Pencarian

Pendekar Wanita Baju Merah 3

Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo Bagian 3


yang tidak tahu malu sekali. Mengadakan pertemuan dengan laki-laki di tengah
malam, mencemarkan nama kehormatan keluargaku! Dia harus diusir pergi!
Dua orang itu bicara bisik-bisik dengan mesra sekali sehingga Kiang Liat malu
untuk muncul. Ia menanti sampai Ceng Si yang kelihatan memberikan sesuatu kepada laki-laki itu
kembali ke dalam rumah, kemudian ia mendengar laki-laki itu menunggang kudanya
kembali yang dibalapkan cepat-cepat pergi dari situ.
Kiang Liat menjadi bingung. Haruskah hal ini ia beritahukan kepada Bi Li"
Isterinya kelihatan begitu cinta dan sayang kepada Ceng Si dan kalau saat ini ia
beritahukan, apakah tidak akan membikin isterinya berduka"
Kemudian ia teringat akan sesuatu. Ada hal yang amat mengherankan hatinya, yakni
persediaan uangnya cepat sekali berkurang bahkan isterinya yang ia tahu
mempunyai banyak uang, cepat sekali kehabisan uang. Apakah Ceng Si tidak
melakukan pencurian" Tadi ia melihat gadis pelayan itu memberi sesuatu kepada
kekasihnya, apakah itu bukan uang atau benda berharga"
Berpikir sampai di sini, kembali Kiang Liat tertegun. Ia sudah lama tidak
melihat isterinya memakai perhiasan! Bahkan perhiasan berupa kupu-kupu dan bunga
cilan yang dulu ia berikan kepada Bi Li sebagai emas kawin, tak pernah menghias
rambut isterinya itu" Ia memang seorang laki-laki yang tidak begitu peduli
tentang segala macam perhiasan, maka hal ini terlewat begitu saja dari
perhatiannya. Memang pernah secara iseng-iseng ia bertanya kepada isterinya
mengapa tidak pernah memakai perhiasan, akan tetapi isterinya menjawab,
"Untuk apakah semua perhiasan itu" Aku sudah menikah dengan kau, bahkan sekarang
sudah menjadi ibu, tak perlu lagi kiranya bersolek."
Jawaban ini menyenangkan hatinya, karena Kiang Liat sendiri suka akan
kesederhanaan, maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Sekarang melihat peristiwa
yang terjadi di taman bunga timbul berbagai dugaan di dalam hatinya. Tak salah
lagi, mungkin sekali Ceng Si melakukan pencurian. Siapa tahu kalau isterinya
kehilangan semua perhiasan itu, akan tetapi tidak berani bilang karena takut.
Isterinya begitu lemah dan begitu sayang kepada Ceng Si.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
55 Kiang Liat tidak dapat tidur. Pada keesokan hatinya, ia bangun dengan kepala
pusing. Pagi-pagi sekali Ceng Si sudah datang membawa segala keperluan
isterinya, bahkan dengan amat rajin dan telaten pelayan ini mengurus Im Giok
dengan penuh kasih sayang. Isterinya juga kelihatan begitu berterima kasih
kepada Ceng Si sehingga ia tidak tega untuk menimbulkan urusan itu.
"Lebih baik kutangkap jahanam itu!" pikir Kiang Liat dengan gemas. Benar, itulah
jalan satu-satunya agar tidak menyinggung perasaan isterinya. Ia harus menangkap
laki-laki yang sering kali datang menemui Ceng Si, kemudian memaksanya mengaku!
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi, Cia Sun mengaburkan kudanya dengan
cepat. Seperti biasa, malam tadi ia mengadakan pertemuan dengan Ceng Si di taman bunga
dan setelah meninggalkan tempat pertemuan rahasia itu, ia membawa sekantung uang
dan beberapa potong benda berharga. Sambil membalapkan kudanya, Cia Sun tersenyum-senyum gembira.
Betapa ia takkan merasa girang" Ceng Si telah menjadi kekasihnya, dan dengan
bantuan kekasihnya ini, ia dapat menggerogoti kekayaan keluarga Kiang. Song Bi
Li atau Nyonya Kiang yang sudah berada di dalam cengkeramannya itu tidak berdaya
dan terpaksa menuruti segala permintaannya.
"Ceng Si memang manis dan cerdik," pikir Cia Sun sambil memperlambat larinya
kuda karena ia telah tiba di luar kota dan merasa aman. "Surat Bi Li padaku
masih ada disimpannya dan dengan surat itu, ia dapat menakut-nakuti Bi Li.
Sekali saja surat itu diperlihatkan kepada suaminya, tentu ia akan celaka."
Biarpun sudah banyak uang yang diperasnya dari Bi Li, namun tetap saja Cia Sun
merupakan seorang miskin. Semua uang itu dihabiskan di atas meja perjudian,
dipakai foya-foya dengan sahabat-sahabatnya dan pendeknya, Cia Sun hidup sebagai
pemuda kaya-raya yang royal dan mata keranjang.
Tentu saja Ceng Si tidak tahu akan hal ini dan sama sekali tidak pernah menduga.
Pelayan yang cantik ini mabuk oleh janji-janji Cia Sun yang menuturkan bahwa
semua uang dan barang itu disimpannya baik-baik untuk dipergunakan sebagai modal
dan bekal hidup kelak apabila mereka telah hidup sebagai suami isteri!
Selagi Cia Sun enak-enak mencongklang kudanya, tiba-tiba dari arah belakang
terdengar derap kaki kuda yang dilarikan cepat sekali. Cia Sun tidak menyangka
buruk dan mengira bahwa ada orang berkuda hendak lewat mendahuluinya, maka ia
minggirkan kuda
tunggangannya. Benar saja, seorang penunggang kuda membalapkan kudanya menyusul,
akan tetapi, tiba-tiba orang itu setelah berada di depan Cia Sun, menghentikan
kuda sambil menarik kendali sehingga kudanya berputar dan menghadapi kuda Cia
Sun. Melihat orang muda gagah yang menunggang kuda itu, seketika wajah Cia Sun
menjadi pucat dan dadanya berdebar keras. Biarpun belum berkenalan namun diam-
diam ia sering kali melihat dan memperhatikan suami Bi Li dan orang yang kini
mencegatnya bukan lain adalah Kiang Liat, suami Bi Li! Akan tetapi, sastrawan
muda ini dapat menenangkan hati dan memaksa diri tersenyum.
"Tuan siapakah dan ada keperluan apa dengan siauwte?" tanya Cia Sun dengan suara
ramah-tamah, sikap seorang terpelajar yang sopan-santun.
Akan tetapi Kiang Liat tidak tertipu oleh sikap ini. Telah beberapa kali Kiang
Liat mengintai di dalam taman dan tahulah ia bahwa pemuda itu diam-diam telah
mengadakan hubungan rahasia dengan Ceng Si dan gadis pelayan itu memberi barang-
barang berharga kepadanya.
Tentu saja Kiang Liat merasa marah dan curiga. Dari mana Ceng Si bisa
mendapatkan barang-barang berharga dan uang"
"Bangsat kecil, tak perlu kau berpura-pura dan bermanis mulut. Aku sudah melihat
dan tahu akan semua perbuatanmu di dalam taman rumahku. Ayo sekarang kau
mengaku, siapa namamu dan mengapa kau berani mampus memasuki taman mengadakan
pertemuan dengan Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
56 pelayan kami!" Kiang Liat melompat turun dari kudanya dan memandang kepada Cia
Sun dengan sinar mata mengandung ancaman, sedangkan pecut kudanya dipegang erat-
erat di tangan kanan.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Cia Sun mendengar ini. Tidak disangkanya
sama sekali bahwa suami Bi Li ini sudah melihatnya mengadakan pertemuan dengan
Ceng Si. Sampai di manakah pengetahuan orang she Kiang ini" Tanpa disadarinya,
saking gelisah dan kagetnya, Cia Sun mengerling ke arah kantung uang yang berada
di atas punggung kuda.
"Ya, itu pun kauterima dari Ceng Si! Hendak kulihat, apakah isinya!" kata pula
Kiang Liat sambil melangkah maju.
Tentu saja Cia Sun tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia tahu bahwa barang-
barang dan uang yang kini dibawanya adalah milik hartawan muda ini yang diterima
oleh Ceng Si dari Bi Li.
Maka ia lalu mengambil sikap seakan-akan ia marah besar.
"Manusia kurang ajar! Apakah kau hendak merampok?" bentaknya sambil mencambuk
kudanya. "Aku tidak kenal padamu dan aku tidak mempunyai urusan denganmu.
Pergi!" Akan tetapi Kiang Liat mana mau melepaskannya" Sekali mengulur lengan, Kiang
Liat sudah menangkap pergelangan tangan Cia Sun dan sebelum sastrawan bermoral
bejat ini tahu apa yang terjadi, ia telah diseret turun dari atas kuda!
"Keparat busuk, kau tidak lekas-lekas mau mengaku?" bentak Kiang Liat yang sudah
menjadi marah melihat sikap orang itu.
Cia Sun yang terbanting dari atas kuda merasa pantatnya sakit sekali. Sambil
meringis ia merayap bangun. Ia maklum bahwa pengakuan berarti mencari celaka,
maka ia memberanikan diri, mengangkat dada dan berkata,
"Kau ini orang gila atau orang mabuk" Kalau kau hendak merampok, carilah
saudagar-saudagar yang kaya, jangan mengganggu seorang siucai yang miskin
seperti aku!"
Makin mendongkol hati Kiang Liat. Melihat sikap pemuda sastrawan ini, terang
sekali baginya bahwa ia menghadapi seorang yang curang dan palsu.
"Jahanam, jangan kau berpura-pura lagi. Sudah beberapa kali aku melihat kau
mengadakan pertemuan dengan pelayan kami di taman. Kau tidak mau lekas-lekas
mengaku" Atau menanti sampai aku turun tangan memukulmu?"
"Mengaku apa" Aku tidak pernah melakukan hal yang kausebutkan tadi. Aku tidak
bersalah apa-apa..."
Kiang Liat marah sekali. Kaki kirinya bergerak menendang dan tersungkurlah Cia
Sun. Baiknya Kiang Liat masih belum tahu akan semua perbuatan Cia Sun yang
disangkanya hanya seorang pemuda yang main gila dengan gadis pelayannya saja.
Maka tendangannya itu perlahan saja dan hanya cukup membikin Cia Sun roboh tanpa
menderita luka berat. Akan tetapi cukup membikin Cia Sun merintih-rintih karena
pahanya yang tertendang terasa sakit bukan main. Beberapa kali ia mencoba untuk
bangun, akan tetapi tak dapat sehingga akhirnya ia menjatuhkan diri duduk di
atas tanah sambil memandang kepada Kiang Liat dengan muka pucat.
"Hayo lekas mengaku! Jangan menanti sampai aku naik darah dan memukul kepalamu
sampai hancur!"
Cia Sun mulai ketakutan. Tempat itu sunyi dan masih pagi sekali, dan melihat
sepak terjang Kiang Liat, ia maklum bahwa ia takkan mungkin dapat melawan.
Apalagi, memang ia telah mendengar bahwa hartawan muda she Kiang ini adalah
seorang ahli silat yang amat tinggi kepandaiannya.
"Ampunkah hamba Wangwe..." katanya dan tiba-tiba sastrawan muda ini berlutut!
Kiang Liat memandang dengan hati merasa sebal sekali. Benar-benar ia menghadapi
seorang pemuda yang mempunyai martabat rendah sekali.
"Jangan banyak aksi, lekas mengaku!" bentaknya.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
57 "Hamba akan mengaku terus terang. Sesungguhnya, telah lama hamba berkenalan
dengan Nona Ceng Si. Hubungan hamba dengan dia sudah berjalan beberapa tahun,
semenjak dia belum pindah ke Siang-koan. Hamba tidak melakukan sesuatu yang
jahat, dan hubungan hamba dengan Ceng Si berdasarkan suka sama suka... harap
Wangwe sudi memberi maaf."
"Kau selalu menerima bungkusan dan kantung dari Ceng Si, apakah isinya?"
Cia Sun menyembunyikan rasa takutnya. "Hanya... hanya makanan dan masakan,
Wangwe. Ceng Si seringkali memberi makanan kepada hamba..."
"Dusta!" bentak Kiang Liat dan dua kali ia menggerakkan tangan, kantung yang
masih di atas sela kuda Cia Sun telah diambilnya. Ia membuka kantung itu dan
berjatuhanlah isinya ke atas tanah. Uang emas, perak yang jumlahnya tidak
sedikit. "Makanan kaubilang" Hayo bilang, dari mana kau mendapatkan ini semua?"
"Dari... dari... Ceng Si, katanya itu uang simpanannya selama ia bekerja... dia
berikan kepada hamba untuk... untuk..."
"Untuk apa?" Kiang Liat tidak sabar lagi.
"Wan-gwe, Ceng Si dan hamba mengambil keputusan untuk menikah dan karena hamba
seorang miskin, Nona Ceng Si yang baik itu memberikan uang simpanannya ini
kepada hamba untuk mempersiapkan dan memilih hari pernikahan."
Kiang Liat percaya akan keterangan ini. Memang ia pun sudah menyaksikan sendiri
bahwa pemuda ini mengadakan hubungan asmara dengan Ceng Si, maka semua
keterangannya tadi masuk di akal. Yang mencurigakan hatinya adalah Ceng Si. Dari
mana pelayan itu mendapatkan uang begini banyak" Mungkinkan uang simpanannya"
"Siapa namamu?" tanyanya tiba-tiba.
"Hamba bernama Cia Sun..."
"Sekarang dengarlah. Aku Kiang Liat bukan orang yang boleh kau permainkan begitu
saja. Kau sudah berani lancang memasuki taman rumah kami tanpa ijin, pada malam hari
pula. Ini saja sudah menjadi alasan cukup kuat untuk membunuhmu sebagai seorang
maling atau penjahat. Akan tetapi aku maafkan kau dengan satu syarat bahwa besok
pagi kau harus datang ke rumahku dan dengan resmi kau mengajukan pinangan untuk
diri Ceng Si. Kau boleh menyuruh seorang perantara wanita untuk mengajukan
pinangan itu kepada Hujin (Nyonya).
Kalau besok kau tidak melakukan hal ini, awas, aku akan mencarimu dan mengambil
nyawamu!" "Baik, Wan-gwe... baik..." Cia Sun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
berlutut terus.
Kiang Liat mencemplak kudanya dan membalapkan kuda itu menuju pulang. Hatinya
lega. Ia memang tidak suka sekali melihat Ceng Si menjadi pelayan isterinya.
Gadis pelayan ini terlalu genit dan terlalu cantik, pula amat berani. Dengan
terang-terangan gadis pelayan itu mencoba untuk menjatuhkan perhatiannya,
mencoba untuk menjatuhkan hatinya dengan pelbagai aksi dan gaya, lebih celaka
lagi, isterinya entah mengapa, nampak suka sekali kepada Ceng Si sehingga bahkan
rela kalau Ceng Si menjadi bini mudanya! Sekarang ia dapat menangkap Cia Sun dan
memaksa sastrawan muda itu mengawini Ceng Si. Inilah jalan terbaik.
Kiang Liat amat cinta kepada isterinya, ia tidak mau menyinggung perasaan Bi Li
dan biarpun ia merasa curiga dan heran melihat sikap isterinya yang berlebihan
terhadap Ceng Si, akan tetapi ia tidak tega untuk bertanya atau mendesak. Ia
sudah percaya penuh akan kesetiaan dan kecintaan isterinya kepadanya, maka ia
tidak mau memperlihatkan sesuatu sikap yang kurang percaya. Oleh karena ini,
setibanya di rumah, ia tidak bercerita sesuatu kepada isterinya teritang
pertemuannya dengan Cia Sun.
Pada keesokan harinya, betul saja di rumah gedung keluarga Kiang Liat datang
seorang wanita setengah tua yang terkenal di kota Sian-koan sebagai seorang
perantara perjodohan.
Wanita ini datang untuk mengajukan pinangan atas diri Ceng Si untuk sasterawan
Cia Sun! Mendengar ini, Bi Li nampak terheran-heran, akan tetapi juga girang dan ia tidak
tahu bahwa Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
58 diam-diam suaminya memandangnya dengan kerling tajam. "Panggil Ceng Si ke
sini...!" kata Bi Li kepada seorang pelayan lain, suaranya nyaring dan jelas
sekali bahwa ia bergembira.
Ceng Si tergopoh-gopoh. Gadis ini sudah mendengar dari pelayan yang memanggilnya
karena pelayan ini tadi telah mendengar tentang peminangan itu. Ceng Si juga
terheran-heran dan bingung ketika Bi Li berkata kepadanya,
"Ceng Si, Bibi ini datang untuk meminangmu atas nama seorang sastrawan muda yang
bernama Cia Sun. Biarpun aku dan suamiku berhak mengambil keputusan karena kau
tidak berkeluarga lagi, akan tetapi merasa lebih baik kami menanyakan pendapatmu
sendiri. Bagaimana?"
Ceng Si kebingungan. Sebentar ia memandang kepada Bi Li dan di lain saat ia
menatap wajah pelamar itu. Semua ini diikuti oleh pandangan mata Kiang Liat yang
duduk di sudut dan agaknya tidak mau tahu tentang persoalan perjodohan ini.
"Akan tetapi..." kata Ceng Si bingung, "bagaimana ini, Hujin" Saya... saya masih
suka melayani Hujin dan belum ada pikiran untuk menikah..." Dari tempat duduknya
Kiang Liat dengan heran sekali melihat betapa pandang mata pelayan itu amat
tajam dan berpengaruh ketika memandang kepada Bi Li!
"Ceng Si, bukankah hal ini amat baik sekali" Lebih baik daripada kau bekerja di
sini" Ingat, usiamu sudah dua puluh tahun dan pelamar ini bukan orang
sembarangan. Kiranya sudah amat cocok apabila kau menjadi isteri seorang siu-
cai..." "Betul sekali kata-kata Kiang-hujin," perantara itu berkata cepat-cepat. "Cia-
siucai seorang pemuda yang tidak saja tampan sekali, akan tetapi juga amat
terpelajar, sopan-santun dan berbudi mulia. Biarpun dia bukan dari keluarga
kaya, akan tetapi ia bukan tidak beruang. Ia menyediakan semua biaya untuk
upacara pernikahan!"
"Akan tetapi... aku belum suka berumah tangga sendiri!" kata Ceng Si dan di
dalam kata-katanya ini terkandung suara demikian keras dan menentukan. Kiang
Liat terkejut sekali karena ia melihat betapa isterinya menjadi berubah air
rnukanya dan agaknya isterinya itu tidak berani menentang keputusan Ceng Si! Hal
ini menimbulkan kemarahan di dalam hatinya dan berkatalah Kiang Liat,
"Ceng Si, dalam hal ini sekali-kali tidak betul kalau kau berkeras kepala!
Agaknya memang kau sudah berjodoh dengan pelamar ini, karena malam tadi aku
bermimpi melihat kau bertemu dengan seorang sastrawan muda di dalam taman bunga.
Bukankah ini tanda bahwa kau memang berjodoh padanya" Maka kau tidak boleh
menampik!"
Perantara itu tertawa dan nampaklah giginya yang ompong. Ia menepuk-nepuk tangan
dan berkata, "Bagus sekali! Itulah impian yang amat baik artinya. Nona Ceng Si,
setelah Kiang-wangwe sendiri bermimpi seperti itu, jelas bahwa perjodohan ini
adalah kehendak Thian! Kau tidak bisa menolak kehendak Thian."
Hanya Kiang Liat yang tahu betapa wajah pelayan itu menjadi pucat sekali dan
jelas nampak kegugupannya ketika mendengar kata-kata Kiang Liat tadi. Hanya
untuk sekilas gadis pelayan itu mengerling kepadanya, akan tetapi di dalam


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kerlingan ini, Kiang Liat menangkap pandang mata yang penuh keheranan,
kekagetan, dan kebencian. Adapun Bi Li memandang kepada suminya dengan berterima
kasih. Ceng Si menundukkan mukanya. "Baiklah. Kalau Wan-gwe dan Hujin mendesak, saya
pun tak dapat membantah. Nasib hidupku memang berada di tangan kedua majikanku."
Kata-kata yang perlahan ini diikuti oleh mengalirnya air mata.
Hari pernikahan ditetapkan dan beberapa pekan kemudian, dilangsungkan pernikahan
antara Cia Sun dan Ceng Si. Setelah pelayan itu dibawa pergi oleh suaminya, Bi
Li merasa seakan-akan batu yang selama ini menggencat hatinya telah dilenyapkan.
Ia merasa lega sekali dan mukanya yang selama ini agak pucat, kini menjadi agak
kemerahan dan bercahaya. Sikapnya terhadap suaminya makin manis dan setiap hari
ia nampak gembira sekali. Biarpun terheran-heran dan ingin sekali tahu rahasia
apakah gerangan yang tersembunyi di dalam hubungan Ang I Nio Cu > karya Kho Ping
Hoo > published by buyankaba.com
59 antara isterinya dan Ceng Si, namun Kiang Liat tidak tega untuk mendesak
isterinya membuka rahasia itu. Ia terlalu cinta dan terlalu sayang kepada Bi Li,
kepercayaannya sudah bulat.
*** Setelah Ceng Si meninggalkan rumah gedung itu, Bi Li benar-benar kelihatan
seperti hidup baru. Ia nampak berbahagia sekali, perhatiannya kepada puterinya
bertambah, dan kasih sayangnya terhadap suami pun makin mesra. Tentu saja Kiang
Liat merasa beruntung sekali dan sepasang suami isteri ini hidup dalam keadaan
tenteram dan penuh kebahagiaan. Puteri mereka, Kiang Im Giok, nampak makin
mungil dan manis. Memang luar biasa sekali anak ini.
Tubuhnya montok dan sehat, kulitnya halus dan putih kemerahan, bentuk tubuhnya
demikian sempurna sehingga sukarlah mencari cacatnya. Biarpun masih kecil, sudah
kelihatan betapa sepasang matanya bercahaya dan bening, rambutnya hitam dan
subur. Tidak mengherankan apabila ayah bundanya amat sayang kepadanya.
Beberapa bulan lewat tanpa ada peristiwa yang luar biasa. Pada suatu hari,
ketika sepasang suami isteri ini sedang duduk makan angin di ruang depan dan
menimang-nimang Im, Giok, dari pekarangan luar masuk seorang laki-laki setengah
tua berpakaian pengemis. Kiang Liat yang berpendengaran tajam, cepat menoleh dan
begitu melihat pengemis itu, wajahnya berubah girang sekali.
"Suhu Han Le datang..." bisiknya kepada Bi Li yang juga memandang dengan heran.
Keduanya berdiri dan menyambut dengan penuh kehormatan. Han Le tersenyum-senyum
dan pendekar sakti ini memandang kepada Im Giok dengan pandang mata kagum.
"Aduh, puterimu ini benar-benar mengagumkan sekali, Kiang Liat!" katanya sambil
mengelus-elus kepala Im Giok yang baru berusia dua tahun.
Setelah dipersilakan duduk dan dikeluarkan hidangan, Han Le makan minum tanpa
sungkan-sungkan lagi, kemudian ia menuturkan maksud kedatangannya.
"Muridku, sekarang ada pekerjaan penting sekali untuk kita. Ketahuilah, dunia
kang-ouw sedang menghadapi ancaman dan bahaya hebat dan pada bulan Lak-gwe
(bulan enam) nanti adalah saat penentuan apakah dunia kang-ouw akan dapat
menyetamatkan diri atau tidak."
Han Le lalu menuturkan tentang pergerakan dari kaum Mo-kauw yang dipimpin oleh
Thian-te Sam-kauwcu, tiga orang tokoh besar aneh yang menjadi guru dari Bi Sian-
li Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko. Di samping mereka ini, masih banyak sekali
tokoh-tokoh Mokauw yang berilmu tinggi. Kini pihak Mo-kauw mulai dengan gerakan
mereka memusuhi dunia kangouw, dengan jalan mencuri kitab ilmu silat dari Siauw-
lim-pai dan pedang dari Kun-lun-pai.
"Supekmu Bu Pun Su telah turun tangan dan siap sedia menghadapi mereka. Kita
boleh percaya penuh akan kelihaian Bu Pun Su Suheng, akan tetapi, Thian-te Sam-
kauwcu dan kawan-kawannya bukanlah orang-orang biasa, melainkan iblis-iblis dan
siluman-siluman yang sakti. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk
membantu supekmu Bu Pun Su."
"Akan tetapi, Suhu. Mungkin Suhu merupakan bantuan yang amat berharga bagi
Supek, sedangkan teecu..." Baru menghadapi Pek Hoa Pouwsat saja teecu tidak
berdaya. Tentu saja teecu sama sekali tidak merasa takut dan untuk membela
Supek, teecu siap mempertaruhkan jiwa raga teecu."
"Betul kata-katamu itu, Kiang Liat. Aku pun tidak begitu bodoh untuk minta kau
menghadapi mereka. Aku hanya minta kau membantuku mencari beberapa orang yang
kiranya akan merupakan tandingan yang setimpal menghadapi pihak Mo-kauw."
"Siapakah mereka itu, Suhu" Teecu siap untuk mencari mereka."
"Orang pertama adalah Swi Kiat Siansu yang kini berada di barat. Orang ke dua
Pok Pok Sianjin yang kabarnya berada di utara. Mereka ini takkan mau turun
gunung kalau tidak aku sendiri yang datang dan membujuk mereka. Kiranya hanya
dua orang inilah yang
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
60 kepandaiannya sudah setingkat dengan pihak Mo-kauw. Selain mereka berdua,
alangkah baiknya kalau bisa mendatangkan Bun Sui Ceng dan The Kun Beng." Han Le
menghela napas panjang ketika menyebut nama dua orang ini.
"Siapakah mereka dan di mana tempat tinggal mereka, Suhu?" Kiang Liat tertarik
mendengar nama orang-orang yang amat dipuji oleh gurunya dan yang belum ia kenal
itu. "Mereka adalah orang-orang luar biasa. Keduanya mempunyai hubungan erat dengan
supekmu Bu Pun Su. Bun Sui Ceng adalah reorang pendekar wanita gagah perkasa,
murid tunggal dari mendiang Kiu-bwe Coa-li tokoh wanita nomor satu di dunia
kang-ouw. Adapun yang bernama The Kun Beng adalah murid ke dua dari mendiang
Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yakni sebenarnya ia adalah sute (adik seperguruan)
dari Swi Kiat Siansu. Namun seperti juga Bun Su Ceng, dia memiliki watak yang
amat aneh dan sukar diajak berunding. The Kun Beng dahulu menjadi tunangan Bun
Sui Ceng, akan tetapi mereka berpisah dan entah bagaimana keadaan mereka sampai
saat ini. Aku tidak sanggup menghadapi mereka, maka kaulah yang kuminta menemui
dua orang aneh itu. Kalau kau berhasil membawa mereka pada bulan Lak-gwe
menghadapi pihak Mo-kauw, kau berjasa besar sekali, Kiang Liat."
"Akan tetapi, murid belum pernah mengenal mereka dan tidak tahu di mana mereka
berada, Suhu. Bagaimana teecu dapat mencari mereka?"
"Mereka memang orang-orang aneh dan sukar sekali mencari tahu di mana mereka
berada. Baiknya aku belum lama ini mendengar bahwa Bun Sui Ceng sekarang bertapa di
sebuah pulau kosong yang terletak tidak jauh dari pantai timur di mana Sungai
Huai-kiang memuntahkan airnya ke laut. Dan aku percaya bahwa di mana ada Bun Sui
Ceng, tentu tak jauh dari situ kau dapat menjumpai The Kun Beng, karena dia ini
selalu membayangi bekas tunangan yang dicintanya."
"Baik, Suhu. Teecu akan berusaha mencari mereka. Akan tetapi kalau sudah
bertemu, apakah yang harus teecu katakan?"
"Katakan tentang munculnya tiga iblis yang sekarang menjadi pucuk pimpinan Mo-
kauw, tentang perbuatan mereka mencuri kitab Siauw-lim-pai dan pedang Kun Lun-
pai. Beritahukan pula bahwa pada nanti hari-hari pertama dari bulan Lak-gwe,
pihak Mo-kauw itu menantang kepada kita untuk menentukan keunggulan di tikungan
Sungai Yalu Cangpo, di mana sungai itu membelok ke barat, yakni di sebelah barat
Gunung Heng-tuang-san."
"Bagaimana kalau mereka menolak, Suhu?"
"Itulah yang kukhawatirkan. Akan tetapi, coba kau membujuknya. Terutama sekali
katakan bahwa supekmu Bu Pun Su yang diancam oleh pihak Mo-kauw, dan bahwa pihak
Mo-kauw lihai sekali sehingga Bu Pun Su Suheng takkan kuat menghadapi lawan
kalau mereka berdua tidak mau membantu."
Setelah menceritakan semua maksud kedatangannya, Han Le lalu pergi untuk mencari
Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin. Para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu
masih ingat akan nama-nama ini. Swi Kiat Siansu adalah murid pertama dari Pak-
lo-sian Siangkoan Hai, sedangkan Pok Pok Sianjin adalah murid dari Hek I Hui-mo.
Kiang Liat sendiri lalu meninggalkan pesan kepada isterinya agar supaya baik-
baik menjaga Im Giok. Bi Li menangis dan merasa berat sekali ditinggal pergi
oleh suaminya. "Jangan khawatir, isteriku yang baik. Aku pergi bukan untuk melakukan hal yang
berbahaya, melainkan untuk minta bantuan orang pandai. Sungguhpun demikian,
tugasku ini penting sekali. Sekarang sudah bulan dua, tinggal empat bulan lagi
waktunya, maka aku harus cepatcepat pergi mencari dua orang pandai itu
sebagaimana yang diperintahkan oleh Suhu."
Akhirnya Bi Li melepas suaminya pergi dan Kiang Liat berangkat menunggang seekor
kuda yang baik.
*** Sebulan kemudian, Kiang Liat sudah menukar kudanya dengan sebuah perahu yang
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
61 membawanya terapung-apung di laut sebelah timur. Dari para nelayan ia mendapat
keterangan bahwa di dekat pantai di mana air Sungai Huai-kiang mengalir ke laut
itu hanya terdapat tiga buah pulau kosong yang tidak ada penghuninya. Hatinya
girang karena kalau hanya tiga saja pulau yang berada di situ, mudah kiranya
mencari wanita sakti yang bernama Bun Sui Ceng.
Perahu yang dibeli oleh Kiang Liat adalah perahu yang baru dan kuat sekali,
layarnya juga masih baru, terbuat dari kain yang tebal. Dayungnya juga baik
sekali, maka pelayarannya maju dengan laju. Belum jauh ia meninggalkan pantai,
tiba-tiba ia mendengar suara orang bernyanyi. Kiang Liat merasa heran sekali
karena dari manakah datangnya suara nyanyian di atas lautan yang sunyi itu" Ia
menengok dan terlihatlah olehnya sebuah perahu butut dengan layar bertambal-
tambal sedang berlayar meninggalkan pantai. Jarak antara dia dan perahu butut
itu masih amat jauh, sehingga orang yang duduk di dalam perahu itu tidak
kelihatan jelas, akan tetapi suara orang yang bernyanyi itu demikian jelas
terdengar olehnya. Ia merasa terkejut sekali. Mungkinkah ada orang memiliki
lwee-kang demikian hebatnya" Atau barangkali kebetulan saja suara itu terbawa
oleh angin laut yang meniup kencang"
Karena tertarik, ia memandang penuh perhatian. Setelah perahu butut yang
ternyata cepat sekali gerakannya itu datang mendekat, ia melihat samar-samar
bahwa penumpangnya adalah seorang laki-laki setengah tua yang pakaiannya tidak
karuan, seperti seorang pengemis.
Orang. itu mendayung perahunya dan Kiang Liat melihat hal yang amat aneh. Ia
tahu bahwa angin bertiup kencang dan perahunya sendiri pun amat laju oleh tiupan
angin pada layar.
Dalam keadaan seperti ini, dayung tidak perlu digunakan lagi, karena betapapun
kuatnya orang mendayung perahu, takkan dapat melawan kekuatan tenaga angin
meniup layar. Akan tetapi anehnya, perahu butut yang sudah digerakkan oleh layar
yang melengkung terhembus angin, masih terdorong cepat ke depan tiap kali orang
itu menggerakkan dayungnya. Ini menandakan bahwa tenaga dorongan dayung itu
masih lebih hebat dan lebih kuat daripada tenaga tiupan angin pada layar tambal-
tambalan itu! Tiba-tiba Kiang Liat yang sudah memandang terheran-heran itu, mengeluarkan
seruan kaget. Betapa ia takkan kaget kalau melihat perahu butut itu tiba-tiba amblas dengan
kepala lebih dulu ke dalam air dan sekejap mata kemudian, perahu berikut layar
dan orangnya lenyap dari permukaan air!
"Celaka...!" serunya. "Perahu itu telah karam...!" Akan tetapi ia merasa heran
sekali. Bagaimana perahu dapat karam seperti itu" Lebih tepat kalau dikatakan bahwa
perahu itu sengaja menyelam dengan kepala di depan. Akan tetapi mungkinkah ini"
Mana bisa ada orang menyelam berikut perahu dan layarnya!
"Dukk!" Kiang Liat tersentak kaget. Tanpa ia ketahui karena sejak tadi ia
menoleh ke belakang, tahu-tahu kini perahunya menumbuk sebuah benda yang keras,
besar dan berat. Ia memandang dan melihat bahwa perahunya telah bertumbukan
dengan sebuah perahu besar dan terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh di atas
perahu besar itu.
Baiknya Kiang Liat cepat-cepat menggerakkan dayung untuk mengatur gerak
perahunya sehingga perahunya tidak sampai tenggelam.
Akan tetapi terdengar suara keras dan tiang layarnya patah. Bukan main
mendongkolnya hati Kiang Liat. Ia berdiri di dalam perahunya dan berdongak
memandang ke atas. Dari perahu besar itu ia mendengar suara tertawa lagi,
kemudian lapat-lapat ia mendengar suara khim (alat tetabuhan) yang dimainkan
orang, lalu disusul oleh suara nyanyian wanita.
"Kurang ajar! Siapa berani main-main dan sengaja menabrak perahuku?" seru Kiang
Liat marah. Tidak ada jawab dari petahu besar yang kini tidak bergerak lagi dan
masih menempel dengan perahunya. Saking jengkelnya, Kiang Liat mengayun
dayungnya, memukul badan perahu besar sekuat tenaga.
"Krakk!" Perahu besar bergoyang keras, akan tetapi badan perahu tidak apa-apa,
sebaliknya Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
62 dayung yang dipegangnya patah dan ujungnya hancur berkeping-keping. Ketika ia
meraba dengan tangannya, ternyata olehnya bahwa badan perahu besar itu
berlapiskan besi.
Suara khim berhenti dan sebuah kepala yang besar nongol dari atas pinggiran
perahu besar, diikuti makian,
"Demi setan air! Siapakah yang berani mampus memukul perahu!" Suara itu parau
dan ketika Kiang Liat memandang ke atas, ia melihat muka yang kulitnya kasar dan
bopeng, dengan sepasang mata bundar dan hidung pesek.
"Jahanam!" Kiang Liat balas memaki. "Perahumu yang menabrak perahuku. Apakah kau
buta?" Si Muka Bopeng menyeringai dan Kiang Liat mendengar suara wanita dari atas
perahu besar, "Tiat-thouw-gu (Kerbau Kepala Besi), apakah orang she Kiang yang berada di bawah
itu?" Kiang Liat terkejut sekali. Bagaimana ada orang dapat mengenalnya"
Siapakah wanita itu"
Si Muka Bopeng yang disebut Tiat-thouw-gu menjawab, "Agaknya betul dia, Wi Wi
Toanio. Apakah aku boleh menabrak dan menggulingkan perahunya agar ia mampus di perut
ikan?" "Jangan! Undang ia ke atas, aku ingin menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu
silatnya,"
jawab suara wanita itu.
Tiat-thouw-gu memandang kepada Kiang Liat, menyeringai, "Eh, bukankah kau orang
she Kiang dari Sian-koan?"
"Babi muka hitam, aku betul Kiang Liat dari Sian-koan! Apakah alasannya maka
manusia-manusia rendah macam engkau berani menghinaku?"
"Ha, ha, ha, suaramu besar sekali, bocah. Kau mendengar sendiri tadi, Wi Wi
Toanio minta kau naik. Beranikah kau?"
"Mengapa tidak berani?" Sambil berkata demikian, Kiang Liat menggenjot tubuhnya
dan dengan gerakan ringan sekali ia telah melompat ke atas. Untuk menjaga diri
agar jangan ia dibokong musuh, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang sambil
melompat ke atas perahu besar. Ketika ia sudah berdiri di dalam perahu, ia
menghadapi banyak orang yang kelihatannya rata-rata memiliki kepandaian tinggi.
Di tengah rombongan orang yang menumpangi perahu besar itu, ia melihat seorang
wanita setengah tua yang cantik sekali, berdiri dengan sepasang pedang di
tangan, sedangkan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki setengah tua
berpakaian mewah yang juga tampan dan gagah. Dan di kepala perahu terdapat tiga
patung sebesar manusia, patung tiga orang laki-laki yang aneh, yang seorang
tinggi kurus seperti tengkorak, yang kedua kurus bongkok bermata sipit dan yang
ke tiga, di tengah-tengah, tinggi besar, seperti raksasa. Kiang Liat tidak tahu
patung siapakah itu. Akan tetapi melihat wanita dan laki-laki yang nampaknya
halus gerak-geriknya itu ia tidak berani sembarangan, bahkan menjura dengan
hormat. "Tidak tahu siapakah Cu-wi sekalian dan mengapa pula mengganggu aku orang she
Kiang." Wanita itu tersenyum dan nampak ia manis sekali. Kiang Liat dapat menduga bahwa
dahulu di waktu mudanya, wanita ini tentu cantik sekali.
"Kiang-enghiong, bukankah kau murid Han Le dan kau disuruh oleh gurumu untuk
mencari bala bantuan guna membantu Bu Pun Su?"
Kembali Kiang Liat tertegun. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua
urusannya"
"Apa yang sedang kukerjakan, sedikitpun tidak ada sangkut-pautnya dengan Cu-wi
sekalian. Sekarang, apa yang Cuwi kehendaki maka menghadang perjalananku?" kata Kiang
Liat, sedikit pun tidak merasa gentar menghadapi orang yang dua puluh lebih
banyaknya itu. Terdengar suara orang-orang itu tertawa, dan wanita itu berkata,
"Kiang-enghiong, aku adalah Wi Wi Toanio dan gurumu tentu akan mengerti mengapa
aku menghadang pelayaranmu di sini. Sudah lama aku mendengar akan kelihaian Han
Le, maka sekarang bertemu dengan kau yang menjadi muridnya, aku tidak akan
menyia-nyiakan waktu.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

63 Sesungguhnya, kewajibanku ialah untuk melenyapkan kau di tempat ini, akan letapi
aku tidak mau berlaku kejam terhadap seorang muda seperti kau ini. Marilah kita
main-main sebentar sebelum aku mengajak kawan-kawanku berunding apa yang akan
kami lakukan atas dirimu."
Kiang Liat menjadi marah sekali. Terang bahwa ia dipandang ringan, dan ia maklum
pula bahwa orang-orang ini tentulah bukan kawan, dan kalau bukan musuh besar
gurunya, tentu musuh besar Bu Pun Su atau setidaknya anak buah Mo-kauw yang
dipimpin oleh Thian-te Sam-kauwcu. Teringat akan ini tiba-tiba ia menoleh ke
arah tiga buah arca di kepala perahu dan ia berkata,
"Hm, salahkah dugaanku bahwa tiga buah patung itu adalah arca-arca dari Thian-te
Sam-kauwcu?"
"Matamu awas sekali, Kiang-enghiong. Memang, mereka itu adalah arca-arca dari
ketiga ketua kami yang mulia," kata Wi Wi Toanio.
"Kalau begitu, kalian adalah anggauta-anggauta Mo-kauw!"
"Benar, bersiaplah kau dengan pedangmu!"
Kiang Liat maklum bahwa tidak ada lain jalan baginya kecuali bertempur mati-
matian. Ia sudah banyak mendengar dari suhunya akan kekejaman orang-grang Mo-
kauw yang tidak mau memberi ampun kepada orang yang mereka musuhi. Sambil
menggereng hebat, Kiang Liat menggerakkan pedang menangkis tusukan Wi Wi Toanio
yang sudah mulai
menyerangnya. Segera terjadi pertempuran sengit antara dua orang ini. Yang lain-
lain berdiri mengelilingi dan menonton.
Sepasang pedang di tangan Wi Wi Toanio benar-benar lihai sekali. Gerakannya
cepat dan aneh, tenaga lwee-kangnya pun hebat sekali. Bahkan, dengan terus
terang Kiang Liat harus mengaku bahwa dalam hal kecepatan dan tenaga dalam, ia
masih kalah oleh lawannya ini.
Baiknya ia memiliki ilmu pedang warisan Kiang yang sudah diperkuat dan
diperhebat oleh gurunya, maka ia dapat melakukan penjagaan diri yang kuat.
Wi Wi Toanio penasaran dan terheran-heran. Sudah tiga puluh jurus mereka
bertempur, belum juga ia mampu mendesak orang muda itu. Laki-laki tadi berdiri
di dekatnya, mengeluarkan seruan heran dan berkata dengan suaranya yang halus,
"Aneh sekali, aku berani bertaruh bahwa ini bukan Hun-khai-kiam-hoat Ang-bin
Sin-kai!" Mendengar seruan ini, diam-diam Kiang Liat mengeluh. Tidak saja wanita yang
menjadi lawannya ini tangguh sekali, juga seruan laki-laki tadi menyatakar bahwa
laki-laki itu pun seorang ahli silat yang pandai. Tidak sembarangan ahli silat
dapat mengenal Hun-khai-kiam-hoat, dan laki-laki itu dapat menyatakan bahwa ilmu
pedangnya bukan Hun-khai-kiam-hoat.
Karena tahu bahwa ia dikepung oleh orang-orang Mo-kauw yang tinggi
kepandaiannya, Kiang Liat menjadi nekat. Pedangnya digerakkan dengan cepat dan
ia mengeluarkan seluruh kepandalan yang ia dapat dari Han Le selama satu tahun.
Usahanya berhasil baik. Wi Wi 'I'oanio mengeluarkan seruan kaget dan dalam
beberapa gebrakan, Wi Wi Toanio dapat terdesak mundur oleh serangan Kiang Liat,
orang muda ini telah mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang yang disempurnakan oleh
Han Le, yakni pertama-tama ia menyerang dengan gerak tipu Pek-in-koan-goat (Awan
Putih Menutup Bulan), lalu disambung dengan Sin-eng-liap-in (Garuda Mengejar
Awan), dan akhirnya ia menyerang terus tanpa menghentikan pedangnya dengan gerak
tipu Sian-jin-hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan). Tiga serangan berantai ini
merupakan puncak dari ilmu pedangnya yang oleh Han Le disebut Lian-cu-sam-kiam
(Tiga Tikaman Pedang Berantai) dan amat lihai gerakannya.
Tiga jurus serangan ini dapat dilakukan terus-menerus dan ganti-berganti karena
dari jurus pertama ke jurus ke dua atau ke tiga mempunyai hubungan yang amat
dekat dan dapat disambung menurut sesuka hatinya.
Wi Wi Toanio adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi. Pembaca dari
cerita Pendekar Sakti tentu masih ingat bahwa Wi Wi Toanio adalah isteri dari An
Kai Seng, Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
64 keturunan dari An Lu Shan. Juga Wi Wi Toanio inilah yang dengan kecantikannya
yang luar biasa telah menjatuhkan hati Bu Pun Su dan menyeret Pendekar Sakti itu
ke dalam lumpur kehinaan. Semenjak dikalahkan oleh Bu Pun Su, suami isteri ini
mempelajari ilmu silat tinggi dan akhirnya mereka bersekutu dengan pihak Mo-
kauw, menjadi anggauta pimpinan yang disegani. Pihak Mo-kauw memang mempunyai
banyak orang pandai dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali. Maka tidak begitu mengherankan apabila mereka sudah
dapat mencium bau tentang tugas yang dijalankan oleh Kiang Liat untuk mengundang
dua orang pandai untuk membantu Bu Pun Su. Maka Wi Wi Toanio bersama suaminya
dan beberapa orang Mo-kauw segera ditugaskan untuk mencegat perjalanan Kiang
Liat dan kalau perlu membunuh orang muda ini.
Akan tetapi, kini menghadapi serangan Lian-cu Sam-kiam dari Kiang Liat, Wi Wi
Toanio terkejut bukan main. Ia masih bergerak cepat untuk menangkis dan
mengelak, akan tetapi gerakan yang aneh dari pedang Kiang Liat masih berhasil
membabat ujung lengan bajunya yang hampir membabat putus jari tangan kiri
sehingga sambil berseru kaget wanita ini melompat ke belakang dan melepaskan
pedang kirinya!
"Gempur dia!" bentak An Kai Seng marah sambil menyerang dengan pedangnya. Di
lain saat, Kiang Liat sudah dikeroyok oleh dua puluh orang lebih yang rata-rata
memiliki ilmu silat tinggi. Kiang Liat kewalahan, apalagi perahu ltu bergoyang-
goyang karena gerakan banyak orang. Dalam amukannya Kiang Liat berhasil
merobohkan dua orang dan ia terdesak sampai ke pinggir perahu.
Tidak ada lain jalan bagi Kiang Liat. Di atas perahu yang berguncang itu, ia
tidak dapat bersilat sebagaimana mestinya, maka untuk mencegah agar ia jangan
terjengkang ke dalam air, ia lalu melirik ke bawah. Girang hatinya melihat
perahunya masih menempel di pinggir perahu besar, maka sambil memutar pedang
sehingga para pengeroyoknya mundur, ia lalu melompat ke arah perahu kecilnya
itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat tiba-tiba perahu kecilnya
bergerak, meluncur maju cepat sekali sehingga tak dapat dicegah lagi, Kiang Liat
jatuh ke dalam air! Air muncrat tinggi dan Kiang Liat menelan air asin. Cepat ia
menahan napas dan mumbul lagi ke permukaan air, menggerak-gerakkan kaki tangan
sehingga ia dapat bertahan mengambang di atas air. Ia bukan seorang ahli renang,
namun kalau hanya menahan diri agar jangan tenggelam saja, ia masih bisa.
Dengan hati mendongkol dan juga heran, Kiang Liat melihat bahwa yang membikin
perahu kecilnya terdorong maju adalah seorang laki-laki setengah tua. Laki-laki
ini tiba-tiba saja muncul di permukaan air bersama perahu kecilnya berikut layar
tambal-tambalan dan ia ini bukan lain adalah laki-laki yang tadi bernyanyi-
nyanyi dan kemudian tenggelam bersama perahunya!
Dengan enaknya, laki-laki itu mempergunakan perahu mendorong perahu Kiang Liat.
Ketika Kiang Liat melihat perahunya, ia bergidik. Perahunya telah penuh dengan
anak panah yang menancap di seluruh badan perahu. Kalau tadi la berhasil
melompat ke dalam perahu, ia bersangsi apakah ia akan dapat menangkis hujan anak
panah itu. Kini ia melihat orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh kepadanya. Orang setengah
tua ini rambutnya awut-awutan, tubuhnya panjang kurus dan mukanya berkeriput.
Namun bentuk mukanya masih dan gagah. Ia hanya satu kali terkekeh kepada Kiang
Liat, kemudian tubuhnya tiba-tiba saja melayang naik ke perahu besar.
Kiang Liat ternganga keheranan. Ia sudah sering kali melihat ahli-ahli silat
tinggi bergerak, akan tetapi baru kali ini ia melihat orang melompat seperti
kakek itu. Perahu kecil yang ditinggalkannya sama sekali tidak bergoyang dan
ketika kakek tadi melompat, seakan-akan ia bersayap dan terbang ke atas begitu
saja! Terdengar suara gaduh di atas perahu, disambung oleh suara ketawa dan jerit
kesakitan. Tak lama kemudian, sesosok bayangan melayang turun dan tahu-tahu
kakek tadi telah berada di Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by
buyankaba.com 65 atas perahu Kiang Liat yang penuh anak panah.
"Locianpwe harap tinggalkan nama!" terdengar suara Wi Wi Toanio dari atas
perahu. Orang tua itu tertawa bergelak. "Wi Wi Toanio, aku datang dan pergi tak pernah
memperkenalkan nama!"
"Kau tetah menghina dan merusak patung Sam-kauwcu!" terdengar suara lain, suara
laki-laki. Orang itu tertawa bergelak, "Ha,ha, beritahukan kepada Thian-te Sam-kauwcu
supaya mereka jangan terlalu sombong dengan patung-patungnya!"
Perahu besar itu tadinya tidak bergerak, akan tetapi kini perahu itu mulai
bergerak pergi setelah orang-orangnya memasang layar. Agaknya mereka takut
sekali menghadapi orang aneh tadi. Orang itu pun hanya tertawa saja melihat
perahu itu pergi dari situ. Kiang Liat memandang kagum dan heran, akan tetapi
tak lama kemudian ia mendongkol sekali karena tanpa menoleh kepadanya, laki-laki
itu mendayung perahu dan pergi dari situ.
Kiang Liat hendak memperingatkan orang itu bahwa perahu mereka tertukar, akan
tetapi ia menahan niatnya. Agaknya orang itu sengaja menukar perahu yang butut
itu dengan perahunya yang masih baik, akan tetapi mengingat orang itu telah
menolongnya, pantaskah kalau ia ribut-ribut urusan perahu tertukar" Kekuatan
orang itu luar biasa sekali dan sebentar saja perahunya telah lenyap dari
pandangan matanya.
Biarpun mendongkol, Kiang Liat merasa beruntung juga bahwa peristiwa itu lewat
tanpa mendatangkan bencana kepadanya. Perahu yang ia duduki itu butut, akan
tetapi layarnya yang tambal-tambalan masih ada. Ia benar-benar tak dapat
mengerti bagaimana orang itu tadi dapat menyelam bersama perahunya termasuk
layar-layarnya! Angin bertiup dan cepat-cepat Kiang Liat memegang tali layar
untuk mengemudikan perahunya, menuju ke pulau kecil yang kelihatan samat-samar
dari situ. Tak lama kemudian sampailah ia di sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon-
pohon liar. Ketika ia mendaratkan perahunya dan menurunkan layar, ia melihat sebuah perahu
penuh anak panah di tepi pantai. Hatinya berdebar. Tak salah lagi, orang
setengah tua yang aneh tadi telah mendarat pula di pulau itu!
Baru saja Kiang Liat melompat ke darat, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan
tahu-tahu ia berhadapan dengan seorang wanita baju putih yang kurus. Wanita itu
usianya kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya agak pucat akan tetapi masih
kelihatan cantik. Sepasang alisnya dikerutkan dan bibirnya ditekuk sedemikian
rupa sehingga kelihatannya galak dan gagah sekali. Tangan kanan wanita itu
memegang sebatang cambuk yang ujungnya bercabang-cabang.
"Bocah lancang kurang ajar, berani sekali kau mendarat di pulau tanpa ijin!"
wanita itu berseru marah dan cambuknya menyambar ke arah Kiang Liat.
Kiang Liat kaget sekali. Sambaran cambuk itu mendatangkan angin dingin dan cepat
ia melompat ke belakang sambil mencabut pedangnya, karena ia tahu bahwa ia
berhadapan dengan seorang yang lihai. Akan tetapi, cambuk itu aneh sekali
gerakannya. Biarpun sabetan pertama tidak mengenai sasaran, namun seakan-akan
lengan wanita itu bisa terulur panjang dan cambuk itu kembali menyerang. Kini
ujung cambuk yang begitu bercabang-cabang itu bergerak-gerak seperti ular,
menyerang ke jalan darah di tujuh bagian!
Kiang Liat berseru keras dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuh. Akan
tetapi, tiba-tiba ia merasa tubuhnya kaku. Pedangnya terlilit oleh sebatang
ujung cambuk dan pundaknya kena ditotok, membuat ia seketika merasa kaku
tubuhnya dan di lain saat itu rebah lemas, pedangnya terampas!
Wanita itu tertawa mengejek, memasukkan pedang rampasan ke dalam sarung pedang
yang tergantung di pinggang Kiang Liat, kemudian menyeret tubuh Kiang Liat pada
lengannya, dibawa naik ke atas bukit. Di atas bukit itu, seorang laki-laki
setengah tua telah menantinya dan Kiang Liat melihat bahwa laki-laki itu adalah
orang aneh yang tadi telah menolongnya di atas laut ketika ia dikeroyok orang-
orang Mo-kauw. Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
66 "Sui Ceng, apakah benar-benar kau begitu tega hati dan berkeras membiarkan aku
bersengsara dan mati dalam keadaan hidup?" terdengar laki-laki itu berkata.
Kiang Liat menjadi kaget sekali. Tidak tahunya bahwa wanita yang ganas dan lihai
ini adalah Bun Sui Ceng, orang dicari-carinya dan yang disebut oleh gurunya
sebagai wanita yang lihai. Memang ia wanita lihai sekali, akan tetapi kalau
wataknya demikian ganas, tipis sekali harapan minta tolong kepada orang macam
ini, pikir Kiang Liat.
"Kun Beng, kau sudah tua, akan tetapi mengapa hatimu tetap muda" Cih, benar-
benar tidak tahu malu!" jawab wanita itu.
Kun Beng menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya. "Sui Ceng jangan kau
salah duga. Sudah lama aku dapat mengalahkan nafsu dan semua kata-kataku
terhadapmu bukan sekali-kali didorong oleh nafsu, melainkan didorong oleh
hasratku hidup seperti manusia biasa. Apakah kau juga ingin mati dan
meninggalkan dunia begitu saja tanpa meninggalkan keturunan yang akan menyambung
riwayat hidupmu?"
Sui Ceng, atau lengkapnya Bun Sui Ceng murid Kiu-bwee Coa-li, membanting-banting
kakinya dan keningnya dikerutkan. "Menyebalkan, menyebalkan! Kun Beng, seperti
kau tidak tahu saja. Apa sih baiknya hidup" Penuh penderitaan, penuh kepalsuan,
penuh penyesalan dan penuh keributan-keributan! Siapa ingin mempunyai keturunan
untuk merasakan semua penderitaan ini" Tidak, cukup diderita oleh kita sendiri,
jangan menurunkan nyawa lain untuk mengalami pahit getir seperti yang kita
alami. Sudahlah mari kita habiskan hidup dengan berlumba, siapa yang lebih cepat
maju!" Kun Beng kelihatan sedih sekali. "Sui Ceng, tak kusangka bahwa kau berhati yang
dingin dan keras. Akan tetapi, aku tetap tidak percaya. Kau sengaja mengeraskan
hati, padahal aku yakin bahwa kau masih mencinta padaku. Sui Ceng, apakah sampai
puluhan tahun kau masih saja belum dapat mengampuni kesalahan-kesalahanku?"
Mendengar percakapan ini, Kiang Liat menjadi terharu dan juga jengah. Tanpa
disengaja, ia mendengarkan percakapan dari dua orang tua tentang cinta kasih,
dua orang yang bicara mengenai hal demikian gawat secara begitu saja di
depannya, tanpa tedeng aling-aling!
"Kun Beng," suara Sui Ceng terdengar lembut, agaknya kata-kata Kun Beng tadi
mengharukan hatinya. "Bukan aku yang keras hati, melainkan kaulah. Cinta kasihmu
sampai puluhan tahun belum padam, benar-benar menandakan bahwa kau berhati
sekeras baja. Akan tetapi, seperti juga dulu telah kukatakan kepadamu berkali-
kali, kalau tidak salah sudah empat belas kali kau datang menyusul dan
membujukku, aku akan menuruti kehendakmu kalau kau sudah bisa mengalahkan
cambukku!"
Kun Beng menundukkan kepalanya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala itu. "Sui
Ceng, ke mana saja kau pergi, aku mencari dan menyusulmu. Sampal kau lari ke Go-
bi-san, ke perbatasan Mongol, ke rimba raya di lembah Huang-ho, aku menyusulmu.
Akan tetapi kau tahu bahwa aku tidak dapat menurunkan tangan untuk bertanding
silat denganmu, aku tidak dapat mengalahkanmu. Andaikata aku dapat, aku pun
tidak akan tega mengalahkanmu. Aku tidak ingin menjadi suamimu karena kekerasan,
atau karena kau terpaksa, aku menghendaki kau suka menerimaku sebagai suamimu
dengan cinta kasih."
"Jangan ngaco-belo!" Sui Ceng membentak marah, akan tetapi Kiang Liat maklum
bahwa wanita sakti itu terharu sekali, buktinya dua butir air mata menitik turun
ke atas pipinya. "Kun Beng, sudah dua tahun kita tidak bertemu, mari kau
melayani cambukku barang seratus jurus!"
Kun Beng menarik napas panjang. "Kau memang doyan berkelahi. Biasanya aku
melayanimu supaya kau gembira. Akan tetapi, sekarang aku akan berusaha
mengalahkanmu. Siapa tahu kalau-kalau dengan kekalahanmu, akan kalah pula
kekerasan kepalamu, Sui Ceng." Setelah berkata demikian, Kun Beng membuka baju
luarnya dan mengeluarkan sebatang tombak yang Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo
> published by buyankaba.com
67 kelihatannya butut dan kotor, akan tetapi di antara batang yang kotor itu
kelihatan kilauan dari logam aselinya.
Sui Ceng mengeluarkan seruan girang dan dengan kaki kirinva ia menendang tubuh
Kiang Liat yang tadi menggeletak di depannya karena orang muda ini masih tidak
berdaya dan berada dalam keadaan tertotok. Tubuh Kiang Liat terguling sampai
lima tombak lebih, akan tetapi ia dapat melompat bangun karena tendangan itu
ternyata adalah obat untuk membebaskannya dari totokan. Ia tidak berani
sembarangan bergerak hanya duduk di atas tanah dan memandang dengan hati
tertarik dan penuh perhatian. Hatinya berdebar. Ia diutus oleh gurunya untuk
mencari dan minta bantuan agar dua orang aneh itu, akan tetapi sekarang ia
menjumpai mereka dalam keadaan hendak bertarung untuk memperebutkan kebenaran
pendapat masing-masing! Benar-benar aneh sekali dua orang ini.
Sui Ceng adalah murid tunggal terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja ilmu
silatnya tinggi sekali. Kepandaian tunggal yang istimewa dari Kiu-bwe Coa-li,
yakni permainan cambuk, diturunkan kepadanya, maka dalam hal permainan senjata
aneh ini, Sui Ceng amat pandai dan tidak kalah lihainya dari mendiang Kiu-bwe
Coa-li. Cambuknya itu ujungnya bercabang sembilan dan setiap ujung merupakan


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

senjata maut yang mengerikan. Jangankan sampai kena pukul, baru terkena totokan
saja, setiap ujung cabang dapat mencabut nyawa lawan!
Di lain pihak, kepandaian The Kun Beng sudah disaksikan oleh Kiang Liat.
Pendekar ini adalah murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yang telah
mewarisi ilmu tombak dari mendiang suhunya. Maka ilmu tombaknya juga jarang ada
yang dapat menandingi pada masa itu. Ujung tombak ketika digerakkan tergetar
sehingga ujung itu seakan-akan berubah menjadi belasan banyaknya, mengeluarkan
suara mendenging yang menyakitkan anak telinga. Setiap tusukan, tangkisan, atau
pukulan dari tombak dan gagangnya disertai tenaga lwee-kang yang luar biasa
kuatnya. Demikian, dua orang itu bertempur dengan amat hebatnya. Kadang-kadang keduanya
lenyap dari pandangan mata, tertutup oleh selimut dari gulungan sinar senjata
mereka. Bahkan Kiang Liat sendiri yang terhitung seorang ahli silat kelas
tinggi, menjadi pening dan tidak dapat mengikuti gerakan-gerakan mereka dengan
baik. Akan tetapi, setelah bertempur dengan cepat ini sampai puluhan jurus,
tiba-tiba mereka kelihatan lagi dan kini pertempuran dilangsungkan tanpa
mengalihkan kedua kaki. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak dekat dan hanya
kedua tangan mereka saja yang bergerak dan senjata mereka yang menyambar-nyambar
pergi datang! Kiang Liat melongo. Selama hidupnya belum pernah ia melihat pertempuran sehebat
ini. Memang pernah ia menyaksikan kepandaian istimewa dari gurunya, Han Le, terutama
ia pernah pula mengagumi kehebatan supeknya, Bu Pun Su. Pernah pula ia
menghadapi orangorang lihai seperti Pek Hoa Pouwsat dan lain-lain, akan tetapi
belum pernah ia melihat dua orang sakti bertanding sehebat ini! Padahal
pertandingan mereka itu hanya "main-main"
belaka, bukan untuk saling membunuh, hanya sekedar mengadu limu atau menguji
tingkat saja. Setelah beberapa puluh jurus dilewatkan dengan pertempuran lambat, kembali
mereka bertempur cepat. Tiba-tiba terdengar suara "brett" dan melayanglah
sehelai robekan kain.
"Sui Ceng, aku mengaku kalah..." kata Kun Beng yang melompat keluar dari
kalangan pertandingan. Yang melayang tadi adalah robekan ujung bajunya, rupa-
rupanya terkena sabetan cambuk Sui Ceng.
Sui Ceng merengut, mukanya yang agak pucat itu menjadi merah.
"Kau memang laki-laki tahu! Selalu memperlihatkan sifat lemah dan mengalah.
Siapa tidak tahu bahwa kau tadi sengaja miringkan gagang tombakmu sehingga ujung
cambukku dapat merobek ujung bajumu" Cih, kau selalu mengecewakan hatiku!"
"Aku memang kalah, Sui Ceng," kata Kun Beng, wajahnya nampak berduka sekali.
Sui Ceng membanting-banting kedua kakinya. Tiba-tiba ia dan Kun Beng menengok ke
arah Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
68 Kiang Liat ketika mendengar orang muda itu berkata,
"Ji-wi telah memperlihatkan kepandaian yang tiada keduanya di kolong langit.
Kepandaian Ji-wi Locianpwe seperti kepandaian dewa saja. Boanpwe Kiang Liat yang
bodoh merasa beruntung sekali dapat menyaksikan kepandaian hebat itu." Sambil
berkata demikian, Kiang Liat menjura dengan penuh penghormatan.
Sui Ceng tiba-tiba tertawa senang, "Ah, benar juga, Kun Beng. Kau selalu sungkan
dan mengalah kalau mengadu kepandaian denganku. Sekarang ada orang muda ahli
pedang ini, biar dia yang menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita. Eh,
orang she Kiang, cabutlah pedangmu!"
Kiang Liat ragu-ragu, akan tetapi melihat sinar mata wanita sakti itu, ia tidak
berani membantah. Dicabutnya pedangnya dan ia memandang kepada Sui Ceng dengan
mata bertanya. Kiang Liat tertegun. Selama hidupnya baru satu kali ini ia menghadapi perintah
seaneh ini, yaitu ketika ia bertemu dengan Bu Pun Su, supeknya. Sekarang, lagi-
lagi ia menghadapi perintah serupa dari Bun Sui Ceng!
"Boanseng mana berani berlaku kurang ajar?" katanya perlahan.
"Bodoh! Aku sedang menguji kepandaian dengan Kun Beng. Hendak kami lihat di
antara kami, siapa yang lebih dulu dapat merobohkanmu. Hayo serang!"
Panaslah perut Kiang Liat. Ia merasa dihina sekali, hendak dijadikan permainan
oleh dua orang aheh itu, maka tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia lalu
menggerakkan pedangnya, menyerang dengan gerak tipu yang paling lihai dari ilmu
pedangnya, yakni Lian-cu Sam-kiam. Serangannya ini hebat dan ilmu pedang ini
adalah petunjuk dari Han Le, maka tingkatnya sudah tinggi sekali. Kalau tadi
Kiang Liat dengan mudah ditawan oleh Bun Sui Ceng dalam segebrakan saja, adalah
karena Kiang Liat diserang tiba-tiba dan ia tidak menyangka sama sekali akan
kelihaian Sui Ceng. Akan tetapi sekarang, ia sudah maklum bahwa ia menghadapi
seorang yang kepandaiannya jauh mengatasinya, maka begitu menyerang, ia
mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa dan mengerahkan semua tenaga lwee-
kangnya. "Ayaaa... bagus sekali ilmu pedang ini!" seru Bun Sui Ceng gembira. Ia melompat,
cambuknya terayun dan di tengah udara terdengar suara "tarr-tarr-tarr!" berkali-
kali dari ujung-ujung cambuknya. Sui Ceng benar-benar kagum karena ia tidak
mengira bahwa orang muda itu mempunyai kiam-hoat yang demikian lihai. Akan
tetapi, betapapun hebat ilmu pedang keluarga Kiang yang sudah disempurnakan oleh
petunjuk-petunjuk Han Le, tingkat kepandaian Kiang Liat memang jauh lebih
rendah. Ia kalah banyak dalam gin-kang, lwee-kang, dan kemahiran gerakan silat.
Apalagi memang senjata di tangan Sui Ceng itu benarbenar aneh dan hebat. Dengan
mati-matian Kiang Liat membela diri dan membalas dengan jurus-jurus pilihan,
namun pada jurus ke tiga belas ia tak dapat mempertahankan diri lagi.
Sebatang ujung cambuk di tangan Sui Ceng bagaikan seekor ular telah membelit
kaki kanannya dan tanpa dapat dicegah lagi, Kiang Liat terpelanting roboh ketika
Sui Ceng menarik cambuknya!
Kiang Liat bangkit berdiri dengan muka merah. Ia tidak merasa sakit. sama
sekali, hanya pakaiannya yang menjadi kotor. Setelah mengebut-ngebut pakaiannya,
ia menjura kepada Sui Ceng. "Terima kasih atas pelajaran dan petunjuk
Locianpwe."
Sebaliknya, Sui Ceng memandang kepadanya dengan tersenyum girang.
"Baru sekarang aku bertemu dengan seorang muda yang kepandaian ilmu pedangnya
demikian tinggi. Tak malu aku mengaku bahwa sampai sekarang pun aku belum dapat
mengenal ilmu pedangmu," katanya.
Terdengar The Kun Beng tertawa terkekeh, "Sui Ceng, biarpun ilmu pedang bocah
she Kiang ini lihai, tetap saja dalam tiga belas jurus ia roboh olehmu. Aku mana
bisa melakukan hal itu"
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
69 Sudahlah, aku pun mengaku kalah dalam pertandingan ini."
"Kau curang!" Sui Ceng membentak, "Mana bisa pertandingan dianggap kalah kalau
belum dilakukan" Eh, orang she Kiang, sekarang kaupergunakan pedangmu, seranglah
dia si tua bangka itu!"
Diam-diam Kiang Liat merasa kasihan dan terharu mendengar semua percakapan
antara dua orang setengah tua ini. Dia sendiri sudah merasakan kebahagiaan
berumah tangga, hidup penuh kasih sayang dan saling mencinta dengan Bi Li.
Mengapa dua orang aneh ini tak dapat mengecap kebahagiaan itu" Kalau saja aku
dapat menjadi perantara atau jembatan agar supaya mereka saling mendapatkan,
pikir Kiang Liat.
"Baik, Boanpwe akan menyerang. Awaslah, Locianpwe!" katanya dan pedangnya
bergerak cepat menyerang Kun Beng.
"Eh, eh, lihai sekali..." Kun Beng juga memuji dan suaranya gembira. Ahli silat
manakah yang tidak gembira menghadapi pertandingan ilmu silat" Ia mengerakkan
tombaknya dan terdengar suara berdencing ketika tombak bertemu dengan pedang.
Biarpun Kun Beng menangkis perlahan saja, namun Kiang Liat merasa telapak
tangannya pedas dan tergetar hebat. Ia terkejut sekali dan bersilat lebih hati-
hati. Ia tidak membiarkan pedangnya bertemu dengan tombak.
Akan tetapi setelah bertanding beberapa jurus, tahulah Kiang Liat bahwa lagi-
lagi kakek ini mengalah terhadap Sui Ceng. Kalau tadi dengan cambuknya, Sui Ceng
menyerangnya dengah hebat, penuh nafsu untuk cepat-cepat merobohkan, adalah Kun
Beng ini lebih banyak bertahan daripada menyerang. Kiang Liat tidak mau
membiarkan hal ini terjadi, maka pada jurus ke sepuluh, ia tidak menarik kakinya
yang kena diserampang oleh tombak dan tergulinglah dia!
Kun Beng berdiri terpaku, Sui Ceng tertawa geli, dan Kiang Liat merayap bangun.
"Kun Beng, kali ini kau menang!" kata Sui Ceng.
"Benar, dan Ji-wi Locianpwe sekarang dapat melanjutkan perjodohan itu!" kata
Kiang Liat. "Bocah lancang, apa maksudmu?" Sui Ceng membentak dan ia telah melompat ke depan
Kiang Liat dengan sinar mata bernyala penuh ancaman.
Kiang Liat kaget sekali, tak disangkanya bahwa wanita sakti ini akan marah.
"Bukankah tadi Ji-wi Locianpwe hendak mempergunakan Boanpwe sebagai ujian"
Bukankah tadi Locianpwe menyatakan bahwa kalau Locianpwe kena dikalahkan, maka
perjodohan baru dapat terjadi"
Boanpwe hanya mengatakan apa yang tadi boanpwe dengar, maka mohon banyak maaf
apabila boanpwe tanpa disengaja berkata lancang."
"Sui Ceng, orang muda pun merasa kasihan kepada kita, mengapa kau tidak kasihan
kepada diri sendiri?" Kun Beng berkata, suaranya gemetar.
Akan tetapi Sui Ceng marah sekali. Cambuknya diayun ke atas kepala, menimbulkan
suara yang nyaring, "Kau bocah lancang mulut, berani sekali bicara tentang
urusan orang lain. Kau harus diberi hajaran!"
Baiknya sebelum cambuk itu meluncur ke tubuh Kiang Liat, Kun Beng melompat dan
menahan Sui Ceng.
"Sabar Sui Ceng. Bocah she Kiang ini datang ke sini karena diutus oleh Lu Kwan
Cu!" "Apa..." Utusan Lu Kwan Cu...?" Sui Ceng menurunkan tangannya yang tiba-tiba
kelihatan lemas, matanya terbelalak memandang kepada Kiang Liat. Kiang Liat
tidak tahu bahwa Lu Kwan Cu adalah nama asli dari Bu Pun Su, maka ia tidak
mengerti. Hanya ia ingat akan pesan suhunya bahwa di depan dua orang ini, ia
harus banyak-banyak menyebut nama Bu Pun Su, oleh karena itu ia segera menjawab,
"Ji-wi Locianpwe... boanpwe Kiang Liat diutus Suhu Han Le dan Supek Bu Pun Su
untuk mencari Ji-wi."
"Hm, Bu Pun Su menyuruh kau mencariku, ada urusan apakah?" tanya Sui Ceng sambil
mengerutkan keningnya.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
70 Dengan singkat Kiang Liat lalu menuturkan apa yang ia dengar dari Han Le yakni
bahwa di dunia persilatan muncul tiga tokoh asing yang lihai dan yang kini
menguasai dunia kang-ouw, mengancam semua orang gagah yang tidak mau
menggabungkan diri dengan Mo-kauw. Dan bahwa pada bulan enam yang akan datang,
pihak Mo-kauw menantang BuPun Su dan orangorang gagah lainnya untuk mengadakan
penentuan siapa yang berhak menguasai dunia kangouw, di sebelah barat bukit
Heng-tuan-san. Mendengar ini, Sui Ceng nampaknya tidak tertarik sedikitpun juga.
"Serombongan tikus-tikus busuk macam itu saja, apa artinya bagi Bu Pun Su" Aku
berani mempertaruhkan kepalaku bahwa Bu Pun Su seorang diri pun akan sanggup
membasmi mereka sampai ke akar-akarnya. Mengapa pula harus orang seperti aku dan
Kun Beng membantu?"
"Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi, Sui Ceng," kata Kun Beng,
menggirangkan hati Kiang Liat yang tadinya sudah kecewa, "kali ini musuh-musuh
Bu Pun Su agaknya benarbenar hendak berusaha merebut kekuasaan di dunia kang-
ouw. Bahkan kedatangan Kiang-enghiong ke sini tak terluput dari perhatian mereka
sehingga Kiang-enghiong dihadang di tengah samudera. Tahukah kau siapa yang
menghadangnya dan hendak membunuhnya agar dia jangan minta bantuan kita?"
"Siapa" Anak buah Mo-kauw?" tanya Sui Ceng acuh tak acuh.
"Benar, akan tetapi bukan anak buah sembarangan, melainkan An Kai Seng sendiri
dan isterinya, siluman betina Wi Wi Toanio!"
Mendengar ini, mata Sui Ceng bercahaya. "Apa" Dan kau tidak bunuh mampus
mereka?" Kun Beng tersenyum dan menggeleng kepala. "Aku tidak mau membikin kau kecewa,
Sui Ceng. Membasmi mereka adalah tugasmu, bukan?"
"Di mana mereka?" Sui Ceng menggerakkan cambuknya.
"Kau dapat bertemu dengan mereka kelak pada awal bulan enam di Yalu Cangpo,
tikungan sebelah barat Gunung Heng-tuan-san," jawab Kun Beng.
"Bulan enam kurang tiga bulan lagi, Heng-tuan-san tidak dekat, mari kita
berangkat!" kata Sui Ceng tiba-tiba sambil berlari ke pantai.
Kun Beng memegang lengan Kiang Liat. "Orang muda, mari kita berangkat!" Kiang
Liat tak dapat menahan ketika tiba-tiba ia ditarik dengan cepatnya oleh Kun
Beng. Akan tetapi hatinya girang sekali karena tidak disangka-sangkanya,
tugasnya dapat dipenuhinya demikian mudah.
Lebih gembira lagi hatinya ketika di dalam perjalanan menuju ke Heng-tuan-san
itu, Sui Ceng dan Kun Beng yang suka melihat orang muda ini, berkenan menurunkan
beberapa jurus silat tinggi sehingga Kiang Liat mendapat kemajuan yang luar
biasa. Bahkan ia telah menerima pelajaran ilmu lari cepat dari Sui Ceng sehingga
ia dapat melakukan perjalanan dengan leluasa bersama dua orang tokoh ini, tak
perlu lagi ia digandeng oleh Kun Beng. Ilmu lari cepat dari Sui Ceng yang
disebut Yan-cu-hui-po (Tindakan Seperti Walet Terbang) memang luar biasa sekali,
dan berkat dari besarnya bakat dasar dalam diri Kiang Liat, pendekar muda ini
dapat mempelajarinya dengan amat cepat.
*** Awal bulan Lak-gwe di lembah Sungai Yalu Cangpo! Lembah ini biasanya sunyi, tak
pernah didatangi manusia karena memang daerah ini masih liar dan sukar
didatangi. Binatang-binatang buas yang aneh dan jarang terlihat di hutan-hutan
yang sudah dijajah manusia, masih berkeliaran di tempat ini. Orang tanpa
memiliki kepandaian tinggi jangan harap dapat keluar dari hutan ini dengan
selamat. Akan tetapi, pada pagi hari itu, di lembah sungai, tepat di mana sungai itu
membelok dan kembali mengalir ke arah barat, keadaan ramai sekali. Di sebuah
tempat terbuka di pinggir sungai, kelihatan banyak orang yang duduk di atas
rumput. Didepan mereka duduk beberapa orang di atas batu karang. Mereka seakan-
akan menanti datangnya orang lain. Bekas-bekas Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo
> published by buyankaba.com
71 tempat pohon ditebang menunjukkan bahwa tempat ini memang sengaja disediakan
untuk pertemuan ini.
Jumlah orang yang duduk di atas rumput ada tiga puluh orang lebih, pakaian
mereka bermacam-macam, akan tetapi rata-rata mempunyai air muka penjahat. Banyak
di antara mereka yang tinggi besar dengan muka kasar, gerak-geriknya, duduk
sambil minum arak atau mengobrol dengan kata-kata yang kotor dan kasar. Akan
tetapi ada pula yang gerak-geriknya halus dan bermuka tampan, namun sinar
matanya tetap membayangkan kekejaman dan kebuasan.
Di depan sekali, di atas batu karang, duduk Thian-te Sam-kauwcu, tiga orang dari
barat yang kini menguasai Mo-kauw. Memang mereka ini adalah orang-orang
terpenting dari Mo-kauw, yang berkumpul di situ untuk menghadapi musuh. Tak.
jauh dari tiga ketua ini, duduk pula Hek Mo-ko, dan Pek Mo-ko, sepasang manusia
iblis yang terkenal lihai dan keji.
Selain mereka ini, masih terdapat banyak tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, bahkan
di antaranya terdapat pula Kiam Ki Sianjin, seorang yang tinggi sekali ilmu
kepandaiannya! Karena pernah menderita kekalahan ketika menghadapi Bu Pun Su, Kiam Ki Sianjin
terpaksa menggabungkan diri dengan Thian-te Sam-kauwcu untuk memperkuat
kedudukannya. Akan tetapi yang paling mencolok di antara mereka semua, adalah seorang wanita
cantik jelita seperti bidadari yang duduknya terpisah, di sebelah kiri dari tiga
ketua itu. Dia ini kelihatannya masih muda, seperti seorang gadis dua puluh
tahun, cantiknya benar-benar membuat semua orang laki-laki yang berada di situ
menelan ludah dengan hati kagum dan penuh gairah. Akan tetapi tak seorang pun
berani memperlihatkan kekagumannya secara berterang, karena gadis ini bukanlah
orang sembarangan. Dia ini adalah murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu dan
dia bukan lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat. Melihat setangkai bunga putih
di rambutnya, orang akan mengenal Dewi Jelita ini, akan memandang dengan penuh
kekaguman akan tetapi kalau melihat gagang sepasang pedang yang tersembul di
pundak kirinya, orang itu akan merasa ngeri karena sepasang pedang itu entah
sudah makan berapa banyak nyawa orang-orang tak berdosa!
"Mengapa sampai sekarang dia belum muncul?" terdengar Hek-te-ong orang pertama
dari Thian-te Sam-kauwcu yang bertubuh tinggi besar, bertanya. Suaranya besar
seperti tambur dan kulitnya yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari
pagi. "Ha, ha, ha, agaknya Bu Pun Su sudah hilang nyalinya dan takut kepada kita...!"
kata Pek-inong orang ke dua yang tinggi kurus seperti cecak kering dan mukanya
seperti tengkorak.
Suaranya tinggi dan nyaring menusuk telinga.


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mendengar ejekan ini, semua orang ketawa dan bergemalah suara ketawa mereka
sampai di permukaan air sungai Yalu Cangpo.
Tiba-tiba suara ketawa mereka itu terhenti. Mereka terkejut mendengar suara
ketawa lain yang parau dan keras, yang keluar dari permukaan air sungai!
Cheng-hai-ong, orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu yang bertubuh kurus
bongkok dan bermata sipit menggerakkan tangan. Sebatang hui-to (golok terbang)
meluncur ke arah permukaan air. Air itu bergelombang dan hui-to itu tenggelam,
tidak ada tanda sesuatu. Kalau betul di permukaan air tadi ada sesuatu, jelas
bahwa hui-to itu tidak mengenai sesuatu.
"Bedebah, berani main gila dengan Cheng-hai-ong!" seru kakek kurus bongkok ini
sambil berbangkit dari tempat duduknya. Ia hendak melompat dan terjun ke dalam
air karena orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu ini memang seorang ahli dalam
air, maka julukannya juga Cheng-hai-ong yang berarti Raja Laut Hijau!
Akan tetapi, ia membatalkan niatnya karena tiba-tiba dari dalam hutan muncul
seorang kakek berusia empat puluh tahun lebih bertubuh sedang berpakaian
sederhana. "Thian-te Sam-kauwcu, aku sudah datang tak perlu gelisah!"
Semua orang memandangnya. Bu Pun Su berjalan lambat-lambat naik ke tempat
terbuka itu, tongkat kecil di tangan kiri, dipukul-pukulkan di atas tanah ketika
ia berjalan. Ia tidak Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by
buyankaba.com 72 kelihatan membawa senjata, hanya di pinggangnya terselip sebatang suling bulat.
Setelah tiba di depan Thian-te Sam-kauwcu, kurang lebih sepuluh tombak jaraknya
ia berhenti dan berdiri tegak.
Thian-te Sam-kauwcu sudah lama mendengar nama Bu Pun Su yang menggemparkan dunia
kang-ouw dan yang diakui oleh semua tokoh kang-ouw sebagai jagoan nomor satu,
akan tetapi baru kali ini mereka bertemu muka dengan pendekat sakti itu.
"Ha ha, ha, ha!" Hek-te-ong tertawa bergelak sambil memegangi perutnya, menahan
kegelian hatinya. Ia tidak hanya geli, akan tetapi juga sengaja mentertawakan
orang yang baru datang untuk menguji perasaan Bu Pun Su.
"Inikah yang bernama Bu Pun Su" Lucu sekali! Agaknya sudah tidak ada lagi orang
gagah di Tiong-goan sehingga bocah macam ini menjadi jago nomor satu. Ha, ha,
ha!" "Siluman hitam, sombong sekali mulutmu!" terdengar bentakan nyaring seorang
wanita dan nampak bayangan berkelebat cepat tahu-tahu Bu Sui Ceng telah berdiri
di dekat Bu Pun Su, cambuknya bergoyang-goyang di tangan kanannya.
Thian-te Sam-kauwcu tercengang. Gerakan wanita yang baru datang ini benar-benar
hebat, membuktikan bahwa gin-kang dari wanita ini sudah sampai di tingkat tinggi
sekali. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Bu Pun Su memang sengaja tidak
memperlihatkan kepandaian, berbeda dengan Bu Sui Ceng yang wataknya keras.
Di belakang Sui Ceng, menyusul datang The Kun Beng yang diikuti oleh Kiang Liat.
Melihat Sui Ceng, Bu Pun Su memandang dengan muka tak berubah, akan tetapi
wajahnya berseri ketika ia melihat Kun Beng datang bersama Sui Ceng.
"Bagus, kalian datang, ini tanda bahwa kiamat telah tiba bagi Thian-te Sam-
kauwcu," kata Bu Pun Su kepada Sui Ceng dan Kun Beng.
Belum habis gema suara Bu Pun Su ini, berturut-turut muncul Swi Kiat Sian-su dan
Pok Pok Sianjin, diikuti oleh Han Le! Sui Ceng tidak mau membuang banyak waktu.
Ia melangkah maju menghampiri tempat duduk Thian-te Sam-kauwcu. Di depan tiga
orang Ketua Mo-kauw ini, di atas tanah, terbentang sehelai kain dan di atas kain
berwarna hitam itu terletak sebuah kitab dan sebatang pedang. Sekali melihat
saja, Sui Ceng sudah dapat menduga dan ia berkata nyaring,
"Inikah kitab Siauw-lim-pai dan pedang Kun-lun-pai yang dicuri oleh kaum
siluman?" Kembali ia melangkah maju.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang lambat dan perlahan, akan tetapi
menyeramkan. Yang tertawa adalah Cheng-hai-ong. Tangannya bergerak dan belasan
benda warna hijau menyambar ke arah kitab dan pedang. Ketika Sui Ceng melihat,
ternyata bahwa sekeliling kain tempat kitab dan pedang itu telah terkurung oleh
anak-anak panah berwarna hijau yang menancap di atas tanah, begitu rapi seperti
ditancapkan dan diatur dengan tangan. Dengan adanya anak-anak panah itu, maka
kitab dan pedang itu terkurung rapat! Demonstrasi kepandaian ini tidak aneh
kalau orang tahu bagaimana cara mempergunakannya. Biasanya, anak panah hanya
diluncurkan dengan bantuan busur, akan tetapi melepaskan belasan batang anak
panah sekaligus hanya dengan lontaran tangan dan dapat mengenai sasaran demikian
tepatnya, jarang sekali ada orang dapat menirunya. Selain membutuhkan latihan,
juga membutuhkan lwee-kang yang amat tinggi.
"Hah, pertunjukan kanak-kanak macam itu siapa sih yang hargai?" kata Sui Ceng.
Cambuknya bergerak. Terdengar suara, "Tar! Tar!" beberapa kali dari sembilan
ujung cambuknya dan tanpa mengenai kitab dan pedang, anak-anak panah yang
tertancap di sekeliling kain hitam itu lenyap beterbangan ke kanan kiri!
"Heh-heh-heh, terima kasih atas pertunjukan ini. Kau tentu murid Kiu-bwe Coa-
li!" kata Cheng-hai-ong dengan senyum mengejek, sungguhpun di dalam hatinya ia
merasa kagum sekali.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
73 Pada saat itu, terdengar suara orang datang ke tempat itu dan ketika semua orang
memandang, ternyata datang pula dua rombongan orang, masing-masing rombongan
terdiri dari sepuluh orang. Rombongan pertama adalah rombongan hwesio dari
Siauw-lim-pai yang dikepalai oleh dua orang hwesio tua bertubuh gemuk. Rombongan
ke dua adalah rombongan tosu dari Kun-lun-pai yang dikepalai oleh seorang tosu
tua yang kurus dan tinggi.
Pada saat semua orang memandang kepada rombongan ini, dari pihak Mo-kauw
meloncat keluar seorang wanita setengah tua yang cantik. Wanita ini adalah Wi Wi
Toanio yang memegang sebuah tusuk konde perak, dipegang di tangan kanan dan
diangkat tinggi-tinggi.
Dia melompat ke depan dan memandang ke arah rombongan Bu Pun Su, matanya
mencari-cari dan ia berseru heran,
"Di mana dia...?"
Tak seorang tahu apa yang dimaksudkan oleh Wi Wi Toanio, akan tetapi pada saat
itu, Bun Sui Ceng dan yang lain-lain juga merasa heran karena tanpa mereka
ketahui, Bu Pun Su telah menghilang dari situ. Tak seorang pun tahu ke mana
perginya pendekar sakti ini!
Para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu maklum mengapa Bu Pun Su melenyapkan
diri. Pendekar sakti ini tadi melihat Wi Wi Toanio berada di antara rombongan Mo-kauw,
maka melihat wanita itu muncul sambil mencabut tusuk konde, ia lekas-lekas
melarikan diri dengan cepatnya. Sebagaimana diketahui dalam cerita Pendekar
Sakti, Bu Pun Su pernah terlibat dalam urusan asmara dengan Wi Wi Toanio dan
pernah bersumpah di depan wanita ular berbahaya ini bahwa ia akan selalu
menuruti kehendak Wi Wi Toanio. Adapun tusuk konde itu adalah hadiahnya kepada
Wi Wi Toanio dan di depan tusuk konde itulah ia bersumpah!
Oleh karena itu, apabila Wi Wi Toanio mengeluarkan benda ini di depannya, apapun
juga yang terjadi, Bu Pun Su selalu akan tunduk dan menyerah, sesuai dengan
sumpahnya yang tak mungkin ia langgar sendiri.
Di antara semua orang yang berada di situ, yang tahu sebab perginya Bu Pun Su,
hanyalah Han Le seorang. Kepada sute ini saja Bu Pun Su membuka rahasianya,
menceritakan dengan terus terang akan kebodohannya sehingga ia dahulu di waktu
mudanya masuk ke dalam perangkap Wi Wi Toanio. Oleh karena itu, kini Han Le
tampil ke muka, mewakili Bu Pun Su dan berkata kepada Thian-te Sam-kauwcu,
"Thian-te Sam-kauwcu, kiranya kalian sudah tahu betul apa maksud kedatangan
kami, terutama sekali mengapa rombongan saudara dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-
pai datang ke sini. Tak perlu bicara panjang lebar, adalah milik kedua partai
itu yang kalian curi secara tidak tahu malu. Kini kalian menghendaki kami
datang, sebenarnya apakah kehendak kalian?"
Hek-te-ong berdiri dari batu karang yang didudukinya tadi. Wajahnya yang hitam
itu menyeringai lebar, sama sekali tidak memandang mata kepada Han Le.
"Ha, ha, ha, entah ke mana perginya Bu Pun Su, akan tetapi kiranya dia takut
kepada kami. Kami tak perlu pula bicara panjang lebar, tak perlu menyembunyikan maksud kami.
Memang kitab Siauw-lim-pai dan po-kiam (pedang pusaka) Kun-lun-pai telah kami
bawa ke sini, karena tanpa mengambil dua benda ini, kiranya kalian takkan mau
menerima undangan kami.
Ketahuilah, sudah lama kami mendengar betapa golongan kalian memandang rendah kepada kami kaum Mo-kauw, banyak
penghinaan telah kami alami. Akan tetapi sekarang tiba waktunya kami untuk
memperlihatkan, siapa sebetulnya yang lebih kuat. Kitab dan pedang dapat kami
ambil tanpa kalian mengetahui, ini saja sudah membuktikan bahwa kami kaum Mo-
kauw tidak boleh dipandang rendah. Sekarang, terus terang saja kami menuntut
agar kalian suka berjanji bahwa selanjutnya pihak kalian tidak boleh mengganggu
kami dan mengakui kami sebagai sebuah partai persilatan terbesar di dunia kang-
ouw. Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai adalah partai-partai terbesar maka kedua
partai itulah yang kami tuntut supaya sekarang mengakui kami sebagai pimpinan
partai terbesar!"
Han Le tersenyum mengejek, "Hek-te-ong, kau bicara sombong sekali. Belum pernah
orangorang gagah di dunia kang-ouw mengganggu siapapun juga, kecuali mereka yang
jahat dan Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
74 sesat. Kalau Mo-kauw merasa terganggu, itu tandanya bahwa sepak terjang anggauta
Mokauw memang tidak patut. Bagaimana kau menghendaki kami berjanji tidak akan
mengganggu" Lebih baik kalian yang berjanji selanjutnya akan memperbaiki sepak
terjang, tentu kami takkan sudi mengganggu."
"Betul, betul sekali!" kata hwesio tua dari Siauw-lim-pai.
"Memang tepat, Kun-lun-pai hanya membasmi orang-orang jahat tidak peduli dari
golongan apa," kata tosu tua dari Kun-lun-pai.
Pek-in-ong yang tinggi kurus seperti tengkorak melompat maju dan ketawa dengan
suaranya yang tinggi menusuk telinga. "Aha, Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai merasa
diri sebagai orang-orang bersih di dunia ini dan memandang orang lain sebagai
orang-orang jahat. Apakah tidak ada anak murid Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai
yang jahat?"
"Kalaupun ada, kami selalu menangkap dan menghukumnya," kata hwesio Siauw-lim-
pai dengan suaranya yang keras.
"Bagus! Bicaralah seperti kau sendiri yang menjagoi di dunia! Hendak kulihat
apakah kau sanggup mengambil kembali kitabmu!" kata Pek-in-ong menantang. Memang
di antara Thian-te Sam-kauwcu, orang ke dua ini paling berangasan.
Hwesio Siauw-lim-pai yang gemuk itu melangkah maju dan mengebutkan lengan
bajunya. "Omitohud, datang-datang ditantang oleh tuan rumah. Siapakah Sicu" Apa
kedudukanmu dalam Mo-kauw" Pinceng Kok Beng Hosiang dari Siauw-lim-pai ingin
belajar kenal."
"Aku adalah Pek-in-ong, ketua nomor, dua dari Mo-kauw. Tak perlu banyak aturan,
kitab Siauw-lim-pai sudah terletak di depan kita. Kalau kau memang
berkepandaian, cobalah kauambil kembali."
Kok Beng Hwesio adalah tokoh ke tiga dari Siauw-li-pai, murid ke dua dari Ketua
Siauw-lim-pai, yakni Hok Bin Taisu. Dengan tenang ia melangkah maju dan
membungkuk, tangan kanannya menyambar ke arah kitab yang terletak di atas kain
hitam itu. Biarpun ia membungkuk mengambil kitab, namun sesungguhnya ini adalah
gerakan dari Siauw-lim-pai yang disebut Tit-ci-thian-te (Jari Menuding ke
Tanah), suatu sikap bhesi yang amat kuat, siap-sedia menghadapi serangan lawan.
Secepat kilat, Pek-in-ong melangkah maju dan sekali ia menggerakkan tangan yang
kanan menepuk ke arah ubun-ubun kepala hwesio gundul itu, sedangkan tangan kiri
menyambar ke arah pundak dengan totokan yang lihai.
"Bagus!" seru Kok Beng Hosiang. Hwesio ini membatalkan niatnya mengambil kitab
dan cepat merubah kedudukan tubuh, dua tangan diayun menangkis.
"Plak!" Dua pasang lengan yang penuh dialiri tenaga lwee-kang bertumbukan. Pek-
in-ong tidak bergeming, akan tetapi Kok Beng Hosiang mundur dua tindak! Dari
sini saja sudah dapat dibuktikan bahwa tenaga lwee-kang dari tokoh ke dua kaum
Mo-kauw itu jauh lebih tinggi.
Pihak Siauw-lim-pai terkejut sekali. Kok Beng Hosiang juga kaget dan cepat ia
meloloskan senjatanya yang tadi dililitkan pada perutnya yang gendut, yakni
sebuah rantai baja.
"Omitohud, kau kuat sekali. Terpaksa pinceng minta bantuan pian untuk merampas
kembali kitab pusaka!" Rantai itu dipukulkan ke tanah dekat kitab dan aneh!
Kitab itu mencelat ke atas. Selagi Kong Beng Hosiang hendak menyambar kitab
dengan tangan kiri, Pek-in-ong sudah mendahuluinya, menyambar kitab dengan
tangan kanan, melemparkannya kembali ke atas kain dan cepat kedua tangannya
bergerak menyerang ke arah iga dan lutut!
Kok Beng Hosiang cepat melangkah mundur dan kini tanpa sungkan-sungkan lagi
rantainya menyambar dengan serangan hebat yang disebut Sin-coa-wi-jauw (Ular
Sakti Melilit Pinggang). Rantainya menyerang dengan kuat, membabat pinggang
lawan. Pek-in-ong yang masih bertangan kosong itu tidak mengelak sama sekali,
membiarkan rantai itu mengenai pinggang dan sekejap kemudian pinggangnya telah
terpukul dan terlibat rantai! Akan tetapi alangkah kagetnya Kok Beng Hosiang
ketika merasa betapa rantainya mengenai benda yang Ang I Nio Cu > karya Kho Ping
Hoo > published by buyankaba.com
75 amat lunak sehingga, tenaga sabetannya tertelan habis, kemudian tiba-tiba ia
melihat sepasang lengan yang menyerang cepat sekali ke arah ulu hatinya, disusul
oleh tendangan ke arah anggauta rahasia!
"Ayaa...!" Kok Beng Hosiang terpaksa melepaskan rantainya dan melompat jauh ke
belakang, karena hanya jalan inilah yang dapat membebaskan ia dari maut.
"Ha, ha, ha, hanya demikian saja kepandaian tokoh Siauw-lim-pai" Ha, ha, ha!"
Sambil berkata demikian, Pek-inong mempergunakan jari-jari tangannya yang kurus
panjang untuk mematahkan rantai itu menjadi berkeping-keping, seperti orang
mematahkan sebatang hio saja!
Han Le dan yang lain-lain terkejut sekali. Bukan main kehebatan lwee-kang dari
Pek-in-ong. Kun Beng sendiri harus mengakui bahwa kepandaian Pek-in-ong tidak berada di
sebelah bawah kepandaiannya sendiri!
Bok Beng Hosiang, suheng dari Kok Beng Hosiang melompat maju dengan toya
kuningan di tangannya. Ia marah sekali dan membentak,
"Pek-in-ong, kau terlalu menghina Siauw-lim-pai! Biar pinceng mencoba untuk
merampas kembali kitab pusaka!"
Pek-in-ong tertawa, "Hwesio gundul, nanti dulu. Jangan bergerak sembarangan,
harus diadakan perjanjian dulu. Kau siapakah" Apakah kau memiliki kepandaian
yang lebih tinggi daripada Kok Beng Hosiang?"
Bukan main gemasnya hati Bok Beng Hosiang. "Orang sombong, dengarlah, Pinceng
adalah Bok Beng Hosiang, barusan suteku telah kaukalahkan, biar sekarang pinceng
yang mencoba kelihaianmu."
"Nanti dulu, harus dengan perjanjian. Kalau aku kalah, kau boleh mengambil
kitabmu yang butut, akan tetapi kalau kau kalah, kau sebagai wakil Siauw-lim-pai
harus bertekuk lutut dan mengakui kami sebagai orang-orang yang lebih berkuasa
dan mengakui Mo-kauw sebagai partai yang lebih tinggi dan kuat- daripada Siauw-
lim-pai. Bagaimana?"
Muka Bok Beng Hwesio sebentar merah sebentar pucat. "Keparat, kami orang-orang
Siauw-lim-pai tidak takut mati untuk membela kebenaran dan membasmi siluman-
siluman seperti kau! Biarpun mati, pinceng takkan sudi bertekuk lutut dan
selamanya Siauw-lim-pai takkan mengakui Mo-kauw yang sesat sebagai partai besar.
Terimalah senjataku!" Sambil berkata demikian, Bok Beng Hosiang langsung
menyerang dengan toyanya.
Harus diketahui bahwa Bok Beng Hosiang adalah murid pertama dari Hok Bin Taisu,
kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada sutenya, dan senjata yang ia pergunakan
adalah sebuah toya. Semua orang tahu bahwa ilmu toya dari Siauw-lim-pai amat
kuat dan lihai, maka pengharapan semua orang diletakkan kepada tokoh ini.
Melihat sambaran toya yang amat kuat dan dahsyat, Pek-in-ong tidak berani
menangkis, melainkan melompat mundur sambil memuji,
"Eh, eh, ada isinya juga si gundul ini!" Di lain saat ia telah mengeluarkan
senjatanya yang aneh, yakni sepasang roda. Tak lama kemudian terdengar suara
keras ketika toya itu berkali-kali beradu dengan dua roda yang dipegang di kedua
tangan. Tenaga lwee-kang mereka tidak jauh selisihnya, akan tetapi sepasang roda
itu benar-benar amat lihai. Tidak saja dapat dipergunakan untuk menangkis dan
memukul, akan tetapi juga beberapa kali roda-roda itu dilepas, berputar-putar
dan meluncur ke arah tubuh lawan, lalu disambar kembali. Maka sebentar saja Bok
Beng Hosiang telah terkurung oleh sepasang roda itu yang berputar-putar, kadang-
kadang menyerang langsung dari tangan Pek-in-ong, kadang-kadang terlepas dan
menyambar-nyambar dengan dahsyat dari atas!
Bok Beng Hosiang hanya dapat bertahan dua puluh jurus. Kepalanya telah menjadi
pening dan pada suatu saat, serangan berantai dari Pek-in-ong tidak dapat
dihindarkannya dan pundaknya terpukul oleh roda.
"Krek!" Bok Beng Hosiang mengeluh dan terhuyung ke belakang, cepat ditarik oleh
Kok Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

76 Beng Hosiang dan diselamatkan. Tulang pundak hwesio gemuk ini telah hancur!
"Ha, ha, ha, Siauw-lim-pai tidak patut menyimpan kitab pusaka!" Pek-in-ong
mentertawakan sambil menyimpan sepasang rodanya.
Han Le, Sui Ceng, Kun Beng, Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu marah sekali.
Akan tetapi sebelum mereka sempat bergerak, tosu tua pemimpin rombongan Kun-lun-
pai telah melompat maju.
"Siancai, siancai! Thian-te Sam-kauwcu memang lihai. Akan tetapi sayang
kepandaian mereka dipergunakan untuk maksud buruk. Pinto Cin Giok Sianjin dari
Kun-lun-pai datang untuk mengambil kembali pedang!" Sambil berkata demikian,
tosu tua ini melangkah tenang mengambil pedang. Baru saja tangannya diulur,
terdengar suara mendesing dan tiga batang anak panah hijau menyambar ke arah
tangannya! Cin Giok Sianjin berlaku tenang, cepat tangannya mengibas dan tiga
batang anak panah itu terpental kembali ke arah penyerangnya, yakni Cheng-hai-
ong orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu!
"Ha, ha, ha, ini baru namanya orang pandai!" Cheng-hai-ong tertawa sambil
melompat maju menghadapi Cin Giok Sianjin yang terpaksa membatalkan niatnya
mengambil pedang pusaka Kun-lunpai. Ia melihat orang kurus bongkok bermata sipit
berpakaian serba hijau berdiri di depannya sambil memegang sebatang rantai yang
ujungnya ada tengkoraknya!
Cin Giok Sianjin adalah tokoh kedua dari Kun-lun-pai, murid dari mendiang Seng
Thian Siansu, Ketua Kun-lun-pai. Tosu ini sudah puluhan tahun menjelajah dunia
kang-ouw dan sudah puluhan kali bertemu dengan lawan tangguh, akan tetapi baru
kali ini ia melihat senjata sehebat dan seperti itu. Mana ada orang bersenjata
rantai yang ujungnya dipasangi tengkorak"
Akan tetapi ia dapat menenangkan hatinya dan mengeluarkan sebatang pedang. Kun-
lun-pai terkenal dengan ilmu pedangnya dan dengan tenang ia berdiri tegak,
melintangkan pedang di depan dada dengan jurus pertahanan Locia-pai-hud (Locia
Menyembah Buddha).
"Tosu bau, mari kita main-main sebentar!" kata Cheng-hai-ong dan secepat kilat
menyambar, tengkorak di ujung rantainya bergerak ke arah kepala Cin Giok
Sianjin. Tosu ini cepat mengelak dan pedangnya menusuk langsung dari dadanya ke
dada lawan. Cheng-hai-ong miringkan tubuh dan kembali tengkoraknya menyambar,
kini dari arah belakang agak ke kanan, menghantam leher tosu Kun-lun-pai. Cin
Giok Sianjin melihat hebatnya serangan ini, maka ia tidak berani mengelak, dan
cepat menangkis dengan pedangnya.
"Plak!" Tengkorak itu terpukul miring, akan tetapi tidak pecah, sebaliknya, tosu
Kun-lun-pai itu merasa tangannya tergetar.
"Lihai sekali..." katanya dan sebentar kemudian pedangnya berubah menjadi
segulung sinar putih, menyambar-nyambar laksana seekor naga mengurung lawan. Ia
telah mengeluarkan kepandaiannya dan memainkan Kun-lun Kiam-hoat yang lihai.
Bukan main cepatnya gerakan pedangnya, cepat dan berat disertai tenaga lwee-
kang. Namun, Cheng-hai-ong masih tertawa-tawa dan mengimbangi permainan lawan dengan
ilmu silatnya yang aneh sekali. Tidak hanya tengkorak di ujung rantai yang
menyerang, kadang-kadang kedua kakinya menendang-nendang, tangan kirinya
mencengkeram, sikunya berkali-kali mencari sasaran, bahkan tekukan lututnya
sering diangkat menghantam perut dan tempat berbahaya.
Swi Kiat Siansu berkata lirih. "Hm, ilmu silat barat dicampur dengan ilmu gulat
dari Mongol. Benar-benar lihai sekali."
Juga yang lain-lain merasa kagum dan terpaksa memuji kepandaian orang ke tiga
dari Thian-te Sam-kauwcu itu. Mereka mulai mengkhawatirkan keselamatan Cin Giok
Sianjin, karena setelah bertempur tiga puluh jurus, jelas kelihatan tosu itu
mulai terdesak.
Tiba-tiba Cheng-hai-ong berseru aneh dan Cin Giok Sianjin berseru kaget,
terhuyung-huyung dan melompat mundur cepat sekali. Mukanya pucat dan dari
jidatnya nampak merah, temyata kulit jidatnya telah terluka! Hanya tokoh-tokoh
besar saja yang melihat betapa tadi dari mulut Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo
> published by buyankaba.com
77 tengkorak itu menyambar keluar tiga batang jarum hijau ke arah muka Cin Glok
Sianjin. Biarpun tosu ini sudah berkelit, namun tetap saja jidatnya tergores oleh
sebatang jarum hijau sehingga mengeluarkan darah!
Cheng-hai-ong tertawa bergelak dan Cin Giok Sianjin cepat membuka bungkusan obat
untuk mempergunakan obat penawar racun yang disengaja dibekalnya. Ia maklum dari
rasa gatal pada lukanya bahwa jarum hijau itu mengandung racun. Baiknya Kun-lun-
pai terkenal dengan obat-obatnya anti racun, maka ia masih dapat menyelamatkan
nyawanya, sungguhpun tak mungkin dapat maju bertempur lagi. Ia perlu bersamadhi
untuk mengerahkan lwee-kang dan mengusir pengaruh racun dengan hawa mumi di
dalam tubuhnya.
Han Le marah sekali. Pemimpin-pemimpin rombongan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai
telah dikalahkan dan diam-diam ia merasa menyesal sekali mengapa tokoh-tokoh
pertama dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai tidak mau keluar sendiri. Agaknya
kedua partai besar itu terlalu memandang rendah kepada pihak Mo-kauw, maka Ketua
Siauw-lim-pai, Hok Bin Tosu dan Ketua Kun-lun-pai yang baru Keng Thian Siansu
tidak mau datang sendiri. Kalau dua kakek itu datang, tentu akan lain
keadaannya, sungguhpun belum tentu mereka dapat mengalahkan Thian-te Sam-kauwcu
yang benar-benar lihai itu.
"Thian-te Sam-kauwcu! Kalian benar-benar tidak memandang mata kepada Siauw-lim-
pai dan Kun-lun-pai yang terkenal sebagai partai besar. Tidak saja kalian
mencuri kitab dan pedang, bahkan sekarang kalian dengan sombong telah melakukan
hinaan-hinaan," kata Han Le.
"Ha, ha, ha, yang kalah merasa terhina, itu sudah jamak. Salahkah kami kalau
kebetulan kepandaian kami memang jauh lebih tinggi daripada kepandaian kalian?"
kata Hek-te-ong sambil ketawa bergelak diikuti oleh anak buahnya.
"Hek-te-ong, alangkah sombongmu!" bentak Han Le marah sekali. "Dahulu yang
menjadi lima tokoh besar dunia persilatan adalah guruku Ang-bin Sin-kai dan para
Locianpwe Kiu-bwe Coa-li, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Pak-losian Siangkoan Hai
dan Hek I Hui-mo.
Biarpun mereka ini merupakan tokoh-tokoh dari delapan penjuru, namun mereka
masih tidak sesombong kau dan kawan-kawanmu, tidak pernah mau menghina partai
lain, apalagi melakukan pencurian yang rendah! Bahkan setiap kali muncul orang
jahat, para locianpwe itu turun tangan membasminya!"
"Ha, ha, ha, kau pengemis bau murid Ang-bin Sin-kai. Apa kaukira dapat menakut-
nakuti kami dengan nama-nama lima tokoh besar yang sudah mampus itu" Andaikata
mereka masih hidup, kamipun ingin sekali menjajal kepandaian mereka, apalagi
sekarang mereka sudah mampus. Apa yang perlu kami takutkan?"
"Bangsat bermulut besar. Murid Kiu-bwe Coa-li berada di sini! Aku Bun Sui Ceng
mewakili mendiang guruku untuk membasmi Mo-kauw!" bentak Bun Sui Ceng sambil
bersiap-siap dengan cambuknya.
"Pinto Swi Kiat Siansu mewakili mendiang Suhu Pak-lo-sian Siangkoan Hai
menggempur orang jahat!" kata Swi Kiat Siansu dengan tenang dan sama sekali
tidak memandang mata kepada Thian-te Sam-kauwcu.
"Siancai, siancai, biarpun mendiang Suhu Hek I Hui-mo menjalani jalan hitam,
namun kiranya beliau akan turun tangan kalau menghadapi siluman-siluman sombong
seperti kalian!
Biarlah pinto Pok Pok Sianjin mewakilinya." kata pula Pok Pok Sianjin sambil
mengerling tajam.
"Sayang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tidak ada wakilnya," kata Kun Beng
tersenyum mengejek. "Karena Suhu Pak-losian Siangkoan Hai telah diwakili oleh
Suheng, biarlah aku The Kun Beng mewakili mendiang Jeng-kin-jiu yang gagah
perkasai!"
"Bagus sekali! Jadi lima tokoh besar itu kini telah diwakili oleh murid-
muridnya. Kami memang ingin sekali mencoba kepandaian mereka. Hayo, siapa yang
hendak maju lebih dulu?" kata Hek-te-ong memandang rendah.
Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
78 "Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku," kata Han Le yang cepat maju sambil
mencabut pedangnya.
Sebelum Hek-te-ong menghadapinya, di pihak Mo-kauw muncul seorang kakek kate
dengan telinga lebar, pakaiannya serba hitam. Dia ini adalah Hek Mo-ko yang
berkata kepada Hek-teong.
"Twa-suhu, biarlah teecu menghadapi murid Ang-bin Sin-kai ini. Ingin teecu
merasai kelihaian Hun-khai-kiam-hoat dari Ang-bin Sin-kai. Heh-heh-heh-heh!"
Setelah gurunya mengangguk, Hek Mo-ko lalu meloloskan sepasang senjatanya yang
aneh, yakni sebatang pedang bengkok dan seuntai tasbeh, "Han Le pengemis busuk,
kita bertemu lagi sekarang dalam pertandingan satu lawan satu yang menentukan.
Hayo kaukeluarkan segala
kepandaianmu akan kulihat."
Han Le mendongkol sekali. Ia sudah tahu akan kelihaian Iblis Hitam ini. Akan
tetapi ia tidak menjadi gentar sungguhpun ia tahu bahwa ia menghadapi lawan
tangguh dan harus berlaku hati-hati sekali.
"Majulah, Hek Mo-ko," katanya sambil melintangkan pedang.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh Hek Mo-ko mulai menyerang. Pedangnya yang aneh
bentuknya itu membuat gerakan melingkar, disusul oleh tasbehnya yang meluncur ke
arah lambung Han Le. Maklum akan bahayanya serangan orang kate ini Han Le tidak
berani berlaku lambat. Pedangnya bergerak cepat dan dengan jurus-jurus terlihai
dari Hun-khai-kiam-hoat, tidak saja ia menangkis dan menggagalkan serangan
lawan, bahkan dengan kontan keras ia membalas serangan Hek Mo-ko dengan sabetan
dan tusukan maut.
Ilmu pedang Hun-khai-kiam-hoat warisan Ang-bin Sin-kai sudah hebat, apalagi
ditambah dengan pelajaran yang didapat dari lukisan-lukisan ilmu silat dari Im-
yang Bu-tek-cin-keng di dalam guha di Pulau Pek-hio-to, maka bukan main lihainya
ilmu pedang yang dimainkan oleh Han Le. Diam-diam Hek Mo-ko memuji dan tahulah
ia mengapa dahulu ketika menghadapi pengemis ini, sutenya hampir saja celaka.
Namun, bagi Han Le juga tidak mudah mengalahkan Hek Mo-ko, karena selain dalam
ilmu silat Iblis Hitam yang kecil ini masih lebih lihai daripada Pek Mo-ko, juga
tenaga lwee-kangnya amat tinggi, masih lebih kuat daripada tenaga lwee-kang Han
Le. Setelah pertempuran berjalan lima puluh jurus lebih, tiba-tiba saja Hek Mo-
ko merubah gerakannya.
Kini ia bergerak lambat, akan tetapi dengan pengerahan tenaga lwee-kang
sepenuhnya sehingga tiap kali pedang di tangan Han Le terbentur dengan pedang
bengkok atau tasbeh, pedang murid Ang-bin Sin-kai ini terpental dan telapak
lengannya panas!
Di antara para tokoh itu, hanya Swi Kiat Siansu seorang yang tahu bahwa dalam
perubahan ini terjadi kecurangan dari pihak Thian-te Sam-kauwcu. Swi Kiat Siansu
sudah banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, terutama sekali di daerah barat di
mana banyak diyakinkan ilmu hoat-sut (sihir). Tadi secara kebetulan ia melihat
Hek-te-ong memandang tajam ke arah Hek Mo-ko dengan mulut bergerak-gerak.
Sungguhpun tidak terdengar sedikit pun suara dari mulutnya, namun Swi Kiat
Siansu maklum apa yang telah terjadi.
"Hek-te-ong, kau curang!" serunya marah. "Diam-diam kau membantu Hek Mo-ko!"
"Siapa membantu?" Hek-te-ong mengejek. "Aku tidak bergerak dari tempat dudukku!"
Semua orang juga heran mendengar dakwaan Sui Kiat Siansu tadi. Akan tetapi
sesungguhnya memang Hek-te-ong telah membantu Hek Mo-ko dengan ilmu mengirim
suara yang disalurkan dengan tenaga lwee-kang melalui pengerahan khi-kangnya. Suara ini
biarpun perlahan, namun langsung bergema di telinga Hek Mo-ko tanpa terdengar
oleh orang lain.
Hek-te-ong yang berpemandangan luas dan tajam, tahu bahwa tanpa merubah siasat,
sukar bagi Hek Mo-ko untuk mencari kemenangan, maka diam-diam ia membisikkan
siasat kepada Hek Mo-ko untuk mempergunakan tenaga lwee-kang sepenuhnya dalam
pertempuran itu.
Benar saja, setelah Hek Mo-ko merubah cara bertempurnya, Han Le menjadi sibuk.
Biarpun Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
79 ia berada di pihak menyerang, akan tetapi setiap tangkisan lawan merupakan
serangan balasan yang langsung merugikannya.
Tiba-tiba ia mendengar suara bisikan perlahan yang mengejutkan hatinya. Ia
mengenal baik suara itu, yakni suara suhengnya, Bu Pun Su. Seakan-akan Bu Pun Su
berdiri di dekatnya dan berbisik di dekat telinganya,
"Sute, jangan adu senjata. Pergunakan gin-kang dan serang dia dengan Bu-eng-
kiam-sut!"
Han Le girang sekali. Ia maklum akan kelihaian suhengnya, dan ia tahu bahwa
biarpun tadi menghilang, ternyata Bu Pun Su berada di dekat situ dan sekarang
berusaha menolongnya.
Cepat ia berseru keras dan pedangnya berubah gerakannya. Kini pedang berkelebat
menyambar ke sana sini. Bayangan Han Le lenyap terbungkus gulungan sinar pedang.
Bukan main cepatnya gerakan Bu-eng-kiam-sut (Ilmu Pedang Tanpa Bayangan) ini!
Ia berhasil, Hek Mo-ko mengeluarkan seruan kaget dan sebentar saja terdesak
mundur. Beberapa kali Hek Mo-ko menggerakkan sepasang senjatanya, memukul membabi-buta,
namun tak pernah senjatanya yang digerakkan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya
itu dapat menyentuh senjata maupun tubuh lawannya. Tiba-tiba dengan gerakan
cepat, Han Le berhasil menusuk paha Hek Mo-ko dengan pedangnya. Akan tetapi
alangkah terkejutnya ketika ia merasa pedangnya terpental dan hanya dapat
merobek celana dan sedikit daging berikut kulit paha lawan!
"Aduh!" teriak Hek Mo-ko yang cepat menggunakan pedang bengkoknya menyabet ke
arah pedang Han Le.
"Cring...!" Pedang terlepas dari tangan Han Le dan telapak tangannya pecah-pecah
kulitnya. Keduanya melompat mundur. Hek Mo-ko terluka pahanya. Han Le terluka telapak
tangannya. Setelah memungut pedangnya, Han Le berkata,
"Hek Mo-ko, kau lihai sekali."
Hek Mo-ko menyeringai, ia mendongkol sekali karena dalam pertandingan tadi,
biarpun ia dapat membuat pedang lawan tertangkis, namun ia sendiri menderita
luka di paha, sehingga kalau dibandingkan, kerugiannya lebih besar.
"Kau patut menjadi murid Ang-bin Sin-kai," katanya perlahan.
Pek Mo-ko melompat ke depan dan mengangkat dadanya yang bidang. Ia marah melihat
kakaknya terluka, maka dengan lantang ia berkata,
"Siapa lagi yang hendak gagah-gagahan mewakili Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai
merampas kembali kitab dan pedang" Majulah, aku Pek Mo-ko akan menjaga dua benda
ini!" Ia berdiri tegak di dekat kitab dan pedang, sikapnya menantang sekali.
Pok Pok Sianjin marah sekali melihat lagak tengik dari Pek Mo-ko ini. Ia
melompat ke depan dan menghadapi Pek Mo-ko dengan tongkat hitam di tangan.
"Pek Mo-ko, ucapanmu itu menandakan bahwa kau seorang rendah dan seperti katak
dalam sumur. Akulah orangnya, Pok Pok Sianjin murid Hek I Hui-mo yang akan
menghadapimu. Majulah menerima kematian!"
Pek Mo-ko gentar melihat Pok Pok Sianjin. Sebetulnya, kalau dijelaskan, Hek I
Hui-mo masih ada hubungan dengan gurunya, karena gurunya itu terhitung adik
seperguruan Hek I Hui-mo. Akap tetapi, karena sekarang ia telah menjadi murid
Thian-te Sam-kauwcu, dan ketiga orang gurunya yang lihai masih berada di situ,
ia tidak mau memperlihatkan takutnya, ia sebaliknya tertawa bergelak,
"Ha, ha, Pok Pok Sianjin, alangkah bedanya kau dengan mendiang gurumu. Pantas
kau dahulunya kutu buku, mana bisa menjadi seorang yang berpikir luas" Kalau
gurumu masih hidup, tentu kau akan dicaci-maki!"
Pok Pok Sianjin marah sekali mendengar ini. Memang sebetulnya ia mempunyai
pendirian lain dengan mendiang gurunya. Hek I Hui-mo terkenal sebagai seorang
liar kejam dan Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
80 mengandalkan kepandaian sendiri, yang tidak segan-segan melakukan perbuatan
jahat untuk kepentingan dan keuntungan sendiri. Andaikata gurunya masih hidup
dan berada di situ, belum tentu gurunya mau membantu pihak Bu Pun Su. Sekarang
mendengar makian Pek Mo-ko, ia cepat menubruk maju menggerakkan tongkatnya.
Ilmu tongkat dari Pok Pok Sianjin adalah warisan dari tokoh besar Hek I Hui-mo
yang kepandaiannya setingkat dengan Kui-bwe Coa-li atau Ang-bin Sinkai. Maka
dapat dibayangkan betapa hebatnya tongkat hitam yang dimainkannya itu. Pek Mo-ko
cepat menangkis dengan tasbehnya, akan tetapi sekali benturan saja, untaian
tasbehnya terlepas dan putus!
Dengan kaget Pek Mo-ko melompat ke samping dan membalas dengan serangan kilat,
mempergunakan pedang bengkoknya dan sekali menangkis, kembali pedang Pek Mo-ko
terpental, hampir terlepas dari pegangan. Kemudian terjadilah pertempuran hebat.
Namun mudah dilihat bahwa Pek Mo-ko masih kalah lihai sehingga ia main mundur
saja. Pada suatu saat yang tepat, tongkat di tangan Pok Pok Sianjin berhasil
menyodok dada Pek Mo-ko yang terjengkang dan roboh sambil muntahkan darah.
Baiknya tenaga lwee-kangnya sudah matang sehingga ia dapat memelihara, dan


Pendekar Wanita Baju Merah Ang I Niocu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjaga isi dada. Ia muntahkan darah bukan karena terluka, melainkan karena
telalu keras mengerahkan hawa menjaga dada. Namun ia tak mungkin dapat melawan
terus dan Hek Mo-ko menyeretnya ke pinggir.
Pok Pok Sianjin menghampiri pedang dan kitab, hendak mengambilnya, akan tetapi
tiba-tiba dari samping ada angin menyambar, Pok Pok Sianjin terkejut sekali dan
cepat melompat mundur. Sebatang pedang hampir saja menabas putus lengannya,
demikian cepatnya gerakan pedang yang menyerangnya itu. Ketika ia menengok, ia
melihat seorang kakek tua sekali berdiri sambil mengurut-urut jenggot.
"Kiam Ki Sianjin, kembali kau berada di antara orang-orang jahat!" Pok Pok
Sianjin memaki.
"Memang, ular belang selalu berkawan dengan segala binatang berbisa."
"Ha, ha, ha, bocah kemarin sore berani main gila. Gurumu sendiri belum tentu
berani berlagak sombong di depanku, kau masih kanak-kanak bau ingus ketika aku
sudah menjagoi dunia kangouw. Tidak tahukah kau bahwa di dunia kang-ouw sekarang
ini tidak ada orangorang yang dapat menandingi Thian-te Sam-kauwcu" Mengapa kau
masih membutakan mata"
Lebih baik kalian cepat mengakui bahwa Thian-te Sam-kauwcu memang patut menjadi
pimpinan besar dari semua partai."
"Ngaco-belo! Kau memang ular kepala dua, kaukira aku takut kepadamu?" Pok Pok
Sianjin tak mau membuang banyak waktu lagi, cepat ia menyerang dengan
tongkatnya. Dengan tertawa mengejek, Kiam Ki Sianjin menggerakkan pedang dan menangkis
serangannya. Segera keduanya bertempur seru. Bagi para pembaca cerita Pendekar
Sakti tentu masih ingat bahwa Kiam Ki Sianjin adalah tokoh besar yang lihai,
bahkan ia pernah bekerja sama dengan Hek I Hui-mo. Sekarang melihat murid Hek I
Hui-mo berada di pihak Bu Pun Su, selain heran ia juga marah sekali. Apalagi
ketika ia melihat betapa dengan mudah Pok Pok Sianjin mengalahkan Pek Mo-ko, ia
tak dapat menahan kemarahannya dan muncul ke depan tanpa bertanya lagi kepada
Thian-te Sam-kauwcu, karena memang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, tidak
jauh selisihnya dengan tingkat kepandaian tiga ketua itu.
Betapapun lihainya Pok Pok Sianjin, menghadapi pedang Kiam Ki Sianjin ia repot
juga. Murid Hek I Hui-mo ini memang tadinya hanya seorang sastrawan muda dan ia hanya
terpaksa saja menjadi murid tokoh besar Hek I Hui-mo (baca Pendekar Sakti). Maka
setelah ia mewarisi ilmu silat tinggi, ia jarang sekali berlatih dan biarpun
kepandaiannya sudah tinggi, akan tetapi ia jarang bertempur. Kini yang
dihadapinya adalah seorang ahli silat tinggi yang boleh dibilang pekerjaannya
sehari-hari hanya bersilat dan bertempur, maka dalam jurus ke empat puluh,
pedang Kiam Ki Sianjin berhasil melukai pundaknya. Terpaksa Pok Pok Sianjin
melompat ke belakang, ditertawai oleh Kiam Ki Sianjin.
Kun Beng marah sekali dan sambil memaki keras ia melompat maju menggantikan Pok
Pok Ang I Nio Cu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
81 Sianjin, tombaknya terus digerakkan menyerang Kiam Ki Sianjin. Kakek ini tertawa
terkekeh-kekeh dan menggerakkan pedangnya menangkis sehingga sekejap kemudian
mereka telah bertanding mati-matian.
Melihat bahwa sute itu pun agaknya takkan dapat menangkan Kiam Ki Sianjin yang
lihai, Swi Kiat berseru keras dan murid pertama dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai
ini memasuki kalangan pertandingan dengan senjatanya yang ampuh di tangan, yakni
sepasang kipas, senjata istimewa dari mendiang gurunya!
"Perlahan dulu, tukang dapur!" Hek Mo-ko membentak dan bersama Pek Mo-ko, ia
menyambut Swi Kiat Siansu. Dua saudara iblis hitam putih ini telah mengambil
senjata cadangan dan biarpun mereka telah terluka, namun luka yang ringan itu
tidak menghambat gerakan mereka. Terpaksa Swi Kian Siansu menghadapi keroyokan
Hek Pek Mo-ko yang tentu saja amat berbahaya setelah maju bersama.
Pok Pok Sianjin yang terluka pundaknya, tidak mau tinggal diam melihat dua orang
kawannya didesak. Ia melompat maju dan tongkatnya kembali menyambar-nyambar,
akan tetapi sebelum ia dapat membantu, terdengar suara ketawa merdu dan tahu-
tahu seorang gadis cantik jelita menyambut tongkat dengan sepasang pedang.
Temyata bahwa Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-
kauwcu telah turun tangan! Pek Hoa Pouwsat memiliki kepandaian yang istimewa dan
masih lebih tinggi tingkatnya daripada Hek Pek Mo-ko, maka tentu saja dalam
beberapa belas jurus Pok Pok Sianjin telah terdesak hebat, terkurung oleh
sepasang pedang dan keselamatannya terancam sekali!
Sui Ceng menjadi bingung. Ia menoleh ke sana ke mari mencari-cari Bu Pun Su.
Baru pembantu dan murid-murid Thian-te Sam-kauwcu saja yang maju, pihaknya telah
terdesak. Tak disangkanya bahwa pihak Mo-kauw demikian lihai. Kalau sampai Thian-te Sam-
kauwcu sendiri yang maju, dapat diramalkan bahwa dia dan kawan-kawannya takkan
dapat keluar dari tempat itu dengan selamat.
"Maju...! Serbu dan rampas kitab dan pedang!" hampir berbareng, para pimpinan
Siauw-lin-pai dan Kun-lun-pai memberi aba-aba dan dua puluh orang Siauw-lim-pai
dan Kun-lun-pai serentak maju sambil menggerakkan senjata masing-masing.
Hek-te-ong tertawa bergelak. "Kawan-kawan, sambut mereka! Jangan biarkan hidup
seorang juga! Kalau kita dapat menumpas mereka, dunia kang-ouw pasti akan
mengakui kekuasaan kita!"
Pihak Mo-kauw bersorak-sorai dan terjadilah perang tanding yang hebat dan mati-
matian. Sui Ceng tidak mau pusingkan tentang Bu Pun Su lagi, sungguhpun hatinya
amat mendongkol.
"Benar-benarkah Kwan Cu berubah menjadi seorang pengecut yang tak tahu malu?"
pikirnya. Namun ia tidak mau tinggal diam dan sekali ia berseru nyaring, cambuknya
berbunyi, "Tar!
Tar! Tar!" dan seketika itu juga, empat orang anak buah Mo-kauw roboh menjerit
dan bergulingan untuk menghadapi maut!
Sui Ceng hendak mengamuk terus. Tiba-tiba ia melompat mundur karena ia mendengar
suara Bu Pun Su berbisik dekat telinganya, "Sui Ceng, demi keselamatan semua
kawan, kaurobohkan lebih dulu Wi Wi Toanio. Kaulihat wanita yang berbaju biru
memegang pedang itu. Serang dia dan robohkan sampai tidak berdaya. Awas, di
sebelah kirinya, laki-laki yang memakai baju kuning itu adalah An Kai Seng,
musuh besar kita!"
Sui Ceng memandang ke sana ke mari, akan tetapi tidak melihat Bu Pun Su. Ia
Pedang Ular Merah 8 Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong Pahlawan Dan Kaisar 17
^