Pencarian

Because You 2

Because You Are Mine Karya Beth Kery Bagian 2


Aku akan membuat tato bajak laut dipantat ku," Francesca berkata,
mengambil lelucon dari temannya tadi.
"Francesca, jangan."
Dia mematikan tombol telponnya.
"Cesca, tidakkah kau baru saja."
"Ya, dia melakukannya." Caden menyela, terdengar bingung dan
terkesan. "Dia baru saja mematikan telpon Ian Noble dan
menggantungnya." "Apakah kau yakin ingin melakukan ini, Cesca?" tanya Davie,
setelah dia memilih kuas tato.
"Aku...aku kira begitu," gumamnya, ledakan kegembiraan dari
pembangkanngannya terhadap arogansi Ian melemah.
"Tentu saja dia mau melakukan ini. Sini, minumlah agar lebih
berani," kata Justin bijaksana, memberi botol perak padanya.
"Ces" Davie khawatir, tapi dia mengambil botol itu. Francesca
mengernyit ketika merasakan whiskey itu, meluncur turun ke
tenggorokannya. Dia tidak suka minuman keras.
"Aku tidak suka klienku minum alcohol sebelum mereka mulai di
tato. Meningkatkan pendarahan," kata pria berjenggot, pembuat tato
yang berambut kusut dengan keras ketika dia memasuki ruang tato
dimana Francesca berdiri dengan tiga orang temannya.
"Oh, baiklah kalau begitu." Francesca mengelak, melihat
kemungkinan untuk keluar.
"Jangan menjadi pengecut," kata Justin tegas. "Bart tidak mungkin
menyuruhmu pulang karena kau minum satu atau dua gelas,
benarkan Bart?" Dia serius dalam beretika, tapi dia lupa tentang
bagaimana cepat uang berada di jalan."
Pembuat tato itu melotot ke pada Justin, tapi Justin balik melotot
padanya. "Turunkan celanamu dan berbaringlah di meja," Perintah Bart.
Francesca mulai membuka kancing celana jeansnya. Davie, Justin,
Caden dan Bart melihat dia berbaring, pinggangnya turun di meja.
"Sini, biar ku bantu!" Caden bernafsu untuk membantu ketika
Francesca mulai melepas jeansnya dan celana itu turun disepanjang
pantat kanannya. Davie menyambar lengan Caden,
menghentikannya dengan pandangan melarang.
"Di sini?" Bart bertanya dengan kasar beberapa detik kemudian,
melangkah maju. Bart menyentuh kulit Francesca mengirim rasa
ngeri padanya. "Ya, kau bisa membuat gambar pada salah satu pantatnya semacam
lukisan bunga untuk kuas celup."
Francesca mendengar suara Justin yang lembut. Dia mengamati
sekelilingnya. Justin menatap pantatnya dengan tatapan ketertarikan
pria yang nyata. "Mungkin kita perlu melihat pipi yang lain hanya untuk
mendapatkan gambar yang lebih jelas.," Caden menyarankan.
"Diamlah, kalian berdua," Francesca berteriak. Hal itu memebuatnya
tidak nyaman karena Justin dan Caden melihatnya seperti itu.
Mungkin ini semua adalah ide yang bodoh. Pikirannya berhamburan
ketika Bart mendekat, tabung ditangannya dengan jarum menonjol
keluar. Francesca memperhatikan jari kukunya yang kotor. Dia takut
jarum. Whiskey seolah mendidih di perutnya.
"Tunggu, kalian, aku tidak mengerti ini semua," dia berkata,
matanya tertutup ketika dia mencoba untuk melawan serangan sakit
kepala. "Ayolah, Cesca. Hey...Sialan apa yang-"
Francesca mengangkat kepaalanya kearah suara Caden yang berseru
terkejut, langkah kasar membuat rambutnya terbang ke wajahnya
dan menyamarkannya sementara waktu. Francesca merasa Bart
menyentakkan pegangannya ketika seseorang merebut lengannya.
"Biarkan dia segera pergi, atau aku bersumpah aku akan
membunuhmu atau kau tidak akan bisa bekerja lagi di kota ini." Bart
mengurangi cengkraman pada jeans Francesca. "Francesca, bangun."
Francesca mengikuti instruksi ringkas Ian tanpa berfikir dua kali.
Dia merangkak turun dari meja dan menaikkan celana jeansnya,
menganga pada Ian yang sedang marah, wajahnya yang keras sangat
menyolok. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Ian tidak menjawab, hanya menatap Bart dengan pandangan
menusuk. Setelah dia mengancingkan celananya, Ian mengambil
tangannya dan merenggut lengan bawahnya. Francesca tersandung
dibelakangnya ketika Ian mulai berjalan keluar dari ruang tato. Ian
berhenti di depan trio Davie, Caden dan Justin. Ian nampak
membayangi mereka seperti kegelapan, menara menakutkan.
"Kalian bertiga temannya?" Ian bertanya.
Davie mengangguk, dia nampak pucat.
"Kalian seharusnya malu pada diri sendiri."
Justin terlihat ingin menantang Ian. Dia melangkah kedepan untuk
membantah, tapi Davie memotongnya.
"Tidak, Justin. Dia benar," kata Davie bijak.
Wajah Justin semerah bata, dan dia siap untuk berdebat, tapi
Francesca menghentikannya. "tidak apa- apa. Sungguh." katanya
meyakinkan Justin yang tegang, sebelum Francesca mengikuti Ian
keluar dari ruangan tato, tangannya dalam genggaman Ian.
Francesca kesulitan mengikuti langkah kaki panjangnya
dikegelapan, dengan banyak pohon. Francesca benar-benar tidak
berfikir dirinya mabuk, jadi mengapa dunia menjadi berkilau tidak
nyata sejak dia mendengar suara Ian yang memerintahkan bart untuk
melapaskannya" "Apakah kau akan mengatakan padaku apa yang kau lakukan?"
tanyanya terengah-engah saat dia berlari-lari kecil disampingnya..
"Kau lengah, Francesca," Ian berkata dengan bibir menipis penuh
kemarahan. "Apa yang kau bicarakan?" Francesca menuntut.
Ian tiba-tiba berhenti di trotoar, menariknya dalam pelukannya dan
menyambar ke bawah, menciumnya kasar. Begitu manis. Mengapa
dia tidak bisa mengatakan perbedaannya ketika Ian menciumnya"
Francesca mengerang di mulut Ian, tubuhnya menjadi kaku sebelum
bersentuhan dengan tubuh tinggi Ian. Rasanya dan aromanya
menghatam seperti badai gairah. Putingnya mengetat, gundukan
sensitif yang belajar untuk bersatu dengan gairah Ian. Ian
membasahi mulutnya lebih cepat dari yang Francesca harapkan atau
inginkan memberika rasa panas dan keras dari Ian.
Ya Tuhan, betapa dia menginginkan pria ini. Nyala api, tidak pernah
dengan jelas menghantamnya secara penuh sampai pada malam ini.
Francesca tidak pernah mempertimbangkan pria sepeti Ian akan
membuatnya tertarik secara seksual, dia tidak ingin mengakui
gairahnya bangkit oleh Ian.
Cahaya dari lampu jalan membuat mata Ian bersinar di wajahnya
yang gelap ketika dia menatap Francesca. Francesca merasa
kemarahan dan gairahnya memenuhi tubuhnya dengan sama
besarnya. "Berani-beraninya kau membiarkan bajingan tanpa surat ijin itu
menaruh jarum di kulit mu" dan kebodohan apalagi hingga kau
menunnjukkan pantat mu pada para pria yang meneteska air liur di
dalam kamar?" dia berteriak.
Franncesca terkejut. "Pria yang meneteskan air liur...mereka adalah
teman-temanku," dia mengerjap, menyerap apa yang Ian katakana.
"Bart tidak punya surat ijin" Tunggu...darimana kau tahu dimana
aku berada?" "Temanmu meneriakkkan nama salon tempat membuat tato itu
dengan keras dan jelas ketika kita sedang bicara di telpon," katanya
pedas, berjalan menjauh dari Francesca dan meninggalkan getaran
protes dari dalam dirinya.
"Oh," Francesca berkata pelan. Francesca melihat Ian melompat
menyebrangi rumput ke pinggir jalan dan membuka pintu sedan
yang gelap dan licin yang tampaknya sangat mahal.
Francesca menatapnya dengan waspada. "Kemana kita akan pergi?"
dia bertanya. "Jika kau memilih untuk masuk mobil, kita akan ke ruamahku," Ian
berkata ringkas. Hatinya mulai memainkan drum solo hingga terdengar ditelingaya.
"Kenapa?" "Seperti yang pernah aku katakan, kau membiarkan dirimu lengah,
Francesca. Aku bilang apa yang akan kulakukan padamu jika lain
kali kau melakukannya. Kau ingat?"
Dunianya menyempit pada kilatan matanya dari wajah gelapnya dan
detak jantungnya memukul gendang telinganya.
Jangan pernah mmbiarka dirimu tanpa pertahanan, Franceca. Jangan
pernah. Lain kali kau melakukannya aku akan menghukummu.
Cairan hangat mengalir diantara paha nya.Tidak...dia tidak mungin
serius.Pengalaman nya pada pikiran liar hadir lagi dan bergabung
dengan kebodohan, lelucon mabuk dari temannya.
"Mauk ke mobil atau tidak," Ian berkata, suaranya sedikit lebih
lembut dari sebelumnya. "Aku hanya ingin kau tahu apa yang akan
terjadi jika kau melakukannya."
"Kau akan menghukumku?" Francesca bertanya gemetar.
"Apa...seperti memukul pantatku?" Francesca tidak percaya dia
mengatakan hal itu. Dia tidak percaya ketika Ian mengangguk.
"Benar. Pelanggaranmu menghasilkan pukulan untukmu. Aku akan
memberi mu lebih jika kau bukan orang baru dalam hal ini. Dan itu
akan menyakitkan. Tapi aku hanya akan memberi yang bisa kau
terima. Dan aku tidak akan, tidak akan pernah membahayakan atau
membekas padamu, Francesca. Kau terlalu berharga. Kau boleh
pegang kata-kataku."
Francesca memandang cahaya dari lampu studio tato dan kembali ke
wajah Ian. Ini semua kegilaan yang tidak bisa dia tolak.
Ian tidak berkata apa-apa hanya menutup pintu mobil setelan
Francesca masuk dan duduk di tempat duduk penumpang.
*** Because I Could Not Resist
Bab 4 Pintu lift tertutup dengan pelan, dan Francesca mengikuti Ian masuk
kedalam Penthouse, perasaan yang sama, bagian dari rasa takut
bercampur ragu dan kegembiraan.
"Ikut aku ke kamarku," kata Ian.
Kamarku. Kata itu menggema di kepalanya. Francesca tidak pernah
berada di sayap ini dari kondominium Ian yang besar, dia terkejut
menyadarinya. Francesca mengikuti Ian dibelakanya, merasa seperti
anak sekolah yang tertangkap basah. Antisipasi tidak bisa disangkal
dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dia mengerti, bagaimanapun
juga, dia tahu jika dia menyeberangi pintu menuju kamar pribadi
Ian, hidupnya akan berubah selamanya. Seolah Ian dapat mengerti
hal ini, dia berhenti didepan pintu kayu berukir.
"Kau belum pernah melakukan ini sebelumnya, kan?" kata Ian.
"Tidak," Francesca mengakui, berharap pipinya tidak terbakar.
Mereka berdua berbicara dengan nada lirih. "Apakah itu tidak
masalah bagimu?" "Ini bukanlah yang pertama. Aku begitu menginginkanmu,
bagaimanapun juga, aku sadar dengan kepolosanmu." dia berkata.
Francesca merendahkan matanya. "Apakah kau yakin ingin
melakukannya, Francesca?"
"Katakan padaku satu hal."
"Apapun itu." "Ketika kau menelpon tadi...ketika aku di mobil" Kau tidak pernah
bilang kenapa kau menelpon."
"Dan kau ingin tahu?"
Francesca mengangguk. "Aku sendirian di Penthouse. Aku tidak bisa berkerja atau
berkonsentrasi." "Aku pikir kau mengatakan akan bersenang-senang."
"Aku memang mengatakannya. Tapi ketika hendak melakukannya,
aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Tidak pernah ada orang yang
melakukan ini padaku."
Nafas Francesca tercekat. Terjadi sesuatu padanya, karena dia
terlihat begitu jujur. "Itulah mengapa aku pergi ke studio dan melihat lukisan yang kau
lukis kemarin. Itu brilian, Francesca. Tiba-tiba, aku merasa harus
menemuimu." Francesca menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan betapa
senangnya dia pada ucapan Ian. "Baiklah. Aku yakin sekarang."
Inilah yang dia ragukan, tapi kemudian dia menggapai dan memutar
kenop pintu. Pintu terbuka. Ian melambaikan tangan dan Francesca
masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Ian menyentuh tombol
control dan beberapa lampu bersinar dengan cahaya keemasan.
Ini adalah kamar yang indah, tenang, penuh perasaan, dan mewah.
Sebuah ranjang dan beberapa kursi diatur di area tempat duduk
didepan perapian. Sebuah rangkaian bunga menakjubkan Calla Lili
dan Anggrek Merah dalam vas Ming besar diletakkan di atas meja
dibelakang sofa. Diatas perapian terdapat lukisan impresionis
tentang ladang bunga poppy, jika dia tidak lupa, ini adalah lukisan
Monet asli. Luar Biasa. Pandangan matanya jatuh pada poster besar
di atas ranjang dengan ukiran di empat sisinya seperti ruang santai,
kaya akan warna coklat, gading, dan skema warna merah tua.
"Penguasa dari tempat pribadi bangsawan." dia berbisik, memberi
senyuman yang menggetarkan.
Ian melambai pada pintu yang lain. Francesca mengikutinya ke
kamar mandi yang lebih lebar dari kamarnya. Ian membuka laci
mengambil kain yang terlipat dan dibungkus plastik bening. Dia
meletakkannya di meja. "Pergilah dan mandi dan pakailah jubah ini. Hanya jubah.
Tanggalkan semua pakaianmu. Kau akan menemukan semua yang
kau butuhkan di dua laci itu. Baumu seperti asap rokok dan
whiskey." "Aku minta maaf kau tidak setuju."
"Aku menerima permintan maafmu."
Kemarahannya menyala lagi pada jawaban cepat Ian. Sebuah
senyum kecil miring di mulut Ian ketika dia melihat pembangkangan
Francesca kembali. Ian jelas menyukai hal itu.
"Kau membuat ku senang, Francesca. Luar biasa."
Mulut Francesca terbuka karena terkejut atas pujian itu. Bisakah dia
belajar untuk memahami Ian"
"Tapi kau harus belajar untuk menyenangkan aku di ranjang,"
katanya. "Aku ingin melakukannya," Francesca berkata pelan, terkejut akan
kejujurannya. "Bagus. Dan untuk memulainya, aku ingin kau mandi dan memakai
jubah ini. Ketika kau selesai, datanglah ke kamar, dan aku akan
memutuskan hukumanmu."
Ian berjalan keluar kamar mandi tapi kemudian berhenti. "Oh ya,
dan tolong cuci rambutmu. Rambutmu seperti sebuah kesalahan
untuk semua kepuasan karena baunya yang seperti asbak,"
gumamnya pelan sebelum ia keluar, dan menutup pintu di
belakangnya dengan cepat.
Francesca hanya berdiri disana beberapa saat di atas lantai marmer
asli. Ian pikir rambutnya indah" Francesca membuat Ian senang"
Bagaimana munkin dia berfikir seperti itu tentangnya" Bagaimana
mungkin Ian menciumnya hingga dia berfikir dia bisa terbakar


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan spontan dan sekarang melihatnya seolah dia menarik seperti
lukisan di dinding" Francesca mandi secara menyeluruh, menikmati pengalaman lebih
dari yang dia pikirkan. Pintu kaca tertutup uap dengan cepat, sulur
kabut hangat seakan membelai kulit telanjangnya. Nyaman sekali
untuk menyabuni dengan sabun gilingan tangan dari Inggris,
membuat dirinya bersih, berbau rempah. Untung saja, dia bercukur
sebelum pergi ke McGill's, jadi dia tidak perlu khawatir pada
kakinya yang berbulu. Apakah Ian akan memukul pantatnya ketika dia telanjang"
Tentu saja dia akan melakukannya, Francesca menjawab sendiri
pertanyaannya ketika membuka pintu kaca di kamar mandi dan
keluar. Ian mengatakan terus terang apa yang dia inginkan yaitu Francesca
telanjang di bawah jubah. Francesca membuka pakaian itu dari
pembungkus plastik. Apakah ini baru" Apakah dia menyediakan
jubah untuk persedian bagi wanita yang "menghiburnya?" Pikiran itu
membuatnya sedikit sakit, jadi dia segera menghapusnya dari
pikirannya, lebih memusatkan untuk menemukan sisir untuk
rambutnya yang basah, deodoran, sikat gigi baru, dan sebotol
pembersih mulut. Semuanya teratur dengan rapi di lemari kaca dimana dia mengambil
perawatan special yang dia ambil untuk dikembalikan ke tempat
semula. Francesca melipat bajunya dan menaruhnya di tempat duduk
berlapis. Bayangan di cermin menarik perhatiannya. Bayangan itu
menatapnya, matanya terlihat besar di wajahnya yang pucat, rambut
panjangnya menggantung basah. Dia tampak agak takut.
Jadi bagaimana kalau aku takut" pikirnya. Ian mengatakan akan
memukul pantatnya dan itu akan menyakitkan. Francesca setuju
pada pelatihan seksual menyesatkan yang nyata dari Ian karena dia
begitu menginginkan Ian. Dan menjadi lebih besar. ketakutan atau keinginannya untuk
menyenangkan Ian. Francesca berjalan kearah pintu dan membukanya. Ian duduk di
sofa, tablet di pangkuannya. Ian mengatur perangkat minum di meja
kopi ketika Francesca datang.
"Aku menyalakan api untukmu," kata Ian, tatapannya menelusurinya
dari ujung kepala hingga kaki. Dia memakai baju yang sama yang
dipakai ketika dia berada di studio tato celana setelan abu-abu gelap
dan kemeja bergaris putih-biru. Kakinya yang panjang disilangkan
santai. Dia terlihat sangat nyaman. Cahaya dari api menyala di
matanya. "Malam ini keren. Aku tidak ingin kau masuk angin."
"Terima kasih," gumam Francesca, merasa canggung dan ragu.
"Lepaskan jubahmu, Francesca," Ian berkata pelan.
Jantungnya berdetak kencang. Francesca meraba ikat pinggang dan
menarik jubah dari pundaknya.
"Letakkan di sana," Perintah Ian, menunjuk kursi di samping
Francesca, matanya tidak pernah meninggalkan Francesca.
Francesca meletakkan jubah itu di belakang kursi dan berdiri di sana,
berharap lantai akan terbuka dan menelannya, mengamati motif
rumit dari karpet Oriental di bawahnya seolah hal itu memegang
rahasia dari alam semesta.
"Lihatlah aku," Ian berkata.
Francesca mengangkat dagunya. Ada sesuatu yang dia lihat di mata
Ian yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Kau indah. Menakjubkan. Kenapa kau melihat kebawah, apakah
kau malu?" Francesca menelan ludah. Rasa malu datang menusuk dari
tenggorokannya. "Aku...Aku dulu kelebihan berat badan. Sampai
usia Sembilan belas tahun atau lebih...Aku pikir aku masih tetap
memiliki keyakinan dari diriku yang dulu," dia menjelaskan,
suaranya nyaris seperti bisikan.
Ekspresi yang halus terlihat di seluruh wajah Francesca yang
berani."Ah...ya. Tapi kau tampak begitu percaya diri saat ini."
"Ini bukanlah kepercayaan diri. Ini tantangan."
"Ya," Ian merenung. "Aku mengerti sekarang. Lebih dari yang
mungkin kau pikirkan. Ini adalah caramu mengatakan pada dunia
bahwa kau mencintai dirimu sendiri dan tidak perlu orang lain
melihatmu menderita." dia tersenyum." Bravo, Francesca. Waktunya
kau belajar untuk menyadari seberapa cantik dirimu. Kau seharusnya
mengontrol kekuatan yang kau miliki, jangan pernah membiarkan
mereka merana atau, membiarkan orang lain mengontrol mereka
untukmu. Berdirilah di depanku, tolong."
Francesca berjalan kearahnya dengan kaki gemetar. Matanya
melebar dalam kebingungan ketika Ian mengambil botol dari tempat
duduk di dalam bantal disampingnya. Botol itu kecil, dan Ian benarbenar mengisi
pikirannya, Sampai Francesca tidak menyadari botol
itu sebelumnya. Ian melepaskan tutupnya dan mengambil sedikit
cairan putih bening dengan jarinya. Melihat ke atas, Ian menyadari
Francesca kebingungan. "Ini adalah perangsang klitoris. Meningkatkan kepekaan dari
syaraf," Ian berkata.
"Oh, aku tahu," Francesca berkata, meskipun dia tidak mengerti.
Matanya turun diantara kakinya. Klitnya terjepit oleh gairah,
tatapannya cukup menstimulasi.
"Aku sangat egois ketika ini berurusan denganmu."
"Apa maksudmu?" Francesca bertanya.
"Aku selalu memberikan submisif kenikmatan jika dia
menyenangkanku. Bagaimanapun juga, Aku biasanya tidak terlalu
memperhatikan jika dia merasakannya sementara dia dihukum. Dia
mungkin harus menahannya untuk mendapatkan hadiah. Aku merasa
aku...merubah sedikit sikapku padamu, bagaimanapun juga."
"Submisif?" Francesca bertanya lemah, otaknya melekat pada bagian
itu dari jawaban Ian. "Ya. Aku dominan kalau menyangkut seks, walaupun aku tidak
memerlukan unsur penyerahan diri atau kekuasaan agar gairahku
terbangkitkan. Hal itu adalah pilihan untukku, bukan kebutuhan."
Ian duduk di sofa depan kepalanya hanya beberapa inci dari
perutnya, hidungnya dekat organnya. Francesca melihat Ian menarik
nafas dan kemudian memejamkan mata.
"Manis sekali," Ian berkata, terdengar sedikit terlepas.
Francesca tidak punya waktu untuk mengetahui apa yangn akan
dilakukan Ian selanjutnya. Ian memasukkan jari langsingnya
diantara bibir vaginanya dan menggosokkan krim di klit nya,
sentuhannya begitu...nikmat. Francesca menggigit bibir bawahnya
agar dia tidak berteriak selama dirinya gemetar terpusat pada gairah.
"Malam ini, aku akan menghukummu, dan aku tidak berbohong.
Aku akan menikmatinya. Sangat menikmatinya. Tapi aku juga ingin
kau menikmatinya juga. Kaulah yang paling menentukan, tapi krim
ini akan membawamu terbuai kearah yang benar." Ian berkata sambil
melanjutkan memijat bagian lunak di klitnya. Ian memandang keatas
dan melihat Francesca kebingungan. "Aku tidak ingin membuatmu
takut akan hal ini. Aku tidak mau kau membeci hukumanmu.
Artinya, aku tidak ingin kau takut padaku, Francesca."
Ian meletakkan tangannya dipangkuannya. Pandangannya kembali
ke puncak paha Francesca. Lubang hidungnya mengembang, dan
wajahnya kaku sebelum dia tiba-tiba berdiri.
"Sebelah sini, tolong," Ian berkata. Francesca mengikutinya ke arah
Ian berdiri didepan perapian. Kakinya terhenti ketika dia melihat Ian
mengambil sebuah tongkat hitam panjang. "Mendekatlah. Kau bisa
melihat ini," Ian berkata ketika melihat kekhawatiran Francesca.
Ian memeganng tongkat untuk memeriksanya. "Aku meminta ini
dibuat dengan tangan. Aku baru mnerimanya satu minggu yang lalu.
Meskipun mendesak aku tidak yakin akan benar-benar
menggunakannya, aku memesannya dengan kau ada dalam
pikiranku, Francesca."
Mata Fancesca melebar karena perkataan Ian.
"Aku akan membuatmu terbakar dengan sisi kulit ini," Ian berkata
pelan. Cairan hangat mengalir diantara pahanya pada perkataannya
yang nyata. Ian memutar pergelangan tangannya, mengirim pukulan
beberapa incin di udara, dan menangkapnya karena jatuh. Francesca
memandang dalam kekaguman. Satu sisinya di tutupi oleh bulu
coklat gelap yang terlihat mahal. "Dan sisi yang berbulu ini akan
menenangkan rasa sakit." Ian meneruskan.
Mulut Francesca kering, pikirannya kosong.
"Kita mulai sekarang. Membungkuk ke depan dan letakkan
tanganmu di lutut," Ian menginstruksi.
Francesca melakukan perintahnya, nafasnya berhembus tak
menentu. Ian datang dan berdiri disampingnya. Francesca
memberinya pandangan miring yang khawatir. Api memancar dari
mata Ian ketika dia menatap tubuh Francesca.
"Ya Tuhan, kau cantik. Membuat aku frustasi karena kau tidak
menyadarinya, Francesca. Tidak di cermin. Tidak di mata pria lain.
Tidak di dalam jiwamu." Francesca menutup matanya ketika Ian
mencapai dan membelai punggungnya, kemudian pinggangnya
sebelah kiri dan pantatnya. Gairah berdesir pada diri nya. "Kau
berhak mendapatkan hukuman meskipun harus melukai kulitmu.
Begitu mulus. Putih. Lembut," gumamnya, jari panjangnya
menjelajah disepanjang belahan pantatnya. Kelopak matanya
tepejam kuat. Emosi menyentak ditenggorokannya,
membingungkannya. Suara Ian benar-benar mempesona.
Francesca tidak membuka matanya sampai Ian berhenti
membelainya. "Buka pahamu dan angkat punggungmu. Ini akan memberi ku
kepuasan untuk melihat payudaramu yang bagus sementara aku
memukulmu." katanya. Francesca mengatur posisinya, mengangkat
punggungnya. Dia terengah ketika Ian menjangkau kedepan,
menangkup salah satu payudaranya. Ian mencubit putingnya.dan
Francesca gemetar dalam gairah.
"Sekarang tekuk lututmu sedikit. Lututmu akan membantumu
menahan pukulan. Seperti ini. Ini sempurna. Dengan posisi seperti
ini aku harap kau menerima setiap pukulan yang kuberikan."
Francesca lupa pada jari Ian yang begitu berani dan telapak
tangannya yang hangat ketika dia memindahkan tangannya ke
pundaknya." Kulitmu begitu lembut. Aku akan memberikan lima
belas pukulan." Sisi kulit dari tongkat menampar pantatnya. Matanya melebar, dan
dia berteriak. Sengatan rasa sakit memudar cepat. "Kau baik-baik
saja?" Ian bertanya.
"Ya," Francesca menjawab jujur, menggigit bibir bawahnya.
Ian memukulnya lagi, kali ini pukulannya mengenai garis lembut
dari pantat terbawahnya. Ian memegang pundaknya ketika Francesca
jatuh sedikit kedepan dari pukulan.
"Kau memiliki pantat yang indah," Ian berkata, suaranya terdengar
rendah dan parau. Ian memukulnya lagi "Aku menyetujui
pelarianmu. Pantatmu halus dan kencang dan montok. Pantat ideal
untuk dipukul." Francesca bernafas keras ketika pukulan itu menderanya lagi.
Bagaimana mungkin rasa sensasi terbakar dari pukulan itu berpindah
ke klitnya" Inti tubuhnya terasa panas dan geli. Ian mendaratkan
pukulan lagi, dan dia tidak bisa menahan tangisannya.
"Sakit?" Ian bertanya, dia berhenti.
Francesca hanya mengangguk.
"Jika ini terlalu berlebihan, kau bisa mengatakannya. Aku akan
meringankan pukulannya."
"Tidak...aku bisa menerimanya," Francesca berkata gemetar.
Tiba-tiba Ian mengulurkan tangan dan menangkup pinggulnya,
kemudian menekan selangkangannya pada Francesca. Francesca
terengah merasakan penis panjang Ian berdenyut pada sisi dari
pantatnya. "Di sana" Ian berkata. "Itulah bagaimana kau akan
menyenangkan aku." Pipi Francesca memanas. Rasa panas pada klitnya meningkat. Ian
bersandar dan mendaratkan pukulan lagi dan lagi dengan suara
pecah yang tajam. Pada saat ia siap untuk meemberikan pukulan
terakhir, pantat Francesca seoalah terbakar. Mungkin Ian sadar akan
pahanya yang gemetar, kemudian dia bergumam "Tetap stabil" dan
dia mencengkram pundaknya. Ian menekan tongkat pada pantatnya
yang tersengat, dengan hati-hati mengarahkan pukulan terakhirnya.
Ian mengangkat tongkat itu dan mengayunnya.
Sebuah teriakan meletus dari mulut Francesca tak terkendali pada
dampaknya. Ian menangkap tubuhnya yang roboh kedepan.
"Shhhh," Ian menenangkan."Bagian ini telah selesai."
Francesca berteriak gemetar saat Ian membalik tongkat itu dan mulai
mengosokkan bulu diseluruh pantanya yang terbakar. Rasanya
begitu nyaman. Rasa geli di kllitnya menjadi pengganggu, rasa sakit
yang membakar. Dia rindu untuk menyentuh dirinya sendiri,
memeberikan tekanan. Apakah tongkat di tangan Ian berpengaruh
pada tubuh telanjangnya, atau itu karena krim perangsang yang dia
berikan" Hanya berfikir tentang Ian menggosok bagian lunak di
klitnya dengan jarinya yang panjang membuatnya mengerang. Dia
merasa gelisah. Tiba-tiba, Ian berhenti memukul pantatnya dengan
bulu dan mendorongnya untuk berdiri dengan tangan di pundaknya.
Francesca berbalik pada Ian karena dorongannya, merasa
aneh...bingung...terangsang. Ian tidak memegang tongkat lagi.
Francesca hanya berdiri, merasa gembira saat Ian menyingkirkan
rambut dari wajah ya. "Kau melakukannya sangat baik, Francesca. Lebih baik dari yang
pernah aku bayangkan," Ian bergumam, ibu jarinya menyapu
pipinya. "Apakah kau menangis karena kesakitan?"
Francesca menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa, manis?"
Tenggorokanya terlalu berkerut untuk bisa berbicara. Disamping itu,
dia tidak tahu apa yang akan dia katakan,meskipun dia ingin.
Ian mengayun rahangnya dengan tangannya.Menjadi gendut dalam
sebagian besar hidup nya,dan terlalu tinggi sebagai perempuan, dia
selalu merasa besar dan canggung. Tapi Ian lebih tinggi darinya.
Berdiri disampingnya, dia merasa kecil, lembut...feminin. Francesca
sadar tangan Ian gemetar.
"Ian, tanganmu gemetar," Francesca berbisik.
"Aku tahu. Aku kira karena terlalu banyak menahan diri. Aku
melakukan semuanya dengan kekuatanku agar tidak membungkuk
padamu setiap detiknya dan bercinta secara liar denganmu,"
Francesca mengerjap terkejut. Ian seolah memperingatkannya dan
dia memejamkan matanya sebentar, seolah menyesali apa yang baru
saja dia katakan. "Aku lebih suka memukulmu di atas lutut ku sekarang. Itu akan
memberikan kesenangan yang luar biasa padaku untuk memilikimu
di pangkuan ku, dengan kemurahan hatiku. Tapi kau sangat lembut.
Jika pukulan itu terlalu banyak, aku tidak akan bisa memaksamu
untuk melanjutkannya."
"Tidak. Aku ingin meneruskannya," Francesca, bisiknya parau.
Francesca menatap mata Ian. "Aku ingin menyenangkanmu, Ian."
Kelopak matanya berkedip. Ian terus membelai pipinya dengan ibu
jarinya, mengamatinya lekat.
"Baiklah," akhirnya dia berkata, terdengar pasrah. "Tapi pertamatama datanglah
ke perapian." Francesca mengikutinya, tapi Ian berjalan memutar ke kamar mandi.
"Aku akn segera kembali," katanya.
Francesca menunggu didepan perapian, panas dari perapian


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

disatukan dengan gairah tubuhnya menciptakan perasaan asing
antara kelemahan dan kegembiraan. Ian kembali beberapa saat
kemudian membawa sisir besar.
"Ijinkan aku untuk menyisir rambutmu dan biarkan sedikit kering
oleh perapian." Francesca memandangnya dengan penuh pertanyaan. Ian
memberinya senyum kecil, senyum malu-malu.
"Aku akan melakukan sesuatu untuk menenangkan diriku sedikit."
Francesca balik tersenyum gemetar padanya, dan, karena
keinginannya, memutar dia untuk berhadapan dengan nya. Sensasi
yang berlawanan dari rasa santai dan antisipasi tajam yang tumbuh
saat Ian memisahkan rambutnya, mengumpul kan dan
menggenggamnya dengan lembut, tarikan sensual dari sisir itu
melandanya. Kepalanya terkulai.
"Apakah kau tertidur?" Ian bergumam di belakangnya. Suara Ian
membuat putingnya menusuk dalam kesadarannya. Rasa geli
membakar klitnya semakin besar. Krim yang hebat.
"Tidak, tidak juga. Hanya merasa nyaman."
Ian menarik sisir dari akar rambut ke semua bagian untuk
mengeringkan bagian yang menggantung di atas pinggangnya. "Aku
tidak pernah melihat rambut seperti milikmu. Merah keemasan. Ian
bergumam keras. Ian mengusap pantatnya yang geli, membuatnya
bergetar, dan mendesah pasrah. Ian meletakkan sisir di atas rak.
"Begitu banyak ide untuk membuatku tenang. Lebih baik dilanjutkan
saja. Ikuti aku." Ian berjalan ke sofa dan duduk di bagian tengah, pahanya terbuka.
Pandangannya turun ke pangkuan dalam perintah sunyi. Francesca
sadar berbalik dengan geram. Dia telanjang dan Ian berpakain dan
dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Francesca menelan ludah
dengan gugup ketika dia melihat ereksi Ian menekan bagian
selangkangannya, batang penisnya berada disepanjang paha kirinya.
Francesca melihat pemandangan itu dengan terpesona, Francesca
turun di sofa pada tangan dan lututnya, menyatukan pahanya
kemudian menjadi lebih rendah. Ian membuka tangannya
disepanjang tulang rusuk dan pinggang Francesca, menuntunnya ke
tempat yang dia inginkan.
Ketika dia sudah mantap, dadanya yang membengkak ditekan pada
paha kiri luar Ian, perut Francesca menutupi sepanjang pahanya, dan
pantatnya melengkung di atas paha kanannya. Ian menyapukan
tangannya di sepanjang pinggang, pinggul, dan pantat, dan dia
merasa ereksi Ian bergerak di tulang rusuknya.
"Ini adalah posisi yang tepat yang akan kau ambil untuk pukulan
pantat di atas lutut. Kau mengerti?" Ian bertanya, tangannya yang
hangat membelai pantatnya sekarang. Sarafnya masih meremang,
tidak nyaman, dari pukulannya.
"Ya," Francesca berkata, mengangguk pada saat yang sama.
Rambutnya jatuh ke wajahnya.
"Ada satu hal lagi," Ian berkata. Ian dengan hati-hati merapikan
kembali rambutnya pada salah satu pundaknya. Ian dengan ringan
mendorong tangannya kebelakang kepalanya dan dahinya ditekan ke
dalam kain lembut sofa. "Aku akan sering menutup matamu untuk
memukul pantatmu. Aku ingin kau benar-benar berkonsentrasi penuh
pada tangan ku, merasakan hukumanmu...gairahku. Tapi untuk
sekarang, tundukkan wajahmu dan tutup matamu."
Francesca menatupkan kelopak matanya agar tertutup dan
menggeliat-geliat di pangkuannya. Dia merasa Ian tegang.
"Apa" Apakah ini menggairahkanmu?"
"Aku...aku pikir begitu," Francesca berkata, kebingungan. Dia pikir
Ian benar. Tikaman dari gairahnya hilang oleh kata-kata Ian.
Bagaimana bisa seperti itu" "Pasti karena krim," dia bergumam.
Ian memukul pantatnya lagi. "Mari kita berharap ini lebih dari krim,"
dia bergumam, dan Francesca mendengar senyuman di suaranya.
"tetap seperti itu sekarang, atau aku akan memukul pantatmu lebih
keras." Ian mengangkat tangannya dan menampar pantat kanannya,
kemudian sebelah kiri, berganti ke kanan dalam rangkaian cepat,
suara meletus menggema di telinganya saat Ian berhenti. Francesca
menggigit bibirnya untuk menghentikan erangannya. Ian sangat
berpengalaman dalam memukul pantat; pukulannya tepat, tegas,
cepat tapi tidak tergesa-gesa. Ian mendaratkan pukulan yang lain,
meliputi pantat dan paha atasnya. Pantatnya mulai terbakar dengan
cara yang berbeda dari pukulan tongkatnya.Tangan Ian mulai
melambat, panas membara bergaung lagi di kulitnya. Francesca juga
belajar cukup cepat dimana Ian paling suka memukulnya bagian
terbawah garis pantatnya. Setiap kali Ian memukulnya disana,
penisnya bergerak tiba-tiba padanya dan dia merasa ketegangan
melompat dalam pahanya. Tamparan tangannya bertambah panas
sama dengan pantatnya. Kehangatan dari getaran penisnya, juga,
melalui bahan celananya ke kulitnya.
Ian mendaratkan pukulan di garis terbawah pantatnya, kemudian
tiba-tiba merenggut seluruh pantatnya dan mengangkat kuncian
pahanya, memutarnya pada ereksinya. Francesca merintih
bercampur dengan sedikit geraman liar. Klitnya berubah dari panas
menjadi terbakar karena tekanan dan kesadaran tajam dari gairahnya.
Francesca merasa pusing, hangat, seoalah dia terbakar dari dalam.
Dia ingin hal lain selain berputar dalam pangkuannya dan mendapat
tekanan pada klitnya...untuk membungkuk pada ereksinya secara
liar, sesuatu yang memalukan. Ian merendahkan pinggulnya dan
kembali memukul pantatnya. Saat ia berhenti setelah rentetan
pukulan cepat dan meletakkan pantatnya ditelapak tangannya
dengan rakus, kontrol Francesca pecah.
"Oh, Ian...tidak. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya
lagi," Francesca mengerang, menggeliat dipangkuannya. Ian
menenangkan, pipi pantatnya masih diremas dalam telapak
tangannya. "Apakah ini terlalu menyakitkan?" Ian bertanya tegang.
"Tidak. Aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku terbakar."
Selama beberapa detik yang penuh kehawatiran, Ian tidak bergerak.
Kemudian dia melepas pantatnya dan menyelipkan tangan diantara
pahanya. Francesca merintih kesakitan panik saat ujung jarinya
meluncur disepanjang bagian luar kewanitaannya. Ereksinya
menegang padanya. "Ya Tuhan...kau sangat basah," Francesca mendengar dia berkata.
Terdengar takjub. Francesca terlalu gembira untuk malu...terlalu
jauh. Francesca tersentak saat Ian menaruh tangannya di pundaknya,
memintanya berdiri. "Kemarilah," perintahnya dengan nada keras.
Oh, tidak. Apakah dia membuat Ian jengkel lagi" Dia mendorong
dirinya berdiri di atas lututnya dengan bantuannya.
"Mengangkang di pangkuanku," pinta Ian.
Rambutnya yang hampir kering menyebar di sekitar pundaknya dan
punggungnya saat ia melakukan tawarannya. Ian meletakkan
tangannya dia pinggangnya, menenangkan rasa panasnya, pantatnya
yang terbakar berada di pahanya. Ian merapikan rambut ke belakang
pundaknya, mengekspos dadanya. Pandangannya terpaku pada
dadanya, bibir atasnya melengkung sedikit dalam geraman.
"Lihatlah itu," Ian berkata pelan."Putingmu hampir sama merahnya
dengan pantatmu. "Pandangannya berkedip ke seluruh wajahnya.
"begitu juga pipimu, Francesca...dan bibirmu. Kau menikmati
hukuman, manis. Dan itu sangat menyenangkan aku. Akan lebih
baik untuk bercinta dengan vagina basahmu yang mungil."
Organnya mengepal menyakitkan. Ian membuka tangannya yang
lebar disekitar tulang rusuknya dan merendahkan kepalanya,
membawa payudara Francesca untuknya. Francesa tegang,
mengharapkan kegembiraan, isapan kuat yang dia lakukan di ruang
kerja, tapi sebaliknya, dia mengerutkan sedikit bibirnya, mencium
salah satu putingnya yang bengkak, kemudian satu lagi dengan
manis. "Begitu sempurna," bisiknya. Tangannya bergerak cepat.
Kegembiraannya menusuk saat dia sadar Ian membuka celananya.
Ian menyelipkan kepalanya diantara dada, dan bibirnya menghisap
sedikit dan menjilat dengan lidahnya yang basah dan hangat.
Klitnya mendesis, menyiksanya. Pinggulnya mengejang di
pangkuannya. Francesca tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Francesca mencengkram kepala Ian dan menjadi liar, kehangatan
terdengar di tenggorokannya. Ian mengangkat kepalanya dan
menatap wajahnya. "Tidak apa-apa," Ian menenangkan, mata birunya menyala oleh
gairah. Dia memindahkan tanganya, menyelipkannya turun ke
pinggangnya. Francesca merintih ketika Ian menyelipkan tangannya
diantara labia lembutnya. Ian menyentuh klitnya. Itu saja. Satu
sentuhan. Francesca meledak seperti gudang dinamit.
Dia sulit mengetahui apa yang dia lakukan, begitu banyak
kenikmatan membanjiri diriya saat ini. Untuk beberapa saat, Ian
terus membelai klitnya sampai badai klimaks melanda. Sampai jauh,
Francesca tahu Ian mengutuk dengan kasar dan menekan Francesca
mendekat ke tubuhnya, seolah dia ingin menyerap getaran
orgasmenya. Francesca menggeleng padanya, tak berdaya
menghadapi orgasmenya. Ian menggeser tangannya. Francesca berteriak saat dia merasa Ian
menekan jari panjangnya ke vagina nya. Hal selanjutnya yang dia
tahu, dia terlentang di sofa disamping Ian, dan Ian menatapnya saat
dia terengah-engah. "Kau belum pernah bersama pria. Benar, kan?"
Nafasnya berdesir membeku. Ini bukan pertanyaan tapi tuduhan.
"Tidak," kata Francesca, melanjutkan sambil terengah-engah.
Kenapa dia melihat Francesca seperti itu" "Aku sudah bilang
padamu." Kemarahan menyala di mata Ian. "Kapan tepatnya kau bilang
padaku kau masih perawan, Francesca" Karena aku sungguh ragu
aku akan melewatkan informasi penting tergelincir di pikiranku,"
sergahnya. "Saat...sebelum kita masuk ke kamar malam ini," katanya, menunjuk
bodoh pada pintu kamar tidurnya . "Kau tanya apakah aku pernah
melakukan ini sebelumnya, dan aku bilang..."
"Maksudku kau jangan pernah membiarkan seorang pria
menghukummu. Mendominasimu. Bukan...bercinta," Ian bergumam
dengan kata-kata tajam. Ian tersentak berdiri dan mondar-mandir di
depan perapian, menyapukan jari-jarinya melalui rambutnya yang
pendek. Dia terelihat sedikit gila.
"Ian, apa..." "Aku tahu ini adalah kesalahan," Ian bergumam pahit. "Apa kau
pikir aku bercanda?" Bibir Francesca menganga terkejut. Ian pikir
ini adalah kesalahan" Ian menolaknya"
Sekarang...Gambaran segar ingatannya dan sensasi yang menyerang
kesadarannya, bagaiman liarnya dia, bagaimana dia hilang kendali
oleh gairah dan kebutuhan.
Francesca mengulang kembali pelajaran meyakitkan dari masa
kecilnya saat ini, salah satu hal terbaik untuk dilakukan adalah
mengingatnya malam ini. Hal ini menyebabkan rasa malu yang lebih
besar dari pada mengekspresikan kebutuhan, dan membuat salah
satunya menjadi lemah, merasa rendah diri, dan perasaan jujur akan
melemparkanmu seolah kau sampah.
Air mata menyamarkan pandangannya, Francesca putus asa meraih
selimut khasmir yang terlempar di sudut sofa. Dia memakai selimut
itu di tubuh telanjangnya sebelum dia berdiri. Ian datang mendekat
ketika melihat apa yang Francesca lakukan.
"Apa yang kau lakukan?" bentaknya.
"Aku akan pergi," jawab Francesca, berjalan menuju kamar mandi.
"Francesca, berhenti sekarang juga," Ian memerintah, suaranya
tenang...mengintimidasi. Francesca berhenti dan meliriknya. Sakit dan kemarahan dari dalam
dirinya meningkat, mengencangkan tenggorokannya, "Kau hanya
kehilangan akal dengan aku di sekitarmu." Francesca berteriak.
Ian memucat. Francesca berbalik tepat pada waktunya untuk mencegah Ian melihat
air mata yang keluar dari matanya. Ian Noble sudah cukup melihat
kerapuhannya malam ini. Ian Nobel sudah melihat lebih dari cukup untuk seumur hidupnya.
*** Because You Haunt Me Bab 5 Dua hari kemudian, Ian menatap keluar jendela limo-nya saat Jacob
Suarez berbelok turun di sepanjang jalan rumah perkotaan dengan
batu bata menarik. Seorang teman menginformasikan padanya
bahwa David Feinstein menerima warisan rumah dari almarhum
orang tuanya, Julia dan Sylvester. Tapi David lebih suka
mendapatkan kekayaan rumah di Wicker Park menjadi miliknya.
Galeri seni Feinstein berjalan sangat baik. Rupanya teman sekamar
Francesca memiliki selera yang baik dan sentuhan bisnis yang bagus
sepanjang itu sopan, tenang, dan teliti yang menarik banyak pecinta
karya seni. Ian juga tidak bisa menyangkal untuk mengetahui bahwa David -
atau Davie," seperti Francesca memanggilnya adalah gay. Bukan
masalah pilihan seksual teman sekamarnya, pikir Ian, saat Jacob
terdiam. Dialah yang menjamin pada malam selanjutnya agar teman
sekamar Francesca tidak bisa menyentuhnya.
Ian menjadi orang pertama yang menyentuh sesuatu yang tidak
seharusnya dia sentuh, dia menambahkan untuk dirinya sendiri.
Akibatnya dia mengerutkan dahi pada saat sopirnya membukakan
pintu mobil untuknya. Bayangan Francesca yang hancur saat ia meninggalkan kamarnya di
malam itu membakar kesadarannya selama ribuan kali. Ian menatap,
menggerutu pelan, saat Francesca melarikan diri dari rumahnya.
Ingin menghentikannya tapi mengerti pasti, ekspresi keras kepala
pada wajahnya yang cantik bahwa dia tidak ingin mendengarkan Ian
pada saat itu. Ian sangat marah padanya karena membuatnya berada
pada situasi seperti ini, dan marah pada dirinya sendiri karena
melihat hanya apa yang ingin dia lihat.
Ya, dia tahu Francesca polos, tapi tidak untuk tingkatan itu. Dia tahu
dia lebih baik melepaskannya. Demi kebaikan.
Di sinilah dia berdiri. Ian mengetuk pintu kayu bercat hijau gelap dengan perasaan aneh
karena kebulatan tekad untuk mundur. Dari mana obsesi aneh ini
datang" Apakah ini berhubungan dengan fakta bahwa Francesca
tidak sadar telah menangkapnya dalam lukisannya beberapa tahun
lalu" Kepemilikan Francesca akan dirinya cepat berlalu, tapi sebuah
kekhawatiran yang singkat.
Ian ingin menghukumnya dan memilikinya untuk pelanggaran
polosnya. Ian tahu dari Mrs. Hanson kalau Francesca tidak datang ke rumah
untuk melukis. Penghindarannya dari rumah Ian membuatnya marah
- sangat tidak rasional, tapi nalarnya tidak bisa menenangkan
emosinya. Ian masih belum memutuskan, saat dia mengetuk pintu
lagi, apakah dia di sini untuk meminta maaf pada Francesca dan
meyakinkan Francesca bahwa dia tidak akan diganggu lagi oleh
perhatiannya. Atau dia ingin meyakinkan Francesca dengan semua
konsekuensinya karena telah membiarkan Ian menyentuhnya lagi.
Perasaan yang bertentangan yang terjadi padanya melukainya dan
membuatnya frustasi, termasuk Lin, yang selalu menyejukkan


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keadaan buruknya, menyembunyikan diri dari Ian seperti golongan
lima angin topan. Pintu depan terbuka dan seorang pria berambut coklat bertinggi
sedang, terlihat lebih muda dari usianya yang dua puluh delapan,
memandangnya muram. Dia pasti baru datang dari galerinya, karena
dia memakai pakaian kerja setelan abu-abu.
"Aku ingin bertemu Francesca." Ian memulai.
Davie memandang pada interior rumah, dengan cemas, tapi
kemudian mengangguk dan mundur, mempersilahkan Ian masuk.
Dia membawa Ian ke ruang tamu dengan dekorasi menarik.
"Silahkan duduk. Aku akan lihat apakah Francesca ada di rumah,"
kata Davie. Ian menganguk dan membuka kancing jaketnya sebelum dia duduk.
Dia mengalihkan diri dengan mengambil katalog dari bantal di
sampingnya, mendengar semua suara di rumah perkotaan yang luas
itu, tidak terdengar langkah kaki di tangga. Halaman di katalog itu
terlipat, seolah seseorang baru saja mempelajari isinya. Ini adalah
daftar lukisan yang akan dijual di tempat lelang lokal.
Davie masuk lagi ke ruang tamu beberapa menit kemudian. Ian
mendongak dan meletakkan katalog di sampingnya.
"Dia bilang dia sibuk," kata Davie, terlihat agak kurang nyaman
dengan pesan yang dia bawa.
Ian mengangguk pelan. Ini seperti yang dia perkirakan.
"Bisakah aku minta tolong padamu untuk mengatakan pada
Francesca bahwa aku akan menunggu sampai dia tidak sibuk?"
Davie Adam mengalami kesulitan saat ia menelan ludah seperti saat
APPLE BOBBED (permainan mengambil buah apel pada saat
Hallowen). Dia meninggalkan ruangan tanpa menjawab dan kembali
beberapa menit kemudian, tetap tanpa Francesca. Dia memberikan
tatapan minta maaf. Ian tersenyum dan berdiri.
"Ini bukan salahmu," Ian meyakinkannya. Dia mengulurkan
tangannya. "Ngomong-ngomong, aku Ian Noble. Kita belum pernah
berkenalan dengan pantas."
"David Feinstein," kata Davie, menjabat tangannya.
"Maukah kau duduk denganku sambil aku menunggu?" pinta Ian.
Davie terlihat sedikit tercengang dengan permintaan Ian, tentu saja,
tinggal, tapi dia terlalu sungkan untuk membantah. Dia duduk di
kursi yang terbentang di meja kopi.
"Aku bisa mengerti kenapa dia terganggu olehku," kata Ian,
menyilangkan kakinya dan sekali lagi mengambil katalog.
"Dia tidak terganggu."
Ian menatap Davie. "Dia marah...dan terluka. Aku tidak pernah melihatnya begitu
terluka." Ian berhenti, menunggu untuk rasa sakit yang muncul dari kejujuran
Davie agar menghilang. Selama beberapa detik, tidak ada dari
mereka yang berbicara. "Aku memperlakukannya dengan cara yang tidak seharusnya aku
lakukan," Ian akhirnya mengaku.
"Seharusnya kau malu," kata Davie, kemarahan terdengar di
suaranya yang tenang. Ian menyadari kalo dia mengatakan hal sama
pada Davie dan dua teman sekamar Francesca yang lain di studio
tato. "Ya benar," kata Ian, mendengarkan dengan baik. Ian menutup
matanya singkat penuh penyesalan pada apa yang dia dengar. Ian
berpikir tentang kesegaran Francesca di malam lalu, rasa manisnya.
Ingatan tentang vaginanya telah menetap di pikirannya seperti virus
yang kuat, tumbuh lebih besar saat Ian mencoba untuk
menghindarinya: rambut merah keemasan, lembut di antara paha
putihnya yang lentur; lembut, labia padat; lapisan paling licin, celah
kecil paling ketat yang pernah dia sentuh. Dia ingat bagaimana
memukul pantatnya dan dia menyukainya...bagaimana dia
merasakannya. "Sayang sekalli," Ian meneruskan, menunjukkan
pada Davie, "rasa maluku tidak cukup untuk membuatku menjauh.
Aku mulai berpikir tidak ada yang mungkin sama."
Davie terlihat terkejut. Dia membersihkan tenggorokannya dan
berdiri. "Mungkin aku akan pergi dan melihat apakah Francesca datang
untuk...menyelesaiakan proyeknya."
"Jangan khawatir. Dia tidak ada di sini," Ian berbisik.
Davie terpana pada ucapan Ian dan berhenti di samping kursinya.
"Apa maksudmu?"
"Francesca menyelinap keluar dari pintu belakang dua puluh detik
yang lalu, kalau aku tidak salah." kata Ian, sambil dengan malas
melipat halaman katalog. Dia mengambil keuntungan dari ekspresi
terkejut Davie untuk menahannya.
"Kalian?" Tanya Ian.
Davie mengangguk. "Aku rasa kau harus melihat ini. Kapan Francesca melukis ini?"
Davie mengerjap dan mencoba kembali dari keterkejutannya.
"Sekitar dua tahun yang lalu. Aku menjualnya di Feinstein tahun
lalu. Aku senang melihatnya kembali ke pasaran pada tingkat
pelelangan. Aku ingin memilikinya kembali, menjualnya dengan
harga yang pantas, dan memberikan keuntungan lebih untuk
Francesca." dia mengerut. "Francesca telah menjual banyak
lukisannya selama beberapa tahun untuk hal yang tidak berguna.
Aku benci memikirkan apa yang harus dia tinggalkan beberapa dari
mereka sebelum aku bertemu dengannya. Hidup Francesca hanya
cukup untuk makan selama setahun sebelum kami bersahabat. Aku
mungkin tidak sanggup untuk menjual karyanya untuk harga yang
kupikir seimbang, mengetahui dia tetap relatif tidak tahu, tapi
akhirnya aku memberinya lebih dari harga sebuah kantong bahan
makanan." Dia mengangguk pada katalog.
"Jika kau bisa menguasai dari beberapa bagian istimewa, aku yakin
aku bisa menjualnya dengan harga yang mengagumkan. Francesca
mulai membuat namanya di lingkungan seni. Aku yakin
penghargaan yang dia menangkan darimu, dan penghargaan
berikutnya, juga membantu."
Ian berdiri dan mengancingkan jaketnya. "Aku yakin kau
mendukung pekerjaannya dengan baik. Kau bisa menjadi teman baik
untuknya. Bisakah kau memberiku kartu namamu" Ada sesuatu yang
ingin kubicarakan padamu, tapi aku terlambat untuk meeting."
Davie terlihat tidak bisa memutuskan, kemudian meraih kantongnya
dengan napas seorang pria yang ingin mengakui sesuatu yang amat
dicintainya. "Terima kasih," kata Ian, menerima kartu namanya.
"Francesca adalah orang yang mengagumkan. Aku pikir...aku pikir
kau lebih baik menjauh darinya."
Ian sedikit mengamati Davie yang terlihat khawatir sebelum
memutuskan selama beberapa detik. Davie terlihat tidak nyaman.
Teman Francesca itu lebih melihat dengan kelembutan dan bukannya
tipe melihat klien mana yang menguntungkan. Kegetiran naik pada
dirinya pada kekurangannya dari cara bertahan yang berbeda.
"Kau benar." Ian berkata saat ia mulai berjalan menuju pintu, tidak
bisa menjaga kepasrahan yang keluar dari nada bicaranya. "Jika aku
memang pria yang lebih baik, aku akan mengikuti saran itu."
Hal yang diharapkan tiba juga: Francesca bekerja seperti pencuri
malam ini. Lukisan itu membuatnya kembali, meskipun keadaan
tidak bisa dipertahankan melingkupinya.
Francesca mencampur cat warnanya dengan cepat, menggunakan
cahaya dari lampu kecil yang dia letakkan di meja untuk
membantunya melihat. Dengan putus asa berusaha menangkap
dengan teliti warna dari langit tengah malam sebelum cahaya
berubah. Ruangan santai itu terbalut dengan cahaya, membiarkannya untuk
melihat lebih jeli, gedung yang bercahaya berlawanan dengan latar
belakang langit beludru di malam hari. Francesca tiba- tiba berhenti
dan memandang pintu studio yang tertutup, menunggu dengan
tenang. Detak jantungnya mulai memukul telinganya dalam
keheningan yang menakutkan. Sebuah bayangan terlihat tebal dan
terbentuk di belakang kamar, menipu matanya. Mrs. Hanson
meyakinkannya kalau dia akan sendirian di rumah malam ini. Ian
ada di London, dan Mrs. Hanson pergi menemui temannya di
pinggiran kota. Namun, dia tidak merasa sendirian sejak beberapa detik dia keluar
dari lift menuju ruang pribadi Ian.
Apakah tempat ini dihantui oleh orang hidup" Mungkin saja kalau
Ian masih ada di rumah mewah ini. Kehadirannya memberatkan
pikiran Francesca, sampai ke kulitnya, membuatnya tertusuk dalam
kesadaran yang datang dari sentuhan yang tidak nyata.
Bodoh, Francesca memperingatkan dirinya sendiri, meletakkan kuas
ke kanvas dan membuat coretan panjang, penuh energi. Sudah empat
hari sejak dia berdiri telanjang dan memamerkan tubuh di kamar
Ian. Ian mencoba untuk menghubunginya. Ian menghubunginya
dalam beberapa kesempatan, dan menjadi saat memalukan untuknya
ketika dia kabur lewat pintu belakang seperti orang bodoh.
Francesca terpikir untuk melihatnya lagi...ketakutan.
Kau ketakutan dengan apa yang akan terjadi jika kau bertemu
dengannya, mendengarkannya. Kau ketakutan kau akan berakhir
dengan memohon padanya seperti orang bodoh untuk menyelesaikan
apa yang dia mulai di malam itu.
Lengan Francesca membuat gerakan menyayat di depan kanvas.
Tidak pernah. Dia tidak pernah memohon pada pecundang yang
sombong itu. Rambut di lengannya berdiri dan dia memandang dari atas
pundaknya lagi. Mendengarkan dan mencari hal-hal yang tidak
biasa, dia kembali fokus pada lukisan. Dia seharusnya tidak kembali
ke sini, tapi dia harus menyelesaikan bagian ini. Dia tidak pernah
istirahat jika dia tidak mau, dan itu bukan karena Ian yang telah
membayarnya. Ketika satu lukisan telah masuk dalam darahnya, ini
tidak memberinya kebebasan sampai lukisan itu selesai.
Francesca mengatakan pada dirinya sendiri untuk berkonsentrasi.
Hantu Ian -hantunya sendiri-membuat pikirannya terpecah.
Kau berdiri di sana seperti orang bodoh sementara Ian memukulmu
dengan tongkat; kau terkulai di pangkuannya, telanjang bulat, dan
membiarkannya memukul pantatmu seperti anak kecil.
Rasa malu membanjiri kesadarannya. Mengapa dia begitu putus asa,
menghabiskan sebagian hidupnya sebagai orang gemuk, memiliki
pria seperti Ian yang telah menunjukkan hasrat padanya sampai dia
rela mengorbankan harga dirinya" Bagaimana bisa dia mengijinkan
diri Ian untuk merendahkan dirinya di malam itu" Seberapa jauh dia
akan berjalan jika Ian Noble mengatakan dia menginginkan itu"
Pikirannya membuatnya malu. Dia membawa keluar kesedihannya
pada kanvas, akhirnya menemukan daerah iri hati dari daya cipta
penuh konsentrasi yang dia cari dengan putus asa. Satu jam
kemudian dia berdiri di samping lukisannya dan menghapus cat
berlebihan dari kuasnya. Dia menggosok pundaknya untuk
menenangkan ketegangan yang hampir memukulnya secara
berulang. Teman-temannya selalu terkejut saat dia mengatakan
bagaimana beban fisik bisa menjadi bagian besar dari lukisan.
Bulu kuduknya berdiri dan dia menenangkannya dengan memijat.
Dia melihat sekeliling. Ian memakai kemeja putih terang dan bukannya koleksi pakaian
gelapnya. Ian tidak memakai jaket, dan lengannya digulung ke belakang. Jam
tangan emasnya berkilat di kegelapan. Francesca berdiri tanpa
bergerak, merasa dia bermimpi.
"Kau melukis seolah setan yang menguasaimu."
"Kau terdengar seolah mengerti seperti apa," Francesca menjawab
dengan suara ketat. "Aku pikir kau tahu."
Bayangan Ian berjalan sendirian di jalanan gurun masuk ke dalam
pikirannya. Francesca luluh dari rasa terharu dan perasaan mendalam
pada peristiwa itu selalu bangkit.
Francesca menurunkan tangannya dari lehernya yang sakit dan
berbalik menghadap Ian. "Mrs. Hanson bilang kau ada di London
malam ini." "Aku kembali untuk keperluan mendadak."
Francesca hanya memandangnya selama beberapa saat, terdiam,
melihat cahaya dari kaki langit yang memantul di mata Ian.
"Aku tahu," kata Francesca akhirnya, berjalan menjauh. "Aku akan
pergi." "Berapa lama kau berencana untuk menghindariku?"
"Selama kau masih ada?" Francesca menjawab cepat. Terdengar
tanda dari kemarahan dalam suaranya seolah bisa meledakkan
kemarahan dan kebingungannya. Francesca mulai berjalan
melewatinya, kepalanya tertunduk, tapi Ian meraihnya dan
membungkus tangannya di sekeliling lengan atas Francesca,
menghentikan Francesca. "Biarkan aku pergi." Suara Francesca terdengar marah, tapi dia
terkejut merasa air mata membakar matanya. Bertemu lagi dengan
Ian sudah cukup buruk, tapi mengapa dia menyelinap seperti ini,
menangkap ketidaksadarannya, dan sifat mudah diserangnya"
"Kenapa kau tidak membiarkan aku sendiri?"
"Aku ingin jika aku bisa, percayalah," jawab Ian, suaranya dingin,
sedingin salju beku di musim dingin. Francesca berputar agar bisa
melarikan diri, tapi Ian mengencangkan genggamannnya, membawa
Francesca ke samping tubuhnya. Hal selanjutnya yang Francesca
tahu adalah wajahnya yang ditekan oleh dada Ian yang keras dan
kemeja yang berbau segar,dan lengan Ian yang mengelilinginya.
"Aku minta maaf, Francesca. Benar-benar minta maaf."
Pada saat itu, Francesca kehilangan semua kehendaknya dan
bersandar pada Ian, membebankan berat tubuhnya pada Ian,
menerima kekuatan dan kehangatan Ian. Tubuh Francesca gemetar
oleh emosi. Francesca terpusat pada sensasi dari belaian tangan Ian
pada rambutnya. Kemudian, ketika Francesca menganalisa
perubahan ingatan sementaranya, dia sadar arti nada bicaranya saat
melakukannya. Francesca merasa suara Ian terdengar tandus dan
tanpa harapan dan putus asa. Ian bukanlah pria jahat, dia mengakui
itu. Ian tidak merendahkannya dengan memberinya tatapan penuh
hasrat malam itu. Francesca hanya sangat marah padanya karena Ian tidak
menginginkannya. Bagaimana pun juga, sudah cukup melihat kurang
pengalamannya. Emosi membengkak di dadanya. Francesca mendorong Ian,
menemukan pengaruh tak tertahankan yang dia butuhkan. Ian
melepasnya perlahan, tetap menahannya di dalam lingkaran
lengannya. Francesca menundukkan kepalanya dan menyapu pipinya, menolak
untuk melihat Ian. "Francesca." "Tolong. Jangan bilang apa-apa." kata Francesca.
"Aku bukanlah pria yang tepat untukmu. Aku ingin semuanya jelas."
"Baiklah. Sangat jelas."
"Aku tidak tertarik pada jenis hubungan dengan gadis seusiamu,
pengalaman, kecerdasan, dan bakat yang layak. Aku minta maaf."
Hatinya tertekan oleh kesakitan dari perkataan Ian, tapi dia tahu Ian
benar. Menggelikan jika berpikir sebaliknya. Ian bukanlah untuknya.
Betapa jelas sekali" Bukankah Davie telah berulang kali mengatakan
padanya beberapa hari lalu" Francesca menatap kosong pada saku


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemejanya. Francesca merindukan untuk lepas; untuk dia berada di
sana dalam bayangan Ian yang memeluknya. Ian mengangkat
dagunya dan memberinya tekanan, memaksa Francesca untuk
melihatnya. Saat Francesca melihatnya dengan kewaspadaan, dia
melihat mata Ian mengerjap.
Francesca melepaskan pelukan Ian dengan tiba-tiba, memandang
rendah pada belas kasihannya. Ian menangkap lengan bawahnya,dan
dia berhenti. "Aku sangat buruk jika menyangkut tentang wanita," Ian sedikit
berteriak. "Aku melupakan kencan dan janji. Aku kasar. Satu hal
yang menjadi tujuanku adalah seks...dan aku mendapatkannya
dengan caraku," Ian mengatakan dengan kasar, membuat Francesca
terkejut dan memandang ke arahnya. "Pekerjaanku adalah segalanya
bagiku. Aku tidak bisa hilang kendali atas perusahaaanku. Aku tidak
ingin. Itulah aku." "Kenapa kau sulit mengatakan padaku sebelumnya" Kenapa kau
datang malam ini?" Wajah dan rahang Ian mengeras, seolah dia menekan dirinya untuk
meludahkan sesuatu yang pahit. "Karena aku tidak bisa menjauh."
Francesca bimbang selama beberapa detik, kebingungan. Ingatan
tentang rasa malunya di malam itu muncul lagi, mencerahkan
pikirannya. "Jika kau tidak bisa menjauh, kau harus mencari seniman
lain atau pergi dari tempat kerjaku."
"Francesca, jangan tinggalkan aku lagi," kata Ian, suaranya
mengintimidasi. Sekali lagi, langkahnya bimbang.
Francesca hampir tidak bernapas pada rasa gengsinya yang cukup
membuatnya keluar dari pintu.
Beberapa malam kemudian, rasa sakit ini tetap ada, tapi Francesca
mengelola untuk membaginya...dalam pikiran dan jiwanya. Hal
terburuk yang paling menyakitkan adalah saat ponselnya berbunyi
dan dia melihat Ian mencoba menghubunginya. Hal itu
merugikannya dibanding ketika dia mengabaikan kata-kata
panggilan itu. Hal itu sangat memberatkan baginya untuk mengabaikan rasa sakit
hatinya pada hari Sabtu malam yang ramai saat menjadi pelayan di
High Jinks. Dia begitu sibuk, dia tidak punya kesempatan untuk
memikirkan Ian atau lukisan atau kekesalannya pada lounge yang
memainkan music dengan suara keras pada pukul dua pagi. High
Jink adalah pemberhentian akhir paling polpuler di Wicker Park -
lingkungan bar di Bucktown. Tempat ini diciptakan untuk para
professional muda perkotaan dan pelajar yang lebih tua. Sementara
banyak bar tutup pada pukul dua, tiga, atau empat, High Jinks tetap
buka sampai jam lima pagi pada Sabtu malam, melayani para
penggila pesta dan para peminum. Sabtu malam selalu melelahkan
bagi Francesca, dan menguji kesabarannya, tapi dia berusaha tidak
kehilangan kesempatan kerja yang salah satunya; mendapat tip yang
besarnya tiga kali lipat dari pada malam biasanya.
Francesca menaruh nampan di tempat tunggu pelayan dan
mengatakan pesanannya pada sang pemilik, Shelldon Hays, paling
tua, sering membantah, kadang menyenangkan seperti - boneka
teddy - yang menjadi bartender malam ini.
"Kau bilang pada Anthony untuk menahan mereka di pintu."
Francesca berteriak di antara suara musik dan keriuhan pada
keramaian. "Kita kelebihan kapasitas."
Francesca meneguk soda yang dia simpan di tempat tunggu dan
bersandar di bar saat Sheldon mendatanginya, dia terlihat ingin
mengatakan sesuatu yang penting. "Aku ingin kau pergi ke sudut
jalan dan membeli semua jus lemon yang mereka miliki di rak,"
Sheldon berteriak, menunjuk pada toko bahan makanan lokal yang
tatap buka sepanjang malam. "Si bodoh Mardock lupa menaruh
lemon pada daftar pesanan, dan aku sibuk dengan koktail klasik."
Francesca mendesah. Langkahnya akan membunuhnya, dan dia tidak
ingin menghargai ide berjalan sejauh lima blok. Tenang...akan
mengagumkan bisa menghirup udara segar selama beberapa menit
dan memberi jeda telinganya dari suara musik yang kencang...
Francesca mengagguk pada Sheldon dan melepaskan celemeknya.
"Bilang pada Cara untuk menjaga wilayahku?" teriaknya.
Sheldon mengangguk padanya untuk tidak khawatir, dia akan
menjaga segalanya. Sheldon memberinya sebanyak dua puluh item
dalam daftar, dan Francesca keluar dari keramaian.
Hanya ada empat botol jus lemon yang tersisa di rak toko bahan
makanan. Kasir yang terlihat mengantuk itu membangunkan dirinya
untuk menemukan botol yang lain di ruang penyimpanan. Saat dia
berjalan kemballi ke High Jinks beberapa menit kemudian,
membawa belanjaannya, dia melihat di samping jalan ada keramaian
orang berjalan ke arah tempat parkir mobil mereka dan El berhenti.
Dari mana mereka semua"
Francesca kebingungan saat dia tiba di blok tempat High Jinks
berada. Dia berhenti di pojokan saat dia melihat lebih dari lusinan
orang keluar dari bar, pintu kayu besar terbanting menutup di
belakangnya. "Apa yang terjadi di High Jinks?" Francesca bertanya pada tiga
orang pria. "Kebakaran di ruang penyimpanan," salah satu pria berkata,
suaranya yang terdengar masam menjelaskan dia tidak menikmati
acara - minum malam - harinya yang terhenti lebih awal untuk
alasan keamanan. "Apa?" Francesca memanggil, tapi pria itu mengabaikannya dan
tetap berjalan. Francesca terburu-buru menuju bar, peringatan. Dia
tidak mencium bau asap apa pun atau mendengar sirine. Tukang
pukul meraka, Anthony, tidak berada di tempat saat dia membuka
pintu dan mengamati ke dalam.
Tidak ada satu pun yang terlihat.
Francesca berhenti di pintu masuk bar, menatap, kaget. Bar ini,
tadinya ramai - dipenuhi oleh pelanggan dua puluh menit yang lalu,
sekarang benar benar kosong dan sepi. Apakah dia telah masuk ke
area temaram" Francesca menyadari adanya gerakan di belakang bar. Membuatnya
keheranan, dia melihat Sheldon membersihkan gelas dengan pelan.
"Apa yang terjadi, Sheldon?" tuntutnya sambil mendekat. Tentu saja
dia tidak akan berdiri cuek di sana jika terjadi kebakaran di ruang
belakang" Bosnya memandang ke arah Francesca dan menaruh gelas bir. "Aku
menunggu untuk memastikan kau kembali dengan selamat," kata
Sheldon, sambil mengeringkan tangannya dengan handuk. "Aku
akan pergi ke kantorku. Memberikanmu sedikit keleluasaan."
"Tapi apa?" Sheldon menunjuk di atas bahunya sebagai penjelasan. Francesca
berputar. Dia membeku saat Ian duduk di salah satu meja, salah satu
kakinya dilipat di depannya. Dinding lebar menghalangi Ian dari
pandangan Francesca saat dia masuk. Hatinya melakukan lompatan
khas ketika dia mengamati Ian. Meskipun dia terkejut, dia mencatat
kalau Ian memakai jeans dan ada bayangan jambang di wajahnya.
Dia terlihat - sangat - bukan Ian, sedikit berantakan, sangat
berbahaya....tetap seksi seperti neraka. Mungkinkah dia berjalan
sendirian lagi malam ini"
Ian menguncinya dengan pandangannya saat ia menunggu dengan
tenang. "Dia ingin berbicara dengan mu secara pribadi," Sheldon berkata
pelan di belakangnya. "Dia pasti ingin lebih. Aku minta maaf jika
kau tidak ingin bicara dengannya, tapi dia bukanlah seorang pria
yang bisa kutolak." "Uangnya lah yang tidak bisa kau tolak," gumam Francesca kecut
dalam napasnya, kegelisahan dan kejengkelan terdengar dalam
suaranya. Apa yang dia lakukan di sini" Kenapa Ian tidak bisa
meninggalkannya begitu saja agar dia bisa menyelesaikan proses
untuk melupakan Ian" Apakah dia benar-benar membuat kekacauan
untuk menutup bar karena dia ingin berbicara dengan Francesca"
Kau tidak akan pernah melupakannya. Siapa yang kau permainkan"
Francesca berpikir pahit saat dia berbalik untuk menaruh jus lemon
di bar. Sheldon merespon kerutannya dengan malu-malu, "Apa yang
diinginkan pria itu?" Sheldon memandang sebelum dia berjalan
menuju kantornya. Francesca hanya bisa membayangkan tentang Ian
yang membayar pemilik bar untuk mengosongkan tempat ini pada
malam yang menguntungkan baginya.
Francesca menggunakan waktunya untk membongkar kantong
belanjaan dan menaruh botol jus lemon di konter, lehernya
meremang dengan kesadaran dari pandangan Ian padanya. Ia
membiarkan Ian berjuang dengan segala gangguan menunggu
selama beberapa detik lebih lama. Ian tidak akan mendapatkan
segala yang dia inginkan malam ini.
Dia mengosongkan bar hanya untuk berbicara denganku"
Francesca berusaha menyembunyikan suara kegembiraan dalam
dirinya. Saat dia berpikir tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk
menghindarinya, dia berbalik dan berjalan pelan ke arah Ian.
"Jadi gelandangan, benar, kan" Terasa sedikit meyakinkan untukku
kalau kau tidak akan menghina pelayanan seorang pelayan koktail,
benarkan?" Sindir Francesca sambil mendekat.
"Aku tidak datang untuk mendapatkan pelayananmu. Tidak malam
ini." Pandangan Francesca dipenuhi kemarahan saat bertemu dengan
tatapan Ian akan sindirannya. Francesca berharap untuk melihat
kelemahannya yang menjadi hiburan bagi tantangannya. Sebaliknya,
Francesca melihat keletihan dan...apakah ini penyerahan diri" Pada
Ian Noble" "Duduklah," kata Ian dengan pelan.
Mereka saling memperhatikan satu sama lain dalam diam saat
Francesca duduk. Beribu pertanyaan muncul di benaknya, tapi dia
menahannya. Sikap Ian memalukan, menyuruh pergi ratusan orang
dari bar dan menutup bisnis sesuai permintaanya untuk bertemu
Francesca pada waktu yang dia inginkan.
"Ini tidak seperti kelihatannya," kata Ian, "Aku tahu aku telah
melukaimu. Aku tahu ada kesempatan baik untukmu memandang
rendah padaku...Bahkan, menakutiku. Tapi aku tetap tidak bisa
berhenti memikirkanmu. Aku harus memilikimu. Sepenuhnya.
Berulang kali...dan semuanya."
Francesca mendengar detak jantung di telinganya selama beberapa
detik yang menegangkan, mencoba untuk mengumpulkan dirinya.
Bagaimana dia bisa begitu geram pada pria dan tetap begitu
menginginkannya seperti perintah biologis, seolah bernapas"
"Aku tidak dijual," kata Francesca akhirnya.
"Aku mengerti. Kerugian yang aku lakukan tidak bisa dibayar
dengan uang." "Apa yang kau bicarakan?"
Ian bersandar ke depan dan mengistirahatkan lengan bawahnya di
meja. Dia memakai kaus katun berwarna biru gelap berlengan
pendek. Tidak ada Rolex. Francesca mengulang kembali dengan
jelas bagaimana kacaunya dia saat dia pertama kali melihat tangan
Ian yang besar dan lengan berototnya. Francesca membeku.
Sekarang dia tahu apa yang ingin dilakukannya dengan itu.
"Aku kira aku kehilangan sedikit jiwaku, dalam hal ini bersamamu.
Aku telah memutuskan, kenyataannya aku di sini malam ini," Ian
mengatakan maksudnya, ia menatap bosan pada Francesca. "Aku
sudah mengambil sebagian dari dirimu."
"Kau tahu tidak seperti itu," jawab Francesca, meskipun dia
ketakutan kalau Ian benar."Kenapa kau begitu yakin kalau kau akan
melukaiku?" "Banyak alasan," Ian yakin bahwa hati Francesca merosot beberapa
inci. "Aku sudah bilang padamu - aku gila kontrol. Apakah kau tahu
saat aku menjual Noble Technologgy Worldwide pada penawaran
umum, aku menawarkan jabatan CEO?" tanya Ian, menunjuk pada
perusahaan sosial media yang luar biasa sukses yang dia dirikan dan
kembangkan, kemudian dijual. "Itu adalah posisi yang paling
menyenangkan, tapi aku melepasnya. Kau tahu kenapa?"
"Karena kau tidak bisa membangun ide dewan pengurus yang bisa
memveto keputusan mu?" tanya Francesca dengan marah. "Kau
mengontrol semuanya sepanjang waktu, benar, kan?"
"Benar sekali. Kau memahamiku lebih baik dari yang kusadari."
Kenapa senyumnya mengandung kepahitan dan kesenangan" "Aku
akan mengatakan padamu sesuatu yang harus kau tahu. Aku pernah
bersama seorang gadis sekali. Dia hamil dan aku memutuskan untuk
menikahinya. Itu adalah sebuah bencana. Dia tidak bisa patuh pada
sikap mengontrolku, dan aku tidak hanya berbicara di kamar,
meskipun tempat itu cukup buruk. Dia pikir aku adalah salah satu
orang jahat." Bibir Francesca terpisah keheranan. Ada sedikit keraguan, pada
kesungguhannya, ekspresinya yang hampir marah, meskipun dia
berbicara kebenaran. "Apa yang terjadi pada bayinya?" tanya Francesca, pikirannya
melekat pada potongan informasi yang tak terduga tentang
kehidupan Ian Noble. "Elizabeth kehilangannya. Menurut dia, itu semua karena aku."
Francesca terbelalak, menatap kehinaan pada ekspresinya, matanya
mengerjap gelisah. Ian yakin kalau Elizabeth salah tentang
pernyataannya. Tetap saja...keraguan masih tersisa.
"Dengan berakhirnya pernikahan kami, istriku takut padaku. Aku
percaya dia mengingatku sebagai jelmaan setan. Mungkin juga dia
benar. Tapi yang lebih benar, aku adalah orang bodoh. Seseorang
berusia dua puluh dua tahun yang bodoh."
"Dan aku yang ke dua puluh tiga," jawab Francesca.
Ekspresi Ian datar, alisnya berkerut. Francesca ingin mengatakan
kalau Ian tidak mengerti maksudnya. Sebuah insting di dalam
dirinya memperingatkan tentang apa yang Ian katakan. Perasaan
tenggelam tidak dapat dihindarinya juga pengalaman mengatakan
padanya, keras dan jelas, bagaimana dia akan menanggapi.
Mulutnya mengeras. "Untuk membuat segalanya jelas - Aku ingin
memilikimu secara seksual. Seluruhnya. Sesuai keinginanku. Aku
menawarkanmu kesenangan dan pengalaman. Tidak ada yang lain.
Aku tidak punya hal lain untuk ditawarkan."
Francesca menelan dengan susah payah ketika mendengar kata yang
dia harapkan dan takutkan. "Kau membuatnya terdengar seolah kau
ingin membawaku pada jaringanmu."
"Mungkin kau benar."
"Ini bukanlah rayuan, Ian," kata Francesca, terdengar jengkel saat
dia benar-benar disakiti.
"Aku tidak datang untuk merayumu. Aku membuat pengalaman
sebanyak mungkin dan menghargaimu, tapi aku tidak
menawarkanmu janji palsu. Aku sangat menghormatimu," Ian
menambahkan dengan berbisik.
"Dan pengalaman ini akan berakhir kapan pun kau terpenuhi?"
"Ya, atau kapan pun kau beri, tentu saja."
"Kapan semua itu terjadi" Setelah satu malam" Dua malam?"
Senyumnya menyeramkan. "Aku pikir mungkin butuh lebih lama
daripada menyingkirkanmu dari pikiranku. Transaksi
menguntungkan yang paling lama. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa
berkata untuk kepastiannya. Kau mengerti?"
Perasaan Francesca sekarang terancam untuk terbahak-bahak dari
tulang rusuknya, meskipun berada di garis depan peperangan yang
mengancam dari dalam dirinya. Ini adalah sebuah kesalahan, dan dia
tahu itu. Namun...

Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ya," kata Francesca. Tegangan bergulung lebih ketat dengan detak
tak tentu dari jantungnya.
"Dan kau setuju melakukan ini?"
"Ya." Apa yang sedang dia lakukan"
"Lihat aku, Francesca."
Francesca melihat ke atas, dagunya seolah memantang. Tatapan Ian
menelusurinya, mencari. "Aku katakan padamu sebelumnya bahwa
kau tidak seharusnya membiarkan kemarahan membuahmu bodoh,"
kata Ian dengan lembut. Ini, lebih dari segalanya, membuatnya marah.
"Jika aku pikir aku terlalu muda untuk membuat keputusan,
sebaiknya kau tidak bertanya," Francesca berteriak. "Aku
memberimu jawabanku. Terserah padamu apa kau bisa menerima
atau tidak. Ya," ulang Francesca.
Ian menutup matanya sebentar.
"Baiklah," katanya setelah beberapa menit, santai, dan ini karena jika
Francesca membayangkan semua pemasalahan dirinya.
"Kalau begitu beres. Aku punya pertemuan penting di Paris pada
Senin pagi yang tidak bisa ku batalkan. Aku lebih suka menunda hal
pertama di pagi hari."
"Oke." kata Francesca ragu, mengalihkan tiba-tiba dari perubahan
pembicaraanya. "Jadi...Aku akan menemuimu saat kau kembali."
"Tidak," kata Ian, berdiri. "Sekarang semua sudah diputuskan, aku
tidak bisa menunggu lebih lama. Aku ingin kau pergi bersamaku.
Bisakah kau pergi selama beberapa hari?"
Apakah dia serius" "Aku...Aku pikir bisa. Aku tidak ada kelas pada hari Senin, tapi ada
di hari Selasa. Aku kira, aku bisa melewatkan satu kelas."
"Bagus. Aku akan menjemputmu di rumah pukul Tujuh pagi."
"Apa yang aku bawa?"
"Paspormu. Kau punya, kan?"
Francesca mengangguk "Aku belajar selama beberapa bulan di Paris
selama tahun seniorku. Pasporku masih berlaku."
"Hanya paspor dan dirimu saja. Aku akan menyediakan semua yang
kau butuhkan." Francesca praktis menjawab tanpa bernapas pada jawaban Ian.
"Bisakah kita pergi agak terlambat" Saat ini hampir pukul tiga pagi."
"Tidak, jam Tujuh. Aku punya daftar perjalanan. Kau bisa tidur di
pesawat. Aku punya pekerjaan yang akan kulakukan di
penerbangan." Tatapannya mengerjap di wajah Francesca saat ia
berdiri. Ekspresi kerasnya melembut sedikit. "Kau akan tidur di
pesawat. Kau terlihat lelah."
Francesca hendak mengatakan kalau Ian juga terlihat lelah, tapi
menyadari dia belum lama melakukannya. Semua kelelahan yang
dia rasakan padanya mulai dari percakapan mereka nampaknya telah
hilang... Sekarang dia memperoleh kemauannya.
"Tolong, kemarilah."
Sesuatu pada ketenangannya, suaranya yang memerintah membuat
napasnya membeku di paru-parunya. Francesca hanya setuju untuk
berhenti lari dari Ian, dan Ian tahu itu. Apakah Ian mencoba untuk
membuktikan kekuasaannya pada Francesca"
Francesca berdiri dan mendekatinya perlahan. Ian meletakkan
tangannya di samping pinggangnya, mata malaikatnya yang gelap
bercahaya karena emosi yang tidak bisa dia mengerti.
Ian menundukkan kepalanya dan menutup mulut Francesca
dengannya. Ian menggigit bibir bawahnya dan dia membuka,
terengah. Lidah Ian tenggelam di mulut Francesca. Kehangatan
menyerang organnya. Ah, Tuhan. Ini, Francesca mengerti.
Kebijaksanaan melepaskan kehangatan semacam hasrat. Francesca
mengerang, kesegaran, kesiapannya atas kebutuhannya
menyengatnya seperti tamparan pada otot tegangnya.
Pada saat Ian mengangkat kepalanya beberapa saat kemudian,
sesuatu yang basah dan hangat berada di antara pahanya.
"Aku ingin kau tahu," kata Ian di samping Francesca yang gemetar,
karena kepekaan bibir, "Bahwa aku akan berhenti jika aku bisa. Aku
akan menemuimu beberapa jam lagi."
Francesca berdiri di sana, tidak sanggup untuk bernapas sampai
pintu depan bar menutup di belakang Ian.
*** Because You Haunt Me Bab 6 Francesca pergi tidur malam itu, tapi dia tidak pernah bisa tidur.
Kegembiraan tidak mau meninggalkannya. Dia bangun sebelum
alarmnya berbunyi, membuat dan meminum kopi, makan sereal, dan
mandi. Menatap pada klosetnya, dia merasa perasaannya tenggelam.
Apa yang akan dia pakai agar cocok untuk berpergian bersama Ian
Noble" Karena dia tidak memiliki sesuatu yang pantas, dia memutuskan
untuk mengambil sepasang jeans favoritnya, boots, tank top dan
tunik hijau sage yang terlihat bagus untuk kulitnya. Jika dia tidak
bisa menjadi elegan, mungkin dia harus merasa nyaman. Dia
menghabiskan waktu untuk menata dan meluruskan rambut
panjangnya - yang mana jarang dia lakukan - dan memakai maskara
dan lip glos. Dia mengamati dirinya dicermin saat dia telah selesai,
mengangkat bahu dan meninggalkan kamar mandi.
Ini harus dilakukan. Meskipun kenyataannya Ian mengatakan Francesca tidak
membutuhkan apa-apa, dia memasukkan pakaian dalam, beberapa
pakaian ganti, perlengkapan jogging, alat alat mandi dan paspor ke
dalam tas ranselnya. Francesca meletakkan tasnya di samping pintu
dan berjalan ke dapur, di mana Davie dan Caden duduk di meja
dapur. Davie selalu bangun lebih awal, meskipun di hari minggu,
tapi Caden tidak. Francesca ingat kalau Caden bekerja sampai larut
malam pada akhir pekan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku senang aku bisa berjumpa dengan kalian," kata Francesca,
menuangkan secangkir kopi untuk dirinya, meskipun tahu dia tidak
akan meminumnya; rasa gugup tentang Ian yang akan berada di sana
dalam beberapa menit mulai membuat perutnya kacau. "Aku akan
pergi selama beberapa hari," kata Francesca, memutar wajahnya
kearah temannya. "Pergi ke Ann Arbor?" Caden bertanya sebelum dia mengiriskan
garpunya pada waffle yang dipenuhi sirup.
Orang tua Francesca tinggal di Ann Harbor, Michigan.
"Tidak," kata Francesca, menghindari tatapan heran dari Davie.
"Lalu, kemana?" Davie bertanya.
"Um...Paris." Caden berhenti mengunyah dan mengerjap kearahnya. Francesca
hendak menjelaskan saat dia mendengar ketukan lembut di pintu
depan. Dia menaruh cangkir kopinya dengan suara keras,
menyebabkan kopi terpercik ke pergelangan tangannya.
"Aku akan menceritakannya saat aku kembali," Francesca
meyakinkan Davie saat dia menggunakan handuk untuk
membersihkan pergelangan tangannya. Francescamulai beranjak
keluar dari dapur. Davie berdiri. "Apakah kau pergi dengan Ian Noble?"
"Ya," kata Francesca, ragu mengapa dia merasa bersalah atas
pengakuannya. "Hubungi aku sesegera mungkin," Davie bersikeras.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu besok," Francesca
meyakinkan. Bayangan terakhir yang dia lihat adalah ekspresi kekhawatiran
Davie. Sialan. Jika Davie gelisah, itu pasti karena alasan yang bagus.
Apakah ini salah satu keputusan terbodoh yang ia buat dalam
hidupnya" Francesca membuka pintu depan dan semua pikirannya tentang
Davie dan kebijaksanaan melawan kebodohan lenyap seketika. Ian
berdiri di tangga teratas, memakai celana biru gelap, kemeja putih
dengan kancing yang terbuka di lehernya, dan jaket kasual
bertudung. Well, meskipun dia terlihat cukup enak untuk dimakan,
setidaknya dia tidak memakai setelan tanpa celanya, mengingat
bagaimana dirinya sendiri berpakaian.
"Kau siap?" Ian bertanya, mata birunya menelusuri tubuh Francesca.
Francesca mengangguk dan meraih ransel dan tas tangannya.
"Aku...Aku tak tahu mesti memakai apa," Francesca berkata,
menutup pintu di belakangnya.
"Jangan khawatir soal itu," Ian berkata saat mengambil tasnya. Ian
memandangnya sekilas saat Francesca mengikutinya menuruni
tangga. Jantungnya seakan melompat saat Ian memberinya senyum
tipis. "Kau sempurna."
Pipinya merona karena pujian Ian, dan dia senang Ian telah berbalik.
Ian memperkenalkannya pada supirnya, Jacob Suarez, pria
keturunan Spanyol berusia pertengahan dengan senyum yang
menyenangkan. Jacob seketika mengambil dan menyimpan tas
Francesca sementara Ian membuka pintu mobil untuknya.
Francesca meluncur ke salah satu kursi mirip sofa, mengamati
kemewahan yang melingkupi limo yang elegan ini. Kesan yang
paling menyenangkannya adalah keempukan dan kelembutan dari
kursi serta aroma - campuran aroma kursi kulit dengan aroma lakilaki yang menarik
dan bersih. Layar yang ada di televisi mati, tapi
laptop Ian terbuka di atas meja antara dua kursi kulit. Musik klasik
terdengar dari stereo surround sound. Bach - the Bradenberg
concertos, dia mengenalinya setelah beberapa detik. Sepertinya
pilihan yang sempurna untuk Ian - pria dan musiknya keduanya
presisi secara matematis dan sangat menggetarkan jiwa. Sebuah
botol dingin yang baru dibuka dari label minuman soda yang
Francesca sukai diletakkan di meja dekat computer Ian.
Ian melepas jaketnya dan meluncur ke kursi di sampingnya.
"Kau cukup tidur?" Ian bertanya padanya saat ia duduk dan mobil
mulai bergerak perlahan di jalan.
"Sedikit," Francesca berbohong.
Ian mengangguk, tatapannya meluncur ke wajah Francesca. "Kau
terlihat cantik. Aku suka rambutmu seperti ini. Kau jarang
meluruskannya, kan?"
Pipi Francesca memanas lagi, sekarang karena rasa malu. "Itu
membuang waktu." "Kau punya begitu banyak rambut," Kata Ian, senyum kecil bermain
di bibirnya. Mungkin dia sadar Francesca merona. "Jangan khawatir,
aku tidak akan mengeluh. Aku sangat suka tiap helainya. Apakah
kau tidak keberatan kalau aku bekerja?" Ian bertanya dengan
keengganan. "Semakin aku bisa menyelesaikannya di sini dan di
pesawat, semakin baik aku bisa secara total fokus padamu saat kita
ada di sana." "Tentu saja," Francesca meyakinkan, sedikit terkejut oleh begitu
cepatnya Ian mengubah topik pembicaraan.
Francesca tidak keberatan Ian bekerja. Dia suka melihat Ian
sementara sebagian dirinya yang hebat berpusat di tempat lain. Ian
memakai kacamata" Francesca melihat Ian memakai sepasang lensa
mengkilap, lensa yang bergaya. Jari tangannya meluncur cukup
cepat di atas keyboard yang sanggup membuat asisten administrasi
yang paling pandai menjadi iri. Aneh...memikirkan tangannya yang
lebar, maskulin bisa bergerak begitu cekatan dan teliti.
Ian akan menggunakan tangan itu untuk bercinta dengannya dalam
waktu dekat. Francesca tidak bisa mempercayainya. Pria pertama
yang bercinta dengannya adalah Ian Noble.
Sensasi yang hebat dan hangat turun di pinggang terbawah dan organ
kewanitaannya. Francesca meneguk minuman soda dinginnya dan
memaksa dirinya menatap keluar jendela. Begitu banyak pertanyaan
berdengung di kepalanya. Saat mereka melewati jalan layang dan
beberapa mil menuju ke Indiana, Francesca tidak bisa menahannya
lebih lama lagi. "Ian, kemana kita pergi?"
Ian mengerjap dan menatapnya, memberi kesan padanya bahwa Ian
seakan baru saja tersadar dari konsentrasinya. Ian menatap keluar
jendela. "Ke bandara kecil di mana aku menyimpan pesawatku. Kita hampir
sampai di sana" Kata Ian, mengetik beberapa tombol di komputernya
dan menutup monitor. "Kau punya pesawat?"
"Ya, aku sering berpergian, kadang terburu-buru. Pesawat mutlak
dibutuhkan." Tentu saja, pikir Francesca. Ian tidak pernah puas menunggu untuk
apapun. "Aku ingin menunjukkan sesuatu malam ini di Paris," Kata Ian.
"Apa?" "Kejutan," katanya, bibir indahnya membentuk senyum kecil.
"Aku tidak terlalu suka kejutan," kata Francesca, tak bisa
menjauhkan pandangannya pada mulut Ian.
"Kau akan menyukai yang satu ini."
Francesca menatap ke matanya dan melihat kilau kegembiraan di
sana, bersamaan dengan sesuatu yang lain...bara berwarna hitam dan
putih. Francesca merasa pernyataan terus terang Ian tentang
hasratnya tak terbantahkan.
Seperti biasanya. Beberapa menit kemudian, Francesca menatap keluar jendela,
mulutnya terbuka. "Ian, apa yang kita lakukan?" dia berseru saat
Jacob membawa mereka ke landasan.
"Mengemudi masuk kedalam pesawat."
Mereka masuk kedalam jet mengkilap yang ada di landasan bandara
kecil itu. Francesca merasa seperti Jonah yang tertelan kedalam
perut ikan paus. "Aku tidak tahu kau bisa melakukannya."
Francesca menatapnya, kebingungan, saat Ian tertawa kecil, suara
kasar yang menyebabkan kulit di belakang leher dan sepanjang
lengannya meremang dengan waspada. Ian meraih tangan Francesca
diseberang meja dan menariknya duduk disamping Ian. Ian
meletakkan tangannya di rahang Francesca, mengangkatnya,
menyapu bibirnya dengan bibir Ian, menyelipkan bibir bawahnya
pada miliknya, menggigitnya. Ian memasukkan lidahnya kemulut
Francesca dan mengerang, ciuman membujuknya berubah menjadi
ciuman yang rakus. Ian mengangkat kepalanya saat mendengar Jacob membanting pintu.
Mobil pun berhenti. Francesca menatap Ian, hampir pingsan oleh
ciumannya yang tak terduga.
Ian bersandar dan meraih tasnya bersamaan saat Jacob mengetuk dan
membuka pintu. Francesca mengikuti Ian keluar dari mobil, merasa
linglung, bahagia dan benar-benar bergairah.
Pesaewat jet itu tidak seperti apapun yang pernah ia lihat. Mereka
naik lift ke lantai dua dan masuk kompartemen yang mewah dengan
wet bar, penuh perlengkapan hiburan, beberapa rak, sofa kulit
permanen, dan empat kursi bersandaran lebar yang mewah. Gorden
mahal menutupi jendela. Francesca tidak pernah menduga sekalipun
bahwa dia berada di dalam pesawat.
Francesca mengikuti Ian ke dalam kompartemen, Ian menggenggam
tangannya. "Kau ingin sesuatu untuk diminum?" Ian bertanya sopan.
"Tidak, terima kasih."
Ian memilih sepasang kursi malas yang saling berhadapan, sebuah
meja berada di antaranya.
"Duduk di sana." kata Ian, mengangguk pada kursi yang tersisa. "Di
sana ada kamar tidur, tapi aku lebih suka kau istirahat di sini.


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kursinya bisa diluruskan sepenuhnya dan ada selimut dan bantal di
laci," Ian berkata menunjuk pada rak dari kayu mahoni yang berkilat
di pusat hiburan. "Ada kamar tidur?" Francesca bertanya, merasa gelombang rasa
malu oleh kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
Ian duduk di kursinya, seketika menarik komputernya dan beberpa
file dari tasnya. "Ya," Ian bergumam, menatap kearahnya. "Tapi aku
lebih suka jika kau tidur sementara aku bisa melihatmu. Kau bebas
menggunakan kamar tidur, jika kau ingin. Ada di sana." dia berkata,
menunjuk pintu mahoni. "Dan juga kamar mandi, jika kau
membutuhkannya." Francesca berbalik sehingga Ian tidak menyadari reaksi terkejutnya
pada kata-katanya. Francesca kembali beberapa saat kemudian
membawa selimut lembut dan bantal yang dia ambil dari laci. Ian
tidak berkata apa-apa, tapi Francesca menyadari dia tersenyum kecil
sementara dia menatap komputernya.
Francesca duduk dan mempelajari kontrol panel elektronik di lengan
kursi panjangnya, berpikir bagaimana cara mengatur sandaran
kursinya. Ia akhirnya dapat melakukannya.
"Oh, dan Francesca?" Ian bertanya, tidak mengalihkan pandangan
dari komputernya. "Ya?" Tanya Francesca, mengangkat tangannya dari tombol kontrol.
"Tolong, lepaskan pakaianmu."
Selama beberapa detik, Francesca hanya bisa terbelalak. Detak
jantungnya mulai berdenggung di telinganya. Mungkin Ian
menyadari keterkejutannya, karena Ian menatapnya, ekspresinya
tenang. Berharap. "Kau bisa memakai selimut saat kau tidur," Kata Ian.
"Lalu kenapa kau ingin aku melepas bajuku, jika aku akan menutup
tubuhku?" sembur Francesca, kebingungan.
"Aku ingin kau siap untukku."
Cairan hangat mengalir ke organ kewanitaannya. Oh Tuhan bantu
dia. Francesca pasti sudah jadi orang yang menyimpang secara
seksual seperti halnya Ian, untuk meresponnya secara sepenuhnya
hanya oleh beberapa kata.
Dengan perlahan Francesca bangkit dengan lutut gemetar dan mulai
melucuti pakaiannya. *** Ian memencet tombol kirim di komputernya, memperbesar detil
memo untuk staf seniornya. Untuk kelima puluh kalinya dalam
waktu lima menit, tatapannya menelusuri sepanjang garis feminin
yang meringkuk di bawah selimut. Meskipun hanya gerakan kecil
naik dan turun dari selimutnya mengatakan padanya bahwa dia
tertidur nyenyak. Ian dapat menduga dengan tepat bahwa Francesca
akhirnya tertidur lelap kira-kira lima jam yang lalu. Ian menyadari
kehadirannya. Jika Ian kesulitan berkonsentrasi - jika dirinya
menderita - dia tidak bisa menyalahkan siapapun melainkan dirinya
sendiri. Ian sendiri yang meminta Francesca melepas pakaiannya.
Ian duduk dan menatap, terhipnotis saat Francesca melepaskan satu
demi satu pakaiannnya, sementara mulutnya mengering dan detak
jantungnya mulai berdenyut di sepanjang batang ereksinya.
Setiap kali Ian mengingat tatapan menunduk dan pipi merah
mudanya, rambut panjangnya, rambut yang mengagumkan yang
berdesir di pinggang rampingnya, payudara telanjangnya yang padat
dan lezat, puting yang penuh, kaki yang bisa membuat para pria
meratap begitu lama, bentuknya indah dan gemulai - dan yang
paling tak tertahankan dari itu semua - adalah rambut keemasan
yang terlihat lembut berwarna merah berada diantara kedua kakinya,
jumlahnya cukup jarang sehingga Ian bisa melihat dengan jelas labia
yang ranum dan belahannya, darah mulai memompa dengan panas
ke ereksinya. Karena dia memikirkan tentang hal itu terus-menerus,
dia mengalami ereksi selama lebih dari lima jam terakhir.
Akan sangat menyiksa jika sampai ia tidak menyentuh Francesca
malam ini, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan
pengalaman ini seistimewa mungkin untuk Francesca. Siksaan yang
lebih buruk adalah ketika dapat menyentuhnya namun tidak bisa
mendapatkannya. Ian melepas kacamatanya dan berdiri.
Ini akan menjadi siksaan yang lezat. Dan dia sudah terbiasa
menderita. Ian membungkuk disamping kursi Francesca. Francesca terbaring
miring, menghadap Ian, wajahnya tenang dan manis dalam tidurnya.
Bibirnya berwarna lebih gelap dari biasanya yang berwarna merah
muda. Ereksinya menggeliat dari balik celana boxernya. Apakah
mungkin Francesca bisa bergairah saat tertidur"
Ian memegang selimut di pundaknya dan dengan lembut serta
perlahan menurunkan selimut sampai kelututnya, keindahan
menggiurkan sepenuhnya terpampang di depannya. Ian tersenyum
sendiri saat dia melihat putingnya, ternyata, meruncing dan keras.
Perjalanan erotis macam apa yang dialami seorang yang polos
seperti Francesca dalam tidurnya" Tatapan Ian berkedip dan tertuju
pada pahanya yang langsing, rambut pirang strawberry diantara paha
mulusnya. Cairan apakah yang berkilau di lipatan celahnya" Tentu
saja itu hanya khayalannya...pikiran mengada-ada setelah beberapa
jam tersiksa oleh gairah.
Ian melebarkan tangannya disekitar permukaan lembut dari perut
rampingnya. Francesca bilang dia kelebihan berat badan saat kecil,
tapi Ian tidak melihat bukti akan hal itu. Kehilangan berat badan
pada masa anak-anak pasti menyelamatkannya dari stretch mark.
Kulitnya terlihat mulus. Francesca bergeser pelan dalam tidurnya,
wajahnya mengencang sebentar, sebelum dia mendesah dan
tenggelam kembali dalam tidurnya. Tangan Ian turun disepanjang
kulit hangatnya, kulit satinnya. Ian menyentuh, meluncurkan
tangannya pada rambut suteranya, meraba diantara bibir kewanitaan
yang telah menghantuinya malam demi malam.
Ian mendengus dalam kepuasan. Ini tidak seperti yang dia
bayangkan. Cairan kewanitaannya melapisi jari Ian. Ian bergerak,
mencari klitnya, menggodanya dengan ujung jarinya, memanggil
Francesca untuknya dari alam mimpinya. Ian meletakkan tangannya
sesaat di luar vaginanya, gairah menikam ereksinya. Vagina itu
hangat, basah dan celah yang sempurna.
Tatapannya mengarah ke wajah Francesca saat dia membuka
matanya. Selama bebarapa detik, mereka hanya saling menatap satu
sama lain saat Ian menstimulasi klitnya dengan jarinya. Ian melihat
rona segar menyebar dari pipi hingga ke bibir penuhnya.
"Inikah yang kau inginkan agar aku siap?" Francesca bergumam,
suaranya rendah dan serak karena baru saja tidur.
"Mungkin. Aku tidak bisa berhenti memikirkan vaginamu. Aku
menunggu menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk tenggelam
di dalamnya," Ian menjentikkan klitnya dengan tekanan lebih, dan
memperhatikan, terpesona saat Francesca terengah dan mengigit
bibir bawahnya yang indah. Oh Tuhan. Ia akan membunuh dirinya
sendiri karena berpesta dengannya. Francesca adalah kegilaan yang
tidak pernah berakhir dari segala kenikmatan yang terbungkus dalam
sosok wanita cantik yang mempesona.
"Telentanglah," Ian berkata, jarinya tetap memetik dan membelai di
antara labia lembutnya, tatapannya tertuju pada wajah Francesca saat
dia memeriksa dengan seksama reaksi Francesca yang ketara untuk
menipunya, mengukur dia, mengamatinya. Tangan Ian bergerak pada
Francesca saat dia terbaring. "Sekarang kakimu. Aku ingin
melihatmu," Perintah Ian keras.
Francesca melebarkan paha rampingnya. Tatapan Ian tertuju di
antara kedua kakinya, Ian meraih tombol kontrol, merendahkan
sandaran kaki pada tempat bersandarnya. Ian berlutut di depannya,
tubuhnya berada di antara kaki Francesca yang terbuka. Ian
memindahkan tangannya dan memandang pada organ
kewanitaannya, terpesona sepenuhnya.
"Aku biasanya meminta para wanita bercukur untukku," Kata Ian.
"Bercukur meningkatkan sensitivitas. Membuat wanita siap secara
total untukku." "Apakah kau ingin aku melakukannya juga?" Francesca bertanya.
Tatapan Ian melebar pada wajahnya. Kegelapannya, tatapan mata
beludru bersorot dengan gairah.
"Aku tidak ingin kau merubah apapun. Kau punya vagina tercantik
yang pernah kulihat. Aku mungkin orang yang suka menuntut, tapi
aku sangat tahu bahwa lebih baik tidak mengacaukan sesuatu yang
sudah sempurna." Tenggorokan Francesca tertawa saat ia menelan. Ian menyentuh dan
menggunakan jarinya untuk membuka bibir vaginanya, membuka
lipatan berwarna pink gelap berkilauan dan membuka lapisan licin
ke vaginanya. Ereksi Ian tiba-tiba menggeliat dengan ganas,
mengerti tepat di mana dia ingin berada saat itu. Ian juga ingin
memasukkan lidahnya ke dalam lubang itu, untuk merasakan
cairannya meluncur turun di tenggorokannya. Ian mendambakannya.
Tapi jika Ian merasakannya, dia harus memilikinya, saat itu juga. Ini
sudah kepastian. Ian dengan malas bangkit, dan duduk lagi di sampingnya pada kursi
lebar di ruang duduk. Ian bersandar dan mencium ringan bibir
Francesca yang terpisah sambil dia kembali membelai klitnya.
"Rasanya enak?" Ian bertanya, tatapannya menelusuri wajah
Francesca yang memerah. "Ya," Francesca berbisik, kekuatan dari responnya meyakinkan Ian
sebanyak bibir merah muda, pipi dan dadanya yang berat. Ian
menjentikkan klitnya, memberinya lebih cepat, lembut, kembali-danterus memukul
punggung dari jari tangannya. Francesca terengah,
dan Ian tersenyum. Francesca begitu basah hingga Ian bisa
mendengar dirinya bergerak pada daging lembutnya.
"Kau begitu responsif. Aku tidak bisa menunggu untuk melihat
betapa tingginya kenikmatan yang bisa aku berikan pada tubuh
indahmu." Ian menggosok klitnya dengan keras, membuatnya berdenyut.
"Oh...Ian," Francesca mengerang, memutar bibirnya, mengangkat
pinggulnya pada tangan Ian untuk meningkatkan tekanan.
"Tenang, sayang," Ian berbisik di samping mulutnya, menarik
bibirnya saat dia terengah. "Aku akan mengabulkan keinginanmu
yang kutolak sekarang. Klimaks lah dengan belaian tanganku."
Ian menatap, terbakar oleh gairah membara, saat ketegangan di
tubuh lembut Francesca terpecah, dan Francesca berteriak dalam
kenikmatan. Ian mencium aroma itu - wangi unik yang keluar dari
kulitnya saat ia mencapai klimaks. Tak dapat menghentikan dirinya
sendiri, Ian meraih mulut Francesca, membungkam rengekan hampir
marahnya, memuaskan rasa dahaganya pada rasa manis Francesca.
Saat gelombang kenikmatan akhirnya mereda, Ian melepas
ciumannya dan menenggelamkan kepalanya pada lekuk pundak dan
leher Francesca, terengah-engah hampir sama seperti dirinya.
Setelah beberapa saat Ian menyadari bahwa dia tidak mungkin bisa
meredakan ereksinya yang mengamuk sementara terus menghirup
aroma Francesca yang memabukkan.
Ian berdiri dan bangkit, berjalan kearah tempat duduknya.
"Kita akan segera tiba di Paris," Gumam Ian, mengetik di
keyboardnya dan melihat jari yang dia gunakan untuk membuat
Francesca klimaks masih berkilau oleh cairannya yang melimpah.
Ian menutup matanya cepat untuk menghapus bayangan
menggairahkan itu. Bayangan itu masih melekat, seperti sudah
menempel dalam kelopak matanya. "Bagaimana kalau kau pergi ke
kamar mandi, membersihkan diri dan ganti pakaian."
"Ganti baju?" Francesca bertanya.
Ian mengangguk dan memberanikan diri untuk memandang tubuh
telanjang indahnya yang bergelora karena klimaks. Ya Tuhan, dia
begitu cantik: mata gelap bagai bidadari, pucat, kulit lembut seperti
gadis Irlandia, tubuh ramping menggairahkan dari dewi Romawi. Ian
melawan keinginan gelap dan mendesak untuk menyambar dan
menenggelamkan ereksinya ke dalam surga Francesca seperti
binatang liar. "Ya. Aku akan mengajakmu makan malam," Ian berkata, cepat.
"Kau membelikan aku sesuatu untuk kupakai?" Francesca bertanya,
mata bidadari terbelalak karena terkejut.
Ian tersenyum muram dan mengalihkan perhatian pada pekerjannya
dengan susah payah. "Aku sudah bilang padamu aku akan
memberikan semua yang kau butuhkan, Francesca."
*** Francesca pasti kelelahan, karena saat ia melihat kamar tidur
pesawat yang luas dan mewah, dia tidak terkejut. Mungkin karena
dia mengenal Ian lebih baik dan mengerti kalau Ian tidak pernah
puas kecuali pada segala hal yang sempurna. Francesca membuka
pintu kamar mandi, melakukan apa yang diperintahkan Ian, dan
melihat gaun malam rajutan berwarna hitam tergantung di kamar
mandi. "Lin bilang untuk mengatakan padamu kalau semua yang kau
butuhkan ada di dalam laci atas lemari pakaian di kamar mandi atau
di atasnya," Kata Ian beberapa saat kemudian. "Lin bilang cuaca di
Paris cukup nyaman, enam puluh lima derajat fahrenheit malam ini,
jadi stoking bisa jadi pilihan," Ian menambahkan, menatap pada
ponselnya, terlihat jelas membaca pesan dari asistennya yang efisien.
Di dalam lemari mahoni Francesca menemukan sepasang bra dan
celana dalam hitam berenda yang indah. Dia menarik salah satu
benda berenda hitam lainnya, bingung, sebelum menyadarinya itu
adalah garter. Rasa malu membanjiri pikirannya tentang Lin yang
mengatur segala pakaian dalam untuknya. Mungkin Lin
menjalankan perintah Ian sepanjang waktu"
Jemari Francesca menelusuri benda terakhir di lemari itu - stoking
sutra. Dia menatap gugup pada pintu kamar mandi yang tertutup dan
memasukkan kembali garter itu ke lemari. Mungkin saja, Ian ingin
dia memakainya, tapi dia tidak punya rencana untuk memakai garter
dan stoking. Disamping itu, Lin bilang kaus kaki bisa menjadi
pilihan, benar, kan"
Di bagian paling atas lemari ada dua buah kotak - satunya terbuat
dari karton dan satunya dari kulit. Dia membuka kotak sepatu
terlebih dahulu dan bergumam oooooh karena senang saat dia
melihat sepasang sepatu hak tinggi super seksi, terbuat dari kulit
berwarna hitam yang masih terbungkus kertas. Francesca bukanlah
penggila sepatu - sepatu joggingnya merupakan sepatu yang paling
berharga dan mahal yang dia miliki - tapi jantung seorang wanita
pasti berdetak di dadanya - karena dia tidak sabar untuk mencoba
sepatu hak tinggi yang mempesona ini. Dia mengenali mereknya dan
mengernyit. Harga sepatu itu lebih dari tiga bulan sewa
apartemennya. Merasa bergetar dan juga khawatir, dia membuka kotak terakhir.
Mutiara berkilauan pada lapisan beludru hitam. Kalung itu memiliki
rantai ganda yang indah, antingnya berbentuk sederhana. Kedua
benda itu melambangkan kelas bersahaja.
Apakah ini semua adalah bagian dari bayarannya karena menyetujui
Ian untuk memilikinya secara seksual dalam periode tertentu"
Pemikiran itu membuatnya sedikit mual.
Meletakkan kotak kulit itu disampingnya, dia bergegas masuk ke
kamar mandi dan menjatuhkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Mandi air hangat akan menyadarkannya, membantunya membuang
segala halusinasi yang timbul perlahan secara diam-diam. Dia
membungkuskan handuk di sekeliling kepalanya untuk menjaga
rambutnya agar tetap kering dan berputar kearah air.
Francesca berjalan keluar kamar mandi beberapa menit kemudian,


Because You Are Mine Karya Beth Kery di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kulitnya berkilauan oleh pelembab wangi yang dia temukan di meja.
Dia tetap tidak bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya
dengan semua pakaian mahal dan perhiasan yang Ian sediakan.
"Kita akan tiba dalam satu jam. Kita beruntung. Cuacanya
sempurna," suara pria terdengar dari perangkat elektronik,
membuatnya terkejut. Dia menyadari itu adalah suara pilot, yang
berbicara pada mikrofon di suatu tempat. Dia berpikir Ian berada di
kompartemen yang lain, menengadah, tidak bisa berkonsentrasi pada
pekerjaannya saat di mendengar suara sang pilot.
Ian berharap Francesca memakai pakaian yang dia belikan untuknya.
Ian akan marah jika dia menolak. Francesca tidak ingin berdebat
dengannya. Tidak malam ini. Disamping itu, bukankan dia setuju
pada perbuatan gila ini"
Bukankah dia telah menjual jiwanya pada iblis agar bisa merasakan
sentuhannya secara menyeluruh"
Francesca mengesampingkan pikiran melodramatisnya dan menuju
ke lemari dan mengambil celana dalam sutra dan berenda.
Dua puluh menit kemudian, Francesca keluar dari kamar, merasa
sadar diri dan cukup yakin dia akan terjerembab mengenakan sepatu
hak tinggi mewah yang dia pakai. Ian menengok singkat saat dia
mendekat, kemudian menengok lagi. Tatapan Ian datar saat dia
menelusuri tubuh Francesca.
"Aku...tak tahu apa yang harus kulakukan dengan rambutku,"
Francesca berkata dengan bodoh. "Aku punya jepit plastik di
dompetku, tapi sepertinya tidak - "
"Tidak," Ian berkata, berdiri. Meskipun memakai hak tinggi, dia
tetap saja tiga atau empat inchi lebih pendek dari Ian. Ian meraihnya
dan mengelus tangannya di sepanjang rambutnya yang tergerai.
Setidaknya dia meluruskan rambutnya pagi ini, dan rambutnya tidak
terlalu berantakan setelah ia tertidur. Rambutnya terlihat lembut dan
berkilauan disamping gaun hitamnya setelah dia menyisirnya, tapi
meski pun Francesca benar-benar bodoh dalam hal fashion -
Francesca mengerti bahwa pakaian yang dia pakai disebut gaya
menyapu lantai. "Kita akan mendapatkan sesuatu yang cocok untuk
rambutmu besok. Tapi untuk malam ini, kau bisa membiarkannya
tergerai. Mahkota indah seperti itu selalu terlihat bagus."
Francesca memberinya senyum ragu-ragu. Mata biru Ian berkelip
memperhatikan pada dada, pinggang dan perutnya, membuatnya
memerah oleh rasa malu. Francesca merasa sedikit takut juga sedikit
gembira karena melihat betapa lekat gaun tipis ini membungkus
pada tubuhnya. Gaun yang menegaskan kesan seksi dan elegan -
atau setidaknya gaun ini akan membuatnya berubah, saat dia
mengamati wajah Ian dengan cemas.
Apakah dia senang" Francesca sungguh tidak bisa mengatakan dari
ekspresinya yang tak terbaca.
"Aku tidak akan memakai semua ini," Francesca berkata pelan.
"Pakaian ini terlalu berlebihan."
"Aku sudah bilang padamu aku bisa menawarkan padamu dua hal
dalam petualangan ini."
"Ya...kesenangan dan pengalaman."
"Ini memberiku kesenangan yang besar untuk melihat kecantikanmu
terungkap. Dan bagimu, pakaian adalah bagian dari pengalaman,
Francesca." Tatapan Ian tenggelam kearahnya, dan dia melepaskan
sentuhan rambutnya, rahangnya terlihat mengencang. "Kenapa kau
tidak menikmatinya saja" Tuhan tahu aku menikmatinya," Ian
berkata dengan kasar sebelum dia berbalik dan berjalan masuk ke
kamar, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang cepat.
*** Satu setengah jam kemudian, Francesca duduk di tengah tengah
Palair-Royal, di sebuah meja privat di restoran Le Grand V?four
yang bersejarah. Ia melihat begitu banyak karya seni yang
menggiurkan, makanan mewah, antisipasi dengan apa yang akan
terjadi malam nanti...oleh tatapan Ian yang kuat, matanya yang berat
tertuju pada Francesca hingga hampir tidak bisa menelan makanan,
apalagi menikmati makanan yang seharusnya Francesca perlukan.
Semua pengalaman ini hampir tidak bisa menahan godaan.
"Kau susah makan," Ian berkata saat pelayan datang untuk
membersihkan sisa dari hidangan utama mereka.
"Aku minta maaf," kata Francesca sungguh-sungguh, mengernyit
dalam hati pada pikirannya tentang begitu banyak uang dan usaha
yang terbuang untuk makanannya yang indah dari daging sapi
bourguignon dan kentang tumbuk dengan sop buntut dan truffle
hitam yang akan dilemparkan ke dalam tong sampah. Pelayan
bertanya pada Ian dalam bahasa Perancis, dan dia menjawab dengan
baik, tidak pernah mengalihkan tatapannya dari Francesca. Satu hal
yang pasti: Francesca hampir tidak bisa menjauhkan tatapannya dari
Ian sejak dia muncul dari kamar tidur pesawat tadi, memakai
tuksedo klasik versi modern dengan dasi hitam sebagai ganti dari
dasi kupu kupu, kemeja putih dan sapu tangan terlipat di sakunya.
Ian menyapa setiap orang di restoran eksklusif sambil mengantarnya
menuju meja. "Kau gugup?" Ian bertanya pelan saat pelayan menjauh.
Francesca mengangguk, mengerti maksud Ian. Francesca menatap
jarinya yang panjang, ujung jarinya yang kasar dengan malas
melingkar di dasar gelas sampanye dan Francesca menahan
merinding yang ia rasakan.
"Apakah itu membantumu jika kukatakan bahwa aku juga
merasakan hal yang sama?"
Francesca mengerjap dan menatap ke wajahnya. Mata biru Ian
seperti cahaya bulan sabit di bawah kelopak matanya.
"Ya," sembur Francesca. Dan setelah berhenti. "Kalau juga gugup?"
Ian mengangguk penuh pertimbangan. "Dengan alasan yang bagus,
kurasa." "Kenapa kau bilang begitu?" Francesca berkata dengan nada tenang.
"Karena aku begitu bahagia bisa memilikimu, ada kemungkinan aku
akan hilang kendali. Aku tidak pernah kehilangan kendali,
Francesca. Tidak pernah. Tapi kupikir aku akan mengalaminya
malam ini." Sebuah getaran antisipasi melanda Francesca oleh isyarat peringatan
gelap dari nada bicara Ian. Mengapa pemikiran tentang Ian yang
lepas kendali oleh gairah dapat mengobarkan gairah Francesca
sampai ke intinya" Francesca menatap terkejut saat pelayan kembali
dan menaruh hidangan penutup yang indah di depannya dan
peralatan kopi dari perak di depan Ian.
"Est-ce qu'il y aura autre chose, monsieur (apakah ada yang lain,
tuan)?" pelayan bertanya pada Ian.
"Non, merci (Tidak, terima kasih)."
"Trcs bien, bon app?tit (Baiklah, selamat makan)," pelayan itu
berkata sebelum pergi. "Aku tidak memesan ini," kata Francesca, menatap ragu pada
hidangan penutup itu. "Aku tahu. Aku memesan ini untukmu. Makanlah sedikit. Kau akan
membutuhkan tenaga, sayang." Francesca menatap dari bawah bulu
matanya dan melihat Ian tersenyum kecil. "Ini adalah masakan
istimewa di sini, palet aux noisettes (kepingan coklat dengan
hazelnut). Meskipun jika kau telah memakan sampai kenyang, kau
masih menginginkan ini. Percayalah." pinta Ian lembut. Francesca
mengambil garpunya. Francesca mengerang kecil pada kelezatan sensual beberapa saat
kemudian sebagai gabungan antara kue, mousse coklat, hazelnuts
dan es krim karamel yang bercampur di tenggorokannya. Ian
tersenyum dan Francesca tersenyum malu padanya, mengambil porsi
lain dengan lebih antusias.
"Kau sangat mahir bicara bahasa Prancis," Francesca berkomentar
sebelum menyelipkan garpu di antara bibirnya
"Tidak ada alasan aku tidak bisa. Aku warga Prancis dan juga orang
Inggris. Ini membingungkan apakah bahasa keseharianku adalah
bahasa Prancis atau Inggris. Warga kota berbicara bahasa Prancis di
mana aku dibesarkan; ibuku sendiri orang Inggris."
Francesca berhenti mengunyah, mengingat kembali apa yang
dikatakan Mrs. Hanson tentang kakek nenek Ian yang akhirnya
menemukan anak perempuannya di Prancis utara dan menemukan
cucunya juga. Francesca ingin bertanya pada Ian tentang masa
lalunya. "Kau tidak pernah membicarakan tentang orangtuamu," Francesca
bertanya dengan hati-hati, mengambil gigitan yang lain.
"Kau juga tidak pernah membicarakan orangtuamu. Apakah kau
dekat dengan mereka?"
"Tidak juga," kata Francesca, menyembunyikan rasa jengkelnya
menyadari bahwa Ian mengalihkan pembicaraan menjauh dari
dirinya. "Seluruh hidupku aku mengira mereka menentangku karena
aku gemuk, begitulah menurutku. Sekarang aku sudah tidak gemuk
lagi, dan pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa mereka hanya
tidak menginginkanku. Titik."
"Aku minta maaf."
Francesca mengangkat bahu, bermain dengan garpunya. "Kami
sejauh ini baik-baik saja. Kami tidak bermusuhan atau hal-hal
dramatis lainnya. Hanya saja...menyakitkan berada di sekitar
mereka." "Menyakitkan?" Ian bertanya, berhenti saat dia mengangkat cangkir
dari mulutnya. "Bukan menyakitkan, kurasa. Hanya...aneh." Francesca berkata,
mengangkat garpunya. "Tidakkah mereka menghargai betapa berbakatnya dirimu dalam
bidang seni?" Francesca menutup matanya singkat oleh lezatnya rasa manis seperti
permen yang meleleh di lidahnya. "Karya seniku hanya membuat
mereka jengkel. Ayahku lebih jengkel dibanding ibuku," dia berkata
setelah menelan gigitan terakhir dari kesegaran gula-gula dan
menelan. Francesca mengusapkan ibu jarinya sepanjang bibirnya,
membersihkan mousse susu coklat dengan ujung lidahnya. Ya
Tuhan, ini benar-benar lezat.
Francesca mendongak saat Ian melemparkan serbetnya di atas meja.
"Sudah cukup. Waktunya pergi." Kata Ian,mendorong kursinya
kebelakang. "Apa?" Francesca bertanya, terkejut oleh kekasarannya.
Ian membantunya berdiri. "Jangan dipikirkan." Ian berkata muram,
memegang tangan Francesca. "Hanya ingatkan diriku agar lain kali
untuk menahan diri tidak memesan coklat untukmu."
Rasa bahagia membanjirinya disebabkan oleh komentar Ian,
pengaruhnya lebih besar dari pada yang diberikan oleh palet aux
noisettes yang lezat. *** "Di mana kita akan menginap?" Francesca bertanya saat Jacob
meluncur turun pada kegelapan jalan, hampir berbelok ke rue du
Faubourg Saint-Honor?. Tidak seperti perjalanan dari bandara ke
restoran, saat Ian duduk di sampingnya di limo, tangan Francesca
berada di tangan Ian, Ian sekarang duduk diseberangnya, sikapnya
menjaga jarak saat ia memandang jeli keluar jendela.
"Di hotel George V. Tapi kita tidak pergi kesana dulu."
"Lalu kemana?" Mobil melambat. Ian mengangguk mantap keluar jendela. Mata
Francesca melebar saat ia mengenali bentuk dan hiasan arsitektur
pada gedung Second Empire yang menguasai seluruh blok kota.
"Themusse de St. Germain?" Francesca bertanya, dengan bercanda.
Dia merasa familiar dengan museum kuno Yunani dan Italia, saat ia
kuliah pasca sarjananya di Paris. Museum ini adalah salah satu istana
pribadi yang masih tersisa di kota ini.
"Ya." Senyuman segera menghilang dari bibir Francesca. "Kau serius?"
"Tentu saja," Ian berkata tenang.
"Ian, ini lewat tengah malam di Paris. Museum sudah tutup." Jacob
memarkir limo. Beberapa saat kemudian, pengemudi itu mengetuk
pintu belakang sebelum membukanya. Ian keluar dan meraih
tangannya saat Francesca keluar diterangi lampu jalan suram yang
berjajar seperti pohon. Ian tersenyum saat Francesca menatap ragu
padanya, dan kemudian meraih tangannya.
"Jangan khawatir. Kita tidak akan lama. Aku juga ingin kembali ke
hotel sama sepertimu. Malah lebih." Ian menambahkan dengan
pelannya. Ian memandunya ke atas trotoar dan menuju pintu kayu
dengan lengkungan batu yang dalam. Yang membuatnya lebih
terkejut, seorang pria elegan dengan rambut abu-abu langsung
menjawab saat Ian mengetuk pelan pada pintu kayu.
"Mr. Noble." dia menyambut dengan ekspresi yang nampak antara
campuran rasa senang dan hormat. Mereka masuk dan pria itu
menutup pintu di belakang mereka sebelum memencet pada keypad.
Francesca mendengar suara klik yang keras. Cahaya hijau mulai
mengerjap pada sesuatu yang terlihat seperti sistem keamanan yang
rumit. "Alaine. Aku tidak bisa cukup berterima kasih atas kebaikan yang
istimewa ini," Ian menyambut hangat saat pria itu berbalik. Dua pria
itu saling berjabat tangan dalam cahaya samar, jalan masuk yang
terbuat dari marmer putih saat Francesca menatap sekelilingnya,
kebingungan tapi penasaran. ini bukanlah jalan masuk untuk tur
umum. "Omong kosong. Ini tidak bukan apa-apa." pria itu berkata dalam
nada tenang. Seolah ini adalah semacam misi malam hari secara
sembunyi-sembunyi. Eksperimen The Experiment 2 Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan Perintah Kesebelas 5
^