Pencarian

Dracula 3

Dracula Karya Bram Stoker Bagian 3


?amat mengerikan. Aku akan lebih tenang seandainya aku tahu ke mana harus menulis
atau pergi. Tapi tak ada seorang pun yang mendengar berita dari Jonathan, sejak
suratnya yang terakhir itu. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan supaya aku dapat
tetap sabar. Lucy tampak lebih gelisah daripada biasanya,
155 tapi ia tetap sehat. Semalam cuaca buruk sekali, dan para nelayan meramalkan
akan ada badai/Aku harus mencoba memperhatikan dan mempelajari tanda-tanda
cuaca. Tapi hari ini cerah sekali. Sementara aku menulis, matahari bersembunyi
di balik awan tebal, tinggi di atas Kettleness. Segala-galanya berwarna
kelabu kecuali rumput, yang tetap berwarna hijau, dan nampak seperti zamrud di
?tengah-tengah warna kelabu itu. Bukit karang kelabu, awan kelabu yang bertepikan
sinar matahari, tergantung di atas laut yang kelabu pula. Ujung-ujung pasir yang
menjorok ke laut merupakan jari-jari kelabu. Gelombang laut yang bergulung-
gulung dengan gemuruh ke daratan yang landai dan berpasir kelihatan samar-samar
dalam kabut laut yang bergerak ke arah darat. Cakrawala tak kelihatan dalam
kabut kelabu itu. Segala-galanya tampak luas. Awan bertumpuk seperti batu-batu
raksasa, suara gemuruh laut kadang-kadang terdengar, seolah-olah tersembunyi di
balik kabut, dan pada gilirannya kelihatan seperti manusia-manusia pohon yang
berjalan. Kapal-kapal nelayan yang bergegas pulang, meluncur ke arah pelabuhan.
Kapal-kapal itu tampak terombang-ambing dihantam gelombang besar. Para pelaut
membungkuk membuang air yang masuk.
Ini Mr. Swales datang. Ia langsung mendekatiku. Melihat caranya mengangkat topi,
tahulah aku bahwa ia ingin berbicara. Hatiku terenyuh melihat perubahan pada
diri orang tua malang itu. Begitu, duduk di sampingku, ia berkata dengan halus,
156 "Saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda, Miss." Jelas terlihat bahwa ia merasa
serba salah. Maka kuambil tangan tuanya yang berkerut-merut dan kugenggam, lalu
kusuruh ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Ia membiarkan tangannya di
dalam genggamanku, dan berbicara,
"Saya khawatir sekali, anak manis, bahwa Anda .4. terkejut sekali mendengar hal-
hal jahat yang telah saya katakan tentang orang-orang mati dan sebagainya,
beberapa minggu lalu. Tapi saya tak bermaksud jahat, dan saya harap Anda ingat
itu, bila saya sudah meninggal nanti. Kami orang-orang tua yang sudah linglung
dan sebelah kaki kami sudah berada di liang kubur, tak suka memikirkan tentang
kematian. Kami juga tak mau merasa takut menghadapinya. Itulah sebabnya saya
lalu melecehkannya, untuk membesarkan hati saya sedikit. Tapi, demi Tuhan, Miss,
saya tak takut pati, sama sekali tidak. Cuma kalau bisa saya tak mau mati. Saat
kematian saya mungkin sudah dekat sekali sekarang. Saya sudah tua sekali. Dan
bisa mencapai umur seratus tahun itu, lebih daripada yang kita harapkan. Saya
yakin sekali bahwa Tuhan sudah bersiap-siap untuk memanggil saya. Lihat ah saya
langsung saja berceloteh tentang hal itu. Orang-orang di sini sudah terbiasa
akan hal itu. Tak lama lagi Malaikat Kematian akan membunyikan terompetnya
memanggil saya. Tapi jangan menangis, anak manis," karena dilihatnya aku ?menangis "sekiranya dia datang malam ini pun, saya takkan menolak panggilannya.
?Kar na 157 bagaimanapun juga, hidup ini berarti menunggu sesuatu yang lain daripada yang
kita kerjakan/dan kematianlah satu-satunya yang bisa kita jadikan tempat
bergantung. Tapi saya merasa puas, karena dia sudah hampir datang, tak lama
lagi. Dia mungkin datang sewaktu kita melihat dan bertanya-tanya. Mungkin dia
ada di dalam angin laut itu, yang membawa kehilangan dan bencana, yang
menimbulkan kesedihan dan rasa putus asa yang perih di hati. Lihat! Lihat!"
katanya tiba-tiba dengan tersenyum. "Ada sesuatu dalam angin itu. Dan dalam
desah yang mengatasi bunyi angin itu... sesuatu yang tampak, terasa, dan berbau
kematian. Semua itu ada di udara. Saya merasakan kedatangannya. Ya, Tuhan,
jadikanlah aku ceria waktu panggilan-Mu tiba!" Dibukanya topinya, lalu
diangkatnya tangannya dengan khidmat. Mulutnya bergerak-gerak, seperti orang
yang sedang berdoa. Setelah berdiam diri beberapa lama, ia mengucapkan selamat
berpisah, lalu pergi terseok-seok. Semua itu membuatku terenyuh, dan aku sedih
sekali. Aku senang waktu penjaga pantai datang dengan mengepit teropongnya. Ia berhenti
sebentar untuk bercakap-cakap denganku sebagaimana yang sering dilakukannya,
sambil terus memandangi sebuah kapal asing di laut
"Saya tak bisa mengenalinya," katanya "Kelihatannya kapal Rusia, tapi mengapa
hilir-mudik begitu saja" Aneh. Agaknya mereka ragu-ragu. Mereka melihat akan ada
badai, tapi tak bisa 158 mengambil keputusan apakah akan terus ke utara ke laut lepas, atau masuk ke
pelabuhan di sini. Lihat, tuh! Jalannya aneh sekali, seperti tidak dikemudikan.
Oleng kian-kemari menuruti tiupan angin. Sebelum esok tiba, kita pasti sudah
tahu tentang kapal itu."
159 Bab 7 GUNTINGAN-GUNTINGAN DARI HARIAN THE DAILYGRAPH (tertempel dalam catatan harian
Mina Murray) dari seorang koresponden Whitby, 8 Agustus. Salah satu badai terbesar dan paling mendadak telah terjadi
di sini. Badai itu telah berakhir, dan berakibat aneh dan unik. Sepanjang hari
cuaca panas dan pengap, tapi hal semacam itu tak aneh dalam bulan Agustus. Udara
hari Sabtu petang nyaman sekali. Banyak orang pergi berlibur ke Mulgrave Woods,
Robin Hood's Bay, Rig Mill, Runswick, Staithes, dan ke beberapa tempat hiburan
lain di Whitby. Kapal-kapal pesiar Emma dan Scarborough hilir-mudik saja di
pantai, membawa para wisatawan. Banyak sekali orang bepergian ke dan dari
Whitby. Sampai petang cuaca baik sekali, lalu terdengar desas-desus dari
pekuburan di East Cliff serta dari mercu suar besar di utara dan di timur, bahwa
secara mendadak ada i 160 awan pertanda tinggi di langit sebelah barat daya. Waktu itu, dari barat laut
sedang bertiup angin lembut yang dalam istilah barometer digolongkan sebagai
Nomor 2: Angin lembut. Pengawal pantai yang bertugas segera memberi laporan, dan
seorang nelayan tua yang selama lebih dari setengah abad telah mengamati tanda-
tanda cuaca dari East Cliff, meramalkan dengan penuh keyakinan bahwa akan ada
badai mendadak. Matahari terbenam dengan indah, sangat mem pesona, menimbulkan semburat warna-
warni yang cantik. Di sepanjang jalan di pekuburan tua di tebing karang banyak
orang berkumpul untuk menikmati keindahan itu. Sebelum tenggelam ke bawah
gumpalan hitam dari Kettleness yang melintang dengan jelas di langit sebelah
barat, turunnya matahari itu ditandai oleh banyak sekali awan beraneka
warna biru, merah lembayung, merah muda, hijau, dan bermacam-macam warna ?keemasan, di sana-sini diselingi oleh gumpalan-gumpalan yang tidak besar, tapi
hitam pekat, bermacam-macam bentuknya, dan tepinya berbayang-bayang besar.
Keadaan itu tak dilewatkan begitu saja oleh para pelukis. Sketsa-sketsa berjudul
Prelude Suatu Badai pasti akan menghiasi dinding Gedung Pameran Lukisan pada
bulan Mei yang akan datang. Beberapa orang nakhoda memutuskan untuk menambatkan
kapal-kapal mereka di pelabuhan, sampai badai berlalu. Malam harinya angin
berhenti sama sekali, dan tengah malam keadaan sangat tenang, tapi udara terasa
panas, pengap, dan sangat t
161 menekan, pertanda akan ada badai. Keadaan /serupa itu biasanya berpengaruh
terhadap orang-orang berpembawaan peka. Di laut hanya tampak sedikit lampu,
karena kapal-kapal pantai yang biasanya rajin melaut, tidak pergi ke laut, dan
hanya sedikit kapal nelayan yang nampak. Satu-satunya layar yang kelihatan
hanyalah layar sebuah" kapal asing yang seluruhnya terkembang, dan kelihatannya
melaju ke arah barat. Kebodohan dan kepicikan para perwira awak kapal itu
mengundang banyak komentar selama kapal itu masih kelihatan. Orang-orang
berusaha untuk memberikan sinyal-sinyal agar kapal itu mengurangi layarnya,
mengingat bahaya yang sedang dihadapinya. Sebelum malam berakhir, kapal itu
masih tampak, layar layarnya terkibas-kibas perlahan, sedangkan kapalnya
terombang-ambing di laut yang ombaknya bergulung-gulung itu.
Jam sepuluh kurang sedikit, ketenangan udara jadi sangat menekan. Kesepian makin
terasa, hingga suara kambing mengembik jauh di darat atau suara anjing melolong
di kota jelas terdengar, sedangkan suara band di atas tebing yang memainkan lagu
Prancis yang bersemangat terasa mengganggu keselarasan kesunyian alam itu.
Sejenak setelah lewat tengah malam, terdengar suatu bunyi aneh dari laut, dan di
angkasa, udara mulai mengeluarkan bunyi gemuruh aneh.
Lalu meledaklah badai itu, dengan mendadak. Dengan kecepatan yang rasanya tak
masuk akal dan mustahil, seluruh alam tiba-tiba meledak. Ce -
162 lombang laut meninggi, makin lama makin hebat, saling menggulung, sehingga laut
yang semula tenang dan permukaannya selicin kaca, dalam beberapa menit berubah
menjadi hantu raksasa yang mengaum dan seperti ingin menelan. Gelombang yang
berkepala putih menghantam pasir datar dengan keras, lalu naik sampai ke tembok
batu karang. Ada pula yang pecah di atas tembok, dan buihnya menyapu lentera-
lentera mercu suar yang terdapat di ujung setiap tebing di Pelabuhan Whitby.
Angin menderu bagaikan guntur, tiupannya sedemikian kencang hingga orang-orang
yang kuat sekalipun sulit untuk tetap bertahan, dan mereka berpegang kuat-kuat
pada tiang-tiang besi penyangga. Banyak orang yang berkumpul menonton keadaan
itu di atas tebing-tebing karang, tapi mereka dibubarkan oleh para petugas,
untuk mencegah agar bahaya tidak jadi berlipat ganda. Keadaan berbahaya itu
lebih diperburuk lagi oleh kabut laut yang bertiup ke darat berupa awan putih ?dan basah yang berlalu seperti hantu. Kabut itu demikian lembap dan dingin,
hingga seakan yang lewat adalah roh dari orang-orang yang telah hilang di laut,
yang ingin menyentuh saudara-saudaranya yang masih hidup, dengan tangan-tangan
maut yang kaku. Banyak orang bergidik melihat kabut laut yang lewat itu. Kadang-
kadang kabut menipis, dan dalam cahaya kilat yang menyilaukan, tampaklah laut
sampai batas tertentu. Kilat yang sangat tajam dan cepat itu disusul oleh
ledakan guntur yang mendadak, hingga seluruh
langit di atas serasa bergetar di bawah jejak kaki badai. /
Pemandangan-pemandangan yang serba agung itu sangat memikat laut yang
?bergelombang setinggi gunung melemparkan gumpalan-gumpalan busa putih besar-
besar ke arah langit Gumpalan-gumpalan itu seolah direnggutkan oleh badai dan
dibawa pergi ke angkasa. Di sana-sini tampak kapal nelayan yang layarnya sudah
compang-camping, bergegas mencari perlindungan sebelum terjadi ledakan. Kadang-
kadang tampak pula burung berbulu putih yang terlempar oleh badai itu. Di puncak
East Cliff ada sebuah lampu pencari baru yang sudah siap untuk diujicobakan.
Tapi hal itu belum sempat dilaksanakan. Para petugasnya berusaha untuk
mengoperasikannya, dan bila kabut sedang berhenti menyapu, mereka mengarahkan
cahayanya ke permukaan laut. Satu-dua kali usaha itu berhasil memandu sebuah
kapal yang bibirnya sudah terendam di air bergegas masuk ke pelabuhan,
memandunya untuk menghindari bahaya benturan dengan tembok karang. Setiap kali
sebuah kapal berhasil sampai ke pelabuhan yang aman, terdengar teriakan gembira
orang-orang yang berkumpul di pantai, teriakan yang sejenak membelah suara
topan, dan kemudian hilang dibawanya.
Tak lama kemudian, lampu pencari itu menemukan di kejauhan sebuah kapal yang
semua layarnya terpasang. Mungkin itu adalah kapal yang terlihat sebelum malam
larut tadi. Pada saat itu
164 angin sudah beralih ke arah timur, dan para penonton di atas tebing ngeri
memikirkan betapa hebatnya bahaya yang menghadang kapal itu. Di antara kapal dan
pelabuhan ada sebuah batu karang di bawah laut, di mana sudah banyak kapal yang
terbentur. Melihat asal arah angin bertiup, rasanya tak mungkin kapal itu bisa
memasuki pelabuhan dengan selamat Kini saat air surut hampir tiba, tapi ombak
demikian besarnya hingga di dalam palung, dasar pantai hampir kelihatan. Kapal
yang semua layarnya terpasang itu pasti akan terempas. Kemudian datang lagi
embusan kuat dari kabut laut, lebih kuat lagi dari sebelumnya, berupa segumpal
"kabut lembap yang kelihatan menyelubungi segala-galanya dan menghalangi
pandangan semua orang. Orang hanya bisa mendengar gemuruh badai yang keras bagai
ledakan guntur. Suara gemuruh itu menembus penghalang penglihatan yang lembap,
terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya. Berkas cahaya lampu pencari
ditujukan ke muara pelabuhan di seberang East Pier, di mana menurut perkiraan
bencana mungkin terjadi. Orang-orang menunggu dengan menahan napas. Tiba-tiba
angin beralih ke timur laut, dan sisa kabut laut sirna dalam bentuk ledakan.
Lalu tampak kapal asing itu meluncur dengan kecepatan tinggi, semua layarnya
terkembang, seolah melompat-lompat dari satu ombak ke ombak yang lain, di celah-
celah tebing-tebing karang laut, dan akhirnya mencapai pelabuhan dengan selamat.
Lampu pencari mengikutinya terus. Semua yang
165 menonton bergidik, karena mereka melibat pada tiang kemudinya terikat sesosok
mayat dengan kepala terkulai, yang terayun-ayun dengan kuat kian kemari, bersama gerakan kapal itu. Tak ada orang lain
kelihatan di atas dek kapal. Semua orang jadi ketakutan waktu menyadari bahwa
kapal itu telah memasuki pelabuhan, seolah karena suatu mukjizat, tanpa
dikemudikan, dan hanya berawakkan seseorang yang sudah mati! Semuanya terjadi
lebih cepat daripada kecepatan saya menuliskan kata-kata ini. Kapal itu tidak
berhenti sampai di situ, melainkan meluncur terus menyeberangi pelabuhan,
terangkat ke atas tumpukan pasir dan kerikil yang tersapu air pada waktu pasang
naik dan badai-badai yang sering terjadi, ke arah sudut tenggara tebing karang
yang menjorok ke bawah East Cliff, yang dikenal oleh orang-orang setempat dengan
nama Tate Hill Pier. Tentu saja terjadi benturan yang cukup kuat waktu kapal itu melaju terus ke
tumpukan pasir. Semua tiang, tali, dan penyangga sudah miring, dan beberapa
bagian teratas kapal sudah jatuh. Tapi yang paling aneh adalah saat kapal
menyentuh pantai, seekor anjing yang amat besar melompat ke atas dek dari bawah.
Ia seolah terlempar karena benturan tadi. Ia berlari ke haluan, lalu melompat ke
pasir. Ia berlari terus ke karang yang curam, tempat kuburan seolah-olah
tergantung di atas jalan menuju East Pier. Karang itu demikian curamnya, hingga
beberapa batu kuburan yang datar tampak menonjol di atas bagian tebing yang
166 sudah setengah roboh. Di situ anjing itu menghilang dalam kegelapan yang nampak
amat pekat di balik cahaya lampu pencari.
Kebetulan pada saat itu di Tate Hill Pier tak ada orang, karena semua orang yang
rumahnya di sekitar tempat itu sudah tidur, atau berada di atas tebing yang
lebih tinggi. Oleh karenanya, penjaga pantai yang sedang bertugas di sisi timur
pelabuhanlah yang segera turun ke pantai, dan merekalah yang pertama-tama naik
ke kapal. Petugas-petugas lampu pencari menyapu jalan masuk ke pelabuhan dengan
cahaya lampunya, tapi tidak menemukan apa-apa lagi. Lalu mereka mengarahkan
cahaya lampu ke kapal kosong itu, dan terus disorotkan ke arah tersebut. Penjaga
pantai mengikuti arah lampu itu. Waktu tiba di dekat kemudi, ia membungkuk untuk
memeriksanya, tapi ia segera mundur seperti terdorong oleh suatu emosi mendadak.
Melihat itu, orang banyak jadi ingin tahu, dan kebanyakan di antaranya lalu
berlari turun. Dari West Cliff di dekat jembatan gantung cukup jauh jaraknya ke
Tate Hill Pier, tapi koresponden Anda adalah seorang pelari yang cukup andal,
dan ia tiba di tempat itu mendahului orang banyak. Waktu saya tiba di tempat itu
pun sudah banyak sekali orang yang berkumpul. Tapi mereka semua dilarang naik ke
kapal oleh petugas penjaga pantai dan polisi. Saya sebagai seorang koresponden
diizinkan naik ke dek, dan saya merupakan salah seorang dari kelompok kecil yang
melihat 167 pelaut mati yang benar terikat pada tiang kemudi itu.
Tak heran kalau petugas penjaga pantai tadi terkejut atau bahkan ketakutan,
karena jarang kita melibat pemandangan seperti itu. Tangan pria itu terikat
bertindihan, pada salah satu jari-jari kemudi. Di antara telapak tangannya dan
kayu kemudi itu ada sebuah salib, sedangkan rangkaian rosarionya terlilit pada
kedua belah pergelangan-nya dan kemudi, dan semuanya terikat pula dengan erat
oleh tali. Mungkin orang malang itu semula duduk, tapi kepakan-kepakan dan
pukulan-pukulan layar telah menggerak-gerakkan kemudi dan menyeretnya kian-
kemari, hingga tali pengikat tangannya melukai daging tangannya sampai ke
tulang. Semua keadaan itu dicatat dengan cermat. Seorang dokter ahli bedah J.M.?Caffyn dari East Elliot Place 33- yang datang segera setelah saya, mengadakan
?pemeriksaan. Ia menyatakan bahwa orang itu sudah meninggal tak kurang dari dua
hari. Di sakunya terdapat sebuah botol yang tersumbat. Botol itu hanya berisi
segulungan kecil kertas. Ternyata kertas itu adalah tambahan dari catatan harian
kapal. Kata petugas penjaga pantai, orang itu pasti telah mengikat dirinya
sendiri dengan menggunakan giginya untuk menyimpul tali itu. Petugas penjaga
pantai yang pertama-tama naik ke kapal itu bisa menghindari kesulitan di
kemudian hari di Pengadilan Kelautan, karena seorang petugas penjaga tak boleh
mengklaim harta benda yang ada di kapal, sedangkan orang sipil
yang pertama-tama memasuki sebuah kapal yang ditinggalkan boleh mengklaimnya.
Namun sudah mulai terdengar desas-desus mengenai hal itu. Seorang mahasiswa
hukum menyatakan dengan jelas bahwa hak si pemilik kapal sudah hilang, dan
miliknya harus disita karena pelanggaran undang-undang perwakafan, karena
tangkai kemudi yang menjadi lambang sebuah kapal, kalaupun bukan merupakan bukti
pemilikan, berada di tangan orang yang sudah mati. Mayat juru mudi itu segera


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dipindahkan dengan khidmat dari tempat ia telah menjalankan tugas dan
penjagaannya secara terhormat sampai ajalnya suatu kesetiaan seluhur kesetiaan ?Casabianca lalu mayat itu disimpan di tempat penyimpanan, menunggu sampai
?diadakan pemeriksaan pendahuluan.
Badai hebat yang mendadak itu sudah berlalu, dan kebuasan laut sudah berkurang.
Orang banyak mulai pulang, dan langit di atas Yorkshire mulai memerah.
Pada terbitan yang akan datang, akan saya laporkan hal-hal terperinci
selanjutnya mengenai kapal tak berawak, yang secara ajaib telah berhasil masuk
ke pelabuhan dengan aman dalam badai itu.
Whitby, 9 Agustus. Kelanjutan dari kedatangan aneh kapal tak berawak dalam badai
semalam itu lebih mengerikan daripada kapal itu sendiri. Ternyata kapal itu
adalah kapal Rusia, dari Varna, dan bernama Demeter. Kapal itu penuh berisi
pasir keperakan. 169 Muatannya hanya sedikit, yaitu sejumlah peti kayu besar-besar yang berisi tanah
gembur. Muatan itu dialamatkan pada Mr. S.F. Billington, Crescent No. 7, seorang
pengacara. Pagi ini pengacara itu datang ke kapal tersebut, dan secara resmi
mengambil barang-barang yang dialamatkan padanya. Konsul Rusia yang bertindak
sebagai pihak penyewa juga secara resmi mengambil alih urusan kapal itu. Ia
membayar semua bea pelabuhan dan sebagainya. Tak ada bahan pembicaraan lain di
'antara penduduk di sini hari ini, kecuali tetang peristiwa aneh itu. Para
petugas Dinas Perdagangan dengan tegas menuntut agar segala-galanya dilaksanakan
berdasarkan peraturan-peraturan yang ada. Karena persoalan itu akan merupakan
suatu ^'-keajaiban" yang berlangsung lama, maka mereka bertekad mencegah hal-hal
yang dapat menimbul - kan pengaduan di kemudian hari. .Banyak orang yang menaruh
minat pada anjing yang melompat ke darat waktu kapal itu kandas, dan beberapa
anggota organisasi pencinta hewan di Whitby yang merupakan suatu organisasi
kuat, telah mencoba mencari binatang itu. Tapi semuanya kecewa, karena binatang
itu tak bisa ditemukan. Agaknya binatang itu telah hilang dari kota itu. Mungkin
ia ketakutan dan lari ke padang gersang, dan masih bersembunyi di situ. Ada
orang-orang yang ketakutan membayangkan kemungkinan itu. Mereka cemas kalau
kalau di kemudian hari binatang itu merupakan ancaman, sebab ia nampak buas.
Pagi ini seekor anjing besar berdarah campuran,
170 milik seorang pedagang batu bara di dekat Tate Hill Pier, ditemukan mati di
jalan di seberang halaman rumah pemiliknya. Kelihatannya ia mati karena
berkelahi, dan jelas kelihatan bahwa lawannya amat kejam, sebab leher binatang
itu terkoyak, dan perutnya terbuka seperti dirobek oleh cakar tajam.
Kemudian. Atas kebaikan hati petugas Dinas Perdagangan, saya diperbolehkan
?melihat catatan harian dari kapal Demeter, yang mencatat kejadian-kejadian
sampai batas waktu tiga hari yang lalu. Tapi isi catatan harian itu tidak begitu
menarik, kecuali yang menyangkut orang-orang hilang. Yang sangat menarik adalah
kertas yang ditemukan di dalam botol, yang hari ini dikemukakan dalam
pemeriksaan pendahuluan. Tak pernah saya melihat kisah yang lebih aneh daripada
dua halaman yang terdapat di dalamnya. Karena tak ada alasan untuk
merahasiakannya, saya diizinkan menggunakannya, dan saya kirimkan salinannya
kepada redaksi tanpa mengikutsertakan soal-soal kecil teknis mengenai perkapalan
dan muatan besar. Agaknya nakhodanya telah terserang semacam gangguan jiwa
sebelum dia mulai berlayar, dan gangguan itu berkembang tenis selama pelayaran
itu. Laporan saya ini harus dibaca dengan menambahkan daya khayal Anda sendiri,
karena saya menulisnya hanya berdasarkan apa yang didiktekan oleh seorang
pegawai dari konsulat yang telah
171 berbaik hati untuk menerjemahkannya dalam waktu singkat.
CATATAN HARIAN KAPAL DEMETER dari Varna ke Whitby
18 Juli. Telah terjadi hal-hal aneh, dan aku akan tetap membuat catatan akurat,
mulai sekarang sampai kami mendarat
Tanggal 6 Juli. Kami selesai memuat pasir perak dan peti-peti berisi tanah.
Tengah hari mulai berlayar. Angin timur yang bertiup terasa segar. Anak buah
kapal ada lima orang, ditambah dua orang juru mudi, juru masak, dan aku sendiri
(nakhoda). Tanggal 11 Juli. Memasuki Selat Bosphorus saat fajar. Didatangi petugas bea
cukai. Harus memberi uang rokok. Semuanya beres. Berangkat lagi jam empat sore.
Tanggal 12 Juli. Melewati Dardanella. Lagi-lagi didatangi petugas-petugas bea'
cukai dan sekapal penuh pasukan pengawal. Memberi uang rokok lagi. Para petugas
menjalankan tugasnya dengan cermat dan cepat Mereka menginginkan kami berangkat
lagi secepatnya. Malam harinya melewati-kepulauan.
Tanggal 13 Juli. Melewati Tanjung M tapan Anak buah kapal tak puas mengenai
sesuatu. Me 172 reka nampak ketakutan, tapi tak mau mengatakan takut apa.
Tanggal 14 Juli. Agak khawatir melihat anak buah kapal. Mereka semua orang kuat
yang sudah biasa berlayar denganku. Juru mudi tak tahu apa yang tidak beres.
Mereka hanya berkata bahwa ada sesuatu, lalu membuat tanda salib. Juru mudi
marah pada salah seorang di antaranya, lalu menamparnya. Kukira akan terjadi
pertengkaran hebat, ternyata tenang-tenang saja.
Tanggal 16 Juli. Pagi hari, juru mudi melaporkan bahwa salah seorang anak buah
kapal, Pe-trofsky, hilang. Tak dapat menjelaskan kehilangan itu. Semalam
bertugas jaga malam, digantikan oleh Abramoff, tapi tak langsung pergi ke ruang
tidur. Anak buah kapal makin gelisah. Semuanya berkata akan terjadi sesuatu,
tapi tak mau mengatakan apa-apa, kecuali bahwa di kapal ada sesuatu. Juru mudi
makin tak sabar terhadap mereka. Aku khawatir akan ada kesulitan.
Tanggal 17 Juli. Kemarin salah seorang anak buah kapal, Olgaren, datang ke
kamarku, dan dengan amat ketakutan mengatakan bahwa ia menduga ada seorang asing
di kapal. Katanya, waktu sedang bertugas jaga, ia berteduh di dek belakang
karena hari hujan. Lalu dilihatnya seseorang yang kurus tinggi, yang tak serupa
dengan siapa pun juga di antara kami. Orang itu naik ke dek atas,
pergi ke dek bagian depan, lalu menghilang di sana. Ia mengikutinya dengan hati-
hati, tapi waktu tiba di haluan ia tidak menemukan siapa-siapa. Padahal semua
pintu untuk turun tertutup. Ia panik karena ketakutan, gara-gara takhayul.
Sedangkan aku takut kalau-kalau panik itu menyebar. Untuk menenangkan keadaan,
hari ini akan kutelusuri seluruh kapal dengan teliti, dari kemudi sampai ke
buritan. Siang hari kukumpulkan semua anak buah kapal, dan kukatakan karena mereka
menduga bahwa di kapal "da orang asing, maka kami akan menelusuri kapal, dari
kemudi sampai ke buritan. Mula-mula juru mudi marah, dan berkata bahwa itu
rencana yang bodoh, dan bahwa kalau kita mengalah pada kebodohan, kita akan
menjatuhkan moral anak buah. Katanya lagi, ia akan mencegah kesulitan dengan
kekerasan. Kusuruh ia menjaga kemudi, sedangkan semua yang lain mulai mencari
dengan teliti. Semuanya selalu berdekatan dan membawa lentera. Tak ada sudut
yang tidak kami telusuri. Karena muatan kami hanya peti-peti kayu yang besar-
besar itu, maka tak ada sudut untuk orang bersembunyi. Setelah selesai, semua
anak buah amat lega, dan bekerja kembali dengan ceria. Juru mudi satu tampak
cemberut, tapi tidak berkata apa-apa.
22 Juli. Tiga hari terakhir ini cuaca buruk, dan semuanya sibuk dengan layar-
layar tak sempal merasa ketakutan. Agaknya mereka sudah lupa?174
akan rasa takut mereka. Juru mudi ceria lagi. Aku memuji anak buahku karena
telah bekerja dengan baik dalam cuaca buruk. Kami melalui Gibraltar, dan terus
keluar ke Selat. Semuanya beres.
24 Juli. Agaknya ada kutukan atas kapal ini. Sudah kehilangan seorang anak buah
kapal. Memasuki Teluk Biscay dengan kemungkinan menghadapi cuaca buruk. Semalam
kehilangan seorang anak buah kapal lagi: Menghilang begitu saja, seperti yang
pertama. Ia baru selesai bertugas jaga, lalu tak kelihatan lagi. Semuanya panik
dan ketakutan. Mereka minta supaya boleh menjalankan dinas jaga berdua, karena
mereka takut seorang diri. Juru mudi marah. Aku khawatir kalau-kalau terjadi
kekacauan, karena mungkin ia, atau anak buah kapal, melakukan kekerasan.
28 Juli. Empat hari serasa dalam neraka, terombang-ambing dalam angin puting dan
angin badai. Tak seorang pun tidur. Semua anak' buah keletihan. Sulit menentukan
siapa yang harus jaga, karena tak seorang pun bisa bertahan. Juru mudi dua
dengan sukarela menjaga kemudi dan jaga malam, dan memberi kesempatan pada para
anak buah untuk tidur beberapa jam. Angin berkurang, laut masih ganas, tapi
tidak begitu terasa, karena kapal stabil.
29 Juli. Satu lagi tragedi. Semalam aku jaga seorang diri, karena semua anak
buah kapal terlalu 175 letih untuk menemani. Waktu penjaga pagi naik ke dek, ia tak menemukan seorang
pun termasuk juru mudi. Ia berteriak, dan semuanya berlari naik "Jengan tuntas,
tapi tak seorang pun ditemukan. Kini kami tak punya juru mudi dua lagi, sedang
anak buah kapal dalam keadaan panik. Aku dan juru mudi sepakat untuk
mempersenjatai diri, dan menunggu tanda-tanda penyebabnya.
30 Juli. Semalam. Kami senang karena Inggris sudah dekat Cuaca baik, semua layar
dikembangkan. Aku beristirahat karena amat letih. Aku tidur nyenyak. Dibangunkan
oleh juru mudi yang mengatakan bahwa kedua orang yang dinas jaga dan penjaga
kemudi, hilang. Kini tinggal aku sendiri, juru mudi, dan dua anak buah untuk
menangani kapal. 1 Agustus. Dua hari penuh dengan kabut, tak kelihatan satu pun layar kapal-lain.
Padahal aku berharap bisa memberi sinyal meminta bantuan bila sudah tiba di
Terusan Inggris, atau supaya bisa masuk ke salah satu pelabuhan. Karena tak ada
tenaga lagi untuk menangani layar-layar, kami harus mendahului angin. Kami tak
berani menurunkan layar, karena kami takkan mampu mengembangkannya lagi
Kelihatannya kami sedang hanyut menuju kematian yang mengerikan. Kini juru mudi
yang kehilangan moral, dibandingkan dengan kedua orang anak buah yang tersisa.
Ke-176 lihatannya sifatnya yang teguh telah merasuk ke dalam batinnya dan melawan
dirinya sendiri. Sedangkan kedua anak buah itu tak mengenal takut. "Mereka
bekerja keras dengan sabar. Mereka bertekad untuk menghadapi yang terburuk.
Mereka berdua orang Rusia, sedang juru mudi orang Rumania.
2 Agustus. Tengah malam. Baru beberapa menit tidur, aku terbangun karena ?mendengar suatu jeritan. Aku langsung keluar. Tak bisa melihat apa-apa dalam
kabut Aku cepat-cepat berlari ke dek, dan bertabrakan dengan juru mudi. Katanya
ia mendengar suatu jeritan dan langsung berlari. Ia tak melihat orang dinas
jaga. Seorang lagi hilang. Tuhanku, tolonglah kami!
Kata juru mudi, kami pasti sudah melewati Selat Dover, sebab saat kabut menipis,
ia melihat North Foreland. Pada saat itulah ia mendengar jeritan itu. Kalau
begitu, kami kini sudah berada di Laut Utara, dan hanya Tuhan yang bisa menuntun
kami dalam kabut ini. Rasanya kabut mengikuti kami terus, dan Tuhan rasanya
menjauhi kami. 3 Agustus. Tengah malam aku 'pergi menggantikan orang yang memegang kemudi. Tapi
waktu tiba di tempat itu, aku tak melihat siapa-siapa. Angin bertiup dengan
kecepatan tetap, dan karena arahnya dari buritan, maka kapal tak banyak
bergoyang. Aku tak berani meninggalkan kemudi, dan hanya berteriak memanggil
juru mudi. Beberapa 177 detik kemudian, ia berlari naik ke dek, dalam pakaian tidurnya. Matanya lebar
dan liar, dan wajahnya pucat Aku jadi takut sekali kalau-kalau ia telah
kehilangan akal. Didekatinya aku dan ia berbisik dengan suara serak, sambil
mendekatkan mulutnya ke telingaku, seolah-olah takut udara mendengarnya,
"Makhluk itu ada di sini. Sekarang saya tahu. Waktu dinas jaga semalam, saya
melihatnya. Dia menyerupai manusia, tinggi, kurus, dan pucat pasi. Dia berdiri
di sisi kapal dan melihat ke arah luar. Saya dekati dia perlahan-lahan dari
belakang, lalu saya tikam. Tapi pisau saya tak mengenai apa-apa, dan' menusuk
udara hampa." Sambil berbicara, diambilnya pisaunya, lalu ditusukkannya dengan
geram ke udara. Lalu katanya lagi, "Tapi makhluk itu ada di sini, dan saya akan
menemukannya. Dia ada di dalam palka, mungkin di dalam salah satu peti itu. Akan
saya buka peti-peti itu satu demi satu. Tolong teruskan memegang kemudi." Lalu
dengan pandangan awas dan jari di bibirnya, dia turun. Waktu itu sedang bertiup
angin kencang, hingga aku benar-benar tak bisa meninggalkan kemudi. Kulihat ia
naik lagi ke dek dengan membawa kotak alat-alat pertukangan dan sebuah lentera,
lalu turun lagi lewat pintu ruang depan. Ia sedang marah, murka, mengamuk, jadi
tak ada gunanya aku mencegahnya. Takkan bisa ia merusak peti-peti itu. Peti-peti
itu terdaftar sebagai peti-peti berisi tanah liat, dan biar diapa-kan pun takkan
rusak. Aku pun tetap menjaga kemudi, sambil menulis catatan ini. Aku hanya
178 bisa pasrah pada Tuhan dan menunggu sampai kabut menipis. Lalu, sekiranya gara-
gara angin ini aku tak bisa mengarahkan kapal ke salah satu pelabuhan, akan
kugulung layar-layar dan menunggu saja, sambil memberikan sinyal meminta
bantuan. Kini semuanya sudah hampir berlalu. Aku mulai berharap juru mudi akan keluar
dalam keadaan lebih tenang karena kudengar ia sibuk memukul entah apa di dalam
?palka, dan bekerja itu baik baginya. Tapi pada saat itu kudengar suatu jeritan
mengejutkan dari lubang pintu. Darahku serasa membeku. Lalu juru mudi menerjang
naik ke dek, begitu tiba-tiba, seperti ditembakkan dari meriam. Ia seperti orang
gila yang sedang mengamuk. Matanya liar dan wajahnya kejang-kejang ketakutan.
"Tolong saya! Selamatkan saya!" serunya sambil melihat ke sekelilingnya, ke
selimut kabut yang tebal itu. Kulihat rasa takutnya kini berubah menjadi rasa
putus asa, dan dengan suara yang kini tenang, ia berkata, "Sebaiknya Anda ikut
saya, Kapten, sebelum terlambat. Dia ada di situ. Saya tahu rahasianya sekarang.
Hanya lautlah yang bisa menyelamatkan saya dari dia. Itulah satu-satunya jalan!"
Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, atau bergerak untuk menangkapnya, ia
melompat ke pagar kapal dan langsung terjun ke laut. Kurasa kini aku pun tahu
rahasianya. Orang gila itulah yang telah menyingkirkan anak buah kapal satu demi
satu, dan sekarang ia sendiri menyusul mereka. Tuhan, tolong aku! Bagaimana aku
bisa 179 mempertanggungjawabkan semua kejadian mengerikan ini bila aku tiba di pelabuhan
kelak" Itu pun kalau aku bisa sampai! Apakah itu mungkin"
4 Agustus. Kabut masih saja tebal, dan matahari yang sudah terbit tak bisa
menembusnya. Aku tahu bahwa matahari sudah terbit, karena aku seorang pelaut.
Aku tak berani turun, dan tak berani meninggalkan kemudi. Maka aku pun tinggal
di sini terus.... Ketika malam tiba, dalam keremang-annya kulihat orang atau
makhluk itu! Tuhan, ampuni aku! Pantaslah juru mudi sampai terjun ke laut. Lebih
baik mati sebagai manusia utuh, sebagai seorang pelaut sejati di air biru. Itu
tak bisa disalahkan oleh siapa pun juga. Tapi aku seorang nakhoda, dan aku tak
boleh meninggalkan kapalku. Namun aku tak mau menyerah pada setan atau monster
itu. Akan kuikat tanganku pada tiang kemudi, bila tenagaku sudah mulai
berkurang, dan akan kuikatkan pula sesuatu yang dia atau makhluk itu tak berani
menyentuhnya! Dan setelah itu... terjadilah apa yang harus terjadi. Yang jelas,
jiwa dan kehormatanku sebagai seorang nakhoda akan selamat. Aku sudah makin
lemah, dan malam makin larut Bila dia mendekatiku, mungkin aku takkan sempat
berbuat apa-apa lagi.... Sekiranya kami terdampar, mungkin orang bisa menemukan
botol ini, dan orang akan mengerti. Kalau tidak... yah, semua orang akan melihat
bahwa aku tetap setia pada kepercayaan yang diberikan padaku. Tuhanku! Santa
Maria dan semua orang suci, tolonglah
orang malang yang bodoh, yang sedang menjalankan tugasnya ini....
Keputusan hakim bersifat terbuka. Tak ada bukti yang bisa dikemukakan. Dan
apakah nakhoda itu sendiri yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan itu atau
tidak, tak seorang pun bisa mengatakannya. Penduduk setempat yakin bahwa nakhoda
itu'harus dianggap pahlawan, dan ia harus dimakamkan secara resmi. Direncanakan
untuk membawa jenazahnya dengan beberapa kapal di Sungai Esk, ke Tate Hill Pier,
lalu naik ke tangga biara, karena ia akan dimakamkan di pemakaman di atas bukit
karang itu. Lebih dari seratus pemilik kapal mendaftarkan nama mereka,
menyatakan keinginan untuk mengiringinya ke makam.
Bekas-bekas anjing besar dulu itu tak pernah ditemukan lagi. Orang-orang
menyesalkan hal itu, karena masyarakat berpendapat bahwa dalam keadaan seperti
sekarang, ia pasti akan bisa diterima sebagai hewan kota itu. Pemakaman akan
diselenggarakan besok, dan dengan demikian berakhir pula satu lagi misteri
lautan ini. CATATAN HARIAN MINA MURRAY
8 Agustus. Lucy gelisah sekali sepanjang malam. Aku sendiri jadi tak bisa tidur?nyenyak. Badai semalam mengerikan. Aku merinding mendengar suaranya yang menderu
lewat cerobong asap. Waktu suatu embusan tajam datang, terdengar suara seperti
tembakan meriam dari jauh.
181 180 Tapi anehnya Lucy tidak terbangun. Tapi dua kali ia bangkit dan langsung
berpakaian. Untunglah setiap kali aku terbangun pada waktunya, dan berhasil
mengganti pakaiannya lagi tanpa membuatnya sadar, lalu menidurkannya kembali.
Aneh sekali keadaan bermimpi sambil berjalan itu, karena begitu kemauannya
dirintangi dengan cara fisik yang bagaimanapun juga, maka semua niatnya langsung
hilang, dan ia langsung kembali pada keadaan rutin dalam hidupnya.
Esoknya, pagi-pagi benar, kami pergi ke pelabuhan, untuk melihat akibat badai
semalam. Hanya sedikit orang di tempat itu. Meskipun matahari cerah dan udara
bersin segar, gelombang besar masih saja memaksakan diri masuk ke mulut


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pelabuhan yang sempit itu. Gelombang itu nampak mengerikan. Karena busa di
kepalanya berwarna putih salju, maka gelombang itu sendiri kelihatan gelap,
seperti orang mengamuk yang menyeruduk di antara orang banyak. Aku senang
Jonathan tidak berada di laut semalam. Ia berada di darat. Tapi aduh, mana aku
tahu apakah ia ada di darat atau di laut. Kalau saja aku tahu apa yang harus
kuperbuat, aku akan melakukannya!
10 Agustus. Pemakaman nakhoda kapal yang malang itu berlangsung dengan sangat ?mengharukan hari ini. Kelihatannya semua kapal di pelabuhan hadir di situ, dan
peti matinya dipikul oleh para nakhoda kapal di sepanjang jalan Tatc Hill Pier,
sampai naik ke tanah pemakaman. Aku
dan Lucy pagi-pagi benar sudah pergi ke bangku tua kami, melihat kapal-kapal
pengiring memasuki sungai sampai ke jembatan, lalu kembali. Pemandangan dari
tempat kami jelas sekali. Kami bisa melihat seluruh barisan hampir di sepanjang
jalan. Nakhoda malang itu dikebumikan dekat dengan tempat kami duduk. Kami
berdiri di atas bangku, waktu saatnya tiba, dan bisa melihat segala-galanya.
Kasihan Lucy, ia nampak amat kacau. Ia gugup dan gelisah terus, dan aku jadi
menduga ia diganggu oleh mimpi semalam. Dalam satu hal, ia aneh sekali. Ia tak
mau mengakui padaku apa penyebab kegelisahannya itu, atau kalaupun ia merasa
gelisah, ia sendiri tak mengerti. Kurasa ada satu penyebab yang menambah
kekacauannya, yaitu bahwa Pak Tua Swales ditemukan meninggal tadi pagi di bangku
kami, dalam keadaan patah leher. Dokter menduga ia jatuh telentang dari
bangkunya, karena ketakutan. Wajahnya membayangkan rasa' takut yang mahahebat,
hingga kata dokter-dokter itu, mereka sendiri pun merinding melihatnya. Kasihan
pak tua yang baik itu! Mungkin ia telah melihat Malaikat Kematiannya sendiri
ketika sedang sekarat! Lucy begitu manis dan perasa, hingga ia bisa merasakan
pengaruh-pengaruh sesuatu dengan lebih mendalam daripada orang lain. Tadi ia
menjadi kacau gara-gara suatu hal kecil yang aku sendiri tak menyadarinya,
meskipun aku seorang pencinta hewan. Salah seorang yang sering datang ke tempat
ini untuk melihat kapal-kapal, datang dengan diikuti anjingnya. An
183 182 jing itu memang selalu mengikutinya. Keduanya sama-sama tenang, tak pernah aku
melihat pria itu marah dan mendengar anjing itu menyalak. Tapi selama upacara
itu, anjing itu tak mau dekat dengan tuannya yang ada di bangku bersama kami. Ia
selalu menjaga jarak sejauh beberapa meter, dan menyalak serta melolong. Tuannya
berbicara padanya, mula-mula dengan lemah lembut, lalu dengan kasar, dan
kemudian ia marah. Tapi anjing itu tetap tak mau datang, dan tak mau berhenti
membuat ribut Keributan itu disertai pula dengan sikap marah, matanya galak dan
semua bulunya tegak, seperti kucing yang siap berkelahi. Akhirnya orang itu
menjadi marah sekali. Ia melompat turun dan menendang anjing itu, lalu
ditangkapnya pengikat leher anjing itu, ditariknya, dan dilemparkannya binatang
itu ke kuburan tempat bangku kami berada. Begitu tersentuh batu kuburan itu,
binatang malang itu terdiam, tubuhnya gemetar. Ia tak mencoba untuk pergi dari
situ, ia hanya meringkuk dan menggigil ketakutan. Melihatnya, timbul rasa ibaku.
Kucoba menenangkannya, tapi tak berhasil. Lucy juga merasa kasihan sekali, tapi
ia tidak berusaha menyentuh anjing itu. Ia memandanginya terus dengan pandangan
tersiksa. Aku benar-benar khawatir memikirkan sifatnya yang sangat perasa itu.
Ia takkan mungkin bisa hidup di dunia ini tanpa kesulitan. Aku yakin ia pasti
akan bermimpi tentang peristiwa ini, nanti malam. Semua peristiwa beruntun
itu kapal yang masuk ke pelabuhan, dikemudikan oleh seseorang yang sudah me-184
?ninggal dengan tubuh terikat pada tiang kemudi, dengan menggenggam sebuah salib
dan rosario, pemakaman yang mengharukan, anjing yang marah-marah lalu meringkuk
ketakutan itu semua itu pasti akan muncul dalam mimpinya.
? Scanned book sbook ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSLLKAN
atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan
BBSC 185 Bab 8 CATATAN HARIAN MINA MURRAY
Hari itu juga, jam sebelas malam. Aduh aku letih sekali! Kalau saja menulis di ?buku harianku ini tidak kujadikan kebiasaan, aku takkan membukanya malam ini.
Perjalanan kami tadi menyenangkan sekali. Setelah beberapa lama, Lucy jadi
ceria. Kurasa itu gara-gara sapi-sapi lucu yang mendekati kami sambil mendengus-
dengus di sebuah padang rumput di dekat mercu suar. Lalu binatang-binatang itu
lari ketakutan. Rasanya saat itu kami lupa akan segala-galanya, kecuali tentu
rasa takut kami sendiri yang tersimpan jauh di lubuk hati masing-masing. Dan
dengan berjalan-jalan itu, semuanya terhapus, dan memberikan awal yang segar.
Kami minum teh kental yang enak sekali di sebuah penginapan kecil mungil kuno,
di Robin Hood's Bay. Penginapan itu berjendela lengkung, tepat di atas batu
karang yang penuh ditumbuhi rumput laut. Kurasa kami bisa mengejutkan para
pengasuh mingguan New Women bila mereka melihat selera makan dan minum
186 kami. Tapi kaum pria tak peduli! Lalu kami berjalan pulang, dengan sering
berhenti. Lucy benar-benar letih, dan kami ingin langsung pergi tidur. Tapi
pendeta pembantu datang, dan Mrs. Westenra mengajaknya makan malam bersama.
Sehubungan dengan itu, aku bertengkar dengan Lucy, soal siapa yang harus
membersihkan penggilingan daging yang kotor. Aku melawan dengan keras dan tetap
bersikeras. Kurasa para uskup harus mengadakan pertemuan kelak, untuk
merencanakan pembukaan sekolah baru bagi calon pendeta pembantu yang diajar
untuk tidak menerima ajakan makan, betapapun kuatnya tuan atau nyonya rumah
mendesaknya, dan mereka harus bisa melihat kalau gadis-gadis sudah keletihan.
Kini Lucy sudah tidur dan bernapas dengan halus. Pipinya sudah lebih merah
daripada biasanya, dan ia manis sekali. Kalau Mr. Holmwood jatuh cinta padanya
hanya dengan melihatnya di ruang tamu utama, entah apa yang akan dikatakannya
bila ia melihatnya saat ini. Beberapa penulis dalam mingguan New Women pada
suatu hari kelak mungkin akan mengemukakan suatu gagasan baru, agar pria dan
wanita diizinkan saling melihat waktu pasangannya sedang tidur, sebelum mereka
melamar atau menerima lamaran. Tapi kurasa warga New Women di masa yang akan
datang takkan mau lagi merendahkan diri dengan hanya menerima lamaran.
Sebaliknya merekalah yang akan melamar. Dan mereka pasti bisa melakukannya
dengan amat baik. 187 Malam ini aku senang, karena Lucy kelihatannya sudah lebih baik. Kurasa ia telah
melalui jalan yang sulit dalam hidupnya, kesulitan-kesulitan dengan mimpinya
sudah berakhir. Dan aku akan lebih berbahagia lagi sekiranya aku tahu bahwa
Jonathan... Tuhan, berkati dan lindungilah dia!
11 Agustus, jam 3 subuh. Aku mengisi catatan harianku lagi. Aku sedang tak bisa?tidur, jadi sebaiknya aku menulis. Aku terlalu kacau, hingga tak bisa tidur.
Kami telah mengalami suatu petualangan, suatu pengalaman yang pahit sekali.
Aku tertidur begitu kututup buku harianku.... Tiba-tiba aku tersentak bangun dan
langsung duduk dengan rasa takut yang hebat, dan sadar akan adanya kekosongan di
sekitarku. Ruang tidur kami gelap, maka aku tak bisa melihat tempat tidur Lucy.
Perlahan-lahan aku bangun dan menyeberang ke tempat tidurnya, lalu merabanya.
Tempat tidur itu kosong. Kunyatakan korek api, dan kulihat bahwa ia tak ada di
dalam kamar. Pintu tertutup, tapi tidak terkunci. Padahal tadi sudah terkunci.
Aku tak berani membangunkan ibunya, karena akhir-akhir ini ia sering jatuh sakit
Jadi kupakai baju seadanya, dan bersiap-siap untuk mencarinya. Waktu akan keluar
dari kamar, terpikir olehku bahwa pakaian yang dipakainya mungkin bisa
memberikan petunjuk bentuk mimpinya. Kimono berarti rumah, pakaian jalan berarti
keluar. Baik kimono maupun pakaian jalannya masih ada di tempat tidur. "Puji
Tuhan," pikirku, "Pasti tak jauh perginya, karena dia hanya memakai
188 pakaian tidurnya." Aku berlari turun dan melihat ke ruang duduk. Ia tak ada di
sana! Lalu aku melihat ke dalam semua kamar yang terbuka di dalam rumah itu.
Hatiku makin ngeri. Akhirnya aku pergi ke pintu ruang depan, dan kudapati pintu
itu terbuka. Tidak terbuka lebar, tapi kuncinya tidak terkatup. Orang-orang di
rumah ini semuanya cermat dan selalu mengunci pintu itu setiap malam. Aku jadi
takut bahwa Lucy-lah yang telah membuka pintu itu untuk keluar. Aku tak sempat
berpikir apa yang mungkin terjadi. Suatu rasa takut yang samar namun kuat
menutupi semua hal lain. Kusambar sehelai syal besar, dan aku berlari keluar.
Jam berbunyi pukul satu waktu aku tiba di Crescent, dan tak ada seorang pun
nampak di situ. Aku berlari di sepanjang North Terrace, tapi tak melihat
bayangan sosok putih yang kuharapkan. Di ujung West Pier di atas tebing karang,
aku melihat ke arah seberang, ke pelabuhan di East Cliff, dengan harapan atau
?mungkin rasa takut akan melihat Lucy di bangku kesukaan kami. Bulan purnama
?sedang bersinar terang, sedangkan awan yang gelap dan sarat sedang berarak.
Waktu awan bergerak akan menutupi bulan, terjadilah pemandangan seperti suatu
diorama terang. Beberapa saat lamanya aku tak bisa melihat apa-apa, karena
bayang-bayang awan menutupi Gereja St Mary dan sekelilingnya. Setelah awan
berlalu, tampak olehku reruntuhan biara, dan saat ujung dari sebaris kecil
cahaya bergerak, gereja dan kuburan pun perlahan-lahan terlihat. Apa pun
harapanku, aku tak kecewa. Di sana, di bangku kesukaan kami, cahaya bulan
189 yang keperakan menimpa sesosok tubuh seputih salju yang sedang bersandar. Awan
terlalu cepat datang lagi, hingga aku tak bisa melihat banyak, dan bayang-bayang
pun dengan segera menutupi bulan lagi. Tapi rasanya aku melihat sesuatu berdiri
di belakang bangku tempat sosok putih itu duduk, dan membungkuk di atas sosok
itu. Aku tak bisa mengatakan apakah itu manusia atau binatang. Aku tak sempat
melihat lagi. Aku terbang menuruni tangga yang curam, ke dermaga dan melewati
pasar ikan ke jembatan, yang merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai East
Cliff. Kota seperti mati, aku tak melihat seorang pun. Aku senang akan keadaan
itu, karena aku tak ingin ada orang yang menyaksikan keadaan Lucy. Waktu dan
jarak serasa tak ada akhirnya. Lututku gemetar dan napasku tersengal-sengal,
karena aku harus bekerja keras menaiki tangga ke biara lagi. Lariku pasti cepat,
padahal aku merasa kakiku seolah-olah dibebani timah hitam, dan setiap sendi
tubuhku serasa berkarat. Waktu hampir sampai ke puncak tangga, aku bisa melihat
bangku dan sosok putih itu, karena kini aku sudah berada cukup dekat untuk
membedakan barang-barang, meskipun sekali-sekali masih ada bayang-bayang. Tak
salah lagi, memang ada sesuatu yang panjang dan hitam membungkuk di atas sosok
putih yang tersandar itu. Dengan ketakutan aku memanggil, "Lucy! Lucy!" Sesuatu
itu mengangkat kepalanya, dan dari tempatku berada kulihat wajah putih dan mata
merah yang memancar. Lucy tak menjawab, dan aku berlari terus ke jalan masuk
pekuburan. Waktu aku masuk, gereja berada di antara diriku dan bangku, dan
selama beberapa menit ia tak tampak olehku. Waktu aku bisa melihat lagi, awan
sudah berlalu, cahaya bulan sedemikian terangnya hingga terlihat olehku Lucy
yang masih tersandar, dengan kepalanya terletak pada sandaran bangku. Ia seorang
diri, sama sekali tak ada apa-apa di sekitar tempat itu.
Waktu aku membungkuk melihatnya, tampak bahwa ia masih tidur. Mulutnya terbuka,
dan napasnya tidak selembut biasanya, melainkan berupa tarikan panjang yang
berat, seolah-olah ia sedang berjuang untuk mengisi paru-parunya sepenuh-
penuhnya dengan setiap tarikan napasnya. Waktu aku mendekat, diangkatnya
tangannya masih dalam keadaan tidur dan dirapatkannya leher baju " tidurnya. ? ?Sementara berbuat begitu, ia nampak menggigil, seperti kedinginan. Kulilitkan
syalku ke lehernya, lalu kuikat. Aku takut ia masuk angin karena baju tidurnya
yang tipis itu. Aku tak mau segera membangunkannya, jadi supaya tanganku bebas
untuk memapahnya, kusematkan syal itu di lehernya dengan sebuah peniti besar.
Tapi rupanya karena gugup, aku jadi tidak cermat dan peniti itu menusuk lehernya
sedikit. Kemudian, setelah na- pasnya agak tenang, dipegangnya lehernya lagi,
dan ia mengerang. Setelah ia kubungkus dengan hati-hati, kupasangkan sepatuku di
kakinya, lalu kubangunkan ia perlahan-lahan. Mula-mula ia sama sekali tidak
bereaksi, tapi perlahan-lahan tidurnya jadi gelisah. Sekali-sekali ia mengerang
191 dan mendesah. Akhirnya, karena waktu berlalu dengan cepat, dan juga karena
banyak alasan lain, aku ingin cepat-cepat membawanya pulang. Kuguncang tubuhnya
agak lebih kuat, hingga akhirnya ia sadar dan membuka matanya, la tidak nampak
terkejut melihatku. Tentu saja tidak, karena ia segera menyadari di mana ia
berada. Lucy selalu cantik pada saat bangun tidur. Bahkan pada saat seperti itu,
saat tubuhnya pasti kedinginan dan pikirannya agak terkejut mendapati dirinya
tanpa pakaian lengkap berada di pekuburan pada malam hari, kecantikannya tetap
tidak hilang. Tubuhnya agak gemetar, dan ia berpegang padaku kuat-kuat. Waktu
kuajak untuk segera pulang, ia bangkit tanpa mengucapkan sepatah kata pun, patuh
seperti anak kecil. Sewaktu kami berjalan, kakiku sakit kena batu-batu jalan,
dan Lucy melihatku meringis. Ia berhenti dan memaksa ingin mengembalikan
sepatuku, tapi aku tetap menolak. Waktu kami tiba di jalan, di luar pekuburan
ada genangan air bekas badai. Aku sengaja melumuri kakiku dengan lumpurnya,
supaya kalau ada orang yang bertemu dengan kami, ia takkan melihat kakiku yang
telanjang. Kami beruntung. Kami tiba di rumah tanpa bertemu siapa pun. Satu kali kami
melihat seorang pria yang agaknya mabuk. Kami bersembunyi di balik sebuah pintu
sampai ia menghilang. Hatiku berdebar keras, hingga kukira aku akan pingsan. Aku
khawatir sekali memikirkan Lucy. Bukan hanya kesehatannya yang'mungkin akan
terganggu gara-gara ia tidak
192 berpakaian lengkap. Yang terutama kutakutkan adalah nama baiknya. Aku takut
kalau-kalau kisah itu tersebar. Setelah masuk ke rumah dan mencuci kaki serta
membaca doa syukur bersama-sama, kuselimuti dia. Sebelum tertidur,
dimintanya dengan memohon malah agar aku tidak mengatakan apa-apa mengenai
? ?petualangan tidur berjalannya itu pada siapa pun juga, bahkan pada ibunya pun
tidak. Mula-mula aku bimbang untuk berjanji, tapi mengingat keadaan kesehatan
ibunya, dan bila ia mendengar hal itu ia akan merisaukannya, dan mengingat pula
cerita semacam itu mungkin ya, bahkan pasti akan menjadi lebih buruk bila
? ?sampai bocor, maka kupikir akan lebih baik untuk merahasiakannya. Kuharap
keputusanku tepat. Pintu telah kukunci, dan kuncinya kuikatkan pada pergelangan
tanganku, jadi mungkin aku takkan terganggu lagi. Lucy tidur nyenyak, dan
pantulan fajar sudah tinggi dan luas di laut....
Hari itu juga, tengah hari. Semuanya berjalan dengan baik. Lucy tidur nyenyak,
?dan sampai kubangunkan, kelihatannya sikap tidurnya bahkan tak berubah.
Petualangan semalam kelihatannya tidak berakibat buruk atas dirinya. Sebaliknya
nampaknya memperbaiki keadaannya, karena pagi ini ia kelihatan lebih sehat
daripada kondisinya selama berminggu-minggu yang lalu. Aku menyesal melihat
bahwa kecerobohanku dengan peniti itu telah melukainya. Aku bahkan takut kalau-
kalau lukanya hebat, karena kulihat lehernya berlubang. Mungkin
193 kulitnya telah terangkat sedikit olehku, lalu tertusuk lagi bagian yang lain,
karena ada dua bintik merah seperti tusukan jarum, dan pada "tepi leher baju
tidurnya ada setetes darah. Waktu aku meminta maaf dan menyatakan
kekhawatiranku, ia hanya tertawa dan menepuk pipiku. Katanya ia bahkan sama
sekali tidak merasa apa-apa. Untung luka itu takkan meninggalkan bekas, sebab
kecil sekali. Hari itu juga, tengah malam. Hari ini hari yang menyenangkan. Udara cerah, ?matahari cemerlang, angin bertiup sepoi-sepoi dan sejuk. Kami pergi ke Mulgrave
Woods dengan membawa makan siang. Mrs. Westenra naik mobil, aku dan Lucy
berjalan kaki lewat jalan setapak di tebing karang. Kami bertemu di pintu pagar.
Aku merasa agak sedih, karena mau tak mau aku merasa bahwa kebahagiaan ini akan
sempurna sekiranya Jonathan ada bersamaku. Tapi sudahlah! Aku harus bersabar.
Malam harinya, kami berjalan kaki ke Casino Terrace, dan mendengarkan musik
bagus oleh Spohr dan Mackenzie, lalu kami tidur awal. Lucy kelihatan lebih
tenang daripada beberapa waktu yang lalu, dan ia langsung tertidur. Akan kukunci
pintu, dan kuamankan kuncinya seperti kemarin malam, meskipun kurasa malam ini
takkan ada kesulitan. 12 Agustus. Dugaanku salah, karena semalam dua kali aku terbangun gara-gara
?Lucy mencoba 194 keluar. Bahkan dalam tidur pun ia kelihatan tak sabar saat mendapati pintu
terkunci, dan ia kembali ke tempat tidurnya dengan kesal. Aku bangun setelah
fajar, dan mendengar burung-burung berkicau di luar jendela. Lucy juga bangun,
dan aku senang melihat keadaannya lebih baik daripada kemarin pagi. Ia sudah
ceria lagi seperti biasanya, c Ia datang ke tempat tidurku, dan meringkuk di
?sampingku, dan banyak bercerita tentang Arthur. Kukatakan padanya bahwa aku
khawatir sekali memikirkan Jonathan, dan ia mencoba menghiburku. Yah, boleh
dikatakan ia berhasil. Meskipun rasa simpati tak bisa mengubah keadaan, kita
jadi bisa menanggungnya dengan lebih baik.
13 Agustus. Sehari lagi telah lewat dengan tenang. Aku tetap tidur dengan
?mengikatkan kunci di pergelangan tanganku. Lagi-lagi aku terbangun tengah malam,
dan mendapati Lucy duduk di tempat tidurnya, dan dalam keadaan tidur menunjuk ke
jendela. Aku bangun perlahan-lahan, kusibak-kan kerai, dan melihat ke luar.
Cahaya bulan amat terang, efek sinarnya pada laut dan langit yang menyatu dalam
?suatu misteri besar dan diam tak terkatakan indahnya. Di antara aku dan sinar
?bulan tampak seekor kelelawar besar mengepak-ngepak, datang dan pergi membuat
lingkaran besar. Sekali dua kali binatang itu datang cukup dekat, tapi kurasa ia
ketakutan melihatku, lalu terbang lagi menyeberangi pelabuhan, menuju biara.
Waktu aku kembali ke tempat tidurku, Lucy sudah terbaring
195 lagi dan tidur nyenyak. Sepanjang malam itu ia tak bergerak.


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

14 Agustus. Aku membaca dan menulis sepanjang hari di East Cliff. Agaknya Lucy
?jadi sangat menyukai tempat ini, seperti aku. Aku sulit mengajaknya pulang untuk
makan siang atau minum teh atau makan malam. Sore ini ia mengatakan sesuatu yang
aneh. Kami sedang berjalan pulang f untuk makan malam. Waktu tiba di puncak
tangga di West Pier, kami berhenti untuk menikmati pemandangan, seperti yang
biasa kami lakukan. Matahari yang akan terbenam sudah berada rendah di langit,
dan baru saja turun di balik K ttlcness Langit di atas East Cliff dan biara tua
bermandikan warna merah, seolah mewarnai segala-galanya dengan sinar indah yang
berwarna merah muda. Beberapa saat lamanya kami tak berbicara, lalu tiba-tiba
Lucy bergumam, seolah-olah pada dirinya sendiri,
"Lagi-lagi matanya yang merah itu! Selalu saja begitu!" Aneh sekali kata-kata
itu, dan diucapkan tanpa ada hubungan dengan apa-apa, hingga aku agak terkejut.
Aku berpaling sedikit untuk melihat baik-baik padanya tanpa disadarinya. Kulihat
ia dalam keadaan menerawang, wajahnya menampakkan ekspvesi aneh yang tak bisa
kutafsirkan. Jadi aku tidak berkata apa-apa, tapi kuikuti arah pandangan
matanya. Kelihatannya ia memandang ke arah bangku kami, dan di sana tampak suatu
sosok gelap sedang duduk seorang diri. Aku terkejut sekali,
196 karena sesaat kelihatan seolah-olah orang asing itu memandang dengan mata besar
seperti nyala api. Tapi waktu kulihat lagi, ilusi itu hilang. Sinar matahari
yang merah menyinari jendela-jendela Gereja St Mary yang terdapat di bagian
belakang bangku kami. Dan waktu matahari terbenam, terjadilah perubahan besar
pada pembiasan dan peman-" tulannya, hingga kelihatan seolah-olah cahaya itu
bergerak. Aku menarik perhatian Lucy terhadap efek warna yang aneh itu, dan ia
sadar dengan terkejut. Tapi ia tetap nampak murung, mungkin karena masih ingat
akan kejadian mengerikan di atas itu. Kami tak pernah menyinggung hal itu lagi,
jadi aku tak berkata apa-apa, dan kami pun pulang. Setelah makan, Lucy mengeluh
kepalanya pusing dan ingin pergi tidur awal. Waktu kulihat ia sudah tidur, aku
pergi berjalan-jalan. Aku berjalan di sepanjang tebing, ke arah barat. Aku
merasa sedih karena aku teringat Jonathan. Waktu aku pulang waktu itu sinar ?bulan amat terang, hingga semua kelihatan jelas, meskipun bagian depan
penginapan kami, Crescent, tertutup bayang-bayang aku mendongak, melihat ke
?jendela kamar kami, dan kulihat kepala Lucy terulur ke luar. Kusangka ia sedang
berusaha mencariku, maka kubentangkan saputanganku dan kulambaikan ke arahnya.
Ia sama sekali tak melihatnya, dan sama sekali tak bergerak. Pada saat itu bulan
bergerak, membelok di sudut bangunan itu, dan cahayanya jatuh di jendela. Di
situ tampak dengan jelas kepala Lucy terbaring di ambang jendela lebar itu,
matanya tertutup. Ia seperti tidur
nyenyak, sedangkan di dekatnya kelihatan sesuatu seperti burung besar,
bertengger di ambang jendela itu pula. Aku takut ia masuk angin, maka aku pun
berlari naik ke lantai atas. Tapi waktu aku masuk, ia sudah kembali ke tempat
tidurnya dan sudah tidur nyenyak lagi dengan napas berat. Ia memegang lehernya,
seolah-olah akan melindunginya dari hawa dingin.
Aku tak membangunkannya, hanya menyelimutinya. Pintu sudah kukunci, dan selot
jendela sudah kupasang dengan baik.
Ia kelihatan manis sekali dalam tidurnya, tapi lebih pucat daripada biasanya,
dan di bawah matanya terlihat garis keletihan. Aku tak suka melihat keadaannya
itu. Aku takut ia merisaukan sesuatu. Ingin sekali aku tahu apa yang
dirisaukannya. 15 Agustus. Bangun lebih siang daripada biasanya. Lucy nampak lemah dan letih,
?dan tidur terus setelah kami dibangunkan. Pada waktu sarapan, kami mendengar
suatu berita kejutan yang menyenangkan. Ayah Arthur sudah sembuh, dan ingin agar
pernikahan mereka dilangsungkan secepatnya. Lucy senang sekali, tapi ia tetap
tenang, ibunya berbahagia, tapi sekaligus sedih. Siang harinya, diceritakannya
padaku apa sebabnya. Ia sedih akan kehilangan Lucy, tapi ia senang sekali Lucy
akan mendapatkan seseorang yang akan melindunginya. Kasihan sekali wanita manis
yang malang itu! Diakuinya bahwa tanggal kematiannya boleh dikatakan sudah
ditentukan. Hal itu tidak
- \K r' \ C A. AN V-19"
OL.tf-A - T 54 v .A ~k \ k dikatakannya pada Lucy, dan aku disuruhnya berjanji untuk merahasiakan hal itu.
Dokternya sudah mengatakan padanya bahwa ia akan meninggal paling lama beberapa
bulan lagi, karena jantungnya sudah makin lemah. Setiap saat, bahkan sekarang
pun, suatu kejutan hebat boleh dikatakan dapat mengakibatkan kematiannya. Wah,
kalau begitu baik sekali kami tidak menceritakan padanya tentang kejadian malam
yang mengerikan itu, saat Lucy tidur berjalan.
17 Agustus. Dua hari penuh tidak menulis. Aku tak sampai hati menulis. Ada ?suatu hal yang rasanya membayang-bayangi kebahagiaan kami. Tak ada berita dari
Jonathan, dan Lucy nampak makin lemah, sementara saat terakhir ibunya makin
mendekat. Aku tak mengerti mengapa keadaan Lucy begitu buruk. Makannya cukup
banyak, tidurnya nyenyak, dan ia bisa mendapatkan udara segar, namun rona merah
di pipinya makin memudar, dan makin hari ia makin lemah saja. Malam hari
kudengar ia mendesah, menarik napas panjang, seolah-olah mencari udara.... Kunci
pintu masih tetap kuikatkan pada pergelangan tanganku pada malam hari, tapi ia
masih tetap bangun dan berjalan hilir-mudik di dalam kamar, dan duduk di jendela
yang terbuka. Semalam ia bahkan kudapati sedang mengulurkan tubuhnya ke luar,
waktu aku terbangun, dan usahaku untuk membangunkannya tidak berhasil. Ia benar-
benar dalam keadaan tak sadar. Setelah aku berhasil membangunkannya, ke-199
adaannya lemah sekali, dan ia menangis dengan napas tersengal-sengal. Waktu
kutanyakan bagaimana ia sampai begitu, ia menggeleng, lalu memalingkan wajahnya.
Aku yakin sakitnya tak mungkin gara-gara tusukan peniti celaka itu. Tadi, waktu
ia sedang tidur, aku melihat ke lehernya, dan luka-luka kecil itu kelihatannya
belum sembuh. Luka-luka itu masih terbuka, dan bahkan boleh dikatakan lebih
besar daripada semula, sedangkan tepinya agak putih. Luka-luka itu merupakan
bulatan-bulatan putih dengan warna merah di tengahnya. Bila dalam sehari-dua ini
luka-luka itu tak juga sembuh, akan kupaksa dia untuk memeriksakannya ke dokter.
SURAT DARI SAMUEL F. BILLINGTON & SON, PENASIHAT HUKUM, WHITBY, KEPADA MESSRS.
CARTER, PATERSON & CO., LONDON
Dengan hormat, 17 Agustus.
Bersama ini harap diterima barang-barang yang dikirimkan dengan kereta api Great
Northern. Barang-barang tersebut akan diserahkan di Carfax, dekat Purfleet,
langsung bisa diterima di stasiun barang-barang King's Cross. Rumah itu sekarang
kosong, dan bersama ini dikirimkan kunci kuncinya yang semuanya sudah diberi
tanda. Harap simpan barang-barang kiriman berupa lima puluh buah peti itu, di dalam
gedung setengah runtuh yang merupakan bagian dari rumah itu, dan bertanda
200 "A" pada peta kasar terlampir. Perwakilan Anda akan bisa mengenali letaknya
dengan mudah, karena bagian itu adalah bekas kapel dari gedung tersebut. Barang-
barang itu diberangkatkan dengan kereta api jam 21.30 malam ini, dan akan tiba
di King's Cross jam 16.30 besok petang. Karena klien kami ingin pengirimannya
dilakukan secepat mungkin, kami akan berterima kasih bila Anda mau menyiapkan
tenaga-tenaga penerimaan di King's Cross pada waktu yang sudah disebutkan, dan
menyampaikan barang-barang itu langsung ke tempat tujuan. Untuk mencegah
keterlambatan yang mungkin disebabkan oleh tuntutan-tuntutan rutin mengenai
pembayaran kepada dinas-dinas pemerintah Anda, bersama ini kami lampirkan cek
sebesar sepuluh pound. Harap beritahukan penerimaannya. Sekiranya biayanya
kurang dari jumlah ini, harap Anda kembalikan sisanya. Bila lebih banyak, kami
akan segera mengirimkan cek untuk menutup kekurangannya segera setelah kami
menerima berita dari Anda. Harap Anda tinggalkan kunci-kunci bila Anda akan
meninggalkan ruang depan rumah itu, supaya penjaga rumah bisa menemukannya di
situ bila ia masuk ke rumah itu dengan menggunakan kunci duplikatnya.
Kami harap Anda tidak menganggap kami melanggar batas-batas bisnis, kalau kami
mendesak Anda untuk mengirim berita secepatnya.
Hormat kami, Samuel F. Billington & Son.
201 SURAT DARI MESSRS. CARTER, PATERSON & CO., LONDON, KEPADA MESSRS. SAMUEL F.
BILLINGTON & SON, WHITBY
Dengan hormat, 21 Agustus.
Kami beritahukan bahwa kami telah menerima uang sepuluh pound, dan bersama ini
kami kirimkan cek sebesar 1 pound 17 shilling 9d, yaitu sisa uang Anda,
berdasarkan perhitungan terlampir bersama ini. Barang-barang sudah dikirimkan
sesuai dengan petunjuk Anda, dan kunci-kunci ditinggalkan dalam sebuah kotak di
ruang utama, berdasarkan petunjuk Anda pula.
Hormat kami, Pro Carter, Paterson & Co.
CATATAN HARIAN MINA MURRAY
18 Agustus. Hari ini aku berbahagia. Aku duduk di bangku di pekuburan, dan ?menulis. Lucy sudah jauh lebih baik. Semalam ia tidur nyenyak sepanjang malam,
dan sekali pun tidak menggangguku. Pipinya merah lagi, meskipun ia masih nampak
pucat dan murung. Sekiranya ia menderita kurang darah, aku bisa mengerti, tapi
tidak demikian halnya. Hari ini ia ceria, penuh semangat hidup, dan riang
gembira. Sifatnya yang pendiam karena sakit agaknya sudah berubah lagi, dan ia
baru saja mengingatkan aku akan kejadian malam itu, seolah-olah aku masih perlu
diingatkan. Yah, 202 kejadian itu memang di sini, di bangku ini. Sambil berkata-kata, iseng-iseng
diketuk ketukkannya tumit sepatunya pada batu kuburan, dan ia berkata,
"Waktu itu tumit sepatuku ini tidak membuat keributan seperti sekarang! Pak Tua
Swales pasti akan berkata bahwa itu karena aku tak mau membangunkan si Geordie."
Karena kelihatannya ia " sedang suka bercakap-cakap, kutanyakan apakah ia
bermimpi malam itu. Sebelum menjawab, dikenakannya dahinya, hingga ia jadi lebih
manis. Arthur juga suka melihatnya begitu aku ikut-ikutan Lucy menyebutnya
?Arthur. Aku tak heran kalau Arthur menyukainya. Lalu ia berkata dengan setengah
menerawang, seolah-olah sedang mengingatnya kembali,
"Rasanya aku tidak bermimpi. Rasanya seperti sungguh-sungguh terjadi. Aku hanya
ingin di sini, di tempat ini, entah mengapa, padahal aku takut akan
sesuatu entah apa itu. Meskipun kurasa aku tidur, aku ingat aku melalui jalan-
?jalan dan menyeberangi jembatan. Waktu aku lewat, ada ikan melompat. Aku
membungkukkan tubuh untuk melihatnya. Lalu kudengar banyak anjing melolong.
Rasanya seluruh kota penuh dengan anjing yang I sekaligus melolong bersama waktu
aku sedang * menaiki tangga. Lalu samar-samar kuingat ada sesuatu yang panjang
dan gelap, bermata merah, seperti yang kita lihat pada saat matahari terbenam
itu. Lalu aku merasakan sesuatu yang manis tapi juga getir di sekitarku, lalu
rasanya aku tenggelam di air yang amat dalam dan berwarna hijau, dan di
203 telingaku ada suara orang bernyanyi. Kata orang, orang yang sedang tenggelam
memang merasakannya. Lalu semuanya terasa menjauhi diriku. Rasanya rohku keluar
dari tubuhku, dan mengambang kian-kemari di udara. Rasanya suatu saat mercu suar
di sebelah barat berada di bawahku, lalu ada semacam rasa tersiksa, seolah-olah
aku berada dalam suatu gempa, dan aku pun sadar. Rupanya kau yang menggoyang-
goyangkan tubuhku. Aku sudah melihatmu melakukannya sebelum aku merasakannya."
Lalu ia tertawa. Aku merasa "neh dan ngeri, dan aku mendengarkannya dengan
menahan napas. Aku tidak begitu senang, dan kupikir sebaiknya ia pun tidak
mengingat hal itu terus. Lalu kami mengalihkan percakapan ke soal-soal lain, dan
Lucy pun kembali seperti biasa. Waktu kami pulang, angin sejuk dan lembut
bertiup menyegarkannya, dan pipinya yang pucat jadi lebih merah. Ibunya senang
melihatnya, dan kami bersenang-senang sepanjang malam.
19 Agustus. Aku senang, senang, senang! Meskipun tidak benar-benar senang. ?Akhirnya ada berita dari Jonathan. Kekasihku itu sakit, jadi selama ini ia tidak
menulis surat Setelah mengetahuinya, aku takut lagi memikirkan dan
mengatakannya. Mr. Hawkins yang meneruskan surat itu padaku, dan ia sendiri juga
mengirim surat pengantar yang baik sekali. Dikatakannya sebaiknya aku berangkat
secepatnya mengunjungi Jonathan, dan membantu
204 merawatnya bila perlu, untuk kemudian membawanya pulang. Kata Mr. Hawkins, tak
ada salahnya kalau kami menikah di sana. Aku menangis membaca surat dari suster
yang baik, yang merawat kekasihku, dan surat itu kurasa basah di dadaku. Ia
memang seharusnya berada di dalam hatiku. Perjalananku sudah diatur, dan barang-
barang sudah siap. Aku hanya membawa sehelai pakaian untuk ganti. Lucy akan
mengantarkan koperku ke London dan meminta agar barang itu tetap disimpan di
sana, sampai aku minta dikirimkan, karena mungkin... Aku tak boleh menulis lagi.
Aku harus menyimpannya dan menceritakannya hanya pada Jonathan, setelah ia
menjadi suamiku. Surat yang telah dilihat dan disentuhnya harus menghiburku
sampai kami bertemu. SURAT DARI SUSTER AGATHA, RUMAH SAKIT ST. JOSEPH DAN ST. MARY, BUDAPEST, KEPADA
MISS WILHELMINA MURRAY Nona yang terhormat, 12 Agustus.
Saya menulis mewakili Mr. Jonathan Harker yang belum kuat menulis, meskipun
berkat perawatan di St. Joseph dan St. Mary, kesehatannya sudah mengalami
kemajuan. Sudah hampir enam minggu ia berada dalam perawatan kami, karena
menderita demam otak hebat Ia minta disampaikan cintanya, dan meminta agar
bersamaan dengan surat ini, saya menuliskan pula surat untuk Mr. Peter Hawkins
di Exeter, untuk mengatakan
205 dengan segala hormat bahwa ia menyesal akan keterlambatannya, dan bahwa semua
lugasnya sudah dilaksanakannya. Ia perlu beristirahat di sanatorium kami di
perbukitan selama beberapa minggu, dan sesudah itu baru boleh kembali.
Dimintanya pula saya menuliskan bahwa ia tak punya cukup uang, dan bahwa ia
harus membayar perawatannya di sini, supaya orang-orang lain yang memerlukan
perawatan akan mendapatkannya pula.
Terimalah simpati saya, dan semoga Anda diberkati Tuhan.
Suster' Agatha. N.B. Karena pasien saya tidur, saya buka lagi surat ini untuk memberitahukan
?sesuatu lagi pada Anda. Ia telah menceritakan semuanya tentang Anda, juga bahwa
tak lama lagi Anda akan menjadi istrinya. Semoga Anda berdua diberkati oleh
Tuhan! Ia mengalami shock berat, begitu kata dokter kami. Dan dalam demamnya, ia
mengigau tentang hal-hal mengerikan, tentang serigala-serigala, racun-racun, dan
darah, tentang hantu dan jadi-jadian, dan... ah, takut saya menyebutkan yang lain-
lainnya. Berhati-hatilah selalu dengan dia, supaya kelak ia tak lagi mengalami
hal-hal yang dapat mengacaukannya seperti itu. Bekas-bekas penyakit seperti itu
tak mudah hilang. Seharusnya sudah lama kami menulis, tapi kami tak tahu apa-apa
tentang sahabat-sahabatnya, dan tak ada
206 apa-apa pada dirinya yang bisa dijadikan petunjuk. Ia datang dari Klausenburg
naik kereta api, dan pengawal kereta api diberitahu oleh kepala stasiun di sana,
bahwa ia telah menyerbu masuk ke stasiun sambil berteriak-teriak meminta tiket
untuk pulang. Melihat tingkah lakunya yang keras, tahulah para petugas di situ
bahwa ia orang Inggris. " Mereka memberinya tiket dengan stasiun tujuan terjauh
yang bisa dicapai kereta api itu.
Yakinlah bahwa ia telah mendapat perawatan terbaik di sini. Ia telah merebut
hati kami semua, karena sikapnya yang manis dan kelembutannya. Ia benar-benar
sudah hampir sehat, dan saya yakin dalam beberapa minggu ini ia akan pulih
kembali. Tapi berhati-hatilah, demi keyakinan itu. Saya doakan pada Tuhan, St.
Joseph, dan St. Mary, supaya kalian berdua kelak mengecap tahun-tahun
berbahagia. CATATAN HARIAN DR. SEWARD
19 Agustus. Semalam Renfield mendadak menjadi aneh. Kira-kira jam delapan, ia ?jadi kacau dan mendengus-dengus seperti seekor anjing yang akan beristirahat.
Sikapnya menarik perhatian petugas, dan karena petugas itu tahu bahwa aku
menaruh minat khusus pada pasien itu, maka didorongnya Renfield untuk berbicara.
Biasanya ia sopan pada petugas itu, bahkan kadang-kadang sangat merendahkan
diri, tapi semalam, kata petugas itu, sikapnya angkuh sekali. Ia sama sekali
207 tak mau menurut dan tak mau berbicara. Ia hanya berkata,
"Aku tak mau berbicara denganmu. Sekarang kau tak masuk hitungan lagi. Tuanku
ada di sini." Petugas mengira ia sedang terserang suatu bentuk gangguan jiwa yang bersifat
keagamaan. Kalau memang begitu, kami harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan ia
melakukan tindakan-tindakan ke- * kerasan, karena seseorang yang kuat, dengan
kecenderungan membunuh dan sekaligus sangat alim, bisa sangat berbahaya.
Kombinasi kedua sifat itu sangat berbahaya. Jam sembilan aku sendiri
mengunjunginya. Sikapnya terhadapku sama dengan terhadap petugas. Karena merasa
dirinya mahasuci, perbedaan antara diriku dan petugas tak berarti apa-apa
baginya. Kulihat ia memang sedang ke- ^ rasukan kelainan jiwa yang bersifat
keagamaan. Tak lama lagi ia akan merasa dirinya Tuhan. Perbedaan yang sangat
kecil antara manusia dan manusia lain sama sekali tak berarti bagi "makhluk
mahabesar" itu. Orang-orang gila memang mudah sekali mengenalinya! Tuhan yang
sebenarnya menaruh perhatian bila seekor burung gereja jatuh, tapi "tuhan" yang
tercipta karena keangkuhan manusia, tidak melihat perbedaan antara seekor bu- ^
rung garuda dan burung gereja. Ah, kalau saja orang-orang menyadarinya.
Selama setengah jam atau lebih, Renfield makin lama makin kacau. Aku tak
berpura-pura mengamatinya, namun aku mengawasinya dengan ketat Tiba-tiba matanya
menjadi liar, seperti biasanya


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bila seorang gila mendapat suatu gagasan, dan itu disertai oleh kepala dan
punggung yang terus bergerak-gerak. Para petugas sanatorium tahu benar kebiasaan
itu. Kemudian ia kembali tenang, lalu duduk di tepi tempat tidurnya, dan
memandang ke depan dengan tatapan kosong. Kupikir aku akan bisa mencari tahu
apakah sikap tak pedulinya itu memang sungguh-sungguh atau hanya dibuat-buat.
Aku pun mencoba menuntunnya untuk berbicara tentang binatang-binatang
kesayangannya. Selama ini, pokok pembicaraan itu selalu menimbulkan minatnya.
Mula-mula ia tak menjawab, tapi akhirnya ia berkata dengan kesal,
"Persetan itu semua! Aku sama sekali tak peduli pada mereka."
"Apa?" kataku. "Maksudmu kau tak peduli akan laba-laba?" (Saat ini laba-laba
sedang menjadi kegemarannya, dan buku catatannya penuh dengan kolom-kolom
bentuk-bentuk kecil). Pertanyaanku itu dijawabnya dengan penuh teka-teki,
"Para pengiring pengantin sudah menunggu-nunggu, ingin melihat pengantinnya.
Tapi waktu pengantinnya mendekat, pengiring-pengiring itu tak tertarik lagi."
Ia tak mau menjelaskan maksud kata-katanya. Ia tetap duduk di tempat tidurnya
selama aku berada bersamanya.
Aku letih malam ini, dan semangatku lemah. Aku hanya bisa memikirkan Lucy, dan
membayangkan kalau saja aku bisa memperolehnya. Kalau aku tak bisa tidur aku
akan menggunakan 209 208 obat tidur modern yang mengandung klor.... Tapi aku harus berhati-hati supaya hal
itu tidak sampai menjadi kebiasaan. Tidak, malam ini pun aku takkan minum obat
itu gara-gara dia. Kalau perlu, biarlah aku tidak tidur malam ini....
Kemudian. Aku senang telah mengambil keputusan itu, lebih senang lagi karena ?aku berpegang teguh pada keputusan itu. Aku berbaring saja dengan gelisah di
tempat tidurku. Waktu kudengar jam berbunyi dua kali, penjaga malam datang. Ia
diperintah oleh petugas bangsal untuk mengatakan bahwa Renfield telah melarikan
diri. Aku cepat-cepat berpakaian, lalu berlari turun. Pasienku itu terlalu
berbahaya untuk dibiarkan gentayangan. Gagasan-gagasannya bisa membawa akibat
berbahaya terhadap orang-orang lain. Petugas sudah menungguku. Katanya belum
sepuluh menit yang lalu ia melihat Renfield, lewat alat observasi pada pintu. Ia
kelihatan sedang tidur di tempat tidurnya. Perhatiannya tertarik lagi waktu
didengarnya bunyi jendela direnggut keluar. Petugas berlari kembali, tapi hanya
sempat melibat kaki Renfield menghilang dari jendela, dan ia langsung
memerintahkan untuk memanggilku. Renfield hanya mengenakan pakaian tidur, jadi
tak mungkin ia pergi jauh. Menurut petugas, lebih baik memperhatikan ke mana ia
akan pergi daripada mengikutinya, sebab ia takut takkan melihatnya lagi
sementara ia keluar dari pintu. Petugas itu bertubuh besar, jadi tak bisa keluar
lewat jendela. 210 Aku sendiri kurus, jadi dengan bantuannya aku berhasil keluar dengan kaki di
depan. Karena jendela hanya berada beberapa kaki di atas tanah, kami bisa
mendarat tanpa cedera. Kata petugas, pasien itu berlari ke arah kiri, lalu
berjalan lurus. Aku pun berlari secepat mungkin. Waktu tiba di gerombolan
pepohonan, kulihat suatu sosok putih sedang meniti tembok tinggi yang memisahkan
tanah kami dengan pekarangan rumah kosong di sebelah itu.
Aku segera berlari kembali. Kusuruh petugas segera mencari tiga atau empat
orang, untuk menyusulku ke rumah Carfax itu. Aku takut pasien kami itu
membahayakan. Kuambil tangga, dan setelah menyeberangi tembok, aku turun di sisi
lainnya. Kulihat sosok Renfield baru saja menghilang di balik sudut rumah itu,
dan aku pun mengejarnya. Di sisi terjauh dari rumah itu kutemukan ia menempelkan
tubuhnya rapat-rapat pada pintu kapel tua yang terbuat dari kayu ek dan
berhiaskan besi. Kelihatannya ia sedang berbicara dengan seseorang. Aku tak
berani pergi terlalu dekat untuk mendengar apa yang dikatakannya, karena aku
khawatir ia ketakutan, lalu lari. Mengejar sekawanan lebah tak berarti apa-apa
dibandingkan dengan mengikuti seorang gila yang sedang terserang keinginan untuk
melarikan diri! Tapi beberapa menit kemudian, kulihat ia tak menyadari keadaan
sekelilingnya. Maka aku memberanikan diri mendekatinya. Aku berani berbuat
begitu karena anak 211 buahku sudah menyeberangi tembok, dan sedang mengepungnya. Kudengar ia berkata,
"Aku datang untuk menjalankan perintahmu, tuanku. Aku hambamu, dan aku setia
supaya mendapatkan ganjaranmu. Sudah lama sekali aku memujamu, bahkan sejak
tuanku berada jauh. Kini setelah tuanku dekat, aku menunggu perintah-perintahmu.
Dan tuanku takkan melewati aku dalam membagi-bagikan makanan enak, bukan?"
Ternyata ia masih tetap egois, dan masih tetap memikirkan roti dan lauk-pauknya,
sementara ia merasa dirinya berdekatan dengan "Yang Mahakuasa". Kelainan-
kelainannya membentuk suatu kombinasi yang mengejutkan.
Waktu kami mengepungnya, ia mengamuk bagaikan harimau. Kekuatannya luar biasa,
sebab ia lebih menyerupai seekor binatang buas daripada manusia. Selama ini tak
pernah aku melihat seorang gila mengamuk sehebat itu, dan kuharap takkan pernah
lagi. Syukurlah kami sempat menemukan kekuatan dan bahayanya. Dengan kekuatan
dan tekad seperti yang dimilikinya, ia mungkin dapat melakukan hal-hal yang tak
terken-dalikan, sebelum ia sempat dikurung. Pokoknya sekarang ia aman. Jack
Sheppard sendiri takkan mampu melawannya dalam keadaan tegang seperti itu. Tapi
sekarang ia sudah dirantai di kamar berlapis ganda. Teriakan-teriakannya kadang-
kadang mengerikan, tapi kesepian yang kemudian menyusul lebih mencekam daripada
kematian. ka 212 rena setiap tingkah dan geraknya berarti pembunuhan.
Tadi, untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata-kata yang masuk akal,
"Aku akan bersabar, tuanku. Waktu itu akan tiba... akan tiba... akan tiba!"
Aku terlalu kacau, hingga tak bisa tidur, tapi catatan harian ini telah
menenangkan diriku, dan kurasa aku bisa tidur malam ini.
213 Bab 9 SURAT DARI MINA HARKER KEPADA LUCY WESTENRA
LUCY tersayang, Budapest, 24 Agustus.
Aku tahu, kau pasti ingin sekali mendengar apa saja yang telah terjadi sejak
kita berpisah di stasiun kereta api di Whitby.
Aku tiba di Hull dengan selamat, lalu naik kapal ke Hamburg, kemudian naik
kereta api kemari. Kurasa sulit aku mengingat apa-apa tentang perjalanan itu,
kecuali kesadaran bahwa aku sedang mendatangi Jonathan, dan bahwa aku harus
tidur banyak-banyak karena aku harus merawat Jonathan nanti.... Kutemukan
kekasihku kurus sekali, pucat, dan sangat lemah. Semua tekadnya tak ada lagi di
matanya, dan harga dirinya yang tenang, yang seperti kukatakan selalu terbayang
di wajahnya, sudah lenyap sama sekali. Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
Dan sudah lama ia tak ingat lagi akan apa-apa yang telah terjadi atas dirinya.
Setidaknya ia ingin aku mempercayai hal itu, dan aku tak akan bertanya. Dia
telah meng-214 alami shock hebat, dan aku takut akan membahayakan otaknya bila ia harus mencoba
mengingat-ingat. Suster Agatha yang baik itu, seorang juru rawat sejati, berkata
bahwa bila ia sedang tak sadar, ia mengigaukan hal-hal yang menyeramkan. Kuminta
Suster menceritakan apa igauannya itu, tapi orang baik itu hanya membuat tanda
salib dan berkata bahwa ia takkan pernah mengatakannya. Dikatakannya bahwa
igauan-igauan orang sakit adalah rahasia Tuhan, dan bila seorang juru rawat yang
karena jabatannya mendengar igauan itu. ia harus menghargai kepercayaan yang
telah diberikan padanya. Ia memang manis dan baik sekali. Keesokan harinya,
waktu dilihatnya aku bersusah hati, disinggungnya lagi soal itu, dan setelah
mengatakan bahwa ia tak bisa mengatakan apa yang diigaukan kekasihku,
ditambahkannya, "Saya hanya bisa mengatakan, anak manis, bahwa igauannya itu
tidak mengenai perbuatannya yang salah, dan Anda sebagai calon istrinya tak
perlu khawatir. Ia tak pernah melupakan Anda dan apa-apa yang telah Anda perbuat
untuknya. Rasa. takutnya adalah mengenai hal-hal yang hebat dan mengerikan, yang
tak bisa ditangani oleh manusia mana pun juga."
Aku yakin suster yang baik itu mengira mungkin aku cemburu kalau kekasihku itu
jatuh cinta pada seorang gadis lain. Mana mungkin aku cemburu pada Jonathan!
Namun demikian, sayangku, biarlah kubisikkan padamu bahwa aku senang se -
215 kali ketika tabu bahwa tak ada wanita yang menjadi penyebab kesulitan.
Aku sedang duduk di sisi tempat tidurnya, dari mana aku bisa melihat wajahnya
saat ia sedang tidur. Nah, ia bangun...!
Setelah ia bangun, dimintanya aku mengambilkan mantelnya, karena ia ingin
mengambil sesuatu dari sakunya. Aku memintanya dari Suster Agatha dan ia
mengantarkan semua barang Jonathan. Kulihat bahwa di antara barang-barangnya itu
terdapat buku catatannya. Aku bermaksud meminta izin untuk membacanya, karena
aku tahu bahwa dari situ aku akan bisa menemukan petunjuk mengenai kesulitannya.
Kurasa ia melihat keinginan itu di mataku, dan ia lalu menyuruhku pergi ke
jendela. Katanya ia ingin menyendiri sebentar. Lalu aku dipanggilnya kembali,
dan waktu aku datang, ditutupinya buku catatannya dengan tangannya, dan ia
berkata dengan sikap khidmat,
"Wilhelmina," aku segera tahu bahwa ia sedang serius, sebab ia tak pernah ?memanggilku dengan nama itu, sejak ia melamarku menjadi istrinya "sayangku,
?menurut pendapatku, di antara suami istri tak boleh ada rahasia. Tak ada yang
boleh disembunyikan. Aku telah mengalami shock yang hebat, dan setiap kali aku
mencoba memikirkannya, kepalaku serasa berputar-putar. Lagi pula aku tak tahu
apakah itu benar-benar terjadi ataukah hanya impian seorang gila saja. Seperti
kauketahui, aku menderita demam otak,
216 dan itu bisa mengakibatkan kegilaan. Rahasianya ada di dalam buku ini, dan aku
tak mau lagi mengetahuinya. Aku ingin membangun hidup baruku di sini, dengan
pernikahan kita. Bersediakah kau, Wilhelmina, untuk tetap tidak mengetahui
isinya seperti aku" Ini bukunya. Ambil dan simpanlah, bacalah kalau kau mau,
tapi jangan pernah memberitahu aku, kecuali bila ada suatu tugas yang tak dapat
dielakkan, yang mengharuskan aku mengingat kembali saat-saat getir itu, entah
dalam keadaan tidur atau bangun, dalam keadaan waras atau gila, sebagaimana
tercantum di sini." Ia terbaring dengan letih sekali. Kuletakkan buku itu di
bawah bantalnya, lalu kukecup dia. Kemudian kuminta pada Suster Agatha untuk
menanyakan pada pemimpinnya, dapatkah kiranya menyelenggarakan pernikahan kami
petang ini. Kini aku sedang menunggu jawabannya....
Suster kembali dan mengatakan bahwa pendeta dari Gereja Misi Inggris telah
diminta datang. Satu jam lagi kami akan menikah, atau secepat Jonathan bangun,...
Lucy tersayang, saat pernikahan telah datang dan selesai. Aku merasa amat
khidmat, dan aku sangat... sangat berbahagia. Jonathan bangun sekitar satu jam
kemudian. Semuanya sudah siap. Ia didudukkan dan disangga dengan bantal-bantal.
Kata-kata "Saya bersedia" diucapkannya dengan tegas dan pasti. Aku rasanya tak
bisa berbicara, hatiku amat penuh, hingga waktu mengucapkan kata-kata itu pun
napasku serasa tercekat. Para
217 suster baik sekali. Sungguh, aku takkan pernah melupakan mereka. Dan aku takkan
lupa tanggung jawab yang berat, namun sekaligus manis, yang harus kupikul. Aku
ingin menceritakan hadiah pernikahanku. Setelah pendeta dan para suster
meninggalkan aku berdua saja dengan suamiku oh; Lucy, inilah pertama kalinya
?aku menulis perkataan "suamiku" kuambil buku catatannya dari 'bawah bantalnya,
? lalu kubungkus dengan kertas putih kuikat dengan sepotong pita berwarna biru
muda yang ada sedikit di kerah bajuku, dan sebagai materainya kugunakan cincin
kawinku. Akhirnya kucium buku itu dan kuperlihatkan pada suamiku, lalu kukatakan
bahwa aku akan tetap mempertahankannya dalam keadaan begitu. Dan itu akan
merupakan lambang di luar, yang dapat kami lihat sepanjang hidup kami, bahwa
kami saling mempercayai, bahwa aku takkan pernah membukanya, kecuali kalau itu
demi kepentingan-1 nya sendiri atau untuk kepentingan lain yang bersifat
kewajiban yang tak dapat ditolak. Lalu digenggamnya tanganku. Oh, Lucy, itulah
pertama kalinya ia menggenggam tangan istrinya, dan dikatakannya bahwa itulah
yang paling dekat di hatinya di seluruh dunia. Katanya lagi, ia mau disuruh
menjalani lagi semua hal mengerikan di masa lalu, demi aku. Maksud kekasihku itu
pasti sebagian dari masa lalunya, tapi ia belum bisa berpikir tentang waktu. Aku
takkan heran bila mula-mula ia bingung, bukan hanya mengenai bulan-bulan, bahkan
juga mengenai tahun. 218 Yah, apalah yang bisa kukatakan" Aku hanya bisa berkata padanya bahwa aku merasa
diriku wanita paling berbahagia di seluruh dunia, dan bahwa aku tak punya apa-
apa yang bisa kuberikan padanya, kecuali diriku sendiri, hidupku, dan
kepercayaanku padanya, dan bahwa bersamaan dengan itu akan kuserahkan pula cinta
dan pengabdianku kepadanya sepanjang hidupku. Waktu ia mencium dan merangkulku
dengan lengannya yang lemah itu, aku merasa itu merupakan suatu ikrar yang
khidmat antara kami berdua
Lucy tersayang, tahukah kau mengapa semua ini kuceritakan padamu" Bukan karena
semuanya itu manis bagiku, karena selama ini dan di masa yang akan datang kaulah
yang kusayangi. Betapa beruntungnya aku menjadi sahabat dan penuntunmu, sejak
saat kau meninggalkan bangku sekolah dan bersiap-siap terjun dalam kehidupan
ini. Aku ingin kau kini melihat dengan mata seorang istri yang sangat
berbahagia, ke mana kewajiban menuntunku, hingga dalam hidup perkawinanmu
sendiri kelak pun kau akan berbahagia seperti aku. Ku-doakan, sayangku, agar
hidupmu menjanjikan yang baik baik belaka, matahari yang bersinar sepanjang
hari, tanpa ada angin, keras, tanpa ada kelalaian akan kewajiban, dan tanpa
kehilangan kepercayaan. Aku takkan mendoakan agar kau tidak mengalami sakit,
karena itu tak mungkin, tapi aku akan berdoa bersungguh-sungguh agar kau akan
selalu berbahagia seperti aku sekarang. Selamat berpisah, sayangku. Surat ini
akan segera kuposkan, dan
219 mungkin aku akan segera menulis lagi. Aku harus berhenti, karena Jonathan sudah
bangun. Aku harus mengurus suamiku!
Sahabatmu, Mina Harker. SURAT DARI LUCY WESTENRA KEPADA MINA HARKER
Mina tersayang, Whitby, 3 Agustus.
Terimalah selautan cinta dan berjuta ciuman da-riku, dan semoga kau dapat kembali ke rumahmu sendiri secepatnya, lalu menginap di rumah kami lagi. Udara segar
di sini akan cepat memulihkan Jonathan, sebagaimana aku telah dipulihkannya.
Nafsu makanku baik sekali, aku penuh gairah hidup, dan bisa tidur nyenyak. Kau
pasti senang karena aku sudah tak begitu sering tidur berjalan. Kurasa aku
bahkan tidur tanpa bergerak, begitu aku meletakkan tubuhku di malam hari. Kata
Arthur, aku sudah gemuk. O, ya, aku lupa menceritakan bahwa Arthur ada di sini.
Kami melakukan banyak kegiatan, berjalan-jalan, berkereta, menunggang kuda,
berdayung, main tenis, memancing. Aku makin mencintai Arthur. Katanya ia lebih
mencintaiku, tapi aku meragukannya, karena ia pernah berkata bahwa ia tak bisa
memberikan cintanya lebih daripada saat ia berbicara itu. Itu pasti omong
kosong. Nah, itu dia memanggilku. Jadi sekian saja suratku. Dari yang
menyayangimu, Lucy. 220 N.B. Ibuku menitipkan salamnya. Kelihatannya ia juga sudah mulai sembuh.?N.B. 2 Kami akan menikah tanggal 28 Sep-jt^rhber.
?CATATAN HARIAN DR. SEWARD
20 Agustus. Kasus Renfield jadi lebih menarik. Sebegitu jauh, dia sudah lebih
?tenang. Ledakan emosinya sudah mulai berkurang. Selama satu minggu setelah
serangannya dulu, ia sering ganas. Lalu pada suatu malam, saat bulan naik, ia
menjadi tenang dan terus bergumam sendiri, "Sekarang aku bisa menunggu. Sekarang
aku bisa menunggu." Petugas datang memberitahukan hal itu, dan aku pun segera
berlari untuk melihatnya. Ia masih memakai baju panjang untuk orang sakit, di
dalam kamar berlapis, tapi wajahnya tidak lagi menyimpan ketertutupan. Matanya
membayangkan kelembutan yang mengandung permohonan, seperti dulu lagi yah,
?bahkan boleh dikatakan menyiratkan ketakutan. Aku senang dengan keadaannya
sekarang, dan kuperintahkan supaya ia dikembalikan ke kamarnya sendiri. Para
petugas bimbang, tapi akhirnya melaksanakan perintahku tanpa membantah. Aneh
sekali pasien kami itu. Ia menyadari keragu-raguan para petugas, dan ia
menertawakan mereka. Ia mendekatiku, dan berkata sambil terus memandangi mereka
dengan nakal, "Mereka kira saya bisa menyakiti Anda! Masa saya akan menyakiti Andal Bodoh
sekali!" Bagaimanapun juga, aku merasa tenang men -
221 dapati bahwa dalam pikiran orang gila ini pun aku masih dibedakan dari orang-
orang lain.NTapi aku tak mengerti jalan pikirannya. Apakah alcu harus
berkesimpulan bahwa aku punya kesamaan dengan Bia, sehingga kami harus bersatu"
Atau apakah ia merasa telah mendapatkan sesuatu yang demikian hebat dariku,
hingga keselamatanku penting artinya baginya" Itu harus kuselidiki kelak. Malam
ini ia takkan mau berbicara. Bahkan tawaran seekor anak kucing atau seekor
kucing dewasa sekalipun pasti takkan menggiurkannya. Ia hanya akan berkata,
"Saya tak mau memelihara kucing. Ada yang lebih penting yang harus saya pikirkan
sekarang, dan saya bisa menunggu, bisa menunggu."
Sebentar kemudian kutinggalkan dia. Kata petugas, ia tenang sampai sesaat
sebelum fajar. Setelah itu, ia mulai gelisah, dan kemudian jadi buas, dan


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akhirnya tenang kembali karena keletihan, dan kemudian pingsan.
...Tiga malam berturut-turut sama kejadiannya sepanjang hari ia mengganas, lalu
?tenang mulai dari bulan terbit, sampai matahari terbit. Kalau saja aku bisa
mendapat petunjuk mengenai sebabnya. Kelihatannya ada suatu pengaruh yang datang
dan pergi. Itu suatu pikiran yang menyenangkan! Malam ini kami akan menggunakan
akal sehat "untuk melawan pikiran-pikiran gila. Ia sudah pernah lolos tanpa
bantuan kami, dan malam ini ia akan melarikan diri dengan bantuan kami. Kami
akan memberinya kesempatan, dan menyiapkan
222 orang-orang untuk mengikutinya, kalau-kalau mereka dibutuhkan..
23 Agustus. Yang tak terdugalah yang selalu terjadi. Tepat sekali kata-kata ?Disraeli itu mengenai kehidupan. Burung kami itu, setelah kami bukakan
sangkarnya, tak mau terbang, jadi semua persiapan kami yang cermat tak ada
gunanya. Pokoknya kami sudah tahu satu hal, bahwa saat-saat tenang berlangsung
beberapa lama. Lain kali, kami bisa mengistirahatkan pengawas-pengawasnya selama
beberapa jam setiap hari. Sudah kuperintahkan petugas malam untuk mengurungnya
di kamar berlapis, hanya ketika ia baru tenang sampai satu jam menjelang
matahari terbit. Tubuh laki-laki malang itu akan bisa menikmati perubahan itu,
meskipun otaknya tak bisa menghargainya.
Dengar! Yang tak terduga lagi! Aku dipanggil lagi! Pasien kami itu lagi-lagi
melarikan diri. Kemudian. Lagi-lagi suatu petualangan malam hari. Dengan cerdiknya Renfield
?menunggu sampaf petugas masuk ke kamarnya untuk memeriksa. Lalu ia melesat
melewatinya, dan terbang ke lorong gedung. Kuperintahkan petugas mengikutinya.
Lagi-lagi ia pergi ke pekarangan rumah kosong.itu, dan kami menemukannya di
tempat yang sama, tersandar pada pintu kapel tua itu. Waktu melihatku, ia
mengamuk. Sekiranya para petugas tidak menangkapnya, ia pasti menyerangku untuk
membunuhku. Sewaktu kami memegangnya, terjadilah sesuatu yang aneh. Ia
223 tiba-tiba melipatgandakan usahanya, dan kemudian secara tiba-tiba pula ia
menjadi tenang. Naluri membuatku melihat ke sekelilingku, tapi aku tak melihat
apa-apa, Lalu aku menangkap pandangan pasienku, dan kuikuti arah pandangan itu.
Tapi aku tak bisa melihat apa-apa, karena matanya memandangi langit yang sedang
diterangi bulan. Yang tampak hanya seekor kelelawar besar yang sedang terbang
dengan I mengepak-ngepakkan sayapnya dengan tenang, seperti hantu, ke arah barat
Kelelawar biasanya terbang berputar-putar, tapi yang satu itu terbang lurus
saja, seolah-olah ia sudah tahu ke mana tujuannya, atau sudah punya tujuan
sendiri Pasienku makin lama makin tenang, dan sebentar kemudian ia berkata, ^
"Anda tak perlu mengikat saya. Saya' akan ikut dengan tenang!" Tanpa susah
payah, kami kembali ke rumah. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam
ketenangannya itu, dan aku takkan melupakan malam ini____
CATATAN HARIAN LUCY WESTENRA
Hillingham, 24 Agustus. Aku akan meniru Mina, menuliskan segala sesuatu yang
?terjadi. Supaya kalau kami bertemu nanti, kami bisa membicarakannya panjang-
lebar. Kapan, ya" Alangkah senangnya kalau ia bersamaku lagi, karena aku merasa
sedih. Kemarin malam, aku bermimpi lagi seperti waktu aku berada di Whitby.
Mungkin karena perubahan udara, atau karena aku baru pulang. Semuanya serasa
gelap dan mengerikan, 224 karena aku tak bisa mengingat apa-apa. Aku merasa takut, tapi tak jelas terhadap
apa. Dan aku merasa lemah dan letih sekali. Waktu Arthur datang untuk makan
siang, ia nampak sedih melihat keadaanku, dan aku tak punya kekuatan
untuk( mencoba bersikap ceria. Apakah aku tidur di kamar Ibu malam ini, ya" Aku
akan mencari alasan supaya diperbolehkan.
25 Agustus. Lagi-lagi malam yang buruk. Ibu tak mengabulkan permintaanku. ?Soalnya ia sendiri pun tak sehat, katanya, dan dia takut kalau-kalau ia
menyusahkan aku. Kupaksa diriku untuk tidak tidur, dan aku berhasil sebentar.
Tapi waktu jam berbunyi dua belas kali, aku terbangun. Rupanya aku terlena
sebentar. Terdengar suara mencakar-cakar atau sayap mengepak-ngepak di jendela.
Aku tidak mempedulikannya, dan aku tak ingat apa-apa lagi. Kurasa aku pasti
tertidur lagi. Mimpi-mimpi buruk lagi. Alangkah baiknya kalau aku ingat Pagi ini
aku merasa amat lemah. Wajahku cekung dan pucat, dan leherku sakit Pasti ada
yang tak beres dengan paru-paruku, karena afku selalu merasa kekurangan udara.
Akan kucoba untuk ceria kalau Arthur datang. Kalau tidak, ia akan risau lagi
melihat keadaanku. SURAT DARI ARTHUR HOLMWOOD KEPADA DR. SEWARD
Jack yang baik, Albemarle Hotel, 31 Agustus. Aku memerlukan bantuanmu. Lucy
sakit. Maksudku, ia tidak menderita penyakit tertentu, tapi keadaannya buruk
sekali, dan makin bari makin buruk saja. Sudah kutanyakan padanya apa sebabnya.
Aku tak berani bertanya pada ibunya, karena kalau aku mengganggu pikiran ibu
yang malang itu tentang putrinya, tentu akan berbahaya sekali, sebab keadaan
kesehatannya sendiri sangat buruk. Mrs. Westenra sudah menceritakan padaku bahwa
ia tinggal menunggu saat kematiannya saja ia menderita sakit jantung sedangkan
? ?Lucy belum tahu keadaan ibunya itu. Aku yakin ada sesuatu yang menggerogoti
pikiran kekasihku yang malang itu. Aku merasa hampir putus asa memikirkannya.
Setiap kali melihatnya, aku merasa terpukul. Kukatakan padanya bahwa aku akan
meminta bantuanmu untuk memeriksanya. Mula-mula^a menolak aku tahu apa
?sebabnya, sahabatku tapi akhirnya ia mau juga. Aku tahu bahwa bagimu itu akan
?merupakan pekerjaan menyakitkan. Aku tahu itu, sahabatku, tapi ini demi
kepentingan dia, dan aku tak boleh ragu untuk meminta. Dan kuharap kau pun tak
ragu memenuhi permintaan itu. Datanglah untuk makan siang ke Hillingham jam dua
besok, tapi jangan sampai menimbulkan kecurigaan Mrs. Westenra. Setelah makan,
Lucy akan mengatur supaya kalian bisa berduaan saja. Aku akan datang pada waktu
minum teh, lalu kita bisa pulang bersama-sama. Aku khawatir sekali, dan ingin
membicarakannya denganmu saja, segera setelah kau memeriksanya. Jangan menolak,
sahabatku. Arthur. 226 TELEGRAM DARI ARTHUR HOLMWOOD KEPADA DR. SEWARD
1 September. Aku dipanggil. Keadaan ayahku makin parah. Akan menulis surat.
?Tulis laporan lengkap lewat pos nanti malam ke Ring. Kalau perlu, kirim
telegram. * SURAT DARI DR. SEWARD KEPADA ARTHUR HOLMWOOD
Sahabatku, 2 September. Langsung saja kuberitahukan mengenai kesehatan Miss Westenra. Berdasarkan
pemeriksaanku, tak ada gangguan pada kesehatannya, tak ada pula penyakit
tertentu yang kutemukan. Tapi aku sama sekali tak puas melihat keadaannya. Ia
jauh berbeda daripada waktu aku melihatnya terakhir kali. Tentu harus kauingat
bahwa aku tak punya cukup kesempatan untuk memeriksanya dengan tuntas,
sebagaimana seharusnya. Justru persahabatan kitalah yang agak menyulitkanku,
yang bahkan tak bisa teratasi oleh pengetahuan atau kebiasaan medis sekalipun.
Sebaiknya kuceritakan secara terperinci apa yang telah terjadi, dan biarlah kau
menarik kesimpulanmu sendiri. Akan kukatakan pula apa yang telah kulakukan, dan
apa yang kuanjurkan untuk dilakukan.
Kutemukan Miss Westenra dalam keadaan ceria. Ibunya ada bersamanya, dan dalam
beberapa detik saja yakinlah aku bahwa ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk
mengelabui ibunya, supaya orang tua
itu tidak khawatir. Aku yakin ia sudah menduga, atau bahkan sudah tahu, perlunya
kita berhati-hati di hadapan ibunya. Kami makan bersama. Kami semua berusaha
keras untuk ceria, dengan susah payah kami berhasil, karena kami jadi benar-
benar ceria. Lalu Mrs. Westenra pergi untuk beristirahat, dan tinggallah aku
dengan Lucy. Kami masuk ke ruang duduknya, dan sebelum kami tiba di tempat itu,
ia tetap ceria, karena para pelayan masih keluar-masuk. Tapi begitu pintu
tertutup, terbukalah kedoknya. Diempaskannya dirinya ke sebuah kursi sambil
mendesah panjang, lalu ia menutupi wajahnya dengan tangannya. Melihat hal itu,
aku segera memanfaatkan reaksinya untuk membuat diagnosis. Dengan manis ia
berkata, r* "Benci sekali aku harus berbicara tentang diriku sendiri."
Kuingatkan padanya bahwa apa-apa yang diceritakannya pada seorang dokter, selalu
akan tersimpan sebagai rahasia. Tapi kukatakan pula bahwa aku juga harus
memberitahukan keadaannya padamu, karena kau sangat mencemaskan keadaannya. Ia
segera menangkap maksudku, dan berkata, "Ceritakanlah apa saja pada Arthur. Aku
sendiri tak peduli. Semuanya hanya untuk dia seorang!" Jadi aku bebas
menceritakannya. Aku segera melihat bahwa ia kekurangan darah, tapi aku tak bisa melihat gejala-
gejala anemia biasa. Kebetulan aku mendapat kesempatan untuk memeriksa darahnya.
Waktu ia membuka jendela yang keras, tangannya luka sedikit kena kaca yang
pecah. 228 Itu suatu peristiwa kecil, tapi memberikan kesempatan baik bagiku. Aku pun lalu
mengambil beberapa tetes darahnya, dan langsung menganalisisnya. Hasilnya
menunjukkan bahwa keadaan fisiknya cukup baik, dan bahwa keadaan kesehatan
umumnya baik sekali. Pokoknya, secara fisik tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi karena pasti ada suatu sebab, maka aku pun berkesimpulan bahwa penyebabnya
adalah keadaan mentalnya. Ia mengeluh kadang-kadang ia sulit bernapas, tidurnya
tak nyenyak dan diganggu oleh mimpi-mimpi mengerikan yang membuatnya merasa
lesu. Tapi tak ada yang diingatnya mengenai mimpi-mimpinya itu. Dikatakannya
bahwa waktu masih kanak-kanak, ia biasa tidur berjalan, dan bahwa waktu ia
berada di Whitby, kebiasaan itu kembali. Bahkan pada suatu kali ia keluar sampai
ke East Cliff, di mana Miss Murray menemukannya. Tapi diyakinkannya aku bahwa
akhir-akhir ini kebiasaan itu tak kembali. Aku merasa ragu, maka aku lalu
melakukan sesuatu yang kurasa paling baik. Aku menulis surat pada seorang
rekanku yang juga bekas guruku. Ia adalah Profesor Van Helsing dari Amsterdam.
Ia banyak tahu tentang penyakit yang tersembunyi. Aku telah memintanya untuk
datang, karena kau telah mengatakan bahwa semua biayanya akan kautanggung.
Kuceritakan padanya siapa engkau, dan tentang hubunganmu dengan Miss Westenra.
Semua itu sekadar memenuhi semua keinginanmu. Aku juga bangga dan berbahagia
sekali bisa melakukan sesuatu baginya. Aku yakin Profesor Van Helsing akan
229 mau melakukan apa saja bagiku, karena suatu alasan pribadi. Jadi jangan kita
pikirkan dengan alasan apa ia bersedia datang, pokoknya kita harus memenuhi
keinginan-keinginannya. Agaknya ia orang yang sangat percaya diri, karena ia
selalu tahu betul apa yang diucapkannya. Ia seorang ahli filsafat dan ahli
metafisika. Dan ia adalah salah seorang ilmuwan paling terkemuka di zamannya.
Aku percaya ia memiliki pandangan yang terbuka, disertai pula dengan saraf
sekuat baja, hati paling sabar, tekad tak tergoyahkan, toleransi besar, serta
hati yang paling baik dan paling tulus. Semua itu menjadi bekalnya untuk
pekerjaan luhur yang dijalankannya demi kemanusiaan baik dalam teori maupun ?praktek. Selain pandangannya yang luas, -simpatinya juga ditunjukkannya pada
banyak hal. Semua itu kuceritakan padamu supaya kau tahu mengapa aku begitu
percaya padanya. Telah kuminta dia untuk segera datang. Besok aku akan
mengunjungi Miss Westenra lagi. Sudah kujanjikan^supaya dia menemuiku di Stores,
supaya tidak menimbulkan kekhawatiran ibu Lucy, melihat aku begitu sering
mengunj unginya. Sekian dulu suratku.
Sahabatmu selalu, John Seward.
SURAT DARI ABRAHAM VAN HELSING KEPADA DR. SEWARD
Sahabatku, 2 September. " Begitu menerima suratmu, aku segera siap men
230 datangimu Nasib baik, aku bisa segera berangkat, tanpa merugikan orang-orang
yang telah memberikan kepercayaan padaku. Bila nasib buruk, tak baik bagi orang
yang telah mempercayaiku itu, karena aku harus meninggalkan mereka, gara-gara
aku ingin segera mendatangi temanku begitu ia memintaku datang untuk membantu
orang-orang yang disayanginya. Ceritakan pada temanmu itu bahwa pada suatu kali,
kau pernah mengisap racun dari lukaku. Racun itu berasal dari pisau yang
tertusuk padaku oleh seorang teman kita karena ia sedang gugup sekali. Katakan
padanya bahwa jasamu padanya untuk segera meminta bantuanku saat ia
membutuhkannya, lebih besar artinya daripada seluruh hartanya. Tapi kedatanganku
untuk membantunya hanya merupakan kesenangan tambahan, karena demi kaulah aku
datang. Jadi pesankan untukku kamar-kamar di Great Eastern Hotel, supaya dekat
Dan aturlah supaya kita bisa memeriksa gadis itu secepatnya besok, karena malam
harinya mungkin aku harus kembali. Tapi bila diperlukan, aku akan datang lagi
tiga hari setelah itu, dan kalau terpaksa aku akan tinggal lebih lama. Sampai
bertemu, sahabatku. Van Helsing. SURAT DARI DR. SEWARD KEPADA ARTHUR HOLMWOOD
Arthur yang baik, 3 September.
Van Helsing sudah dalang, dan sudah pula pu -
231 lang. Kami langsung "pergi ke Hillingham. Rupanya Lucy sudah mengatur supaya
ibunya makan di luar, dan kami tinggal bersama Lucy saja. Van Helsing memeriksa
pasiennya dengan amat teliti. Ia akan memberikan laporan padaku, karena aku
tentu tidak selalu hadir selama pemeriksaan itu. Nanti akan kuberikan petunjuk-
petunjuk padamu. Kurasa ia khawatir, tapi katanya ia masih harus berpikir. Waktu
kuceritakan padanya tentang persahabatan kita, dan bahwa kau telah memberikan
Tengkorak Maut 8 Pedang Tetesan Air Mata Ying Xiong Wu Lei A Hero Without Tears Karya Khu Lung Sindikat Pencuri Mobil 1
^