Pencarian

Tiga Siluman Bukit Hantu 2

Roro Centil 16 Tiga Siluman Bukit Hantu Bagian 2


kepasrahan itu, tidaklah membuat gadis ini bisa gigit bibir belaka. Karena rasa
takut yang luar biasa,.
Pipit Lurik tiba-tiba belalakkan sepasang ma-
tanya. Dan perdengarkan jeritan sekuat-kuat. Berte-
riak-teriak sang gadis ini bagaikan orang kemasukan setan Akan tetapi dengan
menyeringai, justru si pendek ini telah keluarkan sebuah benda dari dalam saku
bajunya. Benda terdiri dari dua butir pil itu dengan cepat telah dijejalkan
masuk ke mulut sang gadis. Sementara lengannya bergerak menotok urat suaranya,
hingga lenyaplah suara teriakannya. Cuma sepasang
matanya saja yang terbelalak. Kedua butir pel itu sekejap telah tertelan lewat
tenggorokannya.
Terperangah Jaran Perkoso. Nafasnya terasa
memburu... bagaimana dia dapat sanggup melihat ke-
jadian sedemikian bejatnya di depan mata". Laki-laki ini gerakkan tubuhnya
membuka totokan. Tenaga dalamnya dikerahkan sepenuhnya untuk disebar ke se-
kujur tubuh. Tampaknya hal itu membawa hasil. Na-
mun baru dia mau bergerak meronta, Kemang Suri te-
lah tutupkan sapu tangan berbau harum dihidungnya.
Mendadak terasa kepalanya menjadi pening...
dan tubuhnya kembali lemas tanpa tenaga. Sepasang
matanya mendadak seperti mengantuk, dan terkulai
kepalanya di pangkuan Kemang Suri dengan mata ter-
pejam. Berlainan dengan cara si pendek Seto
Bungkrik. Kalau laki-laki itu mengeluarkan dua butir pil yang dijejalkan ke
mulut sang korban, adalah Kemang Suri merogoh kantong kulitnya. Dan keluarlah
sebuah bumbung bambu. Di dalamnya terdapat cairan
berwarna hitam. Setelah membuka sumbatannya, se-
gera diteguknya benda cair dalam bumbung itu tiga
kali tegukan. Lalu menutup kembali sumbatannya,
dengan pipi masih menggembung. Setelah menyimpan
kembali bumbung bambu itu dalam kantong kulit, ke-
palanya membungkuk. Menelan sedikit cairan dalam
mulutnya itu, lalu sisanya dituangkan dalam mulut
Jaran Perkoso yang sudah dipentang ternganga lebar...
Entah cairan apakah itu... Akan tetapi tak lama
ketika laki-laki itu sadarkan diri pandangan matanya menjadi aneh dan liar.
Bibirnya seperti menyeringai dengan sikap aneh melihat adegan di depan matanya.
Dilihatnya si pendek cebol telah lepaskan sesuatu yang mengganggu pada tubuhnya.
Dan... Pipit Lurik tidak lagi ketakutan seperti melihat hantu dihadapannya.
Bahkan... ketika si pendek Seto Bungkrik merangkul-
nya serta menghunjamkan wajahnya ke belahan kedua
bukit berputik kemerahan itu, tubuhnya bergelinjangan seperti terangsang hebat.
Lengannya sudah bergerak mengelus kepala gundul si pendek Seto Bungkrik
dan membelainya dengan bibir mendesah dan mata se-
tengah terpejam.
Getarannya terasa sampai ke hati Jaran Perko-
so. Membuat tubuh laki-laki ini bergelinjangan menahan kobaran hawa nafsu yang
seperti tak terkendali-
kan. Tahu-tahu Jaran Perkoso rasakan belaian lembut mengelus wajahnya. Belaian
dari dua buah benda lu-nak berputik lebar. Tak ayal bagaikan seekor bayi yang
kehausan, Jaran Perkoso melumatnya dengan lahap.
Tentu tak menolak jika sang ibu mengangsongkan se-
suatu untuk dilumatnya oleh sang bayi. Dan... di lain kejap tampak Kemang Suri
perdengarkan rintihannya.
Tubuhnya bergelinjangan menahan kenikmatan yang
tiada tara. Angin gunung di sekitar tempat yang seperti te-
duh, tapi gersang itu berhembus menyentuh kulit-kulit daun dan dahan-dahan
telanjang. Menghempas-hempaskan rantingnya. Beberapa helai daun jatuh me-
layang turun ke tanah... di sela desahan dan suara tertawa mengikik Kemang Suri,
terdengar si pendek Seto Bungkrik menggerutu, yang seperti memaki dirinya...!
"Kunyuk...!" aku lupa memakan obat...!" Dan terpaksa dia harus berdiam menunggu
waktu berlalu. Sementara matanya menatap ke arah dua ekor kamb-
ing yang saling berpacu di atas rumput. Kemang Suri seperti dihujani serangan-
serangan hebat. Membuat
tubuhnya bergelinjangan tak menentu. Mulutnya tern-
ganga berdesahan. Sepasang lengannya bergerak men-
dekap tubuh Jaran Perkoso berubah. Namun bersa-
maan dengan keluhan Kemang Suri bergelinjanganlah
sepasang kuda yang saling bergumul itu melepaskan
semua naluri, mencapai puncak tertinggi diujung sya-
raf. Seto Bungkrik, si pendek berkepala gundul ini
leletkan lidahnya. Saat itu tiba-tiba satu bayangan hijau berkelebat
mendekatinya. "Heheheheh... kini giliran aku, bukan...?" Berkata sosok tubuh itu yang tak lain
dari si jangkung Wong Duwur. Dia sudah segera lepaskan jubahnya.
"Kunyuk tua! Menyingkirlah dulu...! Aku belum
lakukan apa-apa...!"
"Hah!"... tapi..." Ujar si jangkung penasaran.
"Jangan tanya apa-apa! berikan padaku ra-
muan simpananmu...! Desis Seto Bungkrik dengan ju-
lurkan lengannya. Wajah Wong Duwur jadi berubah
kecewa. Lengannya bergerak menyambar jubahnya.
Lalu meraba-raba ke dalam kantung jubah. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu
bersyiur angin keras bergulung-gulung seperti pusaran angin puyuh. Seto
Bungkrik dan Wong Duwur jadi terkejut. Bahkan ju-
bah si jangkung telah terbawa melayang ke atas. Terpaksa laki-laki itu
mengejarnya. "Setan...!" Ucap Wong Duwur seraya lakukan lompatan tinggi untuk
menangkap jubahnya yang terbawa pusaran angin ke
udara. Si Pendek Seto Bungkrik tak sabaran. Tubuh-
nya bergerak melompat untuk turut mengejar jubah.
"Celaka...! Aku khawatir bungkusan obat ramuan dalam kantung jubahnya lenyap
melayang...!" Desisnya.
Ketika jejakkan kaki ke dekat Wong Duwur ternyata
laki-laki jangkung itu sudah berhasil menyambar ju-
bahnya. Dan kembali melayang turun. Sementara an-
gin pusaran itu masih berputar-putar menerbangkan
dedaunan dan debu pasir dan tanah. Membuat mereka
harus menyipitkan mata.
Pada saat itulah berkelebat sebuah bayangan
kuning, menyambar tubuh Pipit Lurik, tanpa seorang-
pun yang melihat kejadian yang begitu cepat. Lalu
membawanya berkelebat. Sementara Kemang Suri ma-
sih pejamkan mata setelah berhasil mencapai kepua-
san. Bahkan ketika angin pusaran itu menerpa seperti tak perduli lagi. Hingga
saat tubuh bugil Pipit Lurik dibawa berkelebat dia tak mengetahui sama sekali.
Apalagi gerakannya tak menimbulkan suara.
Namun sesaat sesudah bayangan kuning itu
lenyap, Kemang Suri baru tersadar setelah membuka
mata melihat tubuh Pipit Lurik dan si pendek Seto tak berada di tempat. Saat itu
si pendek Seto sudah kembali melompat ke tempat asalnya. Akan tetapi betapa
terkejutnya melihat ke tempat sang gadis itu yang sudah tinggal bekasnya saja.
"Hah...!" Kemana dia?"!" Teriak si pendek ini dengan mata terbelalak.
"Hei, dewiku, apakah kau melihat kemana gadis
itu...?" Tanyanya pada Kemang Suri. Tentu saja Kemang Suri gelengkan kepalanya.
"Kunyuk! Pasti ada orang yang telah melari-
kannya ketika terjadi angin pusaran tadi!" Sentak Seto Bungkrik dengan
tercenung. Tak ayal dia sudah ban-tingkan kaki dengan geram. Lalu tubuhnya
bergerak melompat untuk menyambar pakaiannya yang sudah
melayang ke beberapa tempat, terkena serempetan an-
gin tadi. "Huh, sial...! kita harus cari kemana gadis itu!"
Berkata si pendek Seto Bungkrik dengan hati mengkal, karena niatnya belum
tercapai, tapi dia sudah keburu lemas karena mengumbar emosi berlebihan.
Akibat kemendongkolannya itu, Jaran Perkoso-
lah yang dijadikan sasarannya.
*** 4 Siapakah gerangan yang telah melarikan tubuh
bugil Pipit Lurik" Marilah kita ikuti kemana keper-
giannya... Berkelebatnya bayangan kuning itu begitu cepat membawa lari tubuh
Pipit Lurik yang dalam keadaan tanpa busana. begitu cepatnya hingga seolah
dibawa terbang menuruni bukit, menyeberangi sungai
dan memasuki hutan rimba.
Selang kira-kira semakanan nasi, sosok tubuh
itu memperlambat larinya, karena jalan yang dilalui adalah memasuki celah-celah
pepohonan dan semak
belukar. Kiranya yang memondongnya adalah seorang
laki-laki berpakaian indah, dari sutera kuning. Memasuki benang-benang emas di
bagian dadanya. Ikat ke-
palanya juga dari bahan yang mahal yang biasa dipa-
kai oleh para bangsawan. Ternyata laki-laki itu masih berusia cukup muda, yaitu
sekitar dua puluhan tahun.
Berwajah tidak begitu jelek, dan cukup gagah. Menilai dari pakaiannya, memang
mirip anak seorang bangsawan. Di belakang punggung pemuda ini terselip gagang
sebuah senjata yang terbungkus kain sutera hitam.
Tak lama pemuda bangsawan itu telah mema-
suki satu tempat yang bersih dan teratur. Di bagian depan tampak anak tangga
dari batu yang memanjang
berkelok-kelok. Segera dia mempercepat lagi langkahnya. Sementara bibirnya
selalu menampakkan senyu-
man, yang sebentar-sebentar leletkan lidah. Bahkan
entah beberapa kali lengannya bergerak mengelus atau meraba tubuh gadis yang
dipanggulnya. Beberapa kejap antaranya, si pemuda itu telah
berada di depan sebuah pondok mungil yang berada di atas undakan tangga. Tempat
itu sunyi, tiada orang.
Dan pondok mungil beratap ijuk itupun sunyi tanpa
penghuni. Secepatnya pemuda ini sudah mendekati pon-
dok mungil itu, dan terdengar suara pintunya ketika dibuka. Matanya liar
meneliti tempat sekitar ruangan, yang cuma terdapat sebuah pembaringan lengkap
dengan bantal dan guling beralaskan kulit harimau. Dan sebuah meja kecil dengan
sebuah kendi air diatasnya.
"Hm, bagus! Sudah kuduga, tempat yang sering
dikunjungi ayah ini adalah tempat yang nyaman! En-
tah kemana penjaganya..." Apakah tak seorangpun
yang menjaga tempat ini...?" Berguman si pemuda.
Tapi segera jatuhkan perlahan beban yang di-
bawanya di pembaringan. Sementara sentakan-
sentakan kuat di hatinya sudah sedari tadi dirasakan pemuda itu. Apalagi kini
melihat tubuh mulus tanpa sehelai benangpun menutupi, terpampang dengan segala
keindahannya. "Ah, memang amat cantik, gadis ini...! Kalau
tak salah adalah anak si Ketua Perusahaan Pengantar dan Pengawalan barang!
Karena aku pernah melihatnya ketika ayah mengajakku memesan kereta untuk
mengantar barang-barang milik ayah, berikut menga-
walnya. Dan tampaknya ayah amat akrab bercakap-
cakap dengan si Ketua Benteng Macan Gunung! Ya,
orang tua itu bernama Jaran Perkoso...!" Memikir si pemuda dalam hati. Sementara
lengannya bergerak
mengelus kedua perbukitan yang ranum itu dan ber-
henti di satu putiknya.
Makin lama semakin menjulur ke arah yang
lainnya. Dan terdengar desahan-desahan keluar dari
mulut sang gadis. Rupanya pengaruh dari dua butir pil yang dijejalkan ke mulut
gadis itu oleh si pendek Seto Bungkrik masih bereaksi.
Hal mana membuat si pemuda Bangsawan itu
semakin tergetar jantungnya. Debaran demi debaran
didadanya berkelanjutan dengan dilepaskannya pa-
kaian pemuda itu, yang tampakkan senyum menyerin-
gai. Tak berapa lama terdengar desah-desah angin
seperti saling bertumpuan menerpa di dalam pondok
mungil itu. Kegagalan si pendek Seto Bungkrik dalam me-
laksanakan hajatnya telah membuat Pipit Lurik bagaikan seekor ular betina yang
mengeliat dan mendesis
tiada henti. - oOOOo - Tiga sosok tubuh tampak berindap-indap men-
dekati pondok mungil itu. Sesosok tubuh sudah me-
lompat dengan tak sabar ke depan pondok. Dan..
BRRAAKKK....! Pintu papan berukir pondok itu telah hancur
berantakan dihantam pukulan lengan sosok tubuh itu
yang tak lain dari si pendek Seto Bungkrik.
"Bedebah, pencuri busuk! Kuhabisi nyawa-
mu...!" Teriak Seto Bungkrik seraya melompat ke dalam. Akan tetapi tak ada
jawaban, kecuali sesosok
tubuh layu yang tergeletak keluarkan keluhan di atas pembaringan bertilamkan
seprai dari Kulit macan. Itulah Pipit Lurik, yang masih belum tersadar dari
pengaruh pil yang dijejalkan si Seto Bungkrik padanya.
Tubuh wanita itu telah tertutupkan kain seli-
mut. Sepasang matanya masih terpejam dengan wajah
pucat dan rambut awut-awutan. Adapun si pendek ini
telah jelalatkan matanya mengitari seluruh ruangan, bahkan berjongkok melongok
ke bawah pembaringan,
namun memang di pondok itu tak dijumpai siapa-
siapa. "Setan belang...! kemana kaburnya si pencuri
sialan itu...?" Desis suara si pendek. Namun disamping mendongkol, tapi juga
bergirang karena si gadis telah ditemukan juga. Walau tentunya dia telah
keduluan oleh sang pencuri yang tentunya sudah mencicipi ke-
hangatan tubuh gadis incarannya.........
Sementara si jangkung Wong Duwur dan Ke-
mang Suri telah menyusul melompat ke depan pondok
mungil di ujung batu undakan itu.
Akan tetapi pada saat itu juga terdengar satu
suara halus di belakang mereka. Entah dari mana
munculnya telah berdiri sesosok tubuh berpakaian bagus, dengan menggendong
tangan dibelakang, tengah
menatap mereka.
"Maaf sobat-sobat orang sakti...! ada apakah
membuat kegaduhan di tempatku...?" Bertanya orang itu.
Terkejut kedua tokoh hitam ini, dan segera pa-
lingkan mukanya menatap ke arah suara dibelakang-
nya. Seorang laki-laki tua bertubuh gemuk dengan ba-ju sutera warna-warni.
Memakai jubah panjang warna
biru tua yang belahannya terbuka di depan, perli-
hatkan wajah tersenyum pada mereka.
Laki-laki gemuk ini berkumis tipis yang ujung-
nya terjuntai memanjang. Jenggotnya yang berwarna
putih cuma sejumput saja, bagai jenggot kambing. Wajahnya tampak ramah dengan
sepasang mata agak si-
pit, serta alis terjuntai pula kedua ujungnya. Seto Bungkrik cepat-cepat


Roro Centil 16 Tiga Siluman Bukit Hantu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melompat ke pintu untuk melihat siapa adanya yang telah buka suara. Jangan-
jangan ini pencurinya yang menggondol gadisku...!
Sentak hatinya begitu melihat ada sesosok tubuh di si-si batu undakan.
Mereka bertiga jadi saling pandang, karena si-
kap orang tua itu tak seperti orang berilmu tinggi, jelas seorang bangsawan
menilik dari pakaiannya. Belum
lagi Seto Bungkrik buka mulut, si bangsawan tua itu sudah mengulang bicara.
"Sekali lagi, aku si tua ANJASMORO mohon
maaf pada anda orang- orang sakti, ada apakah yang terjadi hingga membuat
kegaduhan di tempat ku
ini...?" Berkata demikian orang tua bangsawan ini menjura dengan sikap amat
hormat. Hening sejenak.
Dan kembali ketiganya saling pandang. Tak mungkin
kalau orang ini yang telah melakukan penculikan pada si gadis tadi. Demikian
pikir dibenak mereka masing-masing. Tak ayal segera mereka balas menjura.
"Hihihi... kami digelari si TIGA SILUMAN BUKIT
HANTU! Kedatangan kami kemari adalah mencari seo-
rang pencuri busuk yang telah mencuri adik perem-
puan rekan kami!" Ujar Kemang Suri dengan sikap genit, seraya lirikkan mata pada
si pendek Seto Bungkrik. "Oh!" begitukah..." lalu..." Jawab si Bangsawan tua seperti
menampakkan keterkejutannya.
"Kami mengejarnya, ternyata malingnya sudah
lenyap, sedangkan adik perempuan rekan kami itu
berhasil kami temukan lagi berada di dalam pondok
mungil ini...!"
"Ya, aku si Seto Bungkrik yang telah menghajar daun pintu pondok ini, karena
menduga dia bersembunyi di dalam! Ternyata benar! Namun kami terlam-
bat datang, karena manusianya sudah merat terlebih
dulu!" Ujar si pendek dengan wajah geram.
"Apakah anda mengetahui jelas ciri-ciri si penculik itu?"
"Sayang sekali kami tak mengetahuinya sama
sekali baik rupa maupun pakaiannya!" Ujar lagi Kemang Suri.
Sementara si Bangsawan tua kerutkan kening-
nya. "Aneh! Lalu dari siapa kalian orang-orang sakti
bisa mengetahui kalau penculiknya sembunyi dalam
pondok ini?" tanya si Bangsawan tua.
"Kami menemukan seorang penjaga di tempat
ini, akan tapi sayang dia seorang yang gagu! Di cuma menunjuk-nunjuk saja ke
arah sini memberitahukan
dengan isyarat! Apakah dia penjaga di tempat ini yang ditugaskan oleh anda?"
tutur Kemang Suri seraya aju-kan pertanyaan. Laki-laki tua Bangsawan itu kembali
unjukkan wajah tersenyum, dan berkata:
"Benar! Sudahlah kalau penculiknya tak dapat
ditemukan, kalau adik perempuan sobat... Seto
Bungkrik ini sudah dapat ditemukan tak menjadi apa!
Oh, ya disamping terkejut, aku si tua Anjasmoro mera-sa kebetulan sekali
berjumpa dengan para tokoh sakti Rimba Persilatan yang ternyata bergelar Tiga
Siluman Bukit Hantu! Bagaimana kalau aku si tua ini mengajak anda ke tempat
tinggalku". Ya, hitung-hitung menambah pengetahuanku, karena aku amat senang
berke- nalan dengan orang-orang sakti Rimba Hijau! Haha-
ha... jangan khawatir, aku si tua akan menjamu kalian orang-orang sakti sampai
puas!" Berujar si laki-laki tua Bangsawan dengan menunjukkan sikap persaha-
batan. Melengak si Tiga Siluman Bukit Hantu ini, dan lagi-lagi ketiganya saling
pandang. Seto Bungkrik dan Wong Duwur cuma manggut-manggut menatap pada
Kemang Suri. Kemang Suri palingkan lagi kepalanya
menatap pada si laki-laki tua Bangsawan itu, seraya manggut-manggut dan
menyatakan bersedia bertamu
ke tempat tinggal si Bangsawan tua.
- oOOOo - Di sebelah utara kota UNGARAN ternyata me-
rupakan daerah yang hidup, karena disana banyak
tinggal kaum Ningrat dan para pedagang maupun
Bangsawan. Bahkan di tempat itu adapula tinggal ke-
luarga dari Adipati Banyu Biru.
Disudut utara kota yang padat penduduknya
itu tinggal seorang bangsawan Tua yang terkenal ra-
mah tamah dan berwibawa. Yaitu Raden Mas Anjasmo-
ro, yang mendiami gedung megah dengan belasan pen-
gawal yang dimilikinya.
Menjelang senja, tampak iringan-iringan orang
berkuda memasuki wilayah utara kota Ungaran. Ter-
nyata adalah si Bangsawan Tua Anjasmoro itu, yang
datang bersama ketiga tamunya si Tiga Siluman Bukit Hantu. Tentu saja si pendek
Seto Bungkrik membawa
serta si gadis bernama Pipit Lurik itu dalam pang-
kuannya di atas kuda.
Beberapa penduduk yang sempat berpapasan
dengan rombongan itu tentu akan menjura hormat pa-
da si Bangsawan terkenal itu, yang berikan senyu-
mannya pada setiap orang yang dijumpai.
Tak berapa lama dua orang penjaga telah mem-
bukakan pintu utama di depan gedung megah milik si
Bangsawan Tua itu. Dan mereka segera beranjak ma-
suk. Ketika mereka masing-masing turun dari ku-
danya, segera beberapa penjaga berdatangan untuk
membenahi kuda-kuda itu. Binatang tunggangan yang
mereka naiki adalah didapatkan dengan mudah. Kare-
na di setiap tempat si Bangsawan Tua banyak mempu-
nyai kenalan. PIPIT LURIK terkejut ketika dapatkan dirinya
berada di sebuah pembaringan empuk berseprai bersih dan bagus. Dan dalam sebuah
kamar yang indah. Sebuah jendela yang terkuak terbuka sebagian, menam-
pakkan latar belakang sebuah taman bunga. Juga se-
buah lampu gantung yang terbuat dari besi ukiran be-
rada di langit-langit ruangan kamar. Gadis ini beranjak bangkit untuk duduk,
terkejut dia karena rasakan tubuhnya tak mengenakan pakaian sama sekali, kecuali
sebuah selimut berbau harum yang membungkus tu-
buhnya. Oh, apa yang telah terjadi denganku" Di mana-
kah ini" Tempat ini bukan kamarku...! Ya, kamar ini lebih indah, dan amat indah
melebihi kamarku...! Bertanya-tanya Pipit Lurik dalam hati.
Segera dia mulai mengingat-ingat apa yang te-
lah terjadi. Gadis ini ternyata telah lupa pada kejadian di atas bukit, akibat
pengaruh dua butir pil yang dijejalkan dalam mulutnya oleh si pendek Seto
Bungkrik. Semalam suntuk dia telah tertidur pulas, bah-
kan ketika dia tersadar, matahari sudah mulai me-
ninggi. Setelah lama termangu-mangu, akhirnya Pipit Lurik mulai dapat mengingat
lagi kejadian mengerikan di atas bukit, dimana tubuhnya tengah digeluti oleh si
pendek Seto Bungkrik salah satu dari Tiga Siluman
Bukit Hantu. Mengingat demikian, gadis ini tiba-tiba perden-garkan jeritan histeris. Wajahnya seketika pucat pias ketakutan.
"Tidaaaak...! tidaaaak...! Oh, lepaskan aku...!
lepaskaaaann!" Dan dia sudah bangkit dari pembaringan. Sekejap saja sepasang
matanya telah member-
sitkan air bening yang menggenangi pelupuk matanya.
Pada saat itulah sesosok tubuh melompat ke
dalam kamar setelah membuka daun pintu dengan ce-
pat. Terkejut pipit Lurik menatap siapa yang datang.
Akan tetapi juga terheran... karena di hadapannya bukanlah wajah jelek si pendek
gundul itu, melainkan seorang pemuda gagah berpakaian mewah, yang menatap
padanya. Dan segera telah berikan senyuman ma-
nis terhadapnya.
"Oh..." no... nona sudah sadarkan diri..." Su-
kurlah! Dan tenanglah, nona..! kau berada di tempat yang aman! Namaku PITRA
SENA! Kau berada di kamar dalam gedung ayahku Raden Mas Anjasmoro...!"
Berkata pemuda itu dengan lemah lembut. Adapun Pi-
pit Lurik tergesa-gesa menutupi kembali tubuhnya,
dan membuntalnya dengan selimut. Apakah gerangan
yang terjadi" Mengapa aku bisa berada di gedung si
Bangsawan Tua sahabat ayahku ini.." Sentak hati Pipit Lurik. Tiba-tiba mendadak
gadis ini rasakan kepalanya mendadak jadi pening dan rumit memikirkan
semuanya. Dan sekonyong-konyong dia mulai mengin-
gat pada sang ayah.
Tak ayal Pipit Lurik kembali menjerit histeris
menyebut-nyebut nama ayahnya, dengan menelung-
kupkan wajah di kedua lengannya.
Membuat pemuda itu jadi tampak kebingun-
gan, dan segera mendekati seraya mengelus pundak-
nya. Akan tetapi Pipit Lurik telah melompat ke sudut pembaringan.
"Pergi kau...! pergii Jangan jamah aku! Ke mana ketiga manusia iblis itu"
Katakan di mana mereka!
Aku harus membunuhnya mampus! Dia... dia pasti te-
lah bunuh ayahku! Ayaaah...! oh, ayaaaah....." Setelah berteriak-teriak, Pipit
Lurik kembali menangis tersedu-sedu. Pemuda bernama Pitra Sena itu cuma men-
diamkan saja menatap si gadis dengan tersenyum, ka-
rena maklum kalau dia tengah shok dengan kejadian
yang dialaminya. Tiba-tiba sang gadis sudah hentikan lagi tangisnya. Kini
hatinya memikir akan apa yang telah dialami. Barulah dia sadar kalau dirinya
telah ternoda. Ya, ternoda oleh si manusia pendek bernama
Seto Bungkrik itu. Dan dia ingat benar akan kejadiannya. Seketika lemahlah
sekujur tubuhnya. Air matanya yang mengalir di pipi terasa panas. Tiba- tiba dia
telah angkat wajahnya, seraya menatap pada si pemuda
yang masih berdiri menatapnya.
"Maafkan kekhilafan ku, kakak...! Dapatkah
kau ceritakan mengapa aku bisa sampai berada di si-
ni?" Bertanya Pipit Lurik menahan isaknya.
Pitra Sena tersenyum, seraya menyahuti den-
gan kata-kata lemah lembut.
"Tenangkan hatimu, nona..! beristirahatlah,
aku akan memanggil pelayan untuk membawakan pa-
kaian buatmu...! Biarlah nanti setelah kau selesai bersantap, aku akan
menceritakan kejadiannya pada no-
na... ng... anda bernama Pi... Pipit Lurik, bukan...?"
Pipit Lurik mengangguk seraya tundukkan wa-
jahnya. Tatapan mata pemuda anak si Bangsawan Tua
Raden Mas Anjasmoro itu seperti menembus ke jan-
tungnya, membuat hatinya jadi berdebar. Diakah yang telah menolongku..." Ataukah
ayahnya.."r
Ah, seandainya dia atau ayahnya yang telah
melakukan pertolongan padaku, sama saja! Tapi
alangkah menyesalnya aku menolak keinginan ayah
menjodohkan aku padanya. Dan kini... kini semua ha-
rapan ayah telah musnah! Bahkan aku tak tahu ba-
gaimana nasib ayah kini! Ya, aku tak tahu lagi! Namun aku pasti akan segera
tahu, kalau ayah Pitra Sena sudah menuturkannya padaku...! Memikir gadis ini.
Sementara Pitra Sena telah keluar dari kamar
untuk memanggil pelayan. Ternyata beberapa pelayan
wanita telah berada di balik pintu sejak tadi, karena telah mendengar suara
teriakan-teriakan dan tangis
Pipit Lurik di dalam kamar. Segera saja Pitra Sena me-nyuruhnya menyediakan
pakaian untuk sang gadis
itu. Sementara dia sendiri berlalu ke arah ruangan
depan, dimana sang ayah masih duduk sambil meng-
hisap cangklongnya.
Laki-laki Bangsawan ini sudah sejak tadi men-
dengar suara teriakan dan tangisan gadis itu. Akan tetapi dilihatnya Pitra Sena
telah berlari melihat, hingga dia tak berniat bangun melihatnya. Adapun Raden
Mas Anjasmoro ini tengah bercakap-cakap dengan anak la-ki-lakinya itu, yang
terputus oleh teriakan Pipit Lurik tadi. Tak lama Pitra Sena sudah muncul di
ruangan depan. Laki-laki gemuk ini menoleh, seraya menatap
pada sang anak.
"Bagaimana dengan gadis itu, Pitra Sena! Apa-
kah sudah dapat kau bujuk dan jelaskan kejadian-
nya?" Tanyanya.
"Sudah, ayah! akan tetapi aku belum ceritakan
apa-apa padanya! Kuharap kau mengerti, ayah...." Pitra Sena mendekati ayahnya,
dan bisikkan sesuatu
padanya. Selang sesaat, terdengar suara tertawa pelahan Sang Bangsawan Tua ini.
"Jadi kau menginginkannya" Hm, gadis itu te-
lah ternoda! Terserah kau! Asalkan kau tak mengawi-
ninya! Kau tahu! Punya istri itu banyak resikonya, dan kau masih terlalu muda!"
Ujar sang Bangsawan tua itu.
"Ayah...! Akulah yang telah menodainya! Dan
aku yakin bahwa akulah yang pertama...!" Berkata Pitra Sena dengan tersenyum
pada sang ayah.
Raden Mas Anjasmoro naikkan alisnya dengan
mata melotot menatap sang anak.
"Jadi kau yang menculiknya...?" Tanyanya dengan heran.
"Benar ayah! Gadis itu tengah diperkosa...!
akan tetapi aku telah lihat sendiri bahwa si pendek Se-to Bungkrik itu belum
berhasil melakukannya!
"Lalu kau culik?"
"Ya, dengan pergunakan jurus "Angin Puyuh Menghalau Naga", tapi tidak terlalu
keras! Cukup menerbangkan jubah si jangkung Wong Duwur itu!" Lalu Pitra Sena
ceritakan sedikit akan perbuatannya, hingga berhasil menggondol Pipit Lurik.
"Bocah edan! Hati-hati kau, jangan sembaran-
gan membuka rahasia kalau kau ada mempunyai ilmu!
Aku memang pernah mengajak si tua Jaran Perkoso
itu untuk berbesan! Akan tetapi dengan maksud ter-
tentu...."
"Apakah itu, ayah?" Tanya Pitra Sena ingin ta-hu.
"Hm, nantilah aku jelaskan...! Kini bagaimana
mengenai keadaan si tua Jaran Perkoso itu" Apakah
masih bisa diselamatkan nyawanya?"
"Entahlah! Ketika aku kembali lagi ke bukit itu, dia sudah hampir mati! Luka-
lukanya amat parah! Su-dan pasti dihajar oleh si pendek Seto Bungkrik itu, yang
amat mendendam padanya!" ujar Pitra Sena. Lalu teruskan pembicaraannya.
"Tadinya aku tak mau ambil peduli, akan tetapi kudengar dia memanggil namaku.
Segera ku hampiri.
Ternyata dia ada berkata-kata:
"Anak Mas... kau carilah.. a.. anakku Pipit Lurik! Ah, seandainya kau
berjodoh... dengan.. anak gadisku, alangkah bahagianya aku...".
Berkata si pemuda tirukan suara Jaran Perko-
so. "Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Raden Mas Anjasmoro penuh perhatian.
"Dia tuliskan sesuatu yang aku tak mengerti
pada sobekan pakaiannya dengan darah, lalu berikan
pada ku.! Tampaknya dia mau katakan sesuatu lagi,
tapi dia sudah keburu pingsan! Karena bukit itu jauh dari desa, dan aku tak mau
pakaian ku kotor kena darah. Terpaksa dia ku tinggalkan saja di bukit itu, entah
mati ataukah masih bernyawa, aku tak mengetahui..!"
Ujar Pitra Sena polos.
Terkejut Raden Mas Anjasmoro, segera terden-


Roro Centil 16 Tiga Siluman Bukit Hantu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gar suaranya mendesis.
"Apakah, kain bertuliskan darah itu masih be-
rada padamu?" Pitra Sena mengangguk. "Cepat berikan padaku, aku ingin lihat!".
Berkata si Bangsawan Tua dengan nada tak sabar.
Cepat-cepat Pitra Sena berikan sobekan kain
yang diselipkan di saku celananya, yang telah dibungkus sobekan kain lagi.
Bahkan Pitra Sena sendiri
hampir lupa kalau masih mengantongi sobekan kain
pemberian Jaran Perkoso.
Laki-laki Bangsawan tua itu memperhatikan tu-
lisan yang tak berbentuk huruf, seperti tak mempunyai arti sama sekali. Bahkan
beberapa kali dia memutar-mutarkan dan membolak-baliknya, akan tetapi tetap
tak mengerti. "Hm, mungkin si tua Jaran Perkoso itu menyu-
ruhmu memberikan kain bertuliskan darah ini untuk
anak gadisnya..." Ujarnya perlahan. "Biarlah aku yang menyimpannyal" Sambungnya
lagi. Kemunculan si Tiga Siluman Bukit Hantu ter-
nyata membawa bencana besar atas keadaan di sekitar wilayah kota Ungaran. Karena
siang itu keadaan di dalam markas Benteng Macan Gunung tengah terjadi ke-
kacauan..... suara benturan senjata dan bentakan-
bentakan keras, serta teriakan-teriakan ngeri terdengar saling susul. Bercampur
dengan suara ringkik ku-da yang ketakutan. Apakah gerangan yang terjadi".
Kiranya setelah habis dijamu oleh Raden Mas
Anjasmoro, si Tiga Siluman Bukit Hantu mendatangi
ke markas itu untuk melakukan pembunuhan. Teru-
tama adalah men cari dua dari Tiga Macan Gunung
Muria. Tentu saja kedatangannya disambut oleh para
anak buah penghuni markas, hingga terjadi pertarun-
gan seru. Namun para anak buah bagaikan lalat yang
dimakan api. Beberapa betas sosok tubuh sudah ber-
kaparan mandi darah dalam keadaan tak bernyawa.
Saat itu Gantar Sewu belum, kembali dari mengawal
barang. Cuma ada Jaka Keling yang menjaga markas.
Laki-laki ini memang sedang resah, karena seperti janji Jaran Perkoso yang akan
kembali pada Sore kemarin,
ternyata tak kelihatan datang. Bahkan sampai menje-
lang slang lagi. Dia baru mengutus beberapa orang
anak buahnya untuk melihat atau menyelidiki ke be-
berapa tempat dataran tinggi.
Namun belum lagi para anak buahnya kembali,
telah datang tiga manusia yang menebar maut di mar-
kas Benteng Macan Gunung.
Di sudut pertarungan tampak pemuda berusia
tiga puluh tahun itu tengah bertarung dengan si pendek bertongkat kepala telapak
tangan besi yang me-
layaninya dengan seru.
"Hahaha.. hehe... ilmu pedang Tiga Macan Gu-
nung ternyata cuma begini saja! Hayo, keluarkan ju-
rus-jurus maut mu yang terkenal itu!"
"Iblis pendek keparat! Apa kesalahan pihak
kami" Mengapa tiba- tiba kalian lakukan pembantaian di markas kami!" Bentak Jaka
Keling, seraya lakukan serangkaian serangan. Pedangnya berkelebatan bagaikan
puluhan pedang yang berkelebatan mengurung
tubuh sang lawan.
"Hehehe ... tak perlu tanya-tanya segala kesa-
lahan! Pokoknya Tiga Macan Gunung Muria harus ku-
tumpas semua sampai lenyap! Setelah Jaran Perkoso,
kini giliran saudara-saudara seperguruannya!" Ujar si pendek Seto Bungkrik
seraya mengelakkan beberapa
serangan bahkan balas merangsak dengan hebat.
Namun Jaka Keling dengan lincah menghinda-
ri, walau tak urung ujung telapak tangan besi itu merobek pakaiannya yang
menyerempet bahu, dan meng-
gores kulitnya. Jaka Keling melompat mundur tiga
tombak. Wajahnya meringis, merasakan pedih dari lu-
kanya. namun hai itu tak membuatnya terkejut. Me-
lainkan kata-kata tentang kakak seperguruannya Ja-
ran Perkoso itulah yang membuatnya terperanjat.
"Hah!" Kalian... telah membunuh kakang Jaran
Perkoso?". Teriaknya tertahan. "Hahaha... tidak salah!
kakak seperguruanmu itu sudah mampus! dan anak
gadisnya telah berada dalam tawananku...!".
Terkejut bukan alang kepalang Jaka Keling,
Seketika dia sudah membentak keras, dan menerjang
dengan sambaran-sambaran pedangnya yang mengge-
bu. "Iblis keparat! aku akan adu jiwa denganmu..!".
Dan mengamuklah Jaka Keling bagaikan singa terluka.
*** 5 Sementara Kemang Suri dan Wong Duwur den-
gan enak saja melakukan pembantaian secara keji.
Kepandaian kedua manusia itu bukanlah tandingan
para anak buah si Tiga Macan Gunung Muria. Teria-
kan-teriakan maut terdengar dimana-mana. Singo
Bronto salah seorang tangan kanan Tiga Macan Gu-
nung Muria itu tampak telah terluka parah. Sebelah
lengannya dihantam remuk oleh tongkat kepala Teng-
korak Wong Duwur. Akan tetapi tanpa menghiraukan
rasa sakit yang luar biasa itu, dia sesudah menerjang lagi dengan gigih.
"Hehehe... tenagamu kuat juga! Apakah kau sa-
lah satu dari si Tiga Macan Gunung Muria?". Berkata dingin si jangkung Wong
Duwur. Akan tetapi Singo
Bronto tak menjawab. Bahkan mencecar dengan se-
rangan-serangan tajam dengan sebelah lengan. Ter-
nyata cukup membuat Wong Duwur harus waspada.
Salah-salah lengannya bisa kena terbabat putus oleh pedang lawan yang mengamuk
hebat ini. Tiba-tiba la-ki-laki jangkung ini perdengarkan suara geraman
menggertak. Tongkatnya berputar cepat dengan puta-
ran menyilang, membuat Singo Bronto terperangah Ka-
rena dia sudah tak dapat membedakan lagi kemana
arah sambaran tongkat lawan. Ketika tahu-tahu benda keras telah menghantam
kepalanya. Laki-laki ini perdengarkan jeritannya. Lalu ro-
boh terguling meregang nyawa. Sekejap kemudian te-
was dengan kepala rengat mengerikan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan
keras yang bersuara nyaring.
"Iblis-iblis keji! Hentikan perbuatan kalian...!!"
Suara itu terdengar amat berpengaruh. Mem-
buat ketiga tokoh hitam itu segera melompat mundur.
Jaka Keling pun dapat bernapas lega, karena segera
terlepas dari kepungan ketat tongkat si pendek Seto Bungkrik.
Sementara beberapa pasang mata segera tertu-
ju pada berkelebatnya sesosok tubuh yang telah bera-da di tempat itu.
Siapakah gerangan pendatang bersuara nyaring
ini". Tak lain adalah si Pendekar Wanita Pantai. Selatan RORO CENTIL.
Seorang dara cantik luar biasa dengan rambut
lebat terurai ke punggung, berbaju sutera warna me-
rah muda tengah berdiri menatap ketiga manusia di-
hadapannya, Di kedua lengannya mencekal sepasang
senjata RANTAI GENIT, yang bentuk bandulannya mi-
rip buah dada. Melengak ketiga manusia bergelar Tiga Siluman
Bukit Hantu itu. Jelas suara bentakan barusan amat
berpengaruh. Karena seperti bergetar menembus ke
masing-masing jantung, menimbulkan hawa aneh
yang membuat menciutnya nyali orang.
Melihat yang muncul adalah seorang dara can-
tik, serta bersenjatakan benda aneh demikian si pendek Seto Bungkrik jadi
tersenyum lucu. Akan tetapi
bentakan itu memang telah membuat jantungnya sera-
sa copot. Siapakah gerangan adanya gadis aneh ini"
Pikir si pendek dalam benaknya. Sementara Kemang
Suri sudah mendengus dihidung melihat dara itu. Dia sudah melompat ke hadapan
Roro Centil dan berkata
dengan nada menghina.
"Eh, dari mana datangnya kuntilanak centil
ini". Hihihi.. rupanya masih doyan menyusu, hingga
kemana-mana membawa tetek ibunya..."
Seraya berkata Kemang Suri palingkan kepa-
lanya pada dua kawannya di belakang. Wong Duwur
dan Sato Bungkrik lantas saja menimpali dengan ter-
tawa gelak-gelak. Adapun Roro Centil cuma perli-
hatkan senyumannya, dan tertawa jumawa seraya
berkata seenaknya.!
"Hu, tidak salah ucapan mu itu Ratu Kuntila-
nak! Aku memang masih doyan menyusu...!" Seraya berkata Roro Angkat sebuah
Rantai Genitnya. Bandulan aneh berbentuk buah dada itu diangkatnya tinggi-
tinggi. Lalu tengadahkan kepalanya seraya monyong-
kan mulut untuk mengecup putik "buah dada". Den-
gan ujung lidah dia telah memutar putik diujung
payudara senjatanya itu. yang segera mengucur air.
Selanjutnya dengan lahap Roro sudah menenggaknya
beberapa teguk.!
Seandainya yang berkata seorang laki-laki ga-
gah, tak nantinya dia akan marah dirinya disebut Ratu Kuntilanak.
Akan tetapi yang menyebutnya adalah seorang
gadis bertampang lugu seperti remaja baru kemarin
sore, tentu saja membuat darahnya seketika naik ke
kepala. Apalagi dengan sikap memandang rendah, Ro-
ro Jual lagak dihadapannya.
"Eh, setan centil! sebutkan namamu, sebelum
aku mengirim mu ke Akhirat! Tidak tahukah kau bah-
wa tengah berhadapan dengan TIGA SILUMAN BUKIT
SETAN...?". Bentak Kemang Suri. Di saat menyebut julukan mereka, sengaja Kemang
Suri memberi tekanan
keras agar membuat sang dara itu terkejut.
Akan tetapi si dara yang tengah meneguk arak
dari sebuah "payudara" senjatanya itu sekonyong-konyong terbatuk-batuk. Karena
tiba-tiba saja dia telah tertawa geli. Akibat batuknya itu, sisa-sisa arak dalam
mulut telah tersembur ke depan. Menyemprot ke
muka dan pakaian Kemang Suri yang berada dihada-
pannya sejarak lima langkah. Tentu saja Kemang Suri tak mau mukanya kena
cepretan air arak. Segera ia
melangkah cepat ke belakang, akan tetapi tak urung
bajunya terkena juga semburan air arak dari mulut
Roro Centil. "Hihihi.. hihi.. kau menyebutku se.. Setan Centil". Uhuk! uhuk! uhuk! Setannya
biarlah kuberikan
buatmu! Kalau Centilnya tepat sekali untukku! Karena namaku memang Roro
Centil!". Berkata si Pendekar Wanita ini dengan masih terbatuk batuk, dan
tertawa mengikik geli.
"Bocah edan...! Mulutmu memang harus kure-
mukkan...!" Teriak Kemang Suri, seraya sudah mau menerjang. Akan tetapi Wong
Duwur sudah melompat
untuk menahan. "Tunggu, dewiku...!" Melengak Kemang Suri.
Namun segera laki- laki ini membungkuk bisikkan se-
suatu di telinga Kemang Suri. Terkejut wanita ini ketika melirik ke arah
pakaiannya ternyata sudah bolong bolong terkena semburan arak tadi. Yakinlah
kini kalau gadis yang diremehkannya ternyata berkepandaian tinggi. Segera dia
beri isyarat untuk mengurung si dara aneh. "He, apakah kesalahannya orang-orang
markas ini, hingga sampai kalian si Tiga Siluman Tengik telah mengamuk membantai
orang semaunya?" Tanya Roro, yang seperti tak acuh meneruskan menenggak arak.
Tiga manusia itu tak memberi jawaban, me-
lainkan saling kedipkan mata memberi isyarat. Dan
dengan berbareng telah berlompatan menerjang ke
arah Roro. Jaka Keling yang melihat kejadian itu jadi men-
celos hatinya. Celaka! wanita itu dalam bahaya...! Sentak hati Jaka Keling. akan
tetapi sungguh di luar dugaan, tahu-tahu ketiga Siluman Bukit Setan itu per-
dengarkan seruan tertahan, dan bergulingan menghin-
darkan diri. Karena tiba-tiba saja bersemburan air
arak yang menyemprot ketiga penjuru. Beruntung me-
reka dapat lolos dari air semburan arak, namun tak
urung kepala gundul si pendek Seto Bungkrik terkena juga cipratan air semburan
arak itu. Seketika melepuh bagaikan terkena letikan api. Laki-laki pendek ini
menyeringai gusar seraya usap-usap kepala gundulnya.
Akan tetapi tiba-tiba....
HUUK..! Kembali dia harus berguling menelak-
kan diri ketika merasai sambaran angin ke arah kepa-
lanya. "Hihihi.. Awas, hati-hati dengan kepala gundul mu, pendek jelek Kalau
hilang tak ada gantinya..!" Terdengar satu suara.
"Bocah edan! Rasakan senjataku." Teriak Kemang Suri seraya melepaskan paku-paku
berbisanya. Serangkum senjata rahasia meluruk ke arah Roro. Ga-
dis ini gerakkan lengannya mengibas. Dan segelom-
bang angin santar segera membuat paku-paku berbisa
itu berbalik meluruk ke arah si penyerang.
"Gila...!?" Memaki Kemang Suri seraya melompat tinggi tiga tombak. Senjata
rahasianya berdesis meluruk lewat di bawah kakinya. Akan tetapi terkejut wanita
ini ketika injakkan kaki ke tanah, belasan paku berbisa itu balik kembali
menyerang ke arahnya.
Edan!" memaki dia dalam hati. Untung dengan cepat
Kemang Suri putarkan seruling hitamnya, hingga belasan paku maut itu buyar ke
beberapa penjuru.
Adapun si jangkung berkumis baplang itu jadi
terkejut melihat ilmu aneh yang dipergunakan Roro.
Namun sebagai tokoh yang sudah banyak pengalaman
di dunia Rimba hijau, dia sudah keluarkan bentakan seraya menerjang dengan
tongkat kepala tengkoraknya. "Sebutkan siapa gurumu, nona Centil!"
Roro tertawa mengikik seraya mengelak dengan
pergunakan jurus langkah Bidadari Mabuk Kepayang.
"Hihihi... tanyakan pada gurumu diliang kubur, pasti akan tahu siapa guruku...!"
Dan sekonyong-konyong...
DWES...! Roro sudah hantamkan sebelah tela-
pak kakinya menendang ke dada lawan. Hal mana di-
lakukan dengan tiba-tiba, yang si jangkung tak me-
nyangka sama sekali. Untuk mengelak sudah terlam-
bat. Karena dia tengah perhatikan gerakan cara men-
gelak si dara itu, yang aneh seperti orang terhuyung mabuk, namun telah berhasil
meloloskan serangan-
nya. Terpaksa dia gunakan kekuatan tenaga dalam
menahan dada. Akan tetapi si jangkung mengeluh, dan terhuyung tiga langkah.
Seandainya dia tak bertenaga dalam tinggi, tentu sudah terlempar sejauh lima
tombak. Diam-diam Roro terkejut juga mengetahui kehe-
batan kekuatan lawan. Dia memang sengaja perguna-
kan sepertiga tenaga dalam untuk sementara si pendek sudah menggerung keras


Roro Centil 16 Tiga Siluman Bukit Hantu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menerjang dengan tongkatnya, menerjang Roro Centil. Telapak tangan besi itu
berdentingan terkena tangkisan senjata Roro yang bagaikan karet. Bila beradu
hantaman langsung mental
balik menyerang lagi ke arah lawan berpantulan.
Tentu saja membuat si pendek Seto Bungkrik
jadi kewalahan menyerang seorang diri. Untunglah datang Wong Duwur yang bantu
menerjang Roro. Hingga
segera terjadi pertarungan sengit. Belasan juruspun berlalu sudah Agaknya Roro
cukup merasa sulit menjatuhkan lawan karena mereka bekerja sama dalam
menyerang dan menyelamatkan kawan Apa lagi tiba-
tiba terdengar suara tiupan seruling yang membersit tinggi menggetarkan anak
telinga. Roro seperti terkejut, dan berpaling ke arah si
peniupnya. Nada seruling yang tinggi rendah itu
mungkin akan memberi orang lain akan terkena pen-
garuh, akan tetapi bagi Roro tidaklah mempunyai arti yang berarti, karena dia
sudah salurkan tenaga batin-nya untuk menutupi pendengaran. Sementara kedua
penyerangnya tiba-tiba melompat mundur.
Roro amat heran, tapi segera manggut-manggut
mengerti. Rupanya mereka mempersiapkan diri untuk
menutupi telinganya. Adapun Roro Centil segera keluarkan akalnya. Tiba-tiba
tampak tubuhnya seperti terhuyung keras mau jatuh. Wajahnya berubah meme-
rah. Dan terhuyung-huyung dia seperti berusaha me-
nahan kekuatan tenaga dalam yang merusak dan me-
nyerang ke otak.
Dan pada saat berikutnya dua sosok tubuh
jangkung dan pendek itu telah menerjang lagi dengan berbareng.
"Mampuusss...!" Teriak mereka hampir serempak. Akan tetapi di detik itu
terdengar suara pekik kesakitan. Dua tubuh penyerang itu terlempar tiga tombak
terguling-guling. Kalau si botak pendek Seto
Bungkrik adalah menjerit karena sepotong lengannya
hancur. Akan tetapi si jangkung ini adalah sebelah kakinya yang hancur sebatas
lutut. Tentu saja kejadian mendadak itu membuat
Kemang Suri terperanjat. Dan sekejap saja tiupan serulingnya terhenti.
Saat dia tengah terperangah itulah, tiba-tiba
berkelebat sebuah bayangan merah ke arahnya.
WHUSSS...! PLAK..! Dia telah hantamkan telapak tangan-
nya, akan tetapi dia sendiri yang terlempar ke belakang. Dan di saat sebelum
tubuhnya menyentuh ta-
nah, tahu-tahu PLAS...! Seruling ditangannya telah lenyap disambar bayangan
merah itu. BUK! tubuhnya terbanting ke tanah. Saat ma-
nalah tiba-tiba Jaka Keling yang sejak tadi jadi penon-ton, dengan menutupi
kedua telinganya, tiba-tiba menampak kesempatan di depan mata. Segera disambar-
nya pedang yang ditancapkan tadi di tanah. Dan...
JROOSS...! Pedangnya telah di hujamkan tepat pada jan-
tung si wanita bernama Kemang Suri itu. Terbeliak sepasang mata Kemang Suri.
Akan tetapi Jaka Keling
sudah menyentakkan pedangnya. Darah segar segera
menyemburat keluar memancar deras. Kemang Suri
berkelojotan meregang nyawanya, Namun tak tame
sudah tak berkutik lagi. mati, dengan mata melotot.
"Hihihi...bagus! Sobat muda!" Teriak Roro Centil yang sudah berdiri di depan
anak muda itu. Pada lengan Roro Centil tercekal seruling hitam Kemang Suri.
KRAAK...! Roro sudah hancurkan seruling itu.
Sementara si kedua manusia pendek dan jang-
kung itu mengetahui kematian Kemang Suri segera
sambar tongkat ,asing-masing dan melesat kabur me-
larikan diri, "Terima... kasih atas bantuan anda... nona
pendekar....!!" Berkata Jaka Keling seraya menjura.
Suaranya terdengar parau. Tampak wajahnya pucat
pias. Agaknya sudah sejak tadi dia menahan kekuatan tubuhnya untuk bisa berdiri,
karena luka pada bahunya yang tergores ujung tongkat si pendek Seto
Bungkrik itu mengandung racun, yang mulai menjalar
ke seluruh tubuh.
Terkejut Roro Centil, baru mau dia berkata, ta-
hu-tahu Jaka Keling sudah jatuh menggabruk di ta-
nah. Tak ayal Roro Centil segera memburunya. Ternya-ta Roro bertindak cepat
tanpa sungkan-sungkan. Sege-ra ia periksa luka orang. Terkejut Roro mengetahui
se-lingkaran bekas luka sudah berwarna hitam.
"Racun ular sendok..." Desis Roro. Dan sekejap dia sudah bungkukkan tubuh,
dengan merundukkan
kepala. Ternyata mulutnya sudah digunakan untuk
menyedot darah pada bekas luka ini.
Tak berapa lama Roro sudah muntahkan lagi
cairan darah berwarna hitam dari mulutnya. Lalu sa-
lurkan tenaga dalam ke telapak tangan. Dan menem-
pelkannya ke punggung laki-laki itu. Segera terlihat perlahan-lahan wajah laki-
laki itu berubah seperti biasa kembali. Bahkan lukanya yang menghitam telah
lenyap warna hitamnya.
Roro keluarkan sejumput obat bubuk dari da-
lam botol kecil dari kantong bajunya.
Tak lama tubuh laki-laki itu mulai bergerak
kembali. Dan terdengarlah keluhan, lalu bangkit du-
duk. Merasa keadaan tubuhnya telah kembali normal,
dan lihat gadis pendekar itu menatap dengan senyum
di hadapannya, tahulah dia kalau dirinya baru saja ditolong. Luka di bahunya
sudah tak terasa nyeri lagi.
"Ah, anda telah mengobati lukaku" eh,.. te.. terima kasih, nona Pendekar!"
Ucapnya dengan suara tergagap. Akan tetapi Roro menyahuti.
"Hihi... panggillah namaku saja, aku Roro Cen-
til! Racun ular Sendok itu amat jahat! terlambat sedikit lagi, anda tak mungkin
tertolong...! Tutur Roro Centil.
Melengak pemuda ini. Segera dia manggut-manggut
seraya kembali ucapkan terima kasih. "Budi pertolongan anda amat besar, nona...
Roro...! Semoga Tuhan
membalas kebaikan hati anda!" Ujarnya lirih dan suaranya terdengar bersemangat.
"Ah, sudahlah! Siapakah nama anda, sobat
muda...?" Tanya Roro.
"Oh, ya aku Jaka Keling! adik seperguruan dari ketua Markas Benteng Macan Gunung
ini!" Menyahuti Jaka Keling, seraya bangkit berdiri
menuruti Roro Centil. Gadis Pendekar Pantai Selatan ini manggut-manggut.
"Baiklah, nanti kau bisa ceritakan padaku! mari kita tolong dulu kawan-kawanmu!"
Ujar Roro seraya beranjak melompat. Sementara matanya sudah memandang ke
sekitar. Puluhan mayat bergelimpangan.
Suara mengerang dari yang terluka terdengar disana-
sini. Tapi lebih banyak yang tewas ketimbang yang lu-ka.
"Aih, aku datang terlambat! Gara-gara mengu-
rusi orang usil di rumah makan tadi itu, hingga begini besar korban yang
berjatuhan!" Gerutu Roro perlahan.
Segera dengan sisa-sisa para anak buah yang masih
hidup dan dibantu Jaka Keling, Roro Centil lakukan
pertolongan dan merawat yang terluka. Keadaan di
markas itu begitu trenyuh, sampai-sampai Roro ham-
pir jatuhkan air mata.
*** 6 Gantar Sewu kepal-kepalkan tinjunya dengan
wajah memerah padam. Disudut matanya tampak
mengalirkan air mata. Penguburan para jenazah sudah selesai sejak kemarin. Dan
biaya-biaya pengeluaran
untuk keluarga korban sudah dibagikan. Dan sejak
hari itu papan nama yang terpancang di pintu markas, sudah dicopot. Jaka Keling
duduk disudut ruangan
dengan wajah tertunduk. Pemuda ini terlalu lelah
mengurus penguburan mayat-mayat rekannya dan
mengantarkan pada masing-masing keluarganya. Dia
telah bekerja keras selama dua hari belakangan ini. Ditambah harus memikirkan
nasib Pipit Lurik yang me-
nurut apa yang didengarnya dari si Tiga Siluman Bukit Hantu, sang gadis telah
ditawan mereka.
"Sungguh menyesal aku tak menemui pertem-
puran di markas kita! sehingga yang ku tahu adalah segalanya sudah selesai!
Berarti selesai jugalah usia Benteng Macan Gunung!" Ujar Gantar Sewu dengan
suara terdengar sedih.
"Kasihan nasib kakang Jaran Perkoso! Beliau
memang pernah mengatakan padaku akan mengun-
durkan diri dari kepemimpinan di Markas Benteng Ma-
can Gunung ini, untuk menyepi ke puncak Muria! Tak
dinyana belum lagi terkabul rencana yang sudah lama ditimbang-timbangnya itu,
beliau sudah keburu di-
panggil oleh Yang Kuasa...!" Lanjut Gantar Sewu dengan suara terdengar bergetar
menahan kesedihan. Ja-
ka Keling angkat kepalanya menatap sang kakak kan-
dungnya. "Kakang Gantar Sewu! Kini apakah rencanamu
selanjutnya?" Tanya Jaka Keling setelah suasana lama menjadi hening.
"Yah, aku serahkan pada pilihan mu bagaima-
na baiknya. Kukira sebaiknya kita berpisah! Silahkan kau ambil jalan mu sendiri!
Dan aku juga mengambil langkah sendiri! Kau sudah cukup dewasa, Jaka Keling!
Bahkan lebih dari dewasa! Aku tak dapat menghalangi niatmu menentukan jalan
hidupmu, disamping
kita harus mencari dimana adanya Pipit Lurik, dan
membalaskan dendam kakak seperguruan kita yang
telah menanam jasa besar pada kita...!" Hening sejenak. Jaka Keling termenung
tanpa berkata apa-apa.
Dan Gantar Sewu kembali teruskan bicaranya.
"Kau jangan khawatir, mengenai harta pening-
galan kakang Jaran Perkoso, akan segera kita bagi
dua! Tanah dan gedung markas ini akan kutawarkan
pada seorang hartawan tua kenalan kita, yang sering memesan kereta untuk
mengangkut dan mengawal barang! Satu dua hari ini mungkin aku akan berangkat ke
Gemolong, sekalian pindah dengan anak istriku!
Terserah pada keinginanmu, apakah akan turut ber-
samaku atau mencari kehidupan sendiri...!". Gantar Sewu lanjutkan ucapannya
seraya tatap wajah adiknya dalam-dalam. Seperti ingin mengetahui apa isi hati
yang terkandung di dalam dada sang adik.
Akhirnya Jaka Keling bicara juga, setelah me-
renung lama. "Ya, kalau kakang sudah mengatakan untuk ki-
ta mengambil jalan hidup sendiri-sendiri aku tak dapat menolak! Mengenai urusan
gedung markas ini aku tak
mau mencampuri! Cukup bagiku sedikit bekal untuk
perjalanan mencari Pipit Lurik! Dan seekor kuda yang kuperlukan. Mengenai urusan
balas dendam, hal itu
adalah urusan belakangan. Yang penting adalah me-
nemukan dahulu dimana adanya Pipit Lurik!" Ujar Ja-ka Keling dengan suara datar.
Tampak Gantar Sewu
kerutkan keningnya, seperti terheran mendengar jawaban Jaka Keling. Setelah
menghela napas Gantar Sewu perlihatkan senyumnya, seraya berkata;
"Hm, baiklah! kalau cuma itu keinginanmu!
Aku memuji akan tekadmu untuk mencari Pipit Lurik!
Benar! Itu memang tanggung jawab kita! Kepergianku
ke Gemolong adalah cuma mengantarkan anak-istriku,
sekalian pindah dari wilayah Ungaran ini! Tapi bukan berarti aku tak mengacuhkan
anak gadis saudara seperguruan kita" akupun akan berusaha mencari, dan
tentu saja membalaskan dendam pati ini! Kukira wa-
laupun mereka telah terluka oleh pendekar wanita itu, mereka berdua masih bisa
membahayakan. Bukan
mustahil mereka akan mengacau lagi kemari! itulah
sebabnya aku akan menjual tanah dan
gedung ini...!"
Jaka Keling cuma manggut-manggut dihadapan
kakaknya. Namun tak lama dia sudah keluar gedung
untuk menuju ke baraknya. Jaka Keling memang sela-
lu tidur dibarak. Gantar Sewu cuma menatap pung-
gung sang adik. Yang sudah melangkah lebar keluar
gedung. -oOOOo- "Kau akan berangkat sekarang, Jaka...!" Tanya Gantar Sewu. Laki-laki ini
mengangguk. Dia sudah
siapkan seekor kuda dari kandang di belakang barak-
nya. Kuda yang memang miliknya. Pemberian dari Ja-
ran Perkoso yang telah dibelikan kakak seperguruan-
nya itu dengan harga mahal.
Barusan kepergiannya ke barak adalah untuk
berkemas. Gantar Sewu menatapnya dengan pandan-
gan sedih. "baiklah, adikku...! Semoga Tuhan selalu melindungimu...!"
Gantar Sewu masuk kembali ke dalam ruangan
kamar. Tak lama sudah keluar dengan membawa se-
buah buntelan kecil yang perdengarkan suara geme-
rincing. Agaknya Gantar Sewu sudah mempersiapkan-
nya sejak tadi.
"Terimalah ini untuk bekal dalam perjalananmu
semoga kau dapat menghemat sisa uang ini...!" Ujar Gantar Sewu seraya berikan
buntalan itu pada Jaka
keling. "Baik, kakang! Titipkan salamku pada kakang mbok, dan anakmu...!"
Tentu, Jaka...! Kalau kau temui kesulitan, cari-
lah aku di Gemolong! berhasil atau tidak pencarian ku menyelidiki dimana adanya
Pipit Lurik, aku memang
akan menetap disana...! Nah, selamat berjuang! Aku
yakin pendekar Wanita itu bisa dijadikan Dewi Peno-
long dalam upaya menumpas kedua iblis dari Tiga si-
luman bukit Hantu!"
Jaka Keling cuma manggut-manggut, talu se-
lipkan sekantung uang itu ke balik pakaian. Lalu beranjak mendekati kudanya.
melompat ke atas pung-
gung si hitam. Dan... tanpa menoleh lagi segera keprak kudanya yang membedal
cepat meninggalkan halaman markas dengan perdengarkan suara ringkikkan-
nya. Gantar Sewu menatap kepergian sang adik
dengan tersenyum. Dan terdengar suara helaan nafas-
nya. Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berubah aneh. Senyumnya mendadak sirna. Dia
sudah balikkan tubuh-
nya untuk beranjak cepat kembali ke kamar. Kamar
itu adalah kamar Jaran Perkoso.
"Hm, aku harus cari dimana kakang Jaran Per-
koso menyembunyikan peta sisa harta warisan guru!
Aku yakin guru telah berikan seluruh hartanya pada
kakang Jaran Perkoso!" Desis suara Gantar Sewu. Dan segera dia bekerja
membongkar kembali, dan mengaduk-aduk seluruh isi lemari. Juga mencari di
tempat-tempat lainnya. Sebuah pajangan berbentuk kepala
rusa, tempat menggantung pakaian dicopotnya. Lalu
diperiksa, kalau-kalau Jaran Perkoso menyembunyi-
kan peta di situ. Entah mengapa hatinya semakin ya-
kin kalau kakak seperguruannya menyimpan peta har-


Roro Centil 16 Tiga Siluman Bukit Hantu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ta sang guru. Dan... hatinya seperti tersentak. Jantungnya
berdebar keras. Dia telah temukan secarik kertas kulit tipis yang digulung
kecil, pada sebuah lubang dibalik pajangan kepala menjangan. Segera dengan cepat
di-bukanya. Tampak wajahnya berubah berseri menye-
ringai. "Hahaha... bagus, akhirnya kutemukan juga!
Hampir aku mencurigai si Jaka Keling!" Gumam Gantar Sewu. Seraya teliti peta
itu. Dugaannya tepat kalau Jaran Perkoso ada menyimpan peta harta pusaka
gurunya. Urusan ini lebih penting, ketimbang mencari
Pipit Lurik dan membalaskan dendam pati kakang Ja-
ran Perkoso! Namun aku harus ke Limbangan dulu
menyelesaikan urusanku! Pikir Gantar Sewu dengan
Penyair Cengeng 3 Pendekar Kelana Sakti 3 Iblis Lengan Tunggal Panji Sakti ( Jit Goat Seng Sim Ki) 5
^