Pendekar Gila kemba-li bergerak menyerang
kedua lawannya yang masih ke-
heranan. "Awas, Kedok Biru...!" seru Kedok Kuning mengingatkan temannya, yang dengan
segera melompat ke
samping mengelak dari serangan Pendekar Gila. Lalu
dengan cepat Kedok Biru dan Kedok Kuning balas me-
nyerang. Pedang dan golok mereka berkelebat cepat
memburu Pendekar Gila.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!"
Pedang dan golok kedua lawannya menderu ce-
pat Namun dengan tak kalah cepat Pendekar Gila sege-
ra berkelit. Dirundukkan tubuh, lalu sambil meliuk ditepukkan tangan kanannya ke
samping. Sedangkan
tangan kirinya, ditepukkan ke depan.
"Heaaa...!"
Wrt! "Hah! Celaka...!" pekik Kedok Kuning kaget, sambil menggeser kaki ke kiri.
Kemudian dengan memutar tubuh setengah lingkaran, Kedok Kuning mem-
babatkan pedangnya ke tubuh Pendekar Gila.
"Yeaaa...!"
Wrt! Merasa ada desiran angin babatan pedang la-
wan, Pendekar Gila yang sedang menyerang Kedok Bi-
ru, cepat menjatuhkan tubuh ke tanah. Sementara
tangannya bergerak menyambar kaki Kedok Biru, ka-
ki-nya menendang ke dada Kedok Kuning.
"Heaaa...!"
Wrt! Blukkk! Plakkk! Tanpa ampun lagi, Kedok Biru yang kakinya
disambar, langsung jatuh terlentang. Sedangkan Ke-
dok Kuning yang terkena tendangan, tampak ter-
huyung ke belakang dengan mata melotot. Dari sela-
sela bibirnya, melelehkan darah.
"Ukh...!" keluh Kedok Kuning sambil memegan-gi dadanya yang sakit, akibat
tendangan kaki Pendekar Gila. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya menatap tajam
Pendekar Gila yang cengengesan. Sepertinya Ke-
dok Kuning tengah berusaha meyakinkan hatinya,
dengan siapa dia kini berhadapan.
"Hi hi hi...! Lucu..., lucu sekali kalian! Mengapa kalian seperti orang-orang
yang habis sakit?" tanya Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di
bibirnya masih tersungging senyuman.
Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala
yang mendongak menatap langit biru.
Kedua lawannya yang menyaksikan tingkah la-
ku Pendekar Gila semakin mengernyitkan kening kehe-
ranan. "Pemuda gila, aneh!" gumam Kedok Kuning sambil terus memegangi dadanya
yang terasa sakit,
akibat tendangan kaki kiri Pendekar Gila. Kedok Kun-
ing masih belum mengerti, siapa sebenarnya pemuda
tampan bertingkah laku gila tapi berilmu tinggi itu.
"Hati-hati, Kedok Kuning. Dia bukan pemuda
gila sembarangan," ujar Kedok Biru mengingatkan temannya yang nampak terkesima
melihat tingkah laku
Pendekar Gila. "Hm, kau benar, Kedok Biru. Dia memang bu-
kan sembarangan pemuda seperti apa yang sering kita
temui," sahut Kedok Kuning sambil terus mengawasi tingkah Pendekar Gila, yang
persis orang gila. Tertawa-tawa dan cengengesan sendiri. Kemudian menggaruk-
garuk kepala dengan tangan, atau mengambil sebuah
bulu burung di pinggangnya, lalu mengorek kuping
dengan mulut cengar-cengir.
"Pemuda gila, kami harap jangan turut campur
dengan urusan kami...!" seru Kedok Hitam yang juga kaget, menyaksikan dalam
sekali gebrak saja kedua
rekannya dapat dijatuhkan. Kedok Hitam sempat meli-
hat bagaimana Pendekar Gila melakukan serangan.
Kalau Pendekar Gila mau, dalam sekali gebrak saja
mereka akan dibuat tak bernyawa lagi. Alias mati!
"Aha, bagaimana aku tak ikut campur, Kedok
Hitam. Hi hi hi..., lucu sekali kau! Enak sekali kau me-larangku ikut campur.
Sedangkan kau telah mencam-
puri ketenangan keluarga gadis yang kau culik itu," tutur Sena dengan tingkah
laku yang semakin bertam-
bah konyol. Tatapannya tampak tak acuh, memandang
ke langit lepas. Sepertinya Pendekar Gila, tak peduli dengan lawan-lawannya.
"Bocah edan, tak tahu diuntung!" bentak Kedok Hitam gusar, mereka telah gagal
mengajak Pendekar
Gila damai. "Hi hi hi.., Lucu sekali kau! Kurasa bukan aku
yang tak tahu diuntung, melainkan kalian!" tukas Se-na seenaknya sambil
memonyongkan mulutnya, mem-
buat Kedok Hitam menggeram.
"Kurang ajar!" dengan gusar Kedok Hitam sege-ra melepas tubuh gadis yang
diculiknya. Kemudian
dengan cepat, tanpa berkata-kata, tangan Kedok Hitam
bergerak cepat melempar beberapa senjata rahasia ke
tubuh Pendekar Gila. "Ini untukmu, Bocah Edan!
Hih...!" Swing! Swing...!
Puluhan senjata rahasia menderu ke tubuh
Pendekar Gila, dengan suaranya yang membisingkan
telinga. "Aha, beginikah tindakan seorang pengecut"!"
ejek Pendekar Gila sambil melentingkan tubuh ke atas.
Kemudian dengan cepat, dikebutkan Suling Naga Sakti
memapak puluhan senjata rahasia yang memburu tu-
buhnya. Wrt! Trang! Trang! Trang!
Puluhan senjata rahasia yang dilemparkan Ke-
dok Hitam, terbabat habis Suling Naga Sakti. Senjata-
senjata rahasia itu langsung berpentalan jatuh ke bu-
mi dan berpatahan. Hal itu tentu saja membuat Kedok.
Hitam dan kedua rekannya membelalakkan mata, tak
percaya dengan apa yang dilihat. Hanya sebuah suling, mampu menghancurkan
senjata-senjata rahasia yang
terbuat dari logam murni.
"Hi hi hi...! Masih adakah mainanmu?" ejek Se-na sambil memasukkan Suling Naga
Sakti ke ikat pinggang. Kemudian sambil menggaruk-garuk kepala,
Sena tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ada hal yang
lucu, dan menggelikan. Sikap Pendekar Gila membuat
Kedok Hitam dan kedua rekannya kembali membela-
lak. "Heaaa...!"
Sebelum ketiga lawannya sempat berbuat sesu-
atu, dengan cepat Pendekar Gila melompat mendekati
gadis yang tadi diculik Kedok Hitam. Lalu dengan ge-
rakan cepat, jari telunjuk Sena membuka totokan pada
bagian tubuh gadis itu.
Tuk! Tuk! Tuk! Gadis itu pun lepas dari belenggu totokan.
Dengan bergerak perlahan dia bersembunyi di bela-
kang Pendekar Gila. Merasa kalau pemuda bertingkah
laku seperti orang gila itu dapat menolongnya.
"Tuan, tolonglah saya!" pinta gadis itu dengan mata penuh harap menatap wajah
Pendekar Gila yang
masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, tenanglah, Dik! Kurasa mereka hanya ke-
coa-kecoa yang suka mengganggu. Hi hi hi...!" Sena kembali tertawa cekikikan dan
dengan seenaknya ber-celoteh. Hal itu membuat ketiga lawannya semakin
bertambah berang.
"Bocah gila, kurang ajar! Kuremukkan batok
kepalamu!" dengus Kedok Hitam. Tanpa banyak kata, lelaki berpakaian hitam
disertai kedua temannya langsung menggebrak Pendekar Gila. Ketiganya menyerang
dari tiga arah.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!"
Kedok Hitam dengan senjatanya yang berupa
ranting bercabang, menyerang dari depan. Sedangkan
Kedok Kuning bersiap menggebrak dari belakang. Dan
Kedok Biru menyerang dari samping kiri.
Mendapatkan serangan serentak dari tiga orang
lawan, tak membuat Pendekar Gila kebingungan. Bah-
kan dengan masih bertingkah laku konyol sambil cen-
gengesan, Pendekar Gila mengelakkan serangan ketiga
lawan dengan lincah. Meski gerakan meliuknya nam-
pak lamban, Pendekar Gila mampu mengelakkan se-
rangan cepat yang dilancarkan ketiga lawannya. Bah-
kan ketiganya tersentak kaget, ketika tiba-tiba tangan Pendekar Gila bergerak
menepuk ke tubuh mereka.
"Hea...!"
Wuttt! "Gila!" seru Kedok Hitam sambil menarik mundur serangannya, lalu melompat ke
belakang dengan
tubuh agak gontai. Matanya semakin membelalak, tak
percaya kalau tepukan yang tampak pelan bagaikan
tak bertenaga itu, mampu menyentakkannya. Hampir
saja tubuhnya terkena tepukan Pendekar Gila, kalau
tak segera melompat ke belakang. "Hm, siapa pemuda gila ini?"
Kedok Biru dan Kedok Kuning kini nampak ke-
walahan menghadapi serangan-serangan yang dilan-
carkan Pendekar Gila. Hal itu menjadikan Kedok Hi-
tam semakin yakin, kalau pemuda gila itu bukan la-
wan sembarangan. Di sisi lain, matanya melihat Kedok
Merah dan Kedok Ungu pun nampaknya terdesak he-
bat menghadapi gadis Cina yang jelita itu. Pedangnya
mengeluarkan sinar kuning kemerahan.
"Celaka kalau dibiarkan!" gumam Kedok Hitam, merasa khawatir terhadap keempat
rekannya yang kini
dalam desakan kedua anak muda, yang berilmu bera-
da di atas mereka. "Tak ada pilihan lain, kecuali harus meninggalkan tempat ini.
Mundur...!"
Mendengar seruan Kedok Hitam, serentak
keempat rekannya yang dalam keadaan terpepet, lang-
sung ambil langkah seribu. Mereka tak memikirkan
gadis yang mereka culik, lari tunggang-langgang. Hal
itu menjadikan Pendekar Gila yang konyol berteriak
menyoraki. "Hea haaa...! Hi hi hi..!" Sena tertawa-tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala,
menyaksikan kelima manusia berkedok itu lari tunggang-langgang ke-
takutan. Mei Lie melangkah mendekati Pendekar Gila,
setelah kedua lawannya turut kabur. Dimasukkan Pe-
dang Bidadari ke dalam sarungnya. Bibirnya mengurai
senyum, melihat kelakuan sang Kekasih yang persis
orang gila. Meski begitu, hatinya sangat mencintai
Pendekar Gila. "Terima kasih, Tuan Pendekar! Terima kasih!"
ucap gadis cantik berusia sekitar dua puluh empat ta-
hun yang tadi diculik kelima lelaki berkedok. Gadis itu berlutut di hadapan
Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa.
"Aha, kurasa kami bukan Dewa, Dik," kata Se-na.
"Benar, Diajeng. Bangunlah, jangan berlaku se-
perti itu pada kami. Kami bukanlah Dewa yang patut
disembah. Kami manusia biasa," sambut Mei Lie sambil membangunkan gadis itu,
agar tidak melakukan
sembah. "Tapi..., tapi Tuan berdua telah menolong saya,"
ujar gadis itu masih berusaha menyembah.
"Eee..., sudahlah, tak perlu kau risaukan masa-
lah itu! Saling menolong merupakan kewajiban setiap
manusia. Oh ya, siapa namamu...?" tanya Sena.
"Nama saya, Sulandri. Saya berasal dari desa
ini, saya anak Ki Lurah Riwanda," tutur gadis itu menjelaskan dirinya.
"O, rupanya kau anak Ki Lurah. Hm, pulanglah!
Kau telah bebas. Berhati-hatilah!" ujar Mei Lie sambil memegang pundak Sulandri
sebelah kiri. Mei Lie berusaha menenangkan hati gadis itu.


Pendekar Gila 22 Kutukan Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sulandri menatap kedua penolongnya. Semen-
tara Pendekar Gila dan Mei Lie tersenyum sambil men-
ganggukkan kepala.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih," ujar Sulandri sambil menjura hormat
pada kedua pendekar
muda itu. Sulandri dengan berat hati berlari-lari kecil
meninggalkan Pendekar Gila dan Mei Lie yang tetap
tersenyum, memandang Sulandri yang sebentar-
sebentar menoleh. Sulandri melambaikan tangan ting-
gi-tinggi. Mei Lie menyambutnya dengan senyum
"Aha! Mari kita teruskan perjalanan kita!" ajak Sena kemudian.
"Kau belum menjelaskan bagaimana orang Ja-
wa memperhitungkan musim dengan patokan angin,
Kakang," desak Mei Lie.
"Aha, sudahlah! Bukankah hal itu tak menjadi
persoalan bagimu?" sahut Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie, melangkah
meninggalkan tempat itu.
*** Lima Hantu Berkedok yang dikalahkan Pende-
kar Gila dan Mei Lie kini masih berlari memasuki Hu-
tan Parang Pesisir tempat markas mereka. Mereka ber-
lima tahu, Sugali sang Pemimpin tengah menunggu
kedatangan kelima anak buahnya. Akhirnya Lima Han-
tu Berkedok sampai di markas.
Dari dalam sebuah bangunan yang terbuat dari
papan kayu keluar seorang pemuda berwajah tampan,
tapi agak bengis. Mata pemuda berpakaian merah itu,
memandang ke Lima Hantu Berkedok yang berlari-lari
tanpa membawa seorang gadis.
"Mana gadis itu, Kedok Hitam"!" bentak Sugali keras dengan mata menyorot tajam
ke wajah lima anak
buahnya yang langsung terdiam dengan kepala tertun-
duk. "Kedok Hitam, mana gadis itu, heh"! Apakah kau sudah bisu"!"
"Ampun, Ketua! Sesungguhnya kami telah
mendapatkan gadis yang Ketua kehendaki," tutur Kedok Hitam dengan kepala masih
menunduk. "Lalu...?" tanya Sugali. Nadanya masih menunjukkan kemarahan. Sedang matanya
menatap tajam wajah Kedok Hitam. "Hei, jawab..."!"
"Ampun, Ketua! Sesungguhnya, kami memang
telah mendapatkan gadis yang Ketua kehendaki. Na-
mun di tengah jalan, kami dihadang Pendekar Gila,"
jawab Kedok Ungu dengan suara bergetar. Ada pera-
saan takut di hatinya.
"Apa"! Pendekar Gila..."!" membelalak mata Sugali mendengar anak buahnya
mengatakan telah ber-
temu dengan Pendekar Gila. Wajah Sugali seketika be-
rubah membara. Tangan kanannya mengepal, memu-
kuli telapak tangan yang kiri.
"Benar, Ketua," timpal Kedok Merah, "Karena Pendekar Gila dan kekasihnya,
sehingga kami gagal
membawa gadis itu ke hadapan Ketua."
Sugali mengangguk-anggukkan kepala dengan
wajah masih menunjukkan kegarangan. Gigi-giginya
saling beradu. Telah lama dirinya mencari-cari Pende-
kar Gila. Kini tak ada pilihan lain, kecuali mencari
pendekar itu, untuk menuntut balas atas kematian
kedua orangtuanya.
"Pendekar Gila, tunggulah pembalasanku!"
dengus Sugali marah, ketika tiba-tiba teringat kembali kedua orangtuanya yang
mati di tangan pendekar itu.
"Aku akan mengadu nyawa denganmu!"
Kelima anak buahnya hanya diam, tak ada
yang berani menanggapi ucapan Sugali. Kelima Hantu
Berkedok hanya saling mencuri pandang, mendengar
ancaman ketua mereka. Hati mereka bertanya-tanya.
Mampukah pimpinan mereka menghadapi Pendekar
Gila yang sakti, karena mereka telah merasakan sendi-
ri kehebatannya. Belum lagi menghadapi gadis Cina
yang memiliki pedang sakti itu. Pedangnya mampu
mengeluarkan sinar kuning kemerahan yang mampu
membuat jantung setiap lawan berdebar keras. Pedang
itu seakan memiliki kekuatan gaib, yang mampu
membuat lawan bergetar ketakutan serta merasa di-
bayang-bayangi malaikat pencabut nyawa.
"Kalian nanti malam ikut aku! Kita harus men-
cari gadis yang diminta Datuk Raja Karang. Kalau kita bertemu dengan Pendekar
Gila, akulah yang akan
menghadapinya," ujar Sugali dengan tegas. Matanya membelalak dan memerah karena
marah. "Baik, Ketua...!" sahut kelima anak buahnya sambil menjura. Tak seorang pun
berani beradu pandang dengan sang Ketua mereka.
"Sekarang kalian boleh pergi! Ingat, malam
nanti kita harus mencari seorang gadis!" tegas Sugali mengingatkan pada kelima
anak buahnya. "Baik, Ketua," sahut Lima Hantu Berkedok
sambil menjura. Kemudian kelimanya segera mening-
galkan markas, untuk mencari makanan. Tampak me-
reka membuka kedok masing-masing. Seketika terli-
hatlah wajah-wajah yang sebenarnya. Lima Hantu
Berkedok ternyata lima lelaki berwajah buruk. Wajah
mereka buruk seperti bekas luka bakar yang daging
wajah mereka gosong dan terkelupas. Mengerikan!
*** 5 Mentari di ufuk barat tampak merangkak turun
dengan perlahan. Sebentar lagi, malam akan tiba
membawa kegelapan. Dua orang muda-mudi nampak
tengah menyelusuri jalanan yang membelah Desa Jati
Sanga. Kedua remaja yang ternyata Pendekar Gila dan
kekasihnya Mei Lie atau Bidadari Pencabut Nyawa,
tengah berusaha mencari tempat untuk bermalam.
Meski Mei Lie cukup lama hidup di hutan, Pendekar
Gila tak ingin kekasihnya harus tidur menggelantung
di pepohonan atau kedinginan diterpa angin malam.
Itu sebabnya Sena berusaha mencari penginapan.
"Kakang, kita teruskan saja perjalanan!" usul Mei Lie. Sena mengerutkan kening
dan menghentikan
langkahnya. Ditatapnya Mei Lie dalam-dalam. Kemu-
dian dengan bibir tersenyum, pemuda berambut gon-
drong itu, menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, Mei! Udara malam terlalu jahat untuk-
mu. Kau harus istirahat, karena perjalanan menuju
Goa Setan masih jauh. Kita memerlukan waktu sekitar
tiga sampai empat hari," ujar Sena menjelaskan, berusaha memberi pengertian pada
kekasihnya. "Tapi aku kuat, Kakang." "Aku tahu. Tapi kau perlu istirahat," tukas Sena. Mei
Lie hanya diam, dita-tapnya wajah Pendekar Gila yang tampan. Gadis itu te-
rasa damai jika berada di sampingnya. Sebenarnya dia
tak ingin berpisah dengan pemuda tampan yang seper-
ti orang gila ini. Namun dirinya tetap harus sabar menunggu sampai habis
pengembaraan Pendekar Gila
untuk menjalin sebuah rumah tangga yang dicita-
citakan. "Ayo, Mei! Kita harus segera mencari pengina-
pan," ajak Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie.
Gadis itu pun menurut. Keduanya kembali melangkah,
menyelusuri Desa Jati Sanga untuk mencari pengina-
pan. Setelah beberapa lama berjalan menyusuri ja-
lan desa, akhirnya Sena menemukan sebuah pengina-
pan yang sederhana. Penginapan itu tak terlalu ramai
dan besar. Hanya seukuran rumah biasa, kamarnya
pun hanya lima buah. Di sampingnya ada sebuah ke-
dai yang juga tak seberapa luas.
Seorang lelaki berusia setengah baya bertubuh
gemuk datang menghampiri Pendekar Gila dan Mei Lie.
Dengan tatapan menyelidik, dipandangi kedua orang
tamunya. Seakan lelaki gemuk berkumis tebal itu, tak
percaya dengan Pendekar Gila yang cengengesan den-
gan tingkah laku seperti orang gila.
"Aha, sepertinya kau meragukan kami, Ki," tukas Sena sambil cengengesan dengan
tangan mengga- ruk-garuk kepala. Hal itu membuat pemilik kedai dan
penginapan semakin menajamkan matanya penuh se-
lidik. "Kalian mau menginap?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Benar," sahut Mei Lie mendahului. Mulutnya yang tipis tersenyum manis.
"Hm, apakah kalian bawa uang?"
Mata Mei Lie membelalak kesal, mendengar
pertanyaan yang dilontarkan pemilik penginapan. Di-
rinya merasa seperti dihina. Mata Mei Lie melotot me-
nentang mata pemilik penginapan yang menatap me-
reka dengan sikap merendahkan.
"Kau minta berapa"!" tanya Mei Lie dengan suara tajam, membuat pemilik
penginapan tersentak. Di-
rinya tak menyangka, kalau gadis Cina itu berani
membentak. "Kau"!" tergagap ucapan pemilik kedai.
"Ya! Jangan sembarangan, Ki! Berapa pun kau
minta, bila perlu penginapan ini kubeli, aku sanggup!"
ujar Mei Lie ketus. Ucapan gadis cantik itu membuat
pemilik penginapan bertambah kaget
"Sombong sekali kau, Nisanak! Lancang benar
mulutmu!" bentak pemilik penginapan. Kemudian tangannya bertepuk dua kali. Dari
dalam, muncul dua
orang lelaki bertelanjang dada dengan tubuh kekar.
Nampaknya kedua lelaki bertampang beringas itu tu-
kang pukul si pemilik penginapan.
"Hi hi hi...! Lucu sekali! Mengapa kau suruh
dua ekor kerbau dungu untuk melayani kami?" tanya Sena sambil cengengesan dengan
kepala menggeleng-geleng. Sementara tangannya menggaruk-garuk kepa-
la. "Bocah gila! Kuharap kau dan gadis Cina ini se-
gera pergi, atau kedua tukang pukul ku akan menen-
dang kalian sampai keluar!" ancam Ki Gendo sambil mengerlingkan mata pada dua
orang tukang pukulnya.
Kedua lelaki beringas itu menyeringai, seakan mere-
mehkan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Aha, sambutanmu tak pantas, Ki. Inikah sam-
butan pemilik penginapan pada tamunya?" ejek Sena dengan masih cengengesan
sambil menggaruk-garuk
kepala. Sedangkan Mei Lie kini nampak memasang wa-
jah bengis, kemarahannya sudah memuncak. Nam-
paknya Mei Lie benar-benar tersinggung mendengar
ucapan Ki Gendo.
"Orang tua tak tahu diri!" dengus Mei Lie, "Rupanya kau benar-benar mencari
penyakit!"
"Oh..., kau jauh lebih galak daripada pemuda
gila temanmu ini, Nisanak! Hm, aku semakin tertarik,
apakah di tempat tidur pun kau akan segalak ini?" sa-
hut Ki Gendo dengan senyum sinis mengembang di bi-
birnya. Matanya memandang nakal ke wajah Mei Lie,
membuat gadis cantik itu bertambah geram.
"Orang tua, mulanya aku hendak menghorma-
timu. Tetapi, rupanya kau lelaki tak tahu malu!" bentak Mei Lie keras dengan
mata melotot "Sorpa dan Jawir, kau hadapi dan bereskan
pemuda gila itu! Biar aku bisa bermesraan dengan ga-
dis ini," perintah Ki Gendo sambil menatap penuh nafsu pada Mei Lie. Gadis itu
tampak tenang dengan mata
tajam mengawasi gerak-gerik lelaki gendut yang mata
keranjang itu. "Baik, Juragan!" sahut keduanya. Kemudian
dengan mulut menyeringai, Sorpa dan Jawir melang-
kah mendekati Pendekar Gila yang masih cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Dua kerbau dungu ini, mengapa
kau suruh melayani aku, Ki?" tanya Sena sambil tertawa cekikikan dan menggaruk-
garuk kepala. Betapa marah Sorpa dan Jawir dikatakan ker-
bau dungu. Napas mereka mendengus. Lalu masing-
masing merentangkan tangan ke atas dengan jari-jari
siap mencengkeram.
"Grrr! Kubunuh kau, Bocah Edan!" dengus
Sorpa dengan mata menatap garang pada Pendekar Gi-
la. Kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, Sor-
pa bergerak maju. Kedua tangannya yang sudah diren-
tangkan, kini siap menghantam ke tubuh Pendekar Gi-
la. "Remuk kepalamu! Heaaa...!"
Wrt! "Aits...!"
Dengan cepat Pendekar Gila merundukkan tu-
buh. Sehingga pukulan kedua tangan Sorpa melintas
di atas kepalanya. Kemudian dengan cepat pula, Pen-
dekar Gila langsung menyerudukkan kepalanya ke pe-
rut Sorpa. Dukg! "Ukh!" tubuh Sorpa langsung terhuyung-
huyung ke belakang terkena serudukan Pendekar Gila.
Matanya membelalak, melotot semakin garang.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Pemuda Gila!"
bentak Jawir sambil melangkah maju. Tangannya dilu-
ruskan ke depan, kemudian ditarik dengan jari-jarinya.
Lalu setelah diletakkan di pinggang, Jawir langsung
menghentakkan pukulan kedua tangannya ke tubuh
Pendekar Gila, "Heaaa...!"
Dengan cepat Pendekar Gila berkelit ke samp-
ing, sambil mengangkat kaki kanan. Kemudian dengan
cepat disertai setengah tenaga dalam, ditendangnya
perut Jawir. Seketika tubuhnya doyong ke depan.
"Hea!"
Begk! "Ukh...!" keluh Jawir sambil terhuyung mun-
dur. Perutnya terasa mual akibat tendangan Pendekar
Gila "Hoak! Hoak..!"
"Hi hi hi...! Lucu sekali, ada dua kerbau dungu
sedang mabuk," ujar Sena sambil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
Sementara Mei Lie nampak. masih berusaha
berkelit dari Ki Gendo yang berusaha merenggut tu-


Pendekar Gila 22 Kutukan Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

buhnya. Bahkan kini lelaki setengah baya berperut
gendut itu tampak jatuh tersungkur, mencium tanah
karena tak dapat memeluk Mei Lie.
Brak! "Hi hi hi..!" Mei Lie tertawa cekikikan, menyaksikan Ki Gendo terjatuh karena
dia mengelit ketika lelaki itu hendak memeluknya. Hal itu menjadikan Ki
Gendo semakin penasaran. Lelaki gendut mengenakan
pakaian kuning itu, langsung bangun. Kemudian den-
gan masih beringas, Ki Gendo segera merangsek tubuh
Mei Lie, berusaha memeluk Mei Lie.
"Ayo, tangkaplah aku!" tantang Mei Lie dengan senyum meledek di bibirnya. Ki
Gendo bertambah nafsu untuk dapat menangkap Mei Lie.
"He he he...! Rupanya kau bukan gadis semba-
rangan, Nisanak Aku semakin penasaran," ujar Ki
Gendo sambil melangkah mendekati tubuh Mei Lie.
Kedua tangannya mengembang, siap untuk memeluk
Mei Lie. "Ayo, Ki! Tangkaplah aku!" tantang Mei Lie dengan senyum masih
mengembang di bibirnya. Wajah
gadis Cina itu bertambah cantik
"Heaaa...!"
Ki Gendo langsung menubruk tubuh Mei Lie.
Namun dengan cepat gadis itu berkelit ke samping kiri.
Hal itu membuat tubuh Ki Gendo terhuyung karena
meleset tubrukannya. Saat itu pula, Mei Lie men-
dorong tubuh lelaki setengah baya itu dengan keras
dan cepat Tubuh Ki Gendo semakin cepat menyeru-
duk. Sehingga, karena tak mampu mengatasi dorongan
tangan Mei Lie, tubuhnya yang gendut itu menabrak
dinding kamar depan penginapannya.
"Aaa...!"
Brak! Dinding kayu kamar itu ambruk. Seketika itu
pula tampaklah pemandangan di dalam kamar itu. Ma-
ta Pendekar Gila dan Mei Lie terbelalak kaget. Di dalam kamar itu, ada lima
gadis cantik dalam keadaan telanjang. Kelima gadis cantik yang ditampung di
dalam kamar itu, nampaknya sangat tertekan dan ketakutan.
"Aha. Rupanya penginapan ini hanya kedok ba-
gi kalian," ujar Pendekar Gila sambil berkelit mengelakkan serangan kedua orang
tukang pukul Ki Gendo.
Kemudian dengan cepat, kedua tangannya bergerak
menghantam tubuh kedua lawan.
Degk! "Akh...!" kedua orang tukang pukul Ki Gendo langsung menjerit, terkena pukulan
dan tendangan Pendekar Gila. Tubuh keduanya yang mirip dua ekor
kerbau, langsung terpelanting dan menabrak dinding
papan rumah penginapan itu.
Brak! Suara berderak seketika terdengar disusul hi-
ruk-pikuk orang-orang yang berlarian dari dalam ka-
mar. Beberapa pasang lelaki-perempuan tampak kaget
dan berhamburan keluar hanya dengan mengenakan
pakaian dalam. Nampaknya mereka tengah melang-
sungkan perbuatan maksiat di kamar-kamar pengina-
pan itu. "Aha, rupanya penginapan ini tempat terlak-nat...!" gumam Pendekar Gila
sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya agak terpicing karena keheranan
menyaksikan apa yang terjadi di dalam rumah pengina-
pan itu. Dia tidak menyangka, kalau Ki Gendo rupanya
seorang germo. Seorang penyelenggara tempat perca-
bulan. Melihat kedua tukang pukulnya dapat dikalah-
kan oleh Pendekar Gila. Ki Gendo seketika berlutut
meminta ampun. Wajahnya pucat-pasi ketakutan,
mengharap ampunan dari kedua pendekar muda itu.
"Ampuni nyawaku!" ratap Ki Gendo.
"Aha, kau benar-benar manusia keji, Ki! Men-
jual kehormatan dan harga diri wanita. Hi hi hi...! Semua terserah pada Mei Lie.
Bagaimana, Mei?" tanya Sena. "Lelaki seperti ini tak dapat diampuni, Kakang.
Kalaupun kita mengampuni, setelah kita pergi tentu
dia akan tetap seperti ini. Dia akan melakukan hal seperti ini juga," jawab Mei
Lie dengan senyum sinis.
Mendengar jawaban itu, Ki Gendo tampak semakin ke-
takutan. "Ampun, Nisanak! Sungguh aku akan sadar,"
ratap Ki Gendo sambil terisak. Hatinya benar-benar
merasa takut, mendengar ucapan Mei Lie. Bagaimana
pun Ki Gendo telah tahu kehebatan kedua anak muda
di hadapannya. "Aha, benarkah ucapanmu bisa kami pegang,
Ki?" tanya Sena dengan tingkah laku masih seperti orang gila. Mulutnya
cengengesan dengan tangan
menggaruk-garuk kepala.
"Sungguh, Tuan. Saya akan sadar."
"Hi hi hi...! Lucu sekali. Kau tadi seperti raksa-sa yang punya taring. Kini kau
seperti seekor kerbau
yang kehilangan tanduk," ujar Pendekar Gila dengan menggeleng-geleng kepala.
Dipandangnya Mei lie, "Bagaimana, Mei?"
"Baik. Untuk kali ini kuampuni. Tetapi, jika ke-
lak kudengar kau masih memperdagangkan kehorma-
tan kaumku dengan cara seperti ini, aku tak akan
memberi ampun bagimu!" tegas Mei Lie.
"Terima kasih, Nisanak. Terima kasih...!" Ki Gendo hendak bersujud, tetapi
Pendekar Gila dengan
cepat melarangnya.
"Ah ah ah, sudahlah, Ki! Kau manusia seperti
kami Tak pantas manusia menyembah manusia," kata Pendekar Gila sambil menyuruh
Ki Gendo untuk bangun, "Bangunlah, Ki!"
Dengan hati masih dilanda ketakutan, Ki Gen-
do menurut bangun. Kini lelaki setengah baya yang
semula sinis itu, hanya mampu menundukkan kepala.
Ki Gendo tak berani beradu pandang dengan kedua
pendekar muda itu.
"Baiklah, Ki. Kurasa kami harus pergi," kata Sena, yang membuat Ki Gendo
membelalakkan mata.
"Kenapa tak menginap saja, Tuan" Sungguh,
kami ingin menimba ilmu dan budi pekerti dari Tuan
Pendekar," ucap Ki Gendo penuh harap.
"Aha, ilmu dan akal budi, sesungguhnya ada
pada setiap manusia, Ki. Kau pun sebenarnya telah bi-
sa, tinggal bagaimana kau melakukannya," jawab Pendekar Gila seraya tersenyum.
"Camkanlah itu, Ki! Jika kau selalu ingat itu, kau akan tetap pada jalur hidup
yang benar."
"Baiklah, Tuan. Segala apa yang Tuan katakan
akan saya ingat," sahut Ki Gendo seraya menggaruk-garuk kepala, tanpa menatap
wajah Pendekar Gila.
"Aha, kurasa aku dan temanku harus segera
pergi, Ki. Ayo, Mei Lie!" ajak Sena.
"Ayo, Kakang!"
Kedua pendekar muda itu pun segera beranjak
meninggalkan penginapan Ki Gendo yang sekaligus
tempat mesum itu. Ki Gendo mengiringi Pendekar Gila
dan Mei Lie sampai depan pagar halaman penginapan-
nya. Tatapan mata lelaki setengah baya itu nampak
menyiratkan rasa kagum pada kedua pendekar muda
itu. Hati Ki Gendo menyesali tindakannya, juga sifat-
nya. Seharusnya dirinya yang sudah tua, menyadari
kalau perbuatannya selama ini merupakan suatu ke-
sesatan. *** "Tolong! Tolong! Tolooong...!" Malam yang sunyi dan sepi, seketika dipecahkan
oleh suara jeritan seseorang wanita meminta tolong.
Jeritan keras itu membuat para penduduk De-
sa Suluh Pring terbangun. Mereka berlarian dari ru-
mah masing-masing membawa obor, ingin tahu apa
yang sedang terjadi. Suara kentongan pun bersahut-
sahutan, mengisyaratkan kalau malam ini terjadi pen-
culikan di Desa Suluh Pring.
"Tolong...! Culik..!" seorang wanita setengah baya berteriak-teriak, ditingkahi
hiruk-pikuk dan
bunyi kentongan di kegelapan malam.
"Ada apa, Nyai?" tanya seorang lelaki berbadan sedang dengan wajah nampak penuh
wibawa. Lelaki berusia lima puluh tahun yang ternyata Kepala Desa
Suluh Pring itu diapit dua pengawalnya.
"Anak saya, Ki Lurah," jawab wanita setengah baya itu terbata di sela tangisnya.
"Kenapa dengan anakmu, Nyai?"
"Santini diculik orang-orang berkedok, Ki," sahut wanita itu masih dengan
tangisnya. "Ke mana mereka pergi?" tanya Ki Lurah Sanu-si.
"Ke sana, Ki."
"Rojak, Sali, kejar mereka! Warga semua, ikut
aku!" ajak Ki Lurah Sanusi. Seketika itu pula, Ki Lurah Sanusi dan kedua tangan
kanannya serta warga desa
memburu ke barat yang ditunjuk wanita setengah baya
tadi. Dalam kegelapan malam, Ki Lurah Sanusi me-
lihat enam lelaki berjalan ke barat Salah seorang lelaki memanggul wanita yang
tentunya Santini, anak Nyi
Darmi. Gadis itu nampak meronta, berusaha mele-
paskan diri dari lelaki muda yang memanggulnya.
"Berhenti kalian!" bentak Ki Lurah Sanusi dengan keras. Keenam lelaki berkedok
itu seketika berhen-ti. Mereka serentak menoleh, memandang tajam pada
Lurah Sanusi dan beberapa warga desa yang mengejar
mereka. "Hm, rupanya ada juga orang yang berani
menghentikan langkahku," geram salah seorang di antara keenam lelaki yang tak
berkedok. Mata lelaki berpakaian merah itu menatap tajam pada Ki Lurah Sa-
nusi dan kedua tangan kanannya.
"Penculik biadab! Lepaskan gadis itu!" bentak Ki Lurah Sanusi tegas, tak takut
menghadapi keenam
begundal yang telah menculik salah seorang gadis
warganya. "He he he..., berani juga kau membentakku,
Ki," gumam Sugali sambil tertawa terkekeh. "Rupanya kau sudah bosan hidup,
berani menentangku."
"Cuih!" Ki Lurah Sanusi meludah. "Menghadapi iblis macam kalian, mengapa aku
harus takut!"
"Oooh, bagus! Dengan begitu, kami tak akan
segan-segan mencabut nyawa kalian," ujar Sugali dengan senyum sinis masih
melekat di bibirnya. Kemudian
dengan menggerakkan tangan, Sugali memerintahkan
pada Lima Hantu Berkedok agar menyerang.
"Heaaa...!"
Kelima Hantu Berkedok segera melompat ke
depan. Mereka dengan beringas langsung melakukan
serangan pada Ki Lurah Sanusi dan tangan kanannya
yang dibantu para warga desa.
"Tangkap mereka...!" perintah Ki Lurah Sanusi pada kedua tangan kanannya. Rojak
dan Sali diikuti
para warga Desa Suluh Pring langsung menghadapi se-
rangan Lima Hantu Berkedok
"Heaaa...!"
"Heaaa...!"
"Tangkap...! Serang...!"
Dengan penuh kemarahan, warga desa dibantu
kedua tangan kanan Ki Lurah Sanusi langsung meng-
hadang kelima manusia berkedok. Dengan senjata
yang berupa golok, parang, dan lain-lainnya, mereka
langsung menggebrak Warga desa bagaikan tak men-
genal takut, membabatkan golok dan parang mereka
menyerang kelima lelaki berkedok
"Hea!"
"Yea!"
Serangan warga Desa Suluh Pring tampak
menggebu-gebu. Namun karena tidak dilandasi ilmu
silat, serangan mereka bagaikan tiada arti. Dengan
mudah, serangan warga desa dapat dipatahkan kelima
manusia berkedok
"Hea...!"
Dukkk! Plakkk! "Aaakh...!"
Sekali kelima manusia berkedok menggebrak
dengan pukulan dan tendangan, beberapa orang warga
memekik terkena tendangan dan pukulan mereka.
"Heaaa...!"
Wrettt! Trang! "Heaaa...!"
Walau telah banyak korban berjatuhan di pihak
warga Desa Suluh Pring, nampaknya mereka tak me-
rasa gentar barang sedikit pun. Pertarungan itu sema-
kin seru. Kemarahan warga Desa Suluh Pring bertemu
dengan kejengkelan Lima Hantu Berkedok karena me-
rasa terhalangi niat mereka. Namun tiba-tiba....
"Hua ha ha...! Rupanya para kecoa itu ada di
sini, Mei!"
Suara tawa menggelegar terdengar dari arah se-
latan. Para warga dan Lima Hantu Berkedok sempat
tersentak kaget
"Pendekar Gila...!" pekik Lima Hantu Berkedok dengan mata membelalak, setelah
tahu siapa pemilik
suara tawa itu. Sementara Sugali yang masih me-
manggul gadis culikannya, seketika menaruh tubuh
gadis itu ke tanah. Matanya langsung memandang ke
asal suara tawa itu.
*** 6 Benar, dari arah selatan, muncul dua sosok
manusia. Seorang wanita dengan pakaian hijau, se-
dangkan di sampingnya seorang lelaki bertingkah laku
seperti orang gila. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu cengengesan dengan
tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap tajam Lima Hantu Berkedok
yang tampak menyurut mundur, melihat kedua pen-
dekar muda itu.
"Siapa mereka, Kedok Hitam?" tanya Sugali.
"Dia Pendekar Gila, Ketua," jawab Kedok Hitam dengan mata nanar menatap Pendekar
Gila. Dirinya kecut karena pernah bentrok dengan pemuda gila itu.
"Hm, kebetulan! Memang dialah yang kucari se-
lama ini," ujar Sugali sambil melangkah maju. Tatapan matanya memancarkan api
dendam kepada Pendekar
Gila. Nafasnya mendengus keras, bagaikan menyimpan


Pendekar Gila 22 Kutukan Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

amarah di dadanya. Hal itu karena tiba-tiba teringat
orangtuanya mati di tangan pemuda gila itu. "Pendekar Gila, aku memang sengaja
mencarimu!"
Pendekar Gila yang belum kenal siapa pemuda
sebayanya yang mengatakan mencarinya, menge-
rutkan kening. Dipandangi Sugali dengan penuh seli-
dik. Kemudian mulutnya cengengesan sambil mengga-
ruk-garuk kepala.
"Aha, ada keperluan apa kau mencariku, Kisa-
nak?" tanya Sena masih dengan mata memandang pe-
nuh selidik, mengawasi Sugali dari ujung kaki sampai
ke ujung rambut.
"Cuih! Kau masih tak mau menyadari kesala-
hanmu, Pendekar Gila!" dengus Sugali setelah meludah ke tanah. Matanya bagaikan
terbakar, menatap ta-
jam wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, kurasa aku tak pernah kenal denganmu,"
gumam Sena. Tingkah lakunya tampak makin konyol.
Jari telunjuknya memegang kening seakan tengah
memikirkan sesuatu. Namun mulutnya cengengesan
Sementara itu, Mei Lie tampak tengah memban-
tu warga Desa Suluh Pring menghadapi Lima Hantu
Berkedok. Dengan kehadiran Mei Lie, warga desa yang
semula terdesak mulai bertambah semangat. Bahkan
mereka tampak mulai dapat mendesak Lima Hantu
Berkedok. "Jangan banyak omong, Pendekar Gila! Masih
ingatkah kau dengan suami-istri yang kau bantai tiga
purnama yang silam di Desa Babakan"!" bentak Sugali sengit. Hatinya tampak
jengkel mendengar dan melihat
kekonyolan Pendekar Gila.
"Aha, aku ingat. Hi hi hi...! Jadi kau anak me-
reka?" tanya Pendekar Gila sambil tertawa-tawa lucu.
"Benar! Dan aku hendak menuntut balas atas
kematian kedua orangtua ku!" ujar Sugali semakin membara amarahnya. Seakan
dendam di dadanya tak
akan padam, sebelum dapat membunuh Pendekar Gila
yang telah membunuh kedua orangtuanya.
"Aha, kebetulan sekali. Hi hi hi...! Kurasa aku
pun sedang mencarimu, Kisanak," sahut Pendekar Gila sambil cengengesan. "Kau
murid yang paling durhaka, Kisanak Baik pada gurumu yang kau bunuh, maupun
pada kedua orangtua mu."
"Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Pende-
kar Gila! Bersiaplah untuk mati!" dengus Sugali.
Srang! Pedang Dewa Naga dicabut dari warangkanya.
Nampaknya Sugali tak mau menyia-nyiakan perte-
muan ini. Pemuda itu, sepertinya hendak menghabisi
nyawa Pendekar Gila secepatnya. Pedang yang menge-
luarkan sinar hijau bagaikan haus darah.
"Aha, di samping durhaka, kau pun ternyata
pencuri, Kisanak," ujar Pendekar Gila yang membuat Sugali bertambah marah.
Matanya menatap semakin
tajam pada Pendekar Gila.
"Setan alas! Kubunuh kau, Pendekar Gila!
Heaaa...!" dengan menggunakan jurus 'Naga Menga-
rungi Samudera' Sugali langsung menggebrak Pende-
kar Gila. Pedang di tangannya bergerak cepat, memba-
bat dan menusuk tubuh lawan.
Wrt! Wuttt! Mendapat serangan begitu cepat, Pendekar Gila
tak tampak keder atau kewalahan. Bahkan sambil ma-
sih cengengesan, tubuhnya bergerak mengelak. Kali ini gerakannya seperti orang
mabuk. Itulah jurus 'Dewa
Mabuk Menjerat Sukma' yang membuat lawan penasa-
ran dan ingin terus memburu. Hal itu karena gerakan
Pendekar Gila tampak terhuyung-huyung, seperti tak
memiliki keseimbangan.
"Heaaa...!"
Sugali kembali membabatkan pedangnya ke tu-
buh Pendekar Gila yang masih seperti orang gila. Na-
mun dengan gerakan aneh Pendekar Gila mengelitkan
serangan lawan. Sehingga babatan pedang Sugali me-
lesat beberapa rambut di samping tubuh Pendekar Gi-
la. Wrt! "Aha, pedangmu hasil curian, sehingga kau tak
becus menggunakannya, Kisanak," ejek Pendekar Gila dengan tingkah laku seperti
orang gila. Mulutnya cengengesan dengan tangan sesekali menggaruk-garuk
kepala. Lalu tertawa cekikikan, yang membuat kema-
rahan Sugali semakin menjadi-jadi.
"Bedebah! Kubunuh kau, Pendekar Gila!
Heaaa...!"
Dengan menggunakan jurus 'Naga Menggeliat
Mengulur Raga', Sugali melakukan serangan cepat Pe-
dang Dewa Naga di tangannya bergerak cepat, menu-
suk, dan membabat. Direntangkan kedua tangan, se-
hingga jangkauan tusukan dan babatan pedang ber-
tambah dekat dengan sasaran.
"Hi hi hi..!" sambil tertawa cekikikan, Pendekar Gila segera berkelit
menggunakan jurus 'Gila Menari
Menepuk Lalat. Tubuhnya meliuk-liuk dengan lincah
bagaikan menari. Sepintas gerakan tariannya sangat
pelan dan lemah, tetapi Sugali tak juga mampu me-
nyarangkan serangannya ke tubuh Pendekar Gila.
Bahkan dirinya semakin dibuat penasaran. Pemuda
berpakaian merah itu telah mengerahkan setengah le-
bih tenaganya untuk memburu Pendekar Gila, tapi ge-
rakan Pendekar Gila yang aneh tak mampu dikejar.
"Hih...!"
Dengan masih bergerak seperti orang menari,
Pendekar Gila melepaskan tepukan tangannya ke tu-
buh lawan. Tubuhnya agak dibungkukkan dan agak
mendoyong ke depan. Gerakan menepuk yang dilaku-
kan Pendekar Gila kelihatan lamban dan lemah, tetapi
cukup menyentakkan Sugali.
Plak! "Heh"!"
Dengan cepat Sugali menarik serangannya. Di-
lentingkan tubuhnya ke atas, berusaha mengelakkan
serangan yang dilancarkan Pendekar Gila. Namun ke-
tika kakinya baru saja hendak mendarat di tanah,
Pendekar Gila telah memburunya.
"Gila! Dasar gila...!"
Sugali mencaci-maki sendiri, karena tepukan-
tepukan tangan Pendekar Gila yang nampaknya tak
memiliki tenaga dapat memburu gerakan tubuhnya.
Bukan itu saja, tepukan tangan Pendekar Gila yang
tampak pelan, ternyata mampu menimbulkan desiran
angin yang sangat keras. Hampir saja Sugali terkena
pukulan telapak tangan Pendekar Gila, kalau saja tak
segera menarik serangannya dan melentingkan tubuh
mengelakkan tepukan itu.
Sugali terus berusaha mengelakkan pukulan
telapak tangan Pendekar Gila yang memburunya. Pe-
muda itu telah berusaha mengeluarkan segenap tena-
ga untuk mengelak. Namun serangan yang dilancarkan
lawan ternyata begitu cepat, walau kelihatannya san-
gat lambat. "Hea!"
Sugali berusaha membabatkan pedang ke tan-
gan lawan yang melesat ke tubuhnya. Namun dengan
gerakan aneh, Pendekar Gila menarik serangannya.
Tubuhnya berputar ke arah kiri lalu dengan cepat ka-
kinya menendang. Itulah jurus 'Gila Melepas Lilitan
Benang'. "Hea!"
Wusss! "Heh"!"
Sugali tersentak kaget. Dirinya tak menyangka
kalau lawan akan mampu membalas serangan dengan
begitu cepat Sugali berusaha mengelak ke samping.
Namun tangan kiri Pendekar Gila dengan cepat mema-
paki tubuhnya. Dan....
Degk! "Akh...!" Sugali menjerit. Tubuhnya terpental ke samping kanan. Dari sela-sela
bibirnya, mengalir darah merah. Matanya memandang penuh kemarahan
pada Pendekar Gila yang tampak hanya cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
Saat itu, tiba-tiba sesosok bayangan merah me-
lesat menuju tempat pertempuran. Ternyata sesosok
lelaki tua dengan jenggot putih yang telah begitu dike-nali oleh Sugali.
Bayangan lelaki berpakaian mirip resi dengan rambut digelung ke atas yang tak
lain Ki Pramanu tersenyum sinis menatap Sugali. Tentu saja pe-
muda itu terbelalak kaget melihat sosok bayangan gu-
runya muncul di depan mata.
"Hukum pertama akan segera tiba, Gali. Kutuk-ku yang pertama, akan menyambutmu,"
suara itu terdengar dari mulut bayangan Ki Pramanu. "Kau tentu masih ingat,
bukan...?"
"Tidak! Aku tak akan kalah di tangan Pendekar
Gila! Hhh..., dialah yang akan mati di tanganku!" dengus Sugali sengit. Matanya
yang merah membara
menghujam tajam ke wajah bayangan Ki Pramanu
yang masih tersenyum.
"He he he...! Kau tak dapat menentang suratan, Gali. Kau tak akan bisa lepas
dari kutuk orang yang mengucapkan dalam keadaan sekarat," ujar bayangan Ki
Pramanu yang semakin membuat Sugali kalap.
"Orang tua keparat! Minggir! Jangan banyak
bacot! Tempatmu bukan di dunia, tetapi di neraka!"
dengus Sugali sambil membabatkan pedang memburu
Ki Pramanu yang seketika itu pula menghilang dari
pandangan. Lenyapnya bayangan Ki Pramanu, menambah
Pendekar Setia 2 Darah Dan Cinta Di Kota Medang Seri Kesatria Hutan Larangan Karya Saini K M Maut Merah 2
^