Pencarian

Rahasia Rahasia Kelam 2

Fear Street - Sagas Iii Rahasia Rahasia Kelam Forbidden Secrets Bagian 2


masuk ke dalam kamar Victoria. Lalu ia berhenti.
Yang dilihatnya membuat bulu kuduknya meremang ketakutan.
Victoria duduk di kursi goyang di dekat jendela. Bergoyanggoyang. Bergoyang-goyang maju-mundur. Dan berbicara.
Berbicara dengan Tyler. Bab 12 "KAU jahat, Tyler Fier. Apakah kau merasakan sinar
matahari?" tanya Victoria. Ia tertawa. "Semakin lama akan terasa
semakin panas." Victoria tidak mendengarku masuk, Savannah tersadar.
Kakaknya terus bergoyang-goyang dan berbicara. Savannah mendekat
perlahan-lahan. Lalu ia melihat boneka lilin di kusen jendela. Boneka lilin yang
mirip Tyler. EB?K?L?W?S.BL?GSP?T.C?M
"Apa yang kaulakukan, Victoria?" tanya Savannah. Ia berusaha
agar suaranya tetap tenang.
"Aku sedang menghancurkan Tyler untukmu," kata Victoria
pelan, mata cokelatnya tampak datar. "Dengan begitu dia tidak akan
bisa menyakitimu." Aku tidak bisa berbicara dengannya mengenai hal ini sekarang,
pikir Savannah. Ia berlutut di depan kakaknya. "Victoria, perang
sudah berakhir," kata Savannah lembut. "Para prajurit akan
berpulangan sekarang."
Air mata mengalir di mata Victoria. "Tapi siapa yang akan
pulang kepada kita" Zachariah sudah tewas."
"Teman-teman, tetangga..." jawab Savannah.
"Dan Tyler," kata Victoria. Suaranya dingin. "Aku tidak ingin
dia kemari. Aku tidak ingin dia berada di rumah kita."
Victoria meraih boneka lilin itu dan membawanya ke meja
samping ranjang. Ia menyulut sebatang lilin dan mengacungkan
kepala boneka tersebut ke atas api.
Savannah mengawasi dengan perasaan muram saat wajah
boneka lilin itu meleleh.
"Dia jahat!" jerit Victoria. Ia berbalik dan melemparkan boneka
itu ke dinding. Boneka tersebut berdentam jatuh ke lantai.
Aku tidak bisa meyakinkannya bahwa Tyler tidak jahat, pikir
Savannah. Ia harus melihat sendiri kebenarannya sesudah Tyler
kembali nanti. Kalau ia kembali. Savannah tidak suka memikirkan
kemungkinan bahwa Tyler tidak akan kembali. Tapi ia belum
menerima surat lagi. "Aku akan mencari makanan untuk kita," kata Savannah. "Kita
akan merayakannya malam ini."
Ia berbalik hendak pergi. Victoria menyambar lengannya.
"Tunggu. Aku punya sesuatu untukmu." Ia meraih sebuah kantong
flanel hitam dan mengulurkannya kepada Savannah. "Kantongnya
seharusnya berwarna merah, tapi aku tidak bisa menemukan flanel
merah. Tapi aku yakin hitam juga bisa."
Savannah tidak menerima hadiah itu. Ia mengetahui dari
Victoria bahwa kantong-kantong merah dipergunakan untuk mengusir
roh jahat. "Apa yang kaumasukkan ke kantong itu?" tanyanya,
sekalipun takut mendengar jawabannya.
"Tanah dari makam Ibu dan Ayah. Kantong ini akan
melindungimu dari roh jahat," Victoria berusaha meyakinkan
Savannah, matanya berkilauan.
"Aku tidak memerlukan perlindungan," kata Savannah.
*************** Beberapa minggu kemudian Savannah tengah melangkah
perlahan-lahan menyusuri kebunnya. Ia mencari-cari tunas hijau,
tanda-tanda apa pun yang menunjukkan bahwa benih yang
ditanamnya telah tumbuh. Begitu banyak prajurit yang menginjak-injak kebunnya, begitu
banyak prajurit yang kelelahan dan ingin pulang.
Mungkin sebaiknya kubangun pagar, pikirnya. Bagaimana
tanamanku bisa tumbuh kalau para prajurit terus-menerus menginjakinjak benihku"
Air mata menyengat mata Savannah. Ia mengetahui kalau para
prajurit tersebut tidak ada hubungannya dengan keadaan kebunnya.
Aku begitu kesepian, pikirnya. Victoria dan aku biasanya
bekerja bersama-sama. Sekarang aku berjuang sendirian.
Sebuah bayangan jatuh di tanah di depan Savannah. Prajurit
yang lain, pikirnya. Prajurit lain yang menginjak-injak kebunku.
Dengan lelah ia menengadah... dan membeku melihat pria yang
berdiri di hadapannya. Jantungnya berdebar. Aku pasti sedang bermimpi, pikirnya liar.
Aku pasti sedang bermimpi.
Dengan tangan gemetar ia menyentuh mimpi itu. Tapi mimpi
itu hangat. Mimpi itu mantap. Mimpi itu bukan mimpi sama sekali.
"Tyler!" jeritnya. Savannah memeluk leher pria itu. "Oh, Tyler!
Kukira kau tidak akan pernah kembali."
"Kau tidak menerima suratku?" tanya Tyler.
Savannah mundur hingga bisa menatap lurus ke mata biru
Tyler. "Ya, aku sudah menerima suratmu."
Pandangan Tyler berubah muram. "Aku menyesal mengenai
Zachariah." "Paling tidak kau selamat," bisik Savannah serak.
"Ya," jawab Tyler pelan. "Aku selamat. Dan aku sudah kembali
untukmu. Aku mencintaimu, Savannah." Ia memeluk Savannah.
"Maukah kau menikah denganku?"
Savannah melupakan kebunnya. Ia melupakan perkebunan
kapas yang kosong itu. Ia melupakan Victoria.
Ia hanya bisa memikirkan mata biru Tyler, yang memintanya
mengatakan ya. "Ya," bisiknya.
Tyler tersenyum. "Aku tidak sabar lagi ingin menunjukkan
Blackrose Manor padamu," katanya kepada Savannah, suaranya penuh
semangat. "Blackrose Manor?"
"Rumahku di Utara."
Savannah merasa ada beban memberati dadanya.
"Aku mencintaimu, Savannah," kata Tyler.
Aku pernah menolak ikut dengannya, pikir Savannah. Aku
menyesali keputusanku itu selama empat tahun. Tidak ada lagi yang
menahanku di sini sekarang. Aku tidak ingin menyesal lagi seumur
hidupku. "Tyler, aku ingin ikut denganmu," kata Savannah. "Sungguh.
Tapi aku tidak bisa meninggalkan Victoria seorang diri di sini."
"Dia akan ikut dengan kita. Kita bisa bahagia bersama." Tyler
membungkuk dan mencium Savannah.
Sungguh menyenangkan rasanya bisa menyentuh pria itu lagi.
Tapi keragu-raguan dan kekhawatiran melintas dalam benak
Savannah. Aku harus memberitahu Tyler tentang Victoria, pikir
Savannah. Aku harus memberitahu bagaimana Victoria telah berubah.
Ia melepaskan diri dari ciuman Tyler dan menyentuh wajah
Tyler yang tampan. Alis Tyler berkerut.
"Ada apa, Savannah?" tanyanya.
"Victoria. Dia berubah..."
"Kita semua berubah," kata Tyler. Ia mengulurkan tangannya
dan menunjukkan bekas luka bergerigi yang panjang di telapaknya.
"Ini tidak ada sewaktu aku pergi."
Savannah menutupi tangan Tyler dengan tangannya sendiri,
membenci pikiran bahwa Tyler pernah menderita. "Kau benar,"
katanya. "Tapi aku khawatir Victoria kehilangan kewarasannya. Dia
mendapat gagasan bodoh..."
Savannah berhenti. Ia tidak bisa memberitahu Tyler bahwa
Victoria menganggapnya jahat. Tyler akan sakit hati kalau tahu
kakakku tidak mempercayainya.
Ia mencoba menjelaskan. "Terkadang Victoria melakukan
tindakan yang aneh. Tapi dia tidak bermaksud menyakiti siapa pun."
"Mungkin perubahan ada baiknya baginya. Dia akan menyukai
Blackrose Manor," Tyler berusaha meyakinkan Savannah. "Kalian
berdua pasti akan menyukainya."
Savannah merasakan kebahagiaan membuncah dalam dadanya.
"Aku sudah tidak sabar untuk berangkat."
"Kalau begitu kita berangkat besok," kata Tyler.
"Besok," ulang Savannah. "Aku akan memberitahu Victoria."
************* Savannah menemukan Victoria di pemakaman kecil keluarga.
Kantong hitamnya tertempel di rok Victoria.
"Tyler sudah kembali," kata Victoria datar.
Savannah menyambar tangannya. "Ya. Dari mana kau tahu?"
Victoria tidak mengalihkan pandangannya dari batu nisan. "Aku
melihatnya." Pandanglah aku, Savannah ingin berkata begitu. Pandanglah
aku agar kau tahu segalanya akan baik-baik saja. Pandanglah aku agar
aku tahu bahwa kau baik-baik saja.
Tapi tatapan kosong Victoria tetap terpaku ke batu nisan granit
yang menyandang nama orangtua mereka.
Savannah melepaskan tangan kakaknya. "Kita akan tinggal
bersama Tyler di Blackrose Manor," kata Savannah. "Kita akan
meninggalkan kehancuran Selatan di belakang kita. Kita akan
mendapat makanan..."
Victoria tiba-tiba berbalik. "Diam!" bisiknya kasar. "Diam.
Dengarkan baik-baik. Apa kau tidak mendengar angin berbisik di selasela pepohonan ek" Membisikkan rahasia-rahasia, kebenarannya?"
Suara Victoria berubah semakin pelan. "Kalau kita pergi ke
Blackrose Manor, salah satu dari kita akan dimakamkan di sana
sebelum tahun ini berakhir!"
BAGIAN DUA Blackrose Manor Massachussetts, Musim semi 1865 Bab 13 KILAT menyambar. Guntur menggelegar. Angin kencang
mengguncang kereta kuda itu.
Savannah mempererat pelukannya pada lengan Tyler. "Apa kita
bisa tiba sebelum badai?" tanyanya.
"Tidak jauh lagi," kata Tyler. "Kurasa bisa."
Savannah melirik Victoria di belakangnya. Victoria meringkuk
di kursi belakang. Ia mencengkeram kantong hitam yang ditempelkan
ke roknya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Victoria yang malang, pikir Savannah. Dia ketakutan. Dia
benar-benar percaya bahwa Tyler jahat"dan salah satu dari kami
akan tewas di Blackrose Manor.
Savannah berharap bisa meyakinkan Victoria. Tapi ia tahu tidak
ada yang bisa dikatakannya dan bisa membuat kakaknya merasa lebih
baik. Tyler menghentikan kereta kudanya. Ia turun dan membuka
gerbang besi yang tinggi.
Kami sudah tiba, pikir Savannah. Ia membungkuk ke depan,
tapi yang bisa dilihatnya hanyalah pagar yang tinggi. Mawar-mawar
berduri merambati jerujinya.
"Lihat, Victoria. Kau pernah melihat mawar merah sepekat itu"
Tampaknya hampir-hampir hitam."
"Aku tidak menyukai tempat ini, Savannah," kata Victoria.
Savannah mengulurkan tangan ke belakang dan meremas
tangan Victoria. "Mungkin badai sudah membuatmu gugup," katanya.
Tapi ia tahu bukan badai yang membuat kakaknya terusik.
Kereta kudanya berguncang saat Tyler kembali naik. Ia
menggerakkan kekangnya dan memandu kudanya melewati gerbang
yang terbuka. Angin menyapu beberapa kelopak mawar ke kereta. Salah
satunya mendarat di pangkuan Savannah. Ia mengambil kelopak yang
lembut itu dan mengamatinya.
Aku keliru, pikirnya. Mawar ini bukan merah tua. Malah bukan
merah sama sekali. "Aku belum pernah melihat mawar hitam," kata
Savannah. "Di sini ada di mana-mana," kata Tyler. "Rumahku dinamakan
sesuai dengan mawar-mawar itu." Ia menunjuk ke depan. "Itu rumah
baru kalian." Savannah tersentak. Rumah besar tersebut terbuat dari batu
kelabu yang dingin. Kedua menaranya menusuk langit yang
menggelap. Savannah ingin menyukai Blackrose Manor. Tapi ia merasa
rumahnya di Selatan"dengan serambi lebar dan tiang-tiang yang
anggun"jauh lebih terbuka.
Tyler menghentikan kudanya. Ia melangkah turun dari kereta.
Sesaat kemudian ia membukakan pintu bagi Savannah dan
mengulurkan lengan kepadanya.
Mereka melangkah menyusuri tangga batu besar yang menuju
ke pintu depan. Victoria mengikuti.
Tyler membuka pintu kayu tebal itu. Savannah dengan hati-hati
melangkah menyusuri lorong ruang utama sementara Tyler menahan
pintu untuk kakaknya. Lilin-lilin berkerlap-kerlip di tempat lilin yang menggantung
tinggi di atasnya. Tapi cahayanya tidak cukup kuat untuk menerangi
ruangan besar itu. Savannah menatap sekitarnya, berusaha menyerap segala
sesuatunya. Ia menyadari adanya sederetan foto di sepanjang dinding.
Ia melangkah ke sana"lalu berhenti sambil menjerit terkejut. Ia
menekan tangan ke tenggorokannya.
Seorang wanita kurus berdiri di ambang pintu seberang. Gaun
kelabu besinya cocok dengan ubannya yang diikat ekor kuda.
Wanita itu begitu kurus sehingga kulitnya seperti tertarik
kencang di tulang wajahnya.
Tampaknya seperti memandang tengkorak, pikir Savannah.
"Selamat malam, Mrs. Mooreland." Tyler muncul di belakang
Savannah dan meletakkan satu tangan di bahunya. "Perkenalkan, ini
Savannah. Sebagaimana yang kauketahui, kami akan menikah."
Tyler berbalik ke arah Victoria dan meraih tangannya. Victoria
melangkah mundur. Tyler mengangkat bahu.
"Dan wanita yang manis ini Victoria"kakak Savannah."
"Kenapa ada yang mau tinggal di sini?" bisik Victoria. "Tempat
ini begitu dingin dan suram."
Savannah melontarkan pandangan memperingatkan kepada
Victoria, "Kita di sini tamu," katanya pelan.
"Tidak untuk waktu lama," Tyler meralat. Ia tersenyum dan
memeluk Savannah. "Sesudah kita menikah, kau akan menjadi istriku,
bukan tamuku. Dan Victoria akan menjadi kakakku."
Dia berusaha keras agar Victoria merasa nyaman. Kuharap
Victoria mau memberinya kesempatan, pikir Savannah.
"Aku harus membereskan kuda dan keretanya. Mrs. Mooreland,
tolong tunjukkan pada Savannah dan Victoria kamar mereka masingmasing." Tyler mengecup pipi Savannah sekilas. "Kalian bersama
orang yang baik," gumamnya.
Mrs. Mooreland tidak mengatakan apa-apa.
Ia menatap Savannah. Ekspresi wajahnya muram,
pandangannya dingin. Savannah menyambar tangan Victoria"dan kakaknya tidak
menariknya. "Tolong antar kami ke kamar," katanya kepada Mrs.
Mooreland.

Fear Street - Sagas Iii Rahasia Rahasia Kelam Forbidden Secrets di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mrs. Mooreland menyipitkan mata hitamnya. "Baiklah. Ikuti
aku." Dengan detakan tumit yang nyaris tak terdengar, Mrs.
Mooreland mengajak mereka menaiki tangga batu putar
"Tempat ini membuatku takut," kata Victoria saat mereka
mengikuti Mrs. Mooreland menaiki tangga.
Savannah meremas tangan kakaknya. "Kita akan baik-baik
saja," ia berjanji. Mrs. Mooreland melirik ke balik bahunya yang kurus. "Hatihati di tangga. Setelah bertahun-tahun ini batunya sudah berubah halus
dan licin." "Terima kasih untuk peringatannya, Mrs. Mooreland," jawab
Savannah. Pelayan tersebut hanya mengangguk dan terus menaiki tangga.
"Please, Savannah, kita kembali saja ke Whispering Oaks.
Sebelum terlambat," pinta Victoria.
"Whispering Oaks sudah tidak ada lagi," jawab Savannah kasar.
"Kau tahu itu. Rumah kita di sini."
"Tapi aku bisa merasakan roh jahat di rumah ini... mengintai di
balik bayang-bayang," kata Victoria pelan.
"Omong kosong," tukas Savannah. "Kita hanya perlu
menambah lilin dan mengusir bayang-bayangnya."
"Kurasa lilin tidak akan membuat perbedaan apa pun," kata
Victoria. "Semuanya akan baik-baik saja begitu kita sudah terbiasa,"
Savannah berjanji. Ia berharap telah mengatakan yang sebenarnya.
Di puncak tangga Mrs. Mooreland membuka sebuah pintu.
"Salah satu kamar tamu."
"Aku yang ini saja," kata Victoria. Ia bergegas masuk dan
menutup pintunya. "Bijaksana, dia memutuskan untuk bersembunyi," kata Mrs.
Mooreland. Savannah tertegun mendengar komentar wanita itu. Para
pelayan di Whispering Oaks tidak akan pernah mengeluarkan
komentar seperti itu. "Kamarku di mana?" tanya Savannah tegas, tidak
mengacuhkan komentar wanita itu.
Mrs. Mooreland melintasi lorong dan membuka pintu yang lain.
"Di sini." Savannah melangkah masuk. Api menyala di perapian"tapi
ruangan masih terasa dingin dan lembap. Tirai-tirai hitam
menyembunyikan jendela-jendelanya. Selimut hitam menutupi
ranjangnya. Aku merasa seperti di pemakaman, pikir Savannah. Kenapa
tidak ada warna di rumah ini" Kenapa segalanya begitu dingin"
Ia berbalik hendak bertanya kepada Mrs. Mooreland, tapi
berhenti. Ia tidak ingin pelayan tahu dirinya merasa tidak nyaman di
rumah Tyler. Ia berkacak pinggang dan tersenyum. "Well, bisa kulihat tugas
pertamaku adalah membuat cerah ruangan-ruangan di sini."
Mrs. Mooreland tidak menjawab. Suara napasnya yang keras
memenuhi ruangan. Ia mendekati Savannah dan membungkuk"
begitu rupa hingga bisa menatap lurus ke mata Savannah.
Naluri pertama Savannah adalah mundur. Tapi ia memaksa diri
untuk tetap berada di tempatnya dan membalas tatapan Mrs.
Mooreland. "Kau tidak diinginkan di sini," kata pengurus rumah itu.
"Pergilah selagi masih bisa."
Bab 14 SAVANNAH merasa perutnya melilit. Benar-benar kata-kata
yang kejam, pikirnya. Tapi ia mempertahankan ekspresi wajahnya
agar tetap kosong. Savannah tidak akan membiarkan Mrs. Mooreland
tahu bahwa kata-katanya telah menyakitinya.
Ia memiringkan kepalanya dengan sikap keras kepala. "Terima
kasih, Mrs. Mooreland. Kau boleh kembali melakukan tugas-tugasmu
yang lain." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pelayan itu meninggalkan
kamar dan menutup pintu di belakangnya.
Savannah bergegas menuju perapian. Api kecil berderak-derak
di perapian batu yang lebar itu. Ia berlutut di depan api dan
mengulurkan tangan ke depan kobaran oranye tersebut.
Rumah ini dingin sekali, pikir Savannah. Tulang-belulangnya
serasa membeku di dalam tubuhnya.
Kukira rumah Tyler akan sama seperti Whispering Oaks
sebelum perang, pikirnya sedih. Tempat yang gembira, dipenuhi
kehangatan, warna, dan keceriaan.
Ia menggigil. Dan aku mengira akan mendapat sambutan
hangat. Kenapa Mrs. Mooreland sejahat itu" Kenapa Lucy tidak turun
menyambut kedatangan kami"
Tyler telah memberitahu Savannah bahwa Lucy bagaikan
adiknya. Orangtuanya menjadi wali Lucy sesudah orangtua gadis
tersebut tewas. Sekarang Tyler merasa bertanggung jawab atas gadis
itu. Savannah menggigil. Aku harus menemui Tyler, pikirnya
sambil bangkit berdiri. Aku harus bicara dengannya. Ada yang tidak
beres di sini. Ia melangkah keluar dari kamarnya. Api lilin-lilin berkerlapkerlip di tempat lilin di atas kepala. Ia mendengar sesuatu bergeser di
batu. Lalu ia mendengar debuman dari lantai dasar.
Ia bergegas menuju tangga dan menuruni anak tangganya yang
licin secepat mungkin. Di tengah-tengah tangga ia melihat sesuatu
yang begitu menakutkan hingga ia harus menekankan tangan ke
mulutnya agar tidak menjerit.
Apa yang dilakukannya" Apa yang dilakukan Tyler"
Tyler mondar-mandir di ruang utama. Tangannya
menggenggam pisau daging tinggi-tinggi. Wajahnya berkerut murka.
"Jangan menatapku!" teriaknya. "Jangan menatapku atau akan
kucungkil matamu!" Bab 15 Tyler mengambil salah satu foto dari dinding dan
membuangnya. Ia menyerang foto tersebut dengan pisau dagingnya,
menikamnya berulang-ulang.
Savannah berdiri membeku di tengah-tengah tangga. Ia
mengumpulkan keberaniannya."Tyler?" panggilnya lembut.
Tyler berhenti, tangannya mengacung di udara, pisaunya siap
menghunjam foto. Savannah merasakan detak jantungnya bertambah
cepat sewaktu Tyler berbalik, pandangannya memancarkan kesedihan.
"Mereka tidak mengerti Savannah," katanya. "Mereka tidak
mengerti bahwa aku harus melakukan apa yang harus kulakukan
selama perang." Savannah bergegas menuruni tangg. Ia menatap foto-foto yang
masih berjajar di dinding. Foto-foto nenek moyang Tyler.
"Tidak penting mereka mengerti atau tidak," katanya. Ia maju
beberapa langkah mendekati tyler. "Aku toh mengerti."
"Kau tidak bisa mengerti," Tyler bersikeras. "Begitu banyak
pembunuhan... begitu banyak darah. Kau akan membenciku kalau
tahu apa saja yang sudah kulakukan."
"Aku tidak akan pernah bisa membencimu," kata Savannah.
"Selama perang kita semua harus melakukan apa yang harus
dilakukan untuk bertahan hidup." Ia maju lagi. "Tapi sekarang perang
sudah berakhir." Pisaunya jatuh berdentang di lantai. Tyler menarik Savannah
dan memeluknya. "Aku tidak ingin melihat darah lagi," katanya
dengan suara gemetar. Savannah menyibakkan rambut Tyler dari keningnya. "Victoria
dan aku terpaksa menyantap cacing," katanya kepada Tyler, berharap
bisa membuat Tyler tersenyum.
Tyler tertawa. Savannah bisa merasakan dada Tyler
berguncang-guncang di balik kemejanya.
Ia memiringkan wajahnya dan menatap mata biru Tyler.
"Bersama-sama kita bisa melupakan perang," bisiknya.
"Ya," jawab Tyler. "Bersama-sama kita bisa."
Ia menunduk dan mencium Savannah. Savannah membalas
ciumannya dengan penuh gairah. Aku begitu mencintainya, pikirnya.
Hanya dialah yang kuinginkan.
Savannah mendengar jeritan melengking. Ia menyentakkan
dirinya menjauhi Tyler. Jeritan melengking tersebut kembali terdengar.
Savannah memerlukan waktu sejenak sebelum menyadari
bahwa yang menjerit itu Victoria.
Bab 16 SAVANNAH mendengar suara langkah-langkah kaki berderap
menuruni tangga. Seorang gadis muda bergaun hitam muncul. "Tyler, tolong
aku!" jeritnya sambil melesat menuruni tangga dan menghambur ke
dalam pelukan Tyler. Victoria kembali menjerit. Ia bagai melayang menuruni
beberapa anak tangga terakhir. "Kembalikan kantongku," jeritnya. Ia
menerjang gadis tersebut.
Savannah menyambar bahu kakaknya dan menahannya. Ia bisa
merasakan Victoria gemetaran. "Aku membutuhkan kantongku,
Savannah. Aku tidak aman di sini tanpa kantong itu. Aku memerlukan
perlindungan dari roh-roh jahat. Please, suruh dia mengembalikan
kantongku." "Apa benar, Lucy?" tanya Tyler. "Apa kau mengambil milik
Victoria?" Jadi ini yang namanya Lucy, Savannah tersadar. Ia masih anakanak.
"Jawab, Lucy," kata Tyler tegas.
Lucy mengangguk. "Tapi aku hanya ingin melihat isinya,"
katanya. "Aku tidak bermaksud menyimpannya."
"Kembalikan, dan minta maaf padanya," kata Tyler. "Lucy
paling senang mengetahui berbagai rahasia," katanya kepada
Savannah. "Dia menyelinap diam-diam ke sana kemari seperti tikus
kecil, berharap mendengar sesuatu yang menarik."
Lucy mengulurkan kantongnya, dan Victoria segera
menyambarnya. "Maaf," kata Lucy dengan suara pelan melengking.
Victoria tidak menjawab. Ia sibuk berusaha menempelkan
kantong itu kembali ke roknya dengan peniti.
"Biar aku saja," kata Savannah. Ia menjepitkan kantong itu ke
tempat semula. Savannah tidak suka mendorong Victoria semakin mendalami
kepercayaan anehnya. Tapi kalau Victoria percaya kantong tersebut
bisa melindunginya dari roh jahat, Savannah merasa keyakinan itu
tidak berbahaya. Ia ingin kakaknya bahagia di Blackrose Manor.
"Lucy, ini Miss Savannah Gentry dan Miss Victoria Gentry.
Ingat aku pernah menulis surat padamu dan memberitahu bahwa
mereka akan tinggal bersama kita mulai sekarang."
Lucy memandang Savannah. Rambut keriting hitamnya
membingkai wajahnya yang muda. "Apa ibu dan ayahmu juga
meninggal?" tanya Lucy. "Itu sebabnya aku tinggal di sini."
"Ya, memang." Seketika Savannah bersimpati terhadap gadis
kecil yang mata hitamnya memancarkan begitu banyak kesedihan.
Lucy tidak mungkin lebih dari tiga belas tahun, pikir Savannah.
Begitu muda untuk menjadi yatim piatu.
Tyler melepaskan gadis itu. "Kembalilah ke atas dan bersiapsiaplah untuk makan malam. Aku ingin bicara empat mata dengan
Miss Savannah." Lucy dengan enggan menyeberangi ruangan dan menaiki
tangga. Savannah menyikut Victoria pelan, dan kakaknya mengikuti
gadis muda itu. Tyler mengambil foto yang telah berantakan dan pisau daging
dari lantai. "Kuharap Victoria dan Lucy tidak menyadari ini."
"Mereka terlalu sibuk dengan pertengkaran mereka untuk
memperhatikan," Savannah berusaha meyakinkan Tyler.
"Kau menyukai kamarmu?" tanya pria itu.
Savannah tahu Tyler berusaha menggembirakannya.
"Aku menyukai kamarnya," kata Savannah pelan. "Tapi, Tyler,
kenapa semuanya berwarna hitam?"
Tyler mendesah dalam. "Itu perbuatan ayahku. Sewaktu ibuku
meninggal, dia mengatakan rumah ini berduka cita. Dia
memerintahkan untuk mendekorasi seluruh rumah dengan warna
hitam. Kita bisa mengubahnya sekarang sesudah kau berada di sini."
Savannah memutuskan untuk tidak memberitahu sikap kasar
Mrs. Mooreland kepada Tyler. Sudah cukup kekacauan yang terjadi
untuk satu hari. "Kurasa sebaiknya aku ke atas dan bersiap-siap untuk makan
malam," kata Savannah.
Tyler mengangguk. Savannah bisa merasakan pria itu mengawasinya sewaktu ia
menaiki tangga. **************** Savannah berdiri di depan cermin, mengagumi gaun satin
birunya. Hadiah dari Tyler.
Ia berputar sedikit dan memandang pantulannya di belakang. Ia
telah menyikat rambut pirangnya hingga mengilat bagai sutra.
Beginilah kehidupan sebelum perang, pikirnya. Mengenakan
pakaian-pakaian yang indah. Bersiap-siap untuk makan malam
istimewa. Merasa cantik. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan menyusuri lorong ke
kamar Victoria. Ia mengetuk, dan Victoria membukakan pintunya.
Kakaknya mengenakan gaun ungu tua.
Aku senang Tyler berpikir untuk juga menghadiahkan gaun
untuk Victoria. Bagaimana aku bisa turun untuk makan malam dengan
pakaian seperti ini kalau Victoria masih mengenakan salah satu
pakaian lama kami yang sudah lusuh.
"Kau cantik," seru Savannah. "Kau siap untuk turun?"
Victoria mengangguk. Ia mengelus kantong flanelnya.
Savannah memimpin turun. Ia bersidekap saat berusaha
memutuskan di mana ruang makannya.
"Kau juga merasakannya, bukan?" tanya Victoria pelan. "Ada
yang aneh dengan tempat ini. Begitu dingin dan gelap. Sekalipun
banyak api yang menyala, tapi tidak terasa hangat. Ada banyak lilin di
ruangan ini, tapi cahayanya tetap saja remang-remang."
Savannah menggosok-gosok lengannya. "Ini rumah tua. Sudah
kumuh, itu saja." "Lewat sini, Savannah," ia mendengar Tyler memanggil.
Savannah mengikuti suara pria itu menyusuri lorong dan memasuki
ruang makan resmi. Savannah ingin mengerang sewaktu melihat taplak hitam yang
menutupi meja panjang. Aku harus mengubah semua warna hitam ini,
pikirnya. Tyler melangkah ke depannya, senyum kagum merekah di
wajahnya. "Kau cantik malam ini, Savannah."
Savannah merasa wajahnya memerah saat Tyler meraih
tangannya dan mengecupnya.
"Cantik sekali," bisik Tyler. Ia membimbing Savannah ke kursi
di dekat kepala meja. "Kuminta kau duduk di sampingku. Dan,
Victoria, kau duduk di sisiku yang satu lagi," tambahnya buru-buru.
Lucy berlari masuk dan menjerit sewaktu melihat Victoria
duduk. "Itu tempatku!" serunya.
"Malam ini menjadi tempat Victoria," kata Tyler. "Kau boleh


Fear Street - Sagas Iii Rahasia Rahasia Kelam Forbidden Secrets di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

duduk di sana besok malam."
Lucy merengut. "Kalau begitu, apa aku boleh menyalakan
lilinnya?" tanyanya.
"Tidak, aku yang akan menyalakannya," kata Mrs. Mooreland
sambil memasuki ruangan. Sambil mendesah keras Lucy mengempaskan diri di kursi di
samping Victoria. Mrs. Mooreland menyulut lilin-lilin di atas meja. Seorang
pelayan muncul membawa semangkuk besar sup dan menuangkan
untuk mereka masing-masing.
Air liur Savannah menitik. Perutnya mengencang. Sudah lama
sekali aku tidak menyantap makan malam seperti ini, pikirnya.
"Aromanya nikmat sekali, Mrs. Mooreland," kata Tyler.
"Terima kasih, Sir," kata Mrs. Mooreland sebelum bergegas
keluar ruangan. Savannah melirik Victoria. Kantongnya tergeletak di samping
piringnya. Ia membalik-baliknya, terus menyentuhnya.
"Tyler akan mengajariku berkuda," kata Lucy dengan penuh
semangat. Savannah mengalihkan perhatiannya kepada Lucy. "Bagus
sekali. Aku dan Victoria sudah berkuda sejak kami masih sangat
muda. Benar, bukan, Victoria?" tanyanya, mencoba untuk
mengalihkan perhatian Victoria dari kantongnya.
"Ya," kata Victoria tanpa menengadah.
"Tyler juga akan mengajariku main piano," kata Lucy.
Lucy mencintai Tyler, Savannah tersadar. Betapa manisnya.
Setiap kalimat yang diucapkannya selalu mengandung nama Tyler.
Savannah menghirup supnya beberapa teguk. Menikmati setiap
sayur, setiap bumbu. Sebelum supnya habis, Mrs. Mooreland telah
muncul membawa hidangan utama"daging domba dan tiram.
Sementara pengurus rumah itu menyajikan hidangannya,
Savannah tersadar bahwa Lucy menatap api lilin. Ia bisa melihat
apinya memantul di mata hitam gadis itu.
Perlahan-lahan, Lucy mengulurkan tangan ke arah apinya.
Jemarinya semakin lama semakin dekat.
Victoria menampar tangan Lucy. "Hentikan!" katanya.
Lucy mengerutkan hidungnya yang mungil. "Aku tidak perlu
mematuhi kata-katamu."
"Lucy, jaga sikapmu," kata Tyler, suaranya tegas.
Lucy menyentakkan tubuhnya ke depan. "Dia bukan ibuku."
"Victoria hanya tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri," kata
Savannah, gembira karena Tyler berpihak pada kakaknya.
Kami akan menjadi sebuah keluarga, kami berempat, pikir
Savannah. Bersama-sama...
Tawa pelan menyela lamunannya.
Ia melirik Lucy. Gadis itu tengah menatap api lilinnya lagi.
Menatap tajam. Lucy mengibaskan tangannya dan menjatuhkan tempat lilinnya.
"Api!" jeritnya. "Api!"
Bab 17 SAVANNAH melompat dari kursinya. Kursi itu jatuh
berdebum. Ia menampar api itu dengan serbet linennya. Bau kain terbakar
memenuhi ruang makan. Savannah mendesah melihat taplak yang hangus itu.
Kerusakannya sudah tak mungkin diperbaiki lagi.
"Itu kecelakaan," bisik Lucy serak.
"Tidak. Kau sengaja melakukannya. Aku melihatnya," kata
Victoria. Lucy menatap Savannah. "Tapi apinya begitu cantik. Aku suka
melihatnya menari-nari."
Savannah bersimpati terhadap gadis kecil itu. Bagaimana aku
bisa menyalahkan dirinya karena menemukan keindahan dalam api
kalau hanya itu satu-satunya warna yang ada di rumah ini"
Ia mengambil kursinya dan kembali duduk. "Api memang
cantik, tapi juga berbahaya. Kau tidak boleh bermain-main dengan
lilin lagi." "Savannah benar. Pergilah ke kamarmu, Lucy," kata Tyler
dengan nada keras. Lucy turun dari kursinya dan bergegas mendekati Tyler. "Kau
marah padaku?" tanyanya.
Ia memuja Tyler, pikir Savannah sekali lagi.
"Ya," jawab Tyler. Lalu ia mengerutkan hidungnya. "Tapi aku
tidak akan marah lama-lama."
Senyum lebar merekah di wajah Lucy. "Aku mencintaimu,
Tyler," serunya. Lalu ia melesat keluar ruangan.
"Dia manis," kata Savannah saat mereka melanjutkan bersantap.
"Dia pengacau kecil yang manja," kata Victoria. Ia
melemparkan serbetnya ke meja. "Aku mau tidur." Ia meninggalkan
ruangan. Savannah berpaling memandang Tyler. "Hari pertama yang luar
biasa." Tyler menyentuh pipinya. "Kau tampak kelelahan."
"Memang," Savannah mengakui. "Begitu selesai bersantap,
kurasa aku juga mau tidur."
************** Savannah mengira ia akan langsung tertidur. Tapi lama sekali ia
terjaga. Malam pertamaku di rumah baruku, pikirnya. Blackrose Manor
sama sekali tidak seperti yang semula dibayangkannya.
Bara merah menyala melompat perapian batu diiringi letupan.
Bara itu terbakar hingga terang benderang. Lalu berubah hitam dan
padam. Segalanya di sini sangat gelap. Sangat muram. Tidak heran
Victoria merasa tidak nyaman di sini. Mungkin sebaiknya kamarnya
yang lebih dulu kudekor. Savannah meregangkan jemari kakinya ke panci penghangat di
kaki ranjang. Mrs. Mooreland membawakan panci itu atas permintaan
Tyler. Dari bibirnya yang cemberut terlihat jelas dia tidak suka
melakukannya. Apa yang harus kulakukan terhadap Mrs. Mooreland"
pikir Savannah penasaran.
Ia menguap. Begitu banyak yang harus dipikirkan. Victoria.
Mrs. Mooreland. Lucy dan keterpesonaannya dengan api.
Dan Tyler. Savannah ketakutan sewaktu melihat Tyler
menyerang foto itu. Ia tampak begitu buas dan marah.
Tapi aku tidak bisa berharap dia masih tetap sama sesudah
perang, pikir Savannah. Setelah bertahun-tahun bergumul dengan
darah dan pembunuhan. Dalam banyak hal lainnya Tyler cukup baik. Savannah bisa
melihat pria itu benar-benar ingin dirinya dan Victoria bahagia.
Ia mendengar lantunan biola mengalir lembut. Ia mendesah
pelan. Tyler-kah yang memainkan biola"
Itulah pikiran terakhir Savannah sebelum terlelap.
************* Sesuatu yang dingin menyapu pipi Savannah.
Ia masih kelelahan, terlalu lelah untuk membuka matanya.
Angin, pikirnya. Kamar ini penuh angin.
Sentuhan dingin itu terjadi lagi. Dingin dan basah. Apa itu"
Savannah membuka matanya. Ia melihat seuntai ekor calico
berayun-ayun di atas selimutnya.
Savannah duduk tegak dan menarik selimutnya. Seekor kucing
kecil menatapnya. Hewan itu mengendus-endus pipinya dengan
hidung kecilnya yang dingin.
"Dari mana asalmu?" tanya Savannah.
Kucing itu mendengkur dan menjilati tangannya dengan
lidahnya yang kasar. Savannah tersenyum.
Pintunya terbuka dan seorang wanita muda mengenakan
seragam hitam berlari masuk. Rambut merah cerahnya dikepang dua
di bawah topi berenda putih. Bintik-bintik tipis menghiasi wajahnya.
Mata kelabunya membelalak dan ia berhenti tiba-tiba sewaktu
melihat Savannah telah terjaga. Ia bergegas membungkuk memberi
hormat. "Oh, Miss, maafkan saya. Kucing itu menyelinap dari
pengawasan saya." Savannah mengelus bulu kucing itu. Hewan itu mendengkur
pelan. "Jangan bodoh. Dia manis. Siapa namanya?"
"Calico." Wajah wanita muda itu memerah.
"Nama yang bagus," kata Savannah.
Wanita itu kembali memberi hormat. "Nama saya Hattie."
"Aku Savannah."
"Ya, Miss, saya tahu. Mr. Fier mempekerjakan saya pagi ini
sebagai pelayan untuk Anda dan kakak Anda." Pipinya memerah saat
memandang Savannah dari balik bulu matanya yang panjang.
"Katanya, Anda yang cantik."
Savannah merasa pipinya memerah mendengar pujian Tyler.
Jelas Tyler memanjakanku, pikirnya. Aku harus melakukan sesuatu
yang istimewa untuknya. Tapi apa"
Ia teringat senyuman Tyler sewaktu dirinya memasuki ruang
makan dengan mengenakan gaun biru. Aku akan mengenakannya lagi
malam ini, pikirnya. "Hattie, aku bisa minta tolong" Bisa kausetrikakan gaun biruku"
Ada di lemari pakaian."
Hattie bergoyang-goyang. "Tentu saja, Miss." Dengan
melompat kecil, ia menyeberangi kamar dan membuka pintu lemari.
"Gaun yang indah, bukan?" tanya Savannah sewaktu
mendengar Hattie menahan napas.
Hattie berpaling memandangnya. Wajah gadis itu pucat pasi.
"Ada apa, Hattie?" seru Savannah. "Ada apa?"
Bab 18 "GAUNNYA, Miss. Gaunnya... gaunnya..." Hattie
mengulurkan tangan ke dalam lemari pakaian dan mengeluarkan gaun
itu. Ia mengacungkannya ke hadapan Savannah.
Savannah ternganga tidak percaya. Robekan-robekan panjang
dan bergerigi membentang dari bahu hingga ke ujungnya.
Savannah menurunkan kucing dari pangkuannya dan turun dari
ranjang. Ia menggigil sewaktu kakinya menyentuh lantai batu yang
sedingin es. "Oh, tidak," gumamnya sewaktu mengelus robekan-robekan itu.
Gaunnya yang indah! Bagaimana ini bisa terjadi" Savannah
penasaran. Tidak mungkin itu kecelakaan.
"Gaunmu rusak!"
Terkejut oleh suara Lucy, Savannah berbalik. Gadis yang lebih
muda itu telah masuk tanpa mengetuk pintu dan sekarang menatap
gaun Savannah. Sudah berapa lama dia di sana" Savannah penasaran. Apakah
dia mendengarkan dari balik pintu"
"Tyler yang memberimu gaun itu, bukan?" tanya Lucy.
"Ya, benar," kata Savannah.
Lucy mengerutkan kening. "Katanya kau cantik. Dia akan sedih
kalau tahu gaun itu rusak."
"Ya, dia akan sedih," jawab Savannah. "Jadi aku tidak ingin
memberitahukannya. Aku ingin merahasiakannya."
Mata Lucy berkilauan. "Aku pandai menyimpan rahasia." Ia
mengulurkan tangan dan meraih tangan Savannah. "Aku senang sekali
kau akhirnya bangun. Aku ingin menunjukkan koleksi bonekaku
padamu." "Aku akan berpakaian," kata Savannah.
"Tapi aku sudah menunggu sepanjang pagi. Ayolah kita lihat
sekarang." Kegembiraan Lucy menular. Aku senang dia tinggal begitu jauh
di Utara, jauh dari peperangan. Perang pasti akan mengubahnya.
"Baiklah," kata Savannah. Ia mengenakan mantel kamarnya.
"Tunjukkan boneka-bonekamu."
Lucy menyeret Savannah melintasi lorong. "Ini kamarku,"
katanya bangga. Ia membuka pintunya dan melangkah masuk.
Savannah mengikuti Lucy ke dalam kamar, tidak terkejut
mendapati kamar itu didekorasi warna hitam.
Keliru sekali untuk menata kamar anak-anak seperti ini, pikir
Savannah. Dan Lucy masih kanak-kanak. Kamarnya penuh boneka"
di ranjang, di lemari, di rak, di lantai. Boneka-boneka keramik.
Boneka-boneka kain. Angin dingin membuat Savannah merinding. Semua boneka itu
berambut hitam seperti rambut Lucy. Semua boneka itu juga bermata
hitam. Semuanya mengenakan pakaian hitam.
Apa boneka-boneka ini juga sedang berduka cita seperti rumah
ini" ia penasaran. Benar-benar tempat yang muram bagi tumbuh
kembang seorang anak. Lucy menjatuhkan diri ke ranjangnya. Dua boneka yang
bersandar di kepala ranjang jatuh ke depan. Lucy mengambil salah
satunya dan memeluknya erat-erat.
"Semua ini temanku," kata Lucy sungguh-sungguh. "Tyler
selalu membawakan boneka baru untukku setiap kali dia pergi."
Savannah duduk di tepi ranjang. Betapa menyedihkannya Lucy
tidak memiliki teman sungguhan. "Aku juga ingin menjadi temanmu,"
katanya. Kening Lucy berkerut. "Kurasa tidak bisa."
"Kenapa tidak?" tanya Savannah. Ia berusaha agar tidak merasa
tersinggung. Lucy perlu waktu untuk terbiasa dengan dirinya.
Lucy menggeleng. "Kita tidak bisa berteman karena Tyler
membawamu kemari untuk tinggal di sini. Jadi kita hampir-hampir
bersaudara. Aku selalu ingin punya kakak. Kurasa saudara perempuan
akan jauh lebih baik dari teman."
Savannah memeluk Lucy erat-erat. "Aku selalu menginginkan
saudara perempuan lagi."
Lucy melompat turun dari ranjang dan mengambil sebuah
boneka kain dari kursi goyang. Boneka itu sama tingginya dengan
Lucy. "Ini boneka pertama yang diberikan Tyler kepadaku," katanya,
sambil tersenyum ceria. "Apakah menurutmu dia cantik?"
"Sangat cantik," kata Savannah berusaha meyakinkannya.
"Siapa namanya?"
"Namanya Lucy." Lucy mengembalikan boneka itu ke kursi.
"Boneka mana yang paling kausukai?"
Savannah pura-pura mempertimbangkan pertanyaan itu dengan
sangat serius. "Aku tidak yakin," katanya. Ia berdiri dan mengetukngetukkan jari ke bibirnya. "Semuanya cantik sekali."
"Kau harus memilih satu," kata Lucy bersikeras.
Savannah berjalan mengitari kamar, mengamati semua boneka
itu. Lucy tersenyum gembira.
Savannah melihat boneka yang tergeletak miring di atas laci
pakaian. Profilnya sangat sempurna: hidung kecil, pipi kemerahan,
bibir tipis, mata hitam yang besar dan mengilat.
Kupilih boneka ini saja, pikir Savannah mengambil keputusan.
Ia mengangkatnya dan tersentak.
Sisi lain wajah boneka itu hancur berantakan. Serpihan keramik
yang bergerigi membentuk lubang menganga di tempat matanya
semula berada. "Apa yang terjadi dengan boneka ini?" tanya Savannah.
"Aku membunuhnya."


Fear Street - Sagas Iii Rahasia Rahasia Kelam Forbidden Secrets di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bab 19 MATA hitam Lucy yang besar memancarkan keseriusan.
Savannah merasa ketakutan merayapi dirinya.
Lalu Lucy mulai tertawa. "Aku tidak benar- benar
membunuhnya. Dia jatuh dari lemari. Karena itu wajahnya hancur."
Savannah mengembuskan napas lega dengan suara keras.
Lucy mendesah. "Dia boneka tercantik. Boneka-boneka lainnya
gembira sewaktu dia mengalami kecelakaan."
Ia menggodaku, pikir Savannah, berusaha mengatasi
kewaspadaan yang tiba-tiba muncul. "Mereka tidak benar-benar
gembira," kata Savannah.
"Tidak, mereka gembira," Lucy bersikeras. "Mereka gembira
sekali sewaktu Lucy terluka."
Savannah bingung. "Kukira boneka besar di kursi goyang itu
yang bernama Lucy." "Savannah bodoh," seru Lucy. "Semua boneka ini namanya
Lucy." Lucy memandang ke sekeliling ruangan. Lalu ia membungkuk
mendekati Savannah. "Kecuali satu," bisiknya. Lucy menekukkan
jarinya. "Ikuti aku."
Savannah meletakkan boneka keramik itu di atas lemari dan
mengikuti Lucy ke lemari pakaian. Gadis itu membuka pintunya dan
mengeluarkan sebuah boneka besar.
"Ini Tyler," katanya bangga. Ia duduk dan meletakkan boneka
itu di pangkuannya. Savannah mengamati boneka aneh itu. Rambut hitamnya
dipotong pendek dan lebih panjang di satu sisi. Pakaiannya agak
kebesaran. Dan matanya. Matanya berwarna biru.
"Dia memang mirip Tyler," kata Savannah.
"Aku yang membuatnya," Lucy menjelaskan. "Sudah kukatakan
kepada Tyler bahwa aku menginginkan boneka cowok, tapi dia selalu
membawakan boneka cewek. Jadi kupotong rambut boneka yang ini.
Dan suatu hari sewaktu Mrs. Mooreland membuat selai blueberry,
kucuri sedikit dan kuwarnai matanya jadi biru."
"Pandai sekali," kata Savannah, terkesan oleh usaha Lucy.
"Dan aku menyelinap ke loteng, menemukan beberapa pakaian
Tyler sewaktu dia masih anak-anak," katanya. Matanya berkilauan.
"Jangan beritahu Tyler. Dia tidak suka aku menyelinap ke sana kemari
dalam rumah. Savannah tersenyum. "Karena kau menyimpan rahasiaku
mengenai gaunku yang rusak, adil kalau aku juga menyimpan
rahasiamu mengenai boneka ini."
"Aku suka berbagi rahasia," bisik Lucy. "Suatu hari nanti akan
kuceritakan semua rahasia kepadamu."
*********** Rahasia, pikir Savannah sewaktu meninggalkan kamar tidur
Lucy dan melintasi lorong. Sewaktu aku seusia Lucy, aku juga
menyukai rahasia. Tapi aku membagi semua rahasiaku dengan
Victoria. Ia membuka pintu kamar tidurnya dan membeku. Victoria
berdiri di samping ranjangnya, menyelipkan sesuatu di bawah
bantalnya. "Victoria, apa yang kaulakukan?" tanya Savannah.
Victoria melompat menjauhi ranjang. "Tidak ada."
Savannah bergegas menyeberangi kamar. Ia menyambar
bantalnya dan mengangkatnya.
Bintik-bintik mungil darah menodai bantalnya. Dan di tengahtengahnya terdapat sesuatu yang basah dan lunak. Bola mata yang
mungil! "Oh, Victoria, apa yang sudah kaulakukan?" tanya Savannah. Ia
tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata cokelat tua itu.
"Itu mata rajawali," Victoria menjelaskan. "Mata itu akan
melindungimu dari segala sesuatu yang jahat."
"Aku tidak memerlukan perlindungan!" sergah Savannah. Ia
menyambar mata itu, menggigil saat dinginnya mata itu meresap ke
telapak tangannya. "Jangan!" jerit Victoria.
Savannah melempar bola mata itu ke api. Bola mata itu
mendesis dan melepuh. Bagus, pikirnya.
Ia mengusapkan tangannya ke sarung bantal. Lalu ia
menanggalkan sarung bantal itu dan membuangnya ke lantai.
"Victoria, kau harus menghentikan perbuatanmu ini," kata
Savannah. Lalu ia menatap kakaknya lebih teliti untuk pertama
kalinya sejak masuk ke kamar.
Kemarahan Savannah seketika memudar. "Rambutmu," katanya
dengan napas tersentak. "Victoria, apa yang terjadi dengan
rambutmu?" Uban tebal telah menghiasi rambut cokelat Victoria.
Victoria mengempaskan diri ke ranjang, menekan tangan ke
wajahnya. "Roh jahatnya," gumamnya. "Roh jahat di rumah ini sangat
kuat. Roh itulah yang menyebabkan aku begini."
Kakakku yang malang, pikir Savannah. Ia berlutut di depan
Victoria. "Ada wanita yang beruban seusia kita. Ingat Mrs.
Speergen?" "Tidak! Ini perbuatan roh jahat. Aku merasakan sentuhannya
yang dingin di malam hari."
"Api di perapianmu pasti sudah padam," kata Savannah
bersikeras. Segalanya pasti ada penjelasannya, pikir Savannah.
Segalanya. "Dan semua warna hitam ini juga tidak membantu," kata
Savannah. "Itu akan menjadi pekerjaan pertama kita"mendekor ulang
seluruh rumah. Kita mulai dengan kamarmu. Sesudah selesai,
Blackrose Manor akan senyaman dan sehangat Whispering Oaks."
"Tidak!" Victoria bangkit berdiri dan mulai mondar-mandir.
"Kau tidak mengerti. Kalau kita tetap di sini, salah satu dari kita akan
tewas! Tewas, Savannah."
Dia begitu ketakutan. Dia begitu ingin pergi dari sini, Savannah
menyadarinya. Apa yang akan dilakukannya untuk meyakinkanku
agar meninggalkan tempat ini" Diakah yang menghancurkan gaun
yang diberikan Tyler kepadaku"
Savannah berdiri dan melangkah ke lemari pakaiannya. Ia
mengeluarkan gaun yang telah rusak itu. "Victoria, kaukah yang
melakukan ini?" tanyanya lembut. "Apakah kau berharap akan
membuatku ketakutan sehingga pergi dari sini" Aku mengerti bila kau
yang melakukannya. Aku berjanji."
"Tidak!" seru Victoria. Lalu matanya menyipit. "Berani taruhan
Lucy yang merobek-robek gaunmu. Dia cemburu padamu karena
menginginkan Tyler untuk dirinya sendiri."
"Lucy hanya anak-anak," Savannah memprotes. "Dia jatuh hati
kepada Tyler layaknya seorang bocah. Tidak lebih."
"Anak-anak!" seru Victoria. "Lucy bukan anak kecil sama
sekali. Dia sudah berusia tujuh belas tahun. Seusia itulah kau dulu
pertama kali bertemu Tyler. Dan Lucy akan melakukan apa pun untuk
mendapatkan Tyler!" Bab 20 TUJUH BELAS! Mungkinkah Victoria benar" Savannah penasaran.
"Tapi pakaiannya seperti anak-anak," protes Savannah. "Dan
boneka-bonekanya. Kau sudah pernah melihat koleksi bonekanya?"
Victoria memutar bola matanya. "Dan dia terpesona pada api.
Apa kau sudah lupa bagaimana dia bermain-main dengan lilin
semalam" Dia aneh, Savannah, tapi dia sudah tujuh belas tahun. Dan
jatuh cinta kepada Tyler."
Savannah mengelus gaunnya yang telah tercabik-cabik.
Benarkah Lucy jatuh cinta kepada Tyler" Benarkah dia begitu
cemburu dengan pujian Tyler untukku sehingga dia menghancurkan
gaunku" Victoria menyambar kedua lengan Savannah, kuku jemarinya
menancap di kulit Savannah.
"Aduh!" teriak Savannah.
"Biarkan Lucy mendapat Tyler," tukas Victoria. "Biarkan
semua kesialan tetap di keluarga mereka sendiri!"
"Aku mencintai Tyler, dan tidak ada apa pun yang bisa
menghentikanku sehingga tidak menikahinya," kata Savannah. Ia
menyentakkan lengannya dari cengkeraman Victoria. "Tidak ada!"
Suara Tyler terdengar menggelegar dari tangga. "Semuanya!
Kemarilah! Aku ada kejutan untuk Savannah!"
"Aku bahkan belum berpakaian," seru Savannah. "Victoria,
turunlah dan beritahu Tyler aku akan ke sana beberapa saat lagi."
Savannah bisa melihat bahwa Victoria ragu-ragu. "Please,"
pintanya. Victoria menghela napas berat. "Baiklah."
Savannah mengawasi kakaknya berlalu dari kamar. Lalu ia
bergegas berganti pakaian.
Kejutan yang lain lagi, pikirnya sambil bergegas menuruni
tangga. Aku tidak tahu berapa banyak kejutan lagi yang bisa kutahan.
Savannah menemukan Victoria, Lucy, Hattie, dan Mrs.
Mooreland di tangga depan. Lalu ia melihat Tyler. Ia tidak bisa
mempercayai pandangannya.
Tyler tengah membimbing kuda paling cantik yang pernah
dilihat Savannah langsung ke arahnya. Tyler berhenti di depan
Savannah dan menepuk-nepuk leher kuda jantan hitam itu. "Ini
milikmu," kata Tyler sambil tersenyum.
Savannah memandang yang lainnya. Hanya Hattie yang
tersenyum. Ada apa dengan orang-orang ini" Apa Tyler tidak bisa
memberiku hadiah tanpa membuat mereka iri"
Savannah menuruni tangga dan dengan hati-hati mendekati
kudanya. Hewan itu mendengus. Karena terkejut, Savannah melompat
ke belakang. Tyler menarik Savannah mendekatinya. "Jangan takut,"
katanya. "Dia selembut domba. Aku memberinya nama Whisper untuk
menghormati perkebunan ayahmu."
Savannah berbalik. "Victoria, kau dengar itu?"
"Aku dengar," kata Victoria dingin. "Itu tidak berarti apa-apa."
Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku tidak akan membiarkan kakakku merusak hadiahku yang
indah, pikir Savannah. "Kita bisa berkuda?" tanyanya kepada Tyler.
"Hanya sebentar saja sebelum sarapan. Please."
"Sebentar saja." Tyler menciumnya, lalu mengangkatnya ke
kudanya. Saat Tyler menaiki kudanya sendiri, Lucy mendekati Savannah.
Ia memiringkan kepalanya ke belakang dan menyentuh kaki Savannah
dengan lembut. "Kurasa Tyler paling menyukaimu," bisik Lucy.
Savannah melirik Tyler. Tyler mengedipkan mata kepadanya.
"Jaga sarapannya agar tetap hangat, Mrs. Mooreland," perintah
Tyler kepada pengurus rumahnya. "Kami tidak akan lama, sekarang,
Savannah, coba kita lihat apa kau bisa mengejarku."
Ia menendang kudanya sehingga berderap. Savannah menjerit
memprotes Tyler yang curang.
"Aku tidak hanya akan mengejarmu, Tyler Fier," teriaknya
sambil memerintahkan kudanya untuk berlari. "Aku akan
mengalahkanmu!" Satu jam kemudian, terengah-engah dan tertawa, Savannah
berjalan memasuki ruang makan bersama Tyler.
"Siapa yang memenangkan lombanya?" tanya Lucy sambil
duduk. "Kurasa seri," kata Tyler. Ia menepuk-nepuk kepala Lucy.
"Kurasa aku yang menang," kata Savannah menggoda.
"Savannah!" seru Lucy. "Duduklah di sebelahku!"
Permintaan Lucy yang penuh semangat mengejutkan Savannah.
Aneh sekali untuk menganggap Lucy telah berusia tujuh belas tahun.
Ia tampak seperti gadis kecil yang tengah menanti-nantikan saatnya
membuka hadiah ulangtahunnya.
"Please," desak Lucy.
Sebelum Savannah sempat menjawab, Tyler menjawab lebih
dulu. "Savannah bisa duduk di sebelahmu pagi ini. Tapi kelak aku
ingin dia duduk di sampingku."
Dengan enggan Savannah duduk di kursi di samping Lucy.
Victoria duduk di seberangnya.
Benarkah Lucy ingin aku menemaninya" Savannah penasaran.
Atau ia ingin menjauhkanku dari Tyler"
"Savannah seharusnya selalu duduk di sampingku," kata Lucy.
"Kami bersaudara. Savannah mengatakan dia selalu menginginkan
saudari yang lain." Victoria tersentak. "Apakah itu seharusnya rahasia?" tanya Lucy, mata hitamnya
membelalak dan memancarkan kepolosan.
Savannah melihat kekecewaan dalam pandangan Victoria.
"Lucy salah memahami kata-kataku," Savannah menjelaskan.
"Maksudku adalah pasti menyenangkan kalau memiliki dua saudari."
Victoria mengangguk. Ia mulai mempermainkan hidangannya
tanpa menyantapnya sedikit pun.
Victoria tidak paham, pikir Savannah. Ia masih tersinggung.
Savannah menyantap telur orak-ariknya beberapa suap, tapi
makanan itu terasa tersangkut di mulutnya. Ia tidak suka bila Victoria
merasa jengkel padanya. Mrs. Mooreland bergegas masuk dan menuangkan kopi ke
cangkir Tyler. "Telurnya lezat, Mrs. Mooreland," kata Savannah, berharap bisa
membuat wanita itu menyukainya.
Bibir Mrs. Mooreland menipis. "Aku ingin kau senang selama
tinggal di sini." Ia keluar dari ruangan.
Selama tinggal di sini" tanya Savannah pada diri sendiri.
Kedengarannya seperti aku akan pergi tidak lama lagi. Apa ia lupa aku
akan tinggal di sini selamanya"
Savannah mengiris sosisnya. Aroma pedas menusuk hidungnya.
"Bau sosisnya sedap. Kau harus mencicipinya, Victoria," katanya,
berharap bisa menggembirakan Victoria.
Victoria membalik-balikkan sosis di piringnya tapi tidak
menggigitnya. Savannah hendak memasukkan sosisnya sendiri ke mulut
sewaktu merasakan sesuatu yang lembut menggosok pergelangan
kakinya. Ia memandang ke bawah meja dan melihat kucing calico
kecil itu tengah memandang penuh harap kepadanya.
Savannah tersenyum. Ia melepaskan potongan sosis dari
garpunya dan mengulurkannya ke kucing itu. Hewan itu segera
menikmatinya dengan rakus, lalu menjilati tangan Savannah.
"Kau mau lagi?" tanyanya.
Kucing itu mendengkur dan menggosok-gosokkan dirinya ke
kaki Savannah. Savannah kembali mengiris sosisnya.
"Savannah, kau mau bermain bersamaku siang ini?" tanya
Lucy. Haruskah" pikir Savannah. Apakah Lucy berusaha menjauhkan
diriku dari Tyler" "Mungkin Victoria dan aku bisa bermain
denganmu," Savannah mengusulkan, berharap dengan demikian
Victoria merasa lebih nyaman di Blackrose Manor.
"Tidak bisa," kata Victoria tergesa-gesa. Ia menggosok-gosok
kantong hitam di antara kedua telapak tangannya. "Aku harus


Fear Street - Sagas Iii Rahasia Rahasia Kelam Forbidden Secrets di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menemukan cara yang lebih baik untuk melindungi kita dari roh
jahat." Savannah merasa malu. Ia berharap Victoria tidak mengatakan
apa pun mengenai roh jahat di hadapan Tyler. "Victoria, sudah
kukatakan..." Savannah mendengar suara tercekik dari bawah meja. Ia
berlutut di lantai dan mengangkat taplaknya.
Calico memamerkan gigi-giginya dan mendesis kepadanya.
Punggung hewan itu melengkung, bulu-bulunya berdiri tegak.
"Ada apa, kucing kecil?" tanya Savannah.
Calico menunjukkan ekspresi tercekik. Tubuhnya mengejang,
tersentak-sentak dan terlempar ke samping.
Lalu tubuh kucing kecil itu tidak bergerak lagi.
"Calico!" jerit Savannah. "Calico mati!"
Bab 21 SAVANNAH dengan hati-hati meletakkan Calico di
pangkuannya. Ia mendengar suara langkah-langkah kaki, lalu Hattie berlari
masuk ke dalam ruangan dan berlutut di samping Savannah. Air mata
Hattie menggenang. Ia mengelus bulu-bulu tebal Calico.
"Oh, Miss!" jeritnya. "Dia belum mati. Aku bisa merasakannya
bernapas." Savannah mendesah lega. "Syukurlah. Kita bawa ke dapur saja.
Di sana lebih hangat." Ia memeluk Calico di dadanya dan bergegas ke
dapur. Hattie terus mendampinginya, sambil membujuk-bujuk
kucingnya. Savannah memandang ke sekeliling dapur. Sebuah tungku besi
besar mendominasi salah satu sisi ruangan. Di sampingnya ada kotak
kayu. "Hattie, keluarkan kayunya. Kita gunakan kotaknya untuk
tempat tidur Calico," kata Savannah.
"Ya, Miss," kata Hattie. Ia bergegas menuju kotak kayu bakar
dan mulai menata kayu-kayunya di lantai.
"Kau boleh memanggilku Savannah," katanya sambil berlutut di
samping kotak. "Oh, tidak, Miss. Itu tidak pantas." Hattie menuju ke ruang
penyimpanan dan kembali membawa sejumlah selimut tua. Ia
menjejalkan selimut-selimut itu ke dalam kotak.
Savannah meletakkan Calico di atas selimut-selimut itu. Hattie
menarik salah satu ujung selimut hingga menutupi kucing itu.
"Aku heran, bagaimana dia bisa sakit?" kata Hattie.
Savannah menggeleng. "Entahlah. Aku memberinya sepotong
sosis..." Ia berhenti. Mungkinkah sosisnya diracuni" ia penasaran.
Ia memegang bahu Hattie. "Bisa kautemani Calico sebentar?"
Hattie tersenyum. "Terima kasih, Miss."
Savannah bangkit berdiri dan berjalan kembali ke ruang makan.
Ia berhenti begitu melihat Tyler tengah menanyai Mrs. Mooreland
dengan marah. Victoria bergegas mendekati Savannah dan mencengkeram
lengannya. "Sekarang kau mengerti kenapa kita tidak bisa tinggal di
sini," bisik Victoria. "Ada yang berusaha meracunimu!"
* * * ********* Beberapa malam kemudian Savannah tengah berdiri di depan
jendela kamarnya dan menatap ke kebun mawar di bawah. Cahaya
bulan memantul pada mawar-mawar hitam itu.
Perut Savannah bergemuruh. Ia makan sangat sedikit sejak
Calico jatuh sakit. Mrs. Mooreland bersikeras sosisnya telah rusak.
Tyler mempercayainya. Savannah tidak seyakin itu. Calico masih lemah, masih
tergeletak di kotak di dapur. Mungkinkah sosis yang rusak bisa
menyebabkan kucingnya sesakit itu"
Apakah Victoria benar" Savannah penasaran. Apakah benar
seseorang tengah berusaha meracuniku"
Ia menutup tirainya dan naik kembali ke ranjang. Ia
memejamkan mata. Wajah-wajah berputar-putar dalam benaknya.
Wajah Lucy yang pucat dan polos. Wajah Mrs. Mooreland yang
kaku. Wajah Victoria yang ketakutan.
Apakah salah satu dari mereka berusaha membunuhku"
Savannah penasaran. Bab 22 SAVANNAH menendang selimutnya.
Begitu hangat. Terlalu hangat.
Rumah ini tidak pernah panas, pikirnya samar-samar. Masih
setengah mengantuk. Tidak pernah.
Ia memaksa matanya terbuka"dan menjerit.
Mencari Bende Mataram 19 Pendekar Kembar Karya Gan K L Pedang Tanpa Perasaan 11
^