Pencarian

Sri Maharaja Ke Delapan 2

Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan Bagian 2


Bhumi Mataram ini. Saya Reshi Garipasthika
mengucapkan terima kasih atas izin Mu. Saya
mengerti. Saya..."
Belum selesai ucapan sang Resi tiba-tiba
dess...desss! Dari dalam tanah melesat dua bayi yang
sebelumnya berada daiam dua buah peti bernama
58 Peti Dewa Penyelamat Raga Dan Jiwa. Dua bayi
kemudian melayang ke arah Resi Garipasthika, masuk
ke dalam gendongan tangan kiri kanan. Tidak
menunggu lebih lama orang tua sakti yang pernah
bertapa di puncak Gunung Himalaya selama sepuluh
tahun ini segera berkelebat lenyap dari tempat itu.
KEMBALI ke dalam Candi Miring. Suara teriakan
yang menyerupai ringkik kuda dan lolongan anjing
yang di keluarkan Panglima Pawang Sela cukup
membuat Ratu Dhika Gelang Gelang terkesiap.
Apalagi mendengar ucapan orang yang berjubah
kuning itu yang menyatakan mengetahui di mana dia
menyembunyikan dua bayi. Walau hanya sesaat
terkesiap namun sudah cukup memberikan kesempatan
pada Panglima Pawang Sela menyambar
leher Ratu Dhika dengan dua cengkeraman tangan
kiri kanan. Sesaat batang leher gemuk itu siap hendak di
puntir remuk, Ratu Dhika tersandar. Dengan cepat dia
jatuhkan diri ke bawah. Dalam keadaan setengah
berlutut dia lepaskan satu pukulan telak ke dada
Panglima Pawang Sela. Orang beralis satu ini
semburkan darah kental tapi mulutnya malah
menyunggingkan senyum. Tubuhnya lalu mengapung
di udara, tangan kanan Ratu Dhika yang masih
membentuk kepalan melekat di dada seolah
menunjang! Ratu Dhika terpekik ketika merasakan
tinjunya yang menempel di dada lawan dijalari hawa
panas sekali. Didahului suara tertawa seolah mengejek
Panglima Pawang Sela semburkan ludah campur
darah yang ada di mulutnya ke muka Ratu Dhika.
Dalam waktu bersamaan tangannya kiri kanan yang
tadi hendak memuntir tanggai leher kini bergerak
59 menggebuk ke arah batok kepala gadis gemuk itu.
Tidak bisa melepaskan tangan kanan yang
lengket di dada lawan sementara orang hendak
menggebuk hancur kepalanya. Ratu Dhika Gelang
Gelang mengadu jiwa dengan balas melancarkan
serangan bernama Cakar Besi Penghancur Berhala
dengan mempergunakan tangan kiri. Tangan menjulur
panjang. Lima jari berubah besar menjadi cakar besi,
hitam mengerikan. Serangan Ratu Dhika menyambar
lawan lebih dulu dan lebih cepat dari dua gebukan
yang dilancarkan Panglima Pawang Sela. Masih
untung orang ini mampu selamatkan kepalanya yang
semula hendak jadi sasaran. Namun begitu gagal
menyambar kepala, lima jari kini berkelebat ke bawah
ke arah tangan kanan lawan.
"Breett!" Lengan jubah Panglima Pawang Sela
robek besar. "Kraakk!"
Terdengar suara tulang patah dan tanggal!
Panglima Pawang Sela menjerit keras ketika siku
tangan kanannya kena disambar Cakar Besi Penghancur
Berhala. Siku putus, lengan langsung tanggal
buntung mulai dari siku ke bawah! Darah menyembur
dari urat-urat besar yang putus berbusaian! Piukk!
Buntungan lengan tercampak di lantai. Lima jari
bergetar lalu mengepal.
Dalam keadaan menahan sakit luar biasa
Panglima Pawang Sela masih sempat menghantamkan
telapak tangan kirinya ke kepala Ratu Dhika
Gelang Gelang. Gumpalan tanah liat kuburan yang
masih melekat di tangan kiri Pawang Sela mendarat
di kening si gadis gemuk.
Tiga cahaya berpijar! Di kening Ratu Dhika
60 kelihatan tiga garis lebar berwarna hitam, merah dan
biru! Ratu Dhika menjerit keras. Tubuh gemuknya
terpental membentur dinding candi hingga jebol lalu
terguling jatuh di satu ruangan gelap. Dalam keadaan
setengah sadar dia pentang dua tangan, siap melepas
pukulan sakti bernama Langit Roboh Bumi
Terbongkar. Pukulan ini mengandung hawa panas
luar biasa yang mampu membuat tubuh lawan hancur
berkeping-keping. Kalau lawan di luar sana masuk
mengejar maka dia akan menghabisi dengan dua
pukulan sekaligus!
Tadinya Panglima Pawang Sela bermaksud
hendak mengejar masuk ke dapan ruangan sempit
dan gelap itu namun khawatir akan mendapat
serangan mendadak selain itu karena lebih
mementingkan mendapatkan dua bayi maka tidak
pikir panjang lagi dia menjebol dinding barat candi,
melesat ke halaman.
Walau tidak ada tanda di tanah bekas masuknya
dua peti batu namun dengan kesaktiannya, melalui
penciuman serta getaran di gumpalan tanah kuburan
yang masih ada di genggaman tangan kiri dia mampu
mengetahui keberadaan dua peti batu dlmana dua
bayi disembunyikan. Pawang Seia merapal mantera
lalu berseru. "Dua peti sakti ciptaan Dewa! Tempatmu tidak
layak di dalam tanah! Keluarlah!"
"Braakk! Braakk!"
Tanah halaman terbongkar di dua tempat. Dua
Peti Dewa Penyelamat Raga Dan Jiwa melesat keluar
dari dalam tanah, melayang turun di hadapan
Panglima Pawang Sela.
"Blaakk! Blaakk!"
61 Penutup peti terbuka.
Sepasang mata Pawang Sela terbeliak besar.
Mulut keluarkan suara bengis. Dua peti batu ternyata
berada dalam keadaan kosong!
*** 62 9.SANGKALA DARUPADHA RAJA JIN HUTAN
ROBAN DALAM amarah menggelegak Pawang Sela
tendangkan kaki kanan ke salah satu peti batu di
hadapannya Cahaya tiga warna memancar di ujung
kaki kanan. Walau bernama Peti Dewa tapi
tendangan yang dilancarkan Pawang Sela bukan
tendangan sembarangan, bernama Tendangan Tiga
Warna. Peti batu itu pasti akan hancur berkepingkeping!
Namun dua peti tiba-tiba lebih dulu lenyap dari
pemandangan, hanya meninggalkan kepulan asap
kelabu tipis. "Kurang ajar! Ratu Dhika! Jangan harap kau bisa
lolos dari tanganku! Akan aku kubur kau hidup-hidup
dalam runtuhan candi!"
Ketika Pawang Sela hindak keluarkan ilmu
kesaktian bernama Angin Pranara Lembah Hantu yang
mampu menghancurkan luluhkan Candi Miring tibatiba
ada satu suara mengiang di telinganya.
"Panglima, kau telah terlalu banyak mengeluarkan
darah. Perhatikan keselamatanmu! Lawan mampu
menjebol perlindungan yang aku berikan. Menurut
penglihatanku dua bayi berada dalam lindungan
seorang sakti yang belum bisa kau tandingi dalam
keadaanmu seperti saat ini. Kau harus mengalah
dulu. Lupakan gadis gemuk berkepandaian tinggi itu.
Kau telah meninggalkan tanda di keningnya. Kalau
saja dia tidak memiliki ilmu kebal yang tangguh,
niscaya saat kau memukul keningnya dengan
Pukulan Tiga Warna tubuhnya telah tercerai berai!
63 Sekarang kita bisa menghabisinya dalam waktu tiga
hari mendatang. Tapi lebih bermanfaat kalau kita bisa
menyirapkan untuk datang dan bergabung dengan
kita. Kita telah banyak kehilangan anggota berkepandaian
tinggi. Kita perlu yang satu ini. Sebelum
pergi kau harus cepat mengambil potongan tanganmu
yang ada dalam candi. Jangan sekali-kali sampai orang
bisa menjajagi keberadaanmu sebelum rencana
besar kita terlaksana "
Panglima Pawang Sela cepat membungkuk.
"Junjungan Sri Maharaja Ke Oelapan, jika itu
perintahmu, saya akan segera melakukan!"
"Sekarang segera tinggalkan kawasan candi.
Aku berada di luar hutan di kaki bukit. Temui aku di
pinggiran sebelah timur. Cari pohon jati kering yang
tidak bercabang dan tidak berdaun. Aku ada di situ..."
"Saya maklum junjungan. Saya mengerti."
Sebelum meninggalkan tempat itu, sesuai
perintah ngiangan suara di telinganya Panglima
Pawang Sela lebih dulu masuk ke dalam candi untuk
mengambil kutungan tangannya. Itu sebabnya ketika
Arwah Ketua masuk kembali ke dalam candi dia tidak
menemukan lagi buntungan tangan yang sebagian
masih terbungkus lengan jubah berwarna kuning.
Tidak terduga pada saat itu terdengar perempuan
meratap disertai suara memanggil berulang kali.
"Anakku Mimba dan Dirga! Di mana kalian
wahai... Hyang Jagat Bhatara tolong... tolong dimana
mereka! Lindungi mereka. Apa yang terjadi di candi
ini... Ratu Dhika... Kau dimana?"
Panglima Pawang Sela serta merta hentikan
gerakannya hendak meninggalkan candi. Begitu dia
berpaling, dari balik reruntuhan dinding candi muncul
64 keluar seorang gadis berpakaian biru, berwajah cantik
dan berkulit putih. Rambut panjang hitam tergerai
lepas sampai ke pinggang.
"Gadis ini...Dia meratap memanggil anaknya.
Dua bayi... Apakah dia ibu dari dua bayi itu" Siapapun
dia, pasti bukan orang sembarangan di tempat ini!
Aku tidak boleh berbuat lalai. Lebih baik aku tangkap
dulu dia! Tidak menunggu lebih lama lagi Panglima
Pawang Sela segera menghambur menangkap gadis
itu lalu secepat kilat tinggalkan Candi Mining.
Sebenarnya di dalam tubuh Ananthawuri terdapat batu
sakti Kaladungga pemberian gaib patung Loro
Jonggrang, yang membuat dirinya tidak bisa terlihat
oleh siapa saja yang berniat jahat. Namun karena ilmu
kesaktian yang dimiliki Pawang Sela jauh lebih tinggi
dia mampu melihat Ananthawuri secara nyata.
Dari dalam ruangan gelap Ratu Dhika Gelang
Gelang masih sempat melihat apa yang terjadi. Dia
berteriak keras lalu melompat coba mengejar. Tapi
entah mengapa saat itu kepalanya terasa sangat berat
Ketika dia berusaha menerobos lobang besar di
dinding candi, kepalanya membentur pinggiran
lobang hingga tubuhnya terpental dan kembali
tergelimpang di lantai. Untuk beberapa lama
pandangannya berbintang-blntang. Namun mulutnya
masih bisa berucap, "Hyang Bhatara Agung...
Tolong...Manusia jahat itu menculik Ananthawuri...
Selamatkan ibu dua bayi itu. Tolong..."
*** 65 KETIKA berlari cepat menuruni bukit gersang,
di kejauhan Panglima Pawang Sela melihat seorang
berjubah putih melangkah seenaknya mendaki ke arah
puncak bukit Sosok yang terlihat begitu samar hingga
dia tidak bisa mengenal siapa adanya orang itu. Kalau
saja dia tidak diperintahkan oleh Sang Junjungan
segera pergi menemuinya di pinggiran rimba
belantara sebelah timur, sebenarnya ada niat hendak
mendatangi dan menyelidik siapa adanya orang
tersebut. Pawang Sela tidak pernah menduga kalau
orang yang terlihat samar itu adalah Resi
Garispasthika alias kakek berjuluk Si Mata Salju yang
tengah menggendong dua bayi keramat dan telah
lebih dulu diambil diselamatkan dari dalam Peti Dewa
Penyelamat Raga Dan Jiwa.
*** KEMBALI ke dalam Candi Miring di Ruang Enam
Dinding Dewa. "Rakanda Arwah Ketua, kau telah mendengar
penuturanku apa yang terjadi ketika kau meninggalkan
candi mengejar si keparat Arwah Muka Hijau. Sekarang
sebaiknya kita cepat-cepat melakukan samadi
Menjejak Bumi Menerawang Langit untuk mencari
tahu siapa dan dimana sarang manusia jahanam itu..."
"Radinda Ratu, aku harap kau bisa bersabar
sedikit Kau beruntung. Berkat Ilmu Kebal Lemah
Kebal Banyu pukulan lawan yang meninggalkan tanda
tiga warna di keningmu tidak membuatmu celaka atau
66 keracunan... Apa yang kau tuturkan membuat aku
ingat kembali pada tugas yang pernah aku berikan
padamu. Tapi mungkin belum sempat kau lakukan.
Kau ingat tiga tugas itu Radinda Ratu...?"
"Aku ingat Rakanda," jawab Ratu Dhika Gelang
Gelang. "Kita harus menyelidik siapa yang sejak
belakangan ini disebut-sebut dan menamakan dirinya
sebagai Sri Maharaja Ke Delapan. Ketika aku
berhadapan dengan manusia aneh bernama Abdika


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Brathama, mengaku utusan Sri Maharaja Ke Delapan,
dia juga menyebut mengenai Mataram Baru! Semakin
jelas bagiku kalau Bhumi Mataram berada dalam satu
ancaman luar biasa besar. Ada orang yang hendak
meruntuhkan tahta Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
Dyah Lokapala yang masih pamanmu. Ada satu
rencana pemberontakan besar-besaran terhadap
penguasa yang syah saat ini. Rasanya dalam waktu
singkat aku harus menghadap Sri Maharaja di
Kotaraja."
Arwah Ketua berhenti bicara sejenak lalu
melanjutkan. 'Tugasmu yang ke dua menyelidik apa dan siapa
sebenarnya pemilik ilmu kesaktian yang selalu
menampakkan ujud dalam cahaya tiga warna. Merah,
biru dan hitam. Ilmu kesaktian itu agaknya bisa
dipecah, bisa diberikan kepada siapa saja oleh sang
pemilik yang sekaligus sang pengendali. Aku punya
dugaan keras mahluk ini adalah sang pengendali. Dia
kunci dari semua kejadian. Mungkin sekali dialah Sri
Maharaja Ke Delapan itu..."
"Aku juga punya dugaan sama sepertimu
Rakanda," menyahuti Ratu Dhika Gelang Gelang.
67 "Kalau sekarang kaki tangannya berhasil
menculik Ananthawuri maka keadaan akan lebih parah
dan tambah sangat berbahaya bagi masa depan
Bhumi Mataram. Dia punya kekuatan untuk menekan."
Arwah Ketua keluarkan suara mengorok, hembuskan
nafas panjang yang memerihkan jangat dan mata lalu
berkata lagi. "Kau juga aku minta mencari pemuda bernama
Sebayang Kaligantha. Pemuda itu mempunyai
hubungan dengan ilmu kesaktian memancarkan
cahaya tiga warna itu. Aku menyirap kabar dia
memiliki satu ajimat sangat sakti yang didapatnya
ketika masuk ke dalam alam gaib di negeri seberang,
di satu bekas Kerajaan Kuna. Pemuda bernama
Sebayang Kaligantha itu, bukankah dia kekasihmu
Radinda Ratu" Apakah kau sudah berkesempatan
menemuinya"!"
Ratu Dhika Gelang Gelang tertunduk lalu
menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Dulu aku pernah curiga kalau sang pengendali
ilmu kesaktian yang selalu menampilkan cahaya tiga
warna Itu adalah mahluk yang dikenal dengan nama
Pangeran Bunga Bangkai. Ternyata bukan dia. Aku
juga menyirap kabar bahwa orang-orang di selatan
tengah menggalang satu pasukan besar untuk
melaksanakan niat jahat, menyerang Kotaraja,
merebut tahta Kerajaan... Beberapa di antara mereka
telah menyusup dan melakukan pembunuhan. Ingat
peristiwa tewasnya Wakil Balatentara Kerajaan Janggel
Kantanu" Sampai saat ini tidak diketahui siapa
pembunuhnya. Belakangan ini banyak orang-orang
tak dikenal gentayangan menyebar maut. Di antara
mereka ada yang mempergunakan senjata rahasia
68 berupa kepingan besi bulat biru mengandung racun
mematikan..."
"Itu jelas orang dari selatan..." kata Arwah Ketua
sambil mengusap tanduk merah di atas kepalanya
yang botak. "Aku harus mengirim seseorang ke
selatan untuk menyelidik. Kalau tidak aku sendiri yang
akan kesana..."
"Rakanda. sampai saat ini Arwah Hitam
Pengawal Malam tidak diketahui dimana beradanya.
Juga Arwah Putih Pengawal Siang..."
"Aku punya firasat Arwah Putih sudah menemui
ajal. Tunggu saja dalam beberapa hari ini. Kalau
bayangan arwahnya muncul di salah satu menara
candi menjelang matahari tenggelam, berarti memang
pembantuku itu sudah tidak ada lagi di alam nyata
ini... Radinda, saatnya kita harus bertindak. Aku
benar-benar harus segera berangkat ke Kotaraja..."
Namun Arwah ketua kemudian terdiam. Selang
beberapa ketika baru berucap lagi. "Kalau aku ke
Kotaraja dan kau pergi mencari gadis yang katanya
bisa mengobatimu itu, lalu siapa yang menjaga dua
bayi di Ruang Enam Dinding Dewa?"
"Rakanda, aku mengusulkan agar kau menemui
Raja Jin Hutan Roban. Minta bantuannya untuk
mengirim beberapa puluh jin guna bantu mengawal
dua bayi..."
Sepasang mata putih bertitik hitam Arwah Ketua
mendelik tak berkesip menatap Ratu Dhika Gelang
Gelang. "Ada apa Rakanda" Mengapa kau menatapku
seperti hendak menelanku bulat-bulat?" tanya Ratu
Dhika yang merasa aneh melihat cara Arwah Ketua
menatapnya. Dalam keadaan seperti itu gadis gemuk
69 ini keluarkan cermin kecil yang selalu dibawanya
kemana-mana. Ketika melihat wajahnya di cermin,
setengah sesenggukkan dia berkata. "Aduh, jeleknya
parasku. Ada noda tiga warna di kening. Aduh
bagaimana ini..."
"Radinda, simpan cermin itu. Bukan saatnya
untuk bersolek!" tegur Arwah Ketua. "Kau tahu
mengapa barusan aku memandangmu seperti itu"
Karena jalan pikiranmu benar-benar dapat
diandalkan."
"Jangan membuat hidungku tambah besar dan
mekar Rakanda..." kata Ratu Dhika sambil senyum
dan usap-usap hidungnya yang memang agak besar
"Radinda, tahu apa yang kini ada dalam benakku
setelah mendengar ucapanmu tadi?"
Ratu Dhika gelengkan kepala.
"Sudoh terlalu lama aku melupakan sahabatku
Sangkala Darupadha, Raja Jin Hutan Roban! Dia dan
anak buahnya bukan saja bisa dimintakan pertolongan
untuk menjaga dua bayi keramat, tapi juga mampu
menghadapi ratusan bahkan ribuan pasukan
pemberontak. Jika pengkhianatan itu kelak benarbenar
terjadi..." Arwah Ketua usap-usap kepala botak
bertanduk, lalu mengelus janggut tebal hitam.
"Radinda, kau belum menceritakan apakah kau sudah
menemui pemuda kekasihmu bernama Sebayang
Kaligantha itu."
"Aku memang sudah menemukannya, Rakanda
Arwah Ketua. Berdasarkan petunjuk yang diberikan
Pangeran Bunga Bangkai alias Nalapraya. Konon
mahluk aneh itu berasal dari Kerajaan Tarumanegara
di daerah barat. Sebayang ketika kutemui keadaannya
sudah setengah mayat Setelah itu dia benar-benar
70 jadi mayat."
Kening Arwah Ketua mengernyit
"Coba kau ceritakan apa yang terjadi dengan
pemuda kekasihmu itu," kata Arwah ketua pula.
Wajah Ratu Dhika Gelang Gelang tampak mumng
sesaat. Lalu dengan suara perlahan dia mulai
bercerita. 71 10. TAMU DARI JAUH
SEPERTI diriwayatkan dalam episode sebelumnya
berjudul "Pangeran Bunga Bangkai" Ratu Dhika Gelang
Gelang menemukan kekasihnya Sebayang Kaligantha
di sebuah candi runtuh di satu bukit kapur yang jarang
didatangi manusia. Pemuda itu terbujur mengenaskan
di atas gundukan batu hanya mengenakan celana.
Nafas satu-satu. Dua mata terpejam dan tampak
bengkak membiru. Di dadanya kelihatan satu robekan
luka sepanjang satu jengkal. Kaki dan tangan pemuda
ini diikat dengan rantai sebesar betis yang ujungnya
dipendam ke dalam gundukan batu. Pemuda yang
dulu gagah dan bertubuh kekar penuh otot itu kini
kelihatan seperti mayat, tubuh kurus lunglai tiada
daya. Ratu Dhika hancurkan empat rantai besi yang
mengikat dua tangan Sebayang Kaligantha lalu
membaringkan pemuda kekasihnya di lantai candi.
Dalam keadaan sekarat Sebayang Kaligantha
menerangkan beberapa hari sebelumnya tiga orang
tidak dikenal mendatangi rumahnya. Dia dibawa ke
candi runtuh. Dada dirobek. Mutiara Mahakam, sebuah
jimat sakti mandraguna yang didapatnya ketika
memasuki alam gaib di bekas Kerajaan Kutai dan
tersimpan di rongga dadanya dirampas. Menurut
Sebayang dia mengenali salah seorang pelaku, yaitu
orang dari selatan. Namun sebelum sempat
menyebutkan nama orang itu dua buah senjata
rahasia berbentuk besi bulat pipih bergerigi berwarna
biru menderu. Senjata rahasia pertama berhasil
dipukul mental oleh Ratu Dhika sementara rahasia
kedua tidak dapat ditangkis dan menancap telak di
72 tenggorokan Sebayang Kaligatha. Saat itu juga tubuh
pemuda ini berubah biru legam mulai dari leher,
kepala dan sebagian dada.
"Waktu itu kucingku Ragil Abang bertingkah
aneh." kata Ratu Dhika dalam menuturkan riwayatnya.
"Kucing itu lari ke satu arah. Menduga dia akan
menunjukkan arah dirnana pembunuh Sebayang
berada, aku mengejar. Ternyata aku menemui
pemuda berkepala aneh itu. Kepalanya berbentuk
bunga besar dan busuk. Dia tidak mau memberi tahu
nama kecuali mengatanan kalau dia berasal dari
Kerajaan Tarumanegara. Belakangan aku mengetahui
bahwa dirinya disebut Pangeran Bunga Bangkai.
Tadinya aku menduga dialah yang telah membunuh
Sebayang ternyata tidak. Anehnya kucingku Ragil
Abang sangat jinak padanya. Dari penuturan mahluk
aneh itu aku mengetahui kalau dia adalah ayah dari
dua bayi, suami dari Ananthawuri. Sulit diterima akali
Saat ini seperti Rakanda ketahui dia berada di hutan
jati dalam keadaan tersesat tidak bisa keluar kemanamana.
Karena kita telah menyirap menenung dia dan
dua kawannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi
dengan Ragil Abang..."
Arwah Ketua tercengang mendengar penuturan
Ratu Dhika itu.
"Apakah jalan pikiranmu bisa dipercaya Radinda
Ratu?" "Semua aku sulit dipercaya. Namun ketika
Pangeran Bunga Bangkai memberi petunjuk bahwa
jenazah Sebayang telah ada yang mengurus dan
terbukti benar, hatiku jadi bimbang. Lalu ketika aku
menduganya sebagai pembunuh Sebayang dan
mengejar ke sebuah goa, ada suara tanpa ujud
73 menegurku..."
"Roh Agung...?"
"Semula aku menduga begitu. Tapi turut apa
yang tadi diucapkan kakek bermata salju itu. sekarang
aku punya dugaan yang menegurku adalah Arwah
Suci." "Ah. rupanya dialah yang selama ini dipercaya
oleh Sang Hyang Dewa Bathara Agung untuk
membimbing dan menolong insan di Bhumi Mataram
ini. Sementara manusia dan mahluk alam gaib
menganggapnya sebagai Roh Agung. Sungguh kita
semua harus minta ampun dan maaf pada Roh Agung
dan berterima kasih pada Arwah Suci...." Setelah
terdiam sesaat Arwah Ketua berkata, "Radinda. kau
belum menceritakan apa yang terjadi dengan jenazah
Sebayang Kaligantha. Apa kau telah mengurusnya..."
"Rakanda, justru di sini terjadi satu keanehan,"
Jawab Ratu Dhika pula. "Beberapa sahabat Sebayang
Kaligantha mengurus jenazahnya. Melakukan upacara
pembakaran di halaman candi. Ketika api mulai
berkobar mendadak sosok Sebayang Kaligantha
bergerak naik ke atas. Bersamaan dengan itu ada
cahaya tiga warna memancar keluar dari tubuhnya.
Cahaya melesat ke langit diikuti tubuh Sebayang. Di
arah langit tubuh Sebayang meledak. Berubah
menjadi kepulan asap dan lenyap..."
"Lagi-lagi cahaya tiga warna! Ini pasti jahanam
yang menyebut diri sebagai Sri Maharaja Ke Delapan
itu yang punya pekerjaan!" kata Arwah Ketua sambil
keluarkan suara mengrombor geram. "Mungkin sekali
kekasihmu itu telah menjadi korban penggandaan.
Seperti yang terjadi dengan Sri Sikaparwathi..."
"Berarti dia masih hidup. Mungkin hanya tinggal
74 menunggu ajal.." kata Ratu Dhika pula. Sepasang
matanya berbinar menahan air mata yang hendak
mengucur keluar. "Semoga Para Dewa melindungi,
menyelamatkan dan mempertemukan kami
kembali..."
"Mudah-mudahan dia masih hidup. Dia pemuda
baik. Candi ini dia yang mengurusi. Mudah-mudahan
Dewa Agung melindungi dan memanjangkan
umurnya..." (Kisah yang dialami Sebayang Kaligantha
bisa diikuti lebih lengkap dalam episode sebelumnya
berjudul "Pangeran Bunga Bangkai")
"Aku bersumpah akan mencari kembali pemuda
itu setelah aku berhasil menemui gadis yang berwajah
seperti Ananthawuri... Yang lebih penting menentukan
kembali azimat Mutiara Mahakam."


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau betul Radinda," kata Arwah Ketua pula.
"Azimat itu telah disalahgunakan. Kini menjadi
pangkal malapetaka bagi Bhumi Mataram." Setelah
diam sejenak Arwah Ketua meneruskan ucapan.
"Saatnya kita harus melakukan samadi Menjejak Bumi
Menerawang Langit! Kita harus bisa mengetahui siapa
adanya mahluk berjubah kuning yang tangannya kau
buntungi itu. Kita harus mampu mencari tahu dimana
sarangnya. Sekaligus menjajagi siapa adanya keparat
yang mengagulkan diri Sri Maharaja Ke Delapan itu.
Selesai semadi kau boleh pergi mengejar gadis
berwajah mirip Ananthawuri itu. Aku akan membantumu
menjajagi keberadaannya. Tapi Radinda,
apa salahnya kalau aku coba dulu melenyapkan tanda
tiga warna di keningmu. Jika Para Dewa menghendaki
dan aku berhasil menolongmu berarti sebagian dari
bebanmu sudah bisa dikurangi..."
"Rakanda. aku sangat berterima kasih atas
75 kebaikan hatimu. Tapi apa kau lupa apa yang
dikatakan orang tua bermata putih dingin itu. Hanya
ada dua orang yang mampu menolong diriku. Yaitu
gadis berpakaian putih yang wajahnya mirip
Ananthawuri. Satunya lagi Pangeran Bunga Bangkai,
yang kini terkurung di dalam hutan jati dan kita
dituduh oleh orang tua bermata putih telah
menganiaya..."
"Radinda. kau boleh saja percaya pada ucapan
orang tua itu. Tapi bagaimanapun juga segala
sesuatunya adalah Yang Maha Kuasa yang menentukan.
Jika aku berniat baik. masakan Para Dewa
tidak memperhatikan..."
"Kalau begitu kata Rakanda aku menurut saja.
Silahkan Rakanda mulai..."
Ratu Dhika Gelang Gelang lalu duduk bersila di
lantai candi. Dua tangan diletakkan di atas paha Mata
dipejam dan perlahan-lahan dia menyalurkan hawa
sakti ke arah kepala. Saat itu Arwah Ketua telah
berlutut di belakangnya. Dua telapak tangan
dltekapkan ke kening sampai pelipis kiri kanan Ratu
Dhika. Mulut merapal, mata membellak dan seperti
yang dilakukan Ratu Dhika, Arwah Ketua juga salurkan
tenaga dalam serta hawa sakti ke arah dua tangan
yang memegang kepala.
"Sekarang Radinda..." bisik Arwah Ketua.
Dua orang itu sama-sama alirkan tenaga dalam
dan hawa sakti penuh.
"Dess! Desss! Desss!"
Tiga kali terdengar suara letupan disusul
memancarnya cahaya tiga warna. Bangunan candi
bergoyang. Batu-batu di dinding, lantai dan atap
berderak. Ada beberapa yang hancur. Saat itu juga
76 Arwah Ketua berteriak keras. Ratu Dhika Gelang
Gelang terpekik.
"Wusss!"
Satu gelombang angin luar biasa deras
menyambar. Sosok Arwah Ketua terbanting ke
belakang, tergeletak menelungkup di lantai candi.
Ratu Dhika dalam keadaan terhuyung-huyung cepat
berbalik. Kagetnya bukan alang kepalang sampai dia
keluarkan beberapa kali jeritan keras.
"Rakanda! Apa yang terjadi dengan dirimu! Sang
Kyang Jagat Bathara mengapa bisa jadi begini"!"
Setengah meratap Ratu Dhika jatuhkan diri dan
cepat balikkan tubuh Arwah Ketua. Matanya terbeliak
begitu menyaksikan keadaan Arwah Ketua. Kembali
gadis gemuk ini menjerit Saat itu sosok Arwah Ketua
diam tidak bergerak walau hembusan nafasnya masih
terasa memerihkan jangat dan mata. Sepasang mata
terpejam. Satu hal yang hebat telah terjadi pada Arwah
Ketua. Tangan kirinya pindah ke tangan kanan sedang
tangan kanan pindah ke tangan kiri. Begitu juga dua
kaki saling berubah pindah. Yang kanan ke kiri, yang
kiri ke kanan! "Rakanda! Rakanda!" teriak Ratu Dhika sambi!
mengguncang tubuh Arwah Ketua.
Cahaya tiga warna, merah, hitam dan biru, sangat
tipis mengepul keluar dari kepala Arwah Ketua.
Perlahan-lahan mahluk alam gaib ini nyalangkan
kedua mata. "Ratu Dhika... Apa yang terjadi..."
"Tubuhmu Rakanda! Bangun dan lihat keadaan
dua tangan serta kakimu!" teriak Ratu Dhika.
Saat itu Arwah Ketua memang merasakan ada
77 aliran aneh dalam tubuhnya. Dengan cepat dia
melompat bangun. Tubuhnya huyung berat. Kalau
tidak cepat menjaga keseimbangan niscaya dirinya
akan tersungkur ke lantai. Begitu melihat dan
menyadari keadaan kedua tangan serta kakinya Arwah
Ketua langsung menggembor keras. Dia melompat
ke kiri. Kaki kanan yang sebenarnya kaki kiri
menendang arca besar berbentuk gajah duduk di
sudut ruangan namun tendangannya tidak mengenai
sasaran. Lewat dua jengkal dari arca. Padahal arca
Itu hanya dua langkah di hadapannya.
Arwah Ketua banting salah satu kaki ke lantai
candi hingga lantai yang terbuat dari batu gunung
yang sangat keras itu melesak hancur sedalam mata
kaki! Keadaan di dalam maupun di luar candi benarbenar
telah centang perenang hancur-hancuran.
"Apa yang terjadi dengan diriku! Mengapa bisa
begini! Ada orang mengerjai dengan ilmu kesaktiannyai
Lihat sajal Aku akan membalas lebih ganas!"
Ratu Dhika meraba keningnya lalu bertanya.
"Rakanda, apakah tanda tiga warna di keningku
sudah lenyap"!"
"Jahanaml Belum Radindal Tanda itu masih
Ada!" Pucatlah wujah gemuk Ratu Dhika Gelang
Gelang. Arwah Ketua kepalkan dua tinju kepala mendongak
dan suara berucap gemetar ketika berkata,
"Wahai Para Dewa. ketika Bhumi Mataram berada
dalam ancaman malapetaka besar mengapa pada
kami masih dijatuhkan cobaan begini berat!"
"Rakanda, jangan mengumpat. Jangan bicara
seperti itu pada Para Dewa. Semua apa yang terjadi
78 ini pasti ada hikmahnya..." Berkata Ratu Dhika walau
dirinya sendiri sebenarnya diam-diam juga merasa
sangat terpukul.
Rasa kecewa di hati Arwah Ketua agak mengendur
sedikit. "Radinda cepat ikut aku. Kita harus melakukan
samadi Menjejak Bumi Menerawang Langit sekarang
juga!" "Tapi bagaimana keadaan dirimu" Kau harus
melakukan sesuatu agar dua tangan dan kakimu
kembali ke tempat semula! Katakan apa yang bisa aku
lakukan untuk membantu."
"Aku tidak perduli tangan dan kakiku pindah ke
pantat sekalipun! Yang penting mencari tahu siapa
sumber biang racunnya! Pasti bangsat yang mana!
Si pengendali cahaya tiga warna itu! Kalau aku
mampu membuat tubuhnya hancur cerai berai pasti
keadaan tubuhku dapat kembali seperti semula!"
Arwah Ketua melangkah lebih dulu. Tubuhnya
terhuyung ke kiri dan ke kanan. Dari mulutnya keluar
kutuk serapah berkepanjangan. Kepala dipukul-pukul!
"Lihat saja pembalasanku! Tunggu!" teriaknya.
Walau di samping kiri ada pintu yang menuju ke
halaman selatan namun dalam amarahnya Arwah
Ketua langsung saja menabrak jebol dinding candi.
Sampai di halaman Arwah Ketua berpaling pada Ratu
Dhika. "Kau sudah siap"!"
Ratu Dhika anggukkan kepala.
"Letakkan dua telapak tanganmu di punggungku."
Ratu Dhika lakukan apa yang dikatakan Arwah
Ketua. Begitu telapak tangan menempel di punggung
79 Arwah Ketua... wuss! Dess! Sosok kedua orang itu
amblas masuk ke dalam tanah!
Hanya satu kejapan mata setelah lenyapnya tubuh
Arwah Ketua dan Ratu Dhika ke dalam tanah untuk
melakukan samadl Menjejak Bumi Menerawang Langit
tiba-tiba seorang tua berpakaian hitam muncul di
halaman depan Candi Miring. Kening diikat seutas
tali besar berbentuk jalin terbuat dari ijuk. Sambil
berjalan ataupun diam berdiri dua telapak tangan
selalu dlgosokan satu sama lain. Walau memelihara
rambut putih menjulai. namun wajahnya bersih
kelimis. Di usianya yang hampir mencapai delapan
puluh tahun sikap gerak geriknya tampak masih
gagah. Sambil menggosok-gosok dua telapak tangan
orang tua Ini memandang seputar bangunan candi
sebelah depan. Lalu mulut berucap perlahan.
"Aku melihat banyak kerusakan di tempat ini.
Apakah ini penyebab tuan rumah tidak muncul
menyambut kedatanganku" Sahabatku Arwah Ketua,
aku mendengar kau menyebut namaku. Dari jauh aku
datang untuk mencari tahu. Tapi gerangan dimana
kau berada saat ini?"
Orang tua ini pejamkan mata, kepala dldongakkan.
Kembali terdengar suaranya berkata.
"Ahh... Ada dua mahluk mungil telah mengisi
Ruang Enam Dinding Dewa. Sayang aku punya
keterbatasan tidak mampu melihat secara terbuka.
Sahabatku Arwah Ketua, kau mampu melihat secara
terbuka. Sahabatku Arwah Ketua, kau mungkin tengah
melakukan sesuatu atau belum berada di tempat ini.
Baiklah, aku akan menunggu. Sementara menunggu
perkenankan aku menghibur diri sendiri. Udara di sini
80 terasa sangak dan panas. Perlu sedikit keteduhan..."
Dua telapak tangan berhenti digosokkan. Tangan
kanan diangkat ke atas. Saat itu juga tahu-tahu telah
tergenggam sebuah seruling terbuat dari bambu. Si
orang tua duduk di tangga candi. Seruling
ditempelkan ke bibir. Sesaat kemudian terdengar
suara alunan tipuan seruling mendayu-dayu merdu
sekali. Aneh. udara bukit gersang yang panas
perlahan-lahan terasa sejuk. Tiupan angin yang
hampir tak pernah menyapu kawasan itu kini
mengalun nyaman sepoi-sepoi basah seolah
mengikuti alunan suara tiupan seruling.
81 11.DINDING TAK BERUJUD
KITA tinggalkan dulu Arwah Ketua dan Ratu Dhika
Gelang Gelang yang tengah melakukan Samadi
Menjejak Bumi Menerawang Langit di dalam tanah di
halaman selatan Candi Miring serta tamu tidak dikenal
yang menyebut diri datang dari jauh dan saat itu
tengah duduk di tangga candi sambil meniup
seruling. Mari kita ikuti Resi Garispasthika yang sedang
berjalan menuruni bukit bersama Liris Pramawari. Si
gadis membawa sang Resi ke pinggiran sebuah hutan
jati sebelah timur.
"Liris Pramawari. Kita sudah berpisah beberapa
hari. Kau tiba-tiba muncul. Berarti kau masih belum
menempuh jalan ke Gunung Mahameru. Apa kau lupa
tugas yang aku berikan atau sengaja tidak mau
melaksanakan?"
"Bukan begitu Kek, eh Paman..."
"Sudah, jangan memanggil aku Paman. Panggil
seperti yang sudah-sudah kau lakukan. Panggil aku
Kakek.." "Tapi bukankah kau sudah menganggap diriku
sebagai keponakan. Dan kau mengatakan pada
banyak orang. Jadi pantas aku memanggilmu Paman
bukan...?"
"Seharusnya begitu. Keponakan memanggil
paman pada adik ayahnya. Tapi Jika kau memanggilku
Paman..." Sepasang mata putih si orang tua tampak
seperti mau mencair. Resi Garipasthika cepat
tengadahkan kepala. Dua gundukan salju putih yang
mulai mencair serta merta menggumpal keras
82 kembali. "Ada apa Kek... Apakah aku sudah bicara salah
padamu?" tanya Liris Pramawari memandang dengan
heran. Si orang tua tersenyum. "Suatu ketika aku akan
menceritakan padamu riwayat diriku. Dulu... puluhan
tahun silam aku memang punya seorang keponakan.
Saat itu usianya sebayamu sekarang ini. Lalu ada
manusia jahat membunuhnya. Ketika pertama kali
menemuimu, aku merasa keponakanku itu hidup
kembali. Dewa sungguh Agung..."
Liris Pramawari cepat-cepat memegang kedua
tangan Resi Garipasthika. "Kek. kalau begitu harap
maafkan diriku. Aku tidak tahu riwayat masa
silammu..." Kata Liris cepat menyambung ucapannya.
"Mengenal tugas darimu pasti saya laksanakan,


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tapi saya masih dalam keadaan bingung..."
"Kalau hidupmu hanya dipenuhi kebingungan, lalu
kapan kau akan berbuat kebajikan?"
Liris Pramawari terdiam. Mata menatap dua
tangan mulai dari pergelangan sampai ke ujung jari.
Dia memperhatikan dan menyadari kalau tangan tidak
berkulit dan tidak berdaging itu kini kembali menjalar
naik ke arah pertengahan lengan.
Melihat sang keponakan terdiam. Resi
Garipasthika jadi kasihan. Dia tahu kalau gadis itu
tidak akan melalaikan tugas yang diberikan. Tapi
derita beban kehidupannya memang bukan mainmain
dan sungguh berat Mulai dari kematian ibunya
yang dibunuh orang di depan mata kepalanya sendiri.
Laku hukum kutukan Dewa yang dijatuhkan atas diri
ayahnya dimana sang ayah kemudian menghilang
tidak diketahui alam rimbanya meski sebelum pergi
83 sempat memindahkan seluruh ilmu silat dan ilmu
kesaktiannya ke dalam diri Liris Pramawri yang oleh
Sebayang Kaligantha kemudian diberi julukan Dewi
Tangan Jerangkong. Gadis malang tapi berhati
perkasa ini telah bersedia menanggung dosa
kesalahan sang ayah. Ini membawa akibat hukuman
jatuh pada dirinya yaitu berupa seluruh tubuh akan
berubah menjadi jerangkong jika dia tidak bisa
berbuat tiga kebajikan besar dalam dua belas bulan
purnama. Sejauh ini dia baru mampu berbuat satu
kebajikan besar yaitu ketika menolong Sebayang
Kaligatha. (Baca "Dewi Tangan Jerangkong")
Dalam rasa haru dan kasihan Resi Garipasthika
bertanya sengaja alihkan pembicaraan.
"Keponakanku, bagaimana kau bisa mengetahui
aku berada di kawasan Candi Miring?"
Liris Pramawari alias Dewi Tangan Jerangkong
cabut golok berikut sarungnya yang terbuat dari
gading dan sejak diterima diselipkan di balik
punggung. "Golok sakti ini Kek. Senjata ini yang
membimbing saya ke arahmu..."
Senjata yang berada di tangan Liris Pramawari
adalah golok sakti bernama Golok Empat Mulut
Penghisap Darah yang beberapa waktu lalu
diterimanya dari kakek bermata salju itu.
Resi Garipasthika terdiam. Walau saat itu sang
surya bersinar terik namun dari hidung serta sepasang
matanya yang putih terus saja keluar uap dingin.
Dalam hati sang Resi membatin, "Kalau memang
Golok Empat Mulut Penghisap Darah itu yang
membimbingnya, berarti gadis ini tidak mengada-ada.
Segala sesuatunya seperti sudah dikehendaki Yang
84 Maha Kuasa. Kaiau dia tidak menaruh hormat padaku,
tidak nanti dia akan mencari diriku. Aku berterima
kasih Dewa telah mempertemukanku dengan gadis
itu. Meski beban derita dirinya sendiri begitu berat
dia masih ingat dan mau melakukan sesuatu untuk
kebaikan orang lain."
Kedua orang itu lanjutkan perjalanan kembali.
Di satu tempat, di tepi hutan yang sunyi Liris
Pramawari berhenti.
"Kek, kita sudah sampai di pinggir hutan dimana
saya menyaksikan kejadian itu..."
Resi Garipasthika memandang berkeliling
dengan sepasang mata putihnya. Lalu berkata,
"Sebelumnya aku juga berada di sekitar hutan ini.
Ketika mengamankan dua bayi. Aku hanya mampu
masuk sejauh tujuh langkah. Setelah itu ada satu
kekuatan yang sulit ditembus..."
. "Itu yang terjadi dengan diri saya Kek. Saya
mendengar suara kucing mengeong di sekitar sini.
Suara ada tapi binatangnya tidak kelihatan. Ketika
saya hendak masuk ke dalam hutan saya seperti
dihalangi oleh tembok kokoh yang tidak kelihatan..."
"Rimba belantara ini telah diselimuti sirap
tenung yang dilakukan oleh Arwah Ketua, penguasa
di Candi Miring itu. Maksudnya mungkin baik. Namun
aku punya dugaan kali ini dia telah mengambil
langkah keliru. Aku menyirap kabar ada seorang
pemuda aneh bersama dua sahabatnya terkurung di
dalam hutan. Pemuda itu mungkin sekali adalah
ayahanda dari dua bayi keramat yang ada di Candi
Miring. Suara kucing yang kau dengar pasti binatang
peliharaan gadis gemuk bernama Ratu Dhika itu.
Keponakanku, sekarang cehtakan apa yang telah kau
85 alami di tempat ini..."
Liris Pramawari usap tengkuknya yang mendadak
terasa dingin lalu mulai bercerita.
*** KISAH Liris Pramawari...
SUARA ngeongan kucing membuat Liris
Pramawari hentikan lari.
Karena rimba belantara itu diselimuti kesunyian,
suara kucing terdengar jelas sekali. Namun setelah
mencari kian kemari dia tidak berhasil menemukan
binatang itu. "Kucing di dalam hutan, terasa agak aneh. Aku
ingin mencari binatang itu tapi tugas yang diberikan
kakek bermata salju sungguh tugas berat.
Perjalananku masih sangat jauh... Aku harus pergi
jauh ke timur. Padahal di Bhumi Mataram masalah
yang aku hadapi banyak dan berat.." Liris termangu
beberapa saat di pinggir hutan sampai dia mendengar
kembali suara ngeongan kucing. Suara itu begitu
menghiba seperti hendak memberitahukan sesuatu
atau seolah minta pertolongan. Akhirnya Liris
Pramawari memutuskan masuk ke dalam hutan.
Namun baru menindak satu langkah ke dalam rimba
tiba-tiba braakk! Tubuhnya menabrak sesuatu hingga
dia terpental beberapa langkah ke belakang.
"Aneh, apa yang menghalangi" Aku tidak melihat
apa-apa!" Untuk kedua kalinya gadis ini melompat masuk
ke dalam hutan. Untuk kedua kalinya pula tubuhnya
membentur sesuatu. Kening, hidungnya dan lutut
terasa sakit "Benar-benar aneh..." Liris Pramawari
86 memandang ke dalam hutan dengan mata terbelalak.
Lalu dia melangkah. Dua tangan disapukan dan
diketukkan ke depan. Dia menyentuh satu benda
tebal. Kemanapun dia meraba dan mengetuk benda
tebal itu tetap terasa. "Dinding penghalang tidak berujud.
Tidak bisa dilihat mata... Bagaimana mungkin" Orang
sakti mana yang punya pekerjaan" Atau dedemit
hutan tengah berpesta hingga orang luar tidak boleh
masuk ke dalam hutan?" Si gadis usap-usap
tengkuknya yang terasa dingin. Tapi otak masih terus
berpikir. "Kucing tadi. Apa binatang itu ada di dalam atau
di luar hutan?"
Liris menatap hutan belantara di hadapannya.
Coba menebus pandang sampai jauh ke dalam
dimana pohon jati tumbuh rapat dan keadaan redup.
Karena belum yakin dan masih penasaran gadis
ini mundur beberapa langkah. Dua tangan diangkat
ke atas, siap melepas pukulan sakti bernama Menabas
Tiang Meruntuh Atap yaitu ilmu kesaktian yang
didapat dari ayahnya. Dua tangan memancarkan
cahaya keputih-putihan bergetar tanda Liris
Pramawari mengerahkan seluruh kemampuan tenaga
dalam yang dimiliki.
Sesaat lagi pukulan sakti akan melesat tiba-tiba
di hutan sebelah utara dan selatan terdengar suara
ringkikan kuda seperti saling bersahutan.
"Siapa...?" pikir Liris Pramawari yang terpaksa
turunkan dua tangan. Batal melepas pukulan sakti.
Telinganya yang tajam menangkap satu kejanggalan.
87 12. PERMAISURI MATARAM BARU
INI aneh lagi. Ada suara kuda meringkik tapi tidak
ada suara tapal kaki mendera tanah! Aku tadi seperti
melihat ada sambaran cahaya dari selatan..."
Liris Pramawari mengambil putusan cepat dan
tepat. Gadis ini melesat ke atas satu
pohon jati besar, berpijak di atas cabang paling tinggi,
mendekam di balik daun-daun jati yang lebar dan
lebat. Tidak menunggu lama, dari arah kiri, dari jurusan
dimana terletak bukit gersang, berkelebat satu
bayangan kuning. Di bawah pohon kemudian tampak
seorang berdestar dan berjubah kuning berdiri sambil
memegang buntungan tangan yang ternyata adalah
tangan kanannya sendiri.
Orang ini memiliki hanya satu alis, yaitu di atas mata
kiri, panjang menjulal sampai ke pipi. Di bahu si jubah
kuning memanggul seorang perempuan berambut
tergerai lepas yang wajahnya tidak bisa dilihat oleh
Liris Pramawari. Orang ini bukan lain ialah Panglima
Pawang Sela. Perempuan yang dipanggulnya adalah
Ananthawuri yang beberapa saat lalu diculiknya dari
Candi Miring. Liris memperhatikan ke arah kanan. Tadi ada
suara meringkik dari jurusan itu namun mengapa tidak
ada orang atau binatang atau mahluk lain yang
muncul" Mata dibesarkan, telinga dipasang tajam-tajam.
Di pinggir hutan Pawang Sela mencari pohon jati
kering tidak bercabang dan tidak berdaun.
"Apakah aku datang ke tempat yang salah" Aku
88 tidak melihat pohon jati yang dikatakan Junjungan
Sri Maharaja Ke Delapan."
Baru saja Pawang Sela membatin mendadak ada
suara mengiang.
"Panglima, aku ada di sini."
Pawang Sela cepat menoleh ke pinggiran hutan
sebelah kiri. Di situ semua pohon jati tumbuh
bercabang dan berdaun lebat. Namun tiba-tiba dia
melihat ada satu pohon jati tinggi besar, berkulit
kering, tidak memiliki cabang maupun ranting apa
lagi daun. Sekilas tampak ada cahaya tiga warna
memancar di batang pohon lalu lenyap.
Dengan cepat Pawang Sela melompat ke
hadapan pohon, membungkuk dalam-dalam sambil
berkata. "Junjungan Sri Maharaja Ke Delapan, saya
sudah berada di hadapanmu. Mohon maafmu, tadi
saya tidak melihat pohon jati ini..."
"Aku sengaja tadi menutup pandanganmu karena
ketika menuju ke sini aku mencium bau manusia lain
di sekitar rimba belantara Ini. Apakah ada orang yang
mengikutimu Panglima?" Suara yang bicara seolah
datang dari dalam batang jati kering.
"Saya yakin tidak..."
"Lalu mengapa aku masih mencium bau manusia
di sekitar sini?" mengatur napas demikian rupa agar
jangan sampai terdengar karena dia kini tahu orangorang
berkepandaian luar biasa tinggi di bawah sana.
satu masih belum kelihatan ujudnya yaitu yang disapa
dengan panggilan Junjungan Sri Maharaja Ke
Delapan. Saat itu karena terlindung oleh dedaunan
Liris Pramawari tidak melihat bayangan cahaya tiga
warna di batang pohon jati kering tak bercabang dan
tidak berdaun. 89 "Kalau begitu izinkan saya menyelidik... Atau
mungkin bau manusia yang Junjungan cium adalah
perempuan yang ada di atas panggulan saya saat ini?"
"Perempuan yang kau bawa berbau harum bunga
melati. Yang aku cium baunya lain..."
"Junjungan mengizinkan saya melakukan
penyelidikan?"
"Tidak perlu. Waktuku tidak lama. Mungkin saja
bau yang aku cium berasal dari beberapa manusia
yang terkurung di dalam rimba belantara. Bukankah
ada mahluk yang mempergunakan ilmu kepandaian
untuk menyesatkan orang lain hingga terkurung di
dalam rimba?"
"Saya mendengar hal itu Junjungan. Saya tahu
siapa pelakunya yaitu Arwah Ketua Penguasa Candi
Miring. Tapi saya tidak tahu siapa yang terkurung di
dalam rimba..."
"Nanti kau harus menyelidik. Kalau bisa kita
keluarkan siapa tahu mereka bisa kita jadikan mahluk
Tuman Keku. Sekarang untuk sementara lupakan
orang-orang itu. Panglima, aku melihat keadaanmu
sangat menyedihkan..."
"Mohon maafmu wahai Junjungan. Saya berhasil
menembus Candi Miring namun tidak mampu
mendapatkan dua bayi. Saya kehilangan tangan
kanan..." "Aku tahu. Pembalasan dan hukuman akan
segera jatuh pada perempuan gemuk bernama Ratu
Dhika Gelang Gelang yang telah mencelakai dirimu.
Tapi aku lebih dulu akan memanfaatkan ilmu
kesaktiannya. Sampai saat ini kita belum punya
mahluk Tuman Keku betina. Ha... ha... ha!" Mahluk
di dalam pohon kering tertawa. Panglima Pawang Sela


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

90 juga tertawa tapi tidak berani keras-keras.
"Panglima, buntungan tanganmu itu, kau sudah
menyelamatkannya. Tak ada orang yang bisa
menjajagi keberadaanmu. Tapi aku tidak terlalu yakin.
Sekarang kau tidak memerlukan lagi buntungan
tangan itu...?"
"Saya mohon petunjuk Junjungan. Apakah tangan
ini tidak bisa disambung lagi?"
"Cakar besi yang merenggut putus tanganmu
mengandung racun jahat Racun Liang Sungsum.
Kalau kutungan tangan disambung, racun akan
mengalir kembali dalam aliran darahmu dan masuk
ke dalam sungsum. Kau akan menemui ajal dalam
waktu dua hari... Kalau saja aku punya ilmu penawar
racun itu..."
"Saya mengerti," jawab Panglima Pawang Sela
pula. Lalu tidak menunggu lebih lama Panglima
Pawang Sela bantingkan buntungan tangan ke tanah
hingga amblas. "Pawang Sela, kau pembantuku yang sangat
berbakti. Walau tanganmu kini cuma satu, aku akan
menambahkan kadar cahaya tiga warna dalam
tubuhmu hingga ilmu kesaktianmu berlipat ganda."
"Terima kasih Junjungan," kata Panglima
Pawang Sela sambll membungkuk. Lalu dia menatap
ke arah pohon dan berkata. "Junjungan, saya berhasil
menculik ibu dari dua bayi keramat itu."
"Itu. pekerjaan hebatl Aku sudah melihat.
Bukankah namanya Ananthawuri. Menurut apa yang
tersurat di Empat Gading Bersurat, dia adalah gadis
pilihan Para Dewa. Dia akan tetap perawan meskipun
telah melahirkan dua bayi."
"Saya mohon petunjuk, apa yang akan saya
91 lakukan dengan gadis ini..."
"Serahkan padaku." kata suara di dalam pohon.
"Bukankah seorang Sri Maharaja memerlukan seorang
calon Permaisuri?"
Panglima Pawang Sela terkesiap mendengar
ucapan mahluk di dalam pohon jati. Dalam hati dia
membatin. "Bagaimana mungkin. Dua bayinya mau dibunuh,
ibunya mau dijadikan Permaisuri..."
92 13. KEBAJIKAN KEDUA
MATA baja putih berkilau Sri Maharaja Ke Delapan
menatap Pawang Sela.
"Panglima, apa yang ada di benakmu"!"
Panglima Pawang Sela tersentak mendengar
teguran itu. Apakah dia tahu apa yang barusan
aku ucapkan dalam hati?" pikir Pawang Sela. Cepatcepat
Panglima dari Kerajaan Mataram Baru
ini membungkuk berulang-ulang.
"Dewa Agung. Wahai Junjungan, saya tidak sadar
kalau saat ini saya tengah membawa calon Permaisuri
Kerajaan Mataram Baru..."
Di atas pohon dengan hati-hati Liris Pramawari
menyibakkan daun jati agar bisa melihat ke bawah
lebih jelas. "Permaisuri..." Mahluk sakti itu hendak menjadikan
Ananthawuri sebagai Perrhalsuri" Sang Kyang Jagad
Bathara. apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri
ini. Apa pula yang'akan terjadi kemudian...?"
"Panglima, lebih mendekatlah ke pohon. Aku
segera akan mengambil gadis itu." Sri Maharaja Ke
Delapan berkata.
Dengan cepat Panglima Pawang Sela melangkah
lebih dekat ke arah pohon jati kering lalu berlutut satu
kaki di tanah hingga tubuh dipanggulnya akan lebih
mudah untuk diambil. Cahaya tiga warna yang ada di
batang pohon berpijar terang lalu lenyap. Sekali ini
Liris Pramawari sempat melihat keberadaan cahaya
tiga warna itu.
"Cahaya tiga warna..." desis Liris Pramawari
dengari bibir bergetar. "Berarti... apakah dia
93 pemiliknya" Mungkinkah dia sang pengendali yang
pernah mencelakai pemuda bernama Sebayang
Kallgatha itu...?"
Begitu cahaya lenyap sebagai gantinya dari
dalam pohon keluar satu sosok lelaki. Rambut, wajah,
sekujur tubuh serta pakaian yang dikenakannya
memancarkan cahaya berkilat seolah dilapisi sejenis
logam putih berkilau. Bahkan dua bola matapun putih.
mengingatkan Liris Pramawari pada Resi Garipasthika.
Mahluk aneh ini mengenakan sebuah mahkota kecil
yang juga berwarna putih dan lebih menyilaukan
dibanding warna putih yang melapisi tubuhnya mulai
dari rambut sampai ke kaki termasuk pakaian ringkas
yang dikenakannya.
"Manusia baja putih...?" ucap Liris Pramawari
dalam hati penuh tanda tanya. "Seumur hidup baru
sekali ini aku melihat mahluk seperti ini. Apakah dia
manusia atau mahluk dari alam gaib atau bagaimana"
Jadi inilah ujud Sri Maharaja Ke Delapan yang selama
ini disebut-sebut keberadaannya di Bhumi Mataram.
Tidak berkumis tidak berjanggut. Lapisan putih
berkilat di wajahnya membuat sulit menduga apakah
dia masih muda atau sudah tua renta."
Mahluk yang disebut sebagai mahluk baja oleh Liris
Pramawari, menyembul keluar dan dalam batang
pohon sampai sejarak satu langkah. Dua tangan
diulurkan untuk mengambil sosok Ananthawuri dari
atas bahu Panglima Pawang Sela. Pada saat
Ananthawuri berpindah ke dalam gendongan Sri Maharaja
Ke Delapan dengan tubuh tertelentang, rambut
yang menjulal tersibak, wajah yang tadi tertutup
rambut kini tersingkap. Begitu Liris Pramawari
memperhatikan wajah gadis itu, kejutnya bunga alang
94 kepalang. Untung saja dia bisa cepat menguasai diri
hingga tidak mengeluarkan seruan bertahan.
"Dewa Jagat Bhatara! Tidak salah mataku melihat"
Wajah gadis itu mengapa sangat mirip dengan
parasku" Tidak heran kalau Arwah Ketua di Candi
Miring mengira aku ibu dua bayi itu..."
Sri Maharaja Ke Delapan tatap sesaat wajah
Ananthawuri yang berada dalam keadaan tidak sadar
karena sebelumnya telah ditotok oleh Pawang Sela.
Dua mata putih Sri Maharaja Ke Delapan berpijar
terang. "Cantik sekali. Penuh kesucian dan ketulusan.
Gadis bernama Ananthawuri. tidak salah kalau Para
Dewa mengambilmu sebagai gadis pilihan. Tidak
salah kalau aku Sri Maharaja Ke Delapan Kerajaan
Mataram Baru mengambilmu menjadi Permaisuri.
Aku sungguh berbahagia..."
Sri Maharaja Ke Delapan menatap pada Pawang
Sela. Sang Panglima cepat berdiri dari berlutut dan
berkata, "Junjungan, kebahagiaanmu menjadi
kebahagiaan saya juga."
"Panglima, aku akan membawa Permaisuriku ini
ke lapisan bumi ke tiga. Otaknya perlu dicuci terlebih
dulu. Aku menunggumu di sana. Namun sebelumnya
kau harus memeriksa tempat pemusatan Tuman Keku
dan Tuman Kean. Juga temui Arwah Hitam Pengawal
Malam. Periksa apakah dia telah melakukan tugas
seperti yang kita kehendaki... Bila keadaan sudah
cukup matang, dalam keadaan hari di muka aku akan
mengambil keputusan kapan kita melakukan
penyerbuan..."
Di atas pohon kening Liris Pramawari
95 mengernyit "Tuman Keku, Tuman Kean... Mahluk apa itu"
Penyerbuan..." Penyerbuan kemana" Siapa yang
hendak diserbu. Memangnya ada pasukan..."
"Perintah Junjungan akan saya laksanakan,"
jawab Panglima Pawang Sela. "Sebelum berpisah ada
sesuatu yang ingin saya tanyakan. Maaf kalau perilaku
saya dianggap lancang..."
"Junjungan, kita sudah menguasai perempuan
gemuk bernama Ratu Dhika Gelang Gelang. Apakah
kita juga sudah bisa menjajagi siapa adanya orang
yang menyelamatkan dua bayi dari dalam Peti Dewa"
Saya menduga ilmu kesaktian orang itu Jauh lebih
tinggi dari Ratu Dhika. Bahkan tidak berada di bawah
Arwah Ketua..."
Muka bertapis baja putih Sri maharaja Ke Delapan
sungglngkan senyum.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan manusia satu
itu Panglima Pawang Sela. Dia aku ketahui adalah
seorang Resi bernama Garipasthika. Sebelum hari
penyerbuan dia sudah berada di pihak kita. Aku tahu
apa yang menjadi kelemahannya."
Pawang Sela membungkuk.
"Syukurlah kalau begitu wahai Junjungan."
Sri Maharaja Ke Delapan anggukkan kepala. Dia
melangkah mundur. Sosok anehnya bersama
Ananthawuri yang didukungnya masuk ke dalam
batang pohon jati dan sirna dari pemandangan.
Cahaya tiga warna yang ada di pohon itu memancar
terang lalu lenyap.
Di atas pohon Liris Pramawari mengusap wajahnya
yang keringatan berulang kali.
"Sri Maharaja Ke Delapan.. Rencana penyerbuan...
96 Gadis itu hendak dijadikan permaisuri. Lebih dulu
dicuci otaknya. Tuman Keku dan Tuman Kean...
mahluk apa itu" Lalu kakekku itu hendak mereka
apakan" Resi itu dalam bahaya. Bagaimana ini" Aku
harus membatalkan niat meneruskan perjalanan
membawa golok sakti ke Gunung Mahameru. Aku
harus mencari orang tua itu. Tapi dia berada
dimana...?"
Tiba-tiba golok sakti bersarung gading yang
terselip di punggung Liris Pramawari bergetar lalu
melesat keluar. Di udara senjata sakti ini berputar tiga
kali sebelum diam mengepung dengan ujung golok
memancarkan sinar aneh dan menunjuk ke arah
selatan. Liris Pramawari yang berotak tajam maklum
apa arti kejadian ini.
"Senjata sakti, terima kasih. Kau telah memberi
petunjuk arah dimana aku bisa menemukan orang tua
bermata salju itu..." .
Liris Pramawari cepat mengambil golok sakti yang
mengapung di udara dan memasukkannya ke balik
punggung jubah putih. Tak lama setelah dilihatnya
Panglima Pawang Sela meninggalkan tempat itu maka
diapun melompat turun dari atas pohon jati. berlari
secepat angin ke arah selatan. Mengikuti petunjuk
golok sakti ke arah dimana beradanya Resi
Garipasthika. Ketika dia sampai di kaki bukit gersang dimana
Candi Minng terletak. Liris melihat Resi Garipasthika
tengah menyerahkan dua bayi pada seseorang
perempuan gemuk mengenakan kemben merah.
"Rupanya pamanku itu ada urusan dengan orangorang
Candi Miring. Sebaiknya aku tidak mengganggu.
Biar aku menunggu di balik batu besar sana..."
97 Tak lama setelah Liris duduk di balik batu besar
di knki bukit tiba-tiba Arwah Ketua muncul, langsung
mencekal leher pakaiannya. Belum sempat gadis ini
berpikir apakah dia akan melawan atau diam saja,
tahu-tahu dia sudah sampai di atas bukit.
*** "KEK. begitu kejadian yang aku alami. Kalau saya
telah bertindak salah tidak meneruskan perjalanan
tapi malah berbalik mencarimu, saya mohon maaf."
Berkata Liris Pramawan begitu selesai menuturkan apa
yang dialaminya di hutan jati.
"Tidak, kau tidak m"iakukan kesalahan. Apa yang
kau perbuat yaitu mencariku adaiah satu tindakan
yang sangat benur. Bhumi Mataram, semua tokoh baik
di Kerajaan ini tengah menghadapi satu perkara besar.
Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui atau tidak
menyadari. Kau datang padaku, memberi tahu berarti
merupakan satu kebajikan. Apakah kau tidak
menyadari...?"
"Apa maksudmu Kek?"
Resi Garipasthika tersenyum. Dua tangan diulurkan
memegang tangan si gadis. Lalu dua tangan diangkat,
didekatkan ke mata Liris.
"Kau lihat sendiri..."
Liris Pramawari membuka matanya lebar-lebar.
Dua tangan yang sebelumnya mengelupas tidak
berkulit tidak berdaging sampai sebatas lengan kini
tampak pulih utuh sampai ke ujung kuku.
Liris Pramawari terpekik gembira langsung
memeluk si orang tua sambil menyebut Yang Maha
Kuasa berulang-ulang.
98 "Kek. saya merasa tidak berbuat kebajikan apaapa..."
Resi Pramawari elus punggung si gadis.
"Kau merasa begitu tapi Para Dewa lebih
mengetahui dan selalu berlaku adil. Apa yang telah
kau lakukan, yaitu mencariku dan menceritakan apa


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang terjadi di hutan jati merupakan satu kebajikan
besar. Karena dengan cara itu kau telah memberi tahu
bahwa Bhumi Mataram tengah menghadapi satu
perkara bahaya sangat besar. Kau telah membantu
usaha menyelamatkan Kerajaan. Kini menjadi
kewajibanku dan para tokoh baik di Mataram untuk
mengambil tindakan... Kalau saja Arwah Ketua mau
bersikap bersahabat dengan diriku, sebenarnya aku
dan dia bisa bekerjasama bahu membahu menyelamatkan
Kerajaan. Sayang... sayang sekali. Dia justru
curiga padaku. Dia hanya menurutkan kata hati
sendiri. Pikiran yang jernih terkadang tidak dipakai,
dilupakan begitu saja. Sayang, padahal aku tahu dia
mahluk baik."
Resi Garipasthika lepaskan pelukan dua tangan
si gadis lalu berkata, "Liris kalau tidak salah aku
mengingat riwayat dirimu, berarti sampai saat ini kau
sudah berbuat dua kebajikan besar. Kau masih harus
melakukan satu kebajikan besar lagi hingga hukuman
Dewa hapus atas dirimu..."
"Kek, saya tidak mengkhawatirkan diri saya. Saat
ini saya sembuh. Saya berterima kasih pada Para
Dewa dan dirimu. Saya tahu, dalam beberapa hari di
muka tangan saya kembali akan mengelupas lagi. Kek,
saya saat ini yang saya khawatirkan justru adalah
dirimu. Ingat ucapan orang bertubuh baja putih itu.
Dia tahu keadaan dirimu. Termasuk kelemahanmu.
99 Mereka hendak mencelakanmu Kek. Mereka juga
hendak mengerjai Ratu Dhika."
"Aku tahu. Mereka hendak mencelakai semua
orang yang tidak sehaluan dengan mereka, apalagi
yang dianggap bisa menghalangi rencana keji mereka.
Termasuk dua bayi suci keramat yang tidak tahu apaapa
itu. Mahluk baja putih itu. yang dipanggil Sri
Maharaja Ke Delapan, dia biang keladi semua
perbuatan dan rencana jahat ini. Dia juga yang
menjadi penguasa dan pemilik ilmu yang
memancarkan cahaya tiga warna. Kita harus bisa
menghancurkan sumber ilmunya. Tapi yang harus
dilakukan lebih dulu adalah mencari tahu dimana
sarang kediamannya."
"Saya mendengar dia menyebut satu tempat di
lapisan bumi ke tiga..."
"Lapisan bumi terlalu luas. Tidak mungkin
mencarinya tanpa kepastian letak keberadaannya. Jika
saja Arwah Ketua mau kuajak bekerja sama dia bisa
melesat masuk ke dalam bumi. Mencari tahu.
"Bagaimana kalau kita menemui Arwah Ketua
kembali di Candi Miring..."
"Aku tengah memikirkan hal itu. Hanya saja aku
lebih banyak khawatir dari pada mengharap...' jawab
Resi Garipasthfka yang rupanya sudah tahu betul
seluk beluk sifat peradatan Arwah Ketua.
"Mereka juga saya dengar menyebut Tuman
Keku dan Tuman Kean. Kau tahu mahluk apa itu Kek?"
bertanya Liris.
'Kau pernah diserang mahluk bertubuh manusia
berkepala anjing. Benar?"
"Benar Kek"
"Setahuku itulah mahluk bernama Tuman Kean.
100 Tubuh manusia Kepala Anjing. Ada yang menciptakan
untuk satu keperluan besar. Jangan-jangan ini ada
sangkut pautnya sama Sri Maharaja ke Delapan. Kalau
Tuman Keku aku masih belum paham. Rasanya
manusia juga tapi berkepala binatang. Entah apa.
Dalam waktu tidak lama kita pasti akan mengetahui."
"Kek. sebelum orang yang menculik Ananthawuri
dan mahluk aneh putih itu muncul, saya mendengar
ada suara seperti kuda meringkik..." Memberi tahu
Liris Pramawari.
"Kalau begitu Tuman Keku bisa saja berarti
Tumbuh Manusia Kepala Kuda."
Liris tercengang lalu bertanya lagi.
"Kek, mengapa mahluk berlapis baja putih
menyebut diri dan dipanggil Sri Maharaja Ke Delapan.
Sungguh sangat takabur..."
Resi Garipasthika menatap ke langit bersih di atas
hutan jati. "Itu yang sejak beberapa waktu lalu menjadi
tanda tanya dalam diriku. Saat ini dengan petunjuk
Dewa Agung, setelah mendengar penuturanmu, aku
sudah bisa meraba. Raja yang memerintah di Mataram
sekarang ini adalah Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
Dyah Lokapala. Merupakan Sri Maharaja ke tujuh
dalam jajaran Raja-raja Kerajaan Mataram. Mahluk
baja putih itu bermimpi akan menjadi pengganti pada
urutan Sri Maharaja Ke Delapan dengan cara
merampas tahta. Melakukan penyerbuan... Mereka
pasti akan menyerbu Kotaraja..."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Kek"
Apakah saya harus kembali menempuh jalan ke
Gunung Mahameru untuk menyerahkan golok sakti
pada Resi Pewaris di sana?"
101 "Keponakanku, untuk sementara tugas itu bisa
kau tunda dulu. Yang harus kau lakukan saat ini
adalah mencan kucing yang kau dengar suara
mengeongnya tadi sebelum dua mahluk aneh itu
muncul di pinggiran hutan..."
"Kucing" Untuk apa di cari Kek?"
"Binatang itu bisa membantu kita melebur
tenung yang menyirap beberapa orang yang ada di
dalam rimba belantara. Mereka orang-orang pandai.
Kita perlu bantuan mereka untuk menyelamatkan
Kerajaan sebelum mereka di masukan ke dalam
kelompoknya oleh Sri Maharaja Ke Delapan. Tapi
tindakan itu agaknya harus tertunda beberapa waktu.
Aku punya firasat Arwah Ketua dan perempuan gemuk
yang bernama Ratu Dhika tengah melakukan sesuatu
yang sakral di Candi Miring. Kita tidak boleh
mengganggu mereka..."
"Kalau itu perintah darlmu. akan saya lakukan Kek.
Lalu Kakek sendiri mau melakukan apa atau mau
ke mana?" Resi Garipasthika tidak menjawab. Dia
menyerahkan tongkat yang ada lapisan putih dan
mengepulkan hawa dingin pada Liris Pramawari.
Walau merasa heran si gadis menerima juga tongkat
itu dan memegangnya di tangan kanan.
"Kek, dulu kau menyerahkan golok sakti padaku.
Lalu minta digendong, sekarang kau menyerahkan
tongkat sakti. Apakah sekarang kau juga mau minta
digendong.?"
Si Mata Salju tertawa. Belum lenyap gema tawa
itu, tubuhnya berubah menjadi asap putih dingin, lalu
lenyap masuk ke dalam tongkat.
"Aku malas berjalan, apalagi lari. Kau saja yang
102 membawa aku kemana-mana..." Terdengar suara
Sang Resi dari dalam tongkat.
Begitu si orang tua sakti masuk ke dalam tongkat
langsung saja tangan dan bahu kanan Liris Pramawari
tertarik miring karena tongkat itu serta merta menjadi
sangat berat hingga dua kakinya tertekuk dan
akhirnya jatuh terduduk di tanah.
Liris Pramawari kerahkan tenaga luar dalam,
berusaha berdiri sambil mengangkat tongkat. Tapi
sampai tubuhnya keluar keringat dan rahang
menggembung dia tidak mampu melakukan. Malah
kembali jatuh terduduk di tanah! Karena kehabisan
akal gadis Ini akhirnya duduk menjelepok lalu tertawa
geli. "Keponakanku, mengapa kau tertawa" Anak
perawan tidak baik tertawa di hutan belantara. Apa
kau mau menyuruh datang semua dedemit hutan..."
Keluar suara dari dalam tongkat.
"Ih...jangan bicara membuat aku takut Kek."
"Lalu apa tongkatku berlaku nakal menggelitikmu?"
"Kek tongkatmu tidak nakal. Tapi tongkat ini
kenapa jadi berat begini. Aku tidak mampu mengangkatnya!"
jawab Liris Pramawuri.
"Oala... Padahal sudah satu minggu ini aku puasa!
Ah. pasti tua bangka ini masih banyak dosa! Ha...
ha... ha!" Terdengar suara sang resi dari dalam
tongkat disusul suara tawa. "Sekarang coba kau
angkat lagi. Apa masih berat"!"
Liris mencoba. Dia jadi terkejut sendiri. Tongkat
putih mengepulkan hawa dingin itu mendadak bukan
saja berubah sangat ringan. Tapi juga menariknya ke
depan hingga untuk mengikuti dia terpaksa harus
berlari cepat, makin cepat dan tidak terasa dia sudah
103 dua kali mengelilingi rimba belantara hutan jati di
kaki bukit itu!
"Meong..."
Sekonyong-konyong terdengar suara kucing
mengeong! 104 14. MENJEJAK BUMI MENERAWANG LANGIT
ILMU Menjejak Bumi Menerawang Langit pada masa
itu hanya dimiliki oleh Arwah Ketua. Dengan ilmu Ini.
berdasarkan bagian tubuh atau pakaian dari seseorang
bisa dijajagi dimana beradanya orang bersangkutan
dan dalam waktu beberapa kejapan mata saja bisa
didatangi sekalipun orang itu berada di dalam perut
bumi, di goa batu di dalam gunung atau di dasar laut.
Konon ketika pada mulanya Arwah Ketua memohon
untuk mendapatkan ilmu tersebut yang dilakukan
melalui doa dan tapa semedi Para Dewa tidak
mengabulkan Arwah Ketua kemudian melakukan samadi alam
terbuka di situ bukit di Gurun Pasir Dieng. Tanpa
pakaian selembarpun Arwah Ketua melakukan
samadi. Siang kepanasan membuat tubuhnya seolah
leleh oleh terik panas sinar matahari sedang malam
kedinginan laksana dikubur di dalam gundukan es!
Setelah memasuki hari ke empat puluh dimana
keadaan Arwah Ketua tidak lebih dari jerangkong
hidup dan siap sekarat, berkat keteguhan hati serta
niat bahwa ilmu kesaktian itu hanya akan
dipergunakan untuk kebaikan maka Para Dewa
akhirnya mengabulkan tapa samadi Arwah Ketua.
Kepadanya diberikan ilmu sakti mandraguna bernama
Menjejak Bumi Menerawang Langit.
Ratu Gelang Gelang yang sejak tadi berdiam diri
meletakkan dua tangan di depan mata. Tapi dia tidak
melihat apa-apa. Semua serba gelap gulita. Dia
merasa seperti berada dalam satu liang yang sempit.
Ketika tangan disapukan ke kiri dan ke kanan dia
105 menyentuh tanah lembab!
"Rakanda, kita berada dimana?" bisik Ratu Dhika
yang dia tahu berada di sampingnya tapi tidak dapat
melihat sosoknya.
"Kita sudah di dalam tanah. Jangan ada rasa
khawatir. Bernafas seperti biasa. Kita akan segera
mulai bertapa, memohon pertolongan Dewa Agung.
Waktu kita tidak lama. Sebelum matahari mencapai
titik tertingginya di luar sana. tapa kita harus sudah
selesai. Sekarang ulurkan tanganmu ke samping. Jika
kau menyentuh bahuku, bergeraklah. Pindah ke
sebelah belakang. Dua telapak tanganmu letakkan di
punggungku. Alirkan seluruh tenaga dalam dan hawa
sakti yang kau miliki ke tubuhku. Kosongkan pikiran.
Pada saat samadi berlangsung, kedua mataku akan
menjadi buta. Maka matamu jangan sekali-kali
dipejamkan karena kau yang akan melihat pertanda
yang akan diberikan oleh alam gaib."
Ratu Dhika Gelang Gelang lakukan apa yang
dikatakan Arwah Ketua. Ketika tangan kanan diulurkan
ke samping, dia menyentuh bahu Arwah Ketua. Lalu
dengan cepat dia bergeser duduk bersila di sebelah
belakang, dua tangan ditempelkan di punggung
Arwah Ketua. "Radinda, selama samadi berlangsung kau tidak
boleh mengeluarkan suara sedikitpun. Kecuali jika
kau bertanya atau kau telah melihat sesuatu maka
kau harus memberi tahu kepadaku..." .
"Aku mengerti Rakanda," bisik Ratu Dhika
Gelang Gelang. Suaranya masih menyatakan ada
ketegangan dalam dirinya.
Dari kepalan tangan kirinya Arwah Ketua menebar
segenggam tanah bercampur darah yang berasal dari
106 luka buntungan tangan kanan Panglima Pawang Sela.
"Kita mulail" bisik Arwah Ketua. Maka saat itu juga
meski kedua mata nyalang namun seandainya ada
sinar terang di hadapannya dia tidak akan mampu
melihat. Di luar, sang surya perlahan-lahan bergerak
mendekati titik tertinggi di pertengahan siang. Di
dalam liang tanah Arwah Ketua dan Ratu Dhika samasama
mandi keringat. Satu-satunya suara yang
terdengar adalah hembusan napas mereka. Sepeminuman
teh berlalu. Tiba-tiba ada getaran di
empat dinding, lantai dan bagian atas liang tanah.
Lalu Ratu Dhika melihat ada satu titik kecil berwarna
hitam di kejauhan. Perlahan-lahan titik ini bergerak


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendekat dan saat demi saat berubah besar. Pada
waktu mencapai seukuran kepalan titik hitam
bergerak melebar membentuk tabir empat persegi. Di
kehitaman tabir tiba-tiba muncul sebatang pohon jati
kering, tinggi besar namun tidak bercabang dan tidak
beranting, juga tidak memiliki daun selembarpun.
Dari getaran telapak tangan Ratu Dhika yang
menempel di punggungnya Arwah Ketua maklum
kalau gadis gemuk itu telah melihat sesuatu.
"Katakan apa yang kau lihat..." ucap Arwah Ketua
yang dari suaranya jelas dia juga tidak mampu
menekan rasa tegang.
"Aku melihat pohon jati besar.Tinggi tak bercabang,
tidak ada daun..."
"Hanya pohon?" tanya Arwah Ketua.
"Betul, hanya pohon."
"Aneh... kau sudah mengerahkan seluruh tenaga
dalam dan hawa sakti?"
"Nyawaku sudah seperti mau putus..." jawab
107 Ratu Dhika. "Apa yang terjadi..." Mungkin ada satu kekuatan
dahsyat melindungi manusia berjubah kuning itu
hingga dia tidak muncul dalam tabir samadi..." Arwah
Ketua berpikir keras. Dia ingat sesuatu, "Radinda
Ratu. coba kau perhatikan lagi. Beri tahu jika ada
perubahan yang kau lihat."
Setelah berkata begitu Arwah Ketua ulurkan
tangan kiri yang kini berada di sebelah kanan
tubuhnya. Di dalam gelap dia kumpulkan kembali
tanah mengandung darah yang tadi ditebar. Begitu
digenggam tanah dalam genggaman memancarkan
cahaya redup. Saat itu juga di sebelah belakang Ratu
Dhika membuka mulut
"Rakanda. aku melihat ada cahaya tiga warna
pada batang pohon Jati kering..."
"Jangan berkesip... Kita hampir dapat menjajagi
manusia berjubah kuning itu. Wahai Dewa Agung,
tolong kami..." ucap Arwah Ketua. Sesaat kemudian
Ratu Dhika tiba-tiba melihat seorang berjubah kuning
bertangan buntung yang memanggul seorang
perempuan berambut panjang di bahu kirinya.
"Aku melihat orang berjubah kuning itu. Orang
yang mengaku Panglima Pawang Sela utusan Sri
Maharaja Ke Delapan. Dia berdiri di depan pohon. Dia
seperti bicara dengan seseorang. Tapi lawan
bicaranya tidak kelihatan... Juga tidak terdengar
suaranya. Aku hanya melihat sebentuk cahaya putih
menyilaukan dari arah pohon jati. Di bahunya aku
jelas melihat Ananthawuri yang diculik dari candi."
Tubuh Arwah Ketua bergetar.
"Orang yang bicara dengan si jubah kuning itu
pasti memiliki kekuatan dahsyat atau dilindungi oleh
108 cahaya tiga warna hingga kau tidak mampu melihat
dan mendengar suaranya. Perhatikan dan dengar
baik-baik setiap ucapan Pawang Sela..."
"Orang itu memanggil lawan bicaranya dengan
kata-kata Junjungan, Sri Maharaja Ke Delapan..."
"Dewa Jagat Bhatara Dia rupanya."
"Rakanda, si jubah kuning menyerahkan
Ananthawuri pada orang yang tidak kelihatan..."
"Radinda, kau tahu dimana kira-kira mereka
berada" Kau mengenali keadaan sekitar pohon
Jati?" "Setahuku hutan jati terdekat ada di selatan kaki
bukit" "Benar, kita akan segera keluar dari dalam tanah.
Aku akan memasuki alam gaib dan melesat ke
kawasan hutan jati. Kau cepat mencari gadis
berpakaian putih yang wajahnya mirip Ananthawuri..."
"Aku sudah tidak sabar cepat-cepat keluar dari
sini. Apakah samadi kita sudah selesai Rakanda.
Olala...tunggu...!"
"Ada apa Radinda Ratu?"
"Aku... aku melihat diriku dalam tabir hitam itu...
Cahaya tiga warna di keningku memancar terang
Rakanda. kepalaku mendadak sakit sekali. Seperti
mau pecah..."
"Ada orang hendak mencelakai dirimu..."
"Rakanda.. aku melihat mahluk aneh. Sekujur
tubuhnya diselubungi benda putih berkilat seperti
timah, mungkin baja. Ada mahkota berkilau di atas
kepalanya. Mahluk ini mengulurkan tangan menarik
tanganku. Rakanda aku... Tubuhku tertarik...!" '
"Dewa Jagat Bathara! Radinda. orang hendak
109 mengambil dirimu dari jauh. Kau harus cepat keluar
dari sini. Ambil ini cepat telan!"
Arwah Ketua seperti mencongkel sesuatu dari
dalam dadanya ialu benda bercahaya hijau bergemerlap
ini dimasukkan ke dalam mulut Ratu Dhika
Gelang Gelang yang saat itu menghuyung ke kanan
seperti ditarik orang.
"Telan!"
"Rakanda kau memberikan batu Asmasewu
padaku?" Ratu Dhika tidak percaya.
"Saat ini hanya batu sakti ini yang bisa kuberikan
untuk menyelamatkan dirimu. Lekas pergi! Cari gadis
berkerudung putih!"
"Tapi bagaimana dengan dirimu"!"
"Jangan pikirkan akui Batu itu akan kembali
padaku jika kau sudah selamat dari mara bahaya!
Cepat telan!"
Tidak ragu lagi Ratu Dhika segera menelan batu
sakti bernama Asmasewu.
Tanpa berpaling ke belakang Arwah Ketua lalu
hunjamkan dua sikutnya ke belakang.
"Bukk! Bukkk!"
Dua sikut menghantam tubuh kiri kanan Ratu
Dhika Gelang Gelang hingga dia menjerit keras
merasa dirinya seolah luluh lantak! Saat itu juga tubuh
gadis gemuk ini melesat keluar dari dalam tanah. Di
udara siang benderang tubuhnya melesat ke arah
barat hutan jati. Sekejapan kemudian Arwah Ketua
telah keluar pula dari dalam tanah, melayang ke ujung
utara hutan jati dan melesat turun di satu tempat
yang bukan lain adalah Lembah Hantu!
TAMAT 110 Sri Maharaja Ke Delapan berusaha menculik Ratu
Dhika Gelang Gelang secara gaib untuk dimanfaatkan
ilmu kesaktiannya lalu dihabisi. Mampukah batu sakti
Asmasewu menyelamatkan"
Bagaimana dengan Pangeran Bunga Bangkai dan
dua sahabatnya yang masih terkurung di dalam rimba
belantara karena tenungan Arwah Ketua"
Bisakah Ananthawuri lepas dari tangan Sri Maharaja
Ke Delapan yang hendak mengambilnya
menjadi Permaisuri"
Siapakah orang tua berpakaian hitam dan meniup
seruling di tangga Candi Miring"
Ikuti Episode selanjutnya berjudul:
PERANG ARWAH DI BHUMI MATARAM
Pedang Dan Kitab Suci 16 Prabarini Karya Putu Praba Darana Gerombolan Setan Merah 2
^