Pencarian

Dewi Olympia Terakhir 5

Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan Bagian 5


tersebut menghasilkan bunyi mendesing saat terbang, seperti WUIIIZZZZ! Ada
kembang api yang menempel pada sejumlah anak panah. Yang lain punya sarung
tinju alih-alih ujung lancip.
"Centaurus!" teriak Annabeth.
Pasukan Kuda Poni Pesta meledak masuk ke tengah-tengah kami dalam
warna-warni heboh: baju tenun ikat, wig kribo berwarna pelangi, kacamata hitam
kebesaran, dan wajah yang dilukisi untuk berperang. Ada slogan yang diguratkan
ke samping tubuh sebagian dari mereka seperti TAPAK QUDA atau KRONOS
BUSUX. Ratusan centaurus memenuhi seisi blok. Otakku tak bisa memproses segala
yang kulihat, tapi aku tahu bahwa seandainya aku ini musuh, aku bakal lari.
"Percy!" Chiron berteriak dari seberang lautan centaurus liar. Dia
mengenakan baju zirah dari pinggang ke atas, busur di tangannya, dan dia nyengir
puas. "Maaf kami terlambat!"
"BUNG!" Centaurus lain berteriak. "Ngobrol belakangan. HAJAR MONSTER SEKARANG!" Dia mengunci dan mengisi senapan peluru cat bermoncong ganda dan
menembaki anjing neraka musuh dengan warna merah muda cerah. Catnya pasti
dicampur dengan debu perunggu perak atau semacamnya karena segera setelah
cat tersebut memerciki si anjing neraka, monster itu mendengking dan terbuyarkan
menjadi genangan merah muda-hitam.
"KUDA PONI PESTA!" teriak seekor centaurus. "FLORIDA SELATAN!"
Di suatu tempat di seberang medan tempur, suara sengau balas berteriak,
"CABANG JANTUNG TEXAS!"
"HAWAII DAPATKAN MUKA KALIAN!" teriak suara ketiga.
Itu adalah hal terindah yang pernah kulihat. Seluruh pasukan Titan berbalik
dan kabur, didorong ke belakang oleh banjir peluru cat, anak panah, pedang, dan
tongkat bisbol NERF. Para centaurus menginjak-injak segala yang ada di lintasan
mereka. "Berhenti berlari, dasar bodoh!" teriak Kronos. "Berdiri dan ADAOW!"
Bagian terakhir itu karena raksasa Hyperborean yang panik jatuh ke
belakang dan mendudukinya. Sang penguasa waktu menghilang di bawah pantat
biru si raksasa. Kami mendorong mereka sejauh beberapa blok sampai Chiron berteriak,
"TAHAN! Sesuai janji kalian, TAHAN!"
Memang tidak gampang, tapi akhirnya perintah tersebut disampaikan ke
seluruh centaurus, dan mereka mulai mundur, membiarkan musuh kabur.
"Chiron pintar," kata Annabeth, mengusap keringat dari wajahnya. "Kalau
kita mengejar, kita bakalan terlalu tersebar. Kita harus berkumpul kembali."
"Tapi musuh - "
"Mereka belum kalah," Annabeth sepakat. "Tapi fajar sebentar lagi tiba.
Paling nggak kita mengulur waktu."
Aku tidak suka mundur, tapi aku tahu Annabeth benar. Aku memperhatikan
selagi telekhine-telekhine terakhir tergopoh-gopoh ke arah Sungai East. Kemudian
dengan enggan aku berbalik dan menuju kembali ke Empire State Building.
Kami mendirikan perimeter seluas dua blok, dengan tenda komando di Empire
State Building. Chiron memberi tahu kami bahwa Kuda Poni Pesta telah
mengirimkan cabang-cabang dari setiap negara bagian di Persemakmuran: empat
puluh dari California, dua dari Rhode Island, tiga puluh dari Illinois ... Secara
kasar jumlah total yang menjawab panggilannya ada lima ratus, tapi dengan
sebanyak itu sekalipun, kami tidak bisa mempertahankan lebih dari beberapa blok.
"Bung," kata centaurus bernama Larry. Kaosnya mengidentifikasinya
sebagai BOS BESAR KEPALA SUKU, CABANG NEW MEXICO. "Tadi itu lebih
asyik daripada konvensi terakhir kita di Las Vegas."
"Iya," kata Owen dari Dakota selatan. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan
helm tentara Perang Dunia II lama. "Kita betul-betul menghajar mereka!"
Chiron menepuk punggung Owen. "Kerja kalian bagus, Kawan-kawan, tapi
jangan sembrono. Kronos tidak pernah boleh dianggap enteng. Sekarang
bagaimana kalau kalian mengunjungi rumah makan di West 33rd dan sarapan"
Kudengar cabang Delaware menemukan simpanan root beer."
"Root beer!" Mereka hampir saling injak saat mereka mencongklang pergi.
Chiron tersenyum. Annabeth memeluknya erat-erat, dan Nyonya O'Leary
menjilat wajahnya. "Aduh," gerutu Chiron. "Itu sudah cukup, Anjing. Ya, aku juga senang
bertemu kau." "Pak Chiron, makasih," kataku. "Ini yang namanya membuat hari jadi
indah." Dia mengangkat bahu. "Maaf perlu lama sekali. Centaurus bisa bepergian
dengan cepat, seperti yang kautahu. Kami bisa membengkokkan jarak selagi kami
melaju. Walau demikian, mengumpulkan semua centaurus bukan tugas mudah.
Kuda Poni Pesta tidak terorganisasi."
"Bagaimana cara Bapak dan yang lainnya melewati penghalang magis di
sekeliling kota?" tanya Annabeth.
"Penghalang itu memperlambat kami sedikit," Chiron mengakui, "tapi
menurutku penghalang tersebut terutama dimaksudkan untuk menghalau
manusia fana. Kronos tidak mau manusia lemah menghalangi kemenangan
besarnya." "Jadi mungkin bala bantuan yang lain bisa masuk," kataku penuh harap.
Chiron mengelus-elus janggutnya. "Barangkali, meskipun waktunya singkat.
Segera setelah pasukan Kronos berkumpul kembali, dia akan menyerang lagi.
Tanpa unsur kejutan di pihak kita ... "
Aku paham apa maksudnya. Kronos belum kalah. Sama sekali tidak. Aku
setengah berharap Kronos sudah remuk di bawah pantat raksasa Hyperborean itu,
tapi aku lebih tahu. Dia bakal kembali, malam ini paling lambat.
"Dan Typhon?" tanyaku.
Wajah Chiron jadi mendung. "Para dewa kelelahan. Dionysus dibuat tidak
mampu bertempur kemarin. Typhon menghancurkan kereta perangnya, dan sang
dewa anggur terjatuh di suatu tempat di Pegunungan Appalachia. Belum ada yang
melihatnya sejak saat itu. Hephaestus tidak bisa beraksi juga. Dia dilemparkan
dari pertempuran begitu dahsyat sampai-sampai dia menciptakan danau baru di
Virginia Barat. Dia akan sembuh, tapi tidak cukup cepat sehingga memungkinkannya membantu. Yang lain masih bertarung. Mereka berhasil
memperlambat pergerakan Typhon menuju Olympus. Tapi monster itu tidak dapat
dihentikan. Dia akan tiba di New York pada waktu ini besok. Setelah dia dan
Kronos menyatukan kekuatan - "
"Kemudian peluang apa yang kita miliki?" kataku. "Kita tidak bisa bertahan
sehari lagi." "Kita harus bertahan," kata Thalia. "Akan kuurus pembuatan jebakanjebakan baru
di sekeliling perimeter."
Dia terlihat kelelahan. Jaketnya tercoreng kotoran dan debu monster, tapi dia
sanggup berdiri dan tertatih-tatih pergi.
"Aku akan membantunya," Chiron memutuskan. "Aku sebaiknya memastikan rekan-rekan sebangsaku tidak kelewatan dengan root beer."
Kupikir "kelewatan" kurang lebih merangkum karakter Kuda Poni Pesta,
tapi Chiron melenggang pergi, meninggalkan Annabeth dan aku sendirian.
Annabeth membersihkan lendir monster dari pisaunya. Aku sudah
melihatnya melakukan itu ratusan kali, tapi aku tidak pernah memikirkan kenapa
dia peduli sekali soal pisau itu.
"Paling tidak ibumu baik-baik saja," timpalku.
"Kalau kausebut bertarung melawan Typhon baik-baik saja." Dia bertemu
pandang denganku. "Percy, meskipun para centaurus membantu, aku mulai
berpikir - " "Aku tahu." Aku punya firasat buruk bahwa ini bakal jadi kesempatan
terakhir kami untuk bicara, dan aku merasa ada sejuta hal yang belum
kuberitahukan kepadanya. "Dengar, ada ... ada penampakan yang ditunjukkan
Hestia kepadaku." "Maksudmu tentang Luke?"
Mungkin itu cuma tebakan jitu, tapi aku punya firasat Annabeth tahu apa
yang kusembunyikan. Mungkin dia sendiri bermimpi.
"Iya," kataku. "Kau dan Thalia dan Luke. Pertama kali kalian bertemu. Dan
waktu kalian ketemu Hermes."
Annabeth menyelipkan pisau kembali ke sarungnya. "Luke janji dia nggak
akan membiarkanku terluka. Dia bilang ... dia bilang kami akan jadi keluarga baru,
dan keadaannya bakal lebih baik daripada keadaan keluarganya sendiri."
Matanya mengingatkanku pada mata anak perempuan tujuh tahun di gang
itu - marah, takut, putus asa ingin memiliki teman.
"Thalia bicara kepadaku sebelumnya," kataku. "Dia khawatir - "
"Bahwa aku nggak bisa menghadapi Luke," kata Annabeth sengsara.
Aku mengangguk. "Tapi ada hal lain yang harus kautahu. Ethan Nakamura
tampaknya berpikir Luke masih hidup di dalam tubuhnya, mungkin bahkan
melawan Kronos demi mendapatkan kendali."
Annabeth mencoba menyembunyikannya, tapi aku hampir bisa melihat
benaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan, mungkin mulai berharap.
"Aku tadinya nggak mau memberitahumu," aku mengakui.
Dia mendongak, memandang Empire State Building. "Percy, selama hampir
sepanjang hidupku, aku merasa seakan segalanya berubah, sepanjang waktu. Aku
nggak punya seseorang yang bisa kuandalkan."
Aku mengangguk. Itu adalah sesuatu yang bisa dipahami sebagian besar
blasteran. "Aku melarikan diri ketika umurku tujuh tahun," katanya. "Kemudian
bersama Luke dan Thalia, kupikir aku menemukan sebuah keluarga, tapi semua
hancur berantakan hampir seketika. Maksudku ... aku benci saat orang-orang
mengecewakanku, saat keadaan hanya sementara. Kupikir itulah sebabnya aku
ingin jadi arsitek."
"Untuk membangun sesuatu yang permanen," kataku. "Monumen yang
bertahan ribuan tahun."
Dia menatap mataku. "Kurasa itu kedengarannya seperti kelemahan fatalku
lagi." Bertahun-tahun lalu di Lautan Monster, Annabeth memberitahuku kelemahan fatalnya adalah kebanggaan berlebihan - mengira dia bisa memperbaiki
segalanya. Aku bahkan melihat hasrat terdalamnya sekilas, ditunjukkan kepadanya
oleh sihir Siren. Annabeth membayangkan ibu dan ayahnya bersama-sama, berdiri
di depan Manhattan yang baru dibangun kembali, dirancang oleh Annabeth. Dan
Luke ada di sana juga - baik kembali, menyambutnya pulang.
"Sepertinya aku mengerti apa yang kaurasakan," kataku. "Tapi Thalia benar.
Luke sudah mengkhianatimu berkali-kali. Dia jahat bahkan sebelum Kronos. Aku
nggak mau dia menyakitimu lagi."
Annabeth merapatkan bibirnya. Aku bisa tahu dia sedang berusaha tidak
marah. "Dan kau akan mengerti kalau aku terus berharap ada peluang semoga kau
salah." Aku berpaling. Aku merasa aku telah berbuat yang terbaik, tapi itu tidak
membuatku merasa baikan. Di seberang jalan, para pekemah Apollo telah mendirikan rumah sakit
lapangan untuk mengurus mereka yang terluka - lusinan pekemah dan sejumlah
Pemburu yang hampir sama banyaknya. Aku sedang memperhatikan paramedis
bekerja, dan memikirkan peluang tipis kami untuk mempertahankan Gunung
Olympus ... Dan tiba-tiba: aku tidak di sana lagi.
Aku berdiri di sebuah bar kumuh panjang dengan dinding hitam, plang
neon, dan sekumpulan orang dewasa yang sedang berpesta. Spanduk yang
melintangi bar berbunyi SELAMAT ULANG TAHUN, BOBBY EARL. Musik
country dimainkan lewat pengeras suara. Lelaki-lelaki besar yang memakai jins
dan baju kerja menyesaki bar. Para pelayan membawa nampan minuman dan saling
teriak. Bar tersebut kurang lebih seperti tempat yang tidak boleh kukunjungi
karena dilarang ibuku. Aku terjebak di bagian belakang ruangan, di samping kamar mandi (yang
baunya tak bisa dibilang sedap) dan sepasang mesin game antik.
"Oh bagus, kau di sini," kata seorang pria di mesin game Pac-Man. "Aku
minta Diet Coke." Dia adalah seorang pria tembem yang memakai baju Hawaii bermotif kulit
macan tutul, celana pendek ungu, sepatu lari merah, dan kaus kaki hitam, yang
sebetulnya tak membuatnya berbaur dengan kerumunan. Hidungnya merah cerah.
Perban membalut rambut hitam keritingnya seolah-olah dia sedang memulihkan
diri dari gegar otak. Aku berkedip. "Pak D?"
Dia mendesah, tidak mengalihkan pandangan matanya dari permainan.
"Yang benar saja, Peter Johnson, berapa lama kau butuh waktu untuk mengenaliku
saat melihatku?" "Kira-kira sama lamanya seperti waktu yang Bapak butuhkan untuk
mengingat nama saya," gerutuku. "Di mana kita?"
"Lho, pesta Bobby Earl tentu saja," kata Dionysus. "Di suatu tempat di
pedesaan Amerika yang indah."
"Saya kira Typhon menepuk Bapak sehingga jatuh dari langit. Katanya
Bapak kecelakaan." "Kekhawatiranmu sungguh menyentuh. Aku memang kecelakaan. Dengan
sangat menyakitkan. Malahan, sebagian dari diriku masih terkubur di bawah
puing-puing tiga puluh meter di tambang batu bara terbengkalai. Butuh beberapa
jam lagi sampai aku memiliki cukup kekuatan untuk menyembuhkan diri. Tapi
sementara itu, sebagian dari kesadaranku ada di sini."
"Di bar, main Pac-Man."
"Waktunya berpesta," kata Dionysus. "Pastinya kau pernah mendengar itu.
Kapan pun ada pesta, kehadiranku dipanggil. Karena ini, aku bisa berada di
banyak tempat pada waktu bersamaan. Satu-satunya masalah adalah menemukan
sebuah pesta. Aku tidak tahu apakah kau sadar betapa seriusnya keadaan di luar
gelembung kecilmu yang aman di New York - "
"Gelembung kecil yang aman?"
" - tapi percayalah padaku, para manusia fana di sini di jantung negeri
sedang panik. Typhon telah menakuti mereka. Segelintir sekali yang berpesta.
Rupanya Bobby Earl dan teman-temannya, terberkatilah mereka, sedikit lemot.
Mereka belum tahu bahwa dunia akan kiamat."
"Jadi ... saya nggak benar-benar di sini?"
"Tidak. Sebentar lagi akan kukirim kau kembali ke kehidupan normalmu
yang tak berarti, dan ini seakan tidak pernah terjadi."
"Dan kenapa Bapak membawa saya ke sini?"
Dionysus mendengus. "Oh, aku tidak menginginkanmu secara khusus. Yang
mana pun di antara kalian, pahlawan-pahlawan bodoh, boleh juga. Si gadis Annie
itu - " "Annabeth." "Intinya adalah," kata Dionysus, "kutarik kau ke waktunya berpesta untuk
menyampaikan peringatan. Kita sedang dalam bahaya."
"Wow," kataku. "Saya nggak bakalan pernah menyadari itu. Makasih."


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dionysus memelototiku dan selama sesaat melupakan permainannya. Pac-
Man dimakan oleh si hantu merah.
"Erre es korakas, Blinky!" Dionysus mengumpat. "Akan kuambil jiwamu!"
"Anu, dia cuma tokoh video game," kataku.
"Itu bukan alasan! Dan kau merusak permainanku, Jorgenson!"
"Jackson." "Yang mana sajalah! Sekarang dengarkan, situasinya lebih genting daripada
yang kaubayangkan. Seandainya Olympus jatuh, bukan hanya para dewa yang
akan memudar, tapi segalanya yang terkait warisan kami akan mulai terbuyarkan.
Penyusun peradaban kecil kalian yang remeh - "
Game tersebut memainkan sebuah lagu dan Pak D maju ke level 254.
"Ha!" teriaknya. "Rasakan itu, dasar penjahat piksel!"
"Anu, penyusun peradaban," desakku.
"Ya, ya. Seluruh masyarakat kalian akan bubar. Barangkali tidak seketika,
tapi camkan kata-kataku, kekacauan Titan berarti akhir dari peradaban Barat.
Kesenian, hukum, seni mencicipi anggur, video game, baju sutra, lukisan beledu
hitam - segalanya yang membuat hidup kalian layak dijalani akan menghilang!"
"Jadi, kenapa para dewa tidak buru-buru kembali untuk membantu kami?"
kataku. "Kita semestinya menggabungkan kekuatan di Olympus. Lupakan
Typhon." Dia menjentikkan jarinya tak sabaran. "Kau lupa Diet Coke-ku."
"Demi para dewa, Bapak ini benar-benar menyebalkan." Aku mendapatkan
perhatian seorang pelayan dan memesan soda tolol itu. Aku memasukkannya ke
tagihan Bobby Earl. Pak D minum lama-lama. Matanya tidak pernah meninggalkan video game.
"Sebenarnya, Pierre - "
"Percy." " - dewa-dewa lain takkan pernah mau mengakui ini, tapi kami sebenarnya
memerlukan kalian, manusia fana, untuk menyelamatkan Olympus. Begini, kami
adalah manifestasi kebudayaan kalian. Apabila kalian tidak cukup peduli sehingga
tidak mau menyelamatkan Olympus sendiri - "
"Seperti Pan," kataku, "yang bergantung pada para satir untuk menyelamatkan Alam Liar."
"Ya, kurang lebih begitu. Akan kusangkal aku pernah mengatakan ini, tentu
saja, tapi para dewa membutuhkan pahlawan. Mereka selalu membutuhkan
pahlawan. Jika tidak, kami tidak akan membiarkan anak-anak kecil menyebalkan
seperti kalian berkeliaran."
"Saya merasa begitu diinginkan. Makasih."
"Gunakan latihan yang kuberikan kepada kalian di perkemahan."
"Latihan apa?" "Kautahu. Semua teknik pahlawan dan ... Tidak!" Pak D melempar konsol
game. "Na pari i eychi! Level terakhir!"
Dia memandangku, dan api ungu memercik di matanya. "Seingatku, aku
pernah memprediksi bahwa kau akan jadi sama egoisnya seperti semua pahlawan
manusia. Yah, inilah kesempatanmu untuk membuktikan bahwa aku salah."
"Yeah. Membuat Bapak bangga memang termasuk prioritas utama saya."
"Kau harus menyelamatkan Olympus, Pedro! Tinggalkan Typhon kepada
dewa-dewi Olympia dan selamatkan kursi kekuasaan kami. Itu harus dilakukan!"
"Hebat. Obrolan kecil yang menyenangkan. Nah, kalau Bapak tidak
keberatan, teman-teman saya pasti bertanya-tanya - "
"Ada lagi," Pak D memperingati. "Kronos belum memperoleh kekuatan
penuh. Tubuh manusia fana hanyalah langkah sementara."
"Kami juga sudah menebak begitu."
"Dan apakah kalian sudah menebak bahwa maksimal dalam sehari, Kronos
akan membakar tubuh fana itu dan menyandang wujud sejati raja Titan?"
"Dan itu akan berarti ... "
Dionysus memasukkan uang logam seperempat dolar lagi. "Kautahu
tentang wujud sejati para dewa."
"Yeah. Orang nggak bisa melihat wujud sejati dewa tanpa terbakar."
"Kronos sepuluh kali lebih kuat. Keberadaannya saja akan membakar kalian.
Dan setelah dia meraih ini, dia akan memberdayakan para Titan lain. Mereka
lemah sekarang, dibandingkan dengan kondisi mereka nanti, kecuali kalian bisa
menghentikan mereka. Dunia akan runtuh, para dewa akan mati, dan aku takkan
pernah memperoleh skor sempurna di mesin bodoh ini."
Mungkin aku seharusnya ketakutan, tapi sejujurnya, aku sudah tidak bisa
lebih takut lagi. "Boleh saya pergi sekarang?" tanyaku.
"Satu hal terakhir. Putraku Pollux. Apa dia masih hidup?"
Aku berkedip. "Iya, terakhir kali saya melihatnya."
"Aku akan sangat menghargai apabila kau bisa menjaganya tetap hidup.
Aku kehilangan saudara laki-lakinya, Castor, tahun lalu - "
"Saya ingat." Aku menatapnya, mencoba membiasakan benakku dengan
pemikiran bahwa Dionysus bisa menjadi ayah yang perhatian. Aku bertanya-tanya
berapa banyak dewa Olympia lain yang sedang memikirkan anak-anak blasteran
mereka sekarang. "Akan saya lakukan yang terbaik."
"Yang terbaik," gerutu Dionysus. "Menenangkan sekali. Pergilah sekarang.
Ada kejutan buruk yang harus kauhadapi dan aku harus mengalahkan Blinky!"
"Kejutan buruk?"
Dia melambaikan tangannya dan bar pun menghilang.
Aku kembali ke Fifth Avenue. Annabeth belum bergerak. Dia tidak memberi
tandatanda bahwa aku baru saja pergi atau semacamnya.
Dia menangkap basah diriku sedang menatapnya dan mengerutkan kening.
"Apa?" "Eh ... nggak ada apa-apa, sepertinya."
Aku menatap jalanan, bertanya-tanya apa yang dimaksud Pak D dengan
kejutan buruk. Memangnya bisa seburuk apa lagi"
Mataku mendarat di sebuah mobil biru ringsek. Kapnya penyok parah,
seolah seseorang telah mencoba membuat kawah besar. Kulitku merinding. Kenapa
mobil itu kelihatan demikian tidak asing" Kemudian kusadari bahwa mereknya
Prius. Prius milik Paul. Aku melesat menyusuri jalan.
"Percy!" seru Annabeth. "Mau ke mana kau?"
Paul terlelap di kursi pengemudi. Ibuku mengorok di sampingnya.
Pikiranku terasa kacau balau. Bagaimana mungkin aku tidak melihat mereka
sebelumnya" Mereka sudah duduk di sini di lalu lintas selama lebih dari sehari,
pertempuran merajalela di sekeliling mereka dan aku bahkan tidak sadar.
"Mereka ... mereka pasti melihat cahaya biru di langit itu." Aku
mengguncangkan pintu-pintu tapi semuanya terkunci. "Aku harus mengeluarkan
mereka." "Percy," kata Annabeth lembut.
"Aku nggak bisa meninggalkan mereka di sini!" Aku kedengaran sedikit
gila. Aku menggedor-gedor kaca depan. "Aku harus memindahkan mereka. Aku
harus - " "Percy, tunggu ... tunggu saja sebentar." Annabeth melambai kepada
Chiron, yang sedang mengobrol dengan beberapa centaurus di ujung blok. "Kita
bisa mendorong mobil ke jalan samping, oke" Mereka akan baik-baik saja."
Tanganku gemetaran. Setelah semua yang telah kulalui selama beberapa hari
terakhir, aku merasa begitu lemah dan bodoh, tapi melihat orangtuaku membuatku
ingin menangis sejadi-jadinya.
Chiron mencongklang menghampiri. "Ada ... Ya ampun. Begitu."
"Mereka datang untuk mencari saya," kataku. "Ibu saya pasti merasakan
ada yang tidak beres."
"Kemungkinan besar," kata Chiron. "Tapi, Percy, mereka akan baik-baik saja.
Hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk mereka adalah tetap berfokus pada
pekerjaan kita." Kemudian kulihat sesuatu di kursi belakang Prius dan jantungku berhenti
berdetak sesaat. Diikat sabuk pengaman di belakang ibuku, terdapat bejana Yunani
hitam-putih kira-kira setinggi sembilan puluh sentimeter. Tutupnya dililit tali
kulit. "Nggak mungkin," gumamku.
Annabeth menekan tangannya ke jendela. "Itu mustahil! Kukira kau
meninggalkannya di Plaza."
"Terkunci di dalam brankas," aku sepakat.
Chiron melihat bejana itu dan matanya melebar. "Bukankah itu - "
"Bejana Pandora." Aku memberitahunya tentang pertemuanku dengan
Prometheus. "Kalau begitu, bejana itu milikmu," kata Chiron muram. "Bejana itu akan
mengikutimu dan menggodamu untuk membukanya, tidak peduli di mana kau
meninggalkannya. Bejana tersebut akan muncul ketika kau dalam keadaan paling
lemah." Seperti sekarang, pikirku. Melihat orangtuaku yang tak berdaya.
Kubayangkan Prometheus tersenyum, tidak sabar untuk membantu kami,
manusia fana yang malang. Serahkan Harapan, dan aku akan tahu bahwa kalian
menyerah. Aku janji Kronos akan lunak.
Kemarahan melandaku. Aku menghunus Riptide dan mengiris jendela di
sisi pengemudi seakan-akan jendela tersebut terbuat dari bungkus plastik.
"Akan kita buka rem tangannya," kataku. "Dorong mobil ini supaya
menyingkir. Dan bawa bejana tolol itu ke Olympus."
Chiron mengangguk. "Rencana bagus. Tapi, Percy ... "
Apa pun yang akan dikatakannya, dia terdiam. Derum mekanis terdengar
makin keras di kejauhan - bunyi helikopter.
Pada Senin pagi yang normal di New York, ini bukanlah masalah besar, tapi
setelah dua hari keheningan, helikopter manusia fana adalah hal teraneh yang
pernah kudengar. Beberapa blok di timur, pasukan monster berteriak dan
mencemooh saat helikopter tersebut muncul dalam pandangan. Helikopter itu
adalah model sipil yang dicat merah tua, dengan logo "DE" hijau cerah di
sampingnya. Kata-kata di bawah logo tersebut terlalu kecil untuk dibaca, tapi
aku tahu apa bunyinya: DARE ENTERPRISES.
Tenggorokanku tercekat. Aku memandang Annabeth dan bisa tahu bahwa
dia mengenali logo itu juga. Wajahnya semerah helikopter itu.
"Apa yang dia lakukan di sini?" tuntut Annabeth. "Bagaimana bisa dia
melewati penghalang?"
"Siapa?" Chiron terlihat bingung. "Manusia fana mana yang cukup tidak
waras - " Tiba-tiba helikopter miring ke depan.
"Mantra Morpheus!" kata Chiron. "Si pilot fana bodoh tertidur."
Aku menyaksikan dengan ngeri saat helikopter tersebut miring ke samping,
jatuh menuju sederet bangunan kantor. Sekalipun helikopter tersebut tidak terjun
bebas menabrak bumi, dewa udara mungkin bakal menepuknya sehingga jatuh
dari langit karena mendekati Empire State Building.
Aku terlalu terperangah sehingga tidak bisa bergerak, tapi Annabeth bersiul
dan Guido si pegasus menukik turun entah dari mana.
Kau menghubungi kuda tampan" tanyanya.
"Ayo, Percy," geram Annabeth. "Kita harus menyelamatkan temanmu."
ENAM BELAS Kami Mendapat Bantuan dari Pencuri Inilah definisiku untuk kata nggak asyik. Terbangkan pegasus ke arah helikopter
yang tak terkendali. Kalau Guido kurang jago terbang, kami pasti bakal
terpotongpotong kayak daging cacah.
Aku bisa mendengar Rachel menjerit di dalam. Entah karena alasan apa,
Rachel tidak jatuh tertidur, tapi aku bisa melihat sang pilot merosot ke atas
panel kontrol, miring ke depan dan ke belakang selagi helikopter berputar-putar menuju
sisi sebuah bangunan kantor.
"Ada ide?" tanyaku pada Annabeth.
"Kau harus bawa Guido dan pergi," kata Annabeth.
"Apa yang akan kaulakukan?"
Sebagai jawabannya, dia berkata, "Hyah!" dan Guido pun menukik ke
bawah. "Menunduk!" teriak Annabeth.
Kami melintas begitu dekat dengan rotor sehingga aku merasakan kekuatan
baling-baling menyentakkan rambutku. Kami melesat ke samping helikopter, dan
Annabeth meraih pintu. Saat itulah keadaan jadi gawat.
Sayap Guido menabrak helikopter. Dia serta-merta terjun ke bawah bersama
aku di punggungnya, meninggalkan Annabeth bergelantungan dari samping
kendaraan udara itu. Aku begitu ketakutan sehingga aku nyaris tidak bisa berpikir, tapi saat
Guido berputar-putar kulihat sekilas bahwa Rachel sedang menarik Annabeth ke
dalam helikopter. "Bertahanlah!" teriakku pada Guido.
Sayapku, erangnya. Sayapku benjol.
"Kau bisa melakukannya!" Dengan putus asa kucoba mengingat apa yang
dulu sering dikatakan Silena dalam pelajaran menunggang pegasus. "Buat saja
sayapmu rileks. Bentangkan dan meluncurlah."
Kami jatuh seperti batu - tepat menuju aspal sembilan puluh meter di
bawah. Pada saat terakhir Guido membentangkan sayapnya. Aku melihat wajahwajah
centaurus melongo menatap kami. Lalu kami berhenti terjun bebas,
melayang sejauh lima belas meter, dan menabrak aspal - pegasus di atas blasteran.
Aduh! erang Guido. Kakiku. Kepalaku. Sayapku.
Chiron mencongklang menghampiri kami sambil membawa kantong
obatnya dan mulai merawat si pegasus.
Aku berdiri. Saat aku menengadah, jantungku seolah merayap ke
tenggorokanku. Beberapa menit lagi, helikopter akan menghantam sisi bangunan.
Lalu secara ajaib helikopter tersebut memperbaiki gerakannya. Helikopter
berputar-putar dan membubung. Dengan sangat pelan, helikopter mulai turun.
Tampaknya hal itu makan waktu lama sekali, tapi akhirnya helikopter
tersebut mendarat di tengah-tengah Fifth Avenue. Aku memandang lewat kaca
depan dan tidak bisa memercayai apa yang kulihat. Annabeth berada di kemudi.
Aku lari ke depan saat rotor berputar-putar hingga berhenti. Rachel membuka
pintu samping dan menyeret sang pilot ke luar.
Rachel masih berpakaian seperti sedang liburan, mengenakan celana pendek
pantai, kaos, dan sandal. Rambutnya kusut dan wajahnya pucat pasi berkat
perjalanan berhelikopter.
Annabeth memanjat keluar terakhir.
Aku menatapnya dengan kagum. "Aku nggak tahu kau bisa menerbangkan
helikopter." "Aku juga," kata Annabeth. "Ayahku tergila-gila pada ilmu penerbangan.
Plus, Daedalus punya beberapa catatan mengenai mesin terbang. Aku cuma
menebak-nebak panel kendali sebaik mungkin."
"Kau menyelamatkan nyawaku," kata Rachel.
Annabeth meregangkan pundaknya yang luka. "Yah ... jangan jadikan
kebiasaan. Apa yang kaulakukan di sini, Dare" Bukankah kau tahu sebaiknya tidak
terbang ke dalam zona perang?"
"Aku - " Rachel melirikku. "Aku harus berada di sini. Aku tahu Percy sedang
dalam masalah." "Wah benar sekali dugaanmu," gerutu Annabeth. "Yah, permisi, aku punya
teman-teman yang terluka yang harus kurawat. Senang kau bisa mampir, Rachel."
"Annabeth - " seruku.
Dia pergi sambil bersungut-sungut.
Rachel duduk di trotoar dan meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya.
"Maafkan aku, Percy. Aku nggak bermaksud ... Aku selalu mengacaukan
keadaan." Susah mendebatnya, meskipun aku lega dia selamat. Aku memandang ke
arah Annabeth pergi, tapi dia telah lenyap ke dalam kerumunan. Aku tak bisa
memercayai apa yang baru saja dilakukannya - menyelamatkan nyawa Rachel,
mendaratkan helikopter, dan berjalan pergi seolah itu bukan masalah besar.
"Nggak apa-apa," kataku pada Rachel, meskipun kata-kataku terdengar
hampa. "Jadi, pesan apa yang ingin kausampaikan?"


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rachel mengerutkan kening. "Bagaimana kautahu soal itu?"
"Mimpi." Rachel tidak kelihatan kaget. Dia menarik-narik celana pendek pantainya.
Celananya ditutupi gambar-gambar, yang tidak tak lazim baginya, tapi aku
mengenali simbol-simbol ini: huruf-huruf Yunani, gambar dari manik-manik
perkemahan, sketsa monster, dan wajah-wajah dewa. Aku tidak mengerti
bagaimana Rachel bisa tahu tentang sebagian dari itu. Dia tak pernah ke Olympus
atau Perkemahan Blasteran.
"Aku melihat bermacam hal juga," gumamnya. "Maksudku, bukan cuma
menembus Kabut. Ini beda. Aku menggambar lukisan, menulis kalimat-kalimat - "
"Dalam bahasa Yunani Kuno," kataku. "Apa kautahu bunyinya?"
"Itulah yang ingin kubicarakan padamu. Aku berharap ... yah, kalau kau
ikut berlibur bersama kami, kuharap kau bisa membantuku memecahkan apa yang
terjadi padaku." Dia memandangku dengan ekspresi memohon. Wajahnya terbakar matahari
gara-gara berjemur di pantai. Hidungnya mengelupas. Aku tak bisa mengenyahkan
perasaan terguncang karena dia berada di sini. Dia memaksa keluarganya
memotong liburan mereka, setuju untuk pergi ke sekolah payah, dan
menerbangkan helikopter ke dalam pertempuran monster cuma untuk menemuiku. Dengan caranya sendiri, Rachel sama beraninya seperti Annabeth.
Tapi yang terjadi padanya dengan penampakan-penampakan ini benarbenar bikin aku
ketakutan. Mungkin itu adalah sesuatu yang terjadi pada semua
manusia fana yang bisa melihat menembus Kabut. Tapi ibuku tak pernah
membicarakan hal semacam itu. Dan kata-kata Hestia tentang ibu Luke terus
kembali ke benakku: May Castellan melangkah terlalu jauh. Dia berusaha melihat
terlalu banyak. "Rachel," kataku. "Kuharap aku tahu. Mungkin kita sebaiknya tanya Chiron
- " Rachel berjengit seperti kesetrum. "Percy, sesuatu akan terjadi. Tipuan yang
berujung pada kematian."
"Apa maksudmu" Kematian siapa?"
"Aku nggak tahu." Dia melihat ke sana-kemari dengan gugup. "Apakah kau
nggak merasakannya?"
"Itukah pesan yang ingin kauberitahukan padaku?"
"Bukan." Dia ragu-ragu. "Maafkan aku. Kata-kataku nggak masuk akal, tapi
pemikiran itu baru saja terlintas dalam benakku. Pesan yang kutulis di pantai
berbeda. Ada namamu di dalamnya."
"Perseus," aku ingat. "Dalam bahasa Yunani Kuno."
Rachel mengangguk. "Aku nggak tahu apa artinya. Tapi aku tahu itu
penting. Kau harus mendengarnya. Bunyinya, Perseus, bukan kau pahlawannya."
Aku menatapnya seolah dia baru saja menamparku. "Kau datang ribuan
kilometer untuk memberitahuku bahwa bukan aku pahlawannya?"
"Itu penting," dia berkeras. "Itu akan memengaruhi apa yang kaulakukan."
"Bukan pahlawan dalam ramalan?" tanyaku. "Bukan pahlawan yang
mengalahkan Kronos" Apa maksudmu?"
"Aku ... aku minta maaf, Percy. Cuma itu yang kutahu. Aku harus
memberitahumu karena - "
"Wah!" Chiron melenggang menghampiri kami. "Ini pasti Nona Dare."
Aku ingin meneriaki Chiron supaya menyingkir, tapi tentu saja aku tak bisa
begitu. Aku berusaha mengendalikan emosiku. Aku merasa ada topan personal
yang sedang berputar-putar di dalam diriku.
"Pak Chiron, Rachel Dare," kataku. "Rachel, ini guruku Pak Chiron."
"Halo," kata Rachel muram. Dia sama sekali tidak kaget bahwa Chiron
adalah centaurus. "Kau tidak tertidur, Nona Dare," Chiron memperhatikan. "Walaupun kau
manusia fana?" "Saya manusia fana," Rachel sepakat, seolah-olah pemikiran itu membuatnya depresi. "Pilot jatuh tertidur segera setelah kami melintasi sungai.
Saya tidak tahu kenapa saya tidak tertidur. Saya hanya tahu saya harus berada di
sini, untuk memperingati Percy."
"Memperingati Percy?"
"Dia melihat bermacam-macam hal," kataku. "Menulis kalimat-kalimat dan
membuat gambar-gambar."
Chiron mengangkat alis. "Sungguh" Beri tahu aku."
Rachel memberi tahu Chiron hal yang sama yang sudah diberitahukannya
kepadaku. Chiron mengelus janggutnya. "Nona Dare ... barangkali kita sebaiknya
mengobrol." "Pak Chiron," semburku. Aku tiba-tiba teringat bayangan mengerikan
tentang Perkemahan Blasteran pada tahun 1990-an, dan teriakan May Castellan
yang berasal dari loteng. "Bapak ... Bapak pasti akan membantu Rachel, kan"
Maksud saya, Bapak akan memperingatinya bahwa dia harus berhati-hati dengan
persoalan ini. Agar nggak melangkah terlalu jauh."
Ekornya mengibas-ngibas, seperti yang biasa terjadi saat dia gundah. "Ya,
Percy. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memahami apa yang sedang
terjadi dan memberi Nona Dare saran, tapi ini mungkin butuh waktu. Sementara
itu, kau sebaiknya beristirahat. Kami sudah memindahkan mobil orangtuamu ke
tempat aman. Musuh tampaknya diam saja untuk saat ini. Kami sudah
menyiapkan tempat tidur susun di Empire State Building. Tidurlah."
"Semua orang terus-terusan menyuruh saya tidur," gerutuku. "Saya nggak
butuh tidur." Chiron berhasil tersenyum. "Sudahkah kaulihat dirimu sendiri baru-baru
ini, Percy?" Aku melirik pakaianku, yang gosong, terbakar, teriris, dan compangcamping berkat
pertempuran tanpa henti semalaman. "Saya kelihatan kayak orang
mampus," aku mengakui. "Tapi menurut Bapak apa saya bisa tidur setelah apa
yang terjadi?" "Kau mungkin saja tak terkalahkan dalam pertarungan," tegur Chiron, "tapi
itu hanya membuat tubuhmu lebih cepat lelah. Aku ingat Achilles. Kapan pun
pemuda itu tidak bertarung, dia tidur. Dia pasti tidur dua puluh kali sehari.
Kau, Percy, butuh istirahat. Kau mungkin adalah satu-satunya harapan kami."
Aku ingin protes bahwa aku bukanlah satu-satunya harapan mereka.
Menurut Rachel, bahkan bukan aku pahlawannya. Tapi ekspresi di mata Chiron
jelas menunjukkan bahwa dia takkan menerima "tidak" sebagai jawaban.
"Baiklah," gerutuku. "Silakan mengobrol."
Aku menyeret langkah menuju Empire State Building. Saat aku menoleh ke
belakang, Rachel dan Chiron sedang berjalan bersama-sama sambil mengobrol
serius, seolah-olah mereka sedang mendiskusikan persiapan pemakaman.
Di dalam lobi, aku menemukan tempat tidur susun kosong dan kolaps,
yakin bahwa aku takkan pernah bisa tidur. Sedetik kemudian, mataku terpejam.
Dalam mimpiku, aku kembali ke taman Hades. Sang raja orang mati sedang
mondar-mandir, menutupi telinganya sementara Nico mengikutinya,
melambailambaikan lengannya.
"Ayah harus melakukannya!" Nico berkeras.
Demeter dan Persephone duduk di belakang mereka di balik meja makan
pagi. Kedua dewi itu terlihat bosan. Demeter menuangkan potongan-potongan
gandum ke empat mangkuk besar. Persephone secara ajaib mengubah rangkaian
bunga di meja, mengubah kembang dari merah menjadi kuning menjadi polkadot.
"Aku tidak harus melakukan apa-apa!" Mata Hades menyala-nyala. "Aku ini
dewa!" "Ayah," kata Nico, "apabila Olympus jatuh, keamanan istana Ayah nggak
akan jadi soal. Ayah akan memudar juga."
"Aku bukan dewa Olympia!" geramnya. "Keluargaku sudah membuat itu
cukup jelas." "Ayah termasuk dewa Olympia," kata Nico. "Entah Ayah menyukainya atau
nggak." "Kaulihat apa yang mereka lakukan pada ibumu?" kata Hades. "Zeus
membunuhnya. Dan kau ingin aku membantu mereka" Mereka layak menerima apa
yang mereka dapatkan!"
Persephone mendesah. Dia menelusurkan jari-jarinya ke meja, sambil lalu
mengubah alat makan perak jadi mawar. "Tolong, bisakah kita tak membicarakan
wanita itu?" "Kautahu apa yang akan membantu bocah ini?" Demeter membatin.
"Bertani." Persephone memutar-mutar bola matanya. "Ibunda - "
"Enam bulan di belakang bajak. Bagus sekali untuk pembentukan karakter."
Nico melangkah ke depan ayahnya, memaksa Hades untuk menghadapnya.
"Ibu saya mengerti tentang keluarga. Itulah sebabnya dia nggak mau
meninggalkan kami. Kita nggak boleh meninggalkan keluarga kita hanya karena
mereka melakukan sesuatu yang buruk. Ayah pernah melakukan hal buruk pada
mereka juga." "Maria meninggal!" Hades mengingatkannya.
"Ayah nggak bisa memutuskan hubungan begitu saja dengan dewa-dewa
lain!" "Aku sudah melakukannya dengan sangat baik selama beribu-ribu tahun."
"Dan apakah itu membuat Ayah merasa baikan?" tuntut Nico. "Sudahkah
kutukan Oracle membantu sama sekali" Menyimpan dendam adalah kekurangan
fatal. Bianca memperingati saya tentang itu dan dia benar."
"Sebagai blasteran! Aku berbeda, aku kekal, mahakuat! Aku takkan
membantu dewa-dewa lain sekalipun mereka mengemis-ngemis kepadaku,
sekalipun Percy Jackson sendiri memohon-mohon - "
"Ayah orang buangan, sama sepertiku!" teriak Nico. "Berhentilah marahmarah soal
itu dan lakukan sesuatu untuk membantu sekali saja. Itulah satusatunya cara agar
mereka menghormati Ayah!"
Telapak tangan Hades dipenuhi api hitam.
"Silakan saja," kata Nico. "Ledakkan saya. Persis seperti itulah yang
diharapkan dewa-dewa lain dari Ayah. Membuktikan bahwa mereka benar."
"Ya, silakan," keluh Demeter. "Bungkam dia."
Persephone mendesah. "Oh, entahlah. Aku lebih memilih bertarung dalam
perang daripada makan semangkuk sereal lagi. Ini membosankan."
Hades meraung murka. Bola apinya menabrak sebatang pohon perak tepat
di sebelah Nico, melelehkannya menjadi genangan logam cair.
Dan mimpiku berubah. Aku berdiri di luar gedung Perserikatan Bangsa-bangsa, kira-kira satu
setengah kilometer di timur laut Empire State Building. Pasukan Titan telah
mendirikan perkemahan di sekeliling kompleks PBB. Tiang bendera digantungi
trofi-trofi mengerikan - helm dan bagian baju zirah dari para pekemah yang
dikalahkan. Di sepanjang First Avenue, raksasa-raksasa mengasah kapak mereka.
Para telekhine memperbaiki baju zirah di bengkel logam darurat.
Kronos sendiri mondar-mandir di puncak plaza, mengayunkan sabitnya
sehingga para pengawal dracaena-nya menjaga jarak jauh-jauh di belakang. Ethan
Nakamura dan Prometheus berdiri di dekat sana, di luar jarak sayat. Ethan
memain-mainkan pengikat perisainya dengan gugup, tapi Prometheus terlihat
setenang dan seterkendali biasanya dalam balutan tuksedonya.
"Aku benci tempat ini," geram Kronos. "Perserikatan Bangsa-bangsa, seolaholah
umat manusia bisa berserikat dan bersatu. Ingatkan aku untuk meruntuhkan
gedung ini setelah kita menghancurkan Olympus."
"Ya, Tuan." Prometheus tersenyum seakan-akan kemarahan tuannya
membuatnya geli. "Perlukah kita runtuhkan juga istal di Central Park" Aku tahu
betapa kuda bisa membuat Anda kesal."
"Jangan ledek aku, Prometheus! Centaurus-centaurus terkutuk itu akan
menyesal mereka ikut campur. Akan kuumpankan mereka ke anjing-anjing neraka,
dimulai dengan anak laki-lakiku itu - si lemah Chiron."
Prometheus mengangkat bahu. "Si lemah itu menghancurkan selegiun
telekhine dengan anak panahnya."
Kronos mengayunkan sabitnya dan memotong tiang bendera jadi dua.
Bendera nasional Brazil jatuh menimpa pasukan, meremukkan seekor dracaena.
"Kita akan menghancurkan mereka!" raung Kronos. "Sudah waktunya
untuk melepaskan drakon. Nakamura, kau akan melakukan ini."
"Y-ya, Tuan. Saat matahari terbenam?"
"Tidak," kata Kronos. "Secepatnya. Para pelindung Olympus terluka parah.
Mereka takkan mengharapkan serangan cepat. Lagi pula, kita tahu drakon ini
takkan sanggup mereka kalahkan."
Ethan kelihatan bingung. "Tuan?"
"Jangan dipikirkan, Nakamura. Lakukan saja perintahku. Aku ingin
Olympus porak-poranda pada saat Typhon sampai di New York. Kita akan
hancurkan para dewa sepenuhnya!"
"Tapi, Tuan," kata Ethan. "Pemulihan diri Tuan."
Kronos menunjuk Ethan, dan si blasteran membeku.
"Apakah tampaknya," desis Kronos, "aku perlu memulihkan diri?"
Ethan tidak merespons. Susah melakukannya waktu kau dihentikan dalam
waktu. Kronos menjentikkan jarinya dan Ethan pun kolaps.
"Tidak lama lagi," geram sang Titan, "wujud ini takkan diperlukan lagi. Aku
takkan beristirahat sementara kemenangan telah begitu dekat. Sekarang,
pergilah!" Ethan tergopoh-gopoh pergi.
"Ini berbahaya, Tuanku," Prometheus memperingati. "Jangan tergesa-gesa."
"Tergesa-gesa" Setelah membusuk selama tiga ribu tahun di kedalaman
Tartarus, kausebut aku tergesa-gesa" Aku akan mencacah Percy Jackson menjadi
ribuan potong." "Tiga kali Anda melawannya," Prometheus mengingatkan. "Dan kendati
begitu Anda selalu mengatakan bahwa melawan manusia fana semata sama saja
dengan merendahkan martabat Titan. Aku bertanya-tanya apakah inang fana Anda
memengaruhi Anda, melemahkan penilaian Anda."
Kronos memalingkan mata keemasannya ke sang Titan yang satu lagi. "Kau
menyebutku lemah?" "Tidak, Tuanku. Maksudku hanya - "
"Apakah kesetiaanmu terbagi?" tanya Kronos. "Barangkali kau merindukan
teman-teman lamamu, para dewa. Maukah kau bergabung dengan mereka?"
Prometheus memucat. "Aku salah bicara, Tuanku. Perintah Anda akan
dilaksanakan." Dia menoleh ke arah pasukan dan berteriak, "BERSIAPLAH
UNTUK BERTEMPUR!" Pasukan mulai bergerak. Dari suatu tempat di belakang lahan PBB, raungan marah mengguncangkan
kota - bunyi drakon yang terbangun. Bunyi tersebut demikian mengerikan
sehingga membangunkanku dan kusadari aku masih bisa mendengarnya dari jarak
satu setengah kilometer. Grover berdiri di sebelahku, kelihatan gugup. "Apa itu?"
"Mereka datang," aku memberitahunya. "Dan kita berada dalam masalah
besar." Pondok Hephaestus kehabisan api Yunani. Pondok Apollo dan para Pemburu
mengais-ngais anak panah. Sebagian besar dari kami sudah menelan begitu banyak
ambrosia dan nektar sehingga kami tidak berani makan lebih banyak lagi.
Kami punya enam belas pekemah, lima belas Pemburu, dan setengah lusin
satir tersisa yang masih dalam kondisi fit untuk bertarung. Sisanya berlindung
di Olympus. Kuda Poni Pesta berusaha membentuk barisan,

Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tapi mereka sempoyongan dan cekikikan dan mereka semua berbau root beer. Para centaurus
Texas menumbuk kepala centaurus-centaurus Colorado. Cabang Missouri
bertengkar dengan cabang Illinois. Kemungkinan besar seluruh pasukan akan
bertarung satu sama lain alih-alih bertarung melawan musuh.
Chiron berderap dengan Rachel di punggungnya. Aku merasa agak jengkel
karena Chiron jarang memberi siapa pun tumpangan, apalagi manusia fana.
"Temanmu ini punya pandangan yang bermanfaat, Percy," katanya.
Rachel merona. "Cuma hal-hal yang kulihat di dalam kepalaku."
"Drakon," kata Chiron. "Drakon Lydian, tepatnya. Jenis yang tertua dan
paling berbahaya." Aku menatap Rachel. "Bagaimana kautahu itu?"
"Aku nggak yakin," Rachel mengakui. "Tapi drakon ini punya takdir
tertentu. Ia akan dibunuh oleh anak Ares."
Annabeth bersidekap. "Bagaimana mungkin kautahu itu?"
"Aku melihatnya saja. Aku nggak bisa menjelaskan."
"Yah, mari berharap semoga kau salah," kataku. "Soalnya kami kekurangan
anak Ares ... " Pemikiran mengerikan terlintas dalam benakku dan aku
mengumpat dalam bahasa Yunani Kuno.
"Apa?" tanya Annabeth.
"Si mata-mata," aku memberitahunya. "Kronos bilang, Kita tahu mereka
takkan sanggup mengalahkan drakon ini. Mata-mata itu terus memberinya informasi
terbaru. Kronos tahu pondok Ares tak bersama kita. Dia sengaja memilih monster
yang nggak bisa kita bunuh."
Thalia merengut. "Kalau aku bisa menangkap mata-mata itu, dia bakalan
sangat menyesal. Mungkin kita bisa mengirim pembawa pesan lagi ke perkemahan
- " "Aku sudah melakukannya," kata Chiron. "Blackjack sedang dalam
perjalanan. Tapi jika Silena tidak bisa meyakinkan Clarisse, aku ragu Blackjack
dapat - " Sebuah raungan mengguncangkan tanah. Kedengarannya sangat dekat.
"Rachel," kataku, "masuk ke gedung."
"Aku ingin di sini."
Sebuah bayangan menghalangi matahari. Di seberang jalan, seekor drakon
melata menuruni sisi sebuah gedung pencakar langit. Ia meraung, dan ribuan
jendela pecah. "Setelah dipikir-pikir," kata Rachel dengan suara kecil, "aku akan masuk."
*** Biar kujelaskan: dragon alias naga berbeda seratus delapan puluh derajat dari
drakon. Drakon beberapa milenium lebih tua daripada naga dan jauh lebih besar.
Mereka mirip seperti ular raksasa. Sebagian besar tidak punya sayap. Sebagian
besar tidak mengeluarkan napas api (meskipun beberapa bisa). Semua beracun.
Semua luar biasa kuat, dengan sisik yang lebih keras daripada titanium. Mata
mereka bisa melumpuhkan; bukan lumpuh diubah-jadi-batu tipe Medusa, tapi
lumpuh tipe demi-para-dewa-ular-itu-bakal-memakanku, yang sama buruknya.
Kami mendapatkan pelajaran melawan drakon di perkemahan, tapi tidak
ada cara guna mempersiapkan dirimu untuk ular sepanjang enam puluh meter
setebal bus sekolah yang melata menuruni sisi bangunan, yang mata besarnya
seperti mercusuar dan mulutnya penuh gigi setajam silet yang cukup besar untuk
mengunyah gajah. Ia hampir membuatku kangen pada si babi terbang.
Sementara itu, pasukan musuh maju menyusuri Fifth Avenue. Kami sudah
berusaha sebaik mungkin untuk mendorong mobil-mobil menyingkir supaya para
manusia fana aman, tapi itu semata-mata membuat musuh kami semakin mudah
mendekat. Para Kuda Poni Pesta mengibaskan ekor mereka dengan gugup. Chiron
mencongklang bolak-balik di antara barisan mereka, meneriakkan dukungan agar
tetap tangguh dan memikirkan kemenangan serta root beer, tapi menurut tebakanku
mereka bakal panik dan lari kapan saja.
"Akan kuhadapi drakon itu." Suaraku keluar sebagai bunyi mencicit takuttakut.
"AKAN KUHADAPI DRAKON ITU! Semuanya, pertahankan barisan dari
musuh!" Annabeth berdiri di sampingku. Dia menarik helm burung hantunya
rendah-rendah sehingga menutupi wajahnya, tapi aku bisa tahu matanya merah.
"Maukah kau membantuku?" tanyaku.
"Itulah yang kulakukan," kata Annabeth nelangsa. "Aku membantu temantemanku."
Aku merasa seperti bajingan tengik. Aku ingin menariknya menepi dan
menjelaskan bahwa aku tak bermaksud supaya Rachel ada di sini, bahwa itu bukan
ideku, tapi kami tidak punya waktu.
"Jadilah tak kasat mata," kataku. "Carilah titik lemah di antara sisik-sisiknya
sementara aku membuatnya sibuk. Berhati-hati sajalah."
Aku bersiul. "Nyonya O'Leary, duduk!"
"GUK!" Anjing nerakaku melompati sebaris centaurus dan memberiku
ciuman mencurigakan yang baunya seperti pizza pepperoni.
Kuhunus pedangku dan kami menyerbu para monster.
Drakon itu tiga lantai di atas kami, melata menyamping di sepanjang bangunan
selagi ia menaksir kekuatan kami. Ke mana pun ia melihat, para centaurus
mematung ketakutan. Dari utara, pasukan musuh menyerbu para Kuda Poni Pesta, dan barisan
kami terpatahkan. Si drakon menyerang, menelan tiga centaurus California sekali
lahap bahkan sebelum aku bisa mendekat.
Nyonya O'Leary meluncurkan dirinya ke udara - bayangan hitam mematikan bergigi dan bercakar. Biasanya, anjing neraka yang menerkam adalah
pemandangan mengerikan, tapi di samping si drakon, Nyonya O'Leary kelihatan
seperti boneka teman tidur anak kecil.
Cakarnya menggores sisik si drakon tanpa melukai sama sekali. Dia
menggigit leher si monster tapi tidak bisa menghasilkan kerusakan. Namun
demikian, bobotnya cukup untuk menjatuhkan si drakon dari sisi gedung. Si
drakon berayun-ayun kikuk dan jatuh ke trotoar, anjing neraka dan ular bergelut
dan bergulat. Si drakon mencoba menggigit Nyonya O'Leary, tapi ia terlalu dekat
dengan mulut ular itu. Racun menyembur ke mana-mana, melelehkan para
centaurus menjadi debu beserta sejumlah besar monster, tapi Nyonya O'Leary
mengitari kepala ular itu, mencakar dan menggigit.
"YAAAH!" Kuhunjamkan Riptide dalam-dalam ke mata kiri monster itu.
Lampu sorot jadi gelap. Si drakon mendesis dan mundur untuk mengambil
ancang-ancang menyerang, tapi aku berguling ke samping.
Ia menggigit bongkahan sebesar kolam renang dari aspal. Ia berbalik
menghadapku dengan matanya yang sehat dan aku memusatkan perhatian pada
giginya supaya aku tak lumpuh. Nyonya O'Leary berusaha sebaik mungkin untuk
mengalihkan perhatiannya. Ia melompat ke atas kepala si ular dan mencakar serta
menggeram seperti wig hitam besar yang benar-benar marah.
Pertempuran di tempat-tempat lain tidak berlangsung baik. Para centaurus
panik gara-gara serangan gencar raksasa dan monster. Sesekali kaos jingga
perkemahan muncul dalam lautan pertarungan, tapi dengan cepat menghilang.
Anak panah mendesing. Gelombang api meledak melintasi kedua pasukan, tapi
aksi bergerak menyeberangi jalan menuju pintu masuk Empire State Bulding. Kami
terdesak. Tiba-tiba Annabeth muncul di punggung si drakon. Topi tak kasat matanya
menggelinding jatuh dari kepalanya saat dia mendorong pisau perunggunya ke
antara celah di sisik-sisik si ular.
Drakon itu meraung. Ia berputar, menjatuhkan Annabeth dari punggungnya. Aku meraih Annabeth tepat saat dia menabrak tanah. Aku menyeretnya
menyingkir saat si ular berputar, meremukkan tiang lampu di tempat Annabeth
barusan berada. "Makasih," kata Annabeth.
"Sudah kubilang hati-hati!"
"Yah, begitulah, MENUNDUK!"
Sekarang giliran Annabeth yang menyelamatkanku. Dia menjegalku saat
gigi-gigi si monster terkatup di atas kepalaku. Nyonya O'Leary menumbuk wajah
si monster untuk mendapatkan perhatiannya dan kami berguling menyingkir.
Sementara itu sekutu kami telah mundur ke pintu-pintu Empire State
Building. Seluruh pasukan musuh mengepung mereka.
Kami kehabisan pilihan. Tidak ada bantuan lagi yang akan datang.
Annabeth dan aku harus mundur sebelum jalan kami ke Gunung Olympus
terpotong. Kemudian kudengar gemuruh di selatan. Itu bukan bunyi yang sering
kaudengar di New York, tapi aku mengenalinya seketika: roda kereta perang.
Suara seorang gadis berteriak, "ARES!"
Dan selusin kereta perang menyerbu masuk ke pertempuran. Masingmasing
mengibarkan panji-panji merah dengan simbol kepala babi liar. Masingmasing
ditarik oleh seregu kuda tengkorak bersurai api. Total tiga puluh pendekar
yang masih segar bugar, baju zirah mengilap dan mata penuh kebencian,
menurunkan tombak mereka sebagai satu kesatuan - membuat tembok berduri
yang mematikan. "Anak-anak Ares!" kata Annabeth takjub. "Bagaimana Rachel tahu?"
Aku tak punya jawaban. Tapi yang memimpin penyerbuan adalah seorang
gadis yang mengenakan baju zirah merah tak asing, wajahnya ditutupi oleh helm
kepala babi liar. Dia mengangkat tombak yang berderak dialiri listrik tinggi-
tinggi. Clarisse sendiri telah datang menyelamatkan. Sementara setengah dari
keretakereta perangnya menyerbu pasukan musuh, Clarisse memimpin enam lagi
langsung ke arah si drakon.
Si ular mundur dan berhasil melemparkan Nyonya O'Leary. Binatang
peliharaanku yang malang menabrak sisi gedung sambil mendengking. Aku lari
untuk membantunya, tapi si ular sudah memusatkan perhatian pada ancaman
baru. Dengan hanya satu mata sekalipun, tatapannya masih cukup untuk
melumpuhkan dua sais kereta perang. Mereka oleng, menabrak barisan mobil.
Empat kereta perang lain terus menyerbu. Si monster memamerkan taringtaringnya
untuk menyerang dan mendapat sesuap lembing perunggu langit.
"IIIIISSSS!!!!!" jeritnya, yang barangkali bahasa drakon untuk ADAOWW!
"Ares, ke sini!" teriak Clarisse. Suaranya kedengaran lebih melengking
daripada biasanya, tapi kurasa itu tak mengejutkan mengingat dia sedang
bertarung. Di seberang jalan, kedatangan enam kereta perang memberi para Kuda Poni
Pesta harapan baru. Mereka berkumpul ke depan pintu-pintu Empire State
Building, dan pasukan musuh sementara dibuat kebingungan.
Sementara itu, kereta-kereta perang Clarisse mengelilingi si drakon.
Tombak-tombak patah saat mengenai kulit monster itu. Kuda-kuda tengkorak
mengembuskan napas api dan meringkik. Dua kereta perang lagi terbalik, tapi para
pendekar semata-mata melompat berdiri, menghunus pedang mereka, dan pergi
bekerja. Mereka menyabet celah di antara sisik-sisik makhluk itu. Mereka
menghindari semburan racun seolah-olah mereka sudah berlatih untuk ini
sepanjang hidup mereka, yang memang benar.
Tak seorang pun bisa mengatakan bahwa para pekemah Ares kurang berani.
Clarisse berada tepat di depan, menikamkan tombaknya ke wajah si drakon,
mencoba membutakan matanya yang satu lagi. Namun saat aku memperhatikan,
keadaan mulai tidak beres. Si drakon menggasak seorang pekemah Ares sekali
telan. Ia menjatuhkan seorang pekemah lainnya ke samping dan menyemburkan
racun ke pekemah ketiga, yang mundur dengan panik, baju zirahnya meleleh.
"Kita harus membantu," kata Annabeth.
Dia benar. Dari tadi aku cuma berdiri di sana saja, mematung karena takjub.
Nyonya O'Leary berusaha bangun tapi mendengking lagi. Salah satu telapak
kakinya berdarah. "Jauh-jauh, Non," kataku padanya. "Sudah cukup yang kaulakukan."
Annabeth dan aku melompat ke punggung si monster dan berlari menuju
kepalanya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari Clarisse.
Teman-teman sepondoknya melemparkan lembing, sebagian besar patah,
tapi beberapa menyangkut ke gigi si monster. Drakon itu mengatup-ngatupkan
rahangnya hingga mulutnya dipenuhi darah hijau, racun kuning berbusa, dan
senjata yang patah beserpih.
"Kalian bisa melakukannya!" teriakku kepada Clarisse. "Anak Ares
ditakdirkan membunuhnya!"
Lewat helm perangnya, aku hanya bisa melihat matanya - tapi aku bisa tahu
ada yang tidak beres. Mata birunya berkilau ketakutan. Clarisse tidak pernah
kelihatan seperti itu. Dan dia tidak bermata biru.
"ARES!" teriaknya, dengan suara melengking aneh itu. Dia melintangkan
tombaknya dan menyerbu si drakon.
"Nggaak," gumamku. "TUNGGU!"
Tapi si monster menunduk memandangnya - hampir dengan rasa benci -
dan racun menyembur tepat ke wajah Clarisse.
Clarisse menjerit dan terjatuh.
"Clarisse!" Annabeth melompat dari punggung si monster dan berlari untuk
membantu, sementara para pekemah Ares yang lain mencoba melindungi konselor
mereka yang jatuh. Aku mendorong masuk Riptide ke antara dua sisik makhluk itu
dan berhasil mengalihkan perhatiannya kepadaku.
Aku dilempar tapi aku mendarat di atas dua kakiku. "SINI, dasar cacing
bodoh! Lihat aku!" Selama beberapa menit berikutnya, yang kulihat cuma gigi. Aku mundur
dan menghindari racun, tapi aku tak bisa melukai makhluk itu.
Di sudut penglihatanku, kulihat kereta perang terbang mendarat di Fifth
Avenue. Kemudian seseorang lari menghampiri kami. Suara seorang gadis,
diguncangkan duka, berseru, "NGGAK! Terkutuklah kau, KENAPA?"
Aku memberanikan diri untuk melirik, tapi yang kulihat tidak masuk akal.
Clarisse tergeletak di jalan di tempatnya tadi jatuh. Baju zirahnya berasap
karena racun. Annabeth dan para pekemah Ares sedang berusaha melepas helmnya. Dan
di samping mereka, wajah coreng-moreng karena air mata, berlututlah seorang
gadis berpakaian perkemahan. Dia adalah ... Clarisse.
Kepalaku berputar-putar. Kenapa aku tak menyadarinya sebelumnya" Gadis
yang memakai baju zirah Clarisse jauh lebih kurus, tidak setinggi Clarisse. Tapi
kenapa seseorang berpura-pura menjadi Clarisse"
Aku begitu tercengang sehingga si drakon hampir menggigitku jadi dua.
Aku mengelak dan makhluk itu membenamkan kepalanya ke dinding bata.
"KENAPA?" Clarisse asli menuntut, memegangi gadis itu dalam pelukannya
sementara para pekemah lain berupaya melepaskan helm yang dirusak racun.
Chris Rodriguez lari dari kereta perang terbang. Dia dan Clarisse pasti
menunggangi kereta perang itu ke sini dari perkemahan, mengejar para pekemah
Ares, yang mengikuti gadis satunya lagi karena salah mengiranya sebagai
Clarisse. Namun ini masih tidak masuk akal.
Si drakon menarik kepalanya dari dinding bata dan menjerit murka.
"Awas!" Chris memperingati.
Alih-alih berbalik menghadapku, drakon itu berputar ke arah bunyi suara
Chris. Ia memamerkan taring-taringnya ke sekelompok blasteran.
Clarisse asli mendongak memandangi si drakon, wajahnya dipenuhi
kebencian total. Aku hanya pernah melihat ekspresi seintens itu sekali
sebelumnya. Ayah Clarisse, Ares, menyandang ekspresi yang sama waktu aku melawannya
dalam pertarungan satu lawan satu.
"KAU MAU MATI?" Clarisse menjerit kepada si drakon. "KALAU BEGITU,
AYO SINI!" Dia merebut tombaknya dari gadis yang jatuh. Tanpa baju zirah atau
tameng, dia menyerbu si drakon.
Aku mencoba mendekatkan jarak untuk membantunya, tapi Clarisse lebih


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cepat. Dia melompat ke samping saat monster itu menyerang, membuat tanah di
depan Clarisse hancur jadi bubur. Kemudian Clarisse meloncat ke kepala makhluk
itu. Saat makhluk itu menyentakkan kepalanya ke atas, Clarisse menghunjamkan
tombak listriknya ke mata si drakon yang masih bisa melihat dengan kekuatan
begitu besar sehingga gagang tombak patah, melepaskan semua kekuatan magis
senjata tersebut. Listrik melengkung melintasi kepala makhluk itu, menyebabkan sekujur
tubuhnya bergetar. Clarisse melompat membebaskan diri, berguling selamat ke
trotoar saat asap menggelegak dari mulut si drakon. Daging drakon terbuyarkan,
dan ia jatuh sebagai terowongan kosong bersisik.
Kami menatap Clarisse dengan kagum. Aku tak pernah melihat siapa pun
menjatuhkan monster sebesar itu sendirian. Tapi Clarisse tampaknya tidak peduli.
Dia lari kembali ke gadis yang terluka yang telah mencuri baju zirahnya.
Akhirnya Annabeth berhasil melepaskan helm gadis itu. Kami semua
berkumpul berkeliling: para pekemah Ares, Chris, Clarisse, Annabeth, dan aku.
Pertempuran masih menggila di sepanjang Fifth Avenue, tapi selama sesaat itu
tiada apa-apa selain lingkaran kecil kami dan gadis yang jatuh.
Wajahnya, dulu cantik, terluka bakar parah gara-gara racun. Aku bisa tahu
bahwa nektar atau ambrosia sebanyak apa pun takkan menyelamatkannya.
Sesuatu akan terjadi. Kata-kata Rachel berkumandang di telingaku. Tipuan
yang berujung pada kematian.
Sekarang aku tahu apa maksudnya, dan aku tahu siapa yang telah
memimpin pondok Ares ke pertempuran.
Aku menunduk memandang wajah sekarat Silena Beauregard.
TUJUH BELAS Aku Duduk di Kursi Panas "Apa yang kaupikirkan?" Clarisse membuai kepala Silena di pangkuannya.
Silena berusaha menelan ludah, namun bibirnya kering dan pecah-pecah.
"Tak mau ... dengar. Pondok cuma ... mau mengikutimu."
"Jadi, kaucuri baju zirahku," kata Clarisse tak percaya. "Kau menunggu
sampai Chris dan aku keluar untuk berpatroli; kau mencuri baju zirahku dan
purapura menjadi aku." Dia memelototi saudara-saudaranya. "Dan NGGAK SATU
PUN dari kalian yang sadar?"
Para pekemah Ares tiba-tiba tertarik pada sepatu bot tempur mereka.
"Jangan salahkan mereka," kata Silena. "Mereka ingin ... percaya itu kau."
"Dasar cewek Aphrodite bodoh," isak Clarisse. "Kau menyerang drakon"
Kenapa?" "Semua salahku," kata Silena, air mata mencoreng sisi wajahnya. "Drakon
itu, kematian Charlie ... perkemahan dalam bahaya - "
"Hentikan!" kata Clarisse. "Itu nggak benar."
Silena membuka tangannya. Di telapak tangannya terdapat gelang perak
dengan bandul sabit, tanda Kronos.
Kepalan dingin seolah mencengkeram hatiku. "Kaulah si mata-mata."
Silena mencoba mengangguk. "Sebelum ... sebelum aku menyukai Charlie,
Luke baik padaku. Dia begitu ... menawan. Tampan. Belakangan, aku ingin
berhenti membantunya, tapi dia mengancam akan bilang-bilang. Dia janji ... dia
janji aku menyelamatkan nyawa. Lebih sedikit orang yang akan terluka. Dia bilang
padaku dia takkan melukai ... Charlie. Dia membohongiku."
Aku bertemu pandang dengan Annabeth. Wajah Annabeth pucat. Dia
terlihat seolah seseorang baru saja menarik dunia dari bawah kakinya.
Di belakang kami, pertempuran menggila.
Clarisse merengut ke arah teman-teman sepondoknya. "Pergi, bantulah para
centaurus. Lindungi pintu-pintu. PERGI!"
Mereka buru-buru pergi untuk bergabung dalam pertarungan.
Silena menarik napas dengan berat dan susah payah. "Maafkan aku."
"Kau nggak akan mati," Clarisse berkeras.
"Charlie ... " Mata Silena seakan jutaan kilometer jauhnya. "Ketemu Charlie
..." Dia tidak bicara lagi. Clarisse memeganginya dan menangis. Chris meletakkan tangannya di bahu
Clarisse. Akhirnya Annabeth menutup mata Silena.
"Kita harus bertarung." Suara Annabeth tajam. "Dia menyerahkan hidupnya
untuk membantu kita. Kita harus menghormatinya."
Clarisse menyedot ingus dan mengusap hidungnya. "Dia seorang pahlawan,
paham" Pahlawan."
Aku mengangguk. "Ayo, Clarisse."
Dia mengambil sebilah pedang milik salah seorang saudaranya yang tewas.
"Kronos akan membayar."
*** Aku ingin bilang bahwa aku menghalau semua musuh dari Empire State
Building. Sebenarnya Clarisselah yang mengerjakan semuanya. Tanpa baju zirah
atau tombaknya sekalipun, dia bagaikan iblis. Dia mengemudikan kereta
perangnya langsung ke tengah-tengah pasukan Titan dan menghancurkan semua
yang dilintasinya. Dia sungguh membangkitkan inspirasi sampai-sampai para centaurus yang
panik sekalipun mulai berkumpul. Para Pekemah mengambili anak panah dari
pejuang yang tewas dan meluncurkan kumpulan tembakan kepada musuh. Pondok
Ares menyayat dan menyabet, yang merupakan kegemaran mereka. Para monster
mundur ke arah 35th Street.
Clarisse berkendara ke bangkai drakon dan mengaitkan tali pencengkeram
ke rongga matanya. Clarisse memecut kuda-kudanya dan berangkat, menyeret
drakon di belakang kereta perang seperti naga Tahun Baru Cina. Dia menyerbu
musuh, meneriakkan hinaan dan menantang mereka untuk merintanginya. Selagi
dia berkendara, kusadari bahwa dia secara harfiah berpendar. Aura berupa api
merah menjilat-jilat di sekelilingnya.
"Restu Ares," kata Thalia. "Aku nggak pernah melihatnya secara langsung
sebelumnya." Sementara ini, Clarisse sama tak terkalahkannya seperti aku. Musuh
melemparkan tombak dan anak panah, tapi tak ada yang mengenainya.
"AKULAH CLARISSE, SANG PEMBANTAI DRAKON!" teriaknya. "Akan
kubunuh kalian SEMUA! Di mana Kronos" Bawa dia ke luar! Apakah dia
pengecut?" "Clarisse!" teriakku. "Hentikan. Mundur!"
"Ada masalah apa, wahai penguasa Titan?" teriak Clarisse. "AYO MAJU!"
Tidak ada jawaban dari musuh. Pelan-pelan, mereka mulai mundur ke
belakang dinding perisai dracaena, sementara Clarisse berkendara keliling-
keliling Fifth Avenue, menantang siapa pun untuk merintangi jalannya. Bangkai drakon
sepanjang enam puluh meter menghasilkan bunyi menggores yang menggaung
saat ditarik di sepanjang aspal, seperti seribu pisau.
Sementara itu, kami merawat mereka yang terluka, membawa mereka ke
dalam lobi. Lama setelah musuh telah mundur sehingga hilang dari pandangan,
Clarisse terus berkendara bolak-balik di jalan dengan trofinya yang mengerikan,
menuntut agar Kronos menemuinya dalam pertempuran.
Chris berkata, "Akan kuawasi dia. Dia akan kelelahan pada akhirnya. Akan
kupastikan dia masuk."
"Bagaimana dengan perkemahan?" tanyaku. "Apakah ada yang tersisa di
sana?" Chris menggelengkan kepala. "Cuma Argus dan roh-roh alam. Peleus si
naga masih menjaga pohon."
"Mereka nggak akan bertahan lama," kataku. "Tapi aku senang kau datang."
Chris mengangguk sedih. "Maaf lama. Aku mencoba berlogika dengan
Clarisse. Kubilang nggak ada gunanya mempertahankan perkemahan kalau kalian
mati. Semua teman kami ada di sini. Aku ikut prihatin Silena harus ... "
"Para Pemburuku akan membantu kalian berjaga," kata Thalia. "Annabeth
dan Percy, kalian sebaiknya pergi ke Olympus. Aku punya firasat mereka bakal
memerlukan kalian di atas sana - untuk mendirikan pertahanan terakhir."
Penjaga pintu telah menghilang dari lobi. Bukunya menghadap ke bawah di atas
meja dan kursinya kosong. Namun demikian, bagian lobi lainnya penuh sesak oleh
para pekemah, Pemburu, dan satir yang terluka.
Connor dan Travis Stoll menemui kami di dekat lift.
"Benarkah?" tanya Connor. "Tentang Silena?"
Aku mengangguk. "Dia meninggal sebagai pahlawan."
Travis memindahkan tumpuan dengan gelisah. "Anu, aku juga dengar - "
"Cuma itu," aku berkeras. "Akhir cerita."
"Baiklah," gumam Travis. "Dengar, kami duga pasukan Titan bakal
kesulitan naik lewat lift. Mereka bakal harus naik beberapa kali. Dan para
raksasa nggak akan muat sama sekali."
"Itu keuntungan terbesar kita," kataku. "Ada cara supaya liftnya nggak
berfungsi?" "Liftnya magis," kata Travis. "Biasanya butuh kartu kunci, tapi penjaga
pintu menghilang. Itu berarti pertahanannya runtuh. Siapa saja bisa berjalan
masuk ke lift sekarang dan langsung menuju ke atas."
"Kalau begitu, kita harus menjauhkan mereka dari pintu," kataku. "Kita
akan merintangi mereka di lobi."
"Kita butuh bala bantuan," kata Travis. "Mereka terus saja berdatangan.
Pada akhirnya mereka akan membuat kita kewalahan."
"Nggak ada bala bantuan," keluh Connor.
Aku memandang ke luar ke arah Nyonya O'Leary, yang bernapas ke pintu
kaca dan menodai pintu dengan liur anjing.
"Mungkin itu nggak benar," kataku.
Aku pergi ke luar dan meletakkan tanganku ke moncong Nyonya O'Leary.
Chiron telah membalut kakinya, namun dia masih terpincang-pincang. Bulunya
gimbal karena lumpur, daun, irisan pizza, dan darah monster kering.
"Hei, Non." Aku mencoba terdengar bersemangat. "Aku tahu kau capek,
tapi aku punya satu permintaan besar lagi untukmu."
Aku mencondongkan badan ke dekatnya dan berbisik di telinganya.
Setelah Nyonya O'Leary pergi untuk melakukan perjalanan bayangan, aku
bergabung dengan Annabeth di lobi. Dalam perjalanan ke lift, kami melihat Grover
sedang berlutut di dekat satir gendut yang terluka.
"Leneus!" kataku.
Sang satir tua terlihat menyedihkan. Bibirnya biru. Ada tombak patah di
perutnya, dan kaki kambingnya terpuntir ke sudut yang menyakitkan.
Dia mencoba berfokus pada kami, tapi sepertinya dia tidak melihat kami.
"Grover?" gumamnya.
"Aku di sini, Leneus." Grover berkedip-kedip untuk menghalau air mata,
terlepas dari semua hal buruk yang sudah dikatakan Leneus tentangnya.
"Apa ... apa kita menang?"
"Eh ... ya," Grover berbohong. "Berkat kau, Leneus. Kita berhasil mengusir
musuh." "Sudah kubilang," gumam si satir tua. "Pemimpin sejati. Pemimpin ... "
Dia memejamkan matanya untuk terakhir kalinya.
Grover menelan ludah. Dia meletakkan tangannya di dahi Leneus dan
mengucapkan pemberkatan kuno. Tubuh sang satir tua meleleh, sampai yang
tersisa hanyalah pohon muda kecil di gundukan tanah segar.
"Laurel," kata Grover takjub. "Oh, dasar kambing tua beruntung."
Dia meraup pohon muda itu dengan tangannya. "Aku ... aku harus
menanamnya. Di Olympus, di taman."
"Kami pergi ke arah sana," kataku. "Ayo."
Musik easy-listening dimainkan selagi lift naik. Aku memikirkan kali pertama
aku mengunjungi Gunung Olympus, dulu saat umurku dua belas. Annabeth dan
Grover tidak ikut denganku saat itu. Aku lega mereka bersamaku sekarang. Aku
punya firasat ini mungkin saja merupakan petualangan terakhir kami bersamasama.
"Percy," kata Annabeth pelan. "Kau benar soal Luke." Inilah pertama kalinya
dia bicara sejak Silena Beauregard meninggal. Dia melekatkan pandangan matanya
ke lantai lift saat layar berkedip menampakkan nomor-nomor magis: 400, 450, 500.
Grover dan aku bertukar pandang.
"Annabeth," kataku. "Aku ikut prihatin - "
"Kau mencoba memberitahuku." Suara Annabeth gemetar. "Luke nggak
baik. Aku nggak memercayaimu sampai ... sampai kudengar cara dia memperalat
Silena. Sekarang aku tahu. Kuharap kau senang."
"Itu nggak membuatku senang."
Annabeth menempelkan kepalanya ke dinding lift dan tak mau memandangku. Grover membuai pohon muda di tangannya. "Yah ... senang sekali bisa
bersama lagi. Bertengkar. Hampir mati. Kengerian tak terkira. Oh, lihat. Ini
lantai kita." Pintu berdenting dan kami melangkah ke titian di tengah udara.
Bikin depresi bukanlah kata yang biasanya mendeskripsikan Gunung
Olympus, tapi memang kelihatannya seperti itu sekarang. Tidak ada api yang
menerangi tungku. Jendela-jendela gelap. Jalanan lengang dan pintu-pintu
dipalang. Satu-satunya gerakan berasal dari taman, yang telah dijadikan rumah
sakit lapangan. Will Solace dan para pekemah Apollo lainnya tergopoh-gopoh ke
sana-kemari, merawat mereka yang terluka. Naiad dan dryad mencoba membantu,
menggunakan lagu alam ajaib untuk menyembuhkan luka bakar dan racun.
Selagi Grover menanam pohon laurel, Annabeth dan aku berkeliling untuk
menyemangati mereka yang terluka. Aku melewati seekor satir dengan kaki patah,
seorang blasteran yang dibalut dari kepala hingga kaki, dan jenazah yang
diselubungi kafan keemasan pondok Apollo. Aku tak tahu siapa yang ada di
bawahnya. Aku tak ingin mencari tahu.
Hatiku terasa berat, tapi kami mencoba menemukan hal positif untuk
dikatakan. "Kau akan segera sembuh dan bertarung melawan Titan nggak lama lagi!"
kataku pada seorang pekemah.
"Kau kelihatan hebat," kata Annabeth kepada pekemah lain.
"Leneus berubah jadi perdu!" kata Grover kepada seekor satir yang
mengerang-ngerang. Aku menemukan putra Dionysus, Pollux, sedang bersandar ke pohon. Satu
lengannya patah, tapi selain itu dia baik-baik saja.
"Aku masih bisa bertarung dengan tangan yang satu lagi," katanya,
menggertakkan giginya. "Tidak," kataku. "Sudah cukup yang kaulakukan. Aku ingin kau tinggal di
sini dan membantu merawat mereka yang terluka."
"Tapi - " "Berjanjilah padaku supaya kau tetap selamat," kataku. "Oke" Permintaan
pribadi." Dia mengerutkan kening tak yakin. Kami bukan teman baik atau
semacamnya, tapi aku tak akan memberitahunya bahwa itu adalah permintaan dari
ayahnya. Itu hanya akan membuatnya malu. Akhirnya dia berjanji, dan saat dia
duduk kembali, aku bisa tahu dia merasa lega.
Annabeth, Grover, dan aku terus berjalan ke istana. Ke sanalah Kronos akan
menuju. Segera setelah dia menaiki lift - dan aku tak ragu dia akan melakukannya,
dengan satu atau lain cara - dia akan menghancurkan ruang singgasana, pusat
kekuatan para dewa. Pintu perunggu berderit terbuka. Langkah kaki kami bergema di lantai
marmer. Rasi bintang berkelap-kelip dingin di langit-langit aula besar. Perapian
hanya memancarkan pendar merah menjemukan. Hestia, dalam wujud gadis kecil
berjubah cokelat, meringkuk di tepinya, menggigil. Si Ophiotaurus berenangrenang
sedih di dalam bola airnya. Dia mengeluarkan lenguhan setengah hati
waktu dia melihatku. Di tengah cahaya perapian, singgasana-singgasana memancarkan bayangan
menyeramkan, seperti tangan-tangan yang mencengkeram.
Di kaki singgasana Zeus, mendongak ke bintang-bintang, berdirilah Rachel
Elizabeth Dare. Dia sedang memegangi vas keramik Yunani.
"Rachel?" kataku. "Eh, ngapain kau bawa-bawa itu?"
Dia memusatkan perhatian padaku seakan-akan dia baru tersadar dari
mimpi. "Aku menemukannya. Ini bejana Pandora, ya?"


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Matanya lebih cemerlang daripada biasanya, dan aku mendapat kilas balik
buruk tentang roti isi bulukan dan kue gosong.
"Tolong letakkan bejana itu," kataku.
"Aku bisa melihat Harapan di dalamnya." Rachel menelusurkan jari-jarinya
ke atas motif keramik. "Begitu rapuh."
"Rachel." Suaraku tampaknya mengembalikannya ke kenyataan. Dia mengulurkan
bejana itu, dan aku mengambilnya. Tembikar tersebut terasa sedingin es.
"Grover," gumam Annabeth. "Mari kita lihat-lihat ke sepenjuru istana.
Mungkin kita bisa menemukan api Yunani tambahan atau jebakan Hephaestus."
"Tapi - " Annabeth menyikutnya. "Benar!" pekik Grover. "Aku suka sekali jebakan!"
Annabeth menyeret Grover ke luar ruang singgasana.
Di dekat api, Hestia meringkuk dalam balutan jubahnya, bergoyang majumundur.
"Ayo," kataku pada Rachel. "Aku ingin kau bertemu seseorang."
Kami duduk di sebelah sang dewi.
"Dewi Hestia," kataku.
"Halo, Percy Jackson," gumam sang dewi. "Rasanya semakin dingin. Sulit
untuk menjaga agar api tetap menyala."
"Aku tahu," kataku. "Para Titan sudah dekat."
Hestia memusatkan perhatian pada Rachel. "Halo, Sayangku. Kau datang ke
perapian kami juga pada akhirnya."
Rachel berkedip. "Kalian menungguku?"
Hestia mengulurkan tangan, dan arang pun berpendar. Kulihat citra-citra di
api: Ibuku, Paul, dan aku menyantap makan malam Thanksgiving di balik meja
dapur; teman-temanku dan aku di sekeliling api unggun di Perkemahan Blasteran,
menyanyikan lagu dan memanggang marshmallow; Rachel dan aku berkendara di
sepanjang pantai dalam Prius Paul.
Aku tidak tahu apakah Rachel melihat citra-citra yang sama, tapi ketegangan
terlepas dari bahunya. Kehangatan api seakan menyebar ke sekujur tubuhnya.
"Untuk mengklaim tempatmu di depan perapian," Hestia memberitahunya,
"kau harus melepaskan hal-hal yang mengalihkan perhatianmu. Itulah satusatunya
cara supaya kau dapat bertahan hidup."
Rachel mengangguk. "Aku ... aku mengerti."
"Tunggu," kataku. "Apa yang dibicarakannya?"
Rachel menarik napas sambil gemetar. "Percy, waktu aku datang ke sini ...
kupikir aku datang untukmu. Tapi ternyata bukan. Kau dan aku ... " Dia
menggelengkan kepala. "Tunggu. Sekarang aku ini hal yang mengalihkan perhatianmu" Apa ini karena
'bukan aku pahlawannya' atau apalah?"
"Aku tidak yakin aku bisa mengutarakannya ke dalam kata-kata," kata
Rachel. "Aku tertarik kepadamu karena ... karena kau membuka pintu ke semua
ini." Dia memberi isyarat ke ruang singgasana. "Aku perlu memahami penglihatan
sejatiku. Tapi kau dan aku, itu bukan bagian darinya. Nasib kita tidak
berkelindan. Menurutku kau sudah mengetahui itu dari dulu, jauh di lubuk hatimu."
Aku menatapnya. Mungkin aku bukan cowok terpintar di dunia terkait
urusan cewek, tapi aku lumayan yakin Rachel baru saja memutuskanku, yang
sebenarnya aneh mengingat kami bahkan tak pernah pacaran.
"Jadi ... apa," kataku. "'Makasih sudah membawaku ke Olympus. Sampai
jumpa.' Itukah yang kaukatakan?"
Rachel menatap api. "Percy Jackson," kata Hestia. "Rachel sudah memberitahumu semua yang
dia bisa. Saatnya akan tiba, tetapi keputusanmu mendekat dengan jauh lebih
cepat. Apakah kau siap?" Aku ingin mengomel bahwa: Tidak, mendekati siap pun tidak.
Aku memandang bejana Pandora dan untuk pertama kalinya aku mendapat
dorongan hati untuk membukanya. Harapan tampaknya cukup tak berguna bagiku
saat ini. Banyak sekali temanku yang meninggal. Rachel memutuskan hubungan
denganku. Annabeth marah padaku. Orangtuaku tertidur di suatu tempat di
jalanan sementara sepasukan monster mengepung gedung. Olympus di ambang
kejatuhan dan aku telah melihat begitu banyak hal kejam yang dilakukan para
dewa: Zeus yang menghancurkan Maria di Angelo, Hades yang mengutuk Oracle
terakhir, Hermes yang mengabaikan Luke kendatipun dia tahu putranya bakal jadi
jahat. Menyerahlah, suara Prometheus berbisik di telingaku. Jika tidak, rumahmu
akan dihancurkan. Perkemahanmu yang berharga akan terbakar.
Kemudian aku memandang Hestia. Mata merahnya berpendar hangat. Aku
ingat citra-citra yang kulihat di perapiannya - teman-teman dan keluarga, semua
orang yang kusayangi. Aku teringat sesuatu yang dikatakan Chris Rodriguez: Nggak ada gunanya
mempertahankan perkemahan kalau kalian mati. Semua teman kami ada di sini. Dan
Nico, melawan ayahnya, Hades: Apabila Olympus jatuh, keamanan istana Ayah nggak akan
jadi soal. Aku mendengar langkah kaki. Annabeth dan Grover kembali ke ruang
singgasana dan berhenti saat mereka melihat kami. Barangkali ada ekspresi yang
lumayan aneh di wajahku. "Percy?" Annabeth tidak terdengar marah lagi - cuma cemas. "Haruskah
kami, eh, pergi lagi?"
Tiba-tiba aku merasa seakan-akan seseorang baru saja menyuntikku dengan
baja. Aku mengerti apa yang harus kulakukan.
Aku memandang Rachel. "Kau nggak akan melakukan apa pun yang bodoh,
kan" Maksudku ... kau sudah bicara pada Chiron, kan?"
Rachel berhasil tersenyum lemah. "Kau khawatir aku akan melakukan
sesuatu yang bodoh?"
"Tapi maksudku ... akankah kau baik-baik saja?"
"Entahlah," dia mengakui. "Itu bergantung pada apakah kau menyelamatkan dunia, Pahlawan."
Aku mengambil bejana Pandora. Roh Harapan mengepak-ngepak di dalam,
mencoba menghangatkan wadah yang dingin.
"Dewi Hestia," kataku, "kuberikan ini kepada Anda sebagai persembahan."
Sang dewi menelengkan kepalanya. "Aku adalah yang paling remeh di
antara dewa-dewi. Kenapa kau mau memercayakan ini padaku?"
"Anda adalah dewi Olympia terakhir," kataku. "Dan yang paling penting."
"Dan kenapakah itu, Percy Jackson?"
"Karena Harapan bertahan paling baik di depan perapian," kataku. "Jagalah
untukku dan aku takkan tergoda untuk menyerah lagi."
Sang dewi tersenyum. Dia mengambil bejana di tangannya dan bejana
tersebut mulai berpendar. Api di perapian menyala sedikit lebih terang.
"Bagus sekali, Percy Jackson," katanya. "Semoga para dewa memberkatimu." "Kita akan segera tahu." Aku memandang Annabeth dan Grover. "Ayo,
Teman-teman." Aku berderap menuju singgasana ayahku.
Kursi Poseidon terletak tepat di sebelah kanan singgasana Zeus, tapi penampilannya tak semewah singgasana Zeus. Kursi kulit cetakan tersebut
terhubung ke sebuah landasan yang bisa berputar, dengan sepasang cincin logam
di samping untuk menyimpan joran (ataupun trisula). Pada dasarnya singgasana
tersebut terlihat seperti kursi di kapal laut dalam, yang akan kaududuki
seandainya kau mau memburu hiu atau marlin atau monster laut.
Para dewa dalam wujud sejati mereka bertinggi sekitar enam meter, jadi aku
hanya bisa meraih tepi kursi kalau aku menjulurkan lenganku.
"Bantu aku naik," kataku kepada Annabeth dan Grover.
"Apa kau gila?" tanya Annabeth.
"Barangkali," aku mengakui.
"Percy," kata Grover, "para dewa betul-betul nggak suka kalau orang duduk
di singgasana mereka. Maksudku nggak suka seperti akan-kujadikan-kausetumpuk-
abu-kalau-berani." "Aku perlu menarik perhatiannya," kataku. "Inilah satu-satunya cara."
Mereka bertukar pandang gelisah.
"Yah," kata Annabeth, "ini memang akan menarik perhatiannya."
Mereka mengaitkan lengan mereka untuk membuat undakan, kemudian
mendorongku ke atas singgasana. Aku merasa seperti bayi karena kakiku berada
jauh tinggi di atas tanah. Aku melihat ke sekeliling ke singgasana-singgasana
gelap lain, dan bisa kubayangkan bagaimana rasanya duduk di Dewan Olympia - begitu
banyak kekuatan namun begitu banyak pertengkaran, selalu sebelas dewa lain
yang berusaha mendapatkan keinginan mereka. Aku gampang untuk jadi
paranoid, untuk memenuhi kepentinganku sendiri, terutama kalau aku Poseidon.
Dengan duduk di singgasananya, aku merasa seolah seluruh laut dalam
komandoku - berkilo-kilometer samudra luas menggelegak yang penuh kekuatan
dan misteri. Kenapa Poseidon harus mendengarkan siapa pun" Kenapa bukan dia
yang jadi yang terkuat di antara kedua belas dewa"
Lalu kugeleng-gelengkan kepalaku. Konsentrasi.
Singgasana menggemuruh. Gelombang kemarahan sekuat angin ribut
menghantam benakku: SIAPA YANG BERANI-BERANI -
Suara tersebut berhenti mendadak. Kemarahan mereda, yang merupakan hal
bagus, soalnya kalimat tadi saja hampir meledakkan pikiranku hingga
berkepingkeping. Percy. Suara ayahku masih marah tapi lebih terkendali. Apa - tepatnya - yang
kaulakukan di singgasanaku"
"Maafkan aku, Ayah," kataku. "Aku perlu mendapatkan perhatian Ayah."
Ini adalah hal yang sangat berbahaya untuk dilakukan. Untukmu sekalipun. Jika
aku tidak melihat sebelum aku meledakkanmu, kau sekarang akan jadi genangan air
laut. "Maafkan aku," kataku lagi. "Dengar aku Ayah, keadaan sedang genting di
sini." Kuberi tahu dia apa yang terjadi. Lalu kuberi tahu dia tentang rencanaku.
Lama dia diam. Percy, yang kauminta mustahil. Istanaku -
"Ayah, Kronos mengirimkan pasukan melawan Ayah secara sengaja. Dia
ingin memisahkan Ayah dari dewa-dewa lain karena dia tahu Ayah bisa mengubah
perimbangan kekuatan."
Meskipun itu mungkin benar, dia menyerang rumahku.
"Aku sedang berada di rumah Ayah," kataku. "Olympus."
Lantai berguncang. Gelombang kemarahan melanda benakku. Kupikir aku
sudah melampaui batas, tapi kemudian getaran mereda. Di latar belakang
sambungan mentalku, kudengar ledakan bawah air dan bunyi pekikan perang:
para Cyclops meraung, manusia duyung berteriak.
"Apa Tyson baik-baik saja?" tanyaku.
Pertanyaan itu tampaknya membuat ayahku kaget. Dia baik-baik saja.
Kerjanya lebih bagus daripada yang kuharapkan. Walaupun "selai kacang" adalah
pekikan perang yang aneh. "Ayah memperbolehkannya bertarung?"
Berhenti mengubah topik! Kausadari apa yang kauminta agar kulakukan" Istanaku
akan dihancurkan! "Dan Olympus mungkin akan terselamatkan."
Apa kau punya gambaran berapa lama aku merenovasi istana ini" Ruang
permainan saja memakan waktu enam ratus tahun.
"Ayah - " Ya sudah! Yang kaukatakan akan dilaksanakan. Tapi Putraku, berdoalah semoga ini
berhasil. "Aku berdoa. Aku bicara kepada Ayah, kan?"
Oh ... iya. Benar juga. Amphitrite - aku datang!
Bunyi ledakan besar memutuskan hubungan kami.
Aku merosot turun dari singgasana.
Grover mengamati dengan gugup. "Apa kau baik-baik saja" Kau jadi pucat
dan ... kau mulai berasap."
"Nggak kok!" Kemudian kulihat lenganku. Uap mengepul dari lengan
bajuku. Rambut di lenganku gosong.
"Kalau kau duduk di sana lebih lama lagi," kata Annabeth, "kau akan
terbakar secara spontan. Kuharap percakapannya layak?"
Moo, kata si Ophiotaurus dalam bola airnya.
"Kita akan segera tahu," kataku.
Tepat saat itu pintu ruang singgasana berayun terbuka. Thalia berderap
masuk. Busurnya patah jadi dua dan sarung panahnya kosong.
"Kalian harus turun dari sana," dia memberi tahu kami. "Pasukan sedang
maju. Dan Kronos memimpin mereka."
DELAPAN BELAS Orangtuaku Beraksi Pada saat kami sampai di jalan, semua sudah terlambat.
Pekemah dan Pemburu tergeletak terluka di tanah. Clarisse pasti kalah
dalam pertarungan melawan raksasa Hyperborean, soalnya dia dan kereta
perangnya dibekukan dalam sebalok es. Para centaurus tidak terlihat di manamana.
Entah mereka panik dan lari atau mereka telah terbuyarkan.
Pasukan Titan mengelilingi gedung, berdiri mungkin enam meter dari pintupintu.
Baris depan Kronos memimpin: Ethan Nakamura, ratu dracaena berbaju zirah
hijau, dan dua Hyperborean. Aku tak melihat Prometheus. Si licik licin itu
barangkali sedang sembunyi di markas besar mereka. Tapi Kronos sendiri berdiri
tepat di depan dengan sabit di tangan.
Satu-satunya yang menghalangi jalannya adalah ...
"Pak Chiron," kata Annabeth, suaranya gemetar.
Kalau Chiron mendengar kami, dia tidak menjawab. Dia siap memanah,
membidik tepat ke wajah Kronos.
Segera setelah Kronos melihatku, mata keemasannya menyala-nyala. Setiap
otot di tubuhku membeku. Kemudian sang penguasa Titan mengalihkan
perhatiannya kepada Chiron. "Minggir, Putra Kecilku."
Mendengar Luke memanggil Chiron putranya sudah cukup aneh, tapi
Kronos memasukkan kebencian ke dalam suaranya, seakan-akan putra adalah kata
terburuk yang bisa dipikirkannya.
"Aku khawatir tidak." Nada bicara Chiron tenang dan dingin, seperti biasa
saat dia benar-benar marah.
Aku mencoba bergerak, tapi kakiku terasa seperti beton. Annabeth, Grover,
dan Thalia berusaha keras juga, seakan mereka juga sama-sama tersangkut.
"Pak Chiron!" kata Annabeth. "Awas!"
Ratu dracaena menjadi tak sabar dan menyerbu. Anak panah Chiron melesat
tepat di antara kedua matanya dan dia pun menguap di tempat, baju zirah
kosongnya berkelontangan di aspal.
Chiron meraih anak panah lagi, tapi sarung panahnya kosong. Dia
menjatuhkan busur dan menghunus pedangnya. Aku tahu dia benci bertarung
menggunakan pedang. Pedang tak pernah merupakan senjata favoritnya.
Kronos tergelak. Dia maju selangkah, dan bagian tubuh kuda Chiron


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bergoyang-goyang dengan gugup. Ekornya mengibas-ngibas maju-mundur.
"Kau guru," cemooh Kronos. "Bukan pahlawan."
"Luke pahlawan," kata Chiron. "Dia pahlawan yang baik, sebelum Ayah
menyesatkannya." "BODOH!" Suara Kronos mengguncangkan kota. "Kau memenuhi kepalanya dengan janji-janji kosong. Kaubilang para dewa peduli padaku!"
"Aku," Chiron sadar. "Ayah bilang aku."
Kronos kelihatan bingung, dan pada saat itu, Chiron menyerang.
Manuvernya bagus - tipuan yang diikuti oleh pukulan ke wajah. Aku sendiri
takkan bisa berbuat lebih baik, tapi Kronos cepat. Dia memiliki semua
keterampilan bertarung Luke, yang jumlahnya banyak. Dia menjatuhkan pedang
Chiron ke samping dan berteriak, "MUNDUR!"
Cahaya putih membutakan meledak di antara sang Titan dan sang
centaurus. Chiron terbang ke sisi sebuah bangunan dengan kekuatan begitu
dahsyat sehingga dinding runtuh dan jatuh menimpanya.
"Nggaaak!" lolong Annabeth. Mantra pembeku terpatahkan. Kami berlari
menghampiri guru kami, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Thalia dan
aku tanpa daya menarik-narik bata sementara riak tawa jelek melanda pasukan
Titan. "KAU!" Annabeth menoleh ke arah Luke. "Memikirkan bahwa aku ...
bahwa aku mengira - "
Annabeth menghunus pisaunya.
"Annabeth, jangan." Aku mencoba memegang lengannya, tapi dia
mengguncangkan peganganku hingga lepas.
Annabeth menyerang Kronos dan senyum sombong Kronos menghilang.
Barangkali sebagian dari Luke ingat bahwa dia dulu menyukai gadis ini, dulu
merawatnya saat gadis ini masih kecil. Annabeth menghunjamkan pisaunya di
antara tali pengikat baju zirah Kronos, tepat di tulang belikatnya. Bilah pisau
semestinya terbenam ke dadanya. Namun pisau tersebut justru terpantul.
Annabeth terbungkuk, merapatkan lengan ke perut. Sentakannya mungkin cukup
untuk membuat bahunya yang terluka keseleo.
Aku menarik Annabeth ke belakang saat Kronos mengayunkan sabitnya,
menyayat udara di tempat Annabeth barusan berdiri.
Annabeth melawanku dan menjerit-jerit, "AKU BENCI kau!" Aku nggak
yakin kepada siapa dia bicara - aku atau Luke atau Kronos. Air mata mencoreng
debu di wajahnya. "Aku harus bertarung melawannya," kataku pada Annabeth.
"Ini pertarunganku juga, Percy!"
Kronos tertawa. "Begitu banyak semangat. Aku bisa melihat kenapa Luke
ingin mengampunimu. Sayangnya, itu takkan mungkin."
Dia mengangkat sabitnya. Aku bersiap untuk mempertahankan diri, tapi
sebelum Kronos bisa menyabet, lolongan anjing membelah udara di suatu tempat
di belakang pasukan Titan. "Auuuuuuuu!"
Berharap rasanya berlebihan, tapi aku memanggil, "Nyonya O'Leary?"
Pasukan musuh bergerak-gerak gelisah. Kemudian hal teraneh terjadi.
Mereka mulai terbelah, membuka jalan seolah seseorang di belakang mereka
memaksa mereka melakukannya.
Segera saja ada lorong lowong di tengah-tengah Fifth Avenue. Di ujung blok
berdirilah anjing raksasaku dan sosok kecil berbaju zirah hitam.
"Nico?" panggilku.
"GUK!" Nyonya O'Leary melompat menghampiriku, mengabaikan monstermonster yang
menggeram di kedua sisi. Nico melenggang maju. Pasukan musuh
mundur ke belakangnya seakan dia memancarkan kematian, yang memang benar.
Lewat pelindung wajah di helm berbentuk tengkorak yang dipakainya, dia
tersenyum. "Dapat pesanmu. Apa sudah terlambat untuk ikut berpesta?"
"Putra Hades." Kronos meludah ke tanah. "Apa kau begitu mencintai
kematian sehingga kau ingin mengalaminya?"
"Kematianmu," kata Nico, "pasti menyenangkan sekali bagiku."
"Aku kekal, dasar bodoh! Aku telah meloloskan diri dari Tartarus. Kau tidak
punya urusan di sini, dan tidak punya peluang untuk hidup."
Nico menghunus pedangnya - besi Stygian tajam keji sepanjang sembilan
puluh sentimeter, sehitam mimpi buruk. "Aku nggak setuju."
Tanah menggemuruh. Retakan muncul di jalan, trotoar, dan sisi bangunan.
Tangan-tangan tengkorak mencengkeram udara saat orang-orang mati mencakarcakar
untuk masuk ke dunia orang hidup. Jumlah mereka ribuan, dan saat mereka
keluar, monster-monster sang Titan jadi gelisah dan mulai mundur.
"TAHAN!" tuntut Kronos. "Orang mati bukan tandingan kita."
Langit berubah jadi gelap dan dingin. Bayang-bayang menebal. Terompet
perang berbunyi kasar terdengar, dan saat para tentara mati berbaris sambil
membawa senjata api dan pedang serta tombak mereka, kereta perang raksasa
meraung menyusuri Fifth Avenue. Kereta perang tersebut berhenti di samping
Nico. Kuda-kudanya berupa bayangan hidup, dibuat dari kegelapan. Kereta
perang itu bertabur batu obsidian dan emas, dihiasi gambar-gambar kematian
menyakitkan. Yang memegang kekang adalah Hades sendiri, Raja Orang Mati,
dengan Demeter dan Persephone di belakangnya.
Hades mengenakan baju zirah hitam dan jubah sewarna darah segar. Di atas
kepala pucatnya terdapat helm kegelapan: mahkota yang memancarkan kengerian
total. Mahkota tersebut berubah bentuk selagi aku memperhatikan - dari kepala
naga menjadi lingkaran lidah api hitam, lalu menjadi mahkota tulang manusia.
Tapi bukan itu bagian menyeramkannya. Helm tersebut meraih benakku dan
menyulut mimpi terburukku, rasa takutku yang paling rahasia. Aku ingin
merangkak masuk ke lubang dan bersembunyi, dan aku bisa tahu pasukan musuh
merasakan hal yang sama. Hanya kekuatan dan wewenang Kronos yang mencegah
pasukannya kabur. Hades tersenyum dingin. "Halo, Ayah. Ayah terlihat ... muda."
"Hades," geram Kronos. "Kuharap kau dan para wanita datang untuk
mengutarakan sumpah setia kalian."
"Aku khawatir tidak." Hades mendesah. "Putraku ini meyakinkanku bahwa
barangkali aku harus menata ulang peringkat musuh-musuhku." Dia melirikku
dengan sebal. "Meskipun aku tidak menyukai blasteran amatiran tertentu, tidak
bagus jika Olympus jatuh. Aku akan merindukan pertengkaran dengan
saudarasaudaraku. Dan jika ada satu hal yang kami sepakati - itu adalah bahwa Ayah
adalah ayah yang PAYAH."
"Benar," gumam Demeter. "Tidak menghargai pertanian sama sekali."
"Ibunda!" keluh Persephone.
Hades menghunus pedangnya, pedang Stygian bermata dua dengan guratan
perak. "Sekarang lawanlah aku! Karena hari ini Marga Hades akan disebut sebagai
penyelamat Olympus."
"Aku tidak punya waktu untuk ini," gerung Kronos.
Dia memukul tanah dengan sabitnya. Retakan menyebar ke kedua arah,
mengelilingi Empire State Building. Dinding energi berdenyar di sepanjang garis
retakan, memisahkan barisan depan Kronos, teman-temanku, dan aku dari
sebagian besar anggota kedua pasukan.
"Apa yang dilakukannya?" gumamku.
"Menyegel kita di dalam," kata Thalia. "Dia meruntuhkan penghalang magis
di sekeliling Manhattan - hanya memisahkan bangunan, dan kita."
Memang benar, di luar penghalang, mesin mobil menyala. Para pejalan kaki
bangun dan menatap monster-monster dan zombi-zombi di sekeliling mereka
dengan raut muka tak mengerti. Entah apa yang mereka lihat lewat Kabut, tapi aku
yakin pasti lumayan menakutkan. Pintu-pintu mobil terbuka. Dan di ujung blok,
Paul Blofis dan ibuku keluar dari Prius mereka.
"Nggak," kataku. "Jangan ... "
Ibuku bisa melihat menembus Kabut. Aku bisa tahu dari ekspresinya bahwa
dia paham betapa seriusnya keadaan kami. Kuharap dia berpikir logis sehingga
cepat-cepat lari. Tapi dia bertatapan denganku, mengatakan sesuatu kepada Paul,
dan mereka langsung lari menghampiri kami.
Aku tak bisa berseru. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah menarik
perhatian Kronos. Untungnya, Hades mengalihkan perhatiannya. Dia menyerang dinding
energi, namun kereta perangnya menabrak dinding tersebut dan terbalik. Dia
berdiri, menyumpah-nyumpah, dan menghantam dinding tersebut dengan energi
hitam. Penghalang tersebut bertahan.
"SERANG!" raungnya.
Pasukan orang mati bertempur dengan monster-monster sang Titan. Fifth
Avenue meledak dalam kekacauan total. Para manusia fana menjerit-jerit dan
berlari mencari perlindungan. Demeter melambaikan tangannya dan sebaris
raksasa berubah menjadi ladang gandum. Persephone mengubah tombak dracaena
menjadi bunga matahari. Nico menyayat dan menyabet sembari menembus barisan
musuh, berusaha melindungi para pejalan kaki sebaik mungkin. Orangtuaku lari
menghampiri kami, menghindari monster dan zombi, tapi tak ada yang bisa
kulakukan untuk menolong mereka.
"Nakamura," kata Kronos. "Kawal aku. Raksasa - urus mereka."
Dia menunjuk teman-temanku dan aku. Kemudian dia menunduk masuk ke
lobi. Selama sesaat aku terperangah. Aku mengharapkan pertempuran, tapi
Kronos mengabaikanku sepenuhnya seakan-akan aku tak layak dihadapi. Itu
membuatku marah. Raksasa Hyperborean pertama menghajarku dengan pentungan. Aku
berguling ke antara kedua kakinya dan menikamkan Riptide ke pantatnya. Dia
pecah berantakan menjadi setumpuk kepingan es. Raksasa kedua mengembuskan
napas beku kepada Annabeth, yang nyaris tidak bisa berdiri, tapi Grover
menariknya menyingkir sementara Thalia bekerja. Dia berlari menaiki punggung si
raksasa seperti kijang, menyayat leher biru gede raksasa itu dengan pisau
berburunya, dan menciptakan patung es tanpa kepala terbesar di dunia.
Aku melirik ke luar penghalang magis. Nico sedang bertarung untuk
menghampiri ibuku dan Paul, tapi mereka tidak menunggu bantuan. Paul merebut
pedang seorang pahlawan yang tewas dan cukup lihai dalam menyibukkan seekor
dracaena. Dia menikam perut si dracaena, dan monster itu pun terbuyarkan.
"Paul?" kataku takjub.
Dia menoleh ke arahku dan nyengir. "Kuharap yang baru kubunuh itu
monster. Aku dulu aktor drama Shakespeare di sekolah, lho! Bisa main pedang
sedikit!" Aku jadi lebih menyukainya karena itu, tapi kemudian raksasa Laistrygonian menyerang ibuku. Ibuku sedang menggeledah mobil polisi yang
terbengkalai - mungkin mencari radio darurat - dan punggungnya sedang dibalikkan. "Bu!" teriakku.
Ibuku berputar saat monster itu hampir berada di atasnya. Kupikir benda di
tangan ibuku adalah payung sampai dia mengokang dan sepucuk senapan
mendorong raksasa itu enam meter ke belakang, tepat mengenai pedang Nico.
"Bagus," kata Paul.
"Kapan Ibu belajar menembakkan senapan?" tuntutku.
Ibuku meniup rambut dari wajahnya. "Kira-kira dua detik lalu. Percy, kami
akan baik-baik saja. Pergilah!"
"Ya," Nico setuju, "akan kami tangani pasukan. Kau harus menangkap
Kronos!" "Ayo, Otak Ganggang!" kata Annabeth. Aku mengangguk. Lalu kulihat
tumpukan puing di samping bangunan. Hatiku mencelos. Aku lupa tentang
Chiron. Bagaimana bisa aku melupakannya"
"Nyonya O'Leary," kataku. "Tolong, Chiron ada di bawah sana. Kalau ada
yang bisa menggalinya ke luar, kaulah yang bisa. Temukan dia! Tolong dia!"
Aku tak yakin seberapa banyak yang dia pahami, tapi Nyonya O'Leary
melompat ke tumpukan tersebut dan mulai menggali. Annabeth, Thalia, Grover,
dan aku melaju ke lift. SEMBILAN BELAS Kami MemorakPorandakan Kota Abadi
Jembatan ke Olympus memudar. Kami melangkah keluar dari lift tepat waktu
menuju titian marmer putih itu, dan seketika retakan muncul di kaki kami.
"Loncat!" kata Grover, yang gampang buatnya karena dia separuh kambing
gunung. Grover melompat ke bilah batu berikutnya sementara bilah-bilah yang kami
pijak miring dengan gawat.
"Demi para dewa, aku benci ketinggian!" teriak Thalia saat dia dan aku
melompat. Tapi kondisi Annabeth tidak fit untuk melompat. Dia terhuyunghuyung
dan berteriak, "Percy!"
Aku menangkap tangannya saat ubin jatuh, remuk menjadi debu. Selama
sedetik kupikir dia bakal menarik kami berdua hingga jatuh. Kakinya
bergelantungan di udara terbuka. Tangannya mulai tergelincir hingga aku hanya
memegangi jari-jarinya. Kemudian Grover dan Thalia mencengkeram kakiku, dan
aku menemukan kekuatan tambahan. Annabeth tidak akan jatuh.
Aku menariknya ke atas dan kami tergeletak sambil gemetaran di ubin. Aku
tidak menyadari bahwa kami berpelukan sampai dia tiba-tiba tampak grogi.
"Eh, makasih," gumamnya.
Aku berusaha mengatakan Nggak usah dipikirin, tapi yang keluar malah,
"Mmm-hmm." "Terus bergerak!" Grover menarik pundakku. Annabeth dan aku bangkit,
lalu berlari menyeberangi jembatan langit selagi semakin banyak batu jatuh
menghilang. Kami berhasil sampai di pinggir gunung tepat saat bagian terakhir
runtuh. Annabeth menoleh ke belakang ke lift, yang sekarang sepenuhnya berada di
luar jangkauan - sepasang pintu logam mengilap yang bergantung di udara, tidak
terhubung pada apa pun, enam ratus lantai di atas Manhattan.
"Kita terjebak," kata Annabeth. "Sendirian."
"Mbeeek!" kata Grover. "Hubungan antara Olympus dan Amerika
memudar. Kalau ini gagal - "
"Para dewa takkan pindah ke negara lain kali ini," kata Thalia. "Ini akan jadi
akhir dari Olympus. Akhir yang terakhir."
Kami lari menyusuri jalan-jalan. Rumah-rumah terbakar. Patung-patung
dicacah-cacah dan dirobohkan. Pohon-pohon di taman diledakkan hingga
beserpih-serpih. Kelihatannya seseorang telah menyerang kota dengan arit
raksasa. "Sabit Kronos," kataku.
Kami mengikuti jalan setapak yang berliku-liku menuju istana para dewa.
Seingatku jalannya tak sepanjang ini. Mungkin Kronos membuat waktu melambat,
atau mungkin rasa ngerilah yang memperlambatku. Seluruh puncak gunung
porak-poranda - begitu banyak bangunan indah dan taman yang lenyap.
Segelintir dewa minor dan roh alam sebelumnya berusaha menghentikan
Kronos. Yang tersisa dari mereka berserakan di jalan: baju zirah yang pecah
berantakan, pakaian robek, pedang dan tombak yang patah jadi dua.
Di suatu tempat di depan kami, suara Kronos meraung: "Bata demi bata! Itu
janjiku. Runtuhkan BATA DEMI BATA!"
Kuil marmer putih berkubah emas tiba-tiba meledak. Kubahnya melesat ke
atas seperti tutup poci teh dan pecah bermiliar-miliar keping, menghujani kota
dengan puing-puing. "Itu kuil untuk Artemis," gerutu Thalia. "Dia akan membayar untuk itu."
Kami berlari di bawah gerbang lengkung marmer dengan patung Zeus dan
Hera saat seisi gunung menggemuruh, bergoyang ke samping seperti perahu di
tengah badai. "Awas!" pekik Grover. Gerbang lengkung runtuh. Aku mendongak tepat
waktu untuk melihat Hera seberat dua puluh ton yang merengut jatuh di atas kami.
Annabeth dan aku pasti bakal gepeng, tapi Thalia mendorong kami dari belakang


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan kami mendarat tepat di luar jangkauan bahaya.
"Thalia!" seru Grover.
Saat debu menipis dan gunung berhenti bergoyang, kami mendapati Thalia
masih hidup, tapi kakinya terjepit di bawah patung.
Kami berusaha susah payah untuk memindahkan patung itu, tapi upaya
tersebut membutuhkan beberapa Cyclops. Waktu kami mencoba menarik Thalia
dari bawah reruntuhan patung, dia menjerit kesakitan.
"Aku selamat dalam semua pertempuran itu," geram Thalia, "dan aku
dikalahkan oleh sebongkah batu tolol!"
"Ini gara-gara Hera," kata Annabeth murka. "Sudah bertahun-tahun dia tak
menyukaiku. Patungnya pasti akan membunuhku seandainya kau nggak
mendorong kami menjauh."
Thalia meringis. "Yah, jangan cuma berdiri di sana! Aku akan baik-baik saja.
Pergilah!" Kami tidak ingin meninggalkan Thalia, tapi aku bisa mendengar Kronos
tertawa selagi dia mendekati aula para dewa. Semakin banyak bangunan yang
meledak. "Kami akan kembali," janjiku.
"Aku nggak akan ke mana-mana," erang Thalia.
Bola api merekah di samping gunung, tepat di dekat gerbang istana.
"Kita harus buru-buru," kataku.
"Maksudmu bukan buru-buru kabur, kan?" gumam Grover penuh harap.
Aku berlari menuju istana, Annabeth tepat di belakangku.
"Itu yang kutakutkan," Grover mendesah dan berderap mengejar kami.
Pintu istana cukup besar untuk dilewati kapal pesiar, tapi pintu telah dicabut
dari engselnya dan diremukkan seolah bobotnya tidak seberapa. Kami harus memanjati
tumpukan besar batu yang pecah dan logam yang bengkok untuk sampai ke
dalam. Kronos berdiri di tengah-tengah ruang singgasana, lengannya direntangkan,
menatap langit-langit berbintang seakan sedang mereguk semuanya. Tawanya jauh
lebih keras daripada saat berada di lubang Tartarus.
"Akhirnya!" teriaknya. "Dewan Olympus - begitu angkuh dan agung. Kursi
kekuasaan mana yang harus kuhancurkan lebih dulu?"
Ethan Nakamura berdiri di samping, mencoba menjauhkan diri dari sabit
tuannya. Perapian hampir padam, hanya segelintir arang yang berpendar pekat di
tengah-tengah abu. Hestia tidak terlihat di mana pun. Begitu pula Rachel.
Kuharap dia baik-baik saja, tapi aku sudah menyaksikan begitu banyak kehancuran
sehingga aku takut memikirkannya. Si Ophiotaurus berenang di dalam bola airnya
di pojok jauh ruangan, dengan bijak tak membuat suara, tapi takkan lama sebelum
Kronos menyadari keberadaannya.
Annabeth, Grover, dan aku melangkah maju ke tengah cahaya obor. Ethan
melihat kami lebih dulu. "Tuan," dia memperingati.
Kronos berbalik dan tersenyum dengan wajah Luke. Kecuali karena mata
keemasannya, dia kelihatan persis sama seperti empat tahun lalu waktu dia
Jaka Galing 2 Kelana Buana You Jian Jiang Hu Karya Liang Ie Shen Dewi Ular 3
^