Pencarian

Perompak Perompak Laut Cina 2

Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina Bagian 2


Mereka lalu mulai memasuki ruang demi
ruang di dalam kapal Ular Laut Kepala Kembar.
Sejak peristiwa penyerangan si kelelawar, kedua pemuda itu mulai bisa menguasai
ketegangan. Saraf mereka agak mengendur, setelah menerta-
wai kesialan Andika. Sewaktu mulai memeriksa
setiap ruang dalam lorong kapal, ketegangan itu datang lagi. Bahkan, lebih parah
daripada sebelumnya.
Walau begitu, mereka tak lagi menemukan
ancaman. Tak juga hadangan dari seekor kelela-
war buas tadi. Yang ditemukan hanya ruang-
ruang kosong tak terurus. Remang-remang dan
pengap. Jauh di luar gambaran sebuah kapal layar
perompak paling ditakuti yang mestinya menim-
bun harta rampasan di beberapa ruangan, yang
mereka temukan justru serakan tulang-belulang
manusia di sana-sini. Debu tebal dimana-mana.
Sementara jajahan sarang laba-laba tampak
hampir memenuhi di setiap sudut.
Di mana pun dalam lambung kapal itu,
bau bangkai busuk terus mengikuti kedua anak
muda ini. "Aku tak percaya ini," bisik Chin Liong seperti bergumam sendiri. "Bagaimana
mungkin kapal itu dihuni perompak ulung. Bahkan paling
ulung...."
Lain yang dipikirkan Chin Liong, lain pula
Pendekar Slebor. Ada satu keganjilan yang terasa olehnya. Kalau tujuan mereka
datang ke kapal
adalah hendak menuntut keadilan pada awak
kapal yang telah membuat beberapa orang tewas,
lalu ke mana awak kapal itu" Benak Andika mulai mereka-reka.
"Kau yakin kita telah memeriksa seluruh
ruangan dalam kapal ini, Chin Liong?" tanya Andika, ragu.
"Ya! Kenapa?"
"Apa kau temukan awaknya?" susul Andika lagi. Chin Liong menggeleng. Otaknya
mencoba meraba maksud pertanyaan sahabatnya. "Apa tak terasa aneh?"
Ya! Tentu saja Chin Liong merasakan pula
keanehan itu. Itu pun setelah Andika mengajukan pertanyaannya.
"Benar," desis Chin Liong, menyadari satu kesalahan yang telah mereka buat.
Kesalahan apa, dia sendiri masih sulit mengungkapnya.
Hanya saja, terasa ada yang tidak beres.
"Ingat kelelawar yang menyerangku?" susul Andika.
Chin Liong mengangguk.
"Kenapa dengan binatang itu, Andika?"
tuntut Chin Liong, terburu-buru.
Pertanyaan penasaran Chin Liong tak
mendapat jawaban. Karena, Andika lebih berge-
gas memburu ke pintu keluar. Bahkan dia sempat
mendorong tubuh Chin Liong, karena begitu ter-
buru-buru. "Andika! Ada apa sebenarnya?" seru Chin Liong begitu mereka hampir tiba di
geladak. Chin Liong yakin larinya Andika yang
memburu bukan karena ketakutan. Bukan sifat
pemuda itu untuk dikalahkan rasa takut sebesar
apa pun. Tapi, apa"
"Bangsat!" damprat Andika ketika tiba di luar. Mata Pendekar Slebor yang jalang
meman-dang ke arah kapal armada Cina Ying Lien. Di sa-na, sedang terjadi
pertarungan antara prajurit, perwira Kerajaan Cina dan Ying Lien, melawan
dua lelaki berwajah buruk.
"Astaga! Bagaimana Dua Ular Laut itu bisa
tiba di kapal kita"!" sentak Chin Liong terperangah tak alang kepalang, begitu
ikut menyaksikan apa yang terjadi.
Untuk kedua kalinya, pertanyaan pemuda
Cina itu tak digubris Pendekar Slebor. Karena,
pendekar muda tanah Jawa itu sudah melompat
ke laut. Chin Liong menyusul di belakang. Dengan
cara yang sama seperti sebelumnya, mereka kem-
bali ke kapal armada Kerajaan Cina.
Bagaimana Andika bisa tahu kalau Dua
Ular Laut telah menyeberang ke kapal mereka"
Sederhana saja, menurut Andika. Dengan tidak
ditemukannya penghuni kapal, berarti Dua Ular
Laut telah pergi. Sewaktu Andika dan Chin Liong baru saja hendak memasuki ruang
dalam kapal, kelelawar yang bisa dipastikan sebagai hewan peliharaan Dua Ular Laut, mencoba
menahan Andi- ka. Jelas, maksudnya agar kedua tuannya sempat
meninggalkan kapal. Andika menyadarinya, sete-
lah teringat pada kelelawar buas yang tiba-tiba saja meninggalkannya....
*** Kerusuhan maut berkobar telah cukup la-
ma, sampai Andika dan Chin Liong menyada-
rinya. Di atas kapalnya, Ying Lien harus menghadapi Ular Merah seorang diri. Di
lain sisi, empat perwira serta para prajurit sungsang-sumbel
menghadapi gempuran Ular Belang.
Kalau pertarungan Ular Belang dengan la-
wan-lawannya meledak dengan jurus-jurus keras,
pertarungan Ying Lien melawan Ular Merah lain
lagi. Ke-duanya mengadu kesaktian, tanpa sedikit pun melakukan gempuran jurus-
jurus. Ying lien yang memiliki pendengaran tera-
mat peka, dipaksa bertahan mati-matian didesak
lengkingan demi lengkingan tinggi kelelawar besar yang menggelantung di lengan
membentang si Ular Merah, Rupanya kali ini Andika salah menduga
tentang satu hal. Ternyata memang lengkingan
kelelawar itu yang telah membunuh beberapa
prajurit sebelumnya.
Dengan bantuan tenaga sakti tuannya, jeri-
tan kelelawar itu mampu mengoyak-ngoyak jarin-
gan otak seorang berilmu cetek! Itu sebabnya,
Andika tak menyangka sama sekali bila si kelelawar bisa menghasilkan lengkingan
maut. Sebab, saat bertemu kelelawar itu tuannya tak ada di
tempat "Keeeiiik!"
Entah untuk yang keberapa kali lengkin-
gan kelelawar besar di tangan Ular Merah terle-
pas. Setiap kali terdengar, Ying Lien langsung tersentak hebat. Tubuhnya
mengejang, seperti se-
seorang yang dilabrak petir.
Wajah gadis cantik itu sudah membiru,
pertanda memaksakan seluruh tenaganya untuk
melawan desakan lengkingan. Tangannya menu-
tup rapat-rapat telinga. Mungkin pengerahan te-
naga saja, terasa tak cukup baginya. Bahkan kini, matanya terpejam menahan
sakit. Pada lengkingan berikutnya, mengalir da-
rah kental kehitaman dari lubang hidung Ying
Lien. Lalu dari sela-sela bibir tipisnya, cepat ketika tubuhnya tersentak
kembali. Benteng pertahanan putri Cina itu kian
merapuh. Kuda-kudanya mulai bergetar mele-
mah, lalu mulai pula tersimpuh.
Genting. Keadaannya semakin genting.
"Keeeiiikh!"
"Ahhh...."
Pada sentakan terakhir, Ying lien pun ter-
puruk ke depan. Tubuhnya lunglai, tersujud di
lantai geladak. Sekali lagi lengkingan menggebah, maka akan pecahlah gendang
telinga gadis ini.
Bisa-bisa indera pendengarannya yang selama ini sudah menjadi pengganti indera
penglihatannya,
akan hilang. Atau lebih parah lagi, dia bisa kehilangan satu-satunya yang
dimiliki. Nyawa!
*** Betapa murkanya Pendekar Slebor. Begitu
kakinya menjejak geladak, langsung disuguhkan
pemandangan mengenaskan. Tampak Ying Lien
sudah terpuruk lunglai di lantai kayu geladak
yang telah dinodai darahnya.
Kontan si pendekar kelotokan ini mencak-
mencak tak karuan. Disemburnya Ular Merah
dengan makian paling kasar yang pernah diden-
gar manusia sepanjang zaman.
"Ying Lien!" seru Chin Liong di sisi Pendekar Slebor, setelah matanya pun
menemukan tu- buh gadis itu. Kemudian Chin Liong menghambur ke
arah Ying Lien. Disanggahnya tubuh lunglai gadis itu di dada bidangnya.
Ying Lien mengeluh lamat.
"Tenang, Ying Lien.... Kau akan selamat,"
bisik Chin Liong, terduduk di lantai geladak.
Napas pemuda sipit ini turun naik membu-
ru, diberontaki perasaan tak karuan. Murka,
gundah, trenyuh, dan kegeraman. Semuanya
campur-aduk. Kemudian, diletakkannya kepala
putri Cina ini di lantai geladak. Hati-hati sekali.
"Akan kubunuh kau, Keparat!" geram Chin Liong kemudian kepada Ular Merah yang
masih berdiri dingin sekitar tujuh depa di sisi kanannya.
Chin Liong bangkit bersama bara kemara-
han di segenap dada. Kedua telapak tangannya
mengepal kuat-kuat, seakan hendak meremukkan
jari-jemarinya sendiri. Diawali gemeletuk rahang-
nya, diterkamnya Ular Merah dengan membabi
buta. "Chin Liong, tunggu!" Andika mencoba menahan. Sayang terlambat. Chin Liong
sudah me- luncur deras ke arah calon lawannya. Tubuhnya
mengejang di udara, tak bedanya sebatang tom-
bak baja. Tangan kanannya mengacung lurus ke
depan. Satu tangan yang lain merapat di dada.
Dengan kepalan tangan kanan, hendak diremuk-
kannya kepala Ular Merah seketika.
"Kheeeaaa!"
Pendekar Slebor tersentak ngeri. Tindakan
Chin Liong justru bisa berakibat buruk untuk dirinya sendiri. Dan Andika yakin
itu. Dia ingin menyergap serangan Chin Liong, tapi sudah tak
mungkin. Wuhhh! "Ugh!"
Benar saja. Dalam sekejap, terdengar sen-
takan napas Chin Liong di udara. Tubuhnya lan-
tas terlempar kembali ke belakang, satu depa sebelum terjangannya tiba di kepala
Ular Merah. Anak muda itu seperti baru saja melanggar ben-
teng liar tak terlihat!
Di udara, mulut Chin Liong menyembur-
kan darah. Setelah melewati jarak delapan tom-
bak, tubuhnya siap berdebam di lantai geladak
tempat tombak para prajurit.
Sementara, Andika tak mau kehilangan ke-
sempatan untuk kedua kalinya. Seketika tubuh-
nya digenjot. Cepat bagai kilat, disusulnya luncuran tubuh Chin Liong.
Tap! Chin Liong berhasil disambar Andika. Ka-
lau tidak, pasti akan dipanggang tiga tombak besar yang disusun terbalik.
"Bagaimana dia bisa melakukannya?" lirih Chin Liong dalam bopongan Andika. "Aku
tak melihatnya bergerak. Tapi, kenapa dia membuatku
terpental balik?"
"Pelajaran buatmu, Chin Liong! Jangan se-
kali pun kau bertarung dengan amarah tak ter-
kendali." Bukannya menjawab, Andika malah
mengkhotbahi Chin Liong.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku da-
lam bahaya?" tanya Chin Liong lagi, sewaktu Andika menurunkan tubuhnya di lantai
geladak. Tangan Chin Liong memegangi dadanya
yang terasa baru tertimpa godam ribuan kati.
"Kalau dia bisa memanfaatkan udara un-
tuk menyalurkan tenaga saktinya pada lengkin-
gan kelelawar, sudah pasti pula bisa meman-
faatkan udara untuk membuat benteng tenaga
sakti di sekitar tubuhnya," papar Andika, pasti.
Chin Liong tersadar kini. Dalam hati, me-
muji lagi kecerdikan Andika.
"Kau tak apa-apa?" susul Andika.
Chin Liong menggeleng.
"Tidak," kata pemuda ini, lirih dan tersendat.
"Akan kuberi pelajaran orang berkulit me-
rah itu seperti pinggiran koreng," janji Andika pa-da Chin Liong. "Dan, hutangku
padamu sudah lunas, bukan?"
Tentu saja maksud Andika adalah tindakan
Chin Liong yang berusaha menolongnya pada saat
terjadi badai. Sebetulnya, Andika pun merasakan ke-
murkaan yang tak kalah menggelegak ketimbang
Chin Liong. Bagaimana tidak murka" Ying Lien
adalah salah seorang sahabat dekatnya, di samp-
ing Chin Liong. Inginnya Pendekar Slebor lang-
sung mengumbar kemarahannya pada si Ular Me-
rah. Tapi pengalamannya selama ini telah menga-
jarkan, bahwa mengikuti hawa nafsu tak terken-
dali hanya bakal merugikan diri sendiri. Hati boleh terbakar. Tapi, kepala harus
tetap sejernih te-laga! Sementara Ular Merah masih tetap mema-
tung dingin, Pendekar Slebor melangkah mende-
kat. Ketika jaraknya terpaut sekitar enam langkah lagi, Andika berhenti.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Andika, tetap menjaga ketenangan.
"Bukan urusanmu," desis Ular Merah singkat. "Jangan yakin dulu!"
"Kau bukan orang Kerajaan Cina. Lebih
baik menyingkir!"


Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Siapapun kau, apa pun katamu, bagaima-
napun warna kulit jelekmu, urusan mereka ada-
lah urusanku!" tandas Andika, seraya menunjuk ke arah Ying Lien dan Chin Liong.
"Kau rupanya tak tahu sedang berhadapan
dengan siapa...," cibir Ular Merah, pongah. Walau begitu, wajahnya tak berubah
banyak. Tetap mempertahankan kebekuan yang membuat Andi-
ka jadi muak melihatnya.
"Kau tidak tahu, sedang berhadapan den-
gan siapa rupanya...," sahut Andika, membalik kata-kata Ular Merah.
"Jangan membuang-buang waktuku!"
"He-he-he...," Andika malah terkekeh.
"Jangan membentak seperti itu. Wajahmu jadi lebih jelek daripada seekor anjing
panu yang se- dang menggonggong!"
"Aku Ular Merah, penguasa Laut Cina Sela-
tan!" gertak Ular Merah. Sepertinya, dia hendak mencoba menciutkan nyali Andika
dengan menyebut nama besarnya.
Sayang seribu kali sayang. Yang digertak
bukan anak kemarin sore, tapi Andika. Seorang
pendekar yang mungkin paling masa bodoh di an-
tara orang-orang yang paling acuh di jagat raya ini. Lagi pula, mana Andika
peduli pada nama besar yang sebenarnya baru kali ini didengarnya"
Kalaupun pernah didengarnya, bisa saja tetap
menganggap gertakan Ular Merah sekadar caci-
maki kecoa mabuk!
"He-he-he...."
Pendekar Slebor terkekeh lagi.
"Kalau boleh menasihati, sebaiknya kau
cepat-cepat ganti nama. Nama Ular Merah tidak
membawa keberuntungan bagimu. Sebaiknya pa-
kai saja nama Kunyuk Merah. Nyamuk Merah,
Cacing Merah, atau...."
"Bangsat!" potong Ular Merah, membentak.
"A... Bangsat Merah juga bagus itu!"
Selesai mengombang-ambingkan kegusa-
ran Ular Merah, Andika mengulang kekehnya.
Terdengar begitu meremehkan.
"Sebaiknya kau mampus!" geram Ular Merah. Selama mengobrak-abrik wilayah Laut
Cina Selatan, baru kali ini Ular Merah menemukan se-
seorang yang begitu lancar menginjak-injak kepalanya dengan seruntun ledekan.
Jadi, bagaimana
tidak gusar"
"Kau akan menyesal telah mengejekku!"
desis Ular Merah mengancam, seraya membuka
satu gerak. Andika meringis. Sekaranglah gilirannya
memberi pelajaran manusia pinggiran koreng ini.
Begitu pikirnya.
Wuk-wuk-wuk-wukh!
Ular Merah memutar telapak tangannya.
Ya, hanya telapak tangannya. Seperti seorang sedang mengaduk adonan tepung.
Tampak tak ber-
tenaga. Bahkan kelelawar besar yang menggelan-
tung dilengannya sama sekali tidak terusik. Meski begitu, gerak yang terlihat
ringan ternyata menghasilkan bunyi seperti seratus bilah golok yang diayun
berbareng! Di lain pihak, Andika tak ingin meremeh-
kan calon lawannya. Namun bisa saja sikapnya
seolah-olah memang ia meremehkan. Lalu saat
memasuki pertarungan, semuanya harus dihada-
pi dengan perhitungan amat matang, sekaligus
kecermatan paling tinggi. Sebab, ini perkara nya-wa! Begitu bunyi pertama gerak
tangan Ular Merah lahir, Andika sudah memompa kekuatan
tenaga saktinya ke sekujur badan. Dan menjelang pengerahan tenaga menuju puncak,
akan dihasil-kan satu selubung tenaga sakti warisan buyutnya yang kerap menjadi
momok bagi tokoh-tokoh sesat tingkat atas!
Cara itu pula yang sering digunakan Andi-
ka untuk membentuk benteng pertahanan tem-
bus pandang, ketika harus berhadapan dengan
beberapa datuk sesat. Termasuk juga, saat di-
rinya harus bertahan di Lembah Kutukan di anta-
ra hujan petir dalam menjalani penyempurnaan
(Baca kisahnya pada episode perdana: "Lembah Kutukan").
Tak heran, Andika sempat mengendus sia-
sat tempur Ular Merah saat Chin Liong mencoba
menerjangnya. Perlahan, membersit sinar keperakan la-
mat-lamat dari segenap pori-pori kulit Pendekar Slebor. Sinar lembut yang
menyebar, membentuk
selubung dalam jarak satu lengan dari tubuhnya.
Karena matahari siang sudah naik cukup
tinggi, sinar keperakan itu jadi tak begitu kentara.
Dan justru hal itu yang diinginkan Andika. Ren-
cananya, dia akan memberi sedikit kejutan pada
kepongahan si Ular Merah.
Dengan tangan bersilang di dada, Pendekar
Slebor seperti menunggu dengan santai serangan
Ular Merah. Bibir tipisnya bahkan sempat-
sempatnya tersenyum tipis. Dibilang mencibir sulit. Disebut meringis, apalagi!
"Hih!"
Setelah mendengus, Ular Merah mengi-
baskan tangannya ke depan.
Wesss! Seketika serangkum angin pukulan berge-
rak kilat menuju Andika. Sekejap mata saja, an-
gin pukulan itu nyaris menyergap Pendekar Sle-
bor. Namun begitu sampai pada jarak satu lengan dari tubuhnya, angin pukulan itu
tiba-tiba tertahan. Lalu, secepatnya memantul balik ke arah
tuannya. Wusss! Terperangah bukan main si Ular Merah
mendapati kenyataan ini. Matanya kontan terbu-
ka lebar-lebar, lebih lebar daripada lubang hi-
dungnya yang besar. Mulutnya membuka. Nyaris
saja, ingus yang malas dibersihkan di atas bibirnya menerjang masuk ke mulut.
"Eaaah! Dengan berjumpalitan sungsang-sumbel,
Ular Merah menghindari angin pukulannya sendi-
ri. Sialnya lagi, angin pukulan itu ternyata tak memupus bila belum menelan
korban. Angin pu-
kulan tadi terus meluncur ke satu arah pasti.
Dan.... Brakh! "Wuaaa!"
Satu kapal perompak yang kebetulan men-
gapung di sisi depan kapal Kerajaan Cina menjadi sasaran. Tepi geladak yang
terbuat dari kayu pilihan langsung luluh lantak bertebaran ke dalam
laut. Beberapa perompak yang kebetulan pula
berdiri di sana, tak ampun lagi berpentalan di
udara setinggi delapan depa!
Sejak menyadari kalau Dua Ular Laut telah
tiba di kapal Kerajaan Cina, para perompak itu
tak berani berbuat macam-macam. Mereka hanya
menunggu dan menunggu. Jika kebetulan bisa
memanfaatkan keadaan, mereka akan segera me-
rebutnya. Ibarat memancing di air keruh, siapa tahu apa-apa yang diminati di
kapal sasaran tanpa sengaja jatuh ke tangan mereka.
"Hue-he-heee, ngik! Terkejut" Apa tadinya
dikira hanya kau saja yang bisa membuat ben-
teng tenaga sakti" Makanya jangan terlalu pon-
gah! Besar kepala akan membuatmu ketemu ba-
tunya!" ejek Pendekar Slebor.
Ular Merah mendengus amat gusar begitu
mendarat di lantai kapal. Kelelawar di tangannya kini telah lenyap, terbang
ketika Ular Merah berjumpalitan. Dan binatang itu terus mengepakkan
sayapnya, memasuki lambung kapal hantu.
Kini darah Ular Merah tak lagi berdesir,
melainkan mendidih. Kulit wajahnya bertambah
memerah. "Sekarang kulitmu tak lagi seperti pinggi-
ran koreng," ucap Andika, seperti menyesal kehilangan bahan ejekan. "Baguslah
kalau begitu. Kulitmu sekarang lebih bagus. Setidak-tidaknya,
masih mirip warna bibir banci kampung! Hee-he-
he!" Bertambah dongkol saja Ular Merah.
"Burung nuri, terbang tinggi...," senandung Andika, sambil meliuk-liukkan
tubuhnya meniru-kan gaya seorang banci kesiangan.
Kini cuping hidung Ular Merah tampak
mekar-kuncup diejek sedemikian rupa! Sebentar
saja urat-urat lehernya menonjol. Sesaat lagi, tentu teriakan geramnya akan
merebak di angkasa.
Dan sebelum hal itu terjadi, laut tiba-tiba
saja berubah. Sebentuk gelombang amat besar
terlihat dikejauhan. Amat besar, seolah-olah ada gunung sedang menuju tempat
kapal-kapal mereka.
Gemuruh besar pun tiba. Kalau di kejau-
han saja suara gelombang itu sudah demikian
bergemuruh, apalagi sudah tiba"
Padahal saat ini, tak ada badai terjadi.
Bahkan cuaca cerah. Langit bersih, dengan awan
putih berpilin halus. Kalau bukan badai, lalu
apa..." 8 Perhatian semua mata dari semua awak
kapal saat ini dipaksa beralih ke arah ombak besar. Pertempuran panas di kapal
armada Cina pun kontan terpancung. Tak ada yang tak terhe-
ran-heran dengan kejadian itu. Ombak besar tan-
pa badai" Yang tak kalah mengejutkan adalah pe-
mandangan di satu bagian ubun-ubun ombak.
Gulungan meraksasa air laut itu, ternyata sedang ditunggangi seseorang di
atasnya! Belum jelas,
bagaimana rupa atau penampilan orang itu. Yang
pasti, sikapnya terlihat begitu santai. Berdiri ringan, dan sesekali tubuhnya
mencelat lincah dari satu bagian ke bagian lain. Ombak makin dekat
bergulung. Makin dekat, makin jelas saja rupa
penunggang ombak. Andika sendiri mulai menge-
nali, siapa orang itu. Lamat-lamat ingatannya bi-sa membandingkan sosok orang
yang kini dilihat-
nya dengan yang dilihat di malam hari ketika ter-
jadi badai. Ya! Memang dia orangnya! Dan Andika ya-
kin itu. Sampai akhirnya, gulungan ombak menggi-la tiba. Anehnya, begitu tak
kurang dari seratus tombak sebelum benar-benar sampai, ombak besar itu menyusut
dan menyusut cepat. Hingga
yang tersisa hanya riak-riak kecil mengusik kap-al-kapal.
Kini, semua orang bisa melihat jelas sosok
mengagumkan tadi. Ternyata, dia seorang tua
bangka berkaki satu. Kulitnya bersisik seperti
ikan. Termasuk, wajahnya yang selalu basah ber-
keriput. Pakaian lelaki tua itu terbuat dari gang-
gang laut menjijikkan. Terlihat seperti jubah basah, berlumut yang tercabik-
cabik. Siapakah tokoh penuh teka-teki itu"
Dialah Setan Laut! Itulah julukan santer-
nya. Bagi petualang-petualang laut serta para perompak, namanya sudah tak asing
lagi. Bahkan boleh dibilang, dialah satu-satunya tokoh papan puncak yang paling ditakuti di
Laut Cina Selatan.
Pamor perompak Ular Laut Kepala Kembar pun
hanya seujung kuku, jika dibandingkan nama be-
sarnya Setan Laut benar-benar sesuai julukannya.
Di samping ditakuti karena kesaktian yang tak
kepalang tanggung, juga karena sudah seperti
penghuni samudera. Banyak kabar burung yang
santer mengatakan bahwa, Setan Laut dapat me-
nyelam amat lama di dasar laut, sampai kedala-
man yang sudah tak mungkin lagi dicapai manu-
sia. Kedalaman yang bisa membuat dada seorang
penyelam kawakan pecah, ternyata biasa diarun-
ginya dengan mata terpejam!
Seperti layaknya penghuni laut, lelaki tua
ini pun memangsa hewan-hewan laut untuk ma-
kanan sehari-hari. Jelasnya, dia hidup di dalam samudera! Hanya karena jarang
sekali muncul, maka yang terdengar lebih santer justru nama perompak Ular Laut Kepala Kembar.
Demi mengetahui tokoh tua itu yang hadir,
tanpa sadar para perompak beringsut mundur
dari tempat berdiri masing-masing. Sementara
Dua Ular Laut pun tak urung melakukan tinda-
kan sama. "Hati-hati terhadap orang itu, Andika!" desis Chin Liong, setelah bisa bangkit
tertatih lalu menghampiri Pendekar Slebor.
"Apa maksudmu?" tanya Andika setengah berbisik.
"Ular Laut Kepala Kembar mungkin saja
begitu ditakuti para perompak lain. Tapi, lelaki ini bukan sekadar menjadi
momok. Bisa dibilang, dialah yang sesungguhnya menggenggam wilayah
Laut Cina Selatan. Itu selentingan yang pernah
kudengar," papar Chin Liong tersendat, masih menahan rasa sakit di dadanya. Luka
lama akibat benturan dengan tiang besar kapal saja belum
pulih benar, sudah mendapat lagi luka dalam ba-
ru. Tentu saja hal ini menyebabkan rasa sakitnya
sulit ditekan. Chin Liong sejenak terdiam. Dalam raut
wajah menderita, dia mengingat-ingat.
"Setan Laut...," cetus pemuda sipit ini lamat. "Siapa yang kau maki?" tanya
Andika heran, tak menangkap maksud Chin Liong.
"Maksudku, julukan lelaki tua itu..;."
"Ooo.... Kukira, kau memakiku. Jadi julu-
kannya..., siapa tadi?"
"Setan Laut," ulang Chin Liong, susah payah.
"Pantas rupanya pun tak jauh beda dengan
dedemit," gumam pendekar muda tanah Jawa ini.
Sepertinya, dia sudah siap menghidangkan
'senjata pertama' dalam menghadapi setiap lawan.
Ocehan-ocehan menjengkelkan!
* * *

Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Masih menjadi teka-teki bagi setiap awak
kapal armada Kerajaan Cina, apa sesungguhnya
yang diincar para perompak di kapal mereka. Pa-
dahal perompak Ular Laut Kepala Kembar sudah
turut ambil bagian. Dan kini, datang pula datuk sesat Laut Cina Selatan!
Kalau mereka yakin tak ada barang ber-
harga di kapal, mungkin memang benar. Tapi ka-
lau barang tak ternilai harganya sudah pasti ada.
Lantas, benda apa" Kalau emas permata, mereka
tak mengangkutnya. Harta, biasanya menjadi in-
caran. Tapi begitu ada mangsa lebih empuk yang
tak lain kapal dagang dari Gujarat kenapa di-
diamkan" Untuk mengetahui teka-teki di balik peng-
hadang orang-orang sesat dari laut Cina Selatan ini, memang harus mundur ke masa
sekitar dua ratus tahun lalu....
Pada masa itu, hidup seorang panglima
armada Laut Cina bernama Ju-Hai. Keperka-
saannya di lautan terkenal demikian angker. Dia gagah bagai naga. Gesit bagai
elang. Lalu, terse-matlah julukan Panglima Naga Samudera....
Selama menjadi panglima armada Laut Ci-
na, Ju-Hai memimpin pasukannya tanpa terka-
lahkan dalam pertempuran berkali-kali. Pengacau digasaknya. Pemberontak
disapunya. Bajak laut
dan perompak dibabat bersih.
Maka jadilah Ju-Hai seorang momok yang
ditakuti lawan serta disegani kawan. Dengan du-
kungan pasukan lautnya yang menjunjung teguh
nilai-nilai perjuangan, namanya kian melambung
saja. Selaku panglima, Ju-Hai nyatanya sulit di-bedakan dengan para prajuritnya.
Pakaiannya tak mencolok. Bahkan, boleh dibilang sederhana. Malah terkadang lebih
mirip seorang prajurit, ketimbang perwira tinggi. Hanya satu kekhasan yang
membedakan penampilannya dengan prajurit
sendiri. Dia selalu membawa tameng kayu ber-
bentuk bulat, bergambar bayangan Naga Langit.
Dalam setiap medan pertarungan, dari
yang ringan sampai yang terberat, Ju-Hai tak
pernah sekalipun melepas tameng itu. Sampai
suatu hari, armadanya terlibat pertarungan me-
lawan armada perompak yang paling kuat di ma-
sa itu. Entah bagaimana, tanpa sengaja Ju-Hai
meninggalkan tameng Naga Langit itu di tempat
peristirahatannya. Akibatnya pada puncak pergo-
lakan peperangan, Ju-Hai menjadi salah satu
korban. Dia gugur sebagai perwira tinggi terhormat dalam mempertahankan
kehormatan negeri
atas rongrongan para pengacau!
Kematian Ju-Hai lalu dihubung-
hubungkan dengan tameng yang ditinggalnya.
Banyak orang kemudian menduga, keberuntun-
gan Ju-Hai dalam peperangan-peperangan sebe-
lumnya terletak pada tameng yang dibawanya.
Orang-orang negeri itu yang memang per-
caya, semakin yakin saja ketika tameng itu dicari di tempat peristirahatan Ju-
Hai, tapi tak ditemukan. Sekian lama upaya pencarian dilakukan.
Baik dari pihak kerajaan yang berniat menjadikan tameng itu sebagai prasasti
tentang keperwiraan Ju-Hai, maupun pihak lain yang ingin memiliki
'keberuntungan'.
Dan tameng itu memang tak pernah dite-
mukan. Sampai, seorang perwira yang dekat den-
gan Ju-Hai menemukan keanehan pada kapal pe-
rang yang dipakai Panglima Naga Samudera itu,
beberapa tahun sejak kematiannya. Di situ bagian
lambung kanan kapal, terbentuk bayangan Naga
Langit. Persis seperti gambar di tameng milik Ju-Hai. Maka, menyusul pula
kepercayaan bahwa
tameng Panglima Ju-Hai yang hilang, kini telah
menyatu pada lambung kapal.
Si perwira tak menyebarkan tentang apa
yang dilihatnya. Hanya ada satu orang yang kebetulan turut mengetahui ketika si
perwira tanpa sadar diawasi seorang musuh besar Ju-Hai. Dan
perwira itu pun akhirnya terbunuh.
Kini, kapal itulah yang dipergunakan Ying
Lien dan Chin Liong untuk melakukan pelayaran
ke Mesir. Sedangkan musuh besarnya, pemimpin
perompak yang telah mengalahkan Ju-Hai, men-
gerahkan anak buahnya untuk bisa membegal
kapal tadi. Jadi, rahasia itu selama ini hanya tersebar
di kalangan perompak. Sementara, kalangan ista-
na tetap tak pernah tahu.
Siapa si pemimpin perompak" Lelaki itulah
yang kini dikenal sebagai Setan Laut. Gembong
dari segala gembong perompak Laut Cina Selatan
yang sampai kini tetap hidup. Padahal, kisah itu terjadi dua ratus tahun yang
lalu! *** Siang makin jalang. Sinarnya menyengat
garang. Laut Cina Selatan tetap tenang. Hanya ge-
lombang kecil tak berarti menimang-nimang kap-
al-kapal. Di bawah sengatan sinar matahari, Setan
Laut berdiri tegak sambil bersidekap. Biarpun
usianya sudah begitu tua, tubuhnya tak terlihat keropos.
Melihat lelaki yang menggetarkan hati
hampir semua orang di tempat itu, diam-diam
Andika menjadi kagum juga. Kalau dibanding-
banding, ilmu meringankan tubuh pendekar mu-
da itu jauh di bawah Setan Laut.
Untuk meniti laut saja, Andika masih
membutuhkan kain pusaka atau bilah kayu se-
perti pernah dilakukannya di Sungai Nil sewaktu ada serangan dari gerombolan
Kuda Nil (Baca kisahnya dalam episode: "Piramida Kematian"). Sedangkan Setan
Laut hanya menggunakan alas
kaki, dari sejenis kulit ikan besar.
Kalau ilmu meringankan tubuhnya saja
sudah sehebat itu, apalagi kesaktiannya yang
lain" "Kau, Ular Merah! Juga kau, Ular Belang!
Menyingkirlah dari kapal itu!" hardik Setan Laut tiba-tiba.
Suara tokoh amat tua ini mengguntur, le-
bih mengejutkan daripada salakan guntur saat
badai. "Ha-ha-ha-haaa!"
Meledaklah tawa Setan Laut. Tak jelas, apa
yang ditertawakan. Sampai akhirnya dia sendiri
mengungkapkannya.
"Hanya aku yang berhak atas tameng itu"
Hanya aku! Berpuluh-puluh tahun aku menanti
saat seperti ini! Menanti kapal itu melintasi Laut Cina Selatan, setelah sekian
lama hanya menjadi benda sejarah!"
Setan Laut mengangkat kedua tangannya
dari dada. Saat tangannya bergerak, tersibak pusaran air laut di sekitar tempat
berdirinya. Sungguh, kekuatan tenaga dalamnya telah demikian
sempurna dan menyatu dengan dirinya! Sehingga,
setiap gerakannya mengandung tenaga hebat
meski tanpa disengaja.
"Kalian dengar. Hanya aku yang berhak
memilikinya! Akulah yang telah membunuh Ju-
Hai dengan tanganku sendiri!" lanjut Setan Laut.
Wajah Setan Laut yang basah berlendir
tampak mengeras. Matanya yang kelabu menyelu-
ruh, melempar tatapan beringas ke arah kapal
armada Cina. "Kenapa kalian belum juga beranjak dari
sana"! Apa kalian tak mendengar perintahku"!"
bentak Setan Laut murka. Sudah pasti bentakan-
nya ditujukan pada dua lelaki dari kapal Ular
Laut Kepala Kembar. Saking kuatnya bentakan
Setan Laut, kapal-kapal di sekitarnya menjadi
terguncang beberapa kali ayunan. Malah, Dua
Ular Laut ikut tersentak tiga tindak ke belakang.
Telinga keduanya seperti baru disengat petir.
Dengan tangan mendekap telinga, tubuh
mereka tertunduk ke depan. Mereka berusaha
menguasai rasa sakit yang menyengat amat san-
gat pada pendengaran.
Anehnya, hanya mereka berdua yang me-
rasakannya. Sementara, puluhan orang lain di
sekitar tempat itu sama sekali tidak merasakan
sakit di telinga. Artinya, tenaga suara itu hanya dipusatkan ke arah Dua Ular
Laut. Biar begitu,
tak urung mampu membuat kapal-kapal ber-
goyang! Makin kagum saja Pendekar Slebor pada
kesaktian Setan Laut. Dalam hati, Andika ber-
tanya ragu. Sanggupkah meladeni kesaktian si
tua itu" "Kami tak akan menyingkir dari tempat ini
Setan Laut," tandas Ular Merah, mengejutkan puluhan perompak di sana. Apa dua
lelaki itu sudah ingin pensiun menjadi begal" Membantah Setan
Laut sama artinya mengundang si pencabut nya-
wa! Wajah Setan Laut mengeras. Keriput basah
wajahnya merapat. Sesaat kemudian....
"Ha-ha-haaa!"
Setan Laut tertawa lagi, lalu wajahnya
mengeras kembali.
"Kalian memang ingin mati!" geram Setan Laut. Berat, terseret dan mengandung
ancaman maut. "Sejak kedatangan kami semula dengan niat untuk mendapatkan tameng itu
pula! Kalau sudah melangkah, kami pantang mundur. Kami
siap menanggung akibat apa pun, asal bisa men-
dapatkan tameng itu!" tegas Ular Belang yang se-
lama ini tidak sepatah pun melepas ucapan.
"Mhhh.... Kalian siap bertaruh nyawa ru-
panya," desis Setan Laut.
Nada bicara lelaki tua itu melembut. Tapi,
tetap dengan tekanan mengandung ancaman ter-
bahaya di kawasan samudera luas ini.
"Bagaimana dengan kalian"!"
Suara si tua meninggi kembali. Perta-
nyaannya kali ini ditujukan pada para perompak
lain. "Apa kalian telah siap bertarung nyawa seperti mereka berdua untuk
mendapatkan tameng
itu"!" lanjut Setan Laut.
Seperti segerombolan lalat terkena gebah,
para perompak di kapal masing-masing langsung
tersentak. Mereka tersadar dari keterpanaan me-
nyaksikan secara langsung tokoh yang selama ini hanya sempat didengar dari
desas-desus. Sebentar saja, mereka serabutan tak karuan.
Satu persatu, jangkar kapal mereka te-
rangkat. Layar pun terkembang. Secara bergili-
ran, kapal-kapal mereka meninggalkan tempat.
Sampai akhirnya, kepungan pada kapal armada
Cina kini tak ada lagi. Kecuali, kapal Ular Laut Kepala Kembar.
Bayu membawa mereka menjauh. Men-
jauh..., dan menjauh. Sampai bentuk kapal mere-
ka hanya berbentuk titik-titik hitam di hamparan lautan.
9 Apa mau dikata" Jika orang-orang keras
bertemu, maka yang cenderung lahir adalah keke-
rasan pula. Demikian pula halnya Setan Laut dan Dua Ular Laut. Sementara Setan
Laut bersikeras
memerintahkan kedua saingannya pergi, Dua
Ular Laut malah bersikeras tetap di sana!
Rupanya, mereka telah dikuasai nafsu un-
tuk memiliki tameng pusaka di lambung kapal
armada Kerajaan Cina. Maka pertarungan pun
sulit dihindari lagi. Apalagi ketika Setan Laut sengaja hendak mempermainkan
kedua saingannya.
Seperti hendak membuktikan kalau diri-
nyalah yang memiliki tenaga dalam paling tinggi.
Setan Laut melakukan bentakan tanpa kata.
Hanya erangan, tapi jauh lebih hebat daripada te-
riakan seratus raksasa langit!
"Hrrr!"
Seketika Ular Merah dan Ular Belang yang
masih di kapal armada Cina terangkat perlahan
ke atas. Selanjutnya, tubuh dua lelaki buruk rupa
itu melayang menuju kapal mereka sendiri. Bu-
kan main! Rupanya, si tua itu hendak memulang-
kan kedua saingannya ke kapal mereka dengan
cara tersendiri!
Bagi Dua Ular Laut, bukankah cara seperti
itu tak lebih dari penghinaan besar-besaran" Ma-ka di tengah jalan antara kapal
armada Cina dengan kapal mereka, keduanya menggabungkan te-
naga suara bersama. Pada saat, tubuh mereka
masih mengapung.
"Hum!"
Teriakan mengguntur Ular Merah dan Ular
Belang terlepas dari kerongkongan. Bumi bagai
digebah gempa. Suara erangan Setan Laut lang-
sung tertindih gabungan suara mereka.
Andika sendiri mulai geleng-geleng kepala
menyaksikan tingkah mereka. Sejak beberapa
saat lalu, Ular Merah juga telah menyombongkan
kehebatannya dalam mengalirkan tenaga sakti di
udara melalui suara. Dan lagi-lagi, kini kejadian serupa disuguhkannya. Apa
orang-orang laut
memang punya kebiasaan berteriak seperti camar
kurang kerjaan" Pemuda itu hanya merutuk da-
lam hati. Biar begitu, Andika bersyukur juga. Karena
dengan demikian, jadi punya waktu untuk meno-
long Chin Liong dan Ying Lien. Dan tampaknya,
adu tenaga suara itu hanya ditujukan pada lawan masing-masing. Paling tidak,
Pendekar Slebor bi-sa mencari jarak yang aman dari medan adu te-


Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

naga suara itu. Bergegas dipilihnya tempat ter-
jauh dari pertarungan. Dan hasilnya, hawa mur-
ninya pun mulai bisa disalurkan sekaligus ke tubuh Chin Liong dan Ying Lien....
Pada saat yang sama, adu kesaktian Dua
Ular Laut dan Setan Laut semakin memanas.
Benturan tenaga suara Setan Laut dengan
tenaga Dua Ular Laut menyebabkan tenaga mere-
ka lari ke tempat lain. Tanpa terlihat, benturan tenaga mereka terpantul ke
permukaan laut. Dan, hal mengagumkan pun berlangsung....
Byarrr....! Air laut beterbangan dalam gumpalan-
gumpalan raksasa yang lentur di udara. Tak
hanya itu. Berpuluh-puluh ikan langsung mati,
ikut terangkat bersamaan gumpalan air laut ke
udara. Beberapa lama, seluruh gumpalan itu
mengapung. Setelah kekuatan suara teriakan tadi menyusut, barulah semuanya
berjatuhan kembali, menciptakan semburat air ke mana-mana.
Suatu pamer kesaktian yang cukup men-
gagumkan! Paling tidak, begitu menurut Andika.
Anak muda itu baru saja selesai mengobati luka
dalam dua sahabatnya.
Tapi, bukan berarti pemuda berselempang
kain pusaka bercorak catur di bahunya ini men-
jadi bergetar. "Andika...," panggil Chin Liong, di sisinya.
Pendekar Slebor menoleh. Keasyikannya menon-
ton pertunjukan cuma-cuma terusik.
"Ada apa?" tanya Pendekar Slebor.
Chin Liong melepas Pedang Pusaka Langit
dari ikatan punggungnya. Diasungkannya benda
sakti itu kepada sahabatnya.
Pendekar Slebor mengerutkan dahi, tak
mengerti dengan semua itu.
"Apa maksudnya ini" Kau minta kusunat
dengan pedang ini?" seloroh Pendekar Slebor.
Chin Liong menggeleng. Bibirnya meringis.
Terkadang, sahabatnya yang berotak encer itu
terkesan tolol sekali.
"Pegang pedang itu. Pergunakan kalau kau
nanti harus bertarung melawan Setan Laut...,"
ujar Chin Liong.
Andika mendorong kembali sodoran pe-
dang dari sahabatnya.
"Kau lihat, aku belum berhadapan dengan
buyutnya cumi-cumi itu, bukan?" tolak Andika halus. Sebenarnya Andika tahu,
benda itu bisa sangat berarti untuk Chin Liong, jika harus
menghadapi keadaan genting.
"Tidak! Aku menyerahkan pedang ini bu-
kan hanya untuk menghadapi Setan Laut! Pedang
ini menjadi milikmu sekarang," tutur Chin Liong, mantap. Tak terlihat rasa
kehilangannya. "He-he-he. Kau bergurau, ya"! Sahabat
slompret, kau ya!" tukas Andika.
"Dia sungguh-sungguh, Andika," sela Ying Lien, di sisi Chin Liong.
Andika terbengong. Ketampanannya jadi
buron entah ke mana. Yang terlihat hanya ketololan di sekujur wajahnya.
"Tap..."
"Tak usah menolaknya kalau kau tak ingin
mengecewakan kami!" terabas Ying Lien, seraya turun menyodorkan Pedang Pusaka
Langit di tangan Chin Liong.
"Tap..."
"Kau harus menerimanya, Andika! Kau le-
bih memerlukan ketimbang kami. Lagi pula, kera-
jaan kami sudah aman. Pedang ini tidak dibutuh-
kan lagi, kecuali jadi semacam mahkota tak ber-
guna," terabas Chin Liong, kali ini begitu ada kesempatan.
"Tap..."
Kata-kata Andika belum selesai, ketika su-
ara pertarungan antara Dua Ular Laut dan Setan
Laut kembali memecah angkasa.
Dan kini tampak tubuh Dua Ular Laut
mendadak menukik. Mereka tentu tak mau men-
jadi bahan tertawaan siapa pun, jika harus ditelan air laut. Maka mereka cepat
mengadu telapak tangan di udara. Lalu, dorongan yang diberikan
masing-masing dimanfaatkan untuk berputar rin-
gan di udara. Tep! Begitu lembut keduanya hinggap di pinggi-
ran geladak kapal Ular Laut Kepala Kembar, di-
iringi cibiran melecehkan di bibir Setan Laut.
"Permainan kalian cukup hebat. Tapi, be-
lum benar-benar hebat kalau hanya bisa melade-
ni tenaga suara main-mainku!"
Selesai berkata, sebelah kaki orang tua
berpakaian ganggang laut itu menghentak keras
ke permukaan laut.
Pyar! Seketika itu pula, air laut tersibak. Gulun-
gan besar ombak setinggi lebih dari enam kaki
menerjang kapal Ular Laut Kepala Kembar. Jika
tinggi badan kapal Ular Laut Kepala Kembar
hanya empat kaki, maka yang akan terjadi tentu
sudah bisa diduga. Ombak ciptaan Setan Laut
akan menelan bulat-bulat kapal itu!
Wurrr! Bagai tangan raksasa dari dasar lautan,
ombak besar tadi siap menampar mentah-mentah
sasarannya. Sementara Dua Ular Laut tentu saja tak
sudi kapal mereka dikoyak hantaman gelombang
Setan Laut. Tepat ketika ombak besar tinggal menelan kapal, mereka menunduk
menjerit sekeras-
kerasnya. Bukan. Bukan jeritan ngeri yang diperdengarkan....
"Eiii...!"
Kemungkinan besar mereka menjerit seper-
ti itu karena sedang menggabungkan tenaga da-
lam. Tapi, nyatanya tidak. Mereka tidak bermak-
sud meladeni adu kesaktian Setan Laut lebih
jauh, karena sadar dengan lawan yang dihadapi.
Seorang yang tidak hanya besar namanya, tapi
juga memang sudah terbukti kesaktiannya sela-
ma ini. Melawan kekuatannya, seolah sama tolol-
nya untuk menghentikan amukan badai. Setan
Laut laksana Nyai Roro Kidul dari Pantai Selatan Jawa. Laksana Neptunus pada
dongeng Yunani Kuno! Jadi, untuk apa mereka berteriak"
Jawaban segera mencuat, manakala dari
badan kapal Ular Laut Kepala Kembar menyeruak
seberkas bola api, tak selayaknya pijaran api.
Warnanya terang menyilaukan, memanjang lurus
menombak langit.
Ubun-ubun ombak raksasa di atas kapal
Ular Laut Kepala Kembar pun ditembusnya. Se-
kerdip mata kemudian....
Pyar! Seperti ditepis ekor berkekuatan seekor
naga langit, ombak besar tadi langsung tersibak kembali. Jutaan gentong air
menyembur liar di
udara ke segenap penjuru, lalu menukik kembali
ke samudera dalam bentuk bulir-bulir air tak
berdaya. Hujan setempat seperti sedang meng-
guyur wilayah sekitarnya.
Setan Laut terperangah.
Andika, Ying Lien, dan Chin Liong tak ka-
lah terkejut. Apa yang sesungguhnya telah terjadi"
Tanya hati masing-masing. Apa yang telah dila-
kukan Dua Ular Laut, hingga mampu merontok-
kan serangan dahsyat si Setan Laut"
Tidak! Mereka tidak melakukan apa pun,
untuk memburaikan ombak raksasa tadi. Seseo-
rang lain yang telah melakukannya. Atau lebih
tepatnya..., sesosok makhluk lain!
Sebab, seusai buliran air laut itu tuntas
menyatu kembali ke samudera, muncul wujud
baru dari bersitan sinar jingga menyilaukan tadi.
Sosok besar bersisik perak setinggi dua kali manusia. Matanya sebengis ular.
Lidahnya yang ber-cabang, menjulur-julur cepat keluar. Di atas kepalanya yang
berambut, menegak barisan sirip tajam. Ketika mulutnya membuka, tampaklah tar-
ing yang juga sama persis dengan taring ular.
Sosok itu berdiri mengagumkan di atas
permukaan laut. Tak satu pun pelampung, kecua-
li, dua pasang kaki berselaput.
Dialah ular laut ketiga yang selama ini
menjadi teka-teki tak terjamah....
Demi menyaksikan wujud mengerikan yang
baru saja muncul, tak alang-kepalang Setan Laut tersentak. Lelaki tua itu
tersurut mundur dua de-pa. Wajah berlendirnya berubah warna. Mata ke-
labunya membesar penuh! Sosok itu dikenalnya
sebagai.... "Guru!" pekik Setan Laut tertahan.
Sekarang, ganti Dua Ular Laut terperan-
gah. Guru" Begitu bisik hati mereka....
"Kalian adalah murid paling bodoh yang
pernah kumiliki!" hardik sosok mengerikan yang terkenal sebagai si Manusia Ular
sangar, mengge-
bah nyali siapa pun. "Bagaimana kalian saling baku hantam dengan saudara
seperguruan sendiri!"
"Ampun, Guru! Kami sungguh tidak me-
nyangka kalau lelaki itu adalah kakak sepergu-
ruan kami yang pernah Guru perintah untuk di-
cari," jawab Ular Merah tergagap dengan wajah memucat.
"Guru! Bagaimana kau bisa hidup kemba-
li?" selak Setan Laut, tak kalah tergagap.
Andika, Chin Liong, Ying Lien, serta awak
lain di kapal armada Cina sana menjadi bergidik teramat sangat. Dua tokoh begal
laut paling ditakuti, siap menyatu dengan lelaki sakti momok
Laut Cina Selatan. Kalau begitu, bagaimana nasib mereka"
10 Si Manusia Ular sesungguhnya adalah seo-
rang lelaki penganut ilmu sesat yang telah mati.
Ilmu sesatnya didapat dari sumber kekuatan hi-
tam Laut Cina Selatan. Dan akibatnya dia menja-
di manusia terkutuk. Kematiannya tidak berarti
akhir hidupnya. Karena begitu jasadnya ditelan
liang lahat, dia pun berubah wujud menjadi ma-
nusia setengah siluman ular.
Dari liang lahatnya, si Manusia Ular bang-
kit kembali menuju sumber kekuatan hitam Laut
Cina Selatan. Bersama kutukan, dia beradab-
abad terapung-apung dalam sekian juta daur ba-
dai. Terkatung-katung dalam ketidakpastian me-
nyiksa tentang hidupnya.
Kutukan atas dirinya harus dihentikan.
Untuk itu, si Manusia Ular harus menemukan
kekuatan lain yang mampu mengenyahkan jasad,
sekaligus kesaktiannya. Ada satu-satunya benda
untuk melaksanakan tujuannya, yakni tameng
sakti naga terbang yang kini menyatu dengan
kapal Kerajaan Cina.
Untuk mendapatkannya, ternyata tak
mungkin bagi si Manusia Ular. Belenggu dua
alam membuatnya tak lagi bebas seperti layaknya manusia biasa. Satu-satunya cara
adalah mengangkat murid.
Maka, seorang pemuda murtad pun didi-
diknya. Beberapa tahun kemudian, pemuda itu
lahir sebagai begal paling hebat di seantero Laut Cina Selatan. Dia pula yang
telah meruntuhkan
kebesaran armada Laut Cina di bawah pimpinan
Ju-Hai. Masa terus bergulir. Si pemuda yang ditu-
gasi gurunya untuk mendapatkan Tameng Naga
Terbang, nyatanya belum juga berhasil mengem-
ban perintah gurunya. Si pemuda merasa bersa-
lah, karena itu langsung bersumpah tak akan
meninggalkan samudera Cina Selatan sebelum
tameng itu didapatkan.
Sementara itu, mengetahui murid perta-
manya belum cukup mendapatkan Tameng Naga
Terbang, Si Manusia Ular pun mengangkat dua
murid lain. Murid pertama kini dikenal sebagai Setan
Laut. Sedang dua lainnya adalah Ular Merah dan
Ular Belang....
"Aku memerintahkan kalian untuk menda-
patkan tameng itu. Bukan untuk saling hantam!"
bentak si Manusia Ular, memancung sangkalan-
sangkalan memuakkan ketiga muridnya. "Sekarang, kalian telah melihat tameng itu
di depan mata. Jadi, tinggal merebutnya dari mereka!"
Si Manusia Ular langsung mengacungkan
tangan ke lambung bawah kapal armada Cina mi-
lik Ying Lien. Selanjutnya sosok si Manusia Ular berubah
kembali menjadi cahaya jingga benderang. Mem-
bersit di angkasa sejenak, lalu menyelinap kem-
bali ke kapal hantu.
"Sinting!" maki Andika, begitu meneliti bagian kapal yang ditunjuk si Manusia
Ular. "Apa maksudmu?" tanya Chin Liong, memburu ke dekat Andika melongok.
"Lihat itu...," ujar Andika setengah tertekan. "Kalau diperhatikan baik-baik,
kau akan menyaksikan adanya bentuk tameng bulat bergambar bayangan naga terbang
di bagian itu...."
"Lalu?"
"Ah! Jangan tolol, Chin Liong! Kalau mere-
ka menginginkan bagian itu, artinya mereka akan membelahnya. Bagaimana bisa
berlayar menga-
rungi samudera seganas ini, kalau lambung kapal kita berlubang?"
"Astaga...!" desis Chin Liong bergidik.


Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pemuda ini baru sadar kalau kini benar-
benar dihadapkan pada pembantaian keji. Mereka
harus memilih mati untuk mempertahankan kap-
al, atau mati tenggelam di tengah-tengah laut!
"Terpaksa kita harus menghadapi mereka,
Andika," desah Chin Liong digerayangi kekhawatiran terhadap keselamatan awak
kapalnya. Andika memukul tangannya sendiri geram-
geram. "Keliru," sergah Pendekar Slebor, mengejutkan Chin Liong.
Ying lien dan yang lain di sekitarnya men-
jadi tak mengerti, apa maksud pemuda itu yang
memang sering sulit diduga.
"Bagaimana yang terbaik menurutmu, An-
dika?" sela Ying Lien.
Pendekar Slebor, si pemuda gagah yang
begitu dipuja-pujanya, bukan sekadar ksatria
menawan hati. Dia juga sudah seperti panglima
tertinggi yang kecemerlangan akalnya amat dibu-
tuhkan dalam memecahkan keadaan paling gent-
ing. "Hanya aku saja yang akan menghadapi mereka!" tandas Andika, mantap.
"Sementara ku-hadapi mereka, kalian harus cepat menaikkan
layar dan pergi dari tempat ini."
Sinar mata Pendekar Slebor berkilat. Sinar
mata itu pernah dilihat Chin Liong ketika Andika
menghadapi momok paling menakutkan di negeri
Cina yang berjuluk Empat Penguasa Penjuru An-
gin. Kilatan mata seorang yang siap memperta-
ruhkan nyawa! "Aku tak setuju! Kau terlalu gila jika me-
nyangka kami sudi membiarkanmu berjuang seo-
rang diri menghadapi mereka!" terabas Ying Lien, seperti memekik.
Gadis ini begitu takut kehilangan satu-
satunya pemuda yang pernah menukikkan rindu
ke dasar batinnya.
"Tak ada kata gila dalam kegentingan se-
perti ini, Ying Lien," desis Andika, tak bergeming dari keteguhan keputusannya.
"Andika..., bagaimana mungkin...."
"Kalian harus pergi!" ledak Andika, menggidikkan.
Wajah Pendekar Slebor sudah sematang
gejolak lahar. Tidak ada yang bisa memburaikan
kekerasannya. Tak ada! Tak seorang pun. Satu sifat yang memang tak mungkin lepas
dari kepriba- dian si perjaka berhati baja.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu,"
putus Chin Liong, agak tersedak.
Gadis ini begitu ragu, apakah usulannya
diterima sahabatnya. Sementara Chin Liong bah-
kan tak sanggup menatap langsung mata terba-
kar Andika. Dia begitu kalut, gundah, dan entah apa lagi. Antara rasa kagum,
serta rasa haru yang menyelinap diam-diam, menyadari sahabatnya
bersedia sepenuh hati mengorbankan jiwa demi
keselamatan mereka.
"Chin Liong, tatap aku...," ujar Andika terseret. Matanya menghunus lurus ke
mata Chin Liong. Chin Liong meneguhkan hati, untuk mena-
tap Andika. "Dengar aku baik-baik. Kalian harus pergi
semua. Semua, termasuk kau. Dan kau tak perlu
khawatir padaku. Percayalah pada Tuhan. Aku
akan selamat...," tandas Pendekar Slebor satu-satu. Kata-kata yang sepertinya
terjejak langsung ke sanubari setiap awak kapal lain.
Diam-diam, Ying Lien membendung genan-
gan bening di matanya. Apa pun yang dikatakan
Andika tentang keselamatannya, Ying Lien sadar
kalau itu sekadar kata menghibur. Paling tidak
agar mereka berbesar hati. Agar mereka rela kehilangan seorang sahabat. Begitu
rusuh hati Ying
Lien. "Saat sekarang ini, aku tak mau seorang pun membantah. Kalau kau
menemaniku, bagaimana Ying Lien jika dihadang kawanan perompak
yang telah meninggalkan tempat ini" Bukankah
kau sebagai panglima diperlukan untuk kesela-
matan putrimu dan para awakmu," tutur Andika lagi, mulai melamat. Seolah dia
memohon penger-tian yang sulit diterima.
Bagaimana Chin Liong sanggup menerima
permohonan seorang sahabat yang ingin memper-
taruhkan nyawa demi mereka semua"
Tapi jangan seorang pun menolak kalimat
Andika saat itu. Akan percuma saja. Hatinya ba-
gai baja murni bernyawa. Tak lagi berubah, saat telah menemukan bentuknya. Dia
juga permata hidup yang membersitkan kemilau mengagumkan
meski harus tenggelam ke dasar samudera....
Ying Lien tak kuasa lagi menahan bendun-
gan rasa nyeri di dadanya. Sulit dipercaya kalau wanita sekokoh dia akhirnya
kehilangan benteng
diri ketika melangkah terbata. Dia ingin meng-
hambur, tapi kebutaannya tak memungkinkan.
Dengan langkah tersuruk, dimasukinya ruang da-
lam kapal. Lamat-lamat, terdengar isak halus-
nya.... Andika bukan tak peduli. Dia hanya tak ingin peduli. Dalam keadaan yang
menyangkut ba- nyak nyawa, seluruh kecamuk perasaan harus di-
tinggalkannya. Srang! Dengan raut wajah sulit tergambarkan,
Andika mengeluarkan Pedang Pusaka Langit yang
baru saja diterima dari sarungnya. Sinar merah
baranya membuncah, merayapi kekerasan wajah
pemuda perkasa tanah Jawa saat ini,
"Apa pun yang terjadi, aku akan mengha-
dapi mereka!" desis Pendekar Slebor dengan tatapan terhujam di ujung pedang.
* * * "Hadapi aku!" seru Pendekar Slebor.
Baru saja kaki Andika menyentuh permu-
kaan laut dengan bantuan kain pusaka bercorak
catur miliknya, di belakangnya kapal armada Ci-
na mulai bergerak lamban. Seolah begitu berat
meninggalkan seorang sahabat. Dengan pandan-
gan sembab Ying Lien, dan dengan berpasang-
pasang mata sarat rasa kapal Kerajaan Cina itu
terus bergerak lambat.
"Percuma kau menahanku! Aku tetap akan
bisa mengejar kapal itu, Apa kau lupa, lautan ini adalah wilayah kekuasaanku?"
leceh Setan Laut.
Andika tersenyum sinis.
"Kau tidak akan bisa mengejarnya..., kecu-
ali aku luput menggorok lehermu!" dengus Pendekar Slebor.
"Sudahlah, Kak! Tak ada gunanya lagi ba-
nyak bicara dengan orang sok pahlawan ini!" seru Ular Merah di atas kapalnya.
Setan Laut melirik Ular Merah. Baru per-
tama kali itu bibirnya tersenyum tawar. Mungkin juga selama hidupnya....
"Kau benar...," tanggap Setan Laut. Lalu....
"Wet-deb-deb!"
Bunyi sekeras hembusan badai meledak-
ledak di antara sapuan-sapuan tangan Setan
Laut. Untuk cepat menuntaskan tugasnya yang
begitu lama tertunda, kesaktian pamungkasnya
langsung dikerahkan. Kesaktian apalagi yang
hendak dikerahkan" Sulit diduga!
Sementara, Andika memang sudah siap.
"Suing!"
Pedang Pusaka Langit di tangan teracung
di depan dada. Sinar mata Pendekar Slebor merah membara, menyapu wajah berlendir
Setan Laut. Sehingga, wajah pemuda dari tanah Jawa terlihat demikian angker.
Begitu memperhatikan jelas-jelas pedang di
tangan Pendekar Slebor, ketiga murid si Manusia Ular mendadak terpesona terhadap
keindahan-nya. Tak hanya bercahaya merah bara memukau
yang tak dimiliki pedang lain, bentuknya pun demikian memancing decak kagum.
Gagangnya berbentuk naga. Sepuhannya dari emas. Sedang-
kan bentuk batangnya memiliki beberapa lekukan
di ujung, bagai ekor naga.
"Hey" Bukankah itu Pedang Pusaka Langit
yang menggegerkan dunia persilatan sekian abad
lalu" Bagaimana bisa pedang itu di tangan pemu-
da ingusan ini?" desis Ular Merah, tak percaya raut wajahnya seperti seorang
yang menyaksikan
keindahan sorga.
Jika Setan Laut untuk sejenak menghenti-
kan pengerahan kesaktiannya, lain lagi dengan
Pendekar Slebor. Dengan serta-merta, diterjang-
nya Setan Laut.
"Heaaa!"
Kain pusaka bercorak catur Pendekar Sle-
bor meluncur deras di permukaan laut. Di atas-
nya, berkelebat kilatan sinar pedang membentuk
pola rumit menyilaukan.
Setan Laut sempat terkesiap. Tak pernah
disangka kalau pemuda yang baru dikenalnya itu
sanggup melakukan gerakan demikian sempurna.
Matanya yang jeli dapat menangkap kalau gerak
pedang itu tak beraturan. Bahkan cenderung,
ngawur. Namun di balik itu, terpendam keheba-
tan tak terukur!
Andika memang sedang mengerahkan ju-
rus-jurus sakti ciptaannya 'Mengubak Hujanan
Petir Membabi-buta', jurus yang sulit diterka ke mana arahnya, dan apa yang
diincarnya. "Siapa anak muda ini?" bisik Setan Laut samar sebelum melipat tangan ke dada,
hendak menghindari ayunan sinar merah bara dari Pe-
dang Pusaka Langit.
Swing! "Bangsat!"
Setan Laut terpaksa melempar tubuhnya
ke belakang, ketika tiba-tiba saja gerak ayunan pedang itu berubah tak terduga
ke lehernya. Padahal semula disangka tangannya saja yang te-
rancam. "Kak! Kita harus membantunya! Aku mera-
sa anak muda ini sama sekali tidak bisa dianggap main-main. Lebih-lebih dengan
Pedang Pusaka Langit di tangannya!" usul Ular Belang, di sisi lain. "Ya! Aku pun berpikir
begitu!" tanggap Ular Merah, sungguh-sungguh.
Maka, mereka segera meraih belahan kayu
terbengkalai dari geladak kapal. Dengan kayu di masing-masing kaki, mereka
meluncur menuju
medan laga. Setibanya di dekat Pendekar Slebor, mere-
ka segera saja meruntunkan jurus tingkat tinggi.
Sayang, kurungan kelebatan pedang Andika lang-
sung menghambat seketika.
Swing-swing-swing!
Berkali-kali ketiga murid si Manusia Ular
mencoba menembus benteng merah bara yang
berseliweran bagai kerjapan petir di siang bolong di sekujur tubuh Andika. Dan
berkali-kali pula
mereka gagal. Bahkan Pendekar Slebor sanggup
menitipkan sabetan berbahaya yang sungsang-
sumbel dihindari ketiganya.
Menjelang sembilan puluh jurus, benteng
itu belum lagi terjebol. Sementara, Setan Laut
mulai khawatir kalau kapal akan pergi terlalu
jauh. Kalau sekali ini luput lagi, bagaimana harus mempertanggungjawabkan pada
sang guru"
"Jahanam! Bagaimana dia bisa bergerak
secepat itu!" rutuk Setan Laut, murka bukan main. Jika dihitung-hitung kembali,
gerakan murka Pendekar Slebor mungkin amat sulit di-
tembus. Setan Laut sendiri kurang yakin dengan
gerakannya, jika menilik setiap kelebatan pedang yang sanggup menyesakkan udara
sekitarnya dengan hawa panas membakar.
"Jangan hadapi dia dengan jurus-jurus ka-
lian! Dia punya kehebatan lebih pada gerakan-
nya!" seru Setan Laut, memperingati kedua saudara seperguruannya. "Kekuatan kita
harus dis-atukan, lalu gempur dia!"
Ketiga orang itu cepat mengambil sikap
masing-masing. Dikurungnya Andika dari tiga ju-
rusan berbeda. Sementara orang yang dikurung
sudah tak peduli apa-apa lagi, mengamuk mem-
babi-buta. Tak peduli apakah akan menebas la-
wan atau sekadar angin! Sesaat berikutnya....
"Gempur!"
Slash! Tiga berkas cahaya memanjang yang ber-
warna serupa langsung mencelat dari telapak
tangan tiga lawan Pendekar Slebor. Dari tiga jurusan berbeda, secara berbarengan
berkas-berkas cahaya hitam keunguan tadi menerjang benteng
kelebatan sinar pedang Pendekar Slebor.
Kekalapan Andika membuatnya tidak me-
nyadari bahaya. Hingga....
Desh! Bagai tiga bunyi yang menyatu, terdengar
suara keras ketika tiga cahaya itu melanda tubuh Pendekar Slebor.
Andika tersentak di tempat. Dia tak terpen-
tal, karena masing-masing sinar menekannya dari arah lain.
Gerak liar Pedang Pusaka Langit terhenti
seketika. Kuda-kudanya limbung, wajahnya me-
mucat. Lamat-lamat, terdengar gemeletuk rahang.
Tampaknya, Pendekar Slebor demikian tersiksa
akibat serangan ketiga lawannya barusan. Dan ini membuat pandangannya kehilangan
kekuatan. Alam mendadak gelap. Kalau datang serangan be-
rikutnya, Pendekar Slebor pasti tak tahu harus
bergerak ke mana. Atau, bagaimana caranya ber-
kelit. Seluruh tubuhnya seperti mati seketika, di-berangus rasa tercabik-cabik.
Hanya keteguhan hati yang membuat Pen-
dekar Slebor masih bertahan pada kuda-kudanya.
Hal yang ditakutkan akhirnya terjadi juga.


Pendekar Slebor 19 Perompak Perompak Laut Cina di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Untuk kedua kalinya, ketiga lawan Pendekar Sle-
bor mengirim kembali berkas-berkas cahaya hi-
tam keunguan....
Slash! Desh! "Akh!"
Andika hanya sempat memekik kecil. Sete-
lah itu tubuhnya semakin limbung. Tanpa dapat
ditahan, dia tersurut ke permukaan laut. Dan
samudera pun segera menelan tubuh pemuda itu
bulat-bulat. Sepi.... Angin mendesis-desis mengutuki ti-
ga manusia laknat yang masih berdiri dengan se-
nyum samar masing-masing.
"Tunggu apa lagi" Ayo kita segera menyu-
sul kapal itu!" cetus Ular Belang, meretakkan ke-heningan.
Dua saudara seperguruannya mengang-
guk. Baru saja Dua Ular Laut hendak melompat
ke kapal, tiba-tiba saja...
"Aiii!"
Glar! Dengan mata kepala sendiri, Dua Ular Laut
menyaksikan kapal hantu mereka lebur berkep-
ing-keping. Bilahan papannya berhamburan ke
segala penjuru, jauh dari tempat semula. Tulang-belulang di dalamnya ikut
berpentalan. Kapal besar itu seakan baru saja diledakkan mesiu berpe-ti-peti. Di
antara hamburan pecahan papan, terlihat kelebatan seekor kelelawar hitam terbang
jalang ke angkasa. Geraknya seperti ketakutan.
Dalam selang yang teramat singkat, seso-
sok bayangan lain berkelebat dari dasar laut. Dan bayangan itu meluncur lurus
menyusul gerak kelelawar raksasa di udara.
"Heaaa!"
Crash! Bersama bentangan seberkas sinar merah
bara, tubuh kelelawar tadi terbelah dua. Darah-
nya tersembur, dan jatuh tertelan keluasaan sa-
mudera. Disusul, dua potongan tubuhnya...,
Menjelang potongan bangkai kelelawar ter-
telan lautan, seberkas cahaya jingga menyilaukan terlepas dari tubuh binatang
itu dikawal dengking amat santer yang mirip suara pembunuh para
awak kapal sebelumnya.
Detak-detak waktu selanjutnya, tiga mo-
mok Laut Selatan memperdengarkan dengkingan
pula. Mereka bergelinjangan liar, bersama potongan-potongan sinar hitam keunguan
yang menye- ruak dari seluruh pori-pori kulit.
Plumb! Suara lembut permukaan dasar laut men-
jadi pertanda tertelannya tubuh mereka ke dasar samudera. Dan mereka pasti akan
menjadi san- tapan hewan-hewan laut pemangsa setelah men-
jadi pemangsa bengis terhadap sesama.
Di salah satu pecahan bangkai kapal, An-
dika terduduk kuyu tanpa gairah. Wajahnya tak
bersinar, tapi memperlihatkan kelegaan teramat
sangat. Ketika serangan sinar ketiga lawannya,
Pendekar Slebor memang telah kehilangan kesa-
daran sama sekali. Namun di dalam laut, sesuatu yang sama sekali tak disangka
langsung terjadi.
Pedang Pusaka Langit yang memiliki keampuhan
melipatgandakan kehebatan seseorang menjadi
sepuluh kali lipat, mendadak saja bergetar di
genggaman tangan Andika.
Saat yang sama, tenaga sakti di tubuh pe-
muda itu bergejolak dan bergejolak, untuk meli-
patgandakan tenaga Pendekar Slebor. Pada pun-
caknya, Andika tersadar.
Sesaknya napas di dalam air, membuat
Andika secepatnya menuju permukaan. Dan saat
itulah Pendekar Slebor melihat sesuatu mencuri-
gakan pada bagian lambung kapal Ular Laut Ke-
pala Kembar. Andika melihat ada berkas-berkas
sinar jingga menyilaukan yang bergerak-gerak di dalamnya.
Terbetik dugaan kuat, bahwa sinar yang
diyakininya sebagai wujud manusia ular itulah
yang telah memberi kesaktian pada tiga lawan-
nya. Maka, Andika pun langsung menghantam
kapal itu dengan puncak tenaga sakti yang kini
sudah menjadi berlipat sepuluh kali. Begitu hancur, berkas sinar yang ternyata
berubah menjadi seekor kelelawar langsung menyerang.
Dugaan Pendekar Slebor tidak meleset.
Dengan kematian sang kelelawar yang menjadi ja-
sad bersemayam nya si Manusia Ular, maka hu-
bungan antara alam kasar pun terputus. Dan,
terputus pula kesaktian yang telah dilimpahkan
pada ketiga muridnya....
Hal yang sama pernah dialami Andika keti-
ka berhadapan dengan Manusia Dari Pusat Bumi.
Itu sebabnya, dia bisa begitu cepat menduga (Untuk lebih jelas tentang hal itu,
bacalah episode:
"Manusia Dari Pusat Bumi", "Pengadilan Perut Bumi", dan "Bayang-bayang Gaib").
"Andika...."
Suara lembut menegurnya.
Andika menoleh kuyu. Tampak Chin Liong
bersama Ying Lien tengah mengendarai perahu
kecil. Wajah gadis Cina jelita itu sudah basah.
Ketika Andika naik ke perahu, Ying Lien
menghambur ke dadanya. Tangis harunya kontan
tertumpah di sana....
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Fujidenkikagawa
Seruling Gading 1 Jodoh Rajawali 14 Rembulan Berdarah Pedang Kayu Harum 26
^