Pencarian

Mencari Seikat Seruni 1

Mencari Seikat Seruni Karya Leila S. Chudori Bagian 1


ac-zzz.blogspot.com MENCARI SEIKAT SERUNI Leila S. Chudori http://ac-zzz.blogspot.com/
Inikah hari terbaik bertemu dengan-Mu
Jakarta tidak memiliki bunga seruni. Tetapi aku akan mencarinya sampai
ke ujung dunia, agar ibu bisa mengatupkan matanya dengan tenang.
Ibu selalu berkata, jika dia mati, dia tahu apa yang akan terjadi. Yu Nina
akan menangis tersedu-sedu (mungkin dia akan melolong); mas Arya akan
membacakan surat Yassin dengan suara tertahan sembari mencoba mengusir
airmatanya. Aku akan melakukan segala yang paling pragmatis yang tak
terpikirkan oleh mereka yang tengah berkabung: melapor kepada pak RT,
mengurus tanah pemakaman, mencari mukena, mengatur menu makanan dan
botol air mineral untuk tamu, dan sekalian mencari kain batik. Terakhir, yang
paling penting"yang selalu disebut-sebut Ibu"aku pasti mengais-ngais bungabunga kesukaan Ibu yang sulit dicari di Indonesia: bunga seruni putih. Dia tidak
menyebut melati; juga bukan mawar merah putih. Harus seruni berwarna putih
"Kenapa seruni" Dan kenapa harus putih?"
Ibu tidak menjawab. Dan aku tak pernah mendesaknya.
Ramalan ibu tepat. Itulah yang memang terjadi.
Kami menemui ibu yang sudah membiru. Wajah yang membiru, bibir yang
biru keunguan yang mengeluarkan busa putih. Di atas lantai yang licin itu, aku
tak yakin apakah ibu terlihat lega karena bisa mengatupkan matanya, atau
karena dia kedinginan. Kami menemukan sebuah sosok yang terlentang bukan
karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan: hari ini, aku bisa
mati. Mungkin ibu tak pernah bahagia.
ac-zzz.blogspot.com Atau mungkin dia merasa hidupnya memang sudah selesai hingga di sini.
Mas Arya memeluk tubuh dingin itu tanpa suara. Aku hanya menutup mulut,
sementara hatiku ribut. Tanganku sibuk. Aku menutup segala pertanyaanku
dengan pragmatisme: bagaimana caranya mengangkat tubuh ibu dari lantai itu
agar Ayah tidak melihat keadaan ibu yang serba biru. Jangan sampai Ayah
melihat bahwa ini sebuah pernyataan dari Ibu. Selain itu, ibu harus segera
diangkat karena dia pasti kedinginan. Lihat, warna biru itu semakin lama
semakin ungu kekuningan. Sayup-sayup kudengar suara ibu: hari ini aku ingin
mati. Untuk sementara, aku merasakan ada ombak yang bergulung, menyesak
dada. Tapi, aku memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengunci gudang
airmataku. Aku memiliki kemampuan menekan kepedihan seberat apa pun agar
hari yang penuh luka ini bisa segera selesai. Sementara aku sibuk bertanya-tanya
kenapa ibuku memutuskan meninggalkan kami, tiba-tiba kulihat Yu Nina
menyeruak dari kerumunan kami. Dia mengusir tangan-tangan yang menghalanginya. Astaga, tubuh sekecil Yu Nina bisa mendorong tangan para
paman dan bibik yang sudah ikut berkerumun. Yu Nina menyerbu tubuh ibu yang
terlentang. Tubuh ibu yang sudah diam dan tetap berwarna biru. Yu Nina
melolong".tapi suaranya tak pernah keluar. Namun aku bisa mendengar lolongan
Yu Nina hingga hari ini. *** Amsterdam, Desember 1963.
Nadira menolak tubuhku. Nadira menolak susuku. Ini membuatku tak
nyaman. Dia hanya memejamkan matanya sambil sesekali mengeluarkan
rintihan kecil. Aku mendengar suara angin tajam yang menusuk-nusuk jendela.
Angin Desember di Amsterdam sungguh murung. "wat een melancholische dag is
het vandaag.." *1) Kuletakkan Nadira di atas tempat tidur kami (yang kami sebut tempat
tidur sebenarnya hanya dua buah peti kayu yang kami rapatkan; di atasnya kami
letakkan selembar kasur bekas). Nadira menolak segalanya. Susu. Tubuhku.
Suara ayahnya. Gangguan kedua kakaknya: Nina yang bersuara nyaring. Arya
ac-zzz.blogspot.com yang tertib dan taklid. Dari jendela, aku membayangkan sosok Bram merapatkan kerah jaketnya di
keramaian Kaavelstraat. Meski pada musim panas, itu jalanan yang penuh, Bram
dan aku selalu senang menyusuri Kaavelstraat hanya untuk satu hal: mencium
bau rendang di halaman luar restoran Padang di pojok jalan; dan bau asap rokok
kretek yang dijual oleh Andries.. Amsterdam kota yang kontradiktif. Amsterdam selalu rapi dan rajin membasuh
diri, sedangkan penduduknya malas mandi. Bram Suwandi di antara mereka"
seperti juga para penduduk Indonesia di sini"terlihat paling bersih, rapi dan
rajin bertemu dengan air. Amsterdam juga serba kontradiktif, karena semasa
kuliah, aku bisa mendapatkan dua tetangga yang posisi apartemennya sekaligus
menunjukkan titik spektrum yang berlawanan. Johanna adalah seorang
penganut Protestan yang ketat, yang rajin ke gereja dan rak bukunya penuh
dengan buku-buku renungan Ilahiah; sementara Bea adalah gadis Belanda yang
pada hari pertamaku di Amsterdam mengajak si gadis Indonesia yang semula
dianggapnya pemalu ini, menyusuri rumah-rumah lampu merah, hanya agar aku
kelojotan. Dia begitu kepingin tertawa hingga terbungkuk bungkuk melihat
seorang gadis Asia yang menjerit melihat suasana Rosse Buurt Red Light
District. Ternyata reaksiku membuat dia kecewa. Aku melalui jalan itu dengan
santai, malah banyak bertanya dan ikut duduk berbincang dengan Anneke, Carla
dan Elise sembari berbagi rokok, mendengarkan tentang langganan mereka.
Aku tersenyum mengingat itu semua. Hingga kini, Johanna dan Bea tetap
temanku terbaik di apartemen ini, setiap kali Bram ke luar kota. Meski berbeda
ideologi dalam hidup, merekalah yang membantu pernikahanku yang dilangsungkan dengan begitu sederhana di kota ini. Jauh dari orang tua dan
jauh dari suara-suara kekeluargaan dan bau rempah-rempah yang meruap dari
masakan Indonesia. Kulihat lampu-lampu jalanan sudah lengkap menerangi jalanan. Pada
saat ini, Bram pasti sudah turun dari metro bersama ratusan warga Amsterdam
lain yang memilih untuk meninggalkan sepedanya di apartemen masing-masing.
Setelah menerjang angin dingin mencari berita di siang hari, dia akan pulang
sebentar, lalu berangkat lagi ke De Groene Bar hingga dini hari.
ac-zzz.blogspot.com Suara derit pintu apartemen menandakan Bram sudah di dalam
apartemen. Aku sudah tahu, pipinya yang dingin itu akan terasa tebal, empuk
dan berwarna biru kehitaman oleh janggutnya yang segera saja tumbuh begitu
pisau cukup menerabasnya setiap pagi. Bram menutup pintu. Dia tampak lelah.
Tapi matanya tetap bersinar.
"Ada apa?" Bram memandangku tanpa senyum.
"Nadira agak aneh"."
"Aneh kenapa?" "Dia menolak susuku?"
Bram membuka sepatunya satu persatu dan mencopot kaus kakinya. Lalu
dia segera mencuci tangannya dan menggosoknya dengan sabun seolah sabun itu
bisa menggusur jutaan bakteri Amsterdam. Akhirnya setelah yakin seluruh
tubuhnya bersih, Bram menyentuh dahi Nadira.
"Tidak demam?" gumamnya, "kenapa" tadi kamu makan apa" Ayo
schatje"..wat scheelt jou..." *2)
Aku mencoba mengingat-ingat. Tidak ada yang aneh, telur, sedikit
kentang dan sayuran. Akhir bulan seperti ini, lemari es kami hanya berisi
beberapa potong sayur dan buah. Persediaan daging sudah menipis dan itu
semua aku siapkan untuk Bram dan anak-anak. Bram memegang dahi dan pipi
Nadira. "Dia tidak demam"."
Tiba-tiba Bram mendengus. Aku juga mencium bau sangit. Dengan gerak
cepat kubuka selimut Nadira. Kotoran Nadia merembes kemana-mana. Warna
kusam sepre berubah menjadi coklat. Tanpa banyak kata, kami gerabak gerubuk
membersihkan seluruh tubuh Nadira yang sudah belepotan. Dengan tangkas,
Bram mengangkat sepre dan mencemplungkannya ke ember. Pipiku basah, tapi
segera kusembunyikan. Kami tak mampu untuk cengeng.
"Aku telpon Jan?"
"Jangan!" Bram berseru. "Hutang kita sudah numpuk! Hoeft niet." *3)
Aku duduk mengganti celana dalam Nadira. Dia hanya melenguh, lemah.
Nadira masih menolak susuku. Aku tetap berpikir keras makanan apa yang
menyebabkan Nadira menolak susuku.
Jam dinding berbunyi delapan kali. Setiap dentangnya berbunyi bersama
ac-zzz.blogspot.com detak jantungku. "Aku antar Nina dan Arya tidur dulu"."kata Bram tanpa mengeluarkan
solusi apa-apa. Suaranya muram, dan terasa menekan rasa cemas.
Aku menggendong Nadira. Dia menyandarkan kepalanya yang bundar dan
bagus yang diselimuti rambut hitam tebal itu ke pundakku. Nadira. Hanya
beberapa menit kemudian, aku mendengar suara mesin tik Bram dari kamar
makan. Lalu suara jari-jari yang asyik itu sesekali diselingi deru angin bulan
Desember. "Kalau dia sudah tidur, artinya dia tidak apa-apa?" terdengar suara
Bram di antara riuhnya mesin tik.
Nadira memang sudah terlelap. Tapi dia belum minum apa-apa. Aku
meletakkan Nadira di atas tempat tidur tanpa seprei. Aku meletakkan Nadira
tanpa setetes pun air susu di dalam tubuhnya. Aku mengelus-elus pipinya,
sekaligus mengusir-usir airmataku yang memaksa keluar.
*** Jakarta, Desember 1991 Bunyi geremengan surat Yasin itu terdengar seperti dengung lebah yang
mengusap hati. Saling bersahut, merubung dan memagari ibu. Dari jendela
dapur, aku melihat lautan peci dan kerudung hitam yang duduk berbaris rapi
seperti iring-iringan semut hitam. Tampak Ayah dan kak Arya membacakan Yasin
di dekat kepala ibu, seolah ingin menjaga seluruh jasad ibu dari gangguan siapa
pun. Di tangan Ayah, aku melihat seuntai tasbih berwarna coklat tua; aku belum
pernah melihat tasbih yang kelihatan sudah tua itu. Di belakangnya Kakek dan
Nenek Suwandi membaca Yasin dengan suara yang lebih halus. Orang tua Ibu
sudah wafat beberapa tahun silam.
Aku masih bisa mendengar sedu sedan Yu Nina di kamar ibu. Lalu
terdengar beberapa bibik yang mencoba menenangkan dia, agar kecenderungannya untuk histeris segera reda.
Alangkah leganya jika kita punya kemampuan ekspresif seperti Yu Nina.
Alangkah bahagianya bisa memantulkan kembali apa yang sudah memenuhi
dada. Darimana dia bisa belajar menjerit, menangis dan sesenggukan
ac-zzz.blogspot.com berkepanjangan seperti itu" Ibu pernah mengatakan, sejak lahir Yu Nina memiliki
pabrik airmata di beberapa kantung matanya. Apa saja yang tak terpenuhi akan
menyebabkan kantung airmatanya serta merta produktif. Alangkah enaknya.
Apakah karena aku lahir sebagai anak terakhir, makanya ibu kehabisan
persediaan kantung airmata"
Beberapa ibu dari kompleks tempat tinggal orangtuaku menjerit kian
kemari menyiapkan minum alakadarnya dan sesekali meminta persetujuanku
yang, entah oleh siapa, diangkat sebagai "pimpro" dari acara belasungkawa ini.
Sebuah mobil Kijang mencericit masuk. Winda, salah seorang sepupuku yang
keranjingan menjadi nyonya repot itu turun dari mobil dan berteriak meminta
bala bantuan. Seketika, tiga atau empat pembantu menyambut Winda yang
ternyata membawa beberapa baskom bunga melati. Tiba-tiba, untuk kali
pertama, ada rasa panas yang membakar hatiku. Siapa yang memesan melati di
hari kematian ibuku"
Aku mendekati Winda, "siapa yang memesan melati?"
Aku terkejut mendengar suaraku seperti siraman air es. Dingin. Dingin.
Padahal aku tahu betul ada api yang tengah berkobar. Dadaku menggelegak.
Winda menatapku terkejut. Bibirnya yang mungil hanya bergerak. Dia tahu betul
aku jarang marah. "Siapa?" Suaraku menekan. Winda tak berani bernafas.
"Aku pikir....."
Tiba-tiba saja, entah dari mana, ada tangan yang langsung saja meraih
baskom yang penuh dengan tumpukan melati itu. Dan entah bagaimana, baskom
melati terpelanting dan terdengar bunyi gedumbrangan di lantai. Ratusan
kuntum melati kecil yang bernasib sial itu jatuh terburai-burai bersamaan
dengan jatuhnya suara cempreng baskom yang terbuat dari kaleng itu.
Bersamaan dengan suara berisik itu; geremengan surah Yasin di dalam
terhenti seketika. Aku tak kuat lagi. Aku baru menyadari, ternyata tanganku
yang menyebabkan bunyi ramai itu. Dan entah bagaimana, hanya dalam
beberapa detik aku sudah berlari dan berlari meninggalkan ke belakang. Aku
berlari diiringi tatapan heran ratusan pelayat. Seruni. Kemana aku bisa
mendapatkan bunga seruni yang selalu diinginkan ibu"
ac-zzz.blogspot.com *** Amsterdam April, 1957 De Groene Bar selalu menjadi tujuan Bea dan aku jika kami ingin
bertingkah semaunya. Lebih tepatnya: jika Bea sedang gatal ingin lelaki dan aku
sedang haus mencari alkohol. Kami memang baru saja mendekam seharian
dengan "Sense and Sensibility" karya Jane Austen, sebuah novel yang harus
kami diskusikan besok, sementara aku heran sekali kenapa tahun pertama kami
dijejalkan oleh novel-novel karya penulis Inggris abad 19 yang selalu
mengkhawatirkan jodoh dan harta. Bea dan aku mulai gelisah. Austen membuat
kami resah dan bosan. Kelihatannya aku butuh lelaki dan alkohol.
Bea menyeretku sembari berbisik. Asap rokoknya mengepul menghambur
ke mukaku. Dia membisikkan satu nama di telingaku sembari cekikikan.
Mendengar usulnya, aku malah tak bersemangat.
"Males ah! Males sama lelaki Indonesia."
"Yang ini berbeda...."
"Apanya yang berbeda" Mereka semua selalu menghakimi; rajin tidur
dengan perempuan Belanda tapi ingin kawin dengan perempuan Indonesia yang
manis dan penurut," aku menyambar jaketku, "kita ke Kaavelstraat saja."
"Naaaaaay, kita ke De Groene Bar," Bea setengah memaksa.
"Bosen. Penuh snob"
"Biarkan. Percayalah, ada lelaki ganteng itu malam ini. Kau harus lihat."
Hanya dalam waktu setengah jam, tiba-tiba saja aku sudah berada di De
Groene Bar yang penuh sesak; bukan saja oleh mahasiswa Vrije dan
Gemeentelijke Universiteit, tetapi lengkap dengan aroma tubuh mereka yang
malas mandi bercampur dengan asap rokok dan alkohol. Bea memang sialan.
Aku tak berminat mengunjungi ke bar ini, karena 90 persen pengunjungnya
adalah mahasiswa sekampus yang merasa diri seniman, intelektual dan
bertingkah sok bohemian. Mereka yang baru saja kembali dari Sorbonne


Mencari Seikat Seruni Karya Leila S. Chudori di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

University, Paris hanya untuk program pertukaran satu semester dan sempat
melihat Sartre sekilas dari jauh atau secara tak sengaja bertemu dengan
pahlawanku, Simone de Beauvoir. Biasanya mereka hanya berani menatap
ac-zzz.blogspot.com pasangan dahsyat itu; lantas di Amsterdam para snob yang dungu itu akan
bekoar-koar merasa sudah berada di dalam lingkaran intelektual Eropa.
Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Prof Ernst van Dijk, seorang
penulis Belanda terkemuka yang dikagumi para mahasiswa (atau mahasiswi
tepatnya; karena aku tak pernah melihat dia berjalan menyusuri kampus tanpa
entourage). Ada tiga mahasiswi yang duduk mengelilinginya, dan dua mahasiswa
yang memesan anggur merah. Salah satu mahasiswi, yang blonda tentu saja,
menggelantungkan lengannya ke atas bahu sang profesor.
Tiba-tiba mata Prof. van Dijk menangkap pandanganku. Dia tersenyum
dan melambaikan tangan agar aku menghampiri mejanya. Aku pura-pura tak
paham dan menyibukkan diri dengan Bea.
"Bea, aku tak tahan gerombolan pretensius ini....." aku menarik lengan
Bea. Tetapi tangan Bea menunjuk pada seorang bartender yang sedang
meladeni seorang mahasiswa berambut panjang blonda yang mengenakan
sepasang anting yang besar, bulat dan panjang. Bartender itu memberikan satu
gelas pada si blonda. Dari kejauhan, dan dari cahaya bar yang minim, aku bisa
melihat sebuah wajah Asia (atau jazirah Arab atau Afrika Utara") yang tampak
terlalu serius dan santun di tengah reriuhan mahasiswa gondrong, kumel dan
bau badan ini. Tiba-tiba saja, tanpa sadar aku sudah meluncur mendekati bar. Pasti
tulang hidungnya (hidungnya yang mancung itu) terbuat dari magnet dan
seluruh tubuhku terbuat dari besi murah meriah yang bersedia menyeret-nyeret
diri untuk berpelukan dengan magnet ini. Dan sang magnet itu menatapku
hanya dengan satu lirikan yang tajam.
"Mau minum apa?"
Lo, kok dia tahu aku bisa bahasa Indonesia"
Lo" "Vodka tonic...." kata Bea cekikikan, "Dua."
Aku diam, dan lelaki mancung yang bisa berbahasa Indonesia itu
mengambil dua gelas dan mengisinya sambil matanya tetap menatapku.
"Kamu dari Jakarta..." katanya yakin.
"Saya betul-betul menyangka kau dari Lebanon atau Maroko"
Dia mendorong gelas vodka tonik itu ke depanku.
ac-zzz.blogspot.com "Ya, banyak yang menyangka aku dari jazirah...."
"Jadi.....kamu dari mana" Bukan dari Jakarta?" Bea bertanya sambil
melirik kenes. Si lelaki ganteng dan mancung itu mencoba menyibukkan diri dan
menggumamkan sebuah kata yang tergilas di dalam jeritan suara rombongan
mahasiswa yang sedang bertepuk tangan di meja paling ujung. Entah siapa yang
sedang berulangtahun atau papernya mendapat pujian; aku tak peduli. Belum
sempat aku meminta dia mengulang ucapannya, Bea membuat sebuah alasan
yang agak "dusun" bahwa dia harus menemui Christel di meja lain. Bea
meninggalkan bar sembari mengedipkan sebelah matanya. Si lelaki ganteng tersenyum. Barulah aku melihat, dia memang dari
Indonesia.... Entah senyumnya, atau mungkin bentuk dagunya, tetapi sekarang
aku yakin dia orang Indonesia. Aku merasa seseorang memperhatikan aku dari
jauh. Profesor Maha Tahu dan Maha Cerdas itu menatapku.
"Kenapa dia?" tanya Bartender/Magnet dengan nada curiga.
Aku meneguk vodka tonik "pasti dia mau menagih paperku yang
terlambat." "Menagih paper di bar?" Bartender/Magnet itu tersenyum dengan
dalihku. "Prof. van Dijk dan entourage sedang membicarakan pertemuan mereka
dengan Sartre dan Simone..." kataku tersenyum. Bartender/Magnet tertawa
mendengar suaraku yang tak tahan untuk tidak mengejek.
"Biarkanlah dia bangga dengan pertemuan-pertemuan sekejap, meski
hanya sebagai peserta seminarnya," suara Bartender/Magnet terdengar tulus.
Dia kemudian menggosok tangannya dengan lap. Lalu mengambil jaketnya.
"Shiftku sudah selesai, aku antar kamu pulang."
Lo, siapa yang mau pulang" Lo, tapi aku sudah menemukan diriku seperti
besi yang mengikuti Bartender/Magnet yang menggiringku berjalan membelah
angin malam di awal musim semi di Amsterdam. Tidak terlalu dingin untuk
ukuran Belanda; tetapi kami, para inlander tentu saja mengenakan jaket.
Bartender/Magnet hanya mencangkingnya di balik bahunya.
"Keluarga saya dari Bogor...." katanya melangkah perlahan-lahan.
"Lumayan terbiasa dengan udara sejuk."
"Siapa namamu?"
ac-zzz.blogspot.com "Bramantyo." "Itu nama Jawa"
"Ibu saya memang orang Jawa."
Kami masih berjalan dalam diam. Tiba-tiba saja aku merasa langit
Amsterdam sungguh cerah. "Saya pohon yang tumbuh dari langit..."
"He?" "Ibu saya lahir di Lampung; ayah dari Palembang, jadi saya tumbuh dari
langit, tanpa akar...."
Bram tersenyum, "kamu lahir di mana?"
"Di Jakarta." "Dan itulah akarmu."
Aku tak bisa tak tersenyum.
"Pasti waktu lahir, orangtuamu tak lupa memberi nama."
Dia lucu juga. Dan sabar.
"Kemala. Namaku Kemala."
"Masih tahun pertama di VU 5*)?"
Aku tersenyum, "terlalu kelihatan ya?"
"Tahun pertama selalu penuh dengan anak-anak yang gelisah, yang
mencoba memberontak dari hidup yang sudah dipetakan orangtuanya."
Dia pengamat manusia yang ulung.
"Kamu sudah senior di VU?"
Bramantyo mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menawarkannya padaku.
Aku mengambil sebatang. "Di GU...*6)."
Aku mengangguk, "Jadi kamu termasuk rombongan jenius..."
"Jenius?" "Anak-anak yang dapat beasiswa."
"Saya terpaksa menempuh pendidikan di universitas yang mau memberikan beasiswa. Kamu tahu semula aku sekolah di mana" Di Fakultas
Kedokteran Hewan di Bogor, karena itu jurusan yang memberikan beasiswa.
Lalu ada seleksi beasiswa di GU, aku langsung ikut karena sudah lama aku ingin
belajar politik dan ekonomi."
Aku diam. Tapi dia pasti tahu, kekagumanku padanya semakin berlipat,
ac-zzz.blogspot.com karena aku semakin merapat.
"Kamu mau ambil apa?" tanyanya sambil menyalakan api untukku.
Jarinya menyentuh telunjuk tanganku. Cukup sekilas, tetapi cukup menyetrum.
Apa mungkin magnet mengeluarkan setrum"
Aku menghembuskan asap untuk menekan-nekan setruman sialan itu,
"mungkin sastra.... aku belum tahu. Mahasiswa sastra Inggris dan sastra Prancis
kelihatan seperti sekumpulan snob yang dungu. Sibuk mengutip nama-nama
besar di dalam setiap kalimat mereka. Lalu sejak Franz Kafka tengah menjadi
mode di sini, setiap mahasiswa Sastra akan mengutip dia. Pathetique! Aku tak
mau menjadi salah satu gerombolan pathetique."
"Entourage Profesor van Dijk?"
Bartender/Magnet/Bramantyo ternyata tahu para sosok di VU.
"Dia pasti mengincarmu sejak lama. Dalam entouragenya biasanya harus
ada satu barang eksotik," kata Bram tanpa emosi apa-apa. Datar.
Aku tidak menambahkan observasinya, karena segala yang dikatakannya
sudah tepat. Bram tersenyum dan menghembuskan asap rokoknya. Aku heran
melihat warna kulitnya. Jangan-jangan seluruh tubuh dia terbuat dari magnet.
"Aku sudah tahu modus operandinya. Bea sudah pernah tidur dengan dia.
Pertama, van Dijk akan mengail perhatian para mahasiswi dengan analisis dia
terhadap karya-karya yang buruk. Dia akan mengeluarkan wit, yang membuat
kita ikut menertawakan para penulis wannabe di Eropa. Lalu, ketika mangsa
sudah mulai bersedia menggelayut di lengannya atau di lehernya, dia mulai
membisikkan beberapa bait sajak ciptaannya. Yang paling romantis. Di temani
anggur merah. Selebihnya mereka akan bergulat sampai pagi.... habis-habisan.
Dia sangat ahli di tempat tidur."
Bram diam mendengarkan ulasanku.
"Kamu yakin itu cerita dari Bea; bukan pengalamanmu?"
Aku bisa mendengar segelintir kecemburuan di dalam pertanyaan
Bartender/Magnet/Bramantyo.
"Dia bukan selera saya."
Bartender/Magnet/Bramantyo
berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku sedang menceritakan pengalaman Bea; bukan pengalamanku sendiri.
"Kalau bukan sastra, apa pilihan keduamu?"
ac-zzz.blogspot.com "Tidak ada pilihan kedua. Pilihan kedua menunjukkan hidup yang terlalu
tertata...." jawabku tanpa berpikir. Aku terkejut dengan kalimat itu.
Bram berhenti melangkah dan menatapku.
"Kamu cuma ingin mengoyak-ngoyak peta yang dibuat orangtuamu."
Aku terdiam. Lagi-lagi warna kulitnya agak menggangguku. Mengganggu
dalam arti yang menyenangkan, tetapi merepotkan gejolak darahku.
"Kulitmu seperti lelaki Maroko..."
"Ya?" "Berwarna bronz...."
Bram tertawa. Giginya putih dan rata, kontras dengan kulit bronz itu.
Apartemenku sudah kelihatan. Dan tiba-tiba saja aku tak ingin kehilangan
segumpal magnet bronz ini.
"Musim panas ini kamu ngapain?"
"Mencari kerja....aku punya lima orang adik di Bogor...uang kerja di
musim panas sangat lumayan."
Kerja. Tiba-tiba malam musim semi menjadi semakin dingin. Aku
menggigil. "Kamu kemana?" Aku terbatuk-batuk merasa sungkan mendengar rencana musim panas
Bartender/Magnet/Bramantyo. "Ngng...Bea mengajak ada pesta di Wina. Lalu
aku akan bergabung dengan beberapa teman di Venice..."
Bram mengangguk. Tidak menghakimi. Tiba-tiba aku ingin sekali masuk
ke dalam jaketnya yang terasa hangat. Dan lo, tiba-tiba itulah yang terjadi.
Lebih gila lagi, Bram sama sekali tidak terkejut dengan seranganku yang begitu
mendadak. "Aku tak mau ke Wina dan ke Venice...."
Bram malah memelukku semakin erat. Apakah magnet terasa begini
hangat; dan apakah ilmu fisika dulu sempat mengajarkan bahwa magnet bisa
mengalirkan rasa panas ke dalam tubuh manusia"
Malam itu kami berbincang hingga pagi di kamarku. Kami tak melakukan
apa-apa, kecuali berpelukan dan berpegangan tangan. Dan itu sudah cukup
menggetarkanku. Aku lebih banyak bercerita tentang buku-buku yang tengah kubaca. Saat itu aku
ac-zzz.blogspot.com baru menyelesaikan "She Came to Stay" dari Simone de Beauvoir. Bram
mendengarkan ocehanku dengan tenang. Matanya seperti sebuah danau yang
sanggup menelanku. "Tulisan siapa yang kau kagumi?" tanyaku setelah menyadari aku
berbicara banyak. Bram tersenyum. Hanya beberapa hari kemudian, setelah aku
mampir ke apartemennya, aku melihat beberapa tulisan karya M. Natsir,
pemimpin Partai Masyumi. *** Jakarta, 1992 Akhirnya kami berhasil membuka gudang itu. Serombongan debu
menghambur. Yu Nina dan aku langsung saja terbatuk-batuk; Arya segera
menyodorkan masker. Sementara mereka sibuk dengan perangkatnya masingmasing untuk menghadang sebuan debu, aku lebih tertarik pada sebuah peti
antik kecil yang duduk sendirian ditemani debu dan koran-koran bekas. Peti
tradisional itu terbuat dari jati, polos, berdebu dan hanya dihiasi empat
lempengan perak di setiap sisi. Beberapa tumpuk harian dan majalah yang tak
boleh dijual oleh Ayah (sebuah larangan yang sering diterabas oleh ibu, terutama
jika keuangan rumahtangga sudah menipis).
Kulihat Arya mulai mengeluarkan beberapa kursi antik yang rencananya
akan dipoles oleh tukang antik langganan Ibu di Ciputat; tapi tidak kunjung
terjadi karena tak ada uang. Yu Nina mulai menggerutu tentang orang-orang
yang menanjak tua yang gemar menumpuk barang-barangnya yang akhirnya tak
pernah dinikmati sama sekali.
"Seperti ini" Ngapain ibu beli lampu seperti ini".ada enam biji "." kata
Yu Nina memindahan beberapa lampu duduk berwarna hijau. "ada gompelnya
lagi, siapa yang mau pake?"
Aku hampir tak mendengar gerutu Arya. Aku juga hanya mendengar sayupsayup suara Yu Nina yang memberi instruksi dari balik maskernya, agar kami
memisahkan barang-barang itu sesuai kategori: kursi dan meja antik yang masih
harus dipoles; beberapa piring, mangkok dan sendok garpu antik; beberapa buah
lampu antik; dan terakhir buku-buku berbahasa Belanda milik Ibu dan Bapak
ac-zzz.blogspot.com yang terletak di satu rak besar.
"Siapa yang masih membaca bahasa Belanda?" Arya membuka-buka teks
politik Ayah. Mataku masih terpaku kepada satu peti jati itu. Suara gerundelan
Yu Nina dan komentar Arya perlahan-lahan menghilang. Aku duduk, menyemprot-nyemrpot ingusku karena debu-debu kurang ajar itu. Tumpukan
koran dan majalah berdebu itu kupindahkan. Dan peti yang sama sekali tidak
dikunci itu kubuka. Tentu saja isinya sama sekali bukan harta karun. Tetapi,
seperti yang sudah kuduga, isinya barang-barang pribadi ibu. Beberapa album
foto, sebuah kipas hadiah Bapak untuk Ibu, sebuah novel "Sense and Sensibility"
karya Jane Austen cetakan lama sekali, yang masih utuh yang ketika kubuka
beberapa halaman pertama, masih tampak tulisan ibu kecil di samping halaman
dalam bahasa Belanda. Aku yakin itu tulisan Ibu saat dia masih kuliah. Beberapa
buku karya Simone de Beauvoir seperti "She Came to Stay" dan "The Mandarins"
juga masih dalam kondisi yang masih bagus, bahkan disain sampulnya jauh lebih
menarik daripada milikku. Beberapa buku dalam bahasa Belanda yang tak
kupahami bertumpuk. Aku menyisihkan novel karya Jane Austen dan Simone de
Beauvoir itu, meski aku sudah memiliki

Mencari Seikat Seruni Karya Leila S. Chudori di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

versi baru. Mataku terhenti pada sebuah buku bersampul kulit hitam. Nafasku terhenti. Ini
kelihatan seperti sebuah buku harian. Tiba-tiba sebuah tangan merebut buku
harian yang sedang kugenggam itu.
"Kita baca sama-sama....." Yu Nina menukas.
Arya yang sedang mengangkat kursi memandang kami.
Dia meletakkan kursi yang baru saja dipindahkan dan mendekat, lalu ikut
duduk di sebelahku. "Mau dibaca sekarang?"
Yu Nina membuka satu halaman dan mencoba membacanya keras-keras:
"Amsterdam, Juni 1957... Musim panas yang membakar... Bram lebih
sering telanjang dada dan dia...... Euuwwww....."
Yu Nina melempar buku harian itu ke pangkuanku.
"Aku nggak mau baca tentang hubungan seks orangtuaku, euw, euw,
euwwwww......." Yu Nina menutup kupingnya sendiri. Arya tertawa terbahakbahak. Aku merasa puas melihat Yu Nina menyerah.
"Jadi menurut dia, Dir....kita ini dibawa oleh burung bangau...bukan hasil
ac-zzz.blogspot.com dari aksi panas dua tubuh yang...."
"Euw....euwwwww...!" Yu Nina menutup kupingnya, "aku hanya mau
mengenang orangtuaku sebagai pasangan yang betul-betul sudah tua: berambut
putih, berkulit keriput, bersuara gemetar dan organ tubuhnya sudah mulai aus.
Aku tak mau mengenang mereka sebagai pasangan yang pernah muda dan panas
bergairah....euwwww! Kalian yang baca saja, dan laporkan padaku yang pentingpenting. Arya, keluarkan semua kursi!" tiba-tiba Yu Nina mengangkat dirinya
sebagai pimpro pembersihan gudang Ibu.
Aku membersihkan buku harian ibu dan menyimpannya ke dalam ranselku.
*** Jakarta, 1964 Ayah Bram memiliki wajah gembil yang senantiasa masam. Kesanku,
wajah dan tubuhnya begitu berat seolah seluruh persoalan dunia harus disangga
sendirian olehnya. Tapi aku mencoba memahaminya. Dia memiliki enam orang
anak. Dan dia mempunyai peraturan yang sangat ketat, tapi cukup progresif di
sebuah zaman yang mementingkan perkawinan pada usia tertentu: semua
anaknya hanya boleh menikah jika mereka sudah mencapai gelar sarjana.
Bahkan adik Bram, Rania, yang menempuh pendidikan kedokteran pun, tak
boleh menikah sebelum dia selesai kuliah. Itu hal yang sangat berat, karena
lazimnya mahasiswa kedokteran baru mencapai akhir masa studinya hingga
enam atau tujuh tahun. Tapi Ayah Bram yang selalu masam itu bersikukuh,
Rania hanya boleh menikah setelah selesai sekolah.
Karena itu, peristiwa perkawinan Bram denganku semakin meningkatkan
wajahnya yang masam. Bram belum selesai kuliah, tetapi sudah berani kawin.
Dia bekerja sembari mencari nafkah tambahan di De Groene Bar dan menulis
berita di kantor berita Indonesia Merdeka.
Tentu saja kami tak perlu berkisah bahwa tingkahku yang tidur
bermalam-malam di apartmennya membuat Bram gelisah dan serta merta
mengajakku kawin. Dia sudah mantap. Aku sudah melekat. Bagiku hij is de man.
ac-zzz.blogspot.com 4*) Bagi Bram, dia tak bisa berpaling lagi ke arah lain, selain ke arahku. Dan
karena Bram adalah muslim yang taat, sementara aku perempuan yang sedang
jatuh cinta pada muslim yang taat, maka kami sepakat menikah segera.
Kami seperti pasangan lengket yang tak bisa dipisahkan siapa pun juga,
bahkan oleh tuntutan akademis. Munculnya tiga orang cucu yang belum pernah
ditemui mertuaku"karena jarak Amsterdam dan Jakarta"tak juga menghibur
hatinya. Tak heran jika wajah gembil itu sungguh sulit membentuk senyum saat
bertemu dengan aku, menantunya yang mungkin nampak seperti seorang
perempuan muda dan binal yang mengawini putera sulungnya dan berhasil
mengoyak-ngoyak peta yang sudah digambarkan orangtuanya. Seorang perempuan yang menyebabkan pendidikan anak sulungnya terulur-ulur. Dengan
lahirnya Nina, Arya dan Nadira, orangtua Bram tak pernah mengetahui
pernikahan macam apa yang dilalui putera sulungnya (kecuali melalui potret
pernikahan kami yang sederhana dengan kebaya pinjaman dan beberapa tangkai
bunga seruni putih yang diselipkan di konde. Seruni. Bukan Yasmin. Bukan
mawar. Seruni). Pertemuan kami yang pertama, seperti halnya pertemuan kami selanjutnya tak pernah berlangsung lancar. Dia duduk di teras depan, rumah
mereka di gang Bluntas, kawasan Salemba yang selalu terasa gerah. Hanya
beberapa ratus meter dari gang Bluntas, aku bisa mendengar demonstrasi
mahasiswa yang berkepanjangan. Suasana politik sungguh panas. Tetapi bagiku,
tak sepanas yang terjadi di rumah keluarga Suwandi yang guncang oleh
kedatanganku. Sementara aku mengganti baju Nadira yang selalu basah oleh keringat
dan memandikannya dengan bedak yang mendinginkan kulitnya; aku mendengar
bunyi percakapan antara Bram dan sang ayah, patriarch keluarga Suwandi. Aku
membayangkan pak Suwandi, mertuaku itu, duduk di kursi besar ruang tengah;
sebuah kursi yang hanya boleh disentuh oleh dia, sedangkan kursi isterinya ada
di sampingnya. Tembok antara kamar depan, tempat kami "mengungsi", karena Nadira
ingin tidur, begitu tipis. Aku bisa mendengar semua yang terjadi, seolah-olah
aku berada di ruangan yang sama. Nina dan Arya yang sudah "disita" oleh para
ac-zzz.blogspot.com bibik dan pamannya di halaman belakang tengah menikmati rindangnya pohon
mangga yang konon dulu ditanam Bram saat dia masih kecil.
"Jadi dia anak keluarga Abdi Yunus" Pengusaha yang dekat dengan istana
itu?" "Ya, Pak." Hening. "Sekolah apa di Belanda?"
"Tadinya dia kuliah sastra...lalu, ya lalu kami kawin Pak, jadi...."
Ayah Bram membersihkan kerongkongannya. Mungkin di situ ada dahak.
Mungkin juga tidak. Bram tak melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kamu kawin dengan orang Sumatra...."
"Ada masalah , Pak, dengan orang Sumatra?"
"Ndak..." pak Suwandi kembali membersihkan kerongkongannya. "sama
sekali ndak. Kawan-kawan Bapak banyak yang dari Sumatera Barat, agamanya
begini...." Aku berasumsi, "begini" pasti dilontarkan sambil mengacungkan jempolnya. Lalu aku mendengar langkah seseorang yang ikut bergabung dalam
diskusi (atau monolog) ini. Dari langkahnya yang lunak, aku menebak pastilah
itu ibu mertuaku. "Maksud Bapak....." terdengar suara ibu Suwandi, ibu mertuaku. "Apa
dia sholat, ngaji" Apa kalian mengajarkan membaca Quran pada anak-anak
selama kalian di Belanda?"
Bram terdiam. Baru kali ini aku mendengar pertanyaan seperti itu.
"Sekolahnya selesai ndak Bram?"
"Tadi dia sudah jawab Bu, mereka "kan kawin di negeri Belanda itu, terus
anak-anak lahir...."
Hening. "Mungkin orangtuanya dekat dengan PSI, Pak..." ibu Suwandi berbisik.
Hening. "Arya sudah disunat Bram?"
"Ya Pak,langsung disunat Pak...."
Terdengar suara keluhan kecewa pak Suwandi.
"Bram.....kata Om Priatna, kamu memilih Masyumi..." kini giliran sang
ac-zzz.blogspot.com ibu menginterogasi. Oh, pembicaraan bergeser dari satu gumpalan kekecewaan kepada
gumpalan kekecewaan lain. Mereka sudah kecewa tak dapat menyaksikan
perkawinan anak sulungnya di Belanda. Kelahiran ketiga cucunya. Dan
kenyataan bahwa menantunya adalah seorang puteri pengusaha keluarga
sekuler yang tak terlalu pusing dengan kehidupan spiritual (kecuali jika
spiritualitas itu melibatkan alkohol).
"Keluarga ini sudah turun temurun keluarga NU, bagaimana kamu bisa
bergabung dengan Masyumi?"
"Ibu, saya akan selalu menghormati pilihan politik Bapak, Ibu dan Eyang
Sur dan Aki. Tapi ini bukan kali pertama ada yang tidak memilih NU. Tante Sam
juga memilih Muhammadiyah. Saya memilih karena keyakinan hati saya." Kini
Bram terdengar seperti punya otot. Suaranya lebih bening dan aku membayangkan kilatan warna bronz dari kulitnya itu pasti semakin bersinar.
"Keyakinan apa itu?" tanya ibunya dengan nada yang lebih terdengar
kecewa, daripada keinginan tahu.
"Bu, kita akan masuk dalam perdebatan yang tak ada ujungnya. Posisi
saya sama dengan posisi tante Sam soal NU. Saya membutuhkan sebuah partai
yang sikapnya lebih kritis terhadap pemerintah; apakah itu di zaman Belanda,
maupun sekarang pemerintahan Bung Karno yang sedang dekat dengan kiri.
Biarlah keluarga besar Suwandi tetap menjadi keluarga NU. Saya memilih ikut
Pak Natsir." Hening. "Sudahlah bu....sekarang prioritasnya keluarga Bram dulu. Alhamdullillah akhirnya Bram sudah selesai sekolahnya. Sudah kembali ke
Jakarta, biarpun lama betul selesainya. Nah, kita harus ajarkan Islam dulu, biar
menantu dan cucu-cucu kita itu mengerti isi Quran. Soal Masyumi, biar kita
bicarakan nanti saja, yang penting sama-sama partai berbasis Islam," pak
Suwandi menegur isterinya.
Hening. Suara nafas Nadira yang sudah lelap mengisi kesunyian yang tak
nyaman. "Ya sudah, panggil isterimu. Kita pikirkan bagaimana memperkenalkan
Iqra pada anak-anakmu. Sepupunya pada sudah jauh belajarnya. Tapi pasti Nina
ac-zzz.blogspot.com dan Arya bisa cepat mengejar ketertinggalannya."
Aku mendengar langkah Bram mendekati pintu kamar. Aku buru-buru
menyibukkan diri, menepuk-nepuk paha Nadira yang sebetulnya sudah lelap
betul. Tanpa berkata apa-apa, hanya dari pandangan mata Bram, aku langsung
berdiri meninggalkan Nadira yang pulas meringkuk di tempat tidur.
Ayah Bram memiliki wajah gembil yang senantiasa masam. Dia
menatapku tanpa emosi sama sekali. Aku menghampiri kursinya dan mencium
tangannya. Lalu aku mencium tangan ibu mertuaku. Dua gerakan yang tak
pernah kulakukan seumur hidupku. Aku terbiasa dengan mencium pipi, mencium
bibir, mencium leher.....tetapi mencium tangan" Kenapa tangan harus dicium"
Bagaimana jika tangannya baru saja digunakan untuk menyemprot ingus" Atau
bagaimana jika seseorang baru saja kembali dari toilet dan......
Ayah mertua mendehem. Dahaknya mengganggu lagi.
"Jadi....Kumala...."
"Kemala...." aku memperbaiki.
"Apa yang kalian kenakan waktu menikah?" ibu mertua bertanya dengan
nada yang sangat sopan, menekan rasa jengkel karena tak bisa hadir.
"Kebaya putih, bu...."
"Cara apa" Sunda"Jawa?"
Aku terdiam, "cara....Indonesia."
Aku berani bersumpah, kulihat ada sekelumit senyum yang tersembunyi
di pojok bibir ayah mertuaku yang gembil. Nampaknya dia merasa isterinya
terlalu rewel dengan hal yang remeh temeh.
"Lalu kondemu....kau bungkus dengan bunga apa" Bunga melati?" tanya
ibu Suwandi yang sudah kehilangan senyum.
"Bunga seruni, ibu..."
"Seruni" Kenapa seruni?"
Hening. "Memangnya susah mencari bunga melati di Belanda, Bram?"
Aku tahu, Bram tak mungkin membohong.
"Bukan susah, Bu. Aku memang menyukai bunga seruni."
"Tapi bunga..."
"Sudahlah. Bunga seruni atau melati, yang penting mereka menikah
ac-zzz.blogspot.com secara Islam..." ayah mertua memotong tak sabar. "kalau dia suka seruni, ya
seruni. Tak apa. Ijab kabulnya lancar, Bram?"
"Lancar, hanya sekali langsung jadi."
"Bagus." Bapak mertua mengeringkan tenggorokan.
"Nah, Kumala....tadi Bapak sudah bicara dengan suamimu, anak-anakmu
itu harus belajar mengaji...."
Aku tak menjawab. "Mereka datang ke Salemba saja setiap hari. Atau kalau mau gampang,
selama libur ini mereka tidur sini saja, ada banyak kamar..."
Jantungku berdegup. Aku melirik Bram.
"Mereka libur sekolah kan Bram?" ibu mertua bertanya.
"Ya Bu...tapi..."
"Bagus! Jadi Kumala dan Bram nanti tinggal ambil baju mereka. Anakanakmu tinggal di sini saja selama libur sekolah, biar kenalan sama nenek
kakeknya, kenalan sama semua paman bibiknya dan sepupu-sepupunya, dan
kejar ketinggalan membaca Al Quran. Nanti Neneknya juga mengajarkan shalat
lima waktu." Ayah Bram kemudian menutup pembicaraan dengan mengangguk padaku;
tanpa menanti persetujuanku. Dia mengambil tongkatnya dan berdiri. Bedug
zuhur sudah terdengar, dan hanya beberapa detik kemudian terjadi hiruk pikuk
seluruh isi rumah menuju kamar mandi untuk membasuh tubuh dengan air
wudhu. Dari jauh aku melihat Ray, adik bungsu Bram, tengah mengajar Arya
untuk mengambil air wudhu. Ibu Suwandi dan Bram sudah meninggalkan ruang
tengah ,sementara aku masih menatap bapak mertuaku yang berjalan dibantu
tongkat. "Aku di sini saja, Pak."
Bapak Suwandi menoleh. "Aku akan shalat kalau aku ingin," kataku menatap matanya.
Bapak Suwandi diam. Tapi, lagi-lagi, dari wajah gembil yang masam itu,
aku melihat sinar mata yang sangat ramah. Dia menyodorkan seuntai tasbih
yang sejak tadi dipegang. Seuntai tasbih berwarna coklat polos. Sangat
sederhana.. ac-zzz.blogspot.com "Kalau begitu, Kumala, pegang ini saja...."
Aku menerimanya. Aku bahkan lupa untuk memperbaiki cara dia
mengucapkan namaku.

Mencari Seikat Seruni Karya Leila S. Chudori di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Untuk selanjutnya aku akan membiarkan dia memanggilku Kumala, karena entah bagaimana, aku bisa melihat sinar yang
ramah dan tulus yang tersembunyi di balik wajah yang masam itu. Ucapan
terimakasihku mungkin tak terdengar, karena Bapak mertuaku itu kemudian
berjalan tertatih menuju kamar mandi.
*** Jakarta, 1991 Jenazah ibu akan dimakamkan setelah waktu shalat Jumat. Berbaskombaskom bunga melati di dapur itu masih menumpuk sementara geremengan
pembacaan surah Yasin semakin nyaring. Kulihat Yu Nina kini sudah bisa berdiri
dan keluar dari kamar diiringi dua orang bibikku yang memapah Yu Nina, seolah
dia sudah lumpuh total. Kedua matanya bengkak. Kenapa aku masih saja belum
bisa mengeluarkan airmata sebutir pun"
"Dira..." Aku mengenal suara itu. Utara. Bagaimana dia bisa menyelip ke dapur, di antara puluhan bibik dan
paman yang begitu banyak, yang sedang wara wiri tak keruan" Utara mendekat.
Apakah wajah dingin dan galak sehari-hari di kantor itu sebuah topeng yang dia
tanggalkan" Utara memegang tanganku dengan kedua tangannya.
"Saya ikut berdukacita."
"Terimakasih..."
Lalu dia berbisik, "bunga seruni bisa kamu cari di sini...agak jauh. Tapi
kalau kita ngebut, saya rasa kita bisa kembali tepat waktu."
Aku menatap kertas kecil yang diserahkan Utara kepadaku:
Daisy Nursery, Cileumber, Jawa Barat.
Hanya satu menit kemudian terdengar suara Nina memberi perintah
kepada pembantu di dapur untuk meracik kembang melati menjadi untaian yang
akan diletakkan di atas jenazah ibu. Aku melipat kertas yang berisi alamat itu
dan mengembalikannya kepada Tara. Aku mencoba menyusun kalimat:
ac-zzz.blogspot.com bagaimana Tara tahu aku sedang mencari bunga seruni" Tetapi sementara hatiku
sibuk bertanya, dari mulutku malah meluncur kalimat yang menggelegar:
"Jangan!!" Beberapa tangan yang semula akan meraup kembang melati di atas
baskom itu berhenti seperti patung. Yu Nina terkejut. Semua yang tengah sibuk
di dapur terdiam. Untung saja kegiatan pengajian masih berlangsung, karena aku
masih bisa mendengar geremengan surah Yasin.
"Aku akan mencari bunga seruni untuk ibu..." kataku pada Yu Nina.
Yu Nina mendekatiku dan nampak berusaha menekan rasa marah,
"bunga...apa?" "Seruni...bunga seruni..."
Yu Nina melangkah lagi hingga jarak kami begitu dekat.
"Bunga seruni?"
"Aku akan mencari bunga seruni untuk ibu," kataku mengulang ucapanku.
Aku melihat beberapa bibik menjauhkan baskom melati dari kami berdua.
Barangkali mereka khawatir akan terjadi sesuatu; entah apa.
Yu Nina memegang kedua bahuku, seolah aku anjing galak yang siap
menerkam jika permintaannya tak dikabulkan.
"Nadira...." "Aku akan mencari bunga seruni untuk ibu!" aku mengucapkan kalimat itu
dengan tekanan yang yakin.
" Nina!" Kakek yang sudah tak gembil, dan sudah tak masam itu berdiri di belakang
Yu Nina. Bukan saja dia kehilangan lemak di tubuhnya, tetapi dia juga
kehilangan daya hidupnya. Ada kesedihan yang sungguh mendalam yang bisa
kubaca dari matanya. "Biarkan Nadira mencari bunga kesukaan ibumu."
Tiba-tiba saja Kakek Suwandi yang selama ini nampak dingin dan masam
saat mengajar kami membaca Quran itu, kini seperti seorang lelaki tua yang
bercahaya. Kepalanya yang diselimuti rambut berwarna keperakan itu bersinar.
Gelombang laut yang luarbiasa itu kembali mendesak dadaku.
Tapi Arya yang tiba-tiba sudah muncul di sebelah Kakek kemudian
merogoh sesuatu dari kantungnya. Dia melempar kunci mobil landrover tua
ac-zzz.blogspot.com miliknya. Aku menangkapnya dan menarik tangan Tara. Kami meninggalkan Yu
Nina yang nampaknya masih belum paham apa yang tengah terjadi.
*** Amsterdam, Juli 1957 "Wajahmu berseri.....seperti...."
Bea membetulkan kondeku dan menjenguk cermin. Aku melihat wajahku
yang mengenakan rias yang sangat tipis dan rapi. Entah darimana Bea belajar
memuat konde seperti ini; dan entah bagaimana Johanna bisa menjahit kebaya
putih yang terbuat dari brokat Belanda yang harganya paling terjangkau.
"Seperti bunga seruni..." kata Johanna sambil memasang bunga seruni
itu satu persatu menutupi kondeku.
"Mestinya kita masih bisa mendapatkan bunga yasmin," Bea menggerutu
"Tolong ambilkan kotak yang biru itu," kataku pada Johanna. Kotak biru
beludru itu adalah kiriman Mama di Jakarta.
"O, Kemala, ini indah sekali...." Bea mengeluarkan seuntai kalung
bermata batu turqoise. Aku mengenakannya sepasang dengan giwangku. Setelah mematut-matut
terakhir kalinya, Johanna memasang satu tangkai seruni terakhir di kondeku.
"Kamu akan menjadi pengantin paling cantik di Amsterdam...." kata
Johanna. "Di dunia..." kata Bea memberikan buket kembang seruni ke tanganku.
Di cermin itu, aku melihat seorang pengantin berbaju putih, berhiaskan
kembang seruni putih. Pengantin yang paling berbahagia di dunia.
*** Jakarta 1991 Utara memarkir mobil di depan toko kembang ke enam di Jakarta. Nadira
bersikeras untuk mencari bunga seruni di Jakarta. Harus putih. Tidak boleh
kuning; tidak boleh merah. Cilakanya, semua toko bunga yang didatangi hanya
menyediakan bunga seruni berwarna kuning. Tetapi Utara tidak menyemprotkan
ac-zzz.blogspot.com sepatah kata pun yang berisi protes, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul
12 siang. Jenazah akan dimakamkan setelah asar.
Belum selesai Tara menyelesaikan urusan parkir, Nadira sudah kembali
dengan wajah lesu dan menggeleng.
"Memang cuma ada di Daisy Nursery...." gumam Tara.
"Bisa kita ke sana dan kembali lagi sebelum pemakaman?"
Utara berkonsultasi dengan jam tangannya. Dia menginjak gas dengan
sengit. Mobil landrover tua milik Arya itu menderu, membelah semua rentetan
mobil Jakarta. Nadira hanya memejamkan matanya dan tak ingin tahu menahu
kecepatan mobil itu. Dia seperti tengah melayang ke luar bumi dan
mempercayakan seluruh jiwa dan raganya kepada Tara. Dia merasa berada di
sebuah pesawat"yang selalu tergambar dalam imajinasinya jika ia ingin keluar
dari kesemrawutan dunia"yang tengah melepas diri dari banalitas di bumi; yang
membuat semua kegiatan di bumi terhenti hanya untuk beberapa detik. Dia
hanya mendengar sayup-sayup suara Lou Reed di dalam tape mobil. Hanya bunyi
rem yang berceriricit yang akhirnya membangunkan Nadira dari terbangnya.
"Sudah sampai..." Tara berbisik ke telinga Nadira. Nadira sungguh merasa
bibir Tara sudah hampir menyentuh telinga kirinya. Tetapi begitu dia membuka
matanya, aneh. Tara tampak duduk di belakang setir: dingin dan kaku seperti
biasa. Nadira menoleh: Daisy Nursery. Dan dia melihat suatu pemandangan yang
tak pernah terbayangkan. Beratus-ratus atau mungkin beribu keranjang bunga
seruni tampak membungkus toko bunga dan perkebunan itu. Di mana-mana, di
mana-mana. Nadira terbelalak. Tiba-tiba saja ada gelombang air yang menyerbu
tenggorokannya dan dadanya. Dia merasa ada sebuah dam yang selama ini
tertahan dan membludak. Dia menoleh melihat Tara yang tengah memandangnya. Mata Tara, yang selama ini selalu dingin dan hanya berisi
perintah itu kini tengah berkata: bunga seruni untuk ibu.
Pada saat itulah ombak itu kembali bergulung-gulung mendesak dada
Nadira. Dan pada saat itu, dia tak bisa menahannya lagi. Nadira menangis
tersedu-sedu. Airmatanya mengalir tak berkesudahan.
ac-zzz.blogspot.com *** Jakarta 31 Januari 2009 - Maret 2009
Catatan kaki (terjemahan):
*1) Sungguh hari yang murung.
*2) Kenapa kau, sayang"
*3) Tidak perlu. *4) Dia lelaki untukku. *5) Vrije Universiteit. *6) Gemeentelijke Universiteit.
Badai Awan Angin 6 Pendekar Rajawali Sakti 98 Asmara Bernoda Darah Misteri Tujuh Lonceng 1
^