Pencarian

Iblis Berwajah Seribu 1

Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu Bagian 1


1 Iblis berwajah Seribu
http://cerita-silat.mywapblog.com tempat baca cersil mandarin & indo via HP
Iblis berwajah Seribu
Semua orang membungkukkan badannya ketika tiga ekor kuda berpacu cepat melintasi
jalan tanah berdebu. Mereka tahu kalau tiga orang yang menunggang kuda itu
adalah pembesar dari kerajaan Limbangan. Yang berada di atas kuda putih adalah
Panglima Lohgender, sedang yang
menunggang kuda hitam dengan kedua kaki depannya
belang putih, adalah orang kepercayaan Panglima
Lohgender, juga anak angkatnya. Pemuda berwajah
tampan dengan tubuh tegap itu bernama Arya Duta.
Satunya lagi seorang pemuda yang menunggang kuda
coklat bernama Braja Duta.
Langkah-langkah kaki kuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang dijaga ketat
oleh beberapa prajurit. Bergegas mereka rurun dan kudanya masing-masing. Dua
orang berpakaian prajurit Kadipaten Karang Asem segera mendekat.
Panglima Lohgender, Arya Duta dan Braja Duta melangkah beriringan menuju ke
serambi rumah besar itu.
"Gusti Adipati sudah lama menunggu, Gusti Panglima,"
kata salah seorang lelaki tua yang segera menyongsong di serambi rumah.
"Hm, di mana gustimu?" tanya Panglima Lohgender penuh wibawa.
"Ada di ruang tengah, Gusti Panglima."
Panglima Lohgender dari Kerajaan Limbangan itu terus melangkahkan kakinya menuju
ruangan tengah di mana Adipati Prahasta telah menunggunya. Dua orang penjaga
pintu langsung membungkuk memberi hormat.
"Masuklah, Adi Lohgender!" satu suara besar dan berat menyambut begitu kaki
Panglima Lohgender melewati
pintu menuju ruangan tengah.
"Ada apa gerangan kau memintaku datang ke Karang Asem, Kakang Prahasta?" tanya
Panglima Lohgender begitu duduk di kursi.
"Ada persoalan penting," sahut Adipati Prahasta.
"Pribadi?" tanya Lohgender sambil matanya melirik Arya Duta dan Braja Duta yang
masih berdiri di belakang panglima itu.
"Tidak," sahut Adipati Prahasta "Dan memang sebaiknya Arya Duta dan Braja Duta
mengetahui persoalan ini"
Adipati Karang Asem itu mempersilakan Arya Duta dan Braja Duta duduk. Mereka
mengambil tempat di samping Panglima Lohgender. Beberapa saat lamanya mereka
terdiam saling berpandangan. Panglima Lohgender seperti menangkap sesuatu yang
tengah menyusahkan Adipati
Karang Asem ini.
"Aku tidak melihat istri dan anakmu. Di mana mereka?"
tanya Panglima Lohgender memecah kebisuan.
"Aku ungsikan ke Kadipaten Sedana." sahut Adipati Prahasta
"Diungsikan...?" tanya Panglima Lohgender terperanjat.
"Terpaksa, demi keselamatan mereka."
"Edan! Cuma karena kekacauan saja Kakang meng-ungsikan keluarga" Atau..., ah,
jelaskan seperlunya, Kakang." Panglima Lohgender sudah bisa menduga-duga.
Adipati Prahasta terdiam sesaat, lalu....
"Awalnya memang cuma kejadian biasa, perampokan, pembunuhan, dan lain-lainnya.
Aku sudah memerintahkan prajurit kadipaten untuk lebih memperkuat penjagaan.
Memang ada hasilnya, semua bisa teratasi dengan baik.
Tapi dua minggu terakhir ini...," Adipati Prahasta menghentikan kalimatnya.
"Teruskan," pinta Panglima Lohgender. "Mereka menjarah semua harta benda para
petinggi kadipaten.
Bahkan juga nyawanya. Dan yang lebih menghebohkan
lagi, mereka selalu menculik pemuda-pemuda di sini."
lanjut Adipati Prahasta.
"Siapa mereka?"
"Aku tidak tahu," sahut Adipati Prahasta.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu, Kakang?"
"Mereka seperti setan saja. Tidak ada jejak, juga kedatangannya tanpa bisa
diduga sebelumnya. Kau bisa bayangkan, Adi Lohgender. Para petinggi kadipaten
jadi resah karenanya, bahkan sudah tiga orang mengundurkan diri, dan lima
keluarga petinggi kembali ke kota raja."
"Hm..., sudah kau sebar telik sandi untuk menyelidiki?"
tanya Panglima Lohgender seperti bergumam.
"Sudah. Tapi sampat sekarang belum ada hasilnya.
Malah tiga telik sandi tewas dengan keadaan yang
mengerikan "
Panglima Lohgender diam termenung. Keningnya ber-
kerut dalam, pertanda dia tengah berpikir keras. Dia merasa heran dan bingung
dengan turut diculiknya para pemuda oleh gerombolan pengacau itu. Apalagi jika
dia ingat, kalau masih ada kadipaten-kadipaten lain yang jauh lebih kecil dari
Kadipaten Karang Asem ini, tapi tak ada kekacauan dan penculikan-penculikan
seperti yang terjadi di kadipaten ini.
Panglima Lohgender menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sulit dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggeluti pikirannya.
"Baiklah, untuk sementara aku akan tinggal di sini beberapa hari. Kalau
keadaannya semakin memburuk,
Braja Duta bisa membawa prajurit-prajurit pilihannya ke sini," kata Panglima
Lohgender. "Terima kasih, Adi Lohgender. Aku sudah putus asa menghadapi mereka," sambut
Adipati Prahasta gembira.
"Hmmm... berapa orang prajurit Kadipaten Karang Asem?" tanya Panglima Lohgender.
"Dua ratus orang," sahut Adipati Prahasta "Untuk sementara, kurasa cukup untuk
menjaga segala kemungkinan."
"Kalau begitu, sebaiknya Adi Lohgender beristirahat dulu barang sejenak.
Tentunya sangat melelahkan menunggang kuda dan menempuh perjalanan jauh."
Adipati Prahasta bangkit berdiri diikuti Panglima
Lohgender dan kedua anak angkatnya. Dia sendiri yang mengantarkan langsung
Panglima perang Kerajaan
Limbangan itu ke tempat peristirahatannya. Sedangkan Arya Duta meminta izin
untuk berjalan-jalan menghirup udara segar di luar.
Arya Duta adalah anak angkat Panglima Lohgender.
Selain sebagai orang kepercayaan panglima, dia juga memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Ilmu kesaktiannya bahkan hampir menyamai sang Panglima itu sendiri. Arya
Duta berjalan-jalan mengelilingi rumah kediaman sang adipati yang besar dengan
halaman yang luas ditata indah. Dia berjalan-jalan sambil mengamati keadaan
sekitarnya, terutama pengaturan penjagaan para prajurit di sekitar kediaman
Adipati Karang Asem ini.
"Hm..., cukup rapi penjagaan di sini," gumam Arya Duta dalam hati. Dia merasa
cukup puas dengan pengaturan penjagaan di lingkungan kadipaten.
*** Udara malam ini terasa tak menentu, sebentar panas
dan sebentar kemudian terasa begitu dingin oleh sapuan angin yang bertiup
kencang. Langit pun tertutup awan hitam yang bergulung-gulung, lalu kembali
terang. Cuaca yang tak menentu ini seperti memberikan firasat buruk pada
prajurit-prajurit Karang Asem yang tengah berjaga-jaga di seputar kediaman
Adipati Prahasta, yang semangat-nya kembali terpompa oleh kedatangan Panglima
Lohgender dan kedua anak angkatnya.
Tampak di halaman belakang kediaman Adipati, Arya
Duta tengah berbincang-bincang dengan dua orang
prajurit, yang dilihat dari pakaiannya seperti kepala pasukan. Mereka adalah
Balungpati dan Welut Putih. Dari sikap dan caranya berbicara, tampak jelas kalau
Arya Duta sangat menghormati keduanya, meski pangkat yang
disandang jauh lebih tinggi dari mereka.
"Seharusnya Paman berdua tidak perlu ikut berjaga malam," kata Arya Duta "Biar
kami yang muda-muda ini saja yang berjaga."
"Malah sebaliknya Gusti Arya Duta perlu beristirahat.
Seharian penuh Gusti menempuh perjalanan panjang
dengan berkuda, tentu sangat melelahkan," sahut Balungpati.
"Aku sudah cukup beristirahat sore tadi, Paman Balungpati." sambut Arya Duta
tersenyum ramah.
"Oh, ya, kenapa Gusti Panglima tidak membawa
pasukan ke sini?" tanya Welung Putih.
"Ayahanda Lohgender belum merasa perlu untuk
mengerahkan prajurit kerajaan. Entah kalau keadaannya semakin memburuk," sahut
Arya Duta tanpa bermaksud menyombongkan diri.
"Mereka bukan orang-orang sembarangan, Gusti Arya Duta. Aku sendiri sangsi
dengan kekuatan prajurit
kadipaten," kata Balungpati agak bergumam.
"Paman pernah bertemu dengan mereka?" tanya Arya Duta.
"Pernah, ketika gerombolan pengacau itu mendatangi rumah Kepala Desa Karang Asem
Wetan," sahut
Balungpati. "Berapa orang mereka?"
"Waktu itu cuma empat orang, tapi rata-rata mereka memiliki kemampuan yang
sangat tinggi. Sepuluh orang prajuritku mati terbunuh, dan aku sendiri mendapat
luka yang cukup parah."
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Mereka menculik putra Kepala Desa itu."
"Hanya itu?"
"Iya. Mereka tidak sempat bergerak lebih jauh, karena Welut Putih dan tiga puluh
orang prajurit keburu datang."
Arya Duta memandang Welut Putih.
"Sayang, aku tidak sempat bentrok dengan mereka,"
kata Welut Putih mengakui.
"Paman tidak berusaha mengejar?"
"Percuma, seperti lenyap tak berbekas, tidak ketahuan arahnya ke mana mereka
pergi," sahut Welut Putih.
Arya Duta menghela napas panjang. Hatinya sudah menduga kalau yang akan
dihadapinya adalah orang-orang dari kalangan rimba persilatan yang terbiasa
malang melintang di dunia bebas, dunia yang selalu diukur dengan ilmu kesaktian.
Seandainya dugaan Arya Duta benar, tentu tidak
mungkin hanya mengandalkan para prajurit yang cuma menguasal ilmu olah kanuragan
tanpa sedikitpun memiliki kesaktian. Prajurit pilihan kerajaan pun akan sangat
sulit menandingi, apalagi prajurit-prajurit kadipaten yang kemampuannya masih
jauh dibawah rata-rata.
Saat anak muda itu termenung, sekilas matanya
menangkap sekelebat bayangan hitam melewati tembok benteng Kadipaten Karang
Asem, lalu berkelebat ke atas atap. Arya Duta langsung melenting ke arah
bayangan tadi menghilang di balik atap Balungpati dan Welut Putih segera
bertindak mengikuti Arya Duta.
"Berhenti...!" teriak Arya Duta begitu kakinya menjejak atap.
Bayangan hitam itu berbalik cepat, dan seketika dua sinar kehijauan meluncur
deras ke arah Arya Duta. Anak muda itu bukanlah pemuda kosong, secepat kilat dia
melentingkan tubuhnya menghindari sinar kehijauan itu.
Dan belum lagi kakinya menjejak atap, kembali dua sinar kehijauan meluncur ke
arahnya. "Hup!"
Tap, tap! Arya Duta menangkap dua sinar kehijauan itu sambil berputar di udara, kemudian
dengan manis kakinya menjejak atap. Namun mendadak, ketika matanya tengah
melirik dua paku yang berwarna hijau di tangannya, bayangan hitam itu melesat
cepat ke bawah.
"Hey..!"
Arya Duta segera melompat turun ke tanah, tapi
bayangan hitam itu lenyap seketika begitu kakinya
menginjak tanah. Arya Duta mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya yang
tajam seolah menembus
kepekatan malam. Arya Duta lalu menoleh ketika
telinganya mendengar langkah-langkah kaki mendekati.
Tampak Balungpati dan Welut Putih berlarian meng-
hampiri, yang disusul Panglima Lohgender dan Braja Duta di belakang mereka.
"Ada apa, Arya Duta?" tanya Panglima Lohgender.
"Ada seseorang yang tampaknya bermaksud tidak baik,"
sahut Arya Duta.
"Seseorang...?"
"Iya, pakaiannya serba hitam." Arya Duta menyodorkan dua buah paku berwarna
hijau dengan telapak tangannya yang terbuka. Panglima Lohgender memperhatikannya
sejenak, lalu mengambilnya sebuah dari tangan anak angkatnya itu.
"Ayah mengenalinya?" tanya Arya Duta.
"Tidak...." sahut Panglima Lohgender seperti ragu-ragu nada suaranya.
Arya Duta baru saja mau membuka mulutnya hendak
bertanya lagi, ketika tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah dalam
kediaman adipati. Arya Duta langsung meloncat dan berlari cepat diikuti oleh
Balungpati dan Welut Putih menuju ke ruang dalam.
"Balungpati, atur penjagaan!" seru Panglima Lohgender.
"Baik, Gusti," sahut Balungpati.
Balungpati membelokkan larinya. Sedangkan Welut
Putih tetap berlari cepat mengikuti Arya Duta dan Panglima Lohgender yang
berlari cepat seraya mengerahkan ilmu meringankan tubuh.
*** "Kakang, buka pintunya!" tertak Panglima Lohgender sambil menggedor pintu.
Pintu kamar dari kayu jati berukir itu terkuak. Tampak Adipati Prahasta ke luar
dengan tubuh sempoyongan dan rupa acak-acakan. Pakaiannya basah oleh darah segar
yang mengucur deras dari bahu kanannya. Panglima
Lohgender langsung menerobos masuk ke dalam. Matanya membelalak lebar ketika
dilihatnya keadaan kamar yang berantakan.
"Apa yang terjadi, Kakang'" tanya Panglima Lohgender.
"Dia ingin membunuhku," sahut Adipati Prahasta.
"Dia... dia siapa?"
"Aku tidak tahu, sulit untuk mengenalinya. Seluruh tubuhnya terselubung baju
hitam." Arya Duta ikut memeriksa mendekati Panglima
Lohgender. Sepuluh anak panah yang ditemukannya tertancap di lantai, dia
sodorkan ke ayah angkatnya. Panglima Lohgender mengerutkan keningnya melihat
anak panah berwarna hijau yang kini berada di tangannya. Sepertinya Panglima
Kerajaan Limbangan itu mengenali senjata di tangannya ini, tapi serasa sulit
untuk mengingat-ingat, siapa pemilik senjata berwarna hijau ini.
"Kau sempat bentrok dengannya, Arya Duta?" tanya Panglima Lohgender.
"Sedikit," sahut Arya Duta.
"Bagaimana rupanya"
"Kejadiannya terlalu cepat, sulit untuk mengenali wajahnya," sahut Arya Duta
seraya mengingat-ingat.
"Hm..., sudahlah, sebaiknya kau bantu Balungpati mengatur penjagaan di luar."
"Baik, Ayah "
Arya Duta segera berlalu diikuti Braja Duta. Sepeninggal kedua anak angkatnya
itu, Panglima Lohgender masih termenung menatap dua senjata di tangannya.
Kemudian dia melangkah ke luar dan kamar itu. Langkahnya terhenti saat melihat
Welut Putih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup. Panglima Lohgender tahu
kalau kamar itu biasanya ditempati oleh putra adipati. Dan tadi dia sempat
melihat Adipati Prahasta masuk ke dalam kamar itu
dibimbing Welut Putih.
"Kenapa kau di sini?" tanya Panglima Lohgender.
"Gusti Adipati ada di dalam, hamba diperintahkan untuk menjaga di sini," sahut
Welut Putih penuh hormat.
"Bagaimana lukanya?"
"Gusti Adipati ingin mengobatinya sendiri. Katanya tidak mau diganggu."
"Baiklah. Perintahkan beberapa prajurit untuk berjaga-jaga di sekitar kamar
ini," perintah Panglima Lohgender.
"Hamba laksanakan Gusti Panglima"
Panglima Lohgender segera berlalu. Welut Putih juga lekas beranjak meninggalkan
tempat itu. Tak lama
kemudian dia sudah kembali lagi dengan sepuluh orang prajurit. Langsung dia
mengatur penjagaan di sekitar kamar itu. Welut Putih sendiri mengambil tempat
tidak jauh dari pintu kamar.


Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sementara Panglima Lohgender terus melangkah
menuju ke luar. Dia berdiri di depan pintu beranda sambil matanya tajam
mengamati keadaan sekitarnya. Sementara di tangan kanannya masih tergenggam satu
paku dan satu anak panah berwarna hijau yang ditemukan oleh anak angkatnya.
Pikirannya masih diselimuti oleh berbagai kejadian-kejadian yang serba misterius
di Kadipaten Karang Asem ini.
"Aku seperti pernah mengenal senjata ini, siapa ya..."
Hm... Orang itu pasti memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi," gumam
Panglima Lohgender. Matanya tidak lepas memandangi dua senjata di tangannya
dengan kening berkerut dalam.
"Ayah..." tiba-tiba Braja Duta sudah berada di sampingnya.
Panglima Lohgender berpaling menatap Braja Duta.
"Ada apa?" tanya Panglima Lohgender.
"Dua orang prajurit yang bertugas di bagian belakang tewas," Braja Duta
melaporkan. "Apa..."!" Panglima Lohgender terperanjat.
"Di leher mereka tertancap paku hijau," sambung Braja Duta.
"Edan! Bagaimana mungkin bisa terjadi?"
"Orang itu pasti dari kalangan rimba persilatan, dan ilmunya tentu tinggi
sekali," kata Braja Duta menduga.
"Kau yakin...?" Panglima Lohgender seperti ragu-ragu.
"Rasanya tidak mungkin orang biasa bisa melakukannya tanpa kita ketahui."
Panglima Lohgender bergumam tak jelas. Matanya
kembali menatap dua senjata di tangannya. Dia tengah berusaha mengingat-ingat
saat dirinya malang-melintang di dunia persilatan, sebelum menjadi Panglima
tertinggi Kerajaan Limbangan. Tapi beberapa saat lamanya dia tak mampu
mengungkapnya. Dia yakin kalau pernah melihat senjata ini, tapi kapan dan di
mana" Siapa pemiliknya"
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikirannya saat ini.
"Kita harus menghentikannya sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, Ayah," kata
Braja Duta. "Kalau dugaanmu benar, seribu prajurit pun tidak akan mampu menandinginya, Braja
Duta," sahut Panglima Lohgender seperti bergumam.
"Kita harus minta bantuan orang-orang dari rimba persilatan juga," Braja Duta
menyarankan. "Orang-orang seperti itu tidak pernah mau ikut campur dalam persoalan kerajaan.
Puluhan tahun aku malang-melintang dalam rimba persilatan, dan aku tahu persis
watak-watak mereka."
"Lantas apa yang akan kita lakukan?"
Panglima Lohgender tidak segera menjawab. Memang
sulit kalau harus menghadapi orang-orang rimba persilatan. Sedangkan selama ini
dia tidak pernah lagi mengetahui perkembangannya. Tugas-tugas kerajaan telah
menyita banyak waktunya untuk terus mengamati perkembangan dunia persilatan saat
ini. Mendadak saja Panglima Lohgender tersentak. Dia teringat dengan satu nama ketika
terjadi peristiwa di Desa Pasir Batang, meskipun dia tidak mengalaminya sendiri,
tapi dari cerita yang sempat didengar, ada seorang pendekar muda digdaya yang
ilmunya sangat tinggi, sukar dicari tandingannya. Pada saat ia sedang berpikir
begitu, Arya Duta datang menghampirinya.
"Arya Duta, kau pernah mendengar peristiwa di Desa Pasir Batang?" tanya Panglima
Lohgender langsung bertanya pada Arya Duta.
"Ya, desa yang hampir musnah oleh Raja Dewa
Angkara." sahut Arya Duta.
"Kau pasti tahu, siapa yang menumpas iblis itu?"
"Pendekar Rajawali Sakti."
"Benar!"
Arya Duta menatap ayahnya tak mengerti. "Hanya kau satu-satunya yang kuandalkan,
Arya Duta. Pergi dan carilah di mana pendekar itu berada," kata Panglima
Lohgender bernada memerintah.
"Maksud Ayah...?" Arya Duta masih belum mengerti.
"Katakan padanya tentang keadaan di sini. Aku yakin pendekar itu mau membantu,"
sahut Panglima Lohgender.
"Di mana mencarinya" Tempat tinggal pendekar itu tak menentu. Lagi pula
membutuhkan waktu yang tidak
pendek untuk mencarinya, Ayah. Bisa-bisa Kadipaten Karang Asem ini sudah hangus
lebih dulu."
"Ini perintah, Arya Duta!" sentak Panglima Lohgender melihat anak angkatnya
seperti putus asa.
"Baik, Ayah. Besok pagi-pagi sekali aku berangkat,"
sahut Arya Duta cepat-cepat.
"Kalau perlu, bawa beberapa prajurit"
"Tidak perlu seorang pun. Aku bisa melaksanakannya sendiri," sanggah Arya Duta
sengit mendapat tugas yang dirasakannya tidak masuk akal itu.
"Sebelum kau kembali, aku tidak meninggalkan
kadipaten ini," kata Panglima Lohgender tegas.
Arya Duta diam saja. Dia tidak menyanggah sedikitpun.
Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Mencari seorang pendekar, apa lagi yang
mengembara sama saja mencari jarum di padang luas. Tugas yang tidak berat, tapi
terasa mustahil untuk dilaksanakan.
"Dan kau, Braja Duta." lanjut Panglima Lohgender pada anak angkatnya yang satu
lagi. "Segera kembali ke Limbangan. Persiapkan prajurit pilihan. Suatu saat aku
akan kirim utusan ke sana."
"Baik. Ayah." sahut Braja Duta segera beranjak pergi.
*** 2 Matahari pagi belum lagi merayap naik menyinari bumi, ketika kuda yang
ditunggangi Arya Duta berpacu cepat meninggalkan rumah kediaman Adipati Karang
Asem. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, belum terlihat seorang penduduk pun
memulai kesibukannya. Arya Duta terus memacu kudanya dengan kencang ke arah
Barat dari Kadipaten Karang Asem.
Ketika dia hendak melewati perbatasan, Arya Duta
menghentikan laju kudanya. Telinganya mendengar
langkah-langkah kaki kuda yang mengikuti dari belakang.
Arya Duta memalingkan kepalanya ke belakang. Tampak dua ekor kuda berpacu cepat
semakin mendekat.
"Ada apa Paman berdua menyusulku?" tanya Arya Duta setelah kedua penunggang kuda
itu berada di dekatnya.
"Maaf, hamba berdua diperintahkan Gusti Panglima untuk mendampingi Gusti Arya
Duta," sahut Balungpati penuh hormat.
"Keamanan Kadipaten Karang Asem lebih penting daripada ikut bersamaku." kata
Arya Duta. Nadanya jelas tidak menyetujui perjalanannya diikuti oleh siapapun.
"Tapi, Gusti...," Welut Putih hendak menjelaskan.
"Tidak perlu dijelaskan, Paman Welut Putih. Kalian berdua tentu serba salah.
Tapi baiklah, karena perintah ini datangnya dari Panglima tertinggi Kerajaan
Limbangan, aku tidak bisa menolaknya lagi," sergah Arya Duta.
"Terima kasih, Gusti." ucap Balungpati.
Arya Duta kemudian menggebah kudanya pelan-pelan,
Balungpati dan Welut Putih segera mengikuti. Ketiga kuda itu pun akhirnya
berpacu cepat meninggalkan perbatasan Kadipaten Karang Asem. Sementara matahari
mulai menampakkan cahayanya di ufuk Timur. Sinarnya yang kemerahan membias indah
memantul dari pucuk-pucuk
pohon. "Kau tahu, apa yang menjadi tugas kita, Paman Balungpati?" tanya Arya Duta
ketika mereka menjalankan kudanya pelan-pelan meniti bukit terjal.
"Mencari Pendekar Rajawali Sakti, Gusti," sahut Balungpati.
"Kau tahu, di mana pendekar itu biasanya tinggal?"
Balungpati tidak langsung menjawab. Matanya me-
mandang Welut Putih yang memacu kudanya di samping kiri Arya Duta. Welut Putih
menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak tahu, Gusti," kata Balungpati. Mereka berdua memang pernah mendengar
nama itu, tapi tidak
pernah bertemu langsung.
Mereka kembali terdiam beberapa saat lamanya.
Mereka seperti tengah menelusuri jalan pikiran masing-masing. Tak seorang pun
dari mereka bertiga yang
mengetahui, ke mana harus memulai pencariannya. Mencari tokoh rimba persilatan
bukanlah pekerjaan ringan, dan bukannya tidak mungkin akan menemui banyak
rintangan. Bagi kaum rimba persilatan, alasan tidaklah penting.
Sulit memastikan siapa kawan dan siapa lawan. Yang jelas siapa yang dekat dengan
lawan, dia pasti juga lawan.
*** Sementara itu di suatu tempat yang berlembah dan
berbukit, tampak Rangga alias si Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk di atas
sebuah batu di pinggir sungai. Air sungai mengalir lembut memantulkan pernik-
pernik sinar matahari. Seutas tali yang mengikat bambu kecil tergenggam di
tangannya. Pandangannya tidak lepas dari seutas tali yang mengambang di
permukaan air. "Ugh, lama banget. Dari tadi cuma dapat dua ekor!"
gumamnya mengeluh seraya melirik dua ekor ikan dalam wadah anyaman bambu.
"Banyak ikan yang kau dapatkan, Kakang?" sebuah teguran lembut tiba-tiba
terdengar dari arah belakang.
Rangga menoleh dan cemberut begitu dilihatnya Pandan Wangi tengah menuju ke
arahnya. Dia menenteng hampir sepuluh ekor ikan yang besar-besar di tangan.
Dalam hati, Rangga mengakui kalah pintar dengan Pandan Wangi yang dalam waktu
yang bersamaan bisa mendapatkan ikan
lebih banyak dari yang didapatkannya.
"Mana hasilmu?" tanya Pandan Wangi setelah dekat
"Tuh...!" Rangga menunjuk dengan bibirnya.
Pandan Wangi tertawa terpingkal-pingkal seperti
mengejek melihat ke dalam wadah anyaman bambu. Di
dalam wadah itu hanya terdapat dua ekor ikan kecil-kecil.
Sementara Rangga hanya menggerutu kecil. Tahu kalau hasilnya akan begini. lebih
baik kupakai tombak saja dari tadi, rutuknya dalam hati.
"Aku buat api dulu, ya?" kata Pandan Wangi sera-ya meletakkan ikan hasil
pancingannya di wadah Rangga.
Lalu segera dia berlari ringan menuju ke pinggir hutan untuk mencari kayu bakar.
"Jangan jauh-jauh, Pandan!" seru Rangga.
"Iya, Kakang. Pancing terus biar banyak, ha ha ha...!"
sahut Pandan Wangi seraya tertawa mengejek.
"Sialan!" rutuk Rangga sengit.
Rangga kembali menekuni pancingnya. Sebentar-
sebentar matanya melirik ikan di dalam wadah, lalu berganti ke tepi hutan di
mana tubuh Pandan Wangi lenyap dalam pandangannya. Pendekar Rajawali Sakti itu
akhirnya kesal sendiri. Sudah cukup lama dia menunggu, tapi tak seekor ikan pun
mau menyentuh umpannya. Dia lalu
bangkit berdiri dan membuang pancingannya dengan kesal ke dalam sungai.
"Huh, sudah tahu aku tidak bisa mancing, malah diajak!"
gerutu Rangga dalam hati.
Kaki Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian melangkah hendak menuju ke tepi hutan.
Dia baru menyadari kalau Pandan Wangi sudah terlalu lama pergi kalau hanya untuk
mencari kayu bakar sekadarnya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan,
mendadak terlihat Pandan Wangi berlari-lari menghampiri. Wajahnya seperti orang
kebingungan. "Ada apa?" tanya Rangga begitu Pandan Wangi sudah ada di dekatnya.
"Aku lihat dua orang berkuda menuju kemari." sahut Pandan Wangi masih sedikit
terengah napasnya.
"Kau bisa mengenalinya?"
"Tidak, Kakang. Tapi kelihatannya mereka seperti prajurit Kerajaan Limbangan."
"Ah, biarkan saja mereka, Pandan. Yang penting mereka tidak mengganggu kita,"
kata Rangga kemudian.
Kedua sejoli itu lalu berjalan melangkah kembali ke tepian sungai. Namun tiba-
tiba saja terlihat oleh mereka dua orang berkuda muncul ke luar dari hutan.
Benar dugaan Pandan Wangi, Rangga mengenali kedua orang itu dari sabuknya yang
bersulam bunga melati. Sulaman itu menandakan kalau mereka prajurit dari
Kerajaan Limbangan. Kedua prajurit berkuda itu menghentikan lari kudanya di depan Rangga dan Pandan
Wangi. Mereka lalu melompat turun dari punggung kudanya masing-masing. Dengan
langkah tegap, salah seorang dari mereka menghampiri Pendekar Rajawali Sakti dan
Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut.
"Maaf, Kisanak. Boleh aku bertanya?" suara prajurit itu terdengar sopan dan
ramah. "Silakan." sahut Rangga juga sopan.
"Apa Kisanak melihat tiga orang berkuda melintasi jalan ini?" tanya prajurit itu
langsung. Dari tanda pangkat yang dikenakannya, jelas kalau dia seorang
punggawa. Rangga memandangi Pandan Wangi. Kemudian meng-
geleng hampir berbarengan. Sejak pagi tadi, mereka memang tidak melihat seorang
pun melintas di sini.
Bahkan sudah hampir satu purnama mereka belum
melihat orang lain selain mereka berdua yang datang ke hutan ini.
"Hm, apakah Kisanak berdua tinggal di sekitar hutan ini?" tanya prajurit yang
berpangkat punggawa itu lagi.
"Iya," sahut Rangga
"Maaf, apakah Paman berdua dari Kerajaan
Limbangan?" tanya Pandan Wangi ingin memastikan.
"Benar, kami prajurit dari Limbangan. Aku bernama Garulungan, dan temanku ini
Paringgan. Kami adalah para punggawa yang ditugasi menyusul Wakil Panglima
Lohgender yang bernama Gusti Arya Duta. Beliau
didampingi dua orang kepala pasukan dari Kadipaten Karang Asem," Garulungan
menjelaskan. "Kadipaten Karang Asem tidak jauh dari sini. Cuma setengah hari perjalanan
berkuda," gumam Pandan Wangi.
"Benar, Nini. Dan kami juga baru dari sana sebelum mendapat tugas dari Gusti
Panglima Lohgender," sahut Garulungan.
"Ada keperluan apa Tuan Punggawa mencarinya?" tanya Rangga berlaku sopan pada
punggawa Kerajaan
Limbangan ini. "Kami mendapatkan tugas menyampaikan sesuatu pada Gusti Arya Duta dari Panglima
Lohgender," sahut Garulungan lagi.
"Sayang sekali, sejak pagi tadi tidak ada orang yang lewat di sini. Kecuali Tuan
Punggawa berdua," ujar Rangga.
"Gusti Arya Duta bersama Balungpati dan Welut Putih sudah meninggalkan Kadipaten
Karang Asem tujuh hari yang lalu. Mereka bertiga tengah menjalankan tugas khusus
dari Gusti Panglima Lohgender." Paringgan ikut nimbrung menjelaskan.
Rangga dan Pandan Wangi menatap punggawa yang
sudah berdiri di samping temannya itu. Kelihatannya Paringgan lebih muda
daripada Garulungan.
"Oh! Tentunya mereka sudah terlalu jauh dari sini," kata Rangga.
"Apakah Kisanak dan Nini tidak melihat pada tujuh hari yang lalu?" tanya
Garulungan setengah mendesak.
"Tidak," sahut Rangga tegas.
"Terima kasih, kalau begitu kami mohon diri." ucap Garulungan agak kecewa.
Selesai berkata begitu, Garulungan langsung melompat ke punggung kudanya.
Paringgan juga melakuan hal yang sama. Kuda mereka meringklk kecil mendengus-
dengus sambil menghentak-hentakkan kaki depannya.
"Tunggu dulu, Tuan Punggawa!" seru Rangga mencegah begitu Garulungan mau
menggebah kudanya.
Garulungan tidak jadi menggebah kudanya. Dia
menatap sedikit tajam pada Rangga yang berdiri agak ke depan dari Pandan Wangi.
"Boleh kami tahu, tugas apa yang tengah diemban oleh Gusti Arya Duta?" tanya
Rangga. "Gusti Panglima menugaskannya untuk mencari
Pendekar Rajawali Sakti," sahut Garulungan.
"Jika kisanak tahu atau melihat pendekar itu, tolong katakan kalau Gusti
Panglima Lohgender menunggunya di Kadipaten Karang Asem!" sambung Paringgan.


Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedua punggawa Kerajaan Limbangan itu langsung
menggebah kudanya. Rangga yang mendengar nama
julukannya disebut, terperangah kaget. Dia baru tersadar setelah tangan Pandan
Wangi menyikut iganya. Rangga lalu mengarahkan pandangannya ke arah hutan. Tapi
dua orang punggawa itu sudah lenyap di balik lebatnya Hutan Tarik ini.
Rangga mengalihkan pandangannya pada Pandan
Wangi. Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dan terdiam membisu Pandan
Wangi sendiri sempat kaget juga mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti disebut
tadi. Dia tidak mengerti, dengan tugas yang diemban Arya Duta dari Panglima
tertinggi Kerajaan Limbangan.
"Aneh...! Untuk apa pihak kerajaan mencariku?" Rangga bergumam sendiri.
"Bukan pihak kerajaan, Kakang. Tapi Panglima
Lohgender," ralat Pandan Wangi.
"Sama saja," dengus Rangga.
"Tidak! Sekarang Panglima Lohgender ada di Kadipaten Karang Asem. Tentu bukan
tugas kerajaan. Barangkali saja dia punya urusan pribadi denganmu, Kakang."
"Rasanya tidak mungkin. Pandan. Ketemu langsung saja belum pernah."
"Hm... kalau begitu, kira-kira urusan apa, ya..."
"Entahlah," Rangga mendesah malas.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi saja ke Kadipaten Karang Asem, Kakang?" Pandan
Wangi mengusulkan.
"Kau sudah menamatkan Kitab Naga Sewu?" Rangga malah balik bertanya.
"Sudah tiga hari yang lalu," sahut Pandan Wangi.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" seru Rangga.
"Sebentar, Kakang. Bukankah kau ingin makan ikan bakar?" Pandan Wangi
mengingatkan. "Oh. iya.... ya. Aku lupa. Cepat Pandan, lapar juga nih perut!"
Pandan Wangi tersenyum lebar, lalu melangkah sambil membawa ranting-ranting
kering menuju ke arah sebuah goa yang cukup besar dan bersih. Di goa itu mereka
tinggal selama berada di Hutan Tarik ini.
Rangga mengikutinya dari belakang. Dia membuang
jauh-jauh pikiran tentang Panglima Lohgender yang sedang menunggunya di
Kadipaten Karang Asem, dan Arya Duta yang saat ini tengah mencarinya. Dia
membayangkan ikan bakar olahan Pandan Wangi yang tentunya sangat nikmat, apalagi
makannya bersama gadis cantik itu....
*** Sementara di tempat yang jauh di seputar Hutan Tarik, Arya Duta dan dua orang
pendampingnya dari Kadipaten Karang Asem tengah beristirahat melepaskan
lelahnya. Memasuki hari ketujuh pencariannya, mereka belum
mendapatkan titik terang untuk menemukan Pendekar
Rajawali Sakti. Arya Duta duduk bersandar di sebuah pohon rindang dengan wajah
lesu menyimpan keputus-asaan. Sementara Balungpati dan Welut Putih duduk
menghadapi api unggun yang membakar tiga ekor kelinci.
Bau harum daging kelinci bakar menyeruak hidung.
Balungpati mengambil satu dan menyerahkannya pada
Arya Duta. Anak angkat Panglima Lohgender itu
menerimanya dengan malas. Lalu memakan pelan-pelan tanpa ada gairah.
"Apa sebaiknya kita kembali saja, Gusti?" Balungpati mengusulkan.
"Tidak mungkin, Paman. Ayahanda Lohgender tidak akan menerima kita dengan tangan
kosong," sahut Arya Duta.
"Lalu, sampai kapan kita harus berada di Hutan Tarik ini, Gusti?" tanya Welut
Putih. Nada suaranya jelas menyiratkan kebosanan.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu," sahut Arya Duta mendesah.
"Gusti Arya Duta kelihatan putus asa," Balungpati berkata pelan, seperti untuk
dirinya sendiri.
"Tidak..., tapi mungkin juga, Paman," sahut Arya Duta tanpa kepastian. Matanya
lalu silih berganti menatap Balungpati dan Welut Putih. "Aku sedang memikirkan
arah kita selanjutnya..., mungkin lebih baik kita lupakan saja soal Pendekar
Rajawali Sakti itu. Bagaimana pendapat Paman berdua?"
Kedua pendamping Arya Duta itu saling berpandangan sesaat.
"Maksud Gusti?" tanya Balungpati.
"Aku lebih suka mencari sarang pengacau-pengacau itu,"
sahut Arya Duta.
"Pekerjaan bunuh diri, Gusti!" selak Welut Putih.
"Itu lebih baik daripada melakukan pekerjaan yang belum tentu ada hasilnya,
Paman." Balungpati dan Welut Putih tidak menyanggah.
Keduanya hanya saling pandang sesaat, lalu suasana di antara mereka pun kembali
hening tak bersuara.
Balungpati dan Welut Putih memang tidak bisa
menyalahkan Arya Duta. Tugas yang diembannya dari
Panglima Lohgender memang nyaris tak masuk akal.
Kehidupan kasar dan keras penuh pengembaraan dari
kaum persilatan membuat mereka tidak bisa berharap banyak untuk dapat menemukan
Pendekar Rajawali Sakti.
Suasana hening sepi itu tiba-tiba pecah oleh suara gemerisik dari ranting dan
dedaunan yang terinjak kaki.
Suara langkah-langkah kaki itu semakin dekat dan jelas terdengar. Arya Duta dan
dua orang pendampingnya segera bangkit berdiri.
"Sembunyi!" seru Arya Duta berbisik.
Seketika ketiga orang itu berlompatan masuk ke dalam semak belukar. Tak berapa
lama kemudian, dua sosok tubuh berpakaian serba hitam tampak terlihat mendekat
ke depan bara api yang masih menyala mengepulkan
aroma harum daging kelinci bakar. Salah seorang lalu membungkuk. Sebentar dia
mengamati daging-daging
kelinci yang masih tersisa. Orang itu kemudian
mengedarkan pandangannya berkeliling.
"Hmmm..., ada tikus masuk ke sini, Kakang Pekik,"
dengusnya bergumam.
"Benar. Hati-hatilah, Adi Jaran!" sahut orang yang dipanggil Pekik.
"Mungkin mereka telik sandi dari Kadipaten Karang Asem, Kakang," Jaran kembali
bergumam pelan.
"Mungkin, akhir-akhir ini memang banyak telik sandi berkeliaran di sekitar hutan
ini." "Kalau begitu, kita harus...."
Pekik buru-buru mendekap mulut Jaran. Telinga Pekik yang tajam, cepat dapat
mendengar suara gemerisik
ranting dan dedaunan dari arah semak belukar. Lalu dengan cepat dia mengebutkan
tangannya ke kanan.
Seberkas sinar kehijauan meluncur deras ke arah semak di sebelah kanannya.
Seketika itu juga tiga sosok tubuh berlompatan ke luar dari semak. Pekik dan
Jaran pun langsung mencabut pedangnya. Arya Duta berdiri tegak didampingi oleh
Balungpati dan Welut Putih di kiri dan kanannya.
"Huh! Rupanya benar dugaanmu, Adi Jaran. Kita kedatangan tiga tikus dari
Kadipaten Karang Asem,"
dengus Pekik. "Kalianlah yang menggerogoti lumbung kami!" bentak Balungpati sengit.
"Ha... ha... ha..., mana ada tikus punya lumbung?" Jaran tertawa terbahak-bahak.
Seketika itu juga Welut Putih melompat menerjang
dengan satu teriakan nyaring. Balungpati pun segera mengikuti. Pertarungan satu
lawan satu tak terelakkan lagi.
Welut Putih mengirimkan jurus-jurus mautnya ke arah Jaran yang telah siaga
dengan pedang andalannya.
Sementara Balungpati mulai mencecar Pekik dengan
gerakan-gerakan sapuan tangannya yang gesit dan cepat.
Arya Duta mengamati pertarungan yang semakin seru
itu dari jarak hanya beberapa batang tombak. Sret..! Welut Putih langsung
mencabut goloknya, dan mengibaskannya dengan cepat ke arah lawannya. Namun
dengan cepat sekali Jaran mengelakkannya sambil menyodokkan ujung pedangnya ke arah perut.
Welut Putih menggeser kakinya ke samping, dan sambil menjatuhkan diri, dia meng-
egoskan kakinya dengan kuat menyampok kaki kiri lawan.
Jaran yang tidak menduga, langsung terjungkal. Tubuhnya terbanting keras ke
tanah dengan muka lebih dulu mencium tanah. Welut Putih tidak tinggal diam,
segera dia meloncat bangkit. Tubuhnya langsung melayang di udara sesaat,
kemudian kedua kakinya menghajar punggung
Jaran beberapa kali.
Bug...! "Aaakh...!" Darah segar pun muncrat dari mulut Jaran yang hanya bisa memekik
tertahan. Sebentar kepalanya terangkat, lalu terkulai jatuh ke tanah begitu golok Welut
Putih membabat lehernya. Hanya sebentar saja Jaran sanggup menggelepar, kemudian
diam tak berkutik lagi. Dari mulut dan lehernya mengucur darah segar. Welut
Putih segera melangkah menjauhi mayat lawannya.
"Paman Balungpati, gunakan senjata!" teriak Arya Duta tiba-tiba.
Welut Putih segera menoleh ke arah pertarungan antara Balungpati dengan Pekik.
Balungpati yang memang terlihat sudah terdesak itu, langsung mencabut pedangnya.
Kini pertarungan kembali berlangsung seimbang.
Tring! Dua pedang beradu di angkasa. Percikan bunga api ber-pijar dari dua senjata yang
beradu keras itu. Tampak Pekik melompat mundur dengan mulut menyeringai. Tangan
kanannya tampak gemetar dan memerah saga. Dia kalah kuat beradu tenaga dengan
lawannya. "Mampus kau, setaaan...!" teriak Balungpati keras.
Saat itu juga Balungpati melompat bagai kilat sambil mengibaskan pedangnya.
Serangan Balungpati yang cepat membuat Pekik terperangah. Buru-buru dia
mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Tring! "Akh!" Pekik memekik tertahan.
Pedang di tangannya terlontar, mencelat jauh ke udara.
Pada saat iItu juga, Balungpati memutar pedangnya, dan...
Cras! "Aaa...!"
Tubuh Pekik sempoyongan diiringi oleh erangan
panjang, lalu roboh ke tanah dengan darah segar muncrat dari dadanya yang robek
terbabat pedang. Balungpati memandangi tubuh lawannya sesaat, kemudian
memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya di pinggang. Sesaat kemudian
Balungpati berbalik menghadap pada Arya Duta dan Welut Putih yang berdiri di
samping pemuda itu.
"Aku yakin, mereka adalah para pengacau di Kadipaten Karang Asem," kata Arya
Duta. "Benar, Gusti," sahut Balungpati. "Hanya saja mereka cuma cecunguk."
"Dan yang pasti, sarang mereka ada di sekitar Hutan Tarik ini," sambung Welut
Putih. "Hm..., kita sudah melacak hutan ini selama tujuh hari.
Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dijadikan sarang
pengacau," gumam Arya Duta pelan. "Bagaimana pendapatmu, Paman Balungpati?"
"Sebaiknya jelajahi lagi hutan ini. Kalau memang sarang mereka di sini, kita
bisa melaporkannya pada Gusti Panglima Lohgender," sahut Balungpati.
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga," ajak Arya Duta.
"Baik, Gusti," hampir berbarengan Balungpati dan Welut Putih menyahuti.
Ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan, menjelajahi kembali Hutan
Tarik ini. Arya Duta kini punya semangat lagi setelah yakin akan menemukan
sarang pengacau itu. Untuk sesaat dia bisa melupakan tugas utamanya, mencari Pendekar
Rajawali Sakti.
*** 3 Suasana kota Kadipaten Karang Asem tampak begitu
tenang dan lengang. Udara malam yang terasa sejuk oleh hembusan angin lembut,
seperti ikut menyiratkan
kedamaian. Rangga atau si Pendekar Rajawali Sakti pun benar-benar menikmati
suasana di keheningan malam
bersama Pandan Wangi. Sudah dua hari ini mereka tinggal di sebuah penginapan
yang cukup besar.
"Seharusnya kau memesan dua kamar, Kakang," kata Pandan Wangi agak ketus.
Rangga hanya diam saja membisu sambil matanya
menatap ke luar dari jendela yang terbuka lebar. Sudah dua hari ini Pandan Wangi
selalu menggerutu kesal
lantaran Rangga hanya memesan satu kamar untuk
mereka berdua. Rangga bisa memaklumi kalau gadis itu merasa risih berada dalam
satu kamar bersama pemuda yang hanya sahabat saja. Tapi Rangga punya alasan
tersendiri memesan satu kamar untuk mereka berdua.
"Tidak mungkin, Pandan," kata Rangga begitu telinganya mendengar gerutuan Pandan
Wangi yang tidak berhenti.
Tapi tatapan Pendekar Rajawali Sakti itu tetap tidak berpaling dari jendela yang
terbuka lebar. "Kenapa tidak mungkin" Bukankah bekal kita cukup untuk memesan dua kamar?"
sergah Pandan Wangi bernada kesal.
"Memang...," desah Rangga agak acuh. Dia tetap tidak memalingkan mukanya.
Matanya tetap menatap keramaian yang mulai nampak di luar sana. Keramaian yang
jarang dia nikmati di malam hari, kalau tidak kebetulan berada pada suatu kota.
"Lalu, kenapa kau hanya menyewa satu kamar?"
"Karena aku sudah mengatakan kalau kau istriku pada pemilik penginapan ini,"
sahut Rangga kalem sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Edan!" dengus Pandan Wangi.
"Ingat, Pandan. Kita datang ke sini dengan satu tujuan.
Dan aku belum mau menarik perhatian orang," Rangga berusaha menjelaskan.
"Aku tidak mengerti maksudmu?"
"Kita datang berdua. Kalau menyewa dua kamar, tentu bisa menarik perhatian
orang. Aku tidak mau kita menemui kesulitan sebelum tahu maksud Panglima
Lohgender mencariku. Kau harus mengerti, Pandan. Toh, kita tidak melakukan apa-apa di
sini, kan?"
"Tapi, kau kan bisa mengaku aku ini adikmu, atau apa saja yang lain asal jangan
itu!" sergah Pandan Wangi tetap tidak setuju dengan alasan Rangga.
"Mungkin itu bisa kulakukan kalau keadaannya lain."
"Lain bagaimana?"
"Aku bisa mengaku kau sebagai adik kalau sudah tahu alasan Panglima Lohgender
mencariku. Sedangkan sampai saat ini, kita belum tahu apa-apa. Apakah dia itu
lawan atau kawan" Aku hanya bermaksud untuk menjaga segala kemungkinan saja."
"Kalau cuma itu alasanmu, aku bisa menjaga diri!"
"Aku percaya, apalagi kau sekarang sudah menguasai Pedang Naga Geni dan Ilmu
Naga Sewu yang dahsyat. Kau bukan lagi gadis lemah yang selalu minta
dilindungi."
"Ah, sudahlah!" tukas Pandan Wangi. Dia sadar kalau tidak akan bisa menang
berdebat dengan pemuda itu.
"Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?" suara Pandan Wangi mulai melembut.
"Menyelidiki kadipaten." sahut Rangga.
"Bukankah Kakang sudah lakukan itu semalam?"
"Semalam aku hanya melihat-lihat dari luarnya saja.
Penjagaan di sana kelihatannya sangat ketat. Prajurit-prajurit Kerajaan
Limbangan tampaknya sudah mulai ber-datangan ke Kadipaten Karang Asem ini," kata
Rangga memberitahu.
"Mungkin...."
"Ssst...'" Rangga memotong ucapan Pandan Wangi cepat-cepat sambil menyilangkan
jarinya di sudut bibir gadis itu.
Pandan Wangi langsung terdiam. Matanya mendelik merasakan ujung jari telunjuk
Rangga menyentuh bibirnya.
Segera dia menarik kepalanya ke belakang. Mendadak saja jantungnya jadi berdebar
keras. Entah apa yang tengah dirasakannya saat ini.
"Kau di sini saja, tutup jendela setelah aku ke luar," kata Rangga berbisik
pelan. Pandan Wangi belum sempat lagi membuka mulut, tiba-tiba saja tubuh Pendekar
Rajawali Sakti itu sudah mencelat ke luar meloncati jendela. Dengan masih
diliputi tanda tanya, gadis itu segera menutup jendela setelah mengamati keadaan
di luar sebentar. Dia mencoba mengerahkan pendengarannya dengan tajam, tapi
tidak terdengar apa-apa, selain suara percakapan orang-orang yang ramai di luar
penginapan ini.


Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sementara itu, Rangga yang tadi sempat mendengar
sekilas suara mencurigakan di atas atap, langsung
melompat naik ke atas kamar penginapannya. Matanya yang setajam mata rajawali,
menangkap sesosok bayangan hitam berkelebat cepat dari satu atap ke atap rumah
lainnya. Rangga segera mengikutinya dari jarak yang cukup jauh.
Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak ringan bagai kapas tertiup angin.
Melenting indah mengikuti jejak si bayangan hitam itu. Sesaat kening Rangga
berkerut, begitu melihat bayangan hitam itu arahnya menuju ke rumah kediaman
Adipati Karang Asem. Rangga langsung
melentingkan tubuhnya ke sebuah pohon yang besar dan rimbun ketika bayangan
hitam itu berhenti di sebuah pohon dekat tembok kadipaten. Orang yang mengenakan
baju serba hitam itu sepertinya tengah mengamati
keadaan. "Hm..., siapa orang itu" Apa maksudnya dia berada di dekat benteng kadipaten?"
gumam Rangga dalam hati.
Matanya tajam memperhatikan bayangan hitam yang
tengah diincarnya.
Orang berbaju hitam itu melenting lagi melewati tembok benteng kadipaten yang
tinggi dan kokoh. Rangga segera melompat mengikuti dengan gerakan yang ringan
tak bersuara. Sesosok tubuh yang dikuntit itu lalu menyelinap ke tembok rumah,
kemudian mengendap-endap mendekati sebuah jendela. Tampaknya cahaya pelita
membias ke luar begitu jendela dibuka. Dengan satu gerakan ringan, sosok tubuh
berbaju hitam itu meloncat masuk ke dalam. Rangga segera mendekat.
"Kamar tidur...," bisik Rangga dalam hati.
Dari sebuah celah kecil, dia bisa melihat keadaan
kamar. Tampak orang yang berpakaian hitam itu
menghadap ke arahnya. Tapi tubuhnya membelakangi
pelita, sehingga agak sulit dikenali wajahnya. Rangga mengalihkan perhatiannya
pada seseorang yang duduk membelakangi.
"Hm..., aku harus menggunakan ilmu pembeda gerak dan suara," gumam Rangga dalam
hati. *** Di dalam kamar besar dan indah itu, orang berpakaian serba hitam menghenyakkan
tubuhnya di kursi menghadapi sebuah meja bundar dari batu pualam putih
berlapiskan perak. Di seberangnya duduk seorang laki-laki berpakaian mewah
bertubuh gemuk dan kekar. Laki-laki itu adalah Adipati Prahasta.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Adipati Prahasta.
Nada suaranya jelas kurang senang.
"Aku ingin meminta tanggung jawabmu, Prahasta," sahut orang berpakaian serba
hitam itu. Suaranya kecil dan halus, namun menyiratkan ancaman dan kekejaman.
"Tanggung jawab apa?" Adipati Prahasta mendelik.
"Memperkuat kadipaten dengan mendatangkan prajurit dari kerajaan."
"Aku tidak melakukan itu. Panglima Lohgender yang mengirim utusan untuk
mendatangkan prajurit-prajurit dari Kerajaan Limbangan. Aku tidak tahu menahu
masalah itu!"
suara Adipati Prahasata jelas tertahan nadanya.
"Kau seorang adipati, kau yang berkuasa di sini, bukan Panglima Lohgender!"
"Seorang Panglima Kerajaan lebih berkuasa daripada seorang adipati. Dia bisa
bertindak menurut caranya sendiri di sini, kalau memang menurutnya keadaan tidak
tentram." "Jangan banyak bicara, Prahasta! Aku datang ke sini hanya untuk memintamu
menarik kembali pulang prajurit Kerajaan Limbangan!"
"Mustahil!" dengus Adipati Prahasta.
"Kau harus melakukannya, Prahasta. Atau.... Hih!"
Tiba-tiba saja orang berbaju hitam itu mengibaskan tangannya. Secercah sinar
kehijauan meluncur deras ke arah jendela, lalu secepat kilat tubuhnya melompat
menerobos jendela. Adipati Prahasta segera bangkit dan mendekati jendela.
Rangga yang berhasil menghindari serangan mendadak itu melentingkan tubuhnya ke
udara, dan bersamaan
dengan kakinya menjejak tanah, sesosok tubuh serba hitam itu langsung
menyerangnya dengan cepat. Pendekar Rajawali Sakti itu kembali melentingkan
tubuhnya ke udara, sehingga serangan orang berbaju hitam itu lolos begitu saja.
Orang berbaju serba hitam itu menyadari kalau lawannya bukanlah orang
sembarangan. Tanpa banyak mem-
buang waktu lagi, dia langsung melompat kabur melewati pagar tembok yang tinggi.
Gerakannya sangat cepat, dan tidak menimbulkan suara sedikitpun, pertanda kalau
dia memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi.
"Hup!"
Rangga segera melentingkan tubuhnya mengejar orang berbaju serba hitam itu.
Seketika saja dua sosok tubuh langsung lenyap di balik tembok tinggi tebal dan
kokoh. Sementara Adipati Prahasta jadi bengong tak dapat berbuat apa-apa. Dua bayangan
bergerak sangat cepat seperti menghilang begitu saja tanpa diketahui ujudnya
lebih dahulu. *** Orang berpakaian serba hitam itu lenyap tak berbekas begitu sampai di Hutan
Tarik. Rangga terus mengejar sampai jauh masuk ke dalam hutan yang gelap dan
lebat ini. Ilmu pembeda gerak dan suara yang dia kerahkan pun tak mampu
menemukan jejak orang berpakaian serba
hitam itu. Rangga menghentikan pengejarannya. Dia berdiri mematung sambil
matanya tetap mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Suasana hutan yang hanya
disinari oleh bulan yang tidak begitu terang cahayanya, membuat
pandangan Rangga agak terhalang. Sesaat kemudian
kepalanya tertunduk meneliti tanah di sekitarnya, berusaha mencari jejak-jejak
tapak kaki buruannya.
Mendadak saja Rangga terkejut ketika tiba-tiba dia menyadari kalau dirinya sudah
terkepung dari segala penjuru. Dia memutar tubuhnya memandangi sepuluh
orang berpakaian serba hitam yang berkelebatan cepat ke luar dari balik semak
dan pepohonan. Masing-masing sudah menghunus senjata di tangannya.
"Serang...!"
"Yeaaah...!"
Teriakan-teriakan keras begitu nyaring terdengar disertai berlompatannya tubuh-
tubuh terbalut baju hitam
menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Pertarungan seru di tengah hutan itu pun
tidak terelakkan lagi. Cahaya keperakan berkelebatan dari segala panjuru
mengurung tubuh Rangga.
Rangga yang belum tahu persis kekuatan lawan-
lawannya, masih terus berlompatan, berkelit menghindari serangan-serangan yang
datang secara beruntun. Satu kali pun dia belum balas menyerang, tapi tiba-tiba
saja terdengar jeritan-jeritan melengking disusul jatuhnya dua tubuh hitam
berlumuran darah.
Mata Pendekar Rajawali Sakti yang tajam dan terlatih, langsung dapat melihat
jelas meskipun dalam kegelapan malam. Dua tubuh lawannya itu ambruk oleh sabetan
golok dan pedang yang cepat tanpa diduga dari arah belakang.
Tampak tiga orang dengan senjata terhunus muncul secara mendadak. Dua di antara
mereka, senjatanya telah basah oleh darah. Ketiga orang itu langsung masuk ke
dalam ajang pertarungan. Rangga segera melentingkan tubuhnya ke udara menjauhi
pertarungan. Nampak jelas kalau ketiga orang itu adalah para prajurit.
Satu orang dengan sabuk bergambar bunga melati,
adalah jelas dari Kerajaan Limbangan. Dan dua orang lagi dapat dipastikan
prajurit dari Kadipaten Karang Asem.
Tidak berapa lama kemudian, tampak ketiga orang itu berada di atas angin. Satu
per satu tubuh-tubuh berbaju serba hitam itu bertumbangan bersimbah darah.
"Mundur...!" terdengar suara teriakan keras melengking kecil.
Seketika itu juga empat orang berpakaian hitam yang tersisa langsung berlompatan
kabur. Tubuh-tubuh mereka lenyap di balik kelebatan Hutan Tarik ini. Tiga orang
yang ternyata Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih itu langsung menyarungkan
kembali senjatanya. Mereka
mengambil napas sesaat, lalu bergegas menghampiri
Rangga yang berdiri saja di bawah sebatang pohon besar.
"Kau tidak apa-apa, Kisanak?" tanya Arya Duta setelah berada di depan Rangga.
"Tidak," sahut Rangga tersenyum. Tanpa bantuan mereka pun dia dapat menghabisi
sepuluh orang berpakaian serba hitam itu. Tapi Rangga tidak mau
mengecewakan ketiga orang yang telah bersusah payah membantunya.
"Siapa Kisanak, dan kenapa bisa bentrok dengan gerombolan pengacau itu?" tanya
Arya Duta lagi, dia tidak mengenali siapa Rangga.
"Namaku Rangga, aku tidak tahu kenapa orang-orang itu menyerangku." sahut
Rangga. "Kisanak tinggal di mana?" tanya Balungpati.
"Aku pengembara, aku tidak punya tempat tinggal yang tetap." sahut Rangga
terdengar tenang suaranya.
"Hm, kalau begitu, sebaiknya cepat tinggalkan Hutan Tarik ini. Terlalu bahaya
bagi orang yang berjalan sendirian, apalagi malam hari begini." Welut Putih
menyarankan. "Terima kasih," ucap Rangga seraya tersenyum. "Boleh aku tahu, siapa Paman
bertiga ini?"
"Aku Arya Duta, dan ini Paman Balungpati dan Paman Welut Putih. Kami di sini
sedang menjalankan tugas dari Panglima Lohgender," Arya Duta menjelaskan.
"Apa tugas itu untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti?"
tanya Rangga sambil menyembunyikan rasa kagetnya.
"Benar!" sahut Arya Duta kaget. "Darimana Kisanak tahu?"
"Kebetulan aku kemarin bertemu dua orang utusan dari Panglima Lohgender yang
ditugaskan mencari Paman
bertiga. Kedua utusan itu dari Kerajaan Limbangan," sahut Rangga.
"Oh, siapa mereka?" desak Arya Duta.
"Mereka mengaku punggawa kerajaan. Kalau tidak salah, namanya Punggawa
Garulungan dan Punggawa
Paringgan."
"Ah, mereka itu punggawa pilihan Panglima Lohgender,"
desah Arya Duta.
"Pasti keadaan di Kadipaten Karang Asem semakin gawat, Gusti. Sampai-sampai
Gusti Panglima mengutus dua punggawa pilihan ke sini," sergah Balungpati hormat.
"Ya, rupanya Ayahanda Lohgender sudah mengirim pasukan ke kadipaten," desah Arya
Duta. "Maaf, Kalau boleh aku tahu, kenapa Panglima
Lohgender mencari Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Rangga memancing.
Arya Duta menceritakan keadaan dan persoalan per-
soalan yang tengah dihadapi Kadipaten Karang Asem.
Dugaannya tentang keterlibatan tokoh-tokoh persilatan yang sama dengan dugaan
Panglima Lohgender, membuat Panglima Kerajaan Limbangan itu menugaskan mereka
untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti. Hingga Arya Duta selesai bercerita, dia
sama sekali belum tahu kalau sesungguhnya orang yang dicari ada di hadapannya.
Rangga hanya mengangguk-anggukkan kepalanya
sesaat. Dia kini mengerti sepenuhnya, mengapa Panglima Lohgender mencari
dirinya. Rupanya ada persoalan serius yang sedang dihadapi Kadipaten Karang
Asem. Kadipaten itu memang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Limbangan.
"Sudah sepuluh hari ini kami berada di Hutan Tarik,"
Arya Duta melanjutkan. "Tapi kami justru sempat bentrok dengan gerombolan
pengacau, termasuk yang Kisanak
lawan tadi..., aku yakin, orang-orang itu ada hubungannya dengan keadaan di
Kadipaten Karang Asem sekarang, dan sarang mereka pasti ada di tengah hutan
ini." "Maaf, Paman. Kalau boleh aku memberi saran. Paman bertiga sebaiknya tidak usah
dulu mencari sarang
gerombolan pengacau itu. Sebaiknya Paman bertiga
kembali saja ke Kadipaten Karang Asem," kata Rangga.
"Kisanak...!" bentak Balungpati. "Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan, heh?"
"Maaf, Paman. Aku hanya memberi saran. Karena kemarin sore, kalau tidak salah
lihat, Pendekar Rajawali Sakti yang sedang Paman cari itu ada di Kadipaten
Sumpit Nyai Loreng 1 Pendekar Kembar Iblis Pemburu Wanita Bende Mataram 37
^