Pencarian

Thousand Splendid Suns 7

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein Bagian 7


suaranya. Kesabaran mewarnai senyumnya. Dia tidak
memandang Mariam dengan tatapan menghina. Dia tidak mendamprat ataupun menuduh
Mariam, tetapi berbicara dengannya seolah-olah memohon maaf.
"Apakah Anda benar-benar memahami apa yang Anda katakan?" kata tanya Talib
berwajah tirus yang duduk di sebelah kanan hakim, bukan si pemberi teh. Pria ini
adalah yang termuda di antara mereka bertiga. Dia berbicara cepat dengan
keyakinan empatik sekaligus arogan. Dia jengkel karena Mariam tidak dapat
berbahasa Pashto. Mariam menganggapnya sebagai seorang pemuda pencari gara-gara
yang berusaha memanfaatkan wewenangnya, yang melihat pelanggaran di mana-mana,
berpikir bahwa misi hidupnya adalah menghakimi orang lain.
"Saya paham," kata Mariam menjawab.
"Saya berpikir," kata Talib muda itu., "Tuhan menciptakan kita berbeda, kalian
para wanita dan kami para pria. Otak kita berbeda. Kalian tidak mampu berpikir
seperti kami. Dokter-dokter Barat dan ilmu pengetahuan mereka telah
membuktikannya. Karena itulah kedudukan satu saksi pria hanya dapat digantikan
oleh dua saksi wanita."
"Saya mengakui apa yang telah saya lakukan, Saudara," kata ujar Mariam. "Tapi,
jika saya tidak melakukannya, dia akan membunuh Laila. Dia mencekiknya."
"Itulah yang Anda katakan. Tapi, sepanjang waktu wanita bersumpah tentang banyak
hal." "Saya berkata jujur."
"Anda punya saksi mata" Selain ambagh Anda?" "Tidak ada," kata Mariam.
"Baiklah, kalau begitu." Talib itu mengangkat tangan dan terkekeh.
Talib yang ditengah menimpali.
"Saya punya dokter di Peshawar," katanya. "Seorang Pakistani muda baik hati.
Saya bertemu dengannya sebulan yang lalu, dan sekali lagi minggu lalu. Saya
bertanya kepadanya, katakanlah yang sejujurnya, Kawan, dan dia berkata, tiga
bulan, Mullah sahib, mungkin paling lama enam bulan semuanya menurut kehendak ?Tuhan, tentu saja."
Dia mengangguk sedikit pada pria berdada bidang di sebelah kirinya, dan
menghirup teh yang ditawarkan oleh pria itu. Dia menyeka mulutnya dengan
punggung tangannya yang gemetar. "Saya tidak takut harus meninggalkan kehidupan
yang juga sudah ditinggalkan putra saya lima tahun yang lalu. Kehidupan yang
memaksa kita menanggung derita demi derita, bahkan lama setelah kita tak mampu
menanggungnya lagi. Tidak, saya yakin, saya akan menerima ajal saya dengan
senang ketika saat itu tiba.
"Yang membuat saya risau, Hamshira, adalah hari ketika Tuhan memanggil saya ke
hadapanNya dan bertanya, Mengapa kau tidak melakukan apa yang Kuperintahkan,
Mullah" Mengapa kau tidak mematuhi hukum-hukum-Ku" Bagaimanakah saya harus
menjelaskan kepadaNya, Hamshira" Apakah pembelaan saya karena mengabaikan
perintah-Nya" Yang dapat saya lakukan, yang dapat kita semua lakukan, dalam waktu yang
dianugerahkan kepada kita, adalah mematuhi hukum yang telah ditetapkan olehNya.
Semakin jelas saya memandang akhir hayat saya, Hamshira, semakin saya mendekati
hari perhitungan, semakin saya mantap mengikuti titah-Nya. Seberapa pun
menyakitkannya." Dia bergerak di atas kursinya dan mengernyitkan kening.
"Saya percaya bahwa suami Anda adalah pria yang bertemperamen buruk," lanjutnya,
mengamati Mariam dari balik kacamata berlensa gandanya, tatapannya tegas
sekaligus penuh kasih sayang. "Tapi, mau tidak mau saya terganggu melihat
kebrutalan tindakan Anda, Hamshira. Saya resah melihat apa yang telah Anda
lakukan; saya resah memikirkan bocah yang menangis di lantai atas ketika Anda
melakukan tindakan Anda. "Saya lemah dan sekarat, dan saya ingin bisa memberikan pengampunan. Saya ingin
memaafkan Anda. Tapi, ketika nanti Tuhan memanggil saya dan mengatakan, Bukan
kamu yang berhak memaafkan, Mullah, apakah yang harus saya katakan?"
Kedua rekannya mengangguk dan menatap pria itu dengan penuh kekaguman.
"Saya bisa melihat bahwa Anda bukan wanita jahat, Hamshira. Tapi, Anda telah
melakukan kejahatan. Dan Anda harus membayar apa yang telah Anda lakukan. Hukum
syariah berbicara dengan tegas mengenai masalah ini. Berdasarkan hukum, saya
harus mengirim Anda ke suatu tempat
yang juga akan saya datangi tak lama lagi.
"Apakah Anda paham, Hamshira?"
Mariam menunduk menatap tangannya. Dia mengatakan bahwa dirinya paham.
"Semoga Allah mengampuni Anda." Sebelum dibawa keluar, Mariam diberi sebuah
dokumen, disuruh menandatangani pernyataannya dan vonis dari mullah. Di bawah
tatapan ketiga Talib itu, Mariam menuliskannya, namanya-m/m, ra, dan, ya, dan
satu lagi m/m-teringat pada terakhir kalinya dia menuliskan namanya di atas
sebuah dokumen, dua puluh tujuh tahun sebelumnya, di meja rumah Jalil, di bawah
tatapan seorang mullah lain.
Mariam menghabiskan sepuluh hari di penjara. Dia duduk di dekat jendela sel,
menyaksikan kehidupan penjara di halaman. Ketika angin musim panas bertiup, dia
menatap carikan kertas melayang mengikuti embusan dalam gerakan berputar,
terangkat ke sana kemari hingga jauh melampaui dinding penjara. Mariam
menyaksikan angin mempermainkan debu, meniupnya menjadi pusaran-pusaran yang
mengobrak-abrik halaman. Semua orang para penjaga, para tahanan, anak-anak, ?Mariam membenamkan wajah ke siku mereka, namun itu tidak menghalangi
?kekeraskepalaan debu. Ia akan menyelinap ke dalam rongga telinga dan lubang
hidung, ke bawah kelopak mata dan lipatan
kulit, atau bahkan ke sela-sela gigi. Ketika senja tiba, angin baru mereda.
Lalu, angin malam akan bertiup sepoi-sepoi, seolah-olah membayar kerusakan yang
dilakukan oleh saudaranya pada siang hari.
Pada hari terakhir Mariam di Walayat, Naghma memberikannya sebutir jeruk
tangerine. Dia meletakkan buah itu di telapak tangan Mariam dan menutupkan jari-
jarinya. Lalu, air mata mengalir di pipinya.
"Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kudapatkan," katanya.
Mariam menghabiskan sisa harinya di balik jeruji jendela, memerhatikan para
tahanan lainnya. Seseorang sedang memasak, dan asap beraroma cumin beserta udara
yang hangat menyusup melalui jendela. Mariam dapat melijhat anak-anak bermain
petak umpet. Dua orang gadis kecil menyanyikan sebuah lagu, dan Mariam mengingat
lagu itu dari masa kecilnya, ketika Jalil menyanyikannya untuknya saat mereka
duduk di atas batu: Burung trala/a triiiii Berdiri di pinggir kali Anak bawang minum di pinggir
Syut, dan jatuhlah dia ke air
Mariam mendapatkan mimpi aneh malam sebelumnya. Dia memimpikan batu kerikil,
sebelas buah, tersusun berderet. Jalil, kembali muda, tersenyum lebar dengan
lesung pipit di dagu dan keringat membasahi wajah, mantelnya tersampir di bahu. Dia akhirnya datang untuk
mengajak putrinya berjalan-jalan dengan Buick Roadmaster hitam mengilapnya.
Mullah Faizullah mengurut tasbihnya, berjalan bersama Mariam di pinggir sungai,
bayangan mereka tampak di permukaan air dan tepian sungai berumput dengan
rumpun-rumpun iris liar berwarna biru lavender yang, dalam mimpi itu, menguarkan
aroma cengkih. Dia memimpikan Nana di ambang pintu kolba, suaranya kecil dan
sayup-sayup, memanggilnya untuk menyantap makan malam, sementara dirinya sendiri
bermain di tengah padang ilalang yang sejuk, tempat semut dan kumbang
berkeliaran, dan belalang melompat-lompat di semak-semak. Keretak roda gerobak
yang melewati jalan tanah. Dentingan lonceng sapi. Embikan domba di bukit.
O Di jalan menuju Stadion Ghazi, Mariam terlompat-lompat di bangku truk yang
melaju menghindari lubang-lubang jalanan, dengan batu-batu kerikil berlontaran
di dekat rodanya. Guncangan itu membuat tulang ekornya nyeri. Seorang pemuda
Talib bersenjata duduk di hadapannya, memandangnya.
Mariam memikirkan apakah pemuda inilah orangnya, pemuda yang tampak ramah dengan
mata tajam dan wajah lancip ini, yang sekarang mengetuk-ngetukkan jari telunjuk
berkuku menghitamnya ke bak truk.
"Anda lapar, Ibu?" tanya pemuda itu. Mariam menggeleng.
"Saya punya biskuit. Lumayan enak. Anda boleh memakannya kalau lapar. Saya tidak
keberatan." "Tidak. Tashakor, Saudara."
Pemuda itu mengangguk, menatap Mariam dengan lembut. "Anda takut, Ibu?"
Mariam merasakan tenggorokannya tercekat. Dengan suara bergetar, Mariam
mengatakan perasaannya. "Ya. Saya sangat takut."
"Saya punya foto ayah saya," kata pemuda itu. "Saya tidak ingat lagi padanya.
Dia pernah memiliki bengkel sepeda, cuma itu yang saya tahu. Tapi, saya tidak
ingat bagaimana dia bergerak, Anda tahu, bagaimana dia tertawa, atau bagaimana
suaranya." Dia berpaling, lalu menatap Mariam kembali. "Ibu saya sering
mengatakan bahwa ayah saya adalah pria paling pemberani yang dikenalnya. Seperti
singa, katanya. Tapi, ibu saya juga bilang bahwa ayah saya menangis seperti anak
kecil pada pagi hari ketika komunis menculiknya. Maksud saya, wajar saja jika
Anda ketakutan. Tidak perlu malu, Ibu."
Untuk pertama kalinya, Mariam menitikkan air mata.
<" Ribuan pasang mata menatap Mariam. Di bangku-bangku tribun, leher-leher
dijulurkan supaya pemiliknya mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Lidah-lidah didecakkan.
Gumaman merambat bagaikan gelombang di seluruh stadion ketika Mariam turun dari
truk. Mariam membayangkan orang-orang menggeleng ketika pengeras suara
mengumumkan kejahatan yang telah dia lakukannya. Tapi, dia tidak mendongak untuk
melihat apakah mereka menggeleng karena menghujat tindakannya atau karena
memahaminya, tuduhan atau belas kasihan. Mariam membutakan dirinya pada semua
itu. Pagi itu, Mariam takut akan mempermalukan dirinya sendiri, takut dirinya akan
memohon-mohon dan menangis meratap-ratap di hadapan para penonton. Dia takut
dirinya akan menjerit-jerit atau muntah, atau bahkan mengompol. Dia takut jika
di akhir nyawanya, insting kebinatangannya akan mengambil alih tubuhnya dan
menurunkan derajatnya. Tapi, ketika turun dari truk, Mariam merasakan kakinya
tetap kokoh. Tangannya tetap tenang. Tidak ada yang harus menyeretnya. Dan,
ketika mulai merasakan pertahanannya goyah, Mariam memikirkan Zalmai, anak yang
cinta sejatinya telah dia renggut, yang hari-harinya akan diwarnai kesedihan
karena memikirkan tentang ayahnya yang lenyap. Lalu, Mariam pun merasakan
tubuhnya kembali tegak dan langkahnya kembali mantap.
Seorang pria bersenjata menghampirinya dan menyuruhnya berjalan ke gawang
selatan. Mariam dapat merasakan para penonton semakin tegang.
Dia tidak menatap mereka. Dia terus mengarahkan tatapannya ke tanah, ke
bayangannya, ke bayangan sang algojo yang membuntutinya.
Meskipun dapat merasakan keindahan dalam momen ini, Mariam tahu bahwa kehidupan
nyaris tak pernah memberikan kebaikan pada dirinya. Tetapi, saat sedang
mengambil dua puluh langkah terakhir, Mariam menyadari bahwa dirinya tidak akan
menolak jika diberi kesempatan untuk hidup lebih lama. Dia berharap dapat
berjumpa lagi dengan Laila, mendengarkan kembali gelak tawanya, sekali lagi
duduk bersamanya sambil menikmati secangkir chai dan sisa halwa di bawah langit
berbintang. Mariam menyesal karena tak akan pernah melihat Aziza tumbuh dewasa,
melihat gadis kecil itu berubah menjadi wanita muda yang cantik, menggambar
henna di tangannya dan melemparkan permen noqul pada hari pernikahannya. Dia tak
akan pernah bisa bermain dengan anak-anak Aziza. Dia akan sangat bersyukur jika
hal itu terjadi, dirinya menua dan bermain dengan anak-anak Aziza.
Di dekat gawang, pria di belakang Mariam menyuruhnya berhenti. Mariam
mematuhinya. Melalui petak-petak kasa di burga-nya, Mariam melihat bayangan
lengan pria itu mengangkat bayangan Kalashnikov.
Begitu banyak hal diharapkan oleh Mariam pada saat terakhirnya ini. Tetapi, dia
tetap menutup matanya, merasakan bukan lagi penyesalan melainkan sensasi
kedamaian yang membanjiri dirinya. Dia memikirkan bagaimana dirinya hadir di
dunia ini, sebagai harami seorang wanita desa miskin, anak yang tidak
dikehendaki, kecelakaan yang mengibakan dan diwarnai penyesalan. Rumput liar.
Dan sekarang, dia meninggalkan dunia ini sebagai seorang wanita yang pernah
mencintai dan mendapatkan balasan cinta. Dia meninggalkan dunia sebagai seorang
teman, seorang kakak, seorang pelindung. Seorang ibu. Seseorang yang berharga.
Tidak. Bukan hal buruk, pikir Mariam, bahwa dia harus mati seperti ini. Bukan
hal buruk. Ini adalah akhir yang sahih dari sebuah kehidupan yang dimulai dengan
nista. Pikiran terakhir Mariam melayang pada sebaris kata dalam Al -Quran, yang dia
bisikkannya sepenuh hati.
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam
atas siang dan menutupkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan,
masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingat/ah, Dialah Yang Maha
Peperkasa lagi Maha Pengampun.
"Berlutut," perintah Talib di belakangnya.
Oh, Tuhanku! Ampunilah hambamu ini, karena hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun.
"Berlututlah di sini, Hamshira. Dan tundukkan kepala Anda."
Untuk terakhir kalinya, Mariam mematuhi perintah yang diberikan kepadanya.[]
BAB 48 Tariq sering didera sakit kepala. Bebaerapa kali, Laila terbangun dan mendapati
Tariq duduk di pinggir ranjang, tubuhnya terguncang-guncang, kaus dalamnya
ditarik hingga menutupi kepala. Dia pertama kali mendapatkan serangan sakit
kepala di Nasir Bagh, katanya, dan semakin parah ketika dia menghuni penjara.
Kadang-kadang, rasa sakit itu membuatnya muntah, membutakan salah satu matanya.
Katanya, dia merasa seolah-olah pisau seorang tukang daging menusuk pelipisnya,
berputar perlahan menembus otaknya, lalu muncul kembali di pelipisnya yang lain.
"Aku bahkan bisa merasakan logamnya," katanya. Kadang-kadang, Laila mengompres
kening Tariq dengan lap basah, dan itu sedikit membantu. Pil-pil putih kecil
yang diberikan oleh ddokter Sayeed juga menolong. Tapi, beberapa kali, yang
dapat dilakukan oleh Tariq hanyalah memegangi kepalanya dan mengerang, matanya
merah, ingus menetes dari hidungnya. Laila mendampinginya melewati serangan itu,
memijat bagian belakang lehernya,
menggenggam tangannya, merasakan dinginnya cincin kawin logam Tariq di telapak
tangannya. Mereka menikah pada hari pertama mereka di Murree. Sayeed tampak lega ketika
Tariq menyatakan bahwa dia akan menikahi Laila. Sebagai pemilik hotel, Sayeed
tidak mau ada pasangan yang tidak menikah tinggal di hotelnya. Sayeed sama
sekali berbeda dengan yang dibayangkan oleh Laila, berwajah merah dan bermata
serupa kacang polong. Kumisnya yang berujung lancip memiliki warna perpaduan
antara gelap dan terang, dan rambut gondrong kelabunya disisir ke belakang. Dia
bertingkah laku sopan dan bersuara lembut, dengan kata-kata yang cerdas dan
gerakan yang anggun. Sayeed mendatangkan seorang temannya dan seorang mullah untuk upacara nikka hari
itu. Sayeed juga menarik Tariq dan memberikannya uang. Tariq tidak mau
menerimanya, namun Sayeed bersikeras. Setelah itu, Tariq berangkat ke Mali dan
kembali membawa dua buah cincin kawin sederhana. Mereka menikah malam itu,
setelah anak-anak tertidur.
Di cermin, di bawah kerudung hijau yang diletakkan di atas kepala mereka oleh
mullah, tatapan Laila dan Tariq saling bertemu. Tidak ada air mata, tidak ada
senyuman hari pernikahan, tidak ada bisikan cinta seumur hidup. Dalam
keheningan, Laila menatap bayangan mereka, wajah mereka yang telah jauh menua
dibandingkan usia mereka, gelambir-gelambir dan kerut merut yang sekarang
menempeli wajah-wajah yang dahulu muda dan
mulus. Tariq membuka mulut dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi, tiba-tiba
seseorang menarik kerudung mereka, dan Laila tidak tahu apa yang akan dia
katakannya. Malam itu, mereka berbaring di ranjang sebagai suami dan istri, sementara anak-
anak mendengkur di ranjang kecil di dekat mereka. Laila teringat pada celotehan
mereka yang selalu terdengar, dia dan Tariq, ketika mereka remaja. Kata-kata
mereka akan mengalir tanpa tertahan, selalu saling menyela, saling menarik kerah
baju masing-masing untuk menekankan maksud, tawa lepas mereka, semangat bercanda
mereka. Begitu banyak hal telah terjadi sejak masa kanak-kanak mereka, begitu
banyak yang harus dikatakan. Tetapi, malam itu, semua kisah itu justru melarikan
kata-kata dari diri Laila. Dia merasa cukup beruntung dengan mengetahui bahwa
Tariq ada bersamanya, merasakan kehangatan tubuhnya di dekatnya, berbaring di
sisinya, saling menyentuhkan kepala, saling menggenggam tangan.
Pada tengah malam, ketika Laila terbangun karena dahaga, dia mendapati tangan
mereka masih saling bertaut, begitu kencang, seperti anak-anak yang memegang
erat-erat tali balon karena tak ingin melepaskannya.
<" Laila menyukai pagi hari di murree yang sejuk dan berkabut, juga cerahnya sinar
matahari dan pekatnya langit malam; dia menyukai warna hijau pohon-pohon pinus dan warna
cokelat lembut tupai-tupai yang berlompatan di antara batang-batang pohon;
selain itu, ada pula hujan yang turun tiba-tiba, yang membuat para pelancong di
Mali berhamburan mencari tempat berteduh. Dia menyukai toko-toko cendera mata


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan berbagai hotel yang menampung para turis, meskipun para penduduk setempat
selalu mengeluhkan pembangunan yang tak henti-hentinya dilakukan, ekspansi
infrastruktur yang mereka anggap melahap habis kecantikan alami Murree. Laila
menganggap aneh bahwa orang-orang mengeluhkan pembangunan bangunan. Di Kabul,
banyak orang akan merayakannya. Laila senang karena mereka memiliki kamar mandi,
bukan bilik jamban, melainkan kamar mandi yang sebenarnya, dengan kloset duduk
dan penyiramnya, tangkai pancuran, dan juga wastafel berkeran ganda yang dapat
mengeluarkan air dingin maupun panas hanya dengan sekali tepukan. Dia senang
karena terbangun setiap pagi oleh embikan Alyona dan keributan yang diciptakan
Adiba si koki pengeluh di dapur.
Kadang-kadang, ketika memandang Tariq yang sedang tertidur, ketika anak-anaknya
berguling di ranjang mereka, rasa syukur menggumpal di dalam tenggorokan Laila,
menjadikan matanya basah.
Pada pagi hari, Laila mengikuti Tariq dari kamar ke kamar. Kunci-kunci yang
tergantung di pinggang Tariq berdenting dan botol berisi cairan pembersih
jendela terayun-ayun di kolong ikat pinggang celana jinsnya. Laila menenteng
sebuah ember berisi kain pel, disinfektan, sebuah sikat toilet, dan semprotan
pelumas. Aziza mengikuti mereka, membawa lap di satu tangannya dan boneka buatan
Mariam di tangannya yang lain. Meskipun enggan, Zalmai juga membuntuti mereka
dengan wajah cemberut, selalu tertinggal beberapa langkah di belakang.
Laila menyedot debu, merapikan ranjang, dan mengelap perabot. Tariq membersihkan
bak dan wastafel di kamar mandi, menyikat toilet, dan mengepel lantai linoleum.
Dia meletakkan handuk-handuk bersih, botol-botol sampo mungil, dan sabun-sabun
batangan beraroma almond di rak. Aziza mendapatkan tugas menyemprot dan mengelap
jendela. Boneka Mariam tak pernah tergeletak jauh dari tempatnya bekerja.
Laila memberi tahu Aziza tentang Tariq beberapa hari setelah pernikahan.
Sungguh aneh, pikir Laila, nyaris tak terbayangkan, hubungan yang tercipta di
antara Aziza dan Tariq. Aziza selalu menyelesaikan kalimat Tariq, dan begitu
pula sebaliknya. Aziza mengulurkan sesuatu kepada Tariq bahkan sebelum Tariq
memintanya. Mereka saling melontarkan senyuman hangat di meja makan, seolah-olah
mereka bukan orang asing, melainkan sepasang kawan lama yang bertemu kembali
setelah berpisah begitu lama.
Aziza menatap kedua tangannya ketika Laila memberitahunya.
"Aku suka dia," kata Aziza setelah lama terdiam.
"Dia mencintai kamu."
"Apakah dia bilang begitu?"
"Dia tidak perlu mengatakannya, Aziza."
"Ceritakan semuanya padaku, Mammy. Ceritakan, biar aku tahu."
Dan Laila pun bercerita kepada putrinya.
"Ayahmu adalah pria yang baik. Dia pria terbaik yang pernah kukenal."
"Bagaimana kalau dia pergi?" tanya Aziza.
"Dia tak akan pernah pergi. Lihat Mammy, Aziza. Ayahmu tak akan pernah
menyakitimu, dan dia tak akan pernah pergi."
Kelegaan di wajah Aziza membuat Laila terharu.
Tariq membelikan kuda-kudaan untuk Zalmai, juga membuatkan sebuah gerobak kayu.
Dari seorang rekannya di penjara, Tariq belajar membuat binatang mainan dari
kertas. Maka, dia pun melipat, menggunting, dan menempelkan berlembar-lembar
kertas menjadi bentuk singa dan kanguru, juga kuda dan burung berwarna-warni,
semuanya untuk Zalmai. Tetapi, usaha keras Tariq mendapatkan penolakan keras
dari Zalmai, kadang-kadang bahkan terlalu keras.
"Dasar keledai!" jerit Zalmai. "Aku tak mau mainanmu!"
"Zalmai!" Laila terkesiap.
"Tidak apa-apa," kata Tariq. "Laila, tidak apa-apa. Biarkan saja dia."
"Kau bukan Baba jan-ku! Baba jan-ku sedang pergi, dan kalau dia pulang, dia akan
memukulimu! Kau tidak bisa lari karena Baba jan-ku punya dua kaki, dan kau cuma
punya satu!" Pada malam hari, Laila memeluk Zalmai di dadanya dan membaca doa Babaloo
bersamanya. Ketika Zalmai bertanya, Laila harus berbohong lagi padanya,
mengatakan bahwa bahwa Baba jan pergi dan entah kapan akan pulang lagi. Dia
menanggung tugas ini, berbohong setiap hari kepada seorang bocah.
Laila tahu bahwa kebohongan memalukan ini akan selalu menyertai mereka. Dia tak
akan bisa melepaskan diri, karena Zalmai akan selalu bertanya, ketika melompat
turun dari ayunan, ketika terbangun dari tidur siang, ketika dia telah cukup
besar sehingga bisa mengikat tali sepatunya sendiri, bisa berangkat ke sekolah
sendiri, kebohongan itu akan harus selalu dikatakan.
Entah kapan, Laila tahu, pertanyaan itu akan melayang. Perlahan-lahan, Zalmai
akan berhenti bertanya-tanya mengapa ayahnya meninggalkannya. Dia tidak akan
lagi melihat ayahnya di perempatan, dalam diri pria tua yang sedang berjalan
terbungkuk-bungkuk atau menyesap teh di kedai-kedai samovar terbuka. Dan, pada
suatu hari nanti, dia akan tersadar, saat sedang berjalan-jalan di tepi sungai
atau memandang hamparan salju, bahwa luka karena kepergian ayahnya telah
mengering dan sembuh. Bahwa masalah ini tidak lagi
penting, bahwa dia memiliki masalah lain yang lebih mendesak. Kisah ini akan
menyerupai legenda. Sesuatu yang akan diingat, direnungkan.
Laila merasakan kebahagiaan di Murree. Tapi, kebahagiaan ini tidak dia
dapatkannya dengan mudah. Kebahagiaan ini tidak didapatkanannya secara cuma-
cuma. Pada hari liburnya, Tariq mengajak Laila dan anak-anak ke Mali, melihat-lihat
toko-toko yang berjajar di kedua sisi jalan dan sebuah gereja Anglikan yang
dibangun pada pertengahan abad kesembilan belas. Tariq membelikan mereka kebab
chapli pedas dari pedagang kaki lima. Mereka berjalan-jalan di tengah kerumunan
penduduk setempat, para wisatawan Eropa yang memegang telepon seluler dan kamera
digital, serta para penduduk Punjabi yang mendatangi tempat ini untuk
menghindari panas terik yang mendera tempat tinggal mereka.
Kadang-kadang, mereka menumpang bus ke Kashmir. Dari sana, Tariq menunjukkan
kepada mereka lembah Sungai Jhelum, kaki gunung yang diselimuti pepohonan pinus,
dan bukit-bukit berhutan subur, tempat monyet-monyet masih dapat dilihat
melompat-lompat dari dahan ke dahan. Mereka juga pergi ke Nathia Gali yang
banyak ditumbuhi pohon maple, sekitar tiga puluh kilometer dari Murree, tempat
Tariq menggenggam tangan Laila seraya menyusuri jalan berapit pepohonan menuju Kkediaman Gubernur. Mereka
beristirahat di dekat sebuah kuburan Inggris tua, atau menumpang taksi ke puncak
gunung untuk melihat pemandangan lembah hijau yang berselimut kabut di bawah
mereka. Kadang-kadang, saat sedang bertamasya seperti ini, ketika sedang melewati
etalase toko, Laila melihat bayangan mereka di sana. Seorang pria bersama istri,
anak perempuan, dan anak laki-lakinya. Bagi orang yang tidak mengenal mereka,
Laila tahu, mereka tentu menyerupai sebuah keluarga biasa, yang bebas dari
rahasia, kebohongan, dan penyesalan.
Aziza sering mendapatkan mimpi buruk yang membuatnya terbangun dan menjerit-
jerit. Laila harus berbaring di sampingnya, mengusap pipi Aziza yang basah
dengan lengannya, menenangkannya hingga terlelap kembali.
Laila sendiri juga sering bermimpi. Di dalam mimpinya, dia selalu kembali ke
rumahnya di Kabul, berjalan di koridor, mendaki tangga. Dia sendirian di sana,
namun dari balik pintu-pintu kamar, dia dapat mendengar desisan setrika, juga
seprai yang disibakkan dan dilipat kembali. Kadang-kadang, dia mendengar suara
seorang wanita menyenandungkan sebuah lagu Herati tua. Tetapi, ketika Laila membuka pintu,
ruangan itu kosong. Tidak seorang pun ada di sana.
Laila selalu terbangun dengan perasaan terguncang setelah mendapatkan mimpi-
mimpi itu. Dia terbangun dengan mata basah dan tubuh bersimbah peluh. Mimpi itu
menghancurkan hatinya. Setiap kali, menghancurkan hatinya.[]
BAB 49 Pada suatu hari Minggu di bulan September, Laila sedang menidurkan Zalmai, yang
terserang demam, ketika Tariq tiba-tiba menghambur masuk ke bungalo mereka.
"ApaSudahkah kau sudah mendengar?" katanya, sedikit terengah-engah. "Mereka
membunuhnya. Ahmad Shah Massoud. Dia sudah tewas." "Apa?"
Dari ambang pintu, Tariq menceritakan kabar yang dia dengarnya.
"Katanya, dia sedang diwawancarai oleh dua orang wartawan yang mengaku sebagai
orang Belgia berdarah Maroko. Ketika mereka sedang berbicara, sebuah bom yang
disembunyikan di dalam kamera video meledak. Massoud dan salah seorang wartawan
itu terbunuh. Kata orang-orang, kedua wartawan itu mungkin anggota Al-Qaeda."
Laila teringat pada poster Ahmad Shah Massoud yang dipaku oleh Mammy ke dinding
kamarnya. Massoud mencondongkan tubuh ke depan, salah satu alisnya terangkat,
keningnya berkerut seolah-olah dia sedang berkonsentrasi atau
mendengarkan seseorang bicara. Laila teringat bagaimana Mammy bersyukur karena
Massoud bersedia membacakan doa di pinggir liang lahat kedua putranya, bagaimana
Mammy menceritakan tentang hal ini kepada semua orang. Bahkan setelah perang
antar -faksi pecah, Mammy tidak mau menyalahkan Massoud. Dia orang baik, kata
Mamy. Dia hanya menginginkan perdamaian. Dia ingin membangun kembali
Afghanistan. Tapi, mereka tidak memperbolehkannya. Mereka selalu menghalang-
halanginya. Bagi Mammy, bahkan hingga akhir hayatnya, bahkan saat semuanya kacau
balau dan Kabul hancur lebur, Massoud masih tetap menjadi Singa Panjshir.
Laila tidak semudah itu mengampuni Massoud. Akhir malang dari kehidupan pria itu
memang tidak membuatnya berbahagia, namun dia masih sangat mengingat bagaimana
lingkungannya luluh lantak di bawah kekuasaan Massoud, bagaimana mayat-mayat
ditarik keluar dari puing-puing bangunan, bagaimana potongan-potongan tangan dan
kaki anak-anak ditemukan di atap rumah atau cabang pohon beberapa hari setelah
upacara pemakaman mereka. Laila masih mengingat dengan jelas ekspresi wajah
Mammy sesaat sebelum roket menimpa rumah mereka, dan, meskipun dia berusaha
sekeras mungkin untuk melupakannya, tubuh tanpa kepala Babi yang mendarat di
dekatnya, gambar jembatan di kausnya yang mengintip dari balik selubung darah
dan kabut tebal. "Akan ada upacara pemakaman," kata Tariq.
"Aku yakin. Mungkin di Rawalpindi. Ini akan jadi peristiwa besar."
Zalmai, yang hampir tertidur, sekarang duduk, menggosok matanya dengan kepalan
tangan. Dua hari kemudian, mereka sedang membersihkan sebuah kamar ketika mendengar
keributan. Tariq segera menjatuhkan lap pelnya dan berlari keluar. Laila
membuntutinya. Keributan itu datang dari lobi hotel. Terdapat sebuah ruang santai di sebelah
kanan meja resepsionis, dengan beberapa kursi dan dua buah sofa berlapisan suede
cokelat muda. Di sudut ruangan, menghadap kedua sofa itu, terdapat sebuah
pesawat televisi, dan Sayeed, seorang penjaga pintu, serta beberapa orang tamu
berkumpul di depannya. Laila dan Tariq bergabung dengan mereka.
Televisi itu menyiarkan berita dari BBC. Di layar, tampaklah sebuah bangunan,
sebuah menara, dengan asap hitam membubung dari bagian puncaknya. Tariq
mengatakan sesuatu kepada Sayeed, dan Sayeed sedang menjawabnya, ketika sebuah
pesawat muncul dari sudut layar. Pesawat itu menabrak menara yang lain, meledak
menjadi bola api yang tampak bagaikan raksasa dibandingkan semua bola api yang
pernah dilihat oleh Laila. Semua orang di lobi memekik.
Dalam waktu kurang dari dua jam, kedua menara itu rata dengan tanah.
Tak lama kemudian, semua stasiun TV membicarakan tentang Afghanistan, Taliban,
dan Osama bin Laden. "Tahukah Apa kau tahu apa yang dikatakan oleh Taliban?" tanya Tariq. "Tentang
Osama bin Laden?" Aziza duduk di hadapan Tariq di ranjang, mencondongkan tubuhnya ke papan catur.
Tariq sedang mengajarinya bermain catur. Aziza mengerutkan kening dan mengetuk-
ngetuk bibir bawahnya, menirukan gaya ayahnya ketika sedang memikirkan langkah
yang akan diambilnya. Kondisi Zalmai telah sedikit lebih baik. Dia sedang tidur, dan Laila
menggosokkan Vicks ke dadanya.
"Aku sudah dengar," katanyajawabnya.
Taliban mengumumkan bahwa mereka tidak akan menyerahkan bin Laden karena pria
itu adalah seorang mehman, seorang tamu, yang mencari perlindungan di
Afghanistan, dan menjerumuskan seorang tamu adalah tindakan yang melanggar kode
etik Pashtunwali. Tariq terkekeh pahit, dan dalam tawa Tariq, Laila mendengar
bahwa dia merasa jengkel akibat pembelokan norma Pashtun yang selama ini selalu
dijunjung tinggi, yang mengakibatkan pandangan miring bagi kaumnya.
Beberapa hari setelah serangan itu, Laila dan Tariq kembali berada di lobi
hotel. Di layar TV, George W. Bush berpidato. Sehelai bendera Amerika berukuran
besar terpasang di belakangnya. Di tengah-tengah pidatonya, suara sang presiden
bergetar, dan Laila mengira pria itu akan menangis.
Sayeed, yang memahami bahasa Inggris, menjelaskan kepada mereka bahwa Buhs
sedang memberikan pernyataan perang.
"Perang melawan siapa?" tanya Tariq. "Melawan negaramu, pertama-tama."
"Mungkin tidak seburuk itu," kata Tariq.
Mereka baru saja selesai bercinta. Tariq berbaring di sisi Mariam, meletakkan
kepala di dadanyadada sang istri, memeluk perutnya. Saat beberapa kali pertama
mencoba, mereka merasa kesulitan. Tariq menyimpan banyak penyesalan, Laila
menyimpan banyak keraguan. Sekarang pun mereka masih merasakan kesulitan, bukan
secara fisik melainkan secara logistik. Pondok yang mereka huni bersama anak-
anak berukuran sangat mungil. Anak-anak tidur di ranjang kecil di dekat mereka,
sehingga mereka pun hanya punya sedikit privasi. Sering kali, Laila dan Tariq
bercinta dalam keheningan, dengan hasrat terkendali tanpa suara, masih
berpakaian lengkap di bawah selimut, waspada terhadap selaan dari anak-anak.
Mereka selalu mewaspadai setiap gesekan seprai dan keriutan ranjang. Tetapi,
bagi Laila, semua kesulitan itu sepadan dengan imbalan berupa kebersamaan dengan
Tariq. Ketika mereka bercinta, Laila merasa berlabuh, bernaung. Kegelisahannya,
bahwa kehidupan mereka berdua hanyalah kebahagiaan sesaat yang akan segera
terenggut lagi, segera sirna. Ketakutannya akan perpisahan lenyap seketika.
"Apa maksudmu?" tanya Laila.
"Yang terjadi di tanah air kita. Mungkin akhirnya tidak seburuk itu."
Di tanah air mereka, bom-bom kembali berjatuhan, kali ini dilontarkan oleh
tentara Amerika. Setiap hari, sambil mengganti seprai dan menyedot debu, Laila
melihat gambar-gambar peperangan di televisi. Sekali lagi, Amerika
mempersenjatai para panglima perang dan meminta pertolongan Aliansi Utara untuk
mengusir Taliban dan menemukan bin Laden.
Tetapi, ucapan Tariq mengusik Laila. Dia mendorong kepala Tariq dengan kasar
dari dadanya. "Tidak buruk" Orang-orang sekarat" Perempuan, anak-anak, orang-orang tua"
Tempat-tempat tinggal lagi-lagi dihancurkan" Tidak seburuk itu?"
"Sstt. Kau membangunkan anak-anak." "Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu,
Tariq?" tukas Laila. "Setelah 'kecelakaan' yang terjadi di Karam" Seratus orang
yang tidak tahu apa-apa! Kau melihat mayat mereka!"
"Tidak," kata Tariq. Dia memiringkan tubuh dan menyangga kepalanya dengan siku.
"Kau salah paham. Yang kumaksud-"
"Kau memang tidak tahu," sela Laila. Dia menyadari bahwa nada suaranya meninggi,
bahwa mereka sedang bertengkar untuk pertama kalinya sebagai suami dan istri. "Kau sudah pergi waktu Mujahidin mulai saling
melawan, ingat" Akulah yang tetap tinggal di sana. Aku. Aku mengenal perang.
Orangtuaku meninggal karena perang. Orangtuaku,
Tariq. Dan sekarang aku mendengarmu mengatakan bahwa perang tidak seburuk itu?"
"Maafkan aku, Laila. Maafkan aku." Tariq menangkupkan tangannya ke wajah Laila.
"Kau benar. Aku menyesal. Maafkan aku. Yang ingin kukatakan adalah, mungkin akan
ada harapan di akhir perang ini, bahwa mungkin, untuk pertama kalinya setelah
begitu lama-" "Aku tak mau lagi membicarakan hal ini," kata Laila, terkejut mendengar dirinya
menyerang Tariq. Apa yang dikatakannya kepada Tariq memang tidak adil, Laila
tahu itu bukankah perang juga telah merenggut nyawa orangtua Tariq" dan apa ? ?pun yang meledak di dalam dirinya telah berhenti bergejolak sekarang. Tariq
tetap berbicara dengan lembut kepadanya, dan, ketika Tariq menariknya, Laila
membiarkannya. Ketika Tariq mencium tangannya, lalu keningnya, Laila
membiarkannya. Laila tahu bahwa Tariq mungkin benar. Dia memahami maksud
komentar Tariq. Mungkin ini memang perlu. Mungkin akan ada harapan setelah hujan
bom dari Bush mereda. Tetapi, Laila tak mampu mengatakannya, apalagi sekarang,
ketika apa yang menimpa Mammy dan Babi juga dialami oleh orang lain di
Afghanistan, ketika anak-anak yang tidak tahu apa-apa di tanah air mereka tiba-
tiba menjadi yatim piatu seperti dirinya. Laila tak mampu mengatakannya. Sulit
untuk berpikiran positif dalam masa seperti ini. Dia akan merasa munafik, salah.
Malam itu, Zalmai terbangun karena serangan
batuk. Sebelum Laila dapat bergerak, Tariq telah mengayunkan kakinya ke pinggir
ranjang. Dia memasang kaki palsunya dan berjalan menghampiri Zalmai,
menggendongnya. Dari ranjang, Laila menyaksikan bayangan Tariq bergerak maju dan
mundur dalam kegelapan. Dia melihat bayangan kepala Zalmai yang tersandar di
bahu Tariq, pegangannya di leher Tariq, gerakan kakinya di pinggul Tariq. Ketika
Tariq kembali ke ranjang, tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka.
Laila mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Tariq. Pipi Tariq terasa basah.[]
BAB 50

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bagi Laila, kehidupan di Murree menawarkan kenyamanan dan kedamaian. Dia tidak
perlu bekerja keras, dan, pada hari libur, dia dan Tariq dapat membawa anak-anak
naik kereta gantung ke Bukit Patriata, atau ke Pindi, tempat, pada hari yang
cerah, pemandangan akan terbentang hingga Islamabad dan pusat kota Rawalpindi.
Di sana, mereka menggelar selimut di rumput dan menyantap roti isi bakso dan
ketimun, dan menghirup ginger alesoda jahe dingin.
Ini adalah kehidupan yang baik, Laila mengatakan kepada dirinya sendiri,
kehidupan yang harus disyukuri. Ini bahkan kehidupan yang biasa dia impikannya
dalam hari-hari kelamnya bersama Rasheed. Setiap hari, Laila mengingatkan
dirinya akan jhal ini. Lalu, pada suatu malam yang hangat di bulan Juli 2002, Laila dan Tariq berbaring
di ranjang, bercakap-cakap dengan suara lirih tentang berbagai perubahan yang
terjadi di tanah air mereka. Ada begitu banyak perubahan. Pasukan koalisi
berhasil mengusir Taliban dari semua kota besar, menekan
mereka hingga ke perbatasan Pakistan dan daerah pegunungan di selatan dan timur
Afghanistan. I5AF, pasukan perdamaian internasional, dikirim ke Kabul.
Afghanistan sekarang memiliki seorang presiden interim, Hamid Karzai.
Laila memutuskan bahwa sekaranglah saat yang tepat untuk memberi tahu Tariq.
Setahun sebelumnya, Laila akan rela menyerahkan sepotong lengannya agar bisa
keluar dari Kabul. Tetapi, dalam beberapa bulan terakhir, dia mendapati dirinya
merindukan kota masa kecilnya. Dia merindukan keriuhan Pasar Shor, Taman Babur,
teriakan para penjual air yang memikul kantung-kantung kulit kambing mereka. Dia
merindukan ocehan para pedagang kain di Jalan Ayam dan pedagang melon di Karteh-
Parwan. Tetapi, bukan hanya kerinduan terhadap kampung halaman dan nostalgia yang
membuat Laila banyak memikirkan Kabul akhir-akhir ini. Dia merasakan dirinya
dilanda kegelisahan. Dia mendengar bahwa sekolah-sekolah telah dibangun di
Kabul, jalan-jalan telah diperbaiki, para wanita kembali bekerja, dan
kehidupannya di sini, meskipun menyenangkan, meskipun dia bersyukur karenanya,
tampak ... kurang baginya. Sepele. Lebih buruk lagi, sia-sia. Akhir-akhir ini, dia
mulai mendengar ucapan Babi di dalam kepalanya. Kau bisa menjadi apa pun yang
kauinginkan, Laila, katanya. Aku yakin akan hal ini. Dan, aku tahu bahwa saat
perang ini selesai, Afghanistan akan membutuhkanmu.
Laila juga mendengar suara Mammy. Dia teringat
pada tanggapan Mammy ketika Babi menyarankan pada mereka untuk meninggalkan
Afghanistan. Aku ingin melihat impian kedua putraku menjadi nyata. Aku ingin
menyaksikan ketika hal itu terjadi, ketika Afghanistan merdeka, sehingga kedua
putraku juga melihatnya. Mereka akan melihatnya melalui mataku. Ada bagian dari
diri Laila yang ingin kembali ke Kabul, untuk Mammy dan Babi, supaya mereka bisa
melihat Kabul -yang -baru melalui matanya.
Lalu, yang paling meresahkan Laila adalah Mariam. Apakah Mariam mengorbankan
dirinya untuk hal ini" Laila bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah Mariam
berkorban agar dia, Laila, menjadi pelayan di negeri orang" Mungkin Mariam tidak
akan mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Laila asalkan dia dan anak-anak
aman dan bahagia. Namun, Laila merisaukannya. Tiba-tiba, dia sangat
merisaukannya. "Aku ingin pulang," kata Laila.
Tariq duduk di ranjang dan menatapnya.
Laila kembali terpana melihat betapa tampan suaminya, lengkung sempurna dahinya,
otot-otot kokoh di lengannya, mata yang menyiratkan keteduhan dan kecerdasan.
Setahun telah berlalu, dan, dalam momen-momen seperti ini, Laila masih tidak
memercayai bahwa mereka dapat bertemu kembali, bahwa Tariq benar-benar ada di
sisinya, bersama dengan dirinya, menjadi suaminya.
"Pulang" Ke Kabul?" tanya Tariq.
"Hanya kalau kau mau."
"Apakah kau tidak bahagia di sini" Sepertinya
kau bahagia. Anak-anak juga."
Laila duduk. Tariq bergeser, memberikan ruang untuknya.
"Aku memang bahagia," kata sahut Laila. "Tentu saja aku bahagia. Hanya saja ... ke
manakah kita akan melangkah dari sini, Tariq" Sampai kapan kita akan tinggal di
sini" Ini bukan kampung halaman kita. Kabullah tempatnya. Dan, di sana, begitu
banyak hal sedang terjadi. Aku ingin menyumbang untuk negeri kita. Kau paham?"
Tariq mengangguk perlahan. "Ini memang yang kauinginkan, ya" Kau yakin?"
"Aku memang menginginkannya, ya, aku yakin. Tapi, lebih daripada itu, aku merasa
bahwa aku harus pulang. Tinggal di sini, rasanya tidak lagi benar."
Tariq menunduk menatap tangannya, lalu kembali menatap Laila.
"Tapi, hanya hanya kalau kau juga ingin pulang."? ?Tariq tersenyum. Kerutan di keningnya menghilang, dan selama beberapa saat, dia
menjadi Tariq yang lama, Tariq yang tidak pernah sakit kepala, yang pernah
mengatakan bahwa ingus di Siberia berubah menjadi es sebelum jatuh ke tanah.
Mungkin ini hanya ada dalam khayalan Laila, namun Laila meyakini bahwa akhir-
akhir ini, Tariq yang lama tersebut tampak lebih sering muncul.
"Aku?" kata Tariq. "Aku akan mengikutimu walaupun ke ujung dunia, Laila."
Laila merapatkan diri ke tubuh Tariq dan mencium bibirnya. Dia merasa tidak
pernah lebih mencintai Tariq daripada saat ini. "Terima kasih," katanya,
menempelkan keningnya ke kening Tariq. "Ayo kita pulang."
"Tapi, pertama-tama, aku ingin pergi ke Herat," kata Laila. "Herat?"
Laila pun menjelaskan. O Anak-anak harus diyakinkan, masing-masing dengan cara yang berbeda. Laila harus
duduk bersama Aziza yang terserang kepanikan, yang masih mendapatkan mimpi-mimpi
buruk, yang seminggu sebelumnya menangis karena seseorang menembak ke langit
dalam sebuah perayaan pernikahan. Laila harus menjelaskan kepada Aziza bahwa
Taliban tidak akan ada saat mereka kembali ke Kabul nanti, bahwa tidak akan ada
lagi perang, dan bahwa dia tidak akan dikembalikan ke panti asuhan. "Kita semua
akan tinggal bersama. Ayahmu, Mammy, Zalmai. Dan kamu, Aziza. Kau tidak akan
pernah harus berpisah dengan kami lagi. Aku berjanji." Laila melemparkan senyum
pada putrinya. "Hingga suatu hari nanti, kalau kau sendiri menginginkannya.
Kalau kau jatuh cinta dengan pada seorang pemuda tampan dan ingin menikah
dengannya." Pada hari ketika mereka meninggalkan Murree, Zalmai sangat sedih. Dia memeluk
leher Alyona dan tak mau melepaskannya. "Aku tak bisa membujuknya untuk melepaskan Alyona, Mammy," kata Aziza.
"Zalmai. Kambing tidak boleh dimasukkan ke dalam bus," Laila kembali
menjelaskan. Hingga akhirnya Tariq berlutut di sisi Zalmai, berjanji kepadanya
untuk membelikan kambing yang mirip Alyona di Kabul. Zalmai pun dengan penuh
keraguan melepaskan pelukannya.
Sayeed menyelenggarakan pesta perpisahan yang mengharukan. Sebagai harapan akan
datangnya nasib baik, dia memegang Al -Quran di ambang pintu untuk diterobosi
sebanyak tiga kali oleh Tariq, Laila, dan anak-anak. Dia menolong Tariq
menaikkan dua buah koper mereka ke bagasi mobilnya. Sayeedlah yang mengantar
mereka ke terminal, yang berdiri di bahu jalan dan melambai dengan penuh
semangat ketika bus bergetar dan melaju.
Saat bersandar dan melihat sosok Sayeed semakin mengecil di jendela belakang
bus, Laila merasakan keraguan menyelusup ke dalam kepalanya. Apakah mereka
bersikap tolol, pikirnya, karena meninggalkan kehidupan aman di Murree" Hanya
untuk kembali ke tanah tempat orangtua dan kedua abangnya berpulang, tempat
hujan asap dan bom baru saja mereda"
Kemudian, dari pusaran gelap ingatannya, munculan dua baris puisi, ode selamat
tinggal Babi untuk Kabul:
Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atapnya,
Ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dindingnya.
Laila menenangkan diri di kursinya, mengusir air mata yang memberati matanya.
Kabul menunggunya. Membutuhkan dirinya. Perjalanan pulang ini adalah hal yang
tepat untuk dilakukan. Tetapi, sebelumnya, ada satu lagi kalimat perpisahan yang harus diucapkan.
O Perang Di Afghanistan menghancurkan jalan-jalan yang menghubungkan Kabul, Herat,
dan Kandahar. Cara termudah untuk menuju Herat saat ini adalah melalui Mashad di
Iran. Laila dan keluarganya hanya memiliki waktu semalam di sana. Mereka
menginap di sebuah hotel, dan, keesokan paginya, menumpang bus lain.
Mashad adalah sebuah kota yang sibuk dan penuh sesak. Dari dalam bus, Laila
melihat sejumlah taman, masjid, dan restoran chelo kebab berkelebat. Ketika bus
melewati makam Imam Reza, imam kedelapan Syiah, Laila menjulurkan lehernya
supaya dapat melihat lebih baik pada ubin-ubin yang berkilauan, menara-menara,
dan kubah emasnya yang indah, semuanya bersih dan terjaga dengan baik. Dia
memikirkan tentang patung-patung Buddha di negerinya sendiri. Keduanya telah
menjadi debu saat ini, ditiup angin di Lembah Bamiyan.
Perjalanan dengan bus ke perbatasan Iran-Afghanistan berlangsung selama nyaris
sepuluh jam. Semakin mendekati Afghanistan, tanah yang mereka lalui tampak
semakin sepi dan kering. Tak lama sebelum melewati perbatasan menuju Herat,
mereka melewati sebuah kamp pengungsian Afghan. Bagi Laila, tempat itu hanya
menyerupai bayangan kabur debu kuning dan tenda-tenda hitam, juga bangunan-
bangunan kumuh berlapis lempengan seng. Laila mengulurkan tangan dan menggenggam
tangan Tariq. <" Di HERAT, sebagian besar jalan berlapis batu, diapit oleh pohon-pohon pinus
wangi. Terdapat beberapa taman kota dan perpustakaan yang sedang dibangun,
halaman-halaman yang tertata rapi, gedung-gedung yang masih memancarkan wangi
cat tembok. Lampu-lampu lalu lintasnya bekerja dengan baik, dan, yang paling
mengejutkan Laila, listrik di kota itu selalu stabil. Laila pernah mendengar
bahwa panglima perang Herat yang menganut gaya feodal, Ismail Khan, memberikan
dana cukup besar untuk pembangunan kembali Kota Herat dengan pungutan yang
ditariknya dari perbatasan Afghanistan-Iran uang yang, menurut pemerintah di ?Kabul, seharusnya menjadi milik pemerintah pusat. Sopir taksi yang membawa
mereka ke Hotel Muwaffaq menyebutkan nama Ismail Khan dengan penuh kekaguman
sekaligus ketakutan. Menginap dua malam di Muawaffaq menghabiskan nyaris seperlima tabungan mereka,
namun perjalanan dari Mashad sangat panjang dan melelahkan, sehingga anak-anak
pun kelelahan. Petugas tua yang menjaga meja resepsionis mengatakan kepada
Tariq, sembari mengambil kunci kamar mereka, bahwa Muwaffaq populer di kalangan
wartawan dan para pekerja NGOLSM.
"Bin Laden pernah menginap sekali di sini," ujarnya bangga.
Kamar yang mereka sewa memiliki dua ranjang dan satu kamar mandi dengan air
dingin yang mengalir lancar. Lukisan pujangga Khaja Abdullah Ansary terpasang di
dinding antara kedua ranjang. Dari jendela, Laila dapat melihat jalanan yang
sibuk di bawahnya dan sebuah taman di seberang jalan, dengan ruas-ruas jalan
bata berwarna pastel yang membelah rumpun-rumpun bunga. Anak-anak, yang telah
terbiasa dengan televisi, merasa kecewa karena tidak ada pesawat televisi di
kamar mereka. Meskipun begitu, tak lama kemudian, mereka terlelap. Laila dan
Tariq pun segera menyusul. Laila tertidur nyenyak dalam pelukan Tariq, kecuali
saat dia terbangun di tengah malam karena mendapatkan mimpi yang tak dapat
diingatnya lagi. Keesokan paginya, setelah menyantap sarapan berupa teh dan roti hangat, selai
quince, dan telur rebus, Tariq mencarikan taksi untuk Laila.
"Kau yakin tidak mau kutemani?" tanya Tariq. Aziza menggandeng tangannya. Zalmai
tidak menggandengnya, namun berdiri di dekatnya, menyandarkan bahu ke
pinggulnya. "Aku yakin." "Aku khawatir."
"Aku akan baik-baik saja," kata Laila. "Aku berjanji. Bawalah anak-anak ke
pasar. Belikan sesuatu untuk mereka."
Zalmai menangis ketika taksi berlalu, dan, saat Laila menengok ke belakang, dia
melihat bahwa Zalmai mengulurkan tangan pada Tariq. Melihat Zalmai mulai
menerima Tariq membuat hati Laila lega sekaligus hancur.
"Anda bukan orang herat," kata sopir taksi yang mengantar Laila.
Pria itu memiliki rambut hitam sepanjang bahu Laila baru tahu bahwa rambut ?panjang menjadi pernyataan sikap publik setelah mundurnya Taliban dan bekas
?luka yang memotong bagian kiri kumisnya. Selembar foto tersemat di kaca depan
mobilnya. Seorang gadis dengan pipi bersemu merah muda dan rambut dikepang dua.
Laila mengatakan kepadanya bahwa dia telah tinggal di Pakistan selama setahun
dan sekarang berniat pulang ke Kabul. "Deh-Mazang."
Melalui jendela mobil, Laila melihat para perajin memasang pegangan teko
kuningan, para pembuat pelana menjemur potongan kulit di luar.
"Anda sudah lama tinggal di sini, Saudara?" tanya Laila.
"Oh, seumur hidup. Saya lahir di sini. Saya melihat segalanya. Anda masih ingat
peristiwa pemberontakan?"
Laila mengiyakan, namun sopir itu tidak mendengarkannya.
"Maret 1979, sembilan bulan sebelum Soviet datang. Sejumlah penduduk Herat yang
kalap membunuh beberapa orang penasihat Soviet, sehingga Soviet mengirim tank
dan helikopter untuk membombardir tempat ini. Selama tiga hari, Hamshira, mereka
mengobrak-abrik kota. Mereka menghancurkan bangunan, meruntuhkan salah satu
kubah, membunuh ribuan orang. Ribuan. Saya kehilangan dua saudara perempuan
dalam tiga hari itu. Salah satunya masih dua belas tahun." Dia mengetuk foto di
jendelanya. "Itulah dia."
"Saya ikut bersedih," kata Laila, memikirkan bahwa setiap kisah Afghan selalu
diwarnai oleh kematian, kehilangan, dan duka yang tak terbayangkan. Dan tetap
saja, dia dapat melihat bahwa orang-orang selalu menemukan cara untuk bertahan,
untuk melanjutkan kehidupan. Laila memikirkan kehidupannya sendiri dan semua
yang menimpanya, dan dia juga heran melihat dirinya masih bertahan, masih hidup
dan duduk di dalam taksi, mendengarkan kisah pria ini
Gul daman adalah sebuah desa yang terdiri dari beberapa rumah berpagar yang
menjulang di antara sejumlah kolba beratap datar yang dibangun dengan lumpur dan
jerami. Di luar kolba-kolba itu, Laila melihat para wanita berkulit terbakar
sedang memasak, wajah mereka berkeringat akibat uap yang mengepul dari panci-
panci menghitam yang ditenggerkan di atas tungku-tungku sederhana. Bagal-bagal
makan dari bak-bak makanan. Anak-anak kecil mengejar-ngejar taksi, melupakan
ayam yang menjadi buruan mereka sebelumnya. Laila melihat pria-pria mendorong
gerobak berisi batu. Mereka berhenti dan menonton taksi berlalu. Sopir
membelokkan mobil, melewati sebuah kuburan dengan nisan besar yang telah
tertempa cuaca berada di tengah-tengahnya. Sopir itu memberi tahu Laila bahwa
seorang Sufi kampung itu dimakamkan di sana.
Sebuah kincir angin juga berdiri di desa itu. Di bawah bayangan bilah-bilah
berkaratnya, tiga orang bocah laki-laki berjongkok, bermain dengan lumpur. Sopir
menepikan mobilnya dan melongok ke jendela. Bocah terbesar menjawab
pertanyaannya. Dia menunjuk sebuah rumah yang ada di ujung jalan. Sopir itu
mengucapkan terima kasih padanya dan menjalankan kembali mobilnya.
Taksi itu diparkir di depan sebuah rumah berpagar tembok berlantai satu. Laila
melihat puncak-puncak pohon fig menyembul dari balik tembok, sebagian dahannya
menjulur ke luar. "Saya tak akan lama," katanya kepada si Ssopir.
Pria setengah baya yang membuka pintu untuk Laila bertubuh pendek, kurus, dan
berambut cokelat kemerahan. Semburat kelabu mewarnai janggutnya. Dia mengenakan
chapan di atas pirhan-tumban.
Mereka saling mengucapkan salam.
"Apakah ini rumah Mullah Faizullah?" tanya Laila.
"Ya. Saya putranya, Hamza. Adakah yang bisa saya bantu, Hamshireh?"
"Saya datang ke sini untuk membicarakan tentang kawan lama ayah Anda, Mariam."
Mata Hamza berkedip. Sirat kebingungan tampak melintasi wajahnya. "Mariam
"Anak perempuan Jalil Khan."
Matanya kembali berkedip. Lalu, dia menempelkan salah satu telapak tangannya ke
pipi dan tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi rusaknya. "Oh!" serunya. Bunyi
Ohhhhhh keluar dari mulutnya, seperti embusan napas.
"Oh! Mariam! Apakah Anda putrinya" Apakah dia-" sekarang dia menjulurkan
lehernya, melihat ke belakang Laila, mencari-cari. "Apakah dia di sini" Sudah
lama sekali! Apakah Mariam di sini?"
"Dia sudah meninggal, sayang sekali."
Senyuman lenyap dari wajah Hamza.
Selama sesaat, mereka berdiri di sana, di ambang pintu, Hamza menunduk menatap
tanah. Entah di mana, seekor keledai meringkik.
"Masuklah," kata Hamza. Dia membuka pintu lebar-lebar. "Silakan, masuklah."
Mereka duduk di lantai, di ruangan yang tidak banyak diisi perabot. Sebuah
permadani Herati terhampar di lantai, dengan bantal-bantal berpayet tertata di
atasnya, dan sebuah foto berbingak Kota Mekah berbingkai terpasang tergantung di
dinding. Mereka duduk di dekat jendela yang terbuka, yang memasukkan cahaya
terang ke seluruh ruangan. Laila mendengar bisikan wanita di ruangan lain.
Seorang anak laki-laki bertelanjang kaki meletakkan sebuah baki berisi teh hijau
dan gula-gula gaaz. Hamza mengangguk pada anak itu. "Anak saya."
Anak itu berlalu kembali tanpa suara. "Baiklah, ceritakanlah kepada saya," kata
Hamza, letih.

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Laila pun bercerita. Dia menceritakan segalanya kepada Hamza. Ternyata dia
membutuhkan waktu lebih panjang daripada yang dibayangkannya. Menjelang akhir
kisahnya, dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap terkendali. Ternyata masih
sulit baginya, setelah satu tahun berlalu, untuk membicarakan Mariam.
Setelah Laila selesai bercerita, Hamza tidak
mengatakan apa pun dalam waktu lama. Dia memutar-mutar cangkir tehnya pelan-
pelan di atas cawan, ke satu arah, lalu ke arah yang lain.
"Ayah saya, semoga dia beristirahat dengan damai, sangat menyukai Mariam,"
ujarnya pada akhirnya. "Dialah yang mengumandangkan azan saat Mariam dilahirkan,
Anda tahu. Dia mengunjungi Mariam setiap minggu, tak pernah terlewat. Kadang-
kadang, dia juga mengajak saya ke sana. Dia memang guru mengaji, namun dia juga
teman Mariam. Ayah saya adalah seorang pria yang penuh kasih sayang. Hatinya
hancur ketika Jalil Khan menikahkan Mariam."
"Saya ikut berduka cita atas kepergian ayah Anda. Semoga Tuhan mengampuninya."
Hamza mengangguk. "Dia hidup sampai berusia renta. Usianya bahkan jauh melampaui
Jalil Khan. Kami memakamkannya di pekuburan desa, tidak jauh dari tempat ibu
Mariam dikubur. Ayah saya adalah pria yang sangat baik. Tentu saja dia akan
masuk surga." Laila menurunkan cangkirnya.
"Bolehkah saya meminta sesuatu kepada Anda?"
"Tentu saja." "Bisakah Anda menunjukkannya kepada saya?" tanya Laila. "Tempat tinggal Mariam.
Dapatkah Anda membawa saya ke sana?"
Si sopir setuju untuk menunggu beberapa saat lagi.
Hamza dan Laila keluar dari desa dan berjalan menuruni bukit ke jalan yang
menghubungkan antara Gul Daman dan Herat. Sekitar lima belas menit kemudian,
Hamza menunjuk sebuah garis jalan di antara padang ilalang.
"Di sinilah tempatnya," katanya. "Ada jalan di sana."
Jalan itu berbatu, berkelok-kelok, dan tampak suram diapit berbagai macam
tumbuhan rimbun. Angin menjadikan rumput menggelitik kaki Laila saat dia dan
Hamza menyusuri jalan dan berbelok. Di kedua sisi mereka, berbagai macam rumpun
bunga liar bergoyang-goyang ditiup angin, beberapa tinggi dengan kelopak
melengkung, beberapa rendah dengan daun berbentuk kipas. Di sana-sini, kuntum-
kuntum buttercup mengintip di antara semak-semak rendah. Laila mendengar kicauan
burung layang-layang di atasnya dan melihat kesibukan beberapa ekor belalang di
dekat kakinya. Mereka mendaki hingga sekitar dua ratus meter lagi. Lalu, jalan
itu mendatar dan terbuka menuju sebuah dataran. Mereka berhenti, mengatur napas.
Laila mengusap keningnya dengan lengan baju dan menepiskan nyamuk yang
beterbangan di dekat wajahnya. Dari sini, dia dapat melihat gunung-gunung di
cakrawala, beberapa batang pohon kapuk, poplar, dan berbagai macam semak-semak
liar yang namanya tidak bisa dia sebutkan.
"Dahulu ada sungai di sini," kata Hamza, terengah-engah. "Sudah sejak lama
airnya berhenti mengalir." Hamza mengatakan bahwa dia akan menunggu. Dia menyuruh Laila menyeberangi sungai
yang telah kering dan berjalan ke arah gunung.
"Saya akan menunggu di sini," katanya, duduk di atas sebongkah batu di bawah
pohon poplar. "Silakan Anda melihat-lihat."
"Saya tidak-" "Jangan takut. Santai saja. Silakan, Hamshireh." Laila mengucapkan terima kasih
kepada Hamzah. Dia menyeberangi sungai, menginjak batu demi batu. Dia melihat
pecahan botol soda di tengah bebatuan, kaleng berkarat, dan tabung logam
bertutup seng yang setengah terkubur di tanah.
Dia berjalan ke arah gunung, ke arah pohon-pohon weeping willow, yang sekarang
dapat diterlihatnya, sulur-sulur panjangnya bergoyang bersama setiap tiupan
angin. Di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang. Dia melihat bahwa pohon-
pohon itu sesuai dengan yang digambarkan oleh Mariam, berdiri melingkar dengan
sebuah tempat terbuka di tengah-tengahnya. Laila berjalan lebih cepat, nyaris
berlari. Dia menoleh dan melihat sosok Hamza mengecil, chapan yang dia
kenakannya bagaikan sepercik warna di antara batang-batang pohon berwarna
cokelat. Laila tersandung sebongkah batu dan hampir terjatuh, sebelum
mendapatkan kembali keseimbangannya. Dia bergegas melanjutkan perjalanan setelah
menggulung pipa celananya. Setibanya di antara
pohon-pohon willow, Laila terengah-engah. Kolba Mariam masih berdiri.
Ketika mendekati pondok itu, Laila melihat kekosongan dari satu-satunya jendela
dan pintu yang telah hilang. Mariam pernah menceritakan tentang kandang ayam dan
sebuah tandoor, juga sebuah gudang berdinding kayu, namun Laila tidak melihat
tanda-tanda keberadaannya. Dia berhenti di depan pintu masuk kolba. Dengungan
lalat terdengar dari dalam.
Untuk memasuki kolba, Laila harus menghindari sawang laba-laba yang telah
mengumpul tebal. Keadaan di dalam remang-remang. Laila harus menunggu hingga
matanya terbiasa dengan kegelapan. Sesudahnya, dia dapat melihat bahwa bagian
dalam tempat itu jauh lebih kecil daripada yang ada dalam bayangannya. Hanya ada
setengah bilah papan lapuk yang tersisa di lantai. Lainnya, dia membayangkan,
telah dilepas untuk dijadikan kayu bakar. Sekarang, lantai kolba dilapisi oleh
permadani daun kering, pecahan botol, bungkus permen karet, jamur liar, puntung
rokok yang telah menguning. Tetapi, sebagian besar di antaranya adalah rumput,
sebagian pendek, sebagian mencuat tinggi.
Lima belas tahun, pikir Laila. Lima belas tahun di tempat ini.
Laila duduk, menyandarkan punggung ke dinding. Dia mendengarkan angin bertiup di
antara daun-daun willow. Dia melihat lebih banyak sawang laba-laba di langit-
langit. Seseorang telah menulis
di dinding dengan cat semprot, namun Laila tidak dapat memahami tulisan itu.
Abjad Rusia, dia pun menyadarinya. Sebuah bekas sarang burung tergeletak di
sudut ruangan, dan seekor kelelawar menggantung dengan posisi terbalik di sudut
yang lain, tempat dinding bertemu dengan langit-langit.
Laila memejamkan mata dan duduk diam selama beberapa waktu.
Di Pakistan, sulit baginya untuk mengingat detail-detail wajah Mariam. Ada saat
ketika, bagaikan sebuah kata yang bersiap terlontar dari lidahnya, wajah Mariam
menghilang dari ingatannya. Tetapi sekarang, di tempat ini, begitu mudah untuk
mendatangkan bayangan Mariam ke balik kelopak matanya: tatapannya yang lembut,
dagunya yang panjang, gelambir kulit di lehernya, senyuman di bibirnya yang
tipis. Di sini, Laila dapat meletakkan pipinya ke kelembutan pangkuan Mariam
lagi, merasakan tubuh Mariam mengayun saat dia membaca ayat-ayat Al -Quran,
merasakan kata-kata bergetar di seluruh tubuh Mariam, di lututnya, dan masuk ke
telinga Laila. Lalu, tiba-tiba, gerumbul rumput mulai menghilang, seolah-olah seseorang
mencabuti akarnya dari dalam tanah. Rerumputan semakin pendek dan akhirnya
menghilang; tanah di dalam kolba menelan setiap bilahnya. Sawang-sawang laba-
laba semakin menipis dan juga menghilang sama sekali. Setiap ranting dan rumput
yang menyusun sarang burung terlepas satu per satu, dan seluruhnya melayang
keluar dari kolba. Sebuah penghapus yang tak
terlihat melenyapkan grafiti Rusia di dinding.
Papan-papan kembali menyusun lantai. Sekarang, Laila melihat sepasang ranjang
kecil, sebuah meja kayu, dua buah kursi, sebuah tungku pemanas besi tempa di
sudut, sebuah rak di dinding, tempat menyimpan panci-panci tembikar dan wajan,
sebuah cerek yang telah menghitam, beberapa cangkir dan sendok. Laila dapat
mendengar ayam berkeok di luar dan gemericik sungai di kejauhan.
Mariam cilik duduk di meja, membuat sebuah boneka di bawah pendar lampu minyak.
Dia menyenandungkan sesuatu. Wajahnya mulus dan muda, rambutnya basah, tersisir
ke belakang. Giginya masih lengkap. Laila melihat Mariam mengelem benang ke
kepala bonekanya. Dalam beberapa tahun, gadis kecil ini akan menjadi wanita yang
tidak memiliki banyak tuntutan dalam kehidupan; yang tidak akan pernah membebani
orang lain; yang tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya juga memiliki
kesedihan, kekecewaan, dan impian yang telah terinjak-injak. Seorang wanita yang
mirip batu di dasar sungai, menanggung segala beban tanpa pernah mengeluh,
keanggunannya tidak menghilang tetapi terbentuk oleh tekanan yang selalu
menderanya. Laila melihat sesuatu di balik mata gadis kecil ini, sesuatu yang
terletak dalam di intinya, yang tidak akan mampu ditembus oleh Rasheed maupun
Taliban. Sesuatu yang sekeras dan sekokoh bongkahan granit. Sesuatu yang, pada
akhirnya, menjadi alasan kejatuhannya, dan kemerdekaan Laila.
Gadis kecil itu mengangkat wajah. Meletakkan boneka. Tersenyum.
Laila jo" Mata Laila sontak terbuka. Dia terkesiap dan melonjak kaget. Dia telah
membangunkan kelelawar, yang langsung terbang dengan panik dari sudut ke sudut
kolba, bunyi kepakan sayapnya terdengar seperti halaman-halaman buku yang dibuka
dengan cepat, sebelum akhirnya ia menemukan jendela dan terbang ke luar.
Laila bangkit, menepuk-nepuk celananya untuk menjatuhkan daun-daun kering yang
menempel. Dia melangkah keluar dari kolba. Di luar, matahari telah sedikit
condong. Angin bertiup, mengayun-ayunkan rumput dan mengoyang-goyangkan dahan-
dahan willow. Sebelum pergi, untuk terakhir kalinya Laila memandang kolba, tempat Mariam
tidur, makan, bermimpi, menahan napas untuk Jalil. Di dinding yang telah lapuk,
pohon willow menimpakan bayangan yang bergerak seiring tiupan angin. Seekor
burung gagak mendarat di atap, berkaok, dan terbang kembali.
"Selamat tinggal, Mariam."
Dan, tanpa menyadari isakannya, Laila mulai berlari menembus padang ilalang.
Laila mendapati Hamza masih duduk di batu. Begitu melihatnya, Hamza langsung
berdiri. "Ayo," kata Hamza. Lalu, "Saya punya sesuatu untuk Anda."
Laila menunggu Hamza di taman depan rumah. Anak laki-laki yang sebelumnya
menghidangkan teh sekarang berdiri di bawah salah satu pohon fig, memegang
seekor ayam, menatap Laila tanpa ekspresi. Laila melihat dua wajah lain, seorang
wanita tua dan seorang gadis muda berjilbab, memandangnya dengan penuh rasa
ingin tahu dari sebuah jendela.
Pintu rumah terbuka dan Hamza melangkah ke luar. Dia membawa sebuah kotak.
Hamza menyerahkan kotak itu kepada Laila.
"Jalil Khan memberikan kotak ini kepada ayah saya sekitar sebulan sebelum dia
meninggal," kata Hamza. "Dia meminta ayah saya menjaganya untuk Mariam, hingga
Mariam datang ke sini dan memintanya. Ayah saya menyimpannya selama dua tahun.
Lalu, tepat sebelum dia meninggal, dia memberikannya kepada saya dan meminta
saya menyimpannya untuk Mariam. Tapi, dia ... Anda tahu, tak pernah datang."
Laila menatap kotak timah berbentuk oval itu. Penampilannya mirip kotak cokelat.
Warnanya hijau zaitun, dengan pinggiran keemasan yang warnanya telah memudar.
Setitik karat menodai sisinya, dan terdapat dua lubang kecil di bagian depan
tutupnya. Laila mencoba membuka kotak itu, namun tutupnya terkunci.
"Apa isinya?" tanya Laila.
Hamza meletakkan sebuah anak kunci di telapak
tangan Laila. "Ayah saya tak pernah membukanya. Saya juga. Saya rasa, Tuhan
menghendaki supaya Anda melakukannya,."
O Di hotel, Tariq dan anak-anak belum pulang.
Laila duduk di ranjang, meletakkan kotak itu di pangkuannya. Sebagian dari
dirinya ingin membiarkan kotak itu terkunci, membiarkan apa pun yang tertinggal
dari diri Jalil tetap menjadi rahasia. Tetapi, pada akhirnya, rasa penasaran tak
mampu dia bendungnya. Laila memasukkan anak kunci. Dia harus memutar-mutar kunci
dan menggoyang-goyang kotak itu sebelum berhasil membukanya.
Di dalamnya, Laila menemukan tiga buah benda: sebuah amplop, sebuah karung, dan
sebuah kaset video. Laila membawa kaset video itu ke meja resepsionis. Dia mengetahui dari pria tua
yang menyambut mereka sebelumnya bahwa hotel itu hanya memiliki satu VCR, di
suite terbesar. Kamar itu kosong pada saat ini, dan si resepsionis mau membawa
Laila ke sana. Dia menyerahkan tanggung jawabnya pada seorang pemuda berkumis
tebal dan bersetelan yang sedang berbicara di telepon selulernya.
Resepsionis tua itu membawa Laila ke lantai dua, ke sebuah pintu di ujung
koridor. Dia memutar kunci dan mempersilakan Laila masuk. Laila langsung
melihat pesawat TV di sudut kamar. Hanya itulah kelebihan suite ini.
Laila menyalakan TV dan VCR. Dia memasukkan kaset video dan menekan tombol PLAY.
Layar di depannya tampak kosong selama beberapa saat, dan Laila mulai berpikir
mengapa Jalil repot-repot mewariskan video kosong kepada Mariam. Tetapi,
terdengarlah suara musik, dan gambar-gambar mulai bermunculan di layar.
Laila mengerutkan kening. Dia tetap menonton barang satu atau dua menit. Lalu,
dia menekan tombol STOP, memutar maju kaset, dan kembali menekan PLAY. Film yang
sama. Pria tua di belakangnya menatapnya dengan bingung.
Film yang mereka saksikan adalah Pinocchio karya Walt Disney. Laila tidak
mengerti. O Lewat pukul enam, Tariq dan anak-anak pulang ke hotel. Aziza langsung memeluk
Laila dan menunjukkan anting-anting yang dibelikan oleh Tariq, perak, dengan
hiasan kupu-kupu. Zalmai memeluk balon lumba-lumba yang mengeluarkan bunyi
melengking jika ditekan. "Bagaimana kabarmu?" tanya Tariq, menyentuh bahu Laila.
"Aku baik-baik saja," kata Laila. "Nanti kuceritakan."
Mereka berjalan ke sebuah kedai kebab di dekat
hotel untuk makan malam. Tempat itu kecil, dengan meja-meja bertaplak vinil
lengket, penuh asap dan ramai. Tetapi, daging domba yang disajikan lembut dan
lezat, dan rotinya panas. Sesudahnya, mereka berjalan-jalan selama beberapa
saat. Dari sebuah kios kaki lima, Tariq membeli es krim air mawar untuk anak-
anak. Mereka makan, duduk di bangku taman, sementara bayangan gunung di belakang
mereka menjulang di tengah-tengah senja yang merah. Udara terasa hangat,
beraroma cedar. Laila telah membuka amplop peninggalan Jalil sekembalinya dia ke kamar, setelah
menonton isi kaset video. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat, ditulis
tangan menggunakan tinta biru di atas kertas kuning bergaris.
Inilah isinya: 13 Mei 1987 Mariam tersayang,
Aku berharap keadaanmu sehat saat membaca surat ini.
Seperti yang kau ketahui, aku datang ke Kabul sebulan yang lalu untuk berbicara
denganmu. Tapi, kau tidak bersedia menemuiku. Aku kecewa, namun aku tak bisa
menyalahkanmu. Seandainya berada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan
hal yang sama. Aku telah kehilangan hak untuk mendapatkan perlakuan baik darimu
sejak lama, dan hanya diriku sendirilah yang patut dipersalahkan. Tapi, jika kau
membaca surat ini, berarti kau juga membaca surat yang kutinggalkan di pintumu. Kau membacanya
dan datang menemui Mullah Faizullah, sesuai permintaanku. Aku bersyukur karena
kau melakukannya, Mariam jo. Aku bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk
mengucapkan beberapa patah kata kepadamu.
Dari manakah aku harus memulai"
Ayahmu telah menemui banyak kesedihan sejak terakhir kali kita berbicara, Mariam
jo. Ibu tirimu, Afsoon, terbunuh pada hari pertama kerusuhan 1979. Sebutir
peluru membunuh adikmu Niloufar pada hari yang sama. Aku masih dapat melihatnya,
Niloufar kecilku, berdiri di atas kepalanya untuk membuat para tamu terkesan.
Adikmu Farhad berjihad pada 1980. Soviet membunuhnya pada 1982, di dekat
Helmand. Aku tidak pernah melihat mayatnya. Aku tidak tahu apakah kau sendiri
memiliki anak, Mariam jo, tapi jika kau punya, aku selalu berdoa agar Tuhan
melindungi mereka dan menjauhkanmu dari duka seperti yang kurasakan. Aku masih
memimpikan mereka. Memimpikan anak-anakku yang telah berpulang.
Aku juga memimpikanmu, Mariam jo. Aku merindukanmu. Aku merindukan suaramu,
tawamu. Aku rindu membaca untukmu dan memancing bersamamu. Ingatkah Apa kau
masih ingat ketika kita suka memancing bersama" Kau adalah anak perempuan yang
baik, Mariam jo, dan aku tidak pernah bisa menyingkirkan rasa malu dan
penyesalanku saat memikirkanmu. Penyesalan .... Jika menyangkut dirimu, Mariam jo,
penyesalanku sebesar samudera. Aku menyesal karena tidak mau menjumpaimu saat
kau datang ke Herat. Aku menyesal karena tidak membuka pintu untukmu dan
mengajakmu masuk. Aku menyesal karena tidak menganggapmu sebagai putriku, karena
membiarkanmu hidup di tempat itu selama bertahun-tahun. Untuk apa semua itu"
Karena aku ketakutan akan kehilangan muka" Karena aku tidak ingin menodai "nama
baikku?" Betapa semua itu tampak sepele setelah semua kehilangan yang kurasakan,
semua keburukan yang kulihat dalam masa perang. Tetapi sekarang, tentu saja
semuanya telah terlambat. Mungkin ini adalah hukuman yang layak didapatkan oleh
seseorang yang berhati batu, supaya dia memahami bahwa apa yang telah terjadi
tak dapat diubah lagi. Sekarang, yang dapat kukatakan hanyalah bahwa kau adalah
seorang anak perempuan yang baik, Mariam jo, dan bahwa aku tak pernah layak
mendapatkan dirimu. Sekarang, yang kumohon hanyalah ampunan darimu. Maka,
maafkanlah aku, Mariam jo. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.
Aku bukan lagi pria kaya seperti dahulu. Komunis menyita sebagian besar tanahku,
dan

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga semua tokoku. Tapi, tak layak bagiku untuk mengeluh, karena Tuhan untuk ?berbagai alasan yang tak kupahami masih menganugerahiku jauh lebih banyak
?daripada orang lain. Sekembalinya dari Kabul, aku berhasil menjual sisa tanahku.
Aku menyertakanmu dalam pembagian warisanku. Kau akan melihat sendiri bahwa
jumlahnya tak seberapa, namun setidaknya ada. Setidaknya ada. (Kau juga akan
melihat bahwa aku memberimu mata uang dolar. Kupikir, lebih baik begitu. Hanya
Tuhan yang tahu akan ke mana /arinya mata uang kita yang malang.)
Kuharap kau tidak menganggapku sedang membeli maafmu. Aku tahu bahwa ampunanmu
tidak akan kauperjualbelikan. Tidak pernah begitu. Aku hanya memberimu, meskipun
terlambat, apa yang menjadi hakmu. Aku bukan ayah yang baik dalam kehidupanmu.
Mungkin aku bisa menjadi ayah yang lebih baik setelah kematian menghampiriku.
Ah, kematian. Aku tak ingin membebanimu dengan hal-hal remeh, tetapi kematian
akan segera menghampiriku. Jantung yang lemah, kata dokter. Ini adalah kematian
yang tepat, rasanya, untuk seorang pria lemah. Mariam jo,
Aku memberanikan diri untuk berharap bahwa, setelah kau membaca surat ini, kau
akan bersikap lebih baik padaku daripada sikapku selama ini padamu. Bahwa kau
akan menemukan cinta di dalam hatimu dan datang menemui ayahmu ini. Bahwa kau akan
mengetuk pintuku sekali lagi dan memberiku kesempatan untuk membukanya, untuk
menyambutmu, untuk memelukmu, Putriku, seperti yang seharusnya kulakukan
bertahun-tahun yang lalu. Harapanku ini selemah jantungku. Inilah yang
kuketahui. Tapi, aku akan menunggu. Aku akan mendengarkanmu mengetuk pintu. Aku
akan berharap. Semoga Tuhan mengaruniamu kehidupan yang panjang dan penuh
kebahagiaan, Putriku. Semoga Tuhan mengaruniamu anak-anak yang sehat dan
rupawan. Semoga kau menemukan kebahagiaan, kedamaian, dan kasih sayang yang
tidak kuberikan kepadamu. Semoga kau tetap sehat. Aku menyerahkanmu ke tangan
Tuhan yang penuh cinta. Ayahmu yang hina, Jalil Malam itu, sekembalinya mereka ke hotel, setelah anak-anak lelah bermain dan
tertidur lelap, Laila menceritakan kepada Tariq tentang surat itu. Dia
menunjukkan uang yang tersimpan di dalam lipatan karung. Ketika Laila mulai
menangis, Tariq mencium wajahnya dan memeluknya erat-erat.[]
BAB 51 Kekeringan telah berakhir. Salju turun pada musim dingin terakhir, setinggi
lutut, dan sekarang hujan telah turun selama berhari-hari. Sungai Kabul kembali
mengalir. Banjir musim seminya telah menghalau Kota Titanic. Lumpur menggenangi
jalanan sekarang. Sepatu berdecitan. Mobil-mobil terjebak. Keledai-keledai yang
mengangkut apel berjalan pelan, kaki mereka mencipratkan air yang menggenang di
jalan. Tetapi, tidak seorang pun mengeluhkan lumpur atau menyesali hilangnya
Kota Titanic. Kabut harus kembali menghijau, kata orang-orang.
Kemarin, Laila menyaksikan anak-anak bermain hujan-hujanan, berlompatan ke sana
kemari di setiap genangan air, di halaman belakang rumah mereka, di bawah langit
yang gelap. Dia menonton dari jendela dapur rumah mungil berkamar dua yang
mereka sewa di Deh-Mazang. Sebuah pohon delima berdiri di halaman, di dekat
rumpun rimbun sweetbrier. Tariq telah menambal lubang-lubang di dinding dan
membuat perosotan dan ayunan untuk anak-anak, juga sebuah kandang kecil untuk
April 2003 kambing baru Zalmai. Laila melihat air hujan membasahi kepala Zalmai dia ?meminta rambutnya dipangkas seperti Tariq, yang sekarang bertugas membacakan doa
Babaloo untuknya. Air hujan meluruskan rambut panjang Aziza, mengubahnya menjadi
sulur-sulur yang memancarkan air ke arah Zalmai setiap kali Aziza menyentakkan
kepala. Sebentar lagi Zalmai berulang tahun keenam. Aziza berumur sepuluh tahun. Mereka
merayakan ulang tahunnya minggu lalu, mengajaknya ke Cinema Park, tempat Titanic
akhirnya diputar secara resmi untuk para penonton di Kabul.
A "Ayo, anak-anak, bisa-bisa kita telat," panggil Laila, memasukkan bekal makan
siang mereka ke dalam kantung kertas.
Saat ini pukul delapan pagi. Laila terbangun setiap hari pada pukul lima.
Seperti biasanya, Azizalah yang membangunkannya untuk menunaikan shalat Ssubuh.
Shalat, Laila tahu, adalah cara Aziza mengingat Mariam, caranya menahan Mariam
selama mungkin sebelum waktu merenggutnya, sebelum waktu menarik Mariam dari
taman ingatannya, seperti rumput yang tercerabut hingga ke akar-akarnya.
Setelah shalat, Laila kembali ke ranjang, dan masih terlelap saat Tariq
meninggalkan rumah. Samar-samar dia dapat merasakan Tariq mencium pipinya. Tariq
mendapatkan pekerjaan di sebuah
NGO LSM Prancis yang mengurus korban ranjau darat dan penderita amputasi dengan
tangan dan kaki palsu. Zalmai mengejar Laila ke dapur.
"Kalian tidak melupakan buku catatan kalian" Pensil" Buku pelajaran?"
"Ada di sini," kata Aziza, mengangkat ranselnya. Sekali lagi, Laila memerhatikan
bahwa gagapnya telah berkurang.
"Ayo kita berangkat."
Setelah anak-anak keluar rumah, Laila mengunci pintu. Mereka berjalan menikmati
udara pagi yang sejuk. Hari ini hujan tidak turun. Langit tampak biru, dan Laila
tidak melihat segumpal pun awan di cakrawala. Bergandengan tangan, mereka
bertiga berjalan ke halte bus. Jalanan telah penuh kesibukan. Becak, taksi, truk
PBB, bus, jeeip ISAF, semuanya silih berganti melewati mereka. Para pedagang
bermata mengantuk membuka pintu toko mereka yang tertutup sepanjang malam. Para
pedagang asongan duduk di belakang menara permen karet dan kotak rokok mereka.
Para janda telah mengambil posisi andalan mereka di sudut jalan, meminta uang
kecil kepada setiap pejalan kaki yang melewati mereka.
Kembali ke Kabul membuat Laila merasa aneh. Kota ini telah berubah. Setiap hari,
dia melihat orang-orang menanam pohon, mengecat rumah, mengangkut batu bata
untuk membangun rumah baru. Mereka menggali selokan dan sumur. Di birai-birai
jendela, Laila melihat bunga-bunga
ditanam di dalam pot yang terbuat dari selongsong roket Mujahidin bunga roket, ?begitulah penduduk Kabul menamakannya. Baru-baru ini, Tariq mengajak Laila dan
anak-anak ke Taman Babur, yang sedang menjalani renovasi. Untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun, Laila mendengar alunan musik di sudut-sudut jalan Kabul,
rubab dan tabla, dootar, harmonium dan tambur, lagu-lagu tua Ahmad Zahir.
Laila berharap Mammy dan Babi masih hidup agar dapat melihat berbagai perubahan
ini. Tetapi, seperti surat Jalil, penebusan Kabul terlambat datang.
Laila dan anak-anak hendak menyeberangi jalan untuk menuju halte bus ketika,
tiba-tiba, sebuah Land Cruiser hitam berkaca gelap melesat di depan mereka.
Mobil itu nyaris menabrak Laila, hanya menyisakan jarak kurang dari selengan.
Air comberan berwarna cokelat membasahi baju anak-anak. Laila menarik anak-
anaknya ke trotoar, merasakan jantungnya berdegup kencang.
Land Cruiser itu melesat di jalan, membunyikan klakson dua kali, dan berbelok
tajam ke kiri. Laila berdiri diam, berusaha mengatur napas, memegangi pergelangan tangan kedua
anaknya erat-erat. Laila terpana. Dia tak henti-hentinya memikirkan mengapa para panglima perang
diizinkan kembali ke Kabul. Bahwa para pembunuh orangtuanya tinggal di dalam
rumah-rumah mewah yang bertaman dan berpagar tinggi, bahwa mereka ditunjuk
menjadi menteri ini atau deputi menteri itu, bahwa mereka
melaju dengan sombongnya di lingkungan yang sebelumnya mereka hancurkan, di
dalam mobil-mobil 5UV tahan peluru bercat mengilap. Laila tak habis pikir.
Tetapi, Laila telah memutuskan bahwa dirinya tak akan dibuat bimbang oleh
kebencian. Mariam tidak akan membiarkannya begitu. Apa untungnya" Dia akan
menanyakannya dengan senyuman lugu sekaligus bijaksana. Apa bagusnya, Laila jo"
Maka, Laila pun bertekad untuk terus maju. Demi dirinya sendiri, demi Tariq,
demi anak-anaknya. Dan demi Mariam, yang masih mengunjungi Laila dalam mimpi,
yang selalu bernapas di dalam kesadarannya. Laila terus maju. Karena, pada
akhirnya, dia tahu bahwa hanya itulah yang bisa dia lakukannya. Kemajuan dan
harapan. O Zaman berdiri di garis lemparan bebas, menekuk lututnya, memantul-mantulkan bola
basket. Dia sedang memberikan instruksis kepada sekelompok anak laki-laki
berpakaian olah raga seragam, yang duduk dalam formasi setengah lingkaran di
lapangan. Zaman melihat Laila, mengempit bola, dan melambai. Dia mengatakan
sesuatu kepada anak-anak, yang ikut melambai dan berteriak serempak, "Salaam,
moalim sahib!" Laila balas melambai.
Pohon-pohon apel telah ditanam di sepanjang bagian tembok yang menghadap ke
timur, di lapangan bermain panti asuhan. Laila merencanakan untuk menanam lebih banyak
pohon di sepanjang tembok selatan segera setelah pembangunannya selesai.
Terdapat pula sebuah ayunan baru, sebuah jungkat-jungkit, dan sebuah rangka
panjatan. Laila membuka pintu kasa dan memasuki panti asuhan.
Mereka telah memperbaiki bagian luar dan dalam panti asuhan itu. Tariq dan Zaman
menambal setiap lubang di langit-langit dan dinding, memasang kaca jendela,
melapisi lantai tempat anak-anak bermain dengan karpet. Pada musim dingin
sebelumnya, Laila membeli beberapa ranjang untuk anak-anak, juga bantal dan
selimut wol yang cukup tebal. Dia juga memasang tungku-tungku pemanas besi tempa
untuk musim dingin. Artis, salah satu surat kabar di Kabul, menurunkan artikel tentang panti asuhan
itu sebulan sebelum renovasi dilakukan. Mereka juga memuat sebuah foto bergambar
Zaman, Tariq, Laila, dan salah seorang pengasuh, berdiri berderet di belakang
anak-anak. Ketika melihat artikel itu, Laila memikirkan tentang teman-teman masa
kecilnya, Giti dan Hasina, dan juga perkataan Hasina, Kalau nanti kita sudah
berumur dua puluh tahun, aku dan Giti, masing-masing dari kami akan punya empat
atau lima anak. Tapi kau, Laila, kau akan membanggakan kami berdua yang bodoh
ini. Kau akan menjadi orang penting. Aku tahu, suatu hari nanti, aku akan
memungut koran dan melihat wajahmu terpampang di halaman pertama. Foto
itu tidak dimuat di halaman pertama, tapi terpasang di koran, sesuai dengan
perkiraan Hasina. Laila berbelok dan berjalan menyusuri koridor yang, dua tahun sebelumnya,
dilewatinya saat menyerahkan Aziza ke tangan Zaman. Dia masih ingat bagaimana
mereka harus melepaskan satu per satu jari Aziza dari cengkeramannya di
pergelangan tangan Laila. Dia teringat ketika dirinya berlari di koridor ini,
menahan lolongannya, Mariam memanggilnya, Aziza menjerit-jerit panik. Tembok
koridor itu sekarang tertutup oleh poster-poster dinosaurusr, tokoh kartun,
Buddha Bamiyan, dan berbagai hasil karya seni anak-anak. Kebanyakan gambar itu
menceritakan tentang tank-tank yang melindas pondok-pondok, para prajurit yang
mengacungkan AK-47, tenda-tenda pengungsian, adegan-adegan jihad.
Sekarang, Laila berbelok di koridor dan melihat anak-anak menanti di kelas. Dia
mendapatkan sapaan dari kerudung-kerudung, kopiah-kopiah, dan tubuh-tubuh kecil
mereka, juga kepolosan indah mereka.
Ketika Saat anak-anak itu melihat Laila, mereka berlari menyongsongnya. Mereka
mengerumuni Laila. Sapaan-sapaan bernada tinggi, tepukan, tarikan, genggaman,
gapaian, pelukan, semuanya berusaha menarik perhatian Laila. Tangan-tangan
mungil terulur untuk Laila. Beberapa anak memanggilnya Ibu. Laila menerima
panggilan itu. Pagi ini Laila harus berusaha cukup keras untuk menenangkan anak-anak, meminta
mereka berbaris dan masuk dengan tertib ke kelas. Tariq dan Zaman mendirikan ruang kelas ini
dengan meruntuhkan tembok yang memisahkan dua buah kamar. Lantainya masih retak
di sana-sini dan beberapa ubinnya belum tergantikan. Untuk sementara, lantai
ruang kelas itu ditutup dengan terpal, namun Tariq telah berjanji untuk segera
memasang ubin baru dan melapisi lantai dengan karpet.
Di atas pintu kelas terpasang sebuah papan berbentuk persegi yang dilapisi pasir
dan dicat berwarna putih mengilap oleh Zaman. Di atasnya, menggunakan kuas,
Zalman menuliskan empat baris puisi, jawabannya, pikir Laila, untuk siapa pun
yang berkeluh kesah tentang dana bantuan bagi Afghanistan yang tak kunjung
datang, pembangunan kembali yang berjalan begitu lambat, korupsi yang terjadi di
mana-mana, Taliban yang kembali menyusun kekuatan dan akan kembali untuk
membalas dendam, dunia yang akan sekali lagi melupakan Afghanistan. Empat baris
puisi itu berasal dari ghazal karya penulis kesayangan Zaman, Hafez:
Yusuf 'kari pulang ke Kanaan, jangan bersedih, Gubuk 'kan berganti taman mawar,
jangan bersedih. Jikaiau banjir datang, semua yang hidup tenggelam,
Nuh 'kan jadi pemandu dalam mata topan, jangan bersedih.
Laila berjalan melewati puisi itu dan memasuki kelas. Anak-anak duduk di bangku
mereka, membuka buku catatan, berceloteh. Aziza berbicara dengan gadis di deret
bangku dekatnya. Sebuah pesawat kertas melayang tinggi melintasi kelas.
Seseorang memungut dan melemparkannya kembali.
"Bukalah buku Farsi kalian, Anak-Anak," kata Laila, menjatuhkan buku-bukunya ke
meja. Diiringi gemerisik halaman-halaman buku yang dibuka, Laila berjalan menghampiri
jendela tanpa tirai. Melalui kacanya, dia dapat melihat anak-anak di lapangan
bermain, berbaris untuk melatih lemparan bebas. Di atas mereka, di atas
pegunungan, matahari pagi beranjak naik. Cahayanya menimpa rangka logam yang
menyangga ring bola basket, rantai ayunan ban, peluit yang menggantung di leher
Zaman, dan kacamata baru Zaman yang berlensa utuh. Laila menekankan tangannya ke
kaca jendela yang hangat. Dia memejamkan mata. Membiarkan sinar matahari menimpa
pipinya, kelopak matanya, keningnya.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki kembali di Kabul, hati Laila hancur karena
dia tidak mendapatkan informasi di mana Taliban memakamkan Mariam. Dia berharap
dapat mengunjungi kuburan Mariam, duduk di sana selama beberapa waktu,
meninggalkan satu atau dua tangkai bunga. Tetapi, sekarang Laila menyadari bahwa
semua itu tidak penting. Mariam tidak pernah jauh darinya. Dia ada di sini, di
dalam dinding yang mereka cat ulang, di dalam pohon
yang mereka tanam, di dalam selimut yang menghangatkan anak-anak, di dalam
bantal, di dalam buku dan pensil. Dia ada di dalam gelak tawa anak-anak. Dia ada
di dalam ayat-ayat yang dibaca oleh Aziza saat bersembahyang menghadap ke barat.
Tetapi, terutama, Mariam ada di dalam hati Laila, bersinar dengan cahaya indah
seribu mentari surga. Laila mendengar seseorang memanggilnya. Dia menoleh, secara naluriah menelengkan
kepala, menaikkan sedikit telinga sehatnya. Azizalah yang memanggilnya.
"Mammy" Apakah Mammy sehat?"
Seluruh kelas seketika terdiam. Anak-anak menatap Laila. Dia hendak menjawab
ketika tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Tangannya turun, menepuk sebuah tempat
yang, sesaat sebelumnya, dilanda sebuah gelombang. Laila menunggu. Tetapi, tidak
ada lagi gerakan. "Mammy?" "Ya, Sayangku," Laila tersenyum. "Mammy baik-baik saja. Ya. Sangat baik."
Sembari berjalan menghampiri meja di depan kelas, Laila memikirkan permainan
menamai yang mereka lakukan sambil menyantap makan malam. Permainan itu menjadi
ritual malam hari sejak Laila mengabarkan berita gembira ini kepada Tariq dan
anak-anak. Berulang kali, mereka memilih nama yang mereka sukai. Tariq menyukai
Mohammad. Zalmai, yang baru saja menonton Superman di video, kebingungan saat
diberi tahu bahwa anak Afghan tidak boleh dinamai Clark. Aziza mendukung habis-habisan nama Aman. Laila
memilih Omar. Tetapi, permainan ini hanya melibatkan nama-nama laki-laki. Karena jika bayi ini
perempuan, Laila telah menamainya.[]
Penutup Selama hampir tiga dekade ini, krisis pengungsi Afghan telah menjadi salah satu
masalah ter-akut di seluruh dunia. Perang, kelaparan, anarki, dan penindasan
memaksa jutaan penduduk seperti Tariq dan keluarganya dalam kisah ini ? ?meninggalkan kampung halaman mereka dan melarikan diri dari Afghanistan untuk
tinggal di negara-negara tetangga, terutama Pakistan dan Iran. Pada suatu masa,
pernah tercatat delapan juta penduduk Afghanistan hidup di luar negeri sebagai
pengungsi. Saat ini, lebih dari dua juta pengungsi Afghan masih tinggal di
Pakistan. Sepanjang tahun lalu, saya mendapatkan kehormatan untuk bekerja sebagai duta AS
untuk UNHCR, organisasi PBB yang mengurusi masalah pengungsi, salah satu
organisasi kemanusiaan terkemuka di dunia. Tugas UNHCR adalah melindungi hak-hak
azsassi para pengungsi, memberikan bantuan darurat, dan membantu para pengungsi
menyusun kembali kehidupan mereka di sebuah lingkungan yang aman. UNHCR
memberikan bantuan kepada lebih dari dua puluh juta pengungsi terlantar
di seluruh dunia, tidak hanya di Afghanistan, tetapi juga di berbagai tempat
seperti Kolombia, Burundi, Kongo, Cad, dan wilayah Darfur di Sudan. Bekerja
bersama UNHCR untuk membantu para pengungsi menjadi pengalaman yang paling
istimewa dan berharga dalam kehidupan saya.
Untuk turut membantu, atau untuk mengetahui lebih banyak tentang UNHCR, bidang
kerjanya, atau keadaan para pengungsi secara umum, silakan kunjungi:
www.UNrefugees.org.ri Terima kasih.
Khaled Hosseini, 31 Januari 2DD7 menggemparkan.... International Herald Tribune
?'Sebuah cerita fiksi yang cemerlang, diprediksi akan lebih memberikan pengaruh


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

luar biasa kepada pembaca dibandingkan The Kite Runner." London Times
?"Prosa Hosseini begitu menghunjam, la tidak hanya mengungkap sisi politik,
tetapi juga sisi paling personal The Guardian
? Pendekar Mata Keranjang 18 Golok Yanci Pedang Pelangi Karya Gu Long Jejak Di Balik Kabut 11
^