Pencarian

Ajian Sesat Pendekar Slebor 1

Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor Bagian 1


AJIAN SESAT PENDEKAR SLEBOR
Serial Pendekar Slebor
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cover oleh Henky
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Serial Pendekar Slebor dalam episode
Ajian Scsat Peodekar Slebor
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Arya Winata
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/
1 Hari datang dan pergi. Waktu seperti tak pernah
singgah di mana pun. Semuanya berlalu begitu saja, seolah tak pernah terjadi
apa-apa. Kemarau panjang yang selama beberapa bulan
terakhir merongrong tanah Jawa, hari ini tampaknya mulai berakhir dengan
berduyun-duyunnya awan kelabu gelap di langit. Meski mendung tak terlalu pekat,
namun memberi sedikit harapan akan datangnya hujan.
Dan ujian kekeringan untuk tanah Jawa nan subur
akhirnya berakhir. Butiran air jatuh juga tipis-tipis. Tanah kering tertimpa
gerimis. Debu halus sesaat mengapung di udara. Selanjutnya, mereka tak bisa lagi
bertebaran seenaknya. Bumi basah, menyebar bau tanah. Rahmat telah datang
rupanya. Setitik air seperti limpahan berkah tak terkira.
Di tengah-tengah gerimis, seseorang berjalan terhuyung-huyung Iimbung. Langkahnya terseret. di tanah basah. Geraknya
tersuruk. Seorang pemuda berpakaian hijau pupus dengan selempang kain ber-corak
catur di bahunya. Keadaannya begitu kacau. Rambut sebatas bahunya raulai kuyup.
Wajahnya pucat pasi, di antara lelehan keringat bercampur air hujan.
Sebentar dia berhenti. Ditengadahkannya kepala,
serta dibukanya mulut. Rasa kering kerontang di
kerongkongan memaksa dia untuk mencoba menampung Iangsung butiran-butiran air
dan Iangit. Tenggorokannya kemudian terlihat bergerak meneguk dengan susah-
payah. Tak lama, dia mulai beringsut kembali.
Tak jauh melangkah. Hanya sanggup memindahkan
kaki tujuh-delapan tindak, Ielaki muda itu tak kuasa Iagi mempertahankan posisi
tubuhnya. Dia terhuyung tajam dan tersungkur.
Bumi menjadi gulita di matanya.
Pemuda Iusuh tadi merasakan dirinya terangkat
tinggi, Ialu dijerumuskan ke dalam ruang gelap gulita yang
menjulur terlampau dalam tiada dasar. Yang aneh, dirinya justru tak merasa
sedang dalam keadaan meluncur jatuh.
Sebaliknya, dirasakan dirinya meIayang deras dalam Iiang panjang gulita tadi.
Tak ada angin melintasi permukaan kulit sebagaimana layaknya scorang dalam kcadaan bergerak.
Itu pun ganjil nilainya. Jangankan merasakan angin di permukaan kulit, tubuhnya
scndiri tak Iagi dirasakannya.
Apakah saat itu dia masih mcmiliki tubuh"
Pertanyaan itu dirasa tak perlu dipersoalkan. Sebab, add keganjilan lain
yang sama sckali menyedot
perhatiannya. Di atas sana, tepat di Iubang Iiang panjang gelap gulita,
dilihatnya seberkas cahaya. Dia ibarat seorang yang sedang terjatuh dalam sumur
dalam dan melihat ke mulut sumur. Di mulut lubang yang memendarkan cahaya itu,
disaksikan sendiri jeIas-jelas tubuhnya terkapar di tanah basah. Butiran gerimis
masih menggerayang di sekujur
tubuh itu. Disaksikan tubuhnya demikian menyedihkan, terlen-tang tanpa gemik. Sementara dirinya yang melayang deras ke
bawah terus menatapi nanar ke tubuh kembarnya di atas sana.
Semuanya kemudian berubah kembali.
Seperti panorama mimpi yang mendadak berganti. Mulut lubang bercahaya
yang memperlihatkan tubuh kembarnya memudar dan menghilang. Kegelapan terenyahkan oleh kekuatan tak terjelaskan.
Gulita tiada. Digantikan secara mendadak oleh selaksa benang-benang kabut dalam
tata warna mempesona. Merah, jingga, ungu, biru, hijau, dan sekian warna yang
saling menindih dalam gerak gemulai.
Meliuk berirama. Menggapai seakan sayap-sayap samar iring-iringan bidadarL
Dirinya telah terkepung benang-benang kabut bcrwarna-warni. Sesakkah dia" Tak ada rasa itu. Satu-satunya perasaan yang
menyeruak adalah perasaan
damai. Demikian pekat damai itu. Demikian kental. Jika dia bisa bertanya, akan
diutarakan pertanyaan; mungkinkah ada rasa damai yang Iebih damai dari yang kini
dialami" Selanjutnya. seluruh benang-benang kabut warna-
warni tanpa ujung tanpa pangkal itu memisahkan diri di satu bagian. Terbentuklah
celah. Dari balik ceIah, perlahan tampak wujud seorang tua berwajah teduh.
Dagunya ditumbuhi janggut sewarna Iembutnya salju sepanjang Iehernya.
Sinar matanya saja bahkan sanggup menyejukkan perasaan si pemuda. Di keningnya terpancar cahaya amat terang, namun
tak menyilaukan. Dalam pakaian yang sulit ditentukan warnanya karena tersamar
pendar cahaya benang-benang kabut, orang tua itu menjulurkan sebelah tangan.
Entah bagaimana, pemuda itu menjemput begitu saja uluran tangan si orang tua.
Digenggamnya jemari itu.
Terasa ada kedamaian pula di sana. Lalu, orang tua tadi menghelanya Iembut untuk
masuk ke dalam celah.
Ketika pemuda itu makin dekat, orang tua tadi
mendadak merangkulnya. Kesejukan serta kedamaian terasa Iagi. Lantas, telinga si
pemuda dibisikinya;
"Dirimu adalah muara. Di sana sebelumnya berkumpul, datang dan pergi Dirimu adalah dermaga, semuanya merapat dan ingin
memastikan tempat. Namun, dirimu adalah milikmu. Muara dan dermaga itu pun
milikmu, Cuma kau yang harus menentukan apa yang harus mengalir di muara dan apa
yang harus merapat di dermaga itu. Jangan pemah kehilangan muaramu, atau
dermagamu..."
*** "Aku jadi tidak mengerti, sebenarnya ke mana anak muda sial itu pergi?"
Terdengar cacian seorang perempuan tua dari sebuah gubuk reyot yang diba-ngun
tak jauh dari Pantai Laut Selatan. Menyusul makian scbal tadi, terdengar bunyi
riuh rendah benda-benda yang dilemparkan di dalam gubuk.
"Perabotan di tempat ini kenapa tidak ada yang benar"
Semuanya bau cecurut!" sambung suara perempuan tua tadi.
"Kau sebenarnya sedang kesal sama siapa, atau sama apa?" terdengar suara seorang
lelaki tua menimpali.
"Semuanya! Termasuk kau!"
"Apa salahku fcingga kau begitu kesal padaku?"
"Karena kau... ah, sudahlah!"
Di dalam gubuk, sepasang nenek-kakek memeributkan pepesan kosong. Sebutlah mereka tua.
Namun, semangat keduanya tampak menggebu-gebu
melebihi orang muda. Terlihat sekali dari cara mereka bicara. Juga dari cara
mereka berdiri meski keadaan punuk mereka sudah sama-sama melengkung.
Di dekat dinding sebelah kanan pintu, tcrdapat balai dari bilah-bilah bambu
berwarna coklat matang. Di atasnya, telentang seorang dara cantik. Matanya
terpejam. Bukan sedang tertidur. Melainkan sedang dalam keadaan tak sadarkan
diri. Tiga-empat tindakdari balai, seorang tua berkepala setengah botak berperut
buncit duduk menekuk lutut di atas kendil (semacam kuali) tanah liat besar yang
lertelungkup. Kepalanya terangguk-angguk memerangi kantuk.
Sebentar terdengar dengkurnya, sebentar kemudian terdengar gumamannya. Suara ribut pertengkaran perempuan dan lelaki tua di tempat yang sama, seperti tak pemah
mengusiknya. Dua manusia jompo yang seru-serunya meributkan
sesuatu siapa Iagi kalau bukan Nyai Silili-lilu dan Ki Saptacakra.
Kakak beradik bangkotan, sepasang dedengkot dunia persilatan beradat 'angot-angotan'.
Mudah diduga siapa lelaki tua Iain yang terkantuk-kantuk di sudut ruang gubuk.
Petaruh Sakti Perut Buncit tentu saja. Sedangkan perempuan cantik yang telentang
diam di atas balai adalah Dewi Kecubung. Murid
perempuan murtad itu dalam keadaan mengkhawatirkan.
Ada pukulan bertenaga dalam tingkat tinggi telah melukai tubuh bagian dalamnya.
Nyai Silili-lilu (meskipun mulut ccrewetnya seperti kaleng rombeng dan tengiknya
seperti biang setan) berniat mengobati luka dalam perempuan itu.
(Untuk mengetahui kejadian tersebut lebih jelas, bacalah episode sebelumnya;
"Perserikatan Setan").
Sebelumnya, tubuh Dewi Kecubung telah disaIurkan bawa murni selama beberapa
saat. Satu perjuangan yang memakan waktu agak lama mengingat pukulan tenaga
dalam tingkat tinggi yang bersarang di tubuh Dewi Kecubung. Tenggang waktu
selama penyaluran hawa mumi itu dimanfaatkan si orang tua berperut gentong untuk
mencuri-curi tidur. Dasar kerbau!
Selesai menyalurkan hawa mumi. Nyai Silili-lilu
menyuruh Ki Saptacakra, adik kandungnya untuk mencari beberapa tumbuhan obat-
obatan. Selama Ki Saptacakra mencari,
Nyai Silili-lilu
mempersiapkan alat-alatnya. Sampai Ki Saptacakra pulang kembali, nenek bangkotan itu
belum juga menemukan pera-botan yang dibutuhkannya. Mau cari perabotan untuk membuat
ramuan, atau mencari perabotan Ienong"
Itu pula awal pertengkaran tanpa juntrungan mereka.
"Kau jangan diam terus seperti sapi kekenyangan!
Bantu aku, Iler SIompret!"sembur Nyai Silili-lilu mendapati Ki Saptacakra malah
bersidekap di depan jidatnya.
"Tadi sudah aku tanya, kau sedang mencari apa. Tapi mulut cerewetmu malah
memakiku! Kalau aku tidak tahu apa yang mesti kucari, bagaimana aku bisa
membantu"!"
balas Ki Saptacakra sengit.
"Jadi apa maksudmu"!" Nyai Silili-lilu tampaknya tidak mendengarkan omongan Ki
Saptacakra. Masa' sudah
bicara sejelas itu masih bertanya; jadi apa maksudmu"
"Bangkotan slompret," rutuk Ki Saptacakra dongkol.
Giliran dimaki seperti itu, Nyai Silili-lilu justru bisa nyambung.
"Kau jangan kurang ajar, ya!" bentaknya dengan mata mendeliki adik kandungnya.
"Aku tadi tanya kau, apa yang sedang kau cari" Biar aku bisa bantu!" tukas Ki
Saptacakra. Nyai Silili-lilu diam terbungkuk-bungkuk. Jarinya
didekatkan ke kening. Mata kelabunya menyipit.
"Iya juga ya.... Sebenarnya, dari tadi itu aku sedang cari apa?" gumamnya,
membuat Ki Saptacakra tambah dongkol. "Ooo, anu!" sambungnya mendadak. "Aku
mencari alat untuk menggodok ramuan!"
Wajah Ki Saptacakra bersungut-sungut. Kalau cuma itu yang dicari, sudah dari
tadi dia tahu tempatnya.
Matanya segera melirik ke s udut ruangan, tepat ke arah si orang tua buncit
terkantuk-kantuk. Rupanya dia duduk tepat di atas kendil tanah liat yang biasa
digunakan untuk menggodok ramuan obat-obatan.
Nyai Silili-lilu mengikuti gerakan mata adiknya.Ketika tahu kendil ada di bawah
pantat 'kakanda'nya, kontan saja....
"Buncit! Bangun kau, manusia kerbau!"
Petaruh Sakti Perut Buncit terjengkang kaget.
Tubuhnya jatuh terguling ke kolong balai, dan dengkulnya bercumbu mesra dengan
kaki balai. Dia pun melintir-Iintir seperti gasing ajaib.
*** Empat kali waktu penanakan nasi berlalu. Nyai Silili-lilu telah selesai
menggodok ramuan obat untuk Dewi Kecubung. Setelah dingin, ramuan itu pun sudah
dibalurkan ke bagian tubuh Dewi Kecubung yang terkena pukulan tenaga dalam.
Sekarang tinggal menunggu dia sadar. Setelah itu, baru menyuruhnya untuk meminum


Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ramuan lain. Sementara menunggu, ketiga bangkotan sakti itu
duduk-duduk di anak tangga gubuk. Tempat itu (yang bau cecurut, kata Nyai
Silili-lilu) milik Petaruh Sakti Perut Buncit Di sanalah dia selama ini
mengasingkan diri. Di tempat itu pula dia mendidik tiga orang murid. Sayang pada
akhirnya, ketiga murid itu malah mendurhakainya.
Malam hampir menutup usia. Di kejauhan, merayap
rembang fajar dengan warna merah keemasan. Di
kejauhan terbangun paduan suara satwa yang riang menyambut datangnya hari baru.
Ditingkahi debur lamat ombak Pantai Laut Selatan. Gubuk Petaruh Sakti Perut
Buncit memang tak terlalu jauh dari bibir pantai.
Kekeringan telah dituntaskan oleh hujan sehari kemarin.
Satwa memuja-muja untuk rahmat itu.
Dengan hari ini, telah tiga malam dua hari Pendekar Slebor tak kembali.
Terakhir, anak muda sakti dari Lembah Kutukan itu diperintah Ki Saptacakra untuk
mengurus mayat Katak Merah dan Mata Dewa Kematian secara
layak. Hanya untuk urusan mengubur jenazah saja, tentu tidak mungkin memakan
waktu selama itu. Itu sebabnya, Nyai Silili-lilu mulai merasa ada sesuatu yang
tidak beres. Beda Nyai Silili-lilu, beda pula Ki Saptacakra
menanggapi peristiwa itu. Dia kenal buyutnya. Rasanya seperti mengenal satu
bagian dirinya. Seperti mengenal tangan sendiri misalnya. Asal jangan seperti
mengenal bokongnya saja! Pemuda itu bukan Iagi anak ingusan yang perlu terlalu
dikhawatirkan. Bekal ilmu kanuragan dan kedigdayaannya bisa diandalkan. Apalagi
kalau mengingat betapa cerdiknya dia Selagi mengingat keenceran otak cicit
buyutnya, Ki Saptacakra mendongakkan dagu. Dia merasa bangga keturunannya tidak
memiliki otak udang. Setidak-tidaknya, dia bangga kecerdikan dirinya diturunkan
kepada Andika, di samping kesaktiannya.
Namun, bukan dengan begitu Ki Saptacakra tak
menjadi cemas. Sesungguhnya dia pun mulai merasakan adanya ketidak beresan pada
malam yang sama ketika Nyai Silili-lilu bermimpi. Tingkat makrifat dalam diri
orang tua itu membuat hati kecilnya demikian peka. Dia merasakan bahaya tengah
dihadapi cicit buyutnya. Tapi, sebagai seorang sesepuh dunia persilatan, dia
sudah dapat mengukur kemampuan cicitnya dalam menghadapi bahaya itu. Hatinya
tetap yakin, si anak muda dapat mengatasinya.
"Ke mana anak muda itu, ya?" Nyai Silili-lilu bergumam. Selama mengobati luka
dalam Dewi Kecubung,
selalu saja dia menyebut-nyebut perihal Andika terus. (Dua malam satu hari
menyebut-nyebut terus nama cicit kemenakannya, apa tidak gila") Sebenarnya patut
diakui kalau hati perempuan tua itu tetap Iembut. Cuma karena sifatnya memang
agak edan-edanan, kelembutan hatinya terkadang jadi tak kentara.
Tanpa mengatakan pada adik kandungnya secara
langsung, Nyai Silili-lilu kemarin malam sempat bermimpi ketika dia tertidur
kelelahan sehabis menyalurkan hawa murni ke tubuh Dewi Kecubung. Dalam mimpi,
disaksikan cicit kemenakannya menggapai-gapai lemah. Rintihannya memelas. Itu
yang menyebabkan pikirannya terusik terus.
"Aku juga sebenarnya sedang memikirkan hal itu,"
timpal Petaruh Sakti Perut Buncit sambil mengelus-ngelus perutnya penuh
perasaan. Jangan percaya kalau dia benar-benar sedang memikirkan Pendekar
Slebor. Itu kan cuma akalnya untuk menyenangkan hati Nyai Silili-lilu. Tangannya
itu menjadi tanda kalau dia sebenarnya justru sedang membayangkan sepotong ayam
hutan bakar! "Kau terlalu mencemaskan dia, Ni," timpal Ki Saptacakra. "Toh, dia bukan anak
kemarin sore Iagi...."
"Bagiku, dia tetap anak kemarin sore!" bantah Nyai Silili-lilu.
"Iya. Kemarin sore...," sambung Petaruh Sakti Perut Buncit sambil membayangkan
makanan yang 'kemarin sore' di makannya.
Sebelum ribut-ribut dua adik-kakak dedengkot dunia persilatan itu pecah Iagi,
ketiganya melihat seseorang datang terseok-seok. Orang itu pemuda yang ditunggu-
tunggu mereka, Pendekar Slebor!
Nyai Silili-lilu menubruk tubuh Iusuh, Iemah dan Ietih cicit kemenakannya.
Dirangkulnya pemuda itu erat-erat.
Bersemangat. Meski ocehannya saat itu menjengkelkan sama sekali siapa pun yang
mendengarnya. Tetap, tak bisa disangkal ada kesan mengharukan. Terutama ketika
mata kelabu itu menahan genangan air mata yang menggelantung. Sekali Iagi menjadi jelas, hati seorang
wanita Nyai Silili-lilu memang tak bisa dibunuh oleh masa.
Tak pula sifat 'minta ampunnya'.
"Buju busrut! Apa yang terjadi dengan dirimu, Anak Muda Slompret! Kenapa kau bau
sekali"! Maksudku, kenapa kau demikian berantakan?" cecar wanita tua bangka itu
penuh semangat dan kehangatan.
Andika tak menjawab.
Wajahnya pasi, seolah darahnya telah terperah. Bibirnya yang terpecah-pecah ingin mengatakan sesuatu,
tapi pita di tenggorokannya seperti terikat ketat. Setelah itu, dua bola matanya
tergulir ke atas. Dia terkulai pingsan. Nyai Silili-lilu kerepotan menahan tubuh
kekar pemuda itu.
"Eee!" Nyai Silili-lilu berteriak-teriak kelimpungan.
"Kenapa baru bertemu, kau sudah mau merepotkanku, Slompret!" maki si perempuan
uzur seraya terbungkuk-bungkuk menahan tubuh cicit kemenakannya.
Ki Saptcakra segera membantu. Dipapahnya Andika
masuk dalam gubuk. Lelaki tua itu sudah bisa membaca cicit buyutnya terluka
dalam yang parah. Dia harus segera dirawat, pikirnya. Pekerjaan baru untuk Nyai
Silili-lilu tentunya!
*** 2 Pagi mengendap-endap munc uL Matahari telah
beranjak naik. Smarnya tak begitu lancang. Malah terasa hangat bersahabat. Tanah
basah karena hujan seharian kemarin, mengepulkan uap tipis ketika disiram sinar
matahari muda. Ayam-ayam sudah malas berkokok. Tapi, ombak tak
letih-Ietih mendaki pasir pantai. Sinar matahari merayapi gelombang demi
gelombang di seluruh permukaan laut, mengantarnya menuju tepian.
Pendekar Slebor tersadar. Yang mula-mula di-
saksikannya adalah (naas) perut Petaruh Sakti Perut Buncit. Benda apa itu" Apa
aku telah mati dan yang kusaksikan sekarang adalah batu besar dari neraka"
Mungkin begitu pikirnya.
Sambil mengerjap-ngerjapkan mata dan memegangi
kepalanya yang masih terus berdenyut-denyut, Andika berusaha bangkit. Dia baru
sadar kalau Petaruh Sakti Perut Buncit tengah duduk menunggu di sisinya ketika
orang tua berperut boros itu membantunya bangkit.
"Kau sadar juga, Anak Muda!" seru Petaruh Sakti Perut Buncit. "Apa yang telah
terjadi pada dirimu sesungguhnya?" susulnya.
Seperti tak mendengar pertanyaan menggebu-gebu
lelaki tua buncit itu, Andika malah menyipitkan mata karena silau oleh cahaya
matahari yang mengintip masuk dari sela-sela dinding kayu.
"Di mana aku?" desahnya, balik bertanya.
"Kau di tempatku."
"Apa yang terjadi?"
"Eih, mana aku tahu"!" lengak Petaruh Sakti Perut Buncit.
"Mana Ki Buyut dan Uwak Silili?"
"Auk... Katanya mereka harus pergi segera setelah mereka mengobati Iuka-Iuka
dalammu. Ada hal penting, kata mereka. Hal penting tai kucinglah! Masa' aku
disuruh menungguimu di sini?"
Andika tak mau mendengarkan gerutuan Petaruh
Sakti Perut Buncit. Dia segera bangkit dari tikar pandan tempatnya tergeletak
sebelumnya. Di satu sudut ruangan di atas balai, Dewi Kecubung belum juga
sadarkan diri. Andika melihatnya sekilas. Hanya karena pikirannya masih diusik oleh kejadian
yang menimpanya belakangan, anak muda itu jadi tidak begitu memperhatikan.
Dengan berdiri masih Iimbung, diingat-ingatnya
kejadian yang telah menimpanya. Semua kejadian Ialu kembali dalam benaknya. Dia
ingat, terakhir dia bertarung dengan Amitha. Amitha yang berubah menjadi hewan
jejadian menakutkan telah menyorot matanya dengan bersit cahaya. Lalu semuanya
hanya terasa seperti siksaan maha hebat yang dipadatkan ke dalam dirinya.
Setelah itu, Andika tak ingat apa-apa.
Entah berapa lama dia pingsan. Sewaktu sadar,
dirasakan tubuhnya seperti Iuluh-Iantak dari dalam. Andika berusaha susah-payah
kembali ke Pantai Laut Selatan. Di tengah perjalanan, dia kembali tak sadarkan
diri. Saat itulah dia mengalami kejadian gaib. Di mana dia merasa rohnya telah
keluar dari jasad dan melanglang ke tempat yang belum pemah dipijaknya seumur
hidup. Anak muda berhati baja itu sadar kembali ketika
orang tua gaib yang ditemuinya selesai membisikkan kalimat-kalimat tak
dimengerti. Untuk memikirkan seluruh alur kejadian tersebut, dia masih belum
mampu. Tubuhnya masih begitu lemah. Hanya ada satu yang terpikir dalam benaknya
saat itu. Kembali ke tempat Petaruh Sakti Perut Buncit.
Dia berharap Nyai Silili-lilu bisa memberi
pertolongan memulihkan keadaan tubuhnya kembali.
"Aneh...," bisik Pendekar Slebor manakala teringat pada kejadian gaib yang
dialami. "Siapa yang aneh?" tukas Petaruh Sakti Perut Buncit di belakangnya.
Kepala si anak muda menggeleng.
"Tidak apa-apa," hindarnya. Masih ada keraguan
dalam dirinya untuk menceritakan kejadian itu pada Petaruh Sakti Perut Buncit.
Bisa saja orang tua berperut gentong itu hanya menganggap kejadian tersebut
sekadar pengaruh luka dalam Andika. Masih lebih baik begitu.
Bagaimana nanti Andika malah dianggap kurang waras"
Tapi, ada semacam dorongan dalam diri Pendekar
Slebor untuk mengungkapkan hal itu. Tidak pada Petaruh Sakti Perut Buncit. Tidak
bisa. Buyutnya, Ki Saptcakra mungkin bisa. Tapi, ke mana orang tua itu"
"Mereka tak bilang ke mana hendak pergi?" tanya Andika seraya menoleh perlahan
pada orang tua buncit di belakangnya.
"Sudah kubilang, mereka 'ngeloyor' begitu saja seperti dua gumpalan kentut! Aku
jadi sebal!"
"Kau bilang tadi mereka mengatakan tentang sesuatu yang penting, Pak Tua
Buncit?" "Ho-oh, tuh!"
"Penting'bagaimana?"
"Auk, tuh!"
"Pergi ke mana mereka" Dan hal penting apa?"
gumam Pendekar Slebor seraya mengurut kening yang masih saja berdenyut-denyut.
"Auk, tuh!" jawab Petaruh Sakti Perut Buncit, padahal Andika tidak bertarrya
padanya. "Bagaimana dengan perempuan itu?" sus ul Pendekar Slebor, ketika dia menyaksikan
Dewi Kecubung di atas balai. Untuk kedua kalinya.
Lagi-lagi jawaban yang keluar dari mulut Petaruh Sakti Perut Buncit sama dengan
sebelumnya... "Auk, tuh!"
Benar-benar brengsek!
Pendekar Slebor hendak memeriksa keadaan Dewi
Kecubung. Petaruh Sakti Perut Buncit tanpa perasaan berkata, "Sudah tak perlu
dikutak-kutik perempuan itu. Dia sudah diurus Silili-lilu. Kau tak perlu
'melakukan' apa-apa Iagi!"Andika mendengus mangkel. Kepalanya jadi
berdenyut-denyut Iagi. Sialan! Hatinya memaki.
Petaruh Sakti Perut Buncit mendekati pintu keluar.
"Mereka tampaknya sudah tiba," katanya santai.
Andika melirik orang tua itu. Dia sama sekali tak mendengar langkah orang
datang. Tapi, tua bangka itu tampaknya tidak keliru. Sebab tak lama berselang,
terdengar s uara kaleng rombeng Nyai Silili-lilu. Telinga orang tua ini hebat
juga, puji Pendekar Slebor dalam hati.
Gedubrak! Andika terperanjat. Pintu gubuk dihempas seseorang dari Iuar tanpa tedeng aling-
aling. Setan mana yang sedang mengamuk" Pikirnya.
Nyai Silili-lilu masuk bersama semprotan mulut 'sakti'-
nya. "Dasar anak muda tolol, dungu, otak udang, otak jangkrik, otak-otak!" makinya di
depan hidung sang cicit kemenakan. Orang yang mendapat semprotan ternganga-
nganga tak mengerti. Mengedip pun tidak.
Apa-apaan ini" Rutuk Pendekar Slebor. Dia tak
mengerti kenapa tak ada angin tak ada hujan perempuan tua itu memarahinya"
Seingat Andika, sewaktu dia tiba di tempat ini, Nyai Silili-lilu menyambut dan
memeluknya sedemikian rupa. Sekarang, kenapa dia dimaki-maki"
Membingungkan. "Kenapa...."
"Diam!" bentak Nyai Silili-lilu. baru saja Pendekar Slebor hendak bertanya.
"Percuma saja se'gambreng' orang persilatan menjulukimu dengan nama besar.
Menjaga benda kecil saja kau tidak sanggup! Tidak sanggup... gup...
gup!" gempur nenek sewot itu Iagi. Ludahnya sampai bertebaran ke segenap
penjuru. "Benda apa maksudmu?" Andika tak bisa terima. Dia tak sudi diomeli seperti bocah
ingusan salah beIanja.
Biarpun yang mengomel saudara kandung buyutnya
sendiri, dia tetap tak bisa terima. Ini namanya semena-mena, protesnya.
"Benda apa?" Mata Nyai Silili-lilu membesar. Besar
sekali. Dipelototinya Andika persis di depan wajah pemuda itu. Meski untuk itu
dia harus bersusah payah meluruskan punuk melengkungnya.
"Kau pakai tanya benda apa padaku"!" Urat leher kendor perempuan tua itu pun
makin tertarik-ulur, macam benang layangan.
Ki Saptacakra mcnyusul masuk gubuk.
"Biar aku yang tanyakan anak ini!" selanya. Lain disambarnya pangkal lengan
Andika. Anak muda itu diseretnya keluar. Nyai Silili-lilu dan Petaruh Sakti
Perut Buncit mengekori di belakang. Padahal, Ki Saptacakra bermaksud menanyakan
secara empat mata pada
buyutnya. Sebab, kalau amukan mulut Nyai Silili-lilu dibiarkan terus,
persoalannya jadi lam-bah ruwet.
"Katakan padaku, apakah kau masih menyimpan kalung milik salah seorang murid si
Buncit?" tanya Ki Saptacakra setibanya di luar gubuk. Andika menyipitkan mata
karena terjangan sinar matahari ke ma-tanya. Dia masih belum bisa cukup jelas
melihat mimik wajah Ki Saptacakra. Namun, dari nada bicaranya yang lurus dan
bertekanan tampak sekali orang tua sesepuh dunia persilatan itu sedang
bersungguh-sungguh.
Di belakang Ki Saptacakra, Nyai Silili-lilu berdiri tak bisa diam. Kepalanya
terayun ke kanan dan ke kiri seperti seekor burung Kakatua. Dia masih belum puas
memaki-maki Andika. Untung wajah sangar Ki Saptacakra saat itu membuatnya masih
bisa sedikit menahan mulut.
Andika cepat memeriksa balik baju di bagian ikat pinggangnya. Wajahnya mengeras,
ketika tangannya tak menemukan apa-apa.
"Ke mana kalung itu?" desisnya.
"Jadi selama ini kau membawa kalung itu?"
Pendekar Slebor mengangguk, membenarkan.
"Kini benda itu tak ada Iagi padamu. Artrnya, kalung itu hilang," tandas Ki
Saptacakra menyimpulkan.
Sekarang, Pendekar Slebor baru mengerti kenapa dua orangtua kakak-beradik itu
pergi untuk satu urusan
penting. Mereka tentu telah memeriksa pakaian Pendekar Slebor ketika anak muda
itu pingsan. Karena tak
menemukan benda yang dicari, mereka mengira kalung itu terjatuh. Lalu mereka pun
mencoba mencarinya.
Sementara itu, Nyai Silili-lilu terus mendengus-dengus.
Karena tak juga mendapat kesempatan memaki-maki
Andika Iagi, dia jadi kesal sendiri. Tubuhnya berbalik dengan wajah berlipat.


Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dia Iebih baik masuk ke dalam gubuk dan melabrak perabotan bau cecurut milik
Petaruh Sakti Perut Buncit. Untuk pelampiasan!
"Ki Buyut telah mencarinya?" serbu Andika, merasa bersalah. Dia pun berpikir
kalung itu mungkin terjatuh.
"Ya," jawab Ki Saptacakra singkat. Dari wajah nya, Pendekar Slebor bisa menilai
bahwa lelaki tua itu tak pernah menganggap remeh hilangnya kalung tersebut.
Sebab, tak biasanya dia bersikap begitu kaku.
"Tidak kami
temukan. Meski seluruh tempat sepanjang perjalananmu ke sini telah kami telusuri,"
tambah Ki Saptacakra.
Tiba-tiba Pendekar Slebor menjadi demikian masygul.
"Tentu telah ada yang mencurinya dari balik pakaianku ketika aku tak sadarkan
diri di tempat pertarungan dengan lelaki India itu...," gumamnya geram, nyaris
tak kentara. Tentulah orang yang telah mencuri kesempatan dalam kesempitan itu
adalah orang yang telah merampas kalung milik Dewi Kecubung dan Mata Dewa
Kematian pula! "Kutu kuprel slompret! Kita kecolongan!" teriak Nyai Silili-lilu dari arah
belakang, mengagetkan Pendekar Slebor.
Andika menoleh cepat. Begitu juga Ki Saptacakra. Di depan pintu gubuk, Nyai
Silili-lilu sedang mencak-mencak sampai rambutnya kacau-balau. "Perempuan itu
sudah tak ada Iagi di balai! Kampret-kampret-kampret! Khoek...
cueh!" *** 3 Tak pelak Iagi, kalung di tangan Pendekar Slebor telah dicuri oleh Tiga Datuk
Karang, simpul Ki Saptacakra. Bagi orang tua berjuluk Pendekar Lembah Kutukan
itu, tak ada yang lebih mengkhawatirkannya sampai saat ini kecuali dikuasainya
kembali tiga kalung milik ketiga murid murtad Petaruh Sakti Perut Buncit. Apa
pasalnya" Ketiga benda itu ternyata adalah kunci tempat
penyimpanan rahasia benda-benda pusaka milik Petaruh Sakti Perut Buncit. Untuk
membuka tempat rahasia dalam lubang di bawah karang Pantai Laut Selatan, ketiga
benda itu harus disalukan. Jika ketiganya telah menjadi satu, maka fungsinya pun
berubah. Tidak sekedar kalung semata, melainkan telah menjadi kunci pembuka
tempat rahasia penyimpanan benda-benda pusaka hasil taruhan Petaruh Sakti Perut
Buncit. Di antara benda-benda pusaka di dalam sana,
beberapa di antaranya adalah kitab-kitab kanuragan.Tiga kitab telah dicuri oleh
tiga murid murtad. Sementara di antara sisa kitab tersebut terdapat Kitab
Pamungkas Ilmu Karang. Di situ letak seluruh kekhawatiran Ki Saptacakra.
Seperti telah diketahui, Kitab Pamungkas Ilmu Karang sebenarnya milik tiga musuh
besar Pendekar Lembah Kutukan beberapa puluh tahun silam. Mereka Tiga Datuk
Karang. Karena khawatir ketiganya akan menjadi ancaman amat berbahaya bagi dunia
persilatan jika sempat mempclajari kitab tersebut, Ki Saptacakra merencanakan
siasat cerdik. Bersekutu dengan Petaruh Sakti Perut Buncit yang kala itu menjadi
kekasih kakaknya, Ki Saptacakra menantang ketiga tokoh sesat itu untuk
bertanding adu kesaktian dengan mempertaruhkan kitab sakti.
Pendekar Lembah Kutukan dan Petaruh Sakti Perut
Buncit berhasil memenangkan pertarungan. Keduanya dengan begitu berhasil
mendapalkan Kitab Pamungkas Ilmu Karang.
Setelah menghilang selama puluhan tahun, Tiga
Datuk Karang muncul kembali. Mereka memenuhi
undangan tiga murid murtad
yang merencanakan pembentukan perserikatan tokoh-tokoh sesat. Rupanya rencana itu dilihat T iga
Datuk Karang sebagai satu kesempatan untuk mendapatkan kitab pusaka mereka
kembali. Jika hanya mereka bertiga mencoba merebul, kembali kitab pusaka
tersebut dari tangan Pendekar Lembah Kutukan, dan Petaruh Sakti Perut Buncit,
hal itu tidak akan tercapai. Mereka akan dikalahkan kembali seperti kejadian
puluhan tahun lalu. Namun, jika ada beberapa tokoh sesat Iain yang bergabung dan
hernial mengenyahkan keluarga besar Pendekar Lembah Kutukan, maka kesempatan
Tiga Datuk Karang untuk mendapatkan kembali kitab pamungkas mereka akan terbuka
lebar-lebar!Semua itu dijelaskan secara gamblang dan singkat pada cicit
buyutnya, Pendekar Slebor.
Kini, Pendekar Slebor dan tiga orang tua sakti tiba di bukil karang besar yang
menjorok ke Pantai Laut Selatan.
Setelah mengetahui kalau Pendekar Slebor benar-benar kehilangan kalung yang
dipegang-nya, Ki Saptacakra segera
memutuskan untuk memeriksa tempat penyimpanan rahasia di sana.
Meski tidak ada tawaran atau permintaan untuk ikut dari Pendekar Lembah Kutukan,
si anak muda sakti cicit buyutnya mengikuti dari belakang. Biar bagaimanapun,
Andika merasa bertanggung jawab atas hilangnya kalung.
Itu berarti pula, dia pun merasa bertanggung jawab alas kcamanun tempal
penyimpanan rahasia.
Kalau sampai Kitab Pamungkas Ilmu Karang benar-
benar raib dari tempatnya, apa jadinya" Bisik Pendekar Slebor di hati. Tentunya
buyutnya akan marah besar padanya. Sebab, menurut keterangan Ki Saptacakra
sebelumnya, kitab tersebut menjadi kunci penentu kemenangan mereka lerhadap
Pendekar Lembah Kutukan.
Siapa tahu Andika akan dijadikan perkedel oleh orang tua sakti itu. Apalagi
kalau ingat Nyai Silili-lilu. Kemarahan
perempuan bangkotan itu bagi Andika lebih menyeramkan dari gempa bumi ditambah
angin topan, ditambah
kebakaran, dan segala macam!
Anak muda itu jadi meringis-ringis sendiri mem-
bayangkannya. Selain Pendekar Slebor, Petaruh Sakti Perut buncit dan Nyai Silili-lilu tak
ketinggalan ikut bergegas menuju tempat penyimpanan rahasia. Tak ikut adalah
keanehan yang paling aneh bagi mereka. Petaruh Sakti Perut Buncit tentu saja
berkepentingan dalam hal itu. Nyai Silili-lilu" Tak peduli berkepentingan atau
tidak! Tak peduli dia cuma jadi sumber kebisingan atau bukan! Dia harus ikut.
Meski bagi Pendekar Slebor, keikut sertaan perempuan tua bangka itu bisa menjadi
kiamat! Keempat orang yang berlari cepat beriringan seperti pernah terjadi sebelumnya
itu sampai di tujuan. Ki Saptacakra tiba paling dahulu. Tak seperti sifat biasa
Ki Saptacakra yang dikenal Andika selama ini. orang tua itu tak berkata sepatah
pun. Tak ada omongan usil dan makian penyebab telinga Pendekar Slebor menjadi
merah matang. Wajahnya bahkan terus saja mengeras. Sikapnya seolah gunung merapi
tenang. Di balik ketenangan itu,, sctiap saat bisa termuntah lahar panas!
Untuk kedua kalinya, Andika terpaksa turut Ki
Saptacakra untuk masuk ke mulut lubang berliang panjang di bawah kaki bukit
karang yang bagian atasnya menjorok ke laut. Liang di dalamnya sempit, rendah
dan pengap. Sungguh tempat yang benar-benar tak ingin dikunjungi untuk kedua kali kalau
tidak terpaksa.
Biasa, Nyai Silili-lilu dan 'sang kekasih' nya cukup menanti di luar. Nyai
Silili-lilu memang lebili suka mengatur dengan 'kiwir-kiwir' bibir sekendor
gombalnya. Kalau urusan yang agak sedikit memayahkan. dia cuma bisa mencibir.
Setelah merayapi lorong Hang panjang, Ki Saptacakra dan Pendekar Slebor akhirnya
sampai di ruang lapang berbcntuk kubah gelap gulita.
Ki Saptacakra mendekati satu lantai ruang. Di sana tcrdapat pintu penyimpanan
rahasia. "Pintu ini telah terbuka," desisnya meninggi, entah pada siapa.
Andika tak bisa bilang apa-apa. Dia hanya menelan ludah ngeri-ngeri. Gawal,
pikirnya. Sebentar Iagi, tentu orang tua itu akan habis-habisan mengamukinya!
"Aku harus memastikan apakah Kitab Pamungkas Ilmu Karang itu masih ada," ucap Ki
Saptacakra kembali.
Sekali ini, Andika memberanikan diri untuk mengajukan pendapat.
"Tapi, Ki Buyut. Bagaimana kau bisa memastikan, sementara keadaan di sini begitu
gelap?" Pertanyaan Andika tak mendapat jawaban. Ki
Saptacakra malah menyuruh pemuda itu menggantikan tempatnya.
Sementara hatinya bertanya-tanya tak mengerti, Andika menuruti perintah kakek buyutnya.
Dan belum-belum, mulut ceriwisnya tak bisa ditahan.
"Biarpun aku menggantikanmu, aku tetap tak bisa melihat apa-apa seperti kau
juga, Ki. Jadi buat apa kita bertukar tempat?" cetus Andika Iagi.
Tak ada jawaban. Andika curiga. Apa ada yang tidak beres"
"Ki?"
Tetap tak ada suara apa-apa. Bahkan napas orang tua itu tak didengamya.
Andika hendak mulai memanggil Iagi, tapi niatnya terpancung. Dia terperangah
oleh sinar merah terang yang mendadak memancar dari satu tempat.
"Apa itu?" bisiknya tanpa berkedip. Lalu perlahan-lahan, matanya mulai bisa
menangkap lebih jelas cahaya merah terang tadi. Andika dibuat terkagum-kagum
karenanya. Ternyala cahaya merah terang itu berasal dari dua telapak tangan Ki
Saptacakra yang menyatu di depan wajahnya. Orang tua itu sendiri duduk bersila
dengan mata terpejam.
Hebat, puji Andika. Sekarang ruangan seukuran lebih
kecil dari pendapa itu menjadi cukup terang. Entah ajian apa yang telah
dikerahkan sesepuh dunia persilatan itu hingga telapak tangannya mampu bercahaya
merah terang. Tentu saja Andika tahu apa maksud Ki Saptacakra
melakukan itu. Andika tentu diminta untuk melihat ke dalam tempat penyimpanan
benda pusaka selama cahaya dari tangannya menerangi ruangan. Itu sebabnya tadi
Ki Saptacakra meminta mereka bertukar tempat.
Cepat-cepat Pendekar Slebor melihat lubang persegi yang pintunya terbuat dari
lempengan baja mumi setebal (tak langgung-tanggung!) dua jengkal setengah!
Beratnya mungkin tak kurang dari bobot seekor kerbau jantan.
Di dalam bawah pintu baja yang terkuak, dilihatnya lubang berbentuk peti besar.
Di dalamnya terdapat beberapa kitab-kitab tua, senjata pusaka dan... beberapa
piring kayu" Andika meringis. Buat apa si tua Buncit itu melelakkan piring-
piring kayu dekil di tempat rahasia seperti itu" Ah, pasti manusia rakus itu
beberapa kali meletakkan benda-benda pusaka sambil makan!
Andika mulai memeriksa lima-enam kitab kuno yang masih ada di sana. Ah, timbut
masalah baru sekarang.
Bagaimana dia tahu yang mana Kitab Pamungkas Ilmu Karang" Sementara semua sampul
pada kitab itu ditulis dalam huruf-huruf kuno 'ngejelimet'" Tapi, Andika tak
kehilangan akal. Segera dikerahkannya kemampuan
otaknya untuk mengamati ciri-ciri kelima kitab kuno itu.
Kalau nanti Ki Saptacakra bertanya, dia tinggal memaparkan ciri-ciri kelima kitab itu. Kalau di antara kelima kitab tak ada yang
menciri-cirikan Kitab Pamungkas Ilmu Karang, berarti kitab itu memang sudah tak
ada. Setelah selesai merekam seluruh ciri-ciri kelima kitab itu, Andika meletakkan
kembali. "Ki sudah, Ki!" tukas Andika pada Ki Saptacakra.
Orang tua sakti itu menyudahi semedinya. Ruangan gelap kembali seketika.
"Bagaimana?" tanya Ki Saptacakra. "Ada atau tidak?"
"Tidak tahu."
"Anak muda tolol! Kenapa tidak tahu" Bukankah kau sudah melihatnya tadi?"
"Tapi kau lupa mengatakan kepadaku bagaimana rupa kitab itu!" sergah Andika, tak
mau disalah-kan.
"Jadi aku harus mengulang semadiku, begitu?" gerutu Ki Saptacakra.
"Tak perlu. Aku s udah menghapal ciri-ciri semua kitab di dalam sana!"
"Bagus! Sebutkan padaku!" Pendekar Slebor memaparkan dengan lengkap tanpa kehilangan satu detil pun dari ciri-ciri kitab
yang telah dilihatnya.
"Hhh...," terdengar desah berat napas Pendekar Lembah Kutukan.
Andika bisa menyimpulkan kenapa Ki Saptacakra
begitu. Tampaknya kitab Pamungkas Ilmu Karang telah hilang!
Hutan karet di wilayah Banyumas Timur adalah
tempat di mana Pendekar Slebor dan Amitha bersa-bung nyawa. Daerah yang
berbukil-bukit kecil itu ki-ni dalam keadaan senyap. Tepat di tanah yang lebih
rendah dari tempat pertarungan keduanya, masih tergeletak dua bangkai Katak
Merah dan Mata Dewa Kematian. Keduanya mulai membusuk. Bau menyengat menebar ke
mana-mana, mengundang lalat-lalat hutan untuk datang
berkerumun. Meski sudah menebar bau busuk, tubuh mayat keduanya terbilang masih
utuh. Hanya saja, sudah agak membengkak karena pengaruh udara yang mulai
melembab oleh hujan. Warna kulitnya pun sudah membiru legara. Selama dua hari,
tampaknya tak ada binatang buas kebetulan menemukan bangkai keduanya.
Ratusan, bahkan mungkin ribuan Ialat-Ialat hutan terus berpesta-pora. Sampai
akhirnya kerumunan yang nyaris menutupi seluruh bagian tubuh dua mayat itu tiba-
tiba berhamburan. Liar menebar. Suasana berubah
menjadi padat oleh dengungan hewan-hewan kecil
menjijikkan itu.
Apa yang membuat mereka terusik" Tak ada manusia yang datang. Tak juga hewan
pemangsa. Mereka terusik karena dengan amat ganjil salah satu tangan bangkai
tiba-tiba tersentak seperti terkena kejutan listrik!
Lalu bangkai tadi tak bergemik kembali.
Lalat-Ialat mulai memberanikan diri untuk mendekat.
Untuk kedua kalinya, terlihat sentakan cepat. Sekali ini pada bagian dada
bangkai Mata Dewa Kematian. Lalat-Ialat yang bersikeras untuk hinggap terbang
serabutan kembali. Mereka merasakan ancaman tadi.
Dasarnya mereka adalah binatang yang keras kepala, setelah berputar-putar
sebentar, mereka mencoba hinggap Iagi.
Untuk kali ini, mereka benar-benar dibuat berhamburan lebih jauh dalam gerak kacau ketakutan.
Karena entah bagaimana, bangkai Mata Dewa Kematian tersentak-semak dalam irama
yang cepat dan berubah-ubah nyalang. Tak lama kemudian, mayat itu mengejang.
Bagian telapak tangan yang semula terbuka mengeras membentuk genggaman amat
kuat. Menyusul kejadian yang tak kalah ganjil. Kelopak mata yang mulai berlendir
menjijikkan itu perlahan-Iahan terbuka. Lalu tiba-tiba mendelik. Biji mata
setengah membusuknya mencorong ke atas seperti menatap
sesuatu yang mengerikan.
***

Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

4 Pantai di mana Petaruh Sakti Perut Buncit tinggal berada di sekitar wilayah
Karang bolong. Sementara itu, jauh dari tempat tersebut tepatnya di hutan kaki
Gunung Slamet, terdapat rumah besar yang dibangun di atas bahu empat pohon jati
raksasa. Rumah itu baru beberapa hari saja dibangun oleh
orang-orang Perserikatan Setan. Mereka sengaja berpindah dari tempat sebelumnya ke tempat baru di sekitar hutan kaki Gunung
Slamet. Di tempat sebelumnya, mereka merasa sudah tak
aman. Ada kec urigaan kalau mus uh-musuh besar mereka telah mengendusi tempat
tersebut. Biar bagaimanapun, mereka masih perlu berpikir seratus kali" jika
Pendekar Lembah Kutukan, Pendekar Slebor, Nyai Silili-lilu dan Petaruh Sakti
Perut Buncit menggerebek tempat mereka pada saat mereka belum c ukup siap. Nama-
nama tadi tak beda dengan momok bagi kalangan sesat. Tak terkecuali tokoh-tokoh
sesat kalangan atas!
Dalam dunia kezaliman, manusia pun ternyata bisa saling membantu. Itu terlihat
pada sikap orang orang Persekutuan Setan. Kelakutan pada ancaman tangan penegak
keadilan membuat mereka merasa saling terikat satu dengan yang laia Mereka hanya
merasa mampu menyelamatkan diri dari para pendekar besar itu jika mereka bergabung menjadi
satu. Sikap yang sungguh menyedihkan, terutama bagi orang-orang kelas atas
seperti mereka. Tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang berusaha ditutup-tutupi
serapat mungkin satu dengan yang lain. Mana ada di antara mereka ingin dianggap
pengecut" Empat hari sebelum Pangeran Neraka merencanakan
tipu daya terhadap Pendekar Slebor, mereka bergerilya ke wilayah hutan kaki
Gunung Slamet. Se-tibanya di sana, mereka segera membangun markas baru.
Kesaktian masing-masing memungkinkan pembangunan
rumah besar di atas pohon berjalan singkat. Tak ada tiga hari
mereka bekerja, pekerjaan pun selesai. Markas sangar mereka berdiri kokoh di
atas empat pohon jati raksasa.
Markas di atas pohon berusia kurang dari satu
minggu itu tampak belum berpenghuni. Beberapa tokoh anggota perserikatan sedang
sibuk dengan urusan masing-masmg. Terutama untuk mempersiapkan rencana besar
dari otak licik Pangeran Neraka yang telah mereka sepakati bersama. Hingga saat
itu, hanya mereka yang tahu bagaimana rencana itu sebenarnya.
Siang itu, sebentuk bayangan berkelebal cepat
menuju markas baru Perserikatan Setan. Bayangan tadi melenting-Ienting dari satu
batang pohon ke batang pohon lain. Terkadang malah pucuk pohon beranting amat
tipis dijadikan jejakan. Geraknya demikian memukau. Ringan, lincah, dan gesit.
Kelebatan bayangan itu adalah gerakan si Gila
Petualang. Dia membopong seorang perempuan bertubuh sekal. Perempuan itu dalam
keadaan tak sadarkan diri.
Beberapa waktu lalu, orang tua sesat ini telah
mencemari sebuah sungai dengan racun. Ada satu
maksudnya melakukan itu. Dia hendak melumpuhkan
seorang yang dekat dengan Nyai Silili-lilu, Mayangseruni alias Ratu Lebah. (Baca
episode sebelumnya; "Perserikatan Setan")!
Wanita yang telah diincarnya selama beberapa lama kebetulan hendak meminum air s
ungai yang dilewatinya.
Saat itulah si Gila Petualang cepat menebar racun pelumpuh yang didapat ketika
dia bertualang ke Tibet.
Dalam beberapa hal, orang tua penuh dendam sesat itu memang tak suka bersusah-
payah. Dia lebih sering mengandalkan akal liciknya untuk memperdayai lawan.
Seperti halnya Pangeran Neraka.
Penculikan Mayangseruni adalah bagian dari rencana besar yang telah dipersiapkan
orang-orang Perserikalan Setan untuk menyingkirkan Pendekar Lembah Kutukan dan
keluarganya. Sebenarnya si Gila Petualang muak melaksanakan penculikan yang
direncanakan Pangeran
Neraka. Dia merasa telah diperintah oleh orang yang lebih muda dari usianya.
Hanya karena dia menganggap rencana itu cukup menarik baginya, si Gila Petualang
pun akhirnya setuju untuk menjalani.
Setelah mendapatkan Mayangseruni, si Gila Petualang pun langsung membawa 'hasil tangkapan'-nya ke markas Perserikatan
Setan. Tiba di dalam markas, si Gila Petualang menjatuhkan begitu saja tubuh
Mayangseruni dengan kasar. Sampai terdengar bunyi berdebum cukup keras ketika
tubuh sintal perempuan ayu itu meninju Iantai kayu.
"Tunggulah kau disini, Anak Manis," kata si Gila Petualang, dingin. Lalu
diloloskannya kain pengikat pinggang. Panjang kain itu cukup untuk mengikat
tangan dan kaki Mayangseruni ke tiang di tengah ruangan.
Ikatan selesai. Si Gila Petualang lalu menotok tiga jalan darah di tubuh
perempuan itu. "Kau akan sadar dalam beberapa hari. Dengan totokanku, kau tak akan bisa
memutuskan ikatan itu,"
gumamnya seperti berkata pada diri sendiri.
Selesai itu, orang tua ahli berbagai racun dan
bermacam ramuan dari penjuru dunia melangkah keluar.
Beberapa hari Iagi, dia akan kembali. Saat di mana seluruh anggota Perserikatan
Setan akan berkumpul di tempat yang sama.
*** Malam datang Iagi.
Tiga Datuk Karang berdiri membentuk lingkaran.
Wajah mereka memancarkan kepuasan. Jelas terlihat sudut bibir mereka terungkit
naik. Di tangan salah seorang dari mereka, Datuk Kening Perak, terdapat sebuah
kitab tua. Kitab itulah yang telah berhasil mereka curi dari tempat rahasia
penyimpanan benda-benda pusaka milik Petaruh Sakti Perut Buncit.
Bagi mereka, mencuri kitab pamungkas ilmu Karang
tak lebih dari usaha merebut kembali kitab yang telah lepas dari tangan mereka
karena sebuah taruhan konyol.
Puluhan tahun, telah puluhan tahun Tiga Datuk
Karang menanti saat seperti ini. Saat di mana mereka mendapatkan kembali kitab
inti dari kesaktian mereka.
Waktu selama itu bukanlah waktu yang singkat. Selama puluhan tahun, mereka
seperti disiksa dalam keterasingan serta dikungkung oleh rasa kekalahan.
Kini, Kitab Pamungkas Ilmu Karang telah kembali.
Waktunya bagi mereka untuk menyelesaikan beberapa ajian puncak dari kesaktian
mereka yang belum sempurna.
"Kapan kita akan mulai mempelajari kitab itu?" tanya Datuk Kening Ungu. Dari
binar matanya, tampak sekali kalau lelaki tua itu demikian berhasrat.
"Secepatnya. Sebaiknya, kita laksanakan malam ini juga," jawab Datuk Kening
Perak. "Bagaimana dengan rencana Pangeran Neraka"
Bukankah dia hendak menantang tanding keluarga besar Pendekar Lembah Kutukan
purnama mendatang" Apakah kita bisa menyelesaikan penyempurnaan ilmu Karang
kita" Sebab tanpa menyelesaikan kitab itu, kesempatan kita mengungguli
kesaktian keluarga Pendekar
Lembah Kutukan akan sangat kecil," tukas Datuk Kening Merah.
"Kalian tak perlu khawatir," kata Datuk Kening Perak, orang paling berpengaruh
di antara mereka seraya mengangkat
kitab di tangannya.'Kita
tak akan membutuhkan waktu lama untuk mempelajari kitab
pamungkas ini," tambahnya.
"Bagaimana mungkin" Bukankah Eyang Guru telah mengatakan pada kita bahwa kitab
itu butuh waktu tiga ratus purnama untuk mempelajarinya!" ujar Datuk Kening
Ungu. "Itu karena Eyang Guru mengatakan pada kita ketika kita masih berusia muda.... "
"Aku belum mengerti!" sela Datuk Kening Merah.
"Eyang Guru memang tidak pernah mengutarakan rahasia ini kepada kalian,
kecuahpada aku murid tertua."
"Itu tidak adil!"
"Tapi, sekarang kalian akan mendengarnya dariku!"
"Katakanlah!" desak Datuk Kening Ungu, orang tua paling muda di antara mereka.
"Kitab ini tak akan bisa dipelajari oleh seorang berusia di bawah lima puluh
tahun. Ketika guru berbicara pada kita tentang lamanya masa mempelajari kitab,
kita masih berusia rata-rata dua puluh limaan, bukan...?" Seperti sengaja
memancing rasa penasaran kedua saudara
seperguruannya,
Datuk Kening Perak menghentikan
ucapan. "Lalu" J angan bicara setengah-setengah seperti itu!"
sentak Datuk Kening Merah, gusar.
"Tiga ratus purnama berarti waktu dua puluh lima tahun. Guru tidak ingin
mengatakan kita membutuhkan waktu dua puluh lima tahun untuk mempelajari kitab
ini. Tapi, kita butuh tambahan usia dua puluh lima tahun Iagi untuk bisa mulai
mempelajari Kitab Pamungkas Ilmu Karang!"
Dua datuk lain mengangguk-angguk. Kini mereka
mengerti. "Kini usia kita telah jauh melampaui syarat lima puluh tahun. Kita bahkan telah
melampaui lima puluh tahun kedua. Asal kalian tahu, salah satu rahasia ilmu
Karang adalah, setiap penganutnya bertambah usia lima puluh tahun, maka ilmu itu
makin mendarah daging. Sementara, kita telah melampaui lima puluh tahun ketiga.
Itu artinya ilmu Karang yang kita pelajari akan semakin menyatu dengan diri
kita. Jika demikian, Pamungkasnya pun akan mudah kita pelajari!"
"Hua ha ha ha...!" Mendadak Datuk Kening Ungu tertawa terbahak-bahak. "Jadi,
selama ini kita sama saja telah menitipkan kitab sakti itu untuk diperam di
tempat si Buncit itu!" Iedeknya di antara gelak tawa.
Datuk Kening Merah mengekori tawa Datuk Kening
Ungu. Disusul Datuk Kening Perak. Lalu ketiganya benar-benar tenggelam dalam
gelak tawa meriah, mendongkel
langit malam. *** 5 Satu pekan berlalu sejak Tiga Datuk Karang bertemu.
Selama itu, ketiganya tak pemah terlihat batang hidungnya.
Entah ke mana mereka. Yang jelas, ketiga dedengkot golongan hitam itu sedang
memperdalam ilmu 'Karang'
mereka. Tentu saja untuk menyelesaikan penyempurnaan ilmu sesat yang telah
tertunda selama puluhan tahun.
Setelah menghilang bagai ditelan bumi, hari ini
mereka muncul kembali. Ketiganya berkumpul di tempat yang sama seperti terakhir
mereka lakukan.
Tiga Datuk Karang duduk bersila di atas sebatang lidi di bawah tubuh masing-
masing. Tangan ketiganya terlipat di depan dada. Mereka seperti sedang
memamerkan kesaktian pada langit dan bumi. Kalau seminggu lalu Datuk Kening Merah memegang
Kitab Pamungkas Ilmu Karang, kini tidak Iagi. Kitab tersebut telah ditinggalkan
mereka di tempat tersembunyi. Tempat yang sama yang mereka gunakan untuk
menyempurnakan ilmu Karang.
Artinya, dibanding serninggu lalu kini mereka jauh lebih digdaya. Kesaktian
mereka jauh melampaui waktu sebelumnya. Dan pamer kehebatan kali ini bukanlah
apa-apa dibanding tambahan kesaktian yang baru mereka dapatkan. Kalau hanya
duduk pada sebatang lidi, sebelum mempelajari Kitab Pamungkas Ilmu Karang pun
mereka dapat melakukannya. Satu alasan kenapa mereka
melakukan itu adalah karena untuk seminggu lamanya, mereka berpantang untuk
menyentuh bumi. Hari ini adalah hari terakhir pantangan tersebut, tepatnya
ketika matahari menanjak naik di atas ubun-ubun.
Di sanalah letak kekhawatiran Ki Saptacakra, sesepuh golongan lurus yang kesohor
dengan julukan Pendekar Lembah Kutukan. Kekhawatiran itu bukan menjalar di
benaknya belakangan ini saja. Puluhan tahun lalu, kekhawatiran serupa pun pernah
tumbuh. Karena Ki Saptacakra dan Petaruh Sakti Perut Buncit berhasil mendapatkan
Kitab Pamungkas Ilmu Karang, untuk
sementara kekhawatiran itu pupus.
Kini. kekhawatiran Pendekar Lembah Kutukan
menjangkit Iagi. Tentu saja bukan tanpa alasan. Kesaktian Tiga Datuk Karang jika
telah mendalami Ilmu Karang Pamungkas, bisa dipastikan akan merepotkan Pendekar
Lembah Kutukan. Ki Saptacakra yakin, kesaktian sempurnaan T iga Datuk Karang akan terdongkel naik beberapa tingkat di atas
kesaktiannya. "Hanya seminggu,
hanya seminggu kita telah
menyelesaikan kitab itu. Bukankah itu luar biasa?" ucap Datuk Kening Ungu,
membuka pembicaraan.
"Ya," timpal Datuk Kening Merah.
"Jadi, kita dapat menjalankan rencana Bureksa untuk memaksa si keparat
Saptacakra berhadapan dengan kita dalam waktu dekat. Saat rencana itu tiba, kita
telah benar-benar siap untuk merencah Saptacakra!" Datuk Kening Perak
menambahkan. Disebutnya Pangeran Neraka
dengan nama aslinya, Bureksa. Untuk usia, Pangeran Neraka memang berada jauh di
bawah mereka. Ketiganya tergelak dengan kepala terdongak-dongak.
Tertawa, Datuk Kening Merah memulai pembicaraan
kembali. Tepat tengah hari nanti, kita telah menyelesaikan penyempurnaan Ilmu Karang
Pamungkas kita. Apakah sekarang tak sebaiknya kita menjajal kembali?" usulnya.
Tak muncul jawaban secepatnya dari dua datuk yang lain. Datuk Kening Perak malah
menatap adiknya itu dengan sinar mata tajam menyorot. Sampai tiba-tiba saja dia
berseru lantang.
"Sambutlah!"
Tangannya menyentak ke depan. Kedua telapaknya
terbuka lebar-lebar. Ketika itu pula, terlepas pukulan Pamungkas Ilmu Karang
dari telapak tangannya. Tak ada sedikit pun desiran angin, atau sambaran tenaga
seperti pukulan-pukulan biasa. IImu Karang Pamungkas benar-benar memiliki satu
andalan, yakni pukulan tanpa wujud.
Banyak lawan dapat terpedaya karenanya.
Mengetahui orang tertua di antara mereka melepaskan ajian pamungkas tadi, Datuk Kening Merah dengan ketangkasan yang
sedikit pun tak kalah dengan orang-orang muda, segera saja melakukan hal yang
sama. Disentakkannya tangan dengan telapak terbuka lebar.
Pukulan Karang tanpa wujud pun lahir dari kedua belah telapak tangan Datuk


Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kening Merah. Sekejapan berikutnya, terjadi ledakan amat membuncah s uasana di antara kedua tokoh dedengkot kalangan sesat itu. Ledakan
yang mungkin lebih kuat dari satu pedati mesiu. Lebih menggelegar dari seratus
halilintar yang menyalak bersamaan! Bertolak belakang dengan gelegar dan ledakan
yang demikian hebat, tak terlihat sedikit pun bentuk ledakan tadi. Bahkan asap
tipis sekalipun. Seolah-olah ledakan barusan berasal dari balik alam lain. Hanya
saja, tanah kering berbatu kerikil di bawah ledakan menjadi bersemburan ke
segenap penjuru.
Kecepatan hamburan kerikil-kerikilnya sanggup melubangi batang-batang pohon!
Sebagian kerikil yang tersasarke arah T iga Datuk Karang dengan amat mengagumkan
dijentiki jari ketiganya. Gerakan mereka secepat terjangan seluruh kerikil.
Sampai tak ada satu pun yang sempat menyentuh kulit mereka.
Bumi seperti digoyang gempa. Pepohonan di sekitar mereka bergetar. Sisa-sisa
daun kering akibat kemarau berguguran dari rantingnya. Sebagian pohon yang
akarnya tak cukup sanggup bertahan, kala itu juga rebah kasar di tanah.
Membangun gemuruh tambahan dengan debumnya. Sementara, di pusat ledakan tercipta Iiang besar sedalam setengah badan manusia.
Lebar lingkarnya dua kali roda pedati!
Sesaat Datuk Kening Perak dan Datuk Kening Merah memandang lubang di tengah-
tengah tempat mereka yang berjarak sekitar delapan tombak. Selanjutnya kedua
lelaki tua itu terbahak-bahak, puas menyaksikan hasil pukulan dahsyat tadi.
Selagi keduanya menikmati tawa riuh rendah, Datuk Kening Ungu diam-diam
menyiapkan pukulan 'Karang Pamungkas'-nya pula. Tangannya menyen-tak ke depan
dengan telapak terbuka, seperti dilakukan dua datuk sebelumnya.
"Waspada!" serunya.
Daya perusak tanpa wujud dari dua telapak tangannya pun menerkam ke arah dua
datuk lain. Tawa Datuk Kening Merah dan Perak terpancung. Wajah mereka mengeras.
Mata mereka melirik siaga dalam gerakan amat cepat.
Secepatnya kedua lelaki tua itu menyambut serangan gelap tadi.
"Hiaaah!"
Keduanya berseru bersama terlepasnya pukulan
tanpa wujud dari telapak tangan mereka.
Kejadian sebelumnya pun ierulang kembali. Sekali ini terjadi ledakan dari dua
tempat berbeda. Satu berada di tengah jarak Datuk Kening Ungu dengan Datuk
Kening Perak. Yang lain berada di tengah antara Datuk Kening Ungu dengan Datuk
Kening Merah. Kalau satu ledakan sebelumnya saja berakibat
demikian hebat. Dua ledakan kali ini tentu saja jauh lebih dahsyat. Bumi
langsung terasa bergetar, pepohonan tumbang, dedaunan berguguran. Kala
bersamaan, hujan tanah bercampur kerikil tercipta. Lubang baru pun bertambah
menjadi tiga. Begitu hingar-bingar susut dari udara, tawa Tiga Datuk Karang membahana.
Tawa ketiganya baru terhenti ketika sebentuk suara serak berlendir menghardik
mereka. "Pamer kesaktian yang dungu! Kenapa kalian tak menghemat tenaga untuk menghadapi
musuh kalian"!"
Tiga Datuk Karang menoleh cepat ke asal suara.
Menyaksikan siapa yang berdiri di sana, mata berkerut mereka menyempit
keterlaluan. Dari paras ketiganya terKhat kalau mereka tak bisa mempercayai
penglihatan sendirl Sebaliknya, kerut di antara alis mata putih ketiga
lelaki tua itu menunjukkan keter peranjatan penuh.
Inilah yang disebut kemustahilan bagi tiga dedengkot kaum sesat itu. Bolehlah
mereka mengaku sebagai orang berusia teramat lanjut yang telah banyak menelan
asam garam persilatan. Tak sedikit mereka menyaksikan keanehan-keanehan dunia.
Tapi pemandangan yang
disaksikan kali ini, sungguh tak bisa diterima. Mereka ingin menolaknya dan
menganggap telah salah melihat. Sayang, kenyataan memang telah terbentang di
depan mata. Orang yang mereka saksikan tak lain Mata Dewa
Kematian! Bagi Tiga Datuk Karang, Mata Dewa Kematian sudah dipastikan telah
kehilangan nyawa. Sewaktu terakhir kali mereka meninggalkan mayatnya, mereka
telah mulai mencium bau bangkai. Pembus ukan mayat saat itu telah terjadi. Kalau
kini mereka menyaksikan Mata Dewa Kematian kembali, bukankah itu kemustahilan"
Sebagai dedengkot yang banyak tahu tentang
kesaktian-kesaktian di dunia persilatan, tentu saja mereka mengetahui ada ilmu-
ilmu yang menyebabkan seseorang dapat hidup kembali dari kematian tak wajar.
Seperti Rawe Rontek. (Kisah tentang ilmu Rawe Rontek bisa dibaca dalam episode:
"Darah Pembangkit Mayat" dan "Bangkitnya Ki Rawe Rontek"). Namun, mereka tahu
benar Mata Dewa Kematian bukan salah seorang penganut ilmu sesat itu.
Lagi pula, sudah sekian lama ilmu itu terkubur bumi tanpa ada yang bisa
mempelajari. Dan ilmu itu pun tidak membuat mayat penganutnya menjadi membusuk!
Jadi siapa yang tengah mereka saksikan kini" Apa benar-benar Mata Dewa Kematian
yang nyawanya telah mereka lempar ke neraka" Timbul dugaan dalam benak Tiga
Datuk Karang kalau orangyang dilihat mereka kemungkinan besar adalah kembaran
Mata Dewa Kematian. Siapa tahu lelaki itu memang memiliki saudara kembar yang tak pernah
diceritakan. Atau ada seorang ahli menyamar yang hendak memperdayai"
"Siapa kau"!" tegur Datuk Kening Perak, penasaran.
"Kau lupa?" jawab lelaki yang datang. Wajahnya sudah
membiru. Darahnya seakan telah menjadi beku dan tak pernah mengalir kembali. Bau
busuk menebar ke mana-mana. Itu sebabnya, tubuhnya selalu dikerubungi lalat-
lalat." Kelopak matanya berlendir. Sedang kedua biji matanya berbercak-bercak
kehijauan. "Jangan bermain-main dengan kami!" hardik Datuk Kening Ungu, galau.
"Aku adalah orang yang telah kalian bunuh," ujar lelaki pendatang kembali. Kalau
mendengar suara serak
berlendirnya, tentu ada kebusukan di pita suara di tenggorokan lelaki itu.
"Mata Dewa Kematian" Tak mungkin," desis Datuk Kening Perak, menolak.
Mendengar ucapan tak sadar Datuk Kening Perak,
lelaki pendatang yang mengaku sebagai Mata Dewa
Kematian tertawa tercekat-cekat. Suara tawanya terburai-burai berantakan.
Sekaligus menggidikkan.
"Aku tak percaya! Mata Dewa Kematian telah mati!
Kami sudah memastikan itu! Jadi, katakan pada kami siapa sebenarnya kau" Jangan
jajal kesabaran kami!"
sambar Datuk Kening Merah meledak-ledak.
"Matamu jeli, Kening Merah. Aku sesungguhnya memang bukan Mata Dewa Kematian,"
ucap lelaki pendatang. Caranya menyebut nama Datuk Kening Merah menunjukkan
kalau dia tak terlalu menganggap kebesaran nama Tiga Datuk Karang.
"Aku hanya meminjam jasadnya yang hampir
membusuk!"
Tiga Datuk Karang seperti disengat seribu lebah
mendengar ucapan lelaki pendatang. Mereka rasanya sulit mempercayai. Tapi, kalau
melihat keadaan tubuh orang itu, mau tidak mau mereka harus meragukan kembali
ketidak percayaan mereka.
Dan seperti pendapat banyak orang, terkadang
perasaan menutup pikiran sehat seseorang. Itu pun terjadi pada Tiga Datuk
Karang. Biarpun mereka sulit untuk menolak kenyataan yang mereka saksikan dengan
mata kepala sendiri, tapi keangkuhan mereka selaku dedengkot dunia persilatan
menyebabkan ketiganya merasa sedang dipermainkan.
"Keparat! Kau pikir aku akan percaya begitu saja isapan
jempolmu!"
geram Datuk Kening Perak. Kemarahannya mendorong lekaki tua itu untuk melepas pukulan pamungkas yang belum
cukup lama didapat.
"Heaaa!"
*** 6 Tengah hari. Sekawanan kerbau liar memasuki
perbatasan wilayah Karangbolong, selatan tanah Jawa.
Mereka berlari dalam kelompok besar. Ada tak kurang dari lima puluh ekor. Arah
lari mereka lurus terus menuju sebuah desa nelayan. Sepanjang arah lari
binatang-binatang liar itu, debu mengepul Bergulung-gulung serta membumbung.
Selagi berlari, mereka memperdengarkan suara-suara hiruk-pikuk. Bukan cuma
dihasilkan oleh hentakan kaki kaki mereka. Namun juga suara dari mulut. Suara
yang lebih kentara sebagai cetusan amukan. Hidung kerbau-kerbau itu mendengus-
dengus, menghembuskan napas beruap panas. Sesekali kepala mereka melakukan
gerakan menanduk dengan tanduk yang rata-rata panjang dan seruncing mata belati.
Siang makin nyalang. Panas makin garang. Hari
seperti hanya akan mendukung puluhan ekor kerbau liar yang siap meledakkan
amukan hebat. Memasuki tanah berpasir, mendekati wilayah pantai, kelompok kerbau gelap mata
yang datang entah dari mana itu makin tak terkendah. Mereka makin kalap pada
sesuatu yang tak jelas. Apa pun diterjang mereka. Tak peduh
pohon kelapa berada di depan mereka, diterjangnya. Tak jauh dari posisi mereka kini, ada sebuah desa nelayan kecil. Siang itu
beberapa penduduk masih tampak di sekitar. Kaum lelaki yang belum berangkat ke
tengah laut tampak sedang mempersiapkan jala di gubuk-gubuk mereka. Kaum
wanitanya sedang menyiapkan makan siang untuk keluarga. Sedangkan anak-anak
mereka sedang bermain-main di luar. Beberapa bocah berusia di bawah belasan
sedang bermain bentengan.
Suara riuh-rendah di kejauhan luput dari perhatian anak-anak itu. Mereka terus
bermain dengan wajah cerah.
Mereka berteriak-teriak, terengah-engah. Berlari berhenti,
lalu berlari Iagi.
Sementara itu, kawanan kerbau liar telah memasuki mulut desa. Satu ekor di
antaranya berlari terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan setelah sebelumnya
mencoba menanduk kuat-kuat pohon kelapa.
Dari lendir yang mengalir di antara mulut kawanan hewan itu, tampak jelas mereka
makin mata gelap. Ada yang menjadi penyebab mereka mengamuk, pasti. Entah apa.
Satu gubuk tua tak berpenghuni di mulut desa menjadi korban amukan. Dindingnya
dijebol. Tiang-tiangnya dipelantingkan oleh kekuatan tandukan mereka. Atap dan
dedaunan kelapa kering beterbangan. Tak memakan waktu lanuCgubuk itu sudah tak
berbentuk Iagi. Mereka seperti tak puas dengan melampiaskan hanya pada gubuk
tadi. Kerbau-kerbau itu berlari kembali. Sampai akhirnya mereka tiba di tempat bocah-
bocah bermain. Demi menyaksikan ada sekawanan kerbau siap
mengamuk, anak-anak yang sedang bermain ber-teriak sejadi-jadinya. Mereka
berhamburan ketakutan, berusaha menyelamatkan diri.
"Kerbau ngamuk! Kerbau ngamuk!" teriak mereka, berbenturan dengan suara amukan
kawanan kerbau.
Mendengar teriakan melengking para bocah-bocah,
kaum ibu bergegas keluar. Wajah mereka berubah pucat menyaksikan anaknya berlari
keta-kutan. Di belakang sana, ada kawanan kerbau gila mengejar. Mereka cepat
keluar, turun dari rumah panggung, menyambar cepat-cepat anak mereka, lalu
segera naik kembali.
Para nelayan lelaki tersentak dari keasyikan kerja mereka. Ditinggalkannya
pekerjaan tcrgesa-gesa. Mereka berlarian ke tengah desa. Di sana, mereka malah
disambut oleh puluhan binatang mengamuk.
Tanpa ilmu bela diri, mereka merasa tak berguna
menghadapi amukan puluhan binatang berbadan lebih besar dari mereka. Satu ekor
saja yang mengamuk, belum tentu bisa mereka tundukkan dengan mudah. Apalagi
puluhan" Kontan saja mereka lari tunggang-langgang. Banyak di antara mereka yang cepat-
cepat menyergap pohon kelapa.
Lalu segera dipanjatnya. Sementara mereka meringkuk di atas, di bawahnya
menunggu dua-tiga ekor kerbau dengan kepala menanduk-nanduki pohon.
Sebagian kerbau liar mencoba menaiki tangga rumah panggung. Teriakan-teriakan
para wanita pun bersahut-sahutan tak beraturan. Kerbau-kerbau makin berangasan.
Yang berhasil menaiki tangga rumah segera menerjang pintu.
Para suami yang menyaksikan tangga rumahnya
dinaiki kerbau gila, menjadi nekat. Mereka segera mengambil dayung lalu melompat
dari belakang rumah.
Dengan dayung itu, mereka berusaha menghalau kerbau untuk turun kembali. Ada
pula beberapa orang yang menggunakan senjata. Tapi itu malah mendongkel
kekalapan kerbau menjadi lebih parah.
Sampai.... "Waaaa!"
Seorang tertanduk. Perutnya robek. Tak puas hanya menghujamkan tanduk ke perut
kobannya, kerbau terluka itu menyentak kepala kuat-kuat ke atas. Tubuh si
nelayan malang pun terlempar ke atas lalu menimpa punggung kerbau. Ketika jatuh
ke anak tangga, kerbau luka tadi berbalik. Ditandukinya Iagi korbannya hingga
terguling-guling ke bawah.
Menyaksikan seorang warga desa menjadi korban,
para wanita dan anak-anak makin panik. Suara tangisan bocah dan lengkingan ngeri
para perempuan bertumbukan menjadi satu.
Ada seorang bocah berusia sekitar tujuh tahun
merengket ketakutan, sendiri di balik sebatang pohon kelapa. Untuk menangis dia
tak berani, takut kalau ada seekor kerbau yang mendengarnya. Tidak menangis,
tubuhnya malah menjadi bergetaran hebat.
Ketakutan yang memuncak membuat dia tak bisa
menahan perasaan takut Iagi. Dilampiaskannya perasaan takut itu dengan menangis
sesegukan. Di salah satu gubuk, seorang nelayan berteriak-teriak pada nelayan lain.
"Anakmu, Karta! Anakmu!" serunya sambil menunjuk ke arah bocah yang bersembunyi
di balik pohon kelapa.
Nelayan yang dipanggil Karta tercengang sebentar menyadari anaknya merengket
sendiri di sana, sebelum akhirnya dia berteriak serak sejadi-jadinya, memanggil
nama anak itu. Dengan keberanian yang tak Iagi
terpikirkan, Karta keluar dari gubuk. Istrinya menjerit-jerit, hanya berani
berlari hingga mulut pintu. Karta berlari sekuat-kuatnya. Sementara beberapa
ekor kerbau melihat.
Diburunya nelayan itu.
Karta benar-benar harus berlomba dengan kecepatan lari lima ekor kerbau jantan
mengamuk agar bisa
menjangkau tempat anaknya. Jika, tidak dia akan bernasib sama dengan penduduk
sebelumnya! Tapi, usaha Karta bukanlah apa-apa dibanding tenaga lari
kelima kerbau yang memburunya. Hanya membutuhkan waktu beberapa tarikan napas, kerbau-kerbau itu sudah begitu dekat
di belakang Karta.
"Tolooong!"
Akhimya, goyah juga kenekatan Karta. Tak terpikir Iagi bagaimana dia harus
menyelamatkan anaknya. Saat itu, yang paling membayangi benaknya adalah gambaran
tanduk tajam kelima kerbau!
Sementara itu dua ekor kerbau akhirnya mengetahui juga keberadaan seorang bocah


Pendekar Slebor 45 Ajian Sesat Pendekar Slebor di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

di bawah pohon kelapa.
Mendengus-dengus mereka memainkan satu kaki depan di atas pasir. Kepala mereka
mengangguk-angguk kuat. Lalu dengan kecepatan penuh keduanya seperti berlomba
untuk lebih cepat melempar tubuh kurus si bocah.
Sebelum Karta menjadi korban berikutnya, dan
sebelum dua kerbau tadi melontarkan semena-mena tubuh si bocah...
Wss! Prak-prak-prak!
Serangan geram Datuk Kening Perak meluruk deras
ke arah lelaki pendatang. Jangan tanya bagaimana keadaan tubuh orang itu jika
terkena. Setidaknya bagian-bagian tubuhnya akan bertebaran ke mana-mana. Lebih
mengerikan Iagi, mungkin dagingnya akan menjadi
rencahan-rencahan kecil berserakan!
Bayangan seperti itu pun terbetik dalam benak Datuk Kening Perak. Tentu dia
sangat yakin bagaimana
keampuhan ilmu Karang Pamungkas yang baru saja
didapatnya. Keyakinan itu tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi kemudian.
Begitu pukulan tanpa wujudnyamenghantam sasaran, seperti sebelumnya tercipta
ledakan besar amat santer.
Amat mengguntur. Debu, pasirdan kerikil pun kembali beterbangan. Namun ketika
debu, pasir, dan kerikil telah bersatu kembali dengan bumi( Datuk Kening Perak
dan dua datuk lain menjadi tercengang-cengang.
Lelaki pendatang, mayat Mata Dewa Kematian yang
bangkit kembali, ternyata masih utuh sama sekali. Bahkan, tubuhnya tergeser pun
tidak. Meski dalam ukuran jari!
Tak ada yang lucu dari keterperangahan di wajah Tiga Datuk Karang. Biarpun
begitu, si lelaki pendatang malah tertawa dengan suara serak berlendirnya.
"Kalian pikir, Ilmu Karang Pamungkas kalian cukup hebat untuk menghadapiku?"
cemooh lelaki pendatang, yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai mayat
berjalan itu. "Kalau kalian hendak menjajalnya, cobalah pada seekor
katak! Jangan padaku!" lanjutnya, makin meremehkan ilmu andalan Tiga Datuk Karang yang
rencananya mereka persiapkan untuk menghadapi Pendekar Lembah Kutukan.
"Celaka! Siapa orang ini" Kenapa Pukulan Karang Pamungkas tidak sanggup
melantakkan tubuhnya?" rutuk Datuk Kening Merah. Kalau begitu, sia-sia saja
mereka mempelajari Kitab Karang Pamungkas setelah mereka menanti puluhan tahun
lamanya, pikirnya gundah.
"Siapa kau sebenarnya, Kisanak?" tanya Datuk Kening Perak. Dia kini sadar
sesadar-sadarnya, kalau lawan bukanlah manusia sembarangan. Mereka saja, yang
jelas-jelas sebagai dedengkot golongan sesat dunia persilatan hanya dianggap
sedemikian remeh olehnya. Dan itu bukan semata sesumbar. Bukan cuma pepesan
kosong tanpa isi. Ucapannya telah dibuktikan sebelumnya dengan menaklukkan
kehebatan pukulan tanpa wujud Karang Pamungkas.
"Aku...?"
kata lelaki pendatang, menanggapi pertanyaan Datuk Kening Perak. Setelah itu, dia tak melanjutkan kalimatnya.
Malah ditatapnya Tiga Datuk Karang satu persatu dengan tatapan amat menusuk tiga
orang tua itu T atapannya seperti memancarkan daya tenung demikian kuat.
Mengerikan. Terasa dada Tiga Datuk Karang seperti dirasuki sesuatu dengan paksa.
"Kalau kalian menganggap Mata Dewa Kematian telah mati, kalian tidak keliru.
Nyawa lelaki itu memang telah terlempar ke dasar neraka. Lalu, aku memakai
bangkainya. Entah kenapa aku demikian suka memakai bangkai busuk lelaki jelek
ini. Padahal banyak tubuh yang lebih bagus!"
"Kau belum menjelaskan padaku,
siapa kau sebenarnya?" ulang Datuk Kening Perak, ingin keje-lasan.
"Aku," sebelum melanjutkan, manusia bangkai itu tertawa menyeramkan Iagi. "Aku
dulu dikenal dengan julukan Manusia Dari Pusat Bumi. Akulah satu-satunya musuh
utama Pendekar Slebor. Aku kembali ke alam nyata untuk membayar kekalahanku
dulu. Dan aku akan
membuat perserikatan kalian mencapai cita-cita utama kalian, menyingkirkan
Pendekar Slebor dan seluruh keluarganya!" sambung si manusia bangkai.
Sebagaimana pengakuannya, dia adalah Manusia Dari Pusat Bumi. Roh gentayangan
tokoh setengah siluman yang begitu
memusuhi Pendekar Slebor. Sepertinya takdir telah menentukan
bahwa dua manusia yang berbeda kepribadian sama sekali itu akan menjadi seteru satu
dengan yang lain. Alam kegelapan memang telah
mengutus Manusia Dari Pusat Bumi untuk menaklukkan Pendekar Slebor. Sampai saat
ini, tujuan busuk itu tak pernah tercapai. (Untuk mengetahui kisah manusia sesat
ini, bacalah episode "Manusia Dari Pusat Bumi" dan
"Pengadilan Perut Bumi")!
Cahaya yang berkelebatan dari Iangit dan suara
seseorang yang menggelegar ketika sembilan tokoh sesat dunia persilatan sedang
bertemu waktu itu pun sebenarnya adalah pekerjaan roh Manusia Dari Pusat Bumi.
(Baca dalam serial Pendekar Slebor dalam episode sebelumnya:
"Macan Kepala Ular")!
*** 7 Pendekar Slebor menjejakkan kaki dengan mantap di punggung salah seekor kerbau
yang mengamuk di desa sekitar
wilayah Karangbolong. Tiga ekor kerbau sebelumnya dibuat modar. Kepala ketiga binatang itu pecah. Isi tempurung
kepalanya berantakan keluar.
Pendekar Slebor telah melcmparinya dengan tiga belahan buah kelapa. Tentu saja
kepala sekeras kerbau tak akan pecah begitu saja jika lemparan itu tak
disalurkan tenaga dalam warisan Pendekar Lembah Kutukan.
Dengan begitu, nyawa si bocah di balik pohon kelapa dan lelaki nelayan ayah si
bocah punluput dari
cengkeraman maut.
Ketika kawanan kerbau itu mulai memasuki daerah
pesisir pantai di mana Pendekar Slebor sedang berjalan-jalan, mencari angin
segar. Selama ini dia begitu penat.
Tetap tinggal di gubuk Petaruh Sakti Perut Buncit, seperti tinggal dalam lubang
siluman. Sudah pengap, bau pula!
Tentu saja anak muda itu jadi tidak betah.
Sejak mengetahui kalau Kitab Pamungkas Ilmu
Karang mcnghilang dari tempat penyimpanannya, Andika meminta izin buyutnya untuk
membantu mencari. Tapi, si perempuan uzur nan cerewet Nyai Silili-lilu malah
menceramahinya setengah harian. Menurut NyaiSilili-lilu, cicit kemenakannya itu
harus beristirahat selama beberapa hari. Itu dibutuhkan karena Andika baru saja
menjalani pengobatan akibat luka dalam yang dideritanya ketika bertarung dengan
Amitha. (Baca episode sebelumnya:
"Perserikatan Setan")!
Andika bisa ngotot menolak. Sebagai ksatria, tak ada istilah menyerah baginya.
Apalagi berleha-Ieha hanya karena luka dalam. Tapi, dia mau berbuat apa Iagi
kalau 'titah' itu jatuh dari mulut Nyai Silili-lilu. Perempuan bangkotan kepala batu
itu paling benci kalau dirinya dibantah. Apalagi oleh cicit kemenakan sendiri.
Dia bisa mengamuk seperti topan bercampur kentut!
Buyutnya sendiri tak bisa memberikan dukungan. Biar bagaimana, Nyai Silili-lilu
adalah kakak perempuannya. Dia sebenarnya lebih suka Andika membantunya
melakukan pencarian kitab. Toh, sebagai kakek buyut, dia tak ingin mendidik
keturunannya menjadi orang-orang pecundang.
Naga Jawa Negeri Di Atap Langit 10 Kisah Para Naga Di Pusaran Badai Karya Marshall Pedang Angin Berbisik 18
^