Pencarian

Kota Angkasa Luar 3

Kota Angkasa Luar Seri Tom Swift 1 Bagian 3


"Kita mampir dulu saja, seperti pada rencana perlombaan," Ben mengisyaratkan kepada temannya, "sekalian untuk latihan!"
"Baik! Sunflower Control! Di sini Davy Cricket sedang latihan terbang dari New America. Minta izin mendarat!"
"Engkau sudah tertangkap di layar, Davy Cricket! Tetaplah pada posisimu! Sedang ada kapal yang tinggal landas!"
"Roger! Kontrol!"
Tom dan Ben melihat sebuah kapal angkasa sedang keluar dari geladak dengan tenaga jet udara dan melayang ke ruang yang bebas.
Beberapa semburan udara untuk mengendalikan, membuat kapal itu memutar yang disusul semburan-semburan kecil yang mengarahkan kapal tersebut menuju ke Bumi.
Tom dan Ben mengawasi kapal itu berangkat. Mereka melihat semburan roket kimiawi yang melakukan penyesuaian posisi.
"Hari-hari bagi roket kimiawi sudah hampir berakhir, ya Tom" Yaitu sekali engkau berhasil membuktikan bagaimana yang di belakang ini," kata Ben sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke bagian buritan dari pesawat mereka. "Dan kita akan memulai dengan zaman baru!"
"Itu kalau kita sudah membuktikannya," sahut Tom. "Kau jangan lupa, sudah banyak orang yang terlibat dalam pembuatan mesin penggerak peleburan ini."
"Ya, benar! Banyak pula orang yang telah bekerja pada penerbangan dengan mesin tenaga pada permulaan abad duapuluh ini. Tetapi hanya sepasang kakak-beradik yang melaksanakannya."
"Aku bukan kakak beradik Wright, Ben dan".."
"Cricket, di sini Kontrol dari Sunflower. Bersiaplah untuk mendarat."
"Roger." Ayah Ben berbahu bidang berdada lapang yang nampak benar-benar gembira melihat anaknya.
"Ben!" Orangtua itu memeluk anaknya, lalu dipegangi untuk diamatinya. "Bagaimana engkau nak?"
"Baik, ayah. Aku ingin memperkenalkan temanku, Tom Swift."
Orang tua itu menjabat tangan Tom dengan kuat.
"Kukira engkau telah tua."
"Itu ayahku," kata Tom sambil tertawa.
"Aku tahu," kata Thomas Jefferson Gray hawk sambil tertawa. "Mari, anak-anak. Mari ke tempatku. Engkau tentu ingin melepaskan pakaianmu untuk sejenak. . . ."
"Nanti dulu, ayah," kata Ben ramah. "Kami tak punya waktu. Sungguh!"
"Jauh-jauh kemari, tak ada waktu untuk duduk-duduk semenit pun?" kata Grayhawk. Senyumnya memudar.
Ben memandangi Tom, kemudian ke ayahnya.
"Ayah, kami sedang melakukan uji-terbang. Pesawat cepat Tom. Perlombaan Triangle."
"Oke," kata ayahnya. Wajahnya datar. "Kalau begitu lebih baik kalian pergi. Senang sekali berjumpa dengan engkau, Swift!"
Dengan mendadak orang tua itu telah pergi, meninggalkan Ben yang nampak bingung.
"Yaahh, eh"..," kata Tom sangsi. "Barangkali"..eh, kita sekarang langsung saja ke pangkalan Armstrong. Bagaimana?"
Ben memandangi temannya agak kurang senang.
"Engkau hendak main-main" Kita tidak punya bahan bakar atau udara yang cukup untuk itu. Dan merupakan jalur terpendek dari perlombaan Triangle nanti!"
"Aku tahu," kata Tom. "Aku hanya ingin tahu apakah engkau cukup perhatian!"
Mata Ben tampak menyala marah. Sejenak, lalu pudar.
"Ah, . . . maaf, Tom. Tetapi ayahku punya cara-cara sendiri dalam bertindak. Dan ia seperti tidak mau melihat dari sudut orang lain. Mari kita pulang saja ke New America. Kukira aku dapat mengurangi sedikit waktu reaksi deflektornya. Itu kalau aku dapat menggunakan komputer Langley sebentar saja!"
Tom membalikkan tubuh dan melangkah berat dalam pakaian ruang angkasanya. Ben menghela napas dan mengikuti.
*** Chet Worden dan Dan Deckert berada di geladak pendaratan. Nama kapalnya, Regine, ditulis dengan tangan dalam warna-warna yang menyolok pada sisi belakang dari ransel alat pernapasannya. Tom melihat ketika mereka melirik ke arahnya dan melangkah pergi ke kapal mereka sendiri. Tom melihat lewat samping mereka. Ia pun melihat Anita Thorwald dalam pakaian ruang angkasa berwarna hijau muda yang juga sangat menyolok. Anita sedang menghubungkan selang oksigen ke tangki-tangki oksigen pesawatnya.
Tom meraih pegangan untuk membuat persiapan loncatan awal. Kedua belah tangannya bekerja dalam ruang yang hampa udara.
Anita melihat ia datang, lalu dengan sengaja membelakanginya.
"Halo, Anita," kata Tom.
Ketika Anita tidak menanggapi, Tom mengangkat topi helmnya. Kemudian ia memeriksa bagian dalamnya di mana terletak alat-alat radionya. Ia ingin mengetahui apakah frekeuensinya tidak cocok.
Tetapi ternyata frekuensi yang digunakannya adalah frekuensi yang biasa digunakan untuk komunikasi umum.
"Anita?" Dengan kaku Anita menaiki pesawatnya, lalu melepaskan alat hisapan maknetiknya. Ia ingin seketika itu juga jet-jet pengemudinya menyemburkan udara agar segera berubah menjadi kristal-kristal es.
Pesawatnya, Valkyrie dengan segera tinggal landas dan lenyap di kehampaan di luar.
Tom hanya memandanginya. Mengapa ia dengan sengaja membelakangi dia" Ia mengira bahwa mereka sudah mulai menjadi akrab. Tetapi kenyataannya sekarang . . . . malah lebih buruk daripada sebelumnya. Ia mengangkat bahu, lalu melayang kembali dengan melewati Worden dan Deckert, untuk kemudian mengangkat tubuhnya sendiri kembali ke dalam Davy Cricket. Saat itulah ia baru menyadari bahwa Ben diam membeku.
"Ada apa, Ben?"
Dengan mulut tertutup Ben menunjuk pada komputer pengontrol.
"Jangan sentuh tombol starter!"
"Mengapa?" "Sengaja dikontsleting orang!"
Ben mengacungkan sebuah alat solder berinti rosin kecil.
"Aku melihat ini ketika masuk tadi. Alat ini melayang-layang di tepi komputer. Aku lalu memeriksa di bawah sini. Ternyata ada orang yang menghubungkan kawat pemberi arus pada mesin jet-jet kemudi. Demikian tombol kita tekan, semuanya akan terbakar termasuk pula komputernya!"
Tom duduk diam sebentar. "Orang-orang yang dulu juga" Atau siapa lagi?"
"Kali ini dilakukan dengan kasar, seperti tergesa-gesa. Yang dulu lebih teliti dan rumit."
Ben memandang ke arah Deckert dan Worden.
"Mereka punya cukup waktu ketika kita ada di dalam. Demikian pun Anita!"
Tom tidak tahu apa yang harus dikatakan. Percobaan sabotase untuk yang kedua kali ... taruhannya menjadi semakin tinggi. Mungkin mereka tidak akan mendapat cedera, tetapi pesawat mereka yang telah disetel halus dan rumit akan tidak dapat ikut dalam perlombaan. Tidak ada waktu lagi untuk membuat yang baru.
"Aku kira kita harus mulai menjaga Cricket!" Tom mengusulkan.
Ben mengangguk. "Aku punya beberapa orang teman. Kita sendiri butuh waktu untuk tidur!"
Ben beringsut dari tempat duduknya.
"Kautangani sebentar aku akan melepas kontsleting itu beberapa menit saja," katanya memandangi Tom. "Engkau rupanya sedang menduga-duga siapa yang telah melakukan itu, ya?"
"Ya, benar! Mengapa?"
"Ah, kita tahu mengapa"..untuk menghalang-halangi kita ikut perlombaan!"
Tom mengangguk. "Ya. Barangkali! Tetapi andaikata saja tidak ada hubungannya dengan perlombaan itu" Seandainya ada sesuatu yang lain?"
Ben memandangi temannya dengan tajam. "Hanya ada satu hal saja. Yang lain itu!"
Tom mengangguk, perlahan-lahan. "Grotz."
*** Tom dan Ben sedang duduk-duduk di salah satu taman di New America. Jauh di atas mereka, samar-samar, terlihat orang-orang yang mengendarai sepeda udara dengan latar belakang kebun-kebun dan pabrik-pabrik pada sisi lain dari silinder raksasa itu.
"Sebuah percobaan yang canggung," kata Ben. "Cepat, kasar, dan primitif"..tetapi dapat membuat hancur semua jerih payah kita!"
"Itu pasti hanya usaha untuk menghambat kita. Bukan untuk membunuh!" kata Tom dengan penuh pikiran.
Ia menghela napas dan melihat ke arah temannya yang berambut hitam itu.
"Nah, Ben. Kita tinggal menghadapi satu percobaan lagi untuk dapat mengetahui apakah alat-alat deflektor kita masih bekerja dengan baik. Mari kita mulai!"
Ben meletakkan kedua belah tangannya di lututnya. Kemudian ia lalu bangkit berdiri.
"Aku telah menyuruh teman-temanku untuk menjaga Cricket. Kita tidak perlu khawatir!"
"Tetapi engkau tetap akan mengeceknya, bukan?"
"Itu sudah jelas!"
"Apa yang sedang kalian kerjakan?" Doktor Grotz menjerit.
Chet Worden dan Dan Deckert terlonjak kaget. Mereka belum pernah melihat Grotz marah-marah demikian.
"Ka... kami kira, anda menginginkan kami melakukan hal itu, Doktor!" kata Worden dengan tubuh gemetaran.
"Kalau aku ingin kalian mengerjakan sesuatu, aku akan memberikan perintah! Mengerti" Aku tidak mau kalian sendiri memikir dan mengerjakan yang bukan-bukan. Mengerti?"
Kedua pemuda itu mengangguk dan berjalan keluar. Doktor Grotz bersandar pada kursinya. Jari-jari tangannya mengusap-usap rambutnya dengan gugup. Worden dan Deckert sudah mulai menjadi tanggungan baginya.
*** Pesawat Cricket bergerak mulus ke daerah percobaan. Jauh dari jalur lalulintas yang sangat penting, yang menghubungkan Bumi dengan Bulan serta satelit-satelit lainnya. Kali ini adalah uji coba untuk melakukan gerakan-gerakan yang memerlukan ruang yang luas.
Karena itu tempatnya harus sangat jauh hingga New America hanya tampak seperti noktah berkedip kecil pada layar radar mereka.
"Kontrol New America! Di sini Davy Cricket . . . kami sedang memasuki daerah Test Area Forty One. Minta izin untuk mulai melakukan percobaan-percobaan!"
"Davy Cricket. Di sini menara New America. Izin diberikan. Titik habis!"
Ben menunjuk dan Tom melihat sederetan noktah-noktah yang bergerak lambat di kejauhan, bersinar memantulkan cahaya Matahari.
"Bijih logam dari Bulan," katanya.
Tom mengangguk. Mereka mulai melakukan manuver. Setelah duapuluh menit uji coba terbang sangat cepat sambil menekan lengkung gerakan yang sekecil-kecilnya, Tom menutup kran jet plasmanya. Ia tersenyum simpul kepada temannya.
"Lebih baik dari yang kita duga. Semuanya serba mudah!"
Ben tertawa. "Setiap membelok masih memakan jarak beberapa kilometer!"
"Memang, tetapi ...."
Terjadi gangguan pada gelombang radio darurat. Terdengar lengkingan nyaring yang khas mendahului suara yang mendesak dari menara pengawas New America.
"Perhatian! Ada badai Matahari! Kami ulangi! Badai Matahari! Segera berlindung! Perhatian! Sedang terjadi badai Matahari!"
Ben dan Tom saling berpandangan sejenak. Badai Matahari selalu merupakan ancaman besar di ruang angkasa, dan yang paling berbahaya. Tetapi karena terlindung oleh lapisan atmosfir Bumi, manusia Bumi aman terhadap ancaman demikian. Sedang di angkasa luar hanya ada beberapa tempat saja yang terlindung. Dan salah satu fungsi dari lapisan tebal tanah dan batu-batuan di dalam kulit silinder New America adalah sebagai penangkal terhadap radiasi neutrino yang sangat berbahaya itu.
"Kita sudah terlalu jauh keluar," kata Ben.
Terlalu lama terkena radiasi neutrino dapat menewaskan mereka.
Mereka telah lebih dari limabelas menit terbang masuk ke daerah uji terbang. Kembali ke pangkalan dan masuk ke tempat yang aman akan memakan waktu lebih lama lagi. Kerangka pesawat mereka tidak memiliki lapisan pelindung seperti kapal-kapal angkasa lainnya. Hal inilah yang sedang dipikirkan Tom untuk memasangnya pada tahap terakhir, yaitu setelah segala perubahan dan perbaikan selesai dikerjakan.
"Cricket, Woofer, Valkyrie! Segera masuk!" terdengar suara menara New America. "Cepat kembali! Kalian sudah terlalu jauh!"
"Roger! Woofer segera masuk!"
"Jangan, tunggu dulu!" Tom menyela perintah itu.
"Valkyrie! Woofer! Cepat ke titik L-5! Ke belakang batu-batuan! Kiriman dari Bulan!" Sambil berbicara, Tom memutar haluan pesawatnya dengan semburan-semburan udara mampat. Kemudian ia menghidupkan jet plasma, menuju ke titik-titik yang berderet di layar radarnya.
"Mengerti! Cricket!"
Tom mendengar suara Anita. Tenang walau tegang!
"Berangkat!" "Woofer! Woofer! Kau mendengar kami?" Tom memanggil.
"Aku sedang berangkat pulang".terlambat! Selamat!"
Tom dan Ben saling berpandangan. Woofer tidak mungkin tiba pada waktunya. Sebab pancaran maut radiasi itu secara harfiah berkecepatan seperti cahaya. Mereka hanya punya waktu delapan menit menjelang datangnya puncak semburan. Pada saat itu radiasi telah mulai menimpa mereka kendati tidak nampak. Penemuannya saja sudah membuktikan bahwa semburan badai itu telah mulai datang.
Noktah berkedip di layar nampak membesar, memecah menjadi beberapa noktah kecil berderet-deret.
"Sembilan".sepuluh".sebelas ... dua belas".tigabelas," Ben menghitung. "Kuharap saja engkau tidak percaya kepada takhyul, Tom. Tetapi hanya tigabelas kereta angkutan itu saja yang kita dapatkan."
Tom menyeringai tanpa rasa humor.
"Setiap bandar memberi perlindungan dalam badai. Begitu bukan, pepatahnya?"
"Itu dia Valkyrie," kata Ben.
Tangannya menunjuk kepada layar radar, di mana nampak sebuah noktah baru. "Kita akan sampai lebih dulu daripada Anita."
"Pilih salah satu!" kata Tom.
Ben tahu apa yang dimaksud. Ia segera menghitung sudut terhadap muatan bijih yang paling besar antara mereka dan Matahari.
"Yang itu!" katanya.
Dan Tom memandang sekilas layar radarnya. "Betul! Valkyrie ... muatan ketiga dari sisi New America!"
"Roger! Cricket!"
Tom merubah kecepatan pesawatnya. Dengan jet-jet balik menyembur-nyembur pesawat itu melambat dan hampir berhenti di balik lindungan muatan raksasa. Ben melepaskan sebuah sauh magnetik, sementara Tom melepaskan jangkar yang lain. Deretan muatan itu melayang bagaikan hantu tanpa suara. Tom memandanginya. Ada beberapa macam. Yang satu berupa muatan batangan-batangan besi nekel sebesar paha, yang diikat dengan kabel magnetik. Enam muatan berupa peti-peti kaca yang dibuat dari pasir Bulan, berisi serbuk logam. Dan lagi berupa peti-peti yang sangat kuat, berisi muatan yang tidak mereka ketahui, tetapi jelas muatan yang rapuh. Dua lagi berupa batu-batu raksasa, yaitu bijih dari Bulan yang belum diolah, diikat menjadi satu dalam jaring yang ringan.
Kesemuanya itu dilepaskan dari permukaan Bulan beberapa hari yang lalu, bahkan mungkin sudah beberapa minggu. Mereka diluncurkan sepanjang peluncuran yang panjang, digerakkan dengan listrik untuk melawan gravitasi yang hanya seperenam gravitasi normal, dibidikkan secara teliti ke dalam orbit. Yaitu salah satu dari kelima daerah di mana gravitasi Bumi dinetralkan terhadap gravitasi Bulan.
New America sendiri terletak di depannya, di pinggir daerah gravitasi netral, yaitu di L-5. Sunflower terletak di daerah L-4. Peti-peti bermuatan bijih itulah yang merupakan satu-satunya perlindungan bagi Tom dan Ben.
Dan juga bagi Anita. Ia baru saja masuk. Jet-jetnya masih menyala-nyala. Hampir saja ia melampaui deretan peti-peti tersebut. Ia berhasil melakukan gerakan ke dalam posisi, dan Ben melemparkan sebuah sauh magnetik kepadanya. Mereka menarik pesawat Anita mendekat.
Anita lalu membuang sauh pesawatnya pada sebuah peti logam di belakang mereka.
Tidak seorang pun berbicara. Mereka mendengarkan suara-suara dari New America, dari pesawat-pesawat shuttle yang masuk, dari pesawat-pesawat lomba yang terbang mati-matian, dan dari menara New America. Mereka tahu, bahwa di sekitarnya sedang diamuk badai maut. Tidak terjadi perubahan apa-apa. Ketigabelas muatan itu berayun berombak, agak kehilangan keseimbangan karena ditempel oleh dua pesawat. Peti-peti saling berbenturan perlahan-lahan.
Mereka menunggu dalam keheningan. Badai Matahari biasanya tidak berlangsung lama.
"Tom?" Anita membuka suara.
"Ya?" "Ak"aku benar-benar ingin mengucapkan terimakasih. Naluriku sebenarnya menyuruh aku melarikan diri ke koloni. Aku tidak teringat sama sekali untuk berlindung di sini." Ia melihat ke sekeliling melalui topi helmnya. "Seperti engkau?"aku pun belum memasang lapisan pelindung"dan"yah, terimakasih!"
"Tidak perlu itu!" gumam Tom.
"He, dengar!" seru Ben tiba-tiba.
" New America! Kontrol kepada semua kapal. Keadaan darurat sudah berlalu! Radiasi matahari sudah kembali normal. Harap segera mengadakan pemeriksaan medis!"
Tom mendengar Ben menarik napas panjang. "Aku pun juga!" katanya.
Melalui jalur taktis, seorang operator memanggil mereka.
"Valkyrie, Davy Cricket . . . silakan masuk."
Tom dan Anita menyahut bersama-sama. "Kalian selamat di sana?"
"Ya," jawab Anita. "Kami berlindung dibelakang kiriman bijih."
Ia menoleh kepada Tom. "Berkat saran pilot Davy Cricket!"
Tom terkejut dan bingung. Memang selalu susah menerima pujian. Biarpun ia telah sering menerimanya, tetapi terasa sulit juga. Sudah jelas, Anita memuji dia dan dia merasa kurang enak.
"Itu kan sudah jelas," ia menggumam.
"Begitulah dengan banyak hal," kata Ben, "Kalau mereka diberi petunjuk. Terimakasih, Tom ... engkau benar-benar dapat cepat berpikir. Naluriku pun hendak lari mati-matian ke kandang!"
"Halo, teman-teman".mari kita pulang dan memeriksakan diri," kata Tom. "Lepaskan jangkar." Ia menyeringai kepada Anita. "Ingin berlomba ke pangkalan?"
Anita memandangi dia dari jarak yang memisahkan kedua pesawat mereka.
"Tidak"nanti saja pada perlombaan yang sesungguhnya. Pada waktu itu, Swift, aku akan mengalahkan engkau!"
Bab Empatbelas Tom mengancing bajunya ketika dokter itu berkata: "Engkau sehat sekali, seperti temanmu itu."
"Ini melegakan," kata Tom. "Bagaimana dengan si Yost?"
Pilot pesawat Woofer itu" Kasihan. Pesawatnya memang memberi perlindungan sedikit, tetapi ia dalam kesulitan. Mungkin ia tidak dapat mempertahankan hidupnya."
Tom menghela napas. "Sudah ada berita dari Greg Ellison?"
"Dia masih dalam keadaan koma. Mereka telah memberikan ginjal buatan kepadanya dan beberapa perbaikan lainnya. Tetapi ia memang parah sekali. Aku tak mengerti, mengapa ia melakukan tes tanpa izin Doktor Grotz."
"Memang, aku juga tahu," kata Tom muram. "Nah, terimakasih!"
"Ah, itu memang tugas kami."
Mereka saling melambaikan tangan dan Tom keluar ke lorong, di mana Ben sedang menunggu. Mereka saling tersenyum, kemudian tersenyum kepada Anita ketika sedang keluar dari kamar pemeriksaan.
"He, teman-teman! Kalian oke?" Mereka mengangguk dan Anita tersenyum. "Yang selamat bisa melangsungkan hidupnya, ya" Karena keberuntungan." Ia sangsi sebentar, senyumnya pudar.
"Dengar"ah"aku hendak mengaku. Di Sunflower"ah"itu salahku. Kesulitan yang kalian temui itu."
"Hampir kami celaka," kata Ben.
"Ya"..eh, maksudku"..baiklah, aku yang berbuat salah. Aku bercakap-cakap dengan Chet dan Dan. Aku berkata, wah aku ingin agar kalian berdua menemui sesuatu. Yang kumaksud adalah nasib. Maksudku, kuharap engkau mendapatkan nasib sial. Misalnya, sebuah meteorit entah dari mana, yang mengakibatkan engkau tak dapat mengikuti perlombaan." Anita memandang dengan wajah muram, jari-jarinya bermain-main gugup di rambutnya yang lebat.
"Orang-orang itu"mereka"yah, mereka menganggap kata-kataku serius. Mereka yang mengutak-atik komputermu."
"Engkau yakin?" tanya Tom.
"Aku mendengar mereka membicarakan hal itu." Ia sangsi sejenak.
"Dengar, aku tidak bermaksud agar mereka melakukan sesuatu. Kalian harus mempercayaiku. Aku hanya ingin terjadi sesuatu. Hingga kalian menjadi takut, atau semacam itu. Tetapi aku tak bermaksud agar kalian terbunuh! Dan kalian memang hampir terbunuh!"
"Mata rajawali Ben yang tajam telah menyelamatkan kami," kata Tom. "Kita akan waspada kepada mereka berdua untuk selanjutnya."
"Aku sejak dulu tidak menyukai mereka," Ben menggumam sambil berjalan di sepanjang lorong. "Kami telah beberapa kali mendapat tugas di tempat yang sama. Mereka selalu mencari akal untuk tidak melakukan tugas, mencari akal untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cepat, termasyhur dengan cepat."
Ben memandangi Anita dengan keras. "Dan aku juga tak peduli, kalau engkau bersama-sama dengan mereka."
"Aku tahu. Tetapi ayah Worden dan ayahku sama-sama mempunyai perusahaan di bawah sana, di Bumi. Mereka menjadi distributor produksi perusahaan ayahku, Thorwald Metals yang ada di atas sini. Dan Deckert adalah temannya, jadi"."
Anita nampak merasa serba salah. Ia berhenti di dekat air mancur yang ada patung yang indah di tengah-tengahnya.
"Aku memang tolol. Aku terlalu percaya kepada omongan mereka tentang engkau, Tom. Dan juga tentang engkau, Ben. Mereka memang ahli-ahli teknik yang baik. Keduanya pun adalah pilot-pilot yang baik. Mereka telah banyak membantu aku untuk menghadapi perlombaan beberapa bulan yang lalu, Mereka"."
Ia berhenti dan mengangkat bahu.
"Mereka bukan teman, mereka tidak lebih daripada hanya kenalan biasa. Mereka bukan anak-anak muda di sini yang juga memiliki perhatian yang sama."
Anita memandangi Ben. "Engkau sendiri demikian dalam terlibat dalam komputer-komputer, hingga banyak orang mengatakan engkau sendiri adalah sebuah komputer. Aku tidak tahu sama sekali bahwa engkau juga menyukai perlombaan."
"Tom yang menarik perhatianku ke sana. Ternyata lebih menyenangkan daripada yang aku duga."
"Menyenangkan?" tanya Tom. "Kita telah disabotase, hampir saja terpanggang oleh Matahari. Itu kaubilang menyenangkan" Perlombaannya saja belum dimulai!"
"Memang!" kata Ben menyeringai. "Menyenangkan!"
"Ya, menyenangkan!" Tom kemudian membenarkan sambil menyeringai.
"Aku masih tetap akan mengalahkan engkau, Swift!" kata Anita.
"Tom!" Tom menyarankan.
"Nama depan atau nama belakang, engkau toh akan terdaftar di belakang namaku," kata Anita selanjutnya.
Ia melangkah dengan kedua alisnya terangkat naik. Ia melambaikan tangannya cepat-cepat dan menghilang di sudut gedung konsulat Rusia.
Tom dan Ben berjalan ke arah yang berlawanan. Mereka bercakap-cakap dengan asyik, mengenai bagaimana bentuk alat pelindung pesawat mereka. Keduanya tidak melihat Chet Worden dan Dan Deckert muncul dari belakang semak-semak.
"Doktor Grotz tentu akan tertarik akan hal itu," kata Deckert sambil mengelus-elus janggutnya yang tipis.
"Ya!" Worden membenarkan.
Deckert menjilat bibirnya dengan gugup, tetapi suaranya penuh minat.
"Engkau tahu, ia akan mendapatkan hadiah Nobel. Dan ia yakin akan diangkat menjadi direktur. Kita akan dapat berbuat banyak kalau tetap mengikuti dia."
"Benar," Worden menyambung. "Dan aku juga tidak peduli untuk melakukan tugas-tugas kotor. Engkau?"
Ia menyeringai kepada temannya yang menjawabnya juga dengan menyeringai.
"Yaaah. Aku senang melihat sesuatu yang meledak. Lalu terbakar, lalu jatuh dan"."
"Ah, tutup mulutmu! Mari kita menemui dia!"
*** Pesawat telah mulai mempunyai bentuk. Pilot-pilot dan kopilot telah melakukan pemeriksaan-pemeriksaan terakhir. Banyak orang berteriak-teriak, mengeluh, cela-mencela, bergurau dan tertawa-tawa.
Ruang-ruang kerja semuanya penuh. Tom melihat seorang Cina duduk diam dan tidak bergerak di depan modul komputer yang masih mengepul. Dua dari awak yang terbesar, Royal Star dari kerajaan Afrika sedang saling berdebat. Para awak kapal Srilangka dan salah seorang dari Prancis sedang minum teh.
Tom melangkah ke arah Ben yang sedang membungkuk di atas sebuah komputer. Jari-jarinya sedang menari-nari di atas tombolktombol komputernya. Tom memperhatikannya melalui pundak Ben, sementara Ben sedang melakukan percobaan perbandingan terhadap apa yang diketahuinya tentang mesin peleburan Tom, mesin ciptaan Grotz dan mesin hasil riset Cal Tech.
"Kau berhasil menemukan sesuatu?" tanya Tom.
Ben menatap sebentar. Ia menunjuk dengan jarinya ke arah deretan angka-angka.
"Lihat! Grotz justru jauh sekali dari daerah faktor tegangan. Dan di sini ...." Ben menghapus angka-angka di layar. Ia lalu mengetik sebuah masukan sandi. Layar segera membentuk sederetan angka-angka lagi."Engkau dapat melihat sendiri perbedaannya"."
Ben tahu perasaan Tom lalu tertawa. "Oke, oke! Biarlah aku mengungkapkan dengan cara begini."
Jari-jari Ben kembali menari-nari di atas tombol-tombol di papan tombol. Layar menunjukkan angka-angka yang sama dalam bentuk grafik. Tom dengan mudah menemukan perbedaan pada jalur-jalur percobaan yang berlainan.
"Engkau dapat melihat".hmm".Cal Tech dan ... haaa"kita lihat saja percobaan MIT"ini riset Benford ...."
Ia menunjuk ke grafik-grafik tersebut.
"Lihat! Punya Grotz tidak terdapat di jalur ini, setidak-tidaknya di seluruh daerah tegangan ini."
Ben menatap Tom. "Kukira ia telah memalsukannya!"
"Memalsukan?" Tom merasa itu tidak mungkin.
"Benar, memalsukan! Aku kira hanya menerka-nerka. Membuat perkiraan. Lalu memalsu laporan percobaan yang tidak pernah dilakukannya. Dan ternyata tidak cocok dengan daerah tegangan yang seharusnya termasuk pula di sana!"
"Tetapi".tetapi itu tidak ilmiah!"
"Tetapi akan mengangkat namanya ... kalau tidak ada orang yang memergokinya. Ia mungkin sudah pernah melakukannya dulu, tetapi tidak ketahuan. Ia tentu bukan ilmuwan pertama yang memalsu sesuatu dengan terburu-buru, demi untuk sokongan dana atau memenuhi batas waktu."
"Ya! Memang aku sudah pernah mendengar hal demikian. Tetapi orang dengan reputasi tinggi seperti Doktor Grotz !"
Tom membalikkan tubuhnya. Ia lalu duduk di sebuah bangku. Salah seorang dari Rusia lewat sambil menatap marah kepada Tom. Ben menyeringai.
"Ada pula orang yang memang tidak suka bertanding," katanya, "Kapal-kapal Rusia menggunakan mesin-mesin ion yang terbesar."
"Lebih dari satu mesin?"
Ben mengangguk. "Ya"Tiga! Lalu mengapa" Amerika Serikat punya tujuh. Ada empat dari Jepang. Ini bukan soal banyaknya kapal, Tom. Tetapi "yang paling cepat dan paling mudah melakukan gerakan-gerakan."
"Dan yang tidak akan meledak!"
Senyuman Ben memudar. "Aku kira, engkau telah menemukan bukti-bukti, Tom!"
"Belum! Belum".aku belum punya. Aku baru mencurigai. Peta-peta perbandingan belum dapat dikatakan bukti. Tetapi"hmmm "kukira aku tahu dari mana aku memperolehnya."
"Tom! Kita harus segera berangkat!" Ia melihat ke arlojinya. "Tinggal sejam empat menit. Hee, ke mana engkau?"
"Keluar "."
*** Ruang ICU tenang sekali ketika Tom menuju ke meja perawatan.
"Greg Ellison! Bolehkah menengok dia?" Jururawat mendongak.
"Ia parah. Baru saja menjalani operasi pagi ini."
"Aku tahu. Tetapi ini penting sekali!"
"Menyesal! Tetapi kukira ia tidak boleh diganggu. Dokter mengatakan ia membutuhkan istirahat!"
"Satu menit saja! Ini sangat penting!"
"Jangan! Aku menyesal".." Ia kembali menghadapi alat pemeriksaannya. Ketika Tom tidak mau juga pergi, ia menengok melalui pundak dengan cemberut. Tom mengangkat bahu, lalu pergi ke elevator.
Tom menekan tombol dan berdiri menunggu. Ia mendengarkan suara-suara yang lemah dari rumahsakit kecil itu. Elevator tiba dan pintu-pintunya membuka dengan mendesis. Tom terpaksa melangkah ke samping untuk memberi jalan kepada sebuah kereta listrik yang keluar hendak lewat. Kereta itu penuh membawa sprei dan sarung bantal serta kotak-kotak berisi perban, dikemudikan oleh seorang wanita berseragam putih. Ia tersenyum acuh tak acuh kepada Tom, kemudian senyumnya melebar ketika diketahuinya siapa dia.
Tom membalas tersenyum. Dan beranjak pergi ketika pintu-pintu elevator mulai menutup kembali. Ternyata sudah terlambat. Ia mengangkat bahu kepada perawat yang tertawa sambil menjalankan kereta listriknya ke lorong yang putih mengkilat. Tom kembali menekan tombol elevator. Pandangannya tetap terpaku pada kereta listrik. Perawat itu turun, dan membuka pintu yang bertulisan Perlengkapan Lantai Empat, kemudian naik lagi dan mengemudikan kereta itu masuk ke dalam. Sesaat kemudian perawat itu keluar dan menutup pintu, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Tom ragu-ragu hingga perawat itu lenyap dari pandangan, lalu berjalan menuju ke ruang perlengkapan.
Ia mendengarkan dengan seksama, tetapi tak seorang pun nampak tertarik oleh kelakuannya. Ia menyalakan lampu dan melihat ke sekeliling. Kereta listrik itu tepat ada di depannya. Rak-rak di ruangan itu penuh dengan kain-kain sprei, sarung bantal, handuk kotak-kotak, perban dan perlengkapan pengobatan semacam itu.
Tom cepat-cepat berjalan di antara rak-rak sambil melihat-lihat. Tentu saja ia teringat akan film-film, di mana seseorang menyamar sebagai dokter berseragam putih dan membawa stetoskop. Tetapi hal itu lebih sulit dipraktekkan daripada dikatakan.
Tom berhenti di depan sebuah kursi roda yang ada di sudut. Tiba-tiba wajahnya merekah tersenyum lebar. Ia segera ke rak yang berisi dos-dos pembalut plastik yang dapat ditiup dikembangkan. Alat-alat itu ringan terbuat dari plastik yang dilapis, yang bisa ditiup menjadi sangat kaku. Tom menemukan ukuran yang diinginkan, lalu mulai mencari-cari perban.
Kursi roda listrik itu bergerak lambat di sepanjang lorong, menjelajah dari pintu ke pintu. Dengan bagian bawah wajahnya diperban, tangan kirinya dibebat dengan pembalut plastik, demikian pula kaki kanannya, Tom nampak seperti seorang pasien yang kesepian. Ia bertemu seorang pemuda yang terpincang-pincang dengan kruk, yang menanyakan kepadanya apa yang telah dideritanya.
Tom menunjuk ke wajah bagian bawahnya, menggumam tak nyata dan mengangkat bahunya.
"Keliru berbuat sesuatu, ya?" kata si pincang sambil tertawa. Ia menepuk pasien yang diperban itu pada pundaknya lalu pergi terpincang-pincang.
Pengendara kursi roda itu begitu saja lewat ke ruang besar. Ia menunggu hingga sekelompok perawat berkerumun di depan meja sebelum ia berlalu lagi. Kemudian ia melanjutkan menjelajahi pintu demi pintu, menjenguk ke dalam, dan membaca nama-nama yang tertera di pintu.
Akhirnya, di depan kamar 414 ia berhenti. Ia memutar kursinya tigaratus enampuluh derjat sambil mengawasi ruangan itu. Kemudian dengan cepat Tom masuk ke pintu rumah sakit dan menghilang di dalamnya.
Kamar itu tenang. Tom hampir tak melihat tubuh Grek Ellison di bawah mesin-mesin kedokteran. Dari langit-langit kamera-kamera dan sensor-sensor diarahkan kepada Greg. Alat-alat yang melekat di lantai berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Banyak tabung-tabung, sebuah layar dengan grafik denyut jantung, dan sebuah alat transfusi darah.
"Greg?" Tak ada suara dan gerakan kecuali napas si pasien. Tom mendekat. Ia tak suka pada rumah sakit. Bau! Banyak benda-benda yang tak disukainya. Memang, orang tak pernah menyukai rumah sakit, tetapi di mana-mana terdapat rumah sakit.
"Greg" Di sini Tom Swift, Greg. Greg Ellison?"
Matanya berkedip-kedip, lalu terbuka. Rupanya pandangannya kabur, tetapi mata itu perlahan-lahan terarah ke Tom.
"Swift" Engkau"yang"menyelamatkan aku?"
"Aku yang menolong, memang."
"Engkau kena apa?" tangannya yang lemah menunjukkan keadaan Tom.
"Pura-pura. Mereka tak mengizinkan aku menjenguk engkau, karena eh"doktor Grotz." Tom sangsi. Barangkali ia bertindak terlalu jauh.
"Benyamin Franklin Walking Eagle dan aku menduga, bahwa Grotz banyak memalsukan percobaan-percobaan. Tahukah engkau dia berbuat demikian?"
"Tidak".aku"." Greg seperti hendak pingsan, kemudian matanya terbuka lagi. "Nanti dulu"ada sesuatu"aku "aku"."


Kota Angkasa Luar Seri Tom Swift 1 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tenanglah." "Aku mencurigai sesuatu".."
Sebuah layar dan sebuah alat mulai berdetak.
"Delta".lihatlah ke Delta".berkas Delta"Kukira ia".melaksanakannya dengan".baik"."
"Tenanglah, Greg!"
Tom mendengar suara langkah kaki di lorong.
"Tidak".engkau menyelamatkan aku".aku berhutang budi".."
Dua orang perawat masuk, diikuti seorang dokter yang gemuk pendek.
"Ada apa di sini?" tukas dokter itu. "Siapa engkau?" Siapa doktermu?"
Tom mundur sedikit dari tempat tidur sementara jururawat maju mendekat.
"Aku hanya ingin mencari teman untuk omong-omong."
"Dokter Davis, tekanan darahnya naik," kata salah seorang jururawat. Ia membaca angka-angka pada layar monitoring di dinding, sementara dokter itu membungkuk memeriksa Ellison.
Dengan diam-diam Tom mengundurkan diri, keluar, lega dapat pergi tanpa diketahui.
Berkas Delta" Alpha, Beta, Gamma, Delta. Berkas yang keempat" Berkas apa" Di mana harus dicarinya" Ben! si Indian itu tentu dapat menemukannya!
*** "Delta?" Ben berpikir-pikir. Ia mengetik beberapa angka lalu menghapusnya lagi dari layarnya. Kemudian dimulainya lagi.
"Barangkali ini adalah berkas bersandi pada hasil-hasil percobaan Grotz. Mari kita lihat lagi." Ben menutup matanya dan mendongakkan kepalanya sejenak. Kemudian ia mengetik beberapa angka dan indeks hasil-hasil percobaan Grotz nampak di layar.
"Inilah data yang lengkap," kata Ben. "Bukan hanya informasi yang diumumkan."
"Sungguh licik," kata Tom.
"Sudah kukatakan, sebuah komputer tak mungkin menyembunyikan rahasia-rahasianya terhadap aku. Aku didesas-desuskan sebagai keturunan ketujuh dari anak laki-laki ketujuh!"
"Desas-desus" Siapa yang memulainya?"
"Aku! Lihat, sebuah pasukan delta."
Jari-jari Ben mengetik lagi dan layar menjadi kosong, kemudian seketika itu pula menunjukkan tanda REJECT.
"Apakah ia tahu kita datang?" tanya Tom.
"Kukira tidak," jawab pemuda Indian itu. Ben menyandarkan diri di kursinya, memberengut penuh konsentrasi.
"Ia hanya telah siap untuk menghadapi gangguan semacam ini. Yang paling buruk ialah, komputer itu dapat mengenali semua terminal yang ada di New America. Aku dapat saja menembus pengamanan Grotz, tetapi akhirnya ia tahu siapa yang mencarinya dan dari mana! Mungkin ia sudah akan membuat kesulitan bagi kita sebelum kita siap menghadapinya. Tetapi hanya itulah yang dapat kita lakukan."
"Tidak. Bukan hanya itu," kata Tom penuh gairah. "Bagaimana kalau kita menghadap komputer itu dengan terminal yang tidak terdaftar?"
"Mukzizat memang terjadi setiap hari! Jelas, itu tentu akan lebih cepat dan sangat pribadi sifatnya. Tom, tetapi di mana "
"Akan kujelaskan sebentar, Ben. Mari kita pulang. Aku harus menelepon seseorang."
*** Beberapa menit kemudian, Ben terkejut melihat Anita berdiri di depan pintunya dengan wajah penuh teka-teki.
"Cara berbicaramu di telepon, Tom, kukira kalian sedang menghadapi bencana diseret keluar ruang angkasa oleh makhluk bermata satu! Sekarang kulihat, kalian justru sedang begini. Ada apa sebenarnya?"
Tom mendekati si cantik berambut merah lalu memegangi pundaknya dengan kuat tetapi lembut.
"Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya dengan lembut, Anita. Tetapi dengan apa yang pernah terjadi pada kita dan di antara kita, engkau harus tahu bagaimana perasaanku terhadapmu, Ben dan aku membutuhkan bantuanmu".maksudku, kami perlu menggunakan komputermu!"
"Apa ..." kata Ben, memandangi Tom dan Anita berganti-ganti.
Anita mengedipkan matanya dengan heran, kemudian menggulung celana jumpsuitnya, memperlihatkan kaki palsunya. Ben bersiul terheran-heran.
"Aku tak tahu bagaimana tanggapanmu tentang permintaanku ini, tetapi aku terpaksa harus memintanya," Tom melanjutkan. "Engkau bereaksi dengan cepat ketika aku menyebut kaum cyborg ...."
"Aku menyesal," Anita menyela. "Aku tak tahu apa yang harus kukatakan".kecuali sejak aku bertemu engkau, aku menjadi sangat bingung! Kukira aku harus membencimu, tetapi".eh"sejak Dan dan Chet melakukan sabotase atas pesawatmu, aku lalu mulai berpikir-pikir. Ah, aku akan berhenti menggunakan kata-kata secara taktis, dan hanya mengatakan apa adanya! Aku sendiri tak senang akan diriku dan apa yang akan kulakukan sejak dimulainya perlombaan ini. Tentu, aku ingin menang! Aku selalu ambisius dan ingin bersaing hal itu karena aku anak tertua! Ayah menginginkan seorang anak laki-laki, tetapi justru mendapatkan aku! Kukira ayah tak akan mendapat anak yang lain, karena itu hendak melakukan apa saja dengan yang dimilikinya. Ia mulai mengarahkan aku ke urusan usaha, boleh dikata sejak dari aku masih bayi di ayunan! Sembilan tahun kemudian lahir adikku laki-laki. Tetapi sudah terlambat untuk membuat aku kembali sebagai anak perempuan biasa!"
"Engkau tak perlu memberi penjelasan, Anita," kata Tom lembut.
"Aku yang menghendakinya! Ketika aku marah dan membencimu karena kukira engkau membuat kesalahan, sebenarnya aku telah menghukum diriku sendiri berulang-ulang ... yaitu terhadap kesalahan yang kuperbuat beberapa tahun yang lalu. Itulah yang menyebabkan kakiku diamputasi! Aku mencoba menyenangkan ayah, dan aku benar-benar melakukannya. Aku berusaha menjadi yang terbaik bagi segalanya . . . karena aku seorang perempuan. Aku tahu, tak ada salahnya bagi anak perempuan untuk berambisi dan mengejar karir, tetapi aku ingin menjadi segala-galanya bagi ayah! Aku harus menjadi yang nomor satu dan yang terbaik dan pada suatu hari, aku terlalu tergesa-gesa untuk memenangkan persaingan! Aku mengalami kecelakaan dengan beberapa mesin dan cedera parah. Untunglah hanya kakiku yang tergilas. Sebetulnya dapat lebih parah lagi . . . tetapi seorang ahli teknik telah menyelamatkan jiwaku. Beberapa hari kemudian orang itu meninggal."
"Anita ".."
"Biarkanlah aku menyelesaikannya, Tom! Aku mulai memeriksa diriku sendiri untuk pertama kalinya. Aku tak senang akan apa yang kulihat itu. Aku telah demikian dimakan ambisi, hingga aku menghendaki, agar siapa pun terkutuk semua! Aku ingin melakukan sesuatu untuk membersihkan segala keburukan itu sebelum terlambat. Tom, kalau engkau memerlukan bantuanku, engkau tentu akan memperolehnya."
"Kita akan masuk secara tidak sah ke dalam ruang berkas-berkas Doktor Grotz, Anita," kata Ben setelah beberapa saat. "Persis seperti orang melakukan pada film-film kuno, bila mencuri masuk ke kamar orang lain untuk melihat-lihat berkas-berkasnya. Tetapi kita akan melakukan itu dengan komputer, dan kita tidak ingin Grotz dapat mengetahui siapa yang melakukannya."
"Mengapa Ben?" "Sebab kami menduga Grotz menyembunyikan beberapa informasi tentang mesin penggerak Daniel Boone, yang mungkin akan menjadi fatal. Kalau kita berhasil menemukan apa yang kami cari, engkau akan mengerti seluruh situasinya!"
"Oke!" kata Anita.
Ia menggulung lengan bajunya untuk memperlihatkan gelangnya.
"Apakah ini ada sangkutpautnya dengan 'kecelakaan' yang selalu kaukatakan itu, Tom?"
"Ya! Ini akan membuktikan apakah yang terjadi atas diriku itu suatu kecelakaan benar ataukah bukan!"
Ben mulai menekan-nekan tombol-tombol mini pada gelang Anita itu.
"Daripada menggunakan komputer langsung melalui terminal umum, lebih aman menggunakan komputer pribadimu, karena dapat lepas dari pengawasan komputer pusat."
Beberapa detik hening. Kemudian kristal LED pada gelang itu menunjukkan beberapa simbol-simbol.
"Aha!" kata Ben hampir merasa puas.
Tom memandangi dengan semakin gembira, sementara Ben mencari-cari 'kunci' di dalam kunci. Suatu deretan kode yang akan membuka informasi rahasia tersebut.
"Apa yang harus kaulakukan," kata Ben lirih, ketika ia memandangi layar mini sambil menekan-nekan tombol-tombol mini pada gelang Anita, "ialah menggubah agar buruan itu mau keluar. Guru-guru Besar ilmu sejarah selalu menggunakan petunjuk-petunjuk bersejarah. Hampir selalu yang klasik, hampir selalu yang remeh-remeh. Orang matematik menggunakan kode-kode di dalam kode. Orang politik mempunyai kata-kata sandi Operation Bailout, Operation Hideout, sajak-sajak, kata-kata masa lalu seperti nama-nama kota kelahiran mereka atau juga nomor induk Tentara ...."
Suaranya menghilang. Ben bersenandung tanpa lagu. Matanya terpaku pada layar di gelang Anita.
"Aahh"." kata Ben lirih.
"Apaa?" tanya Tom dan Anita bersama-sama penuh gairah.
"Mari kita pindahkan ke layar yang besar." Dengan menekan tombol pada komputernya, lalu menunjuk ke layar yang segera membentuk sebuah indeks.
"Ia meletakkannya dengan menggunakan sandi Bonaparte. Banyak hal-hal yang dimasukkannya ke sana secara sembunyi-sembunyi" Hmm, lihat"Itulah Prometheus!"
"Itu nama yang digunakan untuk mesin penggeraknya," kata Tom kepada Anita.
Ben segera menekan-nekan tombol urut-urutan sandi tersebut.
Kemudian bersama dengan Tom dan Anita ia menunggu denganterpukau terbentuknya huruf-huruf dan angka-angka di layar. Apa yang mereka lihat adalah hasil tes yang tidak dimasukkan dalam informasi yang diumumkan. Tom dan Ben saling memandang. Tujuh dari tigabelas percobaan 'rahasia' itu memang tidak pernah dilakukannya.
"Ia memang memalsu!" kata Ben tenang. "Orang dengan nama besar seperti dia!"
Hening sejenak. Kemudian Tom membuat catatan dari urut-urutan sandi yang diperlukan untuk membuka informasi dari kumpulan rahasia ke dalam layar pengamatan.
"Engkau tahu, Tom. Aku kira, Grotz sudah merencanakan kecelakaanmu," kata Ben.
"Tetapi ...." "Ya, aku mengerti! Ia seorang ilmuwan ternama. Ia juga banyak punya masukan di sini. Kalau engkau disingkirkan, dirubah ke dalam saluran-saluran lain, atau terbunuh, ia akan bebas dari saingan. Mungkin ia sedang mencari kesalahan-kesalahan itu seorang diri."
"Uji terbang di mana Greg Ellison mendapat cedera!" Anita menyela. "Ia tidak ingin kalian atau orang lain menemukan kesalahan tersebut"ia memperhitungkan akan mampu untuk memperbaikinya sendiri!"
"Ya, dengan melangkahi jenasahku, kalau perlu! Aku harus menemui dia untuk bicara!" kata Tom sambil menegakkan duduknya.
"Hati-hati! Barangkali lebih baik kauserahkan kepada bagian Keamanan!"
Tom menggeleng. "Mereka tidak akan mengerti pentingnya tes-tes yang tidak dilakukan itu. Dan Grotz masih pejabat direktur New America. Siapa yang akan mereka percayai" Dia atau aku" Tidak! Aku harus berbicara sendiri! Mungkin ia telah menemukan kesalahan itu. Mungkin semuanya akan menjadi beres."
Ben nampak tidak tenang. "Mungkin keju Limburg akan berbau harum seperti bunga mawar! Aku bilang, temuilah ayahmu dahulu. Biarlah dia menangani. Ia tahu siapa orang-orangnya yang tepat!"
Sekali lagi Tom menggeleng.
"Masih terlalu banyak dari pihak kita yang hanya akan memasalahkannya sebagai pengandaian. Mungkin ia telah menyimpan hasil-hasil tes ini pada berkas lain."
"Ah, itu sudah barang tentu," kata Anita masam.
"Aku harus menghadapi dia sendiri! Dan mencari kebenaran".."
"Lalu apa lagi?" Anita menyela.
Suaranya memotong di antara kedua pemuda itu bagaikan pisau. Mereka memandangi si rambut merah yang sudah berubah pendiriannya itu dengan mulut ternganga.
"Kaukira ia akan dengan mudah menggulingkan dirinya dan berpura-pura mati" Apakah engkau begitu tolol" Lalu mengira bahwa ia akan menyerahkan diri sebagai orang terhormat" Ia telah membuktikan tidak punya rasa terhormat. Bagaimana engkau dapat berharap dia akan mau berlaku menurut hukum?"
"Ia seorang ilmuwan, seorang berpendidikan. Terlalu banyak taruhannya untuk melakukan hal-hal yang sinting."
"Ya, dan memang banyak yang harus dipertaruhkannya untuk membiarkan engkau menghancurkan dia!" seru Anita setengah menjerit.
"Setidak-tidaknya, biarkanlah kami menemani engkau, Tom!" kata Ben menengahi.
"Jangan! Tetapi".terimakasih. Sebaiknya engkau mencoba menghubungi ayahku. Pindahkan berkas Bonaparte . . . sebelum terjadi sesuatu dengan berkas tersebut!"
Ben dan Anita memandangi temannya itu pergi.
"Selamat!" Anita meneriakinya.
"Kita tidak dapat menahan dia," sambungnya setelah pintu tertutup di belakang Tom.
"Tidak!" jawab Ben.
Ia hanya berharap, sikapnya yang ketus itu dapat menyembunyikan rasa cemas terhadap temannya.
"Yang terakhir ke bagian Telekomunikasi inilah yang merupakan telur busuk!"
"Aku akan menemanimu, Anita!"
Lima menit kemudian wajah Tom Swift Senior dan Gene Larson muncul di layar jarak jauh.
"He, he! Kami tidak akan dapat menangkap kalau kalian berbicara bersama-sama!" kata Larson.
Ia dengan sengaja menekan suaranya menjadi keras dan datar. Itu adalah suatu cara yang berhasil selama beberapa tahun untuk menerobos kegaduhan dan menuntut perhatian orang. Karena itulah ia dapat mempertahankan tugasnya. Hal itu, ia juga berhasil terhadap kedua muda-mudi yang terlalu bergairah memberikan peringatan kepadanya melalui telepon umum di New America.
"Bonaparte!" Ben berseru kepada ayah Tom dan Larson. "Harap sekarang juga hubungkan urutan itu dari komputer kami! Sebab sewaktu-waktu akan dapat dihapus. Dan itu adalah bukti yang dicari-cari oleh Tom. Mesin Grotz tidak mungkin bisa bekerja. Dan berkas itulah yang dapat mengatakan sebab-sebabnya!"
Ben dan Anita mengikuti keheningan yang mencekam. Sementara itu kedua orang itu memusatkan diri pada sesuatu di markas S.E., yaitu layar komputer raksasa model Langley.
Mata ayah Tom tidak bisa beralih dari layar komputer. Tetapi Ben dan Anita dapat menangkap kewibawaan suaranya ketika ia berbicara kepada mereka. Mereka mendengarkan dengan seksama.
"Aku akan memberikan kalian perintah-perintah. Aku tahu, memang sulit bagi kalian untuk mengikutinya. Tetapi lakukanlah tepat seperti yang aku katakan. Jangan berbuat apa-apa! Aku tahu siapa Hans Grotz! Dan aku pun tahu apa saja yang dapat ia lakukan!"
"Tom mungkin menghadapi kesulitan sangat besar sekarang ini," kata Anita.
Ben mengangguk, tetapi diam khawatir.
Bab Limabelas "Mari kita berbicara tentang Bonaparte!" ajak Tom.
Ia memandangi Grotz dari seberang meja kerja pejabat direktur itu. Dan ia tidak dapat melihat dengan jelas. Tetapi ia merasakan orangtua itu dengan tidak sadar, tersentak. Grotz meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia memandangi Tom dengan berdiam untuk beberapa detik. Kemudian, dengan tak disangka-sangka, ia menyerang anak muda itu.
Tom tertangkap dalam keadaan tidak siap menghadapi serangan tiba-tiba itu. Ia mencoba untuk melangkah ke samping, lalu melontarkan pukulan Karate kepada orang yang lebih besar itu, tetapi ia telah kehilangan keseimbangan. Ternyata Grotz cukup gesit walau tubuhnya besar dan sudah tua. Grotz mengitari mejanya dan memukul Tom dengan keras hingga terjatuh. Kemudian ilmuwan tua itu menindihnya, menghabiskan sisa udara dalam tubuh Tom.
Tom berjuang keras melepaskan diri dari tindihan berat itu, dan akhirnya berhasil. Tetapi Grotz sangat cepat. Ia menghentakkan kaki Tom. Tom memutar tubuhnya. Dalam sepersekian detik ia melihat wajah Grotz.
Wajah itu merah. Orang bertubuh besar itu basah berkeringat dalam usahanya menggunakan tenaga fisik yang tidak biasa ia lakukan. Yang sangat mengerikan ialah pada wajah itu tidak terbayang sedikit pun emosi lainnya. Tom lebih senang menghadapi mata melototnya orang gila atau apa saja yang menampakkan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi pada saat itu wajah Grotz nampak sama seperti orang yang sedang membuka tutup botol, memukul paku atau sedang membaca.
Demikian juga ketika ia begitu sampai hati membiarkan awak kapal Daniel Boone meninggal; pikir Tom. Anita ternyata benar. Entah bagaimana orang dapat kehilangan sifat kemanusiaannya, dan tidak pernah menyadari bahwa perasaan itu telah lenyap.
Tiba-tiba Tom mendengar pintu kantor Grotz terbuka. Lalu Suara-suara langkah kaki yang mendekat. Ia mendongak dan melihat Chet Worden dan Dan Deckert menatap ke bawah kepadanya. Grotz tidak memanggil mereka. Tetapi jelas! Kedua pemuda itu memang bekerja untuk Grotz. Dan mereka berdua tentu dapat menjelaskan banyak hal.
Apakah Anita mengetahui hal itu"
Grotz masih terus memukul Tom dengan tinjunya yang berat. Dan sekarang Worden dan Deckert ikut serta dalam perkelahian itu.
Meskipun Tom berhasil mengelakkan beberapa pukulan, tetapi yang telah mengenainya cukup membuatnya pening. Dan Tom semakin banyak menerima pukulan-pukulan lagi, satu demi satu secara berturut-turut. Maka akhirnya tidak kuat, penglihatannya menjadi gelap dan ia merasa seperti melayang jatuh".
"Tok-tok-tok"cekrek".tok-tok-tok
Perlahan-lahan Tom menjadi sadar. Ia membuka mata, berkedip-kedip. Ia rasakan kepalanya berdenyut-denyut, darah keluar dari mulutnya. Pandangannya kabur. Ia mengedip-ngedipkan matanya untuk dapat melihat lebih jelas. Seluruh badannya terasa sakit.
Dengan hati-hati Tom mengangkat kepalanya. Ia mencoba untuk melihat ke arah datangnya suara. Grotz! Kali ini seorang diri, sedang membungkuk pada komputer. Dengan cepat ia mengetikkan beberapa instruksi. Kemudian orang bertubuh besar itu mendesak dan menyandarkan tubuhnya. Ia memandangi layar yang tidak dapat dilihat oleh Tom. Ia bersenandung puas dan beranjak berdiri. Tom segera berpura-pura masih pingsan. Sebab memang ia tidak kuat untuk berkelahi pada saat itu.
Ia mendengar Grotz mendatangi, lalu menyepak-nyepak beberapa sampah akibat perkelahian itu. Ia mendengar Grotz menggerutu. Kemudian hampir saja ia berteriak kesakitan ketika Grotz menendangnya.
"Gila! Kaukira anak kecil ingusan seperti engkau dapat mengalahkan Hans Grotz?" terdengar ketawanya pendek dan jelek. "Sekarang aku masih harus membereskan teman Indianmu juga, mengerti!"
Tom mendengar Grotz melangkah pergi menginjak-injak pecahan kaca. Kemudian pintu tertutup. Perlahan-lahan Tom membuka mata, lalu duduk. Kepalanya terasa melayang-layang.
"Mereka tentu telah memukuli aku, ketika aku pingsan," ia menggerutu.
Dengan berpegangan pada perabotan, Tom berdiri. Dengan gontai ia berjalan ke komputer. Ia menekan tombol ke bagian Telekomunikasi.
Ia menghubungi kamar Ben. Tidak ada tanggapan. Ia mencoba menghubungi Anita. Tidak ada jawaban juga. Ia lalu memanggil bagian Keamanan.
"Kami tidak dapat menahan Doktor Grotz atas laporanmu yang demikian itu, Swift! kata letnan itu. "Bagaimana pun juga ia adalah pejabat direktur!"
Polisi itu menatap Tom melalui layar hubungan televisi.
"Engkau seperti cedera parah!"
"Biarkan diriku! Carilah Grotz! Carilah Ben Walking Eagle!"
"Maaf, bung! Datanglah sendiri kemari. Isi formulir pengaduan, dan kami akan bertindak! Tetapi aku tak akan menangkap Doktor Grotz hanya dengan laporan lisan dari seorang saja?"
Tom mendengar langkah-langkah di latar belakang. Kemudian wajah baru nampak di layar.
"Aku sersan Workman," kata orang itu. "Kami mendapat komunikasi penting dari ayahmu. Kami baru saja melakukan pencarian untuk menemukan kamu. Grotz terlihat di ujung bagian selatan. Ia memegang senjata. Kami kira ia sangat berbahaya. Kami belum berhasil menemukan Benyamin Walking Eagle."
"Grotz sedang mencari Ben," sela Tom. "Kalian harus menemukan dia!"
"Kami akan berusaha. Ayahmu juga sedang menuju kemari, nak. Yang terbaik bagimu ialah segera kembali ke kamarmu sendiri. Tinggallah di sana sampai semuanya telah selesai!"
Tom menyeringai kesal. "Itu tidak mungkin! Grotz sedang akan membunuh Ben dan kalau ia tahu bahwa Anita Thorwald juga terlibat dalam urusan ini, ia pun akan membunuhnya. Aku harus menemukan mereka!"
Tom memutuskan hubungan, lalu menuju ke pintu. Ia berhenti sebentar. Lalu kembali lari ke komputer. Ia menekan-nekan kode pribadi Ben dan minta ditampilkan pada 3780, tanda-tanda sandi pada berkas-berkas Grotz. Layar tetap kosong.
Dengan cepat Tom memeriksa sandi-sandi lainnya. Ternyata Grotz telah menghapus semua inti ingatan komputernya. Yah, setidak-tidaknya Ben dan Anita telah menghubungi ayahnya. Ia hanya berharap agar Swift Enterprises mendapatkan informasi untuk menghentikan segala kegiatan pembangunan mesin penggerak Prometheus, sebab sekarang sudah tidak ada bukti-bukti sama sekali, tidak ada apa-apa lagi. Dan jika Grotz berhasil menghalang-halangi Ben untuk membangun bukti-bukti itu lagi"itu berarti membunuh dia".maka Grotz akan bebas. Siapa yang akan mempercayai anak-anak muda dibandingkan dengan Doktor Hans Grotz yang besar itu"
Tom bergerak ke arah pintu. Setiap langkahnya membuat kepalanya berdenyut sakit. Aduh, dengan apa mereka memukuli aku"
Worden dan Deckert! Apakah mereka juga sedang mencari Ben" Ia pikir hendak menghubungi bagian Keamanan lagi. Tetapi segera ia lepaskan pikirannya itu. Lebih baik aku dapat menemukan Ben, sebelum mereka, pikirnya.
Di mana kira-kira Ben dan Anita berada sekarang ini" Begitulah Tom berpikir. Mereka tidak ada di kamarnya. Dan barangkali juga tidak ada di hanggar pesawat. Ben pernah berkata hendak melakukan perbaikan terakhir pada pesawat Cricket " sebuah memori yang sangat diperlukan pada komputer pesawat " dan ia tidak mungkin melihat Ben dan Anita bersama-sama, karena perlombaan telah semakin dekat.
Jadi, di manakah mereka" Kita baru saja menghadapi ketegangan-ketegangan, barangkali saja mereka sedang bersantai ha, tentu saja!
Ruangan bola tangan gravitasi nol!
Tom keluar, ke jalan. Lagi-lagi setiap langkah, rasa sakit menghentak di kepalanya. Sebuah kereta listrik melaju mendekat. Ketika kereta itu melambat, Tom mengenali Phil Castora, si 'orang tua' yang pernah dijumpainya.
"Phil, tolong! Bawa aku ke ujung selatan!"
"He, anak muda! Sabar! Aku datang untuk membawa engkau ke rumahsakit! Ini perintah sersan Workman!"
"Jangan! To ... tolong ke ujung selatan! Aku harus menghentikan Doktor Grotz yang akan mencelakakan Ben Eagle! Dan Anita Thorwald mungkin juga bersama dia!"
"Kutu busuk!" Orangtua itu mengacungkan tangannya dan menarik Tom naik ke keretanya.
"Aku berhutang budi kepada ayahmu dengan pekerjaan ini. Nah, katakan apa yang terjadi!"
Kereta listrik itu semakin cepat meluncur. Castora dengan sigap mengemudikannya. Sementara itu Tom menjelaskan keadaan pada saat itu.
"Ya, mereka sedang mencari Grotz sekarang ini, nak!" kata Castora.
Sementara itu mereka sedang naik ke tangga di ujung selatan koloni itu.
"Sekarang aku akan memanggil bagian Keamanan. Dan kita akan menunggu mereka menemui kita di sini."
Tetapi Tom melompat turun dari kereta sebelum berhenti sama sekali. Ia lari naik ke tangga secepat-cepatnya.
"Tidak ada waktu lagi, Phil!" ia berseru. Ia melanjutkan usahanya menaiki tangga.
Ia berhenti untuk menarik napas panjang, lalu memandang ke atas. Jarak itu sungguh jauh meski tertolong gravitasi yang turun pada setiap langkahnya. Namun tetap saja jarak itu masih panjang.
Tom mulai berlari lagi. Ia memusatkan diri pada anak tangga, melangkah tiga anak tangga sekaligus! Jangan pikirkan rasa nyeri, sakit! Pikirnya. Padahal ia merasakan seperti sebuah paku yang dipukul-pukulkan ke kepala setiap ia melangkah.
Lari! Lari lebih cepat lagi!
Ia berhenti lagi. Terengah-engah! Perutnya naik turun kepayahan. Dan hatinya penuh kekecewaan. Tubuh kita tidak terbiasa tanpa beban, pikirnya.
"Perlu waktu untuk membiasakan diri! Dan aku tidak menggunakan waktu itu!" Tetapi biarlah . . . terus lari!
Tiba-tiba ia sadar, bahwa ia telah melayang-layang untuk beberapa saat, melompat-lompat dengan langkah yang sangat panjang! Dan geladak sepeda udara itu tepat ada di atasnya! Tom membelok, menuju ke kubah ruang pengatur zerograf. Ia meraih pagar tangan, lalu melayangkan tubuhnya ke sebuah jendela.
Di dalam, dua sosok tubuh memantul-mantulkan diri dari dinding ke dinding, melayang mondar-mandir, kedua tangan berayun-ayun melemparkan bola dengan kecepatan tinggi. Ben dan Anita. Keduanya selamat!
Tom bergegas ke pintu katup yang terdekat. Pada saat itulah ia melihat Grotz. Doktor itu sedang membuka pintu. Sesuatu ada di genggamannya".sebuah pestol!
Itulah sebuah pestol jarum, dengan peluru-peluru seperti jarum yang bersirip yang dilontarkan secara listrik. Di dalam magasennya terdapat seratus peluru. Grotz sedang membidik lewat katup pintu.
"Grotz!" Tom memekik.
Pestol itu meledak! Tetapi teriakan Tom telah mengejutkan Grotz.
Namun ia sempat menembak beberapa kali lagi. Hampir secara nekat dan tanpa sadar dalam membidik, seperti tembakan yang pertama. Ia membalikkan tubuh, sambil meringis menembak ke arah Tom.
Tom mengelak. Ia mendengar dua suara mendenting, peluru mengenai dinding logam.Tembakan ketiga mendesing di samping telinganya.
Sementara itu Tom mundur untuk menghindar di lengkung kubah, melalui jembatan tangga.
Ia meraih sebuah batang dan menarik dirinya ke atas, menjenguk sebentar ke dalam melalui sebuah jendela. Anita sedang melayang di samping tubuh Ben yang tidak bergerak. Ia menariknya pada leher baju.
"He, Grotz! Semuanya sudah habis!" Tom memanggilnya. "Semua ini tidak akan memperbaiki keadaanmu!"
Dan sebagai jawaban atas panggilannya adalah sebuah peluru yang memantul di atas kepalanya. Datangnya dari atas. Grotz telah melayang ke atas, menyerang Tom dari sudut yang tidak diperhitungkannya.
Tom merunduk ketika sebuah jarum lain memantul pada sisi jembatan tangga. Jarum-jarum itu tidak sekuat peluru timah atau yang berlapis tembaga seperti peluru pestol biasa. Terkena jarum itu tidak separah kalau terkena jarum hipodermik biasa. Tetapi jarum itu mengandung zat anastetik yang sangat kuat. Cukup kuat untuk melumpuhkan seekor badak atau gajah, sehingga pelan-pelan dapat mematikan manusia juga. Namun meskipun pestol jarum itu mempunyai proyektil-proyektil dengan kekuatan biasa, Grotz dapat juga menggunakan peluru-peluru 'tidur' kalau ia mau. Korbannya dapat saja dibuang keruang angkasa dengan disertai surat bunuh diri, atau dimasukkan ke dalam Cricket tanpa cadangan udara, atau dimasukkan ke dalam kran peleburan!
Ting! Tom tahu harus menarik perhatian Grotz menjauh. Dengan seratus kali tembakan, tak selamanya selalu meleset. Tom mati-matian menarik tubuhnya melaju, berayun ke bawah jembatan tangan, menjauh dari Grotz.
Ting! Tok! Pletak! Grotz tak perlu menghemat peluru. Ia hanya mempunyai dua sasaran. Anita harus dilenyapkan pula, sekarang. Kemudian seluruh isi pestolnya.
Tok! Pletak! Tom mencari-cari senjata sambil menunduk-nunduk keluar masuk di antara tiang-tiang di dinding luar kubah ruang olahraga. Tak ada sesuatu yang diperolehnya. Semuanya serba kuat dilas.
Pemuda itu melayang melompati pagar tangga yang terakhir, turun ke bukit-bukit di bawah kubah. Di sini, seperti di seluruh New America, terdapat lapisan batu Bulan yang minimum dua meter tebalnya, sebagai perlindungan terhadap semburan badai Matahari. Di antara batu-batu karang raksasa itu disebarkan pula batu-batu kerakal pengisi. Sebuah jaring fiber dihamparkan untuk menahan batu-batu itu agar tidak melayang bebas. Tom mendapat kesulitan untuk memperoleh batu yang cukup besarnya, yang dapat dikeluarkan dari bawah jaring.
Ting! Plok! Deng! Jarum-jarum memantul dari batu ketika Grotz menyemburkan serentetan tembakan kepadanya. Sambil memegangi batu, dengan tangannya yang berdarah karena batu-batu tajam, Tom mengelak, menjejak dan melayang ke bawah kubah, ke tempat paling dekat dengan lapisan batu.
Ting! Ting! Ting! Tom merasa sentakan pada lengan bajunya dan melihat sesuatu yang mengkilap menancap pada kain bajunya yang kuat. Ia melepaskannya lalu dibuangnya. Ia berusaha mengambil batu lagi dari bawah jaring.
Tetapi Grotz selalu mengikutinya, menembak menghamburkan peluru.
Tetapi sebatang peluru pun sudah cukup kalau kena. Satu batang dari seratus kali tembakan! Bahkan seorang penembak yang paling tolol pun dapat beruntung, pikir Tom. Ia melompat ke atas, meliuk-liuk dan mengelak.
Ting! Siiingng! Tom berayun membalik dan melemparkan batunya. Batu itu menimpa tangan Grotz yang memegangi pestol, dan pestol itu melayang lepas dari tangannya. Tom menukik balik untuk menangkapnya, berenang di antara batang-batang, bersamaan Grotz yang hendak menangkapnya pula. Tom tak punya waktu untuk memeganginya. Hanya jari-jarinya yang sempat berayun bagaikan melontarkan bola baseball.
Sambil menggerung Grotz berbenturan dengan Tom, tinjunya berkelebatan. Hantaman-hantaman itu terasa berat, dan di benak Tom meledak-ledak cahaya-cahaya bagaikan halilintar. Ia melepaskan diri, berjungkir-balik menjauh, kemudian menjejakkan kakinya kuat-kuat pada tubuh orang yang besar itu. Kakinya menghantam perut, dan Tom mental melayang ke belakang.
Mereka membentur tiang dan Grotz menelan udara. Ia memukul wajah Tom dan menendang membebaskan diri, melompat melayang ke atap kubah. Beberapa detik kemudian Tom menyusulnya, melihat Grotz melompati atap kubah menuju ke geladak sepeda udara.
Tom ragu-ragu. Orang-orang dari bagian keamanan tentu akan menangkap dia. Jarum yang melumpuhkan Ben mungkin cukup kuat untuk membunuhnya; lebih baik ia membawa Ben ke rumahsakit.
Tom melihat Grotz mengambil sebuah sepeda udara lalu menaikinya.
Ia melayang cepat, naik ke pusat gravitasi nol dari kota di ruang angkasa itu. Tom sedang hendak kembali ke kubah, ketika ia teringat.
Di ujung sana tidak saja terdapat tempat-tempat mendarat bagi pesawat shuttle ke Bumi, tetapi juga geladak bagi pesawat-pesawat kecil.
Pesawat-pesawat lomba. Grotz dapat mencurinya sebuah lalu melarikan diri ke Bumi, menyiapkan tabir asap untuk menyembunyikan kejahatannya, menghancurkan atau melakukan sabotase terhadap setiap percobaan untuk membawanya ke depan meja pengadilan. Misalnya saja Ben tak mampu membangun lagi apa yang telah dihancurkan Grotz" Seandainya Ben meninggal" Tom tak mempunyai bukti-bukti lagi, tak ada sesuatu yang dapat dijadikan bukti di depan meja hijau. Grotz akan menghancurkan dia!
Tetapi kalau Grotz dapat ditahan di New America, tak mampu membuat tabir asap".
Tom melesat ke geladak sepeda udara. Ia mengambil sebuah sepeda merah, hingga menimbulkan keheranan bagi seorang wanita yang baru saja tiba, lalu melesat mengejar Grotz.
Ia mengayuh sekuat-kuatnya, dan perlahan-lahan ia memperpendek jarak dari orang yang dikenalinya sebagai Doktor yang sedang melarikan diri.
"Grotz adalah seseorang yang suka 'mengambil manfaat' ", demikian pikir Tom. Ia memanfaatkan orang lalu membuang seenaknya, menggunakan tenaga orang tanpa menghargai nama atau jiwa orang tersebut. Ia bahkan menggunakan New America sebagai batu loncatan.
Grotz tidak mempedulikan koloni ruang angkasa".
Grotz tidak mempedulikan apa pun atau siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"Aku semakin dekat," pikir Tom.
Grotz menoleh. Ia melihat Tom semakin dekat. Wajahnya mengerut meringis. Napasnya memburu, sementara ia memaksa baling-baling sepedanya berputar lebih cepat.
"Aku tak senang berada di sini," pikir Grotz.
Orang-orangnya terlalu idealis! Terlalu yakin, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sangat penting. Mereka itu adalah cacing-cacing yang tidak penting, semuanya! Adapun yang paling penting adalah apa yang kulakukan! Pada setiap abad hanya ada beberapa orang besar ... mengapa mereka tak menyadari hal itu" Swift ... ia mengira salah satu dari antara orang-orang besar! Itu salah sama sekali! Aku akan membuktikan bahwa ia salah! Aku akan turun ke Bumi dan akan menelanjangi mereka semua! Aku akan menuntut Swift Enterprises telah mencuri dan menyesatkan gagasan-gagasanku. Akulah satu-satunya yang akan mengatakan kepada dunia, bahwa Daniel Boone akan meledak! Mereka tentu akan mempercayai aku!
Tom melaju dari samping dan Grotz mengayunkan tangan memukul, tetapi tidak kena karena masih belum terjangkau oleh tangan. Tanpa berpikir tentang apa yang dilakukannya, Grotz menabrakkan sepeda udaranya pada sepeda Tom. Baling-baling mereka hancur berkeping-keping, dan seketika itu pula sepeda yang lemah itu mulai patah-patah, bagian-bagiannya melayang-layang.
Grotz tertawa penuh kemenangan, ketika ia melihat sepeda Tom mulai jatuh. Perlahan-lahan turun dan semakin cepat disedot oleh gravitasi.
Kemudian ia baru sadar bahwa ia pun mulai jatuh, kira-kira limaratus meter ke bawah. Tom terus saja mengayuh sepedanya. Ia berharap dengan begitu baling-baling yang rusak dapat memperlambat kejatuhannya. Ternyata usaha itu dapat menolong juga. Maka Tom berharap sepeda itu cukup lama bertahan hingga ia selamat sampai di 'tanah'. Untunglah ia tidak jatuh tegak lurus ke bawah. Karena koloni raksasa itu berputar dan udara di dalamnya menimbulkan gaya tarik. Tetapi masih jauh ke bawah dari tempat ia berada, sedang ia tidak mempunyai payung udara!
Bab Enambelas Tom pernah melakukan terjun bebas ketika di Bumi. Saat yang paling buruk adalah pada waktu keluar dari pesawat. Jatuh sendiri merupakan bagian yang paling bagus. Seperti ketika sedang terbang. Orang tidak begitu merasa kalau sedang akan jatuh, karena pada saat itu berada di ketinggian. Bentangkan saja kedua lengan dan kaki, dan tentu dengan sendirinya 'melayang'. Orang juga dapat meringkuk seperti sebuah bola dan akan jatuh lebih cepat. Dapat juga membuat sudut sedikit dengan perbaikan arah.
Tetapi apabila semakin dekat dengan tanah, rasanya semakin seperti sedang jatuh. Pada saat itulah harus membuka payung. Tentu saja dengan harapan payung akan membuka.
Tetapi Tom tidak punya parasut!
Dari sudut matanya ia melihat tubuh Grotz yang menggelepar-gelepar.
Jauh di bawah terlihat sepedanya yang menukik berantakan. Tom melihat sesuatu mengenai permukaan danau.
Ha! Danau! Gravitasi buatan yang disebabkan oleh putaran silinder raksasa New America bukan seperti gravitasi Bumi sepenuhnya, tetapi cukup untuk dapat melumatkan sesuatu. Tetapi lumayan kalau dapat mencebur ke dalam danau.
Tom lalu memperhitungkan sudutnya. Ia jatuh! Silinder itu bergerak di bawahnya. Reruntuhan sepeda itu mengenai danau pada sisi yang satu"Apakah ia akan jatuh ke dalam air".ataukah jatuh ke deretan rumah-rumah yang menggerombol pada tepi danau"
Dalam suatu segi, Tom sendiri heran akan ketenangan dirinya. Ia sama sekali tidak menjadi panik. Ayahnya pernah mengatakan kepadanya, apabila ada sesuatu yang menyebabkan panik, maka saat yang paling buruk adalah jika engkau menjadi panik. Tom menganggap saran itu sangat baik Tom dapat melihat, bahwa ia tidak akan jatuh ke dalam danau, paling tidak akan terpaut beberapa meter. Ia mengarah lurus ke sekelompok rumah-rumah yang berdinding tipis, yaitu yang mengelilingi sebuah kebun yang diatur secara ketimuran. Tetapi, dicobalah!
Ia terus saja mengayuh sepedanya yang rusak. Ia pun membentangkan kedua lengannya agar mendapatkan tahanan udara sebanyak-banyaknya. Ia miringkan tubuhnya, membiarkan udara lewat di sebelah kanan tubuhnya. Dengan demikian tubuhnya miring ke arah kiri, menuju ke air yang biru.
Berapa dalamnya" Itu tidak menjadi soal hanya itulah satu-satunya yang diharapkan.
Semakin dekat".aduh, bukan main cepatnya".
Pada titik terakhir, Tom mendorong sepedanya lepas dari tubuhnya. Ia menggulung dirinya bagaikan bola, mendekapkan wajahnya di antara kedua lutut dan kedua tangannya memegangi mata kaki.
Ia mencebur. Rasanya seperti membentur beton semen. Benturan yang hebat dari seluruh tubuhnya. Suara menggelegar dan air membenamkan tubuhnya. Semuanya menjadi hitam!
*** "Tom." Ia mulai merasakan sakit. Ia merasa terpukul dan lemah.
"Tom, bangun!" Ia mengerang dan mendengar seseorang yang berteriak.
"Haa, ia mulai sadar!"
Tom membuka mata dan melihat 'dua' Ben! Ia mengedip dan memusatkan pandangannya. Maka kini tinggal satu Ben.
"Ben ...." "Bersyukurlah kepada Tuhan! Engkau selamat!" Kata-kata itu meluncur dari mulut Ben.
"Mereka melihat engkau jatuh. Engkau dan juga Doktor Grotz. Beberapa orang dari bagian Keamanan begitu melihat engkau jatuh, segera menolongmu dan dapat tepat sampai di tempatmu. Napas buatan membuat engkau bernapas kembali. Engkau pingsan, Tom.
Benar-benar pingsan! Untung tidak mati."
Ben membungkuk di atas tubuh temannya. "Apa yang kaulakukan di atas sana" Mereka bilang, engkau bertemu Grotz, dan ...."
Tom melambaikan tangannya dengan lemah.
"Tunggu".bagaimana dengan Grotz?"
Ben menunjuk di kejauhan. Tom menyadari adanya kerumunan orang-orang yang mengerumuni dengan penuh kekhawatiran.
"Ia jatuh menimpa sebuah rumah. Benar-benar menubruk rumah sepenuhnya. Tubuhnya tak tertolong, tetapi kata orang ia dapat hidup. Rumah itu roboh tertimpa tubuhnya, bagaikan rumah kardus yang digunakan para stuntman pada shooting film. Mereka menduga kedua kakinya harus diganti kaki palsu. Tetapi hal itu akan segera dapat kita ketahui. Dengar, jangan hiraukan dia, dan yang kami khawatirkan hanyalah engkau?""
Petugas-petugas darurat berseragam putih-putih mendesak-desak menerobos dan meletakkan sebuah usungan.
"Tolong beri jalan mundur sedikit. Berikan kami ruang gerak," salah seorang dari mereka berteriak.
Ia segera memeriksa Tom. "Aku tidak apa-apa," kata Tom. "Hanya babak-belur, tetapi tidak apa-apa!"
"Engkau harus kubawa ke rumahsakit, bung!" kata petugas.
"Perlombaan itu" Aku harus ikut dalam perlombaan!"
"Lupakan itu! Mereka telah berangkat," petugas itu menggerutu.
Ia membuka pakaian Tom dan memeriksa luka-lukanya.
"Tom, lupakanlah perlombaan itu," Ben menghimbau.
"Tidak!" kata Tom dan berusaha untuk berdiri.
Petugas itu memandang kepada temannya. "Ada kemungkinan ia gegar otak?"


Kota Angkasa Luar Seri Tom Swift 1 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Petugas yang lain hanya mengangkat bahu dan memegangi sebuah alat yang mengkilat. Tom mencoba untuk melepaskan diri, tetapi para petugas kesehatan itu bertindak lebih cepat. Ia merasa sesuatu yang dingin di dadanya dan terdengar suara mendesis. Dunia gelap menjadi hitam".dan"hampa.
*** Perlahan-lahan ia sadarkan diri. Ia mendengar detak-detak lemah dan dengungan di kejauhan. Di sekelilingnya serba putih dan coklat keabu-abuan. Sebuah kamar di rumahsakit.
"Nah, selamat kembali!" kata seorang wanita. Jururawat itu datang di sisi ranjangnya, tersenyum, memegangi sebuah kartu pasien.
Tom bertanya dengan mengedip-ngedipkan mata.
"Berapa lama aku pingsan?"
Jururawat melihat pada kartu, kemudian ke komunikator di pergelangan tangannya.
"Hampir dua jam. Mereka telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh".tidak ada gegar otak, tidak ada yang patah. Engkau sungguh beruntung. Benar-benar beruntung! Kami menemukan seorang wanita yang jatuh di danau beberapa waktu yang lalu, dan kini kami masih harus menempelinya dengan mesin-mesin."
"Aku harus bangun dan"."
"Eee, jangan! Tidak boleh, bung Swift! Engkau harus tinggal di sini untuk beberapa hari. Mereka ingin memeriksa engkau lagi. Jangan khawatir, dokter Massolia adalah dokter yang terbaik yang kami miliki untuk hal-hal darurat semacam ini."
Jururawat itu meraba-raba selimutnya.
"Pemuda Indian, temanmu Ben itu" Ia berkata, seharusnya engkau ikut perlombaan. Tetapi tidur sajalah dulu engkau harus benar-benar istirahat. Masih ada perlombaan-perlombaan yang lain!"
Ia menepuk-nepuk Tom, lalu pergi. Tom melihat ke sekeliling. Hanya ada empat tempat tidur; hanya satu lagi yang berisi, dan rupanya ia sedang tidur. Dengan hati-hati Tom membuka selimutnya, dan baru sadar bahwa ia mengenakan pakaian rumahsakit yang menggelikan itu! Memang pakaian itu praktis dipandang dari sudut rumahsakit.
Mudah dikenakan pada orang yang tak sadarkan diri atau tubuh-tubuh yang berbaring".tetapi membingungkan dan tak sesuai bagi mereka yang mengenakannya.
Dengan hati-hati Tom duduk. Ia merasakan sedikit pusing dan merasa seperti telah dipukuli dengan slang-slang karet. Ia merasa sakit.
Tetapi ia senang"ia hidup! Pikirannya penuh kemenangan ketika ia dengan hati-hati turun ke lantai. Di sana tak ada ruangan untuk berpakaian, tak ada pakaian biasa. Hanya sebuah pintu dan jendela yang panjang.
Tom pergi ke jendela dan menyetelnya dari tembus cahaya menjadi tembus pandang, lalu melihat keluar. Ia berada di bagian bawah dari Ujung Selatan, karena itu ia merasakan gravitasi yang rendah. Tetapi jendela itu tak dapat dibuka.
Ia melangkah ke pintu dan menjenguk ke luar, hati-hati. Tepat di luar itu diparkir kereta penatu. Tom dapat melihat dua orang jururawat sedang mengganti sprei di kamar seberang. Tom juga melihat sehelai jubah dijejalkan pada kereta penatu itu, ia meraih dan mengambilnya.
Ada sepasang sandal di bawah ranjang teman sekamarnya, lalu dipakainya sementara ia mengeratkan sabuk jubahnya. Dengan bersikap biasa tetapi dengan bergerak lambat-lambat ia keluar ke lorong. Ada beberapa jururawat sedang bercakap-cakap di depan, karena itu ia masuk ke lorong simpangan. Ia tersenyum kepada seorang jururawat, dan membuka pintu dengan tanda Pintu Darurat.
Hanya satu tingkat ke bawah, dan pintu terbuka dengan mudah.
Geladak kapal-kapal lomba ada di atas, di pusat ujung yang berkubah.
Beberapa orang memandangi dia dengan heran sementara ia melangkah terus. Tak seorang pun yang menyapanya.
Jubah putihnya mulai menggembung ketika ia tiba di daerah yang gravitasinya semakin rendah, dan ia mulai merasa melayang. Tetapi ia tersenyum menyeringai.
Ia sudah hampir empat jam lewat dari waktu start pesawatnya. Ia berlomba dengan waktu dan melakukan start dengan faktor negatip.
Di dalam kamar lemari-lemari pakaian di sebelah pintu bertekanan udara menuju ke geladak, ia menekan tombol lemari pakaiannya, lalu mengeluarkan pakaian ruang angkasanya.
Tom Swift telah duduk di pesawat lombanya, memeriksa daftar sebelum terbang, ketika ia mendengar suara yang dikenal melalui radio pakaian ruang angkasanya.
"Mau b unuh diri, ya?" "Halo, Ben. Tidak! Dengarkanlah. Aku tak apa-apa, sungguh!"
"Engkau tercebur ke danau dan kaubilang tak apa-apa" Mau memenangkan perlombaan dengan babak belur begitu?"
"Mereka telah membebaskan aku. Aku sudah oke! Di mana engkau?"
"Sedang ada di dalam ruang pintu bertekanan?"
Pintu itu terbuka dan keluarlah Ben, berjalan perlahan-lahan. "Inilah aku."
Ia membawa sebuah tangki oksigen yang besar di setiap ketiaknya, mengangkut beban yang berat itu dengan berjalan pada sepatunya yang bermagnit pada lantai logam.
"Apa yang kauperbuat?" tanya Tom.
"Ikut engkau. Tolong aku mengikatkan barang-barang ini."
"Ben"." "Tidak! Aku toh tidak dapat menghentikan engkau untuk bunuh diri, dan aku akan ikut membantu. Peganglah ujungnya, maukah engkau" Engkau akan melihat, aku telah membuat beberapa tambahan: beberapa dos pil-pil makanan, tangki air di sana itu dan beberapa kaset lagu-lagu."
"Lagu-lagu?" "Letakkan ujungnya di tempat itu. Nah begitu! Ya musik! Solo Bagpipe, konser untuk Oompa dan Tin Can, Cleveland Marching Band dan Eggrolling Society, Overture 1912 yang digubah oleh The Sancta Rosa Grammar School Tympani Band, dan"."
"Oke! Oke, cukup!"
Tangki-tangki udara telah diikat dan kedua teman itu saling berpandangan.
"Aku ikut, Tom. Bagaimana pun juga aku telah membantu menyiapkan pesawat ini, sedikit-sedikit!"
Tom memberi isyarat untuk naik. Keduanya lalu memanjat masuk ke kabin yang sempit itu, yang telah dilengkapi lapisan lindung terhadap radiasi. Mereka lalu menutup ruangan itu dan menyelesaikan pemeriksaan sebelum tinggal landas. Mereka mundur ke geladak dengan jet-jet udara, memutar pesawat, dan bergerak perlahan-lahan menjauhi New America pada jarak yang sesuai untuk menghidupkan mesin peleburannya.
"Menara Kontrol New America! Di sini Davy Cricket! Siap untuk segera terbang! Harap berikan hitungan!"
"Baiklah! Cricket, sepuluh detik dari isyarat kami ... ya?"
Tom memandang Ben. Ia memberikan isyarat dengan ibu jari ke atas!
Ben mengulangnya! Jam berdetak. Dengan urutan otomatis mesin penggerak peleburan menyembur hidup dan Davy Cricket mulai bergerak.
New America tertinggal di belakang. Bintang-bintang nampak berputar, lalu berhenti. Dan pesawat kecil itu melesat ke arah Sunflower.
Tom melepaskan topi helmnya. Ben pun ikut melepaskannya juga, lalu menggantungkannya.
"Musik Bagpipe!" Tom meminta dengan santai.
"O, oke!" jawab Ben sambil menggapaikan tangannya sembarangan.
"Engkau akan mendengar seperti pada Paul MacCartney! Sungguh mengesankan!"
Tom memandang temannya tanpa perubahan pada wajahnya.
"Ya! Engkau tahu apa yang mereka katakan".Orang Indian yang paling baik adalah orang Indian yang tidak tahu nada-nada!"
*** Pada tahap terakhir menjelang pertemuan dengan Sunflower, mereka diberitahu telah mengejar tujuh atau delapan menit dari pesawat terdepan.
Bukan hal yang mengherankan kalau yang terdepan itu adalah Anita Thorwald dengan pesawatnya Valkyrie. Tetapi mereka masih menghadapi perjalanan yang jauh, dan sudah beberapa jam terlambat.
Mereka melihat pesawat Regine di geladak, bersama Marjii Ellers, Lizzy L., Moonstreak dan Rothstein Special. Jadi mereka telah menyusul pesawat-pesawat yang terbelakang" juga Worden dan Deckert. Kenyataannya bahwa kedua pemuda itu masih ikut perlombaan, tentu mereka mengira bahwa Tom tidak akan ikut serta, dan bahwa 'persekongkolannya' dengan Grotz masih dirasakan sebagai rahasia. Tetapi mereka akan mendapatkan kejutan!
"Mari kita buat secepat-cepatnya!" kata Tom.
Sementara itu mereka meregangkan otot-otot di kamar pakaian. Tom merasa capek dan kaku badannya.
Koloni Sunflower diatur berlainan dengan New America. Para peserta ditempatkan di bagian memotong 'kue donat' dengan bagian untuk tempat tinggal dan daerah kerja. Tom dan Ben kini cepat-cepat menuju ke tempat mandi yang diatur bagi para pembalap. Kemudian mereka ke kamar makan.
Mereka melihat para peserta sudah siap untuk berangkat lagi setelah mereka menghabiskan makanannya. Worden dan Deckert tidak nampak di mana pun. Tom dan Ben melihat Bernie Rothstein duduk muram di sudut, lalu membawa baki-baki makanan mereka ke sana.
"Halo! Bernie!" Ben menyapa, lalu meletakkan bakinya di meja.
"Halo!" Bernie mendongak memandang Tom dan Ben dengan mata yang lelah setengah tertutup.
"Aku mengundurkan diri. Tidak ada jalan untuk menang. Tom, pesawatmu adalah satu-satunya yang dapat mencapai pesawat Valkyrie. Pesawatmu, atau barangkali juga Elie Metchnikoff. Yang lain-lain hanya membuang-buang waktu saja. Hari-hari bagi mesin ion sudah berlalu, persis seperti roket kimiawi dan mesin letup. Aku sendiri sudah habis. Aku hanya sampai di Sunflower sini saja dan mendapat start kedua!"
"Teruskan saja menggantung, Bernie. Banyak yang mungkin bisa terjadi," Ben memberikan sarannya. "Orang-orang yang mengundurkan diri, mesin-mesinnya yang rewel ...."
Bernie menggeleng. "Hanya ada tiga pesawat dengan mesin peleburan. Kami yang lain-lain hanyalah peserta ekstra. Kami hanya ingin tahu siapa yang akan nomor empat. Hanya itu.''
Ia mengaduk-aduk piringnya yang setengah kosong.
"Elie Metchnikoff yang paling lambat. Ia menggunakan mesin desain Rusia, kuno. Dan ia menemui kesulitan dengan pesawatnya. Pesawat milik Thorwald memang baik. Mesin peleburannya bertenaga besar. Tetapi sistem kemudinya kurang sempurna. Katanya ia melampaui pangkalan Sunflower dan terpaksa melakukan pendekatan kedua. Tapi, bung! Ini hanya untuk kalian bertiga."
Si pendek gemuk itu menunjuk Tom dengan garpunya.
"Tepat sebelum berangkat, kami mendengar apa yang terjadi dengan engkau dan Grotz. Ada juga beberapa desas-desus lain. Aku akan terus waspada, kalau aku jadi kalian. Aku tidak menyinggung atau menyebut nama seseorang."
"Maksudmu tentu Worden dan Deckert?" kata Ben.
Rothstein tidak mau menjawab. Ben dan Tom bertukar pandang, lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya.
Para peserta lomba diasingkan dari mereka yang tidak terlibat dalam perlombaan. Hanya para peserta sendiri yang dapat bekerja pada pesawatnya masing-masing. Kalau ada yang memasukkan orang lain, akan mendapat hukuman tambahan waktu. Karena itu Ben heran melihat seorang offisial wanita lari-lari mendatangi dengan sebuah kotak kecil, ketika Ben dan Tom sedang menuju ke geladak kembali.
"Ini untukmu!" petugas wanita itu berkata terengah-engah.
Ia memberikan kotak itu kepada Ben.
"Selamat berlomba!"
Wanita itu berlari-lari pergi.
Ben membalik-balikkan kotak itu di tangannya. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Ia membuka tutupnya, lalu menahan napas ketika ia melihat kantong kulit kecil, dan di dekatnya sehelai bulu burung rajawali berwarna abu-abu.
"Ini kantong jimat dari ayahku!" ia berbisik ternganga.
Ia membuka kantong kulit kecil itu dengan hati-hati, lalu menggoyang-goyangkannya. Seekor jengkerik hitam yang hidup jatuh ke tangannya.
"Wauw!" Pemuda Indian itu cepat-cepat menangkapnya kembali dengan hati-hati. Ia dan Tom tertawa-tawa mendengar jengkerik itu berbunyi. Tom melihat linangan air mata Ben, sementara ia dengan hati-hati memasukkan jengkerik itu ke dalam kantongnya.
"Dan engkau menganggap ayahmu itu tidak mengerti engkau?" kata Tom tiba-tiba. "Itu adalah jimat peruntungan yang pernah aku lihat."
"Lebih baik kita berangkat sekarang!" Hanya itulah kata-kata Ben.
Ketika kedua pemuda itu muncul kembali di geladak, semua pesawat kecuali Marjii Ellers telah berangkat. Ketika mereka menuju ke bagian geladak tempat pesawatnya, sambil menarik-narikkan tangan pada tali-temali yang lentur, Ben berkata: "Worden dan Deckert tadi kemari"."
"Yaa?" tanya Tom. "Barangkali kita perlu memeriksa dulu, ya?"
Tetapi setelah beberapa menit pemeriksaan, tidak menunjukkan adanya petunjuk sabotase.
Mereka lalu mengikat diri di dalam kabin yang sempit dan mengunci pegangan magnetik. Perlombaan dimulai lagi.
Kini giliran menuju ke Bulan.
Bab Tujuhbelas Armstrong Base merupakan sebuah kompleks, membentang di dalam kawah Daedulus yang tujuhpuluh lima kilometer panjangnya, di sisi gelap dari Bulan. Di sana, di Pos Luar milik Amerika Serikat, terdapat observatorium-observatorium yang terbesar, serta pertambangan yang sangat ekstensif. Pertambangan ini bukan saja menyediakan bagi New America dan Sunflower, tetapi juga kepada Bumi.
Peraturan perlombaan mengharuskan setiap kapal wajib melakukan pendaratan sempurna di dalam daerah yang telah ditentukan bagi masing-masing kapal. Tom mulai mendaratkan pesawatnya.
Bagaimana pun ini merupakan sentuhan yang pertama dengan gravitasi yang sesungguhnya bagi pesawat yang lemah itu.
Meskipun Bulan hanya mempunyai gravitasi seperenam dari gravitasi Bumi, namun tetap merupakan gravitasi benar-benar. Sistem Bumi Bulan dianggap oleh beberapa pihak sebagai suatu sistem planet ganda. Sebab masa Bulan hanya 1/81 dari masa Bumi, sedangkan satelit-satelit pada planet lain hanya beberapa perseribu dari planet induknya.
Konstruksi tabung Cricket yang dilas tak mengalami kerusakan sedikit pun. Tom dan Ben lalu berjalan melintas dasar kawah yang berlubang-lubang tak rata, menuju ke gedung perlindungan pengatur lalulintas ruang angkasa. Mereka bergerak dengan langkah-langkah panjang, menari seperti pada film gerak lambat.
Di dalam, mereka melihat lorong-lorong yang dibor ke dalam batu-batuan dengan sinar laser. Semuanya tertutup dengan plastik transparan. Mesin-mesin raksasa untuk pertambangan dilengkapi dengan tempat tinggal para awak, diparkir di dalam teluk-teluk di belakang ruangan bertekanan tempat menyimpan alat-alat. Batang-batang logam hasil tanur bertenaga Matahari ditumpuk, siap untuk dikirimkan ke bagian akselerator. Orang-orang berpakaian jumsuit dan pakaian kerja melayani derek-derek dan kereta-kereta listrik. Sebuah alat pengangkut segala muatan berderak-derak lewat, membawa sebuah tangki raksasa berisi oksigen yang didapat dari batu-batuan, setelah diuraikan menjadi atom-atom oleh kran-kran peleburan.
"Kalian hanya ketinggalan enampuluh satu menit dari Thorwald," kata seorang peserta dengan masam. "Mesin pendorong apa sebenarnya yang kaugunakan pada petimu itu, Tom?"
"Hanya sebuah Bagpipe," kata Tom. "Ben membunyikan kaset-kaset itu, dan kami mencoba untuk berpacu dengan suaranya."
"Di mana bisa makan?" gerutu Ben. Ia melangkah kaku ke sebuah meja di dalam ruangan. "Ini membuat aku duduk merasa lebih dari tiga hari dengan posisi yang begitu terus," ia menggumam. "Rasanya aku seperti telah dirubah menjadi bentuk begini."
"Makanlah," kata Tom.
"Minum dan bergembiralah! Ya, aku tahu," Ben menggumam lagi.
"Pelayan!" Seorang wartawan perekam muncul di sisi Tom. "Di sini kami menemui Tommy Swift Junior, anak dari industrialis Thomas Swift dari perusahaan Swift Enterprises, perusahaan multi-nasional dan multi-dunia. Bagaimana dengan kedudukanmu, Tom?"
"Siapakah anda?" tanya Ben.
"Lee Stern, dari Global News. Engkau tentu Thomas Jefferson Running Bear, bukan" Satu-satunya Indian Amerika yang ikut?"
"Salah," kata Tom. "Dengar, kami sedang hendak makan. Silakan pergi dulu. Berbicaralah nanti, sekembali kami di New America. Bagaimana?"
"Tetapi dunia sedang menonton kalian, Tommy . "
"Kalau begitu biarlah mereka melihat aku makan."
"Kami sangat lelah, saudara Stern," kata Ben sambil mengangkat garpu untuk mulai menyerang isi piringnya. "Ini masakan apa, Tom" Rupanya seperti gabungan antara wortel dan katup tangki."
"Hasil penemuan para ahli sayuran, kukira."
Lee Stern mendesak. "Perlombaan ini dianggap hanya antara kalian dengan Anita Thorwald serta Bailey, pilot kapal Metchnikoff. Siapa pemenangnya menurut engkau?"
"Yang paling cepat," jawab Tom sambil mengunyah.
Stern terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tetapi tidak dihiraukan.
"Selesai?" tanya Tom kepada Ben yang hanya mengangguk.
"Mari Thomas Jefferson," kata Tom.
"Oke, Tommy," Ben menyeringai.
"Itulah mereka, tuan-tuan dan nyonya, regu yang tak masuk hitungan dalam perlombaan yang sangat penting ini!" Stern mengikuti mereka ke pintu. "Mulai dengan posisi yang sangat buruk, terlambat beberapa jam dari waktu yang telah ditentukan, kedua pemuda gagah berani ini sekarang ada pada posisi enampuluh satu menit di belakang kapal yang paling depan, Anita Thorwald! Kami mengucapkan selamat kepada kedua pemuda itu, tetapi pilot berambut merah yang cantik itu tetap berada di paling depan! Kini kami kembali ke studio di Kawah Clavius. Di sini Lee Stern, Global News, Armstrong Base."
"Thomas Jefferson Running Bear," Ben menggerutu. "Hampir kena, tetapi tanpa cerutu."
"Lagu lama".membaca dari salah satu kaset berita atau semacam itu yang sedikit-sedikit diketahuinya, lalu digunakan pada hal-hal lain yang sama sekali tak diketahuinya."
"Betul, Tommy," kata Ben sambil tersenyum.
*** Jalur terpanjang perlombaan tersebut ialah jarak antara Armstrong Base, mengitari Bulan sampai ke titik L-5 tempat New America tertambat oleh gelombang-gelombang gravitasi. Pemandangan atas Bumi ketika mereka menyembul dari balik Bulan, tetap saja masih mempesonakan mereka.
Tom dan Ben sama-sama dibesarkan dengan gambaran-gambaran tentang Bumi yang terlihat dari ruang angkasa. Hal itu hampir menjadi ingatan sehari-hari. Tetapi keindahan dan kepentingannya tak pernah berkurang bagi mereka. Bumi masih saja merupakan lambang bagi ruang angkasa. Bukan Bulan, bukan pula bintang-bintang. Tetapi Bumi, yang nampak biru-putih-coklat, tak menunjukkan adanya tanda-tanda peradaban, kecuali bila didekati sampai menembus atmosfirnya. Dari luar, dari ruang angkasa, Bumi nampak belum tercemar, masih segar.
Tetapi kenyataannya tidak. Karena itu menjadi argumentasi yang paling baik hingga dibangunnya kota-kota di ruang angkasa, berduyun-duyun orang yang keluar untuk menjelajah, menyelidiki dunia-dunia luar di sekeliling mereka. Kemudian pada saatnya, dengan keberuntungan dan ketekunan: ke bintang-bintang.
"Cricket, di sini menara Kontrol New America."
"Silakan, Kontrol."
"Phil Castora ingin berbicara dengan engkau, Swift."
"Roger." "Halo, Tom!" Si "orang tua" yang telah menjadi teman Tom tertawa girang. "Kukira engkau tentu ingin tahu. Greg Ellison telah lolos dengan selamat. Bagian-bagian tubuhnya banyak yang diganti dengan yang baru. Para dokter telah memasang sebagian selubung saraf tulang belakang buatan dan sejumlah bagian-bagian isi perut. Ia dapat hidup, bangun dan menunggu engkau untuk mengucapkan terimakasih.
"Hebat, Phil!" Tom menyeringai kepada Ben yang menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya ke atas.
"Ada yang lain lagi, Tom. Pejabat direktur kita yang besar, Doktor H.F. Grotz, juga akan hidup. Terkutuk!" Phil tertawa lagi. "Tentu saja ia harus menggunakan sepasang kaki buatan, begitu ia sembuh. Kudengar ia akan dibuat lima senti lebih tinggi.
"Pantas bagi dia," Ben menggerutu.
"Ya, tentu saja, di pengadilan ia tak punya kaki untuk bersandar. Greg akan menjadi saksi. Lagipula masih banyak catatan-catatan komputer" hampir saja ia membuat seluruh Daniel Boone meledak!"
"Kukira memang begitu, Phil. Katakanlah kepada Greg agar tenang-tenang saja. Kami akan segera menemuinya," kata Tom.
"Pasti. Tahukah kau, nak, aku sebenarnya tidak ingin mengatakannya, ada desas-desus tentang taruhan atas kepalamu." Castora tertawa lagi.
"Banyak yang tidak mengira bahwa engkau mempunyai kapal yang begitu cepat, Tom!"
"Ha, Phil!" kata Ben. "Engkau menjadi kaya?"
"Hanya kalau kalian dapat yang pertama-tama tiba di sini!"
"Akan kami usahakan," kata Tom.
"Eh, omong-omong," sambung Castora. "Kalian mungkin ingin tahu, Regine telah mengundurkan diri setelah berangkat dari Sunflower. Mereka telah tinggal landas, tetapi kepalanya terbang ke lain arah, entah ke mana."
Ben menatap Tom penuh arti. "Engkau benar, Tom. Mereka tak mengira bahwa engkau dapat hidup untuk menjadi saksi terhadap dia. Kukira mereka tak ingin kembali ke koloni bersama Grotz!"
"Oke, anak-anak! Main yang bagus, ya?"
Castora memutuskan hubungan dan Tom serta Ben kembali duduk dengan enak di tempatnya. Salah satu hal yang sangat mereka kagumi ialah bintang-bintang. Tom belum pernah menyadari sebelumnya, bahwa mereka itu sungguh indah berwarna-warni. Dari Bumi mereka nampak sama semuanya, karena cahaya mereka telah disaring oleh lapisan atmosfir. Tetapi di luar sana, orang dapat melihat berjuta-juta warna. Bahkan Tom seperti melihat bayangan-bayangan di dalam cahaya yang jauh itu.
Ada apa di luar sana" pikir Tom, untuk kesekian kalinya. Di sana mungkin ada semacam kehidupan. Barangkali bukan makhluk-makhluk bermata majemuk seperti serangga, atau, gumpalan-gumpalan tubuh yang tersembunyi seperti dalam cerita fiksi. Atau barangkali setengah manusia yang langsing dan tanpa emosi" Tetapi masih begitu banyak yang harus ditemukan. "Lubang Hitam" ... apakah sebenarnya mereka itu" Dan apakah mereka itu benar-benar ada" Bintang Quasar ... titik bercahaya yang tidak lebih besar daripada bintang. Tetapi memancarkan energi yang jauh lebih kuat daripada seluruh gugusan bimasakti, yang jumlahnya terdiri atas seratus juta bintang.
Pulsar juga merupakan fenomena ruang angkasa luar yang misterius. Mereka merupakan sumber yang memancarkan pulsa-pulsa pancaran pendek-pendek pada jangka waktu tertentu dan tetap, yaitu setiap satu detik. Diperkirakan, bahwa ini merupakan pancaran dari bintang netron yang sangat kecil tetapi sangat padat. Kini telah ditemukan lebih dari 300 buah pulsar.
Tom melihat ke angkasa di sekelilingnya. Rigel, bintang yang paling cemerlang dalam konstelasi Orion dan menempati urutan keenam dari bintang-bintang yang paling bercahaya di langit, adalah 78 kali matahari Bumi besarnya. Jauhnya 850 tahun cahaya. Di sana nampak Sirius, paling cemerlang dilihat dari Bumi, dan "hanya" 8,6 tahun cahaya jauhnya, 1,68 kali matahari kita, tetapi 38 kali lebih terang.
Nebulae, si kerdil putih, raksasa merah, galaksi spiral, galaksi elips, bintang ganda, awan-awan gas dan debu yang merupakan galaksi dalam tahap pembentukan. Demikian banyaknya yang ada di luar sana, hingga membuat orang menjadi putus asa!
Tom menyadari, bahwa berapa lamanya pun ia hidup, atau berapa jauhnya pun ia berkelana, tak mungkin ia dapat mengetahui jagat raya ini kecuali hanya sebagian kecil saja. Hal itu sungguh menggairahkan dan mengecutkan, membuat putus asa tetapi juga menggembirakan, serba penuh petualangan.
Keluar ke sana. Ke sanalah ia harus pergi. Mula-mula ke planet-planet: Mars, lalu Jupiter dengan bulan-bulannya yang indah-indah.
Lalu ..." Lalu ke bintang-bintang mungkin. Barangkali.
Tetapi bagaimana" B-a-g-a-i-m-a-n-a" Bahkan mesin pendorongnya yang berasaskan peleburan pun masih terlalu lambat untuk jarak yang seperti tak masuk akal antara Bumi dan Alfa Centauri, sebuah tata-surya yang paling dekat, hanya 4,3 tahun cahaya. Para awak sudah mati sebelum sampai. Seandainya mereka dapat mendorong kecepatan hingga hampir menyamai kecepatan cahaya (hal yang sulit dilaksanakan, bahkan tak mungkin menurut ilmu yang hingga kini diketahui), masih akan makan waktu beberapa tahun.
Tidur, dingin mungkin, pikirnya. Ilmu Cryogeni sudah mengalami kemajuan yang pesat pada generasi yang terakhir ini, tetapi masih terlalu lemah. Satu-satunya pemecahan ialah dengan "kapal generasi", sebuah kapal raksasa yang dapat menopang kehidupan sendiri, yang mampu mendukung awak dan memiliki sumber makanan dan sumber energi yang dapat mengisi kembali sendiri: ladang-ladang, dan kran-kran peleburan untuk menguraikan asteroid-asteroid yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan bakar. Suatu kebudayaan yang menyeluruh tersendiri. Pada saat itulah barangkali, anak-anak atau cucu-cucu yang mungkin dapat melihat dunia-dunia lain. Tetapi dengan nilai berapa" Dengan cara demikian (paling tidak satu generasi untuk satu kali perjalanan), mereka tak akan dapat melihat Bumi!
Planet asal kelahiran manusia hanya tinggal menjadi dongengan, sesuatu yang akan nampak tak begitu nyata dalam perpustakaan mereka!
Bintang-bintang itu seperti tak mungkin terjamah, kecuali ....
Kecuali . . . " Kecuali ruang angkasa itu tidak seperti yang kita perkirakan sekarang, pikir Tom. Mungkin ada kuncinya. Mungkin "hyperspace" seperti dalam ceritera fiksi populer itu memang ada. Kalau demikian".
Tom menarik napas dalam-dalam. "Ah, menangkan perlombaan ini dulu!" Kemudian baru ke planet-planet yang terdekat, lalu ke bintang-bintang. Satu langkah untuk setiap kali.
"Tetapi ini memang impian yang mengagumkan," pikir Tom.
Perjalanan ke bintang-bintang!
*** Tom menggeser-geser tak enak di kursinya. Luka-lukanya hampir hilang seluruhnya. Keduanya, ia dan Ben, berganti-ganti melakukan gerak badan selama penerbangan itu. Tetapi ia telah begitu lelah, sudah bosan makan pil-pil makanan, dan sudah kaku tubuhnya. Ia dan Ben telah saling menceritakan riwayat kehidupan mereka, setidak-tidaknya untuk mengurangi kebosanan. Mereka juga telah berjam-jam bermain bersama-sama dengan komputer, atau bersama para awak dari Moonglow yang telah mereka lampaui.
Tetapi titik akhir sudah dekat. Mereka telah mendahului Queen of Mars beberapa jam yang lalu, saling bertukar ejeken-ejekan persahabatan dengan awaknya yang campuran dari the Los Angeles Space Yacht Club. Beberapa menit lagi mereka akan menyusul Moonstraek, lalu Vespucci dan Martian Flash. Gelombang radio darurat telah mengumumkan, bahwa Hobbit, salah satu kapal Rusia, telah mengalami kerusakan mesin dan mengundurkan diri. Kapal-kapal tunda telah datang untuk menarik mereka kembali ke pangkalan.
Tom dan Ben terbang terus-menerus selama lima hari, hanya dengan dua kali istirahat. Minerva, Elie Metchnikoff dan Valkyrie masih ada di depan, dan semuanya masih penuh tenaga.
"Engkaukah itu, Cricket?" terdengar suara dari radio. "Di sini Moonstreak. Kalian sungguh cepat mengejar kami."
"Moonstreak, di sini Davy Cricket," jawab Ben. "Minggirlah kura-kura lambat."
"Ben! Engkau, ya" Kukira Swift yang punya Davy Cricket."
"Eh, Maureen" Tom dan aku bersama-sama. Ini adalah perlombaan yang paling panas. Minggirlah untuk sang pemenang!"
"Belum selesai, Ben," suara wanita lain tertawa.
"He Leigh! Engkau mengendarai kapal zaman bahuela. Ini adalah gelombang masa depan, teman-teman!"
"Ya," jawab Maureen ragu-ragu. "Kalau kalian pelawak-pelawak hendak meledak, jangan dekat-dekat dengan kami, ya?"
Tom menyela: "Ah, kali ini tidak."
Mereka terus mengobrol, sementara kedua kapal itu semakin mendekat. Kemudian Cricket mendahuluinya. Maureen berkomentar masam tentang kura-kura dan kelinci.
Mereka meluncur menyusul Hobbit, dan tak lama kemudian layar radar menangkap Peter the Great di sisi kanan bawah. Kapal Vespucci yang berat disusul berikutnya. Mereka mulai menyusul Martian Flash dengan sedikit demi sedikit. Martian Flash, peserta dari Inggris, menggunakan mesin ion yang cepat. Tetapi mereka pun segera tersusul oleh Davy Cricket.
Ben membungkuk di atas layar radar, mengetikkan isyarat pengenalan. Setiap kapal angkasa mempunyai kode digital yang berbeda-beda, yang diaktifkan oleh sapuan radar. Transponder pesawat dapat membacanya, sejelas huruf-huruf di haluan kapal kayu Minerva yang dapat ditangkapnya.
Mereka meluncur melewati kapal yang berpelindung kuat dan langsing itu. Tidak dengan kontak suara, pilot-pilot mereka mengirimkan isyarat diagram pada layar, seperti isyarat maritim kuno: Beritahukanlah Jalur Layar Anda.
Tom dan Ben saling tersenyum. Mereka penuh dengan rasa gembira.
Kapal Minerva pernah memimpin di depan. Meskipun terlambat berangkat, mereka telah dapat menyusul kapal yang digerakkan dengan mesin ion yang panas menyembur-nyembur biru-putih.
Elie Metchnikoff, diberi nama menurut almarhum ahli bakteriologi dan zoologi yang mengembangkan teori bahwa korpuskel putih tertentu dapat membunuh bakteri, masih saja ada di depan. Kapal itu dikemudikan oleh Dale Bailey, seorang biolog yang tinggal di New America. Kapal itu nampak sebagai noktah yang jauh di layar radar ketika Tom melewatinya.
Hanya tinggal Valkyrie yang ada di depan, sebuah noktah lain mendekat dengan cepat.
Tom dan Ben meluncur cepat melewati sebuah kapal agen berita dan sejumlah penonton yang ada di dalam kapal-kapal yang mirip kapal tunda. Tom membalikkan pesawatnya untuk melakukan pendekatan ke geladak pendaratan New America. Jet yang menyala-nyala digunakan sebagai pengerem.
Valkyrie berada tepat di depan mereka, sedikit di sebelah kanan Cricket yang sudah mulai menurun "secara relatif, terhadap silinder yang lima kilometer panjangnya itu. Mesin peleburan Cricket menyala cemerlang. Anita cepat-cepat mematikan mesin pendorongnya. Tetapi Tom tetap menggunakannya, bahkan digunakan untuk melambatkan pesawatnya. Ben memonitor pendaratan kedua pesawat. Mungkin sekali mereka akan terlalu dekat satu sama lain.
"Lho!" kata Ben tiba-tiba. "Anita seperti kurang tepat mendaratnya! Ia"..aduh!"
"Apa?" tanya Tom, yang sedang mengamati layar dengan teliti. Ia tak menghendaki kerusakan apa pun yang dapat timbul pada tubuh New America. Atau terhadap pesawatnya sendiri beserta awaknya. Ia memilih kekalahan daripada kerusakan.
"Anita terlalu besar hasratnya, ia"ia"menikung terlalu lebar!" Ben memandangi titik di kejauhan. "Ia mendekat terlalu cepat dan kurang tepat jadi ia harus memutar lagi persis seperti yang mereka katakan di Sunflower! He, Tom! Kita menang!"
"Kita akan menang kalau tidak terpaksa harus memutar lagi," jawab Tom. Wajahnya tegang karena konsentrasi. Kali ini adalah pendekatan yang paling cepat yang pernah dilakukannya. Ini bukan hal yang biasa dilakukannya. Gunakan mesin peleburan untuk memperlambat, lalu perhitungkan berapa tenaga yang dibutuhkan, matikan dan melayang turun.
Itulah yang paling ideal!
Ini adalah suatu perlombaan. Ia sudah melihat Elie Metchnikoff melakukan pendekatan, merendah, dengan berekor nyala api yang panjang. Anita memutar kapalnya, lebih lambat sekarang, bergerak masuk ke dalam posisi.
Selalu ada bahaya untuk saling bertabrakan. Tom dapat mendengar kata-kata yang tegang, berhati-hati, dari para petugas menara Kontrol New America. Tetapi ia tak menghiraukannya. Semua serba cepat.
Geladak pendaratan cepat menjadi penuh. Semua berlangsung terlalu cepat untuk dibicarakan.
"Ya!" Tom menjentikkan jari-jarinya, dan Ben melontarkan jangkar magnetik ke lantai geladak. Pesawat mengambang melewati geladak, kemudian berhenti tertahan kabel-kabel jangkar yang melunakkan pendaratan. Ben mulai menggulung kabel-kabel.
Mereka telah kembali! Mereka telah menang! *** Anita Thorwald tersenyum kecut kepada Tom. Mark Scott, kopilotnya, menjabat tangan Tom dan Ben.
"Oke! Ini!" Anita mengacungkan tangannya. "Aku gagal karena terlalu cepat."
"Kami mengalahkan engkau karena tepat waktunya," kata Ben sambil tersenyum.
Anita memandangi dengan muram. "Teruskan ... Apa saja yang akan terjadi dengan para pemenang yang murah hati!"
Mereka berdiri pada sebuah panggung kecil; di bawah terang kamera-kamera yang terarah kepada mereka.
"Beri tangan lagi!" seru seseorang, dan Mark mengacungkan lagi tangannya kepada Tom.
Mereka menoleh ketika Dale Bailey masuk. Ia seorang yang jangkung dan langsing, seorang ahli biologi, pilot dari kapal Elie Metchnikoff yang masuk sebagai juara ketiga.
Sekali lagi mereka saling berjabat tangan. Kemudian Tom dan Ben dipanggil maju, tetapi Ben mendorong Tom ke depan. "Eh, aku hanya seorang penumpang. Sungguh, Tom, ... inilah kemenanganmu."
Tom mengambil napas dalam-dalam, lalu mendekat ke tempat mikrofon-mikrofon.
"Aku ingin mengucapkan selamat kepada teman-teman seperlombaan, yang telah membuat perlombaan ini menjadi sangat menarik"."
Terdengar sorak-sorai yang terpencar.
"Kuucapkan pula secara khusus rasa terimakasihku kepada Benyamin Franklin Walking Eagle ... kopilotku!" Ia menarik tangan Ben untuk menerima tepuk tangan dan sorak-sorai. Ben tersenyum lebar.
Ketika sorak-sorai telah reda Tom berbicara lagi. Kali ini lebih sungguh-sungguh.
"Apa yang terjadi ini, bukan sekedar perlombaan. Ini semacam suatu lambang. Suatu lambang untuk keluar, untuk terbang ke bintang-bintang."
Ruangan yang penuh menjadi bertambah hening.
"Seperti halnya dengan kuda, kapal, kereta api, mobil dan pesawat terbang yang membawa orang-orang untuk pergi keluar dan melihat-lihat, demikian pula halnya kapal ruang angkasa di kemudian hari. Kita adalah orang yang malas, yang memerlukan teknologi ... dan justru sangat sering bahwa orang malaslah yang menemukan teknologi. Di masa lalu, orang malaslah yang menemukan sistem saluran dan irigasi. Orang yang tidak sabar, yang malas, wanita yang selalu ingin tahu, merekalah yang menemukan segala sesuatu yang membawa kita kemari sekarang ini. Tidak semua orang mau berjalan untuk melihat apa yang terdapat di balik bukit ... atau di balik bimasakti. Demikianlah kita berlayar, barangkali tidak sebagai manusia yang berpakaian besi dengan kapal kayu, tetapi orang-orang yang lemah dengan pesawat-pesawat yang lemah .... Tetapi kita akan pergi. Kita akan pergi untuk melihat dunia-dunia yang ada di dalam tata surya ini ... dunia-dunia, yang hanya satu generasi yang lalu dikatakan tak mungkin kita kunjungi. Di dalam bimasakti kita sendiri diperkirakan ada empatpuluh juta planet- planet seperti Bumi. Planet-planet yang mirip Bumi kita, yang dapat anda pijak sekeluar dari pintu bertekanan, lalu bernapas dalam-dalam dan mendongak ke langit. Kita baru sedikit saja keluar dari planet kita, sampai sebegitu jauh hanya karena keberuntungan. Tetapi Bumi sudah terlalu kecil dan terlalu rapuh bagi kita untuk mempertahankan kemanusiaan. Apa yang kita lakukan sekarang ialah mencari sesuatu yang tanpa batas, memperluas jiwa kemanusiaan sejauh-jauhnya. Mungkin ada kehidupan di luar sana, kehidupan dengan kecerdasan. Hampir dapat dipastikan, secara matematik. Tetapi kita belum tahu. Namun, bukankah lebih baik pergi sendiri untuk melihatnya daripada harus menunggu hingga barangkali mereka yang datang kemari" Kita telah mematahkan rantai yang mengikat kita pada Bumi. Kita telah lebih jauh daripada "Kapal Ruang Angkasa Bumi."
Tiba-tiba Tom menjadi bingung. Ia tidak bermaksud untuk berpidato.
Tetapi penyelidikan ruang angkasa demikian penting baginya, hingga tak terasa telah terseret ke dalamnya.
"Terimakasih," katanya, lalu melangkah mundur.
Terdengar suara tepuk tangan, kemudian semakin gemuruh. Kata-kata Tom telah membakar orang-orang tersebut. Kemudian terdengar sorak-sorai, dan Tom melihat ayahnya yang jangkung menerobos kerumunan manusia.
Swift yang tua memegang tangan Tom, lalu mengguncang-guncangkannya dengan hangat. Kemudian ia merangkulnya. "Aku sungguh bangga denganmu, Tom," kata si ayah.
"Wah, ayah! Aku tidak bermaksud untuk berpidato demikian."
"Tak mengapa"itu mengungkapkan apa yang harus dikatakan."
"Ayah, inilah Ben Eagle."
Orang yang jangkung itu mengacungkan tangannya kepada Ben.
"Selamat, Ben!"
"Anita! Dale! Mark"..kenalkan ayahku."
Perkenalan berlangsung. Wawancara-wawancara dilakukan. Penampilan para pemenang secara resmi dilaksanakan. Semuanya berlangsung berjam-jam. Tetapi akhirnya Tom Swift tinggal seorang diri. Ia melangkah pergi, berdiri bersandar pada dinding yang menghadap pada salah satu jendela raksasa New America. Di luar sana Tom dapat melihat bintang-bintang dalam susunan yang disebut Bimasakti.
Kenyataan-kenyataan ilmiah yang paling baru mengatakan, bahwa segala sesuatu selalu terdapat dalam kelompok-kelompok, pikir Tom.
Sejak mulai dari foton dan elektron, sampai ke galaksi-galaksi. Sekelompok planet membentuk tata surya; kelompok bintang-bintang membentuk galaksi. Kelompok-kelompok galaksi tersebar rata di seluruh jagat raya.
Kita belum tahu, apakah ada kelompok yang terdiri atas kelompok-kelompok yang masing-masing juga terdiri atas kelompok-kelompok pula, pikir Tom.
Tetapi ada pulakah kelompok-kelompok jagat raya" Seperti tetesan-tetesan air di samudera raya, di mana makhluk-makhluk raksasa berkeliaran" Apakah itu Satu Tuhan" Apakah itu Satu Energi" Apakah itu Makhluk Super" Lalu apa ceritera mereka tentang cintakasih"
Tom menghela napas, lalu melangkah menuju ke kamar yang dibaginya bersama Ben. Mereka masih harus memperbaharui pola mesin penggerak bagi Daniel Boone. Kemudian mereka akan pergi ke bulan-bulan dari planet Jupiter. Kemudian. . . ."
Selangkah demi selangkah, pikir Tom. Cukup satu langkah kecil saja untuk setiap kali.
END Ebook PDF: eomer eadig Http://ebukulawas.blogspot.com
Convert & Re edited by: Farid ZE
blog Pecinta Buku - PP Assalam Cepu
Sirkus Pak Galliano 3 Dewi Ular Ratu Peri Dari Selat Sunda Jodoh Rajawali 4
^