Pencarian

Pena Wasiat 3

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen Bagian 3


pernah dikatakan suaminya akan mendatangkan perasaan
nyaman bagi dirinya, sebab meski ucapan itu bukan
diutarakan dengan suara suaminya, tapi merupakan
maksud hati dari suaminya.
"Toa-suheng bilang, Siau-hong hanya menggunakan
empat bagian perhatiannya untuk belajar silat dan enam
bagian perhatiannya untuk membaca buku, waktu yang
dibuang dalam membaca buku jauh lebih banyak
dibandingkan dengan waktu belajar silat."
"Susiok, tak pernah ada kejadian begini," buru-buru Cu
Siau-hong membantah, "setiap kali Suhu memberi pelajaran
silat, Tecu pasti hadir di arena!"
"Suhumu pernah berkata demikian semasa hidupnya
dulu, jadi benar atau tidak aku tak begitu tahu."
Pek Bwe lantas mendehem pelan, katanya,
"Tiong-gak, kau harus mencari beberapa orang untuk
membebaskan reruntuhan di sini, kita masih harus
membangun kembali perkampungan Ing-gwat-san-ceng."
"Siau-hong, hayo berangkat! Kita pergi mencari orang,"
kata Seng Tiong-gak kemudian.
"Biar Siau-hong berada di sini," cepat Pek Bwe berteriak,
"aku masih hendak mengajaknya untuk membicarakan
tentang kitab tersebut."
Seng Tiong-gak mengiakan, dia pun mengajak Tang
Cuan berlalu dari tempat itu.
Kini dalam ruang tengah tinggal Pek Bwe, Pek Hong, Cu
Siau-hong serta beberapa puluh sosok mayat yang berjajarjajar.
Dengan perasaan tak sabar Pek Bwe segera berkata,
"Aku pernah membaca pula kitab itu, tapi sayang dasar
pengetahuanku amat cetek, tidak seperti kau yang banyak
pengetahuan sehingga dapat menebak isi mereka, cuma
ketiga lembar gambar itu selalu meninggalkan kesan yang
mendalam di benakku, mungkin mengandalkan
pengalamanku sendiri, Lohu masih bisa memberikan sedikit
bantuan kepadamu." Cu Siau-hong termenung dan berpikir sebentar,
kemudian katanya : "Kisah dalam kitab itu agaknya menceritakan seseorang
yang hendak melarikan diri dari keluarganya dan berdiam di
tengah sebuah gunung yang amat besar, orang itu lebih
suka melewati penghidupan yang serba kesepian dari pada
kehidupan yang ramai."
"Apakah orang itu adalah seorang perempuan?" sela Pek
Bwe. "Justru pada bagian inilah aku merasa paling tidak
mengerti, mungkin saja tulisan itu menceritakan dengan
jelas, cuma aku tidak memahaminya."
"Aku mengerti akan arti gambar tersebut, memang
dalam gambar itu kelihatan agak buram, tapi aku dapat
menangkap kalau bayangan itu adalah bayangan seorang
perempuan, justru di sinilah letak keheranan Lohu, jika
kitab tersebut adalah sejilid kitab sembahyangan, maka
benda itu tentunya berasal dari kuilnya para hwesio, kenapa
dalam buku itu bisa muncul seorang perempuan?"
"Siapa tahu kalau hwesio itu cuma menulis
pengalamannya sendiri......." tiba-tiba pemuda itu
membungkam. Dengan cepatnya ia membantah kembali pendapat
tersebut, sebab kitab itu adalah sejilid kitab yang disusun
secara rapi, lagi pula sudah berusia banyak waktu, tidak
mirip seperti tulisan tangan dari hwesio itu sendiri.
Pek Bwe menghembuskan napas panjang, lalu berkata
lebih jauh : "Bocah muda, ketika hwesio itu menyerahkan kitab
tersebut kepadaku, dia hanya mengucapkan sepatah kata,
jika aku dapat menghantarkan kitab itu ke kuil Hui-Liong-si
di Cing-hay, dan menyerahkan kepada seorang Taysu yang
bernama Mo-gak-taysu, aku bisa mendapatkan tiga biji
mutiara asli. "Mutiara tiada harganya, ada yang baik ada pula yang
jelek, andaikata Locianpwe berangkat ke Cing-hay dengan
menghantarkan kitab tersebut, sekalipun mereka pegang
janji dengan memberikan tiga butir mutiara kepadamu,
belum tentu hal mana merupakan suatu penghargaan yang
terlalu tinggi." "Ketika itu, Lohu tak sampai memikirkan tentang
persoalan itu, aku hanya merasa hawa kitab itu merupakan
sejilid kitab sembahyangan, bagiku bagi dunia persilatan
sama sekali tiada pengaruhnya, maka aku tidak
menyanggupi permintaannya, sayang hwesio tua itu pun
tidak sempat berbicara lebih jauh dan keburu mati lebih
dulu. Setelah kejadian tersebut, aku sering melihat kitab ini,
aku hanya menduga kalau isi kitab tersebut mungkin adalah
suatu cerita dalam kitab sembayangan, walaupun Lohu pun
gemar membaca tapi sayang tidak memiliki bakat dan
kecerdasan seperti kau, maka setelah mendengar
keteranganmu bahwa kitab itu mungkin bukan sejilid kitab
sembahyangan........"
"Kalau bukan kitab sembahyangan lantas kitab apa?"
"Mungkin suatu catatan khusus tentang suatu kejadian."
"Catatan tentang suatu peristiwa?"
"Tak bisa dikatakan demikian, mungkin saja hwesio
tersebut membawa kitab itu karena hendak mencari
sesuatu, tapi akhirnya ia menyadari bahwa dirinya tak
sanggup menyelesaikan tugas tersebut, maka ia minta
kepadaku untuk menyerahkan kitab ini kepada orang lain."
"Dan orang itu adalah Mo-gak-taysu?"
"Benar! Sayang aku tidak menghantar kitab itu
kepadanya, kini peristiwa tersebut telah berlangsung
sepuluh tahun lamanya, mungkin Mo-gak-taysu sudah lama
meninggalkan kuil Hui-Liong-si."
Cu Siau-hong tertawa getir, katanya :
"Locianpwe, selamanya kita tak akan sanggup lagi
mengantarkan kitab itu ke kuil Hui-Liong-si."
Pek Bwe terbahak-bahak. "Sudah terbakar?" katanya.
"Yaa, Boanpwe telah memeriksa tempat menyimpan
kitab, sejilid pun sudah tak ada lagi."
"Ayah!" tiba-tiba Pek Hong menyela, "kau telah
memeriksa lokasi tempat kejadian, sebenarnya siapakah
yang telah mencelakai diri Ling-kang.....?"
"Anak Hong jika aku berbicara terus terang, kau pasti
akan merasa sangat kecewa."
"Katakanlah Ayah!"
"Aku tidak berhasil menemukan apa-apa, sergapan ini
benar-benar merupakan suatu sergapan yang berhasil,
suatu sergapan yang sebelumnya telah dipersiapkan suatu
rencana yang amat matang."
"Jika menurut pendapat Ayah, selama hidup kita tak
akan sanggup untuk membalas dendam lagi?"
"Tiada bau busuk yang bisa disimpan rapat, apalagi kita
tidak menjumpai mayat It-ki, jadi buat kita masih ada
sedikit harapan." "Harapan apa?" "Mungkin It-ki belum mati, melainkan diculik oleh
mereka, nah inilah satu-satunya titik terang yang kita
miliki." "Aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa mereka
menculik It-ki dalam keadaan hidup?"
"Itulah perhitungan mereka yang jitu, dari pada
membunuh It-ki lebih besar manfaatnya bila mereka tetap
membiarkan It-ki dalam keadaan hidup."
"Kalau dilihat dari cara kerja mereka yang kejam
sehingga ayam dan anjing pun tak ada yang dibiarkan
hidup, menahan It-ki dalam keadaan hidup bukankah sama
artinya dengan meninggalkan jejak?"
"Bu-khek-bun adalah suatu perguruan besar, kini dalam
satu malam saja bukan cuma anggota perguruannya
dibantai habis, rumah pun dibakar sampai ludas, betul
kalian orang-orang Bu-khek-bun masih tak tahu apa
gerangan yang telah terjadi, tapi hal ini jangan harap bisa
mengelabui dunia persilatan, sekalipun mereka berhasil
membunuh It-ki, membunuh setiap orang sehingga
seorangpun tak ada yang hidup, toh tidak sulit bagi umat
persilatan untuk mencari titik terang, jadi dalam hal ini kau
tak usah gelisah, yang patut di gelisahkan adalah mengapa
mereka biarkan It-ki tetap hidup, di samping itu masih ada
pula Siau-hong dan lain-lainnya kenapa mereka pun tidak
ikut diburu?" "Yaa, kejadian ini memang rada sedikit aneh......."
Cu Siau-hong segera menyela, katanya :
"Ji-suheng Long Ing dan Kiu-sute Tong Thian memang
sudah mencurigakan sekali, Toa-suheng telah mendapat
perintah untuk mengawasi gerak-gerik mereka sayang
peristiwa ini berlangsung terlalu cepat sebelum kita sempat
melakukan suatu tindakan mereka sudah bertindak lebih
duluan. Yang betul-betul mengherankan justru adalah
lenyapnya jenazah dari Ngo-suheng Thio Hong-tiong."
"Aaai...... salju setebal tiga depa, tak mungkin bisa
terjadi dalam sehari," kata Pek Bwe, "Ling-kang memang
terlalu jujur orangnya, meski dia sudah tahu kalau Long Ing
si bocah keparat itu ada persoalan, kenapa ia tak mau
cepat-cepat bertindak atas dirinya" Paling tidak ia harus
mengutus orang untuk mengutilnya dan membongkar
rencana busuk orang-orang itu."
"Suhu telah memperhatikan hal itu dengan serius,"
jawab Cu Siau-hong, "bahkan secara khusus menyerahkan
tugas ini kepada Toa-suheng, sayang mereka terlalu cepat
bertindak." "Tak bisa menyalahkan orang lain bertindak terlalu
cepat, Nak, dunia persilatan hakikatnya adalah suatu
tempat yang menakutkan, kalau toh persoalan ini sudah
diketahui, mengapa tidak cepat-cepat dibereskan" Bocah
muda, kau harus ingat baik-baik akan hal ini, justru
lantaran gurumu terlalu welas kasih, maka ia musti
membayar mahal atas sikapnya itu. Suatu pengorbanan
yang menyangkut puluhan lembar jiwa manusia."
Cu Siau-hong menghela napas panjang, katanya :
"Terima kasih atas nasihat Locianpwe, Boanpwe pasti
akan perhatikan baik-baik."
"Nah anak muda, selanjutnya bila kau melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan, pikiran dan
penglihatanmu musti tajam, bila menghadapi suatu
persoalan selidiki dulu sampai jelas, jangan sekali-kali
menarik diri di tengah jalan......"
Sesudah menghembuskan napas panjang, lanjutnya :
"Setiap persoalan ada yang berat dan ada pula yang
enteng, bagaimana caranya untuk menyelesaikan dulu
persoalan yang berat, hal ini tergantung pada
kecerdasanmu sendiri."
"Terima kasih banyak atas nasihat Locianpwe!"
Dalam saat dan keadaan seperti ini setiap ucapan setiap
tulisan yang muncul di hadapannya menimbulkan kekuatan
yang jauh lebih besar dari pada di hari-hari biasa.
Nasihat yang diucapkan pada saat seperti ini biasanya
akan lebih cepat terukir dalam hati orang dari pada nasihat
sebanyak seribu kata di hari biasa.
"Hei, pada saat semacam ini pun kalian masih begitu
isengnya untuk membicarakan masalah itu," tiba-tiba Pek
Hong berteriak, "seharusnya kalian musti berusaha untuk
memikirkan siapa pembunuhnya lebih dulu."
"Jika di hari-hari biasa kubicarakan tentang soal ini
kepadanya, maka ia akan melupakannya kembali setelah
didengar, berbeda jika kubicarakan pada saat ini, setiap
patah kataku pasti akan terukir dalam-dalam di dasar hati
Siau-hong, karena darah Suhunya belum kering, jenazah
dari Suheng, Sute, dan pelayan-pelayannya masih
membujur di hadapannya, dalam keadaan demikian dia
pasti akan mengingat selalu setiap perkataanku ini."
Cu Siau-hong segera menjura dalam-dalam,
"Sungguh banyak sekali yang berhasil Siau-hong
dapatkan pada saat ini............." katanya.
Pek Bwe tertawa getir, katanya lagi :
"Tak sia-sia Ling-kang berusaha dengan sekuat tenaga
untuk membujuk kakekmu dan ayahmu untuk membawa
kau masuk menjadi anggota Bu-khek-bun, dalam hal ini ia
memang melihat lebih jelas dari padaku, ia memang benarbenar
memiliki bakat seorang ketua perguruan."
"Ayah," seru Pek Hong lagi, "apakah kita perlu
memeriksa lokasi sekali lagi untuk mengumpulkan sedikit
bukti?" "Jangan kuatir Nak, sekalipun aku memeriksa dua kali
juga sama saja, tak akan menemukan bukti apa-apa.
Mereka tak akan meninggalkan bukti di tempat kejadian,
gerakan mereka terlampau cepat, setelah membunuh orang
masih ada cukup waktu untuk memusnahkan pelbagai bukti
yang ada, cuma kau pun tak perlu kuatir, dengan gerakan
mereka yang berjumlah banyak, pasti akan kita temukan
suatu jejak untuk diselidiki, hanya saja aku masih ada
beberapa yang ingin ditanyakan kepada kalian."
"Apa yang hendak Ayah tanyakan?"
"Aku masih ingat kalau jumlah anggota Ing-gwat-sanceng
bukan cuma sekian saja, aku lihat sudah berkurang
setengah lebih." "Yaa, entah mengapa agaknya Ling-kang sudah
mendapat firasat jelek, pada bulan berselang, ia sudah
membuyarkan para centeng dan anggota perkampungannya
yang sudah tua, kemudian membubarkan pula sekawanan
pelayan...." "Kenapa?" "Aku pernah mendengar Ling-kang membicarakannya
sekali, katanya dia hendak mengatur kembali anggota Inggwat-
san-ceng dan siap melatih sejumlah centeng muda."
"Hong-ji, coba pikirkan baik-baik, kenapa ia harus
bertindak demikian.....?" kata Pek Bwe dengan wajah
serius. Pek Hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya :
"Mungkin ia telah merasakan bahwa dalam waktu dekat
dalam dunia persilatan bakal terjadi suatu peristiwa, karena


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beranggapan bahwa setelah kedua belas muridnya
meninggalkan perkampungan Ing-gwat-san-ceng nanti,
jumlah isi perkampungan menjadi amat sedikit, maka dia
hendak melatih enam puluh empat orang centeng lagi agar
kekuatan penjaga dalam perkampungan menjadi lebih
tangguh." "Bila sudah punya rencana seharusnya segera
dilaksanakan, coba kalau rencana itu diwujudkan dengan
cepat, mungkin keadaannya pada malam ini akan jauh
berbeda." Sementara itu Tang Cuan telah membawa banyak orang
pekerja untuk membereskan puing-puing yang berserakan.
Ketika sang surya mulai terbenam di langit barat, Seng
Tiong-gak telah muncul kembali sambil membawa puluhan
kereta yang berisi peti-peti mati buat para korban.
Tempat penyimpanan uang dalam perkampungan Inggwat-
san-ceng ternyata tidak mengalami kerusakan apaapa,
bahkan masih berada dalam keadaan utuh, untuk ini
semakin membuktikan kalau kebakaran tersebut memang
diatur dengan suatu rencana yang matang :
Dari kesedihan yang mencengkam seluruh perasaannya
tiba-tiba saja Pek Hong merasa semangatnya bangkit
kembali. Oleh karena ketenangan yang telah diberikan oleh Pek
Bwe maka untuk sementara waktu Seng Tiong-gak maupun
Tang Cuan tidak membicarakan soal pembalasan dendam.
Demikianlah, di tengah puing-puing yang berserakan
tampak berpuluh-puluh buah peti berjajar-jajar, meski ada
enam tujuh orang bekerja yang membersihkan puing-puing
di sana, toh pemandangan semacam itu cukup meharukan
hati setiap orang. Kini tinggal peti mati dari Tiong Ling-kang serta ketujuh
orang muridnya yang belum dikubur, sementara mayatmayat
yang lain telah dikebunkan di sekitar tempat
kejadian. --------------------------------------
Berita tentang peristiwa pembantaian atas anggota Bukhek-
bun dengan cepat telah tersiar dalam dunia persilatan,
tentu saja kejadian tersebut amat menggetarkan hati setiap
orang. Tengah hari ketiga, ketua kantor cabang perkumpulan
Kay-pang untuk kota Siang-yang, Kim-kou (si kaitan emas)
Yu Lip telah muncul di tempat kejadian.
Tongcu perkumpulan Kay-pang yang bermata tajam dan
berpendengaran tajam ini muncul diikuti empat orang
muridnya. Di bawah petunjuk Yu Lip, empat orang anggota Kaypang
itu segera turun tangan menyingkirkan puing-puing
yang masih berserakan di sana.
Sementara Yu Lip sendiri menuju ke ruang tengah untuk
menjumpai tuan rumah. Pek Hong kenal dengan Yu Lip, sebab tiap tahun paling
tidak pengemis ini pasti berkunjung sekali ke
perkampungan Ing-gwat-san-ceng.
Dua hari belakangan ini, Pek Hong telah berhasil pula
memulihkan kembali ketenangannya, rasa sedih dan
dendamnya terpendam dalam dasar hati kecilnya.
Anggota perguruan Bu-khek-bun yang masih hidup
tinggal seberapa, mereka harus memikul suatu tanggung
jawab yang sangat berat, oleh karena itu mereka perlu
tenang, perlu waspada untuk setiap saat menghadapi
segala kemungkinan yang tidak dinginkan.
Bagi orang persilatan berlaku kata-kata :
Mencabut rumput sampai keakar-akarnya. Oleh
karenanya, besar kemungkinannya kalau para penyerang
Ing-gwat-san-ceng bakal kembali ke situ untuk
melancarkan serangan berikutnya.
Untuk menghadapi hal itu, mereka perlu was-was, perlu
bersikap tenang, sehingga tidak menjadi korban lagi secara
mengenaskan. Yu Lip membetulkan pakaiannya, lalu masuk ke dalam
ruangan sambil memberi hormat kepada Pek Hong, katanya
kemudian : "Yu Lip dari Kay-pang, menjumpai Tiong-hujin!"
"Yu-tongcu, kau tak usah banyak adat!" ucap Pek Hong
sambil tertawa getir. Yu Lip menghela napas panjang, katanya kemudian :
"Sungguh tak kusangka Tiong Buncu telah dilukai orang,
peristiwa ini sungguh merupakan suatu ketiak beruntungan
buat umat persilatan kita, dan merupakan suatu kerugian
pula bagi Kay-pang yang telah kehilangan seorang sobat
karib, ketika Pangcu kami mendengar berita kesedihan ini
beliau pasti akan bersedih hati.
"Aaai...... peristiwa ini bukan suatu kejadian biasa,
duduknya perkara amat panjang dan tak dapat diterangkan
hanya dengan sepatah dua patah kata saja."
"Tiong-buncu adalah seorang enghiong, atas peristiwa
ini, aku orang she Yu telah mengirim berita ini kepada
kantor pusat, asal Pangcu sudah memperoleh berita ini,
beliau pasti akan menyusul ke sini."
"Aah, hanya soal demikian kenapa musti merepotkan
Pangcu kalian" Hal ini malah membuat hatiku menjadi tak
tenang." "Hujin jangan berkata demikian, Pangcu kami selalu
menaruh hormat kepada Tiong-buncu, ia telah menganggap
Tiong-buncu sebagai sahabat karibnya......."
"Yu-tongcu," kata Seng Tiong-gak, "kami merasa
berterima kasih sekali atas kunjunganmu pada saat ini,
maaf bila kami tak sanggup memberi pelayanan yang baik
kepadamu apalagi dalam suasana begini."
"Ah, Jiya kenapa kau musti berkata begini" Di waktuwaktu
biasa pun aku tak berani bicara apa-apa, apalagi
dalam keadaan seperti ini, masa aku bakal mengutarakan
ucapan yang tak senang" Cuma ........ ada satu perkataan
memang ingin kukatakan, rasanya kurang lega hatiku bila
tidak diutarakan keluar. "Persoalan apakah itu?"
"Rasa hormat dan kagum Pangcu kami terhadap Tiongbuncu,
benar-benar muncul dari dasar hatinya, beliau
pernah berpesan kepada Cayhe, jika Bu-khek-bun
membutuhkan bantuan Kay-pang, maka Cayhe
diperintahkan untuk memberi bantuan, baik disuruh terjun
ke air maupun disuruh terjun ke api, kami tak akan
melakukannya dengan ragu-ragu."
"Sungguh mengharukan sekali budi kebaikan partai
kalian terhadap perguruan kami."
"Jiya, semua pesan ini disampaikan sendiri oleh Pangcu
kepadaku, sebenarnya aku tak ingin mengutarakannya
kepadamu, kali ini terpaksa kuucapkan berhubung aku
orang she Yu kuatir bila Tiong-hujin serta Jiya enggan
menerima uluran tangan partai kami untuk membantu
kalian." Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan :
"Soal membalas dendam adalah suatu masalah besar,
aku orang she Yu tak berani untuk menyinggungnya, tapi
soal lainnya aku orang she Yu bersedia untuk menampikan
diri guna membantu kalian mengatasinya, seperti soal
pembangunan kembali perkampungan Ing-gwat-san-ceng
serta masalah lain-lain. Jiya! Bagaimana juga, kalian toh tak
bisa berdiam terus di tempat semacam ini" Aku telah suruh
orang untuk menyiapkan sebuah gedung di kota Siangyang,
untuk sementara waktu harap kalian bersedia pindah
dulu ke kota, bila pembangunan di sini telah selesai Hujin
sekalian baru kembali lagi kemari."
"Untuk sementara waktu perkampungan Ing-gwat-sanceng
tak akan dibangun kembali," kata Pek Hong, "aku
hendak menggunakan tempat ini sebagai tempat
bersemayamnya jenazah suamiku beserta ketujuh orang
muridnya, menanti kami telah berhasil membalaskan
dendam sakit hatinya, jenazah mereka bar akan dikebunkan
dan saat itulah perkampungan Ing-gwat-san-ceng baru
akan dibangun kembali."
"Perkataan Hujin memang benar........."
Pek Hong segera berpaling sekejap ke arah Seng Tionggak,
lalu bertanya : "Sute, menurut pendapatmu, perlukah kita pindah ke
kota Siang-yang untuk menetap sementara waktu?"
"Hujin, Jiya, aku orang she Yu menyediakan kesemuanya
ini dengan hati yang tulus," kata Yu Lip, "lagi pula beberapa
hari kemudian Pangcu kami akan tiba di sini, lebih leluasa
bila kalian pindah dulu ke dalam kota Siang-yang."
"Anak Hong, apa yang dikatakan Yu-tongcu memang
benar," sela Pek Bwe, "setelah mengalami peristiwa ini, Bukhek-
bun memerlukan suatu jangka waktu untuk
beristirahat, lagi pula semasa hidupnya dulu Ling-kang
memang bersahabat kental dengan Kay-pang, aku pikir
maksud baik ini tak perlu ditampik lagi."
"Apakah saudara ini adalah Pek Loya-cu?" sapa Yu Lip.
"Betul, aku adalah Pek Bwe!"
"Sudah lama, Yu Lip mendengar nama besar Pek Loyacu,
sungguh beruntung kita bisa berjumpa muka pada hari
ini." "Yu-tongcu tak usah terlalu sungkan, aku pernah
beberapa kali bertemu Pangcu kalian, meskipun tidak
terhitung suatu sobat karib, tapi merasa cocok dalam
pembicaraan. Sungguh tak terkirakan rasa terima kasih
kami kepada kalian, atas bantuannya setelah Bu-khek-bun
mengalami musibah." "Pek Loya-cu tak usah sungkan-sungkan, tapi memang
apa yang dikatakan Loya-cu tepat sekali, Tiong-hujin
membutuhkan istirahat yang cukup setelah mengalami
musibah ini, sebab itu harap Loya-cu segera mengambil
keputusan." "Tempat ini tak boleh ditinggalkan terlalu lama, lebih
baik kita berangkat sekarang juga ke kota Siang-yang
sembari menghimpun tenaga kembali."
"Yaa, memang betul juga perkataanmu itu, anak Hong!
Bagaimana pendapatmu?"
"Seng-sute, bagaimana pula pendapatmu?" tanya Pek
Hong. Diam-diam Pek Bwe manggut-manggut, menyerahkan
persoalan ini kepada Seng Tiong-gak berarti memaksanya
untuk memikul tanggung jawab tersebut.
"Siaute merasa bahwa kita memang butuh tempat dan
waktu untuk beristirahat dulu," jawab Seng Tiong-gak, "bila
sudah tenang nanti, kita baru mulai berpikir kembali
tentang kejadian ini serta merundingkan apa yang musti
kita lakukan selanjutnya."
"Betul pendapat Tiong-gak, memang benar, saat ini kita
butuh ketenangan dan istirahat yang cukup!"
"Enso, kita sudah memutuskan untuk tidak membangun
Ing-gwat-san-ceng dalam waktu singkat, maka tempat ini
pun tak boleh ditempati terlalu lama lagi."
Pek Hong termenung sejenak, kemudian mengangguk.
"Baiklah, Sute saja yang mengambil keputusan!"
katanya. Untuk menghormati kedudukan Tang Cuan sebagai
seorang ciangbunjin, Seng Tiong-gak merundingkan
kembali persoalan ini dengan Tang Cuan.
Tentu saja Tang Cuan menyatakan persetujuannya.
Ketika Yu Lip menjumpai Pek Hong maupun Seng Tionggak
telah setuju, ia merasa gembira sekali, kemudian :
"Kalian semua pun tak usah berada di sini lagi, soal lain
serahkan saja kepada kami. Bagaimana kalau hari ini juga
kita berangkat ke kota Siang-yang?"
Ketika menyaksikan jenazah suaminya telah dikuburkan
ke dalam tempat persemayaman sementara, Pek Hong
menghela napas kemudian sahutnya :
"Baiklah, malam ini juga kita berangkat!"
Tempat persemayaman sementara itu dibuat dari batu
bata merah serta batu putih yang membentuk sebuah
gundukan besar, di balik gundukan besar itulah peti mati
Tiong Ling-kang dan ketujuh orang muridnya
disemayamkan untuk sementara waktu.
Setelah menutup kembali gundukan batu itu dengan
sebuah batu putih, Pek Hong mundur ke belakang dan
jatuhkan diri berlutut. Seng Tiong-gak, Tang Cuan, Cu Siau-hong serta Yu Lip
segera ikut berlutut pula di depan gundukan tanah itu.
Pek Bwe tidak ikut berlutut, tapi ia berdiri serius di situ
dengan air mata bercucuran.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seorang anggota
Kay-pang sedang membentak keras,
"Hei, mau apa kau?"
Mendengar itu, serentak Seng Tiong-gak, Tang Cuan
serta Cu Siau-hong melompat bangun dan memburu ke
tempat kejadian. Tang Cuan menggenggam sebatang senjata rahasia
Thiat-lian-hoa untuk bersiap siaga.
Ketika tiba di tempat kejadian, maka tampaklah seorang
gadis berbaju hijau sedang berjalan mendekat dengan
wajah tercengang. Sementara dua orang anggota Kay-pang menghalang
jalan pergi gadis berbaju hijau itu.
"Siau-hong, dia adalah nona dari atas gunung," bisik
Tang Cuan kemudian. "Yaa, memang dia!" Cu Siau-hong mengangguk.
"Mau apa dia datang kemari?"
"Mungkin soal lebah yang dibunuh Suhu!"
Walaupun jalan perginya dihadang oleh dua orang
anggota Kay-pang, ternyata gadis berbaju hijau itu tidak
merasa jeri, malah sambil tertawa ia menegur :
"Hei, apa yang telah terjadi di sini?"
"Siau-hong, hayo ke situ......." bisik Tang Cuan, "kita
tengok apa maunya kemari."
Cu Siau-hong mengangguk dan mereka bersama-sama
menghampiri gadis berbaju hijau itu.
Ketika melihat kedatangan Cu Siau-hong, gadis berbaju
hijau itu segera berseru :
"Cu-kongcu, apa yang telah terjadi di sini?"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Nona, rumah kami telah dibakar orang, banyak anggota
perkampungan kami yang dibunuh orang."
"Banyak yang dibunuh" Kenapa?" seru si nona dengan
wajah tertegun. Gadis itu masih polos dan sifat kekanak-kanakannya
belum hilang, seakan-akan ia belum tahu kalau dunia ini
penuh dengan manusia-manusia berhati busuk.
Diam-diam Cu Siau-hong berpikir :
"Jika harus membicarakan masalah ini, rasanya sulit
untuk diterangkan dalam waktu singkat......"
Maka setelah termenung sejenak, ia putuskan untuk
memberi keterangan dengan kata-kata paling sederhana.
Berpikir demikian, ia pun menjawab :
"Rumah kami telah kedatangan banyak orang jahat,
mereka membunuh orang kami semaunya hati, banyak
yang terbunuh oleh mereka, setelah itu rumah kami pun
dibakar." Tampaknya gadis ini sudah terbiasa hidup sederhana,
sehingga pandangannya terhadap soal hidup dan mati pun
sangat tawar, ia manggut-manggut sejenak lalu bertanya
lagi, "Bukankah empat orang yang pernah kujumpai ketika
itu?" "Benar!" "Sekarang aku hanya menjumpai kalian berdua, mana
dua orang lainnya......"
"Sudah mati!" Mungkin gadis baju hijau itu merasa kenal dengan Tiong
Ling-kang serta Tiong It-ki, maka ketika mendengar
kematian mereka, tanpa terasa ia menghela napas panjang.
"Mereka telah mati...." Aaaai..... sungguh kasihan.......
benar-benar amat kasihan......."
Setelah membereskan rambutnya yang kusut, ia
bertanya kemudian : "Lantas bagaimana sekarang baiknya?"
Jilid 5 "Dalam soal apa....."
"Sebenarnya aku datang untuk menanyakan soal lebah
tersebut, lebah itu penting sekali artinya, bila kalian tak bisa
membayar ganti rugi, aku kuatir bisa........ bisa.........."
"Bisa apa?" tukas Tang Cuan sambil maju.
Tampaknya gadis berbaju hijau itu tak mampu bersikap
galak terhadap Cu Siau-hong, apalagi pemuda itu memang
tampan, halus, dan terpelajar, kata-katanya halus dan
penuh kesopanan, hal mana sungguh sulit baginya untuk
mengumbar hawa amarah. Berbeda dengan Tang Cuan yang serius dan katakatanya
tegas dan kasar, begitu ia membentak, gadis itu
segera merasa bahwa kesempatannya untuk mengumbar
amarah telah tiba. Katanya kemudian dengan dingin :
"Kalian harus menggantinya, jika tak mampu, maka akan
kami bunuh orang yang telah membunuh lebah-lebah kami
itu!" "Tapi Suhu kami yang membunuh lebah-lebah tersebut,
padahal Suhu kami telah mati sekarang."
"Kau toh belum mati" Hari itu kau hadir pula di sana,
maka jika lebah itu tidak diganti, akan kutangkap kau untuk
mempertanggungjawabkan diri....."
Tang Cuan segera mengerutkan dahinya ingin
mengumbar amarah, tapi ketika sampai di bibir, kata-kata
tersebut segera ditelan kembali.
"Lebah apaan yang sedang kalian ributkan?" tiba-tiba
Pek Bwe muncul sambil menegur, "sesungguhnya apa yang
telah terjadi?" "Suatu hari, Suhu membawa kami pergi ke belakang
bukit untuk belajar melepaskan senjata rahasia, waktu itu
kami pergunakan lebah sebagai sasaran, siapa tahu
ternyata lebah itu adalah lebah-lebah peliharaan orang......"
kata Tang Cuan. "Oh, ada peristiwa semacam ini?" seru Pek Bwe.
Tang Cuan manggut-manggut, maka secara ringkas ia
menceritakan kembali kejadian tersebut.
Ketika selesai mendengar cerita itu, Pek Bwe
menghembuskan napas panjang, lalu ujarnya :
"Siau-hong coba temui nona cilik itu dan ajaklah
berbicara, tanya dulu maksud kedatangannya!"
Cu Siau-hong mengiakan, ia lantas maju ke depan dan
memberi hormat, kemudian ujarnya :
"Nona, Suhu kami baru saja tewas dibunuh orang,
suasana kesedihan masih menyelimuti hati kami semua,
apakah Nona bersedia menerangkan maksud kedatanganmu
hari ini?" "Aku kuatir kalian lupa dengan persoalan ini sehingga
berakibat yang fatal, maka sengaja ku datang kemari untuk
mengingatkan kalian kembali, sungguh tak disangka kalian
baru saja ketimpa musibah, aku masih mengira Koay-pepek
membohongi aku, ternyata dugaannya memang tepat."
"Apa yang ia tebak?"
"Ia bilang kalian sedang ketimpa musibah di tempat ini."
"Oooh....... dari mana ia bisa tahu?"
"Tentang soal itu aku kurang begitu jelas, ia tinggal di
luar hutan sebelah sana, sehingga tiap orang yang melewati
hutan tersebut pasti akan terlihat olehnya."
Sementara itu Pek Bwe telah berjalan menghampiri gadis
itu. Sedang Seng Tiong-gak dan Pek Hong meski tidak
bergerak, namun mereka ikut mendengarkan pembicaraan
itu dengan seksama. Cu Siau-hong merasakan hatinya bergolak keras setelah
mendengar perkataan itu, tapi ia berusaha mengendalikan
hatinya, pelan-pelan katanya lagi :
"Nona, empek Koay tersebut adalah manusia seperti
apa?" Betul si nona berbaju hijau itu tidak berpengalaman,
ternyata otaknya amat cerdas, sambil tertawa dia lantas
menegur : "Kalian curiga kepadanya?"
Pertanyaan yang diajukan secara langsung dan terbuka
ini, tentu saja membuat Cu Siau-hong rada gelagapan,
sesudah termenung sejenak ia baru menyahut :
"Aku bukannya curiga, hanya kami rasakan hal ini
merupakan suatu keanehan, pertama ketika kami lewati
hutan hari itu, tidak dijumpai orang tersebut, kedua ia pun
tidak kenal dengan mendiang guru kami, kenapa ia bisa
tahu tentang peristiwa ini?"
"Apakah kau tidak mendengar dengan sesama" Ia
bernama Koay-pepek karena dia adalah seorang pincang,
gerak-geriknya sangat tidak leluasa......"
"Kalau memang gerak-geriknya tidak leluasa, kenapa ia
tinggal di dalam hutan?"
"Tempat tinggalnya aneh sekali, beberapa batang pohon
besar telah dijadikan satu olehnya, kemudian di atas dahan
pohon itu dibangun beberapa tempat tinggal, di sana sini
dia pun memasang banyak sekali alat-alat rahasia sehingga
siapa pun yang tak tahu keadaan sebenarnya, tak nanti bisa
mengelabuinya........"
Sudah jelas sekarang, orang yang disebut empek Koay
itu adalah seorang tokoh persilatan yang lihay dengan
kepandaian yang luar biasa, semua orang menjadi tertegun
olehnya. Gadis baju hijau itu melirik sekejap ke arah Cu Siauhong,
kemudian berkata lebih jauh.
"Ia pandai melihat garis muka orang, pintar pula
meramalkan nasib orang, bahkan ramalannya tepat sekali,
cuma sayang kedua kakinya lumpuh dan tak bisa berjalan,
sering kali kubantu dirinya melakukan pekerjaan, maka
hubungan kami akrab sekali, kecuali aku, hanya seekor
monyet putih yang menemaninya selama ini."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Pek Bwe setelah
mendengar keterangan tersebut, tapi hanya sejenak
kemudian telah lenyap tak berbekas, katanya kemudian :
"Nona, apakah kau bisa membawa kami untuk bertemu
dengannya?" Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya berulang
kali. "Tidak mungkin," sahutnya, "dia tak nanti mau bertemu
dengan orang luar, ia pernah bercerita kepadaku agar tidak
menceritakan tentangnya kepada orang lain, hatinya pasti
akan merasa sedih." "Dari mana ia bisa tahu kalau mendiang Suhu kami bakal
tertimpa musibah?" tanya Cu Siau-hong lagi.
"Ia pernah melihat kalian lewat di hutan sana, maka
sewaktu aku datang kemari tadi telah bertemu dengannya,
ia bilang Suhumu telah tewas dan tidak mengijinkan aku
kemari, tapi aku ingin datang kemari."
"Siau-hong," Pek Bwe segera berbisik, "cobalah minta
kepada nona ini untuk menghantar kita menjumpai tokoh
sakti tersebut." Cu Siau-hong mengangguk, kepada gadis berbaju hijau
itu katanya kemudian : "Nona, aku tahu kau pasti akan merasa serba susah,
cuma, kami benar-benar ingin berjumpa dengannya,
bersediakah kau untuk membantu kami........"
Nona berjubah hijau itu menundukkan kepalanya dan
tidak menyahut, wajahnya menunjukkan serba salah.
Jelas ia dibuat kesulitan untuk menampik permintaan
pemuda tersebut, sehingga untuk sesaat lamanya menjadi
serba salah. Pek Hong yang melihat kejadian itu segera berbisik :
"Ayah, coba lihatlah keadaannya itu, jangan terlalu
menyusahkan orang lain."
"Sstt, jangan kau urusi soal ini," tukas Pek Bwe sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Pek Hong cukup memahami watak ayahnya, ia tahu
ayahnya sampai menyulitkan orang, hal ini pasti disebabkan
oleh alasan tertentu, maka ia pun tidak berbicara lagi.
Agaknya Cu Siau-hong merasa tidak tega juga melihat
kesulitan si nona itu, sambil menghela napas dia pun
berkata lagi : "Nona bila kau benar-benar merasa keberatan, aku tak
akan memaksa dirimu!"
Pelan-pelan gadis berbaju hijau itu mendongakkan
kepalanya, kemudian bertanya :
"Hanya kau seorang yang hendak menjumpainya?"
"Juga Lohu!" cepat Pek Bwe menyambung.
"Kau juga ingin ikut?"
Setelah menghela napas panjang, gadis itu berkata lagi :
"Aku telah menyaksikan semua peristiwa yang kalian
alami, memang kejadian itu betul-betul mengenaskan dan
memedihkan hati, kalian tentu tak punya waktu lagi untuk
mencari lebah-lebah tersebut."
"Yaa, kami memang mempunyai kesulitan tersebut."
"Tapi jika kalian tak dapat menyerahkan lebah-lebah itu,
jika Ouyang-pepek sampai marah mungkin kesulitan lebih
besar bakal kalian jumpai untuk mengatasi persoalan ini,
hanya Koay-pepek yang bisa mencarikan akal untuk
mengatasinya." "Ooo......." "Aku sebenarnya juga ingin membawamu untuk pergi
memohon bantuan kepadanya, tapi aku tak tahu apakah ia
bersedia membantumu atau tidak."
"Apakah empek Koay kenal dengan Ouyang-sianseng?"
tanya Cu Siau-hong kemudian.
"Semestinya kenal, cuma belum pernah kujumpai
mereka berdua saling bercakap-cakap.
"Bila nona bermaksud demikian, kami semua pasti akan
merasa berterima kasih sekali."
"Baiklah!" kata nona berbaju hijau itu kemudian, "akan
kuajak kalian berdua untuk menjumpainya, tapi wataknya
sangat buruk, setelah bertemu nanti kalian musti banyak
bersabar." "Terima kasih atas petunjuk dari Nona!"
Pek Bwe mendehem pelan, lalu berkata :
"Hong-ji, kini pintu tempat Ling-kang bersemayam telah
ditutup, kau tak usah tinggal di sini lagi, ikut saja dengan
Yu-tongcu kembali ke kota Siang-yang, sedang aku dan
Siau-hong setelah bertemu jago lihay itu akan menyusul
pula ke kota Siang-yang."
"Locianpwe, apa perlu membawa orang lebih banyak?"
bisik Seng Tiong-gak lirih.
"Tidak perlu........"
Ia merendahkan suaranya dan melanjutkan kembali :
"Tiong-gak, pesan kepada Yu Lip agar jangan
menceritakan kejadian ini kepada siapa pun, kemungkinan
besar orang yang dimaksudkan nona itu adalah Koay-sian
(dewa pincang) yang sudah tiga puluh tahun lamanya
lenyap, terutama di dalam hal ilmu perbintangan dan ilmu
meramal nasib, ia memiliki kemampuan yang melebihi siapa
pun. Empat puluh tahun berselang, Lohu kesempatan untuk
bertemu muka sekali dengannya, atas petunjuknya pula aku
berhasil menghindari suatu bencana yang amat besar."
"Boanpwe mengerti, silakan Locianpwe berangkat!"
Di bawah petunjuk dari nona berbaju hijau itu,
berangkatlah Pek Bwe dan Cu Siau-hong menuju ke hutan.
Ketika mereka tiba di depan hutan, gadis berbaju hijau
itu kembali berkata : "Harap kalian tunggu sebentar di sini, akan
kuberitahukan dulu kunjungan kalian kepada empek Koay!"
Sehabis berkata, ia masuk ke dalam hutan.
Memandang bayangan punggung si nona hingga lenyap
dari pandangan, Cu Siau-hong berkata agak kuatir :
"Locianpwe, jika ia enggan berjumpa dengan kita, apa
yang musti kita lakukan?"
"Yaa, lihat saja nanti apa kita lagi mujur atau tidak! Jika
ia bersikap keras tak mau berjumpa, sekalipun kita dapat
berjumpa dengannya juga percuma."
"Kalau begitu, Locianpwe kenal dengan orang itu?"
"Bila dugaanku tidak salah, dia adalah Dewa Pincang
yang amat tersohor dalam dunia persilatan di masa lalu,
tiga empat puluh tahun berselang, pena wasiat Cun-ciu-pit


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pernah menyampaikan sepatah kata sindiran atas
kepandaian ilmu meramalnya, justru karena kata sindiran
itu terpaksa ia musti mengundurkan diri dari keramaian
dunia. Tak disangka ternyata ia berdiam di bukit Liongtiong-
san. Dulu, ketua Siau-lim-pay yang lalu pernah
mengajaknya berkunjung ke kuil Siau-lim-si tanpa
sekehendak hatinya, karena itulah meski sudah tiga bulan
ia berdiam di situ tak sepatah kata pun yang diucapkan."
Sementara pembicaraan masih berlangsung dengan
langkah cepat gadis berbaju hijau telah muncul kembali."
"Cu-kongcu!" katanya, "empek Koay bersedia
menjumpaimu!" "Nona cilik, apakah Lohu juga disinggung?" tanya Pek
Bwe. "Ya, kau juga disinggung!"
"Lantas apa katanya?"
"Sebenarnya ia enggan bertemu denganmu, akulah yang
memohon berulang kali kepadanya sebelum ia
menyanggupi juga, cuma ia minta aku untuk
menyampaikan sepatah kata kepadamu................"
"Tunggu sebentar, apakah ia menanyakan bentuk
wajahku?" tukas Pek Bwe.
"Benar!" "Nah, kalau begitu teruskan!"
"Ia minta aku untuk menyampaikan kepadamu, bahwa
sesudah berjumpa nanti maka kau hanya diperbolehkan
mengajukan dua pertanyaan, sebab itu kau musti berpikir
baik-baik sebelum berbicara."
"Baik, Lohu sudah mengerti!"
Maka gadis berbaju hijau itu pun membawa mereka
berdua menuju ke dalam hutan.
Sepanjang jalan Cu Siau-hong memperhatikan sekeliling
tempat itu dengan seksama, dia ingin tahu kenapa
kedatangannya tempo hari diketahui orang tanpa ia sendiri
mengetahuinya, hal mana amat tidak memuaskan hatinya
selama ini. Sebab itulah, begitu masuk ke dalam hutan, biji matanya
segera berputar ke sana kemari memperhatikan dengan
sesama : Melihat itu, tersenyumlah si nona berbaju hijau.
"Kau tak akan menemukan jejaknya," ia berseru, "dia
bersembunyi di balik dedaunan yang rimbun, lagi pula
sering kali berpindah tempat."
"Nona!" bisik Cu Siau-hong, "jika seseorang harus
bergerak di tengah dedaunan yang rimbun, apakah
perbuatannya itu tak akan menimbulkan suara?"
"Tidak mungkin, tubuh empek Koay kurus, kurus sekali,
ditambah lagi semua peralatan yang dimilikinya, sekalipun
ia melompat-lompat juga tak akan menimbulkan suara apaapa."
Cu Siau-hong segera menghembuskan napas panjang.
"Oooh...... kiranya begitu!" ia berbisik.
Dalam pembicaraan itu sampailah mereka di bawah
sebatang pohon yang sangat besar.
Sambil menuding ke arah pohon besar itu, nona berbaju
hijau tersebut berkata : "Tunggu saja kalian di situ!"
"Apakah ia di atas pohon besar ini?" tanya Cu Siau-hong
sambil mendongakkan kepalanya memperhatikan pohon
besar itu. "Benar!" gadis baju hijau itu lantas mengadah dan
berteriak keras, "empek Koay, kami berada di sini!"
Sreet! Sreet! di antara bunyi gemeresik, sebuah tempat
duduk yang terbuat dari rotan telah dikerek turun dari atas
pohon besar itu. "Cu-kongcu, silakan duduk di sana!" ujar gadis berbaju
hijau itu kemudian sambil tertawa.
"Oooh..........!" Cu Siau-hong segera duduk dalam
keranjang tali. "Empek Koay pernah bilang, setelah duduk di atas kursi
ini maka setiap orang musti pejamkan mata dengan begitu
keranjang tersebut baru akan bergerak naik ke atas, ia baru
boleh membuka matanya kembali bila keranjang itu telah
berhenti," kata si nona.
Cu Siau-hong mengerti, rupanya orang itu kuatir kalau
rahasia peralatannya ketahuan orang, maka ia pun
pejamkan matanya, bahkan memejam rapat-rapat dengan
niat sungguh-sungguh. Pelan-pelan keranjang itu mulai bergerak naik ke atas,
berputar dan dalam perasaannya ia harus naik turun
beberapa waktu lamanya sebelum benar-benar berhenti.
Menanti keranjang itu betul-betul berhenti sama sekali,
Cu Siau-hong baru membuka matanya.
Ternyata ia telah berada di tengah pepohonan yang
berdaun sangat lebat, sedemikian lebatnya sehingga tidak
nampak pemandangan apa pun juga.
Di depan sana terpentang sebuah jembatan kayu kecil,
suara dingin yang nyaring berkumandang dari seberangan
sana : "Jalan kemari!"
Cu Siau-hong menyeberangi jembatan kayu di ujung
sana, ternyata merupakan sebuah rumah kayu kecil.
Bangunan rumah kayu itu dibangun di atas dahan-dahan
pohon yang besar dan kuat, dalam ruangan tersebut ada
lima buah bangku kayu kecil yang pendek, di atas salah
satu bangku pendek itu duduklah seorang kakek ceking.
Sebuah jubah panjang hampir menutupi sepasang lutut
sampai kakinya, tapi wajah dan sepasang lengannya dapat
terlihat dengan jelas. Pelan-pelan kakek ceking itu mengelus jenggot
panjangnya yang putih, lalu berkata dengan lirih :
"Siapa namamu?"
"Boanpwe bernama Cu Siau-hong!"
"Kau adalah murid Bu-khek-bun?"
"Benar!" Dari mulut nona berbaju hijau itu, Cu Siau-hong sudah
tahu kalau kakek ini tak suka banyak bicara, maka jawaban
yang ia berikan diusahakan sesingkat mungkin."
"Gurumu Tiong Ling-kang sudah mati belum?"
"Sudah mati, murid Bu-khek-bun juga ada tujuh orang
yang mati, tiga orang lenyap, sekarang tinggal aku dan
Toa-suheng Tang Cuan berdua!"
Kakek ceking itu mendengus dingin :
"Hmm! Tiong Ling-kang terlalu memikirkan soal
keberhasilan dan kesuksesan, dia tak tahu bagaimana cara
berhubungan dan membawa diri secara baik, oleh karena
itu sangat merugikan masa hidupnya di dunia ini!"
Sekalipun ucapannya tidak sungkan-sungkan, tapi
nadanya tandas dan meyakinkan.
Cu Siau-hong merasa tak sanggup untuk menjawab,
karena itu ia cuma berdiam diri belaka........"
"Bocah kecil apakah kau merasa tidak puas dengan kritik
yang Lohu lontarkan ini?" tanya kakek ceking itu lagi.
"Oooh tidak, Boanpwe hanya merasa bahwa ucapan
Locianpwe mengandung arti yang amat mendalam, karena
itu Boanpwe tak tahu bagaimana harus menjawab."
Kakek ceking itu tertawa.
"Suatu jawaban yang amat bagus!" katanya, coba kalau
Tiong Ling-kang memiliki setengah saja dari sifat lembut
yang kau miliki, tak akan dia jumpai bencana besar seperti
apa yang dialaminya sekarang, namun apa yang diharapkan
dapat diwujudkan semua, nama besarnya menggetarkan
pula seluruh dunia persilatan! Sekalipun dia bisa mati
dengan puas..........."
"Mendiang guruku berjiwa terbuka, penuh welas kasih
dan berhati jujur, karena itulah ia terjebak oleh
kemunafikan musuh terkutuk...."
"Walaupun ia mati terlampau cepat, tapi meninggalkan
nama harum di dunia persilatan!" tukas kakek ceking itu,
"soal bagaimanakah wataknya dan jasanya, kita serahkan
saja penilaiannya pada pena wasiat Cun-ciu-pit, kita tak
perlu membicarakannya lagi......."
Pokok pembicaraan pun segera dialihkan ke soal lain,
kembali ia berkata lebih jauh :
"Bocah muda, coba kau perhatikan diri Lohu, apakah ada
sesuatu yang berbeda dengan orang lain?"
Dengan seksama Cu Siau-hong perhatikan sekejap ke
wajah kakek ceking itu, kemudian sahutnya :
"Boanpwe tidak berhasil mengetahuinya, maaf bila aku
bermata tak berbiji, hingga tidak melihat apa-apa."
"Mukaku membawa hawa kematian, umur pun pasti tak
akan lama lagi!" Sekali lagi Cu Siau-hong perhatikan wajah orang dan
berusaha mencocokkan dengan apa yang dikatakan itu, tapi
kembali ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Boanpwe benar-benar tak dapat melihat tanda-tanda
tersebut, tapi.... bukankah Locianpwe masih hidup segar
bugar?" "Orang yang hampir mati biasanya akan tampak selapis
hawa kematian yang menyelubungi wajahnya, tapi bila
setiap orang dapat melihat tanda-tanda tersebut, Lohu tak
akan disebut orang sebagai Dewa Pincang."
"Jadi kau adalah Dewa Pincang yang sudah termasyhur
sejak tiga puluh tahun berselang itu?"
"Yah, Lohu memang si Dewa Pincang Ui Thong........!"
Setelah menghela napas panjang, katanya lebih jauh.
"Tentu budak Giok yang melukiskan wajahku dan Pek
Loya-cu berhasil menebak asal-usulku bukan?"
"Jika wajah Locianpwe memang persis seperti dulu,
kenyataannya memang demikian.
"Bocah cilik, tahukah kau kenapa Lohu harus mati?" tibatiba
Ui Thong bertanya lagi. Cu Siau-hong benar-benar dibikin tertegun oleh
pertanyaan tersebut, jika seseorang harus mati dan
kematian tersebut ada alasannya dan bisa ditebak duluan,
bukankah orang itu bisa mencoba untuk menghindar diri
dari kematian itu" "Hei, anak muda, mengapa kau tidak menjawab?" tegur
Ui Thong kembali. "Boanpwe bodoh sekali dan tak tahu bagaimana harus
menjawab, sebab bila seseorang dapat mengetahui saat
kematiannya, itu berarti ia sudah mengetahui rahasia langit,
pendapat ini terlampau tinggi bagiku, Boanpwe merasa tak
dapat memahaminya dengan jalan pikiranku."
"Haaahhh............ haaahhh.............. haaahhh...........
bocah pintar memang patut dipuji, jadi kau percaya kalau
takdir itu ada?" "Sesungguhnya dalam alam semesta yang lebar ini
terdapat suatu kekuatan tak berwujud yang mengatur
segala sesuatunya, orang bilang siapa berbuat kebaikan dia
akan menerima kebaikan, siapa berbuat kejahatan dia akan
menerima hukuman, itu berarti karma ada pada diri
manusia, dus berarti takdir itu pun ada, takdirlah yang akan
menentukan garis-garis kehidupan kita semua sepanjang
manusia itu hidup di alam semesta."
"Kekuatan tak berwujud itulah yang mengatur kita dan
menentukan takdir dari tiap-tiap insan manusia tersebut."
Sementara pembicaraan berlangsung, diam-diam Cu
Siau-hong merasa heran kenapa sampai saat itu Pek Bwe
belum juga sampai di situ"
Rupanya Ui Thong dapat menebak suara hatinya, sambil
tertawa ia lantas berkata :
"Bocah cilik, Lohu telah menggunakan sedikit alat rahasia
untuk menunda kedatangannya di sini, bila pembicaraan
telah selesai nanti, mereka pun akan tiba pula di sini."
Tertegun Cu Siau-hong setelah mendengar jawaban
tersebut, segera pikirnya :
"Tak heran kalau pena wasiat Cun-ciu-pit mengkritik
permainannya, yaa....... permainan alat rahasianya
memang aneh, sakti tapi menakutkan sekali........."
Berpikir sampai di situ, dia pun berkata :
"Tolong tanya, apa yang hendak Locianpwe bicarakan
dengan diriku, harap segera dijelaskan, dengan senang hati
akan Boanpwe perhatikan dengan seksama, cuma jangan
mengutarakannya dengan kata-kata rahasia, Boanpwe tak
akan mengerti." "Baik!" ujar Ui Thong kemudian, "mari kita bicarakan
secara terbuka. Ketahuilah bencana yang Lohu alami akan
terjadi dalam sepuluh hari mendatang, sekalipun usiaku
sudah cukup tua tapi aku masih belum ingin mati, lagi pula
sepanjang hidup aku selalu mempelajari rahasia langit, aku
berharap dengan mengandalkan kepandaian yang kumiliki
ini bencana tersebut bisa kuhindari."
"Oooh.........!"
"Setelah Lohu periksa dari segi rahasia langit, dari segi
ilmu meramal dan ilmu perbintangan lainnya, kuketahui
bahwa aku masih mempunyai setitik harapan untuk hidup
lebih jauh, tapi membutuhkan orang untuk meloloskan diri
dari bencana itu, secara kebetulan orang yang bisa
membantuku itu adalah kau."
"Aaah! Masa iya" Kau yang mengerti soal ilmu
perbintangan dan ilmu meramal pun tak dapat menolong
dirimu sendiri, apa yang bisa kubelikan untukmu?"
Ui Thong menghela napas panjang.
"Aaai.........! selama tiga puluh tahun lebih aku
menyembunyikan diri untuk menyelamatkan diri,
menggunakan kesempatan tersebut aku banyak mencari
obat penolong orang dengan maksud memelihara masa
kehidupanku, tentu saja jika kau bersedia membantu
sekarang, Lohu tak akan menerima bantuanmu dengan
begitu saja, suatu balas jasa pasti akan kuperuntukkan
bagimu." "Jika Boanpwe dapat membantu, tanpa balas jasa pun
Boanpwe bersedia membantu diri Cianpwe!"
"Pertama, kau harus bersedia tinggal selama sepuluh
hari di sini, dalam sepuluh hari tersebut, segala sesuatunya
kau harus menuruti apa yang Lohu pesankan."
Cu Siau-hong termenung dan berpikir sebentar,
kemudian sahutnya : "Baik! Boanpwe bersedia, apakah masih ada persoalan
lain."

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Seandainya aku tak mampu melawan takdir dan
akhirnya meninggal, maka kau pun harus menuruti pesan
terakhirku untuk menyelesaikan persoalan terakhirku."
"Baik! Boanpwe turut perintah."
Ui Thong segera tertawa, tiba-tiba ia menggerakkan
seutas rotan yang berada di samping bangkunya.
Bergeraklah tali itu ke atas dengan membawa Pek Bwe
yang duduk di keranjang tersebut.
Pek Bwe ternyata mengingat baik-baik pesan dari gadis
berbaju hijau itu, setibanya dalam ruangan ia tak berbicara
atau pun menyapa. Ui Thong mendehem pelan, kemudian ujarnya lebih dulu
: "Apakah budak itu berada di bawah sambil memasang
mata" Apa yang hendak kalian katakan" Sekarang boleh
kalian utarakan. Pek Bwe manggut-manggut, tapi ia belum mau juga
bersuara. "Pek-cianpwe!" kata Cu Siau-hong kemudian, "Uicianpwe
minta kepadaku untuk berdiam selama sepuluh
hari di sini untuk membantu dia guna menyelesaikan sedikit
persoalan, entah boleh tidak?"
Pek Bwe mengalihkan sinar matanya ke wajah Cu Siauhong,
kemudian tertawa dan tetap tidak berbicara.
Melihat itu, dengan kening berkerut Cu Siau-hong segera
bertanya : "Locianpwe, apakah kau menyetujuinya?"
Pek Bwe masih juga tidak menjawab, tapi sinar matanya
dialihkan kembali ke wajah Ui Thong.
Ia hanya diperbolehkan mengucapkan dua patah kata
saja, itu berarti ucapan baginya sangat berharga, sehingga
setiap patah kata yang hendak diajukan harus direncanakan
lebih dulu dengan matang agar bisa mendapatkan hasil
yang sepadan. Cu Siau-hong masih juga tidak mengerti apa gerangan
yang terjadi antara kedua orang itu, terpaksa katanya :
"Saudara berdua, kalau ada persoalan lebih baik
dikatakan sekarang juga."
Ui Thong tertawa, tiba-tiba katanya :
"Pek Bwe, kuijinkan kepadamu untuk berbicara dua
patah kata lebih banyak lagi, nah sekarang kau buka
mulutmu untuk berbicara!"
Pek Bwe menghembuskan napas panjang, ia segera
bertanya : "Kau sudah tahu kalau Tiong Ling-kang bakal mati?"
"Ehmm! Aku telah melihat hawa kematian di atas
wajahnya!" "Kenapa tidak kau tolong dirinya?"
"Sebab itu sudah kehendak takdir, apakah kau
menginginkan aku berbuat melawan takdir?"
Pek Bwe menghela napas panjang.
"Aaai..........! aku sudah menembusi soal mati hidupku
sendiri, maka aku pun tak ingin menanyakan soal rejeki
atau bencana bagi diriku lagi, aku hanya bertanya
kepadamu, bagaimanakah nama baik Tiong Ling-kang"
Pantaskah kalau menerima pertolonganmu?"
"Menurut perhitunganku dengan kesuksesan yang dimiliki
Tiong Ling-kang sekarang, mana mungkin ia mau percaya
dengan perkataanku" Sekalipun kubocorkan rahasia langit,
apa pula manfaatnya!"
"Oooh, kiranya begitu! Baiklah, perkataan Lohu telah
selesai, aku hendak mohon diri lebih dahulu."
Kenyataan ini justru malah membuat Ui Thong tertegun,
"Pek Bwe, apakah kau tidak mengharapkan petunjuk
dariku?" "Tidak perlu, tempo hari musti berkata petunjukmu itu
aku bisa menghindari suatu bencana, tapi kehidupanku
selama dua tahun tersebut sangat tidak tenang, sekarang
usiaku sudah tua, soal mati hidup sudah tidak kupikirkan
lagi, apa yang kuharapkan hanyalah bisa mati dengan
berharga dan mati dengan perasaan tenang."
"Locianpwe, apakah aku boleh tinggal di sini?" tanya Cu
Siau-hong. "Boleh, cuma kau musti bertanya dulu kepadanya
bagaimana caranya mendapatkan lebah besar! Sepuluh hari
kemudian, aku akan datang lagi untuk menjemputmu!"
Selesai berkata ia lantas melayang turun ke bawah dan
sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap
tak berbekas. Dengan termangu-mangu Ui Thong memperhatikan luar
pintu tanpa berkedip, sikapnya amat serius dan untuk
sesaat lamanya tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Locianpwe!" Cu Siau-hong segera berkata, "pesan apa
yang hendak kau sampaikan kepadaku" Katakanlah, cuma
aku........" "Kau mau sedikit syarat dan berharap aku mau
menggantikan lebah-lebah beracun milik Ouyang si makhluk
tua itu?" sambung Ui Thong.
"Benar! Inilah yang dijanjikan mendiang guruku,
sekarang Suhu telah mati maka kami sebagai muridnya
berkewajiban untuk melanjutkan janjinya itu."
Ui Thong manggut-manggut.
"Aku bisa membantumu dengan sekuat tenaga untuk
menyelesaikan persoalan ini," katanya :
"Baik! Sekarang urusanku telah selesai, jika Locianpwe
mengharapkan bantuanku, silakan kau ucapkan!"
Dari sakunya, Ui Thong mengeluarkan tiga buah kantong
sutra, kemudian sambil diangsurkan katanya :
"Di atas kantong-kantong itu sudah kucantumkan nomor,
terhitung mulai hari ini, luhur hari ketiga kau harus
membuka kantong pertama, hari kelima kau buka kantong
kedua dan hari ketujuh kau buka kantong ketiga,
lakukanlah seperti apa yang telah kutulis dalam kantongkantong
tersebut : "Boanpwe telah mengingat semua pesan Cianpwe, sahut
Cu Siau-hong sambil menerima kantong-kantong itu, "tapi
bagaimana pula caraku untuk memenuhi janji guruku
dengan Ouyang-sianseng" Harap Locianpwe suka pula
memberi petunjuk." Ui Thong manggut-manggut, kembali ia mengeluarkan
sebuah botol porselen dari sakunya, lalu berkata :
"Pergilah dan serahkan botol ini kepada Ouyangsianseng,
maka dia pun tak akan menanyakan lagi soal
lebah beracun itu!" Itulah sebuah botol porselen putih, setelah menerimanya
dan dibuat main sebentar, Cu Siau-hong bertanya lagi :
"Locianpwe, apa isi botol ini?"
"Obat!" "Bolehkah Boanpwe membuka botol ini untuk melihat
isinya?" "Boleh saja, bukalah sendiri!"
Ketika Cu Siau-hong membuka botol itu dan melongok
isinya, terlihatlah isi botol porselen itu ternyata adalah
setengah botol bubuk berwarna putih.
Cuma saja botol itu besarnya seibu jari, sehingga isi obat
pun amat terbatas. "Nah, kau tak usah kuatir!" kata Ui Thong, "obat tersebut
sudah cukup untuk memuaskan hatinya, cuma makhluk tua
Ouyang pun seorang yang kikir, maka kau harus baik-baik
mengetuknya!" "Mengetuk bagaimana?"
"Dia memiliki sejenis ilmu sakti yang disebut Ciat-lip-jiu
(tangan sakti penerus tenaga), itu terhitung suatu
kepandaian yang sangat tinggi, juga merupakan ilmu
kebanggaan makhluk tua she Ouyang selama malang
melintang dalam dunia persilatan, maka sebelum kau
menyerahkan obat ini kepadanya, kau harus memaksanya
untuk mewariskan dulu kepandaian tersebut kepadamu :
Cu Siau-hong segera tertawa getir,
"Ui-cianpwe, kalau memang kepandaian tersebut
merupakan ilmu simpanannya, masa dia mau mewariskan
kepadaku?" "Dengan obat tersebut sebagai syarat pertukarannya, dia
pasti akan penuhi keinginanmu itu."
"Tapi kalau Boanpwe disuruh memeras orang di kala
orang lagi membutuhkan, rasanya....... rasanya aku enggan
untuk mengatakannya."
"Nak, sekalipun enggan, kau juga musti
mengatakannya..........."
"Kenapa?" sela Cu Siau-hong.
"Sebab ilmu Ciat-lip-jiu tersebut akan sangat membantu
bagi usahamu untuk membalas dendam serta membangun
kembali Bu-khek-bun di kemudian hari, kau musti mengerti,
tidak besar kesempatan Ouyang lo-koay untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, sekalipun secara kebetulan
dia pun akan mengasingkan diri kembali, maka jika ilmu
tersebut tidak kau pelajari, kemungkinan besar ilmu sakti
Ciat-lip-jiu tersebut akan segera lenyap dari muka bumi."
"Apakah dia tak punya murid?"
"Siau-hong, ilmu sakti semacam itu bukan sembarangan
orang bisa mempelajarinya, sekalipun dia punya seorang
putra, sayang bukan bahan baik untuk belajar silat."
Cu Siau-hong termenung sebentar, lalu katanya :
"Bila ilmu tersebut kupelajari bukan demi kepentingan
Boanpwe pribadi, Boanpwe sih bersedia untuk mencobanya.
Tapi jika Ouyang-cianpwe tidak mengabulkan permintaanku
itu?" "Makanya kusuruh kau gunakan sedikit akal, katakan
saja kalau hal ini merupakan syarat dari Suhumu, jika ia
menghendaki isi obat dalam botol itu, maka dia harus
mewariskan ilmu sakti Ciat-lip-jiu tersebut kepadamu."
Cu Siau-hong berpikir sejenak, kemudian sahutnya :
"Kalau begitu biar Boanpwe mencobanya :
"Nah, kita boleh berpisah sampai di sini dulu, sampai
jumpa lusa mendatang......!"
Seperti ketika naik, sewaktu turun pun Cu Siau-hong
menumpang keranjang derek tersebut.
Ketika ia membuka matanya kembali, keranjang itu
sudah tiba di bawah pohon, si nona berbaju hijau itu masih
menunggu di situ. "Cu-kongcu!" nona berbaju hijau itu segera bertanya,
"apa yang dibicarakan empek Koay denganmu?"
"Ia memberi setengah botol obat kepadaku, mari kita
pergi menemui Ouyang-sianseng!"
Agaknya nona berbaju hijau itu menaruh kepercayaan
penuh terhadap diri Dewa Pincang Ui Thong, mendengar
perkataan itu, sambil tertawa sahutnya :
"Baik! Mari kita berangkat.........."
Di tengah jalan, gadis itu kembali berkata :
"Hubungan empek Ouyang dan empek Koay sangat tidak
baik, sekalipun sudah banyak tahun mereka hidup
bertetangga, tapi belum pernah kujumpai mereka saling
berbicara barang sepatah kata pun."
"Apakah hubungan mereka berdua memang buruk
sekali?" "Bukan Cuma buruk sekali, empek Ouyang sangat jemu
atas diri empek Koay, sering kali ia memakinya sebagai
manusia yang pandai mempermainkan rahasia langit tanpa
memperdulikan mati hidup orang lain."
"Oooh.........!"
"Konon empek Ouyang pernah cekcok dengan empek
Koay," kata nona berbaju hijau itu lebih jauh, "cuma aku
tidak menyaksikan sendiri jalannya peristiwa itu."
Cu Siau-hong menghela napas panjang, katanya :
"Apakah Ouyang-locianpwe mempunyai murid?"
"Empek Ouyang mempunyai seorang teman yang sedang
sakit, orang itu mengidap suatu penyakit yang aneh sekali,
aku tak tahu sejak kapan ia menderita penyakit tersebut,
pun tak tahu berapa besar usianya, karena ia selalu
berbaring dalam gua itu dan tak pernah keluar."
"Kau tak pernah memasuki gua itu?"
"Tidak pernah, empek Ouyang tidak mengijinkan aku
masuk!" Cu Siau-hong menghela napas panjang.
"Aaai...... tak kusangka dalam hutan di belakang bukit
yang sepi dan terpencil ini telah menetap begini banyak
jago sakti, padahal kami yang tinggal di dekatnya sedikit
pun tak tahu akan hal ini."
Nona berbaju hijau itu mengerdipkan matanya yang
besar, kemudian berkata :
"Heran, kenapa mereka harus tinggal di tempat seperti
ini?" Setelah menghembuskan napas panjang, katanya lebih
jauh : "Cu-kongcu, menurut apa yang kuketahui di sini kecuali
tinggal empek Koay dan empek Ouyang, masih ada seorang
lagi, sayang aku tidak kenal dengan dirinya, sehingga tidak
kuketahui pula siapa namanya dan berasal dari mana."
"Nona siapa namamu, kenapa bisa tinggal di tempat
seperti ini?" Nona berbaju hijau itu tertawa.
"Kalau berbicara sesungguhnya, aku sendiri pun tak tahu
siapa namaku sendiri, aku lebih hanya seorang manusia
bernasib jelek yang dipelihara orang lain."
"Oooh...... kalau begitu nona tinggal bersama siapa?"
"Dengan ibu angkatku!"
"Siapa nama ibu angkatmu" Sekarang ia berada di
mana?" "Ibu angkatku sudah mati pada tiga tahun berselang, ia
dikebunkan di belakang bukit sana dan meninggalkan
sebuah rumah gubuk untukku."
"Oooh........" Pemuda itu merasa bahwa asal-usul gadis ini amat
mengenaskan, sebenarnya dia ingin mengucapkan beberapa
patah kata untuk menghibur hatinya, tapi dia pun tak tahu
harus berbicara dari mana.
Nona berbaju hijau itu melirik sekejap ke arah Cu Siauhong,
kemudian berkata lagi : "Setelah ibu angkatku meninggal dunia, aku hidup
seorang diri dalam rumah gubuk itu, empek Koay, empek


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ouyang walaupun saling tidak akur, tapi mereka amat
memperhatikan keadaanku."
"Apakah kau pandai bersilat?"
"Pandai sih tidak, hanya bisa."
"Siapa yang mewariskan ilmu silat kepadamu?"
"Waktu masih hidup dulu, ibu angkatku yang
menurunkan ilmu silat kepadaku, empek Ouyang juga
sering memberi petunjuk kepadaku, sedangkan empek Koay
kadang kala juga menurunkan satu dua jurus kepadaku bila
kebetulan ia sedang bersenang hati."
"Kalau begitu ilmu silat yang nona miliki tentu lihay
sekali?" "Aku tak tahu, selamanya aku tak pernah bertarung
melawan orang lain...."
Cu Siau-hong kembali termenung beberapa saat
lamanya, kemudian ia pun berkata :
"Sekarang, mari kita menjumpai Ouyang-sianseng!"
Nona berbaju hijau itu tertawa, manis sekali
senyumannya, lalu berkata :
"Baik! Mari kubawa jalan untukmu."
"Nona, setelah berjumpa dengan Ouyang-locianpwe
nanti, biar aku saja yang berbicara!"
Nona baju hijau itu manggut-manggut.
"Baik Cu-kongcu, selama aku berada bersamamu, aku
pasti akan mendengarkan semua perkataanmu."
Nona berbaju hijau itu membawa Cu Siau-hong
menembusi hutan dan sampai di bawah sebuah tebing
karang, kemudian dengan suara keras teriaknya,
"Empek Ouyang, ada orang datang mencarimu!"
Sesosok bayangan manusia segera berkelebat lewat dari
atas sebuah tebing karang yang dua kaki tingginya itu,
dalam sekejap mata orang itu sudah tiba di depan mata.
Cu Siau-hong segera kenali orang itu sebagai kakek
berjubah abu-abu yang pernah dijumpainya itu.
--------------------------------------------------
5 "Empek Ouyang! Nona berbaju hijau itu segera berkata!
Cu-kongcu ada urusan ingin bertemu denganmu!"
"Oooh.......!" kakek berjubah abu-abu itu manggutmanggut,
kemudian sambil berpaling tegurnya, "kau datang
dari Bu-khek-bun?" "Betul, Cayhe datang untuk mewakili guruku!"
"Kenapa gurumu tidak datang sendiri?"
"Sebab gurunya sudah mati!" seru si nona berbaju hijau
dari samping. Mendengar jawaban tersebut, kakek berbaju abu-abu itu
menjadi tertegun, lalu tanyanya :
"Kapan matinya?"
"Dua hari berselang!" sahut Cu Siau-hong.
"Apakah anggota perguruan Bu-khek-bun tinggal kau
seorang?" "Tidak, masih ada empat orang, beberapa orang lagi
lenyap tak berbekas, mungkin mereka masih hidup tak
berbekas, mungkin mereka masih hidup mungkin juga
sudah mati, aku tak berani menduganya."
"Waktu gurumu membunuh lebahku tempo hari, apakah
kau hadir di tempat kejadian?"
"Benar!" "Bila kau dapat mewakili gurumu untuk mengembalikan
lebah-lebah beracun itu kepadaku, aku bisa menyelesaikan
peristiwa tersebut sampai di sini saja!"
"Kau harus tahu kami tidak punya cukup waktu untuk
mencari lebah-lebah beracun itu untuk dikembalikan
kepadamu, apalagi pergi ke tempat yang begitu jauh."
"Gurumu menganggap hal ini merupakan suatu
pekerjaan yang sangat gampang, dengan kedudukan dan
nama besarnya aku percaya akan perkataannya itu dan
membiarkan ia pergi, aku percaya dia tak bakal lari, tapi
aku tak mengira kalau ia sudah mati."
Setelah berhenti sejenak katanya lebih jauh :
"Cuma dia masih punya murid, tentu murid-muridnya
bisa mewakili gurunya untuk menepati janji........."
"Jadi rupanya kau melepaskan kami karena sudah
mempunya rencana licik!" seru Cu Siau-hong tiba-tiba.
"Anak muda, kata rencana licik kurang sedap didengar,
apakah kau anggap Lohu tak sanggup membunuh kalian
pada waktu itu?" Cu Siau-hong segera menghela napas panjang.
"Aaai...... aku baru pertama kali ini terjun ke dalam
dunia persilatan, sungguh tak kusangka kesan yang
kudapat tentang dunia persilatan ternyata begitu berbahaya
dan memuakkan." "Dunia persilatan pada hakikatnya memang tempat yang
berbahaya dengan segala macam akal busuknya, bocah,
kau telah datang mewakili gurumu, pertanggungan jawab
apakah yang hendak kau berikan kepadaku?"
"Tidak, sekarang aku telah berubah pikiran."
"Berubah pikiran?" kakek berjubah abu-abu itu
tercengang. "Yaa, ketika meninggal dunia Suhu tidak berpesan
kepadaku untuk mewakilinya memenuhi janji ini, tapi
sekarang aku telah datang, aku kemari tak lain hanya ingin
mewujudkan rasa baktiku sebagai seorang murid terhadap
gurunya, sungguh tak disangka dunia persilatan adalah
tempat yang penuh dengan tipu muslihat, karena itu
rasanya aku pun tak usah memenuhi janji ini lagi."
Kontan saja kakek berjubah abu-abu itu tertawa dingin.
"Heeehh.......heeehh........heeehh......... setelah kau tiba
di sini, maka jangan harap bisa pergi lagi sebelum
memberikan pertanggungjawaban mu, betul Tiong Lingkang
sudah mati, tapi kalian Bu-khek-bun toh masih ada
orang yang hidup, karena itu yang masih hidup harus
memberikan pertanggungan jawaban kepadaku."
Seusai mendengar perkataan itu, Cu Siau-hong mulai
berpikir dalam hati kecilnya :
"Tampaknya apa yang dikatakan Ui Thong memang
betul, meskipun Ouyang-sianseng ini tidak terhitung
seorang jahat, tapi ia adalah seorang makhluk aneh, ia
hanya tahu demi keuntungan sendiri tanpa memikirkan
kesulitan orang lain........."
Dalam detik itulah ia telah meresapi banyak sekali
masalah kehidupan, ia pun menyelami pula kelicikan dan
kebusukan dunia persilatan, hal mana dengan cepat
menimbulkan pula pendapat dalam hatinya bahwa hidup
dalam dunia persilatan tak boleh terlalu jujur, kadang kata
kelicikan dan kecerdasan otak memang sangat dibutuhkan.
Berpikir sampai di situ, ia pun bertekad untuk mulai
mempergunakan kecerdasan dan segala akal liciknya untuk
memasuki dunia persilatan.
Secara tiba-tiba ia meresapi juga makna yang
sesungguhnya dari tindakan gurunya yang mengeluarkan ia
dari perguruan sesaat sebelum meninggal. Betul, justru
dengan keadaan bebas seperti ini, ia dapat bergerak lebih
bebas dan leluasa, ia pun dapat membebaskan diri dari
banyak ikatan dan belenggu perguruan.........
Tampaknya kakek berjubah abu-abu itu sudah tak sabar
lagi menunggu, sambil tertawa dingin segera tegurnya
kembali : "Hei, anak muda! Kau sudah mendengar perkataanku?"
"Yaa, sudah kudengar dengan jelas!"
"Bagaimana pertanggungan jawabmu terhadap Lohu?"
"Aku tak perlu memberi pertanggungan jawab kepadamu
sebab bukan aku yang memberi janji, sebelum meninggal
Suhu pun tidak berpesan apa-apa lantas bagaimana aku
musti memberi pertanggungan jawabnya kepadamu........."
"Bocah cilik, kau berani mempermainkan Lohu?" kakek
berjubah abu-abu itu mulai naik pitam.
"Aaah, ucapan Locianpwe terlalu serius, akukan tak
pernah mempermainkan diri Locianpwe."
"Empek Ouyang," si nona berbaju hijau yang berada di
sisinya segera ikut menimbrung, "Cu-kongcu adalah
seorang yang sangat baik, dia tak akan mempermainkan
dirimu." Kakek berjubah abu-abu itu segera mendengus dingin.
"Bei-giok kau tak usah mencampuri urusan ini, hayo
menyingkir dari sini!" serunya.
"Empek Ouyang, dia benar-benar seorang yang baik hati,
kau tak boleh memukuli dirinya!"
"Pergilah kau dari sini Nona," Cu Siau-hong ikut berkata
sambil mengulapkan tangannya, "aku hendak berbicara
baik-baik dengan Ouyang-sianseng........"
Agaknya nona berbaju hijau itu menurut sekali atas
perkataan dari Cu Siau-hong, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun ia benar-benar putar badan dan berlalu dari situ.
Sepeninggal gadis tersebut, sambil tertawa dingin kakek
berbaju abu-abu itu berkata :
"Bocah muda, katakan sekarang! Apa yang hendak kau
lakukan?" "Semestinya Boanpwe yang mohon petunjuk dari kau
orang tua, masa malahan Cianpwe yang bertanya
kepadaku?" "Jika Suhumu tak bisa menepati janjinya, maka kau
harus mewakili gurumu untuk memenuhi janji."
"Tapi bagaimana caranya aku harus memenuhi janji ini?"
"Tiong Ling-kang telah membunuh sekitar seratus ekor
lebah raksasa, jika ia tak sanggup membayar gantinya,
maka aku hanya menginginkan selembar jiwanya saja, tidak
terlalu banyak bukan?"
"Coba kalau Suhuku masih hidup, dia pasti tak akan
mengingkari janji, sayangnya dia orang tua telah terbunuh!"
"Sekalipun ia mati terbunuh, Tiong-hujin kan masih
hidup, sekalipun segenap keluarganya sudah mati, anak
muridnya toh masih hidup."
Cu Siau-hong segera menghela napas panjang.
"Dan aku pun salah seorang muridnya!" ia berbisik.
"Maka dari itu, kau harus membayar ganti rugi tersebut
kepadaku," sambung kakek berjubah abu-abu itu dengan
cepat. Cu Siau-hong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Ouyang-sianseng!" katanya, dalam dunia persilatan
berlaku sepatah kata yang mengatakan bahwa barang siapa
sudah mati, maka semua perselisihannya ikut buyar, kini
Suhuku sudah almarhum, kenapa kau musti mendesak
orang terus menerus?"
Kakek berbaju abu-abu itu kembali tertawa dingin.
"Haaahh........ haaahh........... haaahh............ kalau kau
ingin pergi, silakan saja pergi, siapa berhutang, dia harus
membayar, sekalipun Tiong Ling-kang sudah mati, tapi
nyonya Tiong toh masih hidup, kenapa aku musti
mencarimu" Silakan pergi!"
Sebelumnya orang ini bukannya sama sekali tak tahu
aturan, cuma saja apa yang ia katakan adalah kata-kata
yang dianggapnya benar. Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, katanya
kemudian : "Ouyang-cianpwe, sebenarnya aku merasa bahwa hutang
yang telah kami buat seharusnya dibayar, tapi sekarang
jalan pikiranku telah berubah."
"Berubah! Berubah menjadi bagaimana?"
"Rasa menyesal ku sudah lenyap tak berbekas, sekarang
aku hendak mengesampingkan dulu soal janjimu dengan
guruku, bagaimana kalau kita bicarakan dahulu suatu
barter?" "Barter apa yang hendak kau bicarakan denganku?" ejek
kakek berjubah abu-abu itu sambil tertawa dingin.
Cu Siau-hong menarik napas panjang dan secara diamdiam
melakukan persiapan, kemudian mengeluarkan botol
porselen itu, katanya : "Locianpwe, kau tahu benda apakah ini?"
"Sebuah botol porselen!" jawab kakek berjubah abu-abu
itu dengan hambar. "Sebuah botol porselen?"
"Apa isi botol itu?" cepat kakek itu bertanya.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Siau-hong,
pikirnya kemudian : "Yang dia harapkan adalah isi botol ini, tentu saja
terhadap botol porselennya tidak menaruh perhatian....."
Berpikir demikian, dia pun membuka botol itu dan
mengeluarkan sedikit bubuk putih yang ditebarkan di atas
sebuah batu tak jauh dari situ, kemudian ujarnya dengan
dingin : "Ouyang-cianpwe, jika kau sanggup untuk mengenali
bahan obat tersebut, silakan kau maju mendekat untuk
memeriksanya dulu." Pelan-pelan kakek berbaju abu-abu itu maju ke depan,
lalu mengambil sedikit bubuk putih itu dengan jari
tangannya dan dibau, tiba-tiba dengan paras muka berubah
hebat serunya : "Haaah" Ban-ing-seng-cing-san?"
"Ooo.......... rupanya obat ini bernama bubuk Ban-ingseng-
cing-san," pikir Cu Siau-hong.
"Betul, memang obat tersebut! Apakah Locianpwe kenali
juga obat ini?" Tiba-tiba kakek berbaju abu-abu itu memutar tubuhnya
sambil menubruk ke depan, tangan kanannya berkelebat
siap menyambar botol yang berada di tangan pemuda itu.
Dengan cekatan Cu Siau-hong mundur sejauh lima depa
dari posisi semula, kemudian katanya dengan dingin :
"Dengarkan baik-baik, kalau kau berniat merampas botol
ini, sekarang juga kuhancurkan botol ini agar bubuk itu
tersebar di tanah." Kakek berbaju abu-abu itu menjadi tertegun, akhirnya ia
bertanya : "Apa...... apa syarat yang hendak kau ajukan....?"
"Semua perjanjian dan perselisihan antara Bu-khek-bun
dengan Ouyang sianseng hapus sampai di sini saja."
"Oooh, tentu saja!" sambil menjawab kakek itu maju ke
depan dan siap menyambar botol porselen tersebut.
Cu Siau-hong segera melompat mundur selangkah, lalu
teriaknya kembali :

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kedua........"
"Cepat katakan!"
"Konon kau memiliki semacam ilmu silat........."
"Ilmu silat yang kumiliki banyak sekali ragamnya!" tukas
kakek itu. "Aku hanya menghendaki satu macam saja!"
"Ilmu silat apa yang hendak kau pelajari?"
"Ilmu Ciat-lip-jiu!"
Kakek berbaju abu-abu itu menjadi tertegun.
"Ciat-lip-jiu" Dari mana kau bisa tahu kalau Lohu
memiliki semacam ilmu yang bernama ilmu Ciat-lip-jiu?"
"Soal itu sih tak perlu kita bicarakan, aku hanya ingin
bertanya kepadamu, betulkah kau memiliki ilmu yang
bernama Ciat-lip-jiu?"
"Betul! Kepandaian tersebut merupakan ilmu sakti
andalanku di saat masih berkelana dalam dunia persilatan
dulu, tiada orang yang bisa ilmu tersebut kecuali aku."
"Bagus sekali, cuma aku musti terangkan dulu, aku ingin
pelajari ilmu Ciat-lip-jiu tersebut sebagai pertukaran syarat
bagimu untuk memperoleh obat ini, itu berarti tiada ikatan
apa-apa antara kita lagi pula aku pun tak akan berterima
kasih kepadamu." Ujung baju kakek berbaju abu-abu itu bergetar keras
meski tidak terhembus angin, dengan wajah amat serius
katanya : "Baik! Lohu akan mewariskan ilmu Ciat-lip-jiu tersebut
kepadamu, cuma dengan usiamu yang begitu muda serta
kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki, aku kuatir
ilmu tersebut tak mungkin bisa kau pelajari dalam waktu
singkat, maka sebelum kau pelajari kepandaian tersebut,
lebih baik kau serahkan dulu bubuk obat itu kepadaku."
"Kau bisa bertahan untuk hidup sekian lama dengan
menanggung derita, rasanya tak sulit bukan untuk
merasakan penderitaan satu dua hari lagi" Soal
kemampuan tenaga dalam yang kumiliki, harap Cianpwe
jangan risaukan, yang ingin kupelajari hanya rahasia dari
ilmu Ciat-lip-jiu tersebut, bukan tenaga dalamnya, mungkin
saja setelah kukuasai ilmumu itu kepandaian tersebut baru
akan kugunakan dua tiga tahun mendatang."
Tiba-tiba kakek berbaju abu-abu itu tertawa tergelak,
"Bocah cilik, beberapa patah katamu ini memang masuk
di akal juga, ilmu Ciat-lip-jiu memang bukan semacam ilmu
silat yang dapat dipelajari hanya mengandalkan kecerdasan
otak saja, aku mengetahui kalau kau berbakat bagus untuk
belajar silat, mungkin hanya kaulah satu-satunya orang di
dunia ini yang bakal mewarisi ilmu Ciat-lip-jiu andalanku
itu........" Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, bisiknya :
"Locianpwe......."
Kakek berbaju abu-abu itu gelengkan kepalanya berulang
kali, katanya kembali : "Sekarang aku akan segera wariskan Sim-hoatnya
kepadamu, bagian ini merupakan bagian paling penting dari
kepandaianmu. Kau harus tahu, keistimewaan dari ilmu
Ciat-lip-jiu adalah merubah tenaga dalam menjadi gulungan
angin berpusing yang sanggup menerima tenaga pukulan
musuh walau beberapa seribu kati pun, jika kau berhasil
mempelajari kepandaian ini hingga suatu tingkatan
tertentu, maka kau dapat merubah pula kekuatan musuh
demi kepentingan sendiri, bahkan bisa juga dikembalikan ke
tubuh musuh sendiri sebagai suatu gempuran balasan, kau
harus tahu bahwa ilmuku ini merupakan salah satu ilmu
silat paling aneh di dunia ini."
Sesudah melewati serangkaian pembicaraan, rasa
permusuhan di antara mereka berdua pun sudah jauh
berkurang. "Locianpwe, sulitkah untuk mempelajari sim-hoat
tersebut?" tanya Cu Siau-hong sambil menghembuskan
napas panjang. "Tidak mudah, tapi kalau bertemu dengan orang yang
pintar seperti kau, mungkin saja ilmu ini bisa dikuasai
dengan lebih cepat lagi, tapi yang terpenting adalah
kemampuan untuk mengerahkan tenaga dan merubahnya
menjadi suatu kekuatan berpusing."
Secara tiba-tiba saja kakek berjubah abu-abu itu
merasakan timbulnya suatu niat dalam hati untuk cepatcepat
mewariskan kepandaian tersebut kepada Cu Siauhong,
katanya sambil tertawa, "Kemarilah Nak, mari kita mulai sekarang juga."
Belum pernah Cu Siau-hong seserius sekarang dalam
mempelajari semacam ilmu, sebab sim-hoat yang
dipelajarinya memang benar-benar merupakan semacam
kepandaian yang sulit sekali untuk dipelajari.
Kakek berjubah abu-abu yang mewariskan
kepandaiannya pun menerangkan semua bagian dari ilmu
dengan serius, ini membuat Cu Siau-hong belajar makin
tekun. Tidak sampai dua tiga jam kemudian, ternyata Cu Siauhong
telah berhasil menguasai seluruh rahasia dari
kepandaian itu. Kenyataan tersebut tentu saja amat mengejutkan kakek
berjubah abu-abu itu, serunya dengan tercengang :
"Nak, coba kau lakukan sekali lagi di hadapanku."
Cu Siau-hong mengiakan dan segera mempraktekkan
seperti apa yang telah diajarkan kakek berjubah abu-abu
itu kepadanya. Selesai menyaksikan anak muda itu berpraktek, dengan
rasa kagum dan tercengang kakek berjubah abu-abu itu
berkata lagi : "Bagus sekali, dalam perkiraanku semula paling tidak
tiga sampai lima hari lagi kau baru akan berhasil menguasai
ilmu tersebut, sungguh tak kusangka hanya dalam
beberapa jam saja semua kepandaianku telah kau kuasai,
kecerdasanmu jauh di luar dugaan dan kesempurnaan
tenaga dalammu juga di luar dugaanku. Nak, tahu begini,
sekalipun tiada pertukaran syarat pun aku rela mewariskan
kepandaian ini kepadamu."
Mendengar itu, Cu Siau-hong kembali berpikir.
"Watak orang ini sesungguhnya tidak jahat, cuma
wataknya memang sedikit rada aneh dan eksentrik......."
Sambil bangkit berdiri, botol porselen itu diserahkan
kepada kakek itu seraya berkata :
"Locianpwe, baik-baiklah menjaga diri, Boanpwe hendak
mohon diri lebih dahulu."
Kakek berbaju abu-abu itu menghela napas sedih,
katanya : "Hati-hati dengan si pincang, ia memiliki kepandaian
yang hebat dan ilmu perbintangan yang luar biasa, sayang
hatinya terlalu jahat......."
Cu Siau-hong merasakan hatinya bergetar keras, sambil
berhenti katanya : "Maksud Locianpwe......."
"Aku maksudkan si pincang Ui Thong, orang ini berilmu
tinggi, sayang sekali tidak memanfaatkan kepandaiannya
demi kebaikan. Wataknya terlalu dingin dan tak
berperasaan, kau harus berhati-hati terhadapnya.
"Terima kasih atas petunjuk Cianpwe!" pemuda itu putar
badan dan berlalu dari situ.
Memandang hingga bayangan punggung Cu Siau-hong
lenyap dari pandangan. Kakek berbaju abu-abu itu menghela napas panjang, lalu
gumamnya : "Seorang bocah yang berbakat bagus sekali......."
Sesudah melewati pertarungan adu kecerdasan, Cu Siauhong
sendiri pun dapat merasakan bahwa Ouyang-sianseng
meski berwatak aneh dan agak eksentrik, sesungguhnya
bukan seorang yang jahat.
Ia tak punya cukup waktu untuk mengetahui latar
belakang perselisihan antara Ouyang sianseng dengan
Koay-sian, dia pun tak ingin terlibat di dalam masalah
tersebut. Maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun rasa terima
kasihnya, ia telah berlalu dengan begitu saja dari sana.
Cu Siau-hong juga tidak langsung menjumpai Ui Thong,
ia mencari suatu tempat yang sepi dan terpencil dalam
hutan itu serta mulai melatih diri dengan ilmu Ciat-lip-jiu
yang baru saja dipelajarinya itu.
Beberapa kali si nona berbaju hijau mencarinya bahkan
berteriak-teriak memanggilnya.
Tapi Cu Siau-hong sadar bahwa waktu baginya saat ini
adalah penting sekali, dia harus menggunakan waktu
selama sehari semalam untuk berhasil menguasai ilmu Ciatlip-
jiu tersebut secara baik.
Karenanya ia tidak menjawab, ia pura-pura tidak
mendengar dan melanjutkan semadinya sambil mengatur
pernapasan. Betul juga, ketika ia berlatih menurut apa yang diajarkan
Ouyang sianseng, segera terasalah segulung hawa murni
muncul dari pusar dan bergerak dalam tubuhnya sehingga
membuat hawa murni dalam tubuh berputar kencang,
akhirnya timbul dua kekuatan berbeda yang saling berputar
dengan kencangnya di badan.
Kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, di samping
tentu saja rasa girang yang meluap-luap.
Sekarang ia telah membuktikan satu hal, Ouyang
sianseng memang tidak membohonginya.
Menanti saat perjanjiannya dengan Ui Thong telah
sampai, dia baru keluar dari dalam hutan.
Keranjang tersebut sudah menanti di bawah pohon, Cu
Siau-hong segera menggerakkan sendiri alat rahasia untuk
menaikkan keranjang tersebut ke atas.........
Tentu saja kesemuanya ini diajarkan sendiri oleh Ui
Thong kepadanya. Keranjang mulai meluncur di antara sela-sela pepohonan
yang rindang dan menembusi dahan-dahan pohon yang
besar, langsung menuju ke depan ruangan kecil itu.
Ketika ia tiba dalam ruangan, ditemukan Dewa Pincang
Ui Thong sudah menggeletak di atas lantai papan dengan
sepasang mata terpejam rapat.
Cu Siau-hong merasa terkejut sekali, pikirnya :
"Apakah takdir benar-benar tak bisa dilawan dan ia telah
menyelesaikan sendiri perjalanan hidupnya?"
Buru-buru pemuda itu maju ke depan sambil memeriksa
dengusan napas Ui Thong, ternyata napas itu sudah putus.
Walaupun demikian, perasaan Cu Siau-hong berkata
bahwa Ui Thong belum mati.
Dalam detik itulah, Cu Siau-hong menjadi ragu tak bisa
memastikan apakah Dewa Pincang Ui Thong masih hidup
atau sesungguhnya telah mati........
Diam-diam ia menghembuskan napas panjang, lalu
berpikir : "Dewa pincang Ui Thong memang benar-benar seorang
manusia yang aneh sekali, begitu mudah ia bisa
menghitung soal mati hidupnya, sehingga hal mana bisa
membuat orang menjadi kebingungan dan tak dapat
membedakan secara jelas.........."
Berpikir sampai di situ, ia mengambil keluar kantong
pertama dari sakunya yang memang dipesan untuk dibuka
pada hari ini. Setelah kantong dibuka, Cu Siau-hong menemukan
secarik kertas yang isinya berbunyi demikian :
"Kini Lohu sudah tak bisa berbicara, tak dapat melihat,
nafas lirih dan berada di ambang kematian, tolong
gunakanlah kotak kecil di belakangmu serta kain kuning
sepanjang sepuluh depa untuk membungkus tubuhku."
"Berangkatlah dengan membawa tubuhku menuju ke
sebelah timur sejauh lima li, tembusi hutan dan menuju ke
sebuah tebing yang terjal. Naiklah tebing itu kurang lebih
sepuluh kaki, di sana kau akan jumpai sebuah batu cadas
berwarna hitam yang di atasnya bertuliskan Sian-ki (
tempat tinggal dewa) "Buka batu itu dengan menekan huruf di atas batu
sekuat tenaga, maka dari balik pintu akan kaujumpai
sebuah gua, dalam gua lebih kurang sepuluh kaki lebih
tujuh depa dengan tiga kali tikungan di sana akan kau
jumpai sebuah ruang batu, dalam ruangan ada lampu yang
bisa dipakai untuk menerangi keadaan di situ, pada tengah
ruangan terdapat sebuah hiolo batu yang besar sekali,
letakkan tubuhku dalam hiolo raksasa itu, kemudian
berjagalah di sisi hiolo dan perhatikan jika ada penyerang
yang datang dari luar. Isi surat tersebut sudah tertera amat jelas, sama sekali
tidak berkesempatan untuk dibantah, sebab itu terpaksa Cu
Siau-hong harus mengerjakannya sesuai dengan perintah.
Betul juga ia berhasil menemukan kain kuning sepanjang
sepuluh depa itu, ketika tubuh Ui Thong yang belum mati
itu dibungkus rapat, kelihatan sekali kalau ia seperti
sesosok mayat. Apa yang ditulis dalam suratnya memang sangat teliti,
karena pemandangan yang dijumpai sepanjang jalan persis
seperti apa yang dilukiskan di dalam suratnya.
Pada akhirnya ia berhasil menemukan juga gua tersebut
beserta ruang batu di dalamnya.
Di tengah ruangan, ia pun berhasil menemukan hiolo
raksasa seperti yang diterangkan.
Hiolo itu entah terbuat dari batu apa, ketika Cu Siauhong
mencoba untuk merabanya, terasa batu itu licin dan
mengkilat, membuat orang merasakan tubuhnya hangat
dan nyaman, lagi pula batu tersebut seolah-olah
mengeluarkan sejenis minyak.
Di tengah hiolo batu itu, masih terdapat pula asap tipis
yang mengepul ke udara. Entah benda apa yang terbakar dalam hiolo itu, yang
jelas Cu Siau-hong segera mengendus bau harum yang
semerbak. Hiolo batu itu memiliki bentuk yang sangat aneh,
semuanya terdiri dari dua tingkat, kalau pada tingkat atas
datar dan halus, lagi pula terdapat sebuah selimut bulu
yang sangat tebal, maka pada bagiannya merupakan
sebuah wadah yang mengeluarkan asap hijau yang tipis.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Cu Siau-hong segera masukkan tubuh Ui Thong ke dalam
hiolo batu itu, ternyata persis sekali, hingga cuma
kepalanya saja yang kelihatan dari luar.
Tampaknya hiolo batu itu memang secara khusus
digunakan untuk menyembunyikan diri, karena tempat itu
persis dengan perawakan tubuh Ui Thong........
Setelah membaringkan tubuh Ui Thong, Cu Siau-hong
baru mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, akhirnya sinar mata itu berhenti di
atas lentera dalam ruangan.
Lentera tersebut dipersiapkan secara teliti,
permukaannya terbuat dari kaca dengan sebuah sumbu
lampu yang muncul dari balik dinding batu, pada sekeliling
kaca tadi terdapat pula beberapa puluh lubang hawa yang
amat kecil, tidak diketahui sumbu lampu tersebut terbuat
dari apa" Ternyata sama sekali tidak berkedip-kedip
sewaktu terhembus angin. Sekalipun siar yang dipancarkan dari lampu lentera itu
tidak terlalu tajam, akan tetapi secara lamat-lamat dapat
melihat jelas semua pemandangan dalam ruangan tersebut.
Kecuali hiolo batu raksasa serta lentera aneh tersebut,
boleh dibilang dalam ruangan itu tiada benda yang lain.
Sebenarnya tempat itu membawa suasana antik yang
menyeramkan, tapi setelah ditambah dengan kehadiran Ui
Thong dalam bungkusan kain kuning seperti orang mati
dalam hiolo itu, maka suasananya segera terasa sama
sekali berubah. Setelah memperhatikan suasana dalam ruangan batu itu,
Cu Siau-hong mulai mempertimbangkan diri atas kejadian
itu, selama ini dia harus menunggu selama dua hari lagi
sebelum membuka isi kantong yang kedua, atau dengan
perkataan lain selama ini dia harus berjaga terus di dalam
ruangan batu ini. Setelah melalui suatu pemikiran yang seksama, akhirnya
diputuskan untuk tetap tinggal di sana, sebab inilah
kesempatan yang sangat baik baginya, selain bisa
menunggu di samping Ui Thong, dia pun dapat
mempergunakan waktu yang tersedia untuk melatih baikbaik
ilmu Ciat-lip-jiu tersebut.
Dua hari kembali sudah lewat, selama ini Cu Siau-hong
hampir terbuai dalam latihannya yang menghisap segenap
perhatiannya itu, ia lupa lapar dia pun lupa lelah.
Menanti ia merasakan bahwa ilmu Ciat-lip-jiu yang
dipelajarinya berhasil mencapai tingkatan yang
memuaskan, pemuda itu baru berhenti berlatih.
Tapi begitu berhenti, perut yang lapar pun mulai merasa
melilit-lilit sehingga sukar ditahan.
Anak muda itu bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar
dengan cepat. Pemuda itu berwatak cukup tenang, dia pun dapat
mempertimbangkan berat entengnya suatu persoalan,
maka ia tidak berharap untuk berjumpa dengan siapa pun
dalam keadaan seperti ini.
Tempat ini terlalu tenang, itulah kesempatan terbaik
baginya untuk melatih diri, lagi pula dia pun harus tetap
tinggal di sini, karena itulah ia menginginkan ketenangan
dan tak ingin diganggu siapa pun.
Ia harus tetap tinggal di sana, sehingga pada akhirnya
bisa melihat hasil dari kejadian ini.
Sebab itu dengan sangat berhati-hati dia meninggalkan
ruangan batu, keluar dari gua dan menyembunyikan diri
dibalik kegelapan. Jilid 6 Dengan ilmu yang dimilikinya sekarang, tidak terlampau
sulit baginya untuk memburu seekor ayam alas, setelah
mengumpulkan sedikit ranting, dengan sangat berhati-hati
pula ia kembali ke dalam gua.
Persiapan yang dilakukan Ui Thong memang amat bagus,
sebab sekalipun ia keluar dari gua itu, pintu gua tetap
berada dalam keadaan tertutup rapat sehingga siapa pun
tidak akan menduga kalau di sana terdapat sebuah gua
rahasia. Selama berada di luar gua, Cu Siau-hong pun sempat
menyaksikan gadis berbaju hijau itu sedang berlarian ke
sana kemari seperti sedang mencari sesuatu, tapi Cu Siauhong
tak ingin bertemu dengannya dalam keadaan
demikian, maka ia segera menyembunyikan dirinya baikbaik.
............. Hari ini adalah saat untuk membuka kantong kedua.
Dengan sangat berhati-hati Cu Siau-hong membuka
kantong kedua itu dan membaca isi suratnya yang kira-kira
berbunyi demikian : "Apabila kau masih berjaga dalam ruangan batu ini,
tolong bukakan dua buah lubang kecil yang bisa kau
gerakkan di bagian bawah hiolo batu tersebut, asap harum
akan semakin tebal menyelimuti ruangan ini, bantulah aku
untuk lewatkan bencana ini, Lohu pasti akan memberikan
imbalan yang tak terhingga untukmu. Tolong nantikanlah
sampai saat dibukanya kantong ketiga."
Catatan dalam kertas yang kedua ini amat sederhana,
tapi secara lamat-lamat memberi kisikan pula bahwa betapa
pentingnya isi dari kantong yang ketiga.
Cu Siau-hong segera membungkukkan badan dan mulai
mencari lubang yang dimaksudkan itu pada bagian bawah
hiolo batu. Benar juga, dari bawah hiolo batu itu, Cu Siau-hong
benar-benar menemukan dua buah pintu hidup yang bisa
digerakkan, ketika pintu hawa itu dibuka, maka segera ada
asap harum yang lebih tebal lagi mengepul keluar dari balik
hiolo itu dan memenuhi seluruh ruangan.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan telah diliputi oleh
bau harum semerbak itu. Mungkin Ui Thong sudah mempersiapkan pula kekuatan
dari peredaran hawa dalam ruangan batu itu, buktinya
sekalipun asap wangi semakin tebal menyelimuti ruangan
itu, akan tetapi Cu Siau-hong sama sekali tidak terasa sesak
napas atau tak nyaman. Memandang tubuh Ui Thong yang berbaring dalam hiolo
batu itu, pelbagai kecurigaan mulai berkecamuk dalam
benak Cu Siau-hong, ia mulai berpikir :
"Mengapa Ui Thong harus mempersiapkan cara
menghindari diri seaneh ini" Sebenarnya apa yang sedang
ia hindari" Ataukah mungkin ia sedang berusaha untuk
menyembuhkan suatu penyakit yang parah?"
"Bila batas kehidupan seseorang telah tiba dengan cara
menghindar seperti ini, apakah ia dapat meloloskan diri dari
suratan takdirnya......?"
Saking banyaknya masalah yang berkecamuk dalam
benak anak muda itu, sehingga akhirnya menimbulkan pula
banyak sekali luapan rasa ingin tahu dalam hatinya.
Sambil mengitari ruangan, ia berjalan pulang pergi tiada
hentinya, semua bagian dalam ruangan batu diperiksanya
dengan seksama, kemudian ia dapat menarik kesimpulan
bahwa lentera yang aneh itu jelas merupakan hasil karya
seseorang. Atau dengan perkataan lain, ketika ada orang membuat
gua ini, maka orang tersebut telah menimbun minyak tanah
dalam jumlah sekian banyak, sehingga membuat lentera itu
bisa bersinar terus dalam sekian waktu yang telah
ditentukan. Kini Cu Siau-hong telah menghampiri hiolo raksasa
tersebut, serta mulai melakukan pemeriksaannya.
Yang paling mencurigakan hatinya adalah hiolo batu ini
terbuat dari bahan apa" Asap apa pula yang muncul dari
dasar hiolo tersebut selama ini...."
Ui Thong sesungguhnya sedang menderita sakit karena
tua" Ataukah ia secara sengaja menelan sejenis obatobatan
yang membuat dirinya jatuh tak sadarkan diri"
Bila sampai terjadi gangguan dari luar, apakah hal ini
akan sangat mempengaruhi keadaan Ui Thong"
Ketika teringat akan gangguan yang datang dari luar,
tiba-tiba Cu Siau-hong seperti mendengar suara langkah
kaki manusia yang berkumandang makin dekat.
Tak terlukiskan rasa kagetnya setelah mendengar suara
aneh itu, cepat-cepat ia memutar badannya.
Tampak olehnya seorang kakek berbaju serba hitam
telah berdiri angker di depan pintu.
Perawakan kakek itu tidak terhitung sangat tinggi,
sekilas pandangan malah seperti bentuk tubuh Ui Thong,
hanya saja orang ini jauh lebih gemuk dari pada Ui Thong
yang ceking. Cu Siau-hong segera menarik napas panjang, kemudian
tegurnya : "Siapa kau" Bagaimana caramu masuk kemari?"
"Lohu juga hendak bertanya kepadamu, bagaimana
caranya kau bisa sampai di sini?"" kakek berjubah hitam itu
balas menegur dengan suara yang dingin menyeramkan.
Pertanyaan tersebut segera membuat Cu Siau-hong
menjadi tertegun, sesaat kemudian ia baru menjawab :
"Aku mengetahui caranya membuka pintu gua, tentu
saja aku bisa masuk secara mudah."
"Siapa yang mengajarkan cara membuka gua ini
kepadamu?" seraya berkata kakek berbaju hitam itu
mengalihkan sinar matanya ke arah Dewa Pincang Ui
Thong. Dengan cepat Cu Siau-hong mendapat firasat bahwa
duduknya persoalan tak akan sesederhana itu, maka buruburu
sahutnya : "Soal ini lebih baik kau tak usah tahu!"
Tiba-tiba kakek berbaju hitam itu mendongakkan
kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.
Menggunakan kesempatan ini, Cu Siau-hong
menenangkan kembali hatinya yang bergolek, setelah
menarik napas panjang, pelan-pelan ia menegur kembali :
"Apa yang kau tertawakan?"
Mendadak kakek berbaju hitam itu menghentikan
tertawanya, kemudian menjawab :
"Tempat ini sebenarnya tempat tinggalku, sudah tiga
tahun aku pergi dari sini, sungguh tak disangka tempatku
ini telah ditempati orang lain, bahkan malahan menegur
diriku...haaahhh..... haaahhh......haaahhh...... lucu benar
ceritanya!" Cu Siau-hong yang mendengar perkataan itu, diam-diam
berpikir lagi dalam hatinya :
"Walaupun Ui Thong sudah cukup lama menetap di sini,
tapi dengan sepasang kakinya yang lumpuh dan tak bisa
berjalan sendiri, tak mungkin ia bisa membangun gua batu
ini dengan kekuatannya sendiri, kecuali ada orang lain yang
telah membantunya. Jangan-jangan gua ini memang benarbenar
milik kakek berbaju hitam ini" Aaaai.......! sudah tiga
tahun lamanya ia meninggalkan tempat ini, kenapa justru
pada saat ini dia baru kembali kemari" Aaai....... tiga tahun
kalau dibandingkan dengan sepuluh hari selisihnya toh
sangat banyak, tapi yang aneh kenapa dalam tiga tahun
yang panjang ia tak pernah kembali, sebaliknya dalam
sepuluh hari yang singkat, di kala Ui Thong meminjam
ruang batunya ini, ia telah kembali ke sini" Apakah ini yang
dimaksudkan oleh Dewa Pincang Ui Thong sebagai batas
kehidupan yang sukar dilewatkan?"
Bila inilah yang dinamakan batas kehidupan, maka Cu
Siau-hong lah yang memegang kesempatan hidup baginya,
kekuatan aneh yang bisa melanjutkan kehidupan seseorang
tampaknya telah memasuki tubuh Cu Siau-hong pada hari
ini. Sedemikian terpesonanya pemuda tersebut
membayangkan kejadian yang sedang dihadapi, sehingga
untuk sesaat lamanya ia lupa untuk menjawab pertanyaan
dari kakek berbaju hitam itu.
Pelan-pelan kakek berbaju hitam itu menarik napas
panjang, kemudian tegurnya kembali :
"Bocah muda, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan perkataan dari Locianpwe!"
"Kau tidak percaya dengan perkataan Lohu?"
"Locianpwe, coba kau perhatikan baik-baik orang yang
duduk dalam hiolo batu itu, kenalkah kau dengan dirinya?"
Kakek berbaju hitam itu berpaling dan memperhatikan Ui
Thong sekejap, kemudian sahutnya.
"Aku rasa-rasanya memang pernah berjumpa dengan
orang ini....... cuma, aku agak lupa-lupa ingat."
"Locianpwe, masih ingatkah kau pernah menjumpainya
di mana?" tanya Cu Siau-hong.
"Agaknya hanya di sekitar sini saja......."
Tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, dengan dingin
lanjutnya : "Tutup mulut! Kau si bocah muda berani benar berbicara
dengan Lohu menggunakan nada pembicaraan demikian,
sebenarnya apa maksudmu?"
Cu Siau-hong segera tertawa.
"Boanpwe hanya ingin membuktikan satu persoalan
saja," jawabnya. "Persoalan apa?"
"Siapakah pemilik gua batu ini?"
"Apa yang musti dibingungkan lagi, sudah barang tentu
Lohu lah pemiliknya!" kata kakek berjubah hitam dengan
cepat. "Dan hiolo batu itu?"
"Tentu saja Lohu pula pemiliknya!"
Ia mengalihkan sinar matanya memandang sekejap ke
arah lentera tersebut, kemudian melanjutkan,
"Lencana Tiang-beng-teng itu pun milik Lohu!"
"Dari bawah hiolo itu tiada hentinya mengeluarkan asap
tebal, apa pula artinya?"
"Soal ini juga Lohu yang mengatur."
"Locianpwe, apakah hiolo batu ini berharga sekali?"
Kakek berjubah hitam itu manggut-manggut.
"Seandainya bukan disebabkan hiolo batu itu, Lohu juga
tak akan kembali ke sini........."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan,
"Lohu bersedia memberikan gua ini kepada kalian, tapi
hiolo batu itu akan segera Lohu bawa pergi, boponglah


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sahabatmu itu turun dari sana........!"
Cu Siau-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah
Dewa Pincang Ui Thong, kemudian pikirnya,
"Oooh....... tampaknya bencana besar ini sulit dihindari!"
Terdengar kakek berbaju hitam itu berkata lagi dengan
dingin. "Soal didudukinya sarangku ini, Lohu tak akan
menyalahkan kalian, tapi hiolo batu itu merupakan benda
yang kudapatkan dengan bersusah payah, sekarang juga
Lohu akan mengangkatnya pergi!"
"Locianpwe melihatkah kau kalau dalam hiolo batu itu
sedang berbaring seseorang?"
"Lohu telah melihatnya, itulah sebabnya kupersilakan
kepadamu untuk membopongnya keluar."
"Dia sedang menderita sakit parah!" kata Cu Siau-hong.
"Lohu tahu, jika ia tidak menderita sakit, dia tak akan
duduk di dalam hiolo batu itu."
"Locianpwe, kalau kau sudah tahu bahwa ia sedang sakit,
kenapa kau masih menyuruhku untuk membopongnya
keluar dari sana?" "Sebab, sekarang Lohu pun hendak menggunakan hiolo
batu itu," jawab si kakek :
"Kenapa?" "Sebab sekarang Lohu pun hendak menolong orang,
bocah cilik, kau tahu menolong orang bagaikan menolong
kebakaran" Sebentar saja tak dapat ditunggu lagi."
Cu Siau-hong segera mengerutkan dahinya,
"Soal ini.......... apakah kau sudah menghitung hutang
ini?" katanya kemudian.
"Menghitung hutang apa?"
Cu Siau-hong berpikir dalam hati.
"Agaknya ramalan perbintangan memang tak bisa tidak
harus dipercayai juga."
Berpikir demikian, ia lantas menjawab :
"Jika ia meninggalkan hiolo batu itu, kemungkinan besar
dia akan segera mati."
"Jika Lohu tidak membawa pergi hiolo batu ini,
sahabatku pun kemungkinan besar akan mati!"
"Kedua-duanya sama-sama memiliki selembar nyawa!"
"Tapi salah seorang di antaranya justru adalah
sahabatku." "Locianpwe, sebaliknya salah satu di antaranya justru
adalah sahabatku pula!" sambung Cu Siau-hong.
"Aku benar-benar merasa agak tak habis mengerti,
bocah cilik, hiolo batu ini lebih penting untuk menolong
sahabatmu" Ataukah lebih penting menolong sahabatku?"
Cu Siau-hong kembali berpikir :
"Entah sampai di manakah berharganya hiolo batu ini"
Masa betul-betul bisa dipakai untuk menolong orang?"
Tentu saja ia merasa kurang leluasa untuk mengajukan
pertanyaan tersebut pada saat ini, terpaksa sambil
keraskan kepala ia berkata :
"Tak kusangka kalau dalam dunia ini masih terdapat
kejadian yang begini kebetulan, selama tiga tahun
Locianpwe tak pernah pulang kemari, justru di saat
sahabatku membutuhkan hiolo batu itu, kau telah pulang
kembali ke sini." Tiba-tiba kakek berbaju hitam itu maju ke depan sambil
berjalan, katanya : "Bocah cilik, kau musti ingat, hiolo batu ini milikku, aku
hendak membawanya pergi, jika kau enggan membopong
sahabatmu itu keluar dari sana, terpaksa Lohu harus turun
tangan sendiri." "Harap tunggu sebentar!" teriak Cu Siau-hong cepat,
dengan cekatan ia melompat ke depan dan menghalangi
jalan pergi kakek berbaju hitam itu.
"Kenapa?" seru si kakek berbaju hitam itu dengan dingin,
kau hendak mengajak aku bertarung?"
"Sahabatku masih membutuhkan hiolo batu ini selama
tiga hari lagi, aku harap tiga hari kemudian.........."
Dengan cepat kakek berbaju hitam itu gelengkan
kepalanya berulang kali, tukasnya :
"Tiga hari" Sehari pun tak bisa!"
"Tapi, Locianpwe........... kau jangan lupa! Dia pun
memiliki selembar nyawa, jika kau membopong keluar dari
hiolo itu, maka dia akan mati! Jika sampai mati, maka
kaulah pembunuhnya!"
Kakek berbaju hitam itu menjadi naik pitam, serunya :
"Paling banter Lohu hanya akan dituduh melihat orang
sakit parah tak mau menolong, mana boleh kau
mengatakan diriku sebagai seorang pembunuh..........?"
Mendengar perkataan itu, diam-diam Cu Siau-hong
merasa geli, pikirnya di hati :
"Tampaknya kakek ini memang seorang yang tahu
cengli........" Maka sambil mendehem pelan, katanya :
"Locianpwe, sekalipun hiolo batu ini betul-betul milikmu,
tapi dia toh sudah duduk dalam hiolo batu itu lebih dahulu"
Jika kau membopongnya keluar dari sana, bukankah sama
pula artinya bahwa kau telah membunuhnya" Jika kau
memang membunuhnya, apakah kau tak pantas disebut
sebagai seorang pembunuh?"
Kakek berbaju hitam itu segera mengerutkan dahinya
rapat-rapat. "Bocah cilik, perkataanmu itu bukannya tak masuk di
akal, akan tetapi secara kebetulan Lohu pun mempunyai
keperluan yang mendesak, sekalipun kau menuduh aku
sebagi pembunuh, tapi aku toh berbuat demikian demi
menolong orang. Menolong selembar nyawa, mencelakai
selembar nyawa, di antara dua hal ini, Lohu kan masih
mempunya hak untuk menjatuhkan pilihanku."
"Locianpwe, aku lihat keputusan itu agak kurang baik,"
kata Cu Siau-hong tiba-tiba.
"Bagaimana tidak baiknya?"
"Kau menggunakan hiolo batu ini untuk menolong orang,
belum tentu yang kau tolong akan hidup, tapi jika kau
membopongnya keluar dari situ, maka ia sudah dapat
dipastikan akan mati."
"Kau tahu asal-usul dari hiolo batu ini?" tanya kakek itu.
Cu Siau-hong segera berpikir :
"Jika aku mengaku terus terang dia pasti akan
melontarkan pertanyaan yang lebih banyak lagi kepadaku,
lebih baik aku membohongi dirinya saja, daripada mencari
kesulitan buat diri sendiri......."
Berpikir demikian, ia lantas mengangguk.
"Yaa, aku tahu!"
Kakek berbaju hitam itu manggut-manggut.
"Tak heran kalau kau bersikap demikian," ujarnya, "yaa,
tak bisa disalahkan kalau kau ngotot mempertahankan diri
terus, akulah yang terlampau gegabah dengan meletakkan
benda yang begini berharganya secara sembarangan,
aii......! Lohulah yang bersalah."
"Paling banter hiolo batu ini tiga sampai lima hari lagi,
kenapa kau orang tua tidak mengabulkan saja permintaan
kami ini?" kata Cu Siau-hong.
"Penyakit apa yang diderita kakek dalam hiolo batu itu?"
"Suatu penyakit yang sangat parah, nyawanya sudah
berada di ujung tanduk, napasnya sangat lemah, oleh
karena itu sangat membutuhkan bantuan dari hiolo batu
itu." "Caramu bicara lemah lembut, kau sopan santun,
sungguh membuat Lohu merasa serba salah, apakah dia
adalah gurumu?" Cu Siau-hong kembali berpikir.
"Bagaimanapun juga lebih baik kuakui saja."
Maka dia pun mengangguk. "Seandainya aku memaksa untuk membopongnya keluar
dari tempat itu, apakah kau hendak menghalangi niatku
dengan ilmu silat yang kau miliki?"
"Benar!" "Bocah cilik, ada satu hal yang sudah kaupikirkan?"
"Persoalan apa?"
"Kau bukan tandinganku!"
Cu Siau-hong memang belum sampai berpikir ke situ,
maka ia lantas tertawa sesudah mendengar perkataan itu.
"Soal ini memang belum sampai Boanpwe pikirkan, cuma
aku lihat Locianpwe juga seorang pendekar yang berhati
bajik dan penuh welas asih, aku rasa kau tak akan
menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang
demikian tidak bijaksana!"
"Lohu benar-benar merasa serba salah, aai.......! begini
saja, Lohu memberi waktu sampai tengah hari besok."
"Tidak bisa! Locianpwe, jika kau ingin mengabulkan
permintaan kami, maka kau harus memberi waktu selama
lima hari kepada kami...."
"Jika aku tak bisa mengabulkan permintaanmu itu?"
tukas kakek berbaju hitam itu segera.
"Jika tidak setuju, terpaksa Boanpwe harus
melindunginya dengan sepenuh tenaga."
Walaupun ia dipaksa oleh keadaan untuk mengakui Ui
Thong sebagai gurunya, tapi ia masih merasa agak enggan
untuk menyebut dirinya sebagai Suhu.
Kakek berbaju hitam itu termenung dan berpikir
sebentar, setelah itu katanya :
"Bocah cilik, aku tak mungkin bisa meminjamkan hiolo ini
lima hari lagi untuk kalian, paling banter Lohu hanya bisa
meminjamkan tiga hari lagi, kecuali kau bisa menghalangi
niat Lohu untuk memindahkan hiolo batu ini dari sini."
"Jika Boanpwe bukan tandingan Cianpwe dan hiolo itu
kau bawa pergi, hal ini berarti akan mengorbankan
selembar jiwanya, tapi jika Boanpwe yang beruntung dan
bisa menang, apa pula yang hendak Locianpwe
lakukan........." "Jika kau yang menang, hal ini adalah suatu kejadian
yang apa boleh buat," tukas si kakek, berarti nyawa
sahabatku itu memang sudah ditakdirkan habis sampai di
situ, apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Aaai.......! Locianpwe, sekalipun kita harus bertarung,
agaknya juga tak usah dilakukan pada hari ini."
"Tidak bisa, sekarang juga harus kita lakukan, jika aku
tak sanggup mengalahkan dirimu, kau boleh menggunakan
hiolo batu ini sekehendak hatimu, mau delapan hari sepuluh
hari terserah. Sebaliknya jika kau bukan tandinganku,
masih ada semalam setengah hari bagimu untuk mencari
akal lain guna mengatur diri gurumu itu."
"Baiklah! Jika Locianpwe bersikeras ingin turun tangan,
Boanpwe akan melayani kehendakmu itu."
Tiba-tiba selintas rasa gembira menghiasi wajah kakek
berbaju hitam itu, dengan wajah berseri dia berkata :
"Bocah cilik, kau betul-betul berani bertarung
melawanku?" "Sebetulnya Boanpwe enggan untuk turun tangan, tapi
Locianpwe mendesak terus menerus, terpaksa Boanpwe pun
harus mengikuti kehendakmu itu........"
Kakek berbaju hitam itu tertawa ewa,
"Pepatah kuna pernah berkata, perkelahian tiada yang
berakhir baik, seandainya dalam seranganku nanti Lohu
berhasil melukaimu, aku harap kau jangan mendendam
kepada diriku." "Tidak mungkin Locianpwe boleh menyerang dengan
sepenuh tenaga, seandainya aku sampai terluka, hal ini
harus menyalahkan diriku sendiri yang tak tekun melatih
diri, mana aku berani mendendam kepada diri
Locianpwe.........."
Kakek berbaju hitam itu menghela napas panjang,
katanya lagi : "Bocah kecil, sesungguhnya Lohu amat suka denganmu,
aku tak ingin melukai dirimu, lebih baik kita bertarung
hanya terbatas saling menutul saja..........."
"Terima kasih banyak atas cinta kasih Locianpwe," sahut
Cu Siau-hong sambil tertawa, "silakan Cianpwe mulai
menyerang!" Kakek berbaju hitam itu mengayunkan tangan kanannya
siap melancarkan serangan, tapi mendadak ia menarik
kembali serangannya itu, katanya :
"Bocah cilik, dalam bidang apakah kau mempunyai
kepandaian yang lebih menonjol?"
"Soal ini" Baiklah, Boanpwe akan mengaku terus terang,
yang paling menonjol dalam kepandaianku adalah dalam
bidang ilmu pedang!"
"Ilmu pedang?" "Benar! Apakah di dalam bidang ini pula kepandaian
Cianpwe yang paling menonjol?"
"Dibandingkan dengan yang lain, Lohu yakin masih
sanggup menghadapinya, cuma ilmu pedang adalah senjata
tajam, aku kuatir pertarungan ini akan membahayakan
jiwamu." "Lantas menurut maksud Locianpwe?"
"Tapi kalau kau memang mengatakan bahwa
kepandaianmu yang paling menonjol ada di ilmu pedang,
tentu saja Lohu tak dapat mengajukan bidang lain untuk
pertarungan ini." "Locianpwe tak usah bersusah hati, dalam ilmu pukulan
Boanpwe sanggup untuk menghadapinya."
Kakek berbaju hitam ini termenung sebentar, kemudian
katanya : "Begini saja, jika dalam bidang ilmu pukulan Lohu
berhasil menangkan dirimu, dan kau merasa tidak puas,
kita boleh sekali lagi beradu ilmu pedang."
"Ia begitu sesumbar, tampaknya ilmu silat yang dimiliki
sudah mencapai taraf yang sempurna," demikian Cu Siauhong
berpikir, "aku tak boleh bertindak terlalu gegabah!"
Berpikir demikian, dia lantas menarik napas panjangpanjang,
kemudian katanya : "Baik, akan kuturuti maksud hati Cianpwe."
Tiba-tiba kakek berbaju hitam itu maju setengah langkah
ke depan, lalu katanya : "Bocah cilik, marilah! Lohu akan mengalah tiga jurus
lebih dulu untukmu......"
Cu Siau-hong tersenyum, sambil maju ke depan, ia


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melancarkan sebuah pukulan.
Tiba-tiba kakek baju hitam itu menyingkir ke samping
menghindari datangan serangan tersebut, betul juga,
ternyata ia tidak melancarkan serangan balasan.
Cu Siau-hong maju lebih ke depan, tangan kiri kanannya
secara beruntun dilontarkan ke depan, hal ini memaksa
kakek berbaju hitam itu mundur selangkah ke belakang.
Kenyataan ini membuat kakek berbaju hitam itu merasa
tertegun, kemudian katanya sambil tertawa.
"Bagus! Bocah cilik, kau memang hebat, sungguh di luar
dugaan, sungguh di luar dugaan!"
"Locianpwe, tiga jurus sudah lewat, sekarang kau boleh
melancarkan serangan balasan."
"Lohu tahu!" Cu Siau-hong menarik napas panjang-panjang, tangan
kanannya diangkat dan langsung disodok ke ulu hati orang.
Kakek berbaju hitam itu mengangkat tangan kanannya,
lima jari tangannya dibalik dan secepat kilat menyambar ke
depan mencengkeram pergelangan tangan kanan si anak
Perjodohan Busur Kumala 2 Pendekar Hina Kelana 14 Kembalinya Siluman Harimau Kumbang Durjana Pemenggal Kepala 1
^