Pencarian

Api Di Bukit Menoreh 24

16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja Bagian 24


"Tidak, mbokayu, sungguh tidak. Bahkan aku akan sangat berterima kasih, jika ada orang yang bersedia membawa aku keluar dari tempat ini."
"Huh, ternyata kau juga pandai berpura-pura."
"Sungguh mbokayu. Jika mbokayu tidak percaya bahwa aku berada disini bukan karena kemauanku sendiri, bertanyalah kepada beberapa orang yang telah berusaha menangkap kakakku dan calon suamiku itu."
"Aku akan bertanya kepada mereka. Tetapi jika kau berbohong kepadaku, maka aku akan memotong bibirmu."
"Aku tidak berbohong mbokayu."
"Seandainya kau tidak berbohong, maka aku berpesan kepadamu, agar kau bersikap bodoh. Kau harus berusaha agar Pangeran Ranapati tidak tertarik sama sekali kepadamu. Mungkin kau nampak selalu kusut. Wajahmu selalu cemberut atau tingkah lakumu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang isteri Pangeran meskipun hanya seorang selir."
"Ajari aku mbokayu. Jika aku tidak dikehendaki oleh Pangeran Ranapati dan aku dilepaskannya, aku tidak akan melupakan mbokayu Kantil. Aku justru merasa sangat beruntung, karena aku akan dapat kembali kepada kakakku, kepada calon suamiku. Meskipun pada saat itu, aku masih belum menyatakan kesediaanku menjadi isterinya, maka sekarang aku justru merasakan, bahwa aku sangat memerlukannya."
"Jangan kau bohongi aku. Meskipun aku seorang perempuan, tetapi jika kau bohongi aku, maka aku akan dapat melumatkan wajahmu yang cantik itu, sehingga kau akan menyerupai hantu, Aku akan dapat memotong lidahmu, sehingga kau tidak akan dapat berbicara sama sekali."
"Aku tidak bohong, mbokayu. Aku justru minta tolong, jika mbokayu dapat melepaskan aku dari rumah ini, maka aku akan sangat berterima kasih."
"Sampai saat ini aku mempercayaimu. Aku akan berusaha mencari jalan agar kau pergi dari rumah ini. Mungkin kau akan diusir, tetapi mungkin kau akan dihukum."
"Jangan mbokayu. Jangan hukum aku. Bukankah aku tidak bersalah kepada siapa-siapa. Aku justru merasa terjerat di rumah ini, seperti terperosok kedalam lubang yang gelap."
Perempuan itu tidak berbicara lagi. Tetapi iapun segera meninggalkan tempat itu.
Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun dengan demikian, maka Rara Wulanpun tahu, bahwa untuk beberapa lama ia tidak akan mengalami kesulitan apa-apa di rumah itu. Ia hanya harus menerima perlakuan buruk dari Kantil yang merasa dirinya isteri Pangeran Ranapati.
Tetapi Pangeran Ranapati sendiri tidak akan mengusiknya sampai dua tiga hari mendatang. Bahkan mungkin lebih lama lagi.
Rara Wulanpun kemudian telah menghubungi Glagah Putih dengan Aji Pameling. Rara Wulan telah memberikan isyarat tentang keadaannya sampai pada saat itu.
"Baiklah," berkata Glagah Putih, "jika demikian, aku akan mengamati keadaanmu dari jauh. Aku tidak usah mendekati rumah itu. Tetapi jika terjadi sesuatu, jangan sampai terlambat. Aku memerlukan waktu untuk sampai ketempat itu."
"Ya, kakang. Tetapi kakang juga harus selalu bersiaga disetiap saat."
Demikianlah, Rara Wulanpun menjalani hari-harinya di rumah yang dihuni oleh Pangeran Ranapati itu. Dengan demikian, Rara Wulanpun tahu, bahwa setiap hari ada beberapa orang yang datang dan pergi. Mereka menghubungi Pangeran Ranapati dengan tugas-tugas yang masih belum dapat diketahui.
Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Ranapati, maka dalam dua hari" Ranti masih belum boleh meninggalkan biliknya. Hanya untuk keperluan-keperluan tertentu saja Ranti diperkenankan keluar. Itupun harus diawasi oleh Kantil atau dua orang abdi yang ditugaskan oleh Kantil.
Ternyata sikap Kantil masih saja berwatak rangkap. Dihadapan Pangeran Ranapati Kantil bersikap sangat baik kepada Ranti. Kata-katanya lembut dan menarik. Tetapi di belakang Pangeran Ranapati, wajah Kantilpun menjadi seperti wajah iblis betina. Matanya menjadi merah. Lidahnya bagaikan menyiratkan api yang panasnya melampaui bara.
"Kau tidak boleh tersenyum dihadapan Pangeran Ranapati," bentak Kantil.
"Aku tidak tersenyum sama sekali, mbokayu."
"Jangan bohong. Kau kira aku tidak melihat kerling matamu serta senyum di bibirmu."
"Tentu tidak, mbokayu. Bahkan aku hampir menangis ketika mbokayu membawa aku menghadap."
"Besok kau mulai membawa hidangan untuk Pangaran Ranapati. Tetapi ingat, kau tidak boleh tersenyum. Apalagi mengerling. Kau harus menunduk dengan wajah yang bersungut-sungut dan gelap. Kau dengar itu ?"
"Aku dengar mbokayu."
"Tidak hanya sekedar didengar. Tetapi harus kau lakukan."
"Baik, mbokayu."
Sebenarnyalah dihari berikutnya, Ranti sudah boleh keluar dari biliknya meskipun masih tetap dalam pengawasan. Hari itu, Ranti sudah mendapat tugas untuk menghidangkan minuman pagi bagi Pangeran Ranapati.
Kantil]ah yang menata mangkuk-mangkuk minuman dan makanan. Ketika Ranti membetulkan letak makanan yang berserakan, Kantilpun membentaknya, "Akulah yang mengatur makanan itu. Jangan kau rubah."
"Tetapi ini nampaknya seperti tidak tertata, mbokayu."
"Apakah kau tuli " Akulah yang mengaturnya." Ranti tidak membantah.
"Tunggu sebentar. Aku akan duduk di serambi depan. Baru kau hidangkan minuman dan makanan bagi Pangeran dan bagiku ini."
"Baik, mbokayu."
Kantilpun mendahului pergi ke serambi. Ia mendapatkan Pangeran Ranapati duduk diatas sebuah lincak kayu yang panjang. Sementara seorang pengikutnya duduk di lantai, di dekat tangga serambi.
Ketika orang yang duduk diserambi itu melihat Kantil mendekati Pangeran Ranapati, maka orang itupun meninggalkan Pangeran Ranapati sendiri.
"Silahkan Pangeran, jika Pangeran masih akan memberikan perintah kepadanya."
"Tidak. Tidak ada yang penting yang aku bicarakan dengan orang itu. Duduklah."
Kantilpun kemudian duduk di lincak panjang itu pula. Katanya, "Aku sudah mengajari Ranti untuk dapat menghidangkan minuman dan makanan pagi ini Pangeran. Mudah-mudahan ia dapat melakukannya dengan baik."
"Bagus," sahut Pangeran Ranapati, "ajari perempuan itu untuk dapat bertingkah laku seperti seorang putri. Kau dahulu juga seorang perempuan yang diangkat dari atas pematang. Kakimu dahulu hitam penuh dengan lumpur. Akhirnya, kau telah diangkat derajatmu menjadi isteri seorang Pangeran. Aku harap bahwa Rantipun akan dapat menjadi seorang perempuan yang baik, yang pantas menjadi seorang selir dari seorang Pangeran."
"Aku akan berusaha Pangeran. Tetapi perempuan itu memang agak terlambat berpikir."
"Maksudmu ?" "Ia bukan seorang perempuan yang cerdas yang cepat tanggap atas petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya."
"Kau harus sabar, Kantil. Akhirnya ia tentu akan dapat juga melakukannya."
"Ya, Pangeran. Hamba memang harus sabar."
"Bukankah tidak ada hal yang sulit untuk dipelajari ?"
"Nampaknya memang tidak Pangeran."
Pembicaraan itu terhenti ketika Ranti datang untuk menghidangkan minuman pagi serta makanan. Demikian Ranti berjongkok di sebelah Kantil, maka Kantilpun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata dengan lembut " Ranti. Bukankah sudah aku katakan kepadamu berulang kali, bahwa kau harus tertib dan rajin. Bukankah tidak sepantasnya jika kau menghidangkan minuman dan makanan dengan cara ini. Bukankah kau dapat mengatur agar makanan yang kau hidangkan itu nampak lebih menarik, sehingga dapat menimbulkan selera makan Pangeran Ranapati. Kenapa kau biarkan makanan itu berserakan seperti itu."
"Tetapi," Ranti akan menjawab. Tetapi Kantilpun segera berkata, "Sudahlah Ranti. Ingat-ingat sajalah untuk selanjutnya. Lain kali kau harus dapat menata makanan dan minuman yang akan kau hidangkan kepada Pangeran Ranapati."
Ranti tidak menjawab. Tetapi ditundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ampun Pangeran," berkata Kantil kemudian, "hamba bejanji untuk mengajarinya, agar pada kesempatan lain Ranti dapat menjadi lebih terampil menata hidangan."
Pangeran Ranapati tertawa sambil berkata, "Anak ini memang agak dungu, Kantil. Ternyata tugasmu menjadi lebih berat untuk membentuk anak ini agar menjadi anak yang pantas tinggal bersama kita."
"Tetapi hamba kira, lambat laun, ia akan dapat juga melakukannya Pangeran."
"Ranti," berkata Kantil kemndian, "sudahlah. Kembalilah ke belakang. Nanti kau akan membantu aku di dapur. Kau akan belajar, bagaimana seharusnya kau menyiapkan makan bagi Pangeran.Jika kelak pada suatu saat aku berhalangan, maka kau harus dapat melakukannya."
"Ya, mbokayu," desis Ranti perlahan sekali. Rantipun kemudian meninggalkan Pangeran Ranapati dan Kantil yang masih duduk di serambi. Sementara itu, Rantipun telah masuk ke dalam, biliknya. Ia mengusap matanya yang tiba-tiba menjadi basah. Tetapi Ranti tidak menangis karena sedih dan ketakutan. Tetapi Ranti menangis karena ia justru harus menahan diri. Jika saja ia tidak sedang menjalankan tugas, maka ia tentu akan menampar wajah Kantil. Jika Kantil itu mencoba melawan, ia akan meremas mulutnya sampai berdarah.
"Perempuan gila. Sampai kapan aku tahan diperlakukan seperti ini," geram Ranti.
Namun pada saat itu, Kantilpun telah muncul di pintu biliknya, sementara Rantipun segera mengusap air matanya dengan lengan bajunya.
"Kau menangis perempuan cengeng," bentak Kantil.
Rantipun cepat-cepat menggeleng sambil menjawab, "Tidak mbokayu. Aku tidak menangis."
"Lalu apa namanya jika bukan menangis, he ?"
"Ada binatang kecil masuk ke dalam mataku mbokayu."
"Jangan bohong. Kau tentu menangis. Aku tahu, bahwa kau berusaha untuk meruntuhkan perasaan belas kasihan Pangeran Ranapati. Dengan demikian, maka kau akan dapat menarik perhatiannya. Kau tidak berusaha memikatnya dengan senyum dan kerlingan mata. Tetapi karena kau tahu bahwa hati Pangeran Ranapati itu sangat lembut, kau mencoba untuk memikatnya dengan menjual belas kasihan, dengan menangis dan pada kesempatan lain mengeluh berkepanjangan. Kau akan menceriterakan nasibmu yang buruk dan tersia-sia. Dengan demikian maka kau akan dapat meruntuhkan hati Pangeran Ranapati itu."
"Tidak mbokayu. Tidak. Bahkan aku masih ingin dapat keluar dari tempat ini, kembali kepada kakakku dan kemudian kembali kepada ibuku."
"Omong kosong. Perempuan manakah yang tidak merasa beruntung dan berharga, bahwa ia dapat dipilih untuk menjadi selir seorang Pangeran."
"Tidak mbokayu. Sungguh. Aku ingin pulang."
"Jangan berpura-pura. Jangan munafik. Ingat. Jika kau bertingkah macam-macam, aku akan melemparkanmu kepada laki-laki yang banyak berkeliaran di sini. Aku akan mengatakan kepada Pangeran, bahwa kau sudah berzina dengan laki-laki itu. Atau bahkan dengan beberapa orang laki-laki."
"Jangan mbokayu. Jangan," Ranti itupun kemudian telah berjongkok di hadapan Kantil sambil menangis.
"Cukup," bentak Kantil, "sekarang segera pergi ke dapur. Nyalakan perapian. Aku akan masak."
"Baik, mbokayu."
Ranti itupun segera bangkit berdiri. Iapun kemudian melangkah pergi ke dapur. Sementara itu mulutnya berku-mat-kamit. Tetapi tidak seorangpun yang mendengarnya ia berkata, "Awas perempuan gila. Aku akan memilin lehermu sampai patah."
Di dapur, Rantipun segera menyalakan api. Ketika Kantil datang ke dapur, api sudah menyala. Ranti sudah meletakkan belanga berisi air di atas api.
"Ambil air di sumur. Kelentingnya terdapat di sebelah gentong itu," perintah Kantil.
Ranti tidak menjawab. Iapun segera bangkit berdiri mengambil kelenting dan membawanya ke sumur untuk mengambil air.
Beberapa pasang mata laki-laki terbelalak menyaksikannya. Tetapi seorang di antara mereka berkata, "Perempuan itu adalah simpanan Pangeran Ranapati. Siapa yang mengganggunya berarti bahwa ia sudah jemu hidup."
Semua orang berpaling kepada orang yang berbicara itu.Bahkan di luar sadarnya, Rantipun berpaling pula kepadanya. Ternyata orang itu adalah orang yang bertubuh pendek, yang telah membawa Ranti kepada Pangeran Ranapati.
Tetapi Rantipun kemudian berpura-pura tidak mendengarnya. Iapun berjalan terus ke sumur untuk mengambil air dengan kelenting yang kemudian diusungnya dilambungnya.
Pagi itu Ranti ikut sibuk di dapur membantu Kantil menyiapkan makan bagi Pangeran Ranapati siang nanti. Pangeran Ranapati memang tidak terbiasa makan pagi, kecuali minuman hangat dan beberapa potong makanan.
Sambil masak, Kantil tidak henti-hentinya bersungut. Sekali-sekali bahkan membentak, ada saja yang dicelanya pada Ranti. Kata-katanya yang menurut Kantil terlalu kasar. Tingkah lakunya yang kurang mapan dan tidak mengenal unggah-ungguh. Pikirannya yang tumpul dan tidak mudah menangkap tuntunan dan bimbingan dan masih banyak lagi cacatnya.
Ranti hanya menundukkan wajahnya. Namun sekali-sekali ia harus bangkit melakukan apa yang diperintahkan oleh Kantil.
Menjelang tengah hari, maka nasipun masak. Kantilpun segera memerintahkan Ranti agar menyenduk nasi ke dalam ceting bambu.
Ranti yang selalu dianggap bersalah itupun menyenduk nasi ke dalam ceting dengan sangat hati-hati. Tidak satupun butir-butir nasi yang terjatuh di lantai dapur, sebutir nasi akan dapat menjadi alasan bagi Kantil untuk mengumpatinya sehari penuh.
Sementara Kantil masih sibuk di dapur, maka seorang pengikut Pangeran Ranapati datang kepada Kantil untuk menyampaikan pesan Pangeran Ranapati, bahwa ada tiga orang tamu. Kantil diminta untuk menyiapkan suguhan bagi mereka.
"Siapa ?" bertanya Kantil.
"Yang seorang adalah Mas Panji Wangsadrana."
"Mas Panji Wangsadrana " Apalagi yang dimaui Mas Panji itu sehingga ia terlalu sering datang kemari."
"Entahlah. Tetapi bukankah Mas Panji itu salah seorang pejabat di istana kadipaten Panaraga " Ia salah seorang yang dibawa oleh Pangeran Jayaraga dari Mataram."
"Aku tahu," potong Kantil, "lalu siapa yang lain ?"
"Aku tidak tahu."
Kantil nampak menjadi kurang senang. Dengan nada datar iapun berkata, "Jika Mas Panji datang kemari, hampir pasti Pangeran Ranapati harus pergi. Aku ingin Pangeran tidak terlalu sering pergi."
"Tentu ada keperluan Nyi. Keberadaan Pangeran disini tentu membawa beban tugas tersendiri."
"Aku tidak berkeberatan, jika Pangeran melakukan tugasnya di Panaraga. Tetapi lihat, sudah dua kali Pangeran pulang dengan membawa perempuan. Dan perempuan ini adalah perempuan yang ketiga. Untunglah bahwa perempuan-perempuan itu kemudian telah mengkhianati Pangeran Ranapati. Kalau tidak, maka tentu ada tiga orang perempuan yang berada di rumah ini selain aku."
"Ya, Nyi," orang itu mengangguk-angguk.
"Tetapi nampaknya perempuan inipun pada suatu saat akan mengkhianati Pangeran Ranapati," berkata Kantil lebih lanjut.
Namun pengikut Pangeran Ranapati itu berkata, "Tamu itu sudah agak lama duduk di serambi depan. Pangeran minta segera disuguhkan minuman dan makanan."
"Baik, baik." Kantil itupun segera menyiapkan minuman dan makanan untuk dihidangkan kepada tamu-tamu Pangeran serta Pangeran Ranapati sendiri. Ketika pengikut Pangeran itu akan membawa hidangan itu ke serambi depan, Kantilpun berkata, "Biarlah aku sendiri yang membawanya."
Kantil itupun kemudian meninggalkan Ranti sendiri di dapur untuk menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu Pangeran Ranapati.
Demikian Kantil meninggalkan dapur, maka Rantipun berbisik, "Apa yang dilakukan oleh kedua orang perempuan itu?"
"Mereka berkhianat."
"Apa yang dilakukannya ?"
Orang itu termangu-mangu sejenak. Iapun kemudian berpaling ke pintu dapur. Baru kemudian ia menjawab, "Sebenarnya keduanya tidak bersalah. Tetapi Nyi Kantil itulah yang memasukkan laki-laki ke bilik perempuan-perempuan itu, sehingga Pangeran menjadi marah. Laki-laki dan perempuan itu telah dibunuhnya."
"Dalam waktu yang bersamaan?"
"Tidak. Peristiwanya berselang sekitar sebulan."
Ranti masih akan bertanya. Tetapi laki-laki itu bergegas keluar sambil berdesis, "Keberadaanku disini akan dapat menjerat leherku."
Ranti yang memaklumi keadaannya membiarkannya pergi tanpa bertanya lebih jauh. Iapun kemudian sibuk melanjutkan kerja yang ditinggalkan oleh Kantil.
Namun agaknya Ranti dapat menebak, bahwa Kantil memang memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Pangeran Ranapati untuk mendapat kesempatan pada suatu saat menjebaknya.
"Tetapi tentu tidak akan secepat ini," berkata Ranti didalam hatinya.
Tetapi dengan demikian, Ranti harus menjadi lebih berhati-hati. Ternyata Kantil adalah seorang perempuan yang berhati iblis.
Ketika kemudian Kantil kembali ke dapur, laki-laki yang dipesan Pangeran Ranapati untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamunya itu sudah tidak ada di dapur. "Dimana orang itu ?" bertanya Kantil.
"Maksud mbokayu ?"
"Laki-laki itu?"
"Yang menyampaikan pesan Pangeran kepada mbokayu?"
"Ya." "Laki-laki itu pergi bersamaan dengan saat mbokayu membawa minuman ke serambi depan."
Kantil mengerutkan keningnya. Ia mengharapkan laki-laki itu berbincang-bincang dengan Ranti sepeninggalnya. Meskipun yang dibicarakan soal apapun, tetapi ia sudah mendapat satu kesempatan untuk melontarkan tuduhan pertama. Tetapi ternyata laki-laki itu sudah pergi."
"Laki-laki pengecut," katanya di dalam hati, "matanya buta sehingga ia tidak melihat perempuan cantik di depan hidungnya."
Tetapi Kantil itu masih mempunyai banyak sekali kesempatan. Pada suatu saat, ia tentu dapat menuduh perempuan itu berkhianat sebagaimana pernah dilakukannya. Tentu ada laki-laki dungu yang pada suatu saat mau masuk ke dalam biliknya sebagaimana yang pernah terjadi.
Kantilpun kemudian melanjutkan kesibukannya di dapur dibantu oleh Ranti. Namun Kantil masih juga sempat beberapa kali membentak Ranti karena kesalahan-kesalahan kecil atau bahkan pada saat Ranti tidak melakukan kesalahan apapun.
Tetapi Ranti berusaha untuk tetap sabar. Ia berusaha untuk tabah mendengarkan segala macam caci-maki dan bentakan-bentakan perempuan iblis itu. Tetapi setiap kali mereka berada di depan Pangeran Ranapati, maka sikap Kantil menjadi sangat lembut melampaui lembutnya sikap seorang ibu kepada gadis kecilnya.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranapati itupun telah masuk ke dapur sambil berkata, "Kantil. Aku akan pergi sebentar bersama Ki Panji Wangsadrana."
Dengan sikap yang dibuat-buat Kantil itupun bertanya, "Pangeran akan pergi ke mana ?"
"Ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan. Mungkin aku pulang jauh malam. Segala sesuatunya tergantung pada tugas yang aku lakukan."
"Silakan Pangeran. Hamba mohon Pangeran cepat pulang. Hamba tidak dapat terlalu lama Pangeran tinggalkan."
"Baik, Kantil. Aku akan segera pulang demikian aku selesai dengan pekerjaanku."
"Hamba mohon Pangeran berhati-hati."
"Tentu Kantil. Tetapi tidak ada orang yang dapat menggangguku tanpa harus menebus dengan nyawanya."
"Hamba percaya Pangeran. Meskipun demikian mungkin saja ada orang yang licik, yang dengki dan iri terhadap Pangeran, berbuat curang."
Pangeran Ranapati tersenyum. Katanya, "Jangan cemas. Aku akan kembali."
Kantil itupun kemudian mengikut Pangeran Ranapati sampai turun ke halaman depan. Tamu-tamunya terutama Ki Panji Wangsadrana mengangguk hormat kepadanya sambil mohon diri, "Kami mohon diri Nyi Mas."
"Silakan Ki Panji."
Demikian mereka keluar dari regol halaman, maka Kantilpun kembali ke dapur. Tetapi ia tidak segera menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan iapun berkata kepada Ranti, "Selesaikan kerja ini. Pangeran Ranapati tidak akan makan di rumah siang nanti, bahkan sore nanti. Biar nanti sore saja aku menyiapkan makan malam jika Pangeran Ranapati kembali nanti."
Ranti hanya dapat mengangguk mengiakan. Tetapi Ranti itupun berkata dengan ragu, "Tetapi aku tidak dapat masak, mbokayu. Mungkin masakanku akan terasa tidak enak. Apalagi bagi Pangeran Ranapati."
"Kau tidak akan masak buat Pangeran Ranapati. Sudah aku katakan, aku nanti yang akan masak bagi Pangeran Ranapati. Kau masak buat kau makan sendiri. Mungkin aku jika aku tidak menjadi mual makan masakanmu."
Ranti tidak berbicara lagi, sementara itu Kantilpun telah meninggalkan dapur. Sejenak kemudian, Kantil itu telah berbaring di biliknya. Ia lebih senang tidur daripada berbuat sesuatu jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah.
Di dapur, Ranti menjadi sibuk sendiri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Rara Wulan sudah terbiasa berada di dapur. Ia adalah seorang perempuan yang sebenarnya pandai masak. Tetapi di rumah itu, ia sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Ia sengaja membuat makanannya terasa kurang garam, sedangkan santannya terlalu cair.
Ranti menyadari, bahwa di belakang dapur itu berkeliaran beberapa orang laki-laki pengikut Pangeran Ranapati. Tetapi Ranti berusaha untuk tidak terjebak karenanya. Karena itu ia sama sekali tidak mempedulikannya. Sementara laki-laki yang ada di belakang itupun tidak ada yang berani menyapanya. Mereka sadar, bahwa sedikit saja mereka melakukan kesalahan karena keberadaan perempuan itu, maka mereka akan dapat disingkirkan untuk selama-lamanya seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, maka Rantipun dapat bekerja dengan tenang di dapur, sementara Kantil pun masih saja berada di biliknya. Bahkan ia berharap bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ranti di dapur.
Tetapi tidak seorangpun yang akan membiarkan kepalanya dipenggal atau tubuhnya digantung di dahan pohon benda di sudut kebun di belakang.
Karena itu, tidak seorangpun yang berani mengusik Ranti yang sedang bekerja di dapur seorang diri. Apalagi Rantipun kemudian telah menutup pintu belakang dapur itu.
Ranti sudah terbiasa bekerja cepat. Karena itu, maka ia-pun dengan cepat pula menyelesaikan masakan yang sudah dimulai oleh Kantil. Namun Ranti itu sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Bahkan terasa hambar karena kurang garam.
Setelah selesai dengan masakannya, Ranti masih duduk sendiri di dapur. Ia sempat melihat-lihat tatanan perabot di dapur. Nampaknya Kantil memang seorang yang rajin. Ia menata perabot dapur dengan teratur. Dipilih-pilihnya perabot yang mudah pecah dan yang tidak. Kemudian yang terbuat dari bambu dan kayu, yang lain gerabah dan sebangsanya. Di sudut paga bambu terdapat perabot yang terbuat dari tembaga.
Ranti itupun kemudian bangkit berdiri. Diamatinya perabot itu satu-satu, seakan-akan ia ingin menghitung, apa saja yang berada di dapur itu.
Sementara itu peralatan dapur yang baru saja dipakai oleh Ranti, telah dicucinya pula sehingga bersih. Iapun menempatkan alat-alat dapur itu di tempatnya, sesuai dengan yang telah diatur oleh Kantil.
Ketika matahari mulai turun, maka Kantil itupun telah keluar dari biliknya. Ketika ia pergi ke dapur, ia melihat Ranti itu masih berada di dapur.
"Apa yang kau lakukan disini, he ?" bertanya Kantil.
"Menyelesaikan kerja mbokayu. Kemudian mencuci alat-alat dapur yang aku pergunakan dan menempatkannya di tempat yang barangkali sesuai dengan keinginan mbokayu."
Sekilas Kantil memang melihat segala sesuatunya telah diatur dengan rajin sebagaimana ia lakukan. Tetapi justru karena itu ia menjadi semakin tidak senang kepada Ranti. Dengan kasar Kantil itupun membentak, "Kenapa kau tidak menyiapkan makan siang bagiku " Apa kau kira jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah, aku tidak perlu makan ?"
"Mbokayu belum memerintahkannya. Aku takut." Kedengkian Kantil agak terhibur ketika ia melihat wajah Ranti yang membayangkan ketakutan. Wajah itu menunduk dalam-dalam dengan pandangan mata yang terhunjam di lantai.
"Sekarang aku perintahkan kepadamu, supaya kau menyiapkan makan siang buatku."
"Ya, mbokayu. Tetapi dimana aku harus menyiapkan makan siang itu " Di ruang dalam atau di dapur ini saja."
"Kau memang seorang perempuan yang dungu. Aku bukan budak disini. Aku adalah isteri Pangeran Ranapati. Bukankah kau pernah melihat, bahwa aku selalu berada didekatnya. Pada saat Pangeran Ranapati minum-minuman hangat dipagi hari serta makan beberapa potong makanan, aku juga menyertainya. Seharusnya kau tahu, bahwa aku akan makan di tempat Pangeran Ranapati makan, meskipun Pangeran Ranapati itu tidak ada di rumah."
"Baiklah mbokayu. Aku akan menyiapkan makan mbokayu di ruang dalam."
"Kaulah yang nanti makan disini setelah aku selesai." Ranti tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia ingin meremas bibir Kantil yang memuntahkan kata-katanya yang sangat menyakiti hatinya itu. Atau bahkan memotong lidahnya.
Tetapi Ranti tidak dapat melakukannya dengan tergesa-gesa. Ia harus membiarkan dirinya direndahkan, karena hal itu merupakan bagian dari pengorbanannya untuk mendapatkan keterangan lebih jauh tentang Pangeran Ranapati.
Selama ia berada di rumah itu, ia baru mendapatkan satu keterangan yang dapat disampaikannya kepada Glagah Putih, bahwa ada pejabat Panaraga yang sering datang ke rumah Pangeran Ranapati. Pejabat itu juga datang dari Mataram bersama Pangeran Jayaraga.
Demikianlah, maka Rantipun telah menyiapkan makan siang Kantil di ruang dalam. Ia mencoba mengatur makan yang disiapkan itu sebagaimana seharusnya. Tetapi ada juga yang dengan sengaja dibuatnya tidak terlalu rapi.
Sebenarnyalah ketika Kantil kemudian duduk menghadapi makan siangnya, maka iapun segera berteriak memanggil Ranti. Sehingga dengan tergesa-gesa Rantipun berlari-lari kecil datang ke ruang dalam.
"Apakah matamu tidak dapat melihat apa yang baik dan apa yang buruk ?" bertanya kantil.
"Maksud mbokayu ?"
"Lihat. Pantaskah seorang perempuan mengatur kelengkapan makan siang seperti ini " Apakah aku harus meloncat-loncat untuk menyenduk nasi, kemudian memungut lauknya yang kau letakkan di seberang ceting nasi. Kemudian sayurnya dan sambalnya yang berserakan."
Ranti hanya menundukkan kepalanya. Tetapi Kantil tidak memberitahukan, bagaimana sebaiknya ia mengatur nasi, lauk pauk dan sayurnya, sambalnya serta mangkuk-mangkuknya.
Rantipun tahu, bahwa Kantil tentu berusaha agar Ranti tetap saja bodoh dan tidak dapat menyiapkan dan menata makan siang dengan pantas. Dengan demikian, maka Pangeran Ranapatipun akan muak kepadanya.
Namun sejenak kemudian, Kantil itupun membentaknya, "Sekarang, pergi. Kau baru akan makan setelah aku selesai makan. Atau barangkali sudah makan lebih dahulu ketika kau berada di dapur sendirian?"
"Belum mbokayu. Aku belum makan."
"Sekarang pergilah. Kenapa kau masih ada disitu?"
Ranti itupun kemudian meninggalkan Kantil sendiri di ruang dalam. Tetapi Rantipun menduga, jika Kantil sudah mencicipi sayurnya yang hambar, maka ia tentu akan berteriak-teriak lagi memanggilnya.
Sebenarnyalah, bahwa demikian Ranti meletakkan tubuhnya, duduk diamben panjang didapur, ia sudah mendengar lagi Kantil itu berteriak memanggilnya.
Ranti tersenyum. Namun iapun berlari-lari kecil ke ruang dalam. Demikian ia memasuki ruang'dalam, maka ia sudah tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi ketakutan serta menunduk dalam-dalam.
"Kau ini perempuan atau bukan Ranti?" bertanya Kantil.
"Kenapa mbokayu?"
"Bagaimana aku dapat makan kalau begini caramu memasak sayur?"
"Aku tidak mengerti mbokayu."
"Cicipi masakanmu, cicipi," bentak Kantil sambil menyodorkan mangkuknya.
Ranti masih saja nampak kebingungan. Namun kemudian, Kantilpun melekatkan mangkuknya ke mulut Ranti sambil berkata, "Kau kira aku dapat makan sayur seperti ini?"
Ranti yang tidak mengira bahwa mangkuk itu akan dilekatkan ke mulutnya, tidak sempat mengelak. Namun sebenarnya Ranti sudah tahu, bahwa sayur itu rasanya sangat hambar.
"Apakah sepanjang umurmu kau belum pernah masak?"
"Sudah mbokayu. Aku sering membantu ibu masak. Di Panaraga aku juga masak untuk kakakku."
"Lidah mereka adalah lidah yang mati. Tetapi kau tidak dapat menghidangkan masakan seperti itu kepadaku."
"Aku memang tidak pandai memasak mbokayu."
"Bawa semuanya ini ke dapur. Kau sajalah yang makan masakanmu sendiri, karena hanya kau yang mau makanan masakan yang rasanya seperti air limbah itu."
Ranti tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara Kantilpun membentaknya pula, "Bawa semuanya pergi. Kau harus menghabiskan masakanmu itu. Kau sendiri yang masak, maka biarlah kau sendiri yang makan."
Ranti tidak berani bertanya. Yang dilakukannya, adalah membawa nasi serta sayur dan lauknya itu ke dapur. Namun Rantipun kemudian menjadi ragu-ragu, apakah ia dapat makan atau tidak, sementara Kantil sendiri belum makan.
Tetapi ternyata Kantil yang marah itu masuk ke dalam biliknya, sehingga Rantipun kemudian mempunyai waktu untuk makan.
Ranti sendiri menaburkan garam di mangkuknya, sehingga dengan demikian, maka masakaffnya menjadi tidak terlalu hambar, meskipun itu masih terhitung kurang enak.
Setelah makan, maka Rantipun telah mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor. Ia tahu, bahwa sore nanti, Kantil akan masak untuk menyediakan makan malam Pangeran Ranapati.
Setelah segala sesuatunya selesai, maka Rantipun masuk ke dalam biliknya. Setelah menutup pintunya rapat-rapat, maka Rantipun berusaha mencari hubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.
Karena Glagah Putih berada di tempat yang agak jauh, maka isyarat yang saling mereka berikan, menjadi tidak sejelas jika Glagah Putih berada di halaman rumah itu.
Kepada Glagah Putih, Ranti sempat menceriterakan pengalamannya, sehingga Glagah Putih tertawa karenanya.
Tetapi Glagah Putihpun berpesan, "Kau harus bersabar, Rara Wulan. Kau harus berusaha mengetahui, apa yang dilakukan Ki Panji Wangsadrana di rumah Pangeran Ranapati. Pada kesempatan lain, jika orang itu datang lagi, maka beritahu aku. Aku akan mencoba mengikuti mereka."
"Kau harus berhati-hati kakang. Nampaknya Ki Wangsadrana selalu dikawal oleh prajurit-prajuritnya. Tetapi betapapun sulitnya aku akan berusaha mengetahui, apa yang dilakukan oleh Ki Panji Wangsadrana."
"Tetapi kau harus berhati-hati, Rara," pesan Glagah Putih.
Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri berusaha menghubungi para pejabat diistana kadipaten Panaraga.
Madyasta yang sudah lebih lama berada di Panaraga, ternyata mempunyai seorang kawan yang menjadi seorang Lurah Prajurit di Panaraga. Meskipun pengenalannya atas kadipaten itu sangat terbatas, tetapi ternyata bahwa dari Lurah Prajurit itu, Madyasta mendapat beberapa keterangan awal yang agaknya dapat dipergunakan untuk menolusuri keterangan-keterangan lebih banyak.
Sementara itu, Rara Wulan masih harus menunggu kesempatan untuk dapat mengetahui keperluan Ki Panji Wangsadrana lebih jauh.
Seperti yang direncanakan, di sore hari, Kantil telah memanggil Ranti untuk membantunya bekerja di dapur. Tetapi sebagaimana Kantil tidak memberitahu caranya mengatur hidangan makan, maka Kantilpun tidak mengajarinya agar Ranti itu dapat masak masakan yang lebih enak dan tidak hambar.
Yang dilakukan Ranti kemudian hanyalah menyalakan api. Mengambil air. Mencuci sayuran dan kerja yang lain yang tidak langsung berhubungan dengan memasak sayur dan membuat lauk.
Tetapi sebenarnyalah bahwa Ranti tahu benar apa yang dilakukan Kantil. Iapun dapat memasak, sebagaimana Kantil itu dan bahkan mungkin masakan Ranti justru lebih enak dari masakan Kantil.
Kantil masih saja sering membentak-bentak menyindir, marah dan segala macam cela yang sangat menjengkelnya. Tetapi Ranti masih harus tetap bersabar dan menahan hatinya yang sebenarnya sudah hampir meledak.
Menjelang senja, segala sesuatunya sudah siap. Karena disiang hari Kantil masih belum makan, maka Kantilpun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Meskipun sedikit, tetapi Kantil makan lebih dahulu karena ia tidak dapat menahan lapar.
"Kau makan setelah Pangeran Ranapati makan malam nanti."
"Ya, mbokayu," sahut Ranti. Tetapi dihatinya ia bertanya, "Kalau Pangeran Ranapati itu tidak pulang?"
Tetapi Ranti adalah orang yang terlatih. Ia memang dapat merasa haus dan lapar sebagaimana orang lain. Tetapi dalam keadaan memaksa, maka Ranti dapat saja menahan lapar bahkan lebih dari satu hari satu malam. Pada saat ia harus menjalani laku sampai tiga hari tiga malam, dan kemudian pati geni sehari semalam, ia masih saja tetap tegar dan mampu melakukan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Ketika kemudian malam turun, maka seorang abdi Pangeran Ranapati itu telah menyalakan lampu disetiap ruangan dan diserambi. Bahkan diluar rumah dan dipintu regol, telah dinyalakan oncor pula.
Tetapi biasanya Pangeran Ranapati pulang jauh malam atau bahkan menjelang dini hari. Bahkan jika banyak tugas yang harus dilakukan Pangeran Ranapati sering tidak pulang sampai dua tiga hari.
Karena itu, malam itu Kantilpun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Demikian malam menjadi semakin dalam, maka Kantilpun telah pergi ke biliknya. Namun sebelumnya, ia telah memerintahkan seorang abdi untuk menyelarak semua pintu. Bahkan pintu dapur sekalipun. Namun yang harus menyelarak pintu butulan adalah justru Ranti setelah abdi itu keluar dari rumah.
"Pintu bilikmu sudah tidak diselarak dari luar lagi Ranti. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau mempunyai kebebasan mutlak dan dapat meninggalkan rumah ini. Di luar ada orang yang bertugas berjaga-jaga. Jika kau berusaha untuk lari dari rumah ini, maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Oleh Pangeran Ranapati kau akan dilemparkan kepada laki-laki yang ada di rumah ini apapun yang kemudian akan terjadi atas dirimu."
Ranti hanya menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab.
"Nah, sekarang pergilah kebilikmu. Jangan keluar lagi."
"Apakah aku tidak boleh kepakiwan di malam hari, mbokayu. Jika aku tidak pergi ke pakiwan, maka perutku menjadi sakit."
"Sekarang, pergilah ke pakiwan. Cepat. Kau dapat keluar lewat pintu butulan yang kau selarak dari dalam."
Ranti menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia pergi ke pakiwan. Sebenarnyalah bahwa Ranti ingin sekedar melihat suasana di luar rumah di malam hari. Apakah para pengikut Pangeran Ranapati itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.
Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut-pengikut yang patuh. Meskipun Pangeran Ranapati tidak ada, tetapi mereka tetap saja menjalankan tugas mereka. Di belakang, nampak empat orang yang berjaga-jaga di serambi. Tentu di depan dan disamping juga ada pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas meng awasi keadaan.
Para pengikut yang bertugas itupun melihat Ranti itu keluar dari pintu butulan dan pergi ke pakiwan. Tetapi tidak seorangpun yang berani menyapanya, karena hal itu akan dapat membawa mereka ke dalam bencana.
Karena itu, maka Ranti justru merasa aman karena orang-orang yang bertugas berjaga-jaga itu.
Namun Rantipun sebenarnya tidak segera masuk ke dalam pakiwan. Dibawah bayang-bayang kegelapan, Rantipun menyelinap. Ia ingin melihat sendiri kesiagaan dihalaman samping rumah itu.
Sebenarnyalah, bahwa para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut yang setia.
Baru setelah mengamati keadaan di sekitar rumah itu, Rantipun singgah sebentar di pakiwan.
Ketika ia kembali masuk lewat pintu butulan, Kantil itu membentaknya, "apa yang kau lakukan, he" Begitu lama kau berada di pakiwan" "
"Maaf, mbokayu. Perutku memang agak sakit."
"Apakah kau sudah kelaparan?"
"Tidak, mbokayu. Tidak."
"Apa kau berhenti dan bercanda dengan laki-laki yang bertugas malam ini."
"Tidak, mbokayu. Sama sekali tidak. Aku tidak mengenal seorangpun diantara mereka."
"Kalau kau sudah menyelarak pintu itu kembali, maka segera masuk ke bilikmu. Kau akan dibangunkan dan membantuku menyediakan makan Pangeran Ranapati, jika Pangeran pulang. Baru setelah itu kau boleh makan."
"Ya, mbokayu." "Kau harus mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku telah memberikan banyak kebebasan kepadamu."
Ranti mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, "Ya, mbokayu. Aku sangat berterima kasih kepada mbokayu. Apapun yang harus aku lakukan, itu lebih baik daripada aku harus tetap berada didalam bilik itu."
"Sekarang masuk ke dalam bilikmu. Jangan keluar lagi meskipun aku tidak akan menyelaraknya dari luar."
"Ya, mbokayu." Rantipun kemudian masuk ke dalam biliknya. Tetapi Kantil masih duduk di ruang dalam menunggu kedatang an Pangeran Ranapati dan mengawasi Ranti, seandainya Ranti keluar dari biliknya dengan diam-diam.
Tetapi Ranti memang tidak lagi keluar dari biliknya. Pada saat Kantil menduga bahwa Ranti sudah tidur nyenyak, namun sebenarnya Ranti tengah berhubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.
"Hati-hatilah," berkata Glagah Putih, "jangan terjebak oleh permainan isteri Pangeran Ranapati itu."
"Aku akan sangat berati-hati kakang."
Di malam hari, Rantipun menjadi sangat berhati-hati. Ia telah meletakkan sebuah sapu ijuk bertangkai bambu di depan pintu.
Jika pintu itu dibuka, maka tangkai sapu ijuk itu akan roboh. Bagi Rara Wulan, bunyi-tangkai sapu ijuk itu usdah cukup keras untuk membangunkannya.
Malam itu, ternyata Pangeran Ranapati pulang sebelum jauh malam. Sebelum tengah malam Pangeran Ranapati sudah mengetuk pintu rumahnya sambil memanggil nama Kantil.
Kantilpun dengan tergesa-gesa pergi ke ruang depan untuk membuka pintu pringgitan.
Ranti yang masih belum tidur itu juga mendengar bahwa Pangeran Ranapati telah pulang.
Namun agaknya Pangeran Ranapati itu tidak sendiri. Ia datang bersama beberapa orang. Seorang diantara mereka ternyata adalah Mas Panji Wangsadrana.
"Marilah, silakan duduk di ruang dalam saja," Pangeran Ranapati mempersilakan.
"Baik , Pangeran," sahut Mas Panji Wangsadrana.
Merekapun kemudian duduk di ruang dalam. Dengan mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, Ranti sempat mendengar Kantil mempersilahkan mereka duduk.
"Buatkan kami minuman, Kantil," berkata Pangeran Ranapati.
"Baik, Pangeran," sahut Kantil.
Rantipun menyadari, bahwa Kantil tentu akan membangunkannya dan minta kepadanya untuk membantunya menyiapkan minuman di dapur.
Namun dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti masih mendengar Pangeran Ranapati berkata, "Aku sangat kecewa."
"Tentu ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan," berkata Ranti di dalam hatinya.
Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Iapun segera mendengar pintu biliknya diketuk oleh Kantil.
"Bangun pemalas," panggil Kantil.


16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rantipun segera bangkit. Untunglah Kantil tidak membuka pintunya dari luar, sehingga tangkai sapu ijuknya tidak roboh dan mungkin agak mengejutkannya.
Rantipun kemudian telah berada di dapur bersama Kantil. Rantipun harus segera menyalakan api dan menjerang air.
"Jangan terlalu banyak, bodoh. Seperlunya saja agar lebih cepat mendidih."
"Ya, mbokayu," jawab Ranti dengan nada rendah. Ketika Ranti kemudian duduk di depan perapian, meskipun ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, namun ia tidak lagi dapat mendengar pembicaraan antara Pangeran Ranapati dengan tamu-tamunya. Tetapi satu hal telah diketahuinya, bahwa Pangeran Ranapati malam itu menjadi kecewa.
Demikian minuman itu siap, maka Ranti berharap bahwa Kantil akan memerintahkannya membawa ke ruang depan. Tetapi ternyata Kantil sendirilah yang membawa minuman itu kepada Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya.
Namun ketika Kantil tidak ada di dapur, sementara Ranti duduk dengan memusatkan pendengarannya dengan Aji Sapta Pangrungu, ia masih dapat mendengar lamat-lamat dan bahkan kadang-kadang hilang tetapi kadang-kadang timbul kembali, Pangeran Ranapati itu mendesak kepada Mas Panji Wangsadrana, "Jangan terlalu lama Mas Panji. Aku ingin Mas Panji melakukannya lebih cepat lagi."
"Aku akan berusaha Pangeran," jawab Mas Panji. Tetapi pembicaraan merekapun terhenti. Yang terdengar kemudian adalah suara Kantil yang hilang-hilang timbul mempersilakan tamu-tamunya minum.
Bahkan Kantil itupun bertanya, "Apakah hamba harus mempersiapkan makan malam Pangeran."
"Ya. Siapkan makan malam bagi kami!"
"Baik, Pangeran."
Ketika Kantil kembali ke dapur, maka iapun menjadi sibuk memanasi sayur dan lauk yang akan dihidangkan. Katanya kepada Ranti, "Siapkan mangkuk-mangkuk. Cepat."
Rantipun kemudian dengan cepat telah menyiapkan mangkuk-mangkuk yang diperlukan, sementara Kantilpun menyiapkan segala sesuatunya. Kantil sendirilah yang kemudian mengatur dan menghidangkan makan malam itu.
Ternyata Ranti tidak dapat lagi menangkap pembicaraan mereka yang sedang makan di ruang depan.
Sementara itu, Kantil tidak segera kembali ke dapur. Agaknya Kantil menunggui Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya yang sedang makan.
Di dapur, Ranti berusaha untuk dapat berhubungan dengan Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih sudah tidur nyenyak. Namun akhirnya Glagah Putih itu terbangun dan berusaha menerima pesan-pesan Ranti.
Kepada Glagah Putih, Ranti menceritakan bahwa nampaknya Pangeran Ranapati itu menjadi sangat kecewa malam itu. Tetapi Ranti tidak dapat mengetahui kenapa Pangeran Ranapati itu menjadi kecewa.
"Usahakan mengikuti persoalannya, Rara," pesan Glagah Putih, "nampaknya Pangeran Ranapati sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan tugas Pangeran Jayaraga."
"Apakah Pangeran Ranapati sudah berhubungan dengan Pangeran Jayaraga?" bertanya Rara Wulan.
"Pangeran Jayaraga sudah mendengar bahwa di Panaraga telah hadir pula seorang Pangeran. Seorang saudara tua Pangeran Jayaraga yang bernama Pangeran Ranapati. Putera Panembahan Senapati yang sejak masa kanak-kanaknya tidak berada di istana."
"Apa tanggapan Pangeran Jayaraga?"
"Pangeran Jayaraga ingin bertemu dengan Pangeran Ranapati yang mengaku sebagai saudara tua Pangeran Jayaraga."
"Apakah mereka sudah bertemu?"
"Belum." "Mungkin karena itu, Pangeran Ranapati menjadi sangat kecewa. Tetapi mungkin ada persoalan yang lain."
"Baiklah. Usahakan untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati."
"Baik, kakang."
Hubungan itu terputus. Ternyata Pangeran Ranapati serta para tamunya telah selesai makan. Kantil telah membawa mangkuk-mangkuk yang kotor ke dapur. Ketika Ranti akan membantunya mengambil mangkuk-mangkuk kotor itu, Kantil membentaknya, "Kau harus mencucinya. Kau tidak perlu ikut-ikutan melakukan tugasku jika aku tidak memberikan perintah kepadamu."
"Ya, mbokayu," jawab Ranti. Namun sikap Kantil itu telah sangat membatasi tugas-tugas Ranti untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati. Tetapi jika ia berusaha untuk melampauinya, maka kemungkinan buruk akan dapat segera terjadi. Justru terlalu cepat sebelum ia mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati.
Karena itu, yang dilakukan oleh Ranti adalah merendahkan dirinya, tunduk kepada semua perintah perempuan yang merasa dirinya sebagai isteri Pangeran Ranapati itu.
Beberapa saat kemudian, Ma'S Panji Wangsadrana dan kawan-kawannya itupun minta diri. Ketika Kantil juga melepas mereka sampai ke tangga, dengan Aji Sapta Pangrungu Ranti yang berada di dapur masih dapat mendengar Pangeran Ranapati itu sekali lagi menyatakan kekecewaannya.
"Aku harap Ki Panji tidak gagal lagi."
"Aku akan berusaha Pangeran," jawab Ki Panji. Yang kemudian terdengar adalah Ki Panji itu minta diri beserta kawan-kawannya. Juga kepada Kantil.
Demikian tamu-tamu itu meninggalkan rumah Pangeran Ranapati, maka dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti mencoba untuk mendengarkan pembicaraan Pangeran Ranapati dengan Kantil di ruang dalam. Di ruang itu lebih dekat dengan dapur.
"Apa sebenarnya yang terjadi Pangeran?" bertanya Kantil.
"Ternyata aku telah bekerja sama dengan orang-orang bodoh seperti Panji Wangsadrana."
"Apa yang seharusnya dilakukan?"
"Kau tidak usah ikut memikirkannya. Itu adalah persoalanku, bukan persoalanmu."
"Mungkin aku akan dapat ikut memikirkannya."
"Apa yang dapat kau pikirkan kecuali sambal terasi" Sudahlah. Kau tidak usah mencoba mencampuri urusanku."
"Baik, Pangeran."
"Sekarang aku akan pergi ke pakiwan. Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur."
Pangeran Ranapati itupun segera pergi ke pakiwan. Sementara itu Kantil pergi ke dapur untuk melihat Ranti yang masih sibuk mencuci mangkuk.
"Kau selesaikan kerjamu," berkata Kantil, "kau boleh makan. Aku akan tidur. Setelah selesai, kaupun harus segera masuk ke dalam bilikmu. Jangan mencoba untuk melarikan diri dari rumah ini. Setiap sudut mendapat pengawasan yang ketat."
"Apakah aku boleh pergi ke pakiwan, mbokayu."
"Untuk apa?" "Mencuci tangan dan kaki."
"Nanti sesudah selesai kerjamu. Sesudah itu kau harus masuk ke dalam bilikmu."
"Baik, mbokayu."
Ketika kemudian Kantil masuk, Ranti sekali lagi mencoba menghubungi Glagah Putih. Ketika Glagah Putih menyahut, maka Rantipun bertanya, "Apakah kau mengenal orang yang bernama Panji Wangsadrana."
"Mas Panji Wangsadrana?"
"Ya." "Aku pernah mendengar nama itu."
Rantipun kemudian berkata, "Lacak orang itu."
"Baik. Aku akan berusaha," jawab Glagah Putih. Rantipun kemudian menghentikan hubungannya dengan Glagah Putih lewat Aji Pameling. Iapun kemudian lewat pintu butulan keluar pergi ke pakiwan.
Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati memang orang-orang yang setia. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tugas mereka. Bahkan ada pula diantara mereka yang bertugas meronda berkeliling halaman rumah itu.
Tetapi sebenarnya para pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas itu tidak akan merupakan penghambat yang tidak tertembus seandainya Rara Wulan minta Glagah Putih datang menghubunginya secara langsung. Tetapi nampaknya Rara Wulan masih belum memerlukannya.
Dalam pada itu Glagah Putih yang masih menganggap bahwa Rara Wulan masih tetap aman, memusatkan perhatiannya kepada orang yang bernama Mas Panji Wangsadrana. Dari Madyasta, Glagah Putihpun kemudian mengetahui, bahwa Mas Panji Wangsadrana adalah orang Mataram yang datang ke Panaraga bersama Pangeran Jayaraga.
"Ternyata Pangeran Ranapati telah berhasil membuat hubungan dengan Mas Panji Wangsadrana," berkata Glagah Putih.
"Ya," sahut Madyasta, "agaknya berita tentang keberadaan seorang Pangeran di Panaraga yang didengar Pangeran Jayaraga itu juga dari Mas Panji Wangsadrana."
"Ya. Tetapi apakah hubungan Mas Panji dengan Pangeran Jayaraga cukup dekat?"
"Ya.Mas Panji Wangsadrana merupakan salah seorang kepercayaan Pangeran Jayaraga."
Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun kemudian telah berpesan kepada Madyasta untuk mengikuti sikap dan tingkah laku Mas Panji Wangsadrana. Mungkin ada sesuatu yang dapat menarik perhatian.
Dihari berikutnya, Glagah Putih telah dihubungi kembali oleh Rara Wulan, yang memberitahukan, bahwa agaknya usaha Mas Panji Wangsadrana sudah berhasil.
"Apa yang diusahakan, Rara?"
"Aku belum tahu, kakang. Mungkin kakang Madyasta dapat mencari jawabnya."
Dalam pada itu, dihari berikutnya, Madyasta dengan agak tergesa-gesa menghubungi Glagah Putih. Baru saja ia mendengar, bahwa Pangeran Jayaraga akan mengadakan adon-adon. Sebagai orang yang belum lama bertugas di Panaraga, Pangeran Jayaraga akan membuka semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang terbaik, yang akan dapat menjadi pemimpin bagi prajurit Panaraga.
"Apakah hal ini sudah terbiasa dilakukan disini?" bertanya Glagah Putih.
"Kita sama-sama berasal dari Mataram. Tetapi menurut orang Mataram, pendadaran semacam ini sering dilakukan. Sejak masa Pajang, untuk mengangkat seorang Senapati, biasanya dilakukan dengan pendadaran. Bahkan di Mataram pernah diselenggarakan pertarungan untuk mendapatkan gelar Senapati terbaik di Mataram. Tentu saja bahwa pertarungan semacam itu dibatasi dengan berbagai aturan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Ketika Mas Karebet, yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya di Pajang, marah kepada seorang yang memasuki pendadaran untuk menjadi Senapati karena kesombongannya, yang kemudian langsung dihadapinya sendiri, sehingga perasaan marahnya tidak terkendali dan membunuh peserta pendadaran itu, Mas Karebet telah mendapat hukuman berat. Mas Karebet diusir dari Pajang . Ia tidak boleh menginjakkan kakinya lagi di Pajang, sampai saatnya datang pengampunan."
"Ya. Aku juga pernah mendengar ceritera itu."
"Jadi jika Pangeran Jayaraga ingin menyelenggarakan pendadaran untuk mendapatkan prajurit-prajurit baru yang tangguh, tentu wajar-wajar saja."
Glagah Putihpun mengangguk-angguk, sementara Madyastapun berkata, "Bukankah saat kau memasuki dunia keprajuritan, kau juga mengikuti pendadaran."
"Ya," Glagah Putih masih mengangguk-angguk pula, "jadi yang akan dilakukan itu sekadar pendadaran" Bukan adon-adon. Sebab antara keduanya ada bedanya."
"Ya. antara keduanya memang ada bedanya. Inilah yang agak berbeda dari kebiasaan yang sering dilakukan di Mataram. Pangeran Jayaraga akan mengadakan semacam pertarungan bagi para peminat yang berilmu tinggi untuk memperebutkan kedudukan Senapati. Menurut pendengaranku, maka pertarungan itu akan berlangsung sampai salah seorang diantara mereka yang bertarung itu tidak dapat melawan lagi."
"Jadi ada kemungkinan bahwa orang itu akan mati."
"Itulah yang mendebarkan jantung."
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ia menghubungkan keterangan Madyasta itu dengan pesan Rara Wulan, yang mengatakan bahwa usaha Mas panji Wangsadrana itu sudah berhasil.
"Inikah yang dikehendaki oleh Pangeran Ranapati?" pertanyaan itu telah menggelitik jantung Glagah Putih, "dengan demikian pangeran Ranapati akan merintis jalan memasuki istana Pangeran Jayaraga di Panaraga."
Tetapi segala sesuatunya masih harus diyakinkannya lebih dahulu.
Namun demikian, Kantil itupun menjadi agak cemas juga karena sikap Pangeran Ranapati yang kemudian memang lebih sering berada di luar rumah bersama Mas Panji Wangsadrana. Yang ada di kepala Kantil adalah bahwa Pangeran Ranapati itu telah mempunyai simpanan perempuan yang lain, sehingga ia lebih banyak berada di rumah perempuan itu.
Kantil tidak pernah berpikir, bahwa Pangeran Ranapati telah bekerja keras untuk ikut mengatur agar adon-adon yang akan diselenggarakan oleh Pangeran Jayaraga itu dapat terlaksana dengan baik dan secepatnya.
Jilid 396 PENGUMUMAN dari Pangeran Jayaraga tentang perebutan kedudukan Senapati itu menyebutkan bahwa pelaksanaannya akan berlangsung tiga pekan lagi. Karena itu, maka siapa yang berminat supaya segera menghubungi para pejabat yang bertugas.
"Begitu cepatnya," desis Glagah Putih, "hanya ada waktu tiga pekan. Apakah pengumuman itu sudah merata?"
"Sudah. Semua orang, semua prajurit dan semua bebahu kademangan telah diperintahkan untuk menyebarkan pengumuman itu."
"Kita akan melihat, apa yang akan terjadi di arena pertarungan itu," berkata Glagah Putih hampir kepada dirinya sendiri.
Waktu yang tiga pekan itu ternyata sangat cepat dilewati. Sehari sebelum pertarungan itu dilaksanakan, maka di alun-alun telah dibuat gawar lawe yang digayutkan pada tunggul yang dipasang mengelilingi sebuah arena.
Pertarungan itu akan berlangsung tiga hari penuh.
"Ternyata banyak pula peminatnya," berkata Glagah Putih.
"Ya," sahut Madyasta," tiga hari itu hanya ancar-ancar. Mungkin masih belum selesai. Mungkin pertarungan antara dua orang yang berilmu tinggi dapat berlangsung setengah hari atau bahkan lebih."
"Jadi?" "Pertarungan itu dapat saja berlangsung sampai sepekan. Menurut Pangeran Jayaraga, pertarungan itu akan dilaksanakan sampai selesai, tuntas, sehingga hanya ada seorang pemenang saja."
"Bagaimana cara yang dipergunakan untuk memilih yang seorang itu?"
"Setiap pasang akan bertarung sampai salah seorang dianggap kalah oleh pengawas pertandingan. Yang menang akan bertarung dengan pemenang dari pasangan lain. Demikian seterusnya, sehingga yang terakhir nanti tinggal ada dua orang peserta."
Glagah Putih menarik nafas panjang.
Dalam pada itu, Madyastapun telah mengajak Glagah Putih untuk menemui seorang yang sudah berumur separo baya. Seorang yang memiliki ilmu seakan-akan tidak terbatas.
"Kita akan menghadap Ki Darma Tanda." Sebenarnyalah, bahwa berita tentang adon-adon itu bukan sekadar berita burung. Di hari berikutnya, telah tersiar pengumuman dari istana Kadipaten Panaraga, bahwa Pangeran Jayaraga, penguasa baru di Panaraga akan memanggil seorang Senapati yang mumpuni untuk melengkapi kedudukan Senapati di Panaraga. Orang-orang yang berilmu tinggi dipanggil untuk mengikuti perebutan kedudukan itu dengan melewati pertarungan. Siapa yang memenangkan pada pertarungan akhir akan ditetapkan menjadi Senapati di Panaraga, melengkapi kedudukan Senapati yang telah ada. Bahkan mungkin akan mendapat kedudukan terbaik dalam jajaran keprajuritan di Panaraga.
Berita itu telah mendebarkan jantung Glagah Putih. Kepada Madyasta Glagah Putih minta agar ia mengikuti perkembangan dari pengumuman itu untuk selanjutnya.
"Apakah kawanmu yang bekerja di Kadipaten Panaraga itu dapat dipercaya?"
"Ya. Kawanku itu dapat dipercaya."
Di rumah Pangeran Ranapati, Rara Wulanpun melihat beberapa perubahan sikap dari Pangeran Ranapati itu. Ketika Mas Panji Wangsadrana datang kepadanya, maka Pangeran Ranapati itu sempat memujinya.
"Ternyata Mas Panji benar-benar seorang yang cekatan. Cekatan berpikir dan cekatan bertindak. Aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat berlangsung dengan rancak."
"Mudah-mudahan Pangeran," berkata Mas Panji. Namun dari hari ke hari, sikapnya kepada Kantilpun mulai berubah. Pangeran Ranapati lebih memperhatikan keadaan di luar rumahnya yang dikatakannya kepada Kantil, bahwa ia sedang mengemban tugas yang sangat berat, sehingga mungkin ia akan lebih banyak berada di luar rumah.
"Jika itu akan menempatkan Pangeran dalam jenjang kedudukan yang terbaik, silakan Pangeran," berkata Kantil.
"Ya. Jika aku berhasil, maka kaupun akan ikut merasakan mukti wibawa sebagai isteri seorang Pangeran dalam kedudukannya sebagai seorang pangeran yang sesungguhnya."
"Baik, Pangeran."
Sementara itu, ada keuntungan lain yang diperoleh Rara Wulan. Dalam kesibukannya, Pangeran Ranapati tidak sempat memperhatikan keberadaan Rara Wulan di rumah itu. Apalagi Kantil selalu berusaha untuk memberikan kesan buruk kepada Rara Wulan. Bahkan Pangeran Ranapati itu seakan-akan telah lupa, bahwa di rumah itu ada perempuan lain yang bernama Ranti. Sikap Pangeran Ranapati itu memang sangat menyenangkan bag Kantil. Tetapi juga sangat menguntungkan bagi Rart Wulan sehingga ia akan mempunyai kesempatan lebil banyak untuk mengamati.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Dengan nada datar iapun bertanya, "Siapakah Ki Darma Tanda itu ?"
"Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Aku ingin tahu, apakah ia mengikuti adon-adon untuk mendapatkan kedudukan yang diinginkan oleh banyak orang berilmu tinggi itu."
"Orang itu tahu, siapa kau ?"
"Tidak. Aku mengenalnya karena orang itu menolongku. Aku ikut berjudi di sebuah pertemuan sekedar untuk mengenal lebih banyak orang. Ketika aku menang, maka ada orang yang menuduhku curang. Aku sengaja tidak memberikan perlawanan untuk tetap menyembunyikan jati diriku. Ki Darma Tanda telah menolongku. Ia bertarung melawan sekelompok orang berilmu tinggi, tetapi nampaknya mereka bukan orang baik-baik."
"Kenapa Ki Darma Tanda itu menolongmu?"
"Aku juga bertanya kepadanya, kenapa ia bersusah payah menolongku, bahkan dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya."
"Apa katanya?" "Ki Darma Tanda menganggapku orang baik. Aku berjudi dengan jujur, sehingga aku menang dengan wajar. Karena itu tidak patut jika orang-orang itu menganggapku curang."
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya iapun bersedia pergi bersama Madyasta.
Ketika ia sampai di rumah Ki Darma Tanda, matahari sudah jauh melewati puncaknya.
Ki Darma Tanda yang kebetulan ada di rumahnya itupun menerima Madyasta dengan ramah. Sejak ia menolong Madyasta, Madyasta memang sering datang kepadanya untuk sekedar berbincang-bincang.
Madyasta memperkenalkan Glagah Putih sebagai adik sepupunya.
"Siang-siang Ki Madyasta datang ke pondokku, apakah ada semacam keperluan atau sekedar menengok keselamatan keluargaku disini?" bertanya Ki Darma Tanda.
"Sudah lama aku tidak datang kemari, Ki Darma Tanda, entahlah. Tiba-tiba saja ingin sekali bertemu dengan Ki Darma Tanda."
"Sokurlah jika Ki Madyasta tidak mempunyai keperluan apa-apa. Bukankah Ki Madyasta tidak lagi berada dibawah ancaman orang-orang yang pernah memusuhi Ki Madyasta di tempat perjudian itu ?"
"Tidak, Ki Darma Tanda. Akupun sudah menjadi jera. Malam itu aku hanya sekedar ingin-tahu. Tetapi ternyata aku terlibat dalam perjudian yang sungguh-sungguh."
Ki Darma Tanda itupun tertawa.
"Ki Darma Tanda," berkata Madyasta kemudian, "sebenarnyalah aku telah didorong oleh sifat ingin tahuku. Bukankah mulai esok akan ada adon-adon di alun-alun. Semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang mempunyai kemampuan terbaik, yang akan diangkat menjadi seorang Senapati di Panaraga, melengkapi Senapati yang telah ada. Pangeran Jayaraga masih ingin melengkapi jajaran keprajuritannya dengan orang-orang yang dapat diandalkan."
"Ya. Aku juga mendengarnya."
"Menurut penglihatanku, pada saat Ki Darma Tanda menolongku, Ki Darma Tanda adalah seorang yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Yang ingin aku ketahui, apakah Ki Darma Tanda juga mengikuti pendadaran untuk menjadi Senapati itu ?"
Ki Darma Tanda tertawa pendek. Katanya, "Pangeran Jayaraga itu aneh menurut pendapatku, Ki Madyasta. Seorang Senapati tidak dapat hanya mengandalkan kemampuannya dalam olah kanuragan. Untuk menjadi seorang Senapati yang baik, seseorang harus dinilai pula kecerdasannya serta kemampuan berpikir. Kejujuran serta kesetiaan kepada tugasnya. Jika seorang Senapati hanya didasarkan pada kemampuan olah kanuragan, maka mungkin sekali seorang gegedug dan pemimpin segerombolan perampok yang berilmu tinggi, akan memenangkan adon-adon di alun-alun itu. Nah, jika demikian apakah orang itu harus diangkat menjadi Senapati?"
Ki Madyasta mengangguk-angguk. Namun iapun menjawab, "Itulah yang aku cemaskan, Ki Darma Tanda. Jika orang-orang yang berpihak kepada kejujuran keadilan dan kebenaran tidak mau turun dalam pendadaran itu, maka yang dicemaskan oleh Ki Darma Tanda itu akan benar-benar dapat terjadi."
"Tetapi aku tidak ingin melibatkan diri dalam pertarungan seperti itu, Ki Madyasta. Biarlah aku tinggal digubugku ini bersama keluargaku. Biarlah setiap hari aku berjemur di sawah dan berendam di lumpur. Tetapi aku merasa bahwa hidupku tenang. Tidak ada persoalan-persoalan yang membuat aku menjadi gelisah dan cemas. Dimalam hari aku dapat tidur nyenyak. Sedangkan di siang hari aku dapat makan dengan enak meskipun hanya berlauk garam."
Ki Madyasta menarik nafas panjang. Dengan nada datar iapun berkata, "Jika Ki Darma Tanda ikut memasuki pendadaran ini, maka Ki Darma Tanda telah ikut menyelamatkan Panaraga dari kemungkinan buruk seperti yang Ki Darma Tanda katakan itu."
"Aku juga tidak dapat menjamin, bahwa seandainya aku berhasil menjadi seorang Senapati aku kemudian tidak berubah sifat dan perangaiku. Jika Ki Madyasta menganggap sekarang aku orang yang baik, maka mungkin sekali setelah aku menjadi Senapati, aku akan berubah menjadi orang yang adigang, adigung, adiguna. Sapa sira, sapa ingsun. Karena sebenarnyalah bahwa keadaan kehidupan seseorang akan dapat merubah tingkah laku dan sifat seseorang."
Ki Madyasta mengangguk-angguk. Demikian pula Glagah Putih. Yang dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu memang benar. Kedudukan seseorang memang dapat merubah sifat dan tabiatnya.
Namun yang jelas bahwa Ki Darma Tanda itu tidak berniat untuk ikut seria dalam pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati.
"Tetapi esok aku akan melihat, apa yang terjadi di arena itu," berkata Ki Darma Tanda, "apakah Ki Madyasta juga akan melihat?"
"Ya," sahut Madyasta, "aku akan melihat," demikianlah, setelah Madyasta dan Glagah Putih meneguk minuman yang dihidangkan bagi mereka, maka merekapun kemudian minta diri Sekali lagi Madyasta menyatakan penyesalannya, bahwa Ki Darma Tanda tidak bersedia untuk ikut dalam pertarungan itu. Ketika Madyasta masih saja mendesaknya, maka Ki Darma Tanda itupun berkata, "Segala sesuatunya sudah terlambat."
Demikian mereka berdua pulang, maka Madyastapun berkata kepada Glagah Putih, "kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu dapat terjadi."
"Kita sudah memperhitungkan. Tetapi jika benar keterangan yang kau peroleh, bahwa gagasan ini datangnya dari Mas Panji Wangsadrana, maka segala sesuatunya sebenarnya sudah jelas bagi kita. Gagasan itu tentu datang dari Pangeran Ranapati. Pangeran Ranapati yakin, bahwa tidak ada orang yang dapat mengalahkannya, sehingga akhirnya ia akan memasuki istana kadipaten Panaraga. Ia akan mengejutkan Pangeran Jayaraga dengan pengakuannya, bahwa ia adalah Pangeran Ranapati."
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Menurut kawanku seorang pejabat di istana kadipaten Panaraga itu, di dalam daftar para peserta memang tidak tercantum nama Pangeran Ranapati."
"Ya. Segala sesuatunya sudah jelas bagi kita. Besok kita akan melihat, apakah orang yang gambarannya kita kenal sebagai Pangeran Ranapati itu turun ke arena."
"Besok, selagi perhatian orang tertuju ke alun-alun, aku akan minta kakang Sungkana dan Sumbaga pergi ke Mataram untuk melaporkan perkembangan terakhir di Panaraga."
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Biarlah esok keduanya pergi ke Mataram. Disini mereka sudah dikenali oleh para pengikut Pangeran Ranapati."
Malam itu, Sungkana dan Sumbagapun segera berkemas. Mereka memang merasa lebih aman bertugas ke Mataram dari tugas-tugas lain yang harus dilakukannya di Panaraga, karena para pengikut Pangeran Ranapati masih saja memburunya.
Demikianlah, di hari berikutnya, sebelum matahari terbit, Sungkana dan Sumbaga telah meninggalkan Panaraga menuju ke Mataram untuk memberikan laporan tentang perkembangan Panaraga di saat-saat terakhir.
Sedangkan Madyasta dan Glagah Putih telah bersiap-siap pergi ke alun-alun untuk melihat pertarungan diantara mereka yang ingin menjadi salah seorang Senapati terbaik di Panaraga.
Dan pada itu, Glagah Putihpun selalu berhubungan dengan nara Wulan yang masih berada di rumah Pangeran Ranapati. Menurut Rara Wulau, Pangeran Ranapati memang lebih banyak berada di luar rumah.
"Pangeran Ranapati sedang mengendalikan Mas Panji Wangsadrana," berkata Glagah Putih, "agaknya Mas Panjilah yang ditugaskan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyelenggarakan adon-adon itu. Sebagai seorang yang mempunyai gagasan itu, maka Mas Panji tentu merupakan orang yang paling siap untuk melakukan tugas itu."
Di rumah Kantil yang semakin sering ditinggalkan oleh Pangeran Ranapati menjadi semakin sering marah. Apapun dapat menjadi sebab kemarahannya Namun ia tidak berani menunjukkan perasaannya itu kepada Pangeran Ranapati, sehingga Rantilah yang lebih sering menjadi sasaran kemarahannya. Bahkan pernah terjadi, air sebelanga telah disiramkan ke tubuh Ranti. Untung air itu adalah air dingin. Bukan air panas.
Hampir saja Ranti kehabisan kesabaran. Tetapi dengan susah payah ia menahan diri untuk tidak menjadi garang.
Pada malam hari menjelang pertarungan di mulai di alun-alun, Pangeran Ranapati berada di rumah. Kepada Kantil iapun berkata, "Esok aku memasuki satu tugas yang berat. Karena itu, aku minta bantuanmu."
"Apa yang dapat hamba lakukan Pangeran."
"Doakan aku," jawab Pangeran Ranapati, "hanya itu yang dapat kau lakukan."
"Tetapi tugas apakah yang akan Pangeran lakukan?"
"Aku tidak dapat mengatakan kepadamu sekarang."
Kantil tidak dapat memaksa Pangeran Ranapati untuk mengatakan, sementara itu Ranti justru sudah tahu, bahwa sejak esok pagi di alun-alun akan diselenggarakan pertarungan diantara orang-orang yang berilmu tinggi untuk merebut kedudukan terhormat di Panaraga.
Dalam pada itu, menjelang fajar dihari berikutnya, Pangeran Ranapati itu telah meninggalkan rumahnya. Hari itu Mas Panji Wangsadrana justru tidak datang ke rumah Pangeran Ranapati itu.
Ketika matahari terbit, telah banyak orang yang pergi ke alun-alun untuk melihat adon-adon. Ternyata di alun-alun terdapat sebuah panggungan yang akan dipergunakan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyaksikan pertarungan itu. Meskipun resminya Pangeran Jayaraga hanya akan menyaksikan pertarungan yang terakhir, tetapi mungkin sekali-sekali Pangeran Jayaraga juga ingin menyaksikan pertarungan sebelumnya.
Beberapa lama para prajurit telah melakukan upacara. Pangeran Jayaraga ternyata hadir pula untuk membuka upacara adon-adon itu. Beberapa orang Senapati mendampinginya di panggungan.
Sekelompok prajurit bertombak pada upacara pembukaan itu, berdiri memagari arena. Beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit yang lain telah mendorong sebuah kerangkeng memasuki arena itu, yang ternyata didalamnya terdapat seekor harimau yang garang, buas dan sengaja dibuat lapar.
Sejenak kemudian, sebagai pertanda bahwa adon-adon itu telah dibuka dengan resmi, maka Pangeran Jayaraga telah membunyikan sebuah bende beberapa kali. Sedangkan pada saat yang bersamaan, para prajurit telah membuka pintu kerangkeng yang didorong ke tengah-tengah arena itu.
Sejenak kemudian.seekor harimau yang besar, buas dan lapar meloncat keluar sambil mengaum keras sekali. Sementara itu, tombak para prajuritpun segera merunduk.
Rampogan itu akan mengawali acara adon-adon yang akan dilangsungkan di arena itu pula.
Demikianlah, harimau lapar itupun kemudian harus bertarung menghadapi beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak.
Namun malang bagi harimau itu. Setelah beberapa lama harimau itu, mencoba menembus ujung tombak yang memagarinya, maka akhirnya justru harimau itulah yang terbunuh. Bangkainya terkapar di arena yang segera diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam kerangkeng. Sejenak kemudian, maka kerangkeng itupun segera dibawa keluar dari arena.
Demikianlah, di atas darah harimau yang sudah mengalir membasahi arena itulah, pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati akan berlangsung.
Pangeran Jayaraga ternyata tidak segera meninggalkan panggungan demikian rampogan itu selesai. Tetapi Pangeran Jayaraga masih ingin menyaksikan pertarungan yang pertama dari mereka yang ingin memperebutkan kedudukan Senapati itu.
Tetapi ternyata pertarungan yang pertama itu tidak menarik. Meskipun keduanya berilmu tinggi, tetapi nampaknya pertarungan itu menjadi berat sebelah. Pertarungan itu sendiri tidak berlangsung lama, karena seorang diantara mereka telah melakukan kesalahan yang berakibat sangat buruk baginya.
Karena itu, ketika orang itu bangkit dengan susah payah setelah terbanting jatuh, maku iupun segera dinyatakan telah kalah.
"Aku belum kalah," katanya.
"Jika kau berkelahi lebih lama lagi, maka kau akan dapat mati di arena ini," berkata Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itupun keluar dari arena.
Terdengar para penontonpun bersorak. Orang yang keluar dari arena itu menjadi sangat malu. Tetapi ia masih sayang akan nyawanya sehingga ia tidak melanjutkan pertarungan.
Pangeran Jayaraga tidak merasa tertarik lagi akan per-tarungan-pertarungan yang bakal dilakukan. Nampaknya pada pertarungan di tahap awal itu, masih belum menunjukkan pertarungan yang mendebarkan. Meskipun sebelum adon-adon itu dimulai, telah dilakukan rampogan untuk memanasi darah "para peserta, namun masih banyak pertarungan yang tidak seimbang tampil di hari pertama itu.
Dengan demikian, maka pertarungan itupun dihentikan sejenak pada saat Pangeran Jayaraga meninggalkan panggungan. Baru kemudian pertarungan itupun dimulai lagi.
Adalah kebetulan bahwa Madyasta dan Glagah Putih dapat bertemu dengan Ki Darma Tanda di pinggir arena, sehingga merekapun dapat menonton pertarungan itu bersama-sama.
Meskipun pertarungan pada putaran pertama itu masih belum menarik tetapi ada juga diantara dua orang yang berilmu tinggi, kebetulan bertemu sesuai dengan hasil undian di antara mereka. Pertarungan yang demikian, kadang-kadang dapat berlangsung lama.
Dihari pertama itu, Glagah Putih dan Madyasta terkejut ketika mereka melihat seseorang yang menurut ciri-cirinya adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati. Tetapi di arena itu, ia telah mempergunakan nama lain. Meskipun demikian Madyasta dan Glagah Putih yakin, bahwa orang itu adalah Pangeran Ranapati.
Pertarungan diantara orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati dan lawannya itu berlangsung dalam waktu yang pendek saja. Lawannyapun tiba-tiba telah terbanting jatuh, sehingga mengalami kesulitan untuk bangkit.
Senapati yang melerai pertarungan itupun segera memberi isyarat bahwa pertarungan itu sudah selesai. Yang terjatuh dan tidak segera dapat bangkit kembali itupun dinyatakan telah kalah, sehingga akan segera tampil pasangan berikutnya.
Demikianlah, pasangan demi pasanganpun telah bertarung. Namun orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu telah menundukkan kepalanya, ketika ada diantara mereka yang terkapar dengan darah yang segar meleleh dari antara bibirnya. Bukan karena bibirnya pecah atau giginya " patah. Tetapi darah itu mengalir dari rongga dadanya.
Tetapi orang yang merasa menang itu sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi. Seorang yang bertubuh agak gemuk justru telah menepuk dadanya sambil menggeram seperti seekor orang hutan yang baru saja berhasil membunuh lawannya.
Dua orang Senapati telah mendatanginya untuk memberikan peringatan kepadanya, bahwa untuk selanjutnya ia harus menjaga agar ia tidak membunuh lawannya.
"Salahnya sendiri," berkata orang yang diperingatkan itu, "ia terlalu lemah untuk ikut dalam pendadaran yang keras seperti ini."
"Tetapi kau dapat mencegah kematian. Jika orang yang sudah tidak berdaya ini tidak kau angkat dan kemudian kau jatuhkan punggungnya di atas lututmu, maka ia tidak akan mati."
"Jadi apa yang harus aku lakukan di arena itu. Kalau lawanku mati, tentu bukan salahku."
"Tetapi setidak-tidaknya kami tidak melihat bahwa kau memang berniat untuk membunuhnya."
"Persetan dengan kelcnluun ketentuan yang cengeng ini," geramnya.
"Dengar. Kau tinggal memilih. Melakukan sebagaimana aku katakan, atau kau tidak akan ikut untuk selanjutnya."
"Itu tidak adil."
"Itu adalah ketentuan yang paling adil."
"Tidak. Aku akan ikut pendadaran ini untuk seterusnya. Bahkan sekarung aku minta lawan yang lain. Aku tidak mau pergi dari urena ini. Aku akan melawan siapa saja yang memaksuku turun dari arena sekarang ini, meskipun para Senapati sekalipun."
"Kau tidak dapat berbuat lain. Kau harus turun. Bahkan untuk seterusnya."
"Tidak." "Kau lihat harimau yang garang itu tadi?"
Orang yang agak gemuk itu termangu-mangu. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak telah berdiri di pinggir arena sebagaimana saat harimau yang garang itu dilepas dari kerangkeng.
Namun tiba-tiba seseorang telah muncul pula di arena. Seorang yang sebelumnya telah memenangkan pertarungan di arena itu, tetapi ia tidak membunuh lawannya.
Hampir bersamaan Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda berdesis, "Pangeran Ranapati."
"Kau mau apa?" bertanya Senapati yang sedang berusaha memaksa orang yang telah membunuh lawannya itu turun.
"Ki Sanak," berkata orang yang baru masuk ke arena itu. "jika Ki sanak mengijinkan, biarlah aku mengusirnya dari arena. Atau Ki Sanak dapat menganggap bahwa aku yang memenangkan pertarungan di putaran pertama, akan memasuki putaran kedua, karena orang yang telah membunuh itupun telah memenangkan pertarungan dalam putaran pertama."
Dua orang Senapati yang berada di arena itu termangumangu sejenak. Mereka tidak menduga, bahwa dalam adon-adon itu akan ada persoalan yang sebelumnya belum pernah dibicarakan.
Namun yang kemudian memasuki arena adalah Mas Panji Wangsadrana sambil berkata, "Kita akan membiarkan orang ini memasuki pertarungan pada putaran kedua meskipun belum waktunya, karena mereka yang bertarung di putaran pertama saja belum selesai. Tetapi kita menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja muncul."
"Bagaimana menurut pendapat Mas Panji?" bertanya salah seorang Senapati itu.
"Bukankah kita tidak berekebaratan" Pemenangnya nanti akan langsung memasuki putaran ketiga."
"Tentu tidak nanti."
"Ya, kapan saja. Esok atau lusa."
Akhirnya para Senapati termasuk Senapati yang bertugas melerai pertarungan itu tidak berkeberatan. Dua orang yang telah mengalahkan lawan-lawannya akan memasuki pertarungan pada putaran kedua.
Beberapa orang peserta ada yang mengajukan keberatan, tetapi keputusan para Senapati itupun akhirnya dilaksanakan juga.
"Bagus," berkata orang yang tubuhnya agak gemuk, yang menepuk dadanya sambil menggeram setelah ia membunuh lawannya, aku akan membunuh dua orang hari ini. Mungkin esok aku akan membunuh lebih banyak lagi."
Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda termangu-mangu menyaksikan mereka yang bakal bertarung di arena. Ketegangan telah menyentuh jantung mereka. Mereka sudah mengira, bahwa seorang diantara keduanya akan mati di arena itu pula.
"Permainan di hari pertama ini sudah diwarnai dengan darah," desis Ki Darma Tanda, "bukankah sama sekali tidak menyenangkan untuk ikut dalam pendadaran itu?"
Madyasta mengangguk sambil menjawab, "Ya, Ki Darma Tanda. Untunglah bahwa Ki Darma Tanda tidak ikut dalam adon-adon itu."
"Bayangkan, apa judinya jika orang yang bertubuh agak gemuk dan yang dengan bangga membunuh lawannya itu kelak memenangkan pertandingan. Apakah pantas orang itu menjadi Senapati di Panaraga."
Madyasta mengangguk sambil menjawab, "Ya. Jajaran keprajuritan di Panaraga akan dirusaknya."
"Kesalahan ini terletak pada Pangeran Jayaraga yang kurang bijaksana."
"Tetapi kebijaksanaan ini sudah tidak mungkin dicegah lagi."
"Kecuali bahwa pada saat terakhir, jika orang itu memenangkan perebutan kedudukan ini ada yang mengajukan tantangan untuk berperang tanding. Tidak dalam rangka perebutan kedudukan itu sendiri."
Glagah Putih dengan ragu-ragu bertanya, "Apakah Ki Darma Tanda akan melakukannya" Maksudku, jika orang itu kelak memenangkan pertarungan ini, Ki Darma Tanda akan menantangnya berperang tanding?"
Ki Darma Tanda tidak menjawabnya. Tetapi perhatiannya sudah tertuju lagi ke arena. Dua orang yang sudah memenangkan pertarungan di putaran pertama.
Sejenak kemudian, keduanya sudah bersiap. Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itu terdiri dari dua orang serta Mas Panji Wangsadrana sendiri. Nampaknya Mas Panji sangat menaruh perhatian terhadap pertarungan ini.
Demikianlah, maka sejenak kemudian pertarunganpun segera dimulai. Orang yang bertubuh agak gemuk itu memang seorang yang kasar. Sayangnya ia berilmu sangat tinggi, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang sangat berbahaya.
Namun dalam putaran kedua itu, ia langsung berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati, tetapi yang sedang menyamarkan dirinya dengan mama lain. Pada saatnya ia memang berniat mengejutkan Pangeran Jayaraga. Jika ia berhasil memenangkan adon-adon itu, maka baru ia akan mengatakan siapa dirinya kepada Pangeran Jayaraga.
Sejenak kemudian, maka pertarungan di antara kedu anyapun menjadi semakin cepat. Orang yang bertubuh agak gemuk itu menjadi semakin garang pula. Serangannya datang seperti angin prahara menerjang batu karang.
Tetapi Pangeran Ranapati adalah seorang yang mumpuni pula. Bahkan ia sudah meyakini, bahwa dirinya akan memenangkan adon-adon itu dan segera diangkat menjadi Senapati di Panaraga. Dengan demikian, maka ia akan dapat menjadi bagian dari penguasa di Panaraga. Bahkan jika ia berhasil mengembangkan pengaruhnya, maka ia akan dapat menentukan langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Jayaraga.
Dengan demikian, maka pertarungan antara keduanya-pun semakin lama menjadi semakin sengit. Para peserta yang lain, yang masih belum mendapat kesempatan sekalipun memasuki arena, memandang pertarungan itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika orang yang bertubuh gemuk itu membunuh lawannya, jantung para peserta itupun sudah bergejolak. Mereka yang merasa berilmu tinggi, telah mendendam orang itu. Mereka'mengharap bahwa mereka akan memenangkan pertarungan di putaran pertama dan di putaran kedua dapat langsung berhadapan dengan orang yang sombong, kasar dan tidak berperasaan itu.
Namun ternyata seorang yang lain, yang tiba-tiba saja menerobos ke putaran kedua, telah berhadapan dengan orang itu.
Tanpa disadari, maka para peserta yang lain, yang bukan kawan-kawan orang bertubuh agak gemuk itu menjadi bingung. Mereka tidak tahu, siapakah diantara keduanya itu yang diharapkan menang. Mereka memang berharap, agar merekalah yang mendapat kesempatan untuk mengalahkan orang itu. Dengan demikian, maka seharusnya orang yang bertubuh gemuk itu dapat memenangkan pertarungan di putaran kedua itu, sehingga ia masih akan kembali ke arena.
Tetapi jika demikian, maka lawannya itupun tentu akan dibunuhnya pula. Apalagi ia merasa ditantang secara khusus oleh lawannya itu.
Dalam kebimbangan, akhirnya para peserta adon-adon itu tidak lagi lx'rharap siapa yang sebaiknya menang. Siapapunn akhirnya harus mereka hadapi pula.
Demikianlah, maka pertarungan itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang yang memasuki arena untuk menantang orang yang bertubuh agak gemuk itu, nampaknya bukan yang lemah, sehingga sulit bagi orang yang bertubuh gemuk itu untuk mengalahkannya.
Jika dalam putaran pertama ia tidak terlalu lama bertarung, sehingga akhirnya ia berhasil mengangkat tubuh lawannya dan kemudian membanting orang itu pada punggungnya di lututnya, sehingga tulang punggung itu patah dan lawannya itu langsung mati, lawannya yang kedua ini ternyata tubuhnya sangat liat. Ia masih dapat menghindari serangan dalam keadaan yang paling sulit. Bahkan dengan cepat iapun dapat membalas menyerangnya. Sementara itu serangan-serangan orang yang bertubuh agak gemuk itu, justru semakin lama menjadi semakin sulit untuk menembus pertahanan lawannya, sedangkan pertahanannya sendiri seakan-akan menjadi semakin terbuka. Serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering mengenai tubuhnya. Bahkan dalam benturan-benturan yang terjadi, maka orang yang bertubuh agak gemuk itulah yang tergetar surut.
"Gila orang ini," geram orang yang agak gemuk itu, "jika saja aku dapat menangkap tubuhnya. Aku akan mengangkatnya dan kemudian mematahkan punggungnya dengan membenturkan punggungnya itu pada lututku."
Tetapi jangankan menangkap dan mengangkat tubuhnya, jika orang itu berusaha mendekat, maka iapun akan segera terlempar menjauh. Kaki atau tangan lawannya, akan menghentaknya sehingga ia tergetar surut.
Orang bertubuh agak gemuk itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak mengira, bahwa di antara mereka yang ikut adon-adon itu adalah orang yang ilmunya dapat mengimbanginya, sehingga sangat sulit baginya untuk dapat mengalahkannya.
Orang itupun kemudian telah menghentakkan tenaga dan kemampuannya. Ia tidak ingin dicemoohkan oleh banyak orang jika ia dapat dikalahkan. Bahkan karena ia telah membunuh lawannya, jika ia kemudian kalah, maka iapun akan dibunuh pula oleh lawannya itu.
Dalam waktu yang pendek, hentakan ilmunya berhasil mendesak lawannya. Tetapi hanya sebentar. Sekejap kemudian, maka lawannya itupun telah menghentakkan ilmunya pula.
Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tandapun telah dapat menebak, bahwa akhirnya orang yang bertubuh agak gemuk itu tentu akan dikalahkan. Namun apa yang kemudian akan terjadi, mereka masih harus menunggu.
Sebenarnyalah, bahwa serangan-serangan Pangeran Ranapati itupun sudah tidak terbendung lagi. Perlawanan orang bertubuh pendek itu semakin lama menjadi semakin menyusut. Apapun yang dilakukan, namun ia tidak lagi mampu mengatasi lawannya, Pangeran Ranapati.
Betapapun orang bertubuh pendek itu berusaha, namun serangan Pangeran Ranapati telah melandanya seperti banjir bandang.
Beberapa kali orang itu terbanting jatuh. Dengan sisa-sisa tenaganya ia selalu berusaha untuk bangkit berdiri. Tetapi semakin lama, tenaganyapun menjadi semakin menurun.
Akhirnya ketika kaki Pangeran Ranapati yang terjulur menyamping mengenai dadanya, maka orang bertubuh agak gemuk itupun telah terbanting jatuh. Demikian kerasnya, sehingga sulit baginya untuk bangkit berdiri.
Pangeran Ranapati memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian iapun berpaling kepada orang-orang yang berada diseput;ir arena itu sambil mengangkat tangannya. Ternyata Pangeran ILuiapati tidak berniat membunuhnya. Ia hanya mengalahkannya dan setelah orang itu terkapar jatuh, maka Pangeran luuinpatipun hanya membiarkannya.
Namun dengan demikian Pangeran Ranapati itu menjadi lengah. Ia mengira, bahwa orang bertubuh pendek itu benar-benar sudah tidak mampu bangkit berdiri, sehingga karena itu perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya.
Tetapi orang bertubuh agak gemuk itu sangat licik. Ia tidak benar-benar terkapar tanpa dapat bangkit kembali. Ketika perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya, tetapi tertuju kepada orang-orang yang menonton pertarungan itu sambil bersorak-sorak, maka orang itupun tiba-tiba telah bangkit. Dengan serta merta ia telah menyergap Pangeran Ranapati dari belakang, kemudian, apa yang diinginkannya itu dapat dilakukannya. Ia mengangkat tubuh Pangeran Ranapati yang terlentang. Kemudian orang itu telah siap membantingnya dengan membenturkan tulang punggungnya keatas lututnya yang telah diangkat.
Tetapi yang tidak terduga itu telah terjadi. Tubuh yang sudah terangkat tinggi-tinggi itupun menggeliat.
Pada saat orang-orang yang berada di sekeliling arena itu menjadi sangat tegang, maka tubuh yang menggeliat itu justru telah melenting seperti seekor ulat kilan. Sekejap kemudian tubuh itupun meluncur dengan cepatnya.
Yang tertangkap lebih dahulu oleh tangan orang yang melenting dan meluncur dengan cepat itu adalah kepala orang yang agak gemuk itu. Terdengar tulang lehernya yang patah.
Demikian lawannya itu berdiri diatas kedua kakinya dan melepaskannya, maka orang yang agak gemuk itupun segera berpaling seperti sebatang pohon pisang.
Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian lehernya patah, maka iapun langsung kehilangan nyawanya.
Lawannya itupun melangkah surut. Iapun kemudian mengangguk hormat kepada para Senapati yang menjadi pelerai pada pertarungan itu. Pangeran Ranapati itupun kemudian berkata, "Maafkan aku. Aku tidak berniat membunuhnya. Yang terjadi adalah dengan tiba-tiba saja di luar kendali."
"Kau tidak bersalah," Mas Panji Wangsadranalah yang menjawab, "orang itu berniat berbuat curang."
Pangeran Ranapati tidak menjawab. Sementara Mas Panjipun berkata, "kembalilah ke tempatmu."


16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pangeran Ranapatipun kemudian meninggalkan arena dengan kepala tunduk.
Namun sorak yang gemuruh masih saja terdengar. Orang-orang menjadi sangat kagum kepada Pangeran Ranapati. Ia sama sekali tidak berniat membunuh lawannya. Tetapi justru lawannya itulah yang telah memaksanya untuk melakukannya.
Dalam pada itu, karena matahari sudah menjadi semakin rendah, maka pertarungan untuk hari itupun telah diakhiri. Esok pertarungan akan dilanjutkan. Para peserta akan kembali memasuki putaran pertama.
"Untunglah bahwa Pangeran Jayaraga tidak menyaksikan dua orang yang sudah terbunuh diarena," berkata seorang Senapati.
"Bukankah laporan dari peristiwa itu akan sampai juga kepada Pangeran Jayaraga."
"Tetapi kesannya tentu lain. Pangeran Jayaraga sekedar membaca laporan atau menyaksikan langsung peristiwa itu."
Yang lain mengangguk-angguk kecil.
Demikianlah, sejenak kemudian, maka arena itupun sudah menjadi sepi. Para peserta telah kembali ke barak yang menjadi tempat menampung mereka. Demikian pula para penontonpun telah pulang ke rumah masing-masing.
Para peserta adon-adon itu tidak banyak lagi yang saling berbincang. Mereka masing-masing merenungi apa yang sudah mereka lihat.
Tetapi mereka rata-rata adalah orang yang berilmu tinggi pula, sehingga mereka tidak menjadi gentar melihat dua orang di antara mereka yang telah menunjukkan tataran ilmu kanuragan mereka.
Sementara itu, Ki Darma Tanda yang berjalan perlahan-lahan bersama Glagah Putih dan Madyasta, masih sempat berbicara tentang kedua orang yang bertarung terakhir, yang dihitung sebagai pertarungan di putaran kedua.
"Keduanya memang berilmu tinggi," berkata Ki Darma Tanda.
"Ya, Ki Darma Tanda," sahut Madyasta, "nampaknya orang yang memenangkan pertarungan di pasangan terakhir itu dapat menggertak calon lawan-lawannya esok."
"Ya. Tetapi para peserta yang lain, agaknya tidak menjadi ketakutan. Mereka masih saja nampak tenang-tenang saja. Agaknya mereka juga merasa sebagai orang-orang yang berilmu tinggi."
"Sokurlah bahwa pembunuh itu telah dapat dihentikan," sahut Glagah Putih kemudian, "sehingga ia tidak lagi menjadi hantu yang mungkin akan dapat merebut gelar Senapati itu."
"Ya." Ki Darma Tandapun mengangguk-angguk. Namun akhirnya merekapun berpisah. Madyasta dan Glagah Putih langsung pulang. Demikian pula Ki Darma Tanda.
Di perjalanan pulang, Glagah Putihpun berkata, "Ternyata banyak juga orang yang berilmu tinggi yang tertarik untuk mengikuti pendadaran itu. Setiap pasang telah mensisakan seorang di putaran pertama, sehingga mereka akan memasuki putaran kedua."
"Besok kita akan melihat lagi."
Sebenarnyalah di keesokan harinya, keduanya kembali telah berada di alun-alun pada saat matahari naik.
Tetapi mereka tidak segera menemukan Ki Darma Tanda meskipun mereka berada di tempat mereka menyaksikan pertarungan itu kemarin.
"Mungkin hari ini Ki Darma Tanda tidak pergi ke alun-alun," desis Madyasta, "agaknya Ki Darma Tanda ingin melihat akhir dari pendadaran ini."
Glagah Putih mengangguk-angguk.
Beberapa saat kemudian, ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka pendadaran dengan cara adon-adon itupun segera dimulai lagi. Pertarungan demi pertarungan, Glagah Putih dan Madyasta melihat, bahwa beberapa orang benar-benar menunjukkan ilmunya yang tinggi. Mereka pada umumnya bertarung dengan baik. Sehingga di hari kedua itu tidak ada korban yang terbunuh di arena, meskipun ada di antara mereka yang terluka parah di bagian dalam tubuhnya. Tetapi itu terjadi dengan wajar. Bukan karena keganasan para peserta yang bengis.
Tetapi pada hari ketiga, ketika pertarungan benar-benar sudah memasuki putaran kedua, maka pertarungan di arena itupun menjadi semakin panas. Apalagi pada hari keempat. Jika semula pertarungan itu hanya direncanakan berlangsung tiga hari, tetapi sampai pada hari keempat pertarungan itu masih belum sampai kepada pertarungan puncak antara dua orang pemenang.
Baru pada hari kelima, pertarungan itu memasuki putaran yang menentukan. Pertarungan di hari kelima itu akan berlangsung hanya dua pasangan saja. Dari keduanya akan terpilih dua orang terbaik yang akan memasuki putaran terakhir. Namun untuk putaran terakhir, pertarungan akan ditunda untuk memberikan waktu beristirahat serta mempersiapkan diri bagi kedua orang yang akan menentukan, siapakah yang akan merebut kedudukan Senapati itu.
Namun agaknya pada hari kelima, pada saat pertarungan itu berlangsung bagi dua pasangan dari empat orang terbaik, Pangeran Jayaraga sendiri berkenan untuk menyaksikannya.
Demikian matahari naik pada hari kelima, maka per-tarunganpun telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dua orang Senapati akan menjadi pelerai didampingi oleh Mas Panji Wangsadrana sendiri.
Seperti hari-hari sebelumnya, Glagah Putih dan Madyastapun telah berada di alun-alun pula. Ternyata pada hari itu, mereka bertemu lagi dengan Ki Darma Tanda.
"Baru kali ini aku melihat lagi pertarungan ini," berkata Ki Darma Tanda.
"Kami datang setiap hari, Ki Darma Tanda," sahut Madyasta.
"Ternyata kau tertarik juga kepada olah kanuragan, sehingga kau perlukan datang setiap hari."
"Aku memang tertarik untuk menyaksikannya, asal aku sendiri tidak harus ikut terjun ke dalamnya."
Ki Darma Tandapun tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut lagi.
"Hari ini, Pangeran Jayaraga akan turun ke panggungan itu pula," berkata Madyasta.
"Ya. Aku juga mendengar pengumumannya," sahut Ki Darma Tanda.
Beberapa saat kemudian, maka terdengar isyarat, bahwa Pangeran Jayaraga telah datang ke arena pertarungan di hari kelima itu.
Yang lebih dahulu memasuki lingkungan di sekitar panggungan adalah para prajurit pengawal dengan tombak yang siap menghentak di tangan mereka. Kemudian para pengawal yang bersenjata pedang dan perisai. Baru kemudian dua orang Narpa Cundaka memasuki lingkungan panggungan. Di belakangnya adalah Pangeran Jayaraga diikuti oleh para Senapati dan para pemimpin Panaraga yang lain.
Pada saat yang sudah ditentukan, maka pertarungan antara dua pasang peserta adon-adon itu akan segera dimulai. Beberapa orang peserta yang telah dikalahkan di arena, mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertarungan itu. Tetupi sebagian ternyata harus berbaring di bawah perawatan para tabib karena luka-luka. Bukan saja luka-luka yang terbuka, tetapi juga luka-luka di bagian dalam dadanya pada saat mereka turun ke arena.
Yang harus turun pertama di arena pendadaran itu adalah dua orang yang berilmu sangat tinggi. Seorang yang sudah separobaya, serta ujung-ujung rambutnya yang mencuat dari ikat kepalanya sudah nampak bercampur dengan uban.
Namun ia adalah seorang yang berpakaian rapi. Bajunya nampak bagaikan melekat pada kulitnya. Kainnya yang disingsingkan sampai ke atas lututnya. Celananya yang hitam nampak bergaris kuning melingkar di bawah lututnya.
Orang yang sudah separo baya itu berperawakan sedang. Matanya agak cekung. Pandangannya tajam seolah-olah langsung menusuk ke dada lawannya.
Sedangkan lawannya adalah seorang yang berperawakan agak tinggi kekurus-kurusan. Namun tubuhnya nampak lentur sekali. Seakan-akan tulang-tulangnya mampu menggeliat sebagaimana dikehendakinya. Wajannya nampak cerah, sedangkan kakinya yang panjang, nampak ringan sekali.
Keduanyapun kemudian berhadapan ke atas arena. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu sudah berada di arena pula. Bahkan bersama dengan Mas Panji Wangsadrana.
Mas Panji itupun kemudian berdiri menghadap Pangeran Jayaraga yang duduk di panggungan. Iapun mengangguk hormat. Kemudian katanya, "Pangeran. Segala sesuatunya sudah siap untuk memulai dengan pertarungan menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari putaran ini serta putaran berikutnya, akan bertarung esok lusa untuk mencari pemenang sejati dari pendadaran yang diselenggarakan selama ini, yang waktunya sudah lewat dari waktu yang ditentukan."
Pangeran Jayaragapun kemudian mengangguk sambil berkata, "Mulailah."
Mas Panjipun segera memberi isyarat kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu. Keduanyapun kemudian memberikan pertanda pula kepada kedua orang yang sudah siap untuk bertarung.
Pertarungan itu sejak awal sudah terasa menjadi panas. Agak berbeda dengan putaran-putaran sebelumnya, maka kedua orang itu nampak bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati. Namun beberapa saat kemudian, pertarungan itupun menjadi semakin seru, sehingga di arena itu, bagaikan sedang bertiup angin pusaran.
Kedua orang yang berada di arena pendadaran itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Tubuh mereka nampak sangat ringan sehingga kaki mereka bagaikan tidak menyentuh tanah. Tetapi sambaran kaki dan tangan mereka nampak sangat berat bagaikan ayunan segumpal timah.
Keduanyapun saling berloncatan menghindari serangan-serangan lawan. Namun sekali-sekali telah terjadi benturan yang sangat keras.
Ki Darma Tanda menyaksikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Ia tidak melihat pertarungan-pertarungan sebelumnya. Sehingga karena itu, maka Ki Darma Tanda itupun langsung menyaksikan pertarungan antara dua orang yang berilmu lebih tinggi dari beberapa peserta yang lain, yang telah tersisih di putaran-putaran sebelumnya.
Mereka yang telah tersisih yang berkesempatan menyaksikan pertarungan itu menarik nafas panjang. Mereka harus mengakui bahwa kedua orang itu memang pantas untuk memasuki putaran menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari pertarungan itu esok lusa akan bertanding di pertarungan pada babak akhir melawan pemenang dari pertarungan pasangan yang satu lagi.
"Mereka memang berilmu sangat tinggi," berkata Ki Darma Tanda.
"Ya." sahut Madyasta, "tetapi apakah mereka dapat menyamai tataran kemampuan Ki Darma Tanda?"
"Tentu," jawab Ki Darma Tanda, "aku tidak yakin, bahwa aku mampu mengalahkan salah seorang di antara mereka berdua. Apalagi pada pertarungan di putaran akhir."
"Tentu dapat. Aku sudah menyaksikan, bagaimana Ki Darma Tanda bertempur, bahkan tidak di arena seperti ini, melawan tidak hanya satu orang yang berilmu tinggi."
"Aku masih belum yakin."
Madyasta tidak menjawab lagi. Sementara itu, Glagah Putih memperhatikan pertarungan itu dengan seksama. Iapun mengakui bahwa kedua orang itu berilmu sangat tinggi. Tetapi sebagai seorang yang berbekal ilmu cukup, maka Glagah Putih masih belum menjadi silau melihat pertarungan itu.
Pangeran Jayaragapun memperhatikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Pangeran Jayaraga adalah seorang yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun kemampuan kedua orang yang bertarung itu memberikan harapan kepada Pangeran Jayaraga, bahwa ia akan mempunyai seorang lagi Senapati yang berilmu sangat tinggi.
"Bahkan aku akan dapat mengangkat kedua-duanya," berkata Pangeran Jayaraga di dalam hatinya sambil membayangkan pertarungan di putaran terakhir esok lusa.
Menurut gambaran angan-angan Pangeran Jayaraga, maka kedua orang yang akan memasuki arena pertandingan di putaran terakhir, tentu dua orang yang berilmu sangat tinggi. Jika kedua-duanya diangkatnya menjadi Senapati, maka jajaran keprajuritan Panaraga tentu akan menjadi kokoh.
Demikianlah, kedua orang yang bertarung di arena itu telah meningkatkan ilmu mereka pula, sehingga dengan demikian, maka pertarungan itupun menjadi semakin sengit.
Keduanya berloncatan berputaran dengan kecepatan yang tinggi. Benturan-benturanpun menjudi semakin keras, sehingga bergantian mereka tergetar surut.
Serangan yang seorang datang seperti prahara, sedangkan yang lain bagaikan angin taufan yang menggempur bukit-bukit karang.
Namun pertarungan itupun harus berakhir. Ketika pada saat-saat terakhir benturan-benturan menjadi semakin sering terjadi, maka pertahanan orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu mulai menjadi goyah.
Lawannya yang sudah separo baya itu tidak mau kehilangan kesempatan. Pada saat orang bertubuh tinggi itu tergetar oleh serangannya yang berhasil menyusup pertahanannya, maka lawannya pun telah memanfaatkan keadaan itu. Iapun dengan kecepatan yang tinggi telah memburu lawannya dengan serangan-serangan yang bagaikan amuk gelombang setinggi bukit yang datang susul-menyusul menghantam tebing.
Satu serangan yang sangat keras lewat sebuah tendangan kaki yang terjulur lurus menyamping, berhasil menyusup pertahanan orang yang tinggi kekurus-kurusan itu langsung mengenai dadanya. Sehingga dengan demikian, maka orang itupun telah tergetar beberapa langkah surut. Dengan sigapnya orang yang sudah separo baya itu meloncat untuk mengulangi serangannya. Tetapi dua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu telah menahannya.
Pada saat itulah, orang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan yang tubuhnya liat itupun jatuh terbaring di tanah.
Orang itu masih berusaha bangkit. Tetapi mulutnya menyeringai menahan sakit. Bahkan ia memerlukan waktu beberapa lama untuk dapat berdiri. Namun keseimbangannya sudah menjadi goyah.
Karena itu, maka kedua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu serta Mas Panji Wangsadrana sendiri telah mengambil keputusan, bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu dinyatakan kalah.
Ternyata orang itu dengan lapang dada mengakui kekalahannya. Iapun kemudian mengangguk hormat kepada Mas Panji Wangsadrana, kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu, dan kemudian iapun mengangguk dalam-dalam menghadap kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan.
Penontonpun kemudian telah bersorak gemuruh. Meskipun orang bertubuh tinggi itu kalah, tetapi ia kalah dengan terhormat. Ia sudah memberikan perlawanan yang hampir seimbang. Namun agaknya orang bertubuh tinggi itu tidak memperhitungkan tenaga serta ketahanan tubuhnya, sehingga tenaga dan kekuatannya menjadi lebih dahulu menyusut.
Tetapi setiap orang yang menyaksikan pertarungan itu mengakui, bahwa keduanya hampir seimbang.
Demikianlah, maka kedua orang itupun kemudian telah keluar dari arena. Orang yang bertubuh tinggi, yang berjalan tertatih-tatih itupun telah dipapah oleh seorang prajurit yang kemudian membawanya duduk di tempat yang memang disediakan bagi para peserta yang telah kehilangan kesempatan untuk ikut dalam putaran berikutnya. Namun demikian ia duduk, maka beberapa orang yang ada di sebelah menyebelahnya telah berbisik, "Ilmu Ki Sanak ternyata tinggi sekali."
"Tetapi aku sudah dikalahkannya."
"Nampaknya keberuntungan saja yang masih belum hinggap pada Ki Sanak."
Orang itu tersenyum. Namun dadanya masih terasa sakit sekali. Bahkan nafasnyapun masih terasa sesak.
Setelah beristirahat sejenak, maka pasangan terakhirpun memasuki arena pertarungan. Seorang di antara \ mereka adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu. Namun ketika ia menyatakan diri mengikuti adon-adon untuk memperebutkan kedudukan Senapati di Panaraga itu, ia mempergunakan nama lain.
Demikianlah dua orang yang sudah siap di arena. Lawan Pangeran Ranapati itu adalah seorang yang wajahnya nampak cerah. Sekali-sekali nampak tersenyum. Giginya yang putih itupun nampak berkilat. Namun di sorot matanya, orang-orang yang sedikit mempunyai kedalaman tentang sifat dan watak seseorang, melihat bahwa orang itu adalah orang yang licik. Orang itu dapat berbuat sesuatu di luar dugaan.
Bahkan Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan dalam jarak yang tidak terlalu dekat, mengerutkan dahinya melihat orang yang licik itu. Namun Pangeran Jayaraga melihat lawannya adalah seorang yang sikapnya nampak mantap. Seorang yang sudah matang mengambil sikap sehingga orang itu tentu juga mengetahui, bahwa lawannya adalah orang yang licik.
Beberapa saat keduanya berdiri berhadapan. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai bersama Mas Panji Wangsadrana itu, segera dapat mengenali kedua orang yang berada di arena. Seorang yang terpaksa membunuh lawannya yang curang. Dan yang seorang memerlukan perhatian lebih banyak, karena sikapnya yang kadang-kadang menyimpang dari aturan pertarungan.
Sebelum pertarungan pada putaran terakhir itu dimulai, Mas Panji Wangsadrana telah memberikan beberapa peringatan, terutama ditujukan kepada lawan Pangeran Ranapati. Jika terjadi kecurangan, maka pertarungan akan dihentikan. Yang berbuat curang langsung dinyatakan kalah.
Orang itu hanya tersenyum saja. Tidak ada kesan apapun di wajahnya, seakan-akan ia tidak pernah melakukan kecurangan itu.
"Saat ini Pangeran Jayaraga hadir menyaksikan pertarungan ini. Karena itu, maka pertarungan ini harus bersih. Tidak boleh ada kecurangan sedikitpun juga, karena Pangeran Jayaraga tentu akan melihatnya, karena Pangeran Jayaraga adalah seorang yang berilmu sangat tinggi."
Demikianlah, maka para Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itupun segera memberikan isyarat, agar kedua-duanya mempersiapkan diri. Pertarungan akan segera dimulai.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka kedua orang yang berdiri berhadapan di arena itupun mulai dengan pertarungan dalam putaran terakhir. Siapa yang menang, akan sampai pada pertarungan yang menentukan esok lusa. Yang menang dalam pertarungan esok lusa akan segera diangkat menjadi Senapati melengkapi jumlah Senapati yang ada di Panaraga.
Sekali lagi Pangeran Jayaraga itu berpikir, "Kenapa hanya seorang" Kedua pemenang dalam pertarungan ini akan dapat aku ambil bersama-sama. Tetapi untuk menentukan yang terbaik dari keduanya, yang tentu akan mendapat pangkat yang lebih tinggi, maka pertarungan esok lusa akan terus dilangsungkan."
Pangeran Jayaraga masih belum berniat menyampaikan gagasannya itu kepada orang lain.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun sudah saling berloncatan. Keduanyapun mulai saling menyerang dengan sengitnya. Tangan dan kaki mereka terayun-ayun berputaran, menebas, terjulur lurus dengan jari-jari yang berkembang atau dengan jari-jari yang justru merapat.
Ki Darma Tanda yang tidak menyaksikan pertarungan sebelumnya mengamati pertarungan itu dengan tegang. Orang yang sorot matanya membayangkan kecerdikannya sekaligus kelicikannya itupun berloncatan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Penelusuran Benang Merah 1 Pendekar Perisai Naga 4 Pusaka Bukit Cangak Buddha Pedang Dan Penyamun Terbang 6
^