Pencarian

Sindikat Pencuri Mobil 2

Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil Bagian 2


Red Sluice, Anton Jivaro, Crafty Kraft, dan Big Harry bersama-sama menyerbu
kedalam. Frank belum berhasil membuka ikatan Joe maupun Vern, sehingga perkelahian
menjadi berat sebelah, dua lawan empat. Terjadilah pergumulan yang sengit,
tetapi akhirnya keempat penjahat itu meringkus detektif-detektif muda tersebut,
lalu mengikat tangan mereka ke belakang.
Ketika kedua anak muda itu telah diikat kuat-
kuat, Red dengan puas berkata: "Hah, kalian berdua telah meringankan pekerjaanku
melacak kalian!" Crafty Kraft bertanya: "Apa sekarang?"
"Lepaskan ikatan kaki kedua anak yang terlengang itu agar bisa berjalan!"
perintah Big Harry sambil menunjuk Joe dan Vern. "Lalu masukkan empat-empatnya
ke dalam trukmu!". "Kita akan berangkat sekarang ke pulau?" tanya Kraft.
Big Harry menggeleng. "Kita tunggu sampai pagi; aku tak dapat pergi malam ini.
Tetapi aku ingin mereka dibawa keluar dari sini. Lebih aman jika mereka diikat
di atas perahu." Red cemberut. "Aku ingin semuanya diselesaikan malam ini juga!"
"Kau bisa kemudikan perahu?" balas Harry.
Red menggeleng, lalu memandang mengharap bantuan kawan-kawannya. Kraft dan
Jivaro keduanya mengaku tak mengerti apa-apa tentang perahu.
Keempat anak muda itu dimasukkan dalam bak belakang truk beroda delapanbelas,
bersama Red dan Jivaro sebagai penjaga, sementara Crafty Kraft yang bertatoo.
lengannya memegang kemudi.
"Ke mana kita dibawa?" tanya Frank pada waktu truk mulai bergerak.
"Ke pulau Terminal," jawab Red.
"Ke penjara?" tanya Joe.
"Ada penjara federal di sana, tetapi pelabuhan Los Angeles pun di sana."
"Jenis apa perahu milik Big Harry itu?" tanya Jivaro kepada Red.
"Panjangnya duabelas meter menggunakan dua mesin diesel. Ada enam tempat tidur
dengan jarak jelajah seribu mil."
"Sejauh itu kita pergi?" tanya Chet khawatir.
"Tidak jauh, kira-kira tiga mil saja," kata Red kepadanya.
Chet menghela napas. "Ia hendak menakut nakuti saja," bisik Frank ke telinga si gemuk.
"Bilanglah kalau mau mengatakan sesuatu," kata Red tajam. Frank diam.
Mereka naik dalam truk kira-kira satu jam lamanya. Ketika akhirnya truk itu
berhenti, Crafty Kraft segera membuka pintu belakang.
"Aman," katanya. "Tak seorang pun kelihatan."
Red dan Jivaro melompat turun, lalu memerintahkan anak-anak muda itu turun
semua. Truk diparkir dekat suatu dok dengan beberapa lusin galangan perahu.
Cuaca masih cukup terang untuk dapat melihat keadaan sekitar. Perahu yang
terdekat adalah sebuah penjelajah berkabin, dengan huruf-huruf: SEA SCORPION
tertulis pada haluan. "Aku harus keluar dari daerah dok ini," kata Crafty kepada Red. "Aku kembali
besok pagi bersama Big Harry."
Ia memanjat kembali ke tempat duduknya di belakang setir, lalu menjalankan
truknya, sementara anak-anak muda digiring masuk ke dalam kabin utama perahu. Di
dalamnya hanya ada dua tempat tidur susun, tetapi melalui lubang palka dapat
dilihat bahwa dapur di sebelah berisi bangku-bangku yang dapat disusun menjadi
dua tempat tidur lagi. Red dan Jivaro mendorong anak-anak muda ke dapur, lalu diperintahkan duduk. Red
kemudian membuka sebuah meja yang dilipat ke dalam dinding, lalu diturunkan di
antara mereka. "Waktu untuk makan," katanya, sambil meng-geratak isi almari es. "Wah, tak ada
apa-apa kecuali daging babi, telur dan roti," gerutunya.
Setelah mengeluarkan isi almari es, Red lalu memasak untuk makan malam, tetapi
kurang membangkitkan selera. Red dan Jivaro makan dengan cepat dan sesudah itu
lalu giliran para tawanan untuk makan, meski tetap dengan tangan terikat ke
belakang. Setelah makan malam, anak-anak muda itu digiring lagi ke kabin utama. Red
memberikan Chet dan Vern tempat tidur di bawah, dan Frank serta Joe disuruhnya
tidur di atas. "Kalian lepaskan dulu tali pengikat tangan supaya dapat naik ke atas," kata
Frank menolak perintah Sluice.
"Tidak bisa," kata Red. "Kalian sudah dua kali lepas; aku tak mau ambil resiko.
Anton tolong aku mengangkat mereka ke atas."
Kedua orang itu mendorong-dorong kakak-ber-adik itu naik ke atas, lalu
mengencangkan tali pengikat tangannya itu kuat-kuat, ditambah lagi ikatan dengan
tiang penyangga agar mereka takkan menggelundung ke bawah.
Ketika sudah selesai Red dan Jivaro keluar dari kabin dan pergi ke geladak.
Lampu kabin dibiarkan tetap menyala.
"Kau kira apa yang hendak mereka lakukan terhadap kita?" tanya Vern.
"Membawa kita ke pulau Catalina; di sana Big Harry mempunyai rumah yang
terpencil," kata Frank optimis. "Mereka hanya akan menyekap kita sampai mereka selesai
mempreteli mobil-mobil hasil curian di toko, dan kemudian mereka akan pindah ke
tempat lain. Setelah mereka selesai melakukan semua, mereka memperhitungkan keadaan sampai
aman untuk melepaskan kita."
"Bertentangan dengan apa yang dikatakan Red
kepada Chet," sambung Joe.
"Red hanya hendak menggertak. Kita dengar sendiri kata-kata si gembong komplotan
itu memberi perintah-perintah. Ia pun memerintahkan untuk menekan kita dalam
usaha memperoleh keterangan apa-apa yang diketahui ayah tentang komplotan
pencuri mobil sampai sekarang."
"Kau lihat sendiri gembongnya?" tanya Joe.
"Bahkan telah kupotret," jawab Frank. "Aku belum tahu namanya, tetapi tampangnya
seperti orang kaya. Kuharap saja penjahat itu takkan mengambil kamera dari
sakuku." Chet menyambung: "Aku pun ingat sekarang si gembong itu menyuruh Big Harry untuk
memperoleh keterangan-keterangan dari Joe dan Vern, tetapi ia tak mengtakan
sesuatu tentang aku dan Frank."
"Sebelum kita tertangkap, berlagak otak hebat," kata Frank. "Yang selalu harus
kita ingat ialah jika mereka mengancam itu hanya gertakan belaka, agar kita
gentar dan mau membuka mulut. Nyatanya mereka tak berani berbuat sesuatu selain
atas perintah dari gembongnya."
Kira-kira jam sembilan Red dan Jivaro masuk kabin dan memeriksa tali ikatan para
tawanannya. Yakin bahwa mereka masih terikat kuat, maka keduanya lalu memasang
dua tempat tidur dan memadamkan lampu-lampu. Dalam beberapa menit saja keduanya telah mendengkur.
Karena tidak dapat menggerakkan anggota badannya, keempat anak-anak muda terus
gelisah tidurnya. Pagi-pagi buta mereka mendengar bunyi telapak kaki di atas
geladak perahu. Sesaat kemudian berdatangan Big Harry dan Crafty ke bawah.
Sambil menjenguk ke kabin, Big Harry membangunkan kawan-kawannya.
Setelah Red dan Jivaro bangun dan mengenakan pakaiannya, keempat anak-anak muda
dilepas ikatannya seorang demi seorang dan disuruh mencuci muka. Kemudian
masing-masing diberi sepotong kue rol manis yang dibawa Big Harry.
Selesai sarapan yang sedikit itu, keempat anak muda tersebut diperintahkan duduk
di dapur dan diikat pada pergelangan tangan, di bawah penjagaan ketat Red dan
Jivaro. Big Harry dan Crafty Kraft naik ke atas dan menghidupkan mesin-mesin
perahunya. Sepuluh menit kemudian anak-anak muda itu merasakan perahu bergerak
meninggalkan dok, sementara Crafty berteriak dari atas: "Nakhoda memerintahkan
tawanan dibawa ke atas."
Red dan Jivaro segera menggiring keempat tawanan naik ke geladak. Di atas anak-
anak muda melihat perahu dikemudikan oleh Big Harry menuju ke tengah laut.
"Duduk dengan punggung bersandar pagar!" perintah Red. Frank dan Chet duduk di
sisi kiri dan Joe serta Vern di sisi kanan.
Berdiri di depan Frank dengan wajah melihat bawah, Crafty memulai pemeriksaan.
"Apa saja yang diketahui ayahmu tentang operasi kami di toko?"
"Bagaimana ayah bisa tahu sesuatu?" Frank ganti bertanya. "Ia tinggal di
Bayport." "Ia mengirim kau dan adikmu kemari," kata Crafty tidak sabar. "Aku tahu pasti,
kau tentu menelpon ayahmu setelah kau tahu tentang kami."
"Kami datang kemari atas kehendak sendiri," Joe menyela. "Kami mengatakan
sebenarnya. Kami belum pernah bicara dengan ayah semenjak ada di kota ini."
Crafty membalikkan tubuhnya menghadap Joe. "Kau mau bicara?"
"Tak ada sesuatu yang dapat kukatakan."
Crafty mengajak Jivaro agar ikut dia turun ke kabin. Tak berapa lama mereka
muncul lagi ke atas geladak membawa dua buah jangkar kecil seperti yang terdapat
pada perahu dayung. Mereka lempar kedua jangkar itu dekat kaki anak-anak muda. Dan sementara Jivaro
menemani Red dan Big Harry di anjung perahu, Crafty turun ke bawah lagi.
Ketika kembali di geladak ia membawa segulung kawat di tangan yang satu dan
sebuah tang pemutus kawat di tangan yang lain. Setelah meletakkan gulungan kawat
dekat jangkar, ia lalu memotong kawat empat potong masing-masing satu setengah
meter panjangnya. "Untuk apa kawat itu?" tanya Chet cemas.
"Tidak untuk apa-apa, jika kalian mau bicara," kata Crafty mengejek. "Kalau
kalian tak mau, kita ingin melihat kepandaian kalian berenang di laut dengan
jangkar terikat pada tubuh."
"Itu pembunuhan!" Chet memprotes.
"O begitu" Panggillah polisi!" gertak Crafty.
Tang pemutus kawat lalu dilemparkan dekat jangkar, sementara orang yang
bertangan tatoo itu pergi ke anjungan perahu untuk berunding dengan kawan-
kawannya. Tang jatuh lebih dekat pada Joe daripada yang lain-lain. Sambil melirik ke
anjungan ia berbisik: "Awasi mereka! Beritahu bila salah seorang dari mereka
melihat kemari!" Baru saja ia berusaha beringsut ke depan Frank berdesis: "Awas!"
Cepat-cepat Joe. beringsut merapat pagar, tepat ketika Crafty datang kembali dan
berdiri di depannya lagi.
"Kesempatan terakhir bagimu," katanya. "Kau mau bicara atau nyebur ke laut?"
"Tak ada sesuatu yang dapat kukatakan," kata Joe datar.
Orang bertatoo di lengannya lalu berlutut di depan Joe, mengikatkan kawat
potongan di pinggang anak Hardy itu. Kedua ujung kawat dipluntir, dipilin lalu
diikatkan pada jangkar. Kemudian ia berdiri dan berkata: "Kuberi waktu sedikit
untuk berpikir. Jika kita telah tiga mil jauhnya dari pantai, aku akan bertanya
lagi kepadamu." Lalu ia beranjak lagi ke anjungan. Begitu ia berdiri membelakangi, Joe beringsut
maju, lalu membalikkan badannya dan mengambil tang dengan tangan kanannya. Ia
putarkan tang ke tali yang mengikat pergelangan tangannya, tetapi sangat sulit
mengerjakannya dalam keadaan duduk. Pelan-pelan ia berusaha berdiri.
Pada saat itu Big Harry melihat sebuah balok besar terapung di haluan, maka ia
belokkan tajam perahunya untuk menghindar dari benturan dengan balok itu.
Gerakan kapal yang oleng itu membuat Frank dan Chet meluncur membentur pagar
sebelah kanan, sedang Joe kehilangan keseimbangan, hampir pulih kembali
keseimbangannya ketika tubuh Chet meluncur menimpanya.
Lutut Joe membentur pagar dan terguling dengan kepala ke bawah ia kecebur ke
laut. 12. Kik balik Joe Hardy mengambil napas dalam sebelum sampai ke permukaan air. Dengan cepat ia
tenggelam tertarik beratnya jangkar. Secara kalut ia memutar-mutar ujung tang
hingga akhirnya mengenai kawat pengikat pergelangan tangannya. Ditekannya
jepitan tang pada kawat sekuat tenaga.
Kawat pengikat pergelangan tangannya putus, tetapi keadaannya hampir sampai
batas kekuatan menahan napas, sedang tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah.
Apabila ia mengayunkan tangannya ke depan, tang itu terlepas dari pegangannya.
Sekali lagi ia mengayunkan tangannya, kini
tangan kirinya. Dirasakan jari-jarinya menyentuh ujung tang dan seraja naluri
jari tangannya mendorong tang itu ke arah tangan kanannya hingga terpegang
kembali gagang tang tersebut. Sambil menghembuskan napasnya lambat-lambat diso-
rongkannya ujung tang ke kawat pengikat jangkar, lalu sekuat tenaga gagang tang
ditekan. Ketika kawat pengikat jangkar putus dan jangkar terlepas, Joe melepaskan
tangnya, lalu menjejakkan kakinya dalam usaha menyembul kembali ke permukaan.
Tetapi sudah sangat dalam tubuhnya tertarik oleh beratnya jangkar. Paru-parunya
hampir kosong, sedang ia masih setengah jalan ke permukaan. Dengan sekuat tenaga
ia menyepak-nyepakkan kedua kaki dan mengayun-ayunkan kedua tangan untuk
menggerakkan tubuhnya ke atas, sementara ia pun berjuang keras menekan
keinginannya menghirup udara dalam air.
Ia sudah merasa kalah dalam perjuangan sebab ia pun merasa terpaksa akan
menghirup air, kalau saja pada saat itu ia belum berhasil menyembul ke permukaan
air. Syukurlah ia telah menyembul di permukaan pada saat yang tepat. Dengan
terengah-engah ia menarik napas, menghembuskan dan menarik napas lagi. Ia
menyepak-nyepak air sampai napasnya kembali normal.
Perahu Sea Scorpion telah beberapa ratus meter
jauhnya, perlahan-lahan memutar berkeliling, sementara orang-orang di atas
perahu itu mencari-cari dia. Ia melambaikan tangannya memanggil dan berteriak,
tetapi jarak itu sudah terlalu jauh untuk dapat didengar atau dilihat dari atas
perahu. Ia lalu mencoba berenang ke arah perahu, tetapi perahu itu bergerak
semakin jauh. Akhirnya nakhoda perahu itu menyerah, lalu meneruskan
perjalanannya ke tengah laut.
Setelah Sea Scorpion lenyap dari pemandangan, Joe melihat ke sekeliling. Tak ada
apa-apa kecuali air tanpa batas. Untunglah lautnya tenang, meskipun airnya
dingin. Joe lalu menaksir-naksir kira-kira berada tiga sampai lima mil dari pantai. Jika
laut tidak semakin besar ombaknya, ia perhitungkan dapat merenangi jarak itu,
asalkan ia beberapa kali istirahat dan tetap menuju arah yang tepat. Ia tahu
bahwa garis pantai ada di sebelah timur, dan dengan matahari sebagai pedoman, ia
berharap dapat menghindarkan dari berenang tanpa arah atau pun berenang memutar.
Hari masih cukup pagi dan matahari masih rendah. Maka Joe berenang menuju arah
matahari. Sementara di atas perahu Sea Scorpion terjadi kegaduhan dan hiruk-pikuk. Frank,
Chet dan Vern tak henti-hentinya berteriak memanggil-manggil Joe, ngeri akan
nasib yang menimpanya. Big Harry sendiri dalam mengemudikan perahunya memutar
berkeliling-keliling untuk mencari Joe, dan tak henti-hentinya mulutnya memaki-
maki Crafty yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu.
"Mengapa kau belokkan kapal dengan mendadak?" orang berlengan tatoo itu
membantah makian Crafty dengan keras.
"Mengapa kau ikatkan jangkar itu pada tubuhnya?" bantah pula Big Harry.
"Aku hanya mau menakut-nakuti," Crafty membela diri.
"Bagus! Ku ingin tahu siapa yang akan takut jika nanti kulaporkan hal ini kepada
boss," Big Harry mengancam dengan geram. "Boss takkan inginkan kejadian seperti ini."
Frank dan Chet menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Sambil terus-menerus
berteriak memanggil Joe, mereka menggeser hingga beradu punggung, seolah-olah
mencari Joe dari dua arah. Dengan tekun mereka saling menarik-narik ikatan tali
pada pergelangan tangannya. Tetapi jika kemudian Big Harry dengan putus asa
berhenti berlayar berkeliling mencari-cari Joe, dan mulai mengarahkan perahu
menuju tengah laut, Red Sluice tersadar melihat yang sedang terjadi.
"He! Mereka hampir lepas!" teriaknya.
Red berlari untuk melihat ikatan Chet, Crafty menuju ke tempat Frank dan Jivaro
akan melihat ikatan Vern. Untung Frank telah menggeser dan duduk dengan punggung
merapat pada pagar, sehingga Crafty harus mendekatinya dari arah depan. Maka
ketika Crafty membungkukkan badannya, dan berusaha membalikkan badan Frank pada
pundaknya, segera secara tiba-tiba Frank menarik lututnya hingga ke dada dan
sekuat tenaga menjejakkan kedua kakinya ke perut lawan. Tak ayal lagi Crafty
terlempar mundur ke geladak badannya membentur keras pagar di seberang laut
terjengkang jatuh ke laut.
"Crafty jatuh ke laut!" teriak Red. "Putar perahumu kembali!"
Ketika perahu memutar kembali, Jivaro mengambil sebuah pelampung dan mengikatnya
dengan tali. Kesempatan ini digunakan Chet dan Frank kembali beradu punggung dan
meneruskan usaha mereka saling menarik ikatan pada pergelangan tangan. Red dan
Jivaro disibukkan mencari Crafty untuk menolongnya.
Frank berhasil melepaskan simpul ikatan dan tali itu jatuh. Chet membalikkan
badan dan secepatnya melepaskan Frank, sementara Red dan Jivaro menjulurkan


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

badannya di atas pagar dan memanggil-manggil kawannya.
"Oke Harry," teriaknya. "Lambatkan!"
Big Harry mengurangi kecepatan sekecil-kecilnya hingga perahu hampir-hampir
tidak bergerak lagi, lalu Jivaro melemparkan pelampung ke laut di bawahnya.
Crafty meraihnya dan Red menarik talinya.
Frank membisikkan perintahnya kepada Chet: "Body Blocking! Anggap saja kita
sedang bermain rugby!"
Chet mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya. Frank berbuat yang sama pula.
"Satu - dua - tiga!" Frank memberi aba-abanya.
Bersama-sama mereka menyerbu ke depan, membenturkan badannya kepada kedua orang
yang sibuk menolong kawannya. Dengan teriakan keras kedua penjahat itu terlempar
ke atas pagar, disusul dengan suara keceburnya Red dan Jivaro ke laut, menemani
Crafty dalam air. "Lepaskan Vern,' bisik Frank kepada Chet, lalu ia berendap-endap berjalan ke
anjungan. Big Harry yang berdiri membelakangi, tidak menyadari peristiwa yang dialami
kawan-kawannya, sedang deru mesin menenggelamkan teriakan maupun suara mencebur
kedua kawannya. Tetapi seolah merasa ada yang kurang beres, ia menoleh ke
belakang tepat ketika Frank mendatanginya. Sambil melepaskan pegangan kemudi ia
membalikkan badan, tetapi didahului oleh pukulan panjang Frank yang mendarat di
dagu dengan telak. Tanpa bersuara Big Harry jatuh K.O., tertelentang tak sadarkan diri. Dengan
cepat Frank menggeledah mencari senjata. Tidak mendapatkan sesuatu, maka Frank
segera menggantikan Harry memegang kemudi, sementara Vern dan Chet berdiri di
pagar, mengawasi ketiga penjahat di dalam air.
"Katakan kepada mereka agar tetap berpegangan pada pelampung!" teriak Frank.
"Kita akan kembali setelah berhasil mencari Joe."
Frank memutar haluan perahunya, sementara ketika penjahat tetap bergantungan
pada pelampung. Frank mengemudikan perahu kembali menuju arah matahari, dan
berharap sungguh-sung guh Joe dapat melepaskan ikatannya dengan menggunakan tang
di tangannya. Satu mil di sebelah timur, Joe sedang berhenti berenang untuk istirahat dan
mengapung pada punggungnya.
Dari sudut matanya ia seperti melihat sesuatu meluncur melewatinya di air,
tetapi tidak melihat dengan jelas. Segera ia menurunkan kakinya ke dalam air
untuk berenang tegak, lalu memutar ke arah benda yang bergerak, namun tak
melihat sesuatu pun di permukaan air. Ia mulai berpikir,
bahwa itu hanya khayalan, fatamorgana, maka diputuskan kembali berenang menuju
arah matahari. Tiba-tiba, suatu gerakan di sebelah kiri membuat ia berhenti. Sambil berenang
tegak, ia mencoba melihat ke arah gerakan itu. Sebuah sirip warna abu-abu
membelah permukaan laut dan berenang mengitari dirinya.
Dengan jantung berdegup keras, ia mengawasi sirip besar itu mengelilinginya
sekali lagi, kali ini lebih dekat. Seekor ikan hiu telah mengetahui dia berenang
lewat, dan kini ikan hiu itu makin mendekat.
Joe menyelam untuk dapat melihat binatang itu. Seekor hiu pemakan daging raksasa
warna putih, lebih enam meter panjangnya melewati tidak lebih dari empat meter
jauhnya. Joe menyembul dan mengawasi sirip besar yang membelah permukaan air membentuk
busur jarak 15 meter dari padanya, lalu membalik kembali arah. Kini arah itu
lurus menuju dirinya. Ketika sirip mendekat, Joe menyelam dan dengan kalut berusaha untuk berada di
bawahnya. Tetapi hiu itu pun menyelam dan arahnya tetap lurus padanya, terlihat jelas
rahang yang luarbiasa itu menganga.
13. Tertolong ikan lumba-lumba
Joe berhenti berenang sangat ketakutan. Rahang menganga ikan hiu sudah demikian
dekatnya, ketika dilihat sesuatu meluncur bagaikan torpedo di sebelah kanannya.
Mengira bahwa itu seekor hiu lain, Joe sudah pasrah kepada nasib. Tetapi
pendatang itu tidak menyerang dirinya, malahan membentur tengah-tengah tubuh hiu
sehingga hiu terdorong menyamping, tidak mengenai tubuh Joe. Meskipun di dalam
air ia mendengar suara mende rik keras, ketika moncong hiu mengatup tidak jauh
dari tubuhnya. Benda hitam itu menjauh cepat sekali seperti waktu datangnya, tetapi segera
digantikan oleh bentuk torpedo lain yang juga meluncur dengan derasnya, lalu membentur tubuh hiu
dengan keras untuk kemudian meluncur pergi. Berturut-turut empat benda hitam
melesat memukul tubuh hiu di sisi tengah, membuat hiu itu menggelepar hampir
telentang sebelum ia sempat lari dengan panik.
Joe lalu menyembul ke permukaan dan melihat sirip abu-abu setengah oleng
meluncur pergi bagaikan kereta api ekspres, terus sampai tak kelihatan lagi.
Menyusul kemudian suatu bentuk bermoncong keras meloncat indah di udara,
melintas melengkung tiga meter di atas kepala Joe dan kembali mencebur dan
menyelam ke dalam air tanpa menimbulkan suara. Lima buah bentuk serupa secara
beruntun bermain akrobat yang sama, dengan moncongnya yang berbentuk sabit itu
seolah-olah memberi senyuman kepada Joe selagi melayang di udara.
Ternyata bentuk-bentuk bermoncong keras itu adalah sekelompok ikan lumba-lumba
yang enam ekor jumlahnya yang merupakan musuh ikan hiu, tetapi teman baik
manusia. Joe teringat bahwa ia pernah membaca bagaimana lumba-lumba menyerang
ikan hiu dengan menumbukkan moncongnya dengan kecepatan tinggi. Kadang-kadang
benturan itu dapat membunuh hiu karena memecahkan
jantungnya. Lumba-lumba itu masih terus melompat-lompat seperti mengajak bermain dan
mendemonstrasikan ketrampilan bermain akrobat. Joe lalu mengangkat kedua belah
tangannya dan bertepuk-tepuk keras.
Sementara itu Frank terus mengemudikan perahu Sea Scorpion ke arah matahari.
"Kau toh tidak pikirkan bahwa Joe mungkin sudah mati tenggelam, bukan?" tanya
Chet gemetar memikirkan nasib Joe.
"Ia membawa tang pemutus kawat ketika tercebur kelaut," kata Frank lesu dan mata
berkaca-kaca. "Jika saja ia bertindak cepat dan berhasil memutuskan ikatan
kawat. Yah, kita hanya dapat berharap."
Chet memandang ke sekeliling. Ada rasa melilit yang sangat menyakitkan di perut
dan suaranya gemetar. "Meskipun ia berhasil melepaskan jangkar pemberat
badannya, bagaimana kita dapat menemukan dia" Dapat saja kita telah melewati dia
dalam jarak limapuluh meter tanpa melihatnya."
"Kita akan mengitari tempat di mana ia tercebur ke laut."
"Ya kalau dapat kauketahui di mana kira-kira tercebur. Aku tidak dapat."
"Ku kira kita telah tinggalkan dia tidak lebih dari satu mil," kta Frank. "Ku
akui tempat di mana ia tercebur secara mengira-ira, dan nanti kita memutari tempat itu dengan kitaran
yang semakin lebar. Dengan demikian kuharap dapat menemukan tempat yang tepat
secara kebetulan." "Andaikan tidak dapat menemukannya?"
"Kita panggil Satuan Penjaga Pantai. Mereka akan kirim pesawat helikopter untuk
menyapu seluruh daerah ini. Dari udara pandangan jauh lebih mudah."
Ketika mereka tiba di tempat yang diperkirakan Frank sebagai tempat di mana Joe
tercebur, ia mengecilkan gas sehingga perahu bergerak sangat lambat.
"Ayo," kata Frank. "Kau, Chet dan Vern ambil tempat di kedua sisi. Mulailah
mencari!" Chet pergi ke belakang meneruskan perintah itu kepada Vern. Chet lalu mengambil
sisi kanan dan Vern sisi kiri, sementara Frank mengemudikan perahu memutar
dengan kitaran yang semakin lama semakin lebar. Kedua anak muda itu memusatkan
pandangan matanya ke permukaan air.
Ketika kitaran telah mencapai garis tengah setengah mil tanpa menemukan jejak
Joe, maka Frank mulai merasa berkecil hati. "Kukira lebih baik kita serahkan
pencarian ini kepada Satuan Penjaga Pantai," katanya dengan wajah pucat pasi.
"Tunggu! Itu, di sana ada yang bergerak-gerak,"
seru Vern tiba-tiba. Ia menunjuk ke kejauhan, dan seketika itu Frank menghentikan perahunya.
"Itu bukan Joe," kata Chet kecewa. "Seperti melompat-lompat keluar-masuk air.
Ah, bahkan ada banyaki"
Frank memicingkan matanya dan melihat dari bawah telapak tangan agar tampak
lebih jelas apa yang dikatakan Chet.
"Singa laut?" tanya Chet.
"Mari kita dekati dan melihatnya!" kata Vern mengusulkan.
Frank memperbesar gas, dan mengarahkan perahu ke tempat binatang yang
berlompatan. Ketika telah dekat, Chet berseru: "Gerombolan porpois."
"Lumba-lumba, kukira," kata Frank.
"Apa bedanya?" "Lumba-lumba adalah porpois, tetapi porpois belum tentu lumba-lumba," kata Frank
menjelaskan. "Seperti lima senan adalah matauang, tetapi tidak semua matauang
itu lima senan." "Maksudmu, lumba-lumba adalah sejenis porpois tertentu?" tanya Vern.
Sementara mereka telah dekat dan tinggal lebih-kurang limabelas meter jauhnya
dari lumba-lumba yang berlompatan.
Chet berseru: "He, apa itu" Seperti ada sesuatu yang dilompati segerombolan
lumba-lumba." Frank lebih mendekatkan perahunya.
"He, lihat! Itu Joe!" Teriak Chet kegirangan kepada yang lain-lain.
Karena perahu makin dekat atau karena teriakan-teriakan di atas perahu, lumba-
lumba itu seperti takut dan meluncur pergi. Mereka meluncur dalam suatu formasi
sambil berlompatan di udara.
Frank memperkecil gas, kemudian memasukkan persnelling mundur hingga perahu
berhenti dekat adiknya. Joe berenang menghampiri perahu, lalu ditarik ke atas
perahu oleh Chet dan Vern.
"Kita mengira kau telah habis riwayatmu!" kata Chet bersenda-gurau sambil
menepuk-nepuk punggung kawannya.
"Pasti akan mampus, jika kalian berlama-lama," gumam Joe yang kehabisan napas.
"Sayang sekali kita telah membuat takut kawan-kawan pelindungmu," kata Vern.
"Nampaknya kalian bersenang-senang."
"Mereka telah menolongku dari ancaman ditelan ikan hiu," berkata Joe
menerangkan. "Bagaimana kalian bisa kik-balik keadaan?"
"Otak, bekerja dengan otak," kata Chet sambil memukul-mukul dahinya.
"Benar, tetapi bukan otakmu!" kata Vern. "Itu lho, yang punya otak," sambil
menunjuk kepada Frank. Vern lalu menceriterakan semua yang telah terjadi kepada Joe.
Frank memutar haluan perahunya kembali ke tempat mereka meninggalkan para
penyerangnya. Joe pergi ke bawah untuk mencari pakaian yang kering. Ia tidak menemukannya,
tetapi hanya mendapatkan sepasang sandal. Maka ia harus mengenakan pakaiannya
yang basah sampai mereka tiba kembali di hotel.
Tidak lama kemudian Sea Scorpion sampai ke tempat ketiga orang lawannya
terapung-apung di air. "Kau ingin naik ke atas perahu?" Chet menawarkan.
"Tolong," kata Red Sluice mengiba-iba. "Aku tidak dapat berenang."
"Bagaimana kalau kulemparkan jangkar ini kepadamu?" kata Chet mengejek.
"Hentikan banyolanmu!" kata Frank kepada Chet dan sambil menoleh ke belakang.
"Naikkan mereka ke atas perahu, tetapi ikatlah satu orang sebelum yang lain
kauangkat." "Roger!" kata Chet mematuhi, "Ayo, Red!"
"Tetapi buang dulu pisaumu itu," kata Vern menambahkan.
Red melepaskan salah satu pegangannya pada pelampung untuk mengambil pisaunya.
"Cepat, jatuhkan!" perintah Vern.
Red membuang pisaunya sehingga pisau itu tenggelam lenyap di dalam air.
"Kau memiliki senjata, Maharaja?" tanya Chet melawak.
"Bagaimana kau, Crafty?"
Orang berlengan tatoo itu menggeleng.
"Kita akan menggeledah kalian berdua nanti sesudah di atas perahu," Chet
memperingatkan. "Jika ternyata kalian bohong, dan kutemukan membawa senjata,
akan kuceburkan kembali ke dalam laut."
"Aku tak membawa apa-apa," Crafty bersikeras.
"Oke, Frank!" serunya kepada Frank.
Frank mengarahkan perahu mendekati ketiga orang tersebut. Chet membungkukkan
badannya dan menjulurkan tangan kepada Red. Ketika ia menariknya ke atas perahu,
ia putar tangannya ke belakang. Vern memegangi tangan kiri Red, lalu berdua
mereka menelungkupkan Red ke lantai geladak. Kemudian mereka ikat dua-dua
pergelangan tangannya dengan tali yang pernah digunakan terhadap mereka sendiri.
Tak lupa mereka geledah saku-sakunya, tetapi tak menemukan pisau atau pistol.
"Berikutnya engkau, Crafty," perintah Chet, sambil sekali lagi membungkuk ke
pagar untuk memberikan tangannya kepada Crafty.
Ketika Crafty sudah di atas geladak, mereka mengikat dua-dua pergelangan tangan,
lalu menggeledah saku-sakunya. Ternyata ia juga tidak membawa senjata. Terakhir
Chet membungkukkan badannya lalu meraih dan mengambil pelampung dari atas air
untuk diletakkan di geladak.
Setelah mengatur ketiga tawanan duduk dengan punggung merapat pada pagar dan
berjauhan satu dengan yang lain agar tidak dapat saling tolong melepaskan ikatan
pada pergelangan tangannya, maka Chet dan Vern pergi ke anjungan untuk
mendapatkan Big Harry yang ternyata masih tidak sadarkan diri. la baru mulai
siuman ketika kedua tangannya selesai diikat ke belakang pada perge-langannya.
Kemudian Frank kembali memutar haluan menuju ke pantai.
Waktu sudah menjelang tengah hari ketika Frank menambatkan perahu Sea Scorpion.
Kemudian keempat anak-anak muda itu berjalan sepanjang dok cukup jauh agar dapat
merundingkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan tanpa dapat didengar oleh
penjahat-penjahat tawanannya. Chet menghendaki agar mereka diserahkan saja
kepada yang berwenang secepatnya.
"Kita telah memutuskan, tidak akan berhubungan dengan polisi sebelum mengetahui
siapa gembong dari komplotan pencuri mobil ini," Joe memperingatkan.
"Chet dan aku telah tahu gembongnya," kata Frank.
"Kau hanya telah melihat dia," kata Joe bersikeras. "Kau kan belum tahu siapa
dia." "Aku telah memotretnya dari dalam dos almari es yang kujadikan tempat
pengintaian. Aku tengah mencarimu ketika gembong itu datang dengan mobil besar
dan memasuki toko." "Bagaimana kau tahu ia itu gembongnya?" tanya Vern.
"Kita menyelinap ke dalam toko dan mencuri dengar dia berbicara kepada Big Harry
dan Crafty Kraft. Ketika itulah aku tahu kalian diikat di dalam kamar mesin."
"Tetapi tak kauketahui namanya," kata Joe.
"Itu tak menjadi soal," kata Frank. "Jika aku telah mencuci filmnya dan
kuserahkan kepada polisi, pasti mereka mampu mencari tahu siapa gembong
komplotan itu. Sementara itu kita tak dapat menahan mereka dengan tetap terikat.
Sebaliknya kita pun tak akan melepaskan mereka. Kita akan menyerahkan mereka
kepada polisi juga."
"Kukira itu pun baik," kata Joe menyetujui.
"Mudah-mudahan ada telpon di sekitar sini."
Vern menunjuk ke sebuah gedung besar di ujung daerah dok, kira-kira 20 meter
jauhnya. "Barangkali di sana ada telpon."
"Coba saja," kata Frank. "Aku menjaga para tawanan itu."
Joe, Chet dan Vern berjalan menuju ke gedung besar di ujung daerah dok. Kemudian
baru mereka ketahui bahwa gedung itu adalah sebuah toko alat-alat perahu. Chet
menjenguk ke dalam dan bertanya kepada penjaga toko, apa ada telpon umum.
"Ada di belakang," jawab penjaga toko.
Ketiga anak muda itu berjalan mengelilingi toko ke belakang dan menemukan tempat
telpon umum. Joe mengeluarkan sekeping mata uang dari saku celananya yang basah,
memasukkan ke dalam box, lalu meminta operator agar disambungkan ke kantor
polisi. Sementara di dok Frank berdiri di samping perahu. Sewaktu-waktu ia melihat ke
arah tawanan untuk memastikan apakah mereka tetap di sana. Kemudian ia naik ke
atas perahu. Begitu ia menginjakkan kakinya di geladak, ia segera sadar bahwa ia dan kawan-
kawannya kurang teliti menggeledah tawanan mereka. Kaki celana kanan Crafty
Kraft tergulung sampai ke atas lutut,
memperlihatkan sebuah sarung pisau yang terikat pada betisnya. Sarung pisau itu
telah kosong, dan pisau berburu duapuluh senti panjangnya itu berada di tangan
Crafty. la telah berhasil memutuskan tali-tali pengikat pergelangan kawan-kawannya, dan
kini keempatnya bangkit menyerbu ke arah Frank.
Big Harry dan Red memimpin penyerangan di depan. Frank mengelak dari pukulan


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tangan kanan yang dilontarkan Big Harry,, menangkap pergelangan tangan lawannya,
lalu membalikkan badan dan membantingnya melalui pundak. Cepat ia membalikkan
badan lagi untuk menghadapi serangan Red Ia menangkis sebuah pukulan dan
mendorong Red ke arah Crafty dan Jivaro yang berada di belakang Red.
Sementara ketiga lawannya jatuh bergulingan dan saling peluk, Frank berpikir. Ia
sadar tidak mungkin memenangkan perkelahian melawan empat orang. Ketika
dilihatnya Big Harry mulai mera-hap bangun, ia melompat turun dari perahu dan
berlari sepanjang lantai dok.
Big Harry lari mengejarnya, dan yang lain pun mengikuti dari belakangnya.
Tetapi Frank telah jauh di depan. Di tengah jalan antara perahu dan toko alat-
alat perahu, ia melihat Joe, Chet dan Vern muncul dari balik toko. Melihat Frank
lari dikejar orang, mereka cepat lari menyongsong kawannya itu.
Keempat penjahat sudah terlalu lelah untuk berkelahi, maka mereka berbalik lari
ke perahu. Dan pada saat Chet, Joe dan Vern bertemu Frank, Big Harry telah melompat ke atas
perahu. Beberapa detik kemudian ia telah menghidupkan mesin, sementara ketiga
kawannya melepaskan tali tambatan.
"Ayo Frank," seru Chet. "Jangan biarkan mere ka lolos."
Mereka berlari ke perahu. Tetapi Jivaro, Red dan Crafty segera melompat ke atas
perahu, dan Sea Scorpion sudah tinggalkan dok.
Keempat anak-anak muda berhenti di tepi dok itu, dan penuh kecewa memandang
perahu, sementara Big Harry menambah kecepatan dan membelokkan perahu lurus
menuju tengah laut. 14. Menghilang secara misterius
Ketika perahu telah lenyap dari pandangan, Joe bertanya: "Bagaimana penjahat-
penjahat itu sampai dapat lepas?"
"Kita kurang teliti menggeledah!", jawab Frank. "Crafty membawa pisau, diikat di
betis kakinya." "Yah, paling tidak persoalan melapor atau tidak melapor polisi sudah
terselesaikan," kata Chet berfilsafat. "Kau jadi panggil polisi?" tanya Frank kepada Joe.
Adiknya mengangguk. "Mereka segera datang." Anak-anak muda itu berjalan kembali
ke toko alat-alat perahu dan menunggu kedatangan polisi.
Tak berapa lama kemudian sebuah mobil tahanan dan sebuah mobil patroli datang.
Dua orang petugas polisi berseragam turun. Seorang setengah baya berpangkat
sersan dan seorang lagi masih muda usia.
"Siapa dari kalian yang menelpon?" tanya sersan polisi.
"Saya, Pak!" jawab Joe. "Namamu Joe Hardy?"
"Betul, Pak!" jawab Joe, lalu memperkenalkan kawan-kawannya.
"Aku sersan Kelly, dan temanku ini Jim Olsen," bintara polisi itu memandang Joe
dan Frank. "Apa kalian detektif yang terkenal itu?"
"Ayah kami bernama Fenton Hardy," kata Frank mengakui.
"Telah banyak kudengar tentang ayahmu, juga kalian berdua. Di mana para penculik
itu?" "Mereka telah lolos," kata Frank mengaku. "Itu kesalahan saya, karena sayalah
yang menjaga mereka. Salah seorang dari mereka membawa pisau diikat pada betis
kakinya. Hal ini tak kami temukan pada waktu menggeledah. Pembawa pisau dapat
memutuskan tali pengikatnya dan dari kawan-kawannya, lalu lari dengan perahu."
"Barangkali lebih baik kalau kalian mencerite-rakan seluruh kejadiannya," kata
sersan Kelly, lalu menoleh kepada kawannya. "Rupanya kita tak memerlukan mobil tahanan, Olsen.
Katakan kepada Ralph, ia boleh pulang."
"Siap, Pak," petugas itu pergi menyampaikan perintah itu kepada sopir, yang
segera berlalu dengan mobil tahanan. Setelah itu Olsen berlari kembali dan ikut
mendengarkan. Anak-anak muda itu menceriterakan seluruh peristiwa yang terjadi, dimulai dengan
pencurian mobil milik Vern di Bayport.
Setelah selesai mendengarkan ceritera itu sersan Kelly berkata: "Perkara ini
adalah urusan Bagian Pencurian. Tetapi kuharap kalian lebih dulu sebutkan ciri-
ciri dari para penculik dan perahunya, agar Satuan Penjaga Pantai dapat
melakukan pencarian dengan segera."
Anak-anak muda itu mengatakan segalanya yang mereka ingat secara terperinci, dan
sersan polisi lalu melaporkannya ke markas dengan radio.
Setelah ia menggantungkan mikrofon radionya, lalu berkata: "Nah begini! Sekarang
kalian kubawa ke Parker Centre untuk melapor kepada Bagian Pencurian Mobil,
Oke?" "Dapatkah kita mampir ke hotel?" tanya Joe. "Pakaian saya basah!"
Sersan polisi tersenyum. "Kau persis seperti tikus kecebur minyak. Tentu akan
kuberi waktu cukup kalian membersihkan diri."
Anak-anak muda itu duduk berjejalan dalam mobil patroli dan diantarkan ke hotel
mereka. Mereka ingin berganti pakaian karena pakaian yang dikenakan telah dipakai untuk
tidur. Sersan Kelly mengatakan untuk tak usah persoalkan waktu.
"Tak perlu tergesa-gesa," katanya. "Seluruh tenaga polisi dan Satuan Penjaga
Pantai sedang sibuk mencari para penculik, dan toko yang kalian ceriterakan itu
tak akan lari!" "Kalau begitu ada waktu untuk makan siang juga, kan?" tanya Chet dengan mata
bersinar. "Sudah hampir jam dua siang."
"Usul yang bagus," kata Jim Olsen. "Kami pun belum makan!"
Chet memandangnya dengan rasa lega dan Vern tertawa serta berkata, "Anda
mendapat teman sehidup semati, Pak Olsen."
Untuk menghemat waktu mereka lalu memesan agar makanan dihantarkan ke kamar.
Begitu mereka selesai mandi dan ganti pakaian, pesanan makanan pun datang.
Setelah makan siang, mereka dibawa ke Parker Centre, kantor administrasi polisi.
Para petugas polisi tersebut mengantarkan mereka ke Bagian Pencurian Mobil di
lantai tiga, dihadapkan pada
seorang detektif yang jangkung dan agak kaku, bernama Letnan Harold Frisby.
Anak-anak muda itu menceritakan kembali semua kejadian, dan letnan polisi
menanyakan letak gudang tersebut dengan tepat. Kemudian ia mengangkat telpon di
mejanya, lalu meminta operator menyambungkannya dengan Jaksa Distrik.
"He, Judge," katanya lewat telpon. "Akhirnya saya memperoleh jejak dari
komplotan pencuri mobil yang telah kita telusuri sejak lama. Saya perlukan surat
perintah penggeledahan." Lalu ia berikan alamat gudang tersebut.
Segera setelah ia meletakkan gagang telpon, ia panggil Bagian Metro dan meminta
duabelas orang tenaga polisi berseragam untuk membantu dia pada penggerebegan.
"Saya memerlukannya sejam kemudian karena menunggu surat perintah penggerebegan
dari kantor jaksa," ia tambahkan.
Frank bertanya: "Apa kami boleh ikut dalam penggerebegan itu?"
Letnan polisi itu menggelengkan kepala. "Orang preman tidak diperbolehkan.
Mungkin terjadi tembak-menembak. Aku akan kembalikan kalian ke hotel."
"Mobil kami ada di dekat gudang itu," kata Frank. "Lebih baik kami antar ke
sana." "Begitu pun baik," kata Letnan Frisby.
"Selama kami masih di sana, bolehkah kami melihat penggerebegan dari luar?"
Letnan polisi memandangnya dengan tertawa dalam hati. "Rupanya kalian ingin
mengetahui sampai akhir dengan jalan apa pun. Kalian boleh melihat dari seberang
jalan. Tapi jangan terus membujuk agar diperbolehkan ikut serta, oke!"
Setelah menerima surat perintah penggerebegan, letnan Frisby dan keempat anak
muda lalu segera turun menggunakan elevator ke garasi di lantai bawah, di mana
telah menunggu tiga kendaraan penuh anggota polisi membawa senapan anti huru-
hara. Keempat anak muda mengikuti letnan Frisby dalam mobil yang keempat, yang
mendahului tiga kendaraan lainnya menuju ke gudang di pinggiran Kampung Cina.
Pada waktu iring-iringan mobil polisi itu sampai di jalan di depan gudang, Frank
menunjuk ke gedung itu dan berkata: "Itu dia!" Kemudian ia menunjuk ke sedan
abu-abu, satu blok jauhnya dari gudang, "Nah, itu mobil kami."
Letnan Frisby berhenti di belakang sedan abu-abu, diikuti ketiga kendaraan
polisi lainnya di belakang mereka. Setiap orang segera keluar dari dalam
kendaraan masing-masing, dan letnan polisi memberi perintah kepada sersan yang
memimpin regu anti huru-hara. "Tempatkan lima orang di
belakang dan lima orang di depan. Kau dan aku akan masuk!"
"Siap, Pak!" jawab sersan patuh.
Sersan itu memilih lima orang polisi, yang lalu diperintahkan berjalan memutar
lorong dan mengawasi di bagian belakang gedung. Setelah memilih lima orang
polisi lainnya untuk mengawasi bagian depan gedung, masih tinggal seorang polisi
lagi. Pak sersan perintahkan dia untuk menyertainya bersama letnan masuk ke
dalam gedung. Letnan Frisby memberi waktu kepada anakbuah-nya untuk mengambil posisi masing-
masing. Sementara menunggu waktu dimulainya penggerebegan, ia menyuruh keempat anak-anak
muda untuk berlindung di balik mobil-mobil polisi bila terjadi tembak-menembak.
Maka anak-anak muda menyebar dan berdiri membungkuk di balik kendaraan yang
paling dekat dengan gudang. Letnan Frisby melihat ke arlojinya. Bila jam
menunjukkan waktu penggerebegan aba-aba diberikan: "Oke! Maju!"
Dengan cepat Letnan bergerak menyeberangi jalan diikuti sersan dan seorang
anggota polisi. Ia mencoba membuka pintu depan; ia terheran-heran karena pintu
itu tidak terkunci. Waktu membuka pintu ia menarik pestolnya, lalu masuk ke
dalam. Kedua anggota polisi terus mendampinginya.
Sepuluh menit telah berlalu tanpa terdengar suatu suara pun dari dalam gudang.
Keempat anak-anak muda itu mendengar salah seorang polisi berkata: "Apa tidak
lebih baik kalau kita serbu masuk?"
"Letnan perintahkan kita untuk menunggu," berkata yang seorang lagi.
Letnan Frisby bersama kedua pendampingnya keluar lagi. Ia tidak lagi memegang
pestolnya, dan kedua pendampingnya memegang senapannya dengan laras ke bawah.
Kemudian mereka kembali menyeberang jalan, perlahan-lahan.
"Laporan palsu, kawan-kawan!" berkata sersan polisi. "Kembali ke Parker Centre."
Rupa-rupanya ia telah memberitahu anggota polisi yang mengawasi di belakang
gedung bahwa penggerebegan dibatalkan, dan mereka berjalan memutar dari lorong
kembali ke mobil-mobil patroli masing-masing. Keempat detektif muda melihat
semua itu dengan mulut ternganga pada waktu ketiga mobil-mobil itu berlalu.
"Aku tidak mengerti," kata Joe kepada letnan polisi.
"Ayo ikut!" kata letnan polisi setengah memerintah.
Ia mengantar anak-anak muda itu menyeberang jalan, membuka pintu depan gudang,
lalu masuk. Mereka semua heran. Ruang utama yang menyerupai gua besar itu kosong melompong.
Letnan mendahului ke pintu di sebelah kiri, lalu membukanya.
"Inikah kamar mesin yang kalian sebutkan?" tanyanya.
Berdiri berdesakan di ambang pintu, anak-anak muda itu memandang ke ruangan
kosong. "Tadinya ini memang kamar mesin," kata Frank dengan semangat lesu.
Letnan polisi mengajak mereka ke kantor. Seseorang, kurus dan tua, menghisap
pipa duduk di kursi Big Harry dengan kedua kaki di atas meja.
"Kembali lagi, Pak Letnan?" tanyanya ketawa sinis.
"Ini Tuan Jonas Moapes," kata letnan member-kenalkan. "Tuan Moapes, maukah anda
mengulang pernyataan anda kepada saya tentang pekerjaan anda di sini?"
"Tentu," kata si tua setuju. "Saya adalah penguasa sementara."
"Sejak berapa lama anda lakukan tugas itu?"
"Tiga bulan, semenjak orang terakhir yang menyewa tempat ini meninggalkan
usahanya." "Sejak itu, apa saja terdapat di gudang ini?"
"Tidak ada apa-apa," kata si tua. "Tempat ini selalu kosong."
"Bohongi" seru Chet. Si tua itu mengangkat bahunya.
15. Dijual Sukucadang Keempat anak muda itu seperti mengalami ke-goncangan ketika meninggalkan gudang
bersama letnan Frisby. Di luar gedung, letnan itu berhenti dan memandang Frank,
terus kepada Joe, lalu berkata: "Sekiranya kalian bukan anak-anak dari seorang
ayah yang terkenal, tentu kalian kutangkap karena memberikan laporan palsu."
"Tetapi penjahat-penjahat itu betul telah memakai gudang itu," kata Joe
memprotes. "Entah bagaimana, mereka tahu bahwa polisi akan datang."
"Peristiwa itu bukan suatu impian, Letnan
Frisby," sambung Vern. "Bagaimana pendapat anda tentang penculikan terhadap kami
dan kejadian di atas perahu itu?"
"Kukira itu hanya reka-rekaan belaka," kata letnan polisi singkat, lalu berjalan
menuju ke mobil. Setelah mengawasi letnan itu pergi, keempat anak muda itu dengan putusasa
berjalan ke sedan abu-abunya. Perjalanan ke hotel sepi-sepi saja. Tiba di hotel
mereka berkumpul di kamar anak-anak Hardy.
"Barangkali seluruh kejadian itu hanya dalam mimpi," kata Chet.
"Jangan tolol," kata Frank. "Si orang tua itu teman sekongkol para penjahat.
Mereka tahu bahwa permainan mereka telah porak-poranda ketika kita dapat
meloloskan diri, terkecuali nama kita yang mereka rusakkan di depan polisi.
Mereka pasti melakukannya.
Sementara letnan Frisby menunggu surat perintah penggerebegan, mereka
mengosongkan gudang itu, lalu menempatkan si tua di sana."
"Mari kita kembali ke sana menanyai si tua bangka," kata Joe gemas. "Barangkali
kita dapat memeras dia berceritera!"
"Kita harus pindah hotel dulu," kata Chet. "Setelah terlibat dengan penjahat-
penjahat itu, aku tak merasa aman di sini."
Semuanya setuju. Mereka lalu bayar sewa kamar-kamar hotel, lalu dengan
mengendarai mobil mereka pergi ke hotel lain beberapa blok jauhnya. Mereka sewa
lagi kamar-kamar yang berhubungan satu dengan lainnya.
Ketika mereka telah siap, Joe mengusulkan menelpon ke rumah tentang kepindahan
hotel, sehingga ayah dapat menghubungi mereka bila diperlukan. Frank yang
menelpon yang dijawab ibunya. Ibunya mengatakan bahwa ayahnya masih dalam tugas
rahasia, dan ibunya sedang menunggu telpon setiap waktu. Kemudian ibu akan
meneruskan kepada ayahnya nomor telpon anak-anak yang baru.
Mereka kembali mengendarai mobilnya menuju gudang. Setelah memarkir mobil,
mereka mencoba membuka pintu depan. Ternyata terkunci, sehingga mereka kembali
ke mobil untuk berusaha masuk lewat pintu belakang. Ternyata terkunci pula.
Joe mencoba melalui jendela ruang istirahat, yang ternyata terbuka.
"Aku heran, mengapa jendela ini tak pernah dikunci. Telah dua kali kita masuk
melalui jendela ini," komentarnya sambil memanjat ke ambang jendela, diikuti
Chet dan Vern. Frank masuk yang terakhir. Setelah memeriksa,
ia menjawab kata-kata Joe. "Grendel kuncinya hi-hilang."
Si tua Jonas Moapes tidak ada di tempatnya lagi.
"Kini kutahu ia pun anggota komplotan," kata Frank. "Penjahat-penjahat itu
menempatkan si tua di sini cukup lama untuk mengelabui polisi bahwa kita sinting
semua." Mereka lalu memeriksa gedung itu dengan teliti, tak terkecuali kantor di mana
Joe membuka-buka laci-laci meja. Semuanya kosong dan hanya di laci paling atas
satu-satunya yang dapat ditemukan hanyalah bekas tempat korek api. Joe menutup
kembali laci itu dan melemparkan tempat korek api itu ke atas meja.
Frank memungutnya, lalu diperiksanya. Di sisi depan tertera iklan ADMAX
WHOLESALE AUTO PARTS COMPANY-STUDIO CITY.
"Nah, lihat ini!" katanya sambil memberikan tempat korek itu kembali kepada Joe.
Setelah membaca, Joe berkata: "Mungkin ini dapat menjadi jejak. Barangkali ini
tempat untuk menjual suku cadang mobil-mobil yang mereka curi."
Chet dan Vern ikut memeriksa penemuan Joe. "Pasti!" kata Chet penuh emosi.
"Mereka memerlukan tempat untuk menjual barang-barang hasil curian mereka!"
"Kita datangi Perusahaan Borongan Sukucadang Kendaraan Admax!" usul Frank.
Toko itu ada di jalan yang sepi dekat Jalan Ventura, tidak jauh dari Laurel
Canyon. Gedungnya tidak bertingkat, panjang, dan pada jendela tertulis: ADMAX WHOLE SALE
AUTO PARTS. Setelah memarkir mobilnya di pinggir jalan, Joe berkata kepada yang lain-lain
agar menunggu, sementara ia sendiri akan menyelidiki. Ia mengintip dari jendela
dan kembali lagi dengan cepat.
Ia berkata: "Benar, toko milik penjahat-penjahat itu."
"Dari mana kau dapat tahu?"
"Red Sluice ada di belakang meja penjualan!"
Pada saat itu, sebuah mobil limousin dikemudikan oleh seorang sopir berhenti di
depan toko, dan seorang tua yang bungkuk berpakaian mahal turun lalu masuk ke


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dalam toko. "Ayo kita menyelinap masuk dari belakang, dan melihat-lihat kalau-kalau dapat
menemukan sesuatu," kata Frank kepada Joe.
"Nah, kita akan mulai lagi," kata Chet. "Kau tentunya suruh aku di belakang
setir, dan selalu siap untuk kita cepat menghindar, bukan?"
"Boleh!" kata Frank tersenyum.
Sebuah lorong memanjang di sisi gedung. Frank dan Joe berjalan menuju ke bagian
belakang gedung dan melihat sebuah gerbang dengan pintu sorong untuk truk, serupa dengan
yang di gudang di Kampung Cina. Pintu dari gerbang itu membuka sebagian,
sehingga mereka dapat mengintip ke sebuah ruangan besar yang membentang selebar
gedung. Rupanya ini merupakan gudang, sebab penuh dengan sukucadang mobil,
termasuk mesin-mesin yang lengkap. Di dekat dinding sebelah kanan, diparkir tiga
buah mobil setengah baru, termasuk mobil biru milik Vern, yang semula ditaruh di
gudang Kampung Cina. Crafty Kraft dan Anton Jivaro sedang menempatkan barang-barang kecil di atas rak
sepanjang dinding kiri, sedang Jonas Moapes yang tua tengah menyapu lantai
dengan punggungnya membelakangi mereka. Ia baru saja selesai menyapu ketika
anak-anak muda mengintipnya, lalu menghilang melalui sebuah pintu yang mungkin
sekali menuju toko bagian depan.
Setelah tidak nampak seseorang pun, anak-anak muda itu lalu masuk dengan diam-
diam, membungkuk dan merayap di balik deretan mesin-mesin dan radiator-radiator.
Di samping pintu tepat di depan mereka ada sebuah pintu lagi yang membuka ke
kanan. Pintu ini terbuka lebar dan melalui lubang pintu itu mereka melihat orang yang
berpakaian bagus tadi yang datang dengan mobil limousin dikemudikan seorang sopir. Ia duduk di depan
sebuah meja tulis dengan punggungnya menghadap ke pintu, dan berhadapan dengan
seseorang yang tidak tampak oleh anak-anak muda itu.
Mereka berpindah mendekati pintu untuk mencuri dengar percakapan, berlindung di
balik tumpukan radiator. "Jaringan Perusahaan Reparasi Mobil Merrie-weather telah hampir meluas ke
seluruh negeri, Tn. Knotts. Tentunya anda telah dengar tentang kami."
"Maaf, Tn. Merrieweather," kata Big Harry dengan nada menyesal. "Saya tidak
ingat pernah melihat iklan anda."
"Barangkali karena California adalah salah satu negara bagian di mana kami tidak
mempunyai cabang perusahaan kami. Kami akan berusaha membetulkan kesalahan kami
dengan membuka duabelas cabang lagi bulan depan. Untuk itu dibutuhkan sejumlah
besar persediaan sukucadang."
"Saya dapat memastikan, bahwa kami dapat melayani anda dengan memuaskan," kata
Big Harry, suaranya tiba-tiba berubah seperti hendak mengambil hati.
"Saya lakukan usaha bukan dengan menggebrak kiri dan kanan," kata orang itu
pula. "Maka itu saya bicara langsung ke tujuan. Perusahaan Merrie-weather dapat menandingi
setiap persaingan, karena kami dapat membeli sukucadang dengan harga murah. Saya
tak pernah menanyakan dari mana asal sukucadang itu, dan saya takkan
menghiraukan kondisi barang itu, asal kelihatan seperti baru. Apakah anda dapat
mengerti maksud saya?"
"Kira-kira demikian," jawab Big Harry sangat hati-hati.
"Tetapi saya hanya membayar separoh harga borongan!"
"Kami menjual dengan rabat, Tn. Merrie-weather. Saya dapat pastikan bahwa kami
dapat membuat transaksi."
"Kebutuhan utama saya pada permulaan adalah mesin-mesin yang telah diperbaiki,
dan nampak seperti baru," kata orang itu. "Apa anda mempunyai persediaan?"
"Akan saya perlihatkan kepada anda," kata Big Harry mempersilakan.
Terdengar suara kursi berderik. Dengan cepat anak-anak muda menunduk
bersembunyi. Big Harry bersama orang tua itu muncul dari dalam kantor, dan
lambat-lambat berjalan sepanjang gang di antara deretan-deretan sukucadang,
dengan punggung mereka membelakangi kedua anak-anak muda.
Big Harry berkata: "Seperti anda lihat, ada pilihan yang luas. Cara kami
membersihkan barang-barang ini sedemikian rupa sehingga saya berani jamin, ahli
teknik yang paling ahli pun sukar dapat membedakannya dari yang baru."
Sambil mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, orang tua itu memperhatikan
seperangkat mesin, lalu menulis sesuatu di dalam buku catatannya. Sambil
berjalan perlahan-lahan, ia terus saja membuat catatan-catatan.
Akhirnya dengan memasukkan buku catatan ke dalam sakunya, ia berkata: "Saya kira
sudah cukup catatan saya. Saya akan merundingkan dengan kepala bagian pembelian,
dan besok saya akan memberi kabar kepada anda, berapa banyak dan jenis-jenis
mesin yang mana kami butuhkan."
Dan tiba-tiba, kedua anak muda itu dipegang batang lehernya dari belakang.
Dengan terengah-engah mereka berusaha membalikkan badannya untuk menghadapi para
penyerangnya, tetapi pegangan itu sangat erat hingga mereka tak dapat berkutik.
16. Tertipu Menoleh ke belakang, Frank melihat Crafty Kraft yang sangat kuat telah
memitingnya dari belakang. Sekalipun ia berontak, tetapi tetap saja tak dapat
melepaskan diri. Anton Jivaro memiting Joe pada tengkuknya. Tetapi orang bertubuh kecil ini bukan
tandingan bagi Joe yang gemuk besar. Dengan mengangkat kaki kanannya, Joe
menyepak lutut Jivaro dengan tumitnya. Sambil melolong kesakitan, Jivaro
melepaskan pitingannya dan terhuyung mundur.
Mendengar suara gaduh itu Big Harry dan calon langganan yang tua itu membalikkan
badan. Ketika Joe hendak membantu Frank, Big Harry lari
mendatangi. Tiba-tiba orang tua itu mendekap dadanya dan berteriak: "Jantungku!", lalu
menjatuhkan diri terkulai.
Ia jatuh seperti seorang pemain sepak bola yang menjegal lawannya, yaitu tepat
pada bagian belakang betis Big Harry. Orang tinggi besar itu kehilangan
keseimbangannya jatuh tertelungkup di lantai.
Joe mengunci kepala Crafty Kraft lalu menghen-takkannya ke belakang dan
terbebaslah Frank dari pitingan. Setelah melepaskan kuncian di kepala, ia
menghajar punggung si orang bertatoo itu, menyebabkan orang itu jatuh membentur
Big Harry. Kedua anak muda berlari ke pintu, melompat keluar dan sekencang-kencangnya lari
sepanjang lorong menuju ke depan. Mereka lalu menyeberang jalan dan melompat
masuk ke dalam mobil, ketika Big Harry dan Crafty muncul dari lorong.
Chet segera menghidupkan mesin begitu melihat kawan-kawannya mendatangi, dan
berhasil melarikan mobil tepat pada waktu para pengejarnya hendak menyeberang
jalan. "Bagus Chet," kata Frank.
"Ke Parker Centre."
Chet masuk dari Jalan Raya Laurel Canyon menuju Jalan Bebas Hambatan Ventura.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Tertangkap selagi menyelidik. Keempat penculik itu ada di sana. Tak sangsi
lagi, Admax Company adalah toko penjualan barang-barang hasil curian."
Joe menambahkan: "Secara kebetulan dapat diketahui nama belakang Big Harry yaitu
Knotts." Di Parker Centre mereka menemui Letnan Frisby di ruang Bagian Pencurian Mobil.
Dengan mengerutkan dahi ia berkata: "Lagi-lagi kalian berempat!"
"Kami sekarang berhasil memecahkan rahasia toko yang kosong itu," kata Frank
sambil menyerahkan bekas tempat korek api. "Mereka telah memindahkan segalanya
ke sana." Setelah memeriksa iklan pada bekas tempat korek api, Letnan Frisby menggelengkan
kepala. "Bagaimana kau pastikan ini pindahan dari toko yang sudah dikosongkan
selama tiga bulan itu?"
"Si orang tua itu berdusta," kata Joe. "Ia adalah pesuruh di Admax. Penjahat itu
menempatkan dia di gudang untuk merusak nama baik kami."
Frank tambahkan: "Tidak itu saja! Semua orang yang menculik kami saat ini pun
ada di Admax." "Coba ceriterakan kembali seluruhnya," kata Letnan menenangkan anak-anak muda
itu. Setelah Joe dan Frank selesai berceritera, ia
nampak berkurang rasa sangsinya, tetapi belum yakin benar.
"Aku takkan lagi buru-buru melakukan penggerebegan," katanya. "Tetapi aku
bersedia melakukan pemeriksaan. Kalian dapat menunjukkan jalan dengan mobil
kalian." Mereka menggunakan elevator untuk turun ke garasi di lantai bawah. Letnan Frisby
mengajak anak-anak muda itu dengan mobilnya ke tempat parkir para tamu. Dari
sana ia mengikuti mobil mereka menuju kota Studio.
Berlima mereka memasuki toko penjualan borongan. Seorang yang gemuk dan belum
pernah dilihat oleh anak-anak muda itu sebelumnya duduk di meja penjualan.
Letnan Frisby menunjukkan kartu pengenalnya.
"Pimpinan anda ada?" tanyanya.
"Silakan tunggu sebentar," jawab si gemuk, lalu menghilang masuk ke belakang.
"Apa dia juga salah satu dari para penculikmu?" tanya Letnan Frisby ketika
pegawai itu tak nampak lagi.
Anak-anak muda itu menggeleng. "Ia tidak di sini sebelumnya," kata Joe. "Red
Sluice yang menerima para tamu."
Pegawai itu datang bersama seorang tinggi ceking dan kelihatan canggung. Sambil
mengacungkan tangan untuk bersalaman ia berkata: "Saya Osgood Admax, Letnan.
Pemilik toko ini. Ada persoalan apa?" Sekali lagi Letnan Frisby menengok kepada anak-anak muda itu. "Apakah dia juga
salah satu dari penculik?"
Mereka menggeleng lagi. "Tuan Admax," kata Letnan itu. "Tuan mempunyai pesuruh bernama Jonas Moapes?"
Dengan suara keheran-heranan pemilik toko berkata: "Saya belum pernah mendengar
nama itu. Kecuali pemegang buku yang part-timer, saya hanya mempunyai pegawai si
Melvin ini." Ia lalu menganggukkan kepalanya kepada si gemuk. "Ada apa
sesungguhnya?" Sambil menunjuk kepada anak-anak muda, Letnan berkata: "Anak-anak muda ini
mempunyai tuduhan berat terhadap anda. Mereka katakan tempat ini adalah tempat
penjualan sukucadang yang dipreteli dari mobil-mobil curian."
"Itu dusta," seru Admax marah.
"Anda tidak keberatan, jika kita melihat-lihat di ruang barang-barang?" tanya
Letnan Frisby. "Ataukah harus ada surat perintah?"
"Tidak berkeberatan sama sekali, Letnan. Tidak ada sesuatu yang kami
sembunyikan!" Sambil mengangkat daun meja yang berengsel
agar polisi dan anak-anak muda itu dapat masuk, Admax mempersilakan mereka masuk
ke ruang belakang. Frank dan Joe melihat ke sekeliling dengan semangat lesu.
Ketiga buah mobil curian pun telah lenyap, dan semua mesin-mesin pun lenyap
pula. Tetapi barang-barang lainnya masih tetap di tempatnya.
"Mereka telah memindahkan barang-barang yang paling rawan," seru Joe. "Mereka
tahu bahwa kami akan pergi ke polisi, karena itu mereka cepat-cepat
memindahkan." "Apa yang kaukatakan, anak muda?" tanya Osgood Admax.
"Sambil menunjuk ke dinding samping Joe berkata: "Tidak sampai sejam yang lalu
di sana ada tiga mobil curian."
"Dan lebih dari selusin mesin-mesin berderet-deret di sini," sambung Frank. Ia
menunjuk suatu tempat. "Tuan memindahkannya dari sini, karena tuan tahu bahwa
nomor seri dapat menjadi bukti barang curian."
Dengan membusungkan dada pemilik toko berkata: "Saya mempunyai faktur-faktur
pembelian dari setiap barang-barang di sini. Letnan, anda bebas untuk melihat-
lihat buku-buku saya."
"Tak akan menunjukkan sesuatu," kata Joe geram. "Faktur mudah dipalsukan. Semua
yang ada seri nomornya telah dihapus, sehingga tidak ada lagi bukti-bukti bahwa
barang-barang yang masih ada di sini sebenarnya adalah barang-barang panas."
Nada suara Letnan terdengar keras ketika ia berkata: "Kalian hendak main-main, .
anak-anak muda!" dan berbalik kepada si Tinggi Ceking: "Terimalah permohonan
maaf saya, Tn. Admax." "Sudah barang tentu," berkata orang itu dengan ramah. "Tuan hanya lakukan
kewajiban." Dengan mengerutkan dahinya ia berpaling kepada anak-anak muda: "Aku tak tahu,
mengapa kalian hendak menyulitkan aku. Jika kalian hendak mencoba kedua kalinya,
akan kutuntut kalian mencemarkan nama baikku."
"Mari kita keluar dari sini," gerutu Joe geram. "Kukira dia orang tak bermoral
sama sekali." Di luar gedung, Letnan Frisby berkata dengan nada geram: "Sekarang kalian ikut
aku!" Anak-anak muda mengikuti mobil letnan; dari tempat duduk di belakang Chet
bertanya dengan suara cemas: "Apa letnan itu akan menahan kita karena laporan
palsu?" "Bagaimana bisa," jawab Frank. "Kita tidak laporkan sesuatu."
"Barangkali saja ia menganggap demikian."
Ternyata letnan polisi itu tidak mengajak mereka
menuju Parker Centre, sebaliknya ia membawa mereka ke gudang di ujung Kampung
Cina. Ia berhenti di depan gudang dan Frank mengikutinya.
Ketika mereka turun dari mobil, Frank berkata: "Aku merasa akan terjadi kejutan
lagi!" Letnan Frisby berjalan menuju pintu depan yang ternyata tidak dikunci. Pada
waktu mereka masuk, Joe berkata kepada Frank: "Aku pun rasakan kata-katamu
benar!" Mereka langsung menuju ke kantor. Si tua Jonas Moapes duduk di kursi dengan
kedua kakinya diangkat di atas meja sambil menghisap pipa.
"Hallo pak Letnan," si tua berseru ramah. "Ada apa lagi gerangan?"
"Tak ada apa-apa," kata letnan polisi itu. Mendadak sontak ia berbalik dan
berjalan keluar, diikuti keempat anak-anak muda.
Ia terus masuk ke mobilnya, lalu menjalankannya pergi. Keempat anak muda hanya
dapat saling pandang. "Apa sekarang?" kata Chet.
"Sekarang, setelah merusak nama baik kita yang kedua kalinya," kata Frank gemas,
"si tua itu takkan lama tinggal di sini. Kita buntuti ke mana dia pergi."
Karena tidak tahu apakah Jonas akan keluar lewat pintu depan atau pintu
belakang, maka Frank menjalankan mobilnya ke mulut jalan dan berhenti di sana
agar dapat mengawasi lorong samping. Dengan demikian sekaligus ia dapat melihat
bagian depan maupun bagian belakang, dan memberi tanda ketika si tua keluar.
Seperempat jam kemudian Frank membunyikan klakson perlahan-lahan. Joe bergegas
kembali ke mobil lalu duduk di sisi Frank. Mereka melihat ke lorong. Truk Crafty
Kraft yang beroda delapan-belas sedang dijalankan mundur ke arah pintu sorong.
Orang yang bertatoo di lengannya lalu menurunkan tutup bak belakang, dan tiga
orang berpakaian tukang muncul keluar. Dengan gerobak dorong mereka menurunkan
mesin-mesin mobil lalu diangkut masuk ke dalam gedung.
Ketika sudah selesai, Crafty menjalankan truknya maju dan diparkir di lorong.
Maka kendaraan besar itu menghalang-halangi pandangan anak-anak muda tersebut.
Tetapi mereka ini masih dapat melihat ketiga mobil curian diparkir di sana,
menunggu sampai truk pergi. Kemudian ketiga mobil curian dimasukkan ke dalam
gedung, masing-masing oleh Red, Jivaro dan Big Harry Knotts.
Joe keluar dari mobilnya.
Sambil berjalan menuju toko makanan di seberang jalan, Joe berkata: "Kutelpon
Letnan Frisby!" Di dinding toko makan itu tergantung telpon umum. Setelah memasukkan sekeping
mata liang talenan, Joe memutar nomor Parker Centre dan minta disambungkan
dengan Bagian Pencurian Mobil.
Terdengar jawaban: "Letnan Frisby di sini."
"Ini Joe Hardy," kata Joe. "Kami masih di sekitar gudang. Mesin-mesin mobil
curian baru saja diturunkan dari truk, dan ketiga mobil curian baru saja
dimasukkan ke dalam gedung beberapa menit yang lalu. Para penjahat tentunya
mengira, setelah anda periksa gudang itu dua kali, pasti anda takkan memeriksa
lagi." "Mereka benari" kata letnan polisi itu, lalu meletakkan telponnya.
Joe kembali ke mobil, kecut hati dan kecewa. Pada waktu ia masuk ke dalam
mobilnya, Crafty sedang menghidupkan mesin truknya. Truk itu menghadap ke arah
mobil mereka. Kini kiranya masih terlalu jauh baginya untuk dapat mengenali
keempat anak-anak muda itu, tetapi begitu sampai di mulut lorong, tentu ia akan
melihat mereka. Maka cepat-cepat Frank menjalankan mobilnya.
"Kita mengitari blok ini, lalu membuntuti truk itu," kata Frank. "Apa kata
letnan?" "Ia tak percaya lagi," gerutu Joe. "Siapa yang ada di truk itu?"


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Semua; termasuk si tua Moapes. Mereka telah mengunci pintu-pintu gudang."
Vern menyela: "Jika letnan tak lagi mau bertindak, apa gunanya kita buntuti truk
itu" Polisi itu juga takkan menggubris bila kita melapor ke mana truk itu pergi."
"Kukira kau benar, Vern," kata Frank setuju. "Kita kembali saja ke hotel. Lagi
pula sudah terlalu siang."
Sesampai di hotel mereka berkumpul di kamar Frank dan Joe, dan merundingkan apa
langkah-langkah mereka berikutnya.
"Kita tunggu setelah mendengar sesuatu dari ayah," usul Frank. "Kita pun
memberikan semua informasi kepadanya, dan meminta ayah menghubungi letnan
Frisby. Tentunya ia akan percaya kepada ayah."
Terdengar pintu kamar diketuk orang. Joe bangkit dan membukakan pintu, lalu
berdiri ternganga keheranan.
Di pintu berdiri seorang tua bongkok berpakaian rapih: Tn. Merrieweather.
17. Pak Tua Tanpa berkata-kata, pak Tua masuk ke dalam kamar. Joe berusaha menguasai diri.
"Kami kira anda masih di rumah sakit, Tn. Merrieweather!" katanya.
Merrieweather menutup pintu dan berkata dengan suara paraunya: "Aku telah sembuh
secara ajaib dari serangan jantungku."
Kemudian ia tertawa lebar, lalu berdiri tegak. Ia menarik rambut palsu serta
alis matanya, kemudian dengan saputangan ia hapus bedak make-up yang membuat
wajahnya seperti berkeriput.
"Ayah!" seru Frank dan Joe berbareng. "Bagaimana ayah dapat menemukan kita?"
"Aku pergi ke hotel kalian menginap dulu," kata detektif swasta itu. "Ternyata
kalian telah keluar dari hotel itu. Aku lalu menelpon ke rumah."
"Te-eh tetapi, apa yang anda lakukan di Admax, pak Hardy?" bertanya Chet.
"Untuk memperoleh bukti-bukti tentang komplotan pencuri mobil itu! Ketika
kalianmelihat aku menulis di buku catatanku, aku sedang mencatat nomor-nomor
seri dari mesin-mesin itu. Aku telah menelpon Bagian Kendaraan Bermotor di New
York. Ternyata semuanya berasal dari mobil-mobil curian. Lalu, apa pula yang
kalian lakukan di sana?"
Anak-anak muda itu menceriterakan hasil-hasil penyelidikan mereka, dan bagaimana
para penjahat itu berhasil mengelabui polisi sehingga mereka telah dianggap
berdusta. "Jika saja letnan Frisby itu datang lebih lambat seperempat jam, ia akan
mendapatkan mereka memasukkan barang-barang curian itu," kata Chet.
"Aku sangsikan," kata pak Hardy kurang setuju. "Pengaturan waktu ada di tangan
para penjahat. Barangkali mereka menunggu dengan truk di suatu tempat, sampai
keadaan aman mereka terima beritanya dari pesuruh gadungan itu."
"Sekarang letnan Frisby tak mau bicara dengan
kami," Joe mengeluh.
"Kukira ia akan mendengarkan aku," kata ayahnya.
Pak Hardy lalu menelpon Parker Centre dan minta bicara dengan perwira polisi
itu. Ia memegang gagang telpon itu sedemikian, sehingga anak-anaknya dapat ikut
mendengarkan percakapannya. Bila ia telah dihubungkan dengan letnan Frisby, ia
menerangkan siapa dia. "Oo, ya?" kata letnan itu. "Saya telah banyak dengar tentang Tuan. Tetapi saya
khawatir saya mendapat banyak kesulitan dari anak-anak tuan dan kawan-kawannya."
"Saya tahu, Letnan. Saya sekarang ada di kamar hotel anak-anak. Komplotan itu
telah mengelabui anda. Semua yang diceriterakan anak-anak adalah betul."
"Tetapi bukti-bukti jelas telah menghancurkan ceritera mereka," berkata letnan
itu memprotes. "Meskipun bukti-bukti itu palsu. Seperti yang mereka ceriterakan kepada anda,
mobil-mobil dan barang-barang itu memang ada di Admax. Saya tidak saja hanya
melihatnya sendiri, bahkan dengan pura-pura mau memborongnya, saya telah
mencatat nomor-nomor seri mesin-mesin itu. Saya telah pula mencocokkannya di
Bagian Kendaraan Bermotor dari Negara Bagian New York, dan ternyata
nomor-nomor itu terdaftar sebagai barang-barang yang dicuri. Sekarang ini ketiga
mobil yang belum sempat dipreteli serta mesin-mesin itu ada di gudang di Kampung
Cina." "Semua yang Tuan katakan sudah cukup bagi saya," berkata Letnan polisi itu.
"Surat perintah penggerebegan masih berlaku, jadi tak perlu menunggu surat
perintah baru. Dapatkah anda menemui saya di tempat itu?"
"Dengan senang hati."
Pak Hardy telah mengembalikan mobil sewaannya, dan datang ke hotel menggunakan
taksi. Karena itu ia lalu pergi dengan mobil anak-anaknya. Letnan Frisby ternyata telah
sampai di gudang dengan enam orang anggota polisi.
Setelah berjabatan tangan dengan pak Hardy, letnan berkata: "Pintu belakang
dikunci. Saya kira kita harus mendobraknya."
"Di ruang istirahat di bagian belakang sebuah jendelanya telah rusak
grendelnya," kata Frank. "Saya akan memanjatnya lalu membukakan pintu dari
dalam." "Bagus," kata letnan. "Jadi tak perlu mendobrak pintu. Tetapi mungkin di dalam
masih ada orang, saya lebih senang menyuruh seorang polisi."
Ia lalu menggapai seorang polisi untuk pergi ke bagian belakang dan masuk dengan
memanjat jendela ruang istirahat. Tak lama kemudian polisi itu berhasil
membukakan pintu. "Tak ada seorang pun di dalam, Pak," lapor polisi itu.
Letnan Frisby lalu memimpin masuk ke dalam. Bila ia melihat ketiga buah mobil
dan deretan mesin-mesin, ia terhenyak. "Waduh, waduh!" ia bergumam. Dan
berpaling kepada anak-anak muda berkata: "Maafkan aku, tuan-tuan muda!"
"Kami tak mempersalahkan anda, Letnan," berkata Frank. "Komplotan itu memang
sangat cerdik. Mereka hampir-hampir membuat kami sendiri mengakui, seperti kami
sedang berkhayal." Perwira polisi itu melihat pada jam tangannya. "Sudah jam lima tigapuluh menit.
Saya kira tak ada lagi dari komplotan itu yang datang kembali kemari, sedang
toko Admax sudah tutup pula sekarang. Saya akan perintahkan untuk mengawasi
kedua tempat ini. Kita akan menangkap penjahat-penjahat itu begitu mereka muncul
besok pagi." "Kita mempunyai dua tempat pengintaian, satu di depan dan satu lagi di
belakang," kata Joe.
"Bagus." Anak-anak muda itu lalu menunjukkan dos bekas almari es yang di depan, dan
gudang kosong yang ada di belakang. Letnan Frisby menempatkan seorang anggota
polisi yang membawa walkie-talkie di masing-masing tempat pengintaian. Ia
mengatakan kepada mereka bahwa telah diperintahkan menyiapkan sepasukan
balabahtuan dalam beberapa mobil patroli. Pasukan ini segera akan bergerak, bila
menerima laporan para pengintai bahwa penjahat-penjahat itu telah datang.
"Masih ada beberapa tempat lagi yang perlu diawasi, Letnan," kata Frank. "Kami
tahu di mana Red Sluice tinggal dan alamat apartemen pacarnya. Saya kira Anton
Jivaro pun tinggal bersama Red."
"Si pembajak itu?" tanya Letnan. "Kami sangat inginkan dia, seperti juga halnya
dengan anggota-anggota komplotan ini."
"Dia memang juga anggota komplotan," kata Vern, ketika Frank memberikan kedua
alamat yang tertulis di buku notesnya.
"Saya kira sebaiknya anda membayangi keempat tempat itu, Letnan, tangguhkan
penangkapan untuk beberapa hari," kata pak Hardy menyarankan. "Jika anda
bergerak sekarang, kemungkinan gembong komplotan akan terlepas. Tetapi bila anda
melakukan pengawasan, mungkin gembong itu akan muncul. Tetapi jika tidak muncul-
muncul, salah seorang anggota mereka dapat menuntun ke tempat persembunyiannya."
"Tetapi selama itu mobil saya sudah mereka preteli," keluh Vern sedih.
"Letnan," kata Frank. "Anda akan dapat mengenali gembong komplotan itu dari
potret yang saya buat. Saya akan mencucikannya besok dan hasilnya akan saya
berikan kepada anda."
Letnan nampak ragu-ragu. "Saya sebetulnya tidak ingin menangguhkan penangkapan
di ke empat tempat itu, sebaliknya saya pun tak ingin seorang dapat lolos dari
tangan saya. Kita akan terus mengawasi dengan diam-diam, dan begitu ada yang muncul langsung
ditangkap. Dengan demikian mereka tidak sempat menghubungi rekan komplotannya.
Betul mereka dapat menjadi curiga jika ada salah seorang anggotanya tiba-tiba
menghilang. Dengan cara ini hanya perlu beberapa hari untuk menjaring mereka."
Pak Hardy tersenyum. "Saya kira penyelidikan saya tentang komplotan pencuri
mobil sudah selesai, Letnan. Dan semua informasi yang ada pada saya, akan saya
berikan kepada Anda, termasuk ciri-ciri semua anggota komplotan yang saya
ketahui. Itu akan melengkapi perkara ini. Selanjutnya tinggal melakukan
penangkapan saja." "Bantuan anda sangat saya hargai, tuan Hardy," kata letnan itu.
"Terimakasih kembali. Eh, anak-anak! Apa kalian sudah siap ikut terbang kembali
ke Bayport" Malam ini juga?"
"Saya kira belum Ayah," kata Joe. "Kami masih harus memecahkan persoalan
matauang Vern yang hilang. Sampai sekarang kami belum mendapat cukup waktu
memusatkan pikiran ke situ."
"Di samping itu," Vern menyela. "Saya masih harus tinggal beberapa waktu
menunggu mobil. Kapan kiranya saya menerima kembali mobil saya, Letnan?"
"Besok juga dapat," jawab letnan Frisby. "Tentu saja di tempat barang sitaan."
"Nah, anak-anak," kata pak Hardy, "Bawa saya kembali ke hotelmu untuk mengambil
koperku, dan sekalian antarkan saya ke lapangan terbang."
Pak Hardy berjabatan tangan dengan perwira polisi itu sambil mengucapkan selamat
tinggal. Perwira polisi meminta kepada anak-anak muda itu agar besok pagi
menelponnya. "Aku akan beritahu-kan kalian bagaimana hasil pengintaian," ia berjanji.
Esok paginya Frank membawa filmnya ke toko potret dengan servis kilat. Kemudian
ia menelpon Letnan Frisby dari kamar hotelnya. Gagang telpon dipegang demikian
agar kawan-kawannya dapat ikut mendengarkan pembicaraannya.
"Sampai sekarang baru berhasil sebagian," kata letnan Frisby. "Beberapa teri
sudah tertangkap di toko, tetapi mereka hanya pekerja-pekerja biasa, yang
disuruh mempreteli mobil-mobil curian. Di Admax telah ditangkap seseorang
bernama Osgood Admax; ternyata ia adalah orang buronan bernama Calvin Renk.
Pekerjanya, si Melvin itu hanya seorang pegawai biasa; ia tidak tahu bahwa yang
dijual itu barang-barang curian."
"Letnan, apakah Big Harry, Crafty Kraft, Red-Sluice dan Anton Jivaro belum dapat
ditangkap?" tanya Frank.
"Belum! Juga gembongnya. Red maupun Jivaro tidak muncul di rumah pacarnya, dan
tidak ada yang muncul di toko atau di gudang."
"Apa letnan menduga bahwa mereka telah di-beritahu seseorang?"
"Kukira tidak. Mungkin disebabkan karena berhati-hati. Mereka lebih licin
daripada kau duga. Barangkali mereka bersembunyi beberapa hari untuk meyakinkan
diri bahwa kami terkecoh. Aku kini bahkan tidak pasti lagi untuk dapat menangkap
mereka dalam waktu dekat ini."
"Mengapa, Letnan?"
"Sebelum mereka muncul, mungkin mereka mengambil langkah-langkah pengamanan,
yaitu menelpon dulu ke toko untuk berbicara dengan Calvin Renk, atau menanyakan
ke gudang kepada para pekerjanya. Jika mereka tak dapat menemuinya, kukira
mereka akan lari!" 18. Penemuan mengejutkan Vern berkata kepada Frank: "Aku akan bicara dengan letnan; jangan letakkan dulu
telponnya!" "Tunggu, Letnan!" kata Frank. "Vern ingin bicara sebentar."
Ia memberikan gagang telpon kepada Vern.
"Kapan saya dapat mengambil mobil saya, Letnan?" tanya Vern.
"Datang saja dan tandatangani formulir kapan saja kau mau. Datang dulu ke
tempatku, biar kusiapkan surat-suratnya untukmu. Tetapi jangan sebelum jam 2
siang, sebab aku sedang makan siang."
"Baik, Letnan," kata Vern. "Kami datang sesudah jam dua."
Anak-anak muda itu makan di kafetaria hotel, lalu pergi ke Parker Centre. Mereka
bertemu letnan Frisby di ruang Bagian Pencurian Mobil. Setelah Vern
menandatangani surat-surat yang diperlukan, letnan Frisby memberinya Surat
Perintah Pengeluaran kepada penguasa barang sitaan untuk dapat mengeluarkan
mobilnya. "Satu hal lagi, Letnan," kata Vern. "Menurut Letnan, bolehkah kami melihat suatu
berkas perkara?" "Perkara apa?" "Sekeping matauang lima senan seri Kepala Liberty tahun 1913 yang hilang. Uang
itu diwariskan kepada saya oleh paman Gregg Nelson, tetapi ternyata tidak ada di
dalam safe-box ketika dibuka."
"Itu perkara dari Bagian Pencurian," kata letnan Frisby, sambil mengangkat
gagang telpon. Setelah percakapan sejenak, ia letakkan kembali gagang telponnya. "Tidak pernah
terdaftar pengaduan demikian."
Anak-anak muda itu saling berpandangan. Joe berkata: "Barangkali lebih baik
ditanyakan kepada pengacara yang mengurus perkebunan pamanmu, Vern!"
Anak-anak muda itu lalu mengucapkan terima-
kasih kepada letnan Frisby, lalu mengambil mobil Vern di tempat barang sitaan.
Karena tidak perlu menggunakan dua buah mobil, maka mobil sewaan lalu
dikembalikan. "Nah, sekarang apa hendak kita lakukan?" tanya Chet setelah meninggalkan agen
sewaan mobil. "Tak perlu kita lakukan apa pun mengenai komplotan pencuri mobil," kata Frank.
"Jadi kita dapat pusatkan pikiran ke urusan matauang Vern. Siapa nama pengacara
yang disebut-sebut Joe itu?"
"Charles Avery, di Gedung Nichols," jawab Vern. "Kedengarannya cukup
mencurigakan bahwa ia tak pernah melaporkan uang yang hilang itu."
Mereka lalu mengunjungi Charles Avery di tingkat tujuh belas. Vern
memperkenalkan Chet dan Frank, dan pengacara yang gendut itu mempersilakan
mereka duduk. Vern berkata: "Kami baru saja dari polisi, Tn. Avery. Mengapa tuan tak pernah
melaporkan bahwa uang itu hilang?"
"Sebab tidak ada bukti-bukti perbuatan kriminal," kata pengacara itu lembut.
"Sejauh yang kami ketahui, paman anda menaruh matauangnya di tempat lain, bukan
di dalam safe-box." "Tetapi surat wasiat menyebutkan di dalam safe-box."
Tuan Avery mengangguk. "Di lain pihak, tidak terdapat bukti-bukti, bahwa safe-
box itu pernah dibuka-paksa Apa anda telah menemui direktur bank, Tn. Laing?"
"Sudah!" "Dia tak dapat membantu!"
Dengan nada sedih Vern berkata: "Ia menjelaskan kepada kami, bahwa tidak ada
kemungkinan selain paman sendiri yang dapat membuka safe-box."
"Sebenarnya, hal itu hanya membuat rahasia itu bertambah sulit, bukan" Saya
tidak tahu apakah polisi dapat berbuat sesuatu, meskipun saya melaporkannya."
"Mereka dapat memeriksa agen-agen matauang, untuk mengetahui apakah matauang itu
pernah ditawarkan." Sambil mengerinyitkan bibirnya, pengacara itu berkata: "Saya tak pernah berpikir
sampai ke situ." "Mari kita periksa," usul Frank. "Kita buat daftar dari agen-agen matauang di
daerah ini, lalu mengunjungi mereka."
"Anda dapat menggunakan buku telpon saya," kata pengacara itu menawarkan.
Anak-anak muda itu lalu mencari pada halaman
kuning, dan mencatat sederetan nama-nama.
"Ini akan makan banyak waktu," kata Chet setelah selesai menulis.
"Sebaiknya kalian dapat memulai pada agen yang menjadi perantara ketika Tn.
Nelson membeli matauang itu," usul pengacara itu. "Saya mempunyai catatan dalam
berkas arsip." Ia lalu bangkit dan mengambil map dari almari kabinet. Ia membuka-buka lembaran
lalu berkata: "Ini dia. Everett Fox di jalan Wilshire Boulevard."
"Saya kira, ia membelinya di Massachusetts dari seorang penggemar," kata Vern.
Tn. Avery mengangguk. "Tetapi itu dilakukan dengan perantaraan agen setempat
atas dasar komisi. Penjualan matauang biasanya memang berjalan demikian."
Ia menulis alamat perusahaan Fox pada secarik kertas, lalu diberikan kepada
Vern. Setelah mereka meninggalkan gedung itu, Chet berkata dengan muram: "Alasan
mengapa ia tak melapor polisi rasanya kok mencurigakan. Kukira, ia sendiri yang
menyikat uang itu." "Kita perlu banyak bukti-bukti untuk dapat mengajukan tuduhan," kata Frank.
Mereka pergi ke alamat di Jalan Wilshire Boulevard. Di sana mereka dapati sebuah
jendela berjeruji bertuliskan: FOX COIN AND STAMP COMPANY. Di dalamnya, di
sebelah kiri dan kanan, terdapat dua buah meja pajangan memanjang dari depan


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sampai belakang. Seorang yang bertubuh kecil, cerewet, memakai kacamata
berbingkai emas, berdiri di belakang salah satu meja pajangan sedang melayani
seorang nyonya gemuk. "Sebentar, Tuan-tuan," katanya ketika mereka masuk.
"Tak usah tergesa-gesa, Pak!" berkata Frank.
Kedua meja pajangan itu bagian atas terbuat dari kaca. Di dalam meja yang
sebelah kanan dipajangkan perangko-perangko. Meja di sebelah kiri diperuntukkan
matauang. Chet memperhatikan matauang yang dipajangkan. Kebanyakan terdiri atas matauang
tunggal, tetapi terdapat pula koleksi-koleksi lengkap yang ditaruh dalam map
berlapis plastik. "Tahukah kau," kata Chet. "Ini merupakan hobi yang memberikan banyak
kesenangan?" Joe berbisik kepada Vern. "Nah, mulai lagi. Chet mulai keranjingan sesuatu yang
baru!" "Apa ia sering begitu?"
"Sebulan sekali, biasanya. Ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada sesuatu,
untuk kemudian ditinggalkan begitu saja."
Sambil menoleh Chet bertanya: "Kalian membicarakan aku, ya?"
"Aku bertaruh dengan kemenakanmu, kalau kalau engkau mungkin akan menjadi ahli
matauang," jawab Joe.
"Ya, tidak secara besar-besaran. Kupikir membuat koleksi beberapa jenis matauang
biasa saja; misalnya koleksi matauang senan ini."
Ia menunjuk sepasang map yang terbuka tiga bagian. Ketiga kawan-kawannya
berdesakan hendak melihatnya; ternyata berupa matauang senan Kepala Lincoln.
"Kukira isinya tidak lebih dari seratus limapuluh sen," kata Chet. "Aku bisa
menyisihkan barang satu setengah dollar."
Vern berkata: "Takkan mungkin kau dapat koleksi demikian semurah itu atau
seharga nominalnya. Keantikannya membuat nilainya jauh lebih tinggi lagi."
"Ku tahu agen-agen itu harus mendapat keuntungan," Chet mengaku. "Aku tak
berkeberatan membayar sedikit lebih mahal."
Langganan wanita itu telah pergi, dan orang bertubuh kecil cerewet lalu
mendatangi mereka. "Saya Everett Fox," katanya. "Tuan-tuan memerlukan apa?"
Sambil menunjuk ke koleksi matauang senan Chet berkata: "Saya tertarik pada
ini." "Koleksi yang manis," kata agen itu sambil menggosok-gosokkan kedua telapak
tangannya. "Itu matauang senan Kepala Lincoln yang sisi belakangnya bergambar
butir gandum, dicetak antara tahun 1909 sampai 1959.
Seluruhnya seratus em-patpuluh tiga keping."
Frank berkata: "Dari tahun 1909 sampai tahun 1959 hanya limapuluh tahun. Mengapa
ada sekian jenis matauang sen?"
"Ada beberapa macam tanda-tanda, sebab dicetak di beberapa percetakan matauang.
Misalnya saja pada tahun pertama ada empat seri: yaitu 1909 VDB; 1901 s.VDB;
1909 polos; dan 1909 S." "Apa arti huruf-huruf itu?"
"VDB adalah inisial, yaitu huruf pertama dari nama pembuat polanya. Itu hanya
keluar pada dua kali cetak. S adalah percetakan uang di San Fran-sisco. Jika
tidak ada tanda percetakan, berarti dicetak di percetakan uang Philadelphia."
"Begitu?" kata Chet tertarik. "Berapa harga seluruh koleksi ini?"
"Ini semuanya matauang tulen atau yang tidak diedarkan," kata agen itu. "Dijual
satu-satu harganya kira-kira delapan. Sebagai koleksi lengkap, tentu saja
nilainya naik. Saya minta sebelas."
"Sebelas dollar?" tanya Chet ragu-ragu. "Hanya untuk uang seharga satu dollar
empatpuluh tiga sen" Saya tak mengerti."
"Bukan sebelas dollar, Tuan," kata agen itu sambil mengangkat hidungnya.
"Sebelas ribu!"
Chet kaget terengah-engah dibuatnya.
Frank tertawa kecil. "Aku dapat meminjamimu sepuluh dollar, Chet. Sisanya dapat
kau masukkan ke dalam kartu kreditmu."
Joe berbisik kepada Vern: "Ini benar suatu rekor. Hobinya hanya berumur lima
menit!" Frank maju menghampiri tuan Fox. "Sebenarnya kami datang untuk menanyakan
tentang matauang lima senan Kepala Liberty 1913."
"O, Tuan ingin menawar?"
"Menawar apa?" "Lima senan itu sedang ditawarkan untuk dilelangkan oleh perkebunan Du Bois di
Paris." "Kami belum mendengar tentang itu," kata Frank. "Kapan Du Bois memperoleh
matauang itu?" "O, itu sudah ada di dalam koleksinya lebih dari limapuluh tahun."
Anak-anak muda itu saling berpandangan. "Aku kira itu milik paman Gregg," kata
Vern. Agen itu berkata: "Bila Tuan-tuan ingin mengajukan tawaran, saya sangat senang
membantu Tuan-tuan."
"Berapa kira-kira harus menawar?"
"Lelangan terakhir untuk matauang itu adalah
delapan tahun yang lalu. Seseorang bernama Gregg Nelson memperolehnya untuk
seratus ribu dollar. Ia memenangkannya dari saingannya yang terdekat hanya
dengan selisih dua ribu dollar." "Siapa saingannya itu?"
"Direktur bank setempat yang juga keranjingan koleksi matauang, namanya Barton
Laing. 19. Big Boss "Barton Laing?" seru Vern.
"Tuan kenal dia?" tanya Everett Fox.
Vern mengangguk dengan geram.
"Heran," kata agen itu. "Tentu saja saya menghubungi dia ketika lelangan ini
diumumkan, tetapi ia samasekali tak tertarik."
"Barangkali ia telah memilikinya." Joe bergumam tidak jelas.
"Maaf, Tuan bilang apa?" tanya Tn. Fox.
"O, hanya berkata pada diri sendiri," jawab Joe.
Frank berkata: "Apa yang tuan lakukan bila ada orang datang menawarkan sekeping
lima senan Kepala Liberty 1913?"
"Suruh tangkap dia!' kata Tn. Fox tegas. Yang diketahui hanya ada lima buah.
Saya tahu semua pemilik-pemiliknya. Jadi matauang tentu barang curian!"
"Apa semua agen juga berpendapat demikian?" tanya Frank mendesak.
"Setiap agen yang jujur!" Tak lama kemudian ia menyambung dengan spontan: "Aku
sangsi agen yang tidak jujur berani ambil resiko. Begitu ia menawarkan untuk
dijual, ia akan ditangkap."
"Jadi sebenarnya tak ada untungnya mencuri matauang demikian, Tuan?"
"Bukan untuk mencari keuntungan. Seorang penggemar yang keranjingan mungkin
berani mencuri adalah untuk koleksinya sendiri."
"Terimakasih atas segala keterangan Tuan," kata Frank. "Mari, kita pulang."
Di luar, Joe berkata: "Nampaknya sudah jelas siapa yang mencuri matauang Vern.
Kupikir jangan kita buang-buang waktu mengunjungi agen-agen yang lain."
"Tetapi bagaimana kita dapat membuktikannya?" tanya Chet.
"Aku ada akal," kata Frank. "Aku tahu ada sebuah taman kecil tidak jauh dari
sini. Mari kita duduk-duduk dan merundingkannya."
"Maksudmu lapangan Parshing?" tanya Vern, sambil menunjuk ke arah kiri. "Itu, di
sana!" Mereka lalu berjalan menuju lapangan tersebut dan menemukan sebuah bangku yang
kosong. "Nah, pak guru," kata Chet kepada Frank. "Kami siap dengan pelajaran bapak."
Frank tersenyum. "Barton Laing belum pernah bertemu aku dan Chet. Misalkan Chet
menelpon dia dan berpura-pura jadi direktur bank lain" Ia dapat mengatakan kalau
anaknya tertarik akan koleksi matauang. Tanyakan apakah Tn. Laing berbaik hati
mau memperlihatkan koleksinya kepada anaknya."
"Tentunya kau yang jadi anaknya itu?"
"Memang! Betul!"
"Ada dua kesulitannya. Barton Laing mungkin sekali telah mengenal baik direktur-
direktur bank di kota ini. Jika kita gunakan nama seorang direktur bank sungguh-
sungguh, barangkali malah teman baiknya. Atau pun jika kita memakai nama palsu,
dia mungkin akan curiga karena kenal baik semua direktur bank."
"Itu salah satu kesulitannya," kata Frank.
"Aku tahu kesulitan lain. Suara Chet terlalu muda untuk seorang direktur bank."
"Bukan masalah," kata Frank. "Ia dapat berpura-pura menelpon interlokal,
misalnya dari San Diego. Ia dapat bicara perlahan-lahan."
"Masih lagi kemungkinan Laing mengenal nama-nama bank di seluruh negeri," kata
Joe. "Barangkali juga ia punya buku petunjuk tentang nama-nama direktur bank di meja
kerjanya." "Ambil saja nama suatu bank yang benar-benar ada di San Diego, dan gunakan pula
nama direkturnya, usul Vern. "Kita coba ambil resiko mudah-mudahan saja Laing
tidak mengenalnya." Semua pandangan terarah kepada Vern.
"Bagaimana kita dapatkan nama itu?" tanya Chet.
"Mudah saja," kata Vern. "Ayo, ikut aku."
Vern lalu memimpin kawan-kawannya ke Jalan V, ke perpustakaan umum Los Angeles,
satu blok jauhnya. Mereka masuk dan langsung menuju ke sebuah meja dengan buku-
buku petunjuk telpon. "Perpustakaan mempunyai buku petunjuk telpon dari setiap kota besar," kata Vern
penuh keyakinan. "Aku tahu hal itu, ketika suatu ketika aku mengunjungi paman
dan ingin mengetahui alamat seorang temannya di Vermont. Paman menyuruhku pergi
ke perpustakaan umum ini."
Vern lalu mencari buku petunjuk telpon kota San Diego, dan kemudian membawa buku
itu ke sebuah meja baca. Dari halaman kuning ia memilih nama sebuah bank: Bank
Boucheron Trust. Vern mencatat nomornya.
"Ada yang membawa uang beberapa dollar?" ia bertanya.
Beramai-ramai mereka merogoh kantong sakunya masing-masing. Akhirnya terkumpul
sejumlah tiga dollar, uang receh.
"Kukira sudah cukup," kata Vern. "San Diego hanya seratus mil lebih sedikit
jauhnya." Di perpustakaan umum itu terdapat beberapa tempat telpon umum. Vern lalu
menyebut nomor dari San Diego.
Ketika terdengar suara wanita yang menyaut, ia bertanya: "Bolehkah saya
menanyakan nama bapak direktur?"
"Tentu saja, Tuan. Direktur kami bernama Tn. Jason McGuire. Apa Tuan hendak
berbicara dengan beliau?"
"Lain kali saja, terimakasih!"
"Yahuut," Vern menyeringai. "Nama direktur Bank Boucheron Trust itu Jason
McGuire." "Kau dapat juga menelpon dari sini, Chet." kata Frank. "Coba perdengarkan suara
direkturmu!" Dengan suara dibesar-besarkan yang sumbang Chet berkata: "Tn. Laing, di sini
Jason McGuire." Seorang petugas perpustakaan yang sedang lewat menengok dengan pandangan tajam.
Joe tertawa. "Kau kedengaran lebih mirip perampok bank! Ayo, kita berlatih di
luar saja." Beberapa orang duduk membaca di rumput halaman perpustakaan. Anak-anak muda itu
mencari tempat yang sepi, di luar pendengaran orang-orang lain yang sedang
membaca. Chet berlatih dengan suara bermacam-macam. Tetapi semuanya serba
sumbang. Akhirnya dapat akal.
"Mengapa kau tak berpura-pura sakit tenggo-rokan saja, Chet?" katanya. "Dengan
demikian, jika Tn. Laing kebetulan kenal Jason McGuire, kau dapat memberi
alasan." Dengan suara parau Chet berkata: "Maafkan kalau saya berbicara kurang jelas,
kawan. Tetapi saya sedang sakit tenggorokan."
"Nah, itu bagus sekali," kata Frank memuji.
Mereka masuk kembali ke dalam perpustakaan, dan Chet menelpon Bank Bunker,
meminta bicara dengan Tn. Laing.
"Siapa ini, Tuan?" tanya penjaga telpon.
"Jason McGuire, dari Bank Boucheron Trust di San Diego."
"Oh, tunggu sebentar, Tuan."
Kemudian suara yang serius terdengar di pesawat telpon: "Hallo, apa kabar
Jason?" Rupa-rupanya Barton kenal baik dengan direktur bank di San Diego itu. Ini
membuat Chet agak gugup sebentar. Ia hampir saja berbicara dengan suaranya yang
biasa. Untung saja ia segera ingat.
"Baik-baik saja, hanya sedikit parau sakit teng-gorokan."
"Suaramu memang mengerikan," jawab Laing dengan nada iba.
"Seperlunya saja, Bart. Sakit untuk berbicara. Apa kaukenal anakku Frank?"
"Belum! Kecuali kalau ia pernah kau ajak dalam pertemuan direktur-direktur bank.
Aku belum pernah ke rumahmu!"
Chet merasa lega. "Frank mempunyai hobi seperti engkau, mengumpulkan matauang.
Ia pergi kemari dari San Diego siang ini. Sudikah kau memperlihatkan koleksimu
kepadanya?" "Dengan senang hati!" jawab Barton Laing, rupanya ia senang juga. "Bagi kami,
kaum penggemar matauang, tak ada yang lebih menyenangkan dari pada memamerkan
koleksinya. Kapan ia datang kemari?"
"Dia baru akan berangkat. Jadi tak lebih dari dua jam. Sekarang belum jam tiga.
Kira-kira jam limalah ia datang!"
"Kalau suka, suruh saja datang jam tujuh sekalian makan malam. Saya akan sangat
senang!" Chet jadi bingung, hampir saja ia tersedak. "Ah, jangan susah-susah. Ia
berkencan makan malam dengan temannya. Dapatkah ia datang lebih lambat?"
"Tentu saja," kata Barton Laing. "Katakan padanya agar datang jam delapan." Ia
memberikan alamat di Los Angeles Barat.
"Terimakasih," kata Chet. "Ia pasti datang!"
"Jaga tenggorokanmu," kata Laing. "Selamat siang!"
Joe menepuk punggung Chet. "Bagus sekali, Chet!"
"Terimakasih," jawab Chet parau. Tiba-tiba ia terperanjat. "Suaraku jadi benar-
benar parau!" "Sebotol air soda akan menyembuhkanmu," kata Frank.
Chet mendehem, lalu dengan suara biasa berkata: "Aku sudah sembuh, tetapi air
soda tetap perlu!" Mereka lalu pergi ke warung makan di Jalan V, di seberang Lapangan Parshing, dan
duduk di sebuah bangku. Sambil minum minuman dingin mereka rundingkan perkara
matauang. "Biar pun Laing direktur bank, aku tak mengerti bagaimana ia dapat leluasa
membuka safe-box," kata Vern. "Itu kan harus memakai kunci milik paman?"
"Tak perlu ia harus mencurinya sendiri." Joe menjelaskan. "Mungkin ia membeli
dari pencurinya!" "Kau maksud Cylvia Nash?"
"Itu lebih masuk akal, daripada Laing mencuri sendiri," kata Joe. "Misal Cylvia,
yang mengetahui majikannya boleh dikatakan mau berbuat apa saja untuk
mendapatkan matauang itu bagi koleksinya, menggelindingkan matauang itu dari
dalam safe-box dengan sengaja, misalkan setelah pamanmu memberikan kepadanya
untuk dimasukkan kembali ke tempatnya. Ia dapat mengambilnya pada waktu ia pergi
meninggalkan pamanmu dengan membelakanginya, yaitu pada waktu akan mengembalikan
ke tempatnya. Pamanmu takkan mengetahui bahwa matauang itu hilang, sebab pamanmu
tak akan memeriksanya."
"Ku kira benar juga terkaanmu," kata Frank. "Uang setoran tabungan limapuluh
ribu dollar di buku tabungan Cylvia, tentunya uang yang berasal dari Laing untuk
harga matauang itu. Kan cocok semua?"
"Memang cocok, kecuali bahwa Cylvia jadi pacar Red Sluice," kata Chet. "Apa yang
cocok dengan Red Sluice di sini?"
"Red tak perlu terlibat dalam pencurian matauang itu," kata Joe kepadanya.
"Bahwa maling berteman perampok. Mungkin saja mereka bertemu dalam lingkungan
yang sama." Rumah di Los Angeles Barat adalah gedung yang mahal di jalan terkemuka. Vern
memarkir mobilnya seperempat blok jauhnya dari rumah itu, dan Frank turun dari
mobil sendiri. "Aku takkan lama-lama," katanya. "Jika aku telah melihat matauangmu, aku akan
segera mencari suatu alasan untuk pergi Kita lalu langsung saja ke kantor Parker
Centre." Frank naik tangga ke serambi muka yang luas, lalu membunyikan lonceng.


Hardy Boys Sindikat Pencuri Mobil di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pintu dibuka oleh seseorang yang nampak terhormat. Dan Frank ternganga mulutnya.
Orang itu telah dipotretnya pada waktu masuk ke dalam toko.
20. Matauang yang hilang Dengan berusaha menguasai dirinya Frank menyapa: "Tuan Laing?"
"Betul," jawab direktur bank itu ramah. Ia mengacungkan tangannya. "Engkau tentu
Frank McGuire?" "Benar, Tuan," kata Frank dan menjabat uluran tangannya. Barton Laing lalu
memimpinnya masuk ke kamar perpustakaan lewat ruang depan, lalu mempersilakan
duduk. Frank duduk di kursi berlapis kulit, dan direktur itu duduk di belakang
meja tulis. Sambil mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di meja ia berkata: "Jadi kau juga
penggemar matauang?"
"Benar, tetapi tentu tak setingkat Tuan," kata Frank dengan hormat. Kemudian
dengan pengetahuan yang dipetiknya siang tadi, ia berbicara seperti seorang
ahli. "Koleksi saya yang paling lengkap hanyalah mata uang sen-senan Kepala
Lincoln yang pada sisi belakang bergambar bulir gandum. Saya memiliki seluruh
seratus empatpuluh tiga keping yang tidak diedarkan."
"Suatu permulaan yang bagus bagi seorang anak muda seperti engkau," kata
direktur itu terkesan. "Bolehkah saya melihat koleksi Tuan?" pinta Frank.
Laing lalu bangkit berdiri dan pergi ke sebuah lukisan di dinding. Lukisan itu
digesernya ke samping dan nampak pintu sebuah almari besi. Dengan sebuah kunci
ia membuka almari itu. Dikeluarkannya setumpuk map-map tempat kumpulan matauang
berwarna biru, tetapi ia meninggalkan sebuah map di dalam ambalan almari besi
itu. Laing meletakkan map-map itu di atas meja, lalu mengunci almari itu dengan
sangat hati-hati. Karena semuanya dikeluarkan kecuali satu map, Frank menjadi
heran oleh sikap Laing yang begitu hati-hatinya.
Direktur itu kemudian berdiri di samping Frank, lalu membuka-buka map-map
tersebut. Secara berurutan ia pamerkan koleksi-koleksi dollar perak, setengah dollar, talenan dan
sen-senan. Setelah sudah ia lalu menyingkirkannya.
"Nah, sekarang yang paling saya senangi," kata Laing. "Aku mengkhususkan diri
pada mata uang lima senan. Aku mempunyai seluruhnya, dari cetakan pertama di
Amerika Serikat pada tahun 1886, yaitu yang berbentuk perisai, sampai kepada
lima senan Kepala Jefferson yang terakhir. Dengan satu dua kekurangan, koleksi
ini sudah lengkap." Setelah melihat map berisi lima senan Kepala Lincoln, Frank berkata: "Ini juga
lengkap, kecuali cetakan tahun 1913."
Laing tersenyum. "Itu tidak sulit dimengerti, bukan?"
"Memang tidak, Tuan. Mengingat bahwa memang hanya lima keping yang ada," kata
Frank setuju. "Tahukah Tuan bahwa Du Bois menawarkan sekeping untuk dilelang?"
"Ya, aku mendengarnya. Tetapi untuk menawar itu, agak di luar kelasku."
Frank tahu, bahwa orang ini pernah menawar dengan sembilanpuluh delapan ribu
dollar, delapan tahun yang lalu. Frank berpikir bahwa alasan ia tak ikut menawar
ialah karena sudah memilikinya.
"Saya lihat Tuan meninggalkan satu map di ambalan almari besi," kata Frank.
"Apakah itu sesuatu yang khusus lagi?" "Hanya map kosong."
Lonceng pintu berbunyi, dan Barton bangkit untuk pergi ke pintu. Frank berdiri,
lalu mencoba membuka pintu almari besi. Ternyata terkunci kuat. Dengan segera ia
duduk kembali. Laing masuk kembali dan berkata: "Aku mendapat seorang tamu yang tak kusangka.
Sudah selesaikah engkau melihat-lihat?"
"Sudah, terimakasih, Tuan," jawab Frank lalu bangkit berdiri.
Direktur itu mengembalikan map-mapnya ke dalam almari besi. Kemudian ia memberi
isyarat kepada Frank untuk mendahuluinya ke pintu.
Ketika mereka berjalan di kamar tamu, empat dari lima orang yang duduk di situ
memandang dengan melongo kepada Frank. Dengan marah, Big Harry Knotts, Crafty
Kraft, Red Sluice dan Anton Jivaro melompat berdiri. Cylvia Nash adalah satu-
satunya orang yang tetap duduk, ketika keempat orang itu menyerbu Frank,
menangkapnya tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Apa-apaan kalian ini?" seru Laing dengan marah. "Kalian berani menganiaya
temanku?" "Tahukah Tuan, siapa dia?" tanya Big Harry menantang.
"Nama depannya memang cocok, tetapi nama belakangnya adalah Hardy!"
"Apa?" teriak Laing dengan melotot matanya kepada Frank. "Frank Hardy" Engkau
datang kemari memata-matai aku, ya?"
Frank tahu sebenarnya apa jawabannya.
"Tunggu sebentar di sini," kata Laing memerintah kepada komplotannya. "Aku akan
kembali sebentar." Ia menghilang ke dapur dan kembali dengan membawa segulung tali. "Ikuti aku!"
perintahnya sambil berjalan.
Ia mendahului masuk ke dalam kamar perpustakaan, dan yang lain-lain mengikutinya
sambil menggelandang Frank. Cylvia mengikuti dari belakang, wajahnya nampak
tegang. Laing menunjuk ke sebuah kursi dengan sandaran yang tegak. "Ikat dia di situ!"
perintahnya. Frank diikat kaki dan tangannya pada kursi. Kemudian direktur bank itu berkata:
"Adiknya tentu masih berkeliaran di sekitar sini bersama kedua teman-temannya.
Cari, barangkali di dekat-dekat sini, jangan sampai mereka lolos. Cylvia dan aku
akan menjaga anak jahanam ini."
Keempat orang itu berlarian keluar. Frank mendengar pintu depan membuka dan
menutup kembali. Laing dan Cylvia berdiri berdampingan, menjaga Frank dengan
ketat. Frank mulai merasa takut. Bagaimana ia dapat meloloskan diri dalam
keadaan begini" Tepat pada saat ia merasa kebingungan, ia melihat daun jendela
di belakang para penjaganya diangkat perlahan-lahan, sedikit demi sedikit.
Maka untuk mengalihkan perhatian para penjaganya, Frank berkata lembut kepada
Cylvia: "Engkau nona yang manis, kok mau terlibat komplotan penjahat!"
"Bukan urusanmu!" tukas Laing.
"Aku tak dapat mengerti," Frank meneruskan. "Aku betul-betul tak mengerti.
Ketika kita bertemu di pesawat...," Frank terus saja berkata keras-keras,
sementara daun jendela semakin terangkat lebar. Dengan tak menimbulkan suara Joe
mengangkat kakinya melalui ambang jendela, lalu mengangkat tubuhnya masuk ke
dalam. Segera diikuti oleh Vern dan Chet. Mereka dengan sangat hati-hati
berjalan berjingkat-jingkat ke arah Laing.
Frank terus saja ngoceh tak keruan ketika Joe dan Vern tiba-tiba menyergap
direktur bank itu dari belakang. Chet berlari ke pintu untuk menghalang-halangi
Cylvia, sekiranya ia mau lari keluar.
Laing berontak untuk melepaskan diri, tetapi sia-sia. Vern menyumbat mulutnya
dengan saputangan, sehingga tak dapat berteriak minta tolong.
Cylvia terlalu takut" untuk dapat berteriak. Ia bahkan berdiri tak bergerak,
ketika anak-anak muda itu menguasai majikannya.
"Oke, nona Nash," kata Chet. "Lepaskan tali pengikatnya!" katanya sambil
menunjuk ke arah Frank. Nona itu memandang majikannya dengan ketakutan, tetapi bangkit juga menuju
Frank. Ketika ia telah dilepas, maka Joe dan Vern memaksa Barton Laing duduk di kursi
itu, lalu diikat dan disumbat mulutnya.
Chet menoleh ke Cylvia. "Kau bersikap yang baik, kalau tidak kau juga akan
kuikat!" "Aku takkan berbuat sesuatu," kata Cylvia menurut, lalu duduk di kursi.
Tiba-tiba mereka mendengar pintu depan dibuka dan ditutup. Beberapa langkah kaki
terdengar datang mendekat. Chet dan Frank dengan cepat berdiri di sisi kiri
pintu, dan Joe serta Vern di sisi kanan. Big Harry dan kawan-kawannya berturut-
turut masuk. Ketika mereka melihat keadaan majikannya, mereka berbalik dan
bertatap muka dengan keempat anak-anak muda.
Frank mengelak dari pukulan Big Harry, dan membalasnya dengan pukulan pada
rahang hingga bergemeretak suaranya, membuat Big Harry mental ke belakang
membentur dinding kamar. Joe
menangkap pergelangan tangan Crafty ketika tangan itu diayunkan kepadanya.
Dengan memutar tubuh, Joe mengangkat Crafty lewat pundaknya, lalu membantingnya
berdebum ke lantai. Vern berbaku hantam dengan Red Sluice.
Chet berhasil membanting Anton Jivaro ke lantai lalu duduk di atas punggung si
tubuh kecil. Big Harry mencoba maju lagi, mengayunkan kedua tinjunya ke arah
Frank. Frank menangkis kedua pukulan tinju itu, pura-pura mundur sebentar,
tetapi dengan cepat kembali menjotos Big Harry tepat pada rahang lagi. Kali ini
Big Harry jatuh terkulai, tak dapat bangun lagi.
Crafty mencoba bangun, tetapi belum sempat berdiri dengan lurus, sebuah pukulan
karate Joe mengenai sisi kanan tengkuknya. Tak urung ia terkulai menelungkup di
lantai. Red berhasil membuat Vern jatuh, lalu hendak menendang perutnya. Sambil
merayap bangun, Vern menangkap tendangan kaki Red, lalu menariknya sekuat
tenaga. Red terbanting dengan pantatnya keras membentur lantai. Kemudian kakak
beradik Hardy menangkap si rambut merah erat-erat.
Keempat penjahat lalu diikat. Tetapi tanpa disadari Cylvia Nash telah meloloskan
diri, kabur tak ketahuan ke mana larinya.
"Kita seharusnya mengikat dia tadi," gerutu Chet.
"Sudah, jangan risaukan dia," kata Frank. "Polisi akan datang menangkapnya."
Lalu ia menggunakan pesawat telpon yang ada di kamar perpustakaan itu untuk
menelpon letnan Frisby. Setelah ia letakkan gagang telpon di tempatnya kembali,
Vern bertanya kepada Frank: "Kau lihat matauangku?"
"Ia tak mau menunjukkannya kepadaku. Tetapi kukira aku tahu di mana ia
menyimpannya," jawab Frank. Ia merogoh saku Laing untuk mengambil kunci almari besi. Dibukanya
almari itu, lalu mengambil map-map dari dalamnya dan meletakkan semua map-map di
atas meja. Hanya map yang paling bawah dipegangnya, lalu segera dibukanya.
Isinya hanya sekeping matauang. Sebuah lima senan Kepala Liberty tahun 19131
"Uang paman!" teriak Vern.
"Nah, kini telah terungkap kedua rahasia itu!" kata Frank.
"Tetapi kita belum tangkap gembongnya," kata Joe.
"Benar, aku belum berceritera, ya" Itu si Laing! Aku benar-benar terkejut ketika
ia membukakan pintu dan aku masuk ke mari. Dialah orang yang kupotret dulu!"
Polisi datang, lalu membawa orang-orang tang-
kapan ke kantor polisi. "Akan kucari Cylvia Nash sampai dapat," berkata letnan
Frisby dengan berjanji. "Sementara itu, kuucapkan selamat, he Anak-anak Muda!
Kalian telah melakukan karya besar! Maaf, semula aku dulu kurang mempercayai
kalian. Kini menjadi nyata, kalian adalah detektif-detektif yang lebih baik dari
kami para polisi. Kalian ingin jadi anggota polisi?"
Anak-anak muda itu tertawa, sedang Frank menggelengkan kepalanya. "Kami ingin
tahu bila nanti Cylvia telah tertangkap!"
"Telponlah aku besok!" jawab Frisby.
Cylvia pun tertangkap, ketika pulang ke rumahnya malam itu.
Pagi berikutnya, setelah sarapan, anak-anak muda itu berangkat kembali ke
Bayport. "Kuharap saja kalian tidak terperangkap lagi ke dalam suatu perkara lain," kata
Chet kepada Hardy, kakak-beradik dalam mobil Vern. "Apakah kita tak bisa
menikmati kesenangan yang biasa, dan sederhana" Sekali-sekali!"
Frank dan Joe tertawa lebar. "Barangkali saja!" kata Joe.
Mereka takkan sadar, bahwa begitu sampai di rumah, mereka terlibat lagi dalam
perkara yang menegangkan.
Tamat Edit by : zheraf.net http://www.zheraf.net Iblis Pulau Hantu 2 Pedang Siluman Darah 28 Runtuhnya Samurai Iblis Perawan Dalam Pasungan 2
^