Pencarian

Ketika Angin Bertiup 3

Ketika Angin Bertiup Karya James Patterson Bagian 3


"Dan itu semua yang kauketahui"" aku bertanya padanya. "Kau bersumpah""
"Itu yang kutahu pasti, Frannie. Itulah yang kauperoleh sebagai ganti makan malam berupa setengah ekor trout"
"Baiklah, kurasa adil juga. Bagaimana luka gores di perutmu"" aku bertanya.
"Aku dulu pemain rugby di Holy Cross, lalu di Boston, dan liga bir D.C. Rasanya aku akan baik-baik saja."
Aku mengerutkan kening sedikit mendengar komentar sok jagonya. "Sudah kauberi obat anti-bakteri""
"Itu tidak terlalu parah kok, Dok. Cuma luka gores, luka gores."
Kunang-kunang terbang dalam kegelapan yang makin pekat. Suatu masa dulu aku tahu banyak tentang kunang-kunang, tapi sekarang aku tidak bisa mengingatnya sedikit pun. Aku memikirkan gumpalan bulu keemasan di dada Bean dan luka yang menggores kulitnya yang sempurna. Aku teringat kelembutan bibirnya, dan sentuhan halus tangannya.
Aku membuat diriku sendiri terangsang. Dia membuatku terangsang. Oh boy!
Tidak ada binatang sakit yang bisa membuat perhatianku teralih, tidak ada yang perlu dibersihkan atau buru-buru diobati. Aku menginginkan rokok, walaupun aku bukan perokok. Betapa inginnya aku minum.
"Kupikir sebaiknya aku memeriksanya," kataku akhirnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku berbisik ketika mengatakannya.
Aku sempat menduga Kit tidak akan menanggapi ucapanku, dia begitu diam. Lalu Kit ber-deham.
"Apakah kau akan melakukannya dalam kapasitas medis"" tanyanya.
"Tidak. Aku akan melakukannya dalam kapasitas teman seperjalanan," jawabku parau dengan susah payah.
"Oke," katanya. "Aku pasrah di tanganmu yang andal. Kubuka dulu kemejaku."
"Oh goodie." Mata birunya berkilat lagi. "Dr. O'Neill" Kau barusan bilang 'Oh goodie""
"Kau bisa memanggilku Frannie. Kan sudah kubilang. Dan ya, itulah yang kukatakan barusan. Oh goodie."
BAB 49 Max mengawasi mereka berdua dari jarak yang aman, setidaknya dia berharap dia aman. Pikirannya berputar secepat gasing.
Air mata hangat mengalir di wajahnya dan dia tidak bisa menghentikannya. Itu membuatnya marah. Max tidak suka menampakkan kelemahan, dan dia hampir tak pernah melakukannya, namun begitu banyak yang telah terjadi dalam waktu begitu singkat. Dia sedang lari. Tidak, dia sedang terbang.
Max tahu tindakannya bodoh, tapi dia tidak bisa menghentikan air matanya mengalir. Dia tak sanggup menghapus sebuah ingatan dari pikirannya. Dia kaget sekali ketika melihat batu itu mengha
ntam kepala si ikan yang malang. Dokter wanita itu sangat tak berperasaan saat melakukannya. Persis seperti orang-orang di Sekolah. Tak berperasaan.
Bagaimana dia bisa tega membunuh ikan itu" Menidurkannya"
Ikan itu tadinya makhluk hidup.
Ikan itu mungkin punya anak dan tempat tinggal nyaman di kali indah tadi.
Sekarang makhluk itu mati karena si dokter telah menidurkannya.
Max duduk di dahan pohon, gemetar dan menangis pelan. Dia takkan pernah aman di dunia luar ini, dan dia merasa amat sangat sendirian dan sedih. Max begitu merindukan Matthew sehingga memikirkan adiknya itu saja pun tak sanggup. Dunia di luar Sekolah ternyata semenakutkan yang selalu dikatakan Paman Thomas padanya. Hanya saja orang itu tidak pernah membuat Max setakut beberapa hari terakhir ini.
Untunglah dia sudah menemukan tempat yang aman, tempat tinggi di mana dia dapat melihat pria dan wanita itu dan api unggun mereka yang berkobar-kobar. Max tidak suka mengakuinya, namun bau ikan bakar itu memang luar biasa enak. Perutnya menggemuruh, mengingatkannya sudah berapa lama dia tidak mengisinya dengan makanan.
Max ingin sekali ada orang yang bisa diajaknya bicara.
Dokter wanita itu dan temannya duduk di pinggir bukit, memandangi matahari terbenam. Matahari, saat bergerak tenggelam, memang indah, seperti campuran selai jeruk dan jeli anggur. M-A-K-A-N-A-N, pikirnya. J-E-L-I. Duduk di sini, memandangi matahari yang mereka pandangi juga, membuatnya merasa bersama mereka. Apakah pendapatnya tentang mereka salah sama sekali" Apakah dia keliru jika mendatangi mereka dan meminta bantuan mereka dengan sopan" Max ingin berpikir bahwa hidup bisa seperti itu. Tapi tidak. Dia tahu yang sebenarnya.
Max mengintai pria dan wanita itu sementara
mereka duduk dan bercakap-cakap di sekeliling api. Dia bisa melihat mereka saling menyukai.
Benak Max dipenuhi pikiran-pikiran yang bertentangan tentang si dokter wanita. Dia ingin sekali mempercayai wanita itu. Itu adalah instingnya. Dia hanya tidak paham bagaimana semua orang yang bermulut manis, pandai bicara, yang mengatakan takkan menyakitinya bisa dipercaya.
Lalu pasangan tersebut menikmati makan malam mereka, dan menonton mereka makan membuat Max amat lapar. Dia mendengarkan saat mereka mengobrol dan tertawa, bahkan menangkap beberapa kata. "... Duri di samping... melewati bukit... obat antibakteri..."
Dia berharap bisa duduk bersama mereka dan setidaknya makan sebutir kentang panggang. Kentang memang makhluk hidup juga, namun dia sanggup memakannya.
Max mencondongkan tubuh untuk melihat, mengawasi mereka lebih jelas. Apa yang terjadi sekarang" Apa yang sedang mereka lakukan"
Sementara dia memandangi dari dahan pohon, si dokter bergerak dan berjongkok di samping si laki-laki. Dokter itu mulai membuka pakaian si pria, kemejanya duluan. Pria itu lebih besar daripada si dokter dan dia mengalahkan wanita itu! Apa yang dilakukannya pada wanita itu"
Laki-laki itu berbaring di atas si dokter cantik, namun wanita itu tidak menyingkirkannya, sama sekali tidak melawan. Mereka tertawa, tersenyum, dan mulai berciuman.
"Mereka kawin," bisik Max.
BAB 50 Aku memegang peralatan P3K ketika berlutut di samping Kit. Dengan hati-hati kubuka kancing-kancing kemejanya. Ketika sampai di kancing yang paling dekat dengan pinggangnya, aku harus menarik kemejanya keluar dari celananya. Dia meringis akibat gesekan kain di kulit ter-luka.
"Maaf," kataku. "Maaf."
"Tidak apa-apa, Frannie. Aku sudah biasa kesakitan."
Kupandangi kilau api yang memantul di otot-otot tegap dada dan hamparan bulu ikal berwarna terang. Aku meraih tube salep, kubuka dengan gugup, dan nyaris menjatuhkannya. Tutupnya terpental ke tanah.
Kuoleskan salep obat itu di jari-jariku dan dengan hati-hati kusentuh tubuhnya. Aneh. Jari-jariku gemetar sedikit. Aku dapat mendengar suara napasku sendiri, yang rasanya terlalu keras, namun perhatianku jelas tetap terpusat pada tugas yang kulakukan.
Begitu terpusatnya sehingga aku terkejut ketika Kit mencengkeram pelan pergelangan tanganku.
"Apakah aku menyakitimu"" tanyaku.
Dia menggeleng. "Tidak, tapi kau membunuhku, Frannie."
Kit memel uk pinggangku dengan tangannya yang bebas, dan dengan satu gerakan yang sigap mengangkatku dan membaringkan tubuhku di atas rerumputan dan jarum-jarum daun pinus, setengah menutupiku dengan tubuhnya. Dia jelas kuat, mungkin 90 kilogram, namun dia juga lembut.
Lenganku terangkat ke atas dan memeluk erat lehernya. Dia menarikku merapat dan aku merasakannya, seluruh tubuhnya, di pahaku. Aku tidak merasa takut atau ragu mengenai semua ini, sama sekali. Itu mengejutkanku, sangat mengagetkanku, sebetulnya, namun semua telah terjadi.
Aku menginginkan bibirnya, dan tiba-tiba bibirnya sudah menciumku, semanis dan sesegar yang kubayangkan. Aku amat merindukan ini, rasa bibirnya yang asin, sentuhan tangannya, jenggot berumur seharinya yang terasa kasar di kulitku. Aku amat sangat menginginkan Kit, lebih daripada yang bisa kubayangkan.
Dengan halus Kit menyapukan tangannya di atas payudaraku, tapi ada kain di antara kami. Aku mendengar suara mengerang pelan keluar dari tenggorokanku, yang nyaris tak kukenali sebagai suaraku sendiri. Kucoba membantunya melepas pakaianku. Dengan bergegas-gegas aku menarik kaus olahragaku. Aku juga berusaha membuka celana pendek Kit dengan terburu-buru. Sudah lama sekali aku tidak merasa seperti ini.
Kit menatapku dan matanya hangat, tulus, dan, terutama, jujur. Aku mengenali ekspresi itu, dan tiba-tiba kusadari betapa dia menyukai-ku, dan betapa aku menyayanginya. Kilat telah menyambarku, dan aku tak pernah, sedetik pun, melihatnya datang. Aku tidak pernah menyangka, sedikit pun, ini bisa terjadi. Ini agak menakutkan, tapi juga luar biasa mengasyikkan dan indah.
Kesedihan dan berbagai perasaan yang ku-tekan selama dua tahun meledak dalam satu momen yang langka. Aku merasakan tangannya di ikat pinggangku, menariknya lebih rapat supaya lidah gespernya keluar dari lubangnya. Aku mendengar ritsleting celana pendekku dibuka jari-jarinya. Aku ingin ini terjadi. Aku meleleh, dan itu adalah pilihanku.
Udara sejuk mengusap pahaku ketika dia menarik celana pendekku sampai lutut. Aku gemetar, dan sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan saat ini, saat pertama kami ini, kejadiannya yang tiba-tiba, unsur kejutannya.
Aku meraih ikat pinggang Kit. Kulitnya keras, sulit dibuka. Aku tengah berkutat dengan gespernya ketika mendengar Kit memanggil namaku. Aku bergetar mendengarnya dan ingin dia menyatu denganku sekarang.
"Frannie, Frannie. Tunggu. Hentikan."
Tunggu. Hentikan" Kupaksa diriku menatap wajah Kit. Rasanya seolah seseorang menyalakan lampu yang terang benderang. Mataku berkedip. Tunggu" Hentikan" "Kita sama-sama tidak menggunakan akal sehat," katanya, terengah-engah. "Aku tidak tahu di mana aku berada minggu depan." Kit
mengembuskan napas dalam. "Aku bahkan tak tahu ada di mana besok"
Aku ingin bilang, memangnya kenapa" Tapi aku malah merasakan gelombang kesedihan yang nyaris tak tertahankan. Satu partikel kecil otakku ternyata masih rasional. Partikel itu mengatakan aku takkan bercinta dengan Kit dan melupakannya dengan mudah. Aku tidak akan melupakan malam di pegunungan ini, atau dirinya.
Aku mengangguk. "Oke," kataku.
"Oke"" "Oke. Kau benar. Aku tidak menggunakan akal sehat. Mari kita berhenti sebelum kita melakukan kesalahan besar."
"Maafkan aku," katanya di sela-sela rambutku. Dia mengembuskan napas lagi. "Aku sungguh-sungguh ingin melakukan ini. Aku suka sekali bersamamu. Hanya saja-"
Kutempelkan telunjukku di bibirnya. "Jangan," kataku. Kami saling memandang lama sekali, cukup lama sehingga detak jantung kami akhirnya kembali normal. Aku telah berhenti meleleh-tapi tidak juga.
Kami berciuman lagi, kali ini lebih lembut, lebih sopan. Untuk menunjukkan kami bisa tetap bersahabat" Lalu aku berdiri dan memakai celana pendekku lagi.
Aku menemukan kantong tidurku dalam tumpukan, seperti saat kutinggalkan beberapa jam yang lalu, dan menyeretnya jauh dari api unggun. Bagaimana aku tadi dapat merasa begitu bahagia, dan sekarang tiba-tiba merasa sangat tidak keruan"
"Frannie," kata Kit.
"Yah"" bisikku. Suaraku terdengar parau. Yah"
"Bawa kantong tidurmu ke dekatku."
Aku ragu-ragu. Aku menggeleng tanpa
suara. Kurasa mungkin harga diriku mendesakku menjaga jarak darinya. Hentikan" Tunggu"
"Ayo," katanya. Lalu dengan lebih lembut, "Kumohon. Aku si tentara, ingat" Kau orang sipil. Aku membawa senjata. Kau akan lebih aman di tempat yang bisa kulihat."
Ah. Dia memang membawa senjata.
Persetan dengan gelar dokterku di bidang kedokteran hewan. Lupakan bahwa aku sanggup mengalahkan dia dalam soal lari, memanjat gunung, dan bahwa aku pernah beberapa kali tidur di pegunungan ini tanpa senjata dan teman. Kuambil kantong tidurku dan kuhamparkan di sampingnya. Aku melakukan apa yang diminta Kit.
"Maafkan aku," bisiknya sebelum aku pulas. "Aku betul-betul minta maaf." Sopan sekali kau, Kit.
BAB 51 Kit tak bisa mempercayai penglihatannya. Anak-anak itu terbang. Mereka berdua kelihatan begitu indah dan bebas, bagai sepasang malaikat.
Mereka berputar anggun bersama-sama dan Kit mendadak dilanda perasaan mengerikan bahwa mereka bisa saja jatuh terempas. Mereka puluhan meter di udara, ketinggian yang dapat dicapai pesawat kecil.
Dia memandang berkeliling untuk mencari Frannie, tapi wanita itu tidak ada. Dia tak tahu ke mana Frannie pergi.
Kit mulai berteriak-teriak, dan cuma bisa berharap anak-anak itu dapat mendengar suaranya.
"Mike Kecil, Tom! Turun kemari. Tolong turun sebelum kalian jatuh. Ini Daddy. Daddy ingin kalian turun."
Mereka tak dapat mendengarnya dari tempat setinggi, sejauh itu.
Lalu mendadak kedua putranya jatuh, berputar-putar, terempas bagai batu.
Tak satu pun di antara mereka punya sayap. Mereka terjun bebas.
Dia ingin menyelamatkan kedua anaknya, namun hanya bisa menangkap salah seorang di
antara mereka. Dia harus memilih, tapi itu mustahil. Dia harus memilih satu anak.
Kit hanya bisa memandangi saat Mike Kecil dan Tom menghantam tanah. Dia tak bisa menyelamatkan keduanya. Entah dari mana, tiba-tiba muncul ambulans, mobil polisi Rhode Island, puing-puing pesawat kecil.
Dia berada di lokasi pesawat jatuh itu. Di dalam pesawat yang diselubungi asap, memandang kursi-kursi yang hancur dan penyok dan para penumpangnya.
Kit menemukan kedua putranya yang masih kecil dan istrinya di dalam reruntuhan mengerikan itu. Dengan lembut dia menyentuh mereka dan tak bisa percaya mereka sudah tiada.
Lalu Kit terbangun. Hari masih pagi, semburat warna pink salmon mewarnai langit biru. Dia berada di Colorado. Di pegunungan.
Frannie O'Neill membungkuk di atasnya. "Shhh," bisik wanita itu. "Dia di atas sana. Aku bisa melihatnya."
BAB 52 Max tersentak bangun. Dia tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, tapi jelaslah dia rupanya tertidur. Sekarang sudah pagi lagi. Pipinya basah dan tubuhnya gemetar karena dingin yang menyelimuti pegunungan antara matahari terbenam dan terbit.
Max merasa kecil, sendirian, dan sangat telantar di lereng gunung. Dia merindukan Matthew, bahkan agak merindukan Sekolah yang mengerikan dan menyebalkan itu.
Tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Aku tidak boleh bersikap seperti pecundang. Pecundang kalah! katanya dalam hati. Aku bukan pecundang.
Max mengangkat tangan untuk mengusap pipi dan, ketika melakukannya, merasa ada sesuatu yang seperti sarang labah-labah menyelubunginya. Uh! Dia menepiskan benda yang menjengkelkan dan lengket itu dan benda itu bergerak, tetapi tidak hilang dari wajahnya.
Apa ini" Apa yang terjadi" Max membuka mata lebar-lebar. Oh Tuhan!
Dia melihat sosok-sosok membungkuk di atasnya. Manusia! Max tidak tahu berapa jumlah mereka.
Mereka berdiri di antara" dirinya dan matahari, dan dia butuh waktu beberapa lama untuk memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya. Ketika akhirnya paham, Max menarik napas kuat-kuat dan menjerit.
Dia menjerit sekuat tenaga! Mereka jadi takut. Sosok-sosok itu menjauh, lalu kelihatan jelas. Ternyata si dokter wanita dan si pria. Mereka mendatanginya ketika dia sedang tidur. Bajingan! Bangsat!
Max menjerit lagi, lebih keras daripada yang pernah dilakukannya seumur hidupnya. Isi kepalanya serasa beku karena takut. Dia tak bisa berpikir jernih, cuma bisa menendang-nendang liar jala yang menutupinya. Namun tendangan cuma membuat helai-helai jala makin rapa
t dan menjerat jari-jari, sayap, dan kakinya.
Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan, apa ini" Apa yang bisa dilakukannya" Dia harus meloloskan diri!
Mereka menggunakan semacam jala binatang yang kuat. Mereka telah menangkapnya! Bajingan-bajingan itu!
Max menggeser duduknya sampai dia menabrak keras batang pohon aspen. Daun-daunnya berdesir ketika dia berusaha berdiri. Max menangis dan menjerit, mengepak-ngepakkan sayap dengan marah, menyakiti diri sendiri, berusaha menyakiti mereka, entah bagaimana caranya. Tapi dia tidak berhasil. Mereka terlalu licik- terlalu manusia.
Si dokter wanita bicara padanya, namun Max tidak bisa, tidak mau mendengar apa yang dikatakannya.
Dia tidak mau ditidurkan! Dia tidak mau menyerah sekarang! Dia bukan pecundang!
Pria itu mengulurkan tangan ke arahnya dan Max menepiskannya. Dia memukulnya kuat-kuat, ingat bagaimana Paman Thomas mencengkeramnya supaya bisa menguasainya, mengalahkannya.
Tangan pria itu terulur lagi. Bergerak ke satu arah-lalu menyambar. Dasar pria licik, penipu!
Laki-laki tersebut berusaha mencengkeramnya dan menang. Max menggigit tangannya, betul-betul menyakitinya, dan mendengarnya memaki.
Max menendang keras dengan kakinya yang kuat. Meleset. "Tenang," katanya. "Tenang dong. Ya ampun, dia kuat, Frannie."
Tangannya mendekat lagi, terulur ke dekat wajah Max, meraih sayapnya.
Paman Thomas memenuhi pikirannya. Dia dapat melihat wajahnya yang memuakkan. Uh! Uh!
Max menutupi kepalanya, menekuk tubuh, menjadikan dirinya bola kecil, namun dia tak bisa meloloskan diri dari jala menakutkan itu. Jala itu berlipat-lipat menyelimutinya dan serasa tak berujung.
Oh, aku melakukan kesalahan sangat besar. Mestinya aku tidak mengamati mereka. Mestinya aku tidak beristirahat.
Dokter itu berbicara padanya. Berusaha berbicara padanya. Omong kosong khas dokter. Selalu sangat lembut, bisik-bisik, kebohongan yang diucapkan begitu halus, begitu mudah. Persis seperti yang dilakukan Paman Thomas dan bangsat-bangsat lain itu.
"Semua akan beres. Kumohon percayalah pada
kami. Tolonglah, Sayang. Kami takkan menyakiti-mu."
Pembohong! Kau menyakitiku. KAU MENYAKITIKU SEKARANG!
Max menjerit lagi, kali ini bahkan lebih keras. Namun tanpa kata-hanya jeritan!
Suaranya langsung terdengar lagi di udara pegunungan, gemanya mengejeknya.
Ini sangat tidak adil. Sangat buruk!
Dokter itu mencoba mendekat. Max melihat tangannya menggenggam sesuatu. Bukan senjata, tapi sama saja jeleknya.
Tidak, jauh lebih jelek. Dia tahu apa itu. Benda itu jarum! Max tidak mau ditidurkan.
TIDAK! TIDAK! TIDAK! PERGI DARIKU! AKU AKAN MENGGIGITMU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!
Dia memelototi dokter wanita itu dengan segenap kebencian dan kemarahan yang bisa dikerahkannya. Lalu dia mengalihkan pandangan ke si pria, yang datang dari belakangnya, mengendap-endap. Max tidak tahu lagi siapa yang harus diawasinya, yang mana di antara mereka yang paling berbahaya.
Dipandangnya kembali si dokter! Lantas si pria lagi. Makin lama makin sulit mengawasi gerakan mereka.
Dokter itu mulai berteriak, "Sergap dia, Kit. Lakukan sekarang!"
Max ingin berteriak minta tolong, tapi tahu takkan ada yang datang menolongnya. Tidak ada siapa-siapa di mana pun yang akan membantunya. Kecuali mungkin Matthew. Oh Tuhan, di mana adik kecilnya yang pemberani itu"
Max menghirup udara lagi dan membuka mulut untuk kembali menjerit. Jeritannya tak pernah berhasil keluar dari tenggorokannya.
BAB 53 Kami mengurung gadis itu dalam "jala kabut", memakai beberapa lapis jala. Jala itu digunakan untuk menjerat burung-burung liar besar untuk diberi tanda pengenal.
Jala tersebut cukup ringan sehingga tidak akan terlalu merusak sayap atau bulu-bulu halus. Jala itu tidak memerangkap, cuma melilit, mencegahnya melakukan apa pun selain menendang. Dan dia memang menendang-nendang hebat.
Aku merasa seolah akan mengalami serangan jantung ketiga-atau mungkin keempat-dalam beberapa hari terakhir.
Aku cukup dekat dengan gadis itu untuk menyentuhnya. Dengan cepat, aku melakukannya- aku menyentuhnya. Oke, dia sungguhan. Dia memang ada. Dia terdiri atas darah dan daging dan jari-jariku baru saja menyentuh sa
yap ajaibnya. Di bawah sayapnya dan entah bagaimana caranya bisa menyatu, ada lengannya. Lengannya berfungsi ganda dan tampak dan berfungsi baik-baik saja.
Gadis itu tidak kelihatan lelah, tapi aku jelas ya. Dia masih memberontak dengan marah. Bulu-bulunya yang putih bersih dan biru keperakan melayang-layang di sekitar kami, dan aku takut sekali dia akan menyakiti dirinya sendiri. Dia dalam kondisi mengamuk.
"Semua akan baik-baik saja," bujukku. "Kami takkan menyakitimu. Aku dokter. Tenanglah."
Dia tidak memahami aku atau tak percaya padaku, karena dia membuka mulut lebar sekali dan menjerit lagi. Jeritannya adalah suara paling mengerikan yang pernah kudengar, seperti lengkingan binatang namun dengan ada nada samar suara manusia yang membuatku teringat pada teriakan induk anjing laut, atau mungkin induk ikan paus ketika keluarga mereka dalam bahaya.
Aku ingin tahu apakah anak itu memiliki laring manusia, siring burung, atau keduanya. Siring tidak punya pita suara, cuma kantong di dasar batang tenggorok. Kantong itu berkontraksi untuk memaksa udara keluar. Dan mungkin aku barusan mendengar kekuatan maksimalnya.
Telingaku sakit mendengar teriakannya. Namun mataku seakan tak pernah puas memandangnya.
Seperti yang kuduga, hampir segala hal pada diri anak itu, well, manusia-namun proporsinya tidak konvensional. Matanya bundar, dan sangat intens, dan tampak cerdas, atau setidaknya sangat fokus. Rambutnya pirang pucat, cukup panjang, dan tergerai jauh melewati pundaknya. Beberapa bulunya juga pirang, dan itu masuk akal, sebab bulu dan rambut terbuat dari materi yang sama, keratin.
Sementara aku memelototinya, gadis itu memukuli Kit.
Kupandangi dengan cermat lengannya yang
misterius dan menakjubkan. Keduanya berotot dan bersendi seperti lengan manusia, tapi lengan bawahnya lebih pendek. Jari-jarinya panjang dan ditumbuhi bulu-bulu sampai sendi terakhir.
Karena jari-jari itu dibuat untuk terbang, Frannie!
Ya Tuhan, ya Tuhan. Dia merupakan mukjizat. Dia tak mungkin-tapi dia sungguhan ada. Bagaimana ini bisa terjadi" Bagaimana dia bisa ada di sini" Bagaimana aku bisa ada di sini"
Sayap-sayapnya yang indah ditutupi bulu putih bersih, dan diterangi cahaya matahari pagi, aku melihat kilauan warna biru dan perak di antara bulu-bulu tersebut. Saat itulah suatu perasaan aneh melandaku-kurasa aku nyaris iri padanya. Dia begitu indah, dan dia memiliki karunia yang begitu menakjubkan.
Gadis ini dapat melakukan apa yang diinginkan hampir semua orang-gadis kecil ini bisa terbang. Demi Tuhan, bagaimana itu bisa terjadi" Apakah dia suatu keajaiban" Malaikat" Tidak. Malaikat bisa menghilang, meloloskan diri dari jala.
Kusentakkan diriku dari lamunanku, pikiran dalamku. Ini waktu dan tempat yang salah untuk pikiran seperti itu.
Gadis itu panik. Dia bisa merusak sayapnya, dan dengan mudah bisa shock. Aku pernah melihat binatang yang mati karena ketakutan. Jantung mereka seolah meledak.
Ketika Kit berusaha menyentuhnya, gadis itu tampak merasa terancam karena tangan Kit yang menjulur ke arahnya. Ketika aku mencoba, dia panik, namun tidak terlalu parah. Itu menunjukkan sesuatu padaku-tapi apa" Apakah dia telah diperlakukan dengan semena-mena oleh lelaki" Di mana" Siapa"
"Pegang jalanya terus," kataku pada Kit. "Pegang dia terus."
Lalu aku berlari secepat mungkin kembali ke kemah. Aku harus menyuntik gadis itu dengan obat penenang, tapi hanya Tuhanlah yang tahu bagaimana caranya supaya aku bisa menyuntiknya. Hanya Tuhan yang tahu, karena aku jelas tidak.
Waktu aku kembali beberapa saat kemudian, situasinya persis seperti ketika kutinggalkan; kengerian, histeria, wajah anak itu makin merah. Pembuluh darahnya bertonjolan. Kukatakan pada Kit dia harus memberangus si anak.
Kit mengatakan sesuatu soal "end run" dan aku cukup sering menonton pertandingan foot-ball di Minggu siang sehingga memahami maksudnya. Aku mulai bicara dengan gadis itu lagi. Sebetulnya, aku bicara dengan nada mendayu-dayu, nada yang menenangkan, seperti yang kaulakukan ketika kau berusaha mendekati kuda yang sangat ketakutan untuk menyambar tali kekangnya. Aku jadi si pembujuk burun
g, oke" Kit bergerak ke belakang anak itu. Bagus, bagus. Nah, kuharap gadis itu terus menatapku sekarang.
Aku menunggu sampai detik terakhir untuk mengeluarkan alat suntik.
Gadis itu melihatnya dan menjerit lagi, memukul-mukul, dan Kit menyergapnya dengan cepat dan nekat. Dengan gerakan yang bisa membuat salah satu juara Green Bay Packer bangga,
dia mencengkeram, lalu mengangkat anak itu dari tanah. Kemudian Kit berguling sambil memeluk anak itu, melindungi tubuhnya saat jatuh.
Kami berhasil menangkapnya! Kami berhasil menangkapnya!
Sekarang apa" BAB 54 Rasanya seolah aku menonton mimpi yang menakutkan sekaligus menakjubkan di mana aku ikut ambil bagian di dalamnya, namun tidak bisa mempercayai apa yang kulihat. Gadis itu melawan Kit dengan kekuatan laki-laki dewasa. Dia luar biasa kuat, berani, tapi juga keras kepala dan bertekad meloloskan diri. Mungkin itu juga petunjuk kuat tentang asal-usulnya, atau paling tidak tentang bagaimana dia bisa bebas.
Untunglah Kit lebih kuat daripada kebanyakan pria, dan dia termasuk tipe langka yang tampaknya mengetahui kekuatannya sendiri. Kit menaklukkan gadis itu tanpa menyakitinya. Anak itu kuat, tapi aku ingin tahu apakah dia juga ringan-supaya bisa terbang. Aku ingin tahu apakah tulang-tulangnya berongga.
Aku menyerbu tepat pada saat itu dan menusuknya dengan jarum suntik. Obat penenang menyebabkan dia terkulai. Jeritannya yang menusuk telinga masih bergema di lereng-lereng gunung, melayang di udara, namun suaranya makin lemah.
Lalu dia pingsan. Aku tidak tahu dia telah menggigit Kit sampai
kulihat Kit berjongkok sambil mengepit tangan kanannya di ketiak kiri. Itu bukan pertanda baik; bisa sangat buruk, malah. Kusambar tangannya dan kuamati bekas gigitannya. Anak itu telah meninggalkan pola sempurna gigi atas dan bawah-tapi syukurlah tidak merobek kulit Kit. Apakah gadis itu sengaja tidak mau melukainya" Jika ya, mengapa"
"Lukamu kelihatannya parah," kataku padanya.
"Aku tidak apa-apa, Frannie. Uruslah dia."
Aku menarik napas dalam dan mulai bekerja. Kami melepas sebagian besar jala dari tubuh gadis kecil itu, dan kuperiksa denyut nadinya. Normal, 64 denyut per menit. Dia tidur pulas, tapi untuk berapa lama"
Kusibakkan helai-helai rambut panjang yang basah dari wajahnya. Di bawah matanya ada lingkaran biru tua dan bibirnya kering dan pecah-pecah. Lagi-lagi aku punya perasaan aneh bahwa anak ini telah diperlakukan dengan semena-mena secara fisik. Perutku jadi mual.
"Berapa lama dia akan pingsan""
"Aku tidak tahu pasti, tapi jika kecepatan metabolismenya sama dengan, yah, anjing besar, dia takkan sadar selama beberapa jam. Sialan, siapa yang tahu""
Kit mengangguk dan kami berdua kembali memandangi gadis itu dalam kesunyian. Kami tidak bisa menghentikannya. Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Kit, apa yang diketahuinya. Dia tenggelam dalam pikirannya, atau mungkin ke-takjubannya. Kupegang bahunya.
"Ayo kita bawa dia turun dari gunung," kataku.
Pikiranku dipenuhi fantasi religius luar biasa:
barangkali malaikat kecil ini memang utusan Tuhan. Tapi jika benar, apa pesannya" Dan untuk siapa"
BAB 55 Harding thomas marah besar, betul-betul murka. Ditendangnya kuat-kuat gundukan abu yang menumpuk di api unggun itu. Segumpal awan abu terbang dari tanah.
Apinya sudah dingin, sehingga tidak bisa dipastikan kapan padamnya, atau siapa yang tadinya ada di sini.
Namun dia telah menemukan sehelai bulu putih panjang di dekat sini. Max pernah berada di tempat ini, dan belum lama.
Dia menoleh pada Matthew, umpannya, tapi sejauh ini rencana itu tampaknya tidak berjalan lancar. "Dia kehilangan bulu-bulunya yang berharga."
"Masa bodoh," ejek Matthew, tapi ada ekspresi takut di matanya. Dia tahu. "Dia lebih pintar daripada kau, seratus kali lebih pintar."
"Mungkin, tapi kami akan segera menemukannya. Dia tidak jauh dari sini."
Thomas memasang bulu putih itu di pita topinya dan mengeluarkan telepon seluler dari kantong kulit di pinggulnya. Dia tidak ingin menelepon, namun harus melakukannya. Ini sudah tugasnya. Dia menekan beberapa tombol dan hubungan tersambung.
Penerimaannya sebersih udara pegunung
an. Thomas menimbang dan memikirkan setiap patah kata ketika berbicara dengan orang di ujung sana.
"Dia masih di sini, memang tidak kelihatan, tapi kami sudah sangat dekat. Sayangnya, dia mungkin memperoleh bantuan. Seseorang mungkin menemukannya di hutan, atau mungkin dia yang menemukan mereka. Tidak, aku tidak tahu pasti soal itu, dan aku tidak tahu siapa dia. Mungkin orang yang berkemah, atau wisatawan. Kami akan segera mengetahuinya. Bangsat-bangsat sial, siapa pun mereka."
BAB 56 Efek ketamin telah habis dan gadis itu benar-benar terbang dari dinding ke dinding. Pondokku terlalu jauh dari mana-mana sehingga takkan ada yang mendengar bunyi gedoran kuat dan pukulan kerasnya, tapi aku bisa mendengarnya. Kit bisa mendengarnya. Kami tidak mengkhawatirkan keributan itu. Kami takut dia akan menyakiti dirinya sendiri.
Aku duduk di samping pintu yang menuju kamar cadangan. Aku berbicara pada anak itu dari balik pintu, dengan nada menghibur, kuharap.
Tentu saja, aku sama sekali tak tahu mesti bilang apa, mulai dari mana, atau bahkan bagaimana cara berkomunikasi dengannya. Tapi kupikir aku tahu ini barangkali percakapan paling penting sepanjang hidupku.
"Namaku Frannie," aku mulai bicara, berusaha terdengar serileks mungkin dalam situasi menegangkan seperti ini. "Aku ingin menjadi temanmu. Aku ingin membantumu. Maaf soal kejadian di pegunungan."
Gedorannya berhenti sedetik, lantas mulai lagi, bahkan lebih keras, lebih liar, dan lebih marah.
"Aku benar-benar minta maaf tentang apa yang telah terjadi di sana, Manis. Kau aman di sini, bahkan meskipun tidak kelihatan begitu. Kami terpaksa menangkapmu supaya bisa menolongmu. Aku tidak suka mengurungmu secara paksa begini."
Tendangan dan gedoran, dan jeritan frustrasi yang melengking itu berlanjut. Aku tidak tahu apakah dia memahami kata-kata yang telah kuucapkan. Yang jelas, tampaknya tidak.
Tapi aku terus berbicara.
Dengan sangat perlahan, sangat tenang, aku memberitahunya bahwa aku dokter hewan, dokter yang merawat binatang, yang peduli pada binatang. Itu memang benar, meskipun aku melakukannya karena memang mauku sendiri begitu, dan itu rasanya topik awal yang bagus untuk berbicara dengannya.
"Kuharap aku tahu sesuatu tentang kau," kataku. "Sejak pertama kali melihatmu di jalanan malam itu, aku mencemaskanmu. Aku yakin kau lapar. Apakah dugaanku benar" Aku ingin tahu apakah ada orang-orang yang menyayangimu dan tengah mencarimu saat ini..."
Anak itu tenang untuk saat ini. Aku mengembuskan napas lega. Apakah dia akhirnya mengerti"
Lalu kegaduhan dimulai lagi. Dia mulai menendang-nendang dinding, dan aku takut tempat ini akan runtuh. Kalau aku tadi menganggap dia liar dan gila, maka sekarang dia benar-benar kalap. Gadis itu berteriak begitu melengking sehingga bisa memecahkan kaca. Betapa hebat siring yang dimilikinya.
Kupelankan suaraku. Aku bahkan tak tahu apakah dia bisa mendengarku, namun aku mulai bicara lagi. "Kau lapar"" aku bertanya. "Temanku koki yang sangat hebat dan dia sedang membuat makan siang. Spaghetti dengan saus tomat. Kau suka spaghetti""
Aku berhenti bicara-menahan napas.
Lalu aku mendengar suara isakan samar. Bukan jeritan histeris lagi. Suara itu lebih mirip tangis lelah yang memelas, dan hatiku serasa diremas mendengarnya.
Apakah dia mengerti" Kadang-kadang rasanya begitu, tapi aku tidak bisa memastikannya. Aku sungguh-sungguh ingin membantunya. Aneh- aku ingin dia juga menyukaiku.
Aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku menarik napas dalam, kemudian kuembuskan pelan-pelan. "Aku akan membuka pintu. Aku janji takkan menyakitimu. Aku janji, aku janji... Jangan sakiti aku, oke""
Kubuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam. Gadis itu duduk membungkuk di tempat tidur, bersandar di dinding. Dia tampak waspada, sangat tegang, dan mungkin siap menerjangku. Oh Tuhan! Terlintas di benakku bahwa dia lebih besar daripada kucing gunung.
Jangan takut padanya, paling tidak jangan perlihatkan.
Dengan waswas aku menyelinap masuk kamar. Kakiku gemetar dan sulit digerakkan. Mulutku terasa kering.
Lalu aku melakukan tindakan yang bodoh- kututup, pintu.
Frannie si Bodoh. Aku jongkok supaya tidak lebih tinggi darinya. Binatang tidak merasa terancam dengan kehadiranku jika aku begitu. Tak apa-apa jika karenanya aku jadi tanpa pertahanan dan gampang diserang. Menurutku dia tidak akan menyerangku.
Aku melihat air mata mengalir di kedua pipinya. Dia kelihatan lelah sekali, sangat sedih, kehabisan tenaga. Anak itu terisak, cegukan, dan menangis pada saat yang sama. Dia tampak begitu manusiawi, dan begitu menderita. Hatiku hancur dan aku tidak tahu bagaimana bisa menolongnya.
Cuma gadis kecil. Sendirian, bersedih hati. Apa yang telah terjadi padanya"
"Aw, Sayang," kataku lembut. "Kalau saja aku tahu apa yang bisa kulakukan untukmu, Manis. Aku betul-betul tidak akan menyakitimu. Kit juga."
Gadis itu mengusap wajahnya dengan lengannya. Gerakan itu familier dan menenangkan, sangat manusiawi dan khas anak-anak. Dia masih menatapku. Mata hijaunya yang cemerlang sangat tajam, berkaca-kaca.
Lalu dia membuka bibirnya yang mungil. Tampaknya dia berusaha mengkomunikasikan sesuatu. Apa"
"Aku minta spaghetti, ya""
BAB 57 Aku minta spaghetti ya"
Gadis kecil itu bisa bicara.
Kit harus melihat ini. Sekarang juga. Aku ingin dia melihat dan Mendengar gadis ini. Tuhan Mahabesar! Aku ingin seluruh dunia mendengar ini.
Tepat pada saat itu Kit berseru, "Frannie, supnya sudah siap."
Aku tidak tahu bagaimana tampangku saat itu. Tapi aku berusaha keras menenangkan diri waktu berkata pada gadis itu, "Kita ke meja makan yuk" Tadi itu Kit. Kurasa spaghetti-nya sudah matang."
Anak itu berbisik, "Aku ingin cuci tangan."
Cuci tangan" Kami betul-betul bercakap-cakap. Benar kan" Oh Tuhan.
"Tunggu sebentar," seruku pada Kit. Kit sama sekali tidak tahu! Suaraku tak jelas karena tercekat, tapi kurasa Kit mendengarku.
Kubukakan pintu untuk si gadis kecil dan dia berjalan keluar melewatiku. Aku telah memintanya mempercayaiku; aku harus menunjukkan aku mempercayainya juga. Anak itu berjalan beberapa langkah, lalu berbalik.
Dia ragu-ragu. Matanya menyorotkan ekspresi bertanya.
"Oh yeah," kataku dan tersenyum. "Belok ka-nan.
Dia balas tersenyum. Gadis itu tersenyum padaku dan hatiku serasa meleleh. Dia benar-benar cantik, juga menyenangkan. Demi Tuhan, dia masih kecil. Umurnya tidak mungkin lebih dari sebelas atau dua belas tahun.
Kuberi dia handuk dan lap badan. "Terima kasih," katanya, dan menutup pintu kamar mandi. Kudengar dia menggunakan berbagai fasilitas kamar mandi dan rasanya begitu tak nyata. Air keran mengalir, lalu dimatikan. Kit takkan mempercayai ini. Sialan, aku sendiri pun nyaris tak percaya.
Beberapa saat kemudian, kenop pintu kamar mandi berputar perlahan dan gadis itu membuka pintu. Dia muncul pelan-pelan, mula-mula cuma mengintip hati-hati ke balik pintu. Ya Tuhan, dia jadi lain! Matanya cerdas, menatapku dengan pandangan menyelidik. Dia telah mencuci mukanya sampai berwarna pink dan berseri-seri. Dia gadis kecil yang begitu cantik. Bagaimana keajaiban ini terjadi" Bagaimana bisa"
"Ayo. Kita makan," ajakku. "Spaghetti" Atau sup"" dia bertanya, lalu nyengir.
Aku tersenyum padanya. Aku mengerti. Dia bercanda. "Lucu sekali," kataku. "Kau lucu." 'Yeah," dia terus berbicara. "Aku selucu badut. Begitu kata mereka."
Mereka" Siapa 'mereka'" Aku menunjuk. "Lewat situ. Lurus ke ujung koridor."
BAB 58 Kami berdua masuk ruang makan mungil tepat ketika Kit tengah membawa satu teko penuh teh ke meja. Dia tersentak, terperangah, namun berhasil menangkap teko ketika benda itu meluncur menuju lantai. Tangan yang sigap.


Ketika Angin Bertiup Karya James Patterson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kit berhasil menenangkan diri dengan cepat. Si jagoan. Dengan hati-hati dia meletakkan teko teh. Kit mengusapkan telapak tangannya yang basah ke bagian belakang jins.
"Hai," sapanya. "Kulihat rupanya jurang kecil di antara kita sudah berhasil dijembatani."
"Mungkin," sahut si gadis kecil. "Lihat saja nanti."
Kulihat Kit betul-betul ternganga. Lebar sekali. "Oh. Well, senang mendengarnya."
Menakjubkan rasanya bahwa makhluk yang baru beberapa jam yang lalu masih liar, makhluk yang berusaha mematahkan tulang-tulang Kit, yang menggigitnya, sekarang sedang berbicara dengannya. Gadis itu cerdas dan lucu. Di ma
na dia belajar bicara, dan bersikap" Dari mana asalnya"
"Ini temanku Kit," aku berkata pada anak itu. "Halo," sapanya pelan. "Kau kokinya, kan""
Kit ternganga lagi. Dia mengangguk. "Yeah, itulah aku. Koki kepala dan tukang cuci di sini."
Aku menarikkan kursi untuk anak itu dan dia duduk. "Terima kasih," katanya. Dia juga sopan.
Aku pergi ke dapur, seolah itu tindakan paling wajar di dunia. Saat sendirian di sana, aku berusaha menghentikan diriku supaya tidak terengah-engah, mencoba menenangkan diri. Kukeluarkan mangkuk salad, peralatan makan, serbet. Aku membawakan piring makan malam untuk gadis itu. Kuletakkan semuanya di meja.
Lenganku, kakiku, tanganku, segalanya terasa lepas dan kacau. Telapak tanganku lembap. Tubuhku terasa seperti melayang di udara. Pandanganku menyempit. Selain semua itu, tak ada masalah.
Aku tak mampu mengalihkan pandangan darinya ketika aku berusaha mengaduk sa/ad. "Kit," kataku.
Kit memandangku. Tidak mengerti. "Ya, Frannie""
"Spaghetti-nya." kataku. "Ada yang kelaparan."
"Oh. Betul." Kit menyenggol kursi, membetulkan letaknya, dan pergi ke dapur lagi. Dia segera kembali sambil membawa semangkuk pasta yang mengepul-ngepul.
Sementara itu si gadis kecil memandangi semua gerakan kami. Aku masih berusaha tampak santai dan bertanya-tanya dalam hati apakah mereka dapat mendengar jantungku yang berdebar-debar, memompa bagai sumur minyak tua. Apakah anak itu sungguh-sungguh mempercayai kami" Apakah dia akan melesat dari meja makan" Berusaha melarikan diri dari pondok ini"
Kit berbicara padanya, dan tetap terdengar luar biasa tenang. "Boleh kuambil piringmu"" tanyanya.
Gadis itu mengangguk dan Kit mengambil piring dari hadapannya. Kit mengisinya penuh-penuh dengan spaghetti dan menuangkan saus pomodoro. Lantas dia duduk di sampingku. Dia meladeni aku dan akhirnya dirinya sendiri.
Si anak menatapnya dengan matanya yang bundar sempurna dan berwarna hijau cemerlang. Dia menunggu sesuatu. Apa" Kami berdua menunggu dia bicara. Bagaimana tidak" Apa yang akan dikatakannya pada kami selanjutnya" Apa yang akan diungkapkannya"
"Silakan," kata Kit. Dilontarkannya senyum mautnya. "Ayo makan."
"Makan supnya," kata anak itu dengan suara tegas.
Kit tidak mengerti, tapi gadis itu dan aku tertawa lagi. Dia bukan cuma pintar, tapi juga memiliki kemampuan sosial yang bagus. Dari mana dia memperolehnya" Di mana dia tumbuh" Dia jelas pernah bergaul dengan orang dewasa.
Gadis itu melipat tangannya rapat-rapat di meja dan memejamkan mata. Suaranya nyaris tak lebih keras dari bisikan.
"Terima kasih, Tuhan, untuk makanan yang lezat ini, spaghetti yang sangat lezat ini. Amin," katanya.
Tanpa terasa air mataku menetes.
BAB 59 Max bergerak ke belakang dan ke depan di kursi goyang antik di teras, seperti anak perempuan biasa lainnya di pagi musim panas yang indah.
Dia memakai earphones Koss, mendengarkan Meredith Brooks menyanyikan lagu rock berjudul "Bitch". Max merasa tenang-lebih tenang, sebetulnya. Dia ingin mempercayai mereka berdua, tapi dia masih ketakutan, paranoid, tak yakin.
Takut pada bayanganmu sendiri, ya, Maxi-mum"
Pria jangkung berambut pirang yang bernama Kit itu ada di dalam rumah, sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Max khawatir soal orang yang diajaknya bicara itu. Kit pandai membuat spaghetti yang enak sekali-yang paling enak yang pernah dirasakannya-namun itu tak berarti Max boleh menceritakan apa yang diketahuinya pada laki-laki itu, menceritakan rahasia-rahasianya yang paling kelam dan dalam, fakta sejujur-jujurnya mengenai Sekolah.
Frannie pergi berjalan-jalan. Katanya dia akan kembali sekitar sepuluh menit lagi, mungkin lebih cepat. Dia berjanji akan membawa pulang kejutan. Kita lihat saja. Dan kejutan macam apa"
Max tahu tidak semua kejutan menyenangkan. Pernyataan paling tepat tahun ini! Sebagian besar kejutan dalam hidupnya sangat menyebalkan.
Dia ingin Frannie dan Kit menolongnya, tapi dia harus menyelidiki apakah mereka betul-betul orang baik, apakah mereka pantas dipercayainya. Yang jelas Max sangat menyukai fakta bahwa mereka tampaknya mempercayainya. Itu menjadikan segalanya lebih muda
h. Frannie mengatakan dia boleh keluar-masuk rumah sesuka hatinya. Frannie kelihatannya baik dan enak dijadikan teman. Dan Kit juga, sebetulnya. Max teringat, pintu luar di Sekolah selalu dikunci. Dia merasa gelombang dingin melanda tubuhnya. Kenangan-kenangan buruk membanjiri otaknya.
Dia dan Matthew menyebutnya Sekolah Terbang. Dua alasan yang tepat. Nomor satu, sebab mereka sama-sama ingin sekali terbang keluar dari sana. Nomor dua, sebab mereka dilarang terbang di Sekolah. Jadi-Sekolah Terbang. Sebuah protes!
Max dilarang keras keluar Sekolah. Dengan ancaman akan ditidurkan.
Namun dia ada di sini sekarang. Sadar. Hidup. Mendengarkan "Bitch".
Satu-satunya kejadian para penjaga membiarkan pintu terbuka-satu-satunya kejadian yang diingat Max di mana mereka begitu ceroboh- dia dan Matthew kabur. Terbang dari kandang, begitu kata Matthew.
Max menumpukan dagu di lutut. Dia mengagumi kakinya yang mengenakan celana panjang hitam ketat yang diberikan Frannie padanya. Dia juga menyukai kaus biru besar yang dipinjamkan Kit. Di situ ada tulisan "FBI".
Max merasa curiga. Kaus biru itu menutupi sayapnya sehingga dia tak bisa terbang.
Tapi kaus itu bersih dan wangi. Lagi pula, dia memang tidak ingin terbang. Sekarang ini tidak. Max ingin duduk di kursi goyang tua yang berderit-derit ini, mendengarkan rock and roll, dan makan kue cokelat sampai muak. Ya Tuhan- kue yang jumlahnya tak terbatas. Asyik sekali.
Musik rock berdentam dan Max menyukai iramanya. Agak mirip dengan detak jantungnya. Memang itu kelebihannya, bukan"
Dia berpikir bahwa jika "kejutan" Frannie bagus, mungkin dia akan menceritakan salah satu rahasia tentang Sekolah pada wanita itu.
Tapi hanya satu rahasia lho.
Mungkin mengenai Matthew.
Atau mungkin dia akan bercerita tentang Adam" Atau mulai dengan Eve yang malang" Malam yang sangat mengerikan waktu mereka berdua ditidurkan.
Barangkali Kit dan Frannie bisa membantunya menemukan Matthew.
Tangannya otomatis mengepal. Ini masalah yang amat menakutkan. Satu hal berulang kali ditanamkan di benaknya. Dia akan memperoleh ganjaran berat kalau sampai buka mulut.
Orang-orang bisa mati, dimulai dari dirinya, lalu siapa saja yang diajaknya bicara.
BAB 60 Pip menarikku menerobos hutan seakan dia mesin kereta api mini. Jangkrik-jangkrik mengerik, dekat maupun jauh dari kami. Semua terasa bagai mimpi, namun ini jelas bukan mimpi. "Tunggu, bodoh," seruku, tapi Pip betul-betul mengabaikanku.
Aku memanggul segala macam barang: pakaian untuk Max, tas hitam kecil, kamera 35mm-dan Pip bertekad bulat untuk sampai di pon dok-sekarang.
Tali pengikatnya akhirnya tersentak lepas dari tanganku dan dia pun lenyap, berlari kencang duluan, menyeret tali dan rantai di belakangnya, sambil menyalak-nyalak ribut.
"Pip! Dasar bandel!"
Gadis itu tak pernah sempat mendengar kedatangannya karena memakai earphones. Aku menjatuhkan ransel dan berlari, tapi sudah terlambat. Pip asyik menggonggonginya. Tuhanku. Apakah gadis itu akan tahu Pip cuma anjing kecil yang terlalu bersemangat" Bahwa dia tidak perlu ditakuti"
Lalu aku mendengar suara tawanya dan gong-gongan pelan dan riang anjingku, dan itu adalah
suara paling melegakan di dunia. Jelas tidak ada masalah.
Kit berlari menerjang pintu depan tepat pada saat aku sampai di anak tangga paling bawah pondok. Dia tampak khawatir-sampai menilai dengan tepat situasi yang ada.
"Inikah kejutanku"" tanya anak itu. Sementara itu, Pip sudah asyik memanjatinya.
"Pip, jaga sikap," kataku. "Yep, dialah kejutannya."
Gadis itu berkata, "Kami memelihara beberapa anjing di Sekolah. Bandit dan Gomer."
Kulirik Kit. Untuk saat ini kami hanya akan mencatat informasi itu dalam hati.
"Ini Pip," kataku. "Dia anjing yang baik."
Anak perempuan itu tersenyum. "Halo, Pip," sapanya.
Dia mengambil sebatang kayu dan Pip jadi sinting; mundur, menggoyang-goyang buntutnya yang cuma sepotong kecil, dan menyalak-nyalak seperti gila.
Gadis itu tampak serius sesaat, lalu dia berbicara.
"Aku Max," katanya, memberitahukan namanya pada kami untuk pertama kalinya. Lalu dia melempar kayu tadi. "Kejar, Pip."
BAB 61 Aku perlu memeriksa Max untuk
mengetahui apakah ada luka dan kemungkinan kekurangan gizi. Aku sudah tak sabar untuk memulai. Ketegangan, drama ini sangat mencekam. Sebagian besar dokter rela membunuh untuk mendapat kesempatan ini, dan mungkin memang ada yang telah melakukannya.
Aku berdiri di luar pintu yang tak asing lagi dan yang biasanya tampak biasa-biasa saja, pintu menuju kamar cadangan rumahku, dan menarik salah satu napas paling dalam sepanjang karier bernapasku. Kit dan aku baru saja bicara tentang bagaimana jika Max dibawa ke "pihak yang berwenang", polisi setempat, atau mungkin bahkan ke University of Colorado di Boulder.
"Aku polisinya," begitu bantah Kit. Dia sangat menentang tindakan itu, "Dan untuk saat ini, aku tidak yakin siapa lagi yang bisa kita percayai. Aku sedang membereskannya, Frannie. Tolong beri aku satu atau dua hari lagi untuk mengecek beberapa hal."
Reaksinya tidak terlalu meyakinkan, namun aku sendiri punya pengalaman tidak enak dengan pihak berwenang di Nederland, atau bahkan Boulder. Aku merasa mereka tidak akan bisa menerima ini. Aku juga begitu sejak awal.
Jadi Max berada di balik Pintu Nomor Satu, menungguku melakukan pemeriksaan fisik lengkap. Dia telah mengatakan padaku itu bukan masalah besar baginya-dia sudah biasa diperiksa.
Well, itu masalah besar bagiku.
Kutinggalkan Kit di dek depan, dia sedang sibuk menelepon ke berbagai penjuru negeri. Kit memiliki beberapa buku catatan yang penuh informasi mengenai kelompok ilegal ilmuwan yang mungkin bermarkas di suatu tempat di daerah sini. Dia telah mewawancarai puluhan dokter yang kenal seseorang dalam kelompok itu. Dia memberitahu bahwa penyelidikan tersebut bagai berusaha melintasi negeri melalui gang-gang ruwet. Yang jelas senyum manisnya sama sekali tidak kelihatan hari ini. Kit mengakui dia frustrasi dan gelisah tentang apa yang akan terjadi sekarang. Kami sama-sama tidak tahu urusan apa yang tengah kami hadapi ini. Bagaimana kami bisa tahu"
Dengan lembut aku mengetuk pintu. Kudengar Max berkata, "Masuk."
Kubuka pintu dan berjalan masuk, sambil membawa tas hitam dokter, berusaha tidak menampakkan kegugupanku.
Max meletakkan majalah People, yang katanya dibacanya tiap minggu, dan karena kami sebelumnya sudah membicarakan pemeriksaan fisik ini, dia mulai melepas pakaian tanpa kuminta. Aku terus bertanya-tanya siapa yang memeriksanya sebelum ini.
Apa yang kulihat sekarang membuat napasku tercekat. Aku merasa bersemangat, tapi juga gugup sekali, dan takut. Mendadak aku merasa seolah tiba-tiba aku direkrut masuk National Bioethics Committee. Ini jelas merupakan sejarah kedokteran. Ini keajaiban.
Gadis kecil yang berdiri di hadapanku ini tak punya puting susu, tak punya payudara. Ketebalan dadanya luar biasa. Baju luarnya ketika aku pertama kali melihatnya dan kaus Kit yang kedodoran telah menyembunyikan rongga dada yang dua kali lebih besar daripada milikku.
Itu bisa dipahami, pikirku, sambil bersiap-siap memeriksanya. Max harus menyediakan tempat di dadanya itu bagi banyak sekali otot supaya bisa terbang. Juga, otot-otot terbangnya harus bertumpu pada sesuatu yang sangat kokoh. Barangkali tulang dada supertebal, atau tulang selangka berbentuk Y. Bagaimana ini bisa terjadi" Siapa yang telah menciptakannya-dan mengapa" Kepalaku jadi pusing dan lututku lemas.
Aku bergerak mendekat. "Stetoskop," kataku, dan Max mengangguk untuk menunjukkan dia tak keberatan.
Bahunya lebar, dan otot-otot pektoralnya bertumpu pada tulang dada sangat besar yang disebut lengkung pektoral. Benar-benar luar biasa. Ketika aku menekankan stetoskop ke punggungnya, atau "lunas sternal", Max menarik napas dalam dan kemudian mengembuskannya.
Dia tahu persis apa yang harus dilakukannya. Dia sudah terbiasa dengan pemeriksaan fisik. Oleh siapa" Karena alasan apa" Untuk apa Sekolah itu didirikan"
"Apakah stetoskopnya terlalu dingin"" aku bertanya pada Max.
"Tidak," jawabnya. "Sehangat roti panggang."
Dia pandai bicara untuk ukuran anak kecil. Bahasanya bisa penuh nuansa dan deskriptif. Aku pernah mendengarnya menggunakan humor dan ironi. Dia cerdas. Mengapa" Bagaimana" Siapa yang mengajarinya bicara"
Bersikap" Berkelakuan sopan dan penuh pertimbangan, seperti adanya dirinya.
"Tolong tarik napas dalam lagi," kataku. Max mengangguk. Dia menuruti permintaanku. Max bersikap sangat kooperatif, dan dia hampir selalu sopan. Max adalah gadis kecil yang amat manis.
Aku tak bisa mempercayai apa yang kudengar di dalam dadanya. Paru-parunya tidak memiliki gerakan menggelembung paru-paru mamalia. Paru-parunya relatif kecil, dan dari apa yang bisa kudengar, berhubungan dengan kantong-kantong udara, anterior dan posterior. Paru-paru yang menakjubkan! Aku bisa menulis buku gara-gara paru-parunya saja. Wah, wah! Sekarang aku sendiri kesulitan bernapas.
Aku tidak bisa memastikannya, namun logis jika tulangnya hampa, bahwa kantong-kantong udara masuk ke dalam tulangnya.
"Terima kasih, Max. Kau hebat."
"Lumayan. Aku mengerti. Aku makhluk ajaib." Dia mengangkat bahu.
"Tidak, kau istimewa."
Kuputar dia supaya menghadapku dan kuletakkan stetoskop di atas jantungnya. Ya Tuhan. Jantungnya berdetak 64 denyut per menit, tapi suaranya menggelegar.
Max mempunyai jantung atlet, atlet hebat. Organ itu besar sekali. Kutebak beratnya satu kilogram lebih. Dia memiliki jantung kuda berukuran besar.
Jantung yang besar dan kuat mampu memompa banyak darah. Rangkaian kantong udara yang bersambungan mengindikasikan aliran udara satu arah. Pompa besar dan banyak udara merupakan alat pertukaran antara karbondioksida dengan oksigen yang sangat efisien. Aku bisa memahami ini. Masuk akal. Mekanisme itu akan memberi Max daya tahan yang dibutuhkannya untuk terbang jarak jauh dan juga akan membuat sel-selnya tetap penuh oksigen di ketinggian, di mana atmosfernya tipis.
Seakan membaca pikiranku, Max mulai mengepak-ngepakkan sayap.
BAB 62 "Kau pernah melakukan ini," kataku dan tersenyum. Aku tak bisa menahan senyumku. Dia gadis kecil yang sangat hebat. Rileks, sopan, dan lucu.
"Jutaan kali," sahutnya.
Max mengangkat sebelah kaki dari tanah dan melayang.
Aku berdiri di bangku dan menekankan stetoskop di dadanya lagi, mendengarkan jantungnya berdetak cepat sekali sehingga tak bisa kuukur. Aku berhenti mendengarkan dan menatapnya. Aku mengagumi Max. Pikiranku sedang dalam proses menuju keadaan kacau balau.
"Aku bisa membuatnya mengepak dua ratus kali semenit tanpa keringatan," katanya. Lalu dia mengedipkan sebelah mata. "Asyik kan""
"Sangat asyik," jawabku. Kupegang pinggulnya. "Oke," aku berbisik. "Cukup untuk sekarang ini. Terima kasih."
"Sama-sama." Max berhenti mengepakkan sayap dan turun ke lantai. Kuukur panjangnya dari kepala sampai kaki. Aku berusaha menenangkan diri.
"Hampir 145 sentimeter," dia memberitahu.
Tepat. Tingginya persis 142,8 sentimeter. Lengan dan kakinya agak tidak proporsional; kakinya lebih panjang. Jari manis dan kelingking kedua tangannya dempet sebagian, namun itu tidak kelihatan kalau kau tidak memperhatikan benar-benar. Ada selaput kecil di antara jari-jari kakinya.
Adaptasi-adaptasi ini memungkinkannya menggunakan tangan dan kaki sebagai semacam mekanisme kemudi pengganti ekor. Di bawah bagian belakang kakinya juga ada bulu. Itu akan membantunya terbang juga. Membuatnya lebih bisa mengarahkan terbangnya.
Leher Max sangat fleksibel. Refleksnya jauh lebih baik dibanding aku-atau siapa pun. Pandangan jauh dan sekelilingnya tajam. Tidak, luar biasa. Dia superior hampir dalam segala hal- manusia unggul, burung unggul.
Seperti yang sudah kuduga, sayap-sayapnya yang berbulu memiliki persendian yang kuat. Jika mataku ditutup, aku pasti mengira sayap-sayap itu milik burung besar yang biasa berkelana jauh: elang, misalnya, atau burung-burung yang mencari makan di laut. Apakah Max se tengah manusia, setengah elang" Bagaimana, bagaimana, bagaimana ini bisa terjadi"
Kudekatkan pita meteranku ke ujung sayap dan, tanpa kuminta, Max membentangkan kedua sayapnya.
"Hampir 280 sentimeter," katanya bangga. Suara lembutnya terdengar berdesir, seperti angin yang bertiup di antara batang-batang jagung kering.
"Terima kasih," kataku. "Bentang sayap 2,7 meter lebih sedikit." Sayap terbesar yang pernah kulihat pada bocah berusia sebelas tahun.
Kuminta Max berb aring di tempat tidur. Ku-tekan-tekan rongga perutnya, merasakan organ-organnya, yang berada di tempat semestinya, namun berukuran kecil.
Sekali lagi, ini logis dan bisa dipahami. Terbang hanya mungkin dilakukan jika sayap-sayapnya mampu mengangkat tubuh. Jadi, otot dada yang kuat, organ kecil, dan, jika aku tidak salah, tulang-tulangnya bukan cuma ringan dan hampa tapi juga amat kuat supaya dapat bekerja berat ketika terbang.
Desain yang sempurna, pikirku.
Dia didesain, bukan"
"Apakah kau akan melakukan pemeriksaan panggul"" Max bertanya.
Dia pernah mengalami pemeriksaan panggul" Aku kaget, tapi tidak kubiarkan perasaanku kelihatan.
"Tidak," jawabku. "Tidak."
"Oh. Well, aku bisa memberitahumu kok," katanya, sambil memakai celana. Dia nyengir. "Aku ovipar."
Ovipar. Pantas Max tidak punya payudara. Jika reproduksi bisa terjadi, dia takkan melahirkan anak-anak yang dalam keadaan hidup. Dan dia tidak akan menyusui mereka.
Anak-anaknya akan menetas dari telur.
BAB 63 Benakku pada saat ini, ketika aku tengah melakukan pemeriksaan fisik, berputar cepat sekali. Aku merasa seolah kepalaku copot dan melesat ke suatu orbit permanen. Dulu aku sangat mendambakan kesempatan untuk menyelidiki siapa atau apa makhluk menakjubkan ini. Sekarang setelah memeriksanya, aku nyaris tak mampu menyerap apa yang kuketahui. Dia anak super, bukan"
Desain yang sempurna. Tapi siapa desainernya" Atau para desainernya"
Aku membutuhkan alat rontgen. Aku perlu peralatan analisis darah. Aku butuh ahli-ahli kedokteran dan zoologi untuk membantuku menginterpretasi data. Sekarang pertanyaanku jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
"Coba ceritakan, Max, dari mana kau berasal"" aku bertanya, seraya mengembalikan stetoskop ke dalam tas dokter.
Dia tersenyum jail. "Kebun kol," jawabnya. "Aku ditinggal di sana oleh burung bangau."
Lalu mata hijaunya menyipit. "Kenapa aku punya sayap dan kau tidak"" tanyanya.
"Entahlah. Tapi itu memang pertanyaan yang penting."
Max tampak tersinggung. Apakah dia mengira aku membohonginya" Merahasiakan sesuatu" Dari ekspresi kesakitan yang mendadak muncul di wajahnya, aku bisa merasa dia sungguh-sungguh ingin aku memberinya jawaban yang benar. "Mereka" telah. merahasiakan informasi mengenai dirinya.
"Aku akan berusaha menyelidiki," kataku. "Beri aku waktu. Semua ini baru dan membingungkan aku. Kumohon, percayalah sedikit padaku, Max."
"Aku tidak percaya siapa pun," bentaknya. Aku melihat kilatan kemarahan, kekesalan, dan kesakitan di matanya.
Apakah selama ini dia tinggal bersama para ilmuwan" Anak-anak muda" Teknisi lab" Aku menyadari bahasanya terkadang sangat "gaul", dan muda. Aku terus mengujinya dengan ungkapan-ungkapan.
"Menurutmu semua orang dewasa pembohong, ya"" aku bertanya.
Max mengangkat bahu. "Terserahlah. Aku mau main dengan Pip, oke" Boleh" Apakah diizinkan" Atau apakah aku harus terus di dalam-setelah sekarang kau memperoleh apa yang kauinginkan dariku."
"Tidak, Max. Pergilah bermain."
Dia melesat keluar dari kamar. Max marah. Padaku, atau omonganku" Apa pun penyebabnya, dia mulai menangis. Max bisa menangis, dan itu mengejutkanku. Aku membayangkan seekor elang melayang di atas daratan yang disia-siakan manusia, dan bisa menangisinya. Atau seekor induk burung robin menangisi anaknya yang luka dan tidak bisa ditolongnya.
Aku menemui Kit di dek tempat aku meninggalkannya tadi. Ketika melihatku, dia menutup telepon selulernya.
"Ada apa" Kelihatannya dia menangis."
"Yah, dia tidak memberitahuku di mana dia tinggal," kataku perlahan. "Tapi apa yang kuketahui setelah memeriksanya betul-betul membuatku terperangah. Kit, dia sejarah kedokteran. Bagaimana pun terjadinya."
"Coba ceritakan," katanya. Matanya jadi intens, menyelidik. Aku sang polisi.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana persisnya. Menurutku dia manusia yang dilahirkan untuk terbang. Max jelas manusia. Dia mempunyai otak, emosi manusia, tapi bagian lain dirinya campuran manusia dan burung. Bagian manusia tampaknya mendominasi. Dan sekolah' yang sering disinggungnya itu, apa pun itu, berhubungan dengan ilmuwan."
Kit tampak muram. "Bagaimana kau bisa mengetahui
nya"" "Dia sudah biasa diperiksa. Max mengetahui banyak istilah kedokteran. Aku tak tahu bagaimana atau kenapa. Dia memberitahu aku bahwa dia ovipar. Dia bertelur."
Keheningan menyelimuti kami, hanya diisi suara Max dan Pip bermain-main di halaman.
"Apakah kau bermaksud mengatakan dia benar-benar semacam persilangan antara manusia dan burung" Mungkinkah itu"" gumam Kit.
"Tidak. Kurasa tidak. Tapi ada satu detail kecil dan sangat meyakinkan..."
Kit menyelesaikan kalimatku. "Kita sedang menyaksikannya," katanya. "Ya Tuhan."
Kami memandangi ketika Max menggendong Pip.
Terdengar suara sayap mengepak-ngepak, lalu anak itu melayang. Dia terbang di atas puncak pepohonan bersama Pip, yang sama sekali tidak tampak keberatan.
BAB 64 Kerahasiaan harus betul-betul dijaga. Tak boleh ada yang salah mulai saat ini. Kesalahan berat kemarin telah diperbaiki. Kontrol kerusakan tengah dilaksanakan.
"Tamu-tamu" penting telah mulai berdatangan di daerah Denver dengan tidak semencolok mungkin. Semua segi perjalanan mereka secara individu telah dipertimbangkan dan direncanakan masak-masak, namun terutama soal merahasiakan kehadiran mereka di sini, bukan cuma dari mata dunia pada umumnya, tapi juga dari para rekan bisnis mereka, bahkan dari keluarga.
Mereka masing-masing tahu apa yang jadi taruhannya. Semua paham bahwa ini saat yang penting, dan bahwa mereka beruntung bisa ikut ambil bagian di dalamnya, bahkan kalau diukur dengan standar keberuntungan mereka yang tinggi sekalipun. Dan semua tahu risiko individual yang sangat berat jika mereka sampai tertangkap. Akan ada bantahan yang meyakinkan, namun akhirnya mereka akan dibiarkan sendirian.
Dua tokoh penting datang sebagai pasangan suami-istri, yang merupakan samaran paling gampang, dan paling mungkin. Kelompok terbesar terdiri atas empat pria Jerman yang mengaku sebagai nelayan air tawar penuh semangat yang akan memancing di sepanjang Continental Divide.
Dua tamu berasal dari sebuah perusahaan besar di Tokyo. Jika ada yang bertanya, mereka kemari untuk menonton Colorado Shakespeare Festival. Mereka menginap di Boulder Victoria Historic Inn, dan memotret berol-rol film seperti layaknya turis. Seorang pria lagi mewakili salah satu perusahaan terbesar dan terpenting di Prancis. Menurut ceritanya, dia di sini untuk mengunjungi Chautauqua Music Fest, juga Niwot Ragtime Festival. Para tamu itu setuju untuk tinggal di kota-kota kecil di dekat sini, yang bernama Lafayette, Nederland, Louisville, Long-mont, Blackhawk.
Pasangan suami-istri tersebut, yang datang dari London, berkemah, "bertualang" gaya Amerika, di tenda di Rocky Mountain National Park, sekitar 80 kilometer di timur laut Boulder. Seorang CEO penting dari Bernardsville, New Jersey, menginap di Gold Lake Mountain Resort yang bagus dan cukup indah.
Masing-masing tamu ditempatkan di sebuah kota Colorado tertentu. Mereka diminta berpakaian dan bersikap seperti pelancong; tinggal di penginapan dan motel kecil seperti Black Dog Bed & Breakfast, Hotel Boulderado, Briar Rose. Meskipun para tamu itu orang-orang penting di tempat asal mereka, mereka menuruti permintaan tersebut.
Mereka dapat melihat apa yang mendasari semua itu: sejarah umat manusia sebentar lagi akan berubah.
BAB 65 Tidak boleh ada bukti. Tidak boleh ada saksi.
Harding Thomas memimpin dua belas pemburu menyusuri "kisi" dari Rough Rider Road menuju jalan raya Peak-to-Peak. Mereka sekarang membawa beberapa anjing, yang mengikuti bau gadis bersayap itu. Para pemburu yang berpasangan dan anjing-anjing itu sengaja dipisah tiga meter. Mereka bergerak paralel saat menerobos hutan. Sebagian besar pemburu tersebut mantan anggota militer. Mereka memilih untuk percaya kegiatan ini dilakukan untuk membela negara, bahkan mungkin kelangsungan hidup Amerika.
Setelah menyusuri kisi sampai ujung, mereka keluar dari kisi itu. Lalu mereka menandai bagian berikut. Secara metodis mereka memeriksa kisi demi kisi untuk menemukan jejak anak yang hilang itu.
Hari ini mereka tidak berbicara, bercanda, atau bahkan menyalakan rokok. Satu-satunya suara adalah suara sepatu bot berat mereka menginjak semak
-semak pendek, dan bunyi dengusan tanpa henti anjing-anjing pemburu yang lincah dan terlatih baik itu.
Di sisi lain Peak-to-Peak terdapat kaki pegunungan Rockies. Dua helikopter saat ini tengah mengintai di atas sana. Helikopter-helikopter tersebut dilengkapi dengan peralatan infra merah yang dapat memindai hamparan luas di bawah. Hasilnya adalah di layar monitornya tampak semua makhluk berdarah panas yang dilewatinya. Rusa, moose, beruang, kelinci, burung, semua makhluk baik besar maupun kecil.
Anak perempuan itu takkan bisa lolos sekarang. Peluangnya nol; kemungkinannya nihil. Max takkan bisa bersembunyi dari infra merah lebih lama lagi. Atau dari para pemburu, para pencari jejak yang metodis, anjing-anjing yang terlatih.
Namun entah bagaimana, justru itulah yang terjadi sejauh ini. Anak itu seolah hilang ditelan bumi.
Mereka sudah berada di sini beberapa jam. Matahari turun dengan cepat. Itu bukan masalah. Pencarian intensif ini akan dilanjutkan sepanjang malam kalau perlu. Tenaga bantuan tambahan telah dipanggil-para dokter dan periset yang sangat khawatir dan prihatin dari daerah Denver dan Boulder. Para pria dan wanita yang bekerja di Sekolah, dan bisa dipercaya dengan kebenaran.
Mereka sudah punya cerita samaran, dan itu cerita yang sangat baik karena memang benar- mereka mencari anak perempuan kecil yang hilang di hutan.
Max sekarang merupakan ancaman bagi segalanya.
BAB 66 Aku merasa seperti tercekik. Aku tak bisa bernapas. Kit menyarankan agar aku melakukan kegiatanku yang biasa selama beberapa jam, sebagai variasi, dan kurasa itu ide yang bagus.
Gillian dan aku memang telah sepakat untuk segera bertemu lagi. Kami menyusun berbagai rencana pada malam Frank McDonough tenggelam di kolam renangnya. Gillian bahkan membuatku berjanji untuk datang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian Frank masih amat meresahkanku. Aku tak bisa membayangkan Frank tenggelam.
Salah satu alasan aku tidak lebih sering datang ke rumahnya adalah karena perjalanannya makan waktu satu jam. Selama perjalanan ke sana, bermacam-macam pikiran jelek menggangguku. Pertama, David meninggal; lantas Frank; sekarang, aku mulai khawatir mengenai Gillian. Tidak ada alasan logis untuk ketakutanku, tapi aku punya firasat dia mungkin dalam bahaya.
Saat aku mengemudi, timbul fantasi tak diundang bahwa ketika tiba di rumahnya, aku akan melihat ada banyak mobil polisi dan ambulans di sana. Satu-satunya yang menenangkanku adalah aku tahu kemungkinan itu terjadi kecil sekali. Tapi, begitu juga kematian David. Atau Frank.
Kualihkan pikiran ke masalah yang lebih positif. Melupakan paranoia. Kunjungan ke Gillian selalu merupakan salah satu acara yang ku-tunggu-tunggu sepanjang minggu. Setelah ke-matian David, tidak ada yang lebih suportif, lebih setia menemaniku, bahkan tidak juga saudaraku Carole. Aku bisa mengobrol dengan Gillian selama berjam-jam, di telepon sekalipun, tapi bertemu langsung selalu yang terbaik. Gillian ditinggal suaminya sekitar dua tahun yang lalu. Itu sebagian dari yang mengikat kami-tapi fakta itu jauh lebih berarti sekarang.
Ketika sampai di rumahnya di perbukitan, aku lebih resah dan cemas daripada yang ku-perkirakan. Ada satu masalah: Kit telah menyuruhku bersumpah akan merahasiakan soal si gadis kecil. Walaupun aku merasa dia benar, bahwa Max untuk saat ini harus dirahasiakan, akan sulit sekali untuk bertemu Gillian dan tidak bicara, tidak memberitahunya tentang anak luar biasa tersebut. Tidak bercerita rasanya hampir seperti berbohong.
Sebetulnya, aku ingin tahu apakah dapat memperoleh informasi darinya. Gillian "orang baik", sangat sederhana, tapi dia menyandang gelar dokter dari UCLA dan Ph.D. di bidang biologi dari Stanford. Gillian seperti ensiklopedia, bukan cuma di bidang ilmu pengetahuan ilmiah, tapi juga ekonomi, astronomi, regu Denver Nuggets, Colorado Rockies. Tinggal sebut saja, Gillian pasti tahu.
Dia juga ibu yang andal, dan itu mungkin yang paling kusuka pada dirinya.
Aku dapat melihatnya sekarang. Gillian sehat walafiat. Aku juga bisa melihat putra kecilnya, Michael, menciprat-cipratkan air di kolam saat aku
turun dari mobil. Belum-belum aku sudah merasa lebih tenang.
Bernapas. Masukkan yang bagus, keluarkan yang jelek, kataku dalam hati, tapi lebih mudah mengatakannya daripada melaksanakannya.
"Kau membawa baju renang"" tanya Gillian. Dia mengenakan Speedo garis-garis biru dan hitam, dan kondisinya sangat fit untuk usia 51 tahun. Dia joging delapan kilometer setiap hari, dan telah melakukannya selama tiga puluh tahun terakhir ini. Ketika berumur empat puluhan, Gillian ikut New York City Marathon.
"Kebetulan, aku membawanya," kataku, dan kulepas blus dan celana pendekku untuk membuktikannya. Aku mengenakan baju renang terusan bergaris-garis merah dan putih yang cukup kusukai.
Gillian bersiul dan bertepuk tangan. Dia cheer-leader yang hebat. "Lihatlah dirimu! Frannie, kau tampak menakjubkan."
Kuputar kepalaku dengan santai, dan menirukan gaya Jimmy Stewart-heck, b'gum, b'gosh. "Sering hiking dan semacamnya. Sibuk di rumah sakit hewan. Kurasa berat badanku turun, entah di bagian mana." B'golly.
"Coba dengar omonganmu. Ada lagi yang berbeda," ujar Gillian dan tertawa. Dia mempunyai senyum lebar dan riang yang kuanggap lumayan manis. "Apakah kau mengecat rambutmu, dr. O'Neill" Jika ya, efeknya bagus sekali. Pasti ada apa-apa nih."
Memang, Gil. Aku minta maaf tidak dapat menceritakannya padamu.
Seorang bocah pirang berumur empat tahun muncul dari kolam, tampak lincah dan bersemangat. Dia berlari mendatangi ibunya, menyela pembicaraan kami, tapi melakukannya dengan begitu polos sehingga terasa memikat dan menyenangkan. Michael baru berusia dua tahun ketika ayahnya meninggal akibat serangan jantung di kantornya di Boulder Community. Untunglah dia tetap tumbuh sehat.
"Apa, Doodlebug"" tanya Gillian. "Beri salam pada Bibi Frannie."
"Hai, Bibi Frannie!" seru Michael berseri-seri. Aku membungkuk dan dia menciumku. Dia kumbang doodlebug kecil yang lucu.
"Aku jadi anjing laut" Michael mengumumkan. "Nama anjing lautku Hidung Hitam. Ini," katanya, sambil menunjuk rakit plastik, "adalah Islandia. Cool, heh""
"Islandia memang dingin," kataku dan nyengir.
Kami menonton saat Michael terjun dari papan rendah dan terjun dengan sempurna ke air tanpa menimbulkan cipratan. "Dia sangat menggemaskan," kataku pada Gillian.
Gillian memandangku lagi. Dia menatap mataku, dan paham. Aku dapat melihat otaknya berputar. "Kau kasmaran," katanya, dengan nada menuduh. "Ya, betul. Aku yakin."
"Tidak. Ngawur. Jangan macam-macam," tukasku dan mengerutkan muka.
"Ya. Sekarang cepat ceritakan-apa, Michael"
Oke, aku akan menghitung waktumu. Kau jangan ke mana-mana," katanya padaku. "Aku mau tahu."
Gillian berjalan ke bagian dalam kolam. Kondisinya memang fit. Dia memegang jam tangan di depannya. "Siap-siap, ambil ancang-ancang, terjun."
Hidung Hitam si Anjing Laut terjun lagi. Michael menyelam sampai hampir ke tengah kolam, persis di bawah Islandia. Anak itu akhirnya muncul ke permukaan.
Aku agak merinding. Ya Tuhan, betapa menghebohkan cerita yang kumiliki. Aku ingin berteriak pada temanku-Mau mendengar tentang satu lagi anak hebat" Gadis kecil yang menakjubkan! Aku akan menceritakan padamu tentang seorang anak perempuan yang manis dan lucu-dan yang sanggup melewati puncak-puncak pepohonan tanpa terengah-engah.
"Nah, Frannie, ceritakan semuanya. Kau harus memberitahu aku apa yang tengah terjadi pada dirimu," kata Gillian, sambil berjalan kembali ke kursi dek di sampingku. "Karena aku akan mencari tahu. Kau tahu itu. Bicaralah padaku. Akui segalanya."
"Yah," kataku, "kalau begitu, aku akan bercerita sedikit. Aku mungkin agak jatuh cinta."
Kuceritakan semuanya tentang Kit, setidaknya apa yang bisa kuceritakan. Kusimpan bagian tentang Max, tentu saja. Dan aku juga tidak memberitahukan fakta bahwa Kit anggota FBI.
BAB 67 Kit cemas, bahkan tak pernah dia lebih tegang daripada saat ini. Yang jelas perutnya mulas.
Dia menderita apa yang disebutnya "mulas FBI", perasaan tidak enak yang sudah dikenalnya, kelemahan dan kekurangan yang bertolak belakang dengan otot perutnya yang keras. Kit bermain dengan Max sepanjang hari ini, bersikap setenang mungkin. Dia berharap anak
itu mau memberikan informasi mengenai dari mana asalnya. Sejauh ini Max belum buka mulut.
Kit telah melapor ke kantor Peter Stricker dan mereka belum menemukan banyak keterangan tentang Dr. Frank McDonough-cuma bahwa pria itu pernah bekerja bersama James Kim di California, dan fakta itu sudah diketahui Kit. Sebetulnya, dia telah meminta pertolongan hampir semua orang yang dikenalnya di Washington dan Quanfico, namun semua informasi yang didapatnya tidak terlalu berguna.
Ini bukan situasi yang bagus. Dia sekarang berada di posisi yang sangat sulit. Kit harus memberitahu Stricker mengenai Max, namun sesuatu dalam hatinya melarangnya. Sebut saja itu indra keenam. Sebut saja itu kegilaan yang
dapat dipertanggungjawabkan. Atau tindakan yang dapat menamatkan kariernya.
Apa pun namanya, hal itu adalah komponen emosional yang dirasakannya. Kit tahu banyak orang yang takkan sependapat dengan cara berpikirnya, tapi mereka kan tidak tahu bagaimana Biro selama ini memperlakukan kasus ini. Mereka kan baru terlibat sekarang. Mereka tidak pernah melihat ekspresi meremehkan di wajah Peter Stricker, atau kesinisan dalam suaranya.
Setelah Frannie kembali dari rumah temannya Gillian, mereka makan malam pasta lagi bersama Max. Frannie jelas tampak lebih rileks. Mereka lantas berjalan-jalan di bawah sinar bulan di hutan malam itu. Max tahu nama hampir semua pohon, bunga, semak yang mereka lewati. Kelihatannya kalau sudah mulai, dia suka bicara.
"Mengagumkan," kata Frannie padanya. "Kau lebih tahu soal hutan ini daripada aku."
"Aku banyak membaca," ujar Max dan mengangkat bahu. "Dan aku menyimpan informasi."
"Apakah kau masuk kelas di sekolahmu"" Kit bertanya ketika mereka berputar kembali ke arah pondok. Bulan bagai piring putih besar yang bersinar di atas puncak pepohonan gelap.
"Menurutmu bagaimana"" Max menjawab dengan bertanya, lalu melesat mendahului mereka-berjalan, bukan terbang.
"Aku punya ide," kata Kit saat mereka sudah mendekati pondok. "Ayo kita semua berjalan-jalan naik mobil, melihat-lihat sedikit. Bagaimana menurutmu, Max""
"Aku suka sekali!" seru Max dan tampak amat bersemangat. Mata hijaunya berkilat. Dia melompat ke udara-dan tetap di atas sana. "Aku belum pernah naik mobil! Seumur hidup belum pernah!"
BAB 68 Jeep itu memuat kami bertiga di depan. Karena sekarang sudah lewat tengah malam, Kit berpendapat kami akan cukup aman. Di jalan keluar dari Bear Bluff tidak ada mobil lain di jalanan. Sejauh ini, lancar. Max berseri-seri ketika memandang keluar jendela.
Satu jam lebih sedikit kemudian, kami memasuki kota Denver, yang tengah malam begini bisa dibilang sudah tidur. Aku sangat mengenal pencakar langit gemerlapan itu. Daniels and Fisher Tower, modelnya meniru menara lonceng Venesia, menghunjam langit gelap. Begitu juga gedung DPR negara bagian, bangunan bergaya Federal Revival dengan kubah berlapis emas. Cathedral of the Immaculate Conception yang indah tampak di depan. Dan tampak jelas, di malam hari sekalipun, adalah Front Range pegunungan Rockies yang menjulang dan menakjubkan.
Aku menduga Kit tengah berusaha mengambil hati Max, dan mungkin usahanya berhasil. Kami tahu kami agak mengambil risiko dengan datang kemari larut malam seperti ini, tapi risikonya tidak besar kok.
Dari sudut mataku aku mengawasi Max. Dia terus-menerus menggeleng kagum dan takjub. "Coba lihat gedung-gedung itu, lampu-lampunya, segalanya. Aku baru tahu ada begitu banyak gedung tinggi di dunia ini."
Kit dan aku menunjukkan McNichols Sports Arena, Larimer Square, Mile High Stadium. Max meminta Kit menghentikan Jeep supaya dia bisa memandang gedung sekolah dari bata merah yang dipenuhi lukisan dinding ekspresif dan sangat warna-warni. Sekolah. Sekolah yang menye nangkan dan damai.
Max belum pernah pergi ke kota, tapi dia tahu banyak tentang kota. Dia mengetahui segala hal tersebut dari membaca buku-buku di sekolahnya. Saat ini Max tengah melakukan petualangan terdahsyat seumur hidupnya. Dia tengah mendapat banyak informasi baru, dan menyimpannya.
Aku menunjukkan pada Max bangunan unik yang dijuluki "Mesin Kasir", gedung persegi panjang besar yang
berwarna keperak-perakan dan memiliki atap membulat. Tiba-tiba Max menutup telinga dengan tangannya. Pendengarannya amat tajam. Suara itu jelas jauh lebih keras daripada suara mesin Jeep. Datangnya dari atas kepala kami, tapi sekarang sudah bergerak menjauh.
"Itu helikopter," Kit memberitahu dengan suara lembut yang menenangkan. "Tidak perlu ditakuti, Max. Kau lihat huruf-huruf besar yang dicat di sisinya""
Max mengangguk. "9 News-KUSA," dia membaca.
"KUSA adalah stasiun TV di kota ini. Beberapa
orang di dalam helikopter tadi mengirim gambar televisi kembali ke studio. Mereka orang baik. Mereka menyampaikan kepada kita berita tentang dunia, setidaknya tentang daerah Denver. Mungkin ada kecelakaan malam ini. Pasti ada kejadian sehingga mereka keluar malam-malam begini."
"Helikopter itu kelihatan seperti burung besar yang sangat aneh," komentar Max. "Pantas saja orang-orang baik itu ingin terbang dengannya. Aku mau. Aku juga ingin berpacu dengannya. Hei, orang-orang baik-mau berlomba" Kalian bakal kalah!"
Kit akhirnya menghentikan Jeep di tepi jalan supaya Max dapat melihat lebih jelas helikopter yang berbelok ke barat dan menjauhi kami itu. Kit kelihatannya suka menunjukkan berbagai hal pada anak itu. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Kit teringat pada saat-saat menyenangkan dengan anak-anaknya sendiri. Ada kelembutan, kasih sayang di matanya, yang menyentuh hatiku ketika melihatnya.
"Kadang-kadang helikopter disebut 'burung besi'," katanya.
"Burung besi," ulang Max. "Aku tahu istilah itu dari Sekolah. Nama guruku Mrs. Beattie. Aku menyayanginya. Aku menduga mereka menidurkannya," dia berbisik sedih.
Tanpa minta izin, dia membuka pintu depan.
"Max," aku berteriak. "Max! Max!"
Tapi sudah terlambat. Dia telah bebas. Max berlari beberapa meter menyusuri trotoar kota yang gelap, lalu tinggal landas. Aku bisa mendengar sayapnya mengepak-ngepak. Kit dan aku
melompat keluar dari Jeep dan memandanginya naik makin tinggi. Aku takut karena banyak alasan. Angin di Denver bisa sangat kejam, di musim panas sekalipun. Plus, bisa saja ada orang yang melihatnya.
"Max!" seruku lagi. Sialan, sialan, sialan. Dia sudah terlalu jauh.


Ketika Angin Bertiup Karya James Patterson di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kit mencungkupkan tangan di sekeliling mulut dan berteriak bersamaku. Max pasti mendengar suara kami; pendengarannya sangat tajam. Dia bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.
Kami mengamatinya terbang nyaris sejajar dengan sisi sebuah gedung setinggi tiga puluh atau empat puluh lantai yang langsing. Harus kuakui ini amat menakjubkan. Aku ingin tahu apakah dia bisa melihat bayangannya sendiri di kaca gelap itu, dan bagaimana rasanya terbang di atas sana.
Helikopter berita tadi sudah tidak kelihatan waktu Max mulai mengelilingi gedung pencakar langit tersebut. Dia mengintip ke dalam kantor-kantor. Dia melesat menuju gedung kantor lain yang jendela-jendelanya menyala membentuk huruf-huruf "GO ROCKIES!"
Max mungkin bisa melihat seluruh kota Denver yang terhampar di bawahnya. Cherry Creek bercabang dari Platte River. Taman hiburan Elitch Gardens berada di kejauhan.
Aku berharap tidak ada yang melihatnya, dan jika ada, semoga mereka tidak mempercayai penglihatan mereka. Itulah yang kualami pada saat pertama dulu.
Max melakukan beberapa putaran akrobatik. Lalu dia terbang kembali menuju Kit dan aku.
Max menukik, menghentikan terbangnya dengan indah, dan mendarat persis di samping Jeep.
"Asyik sekali!" katanya, dan dia tersenyum, tertawa keras. "Terima kasih, terima kasih pada kalian berdua. Aku sudah bermimpi melakukan itu sejak masih kecil."
Kami masuk lagi ke dalam Jeep.
Max melingkarkan lengannya yang lembut dan berbulu di sekelilingku dan dia memelukku sepanjang perjalanan pulang.
BAB 69 Di tempat tidurnya yang hangat dan empuk di pondok, Max mengenang petualangan malamnya yang luar biasa di Denver. Pikirannya kali ini dipenuhi hal-hal yang menyenangkan, terutama tentang Frannie dan Kit. Mereka baik sekali padanya. Mereka bagai ibu dan ayah yang tak pernah dimilikinya.
Tiba-tiba, tubuh Max kaku. Dimiringkannya kepalanya. Mereka datang. Dia mendengar mereka, merasakan kehadiran mereka dalam setiap bagian tu
buhnya. Semua panca indranya mengatakan demikian. Mereka mengendap-endap mendekati pondok sekarang. Max tidak paranoid, tidak mengada-ada. Dia ingin berteriak memperingatkan Frannie dan Kit, namun ditahannya teriakannya.
Jangan biarkan para penyerang tahu bahwa kau tahu.
Max turun dari tempat tidur dan pergi ke jendela terdekat. Dia mengintip keluar. Malam diterangi bulan. Dia mendengar semak-semak berderak. Salah seorang dari pria-pria itu muncul, keluar diam-diam dari hutan.
Max tahu siapa dia-salah satu penjaga paling
keji. Orang-orang keamanan dari Sekolah ada di sini. Mereka telah menemukannya. Dan mereka ke sini untuk menangkap Frannie dan Kit juga.
Tiba-tiba Max mengepak-ngepakkan sayap, penuh perasaan takut dan marah. Dia terbang keluar dari kamar! Dia terbang di dalam rumah.
Max berputar tajam menuju kamar tidur belakang. Frannie dan Kit tidur di dua kamar di sana. Panca indra mereka tidak setajam miliknya. Tapi, begitu juga panca indra bajingan-bajingan Keamanan itu.
Terlarang! Terlarang! Dia tidak boleh terbang! Tapi siapa yang peduli pada kata-kata para penjaga itu! Mereka tidak punya kuasa di dunia nyata ini. Dia mengatur sendiri hidupnya sekarang.
Pip mendadak muncul, mulai ribut menyalak-nyalak. Pip tahu juga. Dia merasakan adanya bahaya, pria-pria di hutan dekat pondok itu. Anjing pintar!
Salakan itu membangunkan Kit. Dia menyerbu keluar dari kamar belakang dengan senjata di tangan. Dilihatnya Max terbang di koridor, menuju tepat ke arahnya. "Ya Tuhan, Max!"
"Mereka datang, Kit! Mereka dekat sekali. Jumlahnya banyak. Mereka datang untuk menangkap kita!"
"Siapa yang datang, Max""
"Jangan dibicarakan sekarang! Kumohon. Ayo kita pergi. Ayo pergi. Mereka akan membunuh kita. Mereka akan membunuh kita semua!"
Frannie sudah keluar dari kamar tidur yang satu lagi. Dia berdiri di koridor dengan wajah tercengang.
"Tolong! Percayalah padaku!" Max memohon pada mereka berdua, dan saat itulah dia sadar betapa mereka sudah sangat berarti baginya.
"Ganti pakaian, Frannie," Kit mengangguk. "Pintu belakang. Jeep. Aku yang mengemudi. Jangan lihat ke belakang. Lari saja yang kencang." Dia berteriak sambil mengenakan pakaian.
Kit menyambar tangan Max. Mereka berlari sekuat tenaga. Frannie di depan mereka dan membuka pintu belakang! Laki-laki, wanita, anak kecil, dan anjing pun berhamburan keluar dari rumah dan memasuki malam yang gelap gulita. Tak ada yang menoleh ke belakang.
Jeep langsung menyala. Ketika mobil itu ber-decit-decit keluar dari tempat parkir belakang, peluru-peluru menghantam logam. Kaca pecah berserakan. Jendela belakang telah ditembak. Jeep itu terlonjak tinggi di jalan tanah yang berlobang-lobang dalam. Kit mengemudi di antara hujan tembakan seakan sudah pernah melakukannya.
Mereka terbang. Frannie dan Kit telah mempercayaiku, pikir Max terus-menerus, dan itu mengubah segalanya.
BAB 70 Tidak ada yang lebih menggairahkan daripada ditembaki tetapi tidak kena. Aku tidak ingat siapa yang pertama kali mengatakannya, tapi siapa pun orang itu, dia benar sekali.
Tornado sinting peristiwa-peristiwa malam itu telah melontarkan kami menjadi orang-orang yang nyaris tidak kami ketahui, atau bahkan kenali. Setelah lolos dari kematian di rumahku, kami tampak kacau dan perasaan kami malah lebih buruk dari itu. Pikiran bahwa seseorang berusaha membunuh kami terasa begitu mengerikan sehingga aku sulit membayangkannya. Apa yang barusan terjadi tak mungkin terjadi-namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Seseorang menembaki Jeep Kit, menembaki kami. Seseorang berusaha membunuh Max, Kit, dan diriku sendiri._ Tak pernah ada pikiran se-menakutkan itu dalam benakku.
Kami berjejalan di Motel Six yang seadanya dan tidak nyaman, di suatu tempat tak jauh dari Interstate 70. Kuduga kami berada di kota Idaho Springs, yang memiliki banyak hotel kecil. Pintunya dikunci dan dirantai, tapi seberapa amannya kami" Tidak terlalu aman. Gorden
murahan berwarna hijau limau menutupi jendela kaca. Lampu-lampu kamar dimatikan, tapi aku dapat melihat Max dan Kit dengan diterangi cahaya berkedip-kedip pesawat televisi.
Max, anehnya, tak memedulika
n apa yang telah terjadi, atau tampaknya begitu. Dia berbaring dengan tubuh tertutup bedcover sampai dagu dan Kit telah menarik kursi sampai persis di samping tempat tidur.
Aku tahu dia sangat menyukai Max, tapi mereka sekarang terlibat adu kekuatan. Kit berpendapat kami akan mati jika Max tidak memberitahu kami dari mana dia berasal, dan Max berpikir dia akan mati jika berbuat begitu.
Suara Kit dingin. Belum pernah aku mendengarnya berbicara dengan nada seperti itu. Kurasa dia bertindak sebagai agen FBI sekarang. Profesional, intens, sangat fokus pada apa yang menurutnya harus dilakukan.
"Aku betul-betul butuh jawaban, Max. Kuberi-tahu kau ya, kau harus segera mulai mempercayai seseorang. Maksudku, saat ini juga. Aku bicara denganmu, Max."
"Aku tahu dengan siapa kau bicara. Aku cuma tidak suka nada suaramu," tukas anak itu.
Raut muka Max yang halus mendadak mengeras. Dia lompat dari tempat tidur, lari ke kamar mandi, dan mengunci diri di dalam.
"Jangan ganggu aku! Omonganmu seperti mereka saja. Percayalah padaku" Dia menirukan Kit. "Mengapa aku harus mempercayai seseorang" Aku tidak seperti kau, Kit! Kau belum menyadarinya""
"Tolonglah, dia cuma anak kecil, Kit," kataku,
suaraku sendiri lemah karena stres, takut, dan kegilaan satu jam terakhir ini.
Kit menggeleng-sekali. "Tidak. Dia bukan cuma anak kecil. Sayangnya, dia lebih dari itu. Orang-orang mati karena dia. Kita nyaris mati tadi, Frannie. Kita harus menemukan Sekolah tempat dia ditahan, setidaknya aku harus menemukannya."
Aku jadi marah mendengar perkataannya tersebut. "Jangan begitu, Kit. Aku juga harus menemukan tempat yang disebut Sekolah itu. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi aku terlibat seratus persen dalam urusan ini."
Setiap kali melihat Max aku ingin memeluknya, namun Kit benar. Dia tidak lagi cuma anak kecil, seperti juga perjalanan ini bukan cuma acara jalan-jalan biasa. Yang sebenarnya, kami tidak tahu pasti apa Max sebenarnya, atau apa arti kehadirannya di sini. Cuma Max yang tahu, dan dia tak mau bicara.
Kit berbalik dan menabrak tong sampah dari kaleng yang penuh bungkus makanan dari McDonald's. Dia mengambil kaleng itu dan melemparkannya kuat-kuat ke dinding. Ditendangnya benda itu berkali-kali.
Secara refleks aku melindungi mataku dengan lenganku saat keributan itu menggetarkan ruangan. Ayahku sesekali pernah kehilangan kontrol diri juga, di pertanian kami di Wisconsin dulu. Dia melemparkan benda-benda ke segala arah, tapi tidak pernah barang berharga; dan dia tidak pernah memukul siapa pun dalam keluarga kami, sekadar menepuk keras pun tidak. Mungkin itu sebabnya aku tidak terlalu
takut dengan amukan Kit yang nyaris terasa lucu ini.
"Ada masalah"" aku bertanya begitu keributan berhenti.
Jika kukira akan bisa membuatnya tersenyum, atau mengubah suasana hatinya, aku salah.
"Aku tidak bermaksud membuatnya ketakutan," ujar Kit, suaranya tercekat. "Aku betul-betul menyukainya, Frannie. Dia anak yang hebat. Hanya saja-kita semua bisa mati."
"Aku tahu. Dia juga tahu. Dia akan baik-baik saja." Max memiliki respons melarikan diri yang sangat mudah timbul. Aku tahu bahwa orang-orang yang biasa dianiaya berbuat seperti itu. Telah diapakan gadis kecil itu" Siapa yang telah menyakitinya, dan dengan cara bagaimana" Kami perlu tahu lebih banyak mengenai Sekolah. Di mana letaknya. Bagaimana pelaksanaannya. Apa yang terjadi di sana. Siapa orang-orangnya.
Kit berjalan ke pintu kamar mandi dan mengetuk pelan. "Max, maaf kalau aku seperti orang mengamuk," katanya. Suaranya lembut, prihatin. "Aku memang mengamuk. Aku mencemaskan keselamatanmu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa bantuanmu." Kurasa itu cara lain untuk mengatakan, orang-orang berusaha membunuh kita.
Max tak bersuara di balik pintu kamar mandi. Sunyi senyap. Terkadang, dia memang cuma anak kecil.
Kit membujukku dengan suara berbisik. "Kumohon, keluarkan dia dari sana. Maukah kau setidaknya mencoba" Ayolah, Frannie, tolong aku."
BAB 71 Pelan-pelan aku berjalan ke kamar mandi. Aku tidak tahu akan mengatakan apa, tidak punya bayangan sedikit pun. Aku tahu aku takkan berbohong padanya. Aku be
rdiri di depan pintu yang dikunci itu sesaat, menyusun pikiran-pikiranku. Ketika aku buka mulut, kata-kata datang secara spontan dan dari lubuk hatiku.
"Max, aku berjanji tidak seorang pun akan memaksamu melakukan apa yang tidak ingin kaulakukan. Aku tahu itu. Kau tahu itu. Kita cari jalan terbaik bersama-sama. Tidakkah menurutmu itu cara yang adil" Kau punva ide lain""
Lama tak ada suara. Keheningan total di balik pintu kamar mandi. Max kadang-kadang bisa sangat keras hati dan keras kepala. Dia hampir remaja. Aku bisa memahaminya. Lalu kenop pintu pelan-pelan berputar.
Max tidak memandang salah seorang dari kami waktu keluar dari kamar mandi. "Maafkan aku. Aku ketakutan," bisiknya ketika naik lagi ke tempat tidur. Dia mampu tetap bersikap manis dalam suasana sangat menekan ini.
Pip melompat ke tempat tidur dan Max memeluknya. Aku duduk di belakang Max dan dengan halus membelai bulu-bulunya. Burung akan melakukan tindakan merapikan bulu-bulu seperti ini, menata ulang kait-kait mikroskopis di sepanjang tepi supaya membentuk unit yang berkesinambungan. Aku memikirkan cara memecah kebuntuan ini tanpa menggusarkannya lagi.
"Semua beres, Max," bisikku.
"Tidak, Frannie. Kau tidak tahu."
Ceritakan rahasia-rahasiamu pada kami, Max. Kami mempercayaimu. Sekarang percayalah sedikit pada kami.
Setelah beberapa lama aku bertanya, "Bagaimana orang-orang di sekolahmu" Coba ceritakan sedikit. Apakah mereka ilmuwan" Dokter" Apakah mereka guru""
"Begitulah," jawabnya. "Mereka mengajariku membaca preparat. Sebagian besar bersifat ilmiah, tapi di waktu senggang aku boleh membaca apa yang kusukai. Mereka menyuruhku bekerja. Kebanyakan di antara mereka ilmuwan. Mereka dokter."
Kit mondar-mandir di kamar, memandangi lantai. Ketika mendengar kata preparat, dia berhenti bergerak. "Apa maksudmu, preparat" Preparat macam apa, Max""
"Yang kau lihat dengan mikroskop. Di lab. Aku diizinkan bekerja di sana. Aku disuruh mencocokkan allele"
Ketegangan terus meningkat di dalam dadaku. Pikiranku kacau balau dan bingung. Allele adalah bentuk alternatif gen. Apa yang telah dikatakan Max soal Sekolah sejauh ini sangat menakutkan dan salah.
"Dokter-dokter itu meneliti kromosom."" aku bertanya. "Mengapa mereka melakukan itu" Kau tahu""
"Tentu saja. Untuk memperbaiki stok," katanya, dan mengangkat bahu.
"Stok apa"" tanya Kit. Percakapan ini telah berkembang menjadi semacam tanya-jawab. Aku merasa seperti polisi yang menginterogasi kriminal.
Wajah Max memucat. "Aku bisa menyusahkan orang-orang kalau bicara," katanya. "Aku sudah diperingatkan. Dilarang keras berbicara," gumamnya.
Max menutup matanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu. Kuraih dia ke dalam pelukanku. "Kumohon percayalah pada kami, Max. Kau harus mempercayai seseorang. Kau tahu itu, Manis."
Kuayun-ayun anak itu, si gadis burung yang cantik. Aku merasa seperti kembali berada di Inn-Patient, merawat binatang-binatang yang sakit dan terluka. Di sanalah aku ingin berada.
Max berbicara pelan di sisi leherku. Aku nyaris tidak bisa mendengar kata-katanya, tetapi aku bisa mendengarnya.
"Antarkan aku pulang," dia berbisik.
BUKU EMPAT SEKOLAH TERBANG BAB 72 Antarkan aku pulang. Kelihatan jelas bahwa Max sulit mengucapkan kata-kata itu. Permohonan yang keluar dari mulutnya tersebut terdengar begitu pasrah, tapi aku tahu yang sebenarnya tidak begitu. Kami tidak bisa cukup cepat keluar dari Motel Six.
Kami melesat di Interstate dengan kecepatan 128 kilometer per jam, lalu lebih, berharap semoga tidak diberhentikan polisi patroli jalan raya karena ngebut.
Kami pergi ke Sekolah, bukan"
Aku duduk di belakang bersama Max. Dia tampak ketakutan, jadi kupeluk erat-erat. Di lenganku aku dapat merasakan jantungnya berdebar kencang sekali. Max yang malang. Dia cuma anak kecil. Terlibat dalam masalah yang jauh lebih besar daripada yang bisa kami pahami.
Kubelai dia sambil berbicara, berharap omonganku dapat menghibur dan menenangkan bocah berusia sebelas tahun. Kuceritakan pada Max aku tumbuh di peternakan sapi di utara Wisconsin dan bertanya apakah dia pernah melihat sapi hidup.
"Kami tidak memelihara sapi di S
ekolah," katanya. "Tapi aku sering melihatnya di TV."
Kuberitahu dia tentang sekumpulan kecil sapi Holstein kami, yang memiliki lidah lengket dan mata berair. Aku bahkan ingat nama-nama dan kepribadian mereka. Max tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya saat aku bercerita tentang Blossom Dearie, Nellie Foot-Foot, Please Louise, dan sapi jantan kami, Kool Kat.
Kuberitahu dia bagaimana saudaraku Carole Anne dan aku bangun pukul 05.00 untuk membantu ayahku; dan bagaimana kami memandikan sapi-sapi di musim panas dan menyalakan kipas angin supaya mereka tetap merasa sejuk. Tapi bagaimana kami memerah susu dari sapi-sapi tersebutlah yang betul-betul menarik perhatiannya.
Max berseru keras ketika aku menceritakan kegembiraan memerah susu pagi-pagi. Aku suka sekali mendengarnya tertawa. Tawanya sangat riang dan selalu membuatku tersenyum. Max sangat menikmati dunia yang baru sekarang dapat dinikmatinya. Lagi pula, tertawa membuat pikiran kami teralih dari segala hal yang tengah terjadi.
Aku mengarang cerita konyol tentang sapi cokelat yang menghasilkan susu rasa cokelat. Kit nimbrung. "Ceritakan soal sapi peppermint padanya," katanya dan mengedipkan sebelah mata.
"Kalian berdua sama-sama sudah gila," kata Max pada kami. "Tapi menyenangkan kok. Aku suka. Aku suka bersama kalian di sini."
"Kami juga suka bersamamu," kataku.
"Aku juga," Kit mengangguk setuju.
Jeep melaju menembus kegelapan dini hari. Aku sedang asyik berpikir, berpura-pura, Hei, mungkin ini cuma acara jalan-jalan biasa- ketika tubuh Max menegang. Dia mencondongkan badan ke kursi dan kaca depan mobil.
Lalu dia menunjuk jalan kecil sempit yang menghilang ke balik bukit batu. "Belok sini, Kit."
"Dari mana kau tahu"" aku bertanya. Aku bukan meragukan Max, aku cuma penasaran. Aku cukup yakin dia belum pernah melewati jalan ini. Aku tinggal di dekat sini, dan kurasa aku tidak pernah menyusuri jalan itu.
Max mengangkat bahu, kemudian menatap mataku dalam-dalam. Dia bisa sesaat tersenyum, lantas tiba-tiba berubah jadi sangat intens dan serius. "Tidak bisakah kau merasakan di mana letak pertanian tempatmu tinggal dulu""
"Letaknya jauh dari sini," jawabku. "Aku butuh peta untuk menemukannya."
"Aku merasakan letak Sekolah," kata Max. "Aku tahu persis di mana lokasinya. Dalam benakku aku bisa melihat jalan menuju ke sana."
Aku memahami apa yang dikatakannya, dan perasaanku terguncang. Tenggorokanku serasa tercekik. Seperti burung merpati, kucing piaraan, dan binatang-binatang bermigrasi yang dapat menemukan tempat asal mereka berkat navigasi inersia atau entah apa namanya, Max bagai punya radar untuk menuntunnya pulang!
BAB 73 "Berhenti," katanya sebelum Kit betul-betul berbelok.
Kit menuruti permintaannya. Ada sesuatu dalam suara Max yang tak bisa diabaikan.
"Sekarang, dengarkan aku baik-baik," katanya. "Kalian tidak boleh maju lebih jauh dari ini. Jika mereka menangkap kalian, kupikir mereka akan membunuh kalian berdua. Aku serius."
"Ini persoalan yang sangat serius," Kit berkata padanya. "Dan itulah sebabnya kami ikut denganmu, gadis kecil. Senjata ini bukan mainan," katanya dan menunjukkan sepucuk senjata pada Max. Senjata itu semiotomatis dan tampak mematikan.
"Aku harus ikut, Max. Itu tugasku. Itu alasan aku datang ke Colorado ini."
"Aku juga tidak mau pergi," kataku pada Max. "Aku tidak mau meninggalkan kau dan Kit. Tak akan."
Max akhirnya mengangguk. Dia tidak suka perkembangan situasi ini, namun tahu kami tidak bakal mau menyingkir. Apa pun yang terjadi, kami akan tetap bersama.
Kit membelokkan kemudi dan kami keluar
dari jalan besar, yang sebetulnya sama sekali tidak besar. Sekarang kami berada di jalan yang bernama Under Mountain Pass, jalan kecil berkelok-kelok yang meliuk-liuk di kaki Rockies. Sekolah berada di suatu tempat di sana. Max tampak yakin soal hal itu.
"Belok kanan," perintah Max tiba-tiba. "Setelah itu kau bisa menurunkan aku."
"Itu tidak akan terjadi, Max," kata Kit ber-keras. "Kita sudah membicarakannya."
"Kau kepala batu sekali, Kit."
"Sama denganmu."
Jalanan makin jelek dan akhirnya menjadi alur tanah yang tidak memiliki tanda-tanda ten-t
ang arah mana yang harus kami ambil-tidak ada patokan baik berupa rambu maupun bangunan. Tapi daerah ini sepi dan menyeramkan, cocok untuk lokasi tempat semacam Sekolah.
Setiap kelokan di jalan merupakan tantangan bagi kemampuan mengemudi Kit. Berbagai pasang mata memandangi kami. Kijang dan makhluk-makhluk hutan lain dengan bijaksana menunggu sebelum berlari kencang ke sisi seberang. Saat kami mengemudi makin lama makin tinggi ke atas pegunungan, Max akhirnya mulai bicara tentang tempat asalnya.
"Sekolah pindah beberapa kali saat aku tumbuh besar. Aku tahu lokasinya pernah di negara bagian Massachusetts, lalu California sebelum kami pindah kemari. Aku bersekolah setiap hari, dan mula-mula rasanya asyik. Guruku bernama Mrs. Beattie. Dia dokter juga, tapi katanya kami tidak usah memanggilnya dengan gelar itu. Dia sangat menyayangi Matthew dan aku, dan kami
menyayanginya. Kami jenius pada tes Stanford-Binet. Namun kami dilarang merasa bangga karena pintar, atau karena bisa terbang. Kami dibuat untuk jadi seperti itu. Kami cuma spesimen lab."
Aku mendengar napas Max terengah. Digenggamnya tanganku begitu kuat sehingga tanganku nyaris mati rasa. Meskipun Max tadi menyuruh kami kembali, aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh. Dia terlalu ketakutan untuk melakukan ini sendirian.
"Turunkan aku," katanya, tiba-tiba mencengkeram bagian atas lenganku. "Aku harus keluar. Harus! Kumohon, Kit" Sekarang juga! Aku janji tidak akan terbang pergi. Sumpah."
Aku mengulurkan tangan dan menekan lengan Kit. Pria itu mengerem mobil di bahu sempit jalan.
Kami bagai di negeri antah berantah-dikelilingi pohon-pohon fir tinggi dan batu-batu tajam, dan derik keras jangkrik.
Kubuka pintu Jeep, dan Max bergegas melewatiku dan keluar.
Dia cepat dan atletis, dan sangat kuat untuk ukuran anak seusianya. Hampir semua yang dilakukannya begitu menakjubkan untuk diobservasi. Aku berdoa semoga dia tidak terbang dan meninggalkan kami.
Max naik ke atap Jeep. Kami mendengar langkah kakinya berdentam-dentam di atas kami. Lalu bunyi menderu keras ketika dia mengepak-ngepakkan sayap.
"Apa yang dilakukannya"" tanya kami, hampir serentak.
Lalu dia terbang meninggalkan Jeep dan melesat di udara. Gampang sekali.
"Oh, Tuhan," bisik Kit. Kata-katanya persis dengan yang ada di benakku. "Lihatlah dia. Lihatlah. Kuharap kita bisa menyusulnya."
"Harus. Gerakkan benda ini."
Kit menyalakan mesin. Menginjak pedal gas. Jeep meluncur dari bahu jalan lalu melaju di tengah, memanjat pegunungan yang terjal. Kami mengikuti arah terbang Max, setidaknya berusaha melakukannya.
Kujulurkan kepalaku keluar jendela seperti anak kecil. Begitu juga Pip. Aku tak bisa mengalihkan pandangan mataku dari sayap Max yang berwarna putih dan biru-perak ketika dia terbang mendahului kami. Udara sejuk menyapu wajahku. Aku merasa seperti terbang juga. Yang jelas jiwaku serasa melayang.
Jeep meluncur di terowongan gelap panjang yang disebabkan deretan pinus lebat dan pepohonan fir yang menjulang. Max menikung ke kiri, menyusuri jalan kecil lain. Jalan yang ini terbuat dari tanah sepenuhnya dan sangat tidak rata.
Kami mengikuti Max pulang. Kami mempercayainya sehingga rela mempertaruhkan nyawa kami.
BAB 74 Sekolah tutup. Dia dapat merasakannya di lidahnya-amat sangat pahit dan getir. Dia dapat merasakannya, bagai racun mematikan yang mengalir di pembuluh darahnya.
Max mendadak meluncur ke tanah. Jeep berdecit berhenti di belakangnya. Frannie dan Kit buru-buru keluar. Pip berlari berputar-putar. Biasanya anjing itu bisa membuatnya tersenyum, mengikik senang. Tapi sekarang tidak.
"Ada apa, Sayang"" seru Frannie. Dia selalu sangat peduli, dan tidak pernah sok berkuasa.
Max merasa seolah ada tali melilit pinggangnya dan dia dengan mantap, tak kenal ampun, ditarik ke dalam. Dia bisa merasakan ketegangan luar biasa di leher dan bahunya, menjalar hingga ke tulang dada. Dia pulang. Dia dengan suka rela kembali ke Sekolah. Lalu mungkin semua rahasia akan terbongkar-dan dia bisa bebas.
Dan mungkin juga tidak! Max memutuskan untuk tetap menapak tanah selama beberapa saat. Berjalan barangkali lebih aman. Frannie d
an Kit berjalan bergegas-gegas tepat di belakangnya.
Max tidak menoleh ke belakang, tidak perlu.
Dia bisa mendengar paru-paru mereka bekerja keras menghirup udara, darah terpompa di jantung mereka. Max merasa ketakutan mereka makin memuncak. Akhirnya, mereka akan melihat yang sebenarnya. Melihatnya langsung. Max berdoa semoga mereka siap menghadapi ini.
Tiba-tiba, Max berhenti! Dia melihat pembatas fisik antara kebebasan barunya dan hidup lamanya-pagar kawat berduri itu. Pemandangan itu membuatnya menggigil, mendatangkan banjir kenangan mengerikan. Max dapat membayangkan Paman Thomas, penjaga-penjaga lain yang menyeramkan itu, dan perutnya jadi mual. Dia nyaris muntah saat itu juga.
Sekolah sudah tutup. Dia nyaris sampai di sana. Rasanya Sekolah seakan mengawasinya mendekat, menunggunya, menertawakannya karena kembali.
Pagar kawat yang dihubungkan dengan rantai itu tingginya tiga meter dan puncaknya dipasangi kawat berduri setajam silet. Di baliknya ada segala hal yang diketahui, disayangi, dan dibencinya sepenuh hatinya. Dia pernah melihat orang-orang memarkir truk-truk di Sekolah. Mungkin mereka sudah pergi semua sekarang.
Sebuah papan tanda dari logam putih berbunyi: DILARANG KERAS MASUK INI BANGUNAN PEMERINTAH. YANG MASUK TANPA IZIN AKAN DITEMBAK.
Max menoleh pada Frannie dan Kit. "Kita sudah sampai."
BAB 75 Max balas menatap kami, matanya yang berwarna hijau membelalak takut.
"Mereka tidak main-main," katanya. "Beberapa orang yang masuk tanpa izin telah ditembak betulan, percayalah padaku. Kalian masih bisa mundur. Menurutku sebaiknya kalian pergi saja."
"Kami takkan meninggalkanmu," tukas Kit.
Pip menyalak dan berputar-putar dalam lingkaran kecil di luar pagar. Tiba-tiba dua ekor Doberman muncul dari kejauhan. Mereka menampakkan gigi mereka, menyalak dan menggeram.
Kit menarikku menjauh dari pagar saat semburan air liur akibat salakan marah keluar dari mulut Doberman-Doberman itu.
Aku merasa bulu kudukku meremang. Dan bukan hanya karena anjing-anjing tersebut. Sebetulnya, kedua anjing itu malah tidak terlalu meresahkanku.
Pagar kawat, kawat berduri, dan anjing-anjing penjaga di tengah hutan memang cukup menakutkan, namun melihat kata-kata "Pemerintah AS" berdampingan dengan "Yang Masuk Tanpa Izin Akan Ditembak" membuatku lemas. Kit dan aku hampir bisa dibilang masuk tanpa izin, dan kami tidak mau dituduh melakukan hal itu.
"Inikah Sekolah"" aku bertanya, namun Max tidak mendengar. Dia sibuk menangani Doberman-Doberman itu.
"Bandit, Gomer, ini aku!" serunya nyaring pada anjing-anjing tersebut. "Stop. Hentikan sekarang jaga! Duduk!"
Hebatnya, salakan dan geraman perlahan-lahan berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali. Selanjutnya endusan-endusan curiga. Kemudian salakan gembira ketika anjing-anjing itu kelihatannya mengenali Max.
"Jangan khawatir," kata Max pada kami. "Mereka temanku. Mereka cuma menyalak, tidak menggigit kok," kata anak itu sambil nyengir.
"Bisakah kita melewati pagar ini"" tanyaku pada Kit.
Kit sudah hendak menjawab ketika Max memotong omongannya.
"Frannie!" dia menarik-narik lenganku. "Ada yang tidak beres dengan Bandit dan Gomer. Ada yang sangat tidak beres dengan anjing-anjing itu! Tolong, periksa mereka."
Aku bergerak mendekat tapi tidak perlu memeriksa Bandit dan Gomer untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada mereka. Bulu hitam mereka tampak suram. Tulang-tulang rusuk mereka bertonjolan, kulit mereka menempel di tulang.
"Mereka kelaparan," aku berkata pada Max.
Pernyataan itu kurang tepat. Anjing-anjing itu mengalami malnutrisi. Ada bajingan yang membiarkan mereka kelaparan.
Kit kembali setelah memeriksa pagar. "Aku tidak dapat menemukan celah atau titik masuk di pagar kawat ini," dia memberitahu. "Mungkin di bagian lain."
"Kurasa aku bisa menerbangkan kalian berdua ke seberang," kata Max. Pernyataan tersebut demikian tak terduga sehingga aku nyaris tertawa mendengarnya.
"Aku tahu aku sanggup melakukannya. Aku lebih kuat daripada kelihatannya," katanya ngo-tot. Max sama sekali tidak bercanda.
"Mustahil," tukas Kit. Kit benar. Tidak mungkin anak perempuan seberat empat puluh kilogram
mampu mengangkat orang dewasa yang beratnya dua kali lipat berat badannya sendiri.
"Ya, aku sanggup." Max bersikukuh. "Kau tidak tahu apa yang kaukatakan. Aku tahu kemampuanku."
Aku mendengarkan Max dan berpikir lagi. Aku tidak memperhitungkan faktor stres. Stres memproduksi adrenalin. Dan juga, siapa yang tahu kekuatan seperti apa yang sebenarnya dimiliki Max"
"Biar kucoba mengangkatmu dulu," katanya padaku.
"Menurutku itu bukan ide yang bagus, Max."
Anak itu mengangkat bahu. "Baik. Kalau begitu aku terbang sendirian ke seberang."
Aku mencengkeram pagar kawat. Kupanjat setinggi beberapa kaki dan bergelantungan di sana. Kemudian Max menjepit bagian tengah tubuhku dengan kakinya yang kuat. Dia betul-betul kuat. Ya Tuhan, ini aneh sekali.
Karena Max memegangiku dari belakang, aku jadi merasa seolah punya sayap. Dia mengepak kuat-kuat, lalu kami terbang. Mendadak kami melayang di udara. Setelah itu kami bergerak ke atas.
Aku bisa merasakan embusan angin di sekelilingku. Dingin rasanya di atas perbukitan ini, dan makin lama makin dingin. Sesaat aku melupakan segala hal, perhatianku begitu terfokus pada sensasi melayang di udara dengan cara yang ganjil ini. Selama sepersekian detik aku dapat membayangkan punya sayap sendiri.
Kami naik. Kami melayang selama satu atau dua detik. Lantas kami terbang.
Tidak terlalu jauh, tapi, ya Tuhan yang ada di surga, aku benar-benar terbang.
BAB 76 Max menurunkan aku di bagian dalam wilayah berpagar. Aku mendongak memandang gulungan kawat berduri yang mengerikan dan menggetarkan hati itu. Kucengkeram pagar, kukaitkan jari-jariku di kawatnya, dan menunggu detak jantungku normal kembali. Aku melihat berkeliling dan Max sudah tidak ada.
Dia sudah berada di sisi lain pagar. Max sedang berusaha mengangkat Kit. Kakinya nyaris kurang panjang untuk melingkari tubuh pria itu. Napasnya tersengal-sengal. Kelihatannya mustahil Max bisa mengangkat Kit, tapi tadi pun aku tidak percaya dia sanggup mengangkatku.
Aku tak tahu seberapa lama dia sanggup bertahan. Sayapnya mengaduk-aduk udara, tapi tampaknya dia tidak bisa membuat Kit bergerak dan pindah ke sebelah.
"Max, sudahlah. Dia terlalu berat bagimu," seruku padanya. "Kau bisa terluka."
"Tidak, dia tidak terlalu berat. Aku super kuat kok. Kau tidak punya gambaran seberapa kuat aku, Frannie. Aku dibuat sebagai makhluk yang kuat."
Di sisi lain pagar tempat aku berada, kedua anjing itu bergerak mendekatiku. Sebetulnya, mereka agak terlalu dekat, perasaanku jadi agak tidak tenang juga. Yang betina mengais-ngais tanah, bergerak-gerak gelisah. Mata yang jantan kecil dan basah, dan anjing itu terpaku sekitar satu meter dari tempatku.
Geraman memperingatkan terdengar dari tenggorokannya. Bibir makhluk itu membuka, menampakkan sederet gigi.
"Oh, hentikan," kataku padanya. "Jangan sok galak begitu." Anjing yang sekadar memperlihatkan gigi dan menggeram sih bisa kutangani.
Pandanganku melesat kembali pada Max dan Kit, ke tempat di mana mereka masih bertahan di pagar pembatas. Max akhirnya menjauh, meninggalkan Kit berpegangan di pagar, menempel di sana, mencoba memanjat pagar sampai ke sebelah. Akhirnya Kit jatuh, tapi kondisinya selamat.
"Usaha yang bagus, Manis," seruku pada Max. Tapi aku bisa melihat anak itu gusar. Dia tidak suka gagal. Apakah "mereka" juga membuatnya bersifat seperti itu"
Max segera terbang kembali ke seberang pagar dan bergabung denganku. Dia mengatakan "duduk" dan "anjing baik" pada kedua Doberman. Max bersikap ramah namun tegas pada mereka, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah itu ada hubungannya dengan kaburnya dia.
Kemudian Max bergerak ke utara, menjauhi pagar, makin lama makin cepat, menuju ke suatu tempat.
Aku terpaksa hampir berlari supaya bisa menyusulnya. Hutan mulai menyelubungi jalan
sempit yang kulalui. Aku melewati kumpulan demi kumpulan pohon rimbun yang rasanya tidak ada habis-habisnya dan menutupi pandanganku.
Dinding yang terdiri atas pohon-pohon fir membuka dan menampakkan gerombolan pohon birch yang selanjutnya digantikan kumpulan pohon aspen yang berkilauan bagai tirai manik-manik kaca. Jantungku berdentam-dentam,
dan di telingaku terdengar lebih keras daripada suara langkah kaki kami. Tanpa disangka-sangka, jalan berkelok-kelok itu berakhir di tempat terbuka yang bermandikan cahaya matahari.
Di hadapan kami berdiri rumah berburu, atau mungkin resort spa, yang bergaya akhir abad ke-19. Di dinding batunya terdapat banyak sekali jendela. Tiang-tiang putih menjulang di pintu masuk. Tanaman menjalar yang lebat menutupi gedung dan tumbuh sampai ke atapnya yang sudah tua.
Kupandang Max. Pupil matanya kecil sekali. Irisnya kelihatan seperti piringan kelabu transparan yang tak bergerak ketika dia terpaku. Aku ingat bahwa pupil mata burung sering berkontraksi jika dalam keadaan tegang.
"Apa ini"" aku bertanya.
"Ini Lab Mutan Buatan Colorado Tengah," katanya. "Sekolah Riset Genetik. Aku tinggal di sini."
BAB 77 Tidak ada suara sama sekali dari rumah yang aneh dan menyeramkan itu, tempat Max selama ini ditahan, dan apa saja yang telah dialami anak itu di sana, hanya Tuhan yang tahu.
Tidak ada penjaga keamanan, tidak ada mobil atau truk yang diparkir. Tidak ada ancaman bahaya bagi kami. Setidaknya begitulah kelihatannya.
"Terlalu tenang. Amat terlalu tenang," bisik Max. "Mestinya ada penjaga di suatu tempat. Seharusnya kita sudah bisa melihat mereka sejak dari hutan tadi."
"Apa artinya ini, Max""
"Entahlah. Yang seperti ini belum pernah terjadi."
Max dan aku mengendap-endap di sepanjang pinggir halaman. Dengan cepat kami menyeberang ke salah sisi bangunan, kemudian beringsut-ingsut menyusuri dinding batu menuju pintu kayu jati di tengah sisi timur. Tidak tampak ada gerakan di balik banyak jendela itu. Kelihatannya tidak ada orang di sini.
Rasa percaya diriku tumbuh sedikit. Aku menarik napas, lantas mengulurkan tangan dan
menggenggam kenop pintu dari logam itu. Pintunya terbuka dengan mudah. Kami memasuki bangunan yang aneh ini dan pintunya yang berat menutup di belakang kami.
Bau busuk yang menusuk menyergapku. Aku tahu bau apa itu dan merasa mual
"Ada yang mati," ujar Max.
Dia benar. Bisa dipastikan memang ada yang mati. Ada yang membusuk di dalam gedung ini dan baunya menyengat dan kuat. Kami menutup hidung dan mulut kami dengan tangan. Kami terus berjalan menjauhi pintu depan.
Max berkata, "Kipas anginnya pasti tidak menyala." Dia tidak kelihatan terlalu risau oleh bau ini-oleh kematian.
Aku mengamati seluruh penjuru ruangan untuk mencari kamera keamanan. Aku yakin ada kamera-kamera, entah di mana, namun aku tak bisa menemukannya. Apakah ada yang tengah mengawasi kami sekarang"
Pedang Sakti Tongkat Mustika 14 Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka Golok Halilintar 15
^