Pencarian

Name Of Rose 7

The Name Of The Rose Karya Umberto Eco Bagian 7


dan permata, benangbenang krisofrase, pita beril, agaknya mengacu pada keruwetan
ruangan dan gang-gang tempatku berada. Mataku jadi tersesat, di atas halaman
itu, di sepanjang jalanjalan berkilauan, sementara kakiku mulai tersesat dalam
urutan berkelok-kelok dari ruangan perpustakaan itu, dan menyaksikan diriku
sendiri digambarkan berjalanjalan di atas perkamen itu, membuatku amat gelisah
dan membuatku yakin bahwa masingmasing dari buku itu tengah menceritakan, sambil
mengejek misterius, kisahku yang sekarang. "De te fabula narratur,"n kataku kepada diriku
sendiri, dan aku ingin tahu apakah halamanhalaman itu sudah punya gudang kisahku
di masa mendatang. Aku membuka buku lain, dan ini agaknya dari aliran Hispanik.
Warna-warnanya kuat, warna merahnya memberi kesan api atau darah.
Itu adalah Kitab Wahyu rasul tersebut, dan sekali lagi, seperti malam
sebelumnya, aku kebetulan melihat halaman dari mulier amicta sole. Tetapi ini
bukan buku yang sama: lukisannya berbeda.
Di sini pelukisnya sudah memikirkan bentuk perempuan itu dengan lebih cermat.
Aku membandingkan wajahnya, dadanya, pahanya yang melekuk itu dengan patung Sang
Perawan yang sudah kulihat bersama Ubertino. Garisnya berbeda, tetapi menurutku
perempuan ini juga tampak amat cantik. Kupikir aku tidak boleh terus memandang
gambar itu, dan aku membalik beberapa halaman lagi. Aku menemukan seorang
perempuan lain, tetapi kali ini adalah pelacur Babylonia.
Aku tidak terlalu kaget oleh bentuknya dari pada oleh pikiranku bahwa dia, juga,
seorang perempuan seperti yang lain itu, namun yang ini adalah bejana setiap
kejahatan, sedangkan yang lain itu adalah bejana setiap kebajikan. Tetapi
keduanya berbentuk perempuan, dan pada suatu titik tertentu aku tidak bisa
memahami lagi apa yang membuat keduanya berbeda. Sekali lagi hatiku
11 "Tentang engkau dongeng ini diceritakan" penerj.?merasa amat gelisah; gambar Sang Perawan dalam gereja itu jadi rancu dengan
gambar Margaret yang cantik. "Terkutuklah aku!" kataku kepada diriku sendiri.
Atau, "Aku gila." Dan aku memutuskan harus meninggalkan perpustakaan itu.
Untungnya aku berada dekat anak tangga. Aku bergegas turun, dengan risiko
terjatuh dan mematikan lampu itu. Aku menemukan diriku lagi di bawah relung
besar skriptorium, tetapi aku justru tidak berhenti di sana, namun cepatcepat
menuruni anak tangga yang menuju ruang makan.
DI SINI aku berhenti sambil terengah-engah. Cahaya bulan masuk lewat
jendelajendela, amat terang, dan aku hampir tidak memerlukan lampu, yang
tentunya dibutuhkan dalam ruang dan gang perpustakaan. Bagaimanapun juga, aku
membiarkan lampu itu tetap menyala, seakanakan mencari penghiburan. Tetapi aku
masih terengah-engah, dan memutuskan untuk minum sedikit air untuk menenangkan
keteganganku. Karena dapurnya dekat, aku menyeberang ruang makan dan pelanpelan
membuka salah satu pintu yang menuju paruh kedua dari lantai bawah Aedificium
itu. Tetapi pada saat itu, kengerianku, justru tidak berkurang, namun bertambah.
Karena tibatiba aku menyadari ada orang lain di dalam dapur, dekat panggangan
roti atau setidak-tidaknya aku menyadari ada lampu menyala di sudut itu.
Dipenuhi rasa takut, aku memadamkan lampuku. Karena ketakutan seperti diriku sendiri, aku
menimbulkan ketakutan, dan nyatanya orang lain itu (atau orangorang lain itu)
langsung mematikan lampunya pula. Tetapi sia-sia, karena cahaya bulan yang
menerangi dapur itu cukup untuk menciptakan di depanku satu atau dua
bayangbayang membingungkan di atas lantai.
Seperti membeku, aku tidak berani mundur, atau maju. Aku mendengar suara
menggagap, dan kukira aku mendengar, dengan lembut, suara seorang perempuan.
Kemudian dari kelompok tak berbentuk yang kelihatan samarsamar di dekat
panggangan itu, suatu bentuk gelap, jongkok, berdiri dan melarikan diri ke arah
pintu sebelah luar, jelas dibiarkan terbuka, sambil menutupnya di belakangnya.
Aku tetap berada di situ, di ambang pintu antara ruang makan dan dapur, dan
begitu pula sesuatu yang samarsamar di dekat panggangan itu. Samarsamar dan
bagaimana menggambarkannya" menggumamkan sesuatu. Dari bayangbayang itu,
nyatanya, muncul erangan, semacam tangis lirih, isakan ketakutan yang ritmis.
Tidak ada yang memberi keberanian lebih besar kepada seseorang yang ketakutan
daripada ketakutan orang lain, tetapi bukan rasa takut yang mendorongku
mendekati bayangbayang tersebut. Sebaliknya, bisa kukatakan, aku didorong oleh
rasa mabuk yang tidak seperti yang mencekamku ketika mendapat penampakan. Di
dapur itu ada semacam asap yang pada malam sebelumnya telah meliputiku dalam perpustakaan. Mungkin
bahannya tidak sama, tetapi dalam indraku yang terlalu bergairah, efeknya sama.
Aku menghirup bau menusuk dari traganth, alum, dan tartar, yang biasa dipakai
tukang masak untuk membuat anggur aromatik. Atau mungkin, kelak aku jadi tahu,
pada masa itu mereka akan memasak bir (yang di bagian utara semenanjung itu
dikerjakan dengan amat cermat) dan bir itu disiapkan dengan metode negeriku,
dengan daun perdu, mur rawarawa dan rosemary liar. Semua bumbu yang membuat
mabuk, bukan saja lubang hidungku, justru pikiranku.
Dan meskipun naluri rasionalku berteriak, "Vade retro!"izdan menjauhi benda
menggumam yang jelas suatu panggilan untukku dari Yang Jahat, ada sesuatu dalam
kekuatan hasratku yang mendorongku maju, seakanakan ingin ikut ambil bagian
dalam sesuatu yang menakjubkan.
Demikianlah, maka aku mendekati bayangbayang tersebut, sampai, dalam cahaya
bulan yang jatuh dari jendelajendela yang tinggi, aku menyadari bahwa itu
seorang perempuan, gemetaran, salah satu tangannya mendekap sebuah bungkusan di
dadanya, dan mulai mundur, sambil menangis, ke arah mulut pemanggangan itu.
Semoga Tuhan, Perawan Teberkati, dan semua santo dari firdaus membantuku
menceritakan apa yang kemudian terjadi. Kejujuran, kewibawaan posisiku (sekarang
aku seorang rahib tua, dalam
12 "Mundur! "-penerj
Biara Melk yang indah, suatu pelabuhan kedamaian dan meditasi khusyuk), mulai
menasihatiku untuk bertindak dengan amat hati hati.
Seharusnya aku sekadar mengatakan bahwa sesuatu yang jahat sedang terjadi dan
bahwa itu tidak baik untuk diceritakan, sehingga aku tidak bakal mengecewakan
diriku sendiri maupun pembacaku.
Tetapi aku sudah memutuskan untuk bercerita, tentang kejadian yang sudah begitu
lama itu, seluruh kebenaran, dan kebenaran itu tidak bisa dibagi, kebenaran yang
bersinar dengan kejelasannya sendiri dan tidak membiarkan dirinya sendiri
dihapuskan oleh minat atau rasa malu kita. Masalahnya adalah, lebih tepatnya,
bagaimana menceritakan apa yang telah terjadi, bukan seperti yang sekarang
kupikirkan dan kuingat (bahkan jika aku ingat segala sesuatu dengan kejelasan
yang tidak kenal belas kasihan, dan aku juga tidak tahu apakah penyesalanku
sesudah itu membuat situasi dan pikiran ini begitu terpaku dalam memoriku, atau
apakah hatiku masih didera karena penyesalanku belum cukup, sehingga pikiranku
yang tertekan ini terusmenerus ingat akan perincian paling kecil dari rasa
maluku), tetapi menceritakannya seperti yang kusaksikan dan kurasakan waktu itu.
Dan aku bisa menceritakan dengan kejituan seorang penulis kronik, karena jika
mataku dipejamkan, aku bisa mengulangi, bukan hanya segala sesuatu yang telah
kulakukan, tetapi juga apa yang kupikirkan saat itu. Oleh karena itu, aku harus
melanjutkan dengan cara ini, Santo Mikhael Malaikat Agung melindungiku, karena demi manfaat
bagi pembaca di masa depan dan mengecam habis-habisan kesalahanku, sekarang aku
ingin menceritakan bagaimana seorang pemuda bisa menyerah kepada gertakan Iblis,
bahwa itu semua perlu diketahui dan jadi jelas, sehingga siapa saja yang kelak
menemui kejadian seperti itu bisa mengalahkannya.
Jadi, bayangbayang itu s eorang perempuan. Atau, lebih tepatnya, seorang gadis.
Karena sampai saat itu (dan sejak itu, Puji Tuhan) aku tidak bergaul erat dengan
makhluk jenis itu, aku tidak bisa menebak berapa usianya. Aku tahu bahwa ia
masih muda, hampir remaja, mungkin sudah mengalami enam belas atau tujuh belas
musim semi, atau mungkin dua puluh; dan aku terpana oleh kesan dari kenyataan
manusia yang muncul dari bentuk itu. Itu bukan penampakan, dan bagaimanapun
juga, bagiku seakan nyata.
Mungkin karena ia gemetar bagaikan seekor burung kecil di musim dingin, dan
menangis, dan takut kepadaku. Karena berpikir bahwa tugas setiap orang Kristen
yang baik adalah menolong tetangganya, aku mendekatinya dengan amat ramah dan
mengatakan dalam bahasa Latin yang baik agar dia tidak perlu takut, karena aku
seorang teman, dan apa pun yang terjadi bukan seorang musuh, jelas bukan musuh
yang mungkin ia takuti. Karena lembutnya tatapanku, kukira, makhluk itu jadi tenang dan mendekatiku. Aku
merasa bahwa ia tidak memahami bahasa Latinku dan
secara naluriah aku mengajaknya bicara dalam bahasa Jerman dari negeriku, dan
ini membuatnya amat ketakutan, entah karena bunyi katakata itu kasar, tidak
dikenal oleh penduduk tempat itu, atau karena bunyi katakata itu mengingatkan
dia akan suatu pengalaman lain dengan serdadu bangsaku. Aku tidak yakin yang
mana. Kemudian aku tersenyum, sambil mempertimbangkan bahwa bahasa gerakgerik dan
bahasa wajah lebih universal daripada katakata, dan ia menjadi tenang. Ia juga
tersenyum kepadaku, dan mengucapkan beberapa patah kata.
Aku kenal dialeknya sedikit-sedikit; berbeda dari sedikit yang telah kupelajari
di Pisa, tetapi dari nadanya aku menyadari bahwa ia mengucapkan katakata manis
kepadaku, dan seakanakan mengatakan sesuatu seperti, "Kau muda, kau tampan ...."
Seorang novis yang telah melewatkan seluruh masa kecilnya dalam suatu biara
jarang sekali mendengar pernyataan tentang ketampanannya; kami memang biasa
diingatkan bahwa kecantikan fisik itu hanya bersifat sementara dan harus
dianggap rendah. Tetapi si Musuh tetap mencemooh, dan aku mengakui bahwa
pernyataan akan ketampananku, meskipun bohong, terasa manis di telingaku dan
membuat aku dipenuhi oleh emosi yang tak tertahankan. Terutama karena gadis ini,
sambil berkata begitu, mengulurkan tangannya sampai ujung jarinya membelai
pipiku, waktu itu hampir halus. Aku merasakan semacam kemabukan, tetapi waktu
itu aku tidak mampu merasakan isyarat dosa apa saja dalam hatiku. Kekuatan Iblis itu sedemikian rupa
kalau ia ingin mencobai kita dan membuang tanda kemuliaan dalam jiwa kita.
Apa yang telah kurasakan" Apa yang telah kulihat" Aku cuma ingat bahwa emosi-
emosi dari momen pertama itu sukar diungkapkan, karena lidah dan pikiranku belum
diajari menyebutkan istilah sensasi macam itu. Baru kemudian aku ingat katakata
batin lainnya, yang kudengar pada waktu lain dan di tempat lain, jelas berbicara
untuk tujuan lain, tetapi yang secara mengagumkan terasa cocok dengan
kegembiraanku pada saat itu, seakanakan ditakdirkan cocok untuk diungkapkan.
Katakata yang tertekan ke dalam gua-gua memoriku lalu muncul ke permukaan
bibirku yang kelu, dan aku lupa bahwa bibirku telah melayani Kitab Suci dan
tulisan para santo untuk mengungkapkan kenyataan yang amat berbeda, lebih
cemerlang. Tetapi apa betul ada perbedaan antara kegembiraan yang telah
diungkapkan para santo dan kegembiraan yang dirasakan oleh jiwaku yang gelisah
saat itu" Pada saat itu rasa membedakan yang waspada dilenyapkan dalam diriku.
Dan ini, menurutku, tepatnya pertanda kegairahan dalam jurang-jurang identitas.
Tibatiba gadis itu tampak olehku seperti perawan hitam namun cantik yang
dinyanyikan dalam Kidung Agung Salomon. Ia mengenakan gaun pendek terawang dari
bahan kasar dengan dada membuka dalam gaya cukup merangsang, dan di
seputar lehernya ada seuntai kalung terbuat dari batu berwarna kecil-kecil, yang
menurutku amat biasa. Tetapi kepalanya tegak dengan bangga di atas leher yang seputih menara gading,
matanya bening bagaikan telaga di Hesybon, hidungnya bagai menara di Gunung Lebanon, rambutnya merah lembayung.
Ya, ikal rambutnya bagiku seakan kawanan kambing, giginya bagai kawanan biribiri
keluar dari tempat pembasuhan, semua beranak kembar, sehingga yang tak beranak
tidak ada. Dan aku tidak tahan untuk tidak menggumam: "Lihatlah, cantik engkau,
manisku, sungguh cantik engkau! Rambutmu bagai kawanan kambing yang bergelombang
turun dari Pegunungan Gilead; bagaikan seutas kirmizi bibirmu, pelipismu
bagaikan belahan buah delima, lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk
menyimpan senjata." Dan aku bertanya kepada diriku sendiri, dengan ketakutan dan
jantung berdegup keras, siapa dia yang muncul di hadapanku bagaikan fajar
merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, terribilis ut
castorum acies ordinata.n
Makhluk itu makin mendekatiku, sambil melemparkan bungkusan gelap yang sampai
saat itu masih ia tekan di dadanya ke suatu sudut; dan ia mengangkat tangannya
untuk membelai wajahku, dan mengulangi katakata yang sudah kudengar. Dan
sementara aku tidak tahu harus lari dari dia
13 Bagaikan pasukan yang teratur dari orangorang murni ptntrj?atau justru maju mendekat, sementara kepalaku berdenyutdenyut bagaikan
sangkakala Joshua yang akan merobohkan dindingdinding Jericho, sementara aku
mendamba sekaligus takut untuk menyentuhnya, ia tersenyum dengan amat gembira,
mengeluarkan erangan tertahan dari seekor kambing betina yang senang, dan
melepas pita yang mengikat gaun di atas dadanya, memelorotkan gaunnya dari
tubuhnya seperti sehelai tunik, dan berdiri di hadapanku, pasti seperti Hawa
muncul di depan Adam di Taman Eden. "Pulchra sunt ubera quae paululum
supereminent et tument modice,"n gumamku, sambil mengulangi katakata yang telah
kudengar dari Ubertino, karena payudaranya tampak olehku bagai dua anak rusa,
bagai anak kijang kembar, sedang makan di tengah bunga-bunga bakung, pusarnya
seperti cawan bulat, yang tak kekurangan anggur campur, perutnya timbunan gandum
berpagar bunga-bunga bakung.
"O sidus clarum pellarum," seruku kepadanya, "o porta clausa, fons hortorum,
cella custos unguentorum, cella pigmentaria!"i5
Dengan gegabah aku menemukan diriku sendiri menempel pada tubuhnya, merasakan
kehangatannya dan wewangian tajam dari salep yang belum pernah kukenal. Aku
ingat, "Anak-anak, kalau cinta gila datang, lelaki tak berdaya!" dan aku
memahami itu, aku tidak tahu apakah yang kurasakan itu
14 "Indahnya payudara, yang mungil, dan mekar sedang-sedang saja" penerj.
?15 "Oh, bintang yang bersinar cemerlang di antara gadis-gadis," seruku
kepadanya, "oh, pintu tertutup, bilik penyimpan wewangian, bilik rempah-
rempah" penerj. ?adalah cemooh dari Musuh atau karunia dari surga, aku sekarang tak berdaya
menghadapi impuls yang menggerakkan diriku, dan aku berteriak, "O langueo," dan,
"Causam languoris video nec caveo!"i6 juga karena suatu wewangian mawar yang
mengembus dari bibirnya dan telapak kakinya cantik dalam sandal, dan kakinya
bagaikan lajur-lajur dan permata adalah lekuk pahanya, karya dari tangan seorang
perajin yang cerdik. Oh, cinta, putri kegembiraan, seorang raja tertawan dalam
kepang-kepangmu, gumamku kepada diriku sendiri, dan aku berada dalam pelukannya,
dan bersama-sama kami jatuh ke atas lantai kosong dapur itu, dan, entah atas
inisiatifku sendiri atau melalui kemauannya, ternyata jubah novisku sudah lepas
dan kami tidak merasa malu pada tubuh kami dan cuncta erant bona.17
Ia menciumku dengan kecupan mulutnya, dan cintanya lebih lezat daripada anggur,
dan minyak yang dipakainya wangi menyenangkan, dan lehernya indah di antara
mutiara-mutiara, dan kedua pipinya di antara anting-anting, lihatlah, cantik
engkau, manisku, sungguh cantik engkau; bagaikan merpati matamu (kataku), dan
perhatikanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu, karena merdu suaramu, dan elok
wajahmu, engkau mendebarkan hatiku, dinda, engkau mendebarkan hatiku dengan
kejapan matamu, dengan seuntai kalung yang
16 "Oh, aku merana," dan, "aku melihat penyebab rinduku dan aku tidak
mencegahnya" penerj.?17 Semuanya indah penrj.
?menghias lehermu, bibirmu meneteskan madu murni, madu dan susu ada di bawah
lidahmu, napas hidungmu seperti buah apel, buah dadamu seperti gugusan anggur,
kata-katamu manis bagaikan anggur, yang mengalir kepada kekasihku tak putus-
putusnya dan melimpah ke bibir dan gigiku .... Mata air termeterai, narwastu dan
kunyit, tebu dan kayu manis, mur dan gaharu, kumakan sambangku dan maduku,
kuminum anggur dan susuku. Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah
bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, bagaikan pasukan yang teratur
dari orangorang murni"
Ya, Allah, manakala jiwa amat bergembira, satusatunya kebajikan terletak dalam
mencintai apa yang kau lihat, (betul kan") kebahagiaan memuncak dalam memiliki
apa yang kaumiliki; di sana kehidupan penuh kebahagiaan mabuk sampai ke akar-
akarnya (bukankah ini sudah dikatakan"), di sana kau menikmati kehidupan
sebenarnya di mana kita akan hidup setelah kehidupan fana ini di antara para
malaikat untuk selama-lamanya .... Ini yang tengah kupikirkan dan bagiku tampaknya
ramalan-ramalan akhirnya terpenuhi, ketika gadis itu menyebarkan kemanisan yang
tak tergambarkan ke atasku, dan itu seakan seluruh tubuhku bagai sebuah mata, di
depan dan di belakang, dan tibatiba aku bisa melihat semua benda di
sekelilingku. Dan aku paham bahwa cinta, kebaikan dan kesatuan, dan kemesraan
tercipta bersama-sama, demikian juga kebaikan dan ciuman dan kepuasan, seperti
sudah kudengar, sambil percaya bahwa aku tengah
mendengar tentang sesuatu yang lain. Dan hanya untuk sejenak, ketika
kegembiraanku hampir mencapai puncak, aku ingat bahwa mungkin aku sedang
mengalami, dan pada malam hari, cengkeraman Iblis siang-hari-bolong, yang
akhirnya dikutuk untuk mengungkapkan dirinya sendiri dalam sifat buruknya yang
sebenarnya kepada jiwa yang dalam keadaan ekstase bertanya, "Siapa kau?", yang
tahu caranya mencengkeram jiwa dan memperdaya tubuh. Tetapi aku langsung yakin
bahwa penolakanku memang bersifat jahat, karena tidak ada yang bisa lebih benar
dan bagus dan suci daripada apa yang sedang kualami, kemanisannya yang setiap


The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saat bertambah. Bagaikan setetes air yang dimasukkan ke dalam sejumlah anggur
akan sepenuhnya bercampur dan menjadi sewarna dan serasa anggur, bagaikan besi
panas membara meleleh kehilangan bentuknya, bagaikan udara kala dibanjiri oleh
cahaya matahari diubah menjadi kejernihan dan kemegahan sehingga tidak lagi
tampak diterangi tetapi, justru, tampak sebagai cahaya itu sendiri, maka aku
merasa diriku sendiri mati oleh keadaan mencair yang lembut, dan aku hanya
tinggal punya kekuatan untuk menggumamkan katakata dari Mazmur: "Lihatlah dadaku
bagai anggur baru, tertutup, yang memenuhi bejana-bejana baru." Dan tibatiba aku
melihat suatu cahaya cemerlang dan di dalamnya suatu bentuk berwarna kuning
Jingga yang memancarkan suatu api yang bercahaya dan manis, dan cahaya
menyenangkan itu menyebar ke seluruh api yang
menyala, dan api yang bercahaya ini ke seluruh bentuk keemasan itu dan cahaya
cemerlang dan api menyala itu ke seluruh bentuk tersebut.
Ketika, setengah tak sadar, aku jatuh ke atas tubuh yang kepadanya aku sudah
menyatukan diriku, aku mengerti bahwa dalam suatu semburan kuat terakhir itu,
api mengandung suatu kejernihan mengagumkan, suatu kekuatan luar biasa, dan
suatu semangat berapi-api, tetapi karena memiliki kejernihan luar biasa itu maka
nyala api itu akan menerangi dan menjadi semangat berapi-api yang bisa
dibakarnya. Lalu aku memahami jurang itu, dan itu menjelmakan jurang-jurang yang
lebih dalam. Sekarang, dengan tangan gemetaran (entah karena ketakutan akan dosa yang akan
kuceritakan atau dalam nostalgia rasa bersalah dari kejadian yang kuingat),
ketika menuliskan ini semua, aku menyadari bahwa untuk menggambarkan ekstase
jahatku saat itu, aku sudah menggunakan katakata yang sama yang kugunakan, hanya
beberapa halaman sebelumnya, untuk menggambarkan api yang membakar tubuh martir
Fraticello Michael. Juga bukan suatu kebetulan bahwa tanganku, alat pasif dari
jiwa ini, telah menuliskan ungkapan yang sama untuk dua pengalaman yang amat
sangat berbeda, karena mungkin aku telah mengalami kedua kejadian tersebut dalam
cara yang sama, saat aku mengalami keduanya, dan sekarang, saat aku berusaha
menghidupkan kembali pengalaman tersebut di atas perkamen ini.
Ada suatu kebijaksanaan misterius yang memisahkan fenomena itu sendiri di antara
fenomena-fenomena berbeda yang bisa disebut dengan nama-nama yang analog, persis
seperti hal-hal suci dapat disebut dengan istilah bumi, dan lewat simbol-simbol
berarti ganda maka Tuhan dapat disebut singa atau macan tutul; dan kematian
dapat disebut pedang; kegembiraan, nyala api; kematian, jurang; jurang, kutukan;
kutukan, pesona; dan pesona, berahi.
Mengapa aku dulu, sebagai anak muda, menggambarkan ekstase kematian yang telah
membuatku terkesan dalam martir Michael dengan katakata yang telah dipakai Santo
Michael untuk menggambarkan ekstase kehidupan suci. Namun, aku tetap tidak tahan
untuk tidak menggambarkan ekstase (yang tercela dan sekilas saja) kenikmatan
duniawi dengan katakata yang sama, yang segera setelah itu secara spontan telah
tampak bagiku sebagai suatu sensasi kematian dan kemusnahan" Sekarang aku akan
berusaha merefleksi caraku merasakan, selang beberapa bulan, dua pengalaman yang
langsung menggairahkan dan menyakitkan, dan merefleksi kejadian malam itu di
biara tersebut, tentang bagaimana secara sadar aku ingat yang satu dan merasakan
yang lain dengan indraku, selang beberapa jam, dan lebih jauh lagi, bagaimana
aku sekarang menghidupkannya kembali, dengan menuliskan kalimat-kalimat ini, dan
tentang bagaimana dalam semua ketiga kejadian itu aku membacakan untuk diriku
sendiri dengan katakata dari pengalaman lain dari jiwa suci yang dibinasakan dalam penampakan suci itu.
Apakah aku sudah dihujat (waktu itu" sekarang")" Apa yang serupa dalam hasrat
Michael untuk mati, dalam kegembiraan yang kurasakan ketika melihat api mengha-
nguskannya, dalam hasrat untuk kesatuan jasmaniah yang kurasakan dengan gadis
itu, dalam rasa malu mistik yang kupakai untuk menerjemahkannya secara alegoris,
dan dalam hasrat untuk kebinasaan menggembirakan yang menggerakkan hati santo
itu untuk mati dalam cintanya sendiri dengan tujuan hidup lebih lama dan kekal"
Mungkinkah hal-hal begitu samarsamar dapat dikatakan dalam suatu cara yang
sedemikian gamblang" Dan ini, agaknya, adalah ajaran yang diwariskan kepada kita
oleh Santo Thomas, yang paling hebat dari semua doktor: semakin itu tetap berupa
kiasan yang gamblang, semakin itu berupa kiasan yang tidak serupa dan tidak
harfiah, suatu metafora akan semakin mengungkapkan kebenarannya. Tetapi jika
cinta akan nyala api dan kematian adalah metafora untuk cinta akan Tuhan,
mungkinkah itu menjadi metafora untuk cinta akan kematian dan cinta akan dosa"
Ya, karena singa dan ular keduanya mewakili Kristus dan Iblis. Nyatanya,
interpretasi yang betul hanya dapat ditetapkan oleh kewenangan para tua-tua, dan
dalam kasus yang menderaku, pikiranku yang taat ini tidak tahu harus mengacu
kepada siapa, dan aku terbakar dalam keraguan (dan gambar api muncul lagi untuk
menetapkan alam kosong kebenaran dan kepenuhan dari
kesalahan yang membinasakan diriku!). Apa yang tengah terjadi dalam jiwaku, Ya
Tuhan, sehingga sekarang aku membiarkan diriku dicekam oleh kenangan yang
berpusar itu dan aku membakar saatsaat yang berbeda sekaligus, seakan aku harus
memanipulasi tatanan bintang dan urutan gerakan mereka di langit" Sudah jelas
aku mulai melangkahi batasan dari inteligensiaku yang sakit dan penuh dosa ini.
Sekarang, marilah kita kembali kepada tugas yang dengan rendah hati kutetapkan
untuk diriku sendiri. Aku akan menceritakan bagaimana aku sepenuhnya terbenam ke
dalam kebingungan indra. Di sana, aku sudah menceritakan apa yang kuingat
tentang kejadian itu, dan biarkan penaku yang lemah ini, penulis kronik yang
dapat dipercaya dan setia, berhenti dulu.
Aku berbaring, entah untuk berapa lama, di samping gadis itu.
Dengan suatu gerakan ringan tangannya terus menyentuh tubuhku, sekarang lembap
oleh keringat. Aku merasakan suatu kegairahan batin, yang bukan kedamaian,
tetapi seperti percikan api terakhir hampir padam yang mengulur waktu untuk mati
di bawah bara api, sementara apinya sendiri sudah mati. Aku tidak akan ragu
menyebut seseorang yang dikaruniai pengalaman yang agak serupa dalam hidup ini
sebagai orang teberkati (gumamku seakan dalam tidurku), bahkan jika amat jarang
(dan, nyatanya, aku hanya mengalaminya saat itu saja), dan sebentar saja, untuk
sekali saja. Seakan seseorang tidak lagi hidup, karena sama
sekali tidak merasakan identitasnya, atau merasa tertekan, hampir binasa: jika
seorang makhluk fana (kataku kepada diriku sendiri) untuk sekali saja dan hanya
sebentar saja, dapat menikmati apa yang telah kunikmati, ia bisa langsung
memandang dunia jahat ini dengan mata terbuka lebar, akan merasa sedih oleh
kutukan kehidupan sehari-hari, akan merasakan beratnya tubuh kematian ....
Bukankah ini sudah diajarkan kepadaku" Imbauan dari seluruh semangatku untuk
menghilangkan semua kenangan penuh kebahagiaan itu sudah tentu merupakan
(sekarang aku memahaminya) terangnya matahari abadi; dan kegembiraan yang
dihasilkannya membuka, memperluas, memperbesar manusia, dan jurang menganga yang
disangga manusia di dalam dirinya sendiri tidak begitu mudah lagi ditutup,
karena itu adalah luka oleh tikaman pedang cinta, juga tidak ada lagi yang lebih
manis dan mengerikan di dunia ini. Tetapi begitulah kebenaran dari matahari: ia
melubangi orang yang terluka itu dengan sinarnya dan semua luka itu melebar,
orang itu tertutup dan melebar, urat-urat darahnya sendiri membentang jelas,
kekuatannya sekarang tidak mampu menaati perintah yang diterimanya, dan hanya
tergerak oleh hasrat, semangat membakar, tenggelam ke dalam jurang dari apa yang
sekarang disentuhnya, melihat hasratnya sendiri dan kebenarannya sendiri dihapus
oleh realitas yang sudah ia alami dan sekarang masih ia alami. Dan satu saksi,
saksi yang diam, kegairahan orang itu sendiri.
Dan dalam cengkeraman sensasi-sensasi kegembiraan hari yang tak terlukiskan itu,
aku tertidur. AKU membuka mataku kembali beberapa saat kemudian, dan cahaya
bulan, mungkin karena tertutup awan, sudah jauh meredup. Aku merenggangkan
tanganku ke samping dan tidak lagi merasakan tubuh gadis itu; ia sudah lenyap.
Tidak adanya objek yang telah melepaskan tali hasratku dan memuaskan dahagaku
itu membuat aku tibatiba menyadari sia-sianya hasrat sekaligus jahatnya dahaga
tersebut. Omne animal triste post coitum.15 Aku jadi sadar bahwa aku telah
berdosa. Sekarang, setelah bertahuntahun dan lama sekali, sementara masih
meratapi kekeliruanku dengan pedih, aku tidak dapat melupakan betapa aku
merasakan kenikmatan luar biasa malam itu, dan tentunya aku akan melakukan suatu
kesalahan terhadap Yang Mahakuasa, yang menciptakan semua hal dalam kebaikan dan
keindahan, andaikan aku tidak mengakui bahwa di antara kedua pendosa juga
terjadi yang sesuatu dengan sendirinya, alamiah, bagus, dan indah. Tetapi
mungkin usia tuaku sekarang ini, yang membuatku merasa, dengan rasa bersalah,
betapa indah dan bagusnya semua masa mudaku. Tepat ketika aku harus memalingkan
pikiranku kepada kematian, yang mulai mendekat. Waktu itu, karena masih muda,
aku tidak berpikir tentang kematian, tetapi, dengan bersemangat dan tulus, aku
menangisi dosaku. Aku berdiri, dengan gemetar, juga karena aku
18 Semua binatang sedih setelah bers-inggama penerj?sudah berbaring lama di atas lantai batu dapur yang dingin dan tubuhku terasa
kaku. Aku mengenakan baju, hampir terburu-buru. Kemudian aku melihat di sudut
itu, bungkusan yang telah ditinggalkan gadis itu ketika lari. Aku membungkuk
untuk memeriksa benda itu: itu semacam bundelan, sehelai kain digulung yang
agaknya berasal dari dapur. Aku membukanya, dan mulamula aku tidak mengerti apa
yang ada di dalamnya, baik karena cahaya yang suram maupun karena bentuk isinya
yang tak berbentuk. Kemudian aku mengerti. Di antara bercak darah dan potongan
benda lembek dan daging keputihan, di hadapan mataku, mati tetapi masih berdegup
dengan kehidupan rongga perut yang bagai agar-agar, dibatasi saraf menghitam:
sebuah jantung, besar sekali.
Suatu tirai gelap naik ke atas mataku, ludah asam keluar dalam mulutku, aku
menjerit dan jatuh bagaikan tubuh mati jatuh. []
Malam Dalam cerita ini Adso, ketakutan, mengaku kepada William dan merenungkan tentang
fungsi perempuan dalam rencana penciptaan, tetapi kemudian ia menemukan mayat
seseorang. ku sadar dari pingsan dan merasakan seseorang menyeka wajahku. Di dekatku,
sambil membawa sebuah lampu, ada Bruder William, yang telah menaruh sesuatu di
bawah kepalaku. "Apa yang telah terjadi, Adso?" tanyanya. "Apa kau sudah keluyuran malammalam
untuk mencuri makanan dari dapur?"
Singkat kata, William telah terjaga, mencariku entah untuk apa, dan, karena
tidak menemukan diriku, menduga aku pergi untuk memamerkan sedikit keberanian
dalam perpustakaan. Ketika hampir sampai sisi dapur di Aedificium itu, ia
melihat sebuah bayangan lari dari pintu ke arah kebun sayuran (itu gadis
tersebut, yang segera lari, karena mendengar seseorang datang). William berusaha
membayangkan siapa itu dan mengikutinya, tetapi ia (atau lebih tepatnya,
bayangan itu, yang tampaknya perempuan) pergi ke arah dinding luar bangunan itu
dan menghilang. Lalu William, setelah
memeriksa sekelilingnya memasuki dapur dan menemukan aku terbaring pingsan.
Ketika, masih ketakutan, aku menyebutkan bungkusan berisi jantung itu, sambil
mengoceh sesuatu tentang kejahatan lain, ia mulai tertawa. "Adso, manusia
seperti apa yang punya jantung sebesar itu" Itu jantung sapi, atau kerbau;
mereka memang menyembelih seekor hewan hari ini. Tetapi ceritakan kepadaku,
bagaimana bungkusan itu bisa ada di tanganmu?"
Pada saat itu, dipenuhi rasa menyesal, dan masih terpaku oleh ketakutan yang
sangat besar, air mataku jatuh berderai dan minta agar William mau memberikan
sakramen pengakuan dosa. Ia bersedia, dan aku menceritakan semuanya, tanpa
menyembunyikannya sedikit pun.
Bruder William mendengarkan pengakuanku dengan sungguhsungguh, tetapi tampak
sedikit berminat. Setelah selesai, wajahnya jadi sedih dan ia berkata, "Adso,
kau telah berbuat dosa, itu jelas, terhadap perintah yang melarangmu untuk tidak
dilanggar, dan juga terhadap tugasmu sebagai seorang novis. Dalam pembelaanmu
ada kenyataan bahwa kau menemukan dirimu sendiri dalam salah satu situasi yang
di dalamnya, bahkan seorang bapa di padang gurun tentu akan mengutuki dirinya
sendiri. Dan Kitab Suci sudah cukup banyak bicara tentang perempuan sebagai
sumber godaan. Tentang perempuan, Pengkhotbah mengatakan bahwa percakapannya
bagaikan api yang membakar, dan Amsal mengatakan bahwa ia menguasai
jiwa lelaki dan lelaki yang paling kuat dihancurkan olehnya. Dan Pengkhotbah
mengatakan lebih lanjut, 'Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit daripada
maut: perempuan yang hatinya adalah jala dan jerat, dan tangannya adalah
belenggu.' Dan lainlainnya mengatakan bahwa perempuan adalah bejana Iblis.
Setelah menegaskan ini, Adso, aku tidak dapat meyakinkan diriku sendiri bahwa
Tuhan memilih untuk menyertakan seorang makhluk jahat semacam itu ke dalam
penciptaan tanpa mengaruniainya dengan beberapa kebajikan. Dan aku tidak tahan
untuk tidak merenungkan bahwa Dia mengaruniai perempuan banyak hak istimewa dan
alasanalasan martabat, tiga dari alasan itu sungguhsungguh amat hebat.
Nyatanya, Dia menciptakan manusia dalam dunia dasar ini, dan dari lumpur; baru
sesudah itu Dia menciptakan perempuan, di firdaus dan dari unsur manusia yang
mulia. Dan ia tidak membentuk perempuan dari kaki atau otot Adam, tetapi dari
tulang iganya. Yang kedua, Allah, Yang Mahakuasa, seharusnya secara langsung
menjadi inkarnasi sebagai seorang lelaki dalam suatu cara misterius, tetapi ia
lebih suka berdiam dalam rahim seorang perempuan, suatu pertanda bahwa perempuan
sama sekali tidak begitu jahat. Dan waktu muncul setelah Bangkit dari mati, Dia
menampakkan diri kepada seorang perempuan. Dan akhirnya, dalam kemuliaan
surgawi, tidak akan ada lelaki yang merajai kerajaan itu, tetapi ratunya adalah
seorang perempuan yang tidak punya dosa asal. Jika, waktu itu, Allah menunjukkan
kebaikan sedemikian rupa kepada Hawa sendiri dan putri-putrinya, bukankah amat
lazim kalau kita seharusnya juga merasa ditarik oleh keanggunan dan kemuliaan
perempuan" Aku bermaksud mengatakan kepadamu Adso, jangan hal itu kaulakukan lagi, tentu
saja, tetapi tidak begitu jahat bahwa kau tergoda untuk melakukannya. Dan
sepanjang pengetahuan, seorang rahib harus, paling sedikit sekali dalam
hidupnya, mengalami hasrat duniawi itu, sehingga suatu hari ia bisa bermurah
hati dan memahami para pendosa yang minta nasihat dan bisa ia hibur ... nah, Adso
terkasih, itu bukan sesuatu yang diharapkan sebelum terjadi, tetapi bukan
sesuatu untuk terlalu disesali kalau telah terjadi. Jadi, pergilah bersama Tuhan
dan hal itu tidak usah kita bicarakan lagi. Memang, jika mungkin, lebih baik
melupakan daripada terlalu merenungkan dan memikirkannya terus" dan saat itu
rasanya suara William melemah seakan dikuasai suatu emosi pribadi "coba kita
tanyakan kepada diri kita sendiri makna dari apa yang telah terjadi malam ini.
Siapa gadis itu dan siapa yang akan ia temui?"
"Ini aku tidak tahu, dan aku tidak melihat orang yang bersama dia," kataku.
"Baiklah, tetapi dari petunjuk yang banyak dan pasti, kita dapat menduga siapa
temannya itu. Yang pertama-tama, orang itu tua dan jelek, yang gadis itu tidak
bakal mau datang dengan rela, terutama jika ia cantik, seperti katamu, meskipun
aku mengira, anak serigalaku yang manis, bahwa kau berharap mendapatkan makanan
apa saja yang lezat."
"Mengapa tua dan jelek?"
"Karena gadis itu tidak datang kepadanya untuk cinta, tetapi untuk sebungkus
sisa makanan. Sudah pasti dia seorang gadis dari desa yang, mungkin bukan untuk
pertama kalinya, mau berbaik hati melayani seorang rahib yang bernafsu karena
lapar, dan sebagai balasan menerima sesuatu untuk dimakan bersama keluarganya."
"Pelacur!" kataku ngeri.
"Seorang gadis desa yang miskin, Adso. Mungkin harus memberi makan beberapa
adiknya yang masih kecil. Yang, andaikan mampu, mau menyerahkan dirinya untuk
cinta dan bukan untuk uang. Seperti yang ia lakukan tadi malam. Nyatanya,
menurut ceritamu, ia menemukan bahwa ternyata kau muda dan tampan, dan secara
gratis dan atas dasar cinta memberimu sesuatu, yang kepada lainnya ia tentu akan
mendapat jantung atau sepotong paru-paru lembu. Ia merasa begitu bahagia untuk
pemberian dirinya sendiri secara gratis, dan begitu gembira sampai lari tanpa
mengambil apa-apa sebagai gantinya. Itulah sebabnya aku berpikir tentang orang
yang lain itu, kepada siapa gadis itu membandingkannya dengan kau, tentu tidak
muda dan tidak tampan."
Aku mengakui bahwa, sekuat penyesalanku, penjelasan itu membuatku dipenuhi suatu
kebanggaan manis, tetapi aku tetap diam dan membiarkan
guruku melanjutkan. "Orang yang jelek itu pasti dapat kesempatan untuk turun ke desa dan berhubungan
dengan para petani, untuk suatu tujuan yang berkaitan dengan tugasnya. Ia pasti
tahu caranya membawa orang masuk-keluar biara ini, dan tahu pasti bahwa ada
makanan di dalam dapur (mungkin besok orang bilang bahwa pintunya tidak tertutup
dan seekor anjing masuk dan memakan daging sisa itu). Dan akhirnya, mestinya ia
punya semacam rasa ekonomi, dan suatu minat tertentu dalam memerhatikan agar
dapur tidak membuang makanan yang lebih berharga: kalau tidak ia tentu akan
memberi gadis itu sepotong daging panggang atau sepotong daging pilihan. Dan
dengan demikian, kau tahu bahwa kita bisa menggambarkan orang asing kita itu
dengan amat jelas dan bahwa semua ciri-ciri itu, atau semua hal yang kebetulan
itu, cocok dengan suatu substansi yang aku tidak takut untuk menetapkannya
sebagai Kepala Gudang kita, Remigio dari Varagine. Atau, jika aku salah,
Salvatore kita yang misterius yang, dalam hal ini, karena berasal dari bagian
negeri ini, bisa dengan mudah bicara dengan orang setempat dan akan tahu caranya
membujuk seorang gadis untuk melakukan apa yang ia inginkan, andaikan kau tidak
muncul."

The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Itu jelas betul sekali," kataku, yakin, "tetapi apa untungnya mengetahui itu
sekarang?" "Tidak ada. Atau justru banyak," kata William. "Kisah itu bisa ada hubungannya,
bisa tidak ada hubungannya, dengan kejahatan yang memprihatinkan kita. Di lain pihak, jika
Kepala Gudang itu seorang Dolcinian, ini bisa menjelaskan, dan sebaliknya. Dan
akhirnya, sekarang kita tahu, bahwa pada malam hari, biara ini adalah suatu
tempat terjadinya peristiwa yang banyak dan membingungkan. Dan siapa bisa bilang
bahwa Kepala Gudang kita, dan Salvatore, yang dengan begitu santai berjalan ke
manamana dalam gelap, tidak tahu, kapan saja, lebih banyak daripada yang mereka
ceritakan?" "Tetapi apa mereka mau cerita kepada kita?"
"Tidak, tidak jika kita bertindak dengan sikap penuh belas kasih, dengan tidak
mengungkit dosa mereka. Tetapi jika memang mau tahu segala sesuatu, kita harus
mencari suatu cara untuk membujuk mereka agar mau bicara. Dengan lain kata, jika
perlu, Kepala Gudang dan Salvatore kita kuasai, dan semoga Tuhan mengampuni
muslihat ini, karena Dia mengampuni begitu banyak hal lainnya," katanya sambil
memandangku dengan mata licik; aku tidak punya keberanian untuk membuat komentar
apa saja tentang apa sikap guruku itu tidak salah.
"Dan sekarang kita harus tidur, karena satu jam lagi sudah tiba saatnya matina.
Tetapi kelihatannya kau masih resah, Adsoku malang, masih ketakutan oleh dosamu
.... Tidak ada yang seperti mantra bagus di dalam gereja untuk menenangkan jiwa.
Aku sudah mengampunimu, tetapi siapa tahu. Pergilah, dan mohon peneguhan dari
Tuhan." Dan ia menepuk-nepuk kepalaku dengan agak cepat, mungkin untuk menunjukkan kasih sayang
seorang ayah yang kuat, mungkin sebagai hukuman indulgensi. Atau mungkin (karena
saat itu aku merasa bersalah) dengan semacam rasa iri yang sifatnya baik, karena
ia adalah orang yang begitu haus akan pengalaman baru dan hebat.
Kami berjalan menuju gereja, sambil mengambil jalan yang biasa kami lalui, dan
aku mengikutinya dengan tergesagesa, sambil memejamkan mata, karena semua makam
itu terlalu jelas mengingatkan aku, malam itu, tentang bagaimana aku hanyalah
debu dan betapa tololnya kesombongan dagingku.
Waktu sampai ke bagian tengah gereja, melihat sebuah sosok bagai bayangbayang di
depan altar utama. Kukira itu Ubertino lagi, tetapi ternyata Alinardo, yang
mulamula tidak mengenali kami.
Katanya ia tidak bisa tidur dan telah memutuskan untuk melewatkan malam itu
untuk mendoakan rahib muda yang telah menghilang (ia bahkan tidak ingat
namanya). Ia mendoakan jiwanya, jika pemuda itu mati, dan mendoakan tubuhnya,
jika pemuda itu terbaring sakit dan sendirian di suatu tempat.
"Terlalu banyak yang mati," katanya, "terlalu banyak yang mati .... Tetapi itu
sudah ditulis dalam buku penulis Injil itu.
Dengan sangkakala pertama akan turun hujan es, dengan sangkakala kedua,
sepertiga dari laut menjadi darah; dan kau menemukan satu mayat dalam hujan es,
yang lain dalam darah ....
Sangkakala ketiga memperingatkan akan sebuah bintang besar, menyala-nyala bagai
obor, akan jatuh dan menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata air-mata air.
Jadi, kukatakan kepada kalian, saudara ketiga kita menghilang. Dan ketakutan
akan sangkakala yang keempat, karena sepertiga dari matahari akan terpukul, dan
sepertiga dari bulan dan sepertiga bintangbintang, maka bumi akan hampir gelap
seluruhnya ...." Waktu kami keluar dari samping gereja, William ingin tahu apakah katakata orang
tua tersebut tidak mengandung suatu unsur kebenaran.
"Tetapi," aku menunjukkan kepadanya, "ini sama dengan menduga bahwa satu pikiran
jahat, dengan berpedoman Kitab Wahyu, telah mengatur lenyapnya ketiga orang itu.
Juga menduga bahwa Berengar sudah mati. Tetapi, sebaliknya, kita tahu bahwa
Adelmo mati karena menjatuhkan dirinya sendiri
"Betul," kata William, "tetapi pikiran sakit atau jahat yang sama itu bisa saja
terilhami oleh kematian Adelmo untuk mengatur dua lainnya dalam suatu cara
simbolis. Dan jika demikian, Berengar tentu akan ditemukan dalam sebuah sungai
atau mata air. Dan tidak ada sungai atau mata air di biara ini, paling sedikit tidak ada yang
sedemikian rupa sampai seseorang bisa tenggelam atau ditenggelamkan di ...."
"Hanya ada pemandian," usulku, hampir secara tidak sengaja.
"Adso!" kata William. "Kau tahu, mungkin itu suatu ide" Pemandian!"
"Tetapi mereka pasti sudah memeriksanya
"Aku melihat para pelayan saat melakukan pencarian pagi tadi; mereka membuka
pintu pemandian, dan melongok ke dalam sebentar, tanpa menyelidiki. Mereka tidak
berharap akan menemukan sesuatu yang dengan cermat disembunyikan, seperti mayat
Venansius di dalam belanga itu .... Mari kita pergi dan memeriksanya. Bagaimanapun
juga, sekarang masih gelap, dan lampu kita agaknya bakal menyala terus."
Jadi, kami ke sana, dan tanpa kesulitan membuka pintu pemandian, di sebelah
rumah sakit. Ada beberapa bak mandi, aku tidak ingat berapa, satu sama lain disekat oleh
korden tebal. Para rahib menggunakan bak mandi itu untuk melakukan pembersihan
diri, pada masa Regula ditetapkan, dan Severinus menggunakannya untuk alasan
terapi, karena tidak ada yang bisa lebih bagus untuk mengembalikan kesegaran
tubuh dan pikiran daripada berendam dalam air. Di satu sudut ada perapian untuk
memanaskan air dengan mudah. Perapian itu kotor dengan abu yang masih baru, dan
di depannya tergeletak sebuah panci besar, tengkurap. Air dapat diambil dari
sebuah bak di sudut lain.
Kami memeriksa bak pertama, kosong. Hanya yang terakhir, kordennya ditutup,
airnya penuh, dan di sampingnya ada setumpuk pakaian. Pada pandangan pertama,
lewat sinar lampu kami, permukaan air itu seakan rata; tetapi ketika sinar itu menimpa permukaan air
itu, sekilas kami melihat di dasar bak, tidak bergerak, sesosok tubuh manusia
telanjang. Kami menariknya keluar pelanpelan: Berengar. Dan yang ini, kata
William, benarbenar punya wajah seseorang yang tenggelam. Raut mukanya
membengkak. Tubuhnya, putih dan gembur, tanpa rambut, tampak seperti seorang
perempuan kecuali tampak jelas dadanya rata.
Aku tersipu, lalu gemetar. Aku membuat tanda salib ketika William memberkati
mayat tersebut. [] Lauda Dalam cerita ini William dan Severinus memeriksa mayat Berengar dan menemukan
bahwa lidahnya hitam, tidak wajar dalam seseorang yang mati tenggelam. Lalu
mereka mendiskusikan racunracun yang paling menyakitkan dan seorang pencuri di
masa lalu. ku tidak akan menceritakan bagaimana caranya kami memberitahu Abbas, bagaimana
seluruh biara bangun sebelum jam kanonik itu, jeritan ngeri, ketakutan dan
kesedihan yang dapat dilihat pada setiap wajah, dan bagaimana kabar itu menyebar
kepada semua orang dalam bangunan itu, para pelayan semua membuat tanda salib
dan mengucapkan mantra terhadap mata jahat. Aku tidak tahu apakah ibadat pertama
pagi itu akan berjalan menurut aturan, atau siapa yang ikut ambil bagian dalam
ibadat itu. Aku mengikuti William dan Severinus, yang telah membungkus tubuh
Berengar dan menyuruh agar dibaringkan di atas meja di klinik.
Setelah Abbas dan rahibrahib lain pergi, guruku dan herbalis itu cukup lama
mempelajari mayat tersebut, dengan sikap dingin para dokter.
"Ia meninggal karena tenggelam," kata Severinus, "itu jelas.
Wajahnya membengkak, perutnya kejang
"Tetapi ia tidak ditenggelamkan oleh orang lain," komentar William, "karena
dalam hal itu ia tentu akan melawan tindakan kekerasan si pembunuh, sedangkan
segala sesuatunya rapi dan bersih, seakan Berengar telah memanaskan air, mengisi
bak, dan berbaring di dalam bak atas kemauannya sendiri."
"Ini tidak membuatku heran," kata Severinus. "Berengar menderita penyakit sawan,
dan aku sendiri sudah sering mengatakan kepadanya bahwa mandi air hangat akan
menenangkan ketegangan tubuh dan jiwa. Ia sudah beberapa kali minta izin untuk
menyalakan api untuk memanaskan air mandi. Jadi, ia mungkin telah melakukannya
tadi malam ...." "Malam sebelumnya," kata William, "karena mayat ini seperti kau lihat sudah
berada di dalam air paling sedikit sehari ...."
William menceritakan kepada Severinus tentang kejadian kejadian malam itu. Ia
tidak memberi tahu bahwa kami sudah menyelinap ke dalam skriptorium, tetapi,
sambil menutupnutupi berbagai keadaan, ia menceritakan bahwa kami sudah mengejar
suatu sosok misterius yang telah merebut buku kami. Severinus menyadari bahwa
William hanya menceritakan sebagian dari kebenaran itu, tetapi tidak bertanya
lebih jauh. Ia mengamati bahwa agitasi Berengar, andaikan dialah pencuri
misterius itu, tentu membuatnya mencari ketenangan dalam mandi yang menyegarkan.
Berengar, katanya, orangnya sensitif, dan suatu kejengkelan atau suatu emosi
kadang menyebabkan ia gemetaran
dan berkeringat dingin dan matanya melotot, dan ia bisa jatuh ke tanah, sambil
mulutnya mengeluarkan ludah berbusa.
"Bagaimanapun juga," kata William, "sebelum datang ke sini ia pergi ke suatu
tempat lain, karena aku tidak melihat buku yang dicurinya dalam pemandian. Jadi,
ia sudah pergi ke suatu tempat lain, dan mungkin untuk menghindari kejaran kami,
ia menyelinap ke dalam pemandian dan membenamkan dirinya sendiri dalam air.
Severinus, apa kau percaya bahwa penyakitnya bisa membuatnya pingsan dan
tenggelam?" "Itu mungkin saja," kata Severinus bingung. Selama beberapa saat ia memeriksa
tangan mayat itu. "Di sini ada yang mencurigakan katanya.
"Apa?" "Kemarin lusa aku mengamati tangan-tangan Venantius, setelah darah dibersihkan,
dan memerhatikan suatu hal kecil yang kuanggap tidak penting. Ujung dua jari
tangan kanan Venantius berwarna gelap, seakan kena semacam bahan hitam. Persis
lihatlah" seperti kedua ujung jari Berengar sekarang. Nyatanya, juga ada bekas
hitam pada jari ketiga. Waktu itu kupikir Venantius telah mengisi tinta-tinta di
skriptorium "Menarik," kata William serius, sambil memandang jarijari Berengar lebih dekat.
Subuh mulai merekah, cahaya di dalam ruangan masih samarsamar, dan guruku jelas
menderita karena lensanya tidak ada. "Menarik," ulangnya. "Tetapi juga ada bekas
yang lebih tipis pada tangan kiri, paling
sedikit pada ibu jari dan telunjuknya."
"Jika hanya tangan kanan, mungkin itu jarijari seseorang yang menjepit sesuatu
yang kecil, atau panjang dan kurus ...."
"Seperti stilus. Atau makanan. Atau serangga. Atau ular. Atau monstran. Atau
tongkat. Terlalu banyak benda. Tetapi jika juga ada tanda pada tangan kiri, bisa
juga sebuah piala: tangan kanan memegangnya dengan kuat dan yang kiri membantu,
mengurangi beban Sekarang Severinus mengusap jarijari orang
mati itu dengan lembut, tetapi warna gelap itu tidak
hilang. Kuperhatikan bahwa ia sudah mengenakan
sepasang sarung tangan, yang mungkin ia gunakan
kalau menangani bahan racun. Ia menyedot
hidungnya, tapi tidak menerima sensasi apa-apa.
"Aku bisa menyebutkan banyak bahan sayuran (dan
juga mineral) yang meninggalkan bekas semacam
ini. Ada yang mematikan, ada yang tidak. Debu
emas kadang masih tertinggal pada jari para pelukis ii
"Adelmo seorang pelukis," kata William. "Kubayangkan bahwa, meskipun tubuhnya
hancur, kau tidak berpikir untuk memeriksa jarijarinya. Tetapi yang lainlain ini
telah menyentuh sesuatu yang menjadi milik Adelmo."
"Aku sungguh tidak tahu," kata Severinus. "Dua orang meninggal, keduanya dengan
jarijari menghitam. Apa yang bisa kausimpulkan dari itu?"
"Aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa yang khusus, nihil sequitur geminis ex
particularibus unquami. Kedua kasus itu mungkin serupa tapi tak sama. Misalnya saja: ada bahan
yang bisa membuat jari orang yang menyentuhnya menjadi hitam
Dengan penuh kemenangan, aku melengkapi silogisme itu, "... Jarijari Venantius dan
Berengar menghitam, maka mereka telah menyentuh bahan ini!"
"Bagus, Adso," kata William, "sayangnya silogismemu tidak sahih, karena aut
semel aut iterum medium generaliter estoz, dan dalam silogisme ini ketentuan
yang di tengah tidak pernah tampak sebagai umum. Tandanya kita belum memilih
alasan pokoknya dengan baik. Seharusnya aku tidak mengatakan bahwa semua orang
yang menyentuh suatu bahan tertentu jarinya akan menjadi hitam, karena juga ada
orang yang jarinya menghitam padahal tidak menyentuh bahan tersebut. Seharusnya
kukatakan bahwa mereka dan hanya mereka yang jarinya menghitam sudah pasti
menyentuh suatu bahan tertentu. Venantius dan Berengar, dan lainlain. Dengan itu
kita harusnya punya satu Dahi, suatu cara ketiga yang hebat dari bilangan
silogistik pertama."
"Kalau begitu, kita sudah dapat jawabannya," kataku gembira.
"Astaga, Adso, kau terlalu percaya pada silogisme! Yang kita punya, sekali lagi,
hanyalah pertanyaan itu. Jadi, dugaan kita bahwa Venantius
1 Tak apa pun yang pernah bersamaan dari orangorang kembar te rte ntu penerj.?2 Atau satu kali atau dua kali, yang tengah seharusnya berlaku secara umum
?penerj. dan Berengar menyentuh benda yang sama, adalah hipotesis yang masuk akal dan
tidak bisa dipertanyakan. Tetapi kalau kita membayangkan suatu bahan yang, satu
saja di antara semua bahan, menimbulkan akibat ini (yang masih harus
ditetapkan), kita masih belum tahu apa itu, dapat diketemukan di mana, atau
mengapa mereka menyentuhnya. Dan jangan lupa, kita justru tidak tahu apakah
bahan yang mereka sentuh itu yang menyebabkan kematian mereka. Bayangkan saja
kalau ada seorang gila yang ingin membunuh semua orang yang menyentuh debu emas.
Apa kita bisa mengatakan bahwa debu emas itu yang membunuh?"
Aku kecewa. Aku selalu percaya bahwa logika adalah senjata universal, dan
sekarang aku menyadari bahwa kesahihannya amat tergantung pada bagaimana cara
itu digunakan. Lebih jauh lagi, sejak aku menemani guruku, aku jadi sadar, dan
justru makin sadar pada harihari selanjutnya, bahwa logika bisa luar biasa
bermanfaat kalau kau memasukinya tetapi lalu meninggalkannya.
Sementara itu, Severinus, yang jelas bukan penganut paham logika, merenungkan
berdasarkan pengalamannya sendiri. "Alam semesta racun itu beraneka ragam,
sebagaimana halnya misteri alam itu sendiri beraneka ragam," katanya. Ia
menuding ke arah sederet pot dan botol, yang sudah kami kagumi, dengan rapi
berderet di atas rak yang menempel pada dindingdinding, bersama banyak buku.
"Seperti sudah kukatakan kepada kalian, banyak dari tanaman obat itu, kalau
dicampur dan diramu dengan dosis tepat, dapat dijadikan minuman dan salep yang
mematikan. Di atas sana, datura stramonium, beladonna, cemara beracun; ketiganya
dapat membuat orang mengantuk, berstimulasi, atau dua-duanya, kalau dimakan
dengan kecermatan yang betul bisa menjadi obat yang luar biasa, tetapi dosis
berlebihan akan membawa kematian."
"Tetapi ketiganya tidak ada yang meninggalkan bekas pada jari?"
"Kukira tidak satu pun. Lalu ada bahan lainnya yang hanya akan berbahaya jika
ditelan, dan ada yang justru memberi efek pada kulit. Dan orang yang menyentuh
hellebore untuk mencabutnya bisa muntah-muntah. Tukang kebun yang menyentuh
Dittany dan Fraxinella, manakala sedang berbunga, bisa keracunan, seakan ia
mabuk anggur. Hellebore hitam, sekadar disentuh saja, merangsang diare. Tanaman
lainnya menyebabkan jantung berdebar-debar, ada yang menyebabkan kepala
berdenyut, dan masih ada lainnya yang menghilangkan suara. Tetapi racun ular
berbisa, yang kena kulit dan tidak sampai masuk ke dalam darah, hanya
menimbulkan sedikit gatal-gatal .... Dan aku pernah diajak melihat suatu
persenyawaan yang, kalau dioleskan pada paha bagian-dalam seekor anjing, dekat
alat kelaminnya, menyebabkan binatang itu segera mati sambil kejangkejang
mengerikan, sementara kakinya perlahan-lahan jadi lemas ...."
"Kau tahu banyak tentang racun," kata William
dengan suara yang kedengarannya seperti memuji.
Severinus menatap tajam mata William sejenak. "Aku tahu apa yang harus diketahui
seorang dokter, seorang herbalis, seorang yang mempelajari ilmu kesehatan
manusia." Untuk beberapa waktu William tetap merenung. Kemudian ia minta Severinus membuka
mulut mayat itu dan memeriksa lidahnya. Severinus, yang bangkit rasa ingin
tahunya, mengambil sebuah spatula tipis, salah satu peralatan seni medisnya, dan
melakukannya. Ia berseru keheranan, "Lidahnya hitam!"
"Jadi, kalau begitu," gumam William, "ia mengambil sesuatu dengan jarijarinya
dan menelannya .... Ini menghapus racunracun yang tadi kausebutkan, yang membunuh
kalau meresap ke dalam kulit.
Tetapi ini tidak membuat kesimpulan kita jadi lebih mudah. Karena sekarang, bagi
dia dan Venantius, kita harus menduga adanya suatu tindakan sukarela. Mereka
mengambil sesuatu dan menaruhnya ke dalam mulut mereka, sementara sadar akan apa
yang tengah mereka kerjakan ...."
"Sesuatu untuk dimakan" Untuk diminum?"
"Mungkin. Atau bisa jadi kenapa tidak" suatu instrumen musik, seperti sebuah
seruling ...." "Absurd," kata Severinus.


The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tentu saja absurd. Tetapi kita tidak boleh menghilangkan hipotesis apa pun,
tidak peduli betapa sukar diterima. Sekarang mari kita kembali kepada bahan
racun. Jika seseorang yang tahu
racun seperti dirimu telah membobol tempat ini dan menggunakan beberapa bahan
tanamanmu, mungkinkah ia membuat salep mematikan yang mampu menimbulkan bekas
pada jari dan lidah" Bisa dicampur dalam makanan atau minuman, dioleskan pada
sendok, pada sesuatu yang akan dimasukkan mulut?"
"Ya," Severinus mengakui, "tetapi siapa" Dan di samping itu, bahkan jika kita
menerima hipotesis ini, bagaimana caranya ia memasukkan racun itu kepada kedua
saudara kita yang malang ini?"
Terus terang, aku sendiri tidak bisa membayangkan Venantius atau Berengar
membiarkan dirinya didekati seseorang yang menyerahkan suatu bahan misterius dan
dibujuk untuk memakan atau meminumnya.
Tetapi William tidak tampak kecewa dengan keanehan ini.
"Akan kita pikirkan nanti," katanya, "karena sekarang aku ingin kau berusaha
mengingat suatu peristiwa yang mungkin belum kauingat sebelumnya. Seseorang
menanyakan tentang tanaman obat, misalnya; seseorang yang bisa masuk ke klinik
dengan mudah ...." "Sebentar," kata Severinus. "Dahulu sekali, bertahun tahun yang lalu, di atas
salah satu rak itu aku menyimpan suatu bahan yang amat sangat kuat, kudapat dari
seorang bruder yang telah melakukan perjalanan ke tanah-tanah yang jauh. Ia
tidak bisa menjelaskan itu dibuat dari apa, tentu saja obat, tetapi tidak semua
dikenal baik. Kalau dilihat, bentuknya kental dan kekuningkuningan; tetapi aku dinasihati untuk
tidak menyentuhnya, karena sekadar kena bibir, ini akan segera membunuhku.
Bruder itu mengatakan kepadaku bahwa, bahkan jika ditelan dalam dosis minimal,
dalam waktu setengah jam, ini akan menimbulkan suatu perasaan amat letih, lalu
seluruh anggota badan pelanpelan lumpuh, dan akhirnya mati. Ia tidak ingin
membawanya sendiri, jadi ia hadiahkan kepadaku. Lama aku menyimpannya karena
entah bagaimana suatu ketika aku ingin memeriksanya. Kemudian pada suatu hari
terjadi badai besar di sini. Salah seorang asistenku, seorang novis, lupa
menutup pintu, dan angin ribut memorakporandakan ruang tempat kita berada
sekarang ini. Botol-botol pecah, cairan berceceran di lantai, obat-obatan dan
bubuk bertebaran. Aku bekerja sepanjang hari untuk menata kembali barangbarangku, dan hanya mau
dibantu menyapu botol pecah dan tanaman obat yang sudah tidak bisa diselamatkan
lagi. Akhirnya, aku menyadari bahwa ampul yang kusebutkan tadi tidak ada.
Mulanya aku cemas, kemudian memutuskan bahwa itu sudah pecah dan bercampur
dengan sampah lainnya. Aku menyuruh lantai klinik diguyur dengan cermat dan rak-
rak "Dan kau masih melihat ampul itu beberapa jam sebelum badai?"
"Ya ... atau, lebih tepatnya, tidak, aku ingat sekarang. Ampul itu berada di
belakang sederet pot, tersembunyi dengan baik, dan aku tidak
memeriksanya setiap hari ...."
"Karena itu, sejauh kauketahui, mungkin ampul itu sudah dicuri beberapa saat
sebelum badai, tanpa kaupergoki?"
"Kalau sekarang kupikir-pikir, ya, itu jelas."
"Dan novismu mungkin telah mencurinya dan kemudian sengaja mengambil peluang
dari badai itu dengan membiarkan pintu terbuka dan membuat barang-barangmu
berantakan?" Severinus tampak amat bersemangat. "Ya, tentu saja. Bukan hanya itu, tetapi
kalau kuingat-ingat apa yang telah terjadi, aku agak heran bahwa angin ribut
tersebut, meskipun keras sekali, telah menghancurkan begitu banyak barang. Bisa
jadi ada seseorang yang memanfaatkan badai itu untuk memorakporandakan ruang ini
dan menimbulkan lebih banyak kerusakan dibandingkan yang mungkin disebabkan oleh
angin itu." "Siapa novis itu?"
"Namanya Agustinus. Tetapi ia meninggal tahun lalu, jatuh dari perancah ketika
bersama beberapa rahib dan pelayan, membersihkan ukiran pada ambang gereja.
Terus terang saja, kalau sekarang kuingat-ingat, ia bersumpah demi surga dan
neraka bahwa ia tidak lupa menutup pintu sebelum badai datang. Aku sendiri,
dalam kemarahanku, yang menuduhnya bertanggung jawab atas kecelakaan itu.
Mungkin sebenarnya ia tidak bersalah."
"Kalau begitu, kita punya orang ketiga, mungkin jauh lebih ahli dibandingkan
seorang novis, yang tahu tentang racun langkamu. Kau sudah cerita
kepada siapa saja?" "Itu aku tidak ingat benar. Abbas, tentu saja, untuk minta izin menyimpan bahan
berbahaya semacam itu. Dan beberapa orang lainnya di perpustakaan, karena aku
mencari suatu buku herbaria yang mungkin bisa memberi informasi."
"Tetapi kalau tidak salah, kau menyimpan bukubuku yang paling berguna untuk
senimu itu di sini?"
"Ya, dan banyak," katanya sambil menunjuk ke suatu sudut ruangan. Di situ ada
rak yang menyimpan lusinan buku. "Tetapi waktu itu aku mencari bukubuku tertentu
yang tidak bisa kusimpan di sini. Dan Maleakhi benarbenar enggan membiarkan aku
melihatnya. Nyatanya, aku harus minta izin Abbas dulu." Suaranya makin lirih,
dan ia hampir malu karena membiarkan aku mendengarkan katakatanya.
"Kalian tahu, di bagian rahasia dalam perpustakaan itu, mereka menyimpan buku
tentang nujum, sihir hitam, dan resep-resep untuk guna-guna yang jahat. Aku
diizinkan membaca beberapa, karena butuh, dan waktu itu aku berharap menemukan
suatu deskripsi tentang racun tersebut dan fungsinya. Sia-sia."
"Jadi, kau membicarakannya dengan Maleakhi?"
"Tentu saja, pasti dengan dia, dan mungkin juga dengan Berengar, yang adalah
asisten Maleakhi. Tetapi kau tidak boleh langsung mengambil kesimpulan: aku
tidak ingat jelas, mungkin ada beberapa rahib yang ikut mendengarkan ceritaku.
Kau tahu, skriptorium itu kadangkadang amat penuh
"Aku tidak mencurigai seseorang. Aku sekadar berusaha memahami apa yang bisa
terjadi. Bagaimanapun juga, kau katakan bahwa ini terjadi beberapa waktu yang
lalu, dan cukup aneh bahwa siapa pun akan mencuri suatu racun dan baru
menggunakannya lama sesudah itu. Itu memberi kesan adanya pikiran jahat yang
merenung lama sekali dalam kegelapan tentang suatu rencana pembunuhan."
Severinus membuat tanda salib, wajahnya menunjukkan ekspresi ngeri. "Tuhan
mengampuni kita semua!" katanya.
Tidak ada lagi komentar lebih jauh. Kami menutupi lagi mayat Berengar yang harus
disiapkan untuk pemakaman. []
Prima Dalam cerita ini mulamula William mendorong Salvatore, dan kemudian Kepala
Gudang, untuk mengakui masa lalu mereka, Severinus menemukan lensa yang dicuri,
Nicholas membawakan lensa baru, dan William, sekarang dengan enam mata, mulai
mengotak-atik naskah Venantius.
ami mau keluar ketika Maleakhi masuk. Ia tampak jengkel menemukan kami di sana
dan mau pergi lagi. Dari dalam Severinus melihatnya dan berkata, "Kau mencari
aku" Kau mau" Kalimatnya terputus sambil melirik kami. Maleakhi memberi
pertanda, tidak jelas, seakan mau mengatakan, "Nanti saja ...." Kami sedang keluar
ketika ia mau masuk, dan kami bertiga berada di ambang pintu.
Maleakhi berkata, agak menggagap, "Aku mau mencari bruder herbalis ... aku ... aku
sakit kepala." "Pasti karena udara pengap perpustakaan," kata William kepadanya dengan nada
agak simpati. "Kau tentu menghirup sesuatu."
Bibir Maleakhi bergerakgerak seakan ingin bicara lagi, tetapi tidak jadi,
menganggukkan kepala, dan masuk ke dalam, dan kami terus keluar. "Mau apa ia
mencari Severinus?" tanyaku. "Adso," kata guruku dengan tidak sabar, "belajarlah
menggunakan kepalamu dan berpikir."
Lalu ia mengganti topik pembicaraan.
"Sekarang kita harus menanyai beberapa orang. Setidak tidaknya,"
ia menambahkan, sementara matanya berkeliling memandang daerah itu, "sementara
kita masih hidup. Oh, ya, mulai sekarang dan seterusnya kita harus berhatihati
tentang apa yang kita makan dan minum. Selalu ambil makananmu dari pinggan umum,
dan tuang minumanmu dari kendi yang mengisi cangkir mereka. Setelah Berengar,
kitalah yang tahu paling banyak. Kecuali, tentu saja, si pembunuh."
"Tetapi siapa yang ingin Anda tanyai sekarang?"
"Adso," kata William, "kau bisa mengamati bahwa hal-hal paling menarik di sini
terjadi pada malam hari. Mereka mati pada malam hari, mereka keluyuran di
sekitar skriptorium pada malam hari, perempuan dibawa masuk biara pada malam
hari .... Kita punya satu biara siang dan satu biara malam. Dan yang malam tampak,
sayangnya, lebih menarik. Jadi, setiap orang yang keluyuran pada malam hari
menarik bagi kita, termasuk, misalnya, lelaki yang kaulihat tadi malam bersama
gadis itu. Mungkin urusan gadis itu tidak ada hubungannya dengan peracunan, dan
mungkin ada. Bagaimanapun juga, aku punya gagasan tentang lelaki tadi malam, dan ia pasti
orang yang tahu hal-hal lain tentang kehidupan malam dari tempat suci ini. Dan
demi Iblis, itu dia, sedang menuju kemari."
Ia menuding ke arah Salvatore, yang juga sudah melihat kami.
Kuperhatikan langkahnya agak ragu-ragu, seakanakan, ingin menghindari kami. Dan
ia mau membalikkan tubuh. Tetapi itu hanya sejenak. Nyata sekali ia menyadari
bahwa tidak bisa menghindari pertemuan ini, dan ia terus berjalan menuju kami.
Ia menyapa kami dengan senyum lebar dan pura-pura amat ramah. "Benedicte."
Guruku hampir tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya dan bicara sambil
menggertak. "Kau tahu Inkuisitor akan tiba di sini besok pagi?" tanyanya.
Salvatore tampak tidak senang akan berita ini. Dengan suara lirih, ia bertanya,
"Dan aku?" "Dan akan bijaksana kalau kau menceritakan yang sebenarnya kepadaku, tentang
temanmu dan masa lalumu sebagai seorang Imam Minor, daripada menceritakannya
besok kepada mereka yang belum kaukenal baik."
Karena diserang begitu cepat, Salvatore tampak membuang semua keengganan. Dengan
raut muka lembek ia memandang William, seakan mau menunjukkan bahwa ia siap
menceritakan apa saja yang ditanyakan.
"Tadi malam ada seorang perempuan di dapur. Siapa yang bersamanya?"
"Oh, seorang perempuan yang menjual dirinya sendiri seperti mercandia tidak
mungkin seorang bona atau punya cortesia," Salvatore berkisah.:
3 "Oh, seorang perempuan yang menjual dirinya sendiri seperti pedagang barang
tidak mungkin seorang yang baik atau punya otak," Salvatore berkisah penerj.?"Aku tidak ingin tahu apa gadis itu murni. Aku mau tahu siapa yang bersama gadis
itu!" "Deu, perempuan-perempuan jahat itu semua pintar! Mereka memikirkan cara di e
noche untuk menjebak seorang lelaki
William merenggut dada Salvatore dengan kasar. "Siapa yang bersamanya, kau atau
Kepala Gudang?" Salvatore menyadari bahwa ia tidak bisa berbohong terusmenerus.
Ia mulai menceritakan suatu kisah aneh. Dengan upaya keras, dari cerita itu kami
bisa tahu bahwa, untuk menyenangkan hati Kepala Gudang, ia mencarikan gadis-
gadis di desa. Ia memasukkan mereka ke dalam dinding pada malam hari lewat jalan
yang tidak akan diceritakannya kepada kami. Namun, ia bersumpah telah melakukan
itu dengan tulus hati, sementara mengingkari kekecewaan lucu bahwa ia tidak bisa
mencari suatu cara untuk menikmati kepuasannya sendiri dan melihat bahwa gadis
itu, karena sudah memuaskan hati Kepala Gudang, juga akan diberi sesuatu. Ia
mengatakan semua ini sambil senyum-senyum dan mata berkedip-kedip, seakan mau
memberi kesan bahwa ia tengah bicara kepada manusia yang terbuat dari daging,
sudah biasa dengan praktik semacam itu. Ia mencuricuri melirikku, dan aku
sendiri juga tidak bisa menatapnya, karena aku merasa diriku sendiri terikat
kepadanya oleh suatu rahasia umum,
4 "Astaga, perempuan-perempuan jahat itu semua pintar! Mereka memikirkan cara
menipu untuk menjebak seorang lelaki pzrmtj.
menjadi temannya dalam berbuat dosa.
Saat itu William mengambil keputusan untuk mempertaruhkan segalanya.
Mendadak ia bertanya kepada Salvatore, "Kapan kau kenal Remigio, sebelum atau
sesudah kau bersama Dolcino?"
Salvatore jatuh berlutut, sambil memohon kepadanya, sambil terisak-isak, agar
jangan menghancurkannya, agar menyelamatkannya dari Inkuisisi itu. Dengan tenang
William bersumpah untuk tidak menceritakan apa yang akan ia ketahui kepada siapa
saja, dan Salvatore tidak ragu lagi menyampaikan kisah Kepala Gudang itu ke
dalam tangan kami. Kedua orang itu telah bertemu di Gunung Bald, keduanya ikut
kelompok Dolcino; Salvatore dan Kepala Gudang itu sama-sama melarikan diri dan
telah memasuki Biara Casale, dan, masih bersama-sama, bergabung dengan ordo
Cluny. Sementara ia dengan terbatabata mohon diampuni, jelaslah bahwa tidak ada
lagi yang bisa diketahui dari dia. William memutuskan untuk menemui Remigio
secara mendadak, dan ia meninggalkan Salvatore, yang lari mencari perlindungan
di dalam gereja. Kepala Gudang itu sedang berada di sisi yang berlawanan di biara itu, di depan
lumbung-lumbung, sedang melakukan tawarmenawar dengan beberapa petani dari
lembah. Ia memandang kami dengan paham dan berusaha menunjukkan amat sibuk,
tetapi William bersikeras untuk bicara dengannya.
"Untuk alasanalasan yang berkait dengan
posisimu, kubayangkan bahwa jelas kau terpaksa berkeliling biara, bahkan kalau
yang lainnya sudah tidur," kata William.
"Tergantung," jawab Remigio. "Kadangkadang urusanku banyak sekali, dan aku harus
mengorbankan beberapa jam tidurku."
"Apa tidak ada yang kebetulan terjadi, dalam hal-hal ini, yang mungkin
menunjukkan bahwa ada orang lain berkeluyuran, tanpa bisa kaubenarkan, di antara
dapur dan perpustakaan?"
"Andai telah melihat sesuatu, tentu aku lapor kepada Abbas."
"Tentu saja," William mengiyakan, dan langsung mengganti topik pembicaraan.
"Desa di bawah sana tidak begitu kaya, ya?"
"Ya dan tidak," jawab Remigio. "Beberapa orang gajian tinggal di sana, tidak
tergantung pada biara, dan mereka sudah lama ikut menikmati kekayaan kami.
Misalnya saja, pada hari Santo Yohanes mereka menerima dua belas gantang gandum,
seekor kuda, tujuh sapi, seekor kerbau, empat anak kuda, lima anak sapi, dua
puluh ekor biribiri, lima belas babi, lima puluh ayam, dan tujuh belas sarang
lebah. Juga dua puluh babi asap, dua puluh tujuh kaleng minyak babi, setengah
takar madu, tiga takar sabun, sebuah jala ikan ...."
"Aku paham, aku paham," sela William. "Tetapi kau harus mengakui bahwa kau belum
menceritakan apa-apa tentang situasi desa tersebut, berapa banyak di antara
penduduk yang jadi orang gajian, dan berapa banyak tanah yang bukan milik biara
yang mereka garap sendiri ...."
"Sejauh kuketahui," kata Remigio, "suatu keluarga normal di sana memiliki sampai
lima puluh petak tanah."
"Satu petak itu berapa?"
"Satu trabuci persegi, tentu saja."
"Trabuci persegi" Berapa banyak itu?"
"Tiga puluh enam kaki persegi adalah satu trabuci persegi.
Atau, kalau kau lebih suka, delapan ratus trabuci panjang sama dengan satu mil
Piedmont. Dan hitung saja bahwa satu keluarga di daerah utara itu bisa
menghasilkan paling sedikit setengah kantong minyak zaitun."
"Setengah kantong?"
"Ya, setengah kantong sama dengan lima emi-ne, dan satu emina berarti delapan
cangkir." "Aku paham," kata guruku, kecil hati. "Setiap daerah punya takaran
sendirisendiri. Apa kau menakar anggur, misalnya, dengan tong?"
"Atau dengan rubio. Enam rubi menjadi satu brenta, dan delapan brente sama
dengan satu keg. Boleh juga dikatakan, satu rubio adalah dua tong berisi enam
pint (0,568 liter)."
"Kukira aku sudah jelas sekarang," kata William, putus asa.
"Ada lagi yang ingin kauketahui?" tanya Remigio, dengan nada yang menurutku
menantang. "Ya, aku mau tanya tentang bagaimana mereka hidup di lembah itu, karena hari ini
di perpustakaan aku merenung tentang khotbah Humbert dari
Romans kepada para perempuan, dan khususnya pada bab 'Ad mulieres pauperes in
villulis's, yang di dalamnya ia mengatakan, lebih daripada perempuan lainnya,
mereka tergoda melakukan dosa daging karena kemiskinan mereka, dan dengan bijak
ia berkata bahwa mereka berdosa besar kalau melakukannya bersama seorang awam,
tetapi dosa itu akan lebih besar lagi jika dilakukan bersama seorang imam, dan
yang paling besar kalau dosa itu dilakukan bersama seorang rahib, yang sudah
mati bagi dunia. Kau tahu lebih baik daripada aku bahwa justru di tempat tempat suci seperti
biara, godaan Iblis di siang bolong tidak pernah diinginkan.
Aku hanya ingin tahu apakah selama bergaul dengan
penduduk desa kau sudah mendengar bahwa ada rahib, Tuhan melarang, yang telah
mendorong gadis-gadis ke dalam perbuatan zina."
Meskipun guruku mengatakan semua ini dengan nada yang paling datar, pembaca bisa
membayangkan betapa katakata itu membuat Kepala Gudang malang itu jengkel. Aku
tidak bisa mengatakan ia pasi, tetapi akan kukatakan bahwa karena aku begitu


The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengharapkan dia jadi pucat sehingga menurutku ia kelihatan lebih putih.
"Kau menanyakan kepadaku tentang hal-hal yang seharusnya sudah kulaporkan kepada
Abbas jika aku mengetahuinya," jawabnya merendah.
"Bagaimanapun juga, jika, seperti kubayangkan,
5 Gadis miskin di desa-desa penerj?informasi ini perlu untuk penyidikanmu, aku tidak akan tinggal diam tentang apa
saja yang mungkin kuketahui. Memang, sekarang aku jadi ingat, sehubungan dengan
pertanyaanmu yang pertama .... Malam ketika Adelmo malang mati, aku sedang
jalanjalan di kebun ... masalah ayam-ayam, kau tahu .... Aku sudah dengar rumor
tentang salah seorang pandai besi yang mencuri dari kandang ayam pada malam hari
.... Yah, malam itu aku memang kebetulan melihat dari kejauhan, aku tidak berani
bersumpah Berengar sedang pulang ke asrama, berjalan sepanjang bagian koor,
seakan baru datang dari Aedificium .... Aku tidak heran; sudah agak lama para
rahib berbisik-bisik tentang Berengar. Mungkin kau sudah mendengar ...." "Belum.
Ceritakanlah." "Baiklah ... bagaimana, ya" Berengar dicurigai melepaskan hasrat yang ... tidak
pantas buat seorang rahib
"Apa mungkin kau mau berusaha menceritakan kepadaku bahwa ia punya hubungan
dengan gadis-gadis desa, seperti yang kutanyakan?"
Kepala Gudang itu terbatuk-batuk, malu, dan melontarkan senyum yang sedikit
banyak tampak cabul. "Oh, tidak ... hasrat yang justru kurang pantas
ii "Jadi, di lain pihak, kalau seorang rahib yang menikmati kepuasan jasmani dengan
seorang gadis desa sama dengan mengumbar hasrat, yang bagaimanapun juga, bisa
disebut pantas?" "Aku tidak berkata begitu, tetapi kau akan setuju bahwa ada hierarki kebejatan
seperti halnya kebajikan .... Daging bisa digoda menurut alam dan ... melawan alam."
"Kau mau bilang kepadaku bahwa Berengar terangsang oleh hasrat jasmaniah
terhadap mereka yang sesama jenis kelamin?"
"Aku mau mengatakan bahwa seperti itulah bisikbisik yang terdengar ... ini semua
kukatakan kepadamu sebagai bukti ketulusan dan kemauan baikku ...."
"Dan aku berterima kasih untuk itu. Aku pun sepakat bahwa dosa karena melakukan
sodomi jauh lebih buruk daripada bentuk berahi lainnya, yang, terus terang saja,
tidak ingin kusidiki ...."
"Hal-hal malang yang menyedihkan, bahkan jika terbukti sudah terjadi," kata
Kepala Gudang itu dengan gaya berfilsafat.
"Ya, Remigio. Kita semua pendosa malang. Aku tidak akan pernah mencari debu
dalam mata seorang saudara, karena aku takut sekali kalau ada balok besar di
dalam mataku sendiri. Tetapi aku akan berterima kasih kepadamu untuk setiap
balok yang kausebutkan kepadaku kelak. Maka kita akan membicarakan tentang balok
kayu besar dan kuat dan kita akan membiarkan debu itu beterbangan di udara. Oh,
ya, satu trabuco persegi tadi berapa?"
"Tiga puluh enam kaki persegi. Tetapi kau jangan buang buang waktu. Kalau ingin
tahu sesuatu yang khusus, datanglah kepadaku.
Anggap saja aku teman setia."
"Aku akan menganggapmu seperti itu," kata William dengan hangat.
"Ubertino mengatakan kepadaku bahwa kau pernah masuk ordoku.
Aku tidak bakal mengkhianati seorang mantan saudara, terutama pada harihari ini
ketika kita sedang menunggu kedatangan delegasi takhta suci yang dipimpin oleh
seorang inkuisitor ulung, yang terkenal karena sudah membakar banyak Dolcinian.
Kau bilang satu trabuco persegi setara dengan tiga puluh enam kaki persegi?"
Kepala Gudang itu tidak bodoh. Ia memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi
bermain kucing dan tikus, terutama karena ia menyadari bahwa ia adalah tikusnya.
"Bruder William," katanya, "aku tahu bahwa kau tahu jauh lebih banyak daripada
yang kubayangkan. Bantulah aku, dan aku akan membantumu.
Memang, aku seorang manusia daging yang malang, dan aku mengalah kepada pikatan
daging. Salvatore memberi tahu bahwa kau atau novismu menangkap mereka tadi
malam di dapur. Kau telah melakukan perjalanan jauh, William; kau tahu bahwa
bahkan para kardinal di Avignon bukan contoh kebajikan. Aku tahu bahwa kau tidak
menanyaiku karena dosa-dosa kecil sialan ini. Tetapi aku juga menyadari bahwa
kau telah mengetahui sesuatu tentang masa laluku. Aku telah menjalani hidup yang
aneh, seperti banyak dari kaum Minorit seperti kita. Bertahuntahun yang lalu aku
memercayai citacita kemiskinan, dan aku meninggalkan komu-nitasku untuk hidup
sebagai seorang pengelana. Aku memercayai khotbah Dolcino, seperti banyak orang
lainnya seperti diriku. Aku bukan orang terpelajar; aku sudah ditahbiskan,
tetapi aku hampir tidak pernah mempersembahkan misa. Aku tahu sedikit tentang
teologi. Dan mungkin aku tidak benarbenar tergerak oleh citacita tersebut. Kau
tahu, aku pernah memberontak melawan tuan tanah; sekarang aku melayani mereka,
dan demi kepentingan tuan tanah ini aku memberi perintah kepada orangorang
seperti diriku sendiri. Berkhianat atau memberontak: kami orang biasa punya sedikit pilihan."
"Kadangkadang orang biasa memahami hal-hal dengan lebih baik daripada orang
terpelajar," kata William.
"Mungkin," kata Kepala Gudang itu lagi sambil mengangkat bahu.
"Tetapi aku bahkan tidak tahu mengapa aku melakukan apa yang telah kulakukan.
Kau tahu, bagi Salvatore itu mudah dipahami.
Orangtuanya miskin, masa kanak-kanaknya penuh kerja keras dan penyakit ... Dolcino
mewakili pemberontakan, penghancuran tuan tanah. Bagiku lain: aku berasal dari
suatu keluarga di kota, aku tidak melarikan diri dari kelaparan. Hidupku dulu
adalah entah bagaimana mengungkapkannya dengan tepat suatu pesta orang tolol,
suatu karnaval besar-besaran .... Di atas gunung bersama Dolcino, sebelum kami
terpaksa makan daging teman kami yang terbunuh dalam perang, sebelum
begitu banyak yang meninggal karena kehidupan yang berat sehingga kami tidak
bisa menghabiskan semua mayat itu, dan melemparkannya untuk dimangsa burung dan
binatang buas di Lereng Rebello ... atau mungkin selama masa itu, pula ... ada suatu
suasana ... dapatkah aku itu kusebut suasana bebas"
Sebelumnya aku tidak tahu apa kebebasan itu; pengkhotbah itu mengatakan kepada
kami, 'Kebenaran akan membebaskan kalian.' Kami merasa bebas, kami mengira itu
kebenaran. Kami mengira segala sesuatu yang sedang kami lakukan itu benar ii
"Dan di sana kau mencari ... untuk menyatukan dirimu secara bebas dengan para
perempuan?" tanyaku, dan aku justru tidak tahu kenapa, tetapi sejak malam
kemarin, katakata Ubertino telah menghantuiku, bersama dengan apa yang telah
kubaca dalam skriptorium dan kejadiankejadian yang telah menimpa diriku. William
memandangku, ingin tahu; mungkin ia tidak mengharapkan aku bersikap begitu
berani dan blak-blakan. Kepala Gudang itu menatapku seakan aku seekor binatang
aneh. "Di Gunung Rebello," katanya, "ada orangorang yang sepanjang masa kanak-kanaknya
sudah tidur, sepuluh atau lebih, bersama dalam sebuah ruangan yang luasnya hanya
beberapa kubik saudara lelaki dan perempuan, ayah dan anak-anak perempuan.
Menurutmu, apa arti situasi baru ini bagi mereka" Mereka melakukannya dari
pilihan apa yang mulamula mereka lakukan demi kebutuhan. Dan kemudian, pada malam hari, ketika
kau takut akan kedatangan pasukan musuh dan kau memeluk teman sebelahmu erat-
erat, di atas tanah, agar jangan merasa kedinginan .... Orangorang bidah: kalian
para rahib memelas yang berasal dari sebuah kastil dan berakhir dalam sebuah
biara mengira bahwa ini suatu bentuk kepercayaan, diilhami oleh Iblis. Tetapi
ini cara hidup, dan ini adalah ... waktu itu ... suatu pengalaman baru .... Kami
diberi tahu bahwa tidak ada lagi atasan; dan Tuhan, bersama kami. Aku tidak
mengatakan bahwa kami benar, William, dan, nyatanya, kau menemukan aku di sini
karena lama kemudian aku meninggalkan mereka. Tetapi aku tidak pernah benarbenar
memahami pertikaian kaum terpelajar kita tentang kemiskinan Kristus dan
kepemilikan dan hak .... Kau perlu tahu, itu satu karnaval besar, dan pada saat
karnaval segala sesuatu dilakukan mundur. Kalau kau makin tua, kau tidak makin
bijak tetapi makin rakus. Dan di sinilah aku sekarang, seorang rakus ... kau dapat
mengutuk seorang bidah sampai mati, tetapi apa kau bisa mengutuk seorang yang
rakus?" "Cukup, Remigio," kata William. "Aku tidak menanyakan tentang apa yang terjadi
pada waktu itu, tetapi apa yang terjadi belum lama ini. Jujurlah kepadaku, dan
sudah tentu aku tidak akan mencelakakan kamu. Tetapi kau harus menceritakan apa
yang kauketahui tentang kejadiankejadian di biara ini. Kau bergerak terlalu
banyak, siang dan malam, masak tidak tahu sesuatu" Siapa yang
membunuh Venantius?"
"Aku tidak tahu, aku berani sumpah. Aku tahu kapan ia mati, dan di mana."
"Kapan" Di mana?"
"Ceritanya begini. Malam itu, satu jam setelah komplina, aku masuk ke dapur ...."
"Bagaimana kau bisa masuk, dan untuk apa?"
"Lewat pintu dari kebun sayuran. Aku punya kunci yang dibuatkan oleh tukang besi
bertahuntahun yang lalu. Pintu dapur adalah satusatunya yang tidak dipalang dari
dalam. Dan alasanku ... tidak penting; kau sudah katakan sendiri bahwa kau tidak
akan mengutuk kelemahan dagingku ia
tersenyum, malu. "Tetapi aku tidak ingin kau percaya bahwa aku juga tidak
menghabiskan waktuku dalam benteng .... Malam itu aku mencari makanan untuk
diberikan kepada gadis yang akan diajak Salvatore ke dapur ...."
"Dari mana?" "Oh, di samping pintu gerbang ada beberapa jalan masuk di dinding sebelah luar.
Abbas tahu itu; aku tahu itu .... Tetapi malam itu gadis tersebut tidak masuk;
kusuruh dia pulang, tepatnya karena apa yang kutemukan, apa yang akan
kuceritakan kepadamu. Inilah sebabnya aku berusaha menyuruhnya kembali tadi malam.
Andaikan kau datang beberapa saat sesudah itu, tentu kalian akan menemukan aku
dan bukan Salvatore; dia memperingatkan aku bahwa ada orangorang di Aedificium.
Maka aku kembali ke bilikku "Mari kita kembali ke malam di antara Minggu dan Senin."
"Ya, waktu itu, aku masuk dapur, dan di atas lantai aku melihat Venantius,
mati." "Di dalam dapur?"
"Ya, dekat tempat cuci piring. Mungkin dia baru saja turun dari skriptorium."
"Tidak ada tandatanda perlawanan?"
"Tidak ada. Meskipun ada sebuah cangkir pecah di samping mayat itu, dan bekas
air di atas tanah." "Bagaimana kau tahu bahwa itu air?" "Aku tidak tahu. Kukira itu air. Kalau
bukan, lalu apa?" Seperti ditunjukkan kelak oleh William, cangkir itu bisa punya dua arti yang
berbeda. Mungkin ada orang yang menyuruh Venantius menenggak minuman beracun itu
di dapur, atau bisa jadi pemuda malang itu sudah minum racun tersebut (tetapi di
mana" kapan") lalu turun untuk minum, untuk meredakan rasa terbakar yang
mendadak, kejang, rasa sakit yang menyerang perut atau lidahnya (sudah pasti
lidahnya menghitam seperti lidah Berengar).
Entah bagaimana kami tidak bisa tahu lebih banyak lagi saat itu. Setelah melihat
mayat tersebut, karena ketakutan, Remigio bertanya di dalam hati apa yang harus
ia lakukan dan memutuskan tidak berbuat apa-apa. Kalau cari bantuan, ia akan
harus mengakui bahwa ia biasa
jalanjalan di seputar Aedificium pada malam hari, dan akibatnya juga tidak baik
bagi saudaranya yang sudah mati itu. Karenanya ia memutuskan untuk meninggalkan
mayat itu seperti apa adanya, sambil menunggu orang lain menemukan mayat itu di
pagi harinya, kalau pintu-pintu dibuka. Ia bergegas mencari Salvatore, yang
sudah mau membawa gadis itu masuk biara, lalu ia dan teman komplotnya itu pergi
tidur, andaikan memejamkan mata sambil ketakutan sampai matina itu bisa dibilang
tidur. Dan pada matina, ketika para gembala babi membawa berita itu kepada
Abbas, Remigio yakin mayat itu sudah ditemukan di tempat ia meninggalkannya, dan
kaget sekali karena mayat itu ditemukan di dalam belanga. Siapa yang telah
bersemangat mengeluarkan mayat itu dari dapur" Untuk ini Remigio tidak bisa
menjelaskan. "Satusatunya yang bisa bergerak dengan bebas di seputar Aedificium adalah
Maleakhi," kata William.
Kepala Gudang itu menolak keras, "Tidak, bukan Maleakhi. Maksudku, aku tidak
percaya Bagaimanapun juga, aku tidak mengatakan apa-apa kepadamu yang
menjelekjelekkan Maleakhi ...."
"Tenang saja, apa pun utangmu kepada Maleakhi. Apa dia tahu sesuatu tentang
dirimu?" "Ya." Kepala Gudang itu tersipu. "Dan ia bersikap seperti orang yang bisa
menyimpan rahasia. Andai aku jadi kau, aku akan pasang mata pada Benno. Ia punya
hubungan aneh dengan Berengar dan Venantius .... Tetapi aku bersumpah
kepadamu, aku tidak melihat apa-apa. Jika aku tahu sesuatu, akan kuceritakan
kepadamu." "Untuk saat ini sudah cukup. Aku akan mencarimu lagi jika membutuhkan kau."
Kepala Gudang itu, jelas lega, kembali kepada tugasnya, dengan pedas mencerca
para petani, yang sementara itu nyata-nyata memindahkan beberapa kantong benih.
Saat itu Severinus mendatangi kami. Tangannya membawa lensa William lensa yang
hilang dua malam sebelumnya. "Kutemukan ini di dalam jubah Berengar," katanya.
"Lusa kemarin aku melihat benda ini berada di atas hidungmu di skriptorium. Ini
punyamu, kan?" "Terpujilah Tuhan," seru William gembira. "Kita telah menyelesaikan dua masalah!
Aku mendapat kembali lensaku dan akhirnya aku yakin benar bahwa Berengar-lah
yang merampok kami kemarin lusa di skriptorium!"
Kami belum selesai bercakapcakap ketika Nicholas dari Morimondo datang berlari-
lari, jauh lebih gembira daripada William.
Dalam tangannya ia membawa sepasang lensa yang sudah jadi, terpasang pada
gagangnya. "William," serunya. "Ini kubuat sendiri. Aku sudah menyelesaikannya!
Aku yakin bisa dipakai!"
Lalu ia melihat lensa yang lain itu sudah berada di atas hidung William, dan ia
terpana. William tidak mau mengecilkan hati Nicholas; ia melepas lensanya yang
lama dan mencoba yang baru. "Ini lebih baik daripada yang lama," katanya. "Jadi,
yang lama akan kusimpan sebagai cadangan, dan akan selalu
pakai punyamu." Lalu ia menoleh kepadaku. "Adso, sekarang aku akan kembali ke bilik untuk membaca
perkamen itu. Akhirnya! Tunggu aku di suatu tempat.
Dan terima kasih, terima kasih kepada kalian semua, Saudarasaudara terkasih."
Bel tanda tersiat berbunyi, dan aku pergi ke bagian koor, untuk bersama-sama
dengan yang lain nya membaca himne, mazmur, dan ayat-ayat Kitab Suci, dan
melantunkan "Kyrie, Tuhan kasihanilah kami". Yang lainlain mulai berdoa untuk
arwah Berengar. Aku bersyukur kepada Tuhan karena mengizinkan kami menemukan,
tidak hanya satu, tetapi dua pasang lensa.
Di dalam kedamaian luar biasa itu, sementara melupakan semua hal buruk yang
telah kusaksikan dan kudengar, aku tertidur, dan baru terbangun ketika ibadat
itu selesai. Aku ingat bahwa malam itu aku belum tidur dan merasa tertekan
karena juga membayangkan bahwa aku telah menghabiskan banyak tenaga. Dan pada
saat itu, sementara keluar untuk memasuki udara segar, aku mulai sadar bahwa
ternyata pikiranku terobsesi oleh kenangan akan gadis itu.
Sambil berusaha menyadarkan diriku sendiri, aku mulai berjalan dengan cepat di
atas tanah. Aku merasa agak pusing. Aku mengatupkan kedua tanganku yang kaku.
Aku menjejakkan kakiku kuatkuat di atas tanah. Aku masih merasa mengantuk, dan
toh aku merasa terjaga dan penuh gairah hidup. Aku tidak bisa memahami apa yang
Tersiat Di dalam cerita ini Adso gelisah dalam badai cinta, lalu William datang membawa
teks Venantius, yang tetap tak terpecahkan bahkan setelah diutak-atik.
erus terang, sesudah itu ada kejadian mengerikan lainnya yang membuatku hampir
melupakan pertemuanku yang penuh dosa dengan gadis itu. Dan begitu aku mengaku
dosa kepada William, jiwaku dibebaskan dari penyesalan yang kurasakan waktu
bangun setelah rasa bersalahku hilang, sehingga seakan aku sudah menyerahkannya
kepada imam itu, dengan katakataku, yang merupakan ungkapan berat dari beban itu
sendiri. Apa tujuan pengakuan dosa suci memurnikan itu kalau tidak untuk
mengangkat muatan dosa, dan penyesalan yang ada di dalamnya, ke dalam dada Allah
kita sendiri, dengan menerima suatu jiwa baru yang terangnya melegakan melalui
absolusi, bagaikan membuat kita melupakan tubuh yang disiksa oleh kekejian"
Tetapi aku tidak merasa bebas sama sekali.
Sekarang, saat berjalan di bawah sinar matahari pucat dan dinginnya pagi di
musim dingin itu, dikelilingi oleh orangorang dan binatang yang bekerja giat, aku mulai mengingat
pengalamanku dalam suatu cara yang berbeda. Seakanakan, dari segala sesuatu yang
telah terjadi, penyesalanku dan katakata menghibur dari pemurnian penitensi itu
sudah hilang, tinggal gambaran dari tubuhtubuh dan anggota tubuh manusia. Ke
dalam benakku yang gelisah tibatiba muncul hantu Berengar, bengkak penuh air,
dan aku gemetar karena kaget dan kasihan. Kemudian, seakan dalam upaya mengusir
lamur itu, pikiranku menoleh kepada gambar lainnya yang belum lama masuk ke
dalam memoriku dan aku tidak mungkin tidak menyaksikan, jelas di depan mataku
(mata jiwa, tetapi hampir seperti muncul di depan mata ragawiku), gambaran gadis
itu, cantik dan mengerikan bagaikan pasukan siap tempur.
Aku sudah bersumpah (salinan lama suatu teks yang sampai sekarang belum ditulis
meskipun sudah bicara dalam pikiranku selama puluhan tahun) untuk menjadi


The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang penulis cerita yang setia, bukan hanya karena cinta kepada kebenaran,
atau hasrat (meskipun berharga) untuk menceritakan kepada pembacaku di masa
depan, tetapi juga karena suatu kebutuhan untuk membebaskan memoriku,
mengosongkan dan memudarkan penampakan yang telah mengganggu memoriku sepanjang
hidupku. Oleh karena itu, aku harus menceritakan segalanya, dengan sopan tetapi
tanpa malu. Dan sekarang aku harus menyampaikan, dan dengan jelas, apa yang
kupikirkan waktu itu dan hampir berusaha
merahasiakan dari diriku sendiri, sambil berjalan di padang, kadang berlari
kecil sehingga gerak tubuhku sejalan dengan jantungku yang tibatiba berdegup
keras, atau berhenti sebentar untuk mengagumi pekerjaan para penggarap, sambil
membohongi diriku sendiri bahwa aku sedang tertarik oleh kegiatan semacam itu,
sambil menghirup dalam-dalam udara dingin ke paru-paruku, seperti seseorang yang
minum anggur untuk melupakan rasa sedih atau takut.
Sia-sia. Aku tetap memikirkan gadis itu. Dagingku sudah melupakan kenikmatan
luar biasa itu, yang cuma sebentar dan penuh dosa (suatu hal yang hina), yang
kuterima dari persatuan dengan gadis itu; tetapi jiwaku belum melupakan
wajahnya, dan tidak berhasil merasakan bahwa kenangan ini jahat: justru,
berdenyutdenyut seakan dalam wajah itu memancarkan semua rahmat penciptaan.
Dengan cara membingungkan, aku merasakan, dan dalam hati hampir kebenaran dari
apa yang kurasakan, bahwa makhluk lancang, jembel dan miskin yang menjual diri
(siapa tahu itu biasa dilakukannya dengan bandel) kepada para pendosa lainnya,
anak perempuan Hawa itu, lemah seperti semua saudarinya, yang sudah begitu
sering mendera dagingnya sendiri, toh sesuatu yang luar biasa dan mengagumkan.
Intelekku mengenalnya sebagai suatu peluang dosa, selera sensitifku menerimanya
sebagai bejana segala kemuliaan. Sukar sekali mengungkapkan apa yang kurasakan.
Aku bisa mencoba menulis bahwa, karena masih terperangkap dalam jerat dosa, aku
ingin sekali, dan ini patut dicela, gadis itu muncul kapan saja, dan aku
mengintip pekerjaan para buruh itu untuk melihat apakah, di sudut suatu gubuk
atau dari balik kegelapan gudang, makhluk yang telah menggodaku itu mungkin
muncul. Tetapi seharusnya aku tidak menulis yang sebenarnya, atau, lebih
tepatnya, seharusnya aku berusaha menyelubungi kebenaran itu untuk mengurangi
kekuatan dan kejelasannya. Karena terus terang bahwa aku memang "melihat" gadis
itu, aku melihatnya dalam ranting-ranting pohon gundul yang bergerakgerak pelan
ketika seekor burung pipit yang kedinginan terbang untuk mencari tempat
berlindung di sana; aku melihat gadis itu dalam mata sapi-sapi yang keluar dari
gudang, dan aku mendengarnya dalam embik biribiri yang berpapasan dengan jalanku
yang tanpa tujuan ini. Rasanya seakan semua ciptaan bercerita tentang gadis itu kepadaku, dan aku ingin
melihatnya lagi, sungguh, tetapi aku juga siap menerima gagasan untuk tidak
pernah bertemu lagi dengannya, dan tidak akan tidur lagi dengannya, asalkan aku
bisa menikmati kegembiraan yang memenuhi hatiku pagi itu, dan selalu merasakan
dia dekat bahkan jika ia, selamanya, berada jauh sekali.
Waktu itu, sekarang aku mulai mencoba memahami, seakan persis seperti seluruh
alam semesta benarbenar merupakan sebuah buku yang ditulis oleh jari Tuhan, yang
di dalamnya segala sesuatu bicara kepada kita tentang kebaikan luar biasa dari Penciptanya, yang di
dalamnya setiap ciptaan merupakan deskripsi dan cermin dari kehidupan dan
kematian, yang di dalamnya bunga mawar paling bersahaja menjadi terjemahan dari
jalan kita di bumi. Segala sesuatu, dengan lain kata, bicara kepadaku hanya
tentang wajah yang hampir tidak bisa kulihat dalam bayangbayang di dapur yang
aromatik itu. Aku terus membayangkan ini semua karena aku bilang kepada diriku
sendiri (atau lebih tepatnya, tidak bilang apa-apa: saat itu aku tidak
memformulasikan pikiran yang bisa diterjemahkan ke dalam katakata) bahwa jika
seluruh dunia ditakdirkan untuk berbicara kepadaku tentang kekuasaan, kebaikan
dan kebijaksanaan Sang Pencipta, dan jika pagi itu seluruh dunia bicara kepadaku
tentang gadis tersebut, yang (meskipun mungkin ia sudah lama jadi pendosa)
bagaimanapun juga suatu bab dalam buku besar penciptaan, suatu bait dari mazmur
yang dilantunkan oleh kosmos kukatakan kepada diriku sendiri (sekarang ini)
bahwa jika itu terjadi, ini hanya akan merupakan satu bagian dari rancangan
teofanik agung yang membuat alam semesta ini tetap ada, diatur seperti sebuah
kecapi, keajaiban konsonan dan harmoni. Seakan mabuk, waktu itu aku menikmati
kehadiran gadis itu dalam benda benda yang kulihat, dan, karena menginginkan
gadis itu dalam bendabenda tersebut, aku terpuaskan melihat itu semua.
Namun, aku tetap merasakan semacam kesedihan, karena pada waktu yang sama aku
merasakan kekosongan, meskipun aku senang melihat banyak hantu dari seorang
makhluk. Sulit sekali bagiku untuk menjelaskan misteri kontradiksi ini, suatu
pertanda bahwa jiwa manusia rentan dan tidak pernah berjalan langsung menyusuri
jalanjalan dari alasan suci, yang telah membangun dunia ini sebagai suatu
silogisme sempurna, tetapi sebagai gantinya hanya meraih dalil silogisme yang
amat jauh dan tidak ada hubungannya, yang dari itu diperoleh ketenangan yang
membuat kita mudah ditipu oleh Yang Jahat. Apakah aku sedang tertipu oleh Yang
Jahat, pagi itu, sehingga aku begitu terharu" Sekarang kupikir, itu karena waktu
itu aku masih seorang novis. Bagaimanapun juga, kukira perasaan manusia yang
menggerakkan batinku itu sendiri tidak buruk, kecuali karena keadaanku waktu
itu. Karena perasaan itu sendiri yang menggerakkan lelaki ke arah perempuan
sehingga yang satu berpasangan dengan yang lain, seperti yang diinginkan oleh
Rasul untuk bangsa bukan Yahudi, Paulus, dan bahwa keduanya menjadi satu daging,
dan mereka menghasilkan makhluk manusia baru dan saling membantu sejak muda
sampai tua. Hanya saja, rasul tersebut bicara seperti itu bagi mereka yang ingin
sembuh dari nafsu dan yang tidak ingin dihukum bakar. Bagaimanapun juga, ini
mengingatkan bahwa kondisi kesucian tidak banyak disukai, kondisi yang untuk itu
aku sudah mengorbankan diriku sendiri sebagai seorang rahib. Dan oleh karenanya,
apa yang kuderita pagi itu
berakibat buruk bagiku, tetapi bagi orangorang lain mungkin baik, hal-hal bagus
yang paling manis. Dengan begitu aku sekarang paham bahwa kesedihanku tidak
disebabkan oleh kebejatan pikiranku, yang dengan sendirinya bermakna dan manis,
tetapi oleh kebejatan dari senjang antara pikiranku dan kaul yang sudah
kuucapkan. Dan oleh karena itu, aku mulai melakukan dosa karena menikmati
sesuatu yang bagus dalam satu situasi, tetapi buruk dalam situasi lain; dan
kesalahanku terletak pada upayaku merekonsiliasi selera alam dan apa yang
didiktekan oleh jiwa yang rasional. Sekarang aku tahu bahwa ketika itu aku
tengah menderita akibat konflik antara selera yang kuperoleh dari indra, yang di
dalamnya seharusnya tampak dikuasai kemauan, dan selera yang kuperoleh dari
indra, yang menimbulkan berahi manusia. Nyatanya, seperti dikatakan oleh
Aquinas, tindakan dari selera yang peka itu disebut berahi, persisnya karena
melibatkan perubahan jasmaniah.
Dan tindakanku yang berselera, seperti yang telah terjadi, diiringi oleh seluruh
tubuh yang gemetaran, oleh suatu impuls fisik untuk menjerit dan menggeliat.
Doktor yang sesuci malaikat itu mengatakan bahwa berahi itu sendiri sebenarnya
tidak jahat, tetapi harus dikuasai oleh kemauan yang dibimbing oleh jiwa
rasional. Tetapi jiwa rasionalku pagi itu dikacaukan oleh keletihan, yang
terusmenerus memasukkan selera kemarahan, ditujukan kepada cara menaklukkan yang
baik dan yang buruk, tetapi bukan selera nafsu seks,
ditujukan kepada baik dan buruk yang dikenal sebagai kesatuan. Untuk membenarkan
kegelisahanku yang tidak bertanggung jawab waktu itu, sekarang aku akan
mengatakan bahwa tidak ragu lagi waktu itu aku dicengkeram oleh cinta, yang
merupakan berahi dan hukum kosmos, karena beban tubuh sebenarnya adalah cinta
alami. Dan aku digoda oleh berahi ini secara alami, dan aku paham mengapa doktor
sesuci malaikat itu mengatakan bahwa amor est magis cognitivus quam cognitio,
bahwa banyak hal bisa kita kenali lebih baik lewat cinta daripada lewat
pengetahuan. Nyatanya, sekarang aku melihat gadis itu lebih baik daripada yang telah kulihat
malam sebelumnya, dan aku memahaminya intus et in cute karena di dalam dirinya
aku memahami diriku sendiri dan memahami dia di dalam diriku sendiri. Sekarang
aku jadi ingin tahu apakah yang kurasakan waktu itu adalah cinta persahabatan,
yang di dalamnya, seperti cinta dan hanya menyukai dan menginginkan kebaikan
pihak lain, atau itu cinta nafsu seksual yang di dalamnya orang hanya
menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri dan hanya tidak ada keinginan untuk
menyelesaikannya. Dan aku yakin cinta malam hari itu nafsu seksual, karena aku
menginginkan sesuatu yang belum pernah kumiliki dari gadis itu: sedangkan pagi
itu aku tidak menginginkan apa-apa dari gadis tersebut. Aku hanya menginginkan
yang baik baginya, dan kuharap ia diselamatkan dari kebutuhan kejam yang
mendorongnya untuk menukar dirinya sendiri
dengan sepotong makanan. Kuharap dia berbahagia; dan aku pun juga tidak ingin
minta apa-apa lagi darinya, tetapi hanya ingin memikirkannya dan melihatnya
dalam biribiri, sapi, pepohonan, dalam cahaya tenang yang memandikan tanah-tanah
biara itu dalam kebahagiaan.
Sekarang aku tahu bahwa kebaikan adalah penyebab cinta dan bahwa yang bagus itu
dijabarkan oleh pengetahuan, dan kau hanya bisa mencintai apa yang sudah
kauketahui sebagai baik, sedangkan aku, memang, sudah jadi tahu bahwa gadis itu
adalah yang baik dari selera kemarahan, tetapi yang buruk dari kemauan. Tetapi
aku dicengkeram oleh emosi yang sedemikian banyak, dan sedemikian bertentangan,
karena apa yang kurasakan adalah seakan cinta paling suci seperti yang
dijelaskan oleh doktor itu: yang di dalam diriku menghasilkan ekstase di mana
yang mencintai dan yang dicintai menginginkan hal yang sama (dan oleh pencerahan
misterius aku, saat itu, tahu bahwa gadis tersebut, di mana pun dia berada,
menginginkan hal yang sama seperti yang kuinginkan). Di samping itu, aku merasa
cemburu, tetapi bukan yang jenisnya jahat, yang dikutuk oleh Paulus dalam
Suratnya yang Pertama kepada Jemaat di Korintus, tetapi yang dibicarakan oleh
Dionysus dalam The Divine Names, di mana Tuhan juga dibilang cemburu karena
cinta agung yang Dia rasakan terhadap semua ciptaan (dan aku mencintai gadis itu
tepatnya karena ia ada, dan aku bahagia, tidak iri, bahwa dia ada). Aku cemburu
dalam cara yang di dalamnya, bagi doktor sesuci malaikat itu, cemburu adalah
motus in amatum, kecemburuan persahabatan, yang mengilhami kita untuk bertindak
melawan semua yang mencelakai yang dicintai (dan aku melamun, saat itu, hanya
tentang caranya membebaskan gadis itu dari kekuasaan lelaki yang akan membeli
dagingnya dan mencemarinya dengan berahi jahatnya sendiri).
Sekarang aku tahu, seperti kata doktor itu, bahwa cinta bisa menyakiti kekasih
itu kalau keterlaluan. Dan cintaku keterlaluan.
Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang kurasakan saat itu, sama sekali bukan
dalam upaya membenarkan apa yang kurasakan. Aku mau bicara tentang apa itu
semangat mudaku yang penuh dosa. Itu semangat yang buruk, tetapi kebenaran
mengharuskan aku mengatakan bahwa waktu itu aku merasakannya sebagai amat sangat
baik. Dan biarkan ini menjadi pedoman bagi siapa saja yang mungkin terjatuh,
seperti diriku dulu, ke dalam jaring godaan. Sekarang ini, sebagai seorang tua,
aku tentu tahu seribu cara menghindari godaan semacam itu. Dan aku membayangkan
betapa aku seharusnya bangga punya caracara itu, karena aku bebas dari godaan
Iblis di siang bolong: tetapi tidak bebas dari lainlainnya, sehingga aku jadi
ingin tahu apakah apakah yang sekarang kulakukan ini bukan suatu sikap mengalah
penuh dosa kepada kenangan akan berahi jasmaniah itu, suatu upaya tolol untuk
menghindari arus waktu, dan kematian.
Saat itu, aku menyelamatkan diriku sendiri seakan oleh naluri ajaib. Gadis itu
tampak olehku dalam alam dan dalam pekerjaan manusia yang mengelilingiku.
Kemudian aku berusaha, berkat intuisi jiwaku yang bahagia, menenggelamkan diriku
sendiri dengan rileks merenungkan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Aku mengamati
para gembala menggiring sapi keluar dari kandang, gembala babi memberi makanan
babi-babi, gembala kambing berteriak menyuruh anjinganjing mengumpulkan
biribiri, para petani mengangkut biji gandum dan padi-padian ke penggilingan dan
keluar dengan kantong-kantong makanan bagus. Aku tenggelam dalam perenungan
alam, sambil berusaha melupakan pikiran-pikiranku dan hanya memandang manusia
seperti apa adanya, dan melupakan diriku sendiri, dengan gembira, sambil
memandangi mereka. Betapa indahnya gambaran alam yang belum lagi disentuh oleh kebijaksanaan
manusia yang sering jahat itu! Aku melihat domba itu, yang disebut begitu seakan
karena diakui sebagai murni dan bagus. Nyatanya kata benda "agnus (anak domba)"
diambil dari kenyataan bahwa binatang ini "agnoscit"6; biribiri mengakui
induknya, dan mengenali suara induknya di tengah kawanan sementara induknya, di
antara banyak anak domba yang bentuknya sama, dengan embik yang sama, selalu dan
hanya mengenali anak-anaknya, dan memelihara anaknya. Aku melihat domba itu,
yang disebut "ovis" dari kata "ab oblatione'V, karena
6 Mengenali penerj.? 7 Dari persembahan penerj.?semenjak dahulu kala hewan ini dipakai untuk ritus persembahan; domba, yang,
sebagaimana kebiasaannya di musim dingin, merumput dengan rakus dan memuaskan
dirinya sendiri dengan dedaunan sebelum padang rumput rusak karena beku. Dan
kawanan itu diawasi oleh anjing, yang disebut "canes" dari kata kerja "canor"s
karena gong-gongannya. Sebagai hewan sempurna di antara hewan-hewan, dengan
bakat persepsi yang luar biasa, anjing mengenali majikannya, dan dilatih untuk
berburu binatang liar di hutan, untuk menjaga kawanan domba itu dari serigala;
anjing melindungi rumah dan anak-anak majikannya, dan kadangkadang terbunuh saat
menjalankan tugas. Raja Garamant, yang telah dipenjarakan di tempat yang jauh
oleh musuhnya, diantar kembali ke tanah airnya oleh sekelompok dua ratus ekor
anjing yang kebetulan melewati pasukan musuh itu.
Anjing milik Jason Licius, setelah majikannya meninggal, mogok makan sampai mati
kelaparan. Dan anjing milik Raja Lysimachus terjun ke dalam api pembakaran
jenazah majikannya, untuk ikut mati. Anjing punya kekuatan menyembuhkan luka
dengan menjilati luka itu, dan lidah anak anjing bisa menyembuhkan luka usus.
Secara alami anjing biasa memakan kembali makanan yang sama yang telah
dimuntahkannya. Ketenangannya merupakan simbol kesempurnaan semangat. Demikian
pula kekuatan lidahnya yang menyembuhkan itu menjadi simbol pemurnian dosa
melalui pengakuan dosa dan
8 Melodi penerj ?penyesalan. Tetapi bahwa anjing suka makan makanan yang telah ia muntahkan juga suatu tanda
bahwa, setelah mengaku dosa, kita kembali kepada dosa yang sama seperti
sebelumnya, dan pagi itu moral ini sungguh bermanfaat untuk menenteramkan
hatiku, sementara aku mengagumi keajaiban alam.
Sementara itu, langkahku membawaku ke kandang kerbau yang sedang keluar
berduyun-duyun, digiring oleh gembala mereka. Di mataku mereka langsung
kelihatan sebagai simbol kebaikan dan persahabatan, dulu maupun sekarang, karena
setiap kerbau yang sedang membajak selalu memerhatikan pasangannya; jika
kebetulan pasangannya itu diam saja, dengan penuh kasih sayang ia melenguh
memanggilnya. Kerbau belajar untuk dengan taat pulang sendiri ke kandang kalau
hujan, dan kalau sedang berlindung di palungan, mereka terusmenerus memanjangkan
leher untuk melihat keluar dan memeriksa apa hujan sudah berhenti, karena mereka
ingin sekali kembali bekerja. Bersama kerbau-kerbau itu, anak-anak lembu juga
ikut keluar, mereka disebut "vituli" diambil dari kata "viriditas" atau dari
"virgo?" karena pada umur itu mereka masih segar, muda, dan suci, sedangkan aku
telah melakukan kesalahan dan masih tetap bersalah, kataku dalam hati, karena
dalam gerakgerik anggun mereka aku melihat gambar seorang gadis yang tidak suci.
Aku merenungkan hal-hal itu, sekali lagi merasa damai dengan dunia
9 Viriditas: muda/segar; virgo: anak dara penerj.
?dan dengan diriku sendiri, sementara mengamati pekerjaan gembira pada jam pagi
itu. Dan aku tidak lagi memikirkan gadis tersebut, atau, lebih tepatnya, aku
berupaya mengubah hasratku kepadanya menjadi suatu rasa bahagia dan kedamaian
saleh di dalam hatiku. Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa dunia ini bagus dan patut dikagumi.
Bahwa kebaikan Tuhan juga dibuat menjelma dalam binatang buas paling menakutkan,
seperti dijelaskan oleh Honorius Augustoduniensis. Memang, ada ular yang begitu
besar sehingga melahap rusa dan berenang menyeberang lautan, ada bestia
cenocroca yang bertubuh seperti keledai, tanduk seekor ibex, dada dan perut
seekor singa, kukunya seperti kuku kuda tetapi membelah seperti kuku kerbau,
celah mulutnya mencapai telinga, suaranya hampir seperti suara manusia, dan
sebagai ganti gigi, ada sebuah tulang yang keras. Dan ada mantikor, dengan wajah
manusia, dengan gigi tiga deret, tubuh singa, ekor kalajengking, mata berselaput
berwarna darah, dan suara seperti desis ular, rakus terhadap daging manusia. Dan
ada monster dengan delapan jari kaki, otot seekor serigala, kuku melengkung,
bulu domba, dan punggung anjing, yang kalau sudah tua berubah tidak menjadi
putih, tetapi hitam, dan yang umurnya jauh lebih panjang daripada kita. Dan ada
makhlukmakhluk dengan mata pada kedua bahunya dan dua lubang dalam dadanya
sebagai ganti lubang hidung, karena mereka tidak punya kepala, dan ada yang
tinggal sepanjang Sungai Gangga
yang hanya hidup dari bau busuk apel tertentu, dan mati kalau menjauh dari bau
itu. Tetapi bahkan semua binatang buas jahat bernyanyi dalam keanekaragaman
mereka dan memuji Sang Pencipta dan kebijaksanaanNya, sebagaimana anjing dan
kerbau, biribiri dan domba dan lynx. Sungguh luar biasa, kataku dalam hati saat
itu, sambil mengulangi katakata dari Vincent Belovacensis, keindahan paling
bersahaja dari dunia ini, dan sungguh menyenangkan bagi mata nalar yang tidak
hanya merenungkan jenis dan jumlah dan urutan bendabenda, yang ditetapkan dengan
begitu indahnya untuk seluruh alam semesta, tetapi juga siklus waktu yang
berjalan terus mengurai lewat penggantian dan perubahan, ditandai oleh kematian


The Name Of The Rose Karya Umberto Eco di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari apa yang sudah dilahirkan. Aku mengakui bahwa, seorang pendosa seperti
diriku, jiwaku yang beberapa waktu lalu masih menjadi tawanan daging, saat itu
terharu oleh kemesraan spiritual terhadap Sang Pencipta dan penguasa dunia ini,
Memburu Kereta Api Hantu 3 Gento Guyon 5 Hutang Dosa Rahasia Lorong Spiggy 1
^