Pencarian

Lingkaran Kematian 1

Rajawali Emas 45. Lingkaran Kematian Bagian 1


Bab 1 LEsATAN tubuh perempuan bertubuh menggiurkan namun berparas buruk itusangat cepat hingga taku bahnya bayangan belaka. Dari gemuruh angin yang mendahului lesatannya, jelas kalau perempuan bertampang tak ubahnya setan belaka, hendak habisi lawannya dalam sekali gebrak! Di depan, perempuan setengah baya berparas jelita yang kenakan pakaian panjang berwarna hijau, perdengarkan dengusan. Kejap itu pula dia hentakkan kaki kanannya di atas tanah. Bersamaan dengan mengepulnya tanah hingga paha akibat hentakan kaki kanannya, sosok si perempuan sudah melesat ke depan. Gebrakan yang diperlihatkan perempuan berpakaian hijau panjang yang bukan lain Bidadari Kipas Maut memang sangat di luar dugaan. Dengan cara bergerak seperti itu, nampaknya dia memang menyongsong datangnya gelombang angin yang dilepaskan lawan. Dalam waktu yang sangat singkat, tubuhnya sudah meliuk disusul meluruk ke depan. Perempuan bertampang buruk yang mengenakan kain kamben dan memperlihatkan bentuk tubuh yang indah, kertakkan rahang. Pikirnya tadi, gelombang angin yang dilepaskannya akan telak menghantam Bidadari Kipas Maut. Namun pada kenyataannya, serangan
*,pendahuluannya gagal. Itu membuat si perempuan yang bukan lain Ratih Durga adanya merasa dilecehkan. Seketika dia lipatgandakan tenaga dalamnya untuk membentur serangan Bidadari Kipas Maut. Akibatnya dapat dibayangkan. Begitu benturan yang mengandung tenaga dalam kuat bertemu, terdengar suara letupan keras. Disusul masing-masing orang terseret ke belakang. Ratih Durga menggeram keras dan berhasil kuasai keseimbangannya. Di pihak lain, Bidadari Kipas Maut pun lakukan tindakan yang sama. Menyusul perempuan yang di pinggangnya melilit selendang warna merah membentak,
"Perempuan bertampang setan! Tindakanmu sudah kelewat batas! Jalan satu-satunya untuk hentikan semua tindakanmu, dengan jalan robek mulutmu!!" Ratih Durga mendengus. Matanya yang membuka lebar dan sesekali keluar air meradang. Sementara itu, kakek berpakaian putih yang sejak tadi hanya memperhatikan kedua perempuan itu diam diam menghela napas.
"Kehadiran perempuan dari Bukit Sanggaruang yang telah menjadi budak Pangeran Liang Lahat memang sungguh mengejutkan, terutama menerima tugas Pangeran Liang Lahat untuk membunuhku. Aku juga tak bisa menyalahi tindakan Bidadari Kipas Maut. Siapa pun ditantang seperti itu akan menjadi murka," desis si. kakek yang bukan lain Dewa Baju Putih. Seperti kita ketahui, saat itu Dewa Baju Putih berhasil menyelamatkan Bidadari Kipas Maut dari tangan kejam Iblis Halilintar. Dan keduanya memutuskan untuk mencari Pangeran Liang Lahat yang telah membunuh Pendekar Kail dan melukai Dewa Baju Putih sendiri.
Tanpa mereka sangka, muncul Ratih Durga yang telah menjadi budak Pangeran Liang Lahat. Percakapan sengit terjadi sampai akhirnya Bidadari Kipas Maut tak bisa menahan diri.Tapi sebelum dia lancarkan serangan, Ratih Durga telah mendahului (Untuk lebih jelasnya, silakan baca:
"Perjalanan Maut").
Dewa Baju Putih yang memang tak mau terjadi pertikaian, mengingat Ratih Durga hanyalah orang suruhan dari Pangeran Liang Lahat berkata,
"Ratih Durga... apakah kau tetap tak mau pergunakan jalan pikiranmu, kalau kau hanya diperbudak oleh Pangeran Liang Lahat?"
Ratih Durga hanya perdengarkan dengusan.
Sementara Bidadari Kipas Maut melirik si kakek tanda tak suka dengan ucapannya, si kakek justru sambung lagi kata-katanya,
"Sebagai orang rimba persilatan yang tak menginginkan silang sengketa dan pertumpahan darah terjadi, kita seharusnya hentikan tindakan busuk dari Pangeran Liang Lahat yang kita ketahui sebagai pelarian Pulau Neraka. Kehadirannya di rimba persilatan hanya menambah kekacauan belaka. Dan dia telah tumbuhkan pertikaian demi pertikaian antara kita, yang mana tentunya akan mendapatkan keuntungan
-",untuknya. Satu hal yang perlu diingat, kalau Pangeran Liang Lahat adalah pengkhianat Pulau Neraka. Ratih Durga, apakah kau tidak memikirkan k emungkinan akan adanya orang-orang Pulau Neraka ya ng akan bermunculan untuk mencarinya?" Dcwa Baju P utih hentikan ucapannya. Dipandanginya perempuan be rtampang buruk di hadapannya yang terdiam. Bibirnya yang tebal agak menekuk. Memilik keadaannya, dia jel as sedang pikirkan ucapan Dewa Baju Putih. Kendati de mikian, matanya yang selalu melotot membuka tak ber kedip ke depan. Justru pada Bidadari Kipas Maut! Sudah tentu ditatap seperti itu, Bidadari Kipas Maut mengkela p. Tetapi dia tak lakukan apa-apa karena Dewa Baju Putih keburu berkata lagi,
"Bila banyaknya orang-orang Pulau Neraka hadir di sini, keadaan akan bertambah kacau. Pertumpahan darah satu sama lain akan terjadi. Tidakkah terketuk hatimu untuk menghentikan sepak terjang orang-orang Pulau Neraka?" Lagi-lagi perempuan bertubuh mulus tetapi memiliki paras menakutkan melebihi setan tak angkat bicara. Pelan-pelan dia alihkan pandangan pada Dewa Baju Putih. Sesungguhnya, Ratih Durga tak begitu memahami Pangeran Liang Lahat alias Penghuni Tingka t ke Dua alias Pelarian Pulau Neraka memerintahnya un tuk membunuh Dewa Baju Putih. Kalaupun perempuan bertampang setan ini mau melakukannya, semata kare
na seumur hidupnya belum ada orang yang memuji dirinya. Selama ini yang dirasakan, kalau orang akan memandang jijik bila melihat wajahnya. Dan orang yang melakukan tindakan itu, tentunya akan tewas secara mengenaskan. Tetapi lain halnya di kala dia berjumpa dengan Pangeran Liang Lahat. Orang dari Pulau Neraka itu bukan hanya tidak memandang jijik padanya, tetapi juga memuji bentuk tubuhnya. Perasaan senang itulah yang membuatnya mau melakukan apa yang diperintahkan oleh orang berkulit ungu itu. Mendadak tatapan perempuan ini seperti keluarkan bara api. Dia tak akan pedulikan apa pun yang diucapkan Dewa Baju Putih. Yang diinginkannya, dia cepat laksanakan perintah Pangeran Liang Lahat untuk membunuh kakek itu. Tangannya tiba-tiba menuding seraya berkata bengis,"Jangancoba untuk memuslihatiku, Kakek celaka!" Dewa Baju Putih masih coba untuk bersikap tenang. Menghadapi Ratih Durga bukanlah dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan. Karena dia yakin kalau perempuan ini melakukan perintah Pangeran Liang Lahat semata karena merasa orang itulah yang tak memandang jijik padanya. Padahal menurut perkiraan Dewa Baju Putih, Pangeran Liang Lahat hanya mendustainya belaka dengan harapan tak akan terlalu banyak mengalami kesulitan
agar perempuan itu mau menjadi pengikutnya. Atau tepatnya, menjadi budaknya! Dengan suara tenang dia berkata,
"Aku tak tahu berapa usiamu sekarang ini, Ratih Durga. Tetapi, apakah kau tidak pernah memikirkan jalan hidupmu dimasa tua" Perjalanan hidup yang seharusnya kau pergunakan untuk hentikan segala tindakan...."
"Tutup mulutmu!!" hardik Ratih Durga memotong ucapan Dewa Baju Putih.
"Biar aku tak lagi mendengar ceramah busukmu, kukirim nyawamu ke neraka!!" Habis bentakannya, perempuan bertampang buruk ini sentakkan tangan ke belakang dengan tubuh agak membungkuk. Menyusul dia gerakkan ke atas. Saat kedua tangannya naik ke atas, terlihat sinar hitam yang menyilaukan mata. Ditempatnya, Dewa Baju Putih membatin,
"Perempuan ini terlalu keras kepala. Mencoba agar dia tidak terlalu dibutakan oleh ambisinya sendiri, rasanya tak dapat kulakukan lagi. Hemm... terpaksa aku harus melayaninya...." Namun sebelum Dewa Baju Putih tlakukan tindakan apa-apa, Bidadari Kipas Maut yang sejak tadi sudah tak kuasa menahan geram melihat tingkah Ratih Durga yang menurutnya sudah kelewat batas, sudah keluarkan bentakan,
"Sebelum kau membunuh Dewa Baju Putih yang tentu akan sia-sia, hadapi aku lebih dulu!" Seketika Ratih Durga arahkan pandangan padanya:
"Bagus! Kau sudah kelewat lancang, Bidadari Kipas Maui!!"
Lalu tanpa bergeser dari tempatnya, Ratih Durga sentakkan kedua tangannya kedepan.Serta-merta mencelat sinar hitam yang sangat menyilaukan didahului gelombang angin yang menggebubu tinggi.
Sesaat Bidadari Kipas Maut harus halangi pandangannya dengan tangan kirinya. Dan sadar kalau bahaya mengancamnya, dia sudah melompat ke samping dan lepaskan serangan!
---- Blaaammmm!! Didahului letupan keras dan pecahnya ranggasan semak yang tumbuh di belakangnya tadi, perempuan berparas jelita ini meluruk ke depan!
Wuuuittl! Blaaaamm!!! Terdcngar letupan yang sangat keras tatkala gelomhang angin yang dilancarkannya menghantam sinar hitam yang dilepaskan Ratih Durga. Saat itu pula tempat itu seperti bergctar. Dan sinar hitam itu muncrat ke berbagai arah.
Benturan yang terjadi tadi mengakibatkan masing masing orang surut tiga tindak ke belakang dan tatapan mereka bertemu dengan api yang membara.
Sementara itu, Dewa Baju Putih hanya bisa menghela napas panjang. Dia hendak menahan Bidadari Kipas Maut agar tidak lancarkan serangannya kembali. Namun perempuan berpakaian hijau panjang itu sudah menderu ke depan. Kipas berbulu halus warna putih yang terselipdi pinggangnya sudah dicabut dan seketika digcrakkan. Prcett!! Gerakan ringan yang dilakukannya menimbulkan akibat yang mengerikan. Angin bergulung-gulung yang perdengarkan suara bergemuruh menggebrak. Serangan berbahaya itu hanya disambut dengusan oleh Ratih Durga. Perempuan ini kembali dorongkan kedua tangannya yang keluarkan sinar hitam menyilaukan. Gerakan yang dilakukannya sangat tiba-tiba. Dan yang mengejutkan Bidadari Kipas Maut bukanlah sinar hitam yang ganas itu, melainkan silaunya cahaya yang muncul dari sinar hitam itu. Ini membuatnya mau tak mau jadi palangkan tangannya di depan mata. Memang itulah yang ditunggu oleh Ratih Durga. Bila lawan tak memiliki tenaga dalam tinggi, silaunya sinar hitam yang dilepaskan dapat mengakibatkan mata lawan menjadi buta. Kendati dia tak berhasil lakukan hal itu pada Bidadari Kipas Maut, namun dia tak sia-siakan kesempatan melihat lawan yang sedang palangkan tangan karena kesilauan. Kejap itu pula dia melesat ke depan disertai teriakan mengguntur.:
Blaamm! Angin bergulung-gulung yang keluar dari senjata Bidadari Kipas Maut, pecah berantakan begitu terkena hantaman kedua tangannya. Sementara sosoknya terus menderu ke depan. Bidadari Kipas Maut bukanlah tokoh kemarin sore. Dia sadar bahaya yang mengancamnya. Kendati masih dengan posisi tangan dipalangkan didepan mata, namun dia masih dapat merasakan gebrakan lawan. Mendadak saja tubuhnya berputar sangat cepat hingga yang nampak hanya bayangan hijau belaka. Ganti Ratih Durga yang terkejut. Dia sama sekali tak menyangka kalau Bidadari Kipas Mautakan terlepas dari lingkaran serangannya.
"Setaannn!!" Mendadak saja tubuhnya merunduk dan dengan gerakan aneh dia memutar tubuhnya pula. Tahu-tahu terlihat bayangan hijau yang mengelilinginya terlempar ke depan disertai teriakan tertahan.
"Aaaakhhh!!" Rupanya Ratih Durga berhasil lepaskan jotosannya yang menimpa dada Bidadari Kipas Maut. Begitu melihat lawan terlempar ke belakang, dia sudah empos tubuh untuk menghabisi! Akan tetapi gerakan itu tertahan karena dalam keadaan sempoyongan Bidadari Kipas Maut telah gerakkan tangan kanannya yang memegang senjata kipasnya. Wrrrr!!
Bulu-bulu putih halus yang terdapat pada ujungujung kipasnya mclesat laksana puluhan jarum rahasia yang membuat Ratih Durga scsaat picingkan mata. Na mun di kejap lain, dengan mudahnya Ratih Durga mcmukul luruh bulu-bulu itu. Bersamaan dengan itu, Bidadari Kipas Maut telah dapat kuasai keseimbangannya. Matanya memandang tak berkedip ke depan. Dadanya yang agak membusung turun naik. Secara tiba-tiba diangkat tangan kanannya yang memegang kipas. Lalu digetar-getarkannya. Kejap berikutnya, terlihat Bidadari Kipas Maut bergerak laksana seorang penari. Menggerak-gerakkan pinggul, dada, bahu dan perutnya dengan gerakan gemulai sementara tangan kanannya yang memegang kipas digetar-getarkan terus seperti sedang mengipas. Menilik gerakan yang dilakukannya, perempuan itu telah keluarkan ilmu
"Tarian Bidadari". Di tempatnya, Dewa Baju Putih mendesah pendek,
"Bidadari Kipas Maut memang tak bisa tahan amarahnya. Dia telah keluarkan ilmu andalannya. Ah, ini herarti... pertikaian yang terjadi dengan Ratih Durga tak akan berhenti sebelum ada yang tewas. Aku harus mengambil tindakan." Sementara gerakan tubuh Bidadari Kipas Maut yang laksana seorang penari semakin meliuk-liuk dengan indahnya, Dewa Baju Putih berkata pada Ratih Durga,
"Kupikir... urusan ini selesai sampai disini. Katakan
pada Pangeran Liang Lahat, bila dia memang berani menghadapiku. lebih baik muncul di hadapanku...." Ratih Durga perdengarkan dengusan.
"Kau rupanya bersikap tidak sabar! Akan tiba giliranmu setelah perempuan itu mampus kubunuh!!"
"Ratih Durga... apakah kau tak pernah berpikir, kalau tindakanmu ini justru akan memperlebar tali permusuhan?"Dewa Baju Putih mencoba untuk tenangkan perempuan bertampang setan itu.
"Huh! Pangeran Liang Lahat sekarang adalah junjunganku! Apa yang dikatakan dan dikehendakinya akan kujunjung tinggil Sebelumnya, aku memang hanya terpusat pada perintahnya untuk membunuhmu!Tetapi sekarang, keinginan membunuhmu sudah ada dalam niatku: Termasuk membunuh perempuan celaka itu!!" Dewa Baju Putih tetap bersikap sabar dan tenang. Dia terus mencoba menenangkan Ratih Durga, agar perempuan itu melupakan apa yang diperintah Pangeran Liang Lahat. Disebut-sebutnya kalau Pangeran Liang Lahatlah yang harusnya menjadi musuh utama. Namun Ratih Durga yang telah terpengaruh oleh ucapan Pangeran Liang Lahat dan merasa dihina oleh Bidadari Kipas Maut tak hiraukan ucapan itu. Malah dia makin menantang,
"Mungkin kaumerasa lebih baik mengeroyokku bersama-sama dengan perempuan pela cur itu! Bagus! Majulah kalian!!" Kata-kata Ratih Durga j ustru membuat Bidadari Kipas Maut tak bisa tahan saba rnya. Mendadak dia berseru keras,
"Ratih Durga! Kau lihat padaku!" Seruan itu mau tak mau membuat Ratih Durga alihkan pandangannya pada Bidadari Kipas Maut. Sepasang matanya yang selalu berair, meradang murka. Namun perlahan-lahan terlihat kemurkaan di mata itu mulai mencair. Bahkan dia seperti sangat terpesona. Tanpa sadar dia telah tersedot gairah magis yang terpancar dari ilmu Tarian Bidadari yang dikeluarkan Bidadari Kipas Maut. Ilmu Tarian Bidadari memang memiliki pancaran magis yang membuat siapa pun akan terpana dan terjerat pesona yang keluar. Tak perempuan atau laki-laki, semua akan merasa seperti berada diawang-awang. Dewa Baju Putih sangat tahu akan ilmu aneh milik Bidadari Kipas Maut. Dan dia yakin, Bidadari Kipas Maut yang sudah dilanda amarah tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang Ratih Durga yang sedang terpesona. Apa yang diduganya memang betul, karena dengan gerakan gemulai laksana seorang penari, perempuan gtt sudah menerjang ke depan sembari gerakkan tangan kanannya. Dewa Baju Putih hanya menahan napas.
- Bab 2 Kita tinggalkan dulu pertarungan yang akan terjadi lagi. Disebuah tempat yang cukup luas, nampak satu sosok bayangan kuning melesat dengan cepat. Dari caranya berlari, jelas kalau si Bayangan Kuning seperti memburu waktu.
"Tak akan kulepaskan manusia keparat yang telah membunuh adikseperguruanku itu!"desisnya berulang ulang.
"Persetan dia dari Pulau Neraka atau bukan!!" Gerakan lari si Bayangan Kuning jelas menandakan kalau dia memiliki ilmu peringan tubuh yang tinggi. Dan mendadak saja orang yang berlari ini hentikan larinya dan serta-merta diangkat kepalanya, menatap angkasa luas.
"Astagal Kurasakan ada perubahan angin yang terjadi dan suara yang samar dari kejauhan!"desisnya setelah beberapa saat dengan mata lebih terbuka. Si Bayangan kuning yang ternyata seorang nenek bertubuh agak membungkuk ini, masih arahkan pandangannya ke atas. Setelah beberapa saat, perlahan lahan keningnya berkerut.
"Gila! Angin makin terasa kencang bertiup. Dan suara itu makin keras terdengar. Mengapa ini terjadi" Siapakah... oh! Demi sejuta manusia di neraka! Makh
luk apakah itu"!" Dengan pandangan terheran-heran, si nenek yang di rambut penuh ubannya terdapat tiga buah bunga mawar warna merah itu surutkan langkah satu tindak ke belakang. Matanya kali ini melotot tatkala melihat satu bayangan raksasa di angkasa.
"Gila! Ini benar-benar gila! Seekor burung raksasal" serunya tertahan. Apa yang membuat keheranan si nenek yang bukan lain Puspitorini adanya ini, adalah burung rajawali raksasa berwarna keemasan yang terbang dengan cepatnya. Di atas punggung burung rajawali itu terdapat satu sosok tubuh berpakaian kecmasan pula. Siapa lagi kalau hukan Rajawali Emas yang menunggangi Bwana. Anak muda dari Gunung Rajawali itu pun melihat satu bayangan kuning yang sedang berdiri dan memandang ke atas.
"Bwana! Kau lihat orang di bawah itu, bukan" Sebaiknya kita mendarat saja disini! Barangkali saja orang berpakaian kuning itu mengetahui di mana Pangeran Liang Lahat berada"!" teriak Tirta keras. Bwana keluarkan suara menggema,"Kraaaghhhh!!" Di bawah, Puspitorini masih terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. Lebih heran lagi tatkala melihat burung rajawali raksasa berwarna kccmasan itu menukik tanda hendak mendarat.
"Benar-benar tak masuk akal apa yang kulihat ini!" desisnya dan tanpa sadar si nenek yang pada wajah keriputnya dipenuhi bedak tebal ini kerahkan tenaga dalam.
Karena dia tahu betul, gelombang angin yang keluar dari kepakan sayap burung rajawali keemasan itu dapat membuatnya terpental. Terbukti dari jarak yang masih cukup jauh, rerumputan rebah berdiri akibat angin yang keluar dari kedua kepakan sayap Bwana. Juga dedaunan dari beberapa buah pohon yang tumbuh di belakang si nenek. Tirta sendiri menyuruh Bwana mendarat agak menjauh dari tempat berdirinya si Bayangan Kuning yang semakin dekat diketahuinya seorang perempuan tua. Dalam jarak sepuluh kaki, anak muda yang di lengan kanan kirinya terdapat rajahan burung rajawali keemasan itu sudah melompat turun.
"Kraaaghhh!!"Bwana keluarkan suara menggelegar begitu kedua kakinya mendarat di atas tanah. Sayap kanan kirinya direntangkan. Rerumputan sejarak dua puluh langkah tercabut bersama tanah yang memburai. Di tempatnya Puspitorini masih memandang takjub. Bahkan dia tak sadar kalau penunggang burung rajawali keemasan itu telah melangkah dan berdiri sejarak sepuluh langkah.
"Nenek pesolek... rasa keherananmu pada burung rajawali peliharaanku ini cukup membuatku merasa tidak enak. Dan dapat kumaklumi kalau apa yang kau lakukan sesuatu yang wajar. Tetapi, semuanya sudah terjadi. Bila kau tak keberatan, siapakah kau adanya, Nek?"sapa Tirta dengan suara sopan.
" Mendengar adanya pertanyaan di hadapannya, si nenek yang mengenakan pakaian kuning kusam palingkan kepala. Dia tak segera menyahut.Sepasang matanya , justru menatap lekat-lekat pemuda dihadapannya.
"Berita telah sampai di telingaku, tentang seorang pemuda yang berasal dari Gunung Rajawali yang akhir akhir ini julukannya melebihi puncak Karak Kato (sekarang Krakatau). Pemuda itu mengenakan pakaian berwarna keemasan dengan sebilah pedang yang berasal dari sebuah benda bernama Batu Bintang, yang dulu ramai diperebutkan. Dari semua itu, ciri yang jelas adalah sepasang rajahan burung rajawali keemasan pada kedua lengannya. Pemuda ini memiliki semua ciri itu." Habis berpikir demikian, dengan tatapan tak berkedip Puspitorini berkata,
"Anak muda...apakah saat ini aku sedang berhadapan dengan Rajawali Emas?" Mendapat sahutan sopan, Tirta anggukkan kepala. Dengan suara tak kalah sopannya dia berucap,
"Apa yang kau sebutkan tidak salah, Nek. Orang-orang mcmang menjulukiku dengan julukan yang kau sebutkan tadi." Tatapan tak berkedip dari Puspitorini berubah menjadi cerah. Senyuman mengembang dibibirnya yang dipenuhi gincu tebal.
"Ah! Tak kusangka kalau akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berjumpa dengan Pendekar dari Gunung Rajawali. Anak muda... sudah tentu aku tak kebcratan memberitahukan siapa diriku. Namaku Puspitorini. Aku berasal dari Pulau Bidadari." &"Perkenalan yang berjalan dengan mulus itu pun berlanjut.
"Nek!Tadi kau katakan kau berasal dari Pulau Bidadari dan sekarang berada di sini. Tentunya ada satu urusan yang harus kau selesaikan, bukan?" Puspitorini mengangguk-anggukkan kepala.
"Kau benar! Aku sedang mencari pembunuh adik seperguruanku, si Pendekar Kail."
"Oh! Pembunuh Pendekar Kail?"
"Ya! Aku telah mengetahui siapa keparat itu! Orang berjuluk Pangeran Liang Lahat! Anak muda... urusan apa yang sedang kau alami sekarang?" Tirta yang tak menyangka kalau akan berjumpa dengan kakak seperguruan mendiang Pendekar Kail tersenyum.
"Apa yang sedang kulakukan sekarangpun tak jauh berbeda denganmu. Aku juga sedang mencari pembunuh Pendekar Kail. Orang dari Pulau Neraka yang berjuluk Pangeran Liang Lahat."
"Bagus!Saat ini kita mencari orang yang sama!"kata Puspitorini. Lalu diceritakan perjumpaannya dengan Utusan Kematian Pulau Neraka yang sedang mencari Pangeran Liang Lahat alias Penghuni Tingkat ke Dua alias Pelarian Pulau Neraka (Baca:
"Perjalanan Maut"). Tirta yang sebelumnya juga pernah berjumpa dengan Utusan Kematian Pulau Neraka (Baca :
"Pelarian Pulau Neraka"), hanya mendesah pendek.
"Urusan ini semakin jauh membentang dan seperti
membenamkan akal sehat untuk menerimanya. Kehadiran orang-orang Pulau Neraka, terutama Penghuni Tingkat ke Dua yang telah mengganti julukannya menjadi Pangeran Liang Lahat, memang harus dihentikan sepak terjangnya. Utusan Kematian Pulau Neraka pun akan menjadi satu hambatan besar yang kemungkinan akan timbulkan prahara yang berkepanjangan...." Sementara itu melihat pemuda tampan berpakaian keemasan yang terdiam dihadapannya, Puspitorini berkata lagi,
"Lantas... apa yang akan kau lakukan" Karena dalam hal ini, Utusan Kematian Pulau Neraka yang sedang mencari Pangeran Liang Lahat, akan timbulkan petaka yang hebat. Juga dari perbuatan Pangeran Liang Lahat yang menurutmu telah mendapatkan budak untuk menjalankan segala rencananya." Tirta diam-diam menarik napas panjang. Apa yang akan dilakukannya" Sudah tentu terus mencari Pangeran Liang Lahat guna menghentikan sepak terjangnya. Mengenai Utusan Kematian Pulau Neraka, kendati kedua orang yang berjuluk Setan Merah dan Iblis Merah itu hanya mencari Pangeran Liang Lahat alias Penghuni Tingkat ke Dua, namun kehadiran mereka telah membawa petaka pula. Diam-diam Tirta mendesis pelan,
"Apakah aku akan sanggup menghadapi mereka?" Karena tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Puspitorini berkata lagi,
"Rajawali Emas... begitu bodoh aku lontarkan pertanyaan tadi. Aku yakin kau tak akan tinggal diam terhadap orang-orang Pulau Neraka, seperti yang kau katakan sebelumnya. Pertanyaanku,
", tahukah kau dimana Pangeran Liang Lahat berada?" Tirta gelengkan kepalanya.
"Sayang, aku tak mendapatkan keterangan yang pasti di mana orang itu berada. Tetapi biar bagaimanapun juga, semakinjelas sekarang keberadaan Pendekar Kail yang telah tewas dibunuhnya. Dia adalah kekasih Bidadari Kipas Maut dan ternyata adalah adik seperguruanmu." Puspitorini terdiam sejenak sebelum berkata,"Kau pernah mengenai orang berjuluk Dewa Baju Putih?" Tirta gelengkan kepala.
"Aku pernah mendengarjulukannya."
"Aku telah berjumpa dengannya dan dia termasuk salah seorang yang hampir saja dikalahkan oleh Pangeran Liang Lahat. Dan nampaknya, kekuatan yang kita miliki cukup berimbang untuk menghadapi orang orang Pulau Neraka."
"Ada satu hal yang perlu kita perhatikan. kalau orang-orang Pulau Neraka memiliki ilmu aneh yang jarang sekali terdapat di rimba persilatan. Kau sendiri pernah menghadapi Utusan Kematian Pulau Neraka, bukan?"
"Ya! Ilmu yang mereka miliki memang aneh. Dan kehebatan mereka dapat kurasakan."
"Disamping itu, seperti yang digembar-gemborkan oleh Pangeran Liang Lahat, bila ada orang yang mau bergabung dengannya atau yang menurutnya menjadi budaknya, maka orang itu akan diberikan sebuah ilmu
yang dapat digunakan untuk melihat atau mengetahui di mana Pulau Neraka berada." Kali ini kening Puspitorini berkerut. Dia pandangi pemuda di hadapannya dalam-dalam. Tirta merasa perlu menjelaskan. Makanya dia segera berkata,
"Aku tak tahu semacam apa ilmu yang diberikan oleh Pangeran Liang Lahat. Namun paling tidak, aku berhasil memuslihatinya."
"Jelaskan padaku." Tirta segera menceritakan apa yang dilakukannya terhadap Pangeran Liang Lahat, yang kala itu hanya dikenalnya dengan julukan Penghuni Tingkat ke Dua. Puspitorini mengangguk-anggukkan kepala.
"Apakah kau sudah merasakan perubahan dalam dirimu" Maksudku... kau sudah menemukan di mana Pulau Neraka berada?" Tirta menggelengkan kepala.
"Seperti yang dikatakan Pangeran Liang Lahat, seharusnya ilmu yang diturunkannya sudah berfungsi. Tetapi sampai tiga hari sekarang ini, aku belum merasakan apa-apa."
"Apakah dia mendustaimu?" Tirta terdiam dulu. Diliriknya Bwana yang masih mendekam. Lalu jawabnya,
"Mengenai ilmu yang diturunkannya, aku agak meragu bila dia berdusta. Tetapi mengenai kapan ilmu itu baru bisa dipergunakan, aku merasa pasti kalau dia berdusta. Terutama yang dikatakannya, kalau orang yang telah diberinya ilmu aneh itu.
maka akan dapat masuk secara mudah ke Pulau Neraka tanpa diketahui oleh para penghuni Pulau Neraka, aku sama sekali tidak yakin. Jelas kalau itu dia berdusta." Puspitorini berkata dalam hati,
"Pemuda ini cukup cerdik berhasil memuslihati Pangeran Liang Lahat hingga orang Pulau Neraka itu mau turunkan ilmu yang dapat membuat orang melihat dan menemukan di mana Pulau Neraka berada." Kemudian katanya,
"Aku sependapat denganmu kalau dia berdusta tentang waktu dimana ilmu itu dapat dipergunakan dan tidak diketahuinya orang yang masuk ke Pulau Neraka. Anak muda... tugas telah kita emban untuk hentikan sepak terjang orang-orang Pulau Neraka. Aku sendiri harus membalas kematian adik seperguruanku. Kalau begitu, rasanya lebih baik kita berpisah disini...." Tirta sendiri merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sambil rangkapkan kedua tangan di depan dada, pemuda gagah berpakaian keemasan ini berkata,
"Baiklah. Aku senang berkenalan denganmu, Nek." Si nenek yang di kepalanya terdapat tiga buah bunga mawar warna merah menyeringai.
"Aku pun bangga berjumpa dengan pemuda yang julukannya akhir-akhir ini menggegerkan rimba persilatan...." Tirta cuma tersenyum. Dia hendak angkat bicara lagi. Namun seketika diurungkan dan kepalanya dipalingkan ke arah Bwana yang mendadak keluarkan ki
rikan. Tirta yang tahu betul setiap gerak-gerik maupun ucapan burung rajawali raksasa keemasan ini, sesaat terdiam. Lamat-lamat diperhatikan sekelilingnya. Puspitorini menatap tak berkedip pada Tirta.
"Anak muda itu nampaknya sangat paham apa arti suara yang diucapkan burung peliharaannya. Dari sikapnya, dia seperti mengetahui sesuatu." Di lain pihak, pemuda dari Gunung Rajawali masih perhatikan sekelilingnya. Lalu ditatapnya Puspitorini sebelum berkata,
"Ada orang lain disekitar kita...."
Bab 3 KEMBALI ke tempat semula, perempuan setengah baya berpakaian hijau yang telah keluarkan ilmu Tarian Bidadari itu terus meluruk ke arah Ratih Durga yang masih terdiam. Perempuan berparas seperti setan itu masih tersedot suasana magis yang keluar dari ilmu Tarian Bidadari".
Namun Ratih Durga adalah tokoh rimba persilatan kejam yang telah banyak makan asam garam. Begitu tinggal beberapa langkah serangan Bidadari Kipas Maut mengenai sasarannya, mendadak saja dia angkat kepalanya.
Saat itu pula terlihat parasnya mengkelap dengan mata berkilat-kilat tajam.
"Terkutuk!!" Bersamaan makiannya, Ratih Durga membuang tubuh ke samping kiri.
Blaaammm!! Dedaunan dari dua buah pohon yang tumbuh di belakangnya, kontan berguguran laksana hujan. Tidak hanya sampai disana saja apa yang terjadi. Karena dua kejapan mata berikutnya, kedua pohon itu tumbang dan perdengarkan suara bergemuruh. Begitu terhempas di atas tanah, kontan tanah muncrat ke udara.
"Setan keparat!!"maki Ratih Durga keras. Amarahnya sudah tiba di puncak kepala. Tanpa hiraukan niat semulanya untuk membunuh Dewa Baju Putih, Ratih Durga sudah melesat ke arah Bidadari Kipas Maut. Dengan andalkan kecepatan dan sesekalilancarkan serangan, dilayaninya serangan dari Bidadari Kipas Maut. Bidadari Kipas Maut sendiri nampak harus bersusah payah menghadapi keganasan Ratih Durga. Belum lagi sinar-sinar hitamnya yang berulang kali menyilaukan pandangan Bidadari Kipas Maut, yang mau tak mau harus mundur. Di tempatnya, lagi-lagi Dewa Baju Putih yang tak lakukan tindakan apa-apa menghela napas panjang.
"Kehebatan Ratih Durga patut diacungkan jempol. Tetapi, Bidadari Kipas Maut pun sanggup mengimbanginya. Hem, dari kekuatan yang masing-masing orang miliki, nampaknya mereka akan berimbang. Ini berarti kendati tak ada yang menang atau kalah, mereka bisa cedera." Kembali diperhatikan pertarungan ganas di hadapamnya, di mana masing-masing orang berusaha untuk jatuhkan lawan. Letupan demi letupan terdengar keras dan tanah sudah muncrat di sana-sini. Dewa Baju Putih membatin lagi,
"Aku tak mau keduanya cedera. Tindakan Ratih Durga bukan sepenuhnya karena niatnya. Tetapi lebih didorong oleh bujukan dan rayuan Pangeran Liang Lahat. Kalau bcgitu...." Memutus kata batinnya sendiri, kakek bijak ber
pakaian putih ini mendadak saja berputar. Masih berputar dan dari putaran tubuhnya keluar angin yang keras, dia melesat ke depan. Tepat di saat Bidadari Kipas Maut maupun Ratih Durga sudah sama-sama lancarkan serangan. Apa yang dilakukan Dewa Baju Putih sesungguhnya sebuah kenekatan belaka. Dengan kata lain, dia berani masuk pada saat dua orang yang bertarung sama-sama lancarkan serangan. Itu berarti, bila Dewa Baju Putih tidak memiliki tenaga dalam tinggi, maka tubuhnya akan menjadi sasaran empuk dua serangan berbeda yang siap berbenturan. Akan tetapi sudah tentu Dewa Baju Putih tak berani bertindaak segegabah itu. Dia lipatgandakan putarannya hingga gelombang angin yang keluar semakin kencang.Gelombang angin itulah yang kemudian menahan serangan yang siap bertemu. Blaaam! Blaaammm!! Masing-masing orang surut empat tindak ke belakang. Ratih Durga yang lebih dulu kuasai keseimbangannya membentak keras,"Bagus! Akhirnya kepengecutanmu keluar juga, Kakek celaka! Mengapa masih harus bertahan untuk tidak mengeroyok"!" Di pihak lain, Bidadari Kipas Maut menggeram keras. Dia agak kesal dengan sikap Dewa Baju Putih yang nampak berusaha untuk tidak sampai terjadi per
tarungan. Karena dengan cara seperti yang dilakukan barusan, Dewa Baju Putih selain hendak memisahkannya, juga akan mengalami nasib sial. Makanya perempuan berparas jelita ini berseru,
"Dewa Baju Putih! Biar perempuan setan itu menjadi bagianku! Kau menyingkirlah!!" Dewa Baju Putih yang telah berdiri tegak menggelengkan kepala. Dia justru berkata pada Ratih Durga,
"Bila kau bertemu dengan Pangeran Liang Lahat, katakan padanya, kalau aku mencari dan menantangnya bertarung!"
"Terkutuk! Kau tak akan sempat melakukannya karena lebih dulu mampus di tanganku!!" Dengan paras mengkelap Ratih Durga menderu deras ke arah Dewa Baju Putih. Kakek berpakaian putih ini tarik napas panjang melihat ganasnya serangan lawan. Terutama tatkala sinar-sinar hitam yang muncul bukan hanya menyilaukan matanya, tetapi juga membuatnya harus pejamkan mata. Rupanya Ratih Durga sudah keluarkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Dia tak mau lagi diajak bercakap cakap yang akan membuang banyak waktunya. Di pihak lain, Dewa Baju Putih sudah kembali buka matanya. Bersamaan dengan itu tubuhnya berputar keras hingga gelombang angin yang keluar seperti gemuruh badai. Ratih Durga yang telah terkena pengaruh Pangeran Liang Lahat tak pedulikan keadaan itu. Dia tak peduli dirinya akan celaka atau tidak, karena yang diinginkannya hanyalah melihat Dewa Baju Putih terkapar. Setelah itu, dia akan membunuh Bidadari Kipas Maut.
"Gila!"geram Dewa Baju Putih melihat kenekatan Ratih Durga. Karena memang tak mau ada yang cedera di antara mereka, Dewa Baju Putih justru lencengkan putaran tubuhnya. Wuussss!! Gelombang serangan Ratih Durga luput dari sasaran, namun mengarah pada Bidadari Kipas Maut yang kertakkan rahang dan serta-merta gerakkan kipas berbulu putihnya. Blaaamm!! Begitu benturan keras terjadi, Bidadari Kipas Maut sudah melesat ke depan lancarkan serangan. Mendapati serangan dari Bidadari Kipas Maut, Ratih Durga seolah lupakan niatnya untuk membunuh Dewa Baju Putih. Dia melayani serangan Bidadari Kipas Maut. Lagi-lagi Dewa Baju Putih menarik napas masygul. Perasaannya makin tak menentu.
"Aku harus cepat bertindak!" desisnya sambil geleng-gelengkan kepala. Setelah perhatikan pertarungan itu sejenak, si kakek sudah melompat ke depan. Digerakkan tangan kanannya yang menghalangi serangan Ratih Durga pada Bidadari Kipas Maut. Blaaamm!! Sosok Dewa Baju Putih agak terhuyung karena,
kerasnya labrakan Ratih Durga. Kendati demikian, si kakek masih bisa kuasai keseimbangannya. Sambil lepaskan serangannya lagi, dia melesat ke arah Bidadari Kipas Maut yang siap lepaskan serangannya pula. Begitu kaki kanannya menginjak tanah, tubuhnya mencelat ke atas. Sambil berputar, disambarnya tubuh Bidadari Kipas Maut. Kejap itu pula dia sudah melesat tinggalkan tempat itu. Di lain pihak, Ratih Durga yang berhasil hindari serangan Dewa Baju Putih hanya bisa menggeram setinggi langit, begitu dia melompat dari bubungan tanah dan mendapati kedua lawannya sudah lenyap dari pandangan.
"Terkutuk!" makinya sengit hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat. Sorot matanya dipenuhi bara api membara.
"Kalian tak akan bisa lolos dari tanganku!!" Dipenuhi berjuta amarah yang siap meledak, perempuan bertampang mengerikan ini sudah melesat ke arah perginya Dewa Baju Putih yang membawa Bidadari Kipas Maut.
Di padang rumput yang luas namun banyak pula dipenuhi ranggasan semak dan pepohonan, terutama di belakang Puspitorini berdiri, masing-masing orang tak ada yang buka suara. Ucapan Rajawali Emas yang mengatakan ada orang lain di sekitar sana, membuat si nenek berpakaian kuning menjadi agak tegang.
"Dugaanku tepat, kalau anak muda berpakaian keemasan ini mengerti suara yang dikeluarkan burung peliharaannya yang bernama Bwana. Rupanya itu pemberitahuan kalau ada orang lain di sekitar sini...." Si nenek yang di rambutnya terdapat tiga buah bunga mawar warna merah melihat si pemuda melangkah tenang mendekati burung rajawali raksasa berwarna keemasan. Dia tidak tahu apa yang dibicarakannya. Tetapi dilihatnya burung rajawali itu mendadak melesat keangkasa diiringi teriakan mengguntur. Puspitorini melihat tanah yang dipijak oleh Bwana tadi telah membentuk cakar sebanyak dua buah. | Rajawali Emas sendiri mendekat lagi seraya berkata,"Nenek Puspitorini... apakah kau tak ingin mencari siapa orang yang datang?"
"Ucapannya begitu tenang. Dia nampaknya tidak tahu di mana orang itu berada. Tapi dari caranya bicara, aku yakin kalau dia tahu persembunyian orang yang kehadirannya telah diketahui. Suaranya saja begitu keras, seolah membiarkan orang yang bersembunyi itu tahu kalau kehadirannya sudah diketahui. Biar kuikuti saja apa yang akan dilakukannya...." Berpikir demikian, Puspitorini membuat suaranya tak kalah keras,
"Sudah tentu aku pemasaran ingin melihat cecunguk yang datang secara sembunyi-sembunyi! Rajawali Emas... apa yang akan kau lakukan terhadap orang yang melakukan tindakan seperti itu?" Tirta tersenyum.
"Perempuan tua ini tahu kalau aku sengaja keraskan suara," katanya dalam hati. Masih tersenyum dia berkata,"Kalau yang datang seorang gadis jelita, sudah tentu akan kusambut dengan gembira! Tapi kalau ternyata seorang lelaki jelek dan mempunyai niat busuk, sudah tentu lebih baik kita jitak kepalanya!"
"Usulmu itu sangat menarik! Aku juga ingin menjitak kepalanya! Bagaimana bila bagian kiri dari kepalanya kau yang menjitak lalu aku mengambil bagian kanan?" - Tirta tertawa.
"Benjol di kepala orang itu tentunya akan berlipat ganda banyaknya! Wah! Bila ada yang melihatnya, tentu mereka akan menganggap ada manusia bertanduk!" Sejarak lima belas langkah di belakang Puspitorini, satu sosok tubuh yang mendekam di balik ranggasan semak belukar menggeram keras.
"Jahanam sial! Kehadiranku bukan hanya telah diketahui, tetapi aku yakin mereka juga tahu dimana aku bersembunyi!" maki orang ini keras. Wajahnya yang dipenuhi keriput mengkerut dalam. Matanya menyipit tajam.
"Aku telah kerahkan ilmu peringan tubuh agar kehadiranku tidak diketahui disini. Tetapi burung rajawali raksasa yang telah terbang itu mengetahui kehadiranku dan mengatakannya pada pemuda berjuluk Rajawali Emas! Hmm... jadi rupanya pemuda itu yang julukannya semakin santer belakangan ini!" Di pihak lain, Rajawali Emas berkata lagi,
"Nek! Kita tunggu sampai orang itu muncul atau kita sergap
saja"!" "Menurutmu bagaimana?" Tirta nyengir.
"Kalau menurutku sih, lebih baik kita sergap saja! Kalau ternyata seorang gadis bertubuh bahenolkan aku bcruntung! Iya tidak"!"katanya lalu menyambung dalam hati,
"Aku belum mengetahui di mana orang itu bersembunyi. Ucapan yang kulakukan ini kuharap dapat memancing munculnya orang." Sementara itu Puspitorini yang menganggap kalau pemuda di hadapannya mengetahui di mana orang itu bersembunyi berkata,
"Otakmu masih memikirkan soal gadis belaka! Bagaimana kalau ternyata cuma seorang kakek yang bau apak"!"
"Ya! Itu biar kau yang menyergap!" Di lain pihak, kakek yang wajahnya dipenuhi keriput dan mengenakan pakaian hitam compang-camping menggeram,
"Setan keparat! Ucapan keduanya membuatku tak bisa tahan amarah! Aku yakin perempuan yang di kepalanya terdapat tiga buah bunga mawar itu memang Puspitorini! Huh! Ingin kulihat tampangnya bila dia tahu siapa aku!" Dengan mata kian pancarkan bara api, sikakek yang di tangan kanannya terdapat sebuah tongkat terbuat dari bambu beruas-ruas ini kembali pandangi ke depan. Dia mendengar lagi ucapan demi ucapan yang dikeluarkan Puspitorini dan Rajawali Emas.
"Ayo, Nek! Kau dulu yang menyergap dia! Siapa
tahu ternyata seorang kakek ganteng" Paling tidak, kau akan ketemu jodoh!!"
"Bagaimana bila ternyata seorang gadis"!" sahut Puspitorini sambil tersenyum.
"Kalau memang begitu, kau jangan dulu menyergapnya! Katakan saja padaku, lantas aku akan menyergapnya! Tapi sih dari baunya... orang itu pasti seorang kakek jelek, dekil dan bau! Iya, tidak"!" Sementara Puspitorini tertawa, si kakek yang berada di balik ranggasan semak sudah tak kuasa lagi tahan amarahnya. Darahnya mendidih panas.
"Yang ingin kubunuh saat ini adalah Bidadari Kipas Maut! Sejak tadi kudengar kalau keduanya membicarakan soal Bidadari Kipas Maut! Juga Pendekar Kail yang telah mampus dibunuh orang berjuluk Pangeran Liang Lahat! Untuk saat ini, buat apa kutahan keinginanku" Biar kubunuh saja dulu keduanya, agar mereka tak sembarang berucap dan salah mengenali orang!" Kemarahan si kakek sudah tiba pada puncak kepala. Makanya tanpa mau menunggu terlalu lama lagi, orang ini sudah melesat ke depan. Gerakannya sangat ringan. Bahkan ranggasan semak yang dilompatinya tak bergerak sama sekali saat dia melompat. Hanya dua kali kejapan mata, dia sudah berdiri di antara Puspitorini dan Rajawali Emas. Melihat kemunculan si kakek, Rajawali Emas terLawa.
"Wah, wah! Belum disergap sudah muncul duluan"! Tidak enak ya berada di sana" Banyak nyamuk dan ke
coa atau ada buaya yang menggigit-gigit pantatmu"!" Kalau Rajawali Emas dengan santainya lontarkan ejekan, lain halnya dengan Puspitorini. Begitu mengenali siapa orang yang sebelumnya bersembunyi dan kini sudah berdiri ditengah-tengah mercka, si nenek sampai surut satu tindak ke bclakang dengan mala terbeliak. Cukup lama dia berada dalam keterkejutan nya sebelum mendesis,
"Iblis Halilintar...."
Bab 4 Rajawali Emas yang pandangi si kakek sesaat melirik pada Puspitorini. Dia cukup terkejut melihat perubahan paras sinenek yang nampak menegang.
"Naga-naganya.... Nenek Puspitorini mengetahui siapa adanya kakek yang baru muncul ini. Tadi dia seperli mendesiskan kata-kata, tetapi aku tak jelas menangkapnya. Menilik gelagatnya, kakek berpakaian hitam compang-camping ini tak bisa dianggap enteng. Dan jelas kalau dia muncul bukan sebagai orang baik-baik." Orang yang baru muncul dan perlihatkan gerakan ringan itu memandang dingin pada Rajawali Emas. Dia mengenakan pakaian hitam compang camping yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang peot dan penuh tulang. Kumisnya putih menjulai tanpa jenggot. Di tangannya terdapat sebuah tongkat hitam terbuat dari bambu yang nampak ruas-ruasnya. Dari pandangannya yang tajam pada Rajawali Emas, mendadak dialihkan pada Puspitorini yang masih memandang tegang. Sesaat tak ada yang keluarkan suara:. Tirta melihat dari pancaran mata si kakek seperti menekan dalam pada Puspitorini yang nampak bertambah tegang.
"Aku bertambah yakin, kalau Nenek Puspitorini jelas mengetahui siapa adanya orang. Menilik sikapnya yang nampak agak kecut, dia seperti khawatir menghadapisi kakek. Hemm... aku harus mengambil alih, Karena bila terjadi sesuatu yang tidak enak, maka Puspitorini sudah kalah mental." Memutuskan demikian, anak muda tampan yang di len gan kanan kirinya terdapat rajahan burung rajawali ke emasan ini berkata,
"Waduh, Kek!Tampangmu tidak sedap dipandang, tetapi kau selalu melirik pada Nenek Puspitorinil Naksirya"!" Ucapan itu membuat si kakek segera palingkan kepalanya pada Tirta. Rahangnya dikertakkan.
"Anak muda lancang! Melihat rupamu, kau jelas baru lepas dari susuan ibumu!Tapi lagakmu seakan sudah menempuh separuh perjalanan hidup!!" Busyet. betul! Suaranya angker banget! Dan tanpa tedeng aling-aling sudah lontarkan ancaman! Siapa sih kakek ini sebenarnya"!" Rasa penasaran membuat Tirta berkata lagi,
"Kehadiranmu tadi benar-benar tak enak diterima oleh siapa saja! Apakah aku salah bila berlaku seperti itu?"
"Saat ini kau kuberi kesempatan untuk berbicara banyak!"hardiksi kakek keras. Dengan bibir agak dirapatkan dia hersuara dingin,
"Tapi sebentar lagi, kematian yang akan kau terima!"
"Rupanya kau senang mengancam orang ya, Kek! Tapi ya mau apa lagi" Mungkin sudah sifatmu seperti itu
ya?" Si kakek yang memang Iblis Halilintar adanya menggeram pendek. Seperti kita ketahui, Iblis Halilintar memiliki dendam pada Bidadari Kipas Maut. Sekian tahun dia melacak di mana Bidadari Kipas Maut berada. Dan dalam satu kesempatan, dia berhasil menemukan perempuan itu. Namun dia gagal membunuhnya karena seseorang telah menyelamatkannya (Baca:
"Perjalanar, Maut"). | Dan yang tak disangka, dalam pencariannya dia mendengarpercakap an antara Puspitorini dengan Rajawali Emas yang juga menyinggung perihal Bidadari, Kipas Maut. Di pihak lain, Puspitorini merasakan dadanya, agak berdebar.
"Pemuda berpakaiani keemasan itu tetap kelihatan tenang dan santai Ah, itu dilakukan karena dia jelas tak mengetahui siapa adanya si kakek. Ketimbang terjadi sesuatu yang tak menguntungkan, kucoba saja untuk membujuk Iblis Halilintar agar tidak terjadi pertikaian." Dengan tenangkan gemuruh hati dan pikirannya, si nenek berpakaian kuning kusam ini berkata,
"Selamat berjumpa lagi denganku, Iblis Halilintar! Dari ucapanmu, rasanya ada amarah yang menggelegak! Bisakah aku membantu?" Iblis Halilin tar pandangi tajam-tajam Puspitorini. Menyusul dia berkata,
"Perempuan keparat! Kau tentu tahu, kalau sejak dulu aku tak akan pernah melepaskan Bidadari Kipas Maut dari kematian yang akan kuturunkan! Bah'kan di saat aku bertarung dengannya yang
kala itu bersama-sama Pendckar Kail, aku pun tak akan pernah melepaskannya! Tetapi mereka berhasil melarikan diri! Nenek celaka! Kau tentunya ingat, kalau kemudian aku datang kepadamu menanyakan di mana mereka berada dan kau jawab tidak tahu"!" Sudah tentu Puspitorini ingat akan hal itu. Ingat pula ketika iblis Halilintar menumpahkan segala amarah padanya dan dia mengalami kekalahan dan menderita luka dalam. Didengarnya lagi suara Iblis Halilintar,
"Sebelum berjumpa denganmu, aku telah bertemu dengan Bidadari Kipas Maut yang siap menerima kematian dari tanganku! Tetapi... seseorang telah datang menyelamatkannya! Sekarang... kau akan kulepaskan bila kau mengatakan di mana Bidadari Kipas Maut berada!" Lalu masih memandang pada Puspitorini, tangan kurus si kakek menuding pada Rajawali Emas,"Tetapi... pemuda lancang itu tak akan kubiarkan lepas dari kematian!" Diam-diam Puspitorini menarik napas panjang.
"Bila saja aku tahu kalau orang yang bersembunyi itu adalah dirinya, sudah tentu akan kuajak Rajawali Emas menjauh. Tapi semuanya sudah terjadi dan nampaknya memang akan sulit keluar dari lingkaran kematian yang sebentar lagi akan diciptakannya. Hemm... aku harus berusaha dulu agar tidak terjadi pertarungan. Ilmu 'Bahana Saketi yang dimilikinya yang membuatku agak jeri menghadapinya." Habis membatin demikian, nenek berpakaian kuning kusam ini berkata,
"Iblis Halilintar! Sudah beberapa tahun ini aku tak berjumpa dengan Bidadari Kipas Maut dan Pendekar Kail! Dan berita yang kudengar, kalau Pendekar Kail telah tewas di tangan orang berjuluk Pangeran Liang Lahat! Karena hendak mencari orang itulah aku keluar dari tempatku!Jadi, sudah tentu pertanyaanmu tidak bisa kujawab, karena aku belum bertemu dengan Bidadari Kipas Maut!"
"Dusta!!" bentak Iblis Halilintar dengan tatapan menyipit.
"Itu artinya... kematian akan kau terima!"
"Apa pun yang akan kujawab, tentunya akan tetap memancing kemarahannya. Dan dendamnya tak akan pernah putus. Berarti jalan satu-satunya, memang harus menghadapinya kendati aku tahu kesaktian yang dimiliki." Memutuskan demikian, dengan kepala ditegakkan Puspitorini tindih segala kekecutannya, dia berkata,
"Lain dulu lain sekarang! Kalau dulu kau dapat mengalahkanku, tetapi rasanya sekarang akan mustahill Kujawab pertanyaanmu! Aku tidak tahu di mana Bidadari Kipas Maut berada! Dan sekarang, lebih baik kau menggelinding dari sini!!" Seketika mengkelap paras Iblis Halilintar. Dadanya yang tipis dan dipenuhi tonjolan tulang naik turun meredakan amarah yang susah dilakukannya. Di lain pihak, Rajawali Emas mulai mengerti mengapa Puspitorini kelihatan tegang.
"Rupanya mereka pernah bertarung dan kekalahan berada di pihak Puspitorini. Kakek berjuluk Iblis Halilintar ini mendendam pada Bidadari Kipas Maut yang kuketahui adalah kekasih dari Pendekar Kail yang merupakan adik seperguruan Nenek Puspitorini. Wah! Urusan kian berkembang saja dan semakin kacau balau!" Iblis Halilintar membentak keras,"Dengan ucapanmu itu, berarti kau siap untuk mampus!!" Belum habis ucapannya terdengar, kakek berpakaian hitam compang-camping ini sudah menerjang kedepan. Tongkat hitamnya diputar laksana baling-baling sebelum kemudian dipukulkan dari atas ke bawah! Puspitorini yang pernah merasakan kehebatan ilmu tongkat Iblis Halilintar rupanya tak mau bertindak ayal. Dengan sigap dia menyerbu ke depan sembari palangkan kedua tangannya di atas kepala. Sebelum ayunan tongkat itu menghantam kedua tangannya yang dipalangkan, mendadak saja Puspitorini membuka kedua telapak tangannya, menyusul didorong. Wuusss!. Serangan ganas itu hanya disambut ejekan oleh Iblis Halilintar yang dengan tangan kirinya dapat runtuhkan gelombang angin yang menderu. Didahului suara letupan guntur, si kakek mendadak saja tekuk kedua kakinya hingga tubuhnya agak merendah. Lalu.... Wuuutttt!!
Tongkatnya menggebah, menggebubu dan menyeret tanah hingga membubung setinggi paha.
Puspitorini berhasil menghindar dengan ca ra melompat. Bahkan kirimkan jotosan tepat mengarah pada kepala Iblis Halilintar. Yang diserang lagi-lagi men gejek dan mudah sekali menghindari jotosan itu.
"Kau tak banyak memiliki kemajuan!" seringainya dan terus lancarkan serangan. Diejek seperti itu, kekecutan hati Puspitorini lenyap sudah. Dengan garang dia terus lancarkan serangan pada Iblis Halilintar yang untuk beberapa saat agak kerepotan. Tapi lima gebrakan berikutnya, diiringi teriakan membahana ganti kakek bungkuk ini lancarkan serang an balasan. Suara salakan guntur yang keras berulang kali terdengar. Dalam waktu yang takseberapa lama sa ja, sudah lima buah pohon yang tumbang dan tanah ya ng terus menerus terangkat naik. Tirta yang memperhat ikan dengan seksama mendesis setelah hela napas,
"Menilik gelagatnya, Nenek Puspitorini masih dapat mengimbanginya. Tetapi untuk mengalahkan, nampaknya dia akan mengalami sedikit kesulitan. Hemmm... sebaiknya aku turun tangan saja sekarang Urusan Pangeran Liang Lahat semakin jauh berkembang dan seperti percikan api ke udara yang m embuyar ke mana-mana...." Namun sebelum dia lakuka n maksud, mendadak saja Iblis Halilintar berteriak kera s,
"Heaaaaaa!!!" Luar biasa! Teriakan itu benar-benar melebihi pantulan teriakan di dalam sebuah gua yang panjang. Keras, bertalu-talu dan mengerikan. Puspitorini yang sedang lancarkan serangan tibatiba saja tubuhnya tergontai-gontai ke belakang seperti terhantam satu tenaga yang kuat. Bahkan tanah sejarak tiga meter seperti didorong tenag a kuat dari dasar, muncrat ke udara. Bukan hanya Puspi torini yang tubuhnya tergontai gontai kebelakang. Raja wali Emas sendiri tersentakdan tanpa sadar membuang tubuh ke belakang.
"Gila!"teriaknya setelah berdiri tegakkembali. Matanya terbelalak ke depan, melihat ke arah Iblis Halilintar yang sedang berteriak kembali. |
"Heaaaaa!!" Puspitorini yang belum berhasil kuasai keseimbangannya, kali ini bukan hanya tergontai-gontai tetapi terlempar ke belakang.
"Heiiii!!"seru Tirta keras. Kejap itu pula dia melompat untuk menyambar tubuh sinenek berpakaian kuning kusam. Bila saja dia terlambat melakukannya, tak mustahil Puspitorini akan menabrak pohon di belakangnya. Dan bahaya telah datang menderu. Rupanya Iblis Halilintar tak mau bertindak ayal. Begitu tubuh Puspitorini terlempar ke belakang dan Tirta menyambarnya, dia sudah menggebrak ke depan dengan putaran tongkatnya yang sekarang mengarah pada kepala Tirta! Wuuuttt!!
Merasakan sambaran angin yang luar bias a, anak muda berpakaian keemasan itu dongakkan kep alanya. Ada sedikit kepanikan begitu mendapati kalau s erangan yang dilancarkan Iblis Halilintar sudah mendek at ke arahnya! Namun dengan kesigapan yang masih d imilikinya, Tirta kibaskan tangan kirinya. Wuuuttt!! Blaaa mmm!! Sambaran angin yang keluar dari tongkat kusa m milik Iblis Halilintar putus tertabrak serangan jurus
"Sentakkan Ekor Pecahkan Gunung'. Akan tetapi Tirta sendiri harus melompat ke belakang karena tongkat kusam itu siap menghantam kepalanya.
"Brengseki" makinya setelah berhasil menghindar. Dengan ketenangan luar biasa, Tirta turunkan tubuh Puspitorini seraya berkata,
"Neki Lebih baik kau menjauh dulu...." Puspitorini hanya mengangguk-angguk. Gerakan yang diperlihatkan Tirta tadi agak mencengangkannya. Karena dalam waktu yang sedemikian sempit, anak muda itu berhasil putuskan sekaligus hindari serangan Iblis Halilintar. Habis turunkan Puspitorini, Tirta maju tiga langkah ke muka. Parasnya nampak berwibawa dengan tatapan tak berkedip. Di seberang Iblis Halilintar memandang gusar.
"Pemuda celaka.. Seperti yang kudengar kalau kau memang suka campuri urusan orang! Kali ini, kau akan kena batunya lakukan tindakan itu!"
"Aku bukanlah seseorang yang hidup dengan filsafat tinggi!"sahut Tirta tetap tenang."Tetapi, apa yang kau lakukan hanyalah sebuah tindakan kotor yang memalukan! Iblis Halilintar... lebih baik kita sudahi urusan ini sebelum ada yang cedera!"
"Terkutuk! Kau berucap seperti itu karena kau tak berani menghadapiku!"
"Di rimba persilatan ini segala sesuatunya cepat tersebar dan terdengar! Tentunya kau pun mendengar kehadiran orang-orang Pulau Neraka! Seharusnya... merekalah yang kau hentikan! Bukan untuk menambah kekacauan di rimba persilatan ini!"
"Aku tak punya urusan dengan orang-orang Pulau Neraka! Tapi kau telah buka urusan sekarang! Bersiaplah untuk mampus!!" Habis bentakannya, tiba-tiba saja Iblis Halilintar berteriak keras,
"Heaaaaa!!!" Tirta sendiri yang sebelumnya merasa heran melihat akibat dari teriakan yang dikeluarkan Iblis Halilintar, telah alirkan tenaga surya pada kedua telinganya. Namun gelombang suara keras dari ilmu 'Bahana Saketi'itu mau tak mau membuatnya terhuyung lima langkah ke belakang.
"Astagal" desisnya dengan tubuh agak bergetar.
"Teriakannya itu mengingatkan aku pada siulan yang dilakukan oleh Pangeran Liang Lahat. Sama-sama dahsyat dan mengerikan. Entah milik siapa yang akan bertahan bila ilmu teriakan itu bertemu dengan ilmu siulan milik Pangeran Liang Lahat?" Di seberang, Iblis Halilintar kembali berteriak keras. Tirta terus berusaha bertahan agar tidak sampai kehilangan keseimbangan. Namun yang terjadi dengan Puspitorini cukup mengejutkan. Nenek berpakaian kuning kusam itu terhuyung sejenak sebelum akhirnya ambruk. Melihat hal itu Tirta agak terperangah dan cemas.
"Menilik gelagatnya Puspitorini tak akan kuat bertahan.lama. Aku harus mencari akal untuk menyelamatkannya." Berpikir demikian, mendadak saja Tirta berteriak keras,"Iblis Halilintar! Kuterima tantanganmu! Kauhadapi aku sekarang!" Dengan menahan rasa sakit akibat gelombang suara yang keras dari ilmu 'Bahana Saketi' anak muda dari Gunung Rajawali itu lepaskan ilmu 'Lima Kepakan Pemusnah Rajawali". Serta-merta menggebah lima gelombang angin berkekuatan tinggi yang menyeret tanah dan ranggasan semak belukar. Di seberang, sesaat Iblis Halilintar terkesiap. Tapi kejap berikutnya, kakek kejam itu sudah berteriak keluarkan ilmu 'Bahana Saketi'nya, disusul dengan terjangan tubuh ke depan. Letupan keras terdengar beruntun. Dahsyat dan
mengerikan, Tirta sendiri sudah mencelat ke depan. Rupanya anak muda ini sudah memutuskan untuk bertarung, itulah yang diduga oleh Iblis Halilintar. Makanya si kakek dengan ganas sudah menerj"ng mempergunakan tongkat kusamnya. Dan setiap kali tangan kirinya digerakkan, terdengar salakan guntur bertubi-tubi Terkejut melihat serangan beruntun itu, Tirta menarik napas pendek. "Ilmunya sangat kejam. Aku bisa saja teruskan pertarunganini, tetapi dia bukanlah lawan yang harus kuhadapi. Melainkan Pangeran Liang Lahat. Sebaiknya...." Memutus jalan pikirannya sendiri, Tirta terus menerus lancarkan serangannya. Dan selagi Iblis Halilintar berusaha menghindar, dia cepat melompat ke belakang. Menyambar Puspitorini dan berkelebat tinggalkan tempat itu. Tiga kejapan kemudian. terdengar makian membahana yang menggelegar di tempat itu. Iblis Halilintar sedang meregang tumpahkan seluruh amarahnya begitu tak melihat lagi kedua lawannya di tempat!
Bab 5 MALAM bergerak lambat dan gemulai laksana seorang penari. Namun tanpa disadari siapapun gerakan lambat malam itu akan terasa sangat cepat. Tidak hanya malam, pagi, siang, dan senja pun akan sulit ditebak perjalanannya. Karena perjalanan waktu tak akan bisa ditanggulangi oleh siapa pun juga. Saat ini malam telah tiba pada puncaknya. Rangkaian awan hitam menggayuti persada. Keheningan menikam jantung. Sama halnya dengan hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi. Sepi mencekam dan hanya dihiasi oleh kepakan keras dan teriakan hewan malam. Padahal di tengah-tengah hutan itu, nampak lima sosok tubuh sedang berdiri tegak. Tetapi tak ada yang keluarkan suara. Masing-masing orang terdiam. Empat sosok tubuh yang berdiri berjajar, memandang ke arah orang berpakaian dan berjubah biru gelap. Tatkala rembulan berhasil mengintip dari rangkaian awan hitam dan menerobos sela-sela pepohonan terlihat kalau orang berjubah biru gelap itu memiliki kulit serba ungu! Siapalagi orang yang memiliki kulit seperti itu kalau bukan Pangeran Liang Lahat alias Penghuni Tingkat ke Dua alias Pelarian Pulau Neraka"
Setelah berhasil menjadikan Manusia Segala Murka dan Ratih Durga sebagai budaknya dan memerintah kedua orangitu untuk membunuh Dewa Baju Putih dan Rajawali Emas, Pangeran Liang Lahat yang memang mempunyai sebuah rencana yang masih ditutupnya, berhasil mengumpulkan lagi orang-orang yang akan dijadikan budaknya. Dan keempat orang itu yang terdiri dari dua lakilaki dan dua perempuan memandang tak berkedip ke arahnya, setelah dia memperdengarkan sedikit rencananya. Cukup lama suasana hening sebelum lelaki yang berdiri paling kanan berkata,
"Mengapa kami harus menunggu kehadiran Manusia Segala Murka dan Ratih Durga untuk menerima ilmu yang kau katakan sebelumnya" Kami - terutama aku - tak punya urusan apa-apa dengan Manusia Segala Murka dan Ratih Durga! Jadi kupikir, mengapa harus menunggu mereka" Apakah tidak bisa bila kau langsung menurunkan ilmu yang kau janjikan itu kepada kami sekarang?" Ucapannya itu disambut setuju oleh tiga orang lainnya. Perempuan yang mengenakan pakaian terbuat dari rangkaian dedaunan dan tadi hanya ikut-ikutan setuju, tersenyum-senyum sendirian. Pangeran Liang Lahat menggeram pelan. Sesaat terlihat kilatan bahaya pada sorot matanya. Namun ketajaman mata itu menusuk pada mata orang yang berbicara tadi ketika dia menyahut,
"Manusia Segala Murka saat ini sedang kuperintahkan untuk membunuh Rajawali Emas! Sementara Ratih Durga kutugaskan membunuh Dewa Baju Putih! Biar bagaimanapun juga, kedua orang itu lebih dulu menjadi sekutukul Dan sudah tentu aku tak akan melupakan masing-masing orang! Itulah alasan mengapa aku tidak turunkan ilmu yang kukatakan kepada kalian?" Orang berpakaian warna keperakan itu sesaat terdiam. Ucapan itu cukup mengkederkannya karena mengandung ancaman. Namun rasa penasaran masih meliputi hatinya. Dia melirik tiga orang lainnya dengan harapan ketiga orangitu akan mendukung apa yang dikatakannya. Tetapi dia tak melihat ada sambutan apa-apa.
"Keparat! Mereka nampaknya sudah tertarik dengan ucapan Pangeran Liang Lahat! Kalaupun tadi menyetujui ucapanku, karena mereka tidak tahu apa yang harus diucapkan! Setan!" makinya dalam hati. Orang berjuluk Setan Perak ini memandang lagi ke depan seraya berkata,
"Aku masih agak menyangsikan apa yang kau katakan tentang ilmu yang akan kau berikan pada kami!"
"Jangan berbelit-belii! Langsung pada tujuan!" sahut Pangeran Liang Lahat dingin. Sesaat Setan Perak bermaksud untuk hentikan ucapannya. Tetapi melihat sorot mata dingin itu justru membuat kesombongannya terangkat naik. Dengan kepala ditengadahkan dia berkata,
"Kau katakan, ilmu yang akan kau berikan kepada kami akan membuat kami secara mudah menemukan
dan masuk ke Pulau Neraka! Tetapi, apakah betul kehadiran kami di sana kelak tidak akan diketahui oleh penghuni Pulau Neraka?"
"Orang ini cukup cerdik dan memiliki kelicikan tinggi. Bila saja orang ini tidak menyerah tadi sudah kubunuh dia,"geram Pangeran Liang Lahat dalam hati. Sambil tindih geramnya orang berkulit serba ungu itu berkata,"Ilmu yang sedianya kuturunkan, akan membuat siapa saja dapat masuk dengan mudah ke Pulau Neraka! Dan karena orang itu bukanlah orang Pulau Neraka, maka kehadirannya tak akan diketahui oleh orang-orang Pulau Neraka!"
"Dengan kata lain, ilmu yang akan kau turunkan itu akan memudahkan kami menemukan Pulau Neraka" Pulau dongeng yang selama ini kami dengar?"kata Setan Perak dan berusaha agar suaranya tidak terdengar bagai ejekan. Paras Pangeran Liang Lahat mengkelap. Warna ungu pada kulitnya semakin nampak.
"Dulu kalian boleh menganggap Pulau Neraka hanya sebuah dongeng belaka! Tetapi taklama lagi, kalian akan melihat bukti yang jelas!" Pangeran Liang Lahat melihat Setan Perak hendak buka mulut lagi, segera saja dia mendahuluinya,
"Dan tak lama lagi kalian akan kuberikan, ilmu itu!" Setan Perak diam-diam mendengus. Kendati agak gentar melihat tatapan Pangeran Liang Lahat, tetapi orang berpakaian perak yang wajahnya dipenuhi luka ini masih penasaran mendengar jawaban orang berkulit
serba ungu. Biar bagaimanapun juga, dia tak mempercayai ucapan orang itu. Kembali dia berkata,
"Guna membuktikan apa yang kau katakan, mengapa tak segera kau turunkan ilmu yang kau katakan tadi"!" Bergetar tubuh Pangeran Liang Lahat mendengar ucapan orang. "Jahanam sial! Akan kubunuh dia sekarang!!" Habis ucapannya, orang berkulit serbaungu ini berkata dengan kedua tangan bersedekap di depan dada,
"Baik! Di antara kalian, kulihat hanya kau yang sangat penasaran! Karena hanya kau seorang, biarlah kau kuturunkan ilmu yang kujanjikan sekarang!" Seraya edarkan tatapan tajamnya pada ketiga orang l ainnya, dia teruskan ucapan lagi,
"Atau... ada yang lainnya ingin kuberikan sekarang"!" Tak seorang pun yang menjawab, bahkan menggangguk pun tidak. Ini dikarenakan tatapan tajam yang mengandung ancaman dari Pangeran Liang Lahat-lah yang membuat mereka tak berani lakukan apa-apa. Tetapi perempuan setengah baya yang mengenakan pakaian terbuat dari rangkaian dedaunan, tetap saja tersenyum-senyum sendirian. Di pihak lain Setan Perak menggeram.
"Manusia-manusia pengecut!" dengusnya dalam hati. Dan begitu melihat tatapan Pangeran Liang Lahat, sejenak orang ini agak ciut hatinya. Tetapi keingi nan untuk segera mendapatkan ilmu yang dijanjikan P a
ngeran Liang Lahat, membuatnya dapat kuasai diri. Didengarnya orang berkulit serba ungu itu berkata lagi,
"Mendekatlah kemari!!" Setan Perak melirik dulu penuh ejekan pada ketiga orang yang tetap tak keluarkan suara apa-apa. Lalu dengan kepala didongakkan dia melangkah mendekati Pangeran Liang Lahat. Belum lagi dia dapat melihat wajah Pangeran Liang Lahat, mendadak saja dirasakan satu hantaman keras menimpa kepalanya. Tak sempat keluarkan teriakan apa-apa, sosoknya sudah menggelosoh ambruk dengan kepala pecah! Pangeran Liang Lahat menggeram.
"Itu akibatnya bila berani banyak bertanya padaku!!" geramnya sengit sambil angkat tangan kanannya yang tadi dihantamkan pada kepala Setan Perak.
"Siapa yang ingin mendapatkan ilmu itu sekarang, bersiaplah untuk mampus!!" Tiga orang yang masih berdiri di sana sudah tentu memilih lebih baik bungkam. Sedikit banyaknya mereka memang hendak melihat bukti yang akan dilakukan Pangeran Liang Lahat pada Setan Perak. Dan yang tak mereka sangka, kalau kematianlah yang diterima oleh Setan Perak. Kejadian itu membuat mereka tak berkutik: Tetapi perempuan yang mengenakan pakaian terbuat dari rangkaian dedaunan, kejap kemudian sudah terkikik.:
"Hihihi... lucu, lucu sekali! Hei, orang berkulitungu! Mengapa tidak kau siksa dulu dia"Hihihi...akujuga mau menyiksanya tuh!"
Pangeran Liang Lahat mendengus.
"Diam!!" Si perempuan segera bungkamkan mulutnya dengan pandangan merajuk.
Pangeran Liang Lahat menggeram keras. Mendadak dia terbahak-bahak. Keheningan hutan itu seolah pecah oleh tawanya yang sangat keras. Dan begitu tertawa, si perempuan yang tadi dibentaknya kembali cengar-cengir.
"Bagus!"seru Pangeran Liang Lahat setelah putuskan tawanya.
"Sikap patuh kalian dan tak banyak tanya, telah membuatku tiba pada satu keputusan! Saat ini ju ga kalian akan kuberikan ilmu untuk menemukan Pulau Neraka!"
Habis ucapannya, Pangeran Liang Lahat sibakkan jubah biru gelapnya sebelum melangkah. Dia berdiri di hadapan lelaki berkepala botak yang bertubuh buntal. Orang itu bernama Muto Kradak yang langsung rangkapkan kedua tangannya di depan dada.
"Berlutut!" Muto Kradak langsung lakukan perintah itu. Kejap berikutnya dirasakan tangan kanan orang berkulit serba ungu itu telah memegang kepalanya yang semakin lama dirasakan tekanan yang keras hingga terasa sakit.
Menyusul Muto Kradak merasakan ada satu tenaga
yang masuk dan dirasakan sangat menyiksanya. Kejap itu pula sekujur tubuh orang buntal ini dibanjiri keringat. Kedua tangannya mengepal keras hingga urat uratnya menonjol keluar. Matanya dipejamkan rapat rapat menahan rasa sakit yang tanpa disadarinya membuat air matanya keluar. Sementara Muto Kradak merasakan sakit yang tak terkira, Pangera n Liang Lahat berkemak-kemik tanpa ada suara yang k eluar. Napasnya mendengus-dengus keras. Dua kejapa n mata berikutnya, Muto Kradak sudah tak sanggup unt uk menahan rasa sakitnya. Mendadak sontak dia tersur uk ke depan yang membuat Pangeran Liang Lahat ges er kakinya hingga tubuhnya merendah sementara tang an kanannya masih menempel dan menekan kepala M uto Kradak. Setelah beberapa saat berlalu, tiba-tiba dia berteriak yang sangat keras,
"Seluruh setan Pulau Neraka, berilah kesempurnaan pada orang bertubuh buntal inil!" Habis teriakannya, terdengar salakan guntur yang sangat keras sebanyak tujuh kali, yang membuat keheningan itu terpecahkan. Rasa sakit yang diderita Muto Kradak lamat-lamat menghilang, namun diganti oleh hawa panas yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Bersemadilah!"seru Pangeran Liang Lahat dengan seringaian lebar. - Muto Kradak segera lakukan tindakan itu.
Pangeran Liang Lahat segera lakukan hal yang sa- .....
(mohon maaf 2 halaman hilang .......)
Sepeninggal keduanya, Dewi Penebar Sukma melirik pada Pangeran Liang Lahat. Dengan suara genit dia berkata,
"Lantas... apa yang harus kulakukan di sini?" Pangeran Liang Lahat menatapnya tajam-tajam.
"Kau menemaniku disini." Dewi Penebar Sukma mengerling sambil angkat dadanya, hingga payudaranya yang membusung nampak jelas karena pakaian tipisnya semakin terangkat naik.
"Apakah hanya menemani?" Tatapan tajam Pangeran Liang Lahat perlahan-lahan berubah, berbinar-binar. Menyusul tawanya terdengar. Masih tertawa dia meraih tubuh Dewi Penebar Sukma yang menjerit manja. Lalu dibawanya ke balik ranggasan semak.
Lentera Maut 13 Pendekar Rajawali Sakti 157 Dendam Pendekar Pendekar Gila Ratu Pilihan 3
^