Pencarian

Pendekar Lengan Buntung 5

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw Bagian 5


meluncur dengan amat cepatnya di dayung oleh seorang gadis. Gadis Sian-li-pay
yang berjuluk Sian-li-eng-cu! Tentu saja Bwe Lan mengenalnya, sumoaynya ini dan
Kong Hwat mengangkat mukanya. Dilihatnya tidak berapa jauh meluncur
sebuah perahu kecil di dayung oleh seorang gadis jelita. Melihat yang datang adalah
Siang Twako, tolong kau pegang dayung ini, biar aku membereskan bidadari dari
Sian-li-hati Hwat-te! Jangan kau jatuh
Sebuah papan dilempar oleh Kong Hwat dan sekali berkelebat tubuhnya
melesat berdiri di atas papan dan meluncur menghampiri perahu si gadis. Sian-lieng-cu terkejut bukan main melihat pemuda itu berjalan di atas air. Matanya
membelalak dan begitu Kong Hwat dekat dan meloncat ke atas perahu, nampak di
bawah kakinya sebuah papan mengambang.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 211
yoza collection Hebat! Diam-diam gadis ini kagum kepada Kong Hwat. Akan tetapi mulutnya
dihantam cambuk yang ganas menyambar kepalanya kalau ia tidak cepat
mengelak ke kiri dan meloncat ke ujung perahu.
Kong Hwat mencelat lagi ketika perkataannya disambut oleh serangkum jarum
sianli-tok-ciam yang menancap di tiang perahu. Bergidik Kong Hwat melihat
keganasan gadis ini. -lecutan cambuk yang bertubi-tubi menggeletar.
Melihat pemuda itu dengan amat mudahnya dapat menahan seranganserangannya Sian-li-eng-cu bertambah panas hatinya. Pecutnya semakin menggila
laksana ular panjang menyambar-nyambar mencari mangsa.
Sudah barang tentu Kong Hwat yang terkenal sebagai murid si kakek gila dari
Fu-niu-san dapat menandingi gadis liar ini. Sebetulnya ingin sekali ia menggunakan
jurus-jurus Fu-niu-san-tung-hoat dan mengeluarkan tongkat kecilnya namun ia
merasa sayang melukai gadis jelita yang sekali lihat saja sudah begini amat
menggemaskan dan membuat hatinya merasa sayang.
Oleh sebab itu, ia hanya meloncat-loncat saja menghindarkan serangan
pukulan-pukulan cambuk yang bertubi-tubi amat ganasnya. Hanya sekali-sekali
Sian-li-eng-cu menyambitkan dengan sianli-tok-ciamnya, entah mengapa untuk
kedua malu rasanya ia menggunakan jarum beracun kepada lawan yang cuma
mengelak meskipun hatinya menjadi panas dan gemas kepada pemuda yang diamdiam mengagumkan hatinya ini.
Ia mainkan ilmu cambuknya lebih dahsyat lagi dan ingin cepat-cepat
menundukkan pemuda yang cuma mengelak tanpa membalas ini. Sombong! Pikir
Sian-li-eng-cu sengit! -elak begitu kaya monyet berloncatan. Hayo balas
-li-eng-cu membalas menyerang dengan ganas sehingga di udara
terdengar suara lecutan cambuk mengguntur laksana petir yang siap
menghancurkan tubuh pemuda tinggi tegap yang mengelak ke sana ke mari.
Perahu bergoyang menerima tubuh kedua orang muda yang tengah bertarung
dengan amat serunya. Sementara Ho Siang mendekati perahu itu dan menonton
dari jarak yang tiada berapa jauh.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 212
yoza collection Bwe Lan memandang sumoaynya yang bertempur melawan Kong Hwat
dengan kuatir. Akan tetapi setelah Ho Siang berkata bahwa gadis sumoaynya itu
takkan menang melawan Kong Hwat, dan nampaknya Kong Hwat pun tidak ingin
mencelakakan gadis itu. Tenanglah hati Bwe Lan.
Akan tetapi tidak setenang hati Sian Hwa saat itu. Entah perasaan apa yang
tengah mengaduk-aduk di hatinya. Sebentar saja pikirannya menerawang ke arah
sam-suhengnya yang bernama Sung Tiang Le yang buntung lengan kanannya.
Teringat itu ibalah hatin
-gara suci engkau kehilangan lenganmu! Ahhh.. koko, masih mending kehilangan sebelah lengan dari
Mengingat wajahnya yang rusak dan amat menakutkan dari balik kerudung
suteranya itu menitik air mata si gadis. Tentu saja ini tidak terlihat oleh Bwe Lan
atau Ho Siang karena muka gadis itu tertutup kerudung hitam!
Setelah menghadapi gadis galak ini lebih dari limapuluh jurus. Kong Hwat
mendapat akal yang jitu. Begitu cambuk si gadis menyambar cepat menyabet
kakinya, ia tidak mengelak. Sian-li-eng-cu girang sekali cambuknya membelit kaki
pemuda itu, dengan tertawa mengejek ia membetot keras. Tentu saja Kong Hwat
tertarik dan terjengkang ke belakang.
Pada saat itulah bagaikan orang gugup Kong Hwat berguling dan keccbur ke
laut! Terdengar pekik lirih dari Sian-li-eng-cu, melihat bayangan Kong Hwat terus
tenggelam menimbulkan pusar-pusar air yang membawa tubuhnya ke bawah!
Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu terhuyung. Perahu kecilnya berguncang keras
dan terbalik! Keruan saja gadis ini menjerit ketika ada sebuah tenaga yang amat
kuat membetotnya dan kecebur masuk ke dalam air sungai!
Bwe Lan dan Sian Hwa melihat dua orang muda itu tercebur dan tenggelam ke
dalam laut. Keduanya siap melompat ke dalam air menolong mereka, akan tetapi
Ho Siang mencegahnya. Dan begitu mereka memandang, benar saja tidak berapa jauh nampak Kong
Hwat berenang menuju perahunya sambil memanggul tubuh Sian-li-eng-cu yang
kelihatan sudah pingsan! lagi. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 213
yoza collection Perahu meluncur ke arah Kong Hwat dan Kong Hwat naik ke atas perahu
dengan dibantu oleh Ho Siang yang menarik tangan pemuda itu. Begitu naik ke atas
perahu Kong Hwat tertawa kepada teman-temannya.
rjuluk Sian-li-engmenyahut Bwe Lan sambil memapah gadis Sian-li-pay yang bernama Han Soan Li
itu yang masih pingsan. Dibawanya ke bilik perahu untuk berganti pakaian, diikuti
pula oleh Sian Hwa. Melihat gadis-gadis itu sudah masuk ke dalam bilik perahu, Kong Hwat
membuka bajunya dan menukar dengan yang kering. Sementara itu tak habishabisnya pemuda murid Koay Lojin memuji-muji gadis yang bernama Han Soan Li,
gadis Sian-li-pay yang telah mengobrak abrik pertahanan hatinya.
Memang cinta itu aneh, ia dapat tumbuh dalam waktu yang singkat! Tentu saja
Ho Siang yang berpandangan tajam ini memaklumi bahwa diam-diam pemuda
kawannya ini sudah jatuh hati kepada gadis lawannya, Han Soan Li!
ooOOoo Kita tinggalkan orang-orang muda yang lihay di dalam perahunya yang telah
mengarungi laut Po-hay dalam usaha melarikan diri dari Pulau Bidadari. Kita
kembali ke pulau itu menjenguk kakek aneh Koay Lojin.
Tentu saja kakek ini dikepung oleh Bu-tek Sianli dan banyak anak muridnya,
malah ke tiga orang tamunya sudah turun tangan pula karena tak tahan ia gatalgatal tangan melihat kakek aneh yang sakti ini. Maka dikeroyok oleh tokoh-tokoh
sakti, diam-diam kakek gila mengeluh di dalam hatinya.
wah.. . . orang-orang Sian-likalian menggantikan orangBu-tek Sianli menerjang dengan pukulan-pukulan Bu-tek-sin-kun yang amat
lihay bukan main. Sementara permainan jubah Hok Losu membuat Koay Lojin
terhuyung-huyung dan kacau gerakan kakinya, apalagi ditambah oleh seranganserangan pukulan jarak jauh dari Bong Bong Sianjin dan tokoh Khong-thong-pay
Leng Ek Cu. Bukan main. Kasihan kakek gila ini, meskipun kagum melihat gerakangerakannya yang aneh dan lucu yang kadang-kadang seperti orang-orang mabuk,
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 214
yoza collection terhuyung-huyung dan seperti orang hendak jatuh akan tetapi anehnya, dengan
langkah-langkah ajaib seperti ini semua pukulan-pukulan dari tokoh-tokoh sakti
dapat dihindarkannya dengan baik. Meskipun berkali-kali jubah Hok Losu sudah
berhasil menyentuh pundaknya, namun kakek sakti ini benar-benar kebal!
Biar gila, kakek ini tahu akan bahaya. Melihat bahwa lawan-lawannya ini
demikian tangguh dan tak mungkin ia dapat dikalahkan, Koay Lojin mencari jalan
keluar dan terdengar pekiknya yang dahsyat meruntuhkan dinding tembok dan
banyak di antara gadis-gadis Sian-li-pay mencelat mundur mengerahkan sin-kang
di dada untuk melawan serangan jeritan kakek Koay Lojin yang lihay.
Hanya Bu-tek Sianli, Hok Losu dan Bong Bong Sianjin yang tidak terpengaruh
oleh kakek gila ini, meskipun demikian serangan-serangan mereka menjadi
mengendur karena sebagian tenaga dikerahkan untuk menolak suara yang
menggetarkan jantung. Melihat kesempatan ini, sambil menggereng keras Koay Lojin mencelat ke atas
dan terdengar suara genteng dan eternit di atas bobol terhantam tubuh Koay Lojin
yang sudah melompat keluar.
-tek Sianli mengejar ke luar diikuti oleh murid-muridnya dan tiga
orang tamu, Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu. Akan tetapi secepat itu
mereka mencelat keluar dari lobang yang tadi dibobolkan oleh Koay Lojin, mereka
terheran karena tidak melihat lagi kakek gila, bayangannyapun tidak kelihatan!
permusuhan ini dengan kakek gila itu.
Bu-tek Sianli memerintahkan dara-dara jelita Sian-li-pay untuk mengejar ke pantai.
Dan apa yang mereka lihat di pantai itu, memang benar, Koay Lojin berlarian
terus berlari memasuki di atas air yang mengeriak jernih. Tidak ada perahu lagi di
pantai. Tentu saja gadis itu dibuat heran karenanya
Sesungguhnya tidak demikian. Memang Koay Lojin itu aneh dan sakti. Akan
tetapi tak mungkin ia mampu berjalan, malah berlari-lari di atas air kalau tidak
dibantu oleh sebilah papan kecil tempat berpijak kakinya.
Dan dengan gin-kang yang tinggi itulah kakek ini berhasil berlari di atas air
dengan bantuan sebilah papan di bawah kakinya. Dan sebentar saja ia sudah dapat
mengejar orang-orang muda yang melarikan diri dengan berperahu. Sambil
tertawa-tawa girang kakek Koay Lojin itu naik ke atas perahu yang didayung oleh
Kong Hwat dan Ho Siang. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 215
yoza collection Sementara Sian-li-eng-cu Han Soan Li tengah bersungut-sungut dihadapan
sucinya Bwe Lan. Sedangkan Sian Hwa tenggelam dalam lamunannya. Pikirannya
menerawang ke arah Sung Tiang Le dan Bwe Lan.
Hemm, bermacam-macam perasaan yang mengaduk-aduk hati gadis itu
sekarang. Ada sedikit perasaan cemburu kepada gadis di depannya ini yang
bernama Bwe Lan yang secara terang-terangan berani mati telah mencintai Tiang
Le dan ahh.. . . . banyak lagi perasaan-perasaan hati itu. Sian Hwa kasihan kau!
ooOOoo Air laut mengeriak tenang. Sementara matahari sudah mulai tenggelam
merupakan bola bulat merah di ujung laut. Nyuk In dan Tiang Le mengayuhkan
dayung lebih cepat lagi menuju ke darat karena takut kemalaman di tengah laut.
Meskipun Tiang Le buntung lengan kanannya akan tetapi ia dapat membantu gadis
ini mendayung dengan tangan kirinya.
Selama perjalanan di tengah laut itu Tiang Le jarang sekali berkata-kata. Baru
setelah udara mulai agak gelap mereka sudah sampai ke pantai, dengan cepat
sekali Tiang Le mengikuti Nyuk In meloncat dari perahu dan berlarian di sebuah
dusun mencari rumah penginapan.
Karena hari sudah gelap, Tiang Le dan Nyuk In tidak tahu lagi dusun apa
gerangan tempat ini. Akan tetapi dusun ini cukup besar dan mudah bagi mereka
mencari rumah penginapan.
Sebelumnya mereka memesan makanan kepada seorang pelayan rumah
penginapan ini. Begitu hidangan tersedia di meja, Nyuk In berkata kepada Tiang Le,
ke arah gadis ini. Usia gadis ini tidak lebih dari duapuluh tahun. Cukup cantik akan tetapi angkuh,
pikirnya. Memang sejak perjalanan di laut itu sebetulnya jarang Nyuk In berbicara.
Entah mengapa berjalan dengan pemuda buntung ini, ia merasa canggung dan
kikuk. Lain waktu berjalan dengan Ho Siang, rasanya dengan Ho Siang ia lebih cocok.
Sudah barang tentu! Sebab dengan Ho Siang ia sudah jatuh hati dan karenanya
berjalan dengan orang yang dicintai sangat membawa kesan dan menyenangkan!
Kini menghadapi pemuda buntung yang bernama Tiang Le itu ia merasa amat
uk In Pendekar Lengan Buntung - Halaman 216
yoza collection Tiang Le mengangguk dan dengan sinar matanya itu ia menyatakan rasa
terima kasih. Heran, kenapa menghadapi gadis ini ia merasa amat rendah diri" Ah,
betapa malunya ia apabila pandangan gadis itu membentur lengannya yang
buntung! Ia merasa dirinya amat rendah dan tiada berharga!
Sedikit sekali Tiang Le makan karena perasaannya tidak enak. Nyuk In heran
melihat Tiang Le makan sangat sedikit, akan tetapi ia tak bertanya. Ia diam saja
sambil menyikat makanan yang di atas meja.
tujuh dan aku di kamar nomor delapan saling menyebelah. Mari kita ke san
berkata Nyuk In bangkit dari duduknya diikuti oleh Tiang Le yang tidak berkata apaapa.
Begitu mereka hendak memasuki kamarnya masing-masing sebelumnya Nyuk
berjumpa lagi besok Tiang Le menjura menyatakan terima kasih, lalu ia memasuki kamarnya dengan
-apa, kongcu a perlu seauatu akan Si pelayan membungkuk dan keluar dari kamar.
Tiang Le sendirian di kamar itu.
Nyuk In juga sendirian di kamar sebelah. Setelah meletakkan perbekalannya di
atas meja, ia merebahkan dirinya di atas pembaringan tanpa membuka sepatu.
Matanya menatap langit-langit kelambu! Pikirannya menerawang jauh.
Teringat kepada Ho Siang, ia jadi melamun sendiri. Ah, Nyuk In kau betul-betul
bisik Nyuk In, aku mengagumi Ho Siang. Ia tampan, gagah dan bersikap sederhana,
-koko, Nyuk In berbisik sendirian.
Ia menoleh mengawasi lilin yang menyala menerangi samar-samar kamar ini.
Angin bertiup perlahan dan ujung api itu bergoyang lincah bermain-main. Nyuk In
memperhatikan kamar yang berbentuk empat persegi ini sambil merebahkan diri.
Akan tetapi tiba-tiba telinganya yang tajam membuat ia meniup api lilin dan
mencelat ke luar. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 217
yoza collection Di atas genteng itu betapa terkejutnya ia ketika melihat ada lima orang tua telah
mengurungya. Di antara ke lima orang tua itu nampak seorang setengah tua yang
memakai sorban kuning dan berkepala botak seperti hwesio. Tubuhnya gendut dan
pendek, sepasang lengannya berbulu nampak mengerikan sekali. Inilah dia tokoh
dari dunia barat yang disebut Thay-lek-hui-mo (Iblis Terbang Bertenaga Seribu Kati)
murid Nakayarvia yang pertama.
Dan ke empat orang yang lainnya adalah tokoh-tokoh biasa suku bangsa Han,
yang bongkok itu adalah tokoh Bu-thong-pay yang bernama Bhong Cu Siang,
terkenal dengan permainan senjatanya yang berbentuk arit. Sedangkan tiga orang
lainnya adalah anak buah dari Hek-lian-pay (Perkumpulan Bunga Teratai Hitam).
lek-hui-mo dengan suara yang berat. Dan cahaya bulan yang tinggal sepotong itu,
Nyuk In dapat melihat tokoh bersorban ini. Ia tidak mengenal Thay-lek-hui-mo.
Memang harus diakui, karena gadis ini belum lama turun gunung dan belum
banyak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw.
lian ini siapakah malamSeorang dari ketiga anak buah Hek-lianmengacau pulau bidadari, mana bisa kau hendak meninggalkan pulau itu
seenaknya saja. Hayo turut kami kembali ke
-orang ini adalah kaki tangan
Sian-li-antek Sian-liek-lianmengacungkan aritnya.
-orang Hek-lian-pay sama jahatnya
dengan Sian-li-pay. Kalian hendak menangkapku, boleh kalau kalian dapat
k In. bongkok Bong Cu Siang mengabitkan aritnya.
Nyuk In tersenyum mengejek dan menarik kaki kirinya menghindarkan
sambaran arit yang amat kuat sehingga menimbulkan angin berciutan. Akan tetapi
baru saja ia menghindari serangan dari kakek bongkok ini tahu-tahu serangkum
hawa dingin menyambar belakangnya.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 218
yoza collection Nyuk In terkejut sekali! Cepat mengibaskan kipasnya ke belakang, tangan
kanannya yang memegang pit menangkis pukulan arit kakek bongkok yang sudah
menerjangnya lagi. Karena ia tidak menduga serangan pukulan dari belakang itu
Hebat sekali pukulan jarak jauh hwesio bersorban kuning ini. Bukan saja kipas
Nyuk In robek dan hancur berantakan, juga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Nyuk In
terlempar jauh. Cepat ia bergulinggan berpok-sai turun dari atas genteng. Begitu ia
menginjak tanah, terasa dadanya menjadi nyeri dan sakit. Terkejutlah ia!
-litertawa Thay-lek-hui-mo menggelundung ke bawah seperti karet bal jatuh, disusul
dengan berkelebat bayangan lain.
Nyuk In sudah berdiri lagi. Tidak berapa jauh darinya terdengar suara hiruk
pikuk senjata beradu. Tahulah ia bahwa Tiang Le juga sedang dikeroyok oleh orangorang Hek-lian-pay. Tiga kali pitnya bergerak, tahu-tahu Nyuk In sudah merangsek
kakek bongkok yang bersenjata arit dan menggerak-gerakkan tangan kanannya
memukul sambil mengerahkan hawa sakti.
Sebagai murid Bu-beng Sianjin tentu saja Nyuk In pantang menyerah
menghadapi lawan-lawan meskipun tangguh seperti setan. Semakin lihay
lawannya, semakin sengit Nyuk In menggerak-gerakan pitnya dan pukulan-pukulan
tangan kanannya. Bentakan-bentakan yang keluar dari mulut gadis ini membuat
lawan-lawannya yang tiga orang ini menjadi keder dan jeri.
Terasa jantung mereka menggetar mendengar bentakan dari gadis itu.
Permainan pedangnya mengendur. Akan tetapi tentu bagi Thay-lek-hui-mo dan si


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kakek bongkok Bong Cu Siang tidak terpengaruh oleh bentakan-bentakan gadis itu.
-lekhui-mo membentak menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan.
Ia maklum bahwa, lawannya ini tentulah seorang yang pandai, pantas saja gadis
ini dapat meloloskan diri dari Sian-li-pay. Kemantapan dari gerakan pitnya itu saja
sudah membayangkan tenaga lwekang yang hebat.
Ia tidak berani memandang ringan lagi, maka diloloskan cambuk pemberian
suhunya Nakayarvia. Cambuk itu hitam warnanya, panjang dan berat, tapi di tangan
hwesio gendut itu terasa ringan dan enak. Tentu saja selama beberapa tahun ia
bermain-main cambuk ini! Melihat bahwa hwesio gendut sudah mengeluarkan cambuk yang menggeletargeletar memekakkan anak telinga. Cepat Nyuk In mengeluarkan pedang dari balik
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 219
yoza collection jubahnya. Inilah pedang tipis pek-liong-pokiam yang jarang ia keluarkan
menghadapi lawan. Akan tetapi sekarang menghadapi kakek bersorban ini, mau
tidak mau ia harus keluarkan pedangnya, karena kipas yang biasanya ia andalkan
sudah hancur disambar pukulan lawannya tadi.
-beng Sianjin, tak akan mundur
-liong-pokiam berkelebat menyilaukan mata.
Terkejut sekali lawan-lawannya ini. Hebat, pantes demikian lihai, tahunya gadis
ini adalah murid Bu-beng Sianjin, pertapa sakti dari puncak Thang-la! Akan tetapi
tentu saja bagi Thay-lek-hui-mo dan Bong Cu Siang mereka tidak menjadi gentar,
malah semakin hebat mendesak lawan.
kami bawa kau ke pulau bidadari, Ketahuilah kami dengan suhumu Bu-beng Sianjin,
tidak ada permusuhan apa-apa, menyerahlah! Kami jamin kau tidak akan dipersakiti
dengan kakek pertapa Thang-la, oleh sebab itu kalau bisa dibujuk gadis ini, itu lebih
baik! Akan tetapi Nyuk In bertambah marah.
is ini menggerakkan pedangnya
dan berkelebat sinar perak menyilaukan mata.
Bong Cu Siang kaget dan bingung seketika karena gerakan pedang itu hebat
dan menyilaukan. Thay-lek-hui-mo yang sudah menjadi marah membentak keras
dan kedua tangannya bergerak mendorong. Inilah pukulan Gin-san-ciang yang
belum lama ini ia pernah terima dari gurunya Nakayarvia, amat hebat dan
mengeluarkan hawa panas dan berapi.
Merasa hawa pukulan ini sangat panas dan membara, tak berani Nyuk In
menangkis dengan pukulan pula. Waktu sabit di tangan Bong Cu Siang menyabet
dan tiga orang anggota Hek-lian-pay menggerakkan pedangnya, dengan cepat luar
biasa Nyuk In mencelat ke atas menggunakan gin-kangnya.
Sambaran angin pukulan Thay-lek-hui-mo lewat di bawah kakinya dan
terdengar jeritan mengerikan dari ketiga orang anggota Hek-lian-pay yang tidak
keburu mengelak dari serangan Gin-san-ciang kakek bersorban yang lihay itu. Untuk
seketika jeritannya itu berganti dengan tubuh mereka yang berkelojotan mati
dengan muka hangus dan mendelik. Inilah hebat. Nyuk In sampai bergidik sekali.
-lek-hui-mo berseru marah, jubahnya
berputaran menimbulkan angin puyuh.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 220
yoza collection Untung saja pada saat itu bulan bersinar terang sehingga Nyuk In dapat
menangkap gerakan-gerakan pukulan lawan. Berkali-kali pukulan Gin-san-ciang
kakek bersorban itu menyentuh, tubuhnya terasa panas dan nyeri menyesakkan
dada. Oleh karena itu ia mainkan pedangnya dengan jurus-jurus Pek-liong-kiam-sut
lebih hebat lagi. Pada saat itu berkelebat banyak bayangan berlarian.
Tahu-tahu Bu-tek Sianli telah berada di hadapan Nyuk In. Terkejut sekali gadis
ini melihat nenek Pay-cu Sian-li-pay yang telah berada di tempat ini. Bagaimana
boleh jadi. Tentu saja ia tidak tahu.
Setelah nenek ini kehilangan Koay-lojin dengan marah, cepat-cepat ia mengejar,
sebelumnya ia melepaskan burung posnya mengabarkan berita kepada kaki
tangannya di luar pulau bidadari. Oleh sebab itulah mengapa orang-orang Hek-lianpay sudah dapat menangkap berita itu sebelum ke dua orang muda itu masuk ke
dalam penginapan. Melihat gadis muda berjalan dengan pemuda buntung, tentu saja orang-orang
memandang ringan kepada Tiang Le, melainkan mengarahkan perhatiannya kepada
gadis bernama Nyuk In yang dikabarkan sangat lihay tak heran kalau Thay-lek-huimo, Bhong Cu Siang dan tiga orang Hek-lian-pay mengeroyok gadis cantik ini.
Sebaliknya dengan mengandalkan banyak orang Hek-lian-pay, orang-orang ini
menyerbu Tiang Le. Untung bagi Tiang Le ia cuma dikeroyok oleh orang-orang kasar seperti ini,
sehingga dengan mudahnya ia dapat menghindari serangan-serangan dan balas
memukul dengan tangan kirinya. Akan tetapi tak lama kemudian, siapa sangka
muncul tiga orang bidadari dari Sian-li-pay yang sudah sampai ke tempat ini
bersama Bu-tek Sianli. Terkejut bukan main Tiang Le. Apa lagi permainan pedang dara-dara Sian-lipay ini demikian ganas dan lihay. Maka dengan mengandalkan keringanan
tubuhnya ia mencelat ke sana ke mari menghindari sambaran pedang dari daradara Sian-li-pay yang lihay ini.
Diam-diam Tiang Le mengeluh tadinya ia ingin menolong gadis yang bernama
Nyuk In itu, yang tengah dikeroyok oleh kakek bersorban kuning, sekarang
jangankan untuk membantu. ia sendiri merasa kewalahan menghadapi lawanlawannya yang lihay ini. Semakin banyak orang Hek-lian-pay yang mengeroyoknya
semakin payah Tiang Le. Lama kelamaan ia menjadi lelah juga mengelak ke sana
ke mari. Jalan satu-satunya adalah membuka jalan darah.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 221
yoza collection Melihat bahwa yang mengeroyoknya adalah orang-orang Hek-lian-pay yang
tidak begitu lihai, ia mendesak orang-orang yang mengurungnya itu, menggerakkan
tangan kakinya, menendang dan memukul. Tiga orang Hek-lian-pay menjerit roboh
menghantam pukulan tangan kiri Tiang Le, dengan cepat Tiang Le mencelat
menjauhi berlari. rang dari ke tiga gadis Sianli-pay itu membentak sambil mengejar cepat. Sebuah sabuk sutera meluncur
dengan amat luar biasa cepatnya dan tahu-tahu menjirat kaki Tiang Le dan keruan
saja Tiang Le jadi terguling dibuatnya.
a itu terdengar nyaring bertubi-tubi di atas
kepalanya, disusul berkelebat bayangan tiga orang gadis mengejarnya. Terkejut
sekali Tiang Le. Ia tidak boleh tertangkap oleh gadis ini, celaka kalau ia dibawa
kembali ke pulau bidadari! Oleh sebab itu, begitu sabuk itu terlepas dari kakinya, ia
membiarkan sabuk sutera melecut memukul pundaknya mengerahkan tenaga sakti
di pundak. Tiang Le mengeluh, akan tetapi ia mencelat lagi, sebuah bayangan gesit
mengirim tendangan, Tiang Le terjungkal dan terasa sejuta bintang berputar-putar
Tiang Le menjadi kalap sekali. Ia menerjang, gadis itu mengirim pukulan yang
ngawur karena kepalanya menjadi puyeng, sebisa-bisanya ia memukul. Terdengar
suara tertawa nyaring disusul berkelebatnya sinar pedang siap menusuk leher
Tiang Le. kap hidupsuara gadis yang memegang sabuk sutera.
Tiang Le melompat bangun. Terhuyung-huyung.
Tiang Le menjadi panas. Tangan kirinya terbuka menggeletar dan menerjang
maju. samping tubuh Tiang Le meluncur dan bergulingan jatuh.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 222
yoza collection g Le menggeliat-geliat menahan sakit pada punggung yang terhantam cambuk. Bulan di atas tiba-tiba
menjadi suram, bersembunyi di balik awan hitam. Suasana menjadi remangremang.
Si gadis melecutkan sabuknya sambil tertawa-tawa mengejek. Tak tertahan lagi
rasa nyeri yang menggerogoti punggung dan mukanya yang tersambar lecutan
cambuk. Suara-suara bidadari terdengarnya seperti suara-suara hantu neraka yang
menyiksanya setengah mati.
Tiba-tiba dirasakannya dunia ini berputar, tubuhnya melayang jatuh
semangatnya turun melayang, terayun-ayun. Dan tak sadarkan diri lagi.
yang dipijaknya jadi longsor. Suara gemuruh mengiringi tubuh Tiang Le yang
tergulung pula oleh tanah longsor.
Tempat itu sangat gelap sekali. Gadis-gadis cantik ini seketika kehilangan
pemuda buntung. Orang-orang Hek-lian-pay turut membantunya mencari, akan
tetapi karena tempat itu kini menjadi gelap dan takut kalau-kalau tanah yang
dipijaknya menjadi longsor lagi, maka orang-orang Hek-lian-liPayKe tiga gadis Sian-li-pay dan orang-orang Hek-lian-pay berlari-lari menemui
Pay-cu yang telah menanti dengan wajah bersungut,
-tek Sianli marah-marah. Tentu saja ia menjadi rungsing bukan main, baru saja ia dan temantemannya tidak berhasil menangkap gadis lihay itu, kini pemuda buntung itu juga
-tek Sianli kembali ke pulaunya. Karena tiga orang tamu dari kotaraja, yaitu Bong Bong Sianjin,
Hok Losu dan Leng Ek Cu masih menanti di sana!
Mengapa nenek sakti ini tidak berhasil menangkap Nyuk In, padahal ia dibantu
oleh Thay-lek-hui-mo dan Bhong Cu Siang yang lihay"
Seperti kita ketahui memang menghadapi Thay-lek-hui-mo ini, Nyuk In sudah
kewalahan setengah mati apa lagi ditambah oleh Bhong Cu Siang dan munculnya
Bu-tek Sianli, benar-benar Nyuk In terancam nyawanya! Pukulan sakti Bu-tek Sianli
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 223
yoza collection yang langsung menerjangnya membuat beberapa kali gadis ini terlempar jauh
muntahkan darah segar. Parah sekali keadaannya Nyuk In bahaya sekali ia tidak cepat-cepat
mengerahkan tenaga murni ke dada, ia menekan dadanya yang terasa sesak dan
nyeri. Pandangannya menjadi nanar, ia terhuyung-huyung. Thay-lek-hui-mo tertawa
mengakak melihat lawannya sudah hampir roboh. Arit di tangan Bhong Cu Siang
menyambar leher si gadis dibarengi dengan pukulau tangan kanan Bu-tek Sianli
yang menggeletar dahsyat.
Nyuk In tak kuasa lagi mengelak begitu pitnya menangkis arit Bhong Cu Siang
terasa tangannya bergetar hebat, dalam keadaan yang hampir setengah sadar ia
menggerakkan kakinya menghindarkan diri dari dari sambaran jubah kakek
bersorban, akan tetapi sebuah pukulan tangan Bu-tek Sianli tak dapat ia hindari lagi.
Cepat ia mengerahkan sin-kang di dada menerima pukulan dahsyat ini.
Bhong Cu Siang memburu dengan arit di tangan dan mengelebatkan aritnya. Pada
saat yang mengancam keselamatan gadis itu, sebuah benda menyambar dan arit
Bhong Cu Siang menyeleweng ke samping. Sesosok tubuh berkelebat dengan amat
gesitnya menyambar tubuh Nyuk In.
-tek Sianli memerintah. Ke tiga orang itu memburu bayangan hitam berlari dengan amat cepatnya ke
selatan. Berkali-kali tangan kiri Bu-tek Sianli mengayun melempar Sianli-tok-ciam
dan nampak sinar halus menyambar bayangan di depan, akan tetapi betapa terkejut
hati mereka melihat jarum-jarum runtuh sebelum menyentuh bayangan hitam yang
terus lenyap di balik sebuah pohon yang besar.
Dalam beberapa detik ke tiga orang yang mengejar sudah sampai di bawah
pohon besar yang agak gelap. Tiba-tiba Bu-tek Sianli melempar jarumnya ke atas.
Akan tetapi tidak terdengar suara apapun, Thay-lek-hui-mo menjadi marah, dengan
geram kedua tangannya terangkat dan mendorong ke depan. Terdengar suara
keras batang pohon yang sebesar pelukan itu roboh dan semua daun-daunnya
rontok hangus tersambar pukulan Gin-san-ciang luar biasa itu!
-lek-hui-mo. Tentu saja kalau memang orang yang
menolong gadis itu bersembunyi di pohon ini, tentu akan hangus pula tersambar
pukulannya yang dahsyat! Demikianlah hati penasaran dan uring-uringan ke tiganya kembali ke markas
Hek-lian-pay. Bu-tek Sianli kembali ke pulau dan Thay-lek-hui-mo dan Bong Cu Siang
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 224
yoza collection terus menyelidiki sekitar dusun mencari ke dua orang muda, akan tetapi yang dicari
lenyap bagaikan ditelan bumi!
ooOOoo Tiang Le merasa tubuhnya dihentakkan oleh tenaga yang luar biasa ke alam
lain. Ia melihat tempat yang begitu gelap pekat, panas dan menyesakkan rongga
pernapasannya. Ia merasa bermimpi yang amat menakutkan. Mimpi yang
dirasakannya dunia ini menjadi kiamat, bulan di atasnya jatuh menimpa bumi.
Tiang Le menjerit ngeri ketika melihat banyak manusia-manusia menangis dan
meratap digiring oleh sebuah makhluk yang berkepala sembilan dan bertangan
duabelas. Manusia apakah itu atau malaikatkah yang meogiringi orang-orang yang
sudah mati. Di tempat apa ini"
Di neraka" Tiang Le menjerit sekuat-kuatnya ia dapat mengeluarkan jeritannya.
Akan tetapi aneh, tiada terdengar suara jeritannya itu. Matikah aku ini" Sekali lagi
ia menjerit sekuat-kuatnya. Tiada suara.
Tiba-tiba sinar terang menyilaukan matanya. Berputar-putar membentuk
sesosok tubuh manusia. Ia melihat seorang laki-laki nelayan yang amat sederhana,
namun berwajah tampan, didampingi oleh wanita cantik yang wajahnya diliputi
kedukaan. Mereka tersenyum-senyum kepadanya dan melambaikan tangan. Tiang Le
menangis hendak mengikuti kedua orang tua yang semakin lama semakin hilang
Akan tetapi orang yang dipanggil sudah hilang disapu awan yang
menjemputnya. Ingin ia terbang. Akan tetapi dirasakannya tubuh demikian kaku dan
nyeri. Kembali sejuta bintang berputar di kepalanya, membuat tubuhnya terayunayun nikmat sekali, ia memejamkan mata.
Kembali gelap itu bukan main menghantui hidupnya. Ia merasa seperti di
neraka. Api neraka membakarnya, ia berteriak ngeri waktu dirasakannya tubuhnya
terbanting jatuh masuk ke dalam kawah api yang menyala-nyala luar biasa
panasnya. Ia menyebutkan nama Tuhan dan Tuhan datang meniup api-api yang
Suara itu. Bukan. Bukan suara Tuhan. Suara itu seperti suara bidadari demikian
lembut dan menyejukkan hatinya. Ia melihat sebuah wajah yang cantik jelita. Wajah
seorang gadis. Ia bingung dan tidak mengenal wajah gadis ini.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 225
yoza collection Wajah aneh, sebentar seperti wajah Sian Hwa, kemudian berubah seperti wajah
Bwe Lan yang tadinya amat galak kepadanya, sebentar lagi.. . . . hanya samar-samar,
seperti.. . . seperti Pei Pei.. . . seperti Cia Pei Pei! Oh, Pei Pei! Bibirnya bergerak
Le koko.. . . , tenangkanlah ha
Mendadak semua bayangan itu menjadi lenyap. Tiang Le menyesal bukan main,
di dalam gelap ia mencari-cari! Akan tetapi gadis-gadis yang membayang tadi tidak
nampak lagi. Hilang ditelan kabut yang amat hitam pekat!
Akan tetapi, telinganya mendengar suara seorang gadis berkata lembut, suara
Bagaikan tersentak dari mimpi yang amat buruk Tiang Le membuka matanya.
Pertama-tama yang dilihatnya adalah sebuah wajah yang sangat jelita. Untuk
sejenak ia memandang wajah ini. Serasa ia pernah mengenalnya.
menampakkan sebuah senyuman.
kirinya terasa sakit sekali dan ketika tangan kirinya meraba, kiranya di pundak kiri sebelah
belakang sudah terbalut oleh kain putih bersih.
Teringatlah ia kini bahwa sabuk di tangan gadis Sian-li-pay yang lihay itu
membuat luka-luka pada kulit pundaknya. Akan tetapi mengapa ia berada di tempat
ini dan gadis itu" pikirnya heran.
Tiang Le berusaha bangun. Akan tetapi sebuah tangan meraih pundaknya,
Tiang Le menarik napas panjang, membiarkan tangan si gadis merebahkan
-lagi kau yang menolongku betapa besarnya budimu
suara Pei Pei hampir menangis, menangis menahan haru di dadanya yang
menyesak. Memang semenjak ia berpisah dengan Tiang Le beberapa bulan yang lalu, entah
mengapa hidup ini dirasakannya menjadi sunyi dan hampa. Siang malam ia
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 226
yoza collection berharap akan kembalinya Tiang Le, siapa sangka ia dapat bertemu dan kembali
dalam keadaan yang seperti dulu.
Ia dapatkan Tiang Le sudah pingsan di antara gundukan tanah longsor di
samping rumahnya. Memang karena malam kemarin udara demikian gelap pekat,
tentu saja gadis-gadis dari Sian-li-pay tidak mengetahui bahwa tanah yang longsor
itu jatuh di dekat samping sebuah rumah.
Dan Pei Pei yang terkejut mendengar suara berisik disamping rumahnya segera
keluar dan apa yang dilihat" Ya Allah, kiranya sesosok tubuh yang sedang pingsan
itu adalah tubuh Tiang Le pemuda lengan buntung yang selama ini dirindukannya
sepanjang siang dan malam.
Demikianlah sepanjang malam dan siang hari itu Tiang Le pingsan dan selama
itu Pei Pei merawatnya dengan hati berkuatir. Berkali-kali ia mengompres kening
Tiang Le dengan air dingin, karena wajah pemuda itu panas membara.
Sebetulnya Pei Pei sudah memanggil Kwa-shinse, akan tetapi sayang sekali
orang tua tukang obat itu tidak berada di tempat, maka Pei Pei inilah sendirian
merawat Tiang Le sebisanya. Dan hatinya lega ketika siang hari itu Tiang Le siuman.
Dan panasnya telah menurun banyak.
Dengan menahan rasa sakit, Tiang Le bangun lagi, tak perduli akan cegahan
gadis itu. belum semb

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

apa yang terjadi denganku. Bukankah aku juga dikeroyok oleh gadis-gadis Sian-li-
memegang tangan kiri pemuda itu menyuruh duduk, berceritalah Pei Pei.
pohon yang rubuh. Eh, nggak tahunya cuma tanah longsor doang, tebing di sebelah
sana itu longsor dan aku menjadi terkejut melihat engkau sudah pingsan dalam
timbunan tanah longsor, untung cepatTiang Le mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa tanah longsor itu yang
menolongnya. Kalau ia tak ikut terjatuh tanah longsor, tentu ia akan tertangkap di
tangan gadis-gadis Sian-li-pay yang lihay itu.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 227
yoza collection Melirik ke arah tangan kanannya Tiang Le menarik napas panjang. Ia menyesal
tangan kanannya buntung, sehingga tidak dapat bermain pedang.
Heran apabila teringat kepada lengan buntungnya ini, teringat pula ia kepada
Pei Pei terharu sekali melihat wajah yang murung itu. Lama ia memandangi
Tiang Le mengangkat mukanya. Terkejut ia melihat mata gadis itu telah menjadi
ngan -moay memang nasibku begini.. . . aku menjadi pemuda cacat tanpa daksa.. ,
percuma suhu melatihku.. ., sedangkan aku jadi begini, aku tak bisa bermain pedang
lagi, ah menutupi muka itu, dari cela-cela tangan itu menetes airmata Tiang Le.
Pei Pei memandang dengan mata basah.
permusuhan yang tak ada habis-moay, harus! Kalau tidak
Pei Pei menubruk sambil menangis,
Tiang Le terharu melihat perbuatan gadis ini. Sepasang tangannya dipegangnya
oleh tangan kiri Tiang Le.
dalam benaman dadanya. l milik Pei Pei didekapnya
Semakin membanjir air mata si gadis.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 228
yoza collection Jilid 8 AGAIKAN disentak oleh ular berbisa, Tiang Le melepaskan sepasang
tangan itu pada dadanya. Ia mengangkat muka memandang dan
pandangannya bertemu dengan sebuah telaga yang jernih airnya meluap
membanjir. Melihat pandangan Pei Pei begitu sayu dan basah, tak tega hati Tiang Le buat
menyakitinya. Menyesal ia merenggut sepasang tangan itu. Tangan yang kini
berjuntai bagaikan tak bertenaga.
Ternyata saking hebatnya tekanan bathin yang menyerangnya dan tanpa ia dapat
tolak membuat Tiang Le menjadi demikian lemah. Dan pandangannya berkunangkunang. Tak tahu lagi ia, begitu ia tak tahu diri, Pei Pei memburu dan memeluknya
sambil menangis, memapahnya ke tempat pembaringan.
Lima menit kemudian Tiang Le sadar lagi. Begitu ia membuka mata dilihatnya
Pei Pei masih menangis duduk di sampingnya di pembaringan sambil tangannya
mengusapi kain dingin pada keningnya.
Pei Pei menarik tangannya. Menyusut air mata yang meleleh di pipi.
Memandang pemuda itu. Pei Pei menggeleng-gelengkan kepala, air matanya semakin membanjir
membasahi dada Tiang Le. Le terangkat mengusap lembut pipi yang basah itu!
Pei Pei menggigit bibirnya, menahan air mata yang membucah-bucah.
Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya mengguguk perlahan.
Tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketok orang. Pei Pei menengok dari
jendela kamar. Tiba-tiba ia menoleh kepada Tiang Le, wajahnya menjadi pucat
seperti kertas. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 229
yoza collection suara Pei Pei terdengar kuatir.
-orang Hek-lianLe bangun.
buhnya terasa masih lemah dan
sakit-sakit. Ia membiarkan Pei Pei keluar, akan tetapi diam-diam ia mengikuti gadis
itu. Memang yang datang itu adalah orang orang Hek-lian-pay.
Begitu pintu dibuka, mereka menjadi melongo melihat seorang gadis cantik
berkata Orang yang bercambang bauk dan kasar tertawa cengir kuda sambil suaranya
dibuat-lianini, hanya barangkali nona, harap
orang-orang kami, akan tetapi kabarnya hilang ditelan longsor. Pay-cu kami
memeriksa du atu lagi berkata ketus sambil
mendorong gadis yang di depan pintu itu.
Pei Pei pucat sekali wajahnya, sepucat mayat, akan tetapi nampak demikian
manis bagi pandangan orang-orang kasar ini.
k yang memegang golok besar di tangan.
Pei Pei ingin mencegahnya, akan tetapi tak kuasa membuka mulut. Hanya
wajahnya saja semakin pucat dan kuatir.
Ke tiga orang Hek-lian-pay itu memasuki ruangan dalam, pandangan matanya
menyapu segala apa yang ada di situ. Sampai di depan kamar yang tertutup itu,
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 230
yoza collection dingin membasahi wajahnya. Melihat orang kasar itu mendorong daun pintu dan
suara berderit keras memecah keheningan.
Kalau saja, ke tiga orang Hek-lian-pay itu menoleh kepada gadis di belakangnya,
tentu mereka akan melihat betapa wajah Pei Pei semakin pucat dan mengigil. Akan
tetapi sebentar cuma orang-orang itu melongok ke dalam. Tidak didapat yang dicari,
Pei Pei tidak berkata apa-apa. Hatinya lega melihat Tiang Le tidak ada di
kamarnya. Ia mengantarkan orang Hek-lian-pay sampai di depan pintu dan
mengawasi orang-orang itu berjalan dengan amat cepatnya.
-alim sembuk! Cewek begitu cantik masa dilepas begitu
patan mengapa tidak digunakan. Nanti kalau udah
-yang sambil menepuk-nepuk pundak twakonya yang bercambang bauk.
Ketiganya sudah menjauh. Tak terdengar lagi oleh Pei Pei. Diam-diam ia kuatir
sekali, takut orang-orang itu akan datang lagi. Dengan perasaan cemas Pei Pei
menutup daun pintu dan berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya Tiang Le tidak ada.
r kalau-kalau Tiang Le sudah pergi dan meninggalkan dia. Ia
berlari keluar, masuk lagi ke kamar. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok tubuh yang
mencelat turun dari atas langit-langit kamar. Tiang Le tertawa.
Tiang Le melihat Pei Pei tersenyum manis dan tiba-tiba gadis itu berlari
- Pendekar Lengan Buntung - Halaman 231
yoza collection Kini kedua-duanya saling berangkulan, Tiang Le mengangkat sedikit dagu si
gadis ke atas. Sepasang mata memandangnya sayu dan berkaca-kaca, merupakan
cermin hati yang mengungkapkan perasaan cinta kasih.
Pemuda ini merasai hal yang aneh di dalam hatinya, perasaan aneh yang
pernah ia rasakan ketika pada hujan-hujan lebat di dalam pondok bersama Sian
Hwa waktu berpelukan, waktu untuk pertama kali ia mengecup Sian Hwa dan Sian
Hwa membalasnya dengan perasaan cinta kasih.
Perasaan aneh ini kembali mengejar-ngejar waktu memandang mata Pei Pei
yang basah. Seluruh isi dadanya serasa bergejolak, darahnya berdenyar-denyar
dan bergelora. Semangatnya sebagian melayang naik ke sorga, rasa nyeri di
pundaknya tak terasa lagi.
Hemm, memang demikianlah adanya. cinta dapat menghilangkan rasa sakit,
dapat melenyapkan kesedihan hati! Karena cinta itu merupakan kekuatan yang
mujijat dalam diri manusia!
Dengan cinta orang yang berputus asa mempunyai harapan dan gairah hidup
kembali, dengan cinta orang yang kuat menjadi lemah dan yang lemah menjadi
kuat. Aneh! Demikianlah sejak kejadian-kejadian itu, Tiang Le tinggal bersama-sama Pei Pei,
dan lukanya di pundak semakin hari semakin sembuh. Pei Pei merawatnya ini
dengan telaten dan penuh cinta kasih. Ah betapa bahagianya Tiang Le, untuk
sejenak lupalah ia akan segala tugas-tugasnya.
Di samping Pei Pei dunia ini seakan-akan menjadi begitu indah. Senyum Pei Pei
membawa kekuatan yang baru di hati yang hilang semangat itu.
Di tempat sunyi ini Tiang Le menemui kebahagiaan yang baru kali ini ia rasakan.
Hari demi hari dilaluinya dengan sendah gurau dan bisikan-bisikan cinta kasih
kepada Pei Pei. Hati Tiang Le demikian terisi, lama kelamaan hati itu penuh dengan
cinta kasih kepada Pei Pei. Dan Pei Pei tidak bertepuk sebelah tangan. O, hari-hari
yang dilaluinya begitu indah dan romantis!
Pada suatu hari ketika Tiang Le sedang memancing ikan di kolam tidak jauh
dari rumah Pei Pei, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara tertawa parau
yang datang dari rumah Pei Pei. Tiang Le menjadi tertarik dan menoleh ke belakang.
Alangkah herannya ia ketika melihat tiga orang kasar menarik-narik tangan Pei
Pei dan memeluknya. Untuk yang kedua kali telinganya mendengar Pei Pei
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 232
yoza collection Mendengar suara ini bagaikan terbang tubuh Tiang Le mencelat dan sekali dua
kakinya bergerak, tahu-tahu ke tiga orang kasar yang memegang tangan si gadis
terpental dan untuk beberapa lama tidak dapat bangun saking hebatnya tendangan
Tiang Le yang meloncat ke dekat Pei Pei.
tangan kiri Tiang Le siap memukul ke depan. Ingin sekali saat itu ia membunuh ke
tiga orang kasar yang telah mengganggu Pei Pei, entah mengapa hatinya menyadi
panas dan marah. Kalau pundaknya tidak disentuh oleh Pei Pei tentu ke tiga orang ini telah
mampus oleh Tiang Le. Untung
itu adalah anak buah Hek-lian-lian-pay kek, setan neraka kek, pokoknya siapa saja yang
menghampiri ke tiga orang itu.
-lianLe mencongkel dan tiga orang kasar itu telah berdiri dan memandangnya dengan
mata mendelik. -cari oleh Pay-cu, hayo pemuda buntung yang tadi sudah dirasai kelihaiannya. Orang yang dipanggil twako
itu pun tidak berani lagi main-main, pandangannya berapi-api menatap Tiang Le.
Ke tiga orang inilah yang beberapa waktu yang lalu memeriksa rumah Pei Pei
dan tidak disangkanya pemuda buntung yang dicari-carinya itu berada di sini.
Setelah berkata demikian ke tiga orang anggota Hek-lian-pay itu berlari
terpincang-pincang, seperti anjing kena gebuk kakinya. Tiang Le hanya tersenyum
mengejek, -jangan nanti ia akan Pei Pei dengan cemas dan memegang tangan
memanggil temankiri pemuda itu.
Tiang Le menoleh dan melihat senyum Pei Pei.
- Pendekar Lengan Buntung - Halaman 233
yoza collection -mudahan kau dapat mengatasi mereka, mereka itu terkenal kejam dan banyak temanrumah.
- itu sudah berani kepadamu tentu kepada perempuan-perempuan lain juga mereka
Pei Pei menyentuh lengan pemuda itu dan menariknya masuk.
Tiang Le mengusap bibir itu dengan telunjuknya, mata si gadis bersinar-sinar
cerah. Sungguh merupakan sepasang merpati yang ideal dan serasi. Yang lelaki
meski kehilangan lengan kanannya akan tetapi nampak gagah dan tampan, dan
yang perempuan, hemm, cantik jelita!
Pei Pei mengajak Tiang Le kemeja makan.
Makanan memang sudah disediakan sejak tadi.
Pei Pei menyendok nasi ke mangkok dan disodorkan kepada Tiang Le dan Tiang
Le menerimanya. Kalau kita melihat kerukunan dari orang muda ini kelihatannya
seperti sebuah rumah tangga yang amat rukun dan saling mencintai. Hati kita bisa
iri dibuatnya. Tapi tidak dong ya" Jangan iri begitu.
Memang itu kehidupan Tiang Le dan Pei Pei yang penuh dengan madu cinta
kasih, yang berkelimpahan air susu dan madu. Lain daripada kita tentunya. Sebab
setiap manusia itu mempunyai kehidupan yang berlainan, mempunyai liku-liku
yang berlainan pula! Kehidupan manusia tidaklah sama sejalan dengan orang lain.
Inilah kebesaran Tuhan. Oleh sebab itu kita tak perlu iri.
Mari kita melihat Tiang Le dan Pei Pei yang tengah makan.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 234
yoza collection Sambil makan itu mereka saling lirik, saling senyum. Kadang-kadang Pei Pei
menyumpit sebuah ikan atau sayuran dan sambil bersenyum sumpit yang berisi
sayuran itu diletakkan di atas mangkok dan Tiang Le hanya memandang gadis ini
dengan sayang! Tiba-tiba Tiang Le menahan gerakan sumpitnya di dekat bibir. Ia menoleh
keluar melalui pintu depan, suara derap kaki kuda yang didengarnya nampak
mendatangi dengan amat cepatnya.
Sebentar kemudian lima orang penunggang kuda itu sudah berada di depan
rumah. Meloncat turun dari kuda. Melihat ini Pei Pei menjadi terkejut dan mengikuti
Tiang Le ke depan. -lianbertanya mengawasi Tiang Le, berkilat matanya memandang lengan baju yang
terjubrai tanpa lengan. uan apakah gerangan berkunjung
mengikuti di belakang Tiang Le.
-cu, pemuda buntung inilah yang telah mengacau Sian-li-pay dan yang
barusan melukai tiga orang saudara Hek-liankambing berkata menunjuk ke arah pemuda lengan buntung.
Orang yang dipanggil Pay-cu adalah seorang setengah tua, berusia hampir
empatpuluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit
saja tanpa daging sedikitpun, namun tubuhnya itu masih nampak gesit dan ini
waktu kita lihat ia melompat turun dari kudanya tadi. Ia memegang sebuah tongkat
hitam berkepala naga. Matanya mencorong tajam menyapu tubuh Tiang Le.
abarnya telah membuat kacau di pulau
-li-pay -cu Hek-lian-pay itu tinggi
melengking. Tahulah Tiang Le bahwa kakek kurus ini mempunyai tenaga sin-kang yang tidak
boleh dianggap remeh. Melihat bahwa yang datang ini adalah Pay-cu Hek-lian-pay
sendiri, cepat Tiang Le memberi hormat menaruh lengan kiri di atas dada.
-cu Hek-lian-pay yang ke so melukai tiga orang muridku, untuk ini saja aku yang tua harus menyeretmu ke
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 235
yoza collection markas untuk diadili, baru setelah itu aku akan membawamu ke Sian-li-pay. Orang
-cu Hek-lian-pay yang cukup bijaksana dan berpandangan luas harap mempertimbangkan hal ini
dan terlebih dahulu memeriksa ke tiga orang muridmu. Mereka itu hendak
mengganggu nona Pei Pei, menyeret-nyeretnya secara kurang ajar, hemm, baiknya
aku cukup sabar hati. Kalau tidak ada nona ini mencegahnya tentu siang-siang
orangPay-cu Hek-lian-pay yang bernama Teng Kiat dan berjuluk Hek-sin-tung Paycu marah bukan main. Ingin ia sekali gebuk membikin remuk kepala pemuda
buntung ini, akan tetapi sebagai ketua Hek-lian-pay yang kesohor, tentu saja ia tidak
mau melakukan hal yang akan merendahkan namanya. Ia hanya melotot
memandang Tiang Le lalu membentak,
-cu Hek-lian-pay" Berani,
Tiang Le menggeleng kepala, tersenyum mengejek.
-cu. Harap jangan panas hati dulu. Tak
pantas sebagai ketua, sikapmu berangasan seperti kepala perampok. Kau tanyakan
dulu kepada tiga orang muridmu, apa benar mereka itu tukang mengganggu
wanita" Hem jangan-jangan muridmu itu semuanya gila perempuan, jay-hoa-cat
ajar kepada nona Pei Pei. Bagaimana dapat dibilang aku yang salah, muridmu itulah
i kau menghina anak muridmelakukan
perbuatan sewenang-wenang, hem, tanganku inilah yang ah kau membuka bacot di depan Pay-cu Hek-lian-
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 236
yoza collection tung, keparat! Kau bermulut besar dan sombong. Kau menghina


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

muridku, menghina Hek-lian-cu! Akan tetapi tidak gampang-gampang orang
Terdengar teriakan marah dan seorang yang di sebelah Pay-cu Hek-lian-pay
sudah mencelat maju. Orang yang berhidung bengkok ini yang memegang toya
adalah sute (adik seperguruan) dari ketua Hek-lian-pay, lihai sekali permainan toya
besinya dan ia diberi julukan Tiat-pang-hek-lian (Tongkat Besi Berantai Hitam).
Wataknya berangasan dan kasar, mendengar ucapan yang menantang dari Tiang
Le, ia tidak mau sabar lagi.
-lianbesi yang berat itu menyambar kepala Tiang Le.
Cepat Tiang Le mendorong Pei Pei ke belakang dan ia sendiri menggeser
kakinya mengelak. Melihat gerakan tongkat yang mengeluarkan angin berciutan ini
tahulah Tiang Le bahwa lawannya mempunyai tenaga lwekang yang tak boleh
dipandang ringan. Sambil mencelat ke samping tangan kirinya mendorong ke depan, inilah
pukulan Pek-lek-jiu. Kalau saja si kakek hidung bengkok ini tidak memandang
rendah kepada Tiang Le tentu ia akan berlaku waspada dan siap-siap akan tetapi
rupanya karena wataknya yang kasar berangasan itu lupa bahwa ia menghadapi
seorang pemuda luar biasa, pemuda yang telah membuat kacau di Sian-li-pay.
Maka begitu toya hampir mengenai tubuh Tiang Le, kakek hidung bengkok
tertawa senang dan menyabet pinggang lawan. Melihat gerakan toya itu amat
lambat meskipun bertenaga besar, cepat Tiang Le meloncat ke atas membarengi
dengan pukulan tangan kiri yang menggunakan hawa Pek-lek-jiu, suara toya
berdesir di bawah kakinya akan tetapi begitu tangan kirinya bergerak, tahu-tahu
tubuh si kakek hidung bengkok terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi
dada dan muntah darah segar.
-sin-tung Pay-cu meloncat memburu sutenya. Dan menotok dada
yang terluka oleh pukulan Tiang Le.
Sementara itu tiga orang kakek yang memegang pedang dan ruyung sudah
mencelat mend Dengan cepat orang tua yang berjenggot kambing yang bernama Sauw Ki
membentak sambil menerjang dangan pedangnya. Gerakan pedangnya amat cepat
dan kuat dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 237
yoza collection Cepat Tiang Le menggerakkan kepalanya dan mencelat menghindarkan ruyung
yang menyambar pula dari tangan kakek berambut putih yang bernama Jin Ho dan
bersamaan dengan gerakan ini, angin pukulan bersiutan diputar-putar oleh kakek
ketiga yang berkaki buntung. Kiranya kakek buntung ini sudah menggerakkan
tangannya memutar-mutar merupakan angin pukulan jarak jauh. Terkejut sekali
Tiang Le. Pei Pei menjerit perlahan melihat tubuh Tiang Le terhuyung-huyung tersambar
angin pukulan kakek kaki buntung yang luar biasa ini. Dikeroyok oleh tiga orang
yang berkepandaian hebat ini, Tiang Le tak dapat membalas dengan pukulan.
Ia hanya dapat mengandalkan keringanan tubuhnya saja, mencelat ke sana ke
mari dengan repot. Akan tetapi belum limapuluh jurus, ia sudah terdesak hebat.
Pukulan-pukulan kakek kaki buntung ini demikian hebat dan mengetarkan
tangannya yang menangkis.
Limapuluh jurus sudah lewat, dan ketiga orang yang mengeroyok ini menjadi
penasaran malu. Masa menghadapi pemuda buntung yang hanya bisa mengelak
ini saja, mereka tidak dapat robohkan.
Sauw Ki tiba-tiba mengeluarkan jeritan nyaring sekali dan pedangnya
melakukan terjangan kilat. Pei Pei menutup mulutnya dan sebelum tubuhnya
menegang, ia tidak dapat lagi melihat bagaimana Tiang Le mengelak dari sambaran
terjangan dari kakek jenggot kambing yang demikian cepat itu apabila sebuah
pukulan dari kakek buntung membuat Tiang Le terjungkal dan pada saat itulah
bagaikan kilat pedang di tangan Sauw Ki mengejar dengan cepatnya menubruk.
h di samping kepala Tiang Le akan
tetapi tubuh Sauw Ki terlempar ke belakang dan roboh.
Ternyata pada detik yang amat berbahaya itu, Tiang Le berlaku waspada dan
dengan sedikit saja ia menggeser kepalanya, pedang Sauw Ki meluncur amblas di
tanah sampai ke gagang. Ketika itulah tangan kiri Tiang Le bergerak ke depan
melakukan pukulan jarak jauh dengan tenaga Pek-in-kang. Keruan saja Sauw Ki
menjerit ngeri dan tubuhnya terjengkang ke belakang.
Sauw Ki bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba ia muntahkan darah merah.
Ternyata pukulan Tiang Le dalam jarak dekat itu sudah mendatangkan luka parah
di dalam dadanya. Hal ini tidak mengherankan karena Tiang Le melakukan tenaga
Pek-in-kang dalam jarak yang begitu dekat dan tepat memukul dada lawan!
Pei Pei menarik napas lega melihat Tiang Le bangun dan terhuyung-huyung.
Akan tetapi ia menjerit keras begitu dilihatnya kakek kaki buntung dan kakek
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 238
yoza collection berambut putih sudah menerjangnya dengan pukulan-pukulan dan serangan
ruyung yang mengeluarkan suara bersuitan keras dan menggetar-getar.
Terkejut sekali Tiang Le, ia melompat membuang diri ke belakang, akan tetapi
kurang cepat pukulan kakek kaki buntung menyerempet pundaknya. Tiang Le
mengeluh dan terlempar ke belakang. Sebuah pukulan lagi tak dapat dihindarkan,
segera mengerahkan sin-kang ditubuhnya! Matilah aku kali ini, pikir Tiang Le.
Mengangkat tangan menangkis.
Sebaliknya kakek kaki buntung juga berseru kagum. Cepat menarik kembali
lengannya yang terasa panas beradu dengan lengan kiri pemuda itu.
Pada saat itulah ruyung kakek rambut putih Jin Ho menyambar lambung Tiang
Le. Pei Pei menjerit. Tubuh Tiang Le terlempar. Hebat sekali pukulan ini. Darah
mengalir leget dagu pemuda itu. Pei Pei menubruk dan menangis.
putih menarik tangan Pei Pei.
Dan si Ruyung dengan sengitnya menghantam lagi. Tiang Le menggeliat
menahan sakit pada lambungnya. Tubuhnya terlempar lagi. Terbosai lagi. Entah
berapa kali ia jungkir balik.
Melihat ini bercucuran air mata Pei Pei melihat penyiksaan yang menyayat
hatinya, tak tahan Pei Pei melihat ini lebih lanjut, ia menubruk kakek kaki buntung
yang siap hendak menghancurkan kepala Tiang Le yang sudah terkulai setengah
pingsan. buntung yang sebelah kanan, akan tetapi begitu kakek ini mendengus, tubuh Pei Pei
terlempar jauh dan pingsan!
Mengingat dua orang kakak seperguruannya ini sudah terluka di tangan
pemuda buntung ini, kakek rambut putih menjadi sengit bukan main, cepat ia
mencabut pedang Sauw Ki yang menancap di tanah dan menyambitkan pedang
itu ke arah Tiang Le. Bagaikan orang yang setengah ingat, setengah sadar, Tiang Le bergulingan dan
pedang itu menancap di sampingnya, mengeluarkan suara desingan keras dan
menancap di tanah beberapa senti saja dari tubuh Tiang Le.
Sauw Ki menjadi penasaran dan marah, ruyungnya berkelebat lagi. Dibarengi
pukulan jarak jauh yang menghantam belakang Tiang Le dan untuk yang kesekian
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 239
yoza collection kalinya tubuh Tiang Le mengulet dan jatuh terkulai lemah. Ruyung si kakek
berambut putih terangkat ke atas. Pada saat itu terdengar bentakan keras:
Hek-sin-tung-paycu ketua Hek-lian-pay maju ke depan. Menghampiri Tiang Le.
-cu Sian-litanya kakek kaki buntung mencongkel tubuh Tiang Le dengan kakinya.
-bawa, kecuali kalau ia masih hidup.
-cu Hek-lian-pay memapah sutenya yang lemah
terluka dan dinaiki ke atas kuda dan kakek rambut putih mengangkat tubuh Jin Ho
yang lemas setelah muntahkan darah banyak sekali.
Setelah mereka itu pergi, udara menjadi gelap. Awan hitam dengan cepatnya
bergerak menaungi tempat itu dan sebentar itu pula hujan turun dengan lebatnya.
Mungkin karena tersiram air hujan, itulah yang menyadarkan Pei Pei. Ia
mengeluh perlahan menyebut nama Tiang Le dan beringsut-ingsut gadis itu
menghampiri Tiang Le. Hujan turun membasahi ke duanya.
mengusap tubuh pemuda buntung itu. Mengguncangkan.
Tiang Le membuka matanya. Tersenyum dalam deraian hujan yang semakin
menggila. Matanya melirik dan ia hanya melihat Pei Pei seorang. Tangan kiri Tiang
Le memeluk gadis itu, ternyata Tiang Le belum mati seperti yang diduga oleh ketua
Hek-lian-pay itu. Ini karena kehebatan tenaga sin-kang Tiang Le. Karena ia tahu tak mungkin ia
bertahan lagi, cepat Tiang Le mengerahkan hawa murni dan menutup jalan darah
dan mematikan raga. Demikianlah begitu pukulan-pukulan itu menyambar tubuhnya Tiang Le seakanakan tidak merasa itu. Ia sudah mematikan raganya, ia menerima saja tubuhnya
digebukin lempar sana lempar ini, sampai lawannya menduga ia sudah mati!
Dengan cara inilah ia dapat selamat. Ia dapat mengelabui mata ketua Hek-lianpay dan orang-orangnya, sehingga mereka itu menyangka ia sudah mati. Inilah
yang terbaik, coba saja kalau ia masih hidup tentu Pay-cu Hek-lian-pay akan
membawanya ke markas dan untuk diserahkan kepada Sian-li-pay!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 240
yoza collection Tiang Le mengerahkan tenaganya yang hampir habis. Terasa badannya begitu
sakit-sakit dan tiga kali ia batuk mengeluarkan darah. Pei Pei menangis. Tiang Le
bangkit dan mengusap muka Pei Pei yang basah tersiram air hujan.
- pah tubuh Pei Pei yang terluka dalam akibat tendangan kakek buntung. Ke duanya berangkulan!
Sampai di dalam kamar itu Tiang Le, roboh dan dari bibir keluar darah merah!
cepat-cepat bertukar pakaian, sementara Tiang Le masih pingsan.
Tiang Le terluka parah di dalam dadanya. Sering kali ia muntahkan darah segar.
Ini membuat hati Per Pei berkuatir sekali. Gadis itu menangis di samping Tiang Le.
Demikianlah selama tiga hari itu Tiang Le pingsan tak sadarkan diri. Mukanya
semakin pucat pasi. Napasnya semakin lemah.
Untung pada hari yang kedua itu Pei Pei sudah agak sehat dan dapat berjalan.
Dengan jalan perlahan-lahan ia menuju ke toko obat. Membelinya obat tambah
darah, karena mengira tentu Tiang Le kekurangan darah karena sering muntah
darah. Pada hari ketiga ini Tiang Le tidak lagi muntah darah. Luka di dalam dadanya
perlahan-lahan sembuh berkat siulan sambil tidur. Sebetulnya selama tiga hari itu,
Tiang Le bukan pingsan, ia hanya siulan mengerahkan hawa murni menyembuhkan
luka di dalam dada. Kalau saja tidak kuat pertahanannya, tentu siang-siang Tiang
Le sudah pecah jantungnya.
Hari keempat dan kelima Tiang Le bisa makan sedikit bubur. Bisa sedikit-sedikit
berbicara dengan gadis perawatnya ini. Ia tahu bahwa selama ini gadis inilah yang
merawatnya dengan setia. Terharu hatinya apabila dilihatnya Pei Pei sering
menangisi dirinya. Hem, di antara seratus gadis, hanya Pei Pei lah yang patut untuk
dicintai! Hari ketujuh Tiang Le sudah dapat bangkit duduk dan bercakap-cakap dengan
gadis itu. Pei Pei girang sekali melihat kesehatan pemuda ini yang semakin hari
semakin baik. Ia membawakan semangkok bubur untuk Tiang Le.
-mo Pendekar Lengan Buntung - Halaman 241
yoza collection - lengan kanannya yang buntung.
-moay setelah lenganku arwah suhu akan penasaran sekali, aku tak dapat membalas dendam, aku murid
Mendengar suara Tiang Le yang berputus asa, pecahlah bendungan air yang
sejak tadi ditahan-tahan. Gadis itu mengeluh lalu menjatuhkan diri berlutut di depan
Tiang Le duduk di pembaringan, memeluk kedua kaki pemuda itu dan menangis
tersedu-sedu. permusuhan yang membahayakan dirimu saja. Biar lenganmu buntung, biar engkau
Tak kuat hati Tiang Le, menahan air mata yang turun bertitik-titik ketika ia
menunduk dan memandang kepada Pei Pei yang kusut rambutnya. Ia mengangkat
kepala itu, memandang wajah yang basah itu!
mempermainkan pedang. Ahh, moay-moay baru saja aku hampir binasa oleh Paycu Hek-lian-pay itu, karena aku tak dapat melawan, jangankan untuk melindungimu
moayPei Pei menggigit bibirnya memandang wajah pemuda yang tengah diliputi
kedukaan besar. Matanya berkaca-kaca. Mereka berpandangan melalui air mata,
kemudian bagaikan besi sembrani yang saling menarik, ke duanya berangkulan dan
bertangisan dalam pelukan. Dengan air mata mereka membasahi muka masingmasing.
-moay, aku menjadi orang ya
dengan suara tersendat dalam isak.
Pei Pei tak menyahut. Air matanya bercucuran deras. Berderai jatuh dipangkuan
pemuda itu. Sambil mengusap air matanya Pei Pei bangkit berdiri berjalan ke
sebuah lemari besi dan mengeluarkan sebuah kitab tebal yang nampaknya sudah
tua dan kotor. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 242
yoza collection pelaj kitab itu Dengan dada berdebar Tiang Le menerima buku yang disodorkan oleh gadis
itu, sebuah buku tebal yang sudah lapuk dan berwarna kekuning-kuningan. Dan di
bagian lain nampak bekas lembaran-lembaran yang sudah terbakar. Ia heran
memandang gadis di depannya ini.
adalah milik ayah dulu, sengaja kusimpan baik-baik karena dengan buku ini
mempunyai riwayat dalam hidupku. O ya, ada lagi sebuah pedang. Pedang itu adalah
Pei Pei memberikan lagi buku tebal itu kepada Tiang Le dan berlalu ke lemari
besi mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus oleh kain kuning. Pei Pei
membuka bungkusan kain kuning itu. Adalah sebuah pedang pendek, pedang
buntung. Akan tetapi begitu dibuka oleh gadis itu dari sarungnya, nampak sebuah
sinar kebiru-biruan yang memancar dari kilatan pedang yang telanjang itu.
Debaran dada Tiang Le bertambah kencang. Ia turun dari pembaringan dan
menghampiri Pei Pei. Mengambil pedang buntung yang mengeluarkan cahaya
kebiru-biruan itu. heran. Menimang pedang pendek. Hawa dingin yang memancar dari cahaya sinar
pedang itu membuat pemuda itu memperhatikan lebih seksama. Inilah pedang
pusaka buntung, yang pernah mendiang suhunya ceritakan padanya. Heran, dari
Pei Pei menarik tangan Tiang Le memapah duduk di tempat tidur, sedang ia sendiri
menyeret kursi ke dekat tepi pembaringan.
Di depan Tiang Le gadis itu bercerita.
pengantar barangdidengar oleh Tiang Le dengan penuh perhatian.
ooOOoo Pendekar Lengan Buntung - Halaman 243
yoza collection Siapakah Cia Pei Pei ini"
Pada tujuh belas tahun yang lalu, gadis yang sekarang bernama Cia Pei Pei ini
masih kecil dan berusia sekitar tiga tahun. Ayahnya adalah seorang Piauw-su yang
gagah perkasa dan jujur, bernama Cia Teng Kok.
Karena kegagahan dan kejujuran inilah yang membuat orang she Cia ini maju
di dalam usaha ekspedisi yang dipimpin olehnya. Banyak para pedagang menitipkan
barang kepadanya untuk dikirim keluar daerah.
Tentu saja karena orang she Cia ini sering bepergian, maka jarang sekali ia
didapati dirumahnya. Piauw-kiok (ekspedisi)nya yang terkenal itu bernama Kawan
Tua. Ekspedisi ini maju pesat di bawah pimpinan Cia Teng Kok.
Pada suatu hari, ketika mereka itu melalui daerah perbatasan Fu-nian,
rombongan ekspedisi ini dikejutkan oleh kedatangan seorang yang amat tua dan
-piauwsu, Orang tua yang nampaknya terluka hebat itu dengan tangan gemetar
memberikan sebuah bungkusan. Teng Kok menerimanya bungkusan ini dengan
Orang tua itu terengah-engah menggoyang-goyangkan tangannya,
tangan orang-orang Sementara suara kaki kuda terdengar mendatangi. Teng Kok yang cerdik segera
memasukkan benda yang terbungkus kain kuning itu ke balik jubahnya dan orang
tua yang nampaknya kelelahan itu tersenyum dan sekali gerakkan tubuhnya, tahutahu tubuh orang tua itu sudah memapaki orang berkuda, berdiri dengan tegak dan
kaki terpentang. Seorang penungang kuda yang berjambang bauk itu menudingkan goloknya,
n -kiam-ong Song Tek Hay kau sudah terkenal sebagai Raja Pedang
kuda bercambang bauk menyambar diiringi sinar pedang berkelebat dari tangan
kanannya. Meskipun orang tua ini nampak terluka, akan tetapi ia masih cukup gesit
untuk menghindari serangan golok dan pedang mencelat ke kanan dan balas
memukul dengan pukulan tangan kosong.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 244
yoza collection -kiam-

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membangkang jangan harap Sin-kiam-ong Song Tek Hay bertindak keterlaluan
-kiamomong kosong saja kau. Buktin
oleh pukulan Jiu-pek-ciangmu yang dahsyat itu.. . . mengapa kau mendesakku sih"
kalau kau tidak Amat cepat sekali gerakan si Raja pedang sakti ini sehingga sambil berseru
kaget kakek Lim Sin Jian cepat mengegoskan diri ke samping, akan tetapi pedang
sakti itu demikian cepatnya menyambar dan berkelebat tahu-tahu tubuh kakek she
Lim itu sudah terhuyung-huyung dan.. . . dan terjerembab ke depan sambil
memegang dada yang tersambar pedang.
egangi dada kiri tertawa menuding ke arah Sin-kiam-
leher kakek Lim yang tertawa terbahak-bahak. Sebuah kepala menggelinding jatuh,
disusul dengan robohnya tubuh tua itu berkelonjotan sebentar dan mati!
gila kau keji dan telengas, aku Cia Teng Kok tak
Song Tek Hay menoleh kepada piauwsu ini dan tertawa:
-piauwsu yang berada di sini, pantas si tua bangka she
Lim itu tenang-tenang saja matinya. Nggak tahunya pedang dan kitab sudah
diserahkan kepada - Pendekar Lengan Buntung - Halaman 245
yoza collection -barang kiriman ini.. . disini
ang gerobak kiriman barang. Lima orang anak buah kepala piauwsu sudah mencabut senjatanya
masing-masing. Biarkanlah aku memeriksa barangg sakti
Song Tek Hay mencelat ke atas gerobak barang dan sekali pedangnya bekerja kain
terpal yang menutupi barang-barang itu sudah terobek besar.
di tangan. Akan tetapi hebat memang si raja pedang sakti Song Tek Hay ini, begitu dari
belakang didengarnya suara golok menyambar. Tanpa melihat ke belakang,
pedangnya menyambar dan terdengar teriakan ngeri dari seorang piauwsu yang
terbabat tangan kanannya dengan pedang, darah merah mengucur deras.
Melihat kekejaman orang bercambang bauk ini, marahlah hati Cia Teng Kok dan
bersama-sama ke empat anak buahnya mereka menerjang maju dan
mengelebatkan pedangnya menerjang orang bercambang bauk yang telah
membuntungi lengan kawannya.
Akan tetapi, sama seperti tadi begitu si raja pedang bergerak. Pedangnya
berputar cepat dan tahu-tahu ke empat piauwsu telah mati dengan kepala terpisah
dari badannya. Darah merah membanjiri membasahi pinggiran gerobak barang.
Teng Kok terkejut bukan main melihat kelihaian pedang lawannya ini. Dengan
-piauwsu, akan tetapi, tetap saja
kau akan kehilangan nyawa jika kau tidak menyerahkan pedang dan kitab i
Teng Kok tidak menyahut, ia mainkan pedangnya. Pedangnya berkelebat cepat
merupakan sambaran kilat menusuk dada si raja pedang sakti Song Tek Hay, akan
tetapi begitu Tek Hay mengegoskan tubuhnya sedikit, pedang Teng Kok melesat di
samping iganya dan menyusul sebuah sentilan membuat pedang Teng Kok
terlepas. Melihat bahwa lawannya ini lihay tentu saja bukannya menjadi mundur malah
orang she Cia yang gagah ini menerjang lagi dengan pukulan tangan kanan kiri dan
tendangan kaki. Memang Teng Kok ini pernah mempelajari ilmu silat dari cabang
Bu-tong-pay, sedikitnya ia lebih lihay dari pada para piauwsu-piauwsu yang lain.
Oleh sebab itu ia tidak takut menghadapi si raja pedang yang lihay ini.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 246
yoza collection Melihat kenekatan kepala piauwsu itu. Tek Hay jadi marah dan begitu
pedangnya berkelebat, tahu-tahu tubuh Teng Kok terlempar dengan kaki kiri
buntung. Teng Kok menjerit ngeri dan menahan sakit. Ia memandang orang
bercambang bauk yang demikian lihai ilmu pedangnya ini.
Tiba-tiba pikirannya teringat kepada bungkusan kuning yang tadi diserahkan
oleh orang tua she Lim itu kepadanya. Jangan-jangan di dalamnya ini adalah
pedang dan kitab. Celaka kalau kitab dan pedang ini terjatuh ke dalam tangan orang
yang demikian lihai dan kejam seperti Tek Hay itu. Berbahaya sekali!
Aku harus menyelamatkan benda yang tersembunyi di dalam jubahku ini, pikir
Teng Kok. Ia merangkak bangun. Seluruh baju dan celananya yang putih sudah
berlopotan oleh darahnya sendiri.
Si Raja pedang sakti Song Tek Hay maju menghampiri. Kakinya menendang
sambil m Tubuh Teng Kok terlempar. Sebuah sungai mengalir deras di sampingnya. Aku
harus menyelamatkan diri, pikir Teng Kok, dan dengan sekali menggerakkan
tubuhnya tahu-tahu ia sudah melompat ke dalam air sungai dan terus tenggelam
dengan amat cepat sekali.
diduga-duga mencebur ke sungai. Tiga kali tangannya bergerak pisau terbang
menyambar ke dasar sungai. Nampak darah merah membubus mengalir bersamasama air sungai. Tek Hay berdiri di pinggir sungai mengawasi air yang merah itu.
Ia mempunyai keyakinan tentu kepala piauwsu ini telah tewas, maka dengan
hati kecewa dan marah ia berkelebat meninggalkan sungai itu.
Matikah Cia Teng Kok terbawa arus sungai yang deras itu"
Tidak. Biarpun orang she Cia ini sudah merasakan tubuhnya kaku dan nyeri, ia
tetap mempertahankan diri. Ia pandai sekali berenang sebab itu, begitu tubuhnya
menyelam ke dalam sungai, ia memberatkan tubuhnya dan berjalan di dasar sungai.
Baru setelah agak jauh, ia mumbul kembali dari permukaan sungai itu. Dan
dengan napas yang terengah-engah ia naik ke atas sungai. Dan berjalan terpincangpincang menuju rumah.
Beberapa kali ia jatuh pingsan, akan tetapi apabila ia mengingat kitab dan
pedang, ia terus berjalan, jatuh bangun. Dan begitulah seterusnya menahan rasa
nyeri yang hebat. Wajahnya pucat dan lemah. Kasihan sekali, betapa hebat
penderitaan orang she Cia ini. Berkat semangat dan kemauan untuk sampai di
rumah, akhirnya sampailah ia di rumahnya. Dan pingsan!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 247
yoza collection Cia Pei Pei, yang baru berusia tiga tahun itu menangis melihat ayahnya
terguling di depan rumah. Can Mama, seorang tua pembantu rumah tangga Cia
piauwsu memburu ke arah tubuh majikannya dan mengangkatnya. Akan tetapi,
tubuh Cia Teng Kok sudah demikian amat lemah. Napasnya sudah payah sekali.
Wajahnya sudah pucat seperti kertas.
Can Mama cepat mengurut-urut dada majikannya yang sesak bernapas,
pelayan tua ini menjerit kecil kaget melihat kaki majikannya sudah buntung dan
membengkak. Begitu Cia Teng Kok sadar, ia batuk-batuk dan mengurut-urut dadanya dibantu
Can Mama, pelayannya, - Can Mama mengurut-urut dada tuannya.
Cia Teng Kok batuk darah, si pelayan tua terkejut bukan main mengambil kain
dan menyusut mulut tuannya yang berlumuran darah.
mengusap kepala Pei Pei yang menangis mengguguk sambil menyebut-nyebut
ayahnya. Can Mama menjadi bingung sekali melihat keadaan tuannya yang amat
menguatirkan ini. Ia bangkit berdiri dan hendak cepat-cepat memanggil shinse,
akan tetapi tangan tuannya menggeleng-geleng mencegah.
lemah terbatuk-batuk lagi.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 248
yoza collection dusun sunyi dan rawatlah Pei Pei sebagai anakmu, dan kau bawa ini bungkusan.
Ini jangan berikan kepada orang lain, simpan.. . . ahhh ughh.
Air mata Pei Pei membanjir turun menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya
di depan pemuda buntung yang memandangnya dengan dada penuh haru!
, di dusun inilah aku dibesarkan oleh Can Mama, pembantu rumah tangga ayah yang baik hati.. . Akan
karena bungkusan inilah yang membuat ayah mengorbankan nyawanya.
Tiang Le tertunduk membaca huruf yang tertera pada sampul kitab yang
mempelajarinya. Can Mama melarangku untuk belajar silat. Can Mama tidak
menghendaki aku membalas dendam, makanya sampai sekarang kitab dan pedang
ini kusimpan saja.. Koko, kalau kau berminat boleh kau coba-coba pelajari kitab ini,
-moay, mudahDengan tangan kiri Tiang Le membuka lembaran kitab itu. Ia harus hati-hati
membukanya kalau tidak akan hancur kepingan-kepingan kertas yang sudah tua
dan kuning. Sebagian huruf-hurufnya nampak yang tidak nyata, akan tetapi gambargambar yang tertera di dalamnya m
Tiang Le membaca tiga buah kalimat yang membagi bagian-bagian dalam buku
ini, ia membaca perlahan didengar oleh Pei Pei:
-tien-jiu, gerak tangan kilat,
Tok-pik-kun-hoat, ilmu silat tangan buntung,
Ji-cap-it-sin-po, duapuluh satu langkahTerkejut dan girang hati Tiang Le membaca huruf-huruf itu. Ia membuka
perlahan-lahan lembaran-lembaran yang berisi gambar-gambar orang bermain
silat. Ternyata cocok seperti keadaannya orang dalam gambar itu juga adalah
seorang yang buntung lengan kanannya, gerakan-gerakannya itu yang
menggunakan tangan kiri disebut Sian-tien-jiu (Gerak tangan kilat) dan bagian
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 249
yoza collection gambar-gambar yang lain memperlihatkan lukisan-lukisan orang bersilat dengan
memakai pedang buntung di tangan kiri dan ilmu silat pedang itu disebut Tok-pikkun-hoat dan Tok-pik-kiam-hoat!
Girang sekali melihat kenyataan ini. Dengan serta merta ia turun ke
pembaringan dan menggerak-gerak tangannya menurut gambar yang dilihatnya.
Akan tetapi Pei Pei mencegahnya
Tiang Le mengangkat dagu Pei Pei dan dikecupnya.
-moay.. . besok juga pasti aku sudah sembuh.. . . , besok pagi-
emah karena aku kurang bergerak,
memang selalu banyak istirahat dan tidur melulu juga nggak baik.. . eh kau tahu Peimoay, ilmu silat tangan buntung gerak tangan kilat dan langkahSetitik air mata Pei Pei meloncat girang melihat kekasihnya demikian semangat
mudah-mudahan kau berhasil menjadi seorang pendekar lengan buntung, seorang
yang berbakti untuk masyarakat dan bangsa! Ah betapa senangnya.. . . . hatiku, tak
ooOOoo Kong Hwat benar-benar menjadi kewalahan menghadapi gadis Sian-li-pay ini.
Ia seperti seorang ayah yang menghadapi seorang anak perempuan yang nakal,
yang sering nyambek dan membuatnya bingung. Berkali-kali ia menyabarkan hati
gadis ini, namun Sianli-eng-cu Soan Li bukannya menjadi lembut malah semakin
galak. Untung saja setelah nenyeberangi laut Po-hay, kawan-kawannya Ho Siang, Bwe
Lan dan Sian Hwa berpencar. Ho Siang pergi menyelidiki keadaan Nyuk In kembali
ke pulau, sedangkan Bwe Lan dan Sian Hwa diam-diam mengambil jalan masing-
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 250
yoza collection masing untuk mencari pemuda Lengan Buntung Sung Tiang Le, pemuda yang amat
dikasihi itu. Sedangkan Kong Hwat dibiarkan meneruskan perjalanannya bersama Han Soan
Li yang selama perjalanan itu terus menerus marah-marah dan kadang-kadang
mengajaknya bertempur. Kadang-kadang Soan Li ngomel memaki-maki Kong Hwat.
sekarang di darat berani kau
-marah, kau kenapa sih marah-marah
cepat-cepat menggerakkan tubuhnya karena tanpa bilang sesuatu apa-apa, Soan
Li sudah menerjang mengirimkan pukulan tangan kiri.
-nyebut namaku Soan Li, Soan Li. Emang namaku Soan
Li! Aku Sianli-eng-cu dari Sian-lin-li-eng-cu, nona gagah perkasa dari Sian-li-pay, murid Paycu Bu-tek Sianli.. . akan tetapi aku lebih suka memanggil namamu Han Soan Li,
alangkah indahnya namamu, lebih indah dari sebutan bidadari yang turun dari
curang menggulingkan perahu sehingga aku tak berdaya. Hemm kalau kau gagah,
Kong Hwat menoleh. Ia berhenti. Merasa bahwa udara di siang hari ini memang
agak panas terik, alangkah nyaman duduk di bawah pohon ini di antara semilir
angin kering berhembus. Berpikir demikian Kong Hwat duduk di akar sebatang
pohon yang menonjol memandang Soan Li yang tengah merengut.
Melihat gadis galak ini merengut dingin, bibir setengah ditarik dan pandangan
mata yang berapi-api berkilau, Kong Hwat jadi terpesona memandang si gadis
bagaikan orang kena hikmat. Dada pemuda itu berdebar keras memdenyar-denyar.
Sementara Soan Li jadi bertambah uring-uringan kesal dipandang seperti itu.
Gadis itu membanting- sendiri. Alisnya terangkat naik seperti orang terperanjat kaget.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 251
yoza collection menggelengSoan Li meloncat ke depan, sabuk merahnya bergetar di tangan,
g pengec Merah wajah Kong Hwat, betapapun ia mengagumi gadis ini dan tidak ingin
berkelahi, akan tetapi bagi seorang gagah seperti dia pantang dikatai pengecut,
Makian ini tak boleh diterima.
Kong Hwat maju selangkah. Ia tersenyum pahit dan berkata:
Li, beberapa kali aku selalu mengalah terhadapmu, namun kau selalu mengataiku
sabukku ini mereng maju menerjang dengan gerakan sabuk sutera merah yang tiba-tiba meluncur
menjadi kaku seperti sebatang tongkat dan menyerang dahsyat.
Akan tetapi serangan ini membuat Kong Hwat hampir berseru terkejut karena
sabuk sutera yang menerjang seperti tongkat itu dengan tepat sekali menyerang
ke arah jalan darahnya. Ah, tidak tahunya gadis Sian-li-pay ini adalah ahli tiam-hoat
(ilmu menotok jalan darah) maka ia segera mengelak dengan cepat. Serangan
kedua dan ketiga menyusul cepat dan semua serangan tertuju ke arah jalan darah
yang berbahaya. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 252
yoza collection mempertahankan diri karena ternyata gadis ini betul-betul hendak merobohkannya
dan lagi tangguh. Melihat bahwa pemuda itu hanya melayaninya dengan sebatang ranting kering
di tangan, Soan Li bertambah marah dan terhina. Masa ia yang terkenal di Sian-lipay sebagai murid tersayang dari Bu-tek Sianli kini hanya dihadapi oleh permainan
ranting kering di tangan pemuda itu, betul-betul menghina.
Dengan menjerit keras gadis ini menerjang dahsyat, sabuk suteranya bagaikan
ular merah yang menyambar-nyambar. Akan tetapi begitu terpukul oleh ranting
kering di tangan Kong Hwat terkejutlah ia karena merasa telapak tangannya
menjadi perih dan sakit. Dasar Soan Li berwatak keras dan pantang menyerah, melihat bahwa lawannya
benar-benar tangguh dan pandai, ia tidak menjadi sungkan-sungkan lagi. Berkalikali nampak sinar jarum beracun menyambar lembut dari tangan kiri si gadis, akan
tetapi Kong Hwat dapat memukulnya runtuh atau dengan kibasan lengan bajunya!
Terkejut sekali ia karena lawannya benar-benar hendak mengambil nyawanya.
Terkejut ia karena permainan sabuk di tangan gadis itu semakin dahsyat dan
terpaksa Kong Hwat mainkan jurus-jurus ilmu tongkat yang pernah dipelajarinya
dari suhunya Koay lojin yang bernama Fu-niu-san-tung-hoat (ilmu tongkat dari
gunung Fu-niu). Maka bertempurlah mereka dengan seru!
Kong Hwat memainkan tongkat rantingnya dengan cermat dan hati-hati. Ia
kagum juga melihat permainan sabuk sutera dari gadis Sian-li-pay ini.
Sabuk itu kadang-kadang seperti ular hidup yang bermata dan licin, di lain saat
sabuk merah itu seperti tongkat yang keras dan kuat. Maka ia melawan dengan
hati-hati dan waspada. Sebaliknya melihat bahwa kepandaian pemuda ini demikian lihay permainan
ranting kering sebagai tongkat kecil itu Soan Li menjadi kesal dan penasaran dan
memainkan sabuk suteranya dengan nekat, seakan ia seorang yang telah terlanjur
berbuat sesuatu kesalahan yang tak mungkin dapat dimaafkan lagi.
Memang aneh betul gadis ini, hatinya sekarang menyesal, mengapa ia matimatian untuk memaksa pemuda lawannya ini bertempur pada hal kepandaiannya
ternyata di bawah tingkat pemuda itu. Hemm, akan tetapi aku tak perlu mengalah,
masakan aku kalah sama dia!
Melihat kenekatan gadis ini Kong Hwat lalu memperlihatkan kepandaiannya
berkelahi dengan mempengunakan ilmu tongkat ciptaan Koay Lojin yang terlihai,
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 253
yoza collection sebentar saja gadis itu nampak sudah terdesak oleh serangan-serangan tongkat
ranting Kong Hwat yang bertubi-tubi itu.
Si gadis bertambah marah ia mengeluarkan lengking tinggi, lengking yang
biasanya untuk memanggil kawannya. Ia mengeluarkan lengkingan ini karena
saking jengkelnya, permainan sabuknya berkelebat luar biasa, sementara tangan
kirinya bersiap-siap melempar sianli-tok-ciam (jarum beracun bidadari).
Kong Hwat tahu. Kalau ia mau tentu ia akan dapat mengalahkan gadis ini
secepat mungkin akan tetapi entah mengapa ia tak tega untuk mengalahkan gadis.
Ia tahu gadis ini takkan mudah menyerah dan lagi keras hati. Bagaimana jadinya
kalau ia kalahkan gadis itu, tentu Soan Li akan bertambah penasaran lagi.
Maka lebih baik ia mengalah saja dari pada Soan Li terus menerus mengamuk.
Pada saat sabuk sutera yang lihai di tangan gadis itu menyambar tongkatnya,
sengaja Kong Hwat menggunakan gerakan menekan ke bawah dan sebentar saja
tongkatnya sudah dibelit oleh sabuk itu.
Soan Li membentak keras membetot kuat tahu-tahu tubuh Kong Hwat


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melayang ke atas saking kuatnya tarikan dari ujung sabuk yang dipenuhi tenaga
lwekang tingkat tinggi. Pada saat tubuh pemuda itu melayang di udara itulah dua
kali tangan Soan Li bergerak, puluhan jarum beracun menyambar pemuda itu.
Kong Hwat terkejut sekali melihat jarum-jarum halus menyambar ke tubuhnya.
Sebetulnya ia tidak menduga sama sekali kalau Soan Li melemparkan jarumjarumnya pada saat tubuhnya melayang di udara. Dengan kaget dan cepat Kong
Hwat menggerakkan lengan bajunya menangkis, beberapa jarum runtuh ke tanah
akan tetapi saking banyaknya jarum-jarum itu menyambar, dua di antaranya tepat
menancap pundaknya. Kong Hwat mengeluh dan terguling. Kedua tangannya terasa kaku dan gatalgatal, segera Kong Hwat mengerahkan lwekang di pundak, akan tetapi ia menjerit
lagi, jarum yang masuk ke bagian pundaknya demikian luar biasa, tak tahan lagi ia
roboh! Sianli, pemuda inilah yang juga pernah mengacau Sian-liSoan Li menoleh, ternyata yang tertawa itu adalah Thay-lek-hui-mo dan
beberapa anak buah Hek-lian-pay. Seperti kita ketahui setelah Thay-lek-hui-mo ini
gagal menangkap Nyuk In, dengan uring-uringan ia menyelidik ke sekitar daerah
itu. Dan secara kebetulan sekali ia melihat anak buah Sian-li-pay sedang bertempur
dengan pemuda yang menurut penyelidikannya pernah mengacau Sian-li-pay.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 254
yoza collection Memang Bu-tek Sanli lihay dan cerdik, ia menyebarkan berita tentang orangorang muda yang mengacau di Sian-li-pay itu dengan cukup jelas sehingga begitu
melihat cara pemuda itu memainkan tongkat rantingnya tahulah ia bahwa pemuda
ini tak salah lagi tentu murid Koay Lojin salah seorang anak muda yang mengacau
Sian-li-pay, maka begitu dilihatnya Kong Hwat roboh terkena jarum beracun Soan
Li.. . . hwesio gendut ini lalu menampakkan dirinya!
Soan Li yang tidak mengenal Thay-lek-hui-mo menjadi terkejut sekali. Ia melihat
tiga orang anak buah Hek-lian-pay hendak meringkus Kong Hwat. Dengan marah
sekaili ia menggerakkan sabuk suteranya dan tahu-tahu ke tiga orang itu telah
roboh dalam totokannya. Thay-lek-hui-mo heran sekali memandang gadis yang
diduganya adalah anak buah Sian-li-pay.
-lianDiam-diam kenapa hatinya menjadi kuatir akan pemuda yang terkena jarumnya
itu. Ia menyesal sekali telah menyambitkan jarumnya melukai pemuda itu. Akan
tetapi sekarang kekesalannya ini ditumplekkan kepada hwesio gendut ini.
-tek Sianli dari Sian-li-pay, mengapa kau
merobohkan tiga orang Hek-lian-li-pay dengan Hek-lian-pay, hayo kalian pergi, jangan
ona keliru, pinceng betul bukan anggota Hek-lian-pay, akan tetapi
baru saja tadi kami diberi perintah oleh Bu-tek Sianli untuk menangkap pemuda ini,
juga orang-orang Hek-lian-pay sudah dihubungi oleh Pay-cu itu. Jadi kami berhak
menawan pemuda ini untuk diserahkan kepada Pay-cu Sian-liThay-lek-hui-mo maju hendak menangkap leher Kong Hwat, akan tetapi Soan
Li sudah menggerakkan sabuk suteranya dan tahu-tahu tubuh pemuda itu sudah
melayang jatuh ke dekatnya. Soan Li menotok pemuda itu dan mengepitnya.
li-pay lagi, aku hendak membawa dia ke Sian-liThay-lek-hui-mo berkelebat dan tahu-tahu telah berada di hadapannya.
cara nona, mana boleh kau sendiri yang membawa
pemuda itu, biarlah pinceng dan orang-orang Hek-lianmelihat keadaan pundak dan leher Kong Hwat sudah menghitam dan pemuda itu
pingsan dalam kempitannya. Aku harus cepat menolongnya, kalau tidak bahaya
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 255
yoza collection sekali kalau racun Sianli-tok-ciam itu menjalar ke jantungnya. Amat berbahaya, pikir
Soan Li yang tiba-tiba begitu merasa cemas hatinya. Heran mengapa ia kini cemas
dan kuatir, bukankah ia sendiri yang melukainya" Aneh!
Thay-lek-hui-li-pay, kalian hendak menangkapnya dan
menyerahkan kepada Paymelawannya dan merobohkan, hem, engkau yang hendak menyerahkan kepada
Paynya tentu tanganku ini juga yang merobohkan dan kemudian menyerahkan kepada Sian-li-
hwesio curang.. . . sudah ia roboh baru kal
Soan Li sudah bersiap dengan cambuknya. Akan tetapi begitu merasa leher
Kong Hwat demikian panas, ia terkejut bukan main! Celaka! Ia harus cepat-cepat
pergi dari tempat ini dan menolongnya secepat mungkin! Berpikir demikian, Soan
Li mencelat ke atas pohon.
Thay-lek-hui-mo menggerakkan jubahnya dan angin besar berpusing,
menyambar Soan Li yang mencelat ke atas pohon dengan cepat sekali. Merasa ada
angin yang demikian kuat menyambar ke atas, cepat Soan Li mencelat lagi
berpindah pohon, demikianlah ia terus mencelat dari pohon ke pohonn yang lain.
Sementara Thay-lek-hui-mo menggerakkan tangannya ke atas, apabila tangan
itu terayun terdengar suara keras pohon itu roboh dan daun bertebaran jatuh. Inilah
hebat sin-kang hwesio Iblis terbang bertenaga seribu itu. Pukulan yang
digerakkannya adalah pukulan-pukulan Gin-san-ciang yang luar biasa hebatnya.
Akan tetapi sebaliknya, sambil mengempit tubuh Kong Hwat, Soan Li juga
memperlihatkan gin-kangnya meloncat-loncat dari atas pohon ke pohon yang lain.
Tentu saja percuma sekali, ia yang telah mendapat julukan Sian-li-eng-cu atau si
Bayangan Bidadari kalau saja ia tidak dapat menghindari pukulan-pukulan maut
dari hwesio itu. Maka dengan berloncatan dari pohon ke pohon yang lain dalam
hutan itu, sebentar saja, Thay-lek-hui-mo kehilangan jejaknya.
Hanya dari kejauhan didengarnya suara si hwesio itu memaki-maki dan
menyumpah-nyumpah. Soan Li girang sekali bahwa lawannya kehilangan jejak,
dengan cepat sekali ia melarikan diri.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 256
yoza collection Ia terus berlari ke arah selatan hutan. Semakin dalam hutan itu semakin lebat
dan penuh pohon-pohon besar. Akan tetapi Soan Li tidak memperdulikan ini, ia terus
berlari menjauhi suara Thay-lek-hui-mo yang memaki-maki kalang kabut. Baru
setelah suara itu tak terdengar lagi, Soan Li menurunkan Kong Hwat dalam
kempitannya. Ternyata Kong Hwat sudah sadar dalam pingsannya, cuma saja ia merasa
tubuhnya demikian kaku dan panas sekali seperti dibakar. Begitu Kong Hwat siuman,
terheran ia begitu ia melihat dirinya di kempit oleh Soan Li dan membawanya lari
dengan amat cepatnya merasa bahwa gadis itu berhenti larinya. Kong Hwat
menoleh ke arah gadis yang tengah mengempitnya. Tiba-tiba merasa Kong Hwat
sudah bergerak, Soan Li melemparkan kempitan itu dan keruan saja tubuh pemuda
itu terbanting ke tanah. Akan tetapi Kong Hwat tidak menyahut.
Ia merasakan lehernya demikian panas dan gatal-gatal. Ia meraba leher dan
tiba-tiba kepalanya menjadi pening bukan main. Tak tertahankan ia, dan Kong Hwat
memeramkan matanya. Dirasanya kepala berayun- ayun dan di dalam kegelapan
itu tampak bintang-bintang berputaran.
Soan Li mendekati pemuda itu. Mendekur di tanah dan memegang kepala Kong
Akan tetapi Kong Hwat tak mendengar perkataan lembut itu. Ia merasa dirinya
berada di alam lain. Tak menyadari lagi apa yang terjadi. Tak tahu ia betapa Soan
Li mengusap lehernya perlahan, membuka bajunya di bagian pundak dan
menempelkan bibir itu ke pundak dan menyedotnya kuat-kuat.
Tiga kali Soan Li menyedot luka di pundak pemuda itu, tiga kali itu pula Kong
sendiri, b berbisik di dekat telinga pemuda yang mengeluh seperti orang mengigau. Kemudian
ia menyedot lagi luka pemuda itu dan meludah ke tanah.
Darah merah menyembur dari mulut si gadis itu. Darah yang bercampur racun
hijau yang terdapat pada jarum Sianli-tok-ciam. Lima kali sudah Soan Li menyedot
luka itu, perlahan-lahan jarum halus yang tadi melesak ke dalam daging
menyembul sedikit. Dengan kuku jarinya yang runcing, gadis itu mencabutnya.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 257
yoza collection Kong Hwat mengeluh perlahan. Waktu ia membuka matanya, alangkah
herannya melihat gadis yang tadi menyerangnya mati-matian itu berjongkok di
dekatnya sambil membalut luka di pundak. Tak mengerti Kong Hwat, bagaikan
mimpi rasanya waktu tangan halus lembut itu meraba pundaknya dan membalut
lukanya. Kong Hwat membuka matanya.
Seperti orang kaget Soan Li mencelat menjauhi dan mukanya menjadi merah
untuk seketika ia tertunduk dan menekan perasaan.
-tokseperti ia berkata pada dirinya sendiri. Setengah berbisik.
Kong Hwat tersenyum lega. Ia kira gadis itu mencelat hendak menyerangnya,
tidak tahunya Soan Li hanya berdiri tertunduk seperti orang bingung dan malu. Ia
tak berani menentang pandangan pemuda itu. Ia merasa dirinya bersalah, telah
bertindak keterlaluan melukai pemuda itu.
Kong Hwat menghampiri Soan Li.
seharusnya akulah yang mengucapkan terima kasih kepadamu, nona. Terima kasih
Kong Hwat menjura. Soan Li mengangkat mukanya. Tiba-tiba wajahnya memerah. Malu dan jengah.
GILA!!! Bukankah tadi aku hendak menangkap pemuda ini, dan membawanya ke
Sian-li-pay" Pikirnya. Mengingat ini ia mencabut sabuk suteranya dan meloncat ke
depan. Karuan saja Kong Hwat jadi terbelalak heran.
memandang gadis itu dengan mata bodoh.
Si gadis mengedikkan kepalanya, matanya melirik ke arah luka di pundak si
a. Tentu kita sudah bersahabat. Kau tadi melukaiku dengan jarummu, akan
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 258
yoza collection penuh perasaan hati. Sejenak Soan Li terheran dan berdebar hatinya. Pemuda ini begitu lemahkah
hatinya.. . . mudah mengalah?" Ah tidak! Aku merasa penasaran sekali!!
lahkanmu. Hayo kita bertanding
Jilid 9 KU TAK PUAS li-pay.. . . murid kedua terkasih dari Bu-tek Sianli. Aku ditugaskan untuk
menangkapmu dan kawan-kawanmu, dan si buntung yang menjadi
biang keladi keributan ini. Sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini,
hanya berdua saja! Hayo kau layani aku, kalau tidak terpaksa aku akan menyeretmu
untuk dibawa ke Sian-liAneh sekali. Timbul keraguan dan kesangsian di hati Kong Hwat. Padahal
sebelumnya ia seringkali mendengar sepak terjang murid-murid Sian-li-pay yang
dikabarkan orang ganas dan berbahaya, dan ia ingin sekali menghancurkan Sianli-pay itu!
Eh, siapa sangka, bertemu dengan gadis galak ini, yang bernama Soan Li,
terpesona dan tidak tega untuk mengangkat senjata menghadapi nona jelita ini.
Apalagi setelah ia mendapat perawatan luka-luka bekas sambaran jarum gadis itu
dan merawat lukanya.. . . ah, makin tidak tegalah ia menghadapi gadis ini.
dan gadis ini sudah berdiri tegak dengan
sabuk sutera merah di tangan, sikapnya gagah menantang, juga amat cantik.
mengalahkanku" Kalau memang kau hendak main-main dan memamerkan
kepandaian denganku sebaiknya tak usah pakai senjata, biar kita bertempur dengan
sungguh- -main. Memang aku anak kecil.. . . Aku
ing Pendekar Lengan Buntung - Halaman 259
yoza collection jengkelnya Soan Li, gadis ini membanting-bantingkan kakinya dan setitik air mata
melintas di pipi itu. Melihat tingkah laku gadis yang aneh ini. Kong Hwat menjadi terharu sekali.
Ingin sekali pada saat itu ia memeluk gadis yang telah menjatuhkan hatinya ini dan
mencumbunya dan.. . . dan.. . . akan tetapi tidak untuk bertanding.
ingin bertanding denganmu.. . . malah aku ingin sekali mengikat persahabatan
tuk bertanding.. . . Nona pada mula pertama aku melihat
sontak kau begitu tertarik kepadaku.. . . . hem, dasar mata lelaki, begitu melihat
Wajah Kong Hwat menjadi merah. Gadis jelita ini selain gagah dan liar, juga
lidahnya amat tajam! ta keranjang, memang sesungguhnya begitu, begitu
aku mencintaimu nona" Apakah seorang laki-laki jatuh cinta terhadap seorang
. . begitu muda amat kau jatuh cinta kepadaku, begitu melihat sudah
muda jangan kau berlagak di depanku mengobral cinta. Aku tak sudi cinta yang
Wajah pemuda itu sebentar pucat sebentar merah. Perlahan-lahan ia
sudah mengutarakan isi hatiku kepadamu, hemm, benar aku lemah nona, cintaku
begini murah, tak patut dan tiada senilai hatimu.
dan tinggi hati, namun aku seorang laki-laki sejati, dan tak ingin dihina dan diinjakinjak oleh seorang wanita seperti ini. Kalau kau memang penasaran untuk
menuduh cintamu begitu murah, akan tetapi aku juga tak mau laki-laki gampang
jatuh di kakiku.. . . biasanya yang gampang jatuh cinta, adalah laki-laki buaya. Kong
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 260
yoza collection Hwat aku ingin mengalahkanmu, dan membawamu ke Sian-li-pay. Nah bersiaplah
Tangan kirinya bergerak mendorong diikuti dengan gerak sabuk sutera merah
di tangan kanan ketika gadis yang bernama Han Soan Li itu menyerang dengan
hebat. Terkejut hati Kong Hwat. Tak disangkanya gadis ini demikian ganas dan lihay,
serangannya begitu dahsyat. Cepat ia memutar tongkat menangkis sambil meloncat
ke samping menghindarkan diri dari pada samberan sabuk sutera yang
mendatangkan angin pukulan hebat itu.
Tangan kirinya memapaki pukulan tangan kiri si gadis yang mendorong ke
depan. Dua tenaga bertemu di udara. Ke dua-duanya terhuyung mundur. Akan tetapi
tiba-tiba Soan Li terguling hampir jatuh" Diam-diam ia kaget dan juga kagum.
Dilain pihak, Kong Hwat juga terkejut dan heran. Ia tadi merasa betapa
tongkatnya terbentur membalik oleh sabuk di tangan gadis itu dan biarpun ia sudah
menghindar, hampir saja ujung sabuk sutera merah itu menyentuh lambungnya.
Akan tetapi, entah mengapa. tiba-tiba sabuk itu berkibar pergi dan ia merasa ada
sambaran hawa lewat di samping tubuhnya dan melihat gadis itu hampir jatuh. Ia
maklum bahwa gadis ini sangat lihai dan tak boleh dibuat gegabah!
Dengan hati penasaran Soan Li menerjang maju lagi, kini lebih hebat. Sabuknya
tiba-tiba mengejang keras dan diputar di atas kepala lalu melayang turun ke arah
lawan, sedangkan tangannya meluncur maju menotok ulu hati yang akan
mendatangkan maut apabila mengenai sasaran dengan tepat. Kembali Kong Hwat
menggerakkan pedangnya menangkis sabuk merah sedangkan tangan kirinya
dikebutkan untuk menampar jari totokan yang lihai itu.
ia merasa tadi betapa sabuknya tiba-tiba hilang kekuatannya dan bahkan membalik
dan menyerang dirinya sendiri. Ia membanting tubuh ke belakang dan bergulingan,
wajahnya pucat. Hebat pemuda ini!
Diam-diam Soan Li bertambah kagum dan juga penasaran. Sabuk sutera
merahnya dimainkan lebih cepat lagi. Kong Hwat terkejut sekali melihat kenekadan
gadis ini. Celaka, benar-benar susah gadis ini, gemas dan liar!
Akan tetapi juga.. . . hemm, entah perasaan apa yang membuat Kong Hwat tidak
tenang memainkan tongkatnya. Ia menjadi kuatir dan gelisah melihat kenekatan
gadis ini. -sungguh tidak ingin bertempur mati-matian
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 261
yoza collection menyambar merupakan kilatan merah memanjang, diikuti gerakan tangan kiri yang
memukul ke dada Kong Hwat.
Uap hitam menyambar dan agaknya pemuda itu akan celaka kalau pada saat
itu tidak nampak sinar menyilaukan berkelebat dan tahu-tahu Soan Li memekik
kesakitan dan pundaknya terpukul tongkat di tangan Kong Hwat. Ia roboh dan
mengerang kesakitan. Melihat ini kagetlah Kong Hwat. Kini ia merasa yakin bahwa diam-diam ada
orang yang membantunya. Tadi tongkatnya meleset dan terus menusuk ke arah
leher Soan Li, sedangkan sinar yang berkelebat menghantam sabuk. Baiknya ia
masih keburu menarik tongkatnya sehingga tidak menembus lehernya yang indah
melainkan menyeleweng dan menusuk pundak.
Mungkin saking kaget, penasaran dan sakit, Soan Li roboh dan pingsan! Ketika
ia membuka mata, Kong Hwat sedang mengobati pundaknya.
Bukan main heran dan kagetnya hati Soan Li, akan tetapi ia pura-pura masih
pingsan. Dari balik bulu matanya yang lentik ia memandang wajah tampan itu
dengan penuh perhatian memeriksa lukanya dan kemudian mengobatinya dengan
obat bubuk yang terasa dingin sekali.
Melihat gadis itu menggerakkan bulu mata, Kong Hwat cepat menyelesaikan
Soan Li sudah meIompat bangun. Mukanya merah dan ia memungut sabuk
sutera merahnya yang menggeletak di atas tanah.
Soan Li berpaling dan mukanya berobah ketika memandang Kong Hwat.
Pandangan matanya masih penuh kekaguman, penuh keheranan dan penasaran.
cepat sehingga aku tidak tahu bagaimana
caranya kau mengalahkanku, aku masih penasaran, Kong Hwat, mari kita lanjutkan.
lagi untuk diserahkan kepada Pay-cu Sian-li-pay malahan, aku bersedia
Ia bersenyum dan diam-diam Kong Hwat morat marit hatinya. Senyum dengan
lesung pipit itu bukan main manisnya. Akan tetapi lagi-lagi gadis ini mengajaknya
bertempur lagi. Benar-benar gila! Rupanya entah mengapa, sesungguhnya ia tidak
ingin sekali bertempur dengan gadis ini.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 262
yoza collection ihatkan ilmu silatmu, o ya.. . aku tak ingin kau
sabuknya.

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Akan tetapi baru saja ia hendak menerjang, tiba-tiba berkelebat sebuah
oan Li sumoay, kau terlalu,
pemuda ini sudah begitu mengalah terhadapmu, kau masih saja hendak
anmu, marilah Tangan Soan Li ditarik oleh Bwe Lan. Keduanya berlari-lari meninggalkan
pemuda itu. Kong Hwat berdiri bengong, ia menarik napas panjang, bingung memikirkan
keadaan hatinya sendiri. Mengapa setelah gadis itu pergi dirasakannya dunia ini
menjadi sepi dan hilang semangat.
Ah, bayang-bayang barusan tadi itu masih melekat di kisi-kisi hatinya. Senyum
manis berlesung pipit gadis itu, mata berbulu lentik itu, ahh, mulut yang bagus, bibir
yang galak dan cerewet. Semuanya itu menyelimuti kulit hati Kong Hwat.
Ia benar-benar sudah jatuh hati kepada murid Bu-tek Sianli itu. Aneh memang
cinta tidak mengenal siapa dia. Cinta akan tumbuh bagi siapa saja, dimana saja dan
kapan saja! Ah, Kong Hwat! Benar-benar kau sudah jatuh hati kepada gadis itu.
Mengapa kau sekarang melamun, memang di dalam sentuhan-sentuhan cinta
itu manusia akan banyak tenggelam ke alam khayalan. Kong Hwat sekarang tengah
berkhayal, mengkhayali tentang gadis yang bernama Han Soan Li itu!
Apa kata gadis tadi"
dan menyerahkan kepada Sian-li-pay, malahan aku bersedia melindungimu dari
-dengung dalam telinga Kong Hwat ketika ia berjalan perlahan di dalam hutan itu. Kini Kong Hwat telah
menjadi seorang pemuda yang linglung dalam terombang-ambing asmara.
Cinta, betapa berkuasanya engkau merubah watak seseorang!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 263
yoza collection ooOOoo Ketika Kong Hwat yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba
belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan Soan Li yang selama
ini tidak pernah meninggalkan bayangan matanya, kini sangat mempengaruhi
otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu.
Bahkan perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Soan Li yang sebenarnya
muncul di mana-mana, di tempat-tempat mana yang dilaluinya. Tiba-tiba saja wajah
yang jelita dan galak itu terbayang disela-sela daun hijau dan di antara kembangkembang indah.
menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat.
Akan tetapi makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Soan Li
makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat mengoda pikirannya! Ia lalu
melompat bangun dari duduknya, dan melanjutkan perjalanannya.
Baru saja beberapa tindak ia melangkah, tiba-tiba telinganya mendengar suara
Kong Hwat menoleh ke belakang dan tersenyum lebar.
Sian-li-pay yang galak itu, y
secara mendadak begitu. Eh, kau hendak ke manakah twako.. . " Mana kawan-kawan
-masing Kong Hwat-te, baru saja kemaren aku
menolong nona Nyuk In yang dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang orang Heklianbersamam
apa sih yang terjadi sebenarnya denganmu" Dan mengapa kau berada di dalam
hutan lebat ini" Tadi belum lama ini aku melihat kau bertempur kalang kabut
dengan nona Soan Li dan ia terluka olehmu dan kau menolongnya. Heran!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 264
yoza collection sianli-tok-ciamnya yang menancap di pundakmu. Eh, mendadak setelah kau siuman
gadis aneh itu menyerangmu lagi, matiSejenak Kong Hwat melongo, kemudian tersenyum maklum dan meloncat ke
membantuku, Siang-twako" Ah, pantas saja begitu mudah aku mendapat
memang sayang kepada Soan Li dan tidak ingin melihat dia tersesat. Dia sebetulnya
seorang gadis baik meskipun mempunyai guru atau Pay-cu Sian-li-pay yang amat
jahat. Akan tetapi, ternyata gadis gadis Sian-li-pay tidaklah sekejam Pay-cunya.
Waktu muncul Thay-lek-hui-mo dan beberapa orang Hek-lian-pay di hutan itu.
Amarah Pedang Bunga Iblis 2 Bentrok Rimba Persilatan Karya Khu Lung Bisnis Kotor 3
^