Pencarian

Balada Padang Pasir 8

Balada Padang Pasir Karya Tong Hua Bagian 8


hendak langsung mengembalikan uang yang dipinjamnya dariku,
sepertinya Perusahaan Shilah yang ingin memisahkan diri
dariku". Bibir Tianchao bergerak-gerak, namun ia tak dapat memberi
penjelasan. Shiyan berseru, "Xiao Yu, kau dan Jiu Ye kenapa"
Ketika Jiu Ye datang kemari ia baik-baik saja, tapi kenapa ketika
pulang wajahnya pucat pasi, seakan tiba-tiba jatuh sakit" Ia
sudah berhari-hari mengurung diri di kamar baca dan hanya
menyuruh kami segera mengembalikan uang padamu".
Aku mengepalkan tanganku erat-erat dan mencakar telapak
tanganku dengan kukuku sendiri. Setelah memandangku sesaat,
ia bertukar pandang dengan Shenxing, "Xiao Yu, kami mohon
bantuanmu".
Shenxing yang tak suka bicara mendadak berkata, "Xiao Yu,
berilah waktu lagi pada Jiu Ye, begitu banyak beban dalam
hatinya, tak dapat dibuyarkan dalam sehari aja".
Aku menggeleng sambil tersenyum getir, "Aku sudah berkali-kali
memberi isyarat padanya, namun ia terus menerus menghindar,
aku berusaha sekuat tenaga untuk mendekatinya, tapi setiap kali
ia merasa aku mendekatinya, ia selalu mendorongku pergi. Aku
selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa ia berbuat
seperti itu, tapi aku tak pernah dapat memahaminya. Masalahnya
tak sesederhana seperti yang kalian pikir, kalau hal ini
disebabkan oleh kakinya, aku sudah memberitahunya bahwa hal
itu bukan masalah, namun ia masih menolakku. Aku seorang
wanita, dan hari ini aku memberitahukan semua ini pada kalian
dengan terus terang, aku hanya ingin bertanya, kalian tumbuh
besar bersamanya, apakah kalian tahu kenapa ia bersikap seperti
itu?" Mereka bertiga terdiam, akhirnya Shenxing menatapku dan
dengan sikap sangat serius berkata, "Xiao Yu, kami tak bisa
menjawab pertanyaanmu, mungkin?"" Ia berhenti sejenak, lalu
kembali berkata, "Tapi kami tahu bahwa Jiu Ye
memperlakukanmu dengan berbeda, kami tumbuh besar
bersamanya dan dapat melihat hal ini. Jiu Ye benar-benar sangat
berbeda denganmu, mohon kau memberi waktu pada Jiu Ye, dan
memberinya satu kesempatan lagi".
Aku tertawa dan tertawa. Saat seseorang tak bisa menangis
sepertinya ia hanya dapat tertawa, tawa yang lebih tak enak
didengar daripada sebuah tangisan. "Kalian bertiga silahkan
pulang dahulu! Sekarang aku sangat lelah, harus beristirahat".
Setelah berbicara, aku langsung masuk ke kamar tanpa
menghiraukan mereka lagi.
------------------Di musim gugur tahun lalu, aku telah mengumpulkan tak sedikit
buah Bunga Jinyin, akan tetapi di musim gugur tahun ini hanya
ada sebatang tanaman yang telah layu.
Huo Qubing melihatku menebas dahan-dahan yang telah
mengering itu dengan sabit, "Sudah mati, untuk apa kau
menebasnya?"
"Kata tukang kebun, kalau akarnya masih ada, mungkin musim
semi tahun depan ia akan dapat bertunas lagi".
"Saat itu aku seharusnya tak melampiaskan kemarahanku pada
mereka". Dengan heran aku menengadah memandangnya, lalu
menyindirnya, "Apakah kau sedang minta maaf pada mereka"
Apakah Tuan Besar Huo dapat melakukan kesalahan" Kalau
sampai terdengar orang, bukankah seantero kota Chang"an akan
terkaget-kaget?"
Huo Qubing merasa agak gusar, "Kau seharian berwajah masam,
pasti kau menganggapku telah melakukan suatu kesalahan".
Aku kembali menunduk dan kembali menebas dahan-dahan
kering, "Matahari terbit dari barat, aku tak tahu harus berbuat
apa". "Yu er!" Namun setelah memanggilku, untuk beberapa lama Huo
Qubing tak berkata apa-apa, aku meletakkan sabit dalam
genggamanku dan menatapnya.
"Tahun depan ikutlah denganku ke Xiyu, kalau kau tak bahagia di
Chang"an, lebih baik kau ikut aku pergi ke Xiyu".
Sepasang matanya gelap, bagai malam yang kelam, entah
berapa banyak pikiran yang ada di benaknya, tak nyana, hatiku
terasa agak pedih, entah karena diriku sendiri atau karena
dirinya. Sudah hampir tiga tahun aku tak menjenguk Lang Xiong,
apakah dia baik-baik saja" Bagus kalau aku dapat
menjenguknya. Sekarang aku harus mempertimbangkan akan
berbuat apa, walaupun aku masih berduka, hidup tetap berlanjut.
"Sekarang aku tak bisa berjanji padamu, masih ada hal yang
harus kulakukan, kalau semua dapat diselesaikan dengan baik,
mungkin aku akan pulang ke Xiyu".
Huo Qubing mengangguk sambil tersenyum, "Paling tidak ini lebih
baik dari penolakanmu tahun lalu".
------------------Di dalam kelas, pelajaran yang diberikan oleh sang guru benarbenar bagus, sudut pandangnya luar biasa, penjelasannya
terperinci, setiap pertanyaannya membuat murid-murid berpikir
dengan sungguh-sungguh tentang prinsip-prinsip ilmu perang.
Yang paling sukar adalah membuat para murid berani
mengemukakan pendapat mereka, dan tak memaksa mereka
berpandangan sama seperti dirinya sendiri.
"Apakah Bai Qi seharusnya mengubur empat puluh ribu prajurit
Negara Zhao atau tidak?" Setelah selesai berbicara, sang guru
tersenyum dan menghirup teh, sambil memperhatikan para murid
yang menunduk. "Bai Qi adalah jenderal besar Negara Qin, komandan seluruh
angkatan bersenjata, namun ia tak menepati janjinya sendiri, ia
berjanji memberikan jalan keluar bagi para prajurit Zhao, tapi
setelah berhasil membujuk mereka untuk menyerah, ia
mengingkari perkataannya dan mengubur hidup-hidup empat
puluh ribu prajurit Zhao. Perbuatannya ini membuatnya
ditertawakan orang. Seperti kata pepatah, 'Perintah militer
sekokoh gunung, di dalam pasukan tak ada tempat untuk
bercanda', namun di depan seluruh pasukan ia mengingkari
janjinya sendiri, setelah itu, bagaimana ia dapat menyakinkan
orang agar percaya padanya" Itu hal pertama. Hal kedua,
perbuatan Bai Qi itu membuat Negara Qin mengalami kesulitan
dalam berperang karena tak ada musuh yang mau menyerah,
mereka khawatir bahwa setelah menyerah mereka akan dikubur
hidup-hidup, sehingga mereka lebih suka berperang sampai mati.
Bai Qi dan yang lainnya membuat Negara Qin makin sukar
menaklukkan negara-negara lain, dan membuat setiap
pertempuran menjadi pertempuran hidup dan mati".
"Murid malahan merasa bahwa tindakan Bai Qi benar, karena ia
mengubur hidup-hidup empat puluh ribu prajurit itu, populasi
Negara Zhao berkurang, kekurangan tenaga untuk mengarap
ladang, dan tak punya kemampuan untuk memperebutkan
kekuasaan. Negara Qin belum tentu dapat mempersatukan
seluruh kolong langit, mungkin pertarungan untuk
memperebutkan kekuasaan diantara ketujuh negara itu akan
berlarut-larut dan makan korban lebih banyak orang, membuat
rakyat jelata menderita. Dilihat secara jangka panjang, walaupun
Bai Qi mengubur hidup-hidup empat puluh ribu orang, namun
dengan membunuh mereka ia menghentikan pembunuhan lain,
dan mungkin menyelamatkan lebih banyak orang lagi. Dari sudut
pandang saat itu, kalau Bai Qi tak membinasakan Negara Zhao,
rakyat Negara Qinlah yang akan binasa. Dia adalah panglima
perang Negara Qin, melindungi rakyat Qin adalah kewajibannya".
"Omong kosong! Tak nyana masih ada orang yang mendukung
tindakan yang begitu kejam, menurut murid......."
Aku melihat Li Guangli yang sedang tidur dengan nyenyak di atas
meja belajar, sang guru menggeleng-gelengkan kepalanya
dengan tak berdaya, nampaknya sang guru sudah putus asa
menghadapinya, begitu melihatnya, ia langsung mengalihkan
pandangan matanya, akan tetapi, para pemuda yang dipilih untuk
menemaninya belajar benar-benar tak membuatku kecewa. Kisah
sukses Jenderal Besar Wei Qing membuat para pemuda yang
berasal dari keluarga miskin itu bermimpi menjadi seorang
pembesar, mereka mempergunakan kesempatan yang kuberikan
itu dengan sungguh-sungguh. Namun apakah aku akan punya
kesempatan untuk memakai bidak-bidak catur yang sudah
dipersiapkan dengan seksama ini"
Suara langkah kaki yang terputus-putus terdengar, aku berpaling
melihatnya, Fang Ru masuk ke dalam ruangan sambil membawa
kotak makanan, ketika melihatku, dengan agak jengah ia
menghormat. Aku tersenyum dan berkata, "Kakak ipar ini benarbenar rajin". Wajah Fang Ru menjadi merah padam.
Setelah kelas bubar, para murid masih berteriak-teriak dengan
riuh rendah, memperdebatkan Bai Qi. Aku tertawa dan berkata,
"Ayo cepat masuk, nanti makanan keburu dingin!" Sambil
menunduk, Fang Ru berjalan dengan cepat di sisiku.
Ketika para pemuda itu melihatku, mereka mengerumuniku
sambil tersenyum.
"Yu Jiejie".
"Yu Jiejie sudah lama sekali tak menjenguk kami".
"Yu Jiejie, ibuku menyuruhku bertanya, apakah sepatu yang ia
berikan pada anda pas dipakai" Katanya begitu ia sudah tak
sibuk bertani, ia akan membuatkanmu sepasang lagi".
Mereka berebutan berbicara, membuat kepalaku pusing, aku
tertawa dan berkata, "Melihat kalian belajar dengan susah payah,
hari ini aku menyuruh dapur membuat tim ayam, makanlah sedikit
lebih banyak. Xiao Wu, aku telah menyuruh dapur menyisakan
sedikit ayam, bawalah pulang dan berikan pada ibumu.
Changqing, kakak iparmu baru melahirkan, bawa pulanglah
seporsi juga".
Mereka yang barusan ini bersikap seperti orang dewasa ketika
berdebat tentang Bai Qi, begitu mendengar bahwa ada ayam
untuk dimakan, menunjukkan sifat kekanak-kanakkan mereka
dan langsung melompat-lompat.
Li Guangli mengelus-elus lengan jubahnya seraya berseru,
"Besok aku akan undang kalian makan ayam di Yipin Ju, rasanya
pasti akan membuat kalian menelan lidah sendiri". Para pemuda
itu bertepuk tangan dan berseru, "Terima kasih, Li Erge!"
Dengan puas diri Li Guangli memandangku, aku pun
memandangnya sambil tersenyum, walaupun orang ini tak
cerdas, namun ia suka bergurau dan suka keramaian. Ia
mengagumi para pembesar namun tak memandang rendah orang
miskin, seseorang yang sukar ditemui, andaikan kakaknya bukan
Li Yan, mungkin hidupnya akan lebih santai.
Tanpa bersuara, Fang Ru berjalan melewatiku dengan cepat, aku
menyuruh para pemuda itu cepat-cepat makan, lalu berbalik dan
mengejarnya, setelah itu, kami berjalan berendeng pundak tanpa
berkata apa-apa.
Dengan penuh perasaan aku menghela napas dan berkata,
"Waktu benar-benar berlalu dengan amat cepat, dalam sekejap
mata kita sudah saling mengenal tiga tahun lamanya".
Fang Ru tersenyum manis, "Aku bukan orang yang bermasa
depan cerah, setiap hari hanya bermalas-malasan saja. Tapi
dalam waktu tiga tahun, Xiao Yu sudah sama sekali berbeda
dengan dahulu, dari seorang wanita lemah sebatang kara
menjadi tokoh berpengaruh di Chang'an, tapi luar biasa, kau
selalu baik hati dan memperhatikan orang".
Aku menggeleng seraya tersenyum, "Kau jangan terlalu
memandang tinggi diriku, sifatku malas, aku malas mengerjakan
hal-hal yang tak mendatangkan keuntungan. Kau adalah kawan
yang pertama kali kukenal di Chang'an, aku hendak mengatakan
sesuatu yang mungkin tak enak didengar, tapi hari ini aku ingin
bicara denganmu".
Fang Ru memandangku, "Silahkan bicara".
Aku diam sesaat, "Apakah kau ingin menikah dengan Li
Yannian?" Fang Ru menunduk, wajahnya nampak jengah, walaupun ia
sama sekali tak menjawab, maksud maksud hatinya nampak
dengan terang benderang.
Aku menghela napas, "Li Yannian orang yang baik, menikah
dengannya adalah suatu hal yang baik, sayang sekali sekarang ia
punya seorang adik yang berkedudukan tinggi".
"Kakak Li bukan orang seperti itu, ia tak mungkin
mencampakkanku", Fang Ru cepat-cepat membelanya.
Dengan lembut aku berkata, "Aku tahu ia tak akan
mencampakkanmu, maksudku.......maksudku, sekarang Nyonya
Li sudah punya seorang pangeran. Sejak zaman kaisar Taizu,
keluarga Lu ipar kaisar pernah berkuasa, lalu keluarga Dou, dan
keluarga Wang, tapi setelah itu apa yang terjadi pada mereka" A
Ru, aku tak ingin kau masuk ke dalam dunia dimana orang bisa
dibunuh tanpa kilatan pedang dan darah mengalir, selain
daripada itu aku tak bisa bicara lebih lanjut, kau paham?"
Fang Ru menggeleng sambil tersenyum, "Xiao Yu, kau terlalu
khawatir. Kakak Li tak seambisius itu, ia tak mungkin
memperebutkan kekuasaan, hal seperti itu tak akan terjadi".
"A Ru, bagaimanapun juga kau kenal huruf, kenapa kau bisa
bicara seperti ini" Li Yannian bukan orang seperti itu, namun
anggota keluarga yang sama akan berjaya atau runtuh bersama,
kalau benar-benar ada masalah, bagaimana Li Yannian dapat
menghindar?"
Fang Ru berhenti melangkah, berpikir dengan diam untuk
beberapa saat, lalu mengenggam tanganku, ia menatapku seraya
berkata dengan sungguh-sungguh, "Banyak terima kasih,
pikirankulah yang terlalu sederhana, sekarang aku sedikit banyak
sudah paham maksudmu, tapi, Xiao Yu, aku bersedia, aku tak
perduli apa yang akan terjadi di masa datang, aku hanya tahu
bahwa aku bersedia hidup bersamanya".
Aku tersenyum, "Sebenarnya aku sudah tahu jawabanmu, sesuai
dengan watakmu yang keras kepala, asalkan kau bersedia
melakukan sesuatu, kau rela menanggung semua akibatnya. Aku
sudah mengatakan semua yang harus kukatakan sebagai
sahabatmu".
Fang Ru tersenyum dan berkata, "Aku sangat berterima kasih,
sangat berterima kasih karena telah bertemu denganmu,
berterima kasih karena kau menyadarkanku, berterima kasih
karena kau mengundang Kakak Li ke rumah kita, dan berterima
kasih atas peringatanmu hari ini. Karena peringatanmu itu, aku
dan Kakak Li akan dapat semakin mensyukuri semua yang kami
miliki, setelah ini, apapun yang terjadi, aku tak akan menyesal".
Aku mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu aku akan
memberi isyarat pada Li Yannian untuk mengajukan lamaran,
emas kawinnya tak akan sedikit". Fang Ru girang sekaligus
jengah, "Ah, kau ini mengoda kami saja".
-------------------"Apa katamu?" Hatiku terasa amat pedih, entah apa yang sedang
kupikirkan, mulutku dengan sendirinya bertanya sekali lagi.
Xiao Feng berteriak dengan marah, "Kataku Jiu Ye jatuh sakit, Jiu
Ye jatuh sakit, sebenarnya berapa kali aku harus
mengulanginya?"
"Oh! Jiu Ye jatuh sakit, kalau Jiu Ye jatuh sakit kalian harus
memanggil tabib, apakah kalian sudah melakukannya" Untuk apa


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sengaja memberitahuku?"
Xiao Feng mengulirkan matanya, lalu mendongak dan berteriak,
"Yu Jiejie, kau benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh" Karena
aku sudah menyampaikan pesan ini, pikirkan sendiri apa yang
hendak kau lakukan!" Setelah berbicara , "Duk, duk!", ia berlari
keluar sambil menginjak papan lantai keras-keras.
Apa yang harus kulakukan" Pertanyaan ini selalu kutanyakan
pada diriku sendiri. Sejak ruji Yuanyang Teng ambruk sampai
sekarang, aku selalu menanyakan pertanyaan ini.
Aku mengetuk pintu, namun yang membukakan pintu bukan
Paman Shi melainkan Tianchao. Dengan wajah tanpa ekspresi
aku berkata, "Kudengar Jiu Ye jatuh sakit, aku datang
menjenguknya, apakah ia bersedia menemuiku?"
Sambil tersenyum Tianchao berkata, "Tentu saja ia bersedia
menemuimu, beberapa bulan ini selama kau tak mau
menginjakkan kaki di Wisma Shi, Pondok Bambu menjadi dingin
dan suram".
"Sakit apa?"
"Katanya masuk angin, Jiu Ye sudah membuat resep untuk
dirinya sendiri. Ketika mengambil obat kami menanyai tabib
penjaga toko obat, perkataan tabib itu agak lain dengan kata Jiu
Ye, katanya obat itu untuk memperbaiki aliran qi, ia merasa
bahwa penyakit Jiu Ye tentu disebabkan oleh emosi, dengan
berbisik ia berkata, "Karena emosi, pembuluhnya menjadi
tersumbat. Karena pembuluhnya tersumbat, darah tak bisa
mengalir, karena darah tak bisa mengalir?"dan sebagainya".
Kami tak terlalu paham, hanya tahu bahwa sang tabib bermaksud
mengatakan bahwa hati Jiu Ye agak bermasalah".
Di sepanjang jalan Tianchao tak henti-hentinya berbicara, namun
di sepanjang jalan aku diam seribu bahasa, ketika sampai di
Pondok Bambu, Tianchao menghentikan langkahnya, "Kau
masuklah sendiri!" Tanpa menungguku berbicara, ia langsung
berbalik dan pergi sambil menenteng lentera.
Aku berdiri untuk beberapa saat di mulut pintu, lalu bertanya pada
diriku sendiri sambil tersenyum getir, "Kau takut apa" Masa
keadaan dapat menjadi lebih buruk dari sekarang?"
Ruang tamu temaram, perabotan amat sedikit, di siang hari
nampaknya lega, namun di malam hari nampak dingin dan
suram. Daun jendela setengah terbuka, angin dingin bertiup
masuk, meniup sehelai kelambu biru pucat hingga melambailambai, namun orang yang berbaring di atas ranjang sama sekali
tak bergerak. Aku berdiri di depan jendela untuk beberapa lama,
namun ia sama sekali tak bergeming, sepertinya ia tidur dengan
amat nyenyak. Aku membuka jendela dan melompat masuk, lalu dengan lembut
menutup kelambu. Walaupun gerakan tubuhku sama sekali tak
menimbulkan suara, namun orang yang berbaring di ranjang itu
langsung berseru, "Yu er?" Suaranya kedengarannya sangat
lelah. Karena terus ditiup angin dingin, seluruh ruangan itu sedingin
rumah es. Tanpa berkata apa-apa, aku berlutut di depan ranjang,
lalu memasukkan tanganku ke balik selimut dan merabanya,
untung saja ranjang itu hangat, di balik selimut itu pun tak dingin.
Ia mengeluarkan sebuah bola perak yang berlubang-lubang dari
balik selimut, namun aku menolaknya, "Aku tak kedinginan".
Namun ia tak menghiraukannya dan dengan bandel terus
mengangsurkannya ke arahku, maka aku pun terpaksa
menerimanya dan menaruhnya di atas gaunku, ternyata bola itu
memang efektif, tak lama kemudian, papan lantai yang tadinya
dingin menjadi hangat.
Di tengah kegelapan kami berdua sama-sama diam seribu
bahasa. Lama, lama sekali, seakan sampai akhir dunia. Kalau
benar-benar dapat seperti ini sampai akhir dunia, sebenarnya
bagus sekali. "Jiu Ye, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau tak usah
bicara, aku takut begitu kau membuka mulut, aku tak akan berani
menyelesaikan perkataanku. Tak perduli apakah kau bersedia
mendengarkan atau tidak, kumohon padamu, kumohon padamu
untuk membiarkanku menyelesaikan perkataanku, setelah selesai
aku akan langsung pergi".
Jiu Ye berbaring tanpa berkata apa-apa, tak bergeming. Aku
menghela napas, akhirnya ia tak menolak permohonanku ini.
"Aku tak tahu kapan aku mulai menyukaimu, mungkin ketika
melihat sosokmu yang hangat di bawah sinar lentera, mungkin
ketika kau menyeka telingaku, atau mungkin ketika kau
tersenyum namun masih mengerutkan dahimu. Aku hanya tahu
bahwa aku sangat ingin bersamamu, maka dengan hati-hati aku
mencari tahu apakah kau menyukaiku atau tidak. Jiu Ye, aku
selalu berkata bahwa tenggorokanku sakit, bahuku sakit, atau tak
bisa makan nasi, pokoknya hampir setiap hari aku sakit-sakitan".
Aku menunduk dan memindahkan bola perak itu, "Sebenarnya
aku menipumu, aku sama sekali tak menderita berbagai penyakit
itu, tubuhku sangat sehat. Aku hanya ingin agar setiap hari kau
memikirkanku untuk sesaat, dan berpikir keras, "sebaiknya aku
memberi resep obat apa untuk Yu er?" Sebenarnya aku tak takut
makan Huanglian, sebenarnya aku tak takut makan makanan
pahit, tapi aku ingin menyusahkanmu dan membuatmu berpikir,
"Yu er ternyata tak suka pahit, bagaimana sebaiknya?" Aku
merasa bahwa kalau setiap hari memikirkanku, diam-diam aku
akan menyusup ke dalam hatimu".
Sambil berbicara, aku berpaling dan tersenyum, "Apakah aku
sangat licik?"
"Jiu Ye, apakah kau masih ingat ketika aku membaca-baca buku
di kamar bacamu" Sebenarnya aku ingin melihat buku-buku apa
yang kau baca. Watak seseorang dapat diketahui dari buku apa
yang dibaca olehnya, aku tahu kau suka pada Huang Lao dan Mo
Zi, kau suka Mo Zi, mungkin karena dalam Kitab Mo Zi terdapat
cara membuat berbagai senjata yang sangat berguna, selain itu,
kuduga juga karena sikap Mo Zi terhadap peperangan dan
hubungan diantara negara-negara besar dan kecil".
Aku bimbang sesaat, apakah aku harus meneruskan
perkataanku"
"Jiu Ye, kalian memelihara begitu banyak merpati pos. Tahun lalu
ketika Han Agung menyerang Xiongnu, Xiyu kebetulan tertimpa
bencana alam dan kau langsung membutuhkan banyak uang.
Kau mengerti sangat banyak bahasa Xiyu, dan juga sangat
mendukung pandangan Mo Zi. Kurasa hal-hal ini tak ada
hubungannya dengan urusan dagang, mungkin kau orang Xiyu,
dan segala yang kau lakukan adalah untuk membantu
negaramu".
Saat berbicara, aku berusaha tak melihat ke arah Jiu Ye, namun
saat ini aku tak bisa menahan diri lagi dan dengan sembunyisembunyi mencuri pandang ke arahnya, namun pandangan
matanya terpaku di puncak kelambu, raut wajahnya bagai air,
jernih dan tenang.
"Kau juga sangat suka membaca kitab-kitab Lao Zi dan Zhuang
Zi, maka aku mendengarkan penjelasan guru tentang kitab-kitab
mereka dengan seksama. Aku tak bisa menebak apa yang
hendak kau lakukan di masa depan. Mo Zi seumur hidupnya
berusaha sekuat tenaga mewujudkan cita-citanya, namun
menurut Lao Zi dan Zhuang Zi, kalau kita tak bisa melawan
keadaan, orang harus membiarkan semuanya terjadi secara
alami. Tapi, Jiu Ye, aku tak memperdulikan semua ini, aku tak
perduli kau orang Xiyu atau Han Agung, kau adalah kau, kalau
kau ingin kebebasan, aku bersedia menemanimu meninggalkan
Chang"an dan berkelana di padang pasir. Kalau kau?".kalau
kau ingin menghentikan ekspansi Han Agung dan merebut
daerah mereka, aku tak dapat melakukannya, tapi aku dapat
membantumu mengacaukan negara Han, sehingga selama aku
dan kau masih hidup, mereka tak dapat berekspansi ke barat".
Wajah Jiu Ye berpaling memandangku, matanya nampak terkejut,
namun lebih banyak mengandung kepedihan dan kehangatan.
Aku masih tak bisa memahami isi hatinya, dalam hati aku
menghela napas dengan pelan, lalu menunduk.
"Yu er, apa yang diam-diam telah kau lakukan" Apakah rumah
bordil dan usaha rumah gadai yang diam-diam kau buka adalah
untuk mengumpulkan informasi tentang para menteri di istana?"
Aku mengangguk-angguk seraya mengigit bibirku, wajah Jiu Ye
nampak sedih, "Kau si gadis bodoh ini! Cepat tutup semua usaha
itu. Perusahaan Shi sudah hampir seratus tahun berdiri di kota
Chang"an dan punya segala macam usaha. Kalau aku ingin tahu
tentang urusan gelap, transaksi keuangan atau kejahatan para
menteri di istana, aku dapat dengan amat mudah
mengetahuinya". Sekonyong-konyong raut wajahnya berubah,
"Apakah kau telah menjanjikan sesuatu pada Nyonya Li?"
Aku memikirkan sumpah sampai mati itu, namun bukankah
sumpah itu tak masuk hitungan" Maka aku pun menggeleng.
Wajahnya nampak lega, "Bagus sekali, jangan sekali-kali terlibat
dalam perebutan kedudukan istri pertama keluarga kekaisaran,
berurusan dengan mereka lebih berbahaya dari memasukkan
kepala ke mulut harimau".
Aku menunduk, tanpa sadar, aku meluruskan gaunku yang agak
kusut dan beberapa helai rambut yang jatuh di dahiku. Ia
menatapku tanpa berkedip, lalu menghela napas dengan hampir
tak kedengaran, ia mengangsurkan tangannya, seakan hendak
membantuku merapikan rambut yang tergerai di dahiku, namun
begitu mengangsurkan tangannya, ia langsung menariknya
kembali, "Yu er, kakekku memang orang Xiyu, boleh dibilang ia
sama denganmu".
Aku membelalakkan mataku, dengan tercengang
memandangnya. Untuk pertama kalinya malam ini, ia tersenyum,
"Kakek boleh dibilang juga dibesarkan oleh serigala. Ia adalah
pangeran Negara Yinai, namun ketika baru dilahirkan, terjadi
kudeta di istana sehingga orangtuanya, sang raja dan ratu,
terbunuh. Seorang pengawal membawanya lari dari istana
bersama dengan stempel kerajaan, lalu diam-diam
menyembunyikannya di padang pasir. Saat itu, karena tak bisa
menemukan ibu susu, pengawal itu menangkap seekor serigala
yang sedang menyusui dan menggunakan susunya untuk
membesarkan kakek. Tindakan kakek sulit ditebak, setelah
dewasa ia tak menghubungi bekas bawahan ayahnya dan
merebut takhta dengan stempel kerajaan, malahan menggunakan
parasnya yang luar biasa tampan untuk menjalin hubungan
dengan putri-putri berbagai negara di Xiyu, sehingga membuat
banyak orang di Xiyu ingin membunuhnya. Kabarnya, di suatu
malam yang gelap gulita dan keras anginnya, ia mendadak bosan
bermain wanita dan dengan jumawa menerobos masuk ke istana
Negara Yinai, menangkap pamannya yang sedang tidur nyenyak,
mencukur gundul kepala sang raja, lalu memerintahkan dapur
menyiapkan jamuan makan. Setelah itu, ia berkata kepada sang
paman, "Kau lebih pantas menjadi raja daripada ayahku",
melemparkan stempel kerajaan ke lantai, lalu dengan jumawa
mengibaskan lengan bajunya dan berlalu. Ia melarikan diri ke
padang pasir dan menjadi seorang perampok". Kisah ini awalnya
berlumuran darah, namun akhirnya berubah menjadi lucu, aku
terpana mendengarnya dan mau tak mau bertanya, "Kalau begitu,
bagaimana kakek bisa sampai ke Chang"an?"
Jiu Ye tertawa dan berkata, "Kakek seorang perampok yang
sukses, bandit-bandit Xiyu lain satu persatu tunduk padanya.
Karena ketika kecil kakek dibesarkan dengan susu serigala, para
bandit di bawah pimpinan kakek mengelarinya Bandit Serigala,
setelah itu panggilan ini perlahan-lahan berubah menjadi nama
lain para bandit padang pasir. Untuk menjual barang-barang
rampasannya, kakek berdagang, tak nyana, ia punya bakat
dagang, dan tanpa sengaja, perlahan-lahan ia menjadi pedagang
batu mulia yang terbesar di seluruh Xiyu. Untuk sesaat, kakek
berjaya di kalangan hitam maupun putih di Xiyu, akibatnya,
seperti kata kakek, Langit tak mau ia terlalu sombong, tapi
sebenarnya sangat menyayanginya, maka Langit memberinya
suatu hukuman yang sangat manis. Saat merampok sebuah
rombongan pedagang Han, ia bertemu dengan nenekku?""
Ternyata, itulah asal mula panggilan bandit serigala itu, sambil
tersenyum aku meneruskan, "Begitu melihat nenek, kakek
langsung jatuh cinta, dan karena menjadi suami seorang Han,
terpaksa tinggal di Chang'an dan menjadi pedagang".
Jiu Ye menggeleng, "Bagian depannya benar, bagian
belakangnya salah. Saat itu nenek sudah menikah dengan orang
lain, ia adalah selir kecil yang tak di sayang oleh pedagang itu,
maka kakek mengejar mereka ke Chang'an dan merampasnya,
setelah berhasil mendapatkan nenek, ia merasa bahwa Chang'an
sangat mengasyikkan, maka ia pun tinggal di Chang'an".
Kisah itu lebih mengasyikkan dari cerita-cerita di kedai arak atau
teh, aku mendengarkannya dengan mulut ternganga,
hmm......hidup sang kakek ini.......benar-benar hebat!
Dengan lembut Jiu Ye berkata, "Sekarang kau paham asal
usulku. Kakek selalu menyokong Xiyu, saat itu Dinasti Han masih
lemah, diantara Xiyu dan Dinasti Han tak ada gesekan yang
berarti, kakek membantu negara-negara Xiyu menghadapi
bangsa Xiongnu. Sekarang, Dinasti Han yang dari hari ke hari
semakin kuat menakutkan bagi negara-negara Xiyu, tapi nenek
orang Han, ibu pun orang Han, aku tak bisa bersikap seperti anak
buah kakek dahulu. Paman Shi dan yang lainnya bertekad untuk
membantu Xiyu menghadapi Dinasti Han, tapi aku tak bisa
mengacuhkan anak buah kakek yang tersebar di Xiyu dan di
berbagai profesi di Chang'an, anak buah kakek di berbagai
negara Xiyu saling berhubungan, kalau mereka sampai bersatu
dan sama-sama membuat kekacauan, Xiyu dan Dinasti Han akan
sama-sama tertimpa bencana. Xiongnu pun akan mendapat
kesempatan untuk membalikkan keadaan dengan sekali pukul,
dan dengan watak kaisar yang seperti itu, ia tentu akan mengirim
pasukan untuk menghukum Xiyu".
"Kau sedikit demi sedikit memperlemah pengaruh Perusahaan
Shi di Dinasti Han, tak hanya untuk menyembuyikan diri dari
kaisar, tapi juga untuk menahan ambisi Paman Shi dan yang
lainnya?" Sambil tersenyum hambar, Jiu Ye mengangguk. Aku telah
menduga bahwa situasinya sangat rumit, tak nyana, keadaan
yang sebenarnya ternyata lebih rumit dan berbahaya. Di satu
pihak Jiu Ye menghadapi kaisar sambil melindungi orang-orang
yang tak berdosa di Perusahaan Shi, sedangkan di lain pihak, ia
membantu rakyat jelata Xiyu menghindari bencana akibat
peperangan. Di satu pihak ia harus mempertimbangkan ancaman
Xiongnu, di lain pihak juga harus menekan kekuatan negaranegara Xiyu, terutama kekuatan di belakang punggung yang
dapat mempengaruhi negara-negara Xiyu itu. Sekarang,
nampaknya Perusahaan Shi yang terus melemah harus
berkompromi, Xiongnu mengancam dari kejauhan, negara-negara
Xiyu tak mau menuruti aturan, sedangkan Liu Che mengawasinya
dari takhta dengan penuh kecurigaan, kalau lengah sedikit saja,
semua akan menjadi kacau balau. Sejak kecil Jiu Ye harus
menanggung semua masalah ini, betapa beratnya beban ini,
namun ia hanya bergurau tentangnya.
Ketika berpikir sampai ke sini, harapan dalam hatiku sedikit demi


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sedikit bertambah besar, ia dapat memberitahukan semua
rahasia ini padaku, bukankah hal ini berarti bahwa sekarang ia
sangat mempercayaiku" Kalau begitu, apakah ia dapat
menerimaku" Ketika Jiu Ye melihat bahwa aku memandangnya
tanpa berkedip, sikapnya yang santai dan lembut menghilang,
sinar matanya nampak muram, ia pun cepat-cepat menghindari
pandangan mataku, tak lagi melihatku.
Kami berdua saling berdiam diri, aku menunduk sambil mengigit
bibirku, detak jantungku terkadang cepat terkadang lambat,
setelah beberapa lama, dengan lirih aku berkata, "Kau sudah
paham maksud hatiku, aku hendak bertanya padamu sekali lagi.
Kau tak usah menjawabku sekarang, aku tak bisa menerima
jawaban yang kejam darimu. Beberapa hari lagi tahun baru, kau
pernah berkata bahwa hari itu adalah hari baik, saat itu kita akan
bertemu lagi. Hari itu adalah hari ulang tahunku juga, aku akan
menunggumu di rumahku, kalau kau tak datang, aku akan
mengerti semuanya. Tapi........" Aku menengadah
memandangnya, matanya nampak agak basah, "Tapi kuharap
kau akan datang".
Aku tersenyum lebar ke arahnya, setelah memandangnya dengan
penuh kerinduan untuk beberapa saat, aku bangkit, "Aku pergi
dulu, jangan tidur dengan jendela terbuka lagi".
Ketika sedang hendak membuka pintu, ia bertanya, "Tunggu dulu,
tak usah menoleh, jawab satu pertanyaanku". Suaranya parau,
"Yu er, apakah kau ingin punya keluarga?"
Sambil berpegangan pada palang pintu aku berkata, "Ingin, aku
ingin sebuah keluarga yang ramai. Kalau sedang berjalan-jalan
aku iri pada suami istri yang ribut sambil mengendong anak.
Mendengar cerita masa kecilmu aku pun iri, kakek, ayah, ibu dan
saudara-saudara yang kadang-kadang ribut. Keluarga yang
bahagia! Bagaimana denganmu?"
Untuk beberapa saat di belakangku tak terdengar suara apapun,
aku heran dan hendak berpaling, namun suara tertahan Jiu Ye
pun terdengar di tengah kesunyian, seakan dengan sekuat
tenaga menekan perasaan yang tak boleh diucapkan, "Aku juga".
Perkataan itu adalah perkataan paling bagus yang kudengar
malam ini, aku pun berpaling dan tersenyum.
Tiba-tiba ia kembali bertanya, "Yu er, Huo........Huo Qubing,
apakah ia sangat baik padamu?" Untuk sesaat aku terdiam, aku
tak berani menghadapi masalah ini, tapi mau tak mau
membenarkannya, dengan pelan aku mengangguk. Setelah
beberapa lama, suaranya pun kembali terdengar, "Pulanglah!
Hati-hati di jalan".
Aku mendehem, lalu membuka pintu dan keluar. Ketika berbalik
untuk menutup pintu, dengan sekilas aku melihat sepasang bola
matanya yang hitam legam, di dalamnya kesedihan, penderitaan
dan berbagai macam perasaan lain nampak bergumul,
melihatnya, hatiku pun tiba-tiba penuh gelombang. Ia tak
menghindari pandangan mataku, seketika itu juga, pandangan
mata kami berdua saling beradu, seketika itu juga, angin bertiup
dan awan berarak, samudra bergelombang tinggi.
Dengan lemas tanganku yang sedang menutup pintu terkulai di
samping tubuhku, akan tetapi daun pintu telah bergerak dengan
sendirinya, dengan perlahan, dengan amat perlahan, sedikit demi
sedikit menutup di depan mataku, wajahnya pun perlahan-lahan
menghilang. Pandangan matanya yang untuk pertama kalinya
berani menyambut pandangan mataku juga akhirnya terpisah
dariku. Dalam sekejap, tenagaku seakan terbakar habis. Dengan lemas
aku bersandar pada tembok, setelah lama, aku baru mempunyai
tenaga untuk melangkah pergi.
"Biarkan Fang Ru menyanyikan sebuah lagu bagi kita, tapi isinya
harus mengenai dia dan Li Shifu".
"Apakah masih Fang Ru" Seharusnya ia sudah dipanggil Nyonya
Li". Semua orang berebutan berbicara tentang bagaimana cara
meramaikan kamar pengantin Fang Ru, aku tersenyum,
mendengar pembicaraan mereka namun tak mendengarnya,
dengan benak penuh pikiran aku berjalan kian kemari. Dengan
agak menyayangkan Hong Gu berkata, "Kenapa kau menyuruh LI
Shifu pindah rumah" Walaupun telah menikahi Fang Ru,
bukankah ia masih bisa tinggal di rumah ini?"
"Biarkan mereka berdua melewatkan hari-hari mereka dengan
tenang! Kau telah mengundang LI Shifu untuk menjadi pengubah
lagu, masa karena telah berhasil menikahi Fang Ru ia akan
menolak bekerja untuk kita" Hal ini tak akan mempengaruhi
usaha rumah hiburan kita". dengan asal aku berkata.
Hong Gu menatapku dengan tajam selama beberapa saat, lalu
bertanya, "Xiao Yu, hari ini kau kenapa" Kenapa aku merasa
bahwa kau tak lagi akrab dengan kami semua?"
Aku menggeleng, "Kedudukan Li Shifu sekarang sudah tak dapat
dibandingkan dengan dahulu, di pesta perjamuan nanti pasti ada
orang dari istana yang datang memberi selamat, kau harus
memperingatkan saudari-saudari kita agar tak membuat
keributan".
Hong Gu segera mengiyakan, dengan agak kelelahan aku
bangkit, "Aku sudah bicara dengan Fang Ru, aku tak akan
mengantarkannya keluar rumah, semua kuserahkan pada Hong
Gu". Dengan agak khawatir Hong Gu menatapku, namun aku
menepuk bahunya, memberi isyarat agar ia tak usah khawatir,
tanpa berkata apa-apa, ia pun keluar.
Fang Ru sedang didandani oleh beberapa wanita setengah baya,
pakaian pengantinnya yang merah menyala dan berikat pinggang
emas terhampar di atas bangku, membuat suasana meriah. Dari
balik jendela aku mendengar suara tawa berderai-derai di dalam
kamar, "Nona Fang Ru benar-benar pandai memilih hari, karena
kau memilih hari tahun baru, semua nona-nona dapat ikut
bergembira!"
Ibu jari dan telunjuk sepasang tangan wanita setengah baya itu
membuka dan menutup, ia sedang mengepang rambut Fang Ru
dengan seutas benang, Fang Ru menegakkan tubuhnya, tak
bergerak-gerak, gadis yang melayaninya tertawa dan berkata,
"Harinya dipilih oleh fangzhu".
"Baju pengantin ini bagus sekali buatannya! Apa ini hadiah
Nyonya Li" Barang-barang keluarga kerajaan memang luar biasa
mewahnya". Wanita setengah baya yang sedang merapikan baju
pengantin dan hiasan rambut memujinya.
Setelah rambut Fang Ru tertata rapi, ia memperhatikan dirinya di
cermin, lalu berpaling dan terdengar berkata, "Baju ini dibelikan
Xiao Yu, nyonya sebenarnya ingin memberiku hadiah, tapi
setelah mendengar bahwa Xiao Yu akan membelikan baju
pengantin, ia berkata bahwa dirinya tak bisa mengunggulinya".
Wanita setengah baya itu berdecak kagum.
Aku berbalik dan keluar dari halaman, lalu berjalan dengan
perlahan ke kamarku sendiri. Hari ini benar-benar hari baik, langit
cerah, awan jarang, sinar mentari hangat, rumah dihias dengan
meriah, suasana penuh kegembiraan.
Setelah masuk ke kamar, aku menutup pintu, lalu mengeluarkan
baju pengantin Loulan biru, setelah memeluknya untuk beberapa
saat, aku menghamparkannya di atas bangku.
Setelah mencuci muka, aku mengeraikan rambut, lalu
menyisirnya dengan sisir kayu hingga lembut, setelah itu, aku
mengepang rambut di kedua sisi kepalaku dan mengondenya di
belakang kepalaku. Kulitku sudah cukup putih bersih, maka aku
tak perlu memakai bedak, aku membasahi kuas dengan sedikit
warna hitam, lalu menyapukannya beberapa kali, aku tak
mengambar alis panjang yang saat itu sedang popular di
Chang"an, namun melukis alis yang bagai gunung di kejauhan.
Aku mengambil lembaran gincu, lalu membasahinya, warna gincu
pun perlahan-lahan menjadi terang, sehingga bunga yang terlukis
di atasnya seakan hidup kembali, saat warnanya paling pekat,
aku menarik bibirku, lalu menempelkan lembaran gincu itu di
kedua pipiku. Suara musik di luar jendela mendadak terdengar nyaring,
rupanya rombongan penjemput pengantin sudah datang. Aku
mendengarkannya dengan seksama dan hatiku terkesiap, penuh
kegembiraan yang meluap-luap. Mungkin ini adalah suara yang
paling ingin didengar oleh kaum wanita, lagu yang ingin
dimainkan untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai berpakaian dan memakai hiasan rambut, aku
memandang diriku sendiri di cermin dan teringat pada Lang Xiong
di padang pasir, aku tak dapat menahan diri untuk tak berputar
beberapa kali di dalam kamar, gaunku terkembang bagai bunga
yang mekar di tengah tiupan angin, suasana hatiku pun menjadi
jauh lebih gembira.
Menunggu adalah suatu hal yang paling membuat orang
menderita, hatiku tergantung di udara, tak bisa naik dan tak bisa
turun, tetes demi tetes air dari jam air menghantam hatiku.
Setelah menatapnya tanpa berkedip untuk waktu yang lama, aku
merasa bahwa air itu tak mau menetes ke bawah lagi, semakin
lama semakin perlahan. Aku menggeleng-geleng dan memaksa
pandangan mataku beralih dari jam air itu.
Aku mencari sesuatu untuk dipandang agar pikiranku lega, aku
mencari benda yang dapat kupergunakan untuk melewatkan
waktu di seluruh kamar, akhirnya tanganku mengenggam seutas
tali. Aku memejamkan mataku dan membuat simpul-simpul mati
di sepanjang tali itu, lalu membuka mataku dan berusaha untuk
mengurai simpul-simpul itu. Membuat simpul, lalu mengurainya,
aku melakukannya berkali-kali dan ruangan itu pun telah menjadi
temaram. Aku melemparkan tali itu, berjalan ke halaman, lalu memandangi
pintu halaman. Cahaya siang sedikit demi sedikit menghilang,
kegelapan akan segera tiba.
Mungkin ia tak ingin menemui orang luar, maka ia tak mau datang
saat hari masih terang, setelah hari gelap ia pasti akan datang.
Aku berdiri di depan pintu, lalu berdiri membelakanginya,
berharap dan berdoa.
Para hadirin sedang minum arak kegirangan Fang Ru, halaman
sunyi senyap. Terlalu sunyi, sampai aku dapat mendengar suara
hatiku sendiri terjatuh, aku tak merasakan sakit, hanya merasa
bahwa keadaan semakin lama semakin gelap, sebuah lubang
yang dalam nampak dengan samar-samar, sedikit demi sedikit
aku tenggelam ke dalamnya, entah kapan akan terhempas ke
dasarnya yang keras dan dingin.
Beberapa tetesan yang sedingin es jatuh ke wajahku, tak lama
kemudian, kepingan-kepingan putih yang sejernih kristal terbang
berputar-putar di sekelilingku dan terjatuh. Kepingan-kepingan
salju itu tak besar, jatuhnya pun tak keras, menari-nari dengan
lembut ditiup angin, hendak jatuh namun malu-malu, tetapi
membawa suatu kelembutan yang sulit dijelaskan. Semua
diselimuti salju putih dingin yang langsung menembus hati.
"Aiyo", pintu terdengar didorong seseorang hingga terbuka. Untuk
beberapa saat, aku tak dapat berpaling karena hatiku pedih,
ternyata kebahagiaan muncul dari kesusahan, dan oleh
karenanya dalam kegembiraan pun terkandung kesedihan.
Dengan tenang aku berdiri untuk beberapa lama, lalu tersenyum
dan berbalik. Wajahku tersenyum, namun hatiku putus asa.
Dengan tak percaya aku memejamkan mataku, namun ketika aku
kembali membuka mataku, Huo Qubing masih berada di
hadapanku. "Ketika pertama melihatmu, kau pun mengenakan pakaian ini, di
bawah sinar bulan yang keperakan, di sisi seekor serigala yang
berwana perak, gaunmu melayang-layang, rambutmu yang hitam
legam berterbangan, begitu lincah, seakan tak berasal dari dunia
yang fana ini. Sebelum tahu bahwa wanita itu adalah kau, mau
tak mau aku terus menerus menatapmu, ingin melihat darimana
kau datang, dan juga akan pergi ke mana". Huo Qubing
tersenyum tipis.
Sambil memegang kepalaku dengan sepasang tanganku, dengan
perlahan aku berjongkok. Dengan kaget Huo Qubing
memayangku. "Tak usah mengurusiku, tak usah mengurusiku".",
dengan tak sadar aku berulang-ulang berkata pada diriku sendiri.
Ia pun menarik tangannya kembali.
Tanpa memperdulikan debu dan salju di atas tanah, tanpa
berkata apa-apa, ia mengelar mantel bersulamnya di tanah dan
duduk di sisiku, seakan hendak menemaniku dengan diam, tak
perduli seberapa lamanya aku akan berjongkok.
Bunga salju perlahan-lahan menumpuk di tubuh kami berdua, ia
bimbang sesaat, lalu membersihkan salju yang jatuh di kepala
dan tubuhku, namun aku tak bergeming, bagai sebuah patung es.
Tiba-tiba ia bangkit dan masuk ke dalam rumah, tak lama
kemudian ia keluar sambil membawa sebuah payung bambu,
duduk di sisiku, lalu membuka payung itu. Bunga-bunga salju
menari-nari dengan ringan tanpa suara, dengan hambar ia
memandangi langit yang putih polos.
Xiao Qian dan Xiao Tao terbang dengan susul menyusul ke
halaman, Xiao Qian mendarat di hadapanku, namun Xiao Tao
langsung menyambar ke kepalaku, lengan baju Huo Qubing
mengayun dan memperlambat kecepatan terbang Xiao Tao.
Ketika Xiao Tao sadar ia tak dapat menganiayaku, ia cepat-cepat
berputar di udara, lalu mendarat di sisi Xiao Qian.
Huo Qubing menangkap Xiao Tao, namun Xiao Tao cepat-cepat
menghindar, dengan gusar Xiao Qian hendak mematuk Huo
Qubing, namun dengan enteng Huo Qubing menghindar dan
mengetuk kepala Xiao Qian, "Aku cuma ingin mengambil surat di
kaki Xiao Tao, bukan hendak menganiayanya". Aku segera
menengadah memandang Xiao Tao, benar saja, di kakinya terikat
sehelai kain. Untuk beberapa lama aku bimbang, lalu membuka gulungan kain
itu. Maafkan aku. Huruf-huruf berantakan yang ditulis dengan
kacau itu tertera di atas gulungan kain itu.
Maafkan aku" Maafkan aku! Yang kuinginkan bukan permintaan
maafmu. Hatiku pedih tak terperi, aku mengigit bibirku keraskeras dan sesuatu yang manis sekaligus amis perlahan-lahan
memenuhi mulutku. Aku ingin mencabik-cabik kain itu, namun
tanganku terus gemetar, kain itu kecil, aku dapat dengan mudah
mencabik-cabiknya.
Aku melompat bangkit dan berlari ke dalam rumah, sebuah
tanganku memegang kain itu, sedangkan yang sebelah lagi
melemparkan barang-barang yang ada di kamar, Huo Qubing
berdiri di ambang pintu tanpa berkata apa-apa, dengan wajah
tenang ia melihatku memporak-porandakan kamarku seperti
orang gila. Gunting, di mana gunting itu" Setelah mencari-cari di setengah
kamar, aku masih belum dapat menemukannya, pandangan
mataku jatuh di sebilah pisau kecil yang biasanya kugunakan
untuk mengupas buah, aku pun segera menyambarnya.Huo
Qubing tiba-tiba berseru, "Yu er!" Dengan enteng ia mendarat di
depanku, hendak merampas pisau dalam genggamanku, tapi
setelah melihatku hanya merobek-robek kain itu dengan penuh


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

emosi, tanpa berkata apa-apa ia mundur beberapa langkah dan
hanya melihatku mencabik-cabik kain itu.
Dengan enteng aku mencampakkan pisau itu, lalu merobek cadar
dan ikat kepala mutiara yang menutupi kepalaku dengan kedua
tanganku, seketika itu juga, butir-butir mutiara jatuh berserakan,
jatuh dengan suara berdenting-denting di lantai, serpihanserpihan cadar itu pun berubah menjadi kupu-kupu biru yang
menari-nari di tengah tiupan angin.
Aku memandangi serpihan-serpihan berwarna biru itu, tiba-tiba
kemarahan dalam hatiku menghilang, dengan lemas aku berlutut
di lantai, dengan mata terbelalak aku memandang ke depan,
namun tak melihat apapun.
Huo Qubing menyingsingkan jubahnya dan duduk di ambang
pintu, sepasang tangannya memeluk lututnya, dagunya
bertopang di atas lututnya, matanya memandang ke lantai. Diam
seperti seekor serigala yang terluka, dengan tenang berbaring di
sebuah sudut sambil menjilati lukanya sendiri.
Aku tak tahu sudah berapa lama aku berlutut, dengan sayupsayup terdengar suara orang mengobrol dan tertawa, rombongan
tamu yang pergi menggoda pengantin sudah kembali. Mendadak
aku tersadar, sambil tersenyum, aku berkata dengan riang, "Tadi
aku hanya makan sedikit, sekarang aku lapar, aku ingin makan mi
ulang tahun. Hari ini hari ulang tahunku, aku harus berbahagia.
Aku ingin ganti pakaian, kau?""
Ia berbalik dan memunggunggiku, aku melepaskan pakaian
Loulan itu, lalu sengaja mengenakan pakaian berwarna merah
menyala. Aku tak sedih, aku tak mau bersedih, aku tak akan
bersedih karena seseorang yang tak menyukaiku! Dengan hatihati aku mengenggam pakaian biru itu, aku mengumam pada
diriku sendiri, namun hatiku seakan ditusuk pisau.
Peristiwa demi peristiwa saat pertama bertemu di Yueya Quan
muncul di depan mataku, namun ia seakan sudah terpisah begitu
jauh denganku, aku tertawa, terus tertawa, tertawa sampai
sekujur tubuhku gemetar, aku mengerahkan tenaga ke tanganku
dan, "Sret!", gaunku pun robek menjadi dua bagian. Ketika
mendengar suara itu Huo Qubing berpaling memandangku, lalu
menghela napas dengan pelan, "Untuk apa?".apakah ini
hadiah darinya?"
Aku mencampakkan gaun itu, lalu langsung keluar. Sambil
membawa payung, Huo Qubing berjalan di sisiku tanpa berkata
apa-apa. Hatiku lebih dingin dari salju, aku mana takut dengan
dinginnya hari ini" Aku berjalan dengan cepat, "Aku ingin
berjalan-jalan di salju". Tanpa berkata apa-apa, ia
mencampakkan payung itu dengan asal, namun masih
menemaniku berjalan tanpa memperdulikan salju yang turun.
Aku tak ingin bertemu orang dan sengaja memilih berjalan di
kegelapan, tiba-tiba ia bertanya, "Apa kau bisa masak mi?"
Aku tertegun sesaat, lalu menjawab, "Tak bisa". Ia berkata, "Api di
dapurku masih menyala, dan masih ada orang yang
menungguinya, walaupun tak bisa membuat makanan utama,
namun masih bisa membuat semangkuk mi".
Hong Gu sangat hemat dalam menggunakan uang untuk membeli
sandang dan pangan, setelah selesai makan malam, api di dapur
harus dimatikan. Di tengah malam saat ini, entah dimana aku
dapat menemukan sebuah dapur yang buka. Aku mengangguk,
lalu mengikutinya, tanpa berkata apa-apa, kami berdua pun
melangkah keluar halaman di tengah kegelapan.
Aku menunduk memandangi mi di dalam mangkuk, aku baru
makan sesuap, namun sudah dengan bandel berusaha
mengobrol dan tertawa dengan Huo Qubing, tapi aku tak bisa
menahan air mataku meleleh dan terjatuh di kuah mi, satu demi
satu, riak-riak mungil pun muncul di permukaannya. Aku cepatcepat mengangkat mangkuk, setengah menyembunyikan
wajahku dan berusaha keras makan mi dengan lahap.
Huo Qubing berpura-pura tak melihatnya dan berbicara tentang
hal-hal yang tak ada hubungannya. Sambil menahan sedu sedan,
aku bertanya, "Ada arak?" Ia bangkit dan kembali dengan
membawa dua poci arak. Selain itu ia juga membawa sehelai
handuk, matanya sama sekali tak memandangku, melainkan
memandang kegelapan malam di balik jendela, langit penuh
bunga salju, aku mengangkat poci arak itu dan menenggak isinya
seteguk demi seteguk.
Setelah setengah sadar, hidungku mencium bau harum lembut
yang samar-samar, saat telah benar-benar siuman, aku baru
menyadari bahwa bau harum itu berasal dari dua buah bola perak
bersepuh emas berisi rempah-rempah yang tergantung di puncak
kelambu. Kelambu itu dihiasi sulaman lembayung ungu dan
kelelawar, bantal kumala yang kupakai berwarna biru tua dan
zamrud, suasananya mewah, tak seperti kediaman orang biasa,
seketika itu juga aku sadar bahwa aku telah siuman di Wisma
Huo. Ketika sedang memandangi bola-bola perak di atas kepalaku itu
sambil tertegun, sekonyong-konyong aku sangat rindu pada Lang
Xiong, aku merasa bahwa hanya kalau saat ini aku dapat
memeluk lehernya, beribu rasa sakit dan lelah dalam hatiku
barulah dapat sedikit berkurang.
Seorang gadis pelayan bertanya dengan suara pelan dari luar,
"Nona sudah bangun?" Aku membuka mataku lebar-lebar, namun
tak menghiraukannya.
Beberapa lama kemudian, Huo Qubing terdengar bertanya di
luar, "Belum bangun juga?"
"Hamba sudah memanggilnya beberapa kali, tapi di dalam tak
terdengar apa-apa".
Huo Qubing memberi perintah, "Masa pesilat begitu manja"
Siapkan perangkat untuk cuci muka!" Setelah selesai berbicara,
ia mendorong pintu hingga terbuka dan masuk, "Jangan
bermalas-malasan di ranjang, sekarang sudah lewat tengah hari,
kalau kau masih terus tidur, nanti malam kau tak akan bisa tidur
lagi". Aku tetap berbaring tak bergerak, ia duduk di sisi ranjang dan
bertanya,"Kepalamu sakit, ya?" Aku memegang kepalaku, lalu
dengan agak heran berkata, "Tidak sakit, kemarin aku minum
arak dan kepalaku agak sakit, tapi hari ini anehnya tidak, kemarin
aku minum arak apa?"
"Mana ada arak khusus" Itu karena obat dalam bola-bola di atas
kepalamu itu, kemarin malam aku sengaja minta tabib
meramunya".
Para gadis pelayan yang membawa baskom, handuk dan kotak
rias berbaris masuk, namun aku tak membuka mataku dan
menahan napasku, menunggu dengan diam. Sepertinya aku
harus bangun, hari akan terus berlanjut, tak perduli apakah kau
mengkehendakinya atau tidak, aku ingin bersembunyi tapi tak
ada tempat untuk bersembunyi, maka aku menghela napas, "Aku
akan bangun, kau bukannya harus pergi dahulu?"
Huo Qubing bangkit dan tertawa, "Dasar pemalas, bergeraklah
dengan cepat sedikit, perutku sudah lapar, kalau terlambat aku
cuma bisa memberimu sisa lauk pauk".
--------------------Aku menjulurkan sebuah jari dan bermain dengan Liu Bo yang
berada dalam pelukan ibu susunya, tangan bocah kecil yang
halus itu baru dapat mengenggam jari tanganku, sambil bergerak,
ia tertawa-tawa, wajahnya yang mungil sehalus buah pir.
Melihatnya hatiku gembira, aku mendekatinya dan bertanya
sambil tersenyum, "Kenapa kau tertawa" Beritahu bibi". Melihat
wajah sang ibu susu yang terkejut, aku baru sadar bahwa aku
telah salah bicara. Walaupun bocah kecil ini belum dapat
berbicara, karena kedudukannya yang tinggi ia tak boleh
memanggilku bibi. Dengan agak jengah aku menarik kembali
tanganku, lalu duduk dengan tegak. Li Yan melirikku, lalu
menyuruh sang ibu susu mengendongnya pergi.
"Kalau punya seorang bibi yang cakap sepertimu, Bo er benarbenar beruntung, biarkan Bo er memanggilmu bibi!"
Aku menegakkan tubuhku dan berkata, "Ia seorang pangeran,
aku benar-benar tak berani dipanggil bibi olehnya". Li Yan
tersenyum dan tak lagi berkata apa-apa.
Setelah memperhatikanku dari atas ke bawah selama beberapa
saat, Li Yan bertanya, "Kau ini kenapa" Kenapa dahimu berkerut
penuh kekhawatiran begini?"
Aku menggeleng dan berkata, "Apa tubuhmu sudah pulih?"
"Begitu banyak orang merawatku, aku sudah sembuh seperti
sediakala. Ada apa diantara kau dan kepala Perusahaan Shi?", Li
Yan mencari tahu.
Aku mengalihkan pokok pembicaraan dan berkata kepadanya
sambil tersenyum, "Selamat".
"Memberiku selamat" Memangnya ada apa?"
"Adik lelaki Jenderal Li Guang, paman Li Gan, Adipati Le"an Li
Caisheng diangkat menjadi perdana menteri. ia akan memimpin
ratusan pejabat, memegang stempel emas dan membantu Putra
Langit mengurus negara".
Wajah Li Yan tak berubah, dengan enteng ia berkata,
"Bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih padamu".
Aku tersenyum, "Aku tak berani memuji diri sendiri, niangniang
mengundangku masuk istana untuk menjenguk pangeran kecil,
karena aku sudah bertemu dengannya, aku akan meninggalkan
istana". Aku menghormat pada Li Yan untuk mohon diri.
Namun Li Yan tak memperbolehkanku mohon diri, tanpa berkata
apa-apa, ia menatapku dengan tajam, lalu berkata dengan
perlahan, "Jin Yu, bantu aku".
Aku menggeleng, "Sejak memasukkanmu ke istana, aku sudah
berkata bahwa setelah kau masuk istana, aku tak dapat berbuat
apa-apa lagi".
"Kau bohong, semua yang kau lakukan selalau penuh siasat,
hanya saja sampai sekarang aku belum bisa menebak
maksudmu".
Aku diam seribu bahasa, siasat asliku telah gagal, sekarang aku
sama sekali tak punya siasat apapun.
Setelah menunggu beberapa lama, Li Yan mendadak menghela
napas, "Jin Yu, nampaknya sifatmu tidak kaku, tapi sebenarnya
kau sangat keras kepala. Aku tak bisa memaksamu, tapi
kumohon agar kau tak melawanku". Aku memaksa diriku
tersenyum, "Semua orang berkata bahwa Wei Qing mempunyai
seorang kakak yang baik, namun menurutku Permaisuri Weilah
sebenarnya yang beruntung, setelah Langit memberinya seorang
adik yang begitu setia seperti Jenderal Wei, ia masih memberinya
seorang keponakan yang gagah bagai elang. Tapi aku hanya
dapat mengandalkan diriku sendiri, aku benar-benar berharap
kau menjadi saudariku yang sesungguhnya, asalkan punya
saudari sepertimu, aku tak akan kesusahan".
Aku menatapnya dengan tajam , lalu dengan bersungguhsungguh berkata, "Kau jangan khawatir, aku tak akan
mencampuri urusanmu dan sama sekali tak akan menghambat
jalanmu". Li Yan mengangguk, lalu dengan agak lelah berkata, "Kau harus
selamanya mengingat perkataaanmu ini, pergilah!"
Setelah bangkit, aku berdiri tanpa berkata apa-apa, aku khawatir
tak akan dapat bertemu dengannya lagi. "Li Yan, jaga dirimu baikbaik, kalau ada waktu bacalah buku-buku ilmu pengobatan,
pelajarilah cara merawat diri. Kabarnya ilmu pernapasan kaum
Taois sangat bermanfaat untuk memperpanjang umur, sepertinya
kaisar mahir ilmu ini, tak ada jeleknya kalau kau ikut
mempelajarinya, semakin sebatang kara, kau makin harus
merawat dirimu sendiri".
Sinar mata LI Yan nampak hangat, "Aku akan mengingat
nasehatmu, aku pun punya seorang anak yang harus diurus, aku
pasti akan menjaga diriku baik-baik".
Aku tersenyum dan menghormat padanya, "Aku pergi dulu". Li
Yan pun mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama setelah meninggalkan istana kediaman Li Yan, aku
melihat Huo Qubing berjalan ke arahku. Aku menghormat
padanya. Ketika melihat dari arah mana aku datang, ia bertanya,
"Apakah kau datang menjenguk Nyonya Li?" Aku mengangguk,
melihat dari arah mana ia datang, aku pun bertanya, "Apakah kau
pergi menjenguk permaisuri?" Huo Qubing mengangguk.
Aku berjalan beberapa langkah di belakang Huo Qubing, ia pun
berkata, "Di istana, bahkan caramu berjalan pun begitu hati-hati?"
"Kedudukan kita tak sama, kalau kita sampai terlihat berjalan
berendeng pundak di istana, orang akan bicara yang tidak-tidak".
Kulihat bahwa ekspresi wajahnya nampak agak kesal, maka aku
cepat-cepat menjelaskan, "Tentu saja kau tak takut, sekarang tak
ada orang yang berani menentangmu, saat mereka senang
mereka akan membiarkannya, tapi saat mereka frustrasi, semua
hal akan diungkit-ungkit untuk menjatuhkanmu. Sekarang berhatihatilah sedikit, menyisakan sedikit jalan mundur untuk dirimu
sendiri tak pernah salah".
Huo Qubing mendengus dengan dingin, "Aku sebal melihat
sikapmu yang terlalu berhati-hati ini! Setelah ini, kau jangan
sering-sering ke istana".
Aku tersenyum dan bertanya, "Apakah akhir-akhir ini kau sangat
sibuk" Setelah tahun baru, aku sudah dua bulan tak pernah
melihatmu".
Ia nampak gembira, dengan bersemangat ia berkata, "Kali ini aku
akan bertaruh besar-besaran, tentu saja harus berlatih dengan
baik. Oh ya, sebenarnya apakah kau akan pulang ke Xiyu atau
tidak?" Aku bimbang sesaat, "Aku tak tahu".
"Kau tak tahu" Dia seperti itu, tapi kau
masih?"kau?".kau?"". Seketika itu juga Huo Qubing
menghentikan langkahnya, dengan wajah penuh amarah ia
menunjukku. Dengan wajah muram aku menatapnya tanpa berkata apa-apa,
sekonyong-konyong ia menggeleng, lalu berjalan pergi dengan
langkah-langkah lebar, seakan hendak mencampakkan semua
yang membuatnya tak senang di belakang dirinya, "Kulihat bahwa
kau ini menyedihkan, minta disiksa! Tapi celakanya aku malahan
lebih menyedihkan lagi dibandingkan dengan dirimu, memohonmohon minta disiksa!"
-------------------Ketika tukang kebun mengaduk-aduk tanah, ia mengelenggelengkan kepalanya seraya berkata padaku, "Sampai sekarang
belum bertunas juga, sepertinya sudah mati. Aku akan menanam
beberapa tunas baru untuk anda!"
"Tak usah".
Sang tukang kebun bangkit dan berkata, "Tapi pot bunga ini
gundul, tak enak dilihat, bagaimana kalau kutanami beberapa
tangkai bunga peoni?"
"Tak usah repot-repot, biarkan gundul saja!"
Aku berdiri di depan pot bunga sambil tertegun, entah kapan sang
tukang kebun pergi, aku tak merasakannya.
Saat bayang-bayang condong ke barat, Hong Gu berseru
memanggilku dari pintu taman, "Xiao Yu, ada tamu terhormat
yang datang untuk bertemu denganmu". Aku berpaling untuk
melihatnya, ternyata ia adalah pengurus rumah tangga Huo
Qubing, Paman Chen.
Aku melangkah ke depan dengan cepat, ia menghormat padaku
sambil tersenyum, namun aku menghindar, "Paman Chen, aku
tak bisa menerima penghormatanmu". Ia tersenyum dan berkata,
"Kenapa tak bisa menerima penghormatanku" Kalau bukan
karenamu, aku tak akan berdiri di sini dan menghormat padamu".
"Ada apa" Kenapa anda harus repot-repot kemari sendiri?"
Paman Chen melihat ke arah Hong Gu yang masih berdiri di
mulut pintu taman, Hong Gu segera menghormat pada Paman
Chen dan cepat-cepat pergi.


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Sejak permulaan musim semi tuan muda setiap hari sibuk, jarang
pulang ke rumah, ia tak bisa pulang, maka ia menyuruh aku
menyampaikan pesan padamu, besok di saat fajar ia akan
berangkat ke Longxi".
Aku menghormat untuk berterima kasih pada Paman Chen,
"Merepotkan anda saja". Paman Chen memandangku sambil
tersenyum dengan amat ramah, dipandangi seperti itu olehnya,
sekujur tubuhku terasa tak enak, akhirnya ia minta diri dan pergi.
Saat makan malam, Hong Gu tak bisa menahan diri lagi dan
berkata, "Pengurus rumah tangga Huo ini bukan orang biasa ,
kabarnya ia pandai berperang dan juga pandai ilmu sastra,
walaupun ia tak punya jabatan resmi, tapi semua orang di istana
sangat menghormatinya. Kulihat walaupun watak Tuan Muda Huo
agak buruk, namun perlakuannya padamu sama sekali tak
buruk?"."
"Hong Gu, makanlah!"
Dengan sumpit, Hong Gu menusuk sekerat daging, lalu
menggerutu pada dirinya sendiri, "Tak mau mendengar kata
orang tua, menyesal kemudian, umurmu juga sedikit demi sedikit
semakin tua, apakah kau ingin meniru Hong Gu si perawan tua
ini?" Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamarku, lalu
duduk tertegun dengan diam seribu bahasa, sepertinya aku
memikirkan begitu banyak pikiran, namun tak bisa memikirkan
apapun. Setelah duduk seorang diri di kamar yang gelap gulita, dengan
meraba-raba aku menyalakan pelita, mencari tungku yang seharihari kugunakan untuk membuat teh, lalu menaruhnya di atas api.
Dari dalam lemari aku mengeluarkan sebuah kotak bambu, ketika
melihat bahwa kotak itu penuh lembar demi lembar kain yang
disusun berdasarkan tanggal, tiba-tiba aku tertawa.
'Kebahagiaan adalah bunga yang mekar dari kehampaan hati,
indah mempesona, membuat orang betah di sisinya karena
keharumannya. Ingatan manusia dapat menipu, aku takut suatu
hari aku tak bisa mengingat dengan jelas kebahagiaan hari ini
lagi, maka aku menulis semua peristiwa yang terjadi setelah itu,
suatu saat ketika aku sudah tua, aku akan duduk di atas ranjang
dan membaca kain-kain ini, membaca tentang kebahagiaan, dan
terkadang kesedihan diriku sendiri, tak perduli apakah susah atau
senang, semuanya adalah jejak kehidupanku sendiri, tapi aku
akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih kebahagiaan?".'
Aku mendengar kau berkata, "Api lentera menyala, kebahagiaan
datang", aku sangat ingin tahu, apakah kedatanganku membawa
kebahagiaan bagimu" Aku sangat mengharapkannya, tapi
sekarang aku tak percaya diri untuk menebak isi hatimu, mungkin
aku kembali salah menebak, dan membohongi diriku dengan
kebahagiaan yang hampa. Tapi pada suatu hari aku akan
menunjukkan semua ini padamu, kau harus memberitahuku,
kemarin malam, apakah kau menyalakan lentera untuk
menungguku"
Ketika aku baru saja melemparkan kain itu ke api, tiba-tiba hatiku
terkesiap, aku pun cepat-cepat menariknya keluar, lalu
mengibaskannya hingga bunga-bunga api menghilang. Untung
saja, hanya sudutnya yang terbakar, sapu tangan itu menjadi
agak hitam, namun isinya sedikit banyak masih dapat dibaca.
Setelah membakar bagian-bagian yang berkaitan dengan
identitas Li Yan, aku memandangi kain-kain yang tersisa sambil
tertegun. Setelah lama aku baru mengambil keputusan. Saat itu
aku mendambakan agar suatu hari aku dapat membaca curahan
hati seorang gadis ini bersamanya di bawah sinar lentera,
sekarang, walaupun tak bisa melihat kembali adegan tertawa
bersama di bawah sinar lentera itu, karena aku telah menulis
tulisan-tulisan ini untuknya, lebih baik aku memberikannya
kepadanya, dan mengakhiri kisah cinta ini.
Aku mengambil anting-anting jasper bersepuh emas itu, setelah
memandanginya dengan seksama untuk beberapa lama, aku
membungkusnya dengan sapu tangan dan menaruhnya di dalam
kotak bambu. Pasir kuning tak berbatas, adegan saat pertemuan
pertama di Yueya Quan, saat tanganku mengusung pakaian
Loulan, bagaimanapun juga tak terpikir olehku bahwa suatu hari
aku akan merobeknya dengan tanganku sendiri.
Aku mengambil seruling bambu Xiangfei, setelah membawanya
ke bibirku dan meniupnya untuk beberapa saat, aku melihat ke
seluruh ruangan, aku telah membereskan semua barangbarangmu hingga habis. Kalau saja hatiku dapat disapu bersih
seperti kamar ini, semudah membuang barang-barang, mungkin
rindu dendam dalam hatiku akan dapat banyak berkurang.
Aku berjalan mondar-mandir di depan Wisma Shi untuk beberapa
lama, sudah lewat tengah malam, aku tak ingin menganggu
Paman Shi, maka aku masuk dengan melompati tembok.
Sebelum mendarat, sudah ada orang yang menyerangku, aku
cepat-cepat berkata, "Caixia Jin Yu dari Luoyu Fang, hendak
menemui Jiu Ye". Orang yang menyerangku berbalik dan
menghilang di tengah kegelapan, hanya meninggalkan suara
tawa yang sayup-sayup.
Di matanya aku datang untuk datang berkencan di tengah malam,
namun ia tak tahu bahwa orang itu sudah lama patah hati.
Pondok Bambu gelap gulita, dengan pelan aku menaruh kotak
bambu di depan pintu. Setelah berdiri dengan diam untuk
beberapa saat, aku meniup seruling bambu.
'Cinta seharusnya bagai salju putih di puncak gunung, semurni
rembulan di tengah awan. Kudengar hati tuan mendua, maka aku
datang untuk memutuskan hubungan.
Perjamuan hari ini akan menjadi yang terakhir, esok kita akan
berpisah, dengan langkah-langkah kecil aku berjalan di tepi air,
air mengalir ke timur dan ke barat.
Aku menikah tanpa tangis. Mengharapkan seorang lelaki yang
setia, tak berpisah sampai rambut memutih'.
...... Di dalam ruangan lentera menyala, pintu perlahan-lahan didorong
hingga terbuka, sambil bertumpu pada tongkat, Jiu Ye berdiri di
ambang pintu. Di tengah kegelapan malam, wajahnya pucat pasi
penuh rasa terkejut.
?""..
'Perjamuan hari ini akan menjadi yang terakhir, esok kita akan
berpisah, dengan langkah-langkah kecil aku berjalan di tepi air,
air mengalir ke timur dan ke barat.
Aku menikah tanpa tangis. Mengharapkan seorang lelaki yang
setia, tak berpisah sampai rambut memutih'.
?""..
Tak perduli kau dan aku telah minum arak sambil mengobrol dan
tertawa, bergembira bersama dalam lagu, sejak saat ini, kau dan
aku berpisah ke barat dan ke timur, mengalir sendiri-sendiri.
Setelah bermain tiga kali, api kemarahan yang berkobar dalam
hatiku sedikit mereda, "Kau pernah berkata bahwa aku tak cocok
dengan Lagu Bai Tou Yin, oleh karenanya aku sulit mengikuti
irama lagu itu, hari ini aku paham maksud lagu itu, seharusnya
aku dapat memainkannya dengan amat baik, tapi aku lebih suka
selamanya tak bisa memainkan lagu ini dengan baik, dan
selamanya tak memahami maksudnya".
Ketika berbicara samapai di situ, walaupun telah berusaha sekuat
tenaga menahan diri, suaraku masih agak gemetar. Aku
mengerahkan tenaga ke sepasang tanganku, dengan suara
keras, seruling bambu dalam genggamanku pun patah. Sebelum
patahan seruling itu jatuh ke tanah, aku telah melayang ke atas
tembok, aku masih berhenti sejenak, namun di belakangku
suasana sunyi senyap, aku menggeleng, lalu tanpa ragu lagi
melompat keluar.
--------------------'Hong Gu:
Aku sudah pergi. Ketika aku melihat surat ini kau pasti sangat
marah, jangan marah, lihatlah, dahimu berkerut begitu dalam,
begitu banyak kerut-kerutnya, katamu wanita tak boleh gampang
marah, cepat hilangkan keruan di dahimu.
Semua rumah hiburan dan rumah bordil di Chang"an, dan rumahrumah pegadaian yang diam-diam kita buka, semua kuberikan
padamu. Ada dua hal yang harus selalu kau ingat: Pertama, kau
harus mengurus baik-baik para wanita di rumah hiburan dan
rumah bordil, kau harus memperlakukan mereka menurut aturan
yang berlaku, tapi kau harus bersikap agak longar pada wanitawanita di rumah bordil dan memperlakukan mereka dengan baik.
Kau bokeh tak tahu apa-apa, tapi kau harus mempelajari hal ini,
hal pertama yang harus kau lakukan adalah menjaga mulutmu.
Kedua, paling baik tutuplah rumah bordil dan pengadaian itu, atau
paling tidak tak usah mengembangkannya. Tetap jujur walaupun
miskin adalah resep umur panjang. Setelah membaca surat ini,
bakarlah. Aku telah menulis surat lain tentang masalah usaha.
Aku tahu bahwa perbuatanku ini keras kepala. Sejak masuk ke
Chang'an, aku selalu berusaha sekuat tenaga menjadi orang
Chang'an, selalu menjaga sikap dan perkataanku. Tiba-tiba aku
merasa lelah, dan sangat merindukan kehidupan yang kasar di
Xiyu. Aku sudah pergi, mungkin suatu hari aku akan kembali, tapi
lebih mungkin tak akan kembali. Oleh karenanya, Hong Gu,
jangan mengkhawatirkanku. Hal terakhir yang kumohon darimu
adalah untuk setelah sepuluh sampai lima belas hari berlalu,
mengantarkan sebuah gulungan ke pengurus rumah tangga
Wisma Huo. Yu er'. 'Xiao Huo: Aku sudah pulang ke Xiyu. Tapi maaf, tak bersamamu. Saat kau
membaca surat ini, tentunya beberapa bulan sudah berlalu. Saat
kau kembali dengan membawa kemenangan ke istana, mungkin
aku sedang mengejar kawanan domba dengan Lang Xiong, tapi
mungkin juga aku tak melakukan apapun dan hanya memandangi
mentari tenggelam di barat. Kau pernah bertanya padaku, apakah
sulur yang saling membelit tanpa henti mirip hidup manusia" Aku
sedang berpikir, hidup manusia mungkin memang seperti bunga
Jinyin, namun tak saling membelit tanpa henti, mereka berjumpa
dan berpisah, pertemuan dan perpisahan yang ditakdirkan, sulur
ini melambangkan suka duka kehidupan manusia. Kali ini aku
memilih untuk pergi. Mungkin setelah ini kita tak akan pernah
bertemu lagi, aku hanya ingin kau selalu baik-baik saja.
Yu er'. EPILOG Di tengah kegelapan malam, ia mengenakan pakaian merah,
bagai api yang berkobar-kobar.
Meng Jiu tahu suasana hatinya buruk, karena biasanya ia tak
suka mengenakan warna-warna menyala, tapi saat suasana
hatinya buruk, ia selalu berkeras memilih warna-warna yang
mencolok mata, seakan untuk memberitahu orang lain dengan
warna itu bahwa aku baik-baik saja, aku selalu baik-baik saja,
menyembunyikan rasa sedih dan tak berdayanya dalam warnawarna yang menyala.
Di matanya pun terdapat dua kobaran api kecil yang menyalanyala, Pondok Bambu yang sepi dan dingin pun menjadi hangat
karenanya, Meng Jiu sangat mendambakan kehangatan itu di
sisinya, namun ia tak dapat melakukannya.
Perempuan seperti ini, yang datang dan pergi bagai angin,
cemerlang bagai api, hidupnya gemilang bagai lembayung fajar,
Meng Jiu ingin agar ia selamanya hidup dengan cemerlang, dan
mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, sama sekali tak
hidup dalam bayang-bayang.
Meng Jiu bertanya padanya, "Apa kau ingin punya keluarga?",
dan ia pun menjawab, "Ingin, ingin punya keluarga yang ramai",
Meng Jiu pun menginginkannya, namun ia tak kuasa
memberikannya padanya.
Api yang panas membara nampak dalam matanya, entah karena
cinta atau benci, ketika ia mematahkan seruling bambu itu, hati
Meng Jiu pun hancur berkeping-keping, ketika ia melihat Meng
Jiu diam seribu bahasa, api di matanya pun padam.
Apakah ia begitu membenci dirinya hingga tak mau berkata apaapa"
Akan tetapi, seandainya ia tahu, begitu membuka mulut, dirinya
akan dengan egois menahannya di sisinya, tanpa memperdulikan
akibat yang akan terjadi, menahannya di sisinya.
Sosok merah itu perlahan-lahan menghilang di atas tembok,
dengan sekuat tenaga ia menahan diri agar tak membuka mulut.
Hatinya amat berduka, rasa manis bercampur amis menyeruak di
tenggorokannya, ia menunduk dan terbatuk, tetesan darah merah
tua pun menyembur keluar.
Terjatuh di atas pakaiannya yang putih, bagai bunga prem di atas
salju putih, terjatuh di atas kotak bambu di samping pintu, bagai
sekuntum bunga merah di atas bambu hijau.
Dirinya yang memang sudah sakit parah, saat ini kembali
merasakan nyeri yang menusuk hati, dirinya yang memang sudah
sulit berdiri tegak pun mencampakkan tongkatnya, lalu duduk di
ambang pintu. Ia mengangkat kotak bambu, dengan seksama mengelap bercakbercak darah segar di atasnya dengan lengan bajunya, namun
sama sekali tak memperdulikan bercak-bercak darah di bibirnya
sendiri. Helai demi helai kain sutra, hari demi hari yang penuh cinta.
Ia jauh lebih memahami semuanya dibandingkan dengan dirinya,
lebih banyak berpikir dan berbuat, dan lebih jauh melangkah.
Ia membaca huruf demi huruf, hatinya bagai terbakar, namun
tubuhnya bagai berada dalam rumah es. Apakah dirinya benarbenar pernah memiliki kebahagiaan seperti ini"
Fajar telah mulai menyingsing, hari baru akan dimulai, namun ia
sama sekali tak menyadarinya, hatinya masih tenggelam dalam
kebahagiaan yang gelap dan penuh keputusasaan.
'Wajahku terasa agak panas, aku menikah saja belum, tapi sudah
memikirkan masalah anak. Aku bertanya pada diriku sendiri,
bagaimana kalau seumur hidup ini aku tak bisa punya anak"
Setelah berpikir untuk beberapa lama, aku tak dapat
menjawabnya, namun saat melihat Yuanyang Teng yang hanya
menyisakan warna hijau, kupikir aku paham bahwa hidup ini
sering merupakan suatu proses, tak setiap kuntum bunga dapat
mekar dengan semarak, namun asalkan dapat hidup, mekar,
menyambut sinar mentari, mengantar lembayung senja, serta
bermain bersama angin dan hujan, hidup mereka sudah penuh,
kurasa mereka tak punya penyesalan?".'
Tubuhnya sekonyong-konyong gemetar, ia langsung terbatukbatuk. Namun kegelapan dan rasa putus asa sirna dari wajahnya,
di matanya muncul sinar gemilang yang jarang terlihat.
Tubuhnya yang selalu sakit-sakitan mendadak penuh tenaga, ia
menarik tongkatnya dan bangkit, lalu cepat-cepat melangkah
maju sambil berseru, "Cepat siapkan kereta".
Mentari merah baru muncul separuh di ufuk timur, lembayung
merah jambu memenuhi separuh angkasa, gemilang menyilaukan
mata, bagai wajah tersenyumnya. Meng Jiu memandangi
lembayung fajar dengan sukacita bercampur duka. Yu er, Yu er,
aku benar-benar telah menyepelekanmu, melukaimu dengan
amat dalam, namun aku akan menggunakan seumur hidupku
untuk menebusnya, sejak saat ini aku pasti sama sekali tak akan
membuatmu sedih sedikitpun.
Sebelum kereta kuda tiba di Luoyu Fang, suara keributan sudah
terdengar. Hong Gu berdiri di depan pintu halaman sambil memarahi para
penjaga pintu, "Kalian semua kepala babi! Apa kalian semua
sudah mati" Sehingga tak bisa melihat apapun?"
Tianchao melompat turun dari kereta, lalu menyingkap tirai


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kereta. Begitu melihat Tianchao, Hong Gu segera menutup mulutnya, lalu
melangkah maju dan memberi hormat pada Tianchao.
Sambil tersenyum, Tianchao menariknya hingga bangkit, "Beliau
majikan kami, kepala Perusahaan Shi, beliau hendak bertemu Yu
Fangzhu". Pemuda yang seputih rembulan dan seanggun pohon kumala ini
ternyata adalah kepala Perusahaan Shi yang namanya
menguncangkan Chang"an"
Hong Gu menatap Meng Jiu yang berada dalam kereta dengan
tertegun, ia begitu terkejut sehingga lupa memberi hormat. Huo
Qubing yang diberkati Langit bagai mentari yang bersinar terik
atau pohon cemara, pada mulanya ia merasa bahwa Huo Qubing
sangat pantas berjodoh dengan Yu er, namun tak terpikir oleh
Hong Gu bahwa di dunia ini ada seorang tokoh seperti Meng Jiu,
rembulan putih bersih dibandingkan dengan mentari yang
bersinar terik, pohon kumala dibandingkan dengan pohon
cemara, benar-benar sulit dikatakan siapa yang lebih unggul.
Namun Meng Jiu yang selalu bersikap lemah lembut kali ini agak
tak sabaran, tanpa menunggu Tianchao menyadarkan Hong Gu,
ia langsung bertanya, "Aku ingin masuk untuk menemui Yu er
dahulu". Air mata berlinangan di mata Hong Gu, dengan penuh
penyesalan ia berkata, "Aku juga ingin bertemu dengannya, ingin
menemukan dan memarahinya, dan melampiaskan kemarahan
padanya, ia sudah meninggalkan Chang"an tadi malam, dan
berkata bahwa ia tak akan kembali lagi".
Hati Meng Jiu terasa amat nyeri, ia terbatuk-batuk hebat, dan
untuk beberapa saat tak bisa menghentikannya. Yu er, setelah
membaca kain-kain itu aku benar-benar paham isi hatimu, setelah
memahaminya, aku baru sadar betapa dalamnya aku telah
melukaimu. Tianchao segera bertanya pada Hong Gu, "Apa pesan yang
ditinggalkannya untukmu" Katanya ia pergi ke mana?"
"Di surat yang diberikannya untukku, ia hanya berkata akan
pulang ke Xiyu. Ia juga meninggalkan sepucuk surat untuk
Jenderal Huo, sebenarnya ia menyuruhku untuk
mengantarkannya ke Wisma Huo setelah sepuluh sampai lima
belas hari, tapi karena kesal aku mengantarnya pagi hari ini.
Entah apakah dalam surat itu ia menyebutkan hendak pulang ke
mana". Setelah selesai mendengarkannya, Tianchao mengayunkan
tangannya, menyuruh Hong Gu mengundurkan diri.
Meng Jiu ingin berbicara, namun begitu membuka mulut, ia
langsung terbatuk-batuk.
Tianchao paham isi hatinya, ia cepat-cepat berkata, "Xiao Yu tak
bisa naik kuda, kalau pulang ke Xiyu ia pasti menyewa kereta
kuda, aku akan segera menyuruh orang memeriksa kereta-kereta
kuda yang meninggalkan Chang"an, dan mengirim merpati pos ke
bandit-bandit "Cap Serigala Biru" untuk membantu mencarinya,
Paman Shi pun dapat menyuruh pembunuh-pembunuh yang
dahulu hendak menghabisinya untuk membantu kita mencarinya.
Jiu Ye, memangnya kalau Xiao Yu sudah pulang ke Xiyu, kita tak
bisa mencarinya" Sekarang yang paling penting adalah
memulihkan kesehatanmu, kalau tidak, Xiao Yu akan sedih
melihatmu seperti ini".
Sambil memandang ke bawah Meng Jiu merenung untuk
beberapa saat, lalu dengan hambar berkata, "Beritahu semua
istana di Xiyu, suruh setiap kerajaan di Xiyu mengirim pasukan
untuk mencarinya".
Hati Tianchao terkesiap, walaupun Jiu Ye telah membantu
banyak Negara Xiyu, tapi ia selalu berusaha untuk tak terlibat
terlalu dalam, kalau mereka hendak bersahabat dengannya, ia
selalu menolak uluran tangan mereka. Setiap Negara di Xiyu
sangat ingin menjalin hubungan dengan Jiu Ye, jangankan
jaringan mata-mata Jiu Ye yang meliputi seantero Han Agung dan
kekuatannya yang besar di Xiyu, setiap negara di Xiyu pun
sangat menginginkan senjata buatan Jiu Ye yang sangat ampuh.
Kalau Jiu Ye minta mereka melakukan sesuatu, setiap negara di
Xiyu pasti tak akan menolaknya. Nampaknya kali ini Jiu Ye benarbenar ingin memenangkan Xiao Yu, akan tetapi, apa yang harus
dibayarnya untuk mendapatkannya"
--------------------Hari masih gelap, namun Huo Qubing telah mengenakan
seragamnya, bersiap untuk berangkat.
"Apakah kau sudah memberitahunya bahwa hari ini aku akan
berangkat ke medan perang?"
"Hamba telah secara pribadi pergi ke Luoyu Fang untuk
memberitahu Nona Yu".
Huo Qubing berdiri di mulut gerbang wisma, berdiri tanpa berkata
apa-apa untuk beberapa lama. Saat fajar menyingsing di ufuk
timur, ia diam-diam menghela napas, agaknya Xiao Yu lebih suka
tinggal di Chang"an.
Ia memendam berbagai perasaan dalam hatinya dan melompat
ke punggung kuda, seketika itu juga derap kaki kuda pun
berkumandang dengan nyaring di jalan-jalan kota Chang"an.
Untuk sesaat masalah asmara dikesampingkan, sekarang tugas
yang paling penting adalah menyelesaikan operasi militer yang
dipandang dengan sinis oleh seluruh negeri ini dengan baik.
Sebelum ini ia menggunakan delapan ratus pasukan kavaleri
pilihan untuk menembus pertahanan Xiongnu dan merebut
kemenangan total. Namun orang masih tak mempercayainya,
menganggapnya dirinya menang karena kebetulan, bahkan
kaisar pun masih meragukannya dan tak berani benar-benar
menugaskannya memimpin seluruh pasukan.
Li Guang sudah berkubang di padang pasir seumur hidupnya
namun belum pernah dapat mendirikan jasa besar, maka ia tak
dapat diberi gelar adipati, akan tetapi dirinya begitu maju
berperang langsung menjadi termasyur di kolong langit, dan
diangkat menjadi adipati pada usia delapan belas tahun,
sehingga banyak orang tak percaya dan merasa iri padanya.
Kali ini kaisar memberinya selaksa pasukan berkuda, ia hendak
menguji kekuatannya, dan kemampuannya memimpin pasukan
besar di kemudian hari. Hanya kalau ia dapat meraih
kemenangan, dirinya akan dapat membungkam mulut para
pejabat sipil dan militer di istana yang menentangnya. Bahkan
kaisar pun mau tak mau harus mendengarkan pendapat mereka.
Dalam hati Huo Qubing percaya bahwa dirinya akan berhasil,
atau mungkin lebih tepat kalau dikatakan bahwa kata "kalah"
sama sekali tak pernah muncul dalam benaknya.
Asalkan ia bertekad bulat melakukan sesuatu, ia pasti akan
berhasil melakukannya, kecuali?"
Kalau mengingat perempuan yang licin, cerdas dan keras kepala
itu, Huo Qubing mau tak mau mengerutkan keningnya,
pandangan matanya melayang ke arah Luoyu Fang, di wajahnya
yang dingin muncul seulas senyum.
Tidak, tak ada kecuali. Dalam hidup Huo Qubing tiada yang
mustahil, apalagi dia"
Setelah menempuh perjalanan dengan cepat selama sehari, saat
hendak beristirahat di malam hari, sepucuk surat yang telah
dikirim sejauh delapan ratus li lebih pun sampai.
Bukan perintah militer, melainkan sepucuk surat yang dikirim oleh
pengurus rumah tangga Chen, hati Huo Qubing terkesiap, ia
cepat-cepat membuka tabung bambu itu.
Matanya berkabut, rasa marah dan sedih bercampur aduk dalam
hatinya. Yu er, kau sekali lagi menipuku.
Dengan tak bergeming ia memandangi kain itu, perlahan-lahan di
sudut bibirnya mucul seulas senyum tipis yang dingin. Ini adalah
surat pertama yang diberikannya kepada dirinya, tapi pasti bukan
yang terakhir. Sekonyong-koyong ia bangkit, lalu memberi perintah pada
pelayan yang berdiri diluar tenda, "Biarkan dua kuda yang paling
cepat larinya di barak beristirahat dengan baik malam ini, dan
bersiap berangkat setiap waktu".
Yu er, masa kau lebih sukar dikejar dari bangsa Xiongnu yang
licin dan cepat larinya"
Langit gelap menyelimuti bumi dengan diam, di jalan kuno itu
hanya terdengar gema derap kaki kuda.
Aku duduk di atap kereta sambil memandang ke arah timur
dengan tertegun, kota Chang'an yang megah semakin lama
semakin jauh. Entah berapa lama kemudian, di ufuk timur muncul lembayung
fajar, walaupun tipis, namun amat indah, karena mereka, dalam
sekejap mata langit dan bumi menjadi berwarna-warni.
Perlahan-lahan, setengah angkasa dipenuhi lembayung jingga,
membara bagai api. Mentari merah yang bulat perlahan-lahan
terbit dari tengah lautan api itu, dan tak lama kemudian, ia telah
mengusir kegelapan yang menyelimuti langit dan bumi.
Di kolong langit ini mungkin tak ada pemandangan yang lebih
megah dari terbitnya sang mentari. Aku terkesiap melihat
pemandangan indah yang tak disangka-sangka itu, rasa sedih
dalam hatiku pun banyak berkurang, aku tak kuasa menahan diri
untuk tak mengangkat kedua lenganku dan melolong, menyambut
hari yang baru.
Begitu lolongan itu keluar dari mulutku, kereta kuda terguncang
hingga aku hampir terjatuh. Aku berpaling memandang kusir
kereta, ia menarik tali kekang kuat-kuat dan berkata sambil
tersenyum, "Sebenarnya ini kuda terbaik kami, barusan ini entah
kenapa kakinya mendadak lemas, sekarang sudah tak apa-apa".
Sambil tersenyum aku menggeleng, memberi isyarat padanya
agar terus menjalankan kereta. Kalau mendengar lolongan
serigala, kebanyakan kuda akan lemas kakinya, untung saja aku
hanya melolong sekali saja, kalau tidak, sekarang aku sudah
akan makan lumpur.
Hari sudah terang, orang yang berlalu-lalang di jalan sedikit demi
sedikit semakin banyak. Karena tak ingin menarik perhatian
orang, aku terpaksa meninggalkan atap kereta, dengan lincah
aku melompat masuk ke dalam kereta, lalu duduk di samping
kusir. Ternyata sang kusir adalah orang yang bebas sikapnya,
melihatku duduk di sisinya, ia sama sekali tak merasa jengah.
Sambil mengayunkan cambuk, ia tersenyum dan berkata, "Kulihat
nona bisa sedikit kungfu, kalau tak suka berdesakan di dalam
kereta, kenapa tak sekalian membeli seekor kuda yang bagus
saja?" Aku tersenyum dan berkata, "Aku tak punya kesempatan untuk
belajar, sampai sekarang aku tak bisa menunggang kuda".
Sang kusir menunjuk Xiao Tao dan Xiao Qian yang sedang
terbang tinggi di angkasa, "Kulihat nona cocok memelihara
binatang, kalau mau belajar dengan sungguh-sungguh, nona
pasti bisa menunggang kuda dengan baik".
Aku tersenyum namun tak berkata apa-apa. Setelah pulang ke
Xiyu aku masih tak akan punya kesempatan untuk belajar. Kalau
ada kuda yang berani berkawan dengan serigala, aku baru akan
belajar. Di sepanjang jalan ke barat, musim semi semarak yang
seharusnya dihiasi sungai dan gunung yang tersenyum, serta
pohon dan rumput yang rimbun, nampak agak gersang, kadangkadang nampak gubuk reyot yang telah ditinggalkan penghuninya
dan ladang yang penuh semak belukar, aku pun menghela napas
dengan pelan, "Di tengah peperangan, yang menderita selalu
rakyat jelata".
Wajah sang kusir nampak agak berubah, ia menghela napas
panjang, "Mau apa lagi" Tahun lalu kami dua kali berperang
melawan Xiongnu, lebih dari sepuluh laksa prajurit tewas, entah
berapa banyak wanita tua kehilangan putra, dan berapa banyak
istri kehilangan suami" Tiga tahun yang lalu kami tertimpa
bencana kekeringan, persediaan makanan yang sudah sedikit
harus dipakai untuk ransum tentara lagi, untuk mengumpulkan
dana untuk berperang, istana mengumumkan bahwa orang dapat
membeli jabatan dan menebus hukuman dengan uang, tapi
rakyat jelata mana punya uang" Orang yang sudah
menghabiskan begitu banyak uang, kalau menjadi pejabat, apa
yang dipikirkannya, memperkaya diri atau rakyat" Yang mati di
medan perang selalu rakyat jelata, tapi yang diberi hadiah serta
gelar selalu putra-putra pejabat tinggi. Tahun ini kami akan
berperang lagi, apakah mereka tahu apa akibatnya" Xiongnu
bukannya tak harus diperangi, tapi perang ini......ai!"
Ternyata seorang kusir dapat mempunyai perasaan yang begitu
mendalam, dengan heran aku berkata, "Wawasan paman yang
luas membuatku ingin minta pelajaran".
Sang kusir tersenyum dan berkata, "Usiaku sudah tua, tapi aku
malu berbicara, terus terang nona, ketika kecil keluargaku
termasuk cukup berada dan aku sempat bersekolah beberapa
tahun, sekarang sepanjang tahun aku berpergian ke mana-mana
dan banyak bertemu bermacam-macam tamu, aku cuma asal
berbicara berdasarkan apa yang kulihat, ditambah dengan apa
yang diceritakan tamu-tamu itu".
Aku bertanya, "Ketika berada di Chang"an aku pernah mendengar
bahwa di luar kota ada peristiwa orang makan orang, apakah
benar begitu?"
Sang kusir mengayunkan cambuk, "Kenapa tak benar" Di tahun
ketiga Jianyuan, setelah banjir bandang, tak sedikit orang makan
orang. Di tahun keenam Jianyuan, di Henan terjadi kekeringan
hebat, ayah dan anak saling makan, itu yang terjadi saat tak
sering perang. Beberapa tahun ini istana berulangkali mengirim
pasukan pergi berperang, untung saja bencana alam tidak parah,
kalau tidak?"ai! Peristiwa orang makan orang kabarnya hanya
pernah terjadi di zaman Kaisar Gaozu pertama kalinya
mendirikan negara, di zaman Wendi dan Jingdi bertakhta tak
pernah terjadi bencana seperti itu".
Sang kusir tak menjelaskan lebih lanjut, tapi jelas bahwa setelah
bertahun-tahun berperang melawan Xiongnu, rakyat jelata sudah
tak kuat menahan beban dan berharap keadaan menjadi seperti
di masa pemerintahan Wendi dan Jingdi, dan tak seperti di
zaman Han Wudi yang terus menerus berperang.
Aku berpikir sejenak, lalu berkata, "Ketika Qin Shihuang
mendirikan Tembok Besar ia memaksa lima ratus ribu orang
berkerja rodi, sedangkan saat itu seluruh penduduk negeri ini tak
lebih dari dua puluh juta orang, di hampir setiap rumah, kaum
lelaki harus meninggalkan rumah, suara tangis terdengar di
mana-mana. Tapi kalau tak ada Tembok Besar yang dapat
menahan serangan para penunggang kuda Xiongnu yang dalam
sehari dapat menyerang sejauh seribu li dan meninggalkan mayat
bergelimpangan di mana-mana, penderitaan rakyat jelata akan
sulit dibayangkan. Rakyat jelata sangat membenci pembangunan
Tembok Besar oleh Qin Shihuang, bahkan sampai mengarang
cerita tentang Meng Jiangnu yang menangis hingga meruntuhkan
Tembok Besar, namun beberapa sastrawan menganggap bahwa
pembangunan Tembok Besar adalah "bencana sesaat, namun
hasilnya dinikmati ratusan generasi", tindakan Putra Langit saat
ini juga seperti itu maksudnya".
Dengan terkejut sang kusir memandangku, "Perkataan nona ini


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sangat luar biasa!" Setelah tertawa terkekeh-kekeh, ia berhenti
dan berkata dengan bersungguh-sungguh, "Nona adalah
seseorang yang berwawasan luas, kalau begitu aku akan
berbicara dengan terus terang. Aku hendak bertanya, orang yang
hidup saat ini adalah manusia, orang generasi mendatang juga
manusia, kenapa untuk menghindari bencana yang mungkin akan
terjadi puluhan atau ratusan tahun mendatang, kita orang yang
hidup saat ini harus menderita seumur hidup" Saat Qin Shihuang
mendirikan Tembok Besar, penderitaan yang diderita ratusan ribu
keluarga, apakah dapat dihapus dengan perkataan beberapa
orang sastrawan" "Bencana sesaat, namun hasilnya dinikmati
ratusan generasi" mudah sekali dikatakan, tapi kalau putra
mereka sendiri dipaksa membangun Tembok Besar dan setelah
itu mayatnya terkubur di dalam Tembok Besar, apakah mereka
bisa berkata demikian" Kalau putri mereka bersedih kehilangan
suami, apa yang akan mereka katakan" Kalau sejak kecil mereka
kehilangan ayah, dan bahkan kuburnya untuk disembahyangi pun
tak ada, apakah ia masih akan berkata demikian?"
Aku hendak menyangkal perkataannya namun dalam benakku
tak ada satu kata pun. Setelah terdiam untuk beberapa lama, aku
baru berkata, "Perkataan paman masuk akal, orang-orang itu
dapat berkata demikian karena kedudukan mereka tinggi, dengan
nyaman dan puas diri mereka melihat penderitaan orang lain dari
kejauhan, oleh karenanya mereka merasa berpandangan luas,
tapi sebenarnya tumbuhan hanya punya satu musim gugur, dan
manusia hanya punya seumur hidupnya, tak ada yang punya
kekuasaan untuk memutuskan bahwa mereka harus dibinasakan.
Akan tetapi kaisar tak bisa tidak harus menyerang Xiongnu.
Apakah paman tahu bagaimana Shanyu Xiongnu melecehkan
Permaisuri Lu?"
"Sedikit, kata orang-orang di pasar, tak lama setelah Kaisar
Gaozu meninggal dunia, Shanyu Xiongnu menulis sepucuk surat
kepada Permaisuri Lu, katanya, karena kau sudah menjanda, dan
aku kebetulan seorang duda, lebih baik kita melewatkan hari-hari
kita bersama saja".
Aku mengangguk, "Pohon punya kulit, manusia punya muka,
rakyat jelata saja kalau dihina seperti itu akan berkelahi, apalagi
seorang permaisuri pemangku negara" Akan tetapi saat itu
Dinasti Han lemah, di istana tak ada jenderal besar, maka
permaisuri hanya bisa menahan hinaan itu dan setelah itu
mengirim seorang putri untuk dinikahi sang Shanyu. Sejak kaisar
Gaozu naik takhta sampai sebelum kaisar yang sekarang
memerintah, perdamaian sementara untuk rakyat jelata harus
ditebus dengan pengorbanan wanita-wanita muda berwajah jelita.
Kenapa mereka harus menderita seperti itu" Sebelum kaisar naik
takhta, setiap tahun Dinasti Han harus membayar upeti yang
memberatkan, upeti itu adalah hasil jerih payah rakyat jelata, atas
dasar apa bangsa Xiongnu dapat menuai tanpa menabur"
Apakah lelaki-lelaki Han kita lebih lemah dibandingkan mereka"
Sehingga kita harus menerima dianiaya oleh mereka" Di dunia ini
ada perbuatan yang tak bisa tidak harus dilakukan, sekalipun
tahu akan menimbulkan korban jiwa atau membayar harga yang
mahal". Untuk beberapa lama sang kusir tak berkata apa-apa, lalu
menghela napas dengan berat, "Aku sudah tua, seandainya saat
muda aku mendengar perkataan nona ini, jangan-jangan aku
akan langsung mengikuti Jenderal Wei dan Jenderal Huo
menyerang Xiongnu. Rakyat jelata banyak menggerutu tentang
kaisar, tapi jasa raja-raja di zaman Musim Semi dan Gugur dipuji
orang sekarang, keuntungan dan kerugian suatu tindakan
memang tak dapat langsung diketahui".
Aku meleletkan lidahku, lalu tertawa dan berkata, "Paman, jangan
kena bujuk olehku. Sebenarnya, kadang-kadang aku merasa
perkataanku itu benar, namun kadang-kadang juga berpikir
sebaliknya. Hari ini aku berkata demikian karena paman
mengemukakan pendapat lain, oleh karenanya aku tak bisa
menahan diri untuk tak mendebatnya, seandainya paman
mengambil posisiku, jangan-jangan aku akan mengambil posisi
sebaliknya".
Sang kusir melecutkan cambuknya dengan nyaring, ternyata
memilih kuda terbaik membawa keuntungan yang tak terduga.
Tempat yang kukenal dengan baik hanya Gurun Utara dan
Selatan, Xiyu serta Chang"an, kalau dapat mendengarkan orang
yang sudah berkelana di mana-mana seperti ini berbicara tentang
dunia, di sepanjang jalan ini aku sama sekali tak akan kesepian.
"Jalan terdekat ke Dunhuang adalah dengan terlebih dahulu
melewati Longxi, lalu melewati Xiutu dan Zhangye, dengan
demikian kita akan tiba dalam waktu sebulan". Sambil
mencambuk kuda, sang kusir menerangkan.
Begitu mendengar kata Longxi, aku langsung mengambil
keputusan, tak perduli apakah jalan itu paling dekat, aku tak akan
melewatinya, "Apakah ada jalan yang tak lewat Longxi?"
"Ada, ke utara dulu, lalu memutari Longxi sampai ke Liangzhou,
lalu baru menuju Dunhuang. Lewat jalan ini lebih lama dua atau
tiga hari".
"Paman, kita lewat jalan itu saja! Akan kutambah upahmu".
Sang kusir tersenyum dan menyanggupinya, "Baiklah, kita akan
mengambil jalan itu".
Saat tiba di Jingzhou, hari sudah gelap, aku pun mencari sebuah
penginapan yang bersih untuk bermalam, syaratku untuk sebuah
penginapan sangat mudah, aku hanya minta penginapan itu
mempersiapkan air hangat dan bak untuk mandi.
Hari-hariku di Chang'an sangat nyaman, setelah tiga hari di jalan,
aku merasa tubuhku amat kotor, sangat tak enak.
Setelah menganti air dua kali, aku baru dapat menikmati
kehangatan air dengan nyaman. Di luar kota Chang'an banyak
sumber air panas, setelah ini tak akan ada mata air panas untuk
berendam lagi, mata air panas di Wisma Qing itu.........tak boleh
dipikirkan lagi, tak boleh dipikirkan lagi, aku harus melupakan
segalanya di Chang'an.
Aku merasakan angin dingin bertiup masuk, di balik sketsel pintu
terlihat sedikit terbuka, "Adik bisu, beritahu A Da mu untuk tak
usah merebus air lagi, di sini masih ada satu tahang air yang
belum terpakai!"
Pintu kembali menutup tanpa suara, aku mengambil ikat
pinggang sutra berhiaskan bola-bola emas di sisiku, lalu
melontarkannya untuk mengaet tahang air panas di samping
sketsel, tapi setelah kulempar, kenapa aku tak bisa menariknya
kembali" Aku merasa agak heran, tersangkut pada benda apa
ikat pinggang itu" Aku ingat dengan jelas bahwa aku telah
menyuruh si adik bisu untuk menaruh tahang air itu di samping
sketsel agar mudah kuambil, kenapa ikat pinggangku bisa
tersangkut seperti ini" Aku yakin tak salah sasaran.
Apa boleh buat, aku tak bisa bermalas-malasan dan terpaksa
bangkit untuk mengangkatnya. Aku berdiri di tengah bak mandi
dan masih dengan tak puas menarik-narik ikat pinggang itu, tapi
aku masih tak bisa menariknya kembali dan sketsel itu malahan
terjatuh dengan suara berdebam.
Sekujur tubuh Huo Qubing terbalut jubah hitam, ia berdiri dengan
tegak, tangannya mengenggam bola-bola emasku, wajahnya
dingin menyeramkan.
Karena amat terkejut, aku terpana, lalu segera bereaksi, "Ah!",
aku menjerit seraya kembali masuk ke dalam bak, tadi aku
merasa airnya agak dingin namun sekarang aku justru merasa
tubuhku panas membara.
Untung saja aku telah memilih bak mandi yang paling dalam
sehingga tubuhku yang terendam air sama sekali tak terlihat. Aku
mengawasinya dari dalam bak, dari awal sampai akhir ekspresi
wajahnya sama sekali tak berubah, sepasang matanya
menatapku tanpa berkedip. Kalaupun berada nun jauh di
angkasa, hawa dingin dari sepasang mata itu masih akan terasa
menusuk. Rasa jengah sekaligus marahku sirna diusir oleh
tatapan matanya yang dingin.
Kali ini ia benar-benar marah, oh tidak, tepatnya amat sangat
murka. Kalau musuh semakin marah, diri sendiri harus semakin
tenang, dan pada saat musuh berada diatas angin, lebih-lebih lagi
tak boleh membuat musuh murka, kalau tidak, tulang belulangku
entah harus dicari di mana.
Aku menelan air ludah dan memaksa diriku tetap tenang, sambil
tersenyum aku berkata, "Jangan terlalu merendahkanku, dalam
keadaan seperti ini, seharusnya kau bereaksi seperti lelaki biasa,
misalnya, dengan memandangku dengan penuh nafsu seperti
seorang rendah, atau jelas-jelas ingin melihat tapi berpura-pura
alim dan mengintip dengan sembunyi-sembunyi".
Ekspresi wajahnya tak berubah, untuk sesaat ia menatapku
dengan dingin, lalu sekonyong-konyong mengangkat bola-bola
emasku dan melemparkannya ke kepalaku, aku tak berani
menangkisnya dengan tangan kosong, maka dengan sebat aku
mengambil sehelai pakaian yang berada di sampingku, lalu
melemparkannya ke arah bola-bola emas itu, di udara dengan
amat cepat pakaian itu berkelebat membentuk huruf " dan
membuyarkan tenaga yang dipakai Huo Qubing untuk
melontarkan bola-bola itu, kalau kekuatan tenaganya sebanding
dengan rasa marahnya, kali ini ia benar-benar marah.
Setelah menangkap bola-bola itu, tiba-tiba aku sadar bahwa
pakaian yang kupakai untuk menyambut bola-bola itu adalah
pakaian dalamku, sekarang aku tak bisa berpura-pura kalem lagi
dan cepat-cepat menjejalkan pakaian dalam itu ke dalam bak,
tubuhku sendiri pun ikut menyusup ke dalamnya. Airnya sudah
sendingin es, namun bajuku berada di sebelah sana dan tak
dapat kupakai. Aku hanya dapat menyandarkan kepalaku di bibir
bak, mataku jelalatan kesana kemari, dengan memohon-mohon
memandang Huo Qubing.
Dengan sinis ia berkata, "Kau menyuruhku untuk bereaksi seperti
seorang lelaki normal, tapi kenapa kau sama sekali tak bereaksi
seperti seorang wanita normal yang dipergoki seorang lelaki
ketika sedang mandi?"
Apa ia mengira aku tak marah sekaligus malu" Rasa gusar yang
kutahan karena takut akan membuatnya semakin marah seketika
itu juga meluap, "Apakah kau ingin aku bereaksi seperti wanita
normal" Apa kau tak akan menusukku dengan pisau nanti?"
"Berendam dalam air dingin tak terlalu nyaman, kan?" Seulas
senyum dingin muncul di wajahnya.
Aku menatapnya, lalu sekonyong-konyong menjerit,
"Tolong........tolong.......ada maling cabul.......ada maling cabul!"
Wajahnya penuh rasa terkejut, akhirnya sinar matanya tak hanya
sedingin es lagi.
"Sekarang seharusnya kau bereaksi seperti lelaki normal", aku
menjulurkan jentikku dan menunjuk-nunjuk jendela, "Dalam
keadaan normal kau seharusnya melompat keluar dari situ".
Di lorong terdengar suara langkah kaki, suara-suara ribut
perlahan-lahan semakin mendekat.
"Mana maling cabulnya?"
"Jeritan minta tolong itu sepertinya datang dari kamar paling
pojok". "Ngawur, kamar itu ditempati seorang nyonya berumur empat
puluh tahun".
"Susah dibilang, eh kawan, kalau kau bukan maling pemetik
bunga, dari mana kau tahu selera seorang maling pemetik
bunga?" "Justru seperti itu, ada orang yang suka yang segar-segar, ada
juga orang yang suka pesona wanita matang. Kata siapa umurku
empat puluh tahun" Aku jelas-jelas berumur empat puluh tahun
kurang lima bulan, empat hari dan tiga shichen, hari ini bicaralah
yang benar......."
"Kalian jangan bertengkar, yang penting menolong orang, kamar
ini tak pernah tenang, sepertinya penghuninya seorang nona
muda, tendang pintu dan lihatlah".
"Kawanku, kalau kita menendang pintu hingga terbuka,
bagaimana kalau kita melihat pemandangan yang seharusnya tak
boleh kita lihat, bukankah kita tak ada bedanya dengan maling
cabul" Menurut caixia sebaiknya kita ketuk pintu dulu untuk
mengetahui apa yang terjadi".
Dengan khawatir aku mendengarkan mereka dan mau tak mau
tersenyum getir, orang Hexi benar-benar sangat berbeda dengan
orang Chang'an, para pelayan ini mirip serigala-serigala lucu
dalam sebuah kawanan serigala.
Wajah Huo Qubing nampak aneh, ia langsung melangkah ke
arahku, sebelum aku sempat menjerit, aku telah diangkat keluar
dari bak, lalu setelah dibelit sehelai handuk, aku pun dibungkus
erat-erat dalam sehelai selimut.
Amarahku meledak dan aku menjerit memakinya, "Kau tak tahu
malu! Suara pertengkaran di luar kamar langsung menghilang, namun
sebelum pintu ditendang hingga terbuka, Huo Qubing telah
bereaksi seperti orang normal dan melompat keluar dari jendela,
tapi apakah perbuatannya ini termasuk normal kalau ia
membawaku bersamanya"
Begitu Huo Qubing keluar dari penginapan, seorang prajurit
menyambutnya, melihat seragamnya, pangkatnya tak rendah. Ia
melengos, tak melihat diriku yang sedang dipanggul Huo Qubing
sambil memaki-maki, dengan sikap hormat ia berkata, "Jenderal,
kuda sudah siap. Kuda itu kuda yang larinya paling cepat di kota
Liangzhou". Tanpa berkata apa-apa, Huo Qubing berjalan dengan
cepat. Ia menaruh diriku yang masih terbungkus selimut dalam
pelukannya, ketika ia mulai memacu kuda, aku tak lagi dapat
memakinya dan bertanya dengan cemas, "Kau mau ke mana?"
"Kembali ke Longxi, begitu hari terang kita bisa mandi, lalu
mengenakan pakaian yang nyaman dan makan sup panas di
jalanan kota Longxi".
"Apa kau sudah sinting" Aku tak mau pergi ke Longxi, buntalanku
juga masih ketinggalan di penginapan, selain itu masih ada Xiao
Tao dan Xiao Qianku. Turunkan aku". Aku terbungkus dalam
selimut seperti seekor ulat sutra, namun mencoba duduk dengan
tegak agar dapat berdebat dengannya.
"Nanti buntalanmu akan diantar. Sekarang aku sedang buru-buru,
tak punya waktu bertengkar denganmu, kalau kau tak menurut,
aku terpaksa memukulmu sampai pingsan, kau pilih, ingin
pingsan atau sadar?"
Nada suaranya sedingin es, sekeras batu, ia sama sekali tak
bergurau. Setelah terdiam untuk beberapa saat, aku memutuskan
untuk mencari jalan keluar lain, "Kalau seperti ini aku tak nyaman,
aku ingin mengeluarkan tanganku".
"Aku merasa sangat nyaman, biar saja lenganmu terikat dalam
selimut, kalau kau merasa nyaman, aku merasa tak nyaman".
"Huo Qubing, kau ini maling cabul bau yang tak tahu malu".
....................
"Kau dengar tidak" Aku mengataimu maling cabul, selain itu kau
juga seorang......keparat.......ikan busuk......." Aku memutar otak


Balada Padang Pasir Karya Tong Hua di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan mengeluarkan semua makian yang pernah kudengar di
jalanan kota Chang'an.
....................
Kalau kau memaki dan meninju tembok, tembok itu tak akan
bereaksi dan akhirnya kau sendirilah yang akan kelelahan. Aku
sangat lelah dan bersandar dengan patuh dalam pelukannya.
Lari kuda melambat. "Aku akan ganti kuda". Sebelum
menyelesaikan perkataannya, ia telah melompat ke atas seekor
kuda lain sambil membopongku.
Dengan tercengang aku bertanya, "Apakah waktu datang kau
juga ganti kuda seperti ini?"
"Ya".
"Kalau begitu, kau capek tidak" Bahkan kuda yang baru juga
capek". "Saat sedang mengejar Xiongnu, tak memejamkan mata selama
dua tiga hari di punggung kuda sudah biasa, mengejarmu jauh
lebih santai dari mengejar Xiongnu".
"Bagaimana kau bisa mendengar kabar dengan begitu cepat?"
"Jangan lupa, sekarang kau masih berada dalam wilayah Han, di
sekitar Hexi banyak markas tentara. Paman Chen mengirim orang
untuk mengantarkan surat yang kau tulis dengan sangat cepat,
malam itu juga sudah berada dalam tanganku. Tapi perlu sedikit
waktu untuk menemukan jejakmu, kalau tidak, masa perlu tiga
hari?" "Sialan! Ternyata Hong Gu tak menurutiku".
"Ia tak memakimu, tapi kau masih punya muka untuk
memakinya" Seorang jenderal yang tiba-tiba kabur ketika sedang
memimpin pasukan bisa dihukum mati......."
"Aku capek", dengan bandel aku mengubah topik pembicaraan.
"Tidurlah sebentar. Besok kau akan dapat menebus kekurangan
tidurmu". Sambil berbicara, ia bergeser sehingga posisi
bersandarku lebih nyaman.
"Seperti ini tak enak. Aku tak bisa tidur".
"Kau belum terlalu capek, kalau benar-benar capek, sambil
memacu kuda juga bisa tidur".
"Kau bisa tidur dalam keadaan seperti ini?"
"Ya".
"Sekarang kau tak akan tidur?"
"Tak akan".
"Bagus kalau begitu, masa bodoh kalau kau sendiri jatuh, tapi
jangan buat aku terluka".
"Tidurlah dengan tenang!" Nada suaranya hambar, tak
mengandung rasa kesal atau marah.
Aku mendengus. Walaupun terguncang-guncang dengan keras,
ternyata aku dapat tidur dengan sesekali terbangun. Malam
masih gelap gulita, namun kami telah tiba di Longxi.
Setelah melemparkanku ke atas sehelai permadani, tanpa
berkata apapun Huo Qubing pergi dengan wajah dingin. Ai! Ia
masih marah! Tubuhku terasa sakit, namun aku tak bisa mengasihani diri
sendiri dan segera mencari cara untuk meloloskan diri, yang
paling penting adalah melarikan diri dari pengawasan Huo
Qubing, asalkan aku dapat masuk ke padang pasir, aku akan
seperti sebutir pasir di tengah lautan pasir, tak perduli siapa dia,
ia tak akan dapat menemukanku.
Aku berguling-guling di lantai dan dengan susah payah berhasil
mengeluarkan sepasang tanganku dari gulungan selimut, lalu
membuka tali yang melilit pinggangku. Sambil membawa selimut
itu, aku mencari-cari di seluruh ruangan, namun nampaknya tak
ada sehelai pakaian pun yang dapat kupakai, tak heran, ia berani
meninggalkanku di sini begitu saja.
Ketika aku sedang mempelajari ruangan itu sambil melompatlompat seperti seekor kelinci, Huo Qubing menyingkap tirai dan
masuk, nampaknya ia baru saja mandi dan telah berganti baju, ia
masih memakai baju hitam, namun warna gelap yang dipakainya
itu justru membuatnya nampak gagah dan luar biasa tampan.
Apakah orang ini terbuat dari besi" Pulang pergi Longxi-Jingzhou
tapi sama sekali tak nampak lelah, aku menatapnya dengan
tajam dan bertanya, "Apa kau akan memberiku pakaian ganti atau
tidak?" Ia melemparkan buntalan dalam genggamannya ke bangku, lalu
berbalik dan keluar tanpa berkata apa-apa.
Kenapa sehelai jubah panjang lelaki berwarna hitam" Bahkan
kain putih pengikat dada pun tersedia, pikirku dengan kesal,
ternyata ia penuh pengertian.
Walaupun aku tak ingin memakainya, namun lebih baik ada
pakaian untuk dipakai daripada tak ada sama sekali, maka
dengan tak berdaya aku menghela napas, lalu mulai
memakainya. Ini adalah untuk pertama kalinya aku memakai pakaian pria, tapi
aku berhasil memakainya dengan benar. Setelah memakai ikat
pinggang kulit, aku berputar-putar dengan puas diri, aku merasa
diriku nampak gagah.
Huo Qubing yang baru saja menyingkapkan tirai tertawa
mengejek, "Sisir rambut dulu baru jadi si tampan!" Saat itu aku
baru sadar bahwa rambutku masih tergerai lepas.
Walaupun aku dapat membuat kepangan yang indah, namun aku
belum pernah memakai gaya rambut pria, setelah berusaha
beberapa saat, aku masih tak dapat membuatnya. Seulas
senyum sinis muncul di bibir Huo Qubing yang selama itu duduk
di belakangku dan menontonku, dengan kesal aku memukul
bayangannya di cermin dengan sisir. Aku tak berani memukul
orangnya, maka memukul bayangannya cukup untuk
melampiaskan kemarahanku.
Sekonyong-konyong, ia merampas sisir dari genggamanku, aku
baru saja hendak bertanya kenapa ia merampas sisirku, tapi ia
sudah mengenggam rambutku dan mengurai sanggul tinggi yang
kubuat, lalu dengan lembut dan perlahan, ia menyisir rambutku.
Ketika melihat bayangan kami berdua di cermin, tak nyana,
pemandangan yang kulihat nampak sudah akrab denganku.
Bertahun-tahun yang silam, seorang lelaki yang amat mencintaiku
pun pernah menyisir rambutku dengan seksama dan mengajariku
membuat kepangan. Hidungku terasa pedih, air mata pun tibatiba berlinangan di mataku, aku cepat-cepat memandang ke
bawah, menatap lantai, aku membiarkannya mengelung
rambutku, lalu mengikatnya dengan sebuah ikat kepala
berhiaskan batu jasper.
"Masih ada sedikit waktu, aku akan mengajakmu berjalan-jalan di
Longxi dan makan-makan". Setelah selesai berbicara dengan
hambar, tanpa menunggu persetujuanku, ia bangkit dan berjalan
ke luar. "Apa masakan juru masak pasukan tak enak?"
"Juru masakku terhitung salah satu juru masak terbaik di istana,
tapi makanan khas Xiyu kesukaanmu bukan keahliannya".
Aku baru berjalan beberapa langkah, tapi tiba-tiba
mencengkeram lengannya, "Apa Li Gan ada di markas ini?"
Huo Qubing menatapku dengan tajam untuk beberapa saat, "Tak
ada". Aku merasa lega dan melepaskan lengannya.
"Sebenarnya dosa apa yang telah kau lakukan terhadap Li Gan?"
Dengan tegas aku menjawab, "Tak ada. Memangnya dosa apa
yang dapat kulakukan?"
Pandangan mata Huo Qubing menyapu wajahku untuk beberapa
saat, ia tak lagi bertanya-tanya. Sambil berjalan, diam-diam aku
menghafalkan keadaan dalam markas. Huo Qubing berkata
dengan asal, "Kau begitu bersemangat, lebih baik kau
memikirkan kau ingin makan apa. Kalau besok pagi setelah
bangun tidur aku tak bisa menemukanmu, aku akan memerintah
semua prajurit di bawah komandoku untuk mengubah ransum
mereka menjadi daging serigala, dan menghimbau semua negara
di Xiyu untuk menjamu pasukan Han dengan daging serigala".
Dengan geram aku berkata, "Coba kalau kau berani!"
Dengan hambar ia berkata, "Kau cobalah".
Dengan penuh kebencian aku memandangnya, namun ia
tersenyum dengan acuh tak acuh, lalu melangkah ke depan. Aku
tak bergeming, dengan geram memandang punggungnya, jarak
Pedang Keadilan 4 Pedang Sakti Tongkat Mustika Angin Hutan Api Gunung Karya Herman Pratikto Wasiat Dewa 1
^