Pencarian

Bourne Supremacy 3

The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum Bagian 3


rencana itu harus disusun dengan kecepatan tinggi."
"Oh?" Conklin berpegangah pada bar untuk menenangkan diri.
"Boleh kubuatkan kopi, Alex?"
KlOPI pahit cukup menyadarkan Conklin tapi tidak sebagaimana yang diharapkan
David. Orang yang dulunya Jason Bourne itu menghormati bakatbakat sang musuh
yang paling mematikan dan membiarkannya mengetahui hal itu. Mereka berbicara
hingga pukul empat pagi, me" negaskan strategi yang masih kabur, mendasarkannya
pada realita tapi membawanya lebih jauh lagi. Dan pada saat pengaruh alkohol
mulai sirna, Conklin mulai berfungsi. Ia mulai menjadi orang seperti yang samar-
samar dibayangkan David. Conklin memahami pendekatan Webb yang solid dan
menemukan kata-katanya. {&rfin
"Kau menjabarkan situasi krisis yang menyebarluas berdasarkan fakta mengenai
penculikan Marie, lalu sengaja menyimpangkannya dengan kebohongan. Tapi seperti
yang sudah kaukatakan, ini hams dimulai secepat kilat, menghantam mereka dengan
keras dan cepat, tanpa kesempatan."
"Mula-mula gunakan kebenaran sepenuhnya" sela Webb, berbicara dengan cepat. "Aku
menerobos masuk kemari dan mengancam akan membunuhmu. Kulontarkan tuduhan
berdasarkan segala yang sudah terjadi dari skenario McAllister hingga ?pernyataan Babcock bahwa mereka akan mengirim regu pembunuh untuk memburuku...
hingga suara Anglikan yang dingin seperti es memerintahku untuk menghentikan
niat meributkan Medusa atau mereka akan menyebutku gila dan mengirimku ke rumah
sakit jiwa. Tak satu pun bisa diingkari. Itu sudah terjadi dan aku mengancam
akan mengungkap segalanya, termasuk Medusa" j
"Lalu kita gunakan kebohongan besar," kata Conklin sambil menuang kopi lagi.
"Pemutusan yang begitu tidak terlihat hingga mengacaukan segalanya dan semua
orang." "Seperti apa?" "Aku masih belum tahu. Kita harus memikirkannya. Harus sesuatu yang sama sekali
tak terduga, sesuatu yang akan membingungkan para pakar strategi, siapa pun
mereka itu karena setiap mstingku mengatakan entah di mana mereka sudah
?kehilangan kendali. Kalau aku benar, salah satu dari mereka harus mengadakan
kontak." "Kalau begitu ambil buku catatanmu," David berkeras. "Mulailah
mengingat-ingat kembali dan hubungi lima atau enam orang yang merupakan
penantang logis." "Itu bisa makan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari," petugas CIA itu
memprotes. "Barikadenya sudah dipasang dan aku harus mengitarinya. Kita tidak
punya waktu kau tidak punya waktu."?"Harus ada waktu! Mulai I ah bekerja,"
"Ada cara yang lebih baik," balas Alex. "Panov yang memberikannya padamu." ". ^
"Mo?" , "Ya. Catatan di Kementerian Luar Negeri, catatan resmi."
"Catatan...?" Webb sempat melupakannya sejenak; Conklin tidak. "Bagaimana?"
"Di sanalah mereka mulai membangun arsip baru mengenai dirimu. Akan kuhubungi-
Keamanan Internal dengan versi yang berbeda, setidaknya variasi yang akan
membutuhkan jawaban dari seseorang kalau aku benar, kalau strategi itu memang
?menyimpang. Catatan-catatan itu hanya instrumen untuk merekam, tidak
mengkonfirmasi keakuratannya. Tapi personel keamanan yang bertanggung jawab atas
catatan itu akan mengirimkan tanda bahaya kalau mereka mengira ada yang sudah
mengutak-atik sistemnya. Kita akan memanfaatkan mereka.... Sekalipun begitu, kita
membutuhkan kebohongan itu."
"Alex," kata David sambil mencondongkan tubuh di kursinya, di seberang
sofa'panjang yang lusuh itu. "Beberapa saat yang lalu kau menggunakan istilah
'pemutusan* " ?"Itu berarti ada kekacauan dalam skenario, pemutusan dari pola."
"Aku tahu artinya; tapi bagaimana kalau kita menggunakannya secara harfiah"
Bukan pemutusan, tapi 'melarikan diri'. Mereka menyebutku patologis, penderita
skizofrenia itu berarti aku berfantasi, terkadang mengatakan yang sebenarnya
?dan terkadang tidak, dan seharusnya tidak mampu membedakan keduanya."
"Itu kata mereka," Conklin menyetujui. "Beberapa di antara mereka bahkan
mempercayainya. Lalu?"
"Bagaimana kalau kita tingkatkan hingga benar-benar melewati batas" Kita katakan
Marie melarikan diri. Ia menghubungiku dan aku sedang dalam perjalanan untuk
menemuinya." Alex mengerutkan kening, lalu perlahan-lahan membelalakkan matanya, kerut-
kerutaya menghilang. "Sempurna," katanya pelan. "Ya Tuhan, sempurna! Kebingungan
itu akan menyebar seperti api dalam sekam. Dalam operasi sedalam ini hanya dua
atau tiga orang yang mengetahui rinciannya. Yang lain tidak diberitahu. Astaga,
bisa kaubayangkan" Penculikan yang mendapat izin resmi! Sedikit orang yang
berada di inti persoalan akan panik dan saling bertabrakan dalam usaha
menyelamatkan diri. Bagus sekali, Mr. Bourne."
Anehnya, Webb tidak marah mendengar komentar itu, ia menerimanya begitu saja
tanpa berpikir. "Dengar," katanya sambil beranjak bangkit. "Kita sama-sama
kelelahan. Kita tahu tujuan kita, jadi sebaiknya kita tidur sebentar dan
memikirkan segalanya lagi besok pagi. Bertahun-tahun yang lalu kau dan aku sudah
belajar perbedaan antara tidur sedikit dan tidak sama sekali."
"Kau akan kembali ke hotel?" tanya Conklin.
'Tidak mungkin," jawab David sambil menunduk menatap wajah pucat orang CIA itu.
"Beri aku selimut. Aku akan tidur di sini, di depan bar."
"Seharusnya kau juga belajar kapan saatnya untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal
tertentu," kata Alex sambil bangkit dari sofa dan tertatih-tatih ke lemari dekat
ruang tamu kecil. "Kalau ini akan menjadi ke-senanganku yang terakhir dengan ?satu atau lain cara aku akan berusaha sebaik-baiknya. Mungkin dengan begitu,
?hal ini akan membereskan masalahku." Conklin berbalik sesudah mengambil selimut
dan bantal dari rak di lemari. "Kurasa kau menganggapnya semacam firasat aneh,
tapi tahukah kau apa yang kulakukan tadi malam, sepulang kerja?"
'Tentu saja aku tahu. Petunjuknya adalah gelas yang pecah di lantai."
'Tidak, maksudku sebelum itu."
' 'Apa?": ?"Aku mampir di supermarket dan membeli banyak makanan. Steak, telur,
susu bahkan lem yang mereka sebut havermut. Maksudku, aku tidak pemah
?melakukannya." "Kau siap makan banyak. Itu biasa terjadi."
"Kalau begitu kejadiannya, aku pergi ke restoran."
"Apa maksudmu sebenarnya?"
"Tidurlah; sofa ini cukup besar. Aku mau makan. Aku masih ingin berpikir lagi.
Aku akan memasak steak, mungkin juga beberapa butir telur."
"Kau perlu tidur."
"Dua, dua setengah jam sudah cukup. Lalu aku mungkin akan makan havermut sialan
itu." Alexander Conklin berjalan menyusuri koridor lantai empat Kementerian Luar
Negeri, pincangnya berkurang semata-mata karena kebulatan tekad, rasa sakitnya
menjadi lebih hebat Ia tahu apa yang tengah terjadi padanya; ada tugas yang
sangat ingin dilakukannya dengan baik bahkan dengan brilian, kalau istilah itu
?masih relevan baginya Alex menyadari penyia-nyiaan darah dan daging selama
berbulan-bulan tidak bisa dibalas hanya dalam beberapa jam, tapi ada sesuatu
dalam dirinya yang bisa dikerahkannya. Perasaan memegang kendali, diselingi
untuk tujuan yang benar. Astaga, betapa ironisnya! Setahun yang lalu ia ingin
menghancurkan orang yang mereka sebut Jason Bourne; sekarang tiba-tiba ia
terobsesi untuk mem bantu David Webb karena secara keliru ia pernah berusaha
?membunuh Jason Bourne. Tindakan itu bisa menempatkannya ke posisi tak-bisa-
diselamatkan, ia memahaminya, tapi ia percaya risiko itu memang harus
ditanggungnya. Mungkin hati nurani tidak selalu menghasilkan pengecut. Terkadang
hati nurani menyebabkan seseorang merasa lebih baik.
Dan tampak lebih baik, pikirnya Ia memaksa diri berjalan jauh, lebih dari yang
seharusnya, membiarkan angin dingin musim gugur memulihkan rona wajahnya, rona
yang sudah bertahun-tahun menghilang. Dikombi-nasikan wajah bercukur dan setelan
garis-garis yang disetrika, yang sudah berbulan-bulan tak dikenakannya, ia sama
sekali tidak mirip orang yang ditemui Webb semalam. Sisanya hanya akting, ia
juga tahu, saat mendekati pintu ganda Kepala Keamanan Internal Kementerian Luar
Negeri. Hanya sedikit waktu yang disia-siakan untuk formalitas, bahkan lebih sedikit
lagi untuk basa-basi. Berdasarkan permintaan Conklin baca: tuntutan CIA ajudan
? ?meninggalkan ruangan, dan ia menghadapi mantan brigadir jenderal intelijen
Angkatan Darat yang sekarang mengepalai Keamanan Internal Kementerian Luar
Negeri. Alex bemiat memegang kendali dengan kata-kata pertamanya.
"Aku kemari bukan untuk misi diplomasi antardinas, General panggilanmu begitu,
? bukan?" "Aku masih dipanggil begitu, ya."
"Jadi aku tidak peduii sedikit pun dengan basa-basi diplomatis, kau mengerti?"
"Aku mulai tidak menyukaimu, itu yang kumengerti." "Itu," kata Conklin, "hal
terakhir yang kurisaukan. Tapi yang kurisaukan adalah seseorang bernama David
Webb." "Ada apa dengannya?"
"Dengan"ya" Fakta bahwa kau mengenaii nama itu dengan begitu mudah rasanya tidak
menenangkan. Apa yang sedang terjadi, General?"
"Kau mau megafon, spook?" tanya mantan tentara itu.
"Aku mau jawaban, Corporal itulah dirimu dan kantormu bagi kami."?"Mundurlah, Conklin! Sewaktu kau meneleponku dengan apa yang kausebut keadaan
darurat dan verifikasi operator telepon, aku sendiri melakukan sedikit
verifikasi. Reputasi besarmu agak goyah akhir-akhir ini, dan aku menggunakan
istilah itu dengan niat baik. Kau sudah kelewat batas, spook, dan tidak ada
rahasia tentang hal itu. Jadi kau memiliki waktu kurang dari semenit untuk
mengatakan apa yang ingin kaukatakan sebelum kulempar kau keluar. Silakan
pilih lift atau ?Alex sudah memperhitungkan kemungkinan kebiasaan minumnya akan
dijadikan senjata melawannya. Ia menatap kepala Keamanan Internal itu dan
berbicara dengan nada datar, bahkan cenderung simpatik. "General, akan kujawab
tuduhan itu dengan satu kalimat, dan kalau informasi itu sampai didengar orang
lain, aku tahu dari mana asalnya dan Agency juga tahu." Conklin diam sejenak,
pandangannya jernih dan menusuk. "Sering kali profil kami ditampilkan dengan
sengaja untuk alasan-alasan yang tidak bisa kami utarakan. Aku yakin kau
mengerti maksudku." Orang Kementerian Luar Negeri itu membalas tatapan Alex dengan perasaan simpatik
yang enggan. "Oh, astaga," katanya pelan. "Kami pun biasa menyebarkan hal-hal
buruk mengenai orang-orang yang kami kirim ke Berlin."
"Sering kali berdasarkan saran dari kami," Conklin menyetujui sambil mengangguk.
"Dan hanya itu yang akan kita bicarakan mengenai masalah ini."
"Oke, oke. Aku agak menyimpang, tapi aku bisa mengatakan bahwa profil itu
berhasil. Salah seorang deputi direkturmu memberitahu bahwa aku akan pingsan
kena semburan napasmu sementara kau masih di seberang ruangan."
"Aku bahkan tidak ingin tahu deputiku yang mana, General, karena aku mungkin
akan menertawakannya. Kenyataannya, aku tidak minum." Alex merasakan dorongan
hati kekanak-kanakan untuk menyilangkan jari tanpa terlihat, atau kakinya, atau
jari kakinya, tapi tidak ada metode yang terpikir olehnya. "Sebaiknya kita
kembali ke David Webb," tambahnya dengan tajam, tidak ada keramahan dalam
suaranya. "Apa yang kauributkan?"
"Yang kuributkan" Kehidupanku, prajurit. Sesuatu terjadi dan aku ingin tahu apa!
Haram jadah itu mendobrak masuk ke apartemenku semalam dan mengancam akan
membunuhku. Ia melontarkan tuduhan-tuduhan liar dengan menyebutkan nama orang-
orang dalam daftar gajimu seperti Harry Babcock, Samuel Teasdale, dan William
Lanier. Kami sudah memeriksanya; mereka anggota divisi rahasiamu dan masih
aktif. Apa yang mereka lakukan" Salah satu menjelaskan bahwa kau akan mengirim
regu eksekusi untuk memburunya! Bahasa macam apa itu" Yang lain memerintahkan
Webb kembali ke rumah sakit ia pemah berada di dua rumah sakit dan klinik
?bersama kita yang sangat rahasia di Virginia kita semua yang menempatkannya di
? sana dan ia dinyatakan sehat! Ia juga memiliki beberapa rahasia dalam ?kepalanya, dan kita tak ingin hal itu terungkap. Tapi orang itu sudah hampir
meledak karena apa yang kalian lakukan atau kalian biarkan terjadi! Ia mengklaim
memiliki bukti bahwa kalian sudah memasuki hidupnya lagi dan mengacaukannya,
bahwa kalian menjebaknya dan memerasnya habis-habisan!"
"Bukti apa?" tanya jenderal yang tertegun itu.
fin "Ia berbicara pada istrinya," kata Conklin dengan nada yang tiba-tiba datar.
"Lalu?" "Istrinya diciduk dari rumah mereka oleh dua pria yang membiusnya dan membawanya
dengan pesawat jet pribadi. Ia diterbangkan ke Pantai Barat."
"Maksudmu ia diculik?"
"Tepat sekali. Dan yang seharusnya membuatmu menelan ludah dengan susah payah
adalah tanpa sengaja ia mendengar mereka berbicara dengan pilot, dan memahami
bahwa seluruh urusan kotor ini melibatkan Kementerian Luar Negeri untuk alasan-
?alasan yang tidak diketahuinya tapi nama McAllister disebut-sebut. Asal kau
?tahu, McAllister itu salah seorang menteri mudamu dari Seksi Timur Jauh."
"Ini gila.1" "Kuberitahu apa yang lebih gila kau dan aku sama-sama kebobolan. Wanita itu
?berhasil melarikan diri sewaktu pesawat mengisi bahan bakar di San Francisco.
Saat itulah ia menghubungi Webb di Maine. Webb sedang dalam perjalanan untuk
menemuinya hanya Tuhan yang tahu tempatnya tapi sebaiknya kau memiliki jawaban
? ?yang kokoh, kecuali kau bisa menyajikan fakta bahwa Webb hanya orang gila yang
mungkin sudah membunuh istrinya yang kuharap bisa kaulakukan dan bahwa tidak
? ?ada penculikan yang setulusnya kuharap memang tidak ada."
?"Webb memang gila!" sera kepala Keamanan Internal Kementerian Luar Negeri itu.
"Aku membaca catatan-catatan itu! Terpaksa ada orang lain yang menelepon,
?menanyakan tentang Webb semalam. Jangan tanya siapa, aku tidak bisa
menjawabnya." "Apa yang terjadi?" tanya Conklin, mencondongkan tubuh di atas meja, tangan
bertumpu pada tepi meja, untuk tumpuan sekaligus memberi kesan.
"Ia paranoid, apa yang bisa kukatakan" Ia mengarang dan mempercayai
khayalannya!" "Bukan itu keputusan para dokter pemerintah," kata Conklin dingin. "Aku
kebetulan mengetahuinya." "Aku tidak tahu, terkutuk!"
"Dan mungkin tidak akan pemah tahu," Alex membenarkan. 'Tapi sebagai anggota
terakhir operasi Treadstone yang masih hidup, kusarankan kau menghubungi orang
yang bisa memberikan jawaban yang tepat padaku dan menenangkan pikiranku. Ada
orang di sini. yang telah membuka sekaleng cacing yang ingin kita tutup selama-
lamanya." Conklin mengeluarkan buku catatan kecil dan pena; ia menuliskan
sederet angka, merobek lembaran itu, lalu menjatuhkannya ke meja. "Itu telepon
steril; pelacakan hanya akan tnenghasilkan aiamat palsu,". lanjut Conklin,
pandangannya keras, suaranya tegas, sedikit getarannya bisa disembunyi-tnn
kan. "Nomor itu hanya bisa dihubungi antara pukul tiga hingga empat sore ini,
tidak untuk waktu-waktu yang lain. Surah orang menghubungiku pada waktu itu. Aku
tidak peduii siapa atau bagaimana caramu melakukannya. Mungkin kau haras
menyelenggarakan salah satu konferensi kebijakan yang meriah itu, tapi aku minta
jawaban kami minta jawaban!" "Kau bisa basah kuyup, kau tahu!"
?"Kuharap begitu. Tapi kalau tidak, kalian di sini akan dihajar -"habis-
? habisan karena telah melanggar wilayah terlarang."?David bersyukur ada begitu banyak yang haras dikerjakannya, karena tanpa
kesibukan itu ia akan terjun ke dalam ketidakpastian mental dan lumpuh akibat
ketegangan karena mengetahui terlalu banyak sekaligus terlalu sedikit. Sesudah
Conklin berangkat ke Langley, ia kembali ke hotel dan mulai menyusun daftar yang
haras disusunnya. Menyusun daftar membuatnya tenang; kegiatan itu merupakan awal
dari kegiatan yang diperlukan dan memaksanya berkonsentrasi pada hal-hal
spesifik, bukannya pada alasan untuk memilih. Merenung-renungkan alasan hanya
akan melumpuhkan otaknya, sama buruk dengan ranjau yang telah merampas kaki
kanan Conklin. Ia juga tidak bisa memikirkan Alex terlalu banyak kemungkinan
?dan ketidakmungkinan. Ia juga tidak bisa menelepon bekas musuhnya itu. Conklin
teliti; ia yang terbaik. Mantan ahli strategi itu memproyeksikan setiap aksi dan
reaksi kelanjutannya, dan keputusannya yang pertama adalah: dalam beberapa menit
sesudah menelepon kepala Keamanan Internal Kementerian Luar Negeri, ia akan
menggunakan telepon-telepon lain, dan dua di antaranya tidak ragu lagi sudah
disadap. Keduanya nafliknya. Satu di apartemen dan sata lagi di Langley. Oleh
karena itu, untuk menghindari gangguan maupun penyadapan ia tidak bemiat kembali
ke kantomya. Ia akan menemui David di bandara, tiga puluh menit sebelum
penerbangan ke Hong Kong.
"Kau mengira kau tiba di sini tanpa ada yang mengikuthnu?" katanya sebelumnya
pada Webb. "Aku tidak yakin. Mereka telah memprogrammu, dan sewaktu seseorang
menekan tombol-tombol keyboard, ia terus memandangi angka-angka tertentu."
"Kau bisa bicara bahasa Inggris" Atau Mandarin" Aku bisa memahami kedua bahasa
itu, tapi tidak mengerti omong kosong yang baru saja kauucapkan."
"Mereka bisa saja menempatkan-mikrofon di bawah ranjangmu. Aku percaya kau tidak
menyembunyikan apa-apa."
Tidak akan ada kontak hingga mereka bertemu di ruang tunggu Bandara Dulles, dan


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu sebabnya David sekarang berdiri di depan kasir toko koper di Wyoming Avenue.
Ia membeli tas kabin berukuran besar untuk menggantikan kopemya; ia sudah
membuang sebagian besar pakaiannya. Ada hal-hal tindakan berjaga-jaga yang mulai diingatnya kembali,
? ?di antaranya adalah risiko yang tak perlu dengan menunggu di area bagasi
bandara, dan karena ia mengharapkan keanoniman yang lebih besar di kelas
ekonomi, koper mungkin tidak bisa dipakai. Ia akan membeli apa pun yang
dibutuhkannya di mana pun ia berada, dan itu berarti ia harus memiliki sejumlah
besar uang dari dana cadangannya yang mana pun. Fakta ini menemukan perhentian
selanjutnya, sebuah bank di Fourteenth Street.
Setahun yang lalu, sewaktu para penyelidik pemerintah tengah meneliti apa yang
tersisa dari memorinya, dengan diam-diam dan cepat Marie menarik dana yang
ditinggalkan David di Gemeinschaft Bank di Zurich, juga yang sudah ditransfemya
ke Paris sebagai Jason Bourne. Ia mengirim uang itu ke Kepulauan Cayman, tempat
tinggal bankir Kanada kenalannya, dan membuka rekening rahasia. Mengingat apa
yang dilakukan Washington terhadap suaminya kerusakan pada memorinya,
?penderitaan fisik dan hampir kehilangan nyawa karena orang-orang menolak
mendengar jeritan permintaan tolongnya Marie membiarkan pemerintah melepas
?tanggung jawab begitu saja. Kalau David memutuskan untuk menuntut, dan hal itu
bukannya tidak mungkin, pengacara pandai mana pun akan maju ke sidang dengan
tuntutan ganti rugi mencapai sepuluh juta dolar, bukannya sekitar lima juta
lebih. Marie telah mengutarakan spekulasinya mengenai tuntutan hukum itu pada deputi
direktur Central Intelligence Agency yang sangat gugup. Ia sama sekali tidak
membicarakan dana yang hilang, hanya mengatakan, dengan pelatihan keuangan yang
diperolehnya, ia terkejut melihat kecilnya perlindungan terhadap uang yang
diperoleh pembayar pajak Amerika dengan susah payah. Ia menyampaikan kritik itu
dengan suara bemada terkejut yang lembut, tapi matanya mengutarakan hal yang
lain sama sekali. Wanita ini sangat cerdas, seperti macan bermotivasi tinggi,
dan pesannya dipahami. Jadi orang-orang yang lebih bijak dan lebih hati-hati
memahami logika spekulasinya dan melupakan masalah itu. Dana itu dikubur dalam
pengeluaran darurat yang lop-secret, eyes-only.
Setiap kali mereka membutuhkan tambahan uang perjalanan, mobil, rumah Marie ? ?atau David akan menelepon bankir mereka di Cayman dan ia akan mengirim dana
melalui lima lusin jaringan bank di Eropa, Amerika Serikat, Kepulauan Pasifik,
dan Timur Jauh, kecuali Filipina.
Dari telepon umum di Wyoming Avenue, Webb melakukan collect-call, agak
mengejutkan bankirnya yang ramah dengan jumlah uang yang dibutuhkannya segera,
dan dana yang ingin disiapkannya di Hong Kong. Collect call itu makan biaya
kurang dari delapan dolar, dananya sendiri lebih dari setengah juta dolar.
"Sobatku yang baik, kuanggap Marie yang bijak dan anggun sudah setuju?" "jii j
"la yang memintaku meneleponmu. Katanya ia tidak bisa diganggu dengan hal-hal
sepele." "Benar-benar khas dia! Bank-bank yang akan kaugunakan adalah..."
Webb berjalan memasuki pintu-pintu kaca tebal di Fourteenth Street, menghabiskan
dua puluh-menit yang menjengkelkan dengan seorang wakil direktur yang berusaha
terlalu keras untuk menjadi teman baik, dan berjalan keluar membawa 50.000
dolar, empat puluh ribu dalam lembaran lima ratus dolar, sisanya campuran.
Ia kemudian memanggil taksi dan diantar ke sebuah apartemen di DC North West,
tempat tinggal seseorang yang dikenalnya pada hari-harinya sebagai Jason Bourne,
orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa bagi Treadstone 71 Kementerian
Luar Negeri. Orang itu pria kulit hitam berambUt perak yang tadinya bekerja
sebagai sopir taksi hingga suatu hari ada penumpang yang meninggalkan kamera
Hasselblad di mobilnya dan tak pemah mengajukan klaim. Kejadian itu berlangsung
bertahun-tahun yang lalu, dan selama beberapa tahun sopir taksi itu mencoba-
coba, dan menemukan panggilan hidup yang sebenarnya. Sederhana saja, ia jenius
dalam "pengubahan" spesialisasinya adalah paspor, SIM berfoto, dan kartu
?identitas bagi mereka yang punya masalah dengan pihak berwenang, terutama yang
menghadapi tuduhan pelanggaran besar. David tidak' ingat padanya, tapi dalam
pengaruh hipnotis Panov ia telah mengucapkan nama itu walau mustabil, namanya
?adalah Cactus-dan Mo membawa fotografer itu ke Virginia untuk membantu
membangkitkan kenangan Webb. Ada kehangatan dan keprihatinan dalam pandangan
pria kulit hitam tua tersebut pada kunjungan pertamanya, dan sekalipun tidak
menyenangkan, ia meminta izin pada Panov untuk mengunjungi David seminggu
sekali. "Kenapa, Cactus?"
"Ia bermasalah, Sir. Aku melihatnya dari balik lensa dua tahun yang lalu. Ada
sesuatu yang hilang dari dalam dirinya, tapi terlepas dari semua itu, ia orang
baik. Aku bisa berbicara dengannya. Aku menyukainya, Sir."
"Datanglah kapan pun kau mau, Cactus, dan tolong singkirkan 'Sir' itu. Balikkan
penghormatan itu padaku... Sir."
"Wah, zaman memang sudah berubah. Aku memanggil cucuku negro yang baik, dan ia
ingin menginjak-injak kepalaku"
"Sudah seharusnya... Sir."
Webb turun' dari taksi, meminta sopiraya menunggu, tapi sopir ini menolak. David
memberi tip sedikit dan berjalan menyusuri jalan setapak dari lempengan bam yang
ditumbuhi rerumputan di sela-selanya, menuju rumah tua itu. Entah bagaimana
rumah itu mengingatkannya pada rumah di Maine, terlalu besar, terlalu rapuh, dan
terlalu banyak yang harus diperbaiki. la dan Marie telah memutuskan untuk
membeli rumah pantai begitu masa sewa setahun rumahnya berakhir; rasanya terlalu mencolok kalau
seorang dosen tidak tetap pindah ke distrik berharga sewa tinggi begitu tiba. Ia
membunyikan bel pintu. Pintu terbuka, Cactus menyipitkan mata dari bank kacamata hijau, menyapanya
dengan santai seakan-akan mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu.
'Tutup roda mobilmu ada David?"
"Tidak ada mobil dan tidak ada taksi; taksinya tidak mau menunggu."
"Kau pasti sudah dengar segala macam isu tak berdasar yang disebarluaskan pers
fasis itu. Kalau aku punya tiga senapan mesin di jendela'. Ayo masuk, aku rindu
padamu. Kenapa kau tidak menelepon bocah tua ini?"
"Nomormu tak terdaftar, Cactus." "Pasti lupa."
Mereka bercakap-cakap selama beberapa menit di dapur Cactus, cukup lama bagi
spesialis fotografer itu untuk menyadari bahwa Webb tergesa-gesa. Pria tua itu
mengajak David ke studionya, meletakkan tiga paspor Webb di bawah sorotan cahaya
lampu yang miring, memeriksanya dengan teliti, dan memerintahkan kliennya duduk
di depan kamera berlensa terbuka.
"Kita buat rambutnya berwarna muda, tapi tidak sepirang ketika kau pulang dari
Paris. Wama muda itu bisa bervamasi. berdasarkan pencahayaan dan kita bisa
menggunakan foto yang sama untuk benda-benda mungil ini dengan perbedaan yang
cukup mencolok wajah tetap dipertahankan. Jangan ganggu alisnya. Akan kuutak-?atik di sini."
"Bagaimana dengan mata?" tanya David.
'Tidak ada waktu untuk lensa-lensa kontak seperti yang kaudapatkan dulu, tapi
kita bisa mengatasinya. Ada kacamata-kacamata biasa dengan lensa berwarna yang
tepat di tempat yang tepat. Kau bisa memiliki mata biru atau cokelat atau hitam
ala armada Spanyol, kalau mau."
"Ambil ketiganya," kata Webb.
"Mahal, David, dan aku hanya menerima tunai."
"Aku punya." 5*8* V
"Jangan sampai beritanya menyebar."
"Sekarang, rambutnya. Siapa?"
"Di ujung jalan. Seorang teman yang memiliki salon kecantikan hingga para
gendarme memeriksa lantai atas. Kerjanya bagus. Ayo, kuantar kau ke sana."
Satu jam kemudian Webb menunduk keluar dari pengering rambut di bilik kecil yang
terang benderang dan mengamati hasilnya di cerrnin besar. AhH kecantikan
sekaligus pemilik salon yang tidak biasa itu, wanita kulit hitam pendek dengan
rambut beruban rapi dan pandangan
"Ini kau, tapi bukan kau," katanya, mula-mula mengangguk, lalu menggeleng.
"Pekerjaan yang bagus. Harus kukatakan."
Memang benar, pikir David, sambil memandangi dirinya sendiri. Rambutnya yang
hitam bukan saja jauh lebih terang, tapi sesuai dengan wama kulit wajahnya.
Bahkan tekstur rambutnya tampak lebih halus, rapi tapi gayanya lebih
kasual diembus angin, begitu istilah yang digunakan di periklanan. Pria yang
?dilihatnya itu dirinya sendiri sekaligus orang lain yang sangat mirip
dengannya tapi bukan dirinya.
?"Aku setuju," kata Webb. "Pekerjaan yang sangat bagus. Berapa?"
'Tiga ratus dolar," jawab wanita itu. "Tentu saja, itu termasuk lima bungkus
bubuk pencuci buatan sendiri berikut instruksinya, dan mulut paling rapat di
Washington. Yang pertama akan bertahan selama dua bulan, yang kedua seumur
hidupmu." "Kau benar-benar baik," David memasukkan tangan ke saku untuk mengambil penjepit
uang dari kulit, menghitung lembaran-lembaran uang dan memberikannya pada wanita
itu. "Kata Cactus, kau akan meneleponnya kalau kita sudah selesai."
"Tidak perlu; ia sudah memperhitungkan waktunya. Ia ada di ruang tamu."
"Ruang tamu?" "Oh, kurasa itu hanya lorong dengan tempat duduk dan lampu, tapi aku senang
menyebutnya ruang tamu. Kedengaran keren, bukan?"
Sesi foto berlangsung lancar, Cactus menyela untuk mengatur bentuk alisnya
dengan sikat gigi dan semprotan pada tiga kali pengambilan foto yang berbeda,
dan mengganti kemeja serta jas Cactus memiliki lemari pakaian yang setara ?dengan agen pemasok kostum dan akhirnya mengenakan dua pasang kacamata, dari
?kulit penyu dan bingkai baja, yang mengubah mata hijau kecokelatannya menjadi
biru dan cokelat untuk dua paspor. Pria itu kemudian memasukkan fotonya ke dalam
paspor dengan ketelitian ahli bedah, dan dengan lensa yang sangat kuat ia
menambahkan stempel asli berlubang-lubang Kementerian Luar Negeri menggunakan
alat rancangannya sendiri. Sesudahnya, ia menyerahkan ketiga paspor itu untuk
mendapat persetujuan David.
'Tidak akan ada bajingan imigrasi yang mempermasalahkannya," kata Cactus yakin.
"Paspor-paspor ini tampak lebih asli daripada sebelumnya" 0
"Kubersihkan, maksudnya aku memberinya lipatan dan sen tuhan agar kelihatan
lebih tua." "Pekerjaan yang luar biasa, sobat lama lebih lama daripada yang bisa kuingat.
?Aku tahu itu. Aku berutang berapa?"
"Oh, hell, aku tidak tahu. Pekerjaan ini begitu sepele dan ini tahun yang hebat
dengan segala keributan "
?"Berapa, Cactus?"
"Berapa enaknya" Kurasa kau sudah tidak digaji Paman Sam." "Aku baik-baik saja,
terima kasih." "Lima ratus juga boleh." "Tolong panggilkan taksi,'ya?"
"Terlalu lama, itu pun kalau kau bisa mendapat taksi. Cucuku sudah menunggumu:
ia akan mengantarmu ke mana pun kau mau. Ia seperti aku, tidak banyak bertanya.
Dan kau sedang tergesa-gesa, David, aku bisa merasakannya. Ayo, akan kuantar kau
ke pintu." 'Trims. Kutinggalkan uangnya di meja."
"Baik." David memunggungi Cactus sewaktu mengambil uang dari salcu. Webb menghrtuhg enam
lembar lima ratus dolar dan meletakkannya di tempat paling gelap di meja studio.
Seribu dolar untuk satu paspor adalah hadiah. lebih dari itu bisa menyinggung
perasaan teman lamanya. Ia kembali ke hotel, turun dari mobil beberapa blok jauhnya di persimpangan yang
sibuk, sehingga cucu Cactus tidak akan bisa ditanyai mengenai alamatnya. Pemuda
itu mahasiswa senior di American University, dan sekalipun memuja kakeknya, ia
tampak takut terlibat dalam kegiatan pria tua itu.
"Aku turun di sini," kata David di tengah-tengah lalu lintas yang macet.
"Trims," jawab pemuda kulit hitam itu, suaranya tenang dan menyenangkan, matanya
yang cerdas memancarkan kelegaan. "Kuhargai tindakanmu."
Webb memandangnya. "Kenapa kau melakukannya" Maksudku, untuk orang yang akan
menjadi pengacara, antenamu pasti bekerja lembur di sekitar Cactus."
"Memang, selalu. Tapi ia pria tua yang hebat dan sudah berbuat banyak bagiku.
Selain itu, ada yang dikatakannya padaku. Ia bilang seharusnya aku merasa
terhormat bisa bertemu denganmu, bahwa bertahun-tahun yang akan datang mungkin
ia akan memberitahuku siapa orang asing yang ada di mobilku ini."
"Kuharap aku bisa kembali jauh lebih cepat dan mengatakannya sendiri padamu. Aku
bukan orang istimewa, tapi ada cerita yang layak diutarakan dan mungkin bisa
masuk buku-buku hukum. Selamat tinggal."
Kembali di kamar hotebrya, David menghadapi daftar terakhir yang tidak perlu
ditiilis; ia tahu isinya Ia harus memilih sedikit pakaian yang akan dibawanya
dalam tas kabin besar dan membuang barang-barangnya yang lam, termasuk dua pucuk
pistol yang dalam kemurkaannya dibawanya dari Maine. Membongkar dan membungkus
bagian-bagian pistol dengan lembaran timah untuk dimasukkan ke dalam koper
adalah satu hal mudah, membawanya melewati gerbang keamanan lain lagi urusannya.
Pistol-pistol itu akan ketahuan; ia akan ditangkap. Ia harus membersihkan
pistol-pistol itu, menghancurkan pin penembak dan tempat picu sebelum
membuangnya ke selokan. Ia akan membeli senjata di Hong Kong; tidak
sulit. Ada satu tindakan terakhir yang hams dilakukannya, dan hal itu sulit serta
menyakitkan. Ia hams memaksa diri duduk dan memikirkan kembali semua yang
dikatakan Edward McAllister malam itu di Maine segala sesuatu yang mereka ?bicarakan, terutama kata-kata Marie. Ada sesuatu yang terpendam dalam
pengungkapan dan konfrontasi tegang selama satu jam itu, dan David tahu bahwa ia
melewatkannya telah melewatkannya.
?la memandang arlojinya. Saat itu pukul 15.37; hari berlalu dengan cepat, dengan
gugup. Ia harus bertahan! Oh Tuhan, Marie! Di mana kau"
Conklin meletakkan gelas berisi ginger ale di meja yang kotor dan carut-marut di
bar kumuh di Ninth Street. Ia pelanggan tetap untuk alasan yang sederhana, bahwa
tak seorang pun dalam lingkungan profesinya dan apa pun yang tersisa dari
?lingkungan sosialnya akan pemah memasuki pintu kaca kotor itu. Ada kebebasan
?dalam kenyataan itu, dan pelanggan-pelanggan lain bisa menerimanya, si timpang
yang selalu menanggalkan dasi begitu masuk, tertatih-tatih menuju bangku bulat
di samping mesin pinball di ujung bar. Dan setiap kali ia datang, gelas berisi
bourbon dan es telah menunggunya. Pemilik sekaligus bartender juga tidak
keberatan bila Alex menerima telepon di bilik telepon kuno yang menempel di
dinding. Itulah "telepon steril" yang tadi dikatakannya, dan telepon itu
berdering sekarang. Conklin tertatih-tatih menyeberangi ruangan, memasuki bilik kuno tersebut, dan
menutup pintunya. Ia meraih telepon. "Ya?" katanya.
"Ini Treadstone?" tanya seorang pria bersuara aneh.
"Aku ada di sana. Kau sendiri?"
'Tidak, aku tidak ada di sana, tapi aku mendapat izin untuk arsipnya, untuk
seluruh kekacauan itu."
Suara itu! pikir Alex. Bagaimana Webb menggambarkan suara itu" Anglikan"
Atlantik Tengah, halus, jelas bukan orang kebanyakan. Ini orang yang sama. Para
pesuruh sudah mulai bekerja; mereka mendapat kemajuan. Seseorang mulai takut.
"Kalau begitu aku yakin kau masih ingat semua yang kutuliskan karena aku ada di
sana dan aku yang menulisnya menulis semuanya. Fakta, nama, kejadian, ?konfirmasi, dukungan... segalanya termasuk cerita yang disampaikan Webb padaku
semalam." "Kalau begitu bisa kuanggap kalau ada kejadian buruk, laporanmu yang tebal akan
menemukan jalan ke subkomite Senat atau segerombolan anjing penjaga Kongres.
Benar begitu?" 107 "Aku senang kita saling mengerti"
"Tidak bakal ada gunanya." kata pria itu dengan nada merendahkan.
"Kalau ada kejadian buruk, aku tidak akan peduii, bukan?"
"Kau sudah hampir pensiun. Kau banyak minum."
"Tidak selalu. Biasanya ada alasan untuk kedua hal itu bagi orang seusiaku dan
dengan kompetensi seperti aku. Bisakah keduanya dikaitkan dengan arsip
tertentu?" "Lupakan. Kita bicara saja."
"Tidak, sebelum kau mengutarakan informasi yang lebih dekat. Treadstone sudah
disinggung-singgung, tapi itu kurang kuat." "Baiklah. Medusa."
"Lebih kuat," kata Alex. "Tapi masih kurang kuat." "Baiklah. Penciptaan Jason
Bourne. Biarawan." "Lebih dekat."
"Dana yang hilang tak bisa dipertanggungjawabkan dan tak pemah bisa diperoleh
?kembali diperkirakan sekitar lima juta dolar. Zurich, Paris, dan berbagai
?tempat di barat." "Ada rumor. Aku membutuhkan pucuk gunung."
"Akan kuberikan. Eksekusi Jason Bourne. Tanggal 23 Mei di Tarn Quan... dan hari
yang sama di New York bertahun-tahun kemudian. Di Seventy-first Street.
Treadstone Seventy-One."
Conklin memejamkan mata dan menghela napas dalam, merasakan kekosongan di
tenggorokannya. "Baiklah," katanya dengan suara pelan. "Kau termasuk dalam
kelompok.'* "Aku tidak bisa memberitahukan namaku."
"Apa yang akan kauberikan padaku?"
"Satu kata: Mundur."
"Menurutmu aku akan menerimanya?"


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Harus," kata pria itu, lugas. "Bourne dibutuhkan di tempat yang ditujunya."
"Bourne?" Alex menatap telepon.
"Ya, Jason Bourne. Ia tidak bisa direkrut dengan cara biasa, kita sama-sama
mengetahumya." "Jadi kau mencuri istrinya" Binatang terkutuk!" "Istrinya tidak akan disakiti."
"Kau tidak bisa menjaminnya! Kau tidak memegang kendali. Kati pasti menggunakan
pihak kedua dan ketiga sekarang ini, dan kalau aku tahu si fat pekerjaanku dan ?aku memang tahu mereka mungkin dibayar tanpa tahu siapa majikannya agar kau
?tidak bisa dilacak; kau bahkan tidak tahu siapa mereka.... Ya Tuhan, kau tidak
akan meneleponku kalau tahu! Kalau kau bisa menghubungi mereka dan mendapat
konfirmasi yang kaucari, kau tidak akan berbicara denganku!"
Suara terpelajar itu diam sejenak. "Kalau begitu kita sama-sama
berbohong, bukan, Mr. Conklin" Wanita itu tidak melarikan diri, tidak menelepon
Webb. Tidak ada apa-apa. Kau hanya memancing, dan aku juga, dan kita sama-sama
tidak mendapatkan hasil." "Kau barakuda, Mr. No-name."
"Kau sudah pernah mengalami apa yang kualami, Mr. Conklin. Sampai pada rincian
tentang David Webb.... Nah, apa yang bisa kauberitahukan padakuT'
Alex sekali lagi merasakan kehampaan di tenggorokannya, sekarang ditarhbah rasa
nyeri yang tajam di dada. "Kau kehilangan mereka, bukan?" bisiknya. "Kau
kehilangan istri Webb."
"Empat puluh delapan jam masih belum permanen," kata orang itu dengan hati-hati.
'Tapi kau sudah berusaha mati-matian untuk mengadakan kontak!" tuduh Conklin.
"Kau sudah memanggil perantaramu, orang-orang yang menyewa para pelaksana yang
tidak tahu apa-apa, dan tiba-tiba saja mereka tidak ada di sana kau tidak bisa
?menemukan mereka. Astaga, kau benar-benar telah kehilangan kendali! Strategimu
meleset! Ada yang mengambil alih strategimu dan kau tidak tahu siapa. Ia
memainkan skenariomu, lalu merebutnya dari tanganmu!"
"Bagian pengamanan kami sudah disebar," kata pria itu, memprotes tanpa
kepercayaan diri yang diperlihatkannya beberapa saat yang lalu. "Orang-orang
terbaik di lapangan sedang menangani setiap distrik."
"Termasuk McAllister" Di Kowloon" Hong Kong?"
"Kau tahu?" "Aku tahu." "McAllister itu bodoh, tapi ia jago dalam bidangnya. Dan, ya, ia ada di sana.
Kami tidak panik. Kami akan pulih kembali."
"Pulih kembali apa?" tanya Alex penuh kemarahan. "Barangnya" Strategimu sudah
gagal! Orang lain telah mengambil alih pimpinan. Kenapa ia mau mengembalikan
barangnya padamu" Kau telah membunuh istri Webb, Mr. No-name! Menurutmu apa yang
sudah kaulakukan?" "Kami hanya ingin ia datang kemari," jawab orang itu dengan nada membela diri.
"Menjelaskan situasi, menunjukkan segalanya padanya. Kami membutuhkannya." Lalu
pria itu kembali tenang. "Dan sepanjang yang kami ketahui, situasi belum
menyimpang. Komunikasi di bagian dunia itu terkenal buruk."
"Ex-culpa untuk segala sesuatu dalam bisnis ini."
"Dalam sebagian besar bisnis, Mr. Conklin.... Bagaimana pendapatmu" Sekarang aku
yang bertanya dengan sangat.tuius. Kau memiliki reputasi."
?"Dulu, No^name."
"Reputasi tidak bisa diambil atau disangkal, hanya ditambah, secara positif atau
negatif, tentu saja." .'. "Kau sumber informasi yang tidak perlu, kau tahu itu?"
"Aku juga benar. Kabarnya. kau salah satu yang terbaik. Bagaimana pendapatmu?"
Alex menggeleng-geleng di dalam bilik telepon; udara terasa menyesakkan,
keributan di luar telepon "steril" di bar kumuh Ninth Street itu semakin keras.
"Yang sudah kukatakan tadi. Ada yang tahu tentang rencana kalian berusaha ?merekrut Webb dan memutuskan untuk mengambil alih."
?"Demi Tuhan, kenapa?"
"Karena siapa pun orang itu, ia menginginkan Jason Bourne lebih daripada
dirimu," kata Alex, lalu menutup telepon.
Waktu menunjukkan pukul 18.28 sewaktu Conklin berjalan memasuki ruang tunggu di
Bandara Dulles. Ia telah menunggu di taksi, di ujung jalan hotel tempat Webb
menginap, dan mengikuti David, memberikan instruksi yang tepat pada sopirnya. Ia
benar, tapi tak ada gunanya membebani Webb. Dua Plymouth kelabu menguntit taksi
David dan berganti-ganti posisi selama pengintaian. Biar saja. Alexander Conklin
mungkin akan digantung, mungkin juga tidak. Orang-orang di Kementerian Luar
Negeri bertingkah bodoh, pikirnya sambil mencatat nomor pelat mobil itu. Ia
melihat Webb dalam bilik remang-remang di bagian belakang.
'Itu kau, bukan?" kata Alex sambil menyeret kakinya yang mati ke . dalam bilik.
"Apakah pirang memang lebih sering mendapat keuntungan?" "Di Paris berhasil. Apa
yang kautemukan?" "Kutemukan udang di balik batu yang tak bisa menemukan jalan keluar. Tapi mereka
memang tidak tahu harus berbuat apa dengan cahaya matahari, bukan?"
"Cahaya matahari menerangi, kau tidak. Hentikan omong kosong itu, Alex. Aku
harus berangkat beberapa menit lagi."
"Singkatnya, mereka menyusun strategi untuk mendatangkanmu ke Kowloon. Strategi
itu berdasarkan pengalaman sebelumnya "
?"Kau bisa melompati bagian itu," kata David. "Kenapa?"
"Kata. orang itu, mereka membutuhkahmu. Bukan kau, Webb mereka membutuhkan
?Bourne." "Karena kata mereka, Bourne sudah ada di sana. Aku sudah menceritakan padamu apa
yang dikatakan McAllister: Apakah orang itu menjelaskannya?"
'Tidak, tadinya ia tidak bersedia memberitahuku sebanyak itu, tapi mungkin aku
bisa menggunakannya untuk menekan mereka. Tapi ada hal kin yang dikatakannya
padaku, David, dan kau harus tahu. Mereka tidak bisa menemukan perantara mereka,
-jadi mereka tidak tahu siapa para pelaksananya atau apa yang sedang terjadi.
Mereka mengira ini hanya masalah sementara, tapi mereka kehilangan Marie. Ada orang lain yang
menginginkanmu di sana dan ia mengambil alih."
Webb memegang keningnya, matanya terpejam, dan tiba-tiba, dalam kebisuan, air
mata mengalir di pipinya. "Aku kembali, Alex. Kembali ke begitu banyak hal yang
tak bisa kuingat. Aku sangat mencintainya, aku sangat membutuhkannyal"
"Hentikan!" perintah Conklin. "Semalam kau mengatakan aku masih punya otak,
sekalipun tubuh tidak. Kau memiliki keduanya. Buat mereka berkeringat!"
"Bagaimana caranya?"
"Jadilah seperti apa yang mereka inginkaii jadilah si bunglon! Jadilah Jason
?Bourne." "Sudah lama sekali...."
"Kau masih bisa melakukannya. Mainkan skenario yang mereka berikan padamu."
"Aku tidak punya pilihan, bukan?"
Dari pengeras suara terdengar panggilan terakhir untuk Penerbangan 26 ke Hong
Kong. Havilland yang berambut kelabu meletakkan telepon kembali ke tempatnya,
bersandar di kursinya dan memandang McAllister di seberang ruangan. Menteri Muda
Urusan Luar Negeri itu berdiri di samping globe besar yang bertengger pada
tripod berukir, di depan rak buku. Telunjuknya menuding ujung paling selatan
Cina, tapi pandangannya terarah pada Ambassador.
"Sudah selesai," kata diplomat itu. "Ia sudah berada di pesawat ke Kowloon."
"Sangat tidak menyenangkan," jawab McAllister.
"Aku yakin tampak seperti itu bagimu, tapi sebelum kau menilai, pertimbangkan
keuntungannya. Kita sekarang bebas. Kita tidak lagi bertanggung jawab atas
kejadian-kejadian yang berlangsung. Mereka sedang dimanipulasi oleh kelompok
yang tidak dikenal."
"Dan itu kita! Kuulangi, sangat tidak menyenangkan!"
"Apakah hal yang tidak menyenangkan itu mempertimbangkan konsekuensinya bila
kita gagal?" "Kita diberi kehendak bebas. Hanya etika yang menghalangi."
"Membosankan sekali, Mr. Undersecretary. Ada keuntungan yang lebih besar."
"Juga ada seorang manusia, pria yang kita manipulasi, kita dorong kembali
memasuki mimpi-mimpi buruknya. Apakah kita berhak melakukannya?"
"Kite tidak punya pilihan. Ia bisa melakukan apa yang tak b' dilakukan orang
lain kalau kita memberinya alasan untuk melakukaruiya"?McAllister memutar globe; bola itu berputar sementara ia berjalan k meja.
"Mungkin seharusnya tidak kukatakan, tapi akan kukatakan jUga " katanya sambil
berdiri di depan Raymond Havilland. "Menurutku, kau orang paling tak berrnoral
yang pemah kutemui."
"Penampilan, Mr. Undersecretary. Aku memiliki satu penebusan yang bisa mengatasi
semua dosa yang kulakukan. Aku bersedia melakukan apa saja, menyuap semua yang
bisa disuap, untuk mencegah planet ini meledakkan diri sendiri. Dan itu termasuk
kehidupan seorang David Webb yang dikenal sebagai Jason Bourne di tempat
?tujuannya." 8 JCaBUT membubung bagai berlapis-lapis syal transparan di atas Pelabuhan Victoria
saat jet raksasa itu berputar-putar mendekati Bandara Kai-tak. Kabut pagi hari
ini tebal, menjanjikan hari yang lembap. Di bawah, di perairan, perahu-perahu
junk dan sampan terayun-ayun di samping kapal-kapal kargo, barkas, feri yang
hilir mudik, dan patroli laut yang sesekali merrytsir pelabuhan. Saat pesawat
menurun ke bandara Kowloon, jajaran pencakar langit Hong Kong tampak seperti
raksasa-raksasa gading, menjangkau menerobos kabut dan memantulkan cahaya
pertama matahari pagi yang memancar.
Webb memperhatikan pemandangan di bawah, sebagai orang yang sedang berada dalam
tekanan hebat sekaligus orang yang dikuasai rasa ingin tahu yang jauh dari
perasaannya sendiri. Di suatu tempat di bawah sana, di wilayah menggelegak dan
berpopulasi padat, terdapatlah Marie itu pikiran yang paling utama dan paling
?menyakitkan. Sekalipun begitu, bagian lain dalam dirinya mirip ilmuwan yang
merasakan gairah dingin saat mengintip ke balik lensa mikroskop, berusaha
menemukan apa yang bisa dipahami mata dan benaknya. Perasaan yang familier dan
yang tidak familier menyatu, dan menghasilkan kebingungan dan ketakutan. Selama
sesi-sesi bersama Panov di Virginia, David sudah membaca dan membaca ulang
ratusan iklan dan brosur perjalanan yang menjabarkan semua lokasi tempat si
mitos Jason Bourne diketahui pemah berada; usaha terus-menerus, yang sering kali
menyakitkan, untuk meneliti diri sendiri. Potongan-potongan kenangan muncul
kembali dalam kilasan pengenalan; banyak di antaranya terlalu singkat dan
membingungkan, yang lain terlalu lama, memorinya yang muncul tiba-tiba sangat
akurat, deskripsi tempat .itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari manual
agen-agen perjalanan. Saat memandang ke bawah sekarang, ia melihat banyak hal
yang ia ketahui, topi tidak bisa diingataya secara spesifik. Jadi ia membuang
muka dan berkonsentrasi pada hari yang akan dihadapinya.
Ia sudah mengirim kawat ke Hotel Regent di Kowloon dari Bandara
Dulles, memesan kamar untuk seminggu atas nama Howard Cruett, identitas di
paspor yang telah dipoles Cactus, dengan foto bermata him. Ia menambahkan, "Aku
yakin perusahaan kami sudah mengatur pemesanan Suite 690, kalau tersedia. Hari
kedatangan sudah pasti, penerbangan belum."
Suite itu tersedia. Yang hams ia ketahui adalah siapa yang me-nyediakannya. Itu
langkah pertama menemukan Marie. Dan sebelum atau sesudah atau selama proses
itu, ada barang-barang yang harus dibeli beberapa bisa dibeli dengan mudah, ?lainnya tidak. Tapi menemukan yang lebih sulit diperoleh pun bukan hal mustahil.
Ini Hong Kong, koloni orang-orang yang sanggup bertahan hidup, sekaligus alat-
alat pertahanan hidup itu sendiri. Ini juga satu-satunya wilayah beradab di bumi
tempat agama berkembang tapi satu-satunya tuhan yang diakui, baik oleh mereka
yang percaya maupun yang tidak, adalah uang. Seperti pendapat Marie, "Hong Kong
tidak memiliki alasan lain untuk keberadaannya."
Pagi yang lembap itu penuh bau manusia yang berbondong-bondong dan bergegas-
gegas, yang anehnya bukannya tidak menyenangkan. Tepi jalan disiram air, uap
mengepul dari aspal yang mengering tertimpa pan as matahari, dan bau harum akar-
akaran yang direbus dalam minyak melayang-layang di jalan-jalan sempit, dari
kereta-kereta dan kios-kios yang ribut menarik perhatian. Keributan itu
meningkat; berubah menjadi serangkaian kresendo konstan yang menuntut penerimaan
dan penjualan atau sedikitnya negosiasi. Hong Kong adalah esensi pertahanan
hidup; orang harus bekerja mati-matian atau tidak akan bertahan. Adam Smith
tenggelam dan ketinggalan zaman; ia tidak akan pemah bisa membayangkan dunia
seperti ini. Dunia yang mengejek kedisiplinan yang diproyek-sikannya bagi
perekonomian bebas; ini gila. Inilah Hong Kong.
David mengangkat tangan memanggil taksi, tahu bahwa ia pemah melakukannya, tahu
pintu-pintu keluar yang ditujunya sesudah kejemuah panjang di bea cukai, tahu
bahwa ia mengenai jalan-jalan yang dipilih sopir taksi -tidak benar-benar
?ingat, tapi entah bagaimana ia tahu. Hal itu menenangkan sekaligus sangat
menakutkan. Ia tahu sekaligus tidak tahu. Ia seperti boneka yang sedang
dimainkan di panggung dalam pertunjukannya sendiri, dan ia tidak tahu siapa
boneka dan siapa dalang-nya.
"Ini kekeliruan," kata David pada petugas di belakang meja maimer oval di
tengah-tengah lobi Regent. "Aku tidak minta suite. Aku lebih suka kamar yang
lebih kecil; kamar single atau double sudah cukup."
'Tapi ini sudah diatur, Mr. Cruett," jawab resepsionis yang kebingungan,
menggunakan nama Webb dalam paspor palsunya.
"Kau yang membuatnya?"
Pemuda Oriental itu mengamati tanda tangan pada reservasi basil cetakan
komputer. "Disahkan oleh asisten manajer, Mr. Liang,"
"Kalau begitu, demi kesopanan sebaiknya aku berbicara dengan Mr. Liang, bukan?"
"Saya khawatir hams begitu. Saya tidak yakin apakah masih tersedia kamar lain."
"Aku mengerti. Akan kucari hotel lain."
"Anda adalah tamu penting, Sir. Saya akan berbicara dengan Mr. Liang."
Webb mengangguk, sementara petugas itu, sambil membawa lembar reservasi kamar,
menunduk di bawah.ujung kiri meja dan bergegas berjalan menyeberangi lobi yang
padat menuju pintu di 'belakang meja concierge. David memandang ke sekitar lobi
yang mewah itu, yang boleh dikata dimulai dari halaman berbentuk lingkaran yang
luas dengan air mancur yang menyembur tinggi, hingga-deretan pintu kaca dan
membentang di lantai maimer, hingga jendela raksasa berbentuk setengah lingkaran
yang menghadap Pelabuhan Victoria. Keramaian yang selalu bergerak di baliknya
merupakan tambahan yang menghipnotis pada mise en scene ruang tunggu melengkung
yang terbuka di depan dinding kaca berwarna lembut. Terdapat lusinan meja kecil
dan kursi kulit, sebagian besar terisi, dengan para pramusaji berseragam
berkeliaran tergesa-gesa. Tempat itu merupakan arena tempat wisatawan dan
negosiator bisa menikmati panorama perdagangan pelabuhan, dimainkan di depan
pencakar langit pulau Hong Kong yang menjulang di kejauhan. Pemandangan perairan
itu terasa familer, tapi yang lain-lain tidak. Ia belum pemah berada di hotel
mewah ini; sedikitnya tidak ada apa pun yang memicu kilasan kenangan.
Tiba-tiba pandangannya tertarik pada petugas hotel yang tergesa-gesa
menyeberangi lobi, mendului pria Oriental paro baya, jelas sang asisten manajer
Regent, Mr. Liang. Sekali lagi pria yang lebih muda itu menunduk di bawah konter
dan bergegas kembali ke posisinya di depan David, matanya yang kooperatif
membelalak lebar penuh harapan. Beberapa detik kemudian eksekutif hotel itu
mendekat, membungkuk sedikit dari pinggang, sesuai jabatannya.
"Ini Mr. Liang, Sir,"- kata petugas tadi. .
"Ada yang bisa saya bantu?" kata sang asisten manajer. "Dan bolehkah saya
katakan kami senang bisa menyambut Anda sebagai tamu kami?"
Webb tersenyum dan menggeleng sopan. "Aku khawatir mungkin lain kali saja."
"Anda tidak senang dengan akomodasi kami, Mr. Cruett?"
"Sama sekali tidak begitu, aku mungkin malah sangat menyukainya. Tapi seperti
yang tadi kukatakan pada pemuda ini,-aku lebih suka kamar yang lebih kecil,
single atau bahkan double, bukan suite. Tapi, kalau tidak salah, Anda tidak
memiliki kamar kosong lagi."
115 "Kawat Anda secara spesifik menyebutkan Suite 690, Sir." "Aku menyadarinya dan
minta maaf. Itu berkat seorang wiraniaga yang terlalu bersemangat." Webb
mengerutkan kening dengan ramah tapi bingung, lalu bertanya dengan sopan,
"Omong-omong, siapa yang melakukan pemesanan itu" Jelas bukan aku."
"Mungkin perwakilan Anda di sini," kata Liang, pandangannya tidak mengungkap apa
pun. "Bagian penjualan" Ia tidak memiliki wewenang untuk itu. Tidak, katanya salah
satu perusahaan di sini. Kami tidak bisa menerimanya, tentu saja, tapi aku ingin
tahu siapa yang memberi penawaran yang begitu dermawan. Mr. Liang, karena Anda
sendiri yang mengesahkan pemesannya, Anda tentu bisa memberitahuku."
Pandangan yang tidak mengungkap apa-apa tadi mendadak tampak menjauh, lalu ia
mengerjap; sudah cukup bagi David, tapi tipuannya harus ditemskan. "Saya yakin
salah seorang staf kami di antara staf kami yang sangat banyak datang menemui ? ?saya membawa pesanan itu, Sir. Ada begitu banyak pesanan, kami begitu sibuk,
saya benar-benar tidak ingat."
"Pasti ada instruksi penagihan."
"Kami memiliki banyak klien terhormat yang sudah cukup hanya dengan menelepon."
"Hong Kong sudah berubah."
"Dan akan selalu berubah, Mr. Cruett: Mungkin tuan rumah Anda ingin
mengatakannya sendiri pada Anda. Tidak sopan untuk melanggar harapan seperti
itu." "Kepercayaan Anda mengagumkan."
"Didukung kode - penagihan di komputer kasir, sudah sewajamya." Liang berusaha
tersenyum; senyumnya terlihat palsu.
"Well, karena Anda tidak memiliki kamar lain, aku akan mencari sendiri. Aku
punya teman di Pen di seberang jalan," kata Webb, maksudnya Peninsula Hotel.


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tidak perlu. Kami bisa membuat pengaturan lebih jauh."
'Tapi kata anak buah Anda "?"Ia bukan asisten manajer Regent, Sir." Liang memelototi pemuda di belakang meja
itu. "Layar saya tidak menunjukkan adanya kamar tersedia," kata pemuda itu,'
memprotes untuk membela diri,
"Diam!" Liang seketika tersenyum, sama palsunya dengan senyumnya yang tadi,
menyadari ia sudah membongkar sandiwaranya dengan perintah itu-. "Ia masih
begitu muda mereka semua. begitu muda dan tidak berpengalaman tapi sangat
? ?cerdas, senang membantu.... Kami sengaja menyisakan beberapa kamar cadangan untuk
kesalahpahaman." Sekali lagi ia memandang anak buahnya dan berbicara dengan
kasar sambil 116 tersenyum. "Ting, ruan-ji!" Ia melanjutkan berbicara cepat dalam bahasa Cina,
setiap kata dipahami oleh Webb yang tak menunjukkan ekspresi apa pun. "Dengarkan
aku, kau ay am tanpa tiilangl Kalau aku ada, jangan pemah memberi informasi
tanpa kuminta! Kau akan dibuang melalui pintu pembuangan sampah kalau sampai
melakukannya lagi. Sekarang masukkan orang bodoh ini ke Kamar dua-nol-dua. Kamar
itu tercatat sudah dipesan; singkirkan catatan itu dan proses orang ini."
Asisten manajer, senyumnya yang kaku tampak lebih mencolok, berpaling kembali
pada David. "Kamar itu sangat menyenangkan dengan pemandangan pelabuhan, Mr.
Cruett." Sandiwara sudah berakhir, dan pemenang meminimalkan kemenangan-nya dengan
penghargaan. "Aku sangat berterima kasih," kata David, pandangannya menatap
tajam Liang yang tiba-tiba merasa tidak aman. "Dengan begitu aku tidak perlu
bersusah payah menelepon ke seluruh kota untuk memberitahu orang-orang di mana
aku menginap." Ia terdiam, tangan kanannya agak terangkat, seperti orang yang
hendak melanjutkan bicara. David Webb beraksi mengikuti insting, insting yang
dikembangkan Jason Bourne. Ia tahu sekaranglah saatnya untuk menanamkan rasa
takut. "Sewaktu Anda mengatakan kamar dengan pemandangan indah, kuanggap yang
kaumaksud adalah 'you hao jingse de fang jian.' Apakah benar" Atau bahasa Cina-
ku terlalu buruk?" Manajer hotel itu menatap si orang Amerika. "Saya tidak bisa mengungkapkannya
dengan lebih baik lagi," katanya lembut. "Anak buah saya akan membereskan
segalanya. Nikmati kunjungan Anda di sini, Mr. Cruett."
"Kenikmatan harus diukur berdasarkan keberhasilan, Mr. Liang. Itu ungkapan Cina
yang entah sudah kuno atau sangat bam; aku tidak tahu yang mana."
"Saya rasa itu masih bam, Mr. Cruett. Terlalu aktif untuk refleksi pasif, yang
merupakan jiwa Konfusius, yang saya yakin sudah Anda ketahui." "Bukankah ini
keberhasilan?" "Anda terlalu gesit bagi saya, Sir." Liang membungkuk. "Kalau ada yang Anda
butuhkan, jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya."
"Kurasa tidak ada, tapi terima kasih. Sejujumya, penerbanganku panjang dan
melelahkan, jadi aku meminta operator menahan semua telepon hingga makan malam."
"Oh?" Perasaan tidak aman Liang semakin jelas; orang yang sangat ketakutan.
'Tapi kalau ada keadaan darurat "?"Tidak ada yang tidak bisa menunggu. Dan karena aku tidak berada di Suite 690,
hotel bisa mengatakan aku diharapkan datang terlambat. Masuk akal, bukan" Aku
sangat lelah. Terima kasih, Mr. Liang."
"Saya yang harus berterima kasih, Mr. Cruett" Asisten manajer itu kembali
membungkuk, mencari-cari tanda terakhir di mata Webb. Ia
117 tidak menemukannya dan bergegas berbalik, dengan gugup, dan kembali ke kantomya.
Lakukan yang tak terduga. Buat musuhmu kebingungan, jebak dalam keadaan tidak
siap Jason Bourne. Atau Alexander Conklin"
?"Ini kamar yang paling hyaman, Sir!" seru petugas resepsionis yang lega itu.
"Anda pasti sangat puas."
"Mr. Liang sangat membantu," kata David. "Aku seharusnya menunjukkan rasa terima
kasihku, sebagaimana yang akan kulakukan atas bantuanmu." Webb mengeluarkan
penjepit uang kulit dan tanpa kentara mencabut sehelai dua puluh dolar Amerika.
Ia mengulurkan tangan untuk berjabatan, uangnya tersembunyi. "Pukul berapa Mr.
Liang pulang kerja?"
Pemuda yang kebingungan tapi sangat gembira itu melirik ke kanan-kirinya,
berbicara dengan kata-kata yang tidak berkesinambungan. "Ya! Anda baik sekali,
Sir. Tidak perlu, Sir, tapi terima kasih, Sir. Mr. Liang meninggalkan kantor
setiap sore pukul lima. Saya juga pulang pada jam itu. Saya akan tetap di sini,
tentu saja, kalau manajemen meminta, karena saya berusaha sangat keras untuk
bekerja sebaik-baiknya demi kehormatan hotel."
"Aku yakin begitu," kata Webb. "Dan pekerjaanmu pasti kompeten. Tolong kunciku.
Barang-barangku akan menyusul karena pergantian pesawat dalam perjalanan."
'Tentu saja, Sir!" David duduk di kursi dengan jendela menghadap ke pelabuhan Hong Kong Nama-nama
muncul dalam benaknya bersama gambar-gambar Causeway Bay, Wanchai, Repulse
?Bay, Aberdeen, Victoria Peak dengan pemandangan yang mengagumkan ke seluruh
koloni. Lalu ia melihat dengan mata hatinya orang-orang yang berjejakn di jalan-
jalan yang penuh sesak, berwarna-wami, sering kali kotor, lobi dan ruang duduk
hotel yang ramai, dengan cahaya lembut dari lampu-lampu kristal keemasan, tempat
sisa-sisa zaman kekaisaran yang berpakaian bagus enggan bergaul dengan para
pengusaha Cina yang mulai bangkit mahkota ma dan uang baru harus mencari
?kesepakatan.... Lorong-lorong.... En tab untuk alasan apa, lorong-lorong penuh sesak
dan kumuh muncul dalam benaknya Sosok-sosok berlarian melintasi jalan-jalan
sempit, menabrak kandang-kandang burung kecil yang mencicit-cicit dan ular
berbagai ukuran yang menggeliat-geliat barang dagangan para pedagang asongan di
?tataran terbawah tangga perdagangan wilayah itu. Pria dan wanita berbagai usia,
dari anak-anak hingga yang sudah uzur, berpakaian lusuh dan tubuh bau, asap
tebal mengepul lambat ke atas, mengisi ruang dl sela-sela gedung yang mcmbusuk,
menebarkan cahaya, menyangatkan keremangan dinding batu yang menghitam oleh
penggunaan dan penyalahgunaan. Ia melihat semua itu dan semua itu memiliki arti
ya, tapi ia tidak mengerti. Ia tidak mampu mengingat hal-hal
spesifik; ia tidak memiliki titik referensi dan hal itu membuatnya nyaris gila.
Marie ada di luar sana! Ia hams menemukannya! Ia melompat bangkit dari kursi
dengan frustrasi, ingin membenturkan kepala untuk menjernihkan kebingungannya,
tapi ia tahu tindakan itu tidak akan membantu tidak ada yang bisa membantu, ?kecuali waktu, dan ia tidak sabar menunggu waktu. Ia harus menemukan Marie,
memeluknya, melindunginya, sebagaimana Marie pemah melindunginya dengan
mempercayai dirinya sewaktu ia sendiri tidak percaya. Ia melewati cermin di atas
meja dan memandang wajahnya yang pucat dan kuyu. Satu hal sudah jelas. Ia hams
menyusun rencana dan bertindak cepat, tapi bukan sebagai orang yang dilihatnya
di cermin. Ia harus memainkan segala sesuatu yang pemah dipelajari dan
dilupakannya sebagai Jason Bourne. Dari suatu tempat di dalam dirinya ia hams
memanggil masa lalu yang membingungkan dan mempercayai naluri yang tak bisa
diingatnya. Ia sudah mengambil langkah pertama; koneksi itu kokoh, ia tahu. Dengan satu atau
lain cara, Liang akan memberinya sesuatu, mungkin informasi tingkat terendah,
tapi informasi itu akan menjadi awal nama, tempat, atau drop, tempat pengiriman
?pesan kontak awal yang akan menuju kontak selanjutnya dan selanjutnya. Yang
?hams ia lakukan adalah bergerak cepat dengan apa pun yang diperolehnya, tidak
memberikan kesempatan pada musuh untuk bermanuver, menyudutkan siapa pun yang
dihubunginya hingga pilihan beritahu-dan-kauhidup atau tutup-mulut-dan-kau-
mati dan bersungguh-sungguh. Tapi untuk dapat menyelesaikan apa pun, ia harus
?bersiap-siap. Ia hams membeli barang-barang, dan mengatur tar di koloni ini. Ia
perlu waktu sekitar satu jam untuk mengamati dari kursi belakang mobil,
mengingat kembali apa pun yang bisa diingatnya dari memorinya yang telah rusak.
Ia meraih buku petanjuk hotel bersampul kulit merah, duduk di tepi ranjang dan
membukanya, membalik-balik halaman dengan cepat. Pusat Perbelanjaan Dunia Baru,
kompleks lima lantai yang mengagumkan dengan barang-barang terbaik dari empat
penjuru bumi berada di bawah satu atop... Terlepas dari hiperbolanya, "kompleks"
itu berada di samping hotel; berguna bagi tujuannya. Limusin tersedia setiap
saat untuk bisnis atau pesiar. Tekan 62 untuk menghubungi Concierge. Limusin
juga berarti sopir mahal yang memiliki pengetahuan tentang jalan-jalan yang
membingungkan, jalan-jalan belakang, jalan besar, dan pola lalu lintas Hong
Kong, Kowloon, dan Wilayah Baru, juga pengetahuan dalam bidang-bidang lainnya.
Orang-orang seperti itu mengenai luar-dalam dan lapisan yang lebih rendah dari
kota tempat mereka mengabdi. Kecuali ia keliru, dan instingnya mengatakan ia
tidak keliru, ada kebutuhan tambahan yang harus dipenuhi. Ia harus memiliki
pistol. Akhimya, ada bank di Distrik Pusat Hong Kong yang memiliki perjanjian
dengan instifusi keuangan ribuan mil jauhnya di Kepulauan Cayman. Ia hams masuk bank itu,
menandatangani apa pun yang harus ditandatanganinya, dan keluar dengan membawa
uang lebih banyak daripada yang mau dibawa orang yang waras di Hong Kong atau
?di tempat lain mana pun. Ia akan menemukan tempat untuk menyembunyikannya, tapi
bukan di bank dengan jam kerja yang membatasi ketersediaan uang itu. Jason
Bourne tahu: Berjanjilah untuk mengampuni nyawa, maka orang itu biasanya akan
bekerja sama; berjanjilah mengampuni nyawa dan berikan sejumlah besar uang, maka
pengaruh kumulatifnya akan membawa kepatuhan total.
David meraih bloknot dan pensil di dekat telepon di meja samping ranjang, dan
mulai menyusun daftar lain. Hal-hal kecil menjadi lebih besar seiring berlalunya
waktu, dan ia tidak memiliki banyak waktu tersisa. Sekarang sudah hampir pukul
sebelas. Pelabuhan tampak kemilau tertimpa cahaya matahari. Ada banyak yang
harus dilakukannya sebelum pukul 16.30, pada saat ia berniat menempatkan diri
tanpa terlihat di suatu tempat dekat pintu keluar karyawan, atau di garasi hotel
di lantai bawah, atau di mana pun ia bisa mengikuti dan menjebak Liang yang
berwajah kaku, koneksinya yang pertama.
Tiga menit kemudian daftar itu selesai. Ia merobek halamannya, bangkit dari
ranjang, dan meraih jas di kursi.. Tiba-tiba telepon berdering, merobek
kesunyian kamar.. Ia harus memejamkan mata, mengencangkan setiap otot di lengan
dan perutnya agar tidak melompat ke sana, berharap bisa mendengar suara Marie,
bahkan bila ia ditawan. Ia tidak boleh menerima telepon itu. Insting. Jason
Bourne. Ia tidak memegang kendali. Kalau ia menjawab telepon itu, ia yang akan
dikendalikan. Ia membiarkan telepon itu berdering sambil berjalan ke seberang
ruangan dan keluar dari pintu dengan pedib.
Ia kembali sepuluh menit selewat tengah hari, membawa beberapa kantong plastik
tipis dari berbagai toko di Pusat Perbelanjaan. Ia meletakkan barang-barang itu
di ranjang dan mulai membongkar belanjaannya. Di antara barang-barang tersebut
terdapat mantel hujan tipis dan topi kanvas berwarna gelap, sepasang sepatu
tenis, celana panjang hitam dan sweter, juga hitam; inilah pakaian yang akan
dikenakannya di malam hari. Lalu benda-benda lainnya: segulung senar pahcing
berkekuatan 32,5 kilogram-hasil-uji dengan dua kail sepanjang telapak tangan
tempat senar sepanjang sembilan meter akan dililitkan dan diikat di kedua
ujungnya, pemberat kertas 20 ons berbentuk miniatur barbel dari kuningan,
sebatang pemecah es, dan sebilah pisau berburu ramping dengan panjang empat
sentimeter, bermata ganda dan sangat tajam, plus sarungnya. Inilah senjata-
senjata tanpa suara yang akan dibawanya siang dan malam. Satu benda lagi masih
harus dicari; ia akan mendapatkannya.
Sementara ia memeriksa barang-barang yang sudah dibeli, konsentrasinya menyempit
ke kail dan senar, dan ia menyadari cahaya mungil yang berkedip-kedip. Menyala,
mati... menyala, mati. Cahaya itu menjengkelkan karena ia tidak bisa menemukan
sumbemya, dan, sebagaimana yang sering terjadi, ia harus berpikir apakah benar-
benar ada sumber cahaya atau cahaya itu hanya bayangannya. Lalu pandangannya
tertarik ke meja samping ranjang; cahaya matahari menerobos masuk melalui
jendela yang menghadap ke pelabuhan, menyinari telepon, tapi cahaya yang
berkedip-kedip itu ada di sana, di sudut kiri bawah instrumen itu hampir tak ?terlihat, tapi ada di sana. Lampu itu merupakan isyarat adanya pesan, bintik
merah kecil yang menyala selama sedetik, padam sedetik, dan terus memberi
isyarat pada interval seperti itu. Pesan, bukan panggilan telepon, pikirnya. Ia
melangkah ke meja, mempelajari instraksi pada kartu plastik, dan meraih gagang
telepon; ia menekan tombol-tombol yang tepat.
"Ya, Mr. Cruett?" kata operator di panel telepon berkomputer.
"Ada pesan untukku?" tanyanya.
"Ya, Sir. Mr.. Liang sejak tadi berusaha menghubungi Anda "
?"Kukira mstruksiku sudah jelas," sela Webb. "Tidak boleh ada telepon sampai
kuperintahkan sebaliknya."
"Ya, Sir, tapi Mr. Liang asisten manajer di sini manajer senior kalau atasannya
?tidak ada, dan begitulah keadaannya pagi ini... sore ini. Ia mengatakan hal ini
sangat mendesak. Ia menelepon Anda setiap beberapa menit selama satu jam
terakhir. Akan saya hubungi beliau sekarang, Sir."
David menutup telepon. Ia tidak siap menghadapi Liang, atau lebih tepat, Liang
belum siap menghadapinya sedikimya, tidak seperti yang dmgirikan David. Liang
?tegang, mungkin nyaris panik, karena ia kontak pertama dan yang paling rendah,
dan ia sudah gagal menempatkan subjek di tempat yang seharusnya di suite yang
?sudah dipasangi penyadap, tempat musuh bisa mendengar setiap patah kata. David
ingin Liang melewati batas. Cara tercepat untuk memprovokasi keadaan seperti itu
adalah dengan tidak mengizinkan kontak, tidak ada pembicaraan, tidak ada
penjelasan mengenai subjek terkait untuk membebaskan si pelanggar dari
kesalahan. Webb meraih pakaian-pakaian dari ranjang dan memasukkannya ke dalam dua laci
lemari bersama benda-benda yang dikeluarkannya dari tas kabin; ia menjejalkan
kail dan senar pancing di antara pakaian. Ia lalu meletakkan pemberat kertas di
atas menu layanan kamar di meja dan menyelipkan pisau berburu ke dalam saku
jasnya. Ia memandang pemecah es dan tiba-tiba terpukul oleh sesuatu yang dipicu
insting tak dikenal: orang yang tengah dicekam kegelisahan akan bereaksi
berlebihan kalau tertegun melihat sesuatu yang mengerikan. Bayangan muram itu
mengejutkannya, menambah ketakutannya. David mengeluarkan saputang' dari saku
dadanya, mengulurkan tangan mengambil pemecah es itu j
mengusap gagangnya hingga bersih. Sambil memegangi instrumen mematikan itu
dengan kain, ia bergegas melangkah ke ruang tamu kecil, memperhitungkan
ketinggian mata, dan menghunjamkan pemecah es itu ke dinding di seberang pintu.
Telepon berdering, lalu berdering terus, kedengaran panik. Webb keluar dari
kamar dan berlari menyusuri lorong ke arah deretan lift; ia berbelok di lorong
berikut dan mengawasi. Perhitungannya tidak keliru. Panel pintu iogam yang mengilap itu bergeser
membuka dan Liang bergegas keluar dari lift tengah lorong menuju kamar Webb.
David berputar dari tikungan dan melesat ke lift, lalu dengan cepat, tanpa
bersuara, berjalan ke tikungan lorong kamarnya. Ia bisa melihat Liang yang gugup
membunyikan bel pintunya berulang-ulang, akhimya mengetuk pintu dengan mendesak.
Lift lain terbuka dan dua pasangan muncul sambil tertawa-tawa. Salah satu pria
itu memandang Webb dengan bingung, lalu mengangkat bahu saat kelompok itu
berbelok ke kiri. David kembali memperhatikan Liang. Asisten manajer itu mulai
panik, membunyikan bel dan memukul-mukul pintu. Lalu ia berhenti dan menempelkah
telinga ke pintu; setelah puas, ia memasukkan tangan ke dalam saku dan
mengeluarkan seikat anak kunci. Webb menyentakkan kepala ke balik dinding saat
asisten manajer itu berpaling ke kiri-kanan lorong sambil memasukkan sebatang
anak kunci. David tidak perlu melihat; ia hanya ingin mendengar.
Ia tidak perlu menunggu lama. Terdengar jeritan tertahan yang serak, diikuti
debuman pintu. Pemecah es menghasilkan pengaruh yang diinginkan. Webb kembali
berlari ke tempat perlindungannya di balik lift terakhir, tubuhnya merapat di
dinding. Liang tampak terguncang, hapasnya terengah-engah, berulang kali menekan
tombol lift. Akhirnya bel berdenting, dan panel-panel logam lift kedua membuka.
Asisten manajer itu bergegas masuk.
David tidak memiliki rencana spesifik, tapi samar-samar ia tahu apa yang harus
dilakukannya, karena tidak ada cara lain. Ia berjalan menyusuri lorong dengan
cepat, melewati deretan lift, dan berlari menempuh sisa perjalanan ke kamarnya.
Ia masuk dan meraih telepon di meja samping ranjang, menekan angka-angka yang
telah dihafalkannya. "Meja Concierge," kata suara menyenangkan yang tidak bernada Oriental; mungkin
India. "Apa aku berbicara dengan Concierge sendiri?" tanya Webb. "Benar, Sir."
"Bukan asistennya?"
" "Saya khawatir bukan. Apakah Anda ingin berbicara dengan salah seorang
asisten" Orang yang bisa memecahkan masalah, mungkin?"
"Tidak, aku ingin berbicara dengan Anda,"- kata David dengan suara pelan. "Aku
menghadapi situasi yang harus ditangani dengan kerahasiaan penuh. Apakah aku
bisa mengandalkan Anda" Aku bisa sangat dermawan."
"Anda tamu hotel?" "Aku tamu hotel."
"Dan, tentunya, tidak ada hal-hal negatif, bukan" Tidak ada apa pun yang akan
merugikan nama baik tempat ini."
"Hanya meningkatkan reputasinya karena membantu pengusaha yang hati-hati dan
ingin mendatangkan perdagangan ke wilayah ini. Perdagangan yang sangat besar."
"Saya siap melayani Anda, Sir."
David mengatur agar sebuah limusin Daimler dengan sopir paling berpengalaman
menjemputriya sepuluh menit lagi di pintu keluar Salisbury Road. Concierge akan
berdiri di dekat mobil dan untuk kerahasiaannya akan menerima dua ratus dolar
Amerika, kurang-lebih 1.500 dolar Hong Kong. Tidak ada nama individu yang
tercatat untuk penyewaan limusin itu hams dibayar runai untuk pemakaian selama ?
24 jam hanya nama perusahaan yang dipilih secara acak. Dan "Mr. Cruett", ?dikawal oleh pelayan lantai, bisa menggunakan lift karyawan ke lantai paling


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bawah Regent, tempat terdapat pintu keluar menuju Pusat Perbelanjaan Dunia Bam
dengan akses langsung untuk penjemputan di Salisbury Road.
Sesudah pengaturan dan uang dibereskan, David naik ke kursi belakang Daimler,
dan menghadapi wajah keriput seorang sopir setengah baya berseragam yang
ekspresi kelelahannya sedikit diperingan oleh upaya untuk menyenangkan.
"Selamat datang, Sir! Nama saya Pak-fei, dan saya akan berusaha keras memberikan
pelayanan terbaik pada Anda! Katakan ke mana, dan akan saya an tar Anda ke sana.
Saya tahu segalanya!"
"Aku memang mengandalkan hal itu," kata Webb lembut.
"Maaf, Sir?" "Wo bushi luke," kata David, menyatakan bahwa ia bukan wisatawan. 'Tapi karena
sudah bertahun-tahun aku tidak kemari," lanjutnya dalam bahasa Cina, "aku ingin
memperbarui pengetahuanku. Bagaimana dengan wisata pulau yang; biasa dan
membosankan, lalu perjalanan singkat ke Kowloon" Aku harus kembali sekitar dua
jam lagi.... Dan mulai sekarang, kita menggunakan bahasa Inggris."
"Ahh! Bahasa Cina Anda sangat bagus sangat berkelas, tapi saya mengerti semua
?yang Anda katakan. Tapi hanya dua zhong-tou "
?"Jam," sela Webb. "Ingat, kita menggunakan bahasa Inggris, dan aku tidak ingin
ada kesalahpahaman. Tapi dua jam ini termasuk tip, dan dua puluh dua jam sisanya
termasuk tip untuk itu, tergantung seberapa baik kita bekerja sama,"
"Yes, yes!" seru Pak-fei, si sopir, sambil menghidupkan mesin Daimler dan dengan
percaya diri mengarahkannya memasuki lalu lintas Salisbury Road yang tidak
tertolerir. "Saya akan berusaha keras memberi pelayanan yang sangat baik!"
Orang itu melakukannya, dan nama-nama serta bayangan-bayanB yang melintas di
benak David di kamar hotelnya diperkuat oleh aslinya la mengetahui jalan-jalan
di Central District, mengenali Hotel Mandarin dan Hong Kong Club, dan Chater
Square dengan Mahkamah Agu ' koloni di seberang gedung raksasa perbankan Hong
"Kong. Ia pemau berjalan melalui keramaian pejalan kaki ke kebingungan liar yang
bemama Star Ferry, penghubung langsung pulau ini ke Kowloon. Queen's Road
Hillier, Possession Street... Wanchai yang murahan semua kembali' dalam arti ia
?pemah berada di sini, di tempat-tempat itu, rnengetahuinya mengenal jalan-
jalannya, bahkan jalan-jalan pintas dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia
mengenali jalan berliku-liku ke Aberdeen, mengharapkan pemandangan restoran-
restoran terapung yang meriah dan, di baliknya. junk-junk dan sampan-sampan
manusia perahu yang luar biasa sesak, masyarakat terapung yang tak benar-benar
memiliki apa pun; ia bahkan bisa mendengar suara berderak dan bantingan serta
jeritan para pemain mahyong. dengan pan as melemparkan taruhan di bawah
keremangan cahaya lentera yang terayun-ayun di malam hari. Ia pernah bertemu
dengan pria dan wanita kontak dan perantara, pikirnya di pantai-pantai Shek O
? ?dan Big Wave, dan ia pernah berenang di perairan Repulse Bay yang penuh sesak,
dengan patung-patung artifisial yang besar dan sisa-sisa keanggunan Hotel
Colonial. Ia pernah melihat semua ini, ia mengetahui semuanya, tapi tidak mampu
mengaitkannya dengan apa pun.
Ia memandang arlojinya; mereka sudah bermobil selama hampir dua jam. Tinggal
satu perhentian terakhir di pulau, lalu ia akan menguji Pak-fei. "Kembalilah ke
Chater Square," katanya. "Aku punya urusan bisnis di salah satu bank. Kau bisa
menungguku." Uang bukan saja pelumas sosial dan industri; dalam jumlah yang cukup besar uang
merupakan paspor untuk kemampuan bermanuver. | Tanpa uang, langkah orang-orang
terhambat, pilihan-pilihan mereka terbatas, dan mereka yang tengah berburu
se'ring kali merasa frustrasi karena kurangnya sarana untuk meneruskan
perburuan. Dan semakin besar jumlahnya, semakin mudah pelepasannya; saksikan
perjuangan orang yang sumbernya hanya memungkinkan ia mengajukan permohonan
pinjaman tidak lebih dari lima ratus dolar dibandingan kemudahan orang lain yang
memiliki kredit 500.000 dolar. Begitulah keadaan David di bank di Chater Square
itu. Akomodasinya sigap dan profesional; tas atase untuk mentransfer uang
diberikan tanpa komentar, dan tawaran pengawalan ke hotel kalau ia lebih nyaman
ditemani pengawal. J8 menolak, menandatangani sorat penarikan, dan tidak ada pertanyaan la"1 yang diajukan. Ia kembali ke mobil di jalan
yang sibuk. ,j la mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan tangan kanannya 1 kain lunak kurei
depan, beberapa inci dari kepala si sopir. Ia meng'
"cungkan sehelai seratus dolar Amerika dengan ibu jari dan telunjuknya. "Pak-
fei" katanya. "Aku membutuhkan pistol."
Perlahan-lahan sopir itu memalingkan kepala. Ia menatap uang itu, lalu terus
memandang Webb. Hilang sudah sikap ramah dan ingin fflenyenangkan tadi.
Sebaliknya, wajahnya yang keriput memancarkan ekspresi pasif, matanya yang sipit
menerawang. "Kowloon," katanya. "Di Mongkok." Ia mengambil lembaran seratus
dolar itu.9 liMUSIN Daimler itu merayap di jalan-jalan Mongkok yang padat, kota ramai yang
memiliki predikat tak menimbulkan iri hati sebagai distrik kota yang paling
padat penduduk sepanjang sejarah manusia. Hams dicatat. wilayah ini hampir
secara eksklusif dihuni keturunan Cina. Wajah Barat sangat jarang terlihat
sehingga langsung menarik pandangan penasaran, bermusuhan sekaligus heran. Tidak
ada pria atau wanita kulit putih yang disarankan pergi ke Mongkok sesudah gelap;
tidak ada Oriental Cotton Club di sini. Masalahnya bukan soal rasialisme, tapi
kenyataan. Lahan yang tersedia bagi mereka sudah terlalu sempit dan mereka ?menjaga milik mereka seperti yang dilakukan semua orang Cina sejak dinasti-
dinasti avval. Keluarga berarti semuanya, segalanya, dan terlalu banyak keluarga
yang menghuni satu ruangan dengan satu ranjang dan matras di lantai yang kasar
tapi bersih. Di mana-mana, balkon-balkon kecil memperlihatkan kebutuhan akan
kebersihan, karena tak seorang pun muncul di sana kecuali untuk menjemur cucian
yang seakan tak pernah berakhir. Jajaran balkon terbuka ini mengisi sisi-sisi
apartemen yang berdampingan dan tampaknya selalu resah sementara angin meniup
dinding-dinding dari kain itu, membuat ribuan helai segala rupa pakaian menari-
nari di tempat, bukti lebih jauh akan besarnya jumlah penduduk di kawasan
tersebut. Tapi Mongkok juga tidak miskin. Wama-warna buatan ada di mana-mana, dengan merah
cerah sebagai magnet yang paling dominan. Papan-papan iklan raksasa dan rumit
tampak ke mana pun mata memandang di atas kefumunan; iklan-iklan yang menjulang
hingga tiga tingkat tingginya berjajar di jalan-jalan dan lorong-lorong, huruf-
huruf Cina berusaha membujuk para konsumen. Ada uang di Mongkok, uang yang tidak
bersuara dan yang menjerit histeris, tapi tidak semuanya sah. Yang tidak ada
adalah kelebihan ruang, dan apa yang tersisa adalah milik penduduk asli, bukan
orang luar, kecuali si orang luar dibawa salah seorang penduduk juga membawa
? ?uang untuk memberi makan mesin yang selalu kelaparan, yang menghasilkan banyak
benda duniawi, dan beberapa
126 yang tidak duniawi. Yang menjadi masalah adalah mengetahtti ke mana harus
mencari dan membayar. Pak-fei, si sopir, tahu ke mana harus mencari, dan Jason
Bourne siap membayar. "Saya akan berhenti dan menelepon," kata Pak-fei sambil menghentikan raobil di
belakang truk yang diparkir. "Akan mengunci Anda di dalam mobil dan bergegas."
"Apa itu perlu?" tanya Webb.
"Itu koper Anda, Sir, bukan koperku."
Astaga, pikir David, ia benar-benar bodoh! Ia tidak memperthnbangkan tas atase
itu. Ia membawa lebih dari 300.000 dolar ke jantung Mongkok seakan-akan itu
kotak makan siangnya. Ia mencengkeram pegangannya, menarik tas itu ke pangkuan,
dan memeriksa selotnya; keduanya terpasang, tapi kalau kedua tombol ditekan
sedikit saja, tutup tasnya akan tersentak membuka. Ia berteriak kepada si sopir,
yang sudah turun dari mobil. "Ambilkan selotip! Selotip besar!"'
Terlambat. Suara-suara di jalan memekakkan telinga, kerumunan itu tak lebih
daripada selimut manusia yang saling terjalin, dan mereka ada di mana-mana. Dan
tiba-tiba ratusan pasang mata mengintip dari segala sisi sementara wajah-wajah
yang mengernyit ditempelkan ke kaca, dan Webb menjadi pusat perhatian kawah
jalanan yang baru meletup itu. Ia bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan Bin go
ah" dan Chong man tui, yang secara kasar berarti "Siapa itu?" dan "Mulut penuh",
atau kalau digabungkan, "Siapa jagoan ini?" Ia merasa seperti binatang di dalam
kurungan yang diselidiki segerombolan besar makhluk buas, mungkin kejam. Ia
mencengkeram tasnya, menatap lurus ke depan, dan saat dua tangan mulai mencakar-
cakar celah kecil di bagian atas jendela sebelah kanannya, perlahan-lahan ia
memasukkan tangan ke saku, mengambil pisau berburunya. Jemari itu berhasii
masuk. "Jau!" teriak Pak-fei, sambil menerobos kerumunan. "Ini taipan penting dan
polisi di jalan akan menuangkan minyak mendidih ke kemaluan kalian kalau kalian
mengganggunya! Pergi, pergir Ia membuka pintu, masuk ke belakang kemudi, dan
menutup pintu di antara makian penuh kemarahan. Ia menghidupkan mesin, lalu
menekan klakson dan membiarkan tangannya tetap di sana, menyebabkan keributan
yang tak tertahankan saat lautan manusia itu, dengan perlahan dan enggan,
terbelah. Daimler itu tersendat-sendat di jalan sempit tersebut.
"Kita ke mana?" teriak Webb. "Kukira kita sudah sampai!"
"Pedagang yang akan Anda temui sudah memindahkan tempat bisnisnya, Sir, dan itu
bagus, karena ini bukan distrik yang baik di Mongkok."
"Kau seharusnya menelepon terlebih dulu. Itu tadi bukan pengalaman
menyenangkan." "Kalau saya boleh memperbaiki layanan yang terkesan kurang sempurna, Sir," kata
Pak-fei sambil melirik David di kaca spion tengah.
127 "Kita sekarang tahu Anda tidak sedang diikuti. Konsekuensinya, saya tidak sedang
diikuti ke tempat saya akan mengantar Anda." "Apa maksudmu?"
"Anda masuk dengan tangan kosong ke bank besar di Chater Square dan keluar
dengan tangan tidak bebas. Anda membawa koper."
"Lalu?" Webb mengawasi mata sopir itu, yang terus menatapnya.
'Tidak ada pengawal yang menemani Anda, dan ada orang-orang jahat yang mengawasi
orang-orang seperti Anda sering kali isyarat diberikan oleh orang-orang jahat ?lainnya di dalam. Ini zaman tak menentu, jadi alangkah baiknya kalau kita merasa
lebih yakin." "Dan kau yakin... sekarang."
"Oh ya. Sir!" Pak-fei tersenyum. "Mobil yang mengikuti kita di jalan-jalan kecil
di Mongkok sangat mudah terlihat." "Jadi kau tidak menelepon."
"Oh, saya harus menelepon, Sir. Orang harus menelepon terlebih dulu. Tapi itu
cuma sebentar, dan saya kembali ke trotoar, tanpa topi saya, tentu saja, sejauh
beberapa meter. Tidak ada orang yang tampak marah di dalam mobil, dan tidak ada
yang turun dan berlari-lari di jalan. Saya sekarang akan mengantar Anda ke
pedagang itu dengan perasaan jauh lebih lega."
"Aku juga lega," kata David, bertanya-tanya kenapa Jason Bourne sejenak
meninggalkan dirinya. "Dan aku bahkan tidak tahu bahwa aku harus khawatir. Bukan
tentang kemungkinan diikuti."
Kepadatan Mongkok menipis saat bangunan-bangunan menjadi lebih rendah dan Webb
bisa melihat perairan Pelabuhan Victoria di belakang pagar-pagar kawat ayam
tinggi. Di belakang barikade itu terdapat sekelompok gudang menghadap ke dermaga
tempat kapal-kapal pedagang bersandar dan alat-alat berat merayap dan mengerang,
mengangkat kontainer-kontainer besar ke dalam palka. Pak-fei membelokkan mobil
Ke salab satu pintu gudang satu tingkat yang terpencil; gudang itu tampak
kosong, aspal ada di mana-mana, dan hanya dua mobil yang terlihat. Gerbangnya
tertutup seorang penjaga keluar dari kantor kecil berdmding kaca dan melangkah
ke arah Daimler itu, membawa clipboard.
"Kau tidak akan menemukan namaku dalam daftar," kata Pak-fei dengan nada
berwewenang dalam bahasa Cina saat penjaga itu mendekat "Beritahu Mr. Wu Song
bahwa Regent Nomor Lima ada di sini dan membawa seorang taipan yang sama
terhormatnya seperti dirinya, Ia sudah menunggu kedatangan kami." Penjaga itu
mengangguk, menyipitkan mata dalam cahaya matahari sore untuk melihat penumpang
penting tersebut. "Aiya!" jerit Pak-fei melihat kekurangajaran orang itu. Lalu
ia berpaling dan memandang Webb. "Harap jangan salah mehgerti; Sir," katanya
saat penjaga itu kembali ke teleponnya. "Penggunaan nama hotel saya yang bagus
dalam hal ini tidak ada hubungannya. Sejujurnya saja, kalau Mr. Liang, atau
siapa pun, mengetahui saya menyinggung nama itu dalam bisnis
seperti ini, saya akan dipecat. Saya gunakan nama itu karena saya dilahirkan
pada hari kelima di bulan kelima pada tahun Kristen 1935."
"Aku tidak akan pemah memberitahu siapa pun," kata David, tersenyum dalam hati
karena Jason Bourne temyata tidak meninggalkannya. Mitos yang sekali waktu
menjelma di dalam dirinya mengetahui jalan menuju kontak yang
benar mengetahuinya secara buta dan orang itu ada di dalam diri David Webb.? ?Ruang putih bertirai di dalam gudang itu memajang rak-rak pamer yang dikunci,
mirip museum yang memamerkan artefak-artefak dari peradaban lama,'seperti alat-
alat primitif, serangga yang sudah menjadi fosil, ukir-ukiran mistik dari agama
masa lalu. Perbedaannya hanyalah benda-benda yang dipamerkan. Benda-benda itu
adalah senjata api dari berbagai jenis,- dari pistol dan senapan berkaliber
paling kecil hingga senjata paling canggih untuk perang modem dari senapan
?mesin otomatis seribu peluru dengan magasin spiral di kerangka yang hampir tanpa
bobot hingga roket kendali laser untuk ditembakkan dari bahu, gudang senjata
bagi teroris. Dua pria bersetelan bisnis berdiri berjaga-jaga, satu di luar
pintu masuk, yang lain di dalam. Seperti yang bisa ditebak, penjaga di luar
membungkuk meminta maaf dan mengayunkan pemindai elektronik di sepanjang tubuh
Webb dan sopimya. Lalu pria itu mengulurkan tangan hendak mengambil tas atase.
David menariknya menjauh, menggeleng dan memberi isyarat ke arah pemindai yang
mirip tongkat itu. Penjaga itu mengayunkan alat itu di permukaan tas, sambil
terus mengawasi jarum penunjuknya.
"Dokumen pribadi," kata Webb dalam bahasa Cina, mengejutkan penjaga itu saat ia
melangkah masuk. David perlu waktu hampir semenit penuh untuk menyerap apa yang dilihatnya,
mengusir ketidakpercayaannya. Ia memandang tanda peringatan Dilarang Merokok
yang ditulis dengan huruf tebal dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Cina yang
memenuhi dinding, dan penasaran kenapa papan-papan peringatan itu ada di sana.
Tidak ada benda yang terekspos. Ia mendekati rak senjata genggam dan memeriksa
benda-benda itu, Ia mencengkeram tas atasenya seakan-akan tas tersebut tali
penyelamat yang menghubungkannya dengan kewarasan dalam dunia yang sudah berubah
suiting dengan instrumen kekerasan.
"Huanying!" seru seseorang, diikuti kemunculan pria yang wajahnya kekanak-
kanakan. Ia keluar dari pintu berpanei, mengenakan setelan ketat gaya Eropa yang
menonjolkan bahu dan menjepit pinggang, ekor jasnya melambai-lambai seperti ekor
me rak produk desainer yang ingin menampiIkan sesuatu yang gaya dengan
?mengorbankan citra pria.
"Ini Mr. Wu Song, Sir," kata Pak-fei, membungkuk terlebih dulu pada pedagang
itu, lalu pada Webb. "Anda tidak perlu menyebutkan nama Anda, Sir."
"Bu!" tukas pedagang muda itu sambil menunjuk tas atase David. "Bu jing ya!"
"Klien Anda, Mr. Song, fasih berbahasa Cina." Sopir itu berpaling kepada David.
"Seperti yang sudah Anda dengar, Sir, Mr. Song keberatan dengan keberadaan koper
Anda." "Koperku tidak lepas dari tanganku," kata Webb.
"Kalau begitu tidak ada pembicaraan bisnis yang serius," kata Wu Song dalam
bahasa Inggris yang sempurna.
"Kenapa tidak" Anak buahmu sudah memeriksanya. Tidak ada senjata di dalamnya,
bahkan kalau ada dan aku mencoba membukanya, kurasa aku akan terkapar di lantai
sebelum tutupnya terangkat."
"Plastik?" tanya Wu Song. "Mikrofon plastik yang dihubungkan ke alat perekam
dengan kandungan logam yang begitu kecil hingga diabaikan oleh mesin yang
canggih?" "Anda paranoid."
"Seperti kata orang di negara Anda, itu risiko pekerjaan." "Idiom Anda sama
bagusnya dengan bahasa Inggris Anda." "Columbia University, '73." "Anda
mengambil jurusan senjata?" "Tidak, pemasaran."
"Aiya!" jerif Pak-fei, tapi ia terlambat. Percakapan cepat itu mengaburkan
gerakan para penjaga; mereka sudah menyeberangi ruangan, pada saat terakhir
menerjang ke arah Webb dan sopirnya.
Jason Bourne berbalik, memukul bahu penyerangnya, menjepitnya di ketiaknya dan,
sambil memuntir, memaksa pria itu membungkuk, dan mengempaskan tas atasenya ke
wajah Oriental itu. Gerakan itu telah kembali. Kekerasan telah kembali seperti
yang pernah dialami si penderita amnesia yang kebingungan di perahu nelayan di
lepas pantai Mediterania. Begitu banyak yang terlupakan, begitu banyak yang
tidak bisa dijelaskan, tapi diingat. Pria itu jatuh ke lantai, tertegun,
sementara rekannya berbalik dengan murka menghadapi Webb sesudah menjatuhkan
Pak-fei, si sopir, ke lantai. Ia menghambur maju, tangannya menyilang, dada dan
bahunya yang lebar menjadi pangkal penyodok ganda. David menjatuhkan tas
atasenya, menerjang ke kanan, lalu berputar lagi, sekali lagi ke kanan, kaki
kirinya menerjang dari lantai, menghantam selangkangan pria Cina itu dengan
sangat kuat sehingga orang itu membungkuk sambil menjerit. Webb seketika
menendangkan kaki kanannya, ibu jarinya menghunjam leher penyerangnya, tepat di
bawah rahang pria itu berguling ke lantai, tersengal-sengal mencari napas, satu
tangan di selangkangan, tangan yang lain mencengkeram leher. Penjaga pertama
mulai berdiri; Bourne maju dan menghunjamkan lututnya ke dada pria itu,
melontarkannya hingga ke tengah-tengah ruangan tempat ia jatuh pingsan di bawah
rak pamer. Pedagang senjata yang masih muda itu tertegun. Ia menyaksikan apa yang tak


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terpikirkan, berharap sebentar lagi keadaan akan berbalik, dan
para penjaganya menjadi pemenang. Lalu tiba-tiba ia tahu hal itu tidak akan
terjadi; ia berlari panik ke pintu berpanel, mengulurkan tangan tepat pada saat
Webb menjangkaunya. David mencengkeram bahu berbantalan itu, memutar tubuh
pedagang itu ke tengah ruangan. Wu Song tersandung kakinya yang terkait dan ia
jatuh; ia mengangkat tangannya, memohon. "Jangan, tolong! Hentikan! Aku tidak
tahan dengan konfrontasi fisik! Ambil apa yang kau mau!"
"Kau tidak tahan apa?"
"Kau dengar apa kataku, aku bisa muntahr
"Menurutmu untuk apa semua ini?" teriak David sambil mengayunkan lengan ke
sekeliling ruangan. "Aku melayani permintaan, hanya itu. Ambil apa pun yang kau mau, tapi jangan
sentuh aku. Pleaser Dengan jijik Webb mendekati sopirnya yang jatuh, yang berusaha berlutut, darah
menetes dari salah satu sudut mulutnya. "Yang kuambil akan kubayar," katanya
pada pedagang senjata itu sambil meraih lengan si sopir dan membantunya berdiri.
"Kau baik-baik saja?"
"Anda mencari masalah besar, Sir," jawab Pak-fei, tangannya gemetar, matanya
memancarkan ketakutan. 'Tidak ada hubungannya denganmu. Wu Song tahu. Benar, bukan, Wu?"
"Saya yang membawa Anda kemari!" sopir itu berkeras.
"Untuk mengadakan pembelian," tambah David cepat. "Jadi sebaiknya kita
selesaikan saja. Tapi pertama-tama ikat dulu kedua tukang pukul itu. Gunakan
tirai. Robek saja." Pak-fei memandang pedagang muda itu dengan pandangan bertanya.
"Astaga, lakukan sesuai perintahnya!" teriak Wu Song. "Ia akan menyerangku!
Ambil tirainya! Ikat mereka, tolol"
Tiga menit kemudian Webb telah memegang sepucuk pistol yang tampak aneh,
menggembung tapi tidak besar. Pistol itu berteknologi tinggi; peredam suara
berbentuk silinder berlubang-lubang ditancapkan secara pneumatik, mengurangi
desibel suara tembakan menjadi letupan kecil tapi tidak lebih dari letupan ?kecil akurasinya tidak terpengaruh pada jarak dekat. Pistol itu berisi sembilan
?peluru. magasinnya bisa dilepaskan dan ditancapkan kembali di popor pistol dalam
beberapa detik; ada tiga magasin cadangan 36 butir peluru berkekuatan Magnum .
?357 langsung tersedia bersama pistol yang ukuran dan beratnya hanya separo
Colt .45. "Luar biasa," kata Webb sambil melirik para penjaga yang terikat dan Pak-fei
yang temganga. "Siapa yang merancangnya?" Begitu banyak keahlian yang kembali
padanya: Begitu banyak pengenalan. Dari mana"
"Sebagai orang Amerika. informasi itu mungkin akan membuatmu tersinggung," jawab
Wu Song, "tapi perancangnya orang Bristol, Connecticut, yang menyadari bahwa
perusahaan tempatnya bekerja merancang tidak akan pemah memberinya upah yang
? ?cukup untuk karya-karyanya. Melalui perantara ia terjun ke pasar internasional
tertutup dan menjual rancangan itu ke penawar tertinggi."
"Kau?" "Aku tidak berinvestasi. Aku memasarkan." "Benar, aku lupa. Kau melayani
permintaan." 'Tepat sekali."
"Kau membayar pada siapa?"
"Sejunalah rekening di Singapura, aku tidak tahu apa-apa lagi. Aku terlindung,
tentu saja. Semuanya konsinyasi." "Aku mengerti. Berapa harga pistol ini?"
"Ambil saja. Hadiahku untukmu."
"Kau bau. Aku tidak menerima hadiah dari orang-orang yang bau. Berapa?"
Wu Song menelan ludah. "Harga dalam daftar delapan ratus dolar Amerika."
Webb memasukkan tangan ke dalam saku kirinya dan mengeluarkan uang. Ia
menghitung delapan lembar seratus dolar dan memberikannya kepada pedagang
senjata itu. "Dibayar penuh," katanya.
"Lunas," orang Cina itu membenarkan.
"Ikat dia," David sambil berpaling pada Pak-fei yang ketakutan. 'Tidak, jangan
khawatir. Ikat dia!" "Lakukan perintahnya, idiot.*"
"Lalu bawa mereka bertiga keluar. Di samping gedung, di dekat mobil. Dan jangan
sampai terlihat dari gerbang." "Cepat!" teriak Song. "Ia marah!" "Kau tepat
sekali," kata Webb menyetujui.
Empat menit kemudian kedua penjaga dan Wu Song berjalan dengan kikuk melewati
pintu ke cahaya matahari sore yang terang benderang, yang terasa lebih
menyilaukan akibat pantulan yang menari-nari di perairan Pelabuhan Victoria.
Lutut dan lengan mereka diikat dengan cabikan tirai, jadi mereka bergerak ragu-
ragu dan tidak pasti. Kesunyian dipastikan dengan gumpalan kain di mulut para
penjaga. Pedagang yang masih muda itu tidak perlu mendapat perlakuan seperti
itu; ia sudah ketakutan setengah mati.
Seorang diri, David mengambil tas atase dari lantai dan bergegas mengitari
ruangan, mempelajari barang-barang yang dipamerkan hingga menemukan apa yang
dicarinya: Ia memecahkan kaca dengan popor pistol, menyingkirkan pecahan kaca
dari senjata-senjata yang akan digunakannya senjata-senjata yang disukai para ?teroris di mana-mana granat
?dengan timer, masing-masing berdaya ledak sebesar bom berkekuatan sepuluh
kilogram. Dari mana ia tahu" Di mana ia mempelajarinya"
Ia mengambil enam granat dan memeriksa setiap pengisian baterainya..' Bagaimana
ia bisa melakukannya" Bagaimana ia bisa tahu ke mana harus mencari, apa yang
harus ditekan" Tidak penting. Pokoknya ia tahu. Ia memandang arlpjinya.
Ia mengatur waktu peledakan setiap granat dan berlari sepanjang rak-rak pamer,
menghantam kaca dengan gagang pistolnya, dan menjatuhkan sebutir granat ke
dalamnya. Masih tersisa satu granat dan dua rak pamer; ia menengadah memandang
papan peringatan Dilarang Merokok dan mengambil keputusan lain. Ia berlari ke
pintu panel, membukanya, dan melihat apa yang sudah diduga akan dilihatnya. Ia
melemparkan granat terakhir.
Webb memandang arloji, mengambil tas atase, dan keluar, memastikan ia memegang
kendali. Ia mendekati Daimler di samping gudang, tempat Pak-fei tampak sedang
meminta maaf pada para tawanannya, sambil bercucuran keringat. Sopir itu
bergantian dimaki-maki dan dihibur Wu Song, yang hanya menginginkan tidak ada
kekerasan lagi. "Bawa mereka ke batas air," kata David, menunjuk dinding batu yang menjulang di
atas perairan. Wu Song menatap Webb. "Siapa kau?" tanyanya.
Saatnya tiba. Sekaranglah waktunya.
Sekali lagi Webb memandang arlojinya sambil melangkah mendekati pedagang senjata
itu. Ia mencengkeram siku Wu Song dan mendorong orang Cina yang ketakutan itu
semakrn jauh di samping gedung, tempat kata-kata yang diucapkarmya dengan pelan
tidak terdengar oleh yang lain. "Namaku Jason Bourne," kata David.
"Jason Bou /" Pria Oriental itu terkesiap, seakan-akan ada stileto yang
?meriusuk tenggorokannya, seolah-olah matanya menyaksikan tindak kekerasan
terakhir yang memastikan kematiannya sendiri.
"Dan kalau kau berpikir-pikir untuk menyelamatkan ego yang tersinggung dengan
menghukum seseorang katakanlah, sopirku singkirkan pikiran itu. Aku tahu di
? ?mana harus mencarimu." Webb diam sejenak, lalu melanjutkan, "Kau orang yang
memiliki keistimewaan, Wu, tapi keistimewaan itu diiringi tanggung jawab. Untuk
alasan tertentu kau mungkin akan ditanyai, dan aku tidak ingin kau
berbohong lagi pula aku tidak yakin kau bisa berbohong jadi akui saja kita ? ?pemah bertemu, aku akan menerimanya. Bahkan bilang saja aku mencuri darimu,
kalau kau mau. Tapi kalau kau menyatakan deskripsi akurat mengenai diriku,
sebaiknya kau kabur ke sisi lam crania dan matt. Itu akan lebih tidak
?menyakitkan bagimu."
Alumni Columbia itu membeku, bibir bawahnya gemetar saat ia menatap Webb. David
membalas tatapannya tanpa suara, mengangguk
sekali. Ia melepaskan lengan Wu Song dan berjalan menghampiri Pak-fei dan kedua
pengawal yang terikat, meninggalkan pedagang yang panik itu dengan gagasan yang
berputar cepat. "Lakukan perintahku, Pak-fei," kata David, sekali lagi memandang arlojinya.
"Bawa mereka ke dinding dan suruh mereka tiarap. Jelaskan bahwa aku mengawasi
mereka dengan pistolku, dan akan terus mengawasi mereka sampai kita melewati
gerbang. Kurasa majikan mereka akan menyatakan bahwa aku penembak jitu yang
cukup kompeten." Sopir itu dengan enggan meneriakkan perintah dalam bahasa Cina, membungkuk ke
arah si pedagang senjata, saat Wu Song mendului yang lain, dengan kikuk berjalan
ke dinding pemecah ombak, sekitar tujuh puluh meter jauhnya. Webb memandang ke
dalam Daimler. "Lemparkan kuncinya padaku!" teriaknya kepada Pak-fei. "Cepat!"
David menangkap kunci itu di udara dan naik ke kursi sopir. Ia menghidupkan
mesin mobil, memasukkan persneling Daimler, dan mengikuti parade aneh itu
menyeberangi aspal di belakang gudang.
Wu Song dan kedua pengawalnya berbaring tanpa bergerak di tanah. Webb keluar
dari mobil, membiarkan mesin tetap hidup, dan berlari mengitari bagasi ke sisi
lain, senjata yang baru ia beli ada di tangannya, peredam suara terpasang.
"Masuk dan kemudikan!" teriaknya pada Pak-fei. "Cepat!"
Sopir itu melompat masuk, kebingungan. David menembak tiga kali letupan yang
?menghamburkan aspal tak jauh dari wajah setiap tawanan. Itu sudah cukup;
ketiganya berguling panik ke arah dinding. Webb naik ke kursi depan mobil. "Ayo
pergi!" katanya, untuk terakhir kali memandang arloji, pistolnya terulur keluar
dari jendela, ke arah tiga sosok yang kaku itu. "Sekarang!"
Gerbang terayun membuka untuk taipan besar dalam limusin mewah itu. Daimler itu
melesat melewati gerbang dan berbelok ke kanan memasuki lalu lintas yang melaju
kencang di jalan raya berjalur ganda menuju Mongkok
"Kurangi kecepatan!" kata David. "Hentikan mobil di tepi jalan, di tanah."
"Sopir-sopir di. sini sinting, Sir. Mereka melaju kencang karena mereka tahu
dalam beberapa menit mereka tidak bisa bergerak lagi. Akan sulit kembaK ke
jalan." "Entah bagaimana aku tidak sependapat."
Hal itu terjadi. Ledakan terdengar susul-menyusul tiga, empat, lima... enam.
?Gudang terpencil itu meledak, kobaran api dan asap hitam pekat memenuhi udara di
atas daratan dan pelabuhan, menyebabkan mobil dan truk serta bus berdecit-decit
berhenti di jalan raya. "Anda?" jerit Pak-fei, mulutnya ternganga, matanya membelalak memandang Webb.
"Aku ada di sana."
"Kita ada di sana, Sir! Mati aku! AiyaF'
'Tidak, Pak-fei," kata David. "Kau terlindungi, percayalah padaku dalam hal ini.
Kau tidak akan mendengar kabar dari Mr. Wu Song lagi. Kurasa ia akan berada di
sisi lain dunia, mungkin di Iran, mengajarkan pemasaran kepada para ulama di
sana. Aku tidak tahu siapa lagi yang
mau menerimanya." 'Tapi kenapa" Bagaimana caranya, Sir?"
"Ia sudah tamat. Ia melakukan sistem yang disebut 'konsinyasi', yang berarti ia
membayar hanya pada saat barangnya terjual. Kau mengerti apa yang kukatakan?"
"Saya rasa begitu, Sir."
"Ia tidak punya barang dagangan lagi, tapi barang-barang itu tidak terjual.
Barang-barang itu musnah begitu saja." "Sir?"
"Ia menyimpan bergulung-gulung sumbu dinamit dan berpeti-peti bahan peledak
plastik di ruang belakang. Barang itu terlalu primitif untuk diletakkan di rak
pamer. Juga terlalu besar."
"Sir?" "Aku tidak punya rokok... Lebih cepat, Pak-fei. Aku harus kembali ke Kowloon."
Saat mereka memasuki Tsim Sha Tsui, kepala Pak-fei yang terus-menerus berpaling
mengganggu Webb. Sopir itu terus-menerus memandangnya. "Ada apa?" tanya Webb.
"Saya tidak yakin, Sir. Saya ketakutan, tentu saja."
"Kau tidak mempercayai apa yang kukatakan tadi" Bahwa kau tidak perlu takut pada
apa pun?" "Bukan begitu, Sir. Saya pikir saya harus mempercayai Anda, karena saya melihat
apa yang sudah Anda lakukan, dan saya melihat wajah Wu Song sewaktu Anda
berbicara padanya. Saya pikir Anda-lah yang membuat saya ketakutan, tapi saya
rasa itu juga keliru, karena Anda melindungi saya. Itu terlihat di mata Wu Song.
Saya tidak bisa menjelaskannya."
"Jangan repot-repot," kata David sambil memasukkan tangan ke dalam saku,
mengambil uang. "Kau sudah menikah, Pak-fei" Atau memiliki kekasih" Tidak
penting pria atau wanita."
"Saya sudah menikah, Sir. Kedua anak saya sudah dewasa dan memiliki pekerjaan
yang lumayan. Mereka ikut menyumbang; rejeki saya bagus."
"Sekarang akan lebih baik. Pulanglah dan jemput istrimu dan anak-anak, kalau ?kau mau dan pergilah, Pak-fei. Gun akan mobil ini ke Wilayah Baru hingga
?bermil-mil jauhnya. Mampirlah dan makan enak di Tuen Mun atau Yuen Long, lalu
berjalan-jalanlah lagi. Biar mereka menikmati mobil bagus ini."
"Sir?" "Xiao xin," lanjut Webb sambil memegang uang. "Yang dalam bahasa Inggris disebut
kebohongan putih yang tidak merugikan siapa pun. Kau tahu, aku ingin pengukur
jarak mobil ini mencapai jarak sejauh tempat-tempat kau mengantarku hari
ini dan malam ini." "Di mana itu?"
? ?"Pertama-tama kau mengantar Mr. Cruett ke Lo Wu, lalu melintasi kaki pegunungan
ke Lok Ma Chau." "Itu titik pemeriksaan untuk masuk ke wilayah Republik Rakyat Cina."
"Ya, betid," kata David membenarkan sambil mengambil dua lembar serarus dolar,
lalu satu lagi. "Menurutmu kau bisa mengingat hal itu dan mengatur kilometernya
agar sesuai?" 2**, "Pasti, Sir." "Dan apakah menurutmu," tambah Webb, jarinya pada lembaran uang keempat. "kau
bisa mengatakan bahwa aku meninggalkan mobil di Lok Ma Chau dan berkeliaran di
bukit sekitar satu jam lamanya?"
"Sepuluh jam, kalau Anda mau, Sir. Saya tidak perlu tidur."
"Satu jam sudah cukup." David mengaoungkan empat ratus dolar di depan mata
terkejut sopir itu. "Dan aku pasti tahu kalau kau tidak memenuhi perjanjian
kita." "Anda tidak perlu khawatir. Sir!" jerit Pak-fei, satu tangan pada kemudi, yang
lain menyambar uang itu. "Akan saya jemput istri saya, anak-anak saya, orangtua
istri saya, dan orangtua saya juga. Binatang yang saya kemudikan ini cukup besar
untuk dua belas orang. Saya berterima kasih, Sir! Saya berterima kasih!"
"Turunkan aku sekitar sepuluh jalan dari Salisbury Road dan me-nyingkiriah dari
daerah ini. Aku tidak ingin mobil ini terlihat di Kowloon."
"Tidak, Sir, tidak mungkin. Kita akan berada di Lo Wu, di Lok Ma Chau!"
"Dan tentang pagi mi, katakan apa pun yang ingin kaukatakan. Aku tidak akan
berada di sini, aku berangkat malam ini. Kau tidak akan bertemu lagi denganku."
"Ya, Sir." "Kontrak kita selesai, Pak-fei," kata Jason Bourne, pikirannya kembali ke
strategi yang semakin jelas seiring setiap langkah yang diambilnya. Dan setiap
langkah membawanya lebih dekat pada Marie. Semua lebih dingin sekarang. Ada ?kebebasan dengan menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Mainkan skenario yang diberikan padamu.... Berada di mana-mana pada saat yang
bersamaan. Buat mereka berkeringat.
Pada pukul 17.02, Liang yang tampak tertekan berjalan tergesa-gesa
keluar dari balik pintu-pintu kaca Regent. Dengan gelisah ia memandang para tamu
hotel yang-datang dan pergi, lalu berbelok ke kiri dan bergegas di trotoar, ke
arah turunan menuju jalan. David mengawasinya dari balik semburan air mancur di
seberang halaman. Dengan air mancur sebagai perlindungan, Webb berlari
menyeberangi kawasan sibuk itu, menghindari mobil dan taksi, lalu tiba di
turunan dan mengikuti Liang di Salisbury Road.
Webb berhenti di jalan dan berbalik, memiriogkan tubuh dan wajahnya ke kiri.
Asisten manajer itu tiba-tiba berhenti, tubuhnya maju, seperti orang yang
gelisah dan tergesa-gesa lalu tiba-tiba teringat sesuatu atau berubah pikiran.
Pasti yang belakangan, pikir David saat dengan hati-hati menggeser kepalanya dan
melihat Liang bergegas menyeberangi jalur masuk, ke arah trotoar Pusat
Perbelanjaan Dunia Baru yang penuh sesak. Webb tahu ia akan kehilangan Liang
dalam keramaian kalau tidak bergegas, jadi ia mengacungkan kedua tangan,
menghentikan lalu lintas, dan melesat menyusuri turunan sementara klakson-
klakson meraung dan teriakan-teriakan kemarahan terdengar dari mulut para
pengemudi. Ia tiba di trotoar, bercucuran keringat, gelisah. Ia tidak bisa
melihat Liang! Di mana orang itu" Lautan wajah Oriental berubah buram, begitu
mirip satu sama Iain, tapi tidak sama. Di mana orang itu" David bergegas maju,
menggumamkan permisi saat menabrak tubuh dan wajah yang terkejut; kemudian ia
melihatnya. Ia yakin orang itu Liang tapi tidak benar-benar yakin. Ia melihat
?sosok bersetelan gelap berbelok memasuki pintu masuk jalan pelabuhan, bentangan
beton panjang di atas air tempat orang-orang memancing dan berjalan-jalan dan
melakukan latihan tai chi di pagi hari. Sekalipun begitu ia hanya melihat
punggungnya; kalau itu bukan Liang, ia akan meninggalkan jalan dan kehilangan
orang itu sama sekali. Insting. Bukan instingmu, tapi insting Bourne mata Jason?Bourne.
Webb berlari, menuju pintu masuk melengkung itu. Pencakar langit Hong Kong
tampak kemilau tertimpa cahaya matahari, lalu lintas di pelabuhan terayun-ayun,
mengakhiri hari kerja. Ia memperlambat langkah sewaktu melewati pintu
melengkung; tidak ada jalan kembali ke Salisbury Road kecuali lewat pintu masuk
ini. Jalur pelabuhan itu merupakan jalan buntu di pantai, dan hal itu
menimbulkan pertanyaan, sekaligus menyediakan jawaban bagi pertanyaan yang lain.
Kenapa Liang kalau orang itu memang Liang memerangkap dirinya sendiri di jalan


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

? ?buntu" Apa yang mendorongnya ke sana" Kontak, drop, penghubung" Apa pun itu,
orang Cina itu berarti tidak mempertimbangkan kemungkinan dirinya diikuti; itu
jawaban tercepat yang dibutuhkan David. Jawaban itu memberitahukan apa yang
ingin diketahuinya. Mangsanya sedang panik; kejadian tak terduga. hanya akan
mendorongnya ke kepanikan yang lebih besar.
Mata Jason Bourne tidak berbohong. Orang itu memang Liang, tapi
137 pcnanyaun pcriama xeiap iaK terjawab, bahkan diperkuat oleh apa dilihat Webb. Di
antara ribuan telepon urrnirn di Kowloon terseli deretan pertokoan yang ramai
?dan di ceruk-ceruk lobi yang di Liang memilih menggunakan telepon umutn di
dinding jalur itu. Teleon itu berada di tempat terbuka, di tengah-tengah jalur
yang merupak jalan buntu. Tidak masuk akal; bahkan amatir paling bodoh pun
memiliki insting protektif dasar. Kalau sedang panik, ia mencari perlindungan.
Liang memasukkan tangan ke saku mencari-cari uang receh, dan tiba tiba, seakan-
akan diperintah oleh suara hati, David tahu ia tidak bisa membiarkan Liang
menelepon. Kalau ada yang harus menelepon, dirinya-Jah yang akan melakukannya.
Itu bagian dari strateginya, bagian dari apa yang akan membawanya lebih dekat
pada Marie! Kendali harus berada di tangannya, bukan di tangan orang lain!
David berlari menuju boks plastik putih telepon umum itu, ingin berteriak tapi
tahu ia harus lebih dekat sebelum suaranya dapat terdengar mengatasi desingan
angin pantai. Asisten manajer itu baru saja selesai memutar nomornya. Di suatu
tempat ada telepon yang sedang berdering.
"Liang!" raung Webb. "Menyingkir dari telepon itu! Kalau mau tetap hidup, tutup
Pedang Kunang Kunang 14 Gento Guyon 3 Sang Cobra Bunga Kemuning Biru 2
^