Pencarian

Kekayaan Yang Menyesatkan 2

Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet Bagian 2


"Laki-laki harus punya hobi," kata Madeleine. "Hal itu akan melepaskannya dari
keisengan yang merusak hubungan suami-istri."
Keisengan yang membawanya keluar-masuk rumah-rumah bordil. Ini yang dimaksud
Madeleine. Sindiran itu mengingatkan Augusta akan maksudnya. Dengan lembut
sekali ia mulai menjalankan taktik liciknya.
'"Madeleine yang baik, apa yang akan kita lakukan terhadap sepupu kita Samuel
dan "sekretaris"-nya?"
Madeleine tampak bingung. "Haruskah kita melakukan sesuatu?"
"Harus, kalau Samuel akan menjadi Mitra Senior."
"Mengapa?" "Sayangku, Mitra Senior Pilasters Bank harus bertemu dengan para duta besar,
kepala negara, bahkan kerabat raja. Kehidupan pribadinya harus sangat, sangat
tidak tercela." Madeleine mulai mengerti dan ia tersipu. "Tentunya kau tidak menyiratkan bahwa
Samuel dalam satu segi... bejat?"
Justru itulah yang disiratkan oleh Augusta, tapi ia tak mau mengatakannya
terang-terangan, takut akan mendorong Madeleine untuk membela sepupunya.
"Rasanya aku tidak akan pernah tahu," katanya, mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Yang penting adalah pendapat orang lain."
Madeleine tidak yakin. '"Kau benar-benar mengira orang menganggap dia... seperti
itu?" Augusta memaksakan diri bersabar menghadapi kepekaan Madeleine. "Sayangku, kita
berdua sudah menikah, dan kita tahu seperti apa laki-laki itu. Mereka memiliki
selera hewan. Dunia beranggapan sangat tidak pantas seorang lelaki lajang
berusia lima puluh tiga tahun tinggal dengan seorang pemuda ganteng, dan Tuhan
tahu bahwa dalam banyak hal, anggapan dunia itu mungkin ada benarnya."
Madeleine mengerutkan keningnya, tampak cemas. Sebelum ia sempat mengucapkan
sesuatu, terdengar ketukan di pintu dan Edward masuk. "Ada apa, Ibu?" tanyanya.
Augusta kesal oleh interupsi itu dan tidak mengerti maksud Edward. "Apa
maksudmu?" "Ibu memanggilku."
"Aku tidak memanggilmu. Tadi kau kusuruh mengantar Lady Florence melihat-lihat
taman." Edward tampak tersinggung. "Kata Hugh tadi, Ibu ingin bertemu aku!"
Augusta mengerti sekarang. "Kata dia" Kukira dia sedang mengantar Lady Florence
melihat-lihat taman sekarang?"
Edward mengerti apa yang dimaksudkan ibunya. "Aku yakin begitulah," katanya, dan
ia tampak tersinggung. "Harap Ibu jangan marah padaku."
Hati Augusta luluh seketika. "Jangan cemas. Teddy sayang," katanya. "Hugh memang
licik." Tapi kalau ia mengira dapat membodohi Bibi Augusta-nya, Hugh juga tolol.
Interupsi ini mengesalkannya, tapi ia sudah cukup banyak bicara pada Madeleine
tentang sepupunya Samuel. Pada tahap ini, ia hanya ingin menanamkan benih
keraguan: kalau lebih dari itu, mungkin terlalu keras akibatnya. Ia memutuskan
untuk membiarkannya mengambang dulu. la mengantar ipar dan anaknya keluar dari
kamar sambil berkata. "Sekarang aku harus kembali pada tamu-tamuku."
Mereka berjalan menuruni tangga. Pesta itu berjalan lancar, kalau dilihat dari
ingar-bingar percakapan, derai tawa, dan denting sendok teh perak di pirjng
porselen kecil. Augusta memeriksa ruang makan sebentar, tempat para pelayan
menyiapkan salad udang galah, kue-kue, dan minuman dingin. Kemudian ia melintasi
aula. berbicara sedikit pada setiap tamu yang menarik perhatiannya, namun
matanya mencari seseorang... ibu Florence, Lady Stalworthy.
Ia cemas akan kemungkinan Hugh mengawini Florence. Prestasi kerja Hugh di Bank
sudah sangat bagus. Ia memiliki otak bisnis cemerlang dan keahlian memikat
nasabah. Bahkan Joseph sendiri pernah mengatakan bahwa Hugh memang sangat
berbakat menjadi bankir, seakan ia lupa bahwa Hugh bisa menjadi ancaman bagi
anaknya sendiri, Edward. Perkawinan dengan putri seorang earl akan memberikan
status sosial pada Hugh. Sudah tentu ia akan menjadi pesaing yang sangat
berbahaya bagi Edward. Teddy tercinta tidak memiliki daya tarik seperti Hugh
atau kepintaran mengolah angka-angka, jadi Edward membutuhkan semua pertolongan
yang dapat diberikan Augusta padanya.
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY Ia menemukan Lady Stalworthy sedang berdiri dekat jendela ceruk ruang duduk. Ia
seorang wanita cantik setengah baya, mengenakan gaun merah muda dan topi jerami
kecil yang ditaburi bunga sutra. Augusta bertanya-tanya dalam hati dengan cemas,
bagaimana perasaan wanita ini tentang Hugh dan Florence. Hugh bukanlah tangkapan
besar, tapi dari sudut pandang Lady Stalworthy, pemuda itu bukan bencana.
Florence adalah putri bungsunya. Kedua anak perempuannya yang lain sudah
berkeluarga dengan pria-pria kaya, karenanya Lady Stalworthy mungkin agak
memanjakan putri bungsunya. Augusta harus mencegah hal itu. Tapi bagaimana"
Ia berdiri di samping Lady Stalworthy dan melihat wanita ini tengah
memperhatikan Hugh dan Florence di taman. Hugh sedang menerangkan sesuatu dan
mata Florence tampak berkilau senang. "Anak-anak muda itu tampaknya bahagia
sekali," kata Augusta.
"Hugh kelihatannya baik," kata Lady Stalworthy.
Augusta menatap wanita itu sesaat. Lady Stalworthy memperlihatkan senyum manis
di wajahnya. Dulu ia pasti secantik putrinya, demikian dugaan Augusta. Kini ia
mungkin tengah asyik mengenang masa mudanya sendiri. Wanita ini perlu disadarkan
dari mimpinya dengan suatu pukulan telak, pikir Augusta.
"Cepat sekali berlalu, hari-hari yang bebas dari rasa cemas."
"Tapi hari-hari itu indah sekali."
Sekaranglah waktunya menuangkan racun. "Ayah
76 Hugh meninggal dunia, seperti telah Anda ketahui," kata Augusta. "Dan ibunya
hidup dengan tenang di Folkestone, karenanya Joseph dan saya merasa wajib
menjadi orangtua asuhnya." Ia diam sejenak. "Saya rasa tak perlu mengatakan
bahwa pertalian dengan keluarga Anda akan merupakan kemenangan luar biasa bagi
Hugh." "Baik sekali Anda, berkata begitu," kata Lady Stalworthy, seakan-akan ia telah
dipuji. "Keluarga Pilaster sendiri adalah keluarga terpandang."
"Terima kasih. Kalau Hugh bekerja keras, suatu hari nanti dia akan hidup enak."
Lady Stalworthy agak terkejut. "Kalau begitu, ayahnya tidak meninggalkan apa-
apa?" "Tidak." Augusta merasa perlu memberitahu wanita itu bahwa Hugh tidak akan
memperoleh uang dari paman-pamannya bila ia menikah nanti. Katanya lagi, "Dia
harus bekerja keras meniti jenjang kariernya di bank keluarga ini dan hidup dari
gajinya." "Ah, begitu?" kata Lady Stalworthy, wajahnya menunjukkan kekecewaan. "Untunglah
Florence memiliki sedikit simpanan."
Augusta terenyak. Jadi, Florence mempunyai uang sendiri. Celaka. Augusta
bertanya dalam hati, berapa banyak uang simpanannya. Keluarga Stalworthy
tidaklah sekaya keluarga Pilaster sedikit sekali orang yang sekaya keluarga ?ini namun mereka hidup nyaman, Augusta percaya itu. Selain itu, kemiskinan Hugh
?tidak cukup untuk membuat Lady Stalworthy berbalik menentang pemuda itu. Augusta
harus mengambil tindakan yang lebih keras. "Florence akan banyak menolong Hugh...
dalam memberikan pengaruh yang baik, saya yakin."
"Ya," kata Lady Stalworthy. Karena tidak begitu mengerti, ia mengerutkan
keningnya. "Memberikan pengaruh baik" Maksud Anda?"
" 77 Augusta ragu-ragu. Hal semacam ini berbahaya, namun risiko harus diambil. "Saya
tak pernah mendengarkan gosip, dan saya yakin Anda pun demikian," katanya.
"Tobias bernasib malang, itu tidak diragukan lagi, tapi Hugh hampir tidak
menunjukkan tanda bahwa dia mewarisi kelemahan itu."
"Syukurlah," kata Lady Stalworthy, namun wajahnya memperlihatkan rasa prihatin
yang dalam. "Tapi Joseph dan saya akan merasa bahagia sekali melihatnya menikah dengan gadis
yang pintar seperti Florence. Dia akan bersikap tegas pada Hugh kalau..." suara
Augusta semakin pelan. "Saya..." Lady Stalworthy menelan air liurnya. "Tampaknya saya tak bisa mengingat,
apa kelemahan ayahnya."
"Sebenarnya itu tidak benar."
"Tentu saja rahasia ini hanya antara Anda dan saya." "Sebenarnya saya tidak
patut mengungkit masalah ini."
"Tapi saya mesti tahu segalanya, demi kepentingan putri saya. Saya yakin Anda
bisa mengerti." "Berjudi," kata Augusta dengan suara direndahkan. Ia tak ingin hal ini sampai
terdengar orang lain, di sini pasti ada yang tahu bahwa ia berbohong. "Itulah
yang menyebabkannya bunuh diri. Memalukan sekali." Semoga keluarga Stalworthy
tidak akan merepotkan diri mengecek kebenaran kisah ini, batinnya dengan seius.
"Saya kira bisnisnya gagal."
"Itu juga." "Tragis sekali."
"Kami akui Joseph harus membayar utang Hugh sekali dua kali, tapi dia telah
berbicara dengan tegas pada anak itu, dan kami yakin hal itu tak akan ulang
lagi." "Sungguh melegakan," ujar Lady Stalworthy, namun ekspresi wajahnya menunjukkan
cerita lain. Augusta merasa ia sudah cukup banyak berbicara. # Kepura-puraan bahwa ia
mendukung pasangan itu jadi agak kentara. Ia menatap lagi ke luar jendela.
Florence tengah menertawakan sesuatu yang diucapkan Hugh, melemparkan kepalanya
ke belakang dan memperlihatkan giginya dengan cara agak... tidak pantas. Mata Hugh
seakan-sckan mau menelan gadis itu. Setiap orang di pesta itu dapat menyaksikan
bahwa mereka saling tertarik. "Kurasa tak lama lagi persoalan pemuda itu harus
diselesaikan," kata Augusta.
"Barangkali mereka sudah cukup lama berbicara sehari ini," kata Lady Stalworthy
dengan risau. "Saya lebih baik campur tangan. Permisi."
"Silakan." Lady Stalworthy bergegas ke taman.
Augusta merasa lega. Ia telah berhasil melakukan suatu taktik beracun yang peka.
Pertama soal Samuel, lalu soal Hugh. Lady Stalworthy sudah curiga pada Hugh
sekarang, dan begitu seorang ibu merasa cemas menghadapi seorang pemuda,
kemungkinan besar ia tidak akan menyetujui perkawinan dengan putrinya.
Augusta memandang ke sekeliling dan melihat Beatrice Pilaster, iparnya yang
lain. Joseph mempunyai dua saudara laki-laki: yang satu Tobias, ayah Hugh, dan
satunya lagi William, yang digelari Young William karena ia lahir dua puluh tiga
tahun sesudah Joseph. William kini berusia dua puluh lima tahun dan belum lagi
menjadi mitra dalam bank keluarga itu. Beatrice adalah istrinya. Ia bagaikan
seekor anak anjing besar, bahagia, kikuk, dan ingin menjadi teman setiap orang.
Augusta memutuskan untuk berbicara padanya tentang Samuel dan sekretarisnya.
Augusta mendatanginya dan berkala. "Beatrice sayang, maukah kau melihat-lihat
kamar tidurku?" SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY [IV] MICKY dan ayahnya meninggalkan pesta dan berjalan kembali ke penginapan mereka
di Camberwell. Rute yang mereka tempuh seluruhnya melewati beberapa taman, mula-
mula Hyde Park, kemudian Green Park, dan St. James Park, hingga mereka mencapai
sungai. Mereka berhenti di tengah Westminster Bridge untuk beristirahat sejenak
dan menikmati pemandangan.
Di pantai utara sungai terletak kota terbesar di dunia. Ke hulu adalah gedung-
gedung Parlemen yang dibangun meniru Westminster Abbey abad ketiga belas.
Letaknya saling berdekatan. Ke hilir mereka bisa melihat taman-taman Whitehall,
puri Duke Buccleuch, dan stasiun kereta api baru Charing Cross yang berupa
bangunan besar dari batu bata .
Galangan-galangan kapal tidak terlihat, dan tak ada kapal-kapal besar yang
bersandar saat ini, tapi sungai ramai dengan kapal-kapal kecil, tongkang, dan
kapal pesiar; benar-benar suatu pemandangan menarik di bawah sinar matahari
senja. Pantai selatan mungkin merupakan pemandangan tersendiri. Di situ terdapat tempat
industri keramik, dan di lapangan-lapangan berlumpur banyak terdapat bengkel
sederhana; kerumunan lelaki dengan wajah kelabu dan wanita-wanita berpakaian
lusuh masih bekerja merebus tulang, memilah sampah, menyalakan tungku, dan
menuangkan pasta ke dalam tuangan untuk membuat pipa saluran pembuangan dan
cerobong yang dibutuhkan oleh kota yang berkembang pesat. Baunya kuat menusuk
hidung, bahkan sampai ke jembatan ini, seperempat mil jauhnya. Gubuk-gubuk reyot
tempat para pekerja itu tinggal memenuhi tempat di sekitar tembok-tembok puri
Lambeth, tempat tinggal Uskup Agung Canterbury di
80 London, bagaikan kotoran yang ditinggalkan air pasang tinggi pada kawasan pasang
surut yang berlumpur. Kendati dekat dengan puri Uskup Agung, daerah itu dikenal
sebagai Kawasan Setan, mungkin karena api dan asap, para pekerja yang mondar-
mandir, dan bau busuk itu mengingatkan orang akan neraka.
Tempat tinggal Micky berada di Camberwell, daerah pinggiran kota bergengsi di
luar batas kawasan pembuatan keramik; namun ia dan ayahnya merasa ragu di
jembatan itu, ragu untuk masuk ke Kawasan Setan. Micky masih mengutuki si tua
Seth Pilaster yang mengacaukan rencananya membeli senjata.
"Kita akan memecahkan masalah tentang pengapalan senapan itu, Papa," katanya.
"Jangan cemaskan hal itu."
Papa angkat bahu. "Siapa yang menghalangi kita?" tanyanya. Pertanyaan sederhana,
namun mempunyai makna dalam di kalangan keluarga Miranda. Apabila menghadapi
suatu problem yang tak dapat dipecahkan, mereka bertanya: Siapa yang menghalangi
kita" Arti sebenarnya adalah: Siapa yang harus kita bunuh agar rencana kita
terlaksana" Hal ini mengingatkan Micky pada semua kebiadaban hidup di Provinsi
San'tamaria, pada semua legenda berlumur darah yang lebih suka dilupakannya:
cerita tentang bagaimana Papa menghukum wanita simpanannya yang tidak setia
kepadanya dengan menodongkan senapan dan menarik pelatuknya; cerita tentang
sebuah keluarga Yahudi yang membuka toko di sebelah toko Papa di ibu kota
provinsi. Papa membakar toko orang Yahudi itu hingga si pemilik toko, istri, dan
anak-anaknya mati terbakar hidup-hidup; cerita tentang seorang kerdil yang
berpakaian mirip Papa ketika ada karnaval dan membuat setiap orang tertawa
dengan meniru cara berjalan Papa Papa mendatangi orang kerdil itu, mencabut ?pistol, dan menembak kepalanya.
Di Kordoba sekalipun hal ini tidaklah lazim, namun kebrutalan Papa yang nekat
telah menjadikannya orang yang ditakuti. Di Inggris, perbuatan seperti itu akan
menjebloskannya ke penjara. "Saya rasa kita tidak perlu melakukan tindakan
drastis." kata Micky, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya dengan pura-pura
setenang mungkin. "Sekarang tidak perlu buru-buru." kata Papa. "Musim dingin baru saja mulai.
Tidak akan terjadi pertempuran hingga musim panas." Ia memberikan tatapan keras
pada Micky. "Tapi aku harus mendapatkan senapan itu pada akhir bulan Oktober."
Tatapan itu membuat lutut Micky lemah lunglai. Ia bersandar pada tembok jembatan
untuk memantapkan dirinya. "Saya akan mengurusnya, Papa, jangan khawatir,"
katanya cemas. Papa mengangguk, seolah-olah tak ada keraguan. Mereka diam sesaat. Di luar
dugaan, Papa berkata, "Aku ingin kau tinggal di London."
Micky lemas oleh kelegaan. Itulah yang diharapkannya. Berarti, ia telah
melakukan sesuatu dengan benar. "Saya rasa itu gagasan yang baik, Papa,"
katanya, mencoba menyembunyikan rasa senangnya.
Kemudian Papa menjatuhkan bomnya. "Tapi aku tidak akan memberimu uang belanja
lagi." "Apa?" "Keluarga tidak bisa menanggung biaya hidupmu. Kau harus mencarinya sendiri."
Micky terkejut. Kekikiran Papa sama legendarisnya dengan kekerasannya, tapi hal
satu ini benar-benar di luar dugaan. Keluarga Miranda kaya. Papa memiliki ribuan
ekor sapi, memonopoli semua transaksi kuda di wilayah yang sangat luas.
menyewakan tanah pada petani-petani kecil, dan memiliki sebagian besar toko di
Provinsi Santamaria. Benar, tidak banyak yang bisa dibeli di Inggris dengan
82 uang mereka. Di negara mereka, satu dolar perak Kordoba cukup untuk membeli
makanan enak dalam jumlah besar, sebotol rum, dan menghabiskan malam dengan
seorang WTS; di Inggris, uang sejumlah itu hampir tidak cukup untuk menikmati
makanan murah dan segelas bir kelas ringan. Perkataan Papa benar-benar sebuah
pukulan bagi Micky. Kiriman uang keluarganya ketika dia menuntut ilmu di
Windfield saja sudah pas-pasan sekali. Hanya saja ketika itu ia berhasil
menutupi belanjanya dengan bermain kartu, tapi sulit baginya menutup biaya hidup
sehari-hari, sampai dia berteman dengan Edward. Bahkan sekarang Edward masih
membayar hiburan mahal yang mereka nikmati bersama: pertunjukan opera, kunjungan
ke gelanggang pacuan kuda, berburu, dan main dengan WTS. Meskipun demikian,
Micky masih memerlukan penghasilan pokok untuk membayar sewa tempat tinggal,
pakaian, iuran klub yang merupakan unsur esensial kehidupan kota London, dan tip


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk para pelayan. Bagaimana Papa mengharapkannya mendapatkan semua itu"
Bekerja" Gagasan itu mengejutkan. Tak ada anggota keluarga Miranda yang bekerja
demi upah atau gaji. Ia ingin bertanya, bagaimana ia diharapkan bertahan hidup tanpa uang kiriman,
ketika Papa tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan dan berkata, "Aku mau
mengatakan padamu, untuk apa senapan itu. Kita akan merebut padang pasir."
Micky tidak mengerti. Tanah keluarga Miranda mencakup suatu daerah luas Provinsi
Santamaria. Berbatasan dengan tanah mereka adalah lahan yang lebih kecil milik
keluarga Delabarca. Di utara kedua lahan itu ada tanah yang begitu gersang,
sehingga baik Papa maupun tetangganya tak pernah merepotkan diri untuk
mengklaimnya. "Mengapa kita mengincar padang pasir itu?" tanya Micky.
"Di bawah pasir itu ada mineral yang disebut nitrat.
Zat ini digunakan sebagai pupuk, jauh lebih baik ketimbang pupuk kotoran hewan.
Nitrat ini bisa dikirim ke seluruh dunia dan dijual dengan harga tinggi. Aku
ingin kau tinggal di London agar kau bisa mengurus penjualannya."
"Bagaimana kita tahu zat itu ada di situ?"
"Delabarca telah mulai menambangnya. Bahan pupuk ini telah membuat keluarganya
kaya raya." Micky merasa bersemangat. Hal ini bisa mengubah masa depan keluarga. Tentu saja
tidak seketika; tidak cukup cepat untuk menyelesaikan problem bagaimana ia akan
bertahan hidup tanpa uang belanja. Tapi dalam jangka panjang...
"Kita harus bertindak cepat," kata Papa. "Kekayaan berarti kekuasaan, dan
keluarga Delabarca akan segera menjadi lebih kuat daripada kita. Sebelum itu
terjadi, kita harus menghancurkan mereka."
84 BAB DUA SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY Whitehaven House Kensington Gore London, S.W.
2 Juni 1873 Florence sayang, Di mana kau" Aku berharap dapat bertemu denganmu di pesta Mrs. Bridewell, lalu
di Richmond, kemudian di Muncasters' pada hari Sabtu... namun kau tak ada di salah
satu tempat itu pun! Tulislah surat padaku dan katakan kau masih hidup.
Yang sangat mencintaimu, Hugh Pilaster. Park Lane No. 23 London, W.
3 Juni 1873 Kepada Yth. Sdr. Hugh Pilaster, Dengan hormat, Saya minta saudara berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan anak saya dalam
keadaan apa pun. Stalworthy.
Whitehaven House Kensington Gore London, S.W. 6 Juni 1873
Florence sayang. Akhirnya kudapatkan kurir rahasia untuk menyelundupkan suratku untukmu. Mengapa
kau bersembunyi dariku" Apakah aku telah menghina kedua orangtuamu" Atau ?semoga tidak demikian menghinamu" Sepupumu Jane akan mengantarkan surat
?jawabanmu padaku. Balaslah segera!
Salam hangat, Hugh. Stalworthy Manor Stalworthy Buckinghamshire 7 Juni 1873
?Hugh sayang. Aku dilarang menemuimu karena kau adalah penjudi seperti ayahmu. Aku sungguh
menyesal, tapi aku harus percaya bahwa orangtuaku tahu apa yang terbaik untukku.
Dengan sangat menyesal, Florence. 86 Whitehaven House Kensington Gore London, S.W. 8 Juni 1873
Ibunda sayang, Seorang gadis baru saja menolak cintaku karena Ayah adalah penjudi. Benarkah
itu" Mohon Ibu jawab segera. Ananda harus tahu!
Ananda tercinta, Hugh. Wellington Villas 2 Folkestone Kent 9 Juni 1873
Anakku tersayang, Ayahmu bukan penjudi. Ibu tak bisa membayangkan siapa yang mengatakan hal keji
tentang mendiang ayahmu. Uangnya ludes karena bisnisnya bangkrut, sebagaimana
selalu diceritakan padamu. Tak ada sebab lain.
Ibu berharap kau selalu sehat dan bahagia, sayangku, dan kekasihmu akan
menerimamu. Ibu tetap seperti dulu. Adikmu Dorothy kirim salam.
Ibumu, Whitehaven House Kensington Gore London, S.W. 10 Juni 1873
87 Florence sayang, Aku yakin seseorang telah menceritakan hal yang salah padamu tentang ayahku.
Bisnisnya bangkrut, itu benar. Bukan kesalahannya sendiri: sebuah perusahaan
besar bernama Overend & Gurney jatuh pailit dengan utang sebesar lima juta
pound, dan sebagian besar kreditur mereka ambruk. Beliau bunuh diri pada hari
itu juga. Tapi beliau tak pernah berjudi; begitu juga aku.
Kalau kaujelaskan hal ini pada ayahmu yang terhormat, persoalan akan menjadi
beres. Salam, Hugh. Stalworthy Manor Stalworthy Bucking hams h ire 11 Juni 1873
Hugh, Tak ada gunanya menulis tentang kebohongan padaku. Kini aku tahu pasti nasihat
orangtuaku padaku benar, dan aku harus melupakanmu.
Florence. Whitehaven House Kensington Gore London, S.W. 12 Juni 1873
Florence sayang, Kau harus mempercayaiku! Mungkin aku belum diceritai hal yang sebenarnya tentang
ayahku, walaupun aku dengan tulus tak dapat meragukan ucapan ibuku, tapi
sehubungan dengan diriku sendiri, aku tahu yang
88 sebenarnya! Ketika berusia empat belas tahun, aku bertaruh satu shilling untuk
kemenangan Derby dan aku kalah, dan sejak itu aku tidak pernah berjudi. Kalau
bertemu denganmu, akan mengucapkan sumpah.
Dengan penuh harap?Hugh. FOLJAMBE & MERRIWEATHER, PENGACARA G R AYS'S INN LONDON, W.C. 13 Juni, 1873
Kepada Yth. Mr. Hugh Pilaster, Dengan hormat, Kami diperintahkan oleh klien kami Earl Stalworthy untuk mengharuskan Anda tidak
lagi berhubungan dengan putrinya.
Dengan ini kami beritahukan bahwa yang mulia earl akan mengambil semua langkah
yang diperlukan, termasuk perintah Pengadilan Tinggi untuk memberlakukan
keinginannya dalam masalah ini, kecuali kalau Anda dengan segera tidak lagi
melakukan hal tersebut.' Atas nam'a Foljambe & Merriweather,
Albert C. Merriweather. Hugh, Dia memperlihatkan surat terakhirmu pada bibiku, ibunya. Mereka telah membawanya
ke Paris hingga akhir Musim London, kemudian mereka pergi ke Yorkshire. Tak ada
gunanya, dia tak lagi menyayangimu. Maaf. Jane.
89 [II] ARGYLL ROOMS adalah tempat hiburan paling populer di London, namun Hugh belum
pernah pergi ke sana. Belum pernah terlintas dalam benaknya untuk mendatangi
tempat seperti itu: kendati sebenarnya bukan rumah bordil, tempat itu mempunyai
reputasi rendah. Meskipun demikian, beberapa hari setelah Florence Stalworthy
menolaknya, Edward secara tidak resmi mengundangnya untuk bergabung dengannya
dan Micky, untuk menghadiri suatu malam pesta gila-gilaan, dan ia menerimanya.
Hugh tidak banyak menghabiskan waktunya dengan sepupunya. Edward sejak dulu
manja, suka mengacau, dan selalu lari dari tanggung jawab, menyuruh orang lain
melakukan pekerjaannya. Sejak dulu Hugh dijadikan kambing hitam dalam keluarga,
persis seperti yang dialami almarhum ayahnya. Mereka tidak banyak memiliki
persamaan. Kendati demikian, Hugh memutuskan untuk mencoba mencicipi kenikmatan
yang berbahaya. Tempat-tempat maksiat dan para wanita nakal merupakan gaya hidup
ribuan orang Inggris kelas atas. Barangkali mereka paling tahu: mungkin inilah,
jalan menuju kebahagiaan, bukannya cinta sejati.
Sesungguhnya ia tidak yakin apakah ia benar-benar mencintai Florence. Ia marah
karena orangtua gadis itu telah membuatnya tidak lagi mencintai Hugh, apa lagi
karena alasannya adalah kebohongan keji tentang ayahnya. Namun dengan agak malu
ia menyadari bahwa ia tidak patah hati. Ia acap kali memikirkan Florence, namun
ia tetap bisa tidur nyenyak, makan lahap, dan memusatkan perhatian pada
pekerjaannya tanpa kesulitan. Apakah itu berarti ia tak pernah mencintai
Florence" Gadis yang paling disukainya di dunia ini, selain adik perempuannya
yang berumur enam tahun Dotty,
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY adalah Rachel Bodwin, dan Hugh pernah berpikir untuk mengawininya. Apakah cinta
itu" Ia tidak tahu. Barangkali ia terlalu muda untuk mengerti cinta. Atau
mungkin ia belum mengalami mencintai seseorang.
Argyll Rooms terletak di sebelah gereja di Great Windmill Street, tak jauh dari
Piccadilly Circus. Edward membayar tiket masuk sebesar satu shilling per orang
untuk mereka bertiga, dan mereka masuk ke dalam tempat hiburan itu. Ketiganya
mengenakan pakaian malam: jas ekor warna hitam dengan lapel sutra, celana hitam
bertepi sutra, rompi putih berpotongan rendah, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu
putih. Setelan Edward baru dan mahal: yang dikenakan Micky agak lebih murah,
tapi potongannya mengikuti mode; dan kepunyaan Hugh adalah pakaian peninggalan
ayahnya. Ruang dansa itu merupakan gelanggang.yang terang-benderang oleh lampu. Cermin-
cermin besar berlapis emas menambah semarakrtya cahaya lampu. Lantai dansa penuh
sesak dengan pasangan-pasangan, dan di belakang sekat keemasan berpola rumit,
sebuah orkes yang setengah terlindung sedang memainkan irama palka yang
bersemangat. Beberapa pria mengenakan pakaian malam, yang menandakan mereka
orang kelas atas yang sedang menghibur diri; namun sebagian besar memakai
setelan siang hari berwarna hitam, yang menunjukkan mereka pegawai dan pengusaha
kecil. Di atas ruang dansa ada sebuah galeri remang-remang. Edward menunjuk ke arah itu
dan berkata pada Hugh, "Kalau kau berkenalan dengan seorang gadis di sini, kau
bisa membayar satu shilling lagi dan membawanya ke atas sana: tempat duduk
mewah, lampu remang-remang, dan pelayan yang akan tutup mata."
Hugh merasa pusing, bukan saja karena lampu-lampu itu, tapi juga karena beberapa
kemungkinan yang menggiurkan. Di sekelilingnya adalah gadis-gadis yang datang ke
sini semata-mata untuk mencari teman kencan! Sebagian datang dengan teman pria,
namun yang lain datang sendiri, dengan niat berdansa dengan lelaki yang sama
sekali belum mereka kenal. Dan mereka semua mengenakan busana terbaik, gaun
malam dengan kerangka penyangga, kebanyakan berpotongan leher sangat rendah,
juga topi-topi paling menakjubkan. Tapi Hugh melihat di lantai dansa mereka
semua mengenakan jubah yang tidak mencolok. Micky dan Edward telah meyakinkannya
bahwa mereka bukanlah pelacur, tapi gadis-gadis biasa, pelayan tokot pelayan
rumah, dan penjahit pakaian.
"Bagaimana kau berkenalan dengan mereka?" tanya Hugh. "Tentu kau tidak sekadar
menyapa mereka seperti perempuan jalanan?"
Edward menjawabnya dengan menunjuk seorang lelaki jangkung yang tampak menonjol
dengan jas ekor dan dasi putih, la mengenakan semacam lencana dan tampak
mengawasi jalannya acara dansa. "Itu pembawa acara. Dia akan mengenalkanmu
dengan seseorang kalau kau memberinya tip."
Suasana di situ aneh, tapi menggairahkan, campuran antara kesopanan dan
kebebasan, demikian pendapat Hugh.
Musik dansa polka berakhir dan sebagian dari mereka yang berdansa kembali ke
meja. Edward menunjuk seseorang dan berseru, "Sialan, itu Fatty Greenbourne!"
Hugh mengikuti jari telunjuk Edward dan melihat teman sekolah mereka dulu.
Tubuhnya yang tambun membuat rompi putih yang dikenakannya tampak sesak. Dia
menggamit seorang gadis yang sangat cantik. Fatty dan teman gadisnya duduk dan
Micky berkata perlahan, "Mengapa kita tidak bergabung dengan mereka sebentar?"
Hugh ingin melihat gadis itu lebih dekat, jadi ia dengan sigap memberikan
persetujuannya. Ketiga pemuda itu menerobos kerumunan, melintasi meja-meja.
"Selamat sore, Fatty!" ujar Edward dengan riang.
92 "Halo, sobat," sahut Fatty. "Orang memanggilku Solly sekarang," ia menambahkan
dengan ramah. Hugh kadang-kadang melihat Solly di City, kawasan finansial London. Sudah
beberapa tahun Solly bekerja di kantor pusat bank keluarganya, yang tidak begitu
jauh dari bank keluarga Pilaster. Berbeda dengan Hugh, Edward baru bekerja
beberapa minggu di City. Itulah sebabnya ia belum pernah bertemu dengan Solly.
"Kami pikir-pikir ingin bergabung denganmu," kata Edward santai, dan melemparkan
pandang ingin tahu ke arah gadis itu.
Solly berpaling pada teman gadisnya. "Miss Robinson, kenalkan teman-teman
sekolahku dulu: Edward Pilaster, Hugh Pilaster, dan Micky Miranda."
Reaksi Miss Robinson mengejutkan sekali. Wajahnya menjadi pucat pasi di balik
pemerah pipinya dan ia berkata, "Pilaster" Bukan satu keluarga dengan Tobias
Pilaster?" "Tobias Pilaster itu ayahku," kata Hugh, "Bagaimana Anda bisa tahu nama itu?"
Gadis itu dengan cepat menenangkan dirinya. "Ayahku dulu bekerja di perusahaan
Tobias Pilaster & Co. Waktu masih kecil, aku sering bertanya dalam hati, siapa
Co itu." Mereka tertawa, dan saat tegang pun berlalu. Ia menambahkan, "Silakan
duduk." Ada sebotol sampanye di meja. Solly menuangkan sedikit untuk Miss Robinson dan
meminta beberapa gelas kosong lagi.
"Wah, ini betul-betul reuni teman-teman lama di Windfield," katanya. "Tebak
siapa lagi yang ada di sini: Tonio Silva."
"Di mana?" tanya Micky dengan cepat. Ia kelihatan tak senang mendengar Tonio ada
di sini, dan Hugh bertanya dalam hati, mengapa. Di sekolah Tonio selalu takut
pada Micky, ia ingat itu.
93 "Dia sedang berdansa," kata Solly. "Dia bersama teman Miss Robinson, Miss April
Tilsley." Miss Robinson berkata, "Panggil aku Maisie. Aku bukan gadis yang formal." Dan
dia melemparkan kedipan menggoda pada Solly.
Seorang pelayan membawa sepinggan udang galah dan meletakkannya di hadapan
Solly. Solly melipat selembar serbet ke kerah kemejanya dan mulai makan.
"Kukira pemuda Yahudi tidak boleh makan udang," ujar Micky santai dengan nada
mengejek. Solly seperti biasa tidak mempan terhadap ucapan seperti itu. "Aku makan makanan
yang dihalalkan untuk orang Yahudi hanya kalau aku di rumah," katanya.
Maisie Robinson melemparkan tatapan marah ke arah Micky. "Kami gadis Yahudi
makan apa yang kami suka," katanya, dan mengambil sepotong kecil lauk dari
piring Solly. Hugh heran bahwa gadis itu Yahudi, selama ini ia mengira orang Yahudi berkulit
gelap. Ia mengamati gadis itu. Tubuhnya sangat pendek, tapi ia tampak lebih
tinggi sekitar satu kaki karena rambutnya yang berwarna kuning kecokelatan
ditata menjadi sanggul tinggi dan ditutupi topi besar yang dihiasi daun dan buah
tiruan. Di bawah topi besar itu, wajahnya yang kecil tampak lancang dan kedipan
matanya yang hijau terkesan usil. Belahan gaunnya yang berwarna cokelat
kemerahan memperlihatkan bintik-bintik noda matahari di dadanya. Umumnya noda
bintik matahari tidak dianggap menarik, tapi entah kenapa mata Hugh nyaris tak
bisa lepas dari pemandangan itu. Setelah beberapa saat, Maisie merasakan tatapan
mata pemuda itu dan membalasnya. Hugh berpaling dengan senyum meminta maaf.
Hugh mengalihkan pikirannya dari dada berbintik itu dengan memperhatikan teman-
temannya. Banyak terjadi perubahan pada diri mereka dalam tujuh tahun terakhir
ini. Solly Greenbourne telah menjadi dewasa.
Kendati masih gemuk dan masih mudah tersenyum seperti dulu, sosoknya memancarkan
kesan berwibawa dalam usianya yang sekitar dua puluh limaan. Mungkin karena ia
begitu kaya tapi Edward yang juga kaya tidak memiliki wibawa seperti dia. Solly?disegani di pusat keuangan kota London; memang tidak sukar memperoleh rasa
hormat apabila Anda merupakan ahli waris Greenbournes Bank. Namun kalau si ahli
waris adalah orang tolol, di belakangnya ia tetap saja akan menjadi bahan
tertawaan orang banyak. Edward juga telah lebih tua, namun berbeda dengan Solly, ia belum matang. Ia


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperti anak kecil, selalu mencari kesenangan. Ia tidak bodoh, tapi merasa sulit
berkonsentrasi pada pekerjaannya di bank, karena pikirannya menerawang ke acara
berdansa, menenggak minuman keras, dan bermain judi.
Micky telah tumbuh menjadi pria tampan. Matanya gelap, alisnya hitam, dan-rambut
ikalnya dibiarkan agak panjang. Pakaian malamnya bagus, tapi agak berani: kerah
dan ujung lengan jasnya terbuat dari beludru dan tepi kemejanya diberi renda.
Hugh melihat beberapa gadis yang duduk dekat mereka melemparkan lirikan kagum
dan pandangan menggoda ke arah Micky. Namun Maisie Robinson tidak senang
padanya, dan menurut dugaan Hugh, itu bukan hanya karena pendapat Micky tentang
pemuda Yahudi. Ada kesan jahat pada diri Micky. Sikap diamnya menimbulkan rasa
takut. Ia selalu waspada dan mampu menahan diri. Ia tidak terbuka, jarang
menunjukkan sikap ragu, ketidakpastian, atau kelemahan. Tak pernah ia
mengungkapkan perasaan hatinya kalau ia punya hati. Hugh tidak percaya pada ?orang semacam Micky.
Dansa berikutnya berakhir. Tonio Silva melangkah ke meja dengan Miss April
Tilsley. Hugh sudah beberapa kali bertemu dengan Tonio sejak mereka meninggalkan
bangku sekolah, tapi kalaupun bertahun-tahun tidak ber-
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY temu, ia dapat mengenali Tonio dengan seketika dari rambutnya yang berwarna
wortel. Mereka berdua kawan fkrab hingga hari yang menakutkan pada tahun 1866
itu, tatkala ibu Hugh datang memberitahukan bahwa ayahnya meninggal dunia, dan
membawanya pergi dari sekolah. Mereka adalah anak-anak nakal dari kelas empat,
yang selalu berkelahi, tapi mereka masih bisa menikmati hidup, meskipun sering
dihukum. Hugh acap kali bertanya-tanya, selama bertahun-tahun, apa sebenarnya yang
terjadi pada hari itu di tempat berenang di tambang batu dan pasir. Ia tak
pernah percaya cerita koran mengenai Edward yang mencoba menyelamatkan Peter
Middleton, Edward tak punya nyali. Tapi Tonio masih tidak mau membicarakan
kejadian itu, dan satu-satunya saksi lain, Albert "Hump" Cammel, telah pergi ke
Cape Colony. Hugh mengamati wajah Tonio ketika ia berjabat tangan dengan Micky. Tonio
kelihatan masih menyimpan rasa takut pada Micky. "Apa kabar, Miranda?" katanya
dengan suara biasa-biasa saja, namun ekspresinya memperlihatkan campuran rasa
takut dan kagum. Begitulah sikap yang mungkin ditunjukkan seseorang pada jagoan
yang terkenal cepat naik darah.
Hugh menilai teman gadis Tonio, April, sedikit lebih tua daripada temannya,
Maisie. Ia tampak kurang ceria dan karenanya kurang menarik; namun Tonio tampak
senang bersamanya. Ia menyentuh lengan April, membisikkan sesuatu, dan
membuatnya tertawa. Hugh berpaling pada Maisie. Gadis itu suka bicara dan periang. Nada suaranya
menunjukkan ciri aksen Inggris timur laut, tempat gudang milik Tobias Pilaster
dulu berada. Ekspresi gadis itu sangat memesona ketika ia tersenyum, merengut,
mencibir, mengerutkan hidungnya yang mencuat ke atas, dan menggerakkan matanya.
Hugh memperhatikan, alis matanya tidak begitu hitam, dan ada bintik-bintik noda
matahari di hidungnya. Ke-96
cantikannya agak lain, tapi tak seorang pun memungkiri bahwa dialah gadis
tercantik di ruang dansa itu.
Hugh terobsesi oleh pemikiran bahwa karena gadis itu berada di Argyll Rooms,
mungkin ia mau berciuman, bercumbu, dan malah barangkali bercinta malam ini
dengan salah satu pemuda yang mengelilingi meja ini. Hugh berkhayal tentang
berhubungan seksual dengan hampir setiap gadis yang ditemuinya. Ia malu kalau
mengingat sampai di mana dan berapa kali ia memikirkan hal itu. Ia tahu bahwa
bercinta hanya pantas dilakukan setelah menikah. Padahal Maisie mungkin mau
melakukannya malam ini! Gadis itu memergoki lagi mata Hugh yang sedikit liar, dan muncul perasaan kikuk
dalam diri Hugh seperti kadang-kadang timbul bila ia sedang bersama Rachel. Ia
merasa Maisie bisa menebak apa yang ada dalam benaknya. Hugh berpikir keras,
mencari bahan pembicaraan, dan akhirnya bertanya, "Apakah Anda sudah lama
tinggal di London, Miss Robinson?"
"Baru tiga hari," kata Maisie.
Pertanyaanku terlalu umum, pikirnya, namun setidak-tidaknya mereka bicara.
"Belum lama!" katanya. "Sebelumnya di mana?"
"Berkeliling," kata Maisie, dan berpaling karena hendak berbicara dengan Solly.
"Ah," Hugh menggumam. Ucapannya itu tampaknya mengakhiri percakapan mereka, dan
Hugh merasa kecewa. Sikap Maisie seolah-olah menunjukkan ia tidak senang pada
Hugh. Namun April merasa iba padanya dan menjelaskan, "Maisie ikut rombongan sirkus
selama tiga tahun." "Ya Tuhan! Kerja apa?"
Maisie berpaling lagi ke arah Hugh. "Naik kuda tanpa pelana," katanya. "Berdiri
di punggung kuda. meloncat dari satu kuda ke kuda lain. Melakukan semua trik
menunggang kuda." 97 April menambahkan, "Tentu memakai celana ketat."
Mengkhayalkan Maisie mengenakan celana ketat merupakan godaan yang tak bisa
dilawan. Hugh menyilangkan kaki dan berkata, "Bagaimana Anda sampai melakukan
pekerjaan seperti itu?"
Maisie ragu, kemudian tampaknya membulatkan pikirannya. Ia duduk menghadap Hugh,
dan di matanya terlihat kilatan berbahaya. "Kejadiannya seperti ini," katanya.
"Ayahku bekerja di perusahaan Tobias Pilaster and Co. Ayahmu menipu ayahku
sebesar gaji satu ming-gu. Waktu itu ibuku sakit. Tanpa uang gaji itu, tidak ada
pilihan lain: aku kelaparan atau ibuku meninggal. Jadi, aku kabur dari rumah.
Umurku sebelas tahun waktu itu."
Hugh merasa wajahnya memerah. "Aku tak percaya ayahku menipu orang," katanya.
"Lagi pula kalau umurmu waktu itu sebelas tahun, mungkin kau belum mengerti apa yang terjadi."
"Aku mengerti perasaan lapar dan dingin!"
"Barangkali ayahmu salah," Hugh bersikeras, meski ia tahu hal itu tidak
bijaksana. "Mestinya ayahmu jangan punya anak kalau tidak bisa memberi makan
mereka." "Dia bisa memberi makan anak-anaknya!" ucap Maisie dengan marah. "Dia bekerja
seperti budak... lalu ayahmu mencuri uangnya!"
"Ayahku bangkrut, tapi dia tidak pernah mencuri."
"Sama saja kalau kau jadi pecundang!
"Tentu saja lain. Kau tolol dan kurang ajar, menganggapnya sama."
Yang lain merasa Hugh sudah keterlaluan, dan beberapa orang mulai berbicara
bersamaan. Tonio berkata, "Jangan bertengkar tentang hal yang sudah lama
terjadi." Hugh sadar ia harus berhenti, namun ia masih marah. "Sejak umur tiga belas, aku
sudah kenyang mendengar keluarga Pilaster merendahkan ayahku, tapi aku tak bisa
menerima penghinaan dari seorang pemain sirkus."
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY Maisie bangkit, matanya berkilat bagaikan permata zamrud yang diasah. Sesaat
Hugh menyangka gadis itu akan menamparnya. Kemudian gadis itu berkata, "Mari
berdansa, Solly. Barangkali temanmu yang kasar sudah pergi waktu musik
berakhir." [III] PERTENGKARAN Hugh dengan Maisie mengakhiri pesta mereka. Solly dan Maisie
memisahkan diri, dan yang lain memutuskan untuk menonton pertandingan anjing
lawan tikus. Acara itu sebenarnya melawan hukum, tapi ada enam tempat tetap yang
jauhnya lima menit berjalan kaki dari Piccadilly Circus. Micky Miranda tahu
semua tempat itu. Sudah gelap ketika mereka keluar dari Argyll Rooms, menuju kawasan London yang
dikenal sebagai Babylon. Di sini, tak terlihat dari puri-puri Mayfair, namun
cukup dekat dengan klub untuk laki-laki St. James's ada sekumpulan jalan sempit
tempat berlangsungnya perjudian, olahraga berdarah, tempat orang mengisap candu,
pornografi, dan yang paling menonjol... pelacuran. Malam sangat panas. Udara penuh
dengan bau masakan, bir, dan saluran pembuangan. Micky dan teman-temannya
berjalan perlahan menyusuri bagian tengah jalan yang penuh sesak. Tak lama
kemudian, seorang tua dengan topi tinggi lusuh menawarkan buku syair porno,
seorang pemuda dengan pipi diberi pemerah mengedipkan mata padanya, seorang
wanita sebayanya yang berpakaian bagus membuka jaketnya dengan cepat,
memperlihatkan sekilas payudaranya yang indah, dan seorang wanita yang lebih tua
dengan pakaian lusuh menawarkan seorang gadis berwajah bidadari yang berumur
sekitar 99sepuluh tahun. Gedung-gedung itu, kebanyakan pub tempat dansa, rumah bordil,
dan penginapan murah, memiliki tembok kusam dan jendela kecil yang kotor.
Melalui jendela itu kadang-kadang orang bisa menjenguk sekilas pesta-pesta yang
diterangi lampu gas. Di jalan itu berlalu-1 alang orang-orang yang mengenakan
rompi putih seperti Micky, kerani bertopi bowler, pelayan toko, para petani yang
terbelalak, prajurit dengan seragam tidak dikancing, pelaut dengan kantong penuh
uang untuk sementara, dan pasangan kelas menengah yang kelihatan terhormat, yang
berjalan bergandengan. Mengherankan karena jumlah pasangan itu cukup banyak.
Micky menikmati kesenangan ini. Setelah beberapa minggu, ia berhasil menjauh
dari Papa. Mereka menunggu ajal Seth Pilaster, agar mereka dapat menutup
transaksi senjata, namun orang tua itu ternyata bertahan hidup, bagaikan kerang
laut yang menempel di batu karang. Mengunjungi pertunjukan musik dan rumah
bordil bersama Papa tidaklah menyenangkan; selain itu, Papa memperlakukannya
seperti pelayan, kadang-kadang bahkan menyuruhnya menunggu di luar sementara
Papa bersenang-senang dengan wanita jalang. Malam ini ia bebas dari kekangan
itu. Ia senang bertemu lagi dengan Solly Greenbourne. Keluarga Greenbourne bahkan
lebih kaya daripada keluarga Pilaster, dan suatu hari nanti Solly mungkin bisa
diperalatnya. la tidak senang berjumpa dengan Tonio Silva. Tonio terlalu banyak tahu mengenai
kematian Peter Middleton tujuh tahun yang lalu. Dulu Tonio takut sekali pada
Micky. Tonio memang masih berhati-hati dan masih menghormati Micky, namun itu
tidak sama dengan merasa takut. Micky gelisah memikirkan Tonio, tapi pada saat
itu ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia membelok dari Windmill Street, memasuki sebuah lorong sempit. Mata beberapa
ekor kucing berkedip ke 100 arahnya dari tumpukan sampah. Setelah yakin yang lainnya ada di belakangnya, ia
memasuki sebuah pub kotor dan kusam, berjalan melewati bar, dan keluar melalui
pintu belakang, melintasi sebuah halaman. Seorang pelacur tengah berlutut di
depan pelanggannya di bawah cahaya bulan. Micky membuka pintu sebuah bangunan
kayu yang reyot seperti kandang kuda.
Seorang lelaki bermuka kotor yang mengenakan pakaian luar panjang yang lusuh
meminta empat pence sebagai karcis masuk. Edward membayar dan mereka masuk.
Tempat itu terang dan penuh asap tembakau; ada bau darah dan tinja yang menusuk.
Empat puluh atau lima puluh orang laki-laki dan beberapa wanita berdiri
mengitari sebuah lubang berbentuk lingkaran. Para laki-laki itu berasal dari
berbagai kelas masyarakat, sebagian mengenakan setelan wol berat dan syal
berbintik-bintik, yang lain mengenakan pakaian luar sebatas lutut atau pakaian
malam; tetapi semua wanitanya kira-kira merupakan tipe kurang terhormat seperti
April. Beberapa lelaki membawa anjing yang mereka peluk atau ikatkan ke kaki
kursi. Micky menunjuk ke arah seorang lelaki bercambang dan bertopi wol. Lelaki itu
membawa seekor anjing yang diikat dengan seutas rantai berat. Mulut anjing itu
diberi selongsong. Beberapa penonton memeriksa anjing itu dengan cermat. Hewan
itu pendek kelihatan marah dan gelisah. "Berikutnya dia," kata Micky.
Edward pergi untuk membeli minuman dari seorang wanita yang membawa baki. Micky
berpaling ke arah Tonio dan menyapanya dalam bahasa Spanyol. Memang tidak pantas
melakukan hal ini di hadapan Hugh dan April yang tidak paham; tapi Hugh tidak
penting, apalagi April, jadi tidak masalah. "Apa kerjamu sekarang?" tanya Micky.
101 "Aku atase Duta Besar Kordoba di London," jawab Tonio.
"Benar?" Micky menjadi penasaran. Sebagian besar negara Amerika Latin tidak
menganggap perlu menugasi seorang duta besar di London, tapi Kordoba telah
menempatkan seorang duta selama sepuluh tahun ini. Tidak disangsikan lagi, Tonio
memegang jabatan itu karena keluarganya, mempunyai koneksi di ibu kota Kordoba,
Palma. Sebaliknya Papa Micky adalah seorang baron provinsi dan tidak bisa
menggunakan pengaruhnya. "Apa .tugasmu?"
"Aku membalas surat-surat dari perusahaan-perusahaan Inggris yang ingin
melakukan bisnis di Kordoba. Mereka menanyakan iklim, mata uang, transportasi
dalam negeri, hotel, pokoknya segala macam hal."
"Kau kerja seharian?"
'Tidak sering." Tonio merendahkan suaranya. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi aku
hanya menulis dua atau tiga surat sehari. Sering begitu."
"Kau digaji?" Sebagian besar diplomat adalah orang yang banyak uang dan bekerja
tanpa mengharapkan gaji- "Tidak. Tapi aku mendapat kamar di kediaman Duta Besar, dan makan ditanggung;
plus tunjangan pakaian. Mereka juga membayar iuran klub."
Micky terkesan. Pekerjaan macam itulah yang sesuai untuknya. Ia merasa iri.
Makan dan tempat tinggal, serta pengeluaran pokok untuk keperluan bersosialisai
ditanggung, sebagai imbalan untuk satu jam kerja setiap pagi. Micky bertanya
dalam hati, adakah jalan untuk menggeser Tonio dari jabatan itu.
Edward kembali dengan lima gelas kecil brendi dan membagikan minuman itu pada
mereka. Micky menenggak brendinya sekaligus. Minuman murah dan keras.
Sekonyong-konyong anjing tadi menggeram dan mulai berlari berputar-putar dengan
galak, menarik-narik ran -
102 tainya, bulu lehernya berdiri. Micky melihat ke sekeliling * dan melihat dua
orang masuk membawa sebuah sangkar berisi tikus-tikus besar. Tikus-tikus itu
bahkan lebih liar dari anjing itu, berlari simpang siur dan mencicit ketakutan.
Semua anjing di ruangan itu mulai menyalak, dan selama beberapa saat terdengar
suara ingar-bingar hebat ketika para pemilik anjing menyuruh hewan-hewan itu
diam. Pintu masuk dikunci dan dipalang dari dalam, dan lelaki berpakaian lusuh itu
mulai mengumpulkan uang taruhan. Hugh Pilaster berkata, "Uh, baru sekarang
kulihat tikus sebesar ini. Di mana mereka mendapatkannya?"
Edward menjawab, "Tikus-tikus itu sengaja dikembangbiakkan untuk keperluan ini."
Lalu ia dan berpaling pada salah satu pawangnya. "Berapa ekor untuk pertandingan
ini" "Enam lusin," jawab lelaki itu.
Edward memberikan penjelasan, "Berarti mereka akan memasukkan tujuh puluh dua
ekor tikus ke dalam lubang."
Tonio berkata, "Bagaimana cara taruhannya"'
"Kau bisa pasang taruhan untuk anjing atau tikus-tikus itu. Kalau menurutmu
tikus yang bakal menang, kau bisa pasang berapa sisa tikus yang masih hidup bila
anjing itu mati." Lelaki kotor itu meneriakkan angka taruhan yang akan dipasang dan memungut uang
yang ditukar dengan lembaran-lembaran kertas berisi angka-angka yang ditulis
dengan pensil tebal. Edward memasang taruhan satu poundsterling untuk anjing itu, dan Micky memasang
satu shilling untuk enam ekor tikus yang lolos dari pembantaian. Untuk itu,
pasaran taruhan adalah lima banding satu. Hugh tidak mau ikut bertaruh. Ia tidak
bergairah untuk kesenangan semacam itu.
Lubang tanding itu mempunyai kedalaman sekitar
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY empat kaki, dan dikelilingi oleh pagar kayu yang tingginya juga empat kaki.
Beberapa lilin pada tempat lilin kasar dipasang berselang-seling di sekeliling
pagar, memberikan penerangan cukup ke dalam lubang. Penutup moncong dilepaskan
dari mulut anjing itu. Hewan itu dimasukkan ke dalam lubang melalui pintu kayu
yang kemudian ditutup kembali rapat-rapat. Anjing itu tegak dengan kaki kaku,
bulu kuduknya berdiri, melihat ke atas, menunggu tikus-tikus lawannya. Para
pawang tikus mengangkat sangkar. Hening sesaat.
Tiba-tiba Tonio berkata, "Sepuluh guinea untuk kemenangan anjing."
Micky heran. Tonio baru saja berbicara tentang pekerjaannya dan tunjangan yang
diperolehnya, seakan-akan ia harus berhati-hati sekali dalam membelanjakan
uangnya. Apakah itu hanya kedok" Ataukah ia memaksakan diri memasang taruhan"
Bandar taruhan itu ragu. Nilai taruhan itu juga besar baginya. Meskipun
demikian, setelah sesaat "bandar itu menuliskan sesuatu pada selembar kertas,
menyerahkannya, dan memasukkan uang Tonio ke dalam sakunya. Para pawang
mengayunkan sangkar tikus ke belakang, kemudian ke depan, seolah-olah ingin
melemparkan sangkar ke dalam lubang; kemudian, pada menit terakhir, pintu kecil
pada salah satu ujung sangkar terbuka, dan tikus-tikus itu terlempar dari
sangkar sambil mengeluarkan lengkingan ketakutan. April menjerit dan Micky


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tergelak senang. Anjing itu bergerak dengan konsentrasi mematikan. Pada waktu tikus-tikus jatuh
beruntun ke atas tubuhnya, rahangnya menyambar dengan buasnya.
Semua anjing di ruangan menggonggong sengit, dan teriakan penonton menambah
hiruk-pikuk para wanita yang menjerit-jerit dan laki-laki yang berteriak-teriak
memberi semangat. Micky terus tertawa senang.
104 Setelah beberapa lama, kumpulan tikus itu sadar telah terjebak di dalam lubang.
Ada yang berlari mengelilingi tepi lubang, mencari jalan keluar; yang lain
meloncat, mencoba bergayut pada sisi yang nyaris tegak lurus; yang lain lagi
membentuk gundukan. Selama beberapa saat anjing itu menikmati keunggulannya, dan
membunuh lebih dari dua belas ekor lagi.
Tapi sekonyong-konyong tikus-tikus itu berbalik sekaligus, seakan-akan mendengar
suatu isyarat. Mereka mulai menyerang anjing itu. Selama beberapa waktu, si
anjing masih beraksi. Tapi kemudian ia mulai lelah. Separuh dari tikus-tikus itu
sudah mati, namun yang lain terus menyerang.
Orang-orang yang memasang angka tiga puluh enam dan tidak mungkin lagi menang,
kini merobek-robek kertas taruhan mereka, tapi yang memasang angka lebih rendah
bersorak lebih nyaring. Begitu mengendus kelelahan anjing itu, para tikus menjadi lebih berani. Kaki si
anjing mulai lunglai dan tiba-tiba ia terhuyung-huyung pada tiga kali.
Tikus-tikus tinggal dua belas ekor serentak menyerang bagian belakangnya. Dengan
lunglai anjing itu menyambar dan mencengkeram, namun ia sudah lelah dan tak
dapat bertahan lebih lama lagi. Micky berpikir ia telah bertaruh dengan
bijaksana, dan nanti tinggal enam ekor tikus ketika si anjing mati.
Dengan tenaga terakhirnya, anjing itu membunuh empat ekor tikus lagi dalam waktu
empat detik. Setelah itu ia jatuh dan tidak bangun lagi.
Tikus-tikus itu mulai berpesta pora.
Micky menghitung, tinggal enam tikus lagi.
Ia memandang teman-temannya. Hugh tampak mual. Edward be/kata, "Perutmu tidak
tahan, ya?" "Anjing dan tikus-tikus itu bertindak menurut naluri," ucap Hugh. "Manusialah
yang membuatku muak."
105 Edward menggerutu dan pergi untuk membeli minuman lagi.
Mata April berkilat ketika menatap Tonio. Pikirnya, laki-laki ini berani kalah
sepuluh guinea dalam sekali taruhan. Micky menatap Tonio dengan lebih cermat dan
melihat kesan kepanikan di wajahnya. Aku tak percaya dia sanggup menanggung
kekalahan sepuluh guinea, pikir Micky.
Micky mengumpulkan kemenangannya dari bandar: lima shilling. Ia sudah memperoleh
keuntungan malam itu. Namun ia merasa apa yang telah diketahuinya tentang Tonio
pada akhirnya bisa bernilai lebih besar lagi.
[IV] MICKY-lah yang paling membuat Hugh muak. Dari awal hingga akhir pertandingan,
Micky bisa tetap tertawa dengan tenangnya, bahkan kadang sedikit histeris. Mula-
mula Hugh tak habis pikir mengapa tawa yang mendirikan bulu roma itu terdengar
tak asing. Lalu ia ingat, Micky tertawa persis seperti itu ketika Edward
melemparkan pakaian Peter Middleton ke dalam air. Dengan cara yang tidak
menyenangkan, tawa itu mengingatkannya pada suatu kenangan pahit.
Edward kembali dengan membawa minuman dan berkata, "Mari kita pergi ke
Nellie's." Mereka menenggak brendi sampai habis, lalu melangkah ke luar. Di jalan, Tonio
dan April berpamitan dan menyelinap ke dalam sebuah gedung yang mirip hotel
murahan. Hugh menduga mereka akan menyewa kamar satu jam, atau mungkin satu
malam, ia bertanya dalam hati, apakah ia akan terus bersama-sama Edward dan
Micky. Ia tidak begitu menikmati malam ini, namun
106 ia ingin tahu ada apa di Nellie's. Ia telah memutuskan mencoba ikut pesta gila-
gilaan malam ini sampai tuntas, karena itu ia berketetapan untuk tidak berhenti
di tengah jalan. Nellie's terletak di Prince Street, tak jauh dari Leicester Square. Dua penjaga
pintu berseragam berdiri di depan pintu. Saat ketiga pemuda itu sampai, kedua
penjaga pintu itu tengah mengusir seorang lelaki setengah baya bertopi bowler.
"Hanya untuk yang memakai pakaian malam," kata salah seorang penjaga pintu itu
tanpa menghiraukan protes si lelaki.
Mereka tampaknya mengenal Edward dan Micky, karena salah seorang menyentuh
topinya memberi hormat dan yang satunya membukakan pintu. Mereka berjalan
menyusuri sebuah lorong panjang, menuju sebuah pintu. Mereka diperiksa melalui
lubang intip, kemudian pintu terbuka.
Memasuki ruangan itu rasanya seperti berjalan ke dalam ruang duduk sebuah rumah
besar di London. Api menyala di dua perapian besar. Ada sofa, kursi, dan meja
kecil di sana-sini; ruangan itu penuh dengan laki-laki dan perempuan yang
mengenakan pakaian malam.
Meskipun demikian, sebentar saja orang maklum bahwa itu bukanlah ruang duduk
biasa. Kebanyakan laki-laki mengenakan topi mereka. Setengahnya merokok, padahal
ini tidak akan diperkenankan dalam ruang duduk yang sopan, dan sebagian lagi
melepaskan jas serta ikatan dasi mereka. Sebagian besar wanita di situ
berpakaian lengkap, tapi beberapa tampaknya hanya mengenakan pakaian dalam.
Beberapa orang duduk di pangkuan lelaki, yang lain mencium para lelaki itu, dan
satu-dua orang membiarkan diri mereka dicumbu dengan intim.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hugh berada di rumah bordil.
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY Ruangan itu bising. Para lelaki meneriakkan lelucon, wanita-wanita tertawa, dan
seorang pemain biola memainkan musik waltz di suatu tempat dalam ruangan itu.
Hugh mengikuti Micky dan Edward menyusuri ruangan itu. Dinding-dindingnya
digantungi gambar-gambar wanita telanjang dan pasangan yang sedang bercinta, dan
Hugh mulai terangsang. Di ujung ruangan, di bawah sebuah lukisan cat minyak
besar yang menggambarkan pesta pora rumit yang berlangsung di alam terbuka,
duduk seorang wanita paling gemuk yang baru pernah dilihat Hugh, wanita itu
berpayudara besar, dengan rias muka tebal, mengenakan gaun sutra bagaikan sebuah
kemah ungu. Ia duduk di sebuah kursi bak tahta, dikelilingi gadis-gadis. Di
belakangnya ada sebuah tangga lebar berlapis karpet merah yang mungkin menuju ke
sekumpulan kamar tidur. Edward dan Micky mendekati tahta itu dan membungkukkan badan. Hugh meniru
mereka. Edward berkata, "Nell sayang, aku ingin mengenalkan sepupuku Mr. Hugh Pilaster."
"Selamat datang, anak-anak," ujar Nell. "Ayo, hiburlah gadis-gadis rupawan ini."
"Sebentar, Nell. Adakah permainan judi malam ini?"
"Selalu ada permainan judi di Nellie's," ucapnya, dan menunjuk ke satu pintu di
satu sisi ruangan. Edward membungkuk lagi dan berkata, "Kami kembali nanti."
"Jangan mengecewakanku, anak-anak!"
Mereka pergi. "Tingkahnya seperti bangsawan saja!" gumam Hugh.
Edward tertawa. "Ini rumah bordil nomor satu di London. Sebagian dari mereka
yang membungkuk hormat padanya malam ini akan memberi hormat pada Ratu besok
paginya." Mereka masuk ke ruangan berikutnya. Dua sampai lima belas laki-laki sedang duduk
mengelilingi meja-meja baccarat. Setiap meja mempunyai sebuah garis putih yang
digoreskan sekitar satu kaki dari tepinya, dan para pemainnya mendorong koin-
koin plastik sebagai pengganti uang tunai dalam perjudian. Koin-koin itu
beraneka warna saling melintasi batas garis tempat taruhan. Di samping para
pemain tersedia aneka minuman alkohol, dan udara dipenuhi asap cerutu.
Ada beberapa kursi kosong di salah satu meja; Edward dan Micky segera duduk.
Seorang pelayan membawakan mereka beberapa buah koin, dan mereka masing-masing
menandatangani sehelai tanda terima. Hugh berkata perlahan pada Edward, "Berapa
taruhannya?" "Paling sedikit satu pound."
Terlintas dalam benak Hugh: kalau ia main dan menang, ia dapat bercinta dengan
salah seorang wanita di ruangan sebelah. Sesungguhnya uang di sakunya tidak
sampai satu pound, namun jelas Edward punya nama baik di sini. Kemudian ia ingat
Tonio yang kalah sepuluh guinea pada pertandingan anjing-tikus. "Aku tak mau
main," ucapnya. Micky berkata lunak, "Kami sudah tahu kau tidak akan mau."
Hugh merasa kikuk. Ia bertanya dalam hati, apakah akan meminta pelayan
membawakannya minuman; kemudian ia berpikir bahwa harga minuman yang harus
dibayarnya mungkin sama dengan gajinya seminggu. Bandar judi membagikan kartu.
Micky dan Edward memasang taruhan mereka. Hugh memutuskan untuk keluar.
Ia kembali ke ruang duduk utama. Setelah diperhatikan dari dekat, ia melihat
perabot di situ, ternyata barang murahan, ada noda pada kain beludru penutup
kursi, bekas-bekas terbakar pada kayu yang disemir, karpetnya sudah tua dan
robek di sana-sini. Di sebelahnya, seorang yang mabuk berlutut sambil bernyanyi
109' untuk seorang pelacur, sementara dua temannya tertawa terbahak-bahak. Di tempat
duduk di sebelahnya, sepasang pria dan wanita saling berciuman dengan mulut
terbuka penuh. Hugh sudah pernah mendengar orang melakukannya, tapi ia belum
pernah melihat langsung. Ia memperhatikan, terpukau, ketika lelaki itu membuka
kancing bagian depan pakaian wanita itu dan mulai mengelus payudaranya. Seluruh
adegan itu merangsang, sekaligus membuatnya mual. Wanita itu melemparkan
pandangan di atas kepala lelaki itu, bertatapan dengan Hugh, dan mengedipkan
matanya. Sebuah suara berkata di telinga Hugh, "Kau boleh melakukannya padaku, kalau
mau." Ia berpaling, merasa bersalah, seolah-olah ia dipergoki tengah melakukan sesuatu
yang memalukan. Di sampingnya adalah seorang gadis berambut hitam, kurang-lebih
sebaya dengannya, dengan pemerah pipi tebal. Ia tak dapat menahan diri untuk
tidak melihat sekilas payudaranya, lalu berpaling lagi dengan cepat, karena
merasa kikuk. "Jangan malu-malu," kata gadis itu. "Lihatlah sepuas hatimu. Kau boleh
menikmatinya." Hugh ketakutan ketika merasa tangan gadis itu merabanya. Pikiran
Hugh kalut sekali. Ia merasa dirinya akan meledak. Gadis itu memiringkan kepala
dan mencium bibir Hugh. Keadaan ini sudah tak tertahankan lagi, dan Hugh
beraksi. Gadis itu merasakannya. Sesaat ia tampak keheranan, lalu tawanya meledak. "Ya
Tuhan, kau belum berpengalaman!" katanya lantang. Hugh merasa dipermalukan.
Gadis itu melihat ke sekeliling dan berujar pada pelacur yang paling dekat
dengannya, "Baru kusentuh, dia sudah bersin!" Beberapa orang tertawa.
Hugh berpaling dan bergegas menuju pintu keluar. Tawa itu terdengar mengikutinya
sepanjang ruangan. Ia harus menahan diri jangan sampai lari. Akhirnya ia sampai
di pintu. Sesaat kemudian ia telah berada di jalan.
110 Udara sudah agak sejuk, dan ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Seandainya semua ini merupakan pencarian kenikmatan yang mengundang bahaya, ia
tak menyukainya. Maisie telah bersikap kasar padanya berkenaan dengan ayahnya;
pertandingan tikus dan anjing telah membuatnya mual; pelacur-pelacur itu telah
menertawakannya. Semuanya jadi berantakan.
Seorang penjaga pintu melemparkan tatapan simpati padanya. "Mau buru-buru
pulang, Sir?" "Bagus sekali gagasan itu," kata Hugh, dan melangkahkan kaki.
Di ruang judi, Micky kalah. Ia bisa menipu dalam permainan baccarat seandainya
ia memiliki cadangan uang judi, namun malam ini cadangan itu tidak berpihak
padanya. Diam-diam ia merasa lega ketika Edward berkata, "Mari kita cari
sepasang gadis." "Kau saja," ucapnya, pura-pura tak acuh. "Aku mau terus main."
Sekilas kepanikan terlihat di mata Edward. "Malam sudah larut."
"Aku mencoba memenangkan kembali kekalahanku," Micky bersikeras.
Edward merendahkan suaranya. "Aku ganti pasangan taruhanmu."
Micky pura-pura ragu, kemudian mengalah. "Hm, baiklah."
Edward tersenyum. Ia menyelesaikan kewajibannya dengan bandar judi, lalu mereka masuk ke ruang
utama. Dengan segera seorang gadis berambut pirang mendatangi Edward. Edward
melingkarkan lengan di bahunya yang terbuka, dan gadis itu menekankan dadanya ke
dada pemuda itu. Micky memperhatikan gadis-gadis itu satu per satu. Seorang wanita yang sedikit
lebih tua dengan tatapan SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY menggoda menarik perhatiannya. Ia tersenyum dan wanita itu menghampiri. Wanita
itu meletakkan tangan di bagian depan kemejanya, membenamkan kuku ke dadanya,
berdiri berjingkat, dan dengan lembut menggigit bibir bawahnya.
Ia melihat Edward memperhatikannya, wajahnya merah. Micky mulai bergairah. Ia
memandang wanita itu. "Siapa namamu?" katanya. "Alice."
"Ayo kita ke atas, Alice," ujarnya.
Mereka menaiki tangga bersama-sama. Di puncak anak tangga ada sebuah patung
centaur yang diusap oleh Alice ketika mereka berlalu. Di sebelahnya ada pasangan
tengah berasyik-masyuk tanpa menyadari seorang lelaki mabuk yang duduk di
lantai, memperhatikan mereka.
Kedua wanita itu menuju kamar-kamar tersendiri, tapi Edward menggiring mereka ke
kamar yang sama. "Semuanya sama-sama malam ini?" ucap Alice.
"Kami menghemat uang," kata Micky, dan Edward tertawa.
"Di sekolah sama-sama, ya?" ujar wanita itu dengan cerdik, ketika menutup pintu.
"Dulu biasa saling meran-cap?"
"Diam kau," kata Micky sambil memeluknya.
Sementara Micky mencium Alice, Edward melangkah ke belakang wanita itu dan
melingkarkan tangan ke badannya. Alice tampak agak heran, namun tidak
menunjukkan keberatan. x Setelah sesaat, gadis satunya berkata, "Apa yang harus kulakukan" Aku merasa
tidak diajak." "Tunggu saja," kata Edward. "Kau berikutnya."
112 BAB TIGA Juli [I] KETIKA masih kecil, Hugh pernah mengira Pilas ters Bank dimiliki oleh para
pesuruh yang bekerja di bank itu. Mereka sebenarnya kurir rendahan, namun semua
bertubuh tegap,- memakai pakaian kerja necis dengan jam rantai perak melintang
di atas rompi mereka yang besar, dan mereka mondar-mandir di bank dengan
langkah-langkah berat yang berwibawa, sehingga bagi seorang anak kecil, mereka
tampak sebagai orang-orang paling penting di situ.
Hugh pernah dibawa ke sini pada usia sepuluh tahun oleh kakeknya, saudara laki-
laki Old Seth. Ruang utama bank berdinding marmer di lantai dasar tampak seperti
gereja: besar, anggun, sepi, tempat upacara yang tak bisa dimengerti dilakukan
oleh sekelompok pendeta elite untuk mengabdi pada tuhan yang disebut Uang. Kakek
telah mengantarnya melihat-lihat bangunan bank ini: suasana hening di lantai
pertama yang berlapis karpet. Lantai ini ditempati oleh para mitra dan karyawan
bagian surat-menyurat. Hugh disuguhi segelas sherry dan sepiring biskuit di
Ruang Mitra. Karyawan-karyawan senior bagian administrasi bekerja di lantai dua,
mengenakan kacamata dan penuh gairah kerja, dikelilingi
113 bundel dokumen yang diikat dengan pita seperti kado. Para karyawan junior berada
di lantai paling atas, duduk menghadapi meja kerja mereka yang tinggi, berjajar
seperti serdadu mainan kepunyaan Hugh, mencatat di buku besar dengan jari
berlepotan tinta. Tapi yang paling menarik bagi Hugh adalah ruang bawah tanah.
Di sini perjanjian-perjanjian yang bahkan lebih tua daripada Kakek diamankan
dalam kamar penyimpanan. Ribuan prangko ada di sini, menunggu digunakan, dan ada
satu kamar penuh dengan stoples kaca besar berisi tinta. Hugh terkagum-kagum
memikirkan proses yang berlangsung di sini. Tinta diantar ke bank, digunakan di
atas kertas oleh karyawan administrasi, kemudian lembaran-lembaran kertas itu
dikembalikan ke ruang bawah tanah untuk disimpan selama-lamanya; dan proses ini
menghasilkan uang. Misteri itu sirna sekarang. Ia tahu bahwa buku-buku besar yang dijilid dengan
kulit itu bukanlah teks misterius, tapi hanya daftar sederhana transaksi
keuangan yang dihimpun dengan susah payah dan diperbarui dengan cermat. Jari-
jarinya sendiri menjadi kaku dan berlepotan tinta setelah berhari-hari melakukan
pencatatan. Wesel tagih dan surat pengakuan utang tidak lagi merupakan mantra,
tapi sekadar janji untuk membayar sejumlah uang pada suatu tanggal yang akan
datang, yang ditulis di sehelai kertas dan dijamin oleh suatu bank. Pemberian
diskonto, yang dulu dikiranya pasti berarti menghitung mundur dari seratus
sampai satu, ternyata tidak lain daripada praktik membeli wesel tagih sebelum
jatuh tempo dengan harga sedikit di bawah nilai nominalnya, menyimpannya hingga


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jatuh tempo, kemudian menguangkannya dengan memperoleh sedikit keuntungan.
Hugh adalah asisten umum Jonas Mulberry, kepala bagian administrasi. Mulberry,
seorang lelaki botak berusia sekitar empat puluh tahun, baik hati namun kurang
ramah. Ia selalu meluangkan waktunya untuk mem -
114 berikan penjelasan pada Hugh, tapi ia cepat melontarkan keluhan apabila Hugh
sedikit saja gegabah atau tidak hati-hati. Hugh telah bekerja di bawah
pimpinannya sejak tahun lalu, dan kemarin ia melakukan kesalahan berat. Ia
kehilangan konosemen pengiriman tekstil Bradford dengan tujuan New York. Wakil
dari pabrik tekstil Bradford berada di bawah, di ruang utama bank, menanyakan
uang perusahaan, tapi Mulberry perlu mengecek konosemennya sebelum memberikan
wewenang untuk melakukan pembayaran, dan Hugh tidak dapat menemukan dokumen
tersebut. Mereka terpaksa meminta orang itu kembali pagi ini.
Akhirnya Hugh menemukan konosemen itu, tetapi hampir semalaman waktunya habis
mencemaskan soal hilangnya dokumen itu, jadi pagi ini dia telah merancang suatu
sistem baru untuk menangani dokumen bagi Mulberry.
Di meja di depannya ada dua baki kayu murahan, dua kartu empat persegi panjang,
setangkai pena bulu burung, dan sebuah tempat tinta cair. Ditulisnya dengan
perlahan-lahan dan rapi pada satu kartu:
Untuk perhatian Kepala Bagian Administrasi
Pada kartu kedua ditulisnya:
Telah ditangani oleh Kepala Bagian Administrasi Dengan hati-hati ia mengeringkan
tulisannya, lalu memasang satu kartu pada setiap baki surat dengan paku payung.
Ia meletakkan baki-baki tersebut di meja Jonas Mulberry dan melangkah mundur
untuk mengamati hasil kerjanya. Pada saat itu Mr. Mulberry masuk. "Selamat pagi,
Mr. Hugh," ujarnya. Semua anggota keluarga disapa dengan cara demikian di bank
tersebut, sebab kalau tidak akan timbul kebingungan di kalangan semua Mr.
Pilaster yang berbeda-beda itu. "Selamat pagi, Mr. Mulberry."
"Dan apa ini?" ucap Mulberry, tersinggung melihat baki-baki surat itu.
115 "Begini," Hugh mulai menjelaskan. "Saya sudah menemukan konosemen itu." "Di
mana"' "Tercampur dengan surat-surat yang sudah Anda tanda tangani."
Mulberry menyipitkan matanya. "Maksud Anda, ini akibat kesalahan saya?"
"Bukan," kata Hugh dengan sigap. "Saya bertanggung jawab menangani surat-surat
Anda. Itulah sebabnya saya mulai memberlakukan sistem baki surat, untuk
memisahkan dokumen yang telah Anda tangani dari dokumen yang belum Anda baca."
Mulberry menggerutu tidak jelas. Ia menggantungkan topi bowler-nya di sangkutan
di belakang pintu dan duduk menghadap meja kerjanya. Akhirnya ia berkata, "Kita
coba saja, mungkin cukup efektif. Tapi lain kali cobalah berkonsultasi dengan
saya sebelum melaksanakan gagasan Anda yang jitu itu. Walau bagaimanapun, ini
kamar kerja saya, dan saya kepala bagian administrasi."
"Tentu," kata Hugh. "Saya minta maaf." Ia sadar seharusnya meminta izin
Mulberry, namun ia begitu bersemangat melaksanakan gagasan barunya, sehingga
tidak sabar menunggu. SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY "Penawaran Pinjaman Rusia ditutup kemarin," Mulberry melanjutkan pembicaraannya.
"Anda pergi ke kamar pos dan aturlah penghitungan permohonan."
"Baik." Bank tersebut mencarikan pinjaman sebesar dua juta pound untuk
pemerintah Rusia. Bank ini telah mengeluarkan obligasi 100 poundsterling dengan
suku bunga 5 poundsterling per tahun; tapi mereka menjual obligasinya seharga 93
poundsterling, dengan demikian suku bunga yang sesungguhnya lebih dari lima tiga
per delapan. Sebagian besar obligasi tersebut telah dibeli oleh sejumlah bank
lain di London dan Paris, tapi sebagian ditawarkan pada masyarakat umum, dan
sekarang permohonannya harus dihitung.
"Mudah-mudahan permohonan yang masuk lebih banyak daripada yang dapat kita
penuhi," kata Mulberry. "Mengapa?"
"Dengan demikian, pemohon yang kurang mujur akan mencoba membeli obligasi besok
di pasar bebas, dan itu akan meningkat harga obligasi, mungkin sampai 95
poundsterling, dan semua pelanggan kita akan merasa mereka telah membeli
obligasi dengan harga murah."
Hugh mengangguk. "Dan bagaimana kalau permohonan yang masuk terlalu sedikit?"
"Kalau demikian, bank sebagai penjamin emisi harus membeli kelebihannya dengan
harga 93 poundsterling. Dan besok harganya mungkin turun sampai 92 atau 91
poundsterling. Itu berarti kita rugi."
"Saya mengerti."
"Pergilah ke kamar pos."
Hugh meninggalkan ruang kantor Mulberry yang berada di lantai kedua dan berlari
menuruni tangga. Ia senang Mulberry menerima gagasan tentang baki suratnya dan
lega karena ia tidak lagi menghadapi kesulitan yang lebih parah akibat hilangnya
konosemen tadi. Di lantai pertama, tempat Ruang Mitra, ia bertemu dengan Samuel
Pilaster, yang tampak rapi dengan setelan warna abu-abu perak dan dasi satin
biru tua. "Selamat pagi, Paman Samuel," Hugh menyapa.
"Pagi, Hugh. Cari apa?" Ia lebih menunjukkan perhatian pada Hugh ketimbang
mitra-mitra lainnya. "Mau menghitung permohonan untuk pinjaman pemerintah Rusia."
Samuel tersenyum, memperlihatkan giginya yang tidak rata. "Aku tidak mengerti
bagaimana kau bisa begitu gembira menghadapi hari ini!"
Hugh terus menuruni tangga. Di lingkungan keluarganya, orang mulai berkasak-
kusuk tentang Paman Samuel dan sekretarisnya. Bagi Hugh tidaklah mengejutkan
kalau orang mencap Samuel agak keperempuan-perempuanan.
Wanita dan pendeta mungkin berpura-pura bahwa hubungan seks antara sesama lelaki
adalah perbuatan menyimpang, namun hal itu terus berlangsung di sekolah-sekolah
seperti Windfield dan tak pernah mencelakakan orang.
Ia sampai di lantai dasar dan memasuki ruang utama bank yang megah itu. Baru jam
sembilan tiga puluh pagi. Puluhan karyawan bagian administrasi yang bekerja di
Pilasters Bank "masih beriringan memasuki pintu depan yang megah, menguarkan bau
sarapan pagi daging asap dan aroma kereta bawah tanah. Hugh mengangguk pada Miss
Greengrass, satu-satunya karyawan wanita bagian administrasi. Setahun yang lalu,
ketika gadis itu mulai bekerja, terjadi perdebatan sengit di lingkungan bank
mengenai apakah seorang wanita dapat melakukan pekerjaan tersebut. Miss
Greengrass memecahkan persoalan dengan membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan
tinggi. Hugh menduga di masa depan akan lebih banyak karyawan wanita.
Lewat tangga belakang, ia turun ke ruang bawah tanah, masuk ke kamar pos. Dua
orang kurir sedang menyortir surat, dan permohonan untuk Pinjaman Pemerintah
Rusia sudah ada sekarung besar. Hugh memutuskan menyuruh dua karyawan junior
untuk menghitung * jumlah permohonan, dan ia akan mengecek hitungan mereka.
Pekerjaan itu menyita sebagian besar waktu kerja hari itu. Beberapa menit
menjelang jam empat, barulah ia mengecek ulang bundel terakhir dan menjumlahkan
kolom terakhir angka-angka. Jumlah permohonan lebih kecil daripada jumlah
obligasi yang ditawarkan: sekitar seratus ribu poundsterling obligasi belum
terjual. Kekurangannya tidak begitu besar jika dibandingkan dengan penerbitan
obligasi senilai dua juta poundsterling, namun terdapat perbedaan psikologis
yang besar antara jumlah permohonan lebih kecil dan jumlah permohonan lebih
118 besar daripada jumlah obligasi yang ditawarkan, dan para mitra bank jelas akan
kecewa. Ia menuliskan angka-angka itu di sehelai kertas bersih, lalu pergi untuk menemui
Mulberry. Ruang utama bank sudah sepi. Beberapa pelanggan berdiri di depan
counter panjang yang dipelitur. Di belakang counter, para karyawan sibuk menata
dokumen dan buku-buku ke rak. Pilasters Bank tidak banyak memiliki rekening
pribadi. Bank ini adalah bank dagang yang meminjamkan uang pada para pedagang
guna mendanai usaha mereka. Sebagaimana dikatakan Old Seth, Pilasters Bank tidak
berminat menghitung mata uang berlumur gemuk perolehan pedagang kelontong atau
uang kertas kotor dan lusuh yang disetorkan oleh seorang penjahit keuntungannya?tidak memadai. Namun seluruh anggota keluarga memiliki rekening di bank
tersebut, dan fasilitas itu diberikan pada segelintir klien yang sangat kaya.
Hugh melihat salah seorang dari mereka sekarang: Sir John Cammel. Hugh mengenal
anaknya di Windfield. Sir John, seorang lelaki kurus berkepala botak, memperoleh
penghasilan melimpah dari tambang batu bara dan galangan kapal di tanahnya di
Yorkshire. Kini ia mondar-mandir di lantai marmer, tampak tidak sabar dan marah.
Hugh menyapa, "Selamat siang, Sir John. Saya harap Anda mendapatkan pelayanan
yang baik." "Tidak, anak muda. Apakah tidak ada orang yang bekerja di tempat ini?"
Hugh melihat ke sekelilingnya dengan cepat. Tak terlihat satu pun mitra atau
karyawan senior, la memutuskan untuk menggunakan inisiatifnya. "Bolehkah saya
mengantar Anda ke Ruang Mitra, Sir" Saya yakin mereka ingin bertemu dengan
Anda." "Baiklah."
Hugh mengantarnya ke atas. Semua mitra bekerja bersama-sama di satu ruangan,
menurut tradisi, sehingga mereka dapat saling mengawasi. Ruangan itu diisi de -
119 ngan perabot seperti kamar baca dalam sebuah klub pria, dengan sofa kulit,
tempat buku, dan satu meja sentral dengan koran-koran. Dalam potret berbingkai
di dinding, nenek moyang keluarga Pilaster memandang keturunannya dari atas
hidung betet mereka. Ruangan itu kosong. "Salah seorang akan segera kembali, saya yakin," kata Hugh.
"Bolehkah saya menawarkan segelas anggur madeiraT Ia pergi ke lemari setinggi
pinggang dan menuangkan segelas anggur, sementara Sir John duduk di kursi kulit.
"Perkenalkan, saya Hugh Pilaster."
"O ya?" Sir John agak reda marahnya setelah mengetahui bahwa ia berbicara dengan
seorang keluarga Pilaster, bukan pesuruh kantor biasa. "Apakah dulu kau
bersekolah di Windfield?"
"Ya, Sir. Satu sekolah dengan putra Anda, Albert. Kami menjulukinya Hump."
"Semua anggota keluarga Cammel dijuluki Hump."
"Saya tidak pernah lagi bertemu dengannya sejak... sejak itu."
"Dia pergi ke Cape Colony dan senang sekali tinggal -di sana, sampai-sampai dia
tidak berniat kembali kemari. Dia beternak kuda sekarang."
Albert Cammel berada di kolam renang itu pada hari naas tahun 1866 dulu. Hugh
tidak pernah mendengar cerita versi pemuda itu tentang bagaimana Peter Middleton
mati tenggelam. "Saya ingin menyuratinya," kata Hugh.
"Mungkin dia senang menerima surat dari teman sekolahnya dulu. Akan kuberikan
alamatnya padamu." Sir John melangkah ke meja, mencelupkan pena ke dalam tempat
tinta, dan menulis di sehelai kertas. "Ini alamatnya."
"Terima kasih." Hilang sudah kemarahan Sir John. Hugh merasa puas. "Apakah ada
lagi yang bisa saya bantu sementara Anda menunggu"'
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY "Begini, barangkali kau bisa menangani ini." Ia mengeluarkan selembar cek dari
sakunya. Hugh memeriksa cek tersebut. Besarnya seratus sepuluh ribu pound, cek
pribadi paling besar nilainya yang pernah ditangani Hugh. "Aku baru saja menjual
sebuah tambang batu bara pada tetanggaku," Sir John memberikan penjelasan.
"Tentu saya bisa mendepositokannya untuk Anda."
"Berapa bunga yang akan kuperoleh?"
"Empat persen sekarang."
"Baiklah kalau begitu."
Hugh ragu. Terlintas dalam benaknya bahwa seandainya Sir John dapat dibujuk
untuk membeli obligasi pemerintah Rusia, penawaran pinjaman obligasi itu akan
berubah dari sedikit kurang permintaan menjadi sedikit kelebihan permintaan.
Haruskah ia menyinggung masalah itu" Ia sudah bertindak melampaui wewenangnya
dengan membawa masuk seorang tamu ke Ruang Mitra. Ia mencoba meraih peluang.
"Anda bisa mendapat lima tiga per-delapan dengan membeli obligasi pemerintah
Rusia." Sir John menyipitkan matanya. "Bisakah sekarang?" "Ya. Sebenarnya pengajuan
permohonannya ditutup kemarin, tapi untuk Anda...." "Aman?"
"Seaman pemerintah Rusia sendiri." "Aku akan pikir-pikir dulu."
Semangat Hugh bangkit dan ia ingin menutup transaksi penjualan itu. "Tingkat
suku bunganya mungkin tidak sama besok, seperti Anda maklumi. Jika obligasi
tersebut dijual di pasar bebas, harganya mungkin naik-turun." Lalu ia merasa
terlalu terburu nafsu, karenanya ia menahan diri. "Saya akan segera memasukkan
cek ini ke rekening Anda dan jika bersedia, silakan Anda berunding dengan salah
seorang paman saya tentang obligasi itu."
"Baiklah, Pilaster muda. Kau boleh pergi."
Hugh keluar dan bertemu dengan Paman Samuel di ruang utama. "Sir John Cammel ada
di sini, Paman," katanya. "Saya bertemu dengan beliau di ruang utama dalam
keadaan marah, jadi saya beri dia segelas anggur madeira. Saya harap apa yang
saya lakukan tidak salah."
"Aku yakin tidak," ujar Samuel. "Aku akan melayaninya."
"Dia membawa cek ini. Besarnya seratus sepuluh ribu. Saya menyinggung soal
Pinjaman Pemerintah Rusia. Seperti Paman ketahui, penawaran obligasi ini
kekurangan permintaan sebesar seratus ribu."
Alis mata Samuel terangkat. "Kau mempunyai pandangan jauh ke depan."
"Saya hanya mengatakan padanya mungkin dia bisa berunding dengan salah seorang
mitra tentang obligasi itu, kalau dia menginginkan tingkat suku bunga lebih
tinggi." "Baiklah. Gagasan itu bagus juga."
Hugh kembali ke ruang utama bank, mengambil buku besar Sir John, dan memasukkan
deposito itu, kemudian membawa cek itu ke karyawan bagian kliring. Sesudah itu
ia naik ke ruang kantor Mulberry. Ia menyerahkan catatan obligasi Rusia,
menyinggung kemungkinan Sir John Cammel akan membeli sisanya, lalu duduk
menghadap meja kerjanya sendiri.
Seorang pesuruh masuk membawa teh, roti, dan mentega di baki. Makanan ringan ini
dihidangkan pada semua karyawan yang masih bekerja sesudah jam empat tiga puluh.
Kalau pekerjaan sedikit, sebagian besar karyawan pulang kerja pada jam empat.
Staf bank adalah golongan elite di kalangan karyawan administrasi; karyawan
administrasi di perusahaan dagang, perusahaan pelayaran, yang sering bekerja
hingga larut malam dan kadang-kadang sampai pagi, sangat iri pada mereka.
Tak lama kemudian, Samuel masuk dan menyerahkan beberapa dokumen pada Mulberry.
"Sir John membeli 122 obligasi pemerintah Rusia," katanya pada Hugh. "Pekerjaanmu bagus, kau pintar
meraih peluang." "Terima kasih."
Samuel melihat baki surat berlabel di meja Mulberry. "Apa ini?" tanyanya dengan
nada senang. "Untuk perhatian Kepala Bagian Administrasi. Telah ditangani oleh
Kepala Bagian Administrasi."
Mulberry memberikan penjelasan. "Maksudnya untuk memisahkan dokumen masuk dan
keluar. Supaya orang tidak bingung."
"Rancangan ini bagus sekali. Mungkin aku akan melakukannya juga."
"Sebenarnya, Mr. Samuel, ini gagasan Mr. Hugh."
Samuel melemparkan pandangan senang pada Hugh. "Apa kubilang, kau memang jeli,
Nak." Hugh kadang-kadang dianggap terlalu sombong, karenanya sekarang ia berpura-pura
rendah hati. "Saya sadar saya masih harus banyak belajar."
"Jangan terlalu merendah. Katakan padaku, kalau kau tidak ingin lagi bekerja
sebagai bawahan Mr. Mulberry, pekerjaan apa yang ingin kaulakukan sesudah ini?"
Hugh tak perlu memikirkan jawabannya. Pekerjaan yang paling didambakan orang
adalah pekerjaan karyawan bagian surat-menyurat. Sebagian besar karyawan hanya
melihat sebagian transaksi bagian yang mereka catat tapi karyawan bagian ? ?surat-menyurat, yang menyusun konsep surat pada klien, mengetahui seluruh
transaksi. Ini merupakan jabatan terbaik tempat menimba ilmu, dan batu loncatan
terbaik untuk naik pangkat. Dan karyawan bagian surat-menyurat bawahan Paman
Samuel, Bill Rose, tak lama lagi pensiun.
Tanpa ragu-ragu Hugh berkata, "Saya ingin menjadi karyawan bagian surat-menyurat
bawahan Paman." "Sekarang" Kau baru satu tahun bekerja di bank ini."
123 "Pada waktu Mr. Rose menjalani pensiun, masa kerja saya mencapai delapan belas
bulan." "Delapan belas bulan." Samuel masih tampak, tapi ia belum berkata tidak. "Kita
lihat nanti," katanya, dan ia melangkah ke luar.
Mulberry berkata pada Hugh, "Apakah Anda memberi advis pada Sir John Cammel
untuk membeli surplus obligasi pemerintah Rusia?"
"Saya hanya menyinggung soal itu," ucap Hugh.
"Ya," ujar Mulberry. "Ya." Dan ia duduk menatap Hugh secara spekulatif selama
beberapa menit lagi. MINGGU siang yang cerah. Semua penduduk Lon don keluar rumah berjalan-jalan,
mengenakan busana terbaik mereka. Piccadilly bebas dari keramaian lalu lintas,
karena hanya orang cacat yang mau bepergian dengan kereta kuda pada hari
Sabbath. Maisie Robinson dan April Tilsley sedang menyusuri jalan lebar,
memandangi puri-puri orang kaya, dan mencoba mencari kenalan pria.
Mereka tinggal di Soho, berbagi kamar di sebuah rumah kumuh di Carnaby Street,
dekat St James Workhouse. Mereka biasa bangun sekitar tengah hari, berdandan


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan hati-hati, lalu keluar rumah. Senja hari mereka biasanya sudah menemukan
sepasang laki-laki yang mau membayar makan malam mereka; kalau tidak, mereka
menahan lapar. Mereka nyaris tak punya uang, tapi kebutuhan mereka tidak banyak.
Apabila sewa kamar jatuh tempo, April biasanya "pinjam uang" pada seorang teman
laki-laki. Maisie selalu memakai pakaian yang itu-itu juga dan mencuci pakaian
dalamnya setiap malam. Tak lama lagi seseorang mungkin akan membelikannya
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY sehelai gaun baru. Ia berharap, cepat atau lambat, salah seorang laki-laki yang
membelikan makan malamnya akan mengawininya atau menjadikannya wanita simpanan.
April masih terpesona pada pemuda Amerika Selatan yang baru dikenalnya, Tonio
Silva. "Coba pikir, dia sanggup menanggung kekalahan sepuluh guinea dalam satu
kali taruhan!" ujarnya. "Dan aku dari dulu senang rambut merah."
"Aku tak senang pada pemuda Amerika Selatan yang satunya, yang berkulit gelap,"
kata Maisie. "Micky" Dia tampan sekali." "Ya, tapi kurasa orangnya licik." April
menunjuk ke arah sebuah rumah besar. "Itu rumah ayah Solly."
Rumah itu terletak jauh dari jalan raya, dengan halaman setengah lingkaran di
depannya. Rumah itu mirip sebuah kuil Yunani, dengan sebaris pilar melintang di
bagian depan, yang menjangkau sampai ke atap. Di pintu depan yang besar terdapat
pengetuk pintu berkilau dan jendela-jendelanya dihiasi tirai beludru merah.
April berkata, "Coba pikir, kau bisa tinggal di sana suatu hari nanti."
Maisie menggelengkan kepala. "Bukan aku." "Itu pernah terjadi," kata April. "Kau
harus lebih berani daripada gadis-gadis kelas atas, dan itu tidak sulit. Setelah
kawin, kau bisa belajar meniru aksen dan tata krama mereka dalam waktu singkat.
Cara bicaramu sudah bagus, kecuali kalau kau sedang marah. Dan Solly itu anak
baik." "Pemuda gendut yang baik," ucap Maisie kesal. "Tapi kaya sekali! Kata orang,
ayahnya punya orkes simfoni di rumahnya di pedalaman, kalau-kalau dia ingin
menikmati musik sesudah makan malam!"
Maisie meparik napas panjang. Ia tak ingin memikirkan Solly.
"Ke mana yang lainnya pergi setelah aku meneriaki si Hugh itu?"
"Menonton pertandingan anjing lawan tikus. Lalu aku dan Tonio pergi ke Batt's
Hotel." "Kau 'ehm-ehm' dengan dia?" "Tentu, dong! Kaupikir untuk apa kami ke
Batt's?" "Main kartu?" Mereka tertawa cekikikan.
April kelihatan curiga. "Kau juga begitu dengan Solly, bukan?"
"Aku membuatnya bahagia," ujar Maisie. "Maksudmu?"
Maisie membuat gerakan dengan tangannya, dan mereka tertawa cekikikan lagi.
April berkata, "Cuma begitu" Kenapa?" Maisie angkat bahu.
"Ya, mungkin kau benar," ucap April. "Kadang-kadang paling baik kalau kita tidak
langsung memberi hati pada mereka. Kalau diberi sedikit demi sedikit, mereka
akan tambah kepingin."
Maisie mengalihkan pembicaraan. "Berkenalan dengan orang-orang bermarga Pilaster
membangkitkan kenangan buruk," katanya.
April mengangguk. "Bos-bos, aku benci kelancangan mereka," ucapnya dengan rasa
benci yang muncul tiba-tiba. Cara bicara April bahkan lebih kasar daripada yang
biasa digunakan Maisie di lingkungan rombongan sirkus. "Aku tak mau kerja untuk
orang lain. Itulah sebabnya aku melakukan ini. Aku pasang harga sendiri dan
minta dibayar di muka."
"Kakakku dan aku meninggalkan rumah pada hari Tobias Pilaster jatuh bangkrut,"
kata Maisie. Senyumnya menunjukkan penyesalan. "Boleh dikatakan karena keluarga
Pilaster-Iah aku ada di sini hari ini."
"Apa yang kaulakukan setelah pergi dari rumah" Langsung ikut rombongan sirkus?"
126 "Tidak," Maisie merasakan tarikan kuat di hatinya saat mengenang betapa ia
ketakutan dan kesepian. "Kakakku menjadi penumpang gelap di kapal yang berlayar
ke Boston. Aku tak pernah melihat dan mendengar kabar darinya sejak itu. Aku
tidur di tempat pembuangan sampah selama seminggu. Syukurlah cuaca cukup baik ?waktu itu bulan Mei. Cuma satu malam turun hujan. Aku menutupi tubuhku dengan
kain bekas dan badanku jadi berkutu selama beberapa tahun kemudian.... Aku ingat
pemakaman itu." "Siapa yang dimakamkan?"
"Tobias Pilaster. Iring-iringannya melewati jalan. Dia orang terpandang di kota.
Aku ingat seorang anak laki-laki kecil, sedikit lebih tua dariku, mengenakan
pakaian hitam dan topi tinggi, menggandeng tangan ibunya Pasti Hugh."
"Bisa kubayangkan," kata April.
"Sesudah itu aku berjalan ke Newcastle. Aku berpakaian seperti anak laki-laki
dan bekerja di kandang kuda. Membantu apa saja. Mereka membolehkan aku tidur di
atas jerami pada malam hari, di samping kuda. Aku tinggal di situ selama tiga
tahun." "Mengapa kau berhenti kerja?"
"Ini tambah besar," ucap Maisie, menggerakkan payudaranya ke kiri-kanan. Seorang
lelaki setengah baya yang berjalan melewati mereka melihatnya, dan matanya
nyaris keluar. "Ketika kepala pengurus istal menyadari aku seorang gadis, dia
mencoba memperkosaku. Aku menghantam mukanya dengan cemeti kuda, dan tamatlah
pekerjaanku." "Kuharap kau mencederainya," kata April.
"Yang jelas, aku berhasil meredakan nafsunya."
"Seharusnya kauhantam saja alat vitalnya."
"Kalau dia suka, bagaimana."
"Kau pergi ke mana setelah berhenti kerja di istal kuda itu?"
127 "Pada waktu itulah aku ikut rombongan sirkus. Aku mulai sebagai pekerja istal
kuda, dan akhirnya jadi salah seorang penunggang kuda." Ia menarik napas panjang
penuh nostalgia. "Aku suka rombongan sirkus itu. Orang-orangnya ramah."
"Terlalu ramah, kurasa."
Maisie mengangguk. "Aku tidak pernah akur dengan kepala arena, dan ketika dia
memintaku melakukan seks oral padanya, kurasa sudah waktunya aku berhenti kerja
di situ. Aku bertekad kalau aku cari uang dengan cara begitu, aku akan minta
dibayar lebih tinggi. Jadi, di sinilah aku." Maisie mudah meniru cara bicara
orang dan ia telah menerapkan kosa kata April yang ceplas-ceplos.
April menatapnya tajam. "Sudah berapa kali kau melakukan seks oral sejak itu?"
"Belum pernah, aku tidak bohong." Maisie merasa kikuk. -"Aku tak bisa bohong
padamu, April. Aku tidak yakin aku cocok untuk pekerjaan ini."
"Kau sempurna untuk pekerjaan ini!" protes April. "Kedipan matamu itu tak bisa
dilawan oleh laki-laki. Dengar. Teruskan hubunganmu dengan Solly Greenbourne.
Beri dia sedikit-sedikit setiap kali. Biarkan dia menyentuh tubuhmu suatu hari,
biarkan dia melihatmu telanjang pada kesempatan berikutnya. Dalam waktu tiga
minggu gairahnya tidak akan tertahan. Pada suatu malam, bila kau sedang
bersamanya, bilang, 'Kalau kaubelikan aku rumah kecil di Chelsea, kau bisa
lakukan ini kapan saja kau mau.' Aku berani sumpah, Maisie, kalau Solly bilang
tidak, aku akan jadi biarawati."
Maisie tahu temannya benar, namun jiwanya berontak terhadap hal ini. Ia tidak
yakin mengapa. Sebagian karena ia tidak tertarik pada Solly. Alasan lain, pemuda
itu begitu baik. Ia tidak sampai hati memanipulasinya dengan kejam. Namun yang
paling buruk, ia merasa akan mengakhiri semua harapan untuk mendapatkan
128 cinta sejati perkawinan sejati dengan pria idamannya. Tapi sebaliknya, ia harus?hidup, dan ia bertekad tidak mau hidup seperti orangtuanya, menunggu uang yang
jumlahnya tidak seberapa selama seminggu penuh pada hari gajian, dan selama-
lamanya menghadapi risiko kehilangan pekerjaan karena suatu krisis keuangan yang
terjadi ratusan mil jauhnya.
April berkata, "Bagaimana dengan salah satu dari yang lainnya" Kau bisa
menentukan pilihanmu."
"Aku menyukai Hugh, tapi aku telah melukai perasaannya."
"Tapi uangnya tidak banyak."
"Edward memuakkan, Micky menakutkanku, dan Tonio punyamu."
"Jadi, tinggal Solly." "Entahlah."
"Kalau kaubiarkan dia lolos, seumur hidup kau cuma akan menyusuri Piccadilly dan
berpikir, 'Mestinya aku bisa tinggal di rumah itu sekarang."'
"Ya, barangkali aku akan begitu."
"Lalu, kalau bukan Solly, siapa" Paling-paling nanti kau kawin dengan pedagang
kelontong setengah umur berbadan kecil yang menjengkelkan, yang membuatmu selalu
kekurangan uang dan berharap kau akan mencuci sendiri sepraimu."
Maisie masih termenung memikirkan prospek itu tatkala mereka sampai di ujung
barat Piccadilly dan berbelok ke utara, ke Mayfair. Barangkali ia bisa membujuk
Solly untuk mengawininya, kalau ia benar-benar bertekad demikian. Tidak terlalu
sulit baginya memainkan peran seorang wanita terhormat. Mula-mula, ia harus bisa
bicara dengan gaya kalangan elite, dan ia pintar meniru. Namun menjebak Solly
yang baik ke dalam suatu perkawinan tanpa cinta membuatnya muak.
Ketika mengambil jalan pintas melalui sebuah lorong belakang, mereka melewati
sebuah istal kuda yang sangat
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY besar. Maisie teringat nostalgia di sirkus dulu, dan berhenti untuk mengelus
seekor kuda jantan berwarna cokelat kemerahan. Kuda itu dengan segera
menyentuhkan hidung ke tangannya. Terdengar suara seorang laki-laki, "Redboy
biasanya pantang disentuh orang yang asing baginya."
Maisie berpaling dan melihat seorang lelaki setengah baya mengenakan jas hitam
dengan rompi kuning. Setelan itu sangat berlawanan dengan wajahnya yang kasar
dan cara bicaranya yang kurang berpendidikan. Maisie menduga lelaki itu dulu
seorang pekerja istal kuda yang kini memulai bisnisnya sendiri dan usahanya
berjalan lancar. Maisie tersenyum. "Kuda ini tidak keberatan saya sentuh,
bukankah begitu, Redboy?" katanya.
"Tapi saya rasa Anda takkan sanggup menungganginya. Bagaimana, sanggupkah Anda?"
"Menunggang kuda ini" Saya sanggup menungganginya tanpa pelana, juga berdiri
tegak di punggungnya. Kuda ini milik Anda?"
Lelaki itu mengangguk kecil dan berkata, "George Sammies, siap melayani Anda,
Nona-nona; pemilik istal ini, seperti terpampang di situ." Ia menunjuk ke arah
namanya yang tertulis di atas pintu.
Maisie berujar, "Saya tidak sepantasnya menyombong, Mr. Sammies, tapi saya sudah
empat tahun ikut rombongan sirkus, jadi mungkin saya bisa menunggangi apa saja
yang ada di istal Anda."
"Benar?" ucapnya sungguh-sungguh. "Boleh juga."
April menyelingi percakapan mereka, "Bagaimana menurut pikiran Anda, Mr.
Sammies?" Laki-laki itu ragu-ragu. "Mungkin agak mendadak, tapi hati saya bertanya, apakah
nona ini mungkin tertarik pada tawaran bisnis saya."
Maisie bertanya-tanya, ada apa setelah ini. Semula ia menganggap percakapan itu
tak lebih daripada gurauan tanpa maksud apa-apa. "Teruskan."
April berkata secara sugestif, "Kami selalu berminat pada tawaran bisnis." Namun
Maisie merasa Sammies tidak seperti yang dikira April.
"Saya bermaksud menjual Redboy," kata laki-laki itu. "Tapi saya tak bisa
menjualnya dengan mengurungnya di istal. Akan lebih memancing perhatian jika
kuda itu dibawa mengelilingi taman selama lebih kurang satu jam oleh seorang
nona cantik seperti Anda, maaf kalau saya lancang. Dengan demikian, ada
kemungkinan cepat atau lambat seseorang akan bertanya pada Anda, berapa Anda
ingin menjual kuda itu."
Apakah ini akan menghasilkan uang, Maisie bertanya dalam hati. Apakah dengan
menerima tawaran ini ia bisa membayar sewa rumah tanpa mesti menjual diri atau
jiwanya" Namun ia tidak mengajukan pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Ia
hanya berkata, "Kemudian saya akan berkata pada orang itu, 'Mari kita temui Mr.
Sammies di Curzon Mews, untuk menawar kuda tuanya ini'. Itukah maksud Anda?"
"Pas sekali, tapi daripada menjuluki Redboy kuda tua, Anda boleh menyebutnya
'makhluk cantik ini', atau 'kuda jenis unggul ini', atau yang semacam itulah."
"Mungkin," ucap Maisie, tapi memutuskan ia akan menggunakan kata-katanya
sendiri, bukan kata-kata Sammies. "Sekarang kita kembali bicara bisnis." Ia tak
bisa lagi berpura-pura bersikap tidak sungguh-sungguh tentang uang.
"Berapa Anda akan membayar saya?"
"Menurut Anda berapa mestinya?"
Maisie menyebut suatu jumlah yang tidak wajar. "Satu pound sehari."
"Terlalu tinggi," kata lelaki itu dengan sigap. "Saya akan membayar Anda
separuhnya." Maisie hampir tak percaya pada nasib mujurnya. Sepuluh shilling sehari adalah
gaji yang besar, gadis-gadis seusianya yang bekerja sebagai pembantu rumah
tangga sudah beruntung kalau memperoleh satu shilling sehari. Jantungnya
berdetak lebih cepat. "Jadi," ucapnya cepat, takut laki-laki itu berubah
pikiran. "Kapan saya mulai?"
"Masuklah besok, jam sepuluh tiga puluh." "Saya akan berada di sini."
Mereka berjabatan tangan dan kedua gadis itu pergi. Sammies berkata padanya,
"Jangan lupa, kenakan pakaian yang Anda pakai hari ini... menarik sekali."
"Jangan khawatir," ucap Maisie. Memang hanya itulah pakaian miliknya. Namun
tentu saja ia tidak mengatakan hal itu pada Sammies.
[HI] KERAMAIAN LALU-LINTAS DI TAMAN KEPADA REDAKTUR THE TIMES
Dengan hormat, Di Hyde Park akhir-akhir ini sekitar jam sebelas tiga puluh
setiap pagi terlihat kemacetan kereta kuda, begitu parah sehingga kita tak bisa
maju sampai satu jam. Telah banyak diajukan penjelasan; seperti, bahwa terlalu
banyak penduduk dari pedalaman pergi ke kota untuk menikmati Masa Liburan; atau
bahwa London sudah begitu makmur, sehingga bahkan para istri pengusaha memiliki
kereta kuda dan menaikinya untuk berjalan-jalan di Taman; namun hal yang
sesungguhnya belum disinggung. Kesalahannya terletak pada seorang wanita, yang
namanya tidak diketahui, tapi oleh para pria dijuluki "Singa Betina", mengingat
warna rambutnya yang kuning kecokelatan; makhluk memikat, berbusana indah,
mengendalikan dengan mudah dan penuh semangat kuda-kuda yang
132 bisa melumpuhkan lelaki; dan mengemudikan dengan sama mudahnya kereta yang
ditarik oleh pasangan-pasangan kuda yang sangat serasi. Ketenaran kecantikannya
dan keberaniannya berkuda begitu mengagumkan, sehingga semua penduduk London
pindah ke Hyde Park pada jam tersebut ketika ia berada di situ; dan begitu
mereka berada di situ, lalu lintas macet. Tidak bisakah Anda, yang tugasnya
adalah mengetahui segala sesuatunya dan setiap orang, dan mungkin, karenanya,
mengetahui identitas sebenarnya sang Singa Betina, membujuknya untuk
menghentikan ulahnya sehingga taman kembali normal, hening seperti semestinya
dan lalu lintasnya lancar" Hormat saya,
PENGAMAT Surat itu pasti lelucon, pikir Hugh sambil meletakkan koran. Singa Betina itu
memang benar ada ia mendengar ceritanya dari para karyawan Pilasters Bank yang ?membicarakannya, namun ia bukanlah penyebab kemacetan lalu lintas. Meskipun
demikian, ia jadi penasaran. Ia melemparkan pandang melalui jendela berlapis
timah hitam Whitehaven House ke arah taman. Sekarang hari libur. Matahari
bersinar dan sudah banyak orang berjalan-jalan dan naik kereta kuda. Hugh
berpikir untuk pergi ke taman, dengan harapan bisa menyaksikan apa yang
diributkan orang selama ini.
Bibi Augusta juga mempunyai rencana untuk pergi ke taman. Keretanya diparkir di
depan rumah. Kusirnya mengenakan wig dan pelayan berseragam siap berkuda di
belakang. Augusta berkereta di taman pada jam seperti ini hampir setiap hari,
sebagaimana dilakukan oleh semua wanita kelas atas dan para lelaki yang berleha-
leha. Kata mereka, itu dilakukan untuk menghirup udara segar dan berolah raga,
namun yang lebih penting lagi,
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY taman ini merupakan tempat untuk melihat dan dilihat. Penyebab kemacetan yang
sebenarnya adalah mereka yang menghentikan kereta untuk bergosip, sehingga
menghambat jalan. Hugh mendengar suara bibinya. Ia bangkit meninggalkan meja makan dan masuk ke
ruang utama. Seperti biasa, Bibi Augusta berbusana indah. Hari ini ia mengenakan
gaun ungu dengan baju atas ketat dan hiasan renda-renda di bawahnya. Tapi
topinya tidak serasi: topi jerami miniatur, tak lebih dari tiga inci melintang,
bertengger di atas tatanan rambut di bagian depan. Ini merupakan mode mutakhir,
dan pada gadis cantik topi itu memang tampak menarik; namun Augusta sama sekali
tidak cantik, dan di kepalanya topi itu tampak janggal. Ia tidak sering
melakukan kesalahan semacam itu; kalau itu terjadi, penyebabnya karena ia
terlalu setia mengikuti mode.
Ia sedang berbicara dengan Paman Joseph. Seperti biasa, Paman sering tampak
kesal kalau berbicara dengan Augusta. Ia berdiri di depan istrinya, setengah
berpaling, sambil mengelus cambangnya yang lebat dengan tak sabar. Hugh bertanya
dalam hati, adakah rasa cinta di antara mereka. Pasti ada, dulu sekali mungkin,
karena mereka telah dikaruniai Edward dan Clementine. Mereka jarang menunjukkan
kemesraan, namun kadang-kadang, menurut pendapat Hugh, Augusta melakukan sesuatu
yang menunjukkan perhatian pada Joseph. Ya, menurut Hugh mungkin saja mereka
masih saling mencintai. Augusta berbicara seakan-akan Hugh tidak ada di situ, yang memang merupakan
kebiasaannya. "Seluruh keluarga khawatir," wanita itu berkata sengit, seolah-


Kekayaan Yang Menyesatkan Karya Ken Follet di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

olah Paman Joseph menyiratkan hal yang sebaliknya. "Mungkin akan timbul
skandal." "Tapi situasi itu apa pun yang mungkin terjadi telah berlangsung bertahun-? ?tahun, dan tak seorang pun menganggapnya skandal."
134 "Sebab Samuel bukan Mitra Senior. Orang biasa dapat melakukan banyak hal tanpa
menarik perhatian. Tapi Mitra Senior Pilasters Bank adalah pemuka masyarakat."
"Tapi masalahnya mungkin tidak mendesak. Paman Seth masih hidup dan sehat, entah
sampai kapan." "Aku tahu itu," ujar Augusta, kentara sekali nada frustrasi dalam suaranya. "Aku
kadang-kadang berharap..." Ia berhenti sebelum terlalu banyak membeberkan dirinya.
"Cepat atau lambat dia akan menyerahkan kendali. Mungkin terjadi besok. Sepupumu
Samuel tak bisa berpura-pura bahwa tak ada yang mesti dikhawatirkan."
"Barangkali," kata Joseph. "Tapi kalau dia tetap saja berpura-pura begitu, aku
tak yakin apa yang bisa kita lakukan."
"Seth mungkin harus diberitahu mengenai hal itu."
Hugh bertanya dalam hati, sampai di mana pengetahuan Old Seth tentang kehidupan
anaknya. Di hatinya mungkin ia tahu hal yang sebenarnya, namun mungkin tak
pernah mengakuinya, terhadap dirinya sekalipun.
Joseph tampak cemas. "Jangan sampai terjadi."
"Memang sayang sekali," ucap Augusta dengan kemunafikan yang kentara. "Tapi kau
harus membuat Samuel mengerti, kalau dia tidak mengalah, ayahnya harus
dipanggil, dan bila itu terjadi, Seth akan segera mengetahui semua fakta
mengenai dirinya." Hugh tak dapat menahan kekagumannya akan kelicikan dan kekejian wanita itu.
Augusta ingin menyampaikan pesan pada Samuel: Pecatlah sekretarismu, atau kami
akan memaksa ayahmu menghadapi realitas bahwa putranya kawin dengan seorang
laki-laki. Sebenarnya wanita itu sama sekali tak peduli tentang Samuel dan sekretarisnya.
Ia cuma ingin membuat Samuel tak bisa menjadi Mitra Senior, sehingga baju
kebesaran itu akan jatuh pada suaminya. Keji sekali, dan Hugh bertanya dalam
hati, apakah Joseph mengerti sepenuhnya apa yang dilakukan Augusta.
135 Kini Joseph berkata dengan cemas, "Aku harus menyelesaikan masalah ini tanpa
tindakan yang drastis."
Augusta merendahkan suaranya menjadi gumaman bernada akrab. Ketika melakukan
ini, sikapnya jelas tidak tulus, pikir Hugh, seperti seekor naga yang mencoba
mengembik. "Aku yakin sekali kau bisa melakukan hal itu," katanya. Ia tersenyum
memelas. "Kau mau naik kereta denganku hari ini" Aku sangat ingin kau
menemaniku." Suaminya menggelengkan kepala. "Aku harus pergi ke bank."
"Sayang sekali, terkungkung dalam kantor berdebu pada hari seindah ini."
"Ada kepanikan di Bologna."
Hugh jadi penasaran. Semenjak terjadinya "Krach" ambruknya bursa saham Wina, ? ?sudah beberapa bank ditutup dan perusahaan yang dilikuidasi di berbagai bagian
Eropa, tapi ini merupakan "kepanikan" pertama. Sampai sejauh ini, London lolos
dari dampak negatifnya. Pada bulan Juni, tingkat suku bunga di London,
termometer dunia keuangan, telah naik tujuh persen belum bisa dikatakan
?sehat dan sekarang telah turun menjadi enam persen. Meskipun demikian, mungkin
?hari ini agak memanas kembali.
Augusta berkata, "Aku percaya kepanikan itu tak akan mempengaruhi kita."
"Selama kita berjaga-jaga, tidak akan," ucap Joseph.
"Tapi ini hari libur. Tak ada orang di bank yang akan membuatkan teh untukmu!"
"Kurasa aku bisa bertahan setengah hari tanpa minum teh."
"Aku akan menyuruh Sara ke sana dalam waktu satu jam. Dia telah membuat kue ceri
kesukaanmu. Dia akan membawakanmu sedikit dan membuatkan teh untukmu "
Hugh melihat kesempatan. "Boleh saya ikut, Paman" Paman mungkin memerlukan
karyawan administrasi."
Joseph menggelengkan kepala. "Aku tidak membutuhkanmu."
Augusta berkata, "Kau mungkin membutuhkan bantuannya, Sayang."
Hugh berkata sambil tersenyum, "Atau mungkin Paman membutuhkan nasihat saya."
Joseph tidak menanggapi gurauan itu. "Aku cuma mau membaca telegram dan
memutuskan apa yang harus dilakukan bila bursa buka lagi besok pagi."
Dengan tolol Hugh bersikeras. "Tapi saya tetap ingin ikut ke bank karena
?tertarik saja." Salah sekali jika coba-coba menentang Joseph. "Sudah kukatakan aku tidak
membutuhkanmu," katanya kesal. "Pergilah ke taman dengan bibimu, dia memerlukan
pendamping." Ia mengenakan topinya dan pergi.
Augusta berkata, "Kau memang ada bakat untuk menjengkelkan orang, Hugh. Padahal
itu tak perlu. Ambil topimu, aku siap pergi."
Hugh sebenarnya tidak ingin naik kereta dengan Augusta, namun pamannya telah
memerintahkannya demikian, dan ia ingin melihat si Singa Betina, karenanya ia
tidak mendebatnya. Putri Augusta. Clementine, muncul, sudah berpakaian untuk bepergian. Hugh suka
bermain dengan sepupunya ketika mereka masih kecil, dan Clementine selalu
menjadi tukang lapor. Pada usia tujuh tahun, Clementine meminta Hugh
memperlihatkan "itu"-nya, kemudian menceritakan pada ibunya apa yang telah
dilakukan Hugh; akibatnya Hugh dihukum. Kini dalam usianya yang dua puluh tahun,
Clementine mirip ibunya, tapi kalau Augusta suka menggurui, maka Clementine
licik. Mereka semua pergi ke luar. Pelayan berseragam mengantar mereka ke kereta.
Sebuah kereta baru yang dicat warna biru cerah dan ditarik oleh sepasang kuda
abu-abu cantik yang telah dikebiri kereta kuda yang pantas untuk istri seorang ?bankir besar. Augusta dan
SBOOK BY OBI PRC/TXT BY OTOY Clementine duduk menghadap ke depan, dan Hugh duduk menghadap mereka. Atap
kereta dibuka karena mentari bersinar terang, tapi para wanita itu membuka
payung mereka. Kusir mengentakkan cemetinya dan mereka berangkat.
Tak lama kemudian, mereka sudah berada di South Carriage Drive. Tempat ini penuh
sesak sebagaimana dikatakan oleh pengirim surat ke koran The Times. Ada beratus-
ratus ekor kuda yang ditunggangi oleh para pria bertopi tinggi dan wanita
berpelana samping; berpuluh-puluh kereta kuda berbagai tipe, terbuka dan
tertutup, dua dan empat roda; ditambah dengan anak-anak yang menunggang kuda
poni, pasangan-pasangan yang berjalan kaki, para pengasuh bayi yang mendorong
kereta bayi, dan mereka yang menuntun anjing. Kereta-kereta kuda itu berkilau
karena catnya masih baru, kuda-kudanya disikat dan disisir, para prianya
mengenakan pakaian pagi lengkap dan wanitanya mengenakan semua warna cemerlang
yang dapat dihasilkan oleh cat kimia yang baru. Setiap orang bergerak perlahan-
lahan, agar lebih nyaman mengamati kuda dan kereta, busana dan topi. Augusta
bercakap-cakap dengan putrinya, dan percakapan mereka tidak memerlukan dukungan
dari Hugh selain sesekali tanda mengiakan.
"Itu Lady St. Ann dengan topi Dolly Varden!" Clementine berseru.
"Topi itu sudah tidak mode lagi setahun yang lalu," ujar Augusta.
"Ya, ya," gumam Hugh.
Sebuah kereta lain berhenti di samping, dan Hugh melihat bibinya, Madeleine
Hartshorn. Seandainya wanita itu memiliki cambang, ia persis kakaknya, Joseph,
pikir Hugh. Ia merupakan sekutu Augusta yang paling akrab. Bersama-sama mereka
mengendalikan kehidupan sosial keluarga. Augusta merupakan tenaga pendorong, dan
Madeleine pengikutnya yang setia.
138 Kedua kereta kuda itu berhenti, dan kedua wanita itu bertukar salam. Mereka
merintangi jalan, dan dua atau tiga kereta berhenti di belakang mereka. Augusta
berkata, "Pindahlah ke kereta kami, Madeleine, aku ingin bicara denganmu."
Pelayan Madeleine membantunya turun dari keretanya sendiri dan masuk ke dalam
kereta Augusta, lalu kereta mereka bergerak kembali.
"Mereka mengancam akan menceritakan pada Old Seth tentang sekretaris Samuel,"
kata Augusta. "Oh, tidak!" suara Madeleine meninggi. "Mereka tidak boleh melakukannya!"
"Aku sudah bicara pada Joseph, tapi mereka tak bisa dicegah," sambung Augusta.
Nada kecemasannya yang tulus membuat Hugh terenyak. Bagaimana ia melakukan ini"
Mungkin ia meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang dikatakannya pada saat kapan
pun, itulah kebenarannya.
"Aku akan bicara pada George," kata Madeleine. "Bisa-bisa Paman Seth yang sangat
kita sayangi terkejut sekali."
Sambil lalu Hugh mempertimbangkan untuk melaporkan percakapan mereka pada Paman
Joseph. Tentu Joseph akan terkejut mengetahui dirinya dan mitra-mitra lainnya
dimanipulasi oleh istri-istri mereka. Tapi mereka tidak akan percaya pada Hugh.
Ia bukan orang penting; itulah sebabnya Augusta tidak peduli apa yang
dikatakannya di depan pemuda itu.
Kereta mereka bergerak lambat, nyaris berhenti. Beberapa kuda dan kereta
tertahan di depan. Augusta berkata kesal, "Ada apa?"
"Pasti Singa Betina itu," ucap Clementine bersemangat.
Hugh mengamati kerumunan itu dengan penuh rasa ingin tahu, namun tak bisa
melihat penyebab kemacetan itu. Ada beberapa kereta bermacam jenis, sembilan
atau sepuluh ekor kuda. dan beberapa pejalan kaki.
139 Augusta berkata, "Apa sebenarnya Singa Betina itu?"
"Oh, Ibu, orang ramai membicarakannya!"
Ketika kereta Augusta mendekat, sebuah kereta kuda model victoria yang kecil dan
sangat elok muncul dari kerumunan manusia dan kendaraan, ditarik oleh sepasang
kuda poni yang melangkah tinggi dengan sais seorang wanita.
"Si Singa Betina!" Clementine berseru.
Hugh memandang wanita yang mengemudikan kereta itu dan terkesima setelah
mengenalinya. Wanita itu adalah Maisie Robinson.
Ia mengentakkan cemeti dan kedua kuda poninya berlari semakin kencang. Gadis itu
mengenakan kostum wol warna cokelat dengan rumbai-rumbai sutra; sebuah dasi
berwarna jamur dengan ikat model kupu-kupu melekat di lehernya. Di kepalanya
bertengger sebuah topi kecil penuh gaya, dengan pinggiran berbentuk ikal.
Rasa marah Hugh terhadapnya timbul lagi karena ucapannya dulu mengenai ayahnya.
Gadis itu tidak tahu apa-apa tentang keuangan dan tak punya hak menuduh orang
tidak jujur dengan seenaknya. Namun ia tak kuat melawan pikiran bahwa gadis itu
Pedang Kiri Pedang Kanan 20 Gento Guyon 19 Dewa Sinting Wanita Iblis Pencabut Nyawa 2
^