Pencarian

Cinta Berlumur Darah 3

Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah Bagian 3


"Setan! Mampus kau! Hiyaaa...!"
Si Pedang Kilat memuncak kembari amarahnya.
Dia tidak peduli lagi kalau lawan begitu mudah menjatuhkan temannya. Sambil
berteriak keras, laki-laki tua itu menyerang dengan senjatanya. Kibasan dan
tusukan pedangnya begitu cepat bagaikan kilat.
Tubuh Pendekar Pulau Neraka seperti tergulung cahaya kemerahan. Memang pantas
kalau dia berjuluk si Pedang Kilat. Gerakan-gerakan pedangnya cepat luar biasa,
dan selalu mendesis-desis seperti seorang musafir kehausan di padang pasir.
Tapi sampai sejauh itu, serangan-serangan si Pedang Kilat belum mendapatkan
hasil yang memuaskan. Gerakan tubuh Bayu begitu lentur, bagai seekor belut. Sulit untuk
menyentuhnya. Dan hal ini membuat si Pedang Kilat semakin bertambah berang.
Si Pedang Kilat mengibaskan senjatanya ke arah kepala. Dengan cepat Bayu
mengangkat tangan kanannya, dan membiarkan pergelangan tangan kanannya yang
tertempel senjata Cakra Maut membentur pedang lawan.
Tring! Si Pedang Kilat tersentak bukan main begitu pedangnya membentur pergelangan
tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Seluruh persendian tangannya bergetar dan
nyeri, bagai tersengat ribuan kala berbisa.
Pada saat laki-laki tua itu menarik tangannya!
pulang, secepat kilat Pendekar Pulau Neraka menyodokkan tangan kirinya ke
lambung. Sodokan dengan pengerahan tenaga dalam itu tidak bisa dihindari lagi.
Laki-laki tua berbaju putih itu mengeluh pendek, dan tubuhnya agak terbungkuk.
"Hiyaaa...!"
Sambil berteriak keras, Bayu mengirimkan satu pukulan telak ke rahang lawannya.
Si Pedang Kilat tersentak ke belakang. Tulang rahangnya serasa patah, sedangkan
kepalanya sampai terangkat. Saat itu Bayu tidak membuang-buang kesempatan lagi
Kakinya terayun deras, dan masuk tepat di dada lawannya.
"Akh!"
Laki-laki tua kurus itu terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak.
Kesempatan itu digunakan Bayu untuk mengibaskan tangan kanannya ke depan.
Secercah cahaya keperakan melesat cepat bagaikan kilat. Dan belum juga si Pedang
Kilat sempat ambruk ke tanah, senjata Cakra Maut yang dilepaskan Pendeka Pulau
Neraka amblas di dadanya.
"Aaa...!" si Pedang Kilat menjerit melengking.
Darah langsung muncrat dengan keras, begitu Cakra Maut kembali melesat keluar
dari dalam dada yang berlubang cukup besar itu. Bayu mengangkat tangannya ke
atas kepala, maka Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangan kanannya.
Pendekar Pulau Neraka itu membalikkan tubuhnya.
Pandangannya langsung tertuju pada si Rantai Iblis Pencabut Nyawa.
Langkah kakinya mantap, dan tatapan matanya tajam menusuk Si Rantai Iblis
Pencabut Nyawa beringsut mundur menyeret tubuhnya. Raut wajahnya nampak pucat pasi, dan seluruh
tubuhnya bergetar bagai terserang malaria. Keringat sebesar butiran jagung
menitik membasahi kening dan lehernya.
"Kau akan bernasib sama dengan temanmu,
keparat!" dingin suara Bayu Hanggara.
"Tolong..., jangan bunuh aku...," ratap si Rantai Iblis Pencabut Nyawa memelas.
"Hey! Kenapa ketakutan begitu" Tadi kau kelihatan garang, dan bangga dengan
julukanmu yang memuak-kan," ejek Bayu.
"Tuan, aku mohon. Jangan bunuh aku...," rengek laki-laki berbaju biru tua itu.
"Tidak kusangka, kau akan ketakutan juga menghadapi kematian," sinis kata-kata
Bayu. "Apa yang kau inginkan dariku, Tuan. Pasti akan kuberikan, asal kau tidak
membunuhku."
"Baik! Katakan, siapa yang menyuruhmu menghadang jalanku?" tanya Bayu, dingin
suaranya. "Pendekar Pulau Neraka."
"Aku tidak main-main, Setan!"
Plak! Tamparan tangan Bayu begitu keras mendarat di wajah laki-laki itu, sehingga
tubuhnya sampai terguling beberapa kali. Bayu melompat dan menjejak dada orang
itu. Wajahnya nampak bengis, ditambah matanya yang memerah membara terselimut
hawa kemeriahan.
"Siapa yang menyuruhmu" Jawab!" bentak Bayu gusar.
"Aku tidak bohong, Tuan. Aku.... Akh!"
Bayu jadi geram setengah mati. Ditekannya dada orang itu dengan kuat. Darah
menyembur muncrat
dari mulut laki-laki berbaju biru tua itu. Tulang-tulang dadanya berkeretuk
patah. Pendekar Pulau Neraka itu setengah membungkuk, dan mencengkeram leher si
Rantai Iblis Pencabut Nyawa. Cengkeramannya begitu kuat, membuat laki-laki
bertampang angker itu meringis kesakitan.
"Di mana dia sekarang?" tanya Bayu tetap dingin suaranya.
"Di Istana Kadipaten."
"Hih!"
Bayu mencampakkan tubuh orang itu dengan
kasar. Lalu sambil berteriak keras, dihantamnya dada laki-laki berbaju biru tua
itu dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Si Rantai Iblis Pencabut Nyawa tidak
mampu bersuara lagi. Kepalan tangan Bayu me-lesak ke dalam dada hingga
pergelangan tangan.
Bayu mendorong tubuh orang itu dengan kakinya.
Tangan kirinya berlumuran darah segar begitu keluar dari dalam dada si Rantai
Iblis Pencabut Nyawa.
Sebentar dipandangi tubuh-tubuh yang ber-
gelimpangan tak bernyawa lagi.
"Siapa pun dia, harus mampus di tanganku!" desis Bayu menggeram penuh amarah.
Pendekar Pulau Neraka itu segera melesat pergi ke arah Kadipaten Jati Anom.
Lesatan yang begitu sempurna dan cepat bagaikan kilat. Dalam sekejap mata saja,
bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Sementara di sekitar tepian hutan
itu kembali sunyi senyap dengan dua sosok tubuh menggeletak tak bernyawa lagi.
*** Hari masih siang. Matahari telah naik tinggi tepat di atas kepala. Sinarnya yang
terik menyengat, membuat kulit terasa panas terbakar. Kadipaten Jati Anom tampak
sepi lengang, bagaikan sebuah kota mati tak berpenghuni. Hanya ada satu orang
terlihat. Dialah Bayu Hanggara yang berjalan cepat menuju bangunan megah dikelilingi
tembok benteng yang tinggi dan kokoh.
Langkah kaki Pendekar Pulau Neraka itu berhenti di ambang pintu gerbang yang
telah hancur porak-poranda. Sepasang bola matanya tajam merayapi sekelilingnya.
Keadaan bangunan istana kadipaten itu tampak kotor dan berantakan. Suasananya
seperti baru saja terjadi pertempuran dahsyat. Pelahan-lahan Bayu mengayunkan
kakinya melewati pintu gerbang itu.
Ayunan kakinya pelan dan ringan. Tak ada sedikit pun suara terdengar. Hanya
desiran angin saja yang mengusik gendang telinganya. Bayu terus melangkah
melintasi halaman yang luas dan berantakan. Angin siang ini terasa begitu
kencang berhembus me-nerbangkan debu dan dedaunan kering. Pendekar Pulau Neraka
itu berdiri tegak di tengah-tengah halaman depan istana kadipaten yang luas ini.
Sing! "Hup!"
Tiba-tiba saja dari arah depan meluncur sebatang tombak panjang. Bayu segera
memiringkan tubuhnya ke kanan, lalu tangan kirinya bergerak cepat menangkap
tombak itu. Dan belum lagi sempat menarik tubuhnya, kembali sebuah tombak
meluncur ke arahnya.
"Hup! Yaaa...!"
Bayu memutar tombak yang berhasil ditangkapnya, dan dilemparkan dengan
mengerahkan tenaga dalam penuh. Dua batang tombak berbenturan di tengah-tengah,
dan hancur berkeping-keping. Bayu berdiri tegak dengan tangan melipat di depan
dada. "Ha ha ha...!"
Tiba-tiba terdengar suara tawa keras menggelegar.
Jelas tawa itu disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Hal itu
terbukti dengan daun-daunan yang berguguran, dan batu-batu kerikil yang
berlompatan seperti terkena gempa. Bayu segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk
mengimbangi suara tawa itu.
"Hup! Yaaa...!"
Bayu menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, lalu berteriak keras melengking
tinggi. Teriakan yang disertai pengerahan tenaga dalam hampir mencapai taraf
kesempurnaan itu membuat suara tawa berhenti seketika. Bangunan megah itu dibuat
bergetar, bagai diguncang gempa!
Begitu suara teriakan Bayu hilang, dari dalam Istana Kadipaten Jati Anom melesat
sebuah bayangan. Dan tahu-tahu di depan Pendekar Pulau Neraka telah berdiri seorang
laki-laki tua bertubuh agak bungkuk. Bajunya longgar berwarna merah.
Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat dengan kepala berbentuk tengkorak
manusia. Tongkat itu juga berwarna merah bagai berlumur darah.
"He he he...! Kau benar-benar pendekar jantan, Pendekar Pulau Neraka," kata
laki-laki tua itu. Suaranya terdengar kecil dan serak, namun melengking tinggi
menyakitkan telinga.
"Siapa kau?" tanya Bayu ketus.
"Kau akan terkejut bila mendengar namaku,
Pendekar Pulau Neraka," sahut laki-laki tua itu.
"Huh!" Bayu hanya mendengus saja.
"Dengar baik-baik, Anak Muda. Aku yang bernama si Tua Tongkat Merah!" laki-laki
tua itu memperkenalkan diri.
Bayu mengerutkan keningnya sedikit. Memang pernah didengarnya nama itu dari
gurunya. Eyang Gardika di Pulau Neraka. Nama yang menjadi musuh bebuyutan, dan
yang telah membuat cacat Eyang Gardika. Si Tua Tongkat Merah adalah salah satu
dari orang yang mengeroyok guru Bayu itu.
"Sudah lama kuikuti perkembanganmu, Anak
Muda. Sepak terjangmu tidak berbeda jauh dari si keparat Gardika!" kata si Tua
Tongkat Merah itu lagi.
"Mengapa kau memakai namaku?" tanya Bayu.
"He he he.... Aku hanya ingin memancingmu. Aku tahu kau datang ke sini untuk
mencari Adipati Rakondah untuk membalas dendam. Aku juga tahu kau berhasil
membunuhnya. Kesempatan itu kuper-gunakan untuk memancingmu, sekaligus
membuktikan anggapan semua orang yang mengatakan bahwa kau manusia berbahaya
yang tidak boleh dibiarkan hidup!"
"Licik!" geram Bayu marah.
"Kau baru seumur jagung, Anak Muda.
Pengalamanmu belum seberapa dalam pahit getirnya kehidupan rimba persilatan.
Pertarungan tidak hanya mengandalkan kekuatan dan tingginya tingkat kepandaian.
Tapi juga ini...!" si Tua Tongkat Merah menge-tuk-ngetuk keningnya sendiri.
"Tua bangka busuk! Kau harus menanggung
semua kelicikanmu!" dengus Bayu menggeram.
"He he he...! Bocah baru kemarin sore sudah besar kepala. Gurumu saja tidak
mampu menghadapiku....
He he he...!" si Tua Tongkat Merah terkekeh mengejek.
"Setan keparat...! Kubunuh kau! Hiyaaa...!"
Bayu tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi.
Pantang baginya berhadapan dengan orang yang menghina gurunya. Dengan kecepatan
kilat, Pendekar Pulau Neraka itu melompat sambil mengirimkan beberapa pukulan
beruntun. "Uts!"
Si Tua Tongkat Merah berlompatan menghindari serangan Bayu Hanggara. Tubuh tua
setengah bungkuk yang kelihatannya rapuh itu, ternyata begitu gesit dan tangkas.
Gerakan kakinya lincah, dan tubuhnya sangat lentur. Beberapa kali pukulan dan
tendangan Bayu hampir mengenai sasaran, tapi laki-laki tua berbaju merah itu
masih mampu menghindarinya.
"He he he..., kau boleh juga, Anak Muda!" si Tua Tongkat,Merah terkekeh.
"Awas kepala!" bentak Bayu tiba-tiba.
"Uts!"
Si Tua Tongkat Merah langsung berhenti tawanya.
Buru-buru dirundukkan kepalanya begitu tangan kiri Bayu melayang ke arah
kepalanya. Tapi begitu merunduk, tidak terduga sama sekali, tangan kanan
Pendekar Pulau Neraka itu menyodok ke arah lambung.
"Heh!"
Si Tua Tongkat Merah tersentak kaget. Dengan cepat dia melompat mundur
menghindari serangan mendadak dan tidak terduga itu. Kesempatan ini tidak disia-
siakan begitu saja oleh Pendekar Pulau Neraka. Dengan cepat dimiringkan tubuhnya
ke kiri setengah membungkuk, dan kakinya tertekuk hampir menyentuh tanah.
Seketika itu juga tangan kanannya mengibas ke depan.
Secercah cahaya keperakan melesat cepat bagaikan kilat Si Tua Tongkat Merah
terperangah sesaat.
Buru-buru diangkat tongkatnya dan diputarnya dengan cepat, membuat perisai bagi
dirinya sendiri.
Bayu menghentakkan tangan kanannya ke atas, dan Cakra Maut melesat cepat ke
atas. Begitu tangan Bayu menghantam ke bawah, senjata bulat pipih bergerigi enam
buah itu langsung meluruk turun ke bawah.
"Edan!" dengus si Tua Tongkat Merah terperanjat.
Buru-buru dikibaskan tongkatnya ke atas kepala.
Pada saat itu, Bayu melompat cepat dengan kaki kanan tertuju ke depan. Lompatan
yang cepat dan deras itu, membuat si Tua Tongkat Merah kelabakan.
Tidak mungkin ditarik tongkatnya kembali yang berada di atas kepala untuk
menangkis serangan senjata Cakra Maut.
Tidak ada kesempatan lagi. Si Tua Tongkat Merah mendorong tangan kirinya ke
depan, dan langsung berbenturan dengan telapak kaki Pendekar Pulau Neraka.
"Akh!"
Si Tua Tongkat Merah terpental dua batang
tombak ke belakang. Sedangkan Bayu melesat ke udara, dan bersalto dua kali
sebelum kakinya kembali
menjejak tanah Sementara si Tua Tongkat Merah makin terperanjat setengah mati.
Ternyata pada saat yang bersamaan, senjata Cakra Maut telah membabat tongkatnya
hingga terpotong jadi dua bagian. Si Tua Tongkat Merah memang tidak bisa membagi
dua kekuatan secara penuh. Dua serangan yang datang secara bersamaan membuatnya
harus membagi dua kekuatan. Dan itu sangat fatal akibatnya.
Tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Seluruh tulang tangan kirinya remuk,
sedangkan tongkat kebanggaannya terpotong jadi dua. Si Tua Tongkat Merah hampir
tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya. Benar-benar tidak disangka
kalau Pendekar Pulau Neraka bisa melakukan dua
serangan dalam waktu yang bersamaan!
Hal itu tidak pernah diduga sebelumnya. Dia kenal betul Gardika yang menjadi
guru tunggal Pendekar Pulau Neraka. Beberapa kali si Tua Tongkat Merah bentrok
dengan Gardika. Dan sudah barang tentu dia mengenal betul jurus-jurusnya.
Tingkat kepandaiannya dengan Gardika memang seimbang. Bahkan kalau boleh
dikatakan, dia berada satu tingkat di atasnya. Tapi kenyataan yang kini
dihadapinya, sungguh diluar dugaan.
"Kau ternyata lebih sempurna dari Gardika, Pendekar Pulau Neraka!" kata si Tua
Tongkat Merah memuji tulus.
"Hhh! Pertarungan belum selesai, Tua Bangka!"
dengus Bayu ketus.
"Jangan besar kepala dulu! Aku belum kalah!"
"Hup, yaaa...!"
*** Pertarungan antara Bayu Hanggara dengan si Tua Tongkat Merah kembali berlangsung
sengit. Masing-masing mengerahkan jurus-jurus andalannya.
Semakin banyak jurus yang dikeluarkan, semakin disadari kalau Pendekar Pulau
Neraka berada di atas angin.
Tentu saja hal ini sangat mengejutkan si Tua Tongkat Merah. Jurus-jurus yang
dimiliki Pendekar Pulau Neraka tidak berbeda jauh, bahkan sama persis dengan
yang dimiliki Gardika. Hanya saja dalam diri Pendekar Pulau Neraka, jurus-jurus
itu semakin mantap dan lebih sempurna. Bahkan begitu banyak gerak tipuan
disertai penggabungan beberapa jurus.
Penggabungan beberapa jurus inilah yang membuat si Tua Tongkat Merah jadi
kelabakan. Dia selalu mati langkah, dan sering kecolongan. Beberapa kali pukulan
dan tendangan mendarat di tubuhnya, meskipun pukulan dan tendangannya juga bisa
disarangkan ke tubuh Pendekar Pulau Neraka. Tapi tanpa tongkat yang utuh, si Tua
Tongkat Merah bagaikan macan yang kehilangan hampir seluruh giginya.
"Modar! Hiya...!" teriak Bayu keras.


Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan cepat Pendekar Pulau Neraka itu
melepaskan beberapa pukulan beruntun dari arah depan, lalu disusul dengan dua
buah tendangan kaki kanan dan kiri. Serangan itu demikian cepat, sehingga
membuat si Tua Tongkat Merah kewalahan menghindarinya. Hingga....
"Akh!" si Tua Tongkat Merah memekik tertahan.
Satu pukulan keras jurus 'Pukulan Racun Hitam'
berhasil mendarat di dadanya. Si Tua Tongkat Merah terhuyung ke belakang dengan
tangan kiri menekap
dada. Begitu tangannya diturunkan, tampak di dada yang kurus tergambar telapak
tangan berwarna hitam kebiru-biruan. Dari sudut bibirnya pun mengalir darah
kental kehitaman.
Bayu berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada. Matanya menatap tajam,
sedangkan bibirnya menyunggingkan senyuman tipis dan sinis.
Sementara si Tua Tongkat Merah menggerak-
gerakkan tangannya, berusaha menghimpun hawa murni untuk membendung racun yang
mulai menjalar merasuki peredaran jalan darahnya. Disadarinya kalau 'Pukulan
Racun Hitam' sangat berbahaya.
"Kau hebat, Pendekar Pulau Neraka...," pelan dan agak tersendat suara si Tua
Tongkat Merah. "Dan kau tinggal menunggu kematian, Tua
Bangka!" sambut Bayu dingin.
"Ugh!"
Si Tua Tongkat Merah menyemburkan darah kental kehitaman dari mulutnya. Tubuhnya
semakin limbung, dan kakinya bergetar, sepertinya tidak mampu lagi menopang
berat tubuhnya. Dan pada muntahan darah kedua kalinya, tubuhnya langsung ambruk.
Bayu melepaskan jurus 'Pukulan Racun Hitam'
dengan tenaga penuh. Dan sudah tentu akibatnya sangat fatal. Bukan hanya racun
yang menjalar di seluruh aliran darah, tapi juga membuat tulang-tulang dada
remuk Sebentar. si Tua Tongkat Merah menggelepar, lalu diam tidak bergerak-gerak
lagi. Saat itu juga nyawanya melayang dari badan.
"Hhh...!" Bayu mendesah panjang
*** 7 Bayu baru saja membalikkan tubuhnya, menjadi terperanjat karena di depannya kini
sudah berdiri seorang laki-laki tua berjubah putih. Bayu kenal betul siapa laki-
laki tua itu. Dia tidak lain dari Eyang Watuagung. Seorang tua yang selalu jadi
panutan dan amat disegani seluruh rakyat Kadipaten Jati Anom.
Bahkan para penduduk desa-desa di sekitar Gunung Rangkas pun sangat
menghormatinya. Hal itu bisa saja terjadi karena Eyang Watuagung pernah menjabat
sebagai adipati di Kadipaten Jati Anom ini.
"Eyang...," desis Bayu merasa sungkan.
"Untuk apa kau kembali lagi ke sini, Pendekar Pulau Neraka?" tanya Eyang
Watuagung. Dingin suaranya.
"Rasanya tidak perlu kujelaskan lagi, Eyang," sahut Bayu seraya melirik mayat si
Tua Tongkat Merah.
"Kau tahu siapa dia?"
"Ya! Dia salah seorang yang telah menganiaya dan membuat cacat guruku," sahut
Bayu lagi. "Aku tidak peduli siapa gurumu!"
Bayu agak tertegun mendengar kata-kata bernada kasar itu. Tapi dicobanya
bersabar. Meskipun Eyang Watuagung adalah guru dari orang yang pernah jadi
musuhnya, Bayu tetap menghormati karena sikapnya yang arif dan bijaksana. Bahkan
Eyang Watuagung pernah mencoba menghalangi tindakannya dan hampir membunuhnya di
dasar jurang. Bayu dapat memaklumi hal itu. Seorang guru pasti tidak akan
berdiam diri melihat muridnya terancam bahaya.
Demikian juga sebaliknya.
"Kau tahu, orang yang terbujur itu" Dia bernama Hastama, adik kandungku!" kata
Eyang Watuagung dengan nada suara agak tertahan.
"Oh!" Bayu benar-benar terkejut mendengarnya.
Sama sekali tidak disangka kalau si Tua Tongkat Merah adalah adik kandung Eyang
Watuagung. Sesaat kemudian Pendekar Pulau Neraka itu
mengeluh dalam hati. Bukannya gentar menghadapi laki-laki tua itu, tapi rasa
sungkan dan hormat membuatnya enggan untuk kembali bentrok.
"Aku bisa memahami dan memaklumi saat kau
membunuh kedua muridku, Pendekar Pulau Neraka!
Tapi sekarang, kau juga telah membunuh adik kandungku! Di saat aku sedang
berusaha menyadarkan kekeliruannya. Perbuatanmu benar-benar tidak bisa kumaafkan
lagi!" semakin dingin nada suara Eyang Watuagung.
"Eyang! Aku sungkan padamu, dan aku juga
menghormatimu sebagaimana rakyat kadipaten ini menghormatimu. Aku membunuh
muridmu karena dia telah membantai keluargaku dan memporak-porandakan padepokan
milik ayahku. Dan sekarang adik kandungmu, dia sengaja memancingku ke sini
dengan menyebarkan fitnah dan merusak nama baikku. Dia telah menganiaya guruku,
dengan mem-buntungi kedua kaki dan membutakan matanya! Dia tidak suka ada orang
yang mewarisi ilmu-ilmu Eyang Gardika, makanya sengaja memancingku ke sini dan
ingin membunuhku karena aku murid musuhnya!
Apakah aku salah kalau semua yang kulakukan hanya
untuk membela diri dan rasa bakti pada orang tua dan guruku?" lantang dan
gamblang kata-kata Bayu.
Eyang Watuagung terdiam.
"Eyang adalah seorang yang sangat dihormati dari menjadi panutan semua orang.
Aku pun sangat menghormatimu. Sepertinya berat jika rasa hormatku rusak hanya
karena masalah kecil dan kesalah-pahaman yang tidak berarti," lanjut Bayu.
Eyang Watuagung semakin terdiam mendengar
penjelasan Bayu yang gamblang. Diakui kalau dia tidak bisa menyalahkan penuh
pada Pendekar Pulau Neraka itu. Secara jujur, Eyang Watuagung merasa malu dengan
perbuatan kedua murid dan adik kandungnya. Tidak ada salahnya jika Bayu membalas
dendam dan membela martabat orang tua dan
gurunya. Di samping itu pula, kehadiran Bayu sekarang ini bukan kehendaknya
sendiri. Secara diam-diam, Eyang Watuagung memang
mengikuti Pendekar Pulau Neraka saat memasuki Kadipaten Jati Anom ini. Dan dia
terus mengawasi kejadian di halaman depan istana kadipaten ini.
Semua pembicaraan dan semua yang terjadi didengar dan dilihatnya. Hatinya
mengakui kalau sikap dan perbuatan Bayu adalah ciri seorang pendekar sejati.
Datang menantang lawan dengan sikap jantan dan tidak bertindak curang.
Pertarungannya juga murni, meskipun terlihat kejam pada lawannya. Hal itu memang
bisa dimaklumi dalam dunia kependekaran.
"Maaf, kalau kata-kata dan perbuatanku terlalu kasar dan menyinggung perasaanmu
selama ini. Aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa lagi untuk
menjelaskannya. Semua yang kulakukan bukan berdasar kebencian semata. Aku
hanya...."
"Cukup!" sentak Eyang Watuagung memotong.
Bayu langsung diam.
"Sebaiknya kau cepat tinggalkan kadipaten ini!
Dan kuminta jangan kembali lagi ke sini dengan meninggalkan mayat-mayat," tegas
Eyang Watuagung.
Sesaat Bayu tertegun.
"Aku tidak menyalahkanmu, dan juga tidak membenarkan segala tindakanmu. Meskipun
kau telah melangkahiku. Dan sebelum pikiranku berubah, sebaiknya segera kau
tinggalkan Kadipaten Jati Anom!" tegas kata-kata Eyang Watuagung.
Sejenak Bayu menatap pada laki-laki tua berjubah putih itu, kemudian melangkah
pergi. Eyang Watuagung masih berdiri tegak memandangi
kepergian Pendekar Pulau Neraka itu. Batinnya terasa terpukul dengan semua
peristiwa yang terjadi secara beruntun di tanah kelahirannya ini.
"Oh, Tuhan..., mengapa Kau timpakan cobaan begini berat padaku...?" desis Eyang
Watuagung lirih.
Eyang Watuagung melangkah mendekati mayat si Tua Tongkat Merah. Dia berlutut di
samping tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Batinnya benar-benar bergolak
menghadapi kenyataan pahit ini. Hatinya menjerit dan teramat sakit. Kematian
adik kandungnya ini teramat tragis, dan berlangsung di depan matanya.
"Aku memang sudah berjanji untuk selalu me-lindungimu, Adikku. Tapi kau bukan
anak kecil lagi.
Selalu kuperingatkan agar kau jangan mengobarkan api yang hampir padam...,"
lirih suara Eyang Watuagung.
Kepala laki-laki tua itu tertunduk dalam. Sebentar matanya terpejam rapat, lalu
kembali terbuka seraya
mengangkat kepalanya ke atas. Tarikan napasnya begitu berat.
"Sejak kecil kita selalu bersama-sama, Adikku. Kita selalu saling membela. Kita
selalu saling merasakan bila tersakiti. Kini kau telah tiada, dan aku merasa
diriku juga telah mati. Ah...! Seharusnya aku membalas kematianmu, Hastama.
Tapi..., ah, tidak!
Aku tidak boleh mendendam. Dendam bukan satu-satunya jalan mencari penyelesaian.
Dendam dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan baru yang tidak akan pernah
berakhir, Hastama! Relakan dirimu pergi, dan aku juga akan merelakanmu. Biarlah
semuanya menjadi kenangan dan menjadi cambuk dalam kehidupan. Selamat jalan,
Adikku," semakin lirih suara Eyang Watuagung.
Eyang Watuagung mengangkat tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi itu, kemudian
pelahan-lahan kakinya melangkah. Saat itu senja mulai merayap turun.
Bias-bias cahaya matahari mengintip dari balik awan hitam. Eyang Watuagung terus
berjalan pelahan-lahan meninggalkan halaman depan Istana Kadipaten Jati Anom.
*** Eyang Watuagung berdiri tegak memandangi
gundukan tanah merah yang masih baru. Pada bagian ujungnya tertancap sebatang
tongkat berkepala tengkorak manusia. Tanpa terasa, setitik air bening menggulir
di pipinya. Setegar apa pun, hatinya terasa teriris juga menghadapi kematian
satu-satunya adik kandung yang sudah bertahun-tahun berpisah.
Sejak kemarin sore, sampai menjelang pagi ini, Eyang Watuagung berdiri mematung
di samping makam adiknya. Dia baru mengangkat kepala begitu merasakan sengatan matahari
mulai membakar kulitnya. Saat itu baru disadari kalau telah semalaman penuh dia
berdiri dengan pikiran meng-ambang, melayang-layang tidak tentu arah dan
tujuannya. Kepalanya berpaling ke kanan ketika mendengar suara langkah kaki menuju ke
arahnya. Kelopak matanya agak menyipit melihat Intan Delima dan Indranata
datang. Eyang Watuagung melangkah menuju sebuah pohon rindang, kemudian duduk di
bawah pohon itu. Intan sempat berhenti dan memandang gundukan tanah merah itu,
kemudian mendekati dan duduk di samping Indranata yang telah lebih dahulu berada
di depan laki-laki tua berjubah putih itu.
"Dari mana kalian tahu aku ada di sini?" tanya Eyang Watuagung.
"Seorang perambah hutan kebetulan melihat
Eyang berada di sini," sahut Indranata.
"Eyang! Makam siapa itu?" tanya Intan melirik kuburan yang masih baru.
"Adikku," sahut Eyang Watuagung.
"Eyang Hastama?" Intan ingin kejelasan.
"Ya. Intan memandangi kuburan itu. Dia ingat ketika masih kecil dulu, Eyang Hastama-
lah yang mengajarkan dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Dan ketika ibunya
meninggal, Eyang Hastama pula yang selalu menghiburnya. Meskipun sikap dan
segala tindakannya kasar, tapi di mata Intan, Eyang Hastama merupakan seorang
yang paling baik dan bijaksana.
"Kapan Eyang Hastama meninggal?" tanya Intan kembali berpaling ke arah Eyang
Watuagung "Kemarin sore," sahut Eyang Watuagung.
"Bertarung?" tanya Intan lagi.
"Ya."
"Dengan siapa?"
"Pendekar Pulau Neraka."
Seketika itu juga Intan merasakan jantungnya berhenti berdetak. Sedangkan
Indranata langsung menatap pada gadis itu. Sementara Intan menatap tajam,
meminta penjelasan pada laki-laki berjubah putih di depannya.
"Sudanlah, Intan. Pertarungan itu jujur dan ksatria," jelas Eyang Watuagung
seolah-olah bisa mengerti perasaan dan tatapan mata gadis itu.
"Keterlaluan! Benar-benar keparat dia!" geram Indranata.
"Indranata!" sentak Eyang Watuagung.
"Maaf, Eyang. Perbuatan Pendekar Pulau Neraka tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Ini sudah keterlaluan!
Pertama, yang dibunuh Paman Adipati Rakondah dan Paman Panglima Bantaraji.
Semuanya murid Eyang.
Dan sekarang dia membunuh Eyang Hastama. Entah besok, lusa, atau kapan waktu dia
pasti membunuh kita semua! Aku tidak bisa menerima semua ini, Eyang!
Perbuatannya harus dihentikan!" ujar Indranata berapi-api.
"Hentikan kata-katamu, Indranata!" bentak Eyang Watuagung.
"Eyang...."
"Cukup!"
Indranata langsung bungkam. Kepalanya tertunduk dalam. Bentakan Eyang Watuagung
begitu keras, dan
menciutkan hatinya. Sementara Intan hanya diam saja. Hatinya benar-benar tidak
menentu saat ini.
"Indranata! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk mendendam. Buang jauh-jauh
perasaan dendam di hatimu. Aku tidak mengerti, setan mana yang mengurung hatimu, sehingga
kau bisa berkata begitu?" Eyang Watuagung menggeleng-gelengkan kepala.
"Maafkan, Eyang. Aku hanya...."
"Ah, sudahlah!" potong Eyang Watuagung cepat.
Indranata kembali diam. Dia memang tidak
mungkin membantah dan berdebat dengan gurunya ini. Meskipun hatinya masih
membara, tapi tidak mungkin untuk menentang kata-kata Eyang Watuagung. Indranata
melirik Intan yang hanya diam saja tanpa berkata sepatah kata pun.
"Untuk apa kalian meninggalkan pondok?" tanya Eyang Watuagung setelah lama
terdiam. Tidak ada yang menjawab.
"Intan...?" Eyang Watuagung menatap Intan
Delima. 'Mencari Eyang," sahut Intan pelan suaranya.
"Kau lupa pesanku, Intan."
"Sudah tiga purnama lebih Eyang tidak kembali.
Aku hanya khawatir, Eyang. Tidak ada maksud lain,"
jelas Intan agak bergetar suaranya.
"Sebaiknya kalian kembali ke pondok. Aku akan ke Kadipaten Jati Anom, sampai ada
pengganti adipati,"
kata Eyang Watuagung.
Intan dan Indranata saling berpandangan,
kemudian beranjak bangkit berdiri. Setelah menjura memberi hormat, kedua anak
muda itu berbalik dan melangkah pergi. Sementara Eyang Watuagung juga
segera berlalu menuju Kadipaten Jati Anom. Tapi baru saja berjalan beberapa
langkah, mendadak berhenti.
"Hm..., mereka pasti bukan mencariku," gumam Eyang Watuagung. "Ah, tidak! Itu
tidak boleh terjadi...!"
Eyang Watuagung tersentak kaget, dan langsung berbalik. Sebentar dipandang arah
kepergian Intan dar Indranata pergi. Laki-laki tua berjubah putih itu baru
menyadari kalau kepergian cucu dan muridnya bukan menuju ke Gunung Rangkas.
Tanpa berpikir panjang lagi, Eyang Watuagung langsung melesat mengejar kedua
muridnya. *** Saat itu Intan dan Indranata sudah tiba di tepi hutan yang berbatasan dengan
Desa Sirna Galih.
Mereka sempat terkejut begitu melihat tiga sosok mayat tergeletak berlumuran
darah. Sekitar tempat itu juga porak-poranda, seperti bekas terjadi pertempuran.
Intan mengajak Indranata untuk terus berlalu.
"Eyang Watuagung pasti marah kalau tahu kita tidak kembali ke pondok, Intan,"
kata Indranata sambil terus melangkah menyusuri tepian hutan itu.
"Aku kan sudah bilang, tidak ada gunanya mencari Pendekar Pulau Neraka. Eyang
Watuagung juga tidak mengijinkan," sahut Intan.
"Tapi, Intan. Perbuatannya sudah keterlaluan!"
Intan tidak menyahuti.
"Kau masih mencintainya, Intan?" tanya Indranata setengah menyelidik.
"Entahlah," sahut Intan mendesah.
Indranata berhenti melangkah. Ditatapnya Intan Delima dalam-dalam. Setiap kali


Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menanyakan hal itu, dan jawabannya selalu sama. Maka dada Indranata langsung
bergemuruh. Indranata mengakui kalau dia merasa cemburu. Yang diinginkan, agar
Intan menumpahkan rasa cinta hanya pada dirinya saja.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tegur Intan.
"Sebaiknya kita kembali saja ke pondok," kata Indranata pelan. Suaranya
terdengar datar tanpa tekanan sama sekali.
"Kenapa?" kali ini Intan agak terkejut.
"Tidak mungkin aku dapat menghadapinya. Kau pasti tidak ingin melihat dia
terluka, apalagi tewas,"
ada nada kecemburuan pada suara Indranata.
Intan Delima hanya memandang pada sorot mata pemuda itu. Bisa dirasakan ada nada
kecemburuan pada suara lndranata. Dia tahu kalau pemuda itu mencintainya dengan
tulus dan murni, lapi Intan belum bisa memupuskan cintanya pada Bayu
Hanggara, Pemuda tampan dan gagah, juga berilmu sangat tinggi. Pemuda yang telah
membuat hatinya terpisah-pisah bagai kepingan kapal terhempas badai.
Gadis itu memang mendendam dan membenci
Pendekar Pulau Neraka. Tapi juga sangat mencintainya. Ingin dia membunuhnya,
mencabik-cabik tubuh nya, meminum darahnya. Tapi rasa cinta yang amat besar
selalu menghalangi dan memupuskan keinginannya itu. Sedangkan cinta lndranata
begitu besar, tulus dan murni. Apakah dia akan mengecewakan pemuda itu" Padahal
pemuda ini selalu memperhatikan, dan rela mengorbankan nyawa demi cintanya.
"Ah...!" Intan menggeleng-gelengkan kepalanya
"Ayo, jalan lagi," ajaknya.
"Kau menyembunyikan sesuatu, Intan," tebak Indranata.
"Tidak!" sahut Intan. "Ah, sudahlah. Ayo kita cari Pendekar Pulau Neraka. Aku
pasti akan membantumu untuk membunuhnya!"
"Kau tidak sungguh-sungguh, Intan."
"Aku serius!"
"Sungguh?"
"Iya!"
lndranata tersenyum mendengar jawaban bernada sungguh-sungguh itu. Kemudian
dilingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu dan dipeluknya erat-erat.
Namun dengan halus Intan melepaskan pelukan pemuda itu. Agak terkejut juga gadis
itu, karena pelukan lndranata demikian ketat dan sukar dilepaskan.
"Kakang...."
lndranata tidak peduli lagi dengan penolakan Intan. Dengan liar disumpalnya
bibir gadis itu dengan bibirnya. Intan hanya bisa menggumam dan mendesis. Gadis
itu memegang tangan lndranata yang mulai nakal merayapi tubuhnya. Dan pada saat
bibir pemuda itu lepas dari bibirnya, Intan segera melangkah mundur seraya
mendorong dada pemuda itu dengan halus.
"Kau nakal, Kakang," desah Intan agak terengah.
lndranata hanya tersenyum saja. Ingin digamitnya pinggang gadis itu kembali,
tapi Intan lebih cepat berkelit dan melangkah kembali. lndranata mengikutinya,
dan mensejajarkan langkahnya di samping Intan.
Tangannya memeluk pinggang gadis itu. Intan tidak bisa menolak tangan yang
melingkari pinggangnya.
Mereka terus berjalan tanpa berkata-kata lagi.
Sesekali Intan menggelinjang jika jari-jari tangan lndranata mulai nakal. Dan
saat tiba di tepi sungai, langkah mereka langsung terhenti. Pandangan mereka
tidak berkedip, tertumbuk pada sesosok tubuh yang tengah duduk bersandar di
bawah pohon rindang. Saat itu Intan merasa jantungnya berhenti berdetak
lndranata melepaskan pelukannya di pinggang gadis itu.
"Kakang Bayu...," desis Intan tidak sadar.
*** 8 Pemuda berbaju kulit harimau yang duduk bawah pohon itu berpaling. Keningnya
sedikit berkerut melihat Intan dan Indranata. Pemuda itu bangkit dan berdiri
tegak dengan tangan melipat di depan dada.
Sedangkan Indranata melangkah menghampiri.
Tatapan matanya tajam menusuk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Indranata langsung melompat dan menyerang. Tentu
saja Bayu terkejut, lalu buru-buru melompat ke samping menghindari serangan itu.
Tapi Indranata tidak menghentikan serangannya. Gagal dengan serangan pertama,
maka disusul dengan serangan kedua yang lebih hebat.
"Hey, tunggu...!" seru Bayu terus berkelit menghindari serangan yang gencar itu.
"Ayo! Lawanlah aku, pendekar keparat! Kita bertarung sampai mati!" geram
Indranata. "Hup!"
Bayu melentingkan tubuhnya ke atas ketika kaki Indranata berputar menyambar ke
arah kakinya. Dua kali Bayu berputar di udara, kemudian dengan manis mendarat
agak jauh dari pemuda itu. Sementara Intan Delima tetap diam. Perasaannya
diliputi kebimbangan.
"Ada apa ini" Mengapa kau menyerangku?" tanya Bayu minta penjelasan.
"Jangan banyak tanya! Kau harus mampus
sekarang juga!" bentak Indranata.
"Hey...! Hup!"
Bayu tidak dapat bertanya lagi, karena Indranata kembali menyerang dengan jurus-
jurus tangan kosong yang cepat dan bertenaga dalam cukup tinggi. Pukulan-pukulan
Indranata demikian dahsyat. Pohon-pohon di sekitarnya tumbang berantakan terkena
pukulan nyasar. Bayu tetap berkelit dan berlompatan menghindar tanpa balas
menyerang. Beberapa kali Indranata diperingatkan agar berhenti menyerang, tapi
tidak digubris sama sekali.
"Berhenti...!" teriak Intan keras dan tiba-tiba.
Bayu seketika menoleh. Dan pada saat yang sama, Indranata melontarkan satu
pukulan telak disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Bayu tidak bisa
mengelak lagi. Tubuhnya terpental ketika pukulan Indranata menghantam telak
dadanya. Sebuah pohon yang sangat besar langsung terbentur punggung Pendekar Pulau Neraka
itu. "Hoek...!"
Bayu memuntahkan darah kental dari mulutnya.
Bergegas dia bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan tangannya. Dia tengah
menghimpun hawa murni yang kemudian disalurkannya ke bagian dada. Rasa sesak
menyelimuti seluruh dadanya. Pukulan Indranata demikian keras dan hampir
meremukkan tulang-tulang dada Pendekar Pulau Neraka itu.
Sekali lagi Bayu memuntahkan darah dari mulutnya, kemudian menatap Indranata
yang sudah melo-loskan pedang pendek berwarna hitam pekat. Bayu menggeleng-
gelengkan kepalanya sebentar, mencoba mengusir rasa pening akibat napasnya
sempat ter-ganggu tadi. Sementara Intan berlari menghampiri Pendekar Pulau
Neraka itu, tapi Indranata lebih cepat melompat menghadang.
"Intan...!" sentak Indranata seraya menatap tajam pada gadis itu.
Intan tampak kebingungan. Sebentar menatap Indranata, sebentar kemudian beralih
pada Bayu Hanggara. Sementara itu Pendekar Pulau Neraka berhasil mengatur
napasnya kembali, meskipun dadanya masih sedikit terasa nyeri.
"Kakang, sudah..., jangan diteruskan," pinta Inta memohon.
"Aku harus membunuhnya, Intan! Dia berhutang tiga nyawa, dan aku harus membalas
kematian mereka!" tegas Indranata.
"Lupakan saja, Kakang."
"Lupakan" Heh! Tidak semudah itu, Intan! Dia telah membunuh dua orang murid
Eyang Watuagung, membunuh ayahmu, membunuh adik kandung Eyang, Dan dia juga
telah menyakiti hatimu! Apakah semua ini harus dilupakan" Dan membiarkannya
bebas hidup lalu membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Tidak, Intan. Aku
tidak bisa membiarkan orang seperti dia hidup lebih lama lagi!" lantang suara
Indranata. "Aku mohon padamu, Kakang. Lupakan saja
Sebaiknya kita kembali ke pondok," kata Intan berharap.
"Minggiriah, Intan!" dingin nada suara Indranata.
"Kakang... Oh!"
Intan terdorong ke samping. Indranata langsung melompat menendang Pendekar Pulau
Neraka. Saat itu Bayu memang sudah siap untuk menghadapi serangan pemuda itu
kembali. Dan pada saat pedang hitam di tangan Indranata menebas ke arah
lehernya, dengan cepat Bayu menarik kepalanya ke belakang.
Dengan gerakan bagaikan kilat, kaki kanannya cepat melayang menghantam perut
Indranata. "Hugh!" Indranata mengeluh tertahan.
Selagi tubuh Indranata terbungkuk, satu pukulan keras mendarat di wajahnya.
Kepala pemuda itu terdongak ke atas. Dan sekali lagi Bayu mendaratkan tendangan
keras ke dada pemuda itu. Indranata langsung terjungkal ke belakang. Namun
pemuda itu cepat bangkit kembali.
"Kakang...!" Intan menghampiri Indranata.
Gadis itu memeluk dan menghapus darah yang meleleh di sudut bibir pemuda itu.
Indranata melepaskan pelukan Intan dan mendorongnya ke samping.
Dia menggeram hebat, dan kembali menyerang Pendekar Pulau Neraka dengan jurus-
jurus 'Naga Kembar'.
Kali ini Bayu sedikit kerepotan juga meng-
hadapinya. Jurus-jurus yang dimainkan Indranata luar biasa dahsyatnya. Tebasan
pedangnya menimbulkan hawa panas yang menyesakkan dada. Tempat di sekitar
pertarungan seperti hampa udara. Bayu segera mengalihkan pernapasannya melalui
perut. Disadarinya bahwa menghadapi jurus itu tidak dapat dilakukan dengai pernapasan
biasa. Jurus demi jurus berlalu cepat. Tidak terasa, lndranata telah menghabiskan lebih
dari tiga puluh jurus. Tapi sampai sejauh itu belum bisa menyentuh-kan pedangnya
ke tubuh Pendekar Pulau Neraka.
Meskipun beberapa kali pukulan dan tendangannya berhasil disarangkan, tapi dia
juga tidak luput dari pukulan dan tendangan Pendekar Pulau Neraka.
"Huh!" Indranata mendengus keras.
Memasuki jurus yang keempat puluh, Indranata mulai merasa tangannya pegal dan
kesemutan. Lalu pelahan-lahan tenaganya seperti terkuras, terserap ke dalam
Pedang Naga Hitam Kembar. Indranata sadar kalau dalam beberapa saat lagi pasti
tidak dapat mengendalikan pedangnya. Dengan demikian,
kemungkinan mati kehabisan tenaga. Tapi kebencian yang memuncak dan rasa cemburu
yang meng-gelegak di dalam dada membuatnya tidak peduli.
Bahkan semakin ganas menyerang, meskipun
gerakan-gerakan tubuhnya mulai tidak teratur.
Sementara itu, Intan yang menyaksikan jalannya pertarungan dengan penuh perasaan
kecemasan dan kebimbangan, mulai menyadari kalau Indranata tidak akan mampu
bertahan lebih lama lagi. Jelas ini akan membahayakan dirinya sendiri, maupun
lawannya. Pedang itu tidak dapat dikendalikan, dan akan bergerak sendiri disertai hawa
kematian. Pedang itu tidak akan dapat diam sebelum minum darah dari lawannya.
"Oh, tidak...! Ini tidak boleh terjadi!" desis Intan cemas.
Saat itu juga Intan Delima segera melesat sambil mencabut pedangnya yang bentuk
dan warnanya sama persis dengan pedang di tangan Indranata.
"'Naga Kembar'...!" teriak Intan keras.
Mendengar teriakan itu, Indranata langsung mengangkat pedangnya ke atas. Intan
segera membentur-kan pedangnya dengan pedang di tangan Indranata.
Tring! Bunga api berpijar begitu dua pedang kembar beradu di udara. Dan seketika itu
juga, Indranata
merasa tenaganya pulih kembali. Secepat kilat; kembali diterjangnya Bayu.
*** Bayu benar-benar kewalahan menghadapi
gempuran yang beruntun dan saling sambut itu. Tapi setelah melewati beberapa
jurus, baru diketahui kalau Intan Delima tidak bersungguh-sungguh dalam setiap
serangannya. Gadis itu hanya menunjang tenaga simpanan bagi Indranata.
Menyadari hal itu, Pendekar Pulau Neraka
memusatkan perhatiannya pada Indranata. Dia tidak peduli dengan serangan-
serangan Intan lagi. Meskipun ujung pedang Intan hampir menyentuh tubuhnya,
gadis itu selalu cepat membelokkannya. Ini dilakukan karena Intan tidak bisa
membunuh atau melukai orang yang telah mengisi hatinya. Tapi dia juga tidak
ingin Indranata tewas di tangan Pendekar Pulau Neraka. Suatu pilihan yang amat
sulit dan harus dilakukan.
"Yaaa...!"
Tring! Bayu tersentak kaget, dan langsung melompat mundur tiga tindak. Pergelangan
tangannya seperti terbakar ketika menangkis tebasan pedang Indranata dengan
senjata Cakra Maut yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Hal yang sama
juga terjadi pada diri Indranata. Dia juga melompat mundur beberapa tindak.
Seluruh persendian tulang tangan kanannya terasa nyeri dan kaku.
"Intan! Gunakan jurus 'Naga Api'!" seru Indrana keras.
Intan tersentak kaget. Sejenak dipandangnya Indranata, lalu beralih ke arah
Bayu. Jurus 'Naga Api'
sangat dahsyat, dan merupakan jurus terakhir 'Naga Kembar'. Batu sebesar kerbau
pun dapat hancur jika terkena sambaran pedang mereka berdua. Apalagi manusia..."
Sedangkan baru terkena anginnya saja pohon-pohon akan mati layu, dan binatang-
binatang akan mati terbakar.
Belum sempat Intan berpikir lebih jauh, Indranata sudah membuka jurus 'Naga
Api', dan langsung melompat menerjang Pendekar Pulau Neraka. Hawa panas segera
terasa menyengat bagai hendak menghanguskan sekitar tepian sungai ini. Tanpa
berpikir panjang lagi, Intan langsung melompat memotong arah gerakan Indranata.
Pada saat itu, pedang di tangan Indranata sudah berkelebat menusuk ke arah dada.
"Intan...!" Indranata tersentak kaget.
"Tidak...!" pekik Bayu sambil melompat. Indranata berusaha menarik kembali
pedangnya, namun tubuh Intan sudah lebih dulu meluruk deras.
Dan.... "Aaa...!" Intan menjerit melengking.
Pedang di tangan Indranata menembus dada gadis itu hingga ke punggung. Sedangkan
Indranata hanya mampu berdiri tegak seraya melepaskan genggaman-nya pada tangkai
pedang. Sebentar Intan masih mampu berdiri, dan akhirnya jatuh sambil memegangi
pedang yang menembus dadanya. Darah mengucur deras membasahi tubuhnya.
"Intan...," desis Indranata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sedangkan Bayu hanya bisa terpaku memandangi tubuh yang menggeletak meregang
nyawa. Sesaat kemudian, Pendekar Pulau Neraka menjatuhkan diri.
Diangkatnya tubuh gadis itu ke pangkuannya, dipandangi wajah yang kian pucat
pasi itu dalam-dalam. Sementara Indranata masih berdiri gemetar.
"Kakang...," lirih suara Intaa
"Intan, mengapa kau lakukan ini?" tanya Bayu agak tertahan suaranya.
"Aku mencintaimu, Kakang. Aku tidak ingin kau mati.. ," semakin lirih suara
Intan. Bayu tidak mampu berkata-kata lagi. Wajahnya tertunduk dalam, dan bibirnya
bergetar, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu. Sementara wajah Intan Delima
semakin memucat. Dengan tangan bergetar dan berlumuran darah, dirabanya wajah
Bayu. "Oh, tidak...," desis Bayu tertahan.
"Selamat tinggal, Kakang," ucap Intan lirih
"Intan...! Intaaan...!" Bayu menjerit keras.
Intan terkulai lemas. Tangannya jatuh ke tanah menjuntai. Bayu memeluk tubuh
yang sudah tidak bernyawa lagi. Pendekar Pulau Neraka benar-benar menyesali
dirinya yang telah menyia-nyiakan cinta suci Intan Delima. Cinta yang harus
berakhir per-tumpahan darah. Sungguh besar pengorbanan Intan.
Dia rela mati demi cintanya yang suci.
Bayu tahu kalau Intan sengaja memotong
serangan Indranata, dan membiarkan dirinya tertembus pedang pemuda itu.
Peristiwanya begitu cepat, dan tidak terduga sama sekali. Pelahan-lahan Bayu
bangkit berdiri sambil memondong tubuh Intan Delima. Pedang pendek berwarna
hitam pekat masih
menancap di dadanya. Sementara Indranata masih berdiri terpaku tanpa mampu
berbuat apa-apa.
Beberapa saat Bayu menatap tajam pemuda murid Eyang Watuagung itu, Kemudian
berbalik dan melangkah tanpa berkata-kata lagi. Indranata masih berdiri terpaku,
tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Dan ketika Bayu sudah berjalan sejauh beberapa depa, Indranata tersentak. Sambil
memungut pedang Intan yang menggeletak di tanah, pemuda itu segera melompat
mengejar. "Berhenti!" bentak Indranata keras
Indranata melompati kepala Bayu Hanggara. Dan begitu kakinya mendarat di depan
Pendekar Pulau Neraka itu, dia langsung berbalik. Pedang pendek berwarna hitam
pekat melintang di depan dada. Bayu menghentikan langkahnya. Pandangannya tajam
menusuk langsung ke bola mata pemuda di


Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

depannya. "Kau masih belum puas, Indranata?" dingin suara Bayu.
"Tinggalkan Intan di sini!" bentak Indranata berapi-api.
"Dia tewas karena kebodohanrnu, Indranata. Tidak pantas kau memilikinya lagi,
meskipun hanya berupa mayat!"
"Tinggalkan Intan di sini, kataku!"
"Untuk apa" Ingin kau cincang?"
"Setan! Kau benar-benar iblis keparat, Pendekar Pulau Neraka!" geram Indranata
seraya mengibaskan pedang ke depan.
"Hup!"
Bayu melompat mundur, sehingga terhindar dari tebasan pedang Intan Delima yang
dipegang pemuda
itu. Indranata yang sudah demikian kalap, langsung melompat sambil menusukkan
pedangnya. Dan pada saat yang tepat, sebuah bayangan berkelebat cepat memapak.
Tubuh Indranata terpental balik ke belakang. Dia bergulingan beberapa kali di
tanah, lalu bergegas bangkit.
Namun mendadak tubuhnya jadi gemetar. Sedangkan matanya membeliak lebar dengan
mulut ter-nganga. Hampir dia tidak bisa percaya dengan penglihatannya sendiri.
Ternyata tiba-tiba saja di depannya sudah berdiri Eyang Watuagung. Sedangkan
Bayu tepat berada di samping kanannya, Indranata langsung menjatuhkan diri
berlutut. "Eyang...," ucap Indranata pelan, agak bergetar.
"Bangun, Indranata!" bentak Eyang Watuagung Indranata mengangkat kepalanya
pelahan-lahan lalu bangkit berdiri. Kembali ditundukkan kepalanya tidak sanggup
menentang sorot mata Eyang
Watuagung yang begitu tajam menusuk.
"Aku tidak tahu, harus berkata apa lagi padamu Kau benar-benar mengecewakan
hatiku, Indranata!"
sesal Eyang Watuagung agak tertahan suaranya.
"Maafkan aku, Eyang. Aku...."
"Diam!" bentak Eyang Watuagung memotong
cepat. Indranata langsung bungkam.
"Sengaja kuberikan Kitab Naga Kembar dan
Pedang Naga Hitam Kembar untuk kau pelajari dan kau kuasai. Sengaja kuberi waktu
tiga purnama dan melarangmu untuk meninggalkan pondok. Tapi semua kau langgar.
Bahkan kau jadikan ilmu simpananku itu untuk membalas dendam! Kau lupa
Indranata. Apakah kau tidak membaca seluruh isi
Kitab Naga Kembar" Hawa nafsu dan dendam akan memakan dirimu sendiri! Kau tidak
akan mampu mengendalikan diri, dan akan termakan oleh ilmumu sendiri! Kau dengar
itu, Indranata!"
Indranata hanya diam tertunduk. Memang pernah dibaca satu kalimat yang
melarangnya untuk mempunyai perasaan dendam, nafsu yang berkelebihan setelah
menguasai ilmu 'Naga Kembar'. Rasa penyesalan pelahan-lahan menghinggapi diri
pemuda itu. Tapi penyesalan sudah terlambat. Intan sudah jadi korban dari
perasaan dendam, benci, dan cemburu-nya yang berlebihan.
"Oh, tidak...!" jerit Indranata langsung berlari dan memeluk kaki Eyang
Watuagung. Indranata menangis memeluk erat-erat kaki gurunya itu. Sementara Bayu yang
menyaksikan, hanya bisa menarik napas panjang. Dia masih memondong mayat Intan
Delima. Sedangkan Eyang Watuagung menggamit pundak pemuda itu dan membawanya
berdiri. "Ampunkan aku. Eyang. Ampunkan aku yang telah mengecewakan hatimu...," rintih
Indranata. "Indranata. Bertahun-tahun aku memeliharamu, mendidikmu, dan mempersiapkanmu
agar menjadi seorang pendekar digdaya. Terlalu banyak harapanku padamu,
Indranata...," pelan suara Eyang Watuagung.
"Hukumlah aku, Eyang," pinta Indranata.
"Hukuman tidak akan berguna bagimu, Anakku."
"Eyang...."
Indranata kembali menjatuhkan diri dan berlutut, tapi Eyang Watuagung
membangunkannya lagi. Laki-laki tua berjubah putih itu berpaling menatap Bayu
Hanggara yang tetap berdiri di samping kanannya.
Bayu menyerahkan mayat Intan Delima, dan Eyang Watuagung menerimanya dengan mata
berkaca-kaca. "Maaf, aku tidak dapat mencegah," ucap Bayu pelan.
"Aku bisa memahami," sahut Eyang Watuagung.
Setelah berkata demikian, Eyang Watuagung
berbalik dan berjalan pelahan-lahan. Indranata masih berdiri tegak, kemudian
berpaling kepada Pendekar Pulau Neraka. Sesaat mereka saling berpandangan.
Indranata lantas menyodorkan tangannya yang kemudian disambut hangat oleh Bayu.
"Aku harap kita dapat bertemu kembali sebagai seorang laki-laki jantan tanpa
persoalan," kata lndranata.
"Aku menanti harapanmu" sahut Bayu mantap Indranata melepaskan tangannya,
kemudian segera melangkah mengikuti Eyang Watuagung. Bayu masih berdiri memandangi
kepergian mereka. Dia tahu betul arti kata-kata Indranata tadi. Satu saat kelak
Ya..., satu saat kelak Indranata ingin bertemu dan bertarung sebagai seorang
pendekar ksatria.
SELESAI Created ebook by
Scan & Convert to pdf (syauqy_arr)
Edit Teks (syauqy_arr)
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com
Thread Kaskus: http://www.kaskus.us/showthread.php"t=B97228
Harimau Mendekam Naga Sembunyi 1 Pedang Medali Naga Karya Batara Pendekar Latah 4
^