Pencarian

Racun Gugah Jantan 2

Pendekar Mabuk 037 Racun Gugah Jantan Bagian 2


manjanya. la masih ingin berceloteh tentang perasaan hatinya kepada Suto
Sinting. Suara celotehnya agak keras sehingga Suto mengingatkan.
"Ssst...! Jangan bicara keras-keras. Kurangi suaramu itu, biar tak mengganggu
pendengaran Ki Sabarsumo dan istrinya."
"Mereka akan merasa senang jika terganggu, karena mereka tak pernah
diganggu oleh suara bocah sepertiku. Kau tahu, apa yang dilakukan Ki Sabarsumo
kepada istrinya malam ini?"
"Tentunya mereka beristirahat karena sudah seharian bekerja melayani tamu."
"Tidak. Mereka pasti bercengkerama, bermesraan dan saling menemukan
kebahagiaan batinnya. Tapi aku..." Aku sudah lama tak mendapatkan kebahagiaan
batin karena tak pernah ada lelaki yang bisa membangkitkan gairahku. Sekalipun
ada, tapi lelaki itu tak mau memuaskan hasrat kerinduanku terhadap sebentuk
kebahagiaan batin. Aku sering merasa benci dengan hidupku yang tak pernah kau
jamah dengan kemesraan. Padahal aku berharap sekali mendapatkan kemesraan
yang amat hangat darimu, Suto!"
"Sumbaruni, tahan bicaramu! Ingat kau bocah kecil yang tak pantas bicara
seperti itu!"
"Kecil orangnya, tapi itunya tetap besar... maksudku pikirannya tetap pikiran
orang dewasa! Hik, hik, hik, | hik...!" Sumbaruni mengikik sendiri.
Suto Sinting membatin, "Payah! Keadaan mabuknya membuat dia bicara
seenaknya saja tanpa pertimbangan apa-apa. Bisa berbahaya jika didengar orang
lain. Agaknya aku harus hati-hati menghadapinya walaupun dia berwujud gadis
kecil yang sepantasnya menjadi adik bungsuku."
Akhirnya Sumbaruni menangis, karena Suto Sinting tak mau tidur di
sampingnya. Suto Sinting memilih tidur di sebuah bangku yang ada di kamar itu.
Sumbaruni menderita tekanan batin, dan tangisnya terisak-isak mengharukan Suto.
"Tidurlah di sampingku. Hanya sekadar tidur saja. Aku kedinginan, Suto!"
pintanya penuh harap sambil menggigil, karena udara malam memang dingin.
Akhirnya Suto Sinting berbaring di sampingnya dan memeluk Sumbaruni seperti memeluk
seorang adik kecil tanpa nafsu dan gairah asmara sedikit pun. Sumbaruni merasa
damai dalam pelukan Suto.
Perjalanan diteruskan esok paginya. Tapi semakin bertambah hari semakin
susut keadaan tubuh Sumbaruni. Ki Sabarsumo sempat pandangi Sumbaruni dengan
rasa heran karena pagi itu ia melihat Sumbaruni seperti bocah berusia tujuh
tahun. Lebih muda dari semalam. Tapi keanehan itu hanya dipendam dalam hati Ki
Sabarsumo karena takut menyinggung bocah Sumbaruni jika dilontarkan dan
dipertanyakan. Hanya saja setelah Sumbaruni dan Pendekar Mabuk meninggalkan kedai
mereka, Ki Sabarsumo berkata kepada istrinya yang juga berambut kelabu itu,
"Aneh sekali bocah gadis itu. Semalam ia kelihatan lebih besar dari pagi ini.
Mengapa bisa begitu?"
Istri Ki Sabarsumo pun berkata, "lya. Aku juga merasa heran. Sekarang gadis
kecil itu menjadi lebih kecil lagi. Wajahnya lebih mungil dan kecantikannya
semakin menggemaskan. Aku jadi ingin punya anak seperti gadis mungil itu."
wajah Sumbaruni sekarang menjadi mungil tapi cantik menggemaskan. Tak
ada daya tarik berbau birahi pada dirinya, yang ada daya tarik ingin mencubit
pipinya atau menggodanya biar menangis. Bentuk dadanya yang sekal itu pun lenyap sejak
empat hari yang lalu. Karenanya, di mata pria Sumbaruni bukan lagi gadis yang
menggairahkan dan menimbulkan bayangan indah untuk dicumbu, melainkan
sebagai gadis kecil yang lucu tapi menggemaskan.
Langkah kaki Sumbaruni tak bisa cepat dan mudah diserang rasa lelah.
Akibatnya, Suto Sinting kembali menggendongnya. Tapi kali ini Sumbaruni tidak
mau digendong di belakang.
"Aku mau digendong depan!"
"Ah, kau memang nakai, Sumbaruni!" gerutu Suto Sinting sambil
menggendongnya di depan, sementara punggung Suto Sinting digunakan
menggantungkan bumbung tuaknya. Sumbaruni tampak kegirangan walau
digendong dengan satu tangan oleh Suto, karena dengan digendong depan begitu
wajahnya dapat pandangi Suto lebih dekat lagi. Bahkan tangan berjari mungilnya
itu sering nakal, memencet hidung Suto sambil tertawa-tawa dan kadang juga menyentil
bibir Suto dengan pelan. Tak jarang pipi Suto ataupun rambutnya diusap-usap oleh
tangan berjari mungil itu. Suto Sinting membiarkan karena merasa dipermainkan
anak kecil, tak ada debar kemesraan sedikit pun yang tergugah di hati Suto
Sinting. "Bawalah aku lari secepat mungkin," kata Sumbaruni dalam bahasa dewasa.
"Kenapa harus begitu?"
"Supaya jika aku tiba-tiba menciummu tak ada orang yang tahu."
"Kalau kau nakal kulemparkan ke atas pohon dan kutinggalkan di Sana!"
ancam Suto Sinting sempat merasa risi jika sampai dicium, sebab ia pun tetap
sadar bahwa Sumbaruni punya pikiran dewasa bukan kekanak-kanakan. Sumbaruni tertawa
geli. la memelukkan tangannya ke leher Suto dan sandarkan kepala ke pundak Suto.
"Baiklah, aku tak akan nakal. Berlarilah dengan cepat supaya kita lekas
dapatkan Telur Mata Setan itu."
Zlaaap...! Suto Sinting berlari dengan cepat melebihi gerakan anak panah yang
terlepas dari busurnya. Gerakan larinya itu terhenti ketika mereka sudah tiba di
kaki Gunung Kundalini.
"Kita sampai di kaki gunung. Sekarang mana arah yang harus kutuju?"
"Jalanlah terus sampai kita bertemu seseorang dan menanyakan tentang Telur
Mata Setan itu," saran Sumbaruni. "Tapi sebelumnya antarkan aku ke balik pohon
sebelah sana."
"Mengapa kau ingin ke sana?"
Bocah Sumbaruni tersenyum malu dan berblsik, "Aku mau pipis dulu."
Suto Sinting tertawa geli. Lalu segera membawa bocah itu ke balik pohon
besar. Suto Sinting memunggungi pohon itu ketika Sumbaruni menyelinap di balik
pohon tersebut. Sekalipun wujudnya seperti bocah berusia tujuh tahun, tapi
antara Sumbaruni dan Suto Sinting sama-sama merasa malu jika buang air sembarangan.
"Kita mendaki lereng gunung ini!" kata Sumbaruni. "Sekarang aku mau jalan
dulu. Tapi nanti kalau lelah kau harus menggendongnya lagi."
"Tapi kalau kau nakal dan tanganmu jahil, aku tidak mau menggendongmu!"
sambil Suto Sinting melangkah menggandeng tangan bocah Sumbaruni.
Wuuut...! Tiba-tiba ada angin cepat bergerak melintas di depan langkah
mereka. Suto Sinting hentikan langkah. Sumbaruni pun memandang sekeliling dengan
mata kecilnya yang masih mempunyai ketajaman tersendiri.
"Ada seseorang yang melintas di depan kita," bisik Sumbaruni.
"Ya. Hati-hatilah. Jangan jauh-jauh dariku. Mudah-mudahan orang itu adalah
orang baik, jadi kita bisa menanyakan tentang benda yang kita cari itu," kata
Suto Sinting dengan pelan juga.
Tiba-tiba seberkas sinar merah kecil melesat dari balik celah dedaunan semak.
Slaaap...! Sinar merah kecil itu segera ditangkis dengan gerakan Suto yang
membungkuk melepas bumbung tuak dengan cepat dan terhantamlah bumbung
tuak oleh sinar merah kecil itu. Daaahk...! Sinar tersebut membalik arah semula
menjadi lebih besar dan lebih cepat lagi.
Gusraak...! Duaar...!
Semak-semak pecah berhamburan. Pohon di balik semak-semak itu menjadi
retak namun tak sampai roboh. Dari semak-semak itu melesat sesosok bayangan
yang agaknya adalah pemilik sinar merah tadi. Wuuuuss...!
Jleeg...! Kini mata Pendekar Mabuk dan bocah Sumbaruni melihat sosok tubuh
langsing berdada sekal milik seorang gadis yang diperkirakan berusia sekitar dua
pu-luh tiga tahun. Gadis itu mengenakan pakaian biru muda dengan rambut diikat
ke belakang, sisanya berponi di depan kening. Hidungnya mancung, matanya bulat
indah. Tapi berdirinya tak bisa tenang. Tangannya ber-gerak-gerak, kakinya
kadang meiiuk ke kiri atau ke ka-nan. Terkadang ia jalan mondar-mandir dengan tangan
bergerak apa saja.
"Siapa kau"! Mengapa menyerangku, Nona"!"
"Aku adalah Menak Goyang, pemburu pencuri pusaka milik guruku!" jawab
gadis itu dengan ketus sambil melangkah ke kiri dan ke kanan, kadang menendang
rerumputan atau menyambar dedaunan.
"Apa urusannya denganku?"
"Kau pasti pencuri Pisau Tanduk Hantu milik Guru! Karena hanya kaulah orang
yang ada di sini! Sejak ke-marin sudah kujelajahi sekeliling kaki gunung ini,
tapi akhirnya kaulah orang yang kutemui. Berarti kaulah pencuri pusaka Pisau Tanduk
Hantu itu!"
Suto Sinting dan Sumbaruni saling pandang heran. Mereka dituduh mencuri
pisau pusaka, sementara mereka tidak tahu bagaimana bentuknya dan seperti apa
kehebatan Pisau Tanduk Hantu itu. Agaknya mereka harus berdebat kepada Menak
Goyang untuk membuktikan bahwa mereka bukan pencuri yang dimaksud.
4 PENDKEKAR MABUK enggan melayani kekerasan Menak Goyang. Karenanya,
setiap mendapat serangan pukulan jarak jauh selalu dikembalikan dengan cara
menangkisnya memakai bambu bumbung tuaknya. Menak Goyang terdesak sendiri
oleh pukulannya yang kembali dengan cepat dan dengan lebih besar. Bahkan ia
sempat terpental dan jatuh terkapar ketika ia melepaskan gelombang pukulan hawa
panas yang keluar dari kedua tangannya. Pukulan itu membalik dan menghantam
dirinya sendiri.
"Kurang ajarl Dari tadi pukulanku membalik terus. Uuh...! Dadaku menjadi
sakit dan panas karena pukulanku sendiri! Rupanya pencuri itu bukan pencuri
sembarangan!" kata Menak Goyang membatin.
Gadis itu berdiri sambil tarik napas dalam-dalam. Tubuhnya bergerak-gerak ke
kiri dan ke kanan. Rupanya Menak Goyang semakin penasaran melihat ilmu Suto
Sinting yang begitu-begitu saja tapi sulit ditumbangkan. Sementara itu,
Sumbaruni di bawah pohon agak jauh dari Suto Sinting. Hatinya merasa bercampur aduk tak
karuan hingga menjelma menjadi kegelisahan. Sebab ia merasa ingin menyerang tapi
tak mempunyai daya dan kemampuan seperti dulu lagi. la hanya bisa memandang
benci kepada Menak Goyang.
"Sebaiknya mengaku saja dan kembalikan pisau pusaka itu supaya di antara
kita berdua tidak ada saling bermusuhan. Bukankah lebih baik kita saling
bersahabat dan mempererat diri ketimbang bermusuhan, Maling Tampan"!" kata Menak Goyang
yang membuat Sumbaruni mencibir sirik kepadanya.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu menahu tentang Pisau Tanduk Hantu.
Aku bukan pencuri. Kau salah duga, Menak Goyang!"
"Kalau bukan pencuri, mengapa kau berkeliaran di sini" Ini bukan wilayahmu.
Ini wilayah perguruanku; Perguruan Tongkat Sakti! Kalau guruku si Malaikat
Miskin mengetahuimu, kau tetap saja akan dicurigai."
"Pertemukan aku dengan gurumu; si Malaikat Miskin. Aku akan jelaskan
duduk perkaranya mengapa aku sampai memasuki wilayah kalian."
"Tidak perlu. Yang dikehendaki Guru hanya Pisau Tanduk Hantu. Sekarang ini
yang lebih penting adalah pusaka itu daripada penjelasanmu."
"Menak Goyang," sapa Suto Sinting dengan maju selangkah, sedangkan yang
diajak bicara masih tetap bergoyang badan tak bisa tenang. "Kalau aku punya
pisau pusaka itu, barangkali sudah kugunakan untuk melawanmu. Kau tahu sendiri, aku
tidak melawanmu menggunakan pisau pusaka itu!" Suto membentangkan kedua
tangannya sambil melangkah dua tindak lagi, kian mendekati Menak Goyang. Yang
didekati berjalan ke sana-sini walau hanya dua-tiga tindak.
"Siasatmu memang licik. Kau sengaja tidak keluarkan pisau itu karena kau
ingin mengelak dari tuduhanku! Kau pikir aku tak bisa meraba jalan pikiranmu,
Maling Ganteng"!"
Mendengar sebutan 'maling ganteng', hati Sumbaruni dibakar oleh
kecemburuan. Apalagi dilihatnya Menak Goyang tersenyum tipis dengan mata nakal
memandangi Suto Sinting. Bocah Sumbaruni makin diremas rasa cemburu, sehingga
ia segera mengambil batu dan melemparkannya ke arah Menak Goyang. Wuusss...!
Menak Goyang tetap diam dengan menggerak-gerakkan pinggulnya ke kanan-kiri.
Lemparan batu itu segera dihadang dengan kibasan dua jarinya yang berkelebat
keluarkan tenaga dalam tanpa sinar. Wuuut...! Praak...! Batu itu pecah sebelum
mencapai tempatnya.
"Adikmu nakal sekali, Maling Tampanl Rupanya kau memang bekerja sama
dengan adik kecilmu itu. Atau barangkali pisau pusaka itu tersembunyi di balik
tubuh adikmu itu?"
"Menak Goyang, percayalah padaku! Kami tidak mencuri pusaka itu. Tapi jika
kau tetap tidak percaya, sekarang apa maumu akan kulayani!"
"Bagus! Kita ke semak-semak sana!"
"Untuk apa?"
"Katamu apa kemauanku akan kau layani?"
"Hei, Gadis Kotor!" teriak bocah Sumbaruni. "Sekali lagi kau merayu dia akan
kuhancurkan kepalamu dengan batu ini!" Sumbaruni memperlihatkan batu yang
lebih besar dari genggamannya. Menak Goyang tertawa mendengar seruan bocah
imut-imut itu."
"Adikmu galak juga. Cukup berani dan pandai bicara, Maling Tampan!
Tentunya kau sayang sekali kepadanya. Tapi alangkah sayangnya gadis lucu itu
menjadi adik dari seorang pencuri sehina dirimu!"
Sumbaruni makin jengkel. Maka dilemparkanlah batu. itu sambil berlari agak
mendekat. Wuuut...! Lalu Sumbaruni berlari kembali ke tempat semula dengan
gerakan lari yang lucu. Batu itu hanya dihindari oleh Menak Goyang yang
meliukkan badan ke depan. Wees...! Batu itu melayang lewat belakang sasarannya.
Menak Goyang dekati Suto Sinting dalam jarak tiga langkah. Matanya yang
jernih dan indah menatap punya makna tersendiri. la bertolak pinggang dengan
satu tangan dan badannya bergerak-gerak tak mau diam sedikit pun.
"Kalau aku mengajakmu ke semak-semak sebelah sana itu lantaran aku ingin
menggeledahmu, benarkah kau tidak sembunyikan Pisau Tanduk Hantu di tubuhmu.
Aku akan memeriksa sekujur tubuhmu. Jika kau periksa di sini, kau pasti malu
pada adik kecilmu itu!"
"Kau tak perlu menggeledahku, karena aku tahu tanganmu sudah gemetar
karena niat nakal di hatimu!"
Menak Goyang membatin, "Sial! Tahu juga dia dengan maksudku?"
"Hmm...!" Menak Goyang berlagak mencibir. "Biar kau tampan, tapi aku tak
punya maksud nakal seperti anggapanmu! Yang kubutuhkan adalah pisau pusaka itu,
karena pisau tersebut menjadi kewajiban dan tugasku untuk menemukannya
kembali! Jadi, jika kau masih berlagak menjadi orang suci, maka pedangku ini
yang akan bicara menggantikan mulutku. Pedangku akan mendesakmu hingga kau
mengakui kedurjanaanmu!"
"Cabutlah kalau kau bisa mencabut pedangmu!" tantang Suto Sinting. Tapi
setelah berkata demikian jari telunjuknya menyala hijau. Jari itu disentilkan ke
arah pedang ketika tangan Menak Goyang bergegas memegang gagang pedang.
Selanjutnya, Menak Goyang dibuat terheran-heran karena pedangnya terkunci dan
tak bisa dicabut walau dengan mengerahkan tenaga dalamnya.
"Semoga peringatan ini dapat membuatnya jera dan tidak menuduhku lagi
sebagai pencuri Pisau Tanduk Hantu," pikir Suto Sinting sambil membiarkan Menak
Goyang kerepotan mencabut pedangnya.
"Setan! Dia bikin pedangku terkunci oleh suatu kekuatan gaib yang tak bisa
dilolos dari sarungnya"! Kurasa dia memang berilmu tinggi! Berbahaya kalau
kulawan secara kasar. Harus menggunakan cara tersendiri!"
Setelah membatin demikian, Menak Goyang berkata kepada Suto dengan
nada ketus, "Sekarang aku semakin yakin. Ilmumu tinggi, dan hanya orang berilmu


Pendekar Mabuk 037 Racun Gugah Jantan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tinggi yang dapat masuk ke kamar Guru untuk mencuri Pisau Tanduk Hantu itu! Kau
terpancing oleh tantanganku, Maling Tampan."
Menak Goyang melangkah ke sana-sini sambil mendengarkan perkataan Suto
Sinting yang tetap tenang memegangi tali bumbung tuaknya.
"Kalau aku bisa masuk ke kamar gurumu, mungkin bukan hanya Pisau Tanduk
Hantu yang kubawa lari. Barangkali juga dirimu akan ikut kubawa lari juga!" goda
Suto Sinting sebagai tanda bahwa dirinya tidak menanggapi tuduhan dan kecaman
Menak Goyang secara sungguh-sungguh. Menak Goyang hanya tersenyum-senyum
sambil buang pandangan mata.
Tiba-tiba ia berkelebat cepat. Wuuuttt...! Deeb...! Dua jarinya menotok
punggung bocah Sumbaruni yang terbelalak kaget melihat gerakan cepat
menyambar tubuhnya. Bocah Sumbaruni tertotok hingga diam tak bergerak tak
bersuara. Bocah itu dalam waktu singkat sudah ada di gendongan Menak Goyang.
Suto Sinting terkejut melihat kejadian ini. Matanya terbelalak dan menjadi
tegang, karena ia segera bisa menangkap maksud Menak Goyang dalam menyambar bocah
Sumbaruni. Menak Goyang sendiri segera lepaskan pukulan bertenaga sinar merah
ke arah Suto Sinting, sementara itu Suto Sinting sempat lengah dan terkena
pukulan sinar merah pada pundaknya. Desss...!
Pundak itu menjadi hangus. Membekas hitam dan berasap. Suto Sinting
memperhatikan luka itu dengan menahan sakit. Sementara mata Suto Sinting ke arah
luka, Menak Goyang melesat pergi menjauh dari Pendekar Mabuk sambil membawa
lari bocah Sumbaruni. Dari kejauhan ia berseru,
"Bocah ini tak akan kembali padamu jika kau tidak membawa pulang Pisau
Tanduk Hantu! Jika kau inginkan adikmu ini, maka kau harus menukarnya dengan
Pisau Tanduk Hantu."
Ternyata luka itu membuat urat-urat di tubuh Suto Sinting menjadi lemas.
Gerakan mengejarnya tak mampu cepat, bahkan Pendekar Mabuk sempat jatuh
tersungkur. Sementara yang dikejar sudah tak terlihat lagi dari tempatnya jatuh.
Suto Sinting buru-buru menenggak tuak dalam bumbung. Empat teguk tuak membuat
detak jantungnya yang lemah menjadi cepat kembali seperti sediakala.
"Gadis itu benar-benar licik! Aku yakin dia mampu mengukur ilmuku, merasa
tak mampu menghadapiku, merasa tak mampu menemukan pisau pusaka itu, maka
ia memanfaatkan diriku untuk dapatkan pisau pusaka tersebut dengan menculik
Sumbaruni! Gila! Kalau begini aku jadi terlibat urusan dengan orang-orang
Perguruan Tongkat Sakti! Hmmm...! Sebaiknya kukejar dia sampai ke perguruannya. Kalau
perlu kuhadapi gurunya yang berjuluk Malaikat Miskin itu! Bagaimana pun juga aku
harus bisa merebut kembali Sumbaruni yang tak bersalah itu!"
Pendekar Mabuk gunakan ilmu 'Gerak Siluman' yang mampu berlari cepat
melebihi kecepatan kilatan petir dari langit. Kecepatan gerakannya itu membuat
ia bagaikan bayangan coklat melesat terhempas angin, karena ia mengenakan baju
coklat tanpa lengan dan celana putih kusam.
sekali gerakan cepat itu bisa ditangkap oleh pandangan mata seseorang dari
kejauhan. Tentunya orang yang bisa melihat gerakan cepat itu adalah orang
berilmu tinggi. Jika bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melihat wujud Pendekar
Mabuk bergerak secepat itu.
Claaap...! Seberkas sinar hijau melintas di depannya. Suto Sinting hentikan
gerakan larinya karena sinar hijau itu menghantam pohon dan pohon itu langsung
tumbang menghadang jalan. Jelas orang yang keluar-kan sinar hijau itu bukan
bermaksud melukai Pendekar Mabuk melainkan hanya sekadar ingin menghentikan
langkah sang pendekar semata.
Sinting segera pandangi keadaan sekeliling-nya. Luka di pundak telah lenyap
akibat tuak yang ditenggak. Badan Suto Sinting sudah segar seperti sediakala.
Kini ia siap hadapi bahaya sebesar apa pun dan tak ingin main-main lagi. Karena menurut
dugaannya, orang yang melepaskan sinar hijau tadi tentunya orang berilmu tinggi
yang punya keperluan sendiri dengannya.
Tak ada orang di sekelilingnya. Ilmu 'Lacak Jantung' dipergunakan untuk
mendengar detak jantung di sekitarnya. Tapi ternyata suara detak jantung tak
didengarnya. Suto Sinting hanya membatin,
"Pasti orang itu jauh dari sini, namun mampu memandang jelas kemari!"
Angin bertiup. Makin lama semakin bergemuruh. Pendekar Mabuk pandangi
daun-daun pohon di sekelilingnya. Ternyata daun-daun pohon bergetar semua.
Sebagian ada yang rontok dan berjatuhan. Gemerisik suara dedaunan bagaikan
gerakan angin di atas pepo-honan saja. Sedangkan batang pohon dan tanah tidak
ikut bergetar sedikit pun.
"Siapa yang mengirimkan ilmu seperti ini" Pasti dikirim dari jarak jauh, karena
detak jantungnya masih belum kudengar," kata batin Pendekar Mabuk.
Dedaunan yang jatuh ke bumi ternyata mengepulkan asap tipis, nyaris tidak
terlihat. Tapi karena banyaknya daun yang jatuh maka asap-asap itu menjadi lebih
tebal lagi, sehingga tanah bagaikan mengeluar-kan kabut putih berhawa dingin.
Suto Sinting segera melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak sambil pejamkan
mata. la memusatkan pikirannya dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk
mengimbangi ilmu kiriman tersebut.
Dalam beberapa kejap kemudian, daun-daun yang berguncang itu berhenti.
Uap dingin dari sentuhan daun dengan tanah itu tidak lagi terasa membekukan kaki
Pendekar Mabuk. Agaknya kekuatan batin Suto mampu meredam kekuatan kiriman
dari jauh. Bahkan kekuatan batin itu mampu membuat langit menjadi berawan hitam
tapi di sisi barat, timur, selatan, dan utara. Sedangkan langit di atas kepala
Pendekar Mabuk masih tampak terang dan cerah.
Beberapa saat kemudian, terdengar angin berhembus kembali dengan
menderu. Suto Sinting masih pejamkan mata dalam keadaan berlipat tangan di dada
dan berdiri tegak dengan kaki sedikit merenggang. Hembusan angin itu ternyata
mengantarkan suara detak jantung yang samar-samar terdengar di telinga Suto
Sinting. Suara jantung itu kian lama kian jelas, sampai akhirnya Suto membuka
matanya dan mengetahui sesosok tubuh berdiri di depannya dengan kaki sedikit
merenggang dan tampak tegang. Sosok itu tak lain adalah sosok seorang wanita
berusia sekitar tiga puluh tahun kurang dan mengenakan jubah merah.
Mata Pendekar Mabuk terkesiap memandang perempuan berambut panjang
yang digelung di bagian tengahnya. Yang membuat mata terkesiap lagi ialah
pa-kaian di balik jubah itu sangat tipis, bagai terbuat dari kain selendang
sebatas dada berwarna biru muda. Tipisnya kain pelapis dada itu membuat bayangan
samar-samar bentuk dada yang sungguh menantang karena kebesaran dan
kesekalannya. Suto Sinting terpaksa tarik napas dalam-dalam.
Wanita itu adalah wanita cantik. Ditambah dengan tahi lalat kecil di dagu
sebelah kiri membuat daya pikat tersendiri bagi siapa pun yang memandangnya.
Suto Sinting sempat bergetar hatinya melihat bentuk bibir yang melenakan, bagai
mempunyai kekuatan khayal cukup tinggi. Senyumnya yang tipis pun mempunyai
daya cekam indah di hati pria yang memandangnya. Suto Sinting menahan diri dan
mengendalikan gejolak yang bergemuruh di dadanya.
"Siapa kau, Nyai?" tanya Suto menyapa lebih dulu ketika mereka beradu
pandang sudah lebih dari tiga he-laan napas. Jarak mereka hanya empat langkah.
"Barangkali kau belum pernah melihatku, tapi kuyakin kau pasti pernah
mendengar namaku; Nyai Sapu Lanang."
Suto Sinting berkerut dahi. la merasa asing dengan nama itu.
"Aku baru sekarang mendengar namamu, Nyai Sapu Lanang."
"Kalau begitu kau bukan orang sekitar sini. Kau pasti datang dari jauh."
"Agaknya dugaanmu itu memang benar, Nyai. Kau pandai menduga
seseorang." Suto Sinting juga sunggingkan senyum kecil sebagai sikap tenang yang
dipamerkan. Lalu wanita yang mengaku bernama Nyai Sapu Lanang itu dekati Suto
Sinting hingga jarak mereka tinggal dua langkah lagi. Bau harum tercium dari
tubuh elok berkulit kuning langsat. Wewangian itu bagaikan menggugah hasrat bercumbu
bagi seorang lelaki siapa saja yang didekatinya.
"Dari mana asalmu, dan siapa namamu?"
"Aku dari Jurang Lindu. Namaku Suto Sinting."
Nyai Sapij Lanang kerutkan dahi tipis. "Sepertinya aku pernah mendengar
nama Suto Sinting. Ya, pernah! Tapi kapan dan di mana aku telah lupa."
"Aku hanya anak desa. Mungkin kau baru mendengarnya sekarang karena aku
hanyalah anak desa yang tak punya kelebihan apa-apa, sehingga tak mungkin
namaku kau kenal sebelum ini." Suto Sinting sengaja rendahkan diri supaya
perempuan cantik itu tidak ber-andai-andai tentang nama tersebut. Agaknya Suto
pun tak ingin Nyai Sapu Lanang mengetahui gelar kependekarannya.
Tetapi Nyai Sapu Lanang bukan orang berotak udang yang bisa dibuat
rempeyek. Nyai Sapu Lanang cukup cerdas dalam menyimpulkan sesuatu masalah,
sehingga dengan tegas ia pun berkata,
"Kau tak mungkin hanya anak desa biasa! Gerakan larimu kulihat begitu cepat.
Itu sudah menandakan kau berilmu tinggi. Ketika kukirimkan jurus 'Gelombang
Badai' kau bisa menghentikannya dengan kekuatan batinmu. Je|as lagi bahwa kau
orang yang bukan sekadar anak desa biasa, Suto!"
Pendekar Mabuk tarik napas. Meninggalkannya tiga langkah. Di sana ia
menenggak tuaknya tiga tegukan. Sikapnya seakan acuh tak acuh kepada Nyai Sapu
Lanang, sehingga wanita itu membatin dalam hatinya, "Agaknya ia sukar
ditundukkan dengan penampilanku ini. Tak biasanya seorang lelaki yang kudekati
akan menjauh. Pasti akan mendekat. Tapi kali ini agaknya pemuda itu
kebalikannya, justru aku yang mendekatinya dan merasa terjerat dalam khayalanku sendiri. Oh,
kali ini agaknya kau harus berjuang lebih keras lagi untuk tundukkan mangsaku."
Pendekar Mabuk sengaja pandangi keadaan seke-liling dengan sikap tenang.
Saat itu terdengar suaranya berucap pelan tapi terdengar jelas oleh Nyai Sapu
Lanang yang mendekatinya lagi dua tindak.
"Untuk apa kau menghentikan langkahku" Apakah kau juga muridnya
Malaikat Miskin dan bermaksud menghalangi pengejaranku?"
"Tidak. Aku kenal dengan si Malaikat Miskin, tapi aku bukan muridnya. Kalau
mau justru Malaikat Miskin seharusnya belajar dan berguru kepadaku."
"Jadi kau ada di pihak mana?"
"Tak punya pihak," jawab Nyai Sapu Lanang.
"Tapi kalau kau bermaksud menemui Malaikat Miskin, aku bisa mengantarmu
ke Perguruan Tongkat Sakti."
Tiba-tiba wajah Suto Sinting yang semula memandang ke arah lain kini cepat
berpaling mengatap Nyai Sapu Lanang. Yang ditatap sengaja sunggingkan senyum
penjerat hati. Namun Suto Sinting lebih tertarik dengan kata-katanya.
"Benarkah kau bisa membawaku menemui Malaikat Miskin"!"
"Ya, tapi ada syaratnya!"
"Sebutkan!"
Nyai Sapu Lanang tidak segera menjawab, melainkan justru mengadu
pandangan mata beberapa saat. Suto Sinting membatin, "Hmm...! Dia menyerangku
dengan halus melaiui pandangan matanya. Oh, rupanya dia ingin menjerat hatiku"!
Aku harus bisa melawan dan melumpuhkan kekuatan matanya Itu."
Suto Sinting menarik napas panjang dengan pelan-pelan hingga tak terlihat
secara nyata. Tetapi saat itulah sebenarnya Suto Sinting menahan serangan halus
penjerat hati. Tak heran jika Nyai Sapu Lanang segera berkata dalam hatinya,
"Kuat juga pemuda ini! Agaknya ia mampu menahan daya pikatku melaiui mata. Padahal
biasanya hati pria mana pun akan luluh jika kugunakan jurus "Mata Peri'-ku ini!"
Terdengar Suto Sinting berkata, "Kusuruh kau sebutkan syaratnya mengapa
kau justru diam dan menjerat hatiku dengan tatapan matamu?"
Nyai Sapu Lanang tersipu sendiri dan membatin, "Sial! Dia tahu kalau sedang
kuserang secara diam-diam."
Tapi di mulut berbibir menggemaskan itu sebaris kata terucap lirih,
"Syaratnya tak sulit. Kau pasti bisa lakukan. Kau hanya menuruti keinginanku
untuk membawamu pulang ke pondokku. Aku butuh keturunan."
"Butuh keturunan" Mengapa kau bicarakan padaku?"
"Sekian lama kupertahankan kecantikanku, kemolekanku, keelokan tubuhku,
hanya untuk mencari pria yang mampu berikan keturunan padaku. Sebab
ilmu-ilmuku tidak bisa diberikan kepada orang lain kecuali kepada keturunanku
sendiri. Tapi sampai sekian lama aku berkelana, ternyata tak ada pria yang
sanggup memberikan keturunan padaku. Sampai sekarang aku masih membutuhkan pria
seperti apa pun untuk mencoba memberikan keturunan padaku. Jadi aku hanya
membutuhkan dirimu untuk membuatku mempunyai keturunan. Kita pulang ke
pondokku dan layanilah aku seperti apa yang kubutuhkan. Maka akan kubantu kau
menemui Malaikat Miskin, bila perlu kubantu kau menyerangnya."
Setelah diam beberapa saat, Suto Sinting berkata, "Syaratmu terlalu berat
bagiku, Nyai Sapu Lanang!"
Wanita cantik dan menggoda hati itu gelengkan kepala. "Tidak terlalu berat
untuk seorang lelaki seperti kau, Suto! Justru aku akan merasa bahagia dan ingin
mengulanginya lagi jika sudah merasakan keindahan yang dapat kita capai
bersama." "Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku tak sanggup memenuhi
keinginanmu, Nyai Sapu Lanang. Carilah lelaki lain yang mampu melakukannya!"
Mata jeli berbulu lentik itu mulai nakal dalam memandang. Senyum itu masih
membias di bibir ranum dan selalu tampak basah. Sesaat setelah diam sang nyai
pun perdengarkan suaranya, "Kau mampu! Kurasakan ada kekuatan yang maha dahsyat
dalam asmaramu, Suto."
"Memang aku mampu melakukannya, karena aku lelaki yang sehat. Tapi aku
tak mau menodai kesetiaanku terhadap calon istriku, Nyai Sapu Lanang."
"Calon istrimu tak mungkin dapat meneropong apa yang kita lakukan, karena
aku mempunyai kekuatan yang mampu mengembalikan daya teropong seseorang.
Kau tak perlu takut ketahuan siapa-siapa. Tak ada .yang mengetahui perbuatanmu
di pondokku, Suto!" sambil berkata begitu sang nyai semakin mendekati Suto. Bahkan
tangannya berani meraih lengan Suto Sinting dan tubuhnya kian mendekat.
Pandangan mata yang menjadi mulai sayu itu dipandangi pula oleh Suto
Sinting dalam hiasan senyum menawan. Justru sang nyai yang menjadi makin
terjerat serta penasaran untuk tundukkan kekuatan Suto Sinting dalam bertahan dari
getaran api asmaranya. "Sebaiknya tinggalkanlah aku, dan biarkan kucari sendiri Perguruan Tongkat
Sakti itu. Aku masih mampu menemukannya tanpa bantuanmu, Nyai."
"Oh, kau mengecewakan hatiku jika selalu menolak, Suto Sinting."
"Kau tak perlu kecewa karena pada dasarnya kita memang bukan pasangan
bercinta, Nyai. Kita hanya saling bertemu di perjalanan dan tidak harus
melakukan perbuatan yang hina dan rendah di mata hati kita sendiri."
"Aku inginkan dirimu, Suto. Aku inginkan sekarang juga!" bisik Nyai Sapu
Lanang dalam desah tipisnya. Tapi Suto Sinting gelengkan kepala sambil tetap
sunggingkan senyumnya.
"Jangan paksa aku, Nyai. Berbahaya bagi dirimu jika aku meronta!"
"Tak akan mungkin berbahaya!" kata sang nyai, lalu tiba-tiba dari pandangan
mata sang nyai melesat sinar biru bening yang amat tipis dan menghunjam masuk ke
mata Suto Sinting. Claaap...! Suto Sinting tak sempat menghindar karena jaraknya
teramat dekat. Suto hanya rasakan adanya kejutan yang menyentakkan kepala ke
belakang dan matanya terpejam seketika.
Ketika ia buka mata kembali, tiba-tiba jantungnya berdetak-detak karena
memandang segalanya serba gelap. Tetapi gemuruh dalam dadanya kian riuh.
Darah-nya bagai dibakar api asmara yang menggelisahkan. Suto Sinting mundur dua
langkah dan dibiarkan oleh Nyai Sapu Lanang, hanya dipandangi saja dengan senyum
penuh harapan atas kemenangannya.
"Nyai, kau apakan diriku ini..."!" napas Suto Sinting mulai terengah-engah.
Hasrat bercumbunya kian dirasakan menyentak-nyentak dan menuntut batin.
"Jangan kau fawan hasratmu, Suto. Kau telah terkena 'Racun Gugah Jantan'
yang tak dapat dihindari oleh siapa pun. Jika kau melawan hasratmu maka kau akan
menjadi lekas tua! Racun itu hanya bisa terobati jika kau salurkan hasratmu
padaku, karena akulah yang memiliki penawar racun tersebut. Tak akan kau dapatkan pada
orang lain, Suto Sinting!"


Pendekar Mabuk 037 Racun Gugah Jantan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Buru-buru Pendekar Mabuk menenggak tuaknya. Glek, glek, glek...! Tetapi
anehnya hasrat bercumbunya kian berkobar-kobar. Rupanya kekuatan dari 'Racun
Gugah Jantan' itu tak dapat dikalahkan dengan tuak sakti dalam bumbung tersebut.
Suto Sinting dibuat panas-dingin. Keringatnya mulai bercucuran dan ia bersandar
di pohon dengan tubuh gemetar karena melawan hasratnya sendiri.
"Percuma kalau kau tetap melawannya, Suto! Percuma! Sebaiknya mari pergi
ke pondokku dan lepaskanlah hasratmu itu agar aku bisa mempunyai keturunan
darimu. Mungkin saja kaulah pria yang cocok menjadi ayah dari keturunanku!"
"Tidak! Jauhilah aku! Jauhi aku, Nyai...!" kata Suto Sinting dengan
terengah-engah, bahkan sempat pe-jamkan kuat-kuat karena menahan gejolak
bercumbu yang luar biasa besarnya itu.
"Kau akan menjadi lekas tua! Ingat, Suto... kau akan cepat tua jika hasrat itu
selalu kau tahan dan tak tercurahkan. Aku tak kan menawarkan racun itu jika kau
tak melayaniku! Hik..hi... hik...! Kau akan cepat menua, Suto.
Suto Sinting hanya terengah-engah diguncang kebimbangan mengambil
keputusan. 5 PONDOK berdinding kayu dibangun di bawah sebuah pohon besar jenis
beringin gajah. Beringin itu usianya sudah ratusan tahun hingga tumbuh besar,
daun dan dahannya menyerupai payung raksasa. Akar-akar gantungnya sebesar lengan
manu-sia dewasa, pada umumnya akar-akar itu menembus tanah dari atas ke bawah.
Sebagian akar kecil-kecilnya bergelantungan bagai rambut-rambut raksasa hutan.
Di belakang pondok itu terdapat tanah lega tak seberapa luas, berkeadaan
sedikit miring. Bebatuan tumbuh di sana-sini bagaikan kepala raksasa yang
tersum-bul dari dasar bumi. Di salah satu batu datar selebar punggung kerbau,
berdiri sesosok tubuh yang memiliki rambut putih lurus sepanjang lewat pundak
sedikit. Lelaki berambut putih uban itu mempunyai potongan tubuh yang sedikit
kurus. Urat-uratnya bertonjolan bagai ingin keluar dari lapisan kulit yang
tampak agak keriput itu. Urat-Urat tersebut menandakan bahwa dulunya lelaki itu
berperawakan tegap, gagah, dan berotot kekar.
Kerutan wajahnya terlihat jelas. Dahinya sedikit terlipat karena kulitnya
mengendur. Alis matanya mulai ditumbuhi uban, tapi jenggot dan kumisnya bersih
tanpa selembar rambut atau uban. Pakaiannya tetap berwarna sama; baju coklat
tanpa lengan, celana putih kusam dan ikat pinggang dari kain merah. Usianya
sekitar enam puluh tahun.
itu sedang berlatih jurus-jurus silatnya dengan menggunakan gerakan
lamban namun penuh curahan tenaga dalam. Gerakan jurus tangan kosong itu
membuat tubuhnya meliuk ke sana-sini seperti orang mabuk yang
terhuyung-huyung. Kadang ia melengkung ke depan hendak jatuh, namun ternyata
justru berguling di tanah dengan menggunakan punggung-nya sebagai bahan
hentakan yang membuat ia melenting bangkit dan berdiri lagi dengan cepat. Kadang
ia limbung ke kiri seperti mau jatuh, tapi ternyata menggunakan kaki kirinya
untuk menyentak ke tanah dan tubuh itu melesat ke kiri, lompat ke atas batu sambil
lepaskan tendangan berputar cepat.
Sepasang mata memperhatikan gerakan silat lelaki itu dengan rasa heran.
Sepasang mata yang bersembunyi itu sempat membatin dalam hatinya,
"Gerakannya sangat aneh. Sepertinya mudah di-tumbangkan. Kuda-kudanya
tampak lemah. Tapi kurasa kenyataannya tidak demikian. Hmm...! Siapa orang itu"
Mengapa ia ada di sini?"
Ketika lelaki itu hentikan latihan gerakan jurus tangan kosongnya, barulah
terlihat siapa dia sebenarnya. Karena pada saat itu, lelaki tersebut segera
mengambil bumbung tuak yang diletakkan di samping batu besar, lalu menenggak tuak
beberapa teguk. Kebiasaan itu tak lain adalah kebiasaan murid sinting si Gila
Tuak yang dikenal dengan julukan Pendekar Mabuk. Bagi yang tidak tahu perkara
sebenarnya, pasti akan terheran-heran melihat Suto Sinting dalam keadaan setua
itu. la menjadi lelaki yang usianya dua kali lipat dari usia sebenarnya. Mungkin
malah seperti tiga kali lipat usia aslinya. Semua itu terjadi karena Pendekar Mabuk
masih dalam pengaruh 'Racun Gugah Jantan' dari Nyai Sapu Lanang.
Tiga hari ia berada di pondok Nyai Sapu Lanang. Namun sang nyai belum mau
memberikan obat penawar racun itu, karena Suto Sinting belum mau melayani
keinginan sang nyai. Yang dilakukan Suto Sinting selama tiga hari empat malam di
pondok itu adalah membujuk Nyai Sapu Lanang agar mau berikan obat penawar
racun dengan berbagai cara. Sayang wanita yang berhasrat ingin mendapat
keturunan dari Suto Sinting itu tetap tidak mau berikan obat itu.
"Sebelum kau mau melayani hasratku, kau tak akan kuberi obat penawar
'Racun Gugah Jantan'."
"Nyai, sekalipun aku mau melayani gairahmu, belum tentu akan membuatmu
hamil dan mempunyai keturunan dari benihku, Nyai. Jangan terlalu yakin bahwa aku
bisa memberikan keturunan padamu. Siapa tahu kau memang ditakdirkan hidup
tanpa keturunan. Biar semua lelaki memberikan benihnya padamu, kau belum tentu
bisa menjadi hamil, Nyai. Jadi sebaiknya lepaskanlah aku dari pengaruh racunmu
itu!" bujuk Pendekar Mabuk kala itu.
"Memang belum tentu. Tapi setidaknya aku ingin mencoba menanamkan
benihmu dalam rahimku. Siapa tahu justru benihmu itulah yang mampu menjadikan
aku berketurunan, Suto Sinting. Karenanya aku hanya memohon padamu untuk
membuktikan kebenaran dugaan kita masing-masing. Mencoba beberapa kali tak
ada jeleknya daripada tidak mencoba yang berarti tidak berusaha!"
Pendekar Mabuk tetap gelengkan kepala. Sekaiipun 'Racun Gugah Jantan'
selalu membangkitkan gairah Pendekar Mabuk, tapi gairah itu selalu ditahannya
kuat-kuat. Suto Sinting tak ingin memberikan kemesraan batinnya kepada
perempuan lain.
"Hanya Dyah Sariningrum yang boleh memiliki kemesraan batinku ini. Aku tak
ingin berikan kepada siapa pun, kecuali kepada wanita yang amat kucintai itu,"
pikir Suto Sinting. "Bagaimanapun juga aku harus berusaha melawan gairahku sendiri
tanpa harus melampiaskannya kepada Nyai Sapu Lanang. Aku percaya suatu saat
bujukanku akan berhasil. Nyai akan mau berikan obat penawar racun itu.
Setidaknya aku akan mendapat akal agar ia mau pulihkan keadaanku. Sekarang memang belum
ada akal dan siasat yang tepat untuknya, tapi lambat laun aku pasti akan
menemukannya. Yang penting aku jangan jauh-jauh darinya dan menjaga
keselamatan jiwanya, sebab jika ia mati maka racun Ini akan bekerja terus dalam
tubuhku dan menyiksaku lebih keji lagi. Ketuaanku semakin cepat tiba dan tak
punya harapan menjadi muda seperti usia sebenarnya jika Nyai Sapu Lanang tak ada di
sampingku."
Sementara itu, Nyai Sapu Lanang sendiri sering membatin di hatinya, "Orang
ini benar-benar bandel. Kuat sekali la menahan gairahnya yang hampir setiap saat
menuntut kepuasan batin. Padahal gairah yang tertahan itu sangat menyiksa
jiwanya. Gairah yang tertahan itu melemaskan otot-ototnya dan membuyarkan
ketenangannya. Tapi ia tabah menghadapi dan kuat menjalani siksaan batin itu"
Sampai kapan ia akan mampu bertahan dari godaan 'Racun Gugah Jantan'" Hmm...!
Tak akan lama. Tak akan lebih dari tujuh hari ia mampu menahan hasratnya yang
selalu berkobar-kobar itu. Cepat atau lambat, pada akhirnya nanti ia akan tak
mampu lagi bertahan, lalu ia akan pasrah dan teng-gelam dalam pelukanku. Oh, aku
menjadi lebih yakin, kekuatannya menahan hasrat itu merupakan tanda-tanda kekuatan
benihnya yang dapat membuahkan janin dalam rahimku nanti! Pasti dialah lelaki
yang cocok dengan kesuburanku."
Suto Sinting mempunyai berbagai cara untuk menahan gejolak gairahnya jika
sang gairah mulai mencekam batin kuat-kuat. la dapat lakukan dengan semadi
pernapasan atau membuangnya dengan berlatih gerakan-gerakan bertenaga. Jika
keletihan tiba, maka gairahnya itu menjadi pudar sesaat. Hasrat ingin bercumbu
lenyap pada saat ia melakukan latihan jurus tangan kosong hingga keluarkan
keringat. Tak heran jika selama tiga hari di pondok itu Suto Sinting sering
lakukan latihan jurus tangan kosong yang bersifat menguras tenaga.
Sayangnya, walaupun gairah itu bisa dibendung dengan meletihkan badan,
tapi pengaruh racun yang membuat ketuaannya cepat tiba dan tak bisa terbendung.
Semakin sering menahan gairah semakin cepat pertumbuhan ketuaannya. Tak heran
jika dalam waktu empat malam saja Suto Sinting mencapai tingkat ketuaan seperti
seorang kakek. Itu disebabkan karena terlalu seringnya menahan gairah
kemesraannya. Nyai Sapu Lanang sendiri sengaja sering menggoda dengan berbagai cara
agar setiap waktu gairah Suto Sinting terpancing. Kedua orang tersebut saling
menyimpan harapan, sehingga mereka secara tak langsung tak mau berpisah. Suto
sendiri berharap bujukannya akan berhasil membuat Nyai Sapu Lanang berikan obat
penawar racun. Sedangkan Nyai Sapu Lanang sendiri berharap agar kelemahan Suto
Sinting pada akhirnya akan tiba juga, sehingga ia dapat menikmati dan memperoleh
apa yang diharapkan dan diyakininya itu.
Tetapi pada hari keempat itu, agaknya Nyai Sapu Lanang terperangkap oleh
godaannya sendiri. Kekerasan hati Suto Sinting yang tak mau memberikan setitik
kehangatan membuat gairah sang nyai bangkit menuntut jiwa. Akhirnya sang nyai
harus pergi tinggalkan pondok untuk mencari lelaki lain sebagai pemuas
harapannya. Suto Sinting biarkan perempuan itu pergi, karena ia yakin akan kembali lagi. la
juga tahu bahwa kekalahannya sedang ditunggu-tunggu oleh sang nyai. Jadi tak mungkin
Nyai Sapu Lanang pergi selamanya tinggalkan mangsa di pondoknya.
Pada saat sang nyai pergi itulah, Suto Sinting pergunakan waktu untuk
berlatih jurus tangan kosongnya sambil membuang hasrat yang bergolak akibat
'Racun Gugah Jantan'. Namun ketika ia selesai menenggak tuaknya, tiba-tiba
sepasang mata yang dari tadi meng-intipnya dari balik celah dedaunan semak itu
berkelebat muncul dan berdiri di depan Suto Sinting. Kemunculannya membuat Suto
Sinting sempat terperanjat sesaat. Matanya memandang dengan sedikit mengecil
karena pandangan mata Suto pun mengalami keburaman karena penuaannya itu.
"Jurus-jurusmu cukup aneh sekali, Kek! Kalau boleh kutahu, siapa dirimu"
Apakah kau kakeknya Nyai Sapu Lanang"!"
Orang yang menyapa Suto Sinting itu adalah seorang wanita berusia sekitar
dua puluh tujuh tahun, berpotongan tubuh menggiurkan, dadanya
mon-tok,mengenakan pinjung penutup dada ketat warna hijau muda berhias benang
emas kuning. Celananya juga ketat berwarna hijau muda dengan hiasan benang
emas pada tepian celana. Pakaian itu dibungkus dengan baju jubah tanpa lengan
yang panjangnya sampai betis. Jubah itu berwarna kuning kunyit. Di pinggangnya
terselip kipas warna kuning emas. Rambutnya lepas terurai sepanjang punggung,
dililit dengan hiasan kepala berwarna kuning emas.
Seraut wajah cantik yang pandangi Suto Sinting tanpa kesan terpikat itu segera
didekati oleh sang pendekar beruban. Wajah berhidung mancung dan ber-mata
bening ditatapnya lebih dalam lagi, kemudian barulah Suto perdengarkan suaranya
yang bergetar bagai suara orang lanjut usia.
"Siapakah dirimu, Nona Cantik?" "Namaku Teratai Kipas. Kurasa Nyai Sapu
Lanang mengenal namaku. Dan sekarang pun aku ingin bertemu dengannya."
"Untuk apa kau ingin menemuinya, Nona?"
"Bikin perhitungan dengannya! Kuharap kau jangan menghalangi niatku,
Kakek Tua. Aku tak ingin melibatkan dirimu dalam urusanku dengan Nyai Sapu
Lanang!" kata Teratai Kipas dengan nada tegas. Dari ucapannya yang tegas itu
terpancar dendam yang tersembunyi di dalam dada wanita cantik berkulit putih
itu. "Boleh kutahu masalahnya, Nona?" tanya Suto Sinting dengan sikap ramah.
"Siapa dirimu sebenarnya" Sebutkan dulu!"
"Namaku Suto Sinting. Aku bukan kakeknya Nyai Sapu Lanang."
Wanita itu tercenung sesaat sambil menggumam, "Suto..." Suto Sinting..."!"
"Ada yang menyangsikan dirimu, Nona Teratai Kipas?"
"Tidak ada," jawab Teratai Kipas jelas-jelas. "Aku hanya merasa pernah
mendengar nama Suto Sinting, tapi... kurasa bukan kau orangnya."
Pendekar Mabuk yang menyerupai seorang kakek itu tersenyum kecil.
Matanya masih memandang Teratai Kipas yang menatap penuh curiga. Kejap berikut
terdengar Teratai Kipas perdengarkan suaranya yang lembut namun punya
ketegasan tersendiri di dalamnya.
"Nyai Sapu Lanang berhutang nyawa padaku. Dia yang membuat adikku
menjadi gila dan akhirnya bunuh diri karena kasmaran kepadanya tiada
berkesudahan! Kekuatan ilmu pemikatnya membuat kematlan adikku; Arya Wuka
yang masih berusia dua puluh tahun itu. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini
dan harus membalas dengan kematian Nyai Sapu Lanang sendiri. Jadi, urusan ini tak
ada sangkut pautnya denganmu, Ki Suto Sinting. Kuharap kau jangan mencampuri
urusanku ini."
Terasa aneh hati Suto Sinting mendengar dirinya dipanggil 'Ki Suto Sinting'.
Ada rasa janggal, malu, dan sedih yang tipis. Batinnya bertanya, "Sudah setua
itukah diriku sehingga dipanggil 'Ki Suto Sinting' oleh si cantik ini" Padahal usianya
mungkin sejajar denganku. Tapi haruskah aku tersinggung karena dipanggil 'Ki
Suto Sinting' olehnya" Oh, kenyataan ini, ketuaan ini yang membuatku mendapat
panggilan 'Ki Suto Sinting'. Aku tak salahkan dirinya, karena memang sosokku
sudah tampak tua."
Terdengar lagi Teratai Kipas berkata, "Kumohon padamu, Ki Suto... panggillah
Nyai Sapu Lanang, dan suruh dia berhadapan denganku. Aku ingin bertarung
dengannya secara hormat. Bukan dengan mengamuk kasar dan liar. Tapi kalau kau
tak mau memanggilnya keluar dari pondok itu, maka jangan salahkan diriku jika
pondok itu kuhancurkan bersama dirinya. Nyai Sapu Lanang pantas dimusnahkan
agar tidak menjadi perusak kaum lelaki lainnya!"
Sinting masih tampak tenang. Matanya memandang sebentar ke arah
pondok yang dipunggunginya, lalu kembali menatap Teratai Kipas dengan sikap
ramahnya yang masih ada, senyum tipis yang masih menghiasi wajah tuanya.
"Nyai Sapu Lanang tidak ada. Dia sedang pergi."
"Aku tidak percayal" tegas Teratai Kipas.
"Aku berkata yang sebenarnya, Teratai Kipas."
"Kalau begitu aku harus menggeledah pondok itu!" Teratai Kipas segera
berkelebat menuju ke dalam pondok. Tapi Suto Sinting bergerak lebih cepat hingga
ta-hu-tahu sudah berada di depan pintu menghadang langkah Teratai Kipas. Wajah
dan sikapnya masih tampak tidak bermusuhan, walaupun wanita cantik itu kelihatan
geram dan memendam kedongkolan yang besar di hatinya.
"Percayalah, sekalipun kau obrak-abrik isi pondok ini kau tak akan menemui
Nyai Sapu Lanang, Nona! Dia pergi sejak tadi pagi."
"Menyingkirlahl" ucapnya bernada ketus dan memandang sinis.
Suto Sinting tarik napas dengan senyum kalem. Melihat kepenasaran Teratai
Kipas, akhirnya Pendekar Mabuk menyingkir dari depan pintu dan membiarkan
Teratai Kipas lakukan penggeledahan di dalam pondok. Suto Sinting sengaja
menunggu di luar pondok sambil meneguk tuaknya kembali. Beberapa saat
kemudian, Teratai Kipas keluar kembali dengan wajah cemberut bagaikan
menemukan kekecewaan yang kian menjengkelkan hati.
"Pergi ke mana dia"!" tanyanya mulai semakin ketus. Suto Sinting angkat bahu
pertanda tidak tahu. Tapi Teratai Kipas tak percaya dan semakin jengkel karena
menganggap dipermainkan oleh Suto.
"Kalau kau tak mau sebutkan ke mana perginya, aku akan bicara dengan
tangan dan mungkin senjata kipasku akan merobek kulit tuamu, Ki Suto!"
"Aku memang tidak tahu ke mana perginya."
"Baiklah. Jawaban itu berarti memaksaku untuk melakukan kekerasan agar kau
buka mulut!"
Wuuut...! Teratai Kipas segera bergerak. Tangannya berkelebat bagaikan
menampar dalam jurus cakar. Weees...! Hampir saja wajah tua Suto Sinting terkena


Pendekar Mabuk 037 Racun Gugah Jantan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cakaran kuku yang tak seberapa panjang tapi runcing tajam itu. Jaraknya yang
hanya satu langkah telah membuat Teratai Kipas kembali mencakar bagai ingin merobek
dada Suto Sinting. Wuuuss...! Deeb...! Tangan itu ditangkis oleh lengan kiri
Suto Sinting. Perpaduan tulang lengan dengan pergelangan tangan membuat Teratai
Kipas hentikan serangannya sejenak. Hatinya sempat membatin,
"Gila! Sudah setua itu tapi tulangnya masih keras. Tenaga dalamnya tersalur
dengan baik. Pergelangan tanganku menjadi linu, bahkan sampai ke pangkal pundak
rasa linunya. Aku harus hati-hati dengannya!"
Pendekar Mabuk perdengarkan suaranya yang masih tetap kalem, "Kumohon
jangan paksa diriku untuk mengatakan ke mana kepergian perempuan itu. Aku
benar-benar tidak bisa menolongmu. Jangan gunakan kekerasan untuk hal yang
tidak kuketahui, Teratai Kipas!"
"Omong kosong! Kau pasti tahu!"
"Baiklah. Sekalipun misalnya aku mengetahuinya, aku tidak akan sebutkan di
mana dia berada!"
"Kau memang perlu mendapat pelajaran dan tidak menganggapku sebagai
anak kecil, Suto Sinting! Hiaaah...!"
Teratai Kipas berkelebat arahkan tendangannya ke dada Suto Sinting. Gerakan
kaki lurus itu ternyata hanya sebuah tipuan, karena kejap berikut ia menyentak
naik dan kaki kirinya yang berkelebat dari samping menendang tepat kenai bagian bawah
ketiak Suto Sinting.
Duuuhg...! "Uhg...!" Suto Sinting terlempar ke samping walau tak sampai jatuh. Tapi ia
mulai rasakan patah tulang ru-suknya karena tendangan kaki kiri itu disaluri
tenaga dalam tinggi. Untung Suto Sinting dapat segera tarik napas dalam-dalam dan
salurkan hawa murninya sendiri ke tempat yang sakit, sehingga rasa tulang rusuk
patah itu segera berkurang.
"Hiaaat...!" Teratai Kipas berkelebat menerjang Suto dalam satu lompatan.
Suto Sinting terpaksa menyambutnya sekadar memberi bukti bahwa dirinya memang
tidak tahu ke mana kepergian perempuan penyapu kaum lelaki itu. Suto Sinting
melompat dengan bumbung tuak menggantung di pundak. Lalu di udara mereka
saling beradu telapak tangan. Plak, plak...! Wuuuut...! Brruk...! Teratai Kipas
seperti mendapat daya hentak dari tendangan seekor banteng yang sedang mengamuk.
Hentakan gelombang tenaga dalam dari telapak tangan Pendekar Mabuk
membuatnya terpental jauh, sekitar delapan langkah baru jatuh terseret mundur
dalam keadaan duduk miring tak bisa jaga keseimbangan tubuh. Hampir saja bagian
belakang kepala Teratai Kipas membentur sebongkah batu jika tak segera menahan
napas agar gerakan terseretnya terhenti.
"Orang tua nakal kau rupanya!" geram Teratai Kipas. "Jangan sangka aku jera
dengan kekuatan tenaga dalammu itu, Ki Suto! Terimalah jurus kipasku ini!"
Seet...! Kipas emas dicabut dari pinggang. Dalam satu lompatan kipas itu
dikibaskan ke arah depan. Wuuus...! Lalu berhamburanlah serbuk-serbuk hitam yang menyebar
ke arah Suto Sinting.
"Racun...!" pikir Suto Sinting seketika itu. Maka ia pun segera gunakan 'Gerak
Siluman'-nya hingga mampu berkelebat pergi menghindari kibasan kipas yang
menghadirkan serbuk-serbuk hitam itu. Zlaaap...! Serbuk hitam itu jatuh
menghujani bongkahan batu yang tadi ada di belakang Suto Sinting. Batu itu menjadi retak
perlahan-lahan dan akhirnya terbelah menjadi beberapa bagian. Belahan-belahan
itu segera berubah menjadi serbuk halus bagaikan ditumbuk dengan palu go-dam
raksasa. "Beruntung kau dapat hindari 'Serbuk Pelebur Nyawa' dariku. Kalau tidak kau
akan menjadi tepung lembut seperti batu itu, Pak Tua!" kata Teratai Kipas dengan
wajah memancarkan keberangan.
"Sekarang kau tahu aku tidak main-main lagi, Ki Suto! Jadi sebaiknya kau pun
jangan anggap remeh pertanyaanku tadi. Katakan ke mana perginya Nyai Sapu
Lanang itu"!"
"Jawabanku tetap sama walaupun kau kerahkan seluruh ilmumu untuk
menyerangku, Nona Cantik! Sudah kukatakan, seandainya aku tahu tetap tidak akan
kukatakan, apalagi dalam keadaan aku benar-benar tidak tahu, tetap tidak bisa
kukatakan ke mana perginya si perempuan pemburu lelaki itu!"
"Jika begitu, mungkin inilah kunci pembuka mulutmu! Hiaaat...!"
Teratai Kipas melemparkan kipasnya dalam keadaan terbuka. Kipas emas
bergambar bunga teratai itu melayang cepat menerjang Suto Sinting. Wuuus...!
Tepian kipas itu menyala merah, bagaikan dikelilingi oleh kawat membara. Kipas
itu bergerak memutar dengan cepat hingga tepiannya yang menyala merah bara itu
memercikkan bunga-bunga api satu arah putaran.
Sinting segera menghantam kipas itu dengan bumbung tuaknya. Wuuut....
Blegaaar...! Cahaya terang warna merah berkelebat besar. Kilatan cahaya merah
dari hasil benturan kipas dengan bumbung tuak sampai nyaris menjilat dedaunan di atas
pohon. Tentu saja hentakan daya ledaknya cukup besar dan membuat Suto Sinting
serta Teratai Kipas sama-sama terpental ke belakang bagaikan terlempar oleh
kekuatan maha dahsyat.
Sekitar dua-tiga dahan patah seketika dan tumbang dengan sendirinya.
Sedangkan kedua orang tersebut sama-sama terkapar dalam jarak sekitar enam
tombak jauhnya dari tempat mereka berdiri semula. Dedaunan semak dan ranting
pohon kecil diterabas oleh lemparan tubuh mereka hingga rusak bagaikan dilanda
seekor kerbau yang mengamuk membabi buta.
Kekuatan tenaga dalam pada kipas emas itu sangat besar. Jika tidak, daya
ledaknya tak mungkin sehebat itu. Sementara di sisi lain Teratai Kipas sendiri
berkeyakinan bahwa bumbung tuak itu menyimpan tenaga sakti yang amat besar.
Jika tidak tentunya benturan tadi tak akan hadirkan gelombang daya ledak yang
begitu kuat. "Dadaku terasa sakit sekali, seperti habis terhimpit pilar besar!" kata Teratai
Kipas sambil berusaha bangkit berdiri. Ucapannya itu dilanjutkan lewat kata hati
seraya ia berusaha bersandar pada sebuah pohon berukuran sedang.
"Oh... panas sekali. Cuih...!" Teratai Kipas meludah, ternyata yang diludahkan
segumpal darah kental. "Aku terluka dalam. Aduuuh... panasnya dadaku. Napas
terasa mengandung hawa panas. Oh, bahaya sekali luka dalamku ini! Benar-benar
gila bumbung tuak itu. Biasanya kipasku justru mampu memotong pohon besar
dalam sekali lempar, ini justru tak mampu memotong bambu yang besarnya hanya
dua genggaman tangan!"
Mata wanita cantik itu melirik ke arah terjadinya benturan kipas dengan
bumbung tuak. Ternyata kipas itu dalam keadaan tergeletak di tanah tanpa rusak
sedikit pun. Tapi nyala pijar merah di tepiannya telah padam. Tanah di tempat
terjadinya ledakan dahsyat tadi menjadi cekung ke dalam bagaikan habis kejatuhan
batu besar dari puncak pohon cemara.
Dengan terhuyung-huyung Teratai Kipas menghampiri senjatanya dan
memungutnya kembali. Saat memungutnya ia hampir saja tersungkur jika tidak
segera menopang tubuh dengan tangan kiri dan lutut kirinya. Sedangkan Suto Sinting
berjalan dari tempatnya terkapar dalam keadaan sehat. Langkahnya sedikit lamban
dan kurang gagah karena pengaruh ketuaannya. Rupanya ia tadi sudah segar
kembali. "Teratai Kipas, kau terluka dalam cukup parah. Kusarankan minumlah tuakku
ini beberapa teguk untuk mengobati luka dalammu itu!"
"Hmm...!" Teratai Kipas bangkit dengan limbung, lalu berusaha untuk berdiri
tegak walau kedua kakinya tampak bergetar samar-samar. la memandang dengan
sikap curiga ketika Suto Sinting menyodorkan bumbung tuaknya.
"Kau pikir aku lawan yang mudah kau jebak dengan racun tuakmu itu?"
katanya sebagai pelampiasan sikap curiga kepada tuak tersebut.
Suto Sinting tersenyum tipis. Masih tidak menampakkan sikap bermusuhan.
Pertemuan Di Kotaraja 2 Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo Pedang Kiri Pedang Kanan 4
^