Pencarian

Terror Di Akhir Pekan 1

Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend Bagian 1


Prolog "RINDU aku?" "Well, yeah. Kau tahu jawabannya."
"Tapi kau bisa mengatakannya, kan?" goda Tina, sambil
memutar-mutar kabel telepon dengan jari-jari tangannya yang
ramping. "Kau akan naik kereta yang mana?" Josh mengubah topik
pembicaraan. Tina menghela napas. "Sudah kukatakan tiga kali, Josh. Kereta
yang terakhir. Aku harus menunggu Holly."
Josh menggerutu. Holly dan Josh tidak terlalu cocok. Meskipun
tidak sampai berantem sih. Josh hanya menganggap Holly terlalu
banyak bicara, terutama tentang dirinya sendiri.
Bagaimana perasaan Holly terhadap Josh" Tina tidak tahu.
Holly saudara sepupunya. Holly belum pernah berkomentar jelek
tentang pacar Tina. "Kita akan punya banyak waktu untuk bersama, Josh," kata
Tina. "Satu akhir pekan penuh."
"Bagus," jawab Josh. "Aku tak sabar menunggu. Kurasa kau
akan menyukai teman-temanku, Tina. Mereka semua baik. Mereka
sudah tahu segalanya tentang dirimu."
Di cermin meja riasnya, Tina melihat dirinya sendiri tersenyum.
"Kau menceritakan aku kepada teman-temanmu?"
"Yeah. Kadang-kadang, Josh mengakui. "Foto-fotomu
kupasang di kamarku. Mereka menanyakan foto-foto itu kepadaku."
"Aku sudah tak sabar ingin ke sana!" seru Tina. "Akhir pekanku
yang pertama di college. Tinggal di asrama. Bergaul dengan
mahasiswa. Dan kau, tentu saja. Kau akan menjemput kami di stasiun
kereta api?" "Aku akan ada di sana," jawab Josh. "Tidak ada masalah."
Tidak ada masalah. Aneh bahwa kadang rencana yang sederhana seperti rencana
Tina tidak berjalan sesuai harapan.
Tidak ada masalah. Itu kata-kata Josh. Tapi Josh keliru. Ada banyak masalah. Lebih banyak daripada yang mereka berdua bisa bayangkan.
Chapter 1 TINA RIVERS melihat arlojinya kira-kira untuk yang kesejuta
kali. Ia berharap bisa melompat ke luar dan membantu menarik kereta
api ke Stasiun Patterson.
Ia belum bertemu pacarnya, Josh Martin, sejak Natal. Tiga
bulan yang lama. "Bangun, Holly," kata Tina, sambil menyikut lengan saudara
sepupunya dengan lembut. "Kita hampir sampai di stasiun."
Holly Phillips tergolek di bangku di samping Tina. Rambutnya
yang cokelat keriting tergerai di wajahnya. Ia mendengkur pelan.
"Bangun dong," bujuk Tina. "Pesta akan dimulai, Holly. Pesta penuh
cowok college yang ganteng, semuanya untukmu."
Holly mengerang ketika mengulurkan kakinya yang panjang.
Akhirnya ia membuka mata dan menguap. "Cowok-cowok college?"
"Aku tahu itu akan membuatmu bangun." Tina berpaling dari
sepupunya yang masih mengantuk dan melihat ke luar jendela dengan
gelisah. Suatu hari aku akan boleh bepergian sendiri, pikir Tina, teringat
lagi pada perdebatan dengan orangtuanya.
Tina mohon pada ayah dan ibunya agar diizinkan mengunjungi
Josh sendirian. Tapi tidak boleh. Sepupunya harus menemaninya,
kalau tidak Tina harus tinggal di rumah. Dan Tina tidak mau gagal
menikmati Spring Fling Weekend bersama Josh.
"Kau sudah lihat dia?" tanya Holly sambil menggosok-gosok
mata. "Tidak. Terlalu gelap sih," jawab Tina. Ia merogoh tas untuk
mengambil tempat makeup. "Lagi pula, kita masih bergerak."
Ia mengeluarkan lipstik, kaca, dan sikat.
"Perutku mulas," kata Tina sambil menyikat rambut pirangnya
yang panjang. "Apa aku kelihatan oke?"
Holly mendesah. "Lima jam di kereta api, dan kau kelihatan
cantik sekali. Aku merasa seperti karung beras berada di sebelahmu."
Tina tertawa. "Bagaimana sih rasanya jadi karung beras?"
"Suatu hari nanti kau akan jadi model terkenal, Tina," kata
Holly kepadanya. "Aku tahu pasti."
Tina memang ingin suatu hari nanti jadi sampul majalahmajalah mode. Ia terus-
menerus mengamati kompetisi di antara para
model, menyusun rencana. Tapi sekarang ini ia tidak bisa memikirkan
apa pun selain Josh. Ia rindu sekali padanya.
Tahun lalu, di Shadyside High, mereka makan siang bersama
setiap hari. Sekarang ia hampir tidak bertemu Josh sama sekali.
Tina memeriksa makeup-nya sekali lagi dan menyimpan
cermin. Kemudian ia menyemprotkan parfum kesukaannya di
pergelangan tangan dan di belakang telinga. Ia tersenyum ketika
membayangkan saat pertama dicium Josh.
"Rasanya kita mulai berhenti," kata Holly. Suara berdecit
memenuhi gerbong kereta api.
Pengeras suara terdengar bergemeresik. "Kita sekarang tiba di
Stasiun Patterson. Semua penumpang dimohon tetap di tempat duduk
sampai kereta benar-benar berhenti."
Tina melompat berdiri. Ia tidak bisa duduk tenang semenit pun.
Kereta api tersentak ketika ia mulai menurunkan barang-barang
dari rak di atas kepala. Ia terhuyung ke depan dan memegang bahu
Holly agar tidak jatuh ke lantai.
"Cepat," desak Tina. "Kau perlu bantuan?"
"Tidak. Aku bisa membawa semuanya," jawab Holly, masih
duduk. "Aku hanya kebas. Pasti posisi tidurku salah."
Tina memutar bola matanya. Jelaslah, Holly tidak ingin buruburu turun dari
kereta api. Tapi, Holly kan tidak sedang jatuh cinta. Ia
tidak tahu betapa inginnya Tina bertemu Josh.
Di pintu, kondektur berseragam abu-abu mengangguk kepada
mereka. "Kalian satu-satunya penumpang yang turun di sini. Jadi
berhati-hatilah," ia memperingatkan. "Stasiun ini sangat sepi. Jangan
terlalu lama di sini."
"Kami akan baik-baik saja," Tina meyakinkan kondektur itu,
lalu cepat-cepat menuruni tangga. "Pacar saya akan menjemput kami."
Tapi peron itu kosong. Tina memandang pelataran yang
panjang itu dengan gelisah. Di mana Josh"
Ia menjatuhkan kopernya. Kereta mereka tadi ditunda. Mereka
terlambat setengah jam. Mungkin Josh capek menunggu dan pergi ke
suatu tempat untuk membeli kopi. Itu masuk akal, tapi Tina tetap saja
tidak dapat menahan rasa kecewanya.
Kalau aku yang menjemput Josh, pikirnya, aku akan berdiri di
peron ini, tidak peduli betapa terlambatnya dia. Aku tak mau
kehilangan satu menit pun waktuku bersamanya.
"Jadi di mana dia?" tanya Holly.
Tina mengangkat bahu. "Kau tahu Josh. Ia tidak pernah bisa
berdiri diam. Aku yakin ia akan segera kembali."
"Kau yakin kita ada di stasiun yang benar?" tanya Holly.
"Tentu dong," bentak Tina.
Peron bergetar ketika kereta api berangkat. Kereta itu pergi
dengan suara bergemuruh dan meninggalkan bau diesel. Kedua gadis
itu berdiri berdempetan di peron yang gelap.
Holly menggelengkan kepala. "Kuharap ini bukan pertanda apa
yang akan terjadi sepanjang akhir pekan ini."
"Sudah dong," pinta Tina, sambil memainkan seuntai
rambutnya. "Kau dan firasatmu itu. Aku akan membelikan sorban dan
bola kristal untuk hadiah ulang tahunmu. Kau bisa buka stan ramalan
di pasar malam Shadyside bulan depan."
Holly memaksa dirinya tersenyum. "Kau boleh mengolok-olok
aku, tapi terkadang aku benar-benar bisa merasakan perasaan-perasaan
ini.... Hei, apa kaupikir ada kelab dansa yang bagus di sini?" tanya
Holly mengubah topik pembicaraan. "Asyik deh. Tak ada orangtua.
Tak ada jam malam. Aku bisa keluar rumah selarut yang kumau."
"Aku tak habis pikir orangtuaku kok bisa ngotot kau ikut aku.
Jika saja mereka tahu betapa bandelnya kau sesungguhnya. Kau
pengaruh yang buruk sekali buatku!" Tina bercanda.
"Kau pasti menyukainya!" jawab Holly.
Tina menatap langit malam. Tampak satu-satunya bintang,
kuning pucat di langit kelabu.
Bintang pertama malam ini, pikir Tina. Bintang Harapan.
Ia memejamkan mata dan diam-diam mengucapkan
permintaannya. "Kuharap akhir pekan ini menjadi yang terindah dalam
hidupku." Angin dingin bertiup di peron. Tina membuka mata dan
menarik jaket birunya erat-erat di dada. Josh suka jaket ini. Tapi
sekarang Tina berharap memakai jaket yang lebih tebal.
"Ayo masuk," ajaknya.
Tina meraih kopernya dan mendorong pintu ganda yang besar
itu hingga terbuka, masuk ke stasiun kecil. Koper Tina seakan-akan
beratnya satu ton. Seharusnya aku tidak membawa begini banyak
pakaian, pikirnya sambil menarik koper itu ke dalam. Tapi kata Josh
mereka akan piknik, pergi ke pasar malam, dan pesta. Ia kan perlu
bersiap-siap. Tapi ia tidak siap menghabiskan waktu di stasiun kereta api
yang kosong dan sangat kotor ini, di tempat yang asing. Kok Josh tega
melakukan ini padaku" tanya Tina dalam hati.
Bau ruangan ini apak dan tidak enak. Deretan kursi bersandaran
tinggi dari kulit abu-abu memenuhi ruangan. Potongah-potongan
kertas beterbangan di lantai, seakan ditiup para hantu.
Holly menjatuhkan kopernya dan menghela napas. "Josh tahu
kita akan datang, kan?"
"Tentu!" Tina membentak.
"Mungkin ia lupa," kata Holly, sambil memandang ke sekeliling
ruangan yang suram. "Karena sekarang sudah kuliah, ia mungkin
berubah. Aku tahu, aku pun bakal berubah jika sudah kuliah. Aku
akan menindik hidungku, pasti deh. Dan mungkin mentato tubuhku."
"Kurasa Josh takkan mau menindik hidungnya. Aku akan
menelepon dia. Kau tunggu di sini, jaga barang-barang kita." Tina
mengaduk-aduk dompetnya untuk mencari koin dan bergegas
menghampiri dua telepon umum.
Ia mengangkat gagang telepon yang pertama, kemudian
membantingnya. "Tidak ada nada!" ia berteriak kepada Holly.
Telepon yang satu lagi bahkan tidak bergagang. Tina berjalan
kembali ke tempat sepupunya.
"Ayo ke meja tiket," saran Tina, berusaha terdengar riang.
"Mungkin ada pesan buat kita."
Langkah kaki mereka bergema di lantai keramik.
Pesan yang ditulis tangan di meja itu berbunyi AKAN
SEGERA KEMBALI. Di dekat pesan itu ada secangkir kopi yang
sudah dingin. Holly bergidik. "Kelihatannya sudah berhari-hari tak ada yang
kemari." Tina mendengar suara dari balik bilik. "Apa itu?" tanyanya
sambil memegang lengan Holly. "Dengar."
Suara mencakar pelan itu semakin terdengar. Tina menahan
napas. "Binatang," Holly menebak sambil melangkah sedikit demi
sedikit mengitari meja. "Kembali," perintah Tina. "Mungkin itu tikus."
Tempat ini kotor sekali, pikir Tina. Aku yakin berlusin-lusin
tikus ada di sini. Ia menarik lengan sepupunya.
Sesuatu menghantam meja dengan suara berdebuk keras. Tina
memutar badannya. Seekor kucing hitam yang besar menatapnya. Bulu ekornya
berdiri tegak. Matanya yang kuning berkilauan.
Tina menjerit ketika kucing itu mendesis dan kemudian
melompat turun dari meja.
Kucing itu mendarat di samping kaki Tina dan berlari melintasi
ruangan. Tina tertawa tegang. "Ku-kukira itu tadi tikus terbesar di
dunia!" "Kucing hitam," bisik Holly. "Kau tahu apa artinya itu."
"Artinya Josh sebaiknya cepat ke sini. Dan itu saja artinya,"
kata Tina. "Tidak ada pertanda lagi, oke" Aku tidak mau dengar lagi."
"Kita duduk yuk," ajak Holly.
"Ide yang bagus. Lututku seakan-akan terbuat dari keju
lembut." "Itu karena kau terlalu banyak makan keju," goda Holly.
Tina mengikuti sepupunya menuju kursi-kursi yang bersandaran
keras. "Jam berapa sekarang?" tanyanya.
"Sembilan," jawab Holly. "Josh tahu malam ini kita datang,
seharusnya ia menjemput kita, betul, kan?"
"Ya, Holly. Ya, ia tahu kita tiba malam ini: Ya, ia tahu ini
stasiunnya. Oke?" "Oke, oke. Sori," Holly minta maaf.
Cahaya bulan menerobos jendela dan membentuk bayangan
panjang di dinding. Tina tetap memandang ke pintu masuk. Kumohon, Josh. Cepat
kemari. Pikirannya dipenuhi berjuta-juta kemungkinan.
Mungkin ia memang salah memberitahukan waktu kedatangan
mereka. Mungkin ia memang salah memberitahukan tanggalnya.
Mungkin... Hentikan, ia memerintahkan dirinya sendiri.
Tina tidak bisa duduk diam. Ia berdiri dan mulai mondarmandir mengitari ruangan.
Setelah berjalan satu lingkaran penuh, ia
melihat ada bayangan bergerak di luar jendela di ujung stasiun.
"Itu dia!" teriak Tina.
Ia menyambar tasnya dan buru-buru lari ke pintu. "Josh!" teriak
Tina, sambil melambai-lambai. "Kami di sini."
"Mana dia?" tanya Holly. "Aku tidak melihat seorang pun."
Peron yang panjang itu tetap kosong. "Josh!" teriak Tina lagi.
Tak ada orang di sana. Perut Tina mulas. Ada yang tidak beres. "Ayo masuk lagi,"
bisiknya pada Holly. Terlambat. Seorang laki-laki melompat dari kegelapan di samping stasiun.
"Hei - apa kabar?" ujarnya dengan suara parau.
"K-kami mau pergi," Tina tergagap.
Laki-laki itu maju mendekati Tina. "Tidak, kau tidak boleh
pergi," katanya dengan suara yang dingin dan rendah. "Kau tidak
boleh pergi ke mana-mana."
Chapter 2 "AKU perlu uang," laki-laki itu menggeram kepada Tina.
"Berapa pun yang kaubawa."
Oke, pikir Tina. Oke. Ia ingin uang. Ia boleh memiliki
semuanya. Lima puluh dolar yang diberikan Dad kepadaku. Tina
mencari-cari dompetnya.

Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Laki-laki itu memajukan wajahnya. Rambutnya tergerai di
keningnya, membentuk gumpalan-gumpalan kotor. Napasnya bau
alkohol. Matanya berkaca-kaca.
Tina merapat ke dinding. Sekujur tubuhnya gemetar.
"U... uangku di..." Tina tergagap.
Tapi ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Hei - jangan ganggu dia!" perintah seseorang bersuara dalam.
"Keluar dari sini!"
Josh! pikir Tina. Akhirnya!
Laki-laki itu berteriak terkejut dan langsung pergi.
Tina menutupi wajahnya dengan tangan, memerintahkan
tubuhnya supaya berhenti gemetar.
"Kau baik-baik saja?" tanya penolongnya.
Ini bukan suara Josh, Tina baru sadar.
Ia menengadah dan melihat orang asing yang memiliki mata
hijau tajam dan rambut berwarna gelap yang diikat jadi ekor kuda
pendek. "Aku baik-baik saja - sekarang," kata Tina kepadanya. "Holly"
Holly?" Holly berdiri merapat di dinding stasiun, lengannya memeluk
tubuhnya sendiri. Tina menghambur ke sampingnya. "Kau tak apaapa?"
Holly mengangguk. "Kau sendiri bagaimana" Apa dia
menyakitimu?" "Tidak. Ia hanya membuatku ketakutan setengah mati," jawab
Tina. "Akan kubunuh Josh karena terlambat begini."
Holly menoleh pada orang asing itu. "Trims karena mengusir
orang tadi." Tina merasa cowok itu memandanginya. Matanya menjelajahi
wajah hingga kaki Tina, kemudian kembali ke wajahnya.
"Kau pasti Tina," katanya. "Aku Chris Roberts. Teman sekamar
Josh." "Oh, yeah," jawab Tina. "Josh pernah cerita tentang dirimu."
Josh bercerita bahwa uang Chris banyak sekali. Tapi Josh tidak
pernah mengatakan kepadanya betapa tampannya Chris.
"Di mana Josh?" tanya Tina sambil memaksa matanya supaya
tidak menatap Chris dan memandang ke stasiun. "Kenapa ia tidak ke
sini?" "Kemarin ia pergi kamping geologi dengan teman kami Steve,"
jawab Chris. "Apa" Ia pergi kamping?" teriak Tina. "Tapi ia kan tahu aku
mau datang!" "Mereka seharusnya pulang hari ini," Chris menjelaskan. "Tapi
tadi sore mereka menelepon dari bengkel. Mobil mereka mogok.
Mereka harus menunggu persneling mobilnya diperbaiki."
"Kapan mereka kembali?" tanya Holly. "Nanti malam."
"Oh," bisik Tina, kecewa. Hancurlah semalam dari akhir
pekannya yang sempurna. Tapi paling tidak sekarang ia tahu kenapa
Josh tidak menjemput. "Josh minta aku ke sini untuk menjemputmu. Sori aku terlambat
sekali," Chris minta maaf.
"Jangan minta maaf," kata Holly. "Kalau kubilang sih, kau
sampai di sini tepat pada waktunya." Ia menyibakkan rambutnya yang
cokelat keriting dari wajahnya dan tersenyum.
"Bagaimana kau tahu aku orang yang kaucari?" tanya Tina.
"Josh memasang foto-fotomu di kamar kami," Chris
menjelaskan, sambil menatap Tina. "Semua orang melihat foto-foto
itu." Ia menyeringai jahil.
Tina merasa Chris memandanginya lagi. "Kupikir kau datang
sendirian," ujar Chris, senyumnya menghilang.
"Rencananya sih begitu," Tina berbohong.
Ia tidak ingin cowok seganteng Chris tahu bahwa orangtuanya
tidak mengizinkannya pergi sendirian. "Tapi Holly ingin melihat-lihat
departeman drama di Patterson. Jadi ia ikut juga."
"Ehem." Holly batuk dibuat-buat.
"Oh, sori," kata Tina. "Aku belum mengenalkan dia padamu. Ini
Holly Phillips, sepupuku."
"Hai," kata Chris tanpa benar-benar memandang Holly. "Ayo
kita pergi." Chris mengangkat koper Tina. "Jipku ada di luar."
Tina mengikuti Chris memutari stasiun, menuju mobilnya.
Dalam beberapa jam lagi ia akan bersama Josh.
Chris memasukkan koper-koper itu ke belakang jip Cherokeenya. Kemudian Holly dan
Tina masuk. Ketika mereka keluar dari pelataran parkir, Tina memperhatikan
interior jip itu. Ia melihat ada CD player yang mahal, bahkan telepon
mobil. Chris pasti kaya sekali, ia memutuskan.
Tina menyandarkan kepalanya di sandaran dari kulit yang
mewah. Ini jauh lebih baik daripada kursi kereta api yang keras,
pikirnya. "Jadi seberapa jauh kampus kalian?" tanya Holly, menjulurkan
kepalanya di antara mereka dari bangku belakang. "Aku tak sabar
melihatnya. Ada acara asyik malam ini" Minggu lalu aku
mengunjungi Blaine College. Mereka punya beberapa kelab musik
yang hebat. Tapi aku tidak terlalu suka departemen drama mereka.
Terlalu serius." Tina dan Chris bertukar pandang dengan geli.
"Dan bulan lalu aku pergi ke Munroe College," Holly terus
ngoceh. "Percaya nggak, mereka hanya mementaskan dua lakon
setahun" Plus, kehidupan malam hari di sana mati."
"Lihat ke sebelah kirimu, Holly," kata Chris. "Di sana itu
gedung Little Town Playhouse." Chris menunjuk sebuah bangunan
kecil dari batu bata yang jauh dari pinggir jalan. "Departemen drama
college kadang-kadang pentas di sana."
"Gedung yang bagus," ujar Holly.
Chris mencondongkan badannya ke depan dan memasukkan
sebuah CD. Beberapa detik kemudian terdengar sebuah lagu yang
tidak asing lagi. "Aku suka CD ini," katanya, tersenyum kepada Tina.
Aneh! Tina suka CD ini juga. Tak seorang pun yang
dikenalnya, termasuk Josh, pernah mendengar Psycho Surfers, dan
Chris punya CD mereka. "Kau tahu grup ini?" tanya Tina.
"Tentu," jawab Chris. "Aku sering sekali menyetel lagu ini.
Josh sampai hanya mengizinkan aku mendengarkan lagu ini di mobil."
"Apakah di kota ini pernah diadakan konser?" tanya Holly.
"Apa ada grup bagus konser di sini?"
"Tidak terlalu sering," jawab Chris sambil membelokkan jipnya
ke jalan sempit yang berbatu-batu.
"Payah sekali," jawab Holly sambil bersandar kembali ke
bangku. "Holly, lihat itu," kata Tina sambil menunjuk anak-anak yang
berderet di luar sebuah kelab. "Di sana tempat untukmu."
"Itu Club Cobalt. Aku jarang ke sana lagi," kata Chris. "Tapi
kelab itu lumayan populer."
Tina menyadari suara Chris agak sendu. Kenapa dia tidak ke
sana lagi" tanya Tina dalam hati.
Holly menghela napas. "Tidak banyak kelab di kota kami, ya
kan, Tina?" Tina mengangkat bahu. Ia tidak begitu sering pergi ke kelab.
Tanpa Josh, buat apa"
"Tina," kata Chris, "Josh bilang kau ingin jadi model."
"Ya. Sejak aku memenangkan kontes modeling waktu kelas
lima," jawab Tina. "Kalau begitu aku yakin kau pernah mendengar soal
pamanku - Rob Roberts, sang fotografer?" tanya Chris.
Rob Roberts! Semua orang tahu dia. Majalah-majalah mode
menggunakan foto modelnya di sampul mereka sepanjang waktu.
"Ia pamanmu" Wow!" seru Tina, heran karena Josh tidak
pernah menyebut-nyebut hal itu.
Chris mengangguk. "Aku ingin bekerja dengannya setelah lulus
nanti. Ia berjanji akan membantuku mulai kerja di bisnis itu."
"Hebat sekali," puji Tina.
"Jika kau ada waktu selama di sini, aku mau memotretmu,"
Chris menawarkan. "Aku perlu beberapa bahan untuk portofolioku."
"Asyik sekali, tapi aku tidak tahu apakah aku punya cukup
waktu." Sesungguhnya, Tina berharap ia tidak akan punya waktu. Ia
sangat ingin menghabiskan setiap menit bersama Josh.
"Aku ingin sekali mencoba membuat beberapa foto wajah,"
kata Chris. Dan kemudian menambahkan, "Jika ada waktu."
Mereka meluncur di kota kecil itu. Tina memikirkan Josh.
Holly mengomentari toko-toko dan restoran.
"Kalian lapar?" tanya Chris sambil membelok ke jalan satu
arah. "Tidak," jawab Holly. "Kami tadi makan sandwich di kereta
api." "Sayang sekali," komentar Chris. "Ada restoran Meksiko di
sebelah sana." Tina tersenyum. "Aku suka makanan Meksiko."
"Apakah kau pernah makan enchilada kepiting?" tanya Chris.
"Kepiting?" Tina menaikkan alisnya. "Tidak. Memangnya
enak?" "Enak sekali," jawab Chris. "Kau harus ke sana akhir pekan
ini." Tina memandang ke luar jendela, ke malam yang berbintang.
"Josh tidak suka makanan Meksiko," gumamnya.
"Ia tidak tahu ia rugi besar," ujar Chris.
Aku tahu, pikir Tina. Ia rugi besar karena tidak bertemu aku.
Josh seharusnya di sini bersamaku sekarang.
"Ini asramanya," kata Chris. Ia memarkir jipnya di tempat
parkir. Akhirnya, pikir Tina seraya membuka pintu. Semoga kau ada,
Josh. Semoga kau ada. Kata-kata itu berulang-ulang di benaknya
ketika ia mengikuti Chris masuk ke bangunan asrama dari bata merah
yang tinggi itu. Tapi ketika Chris membuka pintunya, kamar itu gelap dan
kosong. "Rencananya kalian akan tinggal di kamar kami ini," kata Chris
kepada mereka. "Josh dan aku sudah mendapat izin dari kepala
asrama. Kami akan tidur di studioku."
"Apa kaupikir Josh ada di sana saat ini?" tanya Tina.
"Aku meragukannya," jawab Chris sambil melihat arlojinya.
"Sekarang baru jam sepuluh."
"Bagaimana kalau kita menelepon ke sana - hanya untuk
memastikan," Tina memberi saran. Ia tahu Josh tidak akan ada di sana.
Jika cowoknya itu sudah kembali ke kota, ia pasti telah menunggunya
di sini. Sementara Chris memutar nomor, Tina menggigit-gigit bagian
dalam pipinya dengan gugup.
Seperti dugaannya, tak ada yang mengangkat telepon di studio.
Tina duduk di salah satu ranjang. Ia tahu ia akan segera bertemu Josh.
Tapi toh ia tetap kecewa.
"Sampai nanti," kata Chris sambil meletakkan telepon. "Jika
kalian ingin sesuatu, telepon aku." Chris menulis nomor telepon studio
di secarik kertas. "Kamar di asrama ini lebih besar daripada kamar di Blaine
College," kata Holly setelah Chris pergi. "Dan lihat, mereka bahkan
punya stereo dan TV." Ia mengambil remote dan memilih-milih
saluran sampai menemukan MTV.
"Aku yakin barang-barang itu milik Chris," kata Tina. Josh
hampir tak mampu kuliah di luar kota.
Tina memandang ke sekeliling ruangan. Dua ranjang, dua
lemari, dan dua meja hampir memenuhi tempat ini. Komputer kuno
milik Josh terletak di atas mejanya. Di meja Chris ada Mac berwarna
lengkap dengan CD-ROM dan laser printer.
Tina bertanya-tanya apakah Josh pernah iri pada Chris. Jika ya,
ia tak pernah menyebut-nyebut hal itu kepadanya.
Peta geologi menutupi dinding di dekat ranjang Josh. Sebuah
foto laut dan pengumuman kontes fotografi tergantung di dinding
seberangnya. Dan tentu saja, batu-batuan dan fosil bertebaran di mana-mana.
Di meja belajar Josh. Di atas bufet. Di kusen jendela. Bahkan di lantai.
Dalam segala bentuk dan ukuran.
Persis seperti kamar Josh di rumah, pikir Tina. Bahkan mungkin
mimpinya pun tentang batu-batuan.
Tina mengambil batu hitam berbentuk segi tiga dan
menggosokkannya di antara jari-jarinya. Pinggiran batu yang kasar itu
menggores kulitnya. Sambil memegang batu itu, ia berdiri dan mondar-mandir di
kamar. Walaupun semuanya kelihatan normal, ada sesuatu yang tidak
beres. Sesuatu yang hilang.
"Ada apa?" tanya Holly.
"Aku tak tahu," jawab Tina sambil melemparkan batu itu ke
ranjang Josh. Lalu dia teringat sesuatu. Di mana semua foto dia yang disebutsebut Chris itu"
Foto pesta dansa mereka terletak di atas bufet Josh. Tapi cuma
itu. Ia mengambil foto tersebut dan memandang wajah Josh yang
tampan. Tina tahu ia tak akan pernah melupakan malam itu. Sebagai
pengganti korsase biasa, Josh memberinya korsase yang terbuat dari
lapisan-lapisan kristal mika berwarna hijau. Ia jadi merasa benarbenar istimewa,
berbeda dari orang lain. Sepanjang malam temantemannya mengomentari kristalnya.
Ia membalik foto itu untuk membaca tulisan di belakangnya.
Tulisan itu telah lenyap! Aneh sekali, pikirnya.
Ia menulis pesan untuk Josh di belakang foto ini. Apakah Josh
sudah menghapusnya" Seseorang mengetuk pintu.
Tina buru-buru membukanya. Kumohon Josh yang datang,
pikirnya. Ternyata seorang gadis berambut gelap, berdiri di gang.
"Tidak!" jerit gadis itu. "Aku tak percaya ini!"
Chapter 3 TINA menatap gadis itu. "Maaf?"
Gadis itu memakai blue jeans ketat dan kaus ngepas warna
beige. Rambutnya yang berwarna gelap dipotong pendek, membingkai
wajahnya yang bulat dan serius.
"Sori," gadis itu minta maaf. "Kupikir kau orang lain. Tapi
warna rambutmu jauh lebih muda." Ia mengerjap-ngerjapkan matanya
dengan cepat. "Kau baik-baik saja?" tanya Tina.
"Aku tak tahu kenapa aku begini," jawab gadis itu. "Terlalu
banyak minum kopi, kukira. Aku ngebut belajar untuk ujian. Dan
aku - aku tidak mengira kau mirip dia."
"Mirip "siapa?" desak Tina.
"Uh... tak ada," ia tergagap, sambil menggerak-gerakkan
tangannya di depannya. "Maaf. Bicaraku ngawur, kan?"
Ia bohong, pikir Tina. Ada apa sih"
"Kau siapa?" tanya Tina.
"Aku Carla Ryan," gadis itu menjelaskan. "Aku pacar Steve.
Kau Tina, kan" Kata Chris ia akan menjemputmu di stasiun."
"Betul," jawab Tina. "Dan ini sepupuku Holly."
Tina jadi agak santai. Josh telah menceritakan soal Steve dan
Carla kepadanya. Steve kuliah geologi juga. Carla mahasiswi
jurnalistik, dan selalu membesar-besarkan masalah.


Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Menurutmu aku mirip siapa?" Tina mengulangi
pertanyaannya. Carla mengabaikan pertanyaan itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di
atas ranjang Josh. Tina duduk di sampingnya.
"Aku satu SMA dengan Steve dan Chris," Carla menjelaskan,
menyisir rambutnya yang pendek dan lembut itu dengan jari-jarinya.
"Mereka cowok-cowok yang hebat."
"Kau punya apartemen sendiri?" tanya Holly ingin tahu sambil
membongkar pakaiannya. "Tidak, belum," jawab Carla. "Aku tinggal di asrama. Di lantai
sepuluh. Tapi aku bekerja di butik, dan tahun depan aku akan
memiliki tempat tinggal sendiri. Aku bosan tinggal di asrama."
Aku berharap bisa kuliah di luar kota tahun depan, pikir Tina.
Mungkin jika aku mendapat pekerjaan modeling, aku akan mampu
kuliah di suatu tempat selain Waynesbridge Junior College.
Ia tak peduli jika harus tinggal di asrama selama empat tahun.
Pasti lebih baik daripada tinggal di rumah.
Musik meraung keras dari kamar sebelah, menenggelamkan
suara TV. "Suasana Jumat malam memang begini." Carla memukul-mukul
dinding. Musik malah bertambah keras. Carla membelalakkan matanya,
dan mereka semua tertawa.
"Jika ingin jadi model seperti yang diceritakan Josh, kau
sebaiknya minta Chris memotretmu," saran Carla. "Ia sangat
berbakat." "Ia menawarkan untuk memotret aku akhir pekan ini," kata
Tina. "Kalau begitu kau harus menerima tawarannya," jawab Carla.
"Mungkin kau akan menemukan agen seperti temanku di New York.
Chris memperlihatkan foto-fotonya kepada pamannya. Ia mengatakan
tentang pamannya kepadamu, kan?"
"Uh-huh." Tina memandang jam di atas lemari. Sebelas lewat
lima. Josh seharusnya sebentar lagi datang. "Tapi aku ingin
menghabiskan semua waktuku dengan Josh."
Carla menggelengkan kepalanya. "Aku tak habis pikir kenapa
Josh pergi kamping. Maksudku, aku bertemu Steve sepanjang waktu,"
katanya. "Tapi kau belum bertemu Josh sejak libur Natal. Dan karena
mobilnya rusak, ia baru akan kembali larut malam nanti."
Tina mengerang. "Jangan mengingatkanku."
"Apakah tidak berat terpisah sedemikian jauh?" tanya Carla.
"Tak bisa kubayangkan seandainya aku tinggal terpisah seperti itu
dengan Steve." "Kami sering ngobrol di telepon," Tina menjelaskan.
Tapi jika Josh rindu kepadanya seperti ia merindukan Josh,
kenapa cowok itu pergi kamping minggu ini" Apa batu-batunya yang
bisu itu begitu penting"
"Apakah kau tahu mereka pergi ke mana?" tanya Tina kepada
Carla. "Tentu," jawab Carla. "Steve menceritakan semuanya
kepadaku." "Oh," kata Tina. Josh dulu juga menceritakan segalanya
kepadaku. Mungkin college benar-benar bisa mengubah orang.
"Cerita dong tentang Chris." Holly selesai membongkar
pakaiannya dan membuka botol cat kuku. "Apakah ia punya pacar?"
"Ceritanya sedih deh," kata Carla pelan. Ia memandang foto
laut. "Benar-benar menyedihkan."
"Jangan membuat kami tegang," desak Holly sambil mengecat
kuku ibu jarinya dengan warna merah terang.
Carla menghela napas dalam-dalam dan mulai cerita. "Waktu
SMA dulu, Chris punya pacar. Judy. Mereka tergila-gila satu sama
lain. Maksudku, mereka pergi ke mana-mana berdua. Mereka suka
sekali berlayar naik kapal Chris. Dan kemudian musim panas yang
lalu..." Carla ragu-ragu. "Musim panas yang lalu mereka mengalami
kecelakaan. Mereka berlayar terlalu jauh, tiba-tiba badai datang. Judy
jatuh ke laut dan..."
"Jangan katakan padaku ia tenggelam!" teriak Holly.
Carla mengangguk. Mengerikan sekali, pikir Tina. Ia bahkan tak bisa
membayangkan bagaimana rasanya seandainya musibah seperti itu
terjadi pada Josh. "Chris mencoba menyelamatkan Judy," Carla melanjutkan.
"Tapi Chris tak bisa menemukan Judy di mana-mana. Mereka harus
mencari tubuh Judy selama dua hari."
Keheningan yang mencekam memenuhi kamar. Tina
membayangkan Chris di atas kapal, dengan angin mengibar-ngibarkan
layar, mencari-cari, mencari pacarnya. Mengerikan sekali.
"Cowok malang," gumam Holly, memecah kesunyian.
"Steve mencoba menjodohkan Chris beberapa kali," kata Carla
kepada mereka. "Tapi Chris tidak tertarik."
"Bagaimana kalau kau berkencan dengan dia, Holly?" tanya
Tina. Ia memandang sepupunya sekilas.
Holly menggeleng. "Bukan tipeku," gumamnya.
"Terlalu normal?" goda Tina.
"Tepat," jawab Holly.
Carla melihat jam tangannya. Ia menggigit bibir dan
menggeleng. "Aku harus bicara dengan Josh bila mereka sudah
kembali." Ia mengambil sebuah batu Josh. "Kupikir dia tidak
menghargaimu." Tina memandang Carla ketika ia melemparkan batu itu ke udara
dan kemudian menangkapnya. Carla bicara seakan ia tahu sesuatu
tentang Josh. Sesuatu yang tidak diketahui Tina. Dan itu membuat
Tina merasa tidak enak. Seseorang mengetuk pintu.
Holly membukanya dan Chris melangkah masuk. "Aku lupa
aku ingin membawa catatan kimiaku ke studio. Ada apa, Carla?"
tanyanya. "Tidak ada apa-apa," jawab Carla. "Kami sedang menunggu
mereka." "Ada kabar?" Chris duduk di kursi belajar Josh.
Tina menggelengkan kepalanya. "Aku jadi khawatir."
"Jangan," Carla berkeras. "Malam ini sangat berkabut. Mereka
harus mengendarai mobil pelan sekali. Kupikir mereka baru sampai
setelah tengah malam."
"Carla benar," Chris menambahkan. "Dengar, bagaimana kalau
kita pergi ke pesta, daripada bengong di sini menunggu?"
"Ide yang bagus," teriak Holly.
"Bagaimana, ya," bisik Tina.
"Ayolah," desak Chris. "Josh pun takkan ingin kau bosan."
Tina berpikir beberapa saat. Waktu akan lebih cepat berlalu di
pesta. Dan ketika pesta berakhir, Josh pasti sudah kembali.
"Oke. Ayo pergi," katanya kepada Chris.
"Bagus," jawab Chris. "Bagaimana denganmu, Carla?"
Carla mengangkat bahu. "Kenapa tidak?"
"Aku mau ganti baju dulu." Holly mengambil jeans dan sweter
merah cerah dari atas ranjang. "Di mana kamar mandinya?"
"Di ujung gang," Carla memberitahu. "Keluar pintu dan di
sebelah kirimu." Tina membuka kopernya. "Aku akan menggantung beberapa
bajuku dulu." Ia mengambil dua potong pakaian yang dibawanya untuk dansa.
Gaun hitam yang seksi dan rok mini dengan blus putih. Rencananya ia
akan memakai salah satu yang paling disukai Josh.
Ketika ia mengibas-ngibaskan bajunya untuk menghilangkan
kusut, ia merasakan Chris sedang memandanginya. Ia merinding.
Dengan baju tersampir di lengan, Tina membuka pintu lemari.
Ia meraik gantungan yang kosong. Kakinya membentur benda
keras. Ia melihat ke bawah. Aneh sekali, pikirnya. Sepatu mendaki
gunung milik Josh" Jika Josh sedang mendaki gunung untuk mencari batu-batuan,
pikir Tina, kenapa Josh meninggalkan sepatunya di sini?"
Chapter 4 "KAU belum siap juga?" tanya Holly sambil masuk ke kamar.
Holly memakai jeans yang berlubang di lutut dan sweter merah ketat.
Anting-anting dari manik-manik menjuntai hampir sampai bahunya.
"Kenapa kau bengong begitu?"
"Aku sudah siap," jawab Tina sambil menutup lemari. Tapi ia
tidak bisa melupakan sepatu Josh yang tadi dilihatnya. Kenapa Josh
meninggalkan sepatu itu di lemari"
"Well, kita akan pergi atau tidak?" tanya Holly tidak sabar.
"Aku harus menulis pesan dulu buat Josh," jawab Tina. "Chris,
kita mau ke mana" Aku akan memberitahu Josh agar menyusul kita."
Ia menemukan bolpoin dan secarik kertas di lemari Josh.
"Ke pesta di Old Town," jawab Chris. Ketika Tina sedang
menulis, Chris menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Aku tak tahu
alamatnya. Katakan kepadanya agar menunggu kita di sini."
Carla menggeleng dan berdecak-decak. "Ia tak pantas
untukmu," katanya. "Jika aku sudah tiga bulan tidak ketemu pacarku,
aku pasti akan menunggunya di sini."
Tina menghela napas dan berusaha mengabaikan Carla. Tapi
mau tak mau ia setuju juga. Tenggorokannya terasa tersumbat ketika
ia meletakkan pesan itu di bantal Josh.
"Jangan dengarkan Carla," ujar Chris. "Josh akan segera
kembali." "Well, jangan hanya berdiri di sini dan ngomongin itu melulu,"
desak Holly. "Ayo pergi ke pesta."
Ketika mereka sampai di jip, Tina memutuskan untuk duduk di
jok belakang dengan Carla. Supaya Holly dan Chris bisa mengobrol
dan mungkin Holly akan tahu bahwa Chris ternyata tipenya.
Tina bergerak menaiki mobil.
"Tina," panggil Chris. "Duduklah di depan dengan aku, oke"
Dan jangan cemas lagi."
Bubar sudah rencanaku, pikir Tina sambil duduk di jok depan.
Ia membuka kaca jendela dan membiarkan angin yang sejuk meniup
rambutnya yang pirang ke belakang. Ia menatap langit yang cerah. Di
sini bintang-bintang bersinar lebih terang daripada di Shadyside.
Tina membayangkan Josh sedang bermobil di gunung. Tapi
masih saja ia tak bisa mengusir rasa gelisahnya.
"Chris," Tina mulai. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Rasanya ada sesuatu yang aneh. Kulihat sepatu mendaki gunung
milik Josh ada di lemarinya. Kenapa ia meninggalkan sepatu itu kalau
ia pergi kamping?" Mata Chris terbelalak. "Ia membawa sepatu baru. Sangat bagus,
dengan bantalan pergelangan kaki dua lapis dan kulit lembut."
"Sungguh?" jawab Tina, amat lega. "Tapi kondisi keuangan
Josh kan sedang mepet. Bagaimana ia mampu membeli sepatu baru?"
Chris mengurangi persneling dan berbelok di kelokan. "Ia pasti
tidak bercerita tentang pekerjaannya kepadamu. Ia menangani urusan
komputer untuk lab geologi. Upahnya lumayan."
"Kupikir ia pernah menyebut-nyebut hal itu," Tina berbohong,
malu untuk mengakui bahwa pacarnya tidak menceritakan pekerjaan
itu kepadanya. Tina memandang ke luar jendela.
"Hidupku tak menentu dan sendirian... begitu lama... sangat tak
adil." Kata-kata itu mengalun ke udara. Itu CD Spoiled Rotten,
pikirnya. Aku tak percaya Chris juga punya CD itu.
Tina menatap Chris. Cowok itu bersenandung mengikuti lagu
tadi. Aku yakin Chris rindu pada pacarnya yang dulu, pikirnya.
"Kau punya CD ini?" tanya Chris. "Susah lho
mendapatkannya." "Memang," jawab Tina. "Aku cari ke mana-mana, dan akhirnya
aku menemukan toko yang menjual berbagai macam barang yang
aneh." "Apa lagi yang kausuka?" tanya Chris.
Sebelum Tina sempat menjawab, Holly berteriak dari jok
belakang, "Musik ini bising sekali! Kecilkan dong."
Chris tersenyum pada Tina. Ia salah satu cowok paling tampan
yang pernah kutemui selama ini, pikirnya.
Mereka membelok ke jalan sempit yang diapit pepohonan, dan
menemukan tempat parkir di pinggir jalan.
"Kita sudah sampai," Chris mengumumkan. Ia mematikan
mesin mobil. Ketika mereka bergegas di jalan masuk yang panjang, Tina
mendengar dentuman bas gitar.
Mahasiswa-mahasiswa berkumpul di teras dan di halaman
depan. "Hei, Carla!" teriak seorang cowok jangkung. "Bill
mencarimu." "Well, ia harus terus mencari!" Carla balik berteriak sambil
menyibakkan rambut dari wajahnya.
Holly terkikik. Inilah yang disukai Holly, pikir Tina. Pesta dan cowok-cowok
untuk dikecengi. Begitu melangkah masuk, Tina merasa tidak enak. Aku yakin
semua orang tahu aku masih SMA, pikirnya.
Tina memperhatikan seorang cewek yang memakai jeans dan
rompi. Ada cincin perak di hidungnya. Cewek yang lain memakai rok
mini dengan kaus kaki yang panjangnya sampai paha, beberapa inci di
bawah keliman rok. Coba tadi aku ganti pakaian, pikir Tina. Semua orang akan
berpikir aku begitu membosankan. Anak SMA yang masih ingusan.
Tina mengikuti Chris melintasi ruang tamu. Beberapa cowok
menyapa Chris dan tersenyum pada Tina. Cowok-cowok college
ternyata memperhatikan dia juga! Mungkin ia tidak kelihatan
membosankan seperti yang dibayangkannya.
Akhirnya mereka menemukan tempat kosong di dinding dekat
jendela yang terbuka. Angin sepoi-sepoi yang sejuk terasa
menyenangkan. "Pesta yang hebat!" seru Holly. Ia bergoyang mengikuti irama
musik. "Bagaimana kalau kau dan Holly berdansa," Tina menyarankan
kepada Chris. Ia harus berteriak agar suaranya terdengar. "Ini salah
satu lagu kesukaannya."
Chris mengangkat bahu. "Well, aku tidak terlalu - "
"Oh, lihat!" Carla menyela. "Itu cewek yang jadi pemeran
utama di Our Town. Ayo, Holly, kukenalkan kau dengan dia."
Carla memegang Holly dan menariknya pergi, meninggalkan
Tina berduaan dengan Chris.
Tina mundur selangkah. Rasanya tidak enak berdiri begitu
dekat dengan Chris, walaupun mereka dikelilingi orang banyak. Pesta
college-nya yang pertama, dan seharusnya ia datang bersama
pacarnya, namun ternyata ia datang dengan teman sekamar pacarnya.
Tapi itu bukanlah bagian yang terburuk. Bagian terburuk adalah
ia merasa tertarik pada cowok ini.
Tina bergerak-gerak gelisah.
"Mau minum?" tanya Chris. "Ada soda di lemari es di sana." Ia
menunjuk ke seberang ruangan.
"Trims," jawab Tina.


Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau di sini saja, ya," kata Chris padanya. "Tempat ini penuh
sesak." Chris susah payah menerobos kerumunan orang. Tina langsung
tidak bisa melihatnya. Ia merasa agak kikuk berdiri sendirian. Ia lega
ketika akhirnya melihat Chris kembali menghampirinya.
Chris mengulurkan kaleng soda kepada Tina, dan membuka
sekaleng untuk dirinya sendiri. Chris meneguk sodanya, sambil
memandang ke sekeliling ruangan. "Aku jarang pergi ke pesta. Dulu
sih sering, tapi..." Ia mengalihkan pandangannya dari Tina.
Tina mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Chris, mencari
kata-kata yang tepat. "Jadi kau suka makanan pedas?" tanyanya tiba-tiba.
"Suka sekali," jawab Chris, tersenyum.
"Kau harus ikut Josh ke Shadyside. Ada restoran Meksiko yang
tidak terlalu jauh, di Waynesbridge. Taruhan deh kau tidak bakal
sanggup makan jalapenos mereka lebih dari satu."
"Oh, entah ya. Musim semi yang lalu di Old Town Festival ada
kontes. Dan tebak siapa yang menang?"
"Wah, siapa ya," goda Tina. "Berapa yang bisa kaumakan?"
"Selusin," Chris membual. "Kepalaku hampir meledak."
Tina tertawa. Pasti menyenangkan kalau ada Chris di
Shadyside. Ia begitu mudah diajak bicara, dan mereka punya banyak
persamaan. "Jadi apakah kau akan mulai sekolah di sini musim gugur
nanti?" tanya Chris.
"Tidak. Aku tak mampu melanjutkan sekolah di luar kota,"
jawab Tina. "Barangkali aku akan melanjutkan ke Waynesbridge
Junior College, jadi aku bisa tinggal di rumah."
"Sayang sekali," komentar Chris. "Ada beberapa tempat bagus
di sekitar sini yang bisa kutunjukkan.... Maksudku Josh bisa
menunjukkannya padamu, jika kau punya lebih banyak waktu."
Lagu slow mulai mengalun.
"Mau dansa?" tanya Chris.
"Tentu," jawab Tina.
Mereka berada di antara pasangan-pasangan lain. Tina
menyandarkan kepalanya di pundak Chris ketika mereka berdansa.
"Rambutmu harum," bisik Chris di telinganya.
Tina tersenyum dan merapat manja. Ia bisa merasakan otot-otot
Chris di balik kemejanya.
Enak rasanya dipeluk. Meskipun yang memeluknya orang yang
tidak semestinya. Ketika lagu berakhir, Chris membimbingnya ke luar, menuju
teras belakang untuk menghirup udara segar. Berjuta-juta bintang
seperti titik-titik di langit. Tina menengadah dan memandang bulan.
Bau segar rumput yang baru dipotong tercium dari halaman di bawah.
Tina menarik napas, kemudian mengembuskannya pelan-pelan.
"Indah sekali di sini," komentarnya. "Aku tahu kenapa kau suka
tempat ini." Chris melingkarkan lengannya di tubuh Tina. "Ucapkan
permintaanmu." Tina menatap bintang yang paling terang di langit. "Aku
berharap menjadi model yang terkenal suatu hari nanti," bisiknya,
sambil membayangkan dirinya menjadi gadis sampul Glamour atau
Vogue. Terbang keliling dunia dengan jet pribadi. Mengunjungi
tempat-tempat yang luar biasa. Punya cukup uang untuk mendapatkan
segala sesuatu yang diinginkannya.
"Mungkin aku bisa membuat harapanmu itu menjadi
kenyataan," kata Chris lembut sambil mengangkat dagu Tina
mendekati wajahnya. "Biar kufoto kau untuk portofoliomu."
Tina merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Selama beberapa
detik mereka saling menatap. Kemudian Chris menunduk dan
mencium bibirnya lembut. Tina merasa tubuhnya gemetar. Ia ingin Chris menciumnya lagi.
Chris menciumnya. Tina tidak mendengar langkah kaki di belakangnya sampai
semua sudah terlambat. Sampai terdengar suara berteriak, "Apa-apaan ini?"
Chapter 5 TINA terkejut dan langsung melepaskan diri dari Chris. Ia
berputar dan melihat Carla berdiri di sana, lengannya disilangkan di
dada. "Aku, uh... kami... tadi..." Tina tergagap seraya memasukkan
tangan ke dalam saku. Wajahnya merah padam.
"Hei - tak apa-apa," Carla mengangkat bahu.
"Kami barusan ingin pergi," kata Chris.
Bagaimana aku bisa mencium Chris seperti itu" tanya Tina
kepada dirinya sendiri. Selama dua tahun pacaran dengan Josh, ia tak
pernah mengkhianati Josh. Ia bahkan tak pernah berpikir untuk
mengkhianati Josh. Aku harus memaksa Carla bersumpah tidak akan bercerita
kepada orang lain, pikir Tina. Supaya Josh tak pernah tahu. Walaupun
sesungguhnya tak ada yang terjadi.
"Yeah. Ayo pergi," kata Tina. Sekarang ia semakin ingin
bertemu Josh. "Di mana Holly?"
"Aku tak tahu." Carla menyibakkan rambutnya yang menutupi
mata. "Ke mana Holly pergi?" tanya Tina. "Bukankah dia tadi
bersamamu?" "Hanya sebentar. Tapi kemudian segerombolan anak kota
masuk dan kami terpisah. Ia dansa dengan beberapa cowok, dan itulah
terakhir kali aku melihatnya," kata Carla.
"Anak kota?" tanya Tina.
"Kau tahu." Carla melambaikan tangannya. "Anak-anak lokal
yang tidak sekolah di sini. Mereka agak konyol."
Tina menoleh kepada Chris. "Aku akan mencari Holly."
"Aku yakin dia baik-baik saja," Chris meyakinkannya kembali.
"Kau tidak kenal Holly," jawab Tina, membayangkan yang
terburuk. Tina bergegas masuk kembali. Yang pasti pesta telah berubah.
Beberapa cowok yang lebih tua telah datang. Mereka mengoper
sebuah kantung kertas di antara mereka, meneguk isi botol di dalam
kantung itu. Tina merasa seseorang tengah menatapnya. Ia menoleh.
Seorang cowok dengan tato tengkorak di kedua lengan atasnya
berkedip padanya. Ia cepat-cepat menoleh ke arah lain.
Lantai bergetar karena dentuman musik heavy-metal yang
menggelegar. Udara pengap membuat Tina sakit kepala. Ia menerobos
orang-orang di lantai dansa, sibuk mencari sepupunya.
"Hei," terdengar suara rendah memanggilnya. "Kenapa buruburu?"
Tina menatap cowok yang mengikat kepalanya dengan kaus.
Mata cowok itu merah. "Aku sedang mencari seseorang," jawabnya pendek.
"Well, ini aku." Ia tertawa sambil menangkap pinggang Tina.
"Dansa?" "Tidak, trims." Tina menggeliat-geliat untuk melepaskan diri.
"Bagaimana kalau minum?" tanyanya sambil menyodorkan
gelas besar ke bibir Tina.
Rasanya pahit. "Tidak, sungguh, tidak usah," jawab Tina.
Didorongnya gelas itu menjauh.
Cowok itu menyambar lengan Tina. "Hei, kau cantik sekali.
Ayolah, dansa denganku. Satu kali saja. Aku tak akan menyakitimu."
Tina mencium bau napas tidak enak cowok itu. Ia menarik
lengannya dan buru-buru menyeberangi ruangan.
Itu dia, pikir Tina, lega. Ia melihat puncak rambut Holly yang
keriting. "Holly!" panggilnya. Susah payah ia melintasi ruangan.
Seseorang yang tidak dikenalnya berbalik. Bukan Holly.
"Apakah kau sudah menemukan dia?" tanya Chris sambil
melangkah mendekati Tina. Senyum Chris yang hangat membuatnya
merasa lebih enak, tapi hanya sedikit.
Tina menggeleng. "Tidak, belum."
"Aku akan mengecek dapur," Chris menawarkan. "Kau pergilah
ke koridor." Tina berjalan di sepanjang koridor yang sempit. Ia membuka
pintu sebuah kamar tidur. Kemudian ia membantingnya hingga
menutup setelah melihat tampang marah pasangan yang sedang
cekcok di dalam. "Maaf," gumam Tina. Ia menyesal sekali datang ke pesta ini.
Ketika akan balik ke ruang tamu, Tina mendengar seorang gadis
menjerit. Jeritan yang keras dan melengking.
Itu Holly! pikirnya. Aku tahu pasti!
Ia menerobos menuju pintu depan.
Ia sampai di teras ketika beberapa sepeda motor menjauh
dengan suara meraung-raung. Salah seorang pengemudinya memeluk
seorang gadis berambut cokelat keriting.
"Holly!" jerit Tina. "Kembali!" teriaknya, berlari di trotoar. Ia
tidak berhenti hingga tiba di pojok jalan.
Angin dingin bertiup, menderu-deru di antara pepohonan.
Sebuah kaleng kosong berkelontangan di sepanjang trotoar itu.
Ke mana mereka membawa Holly"
Tenanglah, Tina berkata kepada dirinya sendiri. Tenanglah.
Mungkin Holly ingin pergi bersama mereka.
Tetapi kalau benar begitu, kenapa ia menjerit"
Mungkin itu bukan Holly. Banyak gadis berambut cokelat keriting.
Aku harus mencari Chris, pikirnya. Chris tahu apa yang harus
dilakukan. Ketika melangkah kembali ke pesta, Tina melihat sesuatu yang
bersinar di trotoar. Benda itu berkilauan tertimpa cahaya bulan.
Apa itu" pikirnya sambil membungkuk.
Ia mengambil benda tersebut dan mengamatinya.
Dan terkejut. Tidak. Anting manik-manik milik Holly.
Chapter 6 TINA menggenggam anting Holly. Mereka membawa Holly, ia
tersadar. Mereka membawa kabur Holly.
Dengan sekujur tubuh gemetar, ia lari menaiki tangga teras dan
menabrak Carla. "Di sini kau rupanya!" seru Carla. "Aku mencarimu ke manamana."
"Mereka membawa dia!" jerit Tina. "Beberapa cowok naik
sepeda motor - mereka membawa kabur Holly!"
"Apa?" teriak Carla. "Kau bicara apa?"
"Holly dalam bahaya!" jerit Tina. "Kita harus mencari Chris dan
mengejar mereka." "Stop," potong Carla. Ia meletakkan tangannya di bahu Tina.
"Tenanglah. Holly bersama cewek bernama Alyssa Pryor. Itu
sebabnya aku mencarimu. Untuk memberitahumu. Ia baik-baik saja."
"Alyssa Pryor?" Tina mengulangi. "Dari Shadyside?"
Carla mengangguk. "Yeah. Katanya ia kenal Alyssa sejak dulu.
Dan Alyssa kuliah di departemen drama, jadi ia mengajak Holly
melihat gedung drama."
"Itu masuk akal," kata Tina. "Holly dan Alyssa pernah main
drama bersama di Shadyside. Aku lupa Alyssa melanjutkan sekolah di
sini." Tina merasa lega. Ia bisa membayangkan bagaimana
terkejutnya orangtuanya - dan orangtua Holly - jika mereka tahu ia
kehilangan sepupunya. "Tapi ini sudah lewat tengah malam. Kenapa mereka pergi ke
gedung drama sekarang?" tanya Tina.
"Anak-anak drama di sekolah ini sangat aneh," jawab Carla
sambil memutar bola mata. "Maksudku mereka itu ganjil sekali.
Terkadang mereka di panggung semalam suntuk."
Tina menguap dan duduk di tangga di dekat Carla. "Apakah kita
harus menunggu Holly di sini?"
"Tidak mau," jawab Carla. "Aku capek. Ayo kita cari Chris
untuk mengantarkan kita pulang."
"Tapi Holly bagaimana?" desak Tina.
"Holly bersama gerombolan anak-anak itu. Jangan cemas. Pasti
ada yang akan mengantarkannya," Carla menenangkan Tina.
Tina menghela napas. Ditatapnya langit. Awan-awan bergerak
menutup, tapi Tina melihat beberapa bintang. Dipilihnya bintang yang
paling terang. Saat ini ia ingin Josh sedang menunggunya di asrama.
Dan ia ingin tidak pernah, sekali pun, mencium Chris.
"Dengar," katanya pada Carla. "Tentang apa yang kaulihat
tadi." Mata Carla melebar. "Kau cewek pertama yang berkencan
dengan Chris sejak... kau tahu... kecelakaan itu."
"Bukan begitu," Tina berkeras. "Kami tidak pacaran."
"Aku bisa tertipu," kata Carla, tertawa.
"Aku punya pacar," jawab Tina.
"Well, aku selalu mengatakan," Carla melanjutkan sambil
menyeringai, "jika kau tidak bisa bersama orang yang kaucintai,
cintailah orang yang bersamamu."
"Sungguh, Carla," Tina ngotot. "Tolong jangan katakan apa-apa
kepada Josh. Janji?"
"Tak jadi soal," bisik Carla. "Kau tahu, college tidak seperti
SMA. Steve dan aku berkencan dengan orang lain. Hampir semua
orang melakukannya."
"Kalian kencan dengan orang lain?" tanya Tina. "Apakah kau
tidak cemburu?" "Tidak. Nanti juga kau akan terbiasa."
Tapi Tina merasa tidak bisa. Ketika ia membayangkan Josh
bersama cewek lain, dadanya terasa panas.
"Jangan katakan apa-apa," Tina mengulangi permintaannya.
"Jangan khawatir soal itu," kata Carla sambil berdiri.
"Bersenang-senanglah, Tina. Ini akhir pekanmu yang hebat di
college." ***********************************
Tina enggan bicara dalam perjalanan pulang ke asrama.
Chris menyetel radio, tapi Tina tidak bisa memusatkan
pikirannya pada musik. Kok Holly tega pergi tanpa memberitahu dia"
Dan kenapa Josh tidak berada di sini" Kenapa Carla begitu ingin
menjodohkan dia dengan Chris" Dan kenapa ia membiarkan dirinya
mencium Chris" Semakin ia mencoba memahami semua itu, ia semakin marah.
Pada Holly. Pada Carla. Pada Josh. Pada dirinya sendiri.
Chris menghentikan jipnya di pinggir jalan. Carla keluar dari
belakang bahkan sebelum Tina membuka pintu mobil.
"Sampai jumpa besok," kata Carla dan lari masuk ke asrama.
Kenapa ia begitu tergesa-gesa" Tina heran. Ia sungguh-sungguh
berusaha menjodohkan aku dengan Chris.
Tina menoleh kepada Chris. "Terima kasih untuk
tumpangannya," katanya. "Lebih baik aku ke atas. Aku yakin Josh
sudah kembali sekarang."
"Biar kuantarkan," Chris menawarkan diri.
"Sendirian juga tidak apa-apa kok," jawab Tina. "Sungguh."
"Aku hanya sebentar di atas," Chris berkeras. "Aku perlu
mengambil beberapa barang."
Jantung Tina berdetak lebih cepat ketika mereka masuk ke
asrama dan mulai menaiki tangga menuju kamar Josh.


Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ia membuka pintu. "Josh?" panggilnya dengan cemas. Tapi
sekali lagi dilihatnya ruangan itu gelap dan kosong.
Masih belum kembali, pikirnya, sambil menghela napas sedih.
Ia melihat catatan di ranjang masih di tempat ia
meninggalkannya tadi. Letak kertas itu tidak berubah.
Jam digital menunjukkan angka satu-lima belas.
"Di mana dia?" desaknya. "Mungkin mereka mengalami
kecelakaan." Chris menggeleng. "Aku yakin mereka baik-baik saja.
Barangkali mereka menyetir mobilnya pelan sekali. Jalanan
menyeramkan kalau gelap."
"Itulah sebabnya aku khawatir," jawab Tina. Ia mengecek mesin
penjawab telepon. Tidak ada pesan.
Tina menelan ludah. Ini sama sekali bukan kebiasaan Josh. Ada
yang tidak beres. "Apa kau ingin ikut aku ke studio?" tanya Chris.
"Tidak," jawab Tina cepat. "Aku menunggu di sini saja. Coba
lihat apakah Josh meninggalkan pesan di sana."
Chris menatap matanya. Ia ingin mencium aku lagi, pikir Tina.
Tetapi Chris ternyata cuma tersenyum.
"Aku akan meneleponmu kalau ada pesan di studio. Dan aku
akan menemuimu besok," janjinya. Chris melambai cepat, berbalik,
dan meninggalkan kamar. Sepuluh menit kemudian telepon berdering. Tina menghambur
untuk mengangkatnya. "Josh?" teriaknya. Ia ingin sekali mendengar suara Josh.
"Bukan. Ini aku. Chris."
Tina membawa telepon ke ranjang dan berbaring telentang.
"Ada kabar?" "Josh meninggalkan pesan untukmu di sini," kata Chris.
"Apa yang terjadi" Kenapa ia tidak menelepon ke asrama?"
"Ia sudah mencoba, tapi mesin itu rusak," Chris menjelaskan.
"Bengkel baru bisa menyelesaikan mobilnya besok. Jadi mereka harus
bermalam di motel yang kotor."
"Sungguh?" kata Tina melengking, tidak bisa menyembunyikan
kekecewaannya. "Kapan mereka kembali?"
"Mungkin besok siang. Kira-kira empat jam perjalanan," kata
Chris kepadanya. Empat jam. Mereka baru sampai saat makan siang. Tina hampir
tidak punya waktu bersama Josh.
"Tina, kau masih di sana?" tanya Chris.
"Ya. Terima kasih telah meneleponku," ujarnya. "Sampai jumpa
besok." Tina menutup telepon. Ini pasti menjadi akhir pekan yang
terburuk dalam hidupku! pikirnya marah. Barangkali harus menunggu
berbulan-bulan sebelum aku punya kesempatan bersama Josh lagi.
Dilemparkannya bantal ke seberang kamar.
Tina mengganti pakaiannya dengan kaus panjang dan naik ke
ranjang Josh. Ia mencium bau aftershave Josh di seprai. Seumur hidup
tak pernah ia merasa begitu rindu pada seseorang seperti ini.
Jika Holly tidak minggat, paling tidak aku punya teman untuk
kuajak bicara. Tina memutuskan untuk menunggu sepupunya.
Ia menarik majalah geologi dari meja di samping tempat tidur
Josh dan membalik-balik halamannya, mencari artikel yang menarik.
Batu-batuan dan mineral! Betapa membosankan.
Ia menemukan suatu artikel tentang tambang emas dan mulai
membaca. Tapi baru beberapa detik kata-kata itu mulai mengabur, dan
ia mengantuk. Sambil menguap, ia berjalan ke seberang kamar dan mematikan
lampu. Kemudian ia meringkuk di ranjang.
Cahaya bulan yang pucat keperakan menembus jendela. Wajah
menakutkan laki-laki di stasiun kereta api itu melintas di benaknya. Ia
memalingkan wajah dari jendela. Pikirkan sesuatu yang lain,
perintahnya pada diri sendiri. Tapi bentuk-bentuk asing di kamar itu
membuat imajinasinya menjadi liar.
Konyol. Aku ada di kamar asrama, aman tenteram.
Aku akan memikirkan Josh. Dan hanya Josh.
Tentang bagaimana rasanya ketika ia memelukku, Tentang
besok ketika aku akan pergi ke pasar malam bersamanya dan naik
Ferris Wheel. Lamunan yang indah. Lamunan yang membuatnya tenang.
Lamunan yang mengantarkannya tidur...
Suara apa itu" Tina terkejut dan bangun. Jam berapa ini" Berapa lama ia
tertidur" Ia tidak ingin bergerak, jadi ia tidak bisa melihat jam.
Ia masih berbaring, menahan napas.
Itu dia lagi. Bunyi klik yang aneh. Ada orang di sini, pikirnya. Ada orang di kamar ini.
Chapter 7 TINA duduk, memicingkan mata menatap kegelapan. Rasa
dingin merayapi punggungnya.
"Holly - kaukah itu?"
Tak ada jawaban. "Josh?" Aku harus menyalakan lampu, ia memutuskan.
Tapi bagaimana kalau memang ada orang di kamar ini"
Bagaimana kalau mereka membekapku ketika aku berdiri"
Tina mendengarkan dengan cermat. Ia tidak mendengar apa pun
kecuali jantungnya yang berdetak keras. Ia turun dari ranjang dan
berjalan di atas karpet. Dinyalakannya lampu. Matanya langsung mengamati kamar. Kosong.
"Wow," gumam Tina. "Aku pasti benar-benar stres. Aku
mendengar yang tidak-tidak sekarang."
Ia terpaku. Pintunya terbuka. Seseorang memang masuk ke kamarnya tadi. Ia melangkah ke
koridor. Diamatinya dari ujung ke ujung.
Tak ada orang. Keheningan yang mengerikan mencekam asrama.
Dengan gemetar, Tina masuk ke kamar lagi. Ia menutup pintu
dan menguncinya. Ia menyambar selimut dari atas ranjang, menyampirkannya di
sekeliling pundak, lalu ia mondar-mandir dengan gelisah.
Kok aku bisa membiarkan pintu tidak terkunci, pikir Tina.
Siapa yang masuk tadi"
Jam digital menunjukkan pukul empat. Empat! Dan Holly
masih tidak ada. Di mana dia"
Tina memandang malam di luar jendela. Awan gelap
bergulung-gulung di langit. Pasti akan ada badai, pikirnya sambil
menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tina membayangkan Josh tidur di kamar motel tua yang kotor.
Kecoa-kecoa merayap di dinding-dindingnya yang retak.
Ganjaran yang setimpal, Josh, pikirnya. Mengapa kau pergi
minggu ini" Tina menghampiri meja Josh. Ditariknya kursi lalu duduk.
Ia melihat surat terakhirnya kepada Josh terletak di atas meja.
Tina tersenyum. Josh menyimpannya. Kuharap ia akan selalu
menyimpannya. Ia memeriksa beberapa kuitansi pembelian CD, setumpuk uang
receh, dan tabel mineral. Di sampingnya terletak makalah tentang riset
formasi batu. Ketika mengambil makalah itu, ia melihat batu yang sudah
tidak asing lagi. Bukankah itu gantungan kunci yang kuberikan padanya Natal
yang lalu" Tina terheran-heran. Kenapa benda itu ada di sini"
Ia mengambil potongan kwarsa berbentuk empat persegi
panjang tersebut. Kuncinya tergantung di rantainya.
Bagaimana Josh bisa menyetir mobil tanpa membawa kuhci ini"
Ia selalu mengatakan kwarsa ini membawa keberuntungan. Ia tak
pernah pergi mengumpulkan batu tanpa membawanya.
"Aku akan menelepon Chris," bisiknya. "Chris tahu
jawabannya. Tidak, aku tak boleh menelepon Chris sekarang,"
bantahnya. "Sekarang masih tengah malam."
Oh, bagus. Sekarang aku malah bicara sendiri, pikirnya.
Kuasailah dirimu. Jangan begitu curiga. Lagi pula, Josh tadi kan
sudah menelepon. Aku akan tidur lagi. Ya, itu penyelesaiannya. Dan kemudian
ketika aku bangun, hari sudah pagi. Semua selalu kelihatan lebih baik
di pagi hari. Paling tidak, itulah yang dikatakan ibuku berkali-kali.
Ia naik kembali ke ranjang.
"Apa itu?" serunya keras.
Ada yang mengetuk jendela.
Tina memandang kegelapan malam. Hujan deras memukulmukul kaca. Kilat menyambar-
nyambar di langit. Guntur menggelegar
di udara. Tina merapatkan selimut ke dada.
Aku yakin Holly akan mengatakan badai ini pertanda buruk.
Tidurlah, Tina, katanya kepada dirinya sendiri. Jangan berpikir
yang macam-macam. Tidurlah. Ia terus-menerus mengulangi kata-kata
itu sampai matanya menutup.
**********************************
Ketika ia bangun, sinar matahari menerobos ke dalam kamar.
Nah, ini baru namanya pertanda. Dan pertanda yang bagus, pikirnya.
Badai sudah berlalu. Ia melihat jam sekilas. Sepuluh-lima belas. Bagaimana aku bisa
bangun begini terlambat" Josh akan kembali dua jam lagi!
Ia menoleh ke ranjang sebelah, berharap melihat Holly. Ranjang
itu belum disentuh. Pakaian Holly tetap di tempat ia meninggalkannya kemarin.
Holly pergi semalam suntuk.
Kau bukan ibunya, Tina mengingatkan dirinya sendiri. Holly
memang sudah menunggu-nunggu akhir pekan tanpa jam malam ini.
Well, jika Holly tidak menelepon aku, maka aku yang harus
menelepon dia, pikir Tina.
Ia menghubungi bagian informasi dan menanyakan nomor
telepon Alyssa Pryor. "Maaf. Nama itu tidak terdaftar," jawab suara merdu itu.
Sekarang bagaimana" Ia memutuskan untuk menelepon studio.
"Apakah Josh sudah kembali?" tanyanya tanpa basa-basi ketika
Chris mengangkat telepon.
"Ia baru tiba beberapa jam lagi, Tina," Chris mengingatkannya.
Tina menghela napas. "Kupikir mungkin ia akan meneleponku
dari motel pagi ini."
"Barangkali ia tidak mau membangunkanmu. Kauingin aku
datang dan mengantarkanmu dan Holly melihat-lihat kampus?" Chris
menawarkan diri. "Holly bahkan tidak pulang semalam."
"Barangkali ia terlalu asyik mengobrol dengan cewek
kenalannya itu," Chris mengajukan kemungkinan.
"Barangkali," jawab Tina, sambil memutar-mutar kabel telepon.
"Tenanglah." Suara Chris yang menenangkan membuatnya
merasa lebih baik. "Biar kuselesaikan mencuci satu set foto ini, lalu
aku akan segera ke sana."
"O ya, Chris?" kata Tina. "Aku menemukan kunci Josh tadi
malam." "Kau apa?" tanya Chris. "Aku tidak bisa mendengar suaramu.
Ada truk besar lewat. Oh, timer-ku berbunyi," katanya. "Aku akan
segera ke sana." Tina menatap gagang telepon dan mendengarkan nadanya.
Chris bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal.
Ia berganti baju. Musik dari kamar sebelah berdentum
menembus dinding. Tina merasa iri. Semua orang bersenang-senang. Semua,
kecuali aku. Ia mengambil sepotong mika hijau.
Mika ini persis seperti korsase pesta dansaku, pikirnya.
Ia masih menatap mika itu ketika Chris mengetuk pintu.
"Kupikir mungkin kau lapar." Chris mengulurkan sekantong
donat. "Semoga kau suka cokelat."
Ia suka. Malah, memang donat cokelat favoritnya.
Tapi ada sesuatu di benaknya yang lebih penting daripada
donat. "Chris, lihat apa yang kutemukan," katanya. Diambilnya kunci
Josh. "Bukankah katamu mereka naik mobil Josh?"
"Aku yakin ia punya kunci serep," jawab Chris cepat.
"Tapi kenapa ia tidak membawa gantungan kunci yang
kuberikan padanya?" tanya Tina. "Katanya gantungan kunci itu
membawa keberuntungan."
"Mungkin ia tidak ingin benda itu hilang," jawab Chris. "Atau
tergores. Mereka kamping di tempat yang sangat berbatu-batu."
Chris benar, pikir Tina. Ia melahap dua donat sambil berjalan ke kampus.
Matahari menyengat lengan Tina. Angin semilir yang sejuk
meniup pucuk-pucuk pepohonan. Chris berjalan dengan langkah
panjang dan lambat, lengannya berayun-ayun di sampingnya.
Jari-jari mereka bersentuhan. Tina memasukkan tangannya ke
saku celana. Aku harus hati-hati, pikirnya. Aku begitu tertarik
padanya. "Ini tempat perkumpulan mahasiswa," Chris menjelaskan ketika
mereka melewati beberapa rumah bergaya Victoria.
"Apakah kau mencoba jadi anggota salah satu perkumpulan
itu?" tanya Tina. "Mereka menyebutnya apa" Apakah kau berikrar
masuk perkumpulan mahasiswa?"
"Tidak," jawab Chris tajam. "Aku tidak suka yang begituan."
"Josh juga," jawab Tina.
"Sungguh" Lalu kenapa ia akan berikrar semester depan?" tanya
Chris. "Josh berikrar?" tanya Tina, terpana. Ia dan Josh selama ini
sepakat bahwa perkumpulan mahasiswa dan mahasiswi tak ada
gunanya. Apakah Josh sudah begitu berubah" tanya Tina dalam hati.
"Memangnya kalian jarang bicara akhir-akhir ini?" tanya Chris.
"Kurasa mungkin ia memang pernah menyebut-nyebut hal itu,"
Tina bohong. "Patterson College," seru Chris ketika mereka menaiki tangga
utama. "Rumah regu Mavericks yang kalah melulu. Kemampuan
mereka cuma satu touchdown pada setiap pertandingan."
"Apakah mereka tidak pernah menang?" tanya Tina.
"Hampir tidak pernah." Chris tersenyum. "Ayo kita lihat
departemen drama." Chris menunjuk ke bukit. "Kadang-kadang para
mahasiswa drama tidur di kamar rias. Mungkin Holly bersama
mereka." Chris dan Tina mendaki bukit yang landai, menuju bangunan
dari bata yang kelihatan mengesankan itu.
Ketika mereka masuk, Tina ternganga melihat atapnya yang
tinggi dan koridor-koridornya yang panjang. Poster berbagai drama
dan aktor terkenal berderet di dinding.
Gedung ini sama sekali tidak seperti departemen drama di
Shadyside yang kecil, pikir Tina.
Mereka melongok ke dalam beberapa ruangan.


Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ada orang di sini" Holly?" panggil Tina. Tak ada jawaban.
"Ayo ke belakang panggung," saran Tina.
Ia menarik Chris ke auditorium yang besar. Langkah kaki
mereka bergema ketika mereka menyeberangi panggung yang kosong.
Suatu hari nanti aku akan menjadi model di panggung seperti
ini, pikirnya. Melenggak-lenggok di pentas mengenakan pakaian yang
indah. "Apa yang sedang kaupikirkan?" tanya Chris.
"Modeling," jawabnya.
"Kau akan tampil menakjubkan." Chris menatap Tina dengan
kagum. Pandangan mata Chris membuat Tina gugup sekaligus bahagia.
"Ayo kita periksa kamar rias," desak Tina.
Tina naik ke panggung dan tergesa-gesa melintasinya. Ia
memeriksa semua kamar rias. Tampak kostum-kostum yang
mengagumkan di gantungan. Gaun-gaun model Victoria yang
panjang, mantel tanpa lengan, baju-baju robek, pakaian balet.
Kemudian ia memeriksa kamar perlengkapan pentas yang
penuh sesak. Sekolah ini benar-benar punya departemen drama yang
bagus, pikirnya. Pasti deh Holly akan melanjutkan sekolah di sini pada
musim gugur. "Holly tak ada di kamar rias," kata Chris.
"Dan ia tak ada di sini juga." Tina menghela napas.
Mereka menuju pintu keluar. Tina mendengar suara mendesir.
Dicengkeramnya lengan Chris.
Petugas kebersihan gedung muncul membawa sapu.
Aku harus menenangkan diri, pikir Tina. Aku begitu tegang.
"Sekarang ke mana?" tanya Tina.
"Coba kita ke kafeteria," saran Chris. "Holly toh harus makan -
bukankah begitu?" Tina tertawa. "Kadang-kadang."
Mereka bergegas berjalan ke sisi lain kampus. Bau kopi pahit
tercium dari jendela kafeteria.
Tina berlari masuk. "Apakah murid-murid drama tadi ke sini?"
ia bertanya pada sekelompok gadis di meja panjang.
Mereka menggeleng. "Pagi ini tidak," jawab gadis berambut
gelap panjang. "Tapi kurasa ada pesta semalam suntuk di Fifth Street."
Tina berpaling pada Chris. "Kaupikir mereka pergi ke sana?"
"Mungkin saja," jawab Chris. "Tapi kalau akhir pekan begini, di
mana-mana sih ada pesta!"
Kalau saja orangtuaku mengizinkan aku datang sendirian, pikir
Tina. Nasibku pasti jauh lebih baik.
Mereka meninggalkan kafeteria. Tina merosot duduk di rumput.
"Sekarang bagaimana?" tanya Tina. "Kita tak bisa naik mobil
mengelilingi seluruh kota ini. Aku tahu aku bukan penjaga Holly. Tapi
aku akan merasa lebih baik kalau tahu di mana dia."
"Kenapa kita tidak mencoba menelepon temannya itu?" saran
Chris. "Aku sudah mencoba. Namanya tidak terdaftar."
"Aku bisa mencari nomornya," kata Chris. "Ada buku alamat
murid di toko buku."
Tina menunggu sementara Chris bersusah payah mendaki bukit
menuju toko buku. Ia menarik selembar rumput dan memutarmutarnya di antara jari-
jarinya. Ia berada di kampus yang indah, tapi
tak bisa menikmatinya sesaat pun.
"Sudah dapat," kata Chris, membuyarkan lamunannya. "Ini
koin." Mereka menemukan telepon umum. Tina memasukkan koin dan
menghubungi nomor itu. Semangatnya bangkit. Alyssa akan
menjawab. Holly akan minta maaf karena tidak menelepon.
Tapi setidaknya aku bakal tahu Holly baik-baik saja, pikirnya.
Kemudian aku akan kembali ke asrama dan menunggu Josh. Josh
akan tiba sejam lagi. Setelah berdering dua kali, mesin penjawab telepon menyala.
"Ini Alyssa," terdengar suara yang kecil dan melengking. "Aku sedang
di panggung dan tak bisa menerima telepon. Tinggalkan namamu dan
aku akan - " Mesin itu tiba-tiba mati.
Tina menjatuhkan gagang telepon. Benda itu berayun-ayun di
dekat kakinya. Ada yang tidak beres. Tina tahu pasti sekarang. Suara di mesin
penjawab telepon tadi bukan suara Alyssa Pryor!
Chapter 8 "ADA yang tidak beres!" teriak Tina. Terlalu banyak yang tidak
beres, pikirnya. Terlalu banyak.
Ia tidak ingin mengakuinya, tapi indra keenam Holly benar kali
ini. "Mesin itu tiba-tiba mati. Aku bahkan tak bisa meninggalkan
pesan. Dan tadi bukan suara Alyssa."
"Kau tahu bagaimana para aktris," jawab Chris. "Mereka selalu
bermain-main dengan suara dan logat yang dibuat-buat. Mungkin
Alyssa sedang latihan untuk perannya."
"Mungkin," jawab Tina. "Tapi aku ingin Holly tahu kita sedang
mencari-cari dia." "Mau telepon ke rumah?" saran Chris. "Kau bisa pakai kartu
teleponku." Ia mengeluarkan dompet dan mencari-cari di antara kartu
kreditnya. "Wow! pikir Tina. Ia punya kartu kredit lebih banyak daripada
ibuku! "Tidak." Tina kembali ke tempat yang berumput tadi dan
terduduk lesu. "Tidak, jika Holly memang pergi dengan cowok-cowok
itu, ia bisa-bisa akan diomeli. Dan kemudian aku bakal diomeli juga."
Chris duduk di sampingnya, bahu Chris hampir menyentuh
bahunya. "Ini bukan salahmu."
"Kau tidak kenal orangtua kami sih," Tina menggerutu. "Kami
disuruh saling mengawasi."
Sepasang muda-mudi lewat sambil bergandengan tangan dan
tertawa-tawa. Tina iri pada mereka. Akhir pekan ini seharusnya
menjadi akhir pekan yang paling indah dalam hidupku, pikirnya.
Namun sejauh ini malah yang paling buruk.
Seekor burung biru berkicau di pohon di dekatnya. Tina
mendengar musik sayup-sayup di kejauhan.
"Pasar malam telah mulai," Chris menjelaskan. "Diadakan di
alun-alun utama. Kau ingin ke sana?"
Tina menyibak rerumputan dengan jarinya. "Jam berapa
sekarang?" tanyanya.
Chris melihat arloji. "Dua belas kurang sepuluh."
"Hampir jam dua belas?" Tina melompat berdiri. "Kita harus
kembali ke asrama. Bukankah katamu Josh akan kembali kira-kira
tengah hari?" Chris tidak menjawab. "Chris," desak Tina. "Ada apa?"
"Itu Carla, ya?" tanya Chris sambil menyipitkan mata.
Carla berlari-lari di rerumputan menghampiri mereka. Di bagian
dada kaus putihnya melintang tulisan PATTERSON MAVERICKS. Ia
memakai kacamata hitam untuk menahan rambutnya supaya tidak
tergerai ke wajah. "Akhirnya!" teriak Carla. "Kalian berdua ke mana saja?"
"Ke mana-mana," jawab Tina.
"Josh dan Steve menelepon," Carla memberi tahu.
"Mereka telepon!" detak jantung Tina semakin keras.
"Mula-mula ia mencoba menghubungi kamarmu," Carla
menjelaskan. "Tapi kau tidak ada."
"Well" Di mana mereka?" desak Tina.
"Mereka masih tertahan di sana. Mobil mereka sudah selesai
diperbaiki, tapi kemudian mogok lagi." Carla menyelipkan rambut ke
belakang telinga. Ia terus-menerus menoleh ke belakang.
"Jadi aku akan pergi ke sana untuk menjemput mereka." Carla
berbalik pergi. "Tunggu!" Tina menangkap lengan Carla. "Aku ikut."
Carla menggigit bibir. Matanya menatap Chris. "Tidak,"
katanya pada Tina. "Kau tidak boleh ikut!"
Chapter 9 "KENAPA?" Tina memegangi lengan Carla. Ia tidak mengerti
kenapa ia tidak boleh ikut.
Mengapa sikap Carla aneh sekali" Tina terheran-heran. Ia
bahkan tidak mau memandang aku. Josh kan pacarku. Aku ingin ikut
dia menjemput Josh. "Kau harus mengajak aku," Tina berkeras.
"Tak ada tempat," Carla menjelaskan. "Mobilku hanya punya
dua tempat duduk." Ia melepaskan cengkeraman Tina. "Salah seorang
dari cowok itu nanti harus bergelantungan di jendela."
"Oh." Tina menghela napas. "Tapi jip Chris kan kosong.
Bagaimana kalau kita pakai mobilnya?" tanya Tina penuh harap.
"Tentu," jawab Chris sambil menyerahkan kunci mobil. "Carla,
kau bisa pakai mobilku. Aku akan tinggal di sini, berjaga-jaga kalau
Holly kembali." Holly! pikir Tina. Aku tak boleh pergi sampai tahu Holly tidak
apa-apa. "Lebih baik aku juga tidak ikut," kata Tina kepada Carla dengan
enggan. "Tapi cepat kembali, ya. Dan katakan kepada Josh aku tidak
sabar untuk bertemu dia."
Carla mengangguk dan buru-buru pergi. Tina meletakkan
tangannya di bahu Chris. "Sikapnya aneh sekali, ya" Aku merasa ia
sebetulnya tidak ingin aku ikut."
"Mungkin ia akan menemui cowok-cowok lain di perjalanan,"
kata Chris. "Carla tidak bisa ditebak."
Menemui cowok lain" Mulut Tina menjadi kering. Mungkin
Carla ingin berduaan dengan Josh. Gadis itu pernah bilang bahwa ia
dan Steve berkencan dengan orang lain.
Selama akhir pekan ini Carla berusaha menjodohkan aku
dengan Chris. Tiba-tiba Tina menyadari sesuatu. Mungkin Carla
mendorong aku untuk mendekati Chris karena ia tertarik pada Josh.
"Chris - apa kaupikir Carla ingin mendekati Josh" Mungkin
karena itu ia tidak menginginkan aku ikut?"
"Steve kan ada di sana?" tanya Chris.
"Ya. Kukira kecurigaanku tidak beralasan. Tapi sikapnya
kepadaku aneh." "Kau terlalu khawatir." Chris merangkul Tina. "Dengar, kau
butuh bersenang-senang sedikit. Aku tak ingin akhir pekan ini kacaubalau
sepenuhnya. Jadi ini ideku. Temanku punya toko sepeda motor.
Ayo kita sewa skuter hari ini. Aku akan mengajakmu berkeliling. Dan
aku akan mengambil beberapa fotomu di luar ruangan untuk
portofoliomu." "Holly bagaimana?" tanya Tina.
"Kita akan terus menelepon kamar asrama saat jalan-jalan nanti.
Mungkin kita bahkan bisa menemukan Holly."
Setengah jam kemudian Tina duduk di belakang skuter,
memeluk pinggang Chris. Ketika mereka meluncur di jalan-jalan tua, angin meniup
rambutnya. Chris menghentikan motor di puncak bukit.
Tina memandang kota di bawahnya. Jalanan berkelok-kelok.
Pohon-pohon maple besar berderet di pinggirnya. Kota itu berakhir di
dasar gunung. Salju menutupi puncaknya yang paling tinggi.
Kuharap aku bisa melanjutkan sekolah di sini, pikirnya. Kota
ini indah sekali. "Ini Lookout Point," Chris menjelaskan. "Aku ingin mengambil
beberapa fotomu di sini."
Chris mengeluarkan kacamata berbingkai kawat dan
memakainya. "Aku perlu ini untuk fokus," katanya malu-malu.
Ia kelihatan tampan memakai kacamata, pikir Tina.
Chris mengatur kameranya sementara Tina berdiri di puncak
bukit. "Oke," kata Chris akhirnya.. "Lihat ke kota itu. Biarkan
rambutmu melambai bebas."
Dipencetnya tombol kamera. "Bersikap yang wajar, Tina."
Sulit melakukannya, pikirnya. Bagaimana aku bisa bersikap
wajar kalau Rob Roberts mungkin akan melihat foto-foto ini" Ia tak
tahu bagaimana mengatur posisi tangannya. Atau kakinya harus
diapakan. "Santai saja," bujuk Chris. "Pikirkan tentang nanti malam.
Tentang dansa." Tina membayangkan berdansa bersama Josh. "Bagus!" seru
Chris. "Itulah yang kuinginkan." Ia memotretnya berkali-kali.
Ia begitu cermat mengawasi aku, pikir Tina. Apakah semua
fotografer seserius ini" Atau ada sesuatu yang lain terjadi di antara
kami" "Oke," kata Chris sambil menurunkan kamera. "Di sini cukup."
Mereka meluncur ke perpustakaan, sebuah gedung tua besar
dari batu dengan jendela-jendela dari kaca warna-warni.
Chris memotret Tina beberapa kali waktu sedang duduk di anak
tangga. Dan ketika berjalan di depan tiang-tiang pintu masuk.
Jadi model untuk fotografer yang andal benar-benar
mengasyikkan, pikirnya. "Foto-foto ini akan hebat." Chris menggenggam tangan Tina
dan menggandengnya ke skuter. "Kau memang berbakat."
Jantung Tina berdebar-debar. "Kuharap begitu," katanya. "Sejak
lahir aku ingin menjadi model."
Sedetik Chris memandangnya dengan penuh cinta. Tina merasa
perutnya mulas. Ia begitu menikmati saat-saat menyenangkan ini
sampai melupakan Holly. "Kita harus kembali ke asrama. Bagaimana jika Holly ada di
sana, mencari aku?" "Tidak. Dengar, bagaimana kalau kita pergi ke pasar malam"
Tidak aneh kalau Holly tiba-tiba muncul di sana. Ia tahu kau pasti
akan ke tempat itu."
"Oke," Tina setuju.
Mereka naik skuter lagi dan meluncur membelah kota.
Di lampu merah Chris melompat turun. Sekarang apa lagi yang
akan dilakukannya" pikir Tina.
Chris menyambar kamera dan memotret wajah Tina yang
terkejut. Ketika lampu berubah hijau, Chris melompat naik lagi. Tina
melingkarkan lengannya kembali ke pinggang Chris.
Kuharap foto-foto ini hasilnya bagus, pikir Tina, kalau tidak
aku tak ingin orang lain melihatnya. Terutama Rob Roberts.
Ketika mereka sampai di alun-alun utama, Tina mendengar
Spring Fling Carnival sedang heboh-hebohnya. Jeritan-jeritan gembira
terdengar dari wahana piring oleng dan halilintar.
Aroma asin-manis popcorn dan harum manis menyambut
kedatangannya. Chris memarkir skuternya di bawah pohon. Ia meraih
tangan Tina dan membantunya turun.
Cowok-cowok yang memakai kaus bertulisan berbagai nama
perkumpulan mahasiswa di bagian dadanya berseru-seru pada mereka.
"Satu dolar untuk tiga lemparan! Di sini. Menangkan boneka beruang
untuk pacarmu!" Tina melihat seorang bocah yang lucu melemparkan anak panah
ke balon. Ia memenangkan boneka beruang yang besar sekali.
Seharusnya aku di sini bersama Josh, pikirnya. Chris baik
sekali. Mau menghabiskan waktunya bersamaku. Tapi ia bukan Josh.
"Ayo," kata Chris, sambil menarik tangannya. "Aku ingin


Fear Street - Terror Di Akhir Pekan College Weekend di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencoba lemparan sofbol itu. Akan kumenangkan hadiah untukmu.
Bagaimana kalau Barney ungu yang besar itu?"
"Uh! Tidak, trims," Tina memprotes.
Chris menyerahkan kameranya pada Tina. Penjaga stan
memberi Chris tiga bola sofbol untuk dilemparkan ke gelang-gelang.
Chris memutar-mutar bola pertama, kemudian melemparkannya
ke gelang. Ia berhasil. Sebelum melemparkan bola kedua, ia menoleh
dan tersenyum pada Tina. Lemparan kedua juga masuk ke gelang. Ia
mengedipkan mata pada Tina.
Tina menahan napas ketika Chris melemparkan bola sofbol
ketiga. Bola itu membentur sisi gelang dan jatuh ke lantai.
"Oh, well." Chris merogoh saku untuk mencari uang receh lagi.
Gawat, pikir Tina. Ia sama sekali tidak menginginkan boneka
Barney "Tina?" terdengar suara yang dalam memanggilnya.
"Jack!" serunya. "Hai!" Jack Hampron lulus dari Shadyside
High setahun sebelum Josh.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Jack. Ditatapnya Chris
dengan pandangan ingin tahu. "Bukankah kau masih pacaran dengan
Josh?" "Tentu," jawab Tina. "Aku datang untuk menengok Josh akhir
pekan ini. Tapi kau kan tahu Josh. Ia pergi untuk melakukan riset
geologi dan mobilnya mogok."
Jack menggeleng-gelengkan kepala. "Josh memang begitu."
"Ini Chris." Tina menarik Chris. "Teman sekamar Josh. Ia
mengajakku melihat-lihat."
Jack mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Chris. Chris
menjabat tangan Jack singkat.
"Lebih baik kita jalan lagi," Chris menyarankan. "Aku ingin
memotretmu di komidi putar." Chris memainkan tali kameranya.
Chris cemburu, pikir Tina.
"Sebentar dong," kata Tina. "Sudah lama aku tidak bertemu
Jack." "Keluargamu mengizinkan kau ke sini sendirian?" tanya Jack.
"Tumben." "Tidak," Tina mengakui. "Aku ke sini dengan sepupuku Holly.
Kau melihatnya di sekitar sini" Kupikir ia bersama Alyssa Pryor."
"Alyssa Pryor?" Jack mengerutkan dahinya. "Yang dari
Shadyside?" Tina mengangguk. Dari sudut matanya ia melihat Chris
memainkan kameranya dengan gelisah.
"Aneh sekali," komentar Jack. "Alyssa tidak kuliah di sini lagi.
Ia pindah ke sekolah seni di Seattle."
Chapter 10 "TIDAK mungkin!" teriak Tina. Jari-jarinya mencengkeram
lengan Chris. "Kau yakin" Alyssa Pryor" Yang berambut pirang
pendek" Yang ayahnya punya toko pakaian di mal?"
"Yakin sekali," jawab Jack. "Aku menelepon Alyssa minggu
lalu. Kami bahkan mengobrol tentang kau dan Josh. Tentang semua
orang dari Shadyside."
Kepala Tina mulai pusing.
Ada yang berbohong. Dan itu pasti Carla. "Kalau begitu di
mana Holly?" tanya Tina. Ia membayangkan Holly tergeletak di
selokan di suatu tempat. Atau diikat di kursi, disiksa pengendara
sepeda motor yang mabuk. "Mungkin ia bersama Alyssa yang lain,"
Sang Penerus 7 Kisah Tiga Kerajaan Sam Kok Romance Of The Three Kingdom Karya Luo Guan Zhong Dendam Dan Asmara 2
^