Pencarian

Dua Musuh Turunan 6

Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen Bagian 6


suatu malam yang gelap dan angin tengah menderu keras. Aku datang sendirian,
tentu saja, aku juga bekerja seorang diri.
Besar sekali gedung si penghianat itu, yang menjadi Yoe sinsiang, perdana
menteri muda. Luas sekali pekarangan gedung itu. Melihat gedung itu nyatalah dia
hidup mewah dan mulia. Negara asing di utara gobi itu adalah tempat yang dingin
dan sulit, tetapi di sana telah dibangun suatu gedung mirip gedung-gedung di
Kanglam, ada lotengnya, ada ranggonnya, yang mengambil contoh dari Hangtjioe dan
Souwtjioe. Boleh dikatakan setengah malaman aku berkeliaran di luar gedung itu,
aku baharu berhasil mempergoki dan mencekik satu kacung dari siapa aku ketahui,
tempat kediamannya si penghianat, yaitu di loteng di pojok timur taman.
Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul lima, akan tetapi sangatlah aneh, sampai
pada saat itu si penghianat masih belum tidur. Aku dapatkan dia berada seorang
diri, tengah duduk menulis di dalam kamarnya itu. Ia terus tunduk dan menulis,
tidak ia menyangka bahwa di luar jendela kamarnya ada orang yang sedang
menghadang jiwanya. Aku menggenggam tiga batang kimtjhie piauw. Aku pun tidak hendak mensia-siakan
ketika yang baik ini. Begitulah, melalui jendela, aku lakukan penyeranganku,
penyerangan yang saling susul terhadap tiga jalan darah tjiangtay hiat, soankee
hiat dan kimtjoan hiat. Biasanya, dalam jarak tiga tombak, tidak pernah aku
gagal dengan piauw-ku itu. Dan biasanya, jangan kata orang yang tengah duduk
menulis dan lengah, walaupun orang yang pandai silat dan siap sedia, sukar dapat
meloloskan diri dari serangan ketiga piauw-ku itu. Akan tetapi kali ini,
kesudahannya membuat aku melengak. Begitu piauw-ku menyambar, begitu juga aku
dengar suara trang-trang tiga kali, lalu ketiga piauw itu jatuh di atas lantai.
Di dalam kamar itu ada kamar rahasianya, aku lihat si penghianat lari minggir
ketembok, ketika aku menyambar, tubuhnya nyeplos lenyap ke dalam tembok rahasia
itu, aku melainkan dapat menjambret ujung bajunya, yang menjadi robek. Selagi
aku menyambar, tiba tiba ada orang yang lompat kepadaku dan menolak tubuhku
hingga aku jatuh ke atas meja! - Anak Loei, dapatkah kau menerka, siapa orang
itu?" "Mungkinkah Tantai Mie Ming tidak pergi ke mana-mana dan ia hanya menggunakan
tipu daya untuk mendustai orang?" In Loei balik menanya. Tapi baharu selesai ia
menjawab demikian, tiba-tiba ia sadar sendirinya. Bukankah pada permulaan bulan
yang lampau ia bersama Kimtoo Tjioe Kian, di luar kota Ganboenkwan, telah
mengerubuti Tantai Mie Ming itu" Karenanya, ia lantas menambahkan: "Mungkinkah
Tantai Mie Ming mempunyai ilmu memecah tubuhnya" Tapi jikalau bukan Tantai Mie
Ming, siapakah yang ilmu silatnya demikian liehay?"
Tiauw Im Hweeshio tertawa dingin.
"Jikalau dia ada Tantai Mie Ming, itulah tidak aneh!" katanya, dengan keras.
"Dia adalah orang yang perhubungannya dengan aku bagaikan kaki dengan tangan!
Dia adalah saudara seperguruanku - Tjia Thian Hoa!"
In Loei heran bukan kepalang, hingga ia menjerit.
"Samsoepeh?" dia tegaskan.
Tidak salah! Dialah Tjia Thian Hoa!" Tiauw Im pastikan. "Dia membuat aku
mendongkol sekali. Segera aku tegur padanya: Apakah kau telah melupakan janji
kita sepuluh tahun yang lalu" Kau hendak menuntut balas atau bekerja untuk
musuh" Dia mendelik terhadapku, terus dia menyerang, beruntun tiga kali. Dia
telah gunakan pedangnya. Dia mendesak aku mundur hingga keluar. Aku lari, dia
mengejar. Di antara saudara-saudara seperguruanku, dialah yang paling liehay,
aku tahu aku bukannya tandingannya, akan tetapi aku ada demikian gusar, akhirnya
aku berhenti berlari, aku putar tubuhku, hendak aku tempur dia!
Aneh sekali sikapnya waktu itu. Di dalam kamar, dia sangat bengis terhadapku,
setelah berada di luar, dia sebaliknya tidak gunakan kepandaiannya. Dia Cuma
berkelit dari serangan-seranganku. Malah dengan perlahan, dia berkata padaku:
Kau tahu, Thio Tjong Tjioe itu orang macam apa"
Aku sedang murka, aku damprat dia. "Bagaimana kau dapat bicara begini?" aku
tegur dia. Tidak nanti penghianat she Thio itu seorang baik-baik. Kembali aku
bacok dia. Aku melakukannya pada malam hari, karenanya tidak dapat aku bawa
tongkat sianthung-ku, maka itu aku bawa golok pendek. Senjata itu kurang tepat
untukku. Dengan senjata itu, mana dapat aku bacok jitu kepadanya" Baharu aku
ulangi bacokanku dua kali, dari yang mana ia selalu egoskan diri, ia berkata
dengan perlahan: "Hai, soeheng yang tolol! Dengan mendadak dan sebat sekali, dia
desak aku, sebelah tangannya menyambar, hingga aku tertotok, lalu dia panggul
tubuhku, untuk dibawa pergi.
Waktu itu, aku dengar suara mulai gempar. Terang sudah bahwa pengawal-pengawal
telah sadar dan mengendus adanya bahaya. Tapi dia telah membawa lari aku
berlompatan, berputaran, hingga tak lama kemudian kita sudah berada di dalam
taman bunga, di suatu pojok yang semak, gelap dan sunyi. Di situ pun ada sebuah
kandang kuda yang bagus, dari dalam kandang itu dia tuntun keluar seekor kuda
putih, yang ia serahkan padaku.
Sambil membebaskan aku dari totokannya yang berbahaya, dia bisiki aku: "Kita ada
saudara-saudara angkat dari banyak tahun, mustahil kau tidak ketahui aku ada
orang macam apa?" - Lekas kau pergi, lekas!
Aku tidak mau naiki kuda itu. Aku katakan padanya: Jikalau kau tidak berikan aku
keterangan yang jelas, tidak mau aku pergi dari sini! Wajahnya menjadi berubah
pucat, lalu merah. Dia bentak aku: "Jikalau kau tidak pergi, jangan sesalkan aku
berlaku kejam! Bukan cuma aku inginkan kau berlalu dari gedung ini, aku juga
berikan kau tempo tiga hari untuk meninggalkan Mongolia! Atau aku nanti ambil
jiwamu!" Aku menjadi sangat gusar, aku sambar dia dengan golokku. Tapi dia pampas golokku
itu, di depanku, dia membuatnya patah dua. Belum sempat aku mengatakan sesuatu,
dia sudah angkat tubuhku, untuk digabrukkan ke atas kuda. Dia pun membentak
pula: "Apakah benar kau tidak menghendaki lagi jiwamu!"
Benar-benar, aku tidak sangka dia menjadi demikian rupa. Maka aku pun pikir:
"Dia ada begini tidak berbudi, apabila aku korbankan jiwaku, siapa nanti ketahui
dia adalah satu murid yang murtad" Baiklah aku menyingkir dulu, biar di belakang
hari aku cari pula dia untuk membuat perhitungan. Karena ini, aku lantas angkat
kaki. Kuda putih itu benar-benar satu kuda jempolan, tanpa dikendalikan, dia telah
bawa aku kabur. Syukur aku pandai juga menunggang kuda. Sia-sia saja aku mencoba
kendalikan dia. Dia telah membawa aku menyingkir dari kalangan gedung perdana
menteri itu. Di belakangku ada ratusan penunggang kuda yang mengejar aku, mereka
pun berteriak-teriak, di antaranya aku dengar ada yang mengatakan: "Besar
nyalinya penjahat itu, dia berani curi kuda Yang Mulia Perdana Menteri!"
Hai! Kiranya kuda itu ada kuda pilihan kepunyaannya si penghianat she Thio!
Besar hatiku. Aku lari terus. Sampai dapat aku mengendalikannya. Kuda itu kabur
bagaikan terbang, hingga dalam sekejap saja semua pengejar tertinggal jauh di
belakang, tidak dapat mereka mengejar terus kepadaku. Malam itu aku mendongkol
bukan main, tetapi di luar dugaanku, aku mendapatkan kuda yang jempolan....."
Kuda putih itu ditambat di ruang itu, dia seperti mengerti perkataannya si
pendeta, dia berbenger. In Loei pandang kuda itu, ia dapatkan, itulah kuda yang mirip betul dengan kuda
Tjiauwya saytjoe ma kepunyaan Thio Tan Hong. Cuma pada leher kuda ini ada tumbuh
segumpal bulu kuning. Teranglah, kedua kuda itu ada sebangsa.
"Anak Loei, kau diam memikirkan apa?" Tiauw Im tegur si nona.
"Aku pikirkan sikap aneh dari samsoepeh," sahut keponakan murid ini. "Jikalau
benar samsoepeh kesudian menjadi hambanya musuh kita, kenapa dia serahkan kuda
Thio Tjong Tjioe ini?"
"Maka itu, aku pun sangat tidak mengerti!" sahut si pendeta. "Tanpa kuda ini,
tidak nanti aku lolos dari Mongolia....."
In Loei menggelengkan kepala.
"Benar-benar ruwet....." katanya. "Sebenarnya
Thio Tjong Tjioe itu orang macam apa" Mustahil dia....."
"Plok!" demikian suara yang diterbitkan Tiauw Im, yang kembali mengeprak gempur
ujung media kemala. Dia gusar, dia berkata dengan nyaring: "Thio Tjong Tjioe itu
ada dari keluarga penghianat, turun menurun dia menghamba pada negeri Watzu, dia
yang mengatur tentara Watzu itu. Watzu bercita-cita menelan Tionggoan!
Penghianat besar yang diketahui umum oleh dunia adakah dia satu manusia baik-
baik?" In Loei teringat pada kakeknya yang tersiksa, yang mesti menggembala kuda dua
puluh tahun lamanya di ladang yang ber-es dan bersalju, hatinya menjadi sakit.
Maka menggetarlah suaranya ketika ia memberikan jawabannya.
"Dia ada satu penghianat besar yang sangat jahat dan tak berampun! Dialah musuh
besar keluargaku! - Tapi, soepeh, kau lihat, apakah dia mempunyai suatu maksud
lain?" Kedua biji matanya Tiauw Im berputar. Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa. Maka
lantas ia merogo ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan segumpal kertas. Ia
buka itu sambil berkata: "Ketika malam itu aku serang si penghianat she Thio dan
aku dijoroki Thian Hoa hingga menubruk meja, tanganku kena pegang surat ini yang
terus aku tak lepaskan lagi. Inilah surat yang sedang ditulis si penghianat itu.
Dia menulis tengah malam, aku duga urusan sangat penting, maka itu, aku bawa
surat itu. Sayang dia menulis dalam huruf Tjodjie, yang aku tidak mengerti.
Inilah suratnya, coba kau lihat. Setiap barisnya terdiri dari tujuh huruf, tidak
kurang tidak lebih, maka itu, semua huruf ada dua puluh delapan. Apakah ini surat biasa atau
syair?" In Loei anggap paman guru itu lucu, tak tahan dia tidak tertawa. Tapi dia terima
surat itu, untuk dibaca. Sekian lama, dia diam saja.
"Apakah yang kura-kura itu tulis?" tanya Tiauw Im.
"Syair," sahut In Loei. Terus dia bacakan:
"Siapakah yang menyanyikan lagu-lagu Souwtjioe dan Hangtjioe" Bunga teratai
harum sepuluh lie, bunga koei dimusim Tjioe. Siapa tahu, rumput dan kayu
dasarnya tidak berperasaan! Menyebabkan sungai Tiangkang jadi laksaan tahun
kedukaan." Itulah syair yang diucapkan Thio Tan Hong ketika Tan Hong menggelar gambarnya,
memandang itu ia rupanya telah mendapat suatu perasaan.
Tiauw Im kerutkan alisnya.
"Sampai jauh malam penghianat itu tidak tidur, adakah syair semacam ini saja
yang dia tulis?" ia kata. "Ia menyebut-nyebut kedukaan - kedukaan apakah itu"
Kenapa sungai Tiangkang dapat menerbitkan kedukaan" - Hm, aku tak mengerti, tak
mengerti!" In Loei merasa geli hingga tak dapat ia tidak tertawa pula. Ia tertawa tertahan.
"Inilah syairnya satu penyair di jaman Song," ia kata. "Sungai Tiangkang itu
sejak jaman dulu adalah daerah peperangan antara pihak Selatan dan Utara.
Menurut penglihatanku, syair ini bermaksud dalam sekali....."
Tiauw Im jengah, ia tertawa menyeringai.
"Kalau begitu, dasar aku yang tak mengerti apa-apa!" katanya. "Coba kau jelaskan
padaku, apa maksud dia menulis syair ini?"
In Loei berpikir sekian lama.
"Syair ini adalah karyanya penyair Tjia Tjie Houw di jaman Song itu," katanya
kemudian. "Ada bagian depan dan belakang yang
Tjong Tjioe robah. Syair yang asli menyebut-nyebut lagu Hangtjioe tetapi dia
ubah dan tambah menjadi Hangtjioe dan Souwtjioe. Pada akhirnya ia tulis laksaan
tahun kedukaan sedang aslinya adalah kedukaan dari laksaan lie. Jadi jarak jauh,
lie, ia ubah menjadi waktu, tahun. Terang sudah, itu adalah lamunan dari suatu
orang yang tengah terluka hatinya. Tetapi Hangtjioe, kenapa itu ditambah dengan
Souwtjioe" Apakab artinya" Ah, ya, Tjong Tjioe Tjong Tjioe, Tjong Tjioe....."
"Eh, mengapa kau sebut-sebut nama penghianat itu?" tanya si pendeta heran. In
Loei tiba-tiba seperti teringat suatu apa, ia tidak menjawab paman guru ini,
sebaliknya, dia tanya: "Bukankah djiesoepeh mengatakan bahwa gedungnya Thio
Tjong Tjioe itu dibangun mirip dengan gedung-gedung di Kanglam" Belum pernah aku
pergi ke Souwtjioe akan tetapi aku tahu, gedung-gedung berikut tamannya di sana
ada kesohor sekali. Apakah gedung Tjong Tjioe itu dibuat mirip dengan gedung-
gedung di Souwtjioe?"
"Memang sama," sahut Tiauw Im. "Nampaknya penghianat itu suka sekali akan kota
Souwtjioe." In Loei berpikir pula, ia berdiam sekian lama. Kemudian, sambil tunduk, dengan
perlahan, ia menyebut pula "Tjong Tjioe, Tjong Tjioe, Tjong Tjioe....."
Tiauw Im terperanjat, ia heran.
"Eh, anak Loei, apakah kau kemasukan iblis?" dia tegur.
In Loei sebenarnya sedang teringat akan dongengnya Tan Hong, pada otaknya
berkelebat suatu ingatan. Ia lantas angkat kepalanya.
"Aku mengerti sekarang!" katanya, tiba-tiba. "Thio Tjong Tjioe adalah turunan
Thio Soe Seng!....."
Pada ketika itu sang waktu belum lewat tujuh atau delapan puluh tahun dari
mulainya Tjoe Goan Tjiang membangun kerajaan Beng, lelakon Thio Soe Seng itu
masih tersiar di antara rakyat jelata.
Tiauw Im Hweeshio melengak.
"Thio Soe Seng?" katanya. "Apakah kau maksudkan Thio Soe Seng, yang dengan Beng
Thaytjouw telah memperebutkan negara?"
"Thio Soe Seng mengangkat dirinya menjadi raja , di Souwtjioe dan dia pakai nama
kerajaan Tay Tjioe - Tjioe yang besar!" kata In Loei. "Dan Thio Tjong Tjioe itu,
bukankah terang-terang berarti, apa yang dia junjung adalah kerajaan Tjioe yang
besar itu dari leluhurnya" Sama sekali dia bukannya menjunjung kerajaan Beng
yang besar dari Tjoe Goan Tjiang!"
Dengan "tjong" dari "Tjong Tjioe" itu, In Loei artikan "leluhur."
"Hai, budak cilik!" seru paman guru yang kedua itu. "Kenapa kau bicara putar
balik hingga pengertianmu itu, seperti teka-teki saja?"
In Loei tunduk, kata-kata paman guru itu seolah-olah ia tidak mendengarnya.
Sang pendeta nampaknya habis sabar.
"Aku tidak peduli dia turunan Thio Soe Seng atau bukan!" dia kata dengan
nyaring. "Dia membantu bangsa Watzu, dia pasti bukan manusia baik-baik!"
In Loei merasakan ruwetnya soal.
"Soepeh benar juga," katanya. Tapi, meski mulutnya mengucap demikian, dihatinya,
ia kenangkan segala apa selama ia berada bersama-sama Tan Hong beberapa hari.
"Pastilah Thio Tan Hong telah sengaja menyingkir dari Mongolia....." demikian ia
berpikir. "Karena dia pasti bukannya sebangsa ayahnya itu..... Akan tetapi
soepeh Thian Hoa, dia kesohor gagah.....
Jikalau Thio Tjong Tjioe benar ada satu penghianat yang terkutuk dan tak
berampun, kenapa dia tidak membunuhnya" Kenapa sebaliknya dia melindunginya?"
Soal ada demikian sulit, pada saat itu, tak dapat si nona memecahkannya.
Kemudian ia pikir pula, tidak peduli Thio Tjong Tjioe dan Thio Tan Hong buruk
atau baik, mereka adalah musuh-
musuh besar dari keluarga In, mereka adalah yang kakeknya pesan dalam surat
wasiatnya yang berdarah untuk dibasmi habis.....
Tiauw Im Hweeshio menghela napas.
"Aku tidak dapat memikirnya yang soetee Thian
Hoa telah tergoda iblis," katanya. "Karena sudah terang dia telah membantu
penghianat, sekarang ini habis sudah persaudaraan antara dia dan aku. Sekarang
aku berniat pergi kepada soehoe, untuk minta soehoe mempersingkat waktu dengan
tiga tahun, supaya dia ijinkan gurumu segera turun gunung. Kepandaian gurumu
itu, dibandingkan dengan kepandaian Thian Hoa, ada berimbang, maka aku percaya,
jikalau dia bekerja dengan aku mengepung Thian Hoa, pasti kita dapat
menyingkirkan Thian Hoa itu."
Mendengar perkataan djiesoepeh ini, tiba-tiba In Loei ingat kejadian itu malam
sebelum ia turun gunung. Ketika itu gurunya telah mengadakan perjamuan
perpisahan, di waktu sinting, guru itu menuturkan tentang penderitaannya selama
sepuluh tahun meyakinkan ilmunya, guru itu tak dapat melupakan Thian Hoa, suatu
bukti dia sangat menyayangi saudara seperguruan itu. Maka sekarang, kalau
gurunya itu ketahui hal ikhwalnya Thian Hoa, yang "tersesat" itu, tidak tahu
berapa besar kedukaannya.....
Sementara itu, Tiauw Im tertawa sendirinya.
"Thian Hoa memberikan aku kuda ini, inilah kuda yang berguna!" katanya. "Jikalau
aku pakai ini untuk pergi ke Siauwhan san, tak sampai satu bulan, aku akan sudah
tiba di sana! Sungguh, ini seekor kuda jempolan! Ha-ha-ha!"
Selagi paman guru dan keponakannya berbicara, San Bin dan Tjoei Hong telah
selesai dengan makanan mereka, yang terus mereka sajikan, sesudah mana, San Bin
pergi memandangi kuda si pendeta, kuda mana ia puji tak hentinya, ia sangat
mengaguminya. Tiauw Im Hweeshio dahar secara rakus sekali, itulah tanda bahwa ia sangat lapar.
Ia hajar daging, ia tenggak arak, ia sapu nasi hingga habis.
Akhirnya, ia usap-usap perutnya.
"Hai, cucu mantu yang baik!" ia memuji. "Tak tercela masakanmu ini! Nasinya
harum, sayurnya lezat!"
Kemendongkolan Tjoei Hong belum lenyap, ia cuma bersenyum tawar. Ia berpaling,
untuk memandang kuda putih, yang juga ia kagumi. Kembali terdengar si pendeta
tertawa. "Kuda ini kuda jempolan," ia kata, "akan tetapi masih ada lain kuda
yang terlebih jempolan pula, aku si hweeshio sungguh harus mengaku kalah


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terhadapnya!" San Bin pandai melihat kuda, ia heran. "Apa?" katanya. "Ada kuda lainnya yang
melebihi ini?" Tiauw Im pandang keponakan murid itu.
"Benar!" sahutnya. "Memang di kolong langit ini ada seekor kuda lainnya yang
melebihi kejempolannya! Keponakan San Bin, kau telah memakai nama Kimtoo
Tjeetjoe yang kesohor, dan menggabung itu dengan nama Tjio Eng, untuk menyiarkan
panah Loklim tjian. Hal ini baharu saja kemarin dahulu aku mengetahuinya. Di
dalam propinsi Shoasay ini, aku kenal semua orang kenamaan dari Jalan Hitam,
maka itu menuruti kegemaranku, dengan menunggang kuda putih ini, aku pergi mengunjungi mereka.
Nyatalah, orang yang hendak kau bekuk itu adalah satu mahasiswa yang menunggang
kuda putih. Dia sungguh seorang yang nyalinya sangat besar, dia sudah membuatnya
dunia Rimba Hijau menjadi gempar!"
"Apakah yang dia lakukan?" tanya mereka berbareng. Wajah mereka pun menunjukkan
bagaimana tergeraknya hati mereka.
Tiauw Im adukan jeriji tengahnya dengan jeriji manisnya, hingga perdengarkan
suatu suara, habis itu, ia menghela napas. Itu
bukanlah helaan napas dari kedukaan atau kemasgulan, hanya dari kekaguman.
"Tjioe Hiantit, tahukah kau, orang macam apa si mahasiswa berkuda putih yang
kamu sedang cari itu?" dia tanya. "Menurut penglihatanku, dia adalah satu
enghiong, seorang gagah!" Kalau orang lain, apabila terhadapnya disiarkan panah
Loklim tjian, hingga karenanya ia mesti menghadapi jago-jago Rimba Hijau,
sebenarnya, untuknya, untuk menyingkirkan diri saja sudah sulit, akan tetapi
lain halnya dengan dia. Dia bukannya pergi bersembunyi, dia justeru pergi
menyatroni jago-jago Rimba Hijau itu!"
San Bin heran bukan kepalang.
"Dia datang menyatroni?" dia ulangi. "Siapa-siapakah yang dia telah satroni
itu?" "Mungkin dia sudah satroni semua orang yang telah kau kirimkan panah Loklim
tjian itu!" sahut Tiauw Im. "Kemarin dulu aku pergi pada Na Tayhiap, dia baharu
saja terima surat golok yang ditinggalkan mahasiswa berkuda putih itu, dia telah
ditantang untuk tujuh hari kemudian pergi ke rumah Tjinsamkay Pit To Hoan untuk
membuat pertemuan....."
San Bin dan Tjoei Hong terperanjat.
"Tjinsamkay Pit To Hoan?" mereka ulangi.
In Loei tidak tahu siapa itu Pit To Hoan yang berjulukan Tjinsamkay - "orang
yang menggetarkan tiga dunia," akan tetapi dari sikapnya San Bin dan Tjoei Hong
itu, tahulah dia bahwa orang itu mestinya sangat terkenal.
"Benar, Tjinsamkay Pit To Hoan!" Tiauw Im jawab. "Bukankah itu berarti si
mahasiswa berkuda putih telah gegaras hati srigala dan jantung macan tutul" -
Setelah pamitan dari Na Tayhiap, lohornya aku pergi pada Liong Tjeetjoe. Dia
juga baharu saja menerima surat goloknya si mahasiswa berkuda putih, yang pun menjanjikan dia untuk tujuh hari kemudian
pergi berkumpul di rumahnya Tjinsamkay Pit To Hoan. Na Tayhiap dan Liong
Tjeetjoe ada orang-orang kenamaan kaum Rimba Persilatan, tapi toh si mahasiswa berani masuk ke dalam
rumah mereka itu untuk meninggalkan suratnya yang tertusukkan golok itu. Dan itu
baharu diketahui sesudah golok ditimpukkan. Maka itu, benar liehay si mahasiswa
itu!" Mendengar perkataan soepeh ini, In Loei tidak heran. Beberapa kali ia telah
dipermainkan Tan Hong, keentengan tubuh siapa ia telah saksikan. Tidak demikian
adalah San Bin dan Tjoei Hong, yang menjadi heran dan kagum.
"Karena aku merasa sangat heran, ingin aku cari si mahasiswa," Tiauw Im
meneruskan, "Aku percaya betul pada kudaku. Begitulah aku pergi. Aku girang
ketika sampai diutara kecamatan Kokkoan, di satu tegalan, aku telah melihat dia.
Aku menduga dia, karena dandanan dan kudanya itu. Lantas aku bedal kudaku, untuk
susul dia, guna menyandaknya. Dia melihat aku, rupanya dia dapat menerka aku
hendak menyusul dia, berulangkah dia berpaling, tiaptiapkali aku dengar suaranya
tertawa. Dari kejauhan, dia pun teriaki aku : "Apakah kau juga menerima panah
Loklim tjian dari Hongthianloei" Maafkan aku, aku belum tahu di mana letak
pesanggrahanmu, hingga belum aku kunjungi padamu! Baiklah, lagi tujuh hari,
silakan kau pergi ke rumah Tjinsamkay Pit To Hoan!" Rupanya dia menyangka aku
adalah salah seorang yang hendak membekuk dia. Kudaku lari keras, kudanya lari
lebih keras lagi, tidak dapat aku menyandaknya. Tak ada makanan di tanah datar
itu, dia telah jauh meninggalkan aku, hingga aku dapat melihat hanya titik-titik
putih. Sorenya tibalah aku di barat kecamatan Taykoan, di rumahnya Tjek
Tjhoengtjoe. Nyata Tjek Tjhoengtjoe, pada tadi magrib, telah juga menerima surat
dari si mahasiswa berkuda putih itu. Jadi teranglah, kudanya dapat lari setengah
hari lebih cepat daripada kudaku."
San Bin heran. "Tjinsamkay Pit To Hoan ada seorang kenamaan di Jalan Hitam dan Jalan Putih,"
kata dia, "dia biasanya tak ketentuan sepak terjangnya, maka itu, si mahasiswa
berkuda putih yang baharu saja
sampai dari Mongolia, cara bagaimana dia bisa ketahui tempat tinggal orang itu?"
Inilah benar, maka itu, Tiauw Im dan Tjoei Hong turut merasa heran, mereka
terperanjat, wajah mereka berubah. Tiauw Im pun heran mendengar disebutnya
Mongolia. Tjoei Hong juga merasa heran terhadap San Bin, yang ketahui jelas
tentang Pit To Hoan. "Pit To Hoan tinggal di sebuah desa kecil yang dinamakan Hoklok antara
perbatasan kedua propinsi Hoopak dan Shoasay," kata Tiauw Im. "Aku pun baharu
mengetahuinya setelah aku pergi ke rumahnya Na Tayhiap. Si mahasiswa berkuda
putih baharu saja datang dari Mongolia, kenapa dia ketahui jelas tentang orang
orang kenamaan dari Tionggoan" Hal ini aneh sekali dan mencurigakan..... Ah,
bukankah"....."
Pendeta ini berhenti dengan tiba-tiba, ketika ia hendak melanjutkan, In Loei
mendahului dia. "Kamu menyebut Tjinsamkay Pit To Hoan berulang-ulang, dia sebenarnya orang macam
apa?" tanya nona ini.
-ooo0dw0ooo- BAB IX "Walaupun kau tidak menanyakannya, hendak aku menuturkannya," berkata Tiauw Im.
"Keluarga Tjinsamkay Pit To Hoan adalah suatu keluarga paling aneh dalam
kalangan Rimba Persilatan. Keluarga itu, turun temurun, memegang kukuh semacam
aturan rumah tangga yang aneh sekali untuk kita semua. Setiap anak lelaki she
Pit, setelah dia masuk usia enam belas tahun, dia harus mencukur rambutnya untuk
menjadi pendeta, dia mesti hidup merantau. Setelah hidup suci sepuluh tahun,
anak itu diijinkan memelihara rambut pula. Sampai waktu itu, ia tidak
diperkenankan mendirikan rumah tangga, sebaliknya, dia mesti menuntut lain macam penghidupan
selama sepuluh tahun. Kali ini dia mesti menderita sebagai pengemis. Adalah
sesudah selesai menjalankan tugas sepuluh tahun sebagai tukang minta-minta itu,
baharu dia merdeka untuk menikah, untuk berumah tangga, memelihara anak. Oleh
karena ini, seorang putera keluarga itu, untuk menikah, dia mesti lebih dahulu
berusia tiga puluh enam tahun. Mungkin juga disebabkan kelambatan pernikahan
ini, keluarga itu jadi tak banyak jumlah anggauta-anggauta keluarganya. Pit To
Hoan sendiri liehay, sepuluh tahun ia jadi pendeta, sepuluh tahun ia jadi
pengemis, setelah kembali jadi manusia biasa, banyak penderitaaannya, luas
pengalamannya, itulah sebahnya kenapa ia diberi gelar Tjinsamkay,
Menggetarkan Tiga Dunia. Dengan dunia diartikan juga kalangan atau golongan,
yaitu dunia pendeta, dunia pengemis, dan dunia manusia biasa. Maka itu, orang
semacam dia, setelah menerima panah Loklim tjian, dapatkah dia campur tangan?"
"Mana aku berani mengirim panah Loklim tjian kepada jago itu?" sahut San Bin.
"Hanya, kalau Pit Lootjianpwee sudi membantu, itulah pengharapanku."
"Kau minta ayahku turut bersama mengirim panah Loklim tjian, untuk apakah itu?"
Tjoei Hong tanya si pemuda she Tjioe. "Dan itu bangsat cilik berkuda putih, dia
sebenarnya orang macam apa?"
Ditanya begitu, San Bin bersenyum. "Untuk membalaskan dendam suamimu," ia jawab.
"Bangsat cilik berkuda putih itu adalah putera tunggal dari penghianat besar
Thio Tjong Tjioe, dia adalah musuh besar dari saudara In Loei ini." Ia berhenti
sebentar, segera ia menambahkan: "Turut penglihatanku, kebanyakan Pit
Lootjianpwee dapat turun tangan untuk memberikan bantuannya, sayang tadinya aku
tidak tahu dia tinggal di Hoklok, jikalau tidak sudah tentu aku sudah minta Tjio
looenghiong turut mengundang dia."
Tjoei Hong segera menoleh kepada "suaminya".
"In Siangkong, benarkah bangsat cilik berkuda putih itu musuh besarmu?" dia
tegaskan. "Oh, ya....." sahut In Loei, yang mukanya pucat.
"Benar, dia adalah musuh keluargaku....."
Sepasang alisnya Nona Tjio berdiri dengan tiba-tiba. Ia tertawa.
"Kalau begitu, haruslah kau mengucap terima kasih padaku!" katanya. Ia rogo
sakunya, ia keluarkan sesampul surat. Terus ia berkata pula: "Nyata ayahku telah
dapat memikirnya! Kamu tidak berani mengundang Pit Lootjianpwee itu, bolehlah
aku yang menalanginya!"
San Bin lihat alamat surat itu, benar itu adalah untuk Pit To Hoan. Saking
girang, ia tertawa sambil menepuk tangan.
"Sempurna sekali apa yang Tjio Lootjianpwee pikir!" ia memuji. "Ah, bangsat
cilik itu bagaikan melemparkan dirinya ke dalam jala! Hiantee, segera kau dapat
lampiaskan dendammu dengan tanganmu sendiri!"
Tjoei Hong sangat puas, ia gembira sekali. "Begitu lekas aku pulang, ayah sudah
lantas menulis surat ini dan menitahkan aku segera mengirimkannya," ia terangkan
lebih jauh. "Sebenarnya aku heran kenapa ayah menjadi demikian tak sabaran,
kiranya bangsat cilik itu menjadi satu musuh besar kita. Sebentar kita pergi
bersama, akan aku perkenalkan kamu dengan Tjinsamkay Pit To Hoan yang kenamaan
itu!" In Loei terkejut di dalam hatinya.
"Pernahkah kau baca surat ini?" dia tanya "isterinya".
"Eh, apa kau tidak dengar perkataanku barusan?" Tjoei Hong baliki. "Bukankah
ayah telah permainkan aku" Apabila aku telah baca surat ini, mustahil sekarang
aku masih belum tahu akan duduknya hal" Tapi sekarang ini, dengan tidak usah
membaca lagi surat ini, sudah tahu aku akan isinya. Pastilah itu ada permintaan
bantuannya Tjinsamkay!"
In Loei penuh dengan keragu-raguan. Tjio Eng tidak tahu Thio Tan Hong itu
musuhnya. Dan ia telah menyaksikan dengan mata sendiri, terhadap Tan Hong, Tjio
Eng bersikap bagaikan pegawai terhadap majikannya. Mustahil sekali, Tjio Eng
nanti menulis surat kepada Pit To Hoan, guna meminta bantuan untuk menghadapi
Thio Tan Hong, guna membinasakan Tan Hong itu! Habis, apa isi surat itu" Sungguh
sukar untuk menerkanya. "Eh, In Siangkong, kau sedang memikirkan apa?" Tjoei Hong menegur. Ia heran.
"Ayahku telah menolongi kau membalas dendam, apakah benar kau masih tidak
gembira?" In Loei paksakan diri untuk tertawa.
"Aku merasa girang luar biasa!" ia jawab. "Nona Tjio, apakah ayahmu serta
Tjinsamkay Pit To Hoan itu bersahabat erat sekali?"
"Bukan!" sahut Tjoei Hong. "Dia justeru lawan dari ayahku! Dia berlaku sewenang
wenang. Belum pernah aku saksikan ada orang yang berani menghina ayahku seperti
yang diperbuatnya itu!"
"Siapa kata Pit To Hoan berlaku sewenang-wenang?" tanya Tiauw Im.
"Eh, ya, cara bagaimana dia menghina ayahmu?" In Loei pun tanya.
San Bin pun kurang mengertinya.
"Jikalau demikian adanya, mengapa ayahmu menulis surat kepadanya?" dia tanya.
"Dikepung" tiga orang, Tjoei Hong tertawa geli.
"Memang dia telah menghina ayahku akan tetapi ayahku sangat mengagumi dia!"
jawabnya, masih ia tertawa. "Kamu menanya bagaimana caranya dia menghina ayahku"
Untuk menutur itu, aku mesti kembali pada kejadian pada sepuluh tahun yang
lampau!" Semua orang lantas awasi nona ini.
Tjoei Hong tidak berayal untuk memberikan keterangannya.
"Ketika itu aku baharu berumur tujuh atau delapan tahun," ia mulai. "Benar
usiaku masih sangat muda akan tetapi peristiwa itu aku ingat baik-baik. Pada
suatu hari kami kedatangan satu pengemis busuk. Orangku memberikan dia nasi,
tapi dia tolak. Dia diberi uang, dia menampik. Dia minta ayah menghadiahkan dia
semacam barang permata. Siapa yang tidak tahu ayah adalah seorang saudagar
barang permata di kalangan Jalan Hitam" Orang-orangku anggap dia hendak memeras,
dia segera diserang. Kesudahannya aneh. Tidak kelihatan dia menggerakkan
tubuhnya, tetapi orang-orangku, penyerangnya, terpental sendirinya setombak
lebih. Baharulah kemudian aku ketahui dia telah gunakan ilmu silat Tjiamie
Sippattiat yang sempurna sekali."
Waktu itu ayah tengah mengajarkan aku membaca buku dan menulis surat. Seorang
bujang datang masuk, memberitahukan ayah tentang perbuatan dan tingkah laku si
pengemis jahat itu. Ayah kaget dan heran, mukanya menjadi pucat.
"Baik, silakan dia masuk!" ia titahkan. Sesudah dia masuk, siapa juga tak boleh
turut masuk! Umpama kata aku akan dihajar mati olehnya, jika aku masuk! Ayah pun
menitahkan aku menyembunyikan diri di kamar tidur, aku dilarang keluar. Aku
menjadi takut sekali, tetapi aku masih tidak gubris larangannya itu. Ketika si
pengemis masuk, aku sembunyikan diri di satu pojok di luar kamar, untuk
mengintai. Luar biasa roman sipengemis itu. Rambutnya kusut kulit mukanya hitam seperti
pantat kwali. Dia membawa-bawa sebatang tongkat panjang. Dipandang seluruhnya,
dia mirip dengan satu memedi. Begitu dia masuk, terus dia duduk di depan ayah.
Dia mengawasi dengan sepasang matanya yang bersinar tajam dan bengis. Sampai
sekian lama, keduanya tidak bicara satu dengan lain.
Akhir-akhirnya ayah menghela napas, ia bertindak masuk ke kamar dalam, untuk
mengambil permata. Ayah tumpukkan barang itu dihadapan si pengemis. "Tuan Pit,
inilah semua apa yang aku miliki," kata ayah.
Pengemis itu tertawa dingin, dia sampok semua barang permata itu.
"Hongthianloei, untuk apa kau berpura-pura?" dia tegur ayah. "Keluargaku telah
mencari kau berulang-ulang, sampai beberapa puluh tahun, baharu sekarang kau
dapat dicari. Barang itu terang ada padamu, apakah kau masih tidak hendak
mengeluarkannya untuk diserahkan kepadaku?"
"Barang itu juga bukan kepunyaanmu!" kata ayah. "Alasan apa kau punyai untuk
memaksa aku menyerahkannya?"
Pengemis itu tertawa dingin.
"Mungkinkah barang itu ada kepunyaanmu sendiri?" dia membaliki. "Kau ketahui
asal usulnya barang itu, cara bagaimana kau berani mengatakan aku bukan
pemiliknya?" Belum pernah aku saksikan ada orang yang berani bicara demikian rupa terhadap
ayah. Ayah menjadi lain waktu itu. Bagaikan orang yang memohon sesuatu, ayah
katakan pada orang itu: "Memang barang ini pernah kau memegangnya tetapi itu
bukan alasan untuk mengatakan kaulah pemilik seluruhnya. Aku mendapat pesan dan
pesan itu harus aku jalankan. Aku boleh tak menghendaki rumah tanggaku, tetapi
permata itu, Tuan Pit, aku minta sudilah kau lepaskan dari tanganmu!....."
Pengemis itu lantas menjadi gusar, dia lompat bangun.
"Rumah tanggamu! Rumah tanggamu!" dia berteriak-teriak. "Siapakah yang kemaruk
dengan rumah tanggamu" Katakanlah, hendak kau serahkan atau tidak barang itu
padaku?" "Tidak!" sahut ayah dengan tetap.
Si pengemis tertawa pula, dengan tawar. Dia putar-putar tongkatnya itu.
"Baik!" akhirnya dia berseru. "Karena kau tidak sudi memberikan, sekarang ingin
aku menerima pengajaran darimu - pelajaran ilmu
silat pedang Liapin Kiamhoat yang menjagoi sendirian di kolong langit ini!"
Ayah terima tantangan itu. Dia kata: "Jikalau begitu, maafkan aku untuk
kelancanganku!" Ayah lantas hunus pedangnya, maka di situ mereka berdua lantas
bertempur, secara bengis sekali.
Ketika itu aku masih belum belajar ilmu silat pedang, aku menonton saja dengan
perhatian. Ayah bergerak bagaikan harimau kalap, sinar pedangnya bergemerlapan.
Terang ayah berkelahi secara mati-matian. Tongkat panjang si pengemis telah
terkurung sinar pedang, tapi dia dapat bergerak dengan leluasa bagaikan seekor
ular besar. Mataku menjadi seperti kabur karenanya.
Sengit sekali mereka bertanding. Sampai sekian lama, masih belum ada
keputusannya. Lalu dengan mendadak terdengar bentakan si pengemis: "Kau serahkan
atau tidak?" Menyusul itu ayah kena terpukul pundaknya. Ayah berteriak: "Tidak!"
Segera ayah pun membalas, hingga pundak pengemis itu mengeluarkan darah. "Satu
laki-laki!" seru si pengemis.
Masih mereka bertempur. Satu kali, kembali ayah kena terpukul, sesaat kemudian,
berhasil tongkat si pengemis yang ketiga kali. Kali ini ayah kena tersampok
hingga dia berjumpalitan. Tanpa mengeluh, ayah merayap bangun, untuk menyerang
pula. Lalu tidak lama kemudian ayah dapat menikam pula pengemis itu. Seperti
ayah, dia juga tidak berteriak kesakitan.
"Pertempuran berjalan terus, tak kurang dahsyatnya. Darah telah berceceran di
tanah. Beruntun beberapa kali ayah kena dibikin jumpalitan pula, malah jidatnya


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telah diserempet tongkat hingga kulitnya pecah dan berlumuran darah. Berbareng
dengan itu, si pengemis juga tidak unggul banyak, rambutnya yang kusut kena
terpapas pendek, tubuhnya terluka beberapa lobang.
Setelah lama bertempur, kedua-duanya telah menjadi sangat lelah. Masih ayah kena
terpukul pula dan si pengemis kena tertikam lagi. Habis itu keduanya terhuyung
rubuh, tidak dapat mereka merayap bangun. Tentu sekali aku menjadi sangat kaget
dan ketakutan. Kalau tadinya aku tidak berani muncul atau bersuara, sekarang ini aku
menjerit dan menangis. Ayah bergulingan beberapa kali, lalu aku dengar ia paksakan berkata: "Baik, tuan
Pit, kau ambillah! Aku menyerah....." Menggetar suara ayah, suara itu seram,
menakutkan. "Tidak, kau tidak kalah," si pengemis pun berkata. "Kau setia kepada pesan yang
menjadi tugasmu. Seumurku baharu kali ini aku lihat kau sebagai satu laki-laki!
Untuk sementara, permata itu boleh kau simpan terus, tidak hendak aku
mengambilnya secara paksa. Sejak ini, apabila kau mendapatkan sesuatu kesukaran,
yang harganya seimbang kalau ditukar dengan permata itu, asal kau buka mulutmu,
tidak nanti aku tidak berbuat segala apa untukmu."
Habis berkata, dia merayap bangun, dia balut sendiri luka-lukanya, dengan
gunakan tongkatnya, untuk menahan tubuhnya, dia bertindak keluar dengan limbung.
Ayah tidak dapat bangun, aku pergi panggil orang, untuk membantu mengangkat ayah
naik kepembaringan. Setengah bulan lebih ayah berobat, baharu dia dapat turun
dari pembaringannya, untuk berjalan.
Suatu hari dengan berpegangan tembok, seorang diri ayah naik ke loteng tempat ia
menyimpan barang-barang permata. Di sana dihadapan sebuah gambar ia keluarkan
air mata. Biasanya tidak pernah aku berkisar dari samping ayah, tapi untuk naik
ke loteng, aku sembunyi-sembunyi. Aku lihat segala apa, aku tidak berani
menanyakannya. Aku tidak berani karena usiaku yang muda sekali. Adalah kemudian,
setelah banyak tahun, aku tanya ayah. Ayah tidak mau memberikan keterangan."
Hati In Loei tergerak. "Gambar apakah itu?" dia tanya.
"Itulah gambar lebar yang pada harian nikah kita kau melihatnya di atas loteng,"
sahut Tjoei Hong. "Oh....." kata In Loei, yang terus berdiam.
"Belakangan baharu ayah mengatakan padaku," Tjoei Hong menambahkan. "Ayah
katakan si pengemis jahat sebenarnya bukan seorang jahat, dia malah seorang luar
biasa. Dari lagu dan suaranya, nyata ayah sangat kagumi pengemis itu. Tak mau
aku percaya ayah. Hari itu aku saksikan sendiri dia sangat menghina ayah, dia
berbuat terlalu sewenang-wenang. Orang semacam dia bagaimana bukannya orang
jahat" Ayah menjadi saudagar permata di Jalan Hitam, ancaman bahaya terhadapnya
banyak dan besar sekali, beberapa kali ia menghadapi bahaya maut. Akhirnya ayah
beritahukan padaku bahwa si pengemis jahat dahulu kala adalah Tjinsamkay Pit To
Hoan yang sekarang ini. Ayah katakan juga, di dalam segala hal, kalau kita minta
bantuan tuan Pit itu, ancaman bahaya bisa berubah menjadi keselamatan. Ayah
mengatakan demikian, tetapi sebegitu jauh, belum pernah ayah mohon bantuannya
Pit To Hoan. Tapi In Siangkong, kali ini untuk urusan kau, ayah telah menulis
suratnya ini. Ini membuktikan bahwa ia menyayangi kau melebihi dirinya sendiri,
malah melebihi daripada aku juga. Maka itu, sekarang, tidak peduli dia orang
jahat atau bukan, orang luar biasa atau siluman, asal dia suka bantu kau, aku
merasa girang sekali, selanjutnya tidak lagi aku mengingat-ingat kejahatannya
dahulu itu!" In Loei tengah berpikir keras, perkataan Tjoei Hong itu seolah-olah tidak ia
mendengarnya! "Tentang Tjinsamkay Pit To Hoan itu," berkata Tiauw Im, "jikalau kau katakan dia
jahat, dia memang jahat sekali, tetapi jikalau kau katankan dia orang baik, dia
memang sangat baik." Pada dua puluh tahun yang lalu, pernah aku bertemu dengan
dia itu. Ketika itu, ia ada bersamaku, dia ada satu hweeshio, dia belum menjadi
pengemis. Pada waktu itu aku baharu keluar dari rumah perguruan, aku telah pergi merantau
ke segala penjuru, aku selalu hidup di luaran. Pada suatu hari sampailah aku di
Hongyang, dalam propinsi Shoatang. Itulah tempat yang menjadi kampung asalnya
kaisar Beng Thaytjouw Tjoe Goan Tjiang. Mengenai kota Hongyang ini,
ada ceritera burung yang bunyinya demikian: "Bicara tentang kota Hongyang,
mengatakan perihal kota Hongyang, kota Hongyang asalnya ada suatu tempat yang
baik, tetapi sejak munculnya kaisar she Tjoe, dalam sepuluh tahun, kota Hongyang
mengalami sembilan tahun paceklik, kalau si orang hartawan menjuali barang
makanannya, si orang melarat menjuali anakanaknya, dan siapa yang tidak
mempunyai anak, pasti dia menggondol tamburnya pergi merantau ke empat penjuru.
Maka itu meskipun Hongyang merupakan kota tempat kelahirannya satu raja, kotanya
sendiri sedikit juga tak dapat kebaikannya raja itu, sebaliknya raja telah
mengadakan berbagai macam pajak yang berat-berat, hingga rakyat hidupnya
bersengsara dan celaka, satu kali datang musim kemarau, rakyat kabur terlunta-
lunta ke segala jurusan. Demikian tahun itu, kota Hongyang kebetulan sedang
menderita musim kering, dari sepuluh rumah, sembilan yang kosong. Bahaya
paceklik mengancam demikian hebat tetapi ada sebuah tempat yang indah luar
biasa. Kamu tahu, tempat apakah itu" Itu adalah sebuah biara!"
In Loei heran sekali hingga ia segera buka mulutnya.
"Biara?" katanya. "Bukankah biara itu tempat kediamannya hweeshio?"
"Tidak salah, biara itu adalah tempat kediaman hweeshio," jawab Tiauw Im. "Tapi
hweeshio yang mendiami biara itu bukannya hweeshio seperti aku ini. Dia adalah
satu hweeshio besar yang banyak uangnya, yang besar pengaruhnya. Di sini tidak
usah aku takut-takut mengatakannya. Kaisar kerajaan kita sekarang ini, Tjoe Goan
Tjiang, di masa mudanya adalah satu hweeshio, dan dia masuk menjadi hweeshio
dibiara tersebut. Mulanya biara itu ada sebuah biara kecil, sesudahnya Tjoe Goan
Tjiang menjadi kaisar, biara itu dirombak, diperbaharui menjadi besar dan indah,
yang menjadi biara paling besar diseluruh negara. Oleh karena satu raja pernah
menyucikan dirinya di sana, maka nama biara itu memakai nama Hongkak sie,
artinya biara raja."
San Bin mendengarkan dengan perhatian.
"Bahwa hweeshio-hweeshio dari Hongkak sie menjadi galak dan berbuat sewenang-
wenang, tidak usahlah aku ceritakan lagi," Tiauw Im lanjutkan. Mereka itu tidak
pantang, mereka tidak hormati aturan suci. Begitulah pada saat paceklik itu,
mereka membeli banyak anak-anak perempuan dari orang-orang yang bersengsara dan
hendak mengungsi, anak-anak itu dipelihara di dalam biara, mereka dijadikan
korban-korban perkosaan. Di sepanjang jalan telah aku dengar orang banyak
berbicara tentang anak-anak perempuan yang dijual pada biara itu, ada yang
menjualnya buat lima ratus tjhie, ada yang Cuma tiga ratus tjhie. Dan uang
sebanyak itu tidak cukup untuk ongkos belanja sepuluh hari. Malah yang lebih
hebat lagi, yaitu tidak apa anaknya tidak dibeli, asal saja dapat menumpang di
dalam biara itu. Panas hatiku mendengar hal itu! Di kolong langit ini ada
semacam biara, ada semacam hweeshio, maka hweeshio sebagai aku ini, yang makan
daging, sungguh lenyap muka terangku!"
Memang kejadian itu sangat memanaskan hati.
"Usiaku waktu itu belum cukup tiga puluh tahun," Tiauw Im melanjutkan pula.
Waktu itu aku berdarah panas melebihi sekarang ini. Aku tidak pedulikan lagi
bahwa biara itu ada biara raja, dengan membawa tongkatku, aku pergi ke biara
itu, aku cari hweeshio kepalanya, yang terus aku damprat habis-habisan. Di luar
sangkaanku, rata-rata hweeshio di situ mengerti ilmu silat, malah kepalanya ada
satu ahli. Semua hweeshio muncul hendak membekuk aku, untuk menyiksa dan
membinasakan aku. Aku layani mereka, hingga dapat aku membinasakan beberapa di
antaranya, akan tetapi lama kelamaan aku kehabisan tenaga, ini berbahaya bagiku.
Di saat aku sangat terancam, datanglah satu hweeshio perantauan. Dia menabuh
bokhie, sambil membaca doa, lalu dia berkata dengan nyaring: "Di waktu langit
terang benderang ini, hai kamu kawanan murid-murid murtad dari Sang Buddha,
bagaimana kamu berani menganiaya orang?" Habis itu, sambil tetap masih mendoa,
ia turun tangan, ia serang hweeshio dari biara itu, hingga banyak hweeshio jahat yang
terbinasa atau terluka. Melihat perbuatan hweeshio itu, aku menjadi girang, aku jadi mendapat hati,
tetapi berbareng dengan itu hatiku menjadi lemah. "Soeheng, ampunilah mereka
itu!" aku teriaki hweeshio perantauan yang kosen itu. Tapi dia menjawab:
"Hweeshio dari lain-lain biara boleh diberi ampun, hweeshiohweeshio di sini
adalah yang aku paling benci! Jikalau kau merasa kasihan, biarkan aku saja yang
turun tangan sendirian!" Dan ia lanjutkan terus serangannya.
Di dalam biara itu digantungkan gambarnya Beng Thaytjouw, gambar itu lebih
tinggi daripada orang biasa. Adalah lucu di dalam sebuah biara dipajang gambar
satu raja. Dan lebih lucu lagi, gambar itu bukannya gambar hweeshio yang gundul
kepalanya! Dihadapan gambar itu, hweeshio pengembara itu tertawa tiga kali, lalu
dia meludah! Terhadap raja, perbuatan itu merupakan perbuatan sangat kurang ajar. Terhadap
segala pembesar jahat dan okpa, yang biasa menindas rakyat jelata, aku sangat
membenci, akan tetapi melihat dia demikian menghina raja, aku gentar juga.
"Jangan kau takut!" kata hweeshio itu padaku. Dahulu waktu Tjoe Goan Tjiang
belum menjadi raja, dia adalah sama sebagai kita. Dia takut sekali orang
mengatakannya dia pernah menjadi hweeshio. Aku benci pada sikapnya itu, itulah
penghinaan untuk kita hweeshio seumumnya. Kau berani bunuh hweeshio murtad dan
cabul ini, kenapa kau tidak benci pada raja yang pernah jadi hweeshio yang
mengumbar hweeshio-hweeshio jahat dan busuk melangsungkan kejahatan dan
kebusukannya" Dia jadi sengit sekali, akhirnya dia robek gambar raja itu,
dihancurkan. Aku sendiri, mendengar teguran itu, bagaikan mendengar pengajaran
Sang Buddha, aku jadi sadar dan tidak takut lagi. "Bagus Bagus!" aku berteriak
teriak sambil takepkan kedua tanganku. "Puas! Puas !"
"Membunuh orang memuaskan, tetapi menolong orang, banyak kesulitannya, berkata
pula hweeshio itu. Siapa menjadi manusia, dia tidak boleh cuma merasa puas,
tetapi jeri terhadap kesulitan.
Dengan berkata demikian, hweeshio itu maksudkan halnya banyak wanita yang
disembunyikan di dalam biara Hongkak sie itu. Ayah bunda mereka itu sudah
mengungsi, di mana mereka dapat dicari, ke mana kaum wanita itu hendak
diserahkan" Tentu saja tidak dapat mereka dibiarkan pergi seorang diri.
"Menolong orang harus secara sungguh-sungguh sampai pada akhirnya," berkata
hweeshio itu pula. "Mari kita berdua bekerja sama, untuk mengantar mereka, untuk
menolongi mereka mencari orang tuanya." Inilah benar. Membunuh orang gampang,
tetapi menolong orang sulit. Syukur untuk kami, setelah bersusah payah dua
bulan, berhasil juga kami menolong kaum wanita itu. Tentang harta yang tersimpan
di dalam Hongkak sie, kita amalkan itu kepada rakyat yang bersengsara. Inilah
jasaku yang pertama setelah aku turun gunung, peristiwa itu tak nanti aku
lupakan seumur hidupku. "Dua bulan lamanya aku diam bersama hweeshio itu, kita sangat cocok satu dengan
lain. Dalam hal ilmu silat, kepandaian kita juga berimbang. Kita lantas ikat
persahabatan. Hweeshio itu adalah Tjinsamkay Pit To Hoan yang sekarang ini.
Dengan sesungguhnya, aku kangen kepadanya. Sayang, sejak pertemuan yang pertama
kali itu, selanjutnya kita belum pernah bertemu pula satu pada lain."
Tergerak hatinya In Loei, ia berkesan sangat baik mengenai peristiwa itu,
mengenai sikapnya Pit To Hoan. Memikirkan perbuatannya Pit To Hoan, ia bagaikan
membayangkan pula waktu To Hoan meludahi gambar Tjoe Goan Tjiang. Kenapa Pit To
Hoan begitu membenci kaisar pendiri dari kerajaan Beng itu" Inilah hal yang
harus dipikirkan masak-masak.
Tiba-tiba In Loe ingat Thio Tan Hong. Ia ingat, waktu berbicara tentang Tjoe
Goan Tjiang, Thio Tan Hong memperlihatkan sikap sangat jemu. Kenapa" Ini juga
hal yang memusingkan kepala memikirnya.....
Tiba-tiba Tjioe San Bin tertawa.
"Taysoe, kali ini kau akan bertemu dengannya!" kata orang she Tjioe ini. "Pit To
Hoan sendiri sudah cukup untuk melayani bangsat
kecil itu, maka ditambah kau, biar dia punya tiga kepala dan enam tangan, tidak
nanti dapat dia terbang pergi! Ha-ha, hiantee, sakit hatimu pasti akan
terbalaskan!" dia tambahkan kepada In Loei. "Kakekmu di tanah baka tentulah akan
meramkan mata....." In Loei berdiam, matanya mendelong jauh ke depan. Ia tidak menjawab perkataannya
San Bin. Sikap ini membuatnya Tiauw Im dan Tjoei Hong menjadi heran.
Ketika bayangan matahari menunjukkan sudah dekat tengah hari, Tiauw Im lompat
berjingkrak. "Janji atau tantangan si mahasiswa berkuda putih itu tinggal empat hari lagi,"
dia kata, "maka itu sekarang sudah seharusnya kita cepat-cepat berangkat."
Pengutaraan ini dapat persetujuan, maka itu, berempat mereka berlerot keluar
dari dalam kuburan. In Loei dongak, ia memandang ke langit, ia rasakan seperti
baharu habis bermimpi.....
Tiauw Im Hweeshio dengan kuda putihnya adalah yang larinya paling pesat, yang
kedua ialah kuda merah dari In Loei, tetapi si hweehsio tidak bedal kudanya itu,
maka itu, dapat ia rendengkan binatang itu dengan kuda In Loei. San Bin dan
Tjoei Hong jauh tertinggal di belakang, Tjoei Hong jadi sangat tidak puas. Akan
tetapi, ia tak dapat berbuat suatu apa.
Dekat magrib rombongan ini telah sampai di sebuah dusun kecil ditimur kecamatan
Himkoan, di sini mereka kebetulan bertemu dengan dua rombongan lain, yaitu satu
rombongan dari Hweesin tan Tjek Tjhoengtjoe dari Thaykok, dan yang lainnya
rombongan dari Na Tjeetjoe dari Imma tjee. Tiauw Im dan San Bin kenal kedua
rombongan itu, kedua pihak lantas membuat pertemuan. Nyata kedua rombongan itu
juga tengah menuju ke rumah Pit To Hoan.
Tiauw Im segera mencari sebuah penginapan yang paling besar, ia minta tiga kamar
untuknya, yaitu ia bersama San Bin mengambil sebuah kamar, In Loei dan Tjoei
Hong ia berikan masing-masing satu kamar. Tjoei Hong menjadi tidak puas, tetapi
di situ banyak orang lain, ia terpaksa bungkam. Malam itu In Loei tidak dapat
tidur, ia bergelisah di atas pembaringannya, sampai ia dengar ketokan perlahan
sekali pada pintu kamarnya.
"Siapa?" tanyanya.
"Aku....." Itulah suara Tjoei Hong, suaranya perlahan. Supaya tidak menerbitkan peristiwa
yang bisa jadi buah tertawaan, In Loei lantas rapikan pakaiannya, ia pakai
kopiahnya, habis mana ia buka pintu untuk menemui "isterinya" itu.
Tjoei Hong bermandikan air mata pada mukanya, ia lantas tubruk In Loei hingga
nona In ini mesti peluk padanya, lantas ia dibawa kepembaringan.
"Kau kenapa?" tanya In Loei.
Tjoei Hong mengawasi, sinar matanya mengandung sinar penasaran.
"In Siangkong," ia jawab, "aku bukannya seorang hina, tak dapat aku menahan
sabar....." "Kau sebenarnya kenapa" Siapa yang menghina kau?" tanya pula In Loei.
"Paman gurumu itu serta kakak angkatmu, kenapa seperti hendak merenggangkan
perhubungan kita?" kata Tjoei Hong. "Mereka seperti tidak pandang aku adalah
isterimu. Apakah mereka anggap aku tidak pantas untuk jadi pasanganmu"
Mungkinkah mereka hendak mencarikan lain pasangan untukmu?"
Setelah ketahui urusan itu, In Loei tertawa cekikikan.
"Hai, kau memikirkan apa?" dia tanya. "Sebenarnya mereka bermaksud baik!" Tjoei
Hong mendongkol. "Bagus betul!" katanya. "Mereka hendak mencarikan kau lain jodoh, kau kata
mereka bermaksud baik! Apakah salahku, hingga kau hendak ceraikan aku?"
Ia lantas saja menangis. Sibuk juga In Loei.
"Apa" Apa katamu?" tanyanya. "Kapan aku hendak ceraikan kau?"
"Habis, kau.....kau....."
Tak dapat si nona mengatakan terus, agaknya ia malu.
In Loei berpikir keras. "Bagaimana aku harus bersikap sekarang?" dia bingung.
"Kau dengar," ia kata. "Kakak angkatku itu....."
"Foei!" Tjoei Hong memotong. "Kakak angkatmu itu! Jikalau kau sebutsebut dia
pula, nanti aku segera cari ayahku untuk minta keputusannya! Kau nikah aku atau
kakak angkatmu" Hm! Aku benci dia!"
In Loei tetap bingung, hingga ia memikirkan untuk membuka rahasia saja. Ia belum
sempat membuka mulutnya, ketika ia dengar suara berdehem di luar kamar.
"Hiantee, kau bicara dengan siapa?" terdengar San Bin menanya.
Hatinya menjadi lega. Ia segera tolak tubuhnya Tjoei Hong.
"Tjioe Toako di luar?" tegurnya. "Lekas kau keluar! Kau seka air matamu, supaya
dia tidak dapat melihat....."
Tjoei Hong mendongkol bukan main, ia lantas lari keluar, tapi apamau, ia justeru
bersomplokan dengan San Bin, dalam sengitnya, ia joroki anak muda itu sampai
hampir jatuh. Ia lari terus ke dalam kamarnya, ia tutupi kepalanya dengan
selimut, ia menangis.....
In Loei heran yang San Bin datang malam-malam padanya.
"Hianmoay," ia dengar San Bin, "kita ada bagaikan orang sendiri, tidak ada
halangannya untuk kau bicara terus terang. Sebenarnya kau mempunyai kesulitan
apa?" Sejenak, In Loei terperanjat. Tapi segera ia tertawa.
"Memang ada kesulitanku," ia jawab. "Apakah kau tidak lihat nona Tjio gerembengi


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku" Ini sulit, kesulitan ini tidak dapat aku
pecahkan. Aku lihat, toako, cuma kau yang dapat membantu aku....."
San Bin terperanjat, wajahnya berubah. "Tjoei Hong adalah satu anak yang baik,"
berkata pula In Loei, "ia sesuai dengan kau Toako, kau telah berjalan bersama-
sama dia, apakah kau tidak pikir suatu apa mengenai dia?"
Pemuda itu melengak, ia merasa tak enak.
"Adakah In Loei telah melihat lain orang maka hendak ia serahkan Tjoei Hong
padaku?" ia menduga-duga. Ia mulai cemburu.
In Loei polos, tidak ia menyangka akan kesangsiannya San Bin itu, maka itu,
heran ia menampak air muka orang menjadi pucat. Ia tercengang.
"Adik In, jangan kau dustakan aku," San Bin berkata pula. "Bukankah kau
mempunyai pikiran lain?"
"Apa, toako?" In Loei tanya. San Bin menatap.
"Anaknya Thio Tjong Tjioe telah melakukan perjalanan bersama-sama kau, bukankah
ia baik sekali terhadapmu?" tanyanya, tiba-tiba. Tubuh In Loei gemetar.
"Ya, baik sekali," ia menjawab.
"Tapi ia ada dari keluarga musuhmu!" San Bin peringatkan.
"Tentang itu tak usah kau memperingatkannya," sahut In Loei, "surat wasiat
kakekku telah menjelaskannya terang sekali."
"Apakah yang ditulisnya?"
"Surat wasiat itu menghendaki supaya aku membunuh habis keluarga Thio, tidak
peduli lelaki atau perempuan!"
"Tetapi dia berlaku baik sekali terhadapmu!" San Bin kata pula.
"Baik atau tidak sama saja. Aku..... aku..... aku tidak bisa tentangi pesan
kakekku!....." In Loei menangis tersedu-sedu, tak dapat ia bicara terus.
San Bin bingung, hatinya separuh lega. Ia awasi si nona, pikirannya ruwet. Ia
merasa tak tega, ia merasa kasihan terhadap nona ini. Ia ulur tangannya, niatnya
menghibur si nona, akan tetapi ketika tangannya membentur lengan orang, segera
ia menarik kembali. Ia merasakan getaran.
Justeru itu di luar penginapan terdengar bentakan keras.
"Oh, bangsat!" demikian suara Tiauw Im Hweeshio. "Besar nyalimu! Aku ada di
sini, kau berani datang menyatroni!"
San Bin kaget, tapi segera ia lompat keluar, tangannya mencabut goloknya. Ia
terus lompat naik ke atas genteng.
Di bawah sinar rembulan yang permai, di sana tampak satu mahasiswa yang putih
bersih, seolah-olah ia sedang bersenyum, dengan tegak ia berdiri di antara
siuran angin halus. Ia adalah si "bangsat kecil berkuda putih" untuk melayani
siapa San Bin bersama Tjio Eng sudah menyiarkan panah Loklim tjian!
Waktu itu Na Tjeetjoe dan Tjek Tjhoengtjoe pun telah muncul di pojok payon.
Menampak San Bin, Tiauw Im berkata: "Aku tidak mau melayani anak muda, akan aku
gantikan kau mengurus kuda putih itu! Hati-hatilah kamu, supaya dia tidak sampai
lolos!" San Bin tidak sahuti paman guru itu, ia hanya berkata: "Adik Loei, lekas
kemari!" Tjek Tjhoengtjoe, yang bernama Po Tjiang dan bergelar Hweesin tan, si Peluru
Malaikat, sudah lantas menimpuk dengan tiga biji hweetjoe, peluru api, mengarah
muka orang. Dengan mengegoskan tubuhnya si mahasiswa lolos dari sesaran peluru liehay itu.
Na Tjeetjoe, yang bernama Thian Sek, sudah lantas maju menyerang dengan sepasang
Poankoan pit-nya, yaitu alat semacam pit - alat tulis.
Si mahasiswa tidak hunus senjatanya, sambil menyamping sedikit, dengan sebelah
tangannya ia menangkis, tangan yang lain dipakai membalas menyerang. Secara
demikian ia membuat serangan Na tjeetjoe gagal, yang terpaksa mundur dua tindak.
Waktu itu, San Bin lompat dengan bacokan goloknya.
Gesit sekali mahasiswa itu, ia tidak menangkis atau lari, hanya selagi golok
menyambar, ia berkelit sambil memutar diri, tangannya yang sebelah diayunkan,
hingga ketika ia berbalik pula, lengan San Bin kena tersampok, sampai lengan itu
bengkak dan terasa sakit.
In Loei sudah lantas muncul di atas genteng, pedang Pekin kiam pun sudah
dihunus, segera ia lihat si mahasiswa, mata siapa seperti menyinarkan api. Ia
kertek giginya, terus ia menikam.
Si mahasiswa kelitkan dirinya sambil berseru: "Telah aku dengar semua
pembicaraanmu! Kiranya kamu semua sangat membenci aku!....." Ia tidak membalas
menyerang si nona. "Tikam dia! Jangan kasi hati!" berseru San Bin.
Tjek Po Tjiang kembali menyerang dengan pelurunya, menyusul mana, Tan Hong
dikepung bertiga. Dalam saat yang sangat mengancam itu, Thio Tan Hong masih sempat bersenanjung:
"Tubuh yang kecil boleh pulang ke dalam tanah, akan tetapi bagaimana, budi
permusuhan masih belum jelas"....."
Pemuda ini berkelit pula dari pedang In Loei, berbareng dengan itu ia serang
muka Na Thian Sek dengan tangan kosong. Na Tjhoengtjoe berkelit sambil lompat
nyamping, untuk membela dirinya. Gerakan ini digunakan sebagai ketika oleh Tan
Hong, yang sudah lompat turun.
"Kejar dia!" berteriak San Bin.
Semua orang lantas mengejar, tidak terkecuali In Loei, tetapi nona ini Cuma ikut
ikutan saja, ia sebenarnya tidak punya tujuan.
Thio Tan Hong perdengarkan suara nyaring, ia rupanya memanggil kudanya. Sebagai
jawaban ia dapatkan kuda itu berbenger, yang berada jauh daripadanya. Ia lari
menghampiri. Tiauw Im Hweeshio, di atas kuda putihnya, menghalang antara Tan Hong dan
Tjiauwya saytjoe ma. Kuda putih itu seperti kenal baik satu pada lain, maka
juga, meski dia dengar panggilan, kuda si mahasiswa tidak mau menghampiri
majikannya. Tan Hong perdengarkan pula suara panggilannya, yang panjang. Kali ini Tjiauwya
saytjoe ma perdengarkan jawabannya sambil berdiri pada kedua kaki belakangnya.
Tiauw Im lihat sikap kuda itu, ia serang batang lehernya. Atas mana, kuda
tersebut rubuh. Sakit hati Tan Hong menyaksikan kudanya disakiti, ia menjadi gusar sekali.
"Hweeshio bangsat, kau berani lukai kudaku?" dia berteriak. Terus dia maju,
menyerang si hweeshio itu, atau segera ia tercandak Tjek Tjhoengtjoe, Na
Tjeetjoe, San Bin dan In Loei, yang terus mengurung padanya. Ia menjadi
mendongkol, tidak bisa ia lantas loloskan diri. Iapun tidak sempat mencabut
pedangnya. Tiauw Im Hweeshio tertawa, dia berkata: "Tanpa kudamu, cara bagaimana kau dapat
meloloskan diri"....."
Belum pendeta ini menutup mulutnya, sekonyong-konyong kudanya berbenger dan
berjingkar, kedua kaki depannya diangkat tinggi, hingga ia menjadi kaget, sebab
hampir ia terpelanting dari atas kudanya itu. Inilah ia tidak sangka, sebab
setelah sekian lama, dapat ia menjinakkan kuda itu.
Pendeta ini tidak tahu, kudanya dengan Tjiauwya saytjoe ma mempunyai hubungan
yang sangat erat. Tjiauwya saytjoe ma itu adalah anaknya kuda putih itu! Thio
Tjeng Tjioe sangat menyayangi puteranya, ia berikan Tjiauwya saytjoe ma kepada
sang putera. Tiauw Im telah hajar kuda itu, tidak heran kudanya menjadi kaget
dan marah, setelah berjingkrak, kuda itu lari kabur. Ia mesti mendekam dan
pegangi keras kuda itu, yang tak dapat segera dikendalikan. Ia dibawa kabur
sampai beberapa lie! Tjiauwya saytjoe ma berbenger pula, terus dia lompat bangun, terus dia lari ke
arah majikannya. "Bagus! Bagus!" seru Thio Tan Hong.
Na Thian Sek maju dengan pit-nya, Tjek Po Tjiang dengan cambuknya, dan Tjioe San
Bin dengan goloknya, bertiga mereka hendak rintangi si anak muda menghampiri
kudanya itu. Tan Hong lihat sikap orang, ia justeru lompat ke arah In Loei.
Nona In kertek giginya, ia segera serang anak muda itu, akan tetapi dengan
mengegoskan mukanya, Tan Hong dapat mengelakkan pedang itu ke samping mukanya.
Adalah pada saat itu, Tjiauwya saytjoe ma telah datang dekat pada majikannya.
San Bin tidak mau diterjang kuda, ia berkelit. Ketika ini digunakan Tan Hong
untuk lompat kebebokong kudanya itu.
Tjek Tjhoengtjoe menyerang dengan pelurunya, ia sebat, akan tetapi Tjiauwya
saytjoe ma sangat gesit, dia membuatnya peluru lewat di belakangnya!
Sambil kaburkan terus kudanya, dari kejauhan, si mahasiswa telah perdengarkan
suaranya yang nyaring: "Maafkan aku, tidak dapat aku menemani lebih lama! Nanti
saja, lagi tiga hari, kami bertemu pula!"
Kata-kata itu, yang seperti ejekan, diakhiri dengan suara tertawa, yang segera
lenyap di udara terbuka, di antara sampokannya angin, yang kemudian disusul
dengan menghilangnya si penunggang kuda dan kudanya.....
In Loei berdiri menjublak, sedang Tjek Tjhoengtjoe, Na Tjeetjoe dan San Bin lesu
sekali, mereka menyesal sekali, mereka jengah sendirinya. Beramai mereka tak
sanggup membekuk satu orang.....
Tidak lama antaranya, tibalah Tiauw Im Hweeshio. Pendeta ini kembali sesudah ia
dapat kuasai kudanya, ia merasa kecele, karenanya ia larikan kudanya perlahan
lahan. Ketika ia saksikan roman kawan-kawannya, sambil menyeringai, ia berkata:
"Malam ini kita rubuh! Nanti, setelah tiga hari, terpaksa aku mesti turun,
tangan....." Besok paginya, perjalanan dilanjutkan.
Tjoei Hong mendongkol berbareng berduka, karena kejadian semalam itu. Tak mau ia
bicara dengan In Loei. San Bin pun berdiam, akan tetapi ia pikirkan pertempuran semalam. Terang ia
dapat melihat, sekalipun In Loei, dia masih kalah terhadap Thio Tan Hong yang
liehay itu. Ia juga dapat melihat, Tan Hong tidak berniat mencelakai si nona
walaupun nona ini ada musuhnya. Bukankah itu tandanya bahwa antara mereka berdua
telah ada perhubungan yang erat" Maka akhirnya, ia menjadi masgul sekali,
pikirannya pepat. Ia tidak punya kegembiraan untuk bicara dengan Nona In.
Nona ini lihat sikap pemuda she Tjioe itu, ini membuatnya ia berlega hati. Meski
demikian, teringat halnya Tan Hong, ia berduka juga.
Perjalanan dilanjutkan terus, sesudah tiga hari, sampailah mereka di Hoklok.
Perkampungan tempat kediamannya Tjinsamkay Pit To Hoan dikitari air dan bukit,
bagus letaknya. Tiauw Im Hweeshio maju di depan, ia temui pengawal pintu, untuk perkenalkan diri
dan utarakan maksud kedatangannya, setelah mana, mereka dipersilakan masuk.
Nyata di dalam telah ada lain tetamu, roman mereka umumnya tegang.
Sudah dua puluh tahun Pit To Hoan dan Tiauw Im tidak pernah bertemu, pertemuan
ini membuatnya mereka girang sekali, banyak yang mereka omongkan, tentang
kenang-kenangan mereka, perihal
kesehatan dan lainnya, hingga untuk sesaat itu, tak sempat Pit To Hoan melayani
lain tetamunya, yang semua dating karena menerima panah Loklim tjian atau
diundang langsung oleh Thio Tan Hong.
Kemudian orang menanyakan Tjioe San Bin tentang Thio Tan Hong, mereka ingin
ketahui jelas perihal orang she Thio itu.
"Ayahmu, Kimtoo Tjeetjoe," berkata Pit To Hoan, "meskipun dia belum pernah
bertemu denganku akan tetapi telah lama aku dengar tentang dia, aku tahu dia
orang macam apa, maka aku percaya orang yang dia ingin bekuk mesti ada seorang
yang jahat sekali. Sekarang pun terbukti, melihat sepak terjangnya, penjahat itu
sangat cerdik dan berbahaya. Maka itu, tidak usah kau menjelaskan banyak, aku
berniat turun tangan terhadapnya".
Kemudian, menampak Tjio Tjoei Hong, tuan rumah itu urut-urut kumisnya.
"Maafkan aku, aku tak tahu sekarang telah muncul seorang wanita gagah", ia kata.
Segera San Bin memperkenalkan.
"Nona ini puterinya Hongthianloei", katanya. Tjoei Hong segera maju, untuk
memberi hormatnya, seraya memberitahukan yang ayahnya telah mengirim surat untuk
menanyakan kesehatannya tuan rumah itu.
Pit To Hoan girang sekali, ia tertawa. "Jikalau Hongthianloei menitahkan
sesuatu, walaupun harus menerjang api, tidak nanti aku menolak!" dia kata.
"Sudah belasan tahun aku nantikan suratnya itu!"
Tjoei Hong serahkan surat ayahnya, tuan rumah menerimanya, untuk terus dibuka
dan dibaca, habis mana mendadak air mukanya berubah menjadi pucat.
Hatinya In Loei goncang. Tak tahu ia, apa bunyi surat Tjio Eng itu.
Pit To Hoan berlaku tenang, dengan perlahan ia lipat pula surat itu, terus ia
masukkan ke dalam sakunya.
San Bin mengawasi, ingin ia bicara, untuk menjelaskan perihal si mahasiswa
berkuda putih, atau To Hoan, yang memandang padanya, mendahului dia.
"Tidak usah kau menjelaskannya, sudah aku ketahui," katanya. Ia segera memandang
kepada In Loei ke arah siapa ia berpaling.
"Tuan ini adalah keponakan murid dari Tiauw Im Taysoe, ia juga menjadi menantu
dari Tjio Looenghiong," San Bin cepat memperkenalkan.
"Menantu Hongthianloei telah datang, sayang Hongthianloei tidak." Kata To Hoan.
"Aku kuatir urusan tidak akan dapat diselesaikan....."
Ia lantas angkat kepalanya, akan melihat ke atas, hinga tampak sinar kedua
matanya yang hitam dan bengis. Habis itu terdengar tertawanya yang kering.
"Mari turut aku!" kata ia kemudian sambil melambaikan tangan pada In Loei dan
Tjoei Hong. Ia pun memesan: "Kalau si mahasiswa berkuda putih datang dengan
tiba-tiba, Tiauw Im Soeheng, tolong kau wakilkan aku melayani dia."
Sudah lama To Hoan kembali menjadi orang biasa, bukan hweeshio lagi, tapi kepada
Tiauw Im tetap ia memanggil "soeheng" - panggilan cara keagamaan.
In Loei dan Tjoei Hong turut tuan rumah itu. Mereka melewati lorong dan naik ke
atas sebuah loteng kecil, di situ kedapatan sehelai gambar lukisan kota dan air,
dengan pohon-pohon bunga. Mestinya gambar ini dibuat oleh satu pelukis dengan
gambar yang ada di rumah Tjoei Hong, bedanya ialah gambar ini jauh terlebih
kecil. Belum lagi tuan rumah dan tetamu-tetamunya duduk, atau satu bocah telah datang
berlarian, terus saja dia tunjuk gambar itu sambil berseru: "Ayah, berikan
padaku, berikan padaku buat main!"
Bocah itu baharu berumur kira-kira delapan tahun, gesit dan manis, siapa saja
tentu menyukai dia. To Hoan urut-urut kumisnya, ia turunkan gambar itu, lalu ia berikan pada bocah
itu. "Pergi ambil!" katanya: "Hari ini akan terlihat gambar aslinya, maka barang
tiruan ini tak usah aku menghargainya lagi!"
Mendapatkan gambar itu, bocah itu tertawa dan berjingkrakan, lantas dia pergi.
Kelihatannya dia seperti sudah sering minta gambar itu kepada orang tuanya dan
baharu kali ini diberikannya.
Dengan matanya, To Hoan antar bocah itu turun, dari loteng, habis itu ia menoleh
kepada Tjoei Hong. Ia tertawa.
"Nona Tjio," katanya, "ketika tahun itu aku pergi ke rumahmu, kau masih sebesar
dia. Masihkah kau ingat?"
"Dua bulan ayahku rebah di pembaringan, mana aku dapat melupainya?" jawab nona
Tjio. To Hoan menghela napas.
"Hari itu aku sangat ganas," katanya, "sampai pada hari ini, apakah kau masih
membenci aku" Apakah yang ayahmu katakan padamu?"
"Sedikit juga ayah tidak membenci kau," sahut Tjoei Hong. "Kali ini, apabila kau
bisa membantu membalas sakit hati, ayah akan sangat berterima kasih padamu."
"Membalas sakit hati?" To Hoan heran. "Sakit hati apakah itu?"
Tjoei Hong berbalik menjadi heran.
"Apakah ayah tidak menjelaskan dalam suratnya?" ia tanya. "Bukankah si mahasiswa
berkuda putih itu ada musuh besar dari In Siangkong?"
To Hoan awasi nona itu. "Begitu?" dia tegaskan.
Mukanya In Loei menjadi pucat sekali.
"Benar apa yang nona Tjio ini katakan," ia turut bicara. "Memang itu ada urusan
sakit hati. Hanya dalam hal itu, tidak mau aku pinjam tangan lain orang!"
"Bagus, itulah bersemangat!" puji Pit To Hoan. "Tapi aku lihat, di dalam urusan
ini terlibat lain urusan lagi, yang menjadi sulit bagiku....."
"Apa?" tanya Tjoei Hong heran. "Inilah aku tidak pikir. Apakah yang ayahku tulis
dalam suratnya itu?"
To Hoan tertawa tawar, separuh berpaling, ia pandang nona itu.
"Sekarang aku undang kau kemari, ini adalah untuk menuturkan kau sebuah
dongeng," katanya kemudian. "Dongeng ini tentunya ayahmu belum ketahui
semuanya." Dan ia lantas mulai dengan dongengnya itu.
Dahulu kala, ada satu hweeshio yang pandai ilmu silat, dan pintar sekali dalam
soal agama. Pada masa itu masuklah satu bangsa lain ke Tionggoan dan
memerintahnya. Karena itu negara menjadi kalut sekali.
Waktu itu hidup dua saudara angkat, si kakak hidup sebagai pedagang garam gelap,
si adik menjadi pengemis. Kedua saudara ini berangan-angan besar. Mereka
bercita-cita mengumpulkan tentara guna mengusir bangsa asing itu. Akan tetapi si
hweeshio telah mendahului mereka, di Hoaysee dia telah mengerek bendera
pemberontakan suci. "Hweeshio tua itu mempunyai dua murid, ialah si penjual garam gelap sebagai


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kakak dan si pengemis sebagai adiknya," In Loei menyelak.
Bersinar mata To Hoan, dia pandang tetamu ini. Lantas ia bersenyum.
"Kau juga masih belum mengetahui jelas," ia beritahu. "Hweeshio itu bukan
mempunyai cuma dua murid tetapi tiga. Siapa menuturkan kau dongeng yang tidak
lengkap itu?" "Untuk bicara terus terang, yang mendongengkan ialah orang yang hari ini kamu
semua hendak menghadapinya," sahut In Loei. "Dia sebenarnya hendak ceritakan aku
tiga buah dongeng. Dongeng yang pertama, ialah apa yang baru saja kau tuturkan.
Dongeng yang kedua aku pun sudah ketahui. Tinggal dongeng yang ketiga, yang dia
belum ceritakan padaku."
Tjoei Hong menjadi heran, hingga ia awasi "suaminya" itu serta To Hoan dengan
bergantian. To Hoan bersikap tenang, malah dia seperti sudah ketahui atau telah
menduganya. "Benar," kata To Hoan kemudian. "Dibanding denganku, dia itu mengetahui terlebih
banyak. Dongengku ini mungkin ada dongeng yang ketiga, tapi hanya sebagian
saja." Tjoei Hong bertambah heran, wajahnya padam. Ia melirik pada In Loei, ia agaknya
hendak sesalkan "suami" itu mengapa dia sekian lama sudah bungkam saja
terhadapnya..... "Oleh karena dia telah menceritakan dongeng itu, baiklah akupun tidak usah
menyembunyikan lagi," berkata pula To Hoan kemudian. "Penjual garam gelap itu
adalah Thio Soe Seng, dan si pengemis adalah Tjoe Goan Tjiang. Dan si hweeshio
tua, yang menjadi guru mereka, adalah Peng Eng Giok."
In Loei dan Tjoei Hong mengawasi, keduanya diam. Tjoei Hong nyata masih bingung.
Pit To Hoan lanjutkan ceritanya.
Peng Eng Giok itu masih mempunyai satu murid lain yang bernama Pit Leng Hie.
Murid ini mengerti ilmu perang, dia cerdas sekali. Dia pernah ikuti gurunya
merantau, dia pandai menyamarkan diri. Begitulah dia pernah menyamar sebagai
hweeshio dan juga sebagai pengemis.
"Tjoe Goan Tjiang itu, sebelumnya dia masuk ke dalam kalangan Angkin Koen, -
Tentara Pelangi Merah - pernah dia bekerja dalam pasukan suka rela gurunya itu,
yang menjabat sebagai satu pemimpin kecil. Mungkin hal ini telah dituturkan
orang itu kepadamu, ia tambahkan pada In Loei.
Pada masa itu tentara kerajaan Goan ada tangguh. Sebaliknya di antara kaum
pemberontak, yang bergerak dengan berbareng, jumlah tenaganya Peng Eng Giok
tidak besar. Begitulah, beberapa kali Peng Eng Giok kena dikalahkan pasukan
perang Goan, hingga keadaannya menjadi terancam bahaya besar. Tjoe Goan Tjiang
telah berpikir lain, untuk mewujudkan pikirannya itu, ia menanti ketikanya.
Kembali Peng Eng Giok mendapat pukulan yang hebat. Inilah ketika yang baik bagi
Tjoe Goan Tjiang. Dengan akal muslihatnya, ia jual gurunya kepada musuh, ia
sendiri, dengan air mata bercucuran, memperlihatkan diri sebagai seorang baik.
Habis itu dengan membawa sisa tentara gurunya, ia pergi kepada pasukan Angkin
Koen yang paling kuat, dengan siasat ini ia gunakan tentara itu sebagai modalnya
untuk merebut negara. Tjoe Goan Tjiang menduga gurunya mesti terbinasa. Dugaan ini meleset. Gurunya
itu diantar ke Pakkhia, kota raja bangsa Goan. Di tengah jalan, guru itu disusul
Pit Leng Hie. Murid yang setia ini menggunakan segala macam akal, akhirnya
berhasil juga dia menolongi gurunya, yang dia ajak menyingkir. Tentang
pengalamannya Pit Leng Hie itu, yang sulit sekali, tidak usah aku jelaskan di
sini. Keadaan negara telah menjadi kacau sekali ketika itu. Peng Eng Giok dan muridnya
tidak dapat kembali ke Kanglam, tapi mereka masih dapat, mengumpulkan pengikut
baru, untuk bangun pula. Di Utara ada tempat kedudukan tentara Goan, begitu Peng
Eng Giok bergerak, begitu ia diserbu. Dalam satu pertempuran Peng Eng Giok
terluka parah. Selagi hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan, Peng Eng
Giok berkata pada muridnya: "Seseorang tak dapat lolos dari kematian, sekarang
aku terbinasa di medan perang, inilah kemenangan yang terhormat. Cuma ada satu
hal yang belum aku selesai lakukan, untuk itu aku minta kau yang menggantikan
mengurusnya. Melihat keadaan, aku percaya bangsa Han akan bangun pula. Inilah
sudah pasti. Di antara jago-jago yang sekarang sedang bergulat, yang mempunyai
harapan untuk naik di tahta, menurut pandanganku, mesti kedua adik
seperguruanmu, kalau bukan si Tjoe, tentu si Thio. Yang lain-lainnya tidak ada
yang mempunyai ketika. Tjoe Goan Tjiang berambekan besar dan cerdik sekali,
tetapi dia bersifat buruk, dia tidak kenal budi kebaikan. Bukannya aku benci
padanya, yang telah menjual aku, tapi sebenarnya aku tidak ingin dia yang
menjadi raja. Dia dapat mencelakai rakyat negeri. Sejak muda aku telah merantau,
mengembara di seluruh negeri, karenanya aku ketahui letaknya tempat, yang mana
yang baik untuk mengumpulkan tentara. Maka itu aku telah menyiapkan sebuah peta
bumi yang dibutuhkan oleh pergerakan tentara. Aku percaya, siapa memperolehnya
peta itu, dialah yang akan berhasil dalam usahanya menjadi jago. Sekarang aku
minta kau serahkan peta itu kepada Thio Soe Seng." Pit Leng Hie terima pesan
itu, dengan menerjang bahaya, dia berangkat ke Selatan. Sayang dia terlambat,
waktu dia tiba di Selatan, perebutan kekuasaan sudah memberikan roman baru.
Yaitu Thio Soe Seng telah terkurung di daerah Souwtjioe, dalam setiap saat dia
dapat dimusnakan. Tapi Thio Soe Seng tidak ingin mati terkurung, dia hendak coba
ketikanya yang terakhir. Dia telah tantang Tjoe Goan Tjiang untuk melakukan
pertempuran yang memutuskan di sungai Tiangkang!
Pit Leng Hie menganjurkan Thio Soe Seng untuk menggunakan seantero kekuatannya
yang masih ada, untuk menerjang keluar dari kurungan itu. Thio Soe Seng tertawa
dan berkata: "Mana bisa aku menghilangkan kepercayaanku terhadap si pengemis?"
Dia lantas perintahkan memanggil seorang pelukis yang kenamaan yang disuruh
melukis panorama kota Souwtjioe. Dia gemar main catur, malam itu dengan sikap
tenang seperti biasa, dia ajak Pit Leng Hie main catur sambil menghadapi arak.
Dia main terus sampai fajar menyingsing, pada waktu itu, selesailah gambar itu.
Gambar itu dibuatnya indah dan jelas sekali, sampai bukit bukit dan menara kota pun
terlukis lengkap. Sesudah itu Thio Soe Seng menyembunyikan semua sisa harta bendanya, berikut
pelbagai permata dan gambar-pesan dari gurunya. Dia sembunyikan itu di suatu
tempat yang dia rahasiakan. Tempat itu cuma terlihat di dalam gambar panorama
itu. Gambar itu diserahkan pada seorang yang dipercaya, yang ia tugaskan untuk
mengajak puteranya menyingkir di waktu malam. Pit Leng Hie berkesan sangat akan
putusan dan perbuatannya Thio Soe Seng ini, dari itu ia mengambil putusan untuk
tidak meninggalkan kota. Dalam pertempuran yang memutuskan di Tiangkang itu, Pit
Leng Hie mendahului Thio Soe Seng terbinasa. Pit Leng Hie mempunyai satu putera,
anak itu menyingkir di antara serdadu-serdadu yang lari kalang-kabutan. Sukur
untuknya, pada akhirnya dia sampai di tempat yang selamat. Harta bendanya Thio
Soe Seng itu ada satu soal, akan tetapi yang sangat berharga adalah gambar
panorama itu. Umpama ada seseorang yang mendapatkan itu, dia dapat bergerak dan
nanti dapat perebutkan negara melawan anak cucu Tjoe Goan Tjiang."
Tjoei Hong heran. "Bagaimana dengan gambar itu?" dia tanya. Belum nona ini menutup mulutnya, atau
tiba-tiba, "sret!" lalu terlihat sebuah panah api warna biru melayang naik ke
udara, pertandaan itu disusul dengan teriakan-teriakan: "Si mahasiswa berkuda
putih telah datang!" Suasana menjadi tegang, genting, akan tetapi Pit To Hoan
bersikap tenang sekali. Ia berbangkit dengan ayal-ayalan. Sambil bersenyum, ia
jawab si nona: "Gambar itu ada di rumahmu, nona Tjio. Mungkin sekarang gambar
itu sudah berada di tangannya si mahasiswa berkuda putih itu!"
Tjoei Hong ternganga, matanya mendelong.
Pit To Hoan bersenyum, dia berkata pula: "Isi surat ayahmu itu adalah
menghendaki aku menemui si mahasiswa berkuda putih itu, sama sekali ayahmu tidak
memohon bantuanku, lebih-lebih tidak untuk meminta aku membantui menuntut balas.
Di dalam segala hal, ayahmu serahkan segala apa kepada keputusanku. Sebenarnya masih ada
beberapa soal yang masih kurang jelas bagiku, sayang ayahmu tidak mau datang
sendiri menemui aku. Maka itu, hari ini ia membuatnya aku sukar mengambil
keputusan....." Tjoei Hong melengak, In Loei pun berdiam. Justeru itu lalu terdengar suara
tertawa dari Thio Tan Hong.
"Si mahasiswa berkuda putih itu sungguh seorang yang luar biasa!" berkata Pit To
Hoan. "Ada baiknya untuk menemui dia!....."
Lantas dia gerakkan kedua tangannya, tangan kiri menarik Tjoei Hong, untuk
dengan perlahan-lahan mengajak mereka turun dari loteng.
Hati In Loei gelisah, ia merasa sangat tegang, karena selagi mendekati keluar,
ia sudah mulai dengar riuhnya suara pertempuran. Segera sesampainya di luar, ia
tampak Tiauw Im Hweeshio tengah bertarung dengan Thio Tan Hong.
Pendeta itu tersohor gwakee kanghoe-nya, ialah ilmu luar yang telah sempurna,
maka itu semua tetamunya Pit To Hoan berkumpul untuk menyaksikan pertempuran
itu, yang dahsyat sekali. Sianthung dari si pendeta telah perdengarkan suara
angina yang keras. Di pihak sana, tubuh si mahasiswa berkuda putih telah
bergerak berkelebatan lincah sekali dan sinar pedangnya bergemerlapan bagaikan
bianglala. Untuk sekian lama, tidak ada tanda-tandanya akan ada keputusan siapa terlebih
tangguh, siapa terlebih lemah. Tiauw Im Hweeshio kemudian perdengarkan
seruannya, menyusul mana, ia perhebat gerakan tongkat panjangnya. Atas mana
lawannya telah mengubah sikapnya, pedangnya tidak lagi bergerak sama cepatnya,
kakinya juga mengambil kedudukan Ngoheng Patkwa - ialah ia main mundur secara
teratur. Apabila ia telah menonton sekian lama, Pit To Hoan bersenyum.
"Ilmu tongkat Hokmo Thunghoat dari Tiauw Im Soeheng telah maju pesat sekali,"
katanya. Ia memberi nilai. "Akan tetapi ilmu
pedang dari si mahasiswa berkuda putih, belun pernah aku melihatnya!"
Pertempuran berlangsung terus, sampai dua puluh jurus, selagi Tiauw Im tetap
mendesak setindak demi setindak, sekonyong-konyong terdengar suara "Trang!" dari
beradunya senjata yang disusul dengan meletiknya lelatu-lelatu api!
"Sungguh pedang yang bagus!" memuji orang banyak.
Kedua senjata, tongkat dan pedang, telah bentrok dengan keras, sebagai
kesudahan, tongkat si pendeta telah sempoak, hingga semua penonton menjadi
terperanjat dan kagum, hingga tanpa merasa, mereka memberikan pujiannya.
Tiauw Im Hweeshio tampak lompat merangsak, tongkatnya menyambar lurus ke depan.
Serangan tiba-tiba ini adalah suatu ilmu pukulan mematikan dari Hokmo Thunghoat,
ilmu tongkat "Menaklukkan Hantu." Itulah ilmu tongkat yang telah diyakinkan
selama beberapa puluh tahun. Maka segera juga si mahasiswa berkuda putih seperti
dikurung tongkat, di kiri kanan, di atas dan di bawah, dia bagaikan tertutup.
In Loei berkuatir sekali, hingga tanpa disengaja ia perdengarkan seruan.
Mengakhiri desakannya itu, sekonyong-konyong Tiauw Im Hweeshio tertawa
berkakakan. Sebab dengan tiba-tiba pedangnya si mahasiswa telah terlepas dari
tangannya dan mental keudara!
Karena kagum dan girang, semua penonton, yang terdiri dari jago-jago Rimba
Hijau, telah perdengarkan seruan mereka yang gemuruh.
Tiauw Im sudah lantas tarik kembali tongkatnya, ia lompat keluar kalangan.
Thio Tan Hong juga lompat, akan tetapi dia mencelat tinggi, untuk mengulur
tangannya, guna menjemput pedangnya yang
tengah jatuh turun, dengan demikian ia dapat ambil kembali pedangnya yang tajam
itu. Segera terdengar suara nyaring dari si pendeta: "Gurumu menjemukan! Tapi kau
adalah orang muda dari kaum kita, maka itu tak dapat aku sebagai yang tua,
menghina yang muda. Nah, pergilah kau!"
Kata-kata itu membuatnya semua jago Rimba Hijau heran, mereka saling mengawasi,
sinar mata mereka semua merupakan tanda tanya satu dengan lain. Mereka juga
lantas berbisik, saling menanya.
Cuma Pit To Hoan, yang nampak girang. Dia bersenyum. "Makin lama soal menjadi
makin aneh!" katanya. "Bagaimanakah maka mahasiswa berkuda putih ini bisa
menjadi orang yang terlebih muda tingkatannya dalam kaum Tiauw Im Soeheng"
Tongkat tercacatkan, pedang telah terlempar, mereka ada paman guru dan keponakan
muridnya, tetapi mereka bertempur seri! Sungguh, sungguh menarik!"
Thio Tan Hong sudah lantas masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, ia usap -usap
gagang pedang itu. Dengan sikap yang tenang sekali, ia berkata dengan nyaring:
"Aku yang muda, Thio Tan Hong, telah datang untuk memenuhi janji. Aku mohon
bertemu dengan Pit looenghiong1."
Tjek Tjhoengtjoe serta Kong Tjiong, yang menjadi begal tunggal dari Taykoan,
adalah orang-orang yang paling keras adatnya di antara hadirin itu, mereka tidak
tunggu tuan rumah memberikan jawabannya, mereka sudah lantas mendahului muncul.
Mereka ini masing-masing menyekal cambuk dan tiatpay, dengan itu mereka maju
menyerang, yang satu seperti menggulung, yang lain dari, atas turun menindih.
Thio Tan Hong sudah siap dengan pedangnya, akan tetapi ia tidak melakukan
perlawanan atau balas menyerang, ia hanya berkelit. Ia melejit di antara dua
senjata jago-jago itu. "Tahan!" Pit To Hoan segera perdengarkan suaranya. "Siapa pun jangan turun
tangan! Saudara Thio, silakan turut aku!"
Nyaring suara tuan rumah ini.
Semua jago Rimba Hijau menduga, Tjinsamkay hendak menandingi si anak muda.
Pit To Hoan lantas bertindak, untuk memimpin Tan Hong ke belakang, ke taman
bunga. Di sini mereka jalan memutari gunung-buatan, untuk menghampiri sebuah
paseban di dalam mana ada satu meja batu. Di atas meja itu ada sehelai papan
catur serta biji - bijinya yang letaknya tidak teratur, seolah-olah permainan yang
belum berakhir. "Lekas ambil dua poci arak!" To Hoan titahkan hambanya, kemudian dia tambahkan:
"Panglima kenamaan gemar catur, ahli surat menyintai gambar lukisan, kesukaan
ini dahulu dan sekarang sama saja. Saudara, punyakah kau kegembiraan untuk
menemani aku si orang tua main catur untuk satu rintasan" Sayang di sini aku
tidak mempunyai lukisan indah yang dapat dipandang....."
Thio Tan Hong mengiringi tuan rumah itu, dia bersenyum, lalu dia menjura dengan
dalam. "Boanseng adalah seorang bodoh," dia kata, dengan merendah. Dia menggunakan
kata-kata "boanseng" itu, yang berarti "orang yang muda". Tapi dengan
mendengarkan nyanyian, tahulah aku maksudnya yang bagus itu. Boanseng membawa
sehelai gambar, walaupun itu bukannya karya dari satu pelukis yang kenamaan,
mungkin itu ada harganya juga untuk ditonton....."
Lantas ia keluarkan gambar yang ia ambil dari rumahnya Tjio Eng, ia pajang itu
di paseban tersebut. Ketika Pit To Hoan memandang gambar itu, ia menghela napas panjang.
"Bila negara tak kurang suatu apa, aku akan kembali....." katanya dengan
perlahan. Terus dia menambahkan. "Ketika dahulu gambar ini dilukis, mungkin
orang telah menemaninya sambil main catur dan
minum arak. Saudara Thio, kau ada dari keluarga terpelajar, silakan kau pegang
biji putih." Tingkah polanya kedua orang ini membuat heran orang banyak. Bagaimana penting
artinya panah Loklim tjian yang disiarkan, akan tetapi sekarang ini, mereka
berdua bercokol memandangi gambar, bermain catur.
Tiauw Im tak kurang herannya.
"Keponakan muridku ini sebenarnya belum pernah aku melihatnya, kenapa Tjinsamkay
ketahui dia ada dari keluarga sasterawan?" ia berpikir. "Kenapa dia ketahui
orang pandai main catur?"
In Loei berada didampingnya pendeta itu, dia berpaling kepadanya seraya berkata:
"Pasti saja dia mengetahuinya, oleh karena gambar itu ada gambar kota
Souwtjioe!" Tiauw Im menjadi terlebih heran.
"Kau belum pernah pergi ke Souwtjioe, kenapa kau pun ketahui itu?" dia tanya.
Tjoei Hong ada bersama mereka ini, dengan dingin dia berkata: "Pasti sekali dia
ketahui!" Dengan "dia", dia maksudkan In Loei.
Tiauw Im berdiam, ia terbenam dalam kegelapan.
Dipaseban sebaliknya, kedua orang yang sedang main catur dengan tenang, asyik
menceguk arak mereka. Semua orang mengawasi mereka dari kejauhan, semua terbenam
dalam keheranan, hingga mereka jadi masgul sendirinya.
Pit To Hoan dengan biji hitamnya telah mengatur siasat "Yan siang hoei" -
"Burung walet terbang berpasangan." Ia ambil kedudukan di satu pojok.
Atas itu Tan Hong segera menyerang ke tengah, mengambil kedudukan "Thiangoan" -
"Asalnya langit"
"Ah, saudara, tak segan kau berebut sepotong daerah denganku?" kata Pit To Hoan,
yang kena terdesak. Ia berpikir lama, baharu ia geser pula satu bijinya, akan
tetapi Tan Hong bertindak seperti tanpa berpikir pula. Kembali dia pengaruhi
lawannya. Pertandingan berjalan terus, sampai setengah jam, habis itu, dengan keringatnya
mengetel, Pit To Hoan berbangkit, dengan tangannya, ia sampok biji caturnya.
"Tak dapat aku lawan terus padamu....." katanya masgul.
Tan Hong berbangkit sambil tertawa.
"Terima kasih, kau mengalah!" katanya. Terus ia gulung gambar yang dipajang itu.
Semua orang heran, tetapi mereka bergerak.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pit To Hoan dapat melirik sikap tetamu-tetamu-nya itu.
"Saudara Thio, bukannya aku si orang tua tak tahu aturan," ia lantas berkata,
"karena kau telah mengundang begini banyak sahabat, tidak dapat tidak, mesti aku
bertindak dengan turuti aturan. Saudara, ingin aku meminta pengajaran beberapa
jurus ilmu pedang darimu....."
Sepasang matanya Tan Hong bercahaya. Baginya, permintaan To Hoan ini seperti di
luar sangkaannya. Tetapi tetap ia bersikap tenang. Terus ia menjura.
"Jikalau begitu, baiklah," ia kata. "Aku minta lootjianpwee menaruh belas
kasihan terhadapku....."
Dari pojok tembok, To Hoan turunkan sepotong tongkat panjang.
"Tongkat pengemis ini dapat juga digunakan!" katanya.
Tan Hong sudah lantas ambil kedudukan di sebelah bawah.
To Hoan tahu orang tidak berani turun tangan terlebih dahulu, maka ia tak mau
buang tempo lagi. "Awas!" ia peringatkan. Terus ia menyambar pinggangnya si anak muda.
"Bagus!" seru Tan Hong sambil lompat, hingga tongkat Hanliong pang, yang terbuat
dari kayu hangliong yang kuat, lewat di bawah kakinya. Habis itu, tidak tunggu sampai
tubuhnya turun menginjak tanah, pedangnya sudah menggantikan menyambar, menikam
ke arah jalan darah hoakhay hiat. Itulah serangan "Pekhong koandjit" -
"Bianglala putih mengalingi matahari."
"Bagus!" berseru To Hoan, sambil mundur, seraya menarik kembali tongkatnya,
untuk dipakai menotok nadi orang.
Itulah serangan saling balas yang dahsyat sekali.
Tan Hong tarik kembali tangannya berikut tubuhnya, akan menyingkir dari ancaman
To Hoan. Ia telah gunakan tipu "Djitgoat kengthian" - "Matahari dan rembulan
melewati garis." "Bagus, saudara Thio!" Pit To Hoan memuji pula. "Sungguh liehay ilmu pedangmu!"
Selagi memberi pujian, jago tua ini ulangi serangannya yang tak kurang
berbahayanya dengan gerakannya yang cepat.
Nampaknya tidak ada jalan untuk Tan Hong berkelit atau menangkis, ia sudah
sangat terdesak, akan tetapi di saat ujung tongkatnya mengancam, tahutahu!
"Trang!" demikian terdengar. Karena keberaniannya, si anak muda toh menangkis
juga. Maka itu lelatu api pun muncrat.
Pit To Hoan kaget, hingga ia mencelat mundur, kalau tidak, ujung pedang yang
menyambar terus, bisa mengenai tubuhnya.
Semua tetamu berseru kaget dalam hati mereka. Malah Tiauw Im Hweeshio turut
merasa heran juga. Mungkinkah Tan Hong tidak dapat mempengaruhi pula pedangnya"
Melainkan To Hoan sendiri yang mengetahui bahwa anak muda itu telah mengalah
terhadapnya. Ia lantas periksa tongkatnya, tongkat itu tidak gompal. Ia tertawa.
"Pedangmu dan tongkatku sama-sama tidak rusak, mari, tak usah kau sungkan
sungkan!" ia menantang. Malah ia yang mendahului menyerang pula. Kali ini, ia berlaku
terlebih bengis pula. Dengan sebat tetapi tenang Thio Tan Hong mengadakan perlawanan. Tongkat sangat
mendesak, ia melayaninya dengan kegesitan tubuhnya, yang enteng sekali.
Cepat jalannya pertempuran, sebentar saja sudah lima puluh jurus.
Satu kali Tan Hong menyerang dengan tipu "Liongboen kouwliong" - "Gelombang di
Liongboen," di saat ujung pedang hampir bentrok dengan tongkat, mendadak To Hoan
menarik kembali, akan berbalik menyambar ke arah pinggang.
Diserang secara demikian rupa, Tan Hong mendak, terus ia mencelat ke samping.
"Sayang! Sayang!" mengeluh orang banyak dalam hatinya.
Tiauw Im kembali heran. Ia tahu, bila tongkat diturunkan sedikit lagi, bebokong
atau kempolan Tan Hong mesti kena tersapu. Mungkinkah To Hoan juga tak dapat
menguasai tongkatnya itu"
Cuma Tan Hong yang tahu, jago tua itu mengalah terhadapnya, seperti tadi ia
mengalah terhadap orang tua itu. Selagi ia belum tahu pasti apa baik ia ulangi
serangannya atau tidak, tiba-tiba ia dengar tuan rumahnya tertawa terbahak-
bahak. -ooo0dw0ooo- BAB X "Saudara Thio, ilmu pedangmu liehay, tetaplah hatiku si orang tua!" To Hoan
mengucap habis tertawa. Terus ia menikam dengan tongkatnya ke arah perutnya si
anak muda, di depan mana ada melintang pedangnya.
Tan Hong menolak dengan pedangnya, untuk mengelakkan diri, dengan begitu kedua
senjata jadi membentur satu dengan lain.
Tapi inilah gerakan untuk menyudahi pertempuran, untuk mengubah permusuhan
menjadi persahabatan. Selagi orang banyak heran, Pit To Hoan telah berkata dengan nyaring: "Saudara
Thio, kau adalah sahabatku, maka itu, urusan bagaimana besar juga, dengan
memandang mukaku, sukalah kau menghabiskannya!"
Terus ia lemparkan tongkatnya, lalu ia cekal tangannya Tan Hong, untuk dituntun
sampai di pintu luar, untuk mengantarkan sendiri orang pergi.
Sepasang matanya Tjioe San Bin berputar, semua jago Rimba Hijau pun menjadi
tegang sendirinya. Dengan sikapnya yang tenang tetapi angker, To Hoan jalan berendeng dengan Thio
Tan Hong. Ia tahu sikapnya San Bin dan tetamu-tetamunya, seperti tidak mengambil
mumat, ia jalan terus. Ini ada cara agung dari orang kangouw mengantarkan
tetamunya pergi pulang. Biar mereka tidak puas,
San Bin dan tetamu-tetamunya membiarkan To Hoan mengantar Thio Tan Hong berlalu.
Di luar, kuda putih berjingkrakan dan berbenger.
Tan Hong hampiri kudanya itu, dengan sebelah tangan memegang gagang pedang, ia
menjura kepada Pit To Hoan.
"Loopeh, terima kasih!" ia mengucap, menyusul mana tubuhnya mencelat naik ke
bebokong kudanya. Terus ia bersenanjung: "Di saat terancam dari Tiongtjioe, akan
aku kembali, semoga negara nanti mengeluarkan jago yang pandai. Jikalau nanti
datang hari dari gelombang tenang, ingin aku bersama kau mendaki panggung orang-
orang cendekiawan." Ketika itu, mata pemuda she Thio ini bentrok dengan sinar mata In Loei, yang
mengawasi kepadanya, tetapi terus ia keprak
kudanya, untuk dilarikan, hingga sejenak kemudian hilanglah ia dari pandangan
mata orang banyak, untuk melalui beberapa lie jauhnya.....
Pit To Hoan terus mengawasi tetamunya yang muda dan gagah itu, akhirnya dia
tunjukkan jempolnya dan memuji: "Sungguh agung! Dia dapat menangkan leluhurnya!
Tidak kecewa Tjio Eng mewakilkan dia menjaganya selama beberapa puluh tahun!"
Tjeetjoe Na Thian Sek lampaui orang banyak, akan menghampiri tuan rumah.
"Siapakah sebenarnya anak muda berkuda putih itu?" dia tanya. "Hongthianloei
bersama Kimtoo Tjeetjoe telah mengirimkan panah Loklim tjian, adakah itu
diakhiri secara begini saja?"
To Hoan mengalihkan pandangannya ke arah Tjoei Hong, ia tertawa.
"Nona Tjioe, mengertikah kau sekarang?" dia tanya. "Kakek guruku itu, Peng
Hweeshio, mempunyai tiga murid. Murid yang kedua, Tjoe Goan Tjiang, mulia
kedudukannya, dia menjadi kaisar yang membangun Kerajaan Beng yang besar. Murid
yang kesatu, Thio Soe Seng, telah terbinasa dalam peperangan di Tiangkang,
tetapi si anak muda berkuda putih ini adalah turunannya. Di antara tiga muridnya
itu, akulah yang paling tidak berguna, turun temurun, kami tetap hidup sebagai
orang biasa saja....."
Semua tetamu belum pernah mendengar riwayat keluarga she Pit ini atau dongengnya
itu, mereka semua tidak mengerti.
"Apa" Apa kau kata?" tanya mereka. "Jadi si mahasiswa berkuda putih itu turunan
Thio Soe Seng" Hubungan apakah yang ada antara Hongthianloei Tjio Eng dengan dia
itu?" Tjoei Hong tidak pedulikan pertanyaan orang banyak itu, ia menghela napas.
"Ya, mengertilah aku sekarang," ia sahuti tuan rumah itu. "Rupanya leluhurku
dulu adalah orang kepercayaan yang telah
menerima tugas dari Thio Soe Seng untuk menyimpan gambar itu. Akan tetapi dia
ini, dia adalah musuh besar dari In Siangkong....."
Pit To Hoan kerutkan alisnya.
"Maka itu telah kukatakan, masih ada sesuatu yang belum jelas bagiku," ia
berkata, "dan ini adalah satu di antaranya. Dalam surat ayahmu itu tidak
dituliskan sesuatu..... In Siangkong, bagaimana caranya maka kau jadi bermusuhan
dengan dia itu?" ia terus tanya In Loei.
Pucat muka orang yang ditanya itu, air matanya berlinang. Sekian lama, ia
berdiam saja. Semua orang makin heran, ada pula yang bertanya.
"Marilah, kita bicara di dalam," akhirnya To Hoan mengajak.
Mereka kembali ke ruang dalam, untuk duduk. Sekarang ia ingin memberikan
keterangannya. "Pada waktu dahulu, tiga saudara angkat telah bersama-sama mengangkat senjata,"
ia jelaskan, "lalu belakangan, cuma satu yang berhasil membangun negara.
Berbicara sebenarnya, aku pun tidak puas. Adalah aturan dalam keluargaku, anak-
anak kami mesti hidup sepuluh tahun sebagai pendeta dan sepuluh tahun sebagai
pengemis. Inilah peringatan leluhur kami yang pertama, kedua kami diberi ketika
untuk merantau di seluruh negeri, guna mencari gambar yang mempunyai hubungan
dengan usaha pembangunan negara, supaya setelah mendapat gambar itu, kami bisa
berdaya untuk dengan anak cucunya Tjoe Goan Tjiang memperebutkan kegagahan.
Sekarang ini tidak usah aku bersusah hati pula, selanjutnya anakku tak usah lagi
menjadi hweeshio, tak usah lagi menjadi pengemis!"
"Apakah artinya kata-kata kau ini, Pit loo enghiong?" tegaskan Na Tjeetjoe.
Pit To Hoan tertawa sedih, ia menyahut: "Pada jaman dahulu Hong Djiam Kek
bercita-cita mengendalikan negara, dia telah main catur dengan Lie Sie Bin,
belum sampai selesai satu rintasan, atau
dia telah mengaduk-aduk biji caturnya, dia kata, tak dapat lagi dia
memperebutkan negara. Nyata dia telah putus asa, kalah dari Lie Sie Bin. Aku
tidak berangan-angan besar sebagai Hong Djiam Kek itu, sebab dahulunya aku tidak
tahu diri, aku masih memikir, setelah aku berhasil mendapatkan gambar itu,
hendak aku bergerak, untuk memburu menjangan di Tionggoan. Tapi sekarang ini,
ikhlas aku, aku menyerah kalah terhadap Thio Tan Hong. Gambar itu telah bertemu
dengan pemiliknya yang sah! Bukankah kamu telah mendengar syairnya Thio Tan Hong
itu, yang ia ucapkan tadi. Bagaimana, besar cita-citanya! Dengan menuruti
petunjuk dalam gambar itu, Thio Tan Hong hendak menggali harta besar yang
dipendam leluhurnya dulu, dengan menggunakan peta buminya itu, dia mencoba
bergerak, untuk mendayakan usaha kerajaan, untuk sekali lagi memperebutkan
Negara dengan anak cucunya keluarga Tjoe!"
San Bin habis sabar, dia berjingkrak.
"Hanya aku kuatir dia nanti persembahkan negara kepada bangsa asing!" katanya
dengan dingin. "Apa kau kata?" tanya To Hoan, tenang.
"Pit Lootjianpwee, apakah kau masih belum ketahui?" San Bin balik menanya,
hatinya masih sangat mendongkol. "Ayah si pemuda berkuda putih itu, Thio Tjong
Tjioe, berada di negara Watzu di mana dia menjadi perdana menteri muda! Sekarang
ini usaha negara Watzu untuk menerjang masuk ke negeri kita boleh dikatakan
sudah sampai di depan mata, dia telah dating seorang diri kemari, jikalau dia
bukannya mata-mata, habis apa" Malah aku kuatirkan dia lebih berbahaya daripada
mata-mata umumnya! Coba pikir! Kalau dia berhasil mendapatkan peta negeri itu,
mungkin wilayah kita yang bagus letaknya, akan berada dalam telapakan tangannya,
dia dapat melihat dengan tegas, jikalau peta itu diserahkan kepada bangsa Watzu
dan bangsa itu mengerahkan angkatan perangnya menuruti petunjuk peta itu,
dapatkah Tionggoan melakukan perlawanan?"
Wajah Pit To Hoan berubah menjadi pucat.
"Benarkah apa yang kau katakan ini?" tanyanya.
"Sedikitpun aku tak dusta!" sahut San Bin. "Kami ayah dan anak telah mengerek
bendera Djitgoat Kie, kami menentang bangsa Tartar, umum telah ketahui, maka
dalam urusan demikian besar mana dapat aku omong kosong! Demikian sakit hati
yang besar dari In Siangkong ini, itupun disebabkan si penghianat besar Thio
Tjong Tjioe! Adik Loei, cobalah kau ceritakan semua kepada orang-orang gagah
ini?" Tak tahan In Loei akan kedukaannya, mendengar perkataan San Bin itu, ia
menangis, hingga tak dapat ia bicara.
"Jangan berduka, adik Loei," San Bin menghibur. "Pit Lootjianpwee dan semua
orang gagah ini pastilah akan berbuat sesuatu untukmu. Baiklah aku yang
mewakilkan kau menuturkannya."
Segera San Bin ceritakan halnya In Tjeng disiksa menggembala kuda di Negara
asing, bagaimana In Tjeng itu teraniaya dalam perjalanan pulang, dan lainnya.
Mendengar semua itu, To Hoan rubuhkan diri dalam kursinya.
"Pantas keluargaku mencari turunan Thio Soe Seng dengan sia-sia saja," katanya
selang sekian lama, "sedikit juga kita tidak dapat mengendus, kiranya dia telah
pergi jauh kepadang pasir."
Tiba-tiba jago tua ini lompat bangun, nampaknya ia murka.
"Benarkah Thio Soe Seng mempunyai anak cucu demikian buruk?" Tanya dia. "Melihat
roman Thio Tan Hong, mana pantas dia menjadi satu penghianat?"
"Ada bapaknya mesti ada anaknya!" kata San Bin. "Dengan melihat tabeatnya saja
mana bisa diputuskan dia sebenarnya manusia macam apa?"
Muka To Hoan menjadi merah, matanya menyala, seolah-olah hendak menyemburkan
api. "Jikalau demikian, akulah yang keliru!" akhirnya dia berseru.
Baharu San Bin hendak melanjutkan, atau Tiauw Im telah menyambungi dia.
"Lootoako, aku katakan kau keliru," kata pendeta ini. "Thio Tjong Tjioe itu
memang benar satu penghianat besar! Pernah aku mendatangi negara Watzu itu dan
karenanya pernah aku tercelakai dia!" Pit To Hoan tunduk, tapi masih ia
mengatakan dengan perlahan: "Aku salah! Apa benar aku salah?" Melihat sikap
orang, San Bin berkata pula.
"Pit Lootjianpwee," katanya, "mungkin karena kekeliruan kau, dan kurang
perhatian, kau kena dikelabui penghianat itu. Thio Tan Hong telah mengundang
semua orang gagah datang ke rumahmu, ia tentunya telah perhitungkan masak-masak,
mungkin ia pergunakan kau sebagai tameng, supaya kau dapat menolongi dia memberi
keterangan, untuk memecahkan kesulitannya, supaya selanjutnya kaum Rimba Hijau
tidak lagi menyusahkan padanya."
"Hm!" jago tua itu perdengarkan suaranya, "apabila dia benar-benar penghianat,
pasti akan aku binasakan dia dengan tanganku sendiri!"
Matanya lantas bersinar, tapi wajahnya tetap penuh keragu-raguan.
San Bin tahu orang tentu belum percaya penuh padanya, masih ia hendak
meyakinkannya, tetapi selagi ia hendak buka mulutnya, ia lihat tuan rumah itu
pergi keluar sambil memanggil: "Mana orang!" terus dia perintahkan satu pegawainya: "Lekas kau selidiki, apakah orang yang aku titahkan
sudah kembali atau belum?" Habis itu, ia kembali ke dalam sambil mengatakan:
"Kalau dilihat begini, mungkin di depan mata kita ini akan terbit ancaman bahaya
besar!....." Semua hadirin menjadi heran.
"Ancaman bencana apakah?" tanya mereka yang tak mengerti. "Kita berjumlah banyak
di sini, bencana apakah itu" Mungkinkah kita tidak dapat menentangnya?"
"Saudara-saudara, kamu masih belum mengetahui jelas," sahut Pit To Hoan dengan
penjelasannya. "Keluargaku adalah keluarga yang menjadi musuh turunan besar dari
kaisar kerajaan Beng. Dimasa hidupnya Tjoe Goan Tjiang, pernah mengumumkan titah
rahasia untuk membasmi sampai diakarnya kedua keluarga Thio dan Pit. Keluarga
kami menjadi pendeta dan pengemis selama turun temurun, sebabnya, kecuali
alasan-alasan yang pernah aku sebutkan, satu alasan lainnya ialah guna
melindungi diri dari ancaman bahaya itu. Bersukur kepada leluhurku, berkat
perlindungannya, beberapa turunan kami telah selamat tidak kurang suatu apa dan
belum pernah kami dapat diendus pemerintah. Atau mungkin karena aku pernah
merantau, nama kosongku telah mengundang ancaman bahaya. Ialah sejak beberapa
tahun yang lalu, aku tahu ada "elang dan anjing" yang memperhatikan diriku.
Itulah sebabnya kenapa aku mengambil tempat yang sepi ini untuk menyembunyikan
diri. Tapi aku rasa aku belum bebas. Beberapa hari yang lalu, telah datang
beberapa orang asing yang tidak dikenal. Menurut orang-orang kampung, mereka itu
telah menanyakan asalusulku. Aku percaya, mereka adalah kaki tangan pemerintah.
Baiklah aku bicara terus terang, beberapa hari yang lalu, aku berniat untuk
pindah dari sini, akan tetapi karena Thio Tan Hong menjanjikan untuk membuat
pertemuan di sini, aku telah menunda kepindahanku itu. Umpama kata pemerintah
mengetahui kita akan berkumpul di sini, pasti kaisar she Tjoe itu mengirimkan
orang-orangnya yang pandai untuk membekuk kita! Bukankah mereka dapat
menggunakan jaring untuk meringkus kita semua?"
Mendengar ini, semua tetamu jago-jago Rimba Hijau, jadi bimbang. Dugaan To Hoan
masuk diakal. Tjek Po Tjiang, yang pernah dikalahkan Thio Tan Hong, lantas berkata: "Apakah
betul urusan begini kebenaran" Va, aku percaya, inilah jebakan yang diatur si
bangsat kecil berkuda putih itu!"
To Hoan berpikir keras, tidak dapat ia bicara.
"Sungguh mencurigakan!" Na Tjeetjoe turut mengutarakan pikirannya.
"Bagaimana anak cucunya Thio Soe Seng dapat bekerja sama dengan pemerintah?" To
Hoan kemukakan pula kesangsiannya.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan ragu-ragu, lootjianpwee1." kata Tjioe San Bin. "Thio Tjong Tjioe ayah
dan anak bisa menjadi mata-mata bangsa Watzu, maka itu, mereka pasti juga bisa
menjadi mata-mata pemerintah! Orang sebangsa dia, apa yang dia tidak dapat
lakukan?" "Benar!" Tiauw Im campur bicara. "Thio Tjong Tjioe itu pernah berhubungan surat
menyurat dengan dorna kebiri Ong Tjin, inilah aku ketahui."
Pit To Hoan buat main kumisnya, ia berpikir keras.
"Sebenarnya aku tidak menduga jelek terhadapnya," katanya kemudian, "tapi
sekarang, mendengar keteranganmu, Tjioe Hiantit, benar-benar sulit untuk aku
mengambil keputusan. Ah, urusan ada begini suram, sulit untuk dipecahkannya.
Mungkinkah Thio Tan Hong menggunakan akal memperlambat gerakan pasukan guna
mencegah kepindahanku, supaya kaki tangan pemerintah keburu datang untuk
melakukan penangkapan" Ah, benar-benar, tahu manusia, tahu mukanya, tak tahu
hatinya! Apakah aku telah keliru melihat orang?"
Pit To Hoan cerdas, ia pandai melihat segala apa, hari ini adalah untuk pertama
kalinya ia terbenam dalam kesangsian, hingga tak dapat ia segera mengambil
keputusan. Tjioe San Bin telah mengumbar hawa amarahnya.
"Urusan ini jangan disangsikan pula!" katanya dengan nyaring. "Pastilah sudah,
ini ada jebakan yang dipasang Thio Tan Hong! Maka sekarang marilah kita
bicarakan daya untuk mengadakan perlawanan terhadapnya!"
Riuh suara para tetamu itu, mereka masing-masing mengutarakan pikiran mereka.
Ada yang menghendaki menunggu datangnya musuh, untuk memberikan perlawanan. Ada
yang menganggap, lebih baik menyingkir terlebih dahulu, supaya nanti mereka
dapat lantas menyiarkan panah Loklim tjian secara luas,
guna mengumpulkan semua anggauta Jalan Hitam di Selatan dan Utara, guna bersama
sama menghadapi Thio Tan Hong itu, sedikitnya Thio Tan Hong harus dikurung,
hingga sulit baginya untuk angkat kaki satu tindak saja.
Pit To Hoan menjadi bergelisah, masih ia bersangsi, sedang suara para hadirin
itu, hampir semuanya menentang Thio Tan Hong. Di antaranya Cuma In Loei seorang,
yang duduk diam di atas kursinya. Dia sangat berduka, air matanya masih
berlinang. Menampak sikap orang itu, ia menjadi curiga.
"Bicara tentang permusuhan, dialah yang bermusuh paling hebat dengan Thio
TanHong," ia berpikir. "Kenapa sekarang dia diam saja" Apakah di sini terselip
suatu urusan lain?" Tiba-tiba ingin To Hoan menghampiri In Loei, untuk bicara dengannya - bicara
berdua saja, - tetapi waktu itu, orang ramai berbicara, ruang menjadi berisik,
tak ada kata-kata yang terdengar nyata. Maka itu, tuan rumah ini kerutkan
sepasang alisnya. Dalam keriuhan itu, sekonyong-konyong orang mendengar kuda berbenger.
"Si bangsat kecil berkuda putih datang pula!" tiba-tiba ada yang bersuara.
Sekejap saja, ruang menjadi sunyi, ketegangan muncul sebagai gantinya.
Suara kelenengan kuda pun lantas terdengar nyata, makin lama makin dekat.
Pit To Hoan lompat bangun, dia lari keluar.
Satu penunggang kuda tengah mendatangi! Dialah Thio Tan Hong! Mukanya pucat,
penuh dengan keringat. Begitu sampai, ia lompat turun dari kudanya, menghampiri
tuan rumah. "Siepeh, lekas lari!" katanya cepat, singkat.
To Hoan mengawasi dengan mata mendelik.
"Bagus!" ujarnya dingin. "Lelakon apa lagi kau mainkan?"
Tan Hong melengak, mukanya menjadi pucat, tapi segera ia dongak, akan tertawa
bergelak-gelak. "Langit yang tinggi, siapakah yang kenal aku?" katanya, lalu ia teruskan: "Tuan
Pit, pada saat ini tak ingin aku memainkan lidah, untuk kau mempercayai aku, aku
cuma mohon, lekas kau pergi, untuk menyingkirkan diri! Tentara negeri terpisah
kurang lebih sepuluh lie lagi dari sini!"
Inilah To Hoan tidak sangka, ia menjadi sangat gusar.
"Bagus!" serunya. "Aku akan adu jiwaku, akan aku siram tanah dengan darah! Untuk
membuat kau....." Dalam keadaan yang sangat murka, tak dapat To Hoan melanjutkan katakatanya.
Sebenarnya hendak ia mengucapkan, .....berhasil!" Tapi berbareng dengan itu,
sekarang ia dapat melihat lebih nyata. Ia tampak pakaiannya kecipratan darah,
mukanya tegang. Maka itu, dapatkah pemuda ini mendusta"
Selagi orang berdiam, Tan Hong berkata pula: "Aku baharu sampai belasan lie di
luar kampung ini ketika aku berpapasan dengan pasukan serdadu pemerintah. Kita
bentrok. Aku rubuhkan dua di antaranya! Mengandal kepada kudaku ini, yang
larinya keras, aku kembali kesini, untuk menyampaikan kabar....."
"Sret!" demikian terdengar satu suara, yang disusul dengan suara menghembus. Dan
panah api sudah menyambar ke arah Thio Tan Hong!
Hweesin tan Tjek Po Tjiang sangat gusar, maka itu, belum sampai ia lompat maju,
panah apinya, tjoayam tjian, telah ia lepaskan.
Menyusul ini beberapa orang lompat maju, di antaranya Na Tjeetjoe dari Imma
tjoan. "Bocah cilik!" dia mendamprat. "Apakah kau sangka kami bertiga anakanak kecil,
hingga dapat kau permainkan?" Dan tidak memberikan ketika untuk orang membela
Mustika Naga Hijau 2 Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih Pedang Kiri 4
^