Pencarian

Api Di Bukit Menoreh 6

16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja Bagian 6


"Aku sependapat dimas."
"Menurut eyang patih, siapakah yang pantas diangkat sebagai Senapati yang akan memimpin para prajurit dalam Pasukan Khusus yang akan membayangi Ki Tumenggung Depayuda."
Ki Patih Mandaraka termenung sejenak. Namun kemudian iapun berkata, "Glagah Putih dan isterinya telah mengemban tugas ke Demak. Bagaimana jika tugas sebagai Senapati Pasukan Khusus yang membayangi Ki Tumenggung Derpayuda itu kita serahkan kepada Ki Lurah Agung Sedayu " Ia diijinkan untuk membawa adik sepupunya, Glagah Putih dan isterinya, meskipun mereka bukan prajurit."
Pangeran Purbaya mengangguk-angguk. Tetapi ia menunggu titah Panembahan Hanyakrawati.
Untuk sesaat pertemuan kecil itu menjadi hening. Panembahan Hanyakrawati nampak sedang merenungi pendapat Ki Patih itu.
Agak ragu Panembahan Hanyakrawati itupun bertanya, "Apakah eyang Patih yakin bahwa Ki Lurah Agung Sedayu dapat menunaikan tugasnya dengan baik " Bukankah banyak Senapati lain yang kedudukannya lebih tinggi dari Ki Lurah Agung Sedayu sehingga seimbang dengan kedudukan Ki Derpayuda ?"
"Ki Lurah Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, wayah Panembahan. Jika diijinkan biasanya Ki Lurah Agung Sedayu akan pergi bersama pasukan khususnya serta membawa isterinya serta. Aku setuju jika kali ini iapun membawa isterinya, Sekar Mirah, yang memiliki ciri kepemimpinan perguruan Kedung Jati pula. Ia akan dapat mempengaruhi para pengikut Ki Saba Lintang jika terpaksa timbul benturan kekerasan. Selain mereka, Glagah Putih dan Rara Wulan akan dapat memberikan banyak petunjuk tentang perkembangan keadaan selain Raden Yudatengara."
Akhirnya Panembahan Hanyakrawati itupun mengangguk-angguk kecil. Meskipun demikian ia masih berpaling kepada Pangeran Purbaya.
"Aku sependapat dimas," berkata Pangeran Purbaya yang tanggap akan keraguan Panembahan Hanyakrawati.
Demikianlah, maka akhirnya Panembahan Hanyakrawatipun memutuskan untuk memberikan perintah kepada Ki Lurah Agung Sedayu untuk membayangi perjalanan Ki Tumenggung Derpayuda ke Demak. Para prajurit dari pasukan khusus itu akan bertindak sebagai pasukan sandi. Panembahan Hanyakrawatipun tidak berkeberatan jika Ki Lurah Agung Sedayu membawa istrinya yang mempunyai tongkat baja putih, ciri ke pemimpinan perguruan Kedung Jati itu. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan. Meskipun mereka bukan prajurit. Tetapi mereka sudah terbiasa berada di lingkungan pasukan khususnya Ki Lurah Agung Sedayu.
Panembahan Hanyakrawatipun telah memberikan perintah kepada Glagah Putih dan Rara Wulan untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh dan menyampaikan perintah Panembahan kepada Ki Lurah Agung Sedayu."
"Kau dapat menunggu nawala yang memuat perintah kepada Ki Lurah Agung Sedayu sebentar, Glagah Putih," berkata Panembahan Hanyakrawati.
"Hamba Sinuhun," sembah Glagah Putih. Demikianlah, maka Ki Patih Mandarakapun membawa Glagah Putih dan Rara Wulan ke serambi samping untuk menunggu surat perintah kepada Ki Lurah Agung Sedayu.
"Kami akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, Ki Patih."
"Kau tidak singgah di dalem kepatihan."
"Terima kasih. Kami ingin cepat menyampaikan perintah ini kepada kakang Agung Sedayu."
Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, "Apakah kau memerlukan uang untuk bekal. Mungkin kau akan mengeluarkan belanja khusus di luar anggaran Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Ki Lurah Agung Sedayu itu."
"Tidak Ki Patih. Bekal yang kami terima menjelang keberangkatan kami itu masih terlalu banyak."
"Kalian termasuk orang-orang yang dapat berhemat," sahut Ki Patih sambil tersenyum, "baiklah. Tetapi jika kalian memerlukan, maka kalian jangan segan-segan mengatakan kepadaku."
"Baik Ki Patih. Tetapi pada saat kami berangkat waktu itu, bukan hanya Ki Patih saja yang memberikan bekal. Tetapi juga Pangeran Purbaya."
Ki Patih itu tersenyum. Namun tiba-tiba saja Ki Patih itu terbatuk-batuk.
"Ki Patih," Glagah Putih beringsut. Namun iapun segera surut kembali. Ia tidak berani deksura mendekat dan apalagi mencoba untuk berbuat sesuatu.
Tetapi batuk Ki Patih itupun kemudian segera menjadi reda. Sambil mengatur pernafasannya, maka Ki Patih itupun kemudian berkata, "Aku sudah tua, Glagah Putih. Agaknya waktuku sudah tidak terlalu jauh lagi. Karena itu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Jika kau sabar sampai esok, maka aku berharap kau singgah di dalem kepatihan."
"Kami akan melakukan perintah Ki Patih. Kami tentu tidak berkeberatan menunda perjalanan kami sampai esok."
"Sokurlah. Jika demikian, nanti setelah kau menerima surat yang berisi perintah kepada kakangmu Ki Lurah Agung Sedayu, maka aku minta kau ikut aku ke dalem kepatihan."
"Baik, Ki Patih."
Demikianlah seperti kesepakatannya dengan Ki Patih, maka setelah Glagah Putih menerima surat yang berisi perintah kepada Ki Lurah Agung Sedayu serta dilanda tangani serta ditandai dengan pertanda kuasa Panembahan Hanyakrawati. maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun mengikuti Ki Patih Mandaraka pergi ke dalem kepatihan.
Sementara itu. seorang Lurah prajurit telah mendapat perintah untuk memanggil Ki Tumenggung Derpayuda meng hadap langsung Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya.
Panembahan kemudian telah memberikan perintah-perintah kepada Ki Tumenggung Derpayuda dengan segala perinciannya.
Besok lusa Ki Lurah Agung Sedayu akan datang ke Mataram bersama sepasukan prajurit dan Pasukan Khusus yang akan mengemban tugas sandi, membayangi perjalanan Ki Tumenggung Derpayuda Ki Tumenggung lusa akan dapat berbicara langsung dengan Ki Lurah Agung Sedayu.
Ki Tumenggung Derpayuda itupun menyembah sambil menjawab, "Hamba menjunjung segala titah Sinuhun."
"Baiklah, Ki Tumenggung. Sementara menunggu Ki Lurah Agung Sedayu serta pasukan sandinya, Ki Tumenggung dapat menyusun kelompok yang akan pergi ke Demak. Sebaiknya tidak terlalu banyak. Tidak lebih dari lima orang. Seorang diantaranya adalah paman Yudatengara yang pergi ke Demak bersama kakangmas Pangeran Puger pada waktu itu. Namun agaknya paman Yudatengara tidak dapat mengikuti jalan pikiran kakangmas Pangeran Puger yang dikendalikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Diantaranya adalah orang-orang dari perguruan Kedung Jati dibawah pimpinan Ki Saba Lintang."
"Hamba Sinuhun. Hari ini hamba akan menemui beberapa orang yang akan hamba minta menyertai hamba pergi ke Demak. Hambapun akan menemui Raden Yudatengara. Hamba dengar Raden Yudatengara mempunyai beberapa keterangan tentang Demak."
"Ya. Bukankah paman Yudatengara sudah berada di Demak untuk beberapa lama?"
"Hamba Sinuhun."
"Nah, esok pagi Ki Tumenggung aku minta menghadap kakangmas Pangeran Purbaya bersama orang-orang yang akan pergi bersama Ki Tumenggung. Jika segala sesuatunya sudah selesai, maka Ki Tumenggung masih harus menghadap eyang Patih Mandaraka memberikan laporan segala persiapan keberangkatan Ki Tumenggung. Sementara itu, Ki Lurah Agung Sedayu sudah berada di Kota-raja ini pula."
Demikianlah, setelah tuntas segala perintah Panembahan Hanyakrawati, maka Ki Tumenggung .Derpayudapun minta diri untuk menemui beberapa orang yang menurut |3endapatnya pantas untuk diajak pergi ke Demak.
"Banyak kemungkinan dapat terjadi," berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya. "Bahkan Ki Tumenggungpun telah membayangkan bahwa orang-orang di sekitar Kangjeng Adipati di Demak itu dapat saja berbuat curang. Menangkapnya dan bahkan membunuhnya bersama orang-orang yang pergi ke Demak bersamanya."
"Kematian akan datang kapanpun dan dimanapun juga jika memang sudah waktunya," berkata Ki Tumenggung itu kepada dirinya sendiri.
Ketika kemudian Ki Tumenggung Derpayuda itu pulang, maka Ki Tumenggungpun segera memberitahukan kepada Nyi Tumenggung tugas yang akan diembannya. Satu tugas yang sangat berat.
"Jadi kakang Tumenggung akan pergi ke Demak sementara berita yang terdengar semakin keras, Demak telah memberontak. Kenapa Panembahan Hanyakrawati tidak memerintahkan kakang Tumenggung membawa pasukan segelar sepapan untuk menghancurkan Demak yang telah memberontak itu ?"
"Kangjeng Panembahan masih berharap dapat menyelesaikan persoalannya dengan Demak tidak dengan kekerasan yang akan dapat membawa korban prajurit yang tidak terhitung jumlahnya. Bahkan mungkin rakyat yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu persoalannya."
"Tetapi sekarang, kakanglah yang akan dikorbankan."
"Kenapa dikorbankan ?"
"Apakah kakang Tumenggung Derpayuda yakin bahwa kakang tidak akan mengalami perlakuan buruk dari orang-orang Demak ?"
"Aku kenal Pangeran Puger, nyi. Pangeran Puger tidak akan berbuat curang dan licik."
"Tentu bukan Pangeran Puger sendiri kakang. Bahkan mungkin Pangeran Puger sendiri sekarang telah terkurung oleh keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi. Mungkin Pangeran Puger sendiri berada dalam keadaan tanpa pilihan."
"Ya. Agaknya memang demikian. Orang-orang yang mendukungnya adalah orang-orang yang justru menjerumuskannya. Orang-orang yang mengusung kepentingan pribadinya yang hanya dapat dilakukan jika Kangjeng Pangeran Puger tetap berkuasa."
"Orang-orang itu pula yang pada saatnya akan mendorong Kangjeng Adipati di Demak itu ke dalam sumur yang paling dalam."
"Mudah-mudahan kedatanganku ke Demak ada artinya. Jika Kangjeng Adipati di Demak itu bersedia pergi bersamaku ke Mataram, mungkin akan ada perubahan di Demak."
"Jika tidak ?" "Tidak ada jalan lain kecuali memaksa dengan kekerasan."
"Kakang akan melakukannya ?"
"Tentu tidak. Aku akan datang ke Demak hanya berlima."
"Kalau saja orang-orang Demak itu menjadi mata gelap melihat kedatangan kakang. Tentu banyak orang Demak yang tidak senang atas kedatangan kakang itu."
"Aku menyadarinya. Nyi. Tetapi yakinlah bahwa Kuasa Yang Maha Agung akan melindungi aku. Jika saatnya masih belum tiba. terjerumus ke lautan apipun aku akan tetap hidup. Sebaliknya, banyak sekali orang-orang yang meninggal di atas pembaringannya jika maut itu sudah waktunya datang menjemput."
Nyi Tumenggung memang tidak akan dapat mencegahnya. Sementara Ki Tumenggung tidak dapat mengatakan, bahwa kepergiannya ke Demak akan dibayangi oleh sekelompok pasukan sandi yang terdiri para prajurit dari Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Ki Lurah Agung Sedayu. Seorang Senapati yang namanya sudah kawentar. Bagaimanapun juga perlindungan pasukan sandi itu merupakan rahasia yang besar. Juga demi keselamatannya sendiri. Karena itu, bahkan Nyi Tumenggungpun tidak akan diberitahukannya.
Jika keberadaan pasukan sandi itu merembes sampai ke telinga petugas sandi dari Demak, maka yang akan terjadi adalah bencana bagi lima orang utusan ke Demak itu serta sekelompok prajurit dalam pasukan sandi itu.
Malam itu. Ki Tumenggung Derpayudapun berkemas hiliir dan batinnya. Ki Tumenggung sama sekali tidak menjadi kecewa, bahwa pasukan yang akan membayanginya dipimpin oleh seorang lurah prajurit karena lurah prajurit itu adalah Ki Lurah Agung Sedayu.
Ki Tumenggung Derpayuda tahu benar siapakah Ki Lurah Agung Sedayu. Selain namanya yang sering disebut-sebut oleh para pemimpin Mataram, secara pribadi Ki Tumenggung Derpayuda memang sudah mengenalnya. Bahkan Ki Tumenggung merasa lebih tenang dilindungi hanya oleh seorang lurah prajurit, tetapi ia adalah Ki Lurah Agung Sedayu daripada sekelompok prajurit yang dipimpin oleh seorang Rangga.
Dalam pada itu, di dalem kepatihan Ki Patih Mandaraka telah membawa Glagah Putih dan Rara Wulan ke dalam sanggarnya. Ternyata Ki Patih Mandaraka memberikan beberapa wejangan yang sangat berarti bagi Glagah Putih dan Rara Wulan. Bukan saja wejangan tentang hidup dan kehidupan, tetapi juga tentang ilmu kanuragan.
"Aku yakin bahwa kalian berdua, seperti juga kakak sepupumu, tidak akan menyalah gunakan ilmu yang kau kuasai. Aku yakin bahwa kalian berdua akan mengamalkan ilmu bagi banyak orang yang memerlukan. Karena itu, maka aku akan memberitahukan kepada kalian berdua, agar kalian dapat membuka pintu bilik yang memuat ilmu kanuragan dalam tataran yang sangat tinggi. Wayah mendiang Pangeran Rangga sering berada di dalem kepatihan ini. Karena itu, aku mengenalnya dengan baik. Bagaimana Pangeran Rangga memasuki satu tataran ilmu yang sulit dijangkau oleh orang lain. Sekarang, menurut pendapatku ilmu yang tinggi itu , bahkan sangat tinggi itu tidak disia-siakan. Karena itu, aku ingin memberikan beberapa petunjuk kepada kalian untuk membuka pintu dan memasuki ruang-ruang yang ditinggalkan oleh Pangeran Rangga Apalagi Glagah Putih sendiri adalah sahabat dan bahkan Pangeran Rangga sering menyebut kau sebagai kawan bermain yang jujur."
"Kami berdua akan melakukan segala perintah Ki Patih."
"Tetapi yang akan aku berikan sekarang hanyalah petunjuk-petunjuk yang dapat membuka pintu itu. Selanjutnya terserah kepada kalian, bagaimana kalian mengembangkannya. Tetapi aku yakin, bahwa kalian akan dapat melakukannya."
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian telah mempersiapkan dirinya untuk memasuki pintu yang akan terbuka. Mereka akan berjalan diatar lorong yang panj:mg dari laku untuk menguasai ilmu yang sangat rumit.
Dalam pada itu. Ki Patihpun berkata, "Glagah Putih dan Rara Wulan. Aku tahu, bahwa kalian sekarang ini telah menguasai ilmu yang sangat tinggi. Ilmu yang akan aku tunjukkan kepadamu adalah ilmu yang akan dapat melengkapi ilmumu. Kau akan dapat bekerja sama dengan kakangmu Agung Sedayu yang telah menguasai beberapa macam ilmu yang langka itu lebih dahulu, agar kakangmu Agung Sedayu dapat memberikan beberapa petunjuk kepada kalian berdua.
"Kami akan melakukan apa saja sesuai dengan perintah Ki Patih."
Ki Patihpun kemudian telah menuntun kedua orang suami isteri itu untuk memusatkan nalar budi. Glagah Putih dan Rara Wulan itu duduk di belakang Ki Patih Mandaraka. Dengan suara yang dalam, yang seakan-seakan melingkar-lingkar di dalam rongga dadanya Ki Patih itupun kemudian mengucapkan kalimat-kalimat yang disebutnya sebagai satu cara membuka pintu untuk memasuki satu ruangan untuk selanjutnya berjalan di lorong yang panjang itu.
Demikianlah Glagah Putih dan Rara Wulan itupun telah memasuki dunia samadinya. Keduanya melihat Ki Patih Mandaraka yang tua itu bangkit berdiri. Dengan gerakan-gerakan yang sangat khusus maka Ki Patih itu menuntun Glagah Putih dan Rara Wulan yang kemudian telah tenggelam di alam dunia samadinya. Keduanya merasakan seakan-akan keduanya juga bangkit berdiri sebagaimana Ki Patih Mandaraka.
Glagah Putih dan Rara Wulan itupun mulai bergeser mengikuti gerak kaki Ki Patih Mandaraka ke tengah-tengah sanggar. Namun dalam pada itu, tiga sosok wadag masih tetap duduk bersila dan tangan bersilang di dada. Sementara itu telapak tangan kanan mereka terletak di bahu sebelah kiri.
Glagah Putih dan Rara Wulan, dalam samadinya, dengan ketajaman nalar budinya, ujud halus dari kewadagan mereka telah mengikuti segala gerak ujud halus kewadagan Ki Patih Mandaraka.
Ternyata mereka telah menapak ke dalam satu kebulatan suasana yang seakan-akan tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Glagah Putih dan Rara Wulan tidak tahu berapa lama mereka melakukan sebagaimana dilakukan oleh Ki Patih Mandaraka.
Namun apa yang telah mereka mulai itu akhirnya telah berakhir pula. Ki Patih Mandaraka itupun kemudian telah melangkah surut kembali ke tempat semula Ujud halus kewadagannya yang hadir dalam pemusatan nalar budi yang bulat dari Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendapat tuntunan dari Ki Patih itupun telah menyatu kemba1i dengan ujud kewadagan kasarnya.
Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan yang telah menenggelamkan dirinya dalam samadinya itu, seakan-akan telah menyatu kembali dalam ujud kewadagan kasarnya.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan menyadari dirinya dalam keutuhannya kembali, maka merekapun merasa betapa letih tubuhnya. Glagah Putih yang memiliki tubuh yang lebih kokoh dari Rara Wulan sebagaimana kewajaran seorang laki-laki yang lebih kuat dari seorang perempuan, melihat Rara Wulan itu tertunduk lemah.
Namun sebelum Glagah Putih sempat bangkit setelah melepas samadinya untuk bergeser mendekati Rara Wulan, mereka melihat Ki Patih Mandaraka menjadi sangat lemah. Bahkan Ki Patih itu sudah menjadi goyah. Hampir saja Ki Patih itu terkulai, jika saja Glagah Putih yang duduk di belakang Ki Patih itu sempat menangkap tuhuh Ki Patih Mandaraka.
Rara Wulan yang menjadi sangat letih itupun masih bergeser setapak maju.
"Ki Patih," desis Glagah Putih.
Ki Patih itu berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Ia mencoba duduk dengan mapan sambil mengatur pernafasannya.
Rara Wulanpun kemudian telah melakukannya pula. Baru kemudian Glagah Putih sendiri.
Beberapa saat kemudian, maka keadaan mereka bertiga menjadi lebih baik. Dengan suara yang lemah Ki Patih Mandarakapun berkata, "Ternyata aku sudah terlalu tua, Glagah Putih. Aku sudah lemah sekali. Hampir saja wadagku tidak mampu lagi mendukung bagaimana aku membuka pintu bagi kalian berdua. Namun kita dapat mengucap sukur, bahwa yang kita lakukan dapat berlangsung dengan selamat."
"Ya. Ki Patih. Kami mengucap sukur."
"Baiklah. Sekarang kalian sudah melihat isi dari ilmu yang ingin aku limpahkan kepada kalian. Karena itu, maka pelajarilah dengan baik sehingga kalian berdua akan dapat memahaminya, mendalaminya serta mengenali dengan baik watak dan sifatnya. Tentu saja tidak dengan serta merta. Tetapi kalian memerlukan waktu. Namun aku yakin bahwa kalian akan dapat menguasainya dengan baik sekali."
"Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan, Ki Patih."
"Bagus. Aku percaya," Ki Patih itupun kemudian menarik nafas panjang. Katanya, "Sekarang aku ingin beristirahat. Sebaiknya kalian segera berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi karena tubuh kalian letih, aku nasehatkan agar kalian naik kuda saja."
"Naik kuda?" "Ya. Naik kuda kalian akan lebih cepat sampai, sementara kalian tidak harus mempergunakan banyak tenaga, karena tenaga kalian baru saja kalian kerahkan dalam samadi kalian. Kalian berdua dapat membawa kuda dari kepatihan."
"Apakah kuda-kuda itu tidak selalu diperlukan disini?"
"Disini ada beberapa ekor kuda. Kalian dapat membawa dua diantaranya."
"Terima kasih, Ki Patih."
"Nah, sekarang marilah kita keluar dari sanggar. Kita akan minum minuman hangat serta makan pagi sebelum kalian berangkat ke Tanah Ferdikan Menoreh."
"Makan pagi?" "Ya." Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu. Karena mereka berada di sanggar tertutup, maka mereka tidak segera dapat melihat suasana diluarnya.
Ketika Ki Patih Mandaraka bangkit berdiri perlahan-lahan dibantu oleh Glagah Putih, maka Rara Wulan yang tubuhnya terasa lemah itupun bangkit pula berdiri. Mereka berjalan perlahan menuju ke pintu sanggar.
Ki Patih Mandarakapun kemudian membuka pintu sanggar itu.
Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut. Mereka tidak segera tahu waktu. Mereka melihat cahaya matahari yang cerah jatuh di atas tanah di depan pintu sanggar itu.
"Apakah sekarang pagi hari?" bertanya Glagah Putih.
Ki Patihpun tersenyum. Katanya, "Ya. Sekarang pagi hari. Bahkan matahari sudah naik."
"Jadi berapa lama kami berada di sanggar?"
"Bukankah kita memasuki sanggar kemarin sore" Pagi hari kita berada di istana menghadap Panembahan."
"Jadi kita berada di sanggar itu semalam penuh bahkan lebih lama lagi karena kita memasuki sanggar disore hari. Bahkan kita sekarang keluar dari sanggar setelah matahari naik."
"Ya. Dalam samadi semalam kita tidak mengenal ruang dan waktu. Nah, sekarang kalian dapat mandi dan membenahi diri kalian. Kita akan minum minuman hangat serta makan pagi seperti yang aku katakan. Kemudian kalian akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kalian sudah menunda perjalanan kalian, hampir sehari semalam."
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan yang masih merasa lemah itu bergantian mandi dan berbenah diri. Kemudian seperti yang dikatakan oleh Ki Patih, bagi mereka telah disediakan minum hangat serta makan pagi sebelum mereka pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
"Masih ada waktu. Hari ini kau akan bertemu dengan Ki Lurah untuk menyampaikan perintah itu. Besok Ki Lurah dan beberapa orang pemimpin kelompoknya akan datang ke kota raja. Tentu saja kalian berdua juga ikut bersamanya. Bahkan mungkin bersama dengan mbokayumu Sekar Mirah."
Setelah minum minuman hangat serta makan pagi secukupnya, maka Ki Patih Mandarakapun masih memberikan beberapa pesan kepada Glagah Putih dan Rara Wulan. Ki Patih banyak berbicara tentang Raden Rangga. Kenakalannya tetapi dilandasi dengan kejujuran yang lugu.
"Pangeran Rangga seakan-akan telah menyadari sejak lama. bahwa ia memang harus minggir."
Beberapa saat kemudian, ketika matahari telah naik semakin tinggi, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan dalem kepatihan. Seperti yang ditawarkan oleh Ki Patih, keduanya menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh dengan berkuda.
Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah memacu kuda mereka meninggalkan pintu gerbang kota. Apalagi setelah mereka berada di luar kota. Di jalan jalan yang sepi, mereka melarikan kuda mereka dengan kencangnya.
Namun di tempat-tempat yang agak ramai, maka mereka harus menarik kekang kuda mereka, sehingga kuda-kuda mereka itu berlari lebih lambat.
Ketika mereka sampai ke tepian Kali Praga, maka rakit yang menyeberang dari Timur ke Barat, baru saja berangkat, sehingga mereka harus menunggu rakit yang sedang dalam perjalanan menyeberang dari sisi Barat ke Timur.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian berhenti di tepian. Mereka bahkan dapat memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk beristirahat.
Rakit yang menyeberang dari Barat ke Timur itupun semakin lama menjadi semakin mendekati tepian. Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja duduk di tepian untuk menunggu rakit itu menepi serta menurunkan muatannya. Orang-orang yang menyeberang serta beberapa macam barang.
Namun dalam pada itu. tiba-tiba saja beberapa orang anak mudapun muncul dari balik tanggul di tepian sebelah Timur Merekapun langsung berlari-lari ke tepian sambil berteriak-teriak. Tingkah laku mereka menunjukkan betapa mereka tidak menghormati unggah-ungguh dan tata krama.
Anak-anak muda itu berjalan dengan sengaja membaur baur pasir dengan kaki mereka. Bahkan ketika mereka berjalan beberapa langkah di hadapan Glagah Putih dan Rara Wulan, mereka masih saja menebarkan debu.
Glagah Putih dan Rara Wulan terpaksa menutup mulut serta hidung mereka dengan telapak tangan mereka sambil berpaling untuk menghindari debu yang berhamburan.
Tiba-tiba seorang diantara anak-anak muda itu berhenti. Anak muda itu berbalik beberapa langkah dan berdiri tegak di hadapan Glagah Putih dan Rara Wulan.
"Kenapa kau berpaling he " Kau tersinggung karena kakiku menyampar pasir dan menimbulkan debu."
"Kami tidak tersinggung Ki Sanak," sahut Glagah Putih, "tetapi kami memang tidak ingin debu itu mengenai mata kami."
"Jika debu ini mengenai matamu, kau mau apa?" geram orang itu. Tiba-tiba saja diluar dugaan kakinya telah dengan sengaja menendang pasir hingga terhambur ke wajah Glagah Putih dan Rara Wulan. Untunglah bahwa mereka cukup tangkas. Demikian pasir itu mengenai wajah mereka, maka pasir itu tidak masuk ke dalam mata mereka.
"Kau gila. Jika kau tidak sengaja menaburkan pasir di wajahku, aku tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak mau kau dengan sengaja menaburkan pasir itu ke wajahku ini."
"Lalu kau mau apa?"
Tiba-tiba saja Glagah Putih itu menggenggam pasir dan menaburkan ke wajah anak muda itu.
Terdengar anak muda itu berteriak nyaring. Matanya terasa begitu pedih. Ia tidak dapat dengan cepat menanggapi keadaan dan dengan segera memejamkan matanya sebagaimana Glagah Putih dan Rara Wulan.
Teriakan anak muda itu membuat kawan-kawan mereka berpaling.
"Ada apa?" bertanya anak-anak muda yang lain sambil berlari-lari mendekati kawannya yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Orang itu gila. Ia menaburkan pasir ke wajahku."
"Cuci mukamu," berkata kawannya. Seorang diantara kawan kawannya itupun segera menggandengnya ke tepi Kali Praga.
Anak muda itupun segera mencuci wajahnya, sehingga pasir di matanyapun lambat laun menjadi bersih.
Kemarahan anak muda itu bagaikan membakar ubun-ubunnya. Iapun segera melangkah mendekati Glagah Putih dan Rara Wulan. Dengan geram anak muda itupun berkata, "Kenapa kau menaburkan pasir itu ke mataku?"
"Akulah yang seharusnya bertanya lebih dahulu," sahut Glagah Putih. Glagah Putih yang sedang dibayangi oleh tugasnya yang berat itu menjadi tidak sesabar biasanya.
"Persetan," geram anak muda itu, "aku akan meremas wajahmu dan tidak saja menaburkan pasir ke wajahmu, tetapi aku akan menjejalkan pasir itu ke mata dan mulutmu."
"Anak muda," berkata Glagah Putih, "aku sedang tidak sempat bermain-main . Karena itu, jangan sentuh aku sebelum aku membuatmu pingsan."
"Kau anggap dirimu siapa he, sehingga kau berani menantangku?" geram anak muda itu.
Tetapi Glagah Putih memang agak lain dari biasanya. Biasanya ia tidak cepat menanggapi orang orang yang melakukan kekerasan kepadanya, tetapi saat itu, penalaran dan perasaan Glagah Putih sedang dibalut oleh tugas-tugas pentingnya. Karena itu, maka Glagah Putihpun tiba-tiba membentak pula, "Kau sendiri menganggap dirimu siapa sehingga kau dengan semena-mena memperlakukan orang lain."
Anak muda itu memang menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja anak muda itu menerkam Glagah Putih dengan garangnya.
Tetapi kawan-kawannya tidak ada yang tahu apa yang lelah terjadi. Mereka tidak melihat jari-jari Glagah Putih telah menyentuh beberapa simpul syaraf anak muda itu. sehingga anak muda itu seakan-akan telah tertidur nyenyak.
Glagah Putih sempat menangkap tubuhnya dan meletakkannya diatas pasir tepian.
"Perlakukan kawanmu ini dengan baik. Ia hanya tertidur beberapa saat. Nanti ia akan terbangun dengan sendiri. Tetapi jika kalian perlakukan anak muda ini dengan kasar, maka ia tidak akan pernah bangun."
Kawan-kawan anak muda itu saling berpandangan sejenak. Tetapi merekapun segera menyadari, bahwa mereka lidak berhadapan dengan orang kebanyakan.
Karena itu, seorang yang tertua diantara mereka, telah melangkah maju sambil berdesah, "Ki Sanak. Biarlah kami yang minta maaf atas koterlanjurannya."
"Apakah biasanya kalian memperlakukan orang lain sekasar ini?"
Anak muda yang tertua diantara kawan-kawannya itu termangu-mangu sejenak. Mereka memang sering mengganggu orang lain. Bahkan orang-orang yang tidak berdaya dan yang sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mereka.
"Anak-anak muda yang tidak tahu diri," berkata Glagah Putih kemudian, "pada suatu saat, jika aku tidak sedang sibuk, aku akan mencari kalian. Aku akan membuat perhitungan yang lebih terperinci. Mungkin aku akan menghukum beberapa orang diantara kalian secara langsung."
"Kami minta maaf Ki Sanak. Tetapi bagaimana dengan kawan kami ini?"
"Sudah aku katakan, ia hanya tertidur. Biarkan saja ia tidur beberapa lama. Ia akan terbangun sendiri. Tetapi jika kau tinggal kawanmu itu, atau kau perlakukan tidak baik. maka ia tidak akan pernah bangun. Ingat yang aku katakan ini."
"Baik, Ki sanak," jawab anak muda yang tertua itu. Sementara itu. rakit yang menyeberang ke arah Timurpun telah menepi Penumpangnya yang datang dari sisi Baratpun telah turun.
Glagah Putihpun kemudian berkata, "aku akan menyeberang. Uruslah kawanmu itu. Seperti yang aku katakan, jika kelak aku mempunyai waktu luang, aku akan mencari kalian. Persoalan diantara kita masih belum selesai."
Glagah Putih tidak berkata apa-apa lagi kepada mereka. Iapun segera memberi isyarat kepada Rara Wulan untuk menuntun kuda mereka naik ke rakit yang sudah merapat di tepian.
Beberapa orang anak muda itu memperhatikan Glagah Putih dengan jantung yang berdebaran. Mereka masih saja tidak mengerti, bagaimana dapat terjadi, bahwa kawannya yang menyerang orang itu tiba-tiba saja telah tertidur.
"Apa yang kita lakukan sekarang?" bertanya salah seorang anak muda itu.
"Menunggu kawan kita itu bangun. Kita tidak dapat berbuat apa-apa, agar kita tidak justru mencelakainya."
Sementara itu Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah membawa kudanya naik keatas rakit yang terhitung besar. Rakit itu tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Dalam waktu yang singkat, rakit itu telah penuh dengan penumpang.
Beberapa orang yang sempat melihat apa yang terjadi di tepian itupun saling berbisik. Sekali-sekali mereka memandang Glagah Putih dan Rara Wulan. Namun kemudian merekapun segera berpaling jika Glagah Putih dan Rara Wulan kebetulan saja memandangi mereka.
Dalam pada itu, setelah mereka berada di sisi Barat Kali Praga, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera melarikan kudanya pula. Mereka tidak menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan. Mereka akan langsung pergi ke barak prajurit Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Ki Lurah Agung Sedayu. karena mereka yakin, bahwa Ki Lurah tentu sudah berada dibaraknya.
Sebenarnyalah ketika mereka sampai dibarak, maka merekapun segera dipersilahkan untuk naik ke bangunan utama barak prajurit dari Pasukan Khusus itu.
Ki Lurah Agung Sedavupun segera menemui mereka. Agaknya ada yang penting yang harus disampaikan mereka kepada Ki Lurah, karena mereka telah datang ke barak prajurit itu.
"Kami baru datang dari Mataram, kakang," berkata Glagah Putih demikian Ki Lurah Agung Sedayu menemui mereka.
"Kalian baik-baik saja selama ini?"
"Ya, kakang. Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan keluarga di Tanah Perdikan?"
"Semuanya baik-baik saja. Apakah kau tadi belum singgah di rumah?"
Glagah Putih menggeleng sambil menjawab, "belum kakang. Dari Mataram aku langsung kemari. Menurut dugaanku, kakang tentu sudah berapa disini pada wayali seperti ini."
Ki Lurah Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, "Apakah kau membawa kabar yang sangat penting sehingga kau tidak dapat menunggu sampai sore nanti?"
"Ya, kakang. Aku bukan saja membawa kabar. Tetapi aku membawa perintah langsung dari Sinuhun di Mataram."
Ki Lurah Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putihpun kemudian memberikan surat yang berisi perintah dari Panembahan Hanyakrawati kepada Ki Lurah Agung Sedayu. pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh.
Demikian Ki Lurah Agung Sedayu membaca surat yang berisi perintah itu. maka iapun menarik nafas panjang. Dengan nada barat Ki Lurah itupun berkata, "satu tugas yang berat. Glagah Putih."
"Ya. kakang Ki Patih Mandaraka telah memberitahukan tugas apa yang harus kakang emban itu."
"Baiklah. Aku harus mempergunakan waktu yang sempit ini sebaik-baiknya. Aku hanya mempunyai kesempatan hari ini. Esok kita harus sudah berada di Mataram."
"Apakah kakang akan membawa pasukan kakang seluruhnya esok pagi?"
"Tidak. Aku akan datang ke Mataram dengan para pemimpin kelompok saja lebih dahulu. Biarlah yang lain mempersiapkan segala sesuatunya di barak. Kita akan pergi ke Demak dalam tugas sandi. Tugas vang lebih berat dari tugas menghadapi musuh dalam perang gelar."
"Ya, kakang." "Sekarang, kalian berdua sebaiknya mendahului pulang. Sampaikan kepada mbokayumu Sekar Mirah, agar iapun mempersiapkan dirinya. Meskipun hari ini mbokayumu masih lemah, tetapi esok ia sudah akan pulih kembali."
"Kenapa dengan mbokayu?" bertanya Rara Wulan, "apakah mbokayu sakit?"
"Tidak. Rara. Mbokayumu menuntaskan ilmunya. Dalam pekan-pekan terakhir ini mbokayumu telah menjalani laku. Kini mbokayumu sudah menuntaskan ilmunya yang didasari dengan ilmu dari aliran perguruan Kedung Jati. Tetapi ilmu mbokayumu itu tidak murni. Meskipun demikian, maka aku kira tidak ada orang-orang yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati yang dapat berada pada tataran yang sama dengan mbokayumu. Tentu saja aku tidak mengatakan bahwa mbokayumu memiliki ilmu terbaik dalam dunia olah kanuragan. Tetapi setidak-tidaknya diantara mereka yang mengaku murid-murid dari perguruan Kedung Jati, mbokayumu berada di tataran teratas. Ki Saba Lintangpun masih harus berpikir ulang untuk berperang tanding melawan mbokayumu."
"Jadi mbokayu sudah menuntaskan ilmunya?"
"Ya." "Sokurlah. Bukankah esok kakang akan membawa mbokayu Sekar Mirah serta?"
"Kalau diijinkan, aku akan mengajak mbokayumu. Ia memiliki ciri kepemimpinan perguruan Kedung Jati. Mungkin ciri kepemimpinan itu ada pengaruhnya. Jika tidak, setidak-tidaknya mbokayumu akan dapat membantuku. Para prajuritku semuanya tahu tentang mbokayumu. Bahkan mbokayumu pernah menjadi salah seorang yang membantuku melatih beberapa orang prajurit dalam peningkatan kemampuan mereka secara pribadi. Mbokayumu memiliki kemampuan yang jarang ada bandingnya dalam mempergunakan senjata tongkat baja."
"Aku akan senang sekali melakukan tugas ini bersama mbokayu Sekar Mirah."
Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah meninggalkan barak prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh itu. Mereka melarikan kuda mereka ke padukuhan induk. Pulang ke rumah mereka.
Ketika mereka sampai di rumah, demikian mereka memasuki regol halaman, maka dengan serta-merta Rara Wulan telah menyerahkan kendali kudanya kepada Glagah Putih. Seperti kanak-kanak yang pulang dari rumah neneknya untuk beberapa lama, sehingga menjadi sangat rindu kepada ibunya, Rara Wulanpun berlari-lari masuk lewat pintu seketeng sambil memanggil-manggil, "Mbokayu. mbokayu . Dimana kau?"
Sekar Mirah yang berada di dapur, yang mendengar suara Rara Wulan itupun segera menghambur keluar.
Rara Wulanpun segera mendekap Sekar Mirah yang juga gurunya yang memberikan dasar-dasar ilmu kanuragan kepadanya.
Ternyata mata Rara Wulan menjadi basah.
Keduanyapnn kemudian masuk ke ruang dalam. Ketika pintu pringgitan terbuka. Glagah Putihpun segera masuk ke ruang dalam pula.
"Kalian baik-baik saja?" bertanya Sekar Mirah.
"Kami baik baik saja mbokayu," Rara Wulanlah yang menjawab, "bukankah mbokayu dan seluruh keluarga disini juga baik-baik saja?"
"Ya. Kami juga baik-baik saja."
"Kami tadi sudah singgah di barak kakang Agung Sedayu," berkata Rara Wulan.
Sekar Mirahpun mengerutkan dahinya sambil bertanya, "Jadi kalian tadi sudah singgah di barak" Apakah kalian membawa kabar penting, sehingga kalian langsung menemui kakangmu Agung Sedayu di baraknya?"
"Ya, mbokayu Kami membawa perintah."
"Perintah?" "Ya. Perintah langsung dan Sinuhun di Mataram," Sejenak kemudian, mereka telah duduk di amben yang agak besar di ruang tengah. Bahkan Ki Jayaragapun vang kebetulan tidak pergi ke sawahpun telah ikut menemui kedua orang suami isteri yang sudah agak lama meninggalkan rumahnya itu.
Dengan singkat Rara Wulanlah yang kemudian bercerita tentang perjalanan mereka, sehingga akhirnya mereka merasa perlu untuk segera kembali ke Mataram menghadap Ki Patih Mandaraka, yang kemudian justru membawa mereka menghadap Sinuhun Mataram.
"Sinuhun di Mataram telah memberikan perintah kepada kakang Agung Sedayu," berkata Rara Wulan kemudian.
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Iapun kemudian berdesis, "Jadi kakangmu akan segera mengemban tugas yang berat itu."
"Ya, mbokayu. Tetapi menurut kakang, mbokayu akan ikut bersama kakang. Kami berdua juga akan ikut dalam tugas sandi itu besok."
Sekar Mirah mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki Jayaragapun berdesis, "Apakah kalian tidak ingin membawa aku serta?"
Glagah Putih tersenyum sambil menjawab, "Jika Ki Jayaraga juga pergi, nanti Tanah Perdikan ini menjadi kosong. Jika sesuatu terjadi, tidak ada yang akan membantu Ki Gede yang sudah menjadi semakin tua."
"Apakah aku tidak semakin tua?" bertanya Ki Jayaraga.
Sambil tersenyum Glagah Putih menjawab, "Guru. Justru karena guru sudah menjadi semakin tua, sebaiknya guru tidak ikut dalam tugas yang sangat berat ini."
"Anak bengal," gumam Ki Jayaraga.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan justru tertawa. Demikian pula Sekar Mirah.
"Mbokayu," berkata Rara Wulan kemudian, "kakang Agung Sedayu minta aku pulang lebih dahulu untuk menyampaikan kabar ini kepada mbokayu agar mbokayu dapat bersiap-siap. Menurut kakang, mbokayu sedang dalam keadaan lemah. Tetapi mudah-mudahan esok, keadaan mbokayu sudah pulih kembali."
"Aku tidak apa-apa Wulan," sahut Sekar Mirah.
Tetapi Rara Wulanpun berkata, "Mbokayu, kakang sudah mengatakan, bahwa mbokayu baru saja menjalani laku dan berhasil menuntaskan ilmu pada tataran tertinggi dari aliran Kedung Jati meskipun menurut kakang sudah tidak murni lagi. Nah, kami berdua mengucapkan selamat. Kami, yakin, bahwa justru karena dmu yang mbokayu kuasai itu sudah tidak murni lagi, maka yang mbokayu kuasai itu tentu lebih baik dari puncak ilmu aliran perguruan Kedung Jati itu sendiri. Menurut pengertian kami, ketidakmurnian dari ilmu kanuragan mbokayu itu karena di dalamnya tentu terisi berbagai macam gerak dari ilmu yang telah dikuasai oleh kakang Sedayu yang sangat tinggi dan sangat luas tebarannya itu."
"Ah. Aku merasa sangat tersanjung dengan pujianmu itu Wulan. Mudah-mudahan kau tidak kecewa jika kau melihat kenyataan yang ada padaku."
"Tidak, tidak mbokayu," sahut Rara Wman dengan serta-merta.
Demikianlah, maka Glagah Putihpun kemudian telah melengkapi ceritera Rara Wulan. Glagah Putihpun telah memberitahukan bahwa esok mereka harus berada di Mataram untuk membicarakan segala sesuatunya.
"Yang akan berangkat ke Demak adalah Ki Tumenggung Derpayuda, mbokayu."
"Ki Tumenggung Derpayuda," ulang Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah masih belum mengenal orang yang bernama Ki Tumenggung Derpayuda itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Sekar Mirahpun telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan untuk beristirahat.
"Mungkin kalian akan pergi ke pakiwan."
"Ya, mbokayu. Ada anak nakal yang membaurkan pasir ke tubuh kami berdua. Rasa-rasanya pakaianku masih penuh dengan pasir."
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian bergantian pergi ke pakiwan, sementara Sekar Mirah menyiapkan minuman dan makanan bagi mereka berdua.
Demikian mereka selesai mandi, maka Sekar Mirahpun mempersilahkan mereka makan.
"Ki Jayaraga akan menemani kalian."
"Mbokayu sendiri?"
"Aku belum lama makan."
"Aku juga," sahut Ki Jayaraga.
"Hanya menemani," sahut Sekar Mirah.
Namun dalam pada itu, Sekar Mirahpun telah berada di dalam biliknya. Di ambilnya tongkat baja putihnya dari peti kayu yang terletak di sebelah pembaringannya. Tongkat baja putihnya yang diberinya sarung kulit itu, ditariknya dan diamatinya.
Seolah-olah Sekar Mirah itu sedang berbincang dengan tongkat baja putihnya itu ketika tongkatnya itu ditimangnya.
"Kita eosk akan pergi jauh," desis Sekar Mirah.
Sebenarnyalah bahwa keadaan Sekar Mirah memang sudah pulih kembali. Ketika ia selesai menjalani laku, maka tubuhnya memang terasa menjadi lemah. Tetapi keadaan itu sudah lewat.
Sementara itu, di baraknya, Ki Lurah Agung Sedayupun telah mempersiapkan prajurit-prajuritnya. Ki Agung Sedayu telah memilih orang-orang terbaik yang sesuai dengan tugas yang bakal diembannya. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu tidak akan menghadapi musuh langsung dalam perang gelar. Tetapi Ki Lurah Agung Sedayu akan ditaburkan dalam tugas sandi membayangi beberapa orang utusan dari Mataram yang akan menghadap Kangjeng Adipati Demak.
Dikeesokan harinya, Ki Lurah telah memerintahkan lima orang pemimpin kelompok terbaik untuk menyertainya menghadap Ki Patih Mandaraka di Mataram. Bahkan mungkin mereka harus menghadap langsung Panembahan Hanyakrawati atau Pangeran Purbaya.
Baru setelah pasukannya tersusun, maka Ki Lurahpun bersiap-siap untuk meninggalkan barak itu.
"Kalian tidak akan mengenakan pakaian keprajuritan serta pertanda apapun yang nampak dari luar. Meskipun demikian, kalian tetap membawa pertanda keprajuritan kalian di bawah baju penyamaran kalian. Sementara itu, malam nanti kalian akan mempunyai kesempatan untuk mengenal wajah serta ciri-ciri dari kawan-kawan kalian. Jika kita terlibat dalam pertempuran dengan para murid dari apa yang mereka sebut Perguruan Kedung Jati, maka mereka agaknya juga tidak mengenakan pakaian keprajuritan serta ciri-ciri tertentu sebagaimana seorang prajurit. Karena itu, maka jangan sampai kalian menjadi bingung yang manakah lawan dan yang manakah kawan."
"Kami akan membicarakan untuk menyepakati ciri-ciri tertentu Ki Lurah," berkata seorang pemimpin kelompok, "meskipun kami yang satu dengan yang lain sudah mengenal dengan baik karena setiap hari kami tinggal di barak yang sama, tetapi jika terjadi benturan kekerasan di malam hari, kami harus mempunyai satu pertanda khusus yang dapat dikenali pada pakaian kami misalnya."
"Bagus. Adalah tugas para pemimpin kelompok untuk membicarakannya. Kemudian mengetrapkannya. Beri aku laporan terperinci, agar aku dan orang-orang yang akan menyertai kita dari luar barak ini mengerti dan mengenakan ciri-ciri itu pula."
Para prajurit dari Pasukan Khusus itu sudah menduga, bahwa Ki Lurah akan membawa isterinya, Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah mereka kenal dengan baik, karena ketiganya sudah sering ikut bersama dalam tugas-tugas yang berat meskipun mereka bukan prajurit.
Menjelang senja, Ki Lurah Agung Sedayu sudah berada di rumahnya. Setelah mandi dan berbenah diri. maka Ki Lurah itupun kemudian duduk-duduk di pringgitan bersama Sekar Mirah, Glagah Putih, Rara Wulan dan Ki Jayaraga.
Glagah Putih dan Rara Wulan telah menceriterakan pengalaman perjalanan mereka sampai ke Demak dengan lebih terperinci. Keduanya telah menceriterakan tentang latihan besar-besaran yang dilakukan oleh para prajurit Demak serta para murid dari perguruan Kedung Jati di hadapan Kangjeng Adipati Demak serta Ki Saba Lintang, sebagai pemimpin tertinggi perguruan Kedung Jati.
"Bagaimana menurut penilaian kalian tentang prajurit Demak dibandingkan dengan prajurit Mataram?"
"Menurut pendapatku, para prajurit Mataram masih mempunyai kelebihan, kakang. Terutama pada kemampuan para prajurit itu secara pribadi. Ketika dilakukan sodoran, maka aku melihat ada banyak kelemahan, meskipun para prajurit yang hari itu dianggap terbaik dengan memenangkan lomba sodoran itu. Kemampuan mereka memanah pun tidak mengagumkan, apalagi kecepatan mereka mempersiapkan busur dan anak panah mereka. Kemudian ketrampilan mereka dalam ilmu senjatapun wajar-wajar saja. Tidak ada kelebihan-kelebihan yang dapat menjadikan para prajurit Demak itu mempunyai kelebihan. Apalagi pasukan yang mereka kerahkan dari padukuhan-padukuhan yang dengan diam-diam mereka kuasai."
"Tapi menurut pendapatmu, pasukan Demak masih lebih baik dari pasukan Pajang."
"Tidak, kakang. Bukan begitu. Menurut pendapatku pasukan Pajang dan Jipang tidak terpaut banyak. Tetapi pada waktu terjadi perang di Sima, pasukan Pajang jumlahnya tidak sebanyak pasukan Demak. Ketika Demak melepaskan pasukan cadangannya, maka hampir saja pasukan Pajang dapat dihancurkan jika saja panglima pasukan Demak itu tidak segera di singkirkan dari medan pertempuran. Sehingga mundurnya pasukan Demak lebih banyak dipengaruhi oleh gejolak jiwani daripada kekuatan pasukan itu sendiri, karena jumlah mereka yang lebih banyak. Tetapi demikian Panglima mereka tidak dapat memimpin mereka lagi, maka pasukan lawan itu bagaikan kehilangan tempat untuk bertumpu."
Pembicaraan mereka itu masih mereka lanjutkan ketika kemudian mereka makan malam di ruang dalam.
Malam itu, sedikit lewat wayah sepi uwong, Ki Lurah Agung Sedayu telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan beristirahat. Hari itu Glagah Putih dan Rara Wulan baru saja datang. Esok mereka harus sudah berada di Mataram.
Kepada Ki Jayaraga, Ki Lurah Agung Sedayu menitipkan rumahnya, serta minta tolong agar Ki Jayaraga menemui Ki Gede Menoreh untuk memberitahukan bahwa Ki Lurah Agung Sedayu dan seisi rumah akan pergi menjalankan tugas.
Ki Jayaraga sudah tahu, bahwa ia tidak perlu menyebut tugas apa, karena Ki Jayaragapun tahu, bahwa Ki Lurah Agung Sedayu akan menjalankan tugas sandi.
Namun sebelum beristirahat, Glagah Putih masih sempat keluar dari biliknya untuk menemui Sukra di bilik belakang. Beberapa saat mereka sempat berbicara. Sukra tidak lagi bersifat kekanak-kanakan, meskipun ia masih sering turun ke sungai. Tetapi tidak untuk membuka dan menutup pliridan. Ia sudah memberikan pliridannya kepada seorang kawannyayang masih lebih muda daripada Sukra sendiri.
Ternyata ilmu Sukrapun menjadi semakin meningkat. Ternyata Ki Lurah Agung Sedayu di waktu luangnya, bersedia pula membimbingnya, sehingga Sukra mendapat kemajuan-kemajuan yang berarti.
"Ki Lurah mengatakan kepadaku, jika aku berlatih terus dan menjadi semakin baik, mungkin kelak aku akan diterima menjadi seorang prajurit."
"Bagus," sahut Glagah Putih.
"Aku merasa senang akan kesempatan itu. Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat meninggalkan rumah ini. Aku sudah merasa menjadi bagian dari rumah ini, sebagaimana Ki Jayaraga. Aku sering ikut bersamanya ke sawah. Aku mengagumi Ki Jayaraga yang sudah menjadi semakin tua. Tetapi kerjanya di sawah melampaui kerja anak-anak muda."
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Jika demikian, kau harus menirunya."
"Aku sudah berusaha."


16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Demikianlah, sebelum tengah malam Glagah Putihpun tela1 mbali ke biliknya. Rara Wulan sudah berbaring di pembaringan. Tetapi ia masih belum tidur.
"Kau apakan anak itu ?" bertanya Rara Wulan.
"Kemajuan anak itu dalam oleh kanuragan ternyata cukup pesat," berkata Glagah Putih.
"Nampaknya anak itu mempunyai bekal alami untuk menjadi seorang yang berilmu tinggi."
"Agaknya kakang Agung Sedayu akan membuatnya menjadi seorang yang berilmu tinggi. Kemudian membawanya ke barak untuk dijadikannya seorang prajurit dalam Pasukan Khusus."
"Agaknya itu akan lebih baik bagi Sukra."
"Tetapi nampaknya Sukra merasa sulit untuk keluar dari rumah ini. Ia mengatakan, bahwa ia sudah merasa menjadi bagian dari rumah ini."
Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun keduanyapun tidak lagi berbincang terlalu panjang. Ketika malam menjadi semakin malam, maka keduanyapun telah tertidur nyenyak. Esok mereka akan mulai dengan tugas-tugas mereka yang berat bersama para prajurit dari Pasukan Khusus.
Di rumah itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak merasa perlu untuk tidur bergantian, karena di rumah itu keduanya merasakan ketenangan.
Di hari berikutnya, sebelum matahari terbit semuanya sudah siap. Sekar Mirah dan Rara Wulan bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan minuman dan makan pagi bersama Sukra di dapur. Sementara yang lain, sibuk membersihkan halaman dan mengisi pakiwan.
Setelah minum minuman hangat serta makan pagi, maka Ki Lurah Agung Sedayu, Nyi Lurah Agung Sedayu dan Rara Wulanpun telah meninggalkan rumah itu. Ki Jayaraga dan Sukra melepas mereka di regol halaman.
Keempat orang itu melarikan kuda mereka menuju ke barak prajurit. Sementara di barak itupun lima orang pemimpin kelompok yang terpilih telah siap pula. Mereka bersama-sama Ki Lurah akan pergi ke Mataram.
Ki Lurah hanya singgah sebentar di barak prajuritnya. Merekapun segera beriringan pergi ke Mataram
Tidak ada hambatan apapun diperjalanan. Ki Lurah dan para prajurit itu masih mengenakan pakaian keprajuritan mereka.
Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, merekapun telah mendekati pintu gerbang kota raja. Panas matahari terasa mulai menggigit kulit. Sementara itu langit-pun nampak cerah. Beberapa lembar awan tipis mengapung didorong angin ke Utara.
Sebelum tengah hari. mereka sudah menghadap Ki Patih Mandaraka. Ternyata segala sesuatunya oleh Panembahan Hanyakrawati telah diserahkan kepada Kanjeng Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka.
Karena itu, ketika Ki Lurah Agung Sedayu sampai di dalem kepatihan, maka Kangjeng Pangeran Purbaya, Ki Tumenggung Derpayuda, Raden Yudatengara Jan tiga orang Tumenggung yang lain telah lebih dahulu berada di dalem kepatihan itu.
Demikianlah, di pendapa dalem kepatihan telah diselenggarakan sebuah pertemuan kecil. Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan juga berperan dalam pertemuan itu. Mereka masih diminta untuk memberikan beberapa keterangan. Kemudian ikut bersama Ki Lurah Agung Sedayu, Ki Derpayuda, Raden Yudatengara dan para Tumenggung yang lain untuk membicarakan perjalanan yang akan mereka lakukan.
Memang ada diantara para Tumenggung yang akan menjadi utusan ke Demak itu kecewa, bahwa Senapati yang akan membayangi perjalanan mereka hanyalah seorang Lurah prajurit. Bahkan dengan membawa isteri dan adiknya, meskipun Tumenggung itu pernah mendengar kebesaran nama Ki Lurah Agung Sedayu.
Namun dalam kesempatan tersendiri, Ki Tumenggung Derpayuda sudah memberikan beberapa keterangan tentang Ki Lurah Agung Sedayu bagi para Tumenggung yang masih belum megenali Ki Lurah Agung Sedayu lebih jauh.
Di pendapa dalem kepatihan itulah segala sesuatunya direncanakan dengan cermat. Tidak boleh ada yang salah langkah. Jika ada yang salah langkah, maka akibatnya akan dapat menjadi sangat buruk.
Pada akhirnya Ki Patih Mandaraka itupun kemudian bertanya, "Apakah masing-masing telah memahami tugasnya sendiri-sendiri " Segala sesuatunya harus berjalan sesuai dengan rancangan."
Hampir berbareng merekapun menjawab, "Sudah, Ki Patih."
"Jika demikian," berkata Pangeran Purbaya, "aku akan memberikan laporan kepada Kangjeng Sinuhun. Jika Kangjeng Sinuhun merasa perlu, maka kalian akan dipanggil. Jika tidak, maka segala sesuatunya sudah dapat berjalan sesuai dengan rancangan yang sudah kita sepakati. Kalian semuanya saling tergantung. Seperti sebuah lingkaran, maka jika ada busurnya yang putus, maka tidak ada lagi yang disebut lingkaran itu."
"Apakah kita semuanya akan menghadap ?" bertanya Ki Tumenggung Derpayuda
"Tidak usah. Biarlah aku sendiri yang menghadap. Kalian akan menunggu disini. Baru jika Sinuhun menghendaki, kalian akan pergi ke istana."
Demikianlah, maka Pangeran Purbaya serta dua orang prajurit pengiringnya telah pergi berkuda ke istana yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Namun mendengar laporan Pangeran Purbaya, agaknya Panembahan Hanyakrawati tidak lagi merasa perlu bertemu dengan orang-orang yang akan mengemban tugas khususnya itu. Panembahan hanya berpesan, "Mereka harus sangat berhati-hati. Jangan sampai mereka terjebak kedalam jebakan jenis apapun."
"Baik dimas," sahut Pangeran Purbaya.
Demikianlah maka Pangeran Purbayapun segera kembali ke kepatihan menyampaikan pesan Panembahan Hanyakrawati.
"Baiklah. Jika demikian, kalian dapai. kembali. Esok pagi kalian akan berangkat sendiri-sendiri. Ki Tumenggung Derpayuda akan berangkat bersama para utusan yang lain. Sementara Agung Sedayu akan membawa pasukan sandinya."
Sejenak kemudian, maka mereka yang berada di dalem kepatihan itupun segera minta diri. Ki Lurah Agung Sedayu, Sekar Mirah, Glagah Putih dan Rara Wulan serta para pemimpin kelompok yang ikut menghadap Ki Patih itupun segera kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka langsung pergi ke barak prajurit dari Pasukan Khusus.
Ki Lurah Agung Sedayu dan para pemimpin kelompok itupun kemudian telah mengumpulkan para prajurit yang terpilih untuk menjalankan tugas sandi. Mereka adalah para prajurit yang dinilai sesuai dengan tugas yang bakal mereka jalani. Kepada para prajurit, Ki Lurah telah memberikan banyak pesan-pesan yang berhubungan dengan tugas mereka.
"Selanjutnya, para pemimpin kelompok kalian akan memimpin pelaksanaan tugas ini di medan.. Mereka ikut bersama kami menghadap Ki Patih dan Pangeran Purbaya. Merekapun telah mendengarkan pembicaraan antara aku dengan Ki Tumenggung Derpayuda yang akan memimpin utusan Kangjeng Panembahan Hanyakrawati sebanyak lima orang untuk menghadap Kangjeng Adipati Demak."
Kemudian kepada para pemimpin kelompok itu, Ki Lurah berkata, "Lakukan tugas kalian dengan sebaik-baiknya. Kalian seharusnya sudah tahu pasti apa yang kalian lakukan. Jika ada diantara kita yang melakukan kesalahan, maka akibatnya akan menyentuh kita semuanya, termasuk kelima orang utusan khusus ke Demak itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kita tidak akan mengambil jalan lewat Sima. Juga tidak akan melewati Seca. Kita akan mengambil jalan yang lebih kecil, sehingga jaraknya menjadi lebih pendek. Selebihnya, kita berharap bahwa dengan melalui jalan yang lebih kecil, perjalanan kita tidak akan terhambat oleh hambatan-hambatan apapun. Kita tahu, bahwa Ki Tumenggung Derpayuda akan berangkat esok lusa, sedangkan kita akan berangkat esok. Kelompok-kelompok prajurit kita akan berada di tempat-tempat penting di jalan menuju ke Demak dan di kota Demak itu sendiri."
Para pemimpin kelompok itupun mengangguk angguk Mereka memang sudah tahu benar apa yang harus mereka lakukan. Dalam tugas mereka, maka yang penting yang harus mereka bawa adalah alat-alat untuk memberikan isyarat. Mereka membawa anak panah sendaren dan anak panah api serta busurnya. Mereka harus menyamarkan alat alat isyarat itu.
Setelah selesai dengan penjelasannya, maka Ki Lurah Agung Sedayupun berkata, "Besok kita akan pergi bersama Nyi Lurah, Glagah Putih dan Rara Wulan bukan maksudku untuk bertamasya, tetapi kalian tahu. bahwa Nyi Lurah, Glagah Putih dan Rara Wulan akan dapat membelikan bantuan yang mungkin kita butuhkan dalam penyamaran .Justru karena Nyi Lurah dan Rara Wulan adalah perempuan. Sedangkan menurut pengalaman, mereka tidak akan membebani kita untuk melindungi mereka, karena meteku akun dapat melindungi diri mereka sendiri."
Tidak ada seorangpun yang berkeberatan justru karena para prajurit itu sudah mengenal mereka dengan baik.
Para prajurit dari pasukan khusus itu menghormati Nyi Lurah seperti Ki Lurah itu sendiri Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan. Tidak ada seorangpun diantara para prajurit dari Pasukan Khusus yang sudah ditempa dengan laku yang keras itu yang merasa dapat menyamai ilmu mereka.
Demikianlah, maka Ki Lurah Agung Sedayu, Sekar Mirah, Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera meninggalkan barak. Esok pagi-pagi sekali mereka sudah harus berada di bilik itu kembali. Esok pagi, sebelum matahari terbit mereka akan meninggalkan barak prajurit dari Pasukan Khusus itu. Tetapi mereka tidak akan mengenakan pakaian keprajuritan. Mereka masing-masing akan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Pakaian yang banyak dipakai oleh orang-orang di Demak dan sekitarnya.
Setiap orang selain pakaian yang dikenakan, masing-masing membawa sepengadeg pakaian. Disamping pakaian yang mereka bungkus dengan selembar kain, yang akan berguna sebagai ciri kelak bila diperlukan bagi para prajurit dalam tugas sandi itu, merekapun membawa pedang di lambung. Tetapi pedang merekapun bukan pedang prajurit yang biasa mereka pergunakan sehingga sama bentuknya, tetapi mereka telah membawa pedang yang berbeda-beda. Mereka masih mempunyai kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan sifat dan watak dari pedang-pedang mereka itu. Namun justru karena mereka mempunyai landasan ilmu pedang yang tinggi, maka merekapun dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan pedang mereka yang baru.
Dalam pada itu,Ki Lurah Agung Sedayu juga membawa sebilah pedang. Sedangkan Sekar Mirah membawa senjatanya sendiri. Ciri kepemimpinan perguruan Kedung Jati. Sementara Glagah Putih bersenjata ikat pinggangnya dan Rara Wulan mengandalkan selendangnya. Namun dalam tingkat kemampuan mereka yang tertinggi, maka mereka tidak akan mempergunakan senjata-senjata mereka.
Malam menjelang keberangkatan mereka, maka semuanya telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sekar Mirah sempat memasuki sanggarnya sebelum wayah sepi bocah bersama Ki Lurah Agung Sedayu untuk meyakinkan kemampuan Nyi Lurah yang telah menuntaskan ilmu perguruan Kedung Jati, namun yang justru sudah diisi dengan unsur-unsur gerak yang lain, namun yang justru dapat menjadikan ilmu perguruan Kedung Jati itu menjadi ilmu yang bobotnya sangat tinggi.
Glagah Putih dan Rara Wulan tidak perlu mempergunakan sanggar. Baik yang tertutup maupun yang terbuka. Namun di dalam bilik mereka, Glagah Putih dan Rara Wulan telah membuka kembali kitab peninggalan seseorang yang menyebut dirinya Namaskara. Namun sosok itu adalah sosok yang ternyata kemudian diselimuti oleh rahasia yang tidak terpecahkan.
Glagah Putih dan Rara Wulan telah membawa kembali kitab yang memberikan tuntunan untuk mencapai tataran yang sangat tinggi dalam olah kanuragan itu. Mereka menyesuaikannya dengan ajaran-ajaran tentang kanuragan yang diberikan oleh Ki Patih Mandaraka ketika mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.
Dengan bekal yang ada di dalam diri mereka, maka Glagah Putih dan Rara Wulan akhirnya telah semakin memantapkan ilmu mereka, sehingga dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi orang yang sulit untuk dijajagi kemampuan mereka sebagaimana Raden Rangga.
Demikianlah maka baik Ki Lurah Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maupun Glagah Putih dan Rara Wulan, baru membaringkan tubuh mereka di pembaringan lewat tengah malam. Ki Lurah Agung Sedayu dan Sekar Muah masih harus pergi ke pakiwan, karena keringat mereka yang telah mengembun di seluruh wajah kulit mereka. Namun Glagah Putih dan RaraWulan, demikian mereka menyimpan kitab mereka baik-baik, maka merekapun langsung merebahkan iiri mereka di amben yang ada di dalam bilik mereka.
Seperti yang sudah mereka rencanakan, maka mereka-iun telah terbangun pagi-pagi sekali Ki Lurah Agung Sedayu, sekar Mirah, Glagah Putih dan Rara Walaupun segera mempersiapkan diri mereka.
Ketika hari masih gelap, merekapun sudah minta diri tepada Ki Jayaraga dan kepada Sukra untuk pergi menjalankan tugas kewajiban mereka yang berat itu.
Demikian mereka hilang dibalik tikungan, Sukra yang nelepas mereka sampai di regol halamanpun bertanya, "Ki Lurah agak lain dari biasanya. Biasanya Ki Lurah mengenakan pakaian keprajuritan pada saat Ki Lurah menjalankan tugas-tugasnya. Tetapi hari ini. Ki Lurah tidak mengenakan pakaian keprajuritan."
"Ki Lurah akan pergi menghadiri bersih desa, Sukra."
"Ah, Ki Jayaraga bohong. Pada musim seperti ini, tentu tidak ada kademangan yang sedang melakukan upacara bersih desa."
Ki Jayaraga tertawa. Katanya, "Tentu tidak ada orang yang tahu, tugas apa yang akan dilakukan oleh Ki Lurah, selain Ki Lurah serta orang-orang yang akan menjalaninya. Bukankah tugas seorang prajurit itu kadang-kadang tidak boleh dimengerti oleh orang lain kecuali yang sedang menjalankan tugas itu sendiri."
Sukra mengangguk-angguk. Demikianlah sebelum matahari terbit, mereka telah berada di barak prajurit dari Pasukan Khusus.
Di barak, segala sesuatunya telah siap pula. Para prajurit yang akan menjalankan tugas ke Demak itu, telah berbaris di halaman. Demikian Ki Lurah Agung Sedayu datang, maka Ki Lurahpun kemudian segera menerima laporan dari pemimpin kelompok tertua bahwa segala sesuatunya telah siap.
Ki Lurah Agung Sedayupun kemudian memberikan perintah-perintah agar pasukan yang sudah siap itu segera berangkat.
"Pasukan akan berangkat bergelombang. Ingat, kita harus sudah berada di tempat pada saat Ki Tumenggung Derpayuda esok sore sampai di Demak. Ki Tumenggung akan bermalam di Demak semalam. Di hari berikutnya, Ki Tumenggung akan meninggalkan Demak. Kita akan membayangi perjalanan Ki Tumenggung. Meskipun mereka berkuda, tetapi mereka tidak akan memacu kuda-kuda mereka. Untuk itu, maka esok pagi, sebagian dari kita harus sudah mendahului keluar dari Demak dan berada di tempat-tempat penting dan mencurigakan di sepanjangjalan dari Demak."
"Baik, Ki Lurah," jawab para pemimpin kelompok yang sudah memahami perintah itu karena mereka ikut mendengarkan pembicaraan antara Ki Tumenggung Derpayuda dengan Ki Lurah Agung Sedayu serta Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Purbaya.
Demikianlah, sebelum matahari terbit, maka para prajurit yang bertugas itupun mulai meninggalkan barak mereka. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka berjalan pada jarak yang agak jauh agar perjalanan mereka itu tidak menarik perhatian.
Para prajurit itu akan memasuki Demak malam nanti. Perjalanan dari Mataram ke Demak adalah perjalanan yang jauh. Mereka hanya mempunyai waktu sehari semalam ditambah esok pagi sampai sedikit lewat tengah hari itu. Ki Tumenggung Derpayuda sudah sampai di Demak.
Para prajurit Mataram itu akan berada di Demak sampai keesokan harinya. Jika tidak terjadi apa-apa di Demak, maka Ki Tumenggung Derpayuda akan pulang di hari berikutnya.
Tetapi itu belum berarti, tidak ada gangguan apa-apa di perjalanan. Bahkan mungkin bahaya yang sebenarnya akan datang justru di perjalanan pulang itu.
Ki Lurah Agung Sedayupun sudah berpesan mewanti-wanti. jangan melakukan tindakan-tindakan bodoh yang dapat menimbulkan persoalan di sepanjang jalan. Jika itu terjadi, maka sebelum Ki Tumenggung Derpayuda sampai di Demak, kita sudah terlibat dalam persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan tugas kita. Sementara itu, Ki Tumenggung Derpayuda sendiri mengalami kesulitan di perjalanan pulang.
Sebenarnyalah, maka orang-orang yang berjalan dalam kelompok kecil itu berusaha untuk tidak menarik perhatian. Kelompok yang satu dan kelompok yang lain, sama sekali tidak saling mengenal, karena Ki Lui ah telah memerintahkan bahwa hubungan antara kelompok-kelompok kecil itu jangan sering dilakukan jika tidak sangat perlu.
Sebenarnyalah kelompok-kelompok prajurit itupun melakukan tugas mereka dengan sangat berhati-hati mereka menghindari persoalan-persoalan yang dapat timbul di perjalanan mereka.
Para prajurit yang sudah terlatih itu, tidak cepat menjadi letih. Mereka baru berhenti setelah matahari melampaui puncaknya. Ketika mereka merasa menjadi haus dan lapar.
Tetapi mereka tidak berhenti di kedai yang sama. Bahkan merekapun berhenti tidak pada saat yang bersamaan Ada yang masih berjalan dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau ampat orang sampai matahari mulai turun.
Demikianlah, maka para prajurit dalam tugas sandi itu telah menjalankan tugas-tugas mereka seluai dengan keharusan, sehingga mereka berharap bahwa tidak akan ada yang salah yang terjadi pada para prajurit itu.
Ki Lurah Agung Sedayu sendiri bersama dengan Nyi Lurali berjalan berdua saja. Mereka berada di tengah-tengah dari bentangan para prajurit dalam tugas sandi itu. Sedangkan Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan agak jauh di belakang mereka. Mereka berjalan di paling belakang dari iring-iringan para prajurit dalam tugas sandi itu.
Ternyata bahwa para prajurit Mataram itu dapat menjalankan tugas mereka dengan baik. Namun bagaimanapun juga, para prajurit itu juga merasakan lelah setelah menem puh perjalanan yang panjang.
Namun menjelang tengah malam sebagian besar dan mereka telah berada di Demak. Mereka mendapatkan bekal uang untuk menginap di penginapan-penginapan di Demak Namun mereka tetap saja terpencar.
Namun di samping mereka yang berada di dalam kota, sebagian dan prajurit itu, tetap berada di luar lingkungan kota Demak. Mereka bermalam di tempat-tempat terbuka. Di padang perdu atau di pategalan yang sepi. Mereka memang tidak akan memasuki kota Demak jika tidak ada isyarat khusus sebagaimana mereka sepakati.
Seorang di antara mereka yang agak kedinginan di padang perdu berkata, "Jika aku wenang memilih, maka aku akan memilih bermalam di kota. Aku akan memilih penginapan yang hangat yang dipringgitan bangunan utamanya terdapat seperangkat gamelan yang ditabuh ngerangin."
"Kita hanya menjalankan tugas. Menurut pembagian tugas, kita berada di sini sekarang."
"Aku mengerti. Karena itu, maka aku katakan, seandainya aku wenang memilih."
"Aku akan tidur. Berhentilah bermimpi. Nanti saja jika aku tidur, bermimpilah sesukamu"
Orang yang dikatakan oleh kawannya sedang bermimpi itu tertawa. Katanya, "Jika aku sudah tertidur, maka aku tidak akan dapat memilih mimpi. Mimpi itu datang sekehendaknya sendiri. Mimpi yang mempunyai dunianya sendiri itu akan menyeret aku kedalamnya tanpa dapat mengelak sama sekali. Bahkan seandainya mimpi itu menyeretku masuk ke kandang singa. Karena itu, aku lebih senang bermimpi sebelum tidur. Mimpi sebelum tidur agaknya dapat aku kendalikan sendiri."
"Terserah saja. Tetapi jangan ganggu orang tidur. Mataku sudah tidak dapat aku buka lagi. Pelupuknya sudah melekat."
Yang dikatakan bermimpi itu menahan tertawanya.
Yang sudah mengantuk itu berkata pula, "Sebentar lagi fajar menyingsing. Kita akan kehilangan kesempatan yang sedikit ini, sementara aku memang merasa letih setelah menempuh perjalanan panjang. Sehari dan separo malam."
Kawannya tidak menyahut. Tetapi iapun telah memejamkan matanya pula. Sedangkan kawanya itu masih berkata, "Jika kita tidak memanfaatkan waktu yang pendek itu, esok jika terjadi sesuatu, tenaga kita tidak lagi penuh dan segar. Sementara itu prajurit Demak adalah prajurit yang terlatih."
Orang itu berhenti berbicara. Kawannya yang dikatakan bermimpi itu teryata sudah mendengkur. Agaknya ia telah tertidur lelap.
"Cah edan," geram yang sudah mengantuk itu, "ternyata ia justru telah tidur lebih dahulu."
Disisa malam itu, para prajurit Mataram dalam tugas sandi itupun berusaha untuk dapat beristirahat sebaik-baiknya. Tetapi mereka tidak beristirahat dalam keadaan yang sama. Ada diantara mereka yang tidur di penginapan-penginapan, meskipun bukan penginapan yang baik dan berpencar. Yang lain di pategalan atau di padang perdu.
Dihari berikutnya, para prajurit itupun telati mempersiapkan diri di tempat yang sudah ditentukan, tanpa menarik perhatian. Sebagian berada di dalam lingkungan dinding kota Demak, sebagian lagi berada di luar. Mereka memperhatikan suasana dengan seksama. Mereka memperhatikan barak-barak prajurit dan tempat-tempat rawan yang lain, menjelang kedatangan lima orang utusan resmi dari Mataram yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Derpayuda.
Seperti yang direncanakan, maka lima orang utusan dari Mataram itu memasuki pintu gerbang kota di sore hari. Mereka langsung pergi ke istana Kadipaten Demak Mereka akan mohon untuk dapat menghadap Kangjeng Adipati Demak.
Ki Tumenggung Derpayuda serta keempat utusan yang lain segera menemui Lurah prajurit yang memimpin sekelompok prajurit yang bertugas di istana kadipaten Demak itu.
Lurah prajurit yang bertugas di istana kadipaten Demak itupun menerima mereka di gardu penjagaan.
"Silakan duduk, Ki Sanak," berkata Lurah prajurit itu.
"Terima kasih. Sudah cukup disini saja."
"Apa keperluan Ki Sanak dan siapakah Ki Sanak berlima?"
"Aku adalah Tumenggung Derpayuda bersama tiga orang Tumenggung yang lain. Yang seorang ini tentu sudah kalian kenal dengan baik. Raden Yudatengara."
"Ya. Kami mengenal dengan baik Raden Yudatengara."
"Kami adalah utusan dari Kangjeng Panembahan Hanyakrawati di Mataram untuk menghadap Kangjeng Pangeran Puger."
"Menghadap Kangjeng Adipati ?"
"Ya. Kami akan menghadap Kangjeng Adipati di Demak."
"Jika demikian, silakan duduk. Biarlah seseorang menghubungi Narpacundaka yang bertugas."
Sekali lagi Ki Tumenggung Derpayuda menjawab, "Terima Kasih. Kami akan menunggu disini."
Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Tamu-tamu yang datang adalah para Tumenggung dari Mataram. Mungkin mereka merasa diremehkan jika mereka dipersilakan duduk di gardu penjagaan.
Karena itu, maka Ki Lurah itupun kemudian mempersilakan para Tumenggung itu untuk menunggu di serambi gandok sebelah kanan.
Ternyata Ki Tumenggung Derpayuda tidak menolak. Bersama ketiga orang Tumenggung yang lain serta Raden Yudatengara, merekapun kemudian duduk di serambi gandok kanan.
Sementara itu, seorang prajurit telah menemui Narpacundaka yang bertugas. Prajurit itu telah melaporkan, bahwa ada lima orang utusan dari Mataram ingin menghadap Kangjeng Pangeran Puger.
Narpacundaka itu mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian memerintahkan prajurit itu untuk memanggil Ki Lurah yang sedang bertugas.
"Ki Lurah," berkata Narpacundaka itu, "Aku akan menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati. Tetapi sebelumnya Ki Lurah harus memerintahkan dua orang prajurit yang masing-masing menghadap Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer. Katakan bahwa ada utusan dari Mataram."
"Baik. Akan segera dilaksanakan."
"Aku akan mencoba untuk mempersilakan mereka menghadap esok pagi saja. Kesempatan untuk berbicara dengan Tumenggung Gending dan Tumenggung Panjer cukup panjang."
"Silakan. Itu akan lebih baik."
Lurah prajurit itupun segera memerintahkan dua orang prajuritnya untuk menghubungi Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer untuk memberitahukan bahwa ada utusan dari Mataram yang akan menemui Kangjeng Adipati Demak.
Narpacundaka itu berharap bahwa sebelum berbicara dengan utusan dari Mataram, maka Kangjeng Adipati sebaiknya berbicara dahulu dengan kedua orang Tumenggung itu.
Melalui pintu gerbang pungkuran, maka kedua orang prajurit itu dengan tergesa-gesa pergi ke rumah mereka. Seorang ke rumah Ki Tumenggung Panjer, yang seorang ke rumah Ki Tumenggung Gending.
Namun ternyata bahwa kedua orang prajurit Demak yang keluar dari dalem kadipaten lewat pintu gerbang pungkuran itu terbaca oleh prajurit Mataram dalam tugas sandi. Tanpa menarik perhatian, maka kedua orang yang pergi ke arah yang berbeda itu telah diikuti Prajurit Mataram dalam tugas sandi itu tetap menunggu ketika para prajurit yang memasuki rumah Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer. Bahkan mereka tetap mengikuti ketika Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer pergi ke Kadipaten lewat pintu gerbang pungkuran.
Dalam pada itu, setelah kedua orang prajurit yang ditugaskan memanggil Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer itu meninggalkan kadipaten lewat pintu gerbang pungkuran, maka Narpacundaka Kangjeng Adipati Demak itupun segera menemui Ki Tumenggung Derpayuda dan kawan-kawannya di serambi gandok kanan. Bahkan sebelum Narpacundaka itu menghadap Kangjeng Pangeran Puger.
Narpacundaka itu bahkan terkejut ketika ia melihat, bahwa diantara utusan dari Mataram itu terdapat Raden Yudatengara.
"Orang ini tentu menjadi sumber persoalan," berkata Narpacundaka itu di dalam hatinya, "ia tentu telah melaporkan apa yang terjadi di Demak kepada Kangjeng Panembahan Hanyakrawati. Sayang orang ini tidak tertangkap dan terbunuh sebelum ia melarikan diri ke Mataram. Bahkan orang ini tentu telah menfitnah pula. Menambah-nambah cerita untuk membakar kemarahan Kangjeng Sinuhun di Mataram."
Demikian Narpacundaka itu menyatakan dirinya, bahwa ia adalah Narpacundaka Kangjeng Adipati di Demak, maka Ki Tumenggung Derpayudapun segera mempernalkan dirinya pula bersama keempat orang kawannya.
"Kami telah diutus oleh Kangjeng Panembahan Hanyakrawati di Mataram untuk menghadap Kangjeng Adipati di Demak."
Narpacundaka itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak segera menjawab. Nampak dahinya berkerut. Agaknya Narpacundaka itu sedang merenungi sesuatu.
Baru kemudian iapun menjawab, "Ki Tumenggung. Sebenarnyalah Kangjeng Adipati sedang beristirahat. Tadi pagi sampai siang hari, Kangjeng Adipati sedang sibuk. Tadi pagi ada pertemuan khusus meskipun bukan hari pasewakan. Ada sesuatu yang sangat penting perlu dibicarakan dengan para Narapraja. Kangjeng Adipati memerlukan banyak sekali masukan untuk memecahkan persoalan yang rumit yang sedang bergejolak di Demak. Kemudian setelah pertemuan khusus itu selesai, maka Kangjeng Adipati masih berbicara dengan beberapa orang pemimpin yang ikut menentukan jalannya pemerintahan di Demak."
"Maksud Ki Sanak?"
"Ma;if, Ki Tumenggung. Apakah Ki Tumenggung dapat menunda sampai esok pagi. Biarlah esok pagi secepatnya Kangjeng Adipati dapat menerima Ki Tumenggung."
"Aku memang diijinkan bermalam di Demak, Ki Sanak. Tetapi esok pagi-pagi sekali, kami harus sudah dalam perjalanan kembali ke Mataram. Kangjeng Panembahan Hanyakrawati menunggu kedatangan kami di tengah hari atau sejauh-jauhnya sedikit lewat tengah hari. Karena itu. maka segala pembicaraan harus kami lakukan hari ini. Sehingga esok pagi, sebelum fajar, kami sudah dapat meninggalkan Demak."
"Perhitungan waktu itu dihitung pada satu sisi, Ki Tumenggung. Maksudku, bagi kepentingan Ki Tumenggung. Tetapi Ki Tumenggung juga harus mempertimbangkan keadaan Kangjeng Adipati Demak yang sangat letih."
"Tidak Ki Sanak. Bukan berdasarkan kepentinganku. Tetapi aku adalah utusan. Maka setiap yang aku lakukan berdasarkan atas kepentingan yang mengutus aku. Karena itu. sampaikan kepada Kangjeng Adipati, bahwa kami mohon waktu sedikit. Persoalan yang kami bawa tidak terlalu banyak."
"Aku tidak berani, Ki Tumenggung."
"Jika demikian. Biarlah aku langsung menghadap jika seorang Narpacundaka tidak berani menyampaikan persoalan kepada Kangjeng Adipati."
"Ki Tumenggung. Sebagai seorang Narapraja Ki Tumenggung tentu mengetahui unggah-ungguh dan tatanan. Bagaimana mungkin Ki Tumenggung dapat langsung menghadap."
"Baiklah, aku memakai istilah yang sepantasnya aku sebut. Aku tidak akan menghadap Kangjeng Adipati. Tetapi aku akan menemuinya atas nama Kangjeng Panembahan Hanyakrawati. Kami memang tidak lebih dari seorang Tumenggung. Tetapi yang mengutus kami adalah penguasa di Mataram."
Wajah Narpacundaka itu menjadi merah. Tetapi ia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Meskipun demikian, ia masih mencobanya, "Tetapi Kangjeng Adipati amat letih."
"Aku kira, setelah menempuh perjalanan panjang, kamilah yang lebih letih."
"Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati. Aku tidak tahu, keputusan apakah yang akan diambil oleh Kangjeng Adipati."
Narpacundaka itupun kemudian meninggalkan utusan dari Mataram itu. Namun ia masih mencoba mengulur waktu. Jika ia segera menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati, maka Kangjeng Adipatipun tentu akan segera menerima mereka.
Ketika Narpacundaka itu kemudian berada di longkangan, maka rasa-rasanya hatinya diusap oleh semilirnya angin sejuk di udara yang panasnya bukan main. Ia melihat Ki Tumenggeng Gending tergesa-gesa memasuki longkangan.
"Ada apa?" bertanya Ki Tumenggung Gending kepada Narpacundaka yang bertugas itu.
"Ada tamu dari Mataram, Ki Tumenggung."
"Apa yang kau katakan kepada Kangjeng Adipati?"
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Dimana para tamu itu sekarang?"
"Di serambi gandok kanan. Aku mencoba untuk menunda pertemuan mereka dengan Kangjeng Adipati. Aku katakan bahwa Kangjeng Adipati sangat letih. Tetapi mereka memaksa untuk bertemu sekarang. Setidaknya hari ini."
Ki Tumenggung Gending termangu-mangu sejenak. Sementara itu Ki Tumenggung Panjerpun telah datang pula dan memasuki longkangan sebagaimana Ki Tumenggung Gending.
"Utusan dari Mataram itu tidak mau menunda pertemuan mereka dengan Kangjeng Adipati. Mereka mengandalkan kuasa yang mereka bawa atas nama Ingkang Sinuwun di Mataram."
"Jika demikian marilah kita temui lebih dahulu Kangjeng Adipati. Kangjeng Adipati tidak boleh terpengaruh oleh utusan-utusan itu. Apa yang sudah diputuskan selama ini harus dilaksanakan."
"Karena itu, maka aku menunggu Ki Tumenggung berdua."
Demikianlah, mereka bertigapun segera menghadap Kangjeng Adipati yang benar-benar sedang beristirahat. Tetapi Kangjeng Adipati sama sekali tidak menyelenggarakan pasewakan pagi tadi. Bahkan sudah agak lama Segala keputusan atas sikap Demak terhadap lingkungan, terhadap Mataram dan bahkan terhadap rakyatnya sendiri, diambil langsung oleh Kangjeng Adipati.
Namun sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipati sendiri tidak mengerti apa yang dilakukannya itu Segala sesuatunya tergantung sekali kepada orang-orang disekitarnya. Terutama Tumenggung Gending dan Tumenggung Panjer yang sudah bekerja sama dengan Ki Saba Lintang, seorang yang mengaku pemimpin tertinggi perguruan Kedung Jati.
"Ampun Kangjeng Adipati," berkata Narpacundaka yang telah menghadap Kangjeng Adipati lebih dahulu, "Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer mohon ijin untuk menghadap."
"Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer" Kenapa mereka menghadap pada saat-saat seperti ini " Pada saat-saat aku ingin beristirahat. Jika saja udara tidak terlalu panas, aku akan berada di bilik tidurku."
"Ada sesuatu yang sangat penting akan dibicarakan."
"Kenapa tidak esok pagi saja?"
Namun sebelum Narpacundaka itu menjawab, ternyata Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer sudah berada di serambi belakang.
"Kami ingin menghadap sekarang, Kangjeng Adipati."
"O. Kakang Tumenggung. Marilah, kakang. Sebenarnya aku merasa sangat letih. Aku ingin beristirahat."
"Kangjeng Adipati adalah pemimpin tertinggi di kadipaten Demak. Kangjeng Adipati bertanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di Demak"
"Ya." "Karena itu, maka kami mohon Kangjeng untuk bersedia berbincang sedikit saja, justru untuk melindungi Kangjeng Adipati."
"Tentang apa. Kakang?"
"Kangjeng. Pada saat ini ada lima orang utusan dari Mataram yang berada di serambi gandok kanan dalem kadipaten ini."
"Utusan dari Mataram. Kenapa mereka tidak segera dipersilahkan masuk" Tentu utusan Dimas Panembahan Hanyakrawati."
"Ya, Kangjeng."
"Nah. Tunggu apa lagi. Bawa mereka masuk."
"Nanti dahulu Kangjeng. Kita akan membicarakan beberapa hal yang ada hubungannya dengan kedatangan mereka. Kami akan berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi."
"Apa lagi yang akan kita bicarakan. Bukankah kita harus menerima segala titah dari Adimas Panembahan Hanyakrawati."
"Bukankah kita belum tahu, apakah kepentingan mereka datang kemari?"
"Tentu karena aku sudah terlalu lama tidak menghadap ke Mataram. Selama ini aku telah kehilangan pengamatan diri, sementara itu tidak ada seorangpun yang telah mengingatkan aku akan hal itu."
"Nanti dulu Kangjeng. Kita semuanya tidak pernah lupa bahwa setiap tahun Kangjeng harus menghadap ke Mataram."
Kangjeng Adipadi mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi Kangjeng Adipatipun berkata, "Lalu apa yang telah terjadi " Bukankah aku sudah tidak pernah lagi menghadap ke Mataram ?"
"Tetapi itu bukan karena Kangjeng Adipati lupa. Tetapi bukankah kita sudah sepakat, bahwa Kangjeng Adipati memang tidak akan pernah lagi datang menghadap ke Mataram. Bahkan kita akan memaksa Panembahan Hanyakrawati itulah yang harus menghadap ke Demak. Bukankah Kanjeng Adipati lebih tua dari Panembahan Hanyakrawati " Sudah sewajarnya, bahwa Kangjeng Adipati lebih berhak atas tahta di Mataram."
Kangjeng Adipati itupun menarik nafas panjang.
"Kangjeng," berkata Ki Tumenggung Panjer, "kita sudah mempersiapkan segala-galanya. Pasukan kita sudah mulai bergerak ke Selatan. Kenapa tiba-tiba Kangjeng Adipati menjadi ragu-ragu " Sementara itu Ki Saba Lintangpun telah siap untuk bergerak bersama-sama pasukan Demak. Semua orang bukan saja yang tinggal di sebelah Utara Gunung Kendeng, tetapi juga yang berada di sebelah Selatan, bahkan sampai ke Sima dan sekitarnya, telah siap menjalankan perintah Kangjeng Adipati."
Kangjeng Adipati masih saja termangu-mangu. Namun Kangjeng Adipati itupun kemudian bertanya, "Lalu, apa yang harus aku katakan sekarang kepada utusan dari Mataram ?"
"Jika utusan itu datang untuk memanggil Kangjeng Adipati, maka sebaiknya Kangjeng Adipati langsung saja menolak. Kangjeng Adipati dapat dengan tegas mengatakan bahwa Kangjeng Adipati tidak akan menghadap ke Mataram."
"Tetapi yang menempatkan aku disini adalah Dimas Panembahan Hanyakrawati. Kedudukanku adalah ganjaran yang diberikan oleh Dimas Panembahan."
"Tidak. Panembahan Hanyakrawati telah meremehkan saudara tuanya. Ia tidak memberikan ganjaran. Ia bahkan menyingkirkan Kangjeng Adipati dan merampas kedudukan Kangjeng Adipati."
Wajah Kangjeng Adipati Demak itupun menjadi tegang. Ketika ia memandang kepada Narpacundakanya, maka Narpacundaka itupun berkata, "Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer itu benar, Kangjeng. Tidak ada lagi gunanya berhubungan dengan Mataram. Silahkan Kangjeng, esok bertanya kepada setiap pemimpin di Demak. Mereka tentu sependapat, bahwa Demak tidak usah tunduk kepada Mataram."
Ketegangan telah mencengkam jantung Kangjeng Adipati. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Orang-orang yang berada disekitarnya telah bertekad bulat untuk melawan Mataram.
Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipatipun mengetahui bahwa sedikit saja narapraja yang benar-benar setia kepadanya. Yang lain, mendukungnya untuk merebut tahta Mataram justru karena pamrih pribadi. Jika Pangeran Puger itu berhasil, maka merekapun akan mendapat kamukten seumur hidup mereka. Mereka akan mendapatkan kekuasaan sekaligus kekayaan yang melimpah.
Apalagi orang yang bernama Ki Saba Lintang, yang menyebut dirinya pemimpin tertinggi perguruan Kedung Jati.
Tetapi Pangeran Puger yang telah terjerat kedalamnya, tidak dapat lagi menghindar. Karena itu, maka setelah terlanjur basah, maka Pangeran Puger harus menyeberang terus.
Pada saat Kangjeng Adipati masih termangu-mangu, maka Ki Tumenggung Gendingpun bertanya, "Jadi bagaimana keputusan Kangjeng Adipati " Apakah utusan dari Mataram itu akan dipersilahkan masuk ?"
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun berkata, "Baiklah. Silahkan mereka masuk. Aku akan menerima mereka di ruang dalam. Aku minta kakang Tumenggung Gending dan kakang Tumenggung Panjer mendampingi aku."
Demikianlah, beberapa saat kemudian, Kangjeng Adipati Demak itupun telah duduk diruang dalam, menerima kedatangan liina orang utusan dari Mataram yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Derpayuda.
Setelah saling mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Kangjeng Adipati Demak itupun kemudian berkata kepada Raden Yudatengara, "jadi paman Yudatengara telah kembali ke Mataram tanpa sepengetahuanku."
"Apakah angger Adipati tidak tahu, bahwa aku telah melarikan diri dari Demak ?"
"Tidak paman." "Jadi angger Adipati tidak tahu, bahwa aku hampir saja mati terbunuh sebelum aku lari ?"
Kangjeng Adipati menggeleng sambil menjawab, "Tidak, paman."
"Sokurlah jika angger Adipati tidak tahu. Aku juga berharap bahwa angger Adipati tidak mengetahuinya, karena jika angger Adipati mengetahuinya dan rencana pembunuhan itu berlangsung juga, maka landasan sifat kesatria di Mataram sudah larut hanyut dalam arus kenistaan dan nafsu keserakahan."
"Raden jangan membuat persoalan disini," potong Ki Tumenggung Panjer.
"Aku sudah melaporkan semua yang aku ketahui. Aku sudah melaporkan sikap Kangjeng Adipati, sikap orang-orang di sekitarnya yang menyanjungnya dan mendorongnya untuk memberontak justru karena pamrih pribadi, sehingga Kangjeng Adipati akan sekedar menjadi alat bagi kepentingan mereka."
"Cukup," bentak Ki Tumenggung Panjer.
"Aku adalah salah seorang dari utusan Kangjeng Panembahan Hanyakrawati."
Tetapi Tumenggung Panjer itupun menjawab pula, "Tentu Panembahan Hanyakrawati tidak akan mengutus Raden untuk menghina Kangjeng Adipati serta para pemimpin di Demak."
"Baik," sahut Ki Tumenggung Derpayuda, "sebaiknya aku langsung saja menyampaikan titah Kangjeng Panembahan Hanyakrawati untuk Kangjeng Pangeran Puger."
Suasanapun tiba-tiba menjadi hening. Namun nampak wajah-wajah yang tegang di ruangan itu.
"Kangjeng Pangeran Puger, atas nama Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, maka aku Tumenggung Derpayuda, menyampaikan titah bagi Kangjeng Pangeran Puger, agar Pangeran Puger menghadap ke Mataram. Sudah lebih dari waktu yang ditentukan, namun Kangjeng Pangeran Puger tidak juga menghadap sebagaimana seharusnya. Karena itu. maka kami telah diutus untuk menyampaikan titah itu."
Ketegangan yang sangat telah mencengkam jantung Kangjeng Adipati di Demak itu. Namun ketika ia memandang wajah Ki Tumenggung Panjer, maka Kangjeng Pangeran Puger itu melihat Ki Tumenggung Panjer menggeleng. Demikian pula Ki Tumenggung Gending.
Karena itu, betapapun beratnya lidah Kangjeng Adipati di Demak itu, namun iapun berkata, "Ki Tumenggung Derpayuda dan para utusan dari Mataram yang lain. Titah Adimas Panembahan Hanyakrawati telah aku terima. Aku tidak akan ingkar akan kewajibanku. Aku akan datang menghadap Adimas Panembahan Hanyakrawati. Tetapi waktunya tidak sekarang. Sebaiknya Ki Tumenggung mendahului aku kembali ke Mataram. Nanti pada saatnya aku akan datang."
"Kangjeng Panembahan tidak memberikan tenggang waktu, Pangeran. Hanya ada dua kemungkinan. Menghadap ke Mataram bersama kami, atau tidak sama sekali. Dengan demikian sikap Kangjeng Adipati menjadi tegas."
"Bukan begitu. Ki Tumenggung. Jangan menyudutkan aku seperti itu. Beri aku kesempatan untuk bersiap-siap. Aku akan segera menyusul Ki Tmenggung ke Mataram."
"Kangjeng Panembahan hanya memberikan dua pilihan kepada Kangjeng Adipati. Pergi ke Mataram bersama kami, atau Mataram akan datang menjemput Kangjeng Adipati."
"Ki Tumenggung," sahut Ki Tumenggung Gending, "kau berhadapan dengan penguasa tertinggi di Demak. Kau tidak dapat bersikap seperti kepada seorang Lurah prajurit."
"Bagi Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, perintahnya berlaku pula bagi seorang Adipati. Karena, itu, maka sekali lagi titah itu aku sampaikan. Kangjeng Adipati Demak harus pergi ke Mataram bersama kami, atau tidak sama sekali. Jika Kangjeng Adipati tidak bersedia pergi bersamaku sekarang, maka para prajurit Mataram akan datang menjemput Kangjeng Adipati."
"Kau meremehkan kekuatan Demak, Ki Tumenggung," geram Ki Tumenggung Panjer, "jika Kangjeng Adipati Demak tidak bersedia pergi sekarang bersama dengan kalian, maka para prajurit Demak sudah siap untuk melindunginya."
Wajah Ki Tumenggung Derpayuda menjadi merah. Dengan suara yang bergetar Ki Tumenggung itupun berkata, "Itukah keputusan Kangjeng Adipati ?"
Dada Kangjeng Adipati Demak bagaikan akan meledak oleh gejolak perasaannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengikuti rencana yang sudah disusun oleh para pemimpin di Demak bersama dengan Ki Saba Lintang, yang mengaku mempunyai pasukan sebesar pasukan Mataram dan tersebar di seluruh tanah ini.
(Bersambung ke Jilid 381)
Api di Bukit Menoreh Karya SH Mintardja Jilid : 381- 390 ________________________________________
Jilid 381 KARENA itu, maka Kangjeng Pangeran Puger itupun kemudian berkata, "Ki Tumenggung Derpayuda. Ki Tumenggung adalah utusan bersama dengan beberapa orang narapraja yang lain. Aku hargai kedudukan Ki Tumenggung. Namun sebagai utusan sebaiknya Ki Tumenggung tidak mengambil sikap yang mati. Sampaikan saja kepada Adimas Panembahan, jawabku. Aku akan datang kemudian. Terserah kepada Adimas Panembahan Hanyakrawati, bagaimana Adimas Panembahan menanggapi jawabku itu."
"Kangjeng Adipati. Jawab Kangjeng Adipati itu bagiku merupakan pernyataan bahwa Kangjeng Adipati tidak bersedia pergi ke Mataram bersamaku. Baik. Aku akan menyampaikannya kepada Kangjeng Panembahan. Tetapi Kangjeng Adipati tentu dapat memahami arti dari sikap Kangjeng Adipati itu. Dengan demikian, maka Demak telah memberontak terhadap Mataram."
Jantung Kangjeng Adipati Demak seakan-akan telah berhenti berdetak ketika ia disebut telah memberontak kepada Mataram Bagaimana mungkin hal itu terjadi. Mataramlah yang telah mengangkatnya menjadi Adipati di Demak. Mataramlah yang telah memberi kekuasaan. Mataramlah yang telah memberikan segala-galanya kepadanya.
Tetapi ternyata Ki Tumenggung Gendinglah yang menjawab, "Jika Mataram mengartikan sikap Kangjeng Adipati itu sebagai satu pemberontakan, maka kamipun akan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Biarlah Mataram mengambil sikap apapun, Tetapi kami sudah menentukan sikap."
"Bagus Ki Tumenggung Gending," sahut Ki Tumenggung Derpayuda, "aku tidak akan pernah melupakan pertemuan ini. Aku tidak aikan melupakan sikap dan kata-kata kalian. Maka jika aku datang kembali ke Demak dalam kedudukanku sebagai prajurit, maka mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi."
Ki Tumenggung Gendingpun menyahut, "Aku akan menunggu Ki Tumenggung. Bahkan aku tidak sabar lagi menunggu sampai esok lusa."
Hampir saja Ki Tumenggung Derpayuda kehilangan kendali. Namun ketika ia memandang wajah Kangjeng Adipati Demak yang sangat teging, maka Ki Tumenggungpun menyadari sepenuhnya, bahwa ia tidak lebih seorang utusan untuk menyampaikan titah Kangjeng Sinuhun di Mataram, tanpa wewenang lebih jauh.
Karena itu, maka Ki Tumenggung Derpayuda itupun kemudian berkata, "Kangjeng Adipati. Jika demikian segala sesuatunya sudah jelas. Karena itu maka ka.mi akan mohon din. Malam ini kami akan bermalam di Demak. Esok pagi-pagi sekali kami akan meninggalkan Demak kembali ke Mataram."
"Silakan Ki Tumenggung. Sampaikan jawabku kepada Adimas Panembahan Hanyakrawati."
"Baik, Kangjeng Adipati. Sekarang semuanya sudah jelas, sehingga Kangjeng Panembahan Hanyakrawati tidak akan ragu-ragu mengambil langkah."
Ki Tumenggung Derpayuda bersama ketiga Tumenggung yang menyertainya serta Raden Yudatengarapun segera meninggalkan istana Kangjeng Adipati di Demak.
Segala sesuatunya kemudian berjalan menurut rencana. Ki Tumenggung akan bermalam di sebuah penginapan yang terhitung baik di Demak. Penginapan yang juga sudah direncanakan.
"Mudah-mudahan masih ada bilik yang kosong di penginapan itu," berkata Ki Tumenggung Derpayuda.
"Tentu masih ada," sahut Raden Yudatengara, "penginapan itu termasuk penginapan yang mahal, sehingga jarang sekali menjadi penuh."
Sebenarnyalah ketika mereka sampai di penginapan itu, maka petugas di penginapan itupun menerima mereka dengan sangat baik dan menyiapkan tiga buah bilik bagi lima orang yang akan menginap itu.
Di penginapan itu, seorang petugas sandi telah menemuinya. Ketika Ki Tumenggung Derpayuda itu pergi kepakiwan, yang berada di longkangan, maka petugas sandi itupun memberitahukan kedatangan Ki Tumenggung Panjer dan Ki Tumenggung Gending dengan tergesa-gesa karena dua orang prajurit telah memanggil mereka lewat pintu gerbang pungkuran.
"Nampaknya sudah tidak ada lubang sama sekali di sekitar Kangjeng Pangeran Puger. Jika saja Raden Yudatengara masih berada di Demak, mungkin ada celah-celah yang dapat ditembus untuk mengintip kegiatan-kegiatan terakhir di istana kadipaten," berkata Ki Tumenggeng Derpayuda, kepada Raden Yudatengara ketika kemudian kelima orang itu duduk-duduk di serambi.
"Aku tidak dapat menahan diri dan berpura-pura mengikuti arus. Karena itu. maka datang waktunya para pemimpin di Demak berniat membunuhku. Untunglah aku dapat melarikan diri karena pertolongan petugas sandi dari Mataram suami isteri."
"Glagah Putih dar Rara Wulan maksud Raden?"
"Ya." "Baiklah. Tetapi malam ini kita harus berhati-hati. Namun aku percaya kepada para petugas sandi yang dipimpin oleh Ki Lurah Agung Sedayu itu."
Dari petugas sandi yang menemuinya, Ki Tumenggung Derpayuda mengetahui bahwa Ki Lurah Agung Sedayu dan isterinya malam itu juga berada di dalam kota.
Sebenarnyalah, malam itu penginapan yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Derpayuda dengan empat orang yang menyertainya, mendapat pengamatan yang sangat ketat oleh para petugas sandi dari Mataram. Diantara mereka termasuk Ki Lurah Agung Sedayu dan Sekar Mirah sendiri.
Namun sampai menjelang pagi, tidak ada tanda-tanda bahwa ada gerakan pasukan Demak yang akan mencelakai lima orang utusan Kangjeng Panembahan Hanyakrawati itu.
Tetapi sebelum fajar, dua orang penghubung petugas sandi telah berusaha menemui Ki Tumenggung Derpayuda.
Ki Tumenggung Derpayudapun kemudian keluar dari biliknya dan pergi ke pakiwan. Di pakiwan penghubung itu memberi laporan, bahwa sekelompok prajurit berkuda telah bergerak keluar kota. Mereka telah mempersiapkan satu jebakan yang tidak terlalu jauh dari kota.
"Dimana mereka akan menjebak kami?"
"Di sebuah jembatan dan tikungan. Mereka menebang sebatang pohon di pinggir jalan dan menyilangkannya di ujung jembatan. Menurut dugaan kami mereka akan membiarkan Ki Tumenggung berlima memasuki jembatan di tikungan itu. Namun kuda Ki Tumenggung akan terhenti di jembatan. Demikian Ki Tumenggung berniat berputar balik, maka para prajurit Demak akan menutup ujung jembatan yang lain. Sementara itu, sungai dibawah jembatan itu adalah sungai yang sangat dalam. Sementara airnya hanya mengalir tidak lebih setinggi mata kaki. Disana sini berserakan bebatuan. Ada yang besar ada yang kecil."
"Apakah kawan-kawanmu sudah tahu?"
"Sudah Ki Tumenggung, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah berada tidak jauh dari jembatan itu."
"Bagaimana dengan Ki Lurah Agung Sedayu."
"Seorang penghubung telah memberikan laporan kepada Ki Lurah."
"Apa yang harus kami lakukan esok pagi ?"
Penghubung itupun dengan agak ragu menjawab, "Ki Tumenggung. Kami belum menerima perintah dari Ki Lurah. Tetapi jika tidak ada perintah yang lain, maka sebaiknya Ki Tumenggung menjaga agar Ki Tumenggung tidak masuk ke jembatan di tikungan itu."
"Baiklah Kami akan berhati-hati jika kami sampai di jembatan agar kami tidak terjebak masuk ke dalamnya. Tetapi jika ada kesempatan.memberi kami isyarat"
"Baik, Ki Tumenggung. Yang perlu kami ketahui, kapan Ki Tumenggung akan keluar dari gerbang kota?"
"Kami akan berangkat pagi-pagi sekali menjelang matahari terbit."
"Jika demikian, kafni harus sudah siap di sekitar jembatan itu sebelum matahari terbit. Kami harus menempatkan diri kami sebaik-baiknya, karena para prajurit Demak tentu juga berada disekitar jembatan itu. Mungkin kami akan berada di belakang para prajurit Demak, sehingga kami akan sampai di jembatan itu beberapa saat sesudah pasukan Demak."
"Baik. Kami akan berusaha mengulur waktu."


16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tetapi hati-hati, Ki Tumenggung. Jangan sampai terdorong memasuki jembatan. Jika Ki Tumenggung terjebak di jembatan, maka Ki Tumenggung akan mengalami kesulitan untuk keluar. Di kedua.mulut jembatan itu tentu akan dipagar dengan ujung senjata oleh para prajurit Demak."
"Terima kasih atas keterangan kalian."
Sejenak kemudian, maka petugas sandi itupun telah meninggalkan penginapan.
Pagi itu waktu kelima utusan dari Mataram itu tidak terlalu banyak. Merekapun segera berbenah diri. Seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung, maka sebelum matahari terbit, maka kelima orang itupun telah meninggalkan penginapan.
"Pagi-pagi sekali tuan-tuan meninggalkan penginapan?" bertanya petugas di penginapan itu.
"Ya. Kami masih harus menyelesaikan tugas kami yang lain," jawab salah seorang dari para Tumenggung itu.
Demikianlah, maka kuda-kuda merekapun berpacu. Tidak ada kesan apapun yang nampak di dalam kota. Bahkan ketika mereka melewati pintu gerbangpun tidak nampak adanya satu gerakan pasukan keluar kota.
Namun Ki Tumenggung Derpayuda itu harus berhati-hati. Karena tidak ada pesan-pesan berikutnya, maka Ki Tumenggung menganggap bahwa Ki Lurah sudah sependapat dengan pendapat para prajurit yang akan mempersiapkan diri di jembatan.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Derpayuda sengaja tidak melarikan kuda mereka terlalu cepat. Mereka-harus berhati-hati agar mereka tidak terjebak masuk ke dalam jem-bafcin di tikungan. Letak jembatan itu tidak terlalu jauh dari pintu gerbang kota.
Ketika mereka melewati sebuah simpang empat, maka Ki Tumenggung itu semakin memperlambat lari kudanya. Ki Tumenggung Derpayuda dan bahkan yang lainpun ingat, bahwa di belakang tikungan di depan mereka terdapat sebuah jembatan yang terhitung panjang. Sungai di bawah jembatan itu sangat dalam. Tetapi arus sungai itii sangat kecil, sehingga tidak lebih dari pergelangan kaki. Namun di dasar sungai itu berserakan bebatuan besar dan kecil.
"Mungkin jembatan di belakang tikungan itulah yang dimaksud," berkata Ki Tumenggung Derpayuda kepada kawan-kawan seperjalanannya."
"Ya," sahut Raden Yudatengara yang lebih mengenal tempat itu, "di belakang tikungan itu memang terdapat sebuah jembatan yang panjang di atas sebuah sungai yang sangat dalam, tetapi airnya hanya sedikit sekali."
Sebenarnyalah, demikian mereka menikung, maka merekapun segera melihat sebuah jembatan.
Untunglah bahwa Ki Tumenggung Derpayuda telah mendapat keterangan tentang jembatan itu. Jika tidak, maka mereka tentu tidak memperhatikan, bahwa di ujung jembatan yang lain memang terdapat sebatang pohon yang roboh menyilang mulut jembatan.
Demikian Ki Tumenggung mendekati jembatan, maka seorang laki-laki dengan pakaian yang kurang pantas, serta rambut terurai tanpa ikat kepala, berjalan diatas jembatan mendekat ke mulut jembatan, menyongsong Ki Tumenggung Derpayuda.
Ki Tumenggung Derpayuda sudah menduga, bahwa orang itu sama sekali bukan orang gila yang menggelandang di sepanjang jalan. Tetapi orang itu adalah salah seorang petugas san yang akan menegaskan isyarat yang pernah diberikannya.
Orang yang ujudnya seperti orang gila itupun kemudian menyongsong orang-orang berkuda yang akan memasuki mulut jembatan. Bahkan sambil mengacung-acungkan sebuah golok yang besar, orang itu berteriak, "Pergi. Pergi. Jangan ganggu rumahku."
Ki Tumenggung Derpayudapun menarik kekang kudanya sebelum memasuki jembatan karena orang yang seperti orang gila itu berdiri di tengah-tengah mulut jembatan.
Ki Tumenggung Derpayudapun segera meloncat turun. Demikian pula keempat orang yang bersamanya pergi ke Demak.
"Inikah jembatan yang dimaksud?" bertanya Ki Tumenggung.
"Ya," jawab orang itu, "di sekitar tempat ini terdapat banyak prajurit Demak. Bahkan di seberang sungai. Mereka akan segera berdatangan. Untunglah Ki Tumenggung sempat kami hubungi sehingga lidak terjebak ke tengah-tengah jembatan itu."
"Baiklah. Aku akan menunggu mereka datang. Tetapi dimana pasukan Mataram ?"
Orang yang berpenampilan seperti orang gila itupun menjawab, "Mereka berada tepat di belakang pasukan Demak. Tetapi mereka memerlukan waktu sesaat untuk terjun ke arena."
Ki Tumenggung Derpayuda itupun mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawas dari Demak telah menggeretakkan giginya melihat orang gila itu tiba-tiba saja sudah berada di jembatan.
"Darimana orang itu datang?" bertanya seorang Lurah prajurit dari Demak.
"Entahlah. Mungkin dari balik pohon yang rebah itu."
"Kenapa mereka yang berada di seberang tidak mencegah orang gila itu memasuki jembatan?"
"Agaknya mereka menganggap orang gila itu tidak akan mengganggu."
"Tetapi orang itu telah menghentikan Ki Tumenggung Derpayuda, sehingga kelima orang itu tidak memasuki jembatan. Jika mereka memasuki jembatan itu, maka mereka akan terjebak, sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan kita."
Keduanya terdiam ketika tiba-tiba saja seorang merunduk ke samping mereka sambil berkata, "Siapakah orang itu?"
"Orang gila." "Kalianlah yang gila. Orang itu tentu petugas sandi dari Mataram yang berusaha menyelamatkan Ki Tumenggung Derpayuda."
"He?" para pengawas itu terkejut.
"Tidak ada gunanya lagi menunggu. Kelima orang itu tentu tidak akan memasuki jembatan itu. Orang yang kau sangka gila itu tentu sudah memberikan beberapa peringatan."
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Tidak ada gunanya menunggu. Ki Tumenggung Gending memutuskan untuk segera bergerak."
"Ki Tumenggung Gending sendiri akan terjun ke arena?"
"Ya. Juga Ki Tumenggung Panjer. Selain mereka, maka akan turun pula beberapa orang berilmu tinggi dari lingkungan perguruan Kedung Jati."
"Jadi siapa saja?"
"Ada beberapa orang Tumenggung terbaik dari Demak, disamping Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer. Ada beberapa orang berilmu tinggi dari perguruan Kedung Jati. Betapa tingginya ilmu dari kelima orang itu, mereka tidak akan mampu bertahan sesilir bawang."
"Dimana para Tumenggung itu sekarang."
"Mereka telah bergerak Mereka akan segera muncul di sebelah jembatan Mereka akan membuat kejutan. Baru kemudian kita akan mengerahkan para prrjurit untuk mengepung kelima orang itu, agar mereka tidak dapat melarikan diri lagi"
"Apakah kita tidak akan menggiringnya masuk ke dalam jembatan?"
"Tentu akan dicoba. Tetapi mereka adalah orang-orang berilmu tinggi, sehingga sulit untuk dapat menggiring mereka."
Dalam pada itu, seperti yang dikatakan oleh prajurit itu. maka tiba-tiba saja dari balik gerumbul-gerumbul liar di pinggir jalan serta dari balik tanggul sungai itu, telah bermunculan beberapa orang. Mereka langsung melangkah mendekati Ki Tumenggung Derpayuda dan keempat kawannya, serta seorang prajurit sandi yang berpenampilan seperti orang gila itu.
Cula Naga Pendekar Sakti 15 Pendekar Naga Putih 07 Raja Iblis Dari Utara Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San 18
^