Pencarian

My Lovely Gangster 2

My Lovely Gangster Karya Putu Felisia Bagian 2


menghindari kedua orang itu selamanya. Kalau tak ingin hidup dan perasaan porak-poranda.
Sky memandang punggung Eri yang menghilang dengan cepat. Sebagian perasaannya matimatian mengutuk Sky. Menyuruhnya berlari menarik Eri, membiarkan gadis itu merasakan
semua kerinduannya. Namun sebagian perasaannya yang lain menahan pria itu untuk tetap
berada di tempatnya. Kau lebih baik membenciku..
Dia mengepalkan tangannya, memukul udara kosong dengan kemarahan yang sedari tadi
dibendungnya. DENGARKAN AKU "Tapi kan kau benar-benar menyukainya..."
Eri dapat mendengar suara gedebuk saat Jade menendang sansak besar itu dengan sebuah
tendangan memutar. Titik-titik keringat Jade terlihat di balik kaus ketatnya. Rambut Jade
terkepang sampai ke ujung. Panjangnya nyaris mendekati bahu. Mau tidak mau, Eri mengakui
kalau sejak bergabung dengan Maximus, Jade malah menemukan sebagian sisi feminimnya.
Sayangnya Eri sendiri tidak pernah berhasil menempa dirinya menjadi seorang jagoan.
"Ayolah, Eri... Sky itu jahat sekali padamu. Lebih baik kau lupakan saja kakakku itu. Toh di
sini masih banyak stok lain. Hayden kan oke juga, atau kau lebih suka cowok gokil seperti
Darius?" Eri melemparkan handuk dengan kesal ke muka Jade, "Kau gila, ya" Masa kau
menjodohkanku dengan berandalan jorok itu?" Eri teringat rambut gondrong cokelat yang
jarang dicuci, juga kaus lusuh dan jins belel yang selalu hadir sepaket dengan pemuda
berangasan itu. Kalau saja paras Darius tidak menawan"dengan dagu runcing, alis tebal, dan
bibir kemerahan, pasti cewek-cewek sudah menendangnya.
"Oh ya, bagaimana dengan Andhika?"
Jade tampak kesal saat Eri menyebut nama itu. Sansak di depannya melayang hingga nyaris
memukul hidungnya, "Aku tak akan pernah menyukainya. Kau tahu, dia terlalu banyak
melamun. Traumanya dengan Rosita masih banyak berpengaruh. Kau tahulah, bagaimana
perasaan seseorang yang melihat kekasihnya dianiaya di depan matanya tanpa dapat berbuat apaapa..."
"Setidaknya kalian telah jadian," Eri menggerutu, "Dasar cewek beruntung! Kalau saja kau
saat itu?" Eri mengerucutkan bibir, mengingat perlakuan kurang ajar yang dialaminya, "Kau
pasti bisa menghajar bajingan itu hingga kapok!"
"Maksudmu Kuga Kyouhei?" Jade memukul sansak berkali-kalu, "Penjahat-penjahat itu
memang patut di hajar. Aku janji, aku pasti bertarung dengannya!"
Eri menghela napas panjang. Matanya menerawang mengelilingi dojo, tempat latihan itu
telah sepi dari pengunjung. Lantai kayunya licin habis dipel, begitu pula dengan matras-matras
keras di atasnya. Kalau Jade berkata seperti itu, Eri yakin sahabatnya itu pasti melakukannya.
"Orang itu amat berbahaya, Jade..." Eri berkata pelan, "Aku tau, dia pasti berusaha
mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlebih lagi untuk urusan dendam..." Eri menunduk putus
asa, "Menyesal juga menjelek-jelekkan di konferensi pers itu. Aku memang bodoh..."
Jade tersenyum, "Dasar!"
"Iya, aku memang bodoh. Lebih bodoh lagi karena aku malah mengancam dan menodongkan
pistol kepadanya. Lengkaplah sudah alasannya untuk menghancurkan aku."
"Bagaimana kau akan menghadapinya?" Jade menghapus peluh di dahinya sebelum bersila
dan mengatur napas. Iseng-iseng. Eri mencoba memukul sansak hitam besar yang sejak tadi
diserang Jade. Hasilnya" Sansak itu bergoyang beberapa mili.
"Aku bukan gadis yang kuat, Jade. Aku sendiri bingung bagaimana aku harus
menghadapinya." "Aku akan mendukungmu, " Jade mengacungkan jempolnya, "Semangatlah!"
Eri membuat sebuah senyum miring. Sulit sekali rasanya terjebak dalam sebuah masalah
besar bersama seorang ketua klan Yakuza dan penerus klan mafia. Terutama jika mengangkut
perasaan. "Aku harus segera mencari cara menjauhi pria itu," keluh Eri, "Tapi sebelumnya aku harus
berhasil melupakan perasaanku terhadap Sky."
*** Aku harus segera menghapus perasaanku kepada gadis itu...
Sky menembakkan senapan di tangannya dua kali, melihat lubang yang dibuat oleh pelurupeluru itu nyaris mengenai bulatan di tengah-tengah sasaran tembak. Mengecewakan... biasanya
kemampuannya tidak sepayah ini. Dengan gamang, dia melepaskan penutup telinga dan
menaikkan kacamata tembaknya. Pikirannya mulai kusut
Bagaimana mungkin aku dapat menyukai gadis itu"
Erika Valerie... Rambut Eri yang sehalus tetesan air hujan di malam hari itu mulai membayang dalam
pikirannya... aroma bunga jeruk dari tubuhnya, matanya yang bulat seperti boneka... Sky selalu
takut untuk menyentuhnya, seakan-akan dia akan merusak sebuah boneka kristal yang rapuh. Dia
lebih memilih untuk menghapus perasaannya, sehingga dia dapat menghapus bayangan gadis itu.
Dia adalah malaikat.. Sedangkan aku seorang penjahat.
Sky menghapus peluh di keningnya. Tanpa sadar senapan di tangannya telah kehabisan
peluru. Konsentrasinya mulai terganggu melihat seseorang telah berdiri di sampingnya,
menggenggam sebuah pistol 9 mm. Kuga mengarahkan pistolnya ke sasaran tembak di depan,
sebelum sebuah peluru membuat lubang tepat di depan bulatan merah itu. Kuga berbalik,
memberi sebuah senyuman, "Arena tembak di sini tidak terlalu menarik," ujarnya santai, "Tapi
aku senang bisa bertemu denganmu, Pangeran..."
Sky membuang muka, "Sayang sekali aku tidak begitu. Bertemu denganmu selalu
mendatangkan masalah..."
Kuga tertawa, "Kau terlalu berlebihan. Aku sedang ingin bersantai. Masalah klan itu sudah
sangat memusingkan bagiku."
"Kalau begitu sebaiknya jangan cari masalah lagi!" sergah Sky cepat, "Apa tak cukup dikejar
polisi, juga Yuri?" "Hahaha..." Kuga tertawa renyah, "Aku suka dikejar, kok..."
"Jadi karena itu, kau sengaja kemari, meminta Mawar Maximus. Untuk meminjam kekuatan
kami." Sky menatap Kuga dingin, "Setelah itu kau akan mencari cara menyingkirkannya. Seperti
yang kau lakukan pada Shiori..."
Kuga tertawa lagi. Sky semakin berang dibuatnya.
"Aku tahu kau bertunangan dengan Shiori untuk menyenangkan ketua klan. Dan
penyanderaannya waktu itu memberimu jalan untuk menyingkirkannya."
"Dugaanmu hebat sekali!! Tapi, kau salah..."
"falling in love just take my life," Sky memotong, "Jangan lupa! Itu yang dulu kau ucapkan
kepadaku." Kuga tertawa, salah satu hal yang paling disukainya adalah membuat Sky naik darah. "Jadi...
aku tak boleh jatuh cinta?"
"Haruskah aku memercayai omong kosong semacam itu" Seperti aku tak mengenal kau
saja!" "Dengarkan aku," Kuga menyurukkan kembali pistolnya ke dalam saku, "Kau tahu benar
siapa aku. Dan sifatku yang menyukai sesuatu yang sulit kuraih..."
"Kuga Kyouhei, aku tak tahu bagaimana caramu meyakinkan John Alexander... tapi aku
membenci caramu terhadap Erika Valerie."
"Sejak kapan kau berhak atas dirinya?" Kuga tergelak, "Atau dia sudah menjadi gadismu?"
Sky menggertakkan gigi, saat ini suaranya serupa desisan, "Jauhi dia."
"Kenapa" Jangan-jangan kau sendiri yang jatuh cinta padanya..."
"Itu bukan urusanmu!"
"Kuanggap itu sebagai jawaban ya." Kuga tersenyum penuh arti. Sky tidak menyukai
maksud di balik senyuman itu.
"Aku harap nasibnya tidak akan sama seperti Isabella."
Sky menggertakkan gigi. Matanya berkilat penuh amarah, "Kalau kau menyentuhnya sedikit
saja, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
"Tawaran yang menarik..." Kuga tersenyum mengejek.
"Aku tidak main-main," geram Sky, masih mengacungkan pistolnya ke depan, "Kau tahu aku
tidak menyukai kekalahan."
"Aku juga," balas Kuga santai, "Dan kau sudah kalah satu langkah..." ia mendekati Sky,
berkata pelan di dekat telinganya, "Ciuman pertamanya adalah milikku."
Darah Sky mendidih. Kedua tangannya mengepal.
"Dia amat rapuh. Mudah sekali menghancurkannya, atau merebutnya darimu..." Kuga
berkata santai, "Cegah aku. Aku akan senang jika kau melakukannya..." ia tertawa, menikmati
aura kecemburuan dari Sky sebelum beranjak pergi meninggalkannya.
Aku akan menikmati permainan ini... Kuga tersenyum dengan penuh kemenangan.
*** Ryuzaki melihat bayangan Kuga berlalu dari lapangan tembak itu. Keinginannya membunuh
adiknya menari-nari di pikirannya. Dia harus mendapatkan kelemahan pria itu, tapi apa" Shiori
ternyata sama sekali bukan sandera yang tepat. Ryuzaki menurunkan kaca SUV-nya.
Untungnya Kuga Kyouhei juga sama sekali tidak dapat mengetahui keinginannya.
Ya, benar! Mereka berdua seperti dua ekor ular yang licik. Penuh ambisi untuk saling
mengalahkan satu sama lain.
Sayangnya, Ryuzaki tak mampu mereka-reka tujuan Kuga dalam mendapatkan Mawar
Maximus. Apakah itu karena Kuga menyukai gadis itu"
Jawabannya adalah tidak mungkin.
Mungkin bukan itu yang diinginkannya. Kuga akan menganggap gadis itu sebuah boneka
usang, yang akan segera dicampakkan setelah dia bosan memainkannya. Ryuzaki tahu betul sifat
adiknya. Kecuali... jika Kuga menginginkan sesuatu yang lain dari Maximus. Aliansi untuk
menghancurkannya. Jadi, begitukah alasanmu, Kyou-chan"
Kau mau menantangku"
Baiklah, aku akan melayanimu...
*** "Hajimemashite, Kuga-san..." Jade mengulurkan tangan, mengucapkan satu-satunya kata
dalam bahasa Jepang yang dikuasainya. Sikapnya seperti seseorang yang sudah terlalu biasa
dengan medan perperangan.
Kuga mengernyit heran melihat kemunculan gadis itu di depannya. Namun sesaat kemudian
wajahnya telah memamerkan seulas senyum penuh ejekan.
"Tidakkah mereka melarangmu kemari?"
"Kau tahu aku adalah orang yang tak bisa dilarang," Jade angkat bahu, mengalihkan
pandangannya ke arah Kuga, "Aku tidak bisa berbahasa Jepang. Jadi tolong hentikan basa-basi
ini, dan bicara padaku dengan bahasa kami." Jade meletakkan kedua tangannya di pinggang.
Membuatnya terlihat kuat dan angkuh.
"Soukana?" Kuga tersenyum, melanjutkan kalimatnya dengan Bahasa Indonesia, "Ada apa
kau kemari?" "Ada perlu denganmu..." Jade berkata setelah dapat menguasai diri, "Aku ingin kau
membatalkan semua rencanamu yang berkaitan dengan kami."
"Lalu apa imbalannya?"
"Aku." Jade menantang, "Aku lebih layak bertarung denganmu daripada saudara angkatku
yang buta ilmu bela diri itu."
Kuga tersenyum licik, matanya yang hitam berkilat-kilat saat menatap Jade, "Kau ingin
menggantikan saudaramu" Boleh juga! Mawar Maximus memang menarik sekali."
Tangan Jade mengepal di dekat pinggangnya, "Kau takkan bisa mempermainkanku."
"Oh ya?" Jade memutari Kuga dengan langkah ringan. Setelah berada dalam jarak yang cukup dekat,
gadis itu menaikkan tangannya melayangkan sebuah tinju yang dengan mudah ditahan oleh Kuga
hanya dengan satu tangannya.
"Aku tidak akan kalah."
RONDE PERTAMA Eri merasakan perkataan itu tepat menusuk hatinya.
"Aku tidak ingin melihatnya," kalimat itu dikatakan Sky dengan mantap, tanpa sedikitpun
keraguan, bahkan terhadap John Alexander.
Eri memutar badannya, berbalik hingga punggungnya menempel di dinding samping pintu
masuk kantor John Alexander. Pintu itu sedikit terbuka, menampakkan sosok Sky sedang
berdebat dengan ayahnya. Hal iini sangat tidak menyenangkan bagi Eri. Sama tidak
menyenangkannya dengan keberadaan seorang para Pangeran Maximus yang setiap hari
mengawasinya, menguntut kemana pun dia pergi.
"Dia tidak pantas berada di sini," Sky mengetukkan jarinya ke atas meja John Alexander,
"Kau tahu itu."
"Aku menyuruhmu melindunginya. Bukan menyuruhnya pergi. Bahkan kalau pun itu ke
tempat Dee, ibumu." "Dia lebih pantas berada di butik Dee ketimbang di sini," Sky mengeraskan nada bicaranya.
Eri mulai tidak menyukai kata "dia" yang diperuntukkan kepadanya. Eri berusaha melihat John
Alexander dari tempatnya berdiri, dan tidak berhasil.
"Jadi kau berniat menentangku?"
"Kau selalu menyuruhku untuk melakukan segala kehendakmu, " Sky menghela napas, "Aku
tidak bisa menjaganya dari Kuga Kyouhei."
"Kau bisa, jika kau mau." John berkata.
"Mengapa bukan kau yang menjaganya" Dengan tidak menerima permintaan Kuga" Atau?"
"Kau tahu aku terikat perjanjian itu," John Alexander menyela, "Perjanjian itu benar-benar
melemahkan aku. Aku tidak mungkin lagi menolaknya, terlebih jika Kuga mengancam akan
mengatakan semua ini kepada Aryan. Kau tahu bagaimana dia... dengan sifatnya yang suka
berperang, Aryan akan dengan senang hati membantu Kuga Kyouhei menghancurkan kita."
"Jadi karena itu kau memilih dia. Memilih Eri. Karena dia bukan anakmu" Karena dengan
menyerahkannya kau akan tetap memiliki Jade di sisimu..."
John Alexander terdiam. "Kau adalah pria paling brengsek di dunia ini, ayah..."Sky menekankan kalimatnya tepat
pada kata "ayah" yang di benci John. Tahu kalau ketua klan Maximus itu sangat terganggu
dengan sebutan yang menurutnya tak pantas itu. Eri menelengkan kepalanya tepat ketika John
Alexander bangkit dari kursi, dan dengan satu gerakan cepat melayangkan tinju ke bagian perut
Sky, membuat pria itu menekankan kedua tangannya di perut, menahan sakit tanpa suara. Sky
menatap ayahnya, penuh kebencian, kemudian dari bibir pria itu, Eri dapat mendengar kalimat
yang membuat dunianya runtuh.
"Aku tidak ingin dia berada di dekatku."
Eri menyilangkan kedua tangannya, memeluk dadanya yang mendadak menggigil.
Kenyataan ini benar-benar menyiksanya. John Alexander menyerahkannya pada Kuga Kyouhei
karena dia bukan anak kandungnya, ini menyakitkannya. Dan kenyataan yang lebih pahit adalah,
dia berdiri di sana, mendengarkan semua perkataan yang memperdebatkan nasibnya, seakan dia
adalah seseorang yang tak pantas dipertahankan.
Bagaimana mungkin ini dapat terjadi"
Eri menelengkan wajahnya sekali lagi, melihat laki-laki yang dicintai Eri sepenuh hati itu
menatap garang ke arah ayahnya. Dan sekali lagi hatinya tertusuk. Perasaan itu membuatnya
memiliki kekuatan untuk melarikan diri dari semua pengawalan klan Maximus.
*** Sky mengepalkan kedua tangannya hingga menampakkan urat-urat ditangannya. Rahangnya
mengeras ketika pandangannya beradu dengan ayahnya. John Alexander berputar kembali
sehingga memunggungi Sky. Wajahnya setengah menunduk saat berkata, "Kau tak tahu apa-apa
tentang aku." Sky membuang muka. Mendadak pikirannya dipenuhi rasa muak.
"Aku tidak pernah bisa mencintai seorang wanita seperti aku mencintai Yudiasari," John
berkata dingin, "Aku tak mungkin mengkhianati wanita yang paling kucintai dengan
menyerahkan Jade, atau bahkan Eri kepada Kuga."
Sky merasakan wajahnya memanas. Setengah hatinya tidak dapat menerima hal ini.
"Kau tahu mengapa aku menyayangi Rosita" Rosi sangat mirip Yudia, lincah, namun
anggun. Aku menganggapnya hampir seperti putri Yudia. Sekarang aku menemukan dua anak
perempuan itu, bagaimana mungkin aku akan melepaskan mereka begitu saja?"
John Alexander berbalik, untuk pertama kalinya Sky melihat kelemahan di dalam sorot mata
ayahnya yang biasanya sekeras batu. Sky menunduk, sudut-sudutnya bergetar, "Apakah kau
lupa" Aku juga seorang lelaki," dia berkata lambat, "Bagaimana jika aku jatuh cinta
kepadanya?" "Hanya ada satu jalan, kau tahu itu..." John berkata tenang, "Rebut dia kembali."
Sorot terkejut terlihat di mata Sky. Namun penerus klan Maximus itu belum sempat
mendebat perkataan ayahnya, ketika seorang pengawal berlari menerobos ruangan sambil
berteriak ngeri penuh kepanikan. Mendengar nama Eri disebut, Sky langsung menyambar
jaketnya dan memacu langkahnya menuju mobil tanpa dapat berpikir lagi.
*** Mengapa aku harus mencintainya"
Eri mengusap kedua pipinya dengan punggung tangannya, merasakan hangaat air matanya
mulai bercampur dengan tetesan air hujan yang membasahi dunianya dengan ganas. Eri tidak
pernah merasakan harga dirinya terluka separah itu, namun dia juga tak menyangka jika
ankhirnya dia akan merasakan cinta yang rumit.
Sky. Dia mencintai pria bermata biru itu.
Pria yang jelas-jelas ingin mengusirnya.
Namun Eri tidak akan membiarkan Sky melakukannya. Dia akan pergi sendiri. Eri telah
berhasil mengelabui pria pengawalnya, dan dia cukup yakin dia akan dapat melarikan diri dari
Maximus. Namun, ke manakah aku akan pergi"
Eri menepis keinginannya pergi ke Bali. Itu adalah tempat pertama yang akan di datangi
Maximus. Lalu kemana dia akan pergi" Dalam kebingungannya, gadis itu akhirnya berhenti di
teras sebuah toko, menggigil sambil menatap hujan. Saat itulah, ia melihat sekelompok orang
yang sedang berkumpul di seberangnya. Sosok-sosok asing yang memberikan pandangan aneh
kepadanya. Saat itulah, Eri sadar, dia masih bagian dari klan Maximus, dan lepas dari
perlindungan Maximus bisa jadi merupakan sebuah masalah baginya.
Gadis itu menggosok-gosokkan kedua tangannya, berpura-pura tidak mengetahui keberadaan
gerombolan asing itu. Dia mengambil jalan pintas menuju salah satu toko buku favoritnya di
ujun jalan, berseberangan dengan alun-alun di tengah kota. Eri baru saja menarik napas lega,
mengambil beberapa buku dan mencari kenyamanan dalam kehangatan interior toko yang
didominasi warna merah. Satu-satunya pintu masuk terbuat dari kaca, dan dipasangi lonceng,
sehingga mengeluarkan bunyi berdenting setiap kali orang masuk atau pun keluar.


My Lovely Gangster Karya Putu Felisia di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tidak banyak orang berkunjung ke tempat ini. Eri menyukai kesunyian. Atmosfer yang
tenang dan bersahabat. Eri benar-benar memerlukannya. Eri mengambil sebuah novel sebelum
beranjak ke meja kasir. Dia ingin menikmati dunia dalam buku-buku itu di sebuah tempat yang
sejuk dan tenang. Seorang pemuda berdiri di meja kasir, tersenyum manis saat Eri menyerahkan buku-buku
dari tangannya. Eri mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, menyerahkannya pada si pemuda
dengan tergesa. "Mau disampul, Non?" pemuda itu berkata ramah. Eri mengangguk sambil celingukan.
Pemuda itu kembali menyinggungkan senyuman, "Buru-buru sekali... Anda Nona Erika Valerie,
bukan" Jujur, Anda lebih cantik dari yang saya lihat di teve."
"Makasih." Eri melihat pemuda itu mukai memutarkan pasta gigi di atas sampul buku
sebelum menempelkan plastik bening di atasnya. Eri baru sadar pemuda itu berusia tak jauh
darinya. Gayanya menyampul dan memasukkan buku ke dalam kantong belanja sungguh
cekatan. "Sudah selesai," pemuda itu meletakkan kantong kertas ituke atas meja, "Ngomongngomong, saya adalah fans berat Nona.. boleh minta tanda tangannya?" pemuda itu
menunjukkan sebuah notes ke hadapan Eri, "Tulis saja buat Angga."
Eri memaksakan senyuman di wajahnya, menulis seadanya dalam notes Angga"pemuda itu.
Dengan ramah Angga memasukkan beberapa kupon belanja gratis ke dalam kantong kertas Eri,
"Datang lagi, ya..."
Eri tersenyum. Suara berdenting kembali terdengar dari pintu. Ada pengunjung lain datang
ke sana. Eri menyambar kantong itu dari Angga...
Tepat pada saat pemuda itu jatuh tersungkur oleh sebuah pukulan.
Eri terkejut dan tidak sempat memerhatikan, saat seseorang merengut lengannya, menariknya
dengan kasar ke dada orang itu, sehingga Eri tidak dapa bergerak.
Kejadian berupat dengan cepat setelah itu"Angga si pemuda toko buku tergeletak di lantai,
bahkan tidak berani bersuara. Eri merasakan dirinya diseret menuju sebuah GrandMax hitam
yang tak jauh dari sana, dihempaskan ke jok belakang bersama dua orang lelaki dan satu wanita
bertampang jahat. Kesadaran itu seketika menghantamnya bertubi-tubi. Menohoknya dengan
keras, bahkan lebih menyakitkan daripada fakta kalau dia telah diculik.
*** Eri baru menyadari, semua perkataan John Alexander benar adanya saat GrandMax itu
berjalan semakin menjauhi kota. Dua orang lelaki itu mengapitnya erat, namun mereka cukup
meremehkan Eri sehingga bahkan tidak berniat mengikatnya. Eri sudah melihat adegan seperti
ini beratus-ratus kali dalam cerita film. Tahu kalau nyaris tak ada peluang untuk lari. Gadis itu
memutar otaknya. Dia selalu bisa melarikan diri. Harus bisa.
Otaknya semakin sibuk mencari, saat wanita di sebelahnya menerima telepon, kemudian
beranjak ke kursi depan. Mereka pastilah orang-orang yang amat berbahaya. Siapa mereka" Eri
belum sempat memikirnnya ketika mendadak dia melihat garis cahaya tipis menerobos masuk ke
matanya. Dia menemukan celah itu, hanya sedetik sebelum seseorang yang tidak dikenalnya
masuk ke dalam mobil. Eri memajukan tubuhnya tepat ketika orang itu naik ke dalam mobil,
menembus celah sempit yang terbentuk di antara mobil dan badan orang itu. Tubuhnya
menghantam aspal dengan keras, namun Eri tidak membiarkan rasa sakit mengendalikannya. Dia
menegakkan tubuhnya dengan cepat, berlari menyeret langkahnya. Malam telah sepenuhnya
turun ketika Eri mendekati kawasan sepi di pinggiran kota. Tempat yang sangat bueuk untuk
melarikan diri. Di sekeliling Eri hanyalah gudang dan pertokoan yang lama tamat riwayatnya.
Ini tidak bagus. Eri mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk melihat keadaan sekelilingnya. Tidak ada
orang. Hujan masih saja turun dengan ganas. Eri melihat robekan besar di lengan bajunya.
Memar-memar mulai membengkak. Untuk kesekian kalinya, Eri ingin menangis. Dia tidak
menginginkan kehidupan seperti ini. Dia tidak ingin menjadi bagian dari Maximus, tidak ingin
menjadi alat balas dendam Kuga Kyouhei, dan terlebih lagi... di tidak ingin menyerahkan hatinya
pada Sky. Eri menutup telinganya, mendadak dikejutkan oleh dua bunyi mencicit yang sangat tajam.
Beberapa mobil tepat mendekatinya. Mata Eri dibutakan silau cahaya, tidak mampu melihat
orang-orang di dalam mobil-mobil tersebut. Eri menyipitkan matanya, melihat sebuah GrandMax
dan sebuah mobil lain berada tepat di sekelilingnya. Menjebaknya di tengah kegelapan.
Mereka ada di sana. *** Hanya ada satu jalan... Rebut dia kembali...
Sky memukul setirnya dengan murka, mencoba menepis perkataan John Alexander itu dari
kepalanya. Satu jalan... Dia tidak mungkin melakukan itu. Tapi mengapa dia menjalankan mobilnya seperti orang
gila menyusuri hampir seisi kota untuk mencarinya"
Benar, aku menginginkan gadis itu.
Sky memutar setirnya, merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat hanya dengan
membayangkan gadis itu. Kalau ingin menuruti kata hatinya, dia akan memeluknya,
merengkuhnya, menjadikan gadis itu sebagai miliknya, bahkan sebelum Erika Valerie diklaim
oleh Kuga. Mengapa dia harus mengalaminya lagi" Kejadian itu terlalu buruk untuk dikenang. Masa
high school yang urakan di negeri sakura. Kebiasaan-kebiasaannya bertarung, namuri
persaingannya terhadap kakak-beradik Kuga, juga... Isabella. Isabella Chiba. Gadis manis yang
kerap kali hadir di sisinya, menemani kesepiannya... Hingga kecelakaan maut saat mobilnya
menabrak pembatas jalan, terguling menuju jurang curam di bawahnya.
Isabella menghilang dalam kobaran api yang menelan mobilnya.
Saat itu dia mulai bermusuhan dengan Kuga Kyouhei.
Ini tidak boleh terjadi...
Sky menekan rem mobilnya dengan keras, melihat sebuah GrandMax melaju dengan
kecepatan tidak wajar. Mobil itu ngebut di kawasan yang amat sepi. Sky memutar setirnya
hingga Jaguarnya teoat mengikuti mobil di depannya. Mobil itu berhenti beberapa meter di
depannya. Beberapa orang keluar sambil membawa tongkat pemukul bisbol. Mereka semua
berenam. Sebuah geng jalanan gila yang menyukai uang dan pertempuran. Pimpinannya
bernama Sakka, salah seorang musuhnya. Sky tidak menyukai mereka. Terlebih lagi, tidak akan
pernah menyukai apa yang mereka coba lakukan kepada gadis yang menjadi sasaran mereka.
Aku akan membunuh mereka...
*** "Apa yang kalian inginkan dariku?" Eri berteriak, menggigil. Tawa keras keenam orang itu
memberi jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tak tahu berapa hargamu, manis..." seseorang berceloteh riang, "Mereka akan
membayarmu dengan sangat mahal."
"Menjauhlah dariku!"
Seseorang dari mereka mendekati Eri. Eri dapat melihat bekas luka sangat besar melintang
dari pelipis hingga pipinya. Orang itu amat mengerikan. Dengan kasar, dia merenggut Eri, dan
menamparnya. Pipi Eri terasa perih saat orang itu berteriak kepadanya, "Itu karena kau mencoba
melarikan diri!" dia menekan kedua pipi Eri hingga mengeluarkan darah. Ini sangat
menyakitkan. Belum pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
Orang itu melotot, bola matanya nyaris keluar dari rongganya. Dia berkata berang, "Kau
akan membayarnya!" "Bagaimana kalau kalian saja?" Sebuah suara menyahut gusar dari kegelapan. Eri
menelengkan kepala, melihat sosok Sky keluar dari bayang-bayang. Sorot mata itu jelas penuh
amarah. Orang itu melepaskan tangannya dari ppipi Eri, menghempaskan gadis itu ke atas aspal. Dia
beranjak mendekati Sky yang berdiri dengan tegap.
"Wah, Tuan Muda sudah mulai turun gunung rupanya..." nada sindiran tersirat dari
ucapannya, "Rupanya gadis ini memang berharga sangat mahal."
Sky menjawab kalimat orang itu dengan sebuah pukulan keras ke rahangnya. Tanpa berkata
apa-apa, dia menghampiri Eri dan menarik tangannya. Sky menyeret Eri di belakangnya,
membuka pintu Jaguarnya, lalu mendorongnya masuk ke dalam.
"Tunggu di sini!" perintahnya galak. Sky berbalik, sedetik sebelum memutar badannya dan
menunjuk Eri, "Apa pun yang terjadi jangan keluar dan jangan melihat..." Sky menjatuhkan
tatapannya kepada Eri. Tidak lama. Hanya sedetik. Namun sengatan listrik mengalir dalam darah
Eri. Tatapannya selembut bisikan malam...
Sky kembali pada geng jalanan itu. Eri mengkeret di tempat, namun matanya menolak
perintah untuk tidak melihat. Eri melihat semua gerakan Sky. Kaki dan tangannya yang terlatih
untuk bertarung... Inikah pria yang dicintainya" Eri menutup mulut dengan kedua tangannya,
menahan jeritan yang ingin keluar dari mulutnya.
Sky menyambar lengan seseorang di dekatnya, merebut sebuah tongkat bisbol dan
menggunakannya sebagai senjata. Dengan mudah dia mematahkan tangan itu, mengarahkan
tongkat itu ke kepala pria yang menyerangnya dari belakang. Belati tajam pria itu sempat
menyambar rambut Sky, membuat ikatan rambutnya terburai.
Eri melihat rambut itu mulai berjatuhan ke wajahnya, tepat di saat Eri melihat sorot mara
buas yang tidak dikenalinya itu, sky menghantam lututnya ke ulu hati seorang penyerangm
membuatnya terkapar. Namun Sky belum puas. Dia mempertajam serangannya dengan pukulan-
pukulan mematikan, mengayunkan tongkat bisbol di tangannya tanpa perasaan, hanya memberi
dua pilihan pada geng jalanan itu, Instalasi Gawat Darurat, atau kamar mayat.
Wanita dari gerombolan itu adalah orang yang terakhir yang terjatuh berdarah-darah
menghantam kerasnya tanah.
Dan di situlah Eri melihat Sky, di antara percikan darah dan tubuh-tubuh berserakan di
bawah kakinya. RIVAL TOKYO, musim semi. Sebelas tahun yang lalu...
"Jadi kau adalah gaijin yang menjadi penerus Maximus?" pemuda itu memandang Sky
dengan angkuh. Mata elangnya berputar meremehkan, kedua tangannya berlipat menunjukkan
betapa dirinya sangat berkuasa. Sky benci mengakui betapa Kuga Kyouhei terlihat dominan dan
cemerlang di bawah sejuknya cahaya matahari musim semi. Berbeda dengannya, yang lemah di
bawah tirani Maximus. "Kau Tsu-kai-san, bukan?" Kuga Kyouhei tersenyum mengejek, "Aku adalah Kuga
Kyouhei." "Aku tahu dirimu..."jawab Sky datar.
"Benar-benar angkuh. Aku tahu apa yang terjadi kemarin."
"Lalu?" Sky mengarahkan pandangannya kepada Kuga. Namun pemuda itu masih tetap
tersenyum di depannya. "Kau seorang diri menembus wilayahku," Kuga berkada dengan nada memuji, namun
perkataan itu terasa panas di telinga Sky, "Kau pantas menjadi penerus Maximus."
Sky membuang muka, muak. Selamanya dia tidak akan mau menjadi penerus. Kalu saja
mereka tidak memaksanya, mencekokinya dengan segala siksaan dan racun itu... narkoba yang
mmebuatnya sengsara, menyesakkan hari-hari hingga dia menyerah. Dia tidak akan pernah
bersedia melakukan itu. Menjadi seorang penerus benar-benar menyakitinya.
Sky membenci segala hal yang berkaitan dengan klan. Juga pengiriman dirinya ke Jepang...
Kamp-kamp penuh siksaan militer itu...
Semua itu hanya akan mengubahnya menjadi orang paling brengsek.
"Aku ingin bertaruh denganmu," Kuga bediri di samping Sky, menunjuk seorang gadis yang
sedang membaca buku di sebuah bangku taman, "Isabella Chiba."
Gadis itu cantik. Sky melihat rambutnya yang ikal disasak seperti Marie Antoinette, ratu
Prancis di zaman revolusi. Kedua matanya bulat dan besar. Sejujurnya, Sky tidak ingin mengejar
gadis itu. Perasaannya masih sangat kacau, dan pikirannya masih dipenuhi asap mariyuana. Dia
tidak sadar sepenuhnya. Keputusasaan membuatnya buta. Nalurinya tidak dapat membedakan baik dan buruk,
otaknya tidak dapat berpikir. Saat itu juga akhirnya dia mendekati Isabella, menggoda dan
merayunya dengan segala pesona.
Dan memang faktanya, dalam sekejap, Isabella jatuh ke tangannya. Bukan karena sesuatu
yang sangat membanggakan namun hanya karena ketertarikan fisik semata. Dia merasa sangat
tidak berarti. Hampa. Perasaan inilah yang mengendalikannya saat ia menerima tawaran Kuga di
arena balap. Kecerobohannya mengemudi di bawah kendali alkohol mempertaruhkan nyawa
seseorang yang sangat ia cintai. Dia adalah Isabella Chiba.
Saat itulah dia merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Sesuatu yang sangat berharga
baginya, dan bersumpah akan menjauhi kegelapan dunia mafia. Termasuk cinta.
Sayangnya, kini, dia tidak berhasil melakukannya, karena perlahan getaran hangat iitu
semakin menghangatkan jiwanya yang gelap.
*** Eri menggigil ketika Sky mengoleskan obat ke lengannya yang terluka. Di sini terlalu
hening. Perumahan mewah di kawasan Kelapa Gading itu sama sekali tidak memikatnya. Rumah
itu sama seperti Sky, elegan memukau... denga pilar-pilar besar bergaya Yunani, pemandangan
langsung ke arah pantai, dekorasi bernuansa Eropa modern termasuk sisi ranjang berukir rumit
dan sofa beledu. Memukau, namun tak terjangkau.
Eri duduk di atas ranjang bersprei katun halus. Sedangkan Sky dudul di bangku kayu di
sebelahnya. Berkonsentrasi dengan kotak P3K yang ditaruhnya di sebelah Eri. Mendadak, dia
sama sekali tidak mengenal pria itu. Sky tampak seperti berkepribadian ganda. Sky yang keras
kini menjadi sangat perhatian.
Sky kini berada tepat di dekatnya. Dengan wajah yang sama, getaran yang sama... namun Eri
merasakan kedamaian dalam tatapannya.
"Apa yang kau lakukan pada orang-orang itu?" suara Eri bergetar. Sky meletakkan tangan
Eri ke pangkuannya. Dia memutar matanya sebelum berkata, "Memberi mereka pelajaran."
"Haruskan dengan cara itu?"
"Mereka mencoba menculikmu."
Eri menggigit bibir bawahnya. Benci mengakui kalau Sky sepenuhnya benar.
"Jangan melakukan hal itu lagi."
"Mengapa?" Eri mengangkat tangannya, "Bukankah sebenarnya kau gembira" Bukankah kau
yang inin aku pergi?" wajah Eri perlahan mengeras, mengeluarkan perkataan yang sedari tadi
ditahannya, "Mengapa kau membenciku?"
Ekspresi Sky tiba-tiba berubah, namun segera dingin kembali. Ia tediam beberapa saat. Otot
di lengannya yang mengepal tampak membiru. Sky kemudian menjawab acuh, "Aku tidak
membencimu... semua orang di Maximus tak mungkin membencimu. Kau tahu, John Alexander
paling menyayangi anak gadisnya. Itu sebabnya mereka menyebutmu Mawar Maximus..."
Eri menghela napas. Lukanya semakin terasa perih.
"Sepertinya sekarang aku mulai menyadari sesuatu," kata Eri pelan, "Kehadiranku sekarang,
sikap semua orang... itu bukanlah karena John Alexander menyayangiku.dia memang
menyayangi anak gadisnya. Tapi"bukan aku. Aku hanya kebetulan datang, saat syarat Kuga
Kyouhei diajukan. Suatu kebetulan, bukan" John bisa menyerahkan aku, dan membuat anak
gadisnya sendiri aman bersamanya."
"Kau mendengar semuanya?" Sky terdengar agak tersinggung. Dia menutup kotak P3K itu,
sebelum menjatuhkan pandangan menuduh kepada Eri, "Rupanya kau juga punya hobi
menguping." "Menurutku itu tidak lebih buruk daripada bicarakan nasib seseorang dan menentukan hidup
mereka seenaknya." "Lalu apa yang kau inginkan?"
Eri mencondongkan tubuhnya untuk berbisik dengan kasar, "Kau tidak mungkin tertarik
mendengarnya. Keinginanku bukanlah prioritas utama di sini, terutama bagi cowok egois
sepertimu..." Eri bangkut, dengan cepat melangkaj ke depan pintu dan membukanya, "Kau tidak
perlu mengantarku..." tubuh mungilnya menyelinap dengan mudah di celah pintu. Sky dapat
mendengar perkataan Eri saat itu.
"Tidak usah menolongku lagi."
*** Sky memasuki Maximilian Lounge di dalam klun The Don Juan milik ayahnya. Cahaya
remang-remang memenuhi ruangan yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak John Alexander.
Ruangan itu luas. Temboknya berlapis karpet berwarna merah dan hitam, warna yang sama
dengan permadani di atas lantai. Sebuah TV plasma berukuran besar tampak memenuhi salah
satu dinding, lengkap dengan peralatan Home Theatre. Di depannya terdapat sebuah sofa kulit
panjang berwarna hitam dan meja kaca panjang. Di sisi lain ruangn terdapat beberapa macam
permainan, papan dart, meja biliar, dan sebuah meja untuk bermain kartu. Sedang di sisi lain,
terdapat sebuah mini bar, lengkap denga segala macam minuman bermerek.
Sky membuka jaketnya dan menaruhnya sembarangan di atas sofa. Merasa ada sesuatu yang
tidak biasa di sana. Adiknya, Jade Judy, berdiri mendampingi Andhika Prasetya di meja biliar
sementara cowok itu mendorong bola dengan stik biliar. Sesuatu yang sangat tak biasa... ia
melihat Darius ikut bergabung di meja biliar, dan Hayden memamerkan cengiran lebar dari mini
bar. Sky duduk di kursi samping Hayden. Hayden menyulut sebatang rokok, mengepulkan asap
dari mulutnya. Sky menarik tangan Hayden, mengambil rokoknya, lalu menggencetkannya
keras-keras ke atas asbak, "Menghindarkanmu dari kanker paru-paru," katanya pelan. Hayden
tersenyum sarkastis, mengingat bagaimana adiknya itu dulu jauh lebih parah darinya.
Hayden beranjak dari tempatnya berdiri, membuka sebotol bir, dan menuangkan isinya ke
dalam gelas, "Jadi bagaimana?" ia berkata dengan nada menantang.
"Apa?" "Erika Valerie."
Sky ikut mengambil sebotol bir, langsung menenggaknya hingga habis, "Kau menilai
pengendalian diriku terlalu tinggi..."
"Setelah semua hal itu" Tidak terjadi apa-apa?" Hayden melengos tak sanar, "Aku kecewa..."
Dari sofa, Jade menjulurkan leher, ingintahu apa yang sedang terjadi.
Hayden tertawa, "Kupikir kalian berdua sudah jadain."
"Aku tidak?" "Tak usah berbohong," potong Hayden, "Bagiku kau adalah pembohong yang amat buruk."
"Apa maksudmu dengan Erika Valerie?" Jade terlonja menuju sebelah kursi sebelah Sky,
"Ada sesuatu yang kulewatkan?"
"Hey!" Sky tampak tersinggung, "Tolong urusi saja urusanmu di sana!" ia menunjuk
Andhika. "Andhika tidak sebebal dirimu!" Jade tertawa renyah, memandang Andhikan yang sedang
menekuni bola-bola di atas meja biliar.
"Menjadi penerus klan mafia bukan berarti tak boleh jatuh cinta." Hayden melanjutkan, "Kita
semua manusia biasa."


My Lovely Gangster Karya Putu Felisia di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau dia sudah berada di sisiku, dia tidak akan bisa pergi, walaupun dia sendiri
menginginkannya," Sky menghela napas berat, "Aku tidak bisa melakukan itu padanya."
"Kau bukan lagi pria brengsek itu," Hayden menepuk pundak Sky, "Kau tahu itu. Jagoan
jalanan pemadat itu telah lama punah."
"Aku bersalah pada Isabella."
"Dengarkan aku," Hayden menyela, "Isabella bukan Erika. Eri tidak akan mau melakukan
hal-hal yang dikehendaki Isabella. Kau harus tahu... dua orang wanita bisa saja memberimu
perasaan berbeda." Sky mengingat gejolak dalam dirinya ketika bersama Isabella. Dia menyukai gadis itu.
Namun getaran itu sama sekali tidak ada dalam nadinya. Seolah dia menjadikan Isabella hanya
sebagai objek obsesi. Lalu bagaimana dengan Eri"
Sky merasakan jantungnya diremas saat menyebut nama itu.
"Aku tidak bisa melakukan ini kepadanya."
"Dan kau akan membiarkan Kuga Kyouhei melakukannya?"
Kedua alis Sky bertaut. "Kau lebih tahu, dia itu seperti apa..."
Seperti apa... Sky menyentuh dahinya. Tentu saja aku tahu... "Kalau aku bersama Eri, Kuga
akan lebih mengganggunya," Sky berkilah, "Sejak dulu dia menganggap bersaing denganku
adalah permainan yang mengasyikkan..."
"Kalau kau tetap mengingkari perasaanmu, kau akan melihat pesta pertunangan mereka
sebentar lagi..." Sky tersentak. Perkataan Hayden membuyarkan lamunannya, membuatnya seolah tersengat
listrik bermuatan sepuluh ribu volt, "Apa maksudmu?"
Hayden menggeleng-gelengkan kepala, "John Alexander sudah menerima pertunangan itu."
DIA YANG MENENTUKANNYA Eri melihat Jade tampil agak feminim malam itu. Tank-top hitamnya berpadu manis dengan rok
pendek ketat bermotif tentara. Sementara rambutnya diberi bando ber-glitter keemasan. Ia
memoles sedikit beda dan lip gloss berwarna oranye. Jade memandang gadis cantik di depan
cermin. Posturnya khas Maximus, indah, berlekuk sempurna di tempat yang tempat. Mata
topaznya tertutup bulu matanya luar biasa lentik, sementara bibirnya penuh dan menawan.
Eri memperhatikan penampilannya sendiri. Kaus Sabrina dengan rok lipit benar-benar
membuatnya seperti anak sekolahan. Terlalu biasa. Namun Eri sama sekali tidak tertarik untuk
berpenampilan lebih spesial. Perdebatannya dengan Sky membuatnya amat frustasi. Dia matimatian menghindari pertemuan dengan pria itu. Tidak ingin perasaannya semakin hancur lebur.
Rumah dan kampus adalah tempat teraman baginya. Dia tidak ingin pergi ke tempat lain. Kalau
saja Jade tidak memaksanya ikut malam ini, dia akan segera bersembunyi di balik selimut,
melakukan hibernasi hingga jiwanya tenang.
Eri tersenyum, Jade bahkan rela memakai hak tinggi demi mempercantik dirinya saat
bertemu Andhika. "Cantik sekali..." Eri berkata tulus, "Andhika pasti terkesan melihatnya."
"Makasih..." "Seharusnya aku tidak ikut pergi."
"Aku tahu," Jade mengambil cardigan rajut dan mengenakannya, "Tapi aku tak ingin kau
bersedih terus..." Eri menghela napas panjang, melihat pandangan optimis dari Jade.
"Aku akan menjagamu. Aku berjanji..." Jade mengacungkan kedua jempolnya, "Semangat,
ya!" Eri tersenyum miring. Andhika dan Darius datang tak lama kemudian. Seperti dugaan Eri, Andhika terkesima
melihat penampilan Jade sebelum mengecup dahinya. Kedua orang itu membawa Jade bersama
Eri ke lounge dalam klab The Don Juan.
"Bersantailah sejenak," Darius berkata sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Eri.
Mereka tiba jam dua belas lewat dua puluh menit. Namun lounge itu hampir sesak oleh
manusia. Asap rokok bertebaran di mana-mana. Gadis-gadis ABG berseliweran dengan gaungaun mini dan seksi. Sedangkan pemudanya terlihat mencolok dengan dandanan seperti itu. Ini
adalah dunia gemerlap. Baru kali ini Eri mengalaminya. Melihat kerlap-kerlip lampu warnawarni bergantian menyinari orang-orang di lantai dansa. Sementara telinganya disesaki dengan
sekumpulan musik R&B.
Baru saja Eri beranjak, saat sorot matanya bertabrakan dengan seorang pria tampan yang
sedang di depan bar. Kuga Kyouhei. Hanya ditemani Radit, tanpa anak buahnya yang lain.
Mungkin ia sungkan ,emgajak anak buahnya ke kafe, yang notabene adalah milik Maximus.
Tampak binaran kecil usil di matanya saat melihat Jade, kemudian wajahnya berubah masam
waktu melihat Eri di belakang Jade, "Apa kemana-mana kamu harus dikawal?" sindirnya. Muka
Eri langsung memerah mendengarnya, namun, Darius dan Jade seolah tak peduli.
"Bagaimana kau dapat menikmati kebebasanmu jika harus terus-menerus ditemani baby
sitter?" Kuga mengulurkan tangannya kepada Eri, "Berdansalah denganku."
"Kau keberatan?" Jade lebih dulu menyambut uluran tangan itu, mengabaikan pandangan tak
senang dari Andhika. Ia tidak ingin melanggar janjinya untuk menjaga Eri.
"Satu lagu saja." Jade berkata menantang. Eri beringsut dari tempatnya berdiri, ingin
menyepi di satu sudut. Dari ekor matanya dia melihat Kuga tak menolak ajakan Jade. Pria itu
menarik tangan Jade halus sekali, membimbingnya menuju lantai dansa yang tak terlalu banyak
pengunjung. Kedua orang itu larut dalam musik yang berdentum-dentum.
Eri berjalan lambat mendekati sebuah meja bundar kecil yang terletak di sudut. Darius
sedang bercanda dengan gadis berpakaian ala Harajuku. Gadis itu langsung cemberut saat Darius
mendaratkan ciuman jauh kepadanya sebagai tanda perpisahan, lalu beralih melihat Eri.
Darius mengulurkan segelas cocktail ke tangan Eri. Aroma stroberi dan apel menguar
menggelitik hidung Eri. Ia menyesapnya sedikit, lalu memalingkan wajah ke Darius. Cowok itu
tersenyum, memamerkan giginya yang panjang-panjang.
"Betah?" tanyanya.
Eri menggeleng. "Pantas saja dia tertarik sama lo," Darius tergelak, "Kalian berdua sama-sama ngebosenin."
"Maksudmu siapa?"
Darius angkat bahu. Setelah itu mulai menikmati musik dengan menggeleng-gelengkan
kepala, "Mengapa aku harus ikut dalam permainan kalian" Mengapa Kuga menginginkan aku?"
"Tanya saja sama Kuga..." Darius menunjuk, "Makanya lain kali kalo mau nodong orang
liat-liat dulu!" Eri berpaling, melihat arah yang ditunjuk Darius. Kuga dan Jade sedang berjalan menuju ke
arahnya. Sontak Eri membuang muka.
"Boleh kupinjam partnermu ini?" Kuga bertanya. Sikapnya yang sopan memaksa Darius
mengangguk dan mengiyakan. Kuga kembali pada Jade lalu berkata, "Keberatan?"
Jade menggeleng. Ia menyambut uluran tangan Darius, dan kembali turun ke lantai dansa.
"Shall we dance?"
"No!" Eri berkata galak, menepis tangan Kuga dengan kasar. Kurang ajar betul orang ini! Eri
melirik Kuga dari sudut matanya. Penampilannya semenawan biasanya. Sejak mengetahui Kuga
adalah ketua klan Yakuza, baru kali ini Eri melihatnya berpenampilan lebih santai. Meskipun
sikap mengejeknya tak pernah berubah.
"Sejak kapan aku berutang padamu?" Eri berkata dengan nada menuduh. Kuga hanya
memamerkan senyum tanggungnya. Eri menggertakkan gigi. Gemas. Entah mengapa kehadiran
kuga di sampingnya sedikit mengingatkan Eri kepada Sky. Sky yang anggun, Kuga yang tegas.
Ada beberapa kemiripan antara mereka berdua, mungkin dikarenakan keduanya adalah penerus
dan ketua klan mafia. Sky... kenapa begitu sulit melupakannya" Seharusnya sejak lama ia mencegah hatinya
menyerah diri kepada laki-laki itu. Mengapa perasaan itu begitu mudah tercurah dan patah" Eri
merasakan kedua pipinya memanas. Seharusnya dia menjauhi pria itu selamanya.
Mata birunya... Pesonanya... Ahhhh rasanya sangat sulit melupakannya, terlebih lagi harus membohongin perasaanya
sendiri... "Kau menangis?" perkataan Kuga membuyarkan lamunan Eri. Tanpa sadar air mata menetes
di pipinya. Konyol. "Cengeng." "Bukan urusanmu."
Kuga tertawa, "Orang yang kau tangisi itu sangat beruntung."
Ucapan Kuga terdengar tulus, Eri hampir memercayainya, tapi ia keburu sadar, orang yang
mengatakan itu adalah ketua Naga Timur Asia.
"Aku akan mencari Jade," sergah Eri. Mengalihkan pembicaraan. Namun Kuga buru-buru
menahannya. Jarinya menunjuk sekelompok anak-anak junkies, "Pernah kecanduan?" katanya
sambil memandang anak-anak junkies itu, sebelum mengalihkan pemandangannya pada Eri,
"Keadaanmu sekarang lebih parah dari mereka."
Eri menunduk. Mungkin Kuga benar. Cintanya kini telah melebihi obsesi. Benar-benar
seperti pemadat. Ia akan layu jika tidaka melihat Sky. Namun sensasi kenyamanan saat berada di
dekat laki-laki itu adalah fatamorgana yang akan kembali membuatnya terpuruk.
"Aku bukan pemakai," kata Eri, nyaris seperti berbohong.
"Pantaskah dia menerima semua ini" Setelah perlakuannya padamu" Setelah ia berkali-kali
membuatmu menangis" Pantaskah?" Kuga melanjutkan bicaranya, telunjuknya mengusap sebutir
air mata di pipi Eri, "Waktu itu kau menangis karena dia, bukan?" tuduhnya.
"Kalau mencintainya membuatmu sakit, lebih baik lupakan saja..." Kuga berkata pelan. Eri
melihat kilauan di mata Kuga, seperti matahari kecil. Eri terlalu sakit untuk mengakui,
kehangatan matahari itu perlahan menenangkan jiwanya.
"Jangan memercayai perkataan Shouji tentang aku," Eri membuang muka, menyembunyikan
semburat merah di pipinya.
"Jadi aku harus percaya kalau kau lebih memilih masuk biara, daripada menggadaikan
keperawananmu kepada bajingan tolol sepertiku?"
Darimana dia tahu hal itu" Eri menggerutu, "Tidak!" Eri mengeluh. Tiba-tiba teringat
obrolannya dengan Jade saat konferensi pers di Bali. Sialan, siapa yang menguping obrolannya,
Eri memaki kesal. "Ayolah... siapa lagi yang bisa membuatmu sedih kalau bukan Sky?" tantang Kuga, "Tidak
ada gunanya menangisi laki-laki seperti dia. Sky tidak akan bisa mencintai seseorang."
"Terima kasih sudah mengingatkan," Eri menyapu air matanya, "Aku memang gadis bodoh.
Terlalu bodoh sampai bisa jatuh cinta kepadanya." Eri melihat Kuga lagi. Wajahnya terlihat
hampa. Heran, mengetahui ia bisa mengakui perasaannya di depan Kuga. Untung saja Kuga saat
itu sedang menghadap meja bar, sehingga tidak melihat wajah Eri yang memerah lagi.
"Chivas Regal," Kuga berkata kepada si bartender, "Dan berikan nona ini gin and tonic."
Eri melotot, "Apa yang kau lakukan?"
"Membantumu melupakannya."
"Tidak mau." "Berdansa, atau minum?"
Penawaran atau pemaksaan" Eri membalas dengan nada menuduh, "Mau membuatku teler?"
Kuga tersenyum tenang, "Kira-kira lebih mudah mana, membuatmu teler dengan alkohol"
Atau memasukkan narkoba ke dalam cocktail-mu?" tantangnya.
"Di sini adalah Maximus... Kalau kau berani macam-macam, kau bisa dikeroyok mereka."
Bartender menaruh gelas bertangkai di depan Kuga, dan sebuah gelas gemuk di hadapan Eri.
Eri memutar gelasnya, melihat sebuah balutan es batu besar ikut berputar di dalamnya.
"Satu gelas saja takkan membuatmu mabuk."
"Oh, ya?" setengah tidak percaya, Eri menghabiskan isi gelasnya. Kuga tampak puas,
sebelum akhirnnya memesan minuman lagi. Eri kembali menyesap minumannya, merasakan
sensasi ringan di kepalanya. Kuga benar, kali ini tiba-tiba dapat dengan mudah melupakan Sky.
Perasaan yang semu. Mungkin karena minuman keras" Atau kehadiran Kuga" Entahlah, Eri diak
memedulikan perasaan itu akan bertahan untuk berapa lama. Karena itu sudah cukup baginya.
Kepala Eri langsung terasa pening saat menghabiskan gelas ketiganya. Badannya terasa
ringan saat Kuga merengkuhnya ke lantai dansa. Untung saja, Eri masih dalam keadaan sadar.
"Katamu tadi tidak akan berdansa," keluh Eri.
"Aku hanya bertanya apa kau mau minum atau berdansa. Aku tidak bilang keberatan kalau
kau mau melakukan keduanya."
Dasar curang! Ia benar-benar dibuat tak berdaya sekarang. Seharusnya tadi dia tidak
mendengarkan ucapan Kuga. Minuman keras sama sekali tidak cocok untuknya. Eri hampir
sesak napas, kepalanya bertambah pusing. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu, namun
tangan Kuga menggenggam tangannya dengan kuat. Eri menghentakkan tangannya, berharap
lepas dari pria itu, namun ia merasa sedang berusaha melepaskan diri dari sebuah belenggu besi.
"Kau marah karena aku bukan dia" Bukan kakakmu yang tampan itu?"Kuga berkata dengan
nada sarkastis. "Aku marah karena kau terlalu kurang ajar." Eri memandang Kuga sebal. Melihat ini, Kuga
merasa geli sendiri. "Sampai kapan kau mau melawanku?" katanya. Kuga menarik Eri lebih
dekat, menyusuri pipi Eri dengan bibirnya, merasakan pipi gadis itu menghangat karena kesal
dan malu. Kuga berkata tepat di samping telinga Eri, "Itu ciuman pertamamu?"
Eri mengomel pelan, memelototi Kuga yang memasang tampang tak berdosa, "Apa kau
sering sembarangan mencium seorang gadis?" katanya garang, "Membuat seorang gadis terbuai
oleh pesonamu" Dan setelah bosan, kau akan membunuhnya" Seperti apa yang kau lakukan pada
Shiori?" Kuga memamerkan senyum datarnya.
"Kau monster!" Kuga hanya memandang Eri sekilas, lalu mulai mengabaikan perkataannya. Ia menoleh
sekilas pada pemain band yang mulai memperlambat hentakan musiknya. Di tengah lampulampu yang mulai meremang, orang-orang saling mendekat, menyatukan diri dengan musik yang
romantis. "Lagu yang bagus," kata Kuga, entah karena ingin mengalihkan pembicaraan atau memang
mengagumi lagunya. Tanpa sengaja, Eri memerhatikan lirik dan irama yang mengalun. Nyari Eri
langsung menciut ketika mengetahui lagu yang dimainkan adalah single dari D"Masic"cinta ini
membunuhku! Seperti kekurangan lagu saja. Mengapa mereka tidak memutar lagu lain" Lagu
Nidji"Hapus Aku, misalnya" Eri benar-benar ingin ada yang menghapusnya saat itu. Tempat itu
benar-benar buruk. Lagu itu semakin membuatnya kehilangan kesabaran...
Kau membuat ku berantakan.
Kau membuat ku tak karuan...
Eri mengerucutkan bibir sambil berusaha menghindari tatapan Kuga di depannya.
"Aku bahkan tidak percaya kalau kau menyukai musik." Katanya menghindar.
Kuga tertawa, "Aku suka mendengarkan lagu. Misalnya saja, "Teman Hati" (kokoro no
tomo)." "Jangan bercanda!"
Eri menelengkan wajahnya ketika Kuga mendekta dan berbisik di telinga Eri, "Bagaimana
jika aku benar-benar menginginkannya?"
Eri merasakan detak jantungnya semakin kacau, dia hanya ingin menghindar dari pira di
depannya itu, "Menginginkan apa" Jade Judy?"
Kuga terlihat marah. Suara rendah dan seraknya kembali berdesir di telinga Eri, "Jade Judy...
kau ingin aku bersamanya?" suara itu kini berubah sedingin es, "Apa kau benar-benar ingin
mati?" "Aku tidak mau mati menderita."
"Terserah kau saja," Kuga berkata dingin. Sesaat meliat kilatan cahaya dari lampu sorot,
menyinari sesosok wanita anggun berambut ikal keperakan sedang menatapnya dengan licik. Ia
langsung mengenali sosok itu. Yuri... Nalurinya membuat Kuga menarik Eri ke arah lain.
Matanya sibuk mencari Jade dan Darius sambil mengawasi Yuri di tempatnya tadi. Kuga
mempercepat langkahnya, melihat pria di dekat Yuri.
Ryuzaki tersenyum manis kepadanya.
Refleks, Kuga menarik Eri berlindung di bahunya. Dia melangkah cepat menuju tempat
kedua orang itu. Namun tempat itu begitu sesak. Di mana dia dapat mencari mereka" Ryuzaki
ada di sana. Itu berarti akan ada sebuah rencana jahat yang mengincaarnya. Kuga meninggalkan
Eri di belakangnya. Ryuzaki masih tersenyum kepadanya sambil mengangkat gelas sampanye.
Kuga mempercepat langkahnya melihat Ryuzaki semakin menjauh darinya. Hentakan musik
semakin bercampur dengan kekacauan di kepalanya.
Setelah kejadian bertahun-tahun lalu yang membuat Ryuzaki terlihat seolah telah mati, namun
Kuga tahu itu tidak benar. Kakaknya memiliki kekuatan dendam yang takkan mudah
membuatnya binasa. Banyak kejadian telah membuktikannya. Namun masalahnya, Ryuzaki
terlalu pandai menyembunyikan diri. Tidak mudah membuatnya keluar. Dan akhirnya, malam
ini, Ryuzaki sengaja memilih muncul di tempat ini. Daerah kekuasaan Maximus. Berbaur dalam
ratusan orang... Kuga telah sampai ke pintu keluar saat bayangan Ryuzaki meninggalkan ruangan itu. Kuga
menyusuri lorong gelap itu de
ngan matanya. Namun Ryuzaki telah menghilang.
Harus ada yang membuatnya muncul kembali, Kuga membatin. Harus ada sesuatu yang
menariknya dari dalam kegelapan. Sesuatu yang cukup membuatnya berminat,memunculkan
diri, dan bertarung langsung melawannya... Sesuatu yang cukup licik untuk melawan kejelian
kakaknya itu. Kuga Ryuzaki... SALAH Eri berkali-kali mengutuki dirinya sendiri. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mengapa ia mau saja
mengikuti ajakan Jade kemari. Sebuah klab malam" Yang benar saja! Seharusnya tadi Eri ngotot
memilih itnggal di rumah. Dia tidak tahan dengan bising di telinganya. Belum lagi rasa pening di
kepalanya yang makin menyiksa.
Kuga Kyouhei brengsek! Dia bahkan tidak terlihat sekarang. Bagaimana caranya Eri akan keluar dari Don Juan" Eri
memeluk tubuhnya sendiri, menghindari seseorang yang hampir menabraknya. Di sini begitu
ramai. Eri tidak menyukai hingar bingar tempat itu. Baginya, minuman keras maupun kehidupan
malan hanya sekedar sampah. Menjerumuskan, tapi tidak menyelesaikan masalah. Dia tidak akan
pernah berpikir mengambil jalan pintas seperti itu. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.
Eri memutar kepalanya untuk mencari keberadaan Jade dan yang lain. Namun saudaranya itu
tidak terlihat batang hidungnya.
Bagus sekali... Seorang pria terhuyung-huyung menghampirinya dalam keadan mabuk berat, nyaris
menyenggol Eri hingga terjatuh. Namun sebuah tangan lebih dulu menarik dan menyangga tubuh
Eri di dadanya yang bidang. Eri memicingkan mata melihat Sky telah berdiri di sebelahnya.
Pandangan pria itu bahkan tidak tertuju kepadanya. Dengan agak kasar, Sky menyeret Eri keluar
dari ruangan itu. Sky mengancingkan jaket kulitnya sebelum menaiki sebuah motor trail yang
diparkir tak jauuh dari sana. "Ambillah," dia menyorongkan sebuah helm pada Eri. Eri


My Lovely Gangster Karya Putu Felisia di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bergeming. Pikirannya mogok kerja total. Dengan ragu-ragu, diraihnya helm putih itu. Dia tidak
akan mampu mengendalikan perasaannya setelah ini. Tapi siapa yang peduli" Dia bahkan tidak
memerhatikan saat kecepatan motor itu mulai naik di atas seratus kilometer per jam. Atau angin
yang menampar tubuhnya dengan keras. Yang dia tahu hanyalah, perasaannya mulai berbicara.
Kehangatan tubuh Sky menghidupkanlagi gejolak dalam dirinya. Ia ingin menghindar, tapi
bukan saat ini. Diam-diam, Eri bersyukur, kondisinya yang setengah mabuk, rasa pusing akibat
alkohol memupus kesadarannya kalau mereka sedang terbang di jalanan beraspal. Ia belum sadar
sepenuhnya, bahkan ketika ia merasa tubuhnya melayang lagi, dan mendarat mulus di sesuatu
yang keras. Kayu. "Di mana ini?" Eri mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan matanya dengan cahaya yang
menyeruak dari kegelapan. Cahaya terang itu bukan berasal dari cahaya bulan. Melainkan
berasal dari lampu-lampu kapal. Eri menyusuri sekelilingnya dengan pandangan mata. Lalu
pandangannya bertemu dengan sosok Sky.
"Aku mau pulang," keluh Eri. Ia bangkit, dan mendapati barisan ombak gelap di seluruh sisi
kapal. Kapal kecil itu telah berlabuh sampai ke tengah laut. Ugh! Ia mengeluh, lalu duduk di
tempatnya tadi. Sky duduk di sampingnya. Suara pria itu terdengar membelah suara desiran ombak.
Terdengar gusar dan jengkel, "Kenapa kau... lagi-lagi... bisa bersama Kuga Kyouhei" Apa kau
menyukainya?" Eri merasakan aliran panas mengalir di dadanya, "Mengapa kau mengajakku pergi?"
"Maaf, aku hanya tak ingin ada yang menyakitimu."
"Makasih banyak..." Eri berkata sarkastis. Semua orang di dekatnya mengatakan hal yang
sama. Hanya sebuah basa-basi sama sekali tak berarti baginya.
Pundak Sky bergetar, terlihat lebih rapuh daripada biasanya, "Seandainya kau bisa
mengerti..." Eri membalas tatapan Sky dengan perasaan gundah.
"Aku ini monster, Eri..." pandangan tersiksa itu kembali terlihaat dalam mata Sky, "Kau tak
akan ingin melihatku saat aku menyakiti dan membunuh... tapi itulah yang kulakukan. Aku dulu
memiliki kehidupan yang lebih baik saat aku belum memasuki dunia ini. Namun lama-kelamaan
aku menyadari bahwa aku adalah orang yang sama seperti mereka. Seperti Kuga Kyouhei..."
Sky teringat perkataan Kuga. Ciuman pertamanya adalah milikku... ia langsung merasakan
sensasi tak nyaman dari perkataan Kuga itu.
"Akulah yang terlalu bodoh untuk menyadari?" Eri memalingkan wajahnya kepada Sky,
"Seharusnya aku menerima tiket itu dan pergi secepat yang aku bisa."
"Apa maksudmu?"
Eri tersenyum getis,"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Sky terdiam sejenak. Manik matanya menggelap.
Eri bangkit, duduk di sebelah Sky sambil memeluk lututnya, "Orang biasa sepertiku takkan
sanggup menghadapi orang-orang seperti Kuga Kyouhei."
"Aku tidak tahu apa yang bisa kuminta darimu," suara Sky mengalir lembut, namun deras
bagai deburan ombak. Eri lupa cara bernapas. Dadanya sesak. Gadis itu diam beberapa saat,
gemuruh memenuhi hatinya, bersamaan denga kebahagiaan tak terkira dapat berada sangat dekat
di samping Sky. "Sadarkah kau?" ia berbisik lembut, "Kau punya sesuatu, yang bisa membuat orang sinting?"
Sesuatu yang membuat orang sinting" Eri mengulangnya dalam hati. Tak ada yang akan
sinting berada di dekatnya, terkecuali orang yang benar-benar sinting.
"Sebenarnya kaulah yang sering membuatku sinting," tukas Eri, "Kau muncul dan
menghilang seperti fatamorgana. Sudah, cukup untuk membuatku gila."
Sky memejamkan mata, terlihat seperti menghiruo udara, "Maafkan aku."
Eri mengerutkan alis. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau tahu, mengapa aku membawamu ke tengah laut?"
"Sebenarnya aku sempat bertanya-tanya, kenapa kau melakukannya?"
Sky tertawa getir, "Itu karena?" ia mendekatkan wajahnya ke Eri, sehingga ia bicara tepat di
depan wajak gadis itu, "Aku tidak ingin kau kabur."
"Hah?" "Kalau kau melompat di sini, aku masih bisa berenang dan menyeretmu kembali." Tukas Sky
santai, "Hanya sebuah keinginan egois, sebenarnya..."
"Jadi, sekarang kau juga ingin menahanku?"
"Kalau boleh..." Sky menelengkan kepala dengan sedih, "Tapi aku tak ingin mengambil
pilihan-pilhanmu. Tidak seorang pun dari kami berhak melakukannya..." Sky berkata sekali lagi,
menelaah suduh bibir Eri dengan jarinya. Didekatkannya bibir itu ke bibirnya. Eri merasakan
darahnya bergejolak. Ia merasakan asa yang bergelora dan menghanyutkan. Seperti buih ombak
membelai pantai dengan segenap kelembutan, sampa-sampai tak mampu ditolak oleh setiap sel
dalam dirinya. Salah! Salah! Salah! Kenyataan ini terlalu indah untuk diharapkan. Membekukan waktu,
membekukan segalanya, bahkan membekukan golika sehingga Eri tak mampu melakukan
tindakan defensif, karena memang tak mau melakukannya. Ciuman itu menyuarakan isi hatinya,
kalau selama ini ia memang mencintai pria itu sepenuhnya. Ia ingin menjadi milik Sky, memuja
pria itu, dan ingin sepenuhnya dicintai. Menyedihkan...
"Maafkan aku." Eri mendesah, "Aku akan pergi." Katanya parau, "Aku akan pergi di mana tak seorang pun
dari kalian bisa melihatku..."
*** Eri memasukkan kemeja terakhir yang diambil dari lemari bajunya. Desahan berat keluar
dari mulutnya saat ia selesai mengepak kopernya. Tidak ada seorang pun yang tahu
kepergiannya. Demikian juga dengan tempat tujuannya. Dia tidak ingin Maximus mengetahui
jejaknya. Untunglah berita dari Ibu Clara tiba tepat pada waktunya. Akan lebih baik jika dia
berada di pedalaman Kalimantan bersama anak-anak terlantar itu ketimbang di belahan dunia
lain yang mempertaruhkan jiwanya. Sebuah panti asuhan. Sama seperti di Bali. Dia kana
mendapatkan kedamaiannya di sana.
Semuanya sudah tersusun rapi dalam rencanya. Jade masih belum pulang dari kuliah,
sementara orang-orang Maximus masih sangat sibuk mengurus kekacauan yang belakangan
sering muncul di wilayah mereja. Keadaan tidak akan lebih baik lagi bagi Eri.
Maaf, aku harus pergi... Eri menulis kalimat pendek itu di sehelai kertas merah jambu, dan menaruhnya di bawah vas
berisi bunga-bunga adenium. Perasaannya masih gamang saat ia keluar dari gedung apartemen
itu, memanggil taksi, dan duduk di dalamnya, dia memandang refleksi dirinya di kaca mobil,
mendapati seorang gadis yang hampir tidak dikenalinya. Maximus telah mengubah total
penampilan luarnya. Namun dalam hatinya, dia tetaplah seorang gadis yang rapuh.
"Maafkan aku..." Eri teringat perkataan Sky kemarin. Sentuhan Sky masih terasa di bibirnya.
Mengapa dia bisa membiarkan Sky melakukan itu" Eri merasakan hatinya mendadak perih. Sky
jelas-jelas menolaknya, namun Eri malah membiarkan pria itu menciumnya.
Aku benar-benar payah! Eri melihat sebuah pesawat terbang rendah di atas taksi yang membawanya. Bandara sudah
dekat. Hatinya yang mendadak bodoh, sama sekali menolak pikirannya agar segera menjauhi
tempat itu. Maximus adalah keluarga mafia. Sekumpulan gangster jahat. Sky termasuk di
dalamnya, dan dia harus segera pergi dari kegilaan mereka.
Eri menarik troli kopernya. Kacamata hitam besar menutupi wajahnya, karena ia benar-benar
tidak ingin dikenali siapa pun. Dengan langkah lebar-lebar, dia memasuki area keberangkatan.
Surat-surat telah lengkap di tas kecilnya. Eri menaikkan selempang tas itu di bahunya.
Bandara pagi itu mulai ramai. Banyak orang datang dan pergi. Para penjemput mengipasngipas diri mereka denga karton berisi nama-nama. Suasana yang sibuk. Eri merasa lega tidak
ada seorang pun memperhatikannya. Dia melangkah menuju loket pemeriksaan tiket,
mendaftarkan namanya, melakukan prosedur pemeriksaan standar. Semua berjalan lancar. Eri
nyaris tidak memercayai keberuntungannya. Hanya saja, yang namanya keberuntungan bisa
datang dan pergi sesuka hati mereka. Dan secepat itulah, keberuntungan itu berlalu dari sisinya.
Seseorang menarik lengan Eri dengan kasar, hanya sepersekian detik. Bahkan Eri tidak
menyadari kalau orang itu menyeretnya menjauh dari tempat seharusnya dia berada. Eri baru
sadar sepenuhnya ketika dia telah memasuki sebuah landasan pribadi, dengan sebuah pesawat
menunggu di sana. Orang itu, Raditya Shouji. Sedang tersenyum keji kepadanya saat
mengangkat tubuh Eri hingga menopang di pundaknya. Memanggul Eri layaknya sekarung bulu.
Dengan tergesa-gesa, Raditya menghempaskan Eri ke tempat duduk yang terbuat daari beledu
berwarna merah. Bunyi berdengung menyerbu telinga Eri, bersamaan dengan sentakan saat
pesawat itu mulai lepas landas.
Tunggu dulu! Lepas landas" Eri mendongakkan kepala keluar jendela, dengan kesal memukul kaca di depannya. Ia
menelengkan kepala, menatap Kuga Kyouhei"yang sudah menunggunya di dalam pesawat"
dengan galak. Pria itu duduk manis sambil menyilangkan kaki di kursi seberangnya. Jas hitam Armani
menggantung di bahunya, bersama kemeja dan stelan yang mempertegas penampilannya.
Rambut kemerahannya diikat dengan rapi, seakan Kuga datang dari sebuah tempat resepsi kelas
atas. Kuga menyesap anggur putih dari gelas bertangkai di tangannya. Permadani tebal tampaknya
menutupo lantai, kursi-kursi beledu terpasang berhadapan. Eri baru sadar akan kemewahan
pesawat pribadi itu. Persisi seperti yang ia liat di teve.
Kalau itu benar, maka ini adalah pesawat milik Kuga Kyouhei. Eri melihat Raditya Shouji
berdiri dan membisikkan sesuatu kepada Kuga, berusaha mencari peluang untuk lari, namun
keluar dari pesawat yang sedang terbang berpuluh-puluh kilometer di atas udara merupakan
pemikiran yang amat bodoh.
Pesawat itu masih melesat jauh di udara, kegelisahan membuat perut Eri bergejolak bagai
diperas. Eri menatap Kuga lagi. Pria itu masih duduk santai di depannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Eri berkata gemas, "Ini sangat tidak masuk akal."
"Apakah menurutmu bersama dengan orang utan di pedalaman lebih masuk akal ketimbang
bersamaku?" Kuga balas bertanya dengan nada mengejek. Eri menggertakkan gigi, "Bersamamu
atau siapa pun dari kalian hanya membuatku gila!"
"Benarkah?" Kuga mencondongkan tubuhnya ke depan, "Bagaimana kalau aku adalah Tsukai-san" Apakah kau juga akan mengatakan hal yang sama?"
Eri terdiam. "Aku..." Kuga menarik tubuhnya lagi, "Paling benci dengan tipe gadis lemah sepertimu."
Pesawat itu mengeluarkan dengungan aneh dan Eri meremas pegangan kursi di dekatnya
dengan erat. "Seharusnya kita tidak pernah berurusan..." dia berkata lirih, "Kalau saja aku bukanlah
Mawar Maximus seperti sekarang... aku akan hidup di dunia yang lain denganmu. Kita tidak
akan pernah bertemu dan apalagi mengenal. Kau benar, aku lemah. Aku tidak akan mampu
menghadapi salah seorang dari kalian..." Eri menggigit bibir bawahnya, "Aku bahkan tidak akan
mampu menghadapi perasaanku sendiri..." Eri mengingat Sky, ciuman itu, dan segala hal
tentangnya. "Bertaruhlah denganku."
Eri menajamkan telinganya, "Apa?"
"Mungkin saja dia akan mencarimu, bukan?" dia mengangkat gelas di tangannya seperti
bersulang, "Aku akan menawarkan kebebasan kepadamu, jika dia datang dan mencarimu... kau
tidak lagi menjadi Mawar Maximus, atau tunanganku. Kau tetap gadis biasa. Tidak akan
kubiarkan orang dunia kami memasuki duniamu... Kau bebas."
"Bebas?" "Itu jika dia mencarimu," Kuga menyesap anggurnya lagi, "Tapi jika dia membuatmu
menangis lagi, selamanya kau adalah milikku."
Eri melihat sosok tampan di hadapannya. Sikapnya tenang. Dia adalah ketua klan Naga
Timur Asia. Akankah dia menepati semua ucapannya" Suara pesawat itu semakin berisik. Eri
dapat merasakan angin menusuk telinganya, saat Kuga berkata semanis madu yang beracun,
"Selamat datang di Jepang, Peri Valentine..."
Aku tidak dapat memercayai ucapannya, Eri membatin.
PERMAINAN YANG BERBAHAYA Mengapa aku harus mencintainya"
Sky membuang semua berkas di tangannya ke atas meja. Kantornya di The Don Juan telah
dipenuhi keheningan sejak dia memarahi sekretarisnya, Rene. Hanya kesalahan kecil. Namun
saat ini emosi Sky sedang labil. Semua orang enggan bertegur sapa dengannya.
Sky membuka tabung kaca berisi sampanye favoritnya. Kepalanya pusing lagi. Dia
menyentuh bibirnya sekilas, mengingat bekas-bekas ciuman dengan Eri. Kelembutan gadis itu
mengusik benaknya. Terburu-buru, dia menuang sampanye itu dan menenggaknya hingga
tandas. Erika Valerie... Aku ingin menjauhimu, Aku juga menginginkamu...
Pikiran Sky semakin kacau saat Rene mengetuk pintu kantor Sky. Sekretarisnya itu berjalan
gemetaran. Sky menatapnya dengan dingin, seakan-akan Rene hanyalah sebuah patung.
"Permisi, Tuan Muda. Ada telepon untuk Anda."
"Mengapa kau tidak bicara dari line kantor?" Sky menjawab dengan nada tidak enak. Rene
kontan mengkeret di tempat.
"Maaf, tapi tadi saya sudah menghubungi Anda. Tapi Anda tidak mengangkatnya."
"Sudahlah," Sky mengibaskan tangannya. Mencoba menghindari masalah, "Siapa?"
"Tuan Kuga Kyouhei."
"Sambungkan saja."
Rene berjalan keluar ruangan. Sky mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ke
dekat telinga. Suara Kuga terdengar dari ujung telepon. Dia tahu rivalnya itu telah pergi dari
Indonesia, namun dia tidak tahu mengapa akhirnya Kuga menghubunginya.
"Aku ingin membicarakan tentang Ryuzaki."
Sky berdehem dua kali sebelum menjawab, "Katakanlah."
"Aku melihatnya di Jakarta saat aku di sana. Di tempatmu. Ryuzaki dan Yuri ada di Don
Juan." "Benarkah?" "Kalau kau tak percaya, periksa saja rekaman CCTV pada tanggal itu," Kuga menjawab
kaku, "Aku telah menyelidiki apa saja yang dia lakukan di sana."
Sky menghela napas, kedengarannya ini tidak akan menyenangkan...
"Ryu sedang merencanakan sesuatu," Kuga melanjutkan, "Dia mengumpulkan geng-geng
kecil seperti geng Kobra dulu. Orang-orang bodoh yang tidak takut mati demi uang dan
ketenaran. Kau tahu apa yang dia incar" Klanku"klan yang meninggalkannya dalam keadaan
sekarat, dan klanmu. Setelah itu dia akan mengincar sesuatu yang lebih besar."
"Apa maksudmu?"
"Asia. Kau tahu, jika orang seperti itu menguasai Asia" Dia akan menjalankan bisnis ilegal
yang jauh lebih berbahaya. Menghancurkan Asia dengan Narkoba, memicu adanya peranf di
mana-mana, lalu mengambil keuntungan dari penjualan senjata gelap?"
"Orang itu berbahaya," nada suara Skymengeras, "Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak yakin apakah kau akan ikut atau tidak," Kuga berkata denga nada biasa yang
selalu berhasil membuat orang menuruti keinginannya,"Permainan ini amat berbahaya..."
*** "Kau tahu aku akan ikut."
Kuga tersenyum mendengat perkataan Sky. Argumennya memang cukup untuk membuat
orang memercayainya. Walau kenyataannya dia bukanlah orang yang seratus persen bisa
dipercaya. Kuga mendegar helaan napas Sky sebelum Pangeran Maximus itu berkata, "Aku harap kali ini
aku layak memercayaimu."
"Dengar. Aku tidak menyuruhmu mengemudi dalam keadaan teler, Pangeran..."Kuga berkata
berang, "Jangan mengelak atas kesalahanmu sendiri."
"Isabella mati karena kesalahan kita berdua," sergah Sky.
Dia memang benar... "Lalu karen itu kau selama ini membenciku" Karena Isabella?" Kuga tertawa, "Aku jelas
membencimu karena sikapmu yang terlalu tenang. Dalam sekejap membuatku merasa kalau
akulah yang paling jahat di dunia ini."
"Kau memang jahat."
"Dan kau sendiri" Apa kau orang baik?" Kuga bertanya dengan nada sarkastis, "Seorang pria
yang mengusir seorang gadis, walau tahu kalau gadis itu sedang dalam bahaya" Apakah itu
tindakan yang baik dan bermoral?"
"Ini tidak ada sangkutannya dengan Erika Valerie!" sergah Sky marah.
"Jangan katakan kalau kau tak tahu ada yang berusaha mencelakakannya. Kau tahu jelas
posisinya." "Aku hanya memberinya pilihan," helaan napas itu terdengar lagi, "Aku tidak ingin dia ada
dalam dunia kita." "Dalam dunia kita, atau di sisimu" Kau tak ingin dia membuatmu jatuh cinta, bukan" Karena
sejak lama kau telah mencintainya. Kau tahu kalau kau tak pantas untuknya, jadi kau
menyakitinya sedemikian rupa..."
Sky terdiam. "Kau tahu, Pangeran" Kau selalu seperti ini, berlagak menjadi orang baik, padahal
kenyataannya, kau bahkan lebih buruk daripada aku."
"Apakah dia sedang bersamamu?" Sky berkata pelan. Kuga menaikkan alisnya, namun nada
suaranya masih terdengar datar.
"Salahkah jika aku mengambilnya darimu?"
Sky tertawa, "Kau memang seperti itu. Gemar merebut milik orang lain."
"Jangan lupa kalau kau sama sekali tidak punya hak," Kuga berkata garang, "Dia sendiri
yang datang mencariku. Ini tidak ada kaitannya denganmu."
"Lepaskan dia."
"Rebut dia kembali, kalau kau bisa."
Kuga meletakkan tubuhnya di kursi. Untuk pertama kalinya, merasa amat lelah. Semua ini
terlalu berat baginya. Termasuk perasaannya. Dia bisa saja berurusan dengan nyawa puluhan
orang, menganggap segala sesuatu sebagai barang tidak berharga, namun tidak denga
perasaannya sendiri. Kuga memalingkan wajah. Seseorang telah berdiri di dekatnya.
"Jadi itu yang kau inginkan?" suara wanita itu membelah udara di belakang Kuga, "Kenapa
tak kau lakukan saja seperti biasa" Penyiksaan, atau... membuatnya ketergantungan narkoba"
Atau merengkuhnya jadi milikmu?"
Kuga berpaling, melihat Hero telah berdiri di depannya. Wanita itu berdiri sempurna, seperti
patung Yunani.

My Lovely Gangster Karya Putu Felisia di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apa kau mendengarnya, Hero?" Kuga tersenyum miris, wanita yang dipanggil Hero itu
hanye geleng-geleng kepala.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Hero meletakkan satu tangan di pinggangnya,
"Perlu kuingatkan, aku ini pengawal pribadimu."
"Kalau begitu, tolong hentikan aku," Kuga berkata sambil memegang dahinya, seolah sedang
memikirkan sesuatu yang sangat berat, "Jangan biarkan aku melakukan sesuatu yang akan
membuatku menyesal."
Hero meletakkan tangannya di mulut, menutup tawanya sendiri, "Ketua, kurasa kau pasti
sudah gila..." "Diamlah," Kuga berkata kesal, "Lakukan saja apa yang aku katakan dan jangan banyak
bicara!" Hero membungkukkan badan, "Baik, Ketua..." ia mengangkat kepalanya yang sedang
menyunggingkan senyum mengejek kepada Kuga.
*** "Ada hubungan apa antara kau dan Kuga Kyouhei?" Ryuzaki menekan kedua pipi seorang
pemuda berumur dua puluhan yang terikat di depannya. Dia memukuli habis-habisan hingga
wajahnya babak belur. Keadaannya cukup mengenaskan. Luka-luka di sekujur tubuh, sementara
pakaiannya telah sobek-sobek di banyak tempat. Ryuzaki kiini mengambil cambuk dan
menggulungnya di satu tangan.
"Apa saja yang dia ketahui?" dia berkata dingin. Pemuda itu terbatuk sejenak, namun
mulutnya tertutup rapat. Cambuk di tangan Ryuzaki menyabetnya dua kali. Pemuda itu hanya
berteriak tanpa berkata. "Apa yang telah kuberikan kepadamu?" Ryuzaki berkata dengan suara selembut beledu,
"Kau hanya pemuda gelandangan yang berkeliaran di jalan sambil menakut-nakuti orang. Kau
telah memiliki apa yang kau inginkan. Uang, harga diri..." dia melecutkan cambuk itu lagi, "Lalu
apa yang kau berikan kepadaku?"
"Kau telah membunuh adikku," Pemuda itu berkata berang, "Kau membunuhnya karena
tidak mau masuk ke kelompokmu!"
"Ternyata kau memang pengkhianat," Ryuzaki mencabut pistol dari sakunya, membuat dua
lubang di bahu Pemuda itu.
"Yang pantas kau terima dariku hanyalah ini..." dia menembak lagi, kali ini menembus dada
Pemuda itu. Tidak ada lagi yang bersisa darinya.
"Bersihkan ini," Ryuzaki berkata pada Pemuda bersenjata yang berdiri di sampingnya. Yuri
datang tak lama kemudian. Ekspresinya benar-benar cemas.
"Bagaimana" Apa saja yang dikatakannya?"
Ryuzaki menggeleng. Yuri bisa menebak suasana hati kekasihnya itu sedang buruk.
"Kuga Kyouhei tidak akan mampu menggali informasi lebih banyak lagi," Yuri merajuk,
"Mereka tidak tahu banyak."
"Kau tidak tahu apa yang bisa dia lakukan..." Ryuzaki berkata keji, "Seharusnya akulah yang
menguasai klan itu. Kalau saja Hero tidak datang menyelamatkannya. Akulah yang berada dalam
Mansion itu. Bukan berada dalam sebuah gedung, berpindah-pindah... lari dari kejaran musuh..."
Yuri memeluk Ryuzaki dari belakang, "Kau masih punya aku."
Ryuzaki memutar tubuhnya, melihat Yuri berdiri di depannya, menatapnya dalam
keheningan. Dia tahu Yuri mencintainya, namun dia hanya ingin memanfaatkan gadis itu.
Seorang pembunuh profesional sangan berharga baginya.
"Kita akan menghancurkannya, Sayang..." Ryuzaki membelai rambut perak Yuri, sesaat
sebelum melihat selembar foto yang melayang tak jauh darinya. Ryuzaki memungut foto itu,
tersenyum, dan menyentuh wajah seorang gadis dalam lebaran foto itu.
"Kaulah yang akan membunuh mereka," ia berbalik pelan ke arah foto do tangannya, Erika
Valerie. TAHANAN Musim gugut di Tokyo sangat dingin. Daun-daun mulai menguning dan memerah di bulan
Oktober. Hembusan angin gunung mengantarkan hawa dingin menusuk tulang. Suasana yang
asing, namun membawa keindahan yang menghanyutkan di kala menyaksikan helai-helai daun
Momiji yang merah mulai berguguran di atas tanah. Hening dan memikat.
Mansion Kuga pagi itu terlihat masih megah dan anggun, Eri dapat melihat barisan
pepohonan berwarna oranye keemasan, dilatarbelakangi pemandangan gunung Fuji, terpantul
dari kaca bening di kamar tamu. Semuanya terlihat sempurna, terkecuali satu hal. Di sana ia
hanya seorang tahanan. Mungkin karena itu, semua orang memerhatikannya. Mungkin juga
mereka penasaran, bagaimana rupa seorang gadis bodoh yang terlibat dalam permainan gangster.
Dua hari terkurung di kamar tahanannya, Eri baru mengerti kenapa selama ini ia sama sekali
tidak diizinkan menginjakkan kaki di luar teritori itu. Puluhan pasang mata benar-benar
menatapnya, persis seperti sorotan kamera ketika seseorang tengah tertangkap saat melakukan
tindak kriminal. Eri menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menutupi wajahnya dengan
membiarkan rambutnya tergerai di pundaknya. Ia tak mengerti, mengapa semua orang yang
dilewatinya memasang ekspresi aneh, bahkan para pelayan yang sedang bekerja pun
mengalihkan perhatian mereka untuk diam-diam memandang Eri, sebelum akhirnya ditegur oleh
atasan mereka. Eri melihat seorang pelayanlagi-lagi memperhatikannya secara sembunyi-sembunyi. Begitu
tahu Eri melihatnya, si pelayan langsung menunduk, melanjutkan kegiatannya menyapu lantai.
Eri akhirnya membatalkan niatnya untuk sarapan di luar. Ruang makan itu terlalu sumpek
baginya, ia memilih hengkang dari sana, saat seorang pengawal menghentikan langkahnya.
Si pengawal dengan tampang tidak terlalu sangar membungkuk sopan, melihat pandangan
permusuhan dari Eri. Seharusnya Eri tahu, semua akan terjadi. Setelah Kuga sukses menangkapnya saat itu, bisa
dipastikan kalau dia takkan pernah berhasil melarikan diri. Atau, seandainya berhasil pun, dia
takkan bisa keluar dari Jepang. Namun dia masih beruntung, Kuga cukup tahu diri untuk
memperlakukan Eri sebagai tamu, bukannya barang taruhan seperti yang biasa dia dengar.
Eri menelan ludah. Memberi tanda agar pengawal itu berjalan di depannya. Pengawal itu
mengantarnya melalui lorong-lorong panjang, hingga sampai di sebuah pintu kayu berukir.
Pengawal itu membukakan gagang pintu berwarna emas, menampakkan ruangan di dalamnya.
Sebuah ruangan yang hangat dengan interior yang menawan. Warna merah dan coklat kayu
sangat mendominasi. Sebuah perapian kecil di sudut ruangan masih menyisakan kobaran api dari
balik kaca pelapisnya. Jendela berukuran besar, menampakkan teras dan kolam renang di luar.
Tempat tidur berukuran besar, dengan tiang-tiang kayu berukir dan kelambu krem pucat
membentuk kanopi di atasnya. Di sudut-sudut lain ruangan itu terdapat cermin besar dan
beberapa nakas. Sementara di dalam kamar mandi sudah tersedia berbagai produk kecantikan
bermerek terkenal. Pengawal itu kini berbicara melalui HT di tangannya. Eri tetap melototinya. Kemudian
pengawal itu berkata pada Eri, "Silakan masuk, Nona..."
"Tidak mau." Pengawal itu membungkukkan badan lagi, "Maafkan saya..." ia berkata sambil menarik Eri
dengan paksa, tak menghiraukan teriakan Eri yang mulai histeris.
"Lepaskan dia, Nishida!" suara itu membuat si pengawal melepaskan cengkeramannya dari
tangan Eri. "Perlakuanmu pada wanita sungguh tidak sopan."
Eri menatap takjub sosok wanita di depannya. Wanita itu berusia kira-kira lima tahun di atas
Kuga. Rambutnya sehalus satin, berpotongan bob asimetris, dengan gradasi hitam-hijau-biru
sempurna. Wajahnya kukuh, seperti porseken, sebuah anting berlian di hidung mancungnya
memperlengkap penampilannya. Bukan itu saja, ia bahkan memiliki tubuh proporsional yang
diidamkan oleh seluruh perempuan sedunia.
"Biarkan dia keluar. Aku yang akan bertanggung jawab," kata wanita itu, lembut namun
tetap berwibawa. "Tapi... Ketua tidak akan?"
"Akhir-akhir ini dia sangat membosankan," wanita itu mengeluh. "Aku butuh teman buat
shopping." Sebelum sang pengawal sempat berbicara melalui HT-nya, wanita itu lebih dulu menarik
tangan Eri. Berlari-lari kecil hingga tiba di halaman depan. Eri berteriak panik di belakangnya,
"TUNGGU! TUNGGU!"
"Uuups..." wanita itu melepaskan genggamannya, "Maaf... aku lupa. Namaku Himemiya
Kyoko. Panggil aku Kakak, atau Kyoko saja."
Eri memenuhi paru-parunya dengan udara. Udara dingin membuat usahanya makin sulit.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya mulai tak beraturan, "Anda... aku... ehh... mau kemana?"
"Shopping," Kyoko menjawab lugu, "Bukannya tadi aku sudah bilang?"
Eri langsung mengerang. Ia tidak suka shopping, sangat melelahkan. Ahh... siapa sih orang
ini" *** "Kakak siapa?" Eri bertanya sambil menyesap teh chamomile yang masih mengepul di
tangannya. Mereka sedang berada di sebuah kafe di daerah Ginza. Semua terlihat modis di sini.
Berbagai butik karya desainer dunia berjajar dsangat menawat dengan brand terpampang di atas
pintu masuk, bersanding dengan milik desainer papan atas Jepang. Kafe-kafe di sana sangat
gaya, dengan kue-kue ringan berjajar rapi di dalam toples-toples bening yang indah hingga
sayang untuk dimakan. Eri sempat melirik sebuah coklat beraneka bentuk. Salah satunya
berbentuk berlian. Keren sekali! Hanya saja di Ginza"salah satu kawasan elit di Tokyo"hargaharga yang tercantum di sana sangat di luar jangkauan.
"Namaku Himemiya Kyoko, aku temannya Kyou-chan."
"Benarkah?" Kyoko ikut menyesap tehnya dengan anggun, "Keluargaku sudah lama berhubungan baik
dengan keluarga Kiga. Mereka membantu kami dalam beberapa hal."
Eri tersenyum sarkastis. Baru pertama dia mendengar Kuga membantu orang lain.
"Mengapa Kakak mengajakku kemari?"
"Harus berapa kali kubilang" Apa kau tidak bosan terkurung terus di Mansion itu?" Kyoko
mengerucutkan bibirnya, "Setidaknya temani aku membeli beberapa pakaian."
Eri melirik tas-tas belanjaan dengan label-label desainer yang menumpuk di samping mereka.
Eri memijat dahinya yang mendadak pening itu.
"Boleh aku bertanya?" Eri berkata pada Kyoko, "Mengapa Kakak bisa berteman dengan
Kuga?" "Kami semua berteman sejak masih kecil," Kyoko tersenyum, "Ryu-chan, Kyou-chan...
Mereka dulu manis sekali..."
Glek! Manis" Kyoko berkata lamat-lamat, "Tak ada lebih mengerikan daripada orang yang memiliki
kekuasaan tak terbatas, bukan" Ryu-chan dan Kyou-chan, sebelum diracuni masalah klan,
mereka berdua adalah anak yang baik."
"Kelihatannya tidak begitu," sahut Eri
"Jadi menurutmu sendiri, Kyou-chan itu seperti apa?"
Eri mengerutkam kening. Berpikir keras, "Orang yang menakutkan."
"Karena dia ketua klan?"
"Karena dia laku-laki."
Kyoko tertawa. Eri menutup mulutnya dengan satu tangan, merasa amat malu hingga pipinya
meemerah. "Kuga memang brengsek! Tapi kuharap kau tidak membencinya."
Eri menaikkan salah satu alisnya, kenapa"
"Sepertinya dia tipe orang yang lebih memilih meremukkan satu-dua tulangnya daripada
menyuruhnya mengatakan sesuatu yang manis," Kyoko tersenyum.
Eri menyunggingkan senyum mengejek.
"Sebenarnya Kyou-chan itu sangat baik," Kyoko menghela napas, "Keadaan yang
membuatnya begitu. Bagaimana dia ditakuti hingga tidak memiliki teman, digunjingkan... hingga
diremehkan di kampus dulu."
"Aku tidak bisa menganggapnya orang baik. Dia telah memaksaku kemari. Memaksaku
melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan?"
"Bukankah dia juga begitu" Pangeran Maximus itu juga selalu memaksamu pergi."
Eri terdiam, "Itu... berbeda."
"Karena kau mencintainya," Kyoko melanjutkan, "Aku sudah mendengar soal taruhan itu.
Apa kau yakin dia akan mencarimu?"
"Aku?" "Kau bahkan tidak tahu seperti apa orang itu," suara Kyoko kian mengeras, "Aku pernah
mengenalnya. Dulu dia sering bersama kakak beradik Kuga. Mereka sama-sama berandal. Samasama liar. Kira-kira sebelas tahun yang lalu... Saat itu ada seorang gadis, bernama Isabella. Gadis
itu cantik, Pangeran itu mengejarnya, namun itu hanya demi sebuah taruhan. Dia tidak pernah
memerdulikan gadis itu. Dia bahkan menghisap mariyuana sehingga nyaris tidak sadar saat
bertarung dengan membawa Isabella di mobilnya."
"Mariyuana?" "Benar," Kyoko melanjutkan, "Mereka berdua sebenarnya sama-sama tidak memiliki
tanggung jawab apa pun saat itu. Hanya bertarung dan bersaing, hingga akhirnya di sebuah arena
balap liar... kecelakaan itu terjadi," Kyoko menelan ludah, "Isabella meninggal saat itu juga.
Sejak itu, kudengar Pangeran Maximus itu tidak pernah lagi menghisap mariyuana dan
menghentikan kebiasaan yang pernah dilakukannya..."
Tiba-tiba Eri mengingat sorotan liar dalam mata Sky saat bertarung dengan geng Sakka.
Perutnya mendadak seperti diperas.
"Darimana orang seperti itu bisa memiliki perasaan?"
"Aku tidak meminta perasaan ini, Kak..." Eri merintih, "Aku bahkan tidak pernah meminta
untuk masuk dalam dunia ini. Aku bukan Jade Judy. Bukan putri seorang John Alexander. Aku
juga tidaktahu mengapa aku bisa berada di sini."
"Menurutmu apa Jade Judy menginginkannya?"
Eri menggigit bibir. Dia tahu Jade juga tidak mungkin menginginkan ini.
"Aku rindu pada saudaraku, Jade."
Kyoko melipat kedua tangannya. Sejenak tampak berpikir sebelum menyurukkan tangannya
ke dalam saku, dan mengangsurkan ponselnya ke tangan Eri, "Teleponlah dia..." katanya pelan.
BANTUAN "Jadi kau menerima taruhannya?" Suara Jade meninggi. "Idiot!" gerutunya sebal. Eri tahu, dia
akan menerima respon seperti ini. Tapi, sudahlah... dia terlalu merindukan Jade hingga tidak bisa
mendebatnya. "Mati aku! Kenapa sih, aku punya saudara bodoh sepertimu!"
"Iya, iya, aku memang bodoh..." Eri merendahkan suaranya, "Apalagi yang bisa kulakukan?"
Eri mendengar Jade mendengus dari ujung telepon. Namun sesaat kemudian, nada suarnya
mulai normal, "Aku kangen kamu," katanya.
"Sama." "Aku pikir kau benar-benar pergi ke Kalimantan, tahu?" Jade berkata, "Aku benar-benar
mengkhawatirkamu." "Aku baik-baik saja, kok.."
"Tidak ada yang mencelakai di sana, bukan?" Jade bertanya dengan nada cemas.
"Syukurnya, tidak."
"Dengarkan! Kami akan mengurusnya secepatnya. Supaya kau dapat kembali. Selama itu,
kumohon"jaga dirimu, oke?"
"Aku mengerti."
"Dan soal Sky"bajingan lebay itu"Jangan pikirkan dia," Jade memerintah, "Yang jelas,
lupakan saja cowok itu! Cowok brengsek seperti itu tidak pantas kau tangisi!"
Eri tertawa. "Oh, ya... aku lupa. Bagaimana kau dapat menghubungiku" Apa kau sedang bersama
seseorang?" "Iya," Eri melirik Kyoko dari sudut matanya, "Aku sedang bersama Himemiya Kyoko. Dia
benar-benar sadis! Memaksaku berjalan berjam-jam keliling daerah Ginza..."
"Sykurlah..." Jade bergumam.
*** Jade mengelus dadanya sambil mempermainkan tiket pesawat economy class di tangannya.
Hayden dan Darius mencoba menguping di dekatnya. Sedangkan Sky duduk menjauhi sofa.
Pura-pura tak peduli. Mereka sedang ada di Maximillian Lounge. Hari baru menjelang sore. The
Don Juan bahkan belum buka untuk umum.
"Himemiya Kyoko," Jade mengulang nama itu, "Katakan kepadanya, terima kasih banyak..."
Eri terdengar bingung, namun mengiyakan. Jade menutup telepon di tangannya. Darius
langsung mencoleknya dengan antusias.
"Gimana" Apa dia bersama Hero?"
Jade mengangguk. Hayden di dekatnya langsung mendecakkan lidah sambil mengerling
marah pada Sky. Sky hanya membuang muka.
"Stupid jerk!" Darius memaki, "Kenapa elo nggak nyari dia" Elo udah gila, ya?"
"Jangan sebut-sebut dia lagi!" Sky menjawab datar.
"Kau terlalu kekanakan," sergah Hayden tak kalah garang, "Bukankah itu bukan
kemauannya sendiri" Dia bahkan tidak mengetahui kalau nyawanya sedang terancam. Apa kau
akan membiarkannya mati?"
"Aku tidak suka hal-hal yang dilakukan Kuga Kyouhei kepadanya."
"Lalu kenapa" Takut Eri terpikat olehnya?" Jade bangkit dan menantang Sky di depannya,
"Eri memang bodoh, bisa-bisanya jatuh cinta kepada cowok egois sepertimu!"
Sky ikut bangkit dari duduknya. Kedua matanya berkilat-kilat.
"Kau tidak tahu apa pun."
"Dan kau adalah orang yang tahu segalanya?" Jade berkata dengan nada sarkastis, "Kau
hanyalah seorang pengecut!"
Sky membuang muka. "Kalau aku jadi Eri?" Jade mengepalkan kedua tangannya geram. Dengan kekuatan penuh
mengarahkan tinjunya tepat ke wajah Sky. Pria itu bergeming, namun darah mulai menetes dari
sudut bibirnya. "Dia tidak pantas mencintaimu."
*** Sky menerima pesan singkat itu di ponselnya. Dia tahu jelas siapa pengirimnya. Dia hampir
bisa menebak tujuan orang itu mengajaknya bertemu. Karena itulah dia memacu mobilnya dalam
kecepatan penuh untuk mencapai hotel berbintang di kawasan Jakarta. Sebuah hotel dengan
interior mewah, suite yang berupa pent house, sistem keamanan siaga, dan yang paling penting...
di luar kekuasaan Maximus.
Selera Ryuzaki masih seflamboyan biasanya. Suite hotel itu menggambarkan kepribadiannya
denga baik. Interior klasik zaman Louis XIV, ranjang besar bertiang empat, sementara di salah
satu dinding tergantung lukisan perbudakan di abad pertengahan. Ryuzaki sendiri duduk di atas
sofa beledu, tepat di dekat sebuah patung macan yang terlihat seperti mumi. Penampilannya
sangat memikat, dengan jas dan setelah jins berwarna putih. Hanya saja, dengan tato yang


My Lovely Gangster Karya Putu Felisia di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengerikan di pipinya, Ryuzaki lebih pantas terlihat sebagai Malaikat Maut.
"Wine?" tawarnya pada Sky.
"Tidak usah repot-repot meracuniku." Sky mengambil sebuah gelas, memutarnya di satu
tangan, lalu menaruhnya kembali, "Bukankah seharusnya kau berada di Jepang?"
"Aku ada di tempat yang kusukai," Ryuzaki tersenyum, "Aku suka di sini. Wilayahmu sangat
memikat." "Tempat yang cocok untukmu hanyalah di neraka," Sky menyindir, "Aku akan
membantumu, kalau kau suka."
Ryuzaki nyengir memamerkan giginya. Dia mengacungkan gelasnya pada Sky, sebelum
menunjukkan kamera pengawas dengan ekor matanya, "Anak-anakku tidak akan menyukainya,"
Ryuzaki mengangkat bahu. "Kudengar adikmu ditawan oleh adikku," Ryuzaki berkata datar, "Aku bersedia
mengembalikannya kepadamu jika kau memintaku. Aku sangat senang membantu."
"Aku akan menolongnya sendiri."
"Adikku tidak akan mampu melindunginya. Mungkin sebentar lagi anak buahku yang manis
itu akan membunuhnya."
"Jangan coba-coba," Sky menggeram. Ryuzaki menghampirinya dengan sikap seolah mereka
adalah dua orang sahabat yang lama terpisah.
"Aku menghormatimu dan juga klan Maximus-mu. Jadi akan sangat baik jika tidak ada yang
tersakiti di antara kita, bukan?"
"Omong kosong. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak
menguntungkanmu..." Sky menyurukkan tangannya ke dalam saku. Sesaat bersikap defensif.
Ryuzaki tertawa lebar, "Musuh dari musuhku adalah temanku, apa kau tidak percaya itu?"
"Aku tidak memercayaimu."
"Bagus," Ryuzaki tertawa lagi, "Kau boleh tidak percaya padaku. Tapi aku bisa menegaskan
kepadamu, jika gadis itu jatuh ke tanganku, aku bisa membantunya, atau bahkan membunuhnya.
Pilihan itu aku serahkan kepadamu, Pangeran..."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Tidak banyak," Ryuzaki mendekati Sky dan membisikkan sesuatu di telinganya,
"Bagaimana menurutmu, Pangeran" Kematian Kuga Kyouhei sudah cukup untuk
menggantikannya, bukan?"
*** Salju mulai turun di tengah udara musim gugur yang kian menggigit. Bunga angin"salju itu
turun di hari yang cerah. Daun-daun keemasan beterbangan di antara salju, berlatar belakang
pohon tua yang meranggas. Tidak ada yang tersisa darinya, kecuali kerangka-kerangka yang
mengingatkan pada bentuk-bentuk kematian.
Kuga menjalankan Aston Martin-nya tanpa arah. Masalah Ryuzaki masih berputar di
kepalanya, membuatnya pusing setiap saat. Tak ada petunjuk baginya, di mana kakaknya itu
berada. Dia memutar mobilnya mengitari sekolahnya dulu. Pikirannya masih kacau, sampai ia
melihat sesosok wanita yang dikenalnya.
Ini mungkin tidak benar...
Kuga mengamati siluet wanita berambut ikal keperakan masih nekat bermain basket di
bawah deretan salju. Lapangan lembap dan terlihat putih kecoklatana oleh butiran salju dan
tanah. Kuga turun dari mobilnya, melihat wanita itu melakukan sebuah long shoot. Bola
kemudian melambung ke dalam keranjang. Wanita itu tersenyum puas.
"Konnichiwa, Kuga-sama..." katanya menggoda.
"Seharusnya saat ini kau bersama Ryuzaki."
Yuri tertawa, "Aku bukan peliharaannya..." ia berjalan mengambil bola basket, lalu
melakukan dribble. "Apa kau sudah tahu, apa yang akan dilakukannya saat itu?"
Kuga mengambul bola yang dioper Yuri padanya, mendribble bola tanpa henti. Yuri berdiri
di sebelahnya dengan sikap angkuh.
"Ryuzaki sudah mengumpulkan banyak pengikut dalam organisasi kecilnya," Yuri berkata
serius, "Dia berniat merebut kekuasaanmu, hanya menunggu waktu. Dia akan
menghancurkanmu." Yuri mengangkat kedua tangannya, "Mengapa kau tidak membunuhnya saat itu" Saat kau
melihatnya di Don Juan" Sebenarnya, kau melepaskannya karena nona itu, bukan" Lucu sekali,
mengetahui kalau Kuga-sama memiliki sebuah kelemahan," Yuri menyunggingkan senyuman
licik, "Sayang sekali, dia bahkan tak tahu..."
"Kalau kau kemari untuk mengatakan hal-hal bodoh seperti itu, kau telah membuang
waktuku," Kuga melempar bola itu ke keranjang besi di sudut lapangan. Wajahnya masih tetap
tak terbaca. "Percayalah... dibandingkan dulu, kau sekarang terlihat lebih berperasaan."
"Perhatian sekali," Kuga berkata sarkastik.
Yuri tersenyum menggoda, "Apakah kau tidak berniat untuk... mendapatkan bantuanku?"
"Kenapa kau harus melakukannya?"
Yuri berjalan mendekati Kuga, lalu berdiri di hadapannya.
"Kau tahu, kenapa aku menyukai Ryuzaki?" Yuri mendekatkan wajahnya ke Kuga,
"Gesturnya, keras kepalanya, desah napasnya, semuanya... Orang tak berperasaaan itu
mengingatkan aku pada seseorang. Kau."
Kuga memutar bola matanya. Kemudian Yuri menciumnya, memberikan kehangatan
bibirnya kepada pria itu.
"Aku bisa saja berpihak padamu. Kalau kau bilang begitu. Aku juga tidak keberatan jika kau
mengharapkan nona itu tetap di sisimu. Aku hanya ingin kau menjadikanku sebagai milikmu."
Yuri memeluk Kuga, mencium pria itu lagi, tetapi kali ini Kuga mendorongnya menjauh.
"Kau tetap angkuh seperti dulu..." Yuri tertawa, "Dan sekarang, dengan kelemahan itu, kau
terlihat lebih lembut dan memesona."
"Tutup mulutmu!"
"Kenapa kau bisa mencintainya" Karena dia manis dan lugu?" Yuri menaikkan suaranya satu
oktaf, "Aku juga bisa seperti itu. Kalau kau mau. Aku bisa melakukan apa saja. Untukmu."
"Terima kasih," Kuga berkata dingin, "Katakan itu pada Ryuzaki. Aku yakin dia pasti akan
senang mendengarnya."
"Cih!" Yuri terlihat tidak senang, "Mengapa kau bersikap dingin hanya kepadaku?"
"Karena kau adalah milik Ryuzaki."
"Kau sudah tahu dia hanya memanfaatkan aku," Yuri berbisik parau.
"Kau sudah memilih bersamanya, Yuri... tidak ada yang memaksamu melakukan itu."
"Baiklah," wajah Yuri berubah dingin dan keji, "Aku hanya akan menyampaikan pesan dari
Ryuzaki untukmu." Yuri memberi jentikan dengan jari tangan kanannya. Seketika datang
sekelompok orang membaca berbagai macam senjata.
Bagus sekali! Yuri selalu memilih cara paling pengecut untuk melarikan diri. Kuga menyeringai
memamerkan giginya. Gadis di depannya itu memberi tanda kepada orang-orangnya untuk
bersiap-siap. Pisau panjang dan kelebatan tongkat besi mulai menyapu udara. Hanya saja semua
itu tidak mampu menggentarkan seorang Kuga Kyouhei. Dia akan mengalahkan mereka. Itu
pasti. Tapi dia tidak cukup yakin akan memiliki waktu yang cukup untuk mengejar Yuri.
Durjana Dan Ksatria 7 Detektif Stop - Bandit-bandit Di Hotel Istana Malaikat Berdarah Biru 2
^