Pencarian

Samurai Pengembara 4 1

Shugyosa Samurai Pengembara 4 Bagian 1


SHUGYOSA (Samurai Pengembara)
Buku Keempat oleh Salandra Cover oleh Tony G.
Desain sampul oleh M. Soetrisno
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit Alam Budaya, Jakarta, 1994
Scan/Edit: Clickers
PDF: Abu Keisel
KEMENANGAN YANG MELELAHKAN
SABURO melangkah ke tengah jalan itu. Tatapan
matanya tertuju pada dua samurai yang kini berdiri menghadang. Yoshioka
meninggalkan piringnya, lalu
berdiri di belakang Saburo. Dada anak itu berdetak kencang. Ini selalu terjadi.
Setiap kali ia menyaksikan Saburo bertarung, muncul getaran perasaan di dalam
dirinya. Getaran yang lebih bersumber ketidaksaba-rannya dapat memainkan pedang.
Namun selama Sa-
buro masih mampu mengatasi lawan-lawannya, Yoshi-
oka tidak diizinkan mencabut pedang. Ia ingat ucapan Saburo: "Seorang samurai
tidak harus mencabut pedang bila menghadapi lawan. Kecuali sebuah perta-
rungan tak terhindarkan. Tetapi seorang samurai tidak harus menyimpan pedang
bila menghadapi lawan. Kecuali sebuah kematian tak terhindarkan." Kata-kata itu
masih diingat jelas oleh Yoshioka. Karena itu dia diam menunggu apa yang bakal
terjadi. "Apakah kita tidak sebaiknya saling memperkenal-
kan diri?" tiba-tiba salah seorang samurai berkata. Da-ri nada suaranya, Saburo
dapat menilai bahwa lelaki itu sudah merasa yakin bakal menang. "Saya Hyogo
Watanabe, murid guru agung Kinosuke, ahli pedang
gaya chujo. Dan ini adik saya, Suzuki Watanabe. Kami berdua akan menghadapi
engkau dengan gaya chujo
yang sangat tersohor."
Saburo membungkukkan badan. "Hormat saya un-
tuk guru agung Kinosuke. Dan saya akan merasa bang-ga bila tewas menghadapi ilmu
pedang chujo yang sudah sangat termasyhur."
"Jangan kaurisaukan, kami pasti akan memper-
lakukan mayatmu dengan sebaik-baiknya. Kecuali itu, anakmu akan kami perlakukan
sebagai seorang samurai. Kami akan menebas kepalanya dengan ayunan tai-
tai, sehingga dia tak akan merasakan kesakitan."
"Terima kasih atas kehormatan itu."
"Sekarang, mari kita mulai."
Pelan-pelan Hyogo dan Suzuki menarik pedang dari
sarungnya. Kemudian mereka bergeser ke kanan, me-
renggangkan kepungan. Mata mereka menatap tajam
setiap gerakan yang dibuat Saburo. Orang-orang di sekitar tempat itu serentak
mundur, mereka tak ingin menjadi korban tebasan yang keliru.
Saburo menarik pedangnya. Bilah baja tipis se-
panjang satu meter itu berkilat-kilat diterpa matahari.
Mereka berhadapan. Masing-masing mengukur jarak
tebasan, sehingga ketegangan semakin mencekam. Ja-
lanan itu tidak terlalu lebar, sehingga setiap serangan harus dilakukan secara
efektif. Jarak sempit semacam itu berbahaya bagi semua, karena mereka berada
dalam jarak tebasan. Bagi Saburo keadaan ini terasa lebih sulit karena harus
menghadapi dua samurai sekaligus.
Di sisi kanan kiri jalan itu, sawah menghampar
luas. Pohon padi yang ditanam di situ sudah berwarna kuning, pertanda siap
dipanen. Pada siang itu angin bertiup agak kencang, sehingga daun padi berayun
dalam irama lembut. Saat ketiga samurai itu berhada-
pan, suasana di tempat itu jadi mencekam. Mata pe-
dang mereka seakan mengukur setiap kelengahan la-
wan. Ketegangan itu kian mencekam ketika Hyogo Wata-
nabe mulai melancarkan serangan. Dengan raungan
mengerikan ia menerjang Saburo sambil mengayunkan
pedang. Baru saja serangan itu berhasil ditangkis, Suzuki telah menebas perut
Saburo. Pedang itu mendesis setengah inci dari sasaran. Saburo berbalik cepat
kemudian mengirimkan tebasan menyilang. Terdengar
suara pedang beradu yang menimbulkan pijar api di
udara. Serangan mereka benar-benar berbahaya. Aku tak boleh lengah sedikit pun bila tak
ingin terkapar di tanah. Teknik mereka tidak bisa diremehkan.
Serangan kedua terjadi lebih hebat lagi. Hyogo dan Suzuki menyerbu serentak
dengan tebasan menyilang.
Saburo menangkis sambil mundur dua langkah. Tetapi kedua lawannya seperti tak
ingin memberi kesempatan. Mereka terus menerjang dengan tikaman ke arah jantung
Saburo. Untuk menghindari serangan itu, Saburo berguling-guling di tanah,
sementara musuhnya terus memburu penuh nafsu membunuh. Kerikil-kerikil tajam
menikam punggungnya, namun Saburo te-
rus bergulingan untuk menghindari sabetan pedang
lawan yang datang bertubi-tubi seperti badai. Amukan itu terus menggempur
pertahanan Saburo. Semua ter-henti ketika Saburo menelusup ke balik bangku se-
hingga pedang Hyogo menancap di bangku itu. Saburo melompat ke belakang tiang
bambu, namun Suzuki
menebas tiang itu hingga terpenggal dua. Seketika atap warung meliuk karena
tiang penyangganya hilang.
Saburo menggunakan kesempatan untuk berlari ke
tempat yang lapang. Napasnya terengah-engah, sementara tatapan matanya
menghunjam ke mata kedua
musuhnya. Dari serangan bertubi-tubi itu ia menangkap sesuatu yang memberi
bayangan samar tentang
kelemahan lawannya.
Mereka sangat baik menyerang, bahkan tidak memberi peluang sedikit pun untukku.
Tetapi kulihat pertahanan mereka tidak sebaik serangannya. Inilah pelua-ngku!
Saburo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, kemu-
dian dengan raungan panjang ia menyerbu kedua mu-
suhnya. Hyogo dan Suzuki kaget menyaksikan kene-
kadan Saburo, sehingga mereka terdesak ke belakang.
Mata Saburo berkilat penuh kesengitan. Ia menerjang tanpa memilih lawannya.
Dalam sekejap Saburo telah berubah menjadi orang
gila, ia menerpa lawannya tanpa secuil pun rasa takut.
Ia menebas ke kanan ke kiri seperti orang kesurupan.
Kedua lawannya tak diberi kesempatan sekali pun untuk menarik napas. Pedangnya
mendesing ke sana ke-
mari, sedang gaung di dalam dirinya menjadi petunjuk betapa dia tak peduli
dengan keselamatannya sendiri.
Yoshioka menutup mata dengan kedua tangannya ke-
tika menyaksikan pertarungan gila-gilaan itu.
Sesaat berikutnya, ketika Yoshioka membuka kem-
bali matanya, ia melihat ketiga orang itu masih berhadapan. Mereka seperti
binatang aduan yang saling menatap dan mengincar kelengahan lawan. Saburo
terengah-engah, keringat membasahi sekujur badannya.
Tadi dia memperkirakan, terjangan yang beruntun
akan menghancurkan pertahanan lawan. Ternyata du-
gaannya keliru. Hyogo dan Suzuki benar-benar lawan yang tangguh. Meskipun tidak
sebaik bila mereka menyerang, tetapi pertahanan mereka tidak buruk.
Harus ada sebuah cara untuk menaklukkan mereka.
Harus! Tiba-tiba secara samar muncul gagasan aneh dalam
pikirannya, gagasan yang ia sendiri tak yakin memba-wa hasil. Tetapi apa pun
jadinya, ia akan mencobanya.
Maka ketika Hyogo dan Suzuki menerjang dengan dua
tebasan yang berbeda, Saburo berlari, lalu meng-
hindari tebasan itu sambil meloncat ke dalam sawah.
Ia sekarang berdiri di tengah sawah dengan posisi kaki yang kokoh. Pedangnya
digenggam mendatar di atas
matanya. Seperti seekor banteng luka, ia siap me-
nunggu. Hyogo dan Suzuki saling berpandangan. Sekilas
tampak keraguan di matanya. Namun karena Saburo
tidak keluar juga dari sawah, mereka akhirnya masuk ke sawah.
Daun padi berayun mendesis, menimbulkan suara
gemerisik ketika kaki mereka bergeser dari tempatnya.
Meskipun sudah memasuki masa panen, namun sa-
wah tersebut masih digenangi air, sehingga tanahnya menjadi berlumpur. Kaki
mereka melesak ke dalam
lumpur, sehingga memperlambat setiap gerakan yang
mereka lakukan.
Saburo telah menyadari hal itu. Dan ia tak punya
kerisauan apa pun dengan lumpur yang mengotori pa-
kaiannya. Berbeda dengan Hyogo dan Suzuki. Mereka
terbiasa hidup nyaman di perguruan. Lumpur yang ki-ni mengotori kaki serta
pakaiannya, membuat mereka kehilangan semangat bertarung. Inilah yang kemudian
dimanfaatkan Saburo. Sebelum kedua musuhnya
memperoleh kembali keyakinannya, Saburo telah me-
nerjang seperti anjing gila. Ia mengayun pedangnya ke arah Hyogo, kemudian
berbalik dan meloncat menebas Suzuki, terdengar jeritan tertahan, sebelum tubuh
Suzuki terhempas di atas rumpun padi dengan darah
menyembur dari urat lehernya. Hyogo menerjang, na-
mun Saburo justru menyongsongnya lebih cepat dan
menghunjamkan pedangnya ke perut lawan. Suara
Hyogo keluar seperti orang tercekik. Untuk beberapa saat kedua tubuh itu
berhimpitan, kemudian pelan-pelan tubuh Hyogo rubuh ke sawah. Saburo memutar
pedangnya, lalu memasukkan kembali ke dalam sa-
rungnya. *** Saburo dan Yoshioka melanjutkan perjalanan. Mereka
menyusuri jalanan desa menuju ke arah Suruga. Lan-
git terlihat biru jernih, sehingga pemandangan tampak indah. Ratusan ekor
kelelawar terlihat terbang berir-
ing-iring menuju hutan Amagi. Sayapnya yang lebar
dan hitam, seperti tirai hitam yang panjang.
Meskipun bangga setengah mati atas kemenangan
Saburo, Yoshioka berusaha menahan diri untuk tidak banyak bicara. Perasaannya
yang tajam mengatakan
bahwa Saburo sedang masgul. Meskipun pertarungan
itu berhasil dimenangkan, tetapi tampak jelas, dirinya sempat kewalahan
menghadapi mereka. Serangan gaya
chujo nyaris membunuhnya. Ia selamat karena ada
sawah yang berpihak padanya. Sawah itu telah memu-
tar balik keadaan.
"Apakah kita akan terus mengembara?" akhirnya
Yoshioka tidak tahan berdiam diri.
"Kenapa?"
"Tidakkah berjalan begini sangat melelahkan?"
"Itulah jalan pedang para shugyosa. Menempuh ja-
rak tak terbatas dan tak memikirkan tempat tinggal.
Seorang samurai sejati hanya menjalani hidup untuk kemuliaan dan pengabdian.
Hidup tidak semata-mata
untuk bersenang-senang. Makanan dan kesenangan,
bagi seorang samurai, hanyalah pelengkap. Berkah da-ri surga. Jadi engkau jangan
bermimpi hidup ber-
senang-senang selama mengembara."
"Mungkinkah kita bisa kembali ke Kamakura?"
"Bila Tuhan menghendaki, kita pasti akan kembali
ke sana." "Kapan?"
"Tidak seorang pun tahu."
"Tetapi bagaimana caranya kita bisa kembali ke sa-
na kalau hampir setiap waktu kita dikejar-kejar seperti pencuri. Nobunaga
mempunyai pasukan yang jumlahnya terus bertambah, sementara kita tidak pernah
menggalang kekuatan. Bagaimana mungkin kita dapat
merebut kembali Kamakura?"
"Kita sedang berusaha untuk menggalang kekuatan.
Di Suruga, kita akan mencoba mendekati Shogun Im-
agawa. Dulu persahabatannya dengan ayahmu sangat
erat. Bahkan aku pernah beberapa kali membelanya
dalam pemberontakan para ronin. Jadi kita dapat berharap bisa memperoleh bantuan
darinya." "Seberapa kuat pasukan Imagawa?"
"Cukup kuat. Meskipun mereka tidak terlatih berpe-
rang, tetapi jumlah prajurit yang besar sama kuatnya dengan sekelompok samurai
yang terlatih."
"Mudah-mudahan dia masih ingat padaku."
Saburo tersenyum. Mereka sekarang menuruni le-
reng bukit menuju ke arah Sungai Yagi. Sungai itu
membentang lebar di antara lereng bukit dan dataran Suruga. Airnya yang berwarna
coklat sepintas terlihat tenang, padahal di dalamnya, air itu mengalir deras
menuju ke lautan. Sejumlah anak petani tengah ber-suka-ria mandi telanjang di
tepi sungai. Mereka bermain dengan lumpur dan kepiting. Melihat anak-anak
sebayanya terlihat gembira mandi di sungai, Yoshioka berkata pada Saburo,
"Bagaimana kalau kita istirahat sejenak" Aku ingin mandi di sungai."
Saburo berpikir sejenak, lalu katanya, "Perjalanan kita masih jauh, jadi tak ada
salahnya kau mandi bersama mereka."
"Cihuiii!" pekik Yoshioka girang. Kemudian seperti kuda ketakutan ia lari
menghambur ke tempat anak-anak itu. Tanpa perasaan risih ia melepas pakaian, la-
lu masuk ke sungai.
"Jangan ke tempat yang dalam," kata Saburo. "Ku-
rasa kau bukan jago renang."
"Tetapi aku bisa," protes Yoshioka. "Ketika di...," ti-ba-tiba seperti tersadar,
ia membatalkan ucapannya.
"Baiklah, aku akan mandi di tempat yang dangkal."
Anak-anak di sekitarnya, yang kira-kira berjumlah
dua belas anak, tidak merasa terganggu dengan keha-
diran Yoshioka. Mereka mengira anak itu pengembara biasa. Mereka terus berenang,
menyelam, dan saling menyemprot dengan air. Mereka tertawa-tawa riang.
Tak terkecuali Yoshioka, yang kemudian bermain bola dari anyaman rotan bersama
tiga anak di situ.
"Apakah itu ayahmu?" seorang anak bertanya.
Yoshioka menoleh ke Saburo, lalu menjawab, "Ya,
dia ayahku."
"Kalian pengembara?"
"Ya, kami shugyosa," jawab Yoshioka bangga. De-
ngan menyebut 'shugyosa' ia merasa lebih dari seorang pengembara. "Ayahku
seorang samurai."
"Kalian mau ke mana?"
"Ke Suruga."
"Oh."
Mereka kembali bermain lempar-lemparan bola ro-
tan sambil teriak-teriak kegirangan.
Saburo berbaring di bawah rumpun bambu, tak
jauh dari tempat anak-anak itu bermain. Dengan te-
nang ia memejamkan mata. Matahari yang disaring
daun bambu membuat cahayanya tak menyengat.
Bahkan di tempat Saburo terasa rindang.
Sambil menggigit-gigit rumput, Saburo memandangi
anak-anak itu. Dalam benaknya tiba-tiba terbayang
anaknya - Kojiro. Dimanakah dia sekarang" Benarkah
dia diselamatkan pendeta Budha" Ataukah dia tewas
tanpa diketahui pasukan Nobunaga" Tiba-tiba muncul kerinduan terhadap anak itu.


Shugyosa Samurai Pengembara 4 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ada perasaan bersalah, kenapa pada waktu itu ia memaksa Kojiro pergi sendiri.
Padahal kalau saja ia cepat mengambil keputusan, tak ada terjadi perpisahan.
Barangkali saat ini anaknya tengah bermain bersama anak-anak itu. Memandangi
anak-anak di sungai tersebut, tak terasa
mata Saburo berkaca-kaca. Sampai detik ini, ia merasa belum pernah membahagiakan
Kojiro. Pada saat anak
itu lahir, Saburo tengah merintis karier militer. Hampir setiap saat ia pergi
berperang, atau melatih anak pasukannya untuk bertempur. Pada masa ia menikahi
istrinya, keshogunan Ashikaga tengah mengalami kerun-
tuhan. Para daimyo di wilayahnya saling berebut kekuasaan, para gubernur
menyelewengkan wewenang,
dan ronin memanfaatkan keadaan dengan merampok
dan mencuri. Keadaan tidak aman telah menyebabkan
Saburo hampir setiap hari meninggalkan rumah. Bah-
kan ia tak sempat menunggui saat anaknya lahir. Ketika itu ia sedang berada di
Suruga, memberikan bantuan pada Shogun Yoshimoto, akibat serbuan tentara utara
yang dipimpin Takeda Shingen.
Saburo kembali dengan membawa kemenangan. Ke-
shogunan Yoshimoto berhasil diselamatkan. Ketika ia pulang, istrinya menyambut
kedatangannya dengan
menggendong seorang anak berusia delapan bulan.
Saburo sangat terharu. Ia memondong anak itu dan
menamainya Kojiro.
Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Perang sau-
dara dan perebutan kekuasaan merebak di seluruh
Jepang. Dari hasil penyelidikan mata-mata, Ashikaga mengetahui Oda Nobunaga,
penguasa Owari, bermaksud menyerbu Kamakura. Selama lebih dua tahun,
Nobunaga telah menghimpun hampir dua ribu samurai
untuk memperkuat pasukannya. Saburo menyadari,
bahaya besar bakal ia hadapi. Usaha untuk meminta
bantuan pada Yoshimasa tidak membuahkan hasil,
karena pada waktu itu penguasa Suruga tersebut sa-
kit-sakitan dan menjelang ajal. Anaknya, Imagawa Yoshimoto, tak lebih seorang
seniman yang tak punya
keberanian berperang. Akhirnya Saburo harus bekerja keras menghimpun kekuatan,
sekaligus mengawasi latihan yang dilakukan sepanjang hari.
Bertahun-tahun Saburo menghabiskan waktu di
tempat latihan. Hari-harinya diisi dengan latihan perang dan menghadiri
pertemuan dengan Shogun Ashi-
kaga. Karena kesibukannya, ia sampai tak menyadari Kojiro telah tumbuh sebagai
anak berumur tujuh tahun.
Aku tak pernah memperhatikan anak itu.
Saat kesadarannya tumbuh, ketika semua sudah
terlambat, serbuan Nobunaga telah memporak-poran-
dakan Kamakura. Menghancurkan segalanya. Ia sem-
pat menyelamatkan Kojiro, namun akhirnya anak itu
pun terpaksa ia korbankan untuk menyelamatkan Yo-
shioka. Adilkah keputusan ini" Saburo termangu. Saat itu pikirannya hanya
dipenuhi pengabdian terhadap
Ashikaga. Semangat bushido di dalam dirinya siap me-nebus kesetiaan itu dengan
apa pun. Tetapi adilkah mengorbankan Kojiro dalam kemelut ini" Lantas apa
yang kudapatkan"
Saburo termangu. Tak disadari air mata telah mele-
leh di pipinya.
Ia tersadar ketika mendengar derap kaki kuda me-
nuruni lereng itu. Ada dua puluh penunggang kuda
menghampiri tukang perahu yang ada di situ. Dari pakaiannya, Saburo tahu mereka
adalah pasukan Nobu-
naga. Kecuali pemimpinnya mengenakan pakaian ji-
rah, dengan lempeng-lempeng logam yang gemerincing bila kudanya berlari, dua
orang prajurit membawa
tombak lengkap dengan bendera dengan lambang No-
bunaga. Pimpinan pasukan itu bertanya, "Apakah kalian me-
lihat seorang samurai dengan seorang anak lewat di sini?"
"Tidak, Tuan," jawab tukang perahu.
"Kalau kalian nanti melihatnya, segera laporkan padaku. Dia baru saja membunuh
dua orang samurai di
tepi desa. Sekarang mereka sedang menuju Suruga."
"Sejak tadi belum ada samurai lewat di sini."
"Baiklah. Tapi kalian jangan lupa, segera laporkan kalau melihat mereka."
"Baik, Tuan."
"Jangan coba-coba melindungi samurai itu. Mereka
adalah Saburo Mishima dan putra Ashikaga."
"Tentu, Tuan. Kami pasti akan melaporkannya."
Pimpinan pasukan itu menarik kembali tali kekang
kudanya, kemudian menaiki lereng bukit itu. Derap
kaki kuda itu terdengar hingga ke kejauhan mening-
galkan kepulan debu tipis di udara.
Ketika pasukan berkuda itu telah lenyap, Yoshioka
segera mengambil pakaian dan berlari menghampiri
Saburo. "Mereka pasukan Nobunaga," kata Yoshioka sambil
meletakkan pedang di tanah, lalu mengenakan pakai-
annya. "Kita harus segera pergi dari sini. Tadi kudengar tukang perahu itu
diancam untuk melaporkan ki-ta." "Kalau begitu kita harus segera pergi."
Dengan terburu-buru Yoshioka mengikat kimono-
nya, lalu menyelipkan pedang di pinggangnya. Tak lu-pa ia mengikat topeng
pemberian Ayako di tali kimononya.
"Mereka tahu kalau kita akan ke Suruga," kata Yo-
shioka sambil mengikat tali sandal jeraminya. "Sebaiknya kita mencari jalan yang
tidak mungkin dilewati mereka."
Saburo menjawab tenang, "Kita akan melewati jalan
lain." "Baiklah, mari kita pergi."
Saburo berdiri, lalu berjalan menuruni lereng bukit menuju ke tempat tukang
perahu. "Hei, untuk apa kita menemui mereka" Tadi mereka
sudah berjanji untuk melaporkan kita."
"Diamlah. Biar aku bicara pada mereka."
Saburo berjalan tenang mendekati tukang perahu
itu. Lima tukang perahu itu, bagi Saburo, tidak berbahaya. Selain mereka bukan
orang yang terbiasa memegang pedang, jawaban mereka pada pasukan Nobuna-
ga itu membuktikan bahwa mereka tidak memusuhi
Saburo dan Yoshioka.
Kelima tukang perahu itu melangkah mundur ke-
tika Saburo mendekatinya.
"Terima kasih kalian telah menyelamatkan saya,"
kata Saburo sambil membungkukkan badan. "Jasa
baik kalian tidak akan pernah kulupakan."
Seorang tukang perahu itu memberanikan diri ber-
tanya, "Benarkah engkau Saburo Mishima?"
"Benar."
"Panglima perang Ashikaga?"
"Ya."
Seperti diberi komando, kelima tukang perahu itu
langsung bersujud. Mereka membungkukkan badan
hingga kepala mereka menyentuh tanah.
Dengan suara terbata-bata, tukang perahu yang pa-
ling tua berkata, "Maafkan kami, Tuanku Mishima."
Saburo segera mencegah mereka bersujud. "Se-
baiknya kalian berdiri. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalian tidak salah apa-
apa." "Tetapi rasanya, kami telah berbuat tidak sopan pa-da Anda."
"Jangan dipikirkan. Sekarang aku hanya seorang
samurai pengembara."
Kelima tukang perahu itu saling berpandangan.
Sambil menatap Yoshioka, tukang kayu itu kembali
bertanya, "Benarkah dia Tuanku Natane Yoshioka?"
"Bukan. Dia anakku, Kojiro."
Kelima tukang perahu tampak bernapas lega. Ke-
mudian mereka menceritakan tentang patroli di daerah
itu yang dilakukan setiap hari. Berita tentang rencana kepergian Saburo ke
Suruga, rupanya menyebabkan
Nobunaga mengerahkan pasukan untuk segera me-
nangkapnya. "Sebaiknya Tuanku jangan menuju Suruga. Di se-
panjang jalan ini berkeliaran samurai yang meng-
inginkan hadiah itu. Bahkan kami mendengar, di se-
panjang perbatasan, semua orang digeledah dengan
seksama. Bahkan keranjang, gerobak, dan barang apa pun yang dibawa menuju Suruga
digeledah. Pasukan
Nobunaga telah membuat pagar betis sehingga Tuanku tak mungkin lolos dari
penjagaan mereka."
Saburo diam beberapa saat. Ia menatap bukit O-
wara, bukit kecil yang berada di wilayah Suruga. Tinggal perjalanan setengah
hari mereka akan keluar dari wilayah kekuasaan Nobunaga. Namun pikiran lain
melintas, kalau benar penjagaan di perbatasan seperti itu, tak ada gunanya
mereka ke sana.
"Kita harus mengubah perjalanan," kata Saburo pa-
da Yoshioka. "Tak bisa terus ke Suruga."
"Tetapi bukankah itu tujuan kita?"
"Dengan penjagaan yang demikian ketat, kita tak
mungkin dapat memasuki Suruga."
"Apakah tidak sebaiknya kita berputar lewat Mika-
wa?" "Itu pun tidak ada gunanya. Sekarang ini kita tidak mengetahui Tokugawa Ieyasu
berpihak ke mana. Belum pernah terjadi pertentangan antara Ieyasu dengan
Nobunaga, bila mereka ternyata bersahabat, kita seperti masuk perangkap
berbahaya."
Yoshioka terdiam. Ia mencoba berpikir, tetapi tak
dapat menemukan jalan keluar. Akhirnya ia diam saja.
"Bisakah kalian menyeberangkan kami?" Saburo
bertanya. Tukang perahu itu membungkukkan badan dalam-
dalam, "Dengan senang hati, Tuanku."
Yoshioka langsung bertanya, "Hei, kenapa kita me-
nyeberang?"
"Itulah jalan yang paling aman."
"Kita akan ke mana?"
"Kembali ke Kamakura."
*** PERTEMUAN TAK TERDUGA
DATARAN Nagakute menghampar luas. Tanahnya
berwarna coklat. Rumpun ilalang yang tumbuh subur
di tempat itu, berayun-ayun seperti gelombang laut mengikuti tiupan angin.
Pohon-pohon kriptomeria
tumbuh di beberapa tempat, menjadi sarang rian-rian.
Puluhan ekor burung itu beterbangan di langit, suaranya menjerit-jerit membuat
suasana pagi jadi ceria.
Shogun Nobunaga duduk di atas punggung kuda-
nya sambil memandang panorama pagi itu. Wajah le-
laki itu tampak segar, seperti wajah remaja yang tengah bahagia. Sejak dulu ia
memang suka berburu,
karena kegemarannya itu memberikan puncak keba-
hagiaan yang tak terkatakan. Pada saat ujung tom-
baknya menembus tubuh binatang buruannya, Nobu-
naga merasakan kepuasan yang sulit digambarkan.
Mirip orgasme. Kadang-kadang ia merasakan darah samurai masih
mengental dalam dirinya. Ketika ia menebaskan pe-
dang, lalu melihat darah menyembur dari luka yang
menganga, ada kepuasan setani yang ia rasakan. Perasaan yang membuncah, mirip
ledakan minuman keras
yang dibuka sumbat botolnya. Sebagai penguasa Owa-
ri, kini ia memiliki lebih dua ribu samurai yang akan melakukan segala
perintahnya. Kenyataan itu mem-
buat Nobunaga tak pernah lagi mencabut pedang un-
tuk menebas musuh. Maka berburu menjadi bagian
pelampiasan jiwa samurai di dalam dirinya. Hampir setiap bulan, ia menghabiskan
waktu lebih dari satu
minggu di padang perburuan. Bahkan tak jarang No-
bunaga menggunakan saat-saat berburu untuk me-
mikirkan soal-soal penting. Ketika menatap panorama di depannya, sering muncul
gagasan baru tentang wilayah kekuasaannya, otonominya, atau ambisi-ambisi yang
belum berhasil ia raih. Panorama di depannya
memberikan kesadaran betapa luas dan indahnya ne-
geri Jepang. Namun hingga kini, Jepang dikoyak-koyak perang saudara dan
perebutan kekuasaan. Para daimyo yang sesungguhnya menjadi wakil shogun untuk
membentengi wilayah kekuasaannya, kini justru sering menjadi pemberontak.
Kekayaan mereka yang seharusnya sebagian besar diserahkan pada shogun seba-
gai upeti, digunakan membayar samurai yang siap berperang di pihaknya. Keadaan
semacam itu akan terus berlanjut apabila tidak muncul penguasa tunggal yang
gagah perkasa. Penguasa yang mampu menaklukkan
semua daimyo, dan berkuasa mutlak atas negeri Je-
pang. Penguasa seperti itulah yang sesungguhnya di-impi-impikan Nobunaga.
Penguasa yang memiliki wi-
layah kekuasaan tak terbatas, dan tidak terpecah-
pecah oleh kekuasaan para daimyo.
Pikiran tentang kekuasaan itu melintas di benak
Nobunaga. Karena itu ia berpaling pada Konishiwa
yang berada di belakangnya, "Konishiwa-san kemari-
lah!" Konishiwa menarik tali kekang kuda mendekati No-
bunaga. "Menurut pikiranmu, dari manakah mata-mata yang
terbunuh kemarin?"
"Hingga kini belum dapat dipastikan. Tidak ada se-
potong pun tanda pengenal yang berhasil kita da-
patkan. Bahkan surat pengenal penduduk pun tidak
ditemukan."
"Bagaimana dengan sertifikat perguruan?"
"Tidak ada di kantongnya."
"Kalau begitu, mungkin saja dia ronin biasa."
"Boleh jadi demikian. Tetapi kalau memang ronin
biasa, untuk apa dia mematai-matai kita?"
"Rasanya kau benar. Dia pasti disuruh seseorang,
tetapi siapa?"
Konishiwa tidak menjawab.
Nobunaga bertanya, "Mungkinkah Imagawa?"
Konishiwa berpaling cepat, "Itulah dugaan saya."
"Bagaimana kau dapat menduga demikian?"
"Sesudah Hosokawa mengundang dia ke Kamakura,
Imagawa mempunyai alasan untuk mengirim mata-
mata, melakukan penyelidikan atas rencana kita. Setidak-tidaknya, bila bukan
karena gagasannya, tentulah hasil pemikiran Mayeda Toyotomi."
"Samurai dari Mikawa itu?"
"Benar."
"Sejauh mana kesetiaannya terhadap Imagawa?"
"Sampai mati. Dialah sesungguhnya yang berkuasa


Shugyosa Samurai Pengembara 4 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

atas prajurit Imagawa saat ini."
"Apakah dia tidak dapat dibeli?"
Konishiwa menoleh cepat. Ia kaget mendengar kete-
rusterangan Nobunaga. Namun untuk tidak mengece-
wakannya, ia berkata, "Apakah Tuanku ingin menco-
ba?" "Kuharap dia turut datang memenuhi undangan ki-
ta," kata Nobunaga tanpa tekanan. "Saat itu aku ingin mengajaknya minum teh dan
berbincang-bincang de-ngannya."
"Saya akan mengatur tempat dan waktunya."
Nobunaga menghela napas panjang. Wajahnya yang
tertimpa sinar matahari mulai memerah. Ia melihat di kejauhan, sejumlah prajurit
pengintai tengah menyusuri rumpun ilalang untuk mencari binatang buruan.
Belum ada tanda-tanda dari mereka bahwa ada bina-
tang yang dapat diburu.
"Bagaimana dengan Saburo?" tiba-tiba Nobunaga
mengalihkan pembicaraan.
"Maksud Tuanku?"
"Tidak mungkinkah dia yang mengirimkan mata-
mata?" Konishiwa memikirkan kemungkinan itu.
"Hingga kini kita belum mendengar kabar tentang
dirinya," lanjut Nobunaga. "Kecuali pertarungan-pertarungan yang selalu dia
menangkan, tidak pernah kita mendengar tentang orang itu. Tetapi bukan mustahil,
pada saat ini dia sedang menyusun kekuatan baru.
Siapa tahu" Betapa pun Saburo Mishima adalah seo-
rang panglima perang Ashikaga. Pengatur strategi yang sangat tangguh. Kita tidak
boleh meremehkannya."
Konishiwa tidak menyukai pujian atas Saburo, ka-
rena itu dia menjawab, "Saat ini kita telah menem-
patkan orang untuk mengawasi setiap penjuru Owari
dan Kamakura, bahkan kita melakukan pagar betis di sekitar perbatasan Mikawa,
Totomi, dan Suruga. Rasanya tidak mungkin dia dapat membangun kekuatan
tanpa kita ketahui. Tuanku tidak usah merisaukan Saburo Mishima."
Nobunaga tahu perasaan Konishiwa, namun ia ti-
dak mempedulikannya. "Hampir lima ratus samurai telah kita kerahkan untuk
menangkap Saburo, hingga
kini tak ada hasilnya. Apa pun dalihnya, kita harus mengakui keuletan serta
kegigihannya. Dia bukan jenis orang yang mudah menyerah."
Konishiwa terdiam. Sesungguhnya ia merasa kece-
wa mendengar jawaban itu, namun tak ada yang dapat
dilakukannya. Apa yang harus dilakukannya adalah
menangkap Saburo dan memenggal kepalanya. Hanya
itu. Lain tidak.
Suasana menjadi hening. Tidak seorang pun di an-
tara mereka membuka pembicaraan. Angin semilir
menyapu dataran Nagakute, menggoyangkan pucuk
ilalang serta dedaunan. Sementara matahari mulai me-rayap ke langit, menebarkan
terang tanah di dataran itu. Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh sorak-
sorai prajurit pengintai yang melihat seekor babi hutan berlari menerobos semak
belukar. Bendera kuning di-kibar-kibarkan sebagai tanda ada binatang buruan.
Nobunaga segera meminta tombak dari prajurit di
sampingnya, kemudian menggebrak kudanya untuk
lari ke arah sorak-sorai itu.
Nobunaga mengangkat tombak sambil terus mema-
cu kudanya. Ia mengikuti arah lari babi hutan tersebut dengan nafsu membunuh.
Binatang tersebut mendengking-dengking sambil terus menyusup ke semak
belukar. Dengan ketakutan ia lari berputar-putar
menghindari kejaran puluhan orang yang bersorak-
sorai di belakangnya. Nobunaga sendiri berusaha mengukur jarak, ketika saatnya
diperkirakan sudah tepat, ia melempar tombaknya sekuat tenaga, mata tombak
itu menghunjam di tanah, hanya beberapa inci dari
babi hutan tersebut.
Dengan geram Nobunaga mencabut tombaknya, lalu
mulai mengejar lagi. Suara hiruk-pikuk terdengar, juga derap kaki kuda yang
menembus pucuk-pucuk ilalang.
Babi hutan tersebut kini berlari menuruni lereng
bukit, namun para pemburu seperti tak ingin mele-
paskannya. Kuda Nobunaga menuruni lereng itu de-
ngan meninggalkan debu berkepul di udara. Karena lereng tersebut berbatu-batu
dan penuh semak belukar,
jarak pemburu dan binatang tersebut kian lama kian jauh. Tetapi hal itu justru
semakin menambah semangat Nobunaga. Ia bertambah sengit memacu kudanya.
Nobunaga telah meninggalkan para prajuritnya di
belakang, ia sekarang sendirian memacu kuda mem-
buru babi itu. Konishiwa yang memang bertugas me-
ngawal tidak mau tergesa-gesa. Ia ingin membiarkan majikannya memuaskan nafsu
membunuhnya. Babi hutan tersebut menerobos semak, lalu berbe-
lok ke balik bukit. Tiba-tiba terdengar binatang itu mendengking kesakitan.
Nobunaga semakin cepat memacu kudanya. Ia menerobos semak, lalu berbelok.
Seketika ia terperangah dan langsung menarik kekang.
Kuda itu berdiri sambil meringkik. Untuk beberapa
saat, Nobunaga berusaha menguasai keadaan.
Kuda itu akhirnya berhasil ditenangkan. Sementara
Konishiwa tampak telah sampai di tempat itu. Mereka melihat babi hutan yang
mereka buru tengah mengge-lepar sekarat terkena perangkap bambu yang berujung
runcing. Darah binatang tersebut mengalir di tanah.
Pada saat itu Kojiro berlari mendekati tempat itu.
Wajahnya tersenyum puas karena berhasil meme-
rangkap babi hutan.
"Siapa yang membuat perangkap itu?" tiba-tiba sua-
ra Nobunaga terdengar menggelegar. Ia tampak kecewa sekali karena tak dapat
melampiaskan hasrat membunuhnya.
Kojiro kaget menghadapi kenyataan itu. Tetapi su-
dah terlambat. Dia sudah berada di tengah kepungan prajurit bersenjata lengkap.
"Siapa yang membuat perangkap itu?" Konishiwa
mengulangi ucapan majikannya. "Tuanku Nobunaga
ingin mengetahui siapa yang memasang perangkap itu?"
Kojiro membungkuk hormat, "Saya, Tuanku."
Nobunaga bertanya, "Siapa kamu?"
"Saya Yos..., Yoshi, Tuanku."
"Di mana kamu tinggal?"
"Di balik hutan itu, Tuanku."
"Siapa yang menyuruhmu memasang perangkap
itu?" "Saya sendiri, Tuanku. Tak ada yang menyuruh."
"Kau tahu ini wilayah kekuasaanku?"
Kojiro diam. Ia ragu-ragu menjawab. Matanya saja
yang berkedip-kedip menatap Nobunaga. Kemudian ia
membungkuk hormat.
"Ampuni saya, Tuanku. Saya tidak tahu kalau ada
larangan memasang perangkap di sini."
"Kau tahu, kalau tidak ada babi itu, aku yang akan terkena perangkapmu?"
"Ampuni saya, Tuanku."
Nobunaga menatap anak di depannya dengan ge-
ram. Kemudian ia memutar kudanya, kemudian mem-
beri isyarat agar seluruh prajuritnya kembali ke tenda.
Konishiwa menatap tajam Kojiro, ia merasa pernah
kenal anak itu, tetapi di mana" Sinar matanya yang tajam memancarkan bakat serta
kepribadiannya. Ketika semua prajuritnya telah berlari-lari mengikuti Nobunaga,
akhirnya ia memutar kuda untuk menyusul.
Kojiro menatap kepergian Nobunaga dan prajuritnya
dengan pandangan nanar. Ia mencoba meredakan na-
pasnya yang berdegup-degup lebih kencang. Selintas tadi ia menangkap isyarat
kecurigaan pada mata Konishiwa. Lelaki itu menatapnya sangat lama, seakan ingin
mengenali dirinya. Pandangan yang menyeruak,
sepertinya ingin mengupas wajah Kojiro.
Sesaat memikirkan hal itu, tiba-tiba muncul kesa-
daran pada diri Kojiro bahwa dia dalam bahaya. Seberapa pun singkat pertemuan
itu, pastilah membang-
kitkan kenangan Konishiwa pada dirinya. Ia sendiri tak tahu apakah pernah
bertemu dengan lelaki tersebut di
istana atau belum, tetapi nalurinya mengatakan, Konishiwa pergi dengan membawa
kecurigaan. Merenung-
kan hal ini, tiba-tiba seluruh tubuh Kojiro gemetar. Peristiwa hari ini betapa
pun telah membahayakan dirinya. Karena itu, tanpa mengurus binatang hasil tang-
kapannya lagi, Kojiro berbalik lalu lari ke dalam hutan.
*** Nobunaga dan Konishiwa menyusuri dataran Nagakute
dengan santai. Kuda mereka melangkah di atas jala-
nan berkerikil. Sesudah perburuan yang gagal itu, Nobunaga memutuskan untuk
kembali. Ia merasa kece-
wa. Tetapi untuk menghukum anak itu tidak mungkin.
Barangkali kalau yang memasang perangkap itu orang tua, ia dapat menghukumnya
dengan mencambuk
punggungnya empat puluh kali. Tetapi karena pema-
sangnya anak-anak, Nobunaga tak dapat berbuat apa-
apa. Selain itu, entah kenapa ia menaruh respek pada anak tersebut. Sikapnya
yang sopan, tutur bahasanya yang baik, tidak menampakkan bahwa ia anak petani
miskin. Lebih-lebih pancaran matanya, memantulkan
kecerdasan dan keberanian sekaligus. Tadi, ketika Nobunaga bertanya, meskipun
meminta maaf, anak itu
tampak tidak membersitkan ketakutan sama sekali. Ia tegar. Sikapnya seakan
mengungkapkan adanya kepribadian yang kuat. Suatu kepribadian yang tidak
mungkin dimiliki petani ataupun ronin.
Tiba-tiba terbersit pikiran baru pada Nobunaga, ia segera berpaling pada
Konishiwa. "Apakah kau merasakan suatu keanehan pada anak
tadi, Konishiwa-san?"
Konishiwa yang juga sedang memikirkan Kojiro
menjawab, "Benar. Saya pun sedang memikirkannya.
Ada sesuatu yang membedakannya dengan anak-anak
sebaya. Bukankah begitu?"
"Benar. Sinar matanya sangat kuat, dan sikapnya
penuh kepribadian. Ia tidak merasa gentar sekalipun berhadapan denganku, juga
puluhan prajurit di sekitarnya. Anak sebaya dia, biasanya akan gemetar
ketakutan. Lebih-lebih engkau tadi menyebutkan namaku."
"Saya sendiri heran. Karena itu saya tadi agak lama mengamati anak itu, seakan
ada sesuatu yang saya
kenal pada wajahnya."
Nobunaga langsung menghentikan kudanya. Sua-
ranya tiba-tiba bersemangat, "Bukankah dia tadi mengatakan namanya Yoshi?"
"Ya."
"Yoshi. Yoshioka!"
"Maksud Tuanku, Natane Yoshioka?"
"Persis! Dia adalah putra Ashikaga. Tangkap anak
itu hidup atau mati!"
Tidak perlu menunggu perintah untuk kedua kali,
Konishiwa memutar arah kudanya, kemudian melam-
baikan tangan agar seluruh prajurit mengikutinya. Mereka kembali menderap ke
tempat mereka bertemu Ko-
jiro. Tetapi mereka kecewa. Kojiro telah lenyap. Bahkan
bayangannya pun tidak tampak.
*** KEGELISAHAN NOBUNAGA
AIR sungai Ryiku seakan mendidih. Riak gelom-
bangnya bergolak karena terjangan derap kaki pasu-
kan yang puluhan jumlahnya. Kelompok yang dipim-
pin Nobunaga bergerak untuk menyeberangi sungai ke sebelah utara. Bendera dan
panji-panji berlambangkan Oda Nobunaga berkibaran diterpa angin dataran.
Nobunaga sendiri yang duduk di atas pelana kuda, tam-
pak memimpin pasukannya dengan sikap penuh was-
pada. Ia mengenakan pakaian jirah yang menutupi kimono sutera berwarna merah.
Wajahnya tegak, me-
mandang tepi sungai yang tengah mereka seberangi.
"Seraaaang!"
Tiba-tiba terdengar seruan dari balik bukit di seberang sungai, lalu muncul
puluhan pasukan musuh de-
ngan busur-busur panah. Beberapa detik berikutnya, suasana tenang itu berubah
menjadi gegap gempita ketika anak panah mulai bertebaran menghujani pasu-
kan Nobunaga. Jerit kesakitan terdengar seiring dengan terlukanya pasukan itu.
Nobunaga berdiri di atas pelana, lalu memberikan
aba-aba penyerbuan pada pasukannya, "Serbuuuu!"
Air berbuih-buih ketika kaki-kaki pasukan berderap menyerbu. Pasukan musuh pun
segera menyambut
penyerbuan itu dengan penuh semangat. Pedang-pe-
dang berdetak saling beradu, tombak bertemu tombak, pergumulan terjadi seperti
dua musuh bebuyutan tengah bertarung.
"Di mana Konishiwa?" teriak Nobunaga menggeram.
Matanya mencari-cari pimpinan pasukan musuh.
Sekilas ia melihat Konishiwa tengah bertempur me-
lawan dua musuh. Nobunaga langsung memacu ku-
danya menerobos puluhan pasukan yang tengah berta-
rung. Ia menyongsong Konishiwa. Sambil membetul-
kan letak tali topi bajanya, Nobunaga menebas dada Konishiwa, tetapi dengan
kegesitan yang sama Konishiwa menundukkan kepala kemudian mulai memba-
las serangan. Mereka berhadapan di tengah sungai,
berputar-putar saling berhadapan. Lalu dengan pekik melengking saling menebas
dan menikam. Konishiwa adalah panglima perang yang tangguh,
karena itu Nobunaga memilihnya sebagai lawan. Me-
reka bertarung sepenuh hati, sehingga setiap serangan
sangatlah berbahaya. Puluhan prajurit yang bertarung di sekitarnya, membuat
Nobunaga tak leluasa bergerak, karena itu ia menarik tali kekang, lalu memacu ke
tepi utara. Konishiwa tidak mau melepaskan begitu sa-ja, ia segera mengejar
musuh sambil mengacungkan
pedangnya. Sesaat setelah mereka sampai tepi sungai, pertarungan pun kembali
terjadi. Nobunaga menyerbu dengan tebasan menyilang,
Konishiwa menangkis sambil menendang rusuk penye-
rangnya. Nobunaga terjungkal dari kudanya, namun
sambil menggertakkan geraham, ia bangkit kembali
sambil siap menyerang. Sesaat setelah ia berdiri, Konishiwa telah meluncur
menyerbu dengan ayunan pe-
dang ke arah kepala, Nobunaga menyongsongnya sam-
bil menangkis, terdengar suara pedang berdetak. Pedang Nobunaga patah menjadi
dua. Ia segera berlari menghindari serbuan Konishiwa, berguling-guling di atas
pasir, lalu meraih sebuah tombak di samping tubuh musuh yang tergeletak. Ia kini
berdiri tegak menghadapi serbuan musuh.
Melihat musuh memperoleh senjata kembali, Koni-
shiwa segera menggebrak punggung kuda, lalu mulai
menyerbu. Dengan keteguhan hati yang luar biasa, Nobunaga menyongsong kedatangan
musuh. Terdengar
suara pedang dan tombak beradu. Mereka berputar-
putar sambil saling menebas dan menikam.
Keringat telah membasahi baju jirah mereka, na-
mun semangat pertarungan tidak surut. Masing-ma-
sing berusaha mencari kelengahan lawan. Karena ti-


Shugyosa Samurai Pengembara 4 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dak menunggang kuda, Nobunaga sebenarnya lebih le-
luasa bergerak, namun kuda tersebut menjadi keun-
tungan Konishiwa karena membatasi jarak serangan
musuh. Ujung tombak Nobunaga selalu terhalang tu-
buh binatang itu.
Napas mereka mendengus-dengus, seperti dua bi-
natang yang ingin memangsa lawan. Sampai akhirnya, suatu langkah jitu dilakukan
Nobunaga, ketika kuda itu menerjangnya, ia berguling ke tanah lalu menghantam
sekuat tenaga kaki kuda tersebut. Binatang itu meringkik kesakitan, kemudian
terjerembab di tanah.
Konishiwa tidak membayangkan serangan itu, sehing-
ga ia terpelanting dari pelana. Dan sebelum ia sempat berdiri, tombak Nobunaga
telah menghunjam di dadanya.
"Aku menang!" teriak Nobunaga sambil mengacung-
kan pedang ke langit. Pasukannya bersorak-sorai menyambut kemenangan itu.
Pertarungan pun dihentikan seketika.
Konishiwa berdiri sambil mengibas-ngibaskan pasir
di pakaiannya. "Saya tak menduga Tuanku akan menyerang kaki
kuda," kata Konishiwa mengakui kehebatan Nobunaga.
"Itu benar-benar tak terduga."
"Aku akan melakukan apa saja untuk menang," ja-
wab Nobunaga sambil mengatur pernapasan. "Kukira
kau perlu lebih banyak latihan, Konishiwa-san. Gera-kanmu sudah mulai lamban."
"Tentu, Tuanku."
"Kita akan menghadapi banyak pertempuran di ma-
sa mendatang, karena itu latihan seperti ini harus lebih banyak dilakukan."
"Baik, Tuanku."
"Latihan ini sudah cukup. Mari sekarang kita pu-
lang." *** Nobunaga berjalan hilir mudik di ruangan. Wajahnya
seperti lumpur beku. Kerut-kerut dahinya tampak jelas, mirip garis pensil yang
sengaja dibuat untuk memberi kesan ketuaan. Angin malam menerpa kimononya,
sehingga setiap langkahnya diiringi kibaran kain sutera itu. Lima belas samurai
yang duduk di ruangan itu membeku dalam perasaan takut dan gelisah. Mereka semua
tahu apa yang bisa dilakukan Nobunaga di saat-saat seperti itu. Laki-laki
pemimpin marga Oda itu dapat memerintahkan hukum penggal kepala bagi
siapa pun yang merusak perasaannya.
Lenyapnya anak kecil di padang perburuan itu telah membuat perasaannya gundah.
Menurut pikirannya,
anak itu pastilah Yoshioka. Pasti! Karena kalau bukan, kenapa dia lari tanpa
membawa binatang buruannya"
Bila dia anak petani biasa, pasti akan membawa babi hutan itu pulang. Tetapi
tidak. Anak tersebut meninggalkan begitu saja binatang buruannya untuk menye-
lamatkan nyawanya.
Nobunaga marah, karena anak yang mengancam
kekuasaannya lolos padahal sudah dalam genggaman.
Berbulan-bulan mereka memburu anak itu, dengan
mengerahkan lebih dari dua ratus samurai, ketika bertemu justru mereka lepaskan.
Ini benar-benar tak masuk akal!
Belum selesai mengatasi persoalan mata-mata, mun-
cul persoalan baru yang tak kalah pentingnya. Ke-
duanya harus dipecahkan segera dan diambil tindakan nyata. Tanpa keberanian
mengambil tindakan, tak
akan ada penyelesaian. Dan inilah salah satu kehebatan pemimpin marga Oda itu.
Sejak usia tujuh belas tahun, ketika ayahnya meninggal, ia menggantikan ke-
dudukan ayahnya dengan tindakan-tindakan nyata.
Nobunaga tak pernah ragu mengambil keputusan. Ka-
dang-kadang keliru, namun ia tak pernah menyesa-
linya. Sebagai shogun ia merasa mempunyai hak-hak
luar biasa, termasuk menghukum mati seseorang yang dirasa bakal membahayakan
kekuasaannya. Nobunaga masih berdiri gelisah, ketika tampak Ho-
sokawa berjalan memasuki ruangan itu. Laki-laki tersebut membungkukkan badan
rendah-rendah, sebagai
penghormatan pada penguasa Oda. Sesudah memberi
hormat, Hosokawa duduk bersila sebagaimana layak-
nya seorang samurai.
"Hosokawa-san," suara Nobunaga terdengar meng-
gelegar di ruangan itu. Semua orang seketika terdiam.
Tak satu suara pun terdengar. Semua merasakan jan-
tungnya berdetak lebih kencang.
"Ya, Tuanku."
"Apa yang selama ini kita pikirkan bahwa Yoshioka
lari ke Suruga bersama Saburo, ternyata tidak benar.
Anak itu masih berkeliaran di hutan seperti binatang liar. Karena itu kuminta
kau memimpin pengejaran ke hutan dan tangkap anak itu secepatnya. Kerahkan
samurai-samurai terbaik kita untuk menyusuri setiap jengkal persembunyiannya.
Perburuan ini harus dilakukan dengan gerak cepat dan tiba-tiba, mereka ja-
ngan diberi kesempatan untuk lolos."
"Baik, Tuanku."
"Kalau pengepunganmu efektif, kecil kemungkinan
dia dapat melarikan diri."
"Baik, Tuanku. Lalu bagaimana dengan rencana pe-
nyambutan Shogun Imagawa?"
"Rencana itu tetap dilaksanakan sesuai rencana.
Kuharap kau sudah kembali sebelum kunjungan Im-
agawa. Kita perlu menyambut kedatangannya dengan
cara yang sepantasnya."
"Benar, Tuanku."
"Sekarang berangkatlah."
Hosokawa membungkuk, lalu meninggalkan ruang
itu. Sesaat sesudah lelaki itu pergi, Konishiwa yang sejak tadi bersila di
tempat itu berkata, "Tuanku Nobunaga, apa yang dapat saya kerjakan untuk saat
ini?" Nobunaga berpikir sejenak. Akhir-akhir ini, ia me-
rasa kecewa terhadap Konishiwa, namun tentu itu bukan merupakan alasan untuk
memecatnya. Kegagalan
menjalankan tugas itu sendiri sudah menjadi huku-
man baginya. "Konishiwa-san," akhirnya Nobunaga berkata. "Tu-
gasmu adalah melatih pasukan agar lebih cakap menggunakan pedang mereka. Perkuat
terus kekuatan kita, sehingga bila saatnya tiba, kita sudah dapat mengerahkan
pasukan sebesar yang dibutuhkan untuk me-
menangkan pertempuran. Aku tak ingin persoalan Sa-
buro, Yoshioka, dan Mitsunari mengganggu persiapan rencana besar kita."
"Baik, Tuanku."
"Selain itu, aku ingin engkau melakukan penyeli-
dikan dengan teliti siapa yang mengirim mata-mata
itu. Apa pun alasannya, kita tidak boleh lengah."
"Baik, Tuanku."
"Oh, ya, aku ingin tahu di mana para penari dari
Suruga itu?"
"Mereka semua berada di penginapan Uzuma, Tua-
nku." Nobunaga diam sejurus. Ia tampak berpikir keras.
Lalu katanya, "Tidak mungkinkah mereka mata-mata
Imagawa?" Konishiwa tidak menjawab. Ia memang tak memiliki
bukti yang mendukung tuduhan itu.
"Siapakah yang mengetahui bahwa penari-penari
itu kita panggil kemari?" Nobunaga sekali lagi bertanya.
"Mereka adalah penari keliling yang menari dari de-sa ke desa. Sebagian besar
tidak berasal dari Suruga.
Mereka dari Kai."
"Jadi tidak ada yang mengetahui kalau mereka me-
nari di sini?"
"Benar."
"Kalau begitu," kata Nobunaga tanpa tekanan. "Ma-
lam ini bawa mereka ke Nagasuke, penggal kepala mereka. Jangan disisakan seorang
pun. Anggap mereka
adalah mata-mata Imagawa."
*** Kamar itu remang-remang. Cahaya lampu lilin menya-
la di setiap sudut kamar.
Nobunaga berjalan bergegas ke kamar itu. Wajah-
nya kelihatan berseri-seri sesudah mengambil keputusan terpenting dalam
hidupnya. Menghukum mati para penari itu, baginya, merupakan keputusan politik
yang sangat penting. Apabila mereka memang mata-mata
Imagawa, berarti dia telah memutuskan mata rantai
penyusupan ke wilayahnya. Ini akan sangat berarti ba-gi Imagawa. Penguasa Suruga
itu pasti menyadari
bahwa Nobunaga telah mengetahui usaha mereka. Te-
tapi apabila dugaan itu keliru, bagi Nobunaga, nyawa para penari itu pun tidak
berarti apa-apa. Tidak seorang pun akan menanyakan orang-orang malang itu.
Kekuasaan memang harus kejam. Tanpa kekejaman, tidak akan pernah ada kekuasaan
yang ditakuti. Dan untuk menegakkan kekuasaan semacam itu memang
dibutuhkan korban.
Ketika melihat Nobunaga menuju kamar itu, dua
orang dayang-dayang segera membuka pintu sorong,
sesudah itu segera menutupnya kembali.
Nobunaga menerobos masuk, senyumnya terkuak
lebar, ia melihat Naoko berbaring polos di ranjangnya.
"Kelihatannya kau baru saja mengambil keputusan
penting," kata Naoko sambil tersenyum.
Nobunaga membuka kimononya. "Aku telah meme-
rintahkan Hosokawa memburu Saburo dan Yoshioka
di hutan."
"Itu tindakan seorang pemimpin yang memahami
arti kekuasaannya."
"Aku memerintahkan Konishiwa melipatgandakan
kekuatan pasukan dengan merekrut samurai baru un-
tuk memperkuat pasukan kita."
"Tindakan yang tepat saat ini."
"Aku pun memerintahkan Konishiwa memenggal ke-
pala para penari dari Suruga itu. Siapa tahu mereka mata-mata."
"Itu tindakan terbaik untuk berjaga-jaga."
"Adakah kekurangannya?"
"Tidak. Semua tepat seperti yang kupikirkan."
"Bagus. Kalau begitu sekarang kita bisa bercinta."
*** PERLINDUNGAN SANG BUDHA
KOJIRO sedang duduk di dekat perapian. Di sam-
pingnya tampak Bapa Lao yang duduk sambil makan
pisang. Wajah lelaki tua itu sesekali menatap Kojiro.
"Bagaimana perawakan lelaki yang kautemui di
tempat perburuan itu?" Bapa Lao bertanya.
"Tubuhnya gemuk, pendek, dan matanya liar."
"Pakaiannya?"
"Dia mengenakan pakaian perang yang dilengkapi
bilah-bilah besi mirip sirip ikan. Kepalanya ditutup to-pi baja."
"Apakah dia berkumis?"
"Ya, kumisnya seperti kumis tikus."
"Dia pasti Oda Nobunaga."
"Penguasa Owari itu?"
"Benar."
"Kelihatannya dia seorang pemburu bodoh."
"Menurut pandangan sementara orang memang be-
gitu, tetapi sesungguhnya pandangan itu keliru. Nobu-
naga sebenarnya seorang ahli strategi yang hebat. Kalau tidak, mana mungkin dia
berhasil menaklukkan
sejumlah propinsi yang dikuasai para daimyo. Sebagian besar musuhnya
menganggapnya bodoh, karena
itu mereka meremehkan Nobunaga. Mereka tak menge-
tahui, kesan bodoh itu memang dimunculkan oleh No-
bunaga justru untuk mengelabui musuh-musuhnya.
Ketika musuhnya lengah, Nobunaga dengan mudah
menghantamnya. Kalau engkau ingin menjadi samurai
sejati, selalulah waspada, jangan memandang remeh
pada orang yang bodoh. Kebodohan kadang merupa-
kan senjata yang sangat ampuh."
"Apa perlunya bagi Oda Nobunaga untuk bersikap
seperti itu saat ini?"
"Jangan kaulupakan, saat ini Oda Nobunaga berada
di tengah musuh-musuhnya. Wilayah Owari dikepung
oleh sejumlah daimyo yang setiap saat dapat mengancam kekuasaannya. Owari
bersebelahan dengan Mika-
wa, wilayah kekuasaan Tokugawa. Di sebelah Mikawa
terdapat Suruga, wilayah kekuasaan Imagawa. Mereka seperti dua ekor harimau yang
menunggu kelengahan
Nobunaga untuk merebut kekuasaan."
"Itu sebabnya Nobunaga selalu mengadakan latihan
perang?" "Benar. Dan latihan itu dilakukan tanpa sepenge-
tahuan kedua musuhnya."
"Apakah menurut Bapa, Oda Nobunaga tidak terka-
lahkan?" "Tidak ada seorang pun yang tidak terkalahkan,
tinggal seberapa jauh seseorang menyadari kekuatan sendiri."
"Kalau melihat bahwa Nobunaga tak berhasil me-
nangkap aku maupun Yoshioka, aku tidak yakin dia
dapat menang melawan Tokugawa maupun Imagawa."
"Pandangan keliru seperti itu yang justru diharap-
kan Nobunaga. Ketika musuh-musuhnya menganggap
dia lemah, justru saat itu dia memiliki kekuatan untuk menyerang. Bila kau ingin
menjadi panglima perang, jangan sekali-kali memandang musuhmu lemah, boleh
jadi itu hanya sebuah perangkap."
Kojiro terdiam. Matanya menatap lelaki tua di ha-
dapannya, sementara pikirannya meresapkan ucapan
lelaki tersebut.
Jangan sekali-kali memandang musuhmu lemah, boleh jadi itu hanya sebuah
perangkap. Setelah mempertimbangkan kepintaran Nobunaga,
Kojiro bertanya, "Menurut Bapa, mungkinkah dia akan menyerang kemari?"
"Pasti," jawab Bapa Lao tegas.
Kojiro ternganga, "Pasti?"
"Ya. Sebentar lagi."
Kojiro lebih kaget lagi. "Sebentar lagi?"
"Mereka akan segera tiba di sini."
Kojiro terdiam. Seketika ia bersikap lebih waspada.
Sesudah beberapa bulan bergaul dengan Bapa Lao, ia mengetahui lelaki tua
tersebut tidak pernah berbohong. Kecuali itu, ia selalu mempunyai perkiraan yang
tepat. Kearifan lelaki tersebut seakan didukung indra keenam sehingga ia dapat
memperkirakan sesuatu
yang bakal terjadi.
Kali ini pun perkiraan Bapa Lao menjadi kenyataan.
Belum lima menit lelaki tersebut mengatakan tentang kedatangan pasukan Nobunaga,
Kojiro mulai mendengar suara derap kaki kuda mendaki tempat itu. Suara tersebut
kian lama kian keras, seperti suara puluhan ekor kuda yang dipacu mendaki bukit.


Shugyosa Samurai Pengembara 4 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika Kojiro berlari ke celah angin di kuil itu, samar-samar terlihat puluhan
ekor kuda menembusi hutan di bawahnya.
Nyala api obor berpendar-pendar membuat hutan sea-
kan terbakar. Mereka terus mendaki menuju ke tempat
kuil itu berada.
Kojiro menoleh pada Bapa Lao.
"Mereka benar-benar datang," katanya bergetar.
"Aku sudah mengatakannya, bukan?"
Kojiro meloncat mendekati lelaki itu.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Pertama, jangan panik," kata Bapa Lao tenang.
"Dalam menghadapi bahaya, jangan sekali-kali engkau merasa panik. Kepanikan
hanya akan menambah ru-nyam keadaan. Kita harus tenang agar dapat memi-
kirkan tindakan apa yang dapat kita lakukan."
"Sebentar lagi mereka akan sampai di sini."
"Karena itu kita harus tenang."
Kojiro agak bingung. Menurut perhitungannya, tak
lebih seperempat jam lagi pasukan Nobunaga akan
sampai di tempat itu. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Bapa Lao untuk
menyelamatkan diri bila me-
reka tidak cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Sesudah diam beberapa saat, Kojiro bertanya, "Apa
yang harus kita lakukan?"
Bapa Lao diam sejenak, seakan lelaki tersebut tidak sedang menghadapi maut.
"Kita sebaiknya minta perlindungan pada Budha."
Kojiro kaget, ia tak menduga akan memperoleh ja-
waban seperti itu. "Minta perlindungan Budha" Apa
maksud Bapa?"
Bapa Lao tersenyum, lalu memberi isyarat agar Ko-
jiro mengikutinya. Mereka bergegas menuju ke ruangan dalam di kuil itu. Persis
di sudut tempat pemujaan, terdapat patung Budha setinggi hampir dua meter. Ba-pa
Lao berjalan ke belakang patung itu, lalu mendorong sebuah batu bulat di sisi
patung tersebut. Tiba-tiba secara mengejutkan, terdengar suara berderak, patung
Budha tersebut bergeser dari tempatnya.
Kojiro ternganga, keheranan, "Astaga! Pintu raha-
sia" Bapa tidak pernah menceritakan bahwa di sini
ada lorong rahasianya."
Bapa Lao hanya tersenyum. "Itulah hakikat kelema-
hanku," kata lelaki tersebut tenang. "Karena engkau menganggapku lemah, kau tak
pernah membayangkan
aku menyembunyikan suatu kekuatan tak terduga,
bukan?" "Benar, Bapa."
"Karena itu, jangan kau lengah karena kelemahan
lawanmu." Sesudah ruangan itu terbuka seluruhnya, Bapa Lao
menyuruh Kojiro masuk ke ruang bawah tanah lewat
bawah patung itu. Ruangan tersebut gelap, karena itu Kojiro segera berlari dan
mengambil obor yang terdapat di kuil. Dengan sedikit ragu-ragu ia memasuki
lorong di bawah patung tersebut. Bapa Lao mengikutinya dari belakang. Ruangan
itu benar-benar tak terduga. Setelah melewati anak tangga berjumlah sembilan,
mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Luasnya
kira-kira seratus meter. Di setiap sudut ruangan terdapat tempat obor sebagai
penerangan. Seluruh din-
dingnya terbuat dari batu kuil, sehingga Kojiro memperkirakan ruang tersebut
memang berada di bawah
kuil. Sudah berbulan-bulan Kojiro berada di kuil itu, namun baru sekarang ia
mengetahui bahwa kuil tersebut memiliki ruang rahasia di bawah tanah.
"Tempat ini dulu dipakai para pendeta untuk medi-
tasi," kata Bapa Lao menjelaskan. "Juga untuk berlatih silat."
"Bagaimana mungkin Bapa Lao dapat menyembu-
nyikan tempat ini dari saya begitu lama?"
"Ada saatnya seseorang mengetahui lebih banyak."
Kojiro terus menuruni anak tangga. Bapa Lao meng-
geser batu bulat di dalam ruangan bawah tanah itu,
dan seperti digerakkan suatu mekanik tertentu, pa-
tung tersebut perlahan-lahan menutup ruangan tersebut.
Bersamaan dengan tertutupnya ruangan itu, pasu-
kan Nobunaga sampai di tempat itu.
"Geledah tempat ini!" kata komandan pasukan itu.
"Periksa kuil ini. Jangan kalian lewatkan satu inchi pun, aku yakin mereka
bersembunyi di sini."
Dua puluh pasukan turun dari kuda mereka, lalu
dengan bergegas melakukan pemeriksaan. Langkah
kaki mereka terdengar dari ruangan di bawah patung Budha itu.
Kojiro yang tampak tegang, memasang telinga men-
coba mendengarkan suara-suara di atasnya. Ia men-
coba memperhitungkan jumlah orang-orang di atas-
nya, tetapi sukar sekali.
"Mereka ada dua puluh dua orang," kata Bapa Lao
tanpa tekanan. Kojiro kaget mendengar pernyataan itu.
"Bagaimana Bapa tahu?"
"Dari langkah kaki mereka."
"Bapa yakin?"
"Ya. Bahkan aku tahu ada dua orang yang tetap be-
rada di punggung kuda."
"Bagaimana...."
"Kelak kau pun akan bisa melakukan seperti apa
yang sekarang kulakukan," potong Bapa Lao bersung-
guh-sungguh. "Kalau indra keenammu sudah terlatih, kau akan bisa menghitung
jumlah pasukan musuhmu
hanya dengan merasakan getaran tanah yang dipijak
atau getaran angin yang menerpamu."
Kojiro termangu-mangu. Namun di dalam diri anak
itu tumbuh kekagumannya pada Bapa Lao. Ia tak ha-
bis mengerti bagaimana lelaki di hadapannya dapat
menghitung musuh hanya dari getaran suara kakinya.
Seorang laki-laki pencari jejak berlari mendekati
komandan pasukan itu.
"Api masih menyala, jadi kalaupun mereka pergi,
saya yakin mereka belum jauh dari sini. Tetapi anehnya, saya tidak menemukan
jejak kaki mereka. Ke-
duanya seakan angin, lenyap begitu saja dari tempat ini."
"Apakah engkau menemukan jejak mereka?"
"Itulah yang menyulitkan saya. Tidak ada satu jejak pun yang meninggalkan kuil
itu. Tetapi sudah setiap sudut ruangan diperiksa, tetap saya tak menemukan
jejak kaki mereka."
Komandan pasukan itu diam agak lama. Ia menco-
ba merenungkan laporan tersebut.
"Kau ingat pendeta Budha yang menyelamatkan Yo-
shioka beberapa waktu lalu?" komandan itu bertanya pada pencari jejak.
"Ya, Tuanku."
"Bukankah pendeta Budha itu berlari seperti angin?"
"Ya, Tuanku."
"Kukira dia baru saja memamerkan kemampuannya
menghilang dari kejaran kita. Baiklah, sebaiknya sekarang kita pulang. Kita
laporkan kejadian ini pada Tuanku Nobunaga."
*** Derap kaki kuda terdengar samar-samar meninggalkan
kuil itu. Kian lama kian jauh, sampai akhirnya tak terdengar lagi.
Kojiro bernapas lega. Kemudian ia bermaksud berja-
lan keluar. Tetapi Bapa Lao segera memegang lengannya.
"Jangan terburu nafsu," kata lelaki itu datar. "O-
rang yang terburu nafsu akan mudah terpancing oleh tipu daya musuh."
"Apa maksud Bapa Lao?"
"Di atas masih ada orang-orang Nobunaga."
Kojiro heran mendengar jawaban itu. Ia menatap
Bapa Lao dengan rasa penasaran.
Akhirnya ia bertanya, "Bukankah mereka sudah
pergi?" "Masih ada tiga orang sengaja menunggu kita. Me-
reka ingin memastikan bahwa kita memang sudah ti-
dak berada di sini. Tunggu sebentar, mereka pasti akan pergi."
Kojiro tak habis mengerti. Ia bertanya, "Bagaimana Bapa dapat mengetahuinya?"
"Derap kaki kuda yang meninggalkan tempat ini, ti-
dak sama jumlahnya dengan derap kaki kuda yang da-
tang. Dan ini merupakan cara kuno untuk memasti-
kan bahwa lawan tidak bersembunyi di suatu tempat
dalam sebuah perburuan."
Apa yang dikatakan Bapa Lao memang menjadi ke-
nyataan. Dari atas, sesudah beberapa saat sunyi, akhirnya terdengar suara
langkah kaki. "Saya rasa mereka memang sudah pergi," kata seo-
rang prajurit. Terdengar jawaban temannya, "Saya rasa memang
demikian."
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi."
"Ayolah."
Beberapa saat kemudian terdengar derap kaki kuda
meninggalkan kuil itu.
Bapa Lao menatap Kojiro, lalu berkata, "Sekarang
mereka sudah pergi. Kita sudah aman. Mari kita ke-
luar." *** PENYEBARAN MATA-MATA
UDARA diselimuti hujan salju di Suruga. Angin yang bertiup lemah membawa
gumpalan-gumpalan salju ke
tanah. Langit berwarna hitam, tanpa bintang. Bahkan rembulan yang biasanya
tampak purnama, kini kelihatan terbenam dalam hamparan awan mendung. Cuaca
sangat buruk. Setiap kali terdengar guntur meledak di langit, seakan merupakan
isyarat bakal datangnya badai.
Di tengah cuaca buruk itu tiga orang penunggang
kuda menembus kegelapan malam menuju ke dalam
hutan. Mereka tak menghiraukan keadaan di sekeli-
lingnya. Kaki-kaki kuda itu berderap memecah kesu-
nyian malam. Mereka terus menembusi hutan seakan
terlambat memenuhi suatu janji pertemuan. Ketika
mereka telah melewati kuil Akasuka, ketiga penung-
gang kuda tersebut sampai di sebuah lembah yang dipenuhi tiga puluh orang
samurai. Dengan gesit ketiga orang tersebut turun dari punggung kuda.
"Tuanku Mayeda," kata seorang samurai pelayan
sambil memegang tali kekang.
Mayeda Toyotomi hanya mendengus. Kemudian ber-
jalan ke tengah orang-orang yang telah menunggunya.
"Berapa orang yang saat ini memenuhi undangan
kita?" Mayeda bertanya.
"Tiga puluh orang."
"Persis seperti yang kuminta padamu, Haruka."
"Benar, Tuanku. Mereka adalah para samurai-sa-
murai terbaik yang berasal dari daerah Mikawa, Mat-sudepa, Shinano, dan Kai."
"Tidak ada yang berasal dari Owari?"
"Tidak seorang pun."
"Bagus."
Mayeda Toyotomi tampak puas. Wajahnya meman-
carkan sinar kegembiraan. Ia segera mengeluarkan gulungan kertas dari kantung
kulit miliknya. Seorang samurai pelayan segera mendekat sambil membawa
obor minyak untuk menerangi gulungan kertas itu.
"Hari ini sudah ada kepastian mengenai rencana
keberangkatan Tuanku Imagawa. Dia akan berangkat
tujuh hari lagi dari malam ini menuju Kamakura. Di dalam kunjungan ini, ada
seratus pengawal yang akan menyertainya. Merekalah yang nantinya harus kalian
lumpuhkan. Kepastian rencana ini, berarti sejak besok pagi, kalian sudah harus
berangkat untuk menyusup
ke wilayah Owari dengan cara menyamar. Kalian boleh menyamar menjadi apa saja;
penjual keramik, penjual tikar, biksu, atau ronin. Karena keadaan di Kamakura
saat ini tengah berlangsung penggalangan kekuatan yang dilakukan Oda Nobunaga
dengan memberikan
pekerjaan bagi para shugyosa, maka ini lebih memu-
dahkan kalian untuk menyamar sebagai samurai. Ke-
hadiran kalian di sana tidak akan begitu menarik perhatian. Tetapi saya
ingatkan, jangan datang secara bersama-sama. Setiap kelompok sebaiknya tak lebih
dari empat orang. Hindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan keonaran atau
menarik perhatian. Aku
tak menghendaki sesuatu pun terjadi sehingga me-
nyebabkan rencana ini terancam. Bila hal itu sampai terjadi, bukan hanya nyawa
kalian taruhannya, tetapi semua orang yang terlibat dalam rencana ini sudah
dapat dipastikan bakal dihukum mati. Apakah kalian mengerti maksudku?"
Para samurai itu menjawab serempak, "Mengerti,
Tuanku." "Besok pagi, sebelum fajar menyingsing, kalian
akan mendapatkan pembagian bekal. Kecuali uang,
masing-masing akan memperoleh kata sandi dan ren-
cana kita. Apabila ada di antara kalian yang tertang-
kap, usahakan hilangkan kertas yang berisi rencana itu selekasnya. Jangan
sekali-kali membiarkan rencana kita diketahui siapa pun juga. Dapatkah kalian
menjaga rahasia ini?"
"Kami akan menjaganya. Tuanku," jawab para sa-
murai itu patuh.
"Satu dengan yang lain harus saling mengawasi, se-
hingga keamanan rahasia ini terjaga hingga saat pe-laksanaannya."
"Baik, Tuanku."
"Pakaian serta berbagai alat penyamaran dapat ka-
lian ambil di dekat jembatan Hirata, di sana besok pagi seorang pemilik pedati
akan menyiapkan segala yang kalian butuhkan. Satu lagi pesanku, bila seseorang
tertangkap, jangan pernah menyebut namaku."
Seorang samurai bertanya, "Adakah orang yang
akan menghubungi kami di sana?"
"Ada," jawab Mayeda tegas. "Aku akan menugaskan
seorang kurir yang menjadi penghubung kita."
"Itu yang kami harapkan, sehingga kami tidak akan
kehilangan komando."
"Jangan kalian risaukan hal itu, aku sudah me-
mikirkannya."
Sehabis selesai bicara, Mayeda Toyotomi bergegas
kembali ke kudanya. Dengan gesit ia naik ke punggung kuda, kemudian memacu
kembali ke purinya. Derap
kaki kuda itu meninggalkan serpihan salju di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Ketika memacu kuda itu, di benak Mayeda telah
terbayang kekuasaan yang bakal ia genggam sebagai
penguasa Suruga. Meskipun wilayah kekuasaannya
kecil, tetapi sangat terkenal karena keseniannya. Nama Suruga sangat termasyhur
di mana-mana, terutama
karena kesenian yang berkembang di propinsi itu sejak Yoshimasa yang pertama.
Sejak dulu, penguasa Suru-
ga memang terkenal sebagai pelindung seniman. Tak
mengherankan bila di pusat kota hingga pelosok desa, tumbuh seperti jamur di
musim hujan, para pengrajin perak, emas, keramik, dan porselen yang karya mereka
bermutu tinggi.
Bila seluruh rencana berjalan lancar, Mayeda berte-kad akan mengubah


Shugyosa Samurai Pengembara 4 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kebijaksanaan Imagawa. Sikap
terlalu mengutamakan kesenian ternyata melemahkan
kekuatan militer di Suruga. Anggaran pemerintah selama ini justru banyak
tersedot untuk membiayai pengembangan kesenian serta pesta-pesta di istana.
Bahkan menurut perhitungan Mayeda, jumlah tempat
pengembangan kesenian di Suruga lebih banyak di-
banding dojo untuk berlatih bela diri. Ini sangat mem-pengaruhi semangat
penduduk Suruga. Sebagian be-
sar dari mereka memilih hidup sebagai petani, pengrajin, penari, pelukis, atau
penyair. Jarang yang memilih hidup sebagai samurai. Akibat kenyataan itu, Mayeda
sendiri terpaksa menghimpun kekuatan militernya dari wilayah-wilayah di sekitar
Suruga. Semua ini adalah awal kehancuran Imagawa. Bila rencanaku berhasil dilaksanakan,
semua akan segera berubah. Aku bersumpah marga Mayeda Toyotomi akan menjadi
marga yang disegani dan kuat.
Kuda itu terus dipacu menembusi malam yang se-
makin lama semakin pekat.
*** Di Puri Tazumi menjelang tengah malam. Tazumi du-
Pertemuan Di Kotaraja 16 Si Rase Hitam Hek Sin Ho Karya Chin Yung Kembang Darah Setan 1
^