Pencarian

Lembah Tiga Malaikat 5

Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id Bagian 5


sambil membereskan rambutnya yang panjang terurai, kemudian sambil tertawa
katanya. "Kongcu, maafkan aku bila sikapku kurang menyenangkan..."
"Kenapa?" "Aku merasa sudah terlalu banyak berbicara, sikapku menjadi mengambang dan
agak merayu, mungkin Buyung kongcu benar-benar menganggap aku sedang
merayu dirimu?" "Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan semacam itu."
Kwik Soat kun tertawa dan tidak berbicara lagi.
Tiba-tiba suasana didalam kereta itu berubah menjadi sepi, hening dan tak
kedengaran sedikitpun suara. Kwik Soat kun seolah-olah berubah menjadi seorang
yang lain, dengan wajah bersungguh-sungguh dia duduk tak berkutik di tempatnya.
Meskipun beberapa kali Buyung Im seng ingin mengajaknya berbincang-bincang,
tapi menyaksikan sikapnya yang serius itu, terpaksa dia membatalkan niat
tersebut. Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba kereta yang sedang melakukan
perjalanan itu terhenti. Lalu kedengaran suara berkumandang dari luar kereta. "Silahkan kongcu untuk
berganti kereta!" 176 Kwik Soat kun menyingkap tirai dan meloncat turun terlebih dahulu dari dalam
kereta. Menyusul kemudian Buyung Im seng mengikuti di belakang Kwik Soat kin
melompat turun dari dalam kereta.
Di bawah sinar matahari senja, tampak sebuah kereta berwarna hijau telah
menanti di luar sebuah hutan di sebuah tanah pegunungan yang sangat sunyi...
Kusir kereta itu masih saja seorang yang masih muda, berbaju ringkas berwarna
hitam dan memakai topi hitam pula, orang itu berdiri di depan kereta dengan
tangan diluruskan ke bawah.
Setibanya di depan kereta itu, Kwik Soat kun segera menyingkap tirai seraya
berkata. "Kongcu, silahkan naik kereta!"
Setelah Buyung Im seng naik ke atas kereta, Kwik Soat kun turut juga naik ke
dalam kereta, tirai segera diturunkan dan kereta itupun meneruskan
perjalanannya dengan cepat.
Agaknya kereta itu memang khusus dipakai untuk melakukan perjalanan malam,
dalam kereta tergantung sebuah tempat tidur gantung yang dikedua belah sisinya
masing-masing diikat tali yang memantek di atas dinding kereta, bila seseorang
tidur diatasnya maka takkan terpengaruh akibat goncangan kereta.
Terdengar Kwik Soat kun berkata dengan lembut. "Kongcu, silahkan naik ke atas
pembaringan gantung itu untuk beristirahat."
"Bagaimana dengan nona?"
"Aku" Aku mempunyai tempat duduk lain," Buyung Im seng segera tersenyum.
"Nona, kau tampak teramat serius!" katanya.
Kwik Soat kun segera menghela napas panjang, sahutnya : "Aku merasa ada
baiknya untuk bersikap lebih serius selama berkumpul dengan seorang Kongcu
sejati seperti Kongcu."
Ketika Buyung Im seng menyaksikan wajahnya serius sekali ketika mengucapkan
kata-kata tersebut, bahkan jauh berbeda dengan sikapnya yang manja dan gent
ketika pertama kali naik ke atas kereta tadi, tanpa terasa dia lantas berpikir.
"Orang-orang Li ji pang memang pandai sekali bersikap, bahkan pandai pula
menyembunyikan perasaannya, sungguh membuat orang menjadi bingung dan tak
tahu apakah sikapnya sekarang itu bersungguh sungguh atau cuma bohong
belaka." Berpikir sampai di situ, dia lalu berbicara. "Aku ingin sekali mengajukan satu
pertanyaan kepada nona, apakah persoalan itu boleh kuajukan?"
"Itu mah tergantung pada persoalan apa yang akan kau ajukan?"
"Selama ini pangcu kau bisa melakukan gerakan dengan sangat cepat, dalam satu
hari saja beberapa ratus li bisa dilampaui, apakah biasanya diapun
mempergunakan cara pergantian seperti ini?"
"Ehmmm... kadang kala iapun menunggang kuda, tapi biasanya ia bisa menjaga
kondisi badan dan kerahasiaan jejaknya sebagian besar adalah berkat kereta ini."
177 "Ooh... kiranya begitu!" "Kongcu, bila kau ada urusan silahkan katakan saja
kepadaku!" Selesai berkata dia lantas bersandar di atas dinding kereta dan duduk sambil
memejamkan mata. Buyung Im seng segera naik ke atas pembaringan gantung itu untuk beristirahat,
menanti sadar kembali, kentongan ke empat sudah lewat. Kereta itu masih jalan
terus tiada hentinya. Terasa goncangan pada kereta itu makin lama semakin keras,
agaknya mereka sedang menelusuri sebuah jalan sempit di tanah perbukitan.
Tanpa terasa hatinya kembali tergerak, pikirnya.
"Kelihatannya mereka membuat kereta ini secara khusus."
Ketika fajar telah menyingsing, kembali mereka bertukar kereta untuk
melanjutkan perjalanan. Semua hidangan yang dipersiapkan dalam kereta rata-rata hidangan yang lezat
dan pilihan, dengan demikian waktu untuk bersantap pun bisa dia hemat untuk
melanjutkan perjalanan. Setelah tujuh kali berganti kereta, mereka telah melakukan perjalanan selama
empat hari tiga malam. Hari itu, ketika senja menjelang tiba, sampailah mereka
di sebuah tanah perbukitan yang terjal.
Setelah turun dari kereta, Buyung Im seng tidak menjumpai kereta lain yang
menanti di situ, maka dengan suara rendah dia lantas bertanya. "Sudah sampai?"
"Ya, sudah sampai, kentongan ketiga malam nanti kongcu akan naik gunung."
"Tempat manakah yang akan ku tuju?"
"Lembah Giok hong kok, daerah terlarang yang diciptakan oleh Giok hong siancu,"
Buyung Im seng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap cuaca di
sana, kemudian mereka berkata. "Saat ini masih terpaut jauh sekali dengan
kentongan ketiga." "Kami telah mempersiapkan pakaian untukmu, kongcu harus mempergunakan
waktu ini untuk berganti pakaian, masih ada banyak perkataan yang hendak
kuucapkan pada kongcu."
Buyung Im seng memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu katanya. "Tempat
ini amat sepi dan jauh dari keramaian manusia, rumah penduduk pun tidak
kelihatan..." "Perkumpulan Li ji pang bisa tancapkan kaki didalam dunia persilatan, tentu saja
karena mempunyai banyak syarat yang tak bisa dilampaui orang lain, harap
kongcu bersedia mengikuti di belakangku."
Buyung Im seng tahu bahwa mereka pasti mempunyai sarang rahasia disekitar
tempat itu, maka tanpa banyak bertanya lagi dia berjalan ke depan mengikuti di
belakang Kwik Soat kun. 178 Dalam waktu singkat, Kwik soat kun telah mengajak pemuda itu menuju ke bawah
bukit, di situ tampak sebuah bangunan rumah gubuk yang dibangun dengan
menempel dinding bukit. Ketika Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan ke depan, maka terlihatlah
seorang perempuan setengah umur yang berusia empat puluh tahunan sedang
duduk didalam ruangan sambil menjahit sepatu kain.
Kwik soat kun segera maju menghampirinya, sambil mendehem pelan katanya.
"Enso, numpang bertanya..."
Perempuan setengah umur itu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Kwik
soat kun sekejap, kemudian balik bertanya. "Nona datang dari mana?"
Mendengar pembicaraan tersebut, diam-diam Buyung Im seng berpikir kembali.
"Apa yang ditanyakan dan apa yang berhubungan, mungkin itulah kata sandi yang
mereka pakai untuk melakukan kontak rahasia."
Benar juga, terdengar Kwik soat kun segera berseru. "Thian lam Tee pak datang
dari Hu tiong." Perempuan setengah umur itu segera meletakkan jahitannya ke meja dan bangkit
berdiri, katanya pula. "Tiada awan tiada bintang, malam bulan purnama."
Diam-diam Buyung Im seng tertawa geli, sesudah mendengar kata-kata itu,
kembali pikirnya. "Kalau tiada awan bulan sedang purnama, mana mungkin tiada
berbintang" Tak nyana pihak Li Ji pang bisa memikirkan kata-kata sandi yang
begini bagusnya." Sementara itu terdengar Kwik soat kun telah menjawab. "Tengah hari panas
menyengat hujan terus dengan deras."
Buyung Im seng segera berpikir kembali. "Bagus sekali! Ternyata kata-katanya
cuma kata-kata yang ngaco belo belaka, orang bilang perempuan paling pandai
berbohong, ucapan itu ternyata memang benar, jika kau pria yang disuruh
membuat kata sandi, tak nanti mereka bisa menggunakan kata-kata seperti itu."
Tampak perempuan setengah umur itu menjura dalam-dalam lalu menegur.
"Tolong tanya kedudukan nona yang sesungguhnya?"
Tiba-tiba Kwik Soat kun maju beberapa langkah ke muka dan membisikkan
sesuatu dengan suara lirih.
Beberapa patah itu diucapkan dengan suara yang rendah sekali, sehingga Buyung
Im seng sendiripun tidak mendengar apa-apa.
Ia hanya melihat bahwa sikap perempuan setengah umur itu bertambah hormat,
setelah memberi hormat lagi kepada Kwik Soat kun, katanya. "Silahkan kalian
berdua masuk ke dalam ruangan!"
Kwik Soat kun lantas berbisik lirih kepada Buyung Im seng. "Sebenarnya Giok
hong siancu menyebar banyak sekali mata-matanya disekitar bukit, asal ada orang
berani mendekati lembah Giok hong koknya dalam jarak sepuluh li, dia pasti sudah
memperoleh laporan, tapi selama banyak tahun belakangan ini belum pernah
terjadi suatu peristiwapun dalam lembah Giok hong kok oleh karena itu tanpa
179 disadari penjagaan merekapun lambat laun menjadi makin mengendor, sekalipun
demikian kita tetap tak boleh bertindak gegabah."
Sembari berkata, dia sudah melangkah masuk ke dalam ruangan. Ketika Buyung
Im seng mendengar perkataan itu diucapkan dengan wajah serius, dengan langkah
cepat diapun turut melangkah masuk ke dalam ruangan.
Perempuan setengah umur itu langsung membawa kedua orang itu menuju ke
ruang dalam, lalu berkata dengan lirih. "Agar penyaruan tampak bersungguhsungguh
seperti aslinya, silahkan kalian duduk."
Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu,
tampak didalam ruangan dalam terdapat sebuah pembaringan kayu yang
sederhana sekali, di atas pembaringan itu ditutup dengan seprei yang sudah kumal
dan banyak tambalannya di sana sini.
Kwik Soat kun segera mengulapkan tangannya seraya berkata. "Kau duduklah di
luar sana, perhatikan dengan seksama apakah jejak kami sudah diketahui musuh
atau belum." Perempuan setengah umur itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri dari
situ. Menanti bayangan tubuh dari perempuan itu sudah lenyap dari pandangan,
Buyung Im seng baru bertanya dengan suara lirih.
"Apakah dia seorang anggota dari Li ji pang?"
"Perkumpulan Li ji pang kami mempunyai suatu peraturan yang boleh dibilang
sangat memenuhi perasaan manusia."
"Jika peraturan kalian bisa memenuhi perasaan anggotanya, hal ini semua
menunjukkan betapa bijaksana dan pandainya pangcu kalian."
"Mana, mana..!"
"Entah peraturan apakah yang kau maksudkan dapat memenuhi perasaan manusia
itu" Dapatkah kau terangkan kepadaku?"
"Tentu saja dapat..." sesudah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.
"Dalam perkumpulan Li ji pang kami berlaku suatu peraturan, barang siapa sudah
mencapai usia 25 th maka dia akan dipunahkan ilmu silatnya, keluar dari
perkumpulan dan menjadi istri orang lain serta anak beranak, mereka bisa
melakukan kehidupan normal seperti juga perempuan-perempuan lainnya,
sebaliknya jika dia sudah pernah melakukan suatu usaha besar dan berjasa bagi
perkumpulan, maka ia boleh mengajukan permintaan untuk kawin dengan orang
sebelum tiba waktunya..."
"Dalam perkumpulan kalian terdapat banyak sekali rahasia besar, bila mereka
sampai meninggalkan perkumpulan, apakah kalian tidak kuatir mereka sampai
membicarakan rahasianya?"
"Selamanya Li ji pang kami menghadapi anggota dengan perasaan persaudaraan,
sekalipun sudah lepas dari perguruan, kehidupan mereka diatur pula dengan
sebaik baiknya dan ilmu silat yang mereka miliki telah punah, itu berarti mereka
tak akan mencampuri urusan dalam dunia persilatan lagi, selain dari itu cara
kerja 180 Li ji pang kami cukup seksama, pengetahuan seorang anggota terbatas sekali,
sebelum meninggalkan perkumpulan merekapun diwajibkan mengangkat sumpah
besar yang melarang untuk membocorkan rahasia perkumpulan, oleh karena itu
kebanyakan mereka lebih suka mati bunuh diri daripada membocorkan rahasia
perkumpulan." "Seandainya mereka enggan meninggalkan Li ji pang, bagaimana pula
tindakannya?" "Tentu saja ada juga mereka yang enggan meninggalkan perkumpulan, pangcu
kami telah mempersiapkan juga suatu penyelesaian buat mereka secara baik-baik
seandainya usia anggota perkumpulan itu sudah melebihi 25 th, tapi dalam hatinya
masih belum menemui kekasih idaman hatinya, lagi pula mereka sudah terbiasa
dari penghidupan dalam perkumpulan Li ji pang, maka pertama tama mereka
harus masuk dulu ke dalam kamar dan menutup diri selama satu tahun, dalam
setahun ini kehidupan mereka akan terpisah dari keduniawian, setelah keluar dari
pengasingan apabila dia masih bertekad untuk tinggal dalam perkumpulan maka ia
mengangkat sumpah berat yang mana selama hidupnya tak akan kawin lagi, saat
itulah dia akan memperoleh warisan ilmu silat perkumpulan yang lebih dalam
sepanjang hidupnya berbakti untuk Li ji pang."
"Apakah semua tugas dan pekerjaan yang berada dalam anggota perkumpulan yang
berkeputusan tetap tinggal dalam perkumpulan?"
"Seharusnya demikian, cuma lantaran perkumpulan kami baru muncul dalam
dunia persilatan maka anggota yang sudah melewati usia 25 th pun baru tiga-lima
orang saja." Buyung Im seng segera tertawa. "Berapa usia perempuan tadi?" tanyanya.
"Menurut pendapat kongcu?"
"Paling tidak usianya juga mencapai 30 th! Mungkin merupakan anggota yang
berusia paling besar didalam perkumpulan kalian."
Kwik soat tertawa hambar. "Soal ini lebih baik kita bicarakan lagi di kemudian
hari." Kemudian sambil mengalihkan pokok pembicaraan, katanya. "Seandainya tiada
orang yang mengejar sampai di sini, kami akan segera turun tangan untuk
menggantikan kongcu dengan pakaian lain."
"Jika kau masih ada banyak persoalan hendak disampaikan kepadaku, katakanlah
sekarang." "Tentu saja banyak yang hendak disampaikan kepadamu. Cuma kita harus
menunggu sampai sekembalinya nanti, aku harus mengetahui dulu apakah jejak
kita sudah ketahuan atau belum, setelah itu aku baru akan memberitahukan
kepadamu cara untuk mengatasi keadaan..."
Setelah tersenyum, terusnya. "Cuma, kau tak usah kuatir, selama bertugas kau tak
akan merasa kesepian, pangcu kami telah mengutus kedua puluh empat orang
anggotanya untuk membantu dirimu, kedua puluh empat orang itu semuanya
merupakan jago-jago kelas satu dalam perkumpulan kami, baik soal kecerdasan
181 maupun soal kepandaian silat, mereka boleh dibilang sangat hebat dan bisa
diandalkan." "Tentang persoalan ini, nona telah memberitahukan kepadaku."
"Sebentar akan kuterangkan lebih teliti lagi kepadamu, meski mereka terdiri dari
24 orang namun kedudukannya saling berbeda, untuk mengadakan kontakpun
diperlukan kata-kata sandi, jika kongcu tidak mengetahui kata-kata sandi
tersebut, sekalipun mereka tahu kalau kau adalah Buyung kongcu, tidak ada bantuan yang
bisa mereka berikan kepadamu."
Sementara pembicaraan berlangsung, tampak perempuan setengah umur itu
berlari masuk ke ruangan dalam dengan langkah tergopoh-gopoh. Kwik Soat kun
segera bangkit berdiri seraya bertanya. "Ada yang tidak beres?"
"Yaa, agaknya gelagat kurang menguntungkan," sahut perempuan itu dengan suara
rendah, "hamba menyaksikan ada cahaya api di tempat kejauhan."
"Ada apa lagi?"
"Dari tebing curam sebelah depan sana meluncur datang dua sosok bayangan
manusia, jika mereka berdua tidak pandai ilmu silat tak nanti mereka berani
melayang turun dari atas tebing curam yang seribu kaki tingginya itu."
"Apakah mereka datang karena kehadiranku?" "Soal itu hamba masih kurang
jelas." "Baiklah, kau boleh berdiri di depan pintu untuk melakukan pengawasan, kami


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akan melakukan persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak
diharapkan." Perempuan setengah umur itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari
ruangan itu. "Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi kemungkinan yang tak
diinginkan?" tanya Buyung Im seng.
"Bersembunyi, agar dia tidak berhasil menemukan segala sesuatunya disekitar
tempat ini." "Ruangan ini amat sempit, kita harus menyembunyikan diri kemana?"
"Tentu saja ada tempat persembunyian yang terbaik, cuma saja terpaksa harus
menyiksa kongcu sebentar."
Tidak menunggu Buyung Im seng menjawab, dia sudah merendahkan tubuhnya
lebih dulu dan menerobos masuk ke kolong ranjang.
Menyaksikan kejadian itu, Buyung Im seng mengerutkan dahinya rapat-rapat,
terpaksa diapun harus ikut menerobos masuk pula.
Sementara itu Kwik soat kun telah memindahkan sebagian barang yang berada
dikolong ranjang itu dan menyingkap sebuah papan penutup besi, dibalik lapisan
besi itu muncul sebuah mulut gua yang lebarnya sekitar dua jengkal.
"Kongcu silahkan masuk!" bisik Kwik soat kun kemudian dengan suara lirih.
182 Buyung Im seng mengiakan dan segera masuk ke dalam gua tersebut. Dibalik
mulut gua terbentang sebuah lorong bawah tanah yang membujur jauh ke dalam
sana. "Lorong bawah tanah ini berhubungan dengan sebuah gua, harap kongcu berlega
hati!" kata Kwik soat kun.
Mendengar perkataan itu, diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Setelah sampai di
sini, mau tak mau aku harus melanjutkan perjalanan ke depan."
Maka dia lantas mempercepat langkahnya bergerak menuju ke depan sana....
Sebaliknya Kwik soat kun berjaga-jaga di depan mulut gua sambil memasang
telinga memperhatikan keadaan sekeliling sana, menanti dari luar ruangan sudah
berlangsung tanya jawab, dia baru menutupkan tutup besi itu dan menyusul
Buyung Im seng, Ketika berjalan 4-5 kaki kemudian, Buyung Im seng telah sampai di suatu ujung
lorong tersebut, sebuah dinding batu merintangi jalan perginya.
Dengan langkah cepat Kwik soat kun segera menyusul ke belakang Buyung Im
seng, kemudian bisiknya. "Di sudut kanan dinding sebelah kanan terdapat batu
tonjolan, tekanlah tonjolan batu itu kongcu, kemudian mendorongnya kuat-kuat
dinding batu itu akan membuka dengan sendirinya."
Buyung Im seng menurut dan segera menggerakkan tangan kanannya mendorong
kuat-kuat, betul juga dinding batu itu segera terbuka.
Kwik soat kun segera berjalan melewati Buyung Im seng dan melangkah masuk
lebih dulu ke dalam ruangan tersebut.
Di bawah sinar api, tampak di sudut ruangan tersebut sebuah meja batu, di atas
meja terdapat sebuah lampu lentera. Kwik soat kun menghembuskan napas
panjang, lalu berkata. "Silahkan duduk kongcu!"
Dalam ruangan batu itu selain terdapat sebuah meja batu, juga terdapat dua buah
bangku yang terbuat dari batu. Buyung Im seng mengambil tempat duduk di
bangku sebelah kiri, sebaliknya Kwik soat kun berjalan hilir mudik tiada
hentinya didalam ruangan itu sembari bergumam.
"Semoga saja dia sanggup menghadapi segalanya dengan beres, sehingga rencana
matang yang sudah dilakukan secara teliti dan cermat selama banyak tahun ini
tidak akan sia-sia belaka."
Sebetulnya Buyung Im seng ingin menanyakan persoalan itu dengan lebih jelas
lagi, akan tetapi setelah menyaksikan kegelisahan orang, terpaksa ia harus
menahan diri dan tidak bicara.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba terdengar suara ketukan
berkumandang datang. Kwik soat kun segera membuka pintu batu itu, tampak
perempuan setengah baya itu berjalan masuk dan memberi hormat, kemudian
ujarnya. "Mereka telah melakukan penggeledahan tapi tidak berhasil menemukan apa-apa,
akhirnya mereka pergi tanpa membawa hasil."
183 Rasa murung dan kesal yang semula menghiasi wajah cantik Kwik soat kun segera
lenyap tak berbekas, bagaikan salju yang melumer, sekulum senyuman manis
segera menghiasi bibirnya.
"Apakah mereka berhasil menjumpai sesuatu yang mencurigakan?"
"Tampaknya mereka tidak berhasil menemukan apa-apa."
Kwik soat kun segera menghela napas panjang. "Aaaai... semoga saja demikian,
pergilah kau!" Perempuan setengah baya itu mengiakan, kemudian setelah memberi hormat
mengundurkan diri dari sana.
Kwik soat kun segera menutup pintu kembali, kemudian katanya sambil tertawa,
"Kongcu! Sekarang kau boleh bertanya."
Buyung Im seng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian seraya
berpaling katanya. "Bertanya kepada siapa?"
"Bertanya kepadaku!"
"Semua gerak gerikmu setelah berada di sini akan menuruti perkataan dari nona."
"Tidak berani, aku akan berbuat sebaik mungkin demi kongcu."
"Baiklah, sekarang boleh kau katakan, apa yang harus kulakukan?"
"Harap kongcu bersedia menyaru menjadi seorang..." "Menjadi siapa?" "Seorang
yang jahat, jahat sekali, orang itu she Ong bernama Ciu dengan gelar Giok
longkun 'lelaki tampan berwajah kemala'!"
"Kenapa kau mencampur baurkan antara orang ini dengan Giok hong siancu...?"
"Sesungguhnya antara Giok hong siancu dengan Giok longkun Ong Ciu punya
hubungan cinta yang amat erat, dasar setali tiga uang mereka berdua ibaratnya
lem yang saling melekat, begitu bertemu tak pernah berpisah lagi, malahan kedua
orang ini sempat mencicipi kehidupan berumah tangga yang cukup harmonis."
"Lantas apa hubungannya antara kisah tersebut dengan usahaku untuk mencuri
kitab pusaka ilmu pedang tersebut?"
"Erat sekali hubungannya, cuma Giok longkun Ong Ciu seorang yang bisa masuk ke
dalam lembah Giok hong kok dengan bebas serta memperoleh pelayanan langsung
dari Giok hong siancu sendiri, kitab pusaka ilmu pedang itu disimpan olehnya
didalam sebuah ruangan rahasia yang berada di dinding kamar tidur Giok hong
siancu." Mendengar keterangan tersebut, Buyung Im seng menghembuskan napas panjang,
katanya. "Kalau begitu, untuk bisa memperoleh kitab pusaka ilmu pedang itu, aku
harus bisa masuk ke dalam kamar tidurnya?"
"Benar, cuma kongcu tak perlu kuatir, kami telah mempersiapkan sejenis obat
pemabuk yang sangat lihai, asal dia mengendus bau obat pemabuk itu niscaya dia
akan jatuh tak sadarkan diri."
- 0 - 184 BAGIAN KE 14 "Jadi aku juga harus mempergunakan obat pemabuk?" tanya Buyung Im seng
sambil membelalakkan matanya.
"Yaa, terpaksa kita harus bertindak demikian, sebab ilmu silat yang dimiliki
Giok hong siancu lihai sekali, andaikata sampai terjadi pertarungan, mungkin
pertarungan itu akan berlangsung lama, sengit dan ramai sekali."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Buyung Im seng berkata. "Baik,
lanjutkan kata-katamu!"
"Setelah kongcu berhasil membuka pintu ruangan tersebut, tak ada salahnya
bagimu untuk mengurus semua barang berharga yang ada di sana, Giok hong
siancu bukan orang baik, benda yang diperolehnya sudah pasti bukan diperoleh
dengan cara yang halal, jadi kongcu pun tak usah sungkan-sungkan terhadapnya."
"Sekarang Giok longkun berada dimana?"
"Disekap didalam kuil Siau lim si!"
"Oooh... jadi kau suruh aku membohongi Giok hong siancu dan mengatakan kalau
aku baru lolos dari kuil Siau lim si?"
"Jarang sekali jago dalam dunia persilatan yang tahu kalau Giok hong siancu
sendiripun belum tentu tahu, seandainya dia mengetahui akan hal ini, mungkin
semenjak dulu ia sudah turun tangan."
"Darimana pula perkumpulan kalian bisa mengetahui akan kejadian ini?"
"Ketajaman pendengaran dan penglihatan perkumpulan kami termasyhur dimanamana,
bukankah kongcu telah mengetahui tentang hal ini?"
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Sekarang aku akan melayani kongcu
untuk berganti pakaian, kemudian merubah raut wajahmu, setelah itu kita boleh
berangkat!" Diam-diam Buyung Im seng lantas berpikir. "Tak dapat disangka lagi aku sudah
naik di atas perahu penyamun, sekalipun tak kusanggupi sekarang juga tak
bisa..." Berpikir demikian, terpaksa katanya. "Baiklah! Bawa kemari pakaian tersebut."
Kwik soat kun segera mengeluarkan satu stel pakaian ringkas berwarna hitam
yang bersulamkan benang putih, sambil diangsurkan ke muka, katanya. "Kongcu
akan berganti pakaian sendiri, ataukah minta bantuanku?"
"Tak usah merepotkan nona,"
Kwik soat kun segera tersenyum dan melangkah keluar dari tempat tersebut.
Setelah menutup pintu batu itu, Buyung Im seng bertukar dengan satu stel baju
perlente yang berwarna hitam dengan tepi benang putih, ternyata pakaian itu
cocok sekali dikenakan dibadan, seakan-akan baru saja digunting.
Terdengar suara Kwik soat kun di luar pintu berkumandang kembali. "Kongcu, kau
telah selesai bertukar pakaian?"
"Sudah!" jawab Buyung Im seng sambil membuka kembali pintu batu itu.
185 Kwik soat kun memperhatikan sekejap dandanan dari Buyung Im seng, kemudian
katanya, "Pakaiannya sih cocok sekali, asal ku dandani sedikit raut wajahmu,
kita segera bisa berangkat."
Pelan-pelan Buyung Im seng duduk di bangku kemudian katanya. "Andaikata Giok
hong siancu mengetahui persoalan dari Giok longkun itu berarti kepergianku
sekarang lebih banyak bahayanya dari pada kemujuran."
"Seandainya keadaan tidak mengijinkan dan penyaruan kongcu ketahuan
belangnya, silahkan kau berteriak 'siapa berani membantuku' sebanyak tiga kali,
sudah pasti akan melompat keluar jago-jago yang akan membantu kongcu."
"Apakah ucapan itu selalu akan manjur, entah disaat dan tempat apapun juga?"
"Sesungguhnya perkataan itu suatu kata sandi, asal mereka mendengar perkataan
ini niscaya mereka akan datang membantumu, cuma yang paling di titik beratkan
oleh perkumpulan kami adalah disaat kongcu masuk ke lembah Giok hong kok
untuk pertama kalinya, sebab waktu itulah keadaan paling berbahaya, mereka
semua pasti bersiap siap di sekeliling tempat itu sambil bersiap sedia
menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan..."
Sesudah berhenti sebentar, terusnya. "Andaikata waktu itu Giok hong siancu tidak
mengetahui kalau kau adalah Giok longkun gadungan, maka kesempatan di
kemudian hari tak akan terlampau besar."
"Menurut pendapatku, justru keadaan jauh berbeda dengan keadaan yang
dibayangkan oleh perkumpulan kalian."
"Harap kongcu bersedia memberi keterangan." "Menurut pendapatku, masih ada
satu kemungkinan jejakku bisa diketahui oleh Giok hong siancu." "Dimana?"
"Menurut pendapatku selama pembicaraan berlangsung antara diriku dengan Giok
hong siancu, justru merupakan saat-saat yang paling berbahaya, andaikata ia
menanyakan soal kejadian lama kepadaku, dan aku tak mampu menjawab,
bukankah kebohonganku akan segera terbongkar?"
Kwik soat kun termenung sebentar, kemudian sahutnya. "Walaupun ucapan kongcu
masuk diakal, cuma aku rasa hal ini termasuk dalam kemampuan dan
kecenderungan seseorang didalam menghadapi keadaan tersebut, misalkan saja
sikap atau perasaan kongcu, sangat mempengaruhi pertanyaannya yang bakal
diajukan." Ganti Buyung Im seng yang termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia
berkata. "Masuk diakal juga perkataan dari nona itu, cuma aku rasa perkumpulan
kalian pasti sudah mengumpulkan bahan-bahan yang menyangkut soal hubungan
Giok longkun dan Giok hong siancu dimasa lalu, bukan?"
"Tentu saja, cuma kalau musti diceritakan dengan terperinci, tiga hari tiga
malam pun belum tentu habis, tapi kalau garis besarnya saja, dalam dua tiga patah kata
saja segalanya telah beres."
"Kalau begitu ringkasnya saja!"
186 "Yang lelaki romantis, suka bermain cinta dan dimana mana punya perempuan,
sedang yang perempuan cabul, busuk, keji dan banyak tipu muslihatnya."
"Aku sudah mengerti sekarang!"
"Ingat dalam mengucapkan perkataan apapun asal dalam sekali hembusan napas
saja menyebut kata-kata timur, barat, utara, selatan, maka mereka semuanya
adalah orang-orang Li ji pang kami, dan mereka adalah bala bantuanmu!"
"Aku harus menjawab dengan perkataan apa?"
"Kau harus berusaha mencari akal untuk menjawab dengan kata mega, hujan,
guntur dan kilat, lebih baik lagi kalau perkataan ini pun bisa diselesaikan
dalam sekali hembusan napas."
"Selanjutnya?" "Jika pihak lawan bukan anggota Li ji pang dan tak memahami kata sandi tersebut
tentu saja tak akan menunjukkan reaksi apa-apa, sebaliknya jika dia adalah
anggota Li ji pang kami, maka mereka akan belum berani mempercayai kongcu
100%, maka kongcu harus menyebut lagi kata-kata yang berbunyi: 'Gioklong bukan
datang memetik bunga'. Setelah mendengar perkataan itu, otomatis mereka akan
mengajakmu untuk berbincang-bincang."
Buyung Im seng segera mengangguk. "Yaa, aku ingat sekarang!"
"Ingat, dengarkan dulu nomor anggota mereka, bila tidak menyebut nomor anggota,
harap kongcupun jangan mengucapkan kata-kata sandi tersebut..!"
"Selain menyebutkan nomor anggota, apa pula yang mereka ucapkan?" tanya
Buyung Im seng lagi. "Hanya melapor nomor anggota!"
"Baik, pesan nona itu akan kuingat didalam hati."
"Baik! Sekarang kongcu boleh pergi!"
Buyung Im seng bangkit berdiri dan segera beranjak keluar dari tempat itu.
Kwik soat kun segera menyambar sebilah pedang panjang bergagang emas dan
menyusul di belakang Buyung Im seng. Selesai menelusuri lorong rahasia dan
keluar dari rumah gubuk, tampak rembulan bergantung di atas awang-awang,
binatang bertaburan di seluruh angkasa.
Pelan-pelan Kwik soat kun menggantungkan pedang tadi dipinggang Buyung Im
seng, kemudian dengan suara rendah katanya. "Giok longkun paling suka dari
segala kebagusan, kalau bukan pakaian perlente, pedangnya pasti berbeda dengan
orang lain, pakaian yang dipakai selalu bertepi putih, sedang gagang pedangnya
terbuat dari batu kemala dan di ujung pedang terdapat tiga biji mutiara."
"Sreet...!" Buyung Im seng segera meloloskan pedang itu, di bawah sinar rembulan
pedang itu memancarkan sinar berkilauan, tiga biji mutiara sebesar kelengkeng
membuat pedang tersebut kelihatan mewah sekali.
Tanpa terasa ujarnya sambil tersenyum. "Tampaknya Giok longkun adalah seorang
manusia yang tidak jujur dan suka kemewahan."
187 "Tepat sekali, bagaimana watak Giok longkun yang sebenarnya, bisa dilihat dari
caranya berpakaian dan pedang yang digembol, bila kongcu dapat memahami maka
keadaan yang sebenarnya tak akan jauh berbeda..."
(Bersambung ke jilid 10) 188 Lembah Tiga Malaikat Oleh: Tjan Jilid 10 Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Silahkan kongcu melanjutkan
perjalanan ke depan, lima li kemudian kau dapat melihat lembah Giok hong kok
tersebut." Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun,
kemudian tanyanya. "Kenapa kau tidak menghantar aku?"
"Menghantar kekasih sampai seribu li, akhirnya berpisah juga, padahal bukan
cuma seribu li saja aku menghantarmu."
Terbayang kembali bagaimana selama beberapa hari ini hampir boleh dikata
mereka tak pernah berpisah, timbul perasaan berat dihati Buyung Im seng, tanpa


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terasa ia menggenggam tangan Kwik Soat kun sambil tertawa, katanya. "Aneh
benar, entah siapapun orangnya, bila mengenakan baju milik Giok longkun,
sikapnya menjadi berubah agak romantis."
Kwik soat kun cepat menarik kembali tangan kirinya dan mendorong kelima jari
tangan Buyung Im seng ke samping, setelah itu ujarnya dengan wajah
bersungguhsungguh. "Besar amat nyalimu, apakah kau tak kuatir kalau di kemudian hari
kulaporkan kejadian ini kepada Biau hoa lengcu?"
Buyung Im seng agak tertegun dan segera lepaskan tangan, sahutnya kemudian,
"Padahal hubunganku dengan Biau hoa lengcu adalah putih bersih dan sama sekali
tiada hubungan apa-apa."
Kwik soat kun segera tertawa manis, katanya. "Yang paling penting sekarang
adalah pergi menyelesaikan tugas penting serta mendapatkan kembali kitab
pusaka ilmu pedang itu, bila kau telah berhasil dengan tugasmu, tentu saja aku
akan mengundang gadis-gadis cantik dari perkumpulan Li ji pang untuk
merayakan bersama kemenanganmu. Saat itulah gadis-gadis cantik akan
189 memenuhi ruangan, dan terserah apa saja yang hendak kau kerjakan terhadap
mereka." "Andaikata aku mati di lembah Giok hong kok?"
Kwik soat kun segera menarik kembali senyumannya, dengan serius dia menjawab.
"Maka itu berarti Li ji pang telah berhutang budi kepadamu, dengan sepenuh
tenaga kami akan membantumu Sin Cu sian dan Lui Hua hong."
Mendengar ucapan tersebut, Buyung Im seng segera tertawa terbahak-bahak. "Ha..
ha.. ha.. setelah mendengar perkataan dari nona itu, rasanya aku jadi mau tak
mau harus mendapatkan kembali kitab pusaka ilmu pedang itu."
Setelah menjura, dia lantas membalikkan badan dan berjalan maju ke depan
dengan langkah lebat. Kwik soat kun juga tidak berbicara lagi, ia membalikkan badan dan menyelinap
masuk ke dalam gubuk. Mengikuti arah yang ditunjuk si nona, dengan cepat Buyung Im seng menelusuri
jalan setapak menuju ke depan. Lima li kemudian, betul juga sampailah dia di
depan sebuah lembah bukit yang indah permai. Di depan mulut lembah tersebut
berdiri tegak sebuah batu peringatan yang sangat tinggi, di atas batu peringatan
itu tertera tiga huruf besar yang berbunyi GIOK HONG KOK.
Buyung Im seng memperhatikan sekejap tulisan Giok hong kok itu, kemudian
melanjutkan langkahnya menuju ke dalam lembah, sementara dalam hati kecilnya
dia berpikir. "Aaah, kenapa aku lupa bertanya kepada nona Kwik, bila telah
berhasil merobohkan Giok hong siancu, apa harus kulakukan terhadapnya,
dibunuh" Atau dibiarkan hidup..."
Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar seseorang membentak keras.
"Siapa?" Buyung Im seng mendongakkan kepalanya memandang ke depan, dia saksikan
seorang perempuan setengah umur yang membawa tongkat dengan kain hitam
mengikat kepala, ikat pinggang berwarna hijau berdiri lebih kurang satu kaki di
depan sana dan menghadang jalan perginya.
Tanpa terasa Buyung Im seng berpikir didalam hati. "Kalau betul Giok longkun
adalah kekasih Giok hong siancu, sepantasnya kalau banyak anggota lembah Giok
hong kok yang mengenali dirinya..."
Berpikir demikian, dengan wajah dingin membesi dia lantas berseru: "Hai, sudah
berapa lama kau bertugas didalam lembah Giok hong kok ini...?"
"Aku sudah bertugas selama lima tahun dalam lembah Giok hong kok ini," sahut
perempuan setengah umur itu.
"Hmm, tak heran kalau kau tidak kenal dengan diriku." Setelah berhenti sebentar
dan sengaja mendehem berat, dia berseru lebih lanjut. "Sekarang laporkan ke
dalam, katakan kalau aku sudah kembali."
190 Tampaknya perempuan setengah umur itu sudah dibuat tertegun oleh perkataan
Buyung Im seng yang mengandung setengah gertakan tersebut, setelah termangu
sekian lamanya, dia baru bertanya, "Siapakah kau?"
"Giok longkun Ong Ciu!"
Mendengar nama itu, perempuan setengah umur tersebut menjadi amat
kegirangan, katanya. "Aku pernah mendengar kokcu membicarakan tentang
dirimu, sungguh tak disangka kau telah kembali!"
"Kurang ajar!" hardik Buyung Im seng dengan gusar.
Tampaknya perempuan setengah umur itu tahu kalau dirinya telah salah
berbicara, buru-buru dia menahan rasa gelinya dan berseru. "Harap kau suka
menunggu sebentar, budak segera melaporkan kehadiranmu ini ke dalam."
Selesai berkata, tiba-tiba ia merentangkan sepasang lengannya kemudian
melompat ke depan. Dengan tangan kiri memegang toya, tangan kanan menyambar
sebatang dahan pohon, dia berjumpalitan ke udara dan menyusup masuk ke balik
dedaunan pohon yang rimbun, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya telah
lenyap tak berbekas. Ternyata dikedua belah sisi jalan lembah itu penuh tumbuh pepohonan yang besar,
para penjaga lembah rupanya pada menyembunyikan diri di atas pepohonan yang
lebat itu. Tak lama kemudian, tiba-tiba berkumandang suara terompet yang dibunyikan tiga
kali pendek dan dua kali panjang.
Kembali Buyung Im seng berpikir dalam hati. "Entah apa arti dari bunyi terompet
itu?" Tak lama kemudian dari kejauhan sana berkumandang pula bunyi terompet yang
dibunyikan tiga kali pendek dua kali panjang, begitu seterusnya, sambung
menyambung suara itu disampaikan jauh ke tengah lembah sana...
Perempuan setengah umur yang melompat naik ke pohon tadi, tiba-tiba melompat
turun lagi ke atas tanah sembari katanya. "Budak telah menggunakan tanda yang
paling cepat untuk mengabarkan kedatangan anda ke dalam lembah, harap anda
bersedia untuk menunggu sebentar."
"Aku sudah beberapa kali mendatangi lembah ini, tempat disekitar sini sudah
kuketahui dengan hapal, tak usah ditunggu lagi." Sembari berkata dia lantas
beranjak dan melangkah masuk ke dalam lembah.
Perempuan setengah umur itu tak berani menghalangi jalan perginya, tapi juga tak
berani melepasnya masuk ke dalam lembah, buru-buru dia mundur dua langkah
dan tetap menghadang di depan Buyung Im seng, ujarnya dengan perasaan berat
hati. "Sekarang dalam lembah telah terjadi banyak perubahan, alat rahasia sudah
diperbanyak jumlahnya, jika kau sampai terluka bagaimana mungkin budak bisa
mempertanggung jawabkan diri."
Buyung Im seng segera berhenti sembari memikir. "Terhadap keadaan dalam
lembah, boleh dibilang aku tidak tahu menahu, apabila aku bersikeras masuk
sendiri, kendatipun tak sampai terluka oleh alat rahasia, paling tidak rahasia
191 penyamaranku bisa ketahuan mereka, lebih baik aku menunggu saja sampai
kedatangan mereka, dengan begitu keselamatanku baru akan terjamin."
Berpikir sampai di situ, dia lantas menghentikan langkahnya sambil berkata
dengan suara dingin. "Berapa lama aku haru menunggu?"
"Tanda yang budak kirimkan tadi merupakan tanda yang paling penting dan cepat,
dengan cepat mereka akan datang kemari, sekalipun harus menunggu juga tak
akan terlalu lama." Jelas dia sendiripun tak bisa mengatakan sampai kapan mereka baru sampai di
situ, maka jawabannya menjadi agak tergagap.
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Usia perempuan ini sudah lanjut,
tampangnya juga jelek sekali, tapi caranya berbicara maupun tindak tanduknya
sangat genit dan cabul, tampaknya lembah Giok hong kok benar-benar bukan suatu
tempat yang baik, terhadap manusia yang licik, busuk dan berbahaya rasanya
akupun tak usah mempergunakan peraturan dan tindakan seorang Kuncu lagi.
Aaah... betul, kenapa aku tidak berusaha memancing sesuatu keterangan dari
mulut perempuan ini?"
Berpendapat begitu, sambil tersenyum dia lantas bertanya. "Tahun ini kau sudah
berumur berapa?" Perempuan setengah umur itu menjadi tersipu-sipu, sambil berkata genit sahutnya.
"Budak mah... tahun ini sudah 48 th."
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, gaya perempuan itu makin genit dan
tengik sehingga tampak makin jelek, ini membuat Buyung Im seng hampir mual
rasanya. Tapi dengan senyuman yang tetap dikulum, kembali katanya. "48 th mah
merupakan umur yang paling baik bagi seorang perempuan!"
"Benarkah begitu?" tanya perempuan itu dengan wajah berseri-seri.
"Kapan sih aku Giok longkun Ong Ciu pernah berbohong?"
"Betul usia budak sudah rada lanjut, tapi ilmu di atas ranjang yang kumiliki tak
akan kalah bila dibandingkan dengan para budak cilik yang masih muda belia, bila
Longkun bertemu dengan kokcu nanti, tolong sampaikan beberapa patah kata yang
indah untuk budak, asal budak bisa dipindahkan ke dalam istana, saban hari pasti
kulayani kebutuhan Longkun. Tanggung kau akan merasakan kenikmatan sorga
dunia yang belum pernah kau nikmati sebelumnya."
Buyung Im seng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian.
"Baiklah! Cuma sudah cukup lama aku tak pernah bersua dengan kokcu, entah dia
masih teringat dengan aku Giok longkun atau tidak?"
"Masih ingat, masih ingat, budak jarang sekali berjumpa dengan kokcu, selama
lima tahun belakangan ini juga paling banter hanya berjumpa belasan kali, tapi
ada dua kali diantaranya kudengar ia membicarakan Longkun."
"Membicarakan soal apa saja?"
192 "Dia bilang lelaki di dunia ini, tak seorangpun yang mampu menandingi kehebatan
Longkun..." Dia seperti merasa salah bicara, maka mukanya menjadi termangu dan untuk
sesaat lamanya tak tahu bagaimana harus menjawab.
Buyung Im seng sengaja tertawa terbahak-bahak kemudian berkata. "Tidak
mengapa, katakan saja secara terus terang, aku dengan kokcu kalian meski
mempunyai rasa kasih sayang, tapi banyak tahunpun sudah melakukan hubungan,
tapi masing-masing pihak memiliki kebebasan untuk berbuat apa saja, dia tak usah
setia terus kepadaku akupun tak usah menahan diri baginya..."
"Betul!" sambung perempuan itu, "nama besar Giok longkun sudah tersohor sampai
di seantero dunia persilatan, terutama keromantisannya terhadap perempuan,
entah berapa banyak gadis dan istri orang yang merindukan kau sepanjang
malam..." Mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara derap kaki kuda yang amat
kencang, buru-buru perempuan itu merubah kata-katanya dengan berkata: "Katakata
ringan yang kita bicarakan barusan, harap Longkun jangan sampaikan kepada
kokcu." "Oooh... soal ini tentu saja tidak!" jawab Buyung Im seng dengan ramainya, tapi
dengan cepat telah tiba dihadapannya.
"Sungguh cepat lari kuda ini, baru kedengaran suaranya kini sudah tiba," pikir
Buyung Im seng. Ketika dia mendongakkan kepalanya, nampaklah binatang tunggangan yang
mendekat itu berleher panjang dan lagi bertanduk, ternyata adalah seekor
menjangan yang tinggi besar. Di atas punggung menjangan itu duduklah seorang
gadis cantik bertubuh setengah telanjang, berambut panjang sebahu dan memakai
baju dalam yang ringkas. Ketika Buyung Im seng masih memperhatikan gadis itu, si gadis di atas punggung
menjangan sedang memperhatikan Buyung Im seng dengan sepasang matanya
yang besar dan jeli. Setengah harian kemudian, terdengar gadis berambut panjang itu menegur dengan
merdu. "Siapa kau?"
Buyung Im seng segera berpikir. "Aku musti menahan diri dan berpura-pura
menunjukkan sikap cabul yang tengik!"
Berpikir demikian, sambil membusungkan dada, katanya dengan suara dingin.
"Kau tak kenal denganku" Masa tidak kau lihat pakaian siapa yang kukenakan
ini?" Gadis berambut panjang itu memperhatikan sekejap pakaian yang dikenakan oleh
Buyung Im seng, lalu katanya. "Meskipun pakaian ini sangat indah dan menyolok,
sayang sekali tak tercantum namanya."
Buyung Im seng segera tertawa dingin tiada hentinya. "Hmm... sudah berapa tahun
kau berada didalam lembah Giok hong kok ini?"
"Lima tahun!" "Tidak heran kalau kau tak tahu tentang diriku!"
193 Gadis itu tertawa dingin pula. "He... he...he.. sebutkan dulu siapa namamu, coba
lihat pernahkah kudengar namamu atau belum?"
"Cepat kembali dan laporkan kepada kokcu kalian, katakan kalau Giok long kun
Ong Ciu telah kembali!"
"Oooh... rupanya Giok longkun!"
"Aaai...! Setelah memandang pakaianmu itu, seharusnya aku sudah dapat menebak
asal usulmu." Dia lantas melompat kembali ke atas punggung menjangan sambil melanjutkan.
"Seringkali boanpwe mendengar kokcu menyinggung nama besarmu, jika aku tak
tahu diri harap locianpwe suka memaafkannya...!"
"Eeeh.. memangnya aku sudah tua?" seru Buyung Im seng.
"Locianpwe sama sekali tidak kelihatan tua, tetap tampan, gagah dan menarik
hati." "Kau memang pandai sekali berbicara!" seru Buyung Im seng kemudian sambil
tersenyum. "Boanpwe bernama Sim Hong, murid dari kokcu yang berkedudukan nomor dua
belas. Kembali Buyung Im seng berpikir. "Dia saja sudah merupakan anak muridnya yang
nomor 12, entah macam apa muridnya yang paling akhir?"
Berpikir demikian diapun lantas bertanya, "Kau masih punya sumoay?"
Sim Hong menggeleng, sahutnya sambil tertawa. "Boanpwe adalah anak murid
kokcu yang paling terakhir, sekarang hanya menerima murid-murid angkatan
ketiga, toa suci dan ji suci lah yang memberi pelajaran kepada mereka."
"Emmm... aku haru menunggu berapa lama lagi?" tanya Buyung Im seng kemudian.
"Menunggu apa?" "Kereta yang menyambut kedatanganku."
Sim Hong segera tertawa, "Jika locianpwe ingin cepat-cepat masuk ke dalam
lembah, silahkan saja naik tunggangan boanpwe itu. Tenaga menjangan ini sangat
besar, ia mampu membawa kita berdua."
"Baik!" seru Buyung Im seng kemudian sambil tersenyum. "Mari kita naik
menjangan bersama!" Seusai berkata dia lantas melompat naik lebih dahulu ke atas punggung menjangan
itu. Menyusul kemudian Sim Hong juga melompat ke atas punggung menjangan, ia
melayang lewat atas kepala Buyung Im seng lalu duduk di depan pemuda itu, sekali
mengempit perut menjangan, larilah binatang itu menunggu ke dalam lembah.
Entah Sim Hong sengaja atau tidak, begitu menjangan mulai lari, dia segera
memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan badannya ke belakang dan
berbaring didalam pelukan pemuda itu.
Sebenarnya Buyung Im seng ada maksud untuk mendorong badannya, tapi ingatan
lain segera melintas dalam benaknya. Ia teringat bahwa kedudukannya sekarang
194 adalah Giok longkun Ong Ciu, padahal Giok longkun merupakan seorang yang
romantis, masa ada kucing yang tak doyan ikan"
Sekarang, setelah dia memerankan kedudukan tersebut, bagaimanapun juga dia
harus menyesuaikan diri dengan perannya itu. Berpikir demikian dia lantas
menggerakkan tangannya untuk merangkul pinggang Sim Hong dan memeluknya
erat-erat. Sim Hong merintih lirih, lalu sambil berpaling katanya seraya tertawa. "Aku
dengar dari toa suci, katanya kau adalah seorang lelaki yang suka bermain
perempuan, sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak kenikmatan yang
sempat kau rasakan."
Buyung Im seng tersenyum. "Selama hidup aku tak suka nama, tidak suka akan
kedudukan aku cuma suka kepada perempuan yang cantik. Jika ada gadis ayu
berada dalam pelukanku maka sekalipun ada orang menawarkan kedudukan Bulim
bengcu, belum tentu aku sudi menerimanya."
"Sepanjang hidupmu, sudah berapa banyak anak perempuan yang kau makan...?"
tanya Sim Hong lagi. "Sukar dikatakan, sukar dikatakan, tentang soal tersebut aku sendiripun tak
dapat mengingatnya dengan jelas."
"Suhuku mempunyai rasa cemburu yang sangat besar, setelah kau mengadakan
hubungan dengannya, apakah masih berani main perempuan lagi ditempat
luaran?" Buyung Im seng segera tertawa terbahak-bahak. "Haa.. haa.. aku Ong Ciu bukan


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang lelaki yang harus diurus gerak geriknya, sekalipun suhumu itu lihai,
paling tidak ia akan mengalah tiga bagian terhadapku."
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Setiap patah kata adalah kata yang sejujurnya."
"Ngo-suciku itu berparas cantik, ayu dan menarik hati, antara kau dengannya..."
Buru-buru Buyung Im seng mendehem untuk memotong ucapan Sim Hong yang
belum selesai, kemudian tegasnya. "Soal itu mah, aku merasa rikuh sekali!"
"Kenapa?" "Sebab dia adalah muridnya Giok hong siancu dihari hari biasa mereka selalu
bersikap sopan bila bertemu denganku, sebagai seorang cianpwe masa aku berani
bertindak kurang ajar?"
Mendengar perkataan itu, Sim Hong tertawa cekikikan. "Sukar.. benar-benar
sukar! Tak nyana kalau Giok longkun dapat mengucapkan kata-kata seperti itu."
Tercekat perasaan Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, segera
pikirnya. "Sebagai Giok longkun aku memang tidak seharusnya bersikap begini
serius!" Tiba-tiba terdengar, Sim Hong berkata lagi, "Bagaimana sikapmu terhadapku?"
195 "Terhadap dirimu" Kesanku sih baik sekali!" "Omong kosong, Ngo-suciku beribu
kali jauh lebih baik daripada aku, tapi kau toh tidak menyukainya, mana mungkin
kau bisa menyukai aku si budak ingusan yang jelek?"
Buyung Im seng merasa persoalan ini sukar sekali untuk dijawab, manusia macam
apa yang dimaksudkan Sim Hong sebagai ngo-suci sama sekali tidak pernah
ditemuinya, lebih-lebih tidak diketahui benar atau tidaknya ucapan tersebut."
Maka sesudah termenung sebentar, dia menjawab "Dia sih jauh berbeda dengan
kau." "Dimana letak perbedaannya?"
"Kau hangat dan menggelorakan hati, sedang dia dingin bagaikan salju beku."
Tapi setelah ucapan tersebut diutarakan, hatinya baru merasa terbangun,
pikirnya. "Entah murid dari Giok hong siancu itu benar-benar seorang manusia yang berhati
dingin seperti apa yang kukatakan atau tidak...?"
Tentu saja perkataan dari Buyung Im seng ini bukan diucapkan tanpa dasar yang
kuat, dari pembicaraan yang dilakukannya dengan Sim Hong tadi, dia
mendapatkan kalau cuma ngo-sucinya saja yang disinggung singgung, itu berarti
ngo-sucinya sudah pasti adalah seorang manusia yang istimewa sekali.
Betul juga, terdengar Sim Hong perlahan-lahan menjawab sambil manggutmanggut.
"Yaa, benar, diantara kakak beradik sekalian memang ngo-suci agak
istimewa perangainya, cuma beberapa tahun belakangan ini perangainya itu sudah
banyak mengalami perobahan.
"Ooo... kejadian ini sungguh merupakan suatu berita yang hangat, dapatkah kau
menceritakannya kepadaku?"
"Tentu saja boleh..." Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Walaupun watak ngo-suci agak aneh, tapi setelah melalui latihan yang
bertahuntahun lamanya, dia telah mengalami banyak sekali perubahan, sikapnya sekarang
sudah tak dingin dan kaku seperti dulu lagi. Beberapa tahun berselang ia masih
tak leluasa menyaksikan dari tingkah laku kami semua, cuma kita tak berani
mengutarakannya, tapi di belakang orang dia selalu banyak mengeritik tingkah
laku suhu dan suci. Cuma belakangan ini, dia sudah tak banyak berbicara lagi."
"Kenapa?" Sim Hong segera tersenyum. "Sebab kritikannya itu kemudian dapat
didengar oleh suhu..." katanya.
"Apa pula yang dilakukan sesudah mendengar semua kata-katanya itu?"
"Setelah mendengar kesemuanya itu, tentu saja kita punya cara untuk
menghadapinya." "Manjurkah cara tersebut?"
"Tentu saja manjur sekali, dengan suhu menjadi pengganti orang tua, kami telah
mencarikan seorang kekasih teruntuk ngo-suci."
"Oooh... cara ini memang merupakan sebuah cara yang hebat sekali!" kata Buyung
Im seng, setelah tertegun sejenak, "Bagaimana cerita selengkapnya?"
196 "Kisahnya" Sungguh menggelikan sekali, teringat kejadian ini berlangsung pada
tiga tahun berselang, suatu hari suhu mengumpulkan kami suci-moay sekalian
untuk menyelenggarakan suatu pertemuan, dalam pertemuan itulah ditetapkan
ngo-suci kami akan dikawinkan."
Mendengar sampai di situ Buyung Im seng lantas berpikir. "Giok hong siancu
berbuat demikian pasti ada maksud tertentu."
Berpikir demikian, dia pun lantas mendesak lebih lanjut. "Manusia macam apakah
yang dijadikan suaminya?"
"Seorang kongcu anak sekolahan yang ganteng." "Dia bisa bersilat?" "Tidak bisa."
Sim Hong menggelengkan kepalanya berulang kali, "dia adalah 100% anak
sekolahan." "Ehmm... besar sekali rejeki orang itu!"
"Sayang, dia hanya sempat mengecap kehangatan dan kenikmatan selama tiga
bulan..." "Kemudian" Apakah dia diusir dari lembah Giok hong kok?"
"Dihitung sejak malam pengantin, genap tiga bulan kemudian, dia telah dibunuh
atas perintah suhu."
"Dibunuh...?" ulang Buyung Im seng dengan wajah termangu-mangu.
"Benar, dibunuh, gara-gara kejadian ini ngo-suci telah menangis lama sekali,
sepasang matanya sampai bengkak dan sedihnya bukan alang kepalang."
"Kalau begitu, ngo-suci kalian itu benar-benar seorang yang sangat halus
perasaannya." "Betul! Semula kami mengira ngo-suci adalah seorang gadis suci yang sukar
dipengaruhi, siapa tahu dia adalah seorang nona yang sangat romantis sekali."
"Bagaimana kemudian?"
"Kemudian, suhu kamipun bilang hendak mencarikan seorang kekasih baru untuk
ngo-suci, mendengar kabar ngo-suci menjadi gembiranya bukan kepalang, hilang
lenyap semua kemurungannya, dan sejak itu dia mulai berseri-seri kegirangan tak
pernah terlihat ia bermuram durja lagi, malah dengan kami kakak beradikpun
menjadi cocok sekali."
"Kemudian apakah suhu kalian telah mencarikan seorang teman lagi buat ngosucimu
itu?" "Itu sih tidak, ketika suhu melihat ngo-suci telah berubah menjadi gembira lagi,
persoalan tersebutpun tak pernah disinggung kembali."
"Kalau begitu, suhu kalian cuma membohonginya saja?"
"Soal itu mah aku kurang begitu tahu."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung mendadak terdengar bunyi yang
sangat keras berkumandang disekitar tempat itu.
Tergerak hati Buyung Im seng setelah mendengar suara tersebut, segera tanyanya.
"Hei, suara apakah itu?"
197 Sim Hong segera menggerakkan matanya beberapa kali, kemudian tegurnya cepat.
"Hei, kenapa dengan kau" Masa lupa kalau suara itu adalah suara dengusan dari
lembah kemala?" "Aaai... sudah hampir sepuluh tahun lamanya tak pernah kudengar suara semacam
itu lagi." Dalam pembicaraan tersebut, mendadak dari depan sana berkumandang suara
bentakan nyaring. "Berhenti!"
Dua sosok bayangan berkelebat lewat, dari balik kegelapan di bawah bukit sana
melompat keluar dua orang gadis berbaju ringkas yang menyoren pedang dengan
cepat mereka menghadang jalan pergi dari Buyung Im seng.
Ketika Sim Hong menyaksikan jalan perginya dihadang orang, buru-buru ia
menarik tali lesnya dan menarik binatang tunggangannya, segera itu juga
berhentilah menjangan tersebut.
Sambil melompat turun dari atas punggung menjangan, kata Buyung Im seng
dengan lantang. "Aku she Ong bernama Ciu, orang menyebut diriku sebagai Giok
longkun, pernahkah kalian mendengar nama itu?"
Dua orang gadis berpedang itu saling berpandangan sekejap, lalu sahutnya.
"Sepertinya kami pernah mendengar nama itu disebut orang, tapi sayang kami
telah melupakannya."
Buyung Im seng tertawa hambar. "Aku sudah disekap orang selama sepuluh tahun
lamanya, benar-benar aku disekap sampai tak punya apa-apa, sampai namapun tak
kumiliki dan kedudukan juga tak dimiliki."
Sim Hong segera melompat juga turun dari punggung menjangannya kemudian
menegur. "Hei, apakah kalian berdua sudah buta?"
Dua orang gadis yang menyoren pedang itu tampak tertegun, kemudian serunya
bersama. "Sau-kokcu!"
Sim Hong tertawa dingin. "Hee.. hee.. hee.. dia adalah sobat karibnya kokcu
kami, Hmm! Kau berdua benar-benar punya mata tak berbiji, sampai Giok longkun saja
tak dikenali!" Buyung Im seng segera tersenyum, ujarnya. "Sebetulnya persoalan ini tak bisa
menyalahkan diri mereka, sebelum aku meninggalkan lembah Giok hong kok,
mereka belum lagi menginjakkan kakinya di sini, kalau toh bertemu saja belum
pernah, tentu saja tak kenal jua kepadaku."
Mula-mula Sim Hong agak tertegun, menyusul kemudian katanya sambil tertawa
hambar. "Sungguh aneh sekali! Toa suci bilang tabiatmu jelek sekali, tapi aku
rasa perangaimu sangat baik dan halus budi."
Buyung Im seng tertawa setelah mendengar perkataan itu. "Pendeta-pendeta dari
kuil Siau lim si telah menyekap diriku selama belasan tahun, jika seseorang
sudah terbiasa hidup dalam sekapan selama waktu yang panjang sekalipun wataknya
sangat jelekpun lama kelamaan juga akan berubah menjadi baik."
198 "Lihai sekali kah ilmu silat yang dimiliki para hwesio dari kuil Siau lim si
itu?" tanya Sim Hong lagi. "Yaa, selama ratusan tahun lamanya kuil Siau lim si selalu dianggap sebagai
tulang punggungnya dunia persilatan, tentu saja ilmu silat yang dimiliki para
hwesio dalam kuil itu lihainya bukan kepalang."
"Sangat benci kah mereka kepadamu?"
"Yaa, mereka sangat membenci terhadap setiap orang yang sesat dan cabul." "Kalau
begitu sangat aneh sekali!" "Apanya yang aneh?"
"Suhu pernah memberi tahu pada kami, bila menghadapi orang-orang yang benci
pada kita, jika ada kesempatan baik untuk membunuhnya maka berusahalah untuk
memanfaatkan kesempatan itu dan membunuhnya, tak perlu bersikap baik hati
lagi kepadanya sehingga meninggalkan bibit bencana di kemudian hari, kalau toh
hwesio2 dari kuil Siau lim si itu amat benci kepadamu, mengapa kau tak
dibinasakan mereka?"
"Inilah perbedaan antara lembah Giok hong kok dengan kuil Siau lim si!"
Sim Hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian katanya.
"Menurut pendapatmu, cara yang manakah yang lebih baik?"
"Kalau dulu, tentu saja aku sangat setuju dengan cara dari suhumu itu, tapi
sekarang, aku merasa agak kurang setuju."
"Dimanakah letak perbedaannya?"
"Sekarang aku merasa bahwa membunuh orang juga bukan suatu cara yang
terbaik." "Aaai...! Setelah mendengar perkataan itu, aku sendiripun menjadi bingung. Aku
jadi tak tahu ucapan siapakah yang sesungguhnya paling benar?"
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Watak dasar manusia sebenarnya mulia,
sejak kecil budak ini sudah dibesarkan dalam lingkungan lembah Giok hong kok,
apa yang dilihat dan didengar semuanya merupakan perbuatan-perbuatan keji,
jahat, dan cabul, bila disuruh menjadi perempuan mulia yang setia kepada suami
dan sayang anak di kemudian hari, tentu saja akan sedikit sulit. Untung saja
usianya masih kecil, liangsimnya belum ternoda, ia masih bisa ditolong..."
Sementara dia masih berpikir, kedua orang gadis yang menghadang jalan perginya
itu sudah menyingkir ke samping memberi jalan.
Sim Hong segera melompati lagi naik ke atas punggung menjangan, kemudian
serunya. "Locianpwe, mari kita pergi!"
Menyusul kemudian Buyung Im seng juga turut melompat naik ke atas punggung
menjangan kemudian melarikan binatang itu ke depan.
-ooo0ooo- BAGIAN KE 15 Setelah menempuh perjalanan lagi selama seperminuman the, mendadak Sim Hong
menarik tali lesnya dan menghentikan larinya menjangan tersebut, lalu bisiknya.
199 "Sudah sampai, bangunan loteng yang tinggi besar di depan sana adalah istana
Giok hong kiong tempat kediaman suhu."
Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan bangunan tersebut dengan
seksama, dia saksikan bangunan besar berloteng dan yang sangat tinggi tersebut
berdiri dengan begitu angker dibalik kegelapan, tak tampak setitik cahaya apipun
yang menerangi tempat itu.
Tanpa terasa dia lantas bertanya. "Ruangan itu gelap gulita, tampaknya tak ada
cahaya lentera, apakah bangunan istana itu tiada yang menjaga?"
"Suasana dalam istana terang benderang bermandikan cahaya, saat ini suhu
sedang menjamu tamu dalam ruangan istana, cuma saja jendela dan pintu ditutup
oleh kain tirai yang tebal, sehingga sinar lentera tak mampu untuk menembusi
keluar." "Siapa saja yang sedang dijamu oleh suhumu?"
Sim Hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan
setengah berbisik. "Aku tak kenal dengan orang itu."
"Seringkah suhumu menjamu tetamu didalam istananya?" kembali Buyung Im seng
bertanya. Sim Hong segera menggeleng. "Tidak, dalam lembah Giok hong kok ini jarang sekali
kedatangan tamu, seingat boanpwe dalam 4 tahun lebih belum pernah ada seorang
tamupun yang berkunjung kemari, tetapi beberapa bulan yang belakangan ini
secara beruntun telah kedatangan banyak tamu di sini."
"Apakah kebanyakan dia jago-jago persilatan?" "Yaa betul, semuanya adalah
jagojago persilatan." "Manusia dari mana saja mereka itu?"
"Pokoknya campur aduk entah dari aliran mana saja, pada sepuluh hari berselang,
disinipun telah kedatangan rombongan manusia yang terdiri dari 8-9 orang, mereka
berdiam hampir selama 6-7 hari didalam lembah sebelum pergi, sedangkan
rombongan yang baru berada dalam ruang istana sekarang baru tiba tengah hari
tadi..." Sebenarnya Buyung Im seng ingin bertanya lagi, tetapi dia kuatir terlalu banyak
yang ditanyakan sehingga ketahuan jejaknya, terpaksa dia harus menahan diri,
sambil tersenyum diapun membungkam dalam seribu bahasa.
"Sekarang, perlukan kulaporkan kedatanganmu kepada suhu?" bisik Sim Hong
dengan suara lirih. Buyung Im seng segera berpikir didalam hatinya. "Secara tiba-tiba Giok long
siancu membuka pintu gerbang Giok hong koknya lebar-lebar, jelas dia sudah ada niat
untuk menampilkan dirinya kembali dalam dunia persilatan, itu berarti juga orang
yang ada dalam ruangan sekarang ini terdiri dari beraneka ragam manusia yang
berasal dari macam pelbagai aliran, siapa tahu kalau salah seorang diantaranya
mengetahui akan diriku" Lebih baik aku jangan pergi dahulu kesana..."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Sekarang antarkan aku mencari
tempat duduk lebih dahulu, kemudian baru memberi laporan kepada suhumu!"
200 Sim Hong segera tersenyum. "Bagaimana kalau duduk didalam kamarku saja?"
"Baik! Mari membawa jalan untukku!"
Sim Hong segera membalikkan badannya dan berjalan maju ke depan, sambil
berjalan bisiknya dengan suara lirih.
"Andaikata suhu bertanya nanti, kau musti bertanggung jawab loh! Kau harus
bilang kalau kau yang minta aku untuk mengajakmu menuju ke dalam kamarku."
Buyung Im seng segera tertawa. "Baik! Katakan saja kalau aku yang memaksamu
untuk membawa diriku kemari."
Sim Hong segera tersenyum manis, dengan membawa Buyung Im seng ia lantas
berjalan menuju ke sebuah dinding bukit, ketika didorong tiba-tiba terbukalah
sebuah pintu batu dari atas dinding tersebut.
Buyung Im seng mencoba untuk menengok ke dalam, suasana dalam gua itu gelap
gulita tak tampak sesuatu apapun.
Sim Hong segera berpaling, sambil menggandeng tangan kiri Buyung Im seng
ditariknya pemuda itu masuk ke dalam gua.
Akan tetapi begitu tangannya saling bersentuhan dengan badan Buyung Im seng
dengan cepat menarik kembali tangannya sambil berbisik. "Bagaimana kalau kau


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja menggandengku?"
Mendengar perkataan tersebut, Buyung Im seng lantas berpikir. "Usia budak ini
masih sangat muda, tapi nyalinya sudah begitu besar, rupanya kecabulan
orangorang Giok hong kok benar-benar sukar dibayangkan dengan kata-kata."
Tapi dia masih ingat perasaannya sekarang sebagai Giok longkun, sebagai Giok
long kun maka tindak tanduknya harus romantis tidak menampik mangsa yang
dijajakan dihadapannya dan pandai memanfaatkan kesempatan baik yang ada di
depan mata. Maka dengan cepat dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sim
Hong kemudian bisiknya lirih. "Hei, budak cilik, apa yang sedang kau pikirkan
didalam hati?" Sim Hong menghembuskan napas panjang, bisiknya. "Tak heran jika dalam banyak
tahun belakangan ini suhu selalu teringat akan dirimu, ya... kau memang
benarbenar memiliki daya tarik yang besar sekali terhadap kaum wanita, andai kata kau
bukan kekasih suhu, aku..."
Mendadak ia menutup mulut dan tak berbicara lagi.
"Mau apa kau?" Buyung Im seng segera bertanya.
"Aku hendak merampas dirimu dari pelukannya!" sahut Sim Hong sambil
merapatkan pintu batu. "Kau berani...?" tanya Buyung Im seng sambil tertawa hambar.
Sim Hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, aku tidak berani..."
201 "Aku berani!" seru Buyung Im seng kemudian sambil tersenyum.
Dengan cepat dia sambar tubuh Sim Hong dan mendekapnya erat-erat.
Pelan-pelan Sim Hong memejamkan matanya kembali, bibirnya yang kecil mungil
dibuka sedikit, bersiap sedia menikmati kehangatan tubuh dari lelaki itu.
Siapa tahu Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Bawalah aku masuk ke kamarmu, aku ingin istirahat sebentar. Dan kau boleh
memberi laporan dulu pada kokcu, bila aku sudah mengetahui jelas keadaan situasi
didalam lembah ini, baru kita rundingkan kembali soal ini."
Pelan-pelan Sim Hong membuka matanya lebar-lebar, kemudian berkata lembut.
"Kau tidak berani, kau juga takut pada suhuku?"
Buyung Im seng segera tersenyum. "Aku tak takut padanya, tapi kau tak dapat
menentang dirinya, aku tahu dia itu keji dan berhati kejam, bila kau berani
menentangnya maka diapun tak akan mengingat hubungan guru dan murid lagi,
dia pasti akan merenggut selembar jiwamu."
Sim Hong menghela napas panjang dengan membawa Buyung Im seng masuk ke
dalam kamarnya, dia lantas memasang lentera.
Tampak ranjang berseprai putih teratur rapi dalam ruangan itu, tirai yang indah
menghiasi dinding, indah dan nyaman dekorasi dalam ruangan tersebut.
Sim Hong segera tersenyum, katanya. "Beristirahatlah di sini! Akan kulaporkan
kedatanganmu ini kepada suhu..."
"Kau masih muda berparas cantik dan bergaya menarik, di kemudian hari aku pasti
akan berkata pada kokcu kalian untuk menarik kau guna melayani diriku."
"Sungguh perkataanmu itu?" "Tentu saja sungguh!" "Semoga saja kau tak
membohongi aku." Seusai berkata pelan-pelan dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Memandang hingga bayangan tubuh dari Sim Hong sudah jauh dari pandangan,
Buyung Im seng baru berpikir. "Lembah Giok hong kok ini benar-benar cabul dan
penuh perempuan jalang, selama berada di sini keadaanku amat berbahaya dan
setiap saat terancam jebakan-jebakan maut, aku harus bertindak lebih berhati-
hati, kalau bisa secepatnya mendapatkan kitab pusaka ilmu pedang itu."
Berpikir demikian, tanpa terasa dia meraba obat pemabuk yang diberikan Kwik
soat kun kepadanya itu, sementara dia masih melamun mendadak terdengar
langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan.
Tergetar perasaan Buyung Im seng setelah mendengar suara langkah manusia itu,
pikirnya. "Cepat benar budak itu balik kembali."
Ketika dia berpaling, tampak seorang gadis berbaju hijau bergaun hijau sedang
pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan. Ternyata orang itu bukan Sim
Hong. Dengan sepasang mata yang jeli, gadis berbaju hijau itu mengamati wajah Buyung
Im seng beberapa saat lamanya, kemudian menegur. "Siapa kau?"
202 Buyung Im seng mendehem pelan lalu menjawab. "Aku mah... Giok longkun Ong
Ciu!" "Giok longkun?" bisik si nona berbaju hijau itu dengan wajah termangu-mangu.
"Benar!" Nona baju hijau itu manggut, mendadak dia melangkah maju ke depan.
Sebenarnya Buyung Im seng ingin mundur ke belakang untuk menghindar,
mendadak pikirnya. "Giok long kun bukan seorang lelaki yang takut terhadap kaum
perempuan..." Maka dengan lengan direntangkan, dia menyongsong kedatangan gadis berbaju
hijau itu. Mendadak nona baju hijau itu menghentikan langkahnya seraya
menegur. "Paman Ong, kau sudah tidak kenal lagi denganku?"
Buyung Im seng menjadi tertegun, kemudian pikirnya. "Dia menyebut paman Ong
kepadaku, sudah jelas merupakan boanpweku, lagi pula pasti kenal aku dimasa
lalu, yaa, aku musti menghadapinya secara berhati-hati."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Aku sudah sepuluh tahun lebih
meninggalkan lembah Giok hong kok ini..."
"Benar!" gadis baju hijau itu mengangguk. "Usiaku sudah lanjut, tentu saja tidak
akan terdapat perubahan banyak, tapi kalian masih muda-muda, perubahan
selama sepuluh tahun terlalu banyak bagiku, untuk sesaat aku jadi tak bisa
mengenali siapa dirimu..."
"Betul juga perkataan paman Ong, ketika kau pergi meninggalkan tempat ini, aku
masih berusia sepuluh tahun."
Meminjam sinar lentera yang menerangi ruangan, dia mencoba untuk mengamati
nona berbaju hijau itu sekejap, tampak matanya jeli dengan alis mata yang
melentik, cantik nian parasnya, cuma bedanya dia tidak memiliki sifat jalang
seperti yang dimiliki Sim Hong.
Tergerak hatinya secara tiba-tiba setelah menyaksikan hal ini, pikirnya. "Aaah,
benar, budak ini lembut dan bermuka polos, mungkin dialah ngo-suci yang
dimaksudkan oleh Sim Hong."
Berpikir sampai disitu, diapun lantas menegur. "Kaukah si lo ngo?"
Nona berbaju hijau itu segera tersenyum. "Betul! Paman Ong masih ingat
denganku." Buyung Im seng tertawa. "Aku hanya teringat kalau kau adalah lo-ngo tapi aku
lupa siapakah namamu."
"Aku bernama Lau hong!" seru si nona berbaju hijau itu sambil tertawa manis.
"Betul, betul kau bernama Lau hong."
"Malam ini aku sedang mendapat tugas melakukan perondaan, kulihat Sim Hong
sumoay secara mencurigakan sekali masuk kemari membawa seseorang, tidak
kusangka kalau orang yang dia bawa kemari adalah paman Ong..."
203 Buyung Im seng segera berpikir, "Sewaktu Giok longkun meninggalkan lembah, ia
belum lagi berusia sepuluh tahun, sekalipun masih ada kenangan didalam hatinya,
tak akan terlalu banyak, kalau begitu akupun bisa berbincang-bincang dengannya
secara leluasa." Sementara dia masih berpikir, terdengar Lau hong berkata kembali. "Kau sudah
lenyap lama sekali, konon kau tertimpa pula musibah, oleh kejadian ini, suhu
sudah lama sekali merasa sedih dan berduka."
"Aku kena ditangkap oleh hwesio-hwesio dari Siau lim si, kemudian disekap lama
sekali didalam kuil mereka."
"Oooo... rupanya begitu," kata Lau hong sambil tertawa. "Jika suhu mendapat tahu
tentang kabar ini, sudah pasti dia akan menyerempet bahaya untuk menyerbu kuil
itu dan berusaha untuk menyelamatkan dirimu."
"Didalam kuil Siau lim si penuh terdapat pendeta-pendeta yang berilmu tinggi,
sekalipun suhumu kesana, belum tentu dapat menyelamatkan diriku."
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Malam ini suhumu sedang menjamu tamu,
entah siapa saja yang sedang dijamu olehnya?"
"Tamu yang datang berkunjung terdiri dari beraneka ragam manusia, ada yang tua
ada pula yang muda, malah ada seorang Tau-to (hwesio yang memelihara rambut)."
"Sim Hong telah masuk istana untuk memberi laporan, jika suhumu masih teringat
dengan hubungan lama kami, dengan cepat dia akan datang untuk menjemput
aku." Lan hong tertawa. "Dua bulan berselang, suhu masih sempat membicarakan diri
paman denganku, kelihatannya dia masih merasa kangen sekali denganmu."
Buyung Im seng menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa. "Begitu
lolos dari kuil Siau lim si, aku langsung kembali ke lembah Giok hong kok,
andaikata suhumu telah melupakan aku, sungguh kejadian ini merupakan suatu
pukulan batin bagiku."
"Tak usah kuatir paman, cinta suhu kepadamu..."
Mendadak terdengar bunyi langkah kaki yang cepat berkumandang datang dan
memotong perkataan Lau hong yang belum selesai.
"Locianpwe, suhu kami mempersilahkan..."
Ketika dilihatnya Lau hong berada di situ, ia menjadi tertegun, buru-buru dia
membungkukkan badannya memberi hormat.
"Siau moay menjumpai ngo-suci!" Lau hong tertawa ewa, katanya. "Enci sedang
tuga meronda ketika secara tiba-tiba menyaksikan kau pulang membawa orang,
aku tidak tahu siapa yang kau bawa, maka sengaja datang kemari untuk
melakukan pemeriksaan."
"Siau moay sudah lupa melaporkan dulu kejadian ini kepada cici, harap cici
jangan marah." Lau hong tersenyum. 204 "Kau telah membawa pulang paman Ong, bergembira saja aku tak sempat, masa
aku akan marah kepadamu?"
Sim hong tersenyum. "Masih ingatkah kau dengan paman Ong?" tegurnya. "Tentu
saja kenal, cuma paman Ong sudah tidak kenali diriku lagi..."
Buyung Im seng tersenyum, sinar matanya lantas dialihkan ke wajah Sim Hong,
kemudian tanyanya. "Apa yang dikatakan suhumu?"
"Sungguh amat kebetulan sekali kedatangan mu hari ini, andaikata kau tidak
pulang saat ini dunia persilatan bakal terjadi suatu badai pertumpahan darah
yang sangat hebat!" "Apa yang terjadi?" "Diantara tamu yang datang pada hari ini ada seorang
diantaranya yang mengetahui akan kejadian yang menimpa paman, dia tahu kalau
paman telah disekap dalam kuil Siau lim si, mendengar berita tersebut suhu
menjadi naik darah dia mengajak orang untuk mendatangi kuil Siau lim si serta
menuntut pembebasan."
"Apakah suhumu akan pergi seorang diri?"
"Tentu saja dia akan membawa serta kami suci-moay sekalian, selain itu tamutamu
yang hadir hari ini juga bersedia membantu suhu."
"Kau telah berjumpa dengan tamu-tamu itu, tahukah kau mereka berasal dari
aliran mana saja?" "Soal ini tidak begitu boanpwe ketahui, cuma didalamnya terdapat aneka
macammacam manusia dari pelbagai aliran."
Diam-diam Buyung Im seng amat kesal sekali, pikirnya. "Sekalipun rencana yang
diatur pihak Li ji pang sangat sempurna, tapi mereka tak mengira kalau pada
malam ini Giok hong siancu sedang melakukan perjamuan tamu agung, kata orang
manusia sejenis akan berkumpul menjadi satu, sudah pasti orang-orang yang
mengadakan hubungan dengan Giok hong siancu juga bukan manusia
sembarangan, siapapun tahu kalau diantaranya yang hadir ada juga teman-teman
dari Ong Ciu, sial jika sampai berjumpa muka, tak urung mereka pasti akan
mengajakku untuk membicarakan kembali kenangan lama, padahal aku tak tahu
apa-apa, bagaimana nanti caraku menjawab pertanyaan mereka?"
Terdengar Sim Hong berkata lagi dengan suara lirih, "Suhu merasa girang sekali
setelah mengetahui kedatanganmu kembali di lembah Giok hong kok, dia
menyuruh kau datang ke ruangan tengah untuk bersua muka, dengan tamu-tamu
agung itu, agar kaupun dapat mengisahkan kembali pengalamanmu sewaktu kabur
dari kuil Siau lim si kepada semua orang."
"Hmm, peristiwa terbekuk dan disekapnya aku dalam kuil Siau lim si merupakan
suatu kejadian yang memalukan, apanya yang bisa kubanggakan di hadapan
mereka?" "Soal ini boanpwe kurang begitu tahu, tapi suhu menyuruh kau datang ke ruangan
tengah." 205 Buyung Im seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak, aku tak
mau pergi!" "Kenapa?" seru Sim Hong terperanjat.
"Kisah tertangkapnya aku oleh hwesio-hwesio Siau lim si telah diketahui oleh
orang-orang dalam ruangan itu, aku tak puny muka berjumpa lagi dengan mereka."
"Lantas apa yang musti kukatakan kepada suhu?"
Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Katakan kepada
suhumu bahwa aku baru akan berjumpa dengannya jika perjamuan telah bubar
nanti." Sim Hong segera menengok ke arah Lau hong, mukanya penuh rasa ragu dan
bimbang. Lau hong segera tertawa hambar, katanya. "Tidak mengapa, meski watak suhu
jelek, tapi sikapnya terhadap paman Ong sangat mengalah, katakan saja kepada
suhu apa yang paman katakan."
Sim Hong manggut-manggut, katanya : "Kalau memang cici berkata demikian, aku
rasa tak bakal salah lagi..."
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.
Memandang bayangan punggung Sim Hong hingga lenyap dari pandangan mata,
Buyung Im seng baru menghela napas panjang, katanya. "Apakah suhumu masih
berdiam ditempat tinggalnya dulu?"
"Betul, dia masih tinggal ditempat semula."
Buyung Im seng segera menghembuskan napas panjang, katanya. "10 tahun sudah
lewat, mungkin aku sudah lupa dengan jalan menuju kesana."
"Aaah, mana mungkin?" kata Lau hong sambil tersenyum, "kau sudah tinggal
selama banyak tahun ditempat itu."
Terkesiap Buyung Im seng mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat.
"Budak itu benar-benar seorang yang cerdik dan berotak encer, ternyata dia tak
mau menyebutkan dimanakah tempat tinggal Giok hong siancu, aku tak boleh
bertindak terlalu gegabah."
Berpikir demikian, sambil senyum, katanya "Tentu saja setelah kuperhatikan
sekali lagi suasana di sekeliling tempat itu, aku akan teringat kembali."
"Paman Ong, boanpwe ingin menanyakan satu hal kepadamu, entah bolehkah
kuajukan pertanyaan tersebut?"
Diam-diam Buyung Im seng telah mempertinggi kewaspadaannya, sambil tertawa
sahutnya. "Soal apa" Katakan saja!"
"Selama beberapa tahun ini, apakah paman Ong disekap didalam kuil Siau lim si?"
"Yaa, betul! Aku selalu disekap mereka didalam sebuah kamar rahasia yang
dikelilingi dinding tebal, boleh dibilang hubungan dengan dunia terputus sama
sekali." 206 "Apa pendeta-pendeta Siau lim si benci sekali terhadap tabiat dan tindak tanduk
paman itu?" "Tentu saja, mereka telah menyekap diriku selama hampir sepuluh tahun lebih,
penderitaan semacam itu bukan suatu penderitaan yang enak dirasakan."
"Kalau memang pendeta-pendeta dari Siau lim si merasa benci sekali kepadamu,
mengapa mereka tidak membunuh dirimu?"
"Mungkin mereka merasa kehidupanku di dunia ini masih ada sedikit kegunaan."
"Agar lebih banyak perempuan yang kau perkosa?"
Buyung Im seng menjadi tertegun, sinar matanya segera dialihkan ke wajah Lau
hong dan menatapnya lekat-lekat, kemudian ujarnya. "Andaikata aku tak disekap
selama 10 th dalam kuil Siau lim si, dengan ucapan itu, aku sudah akan merenggut
selembar jiwamu." Lau hong tertawa hambar. "Dalam ingatanku, diantara kerutan dahi paman Ong
selalu terbawa tiga hawa pembunuhan, tapi setelah berjumpa lagi dengan paman
Ong hari ini, kulihat hawa pembunuhan tersebut tampak sudah hilang tak
berbekas, oleh sebab itu aku baru memberanikan diri untuk mengajukan
pertanyaan tersebut."
"Nyalimu sungguh teramat besar!"


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lau hong tertawa hambar. "Tapi aku tetap beranggapan bahwa paman Ong sama
sekali berbeda dengan paman Ong yang dulu."
"Dimana letak perbedaannya?"
"Banyak sekali perbedaannya, kalau bukan watak paman memang mengalami
perubahan besar, itu berarti... itu berarti..."
"Itu berarti apa?" tukas Buyung Im seng ketus. "Itu berarti kau adalah paman Ong
palsu!" Tercekat Buyung Im seng mendengar perkataan itu, segera bentaknya keras-keras.
"Kau bilang apa?"
Mendadak dia melancarkan sebuah cengkeraman untuk mencelakai tangan kanan
Lau hong. Dengan suara dingin Lau hong berkata. "Kau sudah meninggalkan lembah Giok
hong kok selama 10 th, perubahan yang kau alami selama 10 th ini sungguh terlalu
besar, sekalipun kau adalah paman Ong yang sebenarnya, juga tak dapat
sembarangan turun tangan untuk membunuhku."
"Bila kubunuh kau, paling banter aku akan cekcok dengan suhumu, aku tak
percaya kalau dia akan mengusir diriku dari dalam lembah Giok hong kok ini."
"Seandainya kau benar-benar adalah paman Ong, kau takkan mempunyai
keberanian tersebut untuk membunuhku."
(Bersambung ke jilid 11) 207 Lembah Tiga Malaikat Oleh: Tjan Jilid 11 BUYUNG IM SENG menjadi tertegun, tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk
menenangkan hatinya, kemudian katanya: "Kenapa?" "Sebab paman Ong... "
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang sangat ramai berkumandang
datang, terpaksa Buyung Im seng melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan
kanan Lan hong. Tampak Sing hong dengan langkah cepat telah masuk kembali ke dalam ruangan.
"Apa kata suhumu ?" tanya Buyung Im seng.
"Suhu bilang dipersilahkan kau datang sebentar ke ruang tengah"
"Kenapa?" "Sebab di hadapan tamu agung, suhu telah mengumumkan kejadian ini,
bila aku tidak pergi maka suhu pasti akan merasa kehilangan muka..."
Buyung Im seng termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya: "Baiklah,
bawalah aku serta ke tempat pertemuan itu."
Sim Hong memandang sekejap ke arah Lan Hong, kemudian katanya: "Cici, aku
telah memberitahukan kepada suhu, bahwa kau sedang menemani paman Ong"
"Apa kata suhu ?" "Suhu bilang, kau juga dipersilahkan turut serta" "Tapi aku
sedang bertugas..." "Suhu telah mengutus orang lain untuk menggantikan kedudukanmu" "Kalau
memang begitu, mari kita berangkat bersama"
Dengan Sim hong membawa jalan, Buyung Im seng mengikuti ditengah dan Lan
hong berjalan dipaling belakang, berangkatlah mereka menuju ke tempat itu.
Dalam pada itu Buyung Im seng telah meningkatkan kewaspadaannya terhadap
Lan hong pikirnya: "Tampaknya budak ini sudah menaruh rasa curiga kepadaku,
208 jika dia turut serta ke ruang tengah dan memberitahukan kejadian ini kepada Giok
hong siancu, sesungguhnya kejadian ini betul-betul merupakan sesuatu kejadian
yang merepotkan." Terdengar Lang hong berkata dengan suara lembut: "Paman Ong, walaupun kau
sudah sepuluh tahun meninggalkan lembah Giok hong kok, tapi suhu sama sekali
tak nampak menjadi tua"
"Tenaga dalam yang dimiliki suhumu sudah mencapai puncak kesempurnaan, tentu
saja sepuluh tahun masih belum dapat menimbulkan perubahan besar baginya"
Diluaran dia berkata begitu, sementara dalam hati kecilnya diam-diam berpikir:
"Dibalik ucapan budak itu sudah jelas mengandung maksud lain, tapi aku tidak
mengerti apa maksud yang sebenarnya" Jika aku kena ditangkap basah selama
berada dalam lembah Giok hong kok, sudah pasti hal ini ada hubungannya dengan
budak tersebut". Sementara masih termenung, mereka sudah tiba di depan sebuah ruangan besar.
Tampak Sim hong mendorong sebuah pintu dan melangkah masuk ke dalam...
Serentetan sinar lampu yang tajam dan kuat segera memancar keluar dari balik
ruangan. Buyung Im seng melongok ke dalam, tampak ruangan tersebut bermandikan
cahaya lentera, ditengah ruangan diatur empat buah meja perjamuan... Sambil
tersenyum dan membungkukkan badan memberi hormat, Sim hong berkata:
"Silahkan paman !"
Sambil membusungkan dada dan mendongakkan kepalanya, Buyung Im seng
masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar. Sim hong maupun Lan hong segera
mengikuti di belakangnya masuk pula ke dalam ruangan.
Setelah berada ditengah ruangan, sekali lagi Buyung Im seng mengalihkan
perhatiannya untuk memperhatikan keadaan disekitar sana, tampak di kursi
utama duduklah seorang perempuan setengah umur yang berbaju tipis berwarna
hijau. Walaupun usia perempuan itu sudah mencapai setengah umur, namun
memiliki daya tarik yang cukup mempesonakan hati.
Dengan cepat dia berpikir: "Mungkin perempuan itulah yang bernama Giok hong
siancu !" Benar juga, perempuan setengah umur itu pelan-pelan bangkit berdiri, kemudian
katanya: "Giok long, sejak perpisahan, baik baikkah dirimu " Sudah sepuluh tahun
kita tak pernah bersua, kau masih tetap setampan dulu."
"Para hwesio Siau lim si telah menyekapku selama sepuluh tahun lamanya, dalam
sepuluh tahun ini aku selalu duduk menghadap dinding tentu saja dalam hal
tenaga dalam aku memperoleh sedikit kemajuan"
Menggunakan kesempatan ini dia memperhatikan sekejap para jago yang berada
dalam ruangan. Tampak di meja yang ditempati Giok hong siancu, kecuali
perempuan tersebut masih tampak seorang lelaki setengah umur berbaju biru yang
duduk di hadapan Giok hong siancu.
Orang itu masih tetap duduk ditempat semula sambil meneguk arak, jangankan
memperhatikannya, berpaling pun tidak.
209 Tampaknya orang ini adalah tamu utamanya selain itu masih ada pula tiga meja,
dalam setiap meja duduklah empat orang sehingga jumlahnya mencapai dua belas
orang. Giok hong siancu segera menarik tangan Buyung Im seng sambil berkata dengan
merdu: "Giok longkun, mari kuperkenalkan beberapa orang kepadamu."
Sambil berkata dia menarik Buyung Im seng untuk duduk disampingnya. Lelaki
setengah umur berbaju biru itu duduk tepat di hadapan Buyung Im seng, namun
dia tidak pernah mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Buyung
Im seng. Sedang Giok hong siancu segera berkata dan tertawa sesudah memandang lelaki
setengah umur itu sekejap. "Dia adalah Giok long kun Ong ciu yang baru saja
kubicarakan dengan dirimu."
Lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Buyung
Im seng sekejap, kemudian manggut-manggut seraya berkata: "Sudah lama
kudengar akan nama besarmu, beruntung kita dapat berjumpa hari ini"
"Tidak berani, tolong tanya siapa kau ?"
"Dia adalah Tongcu Tuang Hoat lun tong dari perguruan Sam seng bun... " Giok
hong siancu segera menerangkan.
Belum lagi ucapan tersebut selesai, buru-buru lelaki setengah umur itu menukas.
"Siancu aku seharusnya menghormati saudara Ong dengan secawan arak."
Kemudian sambil mengangkat cawannya dia menambahkan.
"Saudara Ong, silahkan!"
"Silahkan", sahut Buyung Im seng sambil mengangkat pula cawan araknya.
Sementara dalam hati ia berpikir. "Tampaknya dia takut sekali jika Giok hong
siancu sampai menyebutkan namanya, entah apa maksud tujuannya?"
Oo0oO BAGIAN KE 16 Sementara itu terdengar Giok hong siancu sedang berkata. "Giok long, untung saja
kau pulang pada malam ini, coba kalau kau belum pulang, aku sudah
menggabungkan diri dengan perguruan Sam seng bun..."
"Bagaimana dengan sekarang?" tanya lelaki setengah umur itu. "Apakah Giok hong
siancu hendak berubah pikiran?"
Giok hong siancu segera tertawa. "Berubah pikiran sih tidak, cuma aku akan
menunda keberangkatanku selama beberapa hari lagi.
"Siancu adalah seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi." Ucap lelaki setengah
umur itu sambil tertawa hambar, "ucapan yang telah diutarakan masa diurungkan
kembali" Apakah kau tidak takut ditertawakan oleh orang persilatan?"
Giok hong siancu segera tersenyum. "Aku bersedia menggabungkan diri dengan
Sam seng bun, tak lain karena aku ingin menolong Giok long kun, tapi sekarang
dia telah pulang kembali."
210 "Maka siancu hendak membatalkan perjanjian itu..." tertawa sinis dan mendehem
beberapa kali, kemudian setelah menatap sekejap wajah Giok hong siancu dan
Buyung Im seng secara bergantian, sambungnya lebih jauh.
"Ibaratnya suatu perjudian besar, kami telah memasang suatu taruhan yang cukup
besar, andai kata Ong heng tidak kembali maka kami akan mengeluarkan sejumlah
kekuatan yang maha besar untuk menyerbu masuk ke dalam kuil Siau lim si guna
menyelamatkan saudara Ong, kalian toh tahu selama ini kuil Siau lim si dianggap
sebagai tulang punggungnya umat persilatan, seandainya sampai terjadi
pertempuran langsung dengan pendeta-pendeta Siau lim si, bayangkan sendiri
betapa sengitnya pertarungan yang bakal berlangsung, masa sebagai gantinya kami
hanya peroleh sepatah kata saja dari Siancu?"
"Tapi aku toh tidak mengingkari janji! Aku tak lebih hanya minta perpanjangan
waktu selama beberapa hari lagi." Sambung Giok hong siancu dengan cepat.
Lelaki setengah umur iru termenung dan berpikir sebentar, lalu ujarnya. "Jadi
siancu bersedia untuk berkata besok pagi?"
"Betul!" "Begini saja, biar aku yang memutuskan bagimu, bagaimana jika keberangkatan
kita di undur sampai besok tengah hari?"
Giok hong siancu menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sepuluh tahun tak
berjumpa dengan Giok long, entah berapa banyak perkataan yang hendak kami
bicarakan, apakah artinya perpanjangan waktu selama setengah hari itu?"
Lelaki setengah umur itu segera tertawa, ucapnya: "Waktu di kemudian hari toh
masih panjang, dan lagi kesempatan buat kalian untuk berbincang-bincang juga tak
akan terbatas, kenapa mesti terburu-buru pada saat ini?"
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, jika kita berangkat beberapa hari lebih
lambat apa pengaruhnya terhadap perguruan kalian?"
"Sam seng tidak akan sembarangan berjumpa dengan orang luar, oleh karena
Siancu mempunyai nama yang terlalu besar maka beliau sengaja melanggar
kebiasaan dengan menerima kedatanganmu, apabila kita harus menyuruh mereka
untuk menunggu kedatangan siancu dengan sia-sia hal ini apakah tidak terlalu
berlebihan?" Giok hong siancu mengerdipkan sepasang matanya yang besar dan bulat itu,
kemudian katanya sambil tertawa. "Ucapan tongcu terlampau serius, cuma ada
satu hal perlu kuterangkan terlebih dulu."
"Soal apa?" "Sebelum aku masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun,
agaknya akupun tak usah terlalu menuruti peraturan yang berlaku dalam
perguruan Sam seng bun, bukan" Kewibawaan tiga malaikat rasanya tidak pula
menjadi kewajibanku untuk melindunginya."
"Harap siancu maklum." Kata lelaki setengah umur itu dengan kening berkerut.
"Kalau toh Siancu dengan kami telah membuat perjanjian, berarti perjanjian itu
lebih berat dari bukit karang, apakah siancu dapat mengingkarinya dengan begitu
saja?" 211 Giok hong siancu segera menghela napas panjang, katanya kemudian. "Lantas
bagaimanakah menurut pendapatmu?"
"Aku harap siancu suka mengabulkan permintaanku dengan mengundurkan saat
keberangkatan menjadi sehari lebih lambat, kita berdua sama mengalah satu
langkah, toh apa gunanya jika sempat timbul pertentangan?"
"Jika aku tidak menyetujui usulmu itu?"
Lelaki setengah umur tadi segera tertawa terbahak-bahak. "Haa.. ha... kalau
sampai demikian, akulah yang menjadi serba salah."
"Aku tidak habis mengerti, kesulitan apakah yang bakal Tongcu hadapi...?" ujar
Giok hong siancu sambil tersenyum.
Paras muka lelaki setengah umur itu segera berubah. "Kalau kudengar
pembicaraan siancu, tampaknya kau ada maksud untuk mengingkari janji?"
"Aku tidak bermaksud demikian, tapi seandainya Tongcu bersikeras mengatakan
begitu, ya sungguh membuat aku merasa serba salah."
Dengan cepat lelaki setengah umur itu bangkit berdiri, lalu pelan-pelan berkata.
"Aku harap siancu bisa mempertimbangkan persoalan ini lebih matang lagi,
daripada salah langkah dan menyesal sepanjang masa."
Giok hong siancu tersenyum. "Baiklah!" ia berkata, "malam ini aku akan
memikirkan masalah tersebut dengan lebih seksama, bila aku beranggapan untuk
pergi, maka kita akan bersua muka di depan mulut Giok hong kok, jika selewatnya
tengah hari aku belum pergi, itu berarti jalan pemikiranku belum sampai di
situ." "Baiklah! Selewatnya tengah hari esok, bila kami tidak melihat kehadiran siancu,
itu berarti siancu bertekad mau membatalkan perjanjian."
"Bila besok tengah hari aku tak bersua dimulut lembah dengan Tongcu,
kemungkinan besar aku benar-benar telah membatalkan perjanjian, entah
tindakan apa yang akan kau tunjukkan kepadaku, dengan senang hati akan
kunantikan." Lelaki setengah umur itu segera tertawa dingin. "Lembah Giok hong kok bukanlah
terbuat dari dinding baja beralas tembaga, aku harap nona berpikir tiga kali
lebih dulu sebelum mengambil keputusan."
"Aku mengerti, lembah Giok hong kok memang bukan terdiri dari dinding baja
beralas tembaga, tapi tempat ini bukan suatu tempat yang bisa didatangi semua
orang secara gampang."
"Baik! Aku berharap siancu bisa mengingat baik-baik ucapan ini daripada menyesal
kemudian tak ada gunanya, nah aku mohon diri lebih dulu."
"Silahkan, maaf jika aku tidak mengantar!"
Lelaki setengah umur itu tidak memperdulikan Giok hong siancu lagi, dia lantas
mengulapkan tangannya sambil berseru. "Hayo kita pergi!"
Selesai berkata dia lantas beranjak dan melangkah pergi lebih dahulu... Kawanan
jago yang berada di meja perjamuan pun serentak bangkit berdiri, kemudian
mengikuti di belakang lelaki setengah umur itu berlalu dari sana.
212 Tak selang beberapa saat kemudian, semua tamu agung yang berada dalam
ruangan itu sudah pergi semua sehingga tak seorangpun yang masih tertinggal.
Giok hong siancu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im
seng, lalu ujarnya sambil tertawa. "Coba kau tidak pulang hari ini, aku benar-
benar sudah bergabung dengan perguruan Sam seng bun."
"Bagaimana sekarang" Kau benar-benar akan membatalkan perjanjian tersebut?"
tanya Buyung Im seng. "Yaa, betul, aku hendak membatalkan perjanjian tersebut."
"Sepanjang jalan datang kemari, aku sering mendengar orang berkata bahwa Sam
seng bun memiliki kekuatan yang amat besar dengan anak buah yang terdiri dari
jago-jago tangguh, mana mungkin lembah Giok hong kok kita ini sanggup untuk
menandingi kehebatan Sam seng bun?"
"Jika mereka berani mendatangi lembah Giok hong kok, saat ini aku sudah bukan
orang bebas lagi, mungkin sedari dulu mereka sudah mengirim pasukannya kemari
untuk memaksaku menjadi anggota Sam seng bun..."
"Kenapa?" "Lebah kemala..."
"Aaah, masa beberapa lebah peti kemala itu sudah sanggup untuk menghalangi
serbuan dari para jago Sam seng bun?"
Giok hong siancu segera tertawa, katanya. "Sekarang bukan cuma seratus ekor
lebah lagi, asal kuturunkan perintah maka dalam waktu singkat didalam lembah
Giok hong kok ini akan banjir keluar berpuluh-puluh laksa ekor lebah kemala yang
akan menutupi jagat, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihai,
jika sudah dikerubuti oleh begitu banyak lebah, memangnya mereka masih bisa
bertahan terus?" Buyung Im seng tersenyum, lalu katanya. "Selama banyak tahun belakangan ini,
banyak sekali perguruan dan partai yang dilalap Sam seng bun, apakah lembah
Giok hong kok kita ini bisa aman tentram lantaran mengandalkan kemampuan
lebah kemala tersebut...?"
"Betul!" sahut Giok hong siancu sambil tertawa, "lembah Giok hong kok memang


Lembah Tiga Malaikat Karya Tjan Id di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengandalkan kemampuan lebah-lebah kemala tersebut untuk mempertahankan
diri, sehingga jago-jago persilatan tak ada yang berani masuk kemari secara
sembarangan. Ada suatu kali, entah jagoan lihai darimanakah yang telah datang ke
lembah ini, sungguh hebat sekali serbuan orang itu, sewaktu aku mendapat
laporan, dia telah berhasil menembusi tiga lapis pos pertahanan kita, lagi pula
anak murid kita yang menghalangi gerak majunya telah tewas semua di tangannya,
kemudian akupun melepaskan lebah kemala tersebut, mungkin karena sengatan
yang bertubi-tubi, kontan ia lari terbirit-birit, sejak kejadian itu tak ada
orang yang berani memasuki lembah Giok hong kok lagi."
"Selama beberapa tahun ini, apakah kau pernah melakukan perjalanan didalam
dunia persilatan lagi?"
213 Giok hong siancu segera menjawab. "Aku tak berani keluar, aku tahu banyak orang
didalam dunia persilatan yang ingin membunuhku, bila kutinggalkan lembah Giok
hong kok, hal ini akan terlalu berbahaya bagi keselamatan jiwaku."
"Bagaimana ceritanya sehingga kau bisa mengadakan kontak dengan orang-orang
Sam seng bun?" "Aaai... apalagi kalau bukan gara-gara kau, ada orang dari pihak Sam seng bun
yang berkunjung kemari, kata mereka kau telah disekap didalam kuil Siau lim si,
mereka mengajakku untuk bekerja-sama, dan mereka akan bertanggung jawab
untuk menyelamatkan kau dari kuil Siau lim si..."
"Sungguh hebat dan tajam pendengaran dari orang-orang Sam seng bun." Puji
Buyung Im seng sambil tersenyum.
Agaknya secara tiba-tiba Giok hong siancu seperti teringat sesuatu, dengan sorot
mata yang amat tajam dia mengawasi raut wajah Buyung Im seng lekat-lekat.
Diam-diam Buyung Im seng merasa terkesiap, segera pikirnya. "Jangan-jangan ia
telah menemukan suatu titik kelemahan pada penyaruanku ini?"
Berbikir demikian, dia lantas menegur. "Hai, apa yang kau lihat" Setelah
berpisah sepuluh tahun, apakah wajahku mengalami perubahan?"
"Giok long, aku lihat makin lama wajahmu semakin bertambah muda!"
Buyung Im seng segera tersenyum. "Aku sudah disekap hampir 10 th lamanya
didalam kuil Siau lim si, dalam sepuluh tahun ini aku tiada pekerjaan yang lain
kecuali setiap hari hanya duduk dan bersemedi, lama kelamaan tenaga dalamku
bisa menjadi bertambah maju dengan pesatnya, mungkin itulah sebabnya wajah
makin lama jadi makin muda."
Pelan-pelan Giok hong siancu menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Buyung
Im seng, kemudian katanya dengan aleman. "Giok hong, bagaimana dengan aku"
Apakah aku sudah bertambah tua...?"
Ketika Buyung Im seng menyaksikan dalam ruangan itu terdapat banyak dayang,
tanpa terasa dia sudah bersiap-siap untuk mendorong tubuh Giok hong siancu, tapi
ketika sepasang tangannya sudah menyentuh kulit badan Giok hong siancu
mendadak hatinya tergerak.
"Jika aku mendorong badannya dari rangkulan, maka aku bukanlah Giok hong
kun!" demikian dia berpikir. Maka secara tiba-tiba dia merapatkan tangannya dan
segera memeluk tubuh Giok hong siancu kencang-kencang, sahutnya. "Kau masih
seperti dulu saja!" Giok hong siancu segera menghela napas panjang, katanya. "Kalau dibicarakan
sungguh aneh sekali, sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang suka
akan yang baru dan bosan dengan yang lama, tapi entah mengapa aku begitu
terpesona dan tergila-gila kepadamu."
"Akupun demikian! Kecuali kepada dirimu, tiada seorang perempuan lagi di dunia
ini yang bisa meninggalkan kesan mendalam didalam hati kecilku."
"Semoga saja apa yang kau ucapkan itu adalah kata-kata yang sejujurnya..."
214 "Aku telah kabur secara diam-diam dari kuil Siau lim si dan langsung datang
kemari, apakah kau belum percaya kepadaku?"
"Selama banyak tahun ini, sudah ada puluhan orang banyaknya yang berusaha
mendekati hatiku, tapi mereka tak pernah berhasil untuk merebut kedudukanmu
didalam hatiku." "Yaa, akupun demikian!"
Giok hong siancu segera menegakkan kembali badannya dan menggandeng tangan
Buyung Im seng, lalu katanya. "Hayo! Kita kembali ke belakang saja!"
Diam-diam Buyung Im seng merasa kegirangan, pikirnya. "Aku memang lagi kuatir
tak berhasil menemukan tempat tinggalnya, dengan begini akupun tak usah
repotrepot untuk mencarinya sendiri.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Giok hong siancu menggandeng tangan
Buyung Im seng menuju ke belakang ruangan dengan langkah lebar, sambil
berjalan katanya sambil tertawa lirih. "Jangan kuatir, sekalipun Sam seng bun
akan memasuki lembah, kitapun tak usah takut kepada mereka, paling tidak kita
tak bisa keluar lembah saja, aku percaya dalam dunia persilatan dewasa ini masih
belum ada seorang manusiapun yang memiliki kemampuan untuk melawan
kerubutan berpuluh puluh laksa ekor lebah kemala..."
"Daya pengaruh dari Sam seng bun sangat luar dan kekuatannya sangat luar biasa
sekali, semua partai dan perguruan yang berada dalam dunia persilatan tiada yang
berani melawan kekuatan mereka."
"Entah pengaruh dari Sam seng bun besar atau tidak, entah berapa banyak jago
lihai yang mereka miliki, asal kita tidak meninggalkan lembah Giok hong kok,
merekapun akan kehabisan daya untuk menghadapi kita."
"Kalau kudengar dari perkataanmu itu, tampaknya kau sudah bertekad tak akan
pergi memenuhi janji itu?"
Giok hong siancu kembali tersenyum. "Menurut pendapatmu, haruskah aku turut
serta dalam perguruan Sam seng bun, atau lebih baik jangan?"
"Berbicara yang sebenarnya, kau toh jelek-jelek juga seorang ketua lembah, betul
lembah Giok hong kok belum membuka aliran secara resmi, tapi selama ini kita
telah membentuk suatu posisi tersendiri didalam dunia persilatan, entah siapapun
orangnya, mereka akan tetap menghormati dirimu sebagai kongcu, bila kau sampai
menggabungkan diri dengan pihak Sam seng bun..."
Berbicara sampai di situ, sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Giok hong
siancu, kemudian membungkam dan tak berbicara lagi.
"Mereka menawarkan kedudukan yang sangat tinggi kepadaku!" kata Giok hong
siancu sambil tersenyum. "Kedudukan apakah itu?" "Toa-huhoat dari ruang Seng tung..."
Setelah tersenyum, dia melanjutkan. "Tapi kesemuanya itu bukan merupakan
alasan yang sebenarnya bagiku untuk menggabungkan diri dengan mereka, yang
terpenting adalah demi kau, terkecuali Sam seng bun, didalam dunia persilatan
215 dewasa ini masih belum ada perguruan lain yang sanggup dan berani untuk
bermusuhan dengan Siau lim si secara terang-terangan dan lagi, mereka berjanji
akan menyerbu ke dalam kuil Siau lim si untuk menyelamatkan jiwamu dari sana."
"Justru karena itulah, kita tidak seharusnya bermusuhan dengan pihak Sam seng
bun!" "Itupun belum tentu," kata Giok hong siancu sambil tertawa. "dalam dunia
persilatan dewasa ini, aku tahu ada dua orang yang berani memusuhi kekuatan
Sam seng bun!" "Siapakah kedua orang itu?"
"Yang seorang bernama.... Apa itu, ehmm... seperti Biau hoa lengcu atau apa,
pokoknya dia seorang gadis muda yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,
ilmu silatnya juga sangat lihai, konon lencana Hoa leng yang dimilikinya juga
tak berani dibangkang oleh umat persilatan."
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, dia melanjutkan. "Cuma saja, kau tak usah
mempunyai angan-angan yang bukan-bukan, sebab Biau lengcu ini sudah
mempunyai kekasih." "Siapakah kekasihnya?"
"Putera tunggal dari Buyung Tiang Kim yang bernama Buyung Im seng, dia adalah
orang kedua yang berani menentang perguruan Sam seng bun dalam dunia
persilatan dewasa ini."
"Aaah...! Kenapa Buyung Im seng begitu bernyali besar berani memusuhi Sam seng
bun?" Sementara pembicaraan berlangsung, sampailah ia di depan ruangan yang sangat
indah. Pelan-pelan Giok hong siancu mengetuk pintu ruangan itu dua kali, pintu pun
segera dibuka orang. Seorang dayang muda berbaju hijau segera muncul di depan pintu.
Buyung Im seng segera mengalihkan sinar matanya ke dalam, ia saksikan ruangan
yang sangat indah bermandikan cahaya lentera, ternyata empat dindingnya
berwarna hijau pupus. Sambil tertawa Giok hong siancu lantas berkata. "Dekorasi ruangan ini masih
persis seperti dekorasi ketika kau belum pergi dulu, cuma warna serta
perabotannya telah kuganti semua dengan model baru."
Buyung Im seng segera tersenyum, "sudah sepuluh tahun aku tidak menginjak
ruangan ini, keadaan dan pemandangan didalam ruangan ini terasa menjadi
samar-samar kembali rasanya..."
"Kalau begitu perkataan yang mengatakan, Hati perempuan lebih mendalam dalam
soal cinta daripada hati pria memang tepat sekali." Sambung Giok hong siancu
sambil tertawa hambar. Sambil menggandeng tangan Buyung Im seng, ia mengajak pemuda itu masuk ke
dalam kamar tidur. 216 Tampak dekorasi didalam ruangan itu sangat indah dan serasi, tirai hijau yang
melapisi dinding dibilang tidak ditemukan warna lainnya, sementara diatas lantai
tampak terhampar lapisan permadani elok begitu tebal yang berwarna hijau pula,
sebuah pembaringan besar diletakkan menempel dinding ruangan belakang, empat
sudut ruangan tergantung lentera kristal yang indah, sehingga suasana dalam
ruangan itu nampak syahdu dan menawan hati.
Giok hong siancu segera mengulapkan tangannya, kedua orang dayang cantik yang
berada disana segera menjura dan mengundurkan diri dari tempat itu.
Buyung Im seng berpaling sekejap ke sekeliling ruangan, kemudian ujarnya sambil
tertawa. "Sungguh tak kusangka sepuluh tahun kemudian aku masih bisa
menginjak kembali tempat lama, aiii... kejadian ini sungguh membuat hatiku
terasa terbuai dalam impian, sekalipun ditempat lain ada kelembutan bagaikan dalam
sorgawi, aku lebih suka memilih tempat ini bersamamu!"
"Yaa, sebab tempat ini adalah rumahmu!" kata Giok hong siancu dengan nada yang
lembut. Dia mengambil sebuah bangku kecil dan diletakkan di depan pemuda itu
sambil katanya dengan senyuman dikulum.
"Duduklah! Aku akan berganti pakaian dulu, kemudian baru menemanimu untuk
berbincang-bincang."
"Tak usah berganti pakaian lagi", cegah Buyung Im seng sambil menarik tangan
perempuan itu, "aku masih ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan
denganmu." Giok hong siancu segera tertawa. "Mengapa harus tergesa-gesa" Waktu di
kemudian hari toh masih panjang, mulai sekarang aku akan menemanimu
sepanjang masa, aku takkan membiarkan kau tinggalkan lembah Giok hong kok ini
seorang diri lagi!" Mula-mula Buyung Im seng agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa
hambar katanya, "Tidak bisa, kau besok harus pergi dari sini!"
"Kenapa?" "Aku telah berpikir dan berpikir lagi, aku rasa lebih baik kau jangan menyalahi
pihak Sam seng bun!"
"Maksudmu kau suruh aku menggabungkan diri dengan pihak perguruan Sam seng
bun?" "Benar, menurut apa yang kuketahui, daya pengaruh Sam seng bun terlampau
besar, kita tak boleh menanam musuh setangguh itu..."
Pelan-pelan Giok hong siancu berjalan kembali dan duduk disamping Buyung Im
seng, kemudian katanya, "Giok long benarkah kau tega membiarkan aku pergi,
meninggalkan dirimu?"
Buyung Im seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tentu saja aku
merasa berat hati untuk berpisah denganmu, tapi kau harus pegang janji dan
memenuhi janjimu dengan Sam seng bun, kau toh bisa mempergunakan
kesempatan itu untuk menampik jabatan Tay-hohoat yang mereka tawarkan, lalu
217 tetap berdiam dalam lembah Giok hong kok. Dengan tindakan tersebut, selain kau
bisa hidup terus bersamaku di sini, kau pun tak usah mengikat tali permusuhan
dengan Sam seng bun, bukankah tindakan ini baik sekali?"
"Yaa, cara ini memang bagus sekali, cuma itu besok aku tengah hari harus
memenuhi janji!" "Aku rasa dalam menghadapi masalah besar seperti ini, si Tongcu itu pasti tak
akan berani mengambil keputusan, maka kau pergi berangkat ke markas mereka
dan bersua sendiri dengan ketiga malaikat tersebut," kata Buyung Im seng lagi
sambil tersenyum. Giok hong siancu termenung dan berpikir sebentar, kemudian ia pun mengangguk.
"Baiklah, besok tengah hari aku akan pergi menjumpainya, cuma aku agak takut."
Panji Sakti ( Jit Goat Seng Sim Ki) 4 Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis Bukit Kepala Singa 2
^