Pencarian

The Bridesmaids Story 4

The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata Bagian 4


ajaib. Kesya memandang khawatir ketika Cecil, dalam hitungan detik, kembali
menandaskan isi gelasnya.
"Aduh... hik... Aku harus hik... ke toilet hik... dulu..."
Cecil berdiri, terhuyung-huyung dan akhirnya terjerembap jatuh.
"Cecil!" Kesya berusaha membantu Cecil berdiri.
"Hehehe... hik... Aku nggak hik... apa-apa. Hik... Lantainya tidak hik... rata!"
ujar Cecil sambil tertawa.
Wah, gawat! Cecil sudah benar-benar mabuk!
"Aku bantu kamu ke toilet ya..." Kesya merangkul pinggang Cecil.
"Eits! Hik... nggak usah! Aku hik... bisa sendiri hik... kok!"
Cecil menepis tangan Kesya. Masih terhuyung saat berusaha menyeimbangkan
kakinya, lalu berjalan sempoyongan ke arah toilet. Stiletto peraknya menapak goyah.
Kesya memperhatikannya dengan khawatir.
"Tidak usah khawatir," si bartender menenangkan. "Di dalam toilet juga ada
petugas sekuriti. Your friend will be safe..."
Kesya menarik napas, terbatuk-batuk sedikit karena kontaminasi asap rokok,
lalu menyesap minumannya lagi. Rasanya Cecil sudah terlalu lama berada di dalam
toilet. Kesya berpikir untuk menyusulnya. Baru saja dia bangkit dari tempat
duduknya, tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan keras.
"Bitch!" Samar-samar terdengar suara makian dari toilet. Sepertinya itu suara Cecil!
Kesya berpaling nanar ke arah toilet. Cecil keluar dari toilet sambil menjambak
seorang wanita muda. Petugas sekuriti berusaha memegangi Cecil, tapi dia menepis
tangan petugas sekuriti dan kembali mencengkeram keras rambut si wanita muda.
Wanita itu berteriak-teriak kesakitan dan mencakar wajah Cecil.
"BITCH!" Cecil emradang lalu melayangkan tinjunya ke wajah wanita itu. Kesya
buru-buru melerai mereka berdua.
"Ada Ningrum di sini, Kesh!" teriak Cecil. "Ini dia! Dan dia lagi ngomongin
cowok lain di toilet tadi! Benar-benar bitch ya kamu!" Cecil kembali menjambak
rambut wanita itu. Wanita malang itu bukan Ningrum. Memang parasnya sekilas terlihat mirip
Ningrum. Sekarang dia berteriak-teriak kesakitan sambil memegang pipinya yang
lebam karena ditinju Cecil.
"Dasar perempuan gila!" makinya.
"Apa kamu bilang?" Plak! Cecil menampar pipi perempuan itu lagi. "Kamu tuh
yang gila! Seenaknya saja merebut calon suami orang! Nih, rasakan! Biar kamu lain
kali nggak sembarangan lagi!" Cecil menendang wanita itu.
Kesya buru-buru menangkap kaki Cecil. Dia menarik tubuh Cecil yang masih
terus berusaha menendang wanita itu.
"LEPASIN, KESH! AKU MAU KASIH PELAJARAN KE WANITA YANG
MEREBUT CALON SUAMIKU!" Cecil meronta-ronta dengan liar. Rambutnya
berantakan dan gaunnya melorot.
"Anda berdua harus meninggalkan tempat ini sekarang juga!" ujar petugas
sekuriti dengan tegas. Cecil masih menendang-nendang dengan liar. Dia juga berteriak-teriak. Sudah
banyak orang yang berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si wanita muda
itu berdiri melindungi si wanita muda. Keadaan sudah semakin tidak terkendali.
Kesya terpaksa harus menampar pipi Cecil.
"CIL! DIA BUKAN NINGRUM! KAMU SALAH ORANG!" bentaknya, lalu
menyeret Cecil keluar dari tempat itu. Kesya mendudukkan Cecil di trotoar. "Kamu
tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!" ancamnya. Mata Cecil setengah
terpejam.Sekarang kepalanya terkulai lemah ke satu sisi. Dia sudah benar-benar
mabuk! Kesya masuk kembali. Dia menghampiri gadis malang tadi.
"Saya minta maaf sekali...," ujar Kesya.
Si wanita muda mengompres pipinya yang lebam dengan es batu. Matanya
menatap garang Kesya. "Sebaiknya kamu periksa lebam kamu itu ke dokter. Ini untuk ganti biaya
pengobatannya..." Kesya meletakkan sejumlah uang di hadapan wanita itu. "Sekali
lagi saya minta maaf..."
"Bilang sama teman kamu yang gila itu! Jangan sekali-kali ketemu saya lagi!
Atau akan saya habisi dia!" teriak wanita muda itu penuh emosi.
Kesya mengangguk lalu beranjak pergi.
Di depan kelab, Cecil berbaring di trotoar. Kesya memanggil taksi, lalu
memapah Cecil masuk ke dalamnya.
Taksi meluncur. Membawa Kesya dan Cecil kembali ke hotel.
14 KESYA sarapan sendirian. Cecil belum mau bangun. Katanya kepalanya sakit sekali.
Salah sendiri. Minum wine kok sampai bergelas-gelas. Ya begitu akibatnya.
Kesya sudah memesan sarapan untuk Cecil dan meminta seorang pelayan untuk
mengantar ke kamar. Dia sendiri butuh udara segar. Setelah sarapan, Kesya ingin
berenang sebentar. Dia tidak bawa baju renang, tapi rencananya mau pinjam bikini
Cecil. Mumpung sedang ada di Bali, boleh dong pamer-pamer sedikit. Hehehe....
Ruang makan di hotel ini menghadap langsung ke arah pantai. Tampak
beberapa turis asing berlalu-lalang sambil menenteng papan selancar masingmasing. Beberapa gadis dengan pakaian renang dan kain pantai menutupi bagian
bawah mereka tertawa genit sambil bercakap-cakap dengan seorang turis asing lakilaki yang ramah. Di telinga gadis-gadis Bali itu terselip kuntum bunga segar.
Penampilan mereka memang jadi cantik alami.
Kesya tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Samar-samar, suara tabuhan
gamelan menjadi latar belakang acara sarapannya pagi ini. Di balik semua
ketegangan yang terjadi belakangan ini, ternyata masih ada kehidupan normal lain
yang masih berjalan sebagaimana mestinya. Yah... mungkin dia harus lebih
menikmati suasana ini. Dia butuh itu, setelah semua kehebohan yang terjadi di
Jakarta, setelah semua kehebohan yang terjadi semalam.
Kesya baru saja menyesap kopi susunya ketika melihat sosok pria asing berusia
paruh baya menghampirinya.
"Hi, Kesya!E" sapa pria itu ramah.
Ya ampun! pekik Kesya dalam hati. "Itu kan..."
"Oom Steven! How are you?"
"Fine. Rapat yang kemarin berlanjut di sini, tetapi sore ini saya akan segera
kembali ke Jakarta."
Oom Steven, papanya Alo, memeluk erat Kesya. Suara Oom Steven sangat
ramah. Senyumnya menyejukkan. Dan pelukannya, sungguh terasa hangat.
Hhmmm... sekarang Kesya tahu sifat-sifat Alo itu menurun dari siapa...
"What are you doing here" Bukannya kamu bridesmaid-nya Cecil" Pernikahan kan
tinggal dua minggu lagi. Kenapa kamu malah ada di Bali?" Oom Steven
melontarkan bertubi-tubi pertanyaan dengan wajah tetap cerah ceria.
LHO" Memangnya Oom Steven tidak tahu apa yang sedang terjadi di Jakarta"
Memangnya Oom Steven tidak tahu apa yang membuat Cecil, juga Kesya, berada di
Bali" Mata biru Oom Steven membulat. Menunggu jawaban Kesya.
Hmm... Sepertinya Oom Steven memang tidak tahu apa-apa tentang prahara
yang terjadi di Jakarta. "Ehem...," Kesya berdeham. Membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba
tersumbat. Kenapa dia harus jadi orang yang mengabarkan berita buruk ini ya"
Dan bergulirlah cerita itu dari mulut Kesya. Oom Steven tampak sangat terkejut.
Berkali-kali dahinya terlihat berkerut. Sesekali dia mengusap peluh yang berkumpul
di dahinya. "Saya berpesan kepada Marco bahwa lebih baik Alo tidak datang menemui
Cecil dulu. Biar Cecil lebih tenang dulu...," tutur Kesya.
Oom Steven mengangguk. "Tetapi yang terjadi di Jakarta juga tidak kalah hebohnya. Saya dengar Tante
Jessica memaksa Alo untuk menikahi Ningrum dan membatalkan, secara sepihak,
rencana pernikahan Alo dan Cecil." Kesya merasa sangat tidak enak harus
memberitahu Oom Steven apa yang dilakukan istrinya di Jakarta, tetapi Kesya
hanya berusaha jujur, berkata apa adanya kepada Oom Steven, yang sangat
disayangkan, tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini.
"Oh my God... Saya tidak tahu semua ini." Oom Steven mengempaskan
tubuhnya ke sandaran kursi. "Jessica malah meminta saya untuk segera ke Jakarta.
Menghadiri pernikahan Alo. Menghadiri pernikahan Alo dengan... dengan wanita
itu mungkin." Oom Steven menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih. "Kalau
bukan kamu yang cerita, I won"t believe it at all..." Tangannya mengusap rambut
cokelatnya. "I"m sorry to say, but that"s what really happened..." Kesya merasa sedih dan
bersalah melihat raut wajah sedih Oom Steven. Dia tidak suka membuat oom yang
baik hati itu jadi sedih, tapi... ya beginilah keadaan yang sebenarnya.
Oom Steven menggeleng-geleng. "Jessica, Jessica... kenapa kamu bisa begitu
ya?" ujarnya penuh penyesalan.
Laki-laki yang baik. Pasti dia sangat terpukul mendengar perilaku istri
tercintanya. "Berarti sekarang Alo sedang dipaksa untuk menikahi Ningrum?" tanya Oom
Steven. Mata birunya menatap langsung ke arah Kesya.
Kesya mengangguk. "Cecil di mana?"
"Dia ada di kamar hotel. Kemarin dia stres dan mengamuk di kelab. Sekarang
dia perlu beristirahat."
Oom Steven mengangguk-angguk. "I have something to do...," gumamnya.
"Kesya, thanks a lot for the information. I owe you so much..." Oom Steven merangkul
Kesya dengan hangat. Dia bahkan mencium kedua pipi Kesya. Hati Kesya terasa
lapang. Beban berat ini tidak harus dia tanggung sendirian sekarang.
Oom Steven lalu beranjak pergi. Sebelum berjalan terlalu jauh, dia berpaling.
"Don"t say anything about our meeting to Cecil. Okay?"
Kesya mengangguk. *** "Kesh...," panggil Cecil dengan suara serak. Dia baru saja membuka matanya. Tadi
pagi, setelah sarapan di kamar, dia kembali tidur lagi. Sekarang, setelah waktu
hampir menunjukkan pukul empat sore, dia baru bisa membuka matanya.
"Hah?" sahut Kesya. Dia sedang asyik menyaksikan acara fashion show di
televisi. Siapa tahu dia bisa punya ide baru lagi.
"Ke pantai yuk...," ajak Cecil.
Kesya berpaling. "Ke pantai?" tanyanya tidak percaya. "Muka kamu tuh masih
muka bantal gitu. Masa mau ke pantai" Malu tuh, diketawain sama ombak!"
"Sialan kamu!" Cecil menimpuk Kesya dengan gulingnya. Timpukan yang
lemah. Guling itu terjatuh sebelum berhasil menyentuh Kesya.
Kesya tertawa. "Serius nih!" ulang Cecil. "Temani aku jalan-jalan ke pantai ya. Aku suntuk
banget nih. Badanku pegal-pegal semua."
"Salah sendiri tidur seharian!" ujar Kesya. Dia sendiri merasa tubuhnya sangat
fresh setelah berenang. "Kamu sudah mau bertransformasi jadi sloth, ya?"
"Sloth?" tanya Cecil. Kepalanya kembali berpaling pada Kesya. Matanya" Ya
ampun! Bengkak luar biasa! "Sloth itu apaan ya?"
"Tuh, kan!" Kesya melemparkan gulingnya kembali pada Cecil. Lemparan yang
bagus, tepat mengenai kepala Cecil. "Fungsi otak kamu aja mengalami degradasi.
Sloth itu kan binatang kayak monyet yang doyannya tidur terus. Hellowwh... Kita
udah belajar itu zaman Biologi SMA!"
"Ooh, itu namanya sloth, ya?" Cecil tertawa bego. "Ayo dong, serius nih. Temani
aku jalan-jalan di pantai ya..." Cecil kembali pada topik pembicaraan soal pantai.
Kesya mengangguk. "Sana mandi dulu deh. Tampang lecek gitu, malu sama
bule-bule di pinggir pantai."
Cecil bangun dan beranjak ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia
keluar. Mengenakan tank top warna kuning dan celana pendek. Wajahnya dipulas
make-up tipis. Tidak lupa dia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi
bengkak matanya. Melihat Cecil yang dandanannya canggih itu, Kesya tidak mau kalah. Dia
mengganti pakaiannya dengan gaun sore yang simpel namun elegan. Itu gaun yang
dipilihkan Cecil untuknya. Selera Cecil memang oke. Kesya merasa cantik sekali
dalam balutan gaun sore itu. Biar seragam dengan Cecil, Kesya juga mengenakan
kacamata hitam. "Ready?" Cecil menyodorkan lengannya.
"Let"s go!" Kesya melingkarkan tangannya di lengan Cecil.
Berdua mereka menyusuri pantai di belakang hotel. Pantai selalu saja ramai
dengan orang. Ada yang hanya jalan-jalan, ada yang berenang, ada yang bermain
bola, ada yang main gitar, ada yang menawarkan jasa membuat temporary tattoo, ada
yang jualan topi, jualan bikini, bahkan ada yang menawarkan jasa kepang rambut.
Kesya dan Cecil melepaskan sepatu mereka. Membiarkan kaki telanjang mereka
dibelai pasir pantai. Sayang pasirnya tidak terlalu bersih.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada seorang ibu yang baru saja selesai
menyuapi anaknya makan nasi bungkus dan... dengan seenaknya ibu itu
melemparkan begitu saja bungkusan nasinya! Ya gitu deh ulah-ulah orang yang
tidak bertanggung jawab. Kesya dan Cecil sama-sama geleng-geleng kepala melihat ulah si ibu. Itu baru
satu orang. Bagaimana kalau ada sepuluh orang seperti ibu itu"
"Sayang ya, pantainya jadi kotor gini...," komentar Cecil.
Kesya mengangguk. Dia menebarkan kain pantai yang dibawanya, lalu duduk
di atasnya. Matahari sebentar lagi terbenam. Cecil paling suka melihat sunset. Kesya
juga sih... tapi belakangan ini... hmm... dia jadi lebih suka melihat kerlip bintang.
Apalagi hal itu mengingatkannya akan momen romantis pertamanya bersama
Marco.... "Ayo, Cil," ajak Kesya, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. "Udah
mau sunset nih..." Cecil duduk. Berdua mereka terdiam, menantikan sunset. Cecil agak terganggu
dengan orang-orang yang masih saja sibuk berlalu-lalang di hadapan mereka.
Menurutnya, sunset itu momen sakral yang seharusnya dihormati semua orang. Dia
sebal dengan orang-orang yang tidak menghargai karya Tuhan yang mahaindah itu.
"Cecil!" sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
Cecil menoleh. Kesya menoleh.
Kesya terkejut! Cecil lebih terkejut lagi!
Dari kejauhan, tampak Alo berlari-lari menghampiri mereka. Di belakangnya,
tampak Tante Jessica mengejar. Memaki-maki sambil mengacung-acungkan
tangannya. Di belakang Tante Jessica, tampak Marco mengejar. Rambutnya
berkibar-kibar tertiup angin. Di belakang Marco, tampak Oom Steven. Oom Steven
tidak berlari, hanya berjalan santai. Wajahnya tetap tenang, dengan seulas senyum
kecil tersungging di sana.
Cecil berlari, menjauh dari Alo. Kesya berlari mengejarnya. Dia menyadari
tatapan semua pengunjung pantai terhadap mereka. Pasti mereka tampak aneh
sekali. Berkejar-kejaran seperti anak kecil!
Cecil terus berlari. Kesya terus mengejarnya. Yang lain-lain juga berkejaran
dengan seru. "Cecil!" panggil Alo. "Tunggu!"
"Alo!" teriak Tante Jessica. "Berhenti sekarang juga!"
"Kesya!" teriak Marco. "Kamu nggak usah ikut-ikutan lari!"
Kesya memperlambat gerakannya. Benar juga ya... Kenapa dia harus ikut-kutan
lari" Biarkan saja Alo dan Cecil menyelesaikan masalah mereka berdua. Laju kaki
Kesya kemudian berhenti. Dia tersengal-sengal mendengarkan debar jantungnya.
Sosok Alo kemudian menyusulnya, masih terus memanggil-manggil nama Cecil.
Tak lama lagi, sosok Tante Jessica pasti akan menyusul Alo, pikir Kesya.
Tapi, sosok tante yang terlalu mencampuri urusan anaknya itu tidak tampak.
Malah Marco yang kemudian berdiri di sebelah Kesya. Kesya memeluk erat Marco.
Dia rindu sekali pada laki-laki itu. Walaupun baru dua hari mereka berpisah, tapi
rasanya kok ya sudah lama sekali. Hmmm... apa ini yang namanya true love"
"Jessy..." Sebuah suara membuat mereka berpaling. Oom Steven dengan santai
meletakkan tangannya di bahu Tante Jessica. Tante Jessica sudah tidak kuat lagi
berlari. Dia membungkuk kepayahan. "Sudahlah. Jangan kamu ganggu lagi
mereka..." "Nggak bisa, Pap!" Tante Jessica masih ngotot. "Papi nggak tahu..."
"Jessi, dear, kamu ingat kita dulu?" potong Oom Steven lembut.
Entah apa yang harus diingat oleh Tante Jessica, tapi kalimat singkat Oom
Steven itu membuat wajah Tante Jessica berubah. Bahunya yang tegang berubah
rileks. Wajahnya yang keras berubah lembut.
"Alo dan Cecil itu mirip kita dulu... dear Jessy," kata Oom Steven pelan.
Kesya berpaling pada Marco. Minta penjelasan.
"Nanti aku jelaskan...," bisik Marco. "Sekarang kita lihat Alo dan Cecil dulu
yuk." Kesya mengangguk, membiarkan Marco menggandeng tangannya. Mereka
mendekati Alo dan Cecil, tidak terlalu dekat untuk tetap memberikan privasi bagi
mereka berdua. Yah... dua hari ini emosi Cecil dan Alo benar-benar telah teradukaduk!
"Aku minta maaf atas semua yang kamu alami...," ujar Alo sambil memeluk
Cecil. Cecil tidak menjawab. "Aku tetap mau menikah dengan kamu... yah... itu
kalau kamu memang masih mau menerimaku jadi suamimu."
Cecil tetap diam.

The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Alo melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya masih berada di bahu Cecil,
tangan satunya lagi mengangkat dagu Cecil. Kini wajah mereka bertemu.
"Asal kamu tahu ya, Cil, nggak ada wanita lain yang menarik hatiku sedemikian
kuat seperti kamu. Nggak ada satu pun wanita yang chemistry-nya begitu kuat
seperti kamu. You"re the one and only. Now and forever..."
Alo membalikkan tubuh Cecil. Menghadapkan Cecil ke arah sunset, kemudian
berlutut di hadapannya. "Cecilia Almira Saraswati...," Alo perlahan menggenggam
tangan Cecil, "will you marry me?" tanyanya.
Pada saat yang bersamaan, matahari pelan-pelan bergulir pulang ke
peraduannya. Semburat jingganya bersinar dengan sangat indah. Memantulkan
warna-warni eksotis di permukaan laut.
Yesss! pekik Kesya dalam hati. Alo memang paling bisa mengambil hati Cecil.
Lamaran saat sunset begini, pasti tidak akan ditolak oleh Cecil.
"Cil...," panggil Alo saat belum mendapatkan jawaban dari Cecil.
Mata Cecil tertuju kepada Alo. Dia tersenyum dan mengangguk pelan.
"Yesss!" jerit Kesya sambil memeluk erat Marco. Marco juga tertawa lebar.
Benar-benar yesss! *** Jadi begini ceritanya... Ternyata dulu, Tante Jessica juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami
Cecil. Mamanya Oom Steven tidak menyukai Tante Jessica. Menurut mamanya Oom
Steven, Tante Jessica bukanlah calon istri yang cocok untuk Oom Steven. Beberapa
hari mendekati pernikahan mereka, mamanya Oom Steven bahkan mengajak pacar
pertama Oom Steven hadir di acara makan keluarga. Menurut mamanya Oom
Steven, gadis asli Inggris itu lebih cocok bersanding dengan Oom Steven
dibandingkan Tante Jessica. Tante Jessica ngambek dan pulang ke Indonesia. Oom
Steven, yang memang sudah cinta mati pada Tante Jessica, menyusul ke Indonesia.
Mereka akhirnya menikah di Indonesia, walaupun tanpa restu dari mamanya Oom
Steven. Kesya mengangguk-angguk, mendengarkan penjelasan Marco.
Ketika mendengar cerita Kesya tentang apa yang menimpa Alo dan Cecil, Oom
Steven langsung menghubungi Alo. Mengabari bahwa Cecil berada di Bali. Alo
langsung membeli tiket pesawat ke Bali dan berangkat saat itu juga. Tante Jessica
membeli tiket pesawat yang sama, berusaha mencegah kepergian Alo. Marco juga
ikut menyusul, takut terjadi sesuatu di antara Tante Jessica dan Alo.
Ketika tadi Oom Steven mengatakan. "Jessy dear, kamu ingat kita dulu", Tante
Jessica tersadar bahwa perbuatannya sama persis dengan perbuatan mama Oom
Steven dulu. Perbuatan yang menyakiti hatinya. Perbuatan yang membuat harga
dirinya terinjak-injak. Perbuatan yang hampir saja melenyapkan cinta sejatinya.
Perbuatan yang hampir saja terulang kembali...
Tante Jessica langsung pulang saat itu juga. Oom Steven ikut menemaninya.
Cecil dan Alo tinggal semalam. Menenangkan hati dan pikiran masing-masing.
Marco juga memutuskan untuk tinggal semalam. Mengistirahatkan tubuh, pikiran,
dan perasaannya yang turun-naik seperti naik jet coster.
Semuanya jadi lebih baik dan indah sekarang.
Semoga saja semuanya akan menjadi semakin baik dan indah nantinya....
*** Back to Jakarta! Ternyata semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Yah... setidaknya untuk
Kesya. Kesya berbahagia, tulus-murni-jujur sangat berbahagia, atas rujuknya Alo dan
Cecil. Dia tersiksa sekali ketika melihat wajah Cecil yang tidak bergairah ketika
mereka berada di Bali kemarin. Dia juga bahagia sekali melihat binar-binar di mata
Alo dan Cecil bersinar kembali saat mereka bersama-sama lagi. Tapi, itu berarti
tugasnya sebagai bridesmaid bertambah berat. Karena Cecil dan Alo sudah terlalu
lama cuti dari kantor masing-masing, dan mereka masih berencana untuk
mengambil cuti untuk melangsungkan pernikahan plus bulan madu, maka mereka
harus bekerja lembur untuk kantor masing-masing.
Padahaaaalll... Semua vendor harus dikonfirmasi ulang plus diberitahu
perubahan tanggal pernikahan yang semula akan dilaksanakan di akhir bulan April
menjadi tanggal 2 Mei. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Hehe... Mulai
dari gereja tempat berlangsungnya pernikahan, pastor yang bertugas memimpin
jalannya misa pernikahan di gereja, dekorasi gereja, kelompok paduan suara,
ruangan tempat resepsi, katering, dekorasi, gaun pengantin, kartu undangan dan
suvenir, fotografer, dan video shooting.
Ada yang senang sekali karena rencana pernikahan Cecil dan Alo ternyata jadi
dilaksanakan. Ada yang minta laporan eksklusif tentang apa yang sebenarnya
terjadi sampai pernikahan mereka sempat tidak jadi dilaksanakan. Tapi... ada juga
yang marah-marah karena merasa dipermainkan.
"Nanti nggak jadi, nanti jadi, nanti siapa tahu nggak jadi lagi!"
Saat ini Kesya berada di studio fotografer "Klik OK", dan laki-laki lebay yang
berdiri di hadapannya adalah Johnsonwati, si fotografer itu sendiri.
"Helloowww... Serius nggak sih mau nikah?" jeritnya sambil mengibasngibaskan jemarinya yang lentik. Dia merapikan syal yang terjuntai di lehernya.
"Eh, boo... asal tau aja ya. Kita semua udah atur jadwal dengan serapi-rapinya,
dengan sebaik-baiknya, dengan se-perfect-perfect-nya, tau-tau... apa... apa... apa...
apa..." Kepala si Johnsonwati bergerak-gerak ke kanand an kiri dengan dramatis.
"Pernikahannya nggak jadi... nggak jadi... nggak jadi... booo... Aduh... pusing deh
akyuuu!" Jari-jari lentiknya mencuat keluar ketika punggung tangannya menyentuh
dahi. Kesya menarik napas. Berusaha tetap sabar mendengarkan celotehan makhluk
ajaib itu. "Terus sekarang, tau-tau bridesmaid-nya datang..." Jari-jari lentik Johnsonwati
menunjuk ke dada Kesya. "And bilang pernikahannya tetap jadi dilaksanakan.
Iddiih... emang kita nggak ada kerjaan laeeennn, kaleee..." Kepala Johnsonwati
menggeleng-geleng. Kali ini mulutnya juga bergerak maju-mundur, mengekspresikan perasaannya.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya," ujar Kesya. Mati-matian dia
mengatur nada suaranya agar tetap berada pada kondisi normal. Memang sekarang
dia berada di pihak yang salah, di pihak yang memohon, di pihak yang seharusnya
merendah. Hmmm... sabar, Kesh! Sabar!
"Nggak bisa... nggak bisa... pokoknya nggak bisa..." Si Johnsonwati mengangkat
tangan, merentangkan lima jarinya di hadapan wajah Kesya. "Kita nggak bisa lagi
terima order yang seperti ini... Kalau kita terusin, bisa-bisa nanti nggak jadi lagi...
Aah... cuapeekkk... deh..." Jari telunjuknya menunjuk pelipis sambil menggelenggeleng.
Kesya mengedik. Kembali menarik napas panjang.
"Jadi kalian tidak mau?"
"Nggak!" sahut Johnsonwati dengan ketus.
Kesya merasa sudah tidak ada gunanya lagi berdebat dengan Johnsonwati.
"Baik kalau begitu. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan."
Kesya keluar dari tempat makhluk ajaib itu bekerja. Sebenarnya Kesya mau
marah-marah, mau mencaci maki, mau ngomel-ngomel. Tapi, menghadapi makhluk
superajaib seperti Johnsonwati, langkah terbaik adalah menghindar sejauh
mungkin. Percuma deh marah-marah sama dia, malah kita tambah sakit kepala
menghadapi balasan-balasannya yang garing!
"Cil..." Di mobilnya, Kesya menghubungi Cecil. "Fotografer sama video shootingnya nggak mau. Mereka ngomel-ngomel. Katanya kita nggak serius mau ngadain
acara." "Oh my God! Terus gimana dong" Masa acara pernikahanku nggak ada
dokumentasinya..." Gimana dong" GIMANA DONG?" suara Cecil terdengar
merintih panik. Kesya terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya. Kasihan telinganya kalau
harus mendengarkan rintihan berkepanjangan seperti itu.
"Kira-kira kamu punya cadangan fotografer lain nggak?" tanya Kesya dengan
sabar. Cecil kembali menjadi Cecil the drama queen. Sekarang dia meracau dengan
panik. "Mmm..." Kesya berpikir keras, tapi otaknya serasa blank mendengar racauan
Cecil. "Darius" Gimana kalau Darius?" Kesya merasa jadi orang paling pintar
sedunia. Tentu saja Darius, yang pernah mengabadikan foto-foto pre-wedding Cecil
dan Alo akan menjadi solusi terbaik. Cecil dan Alo juga sangat puas dengan hasil
fotonya. "Nggak bisa," jawab Cecil cepat. "Darius itu spesialis foto pre-wed. Kalau untuk
dokumentasi, nggak terlalu bagus..."
Hancurlah sudah harapan menjadi "orang paling pintar sedunia"!
Kesya berpikir keras lagi. Di seberang sana, Cecil masih terus meracau. Kalau
Cecil terus meracau, daya kerja otak Kesya bisa semakin lemah dan lemah.
"Jansen!" pekik Cecil. "Jansen! Jansen! He is our best solution!"
"Jansen?" Kesya heran. Bukannya Cecil paling anti sama Jansen" "Jansen?"
ulang Kesya tidak percaya.
"Iya. Jansen, TTM-an kamu dulu itu lho...," Cecil menekankan.
"Iya, aku tahu Jansen yang mana," Kesya memotong kata-kata Cecil. Tidak
perlu Cecil menjelaskan siapa Jansen yang dimaksud. "Tapi... bukannya kamu
paling males kalau ngomongin soal dia?"
Cecil tertawa. "Aku males waktu dia masih jadi TTM-an kamu. Tapi setelah aku
tahu dia bukan siapa-siapa kamu lagi, aku ya fine-fine aja sama dia. Tolong kontak
dia ya..." Cecil pun mematikan ponselnya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Kesya mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Saat kembali memperhatikan
jalan, dia baru menyadari bahwa sekarang ini dia berada dekat dengan lokasi studio
Jansen. Dia lalu membelokkan mobilnya, memutuskan sekalian saja mampir ke
studio Jansen. "Halo, Mbak Kesya...," sapa Lindi, si pengarah gaya. "Udah lama banget nggak
main ke sini lagi..."
Kesya tersenyum jengah. Sedang memikirkan alasan apa yang harus
diutarakannya, tapi untung Lindi orang yang tidak membutuhkan alasan.
"Pak Jansen ada di dalam, sedang mengedit foto," ujar Lindi sambil
mempersilakannya masuk. Kesya masuk dengan canggung. Sudah cukup lama dia tidak bertemu Jansen. Di
dalam ruangan, tampak Jansen sedang serius memperhatikan layar komputer.
"Jansen...," panggil Kesya pelan.
"Hah?" Jansen terkejut dan memekik pelan. "Sialan! Ke-delete lagi!"
Kesya juga terkejut. "Jansen, serius" Foto langganan kamu terhapus?"
Butir-butir keringat bermunculan di dahi Jansen. "Sebentar sebentar..."
Tangannya beberapa kali mengklik mouse komputer. Karena kegugupannya, mouse
itu meluncur terjatuh dari tempatnya. "Aduh!" Jansen kembali memekik. Buru-buru
dia mengembalikan mouse itu ke tempat semula dan mengklik berulang-ulang.
"Ooh... masih ada di recycle bin. Hehehe...," tawanya gugup sambil menghapus
keringat di dahinya. "Aku save dulu ya..." Jari-jari Jansen kembali sibuk mengklik
mouse. "Oke. Sudah."
Kesya meremas tangannya yang juga terasa keringatan. Jansen dan segala
kegugupannya memang bisa membuat orang lain jantungan!
"Ada apa, Kesya?" tanya Jansen sambil mematikan komputernya.
"Tentang Cecil...," Kesya memulai.
"Oh, aku sudah dengar tentang Cecil dan Alo. Jadi sekarang mereka bagaimana?" Wajah Jansen tampak penuh perhatian.
Kesya terkejut. Betapa berita itu sangat cepat tersebar!
"Mereka berdua, Alo dan Cecil, sekarang sudah baik-baik saja," jawab Kesya.
Tanpa sadar, dia tersenyum sambil mengembuskan napas lega. "Pernikahan tetap
jadi dilaksanakan, walaupun tanggalnya diundur. Nah... itu yang membawa aku ke
sini." Dahi Jansen mengernyit. "Aku harus mengonfirmasi ulang semua vendor, dan tadi aku baru dari tempat
fotografer yang seharusnya mendokumentasikan acara Cecil. Dia tidak mau lagi
terlibat dalam acara pernikahan Cecil."
Kali ini Jansen mengangguk-angguk.
"Bisa nggak kamu yang mendokumentasikan pernikahan Cecil?" Kesya
menelengkan kepala. Memangan Jansen penuh harap.
"Jadinya... tanggal berapa?"
"Tanggal 2 Mei."
Jansen membolak-balik organizer-nya. "Oke," jawab Jansen, membuat wajah
Kesya cerah ceria. "Kebetulan... kebetulan aku nggak ada kerjaan... di tanggal
segitu." "Thanks a lot ya, Jansen. Aku tahu tanggalnya memang mepet sekali. Just do the
best you can do!" Kesya tersenyum lebar. Dia bahkan berniat memeluk Jansen, tetapi
diurungkannya niat tersebut. Takut membuat Jansen salah tingkah lagi.
Jansen tersenyum sambil mengangguk.
Keluar dari studio Jansen, Kesya sedikit lega. Sedikit, karena dia teringat akan
vendor lain yang belum sempat dihubunginya. Kesya membolak-balik catatannya.
Kepalanya berdenyut-denyut melihat ada tiga vendor yang belum dihubunginya.
Ponselnya berdering dan nama Marco tertera di layar.
"Sayang...," sapa Marco, "lunch bareng yuk. Kamu lagi di mana?"
"Nggak bisa, Yang...," tolak Kesya dengan suara lemah, "masih ada tiga vendor
lagi yang harus aku hubungi."
"Kamu udah sempat ke toko?" suara Marco terdengar khawatir.
"Belum," jawab Kesya lemah. Sepulang dari Bali kemarin dia belum sempat
mendatangi tokonya. Padahal hari ini dia ada janji dengan seorang klien. Untung
saja DeeDee dapat menggantikannya. Diam-diam Kesya mengagumi juniornya itu.
Semakin lama, DeeDee semakin cekatan saja. "Dari pagi, aku langsung sibuk
ngurusin ini. Gimana ya, Marco" Aku sudah pusing nih!"
"Hei... hei... hei... Sayang. Calm down. Apa sih yang masih belum dihubungi?"
tanya Marco, berusaha menenangkan Kesya.
Kesya melirik catatannya. "Dekorasi gereja, katering, dan kartu undangan. Plus
suvenirnya." Kepala Kesya tambah berdenyut-denyut mengetahui bahwa dia belum
menghubungi pihak pembuat kartu undangan.
Perubahan tanggal pernikahan berarti perubahan besar-besaran pada seluruh
kartu undangan. Catat baik-baik ya! Seluruh kartu undangan, yang jumlahnya bisa
mencapai ribuan lembar! Oh... entah caci maki apa lagi yang akan diterima Kesya
saat menghadapi si pembuat kartu undangan nanti.
"Aduh, Marco. Aku nggak bisa banyak ngomong deh. Kerjaanku masih banyak
banget nih!" Kesya diserang panik akut. Dia benar-benar pusing membayangkan
masih harus berurusan dengan vendor-vendor itu. Belum lagi kalau harus
berurusan dengan Johnsonwati-Johnsonwati lainnya.
"Aku sudah menghubungi semua vendor itu," ujar Marco tenang.
Kesya mempertajam pendengarannya. Tubuhnya sampai miring-miring dalam
usaha merapatkan telinganya ke ponsel. "Hah" Apa" Dekorasi gereja, katering,
kartu undangan, plus suvenirnya sudah kamu konfirmasi?" ulang Kesya tidak
percaya. "Hei... I"m the bestman. Remember?" Marco tertawa geli.
"Lalu..." "Semuanya sudah beres, Sayang. Dekorasi gereja, katering, dan kartu
undangannya semuanya sudah dikonfirmasi ulang."
"Semuanya nggak ada masalah?" tanya Kesya tidak percaya.
"Nope." "Sama pihak kartu undangannya juga no problem?" pancing Kesya lagi.
"Nggak tuh. Aku minta maaf bahwa tanggal pernikahannya harus diundur.
Aku juga menawarkan penggantian dana untuk semua undangan yang sudah
dicetak dan tidak dapat dipakai. Yah, beigtu aja sih...," jawab Marco santai.
"Nggak ada ribut-ribut, dijutekin dan sebagainya?" pancing Kesya lagi. Masih
sungguh-sungguh tidak percaya.
"Nggak, Sayang. It"s not a problem at all," Marco masih menjawab dengan santai.
Kesya geleng-geleng. Kenapa semuanya jadi lebih mudah kalau Marco yang
bertindak sih" Yah, tapi sudahlah... yang penting pekerjaannya sudah selesai.
15 ACARA makan siang dengan Marco, dengan sangat terpaksa, tidak jadi
dilaksanakan. Kesya lelah luar biasa tadi siang. Makanya, setelah tahu bahwa Marco
sudah mengonfirmasi dekorasi gereja, katering, dan kartu undangan plus suvernir,
Kesya memutuskan untuk pulang dan tidur...
Setelah tidur kira-kira tiga jam, Kesya merasa segar kembali. Dan sekarang, dia
bersiap-siap untuk dinner bersama Marco. DeeDee masuk ke kamar dan duduk di
tepi ranjang gantung. Dia baru saja pulang dari acara pertemuan dengan klien
Kesya. Dia melaporkan hasil pertemuan tersebut dengan singkat. Kesya sangat
berterima kasih kepada DeeDee. Rencananya, Kesya akan memercayakan cabang
baru tokonya untuk dikelola DeeDee.
"Hehehe...," DeeDee terkekeh.
"Kenapa kamu?" tanya Kesya bingung. Dia baru saja menceritakan rencana
pengembangan tokonya, tetapi DeeDee malah terkekeh-kekeh geli. "Apa yang lucu
ya" "Setiap kali duduk di sini, aku ngerasa lucu. Takut jatuh, tapi fun juga. Hehehe...
lucu aja..." DeeDee masih terkekeh. DeeDee pernah mencoba tidur di ranjang
gantung ini, tapi akibatnya dia malah tidak bisa tidur. Sepanjang malam dia hanya
terkekeh-kekeh kegelian. Sampai kemudian Kesya, yang sangat terganggu dengan
suara kekehnya yang menyebalkan, mengusir DeeDee untuk kembali menempati
ranjang tamu di sudut kamar.
"Nggak kerasa ya hubungan kamu dan Marco sudah sejauh ini." Senyum


The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

DeeDee masih tergantung di wajahnya.
"Maksud kamu sejauh ini tuh sejauh apa?" tanya Kesya sambil memilih-milih
gaun. "Ya... yang tadinya kamu sebel banget sama dia. Bete banget karena dia itu
perokok, terus sekarang jadi soulmate-an gini..." DeeDee tertawa lagi.
Kesya juga ikut tertawa. Baru menyadari bahwa belakangan ini tidak pernah
melihat Marco merokok lagi. Wah, good point! Dia harus ingat untuk memuji Marco
akan perubahan positif itu.
Ting tong... Pasti Marco. "Dee, itu sepertinya Marco. Tolong bukain pintu dulu ya..." Kesya masih terus
memilih-milih gaunnya. DeeDee keluar. Membukakan pintu untuk Marco.
Tak lama kemudian DeeDee masuk lagi. Tangannya membelai poni rambutnya
sambil tersenyum. "He"s really falling in love with you...," bisiknya.
"Kamu tahu dari mana?" Kesya juga ikut berbisik.
"Dari body language-nya..." DeeDee terkikik. "Berlumuran cinta..." DeeDee
kembali beranjak ke luar.
"Marco, Kesya masih bingung milih baju, jadi sekarang dia belum berpakaian.
Kamu mau tunggu di dalam kamar aja?" goda DeeDee.
Wajah Kesya merona dan buru-buru menutup pintu kamar. "Sayang, kamu
tunggu di luar aja!" teriaknya panik.
Marco ikut tertawa. "Memang aku nggak boleh tunggu di dalam aja, ya?" dia
juga ikut menggoda Kesya.
"Nggak!" balas Kesya cepat.
Kesya buru-buru menyelesaikan acara berpakaiannya. Saat keluar kamar, Kesya
mendapati Marco sedang duduk manis di sofa.
"Sudah?" tanya Marco. Senyum segar merekah di wajahnya.
Kesya mengangguk, kemudian menyodorkan lengannya untuk digandeng
Marco. "Let"s go, beautiful princess..." Marco menggandeng tangan Kesya.
"DeeDee, kami pergi dulu ya...," pamit Kesya.
DeeDee mengangguk. "Pulang malam sedikit nggak apa-apa kok. Kalau kalian
nggak pulang, juga nggak apa-apa...," goda DeeDee sambil mengedipkan mata.
Mata Kesya melotot. "Nggak usah ngasih ide macam-macam ya..."
DeeDee tergelak. Marco mengajak kesya ke sebuah restoran yang romantis. Keseluruhan restoran
itu dilapisi dinding kaca sehingga Kesya dapat menyaksikan kesibukan malam di
Jakarta. Di tengah-tengah ruangan, digantung sebuah lampu kristal besar berwarna
putih. Untuk membuat suasana romantis semakin terasa, lampu yang diletakkan di
setiap meja bersinar redup.
"Ke sini saja..." Marco membimbing Kesya ke sebuah meja yang sudah dipesan
sebelumnya. Seorang pelayan telah siap mencatat pesanan mereka. Selain
restorannya sangat indah, pelayanan dan makanannya juga memuaskan.
Ketika mereka sedang makan, tiba-tiba sebuah kepala anak laki-laki menyembul
dari pinggir meja. Kepala Jason, keponakan Alo! Anak tengil itu tertawa terkikikkikik melihat raut terkejut di wajah Kesya.
"Hihihi... Tante Kesya...," sapanya dengan suara yang juga tengil. "Lagi pacaran,
ya" Habis ini check-in ke hotel dong..."
ASTAGA! Belajar dari mana anak tengil ini" Kok dia sudah tahu istilah check-in
segala" "Jason!" bisik Kesya agak keras, berusaha kelihatan tegas. "Kamu ke sini sama
siapa?" Jason mengerling, menunjuk ke sepasang orang dewasa yang wajahnya tampak
mirip dengan dirinya. Kesya mengenali si orang dewasa wanita sebagai kakak
perempuan Alo, yang tabiat dan wataknya sama seperti Tante Jessica.
"Aku mau di sini aja... Males makan sama Mama dan Papa!" Dengan kurang
ajarnya Jason menarik sebuah kursi dari meja sebelah dan duduk bersama Marco
dan Kesya. "Hai, Jason...," sapa Marco. "Kamu keponakannya Oom Alo, ya?" Marco
menyodorkan tangan. "Aku Oom Marco, sahabatnya Oom Alo."
Jason tampak terkesima. Sepertinya dia tidak terbiasa diperlakukan secara
dewasa seperti ini. Di wajah Jason, Kesya menangkap binar kaguma nak itu akan
sosok Marco. Ragu-ragu Jason menyambut uluran tangan Marco.
"Nice to meet you..." Marco menjabat erat tangan anak itu.
Senyum Jason merekah. "Nice to meet you too, Oom Marco."
Hmmm... sepertinya si makhluk tengil ini mulai dapat dijinakkan Marco.
"Jadi, Oom Marco dan Tante Kesya itu bestman sama bridesmaid, ya?" tanya Jason
sambil menggoyang-goyangkan kaki.
Kesya agak terganggu dengan guncangan meja yang diakibatkan goyangan kaki
Jason, tapi ditahannya keinginan untuk menjitak kepala anak itu.
"Hmm... kata Oma, aku akan jadi pembawa cincin." Wajah Jason tampak
merengut. "Aku nggak mau jadi pembawa cincin! Aku nggak suka disuruh-suruh!
Biarin aja, nanti cincinnya aku sembunyiin, terus aku jual!"
Kata-kata itu lagi! Sekarang Kesya merasa akan pingsan mendengar kata-kata
itu keluar dari mulut Jason. Dua kali dia mendengarkan pernyataan itu. Tampaknya
Jason akan benar-benar melaksanakan ancamannya. Ooh... masterpiece-nya!
Marco berdeham. Dahinya mengernyit saat dia mendengar komentar Jason dan
memperhatikan Kesya yang sudah siap pingsan.
"Memangnya kalau cincinnya dijual, terus uangnya mau kamu pakai untuk
apa?" tanya Marco. Lagi-lagi Jason tampak terkejut mendengar pertanyaan Marco. Raut wajahnya
semakin kagum memandang sosok Marco. Sepertinya Jason tipe anak yang tidak
pernah diajak berbicara baik-baik. Mungkin orangtuanya hanya tahu memarahinya,
sementara omanya hanya tahu memanjakannya.
"Aku mau beli yoyo..."
Kesya melongo. Menjual cincin berlian, masterpiece-nya, hanya untuk membeli
yoyo! Kesya bertanya-tanya makhluk apa yang sebenarnya sedang bercokol di
dalam otak Jason. "Yoyo"!" pekik Kesya keras.
Jason mengangguk. "YOYO"!" Jason mengangguk lagi. "Kamu suka yoyo?" tanya Marco. Tangannya meremas tangan Kesya yang
mulai berkeringat. Jason mengangguk. "Ini aku bawa yoyo kesayanganku. Aku mau beli lagi. Yang
modelnya lebih keren daripada ini." Jason mengeluarkan yoyo dari saku celananya.
Marco mengambil yoyo yang disodorkan Jason. Marco mengambil yoyo itu dari
tangan Jason dan mulai memainkannya dengan mahir. Kesya bahkan tidak pernah
tahu Marco bisa memainkan yoyo sebaik itu. Dengan gaya profesional, Marco
memutar-mutar dan melempar-lemparkan yoyonya. Gayanya persis seperti pemain
yoyo profesional yang sering Kesya lihat di Youtube!
Kesya melirik Jason. Marco benar-benar telah memenangkan hati anak tengil itu.
Saat ini, Jason sedang menatap Marco dengan mata tidak berkedip dan mulut
melongo. Sepertinya, sebentar lagi Jason akan berlutut dan menyembah-nyembah
Marco. Jason bertepuk tangan kuat-kuat saat Marco memutar-mutar yoyonya. Orangorang di sekeliling meja, terutama anak-anak, mulai berkumpul dan mengeluelukan Marco. Marco mengakhiri permainannya dengan sangat dramatis. Dia
membungkuk sedikit untuk membalas tepukan tangan dan sorak-sorai orang-orang
yang memperhatikannya. "Oom Marco, ajarin aku gaya yang tadi dong...," rengek Jason.
"Jason!" Saat terdengar seseorang berteriak memanggil namanya, Jason mengerang.
Dengan enggan dia bangkit berdiri dan menghampiri orangtuanya. Baru setengah
jalan, dia berbalik lagi.
"Oom Marco, aku minta nomor telepon Oom dong... Nanti aku telepon, ya...,"
ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mata Kesya hampir copot
melihat ponsel yang dikeluarkan dari saku celana Jason. Blackberry! Anak sekecil ini
sudah membawa-bawa ponsel Blackberry! Memang dia tahu bagaimana cara
menggunakannya" Kesya menggeleng-geleng.
Marco menyebutkan nomor ponselnya.
"Nah, nomor Oom Marco sudah aku save. Aku missed call, ya..."
Marco mengangguk, kemudian menyimpan nomor Jason di ponselnya.
"Bye, Oom Marco! Bye, Tante Kesya! Nice to meet you both..." Jason melambai.
"Nanti aku telepon ya, Oom..."
Marco mengangguk dan melambai. Kesya juga melambai. Mau tidak mau,
bibirnya menyunggingkan senyum.
"Anak yang lucu...," komentar Marco.
Kesya mengangguk, menyetujui. Sekarang dia tidak lagi melihat Jason sebagai
bocah tengil yang harus dikhawatirkan.
"Kalau kamu tahu bagaimana cara menghadapinya, anak-anak bisa jadi teman
yang sangat menyenangkan...," ujar Marco seperti memahami isi kepala Kesya.
Kesya mengangguk lagi. *** "Mbak Cecil! Mbak Kesya!" Anita memekik kegirangan. Tingkahnya seperti orang
yang baru saja mendapat kabar bahwa dia memenangkan undian berhadiah satu
miliar. Superheboh! "Saya udah panik banget waktu mamanya Mas Alo datang dan bilang calon
pengantin wanitanya diganti!" Bola mata Anita berputar-putar dramatis.
"Bayangkan, Mbak Cecil! Bayangkan, Mbak Kesya! Diganti! Diganti! Diganti!" suara
Anita meninggi. Kesya dan Cecil tersenyum dengan terpaksa. Mereka mulai terganggu dengan
tingkah superheboh Anita, tapi Anita seperti belum mau menyudahi ceritanya.
"Apalagi mamanya Mas Alo minta acara pernikahannya diganti dengan adat
Jawa. Jadi, baju pengantinnya juga baju pengantin Jawa! Heellloooo! Madame
Daphne kan perancang busana pengantin internasional! Waktu saya bilang begitu,
mamanya Mas Alo dan siapa itu... si calon pengantin wanita Jawa itu... mereka
malah marah-marah. Bilang kalau kami tidak profesional!" Anita mendengusdengus, menunjukkan kemarahannya. "Mereka aja yang aneh. Masa mau beli ikan
datangnya ke tempat jual mobil! Ya nggak ada lah ikannya!"
Cecil dan Kesya tergelak mendengar perumpamaan Anita.
"Makanya, waktu saya dengar dari Mbak Kesya, pernikahan Mbak Cecil dan
Mas Alo tetap dilaksanakan, waduh... saya senang sekali. Nggak apa-apa deh
tanggalnya dimundurin. Yang penting calon pengantin wanitanya Mbak Cecil,
bukan si cewek nyebelin itu!" Anita tetap bersemangat.
Cecil tersenyum. "Oke. Sekarang kami mau ketemu Madame Daphne dulu ya..."
Kalau tidak dipotong seperti ini, Anita masih tahan mengobrol berjam-jam lamanya.
Anita mengangguk. "Langsung ke atas saja. Madame sudah menunggu."
Kesya mengikuti Cecil. Menerka-nerka penampilan seperti apa yang akan
mereka lihat dari Madame Daphne.
"Halo, Cecil. Halo, Kesya..."
Kali ini Madame Daphne berpakaian ala geisha Jepang. Kimono warna hitam
dengan motif bunga sakura berwarna pink menutupi tubuhnya. Wajahnya dirias
dengan bedak putih. Sebagian bibirnya juga ditutupi dengan taburan bedak putih,
sementara di bagian tengahnya, digambar sebentuk bibir mungil dengan lipstik
warna merah manyala. Rambutnya disanggul dan dikanji dengan keras, sehinga
menyerupai sanggul khas wanita Jepang. Madame Daphne juga mengenakan selop
kayu dan membawa payung kertas warna kuning dengan motif bunga. Kalau sudah
dandan, Madame Daphne memang tidak setengah-setengah.
"Saya senang sekali karena semuanya kembali berjalan dengan baik." Madame
Daphne menyunggingkan senyum misteriusnya. "Ready for your last fitting, dear?"
Cecil mengangguk bersemangat.
Madame Daphne berjalan perlahan, menghampiri lemari penyimpanan bajunya.
Dengan hati-hati, dia mengeluarkan gaun pengantin Cecil. Dia juga mengeluarkan
gaun Kesya. Cecil masuk ke kamar ganti dibantu Anita.
Kesya menunggu sambil berdebar. Dia agak khawatir. Selama di Bali, pola
hidup Cecil sangat tidak teratur. Semoga saja semua itu tidak memengaruhi berat
badannya. Suara gemeresik pelan menandakan bahwa Cecil telah selesai mengepas
bajunya. Dari balik kamar pas, Cecil keluar.
Kesya menghela napas lega. Gaun pengantin yang rencananya dipakai untuk
acara misa di gereja itu masih tetap menempel dengan indah di tubuh Cecil. Pas.
Sesuai. Tepat. Sepertinya, Cecil memang sudah ditakdirkan untuk menikah.
Cecil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar.
"Gimana, Kesh?" tanyanya.
Kesya tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Cecil kembali masuk ke ruang ganti. Ketika Cecil keluar dengan mengenakan
gaun pengantin yang rencananya akan digunakan pada saat resepsi, Kesya kembali
menghela napas lega. Penampilan Cecil tidak bercela. Seluruh tubuhnya, seluruh
jiwanya, seluruh alam pikirnya telah siap untuk menikah. Dia benar-benar akan
menjadi pengantin yang cantik!
*** Hari-hari berganti dengan cepat. Tinggal lima hari lagi, Alo dan Cecil akan
mengucap janji untuk setia selamanya sampai maut memisahkan mereka. Kesya dan
Marco sudah menyelesaikan semua tugas mereka. Semua vendor telah dikonfirmasi
ulang. Hari ini, Kesya akan merampungkan persiapan terakhirnya untuk menjadi
seorang bridesmaid. Dia mengeluarkan catatan tentang barang apa saja yang harus
dibawanya pada hari pernikahan Cecil-Alo.
Daftar barang bawaan untuk pernikahan
Cecil-Alo: 1. Deodoran (untuk menghilangkan bau
badan) 2. Permen pedas (untuk menghilangkan bau
mulut) 3. Kipas (untuk menghilangkan hawa panas)
4. Air mineral (untuk menghilangkan rasa
haus) 5. Tisu (untuk menghilangkan keringat)
6. Lipgloss dan lipstik pink (untuk
menghilangkan kepanikan kalau lipstik di
bibir sudah hilang) Sore ini, Kesya dengan ditemani Marco, pergi berbelanja. Belanja kebutuhan yang
tertulis di atas itu. Saat sedang sibuk memilih kipas berukuran kecil yang dapat
menghasilkan angin yang besar, (maklum saja, tas tangan Kesya sebagai seorang
bridesmaid kan kecil sekali!) seorang wanita berwajah indo mendekati mereka.
"Marco...," sapanya.
Wanita itu cantik sekali. Tubuhnya langsing semampai. Kulitnya kecokelatan,
tampak seperti sering berjemur. Rambutnya terlihat agak pirang. Panjang dengan
gelombang-gelombang besar di ujung rambut. Gayanya, hmm... pakaian, aksesori,
tas, dan sepatunya, tampak amat sangat mahal.
"Joanelle." Marco tampak terkejut melihat kedatangan wanita itu.
"Hi, Marco!" wanita yang dipanggil Joanelle itu memekik kegirangan. "Long
time no see..." Dia berjinjit dan mencium mesra pipi Marco.
Sebuncah perasaan cemburu menyerang Kesya. Siapa sih cewek ini" Sok akrab
banget! Pake cium-cium segala!
"Hm... glad to see you," balas Marco. Tangannya terangkat merangkul Kesya,
seolah menunjukkan kepada wanita itu akan hubungan yang sudah mereka jalin.
"Kesh..." Marco mengerling mesra ke arah Kesya. "Ini mantanku, Joanelle."
Oh! Jadi, ini rupanya mantan Marco! Yang katanya meninggalkan Marco untuk
pacaran dengan seorang pengusaha kaya. Pengusaha kaya yang lebih mapan
dibandingkan Marco. Mata Kesya menyorot tajam. Tubuhnya menegang. Tapi, Marco meremas
lembut bahunya. Mengirim pesan nonverbal agar Kesya lebih rileks. Mengirim
pesan bahwa sekarang ini Joanelle bukan siapa-siapa lagi bagi Marco. Bukan
ancaman bagi hubungan mereka. Sorot mata Kesya melembut. Tubuh Kesya jadi
lebih rileks. "Ini Kesya Artyadevi, my lovely future wife," ujar Marco mantap.
Hmm... Future wife... Kesya suka itu. Dia tersenyum kecil.
"Hai, Joanelle." Kesya mengulurkan tangan. Menyalami mantan pacar Marco.
Menyalami mantan pacar yang kini sama sekali bukan suatu ancaman bagi
hubungan mereka. "Hai..." Joanelle memeluk dan mencium pipi Kesya. Pelukan dan ciuman
persahabatan. Rupanya dia memang terbiasa bersikap seperti ini terhadap semua
orang. "Senang ketemu dengan gadis yang akan jadi future wife-nya Marco. Saya
Joanelle Wiryatama."
"So now you are Mrs. Wiryatama," ujar Marco. Alisnya terangkat.
Joanelle tersenyum menanggapi perkataan Marco. "Yes. Perpisahan kita adalah
keputusan terbaik yang telah aku buat. No hard feeling ya..." Joanelle mengelus
lembut lengan Marco. "Our relationship was great. You are a really nice guy, but you are
not my soulmate." Kepala Joanelle menggeleng pelan. "Hadi Wiryatama. Dia benarbenar soulmate buat aku. Kebersamaan kami seperti sesuatu yang natural, sesuatu
yang memang sudah seharusnya terjadi, sesuatu yang tidak terhindarkan. So...,"


The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Joanelle tersenyum lebar, "I"m sorry that I"ve hurt your feeling, but it"s the best for me.
The best for both of you, too." Tangan Joanelle kini mengelus lembut lengan Kesya.
"Mommy, can we go now?" seorang anak perempuan, kira-kira berusia dua tahun,
datang mendekati dan menarik rok Joanelle.
"Just a second, dear...," jawab Joanelle sambil mengelus lembut rambut anak
perempuan itu. "My daughter, Leisha," ujarnya sambil tersenyum kepada Marco dan
Kesya. "Sorry, I have to go." Dia mengulurkan selembar kartu nama kepada Kesya.
"Keep in touch ya...," ujarnya, sambil menggandeng anak perempuannya.
Kesya menatap kepergian Joanelle. Dirasakannya Marco meremas bahunya
lembut. "Nggak ada perasaan jealous, kan?" tanya Marco hati-hati.
Kesya menoleh. "Jadi dia yang bikin kamu jadi perokok yang menyebalkan?"
tanyanya. Marco tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Dan kamu yang bikin aku quit dari rokok dan jadi manusia yang lebih
menyenangkan..." Marco memeluk Kesya erat.
Kesya tersenyum. "Oke kalau begitu. Berarti I"m better than her dan aku nggak
perlu jealous sama dia."
"You"re the best, Kesh..." Marco mempererat pelukannya.
*** Satu hari sebelum Hari Pendidikan Nasional. Makan malam di rumah Cecil.
Kesya mengoleskan parfum ke bagian belakang telinganya. Dia siap pergi.
Walaupun ini makan malam keluarga Cecil, Kesya dan orangtuanya juga diundang.
"Kamu harus harus harus harus... datang ya! Ajak Tante Sabrina dan Oom Edo
juga, ya!" kata Cecil saat mengundang Kesya sekeluarga datang ke acara makan
malam keluarganya. "Bener nggak apa-apa?" tanya Kesya. "Itu kan acara untuk keluargamu, Cil."
"Kalian adalah keluargaku! You"re my sister!"
Dan di sinilah Kesya berada sekarang. Bersama kedua orangtuanya. Duduk satu
meja dengan Cecil dan orangtuanya. Menikmati makan malam yang nikmat sekali.
Yah... sesekali Kesya terganggu dengan pertanyaan orangtuanya dan beberapa
orang lainnya tentang kapan Kesya-Marco berencana akan menyusul Cecil-Alo.
Setelah acara makan selesai, Kesya berdiri. Memberikan kata-kata manis untuk
Cecil, tugasnya sebagai seorang bridesmaid.
"Cecilia Almira Saraswati...," Kesya memulai pidatonya, "gadis menyenangkan
yang sudah menjadi sahabat saya sejak kami sama-sama TK. Gadis ceria yang
dicintai setengah mati oleh Alvaro Nikholai Andersen."
Cecil tersenyum mendengar pidato pembukaan Kesya.
"Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi lajang. Besok, dia sudah akan
bersanding dengan Alo. Berjanji sehidup-semati dengan pemuda yang beruntung
itu." Kesya tersenyum lebar. "Walau demikian, dia tetap akan menjadi Cecilia yang
selama ini kita kenal. Tidak berubah sedikit pun! Dia akan tetap menjadi putri kecil
bagi Tante Renata dan Oom Balgi. Dia akan tetap menjadi keponakan yang manis
bagi para oom dan tantenya. Dia akan tetap menjadi sepupu yang kompak bagi
saudara-saudaranya. Dan dia juga tetap akan menjadi ashabat yang baik bagi saya.
Untuk Cecilia Almira Saraswati!" Kesya mengangkat gelasnya.
"CECILIA ALMIRA SARASWATI..." Semua orang di ruangan itu mengangkat
gelas masing-masing. Cecil bangkit dari duduknya. Kini giliran dia yang harus memberikan
sambutan. "Terima kasih untuk semua yang hadir di sini. Saya dapat merasakan perhatian,
rasa sayang, rasa cinta kalian semua menari-nari dengan harmonisnya dalam
ruangan ini. Terima kasih untuk Papa dan Mama yang telah membesarkan saya
hingga saat ini, siap menjadi seorang wanita dewasa. Terima kasih juga, terutama,
untuk sahabatku tercinta Kesya Artyadevi. Bridesmaid yang dapat diandalkan, dalam
segala situasi persiapan pernikahan yang emosional, menegangkan, menggembirakan, menyebalkan, dan mengharukan. Love you so much, Kesya." Cecil meniupkan
ciuman kepada Kesya. "Pertanyaan berikutnya adalah...," Cecil mengerling jail ke arah Kesya, "kapan
kamu akan menyusul aku dan Alo?"
SIALAN CECIL! 16 HARI PENDIDIKAN NASIONAL baru berjalan selama tiga jam.
"Cil... bangun...," bisik Kesya sambil mengguncang-guncang tubuh sahabatnya.
Cecil menggeliat, berbalik, dan... tidur lagi.
"Cecil!" Kesya semakin keras mengguncang-guncang tubuh Cecil. "Cepat
bangun! Ini tanggal 2 Mei! Hari Pendidikan Nasional! HARI PERNIKAHANMU!"
teriak Kesya. Mendengar kata "pernikahanmu", Cecil langsung duduk tegak. "Hah"! Jam
berapa" Sudah jam berapa ini" Apa kita sudah terlambat" SUDAH TERLAMBAT?"
dia meracau. "Cecil..." Kesya mengguncang-guncang bahu Cecil. "Kita tidak akan terlambat
kalau kamu segera bangun, mandi, dan pergi ke Bride"s World!"
"Oh..." Cecil baru sepenuhnya terbangun. "Oh, baiklah." Dia berdiri dan
beranjak ke kamar mandi. Kesya mengikat rambut panjangnya. Dia sendiri sudah mandi dan berpakaian.
Siap ke Bride"s World. Sejak jam dua tadi, dia sudah tidak bisa tidur. Aneh juga
rasanya. Yang mau menikah Cecil, yang tidak bisa tidur malah Kesya.
Kesya memperhatikan sekelilingnya. Dia menginap di rumah Cecil. Tidur di
kamar Cecil. Kamar yang sebentar lagi akan
ditinggalkan Cecil. Kamar lajangnya...
Alo dan Marco juga menginap bersama. Sejak kemarin malam, Cecil dilarang
bertemu Alo. Sepulang dari acara makan malam keluarga, Kesya langsung
mengomeli Cecil agar cepat tidur. Kesya tidak mau mata Cecil kelihatan bengkak
atau lelah karena kurang tidur.
Kesya bangun dan memeriksa tas kecilnya. Memeriksa perlengkapan yang
harus dia bawa demi kesejahteraan Cecil, si ratu sehari.
"Deodoran, permen pedas, lipgloss dan lipstik, air mineral, kipas, terus... oh ya,
tisu!" Kesya kembali mengingat-ingat lagi. "Oh ya... ini juga nggak boleh lupa!"
Kesya memasukkan catatan daftar acara pernikahan yang kemarin malam diberikan
oleh MC. Sepertinya masih ada satu hal yang dilupakannya. Apa ya" "Hmm...
bedak." Kesya mengaduk-aduk laci meja Cecil dan menemukan compact powder milik
Cecil. Dia memasukkan benda itu ke dalam tas kecilnya. Agak takjub juga melihat
benda-benda itu masih bisa muat di tas bridesmaid-nya.
Cecil keluar dari kamar mandi. Rambut keriting pendeknya masih basah.
"Ayo, Kesh...," ujarnya dengan suara bergetar. Getar kegembiraan.
*** Jalanan masih sangat sepi. Matahari masih tertidur, tapi mobil Cecil sudah
membelah jalan dengan gagah. Kali ini Cecil dan Kesya diantar oleh sopir keluarga
Cecil. Mereka tidak diizinkan menyetir sendirian.
Sampai di Bride"s World, Cecil dan Kesya langsung melompat turun. Sepertinya,
mereka yang pertama kali tiba. Bride"s World masih sepi. Hanya terlihat Anita,
dengan dandanan rapi seperti biasanya. Kesya jadi curiga, jangan-jangan Anita
tinggal di Bride"s World. Kalau tidak, bagaimana mungkin pagi-pagi buta begini dia
sudah tampil rapi dan siap melayani para klien seperti ini"
"Selamat pagi, Mbak Kesya, Mbak Cecil...," sapanya hangat. "Silakan." Dia
mengangsurkan baki penuh sarapan. "Pasti belum makan, kan?"
Rasanya Kesya dan Cecil ingin mencium Anita. Profesionalitasnya patut
diacungi jempol. Kesya makan cukup banyak. Dia tidak mau ambil risiko pingsan kelaparan saat
harus bertugas nanti. Sementara Cecil... hmmm... mungkin karena nervous, dia jadi
tidak bisa makan. Dia cuma bisa minum segelas susu dari semua makanan yang
disediakan Anita. Melihat hal itu, diam-diam Kesya membungkus dua potong roti
berselai dan menyelipkannya ke dalam tas. Persediaan saat Cecil kelaparan nanti.
"Ayo, silakan. Siapa yang mau dirias dulu?" si mbak make-up artist sudah siap.
Tentu saja giliran pertama harus diberikan kepada si calon pengantin. Cecil
duduk dengan bergaya. Wajahnya cerah ceria. Bersiap untuk dipercantik. Mbak
make-up artist yang lain datang dan mulai menangani Kesya.
"Mau make-up seperti apa, Mbak?" tanya si make-up artist yang kedua.
"Saya terserah saja. Yang cocok saja menurut Mbak," jawab Kesya. Poin yang
teramat sangat penting adalah, bridesmaid tidak boleh terlihat lebih cantik
dibandingkan pengantin. Jangan malah heboh sendiri. Jadi, Kesya menyerahkan
semuanya ke tangan si make-up artist. Pasti dia yang paling tahu.
Dua jam kemudian, Kesya sudah selesai dirias. Riasannya membuat wajahnya
terlihat cerah, namun tetap lebih sederhana dibandingkan riasan wajah Cecil, si Ratu
Sehari. "Mbak, ganti baju dulu di atas. Nanti baru diatur rambutnya," ujar si make-up
artist. Kesya naik ke lantai atas Bride"s World untuk mengenakan baju bridesmaid
warna turquoise-nya. "Halo, Kesya..." Suara seorang wanita terdengar menyapa Kesya.
Kesya berbalik dan bertatapan dengan... POCAHONTAS!
Kesya hampir saja menjerit kaget ketika menyadari bahwa senyum misterius si
Pocahontas tampak seperti senyum Madame Daphne. Ya ampun! Masih pagi begini,
si Madame sudah berdandan ala Pocahontas. Jam berapa sebenarnya dia bangun
pagi" "Hai, Madame...," Kesya membalas sapaan si madame. "Nice costume..."
Madame Daphne tersenyum dan berlalu.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam ketika Kesya selesai berpakaian. Cecil
belum kelihatan, tampaknya dia belum selesai dirias. Kesya sendiri masih harus
menata rambut. Padahal kalau menurut daftar acara yang diberikan MC, pukul
tujuh mereka sudah harus siap di rumah untuk acara penjemputan pengantin.
Kesya buru-buru turun dan memasrahkan rambutnya untuk ditata. Tidak
sampai setengah jam kemudian, tatanan rambut Kesya sudah selesai. Gaya
rambutnya juga sederhana. Pokoknya hari ini, Kesya adalah Ms. Simple. Tapi, tidak
berbeda jauh sih dengan kesehariannya. Kesya memang orang yang sederhana,
tidak suka yang heboh-heboh apalagi yang repot-repot.
"Cecil... ayo cepat sedikit. Udah mau jam setengah tujuh nih..."
Cecil sudah selesai dirias, tapi belum mengenakan gaun pengantinnya.
Dia beranjak bangun dan mencondongkan tubuh, memperhatikan bayangannya
di cermin. "Aku nggak suka rambutku!" katanya sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Wajahnya cemberut.
Tidak ada yang salah dengan rambut Cecil... Rambut keritingnya diberi gel
sehingga menampilkan efek basah kemudian dipercantik dengan bando warna
putih. Menurut Kesya, rambut Cecil kelihatan oke.
"Bagus kok, Cil," ujar Kesya meyakinkan.
Tidak ada waktu lagi untuk mengubah tatanan rambut. Jarum jam terus
bergerak ke kanan! "Iya, Mbak Cecil. Begini bagus kok," si make-up artist juga meyakinkan Cecil.
"Nggak mau," Cecil berkeras. "Kalau begini, aku kelihatan kayak Tante Jessica,
mamanya Alo. Aku nggak mau! Ganti aja, Mbak!" Cecil kembali duduk.
Kesya melongo. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit!
Tidak mau membuat calon pengantin kesal, si mbak make-up artist langsung
mengubah tatanan rambut Cecil. Kali ini rambut Cecil dipasangkan tiara yang
diletakkan agak mirip ke kanan. Terlihat lebih modern dibandingkan gaya
sebelumnya. Setelah selesai, si make-up artist menatap Cecil dengan cemas. Untunglah Cecil
tersenyum melihat tatanan rambutnya yang baru.
"Nah, begini baru khas Cecil."
Kesya langsung memburu Cecil naik ke lantai dua untuk berganti pakaian.
Pukul tujuh kurang lima menit, mereka kembali duduk di mobil.
"Pak, cepat sedikit ya... Jam tujuh kita sudah harus ada di rumah," ujar Kesya.
"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Cecil, masih belum menyadari
bahwa rambut keritingnya telah banyak menghabiskan waktu mereka.
"Tujuh kurang lima," jawab Kesya.
"TUJUH KURANG LIMA"!" jerit Cecil histeris saat kesadaran akan waktu telah
merasuki pori-pori kepalanya. "Ya ampun, Kesya! Kenapa kita bisa sampai
terlambat begini?" Cecil langsung panik.
Kesya mendengus. "Tanya saja sama rambut keritingmu!" balasnya kesal.
Mobil Cecil melaju kencang. Menerobos jalanan yang mulai memadat. Sampai di
rumah Cecil pukul tujuh kurang satu menit.
Tante Renata tampak seperti mau pingsan. "Kok lama banget sih?" tanyanya
dengan raut kesal. "Tanya saja sama rambut keriting Cecil, Tante," jawab Kesya tidak kalah
kesalnya. Berempat, bersama Oom Edo, mereka langsung masuk ke dalam kamar Cecil
yang sudah rapi dan cantik. Tante Renata sudah menata beberapa bunga segar
untuk mempercantik kamar itu. Cecil duduk manis menunggu kedatangan Alo.
Yah, tidak bisa dibilang duduk manis sih, karena sebentar-sebentar dia menjulurkan
kepalanya ke arah pintu, mencari-cari sosok Alo. Berulang kali Kesya harus
membenahi tudung pengantin Cecil yang tertarik ke satu sisi.
"Kamu diam saja bisa nggak?" bisiknya kesal. Tudung pengantin Cecil kembali
tertarik ke sisi kanan. "Nggak sabaran nih. Lama banget!" balas Cecil.
Tepat jam tujuh, mobil pengantin berwarna perak berhenti di depan rumah
Cecil. Cecil yang mendengar mobil yang menderu lembut langsung bersemangat lagi.
"Itu mereka!" jeritnya penuh luapan kegembiraan. Dia sudah sangat tidak sabar
menanti kehadiran Alo. Cecil merapikan kerutan-kerutan di gaun putihnya. Diamdiam, Kesya juga melakukan hal yang sama. Dia juga ingin tampak sempurna di
hadapan Marco. Pintu kamar Cecil terbuka dan di sanalah Alo berdiri. Tersenyum lebar sambil
menggenggam hand bouquet Cecil. Di belakang Alo, Kesya melihat sosok Marco
berdiri dengan gagah dalam balutan jas resmi. Kesya harus menahan diri sekuat
tenaga agar tidak berlari dan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Marco.
Yah... pertama hal itu akan membuat make-up-nya rusak, dan kedua, ini kan
acaranya Cecil. Kesya tidak boleh heboh sendiri.
Jadi, Kesya hanya dapat memperhatikan Marco sambil tersenyum lebar.
Tampaknya Marco juga mengalami hal yang sama. Senyumnya lebar sekali.
Matanya berbinar-binar menatap Kesya. Tubuhnya sesekali berayun maju-mundur,
seperti menahan keinginan kuat untuk memeluk Kesya.
Setelah prosesi penjemputan pengantin selesai, mereka berempat bergegas pergi
ke rumah baru Alo-Cecil. Di sana sudah menunggu keluarga besar Alo untuk
mengadakan tea ceremony. Kesya agak takut juga mengingat di sana akan berkumpul
Tante Jessica beserta seluruh konconya. Semoga Tante Jessica tidak membuat ulah
lagi. Cecil melakukan tugasnya, menyajikan teh kepada semua anggota keluarga Alo,
dengan sangat baik. Tante-tante Alo yang sudah sepuh bahkan memuji Cecil.
Mereka bilang Cecil gadis cantik yang sangat cocok bersanding dengan Alo. Bahkan
omanya Alo, ibunya Oom Steven yang konon bermasalah dengan hubungan Tante
Jessica-Oom Steven, memeluk Cecil dan mencium kedua pipinya dengan mesra.
Cecil tersenyum lebar saat mendengar pujian ini. Oma Alo senang sekali karena
Cecil menyapanya dalam bahasa Inggris yang sempurna, dengan aksen ala British
pula! Oma Alo memuji-muji Cecil dengan mengatakan bahwa Alo pintar cari calon
istri. Cecil tersipu, tetapi senyumnya merekah. Alo memeluk Cecil dengan mesra,
tidak memedulikan tatapan para senior di keluarganya.
Sementara Tante Jessica... hmmm... tetap tanpa senyum, tapi Kesya sempat
melihat beberapa kali Oom Steven membelai pipinya dengan lembut. Seperti
berusaha menenangkannya. Pukul setengah dua belas, mereka bergegas menuju Gereka Katedral, tempat
misa pemberkatan pernikahan akan dilaksanakan.
"Kesya, Marco, nanti kalian keluar dulu. Tolong cek semuanya di gereja. Kalau
ada yang nggak beres, tolong diberesin dulu...," pesan Cecil. Wajahnya tampak
senewen. Begitu mobil berhenti, Kesya dan Marco turun dan tergesa masuk ke dalam
gereja. Kesya mengedarkan pandangannya ke dalam keremangan gereja. Bunga
altar, beres. Buku misa, beres. Suvenir, beres. Bunga, lilin, dan persembahan lainnya,
beres. Kelompok paduan suara, beres. Petugas gereja... Dia harus menunggu
konfirmasi dari Marco. "Kesh! Romonya belum datang!" Marco berlari-lari menghampiri Kesya.
"Haah?" jantung Kesya hampir copot mendengar pernyataan Marco. "Ke mana
dia?" "Katanya ada orang sakit yang perlu diberi sakramen perminyakan. Jadi Romo
pergi ke rumah orang itu dulu. Mungkin sebentar lagi baru kembali ke sini," jelas
Marco. Kesya mengangguk. "Ya sudah. Kita kembali ke mobil. Nggak usah bilang apaapa sama Cecil. Nanti dia tambah panik."
Marco mengangguk. Mereka berdua kembali ke mobil.
Kesya tersenyum. "Udah beres semuanya, Cil."
"Bener" Nggak ada masalah apa pun?"
Kesya menggeleng, tetap tersenyum.


The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Alo meremas pelan tangan Cecil yang berada dalam genggamannya. "Tenang
aja, Cil. Nggak usah panik gitu. Semua pasti beres," ujarnya sambil tersenyum lebar.
Tampaknya hari ini Alo sedang mengalami euforia. Tidak ada satu hal pun yang
dapat menghilangkan senyum lebar di wajahnya.
"Terus, kenapa kita belum masuk juga?" tanya Cecil sambil bersiap turun.
Tuk tuk tuk... Kaca jendela diketuk dan kepala bulat Jason tampak menempel di
kaca jendela. Alo membuka kaca jendela. "Hai, Jason," sapanya ceria.
"Hai, Oom Alo, Tante Cecil, Tante Kesya, Oom Marco!" sapa Jason riang. "Oom
Marco, aku mau minta diajarin cara main yoyo yang kayak kemarin itu dong. Nih,
aku bawa yoyoku...," katanya sambil menepuk-nepuk saku kirinya.
"Oke. Nanti ya setelah acara selesai." Marco tersenyum. "Kamu harus
menjalankan tugas kamu dengan sebaik-baiknya. Mana cincinnya?"
"Beres. Ada di sini..." Jason menepuk-nepuk saku kanannya. "Akan saya jaga
dengan baik. Nyawa saya taruhannya!" ujarnya serius.
Kesya merasa lega. Mau tidak mau dia tersenyum juga melihat reaksi Jason.
Marco dapat membuat Jason menjaga cincin pernikahan rancangannya.
Another good point from Marco, catat Kesya dalam hati.
Jason mengacungkan jempolnya, lalu menghilang ke dalam gereja.
"Ayo!" Perkataan Cecil menyadarkan mereka. "Kita masuk sekarang."
"Cil, nanti dulu...," cegah Kesya.
"Kenapa sih?" Cecil sudah tampak senewen.
"Eh... itu..." Kesya kehabisan ide untuk berbohong.
"Karena kita masih harus putar-putar dulu di dalam tempat parkir gereja,"
jawab Marco. "Haah" Memangnya ada aturan seperti itu?" tanya Cecil dan Alo.
"I... iya. Memangnya kalian nggak tau kalau ada aturan seperti itu?" Marco
berusaha terdengar meyakinkan.
"Oke kalau begitu. Pak...," Alo memanggil sopir yang keluar sebentar, "kita
putar-putar dulu sebentar."
Thanks, Marco! Tampaknya Alo dan Cecil memercayai kata-katanya.
Diam-diam Kesya mengembuskan napas lega.
"Mobil pengantin tidak boleh berjalan mundur, Pak," Marco mengingatkan.
Mobil pengantin kemudian berputar-putar beberapa saat. Ponsel Marco
berbunyi, dan setelah selesai berbicara melalui ponselnya, dia tersenyum lebar dan
berkata dengan mantap, "Kita bisa masuk gereja sekarang."
Marco-Kesya serta Cecil-Alo berdiri dan bersiap di pintu masuk gereja.
"Ha... hhaaii... Kesya," sapa Jansen yang telah siap dengan kameranya.
"Hai, Jansen," balas Kesya.
Jansen tersenyum lemah melihat tangan Kesya bergantung santai di lengan
Marco. "Jansen!" sapa Cecil ceria. Benar! Sejak Jansen bukan siapa-siapa Kesya lagi,
Cecil lebih ramah terhadapnya. "Thanks banget ya, kamu mau ngurusin foto
liputanku. I owe you a lot! Tapi jangan cuma Kesya yang kamu foto ya..."
Bayangkan! Bahkan Cecil menggodanya!
Rona merah perlahan menjalar ke seluruh wajah Jansen. Marco tersenyum santai
menanggapi candaan Cecil. Tangan Kesya yang menggelayut di lengannya telah
mengukuhkan posisinya sebagai satu-satunya lelaki di hati Kesya. Tidak ada yang
perlu diragukan lagi. Acara pemberkatan pernikahan berjalan cukup lancar. Alo dan Cecil memang
berkeringat hebat sekali karena ruangan gereja tidak ber-AC. Kesya bolak-balik
memberikan tisu dan kipas kepada Alo-Cecil. Juga bolak-balik membetulkan letak
ekor gaun Cecil agar terlihat megar dan indah saat difoto.
Ada juga insiden kecil saat Cecil tercekat"karena rasa haru"sehingga kesulitan
menyelesaikan kalimat janji pernikahannya. Saat itu Kesya juga ikut merasa
tercekat, seperti ada biji durian yang tersangkut di tenggorokannya. Dia sampai sulit
bernapas. Kesya memang begitu. Ikut terharu kalau ada orang lain yang merasa
terharu. Untung Alo menggenggam tangan Cecil, memberikan kekuatan kepada Cecil
untuk menyelesaikan janji pernikahannya. Diam-diam, Marco juga menggenggam
tangan Kesya. Kesya membalas genggamannya sambil tersenyum kecil ke arah
Marco. Saat acara pemasangan cincin, Kesya tetap deg-degan ketika melihat Jason maju
sambil membawa kotak cincin. Masterpiece-nya! Dalam hati Kesya berdoa, semoga
cincin itu dapat sampai dengan selamat di jari Alo dan Cecil. Dan... doanya terkabul!
Jason melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dengan bangga anak itu tersenyum
ke arah Marco dan Kesya. Marco langsung mengacungkan jempol sambil tersenyum
lebar. Setelah acara pencatatan sipil selesai, mereka pulang. Di mobil, Kesya
menawarkan air mineral pada Cecil. Dan semua menyambutnya dengan penuh
sukacita! Sesampainya di rumah, make-up artist sudah siap untuk me-retouch make-up Cecil
dan Kesya. Cecil menyambut kedua make-up artist itu dengan penuh gembira. Bulu
mata palsu yang dipasangan si make-up artist terlepas dan itu membuat mata Cecil
perih luar biasa! Kesya membawakan nasi kotak untuk Cecil dan Alo. Dia sendiri hanya bisa
makan beberapa suap. Entah mengapa, dia juga jadi tegang sekali.
"Kok nggak makan lagi?" tanya Marco, dia baru saja mengajarkan beberapa trik
yoyo kepada Jason. Wajahnya tampak khawatir. "Masih banyak yang harus kamu
kerjakan. Kamu nggak boleh kelaparan...">
Kesya tersenyum, merasa "kenyang" dengan kata-kata perhatian dan tatapan
berlumuran cinta dari Marco.
"Aku nervous, nggak bisa makan lagi." Kesya membereskan nasi kotaknya.
"Lagi pula, aku harus segera ganti baju."
Tadi, sebelum Kesya makan, si make-up artist sudah memberitahunya agar
segera mengganti baju dengan gaun bridesmaid bustier pink-nya.
"Nanti, ketika kita menikah, kamu nggak boleh nervous ya..." Marco tersenyum
dan mengelus sayang rambut Kesya.
Oh my God! Siapa yang tidak merasa kenyang mendengar kalimat seperti itu"
Selesai berganti gaun, Kesya menghampiri Cecil untuk memeriksa keadaannya.
Senyum lebar masih tersungging di wajah Cecil.
"Udah beres, Cil?" tanya Kesya.
Cecil mengangguk. Dia sudah memakai deodoran yang dibawakan Kesya. Dia
berterima kasih sekali saat Kesya menawarkan deodoran itu. Yah... dia kan memang
tidak sempat mandi lagi, tapi juga ingin tetap wangi sepanjang hari. Dia juga sudah
mengenakan gaun pengantin untuk acara sorenya. Gaun pengantin yang indah.
Cocok sekali untuk seorang drama queen seperti Cecil.
"You look gorgeous, Kesh!" puji Cecil tulus.
"You"re the queen for tonight...," balas Kesya merendah. Ingat peraturan penting
sebagai bridesmaid: tidak boleh tampil lebih cantik daripada si pengantin perempuan.
Tapi, Cecil memang tampak seperti ratu. Cantik! Memesona! Menawan!
Mungkin karena kebahagiaan yang dia rasakan pada malam ini meluap dari
tubuhnya. Mungkin perasaan bahagia itu yang membuat Cecil jadi tampak lebih
cantik. Hhmmm... Kesya jadi berpikir, apakah nanti ketika dia menjadi si pengantin
wanita, dia juga akan tampak cantik memesona seperti Cecil" Kesya tersenyum kecil
memikirkan hal itu. "Aduh, gawat!" bisik Cecil.
"Kenapa?" Kesya jadi ikutan berbisik.
"Aku... aku mau pipis...," bisik Cecil. Wajahnya lunglai. Repot banget harus
pipis sambil mengenakan baju pengantin yang megar begini. Bagaimana kalau
bajunya kena air atau kotor" Atau lebih parah lagi, rusak"
"Ya udah, aku bantuin..." Dengan sigap Kesya mengangkat ekor gaun Cecil.
Cecil mencium pipi Kesya. "You are the best bridesmaid in this world!" pekiknya
girang luar biasa. "Ya... ya... ya..." Tak urung Kesya tersenyum juga melihat reaksi Cecil.
Jam empat kurang, sopir sudah bersiap untuk mengantarkan mereka ke tempat
resepsi. Marco berdiri dari duduknya. Sejak tadi dia menemani Alo yang tidak berhenti
tersenyum dan membalas semua ucapan selamat dengan senyum yang lebih lebar
lagi. "Ayo, Sayang, kita harus berangkat sekarang!" kata Cecil.
Alo berdiri dan mencium pipi Cecil sekilas. Cecil menatapnya sambil tersenyum. Tatapannya" Berlumuran cinta.
Marco tersenyum melihat kelakuan Cecil dan Alo.
"Wooi! Sabar dulu! Kalian masih harus tersenyum dan menyalami semua orang
di acara resepsi nanti!" godanya.
Cecil menjulurkan lidah, meledek Marco. Kemudian dia menggandeng tangan
Alo keluar, meninggalkan Kesya dan Marco.
"Yuk, Sayang...," panggil Kesya.
Marco berdiri dan mengambil jasnya. "Bisa bantu aku memakai jas?"
Kesya mengangguk dan membantu Marco. Lalu dia membiarkan Marco
menggandengnya dan mereka keluar menuju mobil pengantin.
*** Gedung tempat resepsi pernikahan didekorasi sangat megah. Kesya sudah pernah
datang ke gedung ini, ketika harus menemani Cecil dan Alo berdiskusi dengan Pak
James, si decoration artist. Tapi, malam ini gedung ini terlihat berbeda. Lebih spesial.
Lebih istimewa. Lebih indah!
"Kesh, nanti kan kita harus menunggu di ruang tunggu pengantin. Kamu tolong
masuk ke ruang pestanya dulu, ya. Seperti tadi, please make sure that everything is
okay..." Kesya mengangguk. Apa saja akan dilakukannya untuk si pengantin wanita!
Marco tersenyum. "Nanti aku temani deh...," ujarnya.
Cecil dan Alo langsung masuk ke ruang tunggu sementara Kesya dan Marco
masuk ke ruang resepsi. Ketika masuk, Kesya langsung lupa untuk menarik napas. Ruangan itu bukan
lagi ruangan biasa-biasa saja yang pernah Kesya lihat. Malam itu, ruangan itu telah
bertransformasi menjadi ruangan paling indah yang pernah Kesya lihat.
Nuansa bunga pastel bertebaran di sekitar ruangan. Dirangkai dengan cantik
dan penuh gaya. Membuat mata yang memandang terasa teduh dan damai. Harum
bunga segera memenuhi seluruh jiwa Kesya. Kesya menarik napas dalam-dalam.
Mengisi paru-parunya dengan wangi yang cantik dan menenangkan itu. Itu belum
seberapa! Kilau kristal Swarovski membuat ruangan itu tampak elegan. Seakan
kristal-kristal kemilau itu memaksa semua mata yang hadir untuk memperhatikan
mereka. Memuji-muji dan menyanjung-nyanjung mereka. Sungguh perpaduan yang
unik. Representasi nyata dari kepribadian Alo yang bersahaja dan Cecil si drama
queen! Kesya melangkah dan merasakan pijakan lembut di bawah sepatunya. Dia
menunduk dan terpana melihat taburan kelopak mawar putih menjadi pengganti
karpet merah, tempat biasa pengantin dan keluarga melangkah masuk. Amat sangat
indah! Pak James memang jenius.
"Hai, Kesya." Ini dia orangnya. "Hai, Pak James." Kesya menjabat tangan si jenius ini dengan erat.
Marco juga ikut menjabat tangan Pak James dan memperkenalkan diri.
"Bagus sekali, Pak James," puji Kesya. "Saya yakin, Cecil dan Alo juga pasti
suka sekali..." Kesya memandang sekeliling dengan perasaan kagum yang tidak
dapat ditutup-tutupi. Pak James tersenyum merendah. "Kalau nanti kalian menikah, saya juga
bersedia menangani dekorasi ruang resepsinya," ujarnya sambil melirik Marco.
Marco tersenyum. Dia menanggapi perkataan Pak James dengan merangkul
Kesya denga mesra. Kesya tersipu dengan pernyataan Pak James. Memang hari ini
semuanya bertaburan cinta!
Kembali ke ruang tunggu, Cecil menyambut mereka dengan cemas.
"Bagaimana?" tanyanya. "Sudah beres semua?"
Kesya tersenyum, "Perfect!" Dia menunjukkan beberapa foto yang sempat dia
ambil lewat ponselnya. "Bagus banget!" Cecil hampir menangis. Untung ia ingat bahwa hal itu berisiko
membuat bulu matanya terlepas lagi.
Sementara Alo hanya menanggapi foto-foto itu dengan senyum yang lebih lebar
lagi. "Kesya," panggil si pembawa acara, "untuk acara malam ini, kamu pakai
korsase ya..." Dia menyerahkan sebuah korsase besar kepada Kesya.
Kesya memandang korsase itu dengan ngeri. Ada baby"s breath di sana! Dan kulit
Kesya paling sensitif kalau bersentuhan dengan baby"s breath. Kesya tahu baby"s
breath adalah bunga yang sangat cantik. Kseya sendiri juga sangat menyukai
tampilan bunga putih kecil itu, tapi... kulitnya tidak menyukai baby"s breath. Ketika
prom-nite, saat Kesya baru lulus SMA, dia juga memakai korsase baby"s breath dan
kulitnya gatal-gatal selama dua hari!
"Cil..." Kesya menghampiri Cecil. Ingin minta izin untuk tidak mengenakan
korsase itu. "Ayo, Kesya. Kita sudah harus siap-siap." Cecil menarik tangan Kesya dan
memakaikan korsase itu. Sepertinya Cecil lupa bahwa kulit Kesya alergi terhadap
bunga cantik itu. Kesya merasakan tangannya gatal-gatal. Cecil langsung berdiri di
sebelah Alo dan mendorong Kesya berdiri di sebelah Marco. Kesya tersenyum
lemah kepada Marco. "Kenapa, Sayang?" tanya Marco khawatir.
"Korsasenya. Kulitku sensitif sama baby"s breath," bisik Kesya lemah.
Marco memperhatikan lingkaran merah yang mulai terpeta jelas di pergelangan
tangan Kesya. Dia lalu melepaskan korsase itu dan, entah apa yang dia lakukan,
memasang korsase itu dengan manis di baju Kesya.
"Thanks, dear." Kesya sangat bersyukur.
"Sudah siap?" tanya pembawa acara.
Cecil dan Alo mengangguk mantap.
"Sudah siap?" bisik Marco menirukan si pembawa acara.
Kesya tersenyum dan mengangguk kecil.
17 LAGU I Want to Spend My Lifetime Loving You, theme song film Zorro mengalun
lembut. Itu lagu kenangan Alo dan Cecil. Kesya tersenyum. Dia tahu lagu itu. Dia
tahu bagaimana lagu itu bisa menjadi lagu kenangan Alo da Cecil. Dan dia
tersenyum menyadari betapa banyak yang dia ketahui dari pasangan Alo dan Cecil.
Menjadi bagian dari sejarah hubungan Alo dan Cecil.
Ruangan indah itu tampak lebih indah lagi bagi Kesya. Kali ini dengan
penerangan lampu redup. Membuat suasana jadi terasa sangat romantis.
Kesya memandang Marco, tersenyum, dan melangkah mantap di belakang AloCecil. Kakinya sedikit terasa aneh saat menapaki karpet kelopak mawar putih.
Sepertinya dia tidak sedang berada di dunia nyata. Sepertinya dia sedang berada
di... ah... negeri dongeng...
Para tamu berdiri merapat. Banyak sekali tamu yang hadir! Padahal Cecil sudah
takut tamu yang hadir hanya sedikit, mengingat tanggal pernikahan mereka sempat
diundur. Semua mata seakan terpusat pada dua insan yang tengah berbahagia.
Pancaran aura cinta yang begitu kuat menyebar dari Alo dan Cecil. Kesya juga dapat
merasakan pancaran aura yang kuat itu. Dia turut bergembira bersama Alo dan
Cecil. Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Pasangan yang saling
melengkapi. Saat melangkah pelan, Kesya mengalami sensasi menyenangkan yang luar
biasa. Dengan Marco di sampingnya, hidupnya terasa sudah penuh. Tidak ada lagi
ruang kosong yang tersisa di hatinya. Semuanya sudah dipenuhi oleh sosok Marco
dan cintanya. "Ssstt... Ssstt..."
Rasanya ada seseorang yang memanggil Kesya.
Kesya berpaling dan mendapati DeeDee tengah mengacungkan dua jempol ke
arahnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Kesya balas tersenyum, lalu kembali fokus ke jalan di depannya. Ingat, ini
pernikahan Cecil dan dia hanya jadi bridesmaid. Peraturan utama menjadi bridesmaid:
Jangan sampai para tamu lebih memperhatikan bridesmaid daripada pengantin
perempuan! Iring-iringan Cecil dan Alo sudah menaiki pelaminan. Kesya juga ikut naik,
memperbaiki letak ekor gaun Cecil, lalu turun lagi. Dia berdiri di sebelah Marco.
Marco menawarkan lengannya dan Kesya menyambutnya sambil tersenyum.
Acara pemotongan kue pengantin, pemberian kue kepada kedua pasang
orangtua pengantin, dan saling suap antarpengantin berlangsung meriah. Kesya dan
Marco, bergiliran, memberikan potongan kue kepada Cecil dan Alo. Saat Cecil dan
Alo harus menyuapkan potongan kue kepada Tante Jessica, tampak Tante Jessica
hanya tersenyum tipis. Tipis sekali, sehingga kalau tidak di-zoom, pasti tidak akan
terlihat. "Wedding kiss-nya ditahan dulu ya...," ujar MC lalu berbalik memandang layar
besar yang entah sejak kapan sudah berada di sana. "Sekarang, saya ajak hadirin
sekalian untuk menyaksikan perjalanan cinta Alvaro Nikholai Andersen dan Cecilia
Almira Saraswati!" Layar besar itu menampilkan foto-foto Alo dan Cecil, hasil karya Marco. Mata
Kesya terbelalak kaget saat melihat dirinya juga ikut ambil bagian dalam foto-foto
itu. Marco tersenyum kecil melihat reaksi Kesya.


The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Saat pemutaran video yang merekam acara pertengkaran Alo dan Cecil, Cecil
menutup mata dan merebahkan kepalanya ke bahu Alo. Alo mengelus sayang
wajah Cecil. Kesya tersenyum melihatnya.
"Terima kasih untuk teman-teman kami, Kesya Artyadevi yang sudah dengan
jail merekam adegan pertengkaran kami..." Alo mengedipkan sebelah matanya ke
arah Kesya. "Dan Marco Raphael Eagen, yang sudah membaut perjalanan cinta
kami jadi terlihat indah dan menarik!" Alo mengacungkan ibu jarinya ke arah
Marco. "We love you both! Thank you!" ujar Cecil sambil meniupkan ciuman ke arah
Marco dan Kesya. "Oke!" Mikrofon kembali diambil alih oleh MC. "Sekarang saatnya momen yang
sudah ditunggu-tunggu. Siap, Alo" Siap, Cecil?"
Alo dan Cecil, saling merangkul, saling memandang, dan tersenyum lebar satu
sama lain, mengangguk dengan mantap.
"WEDDING KISS!"
Letupan confetti dan taburan gelembung sabun menyemarakkan acara wedding
kiss Alo dan Cecil. Dari barisan pemain musik mengalun lagu indah yang menyemarakkan suasana.
Kesya tersenyum lebar. Inilah cinta sejati yang harus dirayakan dan disuarakan
dengan lantang. Agar semua orang dapat mendengarnya. Agar semua orang juga
ikut berbahagia. Hmmm... Semua orang... Diam-diam Kesya melirik ke arah Tante Jessica. Dan... Kesya terkesiap saat
mendapati Tante Jessica tersenyum tulus! Oom Steven mengecup keningnya dan
tangan Tante Jessica terangkat membelai lembut wajah Oom Steven. Mungkin rasa
tidak suka itu memang sudah mencair. Kesya mencatat dalam hati bahwa dia harus
memberitahukan hal itu kepada Cecil.
"Ayo, Sayang." Marco menyentuh pelan lengan Kesya.
Kesya tersadar bahwa dia harus membantu Cecil naik ke pelaminan. Kesya
membantu mengatur ekor baju Cecil, meletakkan hand bouquet-nya dengan rapi di
kursi pelaminan, lalu turun lagi.
Berdua dengan Marco, mereka berdiri di samping pelaminan. Memperhatikan
Cecil dan Alo yang tidak henti-hetinya menerima ucapan selamat dari para tamu.
"Mau di sini terus, Kesh?" tanya Marco sambil menyentuh lembut lengannya.
Kesya mengangguk. "Takut kalau Cecil butuh sesuatu."
Marco ikut tersenyum. Gadisnya ini benar-benar bridesmaid yang sangat
bertanggung jawab. "Kesh!" DeeDee menghampiri mereka setelah selesai menyalami Cecil dan Alo.
"Kamu cantik banget deh!"
Kesya tersenyum. Dia memang merasa sangat cantik dalam balutan bustier pink
yang seksi dan riasan wajah yang elegan.
"Dia memang cantik sekali..." Marco tersenyum sambil mengecup kening Kesya.
DeeDee mengembuskan napas. "Di sana berlumuran cinta," ekor matanya
menunjuk ke arah pelaminan, "di sini juga lebih berlumuran cinta!" Dia
mengerucutkan bibir. "Cintaku ke mana ya?" Lalu DeeDee beranjak pergi.
Alo tampak berusaha menarik perhatian Marco dan Kesya.
"Kesh...," panggil Marco.
Kesya juga ikut memperhatikan Alo. Sepertinya Alo minta minum. Kesya dan
Marco mengangguk lalu beranjak mengambil minuman untuk Cecil dan Alo.
"Ini minumnya..." Kesya memberikan minuman kepada Cecil dan Alo saat
barisan tamu yang memberikan ucapan selamat sudah berhenti.
"Aduh, aku capek banget!" bisik Cecil di sela-sela minumnya. "Stiletto ini bikin
kakiku sakit banget!"
"Kamu cantik banget pakai stiletto ini, Sayang," puji Alo.
"Thanks, Sayang..." Cecil tersenyum. "Aduh, wajahku juga udah pegel banget
senyum dari tadi." Alo melakukan senam wajah. Rupanya wajahnya juga terasa pegal karena
tersenyum terus seharian.
Marco tertawa terbahak-bahak melihat gerakan senam wajah Alo.
"Capek banget ya..." Cecil minum lagi. "Rasanya aku pengin merokok deh!
Marco, kamu punya rokok?"
Alo, Kesya, dan Marco melotot. Yang benar saja" Si pengantin wanita mau
merokok" "Cecil, kamu jangan ngaco deh...," bisik Alo.
"Hehehe..." Cecil tersenyum konyol. "Just kidding, Sayang..." Dia mengelus
lembut pipi Alo. "Aku juga nggak bawa rokok kok," ujar Marco. "Aku kan udah berhenti
merokok." Dia melirik Kesya.
Cecil dan Alo tersenyum. "Sst... ada yang mau salaman lagi tuh...," bisik Marco.
Cecil dan Alo berbalik dan langsung berdiri untuk menerima ucapan selamat
dari para tamu lagi. Kesya dan Marco turun dari pelaminan. Kesya sempat bertemu beberapa teman
SMA-nya dan berhenti untuk bercakap-cakap dengan mereka. Beberapa sempat
menanyakan tentang prahara yang menyebabkan pernikahan Cecil dan Alo harus
diundur. Kesya hanya memberikan penjelasan singkat. Tidak baik mengungkitungkit sesuatu yang buruk di hari yang baik ini.
"Fiiuh... capek juga ya..." Kesya duduk dan meregangkan kakinya yang pegal
akibat sepatu high-heels tujuh sentinya. Cecil yang memaksanya memakai sepatu itu.
Tadinya Kesya hanya ingin memakai sepatu tiga senti, tapi Cecil melotot habishabisan lalu memilihkan sepatu tujuh senti ini.
Marco duduk di sebelahnya dan memasukkan sebutir permen mint ke dalam
mulutnya. "Bagi dong..." Marco mengulurkan satu permen untuk Kesya.
"Aku perhatikan, kamu sekarang sudah tidak merokok lagi, ya?"
Marco tersenyum. "Ada seorang gadis cantik yang mengkhawatirkan
kesehatanku. Aku mau jaga tubuhku baik-baik supaya bisa terus hidup sehat dan
mendampingi gadis cantik itu..."
"And who is that lucky girl?" Kesya memancing.
Marco mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kesya. Napasnya yang beraroma
mint menggelitik telinga Kesya.
"Kesya Artyadevi..." Marco berbisik lembut lalu mencium pipi Kesya.
*** Mingle time! Pada saat ini, Kesya dan Marco kebagian tugas untuk membawakan bunga
mawar yang rencananya akan dibagikan Cecil kepada gadis-gadis lajang. Jadilah
Marco dan Kesya dua orang "penjual bunga". Beberapa gadis lajang teman Cecil,
yang bukan teman Kesya, memperhatikan Marco dengan tatapan yang tidak disukai
Kesya. Bahkan ada yang dengan sengaja menyelipkan kartu namanya ke dalam
genggaman tangan Marco! Kesya kesal sekali. Dia berusaha keras tidak
menampilkan wajah kecewa atau cemberut. Yah... ini kan pesta Cecil. Jangan sampai
dia mengacaukan segalanya.
Marco tersenyum lembut melihat wajah Kesya. Dia merangkul pinggang Kesya
lalu menyelipkan kartu nama yang baru didapatnya ke tangan Kesya.
"Cil, bestman-nya sudah punya pacar, ya?" Kesya mendengar si teman Cecil
yang tidak dikenalnya itu berbisik kepada Cecil.
Cecil mengangguk sambil tersenyum dan temannya tampak kecewa.
Diam-diam, Kesya tersenyum senang. Merasa menang.
Cecil dan Alo masih beredar. Berbincang kepada hampir semua tamu yang
hadir. Sementara itu, Kesya sudah mulai capek. Jumlah bunga dalam keranjang
bunganya mulai berkurang, tapi tampaknya Cecil belum ingin kembali duduk.
Kesya memperhatikan tamu-tamu yang hadir. Semuanya tersenyum gembira
menyambut kebersamaan Alo dan Cecil. Tante Renata dan Oom Balgi tampak
berbincang dengan beberapa sahabat mereka. Kedua orangtua Cecil juga sangat
menikmati acara. Ketika pernikahan Cecil terancam batal, mereka berdua sempat
sangat sedih dan kesal kepada Tante Jessica. Kesya memperhatikan bahwa selama
acara berlangsung, orangtua Cecil dan Tante Jessica hanya bertegur sapa dengan
sopan. Terlalu sopan dan kaku, malah.
Tiba-tiba mata Kesya menangkap sesosok wanita yang dikenalnya.
"Cil..." Kesya menyentuh lengan Cecil. "Ada Finna."
Cecil menoleh ke arah yang ditunjukkan Kesya.
"Kok dia bisa ada di sini" Bukannya dia seharusnya di penjara?" tanya Kesya
bingung. Cecil tersenyum. "Aku yang menjamin dia keluar. Khusus untuk malam ini saja,
supaya dia bisa menghadiri pestaku. Yah... gimana juga dia kan masih keluargaku."
Kesya hampir tidak percaya akan apa yang didengarnya. Cecil" So wise! Setelah
apa yang dilakukan Finna terhadap persiapan pesta pernikahan Cecil"membuat
bete Pak James, membuat marah Madame Daphne, sampai hampir membuat Cecil
dan Alo batal menikah"Cecil masih sangat mengharapkan kehadiran Finna.
Bahkan sampai menjaminnya keluar dari penjara!
Kesya tersenyum. Rasanya Cecil The Drama Queen sudah berubah menjadi Cecil
The Saint! Cecil beranjak mendekati Finna. Alo, Kesya, dan Marco mengikutinya.
Tampaknya Finna tidak ingin kehadirannya diketahui. Dia berdiri di pojok yang
agak gelap. Tidak berbincang dengan siapa pun, tidak makan, hanya minum segelas
air mineral. Penampilannya kusut dan terlihat lelah, Finna menunduk ketika melihat
rombongan Cecil-Alo-Kesya-Marco mendekatinya.
"Finna!" Cecil menyapanya sambil tersenyum. Senyum yang tulus. "Terima
kasih sudah mau datang..." Cecil memeluknya erat.
Finna tampak salah tingkah, tapi kemudian membalas pelukan Cecil.
"I"m really sorry...," ujarnya terbata, "atas apa yang telah aku perbuat." Air mata
tergenang di pelupuknya saat dia bergantian menatap Alo dan Cecil.
"Kalian benar-benar pasangan serasi. Benar-benar true love. Hope both of you will
be happily ever after...," bisiknya tulus.
Cecil tersenyum. Dia mengambil setangkai mawar dan memberikannya kepada
Finna. "Semoga kamu juga cepat menemukan true love-mu...," bisiknya, kembali
memeluk Finna. *** Cecil dan Alo kembali ke pelaminan. Marco dan Kesya, atas inisiatif sendiri,
mengambilkan minuman untuk kedua mempelai. Mereka juga minum banyak
sekali. "Sekarang acara first dance dari kedua mempelai...," MC mengumumkan.
Cecil mengembuskan napas. Wajahnya tampak kelelahan.
"Capek, Sayang?" Alo mengelus lengan Cecil.
"Sedikit." Cecil minum lagi lalu tersenyum manis kepada Alo. Dia menyambut
uluran tangan Alo dan melangkah turun ke lantai dansa. "Habis ini giliran kalian
ya...," bisiknya pada Marco dan Kesya.
Setelah satu lagu selesai, Marco mengulurkan tangan kepada Kesya. "Shall we
dance, princess?" tanyanya sopan.
Lagu Can You Feel The Love Tonight mengalun lembut.
Kesya tersenyum. Ini kan love song dari film The Lion King!
Kesya menyambut uluran tangan Marco. Mereka bergerak dengan harmonis.
Kesya belum pernah berdansa dengan Marco, tapi semuanya tampak sangat alami
bagi mereka berdua. Seolah mereka memang telah ditakdirkan untuk berpasangan.
Marco menatap Kesya denagn lembut. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Membentuk senyum seksi yang sangat disukai Kesya. Kesya membalas tatapan
Marco. Mereka tidak berbicara, hanya mata mereka yang berbicara satu sama lain.
Menyuarakan kalimat cinta yang bergaung dengan megah.
Mata Kesya terpaku pada bibir Marco. Napasnya tertahan saat melihat Marco
mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Tampak berusaha keras menahan diri untuk tidak
mencium Kesya. Jeppreetttt! Kilau flash menyadarkan mereka berdua. Kesya mencari asal kilau flash dan
melihat Jansen sedang tersenyum gugup memandang mereka.
Kesya melambai dan tersenyum ke arah Jansen. Jansen membalas senyumnya
dan... kameranya tergelincir jatuh dari tangannya!
Marco tergelak. "Dia tidak akan pernah terbiasa dengan kehadiran kamu ya..."
Kesya juga tergelak. Dia masih memperhatikan Jansen. Seorang gadis manis
tampak membantu lelaki itu mengambilkan kamera yang terjatuh. Kesya tersenyum
kecil. Semoga gadis manis itu true love-nya Jansen.
"Ssst..." Kesya menoleh dan mendapati DeeDee tengah berdansa dengan seorang lakilaki.
"Masih ingat sama Max?" tanya DeeDee. Laki-laki yang dipanggil Max
tersenyum ceria kepada Kesya dan Marco.
"Hai, Max!" sapa Kesya. Max itu adik kelasnya juga, sekaligus mantan pacar
DeeDee. Melihat kedekatan yang mereka tunjukkan saat ini, sepertinya keduanya
sudah pacaran lagi. Alis Kesya terangkat. Senyum tersungging di bibirnya.
DeeDee tersenyum lebar, dan perlahan-lahan berputar menjauh dari Kesya dan
Marco. "Sayang...," panggil Marco, "coba lihat itu."
Kesya melihat ke arah yang ditunjuk Marco. Tampak Tante Jessica dan Oom
Steven berdansa di dekat Cecil dan Alo. Tanpa sengaja bahu Cecil membentur bahu
Tante Jessica. Cecil berpaling dan terkesiap melihat Tante Jessica. Dia lebih terkesiap
lagi saat melihat Tante Jessica tersenyum tulus kepadanya.
"Sori ya, Cil...," ujar Tante Jessica dengan ringan.
Kesya dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Mama nggak sengaja..."
Oom Steven tersenyum lembut kepada Tante Jessica dan mereka berdua
berputar-putar lagi. Cecil tersenyum lebar dalam dekapan Alo. Tante Renata dan Oom Balgi, yang
juga melihat respons Tante Jessica, tersenyum lega satu sama lain.
Kesya juga ikut tersenyum. Semuanya berakhir dengan indah. Segala perseteruan dapat diatasi dengan cinta. Kesya senang dapat ambil bagian dalam pernikahan ini. Segala kerepotan yang harus dialaminya menjelang persiapan pernikahan
Alo dan Cecil terbayar lunas melihat kebahagiaan yang terpancar pada malam ini.
Semua kelelahan dalam membantu Alo dan Cecil dalam mempersiapkan hari indah
ini juga terbayar lunas akan kehadiran Marco di sisinya.
Tanpa terasa, Kesya dan Marco berputar-putar keluar dari ruangan pesta. Musik
yang mengalun terdengar samar-samar. Marco mengajaknya ke sebuah taman, tidak
jauh dari gedung pesta. Kesya mengernyit. "Lho, kok kita sudah di sini?" tanyanya bingung. Sambil
tersu berdansa, dia memperhatikan keadaan taman di sekelilingnya. Lampu taman
berwarna kuning keemasan mencerahkan suasana taman malam itu.
"Lihat ke atas deh, Sayang...," bisik Marco.
Kesya menengadah dan sedikit kecewa karena tidak menemukan bintang di
sana. Langit Jakarta! keluhnya. Susah lihat bintang di sini...
Tapi tiba-tiba... Pyaarr! Langit malam jadi terang benderang. Diwarnai dengan indah oleh letupan
kembang api. Kesya tersenyum. Dia berhenti berdansa dan menengadah menikmati
keindahan langit. Tangannya bertaut dengan tangan Marco.
Dari sebuah gazebo, terdapat beberapa musisi yang sedang memainkan musik
klasik yang indah. Samar-samar Kesya mengenali lagu tersebut berasal dari film A
Midsummer"s Night Dream, film kesukaannya.
Ketika terhanyut oleh alunan masuik, Kesya merasa ada sesuatu yang terpasang
di tangannya. Dia mengangkat tangannya dan terkesiap. Itu gelang berhiaskan motif
butiran salju yang disukainya! Gelang yang tidak berhasil dibelinya saat lelang dulu!
"Gelang ini...," tanyanya heran, "kamu dapat dari mana?"
"Halo, Kesya..." Sebuah suara mengejutkannya.
Kesya berpaling, dan di hadapannya berdiri Ibu Lidya Sostronegoro.
"Hai, Ma...," sapa Marco.
Mata Kesya membulat. Terkejut.
"Ma, ini Kesya, pacarku. Perancang perhiasan favorit Mama," ujar Marco
kepada Ibu Lidya Sostronegoro.
"Kesya. Meet my mom, Lidya Sostronegoro. She is also your biggest fans," ujar
Marco sambil tersenyum. Ibu Lidya Sostronegoro tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Kesya.
"Jadi...," Kesya masih terkejut, "jadi, Ibu Lidya Sostronegoro itu mama kamu?"
Marco mengangguk. Kesya tak menyangka. Soalnya nama belakang Marco kan Eagan, sedangkan Ibu
Lidya memakai nama Jawa. "Mama memakai nama gadisnya," jelas Marco.
Kesya hanya bisa melongo heran. "Dan gelang ini?" Kesya mengangkat
tangannya. Matanya menangkap kilau indah dari gelang yang dikenakannya.
"Jadi punya kamu, Sayang...," ujar Marco sambil perlahan-lahan berlutut.
"Kesya, dear..." Mata Marco menatapnya lembut. "I love you so much. Now and then, I
promise to always be at your side..."
Dada Kesya meletup-letup bahagia.
"Kesya Artyadevi...," Marco tersenyum lembut, "will you marry me?"
Kesya menatap Marco. Senyum lebar menghiasi wajahnya dan dia mengangguk
perlahan.

The Bridesmaids Story Karya Irena Tjiunata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pyaarrr! Langit malam kembali diwarnai dengan indah oleh letupan kembang api. Marco
berdiri dan memeluk Kesya dengan erat.
Ibu Lidya Sostronegoro tersenyum lebar menyaksikan kebahagiaan Kesya dan
Marco. *** Ruangan pesta mulai lengang. Tamu-tamu mulai beranjak pulang. Kesya
memperhatikan Alo dan Cecil yang masih tersenyum bahagia.
"Nanti saja kita beritahu Alo dan Cecil," bisik Marco.
Kesya mengangguk. Biar malam ini jadi milik Alo dan Cecil sepenuhnya. Tapi,
dia harus memberitahu seseorang tentang lamaran Marco.
Papa dan Mama" Hmm... sepertinya mereka sudah pulang duluan. Mata Kesya
mencari-cari sosok DeeDee.
"Dee!" panggilnya saat sudah berhasil menemukan gadis itu. Setengah berlari,
Kesya menghampirinya. "Marco baru aja melamarku!" bisiknya sambil tersenyum
lebar. "I"m getting married!"
DeeDee tersenyum lebar dan memeluk Kesya erat. "I"m happy for you. Marco
memang yang terbaik untuk kamu..."
Kesya mengangguk. "Dee, will you be my bridesmaid?" pintanya.
Mata DeeDee membulat. Besar sekali.
Si Gila Dari Muara Bondet 1 Pendekar Hina Kelana 1 Utusan Orang Orang Sesat Dendam Dan Prahara Di Bhumi Sriwijaya 5
^