Pencarian

Macan Tutul Di Salju 1

Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather Bagian 1


LEOPARD IN THE SNOW by Anne Mather MACAN TUTUL DI SALJU Alihbahasa : Toety Maklis
Penerbit: P.T. Gramedia 1977 BAB SATU DI MUSIM semi dan di musim panas gunung-gunung tinggi dan danau-danau yang
diteduhi gunung menggemakan suara para turis, yang ingin melarikan diri dari
hutan baja dan beton di kota-kota besar. Mereka datang berbondong-bondong
bagaikan serbuan siput-siput raksasa, mobil demi mobil. Ada yang berpiknik. Ada
yang berkemah. Dan ada yang menarik mobil karavan di belakang sedan mereka.
Pendaki-pendaki gunung berjalan ke West Water dan Skafell Pike. Banyak di antara
mereka yang belum pernah memakai sepatu boot berpaku. Lalu-lintas macet, lebih-
lebih di jalan sempit sepanjang danau Ullswater dan danau Windermere. Banyak
toko yang menjual kartu dan barang tanda mata. Banyak pameran kerajinan
setempat. Di danau layar putih kapal pesiar bercampur dengan layar jingga perahu
dan berisiknya suara motor. Di mana-mana nampak orang memakai jas berbulu dan
perlengkapan berlayar. Semua berusaha supaya kelihatan seolah-olah mereka biasa
memakainya. Hotel-hotel penuh sesak. Bar-bar sibuk melayani pembeli.
Penduduk setempat mengawasi, menunggu dan merasa senang kalau turis-turis
meninggalkan Lake District dan pulang kembali ke rumah dan ke pekerjaan mereka
di kota. Daerah danau musim panas itulah yang diingat Helen. Dulu ketika masih tinggal di
Leeds, ayahnya mempunyai sebuah perahu di Bowness. Di dalam liburan musim panas
ayahnya mengajar Helen berlayar. Kalau ditinjau lagi, masa itu adalah masa yang
amat menyenangkan dalam hidup Helen, meskipun mereka hidup sederhana. Masa itu
adalah masa sebelum ayahnya berhasrat maju dalam dunia, sebelum ia menggabungkan
perusahaannya dengan Thorpe Engineering. Masa sebelum ia menikah dengan Isabel
Thorpe dan menjadi orang yang begitu kaya dan berpengaruh. Dan perhatiannya ke
olah raga tidak lagi ke cabang yang sederhana seperti berlayar....
Tapi sekarang gunung-gunung tertutup salju. Rupanya telah berhari-hari turun
salju. Bahkan permukaan danau pun tertutup lapisan putih. Helen berhenti di desa
terakhir untuk menanyakan jalan ke Bowness, tapi kemudian keluar dari rute
asalnya. Tidak mengherankan, karena sebagian dari tanda jalan juga tertutup
salju. Ia merasa begitu hangat dan enak di dalam mobil, sehingga ia malas
keluar, apalagi menghapus salju. Selain daripada itu, ia tidak dapat mengingat
kembali berlusin-lusin jalan kecil yang susul-menyusul membuat apa yang
dinamakan jalan besar. Dan karena jalan-jalan itu kelihatannya hampir sama dalam
keadaan cuaca buruk ini, ia ternyata telah berkali-kali salah belok.
Tidak perlu cemas, dihiburnya dirinya sendiri. Sekarang baru pukul dua. Masih
banyak waktu untuk mencari sebuah hotel. Hotel mana pun jadi, asal menyediakan
makanan dan tempat bernaung. Ia bisa melanjutkan perjalanannya besok.
BESOK! Helen melayangkan pikirannya ke ayahnya. Besok ayahnya akan tahu Helen telah
pergi. Apa yang akan dilakukan ayahnya" Apakah surat Helen akan memuaskan
ayahnya" Dalam surat itu Helen menyatakan bahwa ia perlu pergi seorang diri
untuk beberapa waktu lamanya. Atau apakah ayahnya akan berusaha mencari Helen"
Ya, besar kemungkinannya. Ayahnya bukanlah seorang yang senang ditentang. Dan ia
pasti akan marah sekali karena anak perempuannya, anak SATU-SATUNYA, mencoba
menentangnya. Tetapi kemungkinan ayahnya mencari Helen di sini sedikit sekali. Sebenarnya,
pikir Helen dengan bangga, keputusan untuk ke sini merupakan suatu ilham.
Belakangan ini tempat-tempat yang sering dikunjunginya ialah West Indies dan
Perancis Selatan. Dan kalau ayahnya mencari Helen, pasti mencarinya di tempat
yang beriklim panas. Ayahnya tahu betapa sukanya Helen kepada matahari, betapa
sukanya Helen berenang dan berlayar. Semua olah raga air. Ayahnya tentu tidak
menyangka Helen masih ingat akan hotel kecil itu. Dulu, tidak lama sesudah
ibunya meninggal, ayahnya mengajak Helen ke situ. Waktu itu Helen masih
bersekolah dan mereka masih saling membutuhkan. Dan ayahnya tentu tidak
menyangka Helen berani mengemudikan mobil dalam taufan salju yang sedang
mengamuk. Salju menebal di penyapu kaca mobil Helen. Kaca mobil menjadi kotor dan bukan
menjadi jernih. Rasanya lama sekali sejak ia berpapasan dengan kendaraan lain.
Apakah jalan yang diikutinya ini menuju ke suatu tempat" Mungkin menuju ke
sebuah peternakan atau perumahan. Dan bagaimana ia bisa memutar di tempat
sesempit ini" Kalau jalan ini menuju ke sebuah peternakan ia akan mengetuk pintu. Dan ia akan
bertanya apakah mereka dapat memberinya petunjuk cara mencapai desa yang
terdekat. Ia tidak lagi mengharap akan mencapai Bowness malam ini.
Penyapu kaca makin penuh es. Ia menghentikan mobilnya, tapi membiarkan motornya
hidup. Ia melongok ke luar, lalu membersihkan penyapu kaca. Salju melekat pada
jari-jarinya. Dingin sekali. Cepat-cepat ia masuk kembali. Mungkin ia telah
bertindak terlalu berani membawa mobil ke sini. Sebaiknya ia naik kereta api
saja tadi. Tapi ia tidak mau mengambil resiko dikenal orang di setasiun. Ada
kemungkinan orang itu mengingat kembali kejadian ini, kalau ayahnya meributkan
lenyapnya Helen. Sialnya, penyapu kaca mobil macet lagi. Ini berarti Helen harus keluar lagi
untuk membetulkannya. Ia telah membuka sepatu boot-nya yang berhak tinggi karena
tidak mungkin dipakai untuk mengemudikan mobil. Tadi waktu membersihkan penyapu
kaca, ia mempertahankan keseimbangan badannya pada pinggir pintu mobil. Tapi
kali ini ia bermaksud memakai sepatunya dahulu. Selagi ia memakai sepatu, mesin
mati. Ia keluar dan berdiri di salju. Tumpukan salju cukup tebal. Bahkan di jalan pun
tebal juga. Ia membersihkan lipatan cutbrainya yang berwarna merah menyala.
Salju mencair di atas pundaknya. Sesudah membersihkan penyapu kaca dan
meyakinkan dirinya bahwa penyapu kaca dapat bekerja lagi untuk sementara waktu,
ia duduk lagi di tempat pengemudi.
Untuk melepaskan sepatunya makan waktu beberapa menit lagi. Setelah itu baru ia
memutar kunci kontak. Mobilnya hidup, tapi motornya tidak hidup. Sambil
menyumpah perlahan-lahan ia mencoba lagi, dengan membiarkan mobilnya hidup lebih
lama lagi. Tapi motornya tetap tidak hidup. Timbul rasa takutnya. Bagaimana
sekarang" Apakah mobilnya benar-benar mogok" Mobilnya belum pernah mogok. Dan
mobil itu bukan mobil tua. Tapi memang belum pernah menghadapi keadaan seperti
ini. Beberapa menit kemudian ia menghentikan usahanya untuk menjalankan mobilnya.
Hari makin malam saja dan sebentar lagi akan gelap. Ia tidak berani tinggal di
sini lebih lama lagi dengan harapan sia-sia bahwa seseorang akan datang dan
menolongnya. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pada hari itu ada mobil
yang melewati jalan itu. Tapi salju yang tetap berjatuhan merintanginya untuk
memeriksa permukaan jalan itu dengan teliti. Jalan yang paling baik sekarang
ialah meninggalkan mobil dan mencari bantuan. Kalau ia tetap di situ dan tak ada
orang yang datang, menjelang pagi mobil itu sudah terkubur. Ia pernah mendengar
cerita tentang pengemudi mobil yang mati beku dalam kejadian seperti ini.
Ia mengesampingkan pikiran tak menyenangkan itu dan memakai sepatunya. Suatu
pengalaman yang boleh juga, katanya pada dirinya sendiri, untuk membangkitkan
semangatnya. Yah, siapa yang menyangka ia akan tertimpa badai salju" Siapa yang
menyangka mobilnya akan mogok" Sayang ayahnya tidak tahu ia pergi ke mana.
Perasaan bangga kini berubah menjadi perasaan sesal.
Ia keluar dari mobil. Sekurang-kurangnya mantelnya panas. Terbuat dari suet
merah, berlapis kulit domba. Menyolok sekali di antara putihnya salju. Ada
kemungkinan orang melihatnya, meskipun ia sendiri tidak melihat mereka. Ia
memakai tudung mantelnya, dan memasukkan ke dalamnya untaian rambut hitam
panjang yang ditiup angin ke mukanya. Ini dia! Sarung tangan kulit domba untuk
memanaskan tangannya. Celana panjang digulung hingga hampir ke lutut. Tas tangan
- Apa lagi yang diinginkan seorang penjelajah yang berani"
Ia melihat ke kiri dan ke kanan jalan yang sepi itu. Tak ada gunanya mencari
kembali jejaknya. Sejauh beberapa kilometer ke belakang sudah jelas tidak
terdapat apa-apa. Jadi ia harus maju ke depan!
Salju menyakiti pipinya. Angin menderu menakutkan melalui rangka-rangka pohon
dan semak-semak yang memagari jalan kecil itu. Ia ingin menerobos pagar tanaman
itu dan mendaki bukit di baliknya untuk melihat apakah ada orang yang tinggal di
daerah tandus putih ini. Tapi peninjauan pendahuluan mengakibatkan ia terjatuh
di salju yang dalamnya setengah meter. Cukup membuatnya jera untuk pergi ke situ
lagi. Sebetulnya tidak mungkin orang berjalan begitu jauh tanpa melihat sebuah
rumah atau seorang manusia pun. Tapi itu yang dialaminya sendiri. Jalan yang
berkelok-kelok yang dengan cepat menutup mobilnya dari pandangan matanya mungkin
saja memutari sebuah gunung. Yang jelas, berdasarkan kakinya yang pegal, ia
sedang mendaki. Tapi mana ada pilihan lain"
Ia berhenti dan melihat ke belakang. Ia hanya dapat melihat dengan jelas sejauh
seratus meter. Ia betul-betul tersesat. Dan langit yang abu-abu itu bukan cuma
disebabkan oleh keadaan yang menakutkan ini. Hari mulai malam. Dan ia belum juga
berhasil menemukan tempat berteduh. Ia menjadi bingung. Apa yang harus
dilakukannya" Apakah ini kehendak nasib karena ia menentang hak ayahnya untuk
memilihkan seorang suami baginya"
Ada sesuatu yang bergerak. Ia melihat sesuatu yang berwarna jauh di depan. Ia
mengejapkan matanya. Apakah itu" Barangkali seekor binatang yang sedang mencari
makanan. Kasihan. Apa yang bisa didapat seekor binatang di lapisan salju yang
tebal ini" Sambil mengejapkan mata, karena ada salju masuk ke dalamnya, ia mencoba melihat
apa yang telah menarik perhatiannya. Yang jelas, itu seekor binatang. Mantel
merahnya telah menarik perhatian binatang itu. Bisa jadi seekor anjing, pikir
Helen penuh harap, dengan pemiliknya di dekat situ. Ah, ia memohon, semoga
binatang itu binatang piaraan.
Binatang itu berjalan dengan langkah panjang ke arah Helen. Rupanya seperti
seekor anjing. Warnanya kuning kecoklat-coklatan. Di badannya terdapat noda-noda
hitam. Semacam anjing Dalmasian yang kuning kecoklat-coklatan, cuma anjing
semacam itu tidak ada. Tiba-tiba kaki Helen terasa lemah. Ia gemetar ketakutan. Ia panik. Binatang itu
bukan seekor anjing. Bukan binatang piaraan. Binatang itu adalah seekor macan
tutul! Seekor macan tutul di salju!
Untuk sesaat Helen terpaku di tempatnya. Ia dihipnotis oleh langkah binatang itu
yang diam-diam mengancam. Helen merasa tak berdaya. Tidak ada macan tutul di
Cumberland! Ini pasti suatu halusinasi yang menakutkan akibat sinar cahaya salju
yang begitu menyilaukan mata. Binatang itu tidak membuat suara. Mungkinkah ia
binatang buatan" Tetapi waktu binatang itu makin mendekat, Helen dapat melihat bahunya yang kuat
dengan otot yang bergerak-gerak di bawah bulunya yang licin, giginya yang tajam
dan telinganya yang berdiri. Helen bahkan dapat membayangkan napasnya yang
panas. Helen ketakutan. Ia membalik dan lari. Sebetulnya ia tahu bahwa ia tidak boleh
lari. Dulu waktu masih sekolah, ia sering bermalam di rumah temannya di sebuah
peternakan. Orang tua temannya itu pernah mengatakan bahwa manusia tidak boleh
panik kalau berhadapan dengan seekor binatang yang hendak menyerang. Tapi saat
ini yang diingat Helen hanyalah usaha untuk menyelamatkan diri saja.
Helen lari melalui salju tebal di pinggir jalan. Hampir saja ia terjatuh. Ia
menerobos pagar tanaman dan merasakan ranting-ranting menarik-narik rambutnya
dan menggores pipinya sampai sakit. Tetapi apa pun lebih baik daripada bayangan
kuku macan tutul yang mencengkeram lehernya. Panik membuat kaki Helen yang lemah
menjadi kuat. Tapi tebalnya salju menghambat langkahnya. Celaka, pikir Helen.
Bagaimana kalau ia tiba-tiba merasakan napas panas si macan tutul di lehernya
dan lalu dipaksa rebah oleh binatang itu" Helen ingin menangis. Air mata
tergenang di pelupuk matanya. Seharusnya ia tidak pergi meninggalkan London,
pikirnya sedih. Ini akibatnya kalau mementingkan diri sendiri saja.
Tiba-tiba kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang kelinci. Ia kehilangan
keseimbangan dan jatuh. Sambil menangis tersedu-sedu ia mencoba merangkak maju.
Sementara ia merangkak ia mendengar suara yang disangkanya tidak akan pernah
didengarnya lagi. Suara seorang manusia. Suara orang yang meneriakkan perintah:
"Sheba! Sheba! Berhenti!"
Helen menengok ke belakang dengan takut. Macan tutul itu berhenti sejauh satu
meter dari Helen dan menatap Helen dengan tajam. Seorang laki-laki menerobos
pagar tanaman. Laki-laki itu bertubuh tinggi dan langsing. Pakaiannya seluruhnya
hitam. Mantel kulit hitam, celana panjang hitam dan sepatu lars setinggi lutut
berwarna hitam pula. Ia tidak memakai topi. Ketika Helen dengan bersusah payah
berdiri, ia melihat bahwa rambut orang itu amat muda warnanya seakan-akan warna
perak. Meskipun demikian warna kulitnya cukup gelap. Bukan warna kulit yang
biasa seiring dengan rambut pirang. Ada sesuatu yang samar-samar dikenalnya pada
wajahnya yang kasar. Mata cekung di bawah kelopak mata yang tebal. Bentuk hidung
yang kuat. Mulut lebar dengan bibir yang tipis. Waktu mendaki punggung bukit,
Helen melihat laki-laki itu berjalan pincang. Dan pangkal pahanya berputar
sedikit. Macan itu menengok ke belakang waktu orang itu mendekat. Orang itu mengelus-elus
kepala binatang itu. "Tenang, Sheba!" Suaranya rendah dan dalam. Kemudian ia
menatap Helen. "Maaf," katanya dengan suara yang kedengarannya tidak mengandung
maaf. "Tapi seharusnya kau jangan lari tadi. Sheba tidak akan menyentuhmu."
Sikap sombong orang itu menyinggung hati Helen. Belum pernah ia dipaksa berlari-
lari begini untuk menyelamatkan dirinya. Baru sekarang ini. Ataupun merasa sedih
dan kelihatan kusut di depan seorang laki-laki. Kehangatan dan kecantikannya,
rambut hitamnya yang bagaikan tirai sutera, tubuhnya yang langsing tapi berisi,
semuanya telah memudahkannya bergaul dengan kaum laki-laki. Dan meskipun ia
tidak sombong, ia sadar akan daya penariknya pada jenis kelamin yang lain. Tapi
cara orang ini memandangnya, membuat ia merasa seakan-akan ia seorang yang patut
ditertawakan, yang telah melanggar dan menghadapi lebih banyak daripada yang
diharapkannya. "Enak saja kau berbicara," kata Helen, jengkel karena suaranya bergetar.
"Andaikata kau tidak memanggil binatang itu, aku mungkin sudah dibunuhnya."
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya perlahan-lahan. "Sheba dilatih untuk
menangkap mangsanya, bukan membunuhnya!"
"Aku tidak tahu bahwa aku adalah mangsa!" balas Helen, sambil menyapu salju di
lengan bajunya. "Kau lari." "Oh, begitu. Akan kucoba untuk tidak lari lain kali."
Wajah laki-laki yang keras itu melunak sedikit. "Kami tidak menyangka akan
mendapat sesuatu yang berharga hari ini."
"Memang tidak!"
"Kau meremehkan dirimu sendiri. Apakah kau sedang mendaki gunung?"
Pipi Helen menjadi merah. "Mobilku mogok di situ." Ia menunjuk tak menentu ke
arah jalan. "Aku sedang berusaha mencari bantuan, ketika macan tutulmu...."
"Sheba" Sheba adalah seekor cheetah, bukan seekor macan tutul biasa, meskipun
aku rasa mereka termasuk keluarga yang sama. Cheetah kadang-kadang disebut macan
tutul pemburu." "Aku tidak perduli dia itu apa," kata Helen dengan gemetar. "Apakah kau dapat
mengantarku ke tempat telpon umum yang terdekat untuk minta jemputan?"
Laki-laki itu membelai-belai kepala macan itu. "Maaf, di sini tidak ada telpon
umum yang dapat dicapai dengan berjalan kaki."
"Kalau begitu, di rumah orang - yang mempunyai telepon!"
Orang itu mengangkat bahu. "Di sekitar sini rumah tinggal hanya sedikit."
"Apakah kau sengaja menghalang-halangi, atau apakah ini memang caramu kalau
memperlakukan orang yang tak dikenal?"
Laki-laki itu tenang saja mendengar kekurangajaran Helen. "Aku hanya menunjukkan
bahwa kau berada di suatu daerah yang terpencil. Tapi kau boleh tinggal di
rumahku sebagai tamuku, kalau mau."
Helen ragu-ragu. "Aku tidak tahu kau ini siapa."
"Aku pun tidak tahu kau siapa."
"Tidak, tapi...," Helen menggigit-gigit bibir bawahnya dengan cemas. "Kau sudah
menikah?" Mata orang itu menyempit. "Belum."
"Kau tinggal seorang diri" Selain daripada binatang ini?"
"Tidak." Laki-laki itu berpindah tempat. Seakan-akan kakinya sakit kalau berdiri
terlalu lama di satu tempat. "Aku punya seorang pembantu laki-laki. Hanya kami
berdua saja." Helen merenung. Oh, pikirnya, alangkah sialnya! Dihadapkan pada dua pilihan yang
bukan-bukan. Yang pertama, meneruskan perjalanannya dalam keadaan buruk begini,
dengan harapan pada suatu ketika sampai di sebuah padang rumput atau sebuah
peternakan. Ini pasti merupakan hal yang berbahaya. Yang kedua, mengikuti orang
laki-laki asing... ke rumahnya. Dan memberanikan diri tinggal dengan dua orang
laki-laki yang tidak dikenalnya. Sungguh sulit!
"Bagaimana keputusannya?" tanya laki-laki itu. Helen seperti melihat garis
ketegangan di sekitar mulutnya. Karena itu Helen terpaksa cepat-cepat mengambil


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keputusan. "Aku terima kebaikanmu," kata Helen ketus. "Apakah aku harus mengambil koperku?"
"Tidak usah. Bolt akan mengambilnya," jawab laki-laki itu. Ia mulai menuruni
bukit menuju ke jalan berpagar tanaman. "Mari. Sebentar lagi hari mulai gelap."
Helen menjilat bibirnya. "Apakah kita tidak berkenalan dahulu?"
Laki-laki itu menatap Helen dengan jengkel. "Aku rasa itu bisa menunggu, bukan"
Atau kau senang menjadi basah kuyup?"
Helen menghela nafas. Ia mengikuti orang itu turun ke bawah, sambil menjaga agar
jangan dekat-dekat dengan tubuh yang langsing itu dan ekor macan yang panjang.
Ia kembali ke jalan kecil tadi. Cuma itu satu-satunya jalan sekarang karena
derasnya tiupan salju di kedua sisinya. Macan tutul itu berjalan dengan gagah di
sebelah depan. Helen terpaksa berjalan di sisi orang laki-laki itu. Meskipun
pincang, laki-laki itu bergerak dengan lincah dan gemulai, sehingga Helen
bertanya di dalam hatinya apakah laki-laki itu dulu seorang atlit. Apakah karena
itu maka wajah orang itu rasanya dikenalnya" Atau apakah laki-laki itu
mengingatkan Helen akan orang lain - seseorang yang dikenalnya"
Sedikit di luar belokan ada jalan kecil. Ke sinilah mereka masuk. Sebuah tanda
yang sebagian tertutup salju, menunjukkan bahwa jalan itu bukan jalan untuk
umum. Helen menjadi gugup. Orang itu mungkin saja orang jahat. Ia bisa membawa
Helen ke mana saja. Mungkin juga ia berdusta waktu ia mengatakan bahwa di
sekitar sini tidak ada telepon atau peternakan.
Seolah-olah dapat membaca pikiran Helen, laki-laki itu berkata, "Kalau kau
hendak kembali, silakan. Aku tidak akan menyuruh Sheba mengejarmu, kalau itu
yang kautakutkan." Helen menggerakkan bahunya tanda memprotes. "Aku... untuk apa aku kembali?"
"Memang." Laki-laki itu mengerling dan Helen melihat bulu mata terpanjang yang
pernah dilihatnya pada seorang laki-laki. Tebal dan berwarna gelap, bulu itu
melindungi mata yang berwarna kuning kecoklat-coklatan yang aneh. Mirip mata
Sheba, macan tutulnya. Dan seperti kepunyaan Sheba, mata itu tak dapat
diramalkan. Jalan itu memutar ke atas. Mereka melalui pintu gerbang yang diberi rintangan.
Melintasi beberapa lapangan yang ada jalannya. Dan mendaki sebuah dinding batu
yang setengah tersembunyi di bawah salju. Akhirnya di sebelah depan nampak
sebidang tanah yang ditanami pohon-pohon yang kaku. Di belakangnya terdapat
sebuah rumah. Itulah rumah yang akan dituju mereka. Di musim panas, rumah itu
pasti tersembunyi di belakang pohon-pohon itu yang berdaun rindang. Bentuk rumah
itu tak teratur. Dinding batunya diselubungi salju. Nampak asap keluar dari
cerobong asap. Dan ada penerangan di beberapa jendela bawah. Di bawah jejak kaki
terlihat rumput. Ini menunjukkan bahwa sebagian dari halaman muka ditanami
rumput, sedangkan bagian yang di depan rumah merupakan tanah yang berbatu
kerikil. Laki-laki itu menjejak-jejak dan menasihatkan Helen untuk menjejak-jejak juga,
untuk melepaskan salju yang menempel pada sepatu boot mereka. Kemudian ia
mendorong pintu kayu yang berhiaskan paku-paku dan memberi tanda kepada Helen
untuk mendahuluinya masuk. Helen mengerling dengan cemas ke arah Sheba. Macan
tutul itu mengawasi Helen dengan tatapan mata yang tak berkedip. Tapi karena
binatang itu ingin tinggal di sisi tuannya, Helen berjalan dengan hati-hati
mendahului mereka ke kamar besar.
Hawa panas meliputi Helen dan baru saat itu ia sadar betapa dinginnya ia. Rasa
kesepian, pertemuannya yang menakutkan dengan si macan tutul, kemudian
konfrontasinya dengan tuannya, semua itu membawa persoalan yang membuatnya lupa
akan rasa dinginnya. Tetapi sekarang di dalam kamar berhiaskan panil yang hangat
itu, ia mulai menggigil dengan hebat dan giginya mulai menggelatuk.
Ketika mereka masuk, seorang laki-laki muncul dari sebuah pintu di belakang
kamar besar. Dalam keadaan menggigil dan gemetaran pun, mau tidak mau Helen
harus menatap pendatang baru itu. Orang itu mempunyai potongan seorang jago
gulat. Tingginya sama dengan laki-laki yang mengajak Helen ke sini. Badannya dua
kali lebih lebar. Bahunya padat dan kepalanya botak sama sekali. Orang itu
memandang Helen sepintas lalu saja, lalu mengalihkan pandang ke laki-laki yang
datang bersama Helen. "Tuan terlambat," katanya, sambil menurunkan lengan bajunya. "Saya sudah mulai
khawatir." Laki-laki yang datang bersama Helen mulai membuka kancing mantelnya, sambil
memperhatikan Helen yang sedang menggigil di hadapannya. "Seperti kaulihat, kita
kedatangan seorang tamu, Bolt," katanya, suaranya rendah dan menarik. "Mobil
Nona ini mogok agak jauh dari sini, di jalan yang tepinya berpagar tanaman.
Setelah kau menyediakan teh, pergilah ke situ dan tolong ambilkan kopernya."
Muka Bolt waktu ia mendengarkan tuannya, mirip muka Sheba, pikir Helen. Mereka
berbuat seakan-akan keselamatan dan kesehatan tuannya adalah hal yang terpenting
di dunia. "Baik, Tuan." Bolt tersenyum. "Nona ini bermalam di sini, bukan" Akan saya
siapkan sebuah kamar."
"Terima kasih, Bolt." Laki-laki itu melempar mantel kulitnya. Nampak kemeja
sutra hitam dan baju rompi. Pembantunya mengambil mantelnya, lalu majikannya
berkata kepada Helen: "Sebaiknya kauberikan mantelmu kepada Bolt juga. Ia tahu
bagaimana harus memperlakukan baju basah tanpa merusakkannya."
Helen begitu menggigil sehingga ia tidak dapat membuka kancing mantelnya. Ia
heran melihat laki-laki itu terpincang-pincang maju. Laki-laki itu menyampingkan
tangan Helen yang dingin, membuka kancing, lalu mengangkat tangan Helen dan
membuka mantel itu. Bolt mengambil mantel itu waktu jatuh.
Helen lebih menggigil lagi. Ia jengkel karena orang itu mengatur sendiri tanpa
meminta izin lebih dahulu. Ia tidak mengenal orang itu, yang berwajah keras dan
berlidah tajam. Dan ia tidak mau mengenalnya. Sesuatu pada orang itu membuatnya
bingung. Bahkan membuatnya takut. Kepincangan orang itu, kata Helen pada dirinya
sendiri. Cara pangkal pahanya berputar kalau bergerak. Dan keangkuhan orang itu.
Meskipun demikian, sentuhan sekejap saja ketika jari-jari orang itu memindahkan
tangan Helen telah merangsang Helen, seakan-akan sentuhan itu berapi. Helen
langsung tertarik, tapi ia tidak mau mengaku.
Bolt membuka pintu kamar sebelah kanan. Helen berjalan dengan terhenti-henti ke
dalam kamar itu. Ia memeluk dirinya kuat-kuat dan berusaha menghentikan
gigilannya. Sekarang ia berada dalam sebuah kamar duduk besar. Kamar itu
diterangi dua buah lampu duduk dan nyala api dalam perapian besar. Potongan kayu
bertumpuk dalam perapian dan ruangan wangi cemara. Lantainya sebagian ditutup
permadani. Selain daripada beberapa kursi makan dan sebuah meja tulis, ada pula
sebuah lemari pendek yang beralas kain tenunan. Lemari itu berwarna coklat tua
dan terdiri dari tiga bagian. Kelihatannya tidak baru lagi, tapi masih dapat
dimanfaatkan. Di bagian yang dekat perapian, beberapa rak penuh dengan buku,
paper-backs dan majalah. Di bagian yang jauh dari perapian, di samping kursi
tangan, terdapat sebuah nampan. Di atas nampan itu ada satu botol Scotch, sebuah
karap berisi minuman menyerupai brandy dan dua buah gelas.
Pintu ditutup ketika Helen masih berpikir-pikir tentang DUA buah gelas itu.
Helen mundur ketakutan waktu macan tutul itu menyenggolnya. Macan itu kemudian
berbaring di depan perapian. Helen mengerling ketakutan, khawatir kalau-kalau ia
hanya ditemani binatang itu. Tapi kemudian ia melihat laki-laki itu berjalan
terpincang-pincang ke arahnya. Pembantunya Bolt rupanya sudah pergi mengurus
pekerjaannya sendiri. "Silakan duduk," kata laki-laki itu, sambil menunjuk ke dipan di depan perapian.
Setelah ragu-ragu sebentar, Helen duduk dengan tak enak di pinggir sebuah kursi
tangan. Laki-laki itu menatap Helen dengan jengkel. Lalu duduk di kursi tangan yang
berhadapan, sambil mengunjurkan kakinya yang panjang. Nyata sekali ia merasa
lega. Kemudian ia menengok ke samping dan membuka perop karap ("). "Kau perlu
sedikit brandy," katanya kepada Helen. "Kau rupanya perlu bantuan."
Waktu memberi minuman kepada Helen, laki-laki itu tidak berdiri, melainkan
membungkuk sambil mengulurkan tangannya melewati perapian. Helen terpaksa
menerima minuman itu. Sebetulnya brandy bukan minuman kesukaan Helen, tapi ia
tahu panas brandy dapat menghilangkan rasa dingin di dalam badannya. Helen
menghirup brandy itu perlahan-lahan, dan lama-kelamaan ia berhenti bergemetar.
Laki-laki itu tidak minum apa-apa. Sambil memicingkan matanya, ia mengawasi
Helen dengan seksama. Helen menghirup lagi brandynya. Tapi sebelum habis, Bolt
sudah datang membawa sebuah nampan. Di atas nampan itu terdapat sebuah teko teh
dan perlengkapannya. Bolt mengusir si macan tutul, lalu menaruh sebuah meja di
depan perapian. Ia meletakkan nampan itu di tempat yang mudah dicapai oleh
majikannya. Kemudian ia berdiri tegak dan berkata: "Sekarang saya hendak
mengambil koper itu, Tuan. Boleh saya meminta kuncinya, Nona?"
"Oh, ya, tentu." Helen mencari-cari di dalam tas tangannya. Ia mengeluarkan
penggantung kunci berupa cincin kulit dan menyerahkannya kepada Bolt. "Aku
sangat berterima kasih, Bolt. Mobil itu kira-kira satu setengah kilometer dari
sini." Bolt mengangguk. "Saya akan mencarinya sampai dapat, Nona."
Helen bergeser dan duduk lebih ke belakang lagi di kursinya. Brandy itu telah
bekerja. Helen merasa tidak begitu dingin lagi sekarang. Pada waktu yang sama
besok ia mungkin sudah sampai di Bowness. Rangkaian kejadian ini hanya tinggal
kenangan belaka. Sesuatu yang lucu untuk diceritakan kepada kawan-kawannya di
London. Bolt keluar dan pintu pun ditutup. Laki-laki itu duduk tegak dan
memeriksa isi nampan. Selain daripada teko teh dan perlengkapannya, ada pula
sepiring roti dan pastel buah yang enak kelihatannya.
"Susu, gula atau jeruk sitrun?" tanya laki-laki itu. Tatapan matanya yang kuning
kecoklat-coklatan mengganggu dan membingungkan. Tapi kepercayaan Helen pada
dirinya sendiri telah pulih.
"Susu, tanpa gula. Terima kasih," jawab Helen. "Bukankah sudah waktunya kita
saling memberitahu nama kita?"
Laki-laki itu menuang teh, menambah susu dan memberikan cangkir itu kepada
Helen. "Kalau kau menganggap itu penting," katanya.
"Apa" Jadi kau akan mengajak orang yang tidak kaukenal tinggal bersama-sama di
rumahmu tanpa mengambil pusing siapa nama orang itu?"
"Aku menganggap macam orang itu lebih penting daripada namanya. Misalnya, aku
tidak perlu tahu namamu untuk mengetahui bahwa kau adalah seorang perempuan yang
keras kepala, yang tidak selalu mengikuti nasihat orang tua."
Muka Helen menjadi merah. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena umumnya tidak ada seorang wanita yang mengemudikan mobilnya seorang diri
dalam keadaan cuaca buruk begini. Tapi kau, selain daripada mengemudikan mobil
seorang diri, juga membawa koper. Mungkin kau hendak menemui seseorang dan
hendak bermalam di suatu tempat. Sekarang kau tertangguh semalam, tapi kau
rupanya tidak perduli."
Helen menghirup tehnya. "Banyak orang perempuan yang bepergian seorang diri,"
katanya. "Dalam keadaan seperti ini" Tidak biasa."
"Aku mungkin saja seorang wakil suatu perusahaan."
"Yang tersesat?"
"Betul." "Barangkali. Tapi tidak mungkin."
"Mengapa tidak?"
"Kau bukan seorang gadis yang biasa bekerja."
"Oya" Mengapa bukan?"
"Cara kau berbicara dengan Bolt. Seakan-akan kau biasa dilayani orang."
Helen menghela nafas. Dalam setiap perdebatan dengan orang itu ia selalu kalah.
Bagaimanapun juga, orang itu telah bersedia menerimanya sebagai tamu. Seharusnya
sikapnya lebih ramah tadi waktu ia menerima kebaikan orang itu. Biasanya ia
tidak pernah begitu ketus. Tapi sesuatu pada orang itu mendorongnya menonjolkan
tabiatnya yang paling buruk.
"Baiklah," kata Helen. "Jadi aku ini bukan seorang gadis yang biasa bekerja.
Memang benar. Namaku Helen James. Ayahku Philip James."
"Apakah nama itu harus kukenal?" tanya laki-laki itu agak menghina. Helen
melihat bahwa laki-laki itu tidak minum teh, tapi mengambil sepotong roti
setelah Helen menampik. "Maaf, aku tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar."
Laki-laki itu tersenyum dan untuk sekejap ia kelihatan jauh lebih muda. Mukanya,
pikir Helen. Muka orang itu serasa dikenalnya. Helen yakin ia pernah melihat
muka itu. Tapi di mana" Dan bilamana" Dan dalam hubungan apa"
Sementara otak Helen bekerja untuk memecahkan teka-teki itu, ia berusaha
menjawab pertanyaan orang itu. Katanya: "Ayahku Sir Philip James. Perusahaannya
memenangkan hadiah industri tahun yang lalu. Thorpe Engineering."
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Aku percaya saja."
"Dan kau" Kau belum menyebutkan namamu."
"Ceritakan dulu apa yang kaulakukan di sini - begitu jauh dari rumahmu."
Helen menggigit bibirnya. "Aku mempunyai persoalan. Aku membutuhkan waktu untuk
berpikir. Tapi jangan takut, ayahku pasti tidak akan mencariku di sini."
Laki-laki itu mengerutkan kening. "Maksudmu, kau melarikan diri?"
"Sebetulnya tidak. Aku meninggalkan sepucuk surat untuk ayahku. Ia tidak perlu
khawatir." "Tapi ayahmu pasti khawatir."
"Barangkali. Tapi tak perlu kaurisaukan. Aku sungguh berterima kasih atas
pertolonganmu. Andaikata kau tidak menolongku, aku bisa celaka."
"Memang. Kau bisa mati di situ... di salju. Sungguh bodoh tidak memberitahu
seorang pun ke mana kau pergi. Apakah kau tidak tahu mobilmu dapat terkubur
berhari-hari lamanya sebelum diketemukan orang" Atau sebelum mereka berhasil
menemukanmu" Katakanlah, persoalan penting apakah yang menyebabkan kau
meninggalkan rumahmu?"
"Aku rasa itu bukan urusanmu."
"Sekalipun demikian, aku ingin tahu. Puaskanlah perasaan ingin tahuku. Aku kan
tidak hidup di duniamu lagi."
Perkataan orang itu aneh benar! Meskipun daerah ini terpencil dalam musim
dingin, hubungan dengan dunia luar tidak terputus sama sekali. Kecuali kalau
orang itu sendiri yang memutuskannya...
"Ayahku hendak mengatur hidupku," kata Helen. "Tapi aku sudah berusia dua puluh
dua tahun... dan mungkin terlalu bebas, sesuai dengan anggapanmu. Kami
bertentangan faham tentang sesuatu hal kecil."
"Aku kira tak mungkin tentang sesuatu hal kecil. Apakah persoalan kecil dapat
menyebabkan kau pergi ke suatu tempat di tengah-tengah salju yang jauhnya lebih
dari tiga ratus kilometer, Nona James" Tapi biarlah. Aku akan memenuhi
keinginanmu dan tidak akan mencampuri urusanmu."
Ah, brengsek benar orang ini, pikir Helen. Kemudian, sambil memiringkan badannya
ke depan untuk meletakkan cangkir kosong di atas nampan, Helen berkata, "Dan
kau" Apakah kau tidak kesepian di sini, begitu terpencil, dengan hanya ditemani
Bolt saja?" "Aku hanya orang biasa yang tidak menarik, Nona James. Mari, kutambah lagi
tehmu." Helen menolak. "Mengapa kau mengelak setiap kali aku bertanya?"
"Apakah aku berbuat begitu?"
"Memang, kau sendiri pun tahu. Rasanya aku pernah melihatmu. Tapi entah di mana.
Mungkin di film!" "Kau pandai mengambil hati. Bukankah itu hak istimewa kaum laki-laki?"
Helen merasa jengkel karena laki-laki itu dapat membuatnya bingung. Ini
merupakan pengalaman baru baginya. "Kau tahu apa yang kumaksudkan. Aku sudah
pernah melihat wajahmu, bukan?"
Laki-laki itu rupanya bosan dengan dugaan Helen. Tiba-tiba ia berdiri. Ia
berhenti sebentar untuk menggosok-gosok pahanya seakan-akan pahanya itu sakit.
Kemudian dengan terpincang-pincang ia pergi ke jendela yang berukuran panjang.
Lalu menutup kaca jendela yang penuh salju itu dengan tirai beledu berat
berwarna ungu. Dalam detik-detik sebelum dunia luar tertutup dari pandangan
matanya, Helen melihat bahwa hari sudah gelap dan salju turun dengan deras. Ia
merasa sangat terpencil. Seharusnya ia meminta bantuan untuk menghidupkan
mobilnya tadi. Dan bukan menerima kebaikan orang itu untuk tinggal di rumahnya,
siapa pun dia, pikir Helen dengan gelisah. Dengan bantuan orang itu ia pasti
dapat mengemudikan mobilnya ke sebuah hotel kecil atau rumah penginapan. Tetapi
segera pula dihilangkannya pikiran itu. Ia tidak boleh membayang-bayangkan hal
yang bukan-bukan, yaitu bahwa ada maksud jahat di balik pertolongan yang
diberikan kepadanya. Ia seharusnya berterima kasih. Orang itu telah menolong
jiwanya! Laki-laki itu membalik. "Bolt sebentar lagi kembali, Nona James. Ia akan
mengantarmu ke kamar tidur nanti. Aku makan malam jam delapan. Kau tentu mau
menemaniku, bukan?" Helen bergeser. Kecemasannya berubah menjadi kejengkelan. Orang itu jelas tidak
bersedia menjawab pertanyaannya. Gerakan Helen yang tiba-tiba itu menyebabkan si
macan tutul mengangkat kepalanya dan menatap Helen. Mata macan itu anehnya
serupa dengan mata tuannya. Cerita tentang nenek sihir dan tukang tenung dan
keluarga mereka tiba-tiba terlintas dalam otak Helen. Siapakah laki-laki ini
yang tinggal di tempat yang begini terpencil" Yang berjalan terpincang-pincang"
Yang memelihara seekor binatang buas sebagai temannya" Helen mempunyai perasaan
yang bukan-bukan bahwa ia mati beku dan tergeletak di salju. Inilah mimpi-mimpi


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

buruk yang menakjubkan mendahului kematian....
Helen terkejut. Pikiran itu sangat menakutkan. Si macan tutul mengaum perlahan.
Laki-laki itu menghampiri mereka. Sementara ia menenangkan binatang itu, matanya
menatap wajah Helen yang mencerminkan ketakutan.
"Ada apa, Nona James?"
Helen menggelengkan kepalanya. Helen meneliti seluruh kamar. Kamar itu sangat
menarik. Dan sama sekali bukan tempat yang bisa menimbulkan rasa gelisah. Kamar
itu bersifat jantan dan sederhana, tanpa adanya sesuatu yang tidak berguna. Di
dinding yang berhiaskan panil tergantung medali untuk olah raga berburu, pedang
dalam sarungnya, senapan antik dan beberapa potong pajangan. Setahu Helen
pajangan itu semua berharga. Kamar itu memberi kesan tenang dan agung. Meskipun
beberapa perkakas rumah tangga di situ kelihatannya sudah lama dipakai, hal itu
tidak mengurangi suasana rapi dan menyenangkan kamar itu. Siapa pun dia, ia
bukan orang miskin. Tetapi mengapa ia memilih hidup terpencil, Helen tidak dapat
memahaminya. Apakah ia seorang pelukis" Seorang pemahat" Seorang artis" Siapa
lagi yang senang hidup menyendiri"
Kemudian sebuah potret yang tergantung di dinding di belakang meja tulis menarik
perhatian Helen. Dari tempat duduknya, Helen tidak dapat melihat potret itu
sampai hal yang sekecil-kecilnya. Namun jelas terlihat bahwa potret itu adalah
sebuah potret mobil yang meledak dalam suatu kecelakaan. Potret itu menunjukkan
manusia dan mobil yang terbakar dengan hebat, sehingga jalan menjadi rusak dan
pecahan logam beterbangan di udara yang penuh debu. Potret itu tidak berwarna,
tapi jelas menunjukkan betapa hebatnya kecelakaan itu.
Helen merasa ngeri. Ia mengalihkan pandang ke laki-laki yang berdiri di sebelah
dipan. Orang itu tiba-tiba bersikap menjauhkan diri karena tahu Helen telah
mengenalinya. Orang itu adalah salah seorang pengemudi mobil yang mengalami
kecelakaan itu. Kecelakaan yang mengakibatkan terbakarnya mobil itu bukanlah
kecelakaan biasa. Kecelakaan itu terjadi enam tahun yang lalu di Nurburgring di
negeri Jerman.... "Aku tahu kau siapa," kata Helen dengan kagum. Helen berdiri. "Kau adalah
Dominic Lyall, pengemudi mobil balap!"
Laki-laki itu bersandar pada belakang dipan, tangannya bertumpu pada bantal
tenunan. "Memang. Aku Dominic Lyall," katanya. "Tapi aku bukan pengemudi mobil
balap lagi." "Tapi dulu kau pengemudi mobil balap. Aku masih ingat waktu ayahku
membicarakanmu. Ayahku amat mengagumimu sebelum... sebelum..."
"Sebelum kecelakaan itu?"
"Tapi ayahku menyangka...," Helen berhenti berbicara. Ia nampak bingung. "Kata
orang kau menghilang. Ayahku mengatakan... banyak yang mengatakan..." Helen
menggerakkan bahunya dengan gelisah dan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Orang mengira aku mati?" Laki-laki itu bersikap ironis. "Aku tahu mengenai
desas-desus itu. Aku luka parah, aku setuju kalau disangka mati. Sebagai seorang
pembalap kesayangan yang sudah jatuh, akan sangat memalukan kalau aku masih
mencoba menarik perhatian orang banyak."
"Bukan begitu," kata Helen. "Kecelakaan itu amat hebat. Tak ada seorang pun yang
perlu disalahkan. Surat kabar..."
"Apakah aku mengatakan aku menyalahkan diriku sendiri?" laki-laki itu menyelang.
"Tidak. Tidak. Tetapi..." Helen menggigit bibir bawahnya. "Ayahku adalah seorang
penggemarmu. Ia masih menyimpan beberapa potretmu di kamar kerjanya. Dan masih
ada beribu-ribu penggemar lagi seperti dia. Apakah menurut pendapatmu adil,
membiarkan mereka menyangka kau sudah mati?"
Dominic Lyall meluruskan badannya. Sebelah tangannya memijat-mijat pangkal
pahanya. "Apakah aku tidak berhak untuk hidup menyendiri, semata-mata karena
untuk beberapa waktu lamanya aku hidup di bawah sorotan mata orang banyak, Nona
James?" Helen tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. "Aku tidak berani
mengutarakan pendapat, Tuan Lyall. Tapi alangkah sayangnya kalau bakat yang
kaumiliki itu tidak diteruskan kepada pengemudi lain yang penuh cita-cita."
"Sudah waktunya aku mengundurkan diri. Tapi kau tidak akan mengerti, Nona
James." "Kau meremehkan aku, Tuan Lyall."
"Barangkali, dalam soal itu. Tapi..." Dominic menarik napas panjang. "Tapi,
sungguh tidak menguntungkan ingatanmu begitu baik. Aku kira seorang anak berumur
enam belas tahun akan lebih tertarik pada musik pop dan penyanyi kesayangannya."
"Telah kukatakan tadi - ayahku senang menonton balap mobil. Kadang-kadang aku
ikut." "Oh ya, ayahmu." Mata Dominic menyempit, sementara ia merenung. "Penyimpangan
yang aneh." "Apa yang kaumaksudkan dengan itu?"
"Aku kira itu sudah jelas, Nona James."
"Apa yang sudah jelas?"
Dominic Lyall menatap Helen. "Kau mengenali aku, Nona James. Sungguh sial. Ini
berarti bahwa kau tidak boleh meninggalkan rumah ini besok pagi."
BAB DUA SELAMA beberapa menit di dalam kamar sunyi-senyap. Apakah ia salah dengar" pikir
Helen. Tapi kalau melihat muka Dominic dan matanya yang keras, jelas Helen tidak
salah dengar. "Kau tidak mungkin sungguh-sungguh!" kata Helen.
"Aku serius, Nona James."
"Tapi mengapa" Mengapa?"
"Itu kan sudah jelas. Berita bahwa aku tinggal di sini tentu akan
menggemparkan." Helen berusaha menguasai rasa panik yang timbul di dalam dirinya. "Tapi aku
tidak akan menceritakan kepada siapa pun," katanya. Helen mengulang kata-kata
yang sering didengarnya di film atau di televisi, kalau si pemegang peran utama
menghadapi seorang pelarian dari polisi. Hanya, Dominic Lyall bukanlah seorang
pelarian dari polisi, tapi seorang pelarian dari dunia!
"Maaf, aku tidak berani mengambil resiko. Kau tidak akan dapat menahan
keinginanmu untuk menceritakan kepada ayahmu bahwa orang yang disangkanya mati
ternyata masih hidup, dan tinggal di Lake District."
"Dapat. Sungguh! Bagaimanapun, kau tidak dapat menahanku di sini! Itu melanggar
hukum." "Oya?" "Ini betul gila! Ayahku akan mencariku!"
"Tadi kaukatakan bahwa ayahmu tidak akan mencarimu di sini."
"Memang pada permulaan tidak. Tapi kalau di tempat lainnya aku tidak
diketemukan..." "Menjelang waktu itu kau pasti sudah bebas dan boleh kembali ke ayahmu."
Helen gemetar. "Apa yang kaumaksudkan?"
"Aku hendak mengurus keberangkatanku keluar negeri. Selama aku masih ada di
negeri ini, kau pun harus tetap tinggal di sini."
"Tapi itu bisa makan waktu berbulan-bulan!"
"Berminggu-minggu," kata Dominic Lyall.
Pintu di belakang Helen tiba-tiba terbuka. Helen terkejut. Bolt, si pembantu
laki-laki, berdiri di ambang pintu. Bahunya masih penuh salju.
"Eh, Bolt, kau sudah kembali." Dominic Lyall menyambut Bolt dengan hangat.
"Mobil itu sudah kauketemukan?"
"Sudah, Tuan," kata Bolt. "Koper Nona itu ada di kamar besar. Izinkan saya
membersihkan mantel saya sebentar. Sesudah itu saya akan mengantar Nona itu ke
kamarnya." "Baiklah, Bolt. Oya, nama tamu kita Nona James, Nona Helen James. Ia akan
tinggal agak lama di sini."
Helen tidak tahu pesan apa yang diberikan Dominic Lyall kepada pembantunya. Bolt
hanya mengerutkan keningnya sedikit. "Baik, Tuan," kata Bolt, sambil memutar-
mutar kunci Helen. "Berikan itu kepadaku," kata Dominic Lyall, lalu menangkap kunci yang dilempar
Bolt ke arahnya. "Nanti kujelaskan."
"Baik, Tuan." Rupanya Bolt merasa puas. Sial benar, pikir Helen, sambil mengawasi kedua orang
laki-laki itu. Helen ingin sekali menangis. Mana bisa kejadian ini menimpa
dirinya. Mana bisa. Jadi Dominic Lyall sungguh-sungguh bermaksud menahannya di
sini sampai Dominic berangkat ke luar negeri"
"Aku tidak mau melihat kamarku!" kata Helen. "Kau tidak dapat menawanku di sini,
tidak dapat!" "Dan bagaimana kau akan melarangku?" tanya Dominic, suaranya pelan mengancam.
"Aku akan lari."
"Lagi-lagi lari?"
"Aku akan pergi ke peternakan yang terdekat atau ke desa. Aku akan menelpon
minta tolong!" "Tidak ada telpon di sini, Nona James."
"Yang kumaksudkan di desa."
"Apakah kau tahu jalan ke desa?"
"Tidak akan terlalu sukar untuk mencarinya."
"Dalam keadaan begini?"
Helen tersedu. "Kau gila! Gila! Aku tidak mau tinggal di sini. Aku mau ke
Bowness. Biarkanlah aku pergi! Aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun
bahwa aku telah bertemu denganmu. Aku berjanji."
"Maaf, itu tidak mungkin, Nona James. Oya, Bolt, kita harus memindahkan mobil
itu besok. Sebelum salju mencair."
Bolt mengangguk. "Akan saya usahakan besok pagi."
Helen merasa putus asa. Rupanya tidak ada jalan keluar dari keadaan ganjil ini.
Ia telah menghukum dirinya sendiri dengan ucapan yang keluar dari mulutnya
sendiri. Andaikata ia tidak menceritakan kepada orang itu bahwa ia telah
melarikan diri dari ayahnya... andaikata ia tidak mengenali orang itu...
andaikata, andaikata, andaikata....
"Kau tidak dapat mencegahku kalau aku hendak melarikan diri," kata Helen dengan
gemetar. "Aku tidak menganjurkan," kata Dominic, sambil menggerakkan otot-otot
belakangnya. Wajah Dominic Lyall nampak lesu sekarang. Rupanya Dominic tidak tahan berdiri
terlalu lama. Seharusnya Helen merasa gembira bahwa Dominic Lyall tidak sekebal
kesan yang diberikannya. Tapi Helen malah merasa kasihan. Helen ingin tahu
alasan apa yang menyebabkan Dominic Lyall mendepak dunia yang dulu dikenalnya
dan memilih hidup menyendiri sebagai pertapa.
Bolt juga melihat majikannya yang kurang sehat. Karena telah bertahun-tahun
bekerja dan hubungannya dengan majikannya dekat, Bolt menegur dengan khawatir:
"Sudah hampir waktu untuk berobat, Tuan. Silakan Tuan ke kamar bawah dahulu.
Sesudah mengantar Nona James ke kamarnya, saya akan segera ke situ."
"Kau lihat sendiri bagaimana keadaanku," kata Dominic Lyall mengolok-olok
dirinya sendiri. "Aku ini ibarat sebuah mesin tua yang perlu diberi oli terus-
menerus, bukankah begitu, Bolt?"
"Kau belum tua!" kata Helen.
"Sedikit-dikitnya enam belas tahun lebih tua daripadamu, sama dengan usiamu
waktu kau untuk pertama kali mendengar namaku. Ma... maafkan... aku...." Dominic
tiba-tiba merasa sakit. Dominic meninggalkan kamar dengan terpincang-pincang sekali. Pangkal pahanya
berputar dengan anehnya. Bolt mengawasi majikannya pergi. Wajahnya begitu penuh
cinta dan kesetiaan, sehingga Helen merasa seakan-akan ia orang luar yang ingin
mencampuri urusan mereka. Si macan tutul pun diam-diam mengikuti tuannya.
Kemudian Bolt kembali memperhatikan Helen.
"Sebentar, Nona," katanya. Ia membuka mantelnya yang berlapis kulit berbulu.
"Mari ikut saya."
Helen ingin memprotes. Ia harus memprotes. Ia harus mengatakan lagi bahwa ini
gila. Bahwa mereka tidak dapat menahannya di sini di luar kemauannya. Bahwa ia
akan menemukan jalan untuk melarikan diri, apa pun yang mereka katakan
kepadanya. Tapi ia tidak berbuat apa-apa. Ia hanya mengawasi Bolt mengangkat
kopernya. Kemudian ia mengikuti Bolt menaiki tangga kayu, kakinya tenggelam
dalam tumpukan permadani coklat dan kuning emas.
Sebagaimana halnya dengan kamar besar, tangga itu pun berhiaskan panil. Di
tengah-tengah tangga sebuah jendela bundar memperlihatkan belakang rumah. Sukar
untuk membedakan apa pun melalui salju yang jatuh dengan derasnya. Tapi kilau
salju membantu menerangi pemandangan dengan penerangan buatan.
Di atas, tangga membelok ke kiri dan ke kanan. Dari ujung tangga Helen dapat
melihat kamar besar di bawah. Diam-diam Helen mengagumi sebuah lampu gantung
yang terdapat di kamar itu. Bolt mendahului Helen berjalan ke sebelah kanan.
Mereka melalui beberapa pintu, kemudian berhenti di depan sebuah kamar. Bolt
membuka pintu, menyalakan lampu dan menyilakan Helen mendahuluinya masuk ke
dalam. Di lantai kamar terdapat sebuah permadani berwarna hijau muda. Warna hijau yang
sama terdapat juga pada seprei dan tirai sutra panjang yang menutupi jendela.
Perkakas rumah tangga, tempat tidur, meja toilet bercermin tiga, lemari pakaian,
semua terbuat dari kayu mahoni yang berwarna tua. Semua berukuran tinggi, tapi
cocok untuk kamar yang berlangit-langit tinggi ini. Sebuah radiator dipasang di
bawah jendela dan di dalam kamar terasa enak hangat.
Bolt meletakkan koper Helen dan menunjuk ke sebuah pintu di ujung kamar. "Itu
kamar mandi, Nona," katanya, sambil melihat ke sekelilingnya untuk memeriksa
apakah semua sudah beres. "Saya telah meletakkan botol air panas di tempat
tidur. Botol-botol itu bisa diisi kembali kalau perlu."
Helen menggigit bibirnya. "Terima kasih, Bolt," katanya. Ia sendiri heran
mengapa ia bisa menerima semua itu dengan tenang. "Oya, Bolt..."
"Ada apa, Nona?"
"Apakah kau bermaksud mengunciku dari luar?"
Bolt tersenyum, lalu menutup pintu. Pada saat itu Helen melihat bahwa kunci
pintu terdapat di sebelah dalam.
Setelah Bolt pergi, Helen menuju ke jendela. Ia membuka tirai sedikit dan
mengintip. Kamarnya ternyata ada di sebelah belakang rumah. Selain daripada
beberapa pohon yang tertutup salju, tidak banyak yang dapat dilihatnya. Ia
membalik dan memeriksa kamarnya.
Tak ada kamar hotel yang bisa lebih mewah daripada kamar ini, pikir Helen agak
histeris. Dan tak ada pemilik hotel yang lebih memperhatikan tamunya daripada
Bolt. Sungguh menggelikan! Makin lama dipikir, makin hebat kelihatannya.
Tangannya yang lembab digosok-gosokkannya pada sambungan sisi celana panjangnya.
Berapa lama ia harus tinggal di sini" Berapa lama waktu yang diperlukan Dominic
Lyall untuk mengurus keberangkatannya keluar negeri"
Helen mondar-mandir dengan cemas, dan mencoba menaklukkan rasa panik yang timbul
lagi karena sekarang ia berada seorang diri. Apakah Dominic Lyall sungguh-
sungguh akan melaksanakan yang dikatakannya itu" Atau apakah itu tipu muslihat
untuk menakut-nakuti Helen belaka" Helen menyangsikan yang terakhir ini. Akan
tetapi Dominic Lyall adalah seorang yang beradab dan berpendidikan! Bagaimana
Dominic bisa bersikap begitu tenang waktu memutuskan untuk menahan Helen di
sini, di luar kemauan Helen, sampai waktu tertentu sesuai dengan rencananya"
Kehidupan bagaimanakah yang dijalani Dominic beberapa tahun terakhir ini,
sampai-sampai ia tidak mengindahkan suara hatinya"
Helen melihat ke arlojinya. Sudah pukul enam lebih. Dominic Lyall tadi
mengatakan bahwa ia makan malam pukul delapan. Tapi Helen sangsi apakah ia
mempunyai selera untuk makan. Dan di manakah Dominic Lyall" Pengobatan apakah
yang diberikan Bolt"
Helen berdiri di muka cermin dan memeriksa rupanya yang kusut dengan jengkel.
Celana panjangnya kisut di bagian bawah yang tadi digulungnya ke atas. Rambutnya
kusut tertiup angin. Dan pipinya penuh goresan, yang diperolehnya waktu ia
menerobos pagar tanaman. Ia menyentuh seuntai rambut hitam halus dengan
tangannya yang gemetar. Apa yang harus dilakukannya"
Ia memeriksa kamar mandi. Ternyata tak ada jalan masuk lain ke situ kecuali
melalui kamar tidur. Ia mengunci pintu kamar tidurnya dan memutuskan untuk
mandi. Bak mandinya besar. Terbuat dari porselen putih, berkaki besi hitam. Air
panas disalurkan dari tangki air yang mengeluarkan suara berceguk-ceguk. Di rak
kaca, di atas meja cuci muka, terdapat beberapa botol serbuk wangi. Helen
menaburkan serbuk itu banyak-banyak sebelum ia masuk ke dalam bak. Sungguh
menakjubkan. Air yang berbau harum itu membuatnya rileks.
Selesai mandi, air di dalam bak mandi itu dikeluarkannya. Ia membungkus badannya
dengan sebuah handuk putih besar. Lalu pergi ke kamar tidur untuk mengambil
pakaian dalam bersih dari kopernya.
Tapi kopernya terkunci. Tentu saja tak dapat dibukanya, sebab semua kunci ada
pada cincin penggantung kunci yang sekarang disimpan Dominic Lyall. Sungguh
sial, gerutu Helen. Helen berdiri di tengah-tengah kamar, ragu-ragu apa yang akan dilakukannya. Ia
ingin sekali pergi ke ujung tangga dan memanggil Bolt. Tapi tentu saja itu tidak
dapat dilakukannya. Dengan segan dipakainya lagi baju yang baru dibukanya. Dan
ia harus merasa puas dengan hanya menyisir rambutnya dan memakai make-up
sedikit. Untung sisir dan kosmetiknya ada di dalam tas tangannya. Sedikit-


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dikitnya rambutnya tidak kusut lagi sekarang. Sweater putih yang dipakai dengan
cutbrainya pun cukup perlente. Belum tentu Dominic Lyall akan memperhatikannya.
Tapi ia harus mendapatkan kuncinya kembali sebelum tidur, pikir Helen. Ia tidak
mau tidur tanpa pakaian tidurnya.
Waktu memikirkan tidur, ia menjadi gelisah. Tapi ia tidak perlu takut, pikir
Helen. Tidak mungkin ada orang yang mengganggunya pada malam hari. Pintunya
terkunci rapat. Dan cukup kuat untuk menghalang-halangi pengganggu yang paling
nekat. Lagipula, Bolt tidak mempunyai tampang muka orang iseng, dan Dominic
Lyall... Helen menjilat bibirnya yang tiba-tiba menjadi kering. Ia tidak mau memikirkan
Dominic Lyall. Tapi tidak mungkin tidak memikirkannya. Helen tidak mau mengingat
rangsangan hebat yang ditimbulkan sentuhan Dominic Lyall. Ataupun daya tarik
menakutkan yang ada pada Dominic Lyall. Itu perasaan jijik, kata Helen pada
dirinya sendiri. Ia membenci dan memandang rendah Dominic Lyall. Ia tidak
mungkin tertarik pada seorang laki-laki seperti Dominic Lyall. Seorang pincang.
Seorang yang hanya mementingkan diri sendiri saja.
Meskipun demikian, Helen mengingat setiap hal kecil pada diri Dominic Lyall.
Warna rambutnya yang aneh. Matanya yang berwarna kuning kecoklat-coklatan.
Kulitnya yang gelap. Badannya yang langsing. Otot-otot pahanya yang menonjol
melalui bahan celana hitamnya yang ketat. Sepatu boot-nya yang setinggi lutut.
Dan penderitaannya waktu ia sedang kesakitan. Helen menahan napasnya. Apakah ia
menaruh kasihan kepada Dominic Lyall" Tidak mungkin! Tapi perasaan kasihan itu
tak dapat dihilangkannya.
Sambil menggelengkan kepalanya sehingga seuntai rambut hitam terayun ke bawah
dagunya, Helen memutar kunci kamar tidurnya, lalu membuka pintu. Nampak ujung
tangga di depannya, sepi dan hanya diterangi lampu kecil. Ia mematikan lampu
kamar tidurnya dan berjalan menuju ke tangga.
Setibanya di bawah, di kamar besar, ia melihat ke sekelilingnya dengan bingung.
Pintu mana menuju ke kamar duduk" Ia tidak ingat lagi. Ia mendekati kamar yang
disangkanya kamar duduk dan membuka pintunya. Ternyata tempat menaruh mantel dan
topi. Dengan cepat ditutupnya pintu itu kembali. Ia membuka pintu lain.
Beginilah juga rupanya pengalaman si Alice dalam lubang kelinci, pikir Helen.
(dalam buku "Alice in Wonderland") Kamar ini ternyata sebuah kamar makan kecil.
Ada sebuah meja bundar yang beralaskan taplak meja polos. Apakah ia harus datang
ke sini untuk makan malam"
Helen menghela nafas. Waktu mendengar suara di belakangnya, ia membalik. Sebuah
pintu di seberang kamar besar terbuka. Dominic Lyall berdiri di lubang pintu,
dengan Sheba si macan tutul di dekatnya.
"Mari, temani aku," kata Dominic Lyall. Suaranya dalam dan menarik. Suara yang
dikenal Helen begitu baik dalam waktu begitu singkat.
Dominic Lyall mempersilakan Helen masuk ke kamar, lalu menutup pintu. Dominic
telah mengganti pakaian hitamnya. Sekarang ia memakai kemeja sutera ungu tua,
celana panjang suet coklat muda dan baju rompi suet kuning agak kelabu. Tak ada
tanda-tanda ketegangan di mukanya. Bolt telah melaksanakan tugasnya dengan baik,
pikir Helen. Bolt berbadan seorang jago gulat, tapi ia mungkin saja seorang
tukang pijat. Helen berjalan ke perapian, sambil mengawasi si macan tutul yang mengikutinya.
Api telah dinyalakan sejak tadi sebelum Helen datang. Dan meja tempat mereka
minum teh sekarang beralaskan taplak meja.
Dominic Lyall menunjuk ke kursi tangan yang tadi siang diduduki Helen. "Silakan
duduk," katanya. "Mau minum apa sebelum makan malam?"
Dominic Lyall menyapa Helen seakan-akan ia menyapa seorang tamu yang memang
ditunggu kedatangannya. Helen merasa kecewa. Apakah Dominic menghendaki Helen
berkelakuan seperti seorang tamu" Apakah Helen tidak boleh menghalang-halangi
rencana Dominic" Dikira Dominic ia tidak berani mengemukakan pendapatnya dalam
soal ini, pikir Helen dengan jengkel.
"Sebetulnya aku datang ke sini bukan untuk makan malam denganmu," kata Helen,
tanpa pikir panjang. "Aku menghendaki kunciku. Kunci koperku. Sampai-sampai aku
tidak bisa berganti pakaian!"
Dominic Lyall mengerutkan kening. Ia mengeluarkan cincin kulit penggantung kunci
dari dalam saku celananya. Sambil memeriksa kumpulan kunci itu ia berkata,
"Maaf. Tentu saja kau memerlukan kunci itu. Yang mana kunci kopermu?"
Helen bersikap menantang. Kemudian, tanpa memikirkan akibatnya, Helen menubruk
ke muka dan mencoba merebut kunci itu dari tangan Dominic Lyall. Andaikata
berhasil, sebetulnya ia pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan kunci
itu. Rencana melarikan diri di malam buta dan menjalankan mobilnya yang mogok adalah
lamunan belaka. Tapi ia harus melakukan sesuatu. Apa pun. Semata-mata untuk
menunjukkan kepada Dominic Lyall bahwa ia bukanlah orang yang tak berdaya
seperti yang disangka Dominic.
Usaha Helen gagal. Dominic Lyall memegang kunci itu erat-erat. Semua usaha Helen
untuk membuka kepalan Dominic sia-sia belaka. Ketika menerjang Dominic Lyall,
Helen mengira Dominic akan kehilangan keseimbangannya. Tapi Helen salah sangka.
Dominic Lyall selain tidak bersikap lunak, juga mempunyai kekuatan untuk menahan
serangan Helen walaupun ia cacat. Helen sama sekali tidak tahu bahwa si macan
tutul sedang mengawasi mereka. Dan bahwa si macan tutul itu tidak campur tangan
berkat perintah yang diam-diam diberikan tuannya. Karena terus-menerus mencoba
membuka kepalan Dominic, mau tidak mau Helen sadar akan adanya tubuh Dominic di
dekatnya. Helen dapat merasakan panas badan Dominic. Ia dapat mencium bau tubuh
Dominic. Tapi waktu memandang wajah Dominic dan melihat senyum Dominic yang
kejam dan penuh ejekan, seketika itu juga Helen mundur.
"Kau - kau jahanam! Itu kunciku. Berikan kunci itu kepadaku."
"Mengapa kau begitu bodoh" Aku sudah mau memberikan kunci yang kauperlukan."
Helen menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia merasa putus asa. "Mengapa
kau begitu kejam" Mengapa kau tidak membiarkan aku pergi saja?"
"Malam ini?" "Tidak. Besok pagi. IZINKANLAH aku pergi!"
"Jangan meminta-minta kepadaku. Aku benci orang yang lemah."
Helen merasa seakan-akan ia ditampar. Ia membalik dan memegang belakang dipan
dalam usahanya untuk menguasai dirinya. Air matanya tergenang di pelupuk
matanya. Ia ingin sekali menangis. Ia merasa betul-betul tak berdaya dan
kesepian. Ia tak sanggup berpikir jelas. Tatapan mata Sheba yang penuh rasa
dendam karena Helen berani melawan tuan yang dicintainya pun tidak dapat
menimbulkan rasa permusuhan di dalam hati Helen.
"Ini! Minumlah!"
Dominic Lyall mendorong sebuah gelas ke dalam tangan Helen. Helen memandang
isinya dengan bengong. "Ini apa?"
"Brandy," jawab Dominic Lyall singkat. "Mungkin bisa mengembalikan pikiran
sehatmu." Helen ingin sekali melempar gelas itu ke lantai dan menghamburkan isinya. Tapi
ia sangat memerlukan minuman untuk menenangkan dirinya. Ia mengangkat gelas itu
ke bibirnya yang gemetar, mencoba minuman itu sedikit, lalu menghabiskannya
dalam satu teguk. Minuman itu menyengat kerongkongannya. Ia batuk-batuk. Air
matanya keluar. Tapi ia merasakan hangatnya minuman itu.
Dominic Lyall berjalan terpincang-pincang mengelilingi dipan. Lalu duduk di
kursi tangan yang letaknya jauh dari perapian. Ia menuang minuman Scotch.
Kemudian ia mengambil cerutu kecil dari sebuah kotak di atas lemari buku. Ia
menyalakan cerutu itu dan mengisapnya. Kelihatannya ia sangat menikmati
cerutunya itu. Helen berdiri di belakang dipan sambil mengawasi Dominic. Helen
jengkel melihat Dominic bersikap biasa saja. Dan sama sekali tidak menghiraukan
perasaan Helen. Sambil mengisap cerutunya, Dominic mengambil kunci dari dalam sakunya. Ia
memeriksa kunci itu dengan teliti, mencabut dua buah dan melempar kunci lainnya
ke Helen. Helen terlambat menangkapnya. Kunci itu jatuh ke lantai ke dekat kaki
Helen. Dengan perasaan terhina Helen membungkuk dan mengambil kunci itu.
Dilihatnya Dominic Lyall telah mengambil kunci kontak dan kunci bak bagasi
mobil. "Sekarang," kata Dominic Lyall, sambil mengunjurkan kakinya ke depan,
"duduklah." "Aku tidak mau duduk," kata Helen. "Aku hendak ke kamarku. Mudah-mudahan kau
tidak bersikap sebrengsek ini lagi besok pagi."
"Jangan terlalu kecewa kalau aku masih bersikap seperti ini."
"Kau keji!" "Pendapatmu tentang aku tidak penting. Dan apakah kau pernah mendengar bahwa
kalah-menangnya suatu peperangan bergantung juga pada perut pasukannya" Kalau
kau tidak makan malam, kau akan amat lapar menjelang pagi."
Nah, sedikit-dikitnya dalam hal ini ia dapat mengambil keputusan sendiri. "Aku
tidak dapat menyentuh makananmu!" kata Helen, rasa marah menguatkan
keputusannya. "Makananmu akan membuatku sakit!" Lalu ia berjalan menuju ke
pintu. Sebelum Helen dapat keluar dengan terhormat setelah mengucapkan kata-kata yang
menentukan itu, pintu terbuka dan Bolt masuk sambil membawa sebuah nampan. Helen
tidak dapat melihat semua makanan yang dibawa Bolt, tapi Helen dapat melihat
pastel buah dengan saos susunya yang membangkitkan selera. Dan bau yang
diciumnya tak dapat disangsikan lagi adalah bau harum saos ceri. Pembantu laki-
laki itu melirik Helen. Ia merasa heran. Lalu ia berkata,
"Saya pikir, karena malam ini udaranya begitu dingin, lebih baik Tuan makan
malam di sini saja."
"Pikiran yang bagus," kata Dominic Lyall, sambil tersenyum lebar. "Kau mau
menemaniku, Bolt?" Bolt kembali melirik Helen. Helen masih mondar-mandir di dekat pintu, hampir
dihipnotis oleh bau makanan. Baru sekarang ia sadar bahwa ia lapar. Ia menyesal
karena ia terpengaruh oleh bisikan hati dan menolak kebaikan hati Dominic Lyall.
"Tapi aku kira Nona ini..." kata Bolt. Dominic Lyall menggelengkan kepalanya.
"Nona James tidak lapar, Bolt. Tadi ia mengatakan bahwa ia... sakit."
Dominic Lyall mengalihkan pandang ke Helen. Mata yang keras itulah yang
mendorong Helen bertindak.
"Memang," kata Helen, bibirnya gemetar meskipun ia telah berusaha
menghentikannya. "Aku agak memilih-milih dengan siapa aku makan!" Sesudah
mengucapkan kata-kata itu Helen keluar dan membanting pintu kuat-kuat.
Helen berdiri di kamar besar, menunggu kedatangan Dominic yang disangkanya akan
mengambil tindakan balasan. Tapi yang datang hanyalah suara gelak-tawa yang
tidak salah lagi keluar dari kerongkongan Dominic Lyall. Sekarang Helen tahu
gelas KEDUA di atas nampan itu dipakai oleh siapa. Tentu oleh Bolt...
BAB TIGA TEMPAT tidur Helen amat menyenangkan. Melihat botol air panas Helen teringat
akan masa kanak-kanaknya dan akan ibunya yang biasa menidurkannya dengan sebuah
cerita. Cuma sekarang tidak ada cerita. Yang ada hanya kesamaan antara
keadaannya yang buruk dengan keadaan si Cantik dalam cerita Beauty and the
Beast.... Helen tertidur. Perasaan lelah membuatnya mengantuk. Ketika ia membuka matanya,
kamar sudah terang, diterangi cahaya matahari dan salju. Tapi ia ada di mana"
Mula-mula Helen lupa sama sekali. Setelah beberapa saat barulah ia teringat lagi
akan rumah di Lake District. Alamat yang tepat tidak diketahuinya. Tapi ia masih
ingat akan tuan rumahnya dan kejadian yang dialaminya tadi malam.
Helen menyingsingkan lengan bajunya dan melihat ke arlojinya. Hampir pukul
setengah sepuluh. Ia mengejapkan matanya karena heran. Setengah sepuluh! Ini
berarti ia tertidur lebih dari dua belas jam!
Setelah mendorong selimutnya, ia turun dari tempat tidur, lalu pergi ke jendela.
Sekarang di waktu siang segala sesuatu tentu nampak lebih jelas. Barangkali ia
dapat melihat rumah tinggal lainnya.
Tapi Helen kecele! Yang dapat dilihatnya hanyalah kebun belakang yang tertutup
salju dan di belakang kebun itu lapangan putih. Tepat di bawah jendela ada
sebidang tanah yang telah dibersihkan, tentu oleh Bolt. Adanya jejak kaki
menunjukkan bahwa sudah ada orang yang pergi ke luar.
Helen menutup tirai dan meneliti seluruh kamar. Di waktu siang kamar tidurnya
tidak kurang menarik, meskipun tumpukan pakaian yang keluar dari kopernya
kelihatan agak kurang rapi. Tadi malam, karena terlalu bingung, ia hanya
mengambil sebuah baju lalu naik ke tempat tidur.
Sekarang pun ia membiarkan pakaiannya yang berantakan itu dan masuk ke kamar
mandi. Sebenarnya ia ingin mandi memakai pancuran. Tapi ternyata tidak ada
pancuran. Mandi di dalam bak mandi akan memakan waktu terlalu lama. Jadi ia
harus merasa puas dengan lap badan saja. Setelah selesai ia kembali ke kamar
tidur untuk mengambil pakaian.
Ia memakai celana panjang korduroi berwarna jingga. Ketika ia sedang mengancing
ban pinggang celananya, terdengar ketukan lemah di pintu kamar. Jantungnya
langsung berdebar-debar. Ia berdiri diam sebentar sambil bertanya dalam hatinya
siapa gerangan yang mengetuk pintu itu.
"Nona James" Nona James, Nona sudah bangun?"
Suara Bolt biasa saja. "Ya, aku sudah bangun," jawab Helen. "Ada apa?"
"Saya membawa makanan. Nona tentu lapar."
Helen ragu-ragu. Ia ingin sekali menyuruh Bolt pergi. Ingin menyuruhnya
memberitahu majikannya bahwa Helen sedang mogok makan sampai diperbolehkan
pergi. Tapi rasanya siasat demikian tidak akan berhasil kalau berhadapan dengan
orang seperti Dominic Lyall. Dominic Lyall pasti tega melihat Helen jatuh
pingsan karena kehabisan tenaga. Dominic pasti tidak akan menunjukkan rasa
khawatir sedikit pun. Dan walaupun itu terjadi, Helen sangsi apakah Dominic
Lyall mau menuruti kemauan Helen.
"Sebentar," kata Helen. Ia mengambil sweater hijau dan cepat-cepat memakainya.
Sambil merapikan rambutnya ia membuka pintu.
Bolt berdiri di depan kamar. Tinggi dan besar. Seakan-akan Helen sudah lama
mengenalnya. Ia memakai kemeja tartan dan celana panjang flanel longgar. Lengan
bajunya digulung. Nampak otot lengannya yang menonjol. Ia kelihatannya sama
sekali tidak seperti seorang pembantu. Tapi nampan yang diletakkannya di atas
meja tidak kalah rapinya dengan yang disiapkan oleh seorang perempuan.
"Saya membawa kue gandum, telur, sepek, roti panggang, selai marmalade dan
kopi," kata Bolt sambil tersenyum. "Cukup tidak?"
Helen memeriksa isi nampan. "Cukup," katanya. Ia mengangkat matanya. Pipinya
merah. "Aku sudah lapar."
"Tuan Lyall sudah menduga," kata Bolt.
"Oh, begitu." Bolt menghela nafas. "Bagaimana" Apakah ini harus saya bawa lagi ke dapur?"
"Sebetulnya ingin aku menyuruhmu membawanya lagi ke dapur," kata Helen dengan
sikap memberontak. "Mengapa Nona merusakkan hal-hal yang menyangkut kepentingan Nona sendiri kalau
sedang marah" Tuan Lyall tidak akan rugi kalau Nona mogok makan."
"Aku tahu." "Nah. Jangan penasaran. Makanlah dulu. Nanti saya ke sini lagi."
"Berapa lama - ia," ia tidak mau mengatakan Tuan Lyall. "Berapa lama ia mau
menahanku di sini?" "Makanlah dulu, Nona," kata Bolt. Ia berjalan ke pintu dan meninggalkan Helen.
Helen menatap panik. Alangkah bodohnya ia. Mengharap belas kasihan Bolt.
Bukankah ia tahu bahwa ia tidak mungkin mengurangi kesetiaan Bolt kepada
majikannya" Tapi sekarang ini bau sepek goreng menggodanya. Ia tidak tahan. Ia membuka
penutup makanan dan langsung makan bagaikan orang yang kelaparan. Biasanya ia
hanya makan roti panggang dan minum kopi saja kalau pagi. Tapi pagi ini ia makan
semua yang ada di nampan. Sesudah makan ia merasa kenyang dan puas.
Setelah menyapu mulut dan tangannya dengan serbet, Helen bangkit dari pinggir
tempat tidur dan sekali lagi pergi ke jendela. Apa yang harus dilakukannya
sekarang" Bolt akan ke sini lagi mengambil nampan itu. Apakah ini berarti ia
harus tinggal di sini selamanya, di dalam kamar"
Seluruh jiwanya menentang pikiran itu. Meski ada hal-hal yang tidak
menyenangkan, pagi itu udaranya cerah. Ia teringat akan hotel kecil di Bowness
yang hendak ditujunya. Ia telah merencanakan hendak mengisi waktunya dengan
berjalan kaki dan mengemudikan mobil, menikmati kebebasan yang tidak biasa
dimilikinya. Yaitu kebebasan dari tuntutan ayahnya yang makin lama makin banyak
dan bersifat ingin menguasai. Tapi sekarang rupanya ia berada dalam posisi yang
lebih sulit lagi. Dan dalam penahanan yang lebih ketat lagi.
Apakah ayahnya telah menerima suratnya" Ia mengirim surat itu di London sehari
sebelum ia berangkat. Ia tidak menghendaki cap pos yang dapat menunjukkan arah
tujuannya. Sekarang ia menyesal karena ia telah menghilangkan jejaknya. Tak
seorang pun akan mencarinya di sini. Meskipun ada yang mencarinya, bagaimana
mereka bisa menemukannya" Buktinya Dominic Lyall berhasil hidup menyendiri di
sini tanpa diketahui orang selama beberapa tahun. Sebetulnya Helen merasa sangsi
apakah ada orang yang tahu bahwa Dominic Lyall masih hidup....
Ah, mesti ada yang tahu, pikir Helen dengan gembira. Mesti ada orang yang
menyediakan susu dan telur. Dan bagaimana dengan surat" Semangatnya bertambah.
Kalau mereka bermaksud menahannya di sini, memberinya makan, tentu mereka


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membutuhkan lebih banyak persediaan. Mungkin orang yang menyediakan barang
makanan dan minuman akan melihat bahwa ada tambahan dalam pesanan.
Kemudian Helen menghela nafas. Bolt bisa saja mengatakan kepada si pemilik toko
bahwa mereka kedatangan seorang tamu. Dan siapa yang akan meributkan soal
sekecil ini" Kalau begitu ia harus menemui orang yang kebetulan datang ke rumah
ini. Tukang pos, misalnya.
Helen pantang menyerah. Ia mempertimbangkan cara-cara yang dapat dipakainya
untuk menarik perhatian orang. Dominic Lyall pasti melarangnya bertemu dengan
siapa pun. Karena itu ia harus mencari pertolongan dengan cara lain. Dengan
surat, misalnya, yang dilempar dari jendela kamar atas. Tidak bisa. Surat itu
akan hilang tertutup salju, atau tidak terlihat sama sekali atau hilang tertiup
angin. Mungkin pikiran ini lebih baik. Menuliskan namanya dan alamatnya... Ia
menjadi putus asa. Bagaimana ia bisa menuliskan alamatnya" Ia tidak tahu ia ada
di mana! Jadi ini pun tidak bisa. Ia telah meminta petunjuk di sebuah desa
kemarin. Tapi sayang ia tidak dapat mengingat kembali nama desa itu.
Helen mempunyai harapan lain. Orang di desa itu. Kepala kantor pos! Ia mungkin
masih ingat akan seorang perempuan muda yang menanyakan jalan. Di musim dingin
ini tentu tidak banyak orang kota yang datang ke sini. Jadi kalau ditanyai,
kepala kantor pos itu pasti akan ingat kembali. Dan ia pasti dapat memberitahu
jalan mana yang ditunjukkannya kepada Helen.
Alangkah jauhnya pikirannya melayang untuk mencari setitik harapan dalam keadaan
yang tidak ada harapan ini, pikir Helen. Segala sesuatu bergantung pada usaha
ayahnya untuk mencari Helen. Tapi ada kemungkinan ayahnya memutuskan untuk
menunggu dahulu. Dan andaikata ayahnya telah mencari Helen, andaikata ayahnya
telah mencari di semua tempat yang disangkanya mungkin dikunjungi Helen,
andaikata ayahnya tiba-tiba teringat akan liburan mereka di Lake District,
andaikata ayahnya pergi ke utara dan menemukan desa tempat ia meminta
petunjuk.... Begitu banyak andaikata. Tidak mungkin. Dan kalau beberapa hari telah berlalu -
mungkin beberapa minggu - kepala kantor desa kecil itu sudah lupa akan kejadian
itu. Meskipun ia ingat, Helen telah berkali-kali belok setelah meninggalkan
kantor itu, sehingga sungguh tidak mudah untuk mencari Helen.
Akhirnya masih ada surat kabar. Karena khawatir, ayahnya mungkin memberikan
ceritanya kepada pers. Kalau potret Helen ada di halaman pertama setiap surat
kabar dalam negeri, mungkin ada orang yang ingat akan Helen....
Ada orang mengetuk pintu.
"Masuk," kata Helen.
Bolt membuka pintu dan melongok ke dalam. "Apakah sudah selesai?"
Helen menunjuk nampan kosong. "Sudah. Enak sekali. Maaf, aku tadi amat rakus."
Bolt tersenyum. "Bagus. Segala sesuatu kelihatannya lebih baik kalau perut kita
kenyang." "Kau kira begitu?"
"Tidak dapat diragukan." Bolt membuka pintu lebih lebar lagi dan masuk ke dalam
kamar. "Apakah Nona akan turun?"
"Apa boleh?" "Nona boleh berbuat semau Nona."
"Betul?" Helen menggerakkan bahunya dengan jengkel. "Mana majikanmu?"
Bolt mengangkat nampan. "Di kamar kerjanya, Nona. Jangan ganggu Tuan Lyall."
"Kau kira aku akan mengganggunya?"
Bolt mengangkat bahu. Kemudian ia melihat koper Helen yang berantakan. "Koper
Nona akan saya bereskan nanti siang, kalau saya membereskan tempat tidur."
Helen kaget. "Jangan - maksudku, tidak usah."
"Biar saya yang membereskannya, Nona."
"Aku dapat membereskannya sendiri."
Bolt tidak menjawab. Ia berjalan ke pintu. "Pagi ini udaranya bagus. Nona tidak
mau keluar?" "Apa" Keluar" Apa yang akan dikatakan - orang itu" Aku bisa melarikan diri kan?"
"Sebaiknya jangan mencoba, Nona. Sheba dilatih untuk berburu menjangan. Saya
tidak ingin melihat Nona menjadi mangsanya."
"Kalau begitu untung kau tidak melihat kami kemarin." Helen gemetar karena
teringat akan kejadian kemarin yang menegangkan saraf.
"Betul, Nona. Saya juga telah mendengar tentang itu," kata Bolt. Ia mengangguk,
lalu meninggalkan Helen. Helen memutuskan untuk turun ke bawah. Ia mengikuti Bolt menuju ke sebuah kamar
di belakang tangga. Pintu kamar itu dilapis kain wol hijau.
Kamar itu ternyata sebuah dapur yang amat besar. Lantai ubinnya mengkilat.
Rupanya baru digosok. Meskipun dapur itu sudah dipermodern dengan papan
pengeringan dan bak tempat mencuci dari baja, di situ masih terdapat kompor
raksasa yang dulu merupakan satu-satunya alat memasak. Selain daripada itu
terdapat pula sebuah perapian timah hitam. Di dalamnya potongan kayu menyala
sambil mengeluarkan bunga api. Melalui sebuah pintu yang terbuka Helen melihat
gudang dingin tempat menyimpan daging. Tapi tak ada ham yang tergantung di langit-langit. Yang ada hanyalah sebuah lemari pendingin yang
menyerupai peti mati. Sebuah dapur yang sederhana, pikir Helen.
Bolt meletakkan nampan di atas papan pengeringan, kemudian menaruh piring-piring
kotor di dalam bak tempat mencuci. Bolt tersenyum dan bertanya apakah menurut
pendapat Helen pekerjaan itu cocok bagi seorang laki-laki.
Helen mengangkat bahunya dengan sikap masa bodoh, lalu berjalan menuju ke meja
kayu di tengah-tengah kamar. Sambil mengikuti garis-garis kayu dengan kukunya,
Helen berkata, "Zaman sekarang banyak orang laki-laki yang mengerjakan pekerjaan
semacam itu. Tapi kau kelihatannya sama sekali tidak seperti seorang pembantu."
Bolt tertawa. "Tidak. Saya kira juga tidak."
"Tapi pekerjaan ini bukan pekerjaanmu satu-satunya, bukan?"
"Sekarang memang." Bolt memasukkan tangannya ke dalam air sabun di dalam bak
tempat mencuci. "Tapi saya sudah biasa melakukan segala macam pekerjaan. Dulu
saya masuk tentara. Saya mendaftar waktu saya masih kecil. Kemudian, sesudah
keluar, saya menjadi jago gulat. Tapi saya bosan, tak ada gunanya. Karena itu
saya menjadi montir. Sekarang saya menjadi pengurus rumah tangga."
"Kau rupanya amat sayang kepada majikanmu, Bolt."
"Tuan Lyall amat baik."
Helen merenung. "Maaf, aku belum dapat mengutarakan pendapatku sekarang. Kau
sudah lama mengenal Dominic Lyall?"
"Kurang lebih dua puluh tahun."
"Tapi kau tidak bekerja untuk dia terus-menerus, bukan?"
"Untuk dia - dengan dia - apa bedanya" Ayahnya adalah perwira atasan saya."
"Oh, begitu." Helen berjalan ke papan pengeringan. Jendela lebar di situ memperlihatkan
halaman belakang rumah. Di sisi halaman terdapat gudang dan bangunan tambahan.
"Bagaimana kau memperoleh persediaan makanan" Barang-barang segar seperti susu
dan telur" Dan bagaimana dengan surat?"
"Surat-surat diambil dari kotak pos. Kami mempunyai dua ekor sapi dan beberapa
ekor ayam. Di musim panas kami menanam buah-buahan dan sayuran sendiri. Buah-
buahan dan sayuran itu dibekukan untuk persediaan. Kami mencukupi keperluan kami
sendiri. Saya bahkan membuat roti sendiri. Mengapa Nona bertanya?"
"Nona James sedang mencari jalan untuk mengalahkan kita, Bolt," terdengar ejekan
di belakang mereka. Helen membalik dan melihat Dominic Lyall bersandar pada
tiang pintu. Dominic Lyall kembali memakai pakaian hitam. Meskipun rambutnya
pirang, roman mukanya nampak jahat dan mengganggu. Dominic menganggukkan
kepalanya dengan sopan ke arah Helen dan berkata, "Selamat pagi, Helen. Rupanya
kau tidur nyenyak tadi malam. Bolt mengatakan kepadaku bahwa kau juga sudah
sarapan. Apakah makanannya enak?"
Helen ingin sekali mengatakan bahwa ia tidak menyentuh makanan itu, tapi tentu
saja tidak mungkin. Karena itu ia mengambil sikap menantang. "Sudahkah
kaupikirkan apa yang akan dilakukan ayahku kalau ia tahu aku ditahan di luar
kemauanku?" Dominic berdiri tegak. "Oh, kau pasti akan mendapat banyak kesulitan."
"Mengapa aku yang mendapat kesulitan" Kau tentu!"
"Karena kaulah yang ada di situ, bukan aku."
"Kau kira ayahku akan merasa puas sampai di situ" Ia akan mencarimu, ke mana pun
kau pergi." "Betul" Maaf kalau aku menyangsikan usaha penyelidikan ayahmu. Kalau para
wartawan tidak berhasil menemukan tempat tinggalku beberapa tahun yang lalu, aku
tidak perlu khawatir tentang usaha ayahmu itu."
"Ia dapat memberi ceritanya kepada pers! Ia sanggup membayar detektif berapa
banyak pun." "Betul?" Dominic mengelus-elus cambangnya. "Sungguh menarik. Dan kata-kata ini
keluar dari mulutmu sendiri. Baru kemarin kau mencoba meyakinkanku bahwa kau
tidak akan memberitahu tempat tinggalku kepada siapa pun, andaikata kau
diizinkan pergi." Pipi Helen menjadi merah. "Aku sungguh-sungguh kemarin."
"Betul" Tapi sekarang kau sudah berubah niat lagi."
"Aku cuma hendak menunjukkan kepadamu bahwa kau harus menanggung akibatnya kalau
kau merintangi ayahku."
"Ancaman, Helen James?"
Helen merasa tak berdaya. "Berhentilah menjeratku dengan kata-kata. Kalau aku
diizinkan pergi, aku akan melupakan bahwa kau ada di sini. Tapi kalau tidak - aku
tidak bertanggung jawab atas akibatnya."
Bibir Dominic bergerak terkejat-kejat. "Sungguh hebat. Aku hendak beristirahat
dulu beberapa menit, Bolt. Tolong buatkan kopi."
"Baik, Tuan." Bolt mengangguk. Helen berjalan dengan kaki menggeser tanah. Ia
merasa murung. "Kau mau minum kopi?" tanya Dominic. Helen mendelik.
"Aku tidak haus!"
"Terserah." Dominic mengangkat bahu, lalu keluar. Pintu dibiarkannya terayun dan tertutup
sendiri. Setelah Dominic pergi, Helen menyesali sikapnya yang terlalu terburu-
buru. Helen harus berusaha membujuk Dominic, agar Dominic berubah niat. Tapi
selama ia masih berkelakuan seperti anak sekolah yang manja, bagaimana ia dapat
membujuk Dominic" Helen duduk dengan murung di kursi kayu sambil memperhatikan Bolt. Bolt memasang
alat penapis kopi. Kemudian menaruh cangkir, gula dan krim di atas sebuah nampan
perak. Bolt melirik Helen. Kemudian, seakan-akan menaruh kasihan kepada Helen,
Bolt berkata, "Apakah Nona mau mengantarkannya?"
Helen menatap Bolt. "Mengantarkan apa?"
"Nampan ini, kopi. Nona mau mengantarkannya ke Tuan Lyall?"
"Baiklah, kalau kau menghendakinya."
"Nona mau mendengarkan nasihat sedikit?"
"Nasihat apa?" "Jangan terlalu sering mengancam. Tuan Lyall bukanlah orang yang menganggap
enteng sikap demikian."
"Begitu?" Helen tidak sependapat dengan Bolt bahwa Dominic Lyall selalu harus
dituruti. "Menurutmu aku harus berbuat apa" Duduk saja dan menunggu sampai aku
diizinkan pergi?" "Itu sikap yang paling baik."
"Kau mengolok-olok!"
"Jangan meremehkan Tuan Lyall. Jangan mengira, karena ia cacat, ia bukan laki-
laki sejati!" "Aku tidak mengerti." Helen berdiri. Pipinya serasa terbakar.
"Saya kira Nona mengerti." Bolt mencabut steker alat penapis kopi karena isinya
telah mendidih. Ia menuang kopi itu ke dalam teko kopi. Kemudian teko itu
ditaruhnya di atas sebuah kompor kecil supaya isinya tetap panas mengepul-
ngepul. "Kalau ia hidup di sini tanpa seorang perempuan, tidak berarti ia tidak
membutuhkan hal-hal yang biasa dibutuhkan seorang laki-laki sejati!"
Helen mengepalkan tinjunya. "Aku kira kau bisa memuaskan segala kebutuhannya,
Bolt!" Bolt menatap Helen lama-lama.
"Tidak, Nona James. Tuan Lyall bukan laki-laki semacam itu."
Helen tidak tahu di mana ia harus menyembunyikan mukanya. Belum pernah ia
berkelakuan seburuk itu. Ia malu karena telah menyakiti hati Bolt dengan kata-
katanya yang tidak senonoh. Padahal Bolt selalu baik terhadapnya.
"Oh, maaf. Maafkan aku, Bolt!"
Bolt menutup teko kopi dan mendorong nampan ke seberang meja. "Nona terlalu
gugup. Tenang saja. Tak ada hal yang seburuk perkiraan Nona. Sekarang, apakah
Nona mau mengantarkan kopi ini kepada Tuan Lyall" Tuan Lyall ada di kamar duduk.
Saya menaruh dua buah cangkir di atas nampan. Siapa tahu, mungkin diperlukan."
Tangan Helen terjatuh ke samping. "Kau tidak pernah menyerah kelihatannya."
"Katakanlah bahwa saya pada dasarnya seorang optimis," kata Bolt. "Nona tahu
kamar duduk di mana?"
"Aku tahu." Helen mengangkat nampan itu. "Dan - terima kasih, Bolt."
"Semua termasuk pelayanan, Nona."
Ketika ia membuka pintu kamar duduk, Helen melihat Dominic Lyall terbaring di
atas dipan. Matanya yang tertutup tiba-tiba terbuka. Waktu melihat Helen membawa
nampan kopi, Dominic Lyall mengayunkan kakinya ke lantai dan berusaha berdiri.
Tapi mukanya tiba-tiba kejang, Dominic terjatuh kembali ke atas bantal, dengan
sebelah tangan menekan dahinya.
Helen menahan napasnya. Cepat-cepat ia maju dan meletakkan nampan di atas meja.
"Kau sakit?" tanya Helen dengan khawatir.
Tangan Dominic Lyall terjatuh ke samping. Rahangnya tegang. "Tidak," katanya.
"Aku tidak apa-apa."
Helen memutar-mutar tangannya dengan cemas. Dominic Lyall kelihatannya begitu
pucat dan tegang. Ingin benar Helen melakukan sesuatu untuk Dominic. Melihat
Dominic dalam keadaan begini sama sekali tidak membuat Helen senang,
bagaimanapun juga mereka bermusuhan. Seharusnya Helen merasa girang karena nasib
menampar Dominic Lyall demikian hebat. Tapi yang dirasakan Helen hanyalah
kasihan dan kesadaran akan daya tarik sexuil Dominic Lyall pada dirinya.
"Hei! Jangan menatapku seolah-olah kau belum pernah melihat sesuatu yang
mengerikan seperti ini. Aku, antara lain, menderita sakit kepala migraine!"
Helen merasa tak tenteram diawasi mata yang kuning kecoklat-coklatan itu,
meskipun biji mata Dominic dilihatnya berkaca-kaca, dan butir-butir peluh
membasahi dahinya karena usahanya untuk berdiri tadi.
"Apakah ada sesuatu yang dapat kulakukan?" tanya Helen agak ragu-ragu.
"Apa yang kauusulkan?" tanya Dominic. "Sepucuk senapan di pelipisku atau sebilah
pisau di perutku?" "Tak satu pun dari pilihan itu." Helen meneliti seluruh kamar. "Apakah kau tidak
mempunyai obat" Tablet, barangkali. Apakah perlu memanggil Bolt?"
"Aku mempunyai tablet," kata Dominic Lyall, sambil memejamkan matanya.
"Di mana tablet itu?"
"Kau tak perlu menolongku. Bolt dapat mengambilnya."
"Sudahlah! Aku yang akan mengambilnya. Aku mau mengambilnya. Katakan saja di
mana tablet itu." Dominic Lyall membuka matanya sedikit, lalu menyandarkan kembali kepalanya pada
bantal tenunan. Sesaat lamanya ia menatap Helen melalui bulu matanya yang tebal.
Pikiran Helen menjadi kacau. Kaki Helen terasa lemah dan jantungnya berdebar-
debar. Dominic Lyall memejamkan kembali matanya dan berkata, "Tablet itu ada di
dalam botol di laci meja tulisku yang paling atas."
Helen ragu-ragu. Meja tulisnya" Di mana meja tulisnya" Apakah meja tulis yang di
sudut itu yang dimaksud Dominic Lyall" Meja tulis yang di atasnya terdapat
potret kecelakaan" Tiba-tiba Dominic berkata, "Meja tulisku ada di dalam kamar
kerjaku." Kamar kerjanya! Helen ragu-ragu. Di mana kamar kerjanya" Ia membuka mulutnya hendak bertanya,
tapi kemudian menutupnya lagi. Kamar itu tentu berhubungan dengan kamar besar.
Tidak sukar untuk mencari kamar itu, asal saja ia mengenali kamar tempat
menyimpan mantel, kamar makan dan dapur yang pintunya dilapisi kain wol hijau.
Cepat-cepat Helen keluar. Untung si macan tutul tidak ada di kamar besar. Helen
meneliti seluruh ruangan. Cuma ada satu pintu lain. Ia memutar pegangan pintu
dan melongok ke dalam. Betul, ini pasti kamar kerja Dominic Lyall. Di tengah
kamar terdapat sebuah meja tulis besar terbuat dari kayu mahoni. Meja itu penuh
dengan buku dan kertas. Di pinggir meja terdapat sebuah mesin tik.
Tapi bukan mesin tik itu yang menarik perhatian Helen. Di pinggir jendela, di
sudut, setengah tertutup oleh tirai beledu merah, terdapat sebuah telpon
berwarna krem! Telpon yang hanya dapat dipergunakan dengan menempuh bahaya
diketahui orang! Bisikan hatinya menyuruh Helen memakai telpon itu untuk meminta pertolongan.
Tapi kejadian-kejadian belakangan ini membuatnya waspada. Kalau ia menelpon
dulu, Dominic Lyall hanya akan merasa curiga. Tapi bagaimana kalau Dominic Lyall
menyusulnya" Dan bagaimana kalau Bolt tiba-tiba datang mengambil nampan" Begitu
mereka curiga, ia tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk mempergunakan telpon
itu. Tapi kalau ia berbuat seolah-olah ia tidak melihat telpon itu....
Helen melupakan dulu "hubungan dunia luar" yang amat menggoda itu, lalu berjalan
ke meja tulis. Ia duduk di kursi kulit coklat di belakang meja. Tidak
mengherankan kalau Dominic Lyall mula-mula tidak mengizinkan Helen mengambil


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

obat itu. Tapi rupanya obat itu sangat diperlukan Dominic. Karena teringat akan
wajah Dominic Lyall waktu menderita sakit, Helen mengulurkan tangannya ke
pegangan laci kanan paling atas. Meskipun benci kepada sikap mendua hati Dominic
Lyall, Helen tidak dapat mengabaikan penderitaan Dominic.
Cepat-cepat diperiksanya laci yang telah dibukanya. Tapi tidak ada botol obat di
situ. Ia menutup kembali laci itu. Laci sebelah kiri penuh surat-surat penting.
Ia mendorong surat-surat itu ke belakang dan menemukan barang yang dicarinya.
Sebuah botol coklat kecil berisi tablet putih.
Sambil melirik ke tumpukan kertas di atas meja, ia menutup laci kiri, lalu
berdiri. Waktu Helen sampai di pintu, Bolt kebetulan keluar dari dapur.
Andaikata Helen memakai telpon itu, Bolt pasti memergokinya. Karena berpikir
begitu, lutut Helen terasa lemah.
Bolt terheran-heran melihat Helen keluar dari kamar kerja. "Apakah Nona mencari
sesuatu?" tanyanya. Pipi Helen menjadi merah. Ia merasa bersalah. Ia mengangkat botol kecil itu.
"Majikanmu sakit kepala," katanya, sambil berjalan menuju ke kamar duduk. "Aku
baru mengambil tabletnya."
"Tuan Lyall sakit?" Bolt sungguh khawatir. "Sebentar, saya akan mengambil air
dulu." "Boleh saja, kalau kau mau."
Bolt kembali ke dapur dan Helen masuk ke kamar duduk. Dominic masih terbaring di
atas dipan dengan mata dipejamkan. Inikah orang yang menahannya di sini di luar
kemauannya" pikir Helen.
Helen menghampiri Dominic. "Ini tabletnya," kata Helen. "Bolt sedang mengambil
air untuk menelan obat ini."
Dominic membuka matanya. Matanya gelap kebiru-biruan. "Terima kasih," jawabnya,
sambil mengangkat dirinya ke sikap tegak. Ia mengambil obat itu. "Ini salahku
sendiri. Aku terlalu lama bekerja."
Helen memperhatikan Dominic membuka tutup botol dan kemudian mengambil dua buah
tablet. "Bekerja?" tanya Helen dengan heran.
"Benar. Bekerja. Kau kira aku menghabiskan waktuku bermalas-malas?"
Helen berjalan menjauhi dipan. Dalam jarak begitu dekat, sekalipun dalam keadaan
lemah, mata Dominic dapat menembus mengacaukan pikiran Helen. "Entahlah, aku
belum memikirkannya," jawab Helen.
Pintu terbuka. Bolt masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah tempat air dan
sebuah gelas. Ia langsung ke dipan. "Ini airnya," katanya, sambil menuang air ke
dalam gelas. "Dan setelah ini, sebaiknya Tuan tidur."
Dominic menelan tablet itu, lalu menyerahkan gelas itu kembali kepada Bolt.
"Tidak," katanya, sambil menyapu mulutnya dengan tangannya.
"Tuan sendiri tahu Tuan harus tidur," kata Bolt.
"Apa" Dan membiarkan tamu kita minum kopi seorang diri?"
Helen nampak gusar. Tapi Bolt menggelengkan kepalanya waktu Helen hendak
mengatakan sesuatu. "Setelah minum kopi, kalau begitu," kata Bolt. Tapi Dominic
hanya memejamkan matanya lagi, seakan-akan usaha untuk membiarkan matanya
terbuka sangat melelahkannya.
"Aku akan memberitahumu," kata Dominic akhirnya.
Bolt menghela nafas. Ia membentangkan lengannya tanda tak berdaya. Helen merasa
bersekutu dengan Bolt, karena mereka sama-sama mengkhawatirkan laki-laki di
dipan itu. "Hai, jangan membuat tanda rahasia," bentak Dominic tiba-tiba, seakan-akan ia
Delapan Pocong Menari 1 Dewa Arak 26 Raja Tengkorak Pendekar Guntur 18
^