Pencarian

Senopati Pamungkas Satu 13

Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto Bagian 13


Ditambah usianya yang masih bocah, perasaan galau bercampur aduk dalam
kepalanya. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Bisa dimengerti kalau dalam berlari kencang, Gendhuk Tri seperti berputar-putar
di dalam hutan. Baru setelah menyadari, Gendhuk Tri memilih jalan yang paling
dekat ke Keraton. Untuk tidak mudah dikenali Upasara, Gendhuk Tri menyamar sebagai lelaki desa. Ia
menambahi dengan kumis yang dipotongkan dari sebagian rambutnya.
Barulah dengan begitu Gendhuk Tri merasa aman.
Kalau banyak orang, Gendhuk Tri berjalan sebagaimana biasa. Kalau sepi, baru
melatih ilmu meringankan tubuh. Bergegas. Jalan yang ditempuh ialah meniti
sepanjang Kali Brantas. Walau tidak mau memikirkan, namun setiap kali Gendhuk Tri merasa Kakang Upasara-
lah yang berada di sekitarnya. Kadang seseorang yang berjalan disangka Upasara,
sehingga ia bersembunyi. Kadang bayangan pohon bergerak saja membuatnya berpikir
bahwa itu adalah bayangan kakangnya!
Satu-satunya jalan bagi Gendhuk Tri ialah tidak mau menyendiri.
Agar jalan pikirannya tidak menukik ke arah Upasara. Di keramaian pasar, Gendhuk
Tri sengaja berlama-lama. Kalau ada kerumunan tertentu, ia akan memperhatikan
dengan saksama. Walaupun berdandan sebagai orang tua, Gendhuk Tri sering lupa.
Pernah ketika makan di warung, kumisnya terlepas ketika bersin. Terpaksa Gendhuk
Tri segera melemparkan uang pembayaran dan kabur dengan cepat.
Setelah memperbaiki dandanannya dan kini pura-pura menjadi wanita tua ia datang
kembali. Sekadar untuk mengetahui apakah kini ia masih dikenali.
Betapa gelinya ia mendengar kisahnya diceritakan kembali. Dan ia masih tetap
dianggap aneh. Karena ternyata selama ini boleh dikatakan tak ada wanita yang
datang ke warung. Peminta-minta pun tidak.
"Makanya kalau masih muda, kawin saja. Agar dirawat anakmu."
Gendhuk Tri jadi panas. Ingin segera menyabetkan selendangnya, menghajar omongan yang menyakitkan.
Tapi kalau itu dilakukan, berarti membuka penyamarannya. Dan bisa berarti
Upasara, kakangnya, akan mengetahui!
Bukankah kakangnya tahu siapa yang mampu menggebrak dengan selendang"
Gendhuk Tri merasa sayu setiap kali mengingat bahwa pikirannya selalu tertuju ke
arah Upasara Wulung. Makin lama makin sering. Juga dalam lamunan maupun impian.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Betapa berat tanggungan jiwa Gendhuk Tri. Ternyata perpisahan dengan Upasara
lebih menyakitkan dari yang dibayangkan. Perpisahan bisa berjalan pendek. Tapi
kerinduan sangat panjang.
Untuk melepaskan pikiran ke arah Upasara, Gendhuk Tri kembali mendatangi
kerumunan. Namun sekali ini hatinya bercekat.
Karena kerumunan kali ini bukan kerumunan biasa. Ada pertarungan di pinggir
kali. Sewaktu Gendhuk Tri mendekat, darahnya berdebar sangat kencang sekali.
Tubuhnya menggigil. Bukan karena pertarungan ini dilakukan jago kelas satu, akan
tetapi terutama karena Gendhuk Tri mengenali siapa yang bertarung!
Agaknya kini telah memasuki saat-saat yang menentukan.
Rantai berat yang bergulung itu adalah senjata andalan Adipati Lawe.
Gendhuk Tri tentu saja mengenali Adipati Lawe, sejak pertemuan habis-habisan
dengan pasukan Tartar. Adipati Lawe saat itu ikut berada di atas benteng dalam
pertempuran mati hidup! Dan juga ikut melabrak kembali ke Perguruan Awan.
Lebih mengejutkan lagi karena yang dihadapi adalah Senopati Anabrang. Dua
pedangnya berusaha menangkis setiap tindihan yang datang. Senopati Anabrang
sudah makin terdesak ke pinggir sungai.
Ditonton begitu banyak prajurit Majapahit yang mengelilingi medan pertarungan,
Gendhuk Tri tadinya menduga bahwa kedua senopati ulung itu tengah berlatih.
Akan tetapi melihat jurus-jurus maut dari keduanya, jelas ini pertarungan mati-
hidup. Adipati Lawe bahkan tidak memperhitungkan tusukan dua pedang.
Rantai berbandul dimainkan bagai bandringan, mainan kanak-kanak dari tali yang
diberi beban ujungnya. Hanya saja ini adalah bandringan maut.
Gendhuk Tri tahu bahwa Adipati Lawe yang dikenal ini mampu memainkan berbagai
jenis senjata, teristimewa senjata yang bobotnya berat.
Bola besi yang dimainkan bisa berputar bagai kitiran. Sebentar menyapu kaki,
sebentar menyapu batok kepala. Kesiuran anginnya begitu panas menyayat.
Senopati Anabrang berusaha menghindar, akan tetapi ruang geraknya makin sempit!
Bandul Adipati Lawe yang menyerempet air sungai, seakan bisa menghentikan
seluruh aliran untuk sementara. Benar-benar luar biasa.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendadak Gendhuk Tri merasa bahwa pertempuran mendekati titik yang menentukan.
Gasakan Adipati Lawe makin tak tertahankan.
"Tongkring. Mati kamu."
Bandul itu menghantam dengan sentakan keras. Dari bawah ke atas.
Yang diarah dagu Senopati Anabrang yang kehilangan keseimbangan.
Sentakan ini pasti di luar dugaan, karena nampak Senopati Anabrang justru
menangkis dengan kedua pedangnya.
Gendhuk Tri menjerit. Kedua pedang itu terjerat dalam rantai dan terlepas!
Akan tetapi meskipun demikian, Senopati Anabrang berhasil menyodok dada Adipati
Lawe. Adipati Lawe malah membusungkan dada.
Kini bandul rantainya berkibaran di angkasa. Menimbulkan angin yang siap
mencabut nyawa. Senopati Anabrang berusaha mengambil keris sebagai usaha
terakhir untuk mempertahankan diri.
"Tongkring!" Teriakan menyayat Adipati Lawe.
Gendhuk Tri hampir tak percaya. Adipati Lawe yang dikenalnya, mendadak justru
terhuyung-huyung. Keris Senopati Anabrang amblas ke dada Adipati Lawe sampai ke
gagangnya. Darah muncrat ke air sungai.
Gendhuk Tri menjerit. Karena justru Senopati Anabrang mencabut keris yang sudah amblas, dan menusukkan
berulang kali. Tubuh Adipati Lawe menggeliat. Setiap kali akan ambruk, ditusuk
dengan genjotan yang keras.
Jeritan Gendhuk Tri bukan hanya karena Senopati Anabrang berlaku kejam kepada
lawan yang telah kalah, akan tetapi sentakan tenaga mendadak Senopati Anabrang
mengingatkannya pada tenaga Upasara Wulung. Itulah tenaga dalam Penolak Bumi.
Yang muncul menggelora ketika terdesak.
Jeritan Gendhuk Tri menyayat hatinya. Betapa sedih andai Upasara mengetahui
bahwa sebagian tenaga dalamnya maha telengas.
Keris Kebo Dendeng KEKUATIRAN Gendhuk Tri sangat beralasan.
Ia sendiri merasakan ampuhnya tenaga dalam yang dipindahkan dari tubuh Upasara.
Kalau yang maha racun saja dimusnahkan, apalagi dipakai untuk menambah tenaga!
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Gendhuk Tri mendengar cerita dari Nyai Demang dan sebagian dari Wilanda. Bahwa
Senopati Anabrang bisa membebaskan diri dari barisan Gandring karena terdorong
oleh tenaga dalam pemberian Upasara.
Agaknya tenaga pemberian itu belum bisa menyatu sepenuhnya dalam diri Senopati
Anabrang, sehingga penguasaannya belum sempurna. Kadang bisa dikerahkan, kadang
tidak. Atau juga karena sifat tenaga itu sendiri.
Dalam Kitab Penolak Bumi, cara pengaturan napas dimulai dengan penolakan atau
peniadaan. Sehingga sangat mungkin sekali tenaga itu melonjak sendiri di saat
Senopati Anabrang sangat terdesak. Di saat tak mempunyai pilihan lain.
Ini yang tak disadari Adipati Lawe.
Justru di saat kemenangan sudah di tangan, mendadak ada tenaga panas yang
menghalau, dan mendadak keris Senopati Anabrang menghunjam dadanya. Dengan
tenaga penuh yang tak mungkin ditangkis! Akibatnya memang parah.
Lebih dari itu semua adalah kenyataan bahwa Senopati Anabrang sendiri seperti
tidak yakin dengan tusukan pertama, kedua atau ketiga.
Sehingga berulang kali keris pusakanya ditusukkan, sehingga tubuh Adipati Lawe
seperti dicincang. Gendhuk Tri hanya bisa menduga sepasang pedang, seorang yang biasa memainkan
sepasang pedang, kepercayaannya kepada senjata andalannya lebih dari senjata
lain yang digunakan. Seperti dirinya, Gendhuk Tri lebih mempercayai sabetan
selendangnya dibandingkan menggunakan senjata lain.
Padahal keris yang digunakan Senopati Anabrang bukan sembarang keris.
Keris itu berlekuk lima, umumnya disebut keris Pandawa.
Mengingatkan tokoh wayang dari Amarta yang lima ksatria bersaudara.
Namun berbeda dari keris Pandawa, seperti Pandawa Lare atau Pandawa Bakung yang
memakai banyak hiasan dan pernik-pernik, keris Kebo Dendeng adalah keris
berlekuk lima yang lugas. Tanpa hiasan apa pun.
Bahkan bagian sogokan, bagian tengah keris yang biasanya diisi dengan hiasan
atau campuran besi tertentu, dibiarkan kosong. Nampak berlubang.
Keistimewaan keris Kebo Dendeng, terutama karena ketajamannya.
Bentuk yang nyaris tanpa hiasan itu juga menunjukkan bahwa keris ini tidak
memerlukan kerumitan dalam penggarapan dan pemakaian.
Keris Kebo Dendeng sangat cocok bagi Senopati Anabrang, karena sebenarnya ia
banyak menggunakan pedang. Sejak berkelana ke tlatah
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Melayu, Senopati Anabrang boleh dikatakan selalu mempergunakan pedangnya.
Hanya saja, sebagai ksatria dari tlatah Jawa. Keris tak pernah ditinggalkan atau
ditanggalkan. Memainkan keris hampir menjadi kemampuan pertama siapa pun yang
terjun ke gelanggang atau bahkan ketika belajar ilmu kanuragan.
Ada yang menekuni - seperti Upasara - sebelum akhirnya lebih suka memainkan tangan
kosong. Ada yang mengganti dengan senjata yang lain. Namun rata-rata bisa
memainkan keris dengan baik.
Adipati Lawe pun bisa menangkis dengan baik.
Andai tidak dikagetkan dengan tenaga panas yang menyusup masuk!
Pekikan dan jeritan terdengar setiap kali Senopati Anabrang menghunjamkan keris
Kebo Dendeng. Gendhuk Tri merasa ngeri.
Karena di sekelilingnya adalah prajurit-prajurit dalam keadaan siaga perang.
Karena menyadari bahwa prajurit Tuban yang berdarah panas dan sebagian prajurit
dari tlatah Madura tak akan berdiam begitu saja melihat pahlawannya, melihat
senopati agul-aguling jurit, senopati yang diunggulkan para prajurit, ditikam
secara kejam di depan mata.
Ini juga berarti bahwa prajurit Keraton di bawah pimpinan Senopati Anabrang tak
bakal tinggal diam. Dengan kata lain, pertempuran ganas siap membuka.
Dan Sungai Tambak Beras, bagian dari Kali Brantas, akan berubah warna menjadi
warna darah! Ini hanya soal waktu saja.
Gendhuk Tri menggigil. "Anabrang, cukup!"
Suatu bayangan mengeluarkan teriakan lolongan nyaring, seiring dengan tubuh yang
melayang. Gendhuk Tri merasa dadanya makin sesak.
Bayangan tubuh Mpu Sora yang perkasa melayang sambil mengeluarkan bunyi
berdenging yang tinggi. Luapan kemurkaan akan tetapi juga pengerahan tenaga
sampai puncak. Jurus Lebah Hantu menyerbu.
Mpu Sora sadar bahwa yang dihadapi adalah Senopati Anabrang yang sedang kalap.
Mpu Sora juga mengetahui bahwa Senopati Anabrang seperti menyimpan kekuatan gaib
pada saat terdesak. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Maka jurus Bramara Bekasakan yang ganas menyerbu tanpa memperhitungkan
keselamatan diri. Senopati Anabrang mendongak kaget.
Dengan tangan masih memegang keris Kebo Dendeng yang berlumuran darah segar,
Senopati Anabrang meloncat ke angkasa.
Menyongsong Mpu Sora! Sambil menggertak nyaris kerisnya menembus ulu hati!
Mpu Sora meninggikan suara dengingannya, dan memutar tubuh, menyambut serangan
Senopati Anabrang, berganti dengan jurus Bramara Braja, atau Lebah Topan, atau
Topan Lebah, yang menyerbu dan mengurung bagai badai.
Dua, tiga, empat sengatan membuat Senopati Anabrang merasa kesemutan.
Menyadari bahaya, Senopati Anabrang meloncat ke tengah sungai untuk melepaskan
diri dari kerubutan lebah. Sebab menurut cerita, lebah-lebah tak akan menerjang
orang yang bersembunyi di sungai!
Sambil meloncat ke tengah sungai, yang pasti tak diperhitungkan Mpu Sora,
Senopati Anabrang menyabetkan kerisnya ke arah belakang.
Inilah kesalahan utama! Gendhuk Tri mengeluarkan pekikan sambil menutup mulutnya.
Gerakan Senopati Anabrang jelas mengundang bahaya maut.
Dalam keadaan membelakangi lawan, Senopati Anabrang berusaha menyerang. Padahal
jelas yang dihadapi adalah lawan tangguh yang memainkan serangan maut. Dan
Senopati Anabrang tidak terlalu mahir dalam serangan sambil membalik.
Dasar-dasar ilmu silatnya tidak memiliki kembangan, atau bunga-bunga hiasan
semacam ini. Kekuatan utama jurus-jurus Senopati Anabrang tak berbeda jauh dari ilmu silat
Galih Kaliki. Mengandalkan ketangguhan, bukan ketangkasan.
Gendhuk Tri sempat berpikir, apakah Senopati Anabrang terlalu menganggap enteng
Mpu Sora" Ataukah karena yakin bahwa tenaga dalamnya masih dikuasai dan
mendesak-desak" Sebelum jawaban dalam hati Gendhuk Tri terasakan, apa yang dilihat di depan mata
merupakan jawaban nyata! Benar apa yang dijeritkan!
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Menghadapi sabetan keris, Mpu Sora menangkis maju dengan meneruskan jurus
Bramara Braja. Tangan kanan yang bergulung menangkis tangan Senopati Anabrang
dengan keras. Keris menjadi berbalik arah.
Amblas ke punggung Senopati Anabrang, dengan ujung mencuat dari dadanya.
Teriakannya meninggi sebelum tubuhnya amblas ke Sungai Tambak Beras.
Anak sungai yang cukup deras itu seketika berubah warnanya. Dalam beberapa kejap
tubuh Senopati Anabrang diapungkan kembali. Tanpa bergerak lagi.
Kejadian berlangsung sangat cepat sekali.
Mpu Sora turun ke tanah. Dan untuk beberapa saat tak bergerak.
Seolah tertegun dengan apa yang terjadi.
Dalam sekelebatan terjadi pertarungan batin yang tak kalah serunya dengan apa
yang baru saja terjadi. Biar bagaimanapun ia adalah senopati unggulan Keraton. Mempunyai wibawa dan
kehormatan. Mpu Sora juga ksatria yang menjunjung tinggi sifat-sifat luhur, pun
dalam pertarungan. Sehari-hari ia mencoba berlaku adil. Bahkan keinginan-
keinginan pribadi ditenggelamkan untuk ketenteraman dan keamanan Keraton.
Puncak pengabdiannya ialah ketika begitu banyak suara mendukungnya untuk
menduduki jabatan mahapatih, Mpu Sora menolak secara tegas.
Pangkat, derajat, dan kehormatan seperti itu bukan yang dikejar mati-matian
dalam hidupnya. Melainkan pengabdian.
Namun peristiwa yang baru saja terjadi, justru melumuri dengan kehinaan.
Apa pun alasan yang bisa dikemukakan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya
terjadi, tetap tak mengubah fakta bahwa Senopati Anabrang tewas oleh tangannya,
dengan keris menancap di punggung!
Seolah serangan dari belakang.
Seperti mati karena dibokong!
Lebih menyulitkan lagi, karena dalam hal ini Mpu Sora adalah paman Adipati Lawe.
Masih ada hubungan darah secara langsung. Salah-salah, dirinya dituduh
mengeroyok! Kemenangan yang sangat hina.
Tapi sesungguhnya, itulah yang terjadi.
Gerhana adalah Purnama bagi Durjana
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
PUNDAK Mpu Sora turun. Tangannya lunglai. Pandangannya menatap prajurit yang mengangkat tubuh Senopati Anabrang untuk
dirawat di tepian. Sementara prajurit Tuban juga merawat tubuh Adipati Lawe yang
tidak keruan wujudnya.

Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kemelut dalam hati Mpu Sora makin berkabut.
Tarikan napasnya yang dalam tak segera diikuti oleh embusan. Mpu Sora masih
tergetar dan berdiri luruh untuk beberapa saat.
Adalah di luar perkiraannya, bahwa Senopati Anabrang akan menerjang dengan ganas
ketika mengundurkan diri. Sehingga berakibat fatal. Sejak semula Mpu Sora hanya
ingin menghentikan Senopati Anabrang yang mencincang tubuh Adipati Lawe.
Darah ksatria tak bisa membenarkan itu.
Kalah dan menang dalam pertarungan adalah hal yang lumrah. Yang akan selalu
terjadi. Karena dari sinilah diketahui siapa yang lebih unggul. Akan tetapi
mencabik-cabik tubuh lawan yang sudah kalah, adalah di luar batas kemanusiaan
yang bisa diterima Mpu Sora.
Mpu Sora tetap akan mencegah kalau itu terjadi pada musuh yang paling dibenci
sekalipun. Tindakan ini semata-mata bukan karena yang diperlakukan secara kejam
adalah keponakannya. Tidak, Mpu Sora tidak menyesali apa yang terjadi.
Mpu Sora merasa siap dan merasa ikhlas menerima hukuman apa pun karena
pembunuhan ini. Karena apa pun, ia bisa dianggap membunuh. Senopati Mahisa
Anabrang tidak kalah dalam pertempuran.
Tuduhan kehinaan itu akan diterima.
Tak akan dibantah. Mpu Sora tak akan membela diri.
Mpu Sora getun, menyesal dalam, karena ini bukan akhir yang diinginkan. Tak
pernah terlintas sedikit pun bahwa akan berakhir seperti sekarang ini.
Dua senopati utama Keraton tewas.
Bukan dalam menghadapi pasukan Tartar. Bukan ketika mempertahankan Keraton,
bukan ketika berbakti kepada tanah dan air yang menghidupi. Melainkan dalam
pertarungan dengan pamrih pribadi.
Dan ia terlibat di dalamnya.
Tangannya sendiri ikut berlumuran darah!
Sungguh tragis. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mpu Sora telah menempati kedudukannya di Dahanapura. Dengan kesetiaan
pengabdian, tanpa rasa penyesalan atau meremehkan pekerjaan. Mengabdi kepada
Bagus Kala Gemet, sang Putra Mahkota.
Saat itu Mpu Renteng mengadakan kunjungan.
Setelah berbicara mengenai keadaan masing-masing, Mpu Renteng menyinggung
mengenai kabar yang telah tersiar luas.
"Kakang Sora pasti sudah mengetahui."
"Daha sekarang ini adalah dusun yang kecil. Tetapi saya merasa tenteram di sini,
karena tidak mendengar kabar-kabar yang membuat tidur tak nyenyak, makan tak
enak." "Kakang jangan salah tampa.
"Saya tidak ingin mengusik batin Kakang Sora. Lahir-batin saya mengerti perasaan
Kakang. "Hanya saja saya mendengar dan melihat sendiri, bahwa Senopati Anabrang membawa
para prajuritnya untuk menemui Adipati Lawe."
"Ah, itu soal lama. Kenapa tak jemu-jemu mempersoalkan nasi yang telah basi?"
"Kakang, saya kuatir bahwa pertentangan ini memuncak. Pertanda yang buruk bakal
terjadi. Beberapa hari lalu saya bermimpi ada gerhana di Keraton kita. Bulan tak
bersinar karena tertutup bayangan hitam.
"Bayangan itu menutupi Anakmas Lawe, juga menutupi Kakang."
"Aku tak mau menceritakan, tetapi aku mengalami impian yang sama.
Aku cemas. "Cemas karena dalam gerhana, merupakan purnama bagi yang berhati durjana. Justru
saat gelap, para pengkhianat melihat kesempatan terang untuk melihat."
Untuk tidak terlalu mencolok dan meninggalkan kesan yang kurang tepat mengenai
hubungan mereka berdua, Mpu Renteng pamit kembali ke Keraton.
Mpu Sora masih termenung.
Baru kemudian meminta izin Putra Mahkota Kala Gemet untuk pergi ke desa Tampak
Beras. Bersama dengan rombongan kecil, Mpu Sora akhirnya berangkat.
Yang pertama ditemui adalah keponakannya.
"Kata-kata telah diucapkan, Paman.
"Tantangan telah dilantangkan. Saya tak mempunyai lidah yang panjang untuk
menelan kembali ludah yang sudah jatuh ke tanah."
"Lawe, keponakanku yang gagah.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jangan kamu lihat diriku. Tetapi lihatlah ramamu. Yang akan prihatin sekali dan
makin mengasingkan diri di dalam Keraton kalau melihat ini semua.
"Kemenangan apa yang kamu cari"
"Kekalahan apa yang belum kamu hindari?"
Adipati Lawe menyembah. "Bahkan andai Baginda Raja yang datang, saya tak akan mundur.
Hanya kalau Anabrang sendiri datang dan meminta maaf, saya akan kembali ke Tuban
dengan tenang." Mpu Sora mengetahui tabiat keras keponakannya yang tak bisa ditekuk sedikit pun.
Masih ada sedikit harapan ketika Mpu Sora menemui Senopati Anabrang dan
mengutarakan maksudnya. Agar pertarungan lebih baik diurungkan.
"Saya datang untuk meminta ampunan."
Senopati Anabrang menggeleng.
"Paman Senopati Sora yang budiman.
"Adalah kehormatan besar bagi saya Paman sudi mengunjungi saya.
Kita ini sudah sama-sama tua, sudah kenyang makan asam gunung dan garam laut.
"Yang bertindak kurang ajar bukan Paman Senopati Sora. Tidak layak Paman
Senopati datang meminta maaf."
"Paman Senopati Anabrang, saya datang sebagai pengganti Lawe yang kurang ajar."
"Maafkan saya. "Senopati Lawe mempunyai mulut sendiri untuk mengatakan hal itu.
Satu patah kata saja bagi saya sudah cukup untuk memberi laporan yang baik
kepada Baginda Raja. "Akan tetapi justru Senopati Lawe memastikan waktu dan tempat pertarungan.
"Maaf, Paman Senopati, saya ini sudah tua. Tidak bisa membiarkan anak muda
berbuat kurang ajar."
Mpu Sora menarik diri. Dan bersiap kembali ke Daha untuk menenteramkan hati. Akan tetapi sorak-sorai
para prajurit membuat langkahnya tertahan. Pada saat itu pun Mpu Sora masih
mempunyai harapan bahwa pertarungan bisa dihindarkan. Setidaknya dihentikan di
tengah jalan. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Akan tetapi semua telah terlambat.
Buah yang terlalu masak akhirnya memang busuk. Buah yang busuk hancur ke tanah,
tak berharga. Adipati Lawe tak menyadari kekuatan Senopati Anabrang yang tersimpan. Dan
Senopati Anabrang tak memperhitungkan bahwa Brahmara Braja tak bisa dihadapi
dengan membelakangi. Terlambat! Gerhana ini telah menutupi sebagian dari wajahnya. Gerhana yang berarti purnama
bagi para durjana. Akan tetapi siapa sesungguhnya yang mengobarkan permusuhan ini"
Bagi Mpu Sora masih serba gelap.
Sama sekali tak terpikir bahwa Halayudha memainkan peranannya dengan baik.
Sama sekali tak terduga, karena Senopati Halayudha kemudian datang bersama Mpu
Renteng untuk mengucapkan belasungkawa atas mangkatnya Adipati Lawe.
"Baginda Raja menyampaikan belasungkawa yang dalam. Baginda bersabda, sebaiknya
hal ini tak perlu terjadi. Yang penting lagi, tak perlu terulang kembali."
"Senopati Halayudha, tolong sampaikan rasa syukur saya ke hadapan telapak kaki
Baginda. Saat ini saya tengah menunggu hukuman dari Baginda. Apa pun hukuman
itu, akan saya jalankan dengan rasa syukur."
Halayudha memperlihatkan wajah sangat muram.
Suaranya menjadi terbata-bata.
"Duh, Senopati Agung Sora, kepercayaan Baginda Raja.
"Kenapa Paman Senopati berkata seperti itu" Bukankah itu hanya akan menyuburkan
pertengkaran yang selama ini ada"
"Duh, Gusti Dewa Batara!
"Cobaan apa yang sedang terjadi di Keraton yang kita muliakan ini"
"Sebelum saya sowan, menghadap Senopati Agung, saya rerasanan dengan Senopati
Renteng. Bahwa kejadian ini bisa digunakan sekelompok durjana untuk menyebarkan
berita buruk, untuk menjelek-jelekkan Senopati Sora yang perkasa.
"Bahwa sesungguhnya utang nyawa harus dibayar dengan nyawa.
Sesuai dengan kitab Kutara Manawa, Senopati Sora hanya bisa menebus kematian ini
dengan nyawa yang sama. "Duh, Gusti! KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Apakah begitu banyak mata yang buta tak bisa membedakan antara membela diri dan
membunuh" Kenapa kitab luhur keagamaan itu dibawa-bawa" Bukankah ini berarti
menghendaki kematian Senopati Agung Sora sebagai suatu keharusan keagamaan
suci?" Kitab Kutara Manawa CULAS, bergetah, licik, serta menyakitkan.
Itulah inti kata-kata Halayudha.
Apa yang diutarakan secara tidak langsung, justru membungkam Mpu Sora serta Mpu
Renteng, dan mendudukkan sebagai pesakitan yang berkhianat kepada tata krama
Keraton. Tata krama masyarakat yang ditulis dalam kitab Kutara Manawa.
Halayudha sangat sadar ketika menyebut kitab Kutara Manawa.
Halayudha sadar bahwa Mpu Sora sangat menyadari kitab yang telah dimaklumatkan
Baginda Raja sebagai satu-satunya sumber utama untuk menjaga ketenteraman tata
krama dalam pergaulan masyarakat.
Sewaktu menjadi raja, Baginda Raja pun disumpah dengan kitab yang sama dengan
kesaksian bahwa kitab yang mulia Kutara Manawa adalah sumber untuk memutuskan
pertikaian. Dengan kitab yang mulia Kutara Manawa, seorang raja yang menguasai
dunia, harus menjalankan isinya tanpa pandang bulu kepada siapa pun. Sebab hanya
dengan menaati apa yang tertulis, seorang raja menjadi bijaksana dan Keraton
akan makmur sentosa sepanjang masa. Sebaliknya seorang raja akan tidak adil
kalau mengetahui isi kitab akan tetapi hanya menjalankan separuh-separuh. Alamat
Keraton dan pemerintahan akan kacau-balau, karena tak ada yang ditaati secara
hati suci. Halayudha tahu bagaimana bunyi sumpah yang diikrarkan Baginda Raja. Halayudha
tahu bahwa Mpu Sora yang arif juga tahu.
Bahkan lebih dari itu, Halayudha merasa bahwa Mpu Sora mengetahui kedudukan
kitab Kutara Manawa, sebagai sumber perundang-undangan dasar, yang juga disebut-
sebut sebagai Kitab Agama. Begitu tinggi kedudukan moral kitab pusaka itu,
karena menjadi panutan bagi semua masyarakat, tanpa membedakan darah-keturunan
serta pangkat-kedudukan. Begitu luhurnya isi kitab itu, bukan hanya karena penyebutannya dengan istilah
Kitab Agama, melainkan karena sumbernya konon berasal dari tlatah Hindia, dari
kitab Manawa Dharma Sastra.
Meskipun jelas banyak sekali perubahan di sana-sini yang lebih disesuaikan
dengan tradisi penduduk setempat. Bahkan nama lengkapnya kitab Kutara Manawa
Dharma Sastra, menunjukkan sedikit kemiripan. Sekurangnya menunjukkan kesucian
isi kitab yang harus dijunjung tinggi.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Karena telah dibuktikan dipakai sebagai pegangan oleh beberapa raja dalam
beberapa keturunan. Melanggar isi kitab itu, berarti juga menentukan seluruh kekuasaan yang telah
diatur dan disepakati dari 275 pupuh atau pasal yang telah mencakup semua
persoalan. Baik mengenai pencurian, pembunuhan, paksaan, jual-beli, gadai, mahar
perkawinan, mencaci, mewarisi, perkelahian, memfitnah, semua ada aturan dan
bentuk-bentuk hukumannya.
Dalam posisi ini Mpu Sora bisa termasuk melanggar pupuh mengenai pembunuhan,
yaitu pupuh astadusta. Atau bab yang menjelaskan delapan macam pembunuhan.
Dalam Kutara Manawa sudah dijelaskan bahwa delapan macam pembunuhan itu adalah:
membunuh orang yang tidak berdosa, menyuruh bunuh orang tak berdosa, melukai
orang yang tidak berdosa.
Ini tiga macam pembunuhan dari delapan macam yang ada. Tiga macam ini yang
dianggap sangat berat, karena hukuman yang tertulis adalah: hukuman mati!
Apalagi tindakan Mpu Sora termasuk pupuh bagian pertama, yaitu membunuh orang
yang tak berdosa. Dalam kasus Senopati Anabrang tertusuk keris di bagian punggungnya, bisa
diartikan sebagai pembunuhan orang yang tak berdosa.
Inilah yang disodokkan ke ulu batin Mpu Sora!
"Bukankah itu sangat kejam sekali, duh, Senopati Agung Sora"
Bukankah Keraton akan makin lemah, kalau justru para senopati yang gagah perwira
dan banyak jasanya dihukum dengan kitab perundangan yang suci"
"Duh, Dewa, kenapa bukan aku, Halayudha yang tak ada jasanya yang menerima
hukuman itu?" Halayudha kemudian menyebut-nyebut bahwa kelima macam kejahatan yang berhubungan
dengan pembunuhan yang menjadi satu dalam astadusta seperti makan bersama
pembunuh, mengikuti, melindungi, bersahabat, memberi tempat, memberi
pertolongan, tetap ada hukumannya.
"Kalau karena menemui Senopati Agung Sora ini saya harus dihukum, saya rela
sepenuhnya. Karena selama ini, walau saya tidak melihat sendiri, saya tidak
menganggap Senopati Agung Sora adalah pembunuh. "Sama sekali tidak." Mpu Renteng
menggeleng keras. "Tidak banyak mengubah keadaan dengan menyalahkan. Karena sayalah yang
sebenarnya bersalah menganjurkan Paman Sora melerai
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pertarungan. "Hanya Baginda Raja yang bisa mengubah hukuman itu."
Senopati Halayudha menunduk mantap.
"Akan saya usahakan menemui Baginda Raja."
"Terima kasih..." Ucapan Mpu Renteng terpotong oleh gelengan kepala Mpu Sora.
"Terima kasih atas perhatian Senopati Halayudha untuk melindungi saya.
"Akan tetapi saya tak bisa meminta pengampunan seperti ini. Saya akan menerima
dengan tulus dan ikhlas hukuman yang lebih berat dari kematian sekalipun."
Suara Mpu Sora terdengar lantang, namun tidak menantang.
Mpu Renteng mengakui kekeliruannya.
Halayudha merasa bahwa sikap ksatria Mpu Sora tak perlu diragukan lagi. Bahkan
di saat ada kesempatan untuk memohon ampunan, hal itu tak dilakukan. Karena
bertentangan dengan sikap hidupnya!
Bagi ksatria, sikap atas kehormatan dan jiwa yang besar mampu mengatasi ancaman
maut! "Duh, Senopati Agung Sora, kalau saya diberi izin Senopati Sora, saya akan
mengatakan kejadian yang sebenarnya. Bahwa kejadian meninggalnya Senopati
Anabrang bukanlah suatu pembunuhan seperti yang disebut pupuh-pupuh itu.
"Peristiwa ini sama sekali tidak berdiri sendiri.
"Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Sora berniat melerai kekejaman Senopati
Anabrang yang sesungguhnya tidak pantas dilakukan." Mpu Sora menggeleng. Mpu
Renteng terkesiap. Halayudha melihat kekukuhan sikap Mpu Sora tak tergoyahkan.
"Maafkan. Saya tak ingin merepotkan Senopati Halayudha. Saya mengucapkan terima
kasih atas budi baik ini.
"Akan tetapi secara pribadi, saya tidak meminta Senopati Halayudha melakukan hal
ini." "Bagaimana kalau saya melaporkan sendiri?"
Mpu Sora tersenyum dingin.
"Itu kehendak Senopati, bukan kehendak saya.
"Saya tak bisa menghalangi, tak bisa mendorong."
Mpu Sora bangkit dari tempat duduknya. Pandangannya tajam menerawang.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bagi saya semua telah jelas. Terang benderang seperti sinar surya tengah hari.
"Tak perlu merepotkan hati."
Bagi Mpu Renteng sikap Mpu Sora memang sangat jelas. Apa pun yang terjadi, semua
akan dihadapi dengan terbuka dan ikhlas.
Sewaktu kembali ke Keraton Majapahit, Mpu Renteng memang tak bisa menjelaskan
bahwa gugurnya Senopati Anabrang semata-mata karena kekeliruan, bukan
kesengajaan. Posisinya yang rapat hubungannya dengan Mpu Sora, melemahkan
pembelaannya. Apalagi ia sendiri tak berada di tempat kejadian.
Hanya yang membuat Mpu Renteng ragu ialah bahwa berita itu tersebar luas ke
masyarakat dan dengan satu penilaian akhir: Mpu Sora harus dihukum mati, sesuai
dengan pupuh dalam astadusta. Kini tinggal apakah Baginda Raja akan segera
bertindak atau tidak.

Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kegelisahan ini telah menyebar luas.
Menjadi hangat dalam pembicaraan para senopati.
Bahkan Mahisa Taruna, putra Senopati Mahisa Anabrang, secara terbuka mengatakan
bahwa kalau Baginda Raja tetap tidak turun tangan, ia sendiri yang akan datang
ke Dahanapura untuk menyelesaikan utang pati ini.
Nyata sekali pertentangan telah meluas.
Karena dengan mudah Mahisa Taruna memperluas persoalannya.
Kini bukan sekadar hukuman kepada Mpu Sora, melainkan juga menyangkut masalah
yang lain. "Aku ditinggal Rama Anabrang menjelajah Melayu selama dua puluh tahun. Hanya aku
yang bisa merasakan kehilangan seorang rama yang mestinya mendidikku.
"Semua ini dilakukan demi kejayaan Keraton.
"Rama pulang kembali dengan kemenangan gemilang, akan tetapi dibunuh secara hina
oleh Mpu Sora. Dan kini Mpu Sora dibiarkan saja, hanya karena beliau Senopati
Keraton Majapahit. "Apa banyak bedanya antara Senopati Singasari dan Senopati Majapahit"
"Apakah bukan suatu dusta jika tadinya dikatakan Majapahit adalah kelanjutan
dari Singasari" "Apakah kitab Kutara Manawa selama ini hanya untuk pajangan bagi senopati. Hanya
berlaku untuk penduduk dan senopati yang tidak berasal dari prajurit Baginda?"
Membuka Kedok Klikamuka KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
SUARA Mahisa Taruna terdengar lantang. Garang.
"Sejak semula aku sudah curiga itikad baik Mpu Sora. Ia senopati yang paling
tidak pantas menyandang gelar empu.
"Disiarkan kabar secara sengaja ia menolak jabatan mahapatih, bahkan juga pura-
pura murka kepada Adipati Lawe. Akan tetapi sekarang terbuka kedoknya. Terlihat
apa sebenarnya isi hatinya.
"Aku ragu apakah jabatan senopati yang dipegangnya diraih karena jasa-jasanya
atau hanya merupakan jasa anugerah" Yang diberikan karena belas kasihan belaka
karena selama ini mengintil Baginda Raja.
"Aku tak pernah mendengar kepahlawanannya. Yang kudengar selama ini hanyalah
untuk mengawal Permaisuri saja bisa dikalahkan oleh seseorang yang tak bernama,
yang menutupi wajahnya dengan kulit kayu.
"Senopati macam apa itu?"
Bagi Mpu Renteng itulah kata-kata pertama yang didengarnya menyinggung mengenai
Klikamuka. Tokoh sakti yang selama ini tak diketahui asal-usulnya.
Agak menjadi pertanyaan bagi Mpu Renteng bahwa kata-kata itu diucapkan oleh
Mahisa Taruna. Selama ini hanya beberapa prajurit yang pernah melihat pemunculan
Klikamuka. Dan hanya beberapa kepala saja yang mengetahui bahwa Permaisuri
Rajapatni pernah diculik oleh Klikamuka.
Yang agak jelas mengetahui duduk perkara adalah Senopati Nambi, yang sekarang
menjadi Mahapatih Nambi. Mpu Renteng bercekat sendiri.
Selama ini ia berusaha menekan kecurigaan yang selalu mengusik.
Kecurigaan kepada sesama senopati seangkatan. Perasaan yang selalu diredakan
oleh Mpu Sora, sobatnya yang sangat dihormati.
Akan tetapi dalam beberapa hal Mpu Renteng tak bisa menghilangkan kesan
kecurigaan yang muncul. Terutama kepada Mahapatih Nambi.
Bukan tidak mungkin yang memberi kisikan mengenai kegagalannya mengawal
Permaisuri Rajapatni adalah Mahapatih Nambi. Alasan yang masuk akal kalau
diingat bahwa sekarang ini Mahisa Taruna begitu berani berkata secara kasar.
Tanpa pendukung di belakangnya, tak akan mungkin senopati muda seperti Mahisa
Taruna berani menghujat. Siapa lagi orang kuat di belakang Mahisa Taruna kalau bukan Mahapatih"
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kalau dugaannya benar, berarti Mahapatih sedang memaksakan suatu rencana yang
lebih luas. Yaitu berusaha menyingkirkan Mpu Sora yang masih tetap dianggap
klilip atau gangguan di matanya. Tak ada alasan lain yang lebih kuat, selain
bahwa Mpu Sora tetap merupakan ancaman di belakang hari.
Hanya Mpu Sora yang bisa mengancam kedudukannya sebagai mahapatih. Sekarang
ataupun di belakang hari.
Sesuai dengan tindak-tanduknya yang serba tersembunyi sebagai pimpinan utama
prajurit telik sandi, liku-liku intrik ini sangat masuk pikiran.
Sekarang saatnya Mahapatih Nambi menyingkirkan Mpu Sora!
Dengan caranya yang tetap bisa menyembunyikan tangan untuk menyentil telinga
lawan. Menonjolkan Mahisa Taruna. Sungguh pilihan yang tepat!
Mahisa Taruna masih berdarah muda, sehingga mudah terpancing untuk menunjukkan
kebolehannya. Apalagi kini merasa memiliki dua pedang panjang dari ksatria
Jepun. Ditambah dengan kematian ramanya, Mahisa Taruna muncul ke permukaan.
Mengibarkan bendera sendiri. Seakan menggugat Baginda Raja, akan tetapi
tujuannya jelas. Menghukum Mpu Sora. Atau mendesak pelaksanaan hukuman bagi Mpu Sora.
Dan Mahapatih Nambi akan mendesakkan hal ini kepada Baginda Raja.
Nyatanya Baginda Raja tergerak hatinya untuk mendengarkan keluhan Mahisa Taruna.
Sungguh pengatur siasat yang ulung, kata Mpu Renteng dalam hati.
Dengan cara seperti ini Mahapatih Nambi bisa meluruskan jalan dan mengamankan
kepangkatan yang kini disandang tanpa perlu turun tangan sendiri. Sesuai dengan
rencana prajurit telik sandi.
Hanya saja Mpu Renteng tak menemukan bukti-bukti yang bisa menguatkan dugaannya.
Satu-satunya jalan ialah mencoba menempatkan prajurit yang setia kepadanya,
untuk mencari tahu sejauh mana hubungan antara Mahapatih dan Mahisa Taruna.
Namun justru yang terlihat, Mahapatih seakan tak pernah mengunjungi Mahisa
Taruna. Bahkan ketika upacara pemakaman Senopati Anabrang, Mahapatih hanya
mengirimkan wakilnya. Ia sendiri tidak muncul.
Kenyataan ini justru membuat Mpu Renteng berpikir dua kali.
Pertama, memang tak ada hubungan. Kedua, Mahapatih sengaja menutupi hubungannya
dengan pura-pura tidak memedulikan Mahisa
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Taruna. Sehingga tak ada kesan bahwa Mahapatih mendalangi keberanian Mahisa
Taruna. Bahwa ada dugaan Klikamuka masih ada hubungan dengan Keraton bisa dimengerti
dari gerak-gerik serta ucapan Klikamuka yang ketika itu menyebut nama Permaisuri
Rajapatni dengan hormat. Rasanya justru agak janggal kalau dari kalangan ksatria
atau pendekar menyebut dengan hormat seperti itu.
Agak masuk akal kalau itu prajurit atau senopati. Yang memang sudah terbiasa
menghormat. Dan diperhitungkan dari segi kemampuan ilmu silatnya serta ketidakmauan
diketahui wajahnya, jelas sekali orang dalam. Siapa lagi orang dalam Keraton
yang begitu sakti dan mengetahui begitu banyak lika-liku Keraton"
Mpu Renteng memusatkan dugaan pada Mahapatih.
Bukan tidak mungkin Klikamuka adalah senopati yang dekat hubungannya dengan
Mahapatih. Atau bahkan Mahapatih sendiri! Hal ini tetap bukan mustahil, andai
pada suatu kesempatan baik Mahapatih maupun Klikamuka muncul secara bersamaan.
Justru untuk menghilangkan jejak!
Bukankah saat pemunculan pertama pun, Klikamuka ini berdua"
Dan sewaktu Mahapatih Nambi muncul, Klikamuka yang satunya tidak kelihatan"
Bukankah Dyah Pamasi dan Dyah Palasir, yang merupakan senopati kepercayaan
Mahapatih, dibunuh secara tidak langsung"
Untuk menghilangkan jejak" Bukankah yang menunjuk kedua senopati Dyah untuk
menyertai dan untuk menyeret Toikromo hanya mungkin berasal dari alam pikiran
prajurit telik sandi"
Semakin diperhitungkan, Mpu Renteng makin yakin bahwa Mahapatih mempunyai
hubungan dengan Klikamuka.
Menyadari bahwa kalau dugaannya benar dirinya berada dalam bahaya, Mpu Renteng
bersiap siaga. Dipasangnya mata dan telinga dengan awas untuk mengamati semua
kejadian yang berkaitan dengan Mahapatih. Bahkan Mpu Renteng tak segan-segan
untuk langsung mengamati secara sembunyi-sembunyi.
Mpu Renteng mulai mengingat-ingat jurus-jurus yang digunakan Klikamuka sehingga
bisa menjatuhkan dirinya dalam satu gebrakan.
Bagaimanapun hebatnya, Mpu Renteng tak bisa dikalahkan begitu saja.
Kecuali kalau bukan orang yang sangat mengenal jurus-jurus Bujangga Andrawina
yang diandalkan. Serangan mengarah ke tengkuknya dulu, pasti bukan hanya dari membaca gerakan.
Tapi juga didasari pengertian bagaimana memainkan jurus tersebut.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sepanjang pengetahuan Mpu Renteng, yang mengetahui keunggulan ilmu Bujangga
Andrawina bisa dihitung dengan jari. Terbatas Adipati Lawe, Mpu Sora, dirinya
sendiri, dan... Mahapatih Nambi!
Dari kemungkinan ini memang akhirnya bermuara kepada Mahapatih Nambi.
Mpu Renteng membuat suatu langkah yang berani.
Dengan diam-diam ia memahat tulisan di tiang Keraton bagian dalam.
Kenapa masih menyembunyikan wajah di balik klika, jika kita masih bersaudara
Kenapa menggoda penculikan
jika kita hanya mempunyai satu pengabdian
Perhitungan Mpu Renteng ialah hanya yang merasa bersembunyi di balik topeng
kulit kayu itu yang bisa mengartikan. Dan sengaja tulisan itu diguratkan di
tiang Keraton sebelah dalam, karena tulisan itu hanya mungkin terbaca oleh
mereka yang biasa lalu-lalang di dalam Keraton.
Dan itu bukan sembarang senopati.
Sekarang yang dilakukan Mpu Renteng tinggal menunggu reaksi.
Siapa yang menambahkan jawaban pada guratan itu bakal terjebak.
Namun nyatanya beberapa hari Mpu Renteng mencoba mengawasi, tak ada sesuatu yang
mencurigakan. Karena tak tahan dengan apa yang diperkirakan, Mpu Renteng memutuskan secara
diam-diam akan melaporkan kepada Mpu Sora.
Maka dengan diam-diam Mpu Renteng meninggalkan kediamannya.
Adalah di luar perhitungannya bahwa justru dalam perjalanan bakal dihadang oleh
seseorang. Yang memakai topeng kulit kayu.
"Akhirnya kamu muncul juga, Klikamuka."
"Kepalamu cukup keras menantangku."
"Aku tahu sarangmu, dan aku tahu siapa kamu sebenarnya. Untuk apa sesama kita
saling sembunyi?" Mpu Renteng langsung menerjang maju. Ujung kainnya menggebrak bagai lidah ular
raksasa. Hanya saja kini tidak memainkan Bujangga Andrawina secara persis. Mpu
Renteng tak ingin terjegal dengan cara yang sama. Sabetan ujung kainnya adalah
tipuan untuk mengalihkan perhatian. Begitu Klikamuka terjebak menyerang kuduk,
ia menyentakkan tali topeng. Terlepas.
Bumi Terbelah KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
MPU RENTENG sangat bernafsu untuk membuka kedok Klikamuka, sehingga tidak
menyadari bahwa agaknya Klikamuka justru secara sengaja memancingnya.
Mpu Renteng bisa membuka kedok, akan tetapi ulu hatinya kena sodokan siku.
Sambil menahan ngilu, Mpu Renteng tersurut langkahnya.
"Kamu..." Tubuh Mpu Renteng berkelojotan sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
Klikamuka membetulkan penutup kepalanya, memakainya, dan berdiri gagah.
"Renteng, kamu tahu siapa aku, akan tetapi tak ada gunanya. Kamu tetap akan mati
penasaran." Satu tendangan keras mengenai perut Mpu Renteng yang dalam sisa-sisa tarikan
napasnya merasa dirinya sungguh tidak berguna. Dalam pertemuan pertama dengan
Klikamuka ia bisa dikalahkan.
Kini dalam pertemuan kedua pun, ia bahkan dihabisi!
Kesimpulan dari pertempuran pertama, yang dipakai untuk menjebak, ternyata
justru dipakai sebagai jebakan yang sama. Topeng yang diincar sengaja dipasang,
dan sebagai gantinya sodokan ke arah ulu hatinya. Serangan yang mematikan.
Mpu Renteng merasa bumi yang diinjaknya terbelah, ketika tendangan Klikamuka
tepat mengenai sasarannya. Lamat-lamat masih terdengar tawa dingin memamerkan
keangkuhan dan kemenangan, sebelum akhirnya hilang gelap dari pandangannya. Bumi
yang terbelah telah menelannya.
Mpu Sora tak bisa berbuat sesuatu ketika mendengar kabar kematian Mpu Renteng.
Hanya dugaannya mengatakan bahwa Mpu Renteng telah menemukan rahasia yang
berarti, yang ingin disampaikan kepadanya, mengingat tempat terbunuhnya
merupakan jalan utama menuju Dahanapura.
Kini Mpu Sora benar-benar merasa sendirian.
Tak bisa mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Sampai sejauh ini, Baginda Raja
belum memutuskan hukuman tertentu. Masih menunda.
Utusan yang dikirim langsung menghadap kepada Mahapatih Nambi, sebagai atasan
langsung para adipati, pulang tanpa membawa keputusan yang berarti.
"Mahapatih tak ingin diganggu, Yang Mulia Senopati Sora," lapor prajurit
utusannya. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sedemikian pentingnya hingga pengunduran diriku menjadi tak berharga"
Prajurit itu menyembah ketakutan.
"Hamba hanya menjalankan perintah Yang Mulia.
"Akan tetapi hamba melihat sendiri bahwa di Keraton ada kesibukan luar biasa.
Yang Mulia Aria Wiraraja menghadap Baginda Raja."
Bagi Mpu Sora, ini semua hanya berarti bahwa gerhana itu kini meluas.
Menghitamkan seluruh Keraton.
Mpu Sora bisa mengerti bahwa saudara tuanya yang masih dekat hubungan dengannya
sangat terpukul hatinya dengan kematian Adipati Lawe.
Senopati Sepuh Aria Wiraraja, yang cerdik dengan perhitungan pengaturan siasat
perang tanpa tanding ini, tetap saja seorang ayah yang tak tega melihat putranya
tewas dalam pertarungan. Adipati Lawe adalah putra kebanggaan Senopati Sepuh Wiraraja.
Bahkan sejak kecil Adipati Lawe telah diberi nama kecil Aria Adikara, nunggak
semi alias sama dengan nama kecil Senopati Sepuh.
Mpu Sora melihat bahwa jagat di depannya makin gelap.
Kalau sampai Senopati Sepuh Wiraraja menemui Baginda Raja, pastilah ada sesuatu
yang sangat berarti. Ini bukan hanya menyangkut soal mati dan hidup nyawa
seseorang atau dua orang saja. Ini bisa berarti kehidupan kenegaraan dalam arti
yang luas. Mpu Sora mengenai sangat baik saudara tidak sekandung ini.
Dibandingkan dengan dirinya, Wiraraja sungguh memperlihatkan kearifan yang
mulia. Sejak pembukaan pertama desa Tarik, Wiraraja yang turun tangan mengerahkan para
prajurit yang menjadi petani pembuka ladang.
Wiraraja tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri, dan memerintahkan
putranya yang paling dibanggakan untuk turut serta.
Sampai dengan siasatnya yang jitu untuk pura-pura mengabdi kepada Baginda
Jayakatwang. Sejarah Keraton tak bisa dilepaskan dari jasa Wiraraja.
Akan tetapi selama ini, Senopati Sepuh yang sangat dihormati ini boleh dikatakan
tak pernah menonjolkan diri. Tak pernah mencoba untuk tampil.
Walau berdiam di dalam Keraton, namun seperti tak meninggalkan bekas yang
mengganggu. Suasana bisa berjalan lancar tanpa terganggu kehadirannya.
Inilah yang sungguh luar biasa.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sikap yang manjing ajur ajer, hadir tanpa mengganggu, bercampur tanpa
menghambat. Sudah barang tentu Baginda Raja sangat hormat dan menghargai sikap Senopati
Sepuh. Maka cukup mencengangkan bahwa pada akhirnya Senopati Sepuh Wiraraja meminta
bertemu langsung dengan Baginda Raja.
Baginda Raja sendiri merasa canggung. Sungguh tidak enak dibuatnya. Maka begitu
mendengar niatan Senopati Sepuh menghadap kepadanya, malam itu juga Baginda Raja
datang ke kasepuhan. "Sungguh kurang ajar kalau sampai Pamanda harus meminta izin untuk menemui
saya," suara Baginda Raja mencoba menerobos kekakuan sikap hormat Wiraraja yang
menyembah sambil bersila.
"Marilah duduk bersama saya, Paman Sepuh Wiraraja."
Wiraraja menghaturkan sembah ke kaki Baginda Raja.
"Hamba sudah bersyukur bisa menghadap Baginda. Bersyukur kepada Dewa yang Maha
agung masih diperkenankan menyembah Paduka."
"Paman Wiraraja adalah pamanku sendiri. Jangan menambah beban pikiran dengan
basa-basi yang berkepanjangan. Saya adalah raja yang menguasai bumi. Akan tetapi
saya juga yang dulu datang kepada Paman untuk meminta pertolongan.
"Saya tak akan melupakan jasa baik Paman Wiraraja."
"Dewa bermurah hati memberi raja yang bijaksana.


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hamba ingin menghadap untuk mengukuhkan kebesaran Paduka, yang dulu pernah
menjanjikan bumi belah kepada hamba. Rasanya, karena hamba makin tua, ingin
rasanya menikmati sisa-sisa usia dengan ketenangan."
Lama Baginda Raja termenung.
Mahapatih yang mendampingi dengan bersila di lantai kasepuhan, menunduk tanpa
bergerak. Halayudha yang berada agak jauh di belakangnya juga tak menimbulkan
suara. Bumi belah adalah kata-kata janji yang telah diucapkan ketika merebut Keraton
Singasari dan juga ketika mengusir pasukan Tartar.
Baginda Raja menjanjikan suatu ketika kelak jika kemenangan bisa diperoleh,
Baginda akan memberikan separuh dari wilayah yang dikuasai.
Bumi belah sigar semangka adalah membagi bumi menjadi dua bagian yang sama
besar, seperti juga buah semangka yang dibelah.
Potongan yang satu dan potongan yang lain sama besarnya.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Janji itu pernah diucapkan.
Dan tak akan dilupakan. Baik sebagai ksatria maupun kini sebagai raja.
Kata yang pernah diucapkan seorang raja, atau juga seorang pendeta, adalah kata
yang tak bisa dicabut lagi. Inilah sifat ksatria yang sejati.
Mengingkari janji adalah hal yang lebih hina daripada seekor cacing tanah!
Ksatria yang mengingkari janji tak akan pernah lahir kembali sebagai manusia
tujuh turunan. Janji atau ucapan seorang raja tak berubah, pun kalau langit runtuh.
Itu yang membuat Baginda termenung. Sesaat.
"Paman Sepuh, kalau itu menjadi keinginan Paman Sepuh, hari ini juga saya akan
mengumumkan dalam pasewakan agung. Agar ditulis dalam kitab-kitab perundangan,
disaksikan para pendeta, dan direstui Dewa yang Mahakuasa.
"Bahkan tlatah sebelah timur menjadi milik Paman Sepuh. Berikut dengan Kadipaten
Lumajang sebagai pusat pemerintahan. Bantuan apa yang Paman perlukan untuk
membangun akan saya sediakan."
"Sungguh Baginda Raja berada dalam cahaya Dewa yang Maha Bercahaya.
"Hamba mengucapkan doa syukur diperkenankan mendengar sabda Baginda Raja.
"Mohon perkenan Baginda..."
"Sebentar, Paman Sepuh.
"Apakah Paman Sepuh akan segera meninggalkan Keraton?"
Wiraraja menyembah tiga kali hingga tubuhnya bagai digulung karena dalamnya
tekukan punggungnya. "Hamba ingin merasakan sisa-sisa usia hamba untuk bertani."
Baginda Raja menghela napas dan segera beranjak pergi.
Cepat datangnya, cepat pula perginya.
Sejak kembali ke Keraton, Baginda Raja seperti tak berkenan melangkah keluar
dari kamar. Bahkan Mahapatih yang ingin menghadap tidak segera dijawab.
Pembagian bumi Majapahit ini bukan hanya berarti pembagian buah semangka. Ini
juga berarti bahwa kejayaan yang ingin ditegakkan, terganggu kesentosaannya.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Seakan tiang Keraton ditanam di bumi yang terbelah.
Gangguan di Peraduan BAGINDA merasa gundah. Bumi Majapahit telah terbelah. Bagian timur telah diserahkan ke tangan Senopati
Sepuh Aria Wiraraja. Untuk sementara satu masalah tuntas sudah.
Walau dihitung secara perimbangan kekuatan dan atau kekuasaan, wilayah timur
bukan bahaya, akan tetapi bagi Baginda Raja ini merupakan langkah kalah.
Pembagian wilayah ini mempunyai arti bahwa keutuhan dan kebesaran Keraton yang
sedang diangkat terasa goyah.
Baginda makin gelisah. Satu demi satu bata yang disusun sebagai bangunan megah seperti lepas. Atau
menunjukkan tanda-tanda keretakan yang parah.
Adipati Lawe, senopati unggulan yang diakui darma bekti dan kepahlawanannya
telah tewas. Juga Senopati Mahisa Anabrang yang telah mempersembahkan dua putri
dari tlatah Melayu. Yang lebih membuat parah ialah kenyataan bahwa dalam hal ini
menyangkut Senopati Lembu Sora yang dihormati. Senopati andalan yang banyak jasanya semasa merebut
Singasari dan mendirikan takhta.
Baginda merasa tak bisa tinggal diam.
Cepat atau lambat, Mpu Sora harus ditindak.
Akan tetapi juga berarti keretakan dari dalam akan makin menganga.
Makin banyak bata-bata pondasi yang menulangi kebesaran Keraton terangkat.
Dalam keadaan demikian, Baginda Raja mengurung diri dalam kamar peraduannya.
Satu-satunya yang bisa menemani adalah Permaisuri Tribhuana yang datang tidak
hanya menghibur Baginda, akan tetapi bisa diajak bicara.
"Yayi Ratu, aku adalah suamimu. Aku juga rajamu yang harus kausembah. Tetapi aku
juga manusia seperti yang lainnya. Aku juga lelaki yang bisa bingung dan
membutuhkan pendapat. "Di antara sekian banyak permaisuriku, kamu satu-satunya yang mengerti tata cara
Keraton. Cobalah katakan, apa yang seharusnya kulakukan pada saat seperti
sekarang ini?" Permaisuri Tribhuana menghaturkan sembah.
"Hamba tak pantas memberikan pendapat, duh, Junjungan Seluruh Keraton Majapahit.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bukan hanya karena pengetahuan hamba terbatas, akan tetapi sesungguhnya hamba
tak mengetahui apa yang terjadi di luar dinding kamar kaputren dan kamar
peraduan ini. Hanya dua tempat inilah yang bisa hamba lihat."
"Kamu keliru, Yayi Ratu.
"Aku tak akan memanggil permaisuriku yang lain, kalau ingin mendengarkan
pendapat. Kamulah satu-satunya yang bisa dan berani mengutarakan.
"Katakan, Yayi Ratu."
Permaisuri Tribhuana menyembah lagi.
Duduk bergeming di lantai.
Apa yang bisa dilaporkan"
Memang ia mengerti tata cara Keraton. Ia mengenal dan bisa menangkap suasana
yang menghangat tapi berkabut. Ia bisa cepat merasakan dan melihat bayangan di
belakang suatu peristiwa. Akan tetapi yang dihaturkan adalah hal yang
sebenarnya. Apa yang diketahui hanyalah seputar kamar kaputren - tempat para putri, serta
kamar peraduan. Makin lama makin tidak mengetahui perkembangan di luar.
Ini semua berbeda dari zaman ketika Baginda Raja Ayahanda Sri Kertanegara dulu.
Kalau ia banyak diajak bicara, ia merasa bisa memberi jawaban. Karena Sri
Kertanegara membiarkan mengetahui dan atau mendengarkan pembicaraan-pembicaraan
yang menyangkut peristiwa yang terjadi.
Sementara Baginda Raja yang menjadi suaminya sekarang ini lebih banyak
mengurungnya. Namun anggapan bahwa dirinya mahalalila atau luwes dalam bertutur kata masih
belum tanggal. "Yayi Ratu, aku memanggilmu kemari tidak untuk membisu."
Permaisuri Tribhuana menyembah lagi.
Apa yang diketahui sekarang ini hanyalah peristiwa yang dilaporkan oleh
Halayudha. Hanya Senopati Halayudha-lah yang leluasa menemui di kaputren untuk
menyampaikan undangan Baginda. Dalam waktu yang pendek, Halayudha berbaik hati
menceritakan apa yang terjadi.
"Hamba merasakan kegelisahan dan udara sangat panas di sekitar Keraton, sampai
terasa gemanya dalam kamar peraduan yang biasanya tenteram ini.
"Bisa jadi karena bau amis keris Kebo Dendeng belum sepenuhnya terusir. Karena
keris itu masih bau darah."
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Permaisuri Tribhuana hanya mengulang apa yang dikatakan Halayudha.
Yang mengatakan bahwa kegelisahan di antara para senopati makin meninggi, karena
Baginda Raja tidak segera mengambil tindakan terhadap Senopati Sora. Ini membuat
kepatuhan kepada Baginda Raja bisa bergoyang. Karena Baginda dianggap berbuat
pilih kasih dalam menjalankan perundang-undangan Keraton yang sudah ditulis
secara jelas. Adalah sangat mustahil seorang muda seperti Mahisa Taruna sampai berani mengasah
pedang sambil sesumbar. Halayudha sempat pula membisikkan bahwa hal yang terbaik memang Baginda
menghukum Mpu Sora. Sesuai dengan tata krama dalam kitab Kutara Manawa.
"Kamu pun berpikiran seperti itu"
"Aku bisa memerintahkan hukuman sekarang ini juga. Tetapi aku akan dianggap buta
kalau harus menghukum mati Mpu Sora.
"Yayi Ratu, sedangkan pohon maja tahu membalas budi luhur kebaikan tanah.
Walaupun pohon maja hanya bisa memberikan buah yang pahit dan memabukkan, akan
tetapi itu diberikan kepada bumi sebagai balas budi.
"Menghukum mati Mpu Sora ibarat kata seperti memutuskan salah satu jariku
sendiri." Permaisuri Tribhuana ingat bahwa Halayudha pun pernah menceritakan keberatan
Baginda. Menurut kata-kata Halayudha,
"Duh, Permaisuri yang paling dicintai dan dihormati Baginda, sesungguhnyalah
Baginda Raja berhati luhur dan mulia. Akan terasa beban berat bila Baginda
sampai menjatuhkan hukuman seperti dalam pupuh astadusta. Ibarat kata memutus
jari sendiri. Akan tetapi barangkali lebih baik kehilangan satu jari daripada
satu tangan. "Maaf, hamba berkata lancang. Akan tetapi sesungguhnya hamba hanya mencoba
membayangkan betapa berat hati Baginda yang Mulia.
Yang pasti hal ini akan mengganggu ketenteraman dan kenyamanan ranjang
peraduan." "Senopati Halayudha, kenapa kamu ceritakan ini semua padaku?"
"Maaf, Gusti Permaisuri.
"Menurut pikiran hamba yang picik, hanya Permaisuri Tribhuana-lah satu-satunya
yang dimintai pertimbangan oleh Baginda. Karena Gusti Permaisuri yang paling
arif dan dewasa. "Hamba menghaturkan ini semata-mata ingin sedikit - kalau mungkin - mengurangi
kegelisahan Baginda, karena di saat seperti
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
sekarang ini Baginda membutuhkan seseorang yang berani dan bisa mengutarakan
secara tepat. "Tak ada orang lain, selain Gusti Permaisuri.
"Mahapatih Nambi pun tidak diajak bicara mengenai hal ini. Apalagi senopati yang
lainnya. Apalagi hamba yang hanya alas kaki Baginda."
"Aku bisa mengerti maksudmu, Halayudha."
"Sungguh luhur dan luas pandangan Gusti Permaisuri."
Halayudha menyembah, menunduk, dan melanjutkan kembali,
"Minggatnya - maafkan istilah hamba yang kasar, akan tetapi begitulah sesungguhnya
- Senopati Sepuh tak bisa dibiarkan berlanjut.
Membawa pengaruh yang buruk bagi kebesaran Keraton. Karena Mahapatih Nambi akan
merasa berkuasa. Mahapatih lupa perkataan Baginda bahwa anak kucing tak akan
menjadi harimau di kelak kemudian hari.
"Memang dengan tersingkirnya Senopati Sora, Mahapatih makin kuat kedudukannya,
karena merasa tak ada orang kedua di belakangnya."
"Apakah Mahapatih Nambi merasa tersaingi oleh Senopati Sora?"
Halayudha menunduk. Menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah.
"Ini buah pikiran hamba yang sangat picik. Semata-mata dugaan yang bisa salah,
Permaisuri Tribhuana. "Akan tetapi nyatanya, sejak kematian Senopati Renteng, Mahapatih tidak
menunjukkan tanda-tanda untuk mengusut tuntas masalah ini.
Bahkan agaknya sengaja mendiamkan saja. Padahal sebagai pimpinan telik sandi,
seharusnya Mahapatih mengetahui segala sesuatu yang terjadi.
"Ibarat kata seekor nyamuk pun dikenali kalau masuk ke dalam Keraton."
"Saya bisa merasakan bahwa Baginda sangat berat menentukan pilihan."
"Sesungguhnya yang hamba sesalkan ialah justru kasih sayang dan keluhuran budi
Baginda Raja disalahgunakan sebagai tepa selira, tenggang rasa yang melemahkan
Baginda. "Hamba percaya bahwa Baginda Raja sangat kuat dan dipayungi oleh kebijakan Dewa
Agung dan tak akan goyah, akan tetapi bara yang mulai meletik tak bisa
dibiarkan." "Menurut pendapatmu, apa yang sebaiknya Baginda lakukan?"
Halayudha bersorak dalam hati.
Tapi kepalanya menggeleng.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Hamba tak berani mengutarakan, Gusti Permaisuri."
Lepas Busana Senopati SEWAKTU Permaisuri Tribhuana mendesak, Halayudha menjawab lirih,
"Pikiran hamba sangat pendek. Tak lebih jauh dari batang hidung hamba yang pesek
ini. "Tapi sesungguhnya memang hanya ini yang bisa hamba haturkan."
Akan cukup menenteramkan kegelisahan bilamana Senopati Sora dihukum lepas busana
senopati." Dengan kata lain, Senopati Sora dicopot segala pangkat dan derajatnya sebagai
senopati. Diturunkan pangkatnya ke titik yang paling rendah!
Dalam keprajuritan hal itu bisa diterima.
Juga Permaisuri Tribhuana bisa menerima. Setidaknya ini lebih baik daripada
dihukum mati. Dengan hukuman "lepas busana senopati", masih ada kemungkinan
untuk diberi ampunan. Berarti masih ada kesempatan memperbaiki diri, dan ada
kemungkinan diterima pasuwitan atau pengabdiannya. Sehingga pangkat dan
derajatnya bisa disandang kembali.
Masuk akal sebagai jalan tengah.
Permaisuri Tribhuana memuji buah pikiran Halayudha.
Barangkali akan terbalik ucapan Tribhuana andai mengetahui bahwa sesungguhnya
Halayudha sedang mengusulkan hukuman yang jauh lebih kejam.
Hukuman yang paling hina!
Yang akan membuat Senopati Sora malu seumur hidupnya!
Tribhuana, walaupun jauh jangkauan pikirannya, akan tetapi tidak merasakan
kehidupan sebagai senopati, atau kehidupan prajurit yang sesungguhnya.
Pengetahuannya selama ini diperoleh dari berbagai kitab.
Inilah justru yang dimanfaatkan Halayudha.
Karena biar bagaimanapun, Senopati Sora adalah ksatria sejati.
Julukan empu menunjukkan gelar yang terhormat sebagai tetua.
Bagi seorang ksatria sejati, dicopot dari jabatannya secara tidak hormat lebih
menyakitkan daripada dihukum mati. Lebih memalukan dan membuatnya hina.
Bukan hanya seumur hidupnya. Sampai ke anak-cucunya!
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sama saja artinya menguliti Senopati Sora secara hidup-hidup.
Permaisuri Tribhuana, yang tak melihat liku-liku keculasan pikiran Halayudha,
menyampaikan hal ini kepada Baginda. Dan Baginda tak menaruh curiga sedikit pun,
bahwa Halayudha berada di belakang saran ini.
Maka Baginda kemudian memerlukan bertanya langsung kepada Halayudha.
Berpura-pura tidak mengetahui apa yang dibicarakan dengan Permaisuri Tribhuana,
Halayudha menyembah hingga hampir menyentuh lantai di mana kaki Baginda berada.
"Kalau hamba boleh mengutarakan kepicikan, duh, Baginda Raja yang dipilih Dewa
yang Maha bijak, hamba tidak ingin melihat Senopati Sora menjalani hukuman mati.
"Hamba mengerti bahwa Senopati Sora sangat terburu nafsu dan tidak mematuhi
Kitab Agama yang dijadikan sumber pengatur tata krama.
"Namun, perkenankanlah Baginda tidak terbawa hawa panas."
"Lalu?" Halayudha menyembah makin rendah.
"Perkenankan Baginda memberi kesempatan Senopati Sora menebus semua dosa dan
kesalahannya seperti manusia biasa."
Baginda Raja mengangguk. "Dua suara yang sama maksudnya.
"Mungkin kalau kutanyakan kepada yang lain, akan sama juga jawabannya.
"Baik, kelihatannya ini jalan keluar yang baik, Aku tak ingin tindakan Senopati
Sepuh ataupun Senopati Lembu Sora menjadi contoh.
"Dalam pasewakan yang akan datang, akan kuambil keputusan.
Terima kasih, Halayudha, tidak percuma aku mengangkatmu sebagai senopati
pendamping." Begitu keluar dari kamar peraduan, malam itu juga Halayudha menemui Mahapatih.
Merasa bahwa Halayudha adalah orang dekat Baginda, Mahapatih memerlukan untuk
menerima secara berdua saja.
Setelah menyampaikan sembah dan tata pergaulan sebagaimana biasanya, Halayudha
menceritakan apa yang didengar dari pembicaraan Baginda Raja dengan Permaisuri
Tribhuana.

Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Baginda begitu murka, duh, Mahapatih yang perkasa. Begitu murkanya Baginda,
sehingga malam ini juga sebenarnya ingin segera melepas pakaian senopati yang
dikenakan Senopati Sora. "Tapi sesungguhnya Baginda masih menyimpan suatu keluhuran budi, dan berharap
Senopati Sora yang terang bersalah melakukan sendiri hal ini."
Mahapatih diam tak bereaksi.
"Saya mendengar bahwa besok atau lusa Mahapatih akan dipanggil menghadap Baginda
untuk mendengar penjelasan hal ini.
"Maafkan kalau saya berbuat lancang, akan tetapi sesungguhnya ini muncul dari
niatan hati saya yang paling dalam, meminta Mahapatih untuk bertindak tidak ragu
dalam mengemban titah Baginda.
"Bukannya saya meragukan Mahapatih yang mahapatuh, akan tetapi karena dalam hal
ini bukan tidak mungkin terjadi sedikit ketegangan.
Bahkan mungkin sampai perlu mengasah senjata."
"Halayudha, Paman Senopati yang penuh perhitungan. Alasan apa Paman Senopati
mengatakan perlu mengasah senjata?"
"Maaf, ini semata-mata hanya dari perhitungan, bahwa Senopati Sora agaknya
sangat terikat erat dengan pangkat dan jabatannya yang sekarang ini, ataupun
nanti sebagai pendamping Putra Mahkota.
"Dalam pikiran saya, kalau jelas mengakui kesalahan yang bisa dibuktikan semua
orang, kenapa Senopati Sora tidak melepaskan busana senopati atau setidaknya
mengundurkan diri secara terhormat"
"Kenapa justru berdiam diri, sambil menyiapkan pengikutnya yang setia, seperti
juga memanggil Mpu Renteng yang tewas dalam perjalanan?"
Mahapatih mengangguk. Bisa mengerti pikiran Halayudha.
"Paman Senopati Halayudha, saya pribadi akan menghadap Baginda.
Sampaikan dan atur waktu. Saya ingin menegaskan bahwa putusan apa pun yang
diberikan Baginda, akan saya junjung tinggi.
"Dengan mendahului sowan sebelum pertemuan atau dipanggil nanti, saya hanya
ingin menguatkan pendapat, bahwa kami para senopati berada di belakang Baginda
Raja." Halayudha mengangguk. Sorot matanya menggambarkan kekaguman dan pemujaan.
"Mahapatih sungguh luar biasa.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sebisa mungkin saya akan mencoba menyampaikan kepada Baginda Raja pada saat
yang tepat. Karena saat ini Baginda Raja sedang bermuram durja di kamar
peraduan, saya akan menunggu saat yang baik untuk menyampaikannya."
"Terima kasih atas kunjungan Paman Senopati."
Kembali ke dalam Keraton, Halayudha segera masuk ke kamarnya.
Disusunnya sebuah nawala, surat-surat yang menerangkan kejadian di dalam
Keraton. Surat itu dikirim langsung ke Senopati Sora dan dibawa salah seorang
prajurit yang dipercaya. Halayudha menjelaskan kepada Senopati Sora bahwa sesungguhnya Baginda Raja tak
berkenan menjatuhkan hukuman kepada Senopati Sora mengingat jasa-jasa Senopati,
dan mengingat bahwa kejadian yang membawa kematian Senopati Anabrang bukan
kesengajaan. Akan tetapi karena desakan Mahisa Taruna yang didukung sepenuhnya oleh
Mahapatih, Baginda tak bisa bertindak lain.
Halayudha menjelaskan bahwa ia sangat tidak setuju dan sangat menentang hukuman
"lepas busana senopati", akan tetapi ia malah dipencilkan dan dianggap mendukung
Senopati Sora. "Duh, Senopati Sora, padahal niatan Mahapatih sudah jelas. Hanya
ingin menyingkirkan Senopati Sora dengan cara yang sangat menjijikkan, dengan
cara yang paling tidak terhormat.
"Nawala, surat keterangan, ini saya tulis seperti juga memasang tali jerat ke
leher saya. Akan tetapi saya melakukannya karena saya tak bisa mendustai isi
hati saya yang sejati. "Bahwa dalam hal ini ada usaha-usaha yang ditutupi kabut tetapi mudah diterka.
Seekor serigala memakai bulu kambing, tetap tercium bau busuknya.
"Saya sendiri barangkali tak bisa menatap matahari esok karena tindakan ini.
Akan tetapi saya tak menyesal kalau sampai nawala ini terbaca selain oleh
Senopati Agung Sora. Karena saya telah mengeluarkan apa yang ingin saya
sampaikan. "Sampai saat saya menuliskan ini semua, Baginda masih mengingat jasa Senopati
Agung Sora. Akan tetapi gerak-gerik Mahapatih yang memakai tangan Mahisa Taruna
yang bau kencur sesungguhnya perlu diwaspadai.
"Semoga Dewa yang Maha tahu selalu melindungi Senopati Agung Sora, karena
sesungguhnya hal ini juga berarti melindungi Keraton, bumi yang dihuni leluhur."
Halayudha kaget sewaktu selesai menitipkan surat kepada Dyah Embang, prajurit
kepercayaannya, merasa ada angin lain dalam Keraton.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapa kamu?" Halayudha bersiap. Kedua tangan menggeletar, menyimpan tenaga yang siap
dimuntahkan. Siapa yang berani mati menyusup ke Keraton"
Sarang Naga yang Sesungguhnya
HALAYUDHA mengawasi sekitar dengan cermat.
Sebagai senopati yang lahir dan dewasa dengan segala intrik dan tipu muslihat,
kecurigaannya sudah lahir dengan sendirinya. Seperti juga napas atau denyut
jantungnya. Segala sesuatu penuh perhitungan untung-rugi sekecil-kecilnya.
Perubahan alis mata menjadi lebih sedih atau kagum, termasuk gerakan yang
disadari dan diperhitungkan.
Maka kalau ada sesuatu yang sedikit berbeda, Halayudha tanggap.
Seperti sekarang ini Begitu memerintahkan Dyah Embang, Halayudha merasa ada bayangan bergerak entah
di mana. Tidak, ia tidak sepenuhnya melihat.
Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada suatu bayangan.
Mungkinkah ini bayangan yang ada dalam isi kepalanya yang lagi penuh"
Bisa jadi, jawab Halayudha dalam hati.
Karena nyatanya tak ada yang lain sedikit pun. Lagi pula ruangan ini berada
dalam lingkungan Keraton. Di bagian dalam.
Bukan hanya prajurit, bahkan senopati pun tak sembarangan melewati ruangan ini.
Kalau ada jalan yang lain - dan selalu ada - pasti akan memilih jalan bukan ruangan
ini. Seseorang yang berada di ruang ini bisa dicurigai dan bisa dihukum mati
karena alasan mengancam dan atau mengganggu Baginda Raja.
Dyah Embang pun akan mendapat hukuman yang sama jika berada di ruangan ini.
Hanya tiga orang yang bisa secara mendadak muncul di ruangan ini tanpa
dicurigai. Yang pertama Baginda Raja sendiri. Rasanya tidak mungkin Baginda Raja muncul
begitu saja dan berjalan-jalan di tengah malam seperti sekarang ini.
Yang kedua adalah Mahapatih. Sebagai pelaksana harian yang bertanggung jawab
atas masalah keamanan dan ketertiban Keraton, Mahapatih bisa berada di mana
saja. Namun, kalau Mahapatih berada di ruangan ini secara pribadi, agak kurang
masuk akal. Ataukah Mahapatih mulai mencurigainya" Apakah Mahapatih mulai
mengendus bau tidak sedap yang dilakukan" Halayudha merasa keringat dinginnya
membanjir. Jika benar begitu, ia bagaikan sedang mengalungkan jerat
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
ke leher sendiri seperti yang dituliskannya kepada Mpu Sora. Tapi Halayudha
tidak kuatir kalau sampai suratnya jatuh ke tangan Mahapatih. Dalam
perhitungannya, yang tersirat dalam surat itu, Mpu Sora pasti akan menghancurkan
surat itu. Mpu Sora terlalu luhur budinya untuk membocorkan rahasia karena ini
sama juga dengan mengadu domba. Dan itu bukan sifat Mpu Sora!
Yang ketiga adalah dirinya sendiri.
Halayudha merasa yakin bahwa yang terasa lain tadi adalah bayangannya sendiri.
Karena terlalu tegang dan terlalu banyak rencana yang sedang dijalankan.
Akan tetapi bukan Halayudha kalau ia melupakan begitu saja.
Begitu membelok ke ruangan lain, ia segera bersembunyi ke balik tiang. Menunggu
terus sambil mengerahkan kemampuannya kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan.
Kesiuran angin sedikit saja, pasti membuatnya waspada dan tahu apa yang terjadi.
Namun sampai waktu yang bisa digunakan untuk menghabiskan makanan, tak ada angin
tak ada bau lain. Halayudha melintasi ruangan yang agak terbuka itu, kembali ke dalam kamarnya.
Menunggu lama. Baru setelah yakin tak ada sesuatu apa, Halayudha masuk ke bawah ranjang
tidurnya. Membuka papan di situ, dan masuk ke lubang terowongan.
Menyusuri gelap. Halayudha meyakinkan dirinya kembali bahwa terowongan bawah Keraton ini tak ada
yang mengetahui. Karena ia yang membuat sendiri, dibantu para prajurit setia,
yang setelah menyelesaikan pekerjaan langsung dibunuh dengan tangannya sendiri.
Tak beda dari Dyah Embang yang kini sedang menjalankan tugas. Begitu tugas
selesai, tamat pula riwayatnya.
Terowongan bawah Keraton ini dibuat berdasarkan gua bawah Keraton di mana ia
menyimpan Nyai Demang serta ketiga Kama dari Jepun.
Memang lolosnya Nyai Demang merupakan teka-teki terbesar baginya.
Karena dalam alam pikirannya tak mungkin ada yang bisa meloloskan diri. Sehingga
selama beberapa waktu Halayudha sengaja berada dalam kamar Nyai Demang untuk
menemukan cara-cara Nyai Demang meloloskan diri.
Betapa kaget ketika Halayudha menemukan Dewa Maut yang diringkus dengan mudah.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dari Dewa Maut yang bicaranya ngacau, Halayudha memperoleh gambaran bagaimana
Nyai Demang lolos. Sejak itu bagian dapur Keraton ditutup rapat. Hanya ada satu
jalan yang dikuasai sepenuhnya oleh Halayudha.
Di dalam gua kurungan bawah Keraton, ia menahan Dewa Maut bersama ketiga Kama
dari Jepun. Halayudha belum bisa memastikan akan diapakan keempat tawanan itu.
Namun rasanya masih bisa diperas sesuatu dari mereka.
Itu akan dilakukan suatu hari.
Toh tak ada bahayanya, selama pintu masuknya dikuasai.
Mengenai ruangan di bawah ranjang tidurnya, bahkan Baginda Raja sendiri tidak
mengetahui. Karena saat itu dibuat bersamaan pembangunan Keraton. Sehingga
gundukan tanah yang berlebih tak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun.
Halayudha merasa bahwa dalam soal kecermatan dan ketelitian, ia lebih jago
daripada siapa pun yang ditemui. Hampir semua rencananya yang semula kelihatan
hampir tak masuk akal nyatanya bisa terlaksana.
Boleh disebut sempurna, kecuali lolosnya Nyai Demang yang akan segera dibereskan
jika suasana sudah mengizinkan.
Untuk semua ini, Halayudha sering memuji dirinya sendiri.
Selama ini ia belum pernah menemui orang lain yang bisa berbuat seperti dirinya.
Bahkan Naga Nareswara, yang akan didatangi sekarang ini, tak menduga rencananya
yang utuh. Halayudha merasa bahwa di atas bumi dan di bawah langit ini tak ada yang mampu
menyamainya, apalagi menandinginya!
Keyakinan mutlak kepada kemampuannya yang sempurna dalam mengatur dan
mengarahkan suasana ini menyebabkan dirinya sedikit alpa.
Bahwa sesungguhnya masih ada yang tak sepenuhnya bisa diatur.
Yaitu takdir. Inilah yang terjadi pada diri Gendhuk Tri. Bayangan yang menimbulkan suasana
angin agak berbeda tadi sebenarnya adalah imbasan dari gerakan tubuh Gendhuk
Tri! Dalam perjalanan berkelana, Gendhuk Tri akhirnya sampai ke dalam Keraton. Dengan
keinginan masuk ke kurungan bawah tanah untuk membebaskan Dewa Maut.
Bagi Gendhuk Tri, menyusup ke dalam Keraton tak menimbulkan gangguan suatu apa.
Ia pernah mengenai keadaan Keraton, yang boleh
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
dikatakan sangat banyak kemiripannya dengan Keraton Singasari yang dikenalnya.
Hanya saja Gendhuk Tri mengalami kesulitan mencari jalan masuk.
Beberapa hari berada di ruangan dalam Keraton, masih saja tak menemukan sumur di
kaputren atau bagian dapur. Namun Gendhuk Tri tidak putus asa. Ia terus
mengawasi Halayudha, sebisanya. Karena menurut Nyai Demang, Halayudha-lah yang
membawanya masuk. Dalam pikiran Gendhuk Tri, hanyalah mencari saat yang tepat untuk menawan
Halayudha dan memaksanya membebaskan Dewa Maut. Ia tak mempunyai rencana lain
yang lebih muluk. Namun rencana Gendhuk Tri menjadi berantakan, karena Halayudha ternyata sangat
sibuk dan berpindah tempat yang terjaga sempurna.
Ini semua tidak membuat Gendhuk Tri kehilangan akal.
Ia akan melawan dengan kesabaran.
Rencananya hampir berhasil sewaktu Halayudha sendirian. Namun justru saat itu
Halayudha seperti mengenali. Maka Gendhuk Tri segera menyembunyikan diri.
Menyelinap masuk ke kamar peraduan Halayudha!
Cerdik seperti seratus kancil, licik seperti seribu buaya, Halayudha tak akan
pernah menduga ada orang yang memilih persembunyian di kolong ranjang
peraduannya! Padahal pikiran Gendhuk Tri sederhana.
Dalam kamar peraduan, seperti diceritakan Nyai Demang, ia bisa memaksa lebih
leluasa. Dalam kamar peraduan, siapa yang mengira bisa dipakai sebagai tempat
persembunyian" Dan kebiasaan para senopati, selalu sendirian di dalam kamar
peraduannya. Seperti juga Baginda Raja. Hanya saat diperlukan, permaisuri atau wanita yang
lain dipanggil datang menghadap. Sesudah itu kembali lagi ke kaputren.
Terang saja waktu Halayudha menunggu di tempat persembunyiannya, tak ada yang
muncul. Karena Gendhuk Tri sudah berada dalam kamarnya.
Dan tempat persembunyian yang paling aman adalah di bawah kolong ranjang.
Sewaktu menyusup masuk ke bawah kolong, Gendhuk Tri tidak merasa sesuatu yang
aneh. Baru kemudian menyadari ada bagian bata yang bersih. Ternyata papan kayu
yang dibentuk seperti lantai.
Ketika Gendhuk Tri membuka, saat itu tubuhnya terjeblos ke bawah dan papan
lantai itu menutup sendiri.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dalam gelap, Gendhuk Tri terkesiap.
Ternyata Halayudha masuk ke bawah juga!
Raja Segala Naga DALAM kagetnya Gendhuk Tri berjalan ke depan, mengikuti lorong.
Ada kejadian yang boleh dikatakan kebetulan bagi jalan hidup Gendhuk Tri.
Dirinya pernah terkurung dalam Gua Lawang Sewu dalam jangka waktu yang cukup
lama. Sehingga tak terlalu kaget.
Maka begitu ada bagian cekungan, Gendhuk Tri segera masuk ke dalamnya.
Harap-harap cemas menunggu langkah Halayudha yang ringan.
Perhitungannya hanya satu.
Gendhuk Tri akan menyergap Halayudha lebih dulu. Pasti Halayudha tak menduga.
"Tikus celurut kenapa membuat langkah ganda?"
Gendhuk Tri merasa jantungnya copot!
Bukan karena ternyata di dalam gua di bawah kolong ranjang ada manusia lain,
akan tetapi ditilik dari suaranya jelas memiliki tenaga dalam yang luar biasa
penguasaannya. Gendhuk Tri hanya bisa membandingkannya dengan Upasara Wulung.
Upasara Wulung di saat jaya.
Ah, dalam soal mati-hidup seperti sekarang ini pikirannya masih saja ke arah
Upasara! Darah Gendhuk Tri berdesir kencang.
Kini, walaupun sifatnya yang sradak-sruduk masih terlihat, akan tetapi Gendhuk
Tri sudah jauh berbeda. Pikirannya mulai banyak terbuka sejak dirinya menyimpan
racun yang maha berbahaya.
Pikirannya mulai berhati-hati dan penuh pertimbangan.
Seperti seruan yang baru saja didengar tadi.
Dengan menyebut langkah ganda, berarti bisa diketahui bahwa setidaknya lebih
dari satu orang yang masuk!
Kalau gema dan getaran bisa diketahui secara persis, itu sungguh luar biasa.
Bahkan Halayudha sendiri tadi hanya berhenti sejenak ketika Gendhuk Tri melintas
sambil mengentengkan tubuhnya!
Tapi yang satu ini jauh di atas Halayudha.
Mendengar panggilan namanya, Halayudha segera mendekat.
Melewati tempat persembunyian Gendhuk Tri. Lurus ke arah depan.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Baru sekarang Gendhuk Tri bisa melihat segalanya lebih jelas.
Halayudha menuju ke salah satu tempat di ujung terowongan yang luas.
Di depan Halayudha yang duduk bersila sambil menyembah, nampak sesosok bayangan
yang seolah menyatu dengan tanah sekitarnya.
Gendhuk Tri hampir tak percaya pada apa yang dilihat.


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sosok itu duduk bersila, akan tetapi pantatnya tidak menyentuh tanah di
bawahnya. Seolah ada tenaga dalam yang mengganjalnya. Baru setelah berbicara
untuk kedua kalinya, perlahan-lahan tubuhnya turun menyentuh tanah.
"Kabar apa yang kaubawa sehingga kamu bolak-balik kemari?"
Gendhuk Tri menahan napas.
Ini benar-benar sarang naga yang sesungguhnya. Sumber segala sumber bahaya.
Tokoh yang ditemui Halayudha mengetahui bahwa tadi sudah ada langkah kaki
mendekat. Hanya barangkali menduga tadi adalah langkah Halayudha.
"Sembah saya kepada yang mulia Naga Nareswara, Raja Segala Naga di jagat raya
ini. "Saya datang guna memberikan laporan mengenai Mpu Sora yang sekarang tinggal
menunggu pelaksanaan untuk disingkirkan."
Sementara Halayudha menceritakan pertentangan yang berhasil diracunkan dalam
diri Mahapatih-Sora-Taruna-Baginda Raja, Gendhuk Tri mencoba memeras seluruh
kemampuannya untuk memastikan siapa yang dipanggil dengan Naga Nareswara.
Sudah jelas bagai siang hari, Naga Nareswara tokoh yang sakti mandraguna. Akan
tetapi selama ini ia tak pernah mengenai atau mendengar namanya.
Paman Jaghana juga tidak menyebut.
Kangmas Upasara juga tidak.
Ah, kenapa pikirannya ke Kangmas lagi"
Tapi memang selama ini tak pernah disinggung nama Naga Nareswara, yang diulangi
Halayudha sebagai Raja Segala Naga.
Nareswara memang bisa berarti raja. Akan tetapi selama ini, itu hanya sebutan
untuk mengatakan raja. Tidak dipakai untuk orang yang jelas bukan Baginda Raja.
Kalau ketiga Kama dari Jepun seperti bisa diketahui oleh Paman Jaghana ketika
Nyai Demang bercerita, sekarang ini boleh dikatakan belum pernah disinggung sama
sekali. Raja Segala Naga" KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tikus celurut, aku tak mau mendengar rencana-rencanamu yang busuk. Kalian semua
manusia yang busuk hatinya tapi lembut senyumnya.
"Aku hanya mau tahu apakah ksatria Jepun itu tidak membawa sesuatu.
"Ambillah Kitab Bumi, aku sudah muak membacanya.
"Kalian hanya memakai gaya berbeda yang lebih memusingkan."
Sambil mengerahkan kemampuannya untuk mengatur pernapasan, Gendhuk Tri masih
bertanya-tanya. Raja Segala Naga" Begitu kasar memaki Halayudha sebagai tikus celurut, tikus kecil yang baunya
busuk. Mengatakan Kitab Bumi tak ada apa-apanya.
Raja Segala Naga" Rasanya... "Tikus celurut, aku tak peduli apakah Lawe mati, Anabrang mati, atau siapa lagi
yang mati, atau siapa lagi yang hidup. Bagiku mereka sama saja. Akan mudah
kutaklukkan. "Kalau kamu ingin menjadi mahapatih, itu urusanmu sendiri.
"Aku hanya ingin mengenal hati tikus celurut yang sesungguhnya.
Supaya aku bisa memenggal kepalanya, dan menunjukkan kepada Kaisar, bahwa tidak
seluruh anak buahku gagal menjalankan tugas.
"Bahwa masih ada aku, Raja Segala Naga.
"Kamu paham?" "Sepenuhnya saya mengerti.
"Tapi di Keraton saat ini sedang kisruh, sedang banyak persoalan.
Terserah Naga Nareswara, apakah Paduka yang Mulia ingin bergerak sekarang atau
menunggu waktu. "Sebab jika Yang Mulia memenggal kepala raja kami, Yang Mulia Raja Segala Naga
akan tersita waktunya untuk memenggal kepala seluruh penduduk yang tak akan
membiarkan Yang Mulia pergi.
"Saya percaya Yang Mulia Raja Segala Naga bisa mengatasi, akan tetapi ini
pekerjaan yang merepotkan. Kalau saya sudah menjadi mahapatih, segalanya akan
lancar. "Yang Mulia Naga Nareswara telah menunggu sekian lama, kenapa tidak mau menunggu
sebentar lagi, saat purnama segera tiba"
"Bukankah purnama pasti tiba"
"Bukankah saya tak mungkin lepas dari Yang Mulia?"
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sungguh merdu kata-katamu. Kalian bangsa tikus celurut yang pandai menyusun
kata-kata merdu di telinga."
Gendhuk Tri menggigil. Belum pernah ia mendengar hinaan begitu membangkitkan semua bulu tubuhnya.
Gendhuk Tri menggigil. Karena kini muncul kesadaran baru. Naga Nareswara mengaku sebagai gegeduging
para Naga. Ini berarti Naga Nareswara yang bisa duduk di tengah udara ini guru
dari ketiga Naga yang perkasa. Ketiga senopati perang Tartar yang sungguh
menggetarkan. Mereka bertiga adalah Naga Kembar, Naga Wolak-Walik, serta Naga
Murka. Yang diketahui Gendhuk Tri, ketiga senopati perang Tartar itu pemegang
pucuk pimpinan tertinggi utusan yang datang ke tanah Jawa. Ternyata masih ada
gembongnya. Yang bersembunyi. Yang menyebut dirinya Raja Segala Naga.
Masuk akal kalau mengaku sebagai Raja Segala Naga. Karena kalau ketiga Naga itu
saja sudah membuat seluruh ksatria mengerahkan tenaga, apalagi gurunya!
Gendhuk Tri bisa mengerti karena secara jelas mengetahui kehebatan mereka.
Dirinya pernah ditawan. Hanya jago-jago kelas satu yang mampu mengimbangi mereka.
Bahkan Ngabehi Pandu, guru Upasara Wulung - lagi-lagi Kangmas terucapkan - gugur
bersama Kiai Sangga Langit. Salah seorang pendeta yang datang bersama Naga
Murka, Naga Wolak-Walik, serta Naga Kembar.
Dan selama ini menurut sejarah yang terdengar adalah pujian bahwa senopati
Tartar adalah senopatinya para senopati. Karena mereka terbukti bisa menaklukkan
seluruh jagat. Dari tempat matahari terbit sampai tempat matahari terbenam.
Gendhuk Tri menggigil. Karena ternyata Naga Nareswara masih menyimpan dendam dan akan membawa kepala
Baginda Raja, sebagai persembahan bagi Kaisar Tartar.
Karena ternyata Halayudha berada di bawah pengaruh total Naga Nareswara. Bisa
jadi ada semacam aji sirep yang luar biasa yang bisa dipakai Naga Nareswara
untuk mengendalikan Halayudha.
Bukan tidak mungkin, kalau mengingat Halayudha juga banyak menggunakan aji
sirep. Termasuk ketika menguasai Nyai Demang.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sumber dari semua intrik, asal semua kebusukan diketahui. Akan tetapi Gendhuk
Tri juga menggigil karena praktis tak ada gunanya.
Kepada siapa ia melaporkan"
Apa mungkin bisa lolos"
Di sarang Raja Segala Naga, neraka mungkin masih terasa dingin.
Gendhuk Tri menggigil. Kiai Sambartaka Samar-Samar Gendhuk Tri bisa melihat lebih jelas.
Naga Nareswara mempunyai wajah bulat. Seperti Jaghana. Hanya saja alis matanya
tumbuh sangat panjang. Yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya ialah ternyata
alis itu berbeda warnanya. Sebelah kiri seluruhnya putih, sebelah kanan
seluruhnya hitam legam. Pakaian yang dikenakan seperti dikerudungkan begitu
saja, warnanya kuning pucat dengan sulaman naga di bagian ujung lengan. Bagian
tengah diikat oleh kain yang juga bersulamkan naga yang tengah menelan matahari.
Daun telinganya sangat lebar.
Begitu juga jidatnya, karena rambutnya diikat ke belakang. Kedua tangannya
seperti sikap tengah bersemadi. Ada tongkat keemasan yang di ujungnya tergambar
pula naga. Raja Segala Naga, dengan tongkat emas.
"Tikus celurut, kamu mempunyai kesabaran yang tak dimiliki bangsa lain. Kenapa
tidak kamu gebuk saja Nambi, kalau kamu sudah bisa mengimbangi ilmunya?"
Halayudha tidak segera menjawab.
"Kalau hanya bersandar pada ilmu kanuragan, saya telah lama bisa mengalahkan
Mahapatih Nambi. Akan tetapi kemenangan tidak akan berada di tangan saya.
"Yang Mulia Raja Segala Naga tahu sendiri, tiga Naga dari Tartar ditambah Kiai
Sangga Langit tak dapat dikalahkan para ksatria dari mana pun.
"Nyatanya bisa dipecundangi dan didepak ke laut.
"Dalam perbendaharaan budaya kami, ada suatu kata untuk bersabar. Aja nggege
mangsa, jangan mempercepat musim. Semua ada saatnya.
"Buah maja tetap pahit, baik ketika masih muda ataupun sudah tua.
Akan tetapi sepahit-pahitnya saat buah itu tua, lebih pahit saat muda.
"Buah kelapa tetap bisa dimakan, baik ketika masih muda ataupun sudah tua. Akan
tetapi kalau mengharap isi buah yang putih lebih
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
banyak, kita tunggu sampai tua. Kalau menginginkan air buahnya, kita petik
selagi muda. "Buah cabe, tetap pedas, baik ketika muda maupun tua. Tetapi sepedas-pedasnya
yang muda, masih tetap pedas yang tua. Alam sendiri memberi warna, tanda masak.
"Yang paling tepat adalah menuai di saat yang tepat, untuk mengambil apa yang
dibutuhkan. "Untuk meraih kemenangan, Yang Mulia Raja Segala Naga hanya menghadapi satu
lawan utama. Upasara Wulung. Tapi untuk menjadi yang nomor satu, benar-benar
Raja Segala Naga dan binatang hutan yang lain, harus bisa memenggal kepala.
"Memenggal kepala pun, ada saat yang tepat.
"Memetik buah maja pun, ada saat yang tepat. Agar bisa mengambil buahnya, tanpa
mengotori tangan terkena getah."
Gendhuk Tri bisa mendengarkan dengan jelas.
Luar biasa culasnya Halayudha ini. Secara sengaja memakai nama Upasara Wulung
untuk menghalangi niatan Naga Nareswara. Di samping memakai bahasa yang muluk-
meliuk dengan segala pengertian mengenai waktu dalam tata budaya.
"Aku suka omonganmu, tikus celurut.
"Tetapi kamu keliru kalau hanya menganggap Upasara Wulung satu-satunya lawanku.
"Sebentar lagi pasti akan muncul orang Hindia yang akan meramaikan perebutan
gelar ksatria lelananging jagat."
Gendhuk Tri lagi-lagi bercekat.
Istilah yang digunakan Naga Nareswara dalam banyak hal tidak tepat.
Akan tetapi pengertian dan maknanya bisa dimengerti.
Selama ini memang tidak ada gelar ksatria lelananging jagat, yang bisa diartikan
sebagai ksatria yang paling jantan di seluruh jagat. Akan tetapi bahwa dalam
dunia persilatan ada perebutan sebutan pendekar paling sakti, adalah hal yang
lumrah. Gendhuk Tri mempertajam pendengarannya.
"Di tanah Jawa ini sebentar lagi akan terjadi pertemuan puncak dari segala
puncak ksatria yang datang dari berbagai arah mata angin.
"Kamu, tikus celurut, tak tahu hal ini. Kamu hanya tahu bagaimana mengadu domba
orang dan merebut pangkat serta anak-istrinya."
Halayudha menggeleng lemah.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Untuk apa saya mengikuti perebutan itu, kalau menyentuh Raja Segala Naga saja
tak bisa?" "Kata-katamu sungguh berbisa.
"Tapi itu urusanmu. "Uruslah sendiri. "Saat ini kita masih bisa bekerja sama. Kamu mencukupi kebutuhanku, dan aku
menyiapkan pertarungan sakti yang akan datang. Saat itu seluruh jagat akan
mengakui siapa sesungguhnya lelananging jagat ini. Dan Kaisar akan menganggapku
sebagai senopatinya yang sejati. Yang telah menaklukkan seluruh mata angin."
"Dan keraton ini, di bawah pimpinanku, akan mengibarkan panji-panji Tartar."
"Aku tak peduli. "Aku telah menunggu sekian lama. Kalau Kama Kangkam telah muncul, pasti sebentar
lagi Kiai Sambartaka akan muncul. Karena kalau Kama Kangkam sudah menampakkan
diri, berarti ia telah mengetahui aku ada di sekitar sini."
Lagi-lagi nama yang tak dikenal Gendhuk Tri.
Tetapi kalau hanya didengar dari namanya, dan disebut dengan keseganan tertentu,
pasti mempunyai ilmu yang setara. Nama Sambartaka bisa diartikan semua hancur-
hancuran atau juga kiamat!
Kalau sebutan Raja Segala Naga saja sudah nampak aneh karena tak biasa
dipongahkan, kini ada lagi sebutan Kiai Kiamat!
Gendhuk Tri juga menyadari bahwa Naga Nareswara adalah nama yang dipakai di
tanah Jawa. Sehingga terdengar agak janggal. Kiai Sambartaka, kalau benar dari
tlatah Hindia, pasti juga nama yang disesuaikan dengan sebutan di tempat ini.
Tidak sepenuhnya tepat. Akan tetapi cukup memberi gambaran dan bagaimana kira-
kiranya. "Aku juga heran, kenapa justru di tanah yang selalu kehujanan dan matahari bisa
menghilangkan bayangan tubuh kita saat tengah hari dipilih sebagai tempat
pertemuan. "Ini memang akal tersembunyi dari mulut manis Eyang Sepuh."
Kalau saat itu Gendhuk Tri tengah menelan ludah, mungkin akan tersedak.
Bagaimana tidak, kalau tokoh pepunden, tokoh pujaan yang dihormati, disebut-
sebut" KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sewaktu Kaisar Tartar ingin menguasai dunia, waktu itulah kami semua ingin
membuktikan bahwa sesungguhnya ilmu yang sejati itu berasal dari kami.
"Para pendeta dari tlatah Hindia sesumbar sumber segala ilmu silat berasal dari
negerinya. Barangkali ada benarnya. Tetapi di negerikulah ilmu itu menjadi ilmu
yang sejati. "Kami menyebutnya sebagai ilmu Jalan Budha, sedangkan ksatria Jepun di bawah
pimpinan Kama Kangkam juga menyebut nama itu dengan tambahan Zen ataupun laku,
atau juga koan. Kiai Sambartaka menyebut dengan Tepukan Satu Tangan, dan Eyang
Sepuh mengatakan hal yang kurang-lebih sama, dengan embel-embel dari Kitab Bumi.
"Aku bisa menyebutkan kitabku sendiri.
"Kama Kangkam bisa menyebutkan kitabnya sendiri.
"Kiai Sambartaka bisa menyebutkan kitabnya sendiri.
"Sekarang saatnya membuktikan ilmu siapa yang paling murni, yang harus diakui.
"Kami sudah merencanakan suatu pertemuan bersama, dan Eyang Sepuh yang akan
mewakili tanah Jawa. Jauh sebelum secara resmi sebagai tamu negara rombonganku
datang, aku sudah berada di tanah ini. Seperti juga Kama Kangkam dan Kiai
Sambartaka. Semua terpikat omongan manis Eyang Sepuh yang mengatakan telah
membandingkan semua kitab dan menganggap, untuk tanah Jawa, Kitab Bumi yang tak
bisa ditandingi. "Kami datang untuk membuktikan.
"Tapi sudah kukatakan, kalian hanya bisa pamer bermulut manis.
Begitu kami semua datang, Eyang Sepuh menghilang. Tak adakah yang lebih pengecut
dari semua itu" "Kini yang dimajukan adalah bocah ingusan yang bernama Upasara Wulung. Tapi
karena ia menjadi pemimpin Perguruan Awan dan telah mempelajari Kitab Bumi untuk
menggasak Naga-Naga dari Tartar, aku tak berkeberatan menghadapinya."
Lain yang dipikir Gendhuk Tri, lain pula jalan pikiran Halayudha.
Kalau Gendhuk Tri gusar karena Upasara dikatakan anak ingusan, Halayudha
berpikir tentang imbangan kekuatan.
Jelas Upasara Wulung tak bisa dijagokan.
Masih ada Kama Kangkam, dan kedua muridnya. Kalau kemudian juga muncul Kiai
Sambartaka, ia juga akan mengatur agar pertarungan antar mereka berhasil
memusnahkan ketiganya! Ini jelas tidak mudah, karena yang dihadapi adalah jagonya jago.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kama Kangkam bisa ditekuk dengan tipu muslihat. Akan tetapi bukan tidak mungkin
akan dicarikan saat yang tepat untuk menggasak Naga Nareswara.
Tapi di mana Kiai Sambartaka"
Dan apakah adatnya tidak lebih gawat dari Kama Kangkam atau Naga Nareswara"
Kalau semua ini bisa dipusatkan, jalan terang di depannya!
Senja Kala Dini Hari GENDHUK Tri hampir tak bisa menahan keperihan.
Menggurat luka di batinnya.
Alangkah bedanya keadaan sekarang ini. Tak ubahnya perbedaan sinar matahari.
Sama-sama hangat dan tidak panas, akan tetapi hangatnya sinar pagi menandai
lahirnya hari panjang yang gemilang.
Sementara hangatnya sinar matahari senja akan bersambung dengan kegelapan.
Belum pernah sepanjang hidupnya Gendhuk Tri merasa bahwa ia begitu mencintai
bumi yang diinjak seperti sekarang ini.
Belum pernah ia begitu prihatin dengan tanah kelahirannya seperti sekarang ini.
Inilah yang membuatnya makin berduka.
Ketika Eyang Sepuh memimpin Perguruan Awan, wawasan dan jangkauannya meliputi ke


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

segala tempat di mana matahari bersinar.
Seiring dengan Baginda Raja Sri Kertanegara yang memperluas cakrawala, Eyang
Sepuh juga mengangkat derajat para ksatria dan pendeta. Bukan hanya kekuatan
Keraton yang menggema, tetapi juga kekuatan batin para ksatria dan pendeta yang
luhur budinya. Dengan kehadiran Eyang Sepuh di Perguruan Awan, Tepukan Satu Tangan ternyata
bisa menggema dan diakui oleh para ksatria di belahan bumi yang lain, baik dari
Negeri Cina yang menguasai pasukan Tartar, Jepun, maupun Hindia. Dan termasuk
sangat diperhitungkan, karena untuk membuktikan siapa yang paling murni
mempelajari kitab yang disengketakan itu, mereka perlu datang sendiri.
Sungguh masa yang gemilang.
Eyang Sepuh telah mengawali dengan langkah-langkah besar dengan pandangan yang
jauh. Gendhuk Tri merasa bangga menjadi salah seorang murid Perguruan Awan.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Lepas dari adat Naga Nareswara, Kangkam, maupun Sambartaka yang tak bisa
diterima, Gendhuk Tri menganggap mereka semua tokoh yang menjadi tempat di mana
para ksatria memandang. Ngenesnya, atau tragisnya, justru Upasara Wulung yang menjadi pewaris Tepukan
Satu Tangan, yang bisa mewakili pertemuan tokoh sakti mandraguna dari berbagai
penjuru jagat, sedang dalam keadaan cacat.
Karena pertikaian dari dalam.
Karena intrik-intrik dan cara-cara yang culas. Seperti juga yang dilakukan
Halayudha. Di saat kebesaran dan keksatriaan diuji, Halayudha justru mengemukakan keinginan
menjadi mahapatih dengan menjegal saudara-saudaranya sendiri. Dan tak segan-
segan mengabdi kepada Naga Nareswara.
Kalau tubuhnya masih dipenuhi racun ganas, Gendhuk Tri saat itu juga sudah
meloncat dan menantang. Tapi itu seperti juga menyerahkan nyawa.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, tanah kelahirannya akan menjadi ajang
pertarungan laki-laki mancanegara. Sementara para ksatria hanya bisa bertikai di
antara mereka sendiri. Betapa mengerikan seorang Adipati Lawe berbunuhan dengan Senopati Anabrang. Apa
pun alasannya! Betapa mengerikan seorang Jayakatwang memberontak dan menghancurkan Sri
Kertanegara yang mengibarkan panji kebesaran.
"Apa yang kamu pikirkan, tikus?"
"Saya ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri Yang Mulia Raja Segala Naga
tetap saya hormati setelah pertarungan nanti."
"Ya. Tetapi aku tidak suka dengan caramu menawan Kama Kangkam.
Aku merasa malu kalau menang melawan seseorang yang telah menjadi tawanan dan
mengalami penyiksaan. Aku malu dengan diriku sendiri."
"Saya akan segera melepaskan begitu keadaan memungkinkan.
Karena ketiga Kama itu muncul untuk mengaduk Keraton, saya terpaksa
membungkamnya." "Itu percuma, Kama Kangkam telah mengetahui aku berada di tempat ini.
"Cepat atau lambat akan terjadi penentuan ksatria lelananging jagat.
"Aku makin tidak sabar."
"Tinggal dua langkah.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Satu langkah sudah terayun, yaitu tersingkirnya Mpu Sora. Langkah berikutnya,
Mahapatih Nambi. "Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa saya tak ingin menyalahi tata budaya
tanah ini. Tak mungkin begitu saja saya diangkat menjadi mahapatih.
"Saya sedikit terlambat mengikuti perjuangan merebut Singasari. Dan saya tak
bisa menipu pasukan Tartar. Sungguh tak pantas saya mendesak Baginda Raja.
"Kalaupun Baginda Raja bisa saya paksa, tidak penduduk yang lain.
Saya akan dianggap mbalela atau kraman, atau memberontak.
Memberontak kepada tata budaya yang ada.
"Yang Mulia Raja Segala Naga, saya minta sedikit kesabaran. Saya akan
mengusahakan semua yang diminta. Semua kitab pusaka telah saya serahkan kepada
Yang Mulia." Naga Nareswara tak menjawab.
Bersemadi. Perlahan tubuhnya naik kembali.
Berhenti di tengah udara.
Halayudha menyembah, lalu berjalan kembali.
Gendhuk Tri menunggu. Ia bisa menyergap Halayudha. Tapi apa gunanya" Jelas musuh
yang harus dihadapi ada di depannya, kenapa mereka harus saling bunuh"
Bukankah sikap menghindari saling bunuh, saling tarung ini yang dipilih Kakang
Upasara" Ah, Kakang lagi! Tapi nyatanya memang begitu. Upasara mengorbankan dirinya, menghancurkan tenaga
dalamnya untuk menghindari pertumpahan darah di antara saudara sendiri.
Dan menyelamatkan dirinya. Gendhuk Tri terbelit dengan pikirannya sendiri.
Sementara Halayudha sudah menjauh.
Dan tak kelihatan lagi. Karena begitu keluar dari bawah peraduannya, Halayudha segera menuju ke gua
bawah tanah. Menemui Kama Kangkam, dan kedua muridnya.
Halayudha berdiri dari jarak yang cukup jauh, memandang Kama Kangkam yang
terikat seluruh anggota tubuhnya.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku tahu, kamu ksatria Jepun pastilah mendendamku, membenciku, dan menghinaku.
"Aku terima semua hinaan dan cacian.
"Akan tetapi aku sesungguhnya ingin menyelamatkan kalian dari tipuan busuk yang
direncanakan Naga Nareswara."
Kama Kangkam mengerutkan keningnya.
"Aku tahu rencananya. Sebenarnya aku tahu sejak kalian datang mau menghancurkan
Keraton. Karena kalian telah mengetahui bahwa Naga Nareswara bersembunyi di
dalam Keraton. "Dengan salah seorang muridnya yang kini menjadi mahapatih.
"Begitu banyak rencana busuk untuk mencelakakan kalian."
Kama Kangkam tertawa. "Aku kenal siapa Naga Nareswara. Seperti juga aku mengenal Eyang Sepuh. Tak
nanti mereka kotor ujung kukunya."
"Kamu salah mengerti, Kama Kangkam. Tak bisa disalahkan karena kamu sesungguhnya
ksatria sejati. Kalau Eyang Sepuh bisa dilenyapkan tanpa bekas, kenapa kalian
tidak" "Justru karena takut menghadapi kalian, menghadapi Eyang Sepuh, takut menghadapi
Kiai Sambartaka, maka Naga Nareswara melakukan siasat licik."
Halayudha melihat perubahan di mata Kama Kangkam.
Hatinya bernyanyi. Meskipun wajahnya tak berubah.
"Selama ini aku menahan diri untuk tidak mengatakan kepadamu, bahkan aku berlaku
kejam pada kalian bertiga. Ini hanya untuk mengupayakan agar Naga Nareswara
mendapat laporan dari Mahapatih bahwa kalian benar-benar disiksa, dan kehilangan
ilmu. "Pada saat itulah kalian membalas dendam.
"Terserah siapa yang lebih unggul. Apakah yang berada di langit atau yang berada
di tanah. "Aku hanya ingin mengatakan ini, dan kamu tetap bersabar sedikit, sampai saatnya
datang. "Maafkan aku, Kama Kangkam, kalau aku bersikap jahat padamu."
Dengan pendekatan itu, Halayudha merasa mendapat sedikit jaminan ketenangan
dalam hatinya. Kalau suatu hari nanti Kama Kangkam lepas dan berhadapan dengan
Naga Nareswara, siapa pun yang keluar sebagai pemenang, nasibnya tetap terjamin.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Karena kedua calon pemenang itu tak melihat sesuatu yang perlu dimusuhi. Bahkan
Halayudha bisa dianggap bersahabat.
Seperti yang saat ini dilakukan untuk menjerumuskan Mpu Sora!
Taruna, Mahapatih, bahkan Sora sendiri tak mencurigainya. Malah sebaliknya.
Demikian juga Baginda Raja.
"Mahapatih barangkali ingin menunjukkan kekuasaannya dengan menghadap Paduka
Baginda Raja. Namun tidak akan mengurangi kebesaran Paduka yang dilindungi Dewa
Maha Pelindung, sekadar memuaskan Mahapatih dengan memberi kesempatan sowan."
Dengan cara ini Halayudha akan dinilai Mahapatih bisa memberikan jalan untuk
menghadap Baginda Raja. Bagi Halayudha, langkah berikutnya adalah menggarap Mpu Sora!
Memancing Raja Segala Raja
GENDHUK. Tri keluar dari persembunyiannya.
Lalu menunduk dengan hormat sambil merangkapkan kedua tangan di atas kepala.
"Hari ini saya, cucu murid, datang menghadap."
Terdengar tarikan napas dingin.
Bagi Gendhuk Tri memang tak ada pilihan lain. Biar bagaimanapun, Naga Nareswara
tetap akan mengetahui persembunyiannya. Cara mengatur napasnya masih kalah jauh.
Sebelum diketahui, Gendhuk Tri lebih dulu memunculkan diri.
"Cukup cerdik kamu segera keluar, kalau tidak kamu akan mati lemas terkena
tenaga dalamku yang mengisap udara dalam gua ini."
Gendhuk Tri tersenyum. Adalah sesuatu yang luar biasa bahwa dalam keadaan begitu genting, Gendhuk Tri
masih bisa tersenyum. Seseorang yang memiliki hati baja pun tak akan bisa lentur
seperti yang ditunjukkan Gendhuk Tri.
Padahal Gendhuk Tri bukannya tidak mengetahui bahwa apa yang dikatakan Naga
Nareswara bisa terbukti. Dengan kemampuan tenaga dalam yang dimiliki, Naga
Nareswara bisa saja mengatur sedemikian rupa sehingga semua udara bersih terisap
olehnya. Dengan demikian Gendhuk Tri bisa mati lemas.
"Mati atau tidak, bukan hanya karena tak bisa bernapas. Sekali berkedip Kakek
Guru bisa mengambil nyawa saya.
"Tetapi saya akan mati dengan puas karena telah bertemu dengan Kakek Guru."
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bangsa tikus celurut, kalian memang pintar memainkan lidah memutar kata.
Muslihat apa lagi yang akan kamu mainkan?"
"Kalau bukan karena pesan Guru Kiai Sangga Langit, tak nanti saya menyusup
kemari dan membahayakan diri. Kalau bukan mengingat itu semua, saya tak akan
peduli siapa yang sok suci berada di sini."
Naga Nareswara bergelak. "Sungguh baru pertama kalinya aku mendengar suara yang sombong.
Aku suka mendengarnya."
"Maaf kalau saya kurang ajar, Kakek Guru."
"Tidak, tidak apa. Selama ini aku hanya menemui tikus yang merunduk. Tak ada
yang berani menatap mataku. Siapa namamu?"
"Saya biasa dipanggil Gendhuk Tri.
"Secara kebetulan saya pernah ditolong oleh Kiai Sangga Langit, dan mendengar
cerita bahwa..." Terdengar tarikan napas dingin.
Walau hatinya bercekat, Gendhuk Tri tetap tenang.
Ini adalah satu-satunya cara untuk meloloskan diri dari cengkeraman Raja Segala
Naga. Dengan nekat Gendhuk Tri mengatakan diri sebagai salah seorang murid Kiai
Sangga Langit. Seperti diketahui, Kiai Sangga Langit adalah pendeta yang berkelana di Keraton
Singasari. Pendeta Tartar yang perkasa, yang pernah jatuh hati untuk mengajarkan
sebagian dari ilmunya kepada Upasara Wulung, yang dianggap bisa menyerap ajaran
Budha. Kiai Sangga Langit sendiri telah gugur bersama dengan Ngabehi Pandu, guru
Upasara Wulung. "Sepanjang yang kuketahui, Sangga Langit tak pernah punya murid."
"Saya tak cukup kurang ajar untuk mengaku sebagai muridnya. Akan tetapi saya
pernah diajari ilmu congklak yang dikenal sebagai Sembilan Jalan Budha. Apakah
perlu saya mainkan untuk membuktikan?"
Gendhuk Tri masuk ke tengah perhatian Naga Nareswara.
Dengan menyebutkan Sembilan Jalan Budha atau juga Sembilan Langkah Budha yang
dikaitkan dengan permainan congklak, Naga Nareswara menjadi terpengaruh.
Permainan congklak dengan sembilan lubang memang merupakan permainan khusus jika
ingin memenangkan dalam langkah pertama.
Dulu Kiai Sangga Langit membuat sayembara. Barang siapa bisa menang lawan
tanding main congklak dengannya, akan diberi seluruh ilmunya. Kunci dari
permainan itu ialah, jika dalam satu langkah pertama bisa mendapatkan seluruh
biji yang dimainkan. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan demikian akan berarti menang!
Dalam sayembara itu, Upasara Wulung bisa memecahkan cara bermain. Dalam
pandangan Kiai Sangga Langit, ini sungguh pencerahan yang luar biasa. Selama ia
melanglang dunia, belum pernah ada yang mematahkan. Akan tetapi ternyata dalam
sekali gebrak Upasara bisa membuyarkan ilmu congklaknya.
Gendhuk Tri sendiri tak cukup cerdas untuk bisa memainkan seperti Upasara
Wulung. Akan tetapi dengan menggertak seperti itu, Naga Nareswara jadi manggut-
manggut. "Untuk apa kamu masuk kemari?"
"Untuk memberi laporan.
"Apa yang dikatakan Halayudha banyak dustanya. Yang disebut lawan tangguh,
Upasara Wulung, sekarang ini tak ada apa-apanya. Ia telah menjadi orang biasa,
karena semua ilmu dan tenaga dalamnya telah musnah."
Tarikan napas dingin terdengar kembali.
"Apa mungkin ada yang bisa menggempurnya?"
"Tak ada yang mampu mengalahkan, kecuali dirinya sendiri. Yang gagal memahami
Kitab Bumi." "Itu mungkin sekali.
"Tapi untuk apa kamu katakan?"
"Saya tak cukup tahu apa rencana Halayudha yang sesungguhnya.
Akan tetapi jelas ia berdusta. Ada sesuatu yang disembunyikan.
Pertama, soal Kakang... soal Upasara Wulung. Kedua, soal Kama Kangkam dengan dua
muridnya yang dicelakakan.
"Begitu nistanya, sehingga bukan tidak mungkin dengan cara yang sama liciknya
akan mencelakai Kakek Guru. "Itu saja yang ingin saya katakan.
"Sekarang saya lega. Mati pun tak akan menyesal. Entah Kakek Guru mau percaya
atau tidak." "Kalau tidak?" "Kiai Sangga Langit menurunkan ilmunya tanpa berharap sesuatu.
Memberi sesuatu yang baik. Itu yang saya lakukan sekarang."
"Kamu pintar sekali atau jujur sekali.
"Aku tak bisa menentukan penilaian sekarang.
"Kalau aku percaya?"
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ada kesempatan keluar dari persembunyian. Untuk membuktikan diri sebagai
lelananging jagat, sebagai Raja Segala Naga dan binatang lainnya."
Bagi Gendhuk Tri, kalau ia berhasil memancing Raja Segala Naga ini keluar dari
sarangnya berarti bisa mengubah jalan sejarah. Termasuk sejarah hidupnya
sendiri! "Bagaimana kamu tahu aku di sini?"
Meskipun pertanyaan ini angin-anginan, akan tetapi jelas menyelidik.
Sekali terdengar jawaban yang keliru atau janggal, nyawa Gendhuk Tri bakal lepas
tanpa sempat pamitan. "Halayudha selalu menyembunyikan sesuatu dalam gua bawah tanah Keraton. Baik
ketiga Kama, atau seseorang yang bernama Dewa Maut.
Saya menduga kalau Kakek Guru sudah datang, pasti disembunyikan dalam satu gua.
Saya berusaha menyusup."
"Rasanya aku percaya yang kamu katakan."
"Terima kasih, Kakek Guru."
"Akan tetapi aku akan membunuhmu lebih dulu."
Gendhuk Tri mengeluarkan tarikan napas dingin.
"Karena ini berarti kamu mengetahui sesuatu yang rahasia tentang diriku. Aku
sudah bersumpah tak mau percaya kepada semua tikus celurut, semua tikus celurut
yang menjijikkan, kalau ingin menang dan menguasai.
"Kematian cara apa yang kamu pilih?"
"Kematian yang Kakek Guru tentukan sendiri.
"Kenapa mesti repot-repot menentukan kematian" Apa bedanya mati berdiri atau
mati duduk bersila?"
"Siapa yang mengajarimu kurang ajar?"
Naga Nareswara nampak begitu gusar, sehingga tubuhnya naik ke tengah udara, dan
tongkat emas di sampingnya ikut tertarik tenaga menjadi tegak.


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau untuk kurang ajar saja mesti diajari, apa gunanya guru dan belajar?"
"Sebelum ketemu Kiai Sangga Langit, siapa yang mengajarimu?"
"Kakek Guru akan kaget kalau saya sebutkan bahwa yang mengajari saya adalah Mpu
Raganata, pendeta agung dari Keraton Singasari yang mempunyai ilmu Weruh
Sadurunging Winarah."
"Apa itu ilmu Tahu Sebelum Terjadi?"
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, mana mungkin Halayudha tak pernah menyebutkan selama ini"
Berarti ia berdusta lebih banyak lagi dengan mengatakan bahwa semua kitab telah
diberikan kepada Kakek Guru."
Gendhuk Tri berhasil mendekatkan kailnya.
Dan Raja Segala Naga telah mengendus umpan.
Walau sebenarnya Gendhuk Tri tak sepenuhnya berdusta. Ia memang murid Mpu
Raganata yang mempunyai ilmu Weruh Sadurunging Winarah. Ajaran ilmu kanuragan
yang tiada duanya bagi yang telah menguasai.
Karena ilmu tersebut lebih mengandalkan kepada ketajaman rasa.
Gerakan lawan yang belum dilakukan seakan sudah bisa ditebak maksudnya. Arah
gerakan bisa terbaca sebelum dilakukan.
Ilmu Weruh Sadurunging Winarah sedemikian saktinya, sehingga disejajarkan dengan
Tepukan Satu Tangan. Hanya saja bedanya ialah ilmu Mpu Raganata itu tak dikenal
secara luas. Karena Mpu Raganata sendiri mempelajari secara diam-diam. Bahkan
muridnya tak mengetahui siapa dan apa yang diajarkan.
Tujuh Pedang Tiga Ruyung 15 Kisah Pedang Bersatu Padu Karya Okt Kisah Membunuh Naga 31
^