Pencarian

Eldest 11

Eldest Seri 2 Eragon Karya Christhoper Paolini Bagian 11


Dengan frustrasi, Roran berkata, "Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan" Kalian tidak bisa mengurung putri kalian, dan aku yakin Frewin sudah membuktikan pengabdiannya lebih daripada--"
"Ra,zac" Teriakan itu dari sarang gagak--panggung pengamat di tiang utama kapal.
Tanpa berpikir, Roran mencabut martil dari sabuknya, berbalik, dan bergegas menaiki tangga ke lubang palka depan, membuat tulang keringnya tersenggol. Ia berlari secepat mungki ke kumpulan orang di geladak atas, berhenti di samping Horst.
Tukang besi itu menun juk. Salah satu tunggangan Ra'zac yang menakutkan melayang seperti bayangan compang-camping di atas tepi pantai, Ra'zac di punggungnya. Melihat kedua monster itu di siang hari sama sekali tidak menghapus kengerian terhadap mereka dalam diri Roran. Ia menggigil ketika makhluk bersayap itu melontarkan jeritan mengerikannya, lalu suara Ra'zac yang mirip serangga terdengar menyeberangi perairan, samar tapi jelas, "Kalian tidak akan bisa lari!"
Roran memandang busur besar di geladak, tapi senjata itu tidak bisa diputar cukup jauh untuk membidik Ra'zac di tunggangannya. "Ada yang punya busur""
"Aku," kata Baldor. Ia bertumpu pada salah satu lutut dan memasang tali senjatanya. "Jangan sampai ia melihatku." Semua orang di geladak mengerumuni Baldor dengan rapat, melindunginya dengan tubuh mereka dari tatapan buas Ra'zac.
"Kenapa mereka tidak menyerang"" kata Horst.
Dengan kebingungan, Roran mencari-cari penjelasan tapi tidak menemukan satu pun. Jeod yang mengatakannya. "Mungkin cuaca terlalu terang bagi mereka. Ra'zac berburu di malam hari dan sepanjang pengetahuanku mereka tidak bersedia para sukarela berkeliaran dari sarang mereka selama matahari masih ada di langit."
"Bukan hanya itu," kata Gertrude lambat. "Kupikir mereka takut terhadap laut."
Takut terhadap laut"" ejek Horst.
Perhatikan; mereka tidak pernah terbang lebih tinggi dari satu yard di atas air."
"Ia benar," kata Roran. Akhirnya, kelemahan yang bisa kugunakan terhadap mereka!
Beberapa detik kemudian, Baldor berkata, "Siap!"
Begitu mendengarnya, jajaran orang yang berdiri di depannya melompat ke samping, membuka jalan bagi anak panahnya. Baldor melompat bangkit dan, dengan satu gerakan, menarik anak panah hingga bulunya menempel ke pipi dan melepaskan anak panah buluhnya.
Tembakan yang hebat. Ra'zac berada di tepi batas panah--lebih jauh daripada sasaran apa pun yang pernah dilihat Roran dikenai pemanah--dan bidikan Baldor tepat. Anak panahnya menancap di sisi kanan makhluk terbang itu, dan makhluk buas tersebut menjerit kesakitan begitu hebat hingga kaca di geladak pecah berantakan dan bebatuan di pantai berhamburan. Roran menutupi telinga dengan tangan untuk melindunginya. Sambil terus menjerit, makhluk itu berbelok ke darat dan menghilang di balik barisan bukit berkabut.
"Kau berhasil membunuhnya"" tanya Jeod, wajahnya memucat.
"Kurasa tidak," jawab Baldor. "Itu hanya luka daging."
Loring, yang baru saja tiba, mengamati dengan puas. "Aye. Tapi setidaknya kau melukainya, dan berani bertaruh mereka akan berpikir dua kali sebelum mengganggu kita lagi.
Roran merasa suram. "Simpan kegembiraanmu untuk nanti, Loring. Ini bukan kemenangan."
"Kenapa"" tanya Horst.
"Karena sekarang Kekaisaran tahu persis di mana kita berada." Geladak berubah sunyi saat mereka menyadari arti kata-katanya.
PERMAINAN ANAK-ANAK Dan ini," kata Trianna, "adalah pola terbaru yang kami ciptakan."
Nasuada mengambil cadar hitam dari wanita penyihir itu dan mengelusnya, terpesona pada mutunya. Tidak ada manusia yang bisa merajut renda sehalus itu. Ia menatap puas deretan kotak di mejanya, yang berisi contoh sejumlah besar rancangan yang dihasilkan Du Vrangr Gata. "Kau bekerja dengan baik," katanya. "Jauh lebih baik daripada yang kuharapkan. Beritahu para perapal mantra betapa senangnya aku dengan hasil kerja mereka. Ini sangat berarti bagi kaum Varden."
Trianna memiringkan kepala mendengar pujian itu. "Akan kusampaikan pesan Anda kepada mereka, Lady Nasuada."
"Apakah mereka sudah--"
Keributan di pintu kamarnya menyela Nasuada. Ia mendengar para penjaganya memaki dan berteriak, lalu ada yang menjerit kesakitan. Suara logam beradu dengan logam berdentang di lorong. Nasuada mundur menjauhi pintu dengan terkejut, mencabut pisau dari sarungnya.
"Lari, Lady!" kata Trianna. Wanita penyihir itu menempatkan diri di depan Nasuada dan menarik lengan gaun hitamnya, menampakkan lengannya yang putih ketika bersiap mengerahkan sihir. "Gunakan jalan pelayan."
Sebelum Nasuada sempat bergerak, pintu-pintu terdobrak membuka dan sesosok kecil menghantam kakinya, menjatuhkannya ke lantai. Bahka
n saat Nasuada jatuh, benda keperakan melesat melintasi tempat ia baru saja berdiri, membenamkan diri di dinding seberang diiringi debuman pelan.
Lalu keempat penjaga masuk, dan keributan pun berlangsun ketika Nasuada merasakan mereka menyeret penyerangnya pergi. Sewaktu Nasuada berhasil bangkit, ia melihat Elva terkulai dalam cengkeraman para pengawalnya. "Apa artinya ini"" tanya Nasuada.
Gadis berambut hitam itu tersenyum, lalu meringkuk dan muntah di karpet. Sesudahnya, ia menatap Nasuada dengan mata ungunya dan--dengan suaranya yang menakutkan--berkata, "Perintahkan penyihirmu memeriksa dinding, Putri Ajihad, dan lihat apakah aku tidak memenuhi janjiku padamu."
Nasuada mengangguk pada Trianna, yang berjalan ke lubang di dinding dan menggumamkan mantra. Ia kembali membawa sebatang anak panah logam.
"Ini terbenam dalam kayu."
"Tapi dari mana asalnya"" tanya Nasuada, kebingungan. Trianna memberi isyarat ke jendela yang terbuka ke arah kota Aberon. "Dari luar sana, kurasa."
Nasuada kembali memerhatikan anak yang menunggu itu.
"Apa yang kau tahu tentang ini, Elva""
Senyum mengerikan gadis itu melebar. "Ini ulah pembunuh bayaran."
"Siapa yang mengirimnya""
"Pembunuh bayaran yang dilatih Galbatorix sendiri dalam hal ilmu hitam." Matanya yang membara separo tertutup, seakan kerasukan. "Orang ini membencimu. Ia datang untukmu. Ia pasti berhasil mernbunuhmu kalau aku tidak mencegahnya. Ia meringkuk ke depan dan kembali muntah-muntah, menumpahkan makanan yang separo tercerna di lantai. Nasuada tercekik perasaan mual. "Dan ia akan sangat menderita."
"Kenapa begitu""
"Karena aku akan memberitahumu ia menginap di losmen di Fane Street, di kamar terakhir, di lantai teratas. Sebaiknya kau bergegas, kalau tidak ia akan lolos." Ia mengerang seperti makhluk terluka dan mencengkeram perutnya. "Cepat, sebelum mantra Eragon memaksaku mencegahmu menyakitinya, akan menyesal kalau begitu!"
Trianna telah bergerak saat Nasuada berkata, "Beritahukan apa yang terjadi pada Jormundur, lalu bawa para penyihir terkuatmu dan kejar orang ini. Tangkap ia kalau bisa. Bunuh kalau tidak bisa." Sesudah wanita penyihir itu berlalu, Nasuada memandang para pengawalnya dan melihat kaki mereka mengeluarkan darah akibat puluhan luka kecil. Ia menyadari akibatnya bagi Elva karena terpaksa menyakiti mereka. "Pergilah," katanya pada mereka. "Cari tabib yang bisa menyembuhkan luka-luka kalian."
Para pejuang itu menggeleng, dan kapten mereka berkata, "Tidak, Ma'am. Kami akan tetap mendampingi Anda hingga tahu Anda sudah aman lagi."
"Terserah padamu, Kapten."
Orang-orang itu menghalangi jendela--yang menambah panas yang memanggang Puri Borromeo--lalu semua orang mundur ke ruang dalam Nasuada untuk perlindungan lebih jauh.
Nasuada mondar-mandir, jantungnya berdebar-debar akibat shock yang tertunda saat ia memikirkan betapa nyarisnya dirinya terbunuh. Apa jadinya dengan kaum Varden kalau aku tewas" pikirnya penasaran. Siapa yang akan menggantikan diriku" Ia merasa muram; ia belum mengatur penggantinya seandainya dirinya tewas, kealpaan yang sekarang terasa seperti kegagalan besar. Aku tidak akan membiarkan kaum Varden kacau karena aku gagal mengambil langkah-langkah penjagaan!
Ia berhenti. "Aku berutang budi padamu, Elva."
"Sekarang dan selamanya."
Nasuada goyah, gelisah seperti yang sering dirasakannya akibat jawaban gadis itu, lalu melanjutkan, "Aku minta maaf karena tidak memerintahkan para pengawalku mengizinkanmu lewat, siang atau malam. Seharusnya aku sudah mengantisipasi kejadian seperti ini."
"Seharusnya," kata Elva, menyetujui dengan nada mengejek.
Sambil merapikan bagian depan gaunnya, Nasuada kembali mondar-mandir, lebih untuk menghindari melihat wajah Elva begitu pucat batu dan bertanda naga, juga untuk melampiaskan energi kegugupannya. "Bagaimana kau bisa meninggalkan kamarmu tanpa ditemani""
"Kuberitahu perawatku, Greta, apa yang ingin didengarnya."
"Hanya itu""
Elva mengerjapkan mata. "Ia sangat bahagia karenanya." "Bagaimana dengan Angela""
"Ia ada urusan tadi pagi."
"Well, mengingat faktanya, aku berterima kasih kau sudah meny
elamatkan nyawaku. Mintalah apa pun yang kauinginkan dan akan kuberikan selama aku bisa."
Elva memandang sekeliling kamar tidur yang penuh hiasan itu, lalu berkata, "Kau punya makanan" Aku lapar."
FIRASAT PERANG Dua jam kemudian, Trianna kembali, memimpin dua pejuang yang membawa sosok terkulai di antara mereka. Atas perintah Trianna, keduanya menjatuhkan mayat itu ke lantai. Lalu si wanita penyihir berkata, "Kami menemukan pembunuh bayarannya di tempat yang dikatakan Elva. Namanya Drail."
Terdorong rasa penasaran, Nasuada memeriksa wajah pria yang mencoba membunuhnya itu. Pembunuh tersebut bertubuh pendek, berjanggut, dan tampak biasa, tidak berbeda dari puluhan pria lain di kota. Nasuada merasakan keterkaitan tertentu pada pria itu, seakan usaha membunuhnya dan fakta bahwa dirinya memerintahkan kematian pria itu sebagai balasannya telah mengikat mereka dengan cara yang sangat intim. "Bagaimana ia tewas"" tanyanya. "Aku tidak melihat bekas apa pun di tubuhnya."
"Ia bunuh diri dengan sihir sewaktu kami berhasil menembus pertahanannya dan memasuki pikirannya, tapi sebelum kami sempat menguasai tindakannya."
Apakah ada informasi berguna yang kalian dapat sebelum ia tewas""
Ada. Drail bagian dari jaringan agen yang bermarkas di Surda sini dan setia pada Galbatorix. Mereka disebut Tangan Hitam. Mereka memata-matai kita, menyabot usaha perang kita, dan--hasil terbaik kami dari kesempatan sekilas memasuki kenangan Drail--bertanggung jawab atas puluhan pembunuhan di antara kaum Varden. Tampaknya mereka menunggu kesempatan baik untuk membunuh Anda sejak kita tiba dari Farthen Dur."
"Kenapa Tangan Hitam belum membunuh Raja Orrin"
Trianna mengangkat bahu. "Aku tidak bisa mengatakannya. Mungkin karena Galbatorix menganggap Anda lebih berbahaya daripada Orrin. Kalau itu yang terjadi, begitu Tangan Hitam menyadari Anda dilindungi dari serangan mereka"--tatapannya beralih ke Elva--"Orrin tidak akan hidup lebih dari sebulan lagi kecuali ia dijaga para penyihir siang-malam. Atau mungkin Galbatorix menghindari tindakan selangsung itu karena ingin Tangan Hitam tetap tersembunyi. Surda selama ini ada karena ia mentolerirnya. Sekarang sesudah negara ini menjadi ancaman...."
"Kau bisa melindungi Orrin juga"" tanya Nasuada, sambil berpaling pada Elva.
Mata Elva yang ungu tampak bercahaya. "Mungkin kalau ia memintanya baik-baik."
Otak Nasuada berputar keras saat ia mempertimbangkan cara mematahkan ancaman baru ini. "Apakah semua agen Galbatorix bisa menggunakan sihir""
"Benak Drail kacau, jadi sulit memastikannya," kata Trianna, "tapi kurasa cukup banyak di antara mereka yang bisa."
Sihir, maki Nasuada sendiri. Bahaya terbesar yang dihadapi kaum Varden dari para penyihir--atau siapa pun yang berlatih menggunakan benak mereka--bukanlah pembunuhan, melainkan mata-mata. Para penyihir bisa memata-matai pikiran orang-orang dan mendapatkan informasi yang bisa digunakan untuk menghancurkan kaum Varden. Itulah alasan Nasuada dan seluruh struktur komando kaum Varden diajari untuk tahu kalau ada yang menyentuh benak mereka dan cara melindungi diri dari perhatian seperti itu. Nasuada curiga Orrin dan Hrothger mengandalkan tindakan berjaga-jaga yang sama dalam pemerintahan mereka.
Tapi karena tidak praktis kalau setiap orang yang memiliki informasi yang bepotensi merusak harus berlatih keahlian itu, salah satu dari sekian banyak tanggung jawab Du Vrangr Gata adalah memburu siapa pun yang menyerap fakta yang muncul dalam benak orang-orang. Akibatnya Du Vrangr Gata akhirnya memata-matai kaum Varden seperti musuh-musuh mereka, keayataan yang disembunyikan Nasuada rapat-rapat dari sebagian besar pengikutnya, karena hal itu hanya akan menuai kebencian ketidakpercayaan, dan ketidakpuasan. Ia tidak menyukai praktik tersebut tapi tidak melihat alternatifnya.
Apa yang dipelajarinya tentang Tangan Hitam memperkuat keyakinan Nasuada bahwa, entah bagaimana, para penyihir harus diatur.
"Kenapa," tanyanya, "kau tidak mengetahui ini lebih awal" Aku bisa memahami kalau kau gagal menemukan pembunuh bayaran, tapi seluruh jaringan perapal mantra yang berusa
ha menghancurkan kita" Jelaskan, Trianna."
Mata wanita penyihir itu berkilau marah mendengar tuduhan Nasuada. "Karena di sini, tidak seperti di Farthen Dur, kita tak bisa memeriksa pikiran setiap orang untuk mencari penipuan. Terlalu banyak orang untuk bisa dilacak para penyihir kita. Itu sebabnya baru sekarang kami tahu tentang Tangan Hitam, Lady Nasuada."
Nasuada diam sejenak, lalu memiringkan kepala. "Aku mengerti. Apa kautemukan identitas anggota Tangan Hitam lain""
"Beberapa." "Bagus. Manfaatkan mereka untuk mengungkap agen-agen lain. Kuminta kau menghancurkan organisasi ini untukku, Trianna. Lenyapkan mereka seperti kau memusnahkan hama. Kuberi kau sebanyak apa pun orang yang kaubutuhkan."
Wanita penyihir itu membungkuk memberi hormat. "Terserah Anda, Lady Nasuada."
Saat terdengar ketukan di pintu, para pengawal mencabut Pedang dan menempatkan diri di kedua sisi pintu, lalu kapten mereka membuka pintu tanpa peringatan. Pelayan muda berdiri di luar, tangannya terangkat untuk mengetuk lagi. Ia tertegun menatap mayat di lantai, lalu menegakkan tubuh sewaktu kapten bertanya, "Ada apa, Nak""
Ada pesan untuk Lady Nasuada dari Raja Orrin."
Bicaralah yang cepat," kata Nasuada.
Pelayan itu membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan diri. "Raja Orrin meminta Anda menemuinya langsung di ruang dewan, karena beliau menerima laporan dari Kekaisaran yang harus segera Anda perhatikan."
"Hanya itu""
"Ya, Ma'am." "Aku harus menangani ini. Trianna, kau sudah mendapat perintahmu. Kapten, bisa kau suruh salah seorang anak buahmu membuang mayat Drail""
"Aye, Ma'am." "Selain itu, minta ia menemukan Farica, pelayanku. Ia akan membersihkan ruang kerjaku."
"Bagaimana denganku"" tanya Elva, sambil memiringkan kepala.
"Kau," kata Nasuada, "akan menemaniku. Itu kalau kau merasa cukup kuat."
Gadis itu menyentakkan kepala ke belakang dan dari bibirnya yang kecil dan bulat terdengar tawa yang dingin. "Aku cukup kuat, Nasuada. Kau""
Tanpa memedulikan pertanyaan itu, Nasuada melangkah ke lorong dikelilingi para pengawal. Batu-batu puri menebarkan bau tanah akibat panas. Di belakang Nasuada, ia mendengar suara langkah kaki Elva dan sangat senang karena anak yang menakutkan itu bergegas untuk mengikuti langkah orang dewasa yang lebih panjang.
Para pengawal tetap tinggal di depan ruang dewan sementara Nasuada dan Elva masuk. Ruangan itu sangat kosong, mengesankan sifat Surda yang militan. Raja negeri itu mengerahkan sumber daya mereka untuk melindungi rakyat dan menjatuhkan Galbatorix, bukan menghiasi Puri Borromeo dengan kekayaan seperti yang dilakukan para kurcaci dengan Tronjheim.
Di ruang utama terdapat meja kasar sepanjang dua belas kaki, tempat peta Alagaesia dipaku dengan pisau pada keempat sudutnya. Sebagaimana kebiasaannya, Orrin duduk di kepala meja, sementara berbagai penasihatnya--banyak di antaranya Nasuada tahu, sangat menentang dirinya--mengisi kursi-kursi lain di sebelah Raja. Dewan Tetua juga hadir. Nasuada menyadari keprihatinan di wajah Jormundu saat pria itu menatapnya dan menebak Trianna telah memberitahu pria tersebut tentang Drail.
"Yang Mulia, Anda memanggilku""
Orrin bangkit berdiri. "Benar. Sekarang kita--" Ia terdiam sewaktu melihat Elva. "Ah, ya, Alis Bersinar. Aku tidak sempat menemuimu sebelumnya, sekalipun cerita mengenai perbuatanmu telah kudengar dan, harus kuakui, aku sangat ingin bertemu denganmu. Apa kamar yang kusediakan untukmu memuaskan""
"Cukup menyenangkan, Yang Mulia. Terima kasih." Mendengar suara Elva yang menakutkan, suara orang dewasa, semua orang di meja mengernyit.
Irwin, perdana menteri, melesat bangkit dan menunjuk Elva dengan jari gemetar. "Kenapa kau membawa... penghujatan ini kemari""
"Kau lupa sopan santunmu, Sir," jawab Nasuada, sekalipun memahami sentimen pria itu.
Orrin mengerutkan kening. "Ya, tahan dirimu, Irwin. Tapi kata-katanya masuk akal, Nasuada; kita tidak bisa membiarkan anak-anak menghadiri rapat kita."
"Kekaisaran," kata Nasuada, "baru saja berusaha membunuhku." Ruangan dipenuhi seruan terkejut. "Kalau bukan karena tindakan Elva yang sigap, aku sudah tewas.
Sebagai hasilnya, aku memercayainya; ke mana aku pergi, ia ikut." Biar mereka penasaran apa tepatnya yang bisa dilakukan Elva.
"Ini benar-benar berita yang menyesakkan!" seru Raja. "Kau sudah menangkap pelakunya""
Melihat ekspresi penuh semangat para penasihatnya, Nasuada ragu-ragu. "Paling baik menunggu hingga aku bisa memberitahu Anda secara pribadi, Yang Mulia."
Orrin tampak terkejut mendengar jawaban Nasuada, tapi tidak mengejar lebih jauh. "Baiklah. Tapi duduk, duduk! Kita baru saja menerima laporan yang paling meresahkan." Sesudah Nasuada duduk di seberangnya--Elva mengintai di belakangnya. Ia melanjutkan. "Tampaknya mata-mata kita di Gil'ead ditipu mengenai status pasukan Galbatorix."
Bagaimana bisa begitu""
Mereka percaya pasukan Galbatorix seharusnya berada di Gil'ead, sedangkan kita mendapat pesan dari salah satu orang kita di Uru'baen, yang mengatakan melihat sejumlah besar pasukan berbaris ke selatan melewati ibukota satu setengah minggu yang lalu. Saat itu malam hari, jadi ia tidak bisa yakin mengenai jumlah mereka, tapi ia yakin jauh lebih besar dari enam belas ribu orang yang merupakan pasukan inti Galbatorix. Mungkin bahkan hingga seratus ribu prajurit, atau lebih."
Seratus ribu! Ketakutan yang dingin mencengkam perut Nasuada. "Kita bisa memercayai sumbermu""
"Laporannya selama ini bisa dipercaya."
"Aku tidak mengerti," kata Nasuada. "Bagaimana Galbatorix bisa memindahkan begitu banyak orang tanpa sepengetahuan kita" Iring-iringan pasokannya saja bisa bermil-mil panjangnya. Jelas sekali pasukannya sedang dimobilisasi, tapi Kekaisaran belum siap mengerahkan mereka."
Pada saat itu Falberd berbicara, menamparkan tangannya yang besar ke meja untuk menekankan omongannya. "Kita ditipu. Mata-mata kita pasti ditipu dengan sihir hingga mengira pasukan Galbatorix masih berada di barak-barak mereka di Gil'ead."
Nasuada merasa darah menghilang dari wajahnya. "Satu-satunya orang yang cukup kuat untuk mempertahankan ilusi sebesar dan selama itu--"
"Adalah Galbatorix sendiri," Orrin menyelesaikan. "Itu kesimpulan kami. Itu berarti Galbatorix akhirnya meninggalkan sarang untuk berperang secara terbuka. Bahkan sementara kita berbicara, musuh-musuh hitam mendekat."
Irwin mencondongkan tubuh ke depan. "Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana kita harus bereaksi. Tell saja, kita harus menghadapi ancaman ini, tapi dengan cara apa" Di mana, kapan, dan bagaimana" Pasukan kami sendiri belum siap untuk kampanye sebesar ini, sementara pasukanmu, Lady Nasuada--kaum Varden--sudah terbiasa bertempur."
"Apa maksudmu sebenarnya"" Bahwa kami seharusnya mati demi dirimu"
"Aku hanya mengamati. Terserah pendapatmu."
Lalu Orrin berkata, "Sendirian, kita akan dihancurkan pasukan sebesar itu. Kita harus memiliki sekutu, dan diatas semua itu, Eragon harus ada di sini, terutama kalau kita akan menghadapi Galbatorix. Nasuada, kau mau memanggilnya""
"Akan kulakukan kalau bisa, tapi sebelum Arya kembali, aku tidak bisa menghubungi para elf atau memanggil Eragon."
"Kalau begitu," kata Orrin dengan suara berat, "kita harus berharap Arya tiba sebelum terlambat. Kurasa tidak bisa mengharapkan bantuan para elf dalam hal ini. Sementara naga bisa menempuh bermil-mil laut antara Aberon dan Ellesmera dengan kecepatan falcon, mustahil bagi elf untuk mengumpulkan diri dan menempuh jarak yang sama sebelum Kekaisaran tiba di tempat kita. Dengan begitu hanya tersisa para kurcaci. Aku tahu kau sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Hrothgar; kau mau meminta bantuan padanya atas nama kami" Para kurcaci selama ini berjanji untuk bertempur kalau saatnya tiba."
Nasuada mengangguk. "Du Vrangr Gata sudah mengatur dengan para kurcaci penyihir tertentu yang memungkinkan kita mengirim pesan seketika. Akan kusampaikan permintaan Anda--permintaan kita. Dan akan kuminta Hrothgar mengirim utusan ke Ceris dan memberitahu para elf mengenai situasinya, agar setidaknya mereka bisa diperingatkan sebelumnya."
"Bagus. Kita cukup jauh dari Farthen Dur, tapi kalau kita bisa menunda Kekaisaran bahkan seminggu saja, para kurcaci mungkin bisa tiba di sini t
epat pada waktunya."
Diskusi selanjutnya berlangsung sangat muram. Ada berbagai macam taktik untuk mengalahkan pasukan yang lebih besar--sekalipun tidak lebih unggul--tapi tak seorang pun di meja mampu membayangkan cara mereka mengalahkan Galbatorix, terutama selama Eragon masih tidak berdaya dibandingkan raja tua itu. Satu-satunya rencana yang mungkin berhasil adalah mengelilingi Eragon dengan sebanyak mungkin penyihir, kurcaci dan manusia, lalu berusaha memaksa Galbatorix menghadapi mereka seorang diri. Masalahnya dengan rencana itu, pikir Nasuada, adalah Galbatorix menjadi musuh yang jauh lebih berat selama ia menghancurkan para Penunggang, dan kekuatannya semakin besar sejak itu. Ia yakin pikiran ini juga melintas dalam benak semua orang. Kalau ada para elf perapal mantra di antara kita, mungkin kita bisa menang. Tanpa mereka... Kalau kita tidak bisa menjatuhkan Galbatorix, satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah melarikan diri dari Alagaesia, menyeberangi lautan dan menemukan tanah baru tempat kami membangun kehidupan bagi kami sender, Di sana kami bisa menunggu hingga Galbatorix tidak ada lagi. Bahkan ia tidak bisa bertahan selamanya. Satu-satunya yang pasti adalah, pada akhirnya, segala sesuatu akan tidak ada lagi.
Mereka beralih dari taktik ke logistik, dan di sini perdebatan menjadi lebih seru lagi saat Dewan Tetua mendebat para penasihat Orrin mengenai pembagian tanggung jawab antara kaum Varden dan Surda: siapa yang harus membayar ini atau itu, menyediakan ransum bagi pekerja yang bekerja untuk kedua kelompok, mengelola persediaan makanan untuk pejuang masing-masing, dan puluhan masalah terkait lainnya yang harus ditangani.
Di tengah pertengkaran itu, Orrin mengambil gulungan dari sabuknya dan berkata pada Nasuada, "Mengenai masalah keuangan, kau mau menjelaskan masalah agak mengganggu yang disampaikan padaku ini""
"Akan kuusahakan sebaik-baiknya, Yang Mulia."
"Di tanganku ada keluhan dari persatuan penenun, yang menyatakan para penenun di seluruh Surda mengalami penurunan laba besar-besaran karena pasar tekstil dibanjiri renda yang luar biasa murah--rendah yang mereka berani bersumpah berasal dari kaum Varden." Ekspresi terluka melintas di wajahnya. "Rasanya bodoh menanyakannya, tapi apakah klaim mereka berdasarkan fakta, dan kalau benar, kenapa kaum Varden berbuat begitu""
Nasuada tidak berusaha menyembunyikan senyumnya. "Kalau Anda ingat, Yang Mulia, sewaktu Anda menolak meminjami kaum Varden lebih banyak emas lagi, Anda menyarankan aku menemukan cara lain untuk membiayai kami sendiri."
"Memang begitu. Kenapa memangnya"" tanya Orrin, menyipitkan mata.
"Well, terlintas dalam benakku bahwa renda memerlukan waktu lama untuk dibuat dengan tangan, yang menjadi alasan harganya begitu mahal, tapi renda cukup mudah dibuat dengan di sihir karena kecilnya jumlah tenaga yang diperlukan. Anda, antara semua orang, sebagai filsuf alamiah, seharusnya menghargai hal itu. Dengan menjual renda kami di sini dan di Kekaisaran, kami mampu mendanai usaha kami sepenuhnya. Kaum Varden tidak lagi menginginkan makanan atau tempat berlindung."
Hanya beberapa hal dalam hidup Nasuada yang bisa memuaskannya seperti ekspresi tertegun Orrin saat ini. Gulungan di tangannya terhenti di antara dagunya dan meja, mulutnya agak ternganga, dan kerut kebingungan di alisnya menyebabkan ia tampak tertegun seperti orang yang baru saja melihat apa yang tidak dipahaminya. Nasuada menikmati pemandangan itu.
"Renda"" kata Orrin tergagap.
"Ya, Yang Mulia."
"Kau tidak bisa melawan Galbatorix dengan renda!" "Kenapa, Yang Mulia""
Orrin bersusah payah sejenak, lalu menggeram, "Karena... karena tidak terhormat, itu sebabnya. Penulis mana yang akan menyusun epos mengenai perbuatan kita dan menulis tentang renda""
"Kita bertempur bukan agar ada epos yang ditulis untuk memuji kita."
"Kalau begitu, persetan dengan epos! Bagaimana caraku menjawab persatuan penenun" Dengan menjual rendamu semurah itu, kau menyakiti kehidupan orang-orang dan melemahkan perekonomian kami. Tidak bisa. Tidak bisa sama sekali."
Dengan membiarkan senyumnya berubah manis
dan hangat, Nasuada berkata dengan nada paling ramah, "Ya ampun. Kalau itu terlalu membebani persediaan harta Anda, kaum Varden lebih dari bersedia untuk memberi Anda pinjaman sebagai balasan keramahan yang Anda tunjukkan pada kami... dengan suku bunga yang layak, tentunya."
Dewan Tetua berhasil mempertahankan ketenangan mereka, tapi di belakang Nasuada, Elva tertawa geli.
PEDANG MERAH, PEDANG PUTIH
Begitu matahari muncul di kaki langit yang dihiasi barisan pepohonan, Eragon memperdalam napasnya, mempercepat detak jantungnya, dan membuka mata saat ia sadar kembali sepenuhnya. Ia tidak tidur, karena ia belum tidur sejak perubahan dirinya. Kalau merasa lelah dan membaringkan diri untuk beristirahat, ia bagai bermimpi dalam keadaan terjaga. Selama itu ia mendapat berbagai visi yang luar biasa dan berjalan di antara bayang-bayang kelabu kenangannya, tapi tetap menyadari sekitarnya.
Ia memandang matahari dan pikiran tentang Arya memenuhi benaknya, seperti yang dialaminya setiap jam sejak Agaeti Blodhren dua hari berselang. Pagi hari sesudah perayaan, ia mencari Arya di Aula Tialdari--dengan niat memperbaiki tingkah lakunya--tapi malah mendapati Arya telah berangkat ke Surda. Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi" pikirnya penasaran.
Di siang hari yang cerah, ia menyadari bagaimana sihir elf dan naga menumpulkan kecerdasannya selama Agaeti Blodhren.
Aku mungkin sudah bertindak bodoh, tapi itu bukan salahku sepenuhnya. Aku sama tidak bertanggungjawab mengenai tindakan seperti kalau mabuk.
Sekalipun begitu, ia serius dengan setiap kata yang diucapkannya pada Arya--bahkan kalau dalam keadaan normal ia tidak akan mengungkapkan diri sebanyak itu. Penolakan Arya menyentakkan Eragon. Setelah bebas dari pengaruh sihir yang mengaburkan pikirannya, ia terpaksa mengakui Arya mungkin benar, bahwa perbedaan usia mereka terlalu besar untuk diatasi.
Ia sulit menerima hal itu, dan sesudah bisa menerimanya, kesadaran itu hanya menambah kesedihannya.
Eragon pernah mendengar ekspresi "patah hati". Hingga saat ini, ia selalu menganggap istilah itu berlebihan, bukan gejala fisik yang sebenarnya. Tapi sekarang ia merasakan sakit yang dalam di dadanya--seperti otot yang pegal--dan setiap etak jantungnya terasa menyakitkan. Satu-satunya penghiburannya hanyalah Saphira. Selama dua hari itu, Saphira tidak pernah mengkritik tindakannya, juga tidak pernah beranjak dari sisinya lebih dari beberapa menit setiap kali, mendukungnya dengan mendampinginya. Saphira juga banyak mengajaknya bicara, berusaha sebaik-baiknya agar Eragon berhenti membisu.
Agar tidak terlalu memikirkan Arya, Eragon mengeluarkan cincin teka-teki Orik dari meja samping ranjangnya dan memutar-mutarnya di jemari, takjub pada betapa tajam indranya sekarang. Ia bisa merasakan semua kelemahan yang ada pada setiap logam yang terpuntir itu. Saat mempelajari cincin itu, ia melihat pola pengaturan cincin-cincin emas tersebut, pola yang sebelumnya tidak disadarinya. Dengan memercayai nalurinya, ia mengutak-atik cincin-cincin itu sesuai rangkaian yang disarankan pengamatannya. Ia gembira waktu kedelapan cincin itu menyatu sempurna, membentuk satu cincin yang utuh. Ia menyelipkan cincin tersebut di kelingking tangan kanannya, mengagumi bagaimana jalinan cincin itu memantulkan cahaya.
Kau tidak bisa melakukannya sebelum ini, kata Saphira dari mangkuk di lantai, tempat ia tidur.
Aku bisa melihat banyak hal yang tadinya tersembunyi bagiku.
Eragon pergi ke kamar mandi dan melakukan rutinitas paginya, termasuk menyingkirkan bakal janggut dari pipi dengan mantra, Sekalipun ia sekarang mirip elf, rupanya janggutnya masih bisa tumbuh.
Orik telah menunggu mereka sewaktu Eragon dan Saphira tiba di lapangan latih-tanding. Matanya berubah cerah sewaktu Eragon mengangkat tangan dan menunjukkan cincin teka-teki yang telah selesai itu. "Kau berhasil memecahkannya, kalau begitu!"
"Membutuhkan waktu lebih lama dari dugaanku," kata Eragon, "tapi, ya. Kau datang untuk berlatih juga""
"Eh, aku sudah sempat bertanding kapak dengan elf yang sepertinya senang meretakkan kepalaku. Tidak... aku datang untuk
melihatmu bertanding."
"Kau pernah melihatku bertanding sebelum ini," kata Eragon.
"Sudah lama tidak."
"Maksudmu, kau ingin melihat perubahanku." Orik mengangkat bahu sebagai jawaban.
Vanir mendekati mereka dari seberang lapangan. Ia berseru, "Kau siap, Shadeslayer"" Sikap merendahkan elf itu berkurang sejak duel terakhir mereka sebelum Agaeti Blodhren, tapi tidak banyak.
"Aku siap." Eragon dan Vanir berhadapan di tempat terbuka di lapangan. Setelah mengosongkan pikiran, Eragon meraih dan mencabut Zar'roc secepat mungkin. Yang mengejutkannya, pedang itu terasa tidak lebih berat daripada ranting dedalu. Tanpa beban yang diduganya, lengan Eragon tersentak lurus, melepaskan pedang dari tangannya dan melontarkannya berputar-putar dua puluh yard ke kanan, di mana pedang itu terbenam di sebatang pinus.
"Apa kau bahkan tidak bisa memegang pedangmu, Penunggang"" tanya Vanir.
"Aku minta maaf, Vanir-vodhr," kata Eragon dengan napas tersentak. Ia mencengkeram sikunya, menggosok persendian yang memar untuk mengurangi sakit. "Aku salah menilai kekuatanku."
"Pastikan tidak terulang." Setelah berjalan ke pohon, Vanir mencengkeram tangkai Zar'roc dan mencoba mencabut pedangnya itu. Senjata itu tidak bergerak. Alis Vanir bertemu ketika memandang pedang merah yang bertahan itu, seakan menduga adanya tipuan. Setelah menguatkan diri, elf tersebut menarik pedang dengan seluruh tenaganya dan, diiringi derakan kayu, mencabut Zar'roc dari pinus.
Eragon menerima pedangnya dari Vanir dan menimbang Zar'roc, merasa terganggu karena ringannya pedang itu. Ada yang tidak beres, pikirnya.
"Bersiaplah!" Kali ini Vanir yang lebih dulu menyerang. Dengan satu lompatan, ia menyeberangi jarak di antara mereka dan menusukkan pedang ke bahu kanan Eragon. Bagi Eragon, gerakan elf ita terasa lebih lambat daripada biasanya, seakan refleks Vanir berkurang hingga setara dengan refleks manusia. Mudah bagi Eragon untuk menangkis pedang Vanir, bunga api biru herhamburan dari logam saat pedang mereka bergesekan.
Vanir mendarat dengan ekspresi tertegun. Ia kembali menyerang, dan Eragon menghindari pedangnya dengan mencondongkan tubuh ke belakang, seperti pohon yang bergoyang tertiup angin. Dengan serangkaian serangan yang cepat, Vanir menghujani Eragon, yang bisa menghindari atau menangkis setiap serangan, menggunakan sarung Zar'roc sama seringnya seperti pedangnya untuk menghadapi serbuan Vanir.
Dalam waktu singkat Eragon menyadari naga hantu dari Agaeti Blodhren telah bertindak lebih daripada sekadar mengubah penampilannya; naga itu juga memberinya kemampuan fisik elf. Dalam kekuatan dan kecepatan, Eragon sekarang menyamai elf yang paling atletis sekalipun.
Didorong pengetahuan itu dan keinginan menguji batas kekuatannya, Eragon melompat setinggi mungkin. Zar'roc menyambar, merah ditimpa cahaya matahari, saat ia terbang ke langit, membubung lebih dari sepuluh kaki di atas tanah sebelum berjungkir balik seperti pemain akrobat dan mendarat di belakang Vanir, menghadap ke arah semula.
Tawa terbahak-bahak tersembur dari bibir Eragon. Ia tidak lagi tak berdaya di hadapan elf, Shade, atau makhluk sihir lainnya. Ia tidak akan lagi menanggung kebencian elf. Ia tidak Perlu lagi mengandalkan Saphira atau Arya untuk menyelamatkan dirinya dari musuh seperti Durza.
Ia menyerang Vanir, dan lapangan dipenuhi dentangan ribut saat mereka saling menyerang, maju-mundur di rerumputan yang terinjak-injak. Kekuatan serangan mereka menciptakan angin kencang yang mengibarkan rambut mereka hingga kacau balau. Di atas kepala, pepohonan bergoyang dan menghamburkan dedaunan jarum. Duel pagi itu berlangsung lama, karena sekalipun ada keahlian baru Eragon, Vanir masih merupakan lawan yang tangguh. Tapi pada akhirnya, Eragon tidak bersedia dikalahkan. Dengan memutar-mutar Zar'roc, ia melesat melewati pertahanan Vanir dan memukul lengan atasnya, mematahkan tulangnya.
Vanir menjatuhkan pedangnya, wajahnya memucat karena shock. "Cepat sekali pedangmu," katanya, dan Eragon mengenali dialog terkenal dari The Lay of Umhodan.
"Demi dewa-dewa!" seru Orik. "Itu permainan pedang terbaik y
ang pernah kulihat, padahal aku ada sewaktu kau bertanding melawan Arya di Farthen Dur."
Lalu Vanir melakukan apa yang tidak pemah diduga Eragon; elf itu memutar tangannya yang tidak terluka untuk memberi isyarat sumpah setia, meletakkannya di perut, dan membungkuk memberi hormat. "Aku minta maaf atas sikapku sebelum ini, Eragon-elda. Kupikir kau akan menyebabkan musnahnya rasku, dan karena takut aku bertindak sangat memalukan. Tapi tampaknya rasmu tidak lagi membahayakan tujuan kami." Dengan suara serak, ia menambahkan, "Sekarang kau layak menyandang gelar Penunggang."
Eragon membungkuk memberi hormat sebagai balasan. "Kau menyanjungku. Maaf aku melukaimu separah itu. Kau mau mengizinkanku menyembuhkan lenganmu""
"Tidak, akan kubiarkan alam menyembuhkannya sendiri, sebagai kenang-kenangan aku pernah beradu pedang dengan Eragon Shadeslayer. Kau tidak perlu takut hal ini akan mengganggu latih-tanding kita besok; aku sama baiknya kalau menggunakan tangan kiriku."
Mereka berdua kembali membungkuk, kemudian Vanir berlalu.
Orik menampar pahanya dan berkata, "Sekarang kita memiliki kesempatan untuk menang, kesempatan yang sebenarnya Aku bisa merasakannya di tulangku. Tulang yang seperti batu, kata orang. Ah, ini akan menyenangkan Hrothgar dan Nasuada selamanya."
Eragon tetap berdiam diri dan memusatkan perhatian untuk melepaskan pelindung dari mata Zar'roc, tapi ia berkata pada Saphira, Kalau hanya kekuatan yang diperlukan untuk menyingkirkan Galbatorix, para elf sudah melakukannya bertahun-tahun yang lalu. Sekalipun begitu, ia mau tidak mau merasa senang karena peningkatan kemampuannya, juga kebebasan dari sakit di punggung yang telah lama dinantikannya. Tanpa serangan sakit yang terus-menerus, rasanya seperti ada kabut yang disingkirkan dari benaknya, memungkinkan dirinya berpikir jernih lagi.
Masih tersisa beberapa menit sebelum mereka seharusnya bertemu Oromis dan Glaedr, jadi Eragon mengambil busur dan tabung panahnya dari punggung Saphira kemudian berjalan ke arena para elf berlatih memanah. Karena busur elf jauh lebih kuat daripada busurnya, sasaran berbantalan mereka terlalu kecil dan terlalu jauh bagi Eragon. Ia terpaksa memanah dari tengah arena.
Setelah mengambil tempat, Eragon memasang anak panah dan perlahan-lahan menarik tali busur, gembira melihat betapa mudahnya kegiatan itu sekarang. Ia membidik, melepaskan anak panah, dan bertahan di posisinya, menunggu untuk melihat apakah tembakannya mengenai sasaran. Seperti lebah sinting, anak panahnya mendesing ke sasaran dan membenamkan diri di tengahnya. Eragon tersenyum. Ia memanah sasaran berulang-ulang, kecepatannya meningkat seiring kepercayaan dirinya hingga ia menembakkan tiga puluh anak panah dalam semenit.
Pada anak panah ketiga puluh satu, ia menarik tali busurnya agak lebih keras daripada yang pernah dilakukannya--atau yang mampu dilakukannya--sebelum ini. Diiringi derakan keras, busur kayu yew itu patah menjadi dua di tangan kirinya, menggores jemarinya dan menghamburkan serpihan kayu dari bagian belakang busur. Tangannya terasa kebas akibat sentakannya.
Eragon menatap sisa-sisa senjatanya, kecewa atas kerusakannya. Garrow membuat busur itu sebagai hadiah ulang tahunnya lebih dari tiga tahun yang lalu. Sejak itu, nyaris tidak ada munggu yang berlalu tanpa Eragon menggunakan busurnya.
Busur itu membantunya menyediakan makanan bagi keluarganya dalam puluhan kesempatan, yang kalau tidak mereka akan kelaparan. Dengan busur itu, ia membunuh rusa pertamanya. Dengan busur itu, ia membunuh Urgal pertamanya. Dan melalui busur itu, ia menggunakan sihir untuk pertama kali. Kehilangan busurnya seperti kehilangan teman lama yang bisa diandalkan bahkan dalam situasi terburuk.
Saphira mengendus kedua potongan kayu yang menjuntai dari cengkeramannya dan berkata, Tampaknya kau membutuhkan pelempar tongkat yang baru. Eragon mendengus--tidak ingin bicara--dan berjalan mengambil anak-anak panahnya.
Dari lapangan terbuka, ia dan Saphira terbang ke Tebing Tel'naeir yang putih dan menemui Oromis, yang duduk di kursi bulat di depan gubuknya, menatap ke balik tebing den
gan pandangan menerawang. Ia berkata, "Kau sudah pulih sepenuhnya, Eragon, dari sihir ampuh Perayaan Sumpah Darah""
"Sudah, Master."
Kebisuan panjang mengikuti sementara Oromis minum secangkir teh blackberry dan kembali memandangi hutan kuno. Eragon menunggu tanpa mengeluh; ia terbiasa dengan kebungkaman seperti itu sewaktu berhadapan dengan Penunggang tua ini. Akhirnya, Oromis berkata, "Glaedr menjelaskan padaku, sebisanya, apa yang telah dilakukan padamu selama perayaan. Kejadian seperti itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah Penunggang... Sekali lagi, naga-naga membuktikan diri mampu bertindak jauh melebihi bayangan kita." Ia menghirup teh. "Glaedr tidak yakin perubahan apa tepatnya yang akan kaualami, jadi aku ingin kau menjelaskan selengkapnya perubahan dirimu, termasuk penampilanmu."
Eragon bergegas menggambarkan garis besar perubahan dirinya, memperinci peningkatan kepekaan pandangan, penciuman, pendengaran, dan sentuhannya, dan mengakhirinya dengan latih-tandingnya melawan Vanir.
"Dan bagaimana," tanya Oromis, "perasaanmu mengenai hal ini" Kau marah karena tubuhmu dimanipulasi tanpa seizinmu""
"Tidak, tidak! Sama sekali tidak. Aku mungkin marah sebelum pertempuran Farthen Dur, tapi sekarang aku hanya bersyukur punggungku tidak sakit lagi. Aku bersedia menyerahkan diri pada perubahan yang jauh lebih besar untuk bisa menghindari kutukan Durza. Tidak, aku hanya berterima kasih."
Oromis mengangguk. "Aku senang kau cukup bijaksana untuk bersikap begitu, karena hadiah yang kauterima nilainya lebih daripada seluruh emas di dunia. Dengan hadiah itu, aku yakin kita akhirnya berada di jalan yang benar." Sekali lagi ia menghirup teh. "Mari kita lanjutkan. Saphira, Glaedr menunggumu di Batu Telur Pecah. Eragon, kau akan memulai hari ini dengan Rimgar tingkat tiga, kalau kau bisa. Aku ingin tahu sejauh apa kemampuanmu."
Eragon berjalan ke petak tanah yang dipadatkan, tempat mereka biasanya melakukan Tarian Ular dan Burung Bangau, lalu ragu-ragu sewaktu elf berambut perak itu tetap berada di tempatnya. "Master, Anda tidak berlatih bersamaku""
Senyum sedih menghiasi wajah Oromis. "Hari ini tidak, Eragon. Mantra yang diperlukan untuk Perayaan Sumpah Darah sangat menguras tenagaku. Itu dan... kondisiku. Duduk di luar ini saja sudah menghabiskan tenaga terakhirku."
"Maafkan aku, Master." Apakah ia marah karena naga-naga tidak menyembuhkan dirinya juga" pikir Eragon penasaran. Ia seketika mengesampingkan pikiran itu; Oromis tidak akan sepicik itu.
"Jangan. Bukan salahmu aku cacat."
Saat Eragon bersusah payah menyelesaikan Rimgar tingkat ketiga, jelas sekali ia masih belum memiliki keseimbangan dan keluwesan elf, dua atribut yang membuat para elf sekalipun harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Di satu pihak, ia menerima keterbatasan itu, karena kalau ia sempurna, apa Yang tersisa baginya untuk diraih"
Minggu-minggu berikutnya terasa sulit bagi Eragon. Di satu sisi, ia mendapat kemajuan pesat dalam latihannya, menguasai subjek demi subjek yang dulu menghambat dirinya. Ia masih menganggap pelajaran-pelajaran Oromis menantang, tapi ia tidak lagi merasa seperti tenggelam dalam lautan kekurangmampuannya sendiri. Eragon jadi lebih mudah membaca dan menulis dan dengan peningkatan kekuatannya, berarti ia sekarang mampu merapal mantra-mantra elf yang membutuhkan begitu banyak energi, yang bisa membunuh manusia normal. Kekuatannya juga menjadikan dirinya menyadari betapa lemahnya Oromis dibandingkan elf-elf lain.
Tapi, sekalipun meraih prestasi itu, Eragon merasakan ketidakpuasan yang semakin dalam. Tidak peduli sekeras apa pun ia berusaha melupakan Arya, setiap hari yang berlalu justru meningkatkan kerinduannya, penderitaan yang diperparah dengan pengetahuan bahwa Arya tidak ingin bertemu atau berbicara dengannya. Tapi lebih dari itu, ia merasa ada badai yang mengancam di balik kaki langit, badai yang akan mengamuk setiap saat dan menyapu tanah ini, menghancurkan apa saja yang ada di jalannya.
Saphira juga merasakan ketidaknyamanannya. Ia berkata, Dunia ini sudah terentang sangat tipis, Eragon. Tidak lama lagi akan putu
s dan kesintingannya akan berhamburan keluar. Yang kaurasakan adalah apa yang kami para naga dan para elf rasakan--nasib buruk tak terelakkan di akhir zaman kita mendekat. Menangislah bagi mereka yang akan mati dalam kekacauan yang melalap Alagaesia, Dan berharaplah semoga kita memenangkan masa depan yang lebih cerah dengan kekuatan pedang dan perisaimu serta taring dan cakarku.
VISI DEKAT DAN JAUH Tiba hari ketika Eragon pergi ke rawa di balik gubuk Oromis, duduk di tunggul putih mengilap di tengah ceruk berlumut, dan--sewaktu ia membuka pikiran untuk mengamati makhluk-makhluk di sekitarnya--ia merasakan bukan hanya berbagai burung, hewan buas, dan serangga, tapi juga tanaman di hutan.
Tanaman memiliki kesadaran yang berbeda jenisnya dari hewan: lambat, hati-hati, dan tidak terpusat, tapi dengan caranya sendiri menyadari sekitar mereka seperti Eragon. Denyut samar kesadaran tanaman menyelimuti galaksi bintang yang berputar-putar di belakang matanya--setiap titik api cerah mewakili sebuah kehidupan-dengan cahaya yang lunak. Bahkan tanah yang paling gersang dipenuhi organisme; tanah itu sendiri hidup dan berkesadaran.
Ia menyimpulkan kehidupan yang berakal ada di mana-mana.
Saat membenamkan diri dalam pikiran dan perasaan makhluk-makhluk di sekitarnya, Eragon mampu mempertahankan kedamaian dalam dirinya yang begitu luar biasa sehingga, selama itu, ia tidak lagi ada sebagai individu. Ia membiarkan dirinya menjadi nonentitas, kehampaan, penyerap suara-suara dunia. Tidak ada yang lolos dari perhatiannya, karena perhatiannya tidak terfokus pada apa pun.
Ia menjadi hutan dan penghuninya.
Beginikah rasanya menjadi dewa" pikir Eragon penasaran sewaktu ia kembali ke dirinya sendiri.
Ia meninggalkan rawa, mencari Oromis di gubuknya dan berlutut di depan elf itu, mengatakan "Master, aku sudah melakukan apa yang Anda perintahkan. Aku mendengarkan hingga tidak mendengarkan lagi."
Oromis berhenti menulis sejenak dan, dengan ekspresi serius, memandang Eragon. "Katakan." Selama satu setengah jam, Eragon dengan fasih menyampaikan setiap aspek tanaman dan hewan yang menghuni rawa, hingga Oromis mengangkat tangan dan berkata, "Aku yakin; kau sudah mendengar segala yang bisa didengar. Tapi apakah kau memahami semuanya""
"Tidak, Master."
"Sudah seharusnya begitu. Pemahaman akan timbul seiring dengan usia... Bagus sekali, Eragon-finiarel. Benar-benar bagus. Kalau kau muridku di Ilirea, sebelum Galbatorix berkuasa, kau baru saja lulus dari masa magangmu dan dianggap sebagai anggota penuh ordo kita serta mendapat hak dan keistimewaan yang sama seperti para Penunggang tertua sekalipun." Oromis bangkit dari kursi lalu diam di tempat, bergoyang-goyang. "Tolong bantu aku, Eragon, dan bawa aku keluar. Kaki dan tanganku menolak kemauanku."
Eragon bergegas ke samping gurunya, mendukung elf yang ringan itu sementara Oromis terhuyung-huyung ke sungai yang mengalir deras ke tepi Tebing Tel'naeir. "Sekarang sesudah kau mencapai tahap pendidikanmu yang ini, aku bisa mengajarkan salah satu rahasia terbesar sihir, rahasia yang bahkan Galbatorix sendiri mungkin tidak tahu. Ini harapan terbaikmu untuk menyamai kekuatannya." Tatapan elf itu menajam. "Apa harga sihir, Eragon""
"Energi. Mantra membutuhkan energi yang sama besar dengan melakukan tugas melalui cara-cara biasa."
Oromis mengangguk. "Dan dari mana asalnya energi"" "Dari tubuh si perapal mantra."
"Apa harus begitu""
Benak Eragon berputar sementara ia memikirkan implikasi luar biasa pertanyaan Oromis. "Maksud Anda energinya berasal dari sumber-sumber lain""
"Tepat seperti itulah yang terjadi setiap kali Saphira membantumu mengucapkan mantra."
"Ya, tapi ia dan aku berbagi keterkaitan yang unik," Eragon memprotes. "Ikatan kami merupakan penyebab aku bisa menyerap kekuatannya. Untuk berbuat begitu dengan orang lain, aku harus memasuki..." Ia tidak melanjutkan kata-katanya sewaktu menyadari tujuan Oromis.
"Kau harus memasuki kesadaran makhluk--atau makhluk-makhluk--yang akan memberimu energi," kata Oromis, melengkapi pikiran Eragon. "Hari ini kau membuktikan dirimu mampu berbuat begitu ba
hkan dengan bentuk kehidupan terkecil. Sekarang &" Ia terdiam dan menekankan tangan ke dada sambil batuk-batuk, lalu melanjutkan, "kuminta kau membuat bola air dari sungai, dengan menggunakan hanya tenaga yang kauambil dari hutan di sekitarmu."
"Ya, Master." Saat Eragon menjangkau ke tanaman dan hewan di dekatnya, ia merasakan benak Oromis bersinggungan dengan benaknya sendiri, si elf mengawasi dan menilai kemajuannya. Sambil mengerutkan kening berkonsentrasi, Eragon berusaha menyerap tenaga yang diperlukan dari lingkungannya dan menahannya dalam diri hingga ia siap melepaskan sihir....
"Eragon! Jangan mengambilnya dariku! Aku sudah cukup lemah."
Dengan terkejut Eragon menyadari dirinya memasukkan Oromis dalam pencariannya. "Maafkan aku, Master," katanya, malu. Ia melanjutkan prosesnya, berhati-hati agar tidak menguras tenaga elf itu, dan sewaktu ia siap, memerintahkan, "Naik!"
Sesunyi malam, sebutir bola air berdiameter satu kaki membubung dari sungai hingga melayang setinggi mata di hadapan Eragon. Dan meski Eragon merasakan tekanan seperti biasa karena pengerahan tenaga, mantranya sendiri tidak menyebabkan Ia kelelahan.
Bola itu baru sesaat berada di udara sewaktu gelombang kematian menyapu makhluk-makhluk kecil yang berkaitan dengan Eragon. Sebarisan semut terkapar tak bergerak. Seekor bayi tikus tersentak dan memasuki kehampaan saat ia kehilangan kekuatan untuk mempertahankan detak jantungnya. Puluhan tanaman mengerut dan hancur menjadi debu.
Eragon mengernyit, ngeri melihat akibat perbuatannya. Mengingat kekaguman barunya akan kesucian hidup, ia mendapati kejahatan itu sangat hebat. Yang memperburuknya adalah ia terkait sangat erat dengan setiap makhluk saat makhluk-makhluk itu musnah; rasanya seperti ia sendiri tewas berulang kali. Ia memutuskan aliran sihir--membiarkan bola air jatuh ke tanah-- lalu berputar memandang Oromis dan menggeram, "Anda tahu ini akan terjadi!
Kedukaan hebat menyelimuti Penunggang tua itu. "Itu di perlukan," jawabnya.
"Kematian sebanyak itu diperlukan""
"Diperlukan agar kau memahami besarnya harga menggunakan sihir jenis ini. Kata-kata saja tidak mampu mengungkapkan perasaan ketika mereka yang pikirannya menyatu denganmu tewas. Kau harus mengalaminya sendiri."
"Aku tidak akan melakukannya lagi," sumpah Eragon.
"Dan kau tidak perlu melakukannya lagi. Kalau berdisiplin, kau bisa memilih untuk mengambil tenaga hanya dari tanaman dan hewan yang mampu menanggung kehilangan tenaga itu. Ini tidak praktis dalam pertempuran, tapi kau boleh melakukannya dalam pelajaranmu." Oromis memberi isyarat padanya, dan, masih tetap marah, Eragon membiarkan elf itu menyandar kepadanya saat mereka kembali ke gubuk. "Kau mengerti kenapa teknik ini tidak diajarkan kepada para penunggang yang lebih muda. Kalau teknik ini diketahui perapal mantra yang jahat, ia mampu menimbulkan kehancuran hebat, terutama karena sulit menghentikan siapa pun yang memiliki akses terhadap kekuatan sebanyak itu." Begitu mereka berada di dalam kembali, si elf mendesah, duduk di kursi, dan saling menekankan ujung-ujung jemarinya.
Eragon juga duduk. "Karena kita bisa menyerap energi dari"--ia melambai--"dari kehidupan, apakah mungkin menyerapnya secara langsung dari cahaya atau api, atau dari bentuk-bentuk energi lain""
"Ah, Eragon, kalau memang begitu, kita bisa menghancurkan Galbatorix dalam sekejap. Kita bisa bertukar energi dengan makhluk hidup lainnya, kita bisa menggunakan energi itu untuk menggerakkan tubuh kita atau menguatkan mantra, dan kita bahkan bisa menyimpan energi itu dalam benda-benda tertentu untuk digunakan kelak, tapi kita tidak bisa mengasimilasi kekuatan alam fundamental. Logika mengatakan itu bisa dilakukan, tapi tidak ada seorang pun yang berhasil merancang mantra yang memungkinkannya."
Sembilan hari kemudian, Eragon menemui Oromis dan berkata, "Master, terlintas dalam benakku semalam bahwa baik Anda maupun ratusan dokumen elf yang sudah kubaca tidak pernah menyinggung tentang agama kalian. Apa yang dipercayai elf""
Desahan panjang adalah jawaban pertama Oromis. Sesudah itu: "Kami percaya dunia berti
ndak sesuai aturan-aturan tertentu yang tak bisa dilanggar dan, dengan ketekunan, kita bisa menemukan aturan-aturan itu dan menggunakannya untuk memperkirakan kejadian-kejadian sewaktu situasinya berulang."
Eragon mengerjapkan mata. Jawaban itu tidak memberitahukan apa yang ingin diketahuinya. "Tapi siapa, atau apa, yang kalian puja""
"Tidak ada."

Eldest Seri 2 Eragon Karya Christhoper Paolini di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalian tidak memuja konsep apa pun""
"Tidak, Eragon. Kami tidak memuja sama sekali."
Pikiran itu begitu asing hingga Eragon membutuhkan beberapa waktu sebelum menangkap apa yang dimaksud Oromis. Penduduk desa Carvahall tidak memiliki satu doktrin yang dominan, tapi mereka memercayai serangkaian takhayul dan ritual, sebagian besar berkaitan dengan pengusiran nasib sial. Selama pelatihannya, terlintas dalam pikiran Eragon bahwa banyak fenomena yang dipercaya penduduk desa bersumber pada kekuatan supranatural sebenarnya merupakan proses alamiah, seperti yang dipelajarinya dalam meditasinya, bahwa belatung menetas dari telur lalat dan bukannya muncul dari tanah begitu saja, seperti yang dikiranya sebelum ini. Ia juga merasa memberikan sesajen agar sprite tidak memasamkan susu merupakan tindakan yang tidak masuk akal setelah tahu susu masam disebabkan munculnya organisme-organisme yang sangat kecil di dalamnya. Sekalipun begitu, Eragon tetap yakin ada kekuatan nonduniawi yang memengaruhi dunia dengan cara yang misterius, keyakinan yang diperkuat pengetahuannya akan agama kurcaci. Ia berkata, "Menurut Anda, dari dunia ini berasal, kalau begitu, seandainya bukan diciptakan dewa-dewa""
"Dewa-dewa yang mana, Eragon""
"Dewa-dewa Anda, dewa-dewa kurcaci, dewa-dewa kami, pasti ada yang menciptakannya."
Oromis mengangkat alis. "Aku tidak menyetujui pendapatmu. Tapi sekalipun begitu, aku tidak bisa membuktikan dewa-dewa tidak ada. Aku juga tak bisa membuktikan dunia dan segala sesuatu di dalamnya tidak diciptakan suatu entitas atau entitas-entitas pada suatu saat jauh di masa lalu. Tapi aku bisa memberitahumu bahwa selama beberapa milenium kami para elf mempelajari alam, kami tidak pernah menyaksikan kejadian di mana aturan-aturan yang mengatur dunia ini dilanggar. Yaitu, kami tidak pernah melihat keajaiban. Banyak kejadian yang berada di luar kemampuan kami untuk mencari penjelasannya, tapi kami yakin kegagalan kami disebabkan kami masih sangat bodoh tentang alam semesta dan bukan karena adanya kekuasaan tertinggi yang mengubah cara kerja alam."
"Dewa tidak perlu mengubah alam untuk mendapatkan keinginannya," kata Eragon. "Ia bisa melakukannya dalam sistem yang sudah ada... Ia bisa menggunakan sihir untuk memengaruhi kejadian-kejadian."
Oromis tersenyum. "Benar sekali. Tapi coba tanyakan ini pada diri sendiri, Eragon: Kalau dewa-dewa ada, apakah mereka penjaga Alagaesia yang baik" Kematian, penyakit, kemiskinan, tirani, dan puluhan kesengsaraan lain mengintai tanah ini, Kalau ini hasil karya para makhluk yang teragung, berarti kita harus memberontak dan menjatuhkan mereka, bukannya mematuhi dan memuja mereka."
"Kurcaci percaya--"
"Tepat sekali! Kurcaci percaya. Kalau mengenai masalah-masalah tertentu, mereka mengandalkan iman mereka dan bukannya logika. Mereka bahkan diketahui mengabaikan fakta yang telah terbukti bertentangan dengan dogma mereka."
"Pendeta kurcaci menggunakan koral sebagai bukti bahwa batu hidup dan bisa berkembang, yang juga mendukung cerita mereka bahwa Helzvog membentuk ras kurcaci dari granit. Tapi kami para elf mendapati koral sebenarnya kulit luar yang keras dan dikumpulkan hewan-hewan sangat kecil yang hidup di dalam koral itu. Penyihir mana pun bisa merasakan hewan-hewan ini kalau ia membuka pikirannya. Kami menjelaskan hal ini pada para kurcaci, tapi mereka menolak mendengarkan, mengatakan kehidupan yang kami rasakan ada dalam setiap setiap jenis batu, sekalipun para pendeta mereka seharusnya merupakan satu-satunya yang mampu mendeteksi kehidupan yang terkurung dalam batu."
Lama Eragon menatap keluar jendela, memikirkan kata-kata Oromis. "Anda tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati, kalau begitu."
"Dari apa yang dikatakan Glaedr, kau sudah tah
u itu." "Dan Anda tidak percaya keberadaan dewa-dewa."
"Kami menghargai apa yang bisa kami buktikan keberadaannya. Karena kami tidak bisa menemukan bukti bahwa dewa, keajaiban, dan hal-hal supernatural lainnya nyata, kami tidak mau merepotkan diri dengan segala hal itu. Kalau hal itu akan berubah, kalau Helzvog sendiri muncul ke hadapan kami, baru kami menerima informasi baru itu dan mengubah posisi kami."
"Rasanya dunia ini dingin tanpa ada sesuatu yang... lebih."
"Sebaliknya," kata Oromis, "dunia ini jadi lebih baik. Tempat di mana kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri, di mana kita bisa bersikap ramah terhadap satu sama lain karena kita menginginkannya dan karena itulah tindakan yang tepat, bukannya menjaga sikap karena takut ancaman hukuman dari dewa-dewa. Aku tidak akan menentukan apa yang kaupercayai, Eragon. Jauh lebih baik untuk diajar berpikir kritis lalu dibiarkan mengambil keputusan sendiri daripada dijejali gagasan orang lain. Kau menanyakan agama kami, dan aku sudah menjawab sejujurnya. Terserah bagaimana tindakanmu selanjutnya."
Diskusi mereka--bersama kekhawatiran-kekhawatirannya sebelum ini--menyebabkan Eragon begitu terganggu hingga sulit belajar keesokan harinya, bahkan sewaktu Oromis mulai menunjukkan cara bernyanyi pada tanaman, yang tadinya sangat ingin dipelajari Eragon.
Eragon sadar pengalamannya sendiri telah menyebabkan sikapnya lebih skeptis; pada prinsipnya, ia setuju dengan Sebagian besar perkataan Oromis. Tapi masalah yang mengganggunya adalah kalau para elf benar, berarti hampir semua manusia dan kurcaci telah tertipu; Eragon sulit menerimanya. Tidak mungkin begitu banyak orang melakukan kesalahan, pikirnya berkeras sendiri.
Sewaktu ia menanyakan hal itu pada Saphira, naga tersebut menjawab, Itu tidak penting bagiku, Eragon. Naga tidak pernah percaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi. Kenapa kami harus memikirkan itu kalau rusa dan mangsa-mangsa lain menganggap kami kekuasaan yang lebih tinggi" Eragon tertawa mendengarnya. Hanya saja jangan menolak kenyataan untuk menenangkan dirimu sendiri, karena begitu kau melakukannya, mudah sekali bagi orang lain untuk menipumu.
Malam itu, ketidakpastian Eragon muncul dalam mimpi tersadarnya, yang mengamuk seperti beruang terluka dalam benaknya, mencabik bayangan-bayangan yang tidak berkaitan dari kenangannya dan mencampurnya menjadi keributan yang begitu rupa hingga ia merasa seperti dilemparkan kembali ke kebingungan pertempuran di bawah Farthen Dur. Ia melihat Garrow tergeletak tewas di rumah Horst, lalu Brom tewas di gua batu pasir yang sepi, kemudian wajah Angela si tukang obat, yang berbisik, "Berhati-hatilah, Argetlam, pengkhianatan sudah jelas. Dan pengkhianatan itu berasal dari keluargamu. Hati-hatilah, Shadeslayer!
Lalu langit kemerahan robek dan Eragon sekali lagi menyaksikan kedua pasukan dari firasat yang didapatnya di Pegunungan Beor. Jajaran pejuang yang beradu di medan oranye dan kuning, diiringi jeritan serak kematian--gagak dan desingan anak-anak panah hitam. Bumi sendiri seperti terbakar: api hijau berkobar dari lubang-lubang hangus yang memenuhi tanah, menghanguskan mayat-mayat tercincang yang ditinggalkan pasukan. Ia mendengar raungan makhluk buas raksasa dari atas yang dengan cepat men-
Eragon tersentak duduk di ranjang dan meraih kalung kurcaci, yang panas membara di tenggorokannya. Dengan menggunakan tunik untuk melindungi tangan, ia menarik martil perak itu dari kulitnya lalu duduk menunggu dalam kegelapan, jantunyanya berdebar-debar karena terkejut. Ia merasa kekuatannya merosot saat mantra Gannel menolak siapa pun yang berusaha men-scry dirinya dan Saphira. Sekali lagi, ia penasaran apakah Galbatorix sendiri yang ada di balik mantra itu, atau apakah salah seorang penyihir peliharaan Raja.
Eragon mengerutkan kening dan melepaskan martil itu saat logamnya dingin kembali. Ada yang tidak beres. Itu aku tahu, dan aku sudah tahu beberapa lama, sama seperti Saphira. Karena terlalu tidak nyaman untuk kembali ke keadaan seperti kerasukan yang menggantikan tidur baginya, ia keluar dari kamar tidur mereka tanpa mem
bangunkan Saphira dan menaiki tangga spiral ke ruang kerja. Di sana ia membuka tutup lentera putih dan membaca salah satu epos Analisia hingga matahari terbit untuk menenangkan diri.
Tepat pada saat Eragon menyingkirkan gulungan itu, Blagden terbang memasuki portal terbuka di dinding timur dan, diiringi kepakan sayapnya, mendarat di sudut meja tulis berukir. Gagak putih itu menatap Eragon dan berseru, "Wyrda!"
Eragon memiringkan kepala. "Dan semoga bintang-bintang mengawasimu, Master Blagden."
Gagak itu melompat-lompat mendekat. Ia memiringkan kepala ke satu sisi dan batuk keras, seakan membersihkan tenggorokan, lalu berbicara dengan suaranya yang serak:
Demi paruh dan tulang, Batuku yang hangus Melihat pemula dan bajingan
Dan sungai-sungai darah! Apa artinya"" tanya Eragon.
Blagden mengangkat bahu dan mengulanginya. Sewaktu Eragon masih meminta penjelasan, burung itu mengibaskan bulu-bulunya, tampak tidak senang, dan tergelak, "Anak dan ayah sama saja, sama-sama sebuta kelelawar."
"Tunggu!" seru Eragon, tersentak bangkit. "Kau tahu ayahku" Siapa dia""
Blagden kembali terkekeh. Kali ini tampaknya ia tertawa.
Sementara dun mungkin berbagi dua,
Dan satu dari dua jelas satu,
Satu mungkin jadi dua. "Nama, Blagden. Beritahukan namanya!" Sewaktu burung gagak itu tetap membisu, Eragon menjangkau dengan benaknya, berniat merampas informasi itu dari kenangan si burung.
Tapi Blagden terlalu liar. Ia menangkis jangkauan Eragon dengan menepiskan pikirannya. Sambil menjerit "Wyrda!" ia melesat maju, mengambil tutup kaca botol tinta, dan melesat pergi sambil membawa trofinya di paruh. Ia menghilang dari pandangan sebelum Eragon sempat mengucapkan mantra untuk membawanya kembali.
Perut Eragon melilit sementara ia berusaha menafsirkan kedua teka-teki Blagden. Hal terakhir yang diduganya adalah mendengar ayahnya disinggung di Ellesmera. Akhirnya, ia menggumam, "Cukup." Akan kucari Blagden nanti dan memaksanya mengatakan yang sebenarnya. Tapi sekarang ini... Aku pasti bodoh kalau mengabaikan peringatan ini. Ia melompat bangkit dan lari menuruni tangga, membangunkan Saphira dengan benaknya dan memberitahukan apa yang terjadi malam itu. Setelah mengambil cermin cukur dari kamar mandi, Eragon duduk di antara kedua cakar depan Saphira agar naga itu bisa memandang dari atas kepalanya dan melihat apa yang dilihatnya.
Arya tidak akan senang kalau kita menerobos privasinya, Saphira memperingatkan.
Aku harus tahu apakah ia selamat.
Saphira menerimanya tanpa mendebat. Bagaimana caramu menemukannya" Katamu sesudah penawanannya, ia mendirikan ward yang--seperti kalungmu--mencegah siapa pun men-scry dirinya.
Kalau aku bisa men-scry orang-orang dengan siapa ia berada, aku mungkin bisa memperkirakan bagaimana keadaan Arya. Setelah memusatkan perhatian pada Nasuada, Eragon menyapukan tangan di atas cermin dan menggumamkan kalimat tradisional, "Tatapan mimpi."
Cermin berpendar dan memutih, yang tinggal hanya Sembilan orang yang berkumpul di sekeliling meja yang tak kasatmata.
Dari antara mereka, Eragon mengenali Nasuada dan Dewan Tetua, Tapi ia tidak bisa mengenali gadis aneh berkerudung hitam yang berdiri di belakang Nasuada. Ini membingungkannya, karena penyihir hanya bisa men-scry apa yang pernah dilihatnya, dan Eragon yakin belum pernah melihat gadis itu.
Tapi ia melupakan gadis itu sewaktu menyadari orang-orang, bahkan Nasuada, menyandang senjata dan siap bertempur.
Coba kita dengarkan kata-kata mereka, kata Saphira.
Begitu Eragon mengucapkan perubahan mantra yang diperlukan, suara Nasuada terdengar dari cermin: "...dan kebingungan akan menghancurkan kita. Para pejuang kita hanya bisa dipimpin satu komandan dalam pertempuran ini. Putuskan siapa yang jadi komandannya, Orrin, dan secepatnya."
Eragon mendengar desahan tanpa tubuh. "Terserah; kau yang jadi komandannya."
"Tapi, Sir, ia belum teruji!"
"Cukup, Irwin," kata Raja. "Ia memiliki pengalaman perang yang lebih banyak daripada siapa pun di Surda. Dan kaum Varden satu-satunya pasukan yang pernah mengalahkan salah satu pasukan Galbatorix. Kalau Nasuada merupakan jendral S
urda--yang bisa jadi sangat aneh, kuakui--kau tidak akan ragu-ragu mencalonkan dirinya untuk posisi itu. Dengan senang hati akan kutangani masalah kewenangan kalau ada nanti, karena itu berarti aku masih hidup dan belum dikubur. Kenyataannya, kita kalah jumlah begitu banyak hingga aku takut kita sudah hancur kecuali Hrothgar bisa tiba di sini sebelum akhir minggu. Sekarang, mana gulungan terkutuk tentang iring-iringan pasokan itu"... Ah, terima kasih, Arya. Tiga hari lagi tanpa--"
Sesudah itu diskusi berubah menjadi semacam pertengkaran, tapi Eragon tidak bisa mendapatkan informasi berguna, jadi ia mengakhiri mantranya. Cerminnya kembali kosong, dan ia mendapati dirinya menatap bayangan wajahnya sendiri.
Ia masih hidup, gumamnya. Tapi kelegaannya dikalahkan arti yang lebih besar dari apa yang mereka dengar tadi.
Saphira memandangnya. Kita dibutuhkan.
Aye. Kenapa Oromis tidak memberitahu kita mengenai hal ini" Ia pasti tidak tahu.
Mungkin ia tidak ingin mengacaukan latihan kita.
Dengan perasaan terganggu, Eragon bertanya-tanya hal penting apa lagi yang terjadi di Alagaesia tanpa setahunya, Roran. Dengan perasaan bersalah Eragon menyadari sudah berminggu-minggu ia tidak memikirkan sepupunya, dan bahkan lebih lama lagi sejak ia men-scry sepupunya itu dalam perjalanan ke Ellesmera.
Atas perintah Eragon, cermin menampilkan dua sosok yang berdiri di depan latar belakang putih. Eragon membutuhkan waktu yang lama untuk mengenali pria di sebelah kanan sebagai Roran. Roran mengenakan pakaian yang lusuh karena perjalanan, sebatang martil terselip di sabuknya, janggut tebal menutupi wajahnya, dan ekspresinya memancarkan keputusasaan. Di sebelah kirinya berdiri Jeod. Keduanya bergoyang-goyang naik-turun, diiringi debur menggelegar ombak, yang menutupi apa pun yang mereka katakan. Sesudah beberapa waktu, Roran berbalik dan berjalan di sepanjang apa yang menurut dugaan Eragon merupakan geladak kapal, menampakkan puluhan penduduk desa lainnya di cermin.
Di mana mereka, dan kenapa Jeod bersama mereka" tanya Eragon, bingung.
Dengan mengalihkan sihir, dengan cepat ia men-scry Teirm--kaget melihat dermaga kota itu hancur--Therinsford, tanah pertanian Garrow, lalu Carvahall, yang membuat Eragon menjerit sedih.
Desanya lenyap. Setiap bangunan, termasuk rumah Horst yang indah, telah dibumihanguskan. Carvahall tidak lagi ada, yang tinggal hanya sepetak jelaga di samping Sungai Anora. Satu-satunya penghuni yang tersisa hanyalah empat serigala kelabu yang melompat di sela-sela reruntuhan.
Cermin terjatuh dari tangan Eragon dan pecah di lantai. Ia menyandar ke Saphira, air mata bagai membakar matanya saat ia menangisi rumahnya yang hilang. Saphira bersenandung dalam di dadanya dan mengusap lengan Eragon dengan rahangnya, menyelimutinya dengan kehangatan penuh simpati. Tenanglah, makhluk kecil. Setidaknya teman-temanmu masih hidup.
Eragon menggigil dan merasakan kebulatan tekad yang keras terbentuk di perutnya. Kita terlalu lama terkucil dari dunia. Sudah waktunya meninggalkan Ellesmera dan menghadapi takdir kita apa pun itu. Untuk saat ini, Roran terpaksa bertahan sendiri, tapi kaum Varden... kita bisa membantu kaum Varden.
Apakah sudah waktunya bertempur, Eragon" tanya Saphira, ada nada formal yang aneh dalam suaranya.
Eragon tahu apa yang dimaksudkan naga itu: Apakah sudah tiba waktunya menantang Kekaisaran secara langsung, waktunya membunuh dan merajalela hingga batas kemampuan mereka, waktunya menghamburkan kemurkaan mereka hingga Galbatorix terkapar tewas di depan mereka" Apakah sudah waktunya melibatkan diri dalam tindakan yang bisa memakan waktu berpuluh-puluh tahun sebelum berakhir"
Sudah waktunya. HADIAH-HADIAH Eragon mengemasi barang-barang miliknya dalam waktu kurang dari lima menit. Ia mengambil pelana pemberian Oromis, mengikatnya ke Saphira, lalu melampirkan tas-tasnya di punggung naga itu dan mengikatnya.
Saphira menyentakkan kepala, cuping hidungnya mengembang, dan berkata, Kutunggu di lapangan. Sambil meraung, ia melompat dari rumah pohon, mengembangkan sayap-sayap birunya di udara, dan terbang pergi, menyusuri
kanopi hutan. Secepat elf, Eragon lari ke Tialdari Hall, di mana ia mendapati Orik duduk di sudut seperti biasa, memainkan Runes. Kurcaci itu menyapanya dengan tamparan di lengan. "Eragon! Kenapa kau kemari sepagi ini" Kupikir kau beradu pedang dengan Vanir."
"Saphira dan aku mau pergi," kata Eragon.
Orik terdiam dengan mulut ternganga, lalu menyipitkan
mata, sikapnya berubah serius. "Kau mendapat kabar"" "Akan kuberitahukan nanti. Kau mau ikut"" "Ke Surda""
"Aye. " Senyum lebar merekah di wajah Orik yang berbulu. "Kau harus memborgolku dengan besi kalau mau aku tinggal. Aku tidak melakukan apa-apa di Ellesmera kecuali bertambah gendut dan malas. Sedikit kehebohan bagus bagiku. Kapan kita berangkat""
"Secepat mungkin. Kemasi barang-barangmu dan temui kami di lapangan latih-tanding. Kau bisa mengangkat persediaan makanan seminggu bagi kita""
"Seminggu" Tapi itu tidak-"
"Kita terbang dengan Saphira."
Kulit di atas janggut Orik memucat. "Kami kurcaci tidak begitu cocok dengan ketinggian, Eragon. Tidak cocok sama sekali. Lebih baik kalau kita bisa menunggang kuda, seperti sewaktu datang kemari."
Eragon menggeleng. "Terlalu lama. Lagi pula, mudah sekali menunggangi Saphira. Ia akan menangkapmu kalau kau jatuh," Orik mendengus, tampak ragu-ragu sekaligus tidak yakin. Setelah meninggalkan aula, Eragon berlari melintasi kota hingga bertemu Saphira, lalu mereka terbang ke Tebing Tel'naeir.
Oromis tengah duduk di lengan kanan depan Glaedr sewaktu mereka mendarat di lapangan. Sisik-sisik naga itu menerangi sekitarnya dengan puluhan serpihan cahaya keemasan. Baik elf maupun naga itu tidak terusik. Setelah turun dari punggung Saphira, Eragon membungkuk memberi hormat. "Master Glaedr. Master Oromis."
Glaedr berkata, Kau memutuskan sendiri untuk kembali ke kaum Varden, bukan"
Benar, jawab Saphira. Perasaan dikhianati Eragon mengalahkan kontrol dirinya. "Kenapa kalian menyembunyikan kebenaran dari kami" Apa kalian begitu bertekad bulat menahan kami di sini hingga harus melakukan tipuan murahan seperti itu" Kaum Varden akan diserang dan kalian bahkan tidak menyinggungnya!"
Setenang biasanya, Oromis bertanya, "Kau ingin tahu alasannya""
Sangat ingin, Master, kata Saphira sebelum Eragon sempat menjawab. Diam-diam, ia menegur Eragon, menggeram, Sopanlah
"Kami sengaja tidak memberitahu karena dua alasan. Yang utama adalah kami sendiri baru tahu sembilan hari berselang bahwa kaum Varden terancam, dan jumlah, lokasi, serta gerakan pasukan Kekaisaran yang sebenarnya masih tersembunyi dari kami hingga tiga hari sesudah itu, sewaktu Lord Dathedr berhasil menembus mantra yang digunakan Galbatorix untuk menipu scry yang kami lakukan."
"Itu masih tidak menjelaskan kenapa Anda tidak menyinggung hal ini sedikit pun." Eragon merengut. "Bukan hanya itu, tapi begitu Anda tahu kaum Varden terancam, kenapa Islanzadi tidak mengumpulkan para elf untuk bertempur" Apa kita bukan sekutu""
"Ia sudah mengumpulkan para elf, Eragon. Hutan menggemakan dentingan martil, entakan sepatu bot tempur, dan kedukaan mereka yang akan berpisah. Untuk pertama kalinya setelah seabad, ras kami akan keluar dari Du Weldenvarden dan menantang musuh terbesar kami. Sudah tiba waktunya bagi para elf untuk sekali lagi berjalan secara terbuka di Alagaesia." Dengan lembut, Oromis menambahkan, "Pikiranmu teralih akhir-akhir ini, Eragon, dan aku mengerti alasannya. Sekarang kau harus melihat di luar dirimu sendiri. Dunia menuntut perhatianmu."
Karena malu, Eragon hanya bisa berkata, "Maafkan aku, Master." Ia teringat kata-kata Blagden dan tersenyum pahit. "Aku sebuta kelelawar."
"Tidak, Eragon. Kau berhasil dengan baik, mengingat besarnya tanggung jawab yang kami minta kausandang." Oromis menatapnya serius. "Kami berharap menerima pesan dari Nasuada beberapa hari lagi, meminta bantuan Islanzadi dan agar kau bergabung dengan kaum Varden. Aku berniat memberitahukan ancaman yang dihadapi kaum Varden waktu itu, di saat kau masih memiliki waktu untuk mencapai Surda sebelum pedang-pedang dicabut. Kalau kuberitahukan lebih awal, kau akan merasa berkewajiban meninggalkan lati
hanmu dan bergegas pergi melindungi majikanmu. Itu sebabnya aku dan Islanzadi menutup mulut."
"Latihanku tidak ada artinya kalau kaum Varden dihancurkan."
"Ya. Tapi kau mungkin satu-satunya orang yang bisa mencegah mereka dari kehancuran, karena ada kemungkinan--tipis tapi menakutkan--bahwa Galbatorix akan hadir dalam pertempuran ini. Sudah terlambat bagi para pejuang kami untuk membantu kaum Varden, yang berarti kalau Galbatorix benar-benar ada di sana, kau terpaksa menghadapinya seorang diri, tanpa perlindungan para perapal mantra kami. Dalam situasi seperti itu, tampaknya vital kalau latihanmu terus berlanjut selama mungkin."
Dalam sekejap, kemarahan Eragon memudar, digantikan pikiran yang dingin, keras, dan sangat praktis saat ia memahami pentingnya bagi Oromis untuk menutup mulut. Perasaan pribadi tidak relevan dalam situasi seburuk yang mereka hadapi. Dengan suara datar, ia berkata, "Anda benar. Sumpah setia memaksaku memastikan keselamatan Nasuada dan kaum Varden. Tapi aku tak siap menghadapi Galbatorix. Setidaknya, belum."
"Saranku," kata Oromis, "adalah kalau Galbatorix muncul, berusahalah sedapat mungkin mengalihkan dirinya dari kaum Varden hingga pertempuran mencapai kepastian akan menang atau kalah dan hindari pertempuran langsung dengannya. Sebelum kau pergi, kuminta satu hal padamu: bersumpahlah bahwa kau dan Saphira--begitu keadaan memungkinkan--akan kembali kemari untuk menyelesaikan latihan kalian, karena masih banyak yang harus kalian pelajari."
Kami akan kembali, sumpah Saphira, mengikat diri dengan bahasa kuno.
"Kami akan kembali," ulang Eragon, dan memastikan takdir mereka.
Tampak puas, Oromis meraih ke belakangnya dan mengeluarkan kantong merah berbordir yang dibukanya. "Untuk mengantisipasi kepergianmu, kukumpulkan tiga hadiah bagimu, Eragon." Dari kantung itu, ia mengeluarkan botol perak. "Pertama, sedikit faelnirv yang sudah kulengkapi dengan mantraku Sendiri. Ramuan ini bisa menambah daya tahanmu kalau yang lainnya gagal, dan kau mungkin mendapati karakteristiknya berguna dalam situasi-situasi lain. Minumlah sedikit-sedikit, karena aku hanya sempat menyiapkan beberapa teguk."
Ia memberikan botol itu kepada Eragon, lalu mengeluarkan Sabuk pedang panjang hitam dan biru dari kantong. Sabuk itu terasa lebih tebal dan lebih berat daripada biasanya bagi Eragon sewaktu ia mengelusnya. Sabuk itu terbuat dari kain yang ditenun menjadi satu dalam pola Sulur Liani yang saling melilit. Sesuai instruksi Oromis, Eragon menarik rumbai di ujung sabuk dan tersentak saat sepetak bagian tengahnya bergeser dan menampakkan dua belas berlian, masing-masing berdiameter satu inci. Empat berlian putih, empat hitarn- dan sisanya merah, biru, kuning, dan cokelat. Intan-intan itu berkilau dingin dan cemerlang, seperti es saat subuh, menebarkan bercak warna-warni di tangan Eragon.
"Master...." Eragon menggeleng, tidak mampu bicara hingga beberapa tarikan napas. "Apakah aman untuk memberikan ini padaku""
"Jaga baik-baik agar tidak ada yang tergoda mencurinya. Ini sabuk Beloth si Bijaksana--yang pernah kau baca dalam sejarah Tahun Kegelapan--dan salah satu harta terbesar para Penunggang. Ini permata paling sempurna yang bisa ditemukan Penunggang. Beberapa kami tukarkan dengan kurcaci. Lainnya kami menangkan dalam pertempuran atau menambangnya sendiri. Batu-batu ini tidak mengandung kekuatan sihir sendiri, tapi kau bisa menggunakannya sebagai simpanan kekuatan dan menggunakan cadangan tenaga itu kalau perlu. Ini, sebagai tambahan rangkaian batu mirah di tangkai Zar'roc, akan memungkinkanmu mengumpulkan simpanan energi agar kau tidak kelelahan karena melontarkan mantra dalam pertempuran, atau bahkan sewaktu menghadapi penyihir lawan."
Akhirnya, Oromis mengeluarkan gulungan tipis yang dilindungi tabung kayu berukir pohon Menoa. Setelah membuka gulungan itu, Eragon melihat puisi yang dibacakannya dalam Agaeti Blodhren. Puisi itu ditulis dengan kaligrafi terbaik Oromis dan digambari lukisan tinta terinci elf itu. Tanaman dan hewan terjalin menjadi satu di dalam huruf pertama setiap sajak empat baris, sementara hiasan-hi
asan rumit menelusuri kolom-kolom kata dan membingkai gambar-gambarnya.
"Kupikir," kata Oromis, "kau senang kalau bisa menyimpan duplikatnya bagimu sendiri."
Eragon berdiri membawa dua belas berlian tak ternilai itu di satu tangan dan gulungan Oromis di tangan yang lain, dan ia tahu gulungan itulah yang dianggapnya paling berharga. Eragon membungkuk memberi hormat dan, beralih ke bahasa yang paling sederhana akibat dalamnya perasaan terima kasihnya berkata, "Terima kasih, Master."
Lalu Oromis mengejutkan Eragon dengan memulai sapaan tradisional elf dan dengan begitu menyatakan penghormatannya pada Eragon: "Kiranya keberuntungan menguasaimu."
"Kiranya bintang-bintang mengawasi Anda."
"Dan kiranya kedamaian ada di hatimu," elf berambut perak itu mengakhirinya.
Ia mengulangi percakapan itu dengan Saphira. "Sekarang terbanglah secepat angin utara, tahu bahwa kalian--Saphira Brightscales dan Eragon Shadeslayer--membawa berkat Oromis, elf terakhir dari Rumah Thrandurin, ia yang merupakan Kebijaksanaan Duka sekaligus si Cacat yang Utuh."
Dan juga berkatku, tambah Glaedr. Dengan menjulurkan leher, ia menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidung Saphira, mata emasnya berkilau seperti hamparan bara yang berputar-putar. Ingatlah untuk menjaga keselamatan hatimu, Saphira. Saphira bersenandung sebagai jawaban.
Mereka mengucapkan selamat tinggal dengan khidmat. Saphira membubung ke atas hutan yang rapat, Oromis dan Glaedr menyusut dan menghilang di belakang mereka, sendirian di tebing. Sekalipun masa tinggalnya di Ellesmera berat, Eragon rindu untuk berada di tengah kaum elf, karena bersama mereka ia menemukan apa yang paling mendekati rumah sejak melarikan diri dari Lembah Palancar.
Aku meninggalkan tempat ini sebagai orang yang telah berubah, pikirnya, dan memejamkan mata, memeluk Saphira.
Sebelum menemui Orik, mereka mampir sekali lagi: Tialdari Hall. Saphira mendarat di kebun tertutup, berhati-hati agar tidak merusak tanaman dengan ekor atau cakarnya. Tanpa menunggu Saphira berjongkok, Eragon langsung melompat turun, lompatan yang dulu akan melukainya.
Seorang elf pria muncul, menyentuh bibir dengan dua jari Pertama, dan menanyakan apa yang bisa dibantunya. Sewaktu Eragon menjawab bahwa ia ingin bertemu Islanzadi, elf itu berkata, "Silakan tunggu di sini, Tangan Perak."
Kurang dari lima menit kemudian, Ratu sendiri muncul dari kedalaman Aula Tialdari, tunik merahnya tampak seperti setetes darah di tengah jubah putih para bangsawan elf yang menemaninya. Sesudah basa-basi selayaknya, Islanzadi berkata "Oromis sudah memberitahukan niatmu meninggalkan kami. Aku tidak senang karenanya, tapi tak ada yang bisa menentang takdir."
"Ya, Yang Mulia... Yang Mulia, kami menyampaikan hormat kami sebelum pergi. Anda sudah sangat memerhatikan kami dan kami berterima kasih pada Anda dan Rumah Anda untuk pakaian, penginapan, dan makanan kami. Kami berutang budi pada Anda."
"Kau tidak pernah berutang budi pada kami, Penunggang. Kami hanya membayar kembali sedikit dari utang kami padamu dan pada para naga untuk kegagalan kami yang payah di Kejatuhan. Tapi aku berterima kasih kau menghargai keramahan kami." Ia diam sejenak. "Sesudah kau tiba di Surda nanti, sampaikan penghormatan kerajaanku pada Lady Nasuada dan Raja Orrin dan beritahu mereka tidak lama lagi para pejuang kami akan menyerang paro utara Kekaisaran. Kalau keberuntungan tersenyum pada kita, kita akan berhasil mengejutkan Galbatorix dan, kalau sempat, memecah belah pasukannya."
"Sesuai keinginan Anda."
"Selain itu, ketahuilah bahwa aku sudah mengirim dua belas perapal mantra terbaik kami ke Surda. Kalau kau masih hidup pada saat mereka tiba nanti, mereka akan berada di bawah perintahmu dan berusaha sebaik-baiknya untuk melindungimu dari bahaya siang dan malam."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Islanzadi mengulurkan tangan dan salah seorang bangsawan elf mengulurkan kotak kayu tipis tanpa hiasan. "Ada hadiah dari Oromis untukmu dan ada hadiah dariku. Biar hadiah ini mengingatkanmu pada masa yang kaulewati bersama kami di bawah pepohonan pinus." Ia membuka kotak, menampilkan bus
ur hitam dan panjang dengan batang dan ujung melengkung yang terselip pada bantalan beludru. Hiasan perak yang dililit daun dogwood ada di ujung dan pegangan busur. Di sampingnya terdapat setabung anak-anak panah baru dengan bulu angsa putih. "Sekarang sesudah kau memiliki kekuatan yang sama dengan kami, rasanya layak kalau kau juga memiliki salah satu busur kami. Aku sendiri yang menyanyikannya dari sebatang yew. Talinya tidak akan pernah putus. Dan selama menggunakan anak-anak panah ini, kau tidak akan luput, bahkan ketika angin berembus sewaktu kau memanah."
Sekali lagi, Eragon terharu oleh kedermawanan para elf. Ia membungkuk memberi hormat. "Apa yang bisa saya katakan, my Lady" Anda begitu menghormati saya hingga memberikan hasil keringat Anda sendiri."
Islanzadi mengangguk, seakan menyetujui kata-katanya, lalu melangkah melewatinya dan berkata, "Saphira, aku tidak membawa hadiah untukmu karena aku tidak bisa memikirkan apa yang mungkin kaubutuhkan atau inginkan, tapi kalau ada apa pun yang kauinginkan dari kami, sebutkan dan kau akan mendapatkannya."
Naga, kata Saphira, tidak membutuhkan barang untuk berbahagia. Apa gunanya kekayaan bagi kami ketika kulit kami lebih megah dari tumpukan harta mana pun yang ada" Tidak, aku puas dengan keramahan yang Anda tunjukkan pada Eragon.
Lalu Islanzadi memberkati perjalanan mereka. Setelah berputar batik, dengan jubah merahnya berkibar dari bahu, ia hendak melangkah ke kebun, tapi berhenti di tepi kebun dan berkata, "Dan, Eragon""
"Ya, Yang Mulia""
"Kalau kau bertemu Arya, sampaikan sayangku padanya dan beritahu ia sangat dirindukan di Ellesmera." Kata-kata itu kaku dan resmi. Tanpa menunggu jawaban, Ratu bergegas pergi dan menghilang di sela batang-batang pohon yang menjaga bagian dalam Tialdari Hall, diikuti para bangsawan elf.
Saphira membutuhkan waktu kurang dari semenit untuk terbang ke lapangan latih-tanding, tempat Orik duduk di ranselnya yang menggembung, melemparkan kapak perangnya dari satu tangan ke tangan yang lain dan merengut buas. "Akhirnya kalian tiba di sini," gerutunya. Ia berdiri dan menyelipkan kapak ke batik sabuk. Eragon meminta maaf atas keterlambatannya, lalu mengikat ransel Orik di belakang pelana. Kurcaci itu menatap bahu Saphira, yang menjulang tinggi di atasnya "Dan bagaimana, demi janggut hitam Morgothal, caraku naik ke atas sana" Permukaan tebing memiliki lebih bannyak tonjolan untuk pegangan daripada dirimu, Saphira"
Ini, kata Saphira. Ia berbaring rata di perut dan mengulurkan kaki kanan belakangnya sejauh mungkin, membentuk papa, penghubung yang tidak rata. Setelah mengangkat diri ke tulang kering Saphira sambil mendengus keras, Orik merangkak menyusuri kaki Saphira. Semburan api kecil terlontar dari cuping hidung Saphira sewaktu ia mendengus. Cepat--aku geli!
Orik berhenti sejenak di tepi perut Saphira, lalu meletakkan satu kaki di samping tulang punggung Saphira dan dengan hati-hati menyusuri punggung Saphira hingga ke pelana. Ia menepuk duri gading di antara kakinya dan berkata, "Ini cara terbaik yang pernah kulihat untuk kehilangan kejantanan."
Eragon tersenyum. "Jangan tergelincir." Sewaktu Orik duduk di bagian depan pelana, Eragon naik ke punggung Saphira dan duduk di belakang si kurcaci. Agar Orik tidak bergeser sewaktu Saphira berbelok atau berputar, Eragon mengendurkan tali-temali untuk mengikat lengannya dan meminta Orik menyelipkan kaki ke sana.
Saat Saphira berdiri tegak, Orik goyah, lalu mencengkeram duri di depannya. "Garr! Eragon, jangan biarkan aku membuka mata sebelum kita di udara, kalau tidak aku akan muntah. Ini tidak alamiah, sungguh. Kurcaci tidak ditakdirkan menunggangi naga. Belum pernah terjadi."
"Belum pernah""
Orik menggeleng tanpa menjawab.
Kerumunan elf bermunculan dari Du Weldenvarden, berkumpul di tepi lapangan, dan dengan ekspresi khidmat mengawasi Saphira mengangkat sayapnya yang tembus pandang, bersiap-siap lepas landas.
Eragon mengeratkan cengkeraman saat merasa kaki-kaki Saphira yang kuat menegang di bawah kakinya. Sambil menambah kecepatan, Saphira melompat ke langit biru, mengepak-ngepakkan sa
yap dengan sigap dan kuat untuk membubung melewati pepohonan raksasa. Ia berputar di atas hutan yang luas--melingkar-lingkar naik menambah ketinggian--lalu mengarah ke selatan, ke Padang Pasir Hadarac.
Sekalipun angin terdengar kencang di telinga Eragon, ia mendengar seorang wanita elf di Ellesmera menyanyi dengan suaranya yang jernih, seperti sewaktu kedatangannya pertama kali. Elf itu bernyanyi:
jauh, jauh, kau akan terbang jauh,
Melewati puncak-puncak dan lembah-lembah
Ke tanah-tanah di baliknya.
Jauh, jauh, kau akan terbang jauh,
Dan tidak pernah kembali padaku.
RAHANG LAUTAN Lautan kehitaman menggelora di bawah Dragon Wing, melontarkan kapal itu tinggi ke udara. Di sana kapal itu bergoyang-goyang di pucuk gelombang yang berbuih sebelum menukik ke depan dan melesat menuruni permukaan gelombang ke celah gelap di bawahnya. Hujan kabut yang menyengat menerobos udara yang membekukan saat angin mengerang dan melolong seperti roh raksasa.
Roran berpegangan pada tali-temali di sebelah kanan kapal dan muntah-muntah ke balik pagar; tidak ada yang keluar kecuali cairan perut yang masam. Tadinya ia membanggakan diri karena perutnya tidak pernah mengganggu selama di bargas Clovis, tapi badai yang baru saja mereka tembus begitu hebat hingga anak buah Uthar sekalipun-para pelaut yang berpengalaman-sulit memertahankan wiski dalam perut mereka.
Rasanya seperti ada sebongkah es besar yang menjepit Roran di sela tulang bahunya saat gelombang menghajar kapal dari samping, mengguyur dek sebelum mengalir keluar melalui lubang-lubang pembuangan dan tumpah ke laut yang bergolak dan berbuih tempat gelombang itu datang. Roran mengusap air asin dari matanya dengan jemari yang sekaku tumpukan kayu beku, dan menyipitkan mata memandang kaki langit yang hitam pekat di balik haluan.
Mungkin ini akan melepaskan kami dari pengejaran mereka. Tiga kapal kapal berlayar hitam memburu mereka sejak mereka melewati Tebing Besi dan mengitari apa yang dijuluki Jeod Edur Carthungave dan menurut Uthar bernama Taji Rathbar. "Tulang ekor Spine, itulah dia," kata Uthar, sambil tersenyum. Kapal-kapal kecil itu lebih cepat daripada Dragon Wing, yang dibebani -nduduk desa, dan dengan cepat mengejar kapal dagang {ersebut hingga mereka cukup dekat untuk saling memanah. Yang paling buruk, tampaknya kapal terdepan membawa penyihir, karena ketepatan anak-anak panahnya sangat menakutkan, memutuskan tali-tali, menghancurkan mata harpun, dan mengganjal balok-balok. Dari serangan-serangan mereka, Roran memperkirakan Kekaisaran tidak lagi peduli soal menangkap dirinya dan hanya ingin mencegahnya mendapat perlindungan kaum Varden. Ia baru saja menyiapkan penduduk desa untuk melawan pasukan yang berdatangan dari kapal lawan sewaktu awan di atas berubah keunguan seperti memar, penuh dengan hujan, dan hujan angin mengamuk dari barat laut. Pada saat ini Uthar mengarahkan Dragon Wing memotong angin, menuju Kepulauan Selatan, di mana ia berharap bisa melepaskan diri dari kapal-kapal kecil di sela gelombang-gelombang dan telukteluk kecil Beirland.
Tirai kilat horisontal menyambar di antara dua mendung tebal, dan dunia berubah sepucat marmer sebelum kegelapan kembali berkuasa. Setiap kilasan yang membutakan mencetak adegan tak bergerak di mata Roran yang bertahan, berpendaran, lama sesudah kilat menghilang.
Lalu kilat bercabang muncul, dan Roran melihat--seakan dalam serangkaian lukisan hitam-putih--pucuk tiang layar terpuntir, pecah, dan jatuh ke laut yang mengamuk, di sebelah kiri pertengahan kapal. Setelah menyambar tali penyelamat, Roran naik ke geladak atas dan, bersama-sama dengan Bonden, memutus kabel-kabel yang masih menghubungkan puncak tiang dengan Dragon Wing dan menyeret buritan kapal ke dalam air. Tali-tali itu menggeliat seperti ular saat terpotong.
Sesudahnya, Roran mengempaskan diri di geladak, lengan kanannya terkait ke pagar untuk menahan diri di tempatnya semaentara kapal merosot dua puluh... tiga puluh... kaki di sela gelombang-gelombang. Gelombang Besar menyapunya, menyerap kehangatan dari tulang belulangnya. Ia menggigil.
Jangan biarkan aku mati di
sini, pintanya, sekalipun kepada siapa, ia tidak tahu. Tidak dalam gelombang yang kejam ini. Tugasku belum selesai. Selama malam yang panjang itu, ia terus mengenang Katrina, mendapatkan penghiburan dari kenangan itu sewaktu ia kelelahan dan harapan mengancam akan me ninggalkan dirinya.
Badai berlangsung selama dua hari penuh dan mereda selepas tengah malam. Keesokan harinya subuh tampak pucat kehijauan, langit bersih, dan tiga layar hitam tampak meluncur di kaki langit utara. Di sebelah barat daya, garis samar Beirland membentang di bawah hamparan awan yang mengerumuni pegunungan bergerigi yang mendominasi pulau itu.
Roran, Jeod, dan Uthar bertemu di kabin depan yang kecil--karena kabin kapten diberikan pada mereka yang sakit--tempat Uthar membuka gulungan peta laut di meja dan mengetuk titik di atas Beirland. "Kita di sini sekarang," katanya. Ia meraih peta garis pantai Alagaesia yang lebih besar dan mengetuk mulut Sungai Jiet. "Dan ini tujuan kita, karena makanan yang ada tidak akan cukup hingga di Reavstone. Tapi bagaimana cara kita ke sana, tanpa terkejar, tidak bisa kupikirkan. Tanpa puncak tiang layar, kapal-kapal celaka itu akan mengejar kita tengah hari besok, malam kalau kita bisa mengendalikan layar dengan baik."
"Kita tidak bisa mengganti tiang layarnya"" tanya Jeod. "Kapal-kapal sebesar ini biasanya membawa cadangan untuk perbaikan seperti itu."
Uthar mengangkat bahu. "Bisa saja, asal ada tukang kayu kapal yang layak di antara kita. Karena tidak ada, aku tidak ingin orang yang tidak berpengalaman mencobanya, hanya untuk jatuh ke geladak dan mungkin melukai orang lain lagi."
Roran berkata, "Kalau tak ada penyihir atau para penyihir itu, menurutku kita sebaiknya bertahan dan melawan, karena kita jauh lebih banyak daripada awak kapal-kapal kecil itu. Namun sesuai kenyataan, aku lebih suka menghindari Pertempuran. Kecil kemungkinan kita akan menang, mengingat berapa banyak kapal yang dikirim untuk membantu kaum Varden dan hilang."
Sambil mendengus, Uthar menggambar lingkaran di sekitar posisi mereka saat ini. "Kita bisa berlayar hingga sejauh ini besok malam, dengan anggapan angin bertiup sesuai kebutuhan kita. Kita bisa mendarat di suatu tempat di Beirland atau Nia kalau mau, tapi aku tidak tahu apa gunanya itu bagi kita. Kita akan terjebak. Para prajurit di kapal-kapal kecil itu atau Ra'zac atau bahkan Galbatorix sendiri bisa memburu kita sesuka hatinya."
Roran merengut sambil mempertimbangkan pilihan mereka; tampaknya bertempur melawan kapal-kapal kecil itu tak terelakkan.
Selama beberapa menit kabin sunyi, hanya terdengar suara pukulan ombak ke lunas kapal. Lalu Jeod meletakkan jari di peta antara Beirland dan Nia, memandang Uthar, dan bertanya, "Bagaimana dengan Boar's Eye--Mata Babi Hutan""
Yang mengejutkan Roran, kelasi berpengalaman itu benar-benar memucat. "Aku tidak berani mengambil risiko itu, Master Jeod, tidak demi keselamatanku. Aku lebih suka menghadapi kapal-kapal kecil itu dan tewas di laut terbuka daripada ke tempat terkutuk tersebut. Tempat itu sudah memakan korban kapal dua kali lebih banyak dari armada Galbatorix."
"Aku rasanya pernah membaca," kata Jeod, sambil menyandar ke belakang di kursinya, "bahwa lintasan itu aman sepenuhnya saat pergantian arus pasang dan surut. Apa benar begitu""
Dengan keengganan yang mencolok, Uthar mengakui, "Aye. Tapi Eye sangat lebar, membutuhkan pengaturan waktu paling tepat untuk menyeberanginya agar tidak hancur. Waktu kita sangat sempit untuk itu dengan adanya kapal-kapal kecil rapat di belakang kita."
"Tapi kalau kita bisa," desak Jeod, "kalau kita bisa mengatur waktunya dengan tepat, kapal-kapal kecil itu akan hancur atau kalau keberanian mereka menghilang--memaksa mereka memutari Nia. Dengan begitu kita memiliki waktu untuk mencari tempat persembunyian di sepanjang Beirland."
Kalau kalau... Kau mengirim kita ke kedalaman yang menghahcurkan, sungguh."
"Ayolah, Uthar, ketakutanmu tidak beralasan. Saranku memang berbahaya, kuakui, tapi tidak lebih berbahaya daripada melarikan diri dari Teirm. Atau kau meragukan kemampuanmu melayari celah itu"
Apa kau tidak cukup jantan untuk melakukannya""
Uthar melipat lengannya yang telanjang. "Kau belum pernah melihat Eye, bukan, Sir""
"Tidak bisa kukatakan pernah."
"Bukannya aku tidak cukup jantan, tapi Eye jauh melebihi kekuatan manusia; tempat itu mempermalukan kapal-kapal terbesar kita, bangunan-bangunan termegah kita, dan apa pun yang ingin kausebutkan. Menantangnya seperti berlomba lari melawan salju longsor; kau mungkin berhasil, tapi lebih mungkin kau tergilas jadi debu."
"Apakah," tanya Roran, "Boar's Eye ini""
"Rahang lautan yang rakus," kata Uthar.
Dengan nada yang lebih ringan, Jeod berkata, "Itu pusaran air, Roran. Eye terbentuk sebagai akibat arus pasang yang beradu di antara Beirland dan Nia. Sewaktu arus pasang, Eye berputar dari utara ke barat. Sewaktu arus surut, ia berputar dari utara ke timur."
"Kedengarannya tidak begitu berbahaya."
Uthar menggeleng, kepangannya melecut sisi lehernya yang tersapu angin, dan tertawa. "Tidak begitu berbahaya, katanya! Ha!"
"Yang tidak kaupahami," lanjut Jeod, "adalah besarnya pusaran ini. Pada umumnya, pusat Eye berdiameter satu league, sementara lengan-lengan pusarannya bisa mencapai sepuluh hingga lima belas mil lebarnya. Kapal-kapal yang tidak cukup beruntung hingga terjerat Eye akan terseret hingga ke dasar laut dan terempas ke karang-karang bergerigi di sana. Sisa-sisa kapal sering ditemukan mengambang di pantai-pantai kedua pulau."
"Apakah ada yang menduga kita akan melewati rule ini"" tanya Roran.
"Tidak, dan karena alasan yang bagus," kata Uthar. Jeod menggeleng pada saat yang sama.
"Apa mungkin kita melewati Eye""
"Itu tindakan paling bodoh."
Roran mengangguk. "Aku tahu kau tidak mau mengambil resiko ini, Uthar, tapi pilihan kita terbatas. Aku bukan pelaut, jadi aku harus mengandalkan penilaianmu: Kita bisa menyeberangi Eye""
Si kapten ragu-ragu. "Mungkin, mungkin tidak. Kau pasti sangat sinting bahkan untuk mendekat lima mil saja dari monster itu."
Roran mencabut martil, menghantamkannya ke meja, meninggalkan dekik setengah inci dalamnya. "Kalau begitu aku sangat sinting!" Ia membalas tatapan Uthar hingga si pelaut membuang muka dengan perasaan tidak enak. "Apa harus kuingatkan, bahwa kita bisa mencapai sejauh ini karena melakukan apa yang menurut para penakut itu tidak bisa, atau sebaiknya tidak, kita lakukan" Kami dari Carvahall berani meninggalkan rumah kami dan menyeberangi Spine. Jeod berani membayangkan kita mencuri Dragon Wing. Apa kau berani, Uthar" Kalau kita berani menantang Eye dan hidup untuk menceritakan kisahnya, kau akan dipuja sebagai salah seorang pelaut terbesar dalam sejarah. Sekarang jawab aku dan jawab dengan sebaik-baiknya dan sejujurnya: Apakah kita bisa melakukannya""
Uthar mengelus wajahnya dengan satu tangan. Sewaktu ia bicara, suaranya pelan, seakan semburan kemarahan Roran menyebabkan ia menghentikan semua bualannya. "Aku tidak tahu, Stronghammer... Kalau kita menunggu Eye mereda, kapal-kapal pemburu kita mungkin begitu dekat dengan kita hingga kalau kita lolos, mereka juga lolos. Dan kalau angin berhenti bertiup, kita akan terperangkap arus, tidak mampu melepaskan diri."
"Sebagai kapten, apa kau bersedia mencobanya" Baik Jeod maupun aku tidak bisa memimpin Dragon Wing menggantikan dirimu."
Lama Uthar menunduk menatap peta, satu tangan mencengkeram tangan yang lain. Ia mencoretkan satu atau dua garis dari posisi mereka dan melakukan perhitungan yang tidak dipahami Roran. Akhirnya ia berkata, "Aku khawatir kita berlayar menuju kehancuran, tapi aye, akan kuusahakan sebaik-baiknya melewatinya."
Dengan puas, Roran menyimpan martilnya. "Terjadilah."
MELINTASI BOAR'S EYE Kapal-kapal kecil itu terus mendekati Dragon Wing sepanjang hari. Roran mengawasi kemajuan mereka setiap kali ada kesempatan, prihatin mereka akan cukup dekat untuk menyerang sebelum Dragon Wing tiba di Eye. Sekalipun begitu, Uthar tampaknya mampu mengungguli mereka, paling tidak untuk beberapa saat lagi.
Atas perintah Uthar, Roran dan penduduk desa lain membersihkan kapal sesudah badai dan bersiap-siap menghadapi cobaan yang akan datang. Pekerjaan
mereka berakhir saat malam turun, sewaktu mereka memadamkan setiap lampu di kapal untuk membingungkan pemburu mereka mengenai arah yang dituju Dragon Wing. Tipuan itu hanya berhasil sebagian, karena sewaktu matahari terbit, Roran melihat kapal-kapal pemburu mereka tertinggal di barat laut sekitar satu mil, namun dalam waktu singkat mereka berhasil menyusul.
Menjelang siang, Roran memanjat tiang layar utama dan naik ke sarang gagak seratus tiga puluh kaki di atas geladak, begitu tinggi hingga orang-orang di bawah tampak tidak lebih besar daripada kelingkingnya. Perairan dan langit seperti bergoyang di sekitarnya ketika Dragon Wing berayun-ayun dar' satu sisi ke sisi lain.
Setelah mengeluarkan teropong yang dibawanya, Roran menempelkannya ke mata dan menyesuaikannya hingga kapal pemburu mereka terfokus kurang dari empat mil dari buritan dan mendekat lebih cepat daripada yang disukainya. Mereka pasti menyadari niat kami, pikirnya. Sambil menggerakkan teropong, Ia mencari-cari tanda Boar's Eye di lautan. Ia berhenti sewaktu melihat piringan busa sebesar pulau, berputar dari utara ke timur. Kita terlambat, pikirnya, dengan perut melilit. Arus pasang sudah lewat dan Boar's Eye bertambah cepat dan kuat saat laut mundur menjauhi daratan. Roran mengarahkan teropong melewati tepi sarang gagak dan melihat tali tersimpul yang diikatkan Uthar di sisi kanan haluan kapal--untuk mendeteksi saat mereka memasuki pusaran--sekarang mengambang sejajar di samping Dragon Wing dan bukannya menjuntai ke belakang seperti biasa. Satu hal yang menguntungkan mereka adalah mereka berlayar seiring dengan arus Eye, bukan menentangnya. Kalau sebaliknya, mereka tidak memiliki pilihan kecuali menunggu perubahan arus.
Di bawah, Roran mendengar Uthar berteriak agar para penduduk desa memegang dayung. Sesaat kemudian, Dragon Wing mengembangkan dua baris dayung di setiap sisinya, menyebabkan kapal mirip serangga air raksasa. Seiring dentuman tambur kulit kerbau, ditemani teriakan berirama Bonden yang menentukan kecepatannya, dayung-dayung melesat ke depan, masuk ke laut yang hijau, dan menyapu ke belakang di permukaan air, meninggalkan berkas gelembung putih. Dragon Wing menambah kecepatan dalam waktu singkat, sekarang bergerak lebih cepat daripada kapal-kapal pemburunya, yang masih berada di luar pengaruh Eye.
Roran terpesona sekaligus ngeri melihat permainan yang berlangsung di sekitarnya. Elemen utama rencana, yang menentukan hasilnya, adalah waktu. Sekalipun mereka terlambat, apakah Dragon Wing, dengan kombinasi dayung dan layarnya, cukup cepat untuk menyeberangi Eye" Dan bisakah kapal-kapal pemburu mereka--yang sekarang mengeluarkan dayung juga--mempersempit jarak di antara mereka dan Dragon Wing secukupnya untuk memastikan keberhasilan mereka sendiri" Ia tidak tahu. Dentuman tambur menghitung menit-menit; Roran sangat menyadari berlalunya waktu.
Ia terkejut sewaktu ada lengan yang terjulur melewati tepi keranjang dan wajah Baldor muncul, menengadah memandangnya. "Tolong aku. Rasanya aku akan jatuh."
Setelah memantapkan posisinya, Roran membantu Baldor naik ke keranjang. Baldor memberi Roran biskuit dan apel kering, dan berkata, "Kupikir kau mau makan siang," Sambil mengangguk berterima kasih, Roran menggigit biskuit dan kembali memandang menggunakan teropong. Sewaktu Baldor bertanya, "Kau bisa melihat Eye"" Roran memberikan teropongnya dan memusatkan perhatian untuk makan.
Selama setengah jam berikutnya, piringan busa itu berputar semakin cepat hingga mirip gasing. Air di sekitarnya bergejolak dan mulai naik, sementara busanya sendiri terbenam menghilang dari pandangan, ke dasar lubang raksasa yang semakin dalam dan lebar. Udara di atas pusaran itu dipenuhi puting beliung kabut yang berputar-putar, dan dari tenggorokan gading lubang itu terdengar lolongan tersiksa mirip jeritan serigala terluka.
Roran terpesona melihat kecepatan terbentuknya Boar's Eye. "Sebaiknya kau beritahu Uthar," katanya.
Baldor memanjat keluar dari sarang. "Ikat dirimu ke tiang, kalau tidak kau bisa terlempar."
"Baik." Roran membiarkan lengannya bebas sewaktu ia mengika
t dirinya, memastikan, kalau perlu, ia bisa meraih pisau di sabuknya untuk membebaskan diri. Kegelisahan menyelimutinya saat ia mengamati situasi. Dragon Wing hanya satu mil melewati titik tengah Eye, kapal-kapal pemburu mereka dua mil di belakang mereka, dan Eye sendiri mencapai puncak kemurkaannya dalam waktu singkat. Lebih buruk lagi, karena dikacaukan pusaran air, angin tersendat dan tersentak-sentak, bertiup dari satu arah lalu beralih dari arah yang lain. Layar-layar, menggembung sejenak, lalu menjuntai lemas, lalu kembali menggembung saat angin yang kebingungan berputar-putar di sekitar kapal.
Mungkin Uthar benar, pikir Roran. Mungkin aku keterlaluan dan mengadu diriku dengan lawan yang tidak bisa dikalahkan dengan ke kebulatan tekad semata. Mungkin aku mengirim penduduk desa ke kematian mereka. Kekuatan alam kebal terhadap intimidasi.
Pusat Boar's Eye yang menganga sekarang hampir bisa setengah mil lebarnya, dan berapa fathom dalamnya tidak bisa dipastikan, kecuali mungkin oleh mereka yang pernah terjebak di dalamnya. Sisi-sisi Eye miring ke dalam pada sudut empat puluh lima derajat; sisi-sisi itu dipenuhi ceruk-ceruk dangkal, seperti tanah liat basah yang tengah dibentuk di roda tukang tembikar. Lolongannya semakin keras, hingga Roran merasa seluruh dunia pasti hancur berantakan akibat kuatnya getarannya. pelangi yang megah muncul dari kabut di atas pusaran.
Arus berputar lebih cepat lagi, melontarkan Dragon Wing dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher saat kapal melesat melewati bibir pusaran dan mengecilkan kemungkinan kapal itu bisa melepaskan diri di tepi selatan Eye. Begitu hebat kecepatannya hingga Dragon Wing miring jauh ke kanan, menggantung Roran di atas air yang mengalir deras.
Biarpun Dragon Wing maju dengan cepat, kapal-kapal pemburunya terus mendekat. Kapal-kapal musuh itu berlayar kurang dari satu mil jauhnya, dayung mereka bergerak seirama, dua sirip air beterbangan dari setiap bilah saat dayung-dayung membajak lautan. Roran mau tidak mau mengagumi pemandangan itu.
Ia menyimpan teropong di balik baju; ia tidak membutuhkannya sekarang. Kapal-kapal pemburu itu cukup dekat untuk dilihat dengan mata telanjang, sementara pusaran airnya semakin samar di balik awan uap putih yang terhambur dari bibir terowongannya. Saat tertarik ke kedalaman, uap itu membentuk lensa spiral di atas teluk, menirukan penampilan pusaran air.
Lalu Dragon Wing tersentak ke kiri, memisahkan diri dari arus akibat usaha Uthar menuju laut lepas. Lunas kapal berderit menggeser air, dan kecepatan kapal berkurang separo sementara Dragon Wing berjuang melepaskan diri dari pelukan maut Boar's Eye. Tiang kapal bergetar, mengadu gigi-gigi Roran, dan sarang gagak terayun ke arah baru, menyebabkan ia gamang karena ketinggian.
Ketakutan mencengkeram Roran sewaktu mereka terus melambat. Ia memotong tali pengikatnya dan--tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri--berayun keluar dari keranjang, menyambar tali di bawahnya, dan menuruni tali-temali begitu cepat hingga ia sempat kehilangan pegangan dan jatuh beberapa kaki sebelum dapat menghentikan dirinya. Ia melompat ke geladak, lari ke lubang palka depan, dan turun ke deretan dayung pertama, di mana ia bergabung dengan Baldor dan Albriech mengayunkan tongkat ek itu.
Mereka tidak berbicara, melainkan bersusah payah seiring napas mereka yang terengah-engah, dentuman tambur, teriakan serak Bonden, dan raungan Boar's Eye. Roran bisa merasakan pusaran yang perkasa itu melawan setiap ayunan dayung.
Tapi usaha mereka tak bisa mencegah Dragon Wing berhenti sama sekali. Kita tidak akan berhasil, pikir Roran. Punggung dan kakinya terasa terbakar karena pengerahan tenaga. Paru-parunya seperti ditusuk. Di sela-sela pukulan tambur, ia mendengar Uthar memerintahkan orang-orang di geladak merapikan layar agar bisa memanfaatkan sepenuhnya angin yang kacau.
Pendekar Muka Buruk 11 Dendam Si Anak Haram Karya Kho Ping Hoo Pedang Langit Dan Golok Naga 33
^