Pencarian

Dewi Olympia Terakhir 1

Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan Bagian 1


PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS -THE LAST OLYMPIAN- DEWI OLYMPIA TERAKHIR RICK RIORDAN Untuk Bu Pabst, guru bahasa Inggris
kelas delapanku, yang mulai mendorongku dalam
perjalanan sebagai penulis
Isi Buku 1. Aku Berselancar dengan Bahan Peledak
2. Aku Bertemu Kerabat Ikanku
3. Aku Mengintip Kematianku
4. Kami Membakar Kafan Logam
5. Aku Menabrakkan Anjingku ke Pohon
6. Kueku Jadi Gosong 7. Guru Matematikaku Memberiku Tumpangan
8. Aku Menikmati Mandi yang Paling Tidak Enak Seumur Hidupku
9. Dua Ular Menyelamatkan Nyawaku
10. Aku Membeli Teman 11. Kami Mematahkan Jembatan
12. Rachel Membuat Kesepakatan Jelek
13. Seorang Titan Membawakanku Hadiah
14. Babi Terbang 15. Chiron Mengadakan Pesta
16. Kami Mendapat Bantuan dari Pencuri
17. Aku Duduk di Kursi Panas
18. Orangtuaku Beraksi 19. Kami Memorak-Porandakan Kota Abadi
20. Kami Memenangi Hadiah Hebat
21. Blackjack Dibajak 22. Aku Dicampakkan 23. Kami Mengucapkan Selamat Tinggal, Kurang Lebih
Ucapan Terima Kasih SATU Aku Berselancar dengan Bahan Peledak Kiamat dimulai ketika seekor pegasus mendarat di kap mobilku.
Sampai saat itu, aku mengalami siang yang menyenangkan. Secara teknis
aku seharusnya nggak mengemudi. Karena aku baru menginjak umur enam belas
minggu depan, tapi ibuku dan ayah tiriku, Paul, mengajak temanku Rachel dan aku
ke bentangan pantai pribadi di Pesisir Selatan, dan Paul memperbolehkan kami
meminjam Prius-nya untuk keliling-keliling sebentar.
Nah, aku tahu yang kaupikirkan, Wah, dia bener-bener nggak bertanggung
jawab, bla, bla, bla, tapi Paul cukup mengenalku. Dia pernah melihatku menyayat
monster dan melompat dari sekolah yang meledak, jadi dia mungkin berpendapat
bahwa menyetir mobil beberapa ratus meter bukanlah hal paling berbahaya yang
pernah kulakukan. Pokoknya, Rachel dan aku sedang berkendara. Saat itu hari di bulan Agustus
yang panas. Rambut merah Rachel diekor kuda dan dia memakai blus putih di atas
baju renangnya. Aku tidak pernah melihatnya mengenakan pakaian apa pun selain
kaos lusuh dan jins yang ketumpahan cat sebelumnya, dan dia kelihatan seperti
sejuta drachma emas. "Oh, menepilah di sana!" dia memberitahuku.
Kami parkir di bubungan yang menghadap ke Samudra Atlantik. Laut selalu
merupakan salah satu tempat favoritku, tapi hari ini laut teramat indah - hijau
mengilap dan semulus kaca, seolah ayahku menjaganya tetap tenang hanya untuk
kami. Ayahku, omong-omong, adalah Poseidon. Dia bisa melakukan hal-hal
semacam itu. "Jadi." Rachel tersenyum padaku. "Soal undangan itu."
"Oh ... betul." Aku mencoba terdengar antusias. Maksudku, dia mengajakku
ke rumah liburan keluarganya di St. Thomas selama tiga hari. Aku tidak dapat
banyak tawaran semacam itu. Pendapat keluargaku mengenai liburan mewah
adalah akhir pekan di pondok bobrok di Long Island dengan sejumlah film
pinjaman dan beberapa pizza beku, sedangkan orangtua Rachel bersedia
mengizinkanku ikut ke Karibia.
Lagi pula, aku betul-betul butuh liburan. Musim panas ini adalah yang
terberat dalam hidupku. Gagasan untuk ambil cuti selama beberapa hari saja
sungguh menggoda. Walau begitu, sesuatu yang besar semestinya terjadi kapan saja sekarang.
Aku sedang dalam "status siaga" misi. Yang lebih parah lagi, minggu depan ulang
tahunku. Ada ramalan yang mengatakan bahwa saat aku menginjak usia enam
belas, hal buruk akan terjadi.
"Percy," kata Rachel, "aku tahu pemilihan waktunya jelek. Tapi bagimu
memang selalu jelek, bukan?"
Dia benar juga. "Aku betul-betul ingin pergi," aku berjanji. "Hanya saja - "
"Perang." Aku mengangguk. Aku tak suka membicarakannya, tapi Rachel tahu. Tidak
seperti sebagian besar manusia fana, dia bisa melihat menembus Kabut - selubung
magis yang mendistorsi penglihatan manusia. Dia sudah melihat monster. Dia
sudah bertemu beberapa demigod atau blasteran lain yang bertarung melawan para
Titan dan sekutu mereka. Dia bahkan hadir musim panas lalu saat Tuan Kronos
yang terpotong-potong bangkit dari peti matinya dalam wujud baru yang
mengerikan, dan dia memperoleh rasa hormat permanenku karena sudah menusuk
mata Kronos dengan sikat rambut plastik biru.
Rachel meletakkan tangannya di lenganku. "Pikirkan saja soal itu, oke" Kami
baru pergi beberapa hari lagi. Ayahku ... " Suaranya tercekat.
"Apa dia menyulitkanmu?" tanyaku.
Rachel menggelengkan kepalanya dengan jijik. "Dia berusaha bersikap baik
padaku, dan itu malah hampir lebih buruk. Dia ingin aku pergi ke Akademi Wanita
Clarion musim gugur nanti."
"Sekolah ibumu dulu?"
"Itu sekolah kepribadian bodoh buat cewek-cewek sosialita, nun jauh di
New Hampshire. Bisakah kaubayangkan aku di sekolah kepribadian?"
Kuakui bahwa ide itu kedengarannya lumayan bodoh. Rachel terlibat dalam
proyek seni urban dan memberi makan kaum tunawisma dan ikut unjuk rasa
"Selamatkan Sapsucker1 Perut Kuning yang Terancam Punah" dan hal-hal semacam
itu. Aku tidak pernah melihatnya mengenakan gaun. Susah membayangkannya
belajar menjadi sosialita.
Dia mendesah. "Ayahku mengira kalau dia melakukan hal-hal baik untukku,
aku bakal merasa bersalah dan menyerah."
"Itulah sebabnya dia setuju membiarkanku ikut liburan bersama kalian?"
"Ya ... tapi Percy, kau akan sangat membantuku. Pasti jauh lebih baik kalau
kau bersama kami. Lagi pula, ada sesuatu yang ingin kubicarakan - " Dia berhenti
tiba-tiba. - - - - - - - - - - 1 Sejenis burung pelatuk (Sphyrapicus varius) yang berukuran sedang dan ditemukan
di Amerika Utara. Kata sapsucker sendiri berarti pengisap getah.
"Sesuatu yang ingin kaubicarakan?" tanyaku. "Maksudmu ... serius banget
sampai-sampai kita harus pergi ke St. Thomas untuk membicarakannya?"
Dia merapatkan bibirnya. "Sudahlah, lupakan saja untuk saat ini. Ayo
berpura-pura kita cuma sepasang orang normal. Kita sedang keluar untuk
berkendara, dan kita memperhatikan lautan, dan senang rasanya bersama-sama."
Aku bisa tahu ada yang mengganggunya, tapi dia memasang senyum
berani. Sinar matahari membuat rambutnya kelihatan seperti api.
Kami menghabiskan banyak waktu bersama musim panas ini. Aku
sebenarnya tidak merencanakannya seperti itu, tapi semakin serius keadaan di
perkemahan, semakin aku merasa perlu menelepon Rachel dan menjauh, hanya
demi ruang untuk bernapas. Aku harus mengingatkan diriku bahwa dunia fana
masih di luar sana, jauh dari semua monster yang menggunakanku sebagai samsak
pribadi mereka. "Oke," kataku. "Cuma siang yang normal dan dua orang normal."
Dia mengangguk. "Dan kalau begitu ... secara hipotesis, kalau dua orang ini
saling suka, bagaimana supaya si cowok bodoh mau mencium si cewek, hah?"
"Oh ... " Aku merasa seperti salah satu sapi suci Apollo - lamban, bebal, dan
merah padam. "Eh ... "
Aku tak bisa pura-pura bahwa aku tak pernah memikirkan Rachel.
Bersamanya lebih mudah daripada ... yah, bersama gadis-gadis lain yang kukenal.
Aku tak perlu bekerja keras, atau memperhatikan apa yang kukatakan, atau
memutar otak untuk menebak apa yang dipikirkannya. Rachel tidak menyembunyikan banyak hal. Dia membiarkanku mengetahui apa yang
dirasakannya. Aku tidak yakin apa yang bakal kulakukan selanjutnya - tapi aku begitu
bengong, sampai-sampai aku tidak menyadari sosok hitam besar yang menukik ke
bawah dari langit sampai keempat kakinya mendarat di kap Prius dengan bunyi
BANG-BANG-KRIEEK! Hei, Bos, sebuah suara berkata dalam kepalaku. Mobil bagus!
Blackjack si pegasus adalah teman lamaku, jadi aku mencoba tidak terlalu
kesal gara-gara kawah yang baru saja diciptakannya di kap; tapi menurutku ayah
tiriku tidak bakalan marah besar.
"Blackjack," desahku. "Ngapain kau - "
Lalu kulihat siapa yang menunggangi punggungnya, dan aku tahu hariku
bakalan lebih rumit lagi.
"Hai, Percy." Charles Beckendorf, konselor senior untuk pondok Hephaestus, bakalan
membuat sebagian besar monster menangis memanggil-manggil mama mereka.
Dia besar, dengan otot kekar karena bekerja di bengkel logam setiap musim panas,
dua tahun lebih tua daripada aku, dan salah satu pembuat senjata terbaik di
perkemahan. Dia membuat sejumlah barang mekanis yang betul-betul inovatif.
Sebulan lalu, dia memasang bom api Yunani di kamar mandi sebuah bus
pariwisata yang membawa segerombolan monster melintasi negeri. Ledakan itu
menamatkan selegiun anak buah jahat Kronos segera setelah harpy pertama lenyap
jadi asap. Beckendorf berpakaian tempur. Dia mengenakan lempeng dada perunggu
dan helm perang dengan celana kamuflase hitam serta pedang yang diikat ke
bagian samping celana. Tas bahan peledaknya disandangkan ke bahunya.
"Sudah waktunya?" tanyaku.
Dia mengangguk muram. Tenggorokanku tercekat. Aku tahu perang ini akan datang. Kami sudah
merencanakannya selama berminggu-minggu, tapi aku setengah berharap perang
ini takkan pernah terjadi.
Rachel mendongak, memandang Beckendorf. "Hai."
"Oh, hai. Aku Beckendorf. Kau pasti Rachel. Percy memberitahuku ... eh,
maksudku dia pernah menyebut-nyebut tentangmu."
Rachel mengangkat alis. "Benarkah" Bagus." Dia melirik Blackjack, yang
mengetuk-ngetukkan kakinya ke kap Prius. "Jadi, sepertinya kalian harus pergi
menyelamatkan dunia sekarang."
"Kurang lebih begitu," Beckendorf setuju.
Aku memandang Rachel tanpa daya. "Maukah kau beri tahu ibuku - "
"Akan kuberi tahu dia. Aku yakin dia sudah terbiasa. Dan akan kujelaskan
kepada Paul tentang kap mobilnya."
Aku mengangguk tanda terima kasih. Menurut tebakanku ini mungkin
terakhir kalinya Paul meminjamiku mobilnya.
"Semoga berhasil." Rachel menciumku sebelum aku bahkan bisa bereaksi.
"Nah, pergilah, Blasteran. Pergi dan bunuhlah monster-monster untukku."
Pandangan terakhirku tentang Rachel adalah saat dia duduk di kursi depan
Prius, bersidekap, menyaksikan saat Blackjack berputar-putar makin tinggi dan
makin tinggi, membawa Beckendorf dan aku ke langit. Aku bertanya-tanya apa
yang ingin dibicarakan Rachel denganku, dan apakah aku bakal hidup cukup lama
untuk mengetahuinya. "Jadi," kata Beckendorf, "kutebak kau tidak mau aku menyinggungnyinggung adegan
kecil tadi kepada Annabeth."
"Oh, demi para dewa," gumamku. "Memikirkannya pun jangan."
Beckendorf tergelak, dan bersama-sama kami membubung di atas Samudra
Atlantik. Sudah hampir gelap saat kami melihat target kami. Putri Andromeda berpendar di
cakrawala - sebuah kapal penumpang besar yang diterangi cahaya kuning dan
putih. Dari kejauhan, siapa pun bakal mengira itu cuma kapal pesta, bukan markas
besar sang penguasa Titan. Kemudian saat kau semakin dekat, kau mungkin bakal
melihat tiang kapal raksasa di haluan - wanita berambut gelap dalam balutan gaun
tunik Yunani, terbelenggu rantai dengan ekspresi ngeri di wajahnya, seakan dia
bisa mencium bau semua monster yang terpaksa dibawanya.
Melihat kapal itu lagi membuat perutku melilit-lilit. Aku hampir mati dua
kali di atas Putri Andromeda. Sekarang kapal itu sedang menuju New York.
"Kautahu harus melakukan apa?" Beckendorf berteriak melampaui bunyi
angin. Aku mengangguk. Kami sudah berlatih di galangan kapal New Jersey,
menggunakan kapal-kapal terbengkalai sebagai target kami. Aku tahu seberapa
sedikit waktu yang bakal kami punyai. Tapi aku juga tahu inilah peluang terbaik
kami untuk mengakhiri invasi Kronos bahkan sebelum dimulai.
"Blackjack," kataku, "turunkan kami di dek buritan paling bawah."
Beres, Bos, katanya. Ampun deh, aku benci lihat kapal itu.
Tiga tahun lalu, Blackjack diperbudak di Putri Andromeda sampai dia kabur
berkat sedikit bantuan dari aku dan teman-temanku. Menurut tebakanku dia lebih
memilih surainya dikepang seperti kuda di film My Little Pony daripada kembali
ke sini lagi. "Jangan tunggu kami," aku memberitahunya.
Tapi, Bos - "Percayalah padaku," kataku. "Kami akan keluar sendiri."
Blackjack melipat sayapnya dan menukik ke arah kapal bagaikan komet
hitam. Angin bersiul di telingaku. Kulihat monster-monster berpatroli di dek
atas kapal itu - para wanita ular dracaena, anjing neraka, raksasa, telekhine - tapi kami
melesat lewat begitu cepat sehingga tak satu pun dari mereka sadar. Kami melejit
ke buritan kapal, dan Blackjack mengembangkan sayapnya, dengan ringan
mendarat di dek terbawah. Aku turun, merasa mual.
Semoga berhasil, Bos, kata Blackjack. Jangan biarkan mereka mengubahmu jadi
daging kuda! Dengan kata-kata itu, teman lamaku terbang ke tengah malam. Aku
mengeluarkan penaku dari saku dan membuka tutupnya, Riptide pun mencuat ke
ukuran sempurnanya - perunggu langit mematikan sepanjang sembilan puluh
sentimeter berpendar di tengah senja.
Beckendorf mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Kukira itu peta atau
apalah. Lalu kusadari bahwa itu adalah selembar foto. Dia menatap foto itu di
tengah cahaya remang-remang - wajah Silena Beauregard, putri Aphrodite, yang
sedang tersenyum. Mereka mulai jadian musim panas lalu, setelah kami
bertahuntahun berkata, "Sadar dong, kalian berdua saling suka!" Terlepas dari
semua misi berbahaya, kulihat Beckendorf paling bahagia musim panas ini dibandingkan
sebelumnya. "Kita pasti berhasil kembali ke perkemahan," aku berjanji.
Selama sedetik kulihat kekhawatiran di matanya. Lalu dia memasang
senyum percaya dirinya yang dulu.
"Memang," katanya. "Ayo kita ledakkan Kronos sampai jutaan keping
seperti dulu lagi." Beckendorf memimpin jalan. Kami menyusuri koridor sempit untuk menuju ke
tangga kru, sama seperti waktu latihan, tapi kami membeku ketika kami


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendengar suara-suara di atas kami.
"Aku tidak peduli apa kata hidungmu!" sergah suara separuh manusia,
separuh anjing - seekor telekhine. "Kali terakhir kau membaui blasteran, itu
rupanya cuma roti isi daging."
"Roti isi daging enak!" sergah suara kedua. "Tapi ini bau blasteran, aku
sumpah. Mereka ada di atas kapal!"
"Bah, otakmu tidak beres!"
Mereka terus bertengkar, dan Beckendorf menunjuk ke bawah tangga. Kami
turun sepelan yang kami bisa. Dua lantai di bawah, suara telekhine mulai
memudar. Akhirnya kami sampai di sebuah tingkap logam. Beckendorf mengucapkan
kata "ruang mesin" tanpa suara.
Tingkap tersebut dikunci, namun Beckendorf mengeluarkan pemotong
rantai dari tasnya dan mematahkan gerendel seakan barang itu terbuat dari
mentega. Di dalam, sederet turbin kuning seukuran lumbung beras berputar dan
berdengung. Meteran tekanan dan terminal komputer berbaris merapat di dinding
seberang. Seekor telekhine membungkuk di atas konsol, tapi ia begitu sibuk
dengan pekerjaannya sehingga tidak menyadari keberadaan kami. Ia memiliki
tinggi kira-kira satu setengah meter, dengan bulu anjing laut hitam licin dan
kaki kecil montok. Kepalanya seperti anjing Doberman, tapi tangannya yang bercakar
hampir seperti manusia. Ia menggeram dan menggumam sambil menekan-nekan
keyboard. Mungkin ia sedang mengirim pesan kepada temannya di mukajelek.com.
Aku melangkah maju, dan ia menegang, mungkin mencium bahwa ada
sesuatu yang tidak beres. Ia melompat ke samping menuju sebuah tombol alarm
merah besar, tapi aku menghadang jalannya. Ia mendesis dan menyerangku, tapi
cukup dengan satu sayatan Riptide, ia pun meledak jadi debu.
"Satu tumbang," kata Beckendorf. "Kira-kira lima ribu yang masih harus
dihadapi." Dia melemparkan setoples cairan hijau kental kepadaku - api Yunani,
salah satu zat paling berbahaya di dunia. Lalu dia melemparkan satu lagi
perlengkapan esensial blasteran kepadaku - selotip.
"Tempelkan ke konsol," katanya. "Akan kuurus turbinnya."
Kami pun bekerja. Ruangan itu panas dan lembap, dan tidak lama kemudian
aku sudah bersimbah keringat.
Kapal terus bergerak maju. Karena aku putra Poseidon, kesadaranku di laut
sangat sempurna. Jangan tanya aku caranya, tapi aku tahu kami berada di 40,19?
Lintang Utara, 71,90? Bujur Barat, melaju dengan kecepatan delapan belas knot,
yang berarti kapal bakal sampai di Pelabuhan New York saat fajar. Ini akan jadi
satu-satunya kesempatan kami untuk menghentikannya.
Aku baru saja menempelkan toples api Yunani kedua ke panel kendali ketika
aku mendengar langkah kaki di anak tangga logam - banyak sekali makhluk
menuruni tangga sehingga aku bisa mendengar suara mereka melampaui bunyi
mesin. Bukan pertanda bagus.
Aku beradu pandang dengan Beckendorf. "Berapa lama lagi?"
"Terlalu lama." Dia menepuk arlojinya, yang merupakan detonator kendali
jarak jauh kami. "Aku masih harus menghubungkan kabel penerima sinyal dan
mempersiapkan bahan peledak. Paling tidak sepuluh menit lagi."
Menilai dari bunyi langkah kaki itu, kami punya waktu kira-kira sepuluh
detik. "Akan kualihkan perhatian mereka," kataku. "Sampai nanti di tempat
pertemuan kita." "Percy - " "Doakan semoga aku berhasil."
Dia memandangku seolah dia ingin berdebat. Idenya adalah kami bakal
masuk dan keluar tanpa ketahuan. Tapi kami harus berimprovisasi.
"Semoga berhasil," katanya.
Aku menyerbu ke luar pintu.
Setengah lusin telekhine berderap menuruni tangga. Aku merangsek sambil
menyabet mereka dengan Riptide lebih cepat daripada mereka bisa menyalak. Aku
terus memanjat - melewati seekor telekhine lagi, yang begitu terperanjat
sampaisampai ia menjatuhkan kotak makan siang Lil' Demons-nya. Kutinggalkan ia
dalam keadaan hidup - sebagian karena kotak makan siangnya keren, sebagian supaya ia
bisa memberi peringatan dan mudah-mudahan membuat teman-temannya
mengikutiku alih-alih menuju ruang mesin.
Aku keluar lewat pintu ke dek enam dan terus berlari. Aku yakin lorong
berkarpet ini dulunya sangat bergaya, tetapi setelah diduduki monster tiga tahun
belakangan ini, kertas pelapis dinding, karpet, dan pintu-pintu kabin telah
dicakarcakar dan berlendir sedemikian rupa sehingga kelihatan seperti bagian
dalam kerongkongan naga (dan ya, sayangnya, aku bicara berdasarkan pengalaman).
Dulu pada kunjungan pertamaku ke Putri Andromeda, musuh lamaku Luke
mempertahankan sejumlah wisatawan linglung dalam pelayaran untuk dipamerkan, diselubungi Kabut sehingga mereka tidak sadar mereka berada di
kapal yang dipenuhi monster. Sekarang aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan
wisatawan. Aku benci memikirkan apa yang terjadi pada mereka, tapi aku ragu
mereka diizinkan pulang ke rumah dengan hadiah kemenangan mereka dalam
permainan bingo. Aku sampai di promenade, pusat perbelanjaan besar yang memakan tempat
seluruh bagian tengah kapal, dan aku berhenti mendadak. Di tengah-tengah
halaman berdirilah sebuah air mancur. Dan di air mancur tersebut berjongkoklah
seekor kepiting raksasa. "Raksasa" yang kumaksud di sini bukanlah kepiting Alaska besar yang bisa
kaumakan sepuasnya hanya dengan $7.99. Yang kumaksud raksasa adalah lebih
besar daripada air mancur. Si monster menjulang tiga meter di atas air.
Cangkangnya berbintik-bintik biru dan hijau, capitnya lebih panjang daripada
badanku. Jika kau pernah melihat mulut kepiting, berbuih dan menjijikkan dengan
rambut dan bagian yang membuka-tutup, bisa kaubayangkan mulut kepiting yang
seukuran papan reklame ini tidaklah tampak lebih bagus. Mata hitamnya yang
seperti manik-manik memelototiku, dan aku bisa melihat kecerdasan di matanya -
sekaligus kebencian. Fakta bahwa aku adalah putra dewa laut takkan memberiku
poin tambahan di mata Pak Kepiting.
"FFFFfffffff," desisnya, buih laut menetes dari mulutnya. Bau yang menguar
darinya bagaikan tong sampah penuh daging ikan yang sudah dijemur
semingguan. Alarm menggelegar. Sebentar lagi aku bakal kedatangan banyak teman dan
aku harus terus bergerak.
"Hei, Kepiting." Aku beringsut mengitari tepian halaman. "Aku cuma mau
mengitarimu, jadi - "
Si Kepiting bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia tergopohgopoh ke luar
air mancur dan langsung menghampiriku, dengan capit dibukatutup. Aku menukik ke
toko cenderamata, menabrak rak kaos. Capit kepiting
menghantam dinding kaca hingga pecah berkeping-keping dan menggaruk
melintasi ruangan. Aku melesat ke luar lagi, bernapas tersengal-sengal, tetapi
Pak Kepiting berbalik dan mengikuti.
"Di sana!" kata sebuah suara dari balkon di atasku. "Penyusup!"
Kalau aku ingin menciptakan pengalih perhatian, aku berhasil, tetapi ini
bukanlah tempat aku ingin bertarung. Jika aku terjepit di tengah-tengah kapal,
aku bakalan jadi makanan kepiting.
Si kepiting iblis menyerangku. Aku menyabetkan Riptide, menyayat ujung
capitnya. Ia mendesis dan berbusa, tapi kelihatannya tidak terlalu terluka.
Aku mencoba mengingat apa saja dari kisah lama yang mungkin membantu
dalam menghadapi makhluk ini. Annabeth pernah memberitahuku tentang
monster kepiting - sesuatu soal Hercules yang meremukkannya di bawah kakinya"
Itu tidak bakalan berhasil di sini. Kepiting ini agak lebih besar daripada
Reebok-ku. Kemudian pemikiran aneh terlintas di benakku. Natal lalu, ibuku dan aku
membawa Paul Blofis ke pondok lama kami di Montauk, tempat yang sudah sering
sekali kami datangi. Paul mengajakku berburu kepiting, dan ketika dia
mengangkat jaring yang penuh kepiting, dia menunjukkan kepadaku bagaimana
kepiting punya retakan di cangkang mereka, tepat di tengah-tengah perut jelek
mereka. Satu-satunya masalah adalah mencapai perut jelek itu.
Aku melirik air mancur, kemudian lantai marmer, yang sudah licin gara-
gara jejak langkah kepiting yang tergopoh-gopoh. Aku mengulurkan tanganku,
berkonsentrasi pada air, dan air mancur pun meledak. Air tersembur ke manamana,
setinggi bangunan tiga tingkat, membasahi balkon, lift, dan jendela toko. Si
kepiting tidak peduli. Ia menyukai air. Ia menghampiriku dari samping,
membukatutup capit dan mendesis-desis, dan aku lari menyongsongnya, meneriakkan,
"AAAHHH!" Tepat sebelum kami bertabrakan, aku menjatuhkan diri ke tanah ala pemain
bisbol dan meluncuri marmer basah tepat di bawah makhluk itu. Rasanya seperti
meluncur di bawah kendaraan lapis baja seberat tujuh ton. Yang harus dilakukan
si kepiting hanyalah duduk dan meremukkanku, tetapi sebelum ia menyadari apa
yang terjadi, aku menghujamkan Riptide ke retakan di cangkangnya, melepaskan
peganganku, dan mendorong diriku keluar dari belakang tubuhnya.
Si monster berguncang dan berdesis. Matanya terbuyarkan. Cangkangnya
berubah menjadi merah terang saat jeroannya menguap. Cangkang kosong jatuh
berkelotakan ke lantai, menghasilkan gundukan besar.
Aku tidak punya waktu untuk mengagumi hasil prakaryaku. Aku lari ke
tangga terdekat sementara di sekelilingku para monster dan blasteran lain
meneriakkan perintah dan menyandang senjata mereka. Tanganku kosong. Riptide
- karena ajaib - akan muncul di sakuku cepat atau lambat, tapi untuk saat ini
pedang itu tersangkut di suatu tempat di bawah reruntuhan kepiting, dan aku
tidak punya waktu untuk mengambilnya.
Di ruang lift dek delapan, sepasang dracaena melata, menghadang
langkahku. Dari pinggang ke atas, mereka adalah wanita dengan kulit hijau
bersisik, mata kuning, dan lidah bercabang. Dari pinggang ke bawah, mereka
memiliki ekor ular ganda alih-alih kaki. Mereka membawa tombak dan jaring
berpemberat, dan aku tahu dari pengalaman bahwa mereka bisa menggunakan
senjata tersebut. "Apa ini?" kata salah satunya. "Hadiah untuk Kronosss!"
Aku tidak sedang bersemangat main ular-naga-panjangnya, tapi di depanku
ada pajangan berbentuk kapal, fungsinya seperti peta yang menunjukkan ANDA
BERADA DI SINI. Aku merenggut pajangan itu dari dudukannya dan
melemparkannya kepada dracaena pertama. Kapal tersebut menghantam wajahnya
dan ia jatuh beserta si kapal. Aku melompatinya, merebut tombak temannya, dan
mengayunkannya. Ia menabrak lift, dan aku terus berlari menuju bagian depan
kapal. "Tangkap dia!" teriak si dracaena.
Para anjing neraka menggeram. Sebuah anak panah dari suatu tempat
mendesing melewati wajahku dan menusukkan dirinya ke dalam dinding tangga
berpanel mahoni. Aku tidak peduli - selama aku menjauhkan monster-monster dari ruang
mesin dan memberi Beckendorf lebih banyak waktu.
Saat aku sedang lari menaiki tangga, seorang anak datang menyerbu. Dia
terlihat seakan baru saja bangun dari tidur siang. Baju zirahnya baru terpasang
separuh. Dia menghunus pedangnya dan berteriak, "Kronos!" tapi dia lebih
kedengaran takut daripada marah. Dia tidak mungkin lebih dari dua belas tahun -
kira-kira seusiaku waktu aku pertama kali tiba di Perkemahan Blasteran.
Pemikiran itu membuatku depresi. Anak ini dicuci otak - dilatih untuk
membenci para dewa dan marah-marah karena dia dilahirkan sebagai setengah
bangsa Olympia. Kronos memperalatnya, tetapi walau begitu anak itu berpikir aku
adalah musuhnya. Tak mungkin aku mau melukainya. Aku tidak butuh senjata untuk ini. Aku
melangkah masuk ke jangkauan serangnya dan mencengkeram pergelangan
tangannya, menghantamkan tangannya ke dinding. Pedangnya jatuh berkelotakan
di lantai, lepas dari genggamannya.
Lalu kulakukan sesuatu yang tak kurencanakan. Hal ini mungkin bodoh.
Hal ini jelas-jelas membahayakan misi kami, tapi aku tidak bisa tak
melakukannya. "Kalau kau mau hidup," aku memberitahunya, "turun dari kapal ini
sekarang. Beri tahu para blasteran lain." Lalu kudorong dia dari tangga dan itu
membuatnya jatuh berguling-guling ke lantai berikut.
Aku terus memanjat. Kenangan buruk: sebuah lorong terbentang di kafetaria. Annabeth, adik
tiriku Tyson, dan aku menyelinap masuk ke sini tiga tahun lalu pada kunjungan
pertamaku. Aku keluar di dek utama. Di sebelah kiri haluan, langit menggelap dari
ungu menjadi hitam. Kolam renang berkilau di antara dua menara kaca yang
memuat lebih banyak balkon serta dek restoran. Seluruh bagian atas kapal tampak
seram, terbengkalai. Yang harus kulakukan hanyalah menyeberang ke sisi sebelah sana.
Kemudian aku bisa menuruni tangga menuju helipad - tempat pertemuan darurat
kami. Jika beruntung, Beckendorf akan menemuiku di sana. Kami akan melompat
ke laut. Kekuatan airku akan melindungi kami berdua, dan kami akan
mengaktifkan bahan peledak dari jarak setengah kilo jauhnya.
Aku sudah setengah jalan melintasi dek ketika bunyi sebuah suara
membuatku membeku. "Kau terlambat, Percy."
Luke berdiri di balkon di atasku, sebuah senyum terpasang di wajahnya
yang dihiasi bekas luka sayatan. Dia mengenakan jins, kaos putih, dan sandal
jepit, seakan dia hanyalah cowok kuliahan biasa, tapi matanya mengungkapkan yang
sebenarnya. Matanya seperti emas pekat.
"Kami sudah menunggumu berhari-hari." Pada mulanya dia kedengaran
normal, seperti Luke. Tapi kemudian wajahnya berkedut. Getaran merambati
tubuhnya seakan dia baru saja meminum sesuatu yang betul-betul tidak enak.
Suaranya menjadi lebih berat, kuno dan berkuasa - suara Kronos sang penguasa
Titan. Kata-kata tersebut menggores tulang belakangku bagaikan bilah pisau.
"Ayo, membungkuklah di hadapanku."
"Yeah, itu pasti terjadi nanti," gumamku.
Raksasa-raksasa Laistrygonian berbaris masuk di semua sisi kolam renang
seakan mereka telah menanti-nantikan isyarat. Masing-masing bertinggi dua
setengah meter dengan lengan bertato, baju zirah kulit, dan pentungan
berpakupaku. Para blasteran pemanah muncul di atap di atas Luke. Dua anjing
neraka melompat turun dari balkon seberang dan menggeram-geram kepadaku. Dalam
hitungan detik aku sudah terkepung. Jebakan: tidak mungkin mereka bisa siap
dalam posisi secepat ini kecuali mereka sudah tahu aku akan datang.
Aku mendongak, memandang Luke, dan kemarahan mendidih dalam
diriku. Aku tak tahu apakah kesadaran Luke bahkan masih hidup dalam tubuh itu.
Mungkin saja, mendengar betapa suaranya berubah ... atau mungkin itu cuma
Kronos yang beradaptasi dengan wujud barunya. Kuberi tahu diriku bahwa itu
tidak jadi soal. Luke memang sudah sinting dan jahat lama sebelum Kronos
merasukinya. Sebuah suara dalam kepalaku berkata: Aku harus melawannya pada akhirnya.
Kenapa tidak sekarang"
Menurut ramalan besar itu, aku semestinya bakal membuat pilihan yang
menyelamatkan atau menghancurkan dunia saat umurku enam belas. Itu tinggal
tujuh hari lagi. Kenapa tidak sekarang" Kalau aku benar-benar punya kekuatan,
apa bedanya dengan seminggu lagi" Aku bisa mengakhiri ancaman ini tepat di sini
dengan cara mengalahkan Kronos. Hei, aku toh sudah pernah melawan monster
dan dewa sebelumnya. Seolah membaca pikiranku, Luke tersenyum. Tidak, dia bukan Luke
melainkan Kronos. Aku harus mengingat itu.
"Ayo maju," katanya. "Kalau kau berani."
Kerumunan monster terbelah. Aku bergerak menaiki tangga, jantungku
berdentum-dentum. Aku yakin seseorang bakal menikamku dari belakang, tetapi


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ternyata mereka membiarkanku melintas. Aku meraba sakuku dan menemukan
penaku menunggu. Aku membuka tutupnya, dan Riptide pun melar menjadi
pedang. Senjata Kronos muncul di tangannya - sabit 1,8 meter, separuh perunggu
langit, separuh baja fana. Melihat benda itu saja membuat lututku lemas seperti
agar-agar. Namun, sebelum aku bisa berubah pikiran, aku menyerbu.
Waktu melambat. Maksudku, melambat secara harfiah, sebab Kronos punya
kekuatan itu. Aku merasa seakan aku sedang bergerak di dalam sirup. Lenganku
begitu berat, aku nyaris tidak bisa mengangkat pedangku. Kronos tersenyum,
memutar sabitnya dengan kecepatan normal dan menungguku merayap menuju
ajalku. Aku berusaha melawan sihirnya. Aku berkonsentrasi pada laut di
sekelilingku - sumber kekuatanku. Aku sudah semakin jago menyalurkan
kekuatanku seiring tahun berlalu, tetapi tampaknya tidak ada yang terjadi.
Kuambil langkah maju pelan lagi. Raksasa-raksasa mencibir. Para dracaena
mendesiskan tawa. Hei, laut, pintaku. Bantu aku sekarang juga.
Tiba-tiba ada rasa sakit yang menarik-narik perutku. Seluruh kapal miring
ke samping, melemparkan para monster dari pijakan kaki mereka. Empat ribu
galon air asin menyembur keluar dari kolam renang, membasahi aku dan Kronos
dan semua yang ada di dek. Air membuatku segar, mematahkan mantra waktu,
dan aku menyerbu ke depan.
Aku menabrak Kronos, tapi aku masih terlalu lambat. Aku membuat
kesalahan yaitu memandang wajahnya - wajah Luke - cowok yang dulu pernah jadi
temanku. Meskipun aku membencinya, ternyata sulit untuk membunuhnya.
Kronos tidak memiliki keraguan semacam itu. Dia menyabet ke bawah
dengan sabitnya. Aku melompat mundur, dan bilah keji itu meleset seinci,
mengiriskan sayatan di dek tepat di bawah kakiku.
Aku menendang dada Kronos. Dia terhuyung-huyung ke belakang, tapi dia
lebih berat daripada Luke. Rasanya seperti menendang kulkas.
Kronos mengayunkan sabitnya lagi. Aku menghadang dengan Riptide, tapi
sabetannya begitu bertenaga sampai-sampai pedangku hanya bisa menangkisnya.
Ujung sabit mengiris lengan bajuku dan menggores lenganku. Sayatan tersebut
seharusnya tidak serius, tapi seluruh bagian samping tubuhku serasa meledak
kesakitan. Aku ingat apa yang pernah dikatakan seekor monster laut tentang sabit
Kronos: Hati-hati, Bodoh. Satu sentuhan, dan mata pisau itu akan melepaskan
jiwamu dari tubuhmu. Sekarang aku mengerti apa maksudnya. Aku bukan cuma kehilangan
darah. Aku bisa merasakan kekuatanku, tekadku, dan identitasku terkuras.
Aku terhuyung-huyung ke belakang, memindahkan pedangku ke tangan
kiri, dan menyerang dengan putus asa. Mata pedangku seharusnya menusuk
Kronos, tapi pedangku malah terpental dari perutnya seakan memukul marmer
padat. Tidak mungkin dia bisa selamat dari itu.
Kronos tertawa. "Performa yang buruk, Percy Jackson. Luke memberitahuku
kau tak pernah menandinginya dalam adu pedang."
Penglihatanku mulai mengabur. Aku tahu aku tidak punya banyak waktu.
"Luke memang besar kepala," kataku. "Tapi paling tidak itu kepalanya sendiri."
"Rasanya sayang, membunuhmu sekarang," Kronos membatin, "sebelum
rencana akhir terkuak. Aku ingin sekali melihat rasa ngeri di matamu ketika kau
menyadari bagaimana aku akan menghancurkan Olympus."
"Kau takkan pernah membawa kapal ini sampai ke Manhattan." Lenganku
berdenyut-denyut. Titik-titik hitam menari-nari di penglihatanku.
"Dan, kenapa begitu?" Mata Kronos yang keemasan berkilat. Wajahnya -
wajah Luke - tampak bagaikan topeng, tidak wajar dan diterangi dari belakang
oleh semacam kekuatan jahat. "Barangkali kau mengandalkan temanmu yang
membawa peledak?" Dia memandang ke bawah ke arah kolam dan berseru, "Nakamura!"
Seorang cowok remaja berbaju zirah Yunani lengkap menerobos kerumunan.
Mata kirinya ditutupi tutup mata hitam. Aku mengenalnya, tentu saja: Ethan
Nakamura, putra Nemesis. Aku menyelamatkan nyawanya di Labirin musim panas
lalu, dan sebagai balasannya, si kecil berengsek itu membantu Kronos hidup
kembali. "Sukses, Tuan," seru Ethan. "Kami menemukannya persis seperti yang
diberitahukan kepada kami."
Dia menepukkan tangannya dan dua raksasa terhuyung-huyung maju,
menyeret Charles Beckendorf di antara mereka. Jantungku hampir berhenti. Mata
Beckendorf bengkak dan ada luka sayatan di sekujur lengan serta wajahnya.
Lempeng dadanya lenyap dan bajunya hampir robek sepenuhnya.
"Tidak!" teriakku.
Beckendorf bertemu pandang denganku. Dia melirik tangannya seolah dia
sedang berusaha memberitahuku sesuatu. Arlojinya. Mereka belum mengambil
arlojinya, dan itu adalah detonator. Mungkinkah peledak sudah diaktifkan"
Pastinya para monster sudah mencopoti peledak seketika.
"Kami menemukannya di kapal," salah satu raksasa berkata, "sedang
mencoba menyelinap ke ruang mesin. Boleh kami makan dia sekarang?"
"Sebentar lagi." Kronos merengut ke arah Ethan. "Apa kau yakin dia belum
menyalakan peledak?"
"Dia sedang menuju ruang mesin, Tuanku."
"Bagaimana kautahu itu?"
"Eh ... " Ethan memindahkan tumpuan, gelisah. "Dia menuju ke arah itu.
Dan dia memberi tahu kami. Tasnya masih dipenuhi bahan peledak."
Pelan-pelan, aku mulai paham. Beckendorf telah menipu mereka. Waktu dia
menyadari dia bakal ditangkap, dia membuatnya terlihat seolah dia sedang pergi
ke arah lain. Dia meyakinkan mereka bahwa dia belum sampai ke ruang mesin. Api
Yunani mungkin masih aktif! Namun itu tidak ada gunanya bagi kami, kecuali
kami bisa turun dari kapal ini dan meledakkannya.
Kronos ragu-ragu. Percayai cerita itu, doaku. Rasa sakit di lenganku begitu parah sampai-sampai
sekarang aku nyaris tidak bisa berdiri.
"Buka tasnya," perintah Kronos.
Salah satu raksasa merenggut kantong bahan peledak dari bahu Beckendorf.
Dia menengok ke dalam, menggeram, dan membalikkan tas tersebut. Para monster
yang panik berdesakan ke belakang. Jika tas itu benar-benar dipenuhi toples api
Yunani, kami semua bakalan meledak. Namun yang jatuh adalah selusin kaleng
persik. Aku bisa mendengar Kronos bernapas, berusaha mengendalikan amarahnya.
"Apakah kau, barangkali," katanya, "menangkap blasteran ini di dekat
dapur?" Ethan berubah jadi pucat. "Eh - "
"Dan apakah kau, barangkali, mengirim seseorang untuk benar-benar
MENGECEK RUANG MESIN?"
Ethan tergopoh-gopoh mundur karena ngeri, lalu berbalik dan lari.
Aku menyumpah-nyumpah tanpa suara. Sekarang kami hanya punya
beberapa menit sebelum bom dicopot. Aku menangkap pandangan mata
Beckendorf lagi dan mengajukan pertanyaan hening, berharap dia akan mengerti:
Berapa lama" Dia menangkupkan jempol dan jari-jarinya, membentuk lingkaran. Nol.
Tidak ada waktu tunda pada timer sama sekali. Kalau dia berhasil menekan tombol
detonator, kapal akan meledak seketika. Kami takkan pernah bisa pergi cukup jauh
sebelum menggunakannya. Para monster akan membunuh kami lebih dulu, atau
mencopot bahan peledak, atau keduanya.
Kronos menoleh ke arahku sambil tersenyum miring. "Kau harus
memaklumi pembantuku yang tak kompeten, Percy Jackson. Tapi tidak jadi soal.
Kami mendapatkan kau sekarang. Sudah berminggu-minggu kami tahu kau akan
datang." Dia mengulurkan tangannya dan mengayun-ayunkan gelang perak kecil
dengan bandul berbentuk sabit - simbol sang penguasa Titan.
Luka di lenganku menyerap kemampuanku untuk berpikir, tapi aku
menggumam, "Alat komunikasi ... mata-mata di perkemahan."
Kronos tergelak. "Kau tidak bisa mengandalkan teman. Mereka selalu
mengecewakanmu. Luke memahami pelajaran itu lewat cara yang sulit. Sekarang
jatuhkan pedangmu dan menyerahlah kepadaku, atau temanmu akan mati."
Aku menelan ludah. Salah satu raksasa melingkarkan tangannya ke leher
Beckendorf. Aku sedang tidak berada pada kondisi yang tepat untuk
menyelamatkannya, dan sekalipun aku mencoba, dia bakal mati sebelum aku
sampai di sana. Kami berdua bakal mati.
Beckendorf mengucapkan satu kata tanpa suara: Pergi.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Raksasa kedua masih meraba-raba kaleng-kaleng persik, yang berarti lengan
kiri Beckendorf bebas. Dia mengangkat lengannya pelan-pelan - ke arah arloji di
pergelangan tangan kanannya.
Aku ingin berteriak, JANGAN!
Lalu di kolam renang di bawah, salah satu dracaena mendesis, "Apa yang
dilakukannya" Apa itu di pergelangan tangannya?"
Beckendorf memejamkan matanya rapat-rapat dan mengarahkan tangannya
ke atas arlojinya. Aku tidak punya pilihan. Aku melemparkan pedangku bagaikan lembing ke
arah Kronos. Pedangku terpental tanpa menimbulkan luka di dadanya, tapi itu
cukup untuk mengejutkannya. Aku merangsek menembus kerumunan monster
dan melompat ke samping kapal - menuju air tiga puluh meter di bawah.
Kudengar gemuruh jauh di dalam kapal. Para monster meneriakiku dari
atas. Sebuah tombak melesat melewati telingaku. Sebuah anak panah menusuk
pahaku, tapi aku tidak punya waktu untuk merasakan sakitnya. Aku menceburkan
diri ke dalam laut dan memerintahkan arus untuk membawaku pergi jauh - seratus
meter, dua ratus meter. Dari jarak sejauh itu sekalipun, ledakan menggucangkan dunia. Hawa panas
membakar bagian belakang kepalaku. Putri Andromeda meledak dari kedua sisi,
bola api hijau raksasa bergulung-gulung ke langit gelap, menelan segalanya.
Beckendorf, pikirku. Kemudian aku pingsan dan tenggelam bagaikan jangkar ke dasar laut.
DUA Aku Bertemu Kerabat Ikanku Mimpi blasteran memang payah.
Masalahnya, mimpi blasteran tidak pernah cuma sekadar mimpi. Mimpi
blasteran pasti berupa wahyu, pertanda buruk, dan semua hal mistis lain yang
membuat kepalaku nyeri. Aku bermimpi aku berada di istana gelap di puncak gunung. Sayangnya,
aku mengenalinya: istana para Titan di puncak Gunung Othrys, dikenal juga
sebagai Gunung Tamalpais, di California. Paviliun utama terbuka di tengah malam,
dikelilingi pilar-pilar Yunani hitam dan patung-patung Titan. Obor berpendar
dilatarbelakangi lantai marmer hitam. Di tengah-tengah ruangan, seorang raksasa
berzirah susah payah menanggung bobot awan yang membubung dan berputarputar -
Atlas, memanggul langit. Dua pria raksasa lain berdiri menjulang di atas tungku perunggu di dekat
sana, mengamati citra di dalam api.
"Ledakan yang cukup hebat," kata salah satu. Dia mengenakan baju zirah
hitam yang ditaburi bintik-bintik perak seperti malam berbintang. Wajahnya
ditutupi helm perang dengan tanduk domba jantan lengkung di kedua sisi.
"Tidak masalah," kata yang satu lagi. Titan ini mengenakan jubah emas,
dengan mata keemasan seperti Kronos. Seluruh tubuhnya berpendar. Dia
mengingatkanku pada Apollo, Dewa Matahari, hanya saja cahaya si Titan lebih
menyilaukan, dan ekspresinya lebih kejam. "Para dewa telah menjawab tantangan.
Tidak lama lagi mereka akan dihancurkan."
Citra di api susah untuk dipahami: badai, bangunan yang runtuh, manusia
fana yang menjerit ngeri.
"Aku akan pergi ke timur untuk memimpin pasukan kita," kata si Titan
Emas. "Krios, kau tinggallah dan jaga Gunung Othrys."
Si cowok tanduk domba menggeram. "Aku selalu mendapat pekerjaan
bodoh. Penguasa Selatan. Sang Penguasa Konstelasi. Sekarang aku harus mengasuh
Atlas sementara kau bersenang-senang."
Di bawah pusaran awan, Atlas melolong penuh derita. "Biarkan aku keluar,
dasar terkutuk! Aku adalah pejuang terhebat kalian. Ambil bebanku supaya aku
bisa bertarung!" "Diam!" raung si Titan keemasan. "Kau sudah memperoleh kesempatan,
Atlas. Kau gagal. Kronos ingin kau berada di sana sekarang, sedangkan kau,
Krios, lakukan tugasmu." "Dan seandainya kalian membutuhkan lebih banyak pejuang?" tanya Krios.
"Keponakan pengkhianat kita yang bertuksedo takkan banyak manfaatnya dalam
pertempuran." Si Titan keemasan tertawa. "Jangan khawatirkan dia. Lagi pula, para dewa
nyaris tidak dapat mengatasi tantangan kecil kita yang pertama. Mereka tidak
tahu berapa banyak lagi yang kita siapkan. Ingat kata-kataku, dalam hitungan hari,
Olympus akan porak-poranda, dan kita akan bertemu di sini lagi untuk merayakan
fajar Zaman Keenam!"
Si Titan keemasan meledak menjadi bunga-bunga api dan menghilang.
"Oh, tentu saja," gerutu Krios. "Dia berkesempatan meledak jadi nyala api.
Aku berkesempatan memakai tanduk domba bodoh ini."
Pemandangan berganti. Sekarang aku berada di luar paviliun, bersembunyi
dalam bayang-bayang pilar Yunani. Seorang anak laki-laki berdiri di sebelahku,
menguping para Titan. Dia memiliki rambut gelap sehalus sutra, kulit pucat, dan
pakaian berwarna gelap - temanku Nico di Angelo, putra Hades.
Dia menatapku, ekspresinya muram. "Kaulihat, Percy?" bisiknya. "Kau
kehabisan waktu. Apa kau benar-benar mengira kau bisa mengalahkan mereka
tanpa rencanaku?" Kata-katanya melandaku sedingin dasar samudra, dan mimpiku menjadi
hitam kelam. "Percy?" kata sebuah suara berat.
Kepalaku terasa seperti sudah dipanggang di oven dalam bungkusan kertas
aluminium. Aku membuka mataku dan melihat sosok besar berbayang-bayang
menjulang di atasku. "Beckendorf?" tanyaku penuh harap.
"Bukan, Kak." Mataku mengatur ulang fokus. Aku sedang memandang seorang Cyclops -
wajah berbentuk janggal, rambut cokelat kusam, satu mata cokelat besar penuh
kecemasan. "Tyson?"
Saudaraku menyeringai, menampakkan gigi-giginya. "Yay! Otakmu berfungsi!" Aku tak terlalu yakin. Badanku terasa tak berbobot dan dingin. Suaraku
kedengaran salah. Aku bisa mendengar Tyson, tapi rasanya lebih seperti
mendengar getaran di dalam tengkorakku, bukan suara biasa.
Aku duduk tegak, dan selimut halus tipis terhanyut menjauh. Aku sedang
berada di tempat tidur yang terbuat dari anyaman ganggang cokelat sehalus sutra,
dalam ruangan dengan panel-panel berupa cangkang abalon. Mutiara-mutiara
seukuran bola basket yang berpendar terapung mengelilingi langit-langit,
menyediakan penerangan. Aku berada di bawah air.
Nah, karena aku putra Poseidon, aku oke-oke saja dengan hal ini. Aku bisa
bernapas di bawah air, dan pakaianku bahkan tak basah kecuali aku
menginginkannya. Namun rasanya masih sedikit mengejutkan ketika seekor hiu
martil menembus jendela kamar tidur, menyapaku, dan kemudian berenang ke
luar dengan tenang lewat sisi seberang ruangan.
"Di mana - " "Istana Ayah," kata Tyson.
Pada kondisi yang berbeda, aku bakalan bersemangat. Aku tidak pernah
mengunjungi kerajaan Poseidon, dan aku sudah memimpikannya selama bertahuntahun.
Tapi kepalaku nyeri. Bajuku masih bernoda terbakar gara-gara ledakan.
Luka di lengan dan kakiku sudah sembuh - sekadar berada di laut bisa
memulihkanku, jika waktunya cukup - tapi aku masih merasa seperti sudah
diinjak-injak satu tim sepak bola raksasa Laistrygonian yang mengenakan sepatu
berpaku. "Berapa lama - "
"Kami menemukanmu kemarin malam," kata Tyson, "tenggelam di air."
"Putri Andromeda?"


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bum! Meledak," Tyson mengonfirmasi.
"Beckendorf ada di atas kapal. Apa kalian menemukan ... "
Wajah Tyson jadi gelap. "Nggak ada tanda-tanda keberadaannya. Maaf,
Kak." Aku menatap air biru gelap di luar jendela. Beckendorf semestinya masuk
perguruan tinggi musim gugur nanti. Dia punya pacar, banyak teman, kehidupan
yang menanti di depannya. Dia tidak mungkin tewas. Mungkin dia berhasil turun
dari kapal seperti aku. Mungkin dia meloncat ke samping ... dan apa" Dia tidak
mungkin selamat setelah jatuh tiga puluh meter ke air seperti aku. Dia tidak
mungkin mencapai jarak yang cukup jauh dari ledakan.
Aku tahu dalam hatiku bahwa dia sudah meninggal. Dia mengorbankan
dirinya untuk menghancurkan Putri Andromeda, dan aku meninggalkannya.
Aku memikirkan mimpiku: para Titan membahas ledakan seolah itu bukan
masalah, Nico di Angelo memperingatiku bahwa aku takkan pernah sanggup
mengalahkan Kronos tanpa mengikuti rencananya - ide berbahaya yang sudah
kuhindari selama lebih dari setahun.
Ledakan di kejauhan mengguncangkan kamar. Cahaya hijau berkilat di luar,
menjadikan seisi laut seterang siang bolong.
"Apa itu?" tanyaku.
Tyson kelihatan khawatir. "Ayah akan menjelaskan. Ayo, dia sedang
meledakkan monster-monster."
Istana tersebut mungkin merupakan tempat paling mengagumkan yang pernah
kulihat kalau tempat ini tidak sedang dalam proses dihancurkan. Kami berenang
ke ujung lorong panjang dan menaiki geyser yang melesat ke atas. Selagi kami
naik melampaui atap, napasku tertahan karena terkesiap - yah, kalau kau bisa
membayangkan bernapas di bawah air.
Istana berukuran sebesar kota di Gunung Olympus, dengan pekaranganpekarangan
luas, taman-taman, dan paviliun-paviliun berpilar. Taman-taman
dihiasi ukiran koloni koral dan tumbuhan laut yang berpendar. Dua puluh atau
tiga puluh bangunan terbuat dari abalon, putih tapi berkilat dengan warna-warni
pelangi. Ikan dan oktopus melejit keluar-masuk jendela. Jalan setapak diapit
barisan mutiara yang berpendar seperti lampu Natal.
Pekarangan utama dipenuhi pejuang - putra duyung dengan ekor ikan dari
pinggang ke bawah dan tubuh manusia dari pinggang ke atas, hanya saja kulit
mereka biru, yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Beberapa sedang mengurus
para pejuang yang terluka. Beberapa sedang mengasah tombak dan pedang. Satu
melintasi kami, berenang terburu-buru. Matanya hijau cerah, seperti barang yang
ditempelkan di tongkat menyala-dalam-gelap, dan giginya setajam gigi hiu. Yang
seperti itu tidak ditunjukkan di film animasi The Little Mermaid.
Di luar pekarangan utama berdirilah kubu pertahanan besar - menara,
tembok, dan senjata anti-pengepungan - tetapi sebagian besar sudah dihancurkan
hingga berkeping-keping. Sisanya terbakar, diselimuti cahaya hijau yang kukenal
baik - api Yunani, yang bahkan bisa membakar di bawah air.
Di baliknya, dasar laut terbentang luas, kelam di kejauhan. Aku bisa melihat
bahwa pertempuran sedang merajalela - kilatan energi, ledakan, kilap pasukan
yang sedang bertempur. Bagi manusia biasa, dasar laut terlalu gelap sehingga
tidak ada yang bisa dilihat. Malahan, manusia biasa pasti akan diremukkan oleh tekanan
dan dibekukan oleh hawa dingin laut dalam. Mataku yang sensitif terhadap panas
sekalipun tidak bisa melihat dengan jelas apa persisnya yang sedang terjadi.
Di tepi kompleks istana, sebuah kuil dengan atap koral merah meledak,
mengirimkan api dan puing-puing yang menghambur dalam gerakan lambat ke
taman-taman terjauh. Dari kegelapan di atas, sebuah sosok raksasa muncul -
cumicumi yang lebih besar daripada gedung pencakar langit mana pun. Ia
dikelilingi oleh awan debu kerlap-kerlip - paling tidak kukira itu debu, sampai kusadari
bahwa itu adalah sekawanan putra duyung yang sedang berusaha menyerang si
monster. Si cumi-cumi turun ke istana dan mengayunkan tentakelnya, menghancurkan barisan tinggi pejuang. Kemudian lengkungan cahaya biru
cemerlang melesat dari atap salah satu bangunan tertinggi. Cahaya tersebut
menabrak si cumi-cumi raksasa, dan monster itu buyar bagaikan pewarna makanan
di air. "Ayah," kata Tyson, menunjuk ke arah cahaya tadi datang.
"Dia melakukan itu?" Aku tiba-tiba merasa lebih penuh harap. Ayahku
punya kekuatan luar biasa yang sulit dipercaya. Dia adalah dewa laut. Dia bisa
mengatasi serangan ini, kan" Mungkin dia bakal memperbolehkanku membantu.
"Apakah kau ikut bertarung?" tanyaku pada Tyson dengan takjub. "Seperti
membenturkan kepala dengan kekuatan Cyclops supermu dan semacamnya?"
Tyson cemberut, dan serta-merta aku tahu aku sudah mengajukan
pertanyaan yang buruk. "Selama ini aku ... memperbaiki senjata," gumamnya.
"Ayo. Mari kita cari Ayah."
Aku tahu ini kedengarannya aneh buat orang-orang yang punya orangtua normal,
tapi aku baru melihat ayahku empat atau lima kali seumur hidupku, dan itu pun
tidak pernah lebih dari beberapa menit. Para dewa Yunani bukan tipe yang suka
hadir dalam pertandingan bola basket anak mereka. Meski begitu, kupikir aku
bakal mengenali Poseidon saat melihatnya.
Aku salah. Atap kuil berupa dek besar terbuka yang telah dijadikan pusat komando.
Mozaik di lantai menggambarkan peta kompleks istana dan samudra sekitarnya
yang persis sama seperti aslinya, tapi mozaik itu bergerak. Ubin-ubin batu
berwarna yang mewakili pasukan-pasukan yang berlainan dan monster-monster
laut bergeser selagi pasukan-pasukan tersebut mengubah posisi. Bangunan yang
runtuh betulan juga runtuh di gambar tersebut.
Di sekeliling mozaik, dengan muram menelaah pertempuran, berdirilah
aneka macam pejuang yang ganjil, tetapi tak seorang pun mirip ayahku. Aku
mencari-cari laki-laki besar berkulit cokelat terbakar matahari dan berjanggut
hitam, yang mengenakan celana pendek bermuda dan kemeja hawaii.
Tidak ada seorang pun yang seperti itu. Salah seorang laki-laki di situ adalah
putra duyung dengan dua ekor ikan alih-alih satu. Kulitnya hijau, baju zirahnya
bertaburkan mutiara. Rambut hitamnya diekor kuda, dan dia kelihatan muda -
meskipun susah memastikannya untuk non-manusia. Mereka bisa saja berusia
seribu atau tiga tahun. Di sebelahnya berdirilah seorang pria tua berjanggut
putih lebat dan berambut kelabu. Baju zirah tempurnya seolah membebaninya. Dia
memiliki mata hijau dan kerut-kerut di sekitar matanya. Wajahnya tanpa senyum.
Dia menelaah peta dan bertopangkan tongkat logam besar. Di kanannya berdiri
seorang wanita cantik berbaju zirah hijau dengan rambut hitam terurai dan tanduk
kecil aneh seperti capit kepiting. Dan ada seekor lumba-lumba juga di sana - cuma
lumba-lumba biasa, tetapi ia menatap peta dengan saksama.
"Delphin," kata sang pria tua. "Kirim Palaemon dan legiun hiunya ke front
barat. Kita harus menetralkan para leviathan itu."
Si lumba-lumba bicara dengan suara mencicit, tapi aku bisa memahaminya
dalam benakku: Ya, Tuan! Ia pun melesat pergi.
Aku memandang Tyson dengan risau, kemudian kembali memandang sang
pria tua. Tampaknya tidak mungkin, tapi ... "Ayah?" tanyaku.
Sang pria tua mendongak. Aku mengenali binar di matanya, tapi wajahnya
... dia kelihatan seolah umurnya telah bertambah empat puluh tahun.
"Halo, Percy." "Apa - apa yang terjadi pada Ayah?"
Tyson menyikutku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat sekali
sehingga aku takut kepalanya bakal copot, tapi Poseidon tidak kelihatan
tersinggung. "Tidak apa-apa, Tyson," katanya. "Percy, mohon maklumi penampilanku.
Perang telah menyulitkanku."
"Tapi Ayah kan kekal," kataku pelan. "Ayah bisa terlihat seperti ...
bagaimanapun yang Ayah inginkan."
"Aku merefleksikan kondisi kerajaanku," katanya. "Dan sekarang ini
kondisinya cukup genting. Percy, aku mesti memperkenalkanmu - aku khawatir
kau baru saja melewatkan letnanku Delphin, Dewa Lumba-lumba. Ini, eh, istriku,
Amphitrite. Sayangku - "
Wanita berbaju zirah hijau menatapku dengan dingin, lalu bersidekap dan
berkata, "Saya mohon permisi, Tuan. Saya dibutuhkan dalam pertempuran."
Dia berenang pergi. Aku merasa agak canggung, tapi kurasa aku tak bisa menyalahkannya. Aku
tidak pernah terlalu memikirkannya, tapi ayahku punya istri yang kekal. Semua
percintaannya dengan manusia fana, termasuk ibuku ... yah, ehm, Amphitrite
mungkin tak terlalu menyukai itu.
Poseidon berdehem. "Ya, begitu ... dan ini putraku Triton. Eh, putraku yang
lain." "Putra dan pewaris Ayah," si cowok hijau mengoreksi. Ekor ikan gandanya
berayun bolak-balik. Dia tersenyum padaku, tetapi tidak ada keramahan di
matanya. "Halo, Perseus Jackson. Akhirnya datang membantu?"
Dia bersikap seakan aku ini telat atau malas. Kalau orang bisa merona di
bawah air, aku mungkin merona.
"Beri tahu apa yang harus aku lakukan," kataku.
Triton tersenyum seakan itu adalah usulan yang imut - seakan aku ini anjing
lucu yang sudah menggonggonginya atau apalah. Dia menoleh kepada Poseidon.
"Saya akan maju ke garis depan, Ayah. Jangan khawatir. Saya takkan gagal."
Dia mengangguk sopan kepada Tyson. Bagaimana bisa aku tidak
mendapatkan rasa hormat sebanyak itu" Lalu dia melesat pergi ke air.
Poseidon mendesah. Dia mengangkat tongkatnya, dan tongkat tersebut
berubah menjadi senjatanya yang biasa - trisula besar bergigi tiga. Ujung-ujungnya
berpendar dengan cahaya biru, dan air di sekitarnya menggelegak dialiri energi.
"Aku minta maaf soal itu," katanya padaku.
Seekor ular laut besar muncul dari atas kami dan berputar-putar turun
menuju atap. Warnanya jingga cerah, dengan mulut bertaring yang cukup besar
untuk menelan gimnasium. Tanpa mendongak, Poseidon menunjukkan trisulanya ke makhluk itu dan
menyambarnya dengan energi biru. Bum! Si monster meledak menjadi jutaan ikan
mas, semuanya berenang menjauh karena ngeri.
"Keluargaku sedang waswas," Poseidon melanjutkan seolah-olah tidak ada
yang terjadi. "Pertempuran melawan Oceanus tidak berjalan lancar."
Dia menunjuk ke tepi mozaik. Dengan pangkal trisulanya dia menepuk
gambar seorang putra duyung bertanduk banteng yang lebih besar daripada putra
duyung-putra duyung lain. Dia tampaknya sedang mengendarai kereta perang
yang dihela oleh lobster, dan alih-alih pedang dia menghunus ular hidup.
"Oceanus," kataku, mencoba mengingat-ingat. "Titan laut?"
Poseidon mengangguk. "Dia netral dalam perang pertama antara para dewa
dan para Titan. Namun Kronos telah meyakinkannya untuk bertempur. Ini ... yah,
ini bukan pertanda baik. Oceanus takkan melibatkan diri kecuali dia yakin dia
bisa memilih pihak yang menang."
"Dia kelihatan bodoh," kataku, mencoba kedengaran optimis. "Maksudku,
siapa yang mau bertarung menggunakan ular?"
"Ayah akan mengikatnya jadi simpul," kata Tyson tegas.
Poseidon tersenyum, tapi dia kelihatan lelah. "Aku menghargai keyakinan
kalian. Kami sudah berperang selama hampir setahun sekarang. Kekuatanku
terkuras. Dan tetap saja dia berhasil menemukan pasukan baru untuk dilemparkan
kepadaku - monster-monster laut yang begitu kuno sampai-sampai aku sudah
melupakan mereka." Aku mendengar ledakan di kejauhan. Kira-kira satu kilometer jauhnya,
gunung koral remuk di bawah bobot dua makhluk raksasa. Aku bisa melihat
bentuk mereka samar-samar. Satu berupa lobster. Yang satu lagi adalah raksasa
humanoid seperti Cyclops, tapi dia dikelilingi tangan-tangan yang menggerapai.
Pada mulanya kukira dia mengenakan sekumpulan oktopus raksasa. Lalu kusadari
bahwa itu adalah lengannya sendiri - seratus tangan pejuang yang
menggerapaigerapai. "Briares!" kataku.
Aku senang melihatnya, tapi kelihatannya dia sedang berjuang demi
nyawanya. Dia adalah yang terakhir dari jenisnya - sang Tangan Seratus, sepupu
Cyclops. Kami menyelamatkannya dari penjara Kronos musim panas lalu, dan aku
tahu dia bakal datang membantu Poseidon, tapi aku belum mendengar kabar
tentangnya sejak saat itu.
"Dia bertarung dengan baik," kata Poseidon. "Kuharap kami punya
sepasukan yang seperti dia, tapi dia hanya satu-satunya."
Aku memperhatikan saat Briares meraung murka dan mengangkat si lobster,
yang meronta-ronta dan membuka-tutup capitnya. Briares melemparkannya dari
gunung koral, dan lobster itu pun hilang ke dalam kegelapan. Briares berenang
mengejarnya, seratus lengannya berputar-putar seperti baling-baling perahu
motor. "Percy, kita mungkin tidak punya banyak waktu," kata ayahku. "Beri tahu
aku tentang misimu. Apa kau melihat Kronos?"
Aku memberitahunya segalanya, meskipun suaraku tercekat waktu aku
menjelaskan tentang Beckendorf. Aku memandangi pekarangan di bawah dan
melihat ratusan putra duyung yang terluka tergeletak di tempat tidur lipat
darurat. Kulihat gundukan-gundukan koral yang pasti adalah kuburan yang dibuat
terburu-buru. Kusadari bahwa Beckendorf bukanlah kematian yang pertama. Dia
hanyalah satu dari ratusan, barangkali ribuan. Aku tidak pernah merasa semarah
dan setidakberdaya ini. Poseidon mengelus janggutnya. "Percy, Beckendorf memilih kematian yang
heroik. Kau tidak layak disalahkan atas itu. Pasukan Kronos akan kacau balau.
Banyak yang hancur."
"Tapi kami nggak membunuhnya, kan?"
Saat aku mengucapkannya, aku tahu itu cuma harapan naif. Kami mungkin
saja meledakkan kapalnya dan menghancurleburkan monster-monsternya, tapi
sang penguasa Titan takkan semudah itu dibunuh.
"Tidak," Poseidon mengakui. "Namun kau memberi pihak kita tambahan
waktu." "Ada blasteran di kapal itu," kataku, memikirkan anak laki-laki yang kulihat
di tangga. Entah bagaimana aku membiarkan diriku berkonsentrasi pada para
monster dan Kronos. Kuyakinkan diriku bahwa menghancurkan kapal mereka oke-
oke saja karena mereka jahat, mereka berlayar untuk menyerang kotaku, dan lagi
pula, mereka toh tidak bisa benar-benar dibunuh secara permanen. Para monster
semata-mata menguap dan terbentuk kembali pada akhirnya. Tapi para blasteran
... Poseidon meletakkan tangannya di pundakku. "Percy, hanya ada segelintir
pendekar blasteran di atas kapal itu, dan mereka semua memilih bertarung untuk
Kronos. Mungkin beberapa mengindahkan peringatanmu dan melarikan diri. Jika
mereka tidak melakukannya ... mereka sendirilah yang memilih jalan mereka."
"Mereka dicuci otak!" kataku. "Sekarang mereka sudah mati dan Kronos
masih hidup. Apa itu semestinya membuatku merasa baikan?"
Aku memelototi mozaik - ledakan kecil di ubin menghancurkan ubin
monster. Semua tampak begitu mudah saat itu hanyalah gambar.
Tyson merangkulku. Kalau orang lain mencoba melakukan itu, aku akan
mendorongnya menjauh, tapi Tyson terlalu besar dan keras kepala. Dia tetap
memelukku, tak peduli aku menginginkannya atau tidak. "Bukan salahmu, Kak.
Kronos sudah diledakkan. Kali lain akan kita gunakan pentungan besar."
"Percy," kata ayahku. "Pengorbanan Beckendorf tidak sia-sia. Kau sudah
mencerai-beraikan pasukan penginvasi. New York akan aman sementara waktu, ini
akan membebaskan dewa-dewi Olympia lain untuk mengatasi ancaman yang lebih
besar." "Ancaman yang lebih besar?" Kupikirkan apa yang dikatakan si Titan
keemasan dalam mimpiku: Para dewa telah menjawab tantangan. Tidak lama lagi
mereka akan dihancurkan. Bayang-bayang melintasi wajah ayahku. "Sudah cukup duka yang kaualami
untuk satu hari. Tanyakan pada Chiron ketika kau kembali ke perkemahan."
"Kembali ke perkemahan" Tapi Ayah sedang dalam masalah di sini. Aku
ingin membantu!" "Kau tak bisa, Percy. Pekerjaanmu di tempat lain."


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku tidak percaya aku mendengar ini. Aku memandang Tyson untuk minta
dukungan. Saudaraku menggigit-gigit bibirnya. "Ayah ... Percy bisa bertarung dengan
pedang. Dia jago." "Aku tahu itu," kata Poseidon lembut.
"Ayah, aku bisa membantu," kataku. "Aku tahu aku bisa. Ayah nggak akan
sanggup bertahan di sini lebih lama lagi."
Bola api meluncur ke langit dari balik garis pertahanan musuh. Kukira
Poseidon akan memantulkannya atau apalah, tapi bola api tersebut mendarat di
pojok luar pekarangan dan meledak, membuat para putra duyung berjatuhan di
air. Poseidon berjengit seolah dia baru saja ditikam.
"Kembalilah ke perkemahan," dia berkeras. "Dan beri tahu Chiron
waktunya sudah tiba."
"Untuk apa?" "Kau harus mendengar ramalan itu. Ramalan seutuhnya."
Aku tidak perlu menanyainya ramalan apa. Aku sudah mendengar soal
"Ramalan Besar" selama bertahun-tahun, tetapi tak seorang pun mau memberitahuku keseluruhannya. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku harus
membuat keputusan yang bakal memutuskan nasib dunia - dengan santai, tanpa
tekanan. "Bagaimana kalau inilah keputusannya?" kataku. "Tinggal di sini untuk
bertarung, atau pergi" Bagaimana kalau aku pergi dan Ayah ... "
Aku tidak bisa bilang mati. Para dewa semestinya tidak bisa mati, tapi aku
sudah melihat hal itu terjadi. Bahkan kalaupun mereka tidak mati, mereka bisa
tereduksi menjadi bukan apa-apa, diasingkan, dipenjarakan di kedalaman Tartarus
seperti Kronos dulu. "Percy, kau harus pergi," Poseidon berkeras. "Aku tidak tahu apa keputusan
besarmu nantinya, tapi pertarunganmu berlangsung di dunia di atas. Paling tidak,
kau harus memperingati teman-temanmu di perkemahan. Kronos tahu rencana
kalian. Ada mata-mata di perkemahan. Kami akan bertahan di sini. Kami tidak
punya pilihan." Tyson mencengkeram tanganku dengan putus asa. "Aku akan merindukanmu, Kak!" Memperhatikan kami, ayah kami seakan bertambah tua lagi sepuluh tahun.
"Tyson, kau juga punya pekerjaan untuk dilakukan, Nak. Mereka membutuhkanmu di penempaan."
Tyson cemberut lagi. "Aku akan pergi," katanya sambil menyedot ingus. Dia memelukku begitu
kencang sampai-sampai dia hampir mematahkan tulang igaku. "Percy, hati-hatilah!
Jangan biarkan monster membunuhmu sampai mati!"
Aku mencoba mengangguk penuh percaya diri, tapi ini terlalu berat bagi si
jagoan besar. Dia terisak-isak dan berenang pergi menuju penempaan, tempat
sepupu-sepupunya sedang memperbaiki tombak dan pedang.
"Ayah sebaiknya perbolehkan dia bertarung," aku memberi tahu ayahku.
"Dia benci terjebak di penempaan. Apa Ayah tidak tahu?"
Poseidon menggelengkan kepala. "Sudah cukup buruk aku mesti mengirimmu ke tengah bahaya. Tyson masih terlalu muda. Aku harus
melindunginya." "Ayah harus memercayainya," kataku. "Bukan berusaha melindunginya."
Mata Poseidon berkilat. Kupikir aku sudah melampaui batas, tetapi
kemudian dia menunduk memandangi mozaik dan bahunya merosot. Di ubin,
cowok duyung berkereta perang lobster semakin dekat dengan istana.
"Oceanus mendekat," kata ayahku. "Aku harus menemuinya dalam
pertempuran." Aku tidak pernah takut karena mencemaskan dewa sebelumnya, tapi aku
tidak tahu bagaimana ayahku bisa menghadapi si Titan ini dan menang.
"Aku akan bertahan," Poseidon berjanji. "Aku takkan menyerahkan
wilayahku. Katakan saja padaku, Percy, apa kau masih menyimpan hadiah ulang
tahun yang kuberikan kepadamu musim panas lalu?"
Aku mengangguk dan mengeluarkan kalung perkemahanku. Kalung
tersebut memuat satu manik-manik untuk setiap musim panas yang kulewatkan di
Perkemahan Blasteran, tapi sejak tahun kemarin aku juga memasang dolar pasir di
talinya. Ayahku memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku yang
kelima belas. Dia memberitahuku bahwa aku bakal tahu kapan harus
"membelanjakannya", tapi sejauh ini aku belum tahu apa maksudnya. Yang kutahu
hanyalah bahwa dolar pasir itu tak cocok dengan mesin penjual kudapan di
kafetaria sekolah. "Waktunya akan tiba," janjinya. "Jika kita beruntung, aku akan menemuimu
untuk pesta ulang tahunmu pekan depan, dan kita akan membuat perayaan yang
pantas." Dia tersenyum, dan selama sesaat kulihat cahaya yang dulu biasa terlihat di
matanya. Kemudian seisi laut menjadi gelap di hadapan kami, seolah-olah badai hitam
pekat datang bergulung. Guntur menggelegar, yang seharusnya mustahil di bawah
air. Sesuatu yang terasa besar dan sedingin es tengah mendekat. Aku merasakan
gelombang rasa takut melanda pasukan di bawah kami.
"Aku harus kembali ke wujud dewaku yang sejati," kata Poseidon. "Pergilah
- dan semoga berhasil, Putraku."
Aku ingin memberinya dukungan, memeluknya atau apalah, tapi aku tahu
sebaiknya tidak nongkrong di sini lama-lama. Ketika dewa kembali ke wujud
sejatinya, kekuatannya demikian dahsyat sehingga manusia fana mana pun yang
memandangnya akan terbuyarkan.
"Selamat tinggal, Ayah," aku berhasil berkata.
Kemudian aku berpaling. Aku memerintahkan arus laut agar membantuku.
Air berputar-putar di sekelilingku, dan aku melesat ke permukaan dengan
kecepatan yang bakal membuat manusia normal meletus seperti balon.
Waktu aku menoleh ke belakang, yang bisa kulihat cuma kilatan hijau dan
biru saat ayahku bertarung melawan si Titan, dan laut sendiri diporak-porandakan
oleh dua pasukan. TIGA Aku Mengintip Kematianku Kalau kau ingin jadi populer di Perkemahan Blasteran, jangan pulang dari misi
sambil membawa kabar buruk.
Kabar kedatanganku tersebar segera setelah aku berjalan keluar dari laut.
Pantai kami terletak di Pesisir Utara Long Island, dan pantai kami dimantrai
sehingga sebagian besar orang bahkan tak bisa melihatnya. Orang-orang tak
muncul begitu saja di pantai kecuali mereka adalah blasteran atau dewa atau
tukang antar pizza yang benar-benar kesasar. (Memang pernah terjadi - tapi itu
cerita lain.) Pokoknya, siang itu yang bertugas jaga adalah Connor Stoll dari pondok
Hermes. Waktu dia melihatku, dia jadi begitu gembira sampai-sampai dia jatuh
dari pohon. Kemudian dia meniup terompet kerang untuk memberi isyarat ke
perkemahan dan lari untuk menyambutku.
Connor punya senyum miring yang cocok dengan selera humornya yang
miring. Dia cowok yang lumayan baik, tapi kau harus selalu memegangi
dompetmu dengan paling tidak satu tangan waktu dia ada di dekatmu, dan jangan
pernah, pada situasi apa pun, memberinya akses ke krim cukur kecuali kau ingin
mendapati kantong tidurmu dipenuhi krim itu. Dia punya rambut cokelat keriting
dan sedikit lebih pendek daripada saudara laki-lakinya, Travis, yang merupakan
satu-satunya ciri yang membuatku bisa membedakan mereka. Mereka berdua sama
sekali tidak mirip musuh lamaku Luke sehingga susah memercayai bahwa mereka
semua adalah putra Hermes.
"Percy!" teriaknya. "Apa yang terjadi" Mana Beckendorf?"
Kemudian dia melihat ekspresiku, dan senyumnya meleleh. "Oh, tidak.
Silena yang malang. Demi Zeus, waktu dia tahu ... "
Bersama-sama kami memanjat bukit pasir. Beberapa ratus meter jauhnya,
orang-orang sudah tumpah ruah menghampiri kami, tersenyum dan bersemangat.
Percy sudah kembali, mungkin mereka berpikir begitu. Dia menyelamatkan kita!
Mungkin dia bawa oleh-oleh!
Aku berhenti di paviliun makan dan menunggu mereka. Tidak ada gunanya
buru-buru turun ke sana untuk memberi tahu mereka betapa aku ini pecundang.
Aku menatap ke seberang lembah dan mencoba mengingat bagaimana
Perkemahan Blasteran terlihat saat pertama kali aku melihatnya. Rasanya seperti
sejuta tahun lalu. Dari paviliun makan, aku kurang lebih bisa melihat segalanya. Bukit-bukit
mengelilingi lembah. Di puncak bukit tertinggi, Bukit Blasteran, pohon pinus
Thalia berdiri dengan Bulu Domba Emas bergantung di cabangnya, secara ajaib
melindungi perkemahan dari musuh-musuhnya. Peleus si naga penjaga sekarang
begitu besar sampai-sampai aku bisa melihatnya dari sini - bergelung mengelilingi
batang pohon, mengirimkan sinyal asap ke atas selagi dia mendengkur.
Di kananku terbentanglah hutan. Di kiriku, danau kano berkilau dan
dinding panjat berpendar berkat lava yang mengalir tumpah di sisinya. Dua belas
pondok - satu untuk masing-masing dewa Olympia - membentuk pola tapal kuda
di sekeliling halaman bersama. Lebih jauh di selatan terletaklah ladang
stroberi, bengkel logam, dan Rumah Besar berlantai empat dengan cat biru langit serta
gada-gada berbentuk elang perunggu.
Bisa dibilang, perkemahan belum berubah. Tapi kau tidak bisa melihat
perang dengan cara memandang bangunan-bangunan atau ladang. Kau bisa
melihatnya di wajah para blasteran, satir, dan naiad yang menaiki bukit.
Penghuni perkemahan tidak sebanyak empat musim panas lalu. Sebagian
telah pergi dan tidak pernah kembali. Sebagian meninggal saat bertempur. Yang
lain - kami berusaha tak membicarakan mereka - membelot ke musuh.
Mereka yang masih di sini sudah kenyang bertempur dan lelah. Cuma ada
sedikit tawa di perkemahan dewasa ini. Pondok Hermes sekalipun tidak membuat
terlalu banyak lelucon. Susah menikmati gurauan waktu hidupmu sendiri terasa
seperti gurauan. Chiron mencongklang masuk ke paviliun paling pertama, itu gampang
baginya karena dia adalah kuda putih dari pinggang ke bawah. Janggutnya telah
tumbuh semakin berantakan sepanjang musim panas. Dia mengenakan kaos hijau
yang bertuliskan MOBILKU YANG LAIN ADALAH CENTAURUS dan busur yang
disandangkan ke pundaknya.
"Percy!" katanya. "Terpujilah para dewa. Tapi mana ... "
Annabeth berlari masuk tepat di belakangnya, dan akan kuakui jantungku
berdebar-debar kencang waktu aku melihatnya. Bukannya dia berusaha supaya
kelihatan oke. Kami sudah begitu sering pergi melaksanakan misi pertempuran
akhir-akhir ini sampai-sampai dia jarang menyikat rambut pirang keritingnya, dan
dia tidak peduli pakaian apa yang dia kenakan - biasanya kaos jingga perkemahan
dan jins yang sama seperti biasa, dan sesekali baju zirah perunggunya. Matanya
berwarna kelabu seperti badai. Biasanya kami tidak bisa menjalani percakapan
tanpa berusaha saling cekik. Meskipun begitu, melihatnya saja bikin kepalaku
berputar-putar. Musim panas lalu, sebelum Luke berubah jadi Kronos dan
semuanya jadi masam, ada beberapa kesempatan waktu kupikir mungkin ... yah,
bahwa kami mungkin bakal melewati tahap saling cekik.
"Apa yang terjadi?" Annabeth mencengkeram lenganku. "Apa Luke - "
"Kapalnya meledak," kataku. "Dia tidak hancur. Aku tidak tahu di mana - "
Silena Beauregard merangsek menembus kerumunan. Rambutnya tidak
disisir dan dia bahkan tidak mengenakan rias wajah, tidak seperti dirinya yang
biasa. "Mana Charlie?" tuntutnya, melihat ke sana-kemari seakan-akan Beckendorf
mungkin bersembunyi. Aku melirik Chiron tanpa daya.
Sang centaurus tua berdehem. "Silena, Sayangku, mari kita bicarakan ini di
Rumah Besar - " "Tidak," gumam Silena. "Tidak. Tidak."
Dia mulai menangis, dan kami pun cuma berdiri, terlalu terkesiap sehingga
tidak bisa bicara. Kami sudah kehilangan begitu banyak orang sepanjang musim
panas, tapi ini yang terburuk. Setelah Beckendorf pergi, rasanya seseorang telah
mencuri jangkar untuk seluruh perkemahan.
Akhirnya Clarisse dari pondok Ares maju. Dirangkulnya Silena. Mereka
punya persahabatan yang paling aneh - putri dewa perang dan putri dewi cinta -
tapi sejak Silena memberi Clarisse saran musim panas lalu tentang pacarnya,
Clarisse memutuskan dia adalah pengawal pribadi Silena.
Clarisse mengenakan baju zirah tempurnya yang berwarna merah darah,
rambut cokelatnya dibebat bandana. Dia sebesar dan sekekar pemain rugbi, dengan
ekspresi merengut permanen di wajahnya, tapi dia bicara dengan lembut kepada
Silena. "Ayo, Non," katanya. "Ayo kita ke Rumah Besar. Akan kubuatkan kau
cokelat panas." Semua orang berbalik dan pergi berdua atau bertiga, kembali ke pondok.
Tak seorang pun bersemangat melihatku sekarang. Tak seorang pun ingin
mendengar tentang kapal yang meledak.
Cuma Annabeth dan Chiron yang tetap tinggal.
Annabeth menghapus air mata dari pipinya. "Aku lega kau nggak mati, Otak
Ganggang." "Makasih," kataku. "Aku juga."
Chiron meletakkan tangan di bahuku. "Aku yakin kau melakukan segalanya
yang kau bisa, Percy. Bersediakah kau memberi tahu kami apa yang terjadi?"
Aku tidak mau membahasnya lagi, tapi kuberitahukan ceritanya kepada
mereka, termasuk mimpiku tentang para Titan. Aku melewatkan detail tentang
Nico. Nico menyuruhku berjanji supaya tidak memberi tahu siapa-siapa mengenai
rencananya sampai aku membuat keputusan, dan rencana itu begitu mengerikan
sehingga aku tidak keberatan merahasiakannya.
Chiron menatap lembah di bawah. "Kita harus mengadakan rapat dewan
perang secepatnya, untuk mendiskusikan mata-mata ini, dan perkara-perkara
lain." "Poseidon menyinggung ancaman lain," kataku. "Sesuatu yang bahkan lebih
besar daripada Putri Andromeda. Saya pikir mungkin itu tantangan yang disebut
Titan dalam mimpi saya."
Chiron dan Annabeth bertukar pandang, seolah mereka tahu sesuatu yang
tidak kuketahui. Aku benci waktu mereka melakukan itu.
"Kita akan mendiskusikan itu juga," Chiron berjanji.
"Satu lagi." Aku menarik napas dalam-dalam. "Waktu bicara kepada ayah
saya, dia menyuruh saya mengatakan kepada Bapak bahwa waktunya sudah tiba.
Saya perlu tahu ramalan seutuhnya."
Bahu Chiron merosot, tapi dia tidak kelihatan kaget. "Aku takut akan hari
ini. Baiklah. Annabeth, akan kita tunjukkan yang sebenarnya kepada Percy -
semuanya. Mari kita pergi ke loteng."
*** Aku pernah ke Rumah Besar tiga kali sebelumnya, yang berarti sudah tiga
kali lebih banyak daripada yang kuinginkan.
Tangga mengarah ke atas dari puncak undakan. Aku bertanya-tanya


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bagaimana Chiron bakal naik ke atas sana, karena dia kan setengah kuda, tapi
ternyata dia tidak mencoba.
"Kautahu di mana tempatnya," dia memberi tahu Annabeth. "Tolong bawa
turun." Annabeth mengangguk. "Ayo, Percy."
Matahari sedang terbenam di luar, jadi loteng bahkan lebih gelap dan lebih
seram daripada biasanya. Kenang-kenangan lama para pahlawan ditumpuk di
mana-mana - perisai penyok, awetan kepala berbagai monster dalam toples,
sepasang dadu berbulu di atas plakat perunggu yang bertuliskan: DICURI DARI
HONDA CIVIC CHRYSAOR OLEH GUS, PUTRA HERMES, 1988.
Aku mengambil pedang perunggu lengkung yang bengkok parah sampaisampai bentuknya
seperti huruf M. Aku masih bisa melihat noda hijau di logam itu
dari racun magis yang dulu menyelimutinya. Labelnya bertanggal musim panas
lalu. Bunyinya: Pedang Sabit Kamp?, dihancurkan dalam Pertempuran Labirin.
"Kauingat Briares melemparkan batu besar itu?" tanyaku.
Annabeth memberiku senyum enggan. "Dan Grover menimbulkan
Kepanikan?" Mata kami bertatapan. Aku memikirkan saat yang berbeda musim panas
lalu, di bawah Gunung St. Helens, ketika Annabeth mengira aku bakal mati dan dia
menciumku. Dia berdehem dan berpaling. "Ramalan."
"Benar." Kuletakkan pedang sabit. "Ramalan."
Kami berjalan ke jendela. Di kursi berkaki tiga dari kayu, duduklah sang
Oracle - mumi perempuan keriput bergaun tenun ikat. Gumpalan-gumpalan
rambut hitam melekat ke tengkoraknya. Mata sebening kaca menatap keluar dari
wajahnya yang kasar. Melihatnya saja membuatku merinding.
Kalau kau ingin meninggalkan perkemahan pada musim panas, dulu kau
harus naik ke sini untuk memperoleh misi. Pada musim panas ini, aturan itu sudah
dibuang. Para pekemah pergi sepanjang waktu untuk misi pertempuran. Kami
tidak punya pilihan kalau kami ingin menghentikan Kronos.
Walau begitu, aku ingat sekali kabut hijau aneh itu - arwah sang Oracle -
yang hidup di dalam mumi. Dia kelihatan tak bernyawa sekarang, tetapi kapan
pun dia mengucapkan ramalan, dia bergerak. Kadang-kadang kabut menyembur
keluar dari mulutnya dan menciptakan bentuk-bentuk aneh. Satu kali, dia bahkan
meninggalkan loteng dan jalan-jalan seperti zombi ke hutan untuk mengantarkan
pesan. Aku tidak yakin apa yang bakal dia lakukan untuk "Ramalan Besar". Aku
setengah berharap dia akan mulai berdansa tap atau apalah.
Tapi dia cuma duduk di sana seperti sudah mati - meski memang sudah
mati. "Aku tidak pernah memahami ini," bisikku.
"Apa?" tanya Annabeth.
"Kenapa dia mumi."
"Percy, dulu dia bukan mumi. Selama beribu-ribu tahun arwah sang Oracle
hidup di dalam gadis cantik. Arwah tersebut akan diwariskan dari generasi ke
generasi. Chiron memberitahuku bahwa dia seperti itu lima puluh tahun lalu."
Annabeth menunjuk si mumi. "Tapi dia yang terakhir."
"Apa yang terjadi?"
Annabeth mulai mengatakan sesuatu, kemudian rupanya berubah pikiran.
"Mari kita lakukan saja pekerjaan kita dan keluar dari sini."
Aku memandang wajah keriput sang Oracle dengan gugup. "Jadi, sekarang
apa?" Annabeth mendekati mumi dan mengulurkan telapak tangannya. "Wahai,
Oracle, waktunya telah tiba. Saya meminta Ramalan Besar."
Aku menyiapkan diri, tapi si mumi tidak bergerak. Annabeth justru
mendekat dan melepaskan salah satu kalungnya. Aku tidak pernah terlalu
memperhatikan perhiasannya sebelumnya. Kukira itu cuma manik-manik cinta
khas hippie dan sebangsanya. Tapi waktu Annabeth berbalik menghadapku, dia
memegang sebuah kantong serut kulit - seperti kantong serut obat penduduk asli
Amerika yang dijadikan kalung dan diberi kepangan bulu. Dia membuka kantong
itu dan mengeluarkan segulung perkamen yang tidak lebih besar daripada jari
kelingkingnya. "Yang benar saja," kataku. "Maksudmu selama bertahun-tahun ini, aku
menanyakan ramalan tolol ini, dan ternyata letaknya tepat di situ, di lehernya?"
"Waktunya tidak tepat," kata Annabeth. "Percayalah padaku, Percy, aku
membaca ini saat aku sepuluh tahun, dan aku masih bermimpi buruk soal itu."
"Hebat," kataku. "Boleh kubaca sekarang?"
"Di lantai bawah dalam rapat dewan perang," kata Annabeth. "Bukan di
depan ... kautahu lah."
Aku memandang mata kaca sang Oracle, dan memutuskan untuk tak
berdebat. Kami menuju ke lantai bawah untuk bergabung dengan yang lain. Aku
tidak mengetahuinya saat itu, tapi ini akan jadi terakhir kalinya aku
mengunjungi loteng. Para konselor senior sudah berkumpul di sekeliling meja pingpong. Jangan tanya
aku sebabnya, tetapi ruang rekreasi sudah jadi markas besar informal untuk dewan
perang. Meski begitu, saat Annabeth, Chiron, dan aku masuk, suasananya
kelihatan lebih mirip lomba teriak.
Clarisse masih mengenakan pakaian tempur lengkap. Tombak listriknya
diikat ke punggungnya. (Sebenarnya, itu tombak listriknya yang kedua, soalnya
aku mematahkan yang pertama. Dia menyebut tongkat itu "Penyayat". Di belakang
punggungnya, semua orang menyebutnya "Payah".) Dia mengepit helmnya yang
berbentuk celeng di satu lengan dan menyandang pisau di sabuknya.
Dia sedang membentak-bentak Michael Yew, konselor kepala pondok Apollo
yang baru, yang kelihatan aneh karena Clarisse tiga puluh sentimeter lebih
tinggi. Michael mengambil alih pondok Apollo setelah Lee Fletcher meninggal dalam
pertempuran musim panas lalu. Tinggi Michael seratus tiga puluh lima sentimeter,
ditambah lagak setinggi enam puluh sentimeter. Dia mengingatkanku pada
musang, dengan hidung lancip dan rupa tembem - entah karena dia kebanyakan
cemberut atau karena dia terlalu sering memicingkan mata untuk membidik anak
panah. "Ini jarahan kami!" teriak Michael, berdiri berjingkat supaya dia bisa
bertatapan muka dengan Clarisse. "Kalau kau tidak suka, cium saja sarung
panahku!" Di sekeliling meja, orang-orang berusaha tidak tertawa - Stoll bersaudara,
Pollux dari pondok Dionysus, Katie Gardner dari pondok Demeter. Bahkan Jake
Mason, konselor baru yang ditunjuk buru-buru dari pondok Hephaestus, mampu
tersenyum samar. Cuma Silena Beauregard yang tidak memperhatikan. Dia duduk
di samping Clarisse dan menatap kosong ke arah net pingpong. Matanya merah
dan bengkak. Secangkir cokelat panas diam tak tersentuh di depannya. Tampaknya
tidak adil bahwa dia harus berada di sini. Aku tidak percaya Clarisse dan
Michael berdiri menjulang di atasnya, mempertengkarkan sesuatu sekonyol jarahan, ketika
dia baru saja kehilangan Beckendorf.
"HENTIKAN!" teriakku. "Apa yang kalian lakukan?"
Clarisse memelototiku. "Bilang pada Michael supaya nggak jadi bajingan
egois." "Oh, sempurna tuh, datang darimu," kata Michael.
"Satu-satunya alasanku di sini adalah untuk mendukung Silena," bentak
Clarisse. "Kalau nggak, aku akan berada di pondokku."
"Apa yang kalian bicarakan?" tuntutku.
Pollux berdehem. "Clarisse menolak bicara kepada satu pun dari kami
sampai, eh, perkara ini diselesaikan. Sudah tiga hari dia nggak mau bicara."
"Rasanya luar biasa," kenang Travis Stoll.
"Perkara apa?" tanyaku.
Clarisse menoleh kepada Chiron. "Bapak penanggung jawabnya, kan" Apa
pondok kami mendapatkan yang kami mau atau nggak?"
Chiron memindahkan tumpuan kakinya. "Sayangku, seperti yang sudah
kujelaskan, Michael benar. Pondok Apollo punya klaim terkuat. Lagi pula, kita
punya masalah yang lebih penting - "
"Tentu," Clarisse meledak. "Selalu masalah yang lebih penting daripada
yang dibutuhkan Ares. Kami semestinya muncul saja dan bertarung saat kalian
membutuhkan kami, dan nggak mengeluh!"
"Begitu pasti bagus," gumam Connor Stoll.
Clarisse menggenggam pisaunya. "Mungkin aku harus tanya Pak D - "
"Seperti yang kauketahui," potong Chiron, nada suaranya sedikit marah
sekarang, "direktur kita, Dionysus, sedang sibuk dengan perang. Dia tidak boleh
direpotkan dengan ini."
"Begitu," kata Clarisse. "Dan para konselor senior" Apakah nggak seorang
pun dari kalian yang mau berpihak padaku?"
Tak seorang pun tersenyum sekarang. Tak seorang pun dari mereka bertemu
pandang dengan Clarisse. "Baiklah." Clarisse menoleh kepada Silena. "Maafkan aku. Aku nggak
bermaksud terlibat dalam masalah ini saat kau baru saja kehilangan ... Pokoknya,
aku minta maaf. Padamu. Bukan pada orang lain."
Silena tampak tidak menyadari kata-katanya.
Clarisse melemparkan pisaunya ke meja pingpong. "Kalian semua bisa
bertarung dalam perang ini tanpa Ares. Sampai aku mendapat kepuasan, nggak
seorang pun di pondokku bersedia mengangkat jari untuk membantu. Selamat
bersenang-senang sampai sekarat."
Semua konselor terlalu terperanjat sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa
saat Clarisse berderap ke luar ruangan.
Akhirnya Michael Yew berkata, "Baguslah dia pergi."
"Apa kau bercanda?" protes Katie Gardner. "Ini bencana!"
"Dia nggak mungkin serius," kata Travis. "Mungkinkah?"
Chiron mendesah. "Harga dirinya terluka. Dia akan merasa lebih tenang
pada akhirnya." Tapi Chiron kedengarannya tidak yakin.
Aku ingin bertanya kenapa Clarisse begitu marah, tapi aku memandang
Annabeth dan dia mengucapkan Akan kuberi tahu kau nanti tanpa suara.
"Nah," lanjut Chiron, "jika kalian berkenan, para konselor. Percy sudah
membawakan sesuatu yang kupikir harus kalian dengar. Percy - Ramalan Besar."
Annabeth menyerahkan perkamen kepadaku. Rasanya kering dan tua, dan
jari-jariku kesusahan membuka talinya. Aku meluruskan kertas, berusaha tak
merobeknya, dan mulai membaca:
"Anak blasteran dewa tertawa ... "
"Eh, Percy?" Annabeth menginterupsi. "Itu tertua. Bukan tertawa."
"Oh, benar," kataku. Disleksia adalah salah satu hal yang menandakan
bahwa diriku ini blasteran, tapi kadang aku betul-betul membencinya. Semakin
gugup aku, semakin payah aku membaca. "Anak blasteran dewa tertua ... akan
mencapai enam belas setelah lewati bahaya ... "
Aku ragu-ragu, menatap baris berikutnya. Jari-jariku mulai merasa dingin
seakan-akan kertas itu membeku.
"Dan saksikan dunia dalam tidur abadi,
Jiwa sang pahlawan, bilah terkutuk yang akan menghabisi"
Tiba-tiba Riptide serasa lebih berat dalam sakuku. Bilah terkutuk" Chiron
pernah memberitahuku bahwa Riptide sudah membawa duka bagi banyak orang.
Mungkinkah pedangku sendiri bisa membuatku terbunuh" Dan dunia dalam tidur
abadi, mungkinkah itu artinya kematian"
"Percy," desak Chiron. "Baca sisanya."
Mulutku serasa dipenuhi pasir, tapi aku mengucapkan dua baris terakhir.
"Satu pilihan akan ... akan akhiri usianya.
Olympus tetap le - lemari - "
"Lestari," kata Annabeth lembut. "Artinya bertahan."
"Aku tahu apa artinya," gerutuku. "Olympus tetap lestari atau binasa."
Ruangan hening. Akhirnya Connor Stoll berkata, "Apa arti binasa?"
"Binasa," kata Silena. Suaranya hampa, tapi aku terkesiap mendengar dia
bicara sama sekali. "B-i-n-a-s-a artinya hancur."
"Tamat," kata Annabeth. "Musnah. Jadi debu."
"Paham." Jantungku terasa seperti timah. "Makasih."
Semua orang memandangku - dengan rasa cemas, atau kasihan, atau
mungkin sedikit takut. Chiron memejamkan matanya seakan sedang memanjatkan doa. Dalam
wujud kudanya, kepalanya hampir menggores lampu di ruang rekreasi. "Kau
paham sekarang, Percy, mengapa kami berpendapat sebaiknya tidak memberitahumu ramalan seutuhnya. Sudah cukup banyak beban di pundakmu - "
"Tanpa menyadari saya toh bakal mati pada akhirnya?" kataku. "Iya, saya
paham." Chiron menatapku sedih. Laki-laki ini usianya tiga ribu tahun. Dia sudah
menyaksikan ribuan pahlawan mati. Dia mungkin tak menyukainya, tapi dia sudah
terbiasa. Dia mungkin tahu tidak ada gunanya mencoba menenangkanku.
"Percy," kata Annabeth. "Kautahu ramalan selalu bermakna ganda.
Mungkin saja bukan berarti kau secara harfiah bakal mati."
"Tentu," kataku. "Satu pilihan akan akhiri usianya. Maknanya banyak banget,
kan?" "Mungkin kita bisa menghentikannya," Jake Mason menawarkan. "Jiwa sang
pahlawan, bilah terkutuk yang akan menghabisi. Mungkin kita bisa menemukan bilah
terkutuk ini dan menghancurkannya. Kedengarannya seperti sabit Kronos, kan?"
Aku belum memikirkan itu, tapi tidak masalah apakah bilah terkutuk
tersebut adalah Riptide atau sabit Kronos. Bagaimanapun, aku ragu kami bisa
menghentikan ramalan. Sebuah bilah semestinya menghabisi jiwaku. Secara umum,
aku lebih memilih supaya jiwaku tidak dihabisi.
"Barangkali sebaiknya kita biarkan Percy memikirkan larik-larik tersebut,"
kata Chiron. "Dia perlu waktu - "
"Tidak." Aku melipat ramalan dan menjejalkannya ke sakuku. Aku merasa
keras kepala dan marah, meskipun aku tidak yakin aku marah pada siapa. "Aku
nggak perlu waktu. Kalau aku mati, aku mati. Aku nggak bisa khawatir soal itu,
kan?" Tangan Annabeth gemetar sedikit. Dia tidak mau bertemu pandang
denganku. "Ayo kita lanjutkan," kataku. "Kita punya masalah lain. Kita punya matamata."
Michael Yew merengut. "Mata-mata?"
Kuberi tahu mereka tentang apa yang terjadi di Putri Andromeda -
bagaimana Kronos tahu kami akan datang, bagaimana dia menunjukiku bandul
sabit perak yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang di
perkemahan. Silena mulai menangis lagi, dan Annabeth merangkulnya.
"Yah," kata Connor Stoll tak nyaman, "sudah bertahun-tahun kita curiga
mungkin saja ada mata-mata, kan" Seseorang terus menyampaikan informasi
kepada Luke - seperti lokasi Bulu Domba Emas beberapa tahun lalu. Pasti
seseorang yang kenal baik Luke."
Mungkin secara tanpa sadar, dia melirik Annabeth. Dia mengenal Luke lebih
baik daripada siapa pun, tentu saja, tapi Connor cepat-cepat berpaling. "Eh,
maksudku, bisa jadi siapa saja."
"Ya." Katie Gardner mengerutkan kening sambil memandang Stoll
bersaudara. Dia tidak menyukai mereka sejak mereka mendekorasi atap rumput
pondok Demeter dengan kelinci Paskah cokelat. "Seperti salah satu saudara Luke."
Baik Travis maupun Connor mulai berdebat dengannya.
"Stop!" Silena menggebrak meja begitu keras sampai-sampai cokelat
panasnya tumpah. "Charlie sudah meninggal dan ... dan kalian semua bertengkar
seperti anak kecil!" Dia menundukkan kepalanya dan mulai terisak.
Cokelat panas menetes dari meja pingpong. Semua orang kelihatan malu.
"Dia benar," kata Pollux pada akhirnya. "Saling tuduh tidak membantu. Kita
harus pasang mata untuk mencari kalung perak berbandul sabit. Jika Kronos punya
yang seperti itu, si mata-mata mungkin punya juga."
Michael Yew menggeram. "Kita harus menemukan mata-mata ini sebelum
kita merencanakan operasi kita berikutnya. Meledakkan Putri Andromeda nggak
akan menghentikan Kronos selamanya."
"Memang tidak," kata Chiron. "Malahan serangannya berikutnya sudah
dalam perjalanan." Aku merengut. "Maksud Bapak 'ancaman yang lebih besar' yang disinggung
Poseidon?" Dia dan Annabeth saling berpandangan seakan, Waktunya sudah tiba. Apa


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah kubilang aku benci saat mereka melakukan itu"
"Percy," kata Chiron, "kami tidak ingin memberitahumu sampai kau
kembali ke perkemahan. Kau harus memutuskan hubungan dengan ... teman
fanamu." Annabeth merona. Terbetik di benakku bahwa dia tahu aku sering
nongkrong bareng Rachel, dan aku merasa bersalah. Lalu aku merasa marah
karena aku merasa bersalah. Aku boleh punya teman di luar perkemahan, kan"
Kami kan tidak ... "Beri tahu aku apa yang terjadi," kataku.
Chiron mengambil gelas piala perunggu dari meja kudapan. Dia
menuangkan air ke pinggan pemanas yang biasa kami gunakan untuk melelehkan
keju nacho. Uap membubung, menciptakan pelangi di cahaya yang berfloresensi.
Chiron merogoh drachma emas dari kantong serutnya, melemparkannya ke kabut,
dan bergumam, "Wahai Iris, Dewi Pelangi, tunjukkan ancaman itu kepada kami."
Kabut berdenyar. Aku melihat gambar gunung berapi berasap yang tak
asing - Gunung St. Helens. Selagi aku memperhatikan, sisi gunung meletus. Api,
abu, dan lava bergulung-gulung ke luar. Suara pembawa berita mengatakan " -
bahkan lebih besar daripada letusan tahun lalu, dan para ahli geologi
memperingati bahwa gunung ini belum menuntaskan aksinya."
Aku tahu segalanya tentang letusan tahun lalu. Aku yang menyebabkannya.
Tapi letusan ini jauh lebih buruk. Gunung merobek-robek dirinya sendiri, runtuh
ke dalam, dan sosok bertubuh besar menjulang keluar dari asap dan lava
seakanakan keluar dari lubang selokan. Kuharap Kabut mencegah manusia melihatnya
dengan jelas, soalnya apa yang kulihat bakal menimbulkan panik dan kerusuhan di
sepenjuru Amerika Serikat.
Raksasa itu lebih besar daripada apa pun yang pernah kutemui. Mata
blasteranku sekalipun tidak bisa melihat wujud persisnya lewat abu dan api, tapi
bentuknya samar-samar seperti manusia dan begitu besar sampai-sampai ia bisa
menggunakan Gedung Chrysler sebagai tongkat bisbol. Gunung berguncang
diiringi gemuruh mengerikan, seakan-akan monster itu sedang tertawa.
"Itu dia," kataku. "Typhon."
Aku sungguh berharap Chiron bakal mengatakan sesuatu yang bagus,
misalnya, Bukan, itu teman besar kita Leroy! Dia akan menolong kita! Tapi
sayangnya tidak. Dia cuma mengangguk. "Monster paling mengerikan di antara semuanya,
ancaman tunggal terbesar yang pernah dihadapi para dewa. Dia akhirnya telah
terbebas dari bawah gunung. Tapi adegan ini dari dua hari yang lalu. Inilah yang
terjadi hari ini." Chiron melambaikan tangannya dan gambar tersebut berubah. Kulihat
pusaran awan badai bergulung melintasi dataran Midwest. Kilat menyala. Barisan
angin topan menghancurkan segalanya yang mereka lintasi - merenggut rumah
dan trailer, melemparkan mobil ke sana-sini seperti mainan dari kotak korek api.
"Banjir bandang," seorang penyiar berkata, "Lima negara bagian dinyatakan
dalam kondisi darurat bencana saat badai ganjil melaju ke timur, melanjutkan
perusakannya." Kamera menyorot pilar badai yang menghajar sebuah kota di
Midwest. Aku tidak tahu kota yang mana. Di dalam badai aku bisa melihat raksasa
- cuma sekilas wujud sejatinya: lengan berasap, tangan gelap bercakar seukuran
satu blok kota. Raungan marahnya bergulir di dataran bagaikan ledakan nuklir.
Sosok-sosok lain yang lebih kecil melesat menembus awan, mengelilingi monster
itu. Aku melihat kilatan cahaya, dan kusadari bahwa si raksasa sedang berusaha
menepis mereka. Aku memicingkan mata dan mengira aku melihat kereta perang
keemasan terbang ke dalam kegelapan. Lalu semacan burung besar - burung hantu
supergede - menukik masuk untuk menyerang si raksasa.
"Apakah itu ... para dewa?" tanyaku.
"Ya, Percy," kata Chiron. "Mereka sudah bertarung melawannya selama
berhari-hari sekarang, mencoba memperlambatnya. Tapi Typhon berderap maju -
menuju New York. Menuju Olympus."
Aku membiarkan itu meresap. "Berapa lama sampai dia tiba di sini?"
"Kecuali para dewa bisa menghentikannya" Barangkali lima hari. Sebagian
besar dewa Olympia ada di sana ... kecuali ayahmu, yang punya perang sendiri
yang harus diperjuangkannya."
"Tapi kalau begitu, siapa yang menjaga Olympus?"
Connor Stoll menggelengkan kepala. "Jika Typhon sampai ke New York,
tidak jadi soal siapa yang menjaga Olympus."
Kupikirkan kata-kata Kronos di kapal: Aku ingin sekali melihat rasa ngeri di
matamu ketika kau menyadari bagaimana aku akan menghancurkan Olympus.
Apakah ini yang dia bicarakan: serangan oleh Typhon" Memang benar
serangan tersebut cukup menyeramkan. Tapi Kronos selalu menipu kami,
mengalihkan perhatian kami. Ini tampaknya terlalu gamblang; tidak seperti
rencananya yang biasa. Dan dalam mimpiku, si Titan keemasan membicarakan
beberapa tantangan yang akan datang, seolah-olah Typhon hanyalah yang pertama.
"Ini tipuan," kataku. "Kita harus memperingati para dewa. Ada hal lain
yang akan terjadi." Chiron memandangku dengan suram. "Sesuatu yang lebih buruk daripada
Typhon" Kuharap tidak."
"Kita harus melindungi Olympus," aku berkeras. "Kronos merencanakan
serangan lain." "Memang," kata Connor Stoll. "Tapi kau menenggelamkan kapalnya."
Semua orang memandangku. Mereka ingin kabar baik. Mereka ingin
memercayai bahwa paling tidak aku bisa memberi mereka sedikit harapan.
Aku melirik Annabeth. Aku bisa tahu kami sedang memikirkan hal yang
sama: Bagaimana seandainya Putri Andromeda cuma tipuan" Bagaimana seandainya
Kronos membiarkan kami meledakkan kapal itu supaya kami mengendurkan
kesiagaan kami" Tapi aku takkan mengatakan itu di depan Silena. Pacarnya telah
mengorbankan dirinya demi misi itu.
"Mungkin kau benar," kataku, meskipun aku tidak memercayainya.
Aku mencoba membayangkan bagaimana keadaan bisa lebih buruk. Para
dewa sedang di Midwest, bertarung melawan monster besar yang pernah hampir
mengalahkan mereka satu kali sebelumnya. Poseidon sedang terkepung dan
kewalahan dalam perang melawan Oceanus sang Titan laut. Kronos masih di suatu
tempat di luar sana. Olympus praktis tak dijaga. Para blasteran di Perkemahan
Blasteran sendirian dengan mata-mata di tengah-tengah kami.
Oh, dan menurut ramalan kuno itu, aku bakal mati waktu aku menginjak
umur enam belas - yang kebetulan jatuh lima hari lagi, persis saat Typhon
semestinya menyerang New York. Hampir lupa.
"Yah," kata Chiron, "kupikir itu sudah cukup untuk satu malam."
Dia melambaikan tangannya dan uap pun menghambur. Pertempuran
penuh badai antara Typhon dan para dewa menghilang.
"Cukup banyak, mungkin," aku bersungut-sungut.
Dan rapat dewan perang pun dibubarkan.
EMPAT Kami Membakar Kafan Logam Aku bermimpi Rachel Elizabeth Dare melempari gambarku dengan dart.
Dia sedang berdiri di kamarnya ... Oke, ralat. Aku harus menjelaskan bahwa
Rachel tak punya kamar. Yang dipunyainya adalah seluruh lantai teratas griya
keluarganya, yang berupa bangunan batu cokelat yang sudah direnovasi di
Brooklyn. "Kamar"-nya adalah apartemen besar dengan penerangan bergaya
industri dan jendela raksasa dari lantai hingga ke langit-langit. Ukurannya
kira-kira dua kali lipat apartemen ibuku.
Musik rock alternatif menggelegar dari stereo Bosenya yang berlumur cat.
Sejauh yang bisa kuketahui, satu-satunya aturan Rachel mengenai musik adalah
bahwa lagu-lagu di iPod-nya tidak boleh ada yang kedengaran sama, dan semua
harus aneh. Dia mengenakan kimono, dan rambutnya kusut, seakan-akan dia baru saja
tidur. Tempat tidurnya berantakan. Kain-kain tergantung menutupi sekumpulan
penyangga kaki tiga untuk lukisan. Pakaian kotor dan pembungkus makanan
cokelat energi batangan bertebaran di lantai, tapi saat kaupunya kamar sebesar
itu, kelihatannya jadi tidak terlalu berantakan. Dari jendela kau bisa melihat
seluruh pemandangan langit malam Manhattan.
Gambar yang dia serang adalah lukisanku yang berdiri di atas Antaeus si
raksasa. Rachel melukisnya beberapa bulan lalu. Ekspresiku di gambar itu ganas -
mengerikan, bahkan - sehingga sulit untuk tahu apakah aku si orang baik atau si
orang jahat, tapi Rachel bilang aku terlihat persis seperti itu setelah
pertarungan tersebut. "Blasteran," gerutu Rachel saat dia melempar satu lagi dart ke kanvas. "Dan
misi tololnya." Sebagian besar dart terpental, tapi segelintir menempel. Satu bergantung di
daguku seperti janggut kambing.
Seseorang menggedor pintu kamar tidurnya.
"Rachel!" teriak seorang pria. "Sedang apa kau" Matikan - "
Rachel mengambil remote control-nya dan mematikan musik. "Masuk!"
Ayahnya berjalan masuk, merengut dan berkedip-kedip menghalau cahaya.
Dia punya rambut berwarna semerah karat yang sedikit lebih gelap daripada
warna rambut Rachel. Rambutnya gepeng di satu sisi, seolah-olah dia baru saja
kalah dalam pertarungan melawan bantal. Di saku piama sutra birunya ada
sulaman "WD". Serius deh, siapa yang punya piama bersulamkan inisial namanya"
"Apa yang terjadi?" tuntutnya. "Ini pukul tiga pagi."
"Nggak bisa tidur," kata Rachel.
Di lukisan, sebuah dart jatuh dari wajahku. Rachel menyembunyikan sisanya
di belakang punggungnya, tapi Pak Dare melihatnya.
"Jadi ... kutebak temanmu tidak ikut ke St. Thomas?" Begitulah Pak Dare
memanggilku. Tidak pernah Percy. Cuma temanmu. Atau anak muda kalau dia bicara
padaku, yang jarang dilakukannya.
Rachel mengerutkan alisnya. "Entahlah."
"Kita akan pergi pagi ini," kata ayahnya. "Jika dia belum membuat
keputusan - " "Dia mungkin nggak bakal ikut," kata Rachel sengsara. "Senang?"
Pak Dare meletakkan tangannya di belakang punggung. Dia mondar-mandir
di ruangan dengan ekspresi kaku. Kubayangkan dia melakukan itu di ruang dewan
perusahaan pengembangan lahannya dan membuat para karyawannya gugup.
"Apa kau masih bermimpi buruk?" tanyanya. "Sakit kepala?"
Rachel melemparkan dart-nya ke lantai. "Seharusnya aku nggak memberi
tahu Ayah tentang itu."
"Aku ayahmu," kata Pak Dare. "Aku mengkhawatirkanmu."
"Mengkhawatirkan reputasi keluarga," Rachel bersungut-sungut.
Ayahnya tidak bereaksi - mungkin karena dia pernah mendengar komentar
itu sebelumnya, atau mungkin karena itu benar.
"Kita bisa menelepon dr. Akrwright," Pak Dare menyarankan. "Dia
membantumu melalui kenyataan tentang kematian hamstermu."
"Aku baru enam tahun waktu itu," kata Rachel. "Dan tidak, Ayah, aku nggak
butuh terapis. Aku cuma ... " Dia menggelengkan kepalanya tanpa daya.
Ayahnya berhenti di depan jendela. Dia menatap langit New York seolah dia
memilikinya - yang tidak benar sama sekali. Dia cuma memiliki sebagiannya.
"Akan bagus bagimu untuk menjauh," dia memutuskan. "Kau mendapat
pengaruh yang tidak sehat."
"Aku nggak mau pergi ke Akademi Wanita Clarion," kata Rachel. "Dan
teman-temanku bukan urusan Ayah."
Pak Dare tersenyum, tapi senyumnya tidak hangat. Senyumnya lebih seperti,
Suatu hari akan kausadari betapa kau terdengar konyol.
"Cobalah tidur," desak Pak Dare. "Kita semua akan berada di pantai besok
malam. Pasti menyenangkan."
"Menyenangkan," ulang Rachel. "Menyenangkan sekali."
Ayahnya keluar dari ruangan. Dia meninggalkan pintu terbuka di
belakangnya. Rachel menatap potretku. Lalu dia berjalan ke penyangga kaki tiga di
sebelah gambarku, yang ditutupi kain.
"Kuharap semua itu cuma mimpi," katanya.
Dia menyibakkan kain dari penyangga. Pada kaki tiga tersebut terdapat
sketsa arang yang dibuat dengan tergesa-gesa, tapi Rachel adalah seniman yang
lihai. Gambar tersebut jelas-jelas menunjukkan Luke sebagai seorang bocah kecil.
Dia berumur sekitar sembilan tahun, dengan seringai lebar dan tidak ada bekas
luka di wajahnya. Aku tidak tahu bagaimana Rachel bisa tahu seperti apa rupa
Luke dulu, tapi potret tersebut begitu bagus sehingga aku punya firasat Rachel
tidak sekadar menebak-nebak. Dari apa yang kutahu soal kehidupan Luke (yang
tidak banyak), gambar tersebut menunjukkan dirinya tepat sebelum dia
menemukan bahwa dia blasteran dan kabur dari rumahnya.
Rachel menatap potret itu. Lalu dia menyingkap kaki tiga berikutnya.
Gambar ini bahkan lebih menggelisahkan. Gambar tersebut menunjukkan Empire
Istana Yang Suram 9 Pedang Ular Mas Karya Yin Yong Pendekar Satu Jurus 8
^