Pencarian

Princess 2

Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion Bagian 2


melakukan segala macam hal yang asing; ada juga
adegan seks antara wanita dengan hewan. Tampaknya
Faruq sudah pernah meminjamkannya pada anak laki-laki
lain, karena ia dengan jelas menulis namanya sendiri ke
setiap barang terlarang ini.
Aku terlalu lugu waktu itu untuk mengetahui apa
makna semua itu. Tapi aku tahu 'harta karun ini' adalah
barang yang buruk karena Faruq selalu menyimpannya
dalam kotak penyimpanan yang ditumpuk dalam kotak tua
yang berlabel 'Buku Catatan Sekolah'. Aku sangat kenal
dengan barang-barang miliknya. Dengan hati-hati Aku
mengeluarkan setiap majalah dan slide itu. Aku juga
55 menemukan tujuh botol kecil alkohol yang di bawa Faruq
ke rumah dari perjalanan akhir pekan ke Bahrain. Saat
memasukkan semua barang itu ke dalam tas kertas, aku
tersenyum dengan rencanaku.
Di Arab Saudi, masjid ada di setiap perkampungan,
karena pemerintah ingin menyediakan tempat ibadah
yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki untuk setiap
Muslim laki-laki. Dengan perintah salat lima kali sehari, para jamaah akan mudah
menyempurnakan salat mereka
bila berada dekat dengan masjid. Meskipun salat bisa
dilakukan di mana saja sepanjang menghadap ke Makkah,
namun salat di masjid itu lebih balk.
Karena kami tinggal di distrik yang paling kaya,
kami memiliki masjid besar yang terbuat dari marmer.
Jam 2 siang, salat zuhur sudah selesai dilakukan; ini
waktu yang aman untuk menjalankan rencanaku tanpa
terlihat orang. Bahkan para ustad sedang tidur siang
akibat cuaca panas di Arab.
Dengan rasa takut Aku membuka pintu masjid, dan
mengintip hati-hati sebelum memasukinya. Karena belum
pakai cadar, aku pikir kehadiranku tidak akan banyak
mengundang rasa ingin tahu. Aku sudah menyiapkan
cerita bila aku tertangkap. Jika ditanya, aku akan
mengatakan aku mengejar anak kucingku yang lari masuk
ke halaman masjid. Mengejutkan, masjid ini sejuk dan menarik. Aku tak
pernah masuk ke dalam bangunan besar ini. Tapi aku
pernah mengikuti ayah dan Faruq pergi salat beberapa
kali. Dari umur enam tahun, Faruq sudah dianjurkan
untuk melaksanakan salat lima kali sehari. Aku merasa
dadaku sesak akibat luka yang aku rasakan ketika melihat ayah menggandeng Faruq
dan membimbingnya dengan bangga melewati pintu masuk masjid. Ayah selalu
meninggalkanku di sisi jalan, anak perempuan yang
56 direndahkan. Aku memandang mereka dengan sedih dan
marah. Di negaraku, perempuan dilarang masuk ke dalam
masjid. Sekalipun Nabi Muhammad tidak melarang
perempuan salat di dalam masjid, ia menyatakan bahwa
lebih baik bagi perempuan untuk salat sendiri di rumah.
Akibatnya, tak seorang pun perempuan di Arab Saudi
diizinkan memasuki masjid.
Tak ada orang di sekitar sini, dengan tergesa-gesa
aku berjalan melintasi lantai marmer itu; bunyi sandalku terdengar keras dan
aneh. Aku meletakkan tas berisi
barang terlarang Faruq di ruang tangga menuju balkon
yang berisi pengeras suara tempat mengumandangkan
hadits-hadits Nabi ke seluruh kota, lima kali sehari. Jika memikirkan kehebatan
seruan mu'azin yang akan memanggil umat untuk mendirikan salat, aku mulai
merasa bersalah dengan petualanganku. Namun kemudian
aku ingat senyuman menyeringai Faruq yang sombong
ketika ia mengatakan padaku bahwa Ayah membolehkan
dirinya mencambuk dan memukulku. Aku kembali ke
rumah dengan tersenyum puas. Biar Faruq menikmati
yang satu ini. Malam harinya, sebelum ayah pulang dari kantor,
tiga mutawa (Polisi Syariah/hukum Islam) datang ke pintu pagar rumah kami. Aku
dan tiga orang pelayan Filipina
mengintip dari salah satu jendela lantai atas, melihat
mereka berteriak ke arah Omar dan membuat gerak
isyarat ke langit dan ke arah beberapa buku dan majalah
yang jelas-jelas tidak mereka sukai. Aku ingin tertawa,
namun berusaha menjaga agar wajahku kelihatan datar
dan serius. Semua orang asing dan sebagian besar orang Saudi
takut pada mutawa karena mereka memiliki kekuasaan
yang besar, dan mereka mengamati setiap orang kalau
57 kalau ada gelagat kekurangan. Bahkan anggota keluarga
kerajaan berusaha menghindari perhatian mereka.
Dua minggu sebelum ini, salah satu pelayan Filipina
kami membuat marah beberapa mutawa karena memakai
rok pendek di pasar. Sekelompok mutawa melecutnya
dengan tongkat dan menyemprot kakinya yang tak
tertutup dengan cat merah. Walaupun pemerintah Arab
Saudi tidak mengizinkan turis memasuki negara kami, ada
banyak perempuan yang bekerja sebagai perawat,
sekretaris, atau pembantu rumah tangga di kota-kota
besar. Banyak dari perempuan ini merasa gusar pada
orang-orang yang memakai kata-kata Tuhan untuk
memandang rendah jenis kelamin perempuan. Jika
seorang perempuan berani menentang tradisi dengan
membiarkan tangannya atau kakinya terbuka, ia akan
mendapat risiko di cambuk dan disemprot dengan cat.
Pelayan kami ini merendam kakinya dalam cairan
penghapus cat, namun kakinya masih tetap merah dan
tampak kasar. Ia yakin bahwa entah bagaimana para
Polisi Syariah itu telah mengikutinya ke rumah dan
mereka sekarang akan memasukkannya ke penjara. Ia lari
untuk bersembunyi di bawah tempat tidurku. Aku ingin
mengatakan yang sebenarnya mengapa para Polisi
Syariah itu datang sekarang, tapi aku harus menjaga
rahasiaku meskipun dari seorang pelayan Filipina.
Omar benar-benar pucat ketika masuk rumah seraya
berteriak memanggil Faruq. Aku lihat Faruq dengan hati-
hati berjalan ke arah pintu masuk dengan ujung kaki
kanannya diangkat dan tumit berusaha menjaga
keseimbangan tubuhnya. Aku mengikutinya bersama ibu.
Faruq sedang di ruang duduk, dan Omar menelpon,
menghubungi ayah di kantornya. Para mutawa sudah
pergi, memberikan Omar contoh barang selundupan: satu
majalah, beberapa slide, dan satu botol kecil minuman
58 keras. Sisanya mereka simpan sebagai barang bukti
kesalahan Faruq. Aku menatap Faruq dan melihat
wajahnya pucat ketika ia mengetahui 'harta karun rahasia'
nya ada di tangan Omar. Melihat aku di sana, Omar menyuruhku
meninggalkan ruangan, tapi aku memegang erat rok ibuku
dan ia menepuk-nepuk kepalaku. Ibu pasti benci melihat
cara Omar memerintah anaknya dan ia menantang mata
Omar. Omar memutuskan untuk mengabaikan kami. Ia
menyuruh Faruq duduk, Ayah sedang dalam perjalanan
pulang dan para mutawa sudah pergi ke kantor polisi.
Faruq akan ditahan, ia mengatakannya dengan nyaring.
Kesunyian di ruangan itu muncul seperti ketenangan
sebelum prahara terjadi. Untuk sesaat aku merasa takut,
tapi kemudian Faruq kembali tenang dan membalas Omar,
ia mengatakan: 'Mereka tidak bisa menahanku, aku
adalah pangeran. Orang-orang agama yang fanatik itu tak
lebih dari serangga sial di kakiku.' Sekelebat pikiran
singgah di kepalaku bahwa penjara mungkin tidak akan
membuat Faruq lebih baik.
Bunyi rem mobil ayah menandakan ia sudah datang.
Dengan terburu-buru ia masuk ke dalam rumah dengan
menahan amarah. Ia mengambil barang-barang terlarang
itu satu persatu. Ketika ia melihat majalah itu, ia melihat marah ke Faruq. Ia
hanya menyingkirkan minuman keras
itu dengan jijik, karena semua pangeran memiliki
minuman keras di rumah mereka. Tapi ketika ayah
memegang slide itu dan mendekatkannya ke lampu, ia
berteriak padaku dan ibuku agar meninggalkan ruangan.
Kami bisa mendengar ia menampar Faruq dengan
tangannya. Bagaimanapun, ini adalah hari yang buruk bagi
Faruq. Para mutawa berfikir pasti lebih baik menelpon polisi
59 untuk menangkap salah seorang anak keluarga kerajaan,
karena tak lama kemudian mereka kembali dengan sedikit
kemarahan orang yang saleh. Bahkan ayahpun merasa
kesulitan menghadapi para mutawa ini saat meminta maaf
atas slide yang menggambarkan persetubuhan perempuan
dengan hewan. Itu terjadi tahun 1968, dan Raja Faisal tidak
setoleran kakaknya yang tertua, Raja Saud, terhadap
kelakuan tak senonoh pangeran-pangeran muda. Para
mutawa merasa mereka berada dalam posisi sangat
berkuasa, karena mereka dan ayah tahu bahwa paman
nya, sang Raja, akan sangat tersakiti jika isi slide itu menjadi pengetahuan
umum. Ketakutan para mutawa
memiliki kaitan dengan rangkaian modernisasi yang
terjadi saat itu di negeri kami. Raja Faisal terus
mengingatkan saudara-saudaranya dan keponakan-
keponakannya agar mengawasi anak-anak mereka untuk
menghindari kemarahan para Polisi Syariah terhadap
kepala keluarga kerajaan yang memerintah. Raja
meyakinkan para tetua agama bahwa ia sedang
memimpin negara ini ke arah modernisasi yang
diperlukan, bukan ke Westernisasi yang merendahkan,
mengambil yang terbaik dari Barat, bukannya yang
terjelek. Para mutawa melihat bukti dekadensi Barat
dalam perilaku keluarga kerajaan. Koleksi slide Faruq
membuktikan pada mereka tentang kabar burung yang
mengatakan menurunnya kualitas keluarga kerajaan.
Kami mendengar para mutawa berdebat lama
sampai tengah malam tentang hukuman yang pantas
untuk seorang pangeran. Faruq beruntung termasuk
anggota keluarga kerajaan Saud. Para mutawa tahu
bahwa tak satupun pengeran dari keluarga kerajaan akan
dituntut di dalam sistim pengadilan negara, kecuali Raja memberikan restunya.
Namun perstiwa seperti itu jarang
60 terjadi. Tapi jika Faruq berasal dari keluarga biasa atau anggota masyarakat
asing, ia akan mendapat hukuman
penjara yang lama sekali.
Kami sekeluarga semuanya tahu tentang kisah sedih
saudara laki-laki sopir Filipina kami. Empat tahun yang
lalu, kakaknya yang bekerja pada sebuah perusahaan
Italia untuk pembangunan di Riyadh, ditangkap karena
memiliki film porno. Laki-laki malang itu sekarang
menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun. Tidak
hanya merana di dalam penjara, namun ia juga mendapat
sepuluh cambukan setiap hari Jumat. Sopir kami, yang
mengunjungi saudaranya setiap sabtu, menangis ketika ia
mengatakan kepada Faruq setiap kali melihat kakaknya
yang malang dengan punggung, dari leher sampai kaki,
menghitam akibat cambukan itu. Ia takut kakaknya tak
akan bisa bertahan hidup lagi di tahun berikutnya.
Sial bagi Faruq, kesalahannya terpampang dengan
jelas karena namanya nyata-nyata tertulis pada setiap
barang terlarang itu. Akhirnya kompromi pun dibuat: Ayah memberi sejumlah besar
uang untuk masjid, dan Faruq
harus hadir di masjid setiap salat lima waktu setiap hari untuk membuat senang
para ulama, termasuk Allah. Para
mutawa tahu bahwa hanya sedikit pangeran muda
keluarga kerajaan yang pergi ke masjid setiap harinya,
dan itulah mengapa hukuman seperti itu akan merupakan
sesuatu yang menjengkelkan bagi Faruq. Ia diharuskan
melapor ke kepala mutawa di masjid kami lima kali sehari selama setahun
berikutnya. Ia hanya diizinkan tidak
datang bila keluar kota. Sebelumnya Faruq biasa tidur
sampai jam sembilan. Ia tidak suka bangun pagi untuk
salat subuh. Tambah lagi ia harus menulis seribu kali di atas kertas resmi:
'Allah Maha Besar, dan aku telah
melawan perintahnya dengan mengikuti adat kebiasaan
Barat yang tidak bermoral dan buruk.' Sampai akhirnya,
61 Faruq disuruh mengungkapkan nama orang yang telah
memberinya slide dan majalah tersebut. Seperti biasa,
Faruq membawa majalah-majalah itu dari perjalanan ke
luar negeri dan setelah itu pangeran mendapatkannya
melalui pabean hanya dengan perintah sekilas lewat mata.
Padahal seorang bule yang berlagak seperti sahabat di
sebuah pesta telah menjual slide itu padanya, dan Faruq, yang ingin sekali
mengungkapkan nama penjahat asing itu
untuk meringankan tekanan pada dirinya, dengan gembira
memberikan nama dan alamat kantor bule itu pada para
mutawa. Kami kemudian mengetahui bahwa laki-laki itu
ditangkap, dicambuk dan dideportasi.
Aku merasa ngeri. Kelakar bodohku
mempermalukan seluruh keluarga dengan penghinaan
yang menyakitkan. Aku tidak menyangka bahwa pelajaran
itu akan membahayakan Faruq, mencoreng nama orang
tuaku, dan membuat orang lain yang tak berdosa ikut
terluka. Aku pun malu mengakui bahwa aku sangat
ketakutan bila kesalahanku ketahuan. Aku berdoa pada
Allah, jika Ia membiarkankanku tidak ketahuan sekali ini, mulai sekarang dan
selanjutnya, aku akan menjadi anak
yang baik. Omar mengantar para mutawa keluar dari halaman
kami. Aku dan ibu menunggu ayah dan Faruq kembali ke
ruang duduk. Ayah menarik nafas keras dan menjepit
Faruq dengan lengan atasnya, mendorongnya menuju


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lantai atas. Faruq melihat ke arahku dan pandangan kami
bertemu. Hanya sebentar, dan aku segera sadar bahwa
Faruq telah menyimpulkan akulah pelakunya. Parahnya,
Faruq tampak lebih terluka, bukannya marah.
Aku mulai terisak, karena aku merasa perbuatan
yang kulakukan buruk sekali. Ayah melihatku dengan
kasihan. Kemudian ia mendorong Faruq dan berteriak
bahwa ia telah merusak seluruh keluarga, termasuk anak
62 kecil yang tidak berdosa. Kali pertama dalam hidupku,
ayah datang padaku, memelukku dan berkata "jangan
khawatir". Aku benar-benar merasa sangat sedih. Sentuhan
yang selama hidupku sangat kurindukan sekarang terasa
kosong, dan kegembiraan yang selama ini kubayangkan
rusak akibat hadiah yang kumenangkan dengan cara
salah. Bagaimanapun, kelakuan burukku benar-benar
mengenai target. Belum lagi apa yang sebelumnya
kulakukan: melukai jari kaki Faruq atau memasukkan ikat
kepala Faruq ke toilet. Satu dosa lebih berat daripada
dosa lainnya, sehingga keduanya saling membatalkan.
63 6 Meskipun baru saja terjadi kekacauan dalam keluarga,
perjalanan ke Italia dan Mesir tetap direncanakan, namun hatiku tak lagi
dipenuhi kegembiraan. Aku sedang
mempersiapkan isi koperku ketika aku melihat Faruq
berjalan dengan susah payah dan hati-hati melewati pintu kamar tidurku. Dulu,
aku selalu dianggap sebagai anak
kecil yang layak dicemooh, dibenci atau kadang-kadang
diserang seseorang yang sangat tidak berharga. Sekarang
ia melihatku dengan cara berbeda. Ia mulai sadar bahwa,
meski aku seorang perempuan termuda yang dianggap
rendah, aku adalah orang yang berbahaya dan lawan yang
layak dipertimbangkan. Di hari keberangkatan, kami pergi ke bandara
dengan menggunakan enam buah limosin. Kami semua
berjumlah sebelas orang: Nura dan Ahmed, dengan tiga
dari lima orang anaknya; dua pelayan Filipinanya; Sara
dan aku sendiri; serta Faruq dan seorang temannya Hadi.
Kami akan bepergian selama sebulan.
64 Hadi adalah pelajar Institute Agama di Riyadh, se-
buah sekolah bagi anak laki-laki yang ingin menjadi
mutawa. Hadi lebih tua dua tahun dari Faruq. Hadi
memukau orang-orang dewasa dengan kemampuannya
mengutip ayat-ayat Alquran dan bertindak sangat alim.
Ayahku merasa Hadi bisa memberi pengaruh baik kepada
anaknya. Di mata para pendengarnya, Hadi memiliki
pandangan bahwa semua perempuan seharusnya di
rumah; ia mengatakan kepada Faruq bahwa perempuan
adalah penyebab kejahatan di bumi ini.
Aku bisa katakan, perjalanan dengan Faruq dan Hadi
ini akan menyenangkan. Ibu tidak ikut mengantar kami ke bandara. Karena
beberapa hari sebelumnya, ia tampak tak bergairah dan
sedih. Kurasa ia resah dengan perilaku memalukan Faruq.
Ia mengucapkan selamat jalan dari kebun dan
melambaikan tangannya kepada kami dari depan pagar.
Ia memakai cadar, tapi aku tahu air mata mengalir di
kedua pipinya. Aku merasa ibu tidak seperti biasanya.
Namun aku tak memiliki cukup waktu untuk memikirkan
kemungkinan sebabnya, karena aku begitu gembira
membayangkan perjalanan yang akan kami lakukan.
Ahmed baru saja membeli pesawat baru, sehingga
penerbangan kami adalah penerbangan keluarga. Aku
mencari tahu apakah yang menerbangkan pesawat adalah
dua orang Amerika yang dulu menjadi pilot waktu aku dan
ibu pergi ke Jeddah; aku kecewa ternyata bukan mereka.
Di kokpit, dua pilot Inggris, dan mereka cukup
bersahabat. Keluarga kerajaan mempekerjakan sejumlah
orang Amerika dan Inggris sebagai pilot pribadi. Ahmed
sedang berbicara dengan kedua pilot itu sementara Nura
dan pelayannya duduk bersama dengan tiga anaknya.
Sara, dengan cadar yang sudah dibuka dan siap masuk ke
dalam selimut, memegang bukunya yang sangat
65 berharga. Hadi memandang dengan rasa tak suka pada
wajahnya yang tak ditutupi, dan berbisik marah pada
Faruq, yang akhirnya menyuruh Sara memakai cadarnya
hingga kami meninggalkan Arab Saudi. Sara berkata pada
Faruq bahwa ia tidak bisa membaca melalui kain tebal
penutup mukanya, dan kalau memang cukup cerdas,
sebaiknya ia diam saja. Bahkan sebelum tinggal landas sudah muncul
percekcokan. Aku mencoba menginjak kaki Faruq yang
terluka tapi meleset, dan Faruq melayangkan pukulan ke
arah kepalaku; aku menunduk, dan pukulan itu tak
mengena. Ahmed, sebagai laki-laki yang paling tua dan
berkuasa, berteriak agar semua duduk dan diam. Ia dan
Nura bertukar pandang, mempertimbangkan-ulang
undangan baik yang mereka berikan.
Tiga tempat suci Islam adalah Mekkah, Madinah dan
Yerusalem. Mekkah adalah kota yang menarik hati jutaan
kaum Muslim di seluruh dunia, karena di sanalah Allah
menurunkan pada Nabi Muhammad wahyu tentang dasar-
dasar kehidupan beragama kami, yakni lima rukun Islam,
yang disebut tiang agama. Salah satu rukun ini
mewajibkan pada setiap Muslim yang memiliki
kemampuan ekonomi untuk menunaikan ibadah haji.
Muslim yang baik baru merasa sempurna agamanya
apabila sudah berhaji ke Mekkah sekurangnya sekali
seumur hidup. Kota suci kedua, Madinah, yang dianggap sebagai
'kota Nabi', merupakan tempat nabi dimakamkan. Dan
Yerusalem adalah kota suci ketiga. Di kota ini, tepatnya di Masjidil Aqsa (Dome
of the Rock), Nabi diangkat ke surga oleh Allah. Umat Muslim mencucurkan air
mata ketika menyebut Yerusalem, karena tempat ini sekarang
diduduki, tak lagi bebas dan terbuka untuk mereka.
66 Jika Mekkah, Madinah dan Yerusalem adalah sumber
spiritual umat Muslim, Kairo adalah mahkota kebanggaan
dan kepercayaan diri umat Muslim. Kairo
merepresentasikan lima puluh abad masa kejayaan, dan
memberi orang Arab salah satu keajaiban peradaban
terbesar yang ada di muka bumi. Mesir adalah sumber
kebanggaan terbesar bagi seluruh orang Arab.
Dibandingkan kekuatan, kekayaan, dan prestasi orang-
orang Mesir kuno, kekayaan minyak Teluk Arab modern
tampak tak berarti apa-apa.
Di Kairolah, kota yang tak pernah tidur, aku men-
jadi seorang perempuan sesungguhnya. Dalam
kebudayaan Arab, yang banyak memberi perhatian pada
perubahan dari masa kanak-kanak hingga akil balikh,
setiap gadis kecil dengan harap-harap cemas menunggu
melihat darah pertama mereka. Aku terdiam terkejut,
ketika teman-teman bule-ku bercerita bahwa mereka tak
tau apa yang terjadi ketika haid pertama mereka datang,
dan mereka yakin mereka akan mati. Di dunia Muslim,
mendapat menstruasi pertama adalah percakapan yang
sangat biasa. Secara tiba-tiba, ketika hal itu terjadi,
seorang gadis kanak-kanak berubah menjadi perempuan
dewasa. Tak ada jalan untuk kembali ke kepompong masa
kecil yang hangat dan tanpa dosa.
Di Arab Saudi, mendapat menstruasi pertama berarti
saatnya untuk memilih abaya dan cadar pertama dengan
sangat teliti. Bahkan penjaga toko, yang biasanya seorang laki-laki Muslim India
atau Pakistan, dengan senang dan
penuh hormat menanyakan saat seorang gadis kecil
berubah menjadi perempuan dewasa. Dengan segala
kesungguhan hati, penjaga toko akan tersenyum ramah,
dan membantu memilihkan abaya dan cadar demi
penampilan terbaik seorang perempuan muda.
Meskipun hitam adalah satu-satunya warna cadar,
67 ada banyak pilihan kain dan berat ringannya bahan. Cadar bisa terbuat dari bahan
yang tipis, membuat dunia bisa
melihat bayangan wajah yang terlarang. Kain dengan
berat sedang lebih praktis, karena orang bisa melihat
melalui kain tipis tanpa mendapat pandangan kasar atau
teguran tajam dari para penjaga agama. Jika seorang
perempuan memilih kain hitam tebal tradisionil, tak
seorang laki-lakipun dapat membayangkan rupa wajah
yang berada di balik topeng, yang tak akan bergerak
diterpa angin. Tentu saja, dengan memilih kain seperti itu, sulit melihat-lihat
perhiasan di pasar emas atau melihat mobil yang bergerak cepat menjelang malam.
Di samping cadar tradisionil yang berat ini, beberapa perempuan
konservatif menggunakan sarung tangan hitam dan
stoking hitam tebal sehingga tak ada bagian tubuh yang
bisa dibayangkan. Bagi perempuan yang ingin mengekspresikan
kepribadian dan selera fashion, ada cara-cara penyesuaian yang tak ada habisnya
melalui desain-desain kreatif.
Banyak yang membeli syal dengan dekorasi permata. Dan
gerakan perhiasan kecil akan membuat sebagian besar
pria menoleh. Dekorasi-dekorasi mahal yang menyolok
sering dijahitkan ke sisi-sisi dan belakang abaya.
Perempuan muda, khususnya, berjuang untuk
menciptakan gayanya sendiri dengan pilihan-pilihan unik
mereka. Laki-laki penjaga toko akan memperagakan
pakaian-pakaian dari disainer fashion abaya dan cadar
yang paling mutakhir dan memamerkan pada gadis-gadis
muda cara mengenakan syal ke kepala untuk
menghasilkan corak fashion yang bagus. Penjaga toko
juga akan menunjukkan cara mengikatkan abaya
sehingga bagian kaki yang diizinkan terbuka tidak
dianggap beresiko. Setiap gadis muda mencoba-coba
sendiri menemukan cara memakai abayanya berdasarkan
68 kemampuan mereka. Masuk toko sebagai gadis, saat keluar menjadi se-
orang perempuan muda dewasa yang bercadar, dan saat
itu ia memasuki usia pantas menikah. Kehidupannya
berubah dalam hitungan detik. Laki-laki Arab jarang yang mau memandang ke
seorang gadis yang masuk ke toko,
namun ketika keluar dengan memakai cadar dan abaya,
diam-diam gadis itu akan diperhatikannya.
Seorang laki-laki akan berusaha mencuri pandang ke
bagian terlarang, pergelangan kaki yang erotis. Dengan
cadar, kami perempuan Arab menjadi sangat menggiurkan
dan diinginkan oleh laki-laki Arab.
Tapi aku sekarang sedang di Kairo, bukan di rumah
di Arab Saudi, sehingga dampak dari menstruasi
pertamaku tidak terlalu menggangguku. Sara dan Nura
mengajarkan segala sesuatu yang harus dilakukan
perempuan. Mereka berdua mengingatkanku untuk tidak
bercerita pada Faruq, karena mereka tahu Faruq akan
memaksaku langsung memakai cadar, meskipun di Kairo.
Sara memandangku dengan sedih dan memelukku
lama sekali. Ia tahu bahwa mulai hari ini aku akan
dianggap sebagai ancaman dan bahaya bagi semua laki-
laki sampai aku menikah dan hidup terkurung di balik
dinding. Di Kairo, Ahmed memiliki sebuah apartemen mewah
berlantai tiga di pusat kota. Kamar pribadi Ahmed dan
Nura ada di lantai paling atas. Dua pelayan Filipina, tiga anak-anak Nura, Sara
dan aku tinggal di lantai dua. Faruq, Hadi dan penjaga rumah, seorang Mesir,
tinggal di lantai bawah. Aku dan Sara berpelukan senang ketika tahu kami
tidak selantai dengan Faruq dan Hadi.
Pada malam pertama, Ahmed, Nura, Hadi dan Faruq
berrencana pergi ke klab malam untuk menonton tari
69 perut. Menurut Ahmed, Sara dan aku harus tinggal di
rumah bersama para bayi dan pelayan Filipina. Sara tidak protes, tapi aku
memohon dengan sangat sehingga
Ahmed merasa kasihan. Pada usia empat belas tahun, aku dengan gembira
datang ke negeri para Fir'aun dan menyatakan Kairo
sebagai kota favoritku. Cinta pada Kairo tak pernah
diragukan lagi. Kehebatan kota ini memabukkanku dengan
hasrat yang tak pernah kurasakan sebelumnya, dan
perasaan itu tak pernah bisa kujelaskan sampai hari ini.
Laki-laki dan perempuan dengan berbagai macam warna
kulit dan pakaian memenuhi jalan-jalan, mencari
petualangan dan kesempatan. Aku merasa hidupku
sebelum ini sangat kering, tanpa gairah. Menurutku, kota Kairo sangat bertolak
belakang dengan kota-kota di
Arabia, yang tandus dan tak hidup.
Ada kemiskinan yang mengganggu ketenangan, na-
mun itu tak segera menyurutkan hatiku, karena aku
melihat di dalamnya kekuatan hidup yang amat sangat
besar. Kemiskinan bisa mengubah orang menjadi lebih
bersemangat untuk melakukan perubahan dan revolusi.
Tanpa keadaan seperti itu umat manusia akan sampai
pada perhentian. Perhatianku tertoleh kembali ke Arab
Saudi dan menyadari bahwa beberapa kadar kemiskinan
seharusnya merembes ke dalam kehidupan kami dan
memaksa kami memperbaharui kehidupan spiritual.
Memang, ada banyak tingkat kelas masyarakat di
negeriku, mulai dari keluarga kerajaan yang terkaya
sampai para pekerja dengan gaji terendah. Tapi
semuanya, termasuk pekerja-pekerja asing, hidup tanpa
kekurangan dan semua kebutuhan dasar mereka
terpenuhi. Pemerintah kami menjamin kesejahteraan semua
penduduk. Setiap warga negara laki-laki mendapatkan


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

70 jaminan rumah, kesehatan, pendidikan, bisnis, pinjaman
bebas bunga dan bahkan uang untuk makanan, dan
berbagai keperluan tambahan. Warga negara perempuan
ditanggung oleh laki-laki di dalam keluarga mereka,
apakah itu ayah, suami, saudara laki-laki atau sepupu.
Akibat tercukupinya kebutuhan dasar adalah
kurangnya semangat hidup di negeriku yang ditimbulkan
oleh keinginan materi. Itulah mengapa aku tak yakin jika pagina-pagina sejarah
bisa menyentuh negeriku. Kami
orang Saudi terlalu kaya, terlalu mapan dan apatis untuk sebuah perubahan.
Ketika kami berkeliling di kota Kairo
yang sibuk, aku mengutarakan pandanganku ini ke
keluargaku, tapi aku lihat hanya Sara yang mendengarkan
dan memahami esensi pemikiranku.
Matahari mulai tenggelam, dan langit mulai
berwarna keemasan di atas piramida-piramida. Aliran
lambat sungai nil memberi nafas kehidupan pada seluruh
kota dan padang pasir. Melihat itu, aku merasa kehidupan menyeruak melalui urat
nadiku. Faruq dan Hadi sangat marah karena Sara dan aku
dua perempuan yang belum menikah diizinkan ikut ke
klab malam. Hadi berbicara panjang lebar dan serius pada Faruq tentang
kemunduran nilai-nilai keluarga kami. Ia
mengungkapkan dengan sangat puas bahwa saudara-
saudara perempuannya telah menikah pada usia empat
belas tahun, dan mereka dijaga secara penuh oleh laki-
laki di keluarganya. Ia mengatakan bahwa, sebagai polisi syariat, dirinya harus
protes pada ayah kami sekembali
dari perjalanan ini. Sara dan aku, karena jauh dari Riyadh, berani menghadapinya
dan mengatakan bahwa ia (Hadi)
belum lagi menjadi polisi syariat. Kami katakan ini
padanya, dalam bahasa popular yang kami pelajari dari
menonton film-film Amerika, 'untuk menyelamatkannya'.
Mata Hadi melotot ke penari-penari itu, dan
71 mengucapkan kata-kata kotor ke bagian-bagian tubuh
mereka. Kemudian ia bersumpah pada Faruq bahwa
mereka itu adalah pelacur, dan bila diperbolehkan, ia akan melemparinya dengan
batu. Hadi itu seorang bodoh yang
angkuh. Bahkan Faruq capek pada sikapnya yang sok alim
dan mulai mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke meja
dengan tak sabar dan melihat ke sekeliling ruangan.
Setelah komentar dan sikap Hadi, giliran aku yang
terkejut dengan tindakannya di hari berikutnya.
Ahmed menyewa sopir untuk mengantar Nura, Sara
dan aku berbelanja. Ahmed pergi menghadiri pertemuan
bisnis. Penjaga rumah, yang juga sopir, mengantar kedua
pelayan Filipina dan ketiga anak-anak Nura ke kolam
renang di Hotel Mena House. Ketika kami meninggalkan
apartemen, Faruq dan Hadi sedang bermalas-malasan,
letih karena acara semalam.
Panas yang sangat terik membuat Sara cepat lelah.
Aku tawarkan untuk kembali ke apartemen dan
menemaninya sementara Nura menyelesaikan belanja.
Nura setuju, ia menyuruh sopir mengantar kami, dan
kembali lagi nanti untuk menjemputnya.
Ketika kami memasuki apartemen, kami mendengar
jeritan tertahan. Sara dan aku mengikuti suara itu yang
ternyata berasal dari ruangan Faruq dan Hadi. Pintunya
tak terkunci, dan kami segera tahu apa yang sedang
terjadi di depan mata kami. Hadi sedang memperkosa
seorang gadis kecil, umurnya tak lebih dari delapan tahun, dan Faruq memegangi
gadis kecil itu. Darah ada di mana-mana. Faruq dan Hadi malah tertawa.
Melihat pemandangan yang traumatis ini, Sara
menjadi histeris dan mulai berteriak dan lari. Wajah Faruq sangat marah ketika
ia mendorongku keluar dari ruangan,
yang membuatku jatuh ke lantai. Aku mengejar Sara.
Kami duduk berdekatan di dalam kamar.
72 Ketika aku tak tahan lagi mendengar suara teror itu,
yang terdengar sampai ke kamar kami, aku mengendap-
endap ke ruang tangga. Dengan putus asa aku mencoba
memikirkan perbuatan itu dan pada saat yang sama bel
berbunyi. Aku lihat Faruq membuka pintu menemui
seorang perempuan Mesir berumur kira-kira empat puluh
tahun. Ia memberi perempuan itu lima belas poun Mesir
dan bertanya apakah ia masih punya anak gadis.
Perempuan itu menjawab ya, dan akan kembali besok.
Hadi mengantar anak yang sedang menangis itu. Sang
ibu, tanpa menunjukkan emosi apa pun, meraih anak itu,
yang berjalan pincang dengan air mata mengalir deras di
wajahnya. Ahmed tidak nampak terkejut ketika Nura, dengan
marah, menceritakan padanya tentang peristiwa itu. Ia
mengerutkan bibirnya dan berkata akan mencari tahu detil kejadiannya. Kemudian
ia mengatakan pada Nura bahwa
ibu anak itu sendiri yang menjual anaknya, sehingga tak
ada yang bisa ia lakukan.
Meskipun tertangkap basah dalam tindakan yang
memalukan, Faruq dan Hadi bersikap seolah-olah tak
terjadi apa pun. Ketika aku mengejek Hadi dan bertanya
padanya bagaimana ia bisa menjadi polisi syariat, ia
tertawa di hadapan wajahku. Aku berbalik ke Faruq dan
mengatakan padanya bahwa aku akan mengadukannya ke
ayah karena telah menyerang gadis kecil. Tetapi ia
tertawa bahkan lebih keras dari Hadi. Ia mencondongkan
wajahnya ke arahku dan berkata: 'Katakan saja! aku tak
peduli!' Kata Faruq, justru ayah yang memberinya nama
agen yang bisa dihubungi untuk mendapatkan pelayanan
seperti itu. Ia tersenyum dan mengatakan gadis kecil lebih menyenangkan,
apalagi, katanya, ayah selalu melakukan
hal itu saat pergi ke Kairo.
Aku merasa tersengat listrik; pikiranku terbakar,
73 mulutku ternganga, dan aku menatap kosong pada
saudara laki-lakiku itu. Yang terpikir pertama olehku:
semua laki-laki adalah iblis. Aku ingin menghapus
ingatanku tentang hari itu dan masuk kembali ke masa
kecilku yang lugu. Aku perlahan berjalan menjauh. Aku
menjadi takut akan apa yang mungkin aku temui
selanjutnya dalam dunia laki-laki yang kasar.
Aku masih menghargai Kairo sebagai kota
pencerahan, tapi kerusakan yang disebabkan oleh
kemiskinan menyebabkan aku berfikir ulang tentang
pandanganku sebelumnya. Kemudian masih di minggu itu,
aku melihat ibu Mesir itu kembali mengetuk pintu dengan
seorang gadis kecil lain dalam gandengannya. Aku ingin
bertanya padanya, sekadar ingin tahu, mengapa seorang
ibu bisa menjual anaknya. Ia melihat tatapanku yang
menusuk dan penuh tanya, ia kemudian buru-buru pergi.
Aku dan Sara berbincang dengan Nura selama be-
berapa jam tentang fenomena itu, dan dengan menarik
nafas panjang Nura menceritakan bahwa kata Ahmed cara
hidup seperti itu terjadi di banyak negara. Saat aku
berteriak dengan marah bahwa aku lebih baik menderita
kelaparan daripada menjual anakku, Nura setuju; tapi ia
berkata, mudah berbicara seperti itu ketika perutmu
sedang tidak perih kelaparan.
Kami tinggalkan Kairo dan kesengsaraannya. Sara
akhirnya memiliki kesempatan untuk merealisasikan
impiannya tentang Italia. Apakah wajahnya yang berseri-
seri seimbang dengan luka yang didapatnya untuk bisa
datang ke sini" Dengan berkhayal ia menyatakan bahwa
kenyataan sedang membumbung tinggi di atas fantasi-
fantasinya. Kami mengelilingi kota Venice, Florence dan Roma.
Keriangan dan tawa dari orang-orang Italia masih
terngiang di telingaku. Aku pikir kecintaan mereka pada
74 hidup adalah salah satu berkah terhebat dunia, jauh
melebihi kontribusi mereka pada seni dan arsitektur.
Karena lahir di negeri yang murung, aku terhibur
dengan pikiran tentang sebuah bangsa yang tak
memahami dirinya terlalu serius.
Di Milan, Nura menghabiskan banyak uang dalam
hitungan beberapa hari, padahal orang lain butuh seumur
hidup untuk mendapatkannya. Seolah-olah ia dan Ahmed
berbelanja gila-gilaan, dengan keinginan yang sangat kuat untuk mengisi suatu
kekosongan dalam hidup mereka.
Faruq dan Hadi menghabiskan waktunya dengan
membeli perempuan, karena jalan-jalan di Italia, siang
malam, dipenuhi oleh perempuan-perempuan muda yang
tersedia bagi mereka yang mampu membayar. Aku
melihat Faruq seperti kukenal, seorang laki-laki muda
yang egois, yang hanya memerhatikan kesenangannya.
Tapi Hadi jauh lebih jahat, karena ia membeli perempuan
dan kemudian mengutuk mereka karena perbuatan
mereka. Ia menginginkan mereka, tetapi sekaligus
membenci mereka. Ia membenci sistim yang membebas-
kan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
Bagiku, kemunafikan Hadi adalah esensi sifat jahat laki-
laki. Ketika pesawat kami mendarat di Riyadh, aku mem-
persiapkan diriku untuk keadaan yang lebih tak
menyenangkan. Dengan usia empat belas tahun, aku
sekarang dianggap perempuan dewasa, dan takdir yang
berat sudah menungguku. Betapapun sulitnya masa
kecilku, aku sangat ingin kembali ke masa itu dan tak
ingin beranjak pergi. Aku yakin hidupku sebagai
perempuan yang akil baliq akan merupakan perjuangan
abadi melawan aturan sosial negeriku, yang
mengorbankan kaum perempuan.
Ketakutan akan masa depan membuat wajahku
75 pucat. Sampai di rumah, aku menemukan ibu sedang
sekarat. 76 7 Satu-satunya kepastian dalam hidup kita adalah
kematian. Sebagai orang yang percaya pada kata-kata
Nabi Muhammad, ibuku tidak takut pada kematian. Ia
menjalani hidup saleh sebagai Muslim yang baik dan tahu
bahwa pahala telah menunggunya. Duka cita dan
ketakutannya bercampur mengingat beberapa anak
perempuannya belum menikah. Ia adalah kekuatan kami,
satu-satunya pendukung kami, dan ia tahu bahwa kami
akan terombang ambing diterpa angin setelah
kepergiannya. Ibu mengaku, hidupnya hampir berakhir bahkan
ketika kami masih dalam perjalanan. Ibu tidak tahu
alasannya kecuali tiga mimpi aneh yang datang dalam
tidurnya. Orangtua ibuku meninggal akibat demam ketika ibu
masih berumur delapan tahun. Sebagai satu-satunya anak
perempuan, ibu merawat orang tuanya selama sakit.
Mereka berdua nampak sudah pulih ketika, di tengah
77 tengah badai pasir, ayah dari ibuku (kakek) setengah
bangkit dari pembaringan, dan tersenyum ke langit,
sambil mengucapkan kata-kata 'aku melihat taman' dan
kemudian meninggal. Sedangkan ibu dari ibuku (nenek)
meninggal tak lama setelah itu tanpa mengungkapkan
isyarat kesaksian yang telah menunggu. Ibuku kemudian
diasuh empat kakak laki-lakinya, menikah dengan ayahku
pada usia yang sangat muda.
Kakek adalah orang yang menyenangkan dan balk.
Ia mencintai anak perempuannya sebagaimana ia
mencintai anak laki-lakinya. Ketika laki-laki lain kesal dengan kelahiran anak
perempuan, kakek tertawa dan
mengatakan pada mereka agar bersyukur pada Allah atas
karunia Nya, yang memberikan sentuhan lembut dalam
rumah mereka. Ibu mengatakan ia tak akan menikah di
usia yang sangat muda jika kakek masih hidup. Kakek
pasti akan memberinya waktu untuk menikmati
kebebasan masa kecil; ibu sangat yakin akan itu.
Sara dan aku duduk di samping ibu ketika ibu
dengan terbata-bata menceritakan mimpinya yang
mengganggu itu. Mimpi pertamanya datang empat malam
sebelum kami menerima berita tentang usaha bunuh diri
Sara. 'Aku berada di dalam tenda badui, tenda itu sama
dengan tenda keluarga di masa kecilku. Aku terkejut
melihat ibu dan ayahku, muda dan sehat, duduk di
samping pembakaran kopi. Aku mendengar kakak laki-
lakiku di kejauhan sedang berjalan pulang dari
menggembala domba. Aku tergopoh-gopoh mendatangi
orang tuaku, tapi mereka tak bisa melihatku, juga tidak
bisa mendengarku ketika aku berteriak memanggil nama
mereka. 'Dua dari kakak laki-lakiku, yang sekarang sudah
meninggal, masuk ke tenda dan duduk bersama
78 orangtuaku. Kakak-kakakku menyesap susu unta yang
masih hangat dari sebuah gelas kecil, sementara ayahku
menumbuk biji kopi. Mimpi itu berakhir ketika ayah
mengutip sebuah syair tentang Surga yang menunggu
seorang Muslim saleh. Syair itu sederhana, namun
menentramkan hatiku. Syair itu berbunyi:
Sungai mengalir tenang Pohon-pohon rindang melindungi dari panas matahari
Buah-buahan berjatuhan Susu dan madu berlimpah Kekasih menunggu orang yang terperangkap di bumi.'
Mimpi berhenti di situ. Ibu berkata ia tak begitu
memikirkan mimpi itu, karena ia mengira itu pesan
menyenangkan dari Tuhan untuk meyakinkannya bahwa
orangtua dan keluarganya ada di surga.
Kira-kira seminggu setelah Sara pulang, ibu men-
dapatkan mimpi kedua. Sekarang, semua keluarganya


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang sudah meninggal sedang duduk di bawah rindang
pohon palem. Mereka memakan makanan yang enak dari
piring perak. Tapi kali ini mereka melihat ibu. Kemudian ayah ibu bangkit dan
datang menyambutnya. Ia menggamit ibu dan mengajaknya duduk dan makan.
Ibu mengatakan, dirinya takut dan mencoba pergi,
namun sang ayah memegangnya kuat-kuat. Ibu ingat
bahwa ia masih memiliki anak kecil yang harus dirawat
dan memohon kepada ayahnya untuk melepaskannya; ia
mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak memiliki
waktu untuk duduk dan makan. Nenek kemudian berdiri
dan menyentuh bahunya dan berkata padanya: 'Fadila,
Allah akan menjaga anak-anakmu. Sudah saatnya kamu
79 meninggalkan mereka dalam penjagaan-Nya.'
Ibu terbangun dari mimpinya. Katanya ia langsung
tahu bahwa waktunya untuk tinggal di dunia sudah habis
dan ia akan segera pergi ke tempat orang-orang yang
telah mendahuluinya. Dua minggu setelah kami pergi, ibu mulai merasa
sakit di punggung dan leher. Ia merasa pusing dan lemah.
Sakit itu adalah pesan bahwa ia tahu waktunya pendek. Ia pergi ke dokter dan
mengatakan tentang mimpinya itu
dan sakit barunya. Sang dokter menolak mimpi-mimpi itu
dengan mengibaskan tangan, tapi kemudian menjadi
serius mendengar penjelasan sakit ibu. Tes-tes khusus
segera menunjukkan bahwa ada sebuah tumor yang tak
dapat dibedah pada tulang belakangnya.
Mimpi ibu yang terakhir datang pada malam ketika
dokter mengkonfirmasikan keadaan sakitnya. Dalam
mimpi itu, ia sedang duduk dengan keluarganya yang
amat menyenangkan, makan dan minum dengan riang
dan bebas. Ia ditemani oleh orang tuanya, kakek dan
neneknya, saudara laki-laki dan sepupu-sepupunya
kerabat yang sudah lama meninggal. Ia tersenyum ketika
melihat seorang anak kecil merangkak di lantai dan
mengejar kupu-kupu di padang rumput. Ibunya
tersenyum padanya dan berkata: 'Fadila, mengapa kamu
tidak memerhatikan bayi-bayimu" Apakah kamu tidak
mengenali darah dagingmu"
Ibu segera menyadari bahwa mereka benar anaknya
mereka adalah anak-anaknya yang meninggal ketika
masih dalam kandungan. Mereka berkumpul dalam
pangkuan ibu, lima bayi yang sangat menyenangkan, dan
ibu mulai mengayun dan memeluk mereka erat.
Ibu pergi ke anaknya yang dulu hilang dan
meninggalkan anak yang ia kenal. Ia meninggalkan kami.
80 Syukur pada Allah, ibu meninggal dengan tenang.
Aku merasa, Tuhan melihat betapa ibu telah melewati
cobaan berat hidup sebagai orang saleh sehingga tidak
perlu lagi dilukai lagi dengan sakit sakratul maut.
Anak-anak perempuannya mengelilingi setiap inci
ranjang kematiannya ia terbaring diselimuti cinta darah
dagingnya. Matanya menatap kami satu persatu, tak ada
kata yang terucap, tapi kami bisa merasakan ucapan
selamat tinggalnya. Ketika tatapannya berhenti di wajahku, aku melihat
kekhawatirannya terasa seperti badai, karena ia tahu
bahwa aku adalah anak yang keras hati, dan akan
mengalami hidup yang lebih berat dari yang sebelumnya.
Tubuh ibu dimandikan dan dipersiapkan untuk
dikembalikan ke tanah oleh bibi-bibi yang lebih tua. Aku melihat ketika mereka
membungkus tubuhnya yang kurus
dengan kain kapan putih, tubuh yang letih karena
melahirkan dan penyakit. Wajahnya tampak damai,
sekarang bebas dari kecemasan-kecemasan duniawi.
Menurutku, ibu tampak lebih muda dalam
kematiannya daripada saat ia masih hidup. Sulit bagiku
untuk percaya bahwa ia telah melahirkan enam belas
anak, dan sebelas orang yang bertahan hidup.
Keluarga dekat kami, bersama semua istri ayah
yang lain dan anak-anak mereka, berkumpul di rumah
kami, ayat-ayat Alquran dibaca untuk memberikan
ketenangan. Tubuh ibu yang sudah dibalut kain kafan
kemudian diletakkan di kursi belakang limosin hitam yang dikemudikan oleh Omar.
Adat kami melarang perempuan pergi ke tempat
pemakaman, namun aku dan saudari-saudariku
menunjukkan wajah tak mau mundur pada ayah kami;
akhirnya ayah melunak dengan janji bahwa kami tidak
81 akan meratap atau membuka rambut kami. Dengan begitu
seluruh keluarga kami mengikuti mobil jenazah, kafilah
yang sedih dan membisu, menuju padang pasir.
Dalam Islam, menunjukkan kesedihan pada orang
yang meninggal mengindikasikan ketidakrelaan akan
kehendak Tuhan. Di samping itu, keluarga kami berasal
dari wilayah Najd, Arab Saudi, dan masyarakat kami tidak menunjukkan duka cita
ke masyarakat umum ketika
orang yang dicintai meninggal.
Kuburan digali dan dipersiapkan oleh pelayan-
pelayan Sudan di tanah kami yang sangat luas. Tubuh ibu
perlahan diturunkan, dan kain yang menutupi wajahnya
dibuka oleh Faruq, satu-satunya anak laki-laki ibu.
Kakak-kakak perempuanku berkumpul jauh dari
tempat istirahat terakhir ibu, tapi mataku tidak bisa lepas dari kuburan itu.
Aku adalah anak terakhir yang lahir dari tubuhnya; aku akan tetap mengawasi
hingga kain kafan terakhir terlihat. Aku menarik diri ketika aku melihat para budak menutupkan
pasir merah ke tubuh dan wajahnya.
Ketika aku melihat pasir menutupi wajah orang yang
sangat kucintai, aku mendadak ingat syair indah filsuf
besar Libanon, Kahlil Gibran: 'barangkali pemakaman di
antara manusia adalah pesta perkawinan di antara
malaikat.' Aku membayangkan ibu berada di sisi ibu dan
ayahnya, dengan anak-anaknya berada di pelukan. Tentu
saja pada suatu saat nanti aku juga akan merasakan
sentuhan kasih ibu seperti itu. Aku berhenti menangis dan berjalan ke arah
saudari-saudariku, mengejutkan mereka
dengan senyum riang dan tenang. Aku mengutip syair
hebat itu yang dikirim Tuhan untuk menghapus lukaku,
dan kakak-kakakku mengangguk sangat paham akan
kata-kata bijak Kahlil Gibran.
Kami meninggalkan ibu di bentangan luas padang
pasir yang kosong. Tak lagi penting, apakah ada batu
82 nisan atau tidak, atau doa hikmat yang mengungkapkan
cinta dan kesederhanaan perempuan itu selama hidupnya.
Yang pasti, sekarang ia dengan anak-anaknya yang lain,
menunggu kami di sana. Faruq juga tampak kehilangan, dan aku tahu
lukanya juga sangat mendalam. Ayah tak banyak bicara
dan tak datang ke rumah kami sejak ibu meninggal. Ia
mengirim pesan-pesan pada kami melalui istri kedua,
yang sekarang menggantikan ibu sebagai pemimpin istri-
istrinya. Dalam sebulan, kami tahu dari Faruq bahwa ayah
sedang bersiap untuk menikah lagi, karena empat istri
sudah umum, apakah itu untuk laki-laki badui yang sangat kaya atau sangat
miskin. Alquran mengatakan bahwa
setiap istri harus diperlakukan sama dengan yang lain.
Tak sulit memenuhi keadilan untuk empat istri dengan
kemakmuran Arab Saudi. Seorang badui termiskin hanya
perlu mendirikan empat tenda dan menyediakan makanan
sederhana. Dengan alasan ini, Anda akan menemukan
banyak Muslim yang paling kaya atau paling miskin
memiliki empat istri. Hanya masyarakat Saudi kelas
menengah yang harus berkomitmen dengan satu orang
perempuan, karena tidak mungkin baginya mendapatkan
biaya untuk menyediakan tempat dengan standar kelas
menengah bagi empat keluarga secara terpisah.
Ayah berencana menikahi Randa, salah satu sepupu
keluarga kerajaan, teman bermainku di masa kecil.
Pengantin baru ayah berumur lima belas tahun, hanya
setahun lebih tua dariku, anak terkecilnya dari ibuku.
Empat bulan setelah pemakaman ibu, aku menghadiri
pernikahan ayahku. Aku tentu saja menolak bergabung
dalam pesta, aku diliputi oleh perasaan marah dan
dendam yang tertahan. Setelah melahirkan enam belas
anak dan bertahun-tahun mengabdi dengan patuh,
83 kenangan tentang ibu dengan gampang dilupakan oleh
ayah. Tidak hanya geram pada ayah, aku juga merasa
benci pada Randa, teman bermainku dulu. Sekarang ia
akan mejadi istri keempat, mengisi ruang kosong yang
ditinggalkan oleh ibuku yang wafat.
Pernikahan yang megah, pengantin wanitanya muda
dan cantik. Kemarahanku pada Randa hilang ketika
ayahku membimbingnya dari ruang pesta yang sangat
besar ke ranjang pengantin. Mataku terbelalak ketika
melihat wajah Randa yang ketakutan. Bibirnya gemetar
karena takut! Pada saat itu juga kemarahanku yang
dahsyat menghilang, tanda keputusasaan Randa sangat
jelas dan itu mengubah kemarahanku menjadi rasa
simpati yang lembut. Aku malu dengan rasa permusuhanku, karena
kulihat Randa adalah bagian dari kami para perempuan,
yang tak berdaya di hadapan dominasi kuat laki-laki
Saudi. Ayah pergi berbulan madu bersama pengantin
perawannya ke Paris dan Monte Carlo. Dengan
perasaanku yang telah berubah, aku menunggu Randa
kembali, dan selama hidup aku berjanji untuk
menyadarkan istri baru ayah tentang cita-cita kebebasan
perempuan di negeri kami. Aku tidak saja akan memberi
tantangan dan mimpi akan kekuatan baru bagi Randa.
Aku juga akan melukai ayah dengan kesadaran spiritual
dan kebijaksanaan istri mudanya. Aku tak bisa memafkan
ayah yang dengan mudah melupakan perempuan
menakjubkan, ibuku. 84 8 Sekembali dari bulan madu, ayah dan Randa pindah ke
rumah kami. Meskipun ibu sudah meninggal, anak-
anaknya yang masih muda tetap tinggal di rumah ayah,
dan istri barunya diharapkan mengambil tugas-tugas ibu.
Karena sebagai anak terkecil, umurku hanya terpaut satu
tahun lebih muda dari Randa, adat itu tampak
menggelikan. Bagaimanapun di Arab Saudi, tak ada ruang
manufer atau perubahan untuk menyesuaikan keadaan
seseorang, sehingga begitu Randa masuk ke rumah kami,
ia harus bertindak sebagai perempuan dewasa dan
menjadi nyonya di rumah kami yang besar.
Randa kembali dari bulan madunya, diam nyaris tak
bersemangat. Ia jarang bicara, tak pernah tersenyum, dan masuk ke rumah seolah-
olah ia akan menyebabkan luka
dan kerusakan. Ayah tampak senang dengan barang
barunya, karena ia menghabiskan banyak waktu di ruang
terpisah bersama dengan istri mudanya itu.
Setelah tiga minggu perhatian ayah seutuhnya untuk
85 Randa, Faruq mengeluarkan gurauan tentang kehebatan
seksual ayah. Aku menanyakan pendapat Faruq mengenai
perasaan Randa yang dinikahkan dengan orang yang jauh
lebih tua, yang tak dikenal dan tak dicintainya. Ekspresi hampa Faruq dengan
jelas mengatakan padaku, bukan
hanya semua itu tak pernah ada dalam pikirannya, namun
juga pertimbangan seperti itu tak akan tumbuh dalam
alam pemahamannya yang sempit. Ekspresinya
mengingatkanku bahwa tak ada yang bisa menembus
lautan gelap sikap mementingkan diri sendiri yang
membentuk pikiran seorang lelaki Saudi.
Aku dan Randa memiliki filosofi yang berbeda. Ia
percaya: 'Apa yang tertulis di dahimu, matamu akan
melihatnya.' Menurutku: 'Gambar dalam pikiranmu akan
tercermin dalam kehidupanmu.' Tambah lagi, Randa
sangat pemalu dan penakut, sebaliknya aku menyambut
hidup dengan keagresifan.
Aku memerhatikan mata Randa yang mengikuti
jarum jam; ia mulai gelisah beberapa jam sebelum waktu
kedatangan ayah untuk makan siang ataupun makan
malam. Ia mendapat perintah dari ayah agar makan
terlebih dahulu, kemudian mandi dan mempersiapkan diri
untuk menyambutnya. Setiap siang hari Randa menyuruh tukang masak
menyiapkan makannya. Ia makan sedikit dan kemudian
masuk ke kamar. Biasanya ayah pulang sekitar jam satu,
untuk makan siang, dan mendatangi istri barunya. Ia
meninggalkan rumah sekitar jam lima dan kembali ke
kantornya. (Di Arab Saudi, hari kerja dibagi dalam dua
waktu: dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, dan setelah
istirahat selama empat jam, dari jam 5 sore sampai jam 8
malam.) Melihat paras Randa yang kurus, aku terpikir untuk
menanyakan pada ayah tentang perintah Allah dalam
86 Alquran bahwa setiap Muslim diharuskan membagi siang
malamnya di antara empat istri. Sejak ia menikahi Randa, ketiga istrinya yang
lebih tua benar-benar diabaikan.
Malam adalah ulangan dari istirahat siang. Randa
memesan makan malamnya sekitar jam delapan, lalu
makan, dan kembali ke kamarnya untuk mandi dan
bersiap menyambut suaminya. Biasanya aku tak lagi
melihat dia sampai ayah berangkat kerja pagi berikutnya.
Ia diperintahkan untuk tetap di kamar tidur sampai ayah
pergi. Resah melihat kehidupan Randa yang suram, aku
terdorong untuk berbuat nakal. Aku mempunyai dua


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sahabat, yang keberaniannya lebih hebat dariku; mungkin
mereka bisa membuat Randa lebih tegas. Aku tak begitu
tahu kekuatan apa yang mendorongku membentuk klub
anak perempuan bersama Randa, dan dua temanku itu
serta aku sendiri sebagai anggota-anggota inti.
Kami menyebut klub ini dengan lively lips, karena
tujuan kami adalah berani bicara sendiri untuk melawan
sikap menerima begitu saja peran wanita dalam
masyarakat. Kami dengan sungguh-sungguh berjanji menjunjung
tinggi tujuan-tujuan berikut:
1. Dalam setiap kesempatan, biarkan semangat hak-hak
perempuan menggerakkan mulut dan membimbing
lidah mereka. 2. Setiap anggota harus berjuang menarik satu anggota
baru setiap bulan. 3. Tujuan utama kami adalah menghentikan perkawinan
gadis yang sangat muda dengan lelaki tua.
Kami perempuan muda Arab mengetahui bahwa
lelaki di negeri kami tak pernah mengikuti perubahan
sosial perempuan, oleh karena itu kami yang harus
87 memaksakannya. Sepanjang perempuan Saudi menerima
begitu saja otoritas lelaki, mereka akan di dikendalikan.
Kami menganggap tanggung jawab setiap wanita untuk
berkeinginan mengendalikan hidupnya sendiri dan
membantu perempuan lain yang hidup di dalam
lingkungan terdekatnya. Selama berabad-abad perempuan
di tempat kami telah dikalahkan, sehingga kami harus
mulai dengan membangun kesadaran.
Dua temanku, Nadia dan Wafa, meski bukan dari
keluarga kerajaan, merupakan anak-anak dari keluarga
keluarga terkemuka di kota Riyadh.
Ayah Nadia memiliki perusahaan kontraktor yang
besar. Karena mau membayar tinggi pada para pangeran,
perusahaannya mendapat kontrak-kontrak besar
pembangunan gedung pemerintah. Ia mempekerjakan
ribuan tenaga asing dari Sri Langka, Filipina dan Yaman.
Ayah Nadia hampir sama kayanya dengan keluarga
kerajaan. Ia bisa dengan mudah menanggung hidup tiga
istri dan empat belas anak. Nadia berumur tujuh belas
tahun, anak tengah dari tujuh perempuan bersaudara. Ia
kaget melihat tiga kakak perempuannya dinikahkan demi
koneksi keluarga. Anehnya, semua perkawinan itu
menyenangkan kakak-kakaknya dan mereka bahagia,
dengan suami yang baik. Kata Nadia, keberuntungan
seperti itu tak akan pernah berlanjut. Ia terus pesimis, merasa dirinya akan
dinikahkan dengan seorang lelaki
tua, jelek dan sadis. Sebenarnya Nadia lebih beruntung dibanding
sebagian besar perempuan Saudi; Ia diizinkan
melanjutkan pendidikan. Ayahnya mengatakan bahwa ia
tidak harus menikah sampai berumur dua puluh satu
tahun. Batas waktu yang sudah ditentukan membuat
Nadia bertindak. Ia menyatakan, sejak itu ia hanya punya waktu bebas selama
empat tahun. Karenanya, ia akan
88 mencoba semua aspek kehidupan untuk memenuhi
mimpi-mimpi dari sisa hidup menjemukan pernikahan
dengan lelaki tua. Ayah Wafa adalah seorang mutawa yang terkemu-
ka, dan keekstriman sang ayah telah membuat si anak
berbuat ekstrim pula. Ayahnya hanya memiliki satu istri, ibu Wafa. Ia seorang
pria bengis dan kejam. Wafa
bersumpah, dia tak peduli lagi pada agama yang
mengangkat lelaki seperti ayahnya sebagai pemimpin.
Wafa percaya kepada Allah dan menganggap Nabi
Muhammad sebagai utusanNya, namun ia bingung
bagaimana pesan-pesan Muhammad diputarbalikkan oleh
para pengikutnya, padahal Allah tak akan mengharapkan
kesedihan dari kaum perempuan yang merupakan separuh
penduduk dunia. Wafa tak perlu melihat jauh-jauh karena sudah ada
contoh di rumahnya. Ibunya tak pernah diizinkan pergi
keluar rumah; ia benar-benar tawanan, diperbudak oleh
orang yang mengabdi pada Tuhan. Mereka memiliki enam
anak, lima di antaranya laki-laki yang sudah dewasa. Wafa adalah anak yang tak
diharapkan oleh orang tua nya, dan
ayahnya sangat kecewa memiliki anak perempuan yang
kemudian benar-benar ia abaikan kecuali untuk disuruh
atau diperintah. Wafa diwajibkan tetap tinggal di rumah, belajar memasak dan
menjahit. Dari umur tujuh tahun,
Wafa dipaksa memakai abaya dan menutupi rambutnya.
Sejak berumur sembilan tahun, setiap pagi ayahnya
menanyakan padanya apakah ia sudah mendapatkan
menstruasi pertama. Ia khawatir jika anak perempuannya
keluar dengan wajah tak ditutup setelah dianggap
perempuan dewasa oleh Tuhan.
Wafa diizinkan memiliki beberapa teman. Tapi teman
yang sedikit itu tak pernah mampir lagi semenjak ayah
Wafa memulai kebiasaan menanyakan dengan tegas
89 apakah teman-temannya sudah mendapatkan menstruasi
pertama. Ibu Wafa, yang capek dan bosan pada aturan kaku
suaminya, membuat sebuah keputusan yang terlambat
dalam hidupnya, yakni dengan diam-diam mulai
menentang keinginan suaminya. Ia membantu anak
perempuannya menyelinap keluar dari rumah dan
mengatakan pada suaminya bahwa si anak sedang tidur
atau belajar Alquran. Aku membayangkan diriku yang berani dan pembe-
rontak, tapi Wafa dan Nadia membuat sudut pandangku
tentang perempuan tampak begitu lemah dan tak
berdaya. Mereka mengatakan bahwa semua yang
kulakukan hanya memberikan rangsangan yang cerdas
jawabanku terhadap persoalan adalah membicarakannya
mati-matian namun dalam kenyataannya, usahaku mem-
bantu para perempuan tidak berguna apa-apa. Memang
benar, hidupku sendiri tak berubah. Aku menyadari
mereka benar. Aku tak pernah lupa dengan sebuah kejadian di
parkir mobil bawah tanah dekat area pasar (Souq), tak
jauh dari tempat yang disebut orang asing 'Chop Chop
Square' karena di sanalah para penjahat kehilangan
tangan atau kepalanya di hari Jumat, hari suci agama
Islam. Aku menyembunyikan menstruasi pertamaku dari
ayah. Aku tak buru-buru menutupi tubuhku dengan
pakaian hitam yang dipakai perempuan dewasa. Sialnya,
Nura dan Ahmed tahu bahwa aku sudah terlalu lama
menangguhkan hal yang tak dapat dihindari. Nura
mengancamku jika aku tak secara bilang kepada ayah, ia
yang akan mengatakannya. Maka, aku mengumpulkan
teman-temanku, termasuk Randa, dan pergi bersama
membeli seragam hidupku yang baru, syal hitam dan
90 cadar hitam yang dikenakan di atas abaya hitam.
Omar mengantar kami ke pintu masuk area Souq.
Kami berempat turun dari mobil dan setuju untuk kembali
ke tempat semula setelah dua jam. Omar selalu
mengiringi kami masuk ke dalam Souq untuk melakukan
penjagaan khusus pada perempuan dari keluarga kami,
tapi hari itu ia memiliki urusan penting yang harus
dilakukannya selagi kami belanja. Di samping itu, istri
baru ayah sudah menemani anaknya, dan Omar merasa
tentram dengan kehadiran Randa yang patuh. Ia tidak
tahu bahwa Randa secara perlahan mulai bangun dari
tidur panjang kepatuhan yang tumpul.
Kami bergerak ramai-ramai dalam toko, dengan
tangan sibuk memilih berbagai macam syal, cadar dan
abaya. Aku menginginkan sesuatu yang spesial, sesuatu
yang original di samudra wanita berpakaian hitam. Aku
mengutuk diriku karena tak bisa memiliki abaya buatan
Italia, dari sutra terbaik Italia, dengan desain-desain rumit seorang seniman,
sehingga, bila aku lewat, orang akan
tahu bahwa ada seseorang di balik pakaian hitam,
seseorang perempuan yang berkelas dan bergaya.
Setiap orang memakai cadar kecuali aku. Saat me-
nuju pusat Souq untuk memilih-milih barang, aku lihat
Wafa dan Nadia saling berbisik dan tertawa genit. Aku dan Randa menghentikan
langkah, dan bertanya apa yang
membuat mereka tertawa. Nadia melihat ke arahku dan
berbicara melalu cadarnya. Ia katakan, mereka sedang
mengingat lelaki yang mereka temui saat terakhir mereka
ke pasar. Lelaki" Aku melihat ke Randa, kami berdua bingung
dengan maksud mereka. Kami hanya perlu satu jam untuk membeli abaya,
syal dan cadar yang cocok; pilihannya sangat terbatas.
91 Hidup berubah dengan sangat cepat. Sebelumnya
aku memasuki area Souq sebagai individu yang penuh
semangat kehidupan, wajahku mengekspresikan rasa
gairah terhadap dunia. Namun, kemudian aku
meninggalkan area Souq dengan tubuh tertutup dari
kepala sampai ujung jari kaki, sebuah makhluk tak
berwajah dalam warna hitam.
Harus kuakui, saat-saat pertama memakai cadar
begitu menggembirakan. Aku merasa cadar ini sesuatu
yang baru. Aku menoleh kegirangan ketika para cowok
menatap diriku, seorang gadis yang misterius di balik
pakaian hitam. Aku tahu mereka berharap ada sedikit
angin yang menyibakkan cadar dari wajahku sehingga
mereka bisa melihat sekilas bagian tubuhku yang tak
boleh dilihat. Sesaat, aku merasa jadi makhluk yang
cantik, sebuah karya indah yang harus ditutupi agar
terlindung dari hasrat lelaki yang tidak terkontrol.
Bagaimanapun, kesenangan memakai cadar dan
abaya berlalu dengan cepat. Ketika kami berjalan keluar
dari area Souq yang dingin menuju panas matahari yang
terik, aku bernapas megap-megap dari balik kain hitam
tipis. Udara yang melintas ke hidungku terasa pengap dan kering. Meski aku
membeli cadar yang paling tipis, namun aku merasa melihat kehidupan melalui
layar yang tebal. Jika kainnya lebih tebal, bagaimana mungkin perempuan
bisa melihat" Langit tak lagi biru, sinar matahari tampak suram; hatiku patah
ketika kusadari bahwa, mulai saat
itu, aku tidak akan mengalami hidup sejati di luar rumah dengan segala warnanya.
Dunia tiba-tiba tampak membosankan. Dan berbahaya! Aku meraba-raba dan
tersandung di sepanjang jalan yang tak rata, trotoar yang retak, takut kaki atau
pergelangan kakiku patah.
Teman-temanku tertawa melihat aku bergerak kaku
dan sia-sia membetulkan cadar. Aku menubruk beberapa
92 anak perempuan badui, dan merasa iri melihat mereka
leluasa dengan cadar mereka. Para perempuan badui
memakai cadar khusus, di mana mata mereka tetap
terbuka dan bisa melihat keadaan sekitar. Oh, seandainya saja aku ini perempuan
badui! Aku mau menutupi wajahku asalkan bisa melihat perubahan hidup tak
terbatas di sekitarku. Kami tiba lebih cepat di tempat janji pertemuan
yang ditentukan Omar. Randa melihat jam tangannya;
masih tersisa satu jam lagi sebelum Omar datang. Randa
mengusulkan untuk kembali masuk ke dalam area Souq
agar tidak terkena sengatan panas sinar matahari. Nadia
dan Wafa bertanya apakah kami mau sedikit bersenang
senang. Aku jawab tentu saja ya, tanpa ragu-ragu. Randa
bolak-balik mencari-cari Omar; kurasa ia risih mendengar kata-kata, senang. Aku
berhasil membujuk Randa untuk
ikut bersama Nadia dan Wafa. Aku heran mengetahui
Randa tidak pernah melanggar aturan yang ditetapkan
untuk perempuan. Randa yang malang mudah patuh
kepada orang yang berkehendak lebih kuat.
Dua gadis itu bertukar senyum dan menyuruh kami
mengikuti mereka. Mereka berjalan ke arah parkir mobil di bawah gedung
perkantoran baru, tak jauh dari area Souq.
Para lelaki yang bekerja di gedung itu dan toko-toko
sekitarnya memarkir mobil mereka di sana.
Kami berempat perlahan-lahan menyeberangi
persim-pangan jalan yang sibuk. Randa menjerit dan
menampik tanganku ketika aku menaikkan cadarku agar
bisa melihat lalu lintas. Terlambat, aku baru sadar telah memamerkan aurat
wajahku pada para lelaki di jalan!
Mereka tampak terpesona dengan keberuntungan dapat
melihat wajah perempuan di tempat umum! Aku segera
menyadari bahwa lebih baik menubruk mobil yang sedang
berjalan daripada membuka rahasia seperti itu.
93 Ketika kami sampai di lift parkir mobil, aku
terperanjat kaget melihat tindakan teman-temanku. Wafa
dan Nadia mendekati seorang lelaki asing dari Syria yang sangat tampan. Mereka
bertanya apakah ia mau sedikit
bersenang-senang. Sesaat, lelaki itu tampak bersiap
meloncat lari; ia melihat ke kiri dan ke kanan dan
memencet tombol lift. Akhirnya, lelaki itu berpikir lebih baik mau, mengingat
langkanya kesempatan bertemu
perempuan Arab Saudi yang mungkin saja cantik.
Kemudian ia bertanya kesenangan seperti apa. Wafa
bertanya pada lelaki Syria itu apakah ia memiliki mobil
dan apatemen pribadi. Ia menjawab ya; ia memiliki
apartemen dan teman sekamar, seorang Libanon. Nadia
bertanya apakah temannya butuh seorang perempuan,
dan orang Syria itu tersenyum lebar dan berkata, ya,
tentu saja, kami berdua membutuhkan perempuan.
Aku dan Randa sudah bisa menggerakkan kaki. Kami
mengangkat abaya dan lari menjauh dari tempat parkir
mobil itu, khawatir dengan keselamatan jiwa kami. Dalam


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ketergesaan itu, syalku lepas. Ketika aku kembali untuk
mengambilnya, Randa berlari menabrakku, ia jatuh
kebelakang dan terlentang di pasir, kakinya tersingkap.
Ketika Wafa dan Nadia datang, kami berdua ngos-
ngosan dan bersandar ke jendela toko. Mereka berdua
saling berdekapan, tertawa. Mereka malah menonton
ketika aku berusaha menolong Randa berdiri.
Kami berbisik marah. Bagaimana bisa mereka
berbuat bodoh seperti itu" Menemui lelaki asing !
Kesenangan apa yang mereka rencanakan " Tidakkah
mereka berpikir bahwa Randa bisa dirajam dan kami
bertiga akan dipenjara, atau lebih buruk lagi" Senang sih senang, tapi apa yang
mereka lakukan sama saja bunuh
diri! Wafa dan Nadia tertawa, tidak menghiraukan kata-
94 kata kami. Mereka tahu, jika mereka tertangkap, akan
dihukum, namun mereka tidak peduli. Bagi mereka, masa
depan begitu suram, lebih baik mengambil risiko. Apalagi, mereka mungkin akan
bertemu lelaki asing yang baik dan
mau menikahi mereka: lelaki asing mana pun lebih baik
dari pada lelaki Saudi! Aku pikir Randa akan jatuh pingsan. Ia berlari ke
jalan, mencari-cari Omar. Dia tahu, tak akan ada ampun
dari ayah jika ia tertangkap dalam situasi seperti itu. Ia merasa takut.
Omar, yang waspada dan lekas mengerti, bertanya
pada kami apa yang terjadi. Randa gelisah dan mulai
bicara, tapi aku memotong dan mengarang cerita bahwa
kami melihat seorang anak muda mencuri kalung dari
toko emas. Anak muda itu dipukul oleh penjaga toko dan
dengan kasar diseret ke penjara oleh polisi. Suaraku
gemetar ketika kukatakan bahwa kami sangat sedih
mengetahui anak itu masih terlalu muda dan akan
kehilangan tangan karena perbuatannya. Aku lega Omar
percaya dengan ceritaku. Randa menyelipkan tangannya
ke balik jubahku dan memelukku, merasa berterima kasih.
Kemudian, dari Nadia dan Wafa aku tahu apa yang
mereka sebut 'kesenangan'. Mereka menemui lelaki asing,
biasanya lelaki yang berasal dari negara-negara tetangga Arab, kadang-kadang
orang Inggris atau Amerika, di lift
parkir mobil. Mereka memilih lelaki tampan; lelaki yang
mereka kira bisa mereka cintai. Kadang-kadang lelaki itu takut dan melompat
masuk ke dalam lift, pergi dengan
cepat ke lantai lain. Di saat lain ada lelaki yang tertarik.
Jika lelaki yang mereka dekati terperdaya, Wafa dan Nadia akan setuju untuk
bertemu lagi, di lift yang sama. Mereka akan meminta lelaki itu mencari mobil
van, bukan mobil biasa, untuk menjemput mereka. Kemudian di waktu yang
sudah disetujui, mereka akan berpura-pura pergi
95 berbelanja. Sopir akan mengantar mereka ke Souq;
mereka akan membeli beberapa barang, dan kemudian
pergi ke tempat kencan. Kadang-kadang lelaki itu
bersikap hati-hati dan tidak muncul; di saat lain mereka menunggu dengan
gelisah. Jika lelaki itu mendapatkan
van, para gadis itu akan memastikan bahwa tak seorang
pun ada di sekitar dan kemudian dengan cepat melompat
ke mobil di bagian belakang. Si lelaki akan mengendarai
dengan hati-hati menuju apartemen, sebagaimana mereka
hati-hati menyelundupkan para gadis ini. Jika mereka
tertangkap, hukumannya sangat berat. Benar,
kemungkinan masing-masing pihak akan dihukum mati.
Mengapa perlu memakai mobil van, mudah
dijelaskan. Di Arab Saudi, lelaki dan perempuan tidak
diizinkan berada dalam mobil yang sama kecuali jika
mereka keluarga dekat. Jika para mutawa curiga, mereka
akan menghentikan kendaraan itu dan memeriksa tanda
pengenal. Lelaki bujang juga tidak diizinkan menerima
tamu perempuan di apartemen atau rumah mereka.
Sedikit mencurigakan, para mutawa akan mengelilingi
rumah orang asing dan membawa setiap orang di
dalamnya, lelaki dan perempuan, ke penjara.
Aku sangat khawatir terhadap teman-temanku. Aku
peringatkan mereka terus-menerus dengan
konsekuensinya. Mereka masih muda, sembrono dan
bosan dengan kehidupan mereka. Tetapi mereka santai
menceritakan aktivitas lain yang mereka lakukan sebagai
hiburan. Mereka menekan sembarang nomor telepon
hingga seorang asing menjawabnya. Beberapa lelaki, asal
bukan orang Saudi atau Yaman, akan menjawabnya.
Teman temanku itu akan bertanya apakah ia sendirian
dan membutuhkan teman perempuan. Secara umum,
jawabannya ya, karena sangat sedikit perempuan yang
tersedia di Arab Saudi dan sebagian besar pekerja asing
96 bekerja dengan visa berstatus bujangan. Segera setelah
lelaki itu memenuhi syarat, gadis-gadis ini akan
memintanya menjelaskan bentuk tubuhnya. Merasa
tersanjung, biasanya lelaki itu akan memenuhi
persyaratan itu dan kemudian meminta para gadis itu
melakukan hal yang sama. Maka, Wafa dan Nadia akan
menjelaskan tubuhnya dari kepala sampai kaki, dengan
detil yang cabul. Itu sangat menyenangkan, kata mereka,
dan kadang-kadang setelah itu mereka bertemu dengan
lelaki tersebut, menurut gaya parking lot-lovers (para pecinta di tempat
parkir). Aku heran bagaimana bisa teman-temanku kenal
dengan para pencari cinta ini. Aku heran mendengar
mereka melakukan segala seluk beluk percintaan kecuali
penetrasi. Mereka tidak mau mengambil risiko kehilangan
keperawanan, karena mereka menyadari konsekwensi
yang akan mereka hadapi pada malam perkawinan. Suami
mereka akan segera mengembalikan mereka. Para
mutawa akan memeriksa. Mereka mungkin akan
kehilangan nyawa, kalau tidak, mereka akan sulit mencari tempat hidup.
Kata wafa, dalam kencan dengan lelaki ini, ia dan
Nadia tidak pernah melepas cadar. Mereka akan melepas
semua pakaian, namun tetap memakai cadar. Si lelaki
akan menggoda, meminta dan bahkan mencoba memaksa
mereka membuka cadar, tapi Nadia dan Wafa berkata
bahwa mereka merasa aman jika lelaki tidak melihat
wajah mereka. Mereka berkata, jika lelaki itu serius,
mereka mungkin akan mempertimbangkan untuk
menunjukkan wajah mereka. Tapi, tentu saja, tak satupun
dari mereka yang serius. Mereka hanya sekadar ingin
bersenang-senang. Teman-temanku dengan putus asa
mencoba menemukan sebuah lalan keluar dari masa
depan mereka, yang telah terbayang di hadapan mereka
97 seperti malam gelap yang tak berujung.
Randa dan aku menangis ketika kami mendiskusikan
perilaku teman-teman tersebut. Aku merasa sangat benci
pada adat istiadat negeriku di mana para perempuan
sama sekali tak memiliki hak dan kebebasan sehingga
gadis-gadis seperti Wafa dan Nadia berperilaku putus asa.
Perbuatan mereka jelas akan dibayar dengan nyawa bila
mereka tertangkap. Tak sampai setahun, Nadia dan Wafa tertangkap.
Sial, perbuatan mereka telah diendus oleh para anggota
dari lembaga yang menamakan dirinya Komite Amar
Ma'ruf Nahi Munkar, yang berkeliaran di jalan-jalan di
Riyadh untuk menangkap orang-orang yang melanggar
larangan Al quran. Segera setelah Nadia dan Wafa masuk
ke bagian belakang mobil van, segerombolan orang Saudi
muda yang fanatik menghentikan kendaraan itu. Mereka
mengamati area itu selama berminggu-minggu setelah
salah satu anggota komite, ketika sedang berpatroli,
mendengar-dengar cerita dari seorang Palestina tentang
dua perempuan bercadar yang mengajak berbuat cabul di
dalam lift. Nyawa Wafa dan Nadia selamat, karena mereka
terbukti masih perawan. Para anggota Komite Amar Ma'ruf
Nahi Munkar, Dewan Syariah, dan terutama ayah-ayah
mereka, tidak percaya dengan cerita mereka bahwa
mereka meminta tolong pada lelaki kecannya untuk
mengantar mereka pulang karena sopir mereka terlambat
menjemput. Aku rasa itu cerita terbaik yang bisa mereka
karang dalam keadaan terjepit seperti itu.
Dewan Syariah bertanya kepada setiap lelaki yang
bekerja di area itu dan menemukan empat belas orang
yang mengatakan bahwa mereka pernah didekati oleh dua
perempuan bercadar. Tak satupun dari semua lelaki itu
yang mengaku pernah terlibat dalam aktivitas mesum
98 bersama gadis-gadis itu. Setelah tiga bulan di penjara yang suram, karena
kurangnya bukti pelanggaran seksual, Komite Amar Ma'ruf
Nahi Munkar melepaskan Wafa dan Nadia dan
menyerahkan hukuman kepada ayah mereka masing-
masing. Sangat mengherankan, ayah Wafa, seorang mutawa
yang keras, sambil duduk bersama menanyai anak
perempuannya tentang alasan ia melakukan tindakan
yang tak senonoh. Ketika anak gadisnya menangis dan
mengungkapkan rasa putus asa dan muak, si ayah ikut
bersedih. Kendati bersimpati, si ayah tetap meminta Wafa berhenti menggoda. Ia
dinasehati untuk belajar Alquran
dan menerima kehidupan biasa yang sudah ditetapkan
untuk perempuan, pindah jauh dari kota. Ayah Wafa
dengan tergesa-gesa mengatur perkawinan Wafa dengan
seorang mutawa badui dari sebuah desa kecil. Lelaki itu
berusia lima puluh tiga tahun, sementara Wafa tujuh belas tahun, dan ia menjadi
istri yang ketiga. Ironis, ayah Nadia amat sangat marah. Ia menolak
berbicara pada anak perempuannya dan mengurungnya di
kamar sampai ada keputusan hukuman.
Beberapa hari kemudian, ayahku pulang kantor lebih
awal dan memanggil aku dan Randa ke ruang duduknya.
Sambil duduk, kami tidak percaya dengan cerita ayah
bahwa Nadia akan ditenggelamkan ke dalam kolam
renang keluarga oleh ayahnya, esok pagi, Jumat, jam
sepuluh. Kata ayah, seluruh keluarga Nadia akan
menyaksikan eksekusi itu.
Hatiku berdebar, takut ketika ayah bertanya pada
Randa apakah ia atau aku pernah menemani Wafa atau
Nadia berbuat memalukan itu. Aku bergerak maju dan
mulai menyatakan tak tahu apa-apa, namun ayah
berteriak dan mendorongku ke sofa. Randa menangis dan
99 menceritakan pada ayah hari ketika kami pergi membeli
abaya dan cadar pertamaku. Ayah duduk tak bergerak,
matanya tak berkedip, sampai Randa selesai bicara. Ia
kemudian bertanya tentang klub perempuan yang kami
bentuk, klub yang bernama Lively Lips. Ayah berkata,
sebaiknya kami mengatakan yang sebenarnya, karena
Nadia sudah mengakui semua aktivitas kami di hari-hari
yang telah lalu. Saat lidah Randa kelu, ayah
mengeluarkan kertas klub kami dari mapnya. Ia telah
menyelidiki kamarku, menemukan catatan dan daftar
anggota. Sekali dalam seumur hidupku, mulutku kering,
bibirku terkunci seperti diikat.
Ayah dengan kalem meletakkan kertas itu kembali
ke atas tumpukan di dalam map. Ia melihat dengan tajam
ke mata Randa dan berkata: 'hari ini kau kuceraikan.
Ayahmu akan mengirim sopir dalam satu jam lagi untuk
mengambilmu kembali. Kamu tak boleh berhubungan
dengan anakku.' Aku merasa ngeri ketika ayah perlahan-lahan
menoleh ke arahku. 'Kamu memang anakku. Ibumu
perempuan baik-baik. Namun, jika kamu ikut
berpartisipasi dalam aktivitas mesum bersama Wafa dan
Nadia, aku akan menegakkan hukum Alquran dan
menguburmu. Berkonsentrasilah pada sekolahmu
sementara aku akan mencarikan jodohmu yang cocok.'
Ayah berhenti sebentar, menatap lekat dan tajam ke
mataku: 'Sultana, terimalah masa depanmu dengan
patuh, karena kamu tak punya pilihan.'
Ayah membungkuk ke arah kertas dan mapnya,
kemudian tanpa memandang Randa dan aku lagi, ia
meninggalkan ruangan. Dengan rasa terhina, aku mengikuti Randa ke
kamarnya dan terdiam ketika ia mengumpulkan
perhiasannya, pakaiannya, dan buku-bukunya ke atas
100 tempat tidur besar. Wajahnya tanpa ekspresi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa.
Bel pintu berbunyi sangat cepat,
dan secara tak sadar aku membantu para pelayan meng-
angkut barang-barang Randa ke mobil. Tanpa kata
perpisahan, Randa meninggalkan rumahku, tapi bukan
hatiku. Jam sepuluh keesokan harinya, aku duduk sendiri.
Menatap kosong balkon kamarku. Aku memikirkan Nadia
dan membayangkan ia diikat dengan rantai yang berat,
kerudung hitam dibebatkan di kepalanya, tangan-tangan
yang mengangkatnya dari lantai dan memasukkannya
kedalam air kolam renang keluarga yang jernih. Aku
menutup mata dan merasakan geletar tubuhnya,
mulutnya yang megap-megap, paru-paru yang menjerit
karena serbuan air. Aku ingat kilatan mata coklatnya dan gaya khasnya mengangkat
dagu ketika tertawa. Aku ingat
sentuhan lembut kulit kuning langsatnya, dan memikirkan
dengan ngeri tindakan kejam padanya. Aku pandang
jamku dan terlihat sekarang sudah jam 10.10. Dadaku
terasa berat menyadari Nadia tak akan pernah tertawa
lagi. Itulah saat yang paling dramatis dalam sejarah
masa mudaku. Aku sadar keinginan teman-temanku untuk
bersenang-senang, sejelek atau sesedih apa pun itu,
seharusnya tidak menyebabkan Nadia mati atau Wafa
menikah dini. Tindakan kejam seperti itu adalah


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

penjelasan terburuk atas kebijaksanaan dari orang-orang
yang merusak sekaligus memanfaatkan tanpa perasaan
hidup dan mimpi kaum perempuan.
101 9 Setelah kepergian Randa yang tiba-tiba, perkawinan Wafa, dan kematian Nadia, aku
merasa tak terlalu bersemangat
hidup. Aku merasa tubuhku tak lagi memerlukan udara
segar untuk hidup. Aku membayangkan diriku tidur di
musim dingin. Aku ingin merasakan nafas-nafas pendek
dan detak jantung rendah seperti yang dialami makhluk-
makhluk liar yang mengasingkan dirinya selama berbulan-
bulan. Aku ingin berbaring di ranjang, memencet hidung
dengan jari-jariku, dan menutup rapat-rapat mulutku.
Hanya saat paru-paruku memaksa udara keluar, dengan
menyesal aku mengaku tak kuasa mengendalikan kerja
organ-organ vitalku. Para pelayan ikut merasakan kepedihanku, karena
aku memang anggota keluarga yang paling peka dan
selalu menunjukkan perhatian kepada mereka. Sedikit
uang gaji yang dibagi-bagikan setiap bulan oleh Omar
tampak merupakan sebuah harga yang mahal untuk
meminta mereka menjauh dari orang-orang yang mereka
102 cintai. Untuk membangkitkan semangat hidupku, pelayan
Filipinaku, Marci, mulai menghidupkan kembali pikiranku
dengan kisah-kisah di negaranya. Perbincangan panjang
telah mencairkan hubungan antara majikan dan pelayan.
Suatu hari dengan malu-malu, ia mengungkapkan
cita-cita hidupnya. Dengan berkerja sebagai pelayan di
keluarga kami, ia ingin menabung uang yang cukup dan
kemudian kembali ke Filipina untuk belajar ilmu
keperawatan. Perawat Filipina sangat dibutuhkan di
seluruh dunia, dan dianggap sebagai karir yang
menguntungkan bagi perempuan di Filipina.
Katanya, setelah lulus sekolah, ia ingin kembali ke
Arab Saudi dan bekerja di salah satu rumah sakit modern.
Ia tersenyum ketika mengatakan bahwa perawat Filipina
mendapat gaji 3.800 Riyal Saudi per bulan. Hampir $1000
sebulan. Bandingkan dengan $200 sebulan yang ia dapat
dengan bekerja menjadi pelayan di rumah kami. Dengan
gaji besar, katanya, ia bisa membantu seluruh keluarga
nya di Filipina. Ketika Marci masih berusia tiga tahun, ayahnya
tewas dalam kecelakaan di pertambangan. Ibunya sedang
mengandung tujuh bulan anaknya yang kedua. Hidup
mereka susah. Saat ibu mereka bekerja dua waktu
sebagai pelayan di hotel lokal, anak-anak diasuh oleh
nenek Marci. Ibu Marci berulang kali mengatakan bahwa
hanya ilmu pengetahuan satu-satunya solusi untuk keluar
dari kemiskinan, dan dengan cermat ia menabung untuk
pendidikan anak-anaknya. Dua tahun sebelum Marci mendaftar di sekolah
perawat, adik laki-lakinya, Tony, ditabrak mobil dan
menderita luka parah. Kakinya hancur dan harus
diamputasi. Perawatan medisnya telah menghabiskan
biaya yang dipersiapkan untuk sekolah Marci, hingga
103 celengan kecil pun ludes.
Mendengar cerita hidup Marci, aku menangis. Aku
bertanya kepadanya bagaimana ia bisa tetap tersenyum
dari hari ke hari, minggu ke minggu. Marci tersenyum
lebar. Itu mudah, katanya, karena ia memiliki mimpi dan
cara untuk merealisasikannya.
Pengalaman hidup di lingkungan yang sangat miskin
di Filipina membuat Marci merasa sangat beruntung
dengan pekerjaan yang hanya cukup untuk mengisi
piringnya tiga kali sehari. Menurutnya, masyarakat di
kampungnya mati bukan karena kelaparan, tetapi kurang
gizi sehingga mereka mudah diserang penyakit, sesuatu
yang tak akan terjadi di dalam masyarakat yang sehat.
Marci begitu pandai mengkisahkan cerita tentang
masyarakatnya sehingga aku ikut merasa menjadi bagian
dari ceritanya, negerinya, dan budayanya yang kaya. Aku
tahu, selama ini aku menganggap remeh Marci dan orang
Filipina lainnya, karena aku tak mengacuhkan mereka
selain memandang mereka sebagai bangsa yang tak
memiliki ambisi. Betapa salahnya aku!
Beberapa minggu kemudian, Marci merasa cukup
percaya diri untuk bercerita tentang temannya, Madeline.
Dengan cara itu, ia berharap bisa menguak pertanyaan
tentang nilai-nilai moral di negeriku. Melalui Marci, kali per tamanya aku tahu
bahwa para perempuan dari negara-negara Dunia Ketiga telah dijadikan budak seks
di negeriku, Arab Saudi. Marci dan Madeline berteman sejak masa kanak-
kanak. Semiskin-miskinnya keluarga Marci, keluarga
Madeline lebih miskin lagi. Madeline dan tujuh saudaranya biasa mengemis di
jalan raya besar yang menghubungkan
propinsi mereka dengan Manila. Kadang-kadang, sebuah
mobil besar yang membawa orang-orang asing berhenti
dan menjatuhkan beberapa koin ke telapak tangan
104 mereka yang terulur. Ketika Marci belajar di sekolah,
Madeline pergi kesana kemari mencari makanan.
Pada usia yang masih muda, Madeline memiliki
mimpi dan ingin mewujudkannya. Ketika ia berumur
delapan belas tahun, ia menjahit baju dari jas bekas
sekolah Marci dan pergi ke Manila. Di sana ia mendatangi sebuah agen pengirim
tenaga kerja Filipina ke luar negeri.
Madeline melamar kerja sebagai pelayan. Dengan tubuh
mungil dan cantik, seorang pemilik agensi berkebangsaan
Lebanon dengan lihai menawarinya pekerjaan di sebuah
rumah pelacuran di Manila; di sana ia bisa mendapatkan
penghasilan besar, melebihi yang ia bayangkan dengan
bekerja sebagai pelayan! Madeline, meskipun dibesarkan
di lingkungan yang sangat miskin, adalah seorang Katolik yang taat; ia menolak
tawaran orang Libanon itu. Dengan
mengeluh kesal, laki-laki itu menyuruhnya mengisi
formulir lamaran dan menunggu.
Orang Libanon itu mengatakan bahwa ia baru saja
menerima kontrak mencari lebih dari tiga ribu pekerja
Filipina untuk ditempatkan di wilayah Teluk Persia, dan
Madeline akan mendapat prioritas karena orang-orang
kaya Arab selalu meminta pelayan yang cantik. Laki-laki
itu mengedipkan mata dan menepuk pantat Madeline
ketika gadis ini meninggalkan ruang.
Madeline sangat gembira sekaligus takut ketika
menerima konfirmasi pekerjaan sebagai pelayan di
Riyadh, Arab Saudi. Pada saat yang sama, rencana Marci
untuk mendaftar sekolah perawat melayang, dan ia
memutuskan mengikuti langkah Madeline untuk mencari
pekerjaan di luar Filipina. Ketika Madeline berangkat ke Arab Saudi, Marci
bergurau bahwa ia akan menyusul.
Mereka berpelukan sebagai ucapan selamat tinggal dan
berjanji akan saling menulis surat.
Empat bulan kemudian, ketika Marci tahu dirinya
105 juga akan bekerja di Arab Saudi, dia masih belum
mendengar kabar dari Madeline. Setelah sampai di Arab
Saudi, dia tidak tahu dimana bisa menemukan Madeline
selain di kota Riyadh. Karena Marci akan bekerja pada
sebuah keluarga di kota ini, ia bermaksud mencarinya.
Aku mengingat kembali malam ketika Marci
memasuki rumah kami. Ibu bertanggung jawab terhadap
rumah tangga dan penempatan para pelayan. Aku ingat,
Marci tampak sedikit takut, dan langsung lengket dengan
para pelayan Filipina kami yang lebih tua.
Karena rumah kami memiliki lebih dari dua puluh
pelayan, Marci tidak terlalu mendapat perhatian. Sebagai pelayan yang belum
berpengalaman, karena masih
berusia sembilanbelas tahun, ia ditugaskan membersihkan
kamar dua anak perempuan termuda di rumah ini, yakni
kamarku dan kamar Sara. Aku tidak begitu
memerhatikannya selama enam belas bulan. Dengan
sabar dan tenang ia bekerja di rumah, bertanya apakah
aku membutuhkan sesuatu. Aku terkejut ketika Marci mengaku bahwa para
pelayan Filipina bersyukur dengan pekerjaan mereka,
karena baik aku maupun Sara tidak pemah memukul atau
meninggikan suara mencela. Mataku berkilat-kilat, dan
aku bertanya apakah ada yang pernah dipukul. Aku
bernafas lega ketika ia mengatakan, tidak, bukan di
rumah kami. Ia katakan, Faruq memang orang yang sulit
dan selalu berbicara dengan nada keras dan menghina.
Tapi satu-satunya tindakan kasar yang ia lakukan
hanyalah menendang tulang kering kaki Omar beberapa
kali. Aku tertawa, sedikit bersimpati pada Omar.
Marci berbisik ketika ia mengatakan padaku gosip
dari para pelayan. Katanya, istri kedua ayah, perempuan
dari salah satu negara teluk, mencubit dan memukul para
pelayan perempuan setiap hari. Seorang gadis malang
106 dari Pakistan menderita geger otak karena dipukul sampai jatuh dari tangga.
Ketika dikatakan bekerja lambat, ia
dengan tergesa-gesa berjalan menuju ruang cuci dengan
keranjang berisi seprai dan handuk kotor. Secara tak
sengaja ia menabrak istri ayah. Dengan sangat marah,
istri ayah memukul pelayan itu di perutnya, hingga jatuh berguling di tangga.
Ketika gadis itu terbaring merintih, istri ayah berlari menuruni tangga untuk
menendangnya dan berteriak padanya agar menyelesaikan kerjaannya.
Ketika tak bergerak, gadis itu dituduh berpura-pura.
Akhirnya, gadis itu dibawa ke dokter; ia masih juga tidak kembali membaik, terus
menerus memegang kepalanya
dan merintih ngilu. Atas perintah istri ayah, dokter istana mengisi
formulir yang mengatakan gadis itu terjatuh dan
menderita geger otak. Secepat mungkin gadis itu harus
dikirim kembali ke Pakistan. Ia tidak mendapatkan dua
bulan gaji dan dikirim ke orang tuanya hanya dengan
uang lima puluh Riyal Saudi, setara dengan $15.
Aku begitu terkejut. Marci ingin tahu sebabnya.
Sebagian besar pelayan dianiaya di negeriku; rumah kami
adalah pengecualian yang langka. Kukatakan padanya,
aku sering pergi ke rumah teman-temanku dan, harus
kuakui bahwa sangat sedikit perhatian yang diberikan
pada para pelayan. Tapi Aku tidak pernah menyaksikan
mereka dipukul. Memang, aku pernah melihat beberapa
temanku mengeluarkan kata-kata menghina pada pelayan
mereka, tapi aku mengacuhkannya karena aku tak
melihat serangan fisik. Marci mendesah letih, dan mengatakan bahwa
pelecehan fisik dan seksual biasanya disembunyikan. Ia
mengingatkan bahwa aku tinggal hanya lima yard dari
istana yang menyimpan penderitaan banyak gadis muda,
dan aku tak mengenal mereka. Dengan lembut ia
107 memintaku membuka mata, untuk melihat bagaimana
perempuan dari negeri lain dianiaya di negeri kami.
Dengan sedih aku mengangguk setuju.
Dari percakapan ini, Marci menjadi lebih mengenal
sifat empatiku. Ia ingin membuatku lebih percaya dengan
menceritakan padaku seluruh kisah tentang temannya,
Madeline. Percakapan kami itu terasa seolah-olah baru
terjadi kemarin. Aku ingat betul percakapan itu. Sekarang pun aku bisa
membayangkan wajah Marci yang sungguh
sungguh di hadapanku. 'Nona, aku ingin menceritakan kepada Anda tentang
sahabat karibku, Madeline. Anda adalah seorang putri.
Mungkin suatu saat Anda bisa membantu kami,
perempuan-perempuan Filipina yang malang.' Memang,
pagi itu aku sendirian, dan mulai merasa bosan meringkuk di ranjang, sehingga
aku mengangguk, ingin sekali
mendengarkan gosip apa saja, termasuk dari seorang
Filipina. Kunyamankan diriku di ranjang; Marci dengan
patuh menyelipkan bantal di belakang kepalaku, sesuai
dengan yang kuinginkan. Kukatakan padanya: 'Sebelum kamu mulai bercerita,
ambilkan aku semangkok buah segar dan segelas laban.'
( Laban adalah minuman seperti dadih yang umum di Timur Tengah). Setelah sesaat,
ia kembali dengan nampan berisi buah dan minuman dingin. Aku
mengeluarkan kakiku dari bawah selimut dan menyuruh
Marci menggosok-gosoknya sambil ia bercerita tentang
temannya yang bernama Madeline.
Kalau diingat kembali, aku merasa malu dengan
perilaku egoisku yang kekanak-kanakan. Aku tergugah
oleh cerita yang tragis, namun tak nyaman duduk dan
mendengarkan hingga semua keinginanku terpenuhi.
Sekarang setelah lebih tua dan lebih bijak, aku hanya bisa mengenang kembali
dengan menyesal atas kebiasaan
108 Saudi yang hinggap dalam diriku. Tak satupun orang
Saudi yang kukenal pernah menunjukkan sedikit perhatian
pada kehidupan para pelayan; jumlah anggota keluarga
mereka; mimpi mereka dan aspirasi mereka. Masyarakat
dari dunia ketiga ada di sini untuk melayani kami orang-
orang Saudi yang kaya. Tak lebih dari itu. Bahkan ibuku, yang kuanggap baik dan
pengasih, jarang menyatakan
minatnya pada persoalan pribadi pelayan; mungkin itu
disebabkan karena ia harus mengurus tanggung jawab
rumah yang sangat besar dan memuaskan tuntutan ayah.
Aku tak memiliki alasan seperti itu. Aku ngeri ketika
sekarang mengetahui bahwa Marci dan pelayan-pelayan
lain tak lebih dari sekadar robot untuk melakukan
perintah-perintahku. Dan aku ngeri, mengira Marci dan
pelayan-pelayan rumah tangga menganggapku orang
baik, karena aku sendiri yang bertanya tentang kehidupan mereka. Ini adalah


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kenangan menyesakkan bagi orang
yang menganggap dirinya peka.
Dengan termenung, wajah tanpa ekspresi, Marci
mulai menggosok-gosok kakiku dan mengawali ceritanya.
'Nona, sebelum aku meninggalkan negaraku, aku
memohon kepada laki-laki Libanon itu untuk memberiku
alamat majikan Madeline. Katanya, itu tidak boleh; ia
tidak diizinkan memberitahu. Ia berbohong, Nona.
Kukatakan, aku punya titipan dari ibunya yang harus
kusampaikan padanya. Setelah mengemis-ngemis,
akhirnya ia luluh, dan memberiku nomor telpon dan nama
wilayah di Riyadh tempat Madeline bekerja.'
'Apakah majikannya seorang pangeran"'
'Tidak Nona. Ia tinggal di distrik yang disebut Al
Malaz, sekitar tiga puluh menit naik mobil dari sini.'
Istana kami berada di area Al Nasiriah, sebuah
lokasi prestisius yang didiami oleh banyak keluarga
kerajaan, distrik paling kaya di Riyadh. Dahulu aku pernah 109
pergi ke wilayah Al Malaz, dan teringat di sana banyak
istana bagus dari masyarakat bisnis kelas atas Saudi.
Aku tahu, Marci dilarang pergi meninggalkan
lingkungan istana, kecuali untuk pergi khusus berbelanja sebulan sekali bersama
para pelayan lain dengan Omar
sebagai pengaturnya. Karena para pelayan kami bekerja
keras tujuh hari dalam seminggu, lima puluh dua minggu
setahun, aku heran bagaimana mungkin ia menyelinap
pergi mengunjungi temannya.
Aku tertarik bertanya: 'Bagaimana kamu pergi ke Al
Malaz"' Marci ragu-ragu sejenak. 'Nona, Anda tahu sopir
Filipina bernama Antoine"'
Kami memiliki empat orang sopir, dua orang Filipina
dan dua orang Mesir. Aku biasanya disopiri oleh Omar
atau orang Mesir lain. Orang Filipina disuruh mengantar
berbelanja bahan makanan dan pergi ke sana ke mari.
'Antoine" Yang selalu tersenyum dan masih muda itu"'
'Ya, Nona. Aku dan dia suka bertemu dan ia mau
mengantar mencari temanku.'
'Marci! Kamu punya kekasih!' Aku tertawa. 'Dan
Omar. Bagaimana kamu menghindari masalah dengan
Omar"' 'Kami menunggu hingga Omar pergi mengantar
keluarga ke Taif, setelah itu baru kami ambil kesempatan.'
Marci tersenyum melihat aku senang. Ia tahu tak ada
yang lebih menyenangkanku selain berhasil menipu laki-
laki di rumah ini. 'Pertama, aku menelpon nomor yang
diberikan kepadaku saat masih di Filipina. Tak seorang
pun yang mengizinkanku berbicara dengan Madeline.
Kukatakan bahwa aku punya pesan yang harus
disampaikan dari ibunya. Setelah bersusah payah
meyakinkan, aku diberi tahu gambaran lokasi rumahnya.
110 Antoine pergi ke wilayah itu dan menyampaikan surat
untuk Madeline. Seorang laki-laki Yaman yang
menerimanya. Dua minggu kemudian aku menerima
telpon. Aku hampir tidak bisa mendengar suara Madeline,
karena ia berbisik, takut ketahuan kalau ia menggunakan
telepon. Padaku, ia mengatakan berada dalam situasi
yang sangat buruk, tolong datang dan bantu. Melalui
telepon, kami membuat rencana.'
Aku sisihkan makananku dan memerhatikan Marci
sepenuhnya. Aku menyuruhnya berhenti menggosok-
gosok kakiku. Aku merasakan bahaya pertemuan mereka
dan tumbuh rasa ketertarikanku pada orang-orang Filipina pemberani yang belum
kukenal ini.. 'Dua bulan berlalu. Kami tahu kesempatan akan
datang pada bulan-bulan musim panas yang sangat
panas. Kami takut Madeline akan dibawa majikannya ke
Eropa, tapi ternyata ia disuruh untuk tetap tinggal di
Riyadh. Ketika Anda dan keluarga, bersama-sama dengan
Omar, meninggalkan kota, aku sembunyi di kursi
belakang Mercedes hitam untuk diantar oleh Antoine ke
Madeline.' Suara Marci serak emosi ketika menggambarkan
keadaan Madeline yang dilematis: 'Aku duduk di mobil
ketika Antoine membunyikan bel rumah. Sementara
menunggu, aku tidak bisa membantu. Namun aku
memerhatikan kondisi dinding rumah. Catnya sudah
terkelupas, pagarnya berkarat, beberapa tumbuhan hijau
tergantung di dinding rumah, layu karena tidak disiram.
Bisa kukatakan itu tempat yang buruk. Aku merasa
temanku berada dalam situasi berbahaya kalau ia bekerja
di rumah seperti ini.' 'Aku merasa tertekan, bahkan sebelum aku diizinkan
masuk. Antoine harus menekan bel sebanyak empat
sampai lima kali sebelum terdengar gerakan orang yang
111 datang untuk merespon panggilan kami. Segala
sesuatunya terjadi seperti yang diceritakan Madeline.
Mengerikan! Seorang laki-laki tua Yaman dengan pakaian
wool dililitkan di atas rok, membuka pintu. Ia tampak
mengantuk; wajahnya yang jelek menandakan ia tidak
senang dibangunkan dari tidur siangnya.
'Aku dan Antoine jadi takut. Suara Antoine terdengar
bergetar ketika ia meminta izin berbicara dengan Madeline dari Filipina. Orang
Yaman itu tak tahu bahasa Inggris,
sedang Antoine hanya bisa sedikit bahasa Arab. Mereka
berjuang untuk saling mengerti. Orang Yaman itu akhirnya tidak mengizinkan kami
masuk. Ia mengusir kami dengan
tangannya dan mulai menutup pintu saat aku melompat
keluar dari kursi belakang. Sambil menangis, kukatakan
bahwa Madeline adalah saudara perempuanku. Aku baru
saja sampai di Riyadh dan bekerja di istana salah satu
pangeran kerajaan. Aku pikir itu bisa membuatnya takut,
namun ternyata ia tetap tak ber geming. Aku lambaikan
amplop padanya dan mengatakan surat ini baru tiba dari
Filipina. Ibu kami sakit keras. Aku harus bicara dengan
Madeline sebentar saja untuk menyampaikan pesan
terakhir dari ibu kami yang sedang sekarat.
'Aku berdoa pada Tuhan agar tidak menghukumku
karena telah berbohong seperti itu! Aku pikir Tuhan
mendengarku, karena tampaknya orang Yaman itu
berubah pikiran ketika mendengar kata ibu dalam bahasa
Arab. Aku lihat ia berfikir. Kemudian ia menatap aku dan Antoine, dan akhirnya
menyuruh kami menunggu sebentar. Ia menutup pintu, dan kami mendengar bunyi
sandalnya ketika ia masuk ke dalam rumah.
'Kami tahu orang Yaman itu masuk ke dalam rumah
untuk menanyai Madeline dan diminta menggambarkan
saudarinya. Aku memandang Antoine dengan senyuman
lemah. Tampaknya kami berhasil.'
112 Marci berhenti sejenak, mengingat kejadian saat itu.
'Nona, orang Yaman itu menakutkan. Tampangnya
separuh baya dan membawa pisau bengkok di
pinggangnya. Aku dan Antoine hampir saja masuk ke
dalam mobil dan pulang kembali ke istana. Tapi ingatan
akan temanku yang malang memberiku kekuatan.'
'Kata Madeline, ada dua orang Yaman penjaga
keamanan rumah. Keduanya mengawasi para perempuan
yang ada di dalam. Tak satupun pelayan perempuan yang
pernah diizinkan meninggalkan tempat kerjanya. Namun,
kata Madeline lewat telpon, Penjaga Yaman yang muda
lebih kejam dan tak akan mengizinkan siapa pun di pintu, meski dengan alasan
ibunya sedang sekarat. Namun
menurut Madeline, berhadapan dengan penjaga Yaman
yang tua, kita mungkin akan berhasil.
'Karena seluruh keluarga sedang berlibur ke Eropa,
penjaga Yaman yang muda itu diizinkan pulang ke Yaman
selama dua minggu untuk menikah. Saat itu, laki-laki di
rumah adalah penjaga Yaman yang tua dan tukang kebun
dari Pakistan.' 'Kulihat jam tangan, begitu juga Antoine. Akhirnya,
kami mendengar langkah kaki yang berjalan diseret ketika laki-laki tua itu
kembali. Pintu terbuka dengan pelan. Aku menggigil, karena aku merasa seperti
memasuki pintu neraka. Penjaga Yaman yang tua itu menggerutu dan
membuat gerakan dengan tangannya bahwa Antoine
harus menunggu di luar. Hanya aku yang diizinkan
masuk.' Aku tegang membayangkan ketakutan yang mesti
ditanggung Marci. 'Bagaimana kamu tetap berani" Kalau
aku, aku akan panggil polisi!'
Marci menggelengkan kepalanya. 'Polisi tidak akan
menolong orang Filipina di negeri ini. Kami akan
113 dilaporkan kepada majikan dan kemudian akan di penjara
atau dideportasi, sesuai dengan kehendak ayah Anda.
Polisi di negeri ini melayani yang kuat bukan yang lemah.'
Aku tahu apa yang dikatakannya benar. Orang
Filipina satu derajat lebih rendah dari kami perempuan
Saudi. Bahkan aku, seorang putri, tidak akan pernah
dibantu jika polisi harus melawan kehendak laki-laki di
keluargaku. Tapi aku lagi tidak ingin memikirkan
persoalanku saat itu; dengan tekun aku mendengarkan
petualangan Marci. 'Teruskan, ceritakan padaku, apa yang kamu
temukan di dalam"' Aku bayangkan kerja tersembunyi
sebuah monster Frankenstein Saudi! Karena merasa
mendapat perhatian dari tuannya, Marci menjadi
bersemangat. Ia mulai mengeluarkan ekspresi wajah dan
menggambarkan pengalamannya dengan suka hati.
'Dengan mengikuti langkah pelan penjaga Yaman
yang tua itu, aku dapat melihat sekitar. Blok-blok beton tidak pernah dicat.
Sebuah blok bangunan kecil di dekat
situ tak berpintu, hanya ruang terbuka dengan kain buruk tua menutup dari atas.
Dilihat dari kusutnya keset kaki, kamar kecil yang terbuka dan bau sampah, aku
tahu orang Yaman tua itu pasti tinggal di sana. Kami melewati kolam renang keluarga,
tapi kolam itu tidak berair kecuali sisa kotoran yang berwarna hitam di bagian
terdalamnya. Tiga kerangka tulang yang sangat kecil tampak seperti
sisa-sisa tulang anak kucing terletak di bagian dangkal
kolam.' 'Anak kucing" Oh Tuhan!' Marci tahu betapa aku
sangat menyukai semua bayi binatang. 'Kematian yang
menyedihkan!' 'Tampaknya seperti anak kucing. Aku kira mereka
lahir di kolam renang yang kosong itu dan induknya tidak bisa membawa mereka
keluar.' 114 Aku merasa ngeri dan putus asa.
Marci melanjutkan. 'Rumah itu sangat besar tapi
pemandangannya sama jeleknya seperti dindingnya.
Pernah dicat tapi badai pasir telah membuatnya jelek. Di sana ada kebun, namun
semua tanamannya mati karena
tidak disiram. Aku melihat empat atau lima burung dalam
kandang yang digantung di bawah pohon besar, tampak
menyedihkan dan kurus, tanpa nyanyian di hatinya.'
'Melalui pintu depan, orang Yaman itu meneriakkan
sesuatu dalam bahasa Arab kepada orang yang tak
kelihatan. Ia menganggukkan kepalanya padaku dan
memintaku masuk. Aku ragu-ragu di jalan masuk ketika
bau udara yang busuk menusuk hidungku. Dengan sangat
takut dan gemetar, aku memanggil nama Madeline.
Orang Yaman itu berbalik dan kembali untuk tidur
siang yang sempat terganggu.
'Madeline datang dari jalan masuk yang gelap.
Dengan cahaya yang sangat remang, padahal aku
baru saja melewati cahaya terang di luar, aku hampir
tidak melihat ia berjalan ke arahku. Ia mulai berlari ketika tahu yang datang
benar-benar teman lamanya, Marci.
Kami berpelukan. Aku terkejut melihat dia sangat bersih
dan wangi. Ia lebih kurus dari ketika aku bertemu
dengannya terakhir kali.'
Perasaan lega membanjiri tubuhku, karena
sebelumnya aku mengira Marci akan mengatakan bahwa
ia menemukan temannya dalam keadaan sekarat,
terbaring di tikar kotor, berjuang keras untuk
menyampaikan pesan terakhir agar tubuhnya dibawa
kembali ke Manila. 'Apa yang terjadi kemudian"' Aku ingin cepat
mengetahui akhir cerita Marci.
Suara Marci kemudian berbisik, seolah-olah
115 kenangan itu terlalu menyakitkan untuk diingat. 'Setelah kami menyudahi tangisan
dan pelukan yang melegakan,
Madeline mengajakku menuju jalan masuk yang panjang.
Ia menggenggam tanganku dan membimbingku menuju
ruangan kecil di sebelah kanan. Setelah mengarahkanku
ke sofa, ia duduk di lantai menghadap ke arahku.'
'Tiba-tiba ia menangis. Ketika ia menyembunyikan
wajahnya ke pangkuanku, aku membelai rambutnya dan
berbisik agar ia bercerita apa yang terjadi. Setelah
berhenti menangis, ia menceritakan hidupnya sejak
meninggalkan Manila satu tahun yang lalu.
'Di bandara, Madeline bertemu dengan dua penjaga
Yaman. Keduanya memegang kartu yang bertuliskan
nama Madeline dalam bahasa Inggris. Madeline pergi
dengan dua penjaga Yaman itu, karena ia tak tau apa
yang bisa dilakukan. Ia takut pada penampilan liar
keduanya, dan mengatakan bahwa ia cemas akan
keamananan dirinya ketika mereka membawanya dengan
cara yang kasar ke dalam kota. Ketika sampai di rumah
hari sudah larut malam; tidak ada lampu, sehingga ia
tidak bisa memerhatikan keadaan sekitar yang tak
terawat. 'Pada saat itu, seluruh keluarga sedang pergi ke
Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia diantar ke


Princess Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi Karya Jean P Sassion di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kamarnya oleh seorang perempuan Arab yang sudah tua
dan tidak bisa berbahasa Inggris. Ia diberi biskuit dan
kurma serta teh panas. Ketika meninggalkan kamar,
perempuan tua itu menyampaikan catatan pada Madeline
bahwa tugas-tugasnya akan diberitahukan besok.'
'Perempuan tua itu pasti neneknya,' kataku.
'Mungkin Madeline tidak mengatakannya. Aku
memang tidak tahu. Hati Madeline ciut ketika sinar
matahari menerangi rumah barunya. Ia melompat melihat
ranjang tempat ia tidur, karena seprainya sangat kotor;
116 gelas dan piring semalam dikerumuni kecoak.
'Dengan tak bergairah, Madeline bergerak ke kamar
mandi dan mendapati shower yang tidak berfungsi. Ia
mencoba membersihkan tubuhnya dengan sisa sabun
yang kotor dan air suam-suam kuku. Ia berdoa pada
Tuhan agar menenangkan hatinya. Kemudian perempuan
tua itu mengetuk pintu. 'Tak ada pilihan, ia mengikuti perempuan itu ke
dapur tempat ia menerima daftar kewajiban. Madeline
membaca tulisan cakar ayam dan mengetahui bahwa
pekerjaannya adalah membantu memasak, membersihkan
rumah dan menjaga anak-anak. Perempuan tua itu
memberi isyarat dengan tangan agar Madeline
Sumpah Palapa 25 Rajawali Emas 02 Wasiat Malaikat Dewa Menumpas Gerombolan Lalawa Hideung 1
^