Pencarian

Manusia Setengah Dewa 10

Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo Bagian 10


menghindarkan diri sejauh mungkin dengan urusan kang-ouw sehingga lebih baik
kalau tidak memperkenalkan diri.
"Akan tetapi kami berdua mempunyai urusan pribadi dengan The Kwat Lin, dan
mendengar bahwa dia telah menjadi ketua Bu-tong-pai, maka kami berdua menyusul
ke sini." Kui Tek Tojin mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia dapat
menduga bahwa dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa ini tentu ada
hubungannya pula dengan Pulau Es! Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya,
kemudian menceritakan betapa The Kwat Lin, yang merasa bekas murid Bu-tong-pai
itu, dengan kekerasan merapas kedudukan ketua dan diam-diam mengatur
pemberontakan terhadap Kaisar. Karena usahanya
menyelundupkan muridnya ke istana gagal, dia menjadi seorang buruan pemerintah.
"Betapa pun lihainya, iblis betina itu tidak berani menghadapi pasukan
pemerintah, maka dia lalu melarikan
diri bersama para pengikutnya, meninggalkan Bu-tong-pai. Kami mengambil alihnya
kembali dan belum lama ini, hampir saja kami menjadi sasaran penyerbuan pemerintah. Baiknya kami
telah dapat menceritakan keadaan kami dan sekarang, mau tidak mau, untuk
membuktikan bahwa Bu-tong-pai tidak
bersekutu dengan pemberontak, terpaksa kami harus membantu pemerintah. Hari ini
pun Bu-tong Cap-pwe Enghiong, murid-murid pinto, terpaksa akan berangkat ke utara melakukan tugas
penyelidikan terhadap pemberontakan An Lu Shan." Mendengar ini, Sin Liong dan Swat Hong merasa kecewa
sekali, jauh-jauh.mereka menyusul ke Bu-tong-san, hanya untuk mendengar bahwa
The Kwat Lin tidak berada lagi di tempat itu dan sekarang telah menjadi orang buruan pemerintah.
"Aihhh.... ke mana kita harus mencarinya?" Swat Hong berkata kesal sambil
menoleh kepada Sin Liong. "Nona, untuk menebus kesalahan kami tadi, baiklah kami
beritahukan bahwa kalau tidak salah dugaan kami, The Kwat Lin melarikan diri ke
tempat kediaman Kiam-mo Cai-li.
Kalau Ji-wi mencarinya ke sana, tentu akan setidaknya mendengar lebih jauh
tentang wanita itu."
"Kiam-mo Cai-li" Siapa dia" Dan dimana tempat tinggalnya?" Swat Hong mendesak
dan wajahnya berseri karena timbul pengharapan lagi di dalam hatinya.
"Dia adalah seorang datuk kaum sesat, sorang wanita yang tinggi ilmunya dan
telah bersekutu dengan The Kwat Lin untuk membantu pemberontak. Kiam-mo Cai-li
tinggal di Rawa bangkai, di kaki Pegunungan Lu-liang-san, tidak begitu jauh dari
sini." "Suheng, tunggu apa lagi" Mari kita cepat pergi ke Lu-liang-san!" Swat Hong
dengan penuh semangat sudah bangkit berdiri. Sin Liong terpaksa juga bangkit
berdiri, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai itu berkata, "Harap Ji-wi berhati-hati.
Rawa Bangkai merupakan daerah yang sangat berbahaya dan selain dua wanita itu
amat sakti, juga Kiam-mo Cai-li mempunyai banyak anak buah. Bahkan kaki tangan
The Kwat Lin yang tadinya berada di sini sekarang pun ikut pergi bersamanya."
"Terima kasih atas peringatan Locian-pwe," kata Sin Liong sambil memberi hormat
dan karena dia pun merasa amat tidak enak telah menggangu orang-orang tua di Bu-
tong-pai ini, dia cepat mengajak sumoinya pergi dari situ.
Setelah berpamit, sekali berkelebat saja dua orang muda itu lenyap. Kui Tek
Tojin menghela napas dan mengelus jenggotnya, "Siancai..... dua orang muda yang
amat luar biasa. Pinto yakin bahwa mereka tentulah orang-orang dari Pulau Es
juga. Gerakan mereka aneh seperti gerakan Kwat Lin, akan tetapi kalau Pulau Es
telah membuat Kwat Lin menjadi seperti iblis, dua orang muda itu seperti dewa!"
"Suheng, bukankah di lereng puncak yang sana itu tempatnya?"
"Kalau tidak salah memang di sana, Sumoi. Akan tetapi sekali ini kita melakukan
pekerjaan yang amat berbahaya, maka kuharap Sumoi suka bersikap tenang dan
sabar, tidak tergesa-gesa." Swat Hong mengangguk, mengeluarkan saputangan sutera
dan menghapus keringat dari leher dan dahinya. Mukanya kemerahan, pipinya
seperti buah tomat masak, matanya
bersinar-sinar penuh semangat, rambutnya agak kusut dan anak rambut di dahinya
basah oleh keringat. Sin Liong memandang sumoinya dan diam-diam dia menaruh hati iba
kepada sumoinya. Seorang dara muda seperti sumoinya sudah harus mengalami hidup
merantau dan sengsara seperti ini! Padahal, seorang dara muda seperti sumoinya itu sepatutnya
berada di dalam rumah bersama keluarga, hidup aman teteram dan penuh
kegembiraan, bermain-main
di dalam taman bunga yang indah, bersedau-gurau, tertawa, bernyanyi, membaca
sajak, atau jari-jari tangan yang kecil meruncing itu menggerakan alat-alat
menyulam. Tidak seperti sekarang ini, setiap saat menghadapi bahaya, selalu
bermain dengan pedang dan maut! Dia menarik napas panjang. Mereka berdua duduk
di bawah pohon yang tinggi besar, meneduh
di dalam bayangan pohon. Hari itu amat panasnya dan mereka telah melakukan
perjalanan jauh sejak pagi tadi seharian itu. "Suheng...."
Sesuatu dalam suara dara itu membuat Sin Liong cepat menengok dan dia melihat
wajah yang cantik itu menunduk. Aneh sekali! Ada apa lagi gadis ini bersikap
seperti orang malu" "Ada apakah, Sumoi?" Swat Hong mencabut sebatang rumput, mempermainkannya dengan
jari-jari tangannya, kemudia dalam keadaan tidak sadar meremas rumput itu sampai hancur di
tangannya. "Suheng, setelah selesai tugas kita memenuhi pesan terakhir Ayah, lalu
bagaimana?".Tersentuh hati Sin Liong. Baru saja dia membayangkan nasib dara itu
dan sekarang agaknya Swat Hong
juga membayangkan masa depanya. "Kalau kita sudah berhasil memenuhi pesan Suhu,
kita akan mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Pulau Es."
"Hemm, kemudian"' Swat Hong masih tetap menunduk dan kini dia bahkan telah
mencabut lagi sebatang rumput dan dimasukan ke dalam mulutnya yang kecil dan
rumput itu digigit-gigitnya. "Kemudian" Aku akan membantumu mencari ibu sampai
dapat, Sumoi. Akan kita jelajahi seluruh pulau-pulau di sekitar Pulau Es, dan
kalau tidak berhasil, kita akan mendarat lagi di daratan besar dan mencari
sampai ketemu. Sebelum bertemu dengan ibumu, aku tidak akan berhenti mencari."
Lama tiada kata-kata keluar dari mulut yang menggigit-gigit rumput itu. Akhirnya
Swat Hong bertanya juga, "Kalau sudah bertemu dengan ibu?"
"Kalau sudah ketemu?" Sin Liong mengulang pertanyaan itu dengan heran, karena
hal itu anehlah kalau ditanyakan."Tentu saja engkau hidup bersama ibumu......"
"Dan kau?" "Aku" Aku.... aku agaknya akan pergi merantau karena tidak ada apa-apa lagi yang
mengikatku, tidak ada tugas. Aku bebas seperti burung di udara terbang ke mana
pun angin membawaku." Kembali suasana hening, bahkan kini Sin Liong terpengaruh
oleh pertanyaan itu dan merenung seolah sudah merasakan betapa nikmatnya bebas
terbang di udara tanpa beban tugas sedikit pun. "Suheng...."
"Hemmm.....?" "Kalau bertemu dengan ibu engkau akan meninggalkan kami?"
"Sudah kukatakan begitu, bukankah kau sudah aman kalau berada di samping Ibumu?"
"Bagaimana kalau..... kalau kita gagal mencari ibu" Bagaimana kalau sampai tidak
bertemu" Bagaimana pula andaikata Ibu....ibu sudah meninggal?"
Sin Liong terkejut. Hal ini sama sekali tidak pernah terbayangkan dan di
hadapkan dengan kemungkinan kenyataan ini dia terkejut dan bingung, sejenak
tidak mampu menjawab. Dia
berfikir kemudian menjawab tanpa keraguan sedikitpun juga, "Kalau begitu, tentu
saja aku tidak akan meninggalkanmu, Sumoi." "Kita tinggal di mana?"
"Di mana saja sesukamu."
"Kita berkumpul?"
"Ya." "Sampai kapan?"
Kembali Sin Liong termangu-mangu dan tak dapat menjawab. Swat Hong bekata lagi.
"kalau demikian, aku jadi merepotkanmu, Suheng. Aku merampas kebebasan yang kau
idam-idamkan tadi." "Ah, tidak! Tidak sama sekali! Di dalam kebebasan seorang
diri di dunia itu memang terdapat kenikmatan, akan tetapi di dalam melakukan
sesuatu untuk orang, terutama untukmu, juga terdapat kenikmatan besar." "Engkau menjadi seperti
seekor burung yang terikat kakimu dengan kakiku, Suheng."
"Tidak, tidak begitu! Kita seperti dua ekor burung bebas yang melakukan
penerbangan bersama!"."Untuk selamanya, Suheng?" Kembali Sin Liong termangu-
mangu. "Aihh, tentu saja tidak. Engkau harus
menikah, dan aku akan menjadi wakil orang tuamu, aku yang akan meneliti,
memilihkan calon suami, sampai engkau berhasil menjadi isteri seorang laki-laki
yang patut menjadi suamimu."
"Tidak sudi!!" Tiba-tiba Swat Hong bangkit berdiri, menjauh dan membelakangi Sin
Liong. Tak terasa lagi rumput di mulutnya sudah dikunyah-kunyah!
Sin Liong terbelalak memandang tubuh belakang sumoinya. Dia benar-benar terkejut
dan heran sekali mengapa sumoinya memdadak marah seperti itu, padahal dia bicara
dengan setulus hatinya, menyatakan keinginannya yang baik terhadap sumoinya yang akan
dibelanya itu. "Sumoi....!" dia memanggil dan gadis itu membalikan tubuh. Untuk
kedua kalinya Sin Liong terbelalak. Sumoinya itu, biarpun tidak sesenggukan,
telah menangis. Sepasang pipinya basah air mata dan masih ada butiran air mata
yang bergerak menurun dari pelupuk matanya.
"Suheng, engkau....engkau kejam....!" dan sekarang Swat Hong menangis betul-
betul, sesenggukan dan menjatuhkan dirinya ke atas rumput, menutupi muka dengan
kedua tangan, membiarkan air matanya membanjir keluar dari celah-celah jari
tangannya. Sin Liong mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala. "Kejam....?" Dia seperti
hendak bertanya kepada bayangan sendiri, mengapa dia yang akan membela gadis itu
bahkan dimaki kejam. Swat Hong memeras air matanya, mengapus muka dengan
saputangan, kemudian mengangkat mukanya memandang. "Suheng, kau memang kejam. Kau mau enakmu sendiri
saja! Kau hendak membiarkan aku sengsara, meninggalkan aku kepada orang lain
agar dapat bebas merantau seorang diri. Padahal engkau pun tahu bahwa aku tidak
punya siapa-siapa lagi, aku hanya mempunyai engkau seperti engkau mempunyai aku.
Akan tetapi.....uh-uh-uh.... kau ingin sekali mencampakkan aku agar dapat bebas.
Kalau begitu, tinggalkan saja aku sekarang.....!"
"Eh-eh, Sumoi...., bagaimana pula ini" Siapa yang akan memberikanmu kepada orang
lain" Tentang pernikahan itu..... tentu saja kalau engkau sudah bertemu dengan
jodohmu, dengan seorang pria yang kau cinta. Aku berniat baik, sama sekali tidak
ada keinginan hatiku untuk meninggalkanmu, sampai engkau berhasil memperoleh
pilihan hatimu. Kalau engkau sudah
menikah, apa kaukira aku harus menungguimu saja?"
"Tidak! Aku tidak akan menikah kalau hanya agar kau dapat bebas! Aku akan hanya
menikah kalau engkau sudah menikah lebih dulu!" Kini Swat Hong bicara penuh
semangat, seolah-olah dia merasa penasaran. Sin Liong membelalakan matanya
memandang. "Eh" Mengapa begitu"
Aku... aku selamanya tidak akan menikah, Sumoi!"
Swat Hong menampar tanah. "Tass!!" lalu memandang dengan muka merah kepada
suhengnya, disambung kata-kata nyaring, "Aku pun tidak akan menikah!"
"Wah, mana bisa" Aku seorang pria, Sumoi. Tidak menikah selamanya pun tidak apa-
apa, akan tetapi engkau seorang wanita...."
"Apa bedanya" Kalau pria bisa tidak menikah selamanya, apakah wanita tidak bisa"
Pendeknya, aku tidak akan menikah sebelum engkau menikah, Suheng!" Sin Liong menarik napas panjang
dan duduk bersandar pohon, tidak menjawab lagi. Gadis ini sedang marah, tidak baik kalau dilayani,
pikirnya. Dia yakin bahwa
ucapan sumoinya itu hanyalah terdorong oleh kemarahan. Kalau kelah sumoinya
bertemu dengan seorang pemuda yang baik dan mereka saling mencinta, tentu pendirian sumoinya tentang
pernikahan tidak seperti sekarang. Dia tidak mungkin dapat membayangkan seorang dara seperti sumoinya,
cantik jelita, keturunan raja, pandai dan sukar dicari keduanya, sampai menjadi perawan tua atau bahkan
tidak menikah sama sekali. Ngeri dia memikirkan ini!.Melihat sampai lama suhengnya hanya duduk
termenung, agaknya Swat Hong mulai menyesali
sikapnya. Air matanya sudah kering, sisanya dihapus dengan saputangan dan dia
pindah duduk dekat suhengnya. Mereka berhadapan, akan tetapi Sin Liong pura-pura tidak
memperhatikan ulah sumoinya. "Suheng...."
"Hemmm....?" "Kau marah kepadaku?"
Mau tidak mau Sin Liong tersenyum dan memandang wajah itu. Pada saat seperti
itu, terasa benar olehnya betapa dia amat sayang kepada Swat Hong, sayang dan
kasihan. "Kalau ada seorang yang marah di sini, agaknya engkaulah yang marah, Sumoi,
bukan aku." "Suheng, katakanlah. Mengapa engkau tidak mau menikah?"
Pertanyaan ini merupakan serangan tiba-tiba yang membuat Sin Liong bingung
bagaimana untuk menjawabnya. Dia mengerutkan alisnya, mengosok-gosok dagunya sebelum
menjawab, kemudian terpaksa menjawab juga karena sepasang mata bintang yang memandang
tajam kepadanya itu sudah menanti jawaban dengan tidak sabar lagi. "Aku tidak ingin
menikah karena bagiku, pernikahan merupakan ikatan, sumoi. Aku ingin bebas,
bebas lahir batin dan betapa mungkin aku dapat bebas kalau aku menikah,
berkeluarga dan mempunyai anak isteri"
Bagaimana aku dapat bebas kalau aku memiliki harta benda, kedudukan dan lain
ikatan duniawi lagi?" Swat Hong termangu-mangu , agaknya tertegun mendengar jawaban suhengnya. Sampai
lama dia diam saja, kemudian tiba-tiba bertanya, "Suheng, apakah engkau ingin menjadi
pertapa?" Sin Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Seorang pertapa berarti
mengikatkan diri dengan pertapaannya. Tidak, Sumoi. Aku ingin bebas dari segala-
galanya." "Suheng kita.... kita.... dahulu dijodohkan oleh Ayah, bukan?"
Sin Liong terkejut. Tak disangkanya bahwa Swat Hong akan menyinggung masalah
ini. Dia hanya mengangguk sambil memandang wajah sumoinya penuh selidik. Apalagi yang
akan dikemukaan sumoinya ini"
"Dahulu kita sudah bicara di perahu itu dan memutuskan bahwa orang hanya dapat
mengikat jodoh jika saling mencinta. Suheng...., apakah.... apakah engkau tidak
mencinta seorang wanita?" Sin Liong cepat mengelengkan kepalanya.
"Aku tahu bahwa Soan Cu mencintamu, Suheng! Apakah engkau tidak mencintanya" Dia
cantik jelita dan pandai...."
"Tidak, Sumoi, kalau yang kau maksudkan adalah cinta berahi."
"Akan tetapi Suheng menolongnya, membela dan melindunginya. Bukankah itu
membuktikan bahwa Suheng mencintainya?" "Memang aku mencintanya seperti aku
mencinta orang lain, akan tetapi bukanlah cinta umum yang mendorong untuk
menikah, kemudian setelah
menikah berusaha memiliki isterinya lahir batin sehingga timbul ah siksaan batin
dan kesengsaraan, pertentangan bahkan mungkin cemburu dan kebencian. Tidak, aku
tidak mencinta Soan Cu seperti yang kau maksudkan itu." "Dan bagaimana dengan
Siangkoan Hui" Dia manis sekali dan dia terang-terangan mengaku cintanya kepadamu, Suheng.


Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apakah engkau tidak ingin mengambilnya sebagai isteri?" "Hemmmm, sama sekali tidak.
Apalagi aku mendengar bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain."
"Jadi tidak ada wanita yang kau pilih untuk menjadi isterimu, Suheng?"
Sin Liong menggelengkan kepala, hatinya tidak enak membicarakan soal ini.
"Tidak ada dara yang kaucinta?"
Sin Liong menggeleng lagi.."Termasuk aku....?"
Sin Liong terkejut. Sungguh bingung dia memikirkan sumoinya ini. Ketika dia
mengangkat muka memandang, dia melihat sumoinya juga sedang memandangnya dengan
sikap aneh. Mata sumoinya yang biasanya tajam lebar dan amat indahnya itu kini agak
terpejam, seperti mata mengantuk, sinar matanya sayu dan seperti orang mau
menangis, bibirnya tersenyum
tipis akan tetapi seperti orang menahan rasa nyeri, cuping hidungnya agak
kembang kempis dan jelas tampak dadanya naik turun diburu pernapasan. "Sumoi,
kau tahu bahwa aku cinta kepadamu, aku mencintamu seperti seorang Sumoi, seperti
seorang adik, seperti seorang
sahabat dan aku rela untuk mempertaruhkan nyawa membela dan melindungimu, aku
merasa sebagai pengganti ayah bundamu, aku akan merasa berbahagia, Sumoi, karena itu,
percayalah bahwa aku tidak akan meninggalkanmu sebelum ...."
"Sudahlah..... sudahlah....! Mari kita melanjutkan perjalanan, tugas kita masih
belum selesai!" Swat Hong sudah meloncat bangun dan berlari cepat mendaki puncak yang menjulang
tinggi itu. "Sumoi, perlahan dulu....! Hati-hatilah....!" Sin Liong melompat dan
terpaksa harus mengerahkan ilmunya untuk menyusul sumoinya yang lari seperti
setan itu. Karena agaknya Swat Hong berlari secara ngawur saja, asal cepat dan naik ke
puncak, untuk melampiaskan
kemendongkolan hatinya, maka mereka tersesat jalan, bukan menuju ke Rawa Bangkai
yang berada di lereng timur, melainkan memasuki hutan lebat di lereng barat! Mereka tidak tahu
bahwa ada banyak pasang mata mengintai ketika mereka memasuki hutan itu dan tiba-tiba bermunculan banyak
orang yang mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring. Sin Liong dan Swat Hong berdiri tegak
memandang ke sekeliling dan Swat Hong membelalakan matanya saking herannya. Mereka berdua
telah dikurung oleh puluhan orang yang tubuhnya katai, pendek sekali. Yang tertinggi di antara
mereka hanyalah setinggi dada
Swat Hong! Kalau saja tidak melihat muka orang-orang itu, tentu Swat Hong
mengira bahwa mereka berdua dikurung oleh serombongan anak nakal. Akan tetapi wajah mereka yang penuh
kumis pendek dan penuh keriput itu jelas adalah wajah orang-orang yang sudah dewasa, bahkan wajah
laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun! Karena tubuh mereka yang kerdil itu amat pendek,
mereka kelihatan kuat dan kokoh, wajah mereka keruh dan marah, mengandung kekejaman dan di tangan
mereka tampak senjata yang bermacam-macam, senjata yang aneh-aneh tidak lumrah senjata umumnya.
Gerakan mereka ketika mengurung dan bergerak mengelilingi Swat Hong juga amat aneh, kadang-kadang
tumit mereka diangkat, kadang-kadang mereka bergerak sambil berjongkok sehingga menjadi makin pendek
seperti kakat, kadang-kadang berloncatan! "Kalian mau apa" Pergi....!!" Swat Hong membentak dan mengirim
tendangan berantai ke arah empat orang katai terdekat akan tetapi batapa heranya
ketika melihat empat kali tendangannya yang beruntun itu mengenai angin kosong
karena dengan gerakan yang
aneh dan cekatan sekali, empat orang kerdil itu telah mampu mengelah, bahkan
hampir saja ujung sepatu kiri Swat Hong terbabat sebatang pedang yang bentuknya
seperti gergaji! "Hati-hati, Sumoi. Mereka bukanlah lawan lemah." Sin Liong berbisik dan pemuda
ini sudah menyambar sebatang kayu dahan pohon, mematahkannya dan membuat
sebatang alat pemukul sebesar lengan. "Kita hadapi mereka dengan saling melindungi," kembali
Sin Liong berbisik. Swat Hong adalah seorang dara yang keras hati dan tidak mengenal artinya takut
akan tetapi melihat hasil tendangannya tadi, dia pun maklum bahwa rombongan
orang kerdil ini tidak boleh di buat
main-main, maka dia cukup cerdik untuk mentaati bisikan suhengnya dan mereka
lalu berdiri tegak, memasang kuda-kuda dengan pungung saling membelakangi hampir bersentuhan. Swat
Hong memegang pedang dengan tangan kanan yang diangkat, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari
terbuka, miring di depan dada. Sin Liong pun memasang kuda-kuda yang sama, hanya bedanya, dia
memegang alat pemukulnya dengan tangan kiri. Keduanya berdiri diam tak bergerak sama sekali,
hanya mata mereka yang melirik ke kanan kiri mengikuti setiap gerak-gerik para pengurung mereka. "Harap
Cuwi jangan salah paham," Sin Liong berseru nyaring, "Kami datang bukan untuk memusuhi Cuwi
sekalian atau siapapun juga di tempat ini. Kami datang karena tersesat hendak mencari Rawa Bangkai.
Kalau Cuwi dapat memberi tahu di mana adanya Rawa Bangkai, kami akan berterima kasih sekali.".Akan
tetapi, orang-orang kerdil itu tetap saja bergerak maju mengelilingi mereka
sambil berjingkrak dan membuat gerakan aneh-aneh. Dua orang muda mudi itu tetap berdiri tegak, sama
sekali tidak bergerak namun semua urat syaraf di tubuh mereka menegang dalam
persiapan. Seorang di antara orang kerdil itu, sambil terus mengelilingi mereka
berdua, bertanya, "Mau apa kalian mencari Rawa Bangkai?"
Kini Swat Hong yang sudah hilang sabarnya itu menjawab dengan bentakan, "Orang-
orang kerdil menjemukan! Kami mencari seorang yang bernama The Kwat Lin!" Mata
orang-orang itu melotot namun mereka masih tetap mengelilingi dua orang muda itu
dan orang yang memegang sebatang golok besar bercincin empat agaknya pemimpin mereka, yang
mukanya berseri dan kumisnya kecil melintang, bertanya lagi, "Mau apa mencari The Kwat
Lin?" "Mau kubunuh mampus!" Jawaban Swat Hong ini seperti merupakan aba-aba saja
karena mendengar mereka memekik aneh dan kedua orang itu terpaksa harus mengerahkan
sinkang untuk melindungi jantung karena pekik-pekik aneh itu merupakan penyerangan luar
biasa melalui suara yang disertai khingkang. Tentu saja dua orang muda yang memiliki
kesaktian hebat dari Pulau Es itu tidak dapat begitu mudah dikalahkan hanya
dengan pekik-pekik itu. Melihat betapa dua orang muda itu sama sekali tidak terpengaruh, tiba-tiba Si
pemegang golok bercincin berteriak dan mulailah tiga puluh enam orang kerdil itu
menyerang dengan cara aneh, yaitu sambil lari mereka menyerang, tampaknya sambil
lalu saja akan tetapi karena banyak senjata yang menyerang, tentu saja amat
berbahaya. Sin Liong menggerakkan tongkat pendek melindungi diri, sedangkan Swat Hong juga
menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.
"Trang-trang-cringggg...!!" Bunyi senjata tajam bertemu dan terdengar pekik
kaget dari beberapa orang kerdil karena senjata mereka yang tertangkis oleh
tongkat pendek dan pedang itu membalik, bahkan ada empat orang yang terpaksa melepaskan senjata
dari pegangan tangan mereka yang terasa tergetar hebat dan panas itu.
Orang-orang kerdil itu ternyata cerdik sekali. Pertemuan senjata satu kali itu
saja cukup membuat mereka maklum bahwa dua orang muda yang mereka keroyok itu
memiliki kekuatan sinkang yang hebat, jauh melebihi mereka maka mereka lalu mengurung dan
menyerang bertubi-tubi, bergantian tanpa mau mengadu senjata lagi. Setiap
senjata mereka ditangkis, mereka menarik kembali senjata itu dan sudah ada
temannya yang melanjutkan
serangan dari arah lain. "Suheng, biar kubasmi setan-setan pendek ini!" Swat
Hong menjadi tidak sabar dengan cara suhengnya mempertahankan dan melindungi
diri saja itu yang dianggapnya terlalu mengalah dan terlalu "memberi hati" kepada para pengeroyok
yang menjemukan hatinya itu. Sebelum Sin Liong menjawab, Swat Hong sudah
meloncat ke depan mengeluarkan suara melengking yang tinggi dan dahsyat, pedangnya berkelebatan
dan disusul dorongan tangan kiri yang mengandung tenaga Inti Salju, maka
terdengarlah pekik berturut-turut dan robohlah lima orang kerdil, yang dua orang
terkena sambaran pedang, yang tiga lagi roboh oleh dorongan tangan kiri dan
terjangan kaki Swat Hong!
Kacaulah pengeroyokan itu karena dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya
hati para orang kerdil ketika dalam segebrakan saja setelah gadis itu membalas,
di pihak mereka roboh lima orang! Belum lagi pemuda yang kelihatan lebih lihai
itu bergerak menyerang! Kalau begini keadaannya, tentu mereka akan roboh semua.
Si kerdil Bergolok yang memimpin mereka, segera mengeluarkan suitan aneh dan
gerombolan itu lalu melarikan diri, sambil membawa lima orang teman mereka yang
terluka, Si Pemegang Golok berteriak, "Hai, dua orang muda sombong, kalau memang
gagah, ikutlah kami dan lawanlah majikan kami The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li!"
"Suruh mereka keluar menemui kami!" Swat Hong membentak.
"Heh-heh, engkau takut kami jebak, ya" Orang gagah macam apa kamu itu?" Si
Pemegang Golok mengejek.."Keparat, siapa takut?" Swat Hong melompat dan mengejar. "Sumoi....!"
Sin Liong memperingatkan, akan
tetapi Swat Hong tentu saja tidak mau peduli karena dia sudah marah sekali,
apalagi mendengar nama The Kwat Lin, dia sudah bersemangat dan ingin segera berhadapan
dengan musuh besarnya itu. Melihat sumoinya terus mengejar, terpaksa pula Sin Liong
juga meloncat dan berlari cepat mengejar. Orang-orang kerdil itu berlari terus
mendekati lereng bukit, keluar dari hutan memasuki daerah yang tandus berbatu-
batu dan di situ terdapat banyak gua batu yang besar-besar, dan dari luar tampak
menghitam karena di sebelah dalam gua tidak memperoleh matahari sehingga amat
gelap. Dari belakang Sin Liong melihat betapa orang-orang kerdil itu bagaikan
rombongan semut saja dengan sigapnya berloncatan memasuki gua-gua di sekitar
itu, akan tetapi sebagian banyak memasuki sebuah guha terbesar dan yang berada
di tengah-tengah di antara semua gua.
"Sumoi, berhenti dulu! Ini bukanlah sebuah rawa!" teriak pula Sin Liong, akan
tetapi terlambat karena Swat Hong dengan penuh semangat telah menerjang masuk
dan lenyap ke dalam gua besar. "Ah, Sumoi terlalu bersemangat sehingga sikapnya sembrono dan berbahaya,"
Sin Liong mengomel dan terpaksa dia pun cepat mengejar memasuki guha besar itu.
Guha itu gelap sekali, gelap dan sunyi.
"Sumoi....!!" Dia berteriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri
yang menjawab dari berbagai jurusan! Dia terkejut dan dapat menduga bahwa gua itu merupakan
terowongan yang bercabang-cabang.Dia maju terus dan benar saja dugaannya, gua yang gelap
itu merupakan lorong dan akhirnya tiba di depan terowongan yang bersimpang tiga!
"Sumoi....!!" Dia berteriak lagi dan jauh dari depan, terdengar jawaban gema
suaranya sendiri lima kali berturut-turut!
"Celaka," pikirnya, "Kita telah terjebak!" Akan tetapi karena dia harus dapat
menemukan sumoinya yang dia khawatirkan terjeblos ke dalam perangkap orang-orang
kerdil. Sin Liong tanpa ragu-ragu memilih jalan ke kanan. Setelah kini matanya
terbiasa, ternyata terowongan itu tidaklah terlalu gelap benar. Ada sinar
matahari yang masuk dan memantul sampai ke dalam terowongan, entah dari mana
masuknya sinar itu. Dia berjalan agak cepat ke depan dan terowongan yang
dipilihnya itu ternyata berakhir pula dengan simpangan, kini simpang
empat! "Aihhh....!" dia mengeluh lalu mengerahkan khingkangnya berteriak memanggil,
"Sumoi....!" Gema suaranya mengaung dan membuat panggilannya itu tidak jelas lagi, mirip
auman suara harimau marah! Dia lari memasuki terowongan sebelah kiri setelah
meneliti ke bawah tidak melihat bekas tapak sepatu sumoinya saking banyaknya
tapak kaki di situ, tapak kaki kecil-kecil dari orang-orang kerdil. Terowongan
ini panjang sekali, menurut taksirannya tentu tidak kurang dari dua li jauhnya
dan hatinya makin risau. Sudah begini lama dan jauh dia mengejar dan mencari
Swat Hong, akan tetapi bekas dan jejaknyapun belum ditemukan. "Sumoi....!!"
Dia berteriak lagi kuat-kuat ketika lorong itu berakhir di sebuah ruangan bawah
tanah atau dalam gunung yang cukup lebar. Sebagai jawabannya, tiba-tiba
terdengar suara berdesingan dan dari depan, kanan dan kiri menyambar sinar-sinar
hitam. Pandang mata yang tajam dari Sin Liong dapat melihat bahwa benda-benda
bersinar itu adalah anak panah-anak panah yang dilepas dari tempat rahasia.
Cepat dia memutar tongkat pendek yang berubah menjadi
segulung sinar yang melindungi seluruh tubuhnya. Sampai beberapa lama dia
menangkis dan akhirnya penyerang gelap itu pun berhenti. Di ruang itu kini penuh
dengan anak panah hitam yang agaknya beracun. Dia bergidik. Bagaimana nasib
sumoinya di tempat berbahaya ini"
"Sumoi....!!" Dia segera membalikan tubuhnya karena ruangan itu merupakan jalan
buntu, lalu berlari kembali melalui terowongan yang panjangnya ada dua li itu sampai dia tiba di
jalan simpang empat tadi,
kini dia melihat terowongan kedua sambil berteriak-teriak memanggil nama
sumoinya. "Swat Hong....! Han
Swat Hong....!!" Panggilan ini dia lakukan dengan pengerahan khikang sekuatnya
sehingga dinding terowongan itu menjadi tergetar karenanya. Namun tidak ada jawaban melainkan
gema suaranya sendiri yang melengking panjang. Sin Liong menjadi panik, matanya terbelalak dan mukanya
pucat. Baru sekali ini dia merasa sedemikian gelisahnya dan dia menyesali diri sendiri mengapa dia tadi
tidak melarang sumoinya memasuki gua-gua rahasia penuh jebakan ini, kalau perlu melarang dengan
kekerasan! Dia berlari terus
dengan hati gelisah, akan tetapi dengan kewaspadaan penuh karena dia maklum
bahwa tempat itu merupakan tempat rahasia yang amat berbahaya, perpaduan antara kekuasaan alam
dan manusia. Tak mungkin tangan manusia membuat gua-guh dan lorong-lorong batu dalam gunung ini,
akan tetapi hasil ciptaan alam ini dipergunakan oleh manusia, diperbaiki dan bahkan dipasang
jebakan-jebakan yang jahat!."Hai itttt!" Sin Liong cepat meloncat ke atas, lalu
meluncur kembali ke belakang sambil berjungkir balik


Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan jatuh berdiri kembali di jalan yang telah dilalui, terbelalak memandang ke
depan. Kiranya secara tiba-tiba sekali, tentu digerakan oleh alat rahasia yang
terinjak olehnya tadi ketika berlari, di depannya telah terbuka lubang yang
panjang ada tiga meter, terbuka tiba-tiba sehingga kalau dia tadi tidak berhasil
dan lari terus, tentu akan terjeblos ke dalam jurang itu.
Terdengar suara mendesis-desis dari dalam lubang yang hitam gelap, akan tetapi
desis itu dan bau hamis membuat Sin Liong bergidik dan tahulah dia bahwa di
dalam lubang itu terdapat banyak ular berbisa! Jebakan yang amat keji!
"Keparat....!" desisnya dengan marah melihat kekejaman manusia kerdil itu yang
tidak segan mempergunakan cara yang amat menjijikkan untuk mengalahkan lawan.
Dia melompati lubang itu dan melanjukan larinya. Ketika dia
berjalan satu li lebih, lorong itu pun berhenti di jalan batu yang merupakan
sebuah ruangan besar pula, bahkan ruangan ini cuacanya cukup terang, entah
memperoleh sinar dari mana, agaknya ada lubang-lubang dari mana sinar matahari
dapat masuk. Tiba-tiba, seolah-olah muncul dari dalam dinding batu, tampak seorang kerdil
yang luar biasa. Bentuknya pendek tegap seperti orang-orang kerdil yang tadi, akan tetapi
wajahnya menandakan bahwa dia sudah tua dan sepasang matanya seperti bintang pagi, tajam
bersinar-sinar sedangkan kumis dan jenggotnya panjang, juga bentuk pakaiannya
lebih mewah dari yang lain. Kakek kerdil ini memegang sebatang pedang yang bersinar-
sinar tanda bahwa pedang itu adalah sebuah benda pusaka yang ampuh. Selagi Sin
Liong memandang penuh perhatian dan maklum bahwa tentu di dinding kiri ini terdapat pintu
rahasianya yang tadi terbuka cepat untuk dilewati kakek ini, tiba-tiba terdengar
suara dari sebelah kiri dan kembali secara tiba-tiba muncul seorang kerdil lain
yang tubuhnya amat tegap besar
membayangkan kekuatan. Juga orang kerdil ke dua ini pakaiannya mewah, sikapnya
gagah dan mukanya penuh dengan berewok tebal menghitam. Kedua orang ini dari tubuh
atas sampai ke pinggang ukurannya seperti manusia biasa, akan tetapi dari pinggang ke
bawah amatlah pendeknya sehingga kelihatan aneh dan lucu. Orang Ke dua yang
brewok dan mukanya membayangkan kekerasan dan kegagahan ini memegang sebatang toya yang
lebih panjang dari pada tubuhnya sendiri. Juga toya ini bersinar-sinar tanda sebatang
senjata yang baik. Sin Liong yang selalu bersikap sabar dan tidak menghendaki
permusuhan, biarpun dilanda kekhawatiran, masih dapat menekan perasaannya dan menjura dengan penuh
hormat, "Harap Jiwi-locianpwe sudi memaafkan kalau saya lancang tanpa diundang
memasuki daerah kekuasaan Jiwi ini. Akan tetapi saya kehilangan Sumoi di sini
dan kalau Jiwi sudi berlaku demikian baik hati untuk mengembalikan Sumoi kepada
saya, saya berjanji akan meninggalkan tempat ini bersama Sumoi dan tidak akan berani mengganggu lagi."
Dua orang kakek itu saling pandang dan melihat betapa Sin Liong mengamat-amati
dinding yang kini telah tertutup kembali dan sama sekali tidak ada tanda-tanda
bahwa di situ ada pintu rahasianya, mereka tertawa dan kakek berjenggot yang rambutnya sudah mulai ada
ubannya itu berkata, "Orang muda, kalian memusuhi The-lihiap dan bilang tidak
ada permusuhan dengan kami" Ha-ha, orang muda, siapakah engkau" Dan siapa pula
Sumoimu itu?" "Namaku Kwa Sin Liong dan....sesungguhnya kami tidak mempunyai
permusuhan dengan Cuwi di
tempat ini." "Kalau begitu mengapa mencari The Kwat Lin Lihiap?"
"Kami mempunyai urusan pribadi dengan dia, hanya urusan yang amat sekali tidak
menyangkut diri orang lain."
Kembali dua orang kekek itu tertawa. "Ha-ha-ha, aku Ji Bhong dan semua anak
buahku, kami bangsa kerdil memang tidak ada urusan denganmu, akan tetapi sekali
kalian memusuhi The-lihiap, berarti kalian adalah musuh kami juga. Menyerahlah,
orang muda, kalau kau tidak ingin mengalami keksengsaraan seperti Sumoimu." Sin
Liong terkejut sekali, bukan hanya karena mendengar bahwa mereka ini ternyata
adalah kaki tangan The Kwat Lin, terutama sekali
mendengar akan sumoinya. "Di mana Sumoi" Apa yang kalian lakukan dengan dia?"
bentaknya. "Ha-ha-ha, menyerahlah dan baru kita bicara!" Ji Bhong, kakek yang
menjadi ketua bangsa kerdil itu menjawab.
Tentu saja Sin Liong menjadi gelisah sekali dan dia lalu menerjang maju dengan
tongkat pendeknya.."Sing....siuuuut.... trang-trang....!!"Dua orang kakek itu
sudah menggerakan pedang dan toya, cepat dan kuat sekali gerakan mereka. Namun
kini kedua orang itu berhadapan dengan Kwa Sin Liong murid utama Raja Pulau Es yang telah mewarisi
ilmu yang hebat-hebat, maka dalam keadaan penuh kekhawatiran itu, Sin Liong
sudah menggerakan tongkat pendeknya sedemikian rupa sehingga ketika menangkis, dua orang kakek itu
berteriak keras karena merasa betapa ada hawa dingin menyusup ke dalam lengan
mereka melalui senjata, membuat lengan mereka seperti hampir membeku!
Namun keduanya memang lihai. Cepat mereka memindahkan senjata di tangan kiri dan
mengirim serangan-serangan bertubi-tubi. Biarpun berada dalam keadaan gelisah dan marah,
Sin Liong masih merasa tidak tega untuk membunuh orang, maka dia mengeluarkan suara melengking keras,
tongkatnya dibuang ke bawah dan dengan dua tangan kosong dia memapaki pedang dan toya yang
menyambarnya dari kanan kiri, lalu dengan berani dia menangkap dua senjata itu dengan kedua tangan kosong! Dua
orang kakek itu terbelalak. Kalau orang menangkap toya dengan tangan kosong hal ini masih biasa
saja, akan tetapi menangkap pedang pusaka dengan tangan telanjang" Benar-benar berani mati karena
tangan yang bagaimana kuat pun tentu akan tersayat! Ji Bhong berteriak dan mengerahkan
tenaga membetot kembali pedangnya untuk menyayat tangan lawan yang menggenggamnya, akan tetapi betapapun
ia mengerahkan tenaga, pedang itu tetap tidak bergerak sedikit pun dari genggaman Sin Liong.
Demikian pula kakek brewok yang membetot-betot toyanya, percuma saja, Sin Liong kembali memekik
keras, kedua tangannya bergerak sedikit dan...tubuh kedua orang kakek itu terlempar membentur dinding
kanan kiri! Hawa pukulan yang dingin dan kuat sekali keluar melalui kedua senjata itu dan menyerang
melalui lengan mereka masing-masing
dan memukul dada, membuat dada terasa sakit dan napas mereka sesak. Keduanya
bersandar dinding, terengah-engah dan terbelalak memandang pemuda luar biasa itu
dan tiba-tiba mereka lenyap melalui pintu kecil yang terbuka secara aneh.
"Kalian hendak lari ke mana?" Sin Liong meloncat dan mengejar ke kiri, namun
dinding itu sudah tertutup kembali dan kakek berjenggot panjang dan kakek brewok
itu telah lenyap dari dinding kanan kiri. Sin Liong menancapkan pedang di atas
lantai, lalu menggunakan toya rampasannya menghantami dinding kiri, namun hanya
batu permukaan saja yang remuk,
sedangkan dinding tebal itu tetap utuh. Akhirnya Sin Liong membuang toyanya,
menghapus peluhnya dan mengerutkan alis. Tempat ini amat berbahaya dan sukar
dilalui, bagaimana dia akan dapat menolong Swat Hong"
Teringat akan sumoinya ini, dia menjadi panik lagi. Andaikata sumoinya berada di
sampingnya saat itu, tentu pemuda ini tidak menjadi bingung dan akan tetap
tenang saja. Akan tetapi membayangkan betapa sumoinya terancam bahaya, benar-
benar menggelisahkan hatinya.
Dia merasa bertanggung jawab akan keselamatan sumoinya, dan dia merasa seolah-
olah mendengar suara ayah bunda dara itu mencelanya mengapa dia sampai membiarkan
dara itu terancam bahaya. Sin Liong menghampiri dinding kiri, lalu memeriksa, tangannya
meraba- raba. Lebih satu jam dia menyelidiki, akhirnya secara tidak sengaja tangannya
meraba sebuah di antara puluhan batu menonjol di dinding itu! Cepat dia
menyambar pedang rampasannya dan sekali bergerak, tubuhnya sudah menyelinap
melalui lubang rahasia itu dan... dia bingung lagi karena kiranya di sebelah
sana dinding batu itu pun hanya merupakan sebuah lorong lain lagi! Dan tidak
tampak jejak kekek yang menjadi ketua bangsa kerdil tadi. Kembali dia berjalan
dengan ngawur, tidak tahu akan dibawa ke mana oleh lorong yang dilaluinya ini.
Entah berapa banyak lorong yang dilaluinya dan kini dia bahkan tidak tahu lagi
mana jalan keluar. Dia pun tidak ingin keluar sebelum dapat menolong Swat Hong!
Dan cuaca makin gelap, dia pun
teringat bahwa mungkin sekarang di "dunia luar" sudah mulai senja. Bagaimanapun
juga, dia tidak akan keluar sebelum menemukan Swat Hong. Sin Liong berjalan
terus, ke mana saja asal bergerak dan dia memperhatikan lorong yang dilaluinya
agar jangan melalui sebuah lorong untuk kedua kalinya. Keadaan makin gelap dan
akhirnya dia hanya dapat melangkah maju
dengan meraba-raba. Tiba-tiba tampak sinar terang di depan, menembus kegelapan yang mengerikan itu.
Sin Liong melangkah maju menuju ke sinar terang tadi. Akan tetapi tiba-tiba dia
menahan langkahnya. Tidak salah lagi, sinar terang itu tentulah api yang sengaja dibuat orang kerdil
untuk memancing dan menjebaknya!
Betapapun juga, dia tidak takut. Dengan hati-hati dia bergerak lagi melangkah
maju menghampiri sinar yang ternyata kini tampak olehnya adalah sebatang obor yang gagangnya tertancap
di dinding. Dan anehnya, kakinya yang melangkah hati-hati tidak menemui jebakan apa-apa sampai
dia tiba di tempat obor.itu. Apa artinya ini" Mengapa mereka memberi sebatang
obor itu kepadaku" Sin Liong tidak perduli, lalu
mengambil obor itu dan diam-diam berterima kasih sekali karena memang keadaan
cuaca yang amat gelap itu membuat dia butuh sekali akan sebatang obor. Kini dia dapat
melanjutkan usahanya mencari Swat Hong. Selagi dia berjalan maju dengan hati-
hati, dia mendengar suara mendengung dari belakang. Sin Liong cepat menoleh akan
tetapi tidak melihat apa-apa. Sinar obor itu hanya mendatangkan cahaya dalam jarak terbatas
sekali dan di sebelah sananya kelihatan hitam pekat. Akan tetapi suara itu makin
lama makin keras dan akhirnya tampaklah meluncur masuk ke dalam cahaya obor
benda-benda hitam kecil yang
mengeluarkan suara berdengung-dengung. Lebah! Banyak sekali lebah hitam yang
datang berterbangan, Seakan berlomba untuk mencapai sinar terang itu. Sinar api obor
itulah yang menarik lebah-lebah itu dan Sin Liong maklum sekarang mengapa mereka
memberikan sebatang obor. Tentu untuk menarik lebah-lebah itu, dan kalau lebah-lebah itu
cukup berharga untuk dipancing mereka, tentu merupakan lebah berbahaya, lebah yang
sengatannya mengandung bisa yang mematikan. Dia sudah tahu akan lebah-lebah
beracun seperti ini. Sin Liong cepat mengambil sehelai saputangan, menyelipkan pedang di
pinggangnya, dan menggunakan saputangan yang diputar-putar untuk mengusir lebah-
lebah itu. Namun, tertarik oleh sinar api obor di antara kegelapan yang luar biasa,
lebah-lebah itu seperti gila dan sama sekali tidak takut akan usiran menggunakan
saputangan ini. Biarpun mereka tidak dapat menyerang Sin Liong karena terhalang
saputangan, namun mereka tetap beterbangan di sekeliling Sin Liong, menanti saat
baik untuk menyerang! Celaka, pikir Sin Liong. Tidak mungkin dia harus berdiri
di situ semalaman hanya untuk berkelahi melawan lebah-lebah ini. Apa gunanya ada
obor kalau hanya mendatangkan kerepotan ini" Sambil
tetap melindungi tubuhnya dengan putaran saputangan, Sin Liong menancapkan
gagang obor pada celah-celah batu dinding, lalu pergi menjauh. Ternyata lebah-
lebah itu tidak lagi mepedulikannya setelah dia tidak memengang obor, dan kini
binatang-binatang kecil itu
beterbangan menyambar ke arah obor.
Sin Liong duduk bersandar dinding, memandang dari jauh. Dilihatnya banyak lebah
yang mati karena menyerbu api, makin lama makin banyak. Hatinya tidak tega.
Binatang-binatang itu tidak berdosa. Entah mengapa mereka dapat dibikin marah
dan menyerbu api seperti gila itu.
Dia harus menghentikan bunuh diri masal yang mengerikan itu. Diremasnya batu-
batu dari dinding dan ditimpuknya ke arah obor sambil berteriak-teriak.
"Aduh....! Aduh, mati aku....!"
Ini adalah siasatnya yang timbul sebelum memadamkan obor. Mereka itu sengaja
memberi obor untuk memancing lebah-lebah. Baiklah, dia akan pura-pura menjadi korban
sengatan lebah beracun. Kiranya hanya dengan cara ini dia akan dapat memancing orang-
orang kerdil itu. Kalau mereka menggunakan siasat memancing dan menjebak,
biarlah demi keselamatan Swat Hong dia pun mempergunakan siasat itu! Semalam Sin Liong berada di dalam
gelap. Tidak ada orang datang mengintai atau menjenguknya. Ketika inilah dia
pergunakanuntuk beristirahat dan biarpun dia sama sekali tidak dapat tidur. Mana mungkin dia
tidur kalau hatinya gel isah memikirkan Swat Hong seperti itu" Betapapun juga,
dia dapat melepaskan lelah dan memulihkan tenaga, dan terbayanglah percakapan
dengan Swat Hong di dalam
hutan. Dia menghela napas panjang. Biarpun di depan gadis itu dia berpura-pura
tidak mengerti, sesungguhnya dia tahu belaka bahwa dara yang tadinya angkuh dan keras
hati itu, kini agaknya mulai menyatakan cintakasihnya kepadanya. Dia dapat
menduga pula bahwa cinta kasih di hati gadis itu bersemi karena memperoleh pupuk cemburu,
mencemburukan dia dengan Soan Cu dan Siangkoan Hui! Hal ini membuat hatinya
terasa seperti ditusuk, perih dan duka. Tentu saja dia tidak mungkin mau
menyakit hati Swat Hong dengan menyatakan bahwa dia tidak mencita gadis itu,
tidak mencinta seperti di harapkan gadis itu. Tidak mungkin dia mau melibatkan
diri ke dalam cinta kasih seperti itu, yang telah begitu banyak contohnya hanya
mendatangkan kesengsaraan belaka. Lihat saja kehidupan ayah Swat Hong, Raja Han
Ti Ong yang menjadi rusak dan hancur lebur karena Raja yang bijaksana dan
perkasa itu takluk kepada cinta kasih berahi seperti itu. Lihat saja penghidupan
ayah Soan Cu, yang menjadi gila karena kematian isterinya yang tercinta, juga
merupakan cinta memiliki yang hanya akan berakhir dengan kesengsaraan. masih
banyak lagi contoh-contoh. Cinta kasih yang terdorong oleh berahi dan
kesengsaran ini pasti akan disusul dengan keinginan memiliki, menguasai dan
mengikat. Pengikatan diri inilah yang akan mencelakakan, yang akan menimbulkan
duka karena kehilangan, perpisahan atau kekecewaan karena cemburu dan lain-lain.
Pengikatan diri kepada sesuatu memang menimbulkan kenikmatan duniawi,
menimbulkan kesenangan lahir yang hanya sementara saja sifatnya, kemudian diakhiri dengan bermacam duka dan
kesengsaraan. Yang paling menimbulkan sesal dalam hati Sin Liong adalah kenyataan bahwa
penolakannya terhadap cinta kasih gadis-gadis itu tentu akan mendatangkan kekecewaan kepada mereka, namun dia pun
yakin

Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahwa.kekecewaan itu pun hanya akan sementara saja sifatnya. Kalau mereka,
termasuk Swat Hong, sudah tertarik
kepada seorang laki-laki lain, kekecewaan itu pun akan lenyap tanpa bekas lagi.
Cuaca tidak segelap tadi, tanda bahwa agaknya malam telah terganti pagi. Untuk
melanjukan siasatnya, Sin Liong lalu merebahkan diri di bawah obor yang telah
padam rebah di antara bangkai-bangkai lebah yang hangus. Tak lama kemudian
jantungnya berdebar karena telinganya yang menempel lantai mendengar suara-suara
gerakan kaki. Ada orang-orang datang
menghampirinya! Tepat seperti yang diharapkannya, muncul ah dua orang kakek itu
bersama enam orang kerdil lain. Mereka segera menghampiri dan merubungnya,
bahkan ada tangan yang menyentuh dada dan pergelangan tangannya. Cepat Sin Liong menggunakan
ilmunya, menghentikan detak jantung dan pernapasannya. "Dia telah mati....!!" Terdengar
suara di atasnya. Dia tidak melihat siapa yang bicara karena dia rebah miring.
"Kita laporkan kepada Lihiap!" terdengar suara kekek berjenggot panjang. Pada
saat itu, Sin Liong membalikan tubuhnya, tangannya menyambar dan dia telah
menangkap lengan seorang kerdil, lalu menotoknya roboh. Tujuh orang kerdil yang lain terkejut sekali,
berloncatan dan lenyap di balik dinding melalui pintu-pintu rahasia,
meninggalkan Si Kerdil yang telah roboh tertotok. Memang Sin Liong hanya
membutuhkan seorang saja. Dia lalu mengangkat bangun
orang itu, membebaskan totokannya dan menghardik, "Hayo tunjukan aku di mana
temanku wanita itu ditawan!" Orang kerdil itu menjadi pucat dan menggeleng-
geleng kepalanya. "Aku..... aku tidak tahu...." "Bohong! Hayo katakan, aku hanya ingin menolong
dan membebaskannya. Kalau kau mengaku terus terang, aku akan membebaskanmu."
"Aku.... aku tidak berani...." kemudian orang itu berkata, suaranya mengandung
rasa takut dan dia menoleh ke kanan kiri seolah-olah takut kata-katanya
terdengar oleh dinding di kanan kirinya. "Hemm, aku tahu. Kalau kau mengaku,
engkau takut dihukum oleh atasanmu. Akan tetapi kau menunjukan tempat itu karena
kupaksa dan mereka tentu tahu akan hal itu."
"Aku... aku takut..... takut disiksa...."orang itu berkata setengah menangis Sin
Liong menjadi gemas. Orang yang pengecut ini memaksa dia harus mengeraskan hati.
Apa boleh buat, demi keselamatan Swat Hong! Dia lalu menggunakan jarinya memijit
tengkuk orang itu, memijit jalan darah sambil berkata, "Kau hanya takut kepada mereka
dan tidak takut kepadaku" Nah, kautunjukan atau kubiarkan kau tersiksa seperti
ini selama hidupmu!"
Orang itu menyeringai, makin lama makin lebar dan tubuhnya mengeliat-geliat
menahan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya. Akan tetapi, rasa nyeri itu tidak
dapat ditahannya lagi dan dia roboh terguling, menggeliat dan berkelojotan
seperti orang sekarat, mulutnya merintih,
"Bebaskan aku.... atau bunuh aku saja..." Sin Liong merasa kasihan sekali, akan
tetapi dia mengeraskan hatinya. "Aku tidak akan membunuhmu dan juga tidak akan
menyembuhkanmu. Kalau kau tidak mau menunjukan tempat sahabatku itu, selama hidup kau akan
menderita seperti ini!" "Tolong.... aduhhhh... baik, kutunjukkan tempatnya.... tapi .... tapi bebaskan
dulu aku......" Girang bukan main rasa hati Sin Liong. Dengan beberapa totokan dia membebaskan
orang itu yang segera menggeliat dan memijit-mijit dadanya, kemudian memandang
kepada Sin Liong penuh rasa takut dan ngeri. "Aku akan menunjukan tempatnya, akan tetapi....kau
harus tahu bahwa kalau gadis itu sudah mati, maka bukanlah aku pembunuhnya."
Tentu saja kata-kata ini membuat Sin Liong terkejut bukan main. Dia tidak mau
banyak bicara lagi, melainkan berkata dengan suara terengah . "Lekas....
tunjukkan....!" Dan dia menyambar pergelangan
tangan orang itu agar jangan sampai melarikan diri melalui tempat-tempat
rahasia..Orang kerdil itu mengajak Sin Liong berlari melalui lorong-lorong dan
ternyata lorong-lorong itu amat ruwet bangunannya, berbelit-belit dan banyak
sekali persimpangannya. Pantas saja dia tidak berhasil, pikir Sin Liong dan
merasa kagum. Lorong rahasia ini memang amat hebat. Akhirnya setelah melalui
jarak yang kurang lebih lima li jauhnya, tibalah mereka di dalam lorong yang
tidak rata, lebar sempit dan di situ banyak terdapat gundukan-gundukan batu
pedang dandari atas bergantungan pula batu-batu yang runcing. Mereka berada di
dalam guha-guha besar yang berbeda sekali dengan guha-guha darimana Sin Liong
dan Swat Hong masuk. JILID 19 "Di mana tempatnya?" Sin Liong bertanya, suarnya gemetar karena dia merasa
tegang sekali. Benarkah bahwa Swat Hong terancam nyawanya dan mungkin sekali sudah tewas"
Hampir dia memekik untuk melampiaskan kekhawatirannya. Tidak! Tidak mungkin! Tidak boleh!
"Di mana dia" Hayo katakan!" Dia mengguncang tangan orang kerdil itu.
Tubuh orang itu menggigil. "Dia... di dalam guha sana itu.... lihat, di sana ada
lubang besar, bukan?"
"Hayo kita ke sana!"
"Tidak.... tidak, aku takut....! Mereka menjebaknya di sana, tempat itu adalah
sarang laba-laba raksasa yang mengerikan. Kurasa dia sudah tewas ....."
Sin Lion tidak perduli dan menyeret orang itu menuju ke lubang besar yang berada
di sebelah kiri lorong, melalui bantu-batu menonjol yang ujungnya seruncing
pedang. Setelah tiba di situ, tiba-tiba dia mendengar suara lirih.
"Sumoi....!" Dia berteriak.
"Suheng.... aihhhh.... Suheng....!" Terdengar suara tangis. Swat Hong yang
menangis. Masih hidup! Hampir Sin Liong bersorak saking girangnya dan dia
mendorong orang kerdil itu sampai terguling-guling lima meter jauhnya. Orang
kerdil itu merangkak dan pergi akan tetapi Sin Liong tidak memperdulikannya
lagi. Dia sudah memasuki guha dan terus ke dalam, membelok ke kiri, ke arah
suara Swat Hong. Tiba-tiba dia terbelalak, otomatis dia memasang kuda-kuda
dengan pedang tiangkat tinggi-tinggi dan tangan kiri siap di depan dada. Matanya
yang terbelalak memandang tajam kepada seekor laba-laba raksasa sebesar kerbau,
dengan sepasang anggauta bulat seperti mata melotot kepadanya. Di belakang laba-laba
itu tampak sarang laba-laba yang bukan main besarnya, benag sarang laba-laba itu
sebesar jari-jari tangan, nampak kuat sekali dan di tengah-tengah sarang itu,
tubuh Swat Hong menempel dengan kedua lengan terpentang, juga kakinya agak terpentang dan bagian tubuh
dara itu agaknya melekat kepada sarang itu, tak dapat dilepaskan lagi. Gadis itu
menangis ketika melihatnya dan hanya dapat berkata, "Suheng....., cepat kau
bunuh binatang menjijikan itu....!"
Sin Liong mencium bau harum yang aneh dan keras, dan maklumlah dia bahwa tempat
itu penuh dengan hawa beracun! Laba-laba ini selain besar sekali juga beracun. Heran
dia mengapa Swat Hong masih dapat hidup, akan tetapi dia tidak memperdulikan atau
memusingkan hal itu, yang penting adalah menolong sumoinya.
"Tenanglah, Sumoi. Aku segera menolongmu," katanya dengan suara gemetar saking
girang dan terharunya Laba-laba itu memandang buas. Begitu melihat Sin Liong,
dia merangkak maju dengan cepat sekali dan tiba-tiba, berbarengan dengan gerakan
kaki depan dan mulutnya, sinar putih menyambar ke arah Sin Liong.
Itulah benang besar yang mengandung daya lekat luar biasa sekali, Sin Liong
menggerakan pedang rampasannya dan tali putih itu terbabat putus, kemudian dia melangkah maju,
mengelak dari sambaran tali
ke dua kemudian dari samping dia menggerakan kaki menendang. "Desss....!!"
Betapa besar pun ukuran tubuh binatang itu, namun terkena tendangan kaki Sin Liong, dia terlempar,
terbanting pada dinding batu,
terhuyung-huyung lalu menghamburkan banyak benang putih ke arah Sin Liong.
Pemuda perkasa ini.meloncat untuk mengelak dan ketika dia memandang lagi, ternyata
laba-laba itu telah lari menghilang
melalui sebuah lubang di celah-celah dinding batu.
Cepat Sin Liong menghampiri Swat Hong, berusaha menurunkan tubuh gadis itu, akan
tetapi ternyata sukar sekali karena sarang itu mengandung daya lekat yang dapat
merobek pakaian Swat Hong. Sin Liong menggerakan pedangnya karena dia melihat
bahwa sarang itu tergantung pada benang-benang pokok terbesar yang malang melintang dan melekat
pada tanah dan pada langit-langit guha. Pedangnya menyambar-nyambar dan runtuhlah
sarang itu, membawa tubuh Swat Hong terjatuh ke bawah. Gadis itu telah lemas
sekali dan tentu akan terbanting kalau saja tidak disambar oleh Sin Liong.
Pemuda itu membersihkan benang-benang laba-lana itu dan memondong tubuh sumoinya
yang lemas menjauhi tempat itu.
Ketika dia tiba di bagian yang lebar dari lorong itu, dia menurunkan sumoinya
yang duduk bersandar batu.
"Bagaimana keadaanmu, Sumoi?" tanyanya sambil memeriksa nadi lengan sumoinya.
Detik jantungnya lemah, mukanya pucat dan tenaganya habis, akan tetapi yang
mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa sumoinya itu telah keracunan!
"Untung.... untung kau datang, Suheng.... kalau tidak.....aku sudah hampir tidak
kuat....." Gadis itu tiba-tiba merangkul dan menangis dipundak Sin Liong. Pemuda itu
membiarkan saja Swat Hong menangis. Tak lama kemudian dia berkata, "Laba-laba
itu beracun, kau terkena hawa beracun, akan tetapi berapa lama kau tertawan
seperti itu?" "Sejak malam tadi....... ahhhh, mengerikan sekali, Suheng...."
"Sudahlah, mari kubantu engkau mengusir hawa beracun yang mengeram di tubuhmu."
"Nanti dulu aku harus menceritakan dulu kepadamu....." Swat Hong berkata
terengah-engah, "ceritaku akan dapat mengusir kengerian yang masih mencengkeram hatiku suheng."
Sin Liong mengangguk. Menurut halis menyelidikan tadi, biarpun terserang hawa
beracun namun keadaan Swat Hong tidak berbahaya dan malah lebih berbahaya
ketegangan dan pukulan batin yang dideritanya selama satu malam itu. Memang menceritakan kengerian yang
mencengkeram merupakan obat mujarab pula, seolah-olah kengerian yang ditahan-
tahan itu memperoleh jalan keluar dan dapat meringankan hati yang tertekan.
"Aku mengejar mereka dan mereka itu lenyap. Aku penasaran dan mencari terus,
selalu tampak berkelebatnya bayangan mereka sehingga pengejaranku terarah. Aku
sama sekali tidak mengira bahwa mereka memang memancingku ke tempat ini. Ketika aku melihat
bahwa cuaca mulai gelap, aku melihat pula sinar api di depan dan terus aku
mengejarnya. Kemudian, di antara sinar obor aku melihat beberapa orang kerdil
lari memasuki guha ini. Aku cepat mengejar dan melihat bayangan mereka dekat
sekali. Kupikir asal dapat menangkap seorang diantara mereka dan memaksanya
menjadi petunjuk jalan, tentu beres. Maka melihat
bayangan mereka begitu dekat di dalam guha ini, aku menerjang dan melompat maju,
bermaksud menangkap seorang di antara mereka." in Liong mendengarkan penuh
perhatian dan diam-diam dia membandingkan pengalaman sumoinya dan pengalamannya
sendiri. Ternyata jalan pikiran mereka untuk menawan seorang lawan adalah sama, hanya
sayangnya, sumoinya tidak tahu bahwa dia sedang dipancing memasuki jebakan yang
amat mengerikan. "Ketika aku meloncat itu, aku tidak tahu bahwa di depanku terdapat sarang laba-
laba itu. Tubuhku tertangkap, aku meronta-ronta namun laba-laba itu terus menambah tali-
tali mengerikan itu yang mempunyai daya melekat luar biasa. Aku meronta terus sampai
kehabisan napas dan melihat laba-laba itu begitu dekat, seolah-olah hendak
menjilatku dan hendak menggigit, aku pingsan entah beberapa kali." "Hemm, engkau
masih untung dapat terhindar, Sumoi. Sungguhpun aku merasa heran sekali...."
"Dapat kaubayangkan betapa ngeriku, Suheng, ketika aku siuman, tak jauh dari
situ terdapat obor yang mendatangkan cahaya remang-remang amat mengerikan, dan aku terjerat sama sekali
tak mampu bergerak,.dan laba-laba itu ...... mendekati aku, lalu mundur kembali,
mendekati lagi seperti ragu-ragu.....ihh, melihat
kaki yang berbulu itu, meraba-raba....." Swat Hong kembali menutupi mukanya dan
terisakisak. "Memang hebat sekali pengalamanmu, Sumoi. Akan tetapi yang penting,
engkau dapat terhindar. Hanya satu hal aku tidak mengerti, mengapa selama itu
laba-laba raksasa tadi tidak menggigitmu" Padahal dia amat berbisa."
"Berkat inilah," Swat Hong mengeluarkan sebuah batu sebesar kepalanya, batu yang
berkilauan mengeluarkan cahaya hijau. "Ah kiranya engkau membawa bekal Batu
Mustika Hijau" Pantas! Tentu saja binatang itu tidak berani menggigitmu, bahkan
setiap kali mendekat menjadi ketakutan dan mundur kembali. Untung sekali, Sumoi.
Sekarang, marilah kubantu
engkau mengusir hawa beracun dari tubuhmu." "Baik, Suheng.... aku......
ahhhh......" Tiba-tiba napasnya menjadi sesak dan Swat Hong terguling pingsan!
Sin Liong cepat menyambar tubuh sumoinya dan memeriksanya. Dia merasa heran
sekali karena begitu memeriksa, dia
mendapat kenyataan bahwa keadaan sumoinya tidak seringan yang diduganya semula.
hal ini adalah karena tadi sumoinya meletakan Batu Mustika Hijau itu di
pinggangnya, maka ketika pada pemeriksaan pertama, hawa beracun agak tertolak
oleh mustika itu sehingga
kelihatanya hanya ringan. Sekarang, setelah batu itu dikeluarkan, daya tolak
racun dari batu itu meninggalkan tubuh Swat Hong dan hawa beracun yang amat
jahat itu menyerang sepenuhnya membuat Swat Hong roboh pingsan. Sin Liong tidak ragu-ragu lagi,
cepat dia memijat tengkuk dan mengurut kedua urat besar di pundak. Swat Hong
mengeluh lirih dan membuka matanya. "Sumoi, kau ternyata terluka hebat juga di sebelah dalam
tubuhmu oleh hawa beracun itu. Lekas kaubuka baju atas, aku harus mengerahkan
sinkang, menempelkan tangan di punggungmu, langsung tidak tertutup pakaian." Suara Sin Liong sungguh-
sunggu dan Swat Hong juga mengerti akan keadaannya yang berbahaya. Dia merasa
penting dan dadanya sesak sekali, maka tanpa membuang waktu lagi dia lalu membuka bajunya,
duduk membelakangi Sin Liong dan membiarkan punggungnya terbuka sama sekali.
"Aughhh....ahhh, panas sekali..... ah, Suheng, badanku seperti dibakar
rasanya...." Swat Hong merintih sambil memegangi bajunya dan mencegah baju itu
merosot. "Tenanglah, Sumoi. Biar kumulai, kau menerima sajalah hawa sinkang dariku."
Sambil duduk bersila di belakang Swat Hong, Sin Liong lalu mnyalurkan tenaga
sinkang yang dingin, menempelkan telapak tangan pada pungung yang berkulit putih mulus, halus dan
pada saat itu panas sekali. Setelah telapak tangannya menempel, baru Sin Liong
tahu betapa hawa beracun itu mendatangkan hawa panas yang makin lama makin
hebat. Ahh, dia terlalu semberono, mengira luka sumoinya tadi ringan saja sehingga tidak segera
mengobati sumoinya. Swat Hong merasa tersiksa, mulutnya terbuka dan dia merintih-rintih. Hawa panas
luar biasa yang menyerang dari dalam membuatnya berpeluh, akan tetapi kini terasa olehnya betapa
dari telapak tangan di punggungnya itu masuk perlahan-lahan hawa dingin, sedikit demi sedikit. Dia
ingin membatu Sin Liong akan tetapi diurungkannya niat itu. Biarlah, dia ingin melihat sampai di mana
pemuda itu akan membelanya. Dia tahu bahwa mengerahkan Swat-im-sin-kang untuk
mengusir hawa beracun yang panas itu membutuhkan pengerahan tenaga yang kuat, apalagi harus dilakukan sedikit
demi sedikit dengan hati-hati
sehingga akan menghabiskan tenaga. Pula, begitu merasa telapak tangan pemuda itu


Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

di punggungnya yang telanjang, semacam perasaan aneh memasuki hatinya dan dia ingin agar
telapak tangan suhengnya itu
tidak lekas dilepaskan dari pungungnya! Karena itulah dia tidak mau membantu,
membiarkan suhengnya mengerahkan tenaga sendiri untuk mengusir hawa beracun itu. Sin liong tidak
menaruh curiga, hanya mengira bahwa sumoinya terlalu lelah sehingga tidak kuat membantunya. Hal ini
malah membuat dia makin bersemangat mengerahkan tenaganya. Mukanya mulai meneteskan keringat dan
dia memejamkan matanya, memusatkan seluruh hati dan pikirannya ke dalam usaha pengobatan itu.
Dia tidak tahu betapa sumoinya tersiksa, bukan hanya tersiksa oleh bentrokan antara tenaga Swat-im-
sin-kang yang mengusir hawa beracun panas melainkan juga tersiksa oleh perasaannya sendiri yang tidak
karuan. Tidak melihat.betapa Swat Hong mengepal tangan kirinya, mulutnya terbuka
terengah-engah, dan dimukanya tidak hanya
peluh yang menetes, melainkan juga air mata!
Juga keuda orang muda ini tidak tahu betapa di tempat itu muncul bayangan
seorang kakek yang berdiri tegak memandang mereka sambil mengelus jenggotnya.
Kakek ini berpakaian rapi dan sederhana bentuknya namun yang terbuat dari kain yang mahal, jenggotnya
yang panjang terpelihara rapi, sudah banyak putihnya, dan rambutnya yang putih juga
tersisir rapi dan digelung ke atas, di kat dengan pembungkus rambut sutera biru
dan ditusuk dengan tusuk konde emas. Wajah kakek ini biarpun sudah tua namun
masih kelihatan tampan dan bersih, ketampanan yang membayangkan kekejaman, apa
lagi dari sinar mata dan tarikan mulutnya
yang seperti orang mengejek. Kalau tidak melihat mulut dan sinar matanya, kakek
ini tentu akan menimbulkan rasa hormat karena dia lebih pantas menjadi seorang
pendeta atau pertama yang agung. Kakek itu mengelus jenggotnya dan pandang matanya tertuju
kepada tubuh belakang Swat Hong yang telanjang. Sinar matanya seperti membelai-belai
punggung yang melengkung indah itu, yang terakhir di bawah membesar sampai ke
pinggul yang hanya tertutup sebagian oleh baju yang merosot, dari samping
punggung tampak membayang
tonjolan buah dada yang gagal tertutup sama sekali oleh baju yang dipegang oleh
tangan Swat Hong. Dalam keadaan tanggung-tanggung ini, telanjang sama sekali
bukan dan tertutup rapat juga bukan, keadaan Swat Hong mendatangkan daya tarik
yang luar biasa, dan mudah
membangkitkan berahi seorang pria yang memang benaknya penuh terisi oleh
khayalan- khayalan cabul! Siapakah kakek yang usianya kurang lebih enam puluh tahun akan tetapi masih
begitu tertarik melihat punggung telanjang seorang dara" Dia adalah seorang
bertapa yang belum lama turun dari pertapaannya di lereng Pegunungan Himalaya. Selama dua puluh tahun
dia meninggalkan daratan besar merantau ke barat dan akhirnya bertapa di lereng
Himalaya, bertemu dengan pertapa-pertapa sakti dan mempelajari ilmu. Dahulunya dia adalah
seorang tosu yang ingin memperdalam ilmunya. Akan tetapi setibanya di Himalaya,
dia bertemu dengan ahli ilmu hitam sehingga pelajaran Agama To diselewengkan menjadi
pelajaran kebatinan yang penuh dengan ilmu sihir yang aneh-aneh. Dan karena memang di
dalam dirinya belum bersih, ilmu hitam yang dipelajarinya membuat semua kekotoran di
dalam dirinya itu menonjol dan mencari jalan keluar, dibantu dengan ilmu sihirnya
sehingga pendeta Agama To ini menyeleweng menjadi seorang pertapa atau pendeta
palsu yang tidak segan-segan melakukan apa pun demi mencapai kenikmatan dan
kesenangan dunia. Nama pendeta
ini adalah Ouwyang Cin Cu, sorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, akan
tetapi lebih-lebih lagi, memiliki kekuatan sihir yang membuat dia terpakai
sekali tenaganya oleh Jenderal An Lu Shan. Berkat ilmu sihir dari Ouwyang Cin Cu
inilah, yang merupakan obat "guna-guna" , maka An Lu Shan yang kasar itu
berhasil memikat hati Yang Kui Hui!
Bertapa atau melakukan segala usaha penekanan terhadap nafsu adalah usaha sia-
sia dan palsu belaka, karena tidak mungkin akan berhasil selama di dalam dirinya masih berkecamuk nafsu itu
sendiri. penekanan hanyalah akan menghentikan timbulnya nafsu itu sementara waktu saja,
akan tetapi bukanlah berarti bahwa nafsu itu sudah mati. Sewaktu-waktu, jika penekanannya berkurang
kuatnya, tentu akan meledaklah nafsu yang ditahan-tahan. seperti api dalam sekam , sewaktu-waktu
dapat membakar. karena yang menekan nafsu ini pun sesungguhnya adalah nafsu sendiri dalam lain bentuk
atau lain nama yang kita berikan kepadanya. Keinginan tidak mungkin dilenyapkan dengan lain keinginan,
karena akan menjadi lingkaran setan yang tiada berkeputusan. Apa artinya bertapa di tempat sunyi,
meninggalkan masyarakat agar tidak melihat lagi wanita dan timbul nafsu berahi kalau nafsu berahi itu
sendiri masih bercokol di dlam
batinnya, kalau dirinya sendiri setiap saat digerogoti oleh nafsu berahi yang
masih bercokol di dalam batin
itu" Sebaliknya, biarpun hidup di antara seribu orang wanita cantik, kalau
memang tidak ada nafsu berahi
di dalam hatinya sama sekali bersih, pasti tidak akan ada gangguan sesuatu di
dalam batin. Jadi yang penting bukanlah mencari pelarian, bukanlah melarikan diri dari segala macam
nafsu, dalam hal ini sebagai
contoh adalah nafsu berahi, melainkan membebaskan diri dari nafsu berahi. Dan
kebebasan ini hanya dapat
terjadi apabila kita mengerti benar, mengenal benar diri sendiri, mengenal nafsu
berahi yang membakar kita, dan tak mungkin kita dapat mengenal tanpa kita mempelajari, mengawasi,
mengamati dengan seksama tanpa usaha untuk mendudukannya! Dengan pengamatan ini maka segala akan tampak
jelas, segala akan kita kenal dan dari pengamatan akan timbul pengertian, dari pengertian akan
muncul suatu tindakan yang
berlainan sama sekali dari tindakan palsu pelarian..Demikianlah halnya dengan
Ouwyang Cin Cu, karena puluhan tahun lamanya dia menahan-nahan
dan menekan nafsu, setelah kini dia menguasai ilmu yang tinggi, memperoleh jalan
muda untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, dia membiarkan nafsu-nafsunya
bersimaharajalela, seolah-olah untuk menebus pertapaannya yang selama puluhan tahun itu! Begitu
turun gunung kembali ke timur untuk menikmati seluruh sisa hidupnya dengan segala
macam kesenangan yang di nginkan tubuhnya, dia mendengar tentang pemberontakan An Lu
Shan. Memang dia seorang yang cerdik, maka tampaklah olehnya kesempatan terbuka
baginya untuk mencari kedudukan tinggi, kemuliaan sebagai seorang penguasa. Dia
mengunjungi An Lu Shan dan dengan demonstrasi kepandaiannya, baik silat maupun
sihir, dia diterima dengan tangan terbuka dan diberi kedudukan tinggi, yaitu
penasihat urusan dalam dari Jenderal itu!
Tentu saja dia tidak dapat menjadi penasehat urusan perang karena dia sama
sekali tidak mengerti akan ilmu perang. Mulailah Ouwyang Cin Cu hidup mewah dan
terhormat di dalam istana An Lu Shan, segala kehendaknya terlaksana. Kemewahan, kehormatan, dan
pelampiasan nafsu berahinya karena disediakan banyak pelayan-pelayan wanita muda
yang cantik-cantik untuk kakek ini! Pada waktu itu, Ouwyang Cin Cu diutus oleh An Lu
Shan untuk mengunjungi Rawa Bangkai, karena An Lu Shan yang sudah tahu akan
kelihaian dua orang wanita The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li, mempunyai niat untuk menarik kedua
wanita itu sebagai pembantu dalam dan pengawalnya. Hal ini menunjukan kecerdikan Jenderal
itu. Dia tahu bahwa The Kwat Lin adalah bekas Ratu Pulau Es, maka selain
memiliki ilmu silat yang hebat, tentu juga memiliki ambisi-ambisi pribadi
terhadap kerajaan yang hendak mereka
gulingkan dan rampas. maka kalau wanita seperti itu diberi kesempatan memperoleh
kekuasaan dengan pasukan yang kuat, kelak tentu akan menjadi penghalang dan
saingan belaka. Berbeda kalau wanita itu ditugaskan mengawalnya, segala gerak-geriknya
dapat diawasi selain tenaganya dapat dipergunakan untuk mengawalnya sehingga dia akan
merasa lebih aman dan terjamin keselamatannya.
Demikianlah, Ouwyang Cin Cu lalu diutusnya mengunjungi Rawa Bangkai setelah lima
orang utusan pertama ke Rawa Bangkai yaitu Bi Swi Nio, Liem Toan Ki dan tiga
orang kakek lain berhasil dengan baik mengunjungi Rawa Bangkai. Sekali ini,
Ouwyang Cin Cu membawa surat pribadinya yang dengan ramah mengundang kedua orang
wanita itu untuk mengunjungi
istananya untuk mengadakan perundingan. Kedatangan Ouwyang Cin Cu menimbulkan
kegemparan, juga disambut dengan kagum oleh The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li.
Ketika lima orang utusan yang terdahulu datang, Kiam-mo Cai-li telah memberikan
rahasia jalan menuju ke Rawa Bangkai tanpa menyeberangi rawa, yaitu melalui
jalan terowongan di bawah tanah, dari balik gunung yang dijaga oleh orang-orang
kerdil yang juga sudah takluk dan menjadi kaki tangannya. Maka kedatangan
Ouwyang Cin Cu sekali ini tidaklah sukar, dan Ouwyang Cin Cu dengan
kepandaiannya yang tinggi dapat menyelinap melalui terowongan dan menembus ke
pulau di tengah rawa. Betapa kagetnyasemua orang ketika melihat seorang kakek
datang menunggangi seekor harimau!
The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li melompat ke depan, siap untuk menghadapi lawan,
akan tetapi Ouwyang Cin Cu yang masih duduk di atas pungung harimau itu tertawa,
memperlihatkan deretan giginya yang masih lengkap. "Apakah Jiwi yang bernama
The-lihiap dan Kiam-mo Cai-li yang terkenal itu?" "Benar, siapakan Totiang?"
tanya The Kwat Lin hati-hati karena sikap tosu ini menunjukan bahwa dia adalah
seorang yang berilmu tinggi.
"Ha-ha-ha, benar-benar tidak berlebihan yang pinto dengar. Kalian selain gagah
perkasa juga amat cantik. Pinto adalah Ouwyang Cin Cu, utusan pribadi An-goanswe
dan inilah surat beliau untuk Jiwi!" Dia menggosok kedua telapak tangannya dan
tampaklah asap mengepul tinggi.
Asap itu membentuk bayangan seorang pelayan istana yang cantik, yang berjalan
terbongkok-bongkok kepada kedua orang wanita itu dan menyerahkan sebuah sampul
surat! Tentu saja The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li bengong terlongong menyaksikan permainan sulap
yang hebat ini. The Kwat Lin menerima surat itu sambil mengerahkan sinkangnya
dan.....wushhhh, wanita pelayan itu lenyap tanpa bekas!
"Ha-ha-ha, The-lihiap benar hebat!" Ouwyang Cin Cu berseru dan dia meloncat
turun dari atas punggung harimau, lalu meniup ke arah harimau itu dan..... harimau itu tertiup dan
melayang tinggi lalu lenyap di
angkasa!.Tentu saja semua ini adalah hasil sihir dari Ouwyang Cin Cu. Harimau
dan pelayan wanita itu tentu saja
tidak ada sesungguhnya, yang ada hanyalah Ouwyang Cin Cu yang mempergunakan
kekuatan sihirnya mempengaruhi dua orang wanita itu sehingga mereka melihat apa yang
dikhayalkan oleh Ouwyang Cin Cu! Padahal, yang menyerahkan surat adalah pendeta
itu sendiri yang datang dengan jalan kaki. Kiam-mo Cai-li tertawa. "Hi-hik, kiranya utusan An-
goanswe adalah seorang tukang sulap!" Ouwyang Cin Cu memandang wanita itu sambil
tersenyum. Mereka saling pandang dan sudah ada kecocokan di antara mereka. Kiam-
mo Cai-li dapat melihat bahwa kakek itu, biarpun usianya sudah enam puluh tahun, namun masih tampan
gagah dan matanya bersinar-sinar penuh nafsu berahi! Sebaliknya Ouwyang Cin Cu juga dapat
mengenal Kiam-mo Cai-li, seorang wanita yang biarpun usianya sudah setengah abad
lebih, namun memiliki nafsu yang besar dan awet muda karena terlalu banyak mempermainkan dan
menghisap hawa muda dari banyak perjaka! Dia tersenyum makin lebar dan berkata,
"Bukankah Cai-li suka akan ilmu sulap" Kita berdua suka bicara dan bersikap
terang-terangan, tanapa menutupi badan sama sekali, bukan?" kalau bukan Kiam-mo
Cai-li yang terkena sihir itu, tentu dia akan menjerit saking kaget dan
ngerinya. Betapa tidak akan ngeri kalau tiba-tiba dia melihat dia sendiri dan
Ouwyang Cin Cu tidak berpakaian sama sekali, telanjang bulat sama sekali di
tengah-tengah orang banyak itu! Akan tetapi, ketika dia melirik dan melihat
bahwa The Kwat Lin dan yang lain-lain tidak mengadakan berubahan apa-apa,
tahulah dia bahwa yang melihat mereka telanjang bulat itu hanyalah mereka berdua! Diapun
tersenyum dan menjelajahi tubuh telanjang kakek itu dengan pandang mata kagum,
seperti yang dilakukan pula oleh Ouwyang Cin Cu kepadanya.
Pertapa cabul itu lalu diterima sebagai tamu terhormat, dijamu oleh The Kwat Lin
dan Kiammo Cai-li. Seperti dapat diduga lebih dulu, di antara Ouwyang Cin Cu dan
Kiam-mo Cai-li segera terjadi hubungan gelap yang amat mesra. The Kwat Lin tahu
akan hal ini dan diam-diam merasa geli, akan tetapi karena dia pun tahu akan
kesukaan Kiam-mo Cai-li yang sering mengeram laki-laki muda di dalam kamarnya,
dia pura-pura tidak tahu.
Persiapan lalu dibuat oleh kedua orang wanita itu untuk ikut Ouwyang Cin Cu
mengunjungi An Lu Shan. Akan tetapi sebelum mereka berangkat, terjadilah
peristiwa kedatangan Sin Liong dan Swat Hong yang dikabarkan oleh orang-orang
kerdil kepada mereka. Ketika mendengar dengan jelas dan tahu bahwa yang datang menyerbu adalah Kwa Sin
Liong dan Han Swat Hong, muka The Kwat Lin menjadi pucat sekali. Dia tahu bahwa
biarpun dia jarang bertemu tanding di daratan besar setelah dia lari dari Pulau Es, namun
menghadapi kedua orang muda itu dia tidak boleh main-main, apalagi menghadapi
Sin Liong yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian hebat sekali dapat dikatakan
mewarisi seluruh kepandaian bekas suaminya, Han Ti Ong! "Aihh...., mereka
datang.....?"" tak terasa lagi keluar seruan dari mulutnya.
Kiam-mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu yang sedang duduk berhadapan di meja makan
bersama The Kwat Lin, memandang dengan kaget dan juga heran. Baru sekarang Cai-li
menyaksikan sahabatnya itu kelihatan takut!
"Siapakah mereka, Lin-moi?" Persahabatan antara The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li
telah menjadi sedemikian eratnya sehingga mereka saling menyebut moi-moi dan
cici. "Mereka?"


Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kwat Lin menjawab dan mukanya masih pucat. "Mereka adalah penghuni Pulau Es. Kwa
Sin Liong adalah murid utama dari Han Ti Ong, sedangkan Han Swat Hong adalah
puterinya!" "Ahhh...." Kiam-mo Cai-li dapat menduga bahwa tentu kedatangan mereka itu
mempunyai niat yang tidak baik. "Habis, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus siap menghadapi mereka. Mereka lihai sekali, terutama Sin Liong!
Atau jebakan agar mereka terperosok. kalau sampai mereka berhasil menerobos ke
sini, berbahaya sekali!"
kata Kwat Lin, masih tetap takut.
"Wah, Ibu. Mengapa bingung" Bukankah di sini terdapat Bibi Cai-li, juga ada
Ouwyang Totiang, dan Ibu sendiri di samping puluhan orang anak buah. Biarkan
mereka datang dan kita hancurkan mereka!" Tiba-tiba Bu Ong berkata dengan gayanya yang jumawa.
Mendengar ini, Ouwyang Cin Cu tertawa dan mengelus kepala pemuda tanggung
itu.."Engkau hebat sekali, Han-kongcu! masih kecil ini memiliki keberanian yang
luar biasa. Benar puteramu, The-lihiap. Biarlah para orang kerdil menjebak mereka, kalau jebakan itu tidak
berhail, biarlah pinto yang menghadapi mereka. Li-hiap dan Cai-li boleh siap-
siap saja menyambut mereka sebagai tawanan atau sebagai mayat." Kiam-mo Cai-li
segera mengatur sendiri orang-orang kerdil untuk memancing dan menjebak Sin
Liong dan Swat Hong, sedangkan Ouwyang Cin Cu
mengintai dan membayangi gerakan dua orang muda itu. The Kwat Lin juga sudah
siap-siap kalau kedua orang pembantu itu gagal. Demikianlah, setelah Sin Liong
berhasil menyelamatkan Swat Hong dan sedang mengobatinya, muncul Ouwyang Cin Cu mengagumi
ketelanjangan punggung Swat Hong yang berkulit putih mulus dan halus
menggairahkan hatinya itu. Melihat betapa dengan pengerahan sinkang pemuda itu berhasil
mengusir hawa beracun, dia menjadi kagum sekali kepada pemuda itu. Timbul ah
keinginan yang aneh dalam batin kakek yang penuh kecabulan itu. Berahinya yang
tadi bergolak hanya dengan melihat punggung yang putih mulus dari Swat Hong itu
kini berubah. Dia dapat melihat bahwa
pemuda dan pemudi di dalam guha itu masih murni, maka timbul ah keinginannya
menyaksikan mereka itu bermain cinta! Memang demikianlah, Kecabulan bukan hanya
keinginan untuk berjinah sendiri dengan orang yang menimbulkan berahinya,
melainkan juga dapat berbentuk keinginan untuk menyaksikan orang lain bermain
cinta. Hal ini juga timbul karena kekagumannya menyaksikan pemuda itu sanggup
mengusir hawa beracun dengan
sinkang, tanda bahwa pemuda itu merupakan lawan tangguh. Jika dia berhasil
menggunakan sihir dan guna-guna untuk membuat pemuda itu "jatuh" tentu dalam
keadaan seperti yang dikehendakinya itu, akan mudah saja menawan dua orang muda
yang agaknya ditakuti oleh
The Kwat Lin itu. Bagaikan bayangan setan saja, kakek itu menyelinap di balik
batu dan tak lama kemudian tampak asap mengepul dari tiga batang hio (dupa) yang
menyebarkan bau harum, sedangkan kakek itu sendiri sudah duduk bersila, kedua lengan diluruskan
ke depan, ke arah muda-mudi itu dan sepasang matanya terbelalak memandang
seperti sepasang mata setan! Ilmu sihir yang dipergunakan oleh Ouwyang Cin Cu adalah ilmu hitam yang
dikuasainya dengan latihan-latihan yang berat dan mengerikan. Di dalam ilmu ini terkandung
kekuasaan mujijat yang hanya dikenal oleh mereka yang memuja setan iblis dan
segala roh jahat yang mereka percaya ditambah dengan kekuatan dari tenaga sakti
(sinkang) dan latihan yang
tekun, dicampur dengan bermacam mantra yoga. Untuk melatih kekuatan matanya,
bertahun-tahun Ouwyang Cin Cu bertapa menghadapi dupa membara sampai kekuatan
pandang matanya dapat membuat api membara di ujung dupa itu membesar atau
mengecil, mengepulkan asap atau tidak menurut kehendak pikiran yang disalurkan melalui
pandangan matanya yang tajam itu. Kini, dibantu dengan bau asap dupa yang harum
dan aneh, dia mulai menjatuhkan sihirnya, matanya memandang dengan pengaruh yang
amat dahsyat, bibirnya berkemak-kemik membaca mantra. Mula-mula Swat Hong yang terpengaruh hawa mujijat
itu. Hal ini tidaklah mengherankan karena tentu saja Sin Liong memiliki daya tahan
yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan sumoinya, juga memang sebelumnya Swat
Hong sudah tersiksa oleh perasaannya sendiri, perasaan mesra yang aneh yang sejak tadi menyelinap
dan mengaduk hatinya ketika merasa betapa telapak tangan suhengnya menyentuh
punggungnya. Karena memang sudah timbul perasaan wajar dari seorang gadis yang normal dan
sehat, terdorong oleh rasa cintanya kepada suhengnya itu, maka tidaklah mengherankan
ketika diserang oleh kekuatan sihir, Swat Hong mudah sekali terkena. Dia mengeluh dan
merintih lirih, tubuhnya gemetar semua, mukanya berubah merah seperti dibakar,
napasnya terengah-engah, kedua tangannya mengepal dan dia tidak peduli lagi
bajunya yang tadi ditahan dengan tangan di bagian depan daadnya, merosot dan
terbuka. Setelah gelisah bergerak ke kanan kiri, kemudian dia menoleh, memandang
kepada suhengnya yang masih duduk bersila dengan
muka menunduk dan mata terpejam. "Iihhhh.... aahhh.... Suheng....!" Swat Hong
mengeluh, lalu membalikan tubuhnya dan serta merta merangkul leher Sin Liong
sambil terengah-engah seperti orang hendak menangis. Sin Liong membuka matanya
dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa sumoinya dalam
keadaan setengah telanjang karena
pakaian bagian atasnya terlepas setelah merangkulnya.
"Su....Sumoi!" Dia berseru dan barulah dia merasa betapa kepalanya seketika
menjadi pening, pandang matanya menjadi berkunang dan hidungnya mencium bau yang harum dan aneh sekali.
Baru sekarang terasa olehnya betapa tubuh sumoinya mendekap ketat dan jari-jari tangannya
merasakan kulit yang lunak halus dan hangat. Jantungnya berdebar dan pada saat itu, dengan isak tertahan
Swat Hong telah memperketat pelukannya dan menciumnya. "Suheng....!" Bagaikan dalam mimpi Sin
Liong merasa seolah-.olah dia terseret oleh harus yang amat dahsyat, yang
membuat bibirnya membalas ciuman itu, yang
memaksa kedua lengannya merangkul dan mendekap. Namun, seketika itu juga timbul
hawa panas dari pusat di pusarnya, hawa panas yang naik ke atas dan membuyarkan semua
hal yang membuat dia pening dan seperti mabok itu. Memang pada dasarnya Sin Liong
adalah seorang anak yang ajaib, yang sama sekali tidak pernah dipermainkan oleh lamunan
yang bukan-bukan, yang bersih sama sekali, kebersihan yang khas dan wajar, tidak
dibuat-buat dan memang pada dasarnya dia memiliki kekuatan batin yang tidak
lumrah manusia biasa. Maka begitu dia terserang oleh sihir yang amat mujijat,
biarpun dia sendiri belum tahu bahwa ada orang jahil yang mempermainkannya,
namun secara otomatis kebersihan hatinya telah
meninggalkan hawa panas menolak kekuasaan asing yang kotor itu. Begitu hawa
panas naik dan membuyarkan pengaruh jahat, seperti baru terbuka mata pemuda itu.
Baru tampak olehnya kepulan asap yang harum, keadaan Swat Hong yang tidak wajar.
Seketika tahulah dia bahwa keadaan ini bukan sewajarnya dan pasti dibuat oleh
seorang yang jahat. Begitu telinganya menangkap suara gerakan dari kiri, dia
cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang kakek tua yang duduk bersila dan meluruskan kedua
lengannya ke arah mereka, dan dari kedua lengan itu, juga dari kedua matanya,
menyambar tenaga mujijat ke arah mereka. Lengking yang panjang dan nyaring
dahsyat dan mengandung getaran tenaga sakti dari dalam pusarnya, keluar dari
mulut Sin Liong dan dia sudah meloncat berdiri.
Lengkingan yang dahsyat itu menyebar getaran yang sedemikian kuatnya sehingga
kekuatan sihir yang dipergunakan Ouwyang Cin Cu buyar sama sekali, bahkan tubuh
kekek itu tergetar. Swat Hong juga terbebas dari cengkeraman sihir itu, dia menjadi pucat sekali,
terbelalak, mengeluh perlahan lalu terguling roboh, pingsan!
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ouwyang Cin Cu ketika dia sedang
menikmati hasil ilmu sihirnya, melihat betapa muda-mudi itu sudah mulai
terpengaruh, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking sedemikian
dahsyatnya sehingga dia merasa betapa
jantungnya seperti akan copot! Melihat betapa pengaruh sihirnya buyar, dia
segera bangkit berdiri. "Manusia jahat, apa yang telah kaulakukan?" Sin Liong menegur dan melompat ke
depan kakek itu. Kakek itu mengerahkan tenaga mujijatnya, disalurkan melalui
tangan kanannya yang dibuka jari-jari tangannya dan diselojorkan ke arah muka
Sin Liong, memandang tajam sambil berkata, "Orang muda berlututlah kau di depan
Ouwyang Cin Cu....!" Akan tetapi, untuk kedua kalinya kakek itu mengalami
kekagetan. Biasanya, setiap orang lawan akan dapat dibikin tidak berdaya dengan
kekuatan sihirnya. Akan tetapi sekali ini pemuda itu hanya memandang kepadanya
dengan sinar mata jernih halus dan sama sekali tidak berlutut seperti yang
diperintahkannya dengan suara berwibawa itu. Dia memperhebat pencurahan tenaga
sihirnya, namun tetap saja pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh. Tentu saja
Sin Liong dapat merasakan serangan tenaga mujijat ini, dia merasa betapa ada
hawa yang menyerangnya, keluar dari lengan dan pandang mata kekak itu, yang membuatnya
tergetar dan seperti ada kekuatan mujijat memaksanya agar dia menjatuhkan diri berlutut
di depan kakek itu. Namun dia mengerti bahwa hal itu tidak semestinya dan tidak sewajarnya, maka dia
tidak mau mentaati perintah itu melainkan memandang dengan sinar mata tajam
penuh teguran kepada kakek yang dianggapnya jahat itu.
Melihat betapa kekuatan sihirnya sekali ini tidak berhasil, Ouwyang Cin Cu
menjadi penasaran sekali . Sihirnya boleh gagal akan tetapi dia masih memiliki
ilmu silat dan kekuatan yang dahsyat. Dara itu cantik menarik. Usahanya
menikmati tontonan yang tidak senonoh gagal, maka sebaiknya pemuda ini dibunuh
saja dan dara itu ditawan!
"Mampuslah kau...." Bentaknya penasaran dan kini dia tidak menggunakan ilmu
sihir lagi, melainkan meloncat dan menerkam seperti seekor serigala kepada Sin
Liong, tangan kirinya mencengkeram ke arah dahi pemuda itu sedangkan sedangkan
tangan kanannya dengan jari
terbuka membacok ke arah dada kiri lawan.
"Plak! Desss...." Sin Liong menangkis dengan kedua tangannya dan akibatnya tubuh
kakek itu terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung. Mata kakek itu terbelalak saking kagetnya. Tak
disangkanya bahwa pemuda yang sanggup membuyarkan ilmu sihirnya ini juga berhasil menangkis
serangan dan membuat tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh! Maklum bahwa dia berhadapan dengan sorang
pemuda yang luar biasa. Ouwyang Cin Cu meloncat, membalikan tubuhnya dan lari! Teringat dia akan
sikap takut yang tampak pada wajah bekas Ratu Pulau Es ketika mendengar akan kedatangan pemuda
dan pemudi ini dan baru sekarang dia tahu mengapa bekas Ratu itu kelihatan takut-takut. Kiranya
pemuda ini memang.memiliki kesaktian yang amat hebat! Dia perlu mencari bantuan,
karena menghadapi seorang diri saja amat
berbahaya. Sin Liong yang ingin menangkap kakek itu dan mencari keterangan tentang The Kwat
Lin, segera mengejar sambil berseru, "Orang tua jahat, kau hendak lari ke mana"
Tungu, kau harus menjawab beberapa pertanyaanku!"
Mendengar suara Sin Liong dekat sekali di belakangnya, Ouwyang Cin Cu
mempercepat larinya, akan tetapi dengan gerakan yang lebih cepat lagi Sin Liong terus
mengejarnya. Setelah keluar dari dalam jalan terowongan itu, di lapangan terbuka
yang agak jauh letaknya dari guha di mana Sin Liong meninggalkan Swat Hong tadi,
terpaksa Ouwyang Cin Cu tidak dapat
melarikan diri lagi karena Sin Liong telah menyusul dekat sekali di belakangnya.
"Kakek jahat, berhenti dulu!" Sin Liong membentak. "Haaaeeeeeeehhhh!!" Tiba-tiba
Ouwyang Cin Cu membalikan tubuhnya dan begitu membalik, segulung sinar biru
menyambar ke arah pusar Sin Liong dan sinar putih menyambar ke antara kedua matanya. Sinar biru
itu adalah sebatang pedang tipis yang biasanya dibelitkan di pinggang sebagai
sabuk oleh kakek itu, sedangkan sinar putih itu adalah jenggot panjangnya yang
ternyata dapat dipergunakan
sebagai senjata yang sangat ampuh! "Hemmm....!!" Sin Liong yang sudah menduga
bahwa kakek yang jahat itu tentu tidak segan-segan bermain curang, sudah menjaga
diri maka begitu melihat menyambarnya sinar biru dan putih itu, cepat dia sudah
mencelat ke atas. Demikian cepat gerakan pemuda ini sehingga Ouwyang Cin Cu
melongo, mengira bahwa pemuda itu
pandai menghilang! Akan tetapi gerakan angin menyambar di belakangnya membuat
dia membalik dan ternyata pemuda itu telah berada di belakangnya dan tadi ketika
mengelak pemuda itu telah mempergunakan ginkang untuk meloncat melalui atas kepalanya.
Akan tetapi gerakan pemuda itu sedemikian cepatnya sehingga dia sendiri sampai hampir
tidak melihatnya, hanya melihat bayangan berkelebat dan pemuda itu lenyap.
Berdebar jantung kakek itu. Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan lawan
seperti ini! "Hiaaaahhh!!" Dia mengusir rasa gentarnya dan mulai mainkan
pedangnya dengan gerakan yang amat cepat. Pedang itu berubah menjadi gulungan
sinar biru dan mengeluarkan suara bedesing-desing nyaring sekali, dan serangan
pedang ini masih dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri dengan telapak
tangan terbuka, memukulkan hawa sinkang yang amat kuat. Memang Ouwyang Cin Cu
bukan orang sembarangan. Pertapa Himalaya ini selain
pandai sihir, juga memiliki ilmu silat yang tinggi, tenaga sinkangnya amat kuat
dan pedang yang dipergunakannya adalah sebatang pedang tipis dari baja biru yang
amat ampuh. Akan tetapi satu kali ini dia bertemu dengan batunya! Tubuh Sin
Liong berkelebatan dan ke mana pun pedang dan tangan kiri menyerang, selalu
hanya bertemu dengan angin belaka. Dua
puluh jurus lebih kakek itu menyerang bertubi-tubi sampai napasnya terengah-
engah. Tiba-tiba Sin Liong berseru, "Lepas pedang!"
"Plakk! Desss.....!!"
"Ai i hhhh....!!" Pedang itu terlepas dari tangan Ouwyang Cin Cu dan jatuh ke
atas tanah mengeluarkan suara mendencing nyaring.
Ternyata bahwa lengan kanan kakek tua itu kena ditampar oleh jari tangan Sin
Liong, mendatangkan rasa nyeri yang amat hebat, bukan hanya nyeri, akan tetapi juga
hawa dingin seolah-olah menggigit daging dan urat, membuat tangan kakek itu
tidak kuat lagi memegang pedang.
Untung bagi Ouwyang Cin Cu, pada saat pedangnya terlepas itu, muncul The Kwat
Lin dan Kiam-mo Cai-li! Bagaikan dua sosok bayangan setan, dua orang wanita sakti ini
sudah menerjang ke depan sambil meloncat dan terdengar suara melengking tinggi dari
mulut Kiammo Cai-li ketika dia menyerang berbareng dengan The Kwat Lin yang juga
menyerang tanpa mengeluarkan suara.
"Heeeeeeeeei i i i itttttttttt!!! Wir-wirrr......singggg..... singggg!!" Pedang
payung di tangan Kiam-m- Cai-li
sudah bergerak menyambar menyusul lengkingannya, juga dibarengi dengan
menyambarnya

Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rambut panjangnya dan kuku tangan kirinya yang sekaligus menerjang dengan serangan yang
amat dahsyat!.Namun Sin Liong lebih memperhatikan sinar pedang merah yang
menyambarnya tanpa suara itu karena dia
tahu bahwa pedang Ang-bwe-kiam di tangan The Kwat Lin yang menyambar tanpa suara
itu jauh lebih berbahaya dari pada semua serangan Kiam-mo Cai-li yang banyak ribut
itu. "Hemmmm...!" Sin Liong mendengus dan kaki tangannya bergerak menangkis rambut
dan kuku, tubuhnya mencelat menghindari sinar merah pedang The Kwat Lin dan
ujung kakinya yang menendang pergelangan tangan Kiam-mo Cai-li berhasil menangkis tusukan
pedang payung. Pada saat itu, dari belakang, menyambar sinar biru dari pedang Ouwyang
Cin Cu yang ternyata telah menyambar pula pedangnya yang tadi terlepas dan kini
ikut mengeroyok. "Ahhh!" Sin Liong berseru, membiarkan pedang lewat dekat sekali dengan lehernya
karena dia memang sengaja berlaku lambat dan begitu pedang lewat, jari tangannya
menyentil, kuku jari tangannya bertemu batang pedang biru itu.
"Tringgggg.... Auuhhh....!" Untuk kedua kalinya, pedang biru itu terlepas dari
pegangan tangan Ouwyang Cin Cu dan kini melayang jauh dan lenyap kedalam semak-
semak ! The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li sudah menerjang lagi, akan tetapi Sin
Liong meloncat jauh ke belakang, lalu berkata kepada The Kwat Lin, "Subo, tungu
dulu!" Suaranya halus akan tetapi penuh wibawa sehingga tanpa disadarinya sendiri,
Kiam-mo Cai-li menghentikan gerakannya, memandang kepada pemuda itu dengan sinar
mata penuh cahaya kagum. Otomatis hatinya tergerak melihat pemuda yang luar biasa ini, pemuda yang
wajahnya mengeluarkan cahaya lembut, sedikit pun tidak membayangkan kekerasan
dan yang memiliki sepasang mata yang aneh dan indah.
"Hemmmm, bocah kurang ajar! Engkau masih ingat bahwa aku adalah Subomu (Ibu
Gurumu)!" bentak The Kwat Lin dengan suaranya menyindir untuk menutupi guncangan
hatinya. "Subo adalah isteri Suhu, mana teecu berani kurang ajar" Kedatangan
teecu bersama Sumoi adalah untuk memenuhi pesan Suhu."
Kembali hati The Kwat Lin terguncang penuh rasa takut dan ngeri, takut kalau-
kalau suaminya yang dia tahu amat sakti itu muncul di situ. Akan tetapi
mendengar bahwa Sin Liong datang memenuhi pesan suaminya, hatinya lega karena
hal itu berarti bahwa suaminya tidak ikut datang! "Hemm, pesan apakah dari
Suhumu?" Sin Liong yang memang berawatak polos dan tidak suka menyembunyikan sesuatu di
dalam hatinya, berkata lantang, "Subo, Suhu minta agar supaya semua pusaka Pulau Es
yang Subo bawa pergi, diserahkan kembali kepada teecu untuk teecu kembalikan ke
Pulau Es." Mendengar permintaan ini tanpa menjawab lagi The Kwat Lin lalu menggerakan
pedangnya dan mengirim serangan langsung yang amat dahsyat. Gerakannya memang cekatan
sekali dan pedangnya hanya tampak sebagai sinar mereh yang meluncur seperti panah api
menuju ke arah tubuh Sin Liong. Pemuda ini kembali mencelat ke belakang berjungkir
balik dan berdiri dengan tenang.
"Subo harap dengarkan permintaan teecu. Pusaka-pusaka itu tidak boleh di bawa
keluar dari Pulau Es. Teecu tidak suka melawan Subo, akan tetapi kalau Subo
tidak mengembalikan pusaka-pusaka itu, terpaksa teecu...."
"Hei i ihhh, mampuslah!" bentak The Kwat Lin dan tubuhnya sudah melayang ke
depan dengan cepat seperti seekor burung garuda terbang menyambar, didahului
oleh sinar mereh pedang Ang-bwe-kiam di tangannya.
Terpaksa Sin Liong mengelak sambil membalas dengan totokan tangan kirinya menuju
ke pergelangan tangan yang memegang pedang, namun bekas ibu gurunya itu dengan
cepat telah menarik kembali pedangnya dan melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi dengan jurus-
jurus pilihan dari Nga-heng- kiamsut yang dimainkan oleh The Kwat Lin ini hebat bukan main karena diperkuat
dengan latihan-.latihannya di Pulau Es di bawah bimbingan suaminya, Han Ti Ong yang
sakti. Juga berkat latihan
sinkangnya di pulau dingin itu, tenaga yang menggerakkan pedang itu pun amat
luar biasa sehingga Ang-bwe-kiam menyambar-nyambar dengan hawa dingin yang
menyusup tulang lawannya biarpun tubuh belum sampai tercium pedang. Tubuh Sin Liong lenyap dan
yang tampak hanya bayangannya saja berkelebatan di antara dua sinar pedang itu yang
bergulung-gulung mengurung dirinya. Pemuda itu terpaksa mengerahkan seluruh
keringanan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana-sini, kemudian mempercepat lagi
gerakannya ketika Kiam-mo Cai-li sudah menerjang juga dengan kemarahan meluap
karena kejatuhannya tadi dianggapnya amat memalukan. Tiga orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi
sekali, ketiganya memegang senjata-senjata pusaka ampuh, mengeroyok Sin Liong dengan
mati- matian! Bukan main hebatnya pertandingan mati-matian itu! Sekali ini, baru
sekali inilah, Sin Liong benar-benar diuji semua hasil jerih payahnya
mempelajari ilmu silat tinggi di Pulau Es.
Diuji hasil warisan hampir seluruh ilmu kepandaian Raja Pulau Es Han Ti Ong yang
telah dikuasainya secara matang. Dengan tangan kosong saja dia menghadapi
serbuan maut yang dilancarkan secara bertubi-tubi oleh tiga orang lawan yang sakti itu.
Sebelumnya, dengan tingkat kepandaian Sin Ling yang sudah luar biasa tingginya,
sukar lagi diukur sampai di mana tingkatnya, dengan mudah dia dapat mengikuti
semua gerakan tiga orang lawannya dan
karena itu dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan. Dengan ilmunya
mengenal semua dasar gerakan ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab kuno Inti Sari
Gerakan Silat, sekali pandang saja dia dapat mengetahui perkembangan gerakan
lawan dan bahkan dengan mudah
dapat menirunya. Akan tetapi ada dua hal yang penting yang membuat dia repot
juga menghadapi pengeroyokan tiga orang lihai itu.
Pertama, harus diakui bahwa biarpun tingkat ilmu silatnya lebih tinggi dan dia
memiliki dasar lebih kuat dan lebih bersih sehingga sinkangnya kuat sekali,
namun dia kalah matang dalam latihan. Usianya masih terlalu muda dan dia belum
mengalami banyak pertandingan, apalagi melawan orang-orang yang ahli, tidak
seperti tiga orang pengeroyoknya yang telah
mempunyai pengalaman banyak sekali dalam pertandingan silat.
Kedua, dan ini merupakan kenyataan yang paling hebat, adalah bahwa Sin Liong
memiliki dasar watak yang halus budi dan penuh belas kasihan. Wataknya ini membuat dia
tidak tega menjatuhkan pukulan maut, apalagi membunuh lawannya. Andaikata dia
tidak memiliki dasar watak seperti ini, dengan kepandaiannya yang hebat, tentu
dia akan mampu membunuh mereka seorang demi seorang. Tadi pun, kalau dia menghendaki, tentu Kiam-mo Cai-
li sudah dapat dia robohkan untuk selamanya. Kini, menghadapi tiga orang lawan
yang mengeroyoknya dan yang berusaha sunguh-sunggu untuk membunuhnya, Sin Liong
menjadi repot juga. Apalagi dia hanya mengelak, menangkis, dan kadang-kadang membalas
serangan dengan gerakan yang diperlambat dan diperlunak karena takut kalau-kalau
salah tangan membunuh orang. Dengan demikian, dia lebih banyak diserang daripada balas
menyerang. Seratus jurus telah lewat dan pemuda yang luar biasa ini belum juga dapat
dikalahkan oleh para pengeroyoknya. Hal ini membuat mereka bertiga menjadi
penasaran, marah dan malu
sekali. Biarpun di tempat itu tidak ada orang lain kecuali para anak buah mereka
yang kini mulai bermunculan dan mengurung tempat itu, orang-orang katai dan juga
para anak buah Rawa Bangkai, namun tiga orang itu tentu saja merasa malu bahwa mereka bertiga
maju bersama dengan senjata lengkap sampai seratus jurus tidak mampu membekuk atau
menewaskan seorang pemuda yang bertangan kosong! The Kwat Lin yang selama ini
merasa bahwa dia tidak menemukan tandingan, biarpun tahu betapa lihainya murid bekas
sumoinya ini, namun dia telah dibantu oleh dua orang pandai dan belum juga dapat
menang, maka dia merasa penasaran sekali. Kiam-mo Cai-li yang selama ini
terkenal sebagai datuk kaum sesat yang lihai, selama hidupnya baru sekali ini
dia mengeroyok seorang pemuda dengan dua
orang teman yang kepandaiannya lebih tinggi dari dia sendiri, maka dia pun
penasaran.Terutama sekali Ouwyang Cin Cu. Sebelum ini sukar membayangkan bahwa
dia, yang memiliki ilmu-ilmu luar biasa, akan mengeroyok seorang pemuda seperti itu.
Hal ini benar-benar menyakitkan hati dan menghancurkan kebanggaan hati mereka
akan ilmu kepandaian mereka masing-masing yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.
"Pemuda setan, mampuslah!!"
Ouwyang Cin Cu berteriak keras, pedang birunya untuk ke sekian lainya menyambar
ganas ke arah leher Sin Liong, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut. Pada saat itu,
Sin Liong baru saja menyingkirkan pedang di tangan The Kwat Lin yang menyambar kakinya dengan cara
menendang pergelangan tangan bekas ibu gurunya itu sehingga The Kwat Lin terpaksa menarik
kembali pedangnya dan meloncat ke samping.."Hiaaaaaattttt!!" Kiam-mo Cai-li yang sudah memuncak
kemarahannya itu pun membarengi serangan
Ouwyang Cin Cu dari belakang, kukunya mencengkeram ke arah punggung Sin Liong
sedangkan pedang payungnya berputar-putar mengancam tengkuk.
Dalam detik berbahaya itu Sin Liong maklum akan datangnya ancaman maut dari
depan dan belakang. Tiba-tiba dia berteriak, tubuhnya melesat ke atas dan tak dapat
dicegah lagi, pedang payung bertemu dengan pedang biru.
"Cringgggggg.....!!"
Pada saat itulah Sin Liong yang mencelat ke atas itu bergerak cepat bukan main,
tubuhnya sudah berjungkir balik, menukik turun dan kedua tangannya menyambar
seperti sepasang garuda. "Plak! Plak!"
Ouwyang Cin Cu dan Kiam-mo Cai-li mengeluh. Kakek itu terhuyung dan memuntahkan
darah segar, sedangkan Kiam-mo Cai-li terguling-guling, kemudian meloncat berdiri
dengan muka pucat. Baju di pundak ke dua orang sakti ini robek terkena tamparan
tangan Sin Liong! "Orang muda, lihai ini....!!" Tiba-tiba Ouwyang Cin Cu berseru
aneh sekali, pedang birunya diputar-putar merupakan sinar biru bergulung-gulung
di depannya. Sin Liong mengira bahwa kakek itu akan menyerangnya atau akan menggunakan
senjata rahasia, maka dia memandang penuh perhatian. Terkejutlah dia ketika sekali
memandang, berarti sekali menuruti kata-kata kakek itu, dia merasa betapa pandang matanya
sukar dialihkan lagi dari gulungan sianr biru itu! "Orang muda, engkau telah lelah,
mengasolah.... duduklah kau.....!" kembali suara kakek itu mendengung dengan aneh dan
mendatangkan pengaruh yang ajaib.
Sin Liong menggoyang-goyang kepalanya, berusaha mengusir pengaruh yang
memaksanya untuk duduk itu. Seketika dia merasa tubuhnya lelah bukan main. Dia maklum bahwa
kakek itu kembali menggunakan ilmu hitamnya dan kesadaran ini mendatangkan
kekuatan kepada dirinya. Dia mengerahkan sinkangnya untuk menolak pengaruh itu sehingga tubuhnya
kadang-kadang diserang kelelahan, kemudian lenyap lagi, datang lagi seolah-olah
terjadi "pertandingan" yang tidak tampak.
Akan tetapi, karena terlalu mencurahkan perhatiannya kepada kakek yang
menyerangnya dengan sihir, dan menggunakan sinkangnya untuk melawan pengaruh aneh itu,
perhatian Sin Liong terhadap dua orang lawan lainya menjadi berkurang banyak.
Dua orang wanita itu tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini.
Melihat betapa pemuda itu kelihatan bengong dan menghentikan gerakannya, Kiam-mo Cai-li
cepat menyerang, akan tetapi dia didahului oleh The Kwat Lin yang sudah menusukkan
Ang-bwe- kiam ke arah lambung Sin Liong, disusul oleh tusukan pedang payung dan
cengkeraman kuku tangan kiri Kiam-mo Cai-li, kemudian disusul oleh hantaman
tangan kiri The Kwat Lin yang mengandung imkang amat dahsyatnya. Ketika merasa
adanya angin yang menyambar-nyambar menyerangnya, Sin Liong berusaha mengelak.
Dengan kedua tangannya yang
melakukan gerakan membalik, dia dapat memukul tangan Kiam-mo Cai-li dan The Kwat
Lin yang memegang pedang dan gerakannya ini hebat bukan main sehingga kedua wanita
itu memekik dan pedang mereka terlepas dari pegangan! Akan tetapi, kuku jari tangan
Kiam-mo Cai-li yang beracun itu berhasil mencengkeram pundak dekat tengkuk Sin
Liong dan pada saat yang hampir sama, tangan kiri The Kwat Lin menghantam
punggungnya dengan hebat.
"Plakk! Dessss....!!"
Tubuh Sin Liong terguling, cengkeraman kuku tangan Kiam-mo Cai-li belum tentu
akan dapat merobohkan karena secara otomatis hawa sinkang di tubuhnya melindungi tempat yang
dicengkeram, akan tetapi hantaman tangan kiri The Kwat Lin yang mengandung tenaga im-kang yang dingin itu
terlalu keras bagi Sin Liong yang pada saat itu sedang mencurahkan tenaga melawan sihir Ouwyang Cin
Cu. Dia masih.terlindung oleh sinkangnya yang otomatis sehingga tidak mengalami
luka dalam yang terlalu parah, akan
tetapi guncangan yang hebat akibat pukulan itu membuat dia pingsan! Melihat
pemuda yang membuatnya malu dan penasaran itu sudah roboh pingsan, dengan
gemasnya ouwyang Cin Cu meloncat dekat, mengangkat tangan kirinya menghantam ke arah ubun-ubun kepala
Sin Liong untuk membunuhnya. "Wuuuuuttt... plakk! Ehhhh" Kiam-mo Cai-li, mengapa kau menangkis dan
melindunginya?" Ouwyang Cin Cu membentak kaget dan melotot memandang kepada kekasih barunya ini.
Kiam-mo Cai-li tersenyum penuh arti, matanya yang indah itu dengan lirikan yang
memikat. "Sayang sekali kalau dibunuh begitu saja!" katanya sambil mengusap dagu Sin
Liong yang masih pingsan. "Dia adalah sin-tong, kalau aku bisa mendapatkan dia,
manfaatnya melebihi seratus orang jejaka lain...." "Huh, kau memang cabul!"
Ouwyang Cin Cu mencela akan tetapi tidak berani turun tangan lagi. "Tidak, dia
harus dibunuh! kalau dibiarkan hidup berbahaya sekali, akan tetapi juga jangan
sampai ada bekasnya, jangan sampai ada yang tahu bahwa kita yang membunuhnya.
Kita lempar dia di sumur ular, juga gadis itu. Mereka berdua harus mati, akan
tetapi tidak boleh meninggalkan jejak!" "Ah, ya.... gadis itu....!" Ouwyang Cin


Manusia Setengah Dewa Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Cu yang teringat kepada gadis berpunggung putih mulus itu segera berlari ke
dalam guha terowongan untuk mencari Swat Hong. Tentu saja dia tidak akan
membunuh gadis itu begitu saja sebelum melakukan kecabulan yang sama seperti
yang berada di dalam benak Kiam-mo Cai-li! Akan tetapi tak lama kemudia dia
kembali dengan muka berubah. "Dia.... dia tidak ada!" "Apa....?"
The Kwat Lin berseru dengan muka pucat. "Kalau begitu..... lekas kita lemparkan
dia ini ke sumur ular kemudian cari gadis itu sampai dapat....!
The Kwat Lin sendiri menggotong tubuh Sin Liong yang masih pingsan itu dan
beramai mereka menuju ke sebuah sumur di dalam guha terowongan. Sumur ini
lebarnya hanya satu setengah meter, dalamnya sukar diukur karena amat gelap dan
dari atas orang dapat menangkap suara mendesis-desis karena sumur itu penuh
dengan ular-ular berbisa. Hawa yang memuakkan
dapat tercium dari atas, bau yang harum aneh bercampur amis. Tanpa ragu-ragu
lagi The Kwat Lin melemparkan tubuh yang pingsan itu ke dalam sumur. Mereka semua
menanti, ingin mendengar keluhan atau rintihan atau pekik ketakutan dari pemuda yang
diberikan kepada ular-ular berbisa itu. Namun tidak terdengar sesuatu dan mereka
menganggap bahwa tentu pemuda yang pingsan itu tidak sadar kembali dan terus
mati karena dikeroyok ular dalam keadaan pingsan.
JILID 20 "Cepat kerahkan orang untuk mencari gadis itu!" The Kwat Lin berkata, dan
sibuklah mereka semua mencari Swat Hong, namun sampai habis seluruh lorong
terowongan itu dijelajahi dan sampai jauh di luar, di sekitar Rawa Bangkai,
tetap saja tidak tampak bayangan gadis itu yang seolah-olah lenyap ditelan bumi!
"Heran sekali, tadi ketika ditinggalkan pemuda itu, dia masih pingsan!" kata
Ouwyang Cin Cu ketika mereka bertiga kembali berkumpul di dalam guha di depan
sumur ular. "Kenapa kau pucat sekali" Gadis itu tidak terlalu berbahaya kukira.
Andaikata dia berhasil melarikan diri, biarkan dia datang.
Pemuda itu yang lebih hebat pun dapat kita basmi," kata Kiam-mo Cai-li ketika
melihat betapa The Kwat Lin nampak ketakutan dan mukanya pucat.
"Aihhh... kau tidak tahu....! Lenyapnya Swat Hong begitu aneh...., aku takut
kalau-kalau...." "Mengapa" Apa yang perlu ditakuti?" Ouwyang Cin Cu juga berkata.."Kalau ayahnya
yang datang, kita celaka. Baru muridnya saja sudah demikian sukar dilawan,
apalagi Gurunya..." "Bekas suamimu?" Kiam-mo Cai-li bertanya.
"Raja Pulau Es?" Ouwyang Cin Cu juga berkata sambil menengok ke kanan kiri,
karena gentar juga mendengar tentang guru pemuda luar biasa tadi.
"Kalau begiu, sebaiknya kita cepat mengunjungi utara dan menghadap An Tai-
goanswe," kata Kiam-mo Cai-li.
"Benar, kalau terlalu lama, tentu aku akan ditegur. Beliau telah menanti-nanti!"
kata pula Ouwyang Cin Cu karena kini hatinya gentar sekali seperti halnya Kiam-
mo Cai-li. "Memang sebaiknyakita pergi hari ini juga. Akan tetapi hatiku belum puas kalau
belum yakin benar akan kematian Sin Liong.
Pemuda itu terlalu berbahaya dan lihai, siapa tahu dia masih belum mati di dalam
sana." "Ai hhhh, siapa dapat hidup di lempar ke dalam sumur yang penuh ular berbisa
itu?" Ouwyang Cin Cu berkata sambil bergidik karena dia merasa ngeri juga
memikirkan hal itu. Kiam-mo Cai-li tertawa. "The-lihiap, mengapa khawatir" Aku
sebagai pemilik tempat ini mengerti betul bahwa sumur itu merupakan sumur maut.
Entah sudah berapa banyak..... eh, orang-orang
yang kulempar ke situ dan tidak pernah ada yang dapat hidup kembali. Sumur itu
dahulunya memang merupakan sarang ular-ular berbisa, kemudian kutambah lagi
dengan ratusan ekor ular berbisa lain. Kurasa jangankan baru pemuda itu, biar dewa sekalipun kalau
terjatuh ke dalam sumur itu tentu mampus!" Dan memang apa yang diceritakan oleh
wanita ini benar. Sudah banyak pria yang dia lempar ke dalam sumur itu, yaitu para pria yang
diculiknya dan menjadi korban nafsu berahinya. Setelah dia merasa bosan, para
korban itu dilempar ke dalam sumur menjadi mangsa ular-ular berbisa.
"Betapapun juga,aku masih belum yakin benar, Cai-li."
"Kalau begitu, kita runtuhkan saja guha ini agar sumur tertutup dan tidak ada
jalan keluar lagi baginya andaikata dia benar masih hidup." Ouwyang Cin Cu
memberikan usulnya. "Memang baik sekali begitu," kata The Kwat Lin.
Kiam-mo Cai-li setuju dan mengerahkan semua anak buah Rawa Bangkai, juga orang-
orang katai untuk meruntuhkan guha itu sehingga sumur ular itu tertutup oleh batu-batu
besar dan tidak ada jalan keluar dari tempat yang terpendam batu-batu besar itu.
Kemudian bergegas tiga orang ini mengajak anak buah mereka meninggalkan Rawa
Bangkai dan diam-diam secara terpencar, mereka melakukan perjalanan ke utara
untuk membantu pergerakan Jenderal An
Lu Shan yang sudah mulai mempersiapkan kekuatannya untuk menyerbu kota raja. Ke
manakah perginya Swat Hong" Apakah dia berhasil siuman dan sempat melarikan
diri" Tidak mungkin, Andaikata dia siuman dan melihat Sin Liong dikeroyok, dia
pasti akan membantu suhengnya itu, kalau perlu sampai mati bersama. Bukan watak
Pahlawan Dan Kaisar 1 Pendekar Mabuk 031 Pedang Kayu Petir Pendekar Bloon 8
^