Pencarian

Dewi Olympia Terakhir 4

Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan Bagian 4


jadi kurasa pilihan kami tak terlalu salah.
Aku mematikan Yamaha di trotoar dan menikung hingga berhenti di dekat
air mancur di luar hotel.
Will dan aku melompat turun. Patung di atas air mancur berseru, "Oh,
bagus. Kurasa kalian ingin aku menjaga sepeda motor kalian juga?"
Dia adalah patung perunggu seukuran manusia sebenarnya yang berdiri di
tengah-tengah mangkuk granit. Dia hanya mengenakan kain perunggu di
sekeliling kakinya, dan dia memegangi keranjang perunggu berisi buah. Aku tak
pernah terlalu memperhatikannya sebelumnya. Tapi tentu saja, dia tak pernah
bicara padaku sebelumnya.
"Kau ini seharusnya siapa" Demeter?" tanyaku.
Apel perunggu melayang ke atas kepalaku.
"Semua orang mengira aku Demeter!" keluhnya. "Aku Pompona, Dewi
Kemakmuran Romawi, tapi buat apa kalian peduli" Tidak ada yang memedulikan
dewa-dewi minor. Seandainya kalian memedulikan dewa-dewi minor, kalian
takkan kalah dalam perang ini! Tiga sorakan untuk Morpheus dan Hecate,
menurutku!" "Jaga sepeda motornya," kataku padanya.
Pompona menyumpah-nyumpah dalam bahasa Latin dan melemparkan
lebih banyak buah selagi Will dan aku lari menuju hotel.
Aku sebenarnya tidak pernah berada di dalam Plaza. Lobinya mengesankan,
dengan kandelir kristal dan orang-orang kaya yang terlelap, tapi aku tak terlalu
memperhatikan. Sepasang Pemburu memberi tahu kami ke arah lift, dan kami naik
ke kamar griya tawang. Para blasteran telah sepenuhnya mengambil alih lantai-lantai teratas.
Pekemah dan Pemburu terkapar di sofa, membersihkan diri di kamar mandi,
merobek draperi sutra untuk membalut luka mereka, dan mempersilakan diri
mereka menyantap camilan dan soda dari minibar. Dua ekor serigala putih sedang
minum dari toilet. Aku lega melihat begitu banyak temanku berhasil melalui
pertempuran hidup-hidup, tapi semua orang kelihatan babak belur.
"Percy!" Jake Mason menepuk bahuku. "Kami mendapat laporan - "
"Nanti," kataku. "Mana Annabeth?"
"Teras. Dia masih hidup, Bung, tapi ... "
Aku mendorongnya ke samping, melewatinya.
Pada keadaan yang berbeda aku pasti sangat menyukai pemandangan dari
teras. Teras menghadap langsung ke Central Park. Pagi itu cerah dan terang -
sempurna untuk piknik atau mendaki gunung, atau kurang lebih apa saja selain
melawan monster. Annabeth berbaring di kursi malas. Wajahnya pucat dan dipenuhi butirbutir
keringat. Meskipun dia berselimut, dia menggigil. Silena Beauregard sedang
mengusap keningnya dengan kain dingin.
Will dan aku merangsek melewati kerumunan anak Athena. Will membuka
perban Annabeth untuk memeriksa lukanya, dan aku mau pingsan. Pendarahan
sudah berhenti tapi luka sayatan terlihat dalam. Kulit di sekitar sayatan
berwarna hijau mengerikan. "Annabeth ... " aku tercekik. Dia telah menerima pisau itu demi aku.
Bagaimana bisa kubiarkan itu terjadi"
"Racun di belati," gumam Annabeth. "Aku ini bodoh juga, ya?"
Will Solace mengembuskan napas lega. "Tidak terlalu parah, Annabeth.
Beberapa menit lagi dan kita dalam masalah, tapi racunnya belum melewati
bahumu. Berbaring diam sajalah. Siapa saja, beri aku nektar."
Aku meraih sebuah botol minum. Will membersihkan luka dengan
minuman dewata itu sementara aku memegangi tangan Annabeth.
"Aduh," kata Annabeth. "Aduh, aduh!" Annabeth mencengkeram jariku
begitu erat sampai-sampai jari-jariku jadi ungu, tapi dia tetap diam, seperti
yang diminta Will. Silena menggumamkan kata-kata dukungan. Will membubuhkan
pasta perak ke atas luka dan menyenandungkan kata-kata dalam bahasa Yunani
Kuno - himne untuk Apollo. Lalu dia membalutkan perban baru dan berdiri sambil
gemetaran. Pengobatan pasti menghabiskan banyak energinya. Dia terlihat hampir
sepucat Annabeth. "Itu pasti cukup," kata Will. "Tapi kita bakal memerlukan obat-obatan
manusia fana." Dia meraih alat tulis hotel, menuliskan sesuatu, dan menyerahkannya
kepada salah satu anak Athena. "Ada Duane Reade di Fifth. Biasanya aku nggak
bakalan pernah mencuri - "
"Aku mau," Travis mengajukan diri.
Will memelototinya. "Tinggalkan uang tunai atau drachma untuk
membayar, apa pun yang kaupunya, tapi ini darurat. Aku punya firasat bakal lebih
banyak orang yang harus kita rawat."
Tidak ada yang tidak setuju. Nyaris tidak ada satu pun blasteran yang tidak
terluka ... kecuali aku. "Ayo, Kawan-kawan," kata Travis Stoll. "Mari kita beri Annabeth ruang. Ada
apotek yang harus kita jarah ... maksudku, kunjungi."
Para blasteran bergerak kembali ke dalam. Jake Mason mencengkeram
pundakku saat dia pergi. "Kita akan bicara nanti, tapi semua sudah terkendali.
Aku menggunakan perisai Annabeth untuk mengawasi keadaan. Musuh mundur saat
matahari terbit; aku nggak yakin kenapa. Kita sudah memasang pengawas pada
masing-masing jembatan dan terowongan."
"Makasih, Bung," kataku.
Dia mengangguk. "Kau santai saja."
Dia menutup pintu teras di belakangnya, meninggalkan Silena, Annabeth,
dan aku sendirian. Silena menekan kain dingin ke dahi Annabeth. "Ini semua salahku."
"Bukan," kata Annabeth lemah. "Silena, bagaimana mungkin ini salahmu?"
"Aku tidak pernah jago di perkemahan," gumam Silena. "Tidak seperti kau
atau Percy. Seandainya saja aku ini petarung yang lebih baik ... "
Mulutnya bergetar. Sejak Beckendorf meninggal kondisinya semakin buruk,
dan setiap kali aku memandangnya, aku jadi marah lagi gara-gara kematian
Beckendorf. Ekspresi Silena mengingatkanku pada kaca - seolah dia mungkin
bakal pecah kapan saja. Aku bersumpah kepada diriku sendiri bahwa seandainya
aku menemukan mata-mata yang membuat pacar Silena kehilangan nyawanya, aku
bakal memberikannya kepada Nyonya O'Leary buat dijadikan mainan kunyah.
"Kau pekemah yang hebat," aku memberi tahu Silena. "Kau pengemudi
pegasus terbaik yang kita miliki. Dan kau pandai bergaul dengan orang.
Percayalah padaku, siapa pun yang bisa berteman dengan Clarisse punya bakat."
Silena memandangku seakan-akan aku baru saja memberinya ide. "Itu dia!
Kita membutuhkan pondok Ares. Aku bisa bicara kepada Clarisse. Aku tahu aku
bisa meyakinkannya agar membantu kita."
"Whoa, Silena. Sekalipun kau bisa keluar dari pulau ini, Clarisse lumayan
keras kepala. Sekali dia marah - "
"Kumohon," kata Silena. "Aku bisa naik pegasus. Aku tahu aku bisa kembali
ke perkemahan dengan selamat. Biarkan aku mencoba."
Aku bertukar pandang dengan Annabeth. Dia mengangguk sedikit.
Aku tidak suka gagasan itu. Menurutku Silena tak punya peluang untuk
meyakinkan Clarisse agar bertempur. Di sisi lain, Silena begitu gundah saat ini
sehingga dia semata bakal membuat dirinya terluka dalam pertempuran. Mungkin
mengirimnya kembali ke perkemahan akan memberinya fokus lain.
"Baiklah," kataku padanya. "Aku nggak bisa memikirkan orang lain yang
lebih pas untuk mencoba."
Silena merangkulku. Lalu dia mendorong dirinya ke belakang dengan
canggung, melirik Annabeth. "Eh, maaf. Makasih, Percy! Aku tidak akan
mengecewakanmu!" Setelah dia pergi, aku berlutut di samping Annabeth dan meraba keningnya.
Badannya masih panas. "Kau imut waktu kau khawatir," gumam Annabeth. "Alismu jadi berkerut."
"Kau nggak bakalan mati sementara aku berutang padamu," kataku.
"Kenapa kau menerima pisau itu?"
"Kau pasti akan melakukan hal yang sama untukku."
Memang benar. Kurasa kami berdua mengetahuinya. Walau begitu, aku
merasa seolah hatiku ditusuk-tusuk batang logam dingin. "Bagaimana kautahu?"
"Tahu apa?" Aku melihat ke sana-kemari untuk memastikan bahwa kami sendirian.
Kemudian aku mencondongkan badan lebih dekat dan berbisik: "Titik Achilles-ku.
Kalau kau tidak menerima pisau itu, aku bakalan mati."
Ada ekspresi merenung di matanya. Napasnya berbau anggur, mungkin
karena nektar. "Entahlah, Percy. Aku cuma punya firasat bahwa kau dalam bahaya.
Di mana ... di mana titiknya?"
Aku semestinya tidak memberi tahu siapa-siapa. Tapi ini kan Annabeth.
Kalau aku tidak bisa memercayainya, aku tidak bisa memercayai siapa-siapa.
"Lekukan punggungku."
Annabeth mengangkat tangannya. "Di mana" Di sini?"
Dia meletakkan tangannya di tulang belakangku, dan kulitku tergelitik. Aku
menggerakkan jarinya ke satu titik yang menambatkanku ke kehidupan fana.
Listrik seribu volt serasa merambati tubuhku.
"Kau menyelamatkanku," kataku. "Makasih."
Annabeth memindahkan tangannya, tapi aku terus memeganginya.
"Jadi, kau berutang padaku," katanya lemah. "Apa lagi yang baru?"
Kami memperhatikan matahari naik ke atas kota. Lalu lintas seharusnya
padat sekarang, tapi tidak ada mobil yang membunyikan klakson, tidak ada massa
yang terburu-buru menyusuri trotoar.
Dari kejauhan, aku bisa mendengar alarm mobil bergema di jalanan.
Kepulan asap hitam membubung ke langit di suatu tempat di atas Harlem. Aku
bertanya-tanya berapa oven ditinggalkan menyala saat mantra Morpheus
menyerang; berapa banyak orang jatuh tertidur saat sedang memasak makan
malam. Tidak lama lagi bakal ada lebih banyak kebakaran. Semua orang di New
York sedang dalam bahaya - dan semua nyawa itu bergantung pada kami.
"Kau menanyaiku kenapa Hermes marah padaku," kata Annabeth.
"Hei, kau butuh istirahat - "
"Tidak, aku ingin memberitahumu. Masalah ini sudah lama mengusikku."
Dia menggerakkan bahunya dan berjengit. "Tahun lalu, Luke datang menemuiku
di San Fransisco." "Sendiri?" Aku merasa seakan dia baru saja memukulku dengan palu. "Dia
datang ke rumahmu?" "Ini sebelum kita masuk ke Labirin, sebelum ... " Kata-katanya terputus, tapi
aku tahu maksudnya: sebelum dia berubah jadi Kronos. "Dia datang di bawah
bendera genjatan senjata. Dia bilang dia cuma ingin lima menit untuk bicara. Dia
kelihatan takut, Percy. Dia memberitahuku Kronos akan menggunakannya untuk menguasai
dunia. Dia bilang dia ingin kabur, seperti dulu. Dia ingin aku ikut bersamanya."
"Tapi kau nggak memercayainya."
"Tentu saja nggak. Kupikir itu tipuan. Plus ... yah, banyak hal telah berubah
sejak waktu itu. Aku bilang kepada Luke bahwa itu nggak mungkin. Dia jadi
marah. Dia bilang ... dia bilang sebaiknya aku lawan dia saja tepat di sana, sebab
itulah kesempatan terakhir yang bakal kuperoleh."
Keningnya berkeringat lagi. Cerita tersebut menghabiskan terlalu banyak
energinya. "Nggak apa-apa," kataku. "Cobalah beristirahat."
"Kau nggak mengerti, Percy. Hermes benar. Mungkin kalau aku pergi
dengannya, aku bisa mengubah pikirannya. Atau - atau aku punya pisau. Luke
nggak bersenjata. Aku bisa saja - "
"Membunuhnya?" kataku. "Kautahu itu bukan tindakan benar."
Dia memejamkan matanya rapat-rapat. "Luke bilang Kronos akan
menggunakannya seperti batu loncatan. Persis seperti itulah kata-katanya. Kronos
akan menggunakan Luke dan menjadi semakin kuat."
"Dia melakukan itu," kataku. "Dia merasuki tubuh Luke."
"Tapi bagaimana jika tubuh Luke hanya transisi" Bagaimana jika Kronos
punya rencana untuk menjadi semakin kuat" Aku bisa saja menghentikannya.
Perang ini salahku."
Ceritanya membuatku merasa seolah aku kembali ke Styx, pelan-pelan
melarut. Aku teringat musim panas lalu, ketika dewa berkepala dua, Janus,
memperingati Annabeth dia harus membuat keputusan besar - dan itu terjadi
setelah dia bertemu Luke. Pan juga mengatakan sesuatu kepadanya: Kau akan
memainkan peranan besar, meskipun mungkin bukan peran yang kaubayangkan.
Aku ingin menanyainya tentang penampakan yang ditunjukkan Hestia
kepadaku, tentang hari-harinya bersama Luke dan Thalia. Aku tahu itu ada
hubungannya dengan ramalanku, tapi aku tidak paham apa hubungannya.
Sebelum aku bisa mengerahkan nyaliku, pintu teras terbuka. Connor Stoll
melangkah masuk. "Percy." Dia melirik Annabeth seolah-olah dia tidak mau mengatakan
sesuatu yang buruk di hadapan Annabeth, tapi aku bisa tahu dia tidak membawa
kabar baik. "Nyonya O'Leary baru kembali bersama Grover. Kupikir kau sebaiknya
bicara padanya." Grover sedang makan camilan di ruang tengah. Dia mengenakan pakaian tempur
berupa baju zirah dari kulit kayu dan tali sulur, dengan gada kayu serta
seruling alang-alang bergantung dari sabuknya.
Pondok Demeter telah membuat hidangan lengkap di hotel dapur -
segalanya mulai dari pizza sampai es krim nanas. Sayangnya, Grover sedang
memakan perabot. Dia sudah mengunyah isi sebuah kursi bagus dan sekarang
sedang menggigit-gigit sandaran tangan.
"Sobat," kataku, "kita cuma meminjam tempat ini."
"Mbeeeek!" Ada kapuk di sekujur wajahnya. "Sori, Percy. Hanya saja ...
perabot Louis Keenam Belas. Lezat. Plus aku selalu makan perabot saat aku - "
"Saat kau gugup," kataku. "Iya, aku tahu. Jadi, ada apa?"
Dia mengetukkan kakinya. "Aku dengar tentang Annabeth. Apa dia ... ?"
"Dia akan baik-baik saja. Dia sedang istirahat."
Grover menarik napas dalam-dalam. "Itu bagus. Aku sudah memobilisasi
sebagian besar roh alam di kota - yah, mereka yang mau mendengarkanku, paling
nggak." Dia menggosok-gosok keningnya. "Aku nggak tahu biji pohon ek bisa
demikian menyakitkan. Pokoknya, kami akan membantu sebanyak yang kami
bisa." Dia memberitahuku tentang huru-hara yang mereka saksikan. Mereka
terutama mengurus bagian pinggir kota, tempat kami tidak punya cukup blasteran.
Anjing neraka muncul di segala macam tempat, melakukan perjalanan bayangan ke
dalam garis pertahanan kami, dan para dryad serta satir bertarung menghalau
mereka. Seekor naga muda muncul di Harlem, dan selusin peri pohon meninggal
sebelum si monster akhirnya dikalahkan.
Saat Grover berbicara, Thalia memasuki ruangan bersama dua letnannya.
Dia mengangguk suram kepadaku, pergi ke luar untuk mengecek Annabeth, dan
kembali ke dalam. Dia mendengarkan sementara Grover menyelesaikan
laporannya - detail-detailnya semakin buruk dan semakin buruk.
Kami kehilangan dua puluh satir saat melawan sejumlah raksasa di Fort
Washington," katanya, suaranya gemetar. "Hampir setengah rekan sebangsaku.
Roh sungai menenggelamkan para raksasa pada akhirnya, tapi ... "
Thalia menyandangkan busurnya ke bahu. "Percy, pasukan Kronos masih
berkumpul di setiap jembatan dan terowongan. Dan Kronos bukanlah Titan satu-
satunya. Salah satu Pemburuku melihat seorang pria besar berbaju zirah keemasan
sedang mengerahkan pasukan ke pesisir Jersey. Aku tidak yakin siapa dia, tapi
dia memancarkan kekuatan yang hanya bisa dipancarkan Titan atau dewa."
Aku teringat Titan keemasan dari mimpiku - Titan di Gunung Othrys yang
meledak menjadi bunga-bunga api.
"Hebat," kataku. "Ada kabar bagus?"
Thalia mengangkat bahu. "Kami sudah menyegel terowongan-terowongan
kereta bawah tanah yang menuju ke Manhattan. Para pemerangkap terbaikku
mengurusnya. Selain itu, tampaknya musuh menantikan malam ini untuk
menyerang. Kupikir Luke" - dia menghentikan dirinya sendiri - "maksudku
Kronos perlu waktu untuk memulihkan dirinya setelah setiap pertarungan. Dia
masih belum nyaman dengan wujud barunya. Memelankan waktu di seluruh kota
menghabiskan banyak kekuatannya."
Grover mengangguk. "Sebagian besar pasukannya paling kuat di malam
hari juga. Tapi mereka akan kembali setelah matahari terbenam."


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku berusaha berpikir jernih. "Oke. Ada kabar dari para dewa?"
Thalia menggelengkan kepala. "Aku tahu Dewi Artemis akan berada di sini
seandainya beliau bisa. Athena juga. Tapi Zeus telah memerintahkan mereka agar
tetap berada di sisinya. Terakhir kali aku mendengar kabar, Typhon menghancurkan lembah Sungai Ohio. Dia semestinya sudah sampai di
Pegunungan Appalachia pada tengah hari."
"Jadi," kataku, "kalau beruntung kita punya dua hari lagi sebelum dia
sampai." Jake Mason berdehem. Dia berdiri di sana begitu diam sampai-sampai aku
hampir lupa dia ada di dalam ruangan.
"Percy, ada yang lain," katanya. "Cara Kronos muncul di Jembatan
Williamsburg, seakan-akan dia tahu kau bakal pergi ke sana. Dan dia
memindahkan pasukannya ke titik terlemah kita. Segera setelah kita memberangkatkan pasukan, dia mengubah taktik. Dia nyaris nggak menyentuh
Terowongan Lincoln, tempat para Pemburu berposisi kuat. Dia mengincar titik-
titik terlemah kita, seakan dia tahu."
"Seakan dia punya informasi dari orang dalam," kataku. "Si mata-mata."
"Mata-mata apa?" tuntut Thalia.
Kuberi tahu dia tentang bandul sabit yang ditunjukkan Kronos kepadaku,
alat komunikasi itu. "Nggak bagus," kata Thalia. "Sama sekali nggak bagus."
"Bisa siapa saja," kata Jake. "Kita semua berdiri di sana saat Percy memberi
perintah." "Tapi apa yang bisa kita lakukan?" tanya Grover. "Geledah setiap blasteran
sampai kita menemukan bandul sabit?"
Mereka semua memandangku, menunggu sebuah keputusan. Aku tak boleh
menunjukkan betapa aku merasa panik, sekalipun keadaan tampak suram.
"Kita terus berjuang," kataku. "Kita nggak boleh terobsesi pada mata-mata
ini. Kalau kita mencurigai satu sama lain, kita cuma memecah-belah diri kita
sendiri. Kalian hebat kemarin malam. Aku nggak bisa meminta pasukan yang lebih
berani. Mari kita atur rotasi untuk pengawas. Beristirahatlah selagi kalian
bisa. Ada malam yang panjang di hadapan kita."
Para blasteran menggumamkan persetujuan. Mereka pergi ke tujuan
masing-masing untuk tidur atau makan atau memperbaiki senjata mereka.
"Percy, kau juga," kata Thalia. "Kami akan mengawasi segalanya.
Berbaringlah. Kami butuh kau dalam kondisi prima untuk malam ini."
Aku tidak mendebatnya terlalu gigih. Aku menemukan tempat tidur
terdekat dan menjatuhkan diri ke ranjang berkanopi. Kupikir aku terlalu tegang
untuk tidur, tapi mataku terpejam hampir seketika.
Dalam mimpiku, kulihat Nico di Angelo sendirian di taman Hades. Dia baru saja
menggali lubang di salah satu petak bunga Persephone, yang menurutku tak akan
membuat sang ratu terlalu senang.
Dia menuangkan sepiala anggur ke lubang dan mulai merapal. "Biarkan
yang mati mengecap lagi. Biarkan mereka bangkit dan menerima sesaji ini. Maria
di Angelo, tunjukkan dirimu."
Asap putih berkumpul. Sesosok manusia terbentuk, tapi itu bukan ibu Nico.
Sosok itu adalah seorang gadis berambut gelap, berkulit sewarna zaitun, dan
pakaian keperakan Pemburu.
"Bianca," kata Nico. "Tapi - "
Jangan panggil ibu kita, Nico, Bianca memperingati. Dia adalah satu arwah yang
tidak boleh kaupanggil. "Kenapa?" tuntut Nico. "Apa yang disembunyikan ayah kita?"
Kepedihan, kata Bianca. Kutukan yang berasal dari Ramalan Besar.
"Apa maksudmu?" kata Nico. "Aku harus tahu!"
Pengetahuan hanya akan menyakitimu. Ingatlah apa yang kukatakan: mendendam
adalah kelemahan fatal anak-anak Hades.
"Aku tahu itu," kata Nico. "Tapi aku nggak sama seperti dulu, Bianca.
Berhentilah berusaha melindungiku!"
Dik, kau nggak mengerti -
Nico menyapukan tangannya ke kabut, dan citra Bianca terbuyarkan.
"Maria di Angelo," kata Nico lagi. "Bicaralah kepadaku!"
Citra yang berbeda terbentuk. Sebetulnya yang terbentuk adalah pemandangan alih-alih sesosok hantu. Di kabut, kulihat Nico dan Bianca saat
masih kecil, bermain-main di lobi sebuah hotel elegan, saling kejar di
sekeliling pilar-pilar marmer. Seorang wanita duduk di sofa dekat sana. Dia mengenakan gaun hitam,
sarung tangan, dan topi hitam bercadar seperti bintang film lama tahun 1940-an.
Senyumnya seperti Bianca dan matanya seperti Nico.
Di kursi di sebelahnya duduklah seorang pria besar berminyak yang
mengenakan setelan garis-garis. Terperanjat, kusadari bahwa itu Hades. Dia
mencondongkan badan ke arah wanita itu, menggerakkan tangannya saat dia
bicara, seakan-akan dia sedang tegang.
"Kumohon, Sayangku," kata Hades. "Kau harus ikut denganku ke Dunia
Bawah. Aku tidak peduli apa yang dipikir Persephone! Aku bisa menjagamu agar
tetap aman di sana."
"Tidak, Cintaku." Wanita itu bicara dengan logat Italia. "Membesarkan
anak-anak kita di negeri orang mati" Aku takkan melakukan ini."
"Maria, dengarkan aku. Perang di Eropa telah membuat dewa-dewa lain
menentangku. Sebuah ramalan telah dibuat. Anak-anakku tak lagi aman. Poseidon
dan Zeus telah memaksaku agar menyetujui sebuah kesepakatan. Tak satu pun dari
kami boleh memiliki anak blasteran lagi."
"Tapi kau sudah memiliki Nico dan Bianca. Pastinya - "
"Tidak! Ramalan memperingati tentang anak yang menginjak usia enam
belas. Zeus telah bertitah bahwa anak-anak yang saat ini kumiliki harus
diserahkan ke Perkemahan Blasteran untuk dilatih secara pantas, tapi aku tahu apa
maksudnya. Paling baik mereka akan diawasi, dipenjarakan, dibuat menentang ayah mereka.
Yang lebih mungkin, dia takkan membiarkan itu. Dia takkan mengizinkan anakanak
blasteranku untuk menginjak usia enam belas. Dia akan menemukan cara
untuk menghancurkan mereka, dan aku takkan mengambil risiko itu!"
"Certamente," kata Maria. "Kita akan tetap bersama. Zeus itu un imbecile."
Mau tidak mau aku mengagumi keberaniannya, tapi Hades melirik langitlangit
dengan gugup. "Maria, kumohon. Sudah kuberi tahu kau, Zeus memberiku
tenggat waktu minggu lalu untuk menyerahkan anak-anak. Murkanya akan
mengerikan, dan aku tidak bisa menyembunyikanmu selamanya. Selama kau
bersama anak-anak, kau pun dalam bahaya."
Maria tersenyum, dan lagi-lagi tampak menyeramkan betapa dia menyerupai putrinya. "Kau seorang dewa, Cintaku. Kau akan melindungi kami.
Tapi aku takkan membawa Nico dan Bianca ke Dunia Bawah."
Hades meremas-remas tangannya. "Kalau begitu, ada opsi lain. Aku tahu
sebuah tempat di gurun di mana waktu berhenti. Aku bisa mengirim anak-anak ke
sana, sementara saja, demi keselamatan mereka sendiri, dan kita bisa
bersamasama. Aku akan membangun istana emas untukmu di tepi Styx."
Maria di Angelo tertawa lembut. "Kau pria yang baik, Cintaku. Pria yang
pemurah. Dewa-dewa lain seharusnya melihatmu seperti aku, dan mereka takkan
takut padamu. Tapi Nico dan Bianca membutuhkan ibu mereka. Lagi pula, mereka
hanya anak-anak. Para dewa takkan sungguh-sungguh melukai mereka."
"Kau tidak mengenal keluargaku," kata Hades muram. "Kumohon, Maria,
aku tak boleh kehilanganmu."
Maria menyentuh bibir Hades dengan jarinya. "Kau takkan kehilanganku.
Tunggu aku sementara kuambil tasku. Awasi anak-anak."
Dia mencium sang dewa orang mati dan bangkit dari sofa. Hades
memperhatikannya berjalan menaiki tangga seolah-olah setiap langkah wanita itu
membuat hatinya pedih. Sesaat kemudian, Hades menegang. Anak-anak berhenti bermain seakan
mereka pun merasakan sesuatu.
"Tidak!" kata Hades. Tapi kekuatan dewanya sekalipun terlalu lamban. Dia
hanya punya waktu untuk mendirikan dinding energi hitam di sekeliling anakanak
sebelum hotel tersebut meledak.
Kekuatan tersebut begitu dahsyat sampai-sampai seluruh kabut terbuyarkan. Ketika kabut tersebut terfokus kembali, aku melihat Hades berlutut
di reruntuhan, memegangi sosok Maria di Angelo yang remuk redam. Api masih
membakar di sekelilingnya. Petir berkilat membelah langit, dan guntur
menggemuruh. Nico dan Bianca kecil menatap ibu mereka tak mengerti. Alecto si Erinyes
muncul di belakang mereka, mendesis dan mengepak-ngepakkan sayap liatnya.
Anak-anak tampaknya tidak menyadari keberadaannya.
"Zeus!" Hades mengepalkan tinjunya ke langit. "Akan kuhancurkan kau
karena ini! Akan kuhidupkan dia kembali!"
"Tuanku, Anda tidak bisa," Alecto memperingati. "Anda semua, para dewa
yang kekal, harus menghormati hukum kematian."
Hades melotot murka. Kupikir dia bakal menunjukkan wujud sejatinya dan
menguapkan anak-anaknya sendiri, tapi pada saat terakhir dia tampaknya
memperoleh kendali dirinya kembali.
"Bawa mereka," perintahnya kepada Alecto, menahan isakan. "Cuci
kenangan mereka hingga bersih di Lethe dan bawa mereka ke Hotel Lotus. Zeus
takkan melukai mereka di sana."
"Sesuai kehendak Anda, Tuanku," kata Alecto. "Dan jenazah wanita itu?"
"Bawa dia juga," kata Hades getir. "Beri dia ritual kuno."
Alecto, anak-anak, dan jenazah Maria melebur ke dalam bayang-bayang,
meninggalkan Hades sendirian di reruntuhan.
"Aku sudah memperingati Tuan," kata sebuah suara baru.
Hades berbalik. Seorang gadis bergaun warna-warni berdiri di samping sisasisa
sofa yang berasap. Dia berambut hitam pendek dan bermata sedih. Umurnya
tidak lebih dari dua belas tahun. Aku tidak mengenalnya, tapi dia anehnya
terlihat tidak asing. "Berani-beraninya kau datang ke sini!" geram Hades. "Aku seharusnya
menghancurkanmu hingga jadi debu!"
"Tuan tidak bisa," kata gadis itu. "Kekuatan Delphi melindungiku."
Sambil merinding, kusadari aku sedang melihat Oracle Delphi, dulu saat dia
masih hidup dan muda. Entah bagaimana, melihatnya seperti ini jauh lebih
mengerikan daripada melihatnya sebagai mumi.
"Kau membunuh wanita yang kucintai!" raung Hades. "Ramalanmu
menimpakan ini pada kami!"
Hades berdiri menjulang di hadapan gadis itu tapi dia tidak berjengit.
"Zeus menetapkan ledakan tersebut untuk menghancurkan anak-anak," kata
si Oracle, "karena Tuan menentang kehendaknya. Aku tidak ada hubungannya
dengan itu. Dan aku sudah memperingati Tuan agar menyembunyikan mereka
lebih awal." "Aku tidak bisa! Maria tidak memperbolehkanku! Lagi pula, mereka tak
bersalah." "Namun demikian, mereka adalah anak-anak Tuan, yang menjadikan
mereka berbahaya. Sekalipun Tuan menyingkirkan mereka ke Hotel Lotus, Tuan
semata-mata menunda persoalan. Nico dan Bianca takkan pernah bisa kembali ke
dunia seandainya mereka menginjak usia enam belas."
"Gara-gara 'Ramalan Besar'-mu. Dan kau sudah memaksaku bersumpah
agar tidak memiliki anak lagi. Kau sudah membuatku tak punya apa-apa!"
"Aku menerawang masa depan," kata gadis itu. "Aku tidak bisa
mengubahnya." Api hitam menyala-nyala di mata sang dewa, dan aku tahu sesuatu yang
buruk akan terjadi. Aku ingin berteriak kepada gadis itu supaya bersembunyi atau
lari. "Kalau begitu, Oracle, dengarkan kata-kata Hades," geramnya. "Barangkali
aku tidak bisa menghidupkan Maria kembali. Aku pun tak bisa menimpakan
kematian dini padamu. Tapi jiwamu tetap saja fana, dan aku bisa mengutukmu."
Mata gadis itu melebar. "Tuan takkan - "
"Aku bersumpah," kata Hades, "selama anak-anakku tetap jadi orang
buangan, selama aku kesusahan di bawah kutukan Ramalan Besarmu, Oracle
Delphi takkan pernah memiliki inang fana lagi. Kau takkan pernah beristirahat
dalam damai. Takkan ada yang mengambil alih tempatmu. Tubuhmu akan layu
dan mati, dan tetap saja arwah sang Oracle terkurung di dalam dirimu. Kau akan
mengucapkan ramalan getirmu sampai kau hancur tak bersisa. Oracle akan mati
bersamamu!" Gadis itu menjerit, dan citra berkabut itu meledak berkeping-keping. Nico
jatuh berlutut di taman Persephone, wajahnya putih karena terguncang. Di
depannya berdirilah Hades yang asli, menjulang dalam balutan jubah hitamnya
dan cemberut kepada putranya.
"Dan apakah," tanyanya kepada Nico, "yang menurutmu kaulakukan?"
Ledakan hitam memenuhi mimpiku. Lalu pemandangan berubah.
Rachel Elizabeth Dare berdiri menyusuri pantai pasir putih. Dia
mengenakan baju renang dengan kaos diikatkan ke pinggangnya. Bahu dan
wajahnya terbakar matahari.
Dia berlutut dan mulai menulis di ombak dengan jarinya. Aku mencoba
membaca huruf-huruf itu. Kupikir disleksiaku berulah sampai kusadari dia
menulis dalam bahasa Yunani Kuno.
Itu mustahil. Mimpiku pasti palsu.
Rachel selesai menulis beberapa kata dan bergumam, "Apa-apaan nih?"
Aku bisa membaca bahasa Yunani, tapi aku hanya mengenali satu kata
sebelum laut menghapusnya: ?"?"?"". Namaku: Perseus.
Rachel berdiri mendadak dan mundur menjauhi ombak.
"Oh, demi para dewa," katanya. "Jadi itu maksudnya."
Dia berbalik dan lari, menendang pasir selagi dia berpacu ke vila
keluarganya. Dia menapaki undakan beranda, bernapas tersengal-sengal. Ayahnya
menengadah dari Wall Street Journal-nya.
"Yah." Rachel berderap mendekatinya. "Kita harus kembali."
Mulut ayahnya berkedut, seolah-olah dia sedang berusaha mengingat cara


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tersenyum. "Kembali" Kita baru sampai di sini."
"Ada masalah di New York. Percy dalam bahaya."
"Apa dia meneleponmu?"
"Nggak ... bukan begitu persisnya. Tapi aku tahu. Aku punya firasat."
Pak Dare melipat korannya. "Ibumu dan aku sudah lama menanti-nantikan
liburan ini." "Bohong! Ayah dan Ibu benci pantai! Ayah dan Ibu semata-mata terlalu
keras kepala untuk mengakuinya."
"Nah, Rachel - "
"Akan kuberi tahu Ayah apa yang tidak beres di New York! Seluruh kota ...
aku nggak tahu persisnya, tapi kota sedang diserang."
Ayahnya mendesah. "Kupikir kita pasti akan mendengar sesuatu seperti itu
di berita." "Nggak akan," Rachel berkeras. "Bukan serangan seperti itu. Sudahkah
Ayah mendapat telepon sejak kita sampai di sini?"
Ayahnya mengerutkan kening. "Tidak ... tapi ini akhir pekan, di tengahtengah musim
panas." "Ayah selalu mendapat telepon," kata Rachel. "Ayah harus mengakui itu
aneh." Ayahnya ragu-ragu. "Kita tidak bisa pergi begitu saja. Kita sudah
menghabiskan banyak uang."
"Dengar," kata Rachel. "Ayah ... Percy membutuhkanku. Aku harus
mengantarkan pesan. Ini perkara hidup atau mati."
"Pesan apa" Apa yang kaubicarakan?"
"Aku nggak bisa memberi tahu Ayah."
"Kalau begitu, kau tidak boleh pergi."
Rachel memejamkan matanya seolah-olah dia sedang mengerahkan
keberaniannya. "Ayah ... biarkan aku pergi, dan aku akan membuat kesepakatan
dengan Ayah." Pak Dare duduk sambil memajukan badan. Kesepakatan adalah sesuatu
yang dipahaminya. "Aku mendengarkan."
"Akademi Wanita Clarion. Aku - aku akan pergi ke sana musim gugur nanti.
Aku bahkan nggak akan mengeluh. Tapi Ayah harus mengembalikanku ke New
York sekarang juga."
Lama Pak Dare terdiam. Kemudian dia membuka teleponnya dan membuat
panggilan. "Douglas" Siapkan pesawat. Kita pergi ke New York. Ya ... secepatnya."
Rachel melemparkan lengannya ke sekeliling tubuh ayahnya, dan ayahnya
tampak terkejut, seakan-akan Rachel tidak pernah memeluknya sebelumnya.
"Aku akan membayarnya, Yah!"
Pak Dare tersenyum, tapi ekspresinya dingin. Dia mengamati Rachel seakanakan dia
bukan sedang melihat putrinya - hanya wanita muda seperti yang
diinginkannya, setelah Akademi Clarion selesai mendidiknya.
"Ya, Rachel," Pak Dare setuju. "Kau harus melakukannya."
Pemandangan mengabur. Aku bergumam dalam tidurku. "Rachel, jangan!"
Aku masih berguling-guling dan berbolak-balik saat Thalia mengguncangkanku hingga terbangun.
"Percy," kata Thalia. "Ayo. Ini sudah sore. Kita kedatangan tamu."
Aku duduk tegak, terdisorientasi. Tempat tidur terlalu nyaman, dan aku
benci tidur di tengah hari bolong.
"Tamu?" kataku.
Thalia mengangguk muram. "Seorang Titan ingin menemuimu, di bawah
bendera gencatan senjata. Dia membawa pesan dari Kronos."
TIGA BELAS Seorang Titan Membawakanku Hadiah Kami bisa melihat bendera putih dari jarak setengah mil jauhnya. Ukurannya
sebesar lapangan sepak bola, dibawa oleh raksasa setinggi sembilan meter
berkulit biru cerah dan berambut kelabu seperti es.
"Hyperborean," kata Thalia. "Raksasa utara. Keberpihakan mereka pada
Kronos adalah pertanda buruk. Mereka biasanya pencinta damai."
"Kau pernah bertemu mereka?" kataku.
"He-eh. Ada satu koloni besar di Alberta. Kau pasti nggak mau terlibat
perang bola salju dengan mereka."
Saat raksasa itu semakin dekat, aku bisa melihat tiga utusan seukuran
manusia bersamanya: blasteran berbaju zirah, monster empousa bergaun hitam dan
berambut lidah api, serta seorang pria tinggi bertuksedo. Si empousa menggandeng
lengan si cowok bertuksedo, jadi mereka kelihatan seperti pasangan yang sedang
dalam perjalanan ke pertunjukan Broadway atau apalah - jika bukan karena
rambut lidah api dan taring si empousa.
Kelompok tersebut berjalan santai ke arah Lapangan Bermain Heckscher.
Ayunan dan lapangan bola kosong. Satu-satunya suara adalah air mancur di
Umpire Rock. Aku memandang Grover. "Cowok bertuksedo itu Titan?"
Dia mengangguk gugup. "Dia kelihatan seperti tukang sulap. Aku benci
tukang sulap. Mereka biasanya bawa kelinci."
Aku menatap Grover. "Kau takut kelinci?"
"Mbeeeek! Mereka tukang gencet besar. Selalu mencuri seledri dari satir
yang tanpa daya!" Thalia batuk-batuk. "Apa?" tuntut Grover.
"Kita harus mengatasi fobia kelincimu nanti," kataku. "Mereka datang, nih."
Pria bertuksedo itu melangkah maju. Dia lebih tinggi daripada manusia
pada umumnya - kira-kira dua koma satu meter. Rambut hitamnya diekor kuda.
Kacamata hitam bulat menutupi matanya, tapi yang sesungguhnya menarik
perhatianku adalah kulit di wajahnya. Kulitnya lecet-lecet, seolah-olah dia baru
saja diserang oleh binatang kecil - hamster yang amat, sangat, marah, mungkin.
"Percy Jackson," katanya dengan suara lembut. "Sungguh suatu kehormatan
besar." Teman wanitanya si empousa mendesis kepadaku. Dia barangkali sudah
mendengar bagaimana aku menghancurkan saudari-saudarinya musim panas lalu.
"Sayang," kata Cowok Bertuksedo kepadanya. "Bagaimana kalau kau
bersantai di sana, eh?"
Si empousa melepaskan lengannya dan pindah ke sebuah bangku taman.
Aku melirik blasteran berbaju zirah di belakang Cowok Bertuksedo. Aku
tidak mengenalinya di balik helm barunya, tapi rupanya dia adalah temanku si
pengkhianat yang menikam dari belakang, Ethan Nakamura. Hidungnya kelihatan
seperti tomat yang penyok berkat pertarungan kami di Jembatan Williamsburg. Itu
membuatku merasa baikan. "Hei, Ethan," kataku. "Kau kelihatan keren."
Ethan memelototiku. "Langsung ke urusan bisnis," Cowok Bertuksedo mengulurkan tangannya.
"Aku Prometheus."
Aku terlalu terkejut untuk berjabat tangan. "Si pencuri api" Yang dirantai ke
batu dengan burung-burung nasar?"
Prometheus berjengit. Dia menyentuh lecet-lecet di wajahnya. "Tolong,
jangan sebut-sebut soal burung nasar. Tapi ya, aku mencuri api dari para dewa
dan memberikannya kepada leluhurmu. Sebagai balasannya, Zeus yang maha
pengampun merantaiku ke batu dan menyiksaku selama-lamanya."
"Tapi - " "Bagaimana aku bisa bebas" Hercules membebaskanku, berabad-abad lalu.
Jadi, seperti kaulihat, aku bersimpati pada para pahlawan. Sebagian dari kalian
bisa cukup beradab."
"Nggak seperti beberapa teman Anda," komentarku.
Aku memandangi Ethan, tapi Prometheus rupanya mengira maksudku si
empousa. "Oh, monster tidak seburuk itu," katanya. "Kau hanya harus memberi
mereka cukup makan. Nah, Percy Jackson, mari kita berunding."
Dia melambai ke arah sebuah meja piknik dan kami pun duduk. Thalia dan
Grover berdiri di belakangku.
Si raksasa biru menyandarkan benderanya ke sebatang pohon dan mulai
bermain-main di taman bermain sambil bengong. Dia menginjak panjat-panjatan
dan meremukkannya, tapi dia tampaknya tidak marah. Dia cuma mengerutkan
kening dan berkata, "Waduh." Kemudian dia menginjak air mancur dan
mematahkan mangkuk beton jadi dua. "Waduh." Air membeku di tempat kakinya
menyentuhnya. Sekumpulan boneka binatang bergelantungan dari sabuknya -
jenis yang besar, yang kaudapatkan sebagai hadiah utama di pasar malam. Dia
mengingatkanku pada Tyson, dan membayangkan harus bertarung melawannya
membuatku sedih. Prometheus duduk sambil memajukan badannya dan mengaitkan jarijarinya. Dia
kelihatan tulus, baik, dan bijak. "Percy, posisimu lemah. Kautahu kau
tidak bisa menghentikan serangan lainnya."
"Kita lihat saja nanti."
Prometheus kelihatan terluka, seolah dia benar-benar peduli akan apa yang
terjadi padaku. "Percy, aku adalah Titan pembaca prakiraan. Aku tahu apa yang
akan terjadi." "Juga Titan penasihat licik," timpal Grover. "Tekanan pada licik."
Prometheus mengangkat bahu. "Memang benar, Satir. Tapi aku mendukung
para dewa pada perang terakhir. Kuberi tahu Kronos: 'Kau tidak punya kekuatan.
Kau akan kalah.' Dan aku benar. Jadi kaulihat, aku tahu bagaimana caranya
memilih pihak yang menang. Kali ini, aku mendukung Kronos."
"Karena Zeus merantai Anda ke batu," tebakku.
"Sebagian, ya. Aku takkan menyangkal aku menginginkan pembalasan. Tapi
bukan itu satu-satunya alasanku mendukung Kronos. Itu adalah pilihan paling
bijak. Aku di sini karena kupikir kau mungkin mau mendengarkan akal sehat."
Dia menggambar peta di meja dengan jarinya. Di mana pun dia menyentuh,
garis-garis keemasan tampak, berpendar di beton. "Ini Manhattan. Kami punya
pasukan di sini, di sini, di sini, dan di sini. Kami tahu jumlah kalian. Kami
mengungguli kalian dua puluh banding satu."
"Mata-mata kalian terus mengabari kalian," tebakku.
Prometheus tersenyum minta maaf. "Bagaimanapun, pasukan kami
bertumbuh setiap hari. Malam ini, Kronos akan menyerang. Kalian akan
kewalahan. Kalian sudah bertarung dengan berani, tapi kalian semata-mata tidak
mungkin mempertahankan seluruh Manhattan. Kalian akan terpaksa mundur ke
Empire State Building. Di sanalah kalian akan dihancurkan. Aku sudah melihat
ini. Hal ini pasti terjadi."
Kupikirkan gambar yang dilukis Rachel dalam mimpiku - pasukan di dasar
Empire State Building. Aku ingat kata-kata sang gadis muda Oracle dalam
mimpiku: Aku menerawang masa depan. Aku tidak bisa mengubahnya. Prometheus
bicara dengan keyakinan sedemikian rupa sehingga susah untuk tak memercayainya. "Aku takkan membiarkannya terjadi," kataku.
Prometheus mengebut setitik noda dari kerah tuksedonya. "Pahamilah,
Percy. Kalian mengulangi Perang Troya di sini. Pola-pola terulang dengan
sendirinya dalam sejarah. Pola-pola tersebut bermunculan kembali, sama seperti
monster. Pengepungan besar-besaran. Dua pasukan. Satu-satunya perbedaan
hanyalah, kali ini kalian bertahan. Kalian adalah Troya. Dan kautahu apa yang
terjadi pada orang-orang Troya, kan?"
"Jadi, Anda bakal menjejalkan kuda kayu ke dalam lift di Empire State
Building?" tanyaku. "Semoga berhasil."
Prometheus tersenyum. "Troya hancur lebur, Percy. Kau tak ingin itu terjadi
di sini. Menyerahlah, dan New York akan diampuni. Pasukan kalian akan
dianugerahi amnesti. Aku akan secara pribadi menjamin keselamatanmu. Biarkan
Kronos mengambil Olympus. Siapa peduli" Typhon toh akan menghancurkan para
dewa." "Benar," kataku. "Dan aku semestinya percaya Kronos bakal mengampuni
kota." "Yang diinginkannya hanyalah Olympus," janji Prometheus. "Kekuatan para
dewa terikat dengan kursi kekuasaan mereka. Kaulihat apa yang terjadi pada
Poseidon setelah istana bawah lautnya diserang."
Aku berjengit, teringat betapa ayahku terlihat tua dan renta.
"Ya," kata Prometheus sedih. "Aku tahu itu sulit bagimu. Ketika Kronos
menghancurkan Olympus, para dewa akan memudar. Mereka akan menjadi begitu
lemah sehingga mereka akan mudah dikalahkan. Kronos lebih memilih melakukan
ini sementara Typhon mengalihkan perhatian para dewa di barat. Jauh lebih
mudah. Lebih sedikit nyawa yang hilang. Tapi jangan salah, sebaik-baiknya yang
bisa kalian lakukan adalah memperlambat kami. Lusa, Typhon tiba di New York,
dan kalian takkan punya kesempatan sama sekali. Para dewa dan Gunung
Olympus masih akan dihancurkan, tapi keadaan akan lebih berantakan. Jauh, jauh
lebih buruk bagimu dan kotamu. Bagaimanapun juga caranya, Titan akan
berkuasa." Thalia menggebrakkan tinjunya ke meja. "Aku melayani Artemis. Para
Pemburu akan bertarung sampai napas terakhir kami. Percy, kau tidak akan
benarbenar mendengarkan si berengsek ini, kan?"
Kukira Prometheus bakal meledakkannya, tapi dia cuma tersenyum.
"Keberanianmu membuatmu layak dipuji, Thalia Grace."
Thalia jadi kaku. "Itu nama keluarga ibuku. Aku tidak menggunakannya."
"Terserah kau," kata Prometheus santai, tapi aku bisa tahu dia mengenai
Thalia tepat sasaran. Aku tidak pernah mendengar nama belakang Thalia
sebelumnya. Entah bagaimana nama itu membuatnya seakan hampir normal.
Kurang misterius dan kuat.
"Bagaimanapun juga," kata sang Titan, "kalian tidak perlu jadi musuhku.
Aku selalu menjadi penolong umat manusia."
"Omong kosong," kata Thalia. "Ketika umat manusia pertama kali
berkurban untuk para dewa, kau mengelabui mereka supaya memberimu bagian
terbaik. Kau memberi kami api untuk mengusik para dewa, bukan karena kau
peduli pada kami." Prometheus menggelengkan kepalanya. "Kau tidak paham. Aku telah
membantu membentuk sifat dasar kalian."
Gumpalan tanah liat yang menggeliat-geliut muncul di tangan Prometheus.
Dia membentuknya menjadi boneka kecil berkaki dan berlengan. Manusia tanah
liat itu tidak punya mata, tapi ia meraba-raba meja, tersandung jari Prometheus.
"Aku sudah membisiki telinga manusia sejak permulaan eksistensi kalian. Aku
mewakili rasa penasaran kalian, hasrat bertualang kalian, sifat panjang akal
kalian. Bantu aku menyelamatkan kalian, Percy. Lakukan ini, dan akan kuberi umat
manusia hadiah baru - pengungkapan baru yang akan menggerakkan kalian ke
depan sejauh api dulu. Kalian tidak bisa maju seperti itu di bawah para dewa.
Mereka takkan pernah mengizinkannya. Tapi ini bisa jadi zaman keemasan baru
bagi kalian. Atau ... " Dia mengepalkan tangan dan meninju manusia tanah liat
hingga jadi panekuk. Si raksasa biru menggemuruh, "O-ow." Di bangku taman, si empousa
tersenyum seraya memamerkan taring-taringnya.
"Percy, kautahu bahwa tidak semua Titan dan anak-anak mereka jahat," kata
Prometheus. "Kau sudah bertemu Calypso."
Wajahku terasa panas. "Itu beda."
"Bagaimana" Mirip sepertiku, dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, dan
namun demikian dia diasingkan selamanya hanya karena dia adalah putri Atlas.
Kami bukan musuh kalian. Jangan biarkan yang terburuk terjadi," pinta
Prometheus. "Kami menawari kalian perdamaian."
Aku memandang Ethan Nakamura. "Kau pasti benci ini."
"Aku nggak tahu apa maksudmu."


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau kami mengambil kesepakatan ini, kau nggak bakalan mendapatkan
pembalasan dendam. Kau nggak bakal berkesempatan membunuh kami semua.
Bukankah itu yang kauinginkan?"
Matanya yang sehat menyala-nyala. "Yang kuinginkan cuma rasa hormat,
Jackson. Para dewa tidak pernah memberiku hal itu. Kau ingin aku pergi ke
perkemahan bodohmu, menghabiskan waktuku dijejalkan ke dalam pondok
Hermes karena aku nggak penting" Karena aku bahkan nggak diakui?"
Dia terdengar persis seperti Luke saat mencoba membunuhku dalam hutan
di perkemahan empat tahun lalu. Kenangan itu membuat tanganku gatal di tempat
kalajengking lubang menyengatku.
"Ibumu dewi pembalasan," kataku pada Ethan. "Apakah kami harus
menghormati itu?" "Nemesis mewakili keseimbangan! Saat peruntungan seseorang terlalu
banyak, Nemesis menjatuhkannya."
"Itukah sebabnya dia mengambil matamu?"
"Ini pembayaran," geram Ethan. "Sebagai gantinya, dia bersumpah
kepadaku bahwa suatu hari aku akan menjungkalkan perimbangan kekuasaan. Aku
akan membuat dewa-dewi minor dihormati. Sebuah mata hanyalah harga yang
kecil untuk dibayar."
"Ibu yang hebat."
"Paling tidak dia menepati janjinya, nggak seperti dewa-dewi Olympia. Dia
selalu membayar utangnya - berupa kebaikan ataupun kejahatan."
"Yeah," kataku. "Jadi, kuselamatkan hidupmu, dan kau membalas budi
dengan cara mendukung Kronos. Adil sekali itu."
Ethan mencengkeram gagang pedangnya, tapi Prometheus menghentikannya. "Sudah, sudah," kata sang Titan. "Kita sedang dalam misi diplomatik."
Prometheus mengamatiku seolah-olah sedang berusaha memahami kemarahanku. Kemudian dia mengangguk seakan baru saja memetik sebuah
pemikiran dari otakku. "Kau terusik oleh apa yang terjadi pada Luke," dia memutuskan. "Hestia
tidak menunjukimu cerita seutuhnya. Barangkali jika kau mengerti ... "
Sang Titan mengulurkan tangan.
Thalia meneriakkan peringatan, tapi sebelum aku bisa bereaksi, jari telunjuk
Prometheus menyentuh keningku.
*** Tiba-tiba aku kembali ke ruang tengah May Castellan. Lilin-lilin berkelipkelip
di rak perapian, terpantul di cermin-cermin di sepanjang dinding. Lewat
ambang pintu dapur bisa kulihat Thalia sedang duduk di balik meja selagi Bu
Castellan membalut kakinya yang terluka. Annabeth yang berusia tujuh tahun
duduk di sebelahnya, memain-mainkan boneka Medusa.
Hermes dan Luke berdiri berjauhan di ruang tengah.
Wajah sang dewa kelihatan cair di tengah cahaya lilin, seolah dia tidak bisa
memutuskan harus mewujud seperti apa. Dia mengenakan pakaian lari berwarna
biru angkatan laut dengan Reebok bersayap.
"Kenapa menunjukkan diri Ayah sekarang?" tuntut Luke. Bahunya tegang,
seolah dia mengharapkan perkelahian. "Bertahun-tahun ini aku memanggilmanggil
Ayah, berdoa supaya Ayah muncul, dan nggak terjadi apa-apa. Ayah
meninggalkanku bersamanya." Dia menunjuk ke arah dapur seakan dia tidak
sanggup melihat ibunya, apalagi mengucapkan namanya.
"Luke, jangan bersikap tidak hormat pada ibumu," Hermes memperingati.
"Ibumu melakukan yang terbaik yang dia bisa, sedangkan aku, aku tidak bisa
mencampuri jalanmu. Anak-anak dewa harus menemukan jalan mereka sendiri."
"Jadi, itu demi kebaikanku sendiri. Tumbuh besar di jalanan, mengurus
diriku sendiri, bertarung melawan monster."
"Kau putraku," kata Hermes. "Aku tahu kau mampu. Ketika aku masih bayi,
aku merangkak dari buaianku dan berangkat - "
"Aku bukan dewa! Nggak bisakah sekali saja Ayah mengatakan sesuatu"
Ayah bisa membantu waktu" - Luke menarik napas tak mantap, merendahkan
suaranya sehingga tak seorang pun di dapur bisa mendengar - "waktu dia kumat,
mengguncang-guncangkanku dan mengatakan hal-hal gila mengenai nasibku.
Waktu aku dulu bersembunyi di dalam lemari supaya dia nggak akan
menemukanku dengan ... dengan mata yang menyala-nyala itu. Apa Ayah bahkan
peduli bahwa aku takut" Apa Ayah bahkan tahu saat aku akhirnya kabur?"
Di dapur, Bu Castellan mengoceh ngawur, menuangkan Kool-Aid untuk
Thalia dan Annabeth sambil bercerita kepada mereka tentang Luke saat masih bayi.
Thalia menggosok-gosok kakinya yang diperban dengan gugup. Annabeth melirik
ke ruang tengah dan mengangkat sepotong kue gosong agar dilihat Luke.
Annabeth berkata tanpa suara, Bisa kita pergi sekarang"
"Luke, aku sangat peduli padamu," kata Hermes pelan, "tapi para dewa
tidak boleh mencampuri urusan manusia fana. Itu adalah salah satu Hukum Kuno
kami. Terutama ketika takdirmu ... " Suaranya menghilang. Dia menatap lilin-lilin
seolah teringat sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Apa?" tanya Luke. "Ada apa dengan takdirku?"
"Kau seharusnya tidak kembali," gumam Hermes. "Itu hanya membuat
kalian berdua gusar. Namun demikian, kulihat sekarang bahwa kau sudah terlalu
tua untuk pergi dalam pelarian tanpa bantuan. Aku akan bicara dengan Chiron di
Perkemahan Blasteran dan minta dia mengirim satir untuk menjemput kalian."
"Kami baik-baik saja tanpa bantuan Ayah," geram Luke. "Nah, apa tadi yang
Ayah katakan tentang takdirku?"
Sayap di Reebok Hermes mengepak-ngepak gelisah. Dia mengamati
putranya seolah dia sedang berusaha mengingat-ingat wajahnya, dan tiba-tiba
sensasi dingin menyapuku. Kusadari Hermes tahu apa maksud celotehan May
Castellan. Aku tak yakin bagaimana, tapi saat memandang wajahnya aku yakin
seyakin-yakinnya. Hermes mengerti apa yang akan terjadi pada Luke suatu hari,
bagaimana dia bakal berubah jadi jahat.
"Putraku," katanya, "aku dewa pengelana, dewa jalan. Jika ada yang kutahu,
aku tahu kau harus menyusuri jalanmu sendiri, meskipun itu merobek-robek
hatiku." "Ayah nggak sayang padaku."
"Aku janji aku ... aku sungguh menyayangimu. Pergilah ke perkemahan.
Akan kupastikan agar kau segera mendapatkan misi. Barangkali kau bisa
mengalahkan Hydra, atau mencuri apel Hesperides. Kau akan memperoleh
kesempatan untuk menjadi pahlawan besar sebelum ... "
"Sebelum apa?" Suara Luke bergetar sekarang. "Apa yang dilihat ibuku
sehingga membuatnya seperti ini" Apa yang akan terjadi padaku" Kalau Ayah
menyayangiku, beri tahu aku."
Ekspresi Hermes menegang. "Aku tidak bisa."
"Kalau begitu, Ayah memang tidak peduli!" teriak Luke.
Di dapur, omongan terhenti mendadak.
"Luke?" panggil May Castellan. "Apakah itu kau" Apakah anakku baik-baik
saja?" Luke berpaling untuk menyembunyikan wajahnya, tapi aku bisa melihat air
mata di matanya. "Aku baik-baik saja. Aku punya keluarga baru. Aku nggak butuh
satu pun dari kalian."
"Aku ayahmu," Hermes berkeras.
"Seorang ayah semestinya hadir untuk anaknya. Aku bahkan nggak pernah
bertemu Ayah. Thalia, Annabeth, ayo! Kita pergi!"
"Anakku, jangan pergi!" May Castellan memanggilnya. "Aku sudah
menyiapkan makan siangmu!"
Luke menyerbu ke luar pintu, Thalia dan Annabeth tergopoh-gopoh
mengejarnya. May Castellan mencoba mengikuti, tapi Hermes menahannya.
Saat pintu kerai dibanting, May kolaps di pelukan Hermes dan mulai
berguncang. Matanya terbuka - berkilau hijau - dan dia mencengkeram bahu
Hermes dengan putus asa. "Putraku," desisnya dengan suara kering. "Bahaya. Nasib mengerikan!"
"Aku tahu, Cintaku," kata Hermes sedih. "Percayalah padaku, aku tahu."
Citra tersebut memudar. Prometheus menarik tangannya menjauhi keningku.
"Percy?" tanya Thalia. "Apa ... tadi itu apa?"
Kusadari aku basah karena keringat.
Prometheus mengangguk simpatik. "Memuakkan, bukan" Para dewa tahu
apa yang akan terjadi, dan walau begitu mereka tidak melakukan apa pun, untuk
anak-anak mereka sekalipun. Butuh berapa lama bagi mereka untuk memberitahumu ramalanmu, Percy Jackson" Tidakkah menurutmu ayahmu tahu
apa yang akan terjadi padamu?"
Aku terlalu terperanjat untuk menjawab.
"Perrrcy," Grover memperingati, "dia mempermainkan pikiranmu. Berusaha
membuatmu marah." Grover bisa membaca emosi, jadi dia barangkali tahu Prometheus berhasil.
"Apa kau benar-benar menyalahkan temanmu, Luke?" sang Titan
menanyaiku. "Dan bagaimana denganmu, Percy" Akankah kau dikendalikan oleh
nasibmu" Kronos menawarimu kesepakatan yang lebih bagus."
Aku mengepalkan tinjuku. Meskipun aku membenci apa yang ditunjukkan
Prometheus kepadaku, aku jauh lebih membenci Kronos. "Akan kuberi Anda
kesepakatan. Suruh Kronos membatalkan serangannya, tinggalkan tubuh Luke
Castellan, dan kembali ke lubang Tartarus. Kemudian mungkin aku nggak akan
perlu menghancurkannya."
Si empousa menyeringai. Rambutnya meledak membentuk lidah-lidah api
baru, tapi Prometheus hanya mendesah.
"Apabila kau berubah pikiran," katanya, "aku punya hadiah untukmu."
Vas Yunani muncul di meja. Tingginya sekitar sembilan puluh sentimeter
dan diameternya kira-kira tiga puluh sentimeter, diglasir dengan pola-pola
geometris hitam-putih. Tutup keramiknya dikencangkan dengan tali kulit.
Grover merengek saat dia melihatnya.
Thalia terkesiap. "Itu bukan - "
"Ya," kata Prometheus. "Kau mengenalinya."
Melihat bejana itu, aku merasakan ketakutan yang aneh, tapi aku tidak tahu
kenapa. "Ini milik saudari iparku," Prometheus menjelaskan. "Pandora."
Tenggorokanku tercekat. "Maksudmu, kotak Pandora?"
Prometheus menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak tahu bagaimana
perkara kotak ini dimulai. Bukan kotak. Ini pithos, bejana penyimpanan. Kurasa
pithos Pandora kurang berkesan, tapi yah, tidak usah dipikirkan. Ya, dia membuka
bejana ini, yang berisi sebagian besar iblis yang sekarang menghantui umat
manusia - rasa takut, kematian, kelaparan, penyakit."
"Jangan lupakan aku," dengkur si empousa.
"Benar sekali," Prometheus mengakui. "Empousa pertama juga terperangkap
dalam bejana ini, dilepaskan oleh Pandora. Tapi yang menurutku mengherankan
tentang cerita itu - Pandoralah yang selalu disalahkan. Dia dihukum karena merasa
penasaran. Para dewa ingin kalian percaya bahwa hikmah cerita tersebut adalah
ini: umat manusia tidak boleh mengeksplorasi. Mereka tidak boleh bertanya.
Mereka harus melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Sebenarnya,
Percy, bejana ini adalah perangkap yang didesain oleh Zeus dan dewa-dewi lain.
Ini adalah pembalasan dendam untukku dan seluruh keluargaku - saudara lakilakiku
Epimetheus yang malang dan sederhana serta istrinya Pandora. Para dewa
tahu Pandora akan membuka bejana tersebut. Mereka bersedia menghukum
seluruh umat manusia beserta kami."
Kupikirkan mimpiku tentang Hades dan Maria di Angelo. Zeus
menghancurkan seisi hotel untuk mengenyahkan dua anak blasteran - cuma untuk
menyelamatkan dirinya sendiri, sebab dia takut akan ramalan itu. Dia membunuh
seorang wanita tak bersalah dan barangkali tidak kesusahan tidur gara-gara itu.
Hades tidak lebih baik. Dia tidak cukup kuat untuk membalas dendam pada Zeus,
jadi dia mengutuk Oracle, menimpakan nasib buruk kepada seorang gadis muda.
Dan Hermes ... kenapa dia menelantarkan Luke" Kenapa dia setidaknya tak
memperingati Luke, atau mencoba membesarkannya lebih baik supaya Luke tidak
jadi jahat" Mungkin Prometheus sedang berusaha mempermainkan pikiranku.
Tapi bagaimana kalau dia benar" sebagian dari diriku bertanya-tanya. Di bagian
manakah para dewa lebih baik daripada para Titan"
Prometheus mengetuk-ngetuk tutup bejana Pandora. "Hanya satu roh yang
tetap tinggal di dalam ketika Pandora membukanya."
"Harapan," kataku.
Prometheus kelihatan senang. "Bagus sekali, Percy. Elpis, Roh Harapan,
tidak mau meninggalkan umat manusia. Harapan tidak pergi jika tidak diberi izin.
Dia hanya bisa dilepaskan oleh anak manusia."
Sang Titan menggeser bejana itu menyeberangi meja.
"Kuberi kau ini sebagai pengingat tentang seperti apa para dewa itu,"
katanya. "Simpanlah Elpis, jika kau ingin. Tapi apabila kau memutuskan bahwa
kau sudah melihat cukup banyak kerusakan, cukup banyak penderitaan sia-sia,
maka bukalah bejana itu. Biarkan Elpis pergi. Serahkan Harapan, dan aku akan
tahu bahwa kalian menyerah. Aku janji Kronos akan lunak. Dia akan mengampuni
mereka yang bertahan hidup."
Aku menatap bejana itu dan mendapat firasat yang sangat tidak enak.
Menurut tebakanku Pandora punya GPPH parah, sepertiku. Aku tak pernah bisa
membiarkan apa pun apa adanya. Aku tak suka godaan. Bagaimana kalau inilah
pilihanku" Mungkin arti ramalan itu adalah aku tetap membiarkan bejana ini
tertutup atau membukanya.
"Aku nggak mau benda ini," geramku.
"Terlambat," kata Prometheus. "Hadiah sudah diberikan. Tidak bisa diambil
kembali." Dia berdiri. Si empousa maju dan mengaitkan lengannya ke lengan
Prometheus. "Morrain!" Prometheus memanggil si raksasa biru. "Kita pergi. Bawa
benderamu." "Waduh," kata si raksasa.
"Kami akan segera bertemu kembali denganmu, Percy Jackson," Prometheus
berjanji. "Lewat satu atau lain cara."
Ethan Nakamura memberiku satu ekspresi benci terakhir. Kemudian
rombongan gencatan senjata berbalik dan melenggang menembus Central Park,
seolah-olah ini hanyalah sore cerah di hari Minggu yang biasa.
EMPAT BELAS Babi Terbang Kembali ke Plaza, Thalia menarikku menepi. "Apa yang ditunjukkan Prometheus
kepadamu?" Dengan enggan, kuberi tahu dia tentang penampakan berupa rumah May
Castellan. Thalia menggosok-gosok pahanya seolah dia teringat luka lama.
"Itu malam yang nggak menyenangkan," dia mengakui. "Annabeth masih
kecil sekali, menurutku dia nggak betul-betul memahami apa yang dilihatnya. Dia
hanya tahu bahwa Luke kesal."
Aku melihat ke luar jendela hotel, ke arah Central Park. Kebakaran kecil
masih menyala-nyala di utara, tapi selain itu kota tampak damai tak wajar. "Apa
kautahu apa yang terjadi pada May Castellan" Maksudku - "
"Aku tahu yang kaumaksud," kata Thalia. "Aku tidak pernah melihatnya
saat sedang, eh, kumat, tapi Luke memberitahuku tentang mata yang menyalanyala,
hal-hal aneh yang dikatakannya. Luke menyuruhku berjanji agar tidak
memberi tahu siapa-siapa. Apa yang menyebabkannya, aku nggak tahu. Kalaupun
Luke tahu, dia nggak pernah memberitahuku."
"Hermes tahu," kataku. "Sesuatu menyebabkan May melihat sebagian masa
depan Luke, dan Hermes mengerti apa yang akan terjadi - betapa Luke akan
berubah jadi Kronos."
Thalia mengerutkan kening. "Kau nggak bisa yakin soal itu. Ingatlah bahwa


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Prometheus memanipulasi apa yang kaulihat, Percy, menunjukimu apa yang terjadi
dengan seburuk mungkin. Hermes sungguh menyayangi Luke. Aku bisa tahu hanya
dengan melihat wajahnya. Dan Hermes ada di sana malam itu karena dia sedang
mengecek May, mengurusnya. Dia nggak seburuk itu."
"Tetap saja itu nggak benar," aku berkeras. "Luke cuma anak kecil. Hermes
nggak pernah membantunya, nggak pernah menghentikannya supaya nggak
kabur." Thalia menyandangkan busurnya ke bahu. Lagi-lagi aku tersadar betapa dia
kelihatan lebih kuat sekarang setelah dia berhenti menua. Kau hampir bisa
melihat pendar keperakan di sekelilingnya - restu Artemis.
"Percy," kata Thalia, "kau nggak boleh mulai merasa kasihan pada Luke.
Kita semua punya hal berat yang harus dihadapi. Semua blasteran begitu.
Orangtua kita nyaris tidak pernah hadir. Tapi Luke membuat pilihan buruk. Nggak
ada yang memaksanya berbuat begitu. Malahan - "
Dia melirik ke lorong untuk memastikan bahwa kami sendirian. "Aku
mengkhawatirkan Annabeth. Seandainya dia harus menghadapi Luke dalam
pertempuran, aku nggak tahu apakah dia bisa melakukannya. Dari dulu Annabeth
mengaguminya." Darah mengalir deras ke wajahku. "Annabeth akan bertempur dengan baik."
"Entahlah. Setelah malam itu, setelah kami meninggalkan rumah ibu Luke"
Luke nggak pernah sama lagi. Dia jadi ceroboh dan gampang marah, seolah dia
harus membuktikan sesuatu. Pada saat Grover menemukan kami dan mencoba
membawa kami ke perkemahan ... yah, sebagian alasan mengapa kami mendapat
begitu banyak masalah adalah karena Luke nggak mau berhati-hati. Dia ingin
berkelahi dengan setiap monster yang bersimpang jalan dengan kami. Annabeth
nggak memandangnya sebagai masalah. Luke adalah pahlawannya. Annabeth
hanya mengerti bahwa orangtua Luke telah membuatnya sedih, dan Annabeth jadi
sangat membelanya. Annabeth masih membelanya sampai sekarang. Maksudku
hanya ... jangan sampai kau jatuh ke dalam perangkap yang sama. Luke telah
memberikan dirinya kepada Kronos sekarang. Kita nggak boleh bersikap lunak
padanya." Aku memandangi kebakaran di Harlem, bertanya-tanya berapa banyak
manusia fana yang tertidur sedang dalam bahaya sekarang gara-gara pilihan buruk
Luke. "Kau benar," kataku.
Thalia menepuk pundakku. "Aku akan mengecek para Pemburu, lalu tidur
sebelum malam tiba. Kau sebaiknya tidur juga."
"Hal terakhir yang kubutuhkan adalah mimpi lagi."
"Aku tahu, percayalah padaku." Ekspresinya yang suram membuatku
bertanya-tanya apa yang diimpikannya. Ini adalah masalah lazim blasteran:
semakin berbahaya situasi kami, semakin sering kami bermimpi dan semakin
buruk. "Tapi Percy, kita nggak tahu kapan kau akan mendapat kesempatan untuk
beristirahat. Malam ini bakalan panjang - mungkin malam terakhir kita."
Aku tidak menyukainya tapi aku tahu Thalia benar. Aku mengangguk letih
dan memberikan bejana Pandora kepadanya. "Bantu aku. Kunci ini dalam brankas
hotel, ya" Kayaknya aku alergi pithos."
Thalia tersenyum. "Sip."
Aku menemukan tempat tidur terdekat dan terlelap. Tapi tentu saja tidur
hanya membawa lebih banyak mimpi buruk.
Aku melihat istana bawah laut ayahku. Pasukan musuh semakin dekat sekarang,
bertahan hanya beberapa meter di luar istana. Tembok benteng telah hancur
sepenuhnya. Kuil yang digunakan ayahku sebagai markas besar terbakar api
Yunani. Aku melihat lebih dekat ke penempaan, tempat saudara laki-lakiku dan
sejumlah Cyclops lain sedang istirahat makan siang, menyantap selai kacang
bergumpal-gumpal dari toples-toples Skippy besar (dan jangan tanya padaku
bagaimana rasanya di bawah air, soalnya aku tak mau tahu). Selagi aku
memperhatikan, dinding luar penempaan meledak. Satu pendekar Cyclops
terhuyung-huyung ke dalam, jatuh di meja makan siang. Tyson berlutut untuk
menolong, tapi sudah terlambat. Si Cyclops terbuyarkan menjadi lumpur laut.
Para raksasa musuh bergerak menuju dinding yang roboh, dan Tyson
mengambil pentungan pendekar yang tewas. Dia meneriakkan sesuatu kepada
rekan-rekannya sesama pandai besi - barangkali "Demi Poseidon!" - tapi karena
mulutnya penuh selai kacang kedengarannya seperti "DUH PTEH BUN!" Semua
rekan sebangsanya meraih palu dan pahat, meneriakkan, "SELAI KACANG!" dan
menyerbu ke pertempuran di belakang Tyson.
Kemudian pemandangan berubah. Aku bersama Ethan Nakamura di
perkemahan musuh. Hal yang kulihat membuatku bergidik, sebagian karena
pasukan tersebut demikian besar, sebagian karena aku mengenali tempat tersebut.
Kami berada di pinggiran New Jersey, di jalan rusak yang diapit bangunanbangunan
usaha bangkrut dan papan reklame bobrok. Pagar yang terinjak-injak
mengelilingi halaman besar yang penuh patung semen. Plang di atas gudang susah
dibaca karena tulisannya berupa huruf-huruf yang melingkar-lingkar, tapi aku
tahu bunyinya: PUSAT BELANJA PATUNG TAMAN BIBI EM.
Sudah bertahun-tahun aku tidak memikirkan tempat itu. Tempat tersebut
jelas terbengkalai. Patung-patung patah dan dicorat-coret grafiti cat semprot. Satir
semen - Paman Ferdinand-nya Grover - telah kehilangan satu lengannya. Sebagian
atap gudang melesak ke dalam. Plang kuning besar yang ditempelkan ke pintu
berbunyi: DIKUTUK. Ratusan tenda dan api mengelilingi properti tersebut. Yang kulihat sebagian
besar monster, tapi ada sejumlah tentara bayaran manusia berpakaian tempur dan
blasteran berbaju zirah juga. Panji-panji ungu-hitam digantung di luar pusat
belanja, dijaga oleh dua Hyperborean biru.
Ethan berjongkok di api unggun paling dekat. Dua blasteran lain duduk
bersamanya, mengasah pedang mereka. Pintu gudang terbuka, dan Prometheus
melangkah ke luar. "Nakamura," serunya. "Tuan ingin bicara kepadamu."
Ethan berdiri dengan waswas. "Ada yang tidak beres?"
Prometheus tersenyum. "Kau harus bertanya padanya."
Salah seorang blasteran lain menyeringai. "Senang mengenalmu."
Ethan membetulkan sabuk pedangnya dan menuju ke gudang.
Selain gara-gara lubang di atap, tempat itu persis seperti yang kuingat.
Patung orang-orang yang ketakutan berdiri membeku di tengah jeritan. Di area bar
kudapan, meja-meja piknik telah dipinggirkan. Tepat di antara mesin penjual soda
dan penghangat pretzel terdapat sebuah singgasana emas. Kronos sedang
berlehaleha di sana, sabitnya di pangkuannya. Dia mengenakan jins dan kaos, dan
dengan ekspresinya yang sedang merenung dia kelihatan hampir seperti manusia - seperti
Luke versi lebih muda yang kulihat dalam penampakan, memohon kepada Hermes
agar memberitahukan nasibnya. Kemudian Luke melihat Ethan, seketika wajahnya
berkerut membentuk senyum yang sangat tidak manusiawi. Mata keemasannya
menyala-nyala. "Nah, Nakamura. Apa pendapatmu mengenai misi diplomatik?"
Ethan ragu-ragu. "Saya yakin Tuan Prometheus lebih pantas untuk
membicarakan - " "Tapi aku menanyaimu."
Mata Ethan yang sehat melesat bolak-balik, memperhatikan para penjaga
yang berdiri di sekeliling Kronos. "Saya ... saya berpendapat Jackson nggak akan
menyerah." Kronos mengangguk. "Ada lagi yang ingin kauberitahukan kepadaku?"
"Ng-nggak, Pak."
"Kau terlihat gugup, Ethan."
"Nggak, Pak. Hanya saja ... saya dengar ini adalah sarang - "
"Medusa" Ya, memang benar. Tempat yang indah, kan" Sayangnya, Medusa
belum terbentuk kembali sejak Jackson membunuhnya, jadi kau tidak perlu
khawatir soal bergabung dengan koleksinya. Lagi pula, ada lebih banyak kekuatan
yang berbahaya di ruangan ini."
Kronos memandang raksasa Laistrygonian yang sedang mengunyah
kentang goreng dengan berisik. Kronos melambaikan tangannya dan si raksasa
membeku. Sepotong kentang goreng tertahan di tengah jalan antara tangan dan
mulutnya. "Buat apa menjadikan mereka batu," tanya Kronos, "ketika kau bisa
membekukan sang waktu sendiri?"
Mata keemasannya menelaah wajah Ethan. "Nah, beri tahu aku satu hal lagi.
Apa yang terjadi kemarin malam di Jembatan Williamsburg?"
Ethan gemetaran. Butir-butir keringat muncul di keningnya. "Saya ... saya
nggak tahu, Pak." "Ya, kau tahu." Kronos bangkit dari kursinya. "Ketika kau menyerang
Jackson, sesuatu terjadi. Ada yang tidak beres. Gadis itu, Annabeth, melompat
menghalangi jalanmu."
"Gadis itu ingin menyelamatkannya."
"Tapi dia kebal," kata Kronos pelan. "Kau melihat itu sendiri."
"Saya nggak bisa menjelaskannya. Mungkin gadis itu lupa."
"Gadis itu lupa," kata Kronos. "Ya, pasti begitu. Ya ampun, aku lupa temanku
kebal dan kuterima tusukan pisau demi dia. Ups. Katakan padaku, Ethan, apa yang
kauincar saat kau menikam Jackson?"
Ethan mengerutkan kening. Dia mengepalkan tangannya seperti sedang
memegang pisau, dan menirukan gerakan menghunjam. "Saya nggak yakin, Pak.
Semua terjadi begitu cepat. Saya nggak mengincar satu titik secara khusus."
Jari-jari Kronos mengetuk bilah sabitnya. "Begitu," katanya dengan nada
sedingin es. "Jika ingatanmu membaik, kuharap - "
Tiba-tiba sang penguasa Titan berjengit. Raksasa di pojok bergerak kembali
dan kentang goreng jatuh ke dalam mulutnya. Kronos terhuyung-huyung ke
belakang dan jatuh ke kursinya.
"Tuan?" Ethan mulai maju.
"Aku - " Suara tersebut lemah, tapi selama sesaat itu suara Luke. Kemudian
ekspresi Kronos mengeras. Dia mengangkat tangannya dan meregangkan
jemarinya pelan-pelan seolah sedang memaksanya untuk menurut.
"Bukan apa-apa," kata Kronos, suaranya kejam dan dingin lagi. "Ketidaknyamanan kecil."
Ethan membasahi bibirnya. "Dia masih melawan Tuan, bukan" Luke - "
"Omong kosong," sembur Kronos. "Ulangi kebohongan itu dan akan
kupotong lidahmu. Jiwa bocah itu telah dihancurkan. Aku semata-mata sedang
menyesuaikan diri terhadap wujud ini. Tubuh ini perlu istirahat. Memang
mengesalkan, tapi ini tidak lebih daripada sekadar ketidaknyamanan sementara
..." "Terserah ... terserah Tuan saja."
"Kau!" Kronos menunjukkan sabitnya ke dracaena berbaju zirah hijau dan
bermahkota hijau. "Ratu Sess, kan?"
"Ya, Tuan." "Apakah kejutan kecil kita sudah siap dilepaskan?"
Sang ratu dracaena memamerkan taring-taringnya. "Oh, ya, Tuan. Kejutan
yang cukup manissssss."
"Bagus," kata Kronos. "Suruh saudaraku Hyperion memindahkan pasukan
utama kita ke selatan Central Park. Para blasteran pasti akan kacau-balau
sehingga mereka takkan sanggup mempertahankan diri. Pergilah sekarang, Ethan. Usahakan
memperbaiki ingatanmu. Kita akan bicara lagi ketika kita telah mengambil alih
Manhattan." Ethan membungkuk, mimpiku pun berganti untuk terakhir kalinya. Aku
melihat Rumah Besar di perkemahan, tapi eranya berbeda. Rumah itu bercat merah
alih-alih biru. Para pekemah di lapangan voli berambut gaya '90-an, yang
barangkali bagus buat menjauhkan monster-monster.
Chiron berdiri di depan beranda, berbicara kepada Hermes dan seorang
wanita yang menggendong bayi. Rambut Chiron lebih pendek dan lebih gelap.
Hermes mengenakan pakaian larinya yang biasa dengan sepatu basket bersayap.
Sang wanita tinggi dan cantik. Dia memiliki rambut pirang, mata berkilau, dan
senyum ramah. Bayi dalam pelukannya menggeliat-geliut di selimut birunya
seakan-akan Perkemahan Blasteran adalah tempat terakhir yang ingin didatanginya. "Sungguh suatu kehormatan untuk menerima Anda di sini," kata Chiron
kepada wanita itu, meskipun dia terdengar gugup. "Sudah lama sejak seorang
manusia fana diizinkan berada di perkemahan."
"Jangan menyemangatinya," gerutu Hermes. "May, kau tidak boleh
melakukan ini." Dengan perasaan terguncang, kusadari aku sedang melihat May Castellan.
Dia sama sekali tidak mirip wanita tua yang pernah kutemui. Dia tampak penuh
daya hidup - jenis orang yang bisa tersenyum dan membuat semua orang di
sekitarnya merasa gembira.
"Oh, jangan terlalu khawatir," kata May, mengayun-ayun si bayi. "Kalian
membutuhkan Oracle, kan" Yang lama sudah mati selama, berapa, dua puluh
tahun?" "Lebih lama," kata Chiron muram.
Hermes mengangkat lengannya karena jengkel. "Aku tidak memberitahumu
cerita itu supaya kau bisa melamar. Ini berbahaya. Chiron, beri tahu dia."
"Memang berbahaya," Chiron memperingati. "Selama bertahun-tahun, aku
melarang siapa pun mencoba. Kami tidak tahu persis apa yang terjadi. Umat
manusia tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk menampung Oracle."
"Kami sudah membahas itu," kata May. "Dan aku tahu aku bisa
melakukannya. Hermes, inilah kesempatanku untuk melakukan sesuatu yang baik.
Aku diberi karunia penglihatan karena suatu alasan."
Aku ingin berteriak kepada May Castellan agar berhenti. Aku tahu apa yang
akan terjadi. Aku akhirnya mengerti bagaimana kehidupannya telah dihancurkan.
Tapi aku tidak bisa bergerak ataupun bicara.
Hermes lebih terlihat terluka daripada khawatir. "Kau tidak bisa menikah
apabila kau menjadi Oracle," keluhnya. "Kau tidak bisa menemuiku lagi."
May meletakkan tangannya di lengan Hermes. "Aku tidak bisa memilikimu
selamanya, kan" Kau akan segera beralih. Kau kekal."
Hermes mulai protes, tapi May meletakkan tangannya di dada sang dewa.
"Kautahu itu benar! Jangan coba lindungi perasaanku. Lagi pula, aku punya anak
yang luar biasa. Aku masih bisa membesarkan Luke sekalipun aku jadi Oracle,
kan?" Chiron batuk-batuk. "Ya, tapi sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana hal itu
akan memengaruhi roh sang Oracle. Seorang wanita yang sudah pernah
melahirkan anak - sejauh yang kutahu, ini tidak pernah dilakukan sebelumnya.
Jika arwahnya tidak mau menerima - "
"Ia pasti mau," May berkeras.
Nggak, aku ingin berteriak. Ia nggak akan mau.
May Castellan mengecup bayinya dan menyerahkan buntalan kepada
Hermes. "Aku akan segera kembali."
Dia memberi mereka senyum percaya diri yang terakhir dan menaiki
undakan. Chiron dan Hermes mondar-mandir dalam keheningan. Si bayi menggeliatgeliut.
Pendar hijau menerangi jendela rumah. Para pekemah berhenti bermain voli
dan menatap loteng. Angin dingin berembus melintasi ladang stroberi.
Hermes pasti merasakannya juga. Dia berseru, "Tidak! TIDAK!"
Dia menjejalkan si bayi ke pelukan Chiron dan lari ke beranda. Sebelum dia
mencapai pintu, siang yang cerah itu dipecahkan oleh teriakan ngeri May
Castellan. Aku duduk tegak begitu cepat sampai-sampai kepalaku terbentur tameng
seseorang. "Aduh!" "Sori,

Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Percy." Annabeth berdiri di dekatku. "Aku baru mau membangunkanmu." Aku menggosok-gosok kepalaku, mencoba mengenyahkan penampakan
yang merisaukan itu. Tiba-tiba banyak hal jadi masuk akal bagiku. May Castellan
berusaha menjadi Oracle. Dia tidak tahu bahwa kutukan Hades mencegah jiwa
Delphi bermukim di inang lainnya. Chiron dan Hermes juga tidak tahu. Mereka
tidak tahu bahwa dengan cara mengambil pekerjaan itu, May akan jadi gila,
dirongrong ketidaksadaran ketika matanya akan menyala hijau dan dia akan
memperoleh kilasan sepotong-sepotong mengenai masa depan anaknya.
"Percy?" tanya Annabeth. "Ada masalah apa?"
"Nggak ada apa-apa," aku berbohong. "Kenapa ... kenapa kau memakai
baju zirah" Kau seharusnya istirahat."
"Oh, aku tidak apa-apa," kata Annabeth, meskipun dia masih kelihatan
pucat. Dia nyaris tidak bisa menggerakkan lengan kanannya. "Nektar dan
ambrosia memulihkanku."
"Ehm. Kau nggak mungkin sungguh-sungguh mau keluar dan bertarung."
Annabeth mengulurkan tangannya yang sehat kepadaku dan membantuku
berdiri. Kepalaku berdenyut-denyut. Di luar, langit berwarna ungu dan merah.
"Kau akan memerlukan semua orang yang kaupunyai," katanya. "Aku baru
saja melihat perisaiku. Ada pasukan - "
"Yang menuju selatan ke Central Park," kataku. "Iya, aku tahu."
Aku memberitahunya sebagian mimpiku. Aku menyisihkan penampakan
tentang May Castellan, sebab hal tersebut terlalu merisaukan untuk dibicarakan.
Aku juga menyisihkan spekulasi Ethan tentang Luke yang melawan Kronos di
dalam tubuhnya. Aku tidak mau melambungkan harapan Annabeth.
"Apa menurutmu Ethan mencurigai titik lemahmu?" tanyanya.
"Aku nggak tahu," aku mengakui. "Dia nggak memberi tahu Kronos apaapa, tapi
kalau dia sampai tahu - "
"Kita tidak boleh membiarkannya."
"Akan kupukul kepalanya lebih keras kali berikutnya," saranku. "Ada ide
kejutan apa yang dibicarakan Kronos?"
Annabeth menggelengkan kepala. "Aku nggak melihat apa-apa di perisai,
tapi aku tidak suka kejutan."
"Sepakat." "Jadi," katanya, "apa kau akan menentangku ikut?"
"Nggak. Kau baru saja mengalahkanku."
Dia tertawa, membuatku senang mendengarnya. Aku meraih pedangku, dan
kami pergi untuk mengumpulkan pasukan.
Thalia dan para konselor kepala sedang menunggu kami di Reservoir. Lampulampu
kota berkedip-kedip di senja hari. Kurasa banyak di antaranya yang disetel
menggunakan timer otomatis. Lampu jalanan berpendar di sekitar pinggiran
danau, membuat air dan pohon kelihatan semakin seram.
"Mereka datang," Thalia mengonfirmasi, menunjuk ke utara dengan panah
perak. "Salah satu pengintaiku baru saja melaporkan mereka sudah menyeberangi
Sungai Harlem. Nggak mungkin kita bisa menahan mereka. Pasukan ... " Thalia
mengangkat bahu. "Pasukan itu besar."
"Kita tahan mereka di taman," kataku. "Grover, kau siap?"
Dia mengangguk. "Sesiap yang kubisa. Kalau roh-roh alam bisa
menghentikan mereka di mana saja, di sinilah tempatnya."
"Ya, kami akan melakukannya," kata sebuah suara lain. Satir yang sangat tua
dan sangat gendut merangsek melewati khalayak, tersandung tombaknya sendiri.
Dia mengenakan baju zirah kulit kayu yang cuma menutupi setengah perutnya.
"Leneus?" kataku.
"Jangan bertingkah sekaget itu," dengusnya. "Akulah pemimpin Dewan, dan
kau sudah menyuruhku mencari Grover. Nah, aku menemukannya, dan aku tak
akan membiarkan satir buangan semata memimpin para satir tanpa bantuanku!"
Di belakang punggung Leneus, Grover membuat gerakan muntah-muntah,
tapi si satir tua nyengir seakan-akan dialah sang penyelamat hari. "Jangan
takut! Akan kita tunjukkan kepada para Titan itu!"
Aku tidak tahu harus tertawa atau marah, tapi aku berhasil membuat
wajahku tetap tanpa ekspresi. "Eh ... baiklah. Yah, Grover, kau nggak akan
sendirian. Lalu, Annabeth dan pondok Athena akan memosisikan diri di sini. Dan
aku, dan ... Thalia?"
Thalia menepuk bahuku. "Tidak usah bilang apa-apa lagi. Para Pemburu
sudah siap." Aku memandang para konselor lain. "Berarti kalian kebagian pekerjaan
yang sama pentingnya. Kalian harus menjaga jalan masuk-jalan masuk lain ke
Manhattan. Kalian tahu betapa cerdiknya Kronos. Dia berharap dapat mengalihkan
perhatian kita dengan pasukan besar ini dan menyelinapkan pasukan lainnya ke
tempat lain. Tugas kalianlah untuk memastikan itu tidak terjadi. Apakah
masingmasing pondok sudah memilih jembatan atau terowongan?"
Para konselor mengangguk suram.
"Kalau begitu, ayo lakukan," kataku. "Selamat berburu, Semuanya."
Kami mendengar pasukan sebelum kami melihatnya.
Bunyi tersebut seperti tembakan meriam yang dikombinasikan dengan
penonton stadion football - seakan semua penggemar Patriot di New England
sedang menyerang kami dengan bazoka.
Di ujung utara Reservoir, baris depan musuh menyerbu lewat hutan -
pendekar berbaju zirah keemasan memimpin sebatalion raksasa Laistrygonian
berkapak besar perunggu. Ratusan monster lain tumpah ruah di belakang mereka.
"Posisi!" teriak Annabeth.
Teman-teman sepondoknya buru-buru bergerak. Idenya adalah membuat
pasukan musuh pecah mengelilingi Reservoir. Untuk menangkap kami, mereka
harus mengikuti jalan setapak, yang berarti mereka bakal berbaris masuk ke
antara pilar-pilar sempit di kedua sisi air.
Pada mulanya, rencana tersebut tampaknya berhasil. Musuh terbagi dan
menghambur ke arah kami di sepanjang tepi air. Saat mereka sudah setengah jalan,
pertahanan kami masuk. Jalan setapak untuk joging membara terbakar api Yunani,
menggosongkan banyak monster seketika. Yang lain berlari-larian, dimakan nyala
api hijau. Para pekemah Athena melemparkan kait pencengkeram ke raksasaraksasa
terbesar dan menarik mereka ke tanah.
Di dalam hutan di kanan, para Pemburu mengirimkan tembakan
sekelompok besar panah-panah perak ke dalam garis pertahanan musuh,
menghancurkan dua puluh atau tiga puluh dracaena, tapi ada lebih banyak lagi
yang berderap di belakang mereka. Sambaran petir menggelegar dari langit dan
memanggang satu raksasa Laistrygonian jadi abu, dan aku tahu Thalia pasti
mengeluarkan kekuatan putri Zeusnya.
Grover mengangkat serulingnya dan memainkan lagu berirama cepat.
Raungan terdengar dari hutan di kedua sisi saat setiap pohon, batu, dan semak
seakan mencuatkan roh. Dryad dan satir mengangkat pentungan mereka dan
menyerbu. Pohon-pohon membelit para monster, mencekik mereka. Rumput
tumbuh di sekeliling kaki para pemanah musuh. Batu beterbangan dan
menghantam wajah para dracaena.
Musuh maju dengan susah payah. Para raksasa lewat sembari merobohkan
pohon-pohon, dan para naiad memudar saat sumber kehidupan mereka
dihancurkan. Anjing-anjing neraka menerkam serigala-serigala putih, menjatuhkan
mereka ke samping. Para pemanah musuh kembali menembak, dan seorang
Pemburu jatuh dari cabang yang tinggi.
"Percy!" Annabeth mencengkeram lenganku dan menunjuk Reservoir. Titan
berbaju zirah keemasan tidak menunggu pasukannya maju dari samping. Dia
menyerbu ke arah kami, berjalan tepat di atas danau.
Bom api Yunani meledak tepat di atasnya, namun dia mengangkat telapak
tangannya dan menyedot lidah api dari udara.
"Hyperion," kata Annabeth terkesima. "Raja cahaya. Titan timur."
"Buruk?" tebakku.
"Setelah Atlas, dia adalah pendekar Titan terkuat. Pada zaman dahulu,
empat Titan mengendalikan empat penjuru dunia. Hyperion mengendalikan timur
- yang paling kuat. Dia adalah ayah Helios, dewa matahari pertama."
"Aku akan membuatnya sibuk," janjiku.
"Percy, kau sekalipun nggak akan bisa - "
"Usahakan saja agar pasukan kita tetap bersatu."
Kami menduduki reservoir karena alasan bagus. Aku berkonsentrasi pada air
dan merasakan kekuatannya mengaliri diriku.
Aku maju ke arah Hyperion, berlari di atas air. Baiklah, Kawan. Dua orang
cukup untuk permainan ini.
Enam meter jauhnya, Hyperion mengangkat pedangnya. Matanya persis
seperti yang kulihat dalam mimpiku - warnanya emas seperti Kronos tapi lebih
terang, seperti miniatur matahari.
"Anak dewa laut," katanya membatin. "Kaukah yang menjebak Atlas di
bawah langit lagi?" "Nggak susah kok," kataku. "Otak kalian para Titan sama pintarnya dengan
udang." Hyperion menyeringai. "Kau mau yang pintar?"
Tubuhnya tersulut menjadi pilar cahaya dan panas. Aku berpaling, tapi aku
masih merasakan silaunya.
Secara instingtif kuangkat Riptide - tepat pada waktunya. Bilah pedang
Hyperion menghantam bilah pedangku. Gelombang kejutnya menimbulkan
lingkaran air setinggi tiga meter yang menyeberangi permukaan danau.
Mataku masih terbakar. Aku harus mematikan cahayanya.
Aku berkonsentrasi pada gelombang pasang dan memaksanya untuk
berbalik. Tepat sebelum tabrakan, aku melompat ke atas, menaiki semburan air.
"AAAHHH!" Gelombang tersebut menghantam Hyperion dan dia tenggelam, cahayanya padam.
Aku mendarat di permukaan danau tepat saat Hyperion sedang berjuang
untuk berdiri. Baju zirah keemasannya basah kuyup. Matanya tidak lagi
menyalanyala tapi masih menampakkan hasrat membunuh.
"Kau akan terbakar, Jackson!" raungnya.
Pedang kami bertemu lagi dan udara memercik dijalari ozon.
Pertempuran masih menggila di sekitar kami. Di sayap kanan, Annabeth
sedang memimpin serangan bersama saudara-saudaranya. Di sayap kiri, Grover
dan roh-roh alam sedang berkumpul kembali, menjerat musuh dengan semak dan
ilalang. "Sudah cukup main-mainnya," kata Hyperion kepadaku. "Kita bertarung di
darat." Aku hendak membuat komentar yang pintar, seperti misalnya "Enak saja,"
ketika sang Titan berteriak. Dinding energi menghantamku di udara - sama seperti
trik yang dilakukan Kronos di jembatan. Aku meluncur ke belakang kira-kira dua
ratus lima puluh meter dan menghantam tanah. Kalau bukan karena kekebalan
yang baru kudapatkan, setiap tulang di tubuhku pasti bakal patah.
Aku berdiri, mengerang. "Aku benar-benar benci waktu kalian para Titan
melakukan itu." Hyperion mendekatiku secepat kilat.
Aku berkonsentrasi pada air, menarik kekuatan darinya.
Hyperion menyerang. Dia kuat dan cepat, tapi dia tampaknya tidak bisa
mendaratkan pukulan. Tanah di sekitar kakinya terus menyemburkan lidah api,
tapi aku terus memadamkan api tersebut dengan sama cepatnya.
"Hentikan!" raung si Titan. "Hentikan angin itu!"
Aku tak yakin apa maksudnya. Aku terlalu sibuk bertarung.
Hyperion tertatih-tatih seolah-olah dia sedang didorong menjauh. Air
menyiram wajahnya, memerihkan matanya. Angin makin kencang, dan Hyperion
terhuyung-huyung ke belakang.
"Percy!" seru Grover kagum. "Bagaimana caramu melakukan itu?"
Melakukan apa" Pikirku.
Kemudian aku melihat ke bawah, dan kusadari aku sedang berdiri di
tengah-tengah angin ributku sendiri. Kepulan uap air berputar-putar di
sekitarku, angin yang begitu dahsyat sehingga menangkal Hyperion dan meratakan tanah
dalam radius hampir dua meter. Para pendekar musuh melempariku lembing, tapi
badai menjatuhkan lembing-lembing tersebut ke samping.
"Keren," gumamku. "Tapi sedikit lagi!"
Petir berkilat di sekitarku. Awan menggelap dan hujan berputar-putar
semakin cepat. Aku mendekati Hyperion dan mengangkatnya dengan embusan
angin. "Percy!" seru Grover lagi. "Bawa dia ke sini!"
Aku menyabet dan menikam, membiarkan refleksku mengambil alih.
Hyperion nyaris tidak bisa mempertahankan diri. Matanya terus mencoba untuk
menyulut nyala api, tapi angin ribut memadamkan apinya.
Walau begitu, aku tidak bisa mempertahankan badai seperti ini selamanya.
Aku bisa merasakan kekuatanku melemah. Dengan satu upaya terakhir, kulempar
Hyperion melintasi lapangan, langsung ke tempat Grover sedang menunggu.
"Aku tidak sudi dijadikan mainan!" raung Hyperion.
Dia berhasil berdiri lagi, tapi Grover menempelkan seruling alang-alangnya
ke bibir dan mulai bermain. Leneus bergabung dengannya. Di sepenjuru kebun,
semua satir ikut memainkan lagu tersebut - melodi yang bikin merinding, seperti
kali yang mengalir lewat batu-batu. Tanah terbelah di kaki Hyperion. Akar-akar
berlekuk-lekuk membungkus diri mereka di sekeliling kakinya.
"Apa ini?" protesnya. Dia mencoba mengguncangkan akar-akar itu supaya
lepas, tapi dia masih lemah. Akar-akar menebal sampai dia terlihat seakan sedang
mengenakan sepatu bot kayu.
"Hentikan ini!" teriaknya. "Sihir hutan kalian bukan tandingan bagi Titan!"
Namun semakin dia melawan, semakin cepat akar-akar tumbuh. Akar-akar
meliuk-liuk di seputar tubuhnya, menebal dan mengeras menjadi kulit kayu. Baju
zirah keemasannya meleleh ke dalam hutan, menjadi bagian dari batang yang
besar. Musik berlanjut. Pasukan Hyperion mundur sambil terperanjat sementara
pemimpin mereka diserap. Hyperion meregangkan lengannya dan lengannya pun
menjadi cabang-cabang, yang darinya cabang-cabang lebih kecil terjulur dan
ditumbuhi daun-daun. Pohon tumbuh kian tinggi dan kian tebal, hingga hanya
wajah sang Titan yang terlihat di tengah-tengah batang.
"Kalian tidak bisa memenjarakanku!" raungnya. "Aku Hyperion! Aku - "
Kulit kayu menutupi wajahnya.
Grover menurunkan seruling dari mulutnya. "Kau pohon maple yang sangat
bagus." Beberapa satir lain pingsan karena kelelahan, tapi mereka telah bekerja
bagus. Sang Titan sepenuhnya terkurung dalam pohon maple berukuran amat
besar. Batangnya paling tidak berdiameter enam meter, dengan cabang-cabang
setinggi cabang-cabang pohon lain di taman. Pohon tersebut mungkin bakal berdiri
di sana selama berabad-abad.
Pasukan Titan mulai mundur. Sorak-sorai terdengar dari pondok Athena,
tapi kemenangan kami berumur pendek.
Karena tepat saat itu Kronos melepaskan kejutannya.
"NGUIIIIIK!" Bunyi menguik itu bergema di Manhattan atas. Baik blasteran maupun
monster membeku karena ngeri.
Grover melemparkan tatapan panik ke arahku. "Kenapa itu kedengarannya
kayak ... Nggak mungkin!"
Aku tahu apa yang dipikirkannya. Dua tahun lalu kami mendapat "hadiah"
dari Pan - seekor celeng raksasa yang membawa kami melintasi wilayah Southwest
(setelah ia berusaha membunuh kami). Celeng itu punya bunyi menguik yang
mirip, tapi yang kami dengar sekarang lebih melengking, lebih nyaring, hampir
seolah ... seolah celeng itu punya pacar yang sedang marah.
"NGUIIIIIK!" Seekor makhluk merah muda raksasa membubung di atas
Reservoir - balon udara mimpi buruk bersayap ala Macy's Thanksgiving Parade.
"Babi betina!" pekik Annabeth. "Berlindung!"
Para blasteran berpencar saat si babi betina bersayap itu menukik ke bawah.


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sayapnya merah muda seperti sayap flamingo, yang serasi sekali dengan kulitnya,
tapi susah menganggapnya imut saat kaki-kakinya menghantam tanah, meleset
tipis sekali dari salah seorang saudara Annabeth. Si babi menjejakkan kaki ke
sanakemari dan merobohkan setengah ekar pohon, bersendawa sambil mengeluarkan
awan besar gas beracun. Kemudian ia lepas landas lagi, berputar-putar untuk
lagilagi menyerang. "Jangan katakan padaku kalau makhluk itu berasal dari mitologi Yunani,"
keluhku. "Sayangnya begitu," kata Annabeth. "Babi Betina Clazmonian. Dahulu kala
ia meneror kota-kota Yunani."
"Biar kutebak," kataku. "Hercules mengalahkannya."
"Nggak," kata Annabeth. "Sejauh yang kutahu, belum ada pahlawan yang
mengalahkannya." "Sempurna," aku bersungut-sungut.
Pasukan Titan memulihkan diri dari keterguncangan mereka. Kurasa
mereka menyadari bahwa si babi tidak mengejar mereka.
Kami cuma punya beberapa detik sebelum mereka siap bertarung, dan
pasukan kami masih dalam keadaan panik. Setiap kali si babi betina bersendawa,
roh-roh alam Grover memekik dan memudar kembali ke dalam pohon mereka.
"Babi itu harus pergi." Aku merebut kait pencengkeram dari salah satu
saudara Annabeth. "Akan kuurus dia. Kalian tahan musuh yang tersisa. Dorong
mereka ke belakang!"
"Tapi, Percy," kata Grover, "bagaimana kalau kami nggak bisa?"
Kulihat betapa capeknya dia. Sihir telah benar-benar menguras energinya.
Annabeth tidak terlihat lebih baik berkat bertarung dengan luka pundak yang
parah. Aku tak tahu apa yang sedang dilakukan para Pemburu, tapi sayap kanan
musuh sekarang berada di antara mereka dan kami.
Aku tidak mau meninggalkan teman-temanku dalam keadaan seburuk itu,
tapi babi betina itu adalah ancaman terbesar. Ia bakal menghancurkan segalanya:
bangunan, pohon, manusia fana yang sedang tidur. Ia harus dihentikan.
"Mundurlah kalau perlu," kataku. "Perlambat saja mereka. Aku akan
kembali sesegera yang kubisa."
Sebelum aku bisa berubah pikiran, aku mengayun-ayunkan kait pencengkeram seperti laso. Saat si babi turun untuk lewat lagi, aku melempar
dengan seluruh tenagaku. Kait mencengkeram di sekitar pangkal sayap si babi. Ia
menguik murka dan berbelok menjauh, mengentakkan tali dan diriku ke langit.
Kalau kau hendak menuju ke pusat kota dari Central Park, saranku adalah naik
kereta bawah tanah saja. Babi terbang lebih cepat, tapi jauh lebih berbahaya.
Si babi betina membubung melewati Hotel Plaza, langsung ke jurang Fifth
Avenue. Rencana brilianku adalah memanjati tali dan naik ke punggung si babi.
Sayangnya aku terlalu sibuk terayun-ayun sambil menghindari lampu jalanan dan
sisi-sisi bangunan. Hal lain lagi yang kupelajari: memanjati tambang dalam pelajaran olahraga
mungkin bisa dilakukan. Namun, memanjati tambang yang menempel ke sayap
babi yang bergerak selagi kau terbang dengan kecepatan 150 km per jam adalah hal
yang sebenarnya mustahil.
Kami berzig-zag melintasi sejumlah blok dan terus melanjutkan ke selatan di
atas Park Avenue. Bos! Hei, Bos! Dari sudut mataku, kulihat Blackjack melaju di samping kami,
melesat bolak-balik untuk menghindari sayap si babi.
"Awas!" kataku padanya.
Melompatlah ke punggungku! ringkik Blackjack. Aku bisa menangkapmu ...
kayaknya. Sebenarnya ajakannya tak terlalu meyakinkan. Grand Central teronggok
mati di depan. Di atas jalan masuk utama berdirilah patung raksasa Hermes, yang
menurut tebakanku belum diaktifkan karena letaknya begitu tinggi di atas. Aku
terbang tepat ke arahnya dengan kecepatan yang bisa meremukkan blasteran.
"Tetap waspada!" aku memberi tahu Blackjack. "Aku punya ide."
Oh, aku benci ide-idemu, Bos.
Aku berayun ke depan sekuat-kuatnya. Alih-alih menabrak patung Hermes,
aku melecutkan diri mengitarinya, melingkarkan tali ke bawah lengannya. Kupikir
ini akan menambatkan si babi, tapi aku meremehkan momentum babi betina tiga
puluh ton yang sedang terbang. Tepat saat si babi merenggut patung sehingga
terlepas dari dudukannya, aku melepas tali. Hermes sekarang ditarik si babi,
mengambil alih tempatku sebagai penumpang, dan aku jatuh bebas ke arah jalan.
Dalam sekejap itu aku teringat hari-hari saat ibuku dulu bekerja di toko
permen Grand Central. Kupikirkan betapa jeleknya apabila riwayatku tamat
sebagai noda minyak di aspal.
Lalu sebuah bayangan melesat di bawahku, dan buk - aku berada di
punggung Blackjack. Bukan pendaratan yang paling nyaman. Malahan, ketika aku
menjerit "ADUH!" suaraku seoktaf lebih tinggi daripada biasanya.
Sori, Bos, gumam Blackjack.
"Nggak masalah," cicitku. "Ikuti babi itu!"
Si babi baru belok kanan di East 42nd dan sedang terbang kembali ke arah
Fifth Avenue. Saat ia terbang di atas atap, aku bisa melihat kebakaran di
sepenjuru kota. Kelihatannya teman-temanku sedang kesulitan. Kronos menyerang beberapa
kubu pertahanan. Tapi pada saat ini, aku punya masalahku sendiri.
Patung Hermes masih terikat, patung tersebut terus menabrak bangunan
dan berputar-putar. Si babi menukik di atas sebuah gedung kantor, dan Hermes
menghunjam menara air di atap, menyemburkan air dan kayu ke mana-mana.
Kemudian sesuatu terbetik dalam benakku.
"Mendekatlah," kataku pada Blackjack.
Dia meringkik tanda protes.
"Cuma dalam jarak teriak saja," kataku. "Aku perlu bicara pada patung itu."
Sekarang aku yakin kau sudah hilang akal, Bos, kata Blackjack, tapi ia melakukan
apa yang kuminta. Saat aku sudah cukup dekat untuk melihat wajah patung
dengan jelas, aku berteriak, "Halo, Hermes! Rangkaian perintah: Daedalus
Duatiga. Bunuh Babi Terbang! Mulai Pengaktifan!"
Seketika patung itu menggerakkan kakinya. Ia tampaknya bingung
mendapati bahwa ia tidak lagi berada di atas Grand Central Terminal. Ia justru
sedang terbang di langit di ujung tali, ditarik oleh babi betina bersayap. Ia
menghantam sisi sebuah bangunan bata, yang kupikir membuatnya sedikit marah.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai memanjati tali.
Aku melirik ke bawah ke jalanan. Kami sedang mendekati perpustakaan
umum utama, dengan singa-singa marmer besar yang mengapit undakan. Tiba-tiba
aku mendapat pemikiran aneh: Mungkinkah patung batu merupakan automaton
juga" Kemungkinannya memang kecil, tapi ...
"Lebih cepat!" kataku pada Blackjack. "Terbang ke depan si babi. Goda ia!"
Anu, Bos - "Percayalah padaku," kataku. "Aku bisa melakukan ini ... kayaknya."
Oh, nggak apa-apa. Ejek saja kuda ini.
Blackjack melesat menembus udara. Ia bisa terbang cepat sekali ternyata jika
ia mau. Ia sampai di depan babi, yang sekarang ditunggangi Hermes logam.
Blackjack meringkik, Baumu kayak daging asap! Dia menendang moncong si
babi dengan kaki belakangnya dan menukik tajam. Si babi menjerit murka dan
mengikuti. Kami menukik tepat ke undakan depan perpustakaan. Blackjack memperlambat lajunya, hanya cukup bagiku untuk melompat turun, kemudian dia
terus terbang ke arah pintu utama.
Aku berteriak, "Singa-singa! Rangkaian perintah: Daedalus Dua-tiga! Bunuh
Babi Terbang! Mulai Pengaktifan!"
Kedua singa berdiri dan memandangku. Mereka barangkali mengira aku
sedang menggoda mereka. Tapi tepat saat itu: "NGUIIIIIIK!"
Monster babi merah muda besar itu mendarat disertai bunyi berdebum,
meretakkan trotoar. Kedua singa menatapnya, tak memercayai keberuntungan
mereka, dan menerkam. Pada saat yang sama, patung Hermes yang sangat babak
belur melompat ke kepala si babi dan mulai menghajarnya tanpa ampun dengan
caduceus. Singa-singa itu punya cakar yang mengerikan.
Aku menghunus Riptide, tapi tidak banyak yang perlu kulakukan. Si babi
terbuyarkan di depan mataku. Aku hampir merasa kasihan padanya. Kuharap ia
berkesempatan bertemu babi jantan impiannya di Tartarus.
Saat si monster telah sepenuhnya berubah jadi debu, singa-singa dan
Hermes melihat ke sana-kemari kebingungan.
"Kalian bisa mempertahankan Manhattan sekarang," aku memberi tahu
mereka, tapi mereka sepertinya tidak mendengar. Mereka melaju menyusuri Park
Avenue, dan kubayangkan mereka akan terus mencari babi terbang sampai
seseorang menonaktifkan mereka.
Hei, Bos, kata Blackjack. Bisa kita istirahat buat makan donat"
Aku mengusap keringat dari alisku. "Kuharap bisa, Jagoan, tapi pertarungan
masih berlangsung." Malahan, aku bisa mendengarnya semakin dekat. Teman-temanku butuh
bantuan. Aku melompat ke punggung Blackjack, dan kami terbang ke utara
menuju bunyi ledakan. LIMA BELAS Chiron Mengadakan Pesta Bagian tengah kota bagaikan zona perang. Kami terbang di atas kericuhan kecil di
mana-mana. Raksasa sedang merenggut pohon dari Bryant Park sementara para
dryad melemparinya dengan kacang. Di luar Waldorf Astoria, patung perunggu
Benjamin Franklin sedang menghajar seekor anjing neraka dengan koran yang
digulung. Trio pekemah Hephaestus bertarung melawan seregu dracaena di
tengahtengah Rockefeller Center.
Aku tergoda untuk berhenti dan membantu, tapi aku bisa tahu dari asap dan
bunyi ribut bahwa aksi sebenarnya telah pindah lebih jauh ke selatan. Pertahanan
kami sedang runtuh. Musuh makin dekat ke Empire State Building.
Kami terbang cepat untuk menelaah area di sekitarnya. Para Pemburu telah
mendirikan garis pertahanan di 37th, tiga blok di utara Olympus. Di timur Park
Avenue, Jake Mason dan sejumlah pekemah Hephaestus sedang memimpin
sepasukan patung melawan musuh. Di barat, pondok Demeter dan roh-roh alam
Grover telah mengubah Sixth Avenue menjadi rimba yang merintangi satu
skuadron blasteran pembela Kronos. Selatan bersih untuk saat ini, tapi sayap-
sayap pasukan musuh sedang bergerak ke sana. Beberapa menit lagi kami akan
sepenuhnya terkepung. "Kita harus mendarat di tempat mereka paling membutuhkan kita,"
gumamku. Itu berarti di semua tempat, Bos.
Aku melihat panji-panji burung hantu perak yang tak asing di pojok
tenggara pertarungan, 33rd di terowongan Park Avenue. Annabeth dan dua
saudaranya sedang menahan raksasa Hyperborean.
"Di sana!" kataku pada Blackjack. Dia menukik ke arah pertempuran itu.
Aku melompat dari punggungnya dan mendarat di kepala si raksasa. Saat si
raksasa mendongak, aku meluncur turun dari wajahnya, menghajar hidungnya
dengan perisai dalam perjalanan ke bawah.
"ROAAAR!" Si raksasa terhuyung-huyung ke belakang, darah biru menetesnetes dari
lubang hidungnya. Aku menjatuhkan diri di aspal sambil berlari. Si Hyperborean mengembuskan awan kabut putih, dan temperatur turun dengan drastis. Titik
tempatku mendarat sekarang dilapisi es, membuatku berlumuran bunga es seperti
donat gula. "Hei, Jelek!" teriak Annabeth. Kuharap dia sedang bicara kepada si raksasa,
bukan kepadaku. Si Bocah Biru meraung dan berbalik menghadap Annabeth, menampakkan
bagian belakang kakinya yang tak terlindung. Aku menyerbu dan menikamnya di
belakang lutut. "UWAAAAH!" Si Hyperborean terjatuh. Aku menunggunya berbalik, tapi
dia membeku. Maksudku dia secara harfiah berubah jadi es padat. Dari titik
tempatku menikamnya, retakan muncul di tubuhnya. Retakan tersebut menjadi
semakin besar dan semakin lebar hingga si raksasa ambruk menjadi segunung
keping-keping biru. "Makasih." Annabeth berjengit, berusaha memulihkan napasnya. "Si babi?"
"Babi cincang," kataku.
"Bagus." Annabeth meregangkan pundaknya. Jelas luka itu masih
mengganggunya, tapi dia melihat ekspresiku dan memutar-mutar bola matanya.
"Aku baik-baik saja, Percy. Ayo! Kita masih punya banyak musuh yang tersisa."
Dia benar. Satu jam berikutnya terasa kabur. Aku bertarung seperti yang tidak
pernah kulakukan sebelumnya - merangsek ke dalam berlegiun-legiun dracaena,
mengalahkan lusinan telekhine seiring setiap serangan, menghancurkan empousa,
dan menjatuhkan banyak blasteran musuh. Tidak peduli berapa banyak yang
kukalahkan, lebih banyak lagi yang mengambil alih tempat mereka.
Annabeth dan aku berpacu dari blok ke blok, berusaha menyokong
pertahanan kami. Terlalu banyak teman kami yang tergeletak terluka di jalanan.
Terlalu banyak yang hilang.
Saat malam kian larut dan bulan semakin tinggi, kami dipojokkan meter
demi meter hingga kami tinggal satu blok dari Empire State Building di segala
arah. Pada satu saat Grover berada di sebelahku, menghajar kepala wanita ular
dengan gadanya. Kemudian dia menghilang di kerumunan dan Thalia-lah yang
berada di sampingku, menghalau mundur monster dengan kekuatan perisai
ajaibnya. Nyonya O'Leary berlompatan keluar entah dari mana, memungut raksasa
Laistrygonian dengan mulutnya, dan melemparkannya ke udara seperti Frisbee.
Annabeth menggunakan topi tak kasat matanya untuk menyelinap ke belakang
garis pertahanan musuh. Kapan pun seekor monster terbuyarkan tanpa alasan
yang jelas dengan ekspresi terkejut di wajahnya, aku tahu Annabeth ada di sana.
Namun, tetap saja tidak cukup.
"Tahan garis pertahanan kalian!" teriak Katie Gardner, di suatu tempat di
sebelah kiriku. Masalahnya adalah jumlah kami terlalu sedikit untuk menahan apa pun.
Jalan masuk ke Olympus berada enam meter di belakangku. Lingkaran blasteran,
Pemburu, dan roh alam pemberani menjaga pintu-pintu. Aku menyabet dan
menyayat, menghancurkan segalanya di lintasanku, tapi diriku sekalipun jadi
capek, dan aku tidak bisa berada di semua tempat pada waktu bersamaan.
Di belakang pasukan musuh, beberapa blok di timur, cahaya terang mulai
bersinar. Kupikir itu matahari terbit. Lalu kusadari bahwa Kronos berkendara
naik kereta perang emas ke arah kami. Selusin raksasa Laistrygonian membawa
panjipanji hitam-ungunya. Sang penguasa Titan terlihat segar dan cukup
istirahat, kekuatannya penuh. Dia tidak maju dengan terburu-buru, membiarkanku
membuat diriku sendiri kelelahan.
Annabeth muncul di sampingku. "Kita harus mundur ke ambang pintu.
Tahan bagaimanapun caranya!"
Dia benar. Aku hendak memerintahkan mundur saat aku mendengar
terompet berburu. Lengkingannya membelah bunyi pertempuran seperti alarm kebakaran.
Paduan suara terompet menjawab dari sekeliling kami, gemanya terpantul dari
bangunan-bangunan Manhattan.
Aku melirik Thalia, tapi dia cuma mengerutkan kening.
"Bukan Pemburu," dia meyakinkanku. "Kami semua di sini."


Dewi Olympia Terakhir The Last Olympian Percy Jackson And The Olympians Karya Rick Riordan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau begitu siapa?"
Terompet menjadi semakin keras. Aku tidak bisa tahu dari mana mereka
datang karena gemanya, tapi kedengarannya satu pasukan sedang mendekat.
Aku takut kalau-kalau itu mungkin musuh lagi, tapi pasukan Kronos terlihat
sama bingungnya seperti kami. Para raksasa menurunkan pentungan mereka.
Dracaena mendesis. Bahkan penjaga kehormatan Kronos kelihatan gelisah.
Kemudian, di kiri kami, seratus monster memekik serempak. Seluruh sayap
utara Kronos merangsek maju. Kupikir kami mampus, tapi mereka tidak
menyerang. Mereka lari melewati kami dan menabrak sekutu selatan mereka.
Raungan terompet lagi-lagi memecah keheningan malam. Udara berdenyar.
Dalam gerakan kabur, satu kavaleri muncul seolah turun dengan kecepatan cahaya.
"Asyik!" sebuah suara melolong. "PESTA!"
Hujan anak panah melengkung di atas kepala kami dan mengenai musuh,
menguapkan ratusan monster. Tapi ini bukanlah anak panah biasa. Anak panah
Pendekar Pemanah Rajawali 28 Pendekar Naga Putih 32 Kumbang Merah Gajahmada 4
^