Pencarian

Sri Maharaja Ke Delapan 1

Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan Bagian 1


Sri Maharaja ke Delapan
Karya : Bastian Tito
2 Panglima Pawang Sila melangkah lebih dekat
ke pohon jati lalu berlutut satu kaki di tanah.
Dari dalam pohon kaluar satu sosok lelaki. Rambut
wajah, sekujur tubuh serta pakaian memancarkan
cahaya putih seolah dilapisi logam berkilat.
Mahluk aneh ini mengenakan sebuah mahkota
kecil yang juga berwarna putih dan menyilaukan
Inilah sosok SRI MAHARAJA KE DELATAN
Untuk sesaat dia tatap wajah Ananthawuri yang
berada dalam keadaan tidak sadar. Dua mata
putih Sri Maharaja Ke Delapan berpijar terang
"Cantik sekali. Penuh kesucian dan ketulusan
Gadis bernama Ananthawuri. tidak salah kalau
para Dewa mengambilmu sebagai gadis
pilihan. Tidak salah kalau aku Sri Maharaja ke
Delapan Kerajaan Mataram Baru mengambilmu
menjadi Permaisuri...."
3 1.MENAHAN ANGIN MENGGANTUNG ARWAH
MEMBERI nasihat dengan tulus kepada orang lain
adalah satu hal terpuji. Namun ada kalanya orang
yang dinasehati menerima budi baik orang lain itu
dengan memandang remeh bahkan kemarahan.
Mungkin karena merasa apa yang diperbuatnya
selama ini bukan satu keburukan. Bisa juga yang menerima
nasihat menganggap diri lebih baik dari pada
orang yang menasehati. lebih tinggi kedudukannya.
Inilah yang terjadi dengan Arwah Muka Hijau.
Saat itu malam menjelang pagi. Dia duduk di tangga
sebuah candi kecil di plered. Melalui satu kekuatan
gaib yang menolongnya dia berhasil lolos dari bagian
bawah Candi Miring dimana dia tengah menjalani
hukuman dijadikan ganjalan selama seratus tahun
oleh Arwah Kelua. Dibimbing petunjuk suara gaib
Arwah Muka Hijdu datang ke candi di Pieret.
Amarahnya masih belum surut sehabis mengusir
mahluk alam roh Dhana Padmasutra yang berusaha
menasihati agar dia bertobat atas semua dosa
perbuatan di masa lalu dan minta ampun pada Arwah
Ketua yang telah dikhianatinya.
Belum lama sosok samar Dhana Padmasutra lenyap dari pemandangan mendadak satu
gelombang angin menderu dahsyat datang menghantam,
membuat Arwah Muka Hijau tergontai-gontai.
Beberapa bagian candi yang memang sudah lapuk
runtuh berantakan. Delapan keping batu Lingga yang
di dudukinya mencelat mental ke udara. Arwah Muka
Hijau cepat berdiri.
"Sang penjemput rupanya sudah datang..." pikir
Arwah Muka Hijau, dia cepat berdiri walau tubuhnya
4 tergoncang keras oleh tiupan angin. "Tapi sesuai
petunjuk mengapa tidak ada cahaya tiga warna keluar
dari dalam tanah...?"
Selagi Arwah Muka Hijau berusaha mengimbangi
diri agar tidak tersapu jatuh oleh tiupan
angin keras tiba-tiba dia mendengar suara mengorok
disertai hembusan nafas memerihkan mata. Ketika
memandang ke depan dia melihat satu sosok besar
dengan ketinggian hampir dua kali candi berdiri
berkacak pinggang di hadapannya. Mahluk raksasa
penuh bulu. berkepala botak bercula memancarkan
cahaya merah ini, memiliki sepasang mata putih. Bola
matanya hanya merupakan titik hitam kecil.
Mengenakan jubah biru dengan dada tersingkap.
Inilah sosok dahsyat Arwah Ketua, penguasa
Candi Miring di bukit gersang yang dikenal sebagai
candi angker di Bhumi Mataram. Sesaat Arwah Muka
Hijau tergetar juga hatinya namun karena percaya diri
bahwa dia mendapat perlindungan dari satu kekuatan
melebihi kekuatan Arwah Ketua maka dia berdiri di
tangga candi, balas berkacak pinggang sambil mulut
berucap lantang.
Ujud wajah Arwah Muka Hijau selain aneh juga
mengerikan. Dia tidak memiliki mata. hidung, mulut.
maupun telinga. Pada bagian yang seharusnya
terletak hidung.mulirt, mata dan telinga hanya
terdapat sayatan tipis dijahit benang hitam kasar.
Selain itu wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan
cacat guratan luka.
"Arwah Ketua! Cahaya merah yang memancar
dari tanduk di kepalamu serta sorotan sepasang mata
putihmu menyatakan kau datang tidak membekal niat
baik. Walau kau telah menyiksaku dan menjadikan
5 diriku ganjalan dinding Candi Miring, tapi mengingat
hubungan kita di masa lalu, saat ini aku masih mau
berlaku bijaksana. Tinggalkan tempat ini dan jangan
pernah berani berada di dekatku!"
Sepasang mata putih mahluk raksasa Arwah
Ketua penguasa Candi Miring di Bhumi Mataram
berkilat-kilat, hidung mendengus menyemburkan
tiupan nafas keras memerihkan mata. Di dalam hati
Arwah Ketua berkata. "Mahluk satu ini, kalau dia
berani bersikap dan bicara seperti itu padaku berarti
ada sesuatu yang diandaikannya! Aku tidak melihat
ada seseorang di sekitar sini. Berarti andalan ada di
dalam tubuhnya.
"Arwah Muka Hijau ! Jangan bicara soal
kebijaksanaan di hadapanku. Karena selama ini kau
hanya mendapat petunjuk dari setan, tidak pemah
mendapat petunjuk dari para Dewa. Apakah kau
berlaku bijaksana ketika kau menghianatiku, mencuri
Gading Bersurat Pertama) Bagaimana kau bisa
membusung dada bicara soal kebijaksanaan"!" Suara
Arwah Ketua meledak-ledak karena menahan amarah.
Lalu dia menyambung ucapan.
"Mahluk yang terlahir dengan nama Gendadaluh
Puluhan tahun kita bersahabat. Puluhan tahun kau
menjadi pembantuku. Puluhan tahun kita sama-sama
mengabdi pada kerajaan Mataram. Namun kau
mengkhianati diriku. Sekarang kau bicara sombong
di hadapanku! Dosa kejahatanmu setinggi langit
sedalam kerak bumi! Malam ini aku menemukan
Arwah Gelap Gulita di halaman selatan Candi Miring
dalam keadaan tak bernyawa. Tewas mengenaskan!
Tubuh tercabik-cabik. Kulit dan daging berwarna
Hijau! Aku yakin dia telah jadi korban keganasan Pisau
6 Terbang Racun Lumut Hijau. Siapa lagi pembunuhnya
kalau bukan kaul Karena hanya kau yang memiliki
ilmu kesaktian itu! Apakah itu yang kau sebut
kebijaksanaan! Itu justru adalah satu kebiadaban!"
"Arwah Ketua syukur kalau kau telah
mengetahui. Dengar, aku Arwah Muka Hijau hanya
bicara satu kali. Aku meminta kau pergi dengan segala
hormat Sayang kau tidak mau mendengari Katau kau
mau memilih mati seperti pembantumu itu. aku akan
memberi jalan!"
Rahang Arwah Ketua menggembung. Dalam
menahan amarah dia masih bisa tertawa bergelak.
"Kesombonganmu mulai dari ubun-ubun sampai
ke dubur! Aku ingin melihat kau mau melakukan apa
terhadapku!"
Arwah Muka Hijau menyeringai. Dua telapak
tangan saling digosok, mulut merapal. Sementara
merapal dari mulut itu keluar kepulan asap hijau. Lalu
dengan gerakan kilat dua tangan dipukulkan ke depan.
Kejap itu juga puluhan benda berbentuk pisau
bermata dua tak bergagang berwarna hijau lumut
melesat dari celah tangan. menderu dalam kegelapan
malam menyerang Arwah Ketua. Dalam menyerang.
Puluhan pisau ini tidak melesat lurus, tapi berputar
seperti baling-baling, mengeluarkan suara bersiur
nyaring seolah titiran tertiup angin kencang. Gerak
putar pisau maut inilah yang bisa membuat tubuh
lawan menemui ajal dalam keadaan tercabik-cabik!
Sedang kulit dan sebagian daging akan berubah
menjadi hijau akibat racun lumut
Mahluk raksasa penguasa Candi Miring Arwah
Ketua sudah mengetahui sampai dimana kehebatan
ilmu lawan yang disebut Pisau Terbang Racun Lumut
7 Hijau. Bagi Arwah Gelap Gulita pembantunya yang
tewas memang belum memiliki tingkat kepandaian
yang bisa menyelamatkan diri dari serangan Ilmu ini.
Tapi bagi dirinya, serangan Arwah Muka Hijau bukan
satu hal yang menakutkan. Sambil dorongkan dua
tangan ke bawah, Arwah Ketua meniup
'Wusssl Puluhan pisau terbang berwarna hijau bermata
dua mengandung racun mematikan, menderu runtuh
ke bawah, balik menyerang Arwah Muka Hijau.
Arwah Muka Hijau bersaru kaget. Secepat kilat
dia melompat ke belakang sejauh satu tombak hingga
punggungnya membentur dinding candi. Dua tangan
kebutkan ujung lengan jubah. Dua larik sinar hijau
seperti kipas menebar menderu menangkis senjata
yang hendak makan tuannya. Dari rambut yang lurus
kaku ceperti lidi ikut menderu larikan-larikan sinar
hijau. Puluhan pisau bermata dua mental.
Melihat hal ini sambil menyeringai Arwah Ketua
cepat angkat tangan kanan ke atas. Sinar hijau, lebih
pekat dari hijaunya pisau-pisau terbang memancar
keluar dari telapak tangan. Puluhan pisau walau
masih berputar dan mengeluar suara bersiur seperti
titiran namun semuanya kini menggantung di udara!
Tidak mampu bergerak apa lagi meneruskan serangan
maut! Tampang hijau Arwah Muka Hijau berubah
menjadi kehitaman. Rambut hijau yang tegak lurus
kaku seperti lidi bergetar panas. Inilah saiu pertanda
bahwa mahluk ini tengah berada dalam ketakutan luar
biasa. "Dia mengeluarkan Ilmu Menahan Angin
Menggantung Arwah," ucap Arwah Muka Hijau dalam
8 hati. "Jika dia menggerakkan tangan, puluhan pisau
itu akan kembali menyerang dari arah yang tidak
mungkin aku hindari semuanya! Celakai Aku harus
mencari akali Mana kekuatan yang melindungi dirikul
Mana sang penjemput!"
Tiba-tiba Arwah Muka Hijau jntuhkan diri, kepala
bersujud di tanah namun dua mata mengintai mencari
kesempatan. "Arwah Ketuai Aku yang hina mohon
pengampunan. Aku menyatakan bertobat! Aku..."
Mendadak ada suara kuda meringkik menyentak
udara malam menggetarkan tanah. Lalu menyusul
suara bentakan lantang memotong ucapan Arwah
Muka Hijau. "Dia bukan Dewa penguasa Alam Raya! Mengapa
minta ampun dan bertobat padanya! Hanya pada Sang
Junjungan Mataram Baru kita semua patut tundukan
Kepala!" Arwah Ketua dan Arwah Muka Hijau terkejut.
Keduanya sanm-sama berpaling ke arah orang
barusan hadir di tempat itu sambil mengeluarkan
bentakan. 9 2. MEMBANTAI RAGA MENGHISAP NYAWA
ARWAH Muka Hijau punya dugaan cepat dan tepat
Selagi Arwah Ketua perhatikan mahluk yang datang,
dia sudah melompat ke samping mahluk itu.
Sementara puluhan pisau mata dua lumut hijau masih
menggantung di udara berputar-putar mengeluarkan
suara nyaring bising, masih berada dalam kuasa
kekuatan ilmu kesaktian Arwah Ketua.
Walau terkejut namun Arwah Ketua tetap berlaku
tenang dan waspada. Melihat sosok mahluk yang
muncul hatinya berdetak jangan-jangan mahluk ini
datang sebagai tuan penolong Arwah Muka Hijau.
Dengan kata lain mahluk ini adalah sahabat bekas
pembantunya itu.
"Mahluk salah ujud!Aku belum pernah melihat
sebelumnya!" membatin Arwah Ketua, memandang
dengan sepasang mata tak berkedip.
Sebaliknya Arwah Muka Hijau dalam kejut diamdiam
merasa gembira. Hatinya berucap. Dia melirik
ke samping. "Mahluk aneh ini pasti yang di maksud dalam
petunjuk berupa bisikan yang sampai ke telingaku.
Orang yang di katakan akan datang menjemputku.
Tapi mengapa ujudnya begini rupa" Lalu mengapa
tidak ada cahaya tiga wama seperti yang dikatakan ?"
Mahluk yang muncul di hadapan Arwah Ketua
dan Arwah Muka Hijau bertubuh manusia, berkepala
dan berkaki kuda berbulu putih.
"Jika manusia mengapa berkepala dan berkaki
kuda. Kalau kuda mengapa bertubuh seperti
10 manusia"!" pikir Arwah Muka Hijau.
Dipandangi Arwah Muka Hijau dari samping,
manusia berkepala kuda berkata tanpa alihkan mata
dari Arwah Ketua.
"Arwah Muka Hijau", jangan ada keraguan di


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hatimu! Aku diutus Untuk menjemputmu! Aku punya
kewajiban menyelamatkanmu, itu tugas utamaku. Tapi
kalau terpaksa mungkin aku sekalian akan
menamatkan riwayat mahluk raksasa yang sudah
terlalu lama berkeliaran di Bhumi Mataram! Tubuhnya
sudah bau kerak neraka. Saatnya disingkirkanl"
Mendengar ucapan mahluk berkepala kuda Arwah
Muka Hijau kini merasa yakin sekali kalau mahluk
itulah memang sang penjemput yang ditunggunya.
Maka diapun memutar tubuh menghadap ke arah
Arwah Ketua dan berdiri dengan berkacak pinggang.
Arwah Ketua mendengus. Membuat dua mahluk
di depannya harus menahan rasa perih pada mata
masing-masing. '"Hebat! Mahluk salah ujudl Rupanya kau
berkerabat dan berserikat dengan kepompong yang
keluar dari dubur iblis! Pantas bau tubuhmu tidak jauh
dari bau pantat!" Habis berucap begitu Arwah Ketua
tertawa gelak-gelak hingga pohon bergoyang-goyang
candi berderak-derak dan tanah bergetar. Lalu dia
membentak. "Katakan siapa kau adanya dan siapa
yang mengutusmu"!"
"Namaku Abdika Brathama! Aku berasal diri
segala tempat dan waktu! Jika kau ingin tahu siapa
yang mengutusku, apakah kau punya kemampuan
mengikutiku masuk ke dalam lapisan bumi Ketiga?"
Mahluk bertubuh manusia berkepala dan berkaki
kuda dan mengaku bernama Abdika Brathama seperti
11 diketahui adalah anak buah Panglima Pawang Sela.
pembantu utama dari orang yang mereka panggil
sebagai Sri Maharaja Ke Delapan atau Sri Maharaja
Mataram Baru. Selama Ini dia berada di Kotaraja
untuk memata-matai keadaan di sana terutama
gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pasukan
Kerajaan. Karena mendapat tugas dari Sang Panglima
untuk menjemput Arwah Muka Hijau maka diapun
meninggalkan Kotaraja menuju Plered. Dia tidak
menyangka kalau aakn kedahuluan oleh Arwah Ketua.
Walau ujud Arwah Ketua besar dan tinggi seperti
raksasa namun Abdika Brathama sama sekali tidak
gentar. Merasa ditantang oleh ucapan mahluk berkepala
dan berkaki kuda yang dalam kelompoknya dikenal
dengan nama Tuman Kcoku (Tubuh Manusia Kepala
Kuda) Arwah Ketua mendengus marah. Hembusan
napasnya membuat Arwah Muka Hijau dan Abdika
Brathama sama-sama keperihan mata masing-masing.
Keduanya bersurut mundur sambil siap melepas
serangan. "Wusssl"
Sosok Arwah Ketua lenyap dari hadapan kedua
orang itu. Di tanah di hadapan mereka tampak satu
lobang kecil mengepulkan asap kebiru-biruan Ketika
lobang keecil dan asap lenyap tiba-tiba di belakang
mereka kembali terdengar suara wuussssss!
Arwah Muka Hijau dan Abdika Brathama cepat
berpaling dan dapatkan Arwah Ketua tahu-tahu sudah
berada di hadapan mereka. Sepasang mata putih yang
hanya memiliki titik hitam sebagai bola mata
mendelik. Mulut menyeringai.
"Sang Penjemput. Mahluk bernama Abdika
12 Brathama. Kau mau mengajakku masuk ke dalam
bumi lapisan ketiga. Aku barusan masuk dan sampai
kedalam bumi tapisan ketujuh!"
"Mahluk penghabis tempat penyesak udaral Apa
bukti kau telah masuk ke dalam lapisan bumi ke
tujuh"! Jangan bicara sombongi Jangan menggertak
aku akan kedustaanl"
Arwah Ketua menyeringai.
"Suaramu bergetarl Tanda ada rasa getar!
Ha...ha...ha! Buka lebar-lebar mata kudamul Lihat
ini!" Mahluk gaib raksasa dari Candi Miring itu
ulurkan tangan kiri. Kepalan jari tangan sebesar
pisang tanduk dibuka. Di atas telapak tangan ada
gumpalan batu berbentuk setengah lingkaran
berwarna hitam kebiruan mengepulkan asap.
"Cendawan batu!" ucap Abdika Brathama.
Tampang kudanya berubah, darahnya berdesir, tapi
tetap saja dia tidak merasa takut Anak buah Panglima
Pawang Sela ini tahu kalau tanda yang ada di tangan
Arwah Ketua Ku memang berasal dari perut bumi pada
kedalaman paling sedikit di lapisan ketujuh.
"Mata kudamu sudah melihat! Apa kau ingin aku
bawa kau ke perut bumi untuk lebih membuktikan"!"
Abdika Brathama terdiam. Arwah Muka Hijau juga
tidak keluarkan suara karena dia tahu bahwa apa yang
barusan diucapkan Arwah Ketua bukan main-main.
Mahluk sakti yang pernah jadi pimpinannya di Candi
Miring itu kalau mengatakan dia masuk ke dalam
lapisan bumi ke tujuh maka dia benar-benar telah
melakukan hal itu! Bukan satu kedustaan karena d!a
memang memiliki kemampuanl
13 "Mahluk mengaku Sang Utusan. Sang
Penjemput! Kesombongan tidak ada artinya di
hadapanku. Apalagi di hadapan Para Dewa Penguasa
Alam Semesta! Tinggalkan tempat ini sebelum kau
aku jadikan sampah tak berguna. Dan jangan kau
berani menyentuh mahluk hijau ini, apa lagi
membawanya dari hadapankul Para Dewa telah
menentukan nyawa busuknya akan lepas dari raga
kotornya untuk selama-lamanya sebelum fajar
menyingsing!"
Ketika Arwah Ketua lenyap menembus tanah,
puluhan pisau hijau bermata dua masih terus
mengambang berputar-putar di udara. Tadinya Arwah
Muka Hijau bermaksud pergunakan kesempatan untuk
segera melenyapkan senjata-senjata. Maka dia mulai
merapal mantera sambil gosokkan dua tangan.
Namun ternyata Arwah Ketua muncul kembali lebih
cepat. Saat itu Arwah Ketua berdiri sambil
mengangkat tangan kanan pertanda dia masih
menguasai dan mengendalikan kekuatan yang ada
pada puluhan Pisau Terbang Racun Lumut Hijau.
Abdika Brathama yang jadi jengkel mendengar
ucapan Arwah Ketua menyahuti dengan ucapen
sangat melecehkan.
"Kalau kau merasa gusar karena aku pergi hanya
membawa Arwah Muka Hijau, aku tidak keberatan
mengajakmu sertai Tubuhmu cukup besar untuk
dijadikan ganjalan dasar Istana Sang Junjungan
Mataram Baru di lapisan bumi ke tiga! Berlututlah
minta pengampunan agar tubuhmu tetap utuh sampai
di dasar bumi lapisan ke tiga! Ha... ha... hal"
Arwah Ketua menggembor keras. Saat itu dia
sudah gatal tangan untuk menghabisi Abdika
14 Brathama. Namun dia perlu menanyakan sesuatu.
"Ujudmu tidak karuan rupal Otakmu pasti lebih
sembrawutan kacau balaul Katakan siapa yang kau
maksud dengan Sang Junjungan Mataram Barui"
Abdika Brathanvt usap-usap dagu kudanya lalu
sambil tertawa dia berkata, "Suaramu aku dengar
digetari nyali yang tiba-tiba menjadi ciut Itu baru aku
sebut nama Sang Junjungan! Apalagi kalau kau
panjang umur sempat berhadapan muka dengannya!
Di hadapannya kau bisa leleh mencair seperti air
Comberan!"
"Mahluk kurang ajar! Jawab saja pertanyaanku!
Siapa Sang Junjungan Mataram Baru" Aku mencium
ada komplotan jahat dan kau pasti adalah salah satu
anggotanya!" bentak Arwah Ketua hingga udara
menggaung dan tanah bergetar, pohon-pohon
bergoyang, candi tua berderak-derak.
"Katanya kau mahluk berkuasa, sakti
mandraguna. Mengapa memaksa orang memberi
keterangan" Apa kau tidak mampu menyelidik
sendiri" Apa kemampuanmu hanya sampai sebatas
cium-mencium" Berarti kau tidak lebih dari seekor
kucing. Atau mungkin merasa seekor gajah tapi
otakmu sebesar udang! Ha...ha...ha!"
Dihina begitu rupa Arwah Ketua segera
hantamkan ke bawah tangan kanannya yang sejak
tadi dipentang ke atas. Arwah Muka Hijau dan Abdika
Brathama mengira Arwah Ketua mengerahkan ilmu
Menahan Angin Menggantung Arwah untuk
menghantamkan puluhan pisau beracun ke arah
mereka. Kedua mahluk itu tertipu!
Ternyata puluhan Pisau Terbang Racun Lumut
Hijau dikibas ke bawah dibuat menancap amblas ke
15 dalam tanah. Dalam ketidak mengertian apa yang
sebenarnya dilakukan lawan tiba-tiba tanah yang
dipijaksbergetar. Lalu wuuttt...wuutttl Puluhan pisau
terbang yang tadi berputar amblas lenyap masuk ke
dalam tanah tiba-tiba mencuat keluar, tepat di bawah
tubuh Arwah Muka Hijau dan Abdika Brathama!
Kejut dua mahluk ini bukan olah-olah! Mereka
berteriak keras lalu cepat melompat ke udara, kalang
kabut berusaha selamatkan diri. Arwah Muka Hijau si
pemilik puluhan pisau beracun jentikkan sepuluh jari
tangan. Sepuluh larik sinar hijau menderu menangkis
serangan pisau miliknya sendiri.
"Tring...tring...tring!"
Tujuh pisau terbang mental. Sisanya terus
mengejar kedua orang itu. Arwah Muka Hijau menjerit
putus asa ketika melihat delapan pisau tidak mampu
ditangkis, berputar ganas menyambar ke arah dua
kakinya. Sementara itu Abdika Brathama, walau
berhasil menghantam hampir selusin pisau dengan
dua kakinya yang terbungkus ladam besi namun lima
pisau melesat berputar menyambar ke arah perut dan
lehernya! Anak buah Panglima Pawang Sela ini
keluarkan suara meringkik.
Arwah Ketua tertawa bergelak. Selagi Abdika
Brathama berusaha selamatkan diri dari serangan lima
pisau, dari atas Arwah Ketua hantamkan kepalan
tangan kanan yang sebesar buah kelapa ke batok
kepala mahluk kepala kuda ini.
Sesaat lagi batok kapala itu akan hancur
dihantam pukulan tiba-tiba tiga cahaya berwarna
merah, biru dan hitam entah dari mana datangnya
menyambar di tempat itu. memecah menjadi puluhan
cahaya. Sebagian menyambar ke arah pisau terbang
16 yang menyerang Arwah Muka Hijau, sebagian lagi
menyambar pisau terbang yang mengancam Abdika
Brathama dan sisanya sebanyak dua belas larikan
Sinar terpecah dua. Masing-masing menyerang ke
arah tangan kanan Arwah Ketua yang tengah
memukul dan melesat ke arah dada yang tersingkap
penuh bulul "Praak:"
Hantaman tangan Arwah Ketua ternyata masih
lebih cepat sedikit demi sambaran cahaya tiga Warna.
Kepala Abdika Brathama hancur. Tubuh
terbanting dan melesak di tanah sampai ke pinggang.
Mulut masih mampu keluarkan ringkikan aneh.
Tangan menggapai-gapai lalu diam tak bersuara dan
tak bergerak lagi.
Tiga cahaya merah, biru dan hitam memang
mampu membuat mental belasan pisau terbang yang
menderu menyerang Arwah Muka Hijau. Tapi masih
ada dua pisau yang lolos, berputar lalu membabat
dada bekas anak buah Arwah Ketua ini.
"Rrrkkkkk!"
Benang hitam yang menjahit mulut Arwah Muka
Hijau berderik putus ketika mahluk ini membuka
mulut lebar-lebar keluarkan jeritan dahsyat. Dada
cabik bersilang, mulai dari bahu kiri ke pusar dan
satu lagi dari bahu kanan ke sisi kiri. Darah berwarna
hijau menyembur.
Arwah Ketua sendiri dengan sigap sambil
meniup berhasil membuat mental pisau terbang
beracun hijau yang menyerang dada. Namun dia tidak
sempat menarik tangan yang barusan memukul
hancur kepala kuda Abdika Brathama.
Dua pisau terbang membabat berputar ganas.
17 "Craass! Craasss!"
Tangan kanan Arwah Ketua terbabat putus di dua
tempat Di bagian pergelangan dan di bawah siku
Mahluk bertubuh raksasa ini menggerung keras Dua
potongan tangannya melayang di udara lalu jatuh di
tanah Arwah Ketua terhuyung-huyung sebentar la'u
jatuh berlutut Dari kutungan-kutungan tangan meleleh
darah merah kehijauan pertanda bercampur racun
pisau. Masih terhuyung-huyung Arwah Ketua berkomat
kamit merapal sesuatu lalu berucap, "Batu Asmasewu
Dengan kuasa Dewa tolong diriku! Dua kutungan
tangan! Kembali ke tempat asalmu!"
Dalam keadaan setengah sadar sementara lengan
kanan yang buntung dijalari warna biru pertanda
racun pisau lumut hijau telah mengindap dan menjalar
di tubuhnya, Arwah Ketua letakkan tangannya yang
buntung di tanah. Terjadilah hal yang luar biasa. Dua


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kutungan tangan yang tergeletak sejarak delapan
langkah bergerak-gerak lalu meluncur ke arah
buntungan tangan yang ditempelkan Arwah Ketua di
tanah. "Ssttt! Sttt!"
Dua kutungan tangan bergabung menjadi satu.
Warna hijau yang menjalar sampai ke wajahnya
perlahan-lahan sirna. Namun Arwah Ketua belum
terlepas dari ancaman bahaya.
Satu bayangan kuning berkelebat. Didahului
memancarnya cahaya tiga warna satu tendangan
keras menderu di udara.
"Bukkkl"
Tendangan melanda dahsyat punggung Arwah
Ketua hingga mahluk raksasa ini mencelat dan
18 tertelungkup di tanah dengan punggung berlobang
besar bekas hantaman tendanganl Antara sadar dan
pingsan Arwah Ketua mendengar suara orang berseru
lantang disusul suara tawa bergelak.
"Junjungan Sri Maharaja Mataram Baru! Sri Maharaja
Ke Delapan! Untuk menyingkirkan mahluk
terkutuk bernama Arwah Ketua ternyata kita tidak
perlu mencari embun murni! Tendangan Membantai
Raga Menghisap Nyawa berhasil membuat mahluk
paling berbahaya di Bhumi Mataram ini kembali ke
alam roh untuk selama lamanya! Ha...ha...hal"
19 3. ANANTHAWURI DICULIK
HANYA beberapa saat tenggelam dalam
ketidaksadaran. Arwah Ketua tersentak lalu
menggembor keras. Tangan kiri menggapai ke
punggung yang hancur. Meraba cidera besar bekas
tendangan orang yang menyerang secara
membokong. Sadar akan keadaan dirinya Arwah Ketua cepat
jatuhkan tubuh sama rata dengan tanah. Mulut
merapal ajian, kembali memanggil Batu Asmasewu,
memohon pertolongan.
"Batu Asmasewu. Aku membutuhkan pertolonganmu
lagi. Wahai para dewa di Swargaloka. Asal
tanah kembali ke tanah. Asal sukma berpulang
kembali pada sukma. Asal arwah kembali ke alam
gaib. Saya pasrah namun saya mohon. Bhumi
Mataram dalam bahaya besar. Sambungkan roh tali
kehidupan bagi diri saya. Kecuali jika saya memang
ditakdirkan tidak ada harganya lagi di permukaan
bumi Ini..."
"Rrrrrmr"
Permohonan penguasa Candi Miring didengar oleh
Yang Maha Kuasa.
Tanah bergetar memancarkan cahaya. Getaran dan
cahaya menjalar ke dalam tubuh Arwah Ketua. Ketika
batu yang ada di dalam tubuh Arwah Ketua ikut
mengalirkan hawa sakti ke punggung yang berlubang,
ada satu kekuatan memancarkan cahaya tiga warna
coba mencegah. Bentrokan dua kekuatan dahsyat
membuat tubuh raksasa Arwah Ketua mencelat ke
udara setinggi tiga tombak!
Terbungkuk-bungkuk Arwah Ketuu jejakkan kaki di
20 tanah. Kembali dia meraba ke punggung. Lobang
besar tak ada lagi. Sambil usap dada di arah
beradanya Batu Asmasewu mahluk penguasa Candi Miring ini
mengucap syukur, berulang kali menyebut nama Yang
Maha Kuasa, lalu bangkit berdiri.
Ketika memandang berkeliling Arwah Ketua terkejut
Mahluk kepala kuda Abdika Brathama lenyap. Tanah
dimana tadi tubuhnya melesak sampai ke pinggang
dengan kepala hancur, kini sosoknya tak ada lagi. Apa
yang terjadi" Sewaktu Arwah Ketua masih
tertelungkup di tanah, sosok Abdika Brathama
mengepulkan asap hitam lalu lenyap laksana
hembusan angin. Yang tertinggal kini hanya lobang
bekas tubuhnya amblas.
Berpaling ke kiri, Arwah Ketua mahluk seram yang
sudah banyak kali melihat kejadian mengerikan,
namun kali ini tidak dapat menyembunyikan rasa kejut
serta ngerinya. Tubuh Arwah Muka Hijau yang
mengenakan jubah hijau tergeletak di tanah. Tapi
dalam keadaan tidak utuh. Karena kepala dan dua
kakinya lenyap entah kemana!
"Hyang Jagat Batharal Apa yang terjadi dengan
mahluk penghianat ini" Kemana lenyap kepala dan
dua kakinya"!" Arwah Ketua keluarkan suara
mengorok panjang. Dia ingat pada suara berseru
setelah tubuhnya ditendang. "Ada mahluk ke tiga di
tempat ini. Yang tadi menendangkul Aku mendengar.
Aku ingat dia jelas-jelas menyebut Sri Maharaja
Mataram Baru. Sri Maharaja Ke Delapan. Lalu cahaya
tiga warna itu... Aku harus segera kembali ke Candi
Miring. Aku harus cepat-cepat menemui Ratu Dhika
Gelang 21 Gelang. Gadis itu pernah cerita tentang pemuda
kekasihnya. Apakah pemuda itu masih hidup" Sri
Maharaja Ke Delapan! Bukan sekali ini aku mendengar
sebutan itu!. Ah, firasatku menyatakan Bhumi
Mataram benar-benar dalam satu bahaya besar..."
Sekali Arwah Ketua berkelebat, tubuh raksasanya
serta merta lenyap, laksana tiupan angin melesat
kembali ke Candi Miring.
**** FAJAR masih belum menyingsing. Hari masih
gelap dan udara serta tiupan angin masih terang
mencucuk jagat. Begitu keluar dari rimba belantara
dan selagi melayang di udara memandang ke utara,
kejut Arwah Ketua bukan alang kepalang. Dia dapat
melihat bangunan candi di atas bukit dengan jelas.
Salah satu menara candi tampak hancur. Dinding
candi samping kanan jebol. Kepulan asap mengambang
di udara. "Sesuatu telah terjadi!" pikir Arwah Ketua.
Dengan melipat gandakan ilmu meringankan tubuh
yang dimilikinya, sesaat kemudian dia sudah berada
di pintu depan candi. Tubuh raksasa menciut, melesat
masuk ke dalam candi. Di ruangan dalam beberapa
stupa batu berbentuk binatang hancur berantakan.
Dekat puing-puing stupa singa pandangan Arwah
Ketua membentur sesuatu. Ketika diperhatikan
dengan mata tak berkedip darahnya tersirap. Benda
itu adalah kutungan tangan kanan manusia sebatas
siku sampai ujung jari, sebagian tertutup robekan kain
berwarna kuning. Di lantai candi darah berceceran.
"Darah merah, berarti mahluk yang punya tangan
22 ini adalah manusia biasa. Namun memiliki ilmu
kepandaian sangat tinggi. Kalau tidak bagaimana dia
bisa masuk menembus ke dalam candi?" Ketika
Arwah Ketua memperhatikan lima jari tangan buntung
yang terkepal, dalam kejutnya dia segera mendapat
jawaban. "Lima jari mengepal tanah merah. Tanah
kuburan! Rahasia masuk ke Candi Miring sudah
diketahui orang luar! Celakai" Dia hendak berteriak
memanggil Ratu Dhika Gelang Gelang yang selama
ini berada di Candi Miring untuk menjaga dua bayi
keramat yang dilahikan Ananthawuri secara gaib.
Namun mulutnya serta merta terkancing ketika
melihat dua buah benda bulat kuning tergeletak di
lantai candi. Arwah Ketua membungkuk memungut dua
benda itu. Ketika diperhatikan dadanya jadi berdebar.
"Kerincing emas milik Radika Ratu..." Mulut
Arwah Ketua berucap, "Apa yang terjadi dengan
dirinya. Bayi-bayi itu. Dewa Agung, saya mohon..."
"Radinda Ratu! Kau dimana"!" teriak Arwah
Ketua. Suaranya menggelegar, menggetarkan
bangunan Candi Miring.
Memandang berkeliling Arwah Ketua tidak dapatkan
jawaban. Tanduk merah di kepala berpijar-pijar.
"Radinda!"
Tiba-tiba sebuah stupa singa setengah hancur
yang menutupi dinding kiri ruangan bergerak ke
samping lalu roboh ke lantai.
"Radinda..."!"
Arwah Ketua melangkah mendekati dinding
candi. Di saat yang bersamaan dinding batu itu hancur
berantakan oleh satu kekuatan yang mendorongnya
dari belakang. Dari lobang yang muncul di dinding
23 menjorok keluar kepala manusia dengan kening
bertanda garis tiga warna, merah, hitam dan biru.
"Tiga warna keparat!" teriak Arwah Ketua marah.
Kaki kanannya berubah menjadi besar lalu memandang
ke arah kening orang yang keluar dari lobang
dinding candi! "Rakanda! Tahan! ini akui"
Dari balik dinding tiba-tiba ada suara perempuan
berteriak disusul runtuhnya dinding candi hingga
membentuk lobang lebih besar. Dari lobang di
dinding ini perlahan-lahan merangkak keluar sosok
seorang perempuan gemuk. Pakaiannya sehelai
kemben merah robek di beberapa bagian. Rambut
yang sebelumnya dikonde di atas kepala kini tampak
tergerai awut-awutan. Darah mengotori tangan kanan
dan bahu kirinya.
"Radinda Ratu Dhika! Apa yang terjadi"!" teriak
Arwah Ketua dan dengan cepat menarik tubuh
perempuan itu keluar dari lobang di dinding. "Mana
dua bayi keramat...?"
Ratu Dhika Gelang Gelang batuk-batuk,
semburkan darah kental. Suaranya parau ketika
berkata, "Dua bayi dalam keadaan selamat Tapi... tapi
jahanam berjubah kuning itu berhasil melarikan
Ananthawuri. Aku... aku hanya bisa membuang
buntung tangan kanannya. Aku..."
"Bagaimana mungkin! Ibu dua bayi keramat itu
memiliki Ratu Kaladungga di dalam tubuhnya. Siapa
saja orang yang bermaksud jahat terhadapnya pasti
tidak mampu melihat sosok tubuhnya! Siapa yang kau
maksud dengan orang berjubah kuning?"
Ratu Dhika Gelang Gelang tidak memberikan
jawaban karena saat itu juga tenaganya seperti habis,
24 napas menyengat. Gadis yang masih keturunan Raja
Bhumi Mataram ini terjerembab pingsan di lantai.
25 4. PETI DEWA PENYELAMAT RAGA DAN JIWA
Arwah Ketua bertindak cepat. Dia segera menotok
beberapa bagian tubuh gemuk Ratu Dhika
Gelang Gelang. Sambil menotok dia susupkan tenaga
dalam dan hawa sakti. Ditambah dengan aliran
kesaktian yang memancar dari Batu Asmasewu
yang ada dalam dirinya. Tak selang berapa lama Ratu
Dhika Gelang Gelang yang di Bhumi Mataram juga
dikenal dengan julukan Ratu Meong keluarkan
suara mengeluh panjang. Mulut batuk-batuk tapi kali
ini tidak lagi disertai semburan darah.
Arwah Ketua dudukkan gadis itu di lantai
bersandar ke dindingcaridl lalu dua pipi yang tembam
ditepuk-tepuk. Perlahan-lahan Ratu Dhika Gelang
Gelang buka kedua matanya.
"Rakanda... Orang berjubah kuning itu melarikan
Ananthawuri. Aku..."
"Tenang Radinda. Saat ini ada hal lain yang lebih
penting ingin kuketahui!" memotong Arwah Ketua.
"Dua bayi yang menjadi tanggung jawab kita! Kau
bilang mereka selamat. Dimana keduanya sekarang"!"
"Mereka aku sembunyikan di tanah halaman
halaman barat di luar candi..."
"Maksudmu dengan ilmu kesaktianmu mereka
kau benamkan ke dalam tanah"!" tanya Arwah Ketua
dengan nada suara terkejut
Ratu Dhika Gelang Gelang mengangguk.
"Gila!" Arwah Ketua menggebrak lantai candi
hingga hancur berantakan membentuk lobang besar
"Aku tidak bodoh Rakanda Arwah Ketuai Aku'
mempergunakan ilmu Peti Dewa Penyelamat Raga Dan
26 Jiwa. Hanya dengan penyelamatan seperti itu kurasa
cara paling aman bagi dua bayi. Kalau aku
sembunyikan di dalam candi pasti masih bisa
ditemukan. Tadipun orang berjubah kuning itu sudah
mengobrak-abrik candi. Dia tidak menemukan dua
bayi tapi menemui Ananthawuri dan melarikannya..."
Walau lega mengetahui dua bayi selamat namun
Arwah Ketua merasa risau dengan diculiknya
Ananthawuri ibu dua bayi itu. Lalu tidak menunggu
lebih lama dia melesat keluar menuju halaman candi
sebelah barat. Ratu Dhika Gelang Gelang mengikuti
dari belakang. Dengan kesaktiannya melalui sepasang mata
putih bertitik hitam Arwah Ketua sudah dapat melihat
keberadaan dua buah benda kelabu berbentuk peti
yang terpendam di dalam tanah.
"Peti Dewa penyelamat Raga Dan Nyawa, kalian
telah berjasa menyelamatkan dua bayi calon Ksatria
Utama Kerajaan Bhumi Mataram. Saatnya kami
mengambil kedua bayi itu kembali. Keluarlah dari


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dalam tanah. Bila dua bayi keramat sudah berada di
tangan kami, kalian dua peti sakti boleh kembali ke
alam kalian disertai ucapan terimakasih kami!"
Baru saja Arwah Ketua selesai mengeluarkan
ucapan tiba-tiba b!aar...blaaar! Tanah halaman
terbongkar di dua tempat. Dari tanah yang terkuak
melesat keluar dua buah benda kelabu berbentuk peti
terbuat dari batu gunung yang kukuh dan atos.
Arwah Ketua dan Ratu Dhika Gelang Gelang
dengan cepat mendekati dua peti batu, membuka
penutup di sebelah atas. Begitu penutup peti
tersingkap keduanya sama-sama keluarkan seruan
keras. 27 "Dewa Jagat Bhatara!" teriak Ratu Dhika Gelang
Gelang. Tubuhnya yang gemuk langsung jatuh
terduduk di tanah. Mukanya yang gembrot pucat pasi.
Di sebelahnya Arwah Ketua keluarkan suara
mengorok keras dan panjang. Mata putihnya menatap
terbelalak. Dua Peti Dewa Penyelamat Raga Dan Jiwa
berada dalam keadaan kosong melompong. Tidak ada
seorang bayi pun di dalamnya!
"Celaka besar! Kutuk dan amarah Dewa akan
jatuh atas diri kita! Radinda Ratu Dhika! Bagaimana
bisa begini"! Kau yakin telah merapal dan
mempergunakan ilmu kesaktianmu secara benar"!"
"Tidak ada yang salah, tidak ada yang keliru
Rakanda. Aku..." Ratu Dhika Gelang Gelang tidak
dapat meneruskan uerpan. Perempuan gemuk ini
menangis menggerung-gerung sambil menjambakjambak
rambutnya. Arwah Ketua berlutut di tanah.
Wajah ditengadahkan ke langit Kepala ditinju-tinju
sendiri. Sementara di timur kaki langit mulai tampak
terang pertanda fajar telah menyingsing dan sang
surya akan segera muncul menerangi jagat.
Tiba-tiba ada sesiur angin sejuk bertiup. Hawa
di bukit gersang dimana Candi Miring terletak
perlahan-lahan berubah dingin.
"Radinda, tidaklah kau merasa ada keanehan?"
ujar Arwah Ketua pada Ratu Dhika Gelang Gelang.
' Puluhan tahun aku tinjgsl di bukit gersang ini udara
selalu panas. Sekarang mengapa tiba-tiba hawa terasa
dingin?" "Aku juga tidak mengerti Rakanda mungkin para
Dewa..." Ucapan Ratu Dhika Gelang Gelang terputus oleh
suara orang menegur.
28 "Kailan dua insan di samping candi di atas bukit
tandus, apakah dua anak ini yang kailan cari sampai
memukul kepala menjambak rambut?"
Arwah Ketua dan Ratu Dhika Gelang Gelang
langsung melompat. Saat itu mereka melihat seorang
tua berjubah putih melangkah mendaki lereng bukit
Di balik punggung menyembul sebatang tongkat
terbungkus lapisan putih menebar hawa dingin. Dari
ubun-ubun di atas kepala, sepasang mata, hidung
serta setiap hembusan napas yang dibuatnya,
mengepul keluar uap putih dingin. Meski berada
dalam jarak sejauh itu namun suaranya bicara seolah
dia berada beberapa langkah di hadapan Arwah Ketua
dan Ratu Dhika.
Akan tetapi bukan keanehan itu yang menjadi
perhatian dua mahluk di atas bukit. Yang membuat
mala mereka terbeliak dan mulut berteriak nyaring
adalah ketika melihat dalam gendongan tangan kiri
kanan si orang tua terdapat dua orang bayi berusia
satu bulan namun memiliki keadaan tubuh tidak beda
dengan bayi seusia satu tahun. Itulah Mimba Purana
dan Dirga Purana, dua bayi yang dilahirkan secara
gaib oleh sang ibu bernama Ananthawuri, perawan
pilihan para dewa berasal dari Desa Sorogedug, tak
jauh dari Prambanan. Dalam gendongan si orang tua,
dua bayi tampak tertidur lelap.
"Tua bangka penculik anak!" amarah Arwah
Ketua menggelegar." Lekas serahkan dua bayi itu
padaku atau kubuat lumat dan amblas tubuhmu ke
dalam tanah!" teriak Arwah Ketua. Tanduk tunggal di
alas kepala memancarkan sinar merah. Tubuhnya
serta merta mencuat menjadi besar setinggi Candi
Miring. Dua kaki melangkah cepat dan tangan kiri
29 kanan diulurkan menjadi panjang untuk dapat
mengambil dua bayi dalam dukungan si kakek tak
dikenal. Namun hebatnya dua tangan yang diulurkan
itu jangankan menyentuh, sampaipun tidak. Padahal
si orang tua yang mendukung dua bayi justru terus
saja melangkah enteng ke atas bukit, mendekati ke
arah dimana Arwah Ketua dan Ratu Dhika berada.
Ratu Dhika Gelang Gelang setengah berlari
mendatangi si orang tua penggendong bayi.
"Kakek, bagaimana dua bayi itu bisa berada
padamu" Aku sebelumnya telah..." ucapan Ratu
Dhika terhenti. Matanya memandang besar-besar dan
lekat-lekat ke paras si orang tua. Mulutnya lalu
berucap, "Orang tua, maafkan diriku kalau salah
berkata. Aku melihat seluruh matamu berwarna putih.
Kau buta...?"
"Dewa Agung memberikan sepasang mata yang
terbuat dari gumpalan salju padaku. Buta atau tidak
apa perbedaannya" Mata hati dan mata perasaan
pemberian Yang Maha Kuasa terkadang lebih
sempurna dari mata biasa. Apa lagi mata yang senang
melihat kemaksiatan," jawab si orang tua sambil
tertawa. Waktu bicara dari mulutnya keluar uap
dingin. "Gadis gemuk, aku senang. Kau bertanya lebih lembut
dan lebih sopan dari raksasa penguasa Candi Miring
itu. He... he... he. Aku tahu. Sebelumnya dua bayi ini
bukankah kau selamatkan dengan cara memasukkan
mereka ke dalam dua peti batu bernama Peti Dewa
Penyelamat Raga Dan Jiwa" Kau punya akal panjang.
Tapi musuh tidak berkepandaian lebih rendah
dirimu." 30 Ratu Dhika Gelang Gelang tercengang
mendengar si kakek dengan jelas mengetahui dan
menyebut nama dua peti batu. Lalu tahu pula
keadaannya yang gemuk.
"Orang tua, bagaimana kau tahu..." Kau datang
dari arah kaki bukit. Apakah sebelumnya kau berada
di atas sini" Kami berdua tidak mengenal siapa kau
adanya. Jangan-jangan kau utusan..." Ratu Dhika
tidak teruskan ucapan karena saat itu dia harus
menghalangi Arwah Ketua yang hendak hendak
menerjang menyerang siorang tua yang mendukung
dua bayi. "Sabar Rakanda... sabar. Jangan sampai
kesalahan tangan..."
"Radinda Ratu Dhika! Kau mau membela orang
yang hendak menculik dua bayi keramat"!" bentak
Arwah Ketua. "Rakanda, harap kau mau berpikir jernih. Jika
orang tua Itu punya maksud jahat menculik dua bayi,
dia tidak akan melangkah mendatangi ke arah kita.
Dia sudah lama kaburi" jawab Ratu Dhika Gelang
Gelang. Saat itu orang tua berjubah putih telah berada
dekat sekali di hadapan Arwah Ketua dan Ratu Dhika
Gelang Gelang. "Kalian berdua dengar baik-baik. Aku hanya
kebetulan saja lewat di kawasan ini. Mungkin sudah
takdir Dewa aku harus melakukan satu kebajikan. Apa
kalian tidak memperhatikan tanah di halaman barat
candi ini?"
"Memangnya ada apa Kek?" ucap Ratu Dhika
Gelang Gelang. Tapi bersama Arwah Ketua dia
memandang juga ke seputar halaman, terutama
sekitar keluarnya dua peti tadi dari dalam tanah. Kini
31 keduanya baru sadar dan melihat.
"Apa yang kailan lihat?" bertanya si orang tua.
Arwah Ketua tidak menjawab. Yang membuat
Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Aku... aku melihat ada noda darah berceceran.
Hampir mengering..."
"Matamu tajam, anak gadis. Tapi apakah kau
tahu itu darah siapa?"
32 5. SANG PENYELAMAT DUA BAYI KERAMAT
RATU Dhika Gelang Gelang menggeleng, "itu adalah
darah manusia berjubah kuning yang kau buntungi tangannya.
Dalam keadaan terluka parah dia keluar dari
candi, berusaha mengeluarkan dua
buah peti dari dalam tanah. Kebetulan saja aku berada
di sekitar sini dan Para Dewa berkenan memberi
kepercayaan padaku untuk menyelamatkan dua bayi
sebelum orang berjubah kuning mengambilnya..."
"Tapi mengapa barusan kau justru datang dari
arah kaki bukit) Seharusnya kau berada di atas bukit
sinil" bentak Arwah Ketua.
Dengan tenang dan sabar orang tua itu menjawab,
"Kalau aku masih berada di atas bukit di sekitar
candi, besar kemungkinan si jubah kuning yang mau
menculik mengetahui keberadaanku dan dua bayi.
Bukankah itu berbahaya sekali" Selain untuk
menyelamatkan mereka, aku juga senang pada dua
bayi ini. Apa salahnya aku mengajaknya berjalan-jalan
barang sebentar ke kaki bukit. Ada rimba belantara
cukup teduh di bawah sana. Dibanding dengan
keadaan gersang, kering dan panas di bukit ini
Bukankah menghirup udara segar sangat penting bagi
pertumbuhan seorang bayi?"
"Soal mengurus dua bayi itu adalah tanggung
jawab kami. Mengapa kau orang tua yang tidak aku
kenal mau merepotkan dlri"l" ucap Arwah Ketua
dengan mata mendelik.
"Betul apa yang kau ucapkan. Soal mengurus
dua bayi adalah tanggung jawab kalian Tapi apakah
kalian telah merawat bayi-bayi ini dengan benar"
33 Kailan hanya memperhatikan keamanan dan
keselamatannya. Tapi kalian memperlakukan mereka
tidak lebih dari dua ekor hewan yang kalian sekap
dalam candi pengap yang hanya sedikit lebih baik
dari kurungan ayam!"
Mendidihlah amarah Arwah Ketuar ampai asap
merah mengepul keluar dari batok kepa!anva yang
botak. Lagi-lagi Ratu Dhika Gelang Gelang terpaksa
menghalangi ketika mahluk raksasa Ini hendak
menerjang si orang tua.
"Orang tua kurang ajar! Jaga muiutmu! Beraninya
kau mengatakan dua bayi sebagai hewan! Kau tidak
tahu siapa adanya bayi itu! Lekas pergi dari sini!
Serahkan mereka padaku! Atau kupecahkan
kepalamu saat ini juga!" ancam Arwah Ketua yang
menjadi luar biasa marah mendengar kata-kata si orang
tua berjubah putih.
Yang dibentak dan diancam malah cuma tertawa.
"Mahluk penguasa candi! Seribu hari sebelum
dua bayi ini lahir aku sudah lebih dulu mengetahui
keberadaan mereka. Aku lebih banyak tahu siapa
adanya dua bayi ini dari pada kalian! Bukankah begitu
wahai dua bayi pilihan Para Dewa?" sambil berkata
si orang tua menggoyang sedikit tangannya yang
menggendong. Anehnya dua bayi itu sama-sama
tertawa dalam kelelapan tidur mereka!
Sementara Ratu Dhika tercengang Arwah Ketua
tetap masih meradang. "Aku tidak percaya padamu!
Bagaimana kau bisa tahu kalau dua bayi ada di dalam
tanah di halaman ini, dimasukkan dalam dua peti
batu!" Si orang tua kembali tersenyum sabar.
"Mahluk bertubuh raksasa. Keberadaanmu
34 sungguh hebat tapi sayang jalan pikiranmu tidak
sehebat penampilanmu! Kalau Para Dewa memberi
kepercayaan padaku untuk menolong dua bayi,
apakah kau lebih kuasa dan lebih mengetahui dan
mereka?" Rahang Arwah Ketua menggembung, hidung
mengendus dan lenggorokan menggembor, mata
putih mendelik. Mau rasanya dia menelan buiat-butat
tua bangka di hadapannya itu.
Tanpa memperhatikan Arwah Ketua lagi si orang
tua melangkah ke arah Ratu Dhika Gelang Gelang.
Dua bayi diserahkan pada si gadis seraya berkata.
"Jaga dua bayi keramat ini baik-baik. Karena pada
satu hari kelak aku akan datang menjemput salah
seorang dari mereka..."
Ratu Dhika Gelang Gelang tercengang heran
mendengar ucapan itu. Sebaliknya Arwah Ketua
kembali menjadi marah dan menghardik.
"Hai! Apa arti ucapanmu itu"l"
"Mahluk hebat, bersyukurlah pada Yang Maha
Kuasa bahwa dua bayi telah diselamatkannya."
"Tua bangka bunglonl Kau tidak menjawab
pertanyaanku! Kau tidak mau memberi tahu siapa
dirimu! Dan jangan kra aku tidak tahu kalau kau ke
sini tidak sendirian!" sambil bicara Arwah Ketua
menatap ke kaki bukit dimana terdapat sebuah batu


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

besar. "Eh, apa maksudmu mahluk penguasa candi?"
tanya si mata buta.
"Kau datang membawa teman! Saat ini dia
sembunyi di balik baju besar di kaki bukit! Lihat saja!
Aku akan buktikan kedustaanmu!"
Selesai berucap, selagi si orang tua terheranEbook
by Tiraikasih ( Dewi KZ ), Scan by Syaugy_ar
35 heran, tubuh raksasa Arwah Ketua melesat ke kaki
bukit ke arah sebuah batu besar Sesaat kemudian
dia sudah kembali sambil memanggul sosok seorang
gadis berpakaian dan berkerudung putih. Dengan
kasar Arwah Ketua melemparkan si gadis ke tanah.
Namun dengan gerakan enteng si gadis berjungkir
balik, lalu di lain kejap dia sudah berdiri di samping
si orang tua bermata salju! Pundak kiri jubah putihnya
ada bekas robekan yang telah dijahit Kerudung putih
di atas kepala jatuh ke bahu. Wajahnya kini tersingkap
jelas. Sambil berdiri bertolak pinggang gadis ini keluarkan
ucapan ketidak senangan tapi dengan mulut
tersenyum. "Tiada salah kau hendak membanting diriku ke
tanah. Benar ucapan pamanku ini tadi. Otakmu tidak
sehebatt penampilan dirimu! Hik... hik..!"
Baik Arwah Ketua maupun Ratu Dhika Gelang
Gelang tidak perdulikan ucapan si gadis.Yang menjadi
pusat perhatian keduanya adalah justru wajah cantik
gadis berpakaian putih itu. Mereka tidak melihat
bagaimana keadaan dua tangan si gadis yang
berkacak pinggang yaitu yang hanya merupakan
tulang belulang tak berdaging tidak berkulit sebatas
pergelangan sampai ujung jari.
"Ananthawuri!" seru Arwah Ketua dan Ratu Dhika
hampir berbarengan ketika mereka melihat paras si
gadis. 'Tunggul Rakanda Arwah Ketua apa salah mata
kita melihat?" Ratu Dhika Gelang Gelang susul
seruannya dengan ucapan. '
Gadis berpakaian putih yang rambutnya tergerai
lepas sebenarnya adalah Dewi Tangan Jerangkong
36 puteri Giring Mangkureja dar! Kadiri. Wajahnya,
seperti yang pernah disaksikan sendirl oleh Pangeran
Bunga Bangkai memang memiliki banyak kemiripan
dengan Ananthawuri. (Riwayat gadis ini bisa dibaca
dalam "Dewi Tangan Jerangkong")
"Kalian berdua salah menyangka orang. Gadis
ini bukan Ananthawuri, Ibu dari dua bayi. Dia adalah
keponakankul Namanya Liris Pramawari," berkata
orang tua bermata buta. Lalu tongkat berlapis benda
putih yang mengepulkan asap dingin dimelntangkan
atas bahu kanan si gadis seraya berkata, "Kau gadis
nakal. Mengapa kau mengikutiku sampai ke sini.
Bukankah aku suah memberi satu tugas padamu?"
"Kau benar Paman. Tapi ketika saya masih
bingung, belum tahu mau menuju ke mana di tepi
hutan saya molihat satu kejadian. Saya membatalkan
meneruskan perjalanan, memilih lebih baik menemui
paman untuk memberi tahu. Itu sebabnya saya
berusaha mengejarmu sampai ke sini. Saya..." karena
si kakek sudah menganggap dirinya sebagai
Keponakan maka saat itu Liris Pramawari memanggil
si orang tua dengan sebutan Paman.
"Sudah...sudah! Kau anak nakal. Ayo kita
tinggalkan tempat ini. Di tengah jalan kau boleh
menceritatan kejadian apa yang telah kau alami..."
Si orang tua lalu memukul-mukulkan tongkatnya ke
pinggul si gadis. Tidak banyak bicara lagi dua orang
itu segera melangkah menuruni puncak bukti gersang,
meninggalkan Arwah Ketua dan Ratu Dhika Gelang
Gelang. Namun Arwah Ketua yang masih penasaran
berteriak. "Orang tua! Tunggu! Jangan pergi dulu! Aku ada
beberapa pertanyaan! Kau belum memberi tahu siapa
37 dirimu sebenarnya!" Arwah Ketua mengejar. Dua kaki
raksasanya membuat tanah lereng bukit berlobanglobang
ketika berusaha mengejar si orang tua dan
gadis berwajah sama dengan Ananthawuri. Namun
tiba-tiba tubuhnya laksana pohon besar tak bisa
bergerak karena tertahan akar. Dua kaki mendadak
sontak dibalut oleh tumpukan benda putih dingin luar
biasa hingga rahangnya menggembung dan geraham
bergemeletakan.
Di lereng bukit orang tua bermata putih berhenti,
berpaling pada Arwah Ketua lalu berseru.
"Apa perlunya mengejar diriku! Lebih baik kalian
mengamankan dua bayi. Selain itu kau harus cepatcepat
melenyapkan tanda tiga warna di kening gadis
gemuk itu. Kalau tidak maka dalam tiga hari otaknya
akan berubahl Dia bisa berbalik menjadi musuh yang
bisa mencelakai dirimu! Di bumi Mataram ini hanya
ada dua orang yang bisa menolong gadis gemuk itu.
Pertama, seseorang yang telah kau aniaya di rimba
belantara sana..."
"Siapa orang yang kau maksudkan"!" tanya
Arwah Ketua. Orang tua yang ditanya tidak menjawab melainkan
meneruskan ucapan.
"Orang kedua adalah keponakanku ini. Tapi tadi
kau telah sempat membuatnya kecewa. Membantingnya
ke tanah..."
Tapi keponakanmu itu tidak cidera..." menengahi
Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Cidera rubuh memang tidak. Tapi kecewa hati
Karena diperlakukan jahat kurasa tidak semua orang
bisa menerima..." Jawab si orang tua pula.
"Orang tua! Katakan siapa kau sebenarnya.
38 Apakah kau penjelmaan atau utusan Roh Agung...''
Mendengar dirinya disebut Roh Agung si orang
tua hentikan langkah, berpating menghadap ke arah
Arwah Ketua. "Mahluk raksasa penguasa Candi Miring. Jangan
terlalu mudah menduga insan biasa sebagai
penjelmaan Roh Agung. Aku melihat hal yang tidak
pada tempatnya sering terjadi dan dilakukan orang
di Bhumi Mataram ini. Banyak orang pandai yang
menyangka telah bicara dan bertemu dengan Roh
Agung ketika mereka melihat cahaya atau mendengar
suara tanpa ujud. Roh Agung Yang Maha Kuasa
memang bisa beraba dimana-mana bahkan
bersemayam dalam diri setiap insan. Namun jangan
sekali-kali menganggap setiap cahaya atau suara yang
tidak berujud itu adalah roh Agung. Kuasa Roh Agung
jauh lebih hebat dan lebih mulia dari itu. Cahaya yang
muncul, suara yang terdengar bisa saja ulah arwah
yang mendapat kekuatan dari Yang Maha Kuasa untuk
memberi petunjuk atau memberikan pertolongan
pada setiap insan. Jangan sekali-kali merendahkan
Roh Agung kalau tidak mau kualat! Ketahuilah sekali
seorang anak manusia berkesempatan melihat cahaya
Roh Agung maka dia akan tertidur lelap sampai
seratus tahun! Camkan itu baik-baik!"
Arwah Ketua dan Ratu Dhika Gelang Gelang
terdiam. Si orang tua memutar tubuh kembali.
meneruskan langkah menuruni lereng bukit.
"Dewa Jagat Bathara! Siapa orang tua bermata
buta itu" Apa aku telah kejatuhan kutuk"!" ucap
Arwah Ketua. Dia kembali berteriak memanggil orang
tua berjubah putih sambil berusaha membebaskan dua
kakinya yang dibalut lapisan putih dingin. Namun
39 orang tua itu terus melangkah menuruni lereng bukit
sambil terus memukuli bagian bawah tubuh gadis
berpakaian putih. Yang dipukuli tidak merasa sakit,
malah senyum-senyum. Tongkat itu sendiri setiap
dikibaskan menebar hawa luar biasa dingin. Namun
hawa dingin tidak mempengaruhi si gadis sebaliknya
melesat ke arah Arwah Ketua membuat mahluk
bertubuh raksasa ini semakin menggigil kedinginan.
"Orang tuai Kau pasti tukang sihir! Sudah! Aku
tidakakan mengejarmu! Kau mau pergi kemana aku
tidakperduli"
Arwah Ketua akhirnya memutuskan untuk tidak
meneruskan pengejaran. Aneh, begitu dia
membalikkan badan, tumpukan benda putih dingin
yang melapisi dua kaki raksasanya langsung meleleh
dan akhirnya lenyap sama sekali!
"Radika Ratu," kata Arwah Ketua ketika sampai
di hadapan Ratu Dhika Gelang Gelang. "Kita harus
mencari siasat baru menyembunyikan dua bayi.
Setelah bayi berada dalam keadaan aman, aku ingin
bicara banyak denganmu. Kau cepat masuk duluan
ke dalam candi."
"Kau ingat ucapan orang tua aneh tadi" Tiga
warna di keningku Ini mengancam keselamatan
diriku..."
"Radinda. bagaimana tanda itu bisa ada di
keningmu?" tanya Arwah Ketua.
"Ketika aku berhasil membuat buntung tangan
kanan orang berjubah kuning, dia sempat
menyusupkan pukulan telapak tangan kiri ke mukaku.
Saat ml aku merasa ada yang tidak beres dengan
diriku. Kita harus segera masuk ke dalam candi."
"Saatnya kau masuk ke dalam candi. Bawa dua
40 bayi ke dalam Ruang Enam Dinding Dewa. Nyalakan
kayu cendana. Tunggu sampai aku menyusul..."
"Kau sendiri mau melakukan apa Rakanda Arwah
Ketua?" tanya Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Banyak yang harus aku lakukan. Aku harus
melindungi candi ini dengan ilmu Menebar Kabut
Menutup Pandang. Lalu aku akan mengamankan
potongan tangan kanan orang berjubah kuning yang
ada dalam candi. Dari kutungan tangan di dalam candi
dengan Ilmu Menjejak Bumi Menerawang Langit. Aku
akan melacak siapa manusia itu sebenarnya dan
dimana dia berada. Lalu aku harus melenyapkan tiga
wama yang ada di keningmu... Tobat, begini banyak
pekerjaan yang harus aku lakukan. Sang Hyang Jagat
Bathara. saya mohon pertolonganMu..."
Dengan menggendong dua bayi keramat Ratu
Dhika Gelang Gelang masuk ke dalam candi. Di
halaman Arwah Ketua merapal mantera. Dua buah
peti batu yang ada di tempat itu perlahan-lahan
terlihat samar dan akhirnya lenyap. Candi Miring
sendiri walau saat itu matahari telah terbit dan
keadaan di atas bukit menjadi terang namun ujud
candi seperti diselimuti kabut tebal dan akhirnya
lenyap pula dari pemandangan, inilah kesaktian ilmu
bernama Menebar Kabut Menutup Pandang yang
kekuatannya lima kali dari kesaktian yang dimiliki
Arwah Gelap Gulita yang telah menemui ajal di tangan
Arwah Muka Hijau.
Ketika Arwah Ketua masuk ke dalam candi,
ternyata potongan tangan orang berjubah kuning tak
ada lagi. Darah yang sebelumnya berceceran di lantai
juga lenyap. 41 "Ada yang mengambil tangan dan menghapus
noda darah menghilangkan jejak..." ucap Arwah Ketua
perlahan. Kumis dan janggut diusap-usap. Mulut
sunggingkan seringai. "Apa kalian kira aku tidak
punya akal lain"!" Arwah Ketua cepat keluar cari
dalam candi, menuju ke halaman sebelah barat. Di sini
dia mengambil cairan darah yang telah mengering dan
bercampur tanah lalu dengan cepat kembali masuk
ke dalam candi.
**** SIAPAKAH adanya orang tua aneh bermata buta
dan memiliki kesaktian yang membuat Ratu Dhika
Gelang Gelang tercengang sementara Arwah Ketua
menjadi penasaran setengah mati" Di dalam episode
sebelumnya ("Meringkik Di Lembah Hantu") diriwayatkan
kakek bermata putih buta ini adalah
seorang Resi dikenal dengan nama Resi Garispasthika,
berjuluk Si Mata Salju. Dituturkan bahwa
orang tua ini suatu ketika bertemu dengan Liris
Pramawari alias Dewi Tangan Jerangkong. Peda saat
itu Si Mata Salju tengah diserang oleh dua kakek
nenek bernama Durangga dan Arupadi yang dikenai
dengan julukan Dewa Dewi Empat Penjuru Angin.
Durangga tewas. Si nenek kabur. Si Mata Salju
berhasil merampas sebilah golok sakti bernama Empat
Mulut Penghirup Darah yang kemudian diserahkan
pada Liris Pramawari. Gadis yang dianggap sebagal
keponakannya itu oleh Si Mata Salju ditugaskan untuk
membawa golok ke puncak Gunung Mahameru guna
diserahkan pada pewarisnya.
Ternyata di tengah jalan dalam bingungnya Liris
42 Pramawari menemui satu peristiwa yang
membuatnya bejtoalik dan mencari Si Mata Salju.
43 6.PENYUSUP MENEMBUS CANDI MIRING
YANG DISEBUT Ruang Enam Dinding Dewa adalah
satu ruangan gaib yang tidak terletak di dalam Candi


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Miring, melainkan mengambang di udara di atas
bannunan candi. Empat dinding ditambah lantai
dan atap terbuat dari susunan batu kebiru-biruan
memancarkan cahaya terang disertai hawa sejuk,
Konon untuk membangun ruangan yang tahan segala
macam bahaya ini dibutuhkan sekitar dua ratus
mahluk gaib dan menghabiskan waktu hampir sepuluh
tahun. Lamanya waktu pembuatan dikarenakan
mahluk gaib harus bertapa dan menunggu Para Dewa
menurunkan satu demi satu batu berwarna biru yang
menjadi bahan pembuatan dinding, lantai dan atap
ruangan. Sebenarnya sejak pertama kali kedatangan
bayi keramat Arwah Ketua ingin menempatkan
mereka di ruangan tersebut. Namun sekitar dua puiuh
tahun silam, ruang gaib yang boleh dikatakan sulit
ditembus orang luar bagaimanapun kesaktiannya,
pemah kebobolan disusupi musuh. Karena khawatir
ha! tersebut akan terulang untuk kedua kalinya maka
Arwah Ketua tidak menempatkan dua bayi yang dijaga
Ratu Dhika di ruangan tersebut
"Aku berharap dua bayi ini sekarang benar-benar
aman berada di tempat ini..." kata Ratu Dhika Gelang
Gelang. "Bagaimanapun juga kita harus tetap berwaspada
Radinda Ratu. Aku masih penasaran pada tua bangka
bermaLi putih itu! Aku tahu dia pendusta besar! Gadis
yang wajahnya sangat mirip Ananthawuri itu..."
44 "Belum tentu hanya sangat mirip tapi siapa tahu
dia sebenarnya memang Ananthawuri," kata Ratu
Dhika pula. Rupanya baik Arwah Ketua maupun Ratu
Dhika tidak melihat keadaan dua tangan jerangkong
Liris Pramawari. Kalau saja mereka sempat melihat
tentu keduanya akan berpikiran lain tentang gadis
cantik berjubah dan bei kerudung putih itu.
"Gadis itu aku yakin bukan keponakannya. Kalau
dia menjadi paman lalu ayah si yadis berapu tahun
lebih tua bangkanya dan si mata salju itu!"
"Rakanda Arwah Ketua. aku rasa perihal orang
tua aneh itu tidak penting kita bicarakan. Ada hal
lain..." "Radinda Ratu, jangan kau menganggap
gampang persoalan yang kita hadapi. Kalau dugaanmu
benar bahwa gadis itu memang Ananthawuri dan
berhasil disirap serta ditenung hingga patuh saja pada
si mata buta itu, rasanya aku harus segera melakukan
pengejaran sebelum Para Dewa murka atas dirikul
Belakangan ini aku telah sering berbuat kekeliruan
dan kelalaian..."
"Rakanda, mendengar ucapan si orang tua
bahwa dia akan datang menjemput salah satu dari
bayi ini. apa perlunya dia menculik ibu Mimba dan
Dirga..." "Si mata salju berkata begitu. Kalau dia memang
Inginkan salah satu bayi, mengapa tidak sekarangsekarang
dia mengambilnya. Lalu mengapa cuma satu
bayi saja" Aku merasa perlu meneliti kembali apa
yang tertulis di empat Gading Bersurat..."
"Rakanda, kalau tidak ada hal lain yang kau
perlukan dariku, kuharap kita bisa berganti tugas
untuk sementara."
45 "Eh, apa maksudmu Radinda Ratu?"
"Aku tidak tenang selama tiga warna celaka ini
masih ada di keningku. Ingat ucapan orang tua aneh
itu?" "Jangan kau terpengaruh. Bisa saja dia melakukan
kedustaan..."
"Rakanda Arwah Ketua, kau jaga dua bayi baikbaik.
Aku akan meninggalkan candi..."
"Memangnya kau mau kemano?" tanya Arwah
Ketua dengan mata mendelik.
"Aku akan mengejar gadis yang wajahnya mirip
Ananthawuri itu. Minta tolong dia melenyapkan tiga
wama di keningku sebelum aku nanti benar-benar jadi
berubah pikiran alias gila dan menjadi musuhmu!
Arwah Ketua terdiam beberapa ketika lalu berkala.
"Radinda. kau masih punya waktu tiga hari.
Mengapa harus terburu-buru" Kau beluin menuturkan
apa yang terjadi di candi ini sampai dua bayi nyaris
diculik orang. Siapa orang yang berjubah kuning
yang kau katakan itu" Aku sudah mengambil
gumpalan cairan darah keringnya. Aku akan
melakukan semedi Menjejak Bumi Menerawang Langit
untuk mengetahui siapa dia adanya. Kalau perlu aku
akan mendatangi sampai ke sarangnya, kalau
memang dia punya sarang sekalipun di neraka!'
"Kalau begitu aku akan membantumu...' kata
Ratu Dhika Gelang Gelang pula karena dia tahu untuk
melakukan semedi Menjajak Bumi Menerawang Langit
guna menjajaki seseorang berdasarkan sesuatu yang
merupakan bagian tubuhnya tidak rnungkin dilakukan
seorang diri. "Aku akan menceritakan padamu. Tapi setelah
itu aku tetap akan pergi mengejar gadis itu..."
46 "Kau belum tentu bisa mengejar dan menemukannya.
Orang tua bermata salju dia pasti akan
menghalangimu."
"Aku yakin dia tidak sejahat itu. Tapi kalau kelak
itu jadi kenyataan, aku akan mencari penolong yang
kedua. Yaitu orang yang menurut si mata salju telah
kau aniaya dan berada di dalam rimba belantara."
"Radinda Ratu. Kau ini ada-ada saja. Janganjangan
kau benar-benar sudah berada dalam sirap dan
pengaruh orang tua tadi. Seingatku aku tidak pernah
menganiaya orang di dalam rimba belantara di kaki
bukit sana..."
"Bagaimana kalau yang dimaksudkan si orang
tua adalah Pangeran Bunga Bangkai dan dua
pengikutnya yang kau tenung dengan ilmu Melangkah
Ke Depan. Arwah Tiba Di Belakang. Melangkah Ke
Belakang, Arwah Tiba Di Depan. Melangkah Ke
Samping Arwah Berputar Di Tengah. Hingga Pangeran
dan dua kawannya itu tidak bisa keluar dari rimba
belantara. Selain itu aku tidak tahu dimana
keberadaan kucingku Si Ragil Abang..."
"Astaga Radinda) Soal ilmu tenung itu! Bukankah
kau sendiri yang minta aku menerapkan ilmu itu agar
Pangeran aneh itu tidak datang mengacau ke sini?"
"Benar sekali Rakanda. Namun itu hal terakhir
yang bisa aku mintakan padamu. Karena sebelumnya
bukankah kau bermaksud hendak membunuh orangorang
itu?" "Aku tidak mengerti! Benar-benar tidak mengerti..."
"Rakanda Arwah Ketua, aku akan menceritakan
apa yang terjadi. Aku hanya akan menceritakan satu
kali dan tidak akan mengulang-ulang. Setelah itu aku
47 akan membantumu bersemedi. Lalu setelah itu aku
akan pergi."
Arwah Ketua tidak keluarkan ucapan apa-apa. Dia
mengembalikan dua kerincing emas milik Ratu Dhika
yang ditemuinya di lantai candi.
*** PENUTURAN Ratu Dhika Gelang Gelang...
SAAT itu menjelang pagi. Di dalam candi, tak
lama setelah Arwah Ketua pergi, di satu ruangan
rahasia Ratu Dhika Gelang Gelang tengah mengawasi
dua bayi yang tertidur lelap di alas dua pembaringan
rotan beralas kasur kapuk lembut. Dua bayi walau
baru berusia satu bulan namun keadaan tubuh
menyerupai anak berumur satu tahun. Mendadak Ratu
Dhika melihat beberapa bagian dari lantai dan dinding
ruangan seperti bergelombang, laksana permukaan
air danau disaput tiupan angin. Ratu Dhika Gelang
Gelang yang tahu seluk beluk keadaan Candi Miring.
yakin betul bahwa saat itu ada bahaya mengancam
candi, dirinya dan pasti juga yang sangat berbahaya:
mengancam dua bayi.
"Ada orang sakti mau menyusup ke dalam
candi..." Ratu Dhika berkata dalam hati. Lalu dia
melangkah cepat ke salah satu bagian dinding candi.
Ujung ibu jari tangan kanan dijilat. Ujung jari yang
basah oleh ludah itu diusap sambil ditekan ke
dinding. Ketika Ratu Dhika mendekatkan mata
kanannya ke bagian dinding yang ditekan dengan ibu
jari tadi, dia seperti mengintai melalui sebuah lobang
dan dapat melihat keadaan di luar candi bagian
selatan. Hanya kegelapan malam menjelang pagi yang
48 terlihat. Tidak kelihatan satu mahluk pun di luar sana.
Namun bagian dinding dan lantai yang
bergelombang bertambah banyak. Pertanda orang
yang tengah berusaha menyusup semakin dekat.
Ratu Dhika kembali basahi ujung ibu jari tangan
kanan. Kini ujung jari diusap dan ditekan pada
dinding sebelah kiri dimana tampak gerak gelombang
yang lebih kencang. Begitu untuk kedua kali Ratu
Dhika mengintai melalui dinding yang seolah tembus
berlobang, kali ini dia dapat melihat halaman timur
candi. Seperti tadi dia melihat suasana gelap. Namun
dalan kegelapan dia dapat melihat seorang berbadan
tinggi, mengenakan jubah panjang yang wajahnya
belum terlihat jelas.
Ketika orang ini semakin dekat ke dinding candi
sebelah timur kelihatan kalau dia mengenakan destar
dan jubah kuning. Ada bayangan tiga warna
menyelubungi tubuhnya. Bayangan ini sangat tipis
hingga kalau bukan orang berkepandaian tinggi
seperti Ratu Dhika niscaya tidak akan melihatnya.
Kejut Ratu Dhika Gelang Gelang bukan kepalang.
Namun bukan cuma bayangan tiga warna tipis itu
yang membuat gadis yang masih punya darah
keturunan penguasa di Kerajaan Bhumi Mataram ini
menjadi terkejut. Yang paling mengagetkan hingga
tengkuknya terasa dingin adalah ketika melihat dalam
genggaman tangan kiri kanan, orang ini mengepal
gumpalan tanah merah.
"Celaka! Kalau yang dipegang orang itu tanah
kuburan pasti tembus! Dia pasti bisa masuk ke dalam
candi!" Ratu Dhika memandang berkeliling lalu
berteriak, "Rakanda Arwah Ketua! Ada penyusup mau
masuk ke dalam candi!"
49 Tak ada sahutan karena Arwah Ketua saat itu
memang tidak ada di Candi Miring, tengah melakukan
pengejaran terhadap Arwah Muka Hijau yang telah
membunuh Arwah Gelap Gulita.
50 7.SANG PENYUSUP: PANGLIMA PAWANG SELA
RATU Dhika kertakkan rahang. "Arwah Ketua tidak
ada di candi! Apa boleh buat! Aku harus menghadapi
penyusup berkepandaian tinggi itu seorang diri! Siapa
dia sebenarnya. Ada cahaya tipis tiga warna
menyelubungi tubuhnya. Aku harus bisa menangkapnya
hidup-hidup! Kalau terpaksa harus menyabung
nyawa apa boleh buat. Wahai Para Dewa di
Swargaloka. Saya Ratu Dhika Gelang Gelang tidak
takut mati. Namun saya mohon ulurkan tangan
pertolonganMu. Selamatkan dua bayi Mimba dan
Dirga!" Ratu Dhika kerahkan tenaga dalam penuh dari
pusar. Dua tangan dikembang lalu didorong. Empat
buah menara candi memancarkan cahaya berpiijar
berwarna kelabu. Empat cahaya ini adalah satu
kekuatan sakti yang diarahkan Ratu Dhika pada orang
berjubah kuning yang berada di halaman timur
atau halaman depan Candi Miring.
Mendadak di udara gelap melesat sambaran
cahaya tipis tiga warna. Menyambar ke arah empat
cahaya kelabu. Benturan hebat tidak terelakkan.
Empat letusan keras menggelegar di kegelapan
menjelang pagi. Cahaya kelabu di tiga menara
bertabur lenyap. Puncak empat menara bergoyang,
mengeluarkan suara berderak. Menara ke empat yang
tidak sanggup menahan sambaran cahaya tiga warna
hancur berentakan. Di halaman depan candi orang
berjubah kuning terbanting ke tanah. Namun masih
mampu berdiri dengan cepat agak sedikit terbungkuk
pertanda mengalami cidera walau tidak berat.
51 Di dalam candi Ratu Dhika Gelang Gelang jatuh
berlutut di lantai. Sekujur tubuh bergetar dan basah
oleh keringat. "Orang berjubah kuning itu..." ucap Ratu Dhika
dalam hati. "Dia memiliki dasar tenaga daiam tinggi.
Ditambah kekuatan berasal dari cahaya tiga warna
yang menyelubunginya... Apa yang harus aku
lakukan. Langsung menghadapi dan membunuhnya
atau lebih dulu menyelamatkan dua bayi."
Saat Itu salah seorang dari dua bayi tampak menggeliat
sambil keluarkan suara mendesah pendek.
"Dua bayi itu! Mereka harus aku selamatkan lebih
dulu'" Ratu Dhika mengambil keputusan. Dia ingat
ruangan gaib bernama Enam Dinding Dewa yang
terletak di atas candi. Namun hatinya meragu untuk
membawa dan menyelamatkan dua bayi ketempat
itu. Memandang ke arah pintu depan candi, Ratu


Satria Lonceng Dewa 6 Sri Maharaja Ke Delapan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dhika merasa heran. Seharusnya orang berjubah
kuning itu sudah melewati pintu dan berada dalam
candi. Tapi sampai saat itu tidak kelihatan sosoknya.
Selagi Ratu Dhika memperhatikan bagian dalam candi
yang cukup luas tiba-tiba dinding candi sebelah utara
jebol hancur berantakan. Satu bayangan kuning
berkelebat rnasuk ke dalam candi lewat lobang besar
di dinding. Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun
mengenakan destar dan jubah kuning, berwajah tiras
dan berkulit pucat berdiri di hadapan Ratu Dhikia
Gelang Gelang. Orang Ini hanya memiliki satu alis
yaitu di atas mata sebelah kiri. panjang hitam
menjulai "Perempuan gemuk! Yang aku kenal dengan.
panggilan Ratu Dhika Gelang Gelang! Lekas jatuhkan
52 diri berlutut. Jangan berani menggagalkan niat
kedatanganku! Aku utusan Sri Maharaja Ke Delapan
Kerajaan Mataram Baru datang untuk mengambil dua
Bayi!" Si jubah kuning ini bukan lain adalah Panglima
Pawang Sela. Pembantu paling utama dan paling
terpercaya dari orang yang menyebut dirinya sebagai
Sri Maharaja Ke Delapan dari Kerajaan Mataram Baru.
Tidak mengenal manusia di hadapannya tapi
orang mengetahui siapa dirinya tidak membuat Ratu
Dhika Gelang Gelang terkejut. Namun yang membuat
dia terkesiap ketika untuk kesekian kalinya dia
mendengar orang menyebut tentang Sri Maharaja Ke
Delapan dan kini disebut-sebut pula Kerajaan Mataram
Baru. "Aku harus bisa menangkap manusia satu ini
hidup-hidup. Aku harus bisa mengorek apa arti
semua ucapannya tadi!"
Dengan cepat gadis gemuk ini sentakkan dua kaki
dan hantamkan dua tangan. Dua puluh kerincing emas
yang melingkar di lengan dan pergelangan kaki
bergemerincing keras disertai melesatnya dua puluh
larik cahaya kuning.
Walau cepat mengelak dan menangkis dengan
kebutkan dua ujung lengan jubah kiri kanan, namun
ada perasaan menganggap enteng serangan Ratu
Dhika Gelang Gelang. Tapi ketika breett... breett...
breettt..brettt empat dan dua puluh larik sinar kuning
merobek jubahnya di empat bagian, tidak menunggu
lebih lama sambil membentak orang berjubah kuning
ini melesat setinggi atap candi, membuat gerakan
aneh seperti baling-baling berputar sementara dua
tangan menebar hawa sakti.
53 "Wuttt! Wuttt!"
Satu stupa hancur. Satu lainnya terbongkar dari
alasnya. Dinding dan lantai candi remuk di beberapa
tempat Namun saat itu dua bayi dan Ratu Dhika
Gelang Gelang sudah tidak ada di tempat tersebut
Di satu ruang rahasia di bawah lantai candi Ratu
Dhika Gelang Gelang menggendong dua bayi erat-erat
Walau kedua anak ini tampak tenang-tenang saja
namun sepasang mata mereka dalam keadaan terbuka
dan sesekali bergerak berputar seoiah tahu kalau diri
mereka berada dalam ancaman bahaya.
"Anak baik-baik bagus... jangan menangis.
Jangan mengeluarkan suara..." Ratu Dhika berbisik
lalu hembus kening dua bayi. "Tidur... tidurlah anakanak
manis..." Begitu ditiup dua mata bayi yang tadi
nyalang perlahan-lahan menutup. Ratu Dhika merasa
lega sedikit. Di dalam ruangan dia berdiri tidak
bergerak. Dua kaki sedikit dikembang. sepasang mata
dipejamkan, mulut merapal ajian kesaktian ditutup
dengan doa. "Para Dewa di Kahyangan. Dengan segala
kehinaan diri ini, saya mohon pertolonganMu.
Selamatkan dua bayi ini. Para Dewa telah menetapkan
ibundanya sebagai perawan pilihan. Dua bayi ini
sesuai dengan kehendakMu wahai Para Dewa. Mereka
akan menjadi dua Ksatria Utama Bhumi Mataram,
pembela Kerajaan pembela Keadilan dan penegak
Kebenaran. Oleh karena itu Wahai Para Dewa.
dengarkan doa saya ini. Saya percaya Engkau Yang
Maha Kuasa akan mengulurkan tangan pemberi
pertolongan."
Sambil masih menggendong erat dua bayi yang
tertidur lelap Ratu Dhika Gelang Gelang rundukkan
54 badannya yang gemuk. Begitu tubuh diluruskan
kembali mulutnya berucap perlahan.
"Peti Dewa Penyelamat Raga Dan Jiwal Dengan
kehendak Yang Kuasa muncullah! Selamatkan dua
bayi keramat ini!"
Belum habis gema seruan Ratu Dhika tiba-tiba
dua cahaya berpijar dan di atas lantai dalam ruangan
rahasia itu tahu-tahu lelah berada dua buah peti
terbuat dari batu gunung kokoh kelabu.
"Blakk. .blaakkk."
Penutup dua buah peti terbuka
"Terima kasih Dewa. terima kasih..." ucap Ratu
Dhika berulang kali. Dua bayi dalam gendongan
dimasukkan ke dalam dua peti batu.
"Blaakk...blaakkk!"
Dua peti tertutup dengan sendirinya lalu
melayang ke arah kiri. Luar biasa sekali! Dua peti batu
berisi bayi menembus dinding candi laksana angin.
melesat ke halaman barat, melayang sebentar di
udara lalu amblas lenyap masuk ke dalam tanah tanpa
bekas sama sekali!
Ratu Dhika Gelang Gelang yang masih berada
di dalam ruang rahasia cepat merapat ke dinding di
belakangnya ketika tiba-tiba salah satu dinding
ruangan hancur dan dari lobang bosar yang kini
terkuak melesat masuk orang bermuka oucat berjubah
kuning dan hanya punya satu alis yaitu di atas mata
kiri. panjang menjulai sampai ke pipi!
"Kau sembunyikan dimana dua bayi"!" bentak
si jubah kuning alias Panglima Pawang Sela. "Lekas
ambil dan serahkan padaku! Atau aku buat candi ini
sama rata dengan tanah dalam sekejapan mata! Dan
55 kau akan terpendam di dalam reruntuhannya sampai
kiamat!" Ratu Dhika Gelang Gelang menyeringai,
keluarkan suara mendengus lalu berkata.
"Kau inginkan dua bayi itu! Carilah di neraka!"
Ratu Dhika Gelang Gelang lalu buka mulutnya lebarlebar.
Perut yang besar menciut mengeluarkan suara
mendesis panjang lalu berubah menjadi kempis. Dari
mulut yang terbuka menderu satu kekuatan luar biasa
dahsyat, menyedot tubuh si jubah kuning hingga saat
itu juga sosoknya laksana dibetot, naik setinggi dua
tombak lalu melesat ke arah tembok candi.
"Braaakkk!"
*** 56 8.PERTARUNGAN DALAM CANDI MIRING
ILMU kesaktian yang dikeluarkan Ratu Dhika
Gelang Gelang adalah Selaksa Angin Menghisap
Roh. Jangankan manusia, pohon besar atau
gajah sekalipun pasti akan tersedot lalu dibanting ke
arah yang dikehendaki. Dengan ilmu inilah Ratu Dhika
Gelang Gelang dulu menghajar Arwah Muka Hijau
ketika dirinya dimasukkan ke dalam bubu ikan berbisa.
Akan halnya Panglima Pawang Sela meskipun
dengan kesaktiannya Ratu Dhika mampu membuat
orang ini terbanting ke dinding candi hingga untuk
sesaat tubuhnya serasa remuk melesak namun
tampaknya dia hanya mengalami cidera tidak berarti.
Sambil memukul hancur dinding di sekitarnya dengan
dua tangan, Panglima Pawang Sela melesat keluar
dari dalam dinding. Didahului teriakan aneh yang
mirip-mirip suara ringkikan kuda dan lolongan anjing
Panglima Pawang Sela menerjang ke arah Ratu Dhika.
Serangan yang dilancarkan merupakan kebutan dua
ujung lengan jubah mengeluarkan suara seperti
gelombang menghantam karang di pantai, disertai
sambaran cahaya kuning.
"Perempuan gemuk jahanam! Jangan kira aku
tidak tahu kau menyembunyikan dua bayi dimana!
Sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan mereka!
Tapi tidak ada salahnya kalau lehermu yang banyak
lemak itu aku buat buntung lebih dulu!"
*** PADA saat yang sama di halaman candi sebelah
barat di mana dua peti berisi bayi lenyap masuk ke
57 dalam tanah tanpa bekas, seorang berjubah putih
berkelebat di tempat itu. Tangan kanan yang
memegang tongkat putih berlapis salju dingin diketuk
dua kali ke tanah lalu di sapukan di udara dua kali
pula. Mulut berucap perlahan.
"Wahai para Dewa di Swargaloka. Kau tahu ada
orang berniat jahat di dalam candi memiliki
kemampuan untuk mengeluarkan dua peti dari dalam
tanah. Dengan kuasaMu izinkan saya menyelamatkan
dua bayi itu!"
Satu cahaya putih memancar di dua tempat di
tanah. Lalu terdengar suara mengiang di telinga orang
tua yang memegang tongkat yang mengepulkan hawa
dingin. "Resi Garipastika. Para Dewa mengabulkan
permintaanmu. Selamatkan dua bayi. Tapi ingat baikbaik.
Jangan kau berlaku culas. Mengambil salah satu
dari dua bayi. Belum saatnya kau melakukan itu!
Berlutut di tanah, kembangkan dua tanganmu!"
Mendengar suara mengiang serta merta si orang
tua yang ternyata adalah Resi Garipasthika yang di
kenal dengan julukan Si Mata Salju jatuhkan diri
berlutut ke tanah. Tongkat putih diselipkan di
punggung, dua tangan dikembang.
"Arwah Suci...Kau pasti Arwah Suci yang
mewakili para Dewa, yang selama ini selalu disalah
artikan sebagai Roh Agung oleh banyak insan di
Panji Sakti 7 Pedang Keadilan Karya Tjan I D Tandu Terbang 1
^