Pencarian

Topeng Hantu Dua 2

Goosebumps - Topeng Hantu 2 Bagian 2


letih untuk meniup peluit. Pakaianku berlepotan lumpur, kakiku
pincang, dan aku mengalami luka memar di dua puluh tempat
berbeda. Seperti biasa, begitulah nasibku kalau habis berlatih dengan the
Horrible Hogs. Tapi apakah aku peduli"
Kau pasti sudah tahu jawabannya.
Kusuruh mereka berkumpul di sekelilingku. Mereka saling
dorong, saling jambak, dan saling ejek. Kan sudah kubilang"mereka
itu memang pengacau. Aku angkat tangan supaya mereka diam. "Bagaimana kalau kita
bikin pesta Halloween gaya Hogs besok?" aku mengusulkan.
"HOREEE!" mereka bersorak.
"Kita berkumpul sehabis latihan, lengkap dengan kostum
masing-masing," aku melanjutkan. "Seluruh tim. Dan kita akan
mendatangi rumah-rumah di sekitar sini untuk mengumpulkan permen
dan menakut-nakuti orang. Aku juga ikut."
"HOREEE!" mereka bersorak sekali lagi.
"Mintalah pada orangtua kalian untuk mengantar kalian. Pesta
ini bakal sangat meriah. Kita berkumpul di depan rumah tua
Carpenter." Hening. Kali ini mereka tidak bersorak-sorai.
"Kenapa harus di situ?" tanya Andrew.
"Rumah tua itu kan ada hantunya," bisik Marnie.
"Tempat itu terlalu seram," Duck menimpali.
Aku memicingkan mata dan menatap mereka dengan sikap
menantang. "Kenapa"kalian takut, ya?" tanyaku.
Hening. Mereka berpandang-pandangan dengan gelisah.
"Jadi bagaimana" Kalian tidak punya nyali untuk menemuiku di
situ?" tanyaku. "Enak saja!" sahut Marnie.
"Siapa bilang! Kami tidak takut pada rumah jelek itu!"
Mereka berlomba-lomba meyakinkanku bahwa mereka tidak
takut. Akhirnya semua sepakat untuk bertemu di tempat yang
kuusulkan. "Aku pernah melihat hantu," Johnny Myers menyombongkan
diri. "Di belakang garasiku. Tapi begitu aku teriak 'Buu!' ia langsung
kabur." Anak-anak itu memang pengacau semua, tapi mereka juga
pintar berkhayal. Anak-anak yang lain mulai mengejek Johnny. Tapi Johnny
tidak peduli, terus pamer bahwa ia memang pernah melihat hantu
dengan mata kepala sendiri. Akhirnya ia didorong sampai jatuh,
jaketnya berlumuran lumpur.
"Hei, Steve"kau mau jadi apa saat Halloween besok?" tanya
Marnie. "Yeah. Kau pakai kostum apa?" tanya Andrew.
"Ia bakal jadi timbunan limbah beracun!" salah satu dari mereka
menggodaku. "Bukan, ia bakal jadi penari balet!" seru yang lain.
Semuanya menertawakan aku sambil menuding-nuding.
Silakan tertawa, pikirku. Tertawalah sepuas-puasnya, mumpung
masih bisa. Sebab besok giliran aku beraksi!
"Ehm... aku bakal jadi gelandangan," kataku. "Kalian pasti
langsung mengenaliku. Aku akan memakai setelan jas yang sudah
lusuh. Mukaku akan di coreng-moreng. Pakaianku seperti gembel."
"Hahaha, kau memang gembel!" seru salah satu anggota timku
yang setia. Sekali lagi mereka tertawa berderai-derai. Mereka kembali
saling dorong, saling jambak dan bergulat di tanah.
Untung saja para orangtua dan pengasuh segera muncul untuk
membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku
memperhatikan kepergian mereka sambil tersenyum simpul.
Chuck keluar ketika aku berlari kecil melewati rumahnya. "Hei,
Steve"baru mau pulang, ya?"
"Sori, aku buru-buru nih," sahutku. "Ada masalah penting!"
Aku terus berlari. Aku tidak punya waktu untuk mengobrol
dengan Chuck. Aku ingin segera melihat topengku. Aku ingin
memastikan bahwa rupanya memang seseram yang kubayangkan.
Aku menyerbu masuk melalui pintu depan, langsung naik ke
kamarku. Setiap kali melangkah aku melewati tiga anak tangga
sekaligus. Setelah berlari menyusuri koridor, aku masuk ke kamar dan
mencampakkan ransel di tempat tidur. Kemudian segera kuhampiri
lemari pakaian dan membuka laci kaus kaki.
"Hah?" Aku menatap laci. Dengan tangan bergetar kusingkirkan
beberapa pasang kaus kaki.
Topengku lenyap. 14 "YA-ampun!" Dengan panik aku mulai mengobrak-abrik isi laci. Semua kaus
kaki kulempar hingga berserakan di lantai.
Tapi topeng itu tetap tak kutemukan.
Jantungku berdegup-degup.
Baru kemudian aku ingat bahwa topengku telah kupindahkan.
Tepatnya sebelum berangkat sekolah tadi pagi. Aku kuatir Mom
membereskan pakaianku yang baru dicuci. Ia akan membuka laci kaus
kaki. Dan menemukan topengku.
Aku menarik napas lega dan berlutut di lantai. Cepat-cepat
kukumpulkan semua kaus kaki, kumasukkan lagi ke dalam laci.
Kemudian aku membuka pintu lemari pakaian dan mengambil
topengku dari rak paling atas.
Jangan gugup dong, Steve, kataku dalam hati. Ini kan cuma
topeng Halloween. Jangan menakut-nakuti diri sendiri.
Kadang-kadang ada gunanya kita memarahi diri sendiri.
Aku mulai lebih tenang. Kupegang topengku dengan sebelah
tangan. Kurapikan rambutnya yang kuning kasar, lalu kuusap kulitnya
yang berkerut-kerut dan penuh koreng.
Bibirnya yang cokelat menyeringai. Kukorek-korek lubang
cacing di giginya dengan jari telunjuk. Lalu kuremas-remas labahlabah yang bersembunyi di dalam telinga.
"Wow, topeng ini benar-benar seram!" kataku keras-keras.
"Cool banget!" Aku tak sabar menunggu tibanya Halloween. Aku tak sabar
menunggu untuk memamerkan topengku.
Tapi tidak. Lebih baik topeng ini kupakai untuk menakut-nakuti
seseorang. Aku langsung teringat Chuck. Sahabatku Chuck adalah korban
yang sempurna. Aku tahu ia ada di rumah. Baru beberapa menit lalu
aku berpapasan dengannya.
Wow! Ia pasti kaget sekali! pikirku. Chuck mengira aku kabur
dengan tangan kosong dari ruang bawah tanah toko itu. Kalau aku
menyusup ke rumahnya dan mengagetkannya dengan topengku ini,
taruhan ia bakal pingsan!
Aku melirik jam di meja belajarku. Masih ada waktu satu jam
sebelum makan malam. Mom dan Dad juga belum pulang.
Tunggu apa lagi" ujarku dalam hati.
"Heh-heh-heh." Aku terkekeh-kekeh seperti orang tua, sekadar
untuk latihan. "Heh-heh-heh."
Kemudian kuraih tengkuk topeng yang berkerut-kerut. Sambil
berjalan ke depan cermin, kupasang topeng itu di kepalaku.
Ternyata mudah sekali. Rasanya lembut dan hangat di wajahku.
Kutarik topeng itu melewati telinga. Melewati pipi.
Sampai bagian atasnya menempel di ubun-ubun. Kugeser posisi
topeng itu sampai aku bisa melihat melalui celah matanya yang
sempit. Kemudian aku menurunkan tangan dan berdiri di depan cermin
untuk mengamati penampilanku.
Huh, hangat sekali rasanya.
Malah terlalu hangat. Tiba-tiba topeng karet itu melekat kencang pada pipi dan
keningku. Semakin hangat. "Hei..!" aku berteriak ketika wajahku panas seperti terbakar.
Panas sekali... Aku mulai sulit bernapas.
"Hei... ada apa ini?"
15 TOPENG itu semakin kencang menempel di wajahku.
Pipiku seakan-akan terbakar. Aku mencium bau bacin yang
menyengat. Aku terbatuk-batuk. Aku berusaha menarik napas panjang
melalui mulut. Tapi saking kencangnya topeng itu melekat, aku nyaris
tak bisa bernapas. Kuraih telinga topeng dengan kedua tangan. Bagian luarnya
terasa normal. Tapi bagian dalamnya panas sekali!
Aku berusaha membuka topeng. Tapi topeng itu tidak mau
lepas. Karet panas itu melekat pada wajahku.
Aku mengerang ketika bau bacin itu tercium kembali.
Kembali aku menarik keras-keras, tapi topeng itu tidak bergeser
sedikit pun. Aku megap-megap. Kuraih rambutnya yang kasar"dan kutarik sekuat tenaga.
Kuselipkan tanganku ke bawah dagu"dan kudorong keras-keras.
"Ohhh." Aku mengerang. Suaraku serak. Tanganku
menggelantung lemas. Tiba-tiba aku merasa begitu capek. Begitu letih.
Letih sekali. Setiap tarikan napas merupakan perjuangan. Aku membungkuk.
Tubuhku mulai gemetaran. Aku begitu letih. Dan merasa tua.
Tua. Beginikah rasanya jadi orang tua"
Jangan panik, Steve, kataku dalam hati. Ini cuma topeng karet.
Topengnya agak terlalu kencang, itu saja.
Topeng itu menempel di wajahmu. Tapi asal kau tidak panik,
kau bisa melepaskannya, dan semuanya bakal beres. Pokoknya,
jangan panik. Tenang saja. Hitung dulu sampai sepuluh. Lalu periksa di depan
cermin. Tarik topeng itu dari bawah, dan kau pasti bisa
melepaskannya. Aku berhitung sampai sepuluh. Kemudian aku menghampiri
cermin. Aku nyaris memekik ketika melihat bayanganku. Topeng itu
benar-benar mengerikan! Begitu hidup. Begitu seram.
Bibirnya yang cokelat seakan-akan menertawakanku. Setiap
kali bibirku kugerakkan, bibir topeng itu seakan-akan ikut bergerak.
Gumpalan lendir hijau di lubang hidungnya yang besar tampak
bergetar. Labah-labah di rambutnya seakan merayap-rayap.
Ini cuma topeng. Topeng karet, aku mencoba meyakinkan diri.
Perasaanku mulai lebih tenang.
Tapi kemudian terdengar tawa terkekeh-kekeh dari mulutku.
"Heh-heh-heh." Hei... itu bukan suaraku!
Itu suara orang tua. Bagaimana ini bisa terjadi" Bagaimana suara aneh ini bisa
keluar dari mulutku"
Kukatupkan bibir rapat-rapat. Aku tidak ingin suara itu
terdengar lagi. "Heh-heh-heh!" Sekali lagi aku terkekeh-kekeh! Suaraku serak dan melengking.
Mirip suara batuk, bukan suara tawa.
Aku mengunci rahang. Mengertakkan gigi. Menahan napas
supaya aku tidak terkekeh-kekeh lagi.
"Heh-heh-heh." Bukan aku yang tertawa! Siapa yang terkekeh-kekeh begitu"
Dari mana asal tawa melengking itu"
Aku menatap wajah tua yang tampak di cermin, dan tiba-tiba
aku dicekam ketakutan. Kemudian kurasakan kakiku dicengkeram tangan yang kuat.
16 AKU membalik sambil memekik tertahan.
Lalu aku memandang ke bawah lewat lubang mata yang sempit.
Seketika aku melihat kakiku bukan dicengkeram tangan, tapi
gigi. Gigi anjing. "Sparky"ternyata kau!" seruku. Tapi suara yang keluar dari
mulutku terdengar pelan dan serak.
Sparky langsung mundur. Aku berdeham dan mencoba sekali lagi. "Jangan takut, Sparky.
Ini aku." Suaraku! Suaraku jadi mirip suara batuk yang kering.
Kedengarannya seperti suara kakekku!
Aku berwajah seperti orang tua"dan bersuara seperti orang tua
pula. Dan aku begitu letih. Letih dan capek.
Aku ingin membelai Sparky, tapi tidak sanggup mengangkat
tangan. Kedua lenganku terasa berat sekali. Dan kedua lututku
berderak-derak ketika aku menekuk kaki.
Sparky menatapku sambil memiringkan kepala. Ekornya yang
pendek mengibas-ngibas tanpa henti.
"Jangan takut, Sparky," kataku dengan suara parau. "Aku
sedang mencoba topeng ini. Lumayan seram, ya?"
Aku membungkuk dan mencoba mengangkat Sparky.
Tapi ketika aku mencondongkan badan ke depan, kulihat
anjingku membelalakkan mata karena ngeri. Sparky berkaing-kaing,
melompat dari tanganku, lalu berlari mengelilingi kamar sambil
menyalak-nyalak ketakutan.
"Sparky"ini aku! Aku tahu suaraku lain. Tapi ini aku"Steve!"
Aku hendak mengejarnya. Tapi kakiku begitu letih, dan lututku
kaku. Aku harus mencoba tiga kali sebelum bisa berdiri tegak.
Kepalaku pening. Napasku terlalu pendek untuk mengejar-ngejar
Sparky. Lagi pula sudah terlambat. Aku mendengarnya berlari menuruni
tangga sambil menggonggong sekeras-kerasnya.
"Aneh," aku bergumam sambil mengusap-usap punggungku
yang pegal. Dengan langkah tertatih-tatih aku kembali ke depan
cermin. Sparky sudah sering melihat topeng. Ia tahu ini aku. Kenapa
ia begitu ketakutan" Mungkin karena suaraku yang aneh"
Kenapa suaraku tiba-tiba jadi serak" Dan kenapa aku mendadak
serasa berumur seratus sepuluh tahun"
Paling tidak, wajahku tak lagi seperti terbakar.
Tapi kulit topeng itu melekat begitu kencang pada wajahku,
sehingga aku nyaris tak bisa menggerakkan bibir.
Topeng ini harus kulepaskan. Chuck terpaksa menunggu
kejutan ini sampai malam Halloween.
Dengan kedua tangan aku menyentuh leherku dan mencari-cari
ujung bawah topeng. Leherku terasa berkerut-kerut. Kulitnya kering


Goosebumps - Topeng Hantu 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali. Mana ujung bawah topeng"
Aku merapatkan wajah ke cermin di pintu lemari pakaian dan
menatap bayanganku sambil memicingkan mata. Leher topeng itu
kuamati dengan saksama. Aku melihat kulit berkerut-kerut dengan bercak-bercak cokelat.
Tapi di mana batasnya" Di mana batas antara topeng dan
leherku" Tanganku mulai gemetar ketika meraba-raba leher. Jantungku
mulai berdegup kencang lagi.
Perlahan-lahan kuraba sekeliling leherku.
Berulang kali. Akhirnya aku menyerah dan menarik napas panjang.
Ternyata tidak ada batasnya. Tak ada garis pemisah antara
leherku dan topeng itu. Kulit kering penuh bercak itu telah menjadi kulitku..
"Kok jadi begini" Kenapa jadi begini?" aku meratap dengan
suaraku yang serak dan kering. Topeng itu harus bisa kulepaskan.
Pasti ada jalan untuk melepaskannya!
Aku mencubit pipi topeng, menariknya sekuat tenaga.
"Aduh!" Seketika rasa nyeri menjalar ke seluruh wajahku.
Aku mencoba menarik rambutnya. Tapi itu membuat kulit
kepalaku serasa ditusuk-tusuk. Aku mulai panik. Kucengkeram topeng
itu, kutampar, kutarik, dan kucakar.
Aku merasakan setiap gerakan. Setiap tamparan dan setiap
tarikan membuat kulitku terasa perih. Aku seperti menyiksa diri
sendiri. "Lubang matanya!" seruku.
Aku menyentuh kedua lubang mata. Barangkali aku bisa
menyelipkan jari ke dalam lubang mata dan melepaskan topeng itu.
Tanganku meraba-raba sekeliling mata. Jari-jemariku yang
gemetar mencari-cari, menggosok-gosok.
Sia-sia. Tak ada lubang mata.
Topeng yang berkerut-kerut dan penuh koreng itu telah
menyatu denganku. Kulitnya telah menjadi kulitku.
Tepatnya topeng jelek dan mengerikan itu telah menjadi
wajahku! Aku kelihatan seperti orang tua menakutkan yang penuh labahlabah. Dan aku merasa tua dan aneh" sama tua dan anehnya seperti
tampangku! Leherku serasa tercekik. Aku bersandar pada cermin. Keningku
yang berkerut-kerut menempel pada permukaan kaca.
Kupejamkan mata. Apa yang mesti kulakukan" Apa yang mesti
kulakukan" Pertanyaan itu terus berulang, berdentam-dentam dalam
benakku. Kemudian terdengar bunyi pintu depan menutup. Aku
mendengar suara Mom di kaki tangga. "Steve" kau sudah pulang"
Steve?" Apa yang mesti kulakukan" Apa yang mesti kulakukan"
"Steve?" Mom memanggil. "Coba turun sebentar. Ada yang
perlu kaulihat." Aduh! pikirku sambil menelan ludah. Aduh! Aku tidak bisa
turun. Tidak bisa! Aku tidak mau Mom melihatku seperti ini!
"Oh, tak apa!" Mom berseru. "Biar Mom yang naik ke
kamarmu!" 17 KUDENGAR langkah Mom berdentam-dentam di tangga.
Dengan perasaan kacau-balau aku bergegas ke pintu. Hampir
saja aku terjatuh. Kakiku yang tua terasa kaku, terlalu kaku untuk
bergerak cepat. Terseok-seok aku menghampiri pintu dan berhasil menutupnya
tepat ketika Mom sampai di puncak tangga. Kemudian aku bersandar
ke pintu. Sambil menempelkan tangan ke dadaku yang turun-naik, aku
berusaha mengatur napas. Berusaha mencari akal. Mencoba memikirkan apa yang harus
kukatakan. Aku tak mungkin membiarkan Mom melihatku seperti ini. Aku
tak mungkin membiarkan ia melihat topengku. Ia pasti akan banyak
bertanya. Ia juga tak boleh tahu bagaimana topeng itu mengubah
diriku. Ia pasti langsung kalang kabut.
Beberapa detik kemudian Mom mengetuk pintu kamarku.
"Steve" Kau ada di dalam" Kau lagi sibuk, tidak?"
"Ehm... tidak juga, Mom."
"Boleh masuk" Ada oleh-oleh untukmu."
"Nanti saja, deh," sahutku dengan suara serak.
Jangan buka pintu! aku memohon-mohon dalam hati. Jangan
masuk ke kamarku! "Steve, ada apa dengan suaramu?" tanya Mom. "Kenapa
suaramu begitu aneh?"
"Ehm..." Cepat, Steve. Cari akal.
"Ehm... aku lagi sakit tenggorokan, Mom."
"Coba kulihat. Kau sakit, ya?" Aku melirik ke bawah dan
melihat pegangan pintu berputar.
"Jangan!" aku berseru sambil menahan pintu dengan punggung.
"Kau tidak sakit?"
"Aku cuma tidak enak badan, Mom," sahutku, suaraku
gemetaran. "Aku mau berbaring sebentar. Nanti aku turun, oke?"
Aku menatap pegangan pintu dan mendengarkan suara napas
Mom di balik pintu. "Steve, ini ada oleh-oleh biskuit hitam-putih.
Biskuit kegemaranmu. Mau coba satu" Barangkali kau akan merasa
lebih enak." Perutku langsung keroncongan. Biskuit hitam-putih memang
favoritku. Satu sisi berlapis cokelat, satu sisi lagi berlapis vanila.
"Nanti saja," ujarku.
"Belinya jauh, lho. Aku baru menemukan toko yang
menjualnya setelah mengemudi sejauh tiga kilometer."
"Nanti saja, deh. Aku benar-benar tidak enak badan." Aku tidak
bohong. Pelipisku berdenyut-denyut. Bahkan, saking lelahnya, aku
nyaris tak sanggup berdiri.
"Turun ya, saat makan malam nanti," ujar Mom. Aku
mendengarnya menuruni tangga. Kemudian aku menuju ke tempat
tidur dan mendudukkan tubuh tuaku di pinggirnya.
"Sekarang bagaimana?" aku bertanya pada diriku sendiri.
Kutempelkan tanganku ke pipiku yang penuh koreng. "Bagaimana aku
bisa melepaskan topeng ini?"
Kupejamkan mataku yang terasa lelah dan perih. Aku mencoba
berpikir. Setelah beberapa menit, wajah Carly Beth muncul dalam
benakku. "Yes!" seruku dengan suara serak. "Carly Beth adalah satusatunya orang di dunia yang bisa menolongku!"
Carly Beth mengenakan topeng dari toko yang sama pada
Halloween tahun lalu. Barangkali ia juga mengalami kejadian seperti
ini. Barangkali topengnya juga sempat melekat di wajahnya dan
mengubah dirinya. Ia berhasil melepaskan topeng itu. Barangkali saja ia tahu
bagaimana cara melepaskan topengku.
Pesawat telepon ada di seberang ruangan, di samping komputer
di meja belajarku. Dalam keadaan normal aku cuma butuh tiga detik
untuk sampai ke situ. Tapi dengan tubuhku yang tua renta, untuk
berdiri pun aku menghabiskan tiga menit sambil mengerang-erang.
Kemudian aku butuh lima menit lagi untuk melintasi kamarku. Betulbetul keterlaluan.
Ketika menjatuhkan diri di kursi belajarku, aku betul-betul
capek. Dengan sisa tenagaku yang terakhir aku mengangkat pesawat
dan memutar nomor telepon Carly Beth.
Aku tidak bisa terus seperti ini, aku mengeluh dalam hati. Carly
Beth harus menolongku. Ia harus tahu bagaimana cara melepaskan
topeng ini. Pada deringan ketiga, ayah Carly Beth mengangkat telepon.
"Halo?" "Hai... ehm... Carly Beth ada?" ujarku dengan susah payah.
Hening sejenak. Lalu: "Siapa ini?" Sepertinya Mr. Caldwell
bingung mendengar suaraku.
"Ini saya," jawabku. "Carly Beth ada?"
"Ini salah satu gurunya?"
"Bukan. Ini Steve. Saya..."
"Maaf, Sir. Suara Anda kurang jelas. Bisa bicara lebih keras"
Kenapa Anda ingin bicara dengan putri saya" Barangkali saya bisa
membantu Anda?" "Tidak... saya..."
Aku mendengar Mr. Caldwell bicara pelan-pelan dengan orang
lain di rumahnya. "Ada orang tua yang mencari Carly Beth. Suaranya
pelan sekali, hampir tidak terdengar. Ia tidak mau menyebutkan
namanya." Mr. Caldwell angkat bicara lagi. "Anda salah satu gurunya, Sir"
Dari mana Anda mengenal putri saya?"
"Ia teman saya," sahutku.
Sekali lagi ia berpaling kepada orang lain, mungkin ibu Carly
Beth. Ia menutup gagang telepon dengan sebelah tangan, tapi aku bisa
mendengar yang dikatakannya: "Sepertinya telepon iseng."
Ia kembali bicara denganku. "Maaf, Sir. Putri saya sedang
sibuk." Lalu ia menutup telepon.
Aku cuma duduk sambil mendengar nada kosong berdengung di
telingaku yang penuh labah-labah.
Sekarang bagaimana" tanyaku dalam hati. Sekarang
bagaimana" 18 RUPANYA aku tertidur di kursi belajarku. Entah berapa lama
aku terlelap. Aku terbangun gara-gara pintu kamarku diketuk-ketuk Dad.
"Steve"makan malam sudah siap!" ia berseru.
Aku langsung duduk tegak. Punggungku kaku karena aku tidur
sambil duduk. Kupijat-pijat tengkukku yang berkerut-kerut untuk
mengusir rasa pegal. "Steve"kita sudah mau makan," kata Dad.
"A-aku tidak lapar," jawabku. "Aku mau tidur saja, Dad. Aku
kurang enak badan." "Hei, jangan jatuh sakit sebelum malam Halloween," sahut Dad.
"Nanti kau tidak bisa ikut perayaan."
"A-aku cuma perlu istirahat," aku tergagap-gagap dengan
suaraku yang serak. "Besok pagi aku pasti sudah baikan."
Hah, kata siapa" Aku serasa berumur seratus lima puluh tahun. Tubuhku lemah.
Suaraku seperti kakek-kakek. Wajahku begitu menyeramkan. Seluruh
diriku seolah sedang membusuk. Siapa bilang aku besok akan lebih
baik" Aku menghela napas panjang.
"Baiklah. Nanti kami bawakan sup dan makanan lainnya," kata
Dad. Kemudian ia turun lagi.
Aku menatap pesawat telepon. Perlukah aku menelepon Carly
Beth lagi" Tidak, aku memutuskah. Ia pasti takkan percaya bahwa aku
yang menelepon. Ia akan menutup telepon, sama seperti ayahnya.
Aku menggaruk-garuk telinga. Labah-labah serasa merayaprayap di dalamnya. Kuraba bagian kepalaku, tempat kulitnya
terkelupas. Kulit itu terasa lembut dan basah. Aku juga merasakan
licinnya tulang tengkorak di baliknya.
"Ohhh." Aku mendesah panjang.
Aku harus cari akal. Aku harus cari akal untuk mengatasi
masalah ini. Tapi aku begitu capek, begitu ngantuk.
Kupaksakan diri untuk bangkit dan berjalan ke tempat tidur.
Beberapa detik kemudian aku sudah lelap.
Ketika aku terbangun, kamarku terang-benderang oleh cahaya
matahari yang masuk melalui jendela.
Mataku berkedip-kedip karena silau menghadapi sinar matahari
pagi yang cerah. Sudah pagi. Halloween telah tiba.
Seharusnya aku riang gembira. Seharusnya aku bersenangsenang. Tapi aku malah...
Aku mengangkat kedua tangan dan menyentuh pipiku.
Halus! Pipiku terasa licin. Lembut dan halus.
Kugosok-gosok telingaku. Telingaku kecil! Telingaku yang asli.
Tanpa labah-labah! Kuusap-usap rambutku. Rambutku yang asli. Bukan rambut
yang kuning kasar. Pelan-pelan, dengan hati-hati sekali, kuraba bagian atas
kepalaku, tempat tulang tengkorakku menonjol di balik kulit yang
terkelupas. Ternyata tidak ada! "Aku sudah kembali seperti semula!" seruku gembira. Aku
benar-benar girang. Aku tak lagi bertopeng seperti orang tua. Tak lagi bersuara
seperti orang tua. Tak lagi bertubuh seperti orang tua.
Semuanya cuma mimpi. Mimpi buruk yang mengerikan.
Dengan mata masih berkedip-kedip karena silau, aku
memandang berkeliling kamar.
"Aku cuma mimpi!" seruku.
Turun ke ruang bawah tanah toko yang gelap. Membongkar
kardus penuh topeng. Bertemu laki-laki berjubah. Mencuri topeng
orang tua yang seram. Menyusup ke rumah dan mencoba topeng itu.
Topeng yang melekat di wajahku. Dan tidak mau lepas lagi.
Semuanya cuma mimpi! Semuanya ternyata cuma mimpi buruk yang sekarang telah
berakhir. Aku begitu gembira! Rasanya seumur hidup aku belum pernah
gembira seperti sekarang.
Aku mengayunkan kaki. Aku hendak melompat turun dari
tempat tidur. Aku ingin melompat-lompat dan berputar-putar penuh
sukacita. Tapi kemudian mataku membuka. Dan aku benar-benar
bangun... 19 SEKARANG aku benar-benar bangun.
Dan seketika aku sadar aku cuma bermimpi bahwa semuanya
cuma mimpi! Cepat-cepat kusentuh wajahku"dan kurasakan kerut-kerut
serta koreng-koreng. Kugosok-gosok hidung, menyenggol gumpalan
lendir hijau di lubang hidungku.
Aku cuma mimpi bahwa topeng itu lepas dari wajahku.
Aku cuma mimpi bahwa semuanya telah kembali normal:
wajahku, tubuhku, suaraku.
Semua cuma mimpi. Mimpi yang indah.
Tapi sekarang aku sudah benar-benar bangun" dan benarbenar menghadapi masalah gawat.
Aku duduk tegak di tempat tidur, kusingkirkan rambut kuning
kasar yang menutupi mataku. "Aku harus beritahu Mom dan Dad,"
aku memutuskan. "Tak ada jalan lain. Aku tidak bisa terus begini."
Semalam aku tertidur tanpa ganti baju. Jadi sekarang aku
tinggal berdiri, tak perlu tukar baju. Terseok-seok aku berjalan ke
pintu. Aku membuka pintu"dan menemukan pesan yang ditempelkan
di sisi luar. Dear Steve, Moga-moga kau sudah merasa lebih enak. Mom dan Dad perlu
mengunjungi Bibi Helen pagi ini. Kami berangkat pagi-pagi supaya
tidak terjebak kemacetan. Tapi kami akan pulang sebelum malam


Goosebumps - Topeng Hantu 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk membantumu mengenakan kostum gelandanganmu.
Salam sayang, Dad. Kostum gelandangan" Kali ini aku takkan jadi gelandangan. Lagi pula, dengan umur
paling tidak seratus lima puluh tahun, aku sudah agak terlalu tua untuk
ikut perayaan Halloween! Sambil memegang pesan itu aku menempuh perjalanan panjang
ke dapur di bawah. Aku harus berpegangan pada pagar tangga dan
turun selangkah demi selangkah. Tiba-tiba aku ingin sekali makan
semangkuk bubur gandum yang mengepul-ngepul, dan minum
secangkir susu cokelat panas.
"Oh, gawat!" seruku dengan suara serak. Ternyata aku juga
sudah mulai berpikir seperti orang tua. Makan bubur" Memangnya
gigiku sudah tanggal semua!
Aku menyiapkan sarapan lain yaitu jus jeruk dan corn flakes.
Kubawa semuanya ke meja dapur, lalu duduk dan mulai makan. Gelas
jusnya terasa aneh di bibirku yang cokelat tebal. Juga sulit sekali
mengunyah corn flakes hanya dengan satu gigi.
"Aduh, apa yang mesti kulakukan?" aku meratap sedih.
Lalu, tiba-tiba, aku menemukan jawabannya.
Sebaiknya kulaksanakan saja rencanaku untuk menakut-nakuti
anak-anak kelas satu. Bukankah sudah seharusnya aku membalas
pengacau-pengacau kecil itu untuk semua kesulitan yang mereka buat
di lapangan sepak bola"
Yes! tekadku sudah bulat. Kalau Mom dan Dad pulang nanti,
aku akan menyambut mereka dan memamerkan kostum orang tua ini.
Mereka takkan tahu ini bukan kostum. Mereka justru bakal terkesan
dengan penampilanku. Setelah itu, aku pergi ke rumah tua Carpenter yang seram untuk
menemui anak-anak. Mereka akan kutakut-takuti sampai semua
gemetaran setengah mati! Setelah itu bagaimana"
Setelah itu aku akan mencari Carly Beth. Aku tahu tempat aku
bisa menemuinya. Ia akan mengadakan pesta Halloween di rumahnya,
setelah berkeliling dari rumah ke rumah.
Aku akan mencari Carly Beth dan minta ia menceritakan
rahasianya. Ia akan memberitahuku bagaimana cara melepaskan
topeng mengerikan ini. ebukulawas.blogspot.com
Dan setelah itu aku akan hidup bahagia untuk selama-lamanya.
Menurutku rencanaku cukup bagus, apalagi saat kupikirkan
sambil duduk sendirian di dapur, berusaha mengunyah corn flakes.
Sayang sekali rencanaku tidak berjalan seperti yang
kuharapkan. 20 KETIKA Mom dan Dad pulang sore itu, dengan terpincangpincang aku menuruni tangga untuk menyambut mereka. Mom dan
Dad sama-sama membelalakkan mata saat melihat wajahku yang jelek
dan penuh koreng. Kantong yang dibawa Mom sampai jatuh ke lantai. Dan
mulutnya menganga lebar. Mata Dad nyaris copot dari kepalanya. Beberapa saat ia melotot
tanpa berkedip. Kemudian tawanya meledak. "Astaga, Steve! Kostum
ini bagus sekali!" serunya. "Dari mana kaudapat kostum ini?"
"Ih, menjijikkan," komentar Mom. "Aku tidak tahan melihat
kulit yang terkelupas di kepalanya. Dan giginya itu"ya ampun!"
Dad mengelilingiku dan mengamatiku dari segala arah.
Tampaknya ia sangat terkesan.
Aku memakai setelah jas tua yang biasa kupakai kalau aku jadi
gelandangan. Di dalam lemari aku juga menemukan tongkat milik
kakek, yang kini kupakai untuk menopang diri.
"Bagus sekali!" Dad memuji sambil meremas pundakku.
"Topeng ini kubeli di toko perlengkapan pesta," ujarku dengan
suara serak. Cerita itu hampir benar.
Mom dan Dad bertukar pandang. "Suaramu persis suara orang
tua," kata Mom. "Kau sudah berlatih, ya?"
"Ya. Sepanjang hari," sahutku.
"Kau sudah baikan sekarang?" tanya Dad. "Tadi pagi kau
sengaja tidak kami bangunkan karena kau sedang tidak enak badan.
Kami harus berangkat pagi-pagi sekali..."
"Aku sudah jauh lebih baik," aku berbohong. Sebenarnya,
kedua kakiku gemetaran dan seluruh tubuhku bermandikan keringat
dingin. Tongkat kakek benar-benar kubutuhkan sebagai penyangga.
"Ih! Apa itu yang ada di rambutmu?" Mom memekik.
"Labah-labah," jawabku. Aku merinding. Kurasakan binatangbinatang itu merayap-rayap di kepala dan telingaku.
"Kelihatannya seperti labah-labah hidup," kata Mom sambil
memegang pipi. Ia menggelengkan kepala. "Bukankah lebih baik
kalau kau jadi gelandangan lagi" Topeng itu pasti panas. Kau tidak
kegerahan?" Kalau saja ia tahu betapa gerahnya aku!
"Biarkan saja," Dad menegurnya. "Kostumnya bagus sekali.
Semua orang akan gemetar ketakutan kalau bertemu Steve malam ini."
Mudah-mudahan saja, aku berharap dalam hati. Aku melirik
arlojiku. Sudah waktunya berangkat.
"Jangankan orang lain, ibunya sendiri juga ngeri," komentar
Mom. Ia memejamkan mata. "Aduh, Steve, Mom tidak tega melihat
tampangmu. Kenapa sih kau membeli sesuatu yang begitu... begitu
mengerikan?" "Ah, topengnya lucu, kok," ujar Dad. Disentilnya gigiku yang
panjang. "Bagus sekali. Topeng ini terbuat dari karet, ya?"
"Yeah, kurasa begitu," aku bergumam dengan suaraku yang
gemetar. Mom meringis. "Kau mau pergi bersama Chuck nanti?"
Aku menguap. Tiba-tiba saja aku mengantuk. "Aku punya janji
dengan anak-anak yang kulatih sepak bola," ujarku. "Setelah itu aku
mau ke rumah Carly Beth."
"Pokoknya jangan pulang terlalu malam," kata Mom. "Dan
kalau kau sampai merasa kepanasan nanti, lepaskan topengmu
sebentar"oke?" Kalau bisa! pikirku getir.
"Sampai nanti," ujarku. Tertatih-tatih aku berjalan ke pintu
depan. Setiap kali melangkah, aku bertopang pada tongkat kakek.
Mom dan Dad menertawakan caraku berjalan. Mereka
menganggapnya lucu. Aku tidak tertawa. Aku malah ingin menangis.
Hanya ada satu alasan yang menyebabkan aku tidak mau
berterus terang. Hanya ada satu alasan mengapa aku tidak mau
memberitahu Mom dan Dad bahwa aku terperangkap di balik topeng
mengerikan, yang mengubahku menjadi makhluk lemah dan uzur.
Alasan itu adalah balas dendam.
Dalam bayanganku para anggota tim sepak bola Hogs
membelalakkan mata karena ngeri. Dalam bayanganku mereka kabur
terbirit-birit sambil memekik-mekik.
Itulah yang membuatku tetap bertahan.
Aku meraih pegangan pintu dan berjuang untuk membuka pintu
depan. "Steve"tunggu sebentar!" Dad berseru. "Jangan pergi dulu
sebelum kita bikin foto!" Ia segera berbalik dan menghilang untuk
mengambil kamera. "Eh, kau juga belum membawa kantong untuk permen," Mom
menimpali. Ia menggeledah lemari di samping pintu dan menemukan
kantong belanja bergambar labu-labu kecil di kedua sisinya.
Aku tahu aku takkan sanggup membawa tongkat dan kantong
belanja sekaligus. Tapi kantong itu kuterima saja. Nanti akan kubuang
di luar. Aku takkan ikut berkeliling dari rumah ke rumah untuk
mengumpulkan permen. Untuk mendatangi satu rumah saja aku butuh
waktu setengah jam! Dad kembali ke ruang tamu. "Ayo, senyum!" serunya sambil
membidikkan kamera sakunya.
Aku berusaha mengembangkan senyum.
Lampu kilat di kamera Dad menyala satu kali. Setelah itu ia
menjepretku tiga kali lagi.
Mataku jadi berkunang-kunang. Aku pamit dan keluar lewat
pintu depan. Aku tetap belum bisa melihat apa-apa karena silau.
Hampir saja aku terjatuh dari teras.
Aku berpegangan pada pagar dan menunggu jantungku berhenti
berdegup-degup. Perlahan-lahan mataku pulih kembali, dan aku
melangkah ke trotoar. Udara malam terasa dingin. Langit tampak cerah. Tak ada angin
sama sekali. Pohon-pohon yang telah kehilangan daun berdiri kaku
bagaikan patung. Tertatih-tatih aku menyusuri trotoar, menuju ke arah rumah tua
Carpenter. Bulan tidak kelihatan. Tapi jalanan tampak lebih terang
daripada biasanya. Hampir semua rumah menyalakan lampu teras
untuk menyambut anak-anak yang hendak minta permen.
Kubuang kantong belanjaku ke tong sampah di depan
pekarangan tetangga. Kemudian kuteruskan perjalanan sambil
bertopang pada tongkatku.
Punggungku mulai nyeri. Kakiku yang lemah, gemetaran. Aku
berjalan sambil membungkuk, napasku terengah-engah.
Setelah berjalan setengah blok, aku terpaksa bersandar pada
tiang lampu untuk beristirahat. Untung saja rumah tua Carpenter
hanya berjarak dua blok dari rumahku.
Ketika mulai berjalan lagi, aku berpapasan dengan dua gadis
kecil yang diikuti ayah mereka. Yang lebih kecil memakai sayap
kupu-kupu warna emas. Kakaknya memakai makeup tebal, mahkota emas, dan gaun
panjang penuh hiasan kerlap-kerlip.
"Ya ampun, ia jelek sekali," si kupu-kupu berbisik pada
kakaknya ketika mereka mendekatiku.
"Idih," si putri menyahut. "Di hidungnya ada gumpalan ingus
hijau." Aku membungkuk sedikit, membuka mulut, dan menggeram,
"Minggir kalian!"
Kedua gadis cilik itu memekik ketakutan dan langsung lari
pontang-panting. Ayah mereka menatapku dengan gusar, kemudian
mengejar kedua putrinya. "Heh-heh-heh." Tawa bengis keluar dari mulutku.
Aku seakan-akan mendapat suntikan tenaga baru ketika melihat
wajah mereka yang ketakutan. Langsung saja aku menyeberangi jalan.
Beberapa menit kemudian aku tiba di rumah tua Carpenter.
Rumah tua yang besar itu tampak gelap dan angker. Kedua menara
batunya menjulang tinggi ke langit malam, menyerupai menara kastil.
Tim sepak bolaku berdiri berdesak-desakan di bawah lampu
jalanan, di depan pekarangan yang penuh alang-alang.
Calon-calon korbanku. Semuanya memakai kostum. Ada kostum Power Rangers dan
Ninja Turtles. Mumi dan monster. Juga ada dua hantu, satu Beauty,
dan satu Beast. Tapi aku langsung mengenali mereka, karena mereka saling
dorong, saling rebut kantong permen, sambil berteriak-teriak dan
bertengkar. Aku bersandar pada tongkatku, memperhatikan mereka dari
ujung blok. Jantungku mulai berdegup-degup. Seluruh tubuhku
gemetar. Ini dia. Saat yang kutunggu-tunggu.
"Oke, semuanya," aku bergumam pelan. "Sudah waktunya aku
beraksi." 21 SEMANGAT balas dendamku berkobar-kobar ketika aku
menghampiri mereka. Aku masuk ke bayang-bayang cahaya lampu
jalanan. Bibirku yang menyerupai cacing tersenyum melecehkan.
Satu per satu kutatap mereka. Semua kuberi kesempatan untuk
mengamati wajahku yang mengerikan. Semua kuberi kesempatan
untuk melihat labah-labah yang merayap di rambutku. Lubang cacing
di gigiku. Tulang tengkorak yang tampak di balik kulit kepalaku yang
terkelupas. Semua membisu. Tatapan mereka melekat pada diriku. Bisa
kurasakan ketakutan yang mencekam mereka.
Aku membuka mulut untuk menggeram, agar mereka terbiritbirit, lari pulang ke pangkuan ibu masing-masing.
Tapi Marnie Rosen, yang mengenakan baju pengantin putih
berkerudung, menghampiriku sebelum aku sempat bersuara. "Ada
yang bisa kami bantu, Kek?" ia bertanya.
"Kakek tersesat?" tanya salah satu Power Rangers.
"Kakek mau tanya jalan?"
"Kakek perlu diantar?"
Aduh. Aduh! Ini tidak benar. Bukan ini yang kubayangkan, bukan ini yang
kuimpi-impikan! Marnie meraih lenganku. "Kakek mau ke mana" Biar kami
antar. Malam ini terlalu seram untuk jalan-jalan sendirian di tempat
asing." Anak lain pun mendekat, berusaha menolongku.
Berusaha menolong orang tua. Menolong kakek-kakek yang
sama sekali tidak menakutkan bagi mereka.
"Jangaaan!" aku melolong dengan geram. "Aku hantu rumah
Carpenter! Kalian akan kuhukum karena berani masuk ke
pekaranganku!" Aku mencoba berteriak"tapi yang keluar dari mulutku cuma
bisikan lemah. Sepertinya mereka tak mendengar sepatah pun katakata yang kuucapkan.
Aku harus bisa membuat mereka takut, kataku dalam hati.
Harus bisa! Aku mengangkat kedua tangan seakan-akan bermaksud
mencekik mereka. Tongkatku terlepas dari tanganku. Aku kehilangan
keseimbangan dan jatuh ke belakang.
"Ohhh!" Aku mengerang keras ketika aku terduduk di trotoar.
Mereka semua memekik. Tapi bukan karena takut. Mereka
memekik karena khawatir aku cedera.
Cepat-cepat mereka semua mengulurkan tangan untuk
membantuku berdiri kembali.
"Kakek tidak apa-apa" Ini tongkat Kakek." Aku mengenali
suara Duck Benton yang serak.
Kudengar mereka berbisik-bisik dengan nada iba. "Kasihan ya
si kakek," seorang anak bergumam.
"Kakek cedera?"
"Apa kami perlu panggil bantuan untuk Kakek?"
Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek.
Mereka tidak ketakutan. Mereka sama sekali tidak ngeri
padaku. Aku bersandar pada tongkatku. Tiba-tiba aku merasa capek
sekali. Saking capeknya, aku nyaris tidak sanggup menahan kepala
supaya tegak. Sudahlah, Steve, aku berkata dalam hati. Lupakan soal balas
dendam. Kau harus ke rumah Carly Beth sebelum kau ambruk di
tengah jalan. Kau harus tanya kepada Carly Beth bagaimana cara
melepaskan topeng ini. Bagaimana cara mendapatkan kembali
wajahmu"dan kekuatanmu"semula.
Marnie masih menggenggam tanganku yang gemetaran.
"Sebenarnya Kakek mau ke mana?" tanyanya. Roman mukanya
menunjukkan ia prihatin melihat keadaanku.


Goosebumps - Topeng Hantu 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ehm... kalian tahu di mana rumah Carly Beth Caldwell?"
tanyaku. "Rumahnya satu blok dari sini. Di seberang jalan. Adiknya
teman saya," jawab Andrew Foster.
"Biar kami antar ke sana," Marnie menawarkan.
Ia menarik tanganku. Salah satu anak Hogs berkostum mumi
meraih tanganku yang satu lagi. Mereka mulai menuntunku menyusuri
trotoar, pelan-pelan sekali.
Kok jadi begini" pikirku getir. Seharusnya mereka lari terbiritbirit ketakutan! Seharusnya mereka menangis dan menjerit-jerit.
Ternyata mereka malah membantuku berjalan.
Aku menghela napas. Yang paling menyedihkan adalah bahwa
saking lemahnya, aku takkan sanggup sampai ke rumah Carly Beth
tanpa bantuan mereka. Mereka menuntunku sampai ke depan pekarangan keluarga
Caldwell. Kemudian aku mengucapkan terima kasih dan berkata
bahwa sisa perjalanan bisa kutempuh sendiri.
Aku memperhatikan mereka pergi untuk minta permen dari
rumah ke rumah. "Kurasa Steve tak bakal muncul," ujar Duck.
"Ia pasti tidak berani keluar rumah pada malam Halloween!"
Marnie berkelakar. Semua tertawa. Aku membalik ke rumah Carly Beth sambil bertopang pada
tongkatku. Semua lampu di rumahnya menyala. Tapi tak seorang pun
tampak dari jendela. Barangkali ia masih berkeliling, pikirku.
Aku mendengar suara langkah mendekat. Juga suara bercakapcakap.
Cepat-cepat aku membalik dan melihat Carly Beth bersama
Sabrina Mason melintasi rumput pekarangan depan, menuju rumah.
Aku mengenali kostum bebek yang dikenakan Carly Beth.
Setiap tahun ia mengenakan kostum yang sama. Kecuali Halloween
tahun lalu, saat ia memakai topeng yang menakutkan itu.
Sabrina berpakaian seperti pahlawan super. Ia mengenakan
celana ketat dan jubah panjang, keduanya berwarna keperakan.
Wajahnya tertutup topeng keperakan, tapi aku mengenali rambutnya
yang panjang dan hitam. "Carly Beth...!" aku berusaha memanggil. Tapi suara yang
keluar dari mulutku cuma bisikan parau.
Keduanya terus asyik mengobrol sambil melintasi pekarangan.
"Carly Beth...! Tunggu!" seruku.
Mereka menoleh. Dan melihatku!
Yes! "Carly Beth...!" aku berseru sekali lagi.
Ia melepaskan topeng bebeknya dan berjalan beberapa langkah
ke arah trotoar. Ia menatapku sambil mengerutkan kening. "Siapa,
ya?" "Ini aku!" aku berusaha menjelaskan. "Aku..."
"Anda yang menelepon saya semalam?" ia bertanya dengan
ketus. "Ehm... ya," sahutku. "Begini, aku butuh..."
"jangan ganggu saya!" Carly Beth berteriak. "Kenapa Anda
mengikuti saya" Jangan ganggu, atau saya panggil ayah saya!"
"Tapi... tapi... tapi..." aku tergagap-gagap.
Keduanya berbalik dan berlari ke rumah.
Mereka meninggalkanku di trotoar.
Meninggalkanku seorang diri.
Celaka! 22 AKU mengerang kecewa. "Carly Beth"ini aku! Ini aku!
Steve!" seruku. "Steve Boswell!"
Apakah ia mendengarku"
Ya. Ia dan Sabrina sudah tiba di jalan setapak yang menuju ke teras
depan. Dalam cahaya kuning lampu teras, kulihat mereka berbalik.
"Aku Steve! Aku Steve!" aku berseru-seru sampai
tenggorokanku terasa sakit.
Perlahan-lahan, dengan hati-hati, kedua cewek itu
menghampiriku. "Steve?" Carly Beth menatapku sambil melongo. Matanya tak
berkedip. "Itu topeng, ya?" tanya Sabrina sambil merapat ke Carly Beth.
"Ya, aku pakai topeng," sahutku parau.
"Idih. Minta ampun, deh!" seru Sabrina. Ia melepaskan
topengnya yang keperakan agar dapat melihat lebih jelas. "Itu labahlabah, ya" Ihhh!"
"Aku butuh bantuan," aku langsung berterus terang. "Topeng
ini..." "Kau ke toko perlengkapan pesta!" Carly Beth memekik.
Topeng bebeknya jatuh ke trotoar. Ia memegang pipinya dengan
kedua tangan. "Aduh! Aduh! Steve, aku kan sudah
memperingatkanmu!" "Ya. Topeng ini kudapat di sana," ujarku sambil menunjuk
wajahku yang mengerikan. "Aku mengabaikan nasihatmu. Aku tidak
tahu." "Steve, kan sudah kubilang jangan pergi ke situ," kata Carly
Beth. Matanya terbelalak lebar karena ngeri. Kedua tangannya masih
menempel di pipi. "Sekarang topeng ini tak bisa kulepaskan," aku meratap.
"Topengnya melekat di wajahku. Menyatu denganku. Dan aku"aku
berubah jadi orang tua. Orang tua yang lemah dan uzur."
Carly Beth menggelengkan kepala dengan sedih. Ia menatap
wajahku yang jelek, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Kau harus menolongku," aku memohon. "Kau harus
menolongku melepaskan topeng ini."
Carly Beth menghela napas panjang. "Steve" rasanya aku
tidak bisa." 23 AKU meraih bulu-bulu pada kostum bebeknya. "Kau harus
menolongku, Carly Beth," kataku setengah memaksa. "Kenapa kau
tidak mau menolongku?"
"Aku mau menolongmu," ia menjelaskan. "Tapi aku tidak yakin
bahwa aku bisa." "Tapi tahun lalu kau kan beli topeng di toko yang sama. Dan
kau berhasil melepaskannya. Kau berhasil lolos"ya, kan?"
"Topengnya tidak bisa ditarik, " ujar Carly Beth. "Tidak bisa
dilepaskan secara paksa."
Aku melihat tiga anak berkostum di rumah sebelah. Seorang
wanita membuka pintu. Aku melihatnya memberikan permen kepada
ketiga anak itu. Ternyata ada juga yang bergembira malam ini, pikirku getir.
Tapi jelas bukan aku. Ada kemungkinan seumur hidup aku takkan pernah bergembira
lagi. "Masuk dulu, deh," Carly Beth mengajak. "Di sini terlalu
dingin. Nanti aku coba menjelaskan semuanya."
Aku berusaha mengikuti mereka ke pintu rumah. Tapi kakiku
lemas seperti karet. Carly Beth dan Sabrina harus menggotongku ke
dalam. Di meja di hadapanku ada jack-o'-lantern, labu yang diukir
menyerupai wajah anak yang sedang nyengir. Labu itu punya lebih
banyak gigi dibandingkan aku!
Carly Beth duduk di sandaran tangan sofa. Sabrina mengambil
tempat di kursi di sampingnya. Ia membungkuk dan merogoh-rogoh
kantong permennya. Buset! Bisa-bisanya ia memikirkan permen di
saat seperti ini! Aku berpaling pada Carly Beth. "Bagaimana cara melepaskan
topeng ini?" Carly Beth menggigit-gigit bibir. Ia menatapku dengan serius.
"Yang kaupakai itu bukan topeng," ia akhirnya berbisik.
"Hah?" seruku. "Itu bukan topeng," ia menjelaskan. "Itu wajah sungguhan. Kau
sempat ketemu laki-laki berjubah hitam di toko?"
Aku mengangguk. "Kelihatannya ia semacam ilmuwan edan. Ia membuat macammacam wajah. Di laboratoriumnya."
"I-ia membuat apa?"
Carly Beth mengangguk-angguk. "Laki-laki berjubah itu
membuat wajah-wajah hidup. Sebenarnya ia mau membuat wajahwajah tampan. Tapi rupanya terjadi kesalahan. Dan ternyata semuanya
jelek. Sama jeleknya dengan yang kaupakai sekarang."
"Tapi, Carly Beth..."
Ia memberi isyarat supaya aku diam. "Wajah-wajah buatannya
itu ia beri nama The Unloved, Yang Terbuang. Tak ada yang
menginginkan wajah-wajah itu karena semuanya begitu mengerikan.
Mereka adalah wajah-wajah yang terbuang. Tapi mereka hidup. Dan
mereka akan melekat pada siapa pun yang memakai mereka."
"Jadi, bagaimana caraku melepaskannya?" seruku tidak sabar.
Kutarik-tarik pipiku yang penuh koreng. "Aku tidak mungkin seumur
hidup berwajah seperti ini. Apa yang bisa kulakukan?"
Carly Beth berdiri dan mondar-mandir di depan Sabrina dan
aku. Sabrina membuka cokelat Milky Way dan mulai mengunyah
sambil memperhatikan Carly Beth berjalan bolak-balik.
"Aku mengalami kejadian yang sama pada Halloween tahun
lalu," kata Carly Beth. "Topeng yang kupilih benar-benar mengerikan.
Dan topeng itu melekat kuat di kepalaku. Aku juga berubah jadi
jahat." "Lalu apa yang kaulakukan?" aku berseru. Aku mencondongkan
badan ke depan sambil bersandar pada tongkatku.
"Aku kembali ke toko perlengkapan pesta. Aku menemui lakilaki berjubah itu. Ia memberitahuku bahwa hanya ada satu jalan untuk
melepaskan topeng. Topeng itu hanya bisa dibuka dengan simbol
kasih sayang." "Hah?" Aku menatapnya terbengong-bengong. Aku tidak
mengerti apa maksudnya. "Aku harus mencari simbol kasih sayang," Carly Beth
melanjutkan. "Mula-mula aku juga tidak tahu apa maksud laki-laki itu.
Tapi kemudian aku teringat sesuatu yang dibuat ibuku untukku."
"Apa itu?" aku mendesaknya. "Apa itu?"
"Patung kepalanya itu," Sabrina menyela dengan mulut penuh
cokelat. "Ibuku membuat patung dengan kepalaku sebagai model," ujar
Carly Beth. "Tampangnya persis seperti aku. Kau sudah melihatnya,
kan" Ibuku membuat patung itu karena ia menyayangiku. Itulah
simbol kasih sayang yang kuperlukan."
Carly Beth kembali duduk di sampingku. "Patung kepalaku itu
kuhadapkan ke wajah The Unloved. Dan The Unloved menghilang.
Wajah buruk itu lepas begitu saja."
"Yeah!" seruku gembira. "Cepat ambil, dong!"
"Hah?" Carly Beth menatapku bingung.
"Cepat ambil patung itu," aku memohon. "Aku sudah tak tahan
memakai topeng ini!"
Carly Beth menggelengkan kepala. "Kau salah paham, Steve.
Kau tidak bisa pakai patungku. Itu simbol kasih sayangku. Kau harus
cari simbol kasih sayang sendiri."
"Tapi barangkali cara itu tidak berlaku untuk topeng Steve,"
Sabrina memotong. "Siapa tahu setiap topeng ada cara tersendiri untuk
melepaskannya." "Jangan macam-macam, Sabrina," gumamku dengan gusar. "Ini
harus berhasil! Harus!"
"Kau harus mencari simbol kasih sayang sendiri," Carly Beth
mengulangi. "Mungkin kau punya ide, Steve?"
Aku menatapnya sambil memutar otak.
Aku berpikir dan berpikir dan berpikir.
Simbol kasih sayang... simbol kasih sayang... Aduh, tak ada
yang terpikir olehku. Tapi tiba-tiba saja aku mendapat ide.
24 SAMBIL bertopang pada tongkatku, aku berusaha bangkit dari
sofa. Tapi tanganku yang renta tak sanggup menahan berat badanku,
dan aku terduduk kembali di jok yang empuk.
"Kau harus menolongku pulang," pintaku kepada Carly Beth.
"Aku sudah tahu apa yang bisa jadi simbol kasih sayang untukku.
Tapi barangnya ada di rumah."
"Oke, biar kuantar saja!" sahut Carly Beth.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak yang mau datang ke sini?"
tanya Sabrina sambil menelan sepotong cokelat Milky Way.
"Bagaimana dengan pesta kita?"
"Kau tunggu saja di sini dan temani mereka," sahut Carly Beth.
"Kalau Steve bisa mendapatkan simbol kasih sayang di rumahnya"
dan simbol itu memang ampuh"kami akan segera kembali."
"Ini pasti berhasil," ujarku. "Aku yakin ini akan berhasil."
Meski begitu aku tetap berdoa dalam hati. Sementara itu aku
sulit bangkit dari sofa. Carly Beth melihat kesusahanku. Ia meraih kedua tanganku dan
menarikku sampai berdiri. "Idih! Apa itu yang bergerak-gerak di
rambutmu?" serunya sambil meringis.
"Labah-labah," jawabku pelan-pelan.
Carly Beth menelan ludah. "Mudah-mudahan kau berhasil."
"Aku juga berharap begitu," gumamku ketika ia menuntunku ke
pintu. Carly Beth menoleh ke belakang. "Jangan habiskan cokelatnya
selama kami pergi," ia berseru kepada Sabrina.
"Ini baru yang kedua, kok!" protes Sabrina sambil mengunyah.
Carly Beth dan aku melangkah ke kegelapan malam di luar.
Beberapa anak berkostum memasuki pekarangan Carly Beth. Semua
membawa kantong permen. "Hei, Carly Beth"kau mau ke mana?"
tanya seorang cewek. "Ada orang yang perlu kutolong sebentar!" jawab Carly Beth.
"Takkan lama, kok. Sampai nanti, ya!" Ia kembali berpaling padaku.
"Aduh, Steve, kenapa kau tidak menuruti nasihatku" Tampangmu
benar-benar mengerikan deh."
"Aku bahkan tidak bisa menyeka gumpalan lendir hijau di
hidungku!" aku meratap.
Carly Beth menuntunku pulang sambil memegang pundakku.
Kami menyeberangi jalan. Aku mendengar musik rock mengentakentak dan gema tawa anak-anak di rumah di sudut jalan. Rupanya ada
pesta Halloween. Ketika melewati rumah itu, aku tersandung pada sesuatu yang
melintas di hadapanku. Untung saja Carly Beth masih sempat
menangkapku sebelum aku jatuh. "Apa itu?" seruku.
Bayangan itu berlari melintasi jalan. Ternyata seekor kucing
hitam. Aku tertawa. Apa lagi yang bisa kulakukan" Mau tidak mau aku
tertawa. Silakan, kucing hitam, pikirku getir. Silakan melintas di
depanku. Nasibku tidak mungkin lebih buruk dari sekarang.
Rumahku mulai tampak di balik deretan semak tinggi. Aku
melihat hampir semua lampu di lantai dasar menyala.
"Orangtuamu ada di rumah?" tanya Carly Beth sambil
membantuku melintasi rumput di pekarangan depan.
Aku mengangguk. "Yeah. Mereka di rumah."
"Mereka tahu soal... ehm..."
"Tidak," jawabku. "Mereka pikir aku pakai kostum."
Kami sampai di teras depan, dan aku mendengar Sparky
menggonggong di dalam. Aku membuka pintu, anjing kecil itu
menyalak dengan gembira dan langsung menerjangku.


Goosebumps - Topeng Hantu 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kaki depannya menabrak pinggangku dan mendorongku ke
belakang. Aku mundur terhuyung- huyung sampai menabrak dinding.
"Turun, Sparky! Ayo! Turun!" aku memohon dengan suaraku
yang serak. Aku tahu Sparky senang melihatku. Tapi aku terlalu lemah
untuk menerima sambutan seperti itu.
"Turun, Sparky! Ayo, dong!"
Carly Beth akhirnya menarik anjing itu agar aku bisa berdiri
tegak. Ia menahannya sampai aku bisa menjaga keseimbangan
tubuhku. "Steve"kau sudah pulang?" suara Mom terdengar dari ruang
kerja. "Kok cepat sekali?"
Mom muncul di ruang tamu. Ia sudah mengenakan daster flanel
kelabu yang biasa dipakainya untuk bersantai malam hari. Rambutnya
yang pirang digulung. "Oh, hai, Carly Beth!" sapa Mom dengan nada terkejut. "Aku
tidak tahu kalau ada tamu. Aku...
"Tidak apa-apa, Mom," aku segera memotong. "Kami cuma
sebentar, kok. Ada yang ketinggalan."
"Kostum Steve bagus sekali, ya?" tanya Mom kepada Carly
Beth. "Dan topengnya itu, lho"ih, seram sekali."
"Oh, jadi ia pakai topeng?" Carly Beth berkelakar. Ia dan Mom
langsung tertawa. Sparky mengendus-endus sepatuku.
"Apa sih yang ketinggalan?" tanya Mom padaku.
"Biskuit hitam-putih," jawabku penuh semangat. "Itu, lho.
Biskuit yang Mom belikan untukku kemarin."
Biskuit itu adalah simbol kasih sayangku.
Mom bilang ia menempuh jarak tiga kilometer untuk
membelikan biskuit itu untukku. Ia tahu itu biskuit kesukaanku! Dan
ia tak segan-segan bersusah payah karena ia sayang padaku.
Jadi biskuit-biskuit itu merupakan simbol kasih sayang yang
sempurna. Aku sudah tak sabar. Satu gigitan"dan aku bakal bisa
melepaskan topeng mengerikan ini.
Mom mengerutkan kening. Ia menatapku sambil memicingkan
mata. "Kau pulang untuk mengambil biskuit" Kenapa" Kau kan punya
sekantong permen dan cokelat?"
"Ehm... aku..." aku tergagap-gagap. Otakku mendadak macet.
Aku tidak bisa memikirkan alasan yang masuk akal.
"Ia lagi kepengin makan biskuit itu," Carly Beth angkat bicara.
"Dari tadi ia terus bercerita tentang biskuit kesukaannya itu."
"Ya, benar," aku menimpali. "Permen dan cokelat tidak ada
apa-apanya dibandingkan biskuit itu."
"Saya juga suka," Carly Beth menambahkan. "Jadi saya ikut
Steve ke sini. Biskuit-biskuit itu hendak kami bawa ke pesta
Halloween di rumah saya."
Mom berdecak-decak. "Oh, sayang sekali," katanya.
"Hah?" seruku. Jantungku serasa mau copot. "Ada apa, sih?"
Mom menggelengkan kepala. "Biskuitnya sudah habis,"
sahutnya pelan. "Sparky menemukan kotaknya tadi pagi. Sori, tapi
semuanya sudah dilahap Sparky."
25 AKU langsung merinding ketika mendengar kata-kata Mom.
Aku mengerang tertahan. Dan menatap Sparky di lantai.
Anjing itu membalas tatapanku dan mulai mengibas-ngibaskan
ekornya yang kecil. Seakan-akan kesenangan!
"Gara-gara kau hidupku jadi berantakan, Sparky!" Itu yang
hendak kuteriakkan. "Dasar anjing rakus! Kenapa kau mesti
menghabiskan semuanya" Kenapa tak kausisakan sepotong untukku"
Celaka deh, aku. Sekarang aku harus hidup selama-lamanya dengan
muka jelek dan menakutkan ini."
Semua itu cuma gara-gara biskuit hitam-putih yang juga biskuit
kesukaannya. Sparky menghampiriku sambil mengibas-ngibaskan ekor.
Tubuhnya yang berbulu hitam dirapatkannya ke kakiku. Ia minta
dielus-elus. Enak saja, pikirku. Aku tak bakal mau mengelus-elusmu"dasar
pengkhianat. Aku mendengar Dad memanggil Mom dari ruang kerja.
"Selamat bersenang-senang," ujar Mom. Ia melambaikan tangan
kepada kami, kemudian meninggalkan kami untuk menemui Dad.
Selamat bersenang-senang"
Aku sadar seumur hidup aku takkan pernah bersenang-senang
lagi. Dengan lesu aku berpaling pada Carly Beth. "Sekarang
bagaimana?" bisikku.
"Cepat"gendong Sparky," sahutnya berbisik. Ia menunjuk
anjingku. "Hah" Kenapa" Aku tidak sudi memegang anjing ini lagi!"
seruku kesal. Sparky kembali merapatkan badan ke kakiku. Ia terengahengah, dan lidahnya terjulur keluar.
"Gendong dia!" Carly Beth berkeras.
"Untuk apa?" "Sparky adalah simbol kasih sayang yang kaucari!" Carly Beth
menjelaskan. "Coba lihat dia, Steve. Lihat bagaimana anjing itu
menyayangimu." "Saking sayangnya, ia menyikat biskuitku sampai ludes!"
Carly Beth menatapku sambil mengerutkan kening. "Lupakan
soal biskuit itu. Gendong anjingmu. Sparky adalah simbol kasih
sayang yang kauperlukan. Angkat dia dan dekap erat-erat. Aku yakin
topengmu pasti langsung copot!"
"Boleh dicoba, sih," ujarku tak yakin. Aku bersiap-siap
mengangkat anjing terrier kecil itu. Punggungku nyeri ketika aku
membungkuk. Lututku berderak ketika, hendak kutekuk.
Moga-moga berhasil! aku berdoa dalam hati. Moga-moga ini
berhasil! Aku berusaha meraih Sparky"ia menerobos di antara kedua
tanganku dan berlari melintasi karpet ke ruang kerja.
"Sparky"sini! Sparky!" seruku, masih membungkuk dan
menggapai-gapai. Anjing itu berhenti di ujung ruang tamu dan berpaling padaku.
"Sini, Sparky!" aku berseru dengan suaraku yang gemetar.
"Sini!" Buntutnya yang pendek mengibas-ngibas. Ia menatapku sambil
memiringkan kepala, tapi tidak bergerak sedikit pun.
"Ia mengajakku bermain-main," kataku. "Ia ingin aku
mengejarnya." Aku berlutut dan memanggil Sparky sambil melambaikan
kedua tangan. "Sini, Sparky! Sini! Aku terlalu tua untuk mengejarmu!
Sini, Sparky!" Di luar dugaanku, Sparky menyalak, berlari melintasi ruangan,
dan melompat ke pelukanku.
"Dekap dia erat-erat, Steve," Carly Beth mewanti-wanti.
"Dekap dia erat-erat. Aku yakin ini bakal berhasil."
Anjing kecil itu terasa berat di tanganku yang seakan-akan tak
bertenaga. Tapi aku tetap mendekapnya. Erat-erat.
Aku mendekapnya seerat mungkin.
Lama sekali. Tapi tidak terjadi apa-apa.
26 SETELAH hampir satu menit, anjingku mulai bosan didekap. Ia
melompat turun dari pelukanku, berlari melintasi karpet, dan
menghilang di ruang kerja.
Kutarik topengku dengan kedua tangan,
Tapi aku tahu aku cuma membuang-buang tenaga. Tak ada
yang berubah. Tak ada yang berbeda. Wajah jelek itu tetap saja
melekat kuat di kepalaku.
Carly Beth menyentuh pundakku dengan lembut. "Sori,"
gumamnya. "Rupanya semua topeng memang berbeda-beda."
"Maksudmu, aku perlu sesuatu yang lain untuk
melepaskannya," kataku sambil menggelengkan kepala yang penuh
labah-labah. Carly Beth mengangguk. "Ya. Pasti ada sesuatu yang bisa
dipakai. Tapi kita tidak tahu apa."
Aku mendesah tak berdaya. "Celaka deh, aku! Untuk berdiri
saja aku harus dibantu!" ebukulawas.blogspot.com
Carly Beth menyelipkan tangannya ke bawah lenganku dan
membantuku berdiri. Aku bersandar pada tongkatku.
Dan kemudian aku dapat ide.
"Laki-laki berjubah itu!" kataku. "Ia pasti tahu apa yang harus
kulakukan." "Eh, benar juga!" Wajah Carly Beth menjadi cerah. "Ya, kau
benar, Steve. Ia yang menolongku waktu Halloween tahun lalu. Kalau
kita kembali ke tokonya, ia pasti akan menolongmu!"
Ia membimbingku ke pintu depan. Tapi aku menahannya. "Ada
satu masalah kecil." aku berkata padanya.
Ia berpaling padaku. "Masalah?"
"Yeah," sahutku. "Aku lupa menceritakannya. Toko itu sudah
ditutup. Karena bangkrut."
Tapi kami tetap berjalan ke sana. Ehm, sebenarnya aku tidak
berjalan. Aku melangkah terpincang-pincang dan tertatih-tatih. Setiap
detik aku semakin lemah dan capek. Bisa dibilang aku harus digotong
ke sana oleh Carly Beth. Jalan-jalan yang kami lewati sudah lengang, remang-remang di
bawah cahaya lampu jalanan. Lampu-lampu di rumah-rumah sudah
mulai dipadamkan. Malam sudah larut. Anak-anak yang semula
berkeliling meminta permen sudah pulang ke rumah masing-masing.
Kami diikuti dua ekor anjing. Dua anjing herder yang besar.
Barangkali mereka pikir kami mau berbagi permen dengan mereka.
Masalahnya, kami tidak membawa permen.
"Pergi sana!" aku menggeram. "Aku sudah tidak suka anjing.
Anjing tak ada gunanya"!"
Di luar dugaanku, kedua anjing itu seakan-akan mengerti.
Keduanya berbalik dan berlari melintasi pekarangan gelap di sebuah
rumah, lalu menghilang di belakangnya.
Beberapa menit kemudian kami melewati toko-toko kecil yang
berderet-deret dan berhenti di depan toko perlengkapan pesta.
Tokonya gelap. Kosong. "Betul kan sudah bangkrut," aku bergumam.
Carly Beth menggedor-gedor pintu depan. Aku mengintip
melalui jendela, bayangan-bayangan biru di etalase tampak penuh
debu. Tak ada yang bergerak. Tak ada siapa pun di dalam.
"Buka pintu! Kami perlu pertolongan!" Carly Beth berseru-seru.
Pintu kayu itu digedor-gedornya dengan kedua tangan.
Hening. Tak ada jawaban. Angin dingin mulai berembus. Aku menggigil. "Sudahlah," aku
bergumam lesu. "Kita pulang saja."
Carly Beth belum mau menyerah. Ia tetap menggedor-gedor
pintu dengan kedua tangannya.
Aku berpaling dari jendela"dan memandang ke gang di
samping toko. "Hei, tunggu dulu!" seruku. "Coba kemari sebentar."
Aku memasuki gang itu. Carly Beth segera menyusul sambil
mengusap-usap tangan. Tangannya pasti nyeri karena menggedorgedor pintu.
Sebenarnya dari trotoar sudah kelihatan bahwa pintu kolong di
gang tertutup rapat. Tapi aku tetap mengajak Carly Beth. Kami
berhenti di samping pintu kolong.
"Pintu ini menuju ke ruang bawah tanah toko," aku
menjelaskan. "Semua topeng dan barang-barang lain disimpan di
bawah sana." "Kalau kita bisa turun ke situ," bisik Carly Beth, "mungkin kita
bisa menemukan cara untuk membantumu."
"Mungkin saja," aku menyahut.
Carly Beth membungkuk dan meraih pegangan pintu kolong. Ia
menarik keras-keras. Pintunya tidak bergerak sedikit pun.
"Sepertinya dikunci," komentarnya.
"Coba lagi," aku mendesak. "Pintunya memang agak sukar
dibuka." Ia kembali membungkuk, menggenggam pegangan pintu
dengan dua tangan, dan menarik keras-keras.
Kali ini pintunya membuka. Aku melihat tangga beton yang
menuju ke ruang bawah tanah.
"Ayo. Cepat, Steve." Carly Beth menarik tanganku.
Kesempatanku yang terakhir, kataku dalam hati. Kesempatanku
yang terakhir. Dengan gemetar aku mengikutinya memasuki kegelapan yang
pekat. 27 KAMI berjalan berdampingan ketika melintasi ruang bawah
tanah toko. Cahaya redup lampu jalanan masuk lewat pintu kolong
yang terbuka. Dari arah depan terdengar bunyi tes tes tes yang juga terdengar
saat aku pertama kali kemari. Semua kardus masih tertumpuk di
tempat yang sama. Tiga atau empat kardus malah tetap dibiarkan
terbuka. "Nah, kita sudah sampai," gumam Carly Beth. Suaranya
bergema pada dinding-dinding ruangan. Matanya memandang
berkeliling, lalu menatapku. "Sekarang bagaimana?"
Aku angkat bahu. "Bagaimana kalau kita periksa kardus-kardus
ini?" Aku menghampiri kardus terdekat dan mengintip ke dalam.
"Yang ini penuh topeng," ujarku pada Carly Beth. Aku mengeluarkan
topeng monster yang penuh bulu kasar.
"Ih," ujar Carly Beth. "Simpan saja. Aku sudah kapok berurusan
dengan topeng." Kukembalikan topeng itu ke dalam kardus. "Aku tidak tahu apa
yang kita perlukan," kataku. "Tapi barangkali kita bisa menemukan
sesuatu..." "Coba lihat ini!" seru Carly Beth. Ia telah membuka kardus lain
dan meraih semacam baju monyet dengan ekor yang panjang dan
runcing. "Apa itu?" tanyaku. Aku menghindari dua kardus untuk
menghampirinya. "Sebuah kostum," sahutnya. Ia membungkuk dan mengeluarkan
kostum lain. Yang ini penuh bercak-bercak hitam, seperti kulit macan
tutul. "Kardus ini penuh kostum."
"Memangnya kenapa?" aku menggerutu. "Kostum-kostum itu
takkan menolongku." Aku menghela napas. "Tak ada yang bisa menolongku."
Sepertinya Carly Beth tidak mendengar apa yang kukatakan. Ia
kembali membungkuk dan mengambil kostum lain lagi. Setelan jas
hitam. Bagus sekali. Seperti tuksedo.
Ketika aku menatap kostum itu, wajahku serasa ditusuk-tusuk.
"Sudah, deh, simpan saja," ujarku dengan muram. "Kita harus
mencari..." "Oh, idih!" seru Carly Beth. "Kostum ini"kostum ini penuh
labah-labah!" "Hah?" Aku menahan napas. Gatal-gatal di wajahku semakin
parah. Aku mendengar suara mendengung-dengung di telingaku.


Goosebumps - Topeng Hantu 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Wajahku mulai nyeri. "Hei, kostum ini cocok dengan topengmu!" Carly Beth berseru.
Ia menghampiriku sambil membawa kostum itu. "Lihat, nih. Labahlabah melulu!"
Aku menggaruk-garuk pipi. Gatalnya nyaris tak tertahankan.
"Jangan dekat-dekat!" aku memekik. "Kostum itu membuatku
gatal!" Carly Beth tidak menggubris seruanku. Ia memegang setelan jas
hitam di depan hidungku. "Ya, kan" Kau punya kepalanya"dan ini tubuhnya," katanya
sambil mengamati jas itu.
"Jangan dekat-dekat!" teriakku. "Wajahku"wajahku seperti
terbakar! Aduh!" Aku menampar pipi, kening, dan daguku.
"Aduuuh!" aku melolong. "Aku merasa aneh sekali. Ada apa
ini?" 28 "ADUH! Wajahku terbakar!" aku memekik. "Aduuuuh! Ada
apa ini?" Dengan panik aku meraba-raba wajahku.
Tiba-tiba wajahku yang jelek mulai bergeser.
Aku merasakannya bergerak ke atas. Naik. Naik.
Aku melepaskan tangan ketika topeng orang tua itu terangkat
dari kepalaku. Topeng itu copot. Lalu melayang-layang.
Udara sejuk menyentuh pipiku. Langsung saja kuhirup dalamdalam udara yang dingin dan segar itu.
Sejenak topeng berkerut-kerut itu mengambang di atasku.
Kemudian terbang menuju setelan jas hitam yang masih digenggam
Carly Beth. Carly Beth memekik kaget ketika jas itu mulai mengayunayunkan lengan. Kaki celananya menendang-nendang. Setelan itu
menggeliat-geliut dan meronta-ronta, seakan-akan hendak
membebaskan diri. Carly Beth melepaskannya dan langsung melompat mundur.
Wajah buruk itu mengembangkan senyum lebar.
Kaki celananya turun ke lantai. Orang tua itu menari-nari
dengan lengan melambai-lambai dan kaki celana berkibar-kibar.
Dan kemudian ia berpaling dari kami. Topeng dan setelan jas
itu telah menyatu. Kaki celananya menekuk di sekitar lutut, lalu ia
bergegas ke arah tangga. Carly Beth dan aku memekik kaget ketika orang tua itu menaiki
tangga dan menghilang lewat pintu kolong.
Kami berdiri sambil membelalakkan mata, dengan mulut
menganga lebar. Tanpa berkedip kami menatap lubang pintu di
puncak tangga. Kami sama-sama membisu. Sama-sama terbengongbengong.
Lalu kami tertawa. Kami tertawa dan tertawa sampai air mata mengalir di pipi.
Rasanya belum pernah aku tertawa sekeras itu. Soalnya aku
tertawa dengan suaraku sendiri. Dengan wajahku sendiri. Wajahku
yang asli. Topeng orang tua itu telah menemukan tubuhnya"dan
melarikan diri. Aku telah kembali menjadi aku! Menjadi diriku sendiri.
Inilah Halloween terbaik yang pernah kualami. Seumur hidup
aku belum pernah segembira sekarang karena semuanya kembali
normal. Carly Beth dan aku pulang sambil menari-nari di jalan. Kami
bernyanyi riang gembira. Bernyanyi sambil berputar-putar. Menari
dan bergaya di tengah jalan.
Kami begitu gembira! Kami sudah hampir sampai di rumahku"ketika makhluk itu
melompat dari balik semak-semak.
Makhluk itu membuka moncongnya dan meraung keras.
Carly Beth dan aku berpegangan sambil memekik ketakutan.
Makhluk itu berkulit ungu. Kulitnya tampak menyala di bawah
cahaya lampu jalanan. Matanya membara merah. Mulutnya penuh gigi
yang telah patah-patah dan membusuk. Di tengah-tengah pipinya ada
lubang, dan dari lubang itu keluar cacing gemuk dan cokelat.
"Hah?" Aku memperhatikan cacing itu menggeliat-geliut. Aku
memperhatikan wajah mengerikan berwarna ungu itu.
Tiba-tiba aku mengenalinya.
"Chuck!" teriakku.
Ia tertawa serak dari balik topengnya. "Kena kalian!" ia berseru.
"Kalian berhasil kutipu! Sayang, kalian tak bisa melihat tampang
kalian tadi!" "Chuck..." "Dari tadi aku menunggu kalian di sini. Aku memang mau
mengagetkan kalian," katanya. Cacing di pipinya berayun-ayun
mengikuti gerakan kepala Chuck.
"Kau tidak tahu kan, bahwa aku sempat ambil topeng waktu aku
kabur dari ruang bawah toko?" ujarnya. "Aku sengaja tidak cerita.
Sebab aku mau menakut-nakutimu."
"Aku memang kaget setengah mati!" Carly Beth mengakui
sambil mendorongnya. "Tapi sekarang bukalah topeng itu biar kita
bisa pulang." "Ehm... aku ada masalah," Chuck menyahut sambil
merendahkan suara. "Masalah?" Chuck mengangguk. "Topeng ini tidak mau copot. Barangkali
kalian bisa membantuku?"END
Makam Bunga Mawar 27 Anak Harimau Karya Siau Siau Kaki Tiga Menjangan 42
^