Pencarian

Dragon Keeper 1

Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson Bagian 1


Pada zaman Cina Kuno, semasa kekuasaan Dinasti I (an. Ping seorang gadis ?budak menyelamatkan seekor naga dan melarikan diri dari tuannya yang jahat.
?Si gadis dan naga menempuh perjalanan panjang melintasi Cina dengan membawa batu
misterius yang harus dilindungi dari kejaran pemburu naga yang kejam.
Dalam perjuangan untuk menunaikan tugas berat ini. si gadis budak mendapatkan
banyak pelajaran berharga belajar untuk percaya diri. memahami makna sejati
?keberanian... dan menghargai nilai persahabatan.
"Sebuah buku yang menarik." - Majalah Hai
'Buku ini akan membawa kita kembali ke masa lalu dan menikmati pengalaman
menarik di masa Cina Kuno. Mengharukan dan mengajarkan banyak hal tentang arti
persahabatan." - Majalah Kawanku
Penghargaan: Australia Book of the Year Award (2004) Queensland Premier's
Literary Award (2004) * Winner Aurcalis Award for Young Adults (2003)
FIKSI CAROLE WILKINSON 'Perjalanan yang sungguh luar biasa. Saya sangat menyukai setiap gigi cakar, dan
sisik naga di dalamnya." - Gary Crew
Dragonkeeper Colore Wilkinson Copyright" Carole Wilkinson 2DD3 All rights reserved Hak terjemahan ada pada
Penerbit Matahati Diterbitkan oleh Penerbit Matahati email: info@penerbitmatahati.com
website: www.penerbitmatahati.com
Penerjemah: Claudia Penyunting: Nadya
Cetakan pertama: Februari 2DD8
Distributor Tunggal: Yasmin Agency Telp: 021-7514452 email: yasmin.agency@gmail.com
Daftar Isi 1 Dipinggir Wilayah Kekaisaran 9
2 Malam yang Mengerikan 23
3 Perjamuan Kekaisaran 31
4 Pelarian S3 5 Takut Terbang 61 6 Di Balik Gerbang Pengalaman 79 |
7 Menyisir dan Menghitung 95
8 Kota Kedamaian Abadi 113
9 Teman Lama 131 10 Sihir di Tengah Malam 151
11 Persembahan 169 12 Awan Gelap 185 13 Sayap yang Luka 197 14 Perjalanan Cepat 203 15 Dalam BayangBayang Gunung Api 217
16 Yang Hilang dan Ditemukan 237
17 Kekuatan dan Kelemahan 251
18 Pertemuan Kebetulan 265
19 Perjamuan Kekaisaran Lagi 281
2D Taman Keselarasan Tersembunyi 297
21 Setengah Jalan ke Surga 321
22 Pertumpahan Darah Di Tai San 341
23 Samudra 353 24 Barangkali Tak Ada Akhir 365 Daftar Istilah 371
1 Mangkuk bambu itu melayang ke arah kepala si gadis budak. Seketika ia menunduk.
Dia sudah berpengalaman menghindari bendabenda yang dilemparkan ke arahnya,
mulai dari batu tinta hingga tulang ayam.
Tuannya kembali mengempaskan diri ke tempat tidur, kehabisan tenaga karena
berusaha melempar mangkuk tadi. "Beri makan binatang-binatang itu, anak sialan."
"Ya, Master Lan," sahut si gadis. Lan merengut dan menatapnya dengan ekspresi
muak, seakan dia melihat sesuatu yang menjijikkan. Lan hanya tersenyum kalau
sedang menertawakan ketololan si gadis budak. "Jangan lama-lama." "Tidak, Master
Lan." Si gadis menyelinap ke luar rumah tepat ketika sebuah guci anggur kosong
melayang ke arah pintu. Hari itu udara terasa dingin menusuk tulang. Si gadis budak pun bergegas menuju
kandang-kandang binatang. Kelihatannya tak lama lagi bakal
DI PINGGIR WILAYAH KEKAISARAN
turun hujan salju, karena langit tampak mendung.
Si gadis memakai celana panjang yang kependekan, dan pada bagian lututnya penuh
tambalan. Tuniknya pun sudah lusuh dan banyak tisikannya. Pakaiannya itu tidak
dapat menghentikan angin dingin yang langsung menembus ke kulitnya.
Si gadis tidak mempunyai nama; dia pun tidak tahu berapa usianya. Rasanya sudah
seumur hidup dia tinggal di Istana Huangling. Pernah pada musim panas tahun
lalu, Lan mengatai bahwa dia terlalu bodoh untuk ukuran gadis berumur sepuluh
tahun. Karena hanya bisa menghitung sampai sepuluh, dia tidak tahu sudah berapa
usianya sekarang. Gunung Huangling termasuk dalam serangkaian pebukitan gersang yang menandai
perbatasan sebelah barat kekaisaran Han. Sepanjang musim dingin, wilayah
tersebut terkubur salju hingga sepinggang, dan di terpa angin dingin membekukan.
Sebaliknya pada musim panas hawanya begitu membakar sehingga rasanya seperti
bernapas dalam kobaran api. Ayah sang Kaisar sengaja membangun istana di tempat
terpencil ini untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekaisarannya.
Tapi saking jauhnya lokasi istana ini dari mana-mana, hanya sedikit sekali orang
yang pernah melihatnya. Tempat kediaman Kaisar luasnya lebih dari tiga perempat keseluruhan lahan istana
yang dikelilingi tembok tinggi. Kandang, gudang, dan pondok pelayan dibangun
berdesakan di seperempat bagian tanah yang tersisa. Selama si gadis budak di
Huangling, belum sekali pun Kaisar datang ke istana itu.
Para budak tidak diperkenankan masuk ke dalam istana. Master Lan mengancam akan
memukul kalau si gadis budak berani masuk ke sana. Kadang-kadang Master Lan
pergi ke istana itu, dan biasanya dia pulang dalam keadaan marah. Dia terus
menggerutu tentang ruangan yang terbuang sia-sia serta perabot yang hanya
diselubungi kain, sementara dia harus tidur di rumah yang berkamar satu dan
beratap bocor. Dibandingkan sudut kandang lembu, tempat si gadis budak tidur yang beralaskan
jerami, rumah Master Lan tampak sangat mewah. Lantai tanahnya dilapisi karpet,
dan ada lukisan naga di atas bentangan sutra biru di temboknya. Perapian terus
dinyalakan sepanjang musim dingin, begitu juga sistem pipa yang dipasang untuk
menghangatkan tempat tidurnya. Bahkan jika disamakan dengan tempat tinggal si
gadis budak, kandang kambing tampak lebih bagus.
Tapi bukan kambing itu yang akan diberi makan oleh si gadis. Juga bukan lembu,
babi atau ayam. Di sudut terjauh di istana itu, ada sebuah "kandang" lain.
"Kandang" itu berupa lubang di dalam tanah, sumur batu karang Huangling yang
dipahat dengan kasar. Satu-satunya jalan masuk ke lubang ini berupa pintu
berjeruji, bukan terbuat dari bambu seperti kandang binatang lainnya, melainkan
dari perunggu, Ketika melongok ke dalam lubang, dia tak bisa
melihat apa pun karena sangat gelap. Lantas dia membuka gembok, mengangkat pintu
berjeruji, dan menuruni anakanak tangga yang juga dipahat di batu karang. Setiap
kali masuk ke tempat itu dia merasa gelisah, seakan ada sesuatu yang menunggunya
dalam kegelapan, sesuatu yang berbahaya dan me nakutkan. Tapi bukan penghuni
lubang itu yang membuatnya gelisah. Dia tidak takut pada makhluk-makhluk itu,
meskipun mereka bertubuh besar, bergigi dan bercakar tajam. Mereka adalah naga.
Lubang itu gelap dan berbau menyengat, cam puran antara bau pesing dan jerami
busuk. Sudah lama sekali lubang itu tidak dibersihkan. Dia maju pelan-pelan ke
dalam kegelapan seraya berharap dapat membawa lampu. Tetapi Master Lan melarang
memboroskan minyak lampu. Akhirnya lama-kelamaan si gadis pun terbiasa melihat
dalam kegelapan. Naga-naga itu tidur di sudut lubang yang paling gelap, Seingatnya dulu ada empat
naga tapi sekarang hanya tersisa dua ekor. Lao Ma, perempuan tua yang bertugas
membersihkan istana, pernah bercerita ketika ia masih muda, ada sekitar dua
belas naga yang didatangkan. Si gadis budak ingin tahu apa yang terjadi pada
naga-naga itu. Makhlukmakhluk itu tak bergerak saat didekati. Selama ini mereka tidak pernah
mencoba menyakiti si gadis, tapi si gadis merasa mereka me nyem bunyikan sifat
mereka yang sesungguhnya. Lukisan naga di rumah Master Lan memperlihatkan seekor
naga emas yang menakjubkan, meliuk dan gemerlapan di antara awan. Kedua naga ini
jauh berbeda. Sepanjang hari tubuh mereka yang panjang bersisik, kusam dan
kelabu, tergeletak meringkuk seperti gulungan tali tebal di atas jerami yang
kotor. Master Lan adalah Pengurus Naga Kaisar. Stempel jabatannya yang terbuat dari
batu giok putih berbentuk persegi panjang, dengan ukiran huruf-huruf di satu
ujungnya, dan ukiran naga di ujung lainnya digantungkan di pinggangnya dengan
seutas pita kotor berminyak. Master Lan-lah yang seharusnya bertugas memberi
makan dan merawat naga-naga Kaisar. Sementara si gadis hanya bertugas memberi
makan hewan ternak dan mengurus keperluan pribadi Master Lan. Tapi karena sangat
pemalas, Master Lan lalu mengalihkan tugas-tugasnya pada anak itu. Lantas dia
sendiri melewatkan hari-harinya dengan bersantai di tempat tidur, makan, minum
anggur, juga mengeluh. Semua itu salah Kaisar, kata Master Lan. Ia mengeluh setiap hari bahwa
seharusnya dia berada di Chang'an. Naga-naga Kaisar seharusnya ditempatkan di
istana kekaisaran di sana. Begitulah kebiasaannya selama ribuan tahun. Seorang
peramal akan memeriksa mereka setiap hari, meramalkan masa depan Kaisar
berdasarkan perilaku naga-naga tersebut. Bila mereka bermain dengan gembira di
taman, itu pertanda bagus untuk kekaisaran. Tetapi kalau mereka murung dan tak
mau makan, berarti akan terjadi yang sebaliknya. Bertahun-tahun silam, seekor
naga menggigit Kaisar yang masih kecil,
ayah dari kaisar yang sekarang. Kejadian itu membuat Kaisar menjadi takut sekali
pada naga. Begitu berkuasa, dia nenyingkirkan naga-naga itu jauh-jauh, ke Gunung
Huangling. Si gadis budak meletakkan mangkuk berisi taro [sejenis talas atau keladi] lumat
dan bubur gandum yang telah disiapkannya untuk kedua naga.
"Waktunya makan malam," katanya.
Salah seekor naga bergerak. Naga itu mengangkat moncongnya untuk mengendus
makanan, kemudian memalingkan kepala.
"Binatang tidak tahu terima kasih," gerutu si gadis.
Mangkuk makanan yang ditinggalkannya tadi pagi masih utuh, meskipun bagian
tepinya sudah digerogoti tikus. Berbeda dengan hewan peliharaan lainnya, yang
gaduh setiap dia membawakan makanan, kedua naga ini tidak menoleh sedikit pun
kepadanya. "Tadinya aku akan mengganti jerami kalian," omel gadis itu. "Kalau begini nanti
saja deh." Diambilnya kembali mangkuk yang baru diletakkannya itu. Percuma membuang-buang
makanan untuk binatang menyebalkan ini. Biar mereka habiskan dulu makanan tadi
pagi. Terdengar bunyi gemeresik di dalam jerami, lalu menyembul sebuah hidung dengan
dua gigi kuning besar di bawahnya. Mengendus-endus. Kemudian muncul kepala
kelabu, tubuh gendut berbulu, dan pada akhirnya ekor panjang.
Si gadis yang semula mengerutkan kening kini
tersenyum. "Kaukah itu, Hua?"
Si gadis mengangkat dan memeluk tikus besar lalu dia dekatkan ke wajahnya.
"Malam ini kita bakal makan enak," katanya pada si tikus, seraya menggosok-
gosokkan bulu tikus yang halus itu ke pipinya. "Aku punya taro dan bubur gandum,
dan kalau aku bisa mencuri sepotong saja jahe dari makan malam Master Lan, kita
bakal makan besar." Si tikus melirik takut-takut pada kedua naga.
"Tak usah takut pada mereka," kata si gadis. "Mereka tidak bakal menyakitimu."
Si gadis pun bergegas naik menapaki undakan dari batu sambil mengantongi Hua di
dalam tuniknya, di dekat kalung yang terbuat dari potongan bambu bujur sangkar.
Kata Lao Ma, si gadis sudah memakai kalung itu sejak hari pertama dia tiba di
Huangling. Terdapat sebuah huruf lusuh yang diukir di potongan bambu itu. Si
gadis tidak tahu arti huruf itu karena dia tidak bisa membaca, begitu pula Lao
Ma. Si gadis sedang memasak makan malam untuk tuannya ketika ada yang mengejutkannya
dari belakang. "Aku menemukan kotoran tikus di tempat tidur," teriak si Pengurus Naga. "Kan
sudah kusuruh kau membunuh tikus itu."
"Sudah saya lakukan, Master Lan," sahut si
gadis, seraya berharap Hua tetap bersembunyi di balik tuniknya. "Seperti yang
Tuan perintahkan." "Bohong," bentak majikannya. "Kalau sampai aku temukan tikus itu, akan kurebus
dia hidup-hidup." Master Lan mengambil mangkuk yang berisi lentil [sejenis kacang-kacangan] yang
sedang direndam untuk makan malam si gadis, lalu melemparnya ke pekarangan
sehingga lentil itu berserakan di salju.
Master Lan mengendus-endus masakan si gadis. "Kalau tidak ada bawang dalam makan
malamku, akan kuhajar kau!"
Si gadis belum memasukkan bawang ke dalam masakan karena tidak ada persediaan
bawang lagi di gudang makanan Lao Ma.
Maka si gadis budak lari ke gerbang. Bukan gerbang utama di sebelah timur tembok
yang selalu digembok, melainkan gerbang kecil dari bambu di belakang kandang
kambing. Di luar tembok istana ada kebun buah (beberapa pohon apel cebol dan
pohon ceri yang hanya setengah hidup) dan kebun sayur. Sebagian besar kebun itu
tertutup salju, tapi ada satu sudut yang saljunya selalu dibersihkan oleh si
tukang kebun. Di bawah setumpuk jerami, si gadis menemukan beberapa tanaman
bawang yang sudah beku, mencuat dari dalam tanah. Ia mencungkil tanah beku itu
dengan pisau, tapi sia-sia karena tanahnya sekeras batu. Akhirnya dia memutuskan
untuk memotong beberapa helai daun yang layu sambil berharap itu cukup sebagai
penambah rasa. Lalu dia berjongkok sambil memandang bulatan
Jingga gelap di kaki langit. Di balik awan, matahari sedang tenggelam, Si gadis
bertanya-tanya, kira-kira apa yang sedang dia lakukan sekarang, seandainya dia
tidak dijual sebagai budak. Apakah dia akan bahagia" Apakah dia akan duduk di
rumah yang nyaman bersama kedua orangtuanya" Dan saudara-saudarinya" Apakah
perutnya akan kenyang"
Pernah terpikir olehnya untuk kabur dari Huangling. Berkali-kali malah. Pergi
dari tempat ini tidaklah sulit. Tapi ke mana dia akan pergi" Dia memandang ke
segala arah. Yang tampak hanyalah pegunungan berselimut salju yang lambat laun
memudar dari putih menjadi kelabu dalam cahaya senja. Tak ada desa, bahkan tak
ada sebatang pohon pun terlihat. Sambil memandangi seekor burung elang salju
yang terbang di kejauhan, dia sampai pada kesimpulan yang sama setiap kali dia
berpikir untuk kabur. Dia terpaksa tetap di Huangling kecuali kalau dia punya
sayap. Maka dia bangkit dan pulang untuk meneruskan memasak makan malam bagi
majikannya. Setelah menghidangkan makan malam Master Lan, si gadis memunguti makan malamnya
sendiri dari atas salju. Lama dia berlutut dalam hawa dingin dan kegelapan untuk
menemukan setengah dari lentil yang dibuang. Dia bersyukur tadi telah mencuri
makanan naga. Tanpa taro dan bubur gandum itu, ia akan kelaparan. Kemu dian
dimasukkannya lentil tersebut ke dalam sepanci air mendidih.
Sebuah kantong kulit dipasang pada seutas tali rami yang sudah terburai "
menggantung di pinggangnya. Selain pisau yang sudah berkarat, kan tong itu berisi harta
rahasianya, sebuah jepit rambut pemberian lakilaki yang biasa mengantar
kebutuhan rumah tangga istana dua kali setahun, sepotong kayu lusuh berbentuk
ikan, dan sehelai bulu burung elang putih. Dia mengeluarkan pisaunya dan
merajang potongan jahe yang diambilnya dari makan malam tuannya. Ditambahkannya
jahe itu ke dalam panci berisi taro dan bubur gandum.
Kemudian dia pergi membereskan piring kotor di rumah Master Lan. Saat itu Master
Lan sedang men dengkur di tempat tidurnya. Selain mengambil mangkuk dan cangkir
anggur, si gadis juga mengambil lampu perunggu dari samping tempat tidur
majikannya yang terlelap. Sekembalinya ke dapur, diambilnya sebuah guci kecil
yang penuh terisi minyak lampu dari belakang tungku. Si gadis pun mengisi lampu
miliknya sendiri. Dia pasti akan dipukuli habis-habisan kalau ketahuan selalu menyisihkan sedikit
minyak untuk dirinya sendiri.
"Ayo, Hua," kata si gadis budak, seraya mengangkat dan memasukkan tikus itu ke
dalam tuniknya. "Sambil menunggu makan malam kita matang, ayo kita keluar
menjelajahi dunia." Di luar dia melindungi lampu itu dengan tuniknya, untuk berjaga-jaga kalau ada
petugas istana di sekitar situ. Walaupun kemungkinannya kecil sekali karena


Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

semua petugas itu sudah setua Lao Ma, dan mereka lebih suka tidur awal. Si gadis
menunduk memasuki lubang di tengah belitan sulur-sulur tanaman yang membatasi
istana itu dengan bangunan lainnya. Sulur-sulur itu juga menyembunyikan setiap
kunjungan rahasianya ke istana dari pelayan lain. Si gadis mendongak ke langit
yang gelap. Dia berharap awan akan melindunginya dari para dewa. Dia melangkah
melintasi taman-taman yang gelap dan membuka pintu Balairung Bunga Zamrud. Si
gadis menyusuri sebuah koridor gelap hanya dengan bantuan cahaya lampu yang
menimbulkan bulatan terang kecil di lantai. Inilah kegiatan rahasia yang
disukainya, menjelajahi istana sementara orang-orang lain tertidur.
Master Lan selalu berkata bahwa Huangling kecil sekali jika dibandingkan Istana-
istana di Chang'an, tapi bagi si gadis budak istana ini luar biasa luas. Dia
memasuki ruangan yang berbeda setiap kali dia melakukan penjelajahan rahasia.
Pernah dia masuk ke kamar Kaisar. Dia bahkan berani duduk di tempat tidur Kaisar
yang seluas ladang gandum. Kali ini dia masuk ke sebuah balairung kecil tempat
wanita-wanita istana, seandainya ada, menghabiskan hari-hari mereka. Ini salah
satu ruangan favoritnya. Ketika dia mengangkat lampu, lingkaran cahaya berpindah
ke dinding, menerangi lukisan gunung dengan sebuah bangunan sangat kecil di
puncaknya. Gunung itu menjulang tinggi, di mana di setiap lerengnya terdapat
pepohonan kecil yang bungkuk dan berbonggol-bonggol, namun tetap terlihat indah.
Si gadis mengangkat tikusnya supaya binatang itu bisa ikut melihat lukisan
tersebut. "Menurutmu seperti itukah pemandangan dunia
ini, Hua?" bisiknya.
Si tikus menggerak-gerakkan kumisnya.
Si gadis budak mengangkat lampunya lebih jauh sepanjang dinding, dan cahayanya
menerangi sebuah hiasan gantung dari sutra. Hiasan itu bergambar pemandangan
taman dengan danau dan jembatan berkelokkelok di atasnya, yang dipenuhi dengan
bunga beraneka warna yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Apakah menurutmu bunga seperti itu benarbenar ada?"
Si gadis ingin membayangkan bahwa di suatu tempat di dunia ini ada bunga-bunga
seperti itu, tapi dia ragu bunga secerah dan secantik itu benarbenar ada. Pada
musim panas, beberapa kuntum bunga peoni berbunga dengan susah payah di taman-
taman Huangling yang tidak terawat, namun bunga-bunga di sini tampak lemas dan
pucat dibandingkan bunga-bunga yang sangat indah di dalam lukisan taman.
"Seperti itulah para pelukis membayangkan dunia ini," dia berbisik kepada si
tikus. "Tempat seperti itu tidak benarbenar ada."
Perutnya berkeruyuk. "Yuk kita pulang dan makan," katanya.
Sekembalinya ke dapur, si gadis memastikan minyak di dalam lampu tingginya masih
sama seperti sebelumnya. Master Lan punya kebiasaan memeriksanya. Sambil membawa
makan malam, dia berjingkat-jingkat masuk ke rumah tuannya, untuk duduk di dekat
perapian. Hua keluar dari tempat persembunyiannya di balik tunik si gadis.
"Ini, Hua, makanlah," kata si gadis, seraya menaruh mangkuk makanan yang lebih
kecil di dekat perapian. Tikus itu makan dengan rakus.
Gadis itu ingat ketika pertama kali bertemu. Ketika itu dia begitu marah melihat
tikus itu mencuri sepotong kaki ayam (yang dicuri si gadis dari Master Lan). Dia
lalu membuat perangkap dari bambu, tapi setelah berhasil menangkap tikus itu,
dia tak sampai hati membunuhnya. Tikus itu cukup manis dengan bulunya yang
kelabu mengilap, sepasang kuping merah muda, dan ekor lancip. Maka dinamainya
tikus itu Hua, yang berarti kuncup bunga. Ketika dia latih, tikus itu memberi
respons yang sangat bagus. Lalu tak lama kemudian binatang itu menjadi sangat
jinak dan merupakan satu-satunya sahabat karib si gadis.
Ketika Master Lan mengetahui gadis budaknya mempunyai tikus peliharaan, dia
menyuruh gadis itu membunuhnya. Sejak saat itu si gadis terpaksa menyembunyikan
Hua di dalam lipatan tuniknya, agar tidak terlihat majikannya.
Si gadis duduk di dekat perapian untuk menikmati makanan serta kehangatan api
dalam damai. Inilah saat-saat yang paling disukainya.
"Hidup kita lumayan enak kan, Hua?" Si tikus berbaring nyaman di depan perapian.
"Kita sudah keluar melihat-lihat dunia, perut kita kenyang, dan kita bisa
menghangatkan kaki di dekat perapian." Tikus itu berguling telentang supaya si
gadis bisa menggaruk perutnya dengan leluasa. "Dan kita saling menyayangi."
Malam yang Mengerikan Keesokan harinya si gadis budak merasa bersalah karena mengambil jatah makanan
kedua naga. Dia terseok-seok menembus salju, menuju gudang tempat Lao Ma baru
saja selesai memerah susu kambing. Perempuan tua itu sudah rabun. Dia sama
sekali tidak memerhatikan ketika si gadis mencelupkan mangkuk ke dalam ember
berisi susu hangat. Si gadis turun ke lubang dan meletakkan mangkuk berisi susu di hadapan kedua
naga yang sedang bergelung. Naga yang lebih besar mengangkat kepalanya. Sepasang
mata kuning menatap ke arahnya. Baru pertama kali ini dia melihat si naga dari
jarak sangat dekat. Naga itu menjilat sedikit susu, lalu menurunkan kepalanya
lagi. Ketika si gadis budak hendak pergi, salah seekor naga melolong. Si gadis
belum pernah mendengar kedua naga itu bersuara. Suaranya mengerikan, seperti
suara orang mendencing-dencingkan dua mangkuk tembaga.
"Kesepian," sebuah kata tiba-tiba muncul begitu
saja di benak si gadis budak, meski dia tidak tahu sebabnya.
Dia menutupi telinga dengan tangan, mencoba memblokir suara menyedihkan itu.
"Penderitaan." Naga itu masih terus melolong. Hua memanjat keluar dari tunik si gadis dan kabur
sambil men cicit. "Putus asa." Kata itu bergema di dalam benak si gadis, meski dia tidak tahu
persis apa artinya. Secercah cahaya muncul di puncak tangga. Master Lan turun tertatih-tatih,
sementara Hua melesat di antara kedua kakinya. Lao Ma tidak mau ikut turun
karena takut pada naga-naga itu.
"Kauapakan mereka, anak nakal?" Lan berteriak.
"Tidak saya apa-apakan," sahut si gadis. "Saya memberi mereka makan semalam,
seperti biasa," katanya, dan dia menyesal telah berbohong.
Master Lan mendekati kedua naga itu dengan takut-takut. Satu tangannya memegang
lampu, satunya lagi memegang tongkat bambu untuk berjaga-jaga.
Selop sutranya yang sudah lusuh berdecit ketika menginjak kotoran naga. Binatang
itu melolong lagi, suaranya membuat si gadis ingin bergelung seperti bola dan
menangis. "Itu pertanda buruk," Lao Ma mengerang dari puncak anak tangga. "Mungkin dunia
akan kiamat." Dalam cahaya lampu, si gadis budak bisa melihat naga bermata
kuning itu mendongak ke atap lubang sambil melolong. Naga satunya tak bergerak.
Master Lan menyodoknya dengan tongkat bambu, tapi
naga itu tetap bergeming.
"Dia mati," kata Master Lan.
Naga itu melolong semakin nyaring. Lao Ma ikut meratap.
"Ini salahmu," Lan menempeleng kepala si gadis. "Kau tidak mengurus naga-naga
ini." Master Lan mengamati bangkai naga itu. "Sayang sekali. Binatang itu bisa dijual
lima ribu jin pada pembeli yang tepat."
"Saya sudah berusaha sebisanya, Tuan," kata si gadis, meski dia tahu sebenarnya
dia bisa berbuat lebih banyak.
"Kau memang tak berguna. Jangan cuma berdiri di situ," teriak Lan. "Bantu aku
menyeret bangkai ini."
Si gadis budak ketakutan mendengar suara nyaring si naga, tapi dia lebih takut
kepada majikannya. Pelan-pelan dia mendekati hewan yang sudah mati. Seketika
hatinya dipenuhi kesedihan -juga rasa bersalah. Mestinya dia sudah menyadari
kalau makhluk itu sakit. Master Lan mencengkeram ekor naga sementara si gadis
memegangi salah satu kakinya yang bercakar. Itulah pertama kalinya dia menyentuh
kulit bersisik seekor naga. Rasanya kasar dan kering seperti kulit yang dijemur
terlalu lama. Kini, setelah naga itu terbaring membujur, ternyata dia lebih
besar daripada yang dikira si gadis. Mereka dapat menyeret binatang itu ke kaki
tangga, tapi mereka gagal mengangkatnya ke atas.
"Panggil yang lainnya," perintah Lan.
Si gadis pergi untuk mengumpulkan staf istana
lainnya. Hanya ada tiga orang, yaitu tukang kebun, tukang kayu, dan si tukang
cat. Keempat lakilaki itu kemudian mengikatkan seutas tali di leher naga yang
mati, dan menggeretnya naik. Bunyi tubuh mati yang terantuk-antuk batu membuat
mual si gadis. Naga satunya melolong setiap kali mendengar bunyi benturan. Meski
udara dingin, keempat orang itu terengah-engah dan berkeringat saat mengerahkan
tenaga untuk menyeret bangkai naga itu melewati anak tangga, Belum pernah si
gadis melihat majikannya mengeluarkan tenaga seperti itu. Meski sudah berusaha
mati-matian, mereka tidak dapat menyeret naga itu sampai ke puncak tangga.
Akhirnya si tukang kayu terpaksa membuat alat pengerek dengan roda dan tali.
Dengan bantuan katrol ini, keempat orang itu mengerek binatang mati tersebut
hingga pekarangan. Siang yang kelabu itu beranjak menjadi senja yang lebih gelap. Begitu juga hujan
rintik-rintik berubah menjadi hujan es. Butir-butir dingin menyengat wajah dan
tangan gadis itu, bagaikan jarum-jarum jahit. Butuh waktu seharian untuk
mengeluarkan naga mati itu dari dalam lubang. Selama itu pula naga satunya masih
terus memperdengarkan suara dencing seperti logam yang membuat gigi-gigi gadis
itu bergemeletuk. Dia mulai berpikir dirinya harus mendengarkan suara yang
menjengkelkan itu sepanjang sisa hidupnya.
"Nyalakan api," teriak si Pengurus Naga.
"Apa yang akan Tuan lakukan?" tanya si gadis.
"Jangan tanya!" hardik Lan, jubahnya berkibar-kibar tertiup angin.
Lan beralih pada Lao Ma. "Ambil panci yang paling besar."
Si gadis sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan majikannya. Tapi Lao
Ma sepertinya tahu. Dia menggelenggeleng dan memanjatkan doa memohon
pengampunan. "Ada apa ini?" tanya si gadis seraya memandangi tuannya yang memerintahkan
orang-orang mengambil kayu dan batu bara dari perapian. Tak lama kemudian, meski
mulai turun hujan salju, api menyala berkobar-kobar di pekarangan. Orang-orang
itu me naruh panci masak yang sangat besar di atas api dan mengisinya dengan
salju. Naga satunya masih terus melolong dari dalam lubang. Suaranya menusuk-nusuk
hingga ke tulang, melebihi dinginnya angin dan salju. Si gadis ingin merangkak
pergi dan bersembunyi dalam gelap, tapi kejadian selanjutnya lebih buruk lagi.
Bahkan jauh lebih buruk. Master Lan menyuruh si gadis mengambil kapak sementara
lidah api semakin berkobar. Lan mengayunkan kapak ke naga itu. Darah ungu kental
mengalir keluar. Kemudian Lan memotong jantung dan hati naga itu lalu menaruhnya
di dalam mangkuk. Dari dalam lubang, lolongan naga satunya semakin nyaring. Si
gadis budak menutupi kedua telinganya dan memanjatkan doa bagi roh sang naga.
"Bawakan aku bawang putih dan cuka," teriak Lan. "Juga terong dan labu."
Lao Ma menggelengkan kepala.
Lan menggeram seperti binatang. "Cepat lakukan." Dicekalnya perempuan tua itu
lalu didorongnya ke arah gudang makanan. "Kau ikut dengannya, anaktikus,"
teriaknya. "Kalian berdua mesti patuh atau kubuat kalian jadi acar juga."
"Acar?" Si gadis tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kenapa dia membuat acar?" tanyanya pada Lao Ma ketika mereka bergegas pergi ke
gudang makanan. "Apa dia sudah sinting?"
Lao Ma menyodorkan serenceng bawang putih dan sestoples cuka.
"Dia ingin menyingkirkan bukti. Tanah masih terlalu keras untuk menguburkan
mayat naga itu. Dia bisa menjual jantung, hati, serta tulang-tulang naga, tapi
selebihnya mesti dimusnahkan. Kaisar tak menyukai naga, tapi kalau beliau sampai
tahu bahwa Lan telah lalai menjalankan tugasnya sebagai pengurus naga, dia akan
dihukum mati seperti ayahnya."
"Tapi kenapa dia tidak..."
"Lakukan saja perintahnya, Nak."
Mereka cepat-cepat kembali dengan membawa apa yang diminta tadi. Awan tebal
menyembunyikan bulan, dan si gadis merasa lega. Itu berarti tak banyak yang bisa
dilihatnya pada saat pemusnahan bangkai naga itu. Sambil memotong, si Pengurus
Naga terkekeh seakan sudah lama tidak melakukan kegiatan mengasyikkan seperti
ini. Dilemparnya potongan daging dan darah naga yang mengental ke dalam panci
mendidih. Kemudian disuruhnya si
gadis memotong-motong sayuran berikut cuka dan bawang putih lalu memasukkannya
ke dalam campuran mengerikan itu. Jemari si gadis terasa kaku dan canggung
karena kedinginan. Dicobanya memusatkan pikiran pada butir-butir salju yang
mendarat di lengan bajunya. Butir-butir indah itu sejenak terlihat seperti
bintang yang sempurna, masing-masing berbeda, sebelum panas api melumerkan
mereka. Namun butir-butir salju itu tak bisa mengalihkan perhatian si gadis dari
pemandangan mengerikan ketika Lan membantai daging naga itu. Baunya yang pedas
membuat perut kosongnya keroncongan, tapi membayangkan makan daging itu
membuatnya mual. Keadaan di Huangling takkan pernah bisa sama seperti semula.
Binatang-binatang liar di luar tembok istana melolong menyertai naga di dalam
lubang dalam suatu paduan suara yang mengerikan. Lidah api menjilat di sekitar
panci, menerangi wajah Lan yang berlepotan darah dan memantulkan matanya yang
menatap nyalang. Ketika sedang mengaduk isi panci, dia tampak seperti setan.
Kalau mereka tidak dihukum mati karena berkhianat, si gadis yakin mereka semua
akan masuk ke neraka yang paling mengerikan karena telah memotong-motong naga
Kaisar. Malam ini Huangling lebih mengerikan daripada neraka.
3 Si gadis membuka mata. Semalaman dia telah menantikan petir menyambar dari
Langit atau pengawal Kaisar datang menyerbu. Tapi ternyata tidak terjadi apa
pun. Awalnya dia mengira dirinya takkan hidup untuk melihat esok pagi, tapi
bulatan matahari yang merah darah di langit timur membuktikan bahwa dugaannya
keliru. Semalam dia tertidur di dekat api, yang kini hanya berupa sisa-sisa abu
berasap. Dia merasa sangat kedinginan. Pakaiannya kaku karena es. Dilihatnya
panci masak terguling miring dan kosong. Di sampingnya ada sebuah bentuk tak
beraturan yang tertutup salju. Dalam cahaya subuh yang remang-remang si gadis
tak bisa memastikan benda apa itu. Dia pun bangkit. Ketika langit semakin cerah,
baru disadarinya bahwa yang dilihatnya tadi adalah setumpuk tulang berlumuran
darah yang sudah hancur. Syukurlah naga satunya sudah berhenti melolong.
Hari itu si gadis memanjatkan doa kepada dewa-dewa, memohon pengampunan, dan
berjanji akan merawat naga yang tinggal seekor itu dengan
Perjamuan Kekaisaran baik. Master Lan sudah pergi turun gunung dengan membawa jantung dan hati naga
dalam stoples, sedangkan tulangnya dimasukkan ke dalam karung. Stoples acar pun
disembunyikan di dapur. Bahkan keesokan harinya masih tetap tak ada hukuman apa
pun dari Langit atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Sedikitnya si gadis mengira
akan dipukuli Master Lan, seperti biasa. Tapi ketika majikannya itu pulang, dia
tidak menyebut-nyebut tentang malam ketika mereka membuat acar naga,
"Mestinya aku lebih berhatihati waktu membelimu, anak tikus," Lan berkata sambil
memerhati kan si gadis budak membereskan guci-guci anggur kosong yang bertebaran
di sekitar tempat tidurnya.
Rambut majikannya, yang mestinya diikat erat di puncak kepalanya, terurai
menutupi mata. Jubahnya kotor oleh anggur yang tumpah.
"Aku tidak menyadari kau ini dikutuk."
Si gadis mencoba memunguti guci-guci itu dengan tangan kanannya.
"Orangtuamu yang payah itu seharusnya bilang padaku bahwa kau kidal."
Mendengar orangtuanya disebut-sebut, si gadis menjadi gugup. Guci di tangannya
jatuh dan pecah berkeping-keping.
"Dasar tolol," hardik Lan. "Pantas saja hargamu murah sekali. Sejak kau datang
kemari, aku selalu bernasib sial." Si gadis mencoba meyakinkan diri, tapi
perasaan itu tak mau hilang - perasaan bahwa dirinyalah penyebab kematian naga
itu. Dia tidak mengurus kedua naga itu sebaik dia mengurus
binatang lainnya. Naga-naga itu selalu saja membuatnya tidak nyaman. Tapi dia
berjanji pada dewa-dewa, dia akan lebih ramah pada naga yang tinggal satu itu.
Pertama-tama, dia membersihkan lubang tempat tinggal sang naga. Dia harus bolak-
balik mengeluarkan jerami yang sudah bau dan membawa ber-ember-ember air panas
untuk menggosok lantai. Naga itu tampaknya tidak terlalu peduli, sampai si gadis
mencapai pojok paling jauh di lubang itu. Tiba-tiba sang naga menjadi sangat
gelisah, atau setidaknya si gadis mengira naga itu gelisah, karena dia
memperdengar kan suara seperti orang memukul gong dengan cepat. Si gadis telah
menyelundupkan lampu minyak ke dalam lubang, agar bisa bersih-bersih dengan
tuntas. Lampu itu hanya memberikan satu titik cahaya, karena sinar nya terisap
oleh batu-batu hitam yang kusam. Karena itulah si gadis terkejut saat melihat
pantulan samar di sudut belakang lubang. Didekatkannya lampu untuk menyelidiki.
Naga itu semakin cepat memperdengarkan suara berdencing-dencing. Terjepit di
sebuah ceruk di bagian belakang lubang ada sesuatu berbentuk oval, seukuran buah
melon, dan berlepotan kotoran naga. Si gadis mengambilnya. Rasanya dingin.
Dibersihkannya benda itu sedikit dengan lengan baju lalu didekatkannya ke
cahaya. Dia terkesiap. Benda itu indah sekali. Sebentuk batu besar berwarna
ungu, dengan gurat-gurat halus putih susu yang menghilang hingga ke


Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kedalamannya. Sebuah citra terbentuk di benak si gadis bentangan biru
mahaluas. Entah apa itu. Citra itu datang dan pergi secepat kilat.
Sebuah suara mengejutkannya. Suara gemuruh berat seperti orang menggebuk
genderang dari logam tempa.
"Jangan sentuh batu!" Dia memandang sekelilingnya, tapi suara itu sepertinya
berasal dari dalam kepalanya, seperti pada malam pembantaian naga itu. Kali ini
nadanya tidak sedih, melainkan marah.
Si gadis membalikkan badan. Di belakangnya sesosok monster mengerikan berdiri
pada kaki-kaki belakangnya. Sepasang mata yang kuning menyipit hingga tinggal
berupa garis. Gigi-giginya yang besar di pamerkan. Untuk pertama kalinya, si
gadis merasa takut pada naga itu. Dikembalikannya batu itu ke dalam ceruk.
"Aku tidak bermaksud mengambilnya," dia terbata-bata, meski tidak tahu berbicara
pada siapa. "Batu itu tidak berguna buatku."
Naga itu kembali berdiri di atas empat kakinya dan pergi ke tempat tidur
jeraminya yang baru. Si gadis duduk diam, sementara debar jantungnya kini sudah
lebih tenang dan kedua tangannya tidak gemetaran lagi. Lao Ma pernah
menceritakan padanya berbagai kisah naga yang menjaga timbunan emas dan permata.
Mungkin batu itu satu-satunya sisa harta sang naga. Dia mencoba mengingat-ingat
citra yang tadi melintas dalam benaknya. Tapi semakin dia berusaha, semakin
pudar citra itu jadinya, dan akhirnya dia sama sekali tak bisa mengingatnya.
"Menurutmu naga suka makan apa, Hua?" malam itu si gadis bertanya kepada
tikusnya. Dia sudah mencoba berbagai kombinasi sayur-sayuran supaya naga itu mau makan
lebih banyak. Tetapi tetap saja naga itu cuma makan sedikit. Hua sedang
menggerumiti sepotong tulang ayam temuannya.
"Kau benar!" seru si gadis. "Dia mungkin berbeda dari binatang-binatang lain.
Mungkin dia suka makan daging seperti kau."
Maka si gadis membawakan semangkuk bubur ayam miliknya sendiri untuk naga itu.
Si naga tidak segera memakannya, tapi ketika si gadis kembali keesokan paginya,
mangkuk itu sudah kosong.
Setelahnya, dia membawakan daging kapan pun bisa, dan mencuri susu sesering yang
berani dia lakukan. Dalam keadaan yang remang-remang itu, sulit melihat
perkembangannya, tapi si gadis merasa keadaan naga itu mulai membaik. Dengan
waktu dan kesabaran, mungkin naga itu akan memercayai dan menanti kedatangannya,
seperti hewan peliharaan yang lain.
M, Minggu demi minggu pun berlalu. Hujan salju sudah berkurang dan sesekali tampak
sepetak langit biru pucat di antara awan.
"Yang benarbenar dibutuhkan naga itu adalah udara segar," si gadis budak berkata
pada Hua suatu pagi. "Tapi semoga saja dia tidak mencoba kabur."
Saat Master Lan tidur siang, Lao Ma bekerja di dalam istana, dan pekerja lainnya
pergi berburu, si gadis turun ke dalam lubang. Dia mengikatkan seutas tali di
leher naga itu dan dengan lembut menuntunnya ke tangga batu. Kaki makhluk itu
kaku karena jarang digunakan. Setiap langkah tampaknya membuat dia kesakitan. Si
gadis membujuknya agar mau maju pelan-pelan, dan akhirnya mereka sampai juga di
pekarangan. Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah selimut awan,
seperti air merembes dari ember yang retak. Naga itu menutupi mata dengan satu
kaki depan. Baru beberapa saat kemudian matanya terbiasa dengan cahaya siang.
Perlahan si gadis menuntun naga itu memutari pekarangan. Ayam-ayam yang terkejut
berkotek dan berkepak menghindar. Ketika tampak celah yang lebih besar di awan
dan cahaya matahari menerangi sepetak pekarangan, naga itu melangkah untuk
berdiri di dalamnya. "Pasti sudah lama sekali kau tidak merasakan hangatnya matahari," kata si gadis
seraya menepuk-nepuk leher naga yang bersisik.
Untuk pertama kalinya dia bisa melihat naga itu dengan jelas, dan mau tak mau
dia terperangah. Naga itu lebih besar daripada yang dibayangkannya. Mulai dari
hidung sampai ke ekor, panjangnya
seukuran tiga lakilaki, tapi tubuhnya melekuk dan melingkar seperti tubuh ular,
sehingga dia bisa kelihatan jauh lebih kecil kalau dia mau. Tingginya tidak
lebih dari tinggi seekor lembu muda. Ketika mengangkat kepala hingga mencapai
tinggi maksimum, ternyata matanya sejajar dengan mata gadis itu. Dalam cahaya
matahari, sisik-sisiknya berwarna biru-kehijauan, warna air di anak sungai yang
dalam. Di kepalanya mencuat dua tanduk panjang berlekuk dengan ujung-ujung
setajam jarum. Kumisnya panjang, bukan berupa rambut, melainkan helai-helai liat
yang menjuntai di kedua sisi hidungnya yang bulat. Tubuhnya menyempit menjadi
ekor berbentuk seperti ular. Beberapa jumput rambut panjang tumbuh dari belakang
lututnya. Keempat kakinya yang kekar mempunyai telapak seperti kaki kucing yang
besar, dengan bantalan empuk di bawahnya. Masingmasing kaki mempunyai empat
cakar panjang yang tajam. Tidak seperti cakar kucing, cakar naga ini tidak
ditarik ke dalam, melainkan selalu di luar dan tampak berbahaya. Gigi-giginya
juga besar dan menakutkan, tapi bibirnya yang merah dan lembut itu membuat dia
lebih terlihat seperti tersenyum daripada menyeringai kalau dia membuka mulut.
Si gadis membawa naga itu ke pekarangan setiap hari. Setelah seminggu,
dibiarkannya naga itu jalan-jalan tanpa tali leher. Dia juga jadi tahu bahwa
naga itu senang kalau digaruk di bagian bawah dagunya yang lunak dan tidak
bersisik. Dia akan memperdengarkan suara-suara berdencing
pelan seperti logam, sama dengan suara yang diperdengarkannya kalau si gadis
membawakannya susu. Suara itu seperti bunyi genta angin yang digantung di luar
aula masuk istana untuk mengusir roh-roh jahat. Suara yang melankolis, tapi si
gadis menganggap itu berarti sang naga senang. Kedamaian pekarangan itu
dipecahkan oleh sebuah suara serak.
"Di mana kau, anak sialan?" Master Lan sudah bangun rupanya.
"Kau boleh tetap di luar sini sebentar kalau kau mau," kata gadis itu kepada
sang naga, Diikatnya naga itu ke sebuah palungan air, lalu dia lari menemui sebelum tuannya
datang mencarinya. "Aku mau makan babi malam ini," si Pengurus Naga berkata ketika si gadis datang
terengah-engah. Waktu itu baru tengah hari, tapi di lantai sudah bertebaran
guci-guci anggur. "Sekalian dengan acar lezat yang kubuat beberapa minggu yang
lalu. Seka rang ini rasanya pasti sudah meresap sekali."
Itulah pertama kalinya Master Lan menyebut tentang acar itu. Sepertinya dia
menganggap omongannya lucu sekali, sebab dia tertawa terbahak-bahak sampai jatuh
dari tempat tidur. "Ambilkan anggur," perintahnya sambil merangkak naik ke tempat tidur.
"Tidak ada anggur lagi," sahut si gadis. "Tuan sudah menghabiskan semuanya. Tuan
harus menunggu sampai persediaan musim semi diantarkan."
"Aku butuh anggur lagi sekarang juga!" teriak si Pengurus Naga. "Ambil dari
gudang Kaisar. Nenek tua itu akan memberitahukan tempatnya kepadamu."
"Tapi saya tak diperbolehkan masuk ke istana."
"Kau kuizinkan masuk ke sana."
"Saya tidak berani!" si gadis terkesiap. "Mencuri dari Kaisar bisa dijatuhi
hukuman mati!" "Aku takkan bilang-bilang kalau kau juga tutup mulut." Si Pengurus Naga
terkekeh-kekeh bangga atas kecerdikannya sendiri. "Lakukan perintahku, atau
kupukuli kau." Sang Kaisar adalah putra Langit, hanya selangkah lagi dia akan menjadi dewa. Si
gadis yakin Kaisar pasti mengetahui segalanya, tentang kunjungan-kunjungan
rahasianya ke istana pada malam hari, tentang saat dia duduk di tempat tidur
Kaisar, juga tentang acar naga. Kaisar telah memutuskan untuk tidak menghukumnya
atas kejahatan-kejahatannya yang sebelumnya, tapi menambahkan satu kejahatan
lagi bisa-bisa dianggap menantang kesabaran Kaisar. Tapi dia tak punya pilihan.
Lan adalah tuannya. Dia harus mematuhi Lan.
"Ayo, anak sialan," teriak Lan dan melempar batu tinta ke arahnya. Lemparannya
meleset. Si gadis sudah berkali-kali masuk ke istana, tapi tidak pernah pada siang hari.
Ketika dia mendekati istana itu, bisa dirasakannya sepasang mata memandanginya
mata Langit. Si gadis menunduk memasuki celah di antara sulur tanaman wisteria. Setiap musim
semi, selama suatu periode singkat, tanaman wisteria itu penuh
dengan bunga berwarna ungu, namun selebihnya tanaman itu hanya berupa belitan
kusut ranting-ranting tak berdaun. Ada jalan setapak yang mengarah ke Balairung
Bunga Zamrud. Genta angin berkelintingan dalam embusan angin sepoi-sepoi,
bunyinya seperti suara naga itu kalau sedang bahagia. Si gadis merasa
sebaliknya. Tampak olehnya pintu-pintu istana yang dihiasi lu kisan dua dewa
pintu. Pintu sebelah kiri diberi lukisan wajah pucat Yu Lei yang tampan;
sementara di sebelah kanan adalah wajah saudaranya, Shen Tu, yang merah dan
galak, dengan mata melotot. Pintu bergambar Shen Tu sudah setengah terlepas dari
engselnya. Si gadis budak mendorong pintu sebelah kiri dan melangkah masuk.
Cahaya matahari siang menyelinap melalui teralis rumit di jendela-jendela yang
bersisi enam. Istana itu tampak kumuh dan tidak terawat dalam cahaya terang.
Lentera besar berdebu menggantung di langit-langit kayu berukir. Meja-meja
sempit yang disandarkan ke tembok memamerkan hiasan berukir halus yang
seluruhnya terbuat dari batu zamrud hijau dan diselubungi banyak sarang
labalaba. Tanaman-tanaman pot yang sudah layu berjajar di lantai batu.
Si tikus menyembulkan hidungnya dari dalam tu-nik si gadis, mengendus-endus
udara. "Aku senang kau ada di sini menemaniku, Hua."
Si gadis melintasi aula, menuju pintu di sisi se berang. Pintu itu mengarah ke
sebuah kebun yang luas. Yang tampak di sana hanyalah dua pohon gundul dan sebuah
kolam berair gelap dan beku.
Selebihnya kebun itu tertutup salju. Ada sebuah paviliun merah hijau yang catnya
sudah pudar dan mengelupas.
Di tepi pekarangan ada jalan setapak beratap yang membuka ke pekarangan di sisi
lainnya. Pilar-pilarnya dihiasi ukiran awan, dan sudah perlu dipoles cat baru.
Si gadis berjalan sepanjang koridor sebelah barat.
Bangunan utama istana menjulang di hadapannya, sehingga dia merasa bagaikan
seekor jangkrik yang kecil. Atap rumah Master Lan begitu rendah dan hampir-
hampir bisa disentuhnya, sedangkan atap istana itu serasa menjulang sampai ke
langit. Sudut-sudutnya menekuk ke atas dalam bentuk yang anggun. Di kedua ujung
tulang atap terdapat ukiran kepala naga yang menyeringai. Kemudian ia melihat
pintu yang dipoles dan dihiasi ukiran burung bangau, sebesar satu dinding penuh
di rumah Master Lan. Si gadis tidak melewati pintu tersebut. Dia yakin anggur
milik Kaisar tidak ada di situ.
Dia memutari bangunan utama dan menapaki jalan setapak lain yang tertutup. Di
sebelah kanannya ada jalan masuk menuju ke sebuah lorong. Pada salah satu
kunjungannya kemari sebelum ini, secara tidak sengaja dia telah menemukan dapur-
dapur istana yang gelap. Rasanya di sanalah tempat yang tepat untuk mendapatkan
anggur. Ke mana pun si gadis menoleh, yang tampak hanyalah tandatanda rumah yang
tidak terawat. Lao Ma sudah berusaha menjaga istana itu tetap bersih, tapi
pekerjaan itu terlalu berat untuk seorang perempuan tua. Dia tak
pernah lalai membersihkan, tapi begitu dia meninggalkan satu ruangan yang sudah
bersih, debunya mengendap lagi. Lao Ma membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk
membersihkan keseluruhan istana, sampai ke titik tempat dia memulai. Penglihatan
perempuan tua itu juga sudah semakin payah. Dia tak bisa melihat sarang labalaba
yang menyelubungi lentera atau debu yang mengumpul di sudut ruangan. Tukang
kebun, tukang cat, dan tukang kayu tidak serajin Lao Ma. Mereka sudah lama
bertindak masa bodoh terhadap pekerjaan mereka. Si gadis pun berbelok di satu
sudut, lalu berbelok lagi. Dia berdiri diam karena sama sekali tidak ingat di
mana dapur berada. Ketika si gadis budak mulai berpikir bahwa dia lebih suka dipukuli majikannya
daripada membuat Langit murka, Lao Ma muncul di ujung lain koridor itu. Dia
melambaikan kedua tangannya seraya berseru nyaring dalam dialek khas desa
asalnya. Si gadis budak tidak mengerti apa yang diucapkannya. Lalu perempuan tua
itu menghilang di salah satu pintu. Tiba-tiba saja sekelompok lelaki muncul dari
sudut. Si gadis budak tertegun. Gerombolan itu jumlahnya lebih dari sepuluh
orang, Dia bertanya-tanya apakah dia sedang bermimpi. Siapa orang-orang itu"
Dari mana mereka datang" Dua orang yang paling depan adalah pengawal yang
memakai tunik merah pendek, celana panjang, dan rompi kulit. Mereka membawa
tombak berpisau ganda. Satu pisaunya terpasang pada ujung tombak, satu lagi
mencuat di sebelah kanan batang tombak.
Pria-pria lainnya mengenakan jubah sutra berlengan lebar. Pita panjang berwarna-
warni berkibar dari pinggang mereka. Mereka juga memakai hiasan kepala. Begitu
mereka melangkah ke arah si gadis, salah satunya memukul gong. Si gadis
menyadari mereka ini pasti orang-orang yang sangat penting.
"Membungkuklah di hadapan Kaisar-mu," teriak lakilaki yang memukul gong.
Si gadis budak masih tertegun. Lakilaki yang membawa gong itu sekarang sudah
cukup dekat se hingga dia bisa melihat jenggot panjang, serta sepasang alis
orang itu yang menjungkit tajam.
"Cepat membungkuk atau kau akan dipancung, budak," teriaknya.
Si gadis menjatuhkan diri ke lantai, bertiarap pada perutnya. Ketika rombongan
itu berbaris melewati nya, langkah kaki mereka menerbangkan debu ke dalam
matanya. Dia menunggu mereka lewat, tapi justru mendengar lebih banyak suara
langkah mendekat. Dikerjap-kerjapkan matanya yang kemasukan debu, dan sekilas
dilihatnya sebuah kaki berselop serta pinggiran jubah paling mewah. Bahannya
dari satin hitam mengilap. Berbagai karakter serta gambar naga-naga disulamkan
dengan benang-benang emas. Naga-naga itu agak timbul, seakanakan yang dijahitkan
ke bahan itu adalah naga-naga kecil sungguhan. Selop sutranya disulam juga dalam
benang-benang emas, berupa pola-pola spiral yang mengingatkan si gadis pada awan
tipis di langit. Jantungnya berdebar begitu keras sampaisampai serasa akan meledak keluar dari
dadanya. Pinggiran jubah indah serta selop cantik itu ternyata milik sang Kaisar
sendiri. Rupanya dia mengetahui segala perbuatan jahat para pelayannya di
Huangling. Itu sebabnya dia datang untuk menyaksikan mereka dihukum.
Si gadis budak bangkit berdiri lalu lari sepanjang koridor, mencoba menemukan
jalan keluar. Istana itu tiba-tiba saja menjadi hidup, seperti binatang yang
terbangun dari tidur musim dinginnya. Sekarang dia malah berhasil menemukan
dapur yang kini dipenuhi orang tak dikenal yang berteriak-teriak. Buah dan
sayur-mayur ditumpuk di bangku-bangku. Daging ayam dan burung puyuh digantung.
Belum pernah si gadis melihat makanan sebanyak itu. Para juru masak mengeluarkan
alat-alat dapur dari laci panjang. Sementara para pelayan dapur menyalakan
tungku dan mengangkat panci-panci ke atasnya.
"Minggir, bocah." Seorang lelaki bertubuh besar yang membawa sebongkah daging
sapi menabrak si gadis dan nyaris membuatnya terjatuh. Ada yang mulai menggeliat
di bagian depan tunik si gadis.
"Jangan bergerak," bisiknya kepada si tikus. "Di sini memang baunya enak, tapi
kita mesti keluar." Si gadis mencoba kembali ke koridor, tapi seorang perempuan
yang membawa golok mendorongnya ke samping, supaya ada ruang untuk memotong enam
ekor ayam. Si gadis didorong dan ditabrak, disikut dan disenggol, hingga
akhirnya dia terdesak keluar ke ruangan lain.
Ruangan ini dua kali lebih besar daripada Balairung Bunga Zamrud, dan jauh lebih
tenang daripada dapur. Tidak ada siapa pun di situ, kecuali seorang pelayan yang
sedang menyapu lantai. Perabot yang ada pun hanyalah beberapa karpet berpola,
sejumlah bantalan sofa berbordir, dan kisi-kisi lipat yang dipernis. Si gadis
berdiri memandangi hiasan kisi-kisi itu. Bagian bawahnya bertatahkan mutiara
yang disusun menjadi gambaran sebuah taman. Bagian teralis di puncak kisi-kisi
diukir berbentuk burung dan kuncup bunga di ranting yang sangat halus, hingga
sedikit sentuhan pun rasanya akan membuatnya patah. Dia mendengar langkah-
langkah kaki dari arah lain, serta suara gong yang makin lama makin dekat. Si
pelayan cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Kedua kaki si gadis langsung
gemetar. Hanya ada dua pintu di situ. Satu menuju dapur yang ramai. Dan dia
yakin sebentar lagi Kaisar akan muncul dari pintu satunya. Hanya ada satu tempat
untuk bersembunyi. Akhirnya dia berhasil juga menggerakkan kedua kakinya yang
lemas, dan ber sembunyi di balik kisi-kisi berukir itu.
Si gadis mengintip melalui celah-celah di ukiran teralis dan ketakutannya
ternyata terbukti. Kedua pengawal berderap masuk dan berdiri tegap di kedua sisi
pintu, Sang Kaisar dan para menterinya memasuki balairung. Si gadis mencoba
tidak menatap wajah Kaisar, sebab dia tahu itu terlarang, namun dia tidak dapat
menahannya. Kaisar ternyata lakilaki berwajah masam, mulutnya menekuk ke bawah
dan sepasang matanya sangat kecil
dengan daging tebal keriput di sekelilingnya. Wajahnya gemuk, dan tubuhnya besar
sekali. Pikiran-pikiran seperti itu memang bisa membuat si gadis dipenggal, tapi
dia tak bisa menghentikannya. Salah satu menteri, yang pitanya lebih banyak dan
memiliki stempel jabatan dari emas, sedang berbicara kepada Kaisar dengan kepala
ditundukkan. Dengan bantuan dua menteri lain, Kaisar duduk di atas tumpukan
bantalan kursi berbordir. Sementara semua menteri mengambil tempat di belakang
Kaisar. Sekonyong-konyong si gadis merasa takut dan perutnya mulas. Dua orang lain
masuk. Salah satunya seorang perempuan kurus berbusana mewah seperti Kaisar,
dengan lengan baju yang sangat lebar hampir menyentuh lantai. Dia duduk di
samping Kaisar. Si gadis menduga perempuan itu pastilah Ratu. Orang satunya


Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adalah lakilaki yang tampak kotor, dengan kulit gelap keriput khas orang yang
sebagian besar hidupnya dihabiskan di alam terbuka. Rambutnya kusut, terurai
sampai ke bahu. Dia memakai kalung terbuat dari gigi-gigi binatang, dan
pakaiannya dari kulit binatang yang disamak kasar. Bau badannya membuat si gadis
ingin muntah. Orang itu membawa senjata dan di ikat pinggangnya menjuntai seutas
rantai. Penampilannya seperti petani kasar, namun dia duduk berhadapan dengan
Kaisar, seakanakan dia tamu terhormat, dan para menteri membungkuk ke padanya.
Para pelayan masuk dari dapur dengan membawa nampan perak berkaki, berikut
mangkuk berlapis emas dan sumpit gading mengilap. Dengan kepala di tundukkan mereka
meletakkan nampan-nampan itu di samping Kaisar dan Ratu juga di antara para
menteri. Tamu asing itu diberi nampan sendiri, seperti Kaisar. Lebih banyak lagi
pelayan masuk membawa bermangkuk-mangkuk makanan panas mengepul serta berguci-
guci anggur. Semua orang harus menunggu sampai Kaisar makan hidangan pertama,
barulah mereka boleh mulai makan. Mereka tak perlu menunggu lama karena Kaisar
memasukkan makanan dengan cepat ke dalam mulutnya.
Selanjutnya tiga pemusik masuk ke dalam ruangan itu dengan kepala tertunduk
hormat. Salah satu pe musik membawa alat musik petik yang besar, menaruh alatnya
di lantai dan mulai memainkannya. Si gadis menduga alat musik itu sitar. Kedua
pemusik lainnya mengiringi dengan lonceng-lonceng dan tetabuhan sementara
semakin banyak makanan dibawa dari dapur.
Si gadis menelan ludah ketika menghirup aroma semua makanan itu. Hidungnya
mencium harum ikan, jahe, kecap, dan aroma sedap yang tidak dia kenali. Sudah
lama sekali sejak dia makan bubur gandum waktu tengah hari tadi. Aroma itu saja
sudah cukup untuk mengisi perutnya dan membuatnya tersenyum. Detak jantungnya
menjadi lebih pelan. Segalanya akan baikbaik saja. Dia hanya perlu bersembunyi
sampai Kaisar pergi. Lalu dia bisa kembali ke tempatnya sendiri.
"Apakah Tuanku puas dengan singa-singa yang
hamba kirim ke Chang'an?" lakilaki berpenampilan kotor itu bertanya.
Menteri dengan stempel emas dipinggangnya beringsut maju sambil berlutut,
dahinya menyentuh lantai di hadapan Kaisar. Kaisar pun membisikkan beberapa
patah kata padanya. "Kaisar yang mulia merasa sangat senang, Tuan Diao," menteri itu menjawab.
"Singa-singa itu objek perburuan yang mengasyikkan, walaupun salah satunya
menyeret seorang menteri sampai mati sebelum Kaisar yang mulia berhasil
menombaknya." Kaisar berbisik lagi. "Kaisar yang mulia ingin mendengar tentang ekspedisi Anda di negeri-negeri
barbar." "Hamba berkelana ke negeri-negeri di barat untuk mencari naga."
Di balik kisi-kisi, senyum si gadis memudar.
"Sayangnya hamba tidak berhasil menemukan seekor pun, tapi hamba membunuh seekor
binatang besar berbulu kelabu dengan dua tanduk putih yang meliuk sampai ke
kedua sisi moncongnya yang panjang. Hamba membawa tanduk-tanduk itu kalau Yang
Mulia ingin melihatnya."
Lalu lakilaki itu diam seraya memakan tiga mangkuk sup buntut sapi. Setelah itu
dia menyeka mulut dengan lengan baju, dan dia kembali bicara pada sang menteri.
"Apakah Kaisar sudah mempertimbangkan usulan hamba, Penasihat Agung?"
Menteri itu kembali beringsut-ingsut maju untuk mendengar jawaban Kaisar.
Kemudian dia berbalik dan membungkuk kepada tamu itu.
"Kaisar yang mulia telah mempertimbangkan usulmu, Diao." Penasihat Agung
berusaha tersenyum pada lelaki yang tidak enak dilihat itu, tapi justru
menampilkan ekspresi muak. "Beliau tidak bersedia menerima kurang dari empat
ribu jin untuk setiap makhluk."
Diao mendengus dan meludah di lantai. "Jumlah yang sangat besar, Penasihat
Tian," jawabnya, "tapi saya hanyalah orang rendahan, dan kehendak Kaisar berarti
kehendak Langit." "Bagus," kata Penasihat Agung, "Kami akan terbebas dari binatang-binatang jelek
itu." "Kaisar tidak menyukai naga?" tanya Diao.
"Kaisar yang mulia tidak berminat pada naga," sang menteri menjawab ketus tanpa
bertanya dulu kepada Kaisar. "Tapi beliau percaya naga-naga itu akan lebih
berguna di tanganmu."
"Begitu." Senyum merekah di wajah kejam Diao, memperlihatkan giginya yang
keropos. "Otak naga bisa menyembuhkan hidung mimisan dan bisul. Hatinya bagus
untuk disentri, terutama kalau dipotong langsung dari naga yang masih hidup. Air
liur naga digunakan untuk membuat parfum." Diao mengorek-ngorek giginya dengan
sepotong tulang ikan. "Mereka binatang yang berguna."
"Pengetahuanmu tentang naga sangat luas, Diao," komentar Penasihat Tian.
"Saya ini pemburu naga, Sudah seharusnya saya tahu segalanya tentang mereka."
Si gadis tidak memercayai apa yang dia dengar.
Kaisar akan menjual naga kepada si pemburu. Bagaimana nanti kalau sampai Kaisar
tahu naganya tinggal satu ekor"
"Tentunya sudah tidak banyak naga lagi di dunia ini," kata sang Ratu.
"Sejak dulu memang tidak pernah banyak," sahut Diao. "Dan sekarang jumlahnya
sangat sedikit. Naga liar pintar bersembunyi dari manusia."
"Cobalah ini, Tuanku," sang Ratu berkata kepada Kaisar. Aroma yang kemudian
melayang ke arah si gadis budak membuatnya terkesiap, karena dia mengenalinya.
Aroma tajam pedas yang takkan dilu pakannya seumur hidup. Acar naga. Dengan
ngeri dia memandangi Kaisar mencampur acar itu dengan ikan rebus, lalu mengambil
sejumput dengan sumpitnya. Si gadis tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi dia
yakin pasti akan gawat sekali.
"Ini acar paling aneh yang pernah kumakan," sang Ratu meneruskan. Kemudian dia
menoleh ke Pe nasihat Agung, "Tian Fen, coba cari tahu, bahan apa saja yang
menimbulkan rasa yang aneh itu,"
Si gadis menahan napas. Inilah saatnya. Langit akan menghukumnya dan istana itu
akan runtuh. Kaisar mengunyah ikan itu, lalu mengangkat bahu. Si gadis
menghembuskan napas lega. Dia masih hidup. Istana ini juga masih berdiri. Si
gadis menggumamkan doa syukur tanpa suara dan memeluk
Hua kuat-kuat. Si tikus yang kaget menggigit jarinya. Gadis itu terpekik
nyaring. Ruangan seketika hening. Para menteri menoleh ke kiri-kanan untuk
mencari pengacau itu dan tatapan mereka
jatuh pada pelayan yang sedang membawa setumpuk mangkuk kotor ke dapur. Pelayan
yang ketakutan itu menggelengkan kepala dan menunjuk ke kisi-kisi. Kedua
pengawal berderap ke arah tersebut dan menemukan tempat persembunyian si gadis.
Si gadis budak merasa setiap pasang mata di ruangan itu terarah kepadanya,
termasuk mata Kaisar. Kedua pengawal mengarahkan tombak kepadanya, seakan dia
penjahat berbahaya. Sang Ratu menatap jijik pada gadis kampung kotor yang muncul
begitu saja di ruang makan kekaisaran. Hidung Hua menyembul ke luar, mengendus-
endus udara yang berbau harum. Melihat si tikus, sang Ratu menjerit. Si Tikus
pun terkejut, binatang itu menggeliat keluar dari tunik si gadis dan kabur ke
seberang ruangan. Para pengawal lupa tentang gadis itu dan lari mengejar si
tikus. Hua menghilang ke dalam lubang di bawah tembok. Melihat kesempatan ini, si gadis
pun lari ke pintu, namun para pengawal sudah begitu dekat di belakangnya. Dia
bisa merasakan tombak mereka menyodok punggungnya. Maka dia berhenti sambil
mengangkat dua tangan lalu membalikkan badan. Ujung-ujung tombak itu berkilauan
dalam cahaya redup matahari. Para pengawal mencengkeram kedua lengan si gadis
sambil melotot, siap menombak kalau dia berani bergerak. Betapa bodohnya dia,
mengira Langit tidak akan bertindak atas kesalahan-kesalahan yang telah
dilakukannya. Kaisar adalah dewa di Bumi; dia mahatahu dan maha melihat. Selama
ini dia pasti sudah tahu tentang
kematian naga itu. Si gadis berlutut. "Bukan salah saya hingga naga itu mati," dia memohon. "Saya
memberi makan dan mengganti jeraminya. Memang saya membantu membuatnya menjadi
acar, tapi saya tidak punya pilihan. Kalau tidak membantu, Master Lan akan
memukuli saya." "Mati?" tanya Penasihat Agung.
"Acar?" kata salah seorang menteri.
"Tian Fen, bawa Master Lan ke hadapanku," kata sebuah suara berat yang belum
didengar si gadis. Ternyata suara Kaisar.
Suara itu membuat si gadis sangat ketakutan. Entah bagaimana, dia menemukan
kekuatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal. Dia pun berhasil
kabur ke pintu sebelum mereka sempat menangkapnya lagi dan berhasil menemukan
jalan di koridor-koridor istana tanpa tersesat. Dia sama sekali tidak menoleh
untuk melihat apakah ada yang mengejar. Dia terus saja berlari.
Pelarian Sambil berlari, berbagai pikiran berkelebat di benaknya, mulai dari perasaan
takut bahwa dirinya akan mati, sampai kekhawatiran karena dia belum mencuci
piring bekas makan tuannya. Semua pikiran itu campur aduk menjadi satu lalu
hilang begitu saja. Namun ada satu pikiran utama dan tetap jernih di tengah
segala kebingungannya. Dia harus menyelamatkan naga itu. Maka dia lari ke
pekarangan tempat naga masih tertambat.
"Cepat!" teriak si gadis seraya melepaskan ikatan tali dengan gugup. "Kau mesti
kabur. Ada pemburu naga datang ke Huangling." Naga itu tidak beranjak.
"Cepat! Kau bebas sekarang. Para pengawal istana sebentar lagi pasti kemari."
Dia berhenti sejenak untuk menghela napas. "Si pemburu naga akan memotong hatimu
dan mengambil jantungmu." Ditariknya tali yang masih melingkari leher naga itu.
"Kau Cuma punya waktu sedikit untuk melarikan diri."
Tapi binatang itu tetap tidak bergerak. Dia sama sekali tak mengerti ucapan
gadis itu. "Jalan, binatang bodoh!" teriak si gadis; disabetnya pantat naga itu dengan
ujung tali. Naga itu memperdengarkan suara gelisah, seperti orang memukul gong cepat-cepat.
"Batu." Kata-kata itu muncul tanpa diminta di benak si gadis. "Batu naga."
Entah bagaimana, si gadis yakin sekali bahwa naga itu menginginkan batu ungunya.
"Jangan pikirkan batu itu," teriaknya, mencoba menarik binatang keras kepala itu
ke arah gerbang. "Selamatkan dirimu."
Si gadis tak sanggup membayangkan naga ini juga akan mati, tapi makhluk besar
itu menolak mematuhinya. Naga itu bertahan meski ditarik, malah dia menarik
balik ke arah lubang. Si gadis menyerah untuk membuat naga itu bergerak. Dia
harus memikirkan keselamatannya sendiri dan men cari tempat bersembunyi,
setidaknya sampai Kaisar dan para pengawalnya meninggalkan istana. Maka di
lepaskannya ujung tali itu lalu dia berlari ke arah ger bang, tapi tiba-tiba dia
teringat Hua. Dia tidak mau pergi tanpa Hua. Memang Hua hanyalah seekor tikus,
tapi tikus itu sahabatnya, sahabat satu-satunya. Dan dia tikus yang pintar.
Setiap kali si Pengurus Naga memergoki dan mengejarnya dengan besi pengorek api,
dia akan bersembunyi di tempat yang tak pernah dimasuki Lan, di lubang naga itu.
Si gadis lari kembali ke lubang dan menuruni undakan. Matahari senja menyorotkan
sinar redup pada sepetak kecil tanah di bawah tutup lubang yang berjeruji. Namun
hanya itu. Akhirnya sambil
tersandung-sandung, dia meraba dalam kegelapan, memanggil-manggil Hua. Bisa
didengarnya suara mencicit pelan, jauh di kedalaman lubang, Dia menyentuh tembok
lubang. Saat itu jemarinya merasakan sesuatu yang sejuk dan bulat. Batu naga.
Pada waktu hamper bersamaan cakar-cakar kecil tajam menembus bahan tipis celana
panjangnya, menusuk kulitnya. Si gadis tersenyum sendiri ketika Hua menyuruk
masuk ke dalam lipatan-lipatan tuniknya. Dia lari kembali ke cahaya dan
melompati dua anak tangga sekaligus sambil memegang batu yang terasa sejuk tadi.
Ketika dia muncul dari dalam lubang, enam pengawal istana, lari masuk ke
pekarangan dan mengepung naga itu. Beberapa membawa tombak, yang lainnya
menghunus pedang. Terdengar pekik melengking sang naga. Si pemburu naga menyusul
tak jauh di belakang para pengawal. Pelan-pelan dia maju menghampiri, dan si
gadis bisa melihat ekspresi serakah di wajah jelek si pemburu yang sedang
mengira-ngira nilai jualnya. Kemudian dia mengarahkan crossbow* pada naga itu.
"Jangan!" teriak si gadis. "Jangan sakiti dia."
Si pemburu naga tertawa. Suara tawanya kasar dan tidak menyenangkan. Dia
mendekati naga itu, sambil meletakkan Crossbow dan menarik seutas rantai besi
dari sabuknya. "Besi itu panas," tiba-tiba si gadis berpikir begi-
* Crossbow (dalam bahasa Cina: Zhugv-nu atau chu-ko-nij) adalah busur silang
yang diberi nama sesuai ahli strategi china yaitu Zhuge Liang (181 - 234 M).
tu, meski dia tahu pasti bahwa ini tidak benar.
Diao melilitkan rantai pada kaki depan sang naga untuk membuatnya pincang.
Pekikan naga itu jadi semakin keras, cepat, dan semakin melengking, hingga
terdengar seperti logam robek. Suaranya membahana di sekeliling pekarangan. Si
gadis menjatuhkan batu naga lalu menutupi telinganya, tapi sia-sia. Jeritan yang
memenuhi benaknya jauh lebih buruk. Samar-samar dia menyadari batu itu bergulir
di pekarangan berdebu hingga berhenti setelah menabrak palungan air. Jerit
kesedihan di benaknya yang semula tak punya arti, kini mulai terbentuk menjadi
kata-kata. "Batu naga. Selamatkan batu." Kata-kata itu muncul di benaknya, tapi dia yakin
sekali bahwa yang mengucapkan itu adalah naga itu.
Rantai si pemburu menekan masuk ke dalam kulit naga yang bersisik, membuatnya
berdarah. Diao melihat batu itu tergeletak di tengah debu. Dia berpaling kepada para
pengawal. "Kencangkan rantai-rantai ini," perintahnya. Sejenak para pengawal ragu, tidak
tahu apakah mereka harus mematuhi perintah seorang pemburu rendahan.
"Lakukan perintahku," teriak Diao. "Naga Kaisar mesti diamankan."
Para pengawal seketika mematuhinya, sebab yang mereka lakukan ini untuk Kaisar.
Si pemburu naga beranjak untuk mengambil batu naga itu. Ekspresi wajahnya penuh
kemenangan, seperti orang serakah yang mendapatkan hasil melebihi yang
selayaknya dia terima. Tapi si gadis budak lebih gesit. Dia lari ke arah batu
itu dan memungut nya dengan tangan kiri sebelum batu itu sempat diambil. Sang
naga berdiri di atas kedua kaki belakang dan mengibaskan rantai yang masih coba
dipasangkan dengan susah payah oleh para pengawal. Diao ragu-ragu, sesaat
kelihatannya dia tak bisa memutuskan mana yang lebih penting batu atau naga itu.
Akhirnya dia menyambar crossbow ketika si gadis melesat melintasi pekarangan.
"Rantai naga itu!" teriak Diao, lalu lari mengejar gadis itu.
Si pemburu dengan membawa crossbow berhasil menyusul si gadis da lam tiga
langkah panjang. Dia mencengkeram lengan gadis itu dengan kekuatan yang bisa
mema tahkan tulang. Sang naga mengeluarkan suara gemuruh marah dan merangsek
dengan kaku ke seberang pekarangan, menginjak dua pengawal. Ketika sepertinya
hendak menabrak dinding kandang lembu, dua sayap bagaikan sayap kelelawar
raksasa, membuka dari punggung naga itu. Para pengawal melongo takjub ketika
naga itu mengangkat dirinya ke udara dan terbang di atas mereka. Sekarang
giliran Diao yang berteriak marah ketika melihat buruannya yang berharga itu
lolos. Naga itu terbang ke angkasa dan menukik balik ke pekarangan. Para pengawal
melompat menghindar, tapi si gadis hanya melongo terheran-heran. Selama ini dia
tak pernah memerhatikan sepasang sayap naga yang dilipat begitu rapat. Diao
melepaskan si gadis dan membidik si naga dengan
crossbow. Sebatang anak panah menancap di bahu naga itu, membuat gerakannya
sempoyongan. Dia terbang lebih rendah, menukik di atas kepala gadis itu. Si
gadis mengira naga itu akan kandas di pekarangan, lalu dia merasakan sesuatu
yang tajam menyodok tuniknya, menembus ke punggungnya. Tiba-tiba tanah di
bawahnya lenyap dan kedua kaki nya menyapu atap kandang lembu. Dia melihat
Master Lan di luar rumah nya, menengadah sambil mengacung-acungkan tinju
sementara para pengawal Kaisar berusaha menangkapnya. Dia melontarkan caci maki
yang tidak sampai ke telinga si gadis. Lan dan para pengawal itu menciut hingga
tinggal seukuran patung-patung kecil, kandang pun kelihatan seperti kotak. Atap
hitam istana tampak seperti cangkang kumbang hitam mengi lap. Si gadis budak
merasa mual. "Turunkan aku, naga," teriaknya, masih mencengkeram batu naga itu erat-erat.
"Aku ingin berada di tanah lagi."
Naga itu membuat belokan tajam dan jantung si gadis serasa berpindah tempat.
"Aku mau muntah," teriaknya setelah mereka meninggalkan istana. Puncak Gunung
Huangling di bawah sana terlewati sudah.
Naga itu mengikuti tepian gunung. Lalu tiba-tiba saja gunung itu seperti menukik
dan bergoyang-goyang ketika sang naga memilih tempat untuk mendarat. Si gadis
menjerit dan memejamkan mata,
"Aku akan mati," katanya pada diri sendiri.
"Tidak," sahut sebuah suara di dalam benaknya.
Naga itu mulai menggerakkan kaki dan mendarat sambil berlari. Dengan lembut
diturunkannya si gadis di atas setumpuk salju halus. Sementara sang naga ter
sungkur ke depan dan meluncur sampai berhenti pada hidungnya.
Ketika kakinya telah kembali menginjak tanah si gadis merasa lega. Jemarinya
yang kaku kedinginan masih memegang erat-erat batu naga itu. Namun kemudian
dibiarkannya batu itu jatuh ke salju dan dia mencengkeram tuniknya, seakanakan


Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dia mendadak merasa kesakitan. Apakah Hua terjatuh selama mereka terbang tadi"
Apakah tikus itu tergencet sampai mati ketika mereka mendarat" Disentakkan leher
tuniknya hingga terbuka. Tikus itu masih di sana. Kelihatannya bingung, tapi
keadaannya baikbaik saja. Si gadis menatap naga yang sedang berusaha bangkit.
"Gara-gara kau, aku bisa mati tadi... dan Hua juga!" teriak si gadis.
Dengan kaki depan yang kanan, sang naga mencabut anak panah yang masih mencuat
di bahu kiri nya. Dia melangkah dengan terhuyung-huyung.
"Kau mau ke mana?" tanya si gadis.
Naga itu memperdengarkan suara berdencing-dencingnya yang aneh.
Sebuah kata terbentuk di benak si gadis. "Gua,"
Salju mulai turun. Karena tak punya pilihan, si gadis mengikuti naga itu. Mereka
berjalan tersaruk-saruk di salju sampai akhirnya naga itu menemukan gua yang
dicarinya. Begitu berada di dalam gua, sang naga ambruk
kelelahan. Pakaian yang basah kuyup membuat si gadis menggigil hebat, kepalanya
berdenyut-denyut dan gigi nya bergemeletuk. Dia merangkak menghampiri naga.
Badan naga yang bersisik terasa keras dan kasar. Dalam jarak sedekat ini, baunya
agak tidak enak, se perti campuran buah plum yang terlalu matang dan ikan asin,
tapi tetap saja dia memberi sedikit kehangatan.
5 Takut Terbang Ketika bangun, si gadis budak mendapati dirinya terbaring di setumpuk lumut
kering yang hangat. Dia berusaha berdiri, dan kaget karena kakinya sangat goyah.
Tidak ada tandatanda keberadaan naga itu. Tapi di lantai gua tergeletak tiga
ekor burung mati yang dijajarkan dengan rapi, sejumput rumput sereal, beberapa
buah jamur, serta seikat rumput kering dan ranting. Si gadis melangkahi semua
itu lalu pergi ke mulut gua. Naga itu terlihat sedang duduk di bawah matahari,
sambil memeriksa apakah ada luka di sayap-sayapnya. Dia menoleh ke arah si
gadis. Kedua matanya kini tampak berwarna cokelat gelap. Suara berdencing-
dencing menggemuruh jauh dari dalam dadanya. Telinga si gadis mendengarnya,
bersamaan dengan itu, di pikirannya juga terdengar suara. "Api. Butuh api."
Si gadis mungkin saja tak mengerti apa yang terjadi padanya sejak kemarin, tapi
menyalakan api dan menyiapkan makanan sudah biasa dia lakukan. Tugas itu
membuatnya tenang. Dia ambil dua
batang kayu dan sejumput rumput kering, lalu berlutut untuk membuat api. Setelah
mencabuti bulunya, burung-burung itu dia tusuk dengan sebatang ranting dan
dipanggangnya di atas api. Dia memetiki bulir-bulir gandum dari batang-batangnya
dan memanggangnya dalam abu, berikut jamur-jamur. Dua burung dia berikan kepada
sang naga. Mereka memang tidak berada di istana, tapi dia masih tetap
berkewajiban memberi makan naga itu.
"Terima kasih," kata suara di dalam benaknya.
Mereka makan dalam diam, kemudian memuaskan rasa haus dari kolam di dekat mulut
gua, yang berisi salju cair yang telah mengumpul dalam sebuah cekungan kecil di
batu-batunya. Namun si gadis tak bisa memusatkan perhatiannya pada segala
kegiatan yang sudah biasa ini. Ingatannya lagi-lagi kembali pada berbagai
peristiwa luar biasa yang terjadi kemarin.
"Sejak malam pembantaian itu, aku terus mendengar suara-suara di dalam
kepalaku," katanya. "Kaukah yang bicara?"
Naga itu memiringkan kepala. Dia mengamati si gadis dengan saksama, menimbang-
nimbang reaksinya. "Kenapa selama ini aku tidak mendengar kau bicara?"
"Tidak pernah bicara."
Si gadis mengamati sang naga yang dengan hatihati mengambil sebutir jamur.
Cakar-cakar bagian dalam pada masing-masing kaki depannya
bisa dibengkokkan hingga merapat, persis seperti jari telunjuk dan ibu jari.
Sang naga memasukkan jamur itu ke dalam mulutnya.
"Apakah kau punya nama, naga?"
Makhluk itu memperdengarkan suara berdencing-dencing lagi. Dalam benaknya, si
gadis mendengar suara naga itu. "Setiap orang punya nama."
Hua datang setelah mencari makanan, tertarik oleh harum daging panggang. Dia
berhenti dan tertegun ketika melihat naga itu menatap ke arahnya.
"Bahkan tikus pun punya nama."
"Aku tidak punya," sahut si gadis.
"Punya." Kata itu berkumandang di dalam benak si gadis.
Hua memanjat naik ke pakaian si gadis dan menghilang ke dalam tuniknya.
Gadis itu menatap mata sang naga lekatlekat. "Bagaimana kau tahu?"
Binatang itu mengulurkan satu kaki depannya ke arah leher si gadis. Si gadis
mundur ketakutan. Hua bersembunyi di bawah ketiaknya. Kuku naga itu setajam
pisau dan bisa memotong lehernya semudah juru masak istana mengiris daging sapi.
"Jangan takut," kata naga itu. Cakar naga itu menjentik kalung bambu yang
dipakai si gadis di lehernya. Si gadis menatap huruf yang diukir pada bambu.
Nyaris tidak kelihatan saking pudarnya.
"Apa arti huruf itu?" suaranya hanya berupa bisikan.
"Ping," kata suara naga itu.
"Itukah namaku?"
Sang naga lagi-lagi memiringkan kepalanya.
"Ping," si gadis budak mengulangi.
"Nama pemberian orangtuamu," kata sang naga. Air mata merebak di mata Ping
ketika dia mengucapkan nama itu berulang-ulang. Banyak orang mempunyai dua nama.
Beberapa orang penting bahkan mempunyai tiga nama. Dia bahagia walau memiliki
satu nama. "Terima kasih telah memberitahukan namaku." Ping menggaruk-garuk bagian yang
lunak di bawah dagu naga itu.
"Kau tidak memberitahukan namamu padaku, naga," kata si gadis seraya mengusap
matanya. "Hidup sudah lama, lama sekali," sahut naga itu. "Pernah punya banyak nama Da Lu
yang berarti Hijau Mulia; Dai Yu, Pembawa Hujan; Lao Tang, Si Tua yang Agung.
Nama sesungguhnya adalah Long Danzi, Naga Pemberani."
"Kalau begitu, kau akan kupanggil Danzi," kata Ping. "Kau sangat pemberani."
Ping memain-mainkan bambu bujur sangkar ber-tuliskan namanya.
"Apa arti namaku?" tanyanya.
"Rumput bebek," sahut sang naga.
"Oh," kata Ping. Memang namanya bukanlah nama yang anggun, tapi setidaknya dia
mempunyai nama, pemberian orangtuanya yang tidak ia kenal, dan nama itu miliknya
seorang. Sementara Ping sedang asyik dengan pikirannya sendiri, naga itu menggulingkan
batu ungunya ke bawah cahaya matahari. Lalu dia membalikkan batu itu dengan satu kakinya yang
bercakar, memeriksanya dengan saksama.
"Batu tidak rusak," katanya. Ping menatap batu itu. "Aku tidak mengerti, kenapa
kau peduli sekali pada batu itu," katanya. "Sampaisampai kau nyaris tertangkap
si pemburu naga." "Ping pertaruhkan nyawa untuk tikus."
"Hua sahabat karibku," sahut Ping. "Aku harus kembali untuk menyelamatkannya,
tapi aku tidak mengerti perlunya mempertaruhkan nyawa untuk sebongkah batu."
Suara di dalam benak Ping tidak menjawab.
"Tapi yang penting kau sudah berhasil kabur," kata Ping. "Akhirnya kau bebas.
Sekarang aku harus kembali ke Huangling."
Sang naga menoleh kepadanya.
"Kenapa kembali?"
Selama ini tidak terpikir oleh Ping untuk berbuat lain. Dia sudah tinggal di
Huangling selama yang bisa diingatnya. Tak terbayang olehnya akan hidup di
tempat lain. "Ke mana lagi aku bisa pergi?"
"Bisa mencari tempat baru." Ping menggeleng. Belum apa-apa dia sudah ketakutan
memikirkan mesti berkelana di dunia.
"Aku punya pekerjaan di Huangling. Binatang yang lain masih perlu diberi makan,
dan kalau Kaisar akan datang berkunjung ke Huangling, Lao Ma perlu bantuan untuk
menjaga istana tetap bersih," sahut
Ping. Sepasang mata Danzi yang cemerlang itu menyipit. "Ping tidak boleh pulang."
Ping tersenyum, dia senang naga itu mengkhawatirkan keselamatannya.
"Master Lan sudah ditangkap. Setelah Kaisar kembali ke Chang'an, aku bisa pulang
dengan aman. Aku akan dihukum, tapi setelah itu aku bisa kembali bekerja. Kau
bisa tetap di sini."
"Danzi tidak mau di sini," kata sang naga. "Danzi mau pergi ke Samudra."
"Samudra?" kata Ping. "Samudra hanya ada dalam dongeng, seperti Pegunungan
Kunlun dan Pulau Blest. Lao Ma pernah menceritakannya padaku. Semuanya hanya
dongeng." "Semuanya ada."
"Kenapa kau mau pergi ke tempat lain" Gua ini nyaman. Semua kebutuhanmu tersedia
di sini, dan pemburu naga takkan bisa menemukanmu. Aku akan datang mengunjungimu
sesempat aku bisa." "Danzi sudah tua. Air Samudra punya kekuatan ajaib, bisa memperbarui kekuatan."
Ping mulai bertanya-tanya, apakah naga ini sudah sinting akibat bertahun-tahun
dikurung. "Ping mesti membantu Danzi," kata naga itu.
Ping menatap terperangah. "Apa maksudmu?"
"Pergi dengan Danzi ke Samudra."
"Aku tidak bisa." Ping merinding membayangkan dirinya berkelana di dunia yang
penuh dengan orang dan tempat-tempat asing. Banyak hal yang tidak disukainya di
Huangling, tapi setidaknya tempat itu
sudah dikenalnya dengan baik.
Naga itu menunduk. "Terserah kau." Ping mendesah lega. "Bagus. Nah, sekarang
bagaimana caranya aku bisa kembali ke istana?"
"Danzi akan membawa Ping."
"Maksudmu membawaku terbang kembali ke istana?"
"Ya." "Aku tidak suka terbang."
Ping mempertimbangkan tawaran naga itu. Kalau perjalanan terbang dari Huangling
tidak butuh waktu lama, tapi kalau berjalan kaki akan perlu waktu sehari atau
lebih untuk kembali ke sana.
"Baiklah, aku mau diterbangkan ke sana," katanya, "tapi setelah Kaisar
meninggalkan Huangling."
"Sudah pergi." "Bagaimana kau bisa tahu?" "Naga punya penglihatan sangat tajam," Danzi menyahut
dengan bangga. "Bisa melihat sejauh banyak //. Melihat rombongan Kaisar
berangkat sewaktu coba terbang pagi ini."
Ping memandang ke kejauhan, matanya disipit-kan, tapi yang dilihatnya hanyalah
salju dan perbukitan. "Kau yakin?" "Yakin." Ping memakai kaus kakinya yang basah dan sepatu jeraminya yang tipis. Sebaiknya
dia pulang ke Huangling. Kalau beruntung, siapa tahu rumah Master Lan bisa
menjadi miliknya. "Duduk di punggung," kata sang naga, "Kalau
tidak banyak gerak, Ping akan lebih nyaman."
Ping ketakutan membayangkan akan terbang lagi, tapi setelah mengetahui bahwa
Kaisar dan pengawalnya sudah pergi, dia ingin secepatnya kembali ke istana,
Pulang ke rumah. "Apakah Ping tidak ingin melihat-lihat dunia?" tanya naga itu.
"Tidak." Ping melayangkan pandang ke bentangan lanskap putih tak berbatas.
Pegunungan demi pegunungan terbentang di hadapannya. Dunia ini sungguh terlalu
besar dan menakutkan. Ping ingin pulang ke bagian kecil dunia yang dikenalnya.
Dia menatap naga itu. Belum pernah dia menunggangi binatang, apalagi naga. Tubuh
Danzi yang panjang dan bersisik itu kelihatannya licin.
"Aku bisa jatuh," katanya. "Tidak ada apa pun yang bisa dipegang."
"Duduk di belakang kepala. Pegangan pada kedua tandukku," kata Danzi.
Setelah memastikan Hua aman di dalam tuniknya, Ping lalu memegangi salah satu
tanduk naga itu untuk memantapkan diri. Sang naga mengangkat satu kaki depannya.
"Tunggu. Mesti ambil batu," katanya.
"Tidak bakal ada yang mencuri batu itu di sini, Danzi," kata Ping tak sabar.
"Batu itu akan aman sampai kau kembali."
"Tidak bisa meninggalkan batu," kata Danzi.
Ping tidak mau membuang-buang waktu berdebat dengan naga yang keras kepala. Dia
menengadah ke langit yang kelabu. Seekor burung elang
salju terbang berputar-putar di atas mereka.
"Baiklah," katanya; diambilnya batu besar itu dan dikempitnya di bawah lengan.
Lalu dia mengangkat tuniknya dan menaikkan satu kaki ke punggung dan berpegangan
pada tanduk-tanduk sang naga. Pangkuan dan kedua lengannya, serta leher Danzi
menjadi semacam keranjang yang pas sekali untuk menempatkan batu naga itu,
"Aku siap," katanya, suaranya agak tersendat, menandakan ketakutannya.
Naga itu berlari beberapa langkah ke arah tepi-an gunung. Dia terus berlari
sambil membuka kedua sa yapnya, lalu melompat dari atas gunung, ke udara kosong
di sekitarnya. Ping menjerit ketika merasakan embusan keras udara ke arah atas,
yang menandakan naga itu sedang meluncur jatuh. Kedua sayap Danzi yang seperti
kulit itu sekonyong-konyong tampak setipis bahan sutra. Naga itu meluncur jatuh,
tak mampu membuka sayapnya dalam gemuruh angina yang menderu. Kemudian sedikit
demi sedikit sayapnya membuka, embusan udara menjadi lebih pelan, dan naga itu
mulai meluncur. Sisik-sisik naga itu memiliki permukaan kasar, sehingga orang yang duduk di
punggungnya tak mungkin jatuh, meskipun naga itu terbang agak miring. Dengan
berpegangan erat-erat pada kedua tanduknya, dan lutut menjepit leher Danzi, Ping
mulai percaya bahwa dia takkan jatuh. Di bawahnya, sisi-sisi gunung melandai
dengan curam ke sebuah lembah yang sangat jauh di bawah mereka.
Bentangan pegunungan mengelilingi mereka dari segala sisi. Ping merasa perutnya
bergejolak. Sinar matahari terasa hangat di wajahnya. Sepatu dan kaus kakinya beruap ketika
mulai mengering. Ping mengantuk.
"Kita pasti sudah hampir sampai di sana, Danzi," Ping berkata beberapa waktu
kemudian. Dia mengangkat kepalanya yang selama ini bersandar pada batu naga.
Lehernya terasa kaku. "Tadi aku tertidur ya?"
Dia memandang sekelilingnya. Gunung sudah tidak tampak lagi. Di sekeliling
mereka hanya tampak langit biru.
"Danzi!" teriak Ping. "Di mana Gunung Huangling?"
Sang naga tidak menjawab. Angin membawa suara napasnya yang serak dan terengah-
engah, seperti kurir istana yang telah berlari sekian banyak //.
"Kita ada di mana?"
Sang naga memiringkan kedua sayapnya agar bisa berbelok. Sebuah gunung tiba-tiba
saja berdiri menjulang di hadapan mereka. Ping mengamati lereng-lereng, mencari-
cari istana itu. Gunung itu semakin dekat. Lereng-lereng itu pitak-pitak di
tempat yang saljunya sudah mencair dan memperlihatkan tanah hitam di bawahnya.
Tampak oleh Ping batu karang dan sebuah sungai kecil. Sekelompok kambing liar
lari tercerai berai ketika melihat naga itu menukik turun dari langit. Masih
tetap tidak ada tandatanda istana Huangling. Napas sang naga makin tersengal-
sengal. Sayap-sayapnya terentang tegang. Tanah bagaikan berlari di bawah mereka
ketika naga itu kehilangan kendali saat berusaha melakukan pendaratan. Ekornya
menghantam puncak sebongkah batu karang dan terbangnya menjadi miring. Dia
miring ke kanan dan kandas ke bumi. Ping terlempar dari punggungnya. Ia
menghantam tanah dan jatuh terguling-guling hingga menabrak sebongkah batu
besar. Dilihatnya Hua terlontar ke udara, kaki-kakinya terentang lebar. Tubuh
Ping lebam-lebam dan gemetaran. Salah satu lengan bajunya robek sampai ke siku.
Sekumpulan batu karang tergeletak tidak sampai sepenggalan lengan jauhnya,
seperti sederetan gigi-gigi kelabu raksasa. Kalau tadi dia mendarat di situ, dia
pasti sudah mati. Dengan susah payah Ping berusaha berlutut. Gerakan yang tiba-tiba ini membuatnya
pusing. Hua terbaring di atas salju, kedua matanya berkilat-kilat ketakutan.
Dengan lembut Ping mengangkatnya dan mendesah lega. Tikus itu shock, tapi tidak
terluka. Dengan tubuh yang terasa sakit semua Ping merangkak ke arah naga yang
tidak bergerak. Di sayap kirinya yang terentang di salju, seperti sepotong kain
yang sudah dibuang, ada luka robek yang besar. Ping tidak mendengar suara apa
pun dalam benaknya. Dia mencondongkan tubuh lebih dekat dan merasa lega melihat
dada naga itu bergerak-gerak, meski napasnya tersengal-sengal.
"Danzi," bisiknya. "Coba lihat akibat ulahmu ini."
Ping menemukan sungai kecil dan mengambil air yang sedingin es dalam kedua
tangan yang ditangkupkan. Dibawanya air itu pada sang naga yang menjilatinya
dengan lidahnya yang merah panjang. Se telah beberapa saat, napas naga itu
menjadi lebih pelan. "Batu," katanya. "Aku tidak tahu di mana batu konyolmu itu," teriak Ping.


Dragon Keeper Karya Colore Wilkinson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mesti temukan batu."
Ping memandang sekitarnya. "Aku tidak melihatnya. Lupakan saja batu itu, dan
urus dirimu baikbaik." Ping memindai puncak gunung dengan matanya. Dia enggan
mengakuinya, meski pada dirinya sendiri, bahwa sebenarnya dia juga cemas tentang
batu itu. Jangan-jangan batu itu terguling ke bawah gunung. Atau pecah
berkeping-keping terbentur karang. Matahari muncul di balik awan. Ping melihat
sesuatu yang terpantul cahaya Jingga matahari di sebuah jurang dangkal. Jaraknya
hanya beberapa langkah, tapi baru beberapa waktu kemudian Ping bisa berjalan
lagi dengan kakinya yang lebam. Dengan gemetar dia turun ke dalam jurang itu.
Batu ungu itu tergeletak di atas hamparan salju. Ping memungutnya dan keluar
dari dalam jurang, untuk kembali pada sang naga.
"Ini batunya," katanya. Kedua kakinya langsung lemas.
Naga itu mendesah panjang.
Ping membolak-balik batu itu. "Batu ini masih utuh." "
Matahari muncul sebentar, tak lama kemudian sudah menghilang lagi di balik
pegunungan. Harihari musim dingin yang pendek hampir berakhir. Ping tidak ingin
menghabiskan satu malam lagi di gunung.
"Danzi, istananya ke arah mana?" Pokoknya dia akan memaksa kaki-kakinya yang
gemetar untuk menempuh sisa perjalanan.
"Istana Huangling di sebelah sana," kata sang naga.
Ping berusaha menajamkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Danzi dengan
cakarnya. Dia memandang melintasi lembah yang sudah tak terlihat lagi dalam
kegelapan yang makin pekat. Yang tampak olehnya adalah sebuah gunung lain, tiga
puncak jaraknya, jauh dan puncaknya berselimut salju. Baru beberapa saat
kemudian dia mengerti. "Itukah Huangling?"
Naga itu berdiri dengan susah payah dan memiringkan kepala dengan letih.
"Kau telah membuatku makin jauh dari rumah," Ping menoleh dengan marah. "Kenapa
kau lakukan ini padaku?"
"Apa yang tadinya di depan sekarang ada di belakang."
Ping menjadi pening membayangkan berapa hari dia mesti berjalan kaki kembali ke
Huangling. Sebuah suara samar yang sudah membuatnya jengkel sejak mereka
mendarat tadi, memaksa masuk ke dalam kesadarannya. Suara mengetuk-ngetuk
berirama yang terdengar jauh. Kini suara itu semakin keras.
"Kaukah yang membuat suara?" tanya si gadis.
Sang naga menggelengkan kepala. "Tidak bisa mendengar suara."
Ping menghadap ke sosok istana Huangling di kejauhan dan maju beberapa langkah
ke sana dengan agak limbung.
"Kau mau ikut denganku, Danzi?" tanyanya. Dia menoleh dan melihat naga itu
tersandung-sandung di belakangnya, sayapnya yang luka terseret-seret di tanah.
Saat mereka turun gunung perlahan, suara itu semakin keras. Iramanya seperti
memaksa, tak enak didengar, mendentum-dentum seperti sakit kepala berat.
Naga itu mengacungkan satu cakarnya ke senja temaram.
"Kita mendekati jalan ke Huangling."
Ping berusaha menajamkan mata ke dalam cahaya temaram. Yang bisa dilihatnya
hanyalah batu penanda jalan di jalur setapak yang tak lebih dari sepuluh langkah
di depan mereka. Di sana jalannya bercabang. Satu mengarah ke barat, ke
Huangling. Satunya lagi ke timur. Ping bergegas ke arah percabangan jalan itu.
Ketika dia hampir mencapainya, terasa olehnya cakar-cakar naga itu melingkari
lengannya, menahannya. "Dengar suara sekarang," kata naga itu, menatap lekatlekat ke cabang jalan
satunya. "Sudah kuduga kau bisa mendengarnya," kata si gadis. "Suaranya keras seperti
orang menumbuk gandum." Suara debum-debum itu ditambah dengan suara berdenting, lalu disusul sebuah
suara kasar yang memberikan perintah-perintah.
"Pengawal istana!" kata sang naga. "Sembunyi!" Dengan kaki depannya naga itu
menarik Ping ke balik sebongkah batu yang ukurannya pas untuk tempat bersembunyi
seorang gadis dan seekor naga yang menunduk. "Apa yang,.."
Para pengawal bertunik merah muncul di jalan setapak banyak sekali. Bunyi
berdebum-debum itu adalah derap langkah kaki. Bunyi dentingan berasal dari bunyi
pedang dan tombak saling beradu saat me reka melangkah. Ketika suara kasar
meneriakkan perintah, suara berderap itu pun berhenti. Mereka berhenti tidak
lebih sepenggalan lengan jauhnya dari tempat Ping dan sang naga bersembunyi.
Sekarang Ping bisa mendengar deru napas berat para pengawal. Dia juga bisa
mencium bau keringat dari tubuh mereka yang terengah-engah.
"Kita beristirahat sebentar," suara kasar itu ber seru. "Kita masih harus
berbaris lebih dari sehari untuk mencapai Istana Huangling."
Para pengawal menggerutu.
"Dan aku ingin dua orang dari kalian berangkat lebih dulu," perintah sang
komandan. "Ingat apa kata kurir itu. Kita harus memasang mata terhadap penyihir
itu, Dia mengambil wujud sebagai seorang gadis kecil, tapi dia sangat berbahaya,
Kaisar telah memerintahkan agar dia dihukum mati begitu
ditemukan." Ping tercekat. "Bagaimana kami bisa mengenalinya?" kata salah seorang pengawal.
"Dia menyamar dengan pakaian compang-camping dan rambutnya diikat seperti rambut
penjahat. Tapi kau pasti bisa mengenalinya dengan mudah. Dia kidal dan membawa
seekor tikus dalam pakaiannya."
Gumam ketakutan menyebar di antara pengawal. "Lebih penting lagi, dia bersama
seekor naga kecuali dia sudah membunuh binatang itu. Dia sudah membantai dua
belas naga Kaisar dan menjualnya. Sang Pengurus Naga Kaisar tak berdaya melawan
kekuatan sihirnya." Ping membuka mulut untuk protes, tapi dengan cepat Danzi membekapnya dengan kaki
depan. Para pengawal mengeluh tentang lingkungan sekitar yang tandus gersang.
"Tidak ada pohon, tidak ada bahan untuk membuat api," kata salah seorang,
"Tidak ada binatang liar yang bisa diburu untuk makan malam," kata orang
lainnya. "Bahkan buah beri untuk pengganjal perut pun tak ada."
"Sebaiknya kalian membiasakan diri," sahut sang komandan. "Mulai sekarang kalian
akan ditempatkan di Huangling."
Beberapa saat kemudian para pengawal yang menggerutu itu disuruh bersiap.
Oborobor dinyalakan dan mereka melanjutkan kembali perjalanan yang melelahkan
itu. Ping tak berani bergerak
sampai derap langkah kaki itu menjauh.
"Lan mengatakan pada mereka bahwa aku adalah penyihir. Dia menimpakan semua
kesalahan padaku," kata Ping. "Aku tidak bisa pulang ke Huangling."
Ping mengeluarkan Hua dari tunik dan memeluknya. Air matanya menetes ke bulu
tikus itu. "Ping tidak bisa hidup tenang di Huangling," sang naga berkata,
Ping membayangkan api yang hangat di kamar Master Lan dan sepanci bubur panas.
"Istana itu rumahku dan aku rela memberikan apa pun agar bisa kembali ke sana."
Wajahnya basah oleh air mata. Ditatapnya naga itu. "Semua ini kesalahanmu."
"Semua jawabannya ada di balik gerbang pengalaman," sahut sang naga,
Ping sudah lelah dengan jawaban penuh teka-teki dari naga itu. Tubuhnya
menggigil. Sang naga menyapu salju dari sepetak tanah dengan ekornya, kemudian
bergelung di sekitar Ping.
6 Di BaliK Gerbang Pengalaman
anzi memakan akar-akaran serta tanaman obat ^ yang telah dikumpulkannya untuk
sarapan mereka, tapi Ping menolak.
"Aku mesti bagaimana?" bisik Ping.
"Ping mesti membantu membawa batu ke Samudra." Suara naga itu terdengar lembut
dan pelan dalam benak Ping.
"Aku hanya ingin pulang."
"Ping bukan budak lagi," kata Danzi. "Bebas. Pergi bersama Danzi ke Samudra."
"Tak ada tempat seperti itu," ujar Ping. "Tempat itu hanya ada dalam dongeng."
Naga itu menggelengkan kepala. "Samudra ada. Danzi sudah lihat."
Ping menoleh pada naga itu.
"Samudra tempat yang luar biasa. Banyak air. Sangat indah."
Ping mendengarkan baikbaik, seperti dia mendengarkan cerita-cerita Lao Ma. Dia
membayangkan sebuah negeri dengan pemandangan dalam lukisan di istana Huangling.
Bunga-bunga indah, juga sungai serta danau dengan jembatan yang cantik untuk menyeberang,
"Minum air dari Samudra dan semua keinginan menjadi nyata," kata sang naga. "Apa
yang Ping inginkan?"
"Aku ingin bisa pu..."
Naga itu menyela. "Air Samudra tak bisa memutar waktu ke masa lalu."
Ping tidak pernah berkeinginan memiliki apa pun selain sepotong tulang yang
masih ada dagingnya untuk ditambahkan pada buburnya, atau sepasang tangan
tambahan untuk membantunya mengangkut kayu api.
"Apa Ping tidak ingin hidup seperti putri raja" Memakai gaun sutra yang bagus,
selop berbordir indah" Punya pelayan sendiri?"
"Bisakah air Samudra mengabulkan itu?"
Sang naga mengangguk dengan bijaksana. "Apakah aku bisa makan daging sebanyak
yang kuinginkan?" "Apa saja." "Buah persik?" tanya Ping
"Buah persik seukuran melon," sahut Danzi.
"Apakah Hua boleh ikut?"
Dahi sang naga berkerut. "Di Samudra tidak ada tikus."
"Dia akan bersikap sangat sopan," Ping berkata. Dengan enggan naga itu
memiringkan kepala. "Butuh waktu berapa lama untuk terbang ke sana?" tanya Ping.
Naga itu memeriksa sayapnya yang luka.
"Tidak bisa terbang sampai sayap sembuh. Tidak lama lagi kita sampai di wilayah
berpenghuni. Melihat naga terbang bisa membuat orang ketakutan."
"Kau bisa terbang pada malam hari," kata Ping.
"Badan naga menyerap cahaya bulan, menjadi terang. Bisa semakin mengganggu para
petani." "Jadi, bagaimana cara pergi ke sana?"
"Jalan kaki," sahut sang naga.
"Apakah orang-orang tidak ketakutan melihat naga yang berjalan kaki?"
Sang naga tak menjawab. Entah dia berjalan atau terbang, Ping tidak yakin Danzi cukup kuat untuk
melakukan perjalanan jauh. Dia juga tidak sepenuhnya percaya pada cerita Danzi
tentang Samudra, tapi sekarang dia sudah menjadi pelarian. Dia tidak punya
pilihan selain mengikuti naga itu dalam misi pencariannya yang konyol. Kalau
beruntung, mungkin di jalan dia akan bertemu orang yang membutuhkan budak yang
trampil. Mereka menuruni lereng gunung. Dalam semalam salju berubah menjadi es yang
berbahaya. Kaki-kaki sang naga masih belum sembuh di bagian yang terkena rantai
besi si pemburu naga, tapi dengan sangat hatihati dia berhasil mengatasi lereng-
lereng berlapis es itu. Ping, yang hanya mempunyai dua kaki dan kesabaran lebih
tipis, belum apa-apa sudah sakit pantatnya karena berulang kali terpeleset.
"Biar lambat asal selamat," naga itu berkata.
Setibanya mereka di lereng-lereng yang lebih rendah, petak-petak hijau mulai
bermunculan di bawah kaki mereka. Mulanya yang tampak hanyalah sejumput-sejumput
rumput di sana-sini, tapi tak lama kemudian tampaklah hamparan rumput hijau tak
berbatas, dengan bunga-bunga kuning dan biru. Hamparan hijau yang lembut
mengingatkan Ping pada karpet-karpet di istana. Hanya Kaisar yang boleh
menapakkan kaki di karpet-karpet itu.
"Apa kau yakin, tidak apa-apa kalau kita berjalan di atas tanaman ini?" tanyanya
pada sang naga. Suara seperti denting lonceng yang didengarnya sudah cukup untuk memberitahu
Penghianat Budiman 2 The Count Of Monte Cristo Karya Alexander Dumas Pendekar Guntur 9
^