Pencarian

Pena Wasiat 4

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen Bagian 4


muda itu. Cu Siau-hong buru-buru menarik pergelangannya sambil
menurunkan tangannya ke bawah, suatu serangan berantai
pun segera dilancarkan, dalam waktu singkat dia telah
melancarkan empat belas buah pukulan.
Paras muka kakek berbaju hitam itu berubah menjadi
serius, lagi pula tenaga serangan yang disertakan dalam
setiap pukulan pun kian lama kian bertambah berat.
Pertempuran berjalan dengan serunya, dalam waktu
singkat dua ratus gebrakan sudah lewat, namun keadaan
mereka masih seimbang dan menang kalah sukar
ditentukan. Tiba-tiba Cu Siau-hong melancarkan dua serangan
dahsyat untuk mendesak mundur musuhnya, setelah itu
sambil menghentikan serangan dia berseru :
"Locianpwe, harap tahan sebentar."
"Menang kalah di antara kita belum ditentukan, mana
boleh berhenti.....?"
"Sebelum pertarungan ini dilangsungkan tadi, kita sudah
melupakan satu hal?"
"Soal apakah itu?"
"Batas jurus serangan dalam pertempuran ini."
"Batas serangan bagaimana maksudmu?"
"Sebelum pertarungan dilakukan, seharusnya kita
tentukan dulu batas serangan yang boleh digunakan,
misalnya seratus atau dua ratus jurus, bila batas jumlah
serangan sudah tiba, maka kita harus menghentikan
pertarungan......." "Lantas, siapakah yang akan dianggap menang?"
"Tentu saja akulah yang menang?"
"Kenapa bisa demikian?"
"Locianpwe, usiamu sudah lanjut, pengalamanmu lebih
luas, jika dalam dua ratus jurus kau tak mampu menangkan
aku, bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang amat
memedihkan hatimu......."
"Sedih atau tidak, kecewa atau tidak, itu bukan urusan
penting, yang harus kita ketahui adalah siapa yang lebih
tangguh dan siapa yang berhasil menangkan pertarungan
ini." "Locianpwe!" tukas Cu Siau-hong, "mengalah saja
untukku! Jika pertarungan ini kita lanjutkan, maka akhirnya
kita akan terjerumus dalam suatu pertarungan beradu jiwa,
waktu itu, apa pula yang musti kita lakukan........"
Kakek berbaju hitam itu menghela napas panjang.
"Aaai.........! Bocah cilik, katakanlah, berapa lama kau
hendak meminjam hiolo batu ini."
"Paling lama lima hari!"
Kakek berbaju hitam itu tidak berbicara lagi, ia memutar
badannya dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Menunggu Cu Siau-hong teringat belum menanyakan
namanya, orang tua itu sudah lenyap tak berbekas.
Pelan-pelan ia menghembuskan napas panjang, sambil
menyeka keringat yang membasahi jidatnya pemuda itu
berpikir. "Tampaknya, di balik besarnya jagat sesungguhnya
terdapat suatu kekuatan besar yang mengatur segala
sesuatunya di dunia ini."
Pada beberapa puluh jurus yang terakhir tadi, kedua
belah pihak telah saling mengerahkan segenap kekuatan
yang dimiliknya untuk menyerang musuh, pertarungan itu
pun telah berubah menjadi suatu pertarungan yang amat
serius. Dalam keadaan demikian, Cu Siau-hong mulai merasa
lebih dan kehabisan tenaga, maka dia pun berspekulasi
dengan meleburkan jurus silat yang tercantum dalam kitab
ilmu pedang itu di dalam gerakan pukulanpukulannya..........."
Kenyataannya, jurus-jurus serangan itu memang
mendatangkan kekuatan yang luar biasa dalam pertarungan
itu. Demikianlah pemuda itu segera membuang semua
pikiran dari benaknya dan duduk bersila sambil mengatur
pernapasan. Dalam konsentrasinya itu, tiba-tiba ia mendengar ada
suara yang amat lirih berkumandang di sisi telinganya.
Cu Siau-hong segera menarik napas panjang sambil
berseru : "Siapa?" "Aku!" suara seorang perempuan berkumandang datang.
Tanpa membuka matanya pun Cu Siau-hong sudah tahu
kalau yang datang adalah nona berbaju hijau itu, dia lantas
menghela napas panjang. "Mau apa kau datang kemari?" tegurnya.
"Mencari kau! Aku sudah bersusah payah mencarimu ke
sana kemari, yaa payah sekali."
"Ada urusan apa kau mencariku?"
Agaknya si nona berbaju hijau itu sama sekali tak bisa
membedakan apakah sikap Cu Siau-hong itu baik atau
buruk, bahkan dari nada ucapannya pun ia tak bisa
membedakan. Terhadap sikap dingin dan hambar dari Cu Siau-hong,
agaknya ia tidak merasakan juga, sambil tertawa katanya :
"Empek Ouyang yang suruh aku datang mencarimu!"
Ketika Cu Siau-hong membuka matanya, ia saksikan
sekulum senyuman menghiasi wajah nona berbaju hijau itu,
senyuman tersebut begitu polos, begitu menawan dan
mempesonakan hati orang. Ia benar-benar seorang gadis yang cantik jelita, hanya
pakaian yang dipakainya itu terlampau kedodoran,
rambutnya tidak diberi hiasan hingga menutupi
kecantikannya yang menawan, menutupi sinar keayuannya
yang mempesona. Siapa saja tak akan memperhatikan dia,
bahkan Cu Siau-hong sendiri pun belmu pernah
memandang wajahnya secara bersungguh-sungguh.
Sekarang Cu Siau-hong baru memandang wajahnya
dengan sungguh-sungguh, persis di kala ia sedang
tersenyum. Pelan-pelan Cu Siau-hong bangkit berdiri lalu bertanya :
"Ada persoalan apakah Ouyang-locianpwe mencari
diriku?" Nona berbaju hijau itu menggelengkan kepalanya
berulang kali. "Aku tak tahu, dia suruh aku datang mencarimu, maka
aku pun datang kemari."
"Nona, empat hari belakangan ini aku tak dapat
meninggalkan tempat ini, tolong beri tahukan hal ini
kepadanya." "Oooh........! Bolehkah kutemani dirimu di sini?" tanya si
nona. Cu Siau-hong segera menggelengkan kepalanya berulang
kali. "Tidak bisa!" Si nona berbaju hijau itu tidak mengucapkan sepatah
kata pun, dia memutar badanya dan keluar dari situ.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Siau-hong,
pikirnya : "Aku bersikap dingin dan hambar kepadanya, janganjangan
ia marah kepadaku?" Berpikir demikian, dia pun berseru kembali dengan suara
lantang : "Kembali!" Ternyata nona berbaju hijau itu memang amat penurut,
ketika ia sudah tiba di depan pintu, tapi setelah mendengar
perkataan itu segera memutar badannya dan berjalan
kembali. Senyuman yang manis dan polos itu masih menghiasi
wajahnya, pelan-pelan ia bertanya :
"Kau suruh aku kembali?"
Ketika dilihatnya paras muka gadis itu masih tetap wajar
seperti sedia kala, diam-diam ia bersyukur, pikirnya :
"Rupanya akulah yang terlalu banyak curiga!"
Untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti
dikatakan kepada gadis tersebut, maka tanyanya kemudian
: "Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Nona berbaju hijau itu tertawa,
"Aku bernama Bei-giok, Ouyang Bei-giok."
"Kau juga berasal dari marga Ouyang?"
"Benar!" "Apakah kau mempunyai hubungan kekeluargaan dengan
Ouyang Locianpwe?" pemuda itu bertanya keheranan.
"Tidak ada! Ketika ibu angkatku masih hidup dulu,
sepatah kata pun aku tak boleh berbicara dengan empek
Ouyang." "Oooh.......... kiranya begitu!" Cu Siau-hong manggutmanggut.
"Tapi empek Ouyang amat suka kepadaku," ujar Ouyang
Bei-giok lebih lanjut, "secara diam-diam ia sering
mengajarkan ilmu silat kepadaku, tapi ibu angkatku
melarang aku melatihnya, dia hanya suruh aku melakukan
satu persoalan." "Persoalan apakah itu?"
Ouyang Bei-giok ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata
: "Sebelum meninggal dunia, ibu angkatku telah berpesan
agar jangan menceritakan kepada siapa pun, aku bisa saja
tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun, tapi
setelah kau bertanya kepadaku, tentu saja aku haru
memberitahukan kepadamu."
"Jika kau beranggapan bahwa persoalan itu tak boleh
diutarakan, lebih baik jangan kau bicarakan."
"Padahal sudah lama aku memikirkan persoalan ini, tapi
aku selalu tak habis mengerti kenapa persoalan ini tak
boleh diberitahukan kepada orang lain?"
Lama-kelamaan Cu Siau-hong dibikin tertarik juga oleh
masalah itu, dengan perasaan ingin tahu, tanyanya :
"Sebetulnya persoalan apakah itu?"
"Kalau dibicarakan, sesungguhnya bukan suatu persoalan
yang aneh, dia hanya suruh aku duduk bersemedi belaka."
"Duduk bersemedi" Kenapa tidak boleh memberitahukan
soal ini kepada orang lain?"
"Kata ibu angkatku, persoalan ini lebih-lebih tak boleh
diberitahukan kepada empek Koay dan empek Ouyang."
"Oooh......! Kecuali mengajarkan duduk bersemedi,
pelajaran apa pula yang telah diajarkan ibu angkatmu
kepadamu?" "Ia mengajar kepadaku membaca, menulis, dan
mengenal tulisan, oleh sebab itu aku mengenal banyak
sekali tulisan." "Apakah kau pun banyak membaca buku?" tanya Cu
Siau-hong setelah termenung sebentar.
"Aku tak pernah membaca buku, semua huruf yang
kukenal adalah huruf tunggal, ibu angkatku menulisnya di
atas tanah, mengajar aku membaca dan menirukan tulisan
itu, kemudian menghapusnya kembali."
"Oooh........! kenapa ia tidak memberikan buku untuk
kau baca?" "Ibu angkatku tak ingin orang lain mengetahui kalau aku
mengenal banyak tulisan, ia pun tak ingin membiarkan
orang lain tahu kalau ia telah mewariskan semacam ilmu
bersemedi kepadaku."
"Nona Bei-giok, apa yang aneh dan rahasianya persoalan
ini" Aku benar-benar tidak habis mengerti."
"Selama ini aku tak pernah memikirkan persoalan
tersebut." "Tak pernah memikirkannya?"
"Cu-kongcu, apa lagi yang musti dipikirkan" Perkataan
yang diberitahukan ibu angkatku kepadaku, apakah aku
tidak harus mempercayainya?"
"Memang harus dipercayai!"
"Kalau memang kau harus dipercayai, maka tidak
seharusnya aku pikirkan kembali persoalan itu, bukankah
demikian?" "Betul juga perkataanmu!" Cu Siau-hong manggutmanggut.
"Tapi sekarang, aku telah memberitahukan persoalan ini
kepadamu, demi ibu angkatku, aku mohon kepadamu agar
jangan memberitahukan lagi persoalan ini kepada orang
lain." "Baik! Aku berjanji."
"Masih ada persoalan lain yang hendak kau katakan
kepadaku?" "Tidak ada!" "Apakah kau masih tetap menyuruhku keluar dari sini?"
"Benar." Ouyang Bei-giok tertawa, senyuman itu tampak agak
bimbang, agak memedihkan hati.
Pelan-pelan ia memutar badanya, dan keluar dari situ.
Cu Siau-hong dapat menangkap mengalir keluarnya rasa
sedih dari balik bayangan punggung nona itu, hampir saja
Cu Siau-hong hendak buka suara untuk memanggilnya
kembali. Tapi ketika kata-kata tersebut sampai di tepi bibirnya,
dengan cepat ia telah menelannya kembali.
Pelan-pelan bayangan punggung Ouyang Bei-giok lenyap
dari mulut gua tersebut. Cu Siau-hong menghela napas panjang, pelan-pelan ia
duduk kembali, mengambil ransum dan memakannya.
Ketika memeriksa cuaca, maka ia tahu kalau dirinya
masih harus menunggu selama beberapa jam lagi.
Meskipun hanya beberapa jam, namun dalam perasaan
Cu Siau-hong, waktu itu seakan-akan berjalan dengan
lama, lama sekali. Menanti memang merupakan pekerjaan yang paling
membosankan, untuk membunuh waktu, Cu Siau-hong
berjalan berputar-putar mengitari sekeliling hiolo batu
tersebut. Entah sudah berapa kali ia berputar-putar di sekitar hiolo
tersebut, akhirnya tibalah saatnya untuk membuka kantong
yang ketiga. Pelan-pelan ia menghembuskan napas panjang, kantong
ketiga segera dibuka dan isinya dibaca.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Terlihatlah di atas kertas itu tertulis beberapa patah kata.
"Berpalinglah lebih dulu, coba lihat masih adakah orang
lain di dalam ruangan ini."
Membaca tulisan itu, Cu Siau-hong segera berpikir.
"Kedatangan mereka terlampau awal, sekarang
semestinya tak mungkin ada orang yang bakal kemari
lagi.........." Berpikir demikian, tak tahan ia lantas berpaling ke
belakang. Tampaklah Ouyang Bei-giok dengan senyum di kulum
telah berdiri di mulut gua.
Cu Siau-hong segera merasakan hatinya bergetar keras,
segera tegurnya : "Mau apa kau datang lagi kemari?"
Ouyang Bei-giok membawa sebuah gayung yang berisi
air, jawabnya : "Aku pikir kau tentu sangat haus, sengaja kuhantar
sedikit air untukmu."
Diam-diam Cu Siau-hong menghela napas panjang,
pikirnya : "Inilah yang dinamakan takdir, kenapa kedatangannya
demikian kebetulan?"
Cepat ia menundukkan kepalanya dan membaca tulisan
itu lebih lanjut. "Jika ada seseorang berada di belakangmu, dan orang itu
adalah Ouyang Bei-giok, kau harus membantuku untuk
melakukan suatu hal."
Cu Siau-hong betul-betul merasakan hatinya bergetar
keras karena terperanjat, dengan termangu-mangu
diawasinya surat di tangan itu tanpa berkedip, sepasang
tangannya menggigil keras.
Kantong surat ini telah dipersiapkan lebih dulu olehnya,
lagi pula kantong itu selama ini berada terus dalam
kantongnya, sudah barang tentu tak mungkin kalau ditukar
orang. Cepat-cepat ia membaca lebih jauh :
"Tahanlah dia di sini, biar dia meneruskan semua
kepandaianku." "Seandainya kau tidak menemukan gadis itu, silakan
membuka lapisan bawah dari kantong ketiga ini, tapi jika
kau melihat kemunculan gadis itu maka semua pekerjaan
selanjutnya harus kau serahkan kepada bocah perempuan
itu, satu-satunya pekerjaan yang harus kau lakukan adalah
membujuknya agar mau menerima tugasmu ini, ibu
angkatnya telah mati, ia hidup sebatang kara, tapi justru
karena kemunculannya ini membuat semua usahaku selama
ini hancur berantakan, sudah menjadi kewajiban baginya
untuk melanjutkan semua pekerjaan yang akan
kuwariskan." Selesai membaca catatan dalam surat itu Cu Siau-hong
merasakan hatinya jauh lebih tenang, sebab kalau didengar
dari nada suara Ui Thong, jelas ia masih meninggalkan
persiapan lainnya, kemunculan Ouyang Bei-giok sama sekali
bukan satu-satunya penyelesaian yang dipersiapkannya.
Di samping itu, Cu Siau-hong pun telah memahami suatu
persoalan yang lain, pesan yang sesungguhnya yang
hendak disampaikan Ui Thong kepadanya justru tersimpan
dilapiskan bawah dari kantong nomor tiga ini.
Tapi ia pun mengerti, bahwa tidak seharusnya ia periksa
lagi isi surat tersebut. Maka dia pun menggape ke arah si nona.
Pelan-pelan Ouyang Bei-giok maju menghampirinya,
kemudian bertanya : "Salahkah kedatanganku ini?"
Segala sesuatunya telah berubah menjadi kenyataannya,
sikap Cu Siau-hong pun berubah menjadi lebih ramah dan
lembut, katanya sambil tertawa :
"Kedatanganmu sama sekali tak salah, tapi kau musti
membaca isi surat ini!"
Ouyang Bei-giok menyambutnya dan membaca isi surat
itu. Tulisan yang ia kenal memang tak sedikit, tapi belum
pernah ia membaca rangkaian tulisan sebanyak ini, maka
agak payah ia membacanya, setelah membuang waktu
yang cukup lama, akhirnya berhasil juga ia memahami isi
tulisan tersebut. "Kau sudah memahaminya?" tanya Cu Siau-hong
kemudian. Ouyang Bei-giok manggut-manggut.
"Yaa, aku sudah mengerti!"
"Bersediakah kau tinggal di sini?"
"Menurut kau" Seharusnya kah aku tinggal di sini?"
"Kau harus tinggal di sini, kau sudah memiliki
kemampuan untuk membaca tulisan, lagi pula setiap pesan
yang ditinggalkan Ui Thong sudah tercantum sangat jelas,
kau pasti akan memahaminya."
"Baik!" ucap Ouyang Bei-giok kemudian sambil
mengangguk, "aku akan tetap tinggal di sini."
Cu Siau-hong berusaha mengawasi wajahnya dengan
seksama, ia lihat wajah gadis itu berseri dan penuh diliputi
rasa gembira, agaknya gadis itu merasa amat senang.
Maka sambil menghela napas ia serahkan kantong berisi
pesan itu kepada Ouyang Bei-giok, katanya :
"Jika kau memang sudah setuju, lakukanlah seperti apa
yang dia pesankan dalam suratnya itu!"
"Aku bisa melakukannya, bahkan melakukannya dengan
baik, kau boleh pergi dengan legakan hati!"
"Baik! Kalau begitu aku harus mohon diri lebih dulu."
"Cu-kongcu, di kemudian hari bolehkah aku pergi
mencarimu lagi?" bisik Ouyang Bei-giok dengan lirih.
Ketika Cu Siau-hong teringat bahwa semua persiapan
yang dilakukan Ui Thong betul-betul bermaksud menentang
takdir, akibat selanjutnya masih sukar untuk diduga, ia
merasa agak sedih, setelah menghela napas katanya :
"Nona Bei-giok, semestinya aku harus tinggal di sini, tapi
aku masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan, aku
harap kau mempunyai keberanian untuk menerima
tanggung jawab ini."
Ouyang Bei-giok tertawa. "Aku sama sekali tidak merasa takut, kau tak usah
mengusirkan tentang keadaanku...."
"Sekarang keadaan Dewa Pincang Ui-cianpwe sangat
kritis dan setiap saat kemungkinan jiwanya akan
melayang," tukas Cu Siau-hong, "kau adalah seorang gadis
remaja, tidakkah kau merasa takut untuk tetap tinggal
dalam gua sambil menemani seseorang yang sudah hampir
putus nyawa......." "Aku tidak takut, tempo dulu, ketika ibu angkatku baru
mati, aku pun menemani terus jenazahnya selama tiga
empat bulan lamanya, sedikit pun aku tidak merasa takut."
"Baik! Di kemudian hari dengan senang hati akan
kusambut kedatanganmu."
Senyum manis segera menghiasi wajahnya yang cantik,
gadis itu membenahi rambutnya yang kusut, kemudian
berkata : "Aku sudah dapat membaca surat, aku bisa memahami
maksud dari tulisan tersebut, aku pun bisa melakukannya
dengan sekuat tenaga, pergilah dengan hati lega, selesai
mengerjakan semua tugas ini, aku pasti akan pergi
mencarimu!" "Nona Bei-giok, baik-baiklah menjaga dirimu!"
"Aku merasa sangat gembira karena di kemudian hari
aku boleh sering-sering menengok dirimu."
Cu Siau-hong segera menjura dan mengundurkan diri
dari dalam ruangan batu itu.
Ketika menghitung waktu yang telah dijanjikan dengan
Pek Bwe ternyata masih ada sehari lebih awal, tapi dia
adalah seorang yang teliti, didatanginya tempat perjanjian
itu dan diperiksanya sebentar, setelah itu kembali ke hutan
untuk mencari sebuah tempat yang nyaman untuk
menyembunyikan diri. Cu Siau-hong mengerti semenjak perguruan Bu-khekbun
mengalami peristiwa berdarah, ia sudah terjerat ke
dalam suatu situasi yang sangat kalut, semenjak itu bukan
saja di atas bahunya telah terletak tugas dan tanggung
jawab yang berat lagi pula dia harus menghadapi ancaman
bahaya yang setiap saat bisa berdatangan dari empat arah
delapan penjuru. Bukan saja hal mana membutuhkan ketajaman otak dan
kewaspadaan yang tinggi, dibutuhkan juga ilmu silat yang
tangguh. Ia mulai membenci pada diri sendiri, kenapa sewaktu
belajar ilmu silat dulu tidak berlatihnya dengan tekun dan
sungguh-sungguh. Membaca buku baru terasa kurang bila menghadapi
persoalan yang pelik, ilmu silat baru terasa lemah bila
menghadapi musuh yang tangguh.
Dalam keadaan seperti ini Cu Siau-hong sangat
menghargai setiap detik waktu yang dimilikinya, dia tak
ingin membuang setiap waktu yang ada dengan sia-sia.
Dalam waktu semalaman ditambah setengah hari, bukan
saja Cu Siau-hong telah melatih tekun ilmu Ciat-lip-jiu-hoat
ajaran Ouyang-sianseng, dia pun melatih juga jurus pedang
yang tercantum dalam kitab Bu-beng-kiam-boh pemberian
Lo-liok. Pada dasarnya Cu Siau-hong memang sudah memiliki
fondasi yang sangat kuat dalam ilmu pedang, maka begitu
jurus-jurus silat itu dilatih, ia segera merasakan manfaat
yang luar biasa, kelihaian serta kehebatannya sungguh jauh
di atas ilmu pedang Cing-peng-kiam-hoat.
--------------------------
6 Setelah berlatih tekun selama belasan jam tak berhenti,
air keringat telah membasahi seluruh pakaian yang
dikenakannya. Ketika tengah hari, hari kedua sudah tiba, ia baru
kembali ke tempat yang telah dijanjikan Pek Bwe.
Betul juga Pek Bwe muncul memenuhi janji.
Begitu bertemu dengan Cu Siau-hong, Pek Bwe merasa
amat terperanjat, perpisahan selama belasan hari ini bukan
saja membuat Cu Siau-hong kurus banyak, lamat-lamat di
antara alis matanya memancarkan sinar keletihan. Bau
keringat amat menusuk hidung.
Sebenarnya pemuda itu adalah seorang yang suka
kebersihan, tapi agaknya selama belasan hari ini, mandi
satu kali pun ia tak pernah.
"Nak, apa yang telah terjadi atas dirimu?" Pek Bwe
segera menegur dengan kening berkerut.
"Aku tidak apa-apa, aku sangat baik!"
"Kau kurus banyak, sekujur badan berbau keringat,
agaknya waktu untuk mandi pun tak ada?"
"Yaa, selama beberapa hari ini, aku memang sangat
repot, repotnya bukan kepalang."
"Persoalan apa yang membuat sedemikian repotnya
sehingga waktu untuk mandi pun tak ada?"
"Selama beberapa hari ini aku benar-benar sangat repot,
orang kuno pernah lupa makan lupa tidur, mungkin
demikianlah keadaan waktu itu, beberapa hari ini aku pun
lupa entah makan beberapa kali saja, yang pasti sampai
hari ini aku belum tidur barang sekejap pun, bila rasa
letihku terlampau hebat aku pun duduk bersemedi."
"Nak, selama belasan hari ini kau betul-betul amat
sengsara!" kata Pek Bwe lembut.
"Sengsara memang sengsara, cuma yang paling
sengsara adalah otot serta organ-organ tubuhku, hati
Boanpwe justru amat riang dan gembira."
"Oooh........ Nak, dapatkah memberi tahu kepadaku,
pekerjaan apa saja yang telah kau lakukan selama
beberapa hari ini, sehingga mencapai keadaan lupa makan
lupa tidur?" "Berlatih silat!"
Pek Bwe segera tertawa lebar dan tidak bertanya lebih
jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan, dia bertanya
: "Di mana si Dewa Pincang Ui Thong?"
"Sekarang agaknya dia seperti sudah mati, tapi seperti
juga belum mati......"
"Gerak-gerik orang ini amat mencurigakan, kepandaian
yang dipelajari pun semuanya ilmu-ilmu hitam yang aneh
dan misterius, lebih baik tak usah kita singgung dirinya lagi,
bagaimana kalau kita pulang saja" Kau harus baik-baik
membersihkan badan lalu tidur sepuas-puasnya."
"Locianpwe, sekarang kita berdiam di mana?"
"Persiapan yang diberikan pihak Kay-pang untuk kita
memang cukup bagus, ia telah menyiapkan sebuah gedung
besar untuk tempat tinggal kita."
"Locianpwe, selama beberapa hari ini apakah berhasil
menemukan sesuatu yang mencurigakan?"
"Tidak, pihak Kay-pang telah mengirim banyak sekali
juga jago-jagonya untuk berjaga di sana!"
"Locianpwe, kalau begitu kau boleh berjalan di depan,
dan aku akan mengikuti di belakang, kita harus
memperlihatkan suatu jarak tertentu."
Pek Bwe menjadi tertegun, tanyanya :
"Nak, maksudmu........."
"Aku kuatir kalau gerak-gerik kita secara diam-diam
diawasi orang lain......." Cu Siau-hong menerangkan.
"Nak, Hong-ji bilang apakah di kemudian hari perguruan
Bu-khek-bun bisa jaya atau tidak, dendam sakit hati
gurumu bisa terbalas atau tidak, semuanya tergantung
pada dirimu, tampaknya memang dugaannya tidak
salah........" "Aaah, Subo terlalu memandang tinggi akan diriku!"
Tiba-tiba Pek Bwe tersenyum, kemudian ujarnya :
"Nak, apakah kau sudah diusir dari perguruan Bu-khekbun?"
"Agaknya begitulah!"
"Kalau memang demikian, hal ini lebih bagus lagi,
selamanya Lohu paling muak dengan segala peraturan
perguruan, asal perbuatan kita tidak merugikan orang,
sekalipun mempergunakan sedikit akal muslihat juga bukan


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

suatu perbuatan yang luar biasa, dengan dikeluarkannya
kau dari pintu perguruan, gerak-gerikmu justru malahan
bisa makin bebas dan leluasa............"
"Budi kebaikan Suhu lebih dalam dari samudra, sehari
pun Boanpwe tak berani melupakannya, untuk menyelidiki
latar belakang terbunuhnya saudara-saudara perguruan,
Boanpwe bersedia bertindak dengan cara apa pun."
"Tepat! Kalau begitu aku akan berjalan di depan dan kau
mengikuti di belakang, cuma dengan intrik dan akal busuk,
jangan sampai diketahui oleh orang dan dimanfaatkan
mereka malah." "Boanpwe akan berhati-hati."
Pek Bwe tidak banyak berbicara lagi, dia lantas memutar
badannya dan berlalu lebih dulu.
Ternyata gerak-gerik Cu Siau-hong cukup berhati-hati,
dia hanya mengikuti dari tempat jauh sekali.
Setelah masuk kota Siang-yang, Pek Bwe mencari
kesempatan untuk berpaling dua kali, ternyata ia tidak
menemukan jejak Cu Siau-hong, hal mana membuat kakek
ini diam-diam memuji : "Emm....... bocah muda ini memang betul-betul luar
biasa!" Pek Hong dan juga para anggota perguruannya yang
masih hidup, berdiam di dalam sebuah gedung besar yang
terletak dalam sebuah lorong kecil di tepi jalan raya sebelah
selatan. Tempat itu merupakan wilayah perumahan tingkat atas
dari kota Siang-yang, setiap bangunan yang berdiri di situ
semuanya merupakan gedung-gedung besar dengan
halaman yang sangat luas, pintu gerbang telah dicat warna
merah tua. Pek Bwe segera menggoncangkan gelang pintu dan pintu
pun terbuka, begitu ia menyelinap masuk, pintu segera
ditutup kembali. Bangunan itu terdiri dari tiga lapis bangunan besar yang
bersusun, Pek Hong sekalian menempati bangunan gedung
pada lapis yang kedua. Di depan gedung maupun gedung bagian belakang,
masing-masing dijaga oleh tiga orang jago Kay-pang.
Waktu itu Pek Hong, Seng Tiong-gak serta Tang Cuan
sedang menanti di ruang tengah, mereka jadi tertegun
ketika dilihatnya Pek Bwe pulang sendirian.
Tang Cuan yang pertama-tama tak tahan, segera
tanyanya : "Pek Loya-cu, mana Siau-hong?"
"Tak usah kuatir," sahut Pek Bwe, "bocah ini sepuluh kali
lipat lebih cerdas dari pada apa yang kita bayangkan........"
"Ayah, di mana orangnya sekarang?" tukas Pek Hong
pula, "jangan menghibur kami terus, sudah kau jumpai
dirinya belum" Aaai..... sekalipun lebih cerdik, ia tak lebih
hanya seorang bocah!"
Pek Bwe hanya tersenyum. "Walau hanya seorang bocah, tapi kecerdikan serta
otaknya jauh lebih hebat dari pada aku yang matang dalam
pengalaman." "Pek-cianpwe, apa maksud perkataanmu itu" Dapatkah
kau terangkan lebih teliti?"
Pek Bwe kembali tertawa. "Kalian tak usah kuatir, keadaan yang sejelasnya tunggu
saja sampai ia melaporkan sendiri kepada kalian."
Pek Hong tertunduk sedih, sambil menahan lelehan air
matanya, ia mengeluh : "Aku telah kehilangan Ling-kang, kehilangan pula It-ki,
aku tak ingin menyaksikan Siau-hong mengalami sesuatu
yang di luar dugaan, Ayah! Kau......... kau..........."
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, secepat
kilat Cu Siau-hong telah menerjang masuk ke dalam
ruangan, kemudian sambil berlutut di hadapan Pek Hong,
katanya dengan air matanya bercucuran :
"Terima kasih banyak atas perhatian Sunio, Siau-hong
beruntung tidak mengalami luka apa pun."
Pertama karena gerakan tubuh Cu Siau-hong terlampau
cepat, kedua karena semua orang sedang memperhatikan
pembicaraan, maka kemunculan Cu Siau-hong sama sekali
tidak terdengar oleh mereka.
Pek Hong menjadi tertegun, lalu katanya :
"Siau-hong, kenapa kau menjadi begini rupa" Cepat
bangun dan ceritakan semua pengalaman kepada Subo!"
Dari nada ucapan tersebut, dapat terdengar betapa
memperhatikannya perempuan ini kepada muridnya.
Tang Cuan segera maju ke depan dan membimbing
bangun Cu Siau-hong dari atas tanah.
Setelah bangkit berdiri dan menyeka air matanya, Cu
Siau-hong baru berkata sambil tertawa :
"Terima kasih Sunio, terima kasih Toa-suheng...."
Kemudian ia berpaling ke arah Seng Tiong-gak dan
memberi hormat : "Baik-baikkah Susiok?"
Pek Bwe segera tersenyum, katanya :
"Kalian jangan mengira ia sudah banyak menderita, oleh
karena dia harus berlatih ilmu silat, ia telah melatihnya
sehingga tak ada waktu untuk tidur maupun makan, bahkan
waktu untuk mandi pun tak ada........"
Secara ringkas ia menceritakan apa yang diketahuinya,
kemudian tidak menunggu orang lain buka suara, ia
bertanya lebih dulu : "Nak, adakah seseorang mengutil diriku?"
"Ada." "Apa?" seru Pek Bwe tertegun, jadi benar-benar ada
orang mengutil di belakangnya"
"Benar! Sistem mereka sewaktu mengutil dirimu
dilakukan dengan amat sempurna, lagi pula dilakukan
setelah kau masuk ke dalam kota.
"Oooh...... manusia macam apakah itu?" tanya Pek Bwe
sambil berseru tertahan. "Di dalam suatu jarak perjalanan yang amat dekat,
mereka telah berganti dengan beberapa macam manusia
yang berbeda, ini membuktikan betapa berhati-hatinya
mereka dalam tindakan."
"Kejadian ini sungguh berada di luar dugaan Lohu."
"Hampir saja Boanpwe terkecoh pula oleh mereka,
menanti ia berdiri agak lama di depan pintu gerbang,
Boanpwe baru menyadari akan hal yang sebenarnya."
"Lihay, benar-benar sangat lihay, sudah puluhan tahun
Lohu melakukan perjalanan dalam dunia persilatan,
sungguh tak kusangka kalau kali ini aku bakal dikelabui
mereka." "Oleh karena itulah Boanpwe harus berputar ke belakang
dan menyusup masuk kemari."
"Siau-hong, sewaktu kau masuk tadi, apakah jejakmu
diketahui mereka?" tanya Seng Tiong-gak.
"Tidak!" Agaknya Pek Bwe masih penasaran dan tidak puas,
kembali ia berseru : "Nak, coba kau katakan sepuluh kali setelah aku masuk
ke dalam kota, manusia macam apakah yang telah mengutil
diriku?" "Seorang perempuan berusia setengah umur, ia mirip
sekali dengan seorang pelayan dari suatu keluarga kaya."
Pek Bwe termenung dan berpikir sebentar, kemudian
katanya lagi : "Apakah kau maksudkan perempuan yang berbaju biru
dan memakai pembungkus kepala?"
"Betul! Perempuan itulah yang kumaksudkan, ia berdiri
agak lama di depan pintu, kemudian baru pelan-pelan
berlalu meninggalkan tempat itu."
"Apakah diketahui oleh orang-orang Kay-pang?"
"Tidak, seharusnya mereka bisa mengetahui hal ini, asal
mereka mau berhati-hati, tidak sulit untuk mengetahui hal
itu." Pek Bwe segera menghembuskan napas panjang.
"Nak, tampaknya aku si jago kawakan tak lebih cerdik
dan cekatan dari pada dirimu," keluhnya.
"Aaah........ Boanpwe tidak lebih hanya karena kebetulan
saja!" Paras muka Pek Bwe berubah menjadi amat serius,
dengan suara dingin ia berkata lagi.
"Hong-ji, Tiong-gak, kalian mesti dengarkan baik-baik,
mungkin akibat dari keteledoranku, rahasia tempat tinggal
kita telah bocor dan diketahui musuh, mulai sekarang kita
semua harus mempersingkat kewaspadaan masingmasing."
"Locianpwe, entah mereka sudah menghitung jumlah kita
semua atau belum?" kata Cu Siau-hong.
"Aku pikir, mereka sudah mulai mengutil kita semenjak
Kay-pang membawa kita masuk ke kota Siang-yang,
berbicara menurut keadaan itu, agaknya mereka masih
belum puas hanya berhasil menculik Tiong It-ki
seorang........." "Maksud ayah, apakah mereka sedang bersiap-siap
untuk menghadapi kita......." tanya Pek Hong.
"Besar kemungkinannya demikian, dari sini dapat
diketahui bahwa dua peristiwa yang berlangsung bersamaan
waktunya itu bukan merupakan suatu kerja sama,
melainkan yang satu mempergunakan kesempatan dari
yang lain." "Jadi maksud ayah, pihak Liong Thian-siang dengan
rombongan penyergap perkampungan Ing-gwat-san-ceng
sesungguhnya sama sekali tak ada hubungannya."
"Dulu aku masih belum berani memastikan, tapi kalau
ditinjau sekarang, delapan sembilan puluh persen sudah
pasti demikian, hanya saja mereka memang menggunakan
kesempatan tersebut sebaik-baiknya."
"Jadi kalau begitu, tujuan mereka pun berbeda?" tanya
Seng Tiong-gak pula. Pek Bwe manggut-manggut. "Benar! Kalau Liong Thian-siang hanya dikarenakan anak
Hong, karena dendam pribadi, maka pihak lain justru
bertujuan untuk menghancurkan perguruan Bu-khek-bun."
"Lalu siapakah orang-orang itu" Selama banyak tahun
belakangan ini, Ling-kang menutup diri dan jarang
menyalahi orang lagi pula walaupun perguruan Bu-khek-bun
mempunyai sedikit nama, hakikatnya masih belum bisa
dianggap sebagai suatu perguruan besar, kenapa mereka
harus menghadapi diri Ling-kang?" kata Pek Hong.
"Dalam soal ini kau harus berpikir lebih mendalam lagi,
tapi oleh Ling-kang justru telah diciptakan suatu semangat
yang besar untuk berjuang lebih ke atas......"
Setelah memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, Tang
Cuan, dan Seng Tiong-gak, dia melanjutkan :
"Kalian semua adalah manusia-manusia berbakat dari
dunia persilatan yang berhasil dikumpulkan Ling-kang untuk
mempertahankan perguruan Bu-khek-bun, jika diberi waktu
sepuluh tahun lagi untuk melatih diri, bukankah perguruan
Bu-khek-bun akan berhasil menjadi suatu perguruan besar
dalam dunia persilatan?"
"Kalau begitu, kelompok manusia yang telah
memusnahkan perguruan kita amat sulit untuk dilacaki
jejaknya!" seru Seng Tiong-gak.
"Sepintas lalu, persoalan ini memang tampaknya sulit
untuk dilacaki, tapi bila dipikirkan kembali dengan lebih
seksama sesungguhnya mereka telah membuang banyak
tahun untuk menyusun rencana yang amat sempurna ini."
"Menurut Boanpwe, lebih baik kita tidur secara berpisah
saja," usul Cu Siau-hong, "kalau bisa kita justru berbalik
ganti menguntil mereka, setelah mengetahui dengan jelas
asal-usul mereka, kita baru mencari akal lain."
"Suatu cara yang bagus!" seru Pek Bwe segera
menyetujui, "segera kukabarkan hal ini kepada Yu-tongcu,
agar ia mengutus beberapa orang untuk membantu dirimu."
Cu Siau-hong tertawa. "Soal ini sih tak perlu, Locianpwe cukup memberi kabar
kepada pihak Kay-pang agar mereka lebih berhati-hati
sedangkan mengenai Boanpwe, aku rasa lebih baik
bergerak seorang diri saja!"
"Baik!" kata Pek Bwe sambil mengangguk, "jika hal ini
terjadi pada dua hari berselang, aku pasti tak akan setuju
bila kau ingin bertindak sediri, tapi sekarang aku tak perlu
kuatir." "Kini pihak Kay-pang sudah mulai menunjukkan gerakan,
hal mana pasti akan memancing reaksi dari pihak lawan,
mungkin, pada saat itulah Boanpwe akan berhasil
menemukan sedikit jejak mereka."
Tiba-tiba Pek Bwe menghela napas panjang, katanya :
"Nak, meskipun kau menampilkan kecerdikan yang
melampaui siapa pun, cuma ada beberapa hal yang
membuat aku masih tak lega hati dan membiarkan kau
bertindak sendirian."
"Locianpwe tak usah kuatir, Siau-hong bisa bekerja
dengan teliti dan penuh kewaspadaan."
"Locianpwe, coba kau lihat bagaimana jika Boanpwe
berangkat bersama Siau-hong sute?"
"Tidak boleh!" Pek Bwe gelengkan kepalanya, "Kau
adalah ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun, masih
banyak urusan yang memerlukan penampilanmu untuk
mengatasinya, kau tak boleh meninggalkan tempat ini."
"Terima kasih banyak atas nasihat Locianpwe!"
"Ayah, jadi kau setuju membiarkan Siau-hong bertarung
seorang diri melawan musuh-musuh kita?" seru Pek Hong.
"Subo, Tecu bukan bertarung secara terang-terangan
melawan mereka, Tecu hanya secara diam-diam mengawasi
gerak-gerik musuh, hal ini pasti akan terhindar dari segala
pertarungan." "Enso, biar Siaute berangkat bersama Siau-hong!" Seng
Tiong-gak segera menampilkan diri.
"Tak usah Tiong-gak," kembali Pek Hong menggeleng,
"lebih baik biar ia pergi seorang diri, kita harus memberikan
kerja sama yang baik dari sini agar jangan sampai memukul
rumput dan mengejutkan ular, biar Siau-hong melakukan
penyelidikan seorang diri."
Pek Bwe menghela napas panjang, katanya pula :


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Siau-hong, aku minta kau berjanji untuk pulang kembali
dengan baik-baik, tak boleh pulang dengan membawa
sedikit luka pun!" Saking terharunya, sepasang mata Cu Siau-hong sampai
menjadi merah, nyaris air matanya jatuh bercucuran.
"Siau-hong tak akan menyia-siakan harapan semua
orang." "Nak, kalau begitu berangkatlah!"
"Ayah, coba kau lihat tampangnya itu, suruh di
membersihkan badan dan berganti pakaian lebih dulu," seru
Pek Hong. "Tak usah, justru keadaannya itu lebih memudahkan
dirinya untuk mengelabui lawan," ujar Pek Bwe sambil
tersenyum. "Aaai! Siau-hong, kau harus berhati-hati jika terjadi
sesuatu, cepatlah pulang kembali."
"Tecu tahu, Subo tak usah kuatir, Siau-hong segera
berangkat." Pek Hong ulapkan tangannya, Siau-hong pun memberi
hormat kepada Seng Tiong-gak dan Tang Cuan, setelah itu
baru putar badan meninggalkan tempat itu.......
Memandang bayangan Cu Siau-hong yang menjauh,
pelan-pelan Pek Bwe berkata :
"Aku akan segera mengabarkan hal ini kepada pihak
Kay-pang, kalian pun harus mulai mempersiapkan diri."
"Ayah, kau suruh kami mempersiapkan apa?"
"Kalian harus mempersiapkan diri untuk berjalan-jalan
sebentar di kota Siang-yang."
"Oooh.......... maksud ayah?"
"Agar jejak kita diketahui mereka," sela Seng Tiong-gak.
"Benar," Pek Bwe mengangguk, "Lohu akan menyuruh
pihak Kay-pang mengutus orang untuk mengikuti secara
diam-diam dan berusaha menemukan asal usul mereka."
"Kalau memang ada pihak Kay-pang yang melakukan
pengintaian, kenapa masih menyuruh Siau-hong keluar
rumah?" "Jumlah kekuatan kita masih belum cukup untuk
membagi tugas, jika ingin lebih sempurna, lebih baik
mencari beberapa pembantu lagi yang bisa diandalkan."
Pek Hong manggut-manggut dan tidak banyak bicara
lagi. Sejak ia kehilangan suami, kehilangan anak, semua cinta
kasihnya hampir telah dilimpahkan pada tubuh Cu Siauhong
seorang. Pek Bwe memberi pesan sesuatu kepada Seng Tiong-gak
dengan berbisik, kemudian ia baru putar badan dan berlalu
dari sana. "Seng-sute, kita pun harus mempersiapkan diri," kata
Pek Hong kemudian setelah memeriksa cuaca sebentar,
kalau toh pihak Ing-gwat-san-ceng tak mampu menahan
serangan musuh, kita harus menggantungkan perlindungan
dari kekuatan suatu kantor cabang perkumpulan Kay-pang,
aku hanya kuatir mereka pun tak sanggup melindungi kita."
"Silakan Enso beristirahat! Biar aku dan Tang Cuan yang
melakukan persiapan dengan ketat."
Pek Hong manggut-manggut dan segera kembali ke
kamarnya. Sepeninggal perempuan itu, Seng Tiong-gak baru
menghembuskan napas pelan, katanya :
"Tang Cuan, agaknya kita sudah mulai berhadapan
dengan musuh-musuh besar kita."
"Susiok, masih ada suatu hal yang tidak Tecu pahami."
"Persoalan apa yang tidak kau pahami?"
"Sewaktu Suhu dan Liong Thian-siang beradu jiwa, waktu
itu kita sedang kalut dan panik, itulah waktu yang paling
baik buat mereka untuk menghadapi kita, mengapa mereka
tak mau turun tangan?"
Seng Tiong-gak termenung sejenak, lalu jawabnya :
"Tentang soal ini, aku rasa kemungkinannya hanya ada
satu alasan." "Apakah alasan itu?"
"Mungkin di dalam pertarungannya di perkampungan
Ing-gwat-san-ceng, mereka pun mengalami kerugian yang
cukup besar." "Benar! Ilmu pedang Cing-peng-kiam-hoat hingga kini
masih merupakan sebuah ilmu pedang yang berbobot dalam
dunia persilatan." "Meskipun dalam pertarungan itu pihak Bu-khek-bun
mengalami kehancuran total, tapi pihak lawan pun
merasakan juga kerugian yang tak kecil, terlepas dari orang
lain, cukup berbicara tentang diri It-ki, untuk
menangkapnya hidup-hidup, pihak lawan harus membayar
suatu nilai yang sangat besar sekali."
"Perkataan Susiok memang benar, dalam pertarungan itu
mereka juga sisa beberapa kekuatan yang amat terbatas,
itulah sebabnya mereka harus buru-buru meninggalkan
tempat kejadian." Jilid 7 Seng Tiong-gak manggut-manggut, kemudian berjalan
menuju ke luar. Tang Cuan memahami maksud Susioknya, dia pun
mengikuti di belakang Seng Tiong-gak keluar dari ruangan
itu. Mereka berdua langsung berjalan menuju ke halaman
gedung tingkat ketiga. Pada waktu itu, mereka berdua sama-sama tidak
berbicara lagi, tapi jalan pemikiran mereka berdua adalah
sama, dengan sepasang mata yang tajam mereka
mengawasi situasi di sekeliling tempat itu.
Para anggota Kay-pang bertugas dengan disiplin yang
tinggi, sewaktu mereka berdua masuk ke ruang tengah
gedung ketiga, dari balik ruangan segera muncul seorang
pengemis setengah umur yang segera menyapa.
"Seng-ya, Tang-ya kalian berdua sedang jalan-jalan?"
"Hati kami lagi kesal, ingin sekali berjalan-jalan di kebun
bunga belakang sana," jawab Seng Tiong-gak.
"Silakan, kebun bunga di belakang sana tidak terlalu
besar, tapi sangat indah, perlu aku menjadi petunjuk jalan
untuk kalian berdua?"
"Tidak usah, silakan kau urusi tugasmu sendiri."
Pengemis setengah umur itu segera menjura dan berlalu
dari situ. Sambil berjalan sambil bercakap-cakap, dengan telitinya
Seng Tiong-gak serta Tang Cuan lalu mengitari pula kebun
itu satu kali, setelah itu baru mereka kembali ke gedung di
lapisan ke dua. Waktu itu Pek Bwe sudah lama menantikan kedatangan
mereka berdua. "Loya-cu!" Seng Tiong-gak segera berbisik, "kami rasa
kita tak boleh hanya mengandalkan kekuatan dari pihak
Kay-pang saja untuk melindungi keselamatan kita, maka
aku dan Tang Cuan telah memperhatikan situasi di dalam
gedung ini, sehingga bila terjadi sesuatu peristiwa, kita pun
tak usah menghadapinya dengan panik."
"Yaa, kita memang harus berhati-hati."
"Cara kerja anggota Kay-pang memang amat disiplin,
ketika kami memasuki gedung ketiga sana, telah berjumpa
salah seorang di antaranya, cuma sayang gedung itu
terlampau besar sedang mereka yang bertugas cuma enam
orang saja, suatu jumlah yang terlampau kecil."
"Aaai..... harus disalahkan aku yang terlalu bertindak
gegabah," keluh Pek Bwe sambil menghela napas panjang.
Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu urusan yang
penting, sambil bangkit berdiri katanya lagi.
"Tiong-gak, kau mengatakan dalam gedung ketiga telah
berjumpa orang anggota Kay-pang?"
"Satu orang!" "Hanya satu orang?"
"Ya, aku hanya melihat satu orang."
Pek Bwe termenung beberapa saat lalu katanya lagi.
"Beri tahukan kepadaku, macam apakah orang itu?"
"Pek Loya-cu, maksudmu, anggota Kay-pang tersebut
pun amat mencurigakan?"
"Aku kuatir dia bukanlah anggota Kay-pang........."
Kemudian sambil memandang sekejap ke arah Tang
Cuan, ia melanjutkan : "Kau tinggal di sini, aku dan Tiong-gak akan memeriksa
sebentar keadaan di sana."
Begitu selesai berkata, ia telah bergerak lebih dulu.
Seng Tiong-gak merasa masalah ini amat serius sekali,
buru-buru dia menyusul di belakangnya.
Memandang bayangan punggung kedua orang itu berlalu,
Tang Cuan merasakan hatinya amat sedih, terbayang
sebelum gurunya meninggal dulu, segala sesuatunya
Suhulah yang memikul tanggung jawab itu, sedang Suhengte
sekalian kecuali berlatih silat, boleh dibilang tiada
persoalan lain yang dipikirkan lagi.
Siapa tahu setelah terjadinya tragedi di malam itu, bukan
saja Suhunya mati oleh ilmu sakti lautan utara,
perkampungan Ing-gwat-san-ceng pun musnah menjadi
abu dalam semalaman saja, para sutenya mati dibunuh dan
siau-sutenya lenyap tak berbekas, suasana riang gembira
dan penuh kedamaian semula menyelimuti mereka kini
berubah menjadi memedihkan hati, apalagi dewasa ini
tinggal empat orang saja yang masih hidup.
Peristiwa ini bukan hanya suatu dendam berdarah saja,
melainkan juga suatu tanggung jawab yang amat berat.
Begitu terjun ke dunia persilatan, semua kelicikan dan
kebusukan orang persilatan segera dijumpainya, ia mulai
merasa bahwa setiap langkahnya serasa menghadapi
rintangan dan halangan, apalagi setelah terlepas dari
pengawasan gurunya. Penderitaan yang berat paling mudah membuat
seseorang matang lebih cepat, peristiwa berdarah yang
mengerikan membuat Tang Cuan dan Seng Tiong-gak mulai
mempergunakan otak dan kecerdasan masing-masing untuk
menghadapi setiap situasi dan perubahan.
Ia merasa hal ini harus dilaporkan dulu kepada ibu
gurunya, agar bila terjadi sesuatu peristiwa tak sampai
gelagapan dibuatnya. Pelan-pelan ia berjalan ke depan kamar Pek Hong, lalu
mulai mengetuk pintu. Dari balik ruangan terdengar suara sahutan dari Pek
Hong : "Siapa di situ?"
"Tecu, Tang Cuan!"
"Ada urusan apa?"
"Pek-cianpwe menemukan bahwa anggota Kay-pang
yang bertugas di gedung lapisan ketiga amat mencurigakan,
ia bersama Seng-susiok telah pergi melakukan
pemeriksaan, Tecu merasa kejadian ini amat gawat dan
berbahaya, bila terjadi sesuatu perubahan tentu luar biasa
sekali, maka sengaja Tecu datang memberitahukan hal ini
kepada Subo." "Baik, aku sudah tahu!"
"Tecu akan berjaga di luar ruangan, jika Subo hendak
memberi perintah harap segera disampaikan, Tecu segera
akan menyusul kemari."
Pelan-pelan pintu ruangan terbuka dan Pek Hong pun
munculkan diri, katanya :
"Tang Cuan, tak kusangka kalian semua begitu setianya
kepada perguruan, walaupun hatiku merasa amat bersedih
hati, tapi dengan cepat telah memperoleh pula hiburan yang
besar." "Tecu sudah banyak menerima budi kebaikan dari
perguruan, meskipun badan harus hancur, budi ini belum
tentu bisa terbalaskan."
Pek Hong menghela napas panjang.
"Tang Cuan," katanya, sekarang kau adalah seorang
ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun, aku yang menjadi
Subomu sudah seharusnya melindungi keselamatanmu,
Tang Cuan. Mari kita bersama-sama duduk di ruang tengah
sambil menanti kedatangan mereka."
"Tecu tak berani, lebih baik Subo beristirahat saja di
dalam kamar." Pek Hong tertawa getir. "Tang Cuan, aku membutuhkan sesuatu yang
merepotkan, yaa, hanya kerepotan dapat mengurangi rasa
sedih yang mencekam dalam hatiku."
Tang Cuan tidak berani berbicara lagi, setelah mengiakan
dia pun mengundurkan diri ke samping.
Dalam pada itu, Pek Bwe dan Seng Tiong-gak telah lari
masuk ke gedung tingkat ketiga dengan langkah tergesagesa.
Suasana di dalam ruangan itu sunyi senyap, tak nampak
sesosok bayangan manusia pun.
Seng Tiong-gak mendehem berat-berat, kemudian
menegur. "Adakah seseorang di sini?"
Berulang kali ia berteriak, namun tiada jawaban yang
kedengaran. Paras muka Seng Tiong-gak segera berubah hebat,
katanya kemudian : "Loya-cu, tampaknya dugaanmu benar!"
Tiba-tiba Pek Bwe melompat ke depan dan menyelinap
masuk ke tengah ruangan. Mendadak cahaya tajam berkelebat lewat, tiga titik
cahaya putih dengan kecepatan luar biasa menyergap diri
mereka. Waktu itu malam hari sudah menjelang tiba,
pemandangan di sekeliling tempat itu sudah mulai kabur.
Tiga bilah pisau terbang itu menyambar lewat dari sisi
tubuh mereka dan.... Traaang! Traaang! Traaang! Diiringi
tiga kali dentingan nyaring ketiga batang senjata tersebut
bersama-sama menancap di atas tiang penyangga ruangan.
Dengan sinar mata tajam Pek Bwe mengawasi ke balik
kegelapan di mana senjata rahasia itu berasal, kemudian
pelan-pelan berseru : "Sobat, caramu yang bermain sembunyi macam cucu
kura-kura, apakah tidak terasa sebagai perbuatan seorang
manusia rendah yang tidak tahu malu...........?"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tiba-tiba dari balik kegelapan menyelinap keluar dua
sosok bayangan manusia yang langsung melompat naik ke
atas atap rumah. Seng Tiong-gak segera mengayunkan tangannya ke
muka, dua batang senjata rahasia bunga teratai besi
dengan cepat meluncur ke depan.
Senjata rahasia bunga teratai besi dari perguruan Bukhek-
bun merupakan ilmu sakti dari dunia persilatan,
secepat sambaran kilat kedua biji senjata rahasia itu
meluncur ke depan. Suara mengaduh bergema memecahkan keheningan,
sesosok bayangan manusia segera terjungkal ke bawah dari
atas atap rumah, tapi orang yang berjalan di belakangnya
karena terhalang oleh rekannya di depan, buru-buru
merendahkan diri dan menghindarkan diri dari serangan
tersebut : Dengan kecepatan tinggi, Seng Tiong-gak melompat ke
depan dan menyambar ke samping laki-laki yang terhajar
oleh senjata rahasia bunga teratai besi itu.
Senjata rahasia bunga teratai besi itu bersarang telak di
dada sebelah kiri lelaki itu sehingga masuk separuhnya,
darah segar segera berhamburan keluar membasahi
tubuhnya. Lelaki itu masih berusaha untuk meronta dan mencoba
bangkit berdiri, tapi sebuah totokan dari Seng Tiong-gak
segera merobohkan dirinya.
Pek Bwe sendiri cuma berdiri tak berkutik, dia
membiarkan lelaki yang seorang lagi kabur meninggalkan
tempat itu. Seng Tiong-gak yang menyaksikan kejadian itu segera
menegur dengan kening berkerut.
"Locianpwe, kenapa kau lepaskan dia?"
"Seorang saja sudah lebih dari cukup, buat apa musti
menahan kedua-duanya" Mereka tak lebih cuma manusia
kelas tiga, percuma menahan mereka terlalu banyak,
sebaliknya justru akan memancing perhatian dan rasa
kuatir mereka. Sekarang, kita musti mencari dulu orangorang
Kay-pang sebelum bertindak lebih jauh."
"Loya-cu, orang-orang ini semuanya bukan orang Kaypang!"
"Semoga saja apa yang Lohu duga tidak keliru!"
Apa yang diduga Pek Bwe memang tidak salah, dari
dalam sebuah ruangan yang amat rahasia mereka berdua
berhasil menemukan tiga orang anggota Kay-pang.
Cuma saja, ketiga orang anggota Kay-pang itu telah
berubah menjadi tiga sosok mayat.
Pek Bwe segera membuat obor dan memeriksa mayat
mereka, tampak paras muka ketiga anggota Kay-pang itu
sudah berubah menjadi hijau kebiruan, agaknya kematian
mereka disebabkan oleh sejenis racun yang amat jahat.
Setelah memeriksa sekian lama atas ketiga sosok mayat
itu, Pek Bwe menghela napas panjang, katanya :
"Mari kita pergi saja!"
"Mereka sudah mati semua?" bisik Seng Tiong-gak.
Pek Bwe mendengus. "Paling tidak sudah empat jam lamanya mereka
menghembuskan napas yang penghabisan."
"Apa yang menyebabkan kematian mereka?"
"Terkena semacam senjata rahasia yang amat beracun,
senjata rahasia itu biasanya disebut jarum ekor
kalajengking, racun yang dipoleskan di ujung jarum itu
sangat berbahaya, begitu ketemu darah lantas merenggut
nyawa." "Perlu tidak kita laporkan peristiwa ini kepada Yu-toucu?"
Pek Bwe mengangguk. "Kita harus melaporkan hal ini kepadanya, bahkan lebih
cepat lebih baik, sebab mereka mempunyai senjata rahasia
jarum ekor kala yang amat beracun, itu berarti mereka bisa
membunuh orang tanpa menimbulkan sedikit suara pun."
"Loya-cu, masakah jarum ekor kala itu sedemikian
lihainya?" "Benda itu asalnya datang dari Lam-huang dulunya
dipakai sebagai senjata tulup orang-orang suku Biau,
kemudian telah diubah orang menjadi semacam senjata
pembidik otomatis yang diperlengkapi dengan pegas tinggi,
sambaran jarumnya tidak menimbulkan suara, bentuknya
macam ekor kala beracun dan panjangnya cuma tiga hun,
jarang ada orang yang bisa meloloskan diri dari sergapan
senjata rahasia tersebut."
"Kalau begitu, sergapan senjata rahasia tersebut sulit
untuk diatasi....?" "Bukan berarti tak bisa diatasi, setiap benda tentu
memiliki kelemahan, demikian juga dengan senjata rahasia
tersebut, lantaran bentuknya yang amat kecil dan lembut
maka jarak bidiknya tak bisa jauh, untuk memperoleh hasil
yang baik, orang harus membidiknya dari jarak delapan
depa dari sang korban."
"Sungguh luas pengetahuan Loya-cu, Boanpwe betulbetul
merasa kagum," puji Seng Tiong-gak kemudian.
Pek Bwe menghela napas panjang.
"Aaai........! Tiong-gak, jangan berkata begitu, ucapanmu
bisa bikin muka Lohu menjadi panas saja, hayo kita
berangkat." "Bagaimana dengan orang lain?"
"Bawa saja, banyak persoalan ingin kita ketahui dari
mulutnya." "Locianpwe, kita akan ke mana?"
"Ke halaman kedua lebih dahulu, kita lihat apakah Yu Lip
telah datang atau belum?" seraya berkata, ia melangkah
lebih dahulu. "Locianpwe!" Seng Tiong-gak kembali berbisik, "anggota
Kay-pang yang berjaga di halaman belakang sudah dibunuh
orang, bagaimana dengan ketiga orang Kay-pang yang
berjalan di halaman depan?"
"Yang bertugas di halaman depan masih sehat wal afiat
tak seorang pun yang cedera."
Ketika mereka memasuki halaman lapis kedua,
tampaklah cahaya lampu menerangi seluruh ruangan,
sedang di tengah halaman penuh berkumpul anggota Kaypang.
Agaknya orang-orang itu semuanya kenal dengan Pek
Bwe, ketika menyaksikan kedatangannya, masing-masing
lantas menyapa dan saling menganggukkan kepala.
Pek Bwe membawa Seng Tiong-gak langsung menuju ke
ruangan tengah. Waktu itu Pek Hong sudah duduk di kursi kebesaran di
tengah ruangan, di sampingnya berdiri Tang Cuan.
Ketika itu Hun-toucu dari perkumpulan Kay-pang cabang
kota Siang-yang, si Kaitan Emas Yu Lip sedang berbisikbisik
dengan Tang Cuan dengan wajah serius, sewaktu
dilihatnya Pek Bwe dan Seng Tiong-gak muncul sambil
menggendong seorang lelaki asing, ia segera bangkit berdiri
dan menyongsong kedatangan mereka.
"Pek-ya, bagaimana nasib ketiga orang anggota Kaypang
yang bertugas di halaman belakang?"
"Semuanya telah ketimpa musibah!"
Yu Lip segera menghela napas panjang.
"Aaaai........! akulah yang salah, akulah yang salah,
seharusnya aku sendiri yang musti bertugas di tempat itu.
"Saudara Yu, kau tak perlu menegur diri sendiri lagi,"
hibur Pek Bwe, "kalau dibilang teledor, maka aku jauh lebih
teledor dari padamu, tanggung jawab ini sudah seharusnya
aku yang pikul." "Pek-ya, aku telah mengirim surat kepada Pangcu dan
memohon dia orang tua agar datang kemari lebih awal,
aaai! Perubahan yang terjadi di tempat ini terlalu banyak,
tampaknya aku tak akan mampu menghadapi kesemuanya
seorang diri." "Untung saja Tiong-gak berhasil meringkus salah seorang
di antara mereka, mari kita tanyai dirinya lebih dulu!"
Yu Lip manggut-manggut : "Seng-ya!" ujarnya kemudian, "lepaskan dia, dan tolong
bebaskan dulu jalan darahnya."
Seng Tiong-gak manggut-manggut, dia menurunkan lakilaki
itu dari atas bahunya dan menepuk bebas jalan
darahnya yang tertotok. Dengan mata membara merah, Yu Lip menegur dengan
suara dingin : "Bocah keparat, dengarkan baik-baik kau telah
membinasakan tiga orang anak buahku yang membuat
kemarahan aku si pengemis meluap, asal sepatah kata saja
kau berani berbohong, segera kukorek keluar sebuah
matamu lebih dahulu."
Setelah jalan darahnya dibebaskan, laki-laki itu
menggerakkan lengannya sebentar, kemudian menjawab :
"Pengemis busuk, lebih baik jangan berlagak sok di
depan bapakmu, jika kau sanggup mengorek sepatah kata
saja dari mulutku, anggap saja kau si pengemis busuk
memang betul-betul berkepandaian tinggi."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Yu Lip, dia segera
mencengkeram lengan kanan laki-laki itu, kemudian
serunya : "Baik, anggap saja kau memang hebat, aku berharap kau
bukan cuma berlagak di mulut belaka."
Sepasang tangannya segera meremas sepenuh tenaga,
"kraak!" lengan kanan laki-laki itu segera patah menjadi
dua bagian. Ternyata laki-laki itu memang perkasa, meskipun lengan
kanannya dipatahkan, ternyata merintih pun tidak.
Melihat itu, kontan saja Yu Lip tertawa dingin.
"Bocah keparat, kau memang hebat, aku si pengemis
tidak percaya kalau tubuhmu terbuat dari besi dan baja, kali
ini aku pengemis akan mengorek keluar matamu."
Tangan kanannya menyambar ke depan siap mengorek
mata kanan laki-laki itu.
"Yu-toucu, hentikan perbuatanmu itu!" cegak Pek Bwe
sambil menghembuskan napas panjang, "orang ini sudah
mati!" Yu Lip tertegun, ketika ia mencoba untuk memeriksa
sendiri, betul juga sekujur badan lelaki itu sudah berubah
menjadi hitam pekat, jelas ia telah menelan obat beracun
bahkan sudah keracunan yang mengakibatkan jiwanya
melayang. Sambil menurunkan kembali mayat orang itu ke tanah,
air muka Yu Lip berubah menjadi murung bercampur sedih,
katanya : "Aaai......! ibaratnya perahu terbalik dalam selokan, aku
tidak mengira kalau keparat ini telah menyembunyikan
kapsul berisi cairan racun jahat di antara sela-sela
giginya........" "Inilah yang dinamakan sekali salah melangkah,
selanjutnya salah terus menerus, dengan kekalahan yang
kita perbuat sekarang, maka segala sesuatunya kita bakal
berada dalam perhitungan musuh."
"Sudah lima tahun aku menjabat sebagai Hun-toucu dari
kota Siang-yang, tapi selama lima tahun ini segala
sesuatunya berjalan aman dan tak pernah terjadi sesuatu
apa pun, baru saja Pangcu menyerahkan sebuah tugas
kepadaku, aku sudah melaksanakannya dalam keadaan
begini, aaai! Mana aku punya muka untuk berjumpa lagi
dengan Pangcu?" "Yu-toucu, kau tak usah bersedih hati, musuh kita
berada dalam kegelapan dan kita justru di tempat terang,
cara kerja mereka cukup keji dan hebat, dalam hal ini kau
tak bisa disalahkan, coba kau lihat, bahkan Lohu pun
berhasil dipecundangi olehnya......."
Sesudah berhenti sejenak, terusnya :
"Cuma, kita masih belum gagal total............"
Yu Lip kembali tertawa getir, katanya kemudian :
"Kita belum gagal total" Tanpa menimbulkan sedikit
suara pun tiga orang anggota Kay-pang kami telah dijagal
orang, sedang jejak musuh pun tidak berhasil kita ketahui,
apakah ini tidak terhitung sesuatu kekalahan yang
mengenaskan?" Agaknya rasa sedih, gundah yang mencekam
perasaannya sudah mencapai titik puncak, hingga wajahnya
ikut berubah menjadi hijau membesi dan tubuhnya agak
menggigil. Pek Hong yang selama ini membungkam, segera
menghembuskan napas panjang, katanya :
"Yu-toucu, kau tak usah bersedih hati, andai kata Pangcu
kalian menanyakan masalah ini, aku akan memikul
tanggung jawab ini."
Paras muka Yu Lip pelan-pelan berubah menjadi biasa
kembali, buru-buru dia bangkit memberi hormat.
"Terima kasih Hujin," serunya cepat.
"Yu-toucu, yang lewat kini sudah lewat, mari kita
selesaikan dulu mayat dari ketiga orang rekan Kay-pang
sebelum melakukan perundingan lebih lanjut," usul Pek
Bwe. "Pek-ya, tiga orang saudara yang ketimpa musibah akan
diselesaikan oleh Kay-pang, yang penting buat kita
sekarang justru adalah cara untuk menghadapi mereka, kita
musti mempersiapkan diri lebih baik agar jangan sampai
terjadi sesuatu lagi."
"Soal ini aku mengerti, kerepotan yang menimpa diriku
selama ini sudah cukup memedihkan hatiku, maka aku
pikir, kita tak boleh memberi kesempatan lagi bagi mereka
di kemudian hari." "Pek-ya, pengetahuanmu sangat luas, tolong carilah
sesuatu akal untuk mengatasi masalah ini, aku akan
mengaturkan dulu penyelesaian dari ketiga layon saudarasaudara
yang ketimpa musibah."
Seusai berkata, dia lantas bangkit dan mengundurkan
diri dari ruangan itu. Memandang bayangan punggung Yu Lip yang buru-buru
berlalu, Pek Hong berbisik :
"Ayah, apakah kau berhasil menemukan titik terang"
Dari pihak manakah yang melakukan perbuatan keji ini?"
"Belum!" Pek Bwe menggeleng.
"Ayah, masakah dengan pengetahuanmu yang begitu
luas, kau tidak berhasil melacaki asal-usul mereka?"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aaai! Hong-ji, sudah puluhan tahun bapakmu
melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, aku tak
berani mengatakan pengetahuanku amat luas, tapi aku
percaya banyak masalah yang kupahami, tapi persoalan
yang kita hadapi sekarang betul-betul luar biasa, bukan
saja jejak mereka sukar dilacaki, bahkan asal-usul dari ilmu
silat mereka pun tak bisa kuketahui dengan pasti."
"Loya-cu," sela Seng Tiong-gak, "aku dengar Kay-pang
merupakan suatu organisasi yang paling tajam
pendengarannya, mungkin mereka lebih tahu daripada
kita." "Aaai! Yang menakutkan justru berada di sini, jika pihak
Kay-pang sampai tahu, mereka pun tak akan menderita
kerugian sebesar ini."
"Ayah, lantas apa yang musti kita lakukan sekarang?"
keluh Pek Hong. "Hong-ji, bila menghadapi persoalan maha besar seperti
ini, semakin kau tenang semakin mudah persoalan itu
diatasi, aku tahu bahwa gerakan mereka ditunjang oleh
suatu penyusunan rencana yang amat sempurna, sekalipun
demikian mereka telah kelupaan juga di dalam beberapa
masalah.........." "Apa saja yang mereka lupakan" Mungkinkah persoalan
itu penting?" tukas Seng Tiong-gak.
"Sampai sekarang Lohu belum berani memastikan, tapi
aku yakin mereka pasti akan teledor dalam satu hal, dan
keteledoran tersebut kemungkinan besar akan
mendatangkan kerugian yang fatal untuk mereka sendiri."
"Tapi keteledoran macam apa itu?"
"Sebetulnya mereka telah merasakannya, cuma kita
belum berhasil menemukannya saja."
"Ayah, aku tahu keteledoran mereka," tiba-tiba Pek Hong
berseru nyaring. "Kau tahu, coba katakan!"
"Ayah, kata orang, bila membabat rumput tidak ke akarakarnya,
bila musim semi tiba rumput pun akan tumbuh
kembali. Aku yakin mereka pasti akan membabat rumput
sampai ke akar-akarnya, mereka pasti hendak membunuh
mati kita semua." "Hong-ji, jika persoalannya sesederhana ini, bukan
keteledoran namanya......"
"Kalau bukan suatu keteledoran, apa pula namanya?"
"Itu namanya suatu kesalahan yang fatal, jika mereka
seharusnya membunuh kita dan tidak berhasil
menyelesaikan jiwa kita semua, maka persoalan ini tidak
seharusnya terjadi. Dewasa ini mereka hanya berusaha
untuk menutupi keteledoran tersebut, kita tak akan
menduga bagaimana cara mereka untuk menutupi
keteledoran itu." "Lantas, kecuali ingin membunuh kita semua, apa pula
tujuan mereka dengan menyusup kemari?"
Pek Bwe gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tak mungkin mereka ingin membunuh kita, jarum ekor
kala yang mereka bawa merupakan senjata rahasia yang
paling beracun di dunia ini, begitu ketemu darah lantas
merenggut nyawa, senjata rahasia semacam ini bukan saja
tidak menimbulkan suara sewaktu dibidikkan, sewaktu
menyambar pun tidak membawa desingan angin serangan,
bila tujuan mereka ingin menyergap kita rasanya tak nanti
kita bisa lolos dengan selamat........"
"Tapi siapa tahu kalau mereka belum berhasil
mendapatkan kesempatan untuk melakukan sergapan?"
tukas Pek Hong. "Paling tidak, mereka toh punya kesempatan untuk
membunuh Tiong-gak serta Tang Cuan?"
Seng Tiong-gak segera menghembuskan napas panjang,
ujarnya : "Apa yang dikatakan Pek Loya-cu memang benar, waktu
itu baik aku maupun Tang Cuan sedikit pun tidak
melakukan persiapan apa-apa, seandainya mereka berniat
untuk menyergap kami dengan ekor kalanya, aku yakin aku
serta Tang Cuan sutit sudah tewas secara mengerikan di
ujung jarum kala tersebut di saat itu juga."
"Kalau begitu, kedatangan mereka memang betul-betul
karena tujuan lain....?" seru Pek Hong.
"Hong-ji," kata Pek Bwe sambil menghembuskan napas
panjang, "dalam menghadapi pelbagai persoalan, kau tak
boleh cepat mengambil kesimpulan, pikirkan dulu masakmasak
sebelum mengambil seutas kesimpulan yang akan
menjadi dasar dari keputusanmu."
"Ayak, aku betul-betul tak habis mengerti, sebetulnya
apa yang hendak mereka lakukan?"
"Inilah sebab yang musti kita selidiki sekarang."
"Padahal asal mereka bereskan nyawa kita semua,
bukankah persoalannya akan beres dengan sendirinya?"
Pek Bwe goyangkan tangannya berulang kali mencegah
ia bicara lebih lanjut, katanya :
"Hong-ji, kau tak usah berbicara lagi, biar kupikirkan
dulu sebaik-baiknya."
Untuk sesaat, suasana dalam ruangan itu pulih kembali
dalam keheningan, sedemikian heningnya sehingga tak
terdengar sedikit suara pun.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia
berkumandang memecahkan keheningan, menyusul Yu Lip
muncul dengan langkah tergesa-gesa.
"Bagaimana dengan jenazah ketiga orang saudara itu?"
Pek Bwe segera menegur. "Telah dimasukkan ke dalam peti mati, dari tubuh salah
seorang di antara mereka aku berhasil menemukan
sebatang senjata rahasia."
"Macam apakah senjata rahasia itu?"
"Sebatang jarum beracun yang lembut dan kecil, belum
pernah kujumpai jarum semacam itu, mungkin itulah jarum
ekor kala yang Pek-ya maksudkan tadi."
"Coba berikan kepadaku!"
Dari sakunya Yu Lip mengeluarkan sebuah bungkusan
kecil dari kain putih dan membukanya.
Di bawah sinar lentera, dapat dilihat jarum itu
panjangnya cuma tiga hun, bentuknya memang mirip sekali
dengan jurus seekor kalajengking.
Setelah melihat sejenak, Pek Bwe berkata,
"Betul, inilah jarum ekor kala yang termasyhur karena
kejadian serta kelihaiannya."
"Baik!" kata Yu Lip pula sambil membungkus kembali
jarum ekor kala itu, "asal ada jarum ekor kala ini sebagai
bukti, kita bisa berusaha melacaki jejak sang pembunuh
dari sini." Pek Bwe memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu
katanya : "Yu-toucu, perintahkan kepada mereka untuk bubar
saja!" "Baik, aku telah memerintahkan kepada mereka untuk
melakukan penggeledahan besar-besaran, dalam gedung ini
sudah tidak ditemukan jejak musuh lagi."
Tiba-tiba Tang Cuan menjura, lalu katanya :
"Yu-toucu, gara-gara persoalan Bu-khek-bun kami,
perkumpulan anda harus kehilangan tiga orang saudara,
kejadian ini sungguh membuat hati kami tak tenang,
terimalah rasa terima kasih kami lebih dulu."
"Yu-toucu, Tang Cuan telah menerima jabatan
ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun," Pek Bwe segera
menerangkan. Yu Lip segera membungkukkan badannya memberi
hormat. "Menjumpai Ciangbunjin!" serunya.
Tang Cuan membalas hormat, lalu berkata :
"Tidak berani, tidak berani, budi kebaikan yang diberikan
perkumpulan anda kepada Bu-khek-bun, tak akan kami
lupakan untuk selamanya."
"Ucapan Tang-ciangbunjin terlalu serius. Berulang kali
Pangcu telah memberitahukan kepada kami bahwa Bukhek-
bun pernah melepaskan budi pertolongan kepada Kaypang,
seandainya bukan bantuan dari ciangbunjin yang
berhasil melerai pertikaian antara perkumpulan kami
dengan pihak Pay-kau, mungkin Kay-pang sudah tak bisa
mempertahankan organisasi besar ini, sudah tiga puluh
tahun Pangcu kami menjabat kedudukan ini, tapi belum
pernah menerima budi kebaikan orang lain, satu-satunya
budi kebaikan datangnya justru dari pihak Bu-khek-bun,
maka Pangcu kami selalu mengingat kejadian itu di dalam
hati, karenanya setiap kali beliau berkunjung ke kota Siangyang
ini selalu memberi pesan agar aku bisa banyak
membantu Bu-khek-bun, jadi terhadap bantuan kami ini
harap Ciangbunjin tak usah memikirkannya selalu di hati."
Tang Cuan menghela napas panjang.
"Aaai....! Dalam semalam suntuk Bu-khek-bun ketimpa
musibah, bukan saja bangunan kami porak-poranda,
anggota perguruan pun banyak yang tewas, sekalipun Tang
Cuan menjabat kedudukan ketua atas dasar pesan
ciangbunjin, namun aku sadar bahwa usiaku masih muda
dan pengalamanku masih cetek, di kemudian hari masih
banyak bantuan yang kami harapkan dari Yu-toucu."
"Aku pengemis tak berani menerimanya, kini musibah
yang menimpa perguruan kalian telah kulaporkan kepada
Pangcu, aku yakin dalam beberapa hari mendatang,
sekalipun Pangcu tidak datang sendiri, beliau pasti akan
mengutus beberapa orang Tiang-lo untuk menyusul kemari,
dewasa ini meskipun anggota kantor cabang kami tak
sedikit jumlahnya, akan tetapi yang betul-betul jago hanya
berapa orang, dalam hal pelindungan otomatis tidak cukup
sempurna, karena itu kami mohon Tiong-hujin dan
Ciangbunjin suka bertindak lebih hati-hati, Yu Lip ingin
mohon diri lebih dahulu."
Pek Hong segera bangkit berdiri sambil menyatakan rasa
terima kasihnya atas perhatian mereka.
Yu Lip pun setelah basa-basi sejenak, segera membawa
para anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal para jago Kay-pang, Pek Bwe duduk kembali
di kursinya sambil bergumam :
"Terhadap bocah itu, mau tak mau Lohu harus merasa
kagum juga." "Ayah maksudkan siapa?"
"Cu Siau-hong! Bocah ini benar-benar adalah seorang
jago lihay yang berotak cerdas!"
"Kok bisa begitu!"
"Ia bisa menduga kalau ada musuh yang bakal menguntil
diriku, dan lagi dia pun bisa menduga kalau di sini banyak
terdapat mata-mata lawan, maka setelah memberi pesan
segera pergi meninggalkan tempat ini."
"Loya-cu, kalau bukan pengalamanmu luas, mungkin kita
semua sudah ketimpa musibah," kata Seng Tiong-gak
kemudian. "Ini pun berkat peringatan kalian kepadaku, seandainya
kalian tidak bercerita kalau telah bertemu dengan seorang
anggota Kay-pang, aku pun tak akan curiga. Anak murid
Kay-pang selalu bertindak jujur dan terbuka, kecuali
merasakan sesuatu keadaan yang gawat, jarang sekali
mereka akan menyembunyikan diri di tempat kegelapan.
Tiga orang anggota Kay-pang yang bertugas di halaman
luar selalu bercakap-cakap sambil bergurau, mana mungkin
di halaman belakang cuma seorang yang menyambut
kalian, dan lagi setelah kalian berkeliling satu lingkaran,
hanya dia seorang yang kalian temukan."
"Aaaaa..........! Berhati-hati di segala tempat memang
suatu ucapan yang tepat, malam ini kembali kita pelajari
suatu pengalaman yang luar biasa, tapi pelajaran ini harus
dibayar dengan nyawa tiga orang anggota Kay-pang,
rasanya suatu pengorbanan yang terlampau besar."
"Jarum ekor kala begitu jahat dan kejinya, bila mereka
menyergap dari kegelapan sungguh membuat kita susah
untuk menghadapinya," keluh Pek Hong sambil
mengemukakan kekuatirannya.
"Jarum ekor kala adalah senjata rahasia yang dilarang
untuk digunakan oleh umat persilatan, setiap orang yang
mempergunakan senjata rahasia semacam ini mereka akan
menjadi musuh umum dari umat persilatan, sudah puluhan
tahun lamanya benda itu tak pernah muncul dalam dunia
persilatan, sungguh tak disangka malam ini kita harus
menjumpainya." "Itu pun lebih baik," kata Seng Tiong-gak, "dengan
dipergunakannya senjata rahasia beracun itu, berarti
terungkaplah asal-usul mereka, asal kita melakukan
pelacakan dari jarum ekor kala tersebut, rasanya tak sulit
untuk menemukan sumber mereka."
Pek Bwe menghela napas panjang.
"Apa yang berhasil diraih sekarang hanya bisa dianggap
sebagai suatu titik terang, sampai kini masih belum
memungkinkan buat kita untuk melakukan pelacakan
tersebut, lebih baik kita menunggu kesempatan yang lain,"
katanya. "Ada lagi yang harus kita tunggu?" tanya Pek Hong.
"Menunggu sampai tibanya Pangcu dari Kay-pang.
Dewasa ini kekuatan Bu-khek-bun telah mengalami
kerugian yang parah, untuk sesaat tak mungkin kekuatan
kita dapat pulih seperti sedia kala, jika ingin melakukan
penyelidikan atas masalah ini, kita harus menggantungkan
bantuan dari Kay-pang, itulah sebabnya persoalan ini kita
rundingkan kembali setelah kedatangan Pangcu dari Kaypang
nanti." "Bagaimana dengan Siau-hong?" tanya Pek Hong lagi.
"Jangan terlampau menguatirkan Siau-hong, bocah ini
cerdas dan hebat, aku percaya dia masih sanggup untuk
mengatasi pelbagai perubahan situasi.........."
Ditatapnya Seng Tiong-gak dan Tang Cuan sekejap,
kemudian ujarnya lebih jauh :
"Kita semua harus beristirahat secukupnya, kita harus
baik-baik menjaga kondisi badan, sebab dalam keadaan
seperti ini, setiap saat mungkin akan terjadi perubahan,
musuh pun setiap saat bisa menyerbu kemari dalam jumlah
besar, kita tak bisa hanya mengantungkan diri pada


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kekuatan dari Kay-pang saja, tempat ini hanya sebuah
kantor cabang, tak mungkin ada banyak jago lihay yang
bisa membantu kita."
"Terima kasih atas petunjuk Cianpwe," Seng Tiong-gak
dan Tang Cuan segera menjura.
"Nah, sekarang kembali ke kamar masing-masing untuk
beristirahat! Kalau tidur, pertingkat kewaspadaan masingmasing,
kita tak akan mampu untuk menahan pukulan
macam apa pun." Seng Tiong-gak dan Tang Cuan manggut-manggut,
kemudian segera melangkah keluar dari ruangan.
Dengan demikian dalam ruangan pun tinggal Pek Bwe
dan Pek Hong dua orang. Menanti Seng Tiong-gak berdua telah berlalu, Pek Bwe
baru berbisik : "Nak, antara kau dengan Ling-kang apakah tersimpan
suatu rahasia?" "Tidak ada! Ayah, apa maksudmu mengajukan
pertanyaan tersebut?"
"Tiada maksud lain, aku hanya ingin memahami duduk
perkara yang sebenarnya dari peristiwa ini, sebab hal
tersebut akan sangat membantu kita semua."
Pek Hong termenung dan berpikir sejenak, kemudian
katanya : "Bila kutelusuri kembali kejadian yang berlangsung
beberapa tahun belakangan ini, agaknya Ling-kang
memang pernah melangsungkan suatu pertemuan rahasia
dengan seseorang, cuma ia tak pernah menyinggung
persoalan itu kepadaku."
Setelah berhenti sejenak, dengan penuh kesedihan ia
menambahkan. "Padahal tak lama lagi anak-anak bakal lulus dari
perguruan, sungguh tak nyana peristiwa tragis telah
berlangsung lebih duluan."
Pek Bwe tertawa, katanya :
"Hong-ji! Walaupun Ling-kang telah menyerahkan
jabatan ciangbunjin kepada Tang Cuan, namun hal mana
hanya terbatas pada masalah tugas umum, sedangkan kau
masih tetap memikul tanggung jawab yang berat untuk
membalaskan dendam bagi kematian Ling-kang."
"Aku tahu Ayah, kalau aku tidak berhasrat untuk berbuat
demikian, mana mungkin aku bisa hidup sampai sekarang?"
"Baik, kau pun pergilah beristirahat, aku pun akan
beristirahat sebentar."
Sekembalinya ke dalam kamar tidur Pek Bwe mengatur
napas sebentar, kemudian bangkit dan melakukan
perondaan di sekitarnya. Dilihatnya anggota Kay-pang telah melakukan tiga lapis
penjagaan yang ketat, di atas atap, di balik kegelapan
hampir ada dua puluhan pos, penjagaan sangat ketat dan
keadaan amat tegang. Setelah menyaksikan penjagaan yang begini ketat, Pek
Bwe sedikit banyak merasa lega juga, sekembalinya ke
dalam kamar, ia pun tidur senyenyak-nyenyaknya.
Beruntun tiga hari lewat tanpa terasa, segala sesuatunya
berjalan dengan aman dan tenang.
Pek Bwe, Pek Hong, Seng Tiong-gak, dan Tang Cuan
yang beristirahat penuh selama tiga hari berhasil
memulihkan kembali sebagian besar kekuatannya, namun
perasaan Pek Hong masih belum juga tenang.
Ia menguatirkan keselamatan Cu Siau-hong, dalam tiga
hari tersebut perasaannya selalu gundah berat, namun ia
selalu berusaha menahan diri dan tidak mengutarakannya
kepada siapa pun. Kay-pang menyediakan hidangan, minuman, dan tempat
berteduh yang paling baik untuk mereka.
Setiap kali bersantap, mereka selalu menyediakan
hidangan yang beraneka macam dengan arak yang wangi,
Pek Hong sekalipun bersantap dalam ruangan itu juga.
Ketika hari keempat telah tiba, di saat sarapan, Pek Hong
benar-benar tak dapat menahan diri lagi, akhirnya dia
berseru : "Ayah, Siau-hong sudah ada tiga empat hari tiada kabar
beritanya." "Ya, aku tahu, Lohu pun sangat menguatirkan
keselamatannya," kata Pek Bwe cepat.
"Loya-cu, bagaimana kalau aku pergi mencarinya selesai
sarapan nanti?" tanya Seng Tiong-gak.
Pek Bwe segera menggeleng.
"Jangan, jangan pergi, kalau harus pergi seharusnya aku
yang pergi, lebih baik kalian tinggal di rumah saja."
"Untuk menghadapi persoalan seperti itu kenapa musti
merepotkan Cianpwe dan Susiok" Biar aku saja yang pergi,"
kata Tang Cuan. Kembali Pek Bwe menggelengkan kepala.
"Tang Cuan, berbicara soal pengalaman dunia persilatan,
aku jauh lebih berpengalaman dari padamu, tapi
kenyataannya kau yang kena dibuntuti pun tidak merasa,
dalam hal ini Lohu betul-betul merasa tidak puas."
"Mereka sudah kenal dengan dirimu, jika ayah yang
pergi, bukankah jejakmu segera akan ketahuan?"
"Lohu sudah puluhan tahun lamanya selalu melakukan
perjalanan dengan wajah asli dan sebenarnya, tapi kali ini
aku akan melanggar kebiasaanku itu."
"Aaai! Ayah, aku merasa kuatir sekali!"
Dengan wajah serius Pek Bwe segera berkata.
"Semua orang sedang bersedih untuk yang mati, kuatir
untuk yang hilang tapi memang begitulah dunia persilatan,
suatu tempat yang penuh dengan mara bahaya dan
ancaman jiwa. Bila ingin terjun ke dunia persilatan maka
orang musti belajar untuk menerima badai dan ombak yang
melanda di dunia persilatan. Dulu, kau sudah sering kali
ikut aku berkelana menghadapi banyak aral melintang, tapi
belum pernah kau tunjukkan sikap semacam ini, ke mana
larinya semua pengalamanmu di masa lalu?"
"Ayah memang tepat sekali jika menegur diriku, apakah
semakin tua nyali putrimu semakin kecil?" bisik Pek Hong.
"Aaai! Hong-ji, ayah jauh lebih tua dari pada kau,
penderitaanku tidak lebih enteng dari penderitaanmu,
sekarang aku hanya mempunyai seorang putri semacam
kau, dalam usiaku ini siapa tahu aku musti kehilangan
menantu, kehilangan cucu luar, pukulan batin yang
kuhadapi tidak lebih enteng dari padamu. Sekarang kita
sudah kehilangan terlalu banyak, yang hidup harus memikul
beban dan bertanggung jawab yang berat ini, bukankah
sudah pernah kau katakan, kita harus merubah penderitaan
dan kesedihan sebagai kekuatan untuk membalas dendam
sakit hati ini?" "Perkataan ayah memang benar!"
"Kalau kau sudah mengerti itu lebih baik lagi, nah
bersantapkah! Selesai bersantap, aku hendak pergi mencari
Siau-hong." -------------------------------
Loteng Wong-kang-lo di kota Siang-yang merupakan
rumah makan yang terbesar di situ.
Rumah makan itu terdiri tiga tingkat, setiap hari selalu
penuh dengan pengunjung. Tengah hari itu, sudah seratus meja penuh yang
ditempati para tetamu, pada tingkat kedua dekat jendela
duduklah tiga orang perempuan.
Mereka adalah satu-satunya rombongan perempuan yang
berada di loteng Wong-kang-lo ketika itu.
Dengan sengaja tak sengaja ratusan pasang mata para
tetamu melirik sekejap ke arah mereka. Bahkan ada pula
yang terpengaruh oleh arak, mulai mengawasi dengan mata
melotot. Namun sebagian besar para tamu ditujukan pada
seorang gadis yang berbaju hijau.
Walaupun gadis itu duduk sambil miringkan kepala,
sehingga hanya sebagian wajahnya yang terlihat, rupanya
ini sudah cukup menarik perhatian orang-orang banyak,
ibaratnya besi bertemu dengan besi sembrani, sinar mata
semua orang hampir tertuju ke arahnya.
Dua orang perempuan lainnya adalah nyonya setengah
umur yang berusia tiga puluh tahunan, mereka pun
mengenakan baju berwarna hijau, dandanannya ringkas
dan di sisi mereka tergeletak sebuah bungkusan panjang.
Bagi mereka yang sering kali melakukan perjalanan
dalam dunia persilatan, dalam sekilas pandang saja segera
akan mengetahui kalau isi buntalan itu adalah senjata.
Entah dikarenakan hadirnya si nona berbaju hijau atau
bukan, yang pasti semua tempat duduk di loteng tingkat
kedua ini telah penuh. Setelah menyaru wajahnya, Pek Bwe yang berjenggot
putih kini berubah menjadi berjenggot hitam, setelah
wajahnya ditutup dengan selapis topeng kulit manusia,
maka berubahlah dia menjadi seorang yang lain.
Dengan jubah biru yang baru, pelan-pelan ia menaiki
loteng tingkat kedua, mendadak ditemuinya pada sebuah
meja dekat dengan tempat duduk nona berbaju hijau itu
masih tersisa dua buah kursi, meja itu terdiri dari empat
bangku, dua di antaranya sudah ditempati orang, berarti
masih bisa memuat dua orang lagi.
Dengan kening berkerut, Pek Bwe segera
menghampirinya, setelah menganggukkan kepalanya, ia
berkata : "Usaha Wong-kang-lo memang terlalu baik, Siaute
datang agak terlambat, agaknya terpaksa ikut menumpang
di sini." Agaknya dua orang itu pun tidak saling mengenal,
mereka saling berpandangan sekejap lalu memandang pula
ke arah Pek Bwe, tak seorang pun yang buka suara.
Melihat itu Pek Bwe kembali berpikir :
"Bagaimana pun aku sudah bertekad untuk duduk di sini,
peduli amat kalian mau setuju atau tidak."
Berpikir demikian tanpa menanti jawaban dari kedua
orang itu lagi, dia lantas duduk di hadapan mereka.
Ketika diam-diam dia mencoba untuk mengawasi wajah
kedua orang itu, maka diketahuinya yang di sebelah kiri
adalah seorang sastrawan setengah umur yang berjubah
hijau, sedang yang di sebelah kanan, agaknya seorang
pedagang, bajunya hijau pupus, mukanya putih bersih,
bertopi kecil, dan usianya antara empat puluh tahunan.
Tampaknya kedua orang itu merasa sangat tak puas
dengan kehadiran Pek Bwe di sana. Meskipun tak sampai
mengumbar amarahnya, namun rasa tak senang itu jelas
terlihat pada wajah mereka.
Diam-diam Pek Bwe tertawa geli, pikirnya :
"Tampaknya kedua orang ini sudah merasa kurang
senang karena harus duduk bersama semeja, kini ditambah
lagi dengan aku seorang, tak heran kalau mereka makin tak
senang hati." Tapi kedua orang itu ternyata dapat menahan diri, tak
seorang pun yang mengumbar amarahnya.
--------------------------
7 Pek Bwe pun memanggil pelayan, sang pelayan
menyahut sambil datang menghampiri, sapanya :
"Khek-koan mau pesan apa?"
Sebelum Pek Bwe sempat menjawab, lelaki setengah
umur bertopi kecil itu sudah menyindir lebih dulu.
"Ehmm, bagus amat usaha kalian!"
Pelayan itu tidak membantu Pek Bwe mencari tempat
duduk, tak lain karena ia kuatir membuat marahnya orang,
maka setelah Pek Bwe mencari tempat duduknya sendiri,
mau tak mau ia musti menghampirinya juga. Karena itu,
setelah mendengar sindiran tersebut, terpaksa katanya,
"Aah.........! Kesemuanya ini adalah berkat bantuan Toaya
sekalian kepada warung kami."
"Hmm, aku lihat, lebih baik aku batal saja," kata laki-laki
bertopi kecil itu sambil bangkit dan berlalu dari situ.
"Khek-koan, sayur pesananmu sudah dibuat....." teriak
pelayan itu gelisah. "Tidak menjadi soal," tukas Pek Bwe cepat, "biar sayur
yang dia pesan berikan saja kepadaku."
Setelah ada orang yang bersedia mengganti, senyuman
segera menghiasi kembali wajah pelayan itu, bisiknya :
"Khek-koan, kejadian ini sungguh-sungguh karena
terpaksa, tempat duduk warung kami memang tak banyak,
harga pun murah, maka tak heran kalau tamu dan
langganannya juga banyak."
"Pelayan, aku punya akal bagus, sampaikan saja kepada
ciangkwe mu, tanggung kesulitan kalian bisa teratasi."
"Hamba siap mendengarkan petunjuk Khek-koan."
"Naikkan saja harga arak dan sayur, niscaya warung
kalian tak akan kerepotan."
Pelayan itu segera tertawa getir.
"Khek-koan," katanya, "cara ini pun sudah kami pikirkan,
sayangnya cara itu pun tak bisa jalan."
"Wah, kalau begitu aku pun tak punya akal lain,
hidangannya lezat, harganya murah, terpaksa kalian musti
repot terus." Pelayan itu buru-buru memberi hormat dan
mengundurkan diri. Pelan-pelan Pek Bwe mengalihkan sorot matanya ke
wajah sastrawan setengah baya yang berjubah biru laut itu,
ujarnya : "Sobat, kau bersedia memberi muka kepadaku, aku
merasa amat berterima kasih, biarlah aku yang mentraktir
hidanganmu kali ini."
"Tak usah, meskipun aku tidak terhitung kaya, untuk
membayar rekening hidanganku ini masih mampu."
Pek Bwe tertawa, pikirnya :
"Suasana dari para pengunjung rumah makan hari ini
sungguh tak terlalu baik, jangan-jangan ini disebabkan
sesuatu alasan?" Berpikir demikian, sinar matanya mulai berkeliaran ke
sana kemari. Ia berharap bisa menemukan Cu Siau-hong di sana,
maka ia perlihatkan tanda rahasia yang dijanjikan dengan


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pemuda itu. Tapi dengan cepat ia merasa kecewa, agaknya Cu Siauhong
tidak datang, hingga hidangan sudah siap, belum ada
juga yang menyapa dirinya atau menunjukkan jawaban atas
tanda rahasianya itu. Sastrawan setengah umur itu memesan empat macam
sayur, sepoci arak dan makan minum seorang diri.
Lelaki setengah umur berwajah putih yang pergi karena
mendongkol juga memesan empat macam sayur ditambah
sepoci arak. Sebuah meja kecil dipenuhi delapan macam sayur ini
sudah menyita delapan bagian dari permukaan meja,
untung saja seorang di antara mereka pergi karena
mendongkol, coba tidak, andaikata Pek Bwe pun memesan
empat macam sayur ditambah sepoci arak, meja itu pasti
tidak muat lagi......."
Sayur yang dipesan kedua orang itu semuanya berbeda,
tapi masing-masing makan punya sendiri.
Sambil minum arak dan bersantap, sepasang mata
sastrawan setengah umur itu tiada hentinya mengawasi dua
tempat yang sama. Yang satu tak usah dilihat pun Pek Bwe tahu kalau
tempat itu adalah meja yang ditempati si nona berbaju
hijau. Sedang tempat yang lain adalah meja besar di tengah, di
situ terdapat sebuah meja bulat yang besar.
Di sekitar meja duduk tujuh orang, enam orang di
antaranya mengenakan pakaian yang sama sedangkan yang
berada di tengah mengenakan jubah panjang.
Ini menunjukkan kalau keenam orang itu mempunyai
kedudukan yang sama, sedangkan kedudukan orang itu
paling istimewa. Dia adalah seorang anak muda, kepalanya mengenakan
topi pelajar dan di hadapannya tergeletak sebuah kipas
yang panjangnya mencapai dua depa lebih.
Pengalamannya yang luas segera membuat Pek Bwe
menjadi lebih waspada lagi, karena dalam sekilas
pandangan ia telah mengetahui bahwa pemuda itu adalah
seorang jago yang berilmu tinggi, sekalipun bajunya
perlente, sedikit pun tidak membawa sifat dunia persilatan,
namun kesemuanya itu tak dapat menutupi kemampuan
mereka yang sesungguhnya.
Tiba-tiba sastrawan setengah umur itu mengangkat poci
araknya dan memenuhi cawan Pek Bwe dengan cawan arak,
kemudian bisiknya : "Tolong tanya siapa namamu?"
"Siaute she Bwe!"
Sengaja ia pergunakan namanya sebagai nama marga.
"Apakah Bwe yang berarti bunga Bwe" Siapa nama
anda?" "Ah, namaku kurang sedap didengar, lebih baik tak usah
dibicarakan!" "Siaute ingin mengetahui dengan hati yang tulus,"
sastrawan itu cepat berseru sambil tertawa.
"Kalau memang begitu, terpaksa aku harus
mengakuinya, nama tunggalku adalah Pi!"
"Bwe Pi, bunga Bwe menyiarkan bau harus, biji Bwe bisa
membuat arak, bagaimana dengan Bwe Pi (kulit bunga
Bwe)" Apa kegunaannya?"
"Betul juga perkataan anda, sebab itu meski sudah
setengah abad usiaku satu pekerjaan pun tak ada yang
berhasil," jawab Pek Bwe.
Setelah berhenti sejenak, ia ganti bertanya, "Siapa nama
saudara?" "Siaute she Pi, justru kebalikan dari nama saudara."
"Oh, sungguh amat kebetulan, mari, mari, kita keringkan
secawan arak!" Setelah saling meneguk secawan, Pek Bwe berkata lagi :
"Siapakah nama lengkap saudara Pi......"
"Pi Kay!" Pi Kay, kulit merekah, kulit bisa dibuat pakaian, bisa
dibuat sepatu, kulit yang merekah.
Sambil tertawa, sastrawan setengah umur itu segera
menyambung : "Jika kulit merekah daging pun nampak, setelah kenyang
bersantap aku harap saudara Bwe cepat-cepat melanjutkan
perjalanan............"
"Maksud saudara Pi..........."
"Maksud Siaute, tempat ini tak baik untuk ditempati
terlalu lama........"
"Oooh kenapa?" "Tidak karena apa-apa, asal saudara Bwe tidak percaya
dengan perkataan Siaute, silakan saja untuk tetap tinggal di
sini." "Aku percaya, cuma aku ingin bertanya dulu sejelasnya."
"Baik, tanyalah!"
"Tempat ini banyak sekali pengunjungnya, pertama aku
tidak melanggar hukum, kedua aku pun tidak berbuat
kejahatan, kenapa aku musti kabur dari sini?"
Pi Kay segera tersenyum. "Saudara Bwe, bila ingin berbuat musti tahu dulu batasbatasnya,
dalam mata yang jeli tak asal kemasukan butiran
pasir." Pek Bwe ikut tertawa. "Saudara Pi, tampaknya kau bukan she Pi bukan?"
tegurnya. "Aku pun tidak percaya saudara Bwe betul-betul she
Bwe!" "Kalau bicaranya kurang jelas semuanya tak akan jelas,
kalau lampu tidak dipasang semuanya akan gelap, kalau toh
kita sama-sama sudah mengetahui rahasia lawan, rasanya
tak perlu saling merahasiakannya lagi bukan?"
"Betul! Tolong tanya siapa namamu yang sebenarnya?"
Pek Bwe tertawa. "Bwe, pokoknya namaku memakai huruf Bwe dan
saudara Pi?" "Aku pun betul-betul bernama Pi!"
"Saudara Pi, masih ada satu hal Siaute merasa kurang
mengerti?" "Aku telah berbicara sejelasnya!"
"Saudara Pi, kalau Siaute pergi meninggalkan tempat ini,
apa saudara Pi juga akan pergi dari sini?"
"Aku tidak pergi!"
"Kalau begitu dengan pertaruhkan nyawa Siaute pun
akan menemani kau, mari kita berada di sini bersamasama."
Paras muka Pi Kay segera berubah hebat.
"Saudara Bwe, aku lihat air mukamu kurang baik, aku
kuatir jiwamu tak bisa lewat sore ini!" katanya.
"Aaah, tidak mungkin, tidak mungkin, kebetulan sekali
baru saja aku melihatkan nasibku pada tukang ramal, kata
tukang ramal aku bisa hidup sampai usia delapan puluh
tahun, tahun ini Lohu baru berusia empat puluh tiga tahun,
itu berarti masih ada tiga puluh tujuh tahun aku hidup di
dunia ini." "Aku kuatir perhitungan si tukang ramal itu kurang
begitu cocok." "Oooh, lantas perhitungan saudara Pi?" tanya Pek Bwe.
"Aku lihat, paling banter kau hanya bisa hidup satu jam
lagi." "Sungguhkah itu?"
"Dapatkah kau mengatur napas?"
"Sewaktu masih kecil dulu, aku pernah belajar!"
"Bagus sekali, apa salahnya kalau kau atur dulu napasmu
untuk mencoba sendiri?"
Pek Bwe agak tertegun, diam-diam dia lantas mengatur
napasnya untuk mencoba. Tapi begitu dicoba paras mukanya kontan saja berubah
hebat. Kiranya sedari kapan, isi perutnya sudah keracunan
hebat, bahkan sari racun tersebut masih menyusup terus ke
jaring tubuh yang paling dalam.
"Bagaimana?" tegur Pi Kay, "ramalanku cocok bukan?"
"Tentu sekali! Tepat sekali! Cuma aku ingin tahu,
mengapa kau turun tangan sekeji ini kepadaku" Toh di
antara kita berdua tak pernah terikat perselisihan atau sakit
hati di masa lampau?"
Pembicaraan yang berlangsung antara kedua orang itu
selalu dilakukan dengan cara yang lembut dan halus,
sekalipun yang dibicarakan menyangkut soal hidup mati,
namun pembicaraan selalu dilakukan dengan berbisik-bisik,
seperti dua orang sobat lama yang sedang melepaskan
kangen saja. Pi Kay mengangkat cawan dan meneguk kering isinya,
lalu sambil tertawa dia berkata :
"Membunuh tanpa memberi peringatan adalah perbuatan
yang keji, tapi aku toh sudah berulang kali memberi kisikan
kepadamu, aku tahu kau pun seorang jago persilatan yang
sudah sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan,
apa mau dibilang bisikanku itu ternyata tidak juga kau
pahami, lantas apa dayaku?"
"Oooh, kiranya begitu. Aku merasa racun yang
mengeram di tubuhku itu amat ganas, entah berapa waktu
lagi aku masih bisa bertahan?"
"Dua belas jam, tengah malam tidak bertemu tengah
hari, tengah hari tidak bertemu tengah malam, sampai
waktunya kau pasti akan mampus tak ketolongan lagi."
Pek Bwe meneguk habis isi cawannya, lalu tertawa.
"Dua belas jam terlalu panjang bagiku, sebab dalam sisa
dua belas jam yang terakhir ini masih banyak pekerjaan
yang bisa kulakukan, tahukah kau?"
"Maksudmu........"
"Sebelum aku mati keracunan, aku ingin membunuhmu
lebih dulu, cuma aku pun tak ingin turun tangan di sini!"
"Kau bermaksud turun tangan di mana?"
"Lebih baik mencari suatu tempat yang sepi dan
terpencil." "Saudara Bwe, apa gunanya kau membunuh aku, toh
kan akhirnya bakal mati juga, mengapa tidak mati dengan
besarkan jiwa?" "Perhitungan sipoa saudara Pi tampaknya bagus sekali,
sayang aku tak bisa menerima dengan begitu saja, begini
saja, setelah mengeringkan cawan arak, mari kita pergi
bersama." "Kalau Siaute enggan pergi?"
Pek Bwe memajukan badannya ke depan sehingga
kepala mereka hampir saja berbenturan satu sama lainnya,
kemudian dengan suara yang amat lirih ia berbisik :
"Di sini terlalu banyak orang, andaikata kubunuh kau di
tempat ini, hal tersebut tentu merupakan suatu kejadian
yang kurang sedap dipandang?"
"Saudara Bwe, caraku melepaskan racun beraneka
ragam, ada semacam racun yang bisa membuat orang
kehilangan segenap tenaga dalamnya dalam waktu
singkat." "Masa di dunia ini betul-betul terdapat racun seperti itu?"
"Apakah kau tidak percaya?"
"Aku percaya, cuma untung saja aku bukan terkena
racun semacam itu, tenaga dalamku sampai sekarang
masih utuh." "Aku tahu, tapi aku bisa segera menambahi dengan
racun dari jenis tersebut."
"Menurut apa yang kuketahui, jika racun diadu dengan
racun maka musnahlah kegunaan dari kedua jenis racun itu,
bila kau menambahkan semacam racun lagi di tubuhku,
apakah kau tidak kuatir bila manfaat dari racun-racunmu itu
akan musnah sama sekali?"
"Apakah saudara Bwe ingin kucobakan untukmu?"
"Saudara Pi, berapa macam racun yang kau bawa
sekarang" Apa salahnya kalau kau pergunakan bersama
atas diriku" Terkena semacam racun juga mati, sepuluh
macam juga mati, toh aku sudah pasti akan mati."
"Orang yang bakal mati biasanya akan berbicara soal
kebajikan, aku tahu hati mereka pasti akan menjadi lunak
setelah menghadapi keadaan tersebut, kau toh sudah tahu
jika dirimu pasti mati, sebab apa kau musti menarik diriku
pula untuk terjun ke air?"
"Sekalipun perkataanmu ada benarnya juga, cuma
sebelum mati aku berharap bisa mendapat seorang teman
perjalanan." "Padahal, kau belum tentu sanggup membinasakan
diriku," jengek Pi Kay kemudian.
Pek Bwe duduk lurus di tempatnya sambil meneguk
secawan arak, mendadak ia menggerakkan tangannya
mencengkeram pergelangan tangan Pi Kay, lalu serunya.
"Sobat, ayoh jalan, mari kita pindah ke tempat lain untuk
minum sepoci arak lagi."
Tindakan tersebut dilakukan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat, Pi Kay tak mengira sampai ke situ, untuk
berkelit sudah tak sempat lagi, untuk sesaat dia menjadi
tertegun dibuatnya. Pek Bwe telah beranjak dan meninggalkan meja
tersebut. Terpaksa Pi Kay ikut beranjak pula, serunya.
"Saudara Bwe, sayur dan arak di tempat ini termasuk
lumayan, lebih baik kita makan di sini saja."
"Tidak! Kita harus pindah ke tempat yang lebih sepi,
sudah banyak tahun kita tak pernah bersua kita musti
berbicara sampai puas."
Di mulut ia berkata demikian, kelima jarinya yang
mencengkeram pergelangan tangan itu, segera diperhebat
gencetannya. Seketika itu juga Pi Kay merasakan lengan kanannya
menjadi kaku, segenap tenaganya lenyap tak berbekas,
dalam keadaan demikian terpaksa dia harus mengikuti ke
manapun Pek Bwe pergi. Sambil berjalan Pek Bwe berkata lagi seraya tertawa.
"Saudara Pi, selama banyak tahun ini berapa banyak
sudah yang telah kau bunuh?"
Walaupun tulang pergelangan tangannya terasa sakit
sekali bagaikan mau retak semua, terpaksa Pi Kay harus


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menahannya sambil menggertak gigi, sebab ia tak mungkin
bisa berkaok-kaok kesakitan.
Mendengar pertanyaan itu, sahutnya tertawa :
"Mana, mana sesungguhnya tidak terhitung banyak."
"Berapa orang?"
"Kalau dihitung seluruhnya, paling banter cuma lima
enam puluh orang saja."
"Lima enam puluh orang" Itu berarti kau benar-benar
adalah seorang algojo yang berhati bengis."
Pi Kay menghela napas panjang.
"Saudara Bwe, peringanlah gencetanmu, ketahuilah
untuk membebaskan keleningan, masih dibutuhkan orang
yang memasang keleningan tersebut, meskipun aku bisa
meracunimu aku pun dapat memunahkannya, racun yang
diderita saudara Bwe bukan termasuk penyakit yang tak
bisa disembuhkan lagi."
"Saudara Pi, ini musti dilihat dulu bersediakah aku untuk
hidup terus atau tidak."
"Kau sudah tak ingin hidup lagi" Apa maksudmu?" seru
Pi Kay dengan cepat. "Saudara Pi, paling tidak sekarang kau musti mengerti,
keadaan kita berdua sekarang sudah mengalami perubahan
yang besar sekali, kini aku telah menguasai dirimu, aku bisa
membunuh kau setiap saat, kemudian baru menggeledah
sakumu untuk mencari obat pemunah tersebut."
"Sekalipun aku membawa obat pemunah tersebut, toh
kau tak bisa membedakan mana yang benar mana yang
tidak?" "Yaa, semuanya itu tergantung pada kemujuranku,
pokoknya aku toh masih punya kesempatan, sedangkan kau
sama sekali sudah tiada kesempatan lagi."
Dalam pada itu Pek Bwe telah membawa Pi Kay menuju
ke halaman belakang. Halaman belakang dari rumah makan Wong-kang-lo
adalah sebuah kebun bunga kecil, dalam kebun terdapat
sebuah gardu kecil. Waktu itu, suasana dalam kebun bunga itu sangat hening
dan tak nampak seorang manusia pun.
Cengkeraman kelima jari tangan Pek Bwe atas
pergelangan tangan lawan makin lama semakin kencang. Pi
Kay merasa tulang pergelangannya bagaikan sudah hancur,
darah tak lancar, sakitnya bukan kepalang, keringat sebesar
kacang kedelai telah jatuh bercucuran membasahi seluruh
tubuhnya. Dia ingin sekali menggertak gigi untuk menahan sakit,
tapi menahan sakit bukan suatu pekerjaan yang mudah,
akhirnya toh dia mulai merintih juga.
Mendengar rintihan tersebut, bukan mengendurkan
cengkeramannya, Pek Bwe malah mencengkeram makin
keras. Sambil menyeretnya masuk ke dalam gardu, katanya
sambil tertawa. "Saudara Pi, silakan duduk, silakan duduk!"
Ketika pergelangan tangan kanannya menyentak keras,
tanpa sadar Pi Kay segera terduduk di atas sebuah bangku
kecil. Dalam gardu itu terdapat empat buah bangku kecil, Pek
Bwe duduk di samping Pi Kay, katanya kemudian.
"Saudara Pi, kau ingin mati dengan cara apa?"
"Aku tidak ingin mati!"
Pek Bwe segera tertawa dingin.
"Aku rasa, hal ini tidak mudah kau dapatkan!" sahutnya.
Dengan ujung bajunya Pi Kay menyeka peluh yang telah
membasahi jidatnya, sambil menahan sakit bisiknya.
"Aku tak ingin mati, kau pun boleh hidup lebih jauh."
"Maksudmu kau hendak memunahkan racun yang
mengeram di dalam tubuhku?"
"Benar, tapi kau pun harus berjanji, setelah kupunahkan
racun yang mengeram di tubuhmu, kau harus lepaskan aku
pula untuk pergi meninggalkan tempat ini."
"Tidak! Kalau begitu barter kita tak bisa dilangsungkan,"
Pek Bwe segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa" Kita kan satu nyawa ditukar dengan satu
nyawa, aku tidak mendapat keuntungan, kau pun tidak
menderita kerugian."
"Persoalannya sekarang adalah aku masih punya
kesempatan sedang kau sudah tiada kesempatan lagi, aku
bisa segera merenggut selembar nyawamu........."
"Jika aku mati, kau toh akan mampus juga akhirnya juga
setali tiga uang," sambung Pi Kay lagi.
"Tidak, tidak sama! Aku bisa menggeledah sakumu untuk
menemukan obat pemunah tersebut, andaikata dalam
sakumu terdapat sepuluh botol obat, lima botol terdiri dari
racun dan lima botol obat pemunahnya, itu berarti aku
masih mempunyai lima puluh persen kesempatan untuk
hidup lebih lanjut."
"Yang paling tepat perhitungannya adalah kau masih ada
kesempatan hidup hanya sepuluh persen, sebab walaupun
separuh botol yang kubawa adalah racun dan separuh yang
lain adalah obat pemunah, namun obat pemunah tersebut
bukannya bisa digunakan semua. Kau ada kemungkinan
salah minum obat, hal mana mungkin akan mempercepat
proses bekerjanya racun yang mengeram di tubuhmu."
Pek Bwe segera tertawa, tukasnya.
"Watakku selamanya adalah tidak doyan kekerasan tidak
pula kelembutan, sekarang kau hanya ada satu kesempatan
untuk bisa hidup lebih lanjut........"
Cengkeraman pada pergelangan tangan lawan segera
dikendurkan, ini membuat penderitaan Pi Kay pun jauh
berkurang. "Apa syaratmu, cepat katakan!" seru Pi Kay.
"Mengaku dulu dengan terus terang, siapa nama aslimu,
mau apa datang ke kota Siang-yang" Dan mengapa kau
turun tangan sekeji ini terhadap seseorang yang masih
asing bagimu........."
Setelah tertawa dingin, terusnya :
"Masih ada satu hal lagi yang paling penting, berikan
obat pemunah itu kepadaku."
Pi Kay mengerutkan dahinya! Tapi terpaksa dia merogoh
juga ke sakunya untuk mengeluarkan sebuah botol
porselen. "Inilah obat pemunahnya!" ia berseru.
Pek Bwe menerima botol itu dengan tangan kirinya,
kemudian setelah menotok jalan darah penting di tubuh Pi
Kay, katanya sambil tertawa :
Jilid 8 "Duduklah yang baik di situ, bila berani melakukan
sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan, jangan salahkan
kalau aku akan merenggut nyawamu......"
Setelah membuka tutup botol dan mengeluarkan sebuah
butir pil berwarna putih, katanya kembali.
"Sekarang, buka mulutmu lebar-lebar, coba dulu
sebutir!" Di bawah ancaman kematian, Pi Kay berubah menjadi
sangat penurut sekali, ia segera membuka mulutnya dan
menelan pil tadi. Menunggu pil itu sudah masuk ke dalam perutnya, Pek
Bwe baru menelan pula dua butir, katanya.
"Dua butir sudah cukup?"
Pi Kay manggut-manggut. Setelah menelan pil tadi, ia berkata lagi,
"Selanjutnya apa yang musti kulakukan?"
"Mengatur napas agar obat itu mulai bekerja."
"Semoga saja obat yang kau berikan kepadaku itu adalah
obat pemunah yang sebenarnya."
Setelah menotok kembali jalan darah bisu di tubuh Pi
Kay, diam-diam dia mulai mengatur napas untuk
bersemedi. Ternyata obat itu memang betul-betul obat pemunah
yang mujarab, setelah mengatur napas dan obat tersebut
mulai bereaksi, Pek Bwe merasakan racun dalam tubuhnya
mulai lenyap tak berbekas.
Akhirnya setelah pengaruh racun itu lenyap sama sekali,
dia baru menepuk bebas jalan darah bisu orang, katanya :
"Sekarang, aku ingin mendengarkan asal-usulmu lebih
dulu, nah katakanlah!"
Pi Kay menghela napas panjang.
"Sebetulnya siapakah namamu" Tak kusangka
sedemikian hebatnya kepandaianmu."
Pek Bwe segera berkata. "Pi Kay, ingatlah baik-baik, yang bertanya sekarang
adalah aku, bukan kau, cuma bila kau bersedia menjawab
pertanyaanku, dengan sejujurnya Lohu pun bersedia untuk
memberitahukan asal-usulku yang sebenarnya kepadamu."
Pi Kay manggut-manggut. "Baiklah!" ia berkata, "akan kusebutkan dulu namaku,
aku betul-betul she Pi, cuma bukan bernama Kay!"
"Lantas siapa namamu?"
"Pi Sam-long........."
Mendengar nama itu Pek Bwe segera berseru :
"Oooh.......... kiranya kau adalah Tok-hong (lebah
beracun) Pi Sam-long."
"Kau juga tahu akan aku?" Pi Sam-long tampak agak
tertegun. "Apakah kau adalah anak murid dari Kiu-ci-tok-siu
(kakek beracun berjari sembilan) Seng Kong-sin?"
"Dugaanmu benar............. aku berurutan nomor tiga."
"Seng Kong-sin dengan Lohu bukan cuma kenal saja
bahkan mempunyai hubungan persahabatan yang cukup
akrab, entah pernahkah ia membicarakan soal diriku ini
kepada kalian?" "Kau orang tua belum menerangkan siapa namamu, dari
mana Boanpwe bisa menjawab?"
"Lohu adalah Pek Bwe!"
"To-heng-siu, Pek Bwe?"
"Betul! Itulah Lohu!" Pek Bwe mengangguk.
"Suhu pernah menyinggung soal Cianpwe, katanya
tempo hari dia orang tua pernah ditolong oleh Cianpwe."
"Ah, cuma satu urusan kecil, tidak terhitung seberapa."
"Tapi Suhu selalu memikirnya di hati, beliau pernah
berpesan kepadaku serta kedua orang Suhengku agar
bersikap hormat bila bertemu dengan kau orang tua dalam
dunia persilatan, sungguh tak nyana Boanpwe telah
meracuni orang tua, jika kejadian ini sampai diketahui Suhu
niscaya kulitku akan dikelupas!"
Pek Bwe segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh........... haaahhh........... haaahhh........... tidak
mengapa, siapa tak tahu dia tak bersalah, kau toh tidak
tahu siapakah diriku, mana aku bisa menyalahkanmu?"
"Pek-ya!" kata Pi Sam-long kemudian, Suhu pernah
melukiskan raut wajahmu kepada kami, tapi kau sedikit pun
tidak mirip saja, Boanpwe meski punya nyali yang besar
juga tak akan berani turun tangan terhadap dirimu."
"Lohu sedang menyamar, tentu kau tak akan
mengenaliku, saudara Pi, aku lihat kau pun bukan berwajah
yang sesungguhnya!" "Boanpwe mengenakan selembar kulit manusia, silakan
Pek-ya menyebut Pi Sam-long kepadaku, ucapan saudara
tak berani Boanpwe terima........"
Setelah berhenti sejenak, terusnya,
"Locianpwe, cepat bebaskan dulu jalan darahku yang
telah kau totok itu.........."
"Oya, hampir saja aku kelupaan!" seru Pek Bwe sambil
tertawa. Tangan kanannya bergerak cepat melepaskan dua
pukulan ke tubuh Pi Sam-long, seketika itu juga bebaslah
jalan darahnya yang tertotok.
Buru-buru Pi Sam-long mengeluarkan kembali sebuah
botol porselen dari sakunya, sambil membuka penutup botol
itu, katanya, "Cepat! Cepat telan pil yang berada dalam botol ini."
"Apa yang telah terjadi?" tanya Pek Bwe agak tertegun.
"Pil yang barusan Locianpwe telan bukan obat
pemunah..........." "Aku sudah mencoba untuk atur pernapasan, rasanya
racun yang mengeram di tubuhku telah lenyap," tukas Pek
Bwe. "Aku tahu, pil itu bernama Yan-tok-wan, setelah ditelan
memang sari racun di tubuh akan lenyap untuk sementara
waktu, padahal sesungguhnya racun itu hanya tertekan oleh
daya kerja obat, begitu kambuh maka kehebatannya
berpuluh-puluh kali lipat akan lebih dahsyat, bahkan
kemungkinan akan merenggut nyawa."
"Ooo...... tampaknya kepandaian Suhumu dalam
mempergunakan racun, makin lama semakin lihay saja."
Pi Sam-long sendiri menelan sebutir lebih dulu, kemudian
baru berkata lagi, "Locianpwe, cepat telan, lalu kita ke tempat
penginapanku untuk mendesak keluar sari racun itu lebih
dulu, kemudian baru bercakap-cakap lagi."
Menyaksikan kegelisahan yang menyelimuti wajahnya,
Pek Bwe tak berani berayal lagi, buru-buru ia telan pil yang
disodorkan kepadanya itu.
Setelah menyimpan kembali botol pil itu, Pi Sam-long
berkata : "Hayo berangkat! Tempat ini bukan tempat untuk
berbicara, mari kita bercakap-cakap di rumah penginapan
saja." "Jauhkah dari sini?"
"Tidak terlalu jauh, di seberang jalan sana rumah
penginapan Hong-im-khek-can"
Agaknya dia sangat gelisah, sebelum Pek Bwe berbicara
lagi, dia telah beranjak dan meninggalkan tempat itu.
Terpaksa Pek Bwe harus mengikuti di belakangnya.
Tempat yang ditinggali Pi Sam-long dalam rumah
penginapan Hong-im adalah sebuah kamar kelas satu di
halaman kedua. Mungkin untuk menunjukkan ketulusan hatinya, begitu
berada dalam kamar, ia segera melepaskan topeng kulit
manusianya hingga tampak wajah aslinya.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Locianpwe silakan duduk di pembaringan untuk
bersemedi dan mendesak keluar sari racun dari tubuh,
Boanpwe akan menyiapkan air panas untukmu."
"Kenapa" Apakah perlu membersihkan badan?"
"Bila racun itu sudah didesak keluar oleh Locianpwe
dengan tenaga dalammu, maka sari racun akan berubah
menjadi keringat yang berbau busuk, tentu saja badan
musti dibersihkan." Dalam keadaan demikian, walaupun dalam hati kecilnya
Pek Bwe masih agak curiga, namun ia tidak enak untuk
memperlihatkan di wajahnya, maka jago tua ini pun
mengangguk. "Kalau begitu, aku musti merepotkan kau!"
Dengan cepat ia duduk bersila, memejamkan mata dan
mulai atur pernapasan untuk mendesak keluar sari racun
dari dalam badan. Betul juga, begitu mulai bersemedi, dia baru merasakan
bahwa racun jahat masih tetap mengeram dalam tubuhnya.
Untung saja tenaga dalam yang dimilikinya cukup
sempurna, setelah bersemedi sekian waktu, akhirnya peluh
sebesar kacang mengucur keluar membasahi sekujur
badannya. Lamat-lamat Pek Bwe mulai mengendus bau amis yang
sangat busuk bercampur dengan air keringatnya.
Bahkan makin lama bau busuk tersebut makin menebal
sehingga amat menusuk hidung.
Tapi dengan mengucurnya keringat berbau busuk itu, ia
merasa racun dalam tubuhnya mulai lenyap, akhirnya
ketika ia selesai bersemedi sekujur tubuhnya telah basah
kuyup. Ketika membuka matanya kembali, tampak Pi Sam-long
dengan senyum di kulum telah berdiri di hadapannya.
Andaikata Pi Sam-long berniat mencelakainya, maka di
saat Pek Bwe sedang mengatur pernapasan tadi, ia pasti
sudah turun tangan. Seandainya sampai begini, sekalipun
Pek Bwe punya cadangan nyawa sebanyak sembilan lembar
pun pasti akan habis semua di tangannya.
Sambil tersenyum Pi Sam-long berkata :
"Locianpwe, air telah kusiapkan, silakan membersihkan
badan lebih dulu sebelum bercakap-cakap!"
Dalam kamar mandi sudah tersedia air segentong besar
dan satu setel baju, persiapannya ternyata cukup baik.
Selesai membersihkan badan dan ganti pakaian baru,
Pek Bwe mendapatkan baju itu pas betul dengan perawakan
tubuhnya, tanpa terasa ia mulai berpikir.
"Walaupun nama bocah ini di dalam dunia persilatan
kurang baik, namun kepandaiannya dalam pergaulan cukup
hebat." Keluar dari kamar mandi, dalam kamar telah tersedia
semeja hidangan lezat. Pi Sam-long yang berada di sisinya segera berkata
sambil tertawa : "Locianpwe, setelah mengatur napas untuk mendesak
keluar racun dari tubuh, kekuatan Cianpwe pasti banyak
berkurang, silakan bersantap sedikit sambil bercakapcakap."
Ketika itu Pek Bwe sudah muncul dengan wajah yang
sebenarnya, sambil duduk ia lantas berkata seraya tertawa
: "Kau melayani aku dengan cara begini, sebetulnya apa
tujuanmu?" "Suhu telah meninggalkan pesan kepada hamba, dan
Boanpwe berjodoh bisa berkenalan dengan Cianpwe, tentu
saja Boanpwe harus melayani dengan sebaik-baiknya, masa
aku bisa bertujuan lain?"
"Baik, kau pun boleh duduk!" kata Pek Bwe sambil
tertawa, "menghadapi pelayananmu terhadap Lohu, paling
tidak aku pun harus membantu dirimu, mari kita bicarakan
dulu persoalan Lohu."
"Aku tahu, jika kau orang tua tidak sedang menjumpai
masalah yang sangat penting, tak nanti kau akan pergi
dengan wajah menyaru."
"Betul, untuk gampangnya, Lohu akan bertanya kau
yang menjawab!" "Boanpwe turut perintah."
"Sekarang katakan dulu, kenapa kau datang kemari, dan
mengapa harus dengan jalan menyaru" Apakah kau takut
asal-usulmu diketahui oleh orang lain?"
"Kedatangan Boanpwe kemari adalah atas undangan
orang, tujuannya adalah untuk menghadapi Kay-pang,
maka aku terpaksa musti berganti rupa dengan jalan
menyaru." Satu ingatan segera melintas dalam benak Pek Bwe,
pikirnya : "Bagus sekali, baru sepatah kata tujuanku sudah
Suramnya Bayang Bayang 15 Telapak Emas Beracun Jan Jin Que Yu Karya Gu Long Manusia Harimau Merantau Lagi 4
^