Pencarian

The Chronos Sapphire Iii 3

The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri Bagian 3


sudah memeriksa tangga tempat dia jatuh tadi, tidak ada apapun yang bisa membuatnya terjatuh
begitu saja." Lumina menarik nafas. Sebelah tangannya menutup mulut, dan ia menatap Reno dengan
pandangan ngeri. "T, tidak?" "Lumina, kamu kenapa?" tanya Sarah.
Lumina menggeleng, tapi, tubuhnya gemetar.
"Lumina, kenapa kamu gemetar" Ada apa?" tanya Sarah lagi sambil memegang kedua
bahu Lumina. "T, tidak ada apa-apa?" Lumina menggeleng lagi, "A, aku harus" pergi sebentar. T, tolong
jaga Oniichan sebentar."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Lumina langsung berlari keluar dari ruang kesehatan
diiringi dengan tatapan curiga dari teman-temannya.
"Apa yang terjadi padanya" Tadi dia kelihatan khawatir, sekarang dia terlihat ketakutan."
kata Snow. "Mungkin dia syok." Kata Claire, "Kamu tahu bagaimana perasaan Lumina pada kakaknya
ini. Lumina mungkin ingin pergi ke tangga tempat Reno terjatuh, dan mungkin menganalisa
bagaimana dia bisa terjatuh."
Snow manggut-manggut. "Nathan, tolong kamu kejar Lumina, ya" Bilang padanya untuk menunggui kakaknya
selama kami di kelas." Kata Claire pada Nathan yang masih berdiri menatap Reno.
Tapi, Nathan bergeming. Dia kelihatannya tidak mendengarkan ucapan Claire.
"Nathan?" "Ah, ya?" "Kamu melamun" Tidak baik, tahu?"
"Ah" m, maaf. Aku hanya?" Nathan tersenyum minta maaf, "Aku akan mengejar
Lumina. Kalian semua silakan kembali ke kelas."
"Ya. Tolong bilang juga pada Lumina untuk menunggui kakaknya di sini." kata Claire lagi.
"Baik." *** Lumina berjalan pelan menyusuri tangga tempat Reno terjatuh tadi. Dia sudah bertanya pada
Rebecca dimana tepatnya Reno terjatuh. Dan Lumina bisa melihat ada sedikit bercak darah di
salah satu anak tangga. Lumina memejamkan matanya erat-erat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Reno
jatuh. "Tidak" aku tidak?" Lumina gemetar. Bayangan mimpi buruk menghantuinya.
"Semuanya" menjadi nyata?" gumamnya lagi, "Reno Oniichan" dia benar-benar jatuh
dari tangga. Persis seperti di dalam mimpiku waktu itu" sama seperti visiku?"
Lumina memang sudah menduga hal ini akan terjadi. Mimpi buruk yang ia dapatkan
kemarin adalah tentang Reno yang terjatuh dari tangga. Memang mimpi itu terlihat samar, tapi, dia
yakin, sosok yang jatuh dari tangga di dalam mimpinya adalah Reno.
Dan" ternyata mimpi itu benar. Itulah yang membuat Lumina menutup mulut dan mulai
gemetar ketika Samuel menjelaskan bagaimana Reno bisa berada di ruang kesehatan.
Aku takut semua yang kulihat dalam visi maupun mimpiku menjadi nyata. Katanya dalam
hati. Aku takut kemampuan meramalku berkembang terlalu pesat. Aku" aku benar-benar takut"
Lumina berdiri sambil berpegangan pada pada dinding di dekatnya dan membuka matanya
lagi, tapi, ia cepat-cepat menutupnya lagi. Bayangan visinya lain kembali menghantuinya. Kakinya
terasa lemas dan ia jatuh terduduk di lantai.
Dia kembali teringat pertanyaan ibunya soal apakah ia menyesal dilahirkan sebagai The
Chronos Sapphire, terutama karena dia memiliki kemampuan meramal seperti ini.
Apa sekarang aku benar-benar menyesalinya" Katanya dalam hati. Apa" apa aku"
Lumina" "Suara?" Ada apa" Aku merasakan kamu sedih"
"A, aku tidak sedih." Lumina berusaha membuat suaranya terdengar riang. "Aku" aku
hanya terjatuh ketika aku sedang berjalan di koridor. Sekarang sudah tidak apa-apa."
Benarkah" Kalau benar, syukurlah kalau begitu. Lain kali, berhati-hatilah kalau berjalan.
Lumina hanya tersenyum. "Aku akan lebih berhati-hati lain kali." Ujarnya, "Tapi" ternyata
kamu benar-benar menepati janjimu untuk berbicara lagi denganku hari ini."
Aku sudah bilang padamu. Jika aku berjanji, aku akan selalu menepatinya. Tapi, aku tidak
bisa lama-lama berbicara. Tidak" apa-apa, kan"
"Berbicara sesekali saja aku sudah senang. Aku juga sudah pernah mengatakan hal itu
padamu, kan?" Lumina tertawa, "Kalau kamu masih sibuk, sebaiknya kamu kembali ke
pekerjaanmu. Aku tidak mau mengganggu."
Tapi, benar kamu tidak apa-apa"
"Aku baik-baik saja. Dipijat sebentar saja, kakiku akan cepat sembuh." Kata Lumina,
"Sampai jumpa nanti."
Sampai jumpa" nanti.
Lumina menghembuskan nafas dan berdiri. Gemetar di tubuhnya masih ada, tapi, dia
tidak mungkin berdiam diri di sini saja. Dia harus kembali ke ruang kesehatan. Ia yakin, Claire dan
yang lain sudah masuk ke kelas, dan Reno pasti masih berada di ruang kesehatan.
"Aku harus menemani Oniichan, siapa tahu dia sudah sadar."
Lumina menarik nafas, dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia melakukannya beberapa
kali untuk menenangkan gemetar di tubuhnya, setelah dia merasa tidak gemetar lagi, Lumina
berbalik, dan nyaris tertabrak oleh Nathan yang sedang mencarinya.
"N, Nathan?"!"
"Maaf, aku mengagetkan" mu, ya?" tanya Nathan.
Lumina menggeleng, "Kenapa kamu di sini?"
"Aku disuruh oleh Claire dan yang lain untuk mencarimu." Ujar Nathan, "Kamu kenapa"
Wajahmu agak pucat."
"Aku tidak apa-apa, kok." Lumina tersenyum. "Aku akan segera pergi ke ruang kesehatan.
Kamu kembali saja duluan ke kelas."
"Baiklah." Nathan mengangguk, "Tapi, jika kamu butuh apa-apa, panggil saja aku."
Lumina tersenyum kecil dan mengangguk. Dia lalu berlari kecil ke ruang kesehatan.
*** Reno bangun dan melihat langit-langit ruang kesehatan di atasnya. Ia menyentuh dahinya dan
merasakan perban yang melingkarinya di sana.
"Apa" yang terjadi tadi?" gumamnya lirih. Suaranya terdengar serak.
Reno mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Dia ingat, dia sedang menuruni
tangga ketika seseorang mendorongnya dari belakang. Tidak" sebenarnya dia sadar kalau ada
orang lain di belakangnya. Reno tahu itu karena dia sempat merasakan aura orang asing itu di
belakangnya. Lalu" dia terjatuh dari tangga dengan kepala lebih dulu, setelahnya, ia tidak ingat
apa-apa lagi. Tapi, tunggu. Dia ingat sesuatu. Dia ingat, sebelum dia jatuh, dia sempat mendengar orang
yang mendorongnya mengatakan sesuatu" tapi, apa"
Adikmu tidak akan bisa lari dari takdirnya"
"Oniichan?" Reno mengerjap ketika dia melihat Lumina duduk di sampingnya dengan raut wajah
khawatir. "Lu, Lumina?" Reno langsung duduk tegak dan mengernyit ketika kepalanya terasa
berdenyut sakit. "Ukh?" "Aduh, Oniichan jangan banyak bergerak dulu." Lumina menyuruh Reno untuk berbaring
lagi, "Kata Miss Emma luka di kepala Oniichan agak parah, dan Oniichan perlu istirahat
sebentar." "Kamu tidak apa-apa, kan?"
"Hah?" "Kamu tidak apa-apa, kan" Apa tadi ada seseorang yang menyakitimu atau semacamnya?"
tanya Reno. "Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Oniichan." Kata Lumina. "Aku baik-baik
saja dan tidak disakiti oleh siapapun. Tenang saja?"
"Be, begitu" syukurlah?"
"Memangnya ada apa, Oniichan?" tanya Lumina.
"Tidak ada apa-apa?" Reno menggeleng.
"Ngomong-ngomong, bagaimana Oniichan bisa jatuh dari tangga?" tanya Lumina lagi.
"Oniichan tahu kalau aku tidak suka dibuat terlalu khawatir. Apalagi kalau Oniichan?"
Reno merasakan Lumina kelihatan takut. Dia menatap adiknya itu dan melihat raut wajah
adiknya sedikit berubah. Sedikit" gelap, dan kelihatan lebih takut daripada biasanya.
"Lumina?" "I, iya?" "Kamu melihat visi lagi?"
Bahu Lumina menegang. Dia menghindari tatapan Reno dan memilih memain-mainkan
jari-jairnya. Reno memperhatikan sikap Lumina, dan tahu kalau tebakannya benar.
"Visi apa lagi yang kamu lihat?"
"T, tidak ada, kok" aku tidak melihat visi lagi setelah itu. Aku?"
"Kemarin malam kamu terbangun sambil menjerit, kan?" kata Reno. "Aku mendengarnya.
Ayah dan Ibu mungkin tidak mendengarnya, karena jeritanmu itu bukan jeritan keras seperti
teriakan. Tapi, aku mendengarnya."
"O, Oniichan" mendengarku?"
"Kamu bermimpi buruk, kan, kemarin malam" Apa mimpi burukmu itu juga visi?"
"T, tidak?" "Jangan bohong Lumina. Kamu tahu kalau kamu tidak pandai berbohong."
Lumina menggigit bibir bawahnya. Dia tetap tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Reno
tahu itu. Dia menghela nafas.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengatakannya. Tidak apa-apa." ujar Reno. Tangannya
meraih tangan Lumina, "Tapi, kamu harus berjanji, hanya untuk kali ini saja kamu menyimpan
semua rahasiamu dari Oniichan. Hanya kali ini saja. Setelahnya, kamu harus mau lebih terbuka
pada Oniichan. Ya?" "T, tapi" aku tidak bermaksud untuk?"
"Lumina," Reno mengeratkan genggamannya, "Berjanjilah."
Lumina mengerjapkan mata dan mengusap sisi matanya yang berair. Ia mengangguk pelan.
"Anak baik," Reno mengelus kepala Lumina, "Kamu harus menetapi janjimu."
Lumina mengangguk lagi. Dia menghembuskan nafas dan memaksakan senyuman, agar
kakaknya lebih percaya padanya.
"Oniichan ingin sesuatu" Mungkin minum?" tanya Lumina.
"Boleh. Kebetulan" aku sedikit haus."
Lumina berdiri dan mengambil segelas air. Ia membantu Reno duduk dan meminumkan
air di gelas itu ke mulut Reno.
"Terima kasih,"
Lumina lalu meletakkan gelas itu di meja dan menatap kakaknya. Wajah kakaknya
kelihatan lebih murung darinya. Lumina memang tidak bisa merasakan perasaan seseorang hanya
lewat tatapan, tapi, dia bisa merasakan, kalau Reno sangat khawatir padanya.
Tipe kakak yang protektif. batinnya tersenyum kecil.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Reno yang merasa diperhatikan.
"Tidak ada" aku hanya baru sadar, wajah Oniichan lebih berkerut daripada Ibu."
"Yang benar saja. Wajah Ayah dan Ibu saja masih terlihat muda. Masa, aku yang masih 18
tahun sudah kelihatan tua?"
Lumina terkekeh dan sejenak, dia merasa suasana tegang dan membuatnya gelisah tadi
cair. CHAPTER 14 Rifan menghembuskan nafas dan keluar dari ruang rapat. Ia sedikit mengendurkan dasi yang
dikenakannya. Sekali lagi, ia menghembuskan nafas, kali ini sengaja dibuat lebih keras dan bisa
membuat orang-orang di sekitarnya menoleh padanya. Tapi, dia tidak peduli. Yang dia inginkan
sekarang adalah pergi. Secepatnya.
Aku tidak bisa menerima ini semua. Katanya dalam hati, Sama sekali tidak bisa kuterima.
"Yo, Rifan," Rifan mendongak dan melihat Charles dan Rinoa berjalan dari pintu kaca di dekatnya.
Rifan mencoba memaksakan seulas senyum, walau kelihatannya dia benar-benar tidak bisa
tersenyum sekarang ini. Dan Charles mengetahui hal itu.
"Apa ada masalah lagi dalam rapat itu?" tanyanya.
Rifan mengedikkan bahu, merasa kalau Charles tahu apa yang sedang terjadi.
"Kepala Dewan memintaku untuk mengawasi pergerakan Apocalypse secara langsung.
Istilahnya, mata-mata."
"Mata-mata?" Charles mengerutkan kening, "Kenapa beliau menyuruhmu melakukan hal
itu" Kurasa itu pekerjaan yang berbahaya."
"Memang itu pekerjaan berbahaya." Rifan mengangguk setuju, "Dan beliau memintaku
melakukannya secara langsung."
"Kurasa dia sudah gila. Memata-matai Apocalypse, sama saja dengan memata-matai teroris
kelas atas dalam jarak dekat tanpa persenjataan lengkap."
"Kalau begitu, jangan menurutinya." Ujar Rinoa, "Kasihan Aria kalau kamu tinggal lagi.
Apalagi kedua anakmu."
"Aku tahu?" Rifan menghela nafas lagi, untuk ke sekian kalinya. "Oh ya, kalian sedang apa
di sini?" "Membicarakan hal yang sama. Program perlindungan itu." kata Charles. "Err" Rifan,
kurasa program perlindungan itu cukup masuk akal bagiku sekarang."
"Apa?" "Ya. Kau pernah bilang kalau program itu tidak masuk akal bagimu, kan?" kata Charles
lagi, "Setelah kutelaah lagi, aku mulai mengakui, program itu masuk akal, terutama dari segi
logikanya." "Apa" maksudmu?"
"Ini." Rinoa menyerahkan sebuah map yang sedari tadi dipegangnya. "Ini salinan lengkap
rencana program perlindungan itu. Dan" setelah kami baca, kurasa itu cukup masuk akal.
Terutama, untuk anak-anak kita."
Kening Rifan semakin berkerut dalam. Dia menerima map itu dan membacanya.
"Sebaiknya kamu rahasiakan map itu dari semua orang kecuali sesama The Chronos
Sapphire." Bisik Charles, "Aku mendapatkannya dari Jonathan Jackson."
"Jonathan" Anak itu?"
"Uh-huh" dia mengatakan kalau program itu adalah usulan darinya." Kata Charles, "Aku
baru tahu kalau dia adalah salah satu pemegang saham terbesar perusahaan komunikasi yang
memiliki banyak cabang itu"tunggu, bukankah perusahaan yang dikelolanya, JC Company adalah
salah satu mitra perusahaan keamananmu?"
"Memang." "Kenapa kau tidak pernah cerita?"
"Kurasa itu tidak berpengaruh padamu yang juga sedang menjalankan perusahaan
pembuatan senjata, bukan?" kata Rifan tersenyum kecil.
"Sialan?" "Tapi?" Rifan membaca lagi map di tangannya, "Kau yakin kalau program itu benar-benar
masuk akal" Bahkan untuk anak-anak kita semua?"
"Ya. Aku yakin. Lagipula, kau tahu, kan, aku termasuk The Chronos Sapphire yang
penyerapan nalarnya cukup tinggi?" kata Charles tersenyum lebar, "Tidak ada salahnya kita
memercayai program itu. Coba bicarakan hal ini dengan Aria dan Dylan. Aku juga akan
membicarakan hal ini pada Lord, Duke, dan Stevan."
Rifan mengangguk-angguk, "Baiklah. Kurasa aku harus pergi ke perusahaan. Ada hal yang
harus kuselesaikan hari ini."
"Oke. Sampai bertemu lagi."
"Oh ya, jangan lupa, besok datang ke perusahaanku."
"Memangnya ada apa?" tanya Rifan.
"Kau tahu sendiri perusahaan pembuatan senjataku berkembang cukup pesat." Charles
tersenyum lebar, "Akan ada pesta kecil-kecilan untuk merayakannya. Pastikan kalian sekeluarga
datang. Dan jangan khawatirkan soal pakaian, acara itu tidak terlalu formal, kok. Kalian bebas mau
memakai baju apa saja. Baju tarian Hawai juga boleh."
"Dasar?" Charles tertawa dan melambai pada Rifan sebelum berjalan pergi bersama Rinoa.
Rifan hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Charles yang tidak pernah berubah. Masih
suka bercanda seperti dulu.
"Dan karena itu jugalah dia yang menjadi badut diantara kami semua." Katanya sambil
tertawa kecil, sebelum akhirnya pergi ke basement untuk mengambil mobilnya.
*** Lumina berjalan ke kelas sambil menatap langit di luar jendela. Langitnya agak mendung, yang
menurutnya cukup aneh, karena beberapa hari ini tidak pernah hujan walau langitnya sering
ditutupi awan kelabu. Sama seperti suasana hati seseorang yang sedang bersedih, tapi, raut wajahnya tidak
menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Katanya dalam hati.
"Sama sepertiku."
Lumina berhenti dan mendekati jendela. Ia mengangkat sebelah tangannya dan sempat
berhenti ketika dia merasa ingin menulis namanya sendiri di udara. Bayangan visi masa depan
yang sempat membuatnya ketakutan itu kembali terlintas di dalam pikirannya.
"Aku tidak boleh takut. Aku harus mencobanya." Ujar Lumina memantapkan hati.
Ia menulis namanya sendiri di udara dan membuat gerakan seperti sedang menghapus
tulisan, seketika itu juga dia melihat visi tentang masa depannya. Dan Lumina menghembuskan
nafas lega ketika visi yang dilihatnya tidak semenakutkan yang ia kira. Tapi, visi itu masih cukup
untuk membuatnya kepikiran.
"Apa" visi itu akan menjadi nyata?" tanyanya pada diri sendiri, "Apa semua itu" akan
menjadi nyata seperti yang terjadi pada Oniichan?"
Dia yakin, dia tidak akan bisa menjawabnya. Orang lain juga tidak akan bisa menjawabnya.
Hanya waktu yang bisa menjawabnya, seiring waktu berjalan, ia akan mengetahuinya.
Lumina mengangkat tangannya lagi dan menyentuh kaca jendela yang dingin. Ia
menghembuskan nafas dan menyandarkan kepalanya di sana tanpa tahu ada yang sedang


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memperhatikannya di kejauhan di luar gedung sekolah.
"Di sini kamu rupanya."
Lumina membuka matanya dan menoleh ketika dia melihat Nathan berdiri di
belakangnya. "Kamu?" "Sedang apa di sini?" tanya Nathan sambil berdiri di sebelahnya. "Pelajaran sudah dimulai,
lho." "Aku hanya sedang ingin membolos pelajaran." Lumina mengedikkan bahu.
"Hmm?" Nathan manggut-manggut, "Bagaimana keadaan Reno?"
"Dia baik-baik saja. Lukanya sudah" tidak terlalu sakit lagi. Jadi dia memutuskan untuk
kembali ke kelas." Jawab Lumina.
"Oh?" Mereka berdua diam. Tidak ada yang bicara lagi. Dan Lumina merasa tidak enak dengan
situasi yang seperti ini. Dia tidak terlalu suka suasana yang terlalu hening.
"Anu, Lumina," "Ya?" "Ada" sesuatu yang ingin kukatakan." Kata Nathan, "Sebenarnya sudah lama aku ingin
mengatakannya, tapi, situasinya selalu tidak tepat."
"Memangnya kamu ingin mengatakan apa?" tanya Lumina.
"Yang pasti, bukan pernyataan cinta. Aku tahu itu. Ini" sesuatu yang lain."
"Apa itu?" Nathan menatap Lumina sebentar, sebelum menghembuskan nafas.
"Sebenarnya, aku?"
"Tunggu sebentar," Lumina menyela ketika dia merasakan ponselnya berdering. Ia melihat
sebentar layar ponselnya dan kemudian menoleh kearah Nathan lagi, "Nah, kamu ingin bilang
apa?" "Apa kamu percaya kalau aku bukan Nathan yang kamu kenal?"
"Apa?" Lumina mengerutkan kening mendengar ucapan Nathan, "Apa" maksudnya itu?"
"Lumina, kalau aku bukan Nathan yang pernah kamu kenal dulu" apa yang akan kamu
lakukan?" tanya Nathan lagi. "Ini" ini hanya perumpamaan saja. Kalau aku bukan Nathan yang
pernah kamu kenal ketika masih kecil, dan aku adalah orang lain yang menyamar sebagai dia,
apakah kamu akan menjauhiku, membenciku, atau" melakukan hal lain yang ingin kamu lakukan
pada orang yang sudah membohongimu?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Lumina tertawa hambar, masih tidak mengerti apa maksud
Nathan. "Nathan, aku tidak mengerti apa maksudmu. Serius. Bicaramu aneh sekali."
"Lumina, jawab saja?"
Lumina menghembuskan nafas dan memutar bola matanya, "Kalau kamu adalah orang
lain" ya" Mungkin aku akan membencimu. Atau bisa saja, aku akan menjauh darimu."
Jawaban Lumina membuat wajah Nathan sedikit memucat.
"Lalu" kalau misalnya, Nathan yang asli yang menyuruhku untuk menyamar menjadi dia"
bagaimana" Apa kamu juga akan membenci Nathan yang asli?"
"Kenapa kamu harus menanyakan hal itu?"
"Itu?" Nathan tidak tahu apa yang membuatnya tidak bisa menjawabnya, "Itu?"
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku akan membenci Nathan yang palsu dan
Nathan yang asli juga. Kenapa" Karena mereka berdua sudah membohongiku dan aku benci
orang yang berbohong padaku. Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk menjadi dirinya. Aku
tidak suka itu." "Be, begitu, ya?"
"Memangnya kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Lumina lagi.
"Tidak ada apa-apa, kok." Nathan tersenyum, "Aku hanya" ingin tahu saja."
"Oh?" "Kenapa" Tidak boleh, ya?"
"Bukannya tidak boleh. Aku hanya heran saja." kata Lumina, "Kamu tidak pernah
menanyakan hal seperti itu dan lebih sering menggodaku ketimbang berbicara serius. Jadi" itu
agak aneh." "Begitu, ya?" Nathan kali ini tertawa. "Apa aku selalu tidak serius di matamu?"
Lumina mengedikkan bahu. "Aku akan pergi ke kelas. Jam pelajaran yang terakhir akan segera dimulai, kan?"
"Ayo, kita bareng ke kelas." Nathan menggenggam Lumina. "Akan kupastikan kamu
sampai ke kelas dengan selamat."
"Memangnya aku perlu pengawal, ya?" Lumina tertawa pelan.
*** Guru di kelas Reno baru saja keluar. Pelajaran lain akan segera dimulai dengan guru yang lain
pula. Reno melepas perban yang menutupi luka di kepalanya dan membuang perban itu ke tempat
sampah. Ia menyentuh dahinya. Tidak ada bekas kalau di sana pernah ada luka. Dia
menghembuskan nafas dan menyandarkan punggungnya di punggung kursi.
"Sampai sekarang aku masih kagum dengan kecepatan penyembuhan luka The Chronos
Sapphire." Gumamnya.
"Lukamu sudah sembuh?" tanya Snow yang duduk di sebelahnya. Sarah dan Claire tidak
ada di kelas karena kakak-beradik kembar itu dipanggil oleh tim travelling mereka untuk
membahas rencana terbaru destination travelling mereka.
"Yah" seperti yang kamu lihat."
"Hee" cukup cepat juga, ya" Kukkira nanti malam lukamu itu benar-benar akan sembuh,"
ujar Snow lagi, "Oh ya, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke game center" Aku sedang ingin
menjajal permainan baru yang ada di sana."
"Boleh juga" aku juga sedang tidak mood untuk latihan malam ini." kata Reno, "Oh ya,
kamu sudah memeriksa tangga tempatku jatuh tadi?"
"Kami sudah memeriksanya sekali lagi." Snow mengangguk, "Dan Claire serta Sarah
menemukan sesuatu." "Oh ya" Apa itu?"
"Ini." Snow memperlihatkan sebuah saputangan berwarna biru tua pada Reno.
"Saputangan?" "Saputangan dengan sulaman terbaik." Kata Snow. "Sarah yang menemukannya di dekat
tangga. Katanya, dia kenal jenis sulaman seperti ini. Salah seorang temannya pernah mempelajari
jenis sulaman ini dari seseorang. Coba perhatikan sulamannya lebih teliti."
Reno memperhatikan sulaman di setiap sisi saputangan itu. Halus. Nyaris tidak terasa di
kulitnya. Apalagi sulamannya menggunakan benang dengan warna yang sama dengan warna
saputangan itu sendiri. Ia mengelus sulaman itu lagi dan mengerutkan kening.
"Rasanya agak" kasar." Katanya. "Seperti ada tulisan?"
"Tulisan" Nah, itu yang ditemukan oleh Claire. Dia bisa membaca tulisan di saputangan
itu, dan" dia menulisnya di kertas, kalau-kalau kamu ingin membacanya."
"Mana" Berikan padaku."
Snow mengambil kertas yang ia simpan di dalam bukunya dan menyerahkannya pada
Reno. Reno menerima kertas itu dan membacanya.
"Hari penantian akan segera datang?" Reno mengerutkan kening, "Hanya ini?"
"Ya. Hanya itu. Tidak ada yang lain. Aku juga sudah bertanya apa masih ada lagi. Tapi,
kata Claire, hanya itu saja."
Reno manggut-manggut. "Kamu bilang tadi Sarah dan Claire tahu siapa yang membuat
sulaman ini." ujarnya, "Siapa yang membuatnya?"
"Soal itu, aku tidak tahu. Hanya Sarah dan Claire yang tahu." kata Snow, dan sekarang
mereka sedang tidak ada di sini."
"Yah" kita akan membicarakannya nanti." Reno menaruh saputangan itu di bawah laci
mejanya. "Aku akan bertanya pada mereka berdua nanti ketika kita sampai di rumah."
Snow mengangguk dan kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kebiasaan yang
diketahui Reno dari Snow: setiap kali tidak ada guru atau pelajaran, Snow akan memilih tidur
ketimbang membaca buku atau melakukan sesuatu yang lain.
Reno menghembuskan nafas dan menatap keluar jendela. Langit mendung. Suram. Sama
seperti pikirannya sekarang. Pikirannya benar-benar penuh saat ini.
Jangan terlalu banyak berpikir. Itu akan membuatmu lebih cepat tua"
"Apa?" "Ada apa, Reno?" tanya Snow.
"Ah" tidak. Tidak ada apa-apa." Reno menggeleng, "Err" apa kamu yang tadi berbicara
padaku tentang jangan banyak berpikir?"
"Tidak, tuh." Snow mendongak dan mengerutkan kening. "Memangnya kenapa?"
"Tidak" hanya saja tadi?"
Bukan Snow yang berbicara. Tapi, aku.
"Hah?" "Ada apa lagi?"
"Tidak." Reno menggeleng, "Aku" pergi keluar sebentar. Kalau ada guru yang datang,
bilang saja kalau aku pergi ke ruang kesehatan lagi."
Snow mengacungkan jempolnya tanpa mendongakkan kembali kepalanya. Reno pergi
keluar dan berhenti sekitar 10 meter dari kelasnya. Reno mencoba berkonsentrasi lagi. Dia yakin
tadi dia mendengar suara. Dan itu bukanlah suara Snow.
"Siapa kamu?" Aku" Suara di kepalamu, tentu saja. suara itu terdengar lagi. Aku tidak berada di tempatmu
berada sekarang. Aku berada di tempat yang cukup jauh darimu.
"Kamu bukan suaraku." Kata Reno mengerutkan kening. "Siapa kamu?"
Panggil saja aku" Clavis. Aku memang bukan suaramu. Aku adalah orang lain. Orang lain
yang bisa bertelepati denganmu secara tidak sengaja.
"Tunggu"kamu juga The Chronos Sapphire?"
The Chronos Sapphire" Apa itu"
"Kamu" tidak tahu" Lalu, bagaimana?"
Sudah kubilang padamu, aku bisa bertelepati denganmu tanpa sengaja. Bukan berarti aku
The" apalah yang kamu sebutkan tadi. Aku hanya orang biasa.
"B, begitu, ya?"
Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau aku bisa berbicara denganmu. Bisa aku tahu"
siapa namamu" "Aku" aku Reno."
Reno" Nama yang tampan. Kamu cowok, kan" Namaku, seperti yang kukatakan tadi,
Clavis. Panggil saja aku begitu. ujar suara itu lagi. Aku senang bisa bertelepati denganmu. Kapankapan kita akan bertelepati lagi. Sampai nanti.
"A"tunggu!!"
Suara itu langsung menghilang. Seperti sambungan telepon, langsung terputus begitu saja.
Reno tidak tahu apakah suara tadi itu nyata atau tidak, tapi"
"Apa tadi itu" kemampuan yang sama seperti" Lumina?" tanyanya pada diri sendiri, "Ada
suara orang lain yang bisa berbicara denganmu di dalam kepalamu sendiri."
*** "Hari yang melelahkan?" keluh Lumina sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
"Setiap hari kamu memang mengeluhkan hal yang sama, bukan?" ujar Rebecca di
sebelahnya. "Jangan terus-terusan mengeluh. Tidak baik, lho?"
"Bagimu memang tidak baik, tapi, bagiku, mengeluh adalah salah satu cara untuk
melepaskan ketegangan di otak dan saraf-sarafku." Balas Lumina sambil tersenyum lebar.
Rebecca hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Lumina.
"Aku duluan, ya" Aku tidak mau membuat Nathan menunggu."
"Apa?" Rebecca yakin dia mendengar Lumina menyebut nama Nathan.
"Nathan" Kamu tadi bilang" Nathan?"
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Lumina balik.
"Kamu benar-benar pacaran dengannya, ya?"
"Rebecca. Kita juga sudah sering membahas hal ini setiap hari." kata Lumina menghela
nafas dengan gaya mendramatisir, "Aku dan dia tidak berpacaran. Kami hanya berteman. Kamu
sendiri tahu kalau aku sedang tidak ingin pacaran sekarang."
"Lalu, kenapa tadi kamu bilang kam utidak bisa membuat Nathan menunggu?" tanya
Rebecca balik. "Oh, itu?" Lumina menggaruk-garuk kepalanya, "Oniichan ingin pergi ke game center
bersama Snow, dan tidak bisa pulang bareng bersamaku. Jadi, ya" singkatnya, Nathan
menawarkan diri untuk menemaniku pulang."
"Itu akan menjadi gossip paling hot, fresh from the oven besok pagi kalau kamu memang
akan pulang bareng bersama Nathan!" kata Rebecca, "Kamu sadar atau tidak" Kamu mulai
perhatian padanya!" "Tidak. Aku dan dia hanya bersikap seperti teman." Lumina mengerutkan kening, "Dia
juga bersikap seperti seorang teman bagiku."
"Oh, bagi kalian berdua begitu, tapi, bagi yang mengamati kalian berdua" Itu adalah suatu
hal yang bisa membuat mereka gigit jari. Terutama wartawan. Belakangan ini kamu mulai diincar
wartawan karena berhasil meraih juara pertama lomba menyanyi yang disiarkan di televisi,
bukan?" "Itu sudah lebih dari 2 tahun yang lalu."
"Tapi, berita itu masih beredar dari sekarang." kata Rebecca, "Hati-hati saja pada hiu-hiu
itu. Mereka bisa menggigit kalian berdua bulat-bulat."
Lumina hanya nyengir lebar dan mengedikkan bahu.
"Baiklah, aku pergi dulu. Besok pagi, kita akan satu kelompok dalam pelajaran memasak.
Pastikan kamu membawa pesananku, ya?" kata Lumina.
"Tenang saja. Aku tidak akan lupa."
Lumina berlari pelan kearah ruang loker dan melihat Nathan sudah berdiri di dekat pintu
lokernya. "Maaf, aku tadi mengobrol sebentar dengan Rebecca." Kata Lumina ketika dia sudah
berada di dekat Nathan. "Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kalau harus menunggu." Nathan tersenyum.
Lumina segera mengganti sepatunya dan menghembuskan nafas.
"Ayo, kita pulang."
*** "Kamu Reno, kan?"
Reno dan Snow yang asyik makan es krim menoleh ketika seorang gadis kira-kira
seumuran Lumina menyapa mereka.
"Ya." Reno mengerutkan kening. Dia sepertinya pernah melihat gadis itu. "Maaf" kamu
siapa?" "Kamu lupa" Aku Clarissa, teman satu kelas Lumina di Vocalizer." Ujar gadis itu,
"Kemarin malam aku ke rumahmu, kan" Masa kamu lupa begitu saja?"
"Oh" kamu teman Lumina." Kata Reno mengangkat alisnya, "Maaf, aku tidak
mengenalimu. Kamu kelihatan" berbeda dari kemarin malam."
Penampilan Clarissa hari ini memang sangat berbeda dengan kemarin malam. Reno
sempat memperhatikan Clarissa kemarin malam, bergaya anggun seperti wanita Perancis asli.
Clarissa yang ada di hadapannya sekarang lebih kelihatan sebagai gadis gothic-lolita seperti seorang
cosplayer. Reno tidak tahu apakah di game center yang dikunjunginya dan Snow ini sedang ada
event cosplay atau tidak.
Clarissa tersenyum lebar dan duduk di sebelah mereka, "Tidak keberatan jika aku
bergabung, kan" Aku sedang sendirian dan butuh teman sebelum event-nya dimulai."
"Memangnya ada event apa?" tanya Snow, "Aku tidak melihat ada spanduk bertuliskan
satu event-pun di sini."
"Tentu saja tidak di game center ini." kata Clarissa tertawa, "Event itu diselenggarakan di
taman di dekat sini. Sudah banyak orang yang berkumpul di sana. Dan" aku sedang melarikan
diri." "Hah?" "Ah! Itu dia!!"
Suara hiruk-pikuk di belakang membuat mereka menoleh. Reno dan Snow mengerutkan
kening ketika sekelompok orang mendekat kearah mereka.
Tapi, tidak dengan Clarissa.
"Uh-oh" mereka lagi." gerutu Clarissa pelan.
"Siapa?" "Wartawan." kata Reno yang mengetahui siapa orang-orang yang sedang mendekati
mereka itu, "Dan kupikir penggemar. Beberapa diantara mereka membawa kamera dan peralatan
lain yang biasa dibawa penggemar."
"Mereka mencari siapa?" tanya Snow mengerutkan kening.
Reno melirik kearah Clarissa yang menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka mencariku." Kata Clarissa, yang mengerti kalau Reno meliriknya, "Aku termasuk
cosplayer yang cukup" terkenal."
"Apa?" "Itu Clavis!!" Clavis" "Maaf, aku harus pergi dulu." Kata Clarissa sambil mengetatkan tali sepatunya, "Sampai
jumpa lagi. Senang bertemu kalian di sini."
"Y, ya?" Clarissa berlari cepat melewati kerumunan yagn hendak mendekatinya tanpa hambatan.
Orang-orang itu kembali mengejar Clarissa keluar dari game center, sementara Reno mengerutkan
kening mendengar nama Clavis yang disebut-sebut oleh mereka.
"Cla" vis?"
"Ada masalah, Reno?" tanya Snow.
"Err" tidak apa-apa." Reno menggeleng, "Bagaimana kalau kita langsung ke game stage
saja" Aku sudah tidak sabar menjajal permainan baru di sini."
"Oke!!" *** Clarissa berlari menghindari orang-orang yang mengejarnya dan bersembunyi di balik sebuah
gedung yang tidak terpakai. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Untung saja aku berhasil lepas dari mereka." katanya sambil melihat kerumunan orang
tadi sudah tidak terlihat, "Dan untung saja" aku cepat-cepat kabur sebelum Reno curiga padaku."
Clarissa memperbaiki riasannya dan melihat lebih banyak orang yang sudah berkumpul di
taman. Sambil melihat ke sekeliling terlebih dahulu, ia berjalan kearah teman-temannya yang
sudah menunggu. *** "Bagaimana kalau kita pergi ke taman?" tanya Nathan, "Kudengar di sana ada event yang
diselenggarakan sebuah komunitas cosplayer."


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Benarkah?" "Ya. Kebetulan aku mendapat undangan." Nathan memperlihatkan dua buah tiket kecil
berwarna pelangi di tangannya, "Aku mendapatkannya dari temanku. Dan aku tahu, kamu suka
sekali event-event seperti ini. Kamu juga seorang cosplayer, kan?"
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Lumina mengerutkan kening, "Aku tidak"oh, aku tahu.
Wartawan. Benar, kan?"
Nathan hanya tersenyum lebar.
"Bagaimana" Mau ke sana?"
"Ya" boleh juga. Lagipula aku sudah lama tidak pergi ke event semacam itu." Lumina
mengangguk-angguk, "Ah, lebih baik kita ke rumah dulu. Aku harus berganti baju terlebih
dahulu." "Dengan baju cosplay-mu?"
"Ya. Bagiku, jika ingin datang ke event seperti itu, aku harus ber-cosplay juga." Lumina
tersenyum, "Aku, kan, juga cosplayer."
"Begitu?" "Kamu tidak keberatan kalau menungguku ganti baju terlebih dahulu?"
"Tidak. Aku juga ingin tahu bagaimana penampilanmu dalam ber-cosplay." Jawab Nathan.
"Bisa saja?" Lumina memukul bahu Nathan pelan sambil tertawa.
Mereka sampai di depan rumah Lumina. Nathan baru saja akan membukakan pintu pagar
ketika dia mendapat telepon.
"Ponselmu berbunyi." Kata Lumina.
"Ya," Nathan mengangguk, "Kamu masuk saja duluan, aku akan menunggumu di teras
saja." "Baiklah." Nathan segera mengangkat telepon yang menunggunya sementara Lumina masuk ke dalam
rumah. Nathan memperhatikan Lumina sebentar sebelum berbicara pada orang yang
meneleponnya. "Halo?" Lumina masuk ke kamarnya dan segera berganti pakaian. Ia mengambil satu baju
kesukaannya ketika ber-cosplay. Lumina memang suka ber-cosplay sejak kecil, turunan dari ibunya
yang dulu juga suka ber-cosplay dan sering menghadiri event yang bertemakan cosplay.
Sekarang memang sudah tahun 2049, tapi, budaya cosplay, anime, dan komik dari Jepang
tidak pernah surut, masih saja ada orang yang menggemari budaya tersebut. Baik dari kalangan
muda maupun dewasa. Tidak terkecuali dirinya. Mungkin karena turunan dari ibunya juga,
Lumina menyukai hal-hal berbau Jepang.
Ia kemudian memakai pakaiannya, dan memakai sepatu boot putih, salah satu dari sekian
banyak koleksi sepatu yang dimiliki.
Oh, tentu saja, dia bisa membeli apa saja dan bisa memiliki apa saja karena kedua
orangtuanya yang terkenal. Tapi, tidak. Sepatu itu ia beli dari uang tabungan dan uang hasil kerja
sambilannya ketika liburan. Walau dia adalah anak dari orangtua berkecukupan, baik Lumina dan
Reno tidak pernah meminta apapun dari orangtua mereka kecuali benar-benar diperlukan seperti
untuk pelajaran atau penunjang pendidikan mereka. Mereka berdua tidak pernah meminta uang
lebih dari uang saku bulanan mereka.
Ketika sudah selesai berdandan, ia mengisi tas kecilnya dengan dompet, ponsel, dan
peralatan make-up seadanya yang biasa ia gunakan dan bergegas keluar. Ia melihat Nathan
bersandar di dinding sambil menatap kedua kakinya dengan tatapan kosong.
"Nathan?" Lumina memanggilnya, tapi, Nathan kelihatannya tidak mendengar. Dia bahkan tidak
merespon. "Nathan" Nathan?"
"Ah, ya?" Nathan mengerjapkan mata dan menatap Lumina, "Maaf. Aku?"
Aliran kata-katanya terhenti ketika melihat penampilan Lumina.
"Wow." "Kenapa?" "Tidak. Hanya saja" kamu cantik." kata Nathan mengerjapkan mata, "Cosplay yang unik."
"Ini kubuat sendiri." kata Lumina tersenyum lebar, "Tapi, sepatunya tidak. Aku
membelinya dari online-shop."
Nathan manggut-manggut. "Ayo, kita langsung pergi." Lumina menggamit tangan Nathan dan menutup pintu di
belakangnya. Lumina tidak sadar kalau Nathan memperhatikan tangannya yang menggenggam tangan
Nathan. Lumina seakan tidak menyadari hal tersebut. Dia tersenyum memikirkan event yang akan
dihadirinya, tidak menyadari tatapan aneh Nathan.
*** Suasana di taman di dekat game center ternyata sangat ramai. Taman yang biasanya sepi dan hanya
dikunjungi oleh beberapa pasangan muda ataupun orangtua itu kini penuh dengan orang-orang
yang berdandan aneh dan unik. Yup. Para cosplayer.
Reno dan Snow memutuskan pergi ke taman itu setelah bermain game di game center.
Suasana di sana cukup heboh. Reno melihat ada beberapa cosplayer yang dikerubungi untuk
difoto maupun berfoto bersama penggemar mereka. Memang, seorang cosplayer yang dikenal
lewat dunia maya akan mendatangkan rasa penasaran dan akan membuat orang-orang mencari
tahu tentang mereka. Dan tanpa sadar, mereka dikenal tidak hanya di dunia maya, tapi, juga dunia
nyata. Lumina juga termasuk seperti itu. katanya dalam hati, mengingat kalau Lumina adalah
seorang cosplayer yang cukup aktif di komunitas yang diikutinya.
"Harusnya tadi kita juga mengajak Lumina." Kata Snow, "Dia cosplayer juga, kan" Apa
nama aliasnya?" "Yuri-nin. Itu nama yang dipilihnya sebagai nama alias." Jawab Reno, "Entah apa arti "nin
di belakang nama Yuri itu."
"Yah" seorang cosplayer kadang memilih nama yang unik, bukan" Sama seperti dandanan
mereka." ujar Snow, "Bagaimana kalau kita melihat-lihat. Siapa tahu Lumina juga ada di sini."
"Boleh juga. Ide yang bagus."
Ketika mereka menelusuri taman, mereka berdua bertemu lagi dengan Clarissa yang sudah
menjadi bulan-bulanan fans-nya. Bukan berarti Clarissa dipukuli atau tidak, tapi, cewek itu sedang
asyik menerima ajakan fans-nya untuk difoto ataupun berfoto, beberapa bahkan ada yang meminta
tanda-tangan. Reno melihat gaya yang dibuat Clarissa setiap kali jepretan kamera mengarah
padanya. Sangat" fotogenic.
"Wah" dia hebat juga." Kata Snow di sebelahnya, "Aku tidak tahu Clarissa, teman Lumina
itu cukup terkenal sebagai cosplayer."
Reno mengangguk setuju dengan ucapan Snow.
Clarissa tidak sengaja melihat mereka dan tersenyum lebar. Dia berbicara sebentar dengan
para fans-nya, sebelum berjalan mendekati mereka.
"Kukira kalian tidak tertarik dengan acara seperti ini." kata Clarissa, "Hai lagi."
"Hai juga." Kata Reno tersenyum, "Mau bagaimana lagi" Lumina juga termasuk cosplayer
yang digandrungi saat ini."
"Oh ya" benar juga. Dia Yuri-nin, ya?" Clarissa tertawa kecil. "Aku lupa mengajaknya
kemari. Tapi, kurasa dia akan datang sebentar lagi."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Itu" rahasia." Clarissa menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya dan mengedipkan
mata. "Kita akan melihatnya sebentar lagi. Orang-orang yang berkumpul di event ini juga sedang
menunggunya untuk muncul."
"Oh ya?" "Yuri-nin " Lumina, adalah cosplayer yang cukup membuat laki-laki tergoda." Kata Reno
menghembuskan nafas, "Aku benar, kan" Karena semua orang yang ada di sini kebanyakan adalah
laki-laki." "Benar." Clarissa tertawa, "Kamu cukup tahu juga, ya?"
Reno hanya mengedikkan bahu.
"Ah, itu dia datang."
Mereka bertiga menoleh kearah dua orang yang berjalan memasuki taman. Yang satu
memang berdandan ala cosplayer. Mini dress hitam yang ditutupi dengan cardigan pendek tipis
berwarna putih dan sepatu boot berwarna senada dengan kardigannya. Reno bisa tahu itu adalah
Lumina karena dia pernah melihat kostum itu sebelumnya. Rambut Lumina diikat menyamping
ke kiri dan dia kelihatan cantik, walau dari jarak jauh seperti ini.
Tapi, yang membuatnya heran adalah orang yang datang bersamanya. Orang itu bukan
Rebecca. Bukan juga salah seorang temannya dari komunitas cosplayer, tapi"
"Nathan?" Snow seakan menyuarakan pikiran Reno. "Lumina datang bersama" Nathan?"
"Wow. Ini perkembangan yang mengejutkan." Kata Reno bersiul pelan, "Kuharap adikku
itu tidak tertangkap umpan Nathan."
"Hah?" "Tidak apa-apa." Reno tertawa kecil melihat raut wajah Snow yang kelihatan bingung, "Ah,
aku akan menghampirinya sebentar, dan?"
"Tidak perlu. Biar aku yang menghampiri mereka." sela Clarissa. "Aku harus bertemu
Yuri-nin dulu. Kami berdua perlu memuaskan fans-fans kami. Kalian berdua silakan melihat-lihat
lagi, sementara kami berpose. Sampai nanti."
Clarissa berjalan kearah Lumina dan Nathan. Reno sempat melihat wajah Lumina
kelihatan terkejut melihat Clarissa, kemudian berubah menjadi tawa lebar dan kemudian berjalan
berdua ke salah satu kelompok cosplayer yang ia duga sebagai komunitas cosplayer yang diikuti
oleh Lumina. "Kita melihat-lihat lagi?" tanya Snow.
"Boleh. Lagipula aku sedang ingin memperhatikan adik kecilku itu." ujar Reno, "Aku
merasa kalau aku perlu mengawasinya sekarang."
"Begitu?" *** Lumina benar-benar lupa kalau event yang didatanginya ini adalah event yang pernah disinggung
oleh Clarissa dulu. Ketika Clarissa menghampirinya dan mengobrol sebentar dengannya, barulah
ia ingat event apa yang dihadirinya ini dan kenapa Nathan bisa memiliki tiketnya.
Ternyata Clarissa-lah yang memberikan tiket itu pada Nathan.
"Untung saja aku berhasil membujuk Nathan untuk memberikan satu tiket padamu." Kata
Clarissa. "Bagaimana kamu bisa kenal Nathan?" tanya Lumina heran.
"Itu cerita yang panjang. Yang jelas, aku mengenalnya dari kakakku." Clarissa tersenyum
penuh arti, "Ah, ayo, ikut aku. Semuanya sudah menunggumu, lho. Kamu lama tidak berkunjung
ke komunitas dan jarang menghadiri event seperti ini lagi."
"Kamu lupa kalau aku berusaha menghindari wartawan yang mengejar-ngejar aku?"
Clarissa tertawa renyah dan mengajak Lumina ke salah satu kelompok cosplayer yang
berkumpul di bawah sebatang pohon.
"Hai, semuanya, tebak siapa yang kubawa bersamaku." Kata Clarissa menyapa.
"Ah! Yuri-nin!!"
Lumina tersenyum lebar menanggapi sambutan yang diberikan padanya.
"Kamu lama sekali tidak berkumpul bersama kami, sudah lupa, ya?"
"Tidak" aku sedang sibuk. Jadi, jarang berkumpul di komunitas." Kata Lumina,
"Bagaimana kabar kalian semua" Maaf, aku baru bisa datang hari ini."
"Ah" kami tahu kamu sibuk." Ujar seorang gadis dengan wig merah menyala dan
berpakaian serba merah seperti rambutnya, "Ngomong-ngomong, siapa yang datang bersamamu
tadi" Pacarmu, ya?"
"Bukan. Dia hanya teman, kok."
"Wajahnya itu tampan juga." Ujar si rambut merah lagi, "Benar dia bukan pacarmu?"
"Bukan, kok?" kata Lumina lagi, "Tapi, jangan coba-coba mendekatinya. Dia tidak akan
tertarik padamu." "Urgh" kamu mengatakannya seolah dia adalah singa yang siap menerkam saja."
Lumina terkekeh. Mereka kemudian berbicara banyak hal. Sesekali mereka menanggapi
permintaan berfoto ataupun difoto, atau memberikan tanda tangan. Lumina banyak tersenyum
hari ini. Dia juga baru sadar, kalau dia sangat merindukan hobinya yang satu ini.
"Nanti malam, acaranya akan lebih meriah." Kata Clarissa, "Kamu masih tetap di sini
sampai malam, kan?" "Tentu." Lumina mengangguk, "Aku sudah menulis sticky notes untuk kakakku, dan juga
mengirim pesan pada orangtuaku kalau aku mungkin akan pulang malam karena event ini."
"Ah, mengenai kakakmu?" Clarissa menunjuk Reno dan Snow yang asyik duduk di salah
satu kedai tenda yang ada di taman, ?" itu, dia di sana."
"Hah?"" Lumina melihat kearah yang ditunjuk Clarissa dan bengong melihat Reno ada di
sini bersama Snow. Lumina juga melihat Nathan yang tadi datang bersamanya juga duduk bersama mereka
berdua. Reno berbicara dengan Nathan sambil sesekali tertawa. Nathan juga sesekali melihat
kearah Lumina sambil tersenyum.
"Dia datang kemari setelah bermain di game center." Kata Clarissa, "Aku tadi bertemu
dengannya di game center ketika aku berusaha kabur dari fans-fans-ku."
"Oh?" Lumina manggut-manggut, "Yah" kurasa dia sedang tidak ada kerjaan hari ini."
Dan juga, hari ini latihan diliburkan. Katanya lagi dalam hati. Memang, latihan The
Chronos Sapphire mereka hari ini diliburkan karena mereka semua punya kesibukan masingmasing hari ini.
"Menurutmu begitu, ya" Kelihatannya kakakmu itu sedang berusaha bersikap protektif
padamu." "Ah, tidak?" Lumina tertawa kecil, "Reno Oniichan jarang bersikap seperti itu sekarang.
Yah" kalau dulu, sih, dia selalu bersikap seperti itu. Sekarang sikap protektifnya mengendur
karena sekarang aku sudah besar."
"Hmm?" Clarissa nyengir lebar sambil menyikut lengan Lumina, "Jangan katakan padaku
itu karena Nathan." "Tidak" kamu kenapa sama seperti teman-temanku yang lain, sih" Kamu juga ingin bilang
kalau Nathan itu pacarku, kan?"
"Aku tidak mengatakannya, lho."
Mereka berdua tertawa. Tapi, kemudian tawa Lumina terhenti ketika dia tanpa sengaja melihat visi lagi. Dan visi itu
membuatnya tanpa sengaja berteriak keras mengagetkan orang-orang di sekitarnya.
Ketika Reno sedang asyik menikmati takoyaki yang dibelinya, dia mendengar teriakan
Lumina dari kejauhan. Ia mendongak dan melihat adiknya itu berdiri ketakutan dan sedikit
menjauh dari teman-temannya.
"Lumina?" Nathan berlari lebih dulu kearah Lumina. Reno sendiri meninggalkan makanannya dan
berlari kearah Lumina secepat mungkin. Clarissa sedang menahan Lumina untuk tidak lari dan
berusaha menenangkannya. "Apa yang terjadi?" tanya Reno ketika ia sudah sampai di sana.
"E, entahlah. Yuri-nin tiba-tiba berteriak keras dan kelihatan ketakutan." kata salah seorang
yang memakai wig berwarna hijau tua. "Saat kami tanya, dia tidak mau menjawab dan ingin lari."
Visi lagi! katanya dalam hati.
"Reno," Ia menoleh kearah Clarissa yang sedang memeluk Lumina yang menutup wajahnya dengan
kedua tangan. Ia segera berjongkok di hadapan Lumina dan memegang tangan adiknya.
"Lumina, kamu bisa mendengarku?"
Lumina tersentak kaget dan menatap Reno. Tatapan matanya kelihatan seperti kelinci
ketakutan dan" tunggu. Reno merasakan sesuatu dari tangan Lumina. Ya. Dia bisa merasakannya.
Ketakutan Lumina, dan"
"O, Oniichan?" "Kamu baik-baik saja?" tanya Reno.
"M, mereka" mereka" akan?"
"Jangan takut. Itu belum terjadi!" kata Reno menggenggam tangan Lumina lebih erat.
"Kamu tidak boleh takut dengan itu semua."
Lumina tidak tahu apa yang harus dilakukannya menanggapi ucapan kakaknya. Tangan
Reno menggenggam tangannya terlalu erat. Lumina tahu, kakaknya khawatir padanya. Dia tahu,
Reno sangat khawatir padanya setiap kali Lumina ketakutan seperti sekarang.
Tapi, visi yang selalu dilihatnya belakangan ini membuatnya" benar-benar takut. Nyaris
ingin lari dari kenyataan. Tapi"
Kamu tidak boleh takut, Lumina. Suara tiba-tiba muncul di kepalanya, Yang dikatakan
oleh kakakmu itu benar. Kamu tidak boleh takut dengan semua visi itu. Percayalah" tidak ada
yang perlu ditakutkan"
"A, aku" tidak apa-apa?" Lumina menelan ludah. "Aku baik-baik saja."
Reno mengendurkan genggamannya dan membiarkan Clarissa menenangkannya sebentar.
Reno masih mengawasi Lumina ketika Nathan berdiri di sebelahnya.
"Apa yang terjadi pada Lumina?" tanyanya.
"Dia hanya sedikit" tegang. Mungkin." Kata Reno. "Tapi, dia akan baik-baik saja."
"Apa Yuri-nin baik-baik saja?" tanya salah seorang teman Lumina.
"Dia akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ujar Reno, "Maaf, kalau
dia membuat kalian kaget seperti tadi."
"Ah, tidak apa-apa?" ujar seorang lagi, kali ini yang memakai wig berwarna biru tua dan
berpakaian cukup" terbuka. Ia tersenyum manis, "Aku ketua komunitas ini. Helena. Kamu kakak
Yuri-nin, kan?" Reno mengangguk, "Maaf, kalau dia membuat kalian kaget." Katanya lagi.
"Tidak apa-apa. Lagipula, seperti katamu tadi, aku yakin, Yuri-nin baik-baik saja." Helena
tersenyum, kemudian mengerutkan kening, "Apa dia pernah seperti ini sebelumnya" Kalau iya,
apa dia sudah pernah periksa ke dokter" Mungkin dia berhalusinasi karena kelelahan."
"Bagaimana?" "Aku adalah anak psikologi." Ujar Helena tersenyum lebar, "Kejadian yang dialami Yuri-
nin sudah pernah kulihat berkali-kali."
"O, oh?" "Aku akan meminta Clavis menemani Yuri-nin. Jangan khawatir, Clavis juga adalah
psikolog handal di komunitas kami."
"Clavis?" kali ini Reno yang mengerutkan kening, "Clarissa" nama aliasnya Clavis?"
"Ya. Kamu baru tahu?"
"Err" ya."
"Kalau begitu, bersyukurlah karena kamu sudah mengetahui nama asli Clavis." Kata
Helena, "Banyak yang tidak tahu siapa nama aslinya kecuali anggota komunitas kami."
Reno hanya mengangguk, walau dia tidak paham sama sekali. Ia menatap Clarissa yang


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

masih menenangkan Lumina. Pikirannya tertuju pada suara yang tadi siang berbicara di dalam
otaknya. Clavis" apa Clarissa adalah Clavis itu"
*** "Kita akan mengisi penampilan dalam konser di tempat ini." kata Julia sambil mengajak Aria ke
belakang panggung di sebuah taman di dekat game center yang cukup terkenal.
Aria manggut-manggut sambil meminum air putih dari botol yang dipegangnya dengan
sedotan. "Kukira aku kenal game center di seberang taman ini."
"Tentu saja. Itu adalah game center yang sering dikunjungi Reno, bukan?" kata Julia lagi,
"Aku sering melihat anakmu itu di sana."
"Yah" dia memang terkadang lebih suka menghabiskan waktunya di game center
ketimbang belajar." Aria tersenyum, "Dan Lumina juga lebih sering menghabiskan waktunya untuk
ber-cosplay ketimbang belajar juga."
"Sama sepertimu dulu, kan?" ujar Julia, lalu tertawa bersama Aria.
"Ah, kita akan menunggu di sini. Aku akan membelikanmu makanan. Kamu ingin apa?"
"Kalau ada, aku ingin chicken katsu." Ujar Aria, "Kalaupun itu ada di salah satu kedai
tenda yang didirikan di sini."
"Itu gampang. Aku akan mencarinya." Kata Julia, "Tunggu di sini. Oke?"
Aria menatap manajernya yang berjalan kearah kedai tenda terdekat. Ia tersenyum kecil
dan menghembuskan nafas. Memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang ber-cosplay ria. Dia
jadi teringat masa-masa ketika dia juga seorang cosplayer dulu.
Dulu, dia sering membuat kedua kakaknya kewalahan dengan hobi yang cukup unik
tersebut. Tapi, sekarang, dia tidak punya waktu untuk melakukan hobi paling digemarinya itu.
Malah Lumina yang sekarang seolah menggantikannya melakukan hobi cosplay tersebut.
Seorang anak akan selalu terlihat seperti orangtuanya. Baik dalam fisik, maupun kesukaan.
Kadang-kadang ada persamaannya. Katanya dalam hati sambil tersenyum kecil.
Pandangannya tertuju pada sebuah kelompok yang berada di bawah sebatang pohon yang
dihiasi lampu warna-warni dan terlihat seperti pohon Natal. Aria tersenyum kecil. Komunitas
cosplayer. Dia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat dandanan mereka yang unik dan sangat
tidak biasa. Tapi, kemudian senyumnya memudar ketika dia melihat Reno dan Snow berdiri diantara
orang-orang itu. Keningnya berkerut. Apa Reno dan Snow tertarik dengan hal-hal berbau cosplay
seperti itu. Dia memicingkan matanya dan melihat seorang gadis yang kelihatan ketakutan diantara
orang-orang tersebut. "Lumina?" CHAPTER 15 "Ibu?" Reno terkejut melihat ibunya berada di taman ini. Ibunya itu berjalan menghampiri
mereka, dengan tatapan tertuju pada Lumina.
"Apa yang terjadi dengan adikmu?" tanyanya.
"Err?" Reno tidak mungkin mengatakan Lumina ketakutan karena visi yang dilihatnya.
Apalagi melihat situasi yang sekarang ini. Terlalu banyak orang yang akan tahu siapa mereka
sebenarnya. "Dia?" "Anu, Aria-san, dia tadi menjerit ketakutan, entah karena apa." ujar Clarissa yang
mengambil alih, "Dia masih gemetar. Kami tidak tahu apa yang menyebabkannya menjerit."
"Benarkah" Biarkan aku melihatnya."
Aria menyeruak kerumunan dan mendekati Lumina. Ia memeluk anaknya itu dan
membisikkan sesuatu padanya. Mata Lumina terpejam dan kepala terkulai di pelukan ibunya.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia hanya akan tertidur sebentar." kata Aria tersenyum, "Tidak akan terjadi apa-apa
dengannya. Tenang saja."
"Reno," "Iya?" "Biarkan adikmu bersandar pada pundakmu sebentar. Ibu harus mengisi penampilan
konser di sini." "Anda akan konser di sini!?" tanya Helena.
"Ya. Sebagai pengisi acara." Aria tersenyum, "Kalau begitu, aku permisi dulu. Reno, Snow,
kita akan pulang bersama setelah ini."
Reno mengangguk. Dia lalu bertukar posisi dengan ibunya dan membiarkan Lumina
bersandar di bahunya. "Apa dia akan segera sadar."
"Sebentar lagi dia akan sadar." kata Aria, "Ibu hanya menotok saraf di belakang kepalanya
agar dia tertidur. Setelah ini, dia akan sadar, tenang saja."
Aria berdiri dan menghampiri manajernya yang menoleh-noleh mencarinya. Reno
memperhatikan ibunya berjalan anggun walau memakai pakaian yang menurutnya cukup sulit
digunakan untuk bergerak cepat.
"Ibumu benar-benar cantik." ujar Clarissa. "Dan juga anggun."
"Yah" memang begitulah dia." kata Reno.
Clarissa tersenyum dan membelai rambut Lumina, "Ngomong-ngomong di mana cowok
yang tadi bersamanya?"
"Ah, dia di?" Reno mengerutkan kening ketika melihat Nathan tidak bersama Snow.
"Katanya dia ingin mencari minuman untuk Lumina." Kata Snow mengerti kerutan di
kening Reno, "Dia akan segera kembali."
"Kukira dia kabur." Reno nyengir lebar. Begitu juga Snow.
"Ah, ya, biar aku carikan makanan untuk kalian." kata Clarissa, "Event ini akan sampai
larut malam. Kalian" tidak apa-apa kalau terus berada di sini?"
"Tidak masalah. Lagipula Ibu sudah menyuruh kami untuk menunggu beliau." kata Reno
tersenyum, "Jangan merasa bersalah, ya?"
"Aku tidak merasa bersalah." Clarissa tertawa kecil. "Baiklah, aku akan mencari makanan.
Hei! Ada yang ingin kubelikan makanan!?""
Reno tersenyum kecil melihat semangat Clarissa yang sepertinya tidak pernah hilang. Tapi,
dia masih memikirkan tentang Clavis. Helena bilang, nama alias Clarissa selama menjadi cosplayer
adalah Clavis. Apakah" Reno hanya bisa menduga-duga apakah Clarissa memang benar-benar
Clavis. Lagipula suara Clarissa"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Snow duduk di sebelahnya dan tersenyum lebar, "Kamu menyukai Clarissa, ya?"
"Siapa yang bilang begitu?" Reno menaikkan sebelah alis.
"Kamu memang tidak mengatakan seperti itu." senyum Snow semakin lebar, "Tapi,
wajahmu mengatakan seperti itu."
"Sembarangan!" Snow tertawa dan menepuk-nepuk bahu Reno.
"Yah" aku tahu seperti apa tipe cewek idamanmu." Kata Snow tersenyum lebar, "Cantik,
bisa mengerti dirimu apa adanya, dan" pintar memasak. Seperti Lumina. Aku benar, kan?"
"Itu tipe standar bagi setiap laki-laki."
"Tapi, itu tipe standar bagimu juga, kan?"
Reno hendak membalas lagi, tapi, tidak jadi, dan hanya menatap ke depan sementara Snow
tertawa penuh kemenangan.
"Aku tidak mempermasalahkan tipe cewek idamanmu seperti apa." kata Snow lagi. "Tapi,
semoga kamu bisa mendapat pacar tahun ini."
"Kamu menyebutku seperti cowok yang suka gonta-ganti pacar saja." gerutu Reno.
"Ngghh?"" Reno menoleh kearah Lumina yang membuka matanya dan menggelengkan kepala.
"Di mana?" "Kita masih di taman." kata Reno.
"Reno Oniichan" Kenapa" kenapa ada di sini?"
"Aku mengikutimu, tahu."
"Hah?" Lumina duduk tegak dan menatap Reno dan Snow yang tersenyum lebar padanya, "Di
mana" Nathan?" "Tumben kamu perhatian padanya."
"Ish! Aku, kan, hanya bertanya." Kata Lumina, "Di mana dia?"
"Dia sedang membeli minuman untukmu. Kamu tadi pingsan. Tidak ingat, ya?" kata
Snow. "Pingsan" lagi?"
"Memangnya hari ini kamu pingsan berapa kali?"
Lumina menggeleng pelan dan menatap taman yang sudah diterangi dengan lampu warnawarni yang bertebaran seperti hari Natal. Lumina mengerutkan kening, rasanya" sebelum pingsan
tadi, dia merasa ibunya ada di dekatnya. Lalu, di mana ibunya sekarang"
"Tadi" apa Ibu ada di sini?"
"Ya. Kenapa?" tanya Reno, "Ah, kalau kamu mencarinya, beliau sedang bersiap-siap untuk
mengisi acara konser di sini."
"Di sini ada konser juga?" Lumina menoleh secepat kilat.
"Clarissa bilang begitu." Reno mengedikkan bahu. "Kamu tadi kenapa sampai pingsan"
Visi lagi?" "A?" "Kamu sudah janji untuk tidak berbohong, kan" Katakan saja yang sejujurnya, Lumina."
Bisik Reno. "Aku tidak mau adikku ingkar janji padaku."
Lumina menggigit bibir, dan Reno menghela nafas. Dia hafal kebiasaan Lumina jika dia
sudah menggigit bibir seperti itu.
"Kamu mau cerita atau tidak" Kalau kamu tidak mau menceritakannya sekarang, tidak
masalah. Tapi, saat sampai di rumah, jangan sampai aku memaksamu untuk menceritakan
semuanya padaku." Kata Reno.
"Err" visi itu sama sekali tidak penting." Kata Lumina, "Hanya" masalah kecil."
"Masalah kecil" Sampai kamu berteriak menjerit dan mengagetkan seluruh orang di taman
ini?" "Itu?" "Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Snow ikut nimbrung.
"Hanya masalah kecil." Jawab Reno dan Lumina bersamaan. Membuat Snow menatap
mereka dengan alis terangkat.
Reno menoleh lagi kearah Lumina, "Sebaiknya kamu menceritakannya padaku sekarang."
"Baik, baik" aku" aku melihat Oniichan" terluka parah. Dan semuanya" mati.
Perusahaan Ayah hancur, Ayah dan Ibu ditangkap oleh Apocalypse, semuanya" semuanya
menjadi tidak sama. Kita diburu oleh organisasi itu." Lumina menelan ludah, "Dan" dan aku
melihat" kita semua" mati?"
Kata terakhir yang diucapkan Lumina terdengar lirih dan nyaris tidak terdengar. Reno
menghela nafas dan menepuk kepala Lumina pelan.
"Kalaupun itu terjadi, aku tidak akan membiarkannya benar-benar menjadi kenyataan."
Katanya, "Aku sudah berjanji padamu, kan" Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada kita
semua." "Tapi, visi itu" semua visi yang pernah kudapat, semuanya tentang kematian." Lumina
menggeleng, "Aku takut semuanya menjadi nyata. Aku tidak tahu apakah aku harus?"
"Jangan berpikiran negative." Sela Reno, "Kamu tahu, kalau kamu terus-terusan berpikiran
seperti itu, semangat tidak akan pernah masuk ke dalam hati dan pikiranmu."
"Tapi?" "Maaf, apa kalian lama menunggu?"
Clarissa dan Nathan datang sambil tersenyum. Di tangannya, Clarissa menenteng sekitar 5
kantong plastic berisi makanan pesanan semua teman-temannya. Nathan duduk di sebelah Lumina
dan menyodorkan sebotol jus jeruk padanya.
"Terima kasih," Lumina tersenyum dan membuka minumannya.
"Nah, ini, untuk kalian berempat." Clarissa menyerahkan masing-masing satu kotak nasi
kari yang masih hangat, "Baru matang dan pasti enak. Kalian harus makan, jangan sampai tidak
memakannya." "Baik, baik?" Snow manggut-manggut, "Terima kasih, Clarissa. Kebetulan sekali, aku
sedang lapar saat ini."
Clarissa tersenyum lebar dan beralih ke teman-temannya yang lain. Lumina menatap
makanan di pangkuannya dan menghela nafas. Dia sedang tidak berselera makan sekarang. Tapi,
dia tahu, baik kakaknya maupun Nathan akan menyuruhnya makan walaupun dia sedang tidak
berselera makan. Lumina mengalihkan perhatiannya kearah panggung yang berada di tengah-tengah taman.
Dia baru sadar kalau ada panggung di sana. Dan dia juga melihat ibunya di sana, di dekat
panggung. Sedang berbicara dengan orang-orang yang ia duga pasti kru yang bertugas di sana.
"Kamu tidak makan?"
"Hmm?" Lumina menoleh kearah Nathan yang menatapnya dan makanan di
pangkuannya yang sama sekali belum tersentuh bolak-balik.
"Aku tidak" berselera makan." Kata Lumina, lalu mengutuk diri sendiri karena
mengatakan hal tersebut. Ia yakin, Nathan pasti akan mengomel, sama seperti yang biasa dilakukan
Reno ketika Lumina menolak makan.
Tapi, ternyata dugaannya salah. Nathan tidak mengomelinya, melainkan mengambil
makanan di pangkuan Lumina dan membukanya.
"Kamu mau memakannya?" tanya Lumina heran melihat sikap Nathan yang tidak biasa.
"Aku tidak akan memakan bagianmu." Kata Nathan, "Tapi, aku akan menyuapimu."
"Menyuapiku!?" "Kenapa" Tidak suka, ya?"
"A"bukan begitu?"
"Kalau begitu, kamu harus mau makan ini." ujar Nathan, "Ayo, buka mulutmu."
Lumina menatap Nathan, kemudian kakaknya yang asyik makan makanan bagiannya.
Ia menghembuskan nafas dan membuka mulutnya, Nathan tersenyum, ia menyuapi
Lumina dan senyumnya makin lebar ketika Lumina mengunyah makanannya walau dengan
perlahan. "Kamu harus menghabiskan semua ini." kata Nathan, menyuapi Lumina lagi. "Kamu tidak
mau jatuh sakit, kan?"
"Ucapanmu seperti ibu-ibu yang cerewet dengan kesehatan anaknya saja." ujar Snow
menimpali dengan mulut penuh.
Nathan hanya mengedikkan bahu, "Aku memang harus memperhatikan kondisinya,
bukan" Lagipula, aku"aduh!!"
Lumina mencubit lengan Nathan sebelum cowok itu menyelesaikan ucapannya. Nathan
mengerutkan kening pada Lumina yang pura-pura memandang kearah lain.
"Kalian berdua terlalu akrab." Kata Reno ikut nimbrung sambil menutup kotak
makanannya, "Lumina, setelah ini, sebaiknya kamu istirahat. Besok pagi tidak perlu sekolah."
"Lho" Kenapa?"
"Aku tidak mau kamu pingsan lagi. Ibu sempat bilang kalau kamu perlu istirahat beberapa
hari." "Tapi, aku tidak sakit!!"
Snow menyikut lengan Reno dan berbisik lirih, nyaris tidak terdengar oleh Reno sendiri.
"Ibumu tidak mengatakan hal seperti itu." bisiknya.
"Aku hanya ingin memastikan dia tidak akan kenapa-napa." Bisik Reno balik, "Aku tidak
suka melihat adikku sakit, tahu."
"Oh?" "Tapi, Oniichan, aku tidak sakit. Ibu tidak mungkin mengatakan hal itu, kan" Oniichan
pasti bohong." Kata Lumina lagi.
"Aku tidak bohong." Ujar Reno, "Apa wajahku terlihat berbohong di matamu?"
"Errr" tidak" tapi?"
"Turuti saja, Lumina. Kakakmu ini memang kadang-kadang bisa sedikit egois kalau sudah
menyangkut dirimu," kata Snow.
Lumina memberengut pada Snow. Kemudian mengalihkan wajahnya kearah lain.
Dia melihat Clarissa mendekati mereka sambil tersenyum lebar.
"Lumina, ayo, kita pergi ke sana." Clarissa menunjuk kearah panggung. "Ada ibumu juga.
Kita lihat dari dekat, yuk?"
"Boleh?" Lumina menoleh kearah kakaknya, dan Reno mengangguk pelan.
"Kalau mau melihat Ibu, silakan saja. Tapi, hati-hati. Jangan sampai kamu pingsan lagi.
Mengerti?" "Iya, kakakku yang cerewet." Kata Lumina, lalu berdiri dan mengikuti Clarissa mendekat
kearah panggung. "Kau yakin dia akan baik-baik saja?" tanya Snow.
"Asal dia tidak melihat visi mengerikan dan pingsan, kurasa tidak masalah." Ujar Reno
sambil menghembuskan nafas, "Nathan, aku bisa minta tolong padamu?"
"Ya. Tentu saja." kata Nathan, "Apa yang bisa kubantu?"
"Awasi Lumina. Aku harus pergi mengurus sesuatu sebentar." kata Reno, "Kamu bisa?"
"Tanpa perlu disuruh, aku juga sudah tahu kalau untuk hal seperti itu." Nathan tersenyum
lebar, "Serahkan saja padaku."
Reno tersenyum dan menepuk bahu Nathan sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke sisi
lain taman. CHAPTER 16 Lumina tidak tahu apa yang menyebabkan Reno jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Sejak
kemarin malam, tepatnya ketika ia terbangun dari pingsannya, Reno berubah menjadi lebih
protektif padanya. Entah apa yang menimpa Reno, tapi, Lumina berharap, kakaknya itu tidak
memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya menjadi lebih pemurung dari yang sekarang.
Hari ini, seperti yang dikatakan Reno, Lumina harus istirahat di rumah. Ibunya sendiri juga
mengatakan kalau Lumina memang harus istirahat di rumah. Hal yang membuat Lumina senang,
sekaligus bosan. Senang karena dengan begitu, dia bisa tidur sepuasnya sampai siang, dan bosan,
karena tidak ada satupun yang bisa membuatnya betah di rumah kecuali laptop, internet, dan
menggambar desain baju cosplay yang akan dia kenakan jika ada event seperti kemarin.
Selebihnya" Lumina bisa bosan hanya dalam waktu beberapa detik saja setelah melakukan
aktivitas yang dia suka. Seperti sekarang ini. Dari tadi, dia hanya berguling-guling saja di atas kasur sambil
memeluk boneka beruang hadiah ulang tahun ke-11 dari Reno. Sesekali, dia memeriksa ponsel,
ingin menelepon Rebecca, atau Clarissa, agar bolos dari sekolah dan menemaninya di rumah.
Pikiran yang bagus, sebenarnya, tapi, tidak jadi ia lakukan karena ia takut itu akan mengganggu


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka. "Seharusnya Oniichan dan Ibu tidak men
yuruhku untuk beristirahat di rumah." Gerutunya
sambil duduk dan menghembuskan nafas. Dia mengambil ponselnya lagi dan mengerutkan
kening. Ada icon amplop, tanda pesan masuk, di layar ponselnya.
"Siapa?" "Lumina," Lumina mendongak dan melihat Clarissa berdiri di depan pintunya sambil tersenyum
lebar. "Clarissa"!"
"Kamu kelihatan tidak sehat." Ujar Clarissa sambil menghampiri Lumina, "Kamu benarbenar sakit, ya" Coba, sini kuperiksa."
"Aish" tidak usah!" Lumina menepis tangan Clarissa yang terulur ke keningnya, "Kenapa
kamu ada di sini" Kamu tidak sekolah?"
"Aku tidak ada kegiatan hari ini. Hari ini aku libur." Clarissa tertawa, "Aku tadi sudah
mengetuk pintu depan sebanyak 7 kali, dan tidak ada yang membukakan. Seharusnya, kamu
mengunci pintu. Pintu depanmu terbuka, tahu."
"O, oh" itu pasti Oniichan. Dia pasti lupa mengunci pintunya." Kata Lumina, "Ngomongngomong" kenapa kamu ke sini?"
"Aku ingin menengokmu. Kata Reno, kamu sakit. Aku juga mengajukan diri untuk
menjagamu sampai dia pulang sekolah." Kata Clarissa.
"Kamu sedang tidak mendekati Oniichan, kan?" Lumina mengerutkan kening.
"Kelihatannya kalian akrab sekali?"
"Masa?" Clarissa tertawa lagi, "Kami, kan, kenal dekat sejak kemarin malam. Kebetulan
saat event kemarin, aku bertemu mereka di game center. Dan setelah itu, kami mengobrol banyak.
Begitu, deh?" "Oh?" "Nah, kamu masih sakit, kan" Sebaiknya sekarang istirahat saja."
"Aku tidak sakit." ujar Lumina sambil menghembuskan nafas. "Lebih baik kamu tidak
perlu cerewet tentang kondisiku. Aku baik-baik saja, tidak sakit, dan sefat walafiat."
"Lho" Lalu, yang dikatakan kakakmu padaku?"
"Dia mengatakan apa padamu?" Ayumi mengerutkan kening curiga.
"Hmm?" Clarissa memiringkan kepalanya, "Dia hanya bilang kalau kamu pasti butuh
teman. Jadi, dia menghubungiku untuk menemanimu hari ini."
"Oh, hanya itu?"
Clarissa menatap Lumina sebentar dan menghela nafas.
"Nah, ayo, istirahat. Istirahat." Ujarnya, "Aku tidak mau dimarahi kakakmu hanya garagara kamu tidak mau istirahat.
"Aku sudah bilang aku tidak perlu istirahat, aku tidak sakit!"
*** "Reno," Reno yang asyik membaca buku teralihkan perhatiannya ketika Sarah dan Claire
menyuruhnya mendekat. Dengan agak malas, dia meleakkan buku yang dibacanya dan
menghampiri kedua kakak-beradik kembar itu.
"Aku sudah dapat informasi soal sulaman yang ada di saputangan yang dipegang oleh
Snow." Ujar Claire, "Temanku, memang dia yang membuatnya. Tapi, bukan hanya dia saja yang
mempelajari tehnik menyulam seperti itu. Ada orang lain yang juga ikut mempelajari sulaman
seperti itu. Namanya Utami."
"Utami?" "Utami Jackson. Itu nama lengkapnya." Sambung Sarah, "Tapi, menurut teman kami itu,
Utami itu anak yang pendiam. Dan dia jarang masuk sekolah lantaran harus membantu kakaknya
bekerja." Reno manggut-manggut. "Lalu, apa dia yang membuat sulaman itu?"
"Menurut temanku, sih, iya. Tapi, kami tidak terlalu yakin. Karena itu, kami sedang
mencari alamat rumah Utami Jackson."
"Jackson" tunggu. Nama belakangnya persis seperti nama belakang Nathan." Kata Reno,
"Apa kalian sudah bertanya pada Nathan?"
"Sudah. Dia bilang, dia tidak kenal Utami. Nama Jackson, kan, tidak hanya Nathan yang
punya." kata Sarah, "Akan kami usahakan secepatnya. Ngomong-ngomong, tadi aku tidak melihat
Lumina. Dia di mana?"
"Dia di rumah. Aku menyuruhnya istirahat seharian ini." ujar Reno.
"Hee" benar-benar mulai protektif padanya, ya?"
Reno mengedikkan bahu, "Kemarin dia pingsan lagi lantaran mendapat visi. Aku dan Ibu
sepakat kalau Lumina harus menenangkan pikirannya dulu selama seharian ini dengan
beristirahat. Kalau kalian tidak melihat wajahnya lebih detil, kalian tidak akan melihat kalau
beberapa hari ini wajahnya pucat."
"Oh" memang aku melihat wajahnya agak pucat." kata Claire, "Tapi, sekarang kamu
memang terlihat protektif padanya, Reno. Tidak biasanya, lho?"
"Memangnya aku tidak boleh protektif pada adik sendiri?" balas Reno sambil tertawa
hambar. "Ya, sudah, aku kembali lagi ke tempat dudukku. Kalian lanjutkan pencarian kalian.
Kalau ada perkembangan, beritahu saja aku."
"Oke." Reno kembali ke tempat duduknya, tapi, baru saja dia akan melanjutkan kegiatan
membacanya, dia dipanggil lagi. Kali ini oleh salah seorang temannya.
Cowok itu menghembuskan nafas kesal dan berdiri.
"Ini, ada surat untukmu, Claire, Sarah, dan Snow." Ujar temannya sambil menyerahkan 4
amplop berwarna hitam. "Apa ini?" Reno mengerutkan kening melihat warna amplop itu. Warnanya aneh. Hitam.
Bukan warna amplop yang biasanya.
"Aku tidak tahu. Tadi, ada orang yang menitipkan ini untuk kalian berempat." Ujar
temannya lagi, "Tadi ada juga untuk adikmu, sudah kutitipkan ke temannya, Rebecca."
"Oh?" Reno menerima amplop itu, dan seketika, dia mengerutkan kening. Perasaan tidak
enak menyerbunya ketika ia menyentuh amplop itu. Kemampuannya mengatakan kalau isi
amplop yang ada di tangannya sekarang" buruk.
"Terima kasih," ujar Reno sambil berlalu. Dia lalu membagikan masing-masing satu
amplop pada Claire, Sarah, dan Snow, dan menyuruh mereka bertiga untuk mengikutinya keluar.
Ketika sampai di luar, Claire langsung membuka amplop di tangannya dan mengangguk
pada Reno, yang menatapnya.
"Ini sama seperti surat ancaman waktu itu." ujarnya. "Dan yang ini malah mengatakan, hari
ini kita akan berpesta ria."
"Apa surat ancaman ini sama seperti yang waktu itu" Kau yakin?" tanya Reno.
"100%. Aku dan Sarah masih ingat bentuk tulisan di surat ancaman yang waktu itu. Yang
ini juga sama." Kata Claire.
"Lalu, semuanya mendapat surat yang sama?"
"Sepertinya begitu." kata Snow sambil memperlihatkan surat miliknya. "Isinya sama.
Kukira Samuel dan Lumina juga mendapat surat yang sama."
"Kalau ini adalah yang kedua kali, kita bisa menganggap ini sudah sangat mendesak." Ujar
Sarah, "Surat ancaman yang dikirim untuk kedua kalinya seperti ini, bagiku, pertanda buruk."
"Aku juga sependapat denganmu," kata Reno, "Lagipula, beberapa hari ini juga, Lumina
selalu mendapat visi buruk. Dimulai dari jatuhnya aku dari tangga?"
"Tunggu, kejadian kamu jatuh dari tangga itu" karena visi dari Lumina?" tanya Claire.
"Walau dia tidak mengatakan apa-apa, hanya dengan menyentuh kulitnya saja, aku bisa
tahu, dia mendapat visi kalau aku akan didorong jatuh dari tangga dan terluka." Jawab Reno, "Visi
Lumina hampir semuanya akurat."
"Astaga?" "Beberapa malam lalu, dia juga mendapat mimpi buruk. Mimpi tentang bola mata kirinya
yang hilang, lalu?" Reno mengerutkan kening, "Rasanya dia pernah menjerit dua malam lalu.
Mimpi buruk juga, tapi, aku tidak tahu dia bermimpi buruk apa."
"Berarti, alasanmu supaya Lumina istirahat hari ini" karena itu?" tanya Sarah.
Reno mengangguk, "Selain itu?"
"Reno!" Mereka semua menoleh dan melihat Nathan mendekati mereka.
"Hai, Nathan. Makin tampan saja." kata Sarah.
Nathan tersenyum lebar dan menoleh kearah Reno, "Aku tadi mengakses internet dan
menemukan sesuatu," ujarnya.
"Menemukan" apa?" tanya Reno mengerutkan kening.
"Anu, ini?" Nathan menyerahkan ponsel di tangannya. "Aku" tidak sengaja menemukan
ini. Tentang?" "Tunggu. Ini bukan dari browser internet. Ini file biasa, tapi" Darimana kamu tahu soal
The Chronos Sapphire?" tanya Claire yang ikut melihat ponsel Nathan. "Dan kenapa kamu tahu
soal Laboratorium Terlarang yang memasok gen The Chronos Sapphire.
Reno mengerjapkan mata. Baru sadar oleh ucapan Claire. Dia menatap Nathan dengan
kening berkerut dan curiga.
"Itu?" Reno menyentuh tangan Nathan, ia menggunakan kemampuannya membaca pikiran orang
lain pada Nathan. Dan terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Reno menyipitkan matanya
tajam. "Kamu bukan Nathan?" katanya, "Kamu orang lain, wajah kalian mirip."
"Hah" Reno, apa yang kamu bicarakan?" tanya Sarah.
"Dia bukan Nathan." Kata Reno lagi, "Dia orang lain. Dengan nama yang sama dengan
Nathan yang pernah menolong Lumina dulu."
Nathan menatap Reno yang menatapnya dengan tatapan setajam elang.
"Siapa kamu, dan apa tujuanmu mendekati Lumina?" tanya Reno.
"A, apa yang kamu bicarakan, Reno" Aku, ya, aku. Aku Nathan Jackson."
"Tidak. Kamu orang lain. Aku bisa merasakannya." Reno mengerutkan kening lagi, "Dan
aku juga baru sadar. Kamu" kamu juga The Chronos Sapphire, kan?"
Ucapan Reno tidak hanya membuat Nathan terkejut, tapi, juga Sarah, Claire, dan Snow
yang berada di belakangnya.
A, aku bukan?" "Satu hal yang perlu kamu tahu, Nathan : Aku juga tidak suka dibohongi. Sama seperti
Lumina yang juga tidak suka dibohongi." Kata Reno, "Seharusnya kamu tahu hal itu."
Nathan menatap Reno, dan teman-temannya yang berada di belakangnya bergantian.
Keringat dingin mengalir di tengkuknya. Dia tidak pernah menyangka, file yang dikirimkan
seseorang ke ponselnya untuk diperlihatkan pada Reno ternyata akan menjadi penyebab identitas
rahasianya terbongkar. Nathan tidak pernah tahu. Yang dia tahu, dia"
"Kenapa kamu membohongi Lumina, dan kami semua, dengan berpura-pura menjadi
Nathan yang itu?" suara Reno membawa Nathan kembali kealam nyata.
"Aku" aku?"
"Reno, jangan memaksanya." Ujar Snow, "Kalau dia" memang bukan Nathan yang pernah
kamu kenal, dan dia harus berbohong, dia pasti punya alasan. Kamu jangan menghakiminya
seperti itu." "Aku tidak menghakiminya. Aku?"
"Aku minta maaf!!"
Nathan tiba-tiba membungkuk di hadapan mereka.
"Nathan, kamu?"
"Aku memang bukan Nathan yang kamu kenal, Reno." kata Nathan sambil berdiri tegak
kembali, "Aku" aku saudara kembar Nathan."
"Saudara kembar?" kening Reno berkerut, "Apa maksudnya?"
"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi, aku janji, aku akan menceritakan
semuanya padamu dan Lumina." Kata Nathan, "Sekarang ini" situasinya sedang gawat. Aku hanya
disuruh oleh Nathan yang satu lagi untuk melindungi keluargamu."
"Melindungi keluargaku?"
"Kalian semua tahu Apocalypse, kan" Organisasi gelap?"
"Kamu juga tahu tentang organisasi itu?" tanya Snow. Kali ini dia yang terperangah.
Nathan mengangguk, "Aku akan menjelaskannya pada kalian" semua. Jika waktunya
tepat." Reno menatap tidak percaya pada Nathan. Tapi, ketika dia melihat mata cowok itu, Reno
tahu, kalau Nathan"atau siapapun nama sebenarnya Nathan yang berdiri di hadapannya ini, tidak
berbohong. Reno tahu sinar mata yang jujur dan yang tidak. Apalagi ditambah dengan
kemampuannya sebagai The Chronos Sapphire. Itu lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa
Nathan tidak berbohong. "Baiklah, aku percaya dan akan memegang kata-katamu." Ujar Reno, "Ceritakan semuanya
pada kami, ketika kamu siap."
"Terima kasih, Reno."
"Tapi, kamu tetap saja sudah berbohong." Kata Reno lagi, "Aku tidak akan mentolerir
orang yang berbohong padaku dan Lumina. Mulai saat ini, jangan dekati Lumina lagi."
"Ap?" Reno sudah berbalik dan masuk ke dalam kelasnya sebelum Nathan bisa memberikan
penjelasan lain. Sarah, Claire, dan Snow menatap Nathan dan Reno bergantian sebelum akhirnya
ikut masuk ke dalam kelas.
"Maaf, Nathan. Tapi, begitulah Reno." kata Claire pada Nathan sebelum ia masuk kelas.
*** "Wah" koleksimu banyak sekali." Kata Clarissa melihat satu rak buku yang terbuat dari kaca
dipenuhi dengan buku-buku novel dan komik.
"Hmm" Ah, itu" sebagian lagi dari novel-novel itu milik ibuku." Ujar Lumina, "Beberapa
lagi dari peninggalan almarhumah nenek dan sebagian lagi dari Bibi Keiko."
"Sepertinya keluargamu sangat senang membaca novel, ya?" Clarissa tertawa kecil, "Ah!
Ada The Lord of The Ring! Buku ini tidak pernah dicetak lagi sejak beberapa tahun lalu."
Clarissa menoleh kearah Lumina, "Boleh aku mengacak-acak lemarimu yang satu ini?"
"Asal kamu bisa menyusunnya lagi dengan utuh, boleh." Jawab Lumina sambil tertawa.
Dia lalu menghampiri Clarissa dan memasukkan pin pada kunci lemarinya.
"Wah" kamu juga punya koleksi novel dengan bahasa yang berbeda." Clarissa mendecak
kagum, "Jepang, Inggris, Korea" lho" Kamu juga membaca buku berbahasa Yunani?"
"Hanya mengisi waktu luang." Lumina mengedikkan bahu, "Lagipula bahasa Yunani
cukup rumit dan unik bagiku."
"Seharusnya kamu menjadi ahli bahasa saja."
"Banyak yang bilang aku harus jadi psikolog merangkap ahli bahasa."
Mereka berdua sama-sama tertawa. Lumina lalu memperlihatkan koleksi-koleksi bukunya
pada Clarissa, dan beberapa kali Clarissa mendecak kagum karena koleksi buku Lumina yang
mencapai jumlah ratusan. "Aku kira aku akan sering berkunjung kemari. Kamarmu benar-benar seperti perpustakaan
saja." canda Clarissa.
"Asalkan kamu tidak membuat buku-buku kesayanganku rusak, tidak masalah. Beberapa
diantara buku-buku ini ada yang sudah sangat tua. Hampir 50 tahun." Kata Lumina.
"Ya" aku tahu, kok." Clarissa tersenyum lebar, "Oh ya, kurasa aku harus segera pulang.
kakakku pasti mencariku."
"Aku baru ingat, kamu punya kakak, ya?"
"Ya." Clarissa mengangguk. "Kenapa?"
"Kamu tidak pernah menceritakan hal itu sebelumnya." Ujar Lumina, "Aku baru tahu
kalau kamu punya kakak, lho."
"Hehehe" dia tidak mau orang lain tahu, sih." Kata Clarissa mengedikkan bahu,
"Terkadang, dia itu misterius."
"Hmm?" Clarissa mengambil salah satu novel dan memperhatikannya. Ada tanda tangan ibu Lumina
di halaman pertama. Dia menduga novel itu milik ibunya sebelumnya. Clarissa tersenyum kecil
dan membalik halaman selanjutnya. Keningnya berkerut melihat sebuah tulisan kecil yang nyaris
tidak terlihat karena tintanya yang memudar yang berada di atas judul bab pertama.
"Oh ya, boleh kupinjam novel yang ini?"
"Oh, boleh, kok." Lumina mengangguk. "Itu salah satu buku milik Ibuku. Salah satu novel
kesukaannya." "Begitu, ya?" Clarissa tersenyum lebar, "Aku merasa terhormat meminjamnya."
Lumina ikut tersenyum lebar.
*** Nathan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang Hope Academy. Ia
sempat heran ketika mobil itu berada di sana, seperti menunggunya. Tapi, pikirannya yang
melantur menghilang ketika dia melihat siapa yang duduk di belakang kemudi.
"Identitasmu ketahuan?" tanya orang yang mengemudikan mobil.
"Kamu sudah tahu." ujar Nathan, "Sulit menyembunyikan sesuatu dari mereka semua,
terutama Reno. Tapi" ini juga kesalahanku karena aku terlalu gegabah mendapat file berisi semua
informasi itu." Orang yang mengemudikan mobilnya hanya tersenyum kecil. "Aku sudah tahu itu. Aku
mungkin juga akan melakukan hal yang sama kalau aku berada di posisimu."
Nathan mengangguk. "Lalu" sekarang bagaimana?" tanyanya, "Apa kita harus mengaku?"
"Kurasa" iya." orang itu menggangguk, "Hari ini adalah harinya. Dan kita tidak mungkin
menyembunyikan semuanya lebih lama."
"Maksudmu?" Orang itu menatap Nathan dari kaca spion dan menghembuskan nafas.
"Apocalypse akan menyerang malam ini." ujarnya, "Aula gedung Bard Company, jam 7
malam." *** "Semua sudah siap, Tuan."
"Bagus. Perintahkan semuanya untuk bergegas. Sebelum pesta dimulai, kita harus sudah
tiba di sana." "Baik." *** "Aku pulang," Reno masuk ke dalam rumah dan melihat Clarissa turun dari tangga bersama Lumina.
Lumina menoleh kearah Reno dan tersenyum.
"Ah, Oniichan sudah pulang?"
"Ya." Reno meletakkan tasnya di sofa dan berjalan mengambil minuman dari kulkas. "Oh,
hai, Clarissa." "Hai juga, Reno." Clarissa tersenyum, "Aku harus pulang dulu. Sampai jumpa besok, ya,


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lumina." "Mm" terima kasih sudah mau menemaniku." Kata Lumina.
"Ah, tunggu!" Clarissa menghentikan langkah kakinya ketika Reno mendekat kearahnya.
"Ada apa?" "Aku perlu" bicara denganmu." ujar Reno, "Tidak keberatan jika aku mengantarkanmu
sampai ke depan, kan?"
"Ya?" "Oniichan, kamu tidak berusaha mendekati Clarissa, kan?" kata Lumina yang berdiri di
sebelah Clarissa. "Ish! Kamu ini pikirannya itu ada-ada saja." sungut Reno sambil mengacak-acak rambut
adiknya, "Sudah, kamu istirahat saja lagi sana."
"Aku bukan anak kecil lagi, Oniichan. Tidak perlu menyuruhku." Lumina meleletkan
lidahnya, "Nah, sampai jumpa besok, Clarissa. Hati-hati, jangan sampai Reno Oniichan
menggodamu." "Lumina?" Lumina tertawa dan kemudian buru-buru naik ke lantai dua menuju kamarnya ketika dia
melihat Reno sudah siap menggunakan jurus andalannya untuk membuat Lumina diam.
"Maaf, adikku memang seperti itu." kata Reno.
"Lumina itu anak yang asyik. Tidak pernah kehabisan bahan obrolan." Ujar Clarissa,
"Nah, kamu ingin membicarakan apa?"
Reno tidak menjawab. Dia mengulurkan tangannya ke wajah Clarissa dan menyentuh pipi
gadis itu. Clarissa mengerjapkan mata dan menatap Reno dengan mata melebar.
"Re, Reno?""
Reno menurunkan tangannya dan menghela nafas.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku dan Lumina, kan?" katanya.
"Hah?" "Aku tidak akan memaksamu untuk jujur, hanya saja?"
Reno menarik Clarissa lebih dekat hingga wajah mereka berdua hanya tinggal berjarak
beberapa senti lagi. Clarissa terlalu kaget terhadap apa yang dilakukan Reno dan hanya bisa
menatap mata hitam gelap Reno dengan tatapan kaget.
Ia bisa merasakan nafas Reno di wajahnya, dan itu membuatnya gugup. Lebih gugup
daripada biasanya. ?" aku punya kemampuan merasakan kemampuan seseorang hanya dengan
menyentuhnya." Ujar Reno lagi. "Dan aku tahu, kamu menyembunyikan sesuatu. Dan kamu juga
tidak mau mengatakan pada orang lain apa yang sebenarnya kamu sembunyikan."
"K, kamu ini bicara apa" Sedang berusaha menggodaku, ya?"
"Apa wajahku kelihatan sedang menggodamu?"
"Err" tidak."
"Bagus, kalau begitu."
Reno menjauh dari Clarissa dan menghembuskan nafas, "Sesuai janjiku, akan kuantarkan
kamu sampai ke depan pintu. Ayo."
Reno menggenggam sebelah tangan Clarissa dan lagi-lagi merasakan kalau Clarissa
menyembunyikan sesuatu. Reno menghela nafas. Sepertinya dia perlu menggali lebih dalam
rahasia yang disembunyikan oleh Clarissa. Sayangnya kemampuannya masih belum terlalu
maksimal, walau sudah bisa dibilang meningkat pesat. Dia masih tidak yakin dengan apa yang ia
lihat dari pikiran Clarissa. Tapi, dia tahu satu hal yang sudah menjadi pertanyaannya beberapa hari
ini. Clarissa ternyata memang" Clavis.
CHAPTER 17 "Aria," "Hai, sayang." Rifan mendekati Aria yang sedang bersiap-siap pulang. Pekerjaannya sudah selesai. Konser
yang dihadirinya sebagai pembawa acara juga sukses besar.
"Kukira aku tidak terlambat." Kata Rifan sambil tersenyum lebar, "Seperti biasanya, ya?"
"Kamu ini?" Aria tersenyum kecil, "Oh ya, hari ini kita akan pergi ke pesta Charles, kan"
Bagaimana kalau kita berbelanja sebentar" Mencari baju yang cocok?"
"Sifat ibu-ibu yang suka belanja keluar, nih?"
"Rifan?" Rifan tertawa dan menggandeng tangan Aria.
"Kamu ingin memilih yang mana?" tanya Rifan sambil memperhatikan Aria yang sedang
asyik memperhatikan dua gaun yang ada di tangannya.
"Aku ingin membelikan satu untuk Lumina." Kata Aria, "Aku tidak terlalu tahu seleranya
seperti apa. Anak itu mungkin nyaris mirip sepertiku, tapi" dia lebih bebas daripada aku."
"Kalau begitu, seharusnya kita tidak perlu repot-repot. Biarkan saja dia memilih gaunnya
sendiri." kata Rifan, "Bagaimana kalau kita membeli dua-duanya saja" Lumina pasti akan memilih
gaun yang cocok untuknya sendiri, kan?"
"Memang, sih?" "Nah, ayo, kita pulang. Aku ingin cepat-cepat istirahat di rumah sebelum pergi ke pesta
Charles." *** "Oniichan membicarakan apa dengan Clarissa?" tanya Lumina ketika Reno kembali masuk ke
dalam rumah setelah mengantarkan Clarissa ke depan.
"Kamu tidak istirahat?"
"Seharian ini aku sudah istirahat. Badanku akan pegal-pegal kalau aku selalu berada di atas
kasur." Ujar Lumina, "Nah, Oniichan membicarakan apa dengannya?"
"Tidak membicarakan apa-apa."
"Sungguh" Aku tadi melihat wajah kalian berdua sangat dekat, lho?"
"Ap"kamu menguping!?"
"Lebih tepatnya mencuri dengar."
Reno memutar bola matanya dan menyentil dahi Lumina.
"Dasar tukang nguping!"
"Hehehe?" "Memangnya kenapa kalau aku berbicara dengan Clarissa" Tidak boleh?"
"Oniichan, sikapmu itu mencurigakan, lho." Kata Lumina, "Kamu seperti sedang berusaha
menggodanya tadi. Itu yang kulihat."
Reno mencibir tanpa suara. Kemudian dia teringat sesuatu.
"Lumina," "Ya?" "Jangan dekat-dekat lagi dengan Nathan."
Raut wajah Lumina langsung berubah mendengar ucapan Reno, "Kenapa aku harus
menjauhinya?" tanyanya.
"Pokoknya, jauhi dia. Jangan dekat-dekat lagi dengannya." Kata Reno, "Dia" sudah
berbohong padamu." "Berbohong apa" Dia tidak pernah berbohong padaku, kok."
"Lumina?" "Oniichan tidak mengatakan apapun padaku secara jelas." Ujar Lumina, "Kalau aku harus
menjauhinya, aku akan menurut. Tapi, aku butuh penjelasan kenapa aku harus menjauhinya. Aku
tidak akan mencoba membaca pikiran Oniichan, jadi, katakan apa maksud Oniichan."
"Dia berbohong padamu" tentang identitasnya." Kata Reno pelan, "Pokoknya, jangan
dekati dia lagi, kalau tidak?"
"Anak-anak," Mereka berdua menoleh dan melihat kedua orangtua mereka masuk ke dalam. Aria
menghampiri mereka berdua dan memberikan kecupan masing-masing di kening.
"Ayah, Ibu," "Ada apa ini?" tanya Rifan sambil mendekati mereka, "Apa kalian bertengkar?"
"Tidak." Reno menggeleng, "Hanya mau mengingatkan Lumina kalau nanti malam aku
akan mengajaknya pergi nonton bioskop."
"Ap"bukan itu yang tadi Oniichan bicarakan"aduh!!"
Lumina meringis ketika Reno mencubit lengan kirinya. Gadis itu mendelik pada kakaknya
yang pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Oh, kalau kalian punya rencana nanti malam, tolong batalkan dulu." Kata Rifan, "Nanti
malam, kita akan menghadiri pesta yang diselenggarakan Paman Charles dan Bibi Rinoa di
perusahaan mereka. Cuma pesta kecil-kecilan, dan kita sekeluarga diundang."
"Benarkah" Bagus. Aku lebih suka berada di pesta daripada di bioskop. Aku bisa
ketiduran kalau berada di tempat gelap seperti bioskop."
Rifan tersenyum kecil, "Oh, dan Ibu kalian membelikan baju khusus yang akan kalian
pakai nanti malam." Katanya.
"Aku punya banyak gaun di lemari pakaianku." Kata Lumina ketika melihat ibunya
mengeluarkan dua potong gaun malam berwarna hitam. "Aku rasa aku tidak memerlukan gaun
tambahan." "Ibu hanya ingin tahu apa kamu mau mencoba salah satu gaun ini." kata Aria, "Coba dulu,
kalau kamu merasa tidak cocok, Ibu bisa mengembalikannya ke butik."
"Coba aku lihat satu, Bu."
Lumina mendekati ibunya dan memperhatikan dua gaun yang ada di hadapannya. Dia
mnegerutkan kening. "Kurasa aku tidak akan mengambil salah satu dari gaun ini, Bu." Katanya, "Aku punya satu
yang mungkin cocok untuk kupakai ke pesta nanti."
"Begitu, ya?" Aria manggut-manggut, "Ya sudah, dua gaun ini akan Ibu kembalikan ke
butiknya." Lumina mengangguk, "Seharusnya Ibu tidak perlu membelikanku gaun. Aku, kan juga
pandai membuatnya. Ingat, kan, kalau aku ini cosplayer seperti Ibu dulu" Aku juga pandai
menjahit." "Ah, ya" Ibu lupa soal itu." Aria tertawa kecil, "Ya sudah, kalian berdua istirahat saja sana.
Nanti jam 7 malam, kita berangkat."
*** "Rifan," "Hmm?" Aria menghembuskan nafas dan menatap pantualn dirinya di cermin.
"Aku" perasaanku tidak enak." katanya, "Aku tidak tahu, tapi, rasanya aku tidak yakin kita
harus pergi ke pesta Charles."
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
Aria menggeleng, "Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa" tidak enak. Apalagi kalau
menyangkut soal anak-anak?"
"Aria, tidak akan ada yang terjadi." kata Rifan menenangkan Aria, "Tidak akan ada yang
terjadi. Aku dan yang lain akan memastikannya. Anak-anak kita, dan yang lain tidak akan kenapanapa."
"Tapi?" "Kamu selalu berpikiran negative. Sekali-sekali, cobalah berpikir positif, sayang." Rifan
tersenyum, "Tidak akan ada yang terjadi. Kamu percaya padaku, kan?"
Aria tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tidak mengangguk mengiyakan ucapan Rifan. Aria
hanya menunduk dan menatap kedua tangannya.
Rifan menghela nafas dan memeluk istrinya. Dia tidak tahu kenapa Aria mulai merasa
perasaannya selalu tidak enak. Sama seperti saat mereka masih di Laboratorium Terlarang. Ia
menghela nafas sekali lagi. Dia tidak mau Aria selalu berpikiran negative.
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku kemejanya bergetar. Rifan melihat sekilas siapa yang
menghubunginya. "Aria, sebaiknya kamu beristirahat duluan. Aku harus mengurus sesuatu." Kata Rifan
sambil melepaskan pelukannya.
"Mmm. Baiklah."
Rifan berjalan keluar kamar dan menghembuskan nafas pelan. Dia mengeluarkan
ponselnya dan menelepon orang yang barusan menghubunginya.
*** "Oniichan, tunggu!"
Lumina menarik tangan Reno yang hendak masuk ke kamar.
"Ada apa lagi, Lumina?"
"Oniichan belum menjelaskan apapun padaku kenapa aku harus menjauhi Nathan." Kata
Lumina, "Aku butuh penjelasan. Kalau alasannya jelas, aku akan dengan senang hati menuruti
permintaan Oniichan, tapi kalau tidak?"
"Kalau Oniichan bilang dia itu orang jahat, apa kamu akan menuruti permintaan
Oniichan?" "Ap"Nathan bukan orang jahat! Dia pernah menolongku! Oniichan lupa?"
"Aku tahu. Aku tidak pernah lupa dia pernah menolongmu waktu kecil." Kata Reno,
"Tapi, tolong, Lumina, jauhi saja dia."
"Kenapa Oniichan selalu meminta yang tidak bisa kulakukan?"
Mendengar ucapan Lumina, Reno mengerutkan kening. Dia menatap tajam adiknya, dan
Lumina merasa kalau tatapan Reno sangat mirip dengan ayahnya ketika beliau sedang marah. Itu
membuat Lumina agak menciut nyalinya.
"Kamu benar-benar menyukainya?"
"Aku tidak"kenapa Oniichan menanyakan itu" Aku sudah pernah bilang kalau aku dan
Nathan hanya teman." Jawab Lumina.
"Kalau kamu selalu mengelak, itu artinya kamu benar-benar menyukainya." Kata Reno,
"Kalau kamu sakit hati, aku juga yang sakit, Lumina."
"Aku" tahu, tapi" Nathan itu orang baik."
Reno menghela nafas dengan frustasi dan mengacak-acak rambutnya.
"Dengar, Oniichan tidak akan mengulanginya lagi. Jauhi Nathan, Oniichan sudah tidak
percaya lagi padanya karena dia sudah membohongimu. Kalau kamu tidak mau menuruti
permintaan Oniichan yang satu ini" terserah. Tapi, resikonya kamu tanggung sendiri."
"Ap"Oniichan!!"
Reno tidak mendengarkan dan lebih memilih masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia
menghembuskan nafas dan duduk bersandar di daun pintu. Dia bisa mendengar langkah kaki
Lumina menjauh dari depan pintu kamarnya, dan dia juga bisa mendengar kalau"
" adiknya menangis karena ucapannya.
"Ya Tuhan?" ia menghembuskan nafas sekali lagi dan menatap keluar jendela, "Apa yang
sudah kukatakan?" *** Lumina masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan diri ke kasur. Dia tahu pandangannya
kabur karena airmata yang keluar dari kedua matanya. Tapi, dia tidak peduli. Dia kecewa dengan
ucapan Reno. Dia benar-benar kecewa.
Kenapa Oniichan harus mengatakan hal itu" Nathan bukan orang jahat! Dia baik! Dia
pernah menolongku, dia"
"Hhh?" Lumina menyeka airmatanya dan menatap langit-langit kamarnya.
Ia yakin, matanya sudah agak bengkak dan cukup membuat ibunya panic karena
penampilannya yang kacau nanti malam.
"Kenapa Oniichan mengatakan Nathan orang jahat, padahal dia bukan orang jahat. Sama
sekali bukan orang jahat." katanya sambil memeluk boneka kesayangannya.
Lumina menatap kearah dinding. Di sebelah kamarnya adalah kamar Reno, dan dia tidak
tahu apa yang sedang Reno lakukan sekarang.
"Sebenarnya kenapa Oniichan menyuruhku menjauhi Nathan" Memangnya dia pernah
berbohong apa padaku?"
Lumina menggeleng dan melemparkan boneka yang ia peluk ke lantai.
"Dasar Reno Oniichan aneh! Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu, sih!?"
CHAPTER 18 "Sayang," Aria menggoyang bahu Rifan yang sedang tertidur di sebelahnya. Dia melirik kearah jam
dinding. Sudah pukul 5 sore, dan mereka harus bersiap-siap untuk pergi ke pesta Charles. Dan
sedari tadi, dia sudah mencoba membangunkan Rifan, tapi, suaminya itu belum juga bangun.
"Rifan, bangun?"
"Hmm?"" Rifan membuka sedikit matanya dan menguap sebentar, "Ada apa?"
"Kita harus bersiap-siap. Pesta Charles, ingat?"
"Ah, ya" benar juga."
Rifan bangun dan menguap lagi, "Bangunkan anak-anak. Aku akan mandi dulu."
"Baiklah." Aria keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu kamar Reno terlebih dulu. Dia lalu
mengetuk pintu kamar anak sulungnya. Tidak ada jawaban dari dalam. Aria memutar kenop pintu
dan mengerutkan kening ketika menyadari kalau pintunya terkunci.
"Reno" Kamu di dalam, sayang?"
"Ya, Bu?" terdengar suara Reno dari dalam kamar, dan itu membuat Aria lega. Dia pikir
terjadi apa-apa pada Reno.
"Kita akan berangkat ke pesta Paman Charles. Kamu sudah siap, kan?" tanya Aria.
"Sebentar lagi. Aku sedang" merapikan tempat tidur."
"Baiklah. Kalau begitu, setelah kamu siap, beritahu adikmu untuk siap-siap juga. Ibu akan
membantu ayahmu memilih pakaiannya."
"Baik, Bu." *** Reno mendengar langkah kaki ibunya menjauh dari pintu kamarnya. Sebenarnya dia sedang tidak
bersiap-siap. Reno hanya berguling-guling di kasurnya dan menghembuskan nafas berat berkalikali.
Dia tidak mungkin menatap wajah adiknya lagi, setelah apa yang dia katakan barusan.
Lumina pasti akan marah dan ngambek padanya. Reno tahu itu. Dia hafal kebiasaan adiknya itu.
Reno melihat kearah jam di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Sudah jam 5 sore.
Apa" aku ikut saja, ya, ke pesta" Yah" bukan masalah, sih, kalau aku ikut. Tapi, aku tidak
mungkin bisa bicara dengan Lumina" setidaknya sampai besok. katanya dalam hati. Dia, atau aku,
sebenarnya, harus menjernihkan pikiran terlebih dulu.
Reno lagi-lagi menghela nafas. Detik berikutnya, dia bangun dari tempat tidur dan berjalan
ke kamar mandi. Setelah siap, dengan setelan kemeja biru langit lengan panjang yang dilapisi dengan rompi
berwarna hitam dan celana jins berwarna sama, Reno keluar dari kamar dan berjalan kearah pintu
kamar Lumina. Dia sempat ragu ebberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk
mengetuk pintu. "Lumina" Ini Oniichan." Kata Reno, "Lumina?"


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Reno mendengar suara langkah kaki dan sedetik kemudian pintu kamar terbuka. Lumina
mengerjapkan mata dan mengerutkan kening menatap Reno yang sudah berpakaian rapi.
"Oniichan, ada apa?" tanya Lumina lemah dan agak serak. Ketahuan sekali kalau Lumina
baru bangun tidur. Reno menatap adiknya dan melihat kedua mata Lumina membengkak. Hatinya sedikit
mencelos menyadari kalau Lumina pasti menangis akibat perkataannya.
"Err" kata Ibu, cepat siap-siap. Sebentar lagi kita berangkat ke pesta Paman Charles."
Lumina mengangguk tak acuh dan akan menutup pintu kamarnya lagi ketika Reno
mencegahnya. "Anu, Lumina," "Hm?" "Aku" aku minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?"
"Ucapanku tadi siang" aku minta maaf kalau itu membuatmu sedih." Kata Reno,
"Seharusnya aku tidak seperti itu, tapi" aku tidak mau kamu terluka. Kamu adikku, yang tidak
bisa kulihat menangis?"
"Oniichan, sudahlah." Lumina menyela, "Aku baik-baik saja. Tolong jangan ungkit-ungkit
masalah tadi." Reno tidak punya kesempatan bicara lagi ketika Lumina cepat-cepat menutup pintu.
Cowok itu menghela nafas. Lumina memang marah padanya.
"Aku minta maaf." kata Reno lirih sebelum bergegas pergi ke ruang tamu.
*** Lumina tidak tahu kapan ia jatuh tertidur ketika dia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ketika
melihat jam, ternyata sudah pukul 5 sore. Dia ingat kalau mereka sekeluarga akan pergi ke pesta
Charles. Lumina bangun dan mengucek matanya. Dia yakin, matanya bengkak walau tanpa melihat
cermin. Gadis itu menghela nafas. Dia tidak senang wajahnya kelihatan" mengerikan. Tapi, mau
bagaimana lagi" Ini semua karena permintaan kakaknya yang sangat aneh.
"Lumina?" Lumina mendengar suara Reno dari balik pintu kamarnya. "Ini Oniichan."
Lumina tidak mungkin menunjukkan wajahnya yang mengerikan seperti ini di hadapan
Reno. Walau dia harus mengakui, dia masih marah pada Reno karena memintanya menjauh dari
Nathan, tapi" dia tidak mau membuat kakaknya khawatir. Semarah apapun dia, Lumina tidak
akan mau membuat siapapun yang dekat dengannya khawatir.
Setelah mengambil nafas dan menghembuskannya beberapa kali, Lumina turun dari
kasurnya dan berjalan kearah pintu. Ketika membuka pintu, dia melihat kakaknya sudah rapi, dan
dia harus mengakui, kakaknya terlihat tampan" saat ini.
"Oniichan, ada apa?" tanya Lumina dengan suara lemah dan serak yang dibuat-buat.
Lumina mendapati Reno menatapnya. Wajah Reno sedikit sedih, entah karena apa.
Mugnkin karena "Err" kata Ibu, cepat siap-siap. Sebentar lagi kita berangkat ke pesta Paman Charles."
Lumina mengangguk tak acuh dan akan menutup pintu kamarnya lagi ketika Reno
mencegahnya. "Anu, Lumina," "Hm?" "Aku" aku minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?"
"Ucapanku tadi siang" aku minta maaf kalau itu membuatmu sedih." Kata Reno,
"Seharusnya aku tidak seperti itu, tapi" aku tidak mau kamu terluka. Kamu adikku, yang tidak
bisa kulihat menangis?"
"Oniichan, sudahlah." Lumina menyela, "Aku baik-baik saja. Tolong jangan ungkit-ungkit
masalah tadi." Lumina tidak memberi kesempatan Reno untuk bicara lagi dengan cepat-cepat menutup
pintu kamarnya. Sebenarnya dia tidak berniat melakukan hal itu. Lumina hanya tidak mau
kakaknya melihat kantung mata yang terlihat jelas di bawah matanya.
Tapi, sepertinya Reno salah paham.
"Aku minta maaf." kata Reno lirih sebelum bergegas pergi.
Aku seharusnya tidak menutup pintu seperti itu tadi. katanya dalam hati. Maaf, Oniichan,
aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah.
"Ah, kalian berdua sudah siap?"
Aria turun ke bawah bersama Rifan ketika melihat Lumina dan Reno sudah duduk di sofa
di ruang tamu. "Lumina, gaunmu cantik." kata Aria mendekati Lumina, "Biar ibu tebak, salah satu baju
cosplay-mu" Bajumu yang waktu itu, kan" Yang ibu lihat ketika di taman waktu itu?"
Lumina hanya tersenyum. Dia memang memakai baju cosplay yang dia pakai pada saat
event di depan game center yang biasa dikunjungi Reno dan Snow. Lumina juga mengikat sedikit
rambutnya menyampir ke kiri sehingga dia benar-benar tampak seperti salah satu tokoh anime.
"Reno juga tampan. Anak-anak ibu semuanya cantik dan tampan." Kata Aria melihat
kearah Reno, yang dibalas dengan senyum tipis oleh anak laki-lakinya itu.
"Baiklah," Rifan berdeham dan memutar kunci mobil di tangannya, "Ayo, kita berangkat."
*** "Oniichan," "Hmm?" Lumina bergeser lebih dekat dengan Reno ketika mereka semua berada di mobil, dalam
perjalanan menuju pesta Charles.
"Aku boleh bersandar di bahu Oniichan" Aku" masih mengantuk."
Reno terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan menepuk kepala Lumina.
"Bodoh. Tidak perlu bertanya, kan?"
Lumina tersenyum lebar, kemudian bersandar pada bahu Reno.
"Bahu Oniichan lebar, ya" Enak kalau dijadikan bantal." Kata Lumina, "Tapi, agak keras,
sih" jadi tidak nyaman."
"Kamu ini?" Lumina tertawa kecil, "Aku" minta maaf karena tadi." katanya, "Aku tidak bermaksud
menutup pintu seperti itu tadi. Lumina hanya" aku hanya tidak mau Oniichan melihat kantung
mata di bawah mataku."
Reno mengerutkan kening dan menatap wajah Lumina. Memang ada kantung mata di
bagian bawah kedua mata adiknya. Dan itu membuat hatinya lagi-lagi mencelos. Lumina benarbenar menangis tadi sebelum tidur.
"Kamu" menangis, kan" Karena ucapan Oniichan, kan?" kata Reno, "Oniichan juga
minta maaf kalau ucapan Oniichan tadi siang itu membuatmu sedih."
"Y, ya" tidak apa-apa." Lumina menggeleng, "Itu tidak perlu dibahas lagi. Sekarang ini aku
ingin tidur sebentar."
Reno mengangguk, "Silakan saja. Oniichan akan membangunkanmu ketika kita sudah
sampai." Lumina mengangguk dan mengatur nafasnya, sebelum ia benar-benar tertidur.
Aria melirik kedua anaknya dari kaca di dashboard dan tersenyum tipis. Ia melirik kearah
Rifan, yang juga melihat kearah kaca dashboard. Aria meletakkan tangannya di atas tangan Rifan
yang memegang rem mobil, dan berbicara lewat telepati.
"Anak-anak kita ternyata sudah" mereka sudah bisa mengerti satu sama lain." kata Aria.
Rifan tersenyum dan mengangguk, "Kurasa tidak masalah jika kita pura-pura tidak
mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak mau mencampuri urusan anak-anak kita, kecuali
peran kita benar-benar dibutuhkan.
"Mereka sudah mandiri. Tidak memerlukan bantuan kita sepenuhnya."
Aria tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Senyumnya perlahan
menghilang ketika dia merasakan sesuatu kembali mengganjal di hatinya. Ia menghela nafas dan
menggeleng pelan. Semoga bukan karena Jack. Katanya dalam hati, meyakinkan diri sendiri.
CHAPTER 19 Mereka akhirnya sampai di ballroom yang dimaksud Charles di dalam undangan yang dikirimkan
tadi siang. Rifan menyuruh Aria, Reno, dan Lumina untuk masuk duluan sementara dia akan
menaruh mobil di basement.
Ketika masuk ke dalam ballroom, Lumina langsung melihat kearah Claire dan Sarah yang
melambai dan berjalan kearahnya.
"Hei, ternyata kamu juga datang, ya?" kata Sarah, "Gaun yang cantik. Biar kutebak,
membuat sendiri, kan?"
Lumina hanya tersenyum. "Oh, hai, Reno. Malam ini kamu tampan juga, ya?" kata Sarah melihat Reno, "Yah"
biasanya selalu bau keringat,sih?"
"Sialan kamu." Sarah dan Claire tertawa bersama.
"Oh ya, di mana Kak Keiko?" tanya Aria,
"Mereka sedang memberi selamat pada Paman Charles." Kata Claire, "Ah, Dad dan Mom
ada di sana, kalau Bibi mau menyapa mereka."
Aria melihat kearah yang ditunjuk Claire dan mengangguk.
"Reno, Lumina, Ibu mau menyapa paman dan bibi kalian dulu. Jangan ke mana-mana,
oke?" "Iya, Bu." Saat Aria pergi, Claire dan Sarah langsung "menculik" Reno dengan alasan ingin mengambil
minuman pada Lumina. Lumina sempat heran kenapa Reno juga harus diajak, tapi, kemudian
memutuskan untuk tidak bertanya dan berjalan kearah lain.
"Ada apa, sih!?" tanya Reno.
"Kami mendapatkan informasi tentang sulaman di saputangan waktu itu." kata Claire.
"Informasi apa?"
Claire mengeluarkan kertas dari tas tangan kecilnya dan menyerahkannya pada Reno.
"Helen, nama teman kami yang belajar membuat sulaman seperti itu, mengatakan pada
kami kalau dia belajar dari orang yang namanya ditulis di kertas itu."
Reno membuka kertas itu dan mengerutkan kening melihat nama yang tertera di sana.
"Jonathan Jackson?" katanya, "Maksud kalian" Nathan?"
"Awalnya kami pikir juga begitu." ujar Sarah, "Tapi, bisa saja itu orang lain. Kita tidak
boleh berprasangka buruk dulu sebelum ada buktinya."
"Pendapat kami, siapapun orang yang mengajari Helen, atau Utami, dia adalah orang yang
mengincar The Chronos Sapphire sejak awal."
Reno mengangguk mengerti.
"Hei, guys?" Mereka bertiga menoleh dan melihat Samuel serta Snow menghampiri mereka.
"Hei, dua cowok ganteng." Kata Sarah, "Ada apa?"
"Tebak apa yang kami lihat sebelum kami menghampiri kalian," kata Snow, sebelum
akhirnya ia jawab sendiri, "Nathan. Dia di sini. Dan juga Clarissa!"
"Nathan" Clarissa" Apa hubungannya?" tanya Sarah.
"Mereka datang bersama." Kata Samuel. "Kelihatan seperti kakak-adik."
"Apa?" Reno mengerutkan kening, "Mereka datang bersama dan terlihat seperti kakak-adik?"
"Ya. Setidaknya, seperti itulah yang kami lihat." Ujar Samuel.
"Sekarang, di mana mereka?"
"Itu, di sana."
Samuel menunjuk ke satu arah, dan Reno mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Samuel.
Dan dia memang melihat Nathan datang bersama Clarissa. Clarissa sendiri berjalan di belakang
Nathan seperti" "Tunggu, siapa yang berjalan di belakang Clarissa?"
Mereka semua langsung menoleh, dan menyadari kalau Nathan dan Clarissa tidak datang
sendiri. "Orang itu" seperti Nathan, tapi" bukankah Nathan berjalan di depan Clarissa?"
"Ada yang aneh?" kata Claire, "Wajah orang yang berjalan di belakang Clarissa mirip
dengan Nathan, tapi" gayanya sedikit berbeda. Saudara kembarnya?"
Berbeda" Ah, apa jangan-jangan yang kulihat dari pikiran Nathan waktu itu" benar" kata
Reno dalam hati, mengingat semua yang dia lihat ketika dia menyentuh tangan Nathan dan
menggunakan kemampuannya merasakan kemampuan seseorang.
"Hei, itu Lumina, kan?"
Reno mendongak ketika mendengar Sarah bersuara. Dia melihat kearah Nathan dan
Clarissa dan dia juga melihat Lumina berjalan dari arah yang berlawanan.
"Lumina" tidak!"
Reno cepat-cepat berlari kearah Lumina dan membuat teman-temannya terkejut.
"Reno, ada apa?" tanya Sarah, menghentikan langkah Reno, "Kenapa kamu panic begitu?"
Reno mendecak dan melepas tangan Sarah yang menggenggam tangannya.
"Sarah, aku yakin kamu belum lupa kalau Nathan berbohong pada kita semua." Katanya,
"Lumina belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus mencegahnya bertemu dengan
Nathan atau?" "Kurasa kita terlambat." Kata Snow, yang melihat ke belakang Reno, "Lumina sudah
melihat Nathan dan Clarissa."
*** Lumina menyesap fruit cocktail di tangannya dan menghembuskan nafas. Dia tidak berniat hanya
berdiam diri dan memperhatikan orang-orang yang ada di ballroom. Karena itu, dia berjalan-jalan
sambil sesekali menyapa beberapa temannya yang orangtuanya juga diundang ke acara ini.
"Di mana Oniichan, ya" Aku tidak melihatnya dari tadi?" gumam Lumina sambil
menghembuskan nafas. Lumina mengedarkan pandangannya mencari Reno, tapi, dia tidak bisa menemukannya.
Lumina lagi-lagi menghela nafas. Mungkin sebaiknya dia duduk sebentar dan"
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada seseorang yang datang dari arah berlawanan.
Sebenarnya, orang itu tidak datang sendiri, dan orang lain yang berdiri di sebelah orang itulah, yang
menarik perhatian Lumina.
"Clarissa?" Dia juga diundang ke acara ini, ya" tanyanya dalam hati.
Lumina sepertinya setengah melamun ketika dia melihat Clarissa melihat kearahnya dan
berlari menghampirinya. "Wah, Lumina, aku tidak tahu kamu akan datang juga." Kata Clarissa sambil tersenyum
lebar, "Ah, kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku juga ada di pesta ini, ya" Kakakku mendapat
undangan juga ke pesta ini, jadi dia menyuruhku ikut."
"O, oh?" Lumina mengangguk, "Lalu" di mana kakakmu?"
"Dia?" Clarissa melirik ke belakang punggungnya sebentar, "Sedang pergi ke tempat
Charles Bernard. Mungkin sebentar lagi dia akan kemari."
"Oh?" "Hei, bagaimana kalau kita duduk di sana. Aku ingin membahas kapan aku akan
berkunjung lagi ke rumahmu untuk meminjam buku."
"Memangnya rumahku itu perpustakaan?"
Clarissa tertawa dan menarik tangan Lumina. Mereka berdua duduk di salah satu bangku
panjang yang terletak di dekat balkon ballroom. Lumina melihat kearah langit yang gelap tidak
berbintang, apalagi diterangi sinar bulan.
"Sepertinya kamu suka langit malam, ya?" kata Clarissa yang memperhatikan Lumina yang
menatap langit. "Mm" langit malam seperti menggambarkan keadaan kita ketika kita sedang sedih." Kata
Lumina. "Ah, Oniichan."
Reno berjalan menghampiri Lumina dna Clarissa. Wajahnya agak cemas, tapi, ada sedikit
raut lega dari wajah Reno ketika Lumina melihatnya dari dekat.
"Ada apa, Oniichan" Wajahmu, kok, agak pucat begitu?"
"Lumina, kamu?" Reno menatap Clarissa sebentar, kemudian kearah Lumina lagi, "Kamu
dari mana saja" Dari tadi aku mencarimu, tahu."
"Aku" tadi aku juga mencari Oniichan." Kata Lumina, "Oniichan dari mana saja" Sarah
Oneesan dan Claire Oneesan di mana?"
"Mereka sedang bersama Snow dan Samuel. Menggosip, seperti biasa."
"Halah" Oniichan juga sering bergosip dengan mereka, kan?" kata Lumina cekikikan.
"Itu bukan bergosip. Kami berdiskusi." Elak Reno sambil tersenyum kecil. Dalam hati
senang karena Lumina sudah tertawa lagi.
"Baiklah, baiklah?" kata Lumina, "Ah, Oniichan, bisa temani Clarissa sebentar" Aku mau
ke toilet. Tidak akan lama, kok. Dan jangan coba-coba menggodanya, ya" Kakaknya ada di sini."
"Kakak?" Reno mengerutkan kening.
Lumina tidak mendengar nada bingung dalam suara Reno dan segera berdiri, "Clarissa,
tunggu sebentar, ya. Aku mau ke toilet dulu."
"Mm. Oke. Jangan lama-lama, aku takut Reno akan menggodaku." Kata Clarissa setengah
tertawa. "Pasti?" Lumina lalu pergi dan meninggalkan Reno dan Clarissa sendirian. Ada hawa canggung
diantara mereka berdua. Reno berdeham untuk mencairkan suasana.
"Jadi?" katanya, "Kamu juga datang kemari, ya?"
"Ya" aku diundang oleh Charles Bernard." Jawab Clarissa. "Kakakku yang diundang, aku
hanya menemaninya saja."
"Begitu?" "Kamu Clavis, kan?" kata Reno.
"Hah?" "Kamu Clavis, kan" Suara yang pernah berbicara di kepalaku?" tanya Reno.
Reno menatap Clarissa, dan melihat gadis itu menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Clavis" Aku memang Clavis, kan" Seorang cosplayer." Kata Clarissa. "Kamu, kan, tahu
itu?" "Bukan itu." Reno menggeleng, "Maksudku bukan nama aliasmu sebagai cosplayer. Tapi,
suara yang berbicara padaku di kepalaku."
Kali ini raut wajah Clarissa kelihatan gugup. Reno tahu itu. Dia bisa dengan mudah
menebaknya karena dia sering melihat wajah seperti itu pada Lumina, yang seringkali ia pergoki
berbohong padanya. "A, aku tidak tahu apa maksudmu." Kata Clarissa. "Apa maksudnya aku adalah suara yang
berbicara di kepalamu?"
"Tolong jangan pura-pura tidak tahu. Aku sudah tahu kamu adalah Clavis. Di samping


The Chronos Sapphire Iii Karya Angelia Putri di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu?" Reno menarik tangan Clarissa dan membuat gadis itu nyaris menjerit.
"Aku bisa merasakan kemampuan seseorang, pikiran seseorang, hanya dengan
menyentuhnya. Apa aku pernah mengatakan hal itu sebelumnya padamu?"
Wajah Reno yang begitu dekat membuatnya tidak bisa berbicara, apalagi tatapan mata
Reno" astaga. Clarissa harus mengomeli diri sendiri karena bersikap gugup di depan Reno. Dia
memalingkan wajah kearah lain untuk menghindari tatapan mata Reno yang begitu" yah, tidak
bisa digambarkan. Reno melepaskan tangan Clarissa dan menghembuskan nafas.
"Seharusnya kamu jujur saja. Asal tahu saja, aku tidak mau adikku itu salah paham kalau
aku sedang menggodamu." Katanya sambil bersandar di dinding. "Aku tidak suka memaksa orang
lain, apalagi wanita, untuk bicara padaku."
"Rupanya" kamu tipe cowok yang pemalu, ya?" kata Clarissa.
Reno mengedikkan bahu, "Kamu akan bicara yang sejujurnya kalau kamu adalah Clavis?"
tanyanya. "Err?" "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah bilang, kalau aku punya kemampuan khusus.
Sekarang, kamu mau jujur, atau tidak."
"Katanya kamu tidak akan memaksaku?" Clarissa menghela nafas, "Sejak kapan kamu
tahu aku Clavis" Ya" aku tahu, bukan Clavis si cosplayer."
"Sejak aku menyentuh tanganmu" bukan, mungkin sejak kemarin. Ketika ada
penggemarmu yang menyebutmu dengan nama Clavis." Kata Reno, "Dan aku membuktikannya"
tadi siang. Ketika aku menyentuh tanganmu, aku menggunakan kemampuan khususku."
"Oh?" "Bagaimana kamu bisa bertelepati denganku" Bebricara denganku di kepalaku?" tanya
Reno. "Kamu bukan The Chronos Sapphire, kan" Atau?"
"Pertanyaanmu banyak sekali." Clarissa mengerutkan kening, "Pertanyaan mana yang
harus kujawab lebih dulu?"
"Terserah saja."
Clarissa memiringkan kepalanya dan menghela nafas, "Baiklah, akan kujawab. Mulai dari
bagaimana aku bisa bertelepati denganmu dan apakah aku adalah The Chronos Sapphire atau
bukan" iya. Aku memang" The Chronos Sapphire juga, sepertimu."
"Apa!?" "Wow" apa kamu sering kaget dengan ekspresi yang sebegitunya?" kata Clarissa kaget
ketika Reno bersuara keras.
"M, maaf?" Reno meminta maaf dan berdeham, "K, kamu juga" The Chronos
Sapphire?" "Ceritanya panjang, kalau kamu ingin menanyakan hal itu." kata Clarissa, "Tapi" ya. Aku
juga The Chronos Sapphire. Sama sepertimu, Lumina, dan teman-temanmu."
"Kamu tahu kalau teman-temanku juga?"
"Aku kenal Sarah dan Claire." Kata Clarissa, "Teman mereka adalah temanku juga,
namanya Helen." Reno menatap Clarissa dengan mata disipitkan, "Helen?" Kamu?"
"Ah" kamu belum tahu nama asliku, kan?" Clarissa tersenyum penuh misteri, "Nama
asliku?" "Utami?" Clarissa menoleh kearah Reno cepat dengan kening berkerut.
"Kamu tahu?" "Bagaimana aku tidak tahu" Aku tahu ketika aku menyentuh tanganmu barusan." Jawab
Reno sambil mengedikkan bahu.
*** "Ah! Rifan, Aria!"
Aria dan Rifan, yang sudah memarkir mobil di basement dan berjalan bersama, melihat
Stevan dan Duke melambai kearah mereka. Charles, Lord, dan Dylan juga ada di sana.
"Hei" rupanya kalian datang juga." Kata Charles tersenyum lebar, "Kukira kalian lupa
pada acaraku ini." "Siapa bilang kami lupa?" kata Rifan tertawa, "Kami tentu saja tidak lupa. Sama sekali?"
"Tapi, tadi, kamu malah berniat tidak mau bangun tidur, kan?" kata Aria sambil tertawa
kecil. "Ah, itu?" Charles tertawa melihat pasangan yang ada di hadapannya, dan menghembuskan nafas.
"Rifan, Aria, di mana anak-anak kalian?" tanya Keiko yang berdiri di sebelah Dylan.
"Oh, mereka mungkin sedang bersama anak-anak yang lain. Terutama Reno. Dia tidak
mungkin bisa tahan tidak mendiskusikan game dengan Snow." Ujar Rifan.
"Begitu?" "Kak Keiko, di mana Kak Kazuhi?"
"Dia sedang ada seminar di luar kota dan baru pulang besok sore." Jawab Keiko, "Dia
Cinta Bernoda Darah 13 Wiro Sableng 025 Cinta Orang-orang Gagah Ledakan Dendam 1
^