Pencarian

Josep Sang Mualaf 2

Josep Sang Mualaf Karya Fajar Agustanto Bagian 2


Dengan sopan, Umar memohon diri kepadaku untuk pulang dan mengerjakan sholat
dhuhur "Joseph saya permisi pulang dulu, karena matahari sudah menunjukkan waktu
untuk sholat dhuhur"
http://suara01.blogspot.com
Dengan tersenyum, aku menjawab "oh iya silakan Umar, saya juga mau kembali
ke gereja!". Akhirnya, Umar berlalu dari hadapanku. Sebenarnya, aku ingin sekali ikut dengan
Umar untuk sholat berjamaah. Tetapi, aku takut kalau-kalau nanti orang-orang gereja
mengetahui bahwa aku sudah mengikuti agama Islam atau juga takut jika Umar
berpikiran bahwa aku mencoba untuk mengacaukan ajaran-ajaran agama Islam. Akhirnya
ku urungkan niatku itu. Setelah kembali kegereja, aku mencoba berfikir untuk bisa mengikuti pengajian
yang setiap malam diadakan oleh Umar. Selesai sholat di kamar gereja yang disediakan
untukku, aku mencoba memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan dalam
berjalan pada jalan kebenaran. Jam tujuh malam, seperti biasanya Umar pergi kemushola
untuk mengisi kajian. Aku berada didepan gereja, untuk menunggu Umar melewatiku.
Tak seberapa lama Umar pun datang. Kini, sikap Umar berbeda dengan beberapa hari
yang lalu, sebelum aku mengenal Umar. Umar yang dulu terlihat sangat membenciku,
tetapi sekarang bisa tersenyum kepadaku. Akupun, dengan serta merta membalas
senyuman Umar. Sesudah Umar melewatiku, kini tinggal aku yang mengikuti Umar dari
belakang. Sesampai Umar dimushola, ada gejolak dalam batin ini untuk memasuki
pengajian yang dipimpin oleh Umar. Tetapi, perasaanku masih takut jika masuk dalam
kajian Umar. Aku takut, nanti orang-orang
sesat didesa Jati Rogo ini akan
memberitahukan aku kepada pak Karmin. Dan nantinya, pak Karmin akan
memberitahukan perbuatanku ini kepada pendeta Muhammad. Setelah itu, pasti aku
terkena sanksi dari sekolahku nanti. Saat itu, perasaanku benar-benar sedang
berkecambuk dalam batin yang menginginkan sebuah ketentraman jiwa dalam diri dan
keindahan dalam bayang-bayang kerohanian. Terasa sangat berat, langkah kaki ini untuk
memutuskan pada dua hal yang bertolak belakang.
Tapi, saat kakiku akan melangkah menjauh dari mushola terdengar kalimat
"sesungguhnya jika engkau mengetahui kebenaran, maka berjalanlah pada kebenaran itu.
Karena kebenaran itu yang akan membimbingmu pada jalan lurus. Tapi jika engkau
melangkah jauh dari kebenaran, maka tiada sejangkal yang engkau rasakan melainkan
adalah ketersiksaan yang akan menghampirimu".
Hati ini bergetar, kaki yang akan melangkah menjauh dari kebenaran ini terhenti
oleh sebuah petuah yang sangat bijak dalam memahami arti kebenaran. Jiwaku berontak,
dalam rasa ketakutakan akan ketersiksaan yang akan kuhadapi nanti jika aku tidak
mengikuti kebenaran ini. Dengan menguatkan tekad, aku berjalan dengan kekuatan dalam batin serta jiwa
yang penuh semangat untuk hadir pada kajian di mushola.
"Assalamualaikum" salam kusampaikan pada orang-orang yang berada di
mushola http://suara01.blogspot.com
Orang-orang yang berada di mushola kaget dan terperana, saat melihatku berada
didepan pintu mushola. Tatapan mereka, menandakan sebuah ketidak percayaannya
kepadaku, adapula tatapan kosong menegangkan, juga tatapan bengis kebencian.
"Dia pendeta gereja Annur Rochim, bunuh dia!" salah seorang dari orang yang
berada di masjid itu berteriak, sambil berdiri dan mengacungkan telunjuknya kepadaku,
terlihat tangan kirinya mengepal keras, wajahnya garang menunjukkan kebencian,
matanya tajam setajam elang yang akan menerkam. Serentak, semua orang yang berada
di mushola berdiri dengan kegeraman pada setiap wajah-wajah mereka. Tangan-tangan
mereka mengepal keras, seakan-akan mereka siap mencincangku. Aku hanya berdiri
tertegun, sambil meminta pertolongan Allah menyadarkan orang-orang yang berada
dimushola tentang diriku sebenarnya.
Sewaktu mereka akan melangkahkan kakinya untuk menghajarku, terdengar
teriakan "hentikan, hentikan. Kita belum tahu maksud dan tujuan pendeta ini, hentikan.
Tenang, Islam tidak membenarkan kekerasan yang kita lakukan saat ini!"
Saat teriakan itu terdengar, bagaikan sebuah komando bagi orang-orang yang
berada di mushola. Sehingga mereka serta-merta mengurungkan niat untuk menghajarku.
Seseorang berdiri, dari sela-sela kerumunan orang-orang yang berada dimushola, dan dia
adalah Umar. "Anda, kesini mau apa Joseph?" Umar bertanya dengan wajah yang dingin sambil
mempersembahkan senyuman kebijaksanaan
Aku tertegun "inilah Islam!" kata hatiku saat itu. "maaf Umar saya tidak
bermaksud mengganggu. Tapi, saya ingin mengikuti pengajian yang kamu
selenggarakan! Boleh kan?" jawabanku saat itu sambil bertanya dan meminta kepadanya.
Beberapa orang berteriak "tidak boleh, ini pengajian orang-orang Islam!" dan
serentak banyak orang yang menyetujuinya "betul, ini pengajian khusus orang Islam"
adapula beberapa orang yang berkomentar "cara apa lagi yang akan dipergunakan
penginjil ini!". Dengan tersenyum, Umar mengatakan kepada seluruh orang-orang yang berada di
mushola itu "tenang-tenang, dalam Islam kita dibolehkan untuk syiar kemanapun dan
siapapun yang mau mengikuti kajian tentang Allah, harus dipersilahkan!" sambil
menghela nafas panjang Umar menatapku, dan mengatakan "tetapi pendeta Joseph, kami
disini sudah trauma dengan cara-ca
ra yang biasa dilakukan oleh para penginjil untuk
memurtadkan saudara-saudara kami. Jika pendeta Joseph ingin masuk dalam pengajian
yang kami selenggarakan ini boleh-boleh saja, asal pendeta Joseph bersedia untuk masuk
kedalam agama Islam".
Sungguh bijaksana ucapan-ucapan yang disampaikan oleh Umar, aku menatap
Umar dengan keyakinan. Dan saat itu aku mengatakan kepadanya "Umar, sebenarnya
http://suara01.blogspot.com
saya ini sudah memeluk agama Islam! Tetapi, karena tuntutan kontrak yang sudah pernah
saya tandatangani maka sayapun harus bersedia mengikuti kontrak itu sampai saya
selesai sekolah. Saya mengetahui semua kebenaran Islam dan akhirnya masuk kedalam
agama Islam karena jasa-jasa kyai Burhanudin!"
Umar terlihat sangat tercengang, dengan apa yang telah aku utarakan. "saya akan
menelpon kyai Burhanudin sekarang, untuk kepastian kata-kata kamu Josep. Karena kyai
Burhanudin, itu adalah guru saya!" kata Umar yang masih terlihat tercengang, dan sambil
mengeluarkan Siemens M45nya.
Tak lama setelah itu Umar menghampiriku, dan mengucapkan "walaikumsalam,
maaf saya tadi belum menjawab salam yang kamu sampaikan pada kami, Joseph!" Umar
tersenyum, dan langsung memelukku "engkau saudaraku! Dia sekarang saudara kita!"
ucapan Umar sangat menggema, dan orang-orang yang berada di mushola saling
memandang seakan tidak percaya bahwa aku sudah menjadi saudara mereka. Umar
dengan serta merta langsung menyuruh para orang-orang yang berada dimushola untuk
memelukku, sambil berkata "Joseph sebenarnya orang Islam, Joseph sebenarnya orang
Muslim!" Aku tak menyangka, orang-orang yang berada dimushola langsung
menghampiriku dengan terlihat sebuah tatapan kebahagiaan, tatapan persaudaraan,
tatapan kasih sayang antara sesama saudara seiman. Tak sedikit orang yang
mengumandangkan takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar" ruangan
mushola terlihat penuh dengan kebahagian. Saat itu aku tersenyum, dengan senyum
kedamaian, senyum persaudaraan, dan senyuman kegembiraan.
http://suara01.blogspot.com
Dampak mengikuti kebenaran
Malam-malam berlalu dengan keindahan tentang kebenaran, keindahan
persaudaraan telah aku dapatkan dari desa Jati Rogo ini. Alhamdulillah, mereka masih
mau dan tetap merahasiakan identitasku yang sebenarnya. Pengajian yang
diselenggarakan oleh Umar, membuatku semakin paham tentang kebenaran ajaran agama
Islam. Umar dengan kesabaran yang tinggi, mengajarkan aku cara membaca Al Qur"an.
Sangat banyak kata yang sulit untuk dilafalkan, dan bibir ini sangat sulit untuk menirukan
lafal Al Qur"an yang dibunyikan oleh Umar. Mungkin karena aku memang semenjak
kecil menjadi orang kafir, sehingga aku tidak terbiasa dengan bacaan-bacaan Arab. Yang
aku senangi yaitu cara pengajaran Umar, dengan kesabaran itulah membuat motivasi
untuk terus berusaha agar aku dapat membaca huruf-huruf keindahan dalam Al Qur"an.
Lama sudah aku mempelajari cara membaca Al Qur"an, sehingga Allah telah
memberikan aku titik terang dengan kemudahan dalam melafalkan bacaan ayat-ayat
dalam Al Qur"an. *** Saat itu selasa malam, pengajian yang setiap hari diselenggarakan Umar didatangi
oleh kyai Burhanudin. Sungguh tamu yang spesial sekali buatku, karena Kyai inilah yang
telah membuka pintu hidayah untukku. Sehingga aku bisa memasuki kebenaran Ilahi.
"Assalamu"alaikum" dengan suara yang tegas serta raut wajah yang berbinar kewibawaan
dan tatapan yang menyejukkan, kyai Burhanudin berucap salam pada jamaah yang ada
dimushola. "Walaikumsalam" serentak tanpa dikomando jawaban salam mengumandang
"Alhamdulillah, saya dapat hadir di majelis yang Insya Allah dirahmati oleh
Allah ini. Syukur kepada Allah, tidaklah sepatutnya kita lupakan karena Allah yang
memberikan kehidupan, shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad saw. Seorang
manusia sempurna, yang diturunkan kebumi untuk memberikan kabar gembira. Dan telah
memberi tahukan, serta mengajarkan kita kepada jalan kebenaran, Islam!" sambutan awal
dari kyai Burhanudin. Selanjutnya kyai Burhanudin memberikan tausyiahnya kepada
jamaah yang hadir. Tidak terasa, sudah dua jam kyai Burhanudin memberikan tausyiahnya kepada
jamaah mushola Hikmah Ubudiyah. Aku benar-benar kagum dengan sosok kyai ini,
Seorang yang berwibawa dengan perilaku yang santun, akhlak yang mulia, jiwa yang
merata dengan sesamanya, mempunyai tatapan kesabaran serta raut wajah yang
menyejukkan. Sungguh, benar-benar ajaran agama Islam telah diterapkan dalam dirinya.
Sehingga rasa kesombongan sebagai seorang alim ulama, tidak pernah tertanam pada
dirinya. Berbeda dengan beberapa kyai yang pernah aku temui, banyak kyai yang aku
temui dulu sombong dengan keAlimannya, sehingga saat itu aku mengira bahwa agama
Islam memang mengajarkan kesombongan. Padahal, sangat bertolak belakang sekali
ajaran Islam dengan anggapanku dahulu. Ajaran Islam, ternyata begitu menyejukkan
http://suara01.blogspot.com
kalbu setiap insan yang ingin mencari pencerahan diri. Dulu, saat aku masih menjadi
misionaris yang gencar memurtadkan orang Islam, banyak kyai yang aku temui
berperilaku menyimpang dengan ajaran-ajaran Islam. Mereka suka bergelut dengan dunia
kemistikan, doyan menikah dengan lebih dari empat isteri, sukanya dipuja dan dipuji,
sering mengumpulkan kekayaan. Sehingga saat itu, pikiranku tertanam dengan terdoktrin
untuk menumpas ajaran Islam. Tetapi sungguh suatu hal yang ironis, pada saat aku
gencar-gencarnya dalam memurtadkan orang Islam, setitik hidayah menetes dalam kalbu
yang telah membatu. Tetesan hidayah ini, melunturkan kalbu yang membatu dalam
kebenaran yang terombang-ambingkan pada agama kesesatan.
Aku teringat betul, saat itu anggapanku tentang agama Islam benar-benar sempit.
Orang-orang Islam aku anggap bagaikan orang yang tersesat dalam mencari sebuah
kebenaran. Doktrin yang ditanamkan pendeta Muhammad benar-benar masuk pada setiap
sendi-sendi pemikiranku, sehingga aku dengan mudahnya tanpa harus mempelajari ajaran
Islam langsung mengucapkan bahwa ajaran Islam harus diberantas dari muka bumi. Tapi
itu sudah masa-masa yang lalu, sekarang aku adalah orang Muslim yang mengetahui
Islam atas dasar penelitianku sendiri dan aku yakin bahwa Islamlah agama yang benar
dimuka bumi ini. Karena atas jasa kyai Burhanudinlah, kini aku sudah menjadi orang
yang tahu tentang kebenaran,
Aku tersentak, saat Umar menepuk pundakku sambil mengatakan
"Hey, Joseph kok melamun?"
Aku hanya tersenyum simpul, tanpa memberi jawaban yang pasti pada Umar.
Setelah selesai kyai Burhanudin memberikan tausyiahnya, beliau langsung
menghampiriku. Dengan tersenyum aku langsung menyalami, kyai Burhanudin juga
tersenyum, sambil membalas salamanku tetapi saat aku akan mencium tangan kyai
Burhanudin beliau langsung mengelak sambil mengatakan
"Maaf Joseph, saya tidak terbiasa seperti ini. Tangan saya seperti tangan-tangan
orang-orang biasa, tiada kegunaan meskipun engkau mencium tanganku! Cukuplah kamu
menghormatiku dan aku akan menghormati serta memuliakanmu!".
Saat mendengar ucapan yang diutarakan kyai Burhanudin, aku benar-benar
terperana. "sungguh kyai ini benar-benar salah satu orang pilihan Allah, dia tidak
menyombongkan kedudukan keAlimannya pada sesamanya!" kata batinku saat itu.
Sungguh sangat berbeda dengan para kyai yang lainnya ataupun dengan seorang pendeta,
sifat kelembutan dan kearifan kyai Burhanudin benar-benar melambangkan tentang
ajaran agama Islam. "Joseph, bagaimana kabar kamu" Apa kamu sudah siap untuk keluar dari
sekolahmu saat ini?" kyai Burhanudin bertanya sambil melihat dengan tatapan
kearifannya "Belum pak kyai, bahkan saya sekarang lagi ditugaskan untuk memurtadkan
orang-orang di desa ini pak kyai" jawabku polos.
http://suara01.blogspot.com
"Hem ya begitulah Joseph, banyak orang-orang yang sangat tidak suka dengan
Islam. Mereka mengira Islam adalah ancaman, sehingga harus diberantas. Tapi saya tahu
bahwa kamu orang yang bisa mengetahui baik dan buruk sebuah persoalan" dengan
menghela nafas sebentar kyai Burhanudin meneruskan perkataanya "kalau memang kamu
belum bisa lepas dari jeratan mereka, sebenarnya kamu bisa membantu saudarasaudaramu yang sedang teraniaya disini. Mungkin dengan cara bantuan yang biasa untuk
memurtadkan orang Islam bisa kamu alihkan menjadi bantuan yang bisa membantu orang
Islam, Insya Allah bermanfaat bagi orang-orang Islam disini".
Memang saat itu aku belum berfikir sejauh itu, sebuah materi yang setiap hari
diberikan oleh pihak gereja secara berlebih untuk memurtadkan orang-orang Islam
kenapa tidak aku manfaatkan menjadi membantu orang-orang Islam. Minimal jika aku
tidak keluar dari jeratan mereka, tetapi aku masih dapat membantu saudara seiman.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, sudah saatnya aku berpamitan untuk
kembali ke gereja sebelum nanti orang-orang gereja tahu bahwa aku telah lepas dari
sangkar mereka. Malam berhiaskan bintang dan rembulan, yang bersinar redup diatas
mega-mega putih yang melayang terbang membentuk berbagai wujud yang
mengagumkan. Saat perjalanan menuju gereja, aku berpasan dengan seorang jamaat
Annur Rochim. "Dari mana Pendeta?" sapa orang itu,
Sambil tersenyum aku menjawab "dari jalan-jalan, mencari angin! Bapak dari
mana dan mau kemana?" aku langsung balik bertanya
"Saya, baru dari gereja. Mencari pendeta!" jawab orang itu.
"Ada apa mencari saya, Pak?"
"Saya mau penebusan dosa!"
"Oh, kalau begitu besok saja pak. Karena saya sendiri sudah capek saat jalan-jalan
tadi!" sebenarnya aku tidak benar-benar capek, tetapi karena tujuan dia akan mengakui
dosa bukan kepada Allah itulah yang membuatku menjadi malas untuk menemuinya.
"Sungguh lucu ajaran orang-orang sesat ini" gumamku dalam hati.
Akhirnya kami berdua berpisah pada dua jalur jalan yang berlawanan. Lampu
gereja terlihat terang, suasana begitu tenang, sunyi, sepi, hanya jangkrik-jangrik yang
sedia untuk menemaniku dalam alunan lagu yang dikumandangkannya. Aku sudah
sampai di pintu gereja. Tetapi saat akan membuka pintu, aku melihat sekelebatan
beberapa bayangan hitam di samping gereja. Saat itupula, aku langsung mendatanginya.
Tapi suasana terlihat sangat sepi, sunyi dan sesekali tikus-tikus berkeliaran berkejarkejaran. Aku melihat sosok bayangan bergerak, dan sepertinya ada manusia disana
http://suara01.blogspot.com
"HEY, siapa disitu!" teriakku.
Tapi tak disangka, kepalaku langsung ditutup oleh sebuah kain hitam dari
belakang. Menutupi sampai kebatas leher dari belakang. Seseorang langsung memukul
perutku dari depan, tangan ini sebenarnya ingin membelas tapi apalah daya rasa sakit
yang teramat sangat sudah kurasakan dalam perut.
Saat aku akan berusaha mencopot penutup kepala, seseorang langsung memukul
perutku lagi "DUPPP"
"Uch" hanya itulah yang keluar dari mulutku.
Tak pelak punggung ini dipukul dengan benda yang keras "BLUKKK"
"Ach" aku hanya bisa berteriak lirih dan terasa tenaga sangat lemas, mata ini tak
kuat untuk terus terjaga, kakiku pun tak kuat untuk dapat bertahan, saat itu hanya binar
kegelapan yang terlihat di mata ini, dan aku terjatuh.
*** "BRAKKK", terdengar bunyi yang sangat keras sekali. Aku tersentak, dan
tersadar. Entah bunyi apa itu. Mata ini, tak bisa melihat apapun disekitar karena kain
hitam penutup kepala masih terpasang. Kakiku tak bisa bergerak, karena terikat dengan
kaki kursi tempat duduk. Dan tangan ini, terikat erat di belakang punggung.
"Hey siapa kamu! Cepat buka ikatanku ini" aku coba berteriak kepada mereka
Dan saat itupula "Auch" perutku dipukul dengan benda tumpul.
"Diam kamu pembelot" terdengar suara keras ditelingaku
Aku merasa sangat kenal dengan suara itu, "Bernard, iya benar itu suara
Bernard!" bisikku lirih dalam hati. "aku tahu kamu Bernard! Bernard aku mengenali
suaramu khasmu itu" kataku keras.
Terdengar suara tawa keras "hahhaha" setelah tertawa dia mengatakan "kamu,
Joseph. Kamu sudah tahu siapa aku! Dan aku sudah tahu siapa kamu!" setelah itu tawa
itu muncul kembali dengan berlalu pergi.
Ruangan ini menjadi sepi, tapi aku masih mendengar ada suara nafas seseorang
yang tersengal-sengal dan terasa sangat berat sekali.


Josep Sang Mualaf Karya Fajar Agustanto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ternyata kamu, Joseph!" suara itu juga aku kenal, itu adalah suara Antoni salah
satu temanku. http://suara01.blogspot.com
"Kamu Antoni bukan" Kenapa kamu menyiksa aku seperti ini, Antoni" Padahal
kamu salah satu murid yang aku segani, kita tidak pernah bermusuhankan?" saat itu aku
memang benar-benar kalut.
"Joseph, aku tidak menyiksa kamu. Bahkan aku juga termasuk yang disiksa,
Joseph. Lihatlah aku, yang terikat dengan kantung kepala hitam, serta kaki yang menyatu
dengan kaki kursi dan tangan yang terikat di punggung kursi!" ucap Antoni dengan nada
suara yang tersengal dan terlihat sangat kesakitan.
"Hem, jadi nasib kita sama Antoni!" ucapku lirih
Antoni tidak mengucapkan sepakatah kata pun kecuali hanya bunyi nafasnya
mendesah terlihat pasrah.
"ktok"ktok"ktok" terdengar bunyi sepatu yang mendekat.
"Hem, dua pembelot sudah berkumpul"
Suara itu juga aku kenali "Daniel", ucapku dalam hati.
Saat itu, Daniel berteriak keras kepada Antoni. "inikah, yang kalian katakan
kebenaran. Ini kah, yang kalian yakini tentang Tuhan kalian. Mana kasih sayang Tuhan
kalian saat ini. Mana pertolongan Tuhan kalian!" ucap Daniel bagaikan menantang. Dan
saat itu tawa Daniel menggema keras memekakan telinga ini.
Kerasnya ucapan Daniel, membuat Antoni pun berucap keras "ini adalah
keyakinku, Islam adalah agamaku. Allah adalah Tuhanku. Dan Muhammad adalah
pembawa berita gembiraku. Allah telah menolongku, dengan memberikan cobaan
keimanan. Yaitu, dengan siksa yang kalian berikan. Karena aku tahu, siksa yang berat di
akhirat itu untuk kalian!".
Saat Antoni mengucapkan kata-katanya, ada sebuah semangat baru buatku.
Kekuatan untuk terus bertahan menjadi timbul. Tetapi sebenarnya aku kaget sakali,
ternyata seorang Antoni yang biasanya semangat dalam mengajarkan misi kesesatan juga
telah memeluk agama Islam. Saat itupula, terdengar suara "BUKKK".GBUKKK" yang
bertubi-tubi. Dan suara Antoni, terdengar sangat serak dengan teriakan yang memilukan.
Daniel tertawa puas, sambil meninggalkan kami berdua.
Saat akan pergi, Daniel mengatakan "tunggu gilaranmu, Joseph!".
Aku hanya terdiam, mematung pada saat Daniel pergi meninggalkan kami berdua.
Terdiamku bukan takut karena ancaman Daniel, tetapi diamku lebih didasari karena
mengetahui Antoni ikut agama Islam. Sungguh benar-benar diluar dugaan.
"Joseph, kamu masih sadar" kenapa kamu terdiam Joseph" Apakah kamu takut
dengan ancaman, Daniel?" Antoni berucap dengan agak meninggikan suaranya, dan
http://suara01.blogspot.com
menghela nafas panjang setelah itu menuruskan kembali kata-katanya "Joseph, janganlah
kamu takut dengan ancaman orang-orang kafir, sesungguhnya mereka itulah yang akan
teraniaya oleh diri mereka sendiri!".
Apa yang diucapkan Antoni, memang membuat semangat baru buatku "iya aku
ada disini Antoni, terdiamku bukan karena takut dengan ancaman Daniel. Tetapi
terdiamku, karena kaget kamu seorang mualaf juga. Dan pendirian tentang keimananmu,
sangat kuat. Aku benar-benar terkesan, dan bahkan iri denganmu, Antoni!".
Antoni dengan nada tertawa kecil mengatakan "Joseph, kamu terlalu
membesarkan hal yang kecil. Aku berucap syahadat justru karena kamu, Joseph!".
"Ach, masa?" aku saat itu memang sedikit kaget
Antoni langsung membeberkan rencana jahat Daniel, dan kawan-kawannya.
Antoni mengatakan, bahwa saat aku masuk ke Masjid Ba"itussalam milik kyai
Burhanudin terlihat oleh Bernard. Saat itu, Bernard sedang dalam misi menyebarkan
brosur sekolah di masjid Ba"itussalam. Nah pada saat itulah, Bernard melihat aku dan
Bob sedang berbincang serius dengan kyai Burhanudin. Setelah aku dan Bob selesai, dan
menuju kembali ke asrama orang-orang kafir. Bernard langsung bertanya kepada kyai,
tentang tujuanku. Kyai Burhanudin menjelaskan semuanya, dan bahkan tentang aku dan
Bob memasuki agama Islam. Sesekali Antoni menghela nafas panjangnya, dan setelah itu
meneruskan ceritanya. Bernard memberitahukan, perbuatanku kepada pendeta
Muhammad. Pada saat itulah, mereka punya misi untuk menculikku di daerah yang
memang terpencil. Akhirnya mereka menempatkan aku di desa Jati Rogo.
Masih dalam penuturan Antoni saat itu, bahwa Antoni juga termasuk salah
seorang dari Daniel dan Bernard. Tetapi pada saat itu, sebenarnya Antoni juga termasuk
missionaris yang telah mempelajari Al Qur"an, dan dia telah mengetahui kebenaran dari
Islam. Tetapi, kata Antoni dia masih takut dengan ancaman-ancaman pihak sekolah jika
nanti salah seorang dari mereka ikut agama kebenaran, Islam.
Saat mendengarku, telah masuk Islam. Jiwa Antoni berontak, sehingga dia merasa
bahwa tidak ada yang perlu ditakuti kecuali "Allah, sang maha kebenaran!". Saat itulah,
Antoni menjadi berani langsung mengucapkan syahadat pada seorang ulama di
daerahnya. Keberanian Antoni, dalam memeluk Islam ini diketahui oleh Daniel dan
kawan-kawannya. Sehingga, Antoni harus masuk menjadi target utama dikembalikan
murtad, atau kepada misi mereka yaitu "untuk masuk ke ajaran kasih kembali!".
Saat Antoni menuturkan ceritanya, aku benar-benar salut dengan keberanian
Antoni. Yang memang belum aku punya, meskipun aku lebih dulu mengucapkan
syahadat. Keberanian Antoni, menggugah batinku untuk menjadi lebih mendekat pada
sang kholik. "Joseph, kamu kenapa?" seru Antoni yang akhirnya menyadarkan dari lamunan
panjangku. http://suara01.blogspot.com
"Aku tidak apa-apa Antoni! aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak Antoni!"
kataku "Joseph, sudahlah itu sudah masa lalu yang kelam. Kita tidak usah mengingatnya
kembali, yang terpenting saat ini kita harus bisa lolos dari sini!" ucap Antoni
bersamangat. Setelah itu, Antoni meneruskan kata-katanya "sebab, teman-teman kita
memang sudah banyak yang memeluk Islam. Dan mereka ditangkapi, serta akhirnya
entah tak tahu dimana mereka sekarang!"
"Apa! Jadi, sudah banyak teman-teman kita yang memeluk Islam" Aku sama
sekali tidak tahu! Lalu bagaimana dengan Bob, Antoni" Bob juga telah memeluk Islam
denganku, apakah dia juga menghilang?" Aku sangat kaget mendengar hal itu dan aku
pun sangat cemas sekali terhadap sahabatku, Bob.
"Iya Joseph, sejak kamu ditugaskan ke desa Jati Rogo. Banyak sekali perubahan
yang sangat drastis, entah mereka tergugah karena kamu lebih dulu masuk Islam. Atau
mereka telah lama menyembunyikan identitas mereka sebagai Muslim, aku tak tahu.
Kalau tentang Bob, aku mendengar kabar bahwa Bob menghilang setelah kamu pergi ke
desa Jati Rogo!". Aku benar-benar lemas saat itu, Bob salah satu sahabat terbaikku harus
menghilang juga. Aku terdiam memaku, membatu diantara rongga-rongga hitam pekat
yang mengelilingi seluruh penglihatanku.
Entah sudah berapa lama, aku berada pada ruang pengap dan berbau anyir ini.
Yang aku rasakan sekarang, hanya kelaparan yang menerjang. Perut begitu melilit,
dengan kepekatan usus yang terbelit, karena tak mendapat makanan dan minuman. Tetapi
aku masih bisa berfikir bahwa, Antoni lebih menderita dari pada aku. Karena dia yang
lebih dulu berada pada ruang pengab ini.
"Engkau lapar, Joseph?" tanya Antoni
"Iya, aku sangat lapar sekali!" jawabku dengan suara yang memang agak parauh
Antoni tertawa kecil lalu mengatakan "Joseph, itulah cobaan kita. Sewaktu aku
membaca sejarah nabi Muhammad dulu, keadaannya lebih parah dari kita. Pernah suatu
kali, ada seorang wanita berjuang untuk terus dalam memeluk agama Islam sampaisampai dia harus dipanaskan dalam gurun, serta ditusuk-tusuk dengan pedang yang
membara. Makanlah, dengan makanan keyakinanmu. Untuk terus memeluk agama
kebenaran ini, Joseph!" perkataan Antoni menjadikan aku semakin yakin dengan
kekuatan dan kebesaran Allah.
Saat itu terdengar keras, para misionaris membuka pintu sambil tertawa lepas.
Mereka membawa beberapa makanan, yang memang berbau harum, wangi, dan terasa
http://suara01.blogspot.com
sangat mengenakkan. Bau makanan itu menyengat, sehingga perut ini tidak dapat ditipu
lagi. "Ayam goreng ini enak yach, Daniel!" Bernard terdengar mengiming-ngimingi
kami berdua dengan makanan yang memang, enak.
Saat aku terus mencium bau dari makanan itu, dan sempat membayangkan
memakan-makanan yang dibawah oleh Daniel dan kawan-kawannya. Penutup kepalaku
langsung dicopot, akhirnya aku dapat melihat tokoh-tokoh dibalik penculikanku. Antoni
terlihat pucat, dan sangat lesu serta beberapa bekas luka yang masih menganga. Mata
Antoni menatap tajam, kearah misionaris. Daniel, Bernard, Yacobus, Herman terlihat
membawa nampan yang berisi dengan makanan yang enak serta minuman yang dapat
menyegarkan kerongkongan. Dan dibelakang seorang tua tersenyum, dia adalah Pendeta
Muhammad. Herman menyodorkan aku sebuah paha ayam, yang terlihat renyah gurih
dan berbau harum, terlihat sangat lezat
"Nich, kalau mau makan! Tuhanmu, tidak dapat mengasih makan. Makanya,
kamu tak kasih makan!" kata-kata Herman begitu menyakitkan.
Herman terus menyodorkan makanan itu, dan aku hanya diam membungkam
mulut serapat mungkin. Dengan sedikit membentak Herman menyuruhku untuk makan
"INI, MAKAN!" Aku tetap diam tak bersuara, Daniel menghampiriku lalu disingkirkannya tangan
Herman tak seberapa lama pukulan Daniel malayang pada perut kosongku "BBUUGGS"
"Ukh,Ukh, Ukh" perut ini sangat terasa sakit sekali.
Daniel langsung mengatakan "dasar pengkhianat sudah di kasih makan malah
membelot, ini terima lagi". Daniel langsung memukulku lagi "BUUGS" pukulan kedua
Daniel ini membuatku sangat kesakitan.
Aku hanya mengerang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan mereka tertawa termasuk
pendeta Muhammad. Mereka terlihat, sangat menikmati penyiksaan yang mereka lakukan padaku.
Pendeta Muhammad dengan mulut dustanya, langsung menghampiriku dan mengatakan
"kamu, harus kembali kejalan agama kasih!"
Dengan tersenyum, aku mengatakan pada pendeta Muhammad "hehe, Pendeta
busuk. Maka busuklah, kamu di neraka"
Pendeta Muhammad langsung marah, dan menyuruh Yacobus untuk menyiksaku.
Saat Yacobus mengambil sebuah pisau kecil, terdengar dobrakan pintu yang
sangat keras "BBRRUUAAKK"
http://suara01.blogspot.com
Aku terperana, melihat sosok yang aku kenal muncul dihadapan. Dengan
membawa pasukan, yang siap untuk berperang. Dengan wajah-wajah ganas, penuh
kemurkaan. Dan pedang ataupun golok di tangan, masing-masing setiap orang.
Mencerminkan sebuah kekuatan, yang tak terbendung kemarahannya. Mata ini, terperana
melihat sosok lembut yang aku kenal. Sekarang benar-benar, menjadi seorang pria garang
yang tangguh di medan perang. Dengan keras, lelaki tua itu berteriak lantang
"KEPUNG MEREKA, JANGAN SAMPAI LOLOS DARI SERGAPAN KITA.
TAPI JANGAN SAKITI MEREKA, SEBELUM MEREKA MELAWAN KITA!" kyai
Burhanudin, sangat terkesan sebagai seorang komando yang gagah dalam menjalankan
misi kebenaran. Serempak, semua orang-orang pengikutnya langsung menyebar
menghadang pendeta Muhammad, Daniel dan kawan-kawannya.
Pendeta Muhammad terlihat sangat ketakutan, dengan serta merta sikap Daniel,
Bernard, Yacobus dan Herman yang tadinya garang bagai tak terkalahkan harus
menunduk-nunduk dan sujud dihadapan para ksatria kebenaran
"MEREKA SUDAH MENYERAH, PERIKSA APAKAH
MEMBAWA SENJATA!" komando berikutnya dari kyai Burhanudin,
MEREKA Serentak pun, beberapa orang langsung memeriksa pendeta Muhammad, Daniel
dan kawan-kawannya. "Senjata mereka sudah kita amankan, pak Kyai" ucap Umar
Kyai Burhanudin tersenyum puas, atas keberhasilan dalam penyelamatan.
Terdengar ucapan lirih dari mulutnya "Alhamdulillah".
Dengan tenang kyai Burhanudin mendekatiku, sambil tersenyum mengatakan
"ini, sebuah ujian bagi mualaf. Jika kamu bersabar dan pasrah kepada Allah, maka
bantuan Allah itu akan segera datang!"
Aku hanya tersenyum, sambil menganggukan kepala.
Umar langsung melepaskan tali yang mengikatku. Dan Antoni berseru keras dan
lantang "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar".
Terlihat pendeta Muhammad, Daniel dan kawan-kawannya masih menunduknunduk meminta kasih.
Dengan terseyum, kyai Burhanudin mengatakan "ya memang benar, beginilah
cara beribadah kalian. Yaitu suka menunduk, dan bersujud pada manusia yang kalian
mengira dapat menyelamatkan kalian. Serulah Allah, menunduk dan bersujudlah kalian
kepadaNya. Niscaya Allah, akan memberikan keselamatan bagi kalian!"
http://suara01.blogspot.com
Serentak pendeta Muhammad, Daniel dan kawan-kawannya mengucapkan
kalimat syahadat. "Ya beginilah, ketika orang-orang munafik telah kalah dalam peperangan. Maka
mereka, akan terpaksa menganggungkan agama Allah. Tapi, pada saat mereka sudah
menjalin kekuatan kembali. Kalian, akan menyerang kami!" ucap kyai dengan sedikit
geram. Dengan sedikit menarik nafas, kyai Burhanudin melanjutkan perkataannya
"kalian sudah selamat, karena agama Islam melarang menganiaya musuh yang sudah
kalah dalam peperangan! Dan kalian bukan orang Islam, karena kalian masuk dengan
keterpaksaan!" Kyai Burhanudin langsung melihat Umar, sambil berkata "Umar, tolong bawa
orang-orang munafik ini ke Polisi. Ingat jangan sakiti mereka!"
Umar mengangguk patuh dan langsung membawa pendeta Muhammad beserta
murid-muridnya. Sambil menepuk pundakku, kyai Burhanudin bertanya "kamu baik-baik saja,
Joseph" dan siapa temanmu itu, Joseph?"
Dengan tersenyum aku mengatakan "iya Kyai, saya baik-baik saja. Teman saya
ini, bernama Antonius. Dia juga mualafah seperti saya kyai! Oh iya, kok kyai bisa tahu
kalau saya sedang disekap disini?"
Kyai Burhanudin tersenyum dan mengatakan "hem, Alhamudilllah beberapa
orang sudah sadar tentang kebenaran! Saya tahu kamu disekap disini, atas informasi
Bob!" Dan seketika itu Bob, muncul dibalik ksatria-ksatria Allah dengan menggunakan
busana muslim. Sambil tersenyumm Bob menghampiriku. Dia menyapa, dan berkata
"Assalamualaikum, bagaimana kabar kalian saudara-saudaraku!" Bob sambil
memelukku, juga Antoni. Aku dan Antoni sempat kaget, karena kemunculan Bob. Saat itu, Bob langsung
menceritakan bahwa dia mendengar pembicaraan pendeta Muhammad, Daniel dan
kawan-kawannya sesaat setelah keberangkatanku menuju desa Jati Rogo. Bob
mengatakan, bahwa pendeta Muhammad menyuruh Daniel dan kawan-kawannya
menculik beberapa nama-nama yang tertera pada daftar yang dipegang oleh pendeta
Muhammad. Mereka katakan, bahwa penculikan itu adalah misi penyadaran untuk
mengembalikan pada agama Kasih. Orang-orang yang akan diculik itu, semuanya adalah
mualaf. Beberapa nama yang akan diculik disebutkan oleh pendeta Muhammad,
diantaranya yang paling utama adalah Joseph, Bob, Hendri, Antonius, Frans, Hendra dan
masih banyak lagi. Bob menuturkan, dengan raut wajah yang merasakan kemurkaan yang
besar pada pendeta Muhammad, Daniel dan kawan-kawannya.
http://suara01.blogspot.com
Masih dalam punuturan Bob, bahwa dia akhirnya melarikan diri dari asrama agar
lepas dari sasaran penculikan para pendeta pendusta. Saat akan melarikan diri, Bob
kebingungan mencari tempat pelariannya serta mengadukan nasib dia dan sahabatsahabatnya yang akan diculik. Dan akhirnya, Bob teringat dengan kyai Burhanudin.
Maka akhirnya, Bob pun lari ke masjid dan meminta perlindungan disana. Bob
menceritakan masalahnya kepada kyai Burhanudin, setelah itu Bob dan kyai Burhanudin
pun membuat rencana penyelamatan penyanderaan. Dan alhamdulillah, semuanya telah
berhasil dalam keberhasilan misi penyelamatan, para pejuang kebenaran.
Aku saat itu benar-benar bersyukur kepada Allah swt, sujud syukur pun tak
kulupakan untuk memberikan rasa syukur pada sang pencipta manusia.
Kyai Burhanudin, dengan tersenyum mengajak kami untuk meninggalkan
ruangan pengab dan berdebu itu. Kami berjalan, menuju tempat yang baru dengan
harapan dapat memberikan ketenangan pada tiap-tiap ibadah yang akan kami lakukan.
Sungguh ini sebuah hikmah yang besar, dan menjadi berkah yang mendasar. Tak ada
ucapan yang lebih baik ditanamkan, kecuali ucapan syukur pada penguasa alam, Allahu
Akbar. http://suara01.blogspot.com
Kenikmatan Islam Mentari bersinar terik, dalam cahayanya yang menyilaukan mata. Terlihat awanawan berkejaran, burung-burung berterbangan dengan gerombolan yang terlihat
menantang sang awan. Di masjid Ba"itussalam, aku terus mempelajari agama Islam. Aku
benar-benar di gembleng oleh, kyai Burhanudin.
Bob, Antoni, Umar semuanya telah pulang ke kota mereka masing-masing. Aku
tidak tahu, bagaimana tanggapan keluarga Bob jika mengetahui kalau Bob telah
mengikuti agama kedamaian ini, Islam.
Atau bahkan Antoni, seorang anak Pendeta yang terkenal di kotanya harus
menceritakan kepada keluarganya tentang ke Islamannya.
Setiap hari kegiatan rutinku, selalu dihubungkan dengan agama Islam. Banyak hal
kegiatan, yang menurutku tidak berhubungan dengan ritual keagamaan menjadi sangat
berhubungan di mata Islam dan kyai Burhanudin. Menyapu masjid, dikatakan oleh kyai
Burhanudin sebagai bentuk perbuatan amal yang termasuk dalam kategori berpahala
besar dengan mengatakan bahwa "menyapu masjid, berarti kita telah membersihkan
rumah Allah swt! Juga termasuk sebagai, bentuk kegiatan yang telah dianjurkan oleh
Islam. Sebab itu adalah, sebuah lambang keimanan! Kebersihan juga sebagian dari Iman"


Josep Sang Mualaf Karya Fajar Agustanto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kata kyai Burhanudin. Dan juga masih banyak lagi, pahala yang didapatkan hanya dengan menyapu
masjid sesuai keikhlasan hati kita. Aku benar-benar terperanga, saat dijelaskan oleh kyai
tentang pahala-pahala besar meskipun itu adalah perbuatan yang dianggap kecil di mata
manusia. Dulu aku mengira, bahwa orang Islam tidak akan masuk surga karena
kecenderungan orang berbuat dosa. Apalagi disertai dengan ancaman-ancaman dari Al
Qur"an, yang begitu kerasnya tentang neraka. Sekarang, itu adalah sebuah pepesan
kosong bagiku karena itu doktrin agama kesesatanku dulu. Untuk melarang orang
mengikuti agama kebenaran, Islam. Padahal dari perbuatan dosa, yang pernah dilakukan
seseorang itu di hitung oleh Allah sebagai satu perbuatan dosa. Tetapi kalau bertobat dan
tidak akan mengulanginya, maka dosanya akan terhapuskan. Dan setiap niat untuk
berbuat dosa, maka tidak pernah dihitung sebagai dosa.
Tetapi uniknya, bahwa setiap niat untuk berbuat kebaikan maka akan
mendapatkan pahala satu. Dan bila melakukan perbuatan baik, disertai dengan niat baik
pula maka pahalanya akan bertambah dua kali
"Subhanalllah" ucapku lirih dalam hati saat mendapat penjelasan dari kyai
Burhanudin. http://suara01.blogspot.com
*** Malam berhias bintang, yang mengambang pada setiap awan putih bertengger
pada langit hitam. Tak lupa sang bulan menampakkan dirinya pada bintang-bintang yang
bertaburan. Nikmat rasanya, melihat pemandangan langit yang ceria dan meria. Diatas
atap masjid Ba"itussalam, yang berbentuk kuba. Aku dapat memandangi sekeliling
dengan kesempurnaan keindahan malam. Sungguh semua ini, adalah sebuah kenikmatan
yang tidak mungkin dapat aku rasakan jika tidak mengikuti agama kebenaran ini. Karena
semua yang kudapatkan, adalah bentuk dari ubudiyah seorang hamba yang mensyukuri
nikmat alam dan kekuasaan yang telah di berikanNya padaku saat ini. Waktu terus
berjalan, tak terasa hawa dingin malam menyengat kulit. Aku masih tetap, barada pada
atas kuba yang memang diperuntukkan sebagai tempat seorang umat untuk lebih
mendekatkan diri dengan rasa syukur tentang kenikmatan alam yang telah diberikan-Nya.
Sudah lima bulan, aku berada di masjid Ba"itussalam. Sangat banyak ilmu-ilmu
keIslaman, yang ditanamkan kepadaku. Yang akhirnya, membuat aku mengerti tentang
Islam itu sendiri. Tetapi entah kenapa, rasa kesepian melanda pada diriku padahal aku
sudah diajarkan untuk tidak merasa kesepian. Karena, Allah selalu bersama kita.
Yang aku rasakan, adalah sebuah perbedaan dari rasa kesepian itu sendiri. Entah
kenapa perasaan ini, menjadi-jadi seolah aku tidak dapat untuk mengendalikannya.
beberapa kali KH. Burhanudin, menegurku karena tidak berkonsentrasi saat menerima
pelajaran Islam yang diberikannya.
Tetapi saat aku melihat, seorang gadis yang menutupi aurat dengan jilbabnya.
Menghampiri KH. Burhanudin. Maka hati ini terasa berbunga-bunga, entah siapa dia.
Akhir-akhir ini, dia sering terlihat beberapa kali masuk masjid. Dan selalu menemui KH.
Burhanudin. "Joseph, kenapa dengan kamu" Kamu terlihat sangat tidak berkonsentrasi! Apa
karena Aisyah ada disini!" KH. Burhanudin menegurku sambil menunjukkan jari
tangannya kepada gadis itu
Saat itu mukaku berubah memerah, dan aku memang benar-benar malu saat KH.
Burhanudin mengatakan didepan gadis itu. Tetapi dalam hati ini, aku merasa sangat
senang karena mengetahui namanya "oh ternyata namanya Aisyah!" gumamku dalam
hati. "oh, tidak apa-apa kok kyai!" dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaan KH.
Burhanudin. Beberapa kali, aku berpapasan dengan Aisyah. Saat aku melihat dia, Aisyah
langsung menundukkan wajahnya. Seraya, dia malu untuk menatapku.
http://suara01.blogspot.com
KH. Burhanudin mungkin melihat tingkah anehku ini, atau mungkin juga Aisyah
mengadu kepada KH. Burhanudin. Sehingga, aku langsung di panggil oleh beliau.
"Joseph, kamu tahu nggak kenapa kamu, saya panggil?" KH. Burhanudin
langsung menodongkan pertanyaan itu saat aku baru saja meletakkan tubuhku pada kursi
didepan meja KH. Burhanudin.
Dengan seketika, aku menjawab "maaf Kyai, saya tidak tahu kenapa saya di
panggil kyai kesini!"
KH. Burhanudin tersenyum, sambil memegang jenggot didagunya yang sudah
memutih. Lalu beliau mengatakan "Joseph, saya amati beberapa kali kamu memandangi
Aisyah saat sedang berjalan!" KH. Burhanudin menghela nafas panjang dan melanjutkan
kata-katanya "kamu tahu, siapa Aisyah itu?"
Seketika itu, aku menjadi sangat malu saat KH. Burhanudin mengetahui kalau aku
sering memandangi Aisyah. Saat itu mukaku langsung memerah, dan aku jawab "maaf
Kyai, saya tidak tahu siapa Aisyah itu!"
"Joseph, Aisyah itu putriku. Dia baru pulang dari Al Azhar, Mesir!" Jawab KH.
Burhanudin dengan pandangan yang sangat tajam.
Aku benar-benar takut, dengan pandangan KH. Burhanudin. Selama ini KH.
Burhanudin tidak pernah memandang, dengan tatapan yang setajam itu kepadaku.
Dengan serta merta aku menundukkan wajahku dan meminta maaf "Maaf Kyai. saya
benar-benar tidak tahu kalau Aisyah adalah Putri Kyai!"
"Kamu tahu nggak, kalau Aisyah pulang ke Indonesia ini untuk menikah!" KH.
Burhanudin berkata agak keras dan terasa membentakkan suaranya.
Sungguh, hatiku benar-benar hancur saat KH. Burhanudin mengatakan Aisyah
pulang ke Indonesia ini untuk menikah. Tetapi aku juga sangat takut, dengan kemarahan
KH. Burhanudin yang tidak pernah aku lihat selama ini. Apalagi ditujukan kepadaku, aku
masih tetap menunduk dan meminta maaf lagi kepada KH. Burhanudin "maaf Kyai. saya
benar-benar tidak tahu kalau Aisyah pulang ke Indonesia untuk menikah. Saya benarbenar khilaf, kyai!"
"Joseph, apakah kamu lupa! Bahwa melihat seoarang wanita yang bukan
muhrimnya.dengan pandangan yang berlebihan itu adalah sebuah dosa?" masih dengan
tatapan tajam KH.Burhanudin bertanya kepadaku.
"Iya Kyai, saya sudah tahu kalau itu adalah sebuah dosa! Saya khilaf kyai! Maaf"
KH. Burhanudin masih tetap melihatku, dengan tatapan yang tajam. Bagaikan
sebuah kemarahan yang besar, tertanam pada lubuk hati seorang ulama yang aku kagumi
http://suara01.blogspot.com
ini. Kali ini KH. Burhanudin bersikap diam dan tetap menatap tajam padaku, saat itu aku
benar-benar merasa sangat berdosa karena telah menyakiti perasaan KH. Burhanudin.
Aku masih tetap tertunduk, dan menyesali semua perbuatan yang menyakiti hati
KH. Burhanudin. Tak lama KH. Burhanudin mengangkat gagang telephon yang berada di atas meja
didepannya, dan menyuruh Aisyah untuk datang keruangan beliau. Tak seberapa lama,
Aisyah datang. Kini Aisyah sudah berada di samping kiriku, tetapi aku masih tetap tertunduk tak
berani untuk memandang Aisyah lagi. Tetapi hatiku benar-benar berbunga-bunga, karena
bisa berdekatan dengan Aisyah. Tak lama perasaanku menjadi hancur, bagaikan tersiram
oleh air yang mendidih sehingga aku merasa lemah. Perasaan ini timbul karena Aisyah
akan menikah. "Ada apa ayahanda memanggil, Aisyah!" kata Aisyah dengan lembut
menanyakan perihal pemanggilan KH. Burhanudin.
"Subhanallah" ucapku lirih dalam hati, karena mendengar kelembutan suaranya.
Sungguh baru kali ini, aku mendengar suara yang syahdu dan lemah lembut terasa sangat
damai saat mendengar suara Aisyah. "sungguh, beruntunglah pria yang akan
mendapatkanmu, Aisyah!" gumamku dalam hati, yang masih dengan perasaan hancur
lebur. "Aisyah. Kamu sudah tahu, bahwa kamu kembali ke Indonesia ini untuk ayah
nikahkan dengan seorang pria. Ayah meminta, agar kamu jangan tertarik dengan pria
manapun selain pilihan ayahmu ini!" dengan kata berwibawa KH. Burhanudin terlihat
menegaskan perihal maksud kedatangan Aisyah.
Sungguh, aku bagaikan ditikam-tikam oleh sebuah belati yang tajam dan sangat
menyakitkan. "Ayahanda, saya tahu bahwa saya datang kesini untuk menikah dengan pria yang
ayahanda pilihkan! Saya menyerahkan semua keputusan ditangan ayahanda, untuk
memilih pria mana yang akan menjadi suami saya!" jawab Aisyah dengan lembut dan
santun. Aku masih tetap tertunduk mendengar semua itu.
"Aisyah, karena kamu sudah menyerahkan calon suamimu kepada ayah!" KH.
Burhanudin menarik nafas panjang, dan mengela nafasnya dengan terasa cepat serta
terdengar bunyi desisannya.
http://suara01.blogspot.com
Setelah itu KH. Burhanudin melanjutkan perkataannya "baik Aisyah, ayah akan
tunjukkan pria mana yang akan ayah pilih sebagai jodohmu! Aisyah, di samping
kananmulah pria yang akan ayah jodohkan kepadamu!"
Saat aku mendengar ucapan KH. Burhanudin, aku langsung terhenyak dan
mengangkat wajah melihat KH. Burhanudin. Beliau tersenyum. Entah bagaimana
perasaanku saat itu, aku tidak dapat mengucapkan apapun selain diam dan tertegun. Dan
berucap syukur "Alhamdulillah" aku ucapkan terus dalam hati ini.
Dan saat itupula KH. Burhanudin langsung menanyakannya kepada Aisyah
"bagaimana Aisyah, apakah kamu mau menikah dengan, Joseph?"
Aisyah terdiam, dan akhirnya mengatakan "saya tidak mau!"
Aku kaget sekali saat Aisyah mengatakan itu, bagaikan sebuah pedang menebas
leherku. "Apa maksudmu, Aisyah!" bentak KH. Burhanudin
Aisyah hanya tersenyum dan mengatakan "ayahanda dengarkan Aisyah dulu,
Aisyah bilang. Saya tidak mau menolak permintaan ayahanda!"
*** Pernikahan dengan Aisyah, tanpa diketahui oleh keluargaku. Aku masih takut,
untuk memberitahukan tentang jati diri yang baru ini kepada keluarga di Surabaya. Tetapi
sungguh kebahagian yang tak terhingga, mendapat seorang bidadari. Aku begitu
bersyukur mendapatkan Aisyah.
Hari-hari aku jalani dengan seorang bidadari, Aisyah. Aisyah sangat
memperhatikan aku dalam masalah apapun, apalagi masalah ibadah. Tetapi entah kenapa,
perasaanku setelah mendapatkan Aisyah. Ada sebuah kebimbangan lagi, kebimbangan
yang ingin memberitahukan kepada keluarga bahwa aku sudah menikah, dan
memberitahukan aku telah menikahi seorang bidadari dari surga.
Papaku dulu pernah mengatakan, kalau nanti jika aku sudah menyelesaikan studi
dan menjadi pendeta. Maka, aku akan dinikahkan dengan Maria Magdalena. Seorang
gadis keturunan Eropa. Orang tua Maria, adalah sahabat dari Papaku. Sehingga Papa
sangat menyetujui, kalau aku nanti menikah dengan Maria Magdalena.
Aku takut, kalau nanti terus aku sembunyikan jati diriku yang baru ini. Maka
keluargaku, akan mengira kalau aku masih sebagai seorang hamba kristus. Padahal aku,
telah berpindah menjadi hamba Allah. Dan percaya, bahwa Rasulullah adalah utusan
Allah. http://suara01.blogspot.com
Pernikahan yang direncanakan, oleh keluargaku akan tetap berjalan. Sungguh aku
sangat takut, semua itu terjadi. Aku sangat menyayangi Aisyah, Bidadari Allah yang
diturunkan untuk mendampingiku di dunia. Dan Insya Allah juga di surga.
"Suamiku, kenapa melamun" apa Aisyah mempunyai salah?" tegur istriku,
Aisyah. "Oh tidak Istriku, kamu tidak mempunyai salah apapun padaku!" jawabku
terbata-bata dengan sekananya.
"Tetapi. Kenapa engkau terus melamun sejak pernikahan kita, suamiku?" tanya
Aisyah lebih jauh. Aku menghela nafas panjang, lalu berkata "Istriku, sejak kita menikah. Aku
sampai sekarang, belum memberitahukan keluarga yang ada di Surabaya. Aku tidak tahu,
apakah Papa dan Mama merestui kita" Sedangkan kita, dengan keluargaku sudah jauh
berbeda. Papa dan Mama, serta adik-adikku masih menganut agama kekafiran!".
Aisyah menatapku dengan penuh kasih sayang, saat itu tangan lembutnya
membelai pipiku sambil berkata "Suamiku, tiada hal yang baik dari pernikahan itu
sebaik-baik restu kedua orang tua! Tetapi meskipun tidak ada restu dari orang tua juga
tidak apa-apa! Suamiku, kenapa engkau tidak menghubungi saja, atau kita langsung
datang ke Surabaya. Dan memberitahukan, bahwa kita sudah menikah. Kita harus bisa,
menanggung sebuah resiko untuk memberitahukan sebuah kebenaran. Karena Rasulullah
sendiri, selalu mengajarkan kita untuk terus menebarkan kebenaran pada setiap insan
manusia di bumi Allah ini!"
"Iya, kamu benar Istriku. Tetapi aku takut, kalau-kalau kamu nanti diusir oleh
mereka! Dan bahkan sangat dibenci oleh mereka. Yang malah aku takutkan lagi, hati
kamu akan sakit menerima perlakuan mereka, itu yang tidak aku harapkan, Istriku!".
Aisyah tersenyum lembut lalu berkata "suamiku, aku sudah siap menanggung
resiko apapun dari keluargamu nanti. Insya Allah, aku tidak akan sakit hati kepada
mereka!". Mendengar ucapan Aisyah seperti itu, aku menjadi bersemangat untuk datang dan
memberitahukan keluarga di Surabaya. Bahwa aku telah beristri dengan seorang bidadari,
benar-benar bidadari. Tetapi aku teringat, bahwa Papa mempunyai penyakit jantung.
Yang nantinya, aku takut kalau Papa kaget dan akhirnya meninggalkan dunia ini.
wajahku saat itu menjadi berubah murung saat bicara dengan Aisyah.
"Ada apa lagi, suamiku?" tanya Aisyah dengan mimik yang serius
"Istriku, aku lupa kalau Papa mempunyai penyakit jantung. Aku takut, kalaukalau Papa nanti kaget saat melihat kita! Dan akhirnya meninggalkan dunia ini!" jawabku
dengan mimik muka yang kalut.
http://suara01.blogspot.com
Aisyah tersenyum dan lagi-lagi mengusap pipiku dengan tangan lambutnya,
sehingga aku benar-benar merasa sangat sayang pada dia. Lalu Aisyah berkata "suamiku,
seperti yang aku bilang tadi. Kita berjuang, harus bisa menerima resiko! Itu semua, resiko
sayang!" Dengan perkataan Aisyah, tentang sebuah resiko yang harus aku terima. Maka
hati ini menjadi mantap untuk datang ke Surabaya. Sambil mensyiarkan agama yang haq
ini, Islam. "bagaimana kalau besok lusa kita berangkat ke Surabaya, Istriku" usulku pada
Aisyah "Suamiku, terserah engkau sajalah. Aku akan menemani kemana engkau pergi,
Suamiku!" Aisyah menjawab dengan senyumnya yang indah dan menyejukkan hati,
sungguh aku telah mendapatkan bidadari.
*** Semua sudah aku persiapkan untuk berangkat ke Surabaya, Aisyah sudah bersiap
untuk berangkat. Dan aku sendiri, tinggal mengangkat koper berisi baju yang aku kemasi
kemarin. Kereta Bandung-Surabaya tiba pukul sebelas malam, beberapa santri KH.
Burhanudin ikut mengantar kita sampai ke stasiun. Tak lupa KH. Burhanudin pun ikut
mengantar ke stasiun. "Joseph, kamu harus dapat menerima apapun perlakuan dari
keluargamu nanti! Kamu harus bisa menanggung resiko nanti, jika mereka tidak mau
menerimamu!" pesan KH. Burhanudin kepadaku. "Aisyah, janganlah kamu sakit hati jika
nanti mertuamu disana tidak menerima hubungan suami istri kalian! Tetap tawakal dan
berdoa agar hidayah dapat di turunkan oleh Allah swt. untuk keluarga suamimu!" ganti
Aisyah yang mendapat nasehat dari KH. Burhanudin. Kami berdua serempak menjawab
"Insya Allah". Kereta sudah tiba, sudah waktunya aku dan Aisyah menaiki kereta yang akan
membawaku pulang kembali ke Surabaya. KH. Burhanudin melambaikan tangannya, saat
lambat laun laju kereta berjalan. Santri-santri KH. Burhanudin pun melambai-lambaikan
tangan pula, sambil mengucapkan "kak, jangan lupa oleh-olehnya!". Aku tersenyum dan
melambaikan tangan pula. Aisyah duduk disampingku, disamping sebuah jendela kereta
yang menampakkan pemandangan malam
"Istriku, perjalanan kita masih panjang. Tidurlah terlebih dahulu, biar aku yang
terjaga" pintaku kepada Aisyah.
Sambil mengangguk Aisyah berkata "kalau begitu baiklah, suamiku!". Aisyah
tidur pada pundak lengan kananku
Sungguh perasaanku begitu sangat sayangnya kepada Aisyah, istriku. Laju kereta
begitu cepat, hingga dari jendela terlihat warna-warna lampu bergantian warna. Anganku
menerawang jauh pada masa silam, keluargaku begitu bahagia saat-saat Papa masih
sangat sehat untuk dapat membiyai aku di sebuah universitas terkenal. Adik-adikku tidak
http://suara01.blogspot.com
pernah kekurangan apapun. Hingga pada akhirnya Papa sakit jantung, dan harta keluarga
habis untuk pengobatannya. Aku Drop Out dari kuliah, karena tidak mampu membayar
biaya kuliah lagi. Sebuah tawaran datang dari gereja, tawaran untuk menyekolahkan aku
di sekolah pendeta, dan semua biaya hidup keluargaku akan terpenuhi semuanya.
Sungguh Ironis, kami memang orang-orang kristen tetapi sumbangan dari gereja pun
bertendensi. Dengan syarat, untuk mendoktrin aku agar dapat memurtadkan orang-orang
Islam. Papa terlihat gembira dengan tawaran itu. Akhirnya aku dikirim ke Bandung untuk
sekolah, kesekolah yang mempelajarkan cara memurtadkan orang-orang Islam.
Dalam batinku masih bergejolak, mempertanyakan penerimaan keluarga disana
nantinya. Apakah mereka mau menerima kami. Kenangan-kenangan masa lalu terus
membekas, merasuki diriku dengan bayangan-bayangan yang menyenangkan. Tak lupa
saat aku menjadi remaja Altar, dengan sangat suka citanya aku menyanyikan puji-pujian
untuk yesus kristus, lucu.
Kereta terus melaju, dalam kegelapan malam yang berangsur menjadi sebuah
kemerahan dalam langit yang akan berhiaskan cahaya mentari. Aku tersentak saat Aisyah
terbangun, dan menanyakan "suamiku, apakah kita sudah sampai?"
"Belum istriku, kita sudah hampir sampai!" jawabku dengan senyuman.
"Suamiku, apakah sekarang sudah waktunya untuk sholat shubuh?" tanya Aisyah
lagi.

Josep Sang Mualaf Karya Fajar Agustanto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku melihat arloji yang menempel di tangan, lalu mengatakan "wah sekarang
sudah setengah lima! Berarti waktunya kita sholat shubuh! Dimana kita sholat sekarang,
istriku?" "Kalau gitu kita langsung saja sholat sambil duduk, kita tinggal bertayamum saja!
karena kondisi kita sekarang darurat!" ucap Aisyah dengan senyumnya.
Aku lupa akan hal itu, aku lupa bahwa Allah memberikan kemudahan bagi kita
untuk melakukan sholat dimanapun. Dengan cara apapun, asal tidak melanggar dari yang
disyari"atkan oleh Islam, sungguh agama Islam benar-benar mudah.
Mentari mulai mengembangkan sinarnya, kemerah-merahan adalah sebuah ciri
khas bagi mentari pagi. Terlihat sawah-sawah hijau, berderet beraturan membentuk
kotak-kotak yang mengagumkan. Petani mulai terlihat berjalan diatas petak-petak
sawahnya, beberapa ada yang membawa cangkul, sabit atau bahkan sebuah rantang
makanan. Terkadang kerbau-kerbau memanggul bocah yang asyik dengan siul
serulingnya. Tetapi pemandangan itu beralalu dengan cepat, secepat kereta api ini
berjalan. Jam sebelas siang, terlihat sudah hiruk-pikuk kota Surabaya yang bercirikan hawa
panasnya. Kereta mulai terlihat kelelahannya, kecepatan perlahan-lahan mulai mereda.
Didepan terlihat stasiun besar bertuliskan "Stasiun Gubeng".
http://suara01.blogspot.com
"Suamiku, apakah kita sudah sampai di Surabaya sekarang?" tanya istriku dengan
melihat kecendela "Kita sudah sampai, Istriku!" jawabku tersenyum kepadanya.
"Koran, koran, korane pak!" pedagang asongan mulia berjibun menawarkan
barang dagannya, "tahue, tahu, tahue sek panas" beberapa pedagang asongan
menawarkan dagangannya lagi kepadaku,
Dengan senyum aku mengatakan "gak mas, suwon".
Koper, dan tas-tasku sudah aku turunkan dari kereta. Aisyah terlihat sangat lega
saat turun dari kereta "nikmat rasanya bisa terlepas dari kepengapan kereta" kata Aisyah
dengan senyuman manjanya.
"Becak"e Mas" teriak seseorang. Saat kita keluar dari stasiun tawarannya lain lagi,
dari pedagang asongan yang ada didalam hingga pedagang jasa yang ada diluar, tapi
harus hati-hati karena copetnya tidak sedikit kalau kita masih berada di area stasiun.
"Suamiku, kita sekarang naik apa?" tanya Aisyah
"Kita naik Angkot saja ya, sayang!" tawarku pada Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Pak, jurusan Kertajaya warna apa?" tanyaku pada seorang satpam yang lagi
duduk dengan teman-temannya
"Oh seng iku mas, seng warna"e abang keabu-abuan" jawab satpam itu sambil
menunjukkan angkotnya. Setelah berterima kasih aku segera bergegas kearah angkot
yang di bilang oleh satpam itu
"Pak, angkot ini jurusan Kertajaya?" tanyaku pada supir angkot
"oh, nggeh mas. ngge niki jurusan Kertajaya" jawab supir dengan sopan.
"ah pasti, supir ini bukan asli orang Surabaya! logatnya terlihat dari orang-orang
kulonan!" gumamku sendiri. Angkot berjalan dengan kecepatan yang maksimal, sangat
lamban. Seiring dengan lajunya, yang sering terhenti karena menurunkan dan menaikkan
penumpang. Sudah lima tahun, aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Entah perubahan apa
yang terjadi pada keluargaku nanti. Terlihat di setiap rumah-rumah, yang dulu hanya
bangunan kosong. Kini, berisi dengan orang-orang yang menjajakan warung-warung
tahue, tahu, tahue sek panas= tahunya, tahu, tahunya masih panas
gak mas, suwon = tidak mas terima kasih
Becak"e Mas = Becaknya Mas
Oh seng iku mas, seng warna"e abang keabu-abuan = oh yang itu mas warnanya
http://suara01.blogspot.com
merah keabu-abuan oh, nggeh mas. ngge niki jurusan Kertajaya = oh iya Mas, ya ini jurusan Kertajaya
dengan ke khasan daerah mereka. Sungguh sangat cepat perkembangan, perubahan dari
kota ini. Terlihat jelas sebuah gapura kecil bertuliskan "KERTAJAYA RAYA BLOK 4".
"Itu blok rumahku!" pikirku dalam hati, secepatnya aku menekan bel angkot
yang berada tepat di atas kepalaku "TTTEEET". Angkot dengan pelan-pelan berhenti.
"Ayo, sayang kita turun. kita sudah sampai!" ajakku kepada Aisyah.
Dengan cepat, Aisyah dan aku turun dari angkot. Aku ambil uang lima ribuan
untuk kubayarkan pada supir angkot.
"Kini tinggal sedikit berjalan kaki, maka kita akan sampai di rumah!" ucapku
kepada Aisyah Aisyah hanya mengangguk. Saat melangkah menuju rumah tempat kelahiranku, jantung ini berdetak keras
serasa ada sebuah beban yang berat dalam hati ini. Keraguan mulai muncul dalam hati,
disaat-saat penentuan titik resiko yang paling berat.
"Eh, kamu Joseph yach?" seorang dari samping kiriku menyapaku
Dengan perlahan aku menolehkan kepala pada sumber suara, ternyata dia adalah
Dani, salah satu teman bermainku sewaktu kecil. "eh kamu Dani kan!" aku tersenyum
sambil menyalami Dani Dengan menepuk pundakku Dani mengatakan "wah-wah, kamu sekarang sudah
sukses yach. Lihat sekarang, kamu malah jadi tambah gemuk. Eh, itu siapa" Wah cantik,
dari gereja mana" Biarawati yach?" Dani penasaran dengan Aisyah
Aku tersenyum, sambil mengatakan "kamu ada-ada saja Dan! Oh iya dia Istriku.
Bukan seorang biarawati, tetapi seorang muslimah sejati"
Dani terlihat terperanga melihat aku mengatakan kalau Aisyah adalah seorang
muslimah sejati, "jadi kamu sudah mengikuti Islam, Joseph?" tanya Dani selanjutnya
"Iya, Dan!" aku mengangguk dengan tersenyum.
"Hem syukurlah!" ucap Dani lirih dengan tatapan yang terlihat berbinar senang.
"Ok Dan! Aku pulang dulu, kerumah. Aku belum ketemu sama Papa Mama!"
kataku dengan menyalami Dani.
*** http://suara01.blogspot.com
Kini aku sudah didepan Rumahku, Rumah tempat masa kecilku hingga beranjak
dewasa. Rumah, yang membuatku keluar dari agama yang tertanam sejak pada benih
janin kelahiranku. Rumah, yang tertanam kesopanan berasaskan kekafiran. Kini aku telah
lepas dari kesesatan itu, tetapi kini aku berada pada batas kesesatan itu. "Apakah mereka
masih tetap berada pada agama kesesatan" Apakah mereka mau menerima Aisyah"
apakah Papa Mama merestui kami menikah?" seribu pertanyaan berada pada sisi
kepalaku "Suamiku, kenapa terdiam! Kenapa kita tidak langsung masuk kerumah?"
pertanyaan Aisyah mengagetkan lamunanku
Aku tersenyum, dan langsung menuju pagar pintu rumah. Rumahku masih tetap
tidak berubah, sama dengan pada saat terakhir kali aku melihat rumah ini. Dengan pelan
aku memencet bel rumah "Ting.. Tung". Terlihat seorang gadis mengenakan Jilbab
putihnya, dengan corak kontras dengan baju yang menutupi tubuhnya, "siapakah dia"
Apakah mungkin aku salah alamat?" tanyaku dalam hati, tetapi tidak mungkin karena
semuanya masih aku ingat dengan benar. Atau apakah mungkin rumahku sudah di jual,
untuk mengobati penyakit jantung Papa. Berbagai pertanyaan, muncul pada isi kepalaku
ini. Tetapi saat itulah gadis berjilbab itu langsung mengagetkan lamunanku
"Mas Joseph, yach?" dengan raut muka yang terlihat sangat senang, gadis itu
masih tetap memandangiku. Tetapi aku masih tetap membatu, tak tahu siapa yang ada
didepanku saat itu. "Mas Joseph ini aku, Margaretta!" tegur gadis itu dengan binar mata yang
menyala, terlihat sangat senang.
Aku baru ingat, bahwa Margaretta itu adalah adikku "Haaa.. Marreggggreeetttaa!"
ucapku terperana melihat itu semua. Aku tak percaya, adikku kini berjilbab. Berjilbab
menutupi semua bagian tubuhnya.
"Mas Joseph, Reta kangen sama mas Joseph!" dengan serta merta Margaretta
memelukku erat, tak terasa Margaretta meneteskan bulir-bulir tetesan intan berkilau
jernih. Tak lama kami terhanyut dalam pelukan adik dan kakak
"EHHM" Aisyah berdahak memperingatkan
Aku tersadar, dan langsung memperkenalkan Aisyah, istriku. Margaretta terlihat
sangat gembira dengan raut wajahnya yang ceria.
Saat itu kami bertiga masuk kedalam rumah, Margaretta masih tetap menangis
dalam kebahagiaannya. http://suara01.blogspot.com
"Sudah Reta, kita sudah bertemu! Tidak usah sentimentil begitulah!" ucapku
sambil mengusap-usap kepala Margaretta. Akhirnya dia dapat sedikit demi sedikit
menghentikan tangisnya, "Ret, Papa Mama dan Sovi dimana?" tanyaku saat itu
"Papa sekarang lagi pergi sama Mama, dan mbak Sovi lagi kerja!" jawab
Margaretta dengan sesenggukan.
Tanpa banyak kata, aku langsung bertanya tentang maksud jilbab yang dipakai
oleh Margaretta. Dengan polos Margaretta menceritakan. Saat setehun kepergianku, Papa
sakit keras. Semua pengobatan sudah dijalani. Bahkan pendeta-pendeta yang katanya
akan mengobati Papa, tidak dapat mengobati penyakit Papa. Pada saat itu, keluarga sudah
pasra. Tetapi pada malam hari, Papa bermimpi menemukan kalimat LaIllahaIlallah
Muhammadarosulullah pada sebuah batu. Anehnya Mama, Sovi dan Margaretta sendiri
juga bermimpi sama. Pada saat itulah, Papa mulai menanyakan kalimat itu pada
seseorang. Yang pada akhirnya, Papa baru mengetahui kalau itu adalah kalimat syahadat
untuk memasuki agama Islam.
Pada saat itu, Papa masih tidak percaya dengan mimpinya itu. Bahkan
mengatakan itu adalah mimpi syetan. Dan keluargapun akhirnya berkeyakinan yang
sama, tetapi anehnya mimpi itu datang selama tiga kali.
Dan yang terakhir malah lebih dahsyat. Ada seseorang muncul dalam mimpi
tersebut, dan mengatakan dengan keras "Hey, apa kalian tidak tahu bahwa Allah Tuhan
kalian, Rasulullah Muhammad adalah utusan Tuhan. Jangan ingkari kalimat
Laaillahailallah Muhammadarusulullah atau nerakalah tempat kalian kembali!".
Dengan adanya suara itulah, akhirnya Papa yakin dengan kebeneran Islam. Yang
akhirnya Papa memasuki Islam dengan disertai Mama, Sovi juga Margaretta sendiri. Dan
sejak saat itu, Papa mulai diajarkan berdzikir oleh seorang Kyai untuk selalu mengingat
Allah. Hasilnya sangat luar biasa, atas kepasrahan Papa kepada Allah swt. Akhirnya Papa
sembuh total. Subhanallah. Sehingga saat itulah, keluarga sangat yakin bahwa semua ini
hanyalah Allah yang berkehendak. Keluarga sebenarnya mau mengabarkan kepadaku
tentang hijrahnya keluargaku pada agama kebenaran, Islam.
"Tetapi, kata Pendeta mas Joseph tidak bisa diganggu. Ya akhirnya, saat itulah
kami merelakan mas Joseph menjadi pastur. Tetapi alhamudillah, mas Joseph tidak jadi
menjadi pastur. Tetapi malah mendapat istri yang solekhah" Kata Margareta, dengan
sedikit mengingat masa itu.
Aisyah hanya tersenyum saat itu.
"Dan sekarang, semua biaya hidup dari gereja sudah terputus. Sehingga, keluarga
sekarang harus mulai bekerja kembali" masih dalam penuturan Margaretta, setelah
menghela nafas panjang. Margaretta melanjutkan perkataannya kembali. "dan kini,
http://suara01.blogspot.com
Alhamdulillah. Keluarga malah semakin leluasa, dan bahkan bebas dalam menjalankan
setiap ibadah yang diwajibkan! Seperti orang-orang Muslim yang lainnya"
*** "Assalamualaikum" suara dari depan menggetarkan telinga, dan itu adalah
"PAPAA, MAMAA" aku langsung berlari dan sungkem kepada kedua orang tuaku.
Akhirnya semua resiko yang aku takutkan sirna, sebuah kebahagianlah yang timbul
menghampiri. Kini keluargaku hidup berbahagia, dengan tetap memegang teguh akhidah
ajaran kebenaran, ajaran kedamaian, ajaran kesejukan, ajaran kehidupan. Islam.
LaaIllahaIlallah Muhammadarosulullah.
http://suara01.blogspot.com
BIOGRAFI Penulis mempunyai nama pena Blackrock1, nama pena ini diambil berdasarkan
kebiasaan pada saat Blackrock1 sebagai nama Chatter si penulis dahulu. Blackrock1
merupakan sebuah nama yang berarti "Batu Hitam" dengan maksud sebagai penafsiran
bahwa Batu Hitam atau Blackrock ini merupakan Hajjar Aswad yang ada di Mekkah,
yaitu sebagai batu pemersatu umat Muslim sedunia. Dan angka satu diambil karena
berdasarkan penafsiran bahwa agama yang haq di dunia ini hanya "1" yaitu ISLAM.
Karya Blackrock1 di terbitkan di Deteksi Jawa Pos dan sebagian besar untuk kalangan
sendiri termasuk di media kampus. Berikut biografi lengkap tentang Blackrock1 :
Nama Pena Nama Tempat, Tanggal lahir Alamat No Telp Agama Jenis Kelamin Motto : : : : : : : : Email Blog/situs : : Tokoh Idola Blackrock1/Jaisy01 Fajar Agustanto Surabaya, 21 Agustus 1982
Jl. Kepodang 56 Larangan Candi Sidoarjo JATIM 61271
031-8945932 / 081330261804
Islam Laki " laki Semangatku adalah jihadku dan jihadku adalah gerakku,
gerakku adalah kekuatanku, kekuatanku adalah Allahu
Akbar. Fajar212000@yahoo.com http://suara01.blogspot.com
: - Pengalaman Org - Muhammad Saw, Hasan Al Banna, Yusuf Qaradhawi
Kh. Ahmad Dahlan, Muhammad Natsir, Buya Hamka.
: Tapak Suci Putra Muhammadiyah (Pencak Silat) 1998 - 2003
Sekretaris PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat
Ubhara Surya 2002 - 2003 http://suara01.blogspot.com
- Sekretaris DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Hukum
Ubhara Surya 2002 " 2003
Anggota KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ketua FMM (Forum Mahasiswa Muslim) Ubhara Surya 2003 " 2004
Menristek BEM Ubhara Surya 2003-2004
Sekretaris UKKMI (Unit Kerohanian Keagamaan Mahasiswa Islam)
Ubhara Surya 2003 " 2004
Kabid Pengkaderan Organisasi DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa)
Fakultas Hukum Ubhara Surya 2003-2004
http://suara01.blogspot.com
Pertarungan Para Pendekar 2 Rajawali Emas 05 Dewi Karang Samudera Pendekar Jembel 4
^