Pencarian

Panduan Lapangan 1

The Spiderwick Chronicles 1 Panduan Lapangan Bagian 1


The Spiderwick Chronicles
Panduan Lapangan Buku Pertama Tony DiTerlizzi dan Holly Black
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005
The Spiderwick Chronicles: THE FIELD GUIDE Copyright 2005 by Tony DiTerlizzi and Holly Black Published by arrangement with Simon & Schuster Books for Young Readers, an imprint of Simon & Schuster Children's Publishing Division All rights reserved.
The Spiderwick Chronicles: PANDUAN LAPANGAN Alih Bahasa: Donna Widjajanto
GM 106 04.001 Hak Cipta Terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Anggota IKAPI, Jakarta, Juni 2004
Cetakan kedua: Agustus 2006
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
DITERLIZZI, TONY dan HOLLY BLACK
The Spiderwick Chronicles: PANDUAN LAPANGAN/Tony DiTerlizzi dan Holly Black; alih bahasa: Donna Widjajanto-cet. 1 -Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004
136 him; ilustrasi; 17 cm
Judul asli: The Spiderwick Chronicles: THE FIELD GUIDE ISBN 979-22-0867-4
I. Judul II. Widjajanto, Donna
Dicetak oleh Percetakan PT SUN Printing, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Untuk nenekku, Melvina, yang mengatakan aku seharusnya menulis buku seperti ini
dan kepada siapa kukatakan aku takkan melakukan nya
- H.B. Untuk Arthur Rackham, semoga kau terus memberi inspirasi kepada orang lain seperti yang kaulakukan kepadaku
- T.D. Daftar Ilustrasi Sehalaman Penuh 8
Surat dari Holly Black 10
Surat dari Anak-Anak Keluarga Grace 11
Peta Spiderwick Estate 12
Bab Satu: Ketika Anak-Anak Keluarga Grace Tiba
di Rumah Baru Mereka 17 Bab Dua: Ketika Dua Dinding Diselidiki dengan Berbagai
Metode yang Berbeda 31 Bab Tiga: Ketika Banyak Teka-Teki
Bab Empat: Ketika Ada Jawaban, meskipun Belum Tentu
Menjawab Pertanyaan yang Tepat 59
Bab Lima: Ketika Jared Membaca Buku dan Memasang Perangkap 77
Bab Enam: Ketika Mereka Menemukan Hal-Hal Tak Terduga
dalam Kotak Es 97 Bab Tujuh-. Ketika Nasib Tikus-Tikus Diketahui 109
Tentang Tony DiTerlizzi dan Holly Black 128
Daftar Ilustrasi Sehalaman Penuh
Peta Spiderwick Estate dan Daerah Sekitarnya. 12
Lebih mirip selusin pondok. 16
"Mom"" 26 Derakan membuatnya terduduk kaget. 30
"Aku akan membongkar dinding." 36
Lift makanan mulai bergerak. 45
Jared tidak yakin dia berada di mana. 46
Jared melihat ke sekeliling ruangan. 48
"Kau ini apa"" 54
"Potong saja." 68
Naik dan naik dan naik terus. 65
Tulisan tangan yang ditemukan Jared Grace
dalam perpustakaan lantai atas Arthur Spiderwick. 67
Hal yang paling aneh. 73 Dia hanya ingin terus membaca. 76
"Lihat ini." 85
Dari panduan lapangan. 87
Semuanya hening. 90 Dapur berantakan. 96 "Mom, aku tidak melakukannya." 101
Ada hal aneh lainnya. 105
"Mallory, jangan!" 108
"Asyik sekali di sini." 117
Kira_kira seukuran pensil. 124
"Buang buku itu." 126
Dear Pembaca, Tony dan aku sudah, bersahabat bertahun-tahun, dan kami berbagi kekaguman masa kecil yang sama kepada makhluk-makhluk sejenis peri. Kami tidak menyadari pentingnya ikatan itu atau bagaimana kekuatannya teruji.
Suatu hari Tony dan aku-bersama beberapa penulis lainnya-sedang menandatangani buku di sebuah toko buku besar. Saat acara itu selesai, kami tetap tinggal, membantu mengatur buku-buku dan mengobrol, sampai seorang pelayan mendatangi kami. Dia berkata ada surat yang ditinggalkan untuk kami. Saat aku bertanya untuk siapa surat itu, kami kaget mendengar jawabannya.
"Kalian berdua," katanya.
Surat itu disalin tepat sama dan dicantumkan di halaman berikut. Tony menghabiskan waktu lama hanya menatap kertas fotokopi yang terselipkan bersama surat itu. Lalu dengan suara pelan, dia terus bertanya-tanya tentang isi naskah itu. Kami buru-buru menulis surat balasan, memasukkannya ke amplop, dan meminta si pelayan mengantarkannya kepada anak-anak keluarga Grace.
Tidak lama setelahnya, sebuah paket tiba di pintu rumahku, terikat pita merah. Beberapa hari berikutnya, tiga anak membunyikan bel pintu, dan menceritakan semua ini kepadaku.
Apa yang terjadi setelahnya sulit dilukiskan. Tony dan ak
u ditarik masuk ke dunia yang tidak benar-benar kami percayai. Sekarang kami melihat bahwa makhluk-makhluk sejenis peri lebih dari sekadar kisah masa kanak-kanak. Ada dunia tak terlihat di sekeliling kita dan kami harap kau, pembaca yang budiman, mau membuka mata untuk melihatnya.
-Holy Black- Dear Mrs. Black dan Mr. DiTerlizzi:
Aku tahu banyak orang tidak percaya ada makhluk-makhluk seperti peri, tapi aku percaya dan kurasa kalian juga. setelah membaca buku-buku kalian, aku memberitahu saudara-saudaraku tentang kalian dan kami memutuskan untuk menulis. kami mengenal makhluk-makhluk seperti peri yang sebenarnya. malah, kami tahu banyak tentang mereka.
Halaman yang kami sertakan ini adalah fotokopi dari buku tua yang kami temukan di loteng rumah kami. fotokopinya tidak bagus, karena kami tidak pandai menggunakan mesinnya. Buku itu memberitahu orang cara mengenali makhlu-makhluk seperti peri dan bagaimana melindungi diri mereka sendiri.
Maukah kalian memberikan buku ini kepada penerbit kalian" kalau kalian bisa, tolong masukkan surat ke amplop ini dan kembalikan ke toko. kami akan mencari jalan untuk mengirimkan buku itu. pos biasa terlalu berbahaya.
Kami hanya ingin orang-orang tahu tentang ini. Apa yang terjadi pada kami bisa terjadi pada siapa pun.
Salam hormat, Malloy, Jared, dan Simon Grace
Bab Satu Ketika Anak-anak Keluarga Grace tiba di rumah baru mereka
KALAU ada yang bertanya pada Jared Grace pekerjaan apa yang akan dilakukan saudara laki-laki dan perempuannya saat mereka dewasa, dia bisa menjawab dengan mudah. Dia akan mengatakan saudara laki-lakinya, Simon, akan menjadi dokter hewan atau penjinak singa. Dia akan bilang kakak perempuannya, Mallory, akan menjadi atlet anggar olimpiade atau masuk penjara karena menusuk orang dengan pedang. Tapi dia tidak bisa mengatakan pekerjaan apa yang akan dilakukannya saat dia dewasa nanti. Bukannya ada yang bertanya padanya. Bukannya ada yang menanyakan pendapatnya tentang apa pun juga.
Tentang rumah baru itu, misalnya. Jared Grace menatapnya dan menyipitkan mata. Mungkin rumah itu akan tampak lebih bagus kalau pandangannya kabur.
"Itu pondok," kata Mallory, saat keluar dari station wagon.
Tapi rumah itu juga bukan benar-benar pondok. Rumah itu lebih mirip selusin pondok disusun satu di atas yang lain. Ada beberapa cerobong asap, dan di puncak semua susunan itu ada sebaris pagar besi di atas atap seperti topi yang berkilat-kilat.
"Rumahnya tidak terlalu jelek," kata ibu mereka sambil tersenyum sedikit terpaksa. "Gayanya ala era Victoria."
Simon, kembar identik Jared, tidak tampak sedih. Dia mungkin memikirkan binatang-binatang yang bisa dipeliharanya sekarang. Sebenar nya, mengingat apa yang dimasukkannya ke dalam kamar tidur mungil mereka di New York, Jared berpikir
harus ada banyak kelinci, landak, dan berbagai binatang lain untuk membuat Simon puas.
"Ayo, Jared," panggil Simon. Jared sadar mereka semua sudah mendaki tangga depan dan dia sendirian di halaman, memandangi rumah itu.
Pintu-pintunya berwarna abu-abu kusam, karena tua. Sisa-sisa cat berwarna krem muda, tertinggal dalam retakan kayu dan di sekitar engsel. Pengetuk pintu berbentuk kepala domba berkarat tergantung pada satu paku berat di tengah pintu.
Ibu mereka memasukkan kunci ke lubangnya, memutarnya, dan mendorong sekuat tenaga dengan bahunya. Pintu membuka menunjukkan lorong remang-remang. Satu-satunya jendela berada jauh di atas, setengah jalan menaiki tangga, dan kaca hiasnya memberikan kilau merah yang menakutkan pada dinding-dinding.
"Tampak tepat seperti yang kuingat," kata ibu mereka sambil tersenyum.
"Tapi jauh lebih menakutkan," kata Mallory.
Ibu mereka mendesah, tapi tidak bereaksi.
Lorong itu mengantar mereka ke ruang makan. Meja panjang yang kusam karena bekas-bekas air merupakan satu-satunya perabot. Langit-langitnya pecah di sana-sini dan lampu kandelar tergantung pada kabel yang terkelupas.
"Bagaimana kalau kalian bertiga mulai membawa barang-barang dari mobil"" kata ibu mereka.
"Ke dalam sini"" tanya Jared.
"Ya, ke dalam sini." Ibu mereka meletakkan kopernya ke meja, mengabaikan kepulan debu
. "Kalau bibi buyut kalian Lucmda tidak mengizinkan kita tinggal, aku tidak tahu ke mana kita harus pergi. Kita harus bersyukur."
Mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa. Meskipun berusaha keras, Jared sama sekali tidak bisa merasa bersyukur. Sejak ayah mereka pergi, semuanya memburuk. Jared berkelahi di sekolah, dan memar yang memudar di mata kirinya tidak membiarkannya lupa. Tapi tempat ini-tempat inilah yang terburuk sejauh ini.
"Jared," kata ibunya saat Jared berbalik untuk mengikuti Simon keluar dan mengosongkan mobil.
"Apa"" Ibunya menunggu sampai kedua anak lain mencapai lorong sebelum bicara. "Inilah kesempatan untuk memulai lagi... bagi kita semua. Oke""
Jared mengangguk dengan segan. Dia tidak ingin ibunya melanjutkan kata-katanya.
satu-satunya alasan Jared tidak dikeluarkan dari sekolah adalah karena mereka memang akan pindah. Satu alasan lagi mengapa dia harus bersyukur. Tapi dia sama sekali tidak merasa bersyukur.
Di luar, Mallory sudah menumpuk dua koper kecil di atas koper besi besar. "Kudengar dia membuat dirinya sendiri kelaparan sampai mati."
"Bibi Lucinda" Dia hanya tua," kata Simon. Tua dan gila."
Tapi Mallory menggeleng, "Aku mendengar obrolan Mom saat menelepon. Dia memberi-tahu Paman Terrence bahwa Bibi Lucy merasa orang-orang kerdil membawakan makanan untuknya."
"Apa yang kauharapkan" Dia tinggal di rumah sakit jiwa," kata Jared.
Mallory melanjutkan seolah tidak mendengar adiknya. "Dia memberitahu para dokternya bahwa makanan yang diperolehnya lebih lezat daripada apa pun yang pernah mereka makan."
"Kau mengarang-ngarang." Simon merangkak ke kursi belakang dan membuka salah satu koper kecil.
Mallory mengangkat bahu. "Kalau dia meninggal, tempat ini akan diwariskan kepada seseorang, dan kita harus pindah lagi."
"Mungkin kita bisa kembali ke kota," kata Jared.
"Kemungkinan besar," kata Simon. Dia mengeluarkan beberapa kaus kaki yang menyelubungi stoples. "Oh, tidak! Jeffrey dan Lemondrop lepas!"
"Mom sudah melarangmu membawa tikus-tikus itu," kata Mallory. "Dia bilang sekarang kau bisa memelihara binatang normal."
"Kalau aku melepaskan mereka, mereka akan terjebak lem tikus atau apa," kata Simon, membalik kaus kaki itu, satu jarinya keluar dari lubang. "Lagi pula, kau juga membawa semua sampah peralatan anggar-mu!
"Ini bukan sampah," geram Mallory. "Dan peralatanku tidak hidup."
"Diam!" Jared maju selangkah ke arah kakaknya.
"Hanya karena sebelah matamu hitam, bukan berarti aku tidak berani membuat yang sebelah juga hitam." Mallory mengibaskan rambutnya yang terikat ekor kuda saat mendekati adiknya. Dia memberikan koper yang berat ke tangan Jared. "Silakan bawa itu kalau kau begitu kuat."
Meskipun Jared tahu dia akan lebih besar dan kuat daripada Mallory suatu hari nanti- saat kakaknya itu tidak lagi tiga belas dan dia sendiri tidak lagi sembilan tahun-sulit membayangkannya.
Jared berhasil membawa koper itu ke dalam rumah sebelum menjatuhkannya. Dia pikir dia bisa menyeretnya ke tempat tujuan kalau memang harus, dengan begitu kan tidak ada yang menang. Tapi ketika sendirian di lorong rumah, Jared tidak lagi ingat jalan menuju ruang makan. Dua lorong yang berbeda berpencar dari lorong ini, berkelok entah ke mana di tengah rumah itu.
"Mom"" Meskipun Jared ingin berteriak keras, suaranya terdengar sangat pelan, bahkan bagi dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Dia mencoba maju selangkah, lalu selangkah lagi, sampai derakan papan di bawah kakinya menghentikannya.
Tepat saat dia berhenti, sesuatu di dalam dinding bergerak. Jared bisa mendengarnya merangkak ke atas, sampai suara itu menghilang di atas langit-langit. Jantung Jared berdebar keras di dadanya.
Mungkin hanya bajing, katanya pada diri sendiri. Lagi pula, rumah ini sepertinya akan roboh. Apa pun bisa tinggal di dalamnya; mereka beruntung kalau tidak ada beruang di ruang bawah tanah dan burung-burung di saluran pemanas ruangan. Itu pun kalau tempat ini punya pemanas.
"Mom"" panggil Jared lagi, dengan suara yang bahkan lebih pelan.
Lalu pintu di belakangnya terbuka dan Simon masuk, membawa stoples-stoples dengan tikus abu-abu di dalamnya. Mallory t
epat di belakangnya, marah-marah.
"Aku mendengar sesuatu," kata Jared. "Dalam dinding."
"Apa"" tanya Simon.
"Aku tidak tahu...." Jared tidak ingin mengakui bahwa sesaat dia berpikir yang didengarnya itu hantu. "Mungkin bajing."
Simon memperhatikan dinding dengan sangat tertarik. Kertas dinding brokat emas tergantung lemas, terkelupas dan berlubang di berbagai tempat. "Benarkah" Dalam rumah" Aku selalu ingin punya bajing."
Sepertinya tidak ada yang menganggap apa yang berada dalam dinding patut dikhawatirkan, jadi Jared tidak mengatakan apa-apa lagi tentang hal itu. Tapi saat dia membawa koper itu ke ruang makan, Jared tidak bisa menahan dirinya memikirkan apartemen kecil mereka di New York dan keluarga mereka sebelum perceraian. Dia berharap ini liburan pura-pura dan bukan kehidupan nyata.
Bab 2 KETIKA Dua Dinding Diselidiki dengan Berbagai metode yang Berbeda
LANGIT-LANGIT yang bocor membuat Semua kamar tidur di lantai atas rusak parah kecuali tiga. Ibu mereka mendapat satu kamar, Mallory mendapat satu kamar yang lain, dan Jared serta Simon harus berbagi kamar yang ketiga.
Saat mereka selesai membongkar barang, bagian atas meja rias dan meja di samping tempat tidur Simon penuh stoples. Beberapa terisi ikan. Sisanya sesak dengan tikus, kadal, dan binatang lain yang disimpan Simon dalam kandang berlumpur. Ibu mereka mengatakan Simon boleh membawa apa saja kecuali tikus. Dia merasa binatang itu menjijikkan karena Simon menyelamatkan mereka dari perangkap di apartemen Mrs. Levette, di bawah apartemen mereka.
Ibu mereka berpura-pura tidak melihat bahwa Simon toh membawa tikus-tikus itu juga,
Jared berguling-guling resah di kasur yang kasar, menutupi kepalanya erat-erat dengan bantal seolah berniat mencekik dirinya sendiri, tapi tetap tak bisa tidur. Dia tidak keberatan berbagi kamar dengan Simon, tapi berbagi kamar dengan deretan kandang berisi binatang yang mengeluarkan suara gemeresik, mencicit, dan mencakar lebih menakutkan daripada tidur sendirian. Binatang-binatang itu membuatnya teringat pada dinding. Dia berbagi kamar dengan Simon dan binatang-binatang kecil di kota, tapi suara binatang-binatang itu teredam latar suara mobil, sirene, serta orang-orang. Di sini, semuanya tidak familier.
Derakan engsel membuatnya terduduk kaget. Ada bayangan di ambang pintu, dengan gaun putih panjang yang tak berbentuk serta rambut panjang berwarna gelap. Jared keluar dari tempat tidur begitu cepat, sampai-sampai tidak sadar telah melakukannya.
"Ini aku," bisik bayangan itu. Ternyata Mallory yang mengenakan gaun tidur. "Kurasa aku mendengar bajingmu."
Jared berdiri dari posisi membungkuk, berusaha memutuskan apakah bergerak begitu cepat berarti dia ketakutan atau sekadar punya gerak refleks yang bagus. Simon mendengkur di tempat tidur satu lagi.
Mallory berkacak pinggang. "Ayolah. Bajing itu tidak akan menunggu kita menangkapnya."
Jared mengguncang bahu saudara kembarnya. "Simon. Bangun. Peliharaan baru. Peliharaan baruuuuuuuuu."
Simon mengernyitkan wajah dan mengeluh, berusaha menarik selimut ke atas kepalanya.
Mallory tertawa "Simon." Jared membungkuk, membuat suaranya terdengar sangat mendesak. "Bajing! Bajing!"
Simon membuka matanya dan memelototi mereka. "Aku tidur."
"Mom keluar ke toko untuk membeli susu dan sereal," kata Mallory sambil menarik selimut dari pegangan adiknya. "Dia bilang aku harus mengawasi kalian. Kita tidak punya banyak waktu sebelum dia kembali."
Ketiga bersaudara itu mengendap-ngendap di lorong-lorong gelap rumah baru mereka. Mallory memimpin, berjalan beberapa langkah kemudian berhenti untuk mendengarkan. Sesekali ada suara gesekan atau suara langkah-langkah kecil dalam dinding.
Lalu langkah cepat itu semakin keras saat mendekati dapur. Dalam wastafel dapur, Jared bisa melihat penggorengan kotor dengan sisa-sisa makaroni keju yang mereka makan malam tadi.
"Kurasa dia di sini. Dengar," bisik Mallory.
Suara itu berhenti total.
Mallory mengambil sapu dan memegang tongkatnya seperti pemukul bisbol. "Aku akan membongkar dinding," katanya.
"Mom akan melihat lubangnya saat dia pulang," kata Jared.
"Di rumah ini" Dia tidak akan sadar."
"Bagaimana kalau kau memukul bajing itu"" tanya Simon. "Kau bisa menyakiti -"
"Sstt," kata Mallory. Dia menyeberangi dapur dengan kaki telanjang dan mengayunkan tongkat sapu ke dinding. Pukulan itu menembus plester dinding, menaburkan debu seperti tepung. Debu itu mengotori rambut Mallory, membuatnya semakin mirip hantu. Dia meraih ke dalam lubang dan mematahkan sepotong dinding.
Jared mendekat. Dia bisa merasakan bulu-bulu halus di lengannya berdiri.
Potongan-potongan kain mengisi bagian di antara dinding. Saat Mallory menarik keluar semakin banyak potongan dan benda lain mulai tampak. Sisa gorden. Secabik sutra kusam dan renda. Jarum yang lurus tertanam dalam kayu dinding di kedua sisi, membuat garis berkelok yang aneh. Kepala boneka tergolek di satu sisi. Kecoak mati teruntai seperti karangan bunga. Boneka prajurit kecil dengan tangan dan kaki yang meleleh bertebaran di seantero papan seperti pasukan yang kalah.
Pecahan cermin yang tajam berkilau dari tempat mereka, ditempel dengan sisa permen karet.
Mallory merogoh ke dalam sarang itu dan mengeluarkan medali anggar. Me-dali itu terbuat dari perak dengan pita biru yang tebal. "Ini milikku."
"Bajing itu pasti mencurinya," kata Simon.
"Tidak-ini terlalu aneh," kata Jared. "Dianna Beckley punya musang jinak dan mereka suka mencuri boneka Barbie-nya," jawab Simon. "Dan banyak binatang yang suka benda-benda berkilauan."
"Tapi lihat." Jared menunjuk ke arah kecoak-kecoak. "Musang apa yang membuat kalung menjijikkan untuk dirinya sendiri"" "Ayo keluarkan benda-benda ini," kata Mallory. "Mungkin kalau tidak punya sarang, dia akan lebih mudah diusir keluar rumah."
Jared ragu-ragu. Dia tidak ingin merogoh ke dalam lubang itu dan meraba-raba. Bagaimana kalau bajing itu masih di dalam lalu menggigitnya" Mungkin pengetahuannya tidak banyak, tapi dia benar-benar merasa bajing biasanya tidak semenakutkan ini. "Kurasa sebaiknya kita tidak melakukan itu," katanya.
Mallory tidak mendengarkan. Dia sibuk menarik tempat sampah. Simon mulai mengeluarkan berlembar-lembar kain berjamur.
"Tidak ada kotoran juga. Aneh." Simon membuang kain yang dipegangnya dan mengeluarkan segenggam kain lagi. Saat melihat prajurit-prajurit kecil itu dia berhenti. "Prajurit-prajurit ini keren kan, Jared""
Jared terpaksa mengangguk. "Tapi lebih bagus kalau masih punya tangan sih."
Simon memasukkan beberapa boneka prajurit ke kantong piamanya.
"Simon"" tanya Jared. "Kau pernah mendengar binatang seperti ini" Maksudku, beberapa benda ini benar-benar aneh, kan" Sepertinya bajing ini sama gilanya dengan Bibi Lucy."
"Yeah, benar-benar gila," kata Simon, lalu terkekeh.
Mallory menggerutu, lalu tiba-tiba terdiam. "Aku mendengarnya lagi." "Apa"" tanya Jared.
"Suara itu. Sstt. Di situ." Mallory mengangkat sapunya lagi.
"Diam," bisik Simon.
"Kita berdua memang diam," desis Mallory. "Sstt," kata Jared.
Mereka bertiga mengendap-ngendap ke tempat asal suara itu, tepat saat suara itu berubah. Bukannya mendengar ketak-ketik kuku-kuku kecil di atas kayu, mereka bisa mendengar kuku menggesek besi.
"Lihat." Simon membungkuk untuk menyentuh pintu geser kecil yang terpasang di dinding.
"Ini lift makanan," kata Mallory. "Para pelayan menggunakannya untuk mengirim nampan sarapan dan lain-lain ke atas. Pasti ada pintu lain seperti ini di salah satu kamar tidur."
"Binatang itu sepertinya berada dalam lubang lift," kata Jared.
Mallory membungkuk memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kotak besi. "Terlalu kecil untukku. Salah satu dan kalian yang harus pergi."
Simon menatap kakaknya dengan ragu-ragu. "Wah, tidak tahu deh. Bagaimana kalau talinya tidak terlalu kuat lagi""
"Jatuhnya tidak tinggi," kata Mallory, dan kedua adiknya memandangnya dengan kaget.
"Oh, baiklah, aku pergi." Jared senang ber-
hasil menemukan sesuatu yang tak bisa dilakukan Mallory. Kakaknya itu tampak agak kecewa. Simon hanya tampak khawatir.
Bagian dalam kotak lift makanan itu kotor dan aromanya seperti kayu tua. Jared melipat kakinya dan menundukkan kepalanya. Dia bisa masuk, tapi sangat pas.
"Memangnya bajing itu masih ada di lift makanan, ya
"" Suara Simon terdengar kecil dan jauh.
"Entahlah," kata Jared pelan, mendengarkan gema suaranya sendiri. "Aku tidak mendengar apa-apa."
Mallory menarik talinya. Dengan sedikit sentakan dan getaran, lift makanan itu mulai membawa Jared naik di dalam dinding. "Apakah kau bisa melihat sesuatu""
"Tidak," jawab Jared. Dia bisa mendengar suara gemeresik itu, tapi rasanya dari tempat yang jauh. "Gelap total."
Mallory mengerek lift makanan itu turun kembali. "Pasti ada lilin entah di mana." Dia membuka beberapa laci sampai menemukan sepotong lilin putik dan stoples bertutup. Lalu dia memutar kenop kompor, menyalakan lilin itu dari salah satu kompor gas, meneteskan lilinnya dalam stoples, dan menekan lilin supaya berdiri dalam stoples. "Ini Jared. Pegang ini."
"Mallory, aku bahkan tidak mendengar apa-apa lagi," kata Simon.
"Mungkin bajing itu bersembunyi," kata Mallory, dan menarik tali.
Jared berusaha memasukkan dirinya lebih dalam ke lift makanan itu, tapi tidak ada ruangan lagi. Dia ingin mengatakan pada saudara-saudaranya bahwa tindakan ini bodoh dan dia takut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia malah membiarkan dirinya diangkat ke kegelapan, memegang lentera darurat itu.
Kotak besi itu naik beberapa meter dalam dinding. Cahaya lilin tersebut membuat lingkaran kecil, membuat benda-benda jadi berbayang tak jelas. Si bajing bisa saja berada tepat di sebelah Jared, nyaris menyentuhnya, dan Jared sama sekali tidak tahu.
"Aku tidak melihat apa-apa," katanya ke bawah, tapi dia tidak yakin ada yang mendengarnya.
Lift itu naik perlahan. Jared merasa tak bisa bernapas. Lututnya menekan dada, dan kakinya kram karena terlipat begitu lama. Dia ingin tahu apakah lilin itu mengisap semua oksigen yang ada.
Lalu, dengan sentakan, lift makanan itu berhenti. Ada yang menggesek kotak besi itu.
"Tidak bisa lebih tinggi lagi," teriak Mallory dari lorong di bawah. "Apakah kau melihat sesuatu""
"Tidak," kata Jared. "Rasanya lift ini terjepit."
Ada suara gemeresik lagi sekarang, seolah ada yang berusaha menggali menembus langit-langit lift makanan. Jared berteriak dan berusaha memukul dari dalam, berusaha membuat binatang itu takut.
Tapi tiba-tiba lift makanan itu naik beberapa meter lagi dan kembali berhenti, kali ini dalam ruangan yang remang-remang diterangi cahaya bulan dari satu jendela kecil.
Jared merangkak keluar kotak lift. "Aku sampai! Aku sudah di atas!"
Ruangan itu berlangit-langit rendah, dan dinding-dindingnya ditutupi rak buku. Saat memandang ke sekelilingnya, Jared sadar tidak ada pintu.
Tiba-tiba Jared tidak yakin dia berada di mana.
Bab Tiga KETIKA Banyak Teka-Teki JARED melihat ke sekeliling ruangan. Tempat itu perpustakaan kecil, dengan meja besar di tengahnya. Cahaya lilin Jared menerangi buku terbuka dan kacamata bulat model lama di meja itu. Jared mendekat. Cahaya remang-remang lilinnya menerangi satu judul setiap kalinya saat dia menelusuri rak-rak. Semuanya aneh: Sejarah Dwarf Scott, Ringkasan Kunjungan Brownie dari Seluruh Dunia, dan Anatomi Serangga dan Makhluk-Makhluk yang Bisa Terbang Lainnya. Buku aneh tentang dwarf, kurcaci yang pandai besi, dan brownie, peri penunggu rumah yang baik hati.
Koleksi stoples kaca berisi buah beri, tanaman yang dikeringkan, dan satu yang berisi batu-batu sungai yang membosankan berdiri di sisi meja. Di dekatnya sketsa cat air menggambarkan gadis kecil dan seorang pria bermain di halaman. Tatapan Jared tertumbuk pada catatan di atas buku terbuka, kedua benda itu diselimuti lapisan debu. Kertas itu menguning karena tua, tapi tulisan tangan di atasnya berisi puisi singkat yang aneh.
Dalam bagian atas tubuh manusia akan kautemukan Rahasiaku untuk seluruh umat manusia Kalau salah dan benar sama saja Sebentar lagi kau tahu ketenaranku Naik dan naik dan naik terus Semoga beruntung sahabatku
Jared mengambilnya dan membacanya dengan cermat. Seolah kertas itu pesan yang ditinggalkan di sana baginya Tapi oleh siapa" Apa arti puisi itu"
Dia mendengar teriakan dari bawah. "Mallory! Simon! Kenapa kalian belum tidur""
Jared mengeluh. Sepertinya Mom sudah kembali dari toko saat ini.
"Ada bajing dalam dinding." Jared bisa mendengar jawaban Mallory.
Ibu mereka memotong. "Di mana Jared""
Kedua saudaranya tidak menjawab.
"Turunkan lift makanan itu. Kalau saudara kalian di dalam sana..."
Jared lari tepat saatnya untuk melihat kotak itu menghilang ke dalam dinding. Cahaya lilinnya berkedip karena terciprat lelehan lilin karena gerakannya yang tiba-tiba, tapi tidak mati.
"Lihat"" kata Simon lemas.
Lift makanan itu pasti muncul kosong.
"Well, kalau begitu di mana dia""
"Aku tidak tahu," kata Mallory. "Di tempat tidur sedang tidur""
Ibu mereka mengeluh. "Well, ayo, kalian berdua, bergabunglah dengannya. Sekarang!"
Jared mendengarkan langkah mereka menjauh. Mereka harus menunggu beberapa saat sebelum menyelinap kembali untuk menurunkannya. Itu, kalau mereka tidak berpikir bahwa lilt makanan itu membawanya ke atas. Mereka mungkin kaget tidak menemukannya di tempat tidur. Bagaimana mereka bisa tahu dia terperangkap dalam ruangan tanpa pintu"
Ada suara gemeresik di belakangnya. Jared berbalik. Suara itu datang dari meja.
Saat mengangkat lilinnya, Jared melihat ada sesuatu yang tertulis pada debu meja itu. Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.
Tuk, tuk, perhatikan belakangmu.
Jared terlompat, membuat cahaya lilinnya berkedip. Lelehan lilin mematikan cahayanya. Dia berdiri dalam kegelapan, begitu ketakutan sampai tak bisa bergerak. Ada sesuatu di sini, di dalam ruangan ini, dan dia bisa menulis!
Jared mundur ke lubang lift yang kosong, menggigit bagian dalam bibirnya supaya tidak berteriak. Dia bisa mendengar gemeresik kantong-kantong belanja di bawah saat ibunya membongkar belanjaan.
"Apa di situ"" bisiknya ke kegelapan. "Kau ini apa""
Hanya keheningan yang menjawabnya.
"Aku tahu kau di sana," kata Jared.
Tapi tidak ada yang menjawab dan tidak ada suara gemeresik lagi.
Lalu Jared mendengar langkah ibunya menaiki tangga, suara pintu, dan tidak ada suara lagi. Tidak ada suara apa-apa kecuali keheningan yang begitu tebal dan berat sehingga terasa mencekik lehernya. Jared merasa bahkan bernapas terlalu keras akan memberitahu di mana lokasinya. Kapan saja makhluk itu bisa menyerangnya.
Ada derit dari dalam dinding. Dengan terkejut, Jared menjatuhkan stoplesnya, lalu sadar itu hanya suara derit lift makanan. Dia meraba-raba mencari jalan dalam kegelapan.


The Spiderwick Chronicles 1 Panduan Lapangan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Masuk," bisik kakaknya ke lorong lift.
Jared masuk ke dalam kotak besi itu. Dia begitu lega sehingga nyaris tidak menyadari perjalanan turun ke dapur.
Begitu keluar, dia mulai bicara.
"Ada perpustakaan! Perpustakaan rahasia dengan buku-buku aneh. Dan ada sesuatu di dalam sana-dia menulis di debu."
"Sstt, Jared," kata Simon. "Mom akan mendengar kita."
Jared mengangkat potongan kertas ber-tuliskan puisi itu. "Lihat ini. Ada semacan! petunjuk di dalamnya."
"Apakah kau melihat sesuatu"" tanya Mallory.
"Aku melihat pesan di deb u itu. Katanya 'perhatikan belakangmu," jawab Jared kesal.
Mallory menggeleng. "Itu bisa saja tertulis bertahun-tahun yang lalu."
"Tidak," Jared berkeras. "Aku melihat meja itu dan tidak ada tulisan di sana sebelumnya."
"Tenang," kata Mallory.
"Mallory, aku melihatnya!"
Mallory merenggut bagian depan kaus Jared, "Diam!"
"Mallory! Lepaskan adikmu!" Ibu mereka berdiri di puncak tangga dapur yang sempit, ekspresinya sama sekali tidak senang. "Kupikir kita sudah membicarakan ini. Kalau aku melihat salah satu dari kalian di luar tempat tidur, aku akan mengunci kamar kalian."
Mallory melepaskan kaus Jared sambil melotot.
"Bagaimana kalau kami perlu ke kamar mandi"" tanya Simon.
"Ayo, tidur," kata ibu mereka.
Saat mereka sampai di lantai atas, Jared dan Simon pergi ke kamar mereka. Jared menarik selimut menutupi kepala dan menutup mata rapat-rapat.
"Aku percaya padamu... tentang catatan itu dan sebagainya," bisik Simon, tapi Jared tidak menjawab. Dia hanya senang sudah berada di tempat tidurnya lagi. Dia ingin bisa tinggal di sana sepanjang minggu.
Bab Empat KETIKA Ada Jawaban, meskipun Belum Tentu Menjawab Pertanyaan yang Tepat
JARED terbangun mendengar teriakan Mallory. Dia melompat keluar dari tempat tidur dan berlari ke lorong, melewati Simon, dan masuk ke kamar ka
kaknya. Untaian-untaian panjang rambut Mallory terikat ke kepala tempat tidurnya yang terbuat dari kuningan. Wajahnya merah, tapi yang terburuk adalah memar-memar dengan pola aneh di sekujur lengannya. Ibu mereka duduk di tempat tidur, jari-jarinya berusaha melepaskan ikatan rambut Mallory.
"Apa yang terjadi"" tanya Jared.
"Potong saja," isak Mallory. "Gunting saja. Aku ingini keluar dari tempat tidur ini! Aku ingin keluar dari rumah ini! Aku benci tempat ini!" "Siapa yang melakukan ini" Ibu mereka menatap Jared dengan marah.
"Aku tidak tahu!" Jared melirik Simon yang berdiri di ambang pintu, tampak bi-ngung. Pasti makhluk dalam dinding itu.
Ibu mereka melotot. Sangat menakutkan. "Jared Grace, aku melihatmu bertengkar dengan kakakmu kemarin malam!"
"Mom, aku tidak melakukannya. Sumpah." Jared kaget ibunya berpikir dia bisa melakukan sesuatu seperti ini. Dia dan Mallory selalu bertengkar, tapi itu tidak berarti apa-apa.
"Ambil gunting, Mom!" jerit Mallory.
"Kalian berdua. Keluar. Jared, aku akan bicara denganmu nanti." Mrs. Grace kembali mengurus putrinya.
Jared keluar kamar, jantungnya berdebar keras. Saat memikirkan rambut Mallory yang terikat, tubuh Jared gemetar.
"Kaupikir makhluk itu yang melakukannya, kan"" Simon bertanya saat mereka masuk kamar tidur.
Jared menatap saudaranya dengan cemas. "Kau""
Simon mengangguk. "Aku terus memikirkan puisi yang kutemukan itu," kata Jared. "Itu satu-satunya petunjuk yang kita miliki."
"Bagaimana puisi bodoh itu bisa membantu kita""
"Aku tidak tahu." Jared mengeluh. "Kau kan yang pintar. Seharusnya kau yang mencari tahu."
"Bagaimana bisa tidak ada yang terjadi pada kita" Atau Mom""
Jared bahkan belum memikirkan itu. "Aku tidak tahu," katanya lagi.
Simon menatapnya sedih. "Well" Menurutimu bagaimana"" tanya Jared.
Simon melangkah ke pintu. "Aku tidak tahu. Aku akan mencoba menangkap jangkrik saja."
Jared melihat saudaranya pergi dan bertanya-tanya apa yang bisa dilakukannya. Apakah dia bisa menyelesaikan ini sendirian"
Sambil berpakaian, dia memikirkan puisi itu. "Naik dan naik dan naik terus" adalah baris yang paling sederhana, tapi sebenarnya apa artinya" Naik dalam rumah" Naik ke atap" Naik pohon" Mungkin puisi itu hanya sesuatu yang disimpan seorang saudara tua yang sudah meninggal - sesuatu yang sama sekali tidak akan membantu.
Tapi karena Simon sibuk memberi makan peliharaannya dan Mallory sedang dibebaskan dari tempat tidurnya, Jared tidak punya pekerjaan selain mencari tahu sejauh mana "naik dan naik dan naik terus" harus dijalaninya.
Jadi, baiklah. Mungkin baris itu bukanlah yang paling mudah. Tapi Jared merasa tidak ada ruginya naik, melewati lantai kedua, ke loteng.
Tangganya sudah sangat tua dan catnya sudah hilang, dan beberapa kali anak tangga yang diinjaknya berderak begitu dramatis sehingga Jared takut anak tangga itu patah karena berat tubuhnya.
Loteng merupakan ruangan luas dengan langit-langit miring dan lubang menganga di satu sisi lantai. Melalui lubang itu, Jared bisa melihat salah satu kamar tidur yang tak bisa digunakan di bawah.
Tas-tas pakaian tua tergantung di gantungan pakaian dari kawat tipis yang terbentang di sisi lebar loteng. Berbagai rumah burung tergantung mantap di kasau dan ma-nekin tukang jahit berdiri di salah satu sudut, topi menutupi kepalanya yang seperti kenop. Dan di tengah ruangan ada tangga putar.
Naik dan naik dan naik terus. Jared naik dua anak tangga sekali langkah.
Ruangan yang dimasukinya terang dan kecil. Ada jendela di semua sisinya, dan saat melihat ke luar, Jared bisa melihat genteng yang pecah-pecah dan kusam di atap di bawahnya. Dia bisa melihat station wagon ibunya di jalan berkerikil. Dia bahkan bisa melihat rumah kereta dan halaman luas yang berbatasan dengan hutan. Ini pasti bagian rumah yang memiliki pagar besi aneh di atasnya. Tempat yang hebat! Bahkan Mallory pun pasti kagum kalau Jared mengajaknya ke sini. Mungkin bisa membuatnya tidak begitu ke-sal karena rambutnya
Tidak banyak benda dalam ruangan itu. Koper tua, bangku kecil, gramafon Victrola tua, dan gulungan kain yang sudah lusuh.
Jared duduk, mengeluarkan puisi l
usuh itu dari kantongnya, dan membacanya se kali lagi. "Dalam bagian atas tubuh manusia akan kautemukan, rahasiaku untuk seluruh umat manusia." Baris-baris itu memusingkannya. Dia tidak ingin menemukan tubuh tua yang sudah mati, meskipun ada sesuatu yang benar-benar keren di dalamnya.
Sinar matahari yang kuning keemasan menerangi lantai dan meyakinkannya. Dalam film-film, hal-hal buruk jarang terjadi di tengah hari yang cerah, tapi dia tetap ragu-ragu membuka koper itu.
Mungkin seharusnya dia keluar dan mengajak Simon ikut dengannya. Tapi bagaimana kalau koper itu kosong" Atau bagaimana kalau puisi itu tidak ada hubungannya dengan memar-memar dan rambut Mallory yang terikat"
Tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, Jared berlutut dan menyingkirkan sarang labah-labah dan debu dari atas koper. Pita besi yang berkarat mengikat kulit yang membusuk. Paling tidak dia bisa melihat. Mungkin petunjuk akan lebih jelas kalau dia tahu apa isinya.
Sambil menarik napas, Jared mendorong tutupnya. Koper itu penuh pakaian yang sudah habis dimakan kutu. Di bawahnya ada jam saku berantai panjang, topi yang sudah rusak, dan kantong kulit penuh pensil tua yang aneh dan potongan-potongan batu bara.
Tidak satu pun barang di dalam koper itu yang mirip rahasia, bagi umat manusia atau siapa pun.
Tidak ada yang mirip dengan tubuh mati juga.
"Dalam bagian atas tubuh manusia, akan kautemukan rahasiaku untuk seluruh umat manusia."
Jared memandang isi koper itu lagi, dan tersadar.
Dia sedang memandang koper-chest, yang juga berarti dada. Bagian atas tubuh manusia kan dadanya.
Jared mengeluh frustrasi. Bagaimana dia bisa benar tapi tidak menemukan apa-apa" Tidak ada yang menarik dalam koper itu, dan baris-baris lain dalam puisi itu juga tidak berarti apa-apa. "Kalau salah dan benar sama saja, sebentar lagi kau tahu ketenaranku." Bagaimana itu bisa berarti sesuatu yang nyata" Sepertinya itu permainan kata.
Apa yang bisa salah" Sesuatu tentang situasi ini" Sesuatu tentang barang-barang dalam koper" Koper itu sendiri" Jared memikirkan koper itu, dan koper tersebut membuatnya memikirkan bajak laut di pantai, mengubur harta karun di bawah pasir yang dingin.
Terkubur di bawah! Bukan koper yang salah, tapi koper ini memiliki dasar tipuan! Saat memperhatikan dengan cermat, Jared bisa melihat bagian dalam sepertinya lebih tinggi daripada seharusnya. Apakah dia sudah menyelesaikan teka-tekinya"
Jared berlutut dan mulai menekan di sekeliling koper, meraba-raba lapisan debu mencari alat yang bisa membuatnya membuka kompartemen rahasia itu. Saat tidak menemukan apa-apa, dia mulai menyentuh bagian luarnya, mengais-ngais sekujur kotak itu. Akhirnya, saat menekan sisi kiri dengan tiga jarinya, kompartemen terbuka.
Begitu gembira tanpa alasan, Jared merogoh. Satu-satunya yang dia temukan di sana adalah bungkusan segi empat, terbungkus kain kotor. Jared mengeluarkannya, melepaskan ikatannya, dan mulai membuka bungkusan yang ternyata isinya buku tua rapuh beraroma seperti kertas terbakar. Tercetak timbul di atas kulit cokelat, judulnya: Panduan Lapangan Arthur Spiderwick bagi Dunia Fantastis di Sekitarmu.
Ujung-ujung sampulnya sudah rusak, dan saat membukanya, Jared melihat buku itu penuh lukisan cat air. Tulisannya dari tinta, yang sudah memudar dan berbintik-bintik karena usia dan kerusakan karena air. Dia membuka-buka halamannya dengan cepat, melirik catatan yang diselipkan di dalamnya. Tulisan itu berukir-ukir seperti tulisan dalam buku puisi.
Tapi yang paling aneh adalah subjek buku tersebut. Buku itu penuh informasi tentang makhluk-makhluk seperti peri.
BAb Lima KETIKA Jared Membaca Buku dan Memasang Perangkap
MALLORY dan Simon di luar di halaman, berlatih anggar, saat Jared menemukan mereka. Ujung rambut Mallory yang diikat ekor kuda keluar dari bagian belakang helm anggarnya, dan Jared bisa melihat ekor kuda itu lebih pendek daripada biasanya. Dia sepertinya berusaha mengganti kelemahannya tadi pagi dengan main anggar secara ganas. Simon sepertinya sama sekali tidak bisa menyerang. Dia tersudut ke sisi rumah kereta yang sudah rusak, gerakan-gerakannya mula
i putus asa. "Aku menemukan sesuatu!" teriak Jared.
Kepala Simon yang berhelm menoleh. Mallory mengambil kesempatan itu untuk menyerang, menekankan ujung karet bilah anggarnya ke dada adiknya.
"Tiga-kosong," kata Mallory. "Aku menga-lahkanmu."
"Kau curang," keluh Simon. "Kau membiarkan perhatianmu teralih," balas Mallory. Simon melepaskan helm dari kepalanya, menjatuhkannya, dan memandang Jared. "Terima kasih banyak," katanya sinis
"Maaf," kata Jared otomatis.
"Kaulah yang selalu melawan Mallory. Aku ke sini hanya untuk menangkap kecebong." Simon memandang marah.
"Well, aku sibuk. Hanya karena aku tidak punya binatang-binatang bodoh yang harus diurus bukan berarti aku tidak bisa sibuk," balas Jared.
"Diam, kalian berdua." Mallory melepaskan helmnya sendiri. Wajahnya merah. "Apa yang kautemukan " "
Jared berusaha merasakan sebagian kegembiraan tadi. "Buku di loteng. Tentang makhluk-makhluk seperti peri, yang sung-guhan. Lihat, mereka jelek."
Mallory mengambil buku itu dari tangan Jared dan membalik-balik halamannya. "Ini bacaan bayi. Buku cerita."
"Bukan," kata Jared tersinggung. "Ini panduan lapangan. Tahu kan, seperti untuk pengamat burung. Jadi kau tahu bagaimana cara mengetahui jenis burung yang berbe da."
"Kaupikir makhluk seperti ini yang mengikat rambutku ke tempat tidur"" tanya Mallory.
"Mom rasa kau yang melakukannya. Dia merasa kau bertingkah aneh sejak Dad. pergi. Misalnya terlibat perkelahian di sekolah." Simon diam saja.
"Tapi kau tidak merasa seperti itu." Jared berharap Mallory akan menyetujui kata-katanya. "Lagi pula malah kau yang selalu terlibat perkelahian."
Mallory menghirup napas panjang. "Kurasa kau tidak cukup bodoh untuk melakukannya," katanya, mengangkat tinju untuk menunjukkan apa yang akan dilakukannya pada apa pun yang mengikat rambutnya. "Tapi aku juga merasa bukan makhluk seperti peri yang melakukannya."
Saat makan malam, tidak seperti biasa, ibu mereka diam saat memotong ayam dan menyendok kentang tumbuk ke piring-piring mereka. Mallory juga tidak banyak bicara, tapi Simon terus bercerita tentang kecebong-kecebong yang ditemukannya dan bagaimana mereka akan segera menjadi katak karena mereka sudah punya kaki-kaki kecil.
Jared sudah melihat mereka. Mereka masih butuh waktu lama untuk jadi katak. Apa yang disebut Simon sebagai kaki-kaki lebih mirip sirip ikan.
"Mom"" kata Jared akhirnya. "Apakah kita punya saudara bernama Arthur""
Ibu mereka mendongak dari piringnya dan menatap curiga. "Tidak. Kurasa tidak. Kenapa kau bertanya""
"Aku hanya ingin tahu," gumam Jared. "Bagaimana dengan nama Spiderwick""
"Itu nama keluarga bibi buyutmu, Lucinda," kata ibunya. "Itu nama gadis ibuku. Mungkin Arthur salah satu saudaranya. Nah, sekarang beritahu aku kenapa kau ingin tahu semua ini""
"Aku menemukan beberapa barangnya di loteng-itu saja," kata Jared.
"Di loteng!" Ibunya nyaris menumpahkan es tehnya. "Jared Grace, seperti yang kau sudah tahu, setengah dari lantai dua begitu rapuhnya sampai kalau kau salah melangkah, kau akan menemukan dirimu di ruang duduk lantai bawah."
"Aku tetap berada di sisi yang aman," protes Jared.
"Kita tidak tahu apakah ada sisi yang aman di loteng. Aku tidak ingin kalian bermain di sana, terutama kau," katanya sampai menatap Jared lekat-lekat.
Jared menggigit bibirnya. Terutama kau. Jared tidak mengatakan apa-apa sepanjang sisa makan malam.
"Apakah kau akan membaca sepanjang malam"" tanya Simon. Dia duduk di sisi kamar bagiannya. Jeffrey dan Lemondrop berlarian di atas selimut, dan kecebong-kecebong barunya disimpan dalam stoples di sebelah stoples ikan.
"Memangnya kenapa kalau aku mau"" tanya Jared. Dengan setiap halaman yang rapuh, Jared mempelajari fakta yang aneh. Bisakah ada brownie dalam rumahnya" Pixie-peri nakal di halamannya" Nixie - peri air di sungai kecil di belakang rumah" Buku itu membuat mereka begitu nyata. Dia tidak ingin bicara dengan siapa pun saat ini, bahkan Simon sekalipun. Dia hanya ingin terus membaca.
"Aku tak tahu," kata Simon. "Kupikir mungkin kau sudah bosan sekarang. Biasanya kau tidak suka membaca."
Jared mendongak dan mengerjapkan mata. Benar. Si
mon-lah yang suka membaca. Jared biasanya hanya terlibat masalah.
Dia membalik halaman. "Aku bisa membaca kalau mau."
Simon menguap. "Apakah kau tidak takut tidur" Maksudku takut pada apa yang mungkin terjadi malam ini""
"Lihat ini." Jared membalik halaman di bagian depan buku. "Ini makhluk bernama brownie - "
"Seperti kue""
"Aku tidak tahu," kata Jared. "Seperti ini. Lihat." Dia mendorong buku itu ke depan Simon. Di halaman yang menguning terdapat lukisan pria kecil, berpose dengan kemoceng yang terbuat dari kok bulutangkis dan jarum lurus. Di sebelahnya terdapat sosok bungkuk, juga kecil, tapi yang ini membawa pecahan kaca.
"Apa itu"" Simon menunjuk sosok yang kedua, mulai tertarik.
"Si Arthur ini bilang ini boggart-kurcaci yang jahat. Lihat, brownie sangat suka menolong, tapi kalau kau membuat mereka marah, mereka bisa gila. Mereka mulai melakukar berbagai kejahatan dan kau tidak bisa menghentikan mereka. Mereka menjadi boggart Kurasa itulah yang ada di rumah ini sekarang."
"Kaupikir kita membuatnya marah karena merusak rumahnya""
"Yeah, mungkin. Atau mungkin dia sudah marah sebelumnya. Maksudku, lihat makhluk ini"-Jared menunjuk gambar kurcaci-"dia bukan tipe makhluk yang suka tinggal di rumah aneh yang didekorasi serangga mati."
Simon mengangguk, memandang gambar-gambar itu. "Karena kau menemukan buku ini dalam rumah," katanya, "apakah kaupikir ini lukisan boggart kita""
"Wah, aku belum memikirkannya," kata Jared pelan. "Tapi masuk akal."
"Apakah buku itu menjelaskan apa yang harus kita lakukan""
Jared menggeleng. "Buku itu menjelaskan berbagai cara menangkapnya. Bukan benar-benar menangkapnya, tapi melihatnya... atau mendapat bukti."
"Jared." Simon agak ragu. "Mom menyuruhmu menutup pintu dan tinggal di dalam sini. Hal terakhir yang dia butuhkan adalah satu alasan lagi untuk percaya bahwa kau yang menyerang Mallory."
"Tapi dia toh sudah menganggap aku yang melakukannya. Kalau ada sesuatu yang terjadi malam ini, dia juga pasti merasa aku yang melakukannya."
"Tidak akan. Aku akan memberitahunya kau ada di sini sepanjang malam. Lagi pula, dengan begitu kita bisa meyakinkan tidak ada yang terjadi pada salah satu dari kita."
"Bagaimana dengan Mallory"" tanya Jared.
Simon mengangkat bahu. "Aku melihat dia pergi tidur dengan salah satu anggarnya. Aku tidak mau macam-macam dengannya."
"Yeah." Jared naik ke tempat tidur dan membuka buku itu lagi. "Aku hanya akan membaca sedikit lagi."
Simon mengangguk dan berdiri untuk mengembalikan tikus-tikusnya ke kandang mereka. Lalu dia naik ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi kepalanya sambil bergumam, "Selamat malam."
Saat Jared membaca, setiap halaman membawanya semakin dalam ke dunia ajaib hutan dan sungai, hidup karena penuh makhluk yang sepertinya begitu dekat sehingga dia bisa mengelus sisi tubuh putri duyung yang licin dan bersisik. Dia nyaris bisa merasakan kehangatan napas troll dan mendengar gemuruh pekerjaan dwarf si kurcaci pandai besi.
Saat dia membuka halaman terakhir, malam sudah larut. Simon bergelung dalam selimutnya jadi Jared hanya bisa melihat puncak kepalanya. Jared mendengarkan dengan saksama, tapi satu-satunya suara dalam rumah adalah suara angin di atap di atas mereka dan air bergejolak dalam pipa-pipa. Tidak ada suara langkah tergesa-gesa atau teriakan.
Bahkan binatang-binatang Simon pun tertidur.
Jared membaca isi halaman terakhir itu. Boggart senang menyiksa mereka yang dulunya mereka lindungi dan akan membuat susu menjadi asam, pintu terbanting, anjing ketakutan, dan kenakalan jabat ulinnya.
Simon memercayainya-cukup percayalah, paling tidak-tapi Mallory dan ibu mereka tidak percaya. Lagi pula, Jared dan Simon kan saudara kembar. Kepercayaan Simon kepadanya nyaris tidak berarti apa-apa. Jared membaca saran buku itu: Menyebarkan gula atau tepung di lantai adalah salah satu cara memperoleh jejak kaki.
Kalau dia punya jejak kaki yang bisa ditunjukkan, mereka akan memercayainya.
Jared membuka pintu dan menyelinap ke bawah. Dapur gelap dan suasana hening. Dia berjinjit menyeberangi lantai yang dingin ke tempat ibunya menyimpan tepung-dalam stoples kaca
tua di rak atas. Dia mengeluarkan beberapa genggam tepung dan menyebarkannya di lantai. Sepertinya tidak cukup banyak. Dia tidak yakin seberapa jelas jejak itu akan tampak di atasnya.
Mungkin boggart itu bahkan tidak akan berjalan menyeberangi lantai dapur. Sejauh ini makhluk itu sepertinya selalu bergerak di dalam dinding. Jared memikirkan apa yang diketahuinya tentang boggart dari buku itu. Jahat. Penuh kebencian. Sulit dihilangkan.
Dalam bentuk brownie mereka suka menolong dan baik. Mereka mau melakukan berbagai pekerjaan hanya demi semangkuk susu. Mungkin... Jared membuka lemari es dan menuangkan susu ke mangkuk kecil. Mungkin kalau dia meninggalkannya di luar, makhluk itu tergoda untuk keluar dinding dan meninggalkan jejak kaki di tepung.
Tapi saat melihat mangkuk susu di lantai itu, Jared merasa agak jahat dan agak aneh pada saat yang sama. Pertama-tama, aneh sekali dia di situ, memasang perangkap untuk sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu apakah akan dipercayainya dua minggu yang lalu.
Tapi alasan dia merasa jahat adalah... well, dia tahu apa rasanya marah, dan dia tahu bagaimana mudahnya terlibat perkelahian, bahkan kalau kau marah pada orang yang berbeda. Dan dia pikir mungkin itulah yang dirasakan si boggart.
Tapi kemudian dia melihat sesuatu yang lain. Dia meninggalkan jejak kakinya sendiri di tepung mulai dari mangkuk susu sampai ke lorong.
"Sial," gumamnya saat berjalan untuk mengambil sapu. Lampu menyala.
"Jared Grace!" Itu suara ibunya, datang dari puncak tangga.
Jared berbalik dengan cepat, tapi dia tahu tampangnya sangat bersalah.
"Kembali ke kamar," kata ibunya.
"Aku hanya ingin menangkap -" Tapi Mrs. Grace tidak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya.
"Sekarang, Mister. Sekarang."
Setelah berpikir sejenak, Jared gembira ibunya menghentikannya. Ide tentang boggart ini mungkin tidak hebat-hebat amat.
Sambil menoleh ke tepung di lantai, Jared menaiki tangga.
Bab Enam KETIKA Mereka Menemukan Hal-Hal Tak Terduga dalan Kotak Es
JARED menggeliat mendengar suara ibunya. Dia marah. "Jared, bangun." Apa yang terjadi"" tanya Jared mengantuk, mengintip dari balik selimut. Sesaat dia berpikir dia terlambat ke sekolah, sampai dia ingat mereka baru pindah dan bahkan belum mendaftar ke sekolah baru.
"Bangun, Jared!" kata ibunya. "Kau ingin berpura-pura tidak tahu" Baiklah, ayo turun supaya kau bisa melihat apa yang terjadi."
Dapur berantakan. Mallory memegang
sapu dan sedang membersihkan pecahan-pecahan mangkuk porselen. Dinding dilukisi dengan sirup cokelat dan jus jeruk. Cairan telur meleleh pada bingkai-bingkai jendela.
Simon duduk di meja dapur. Tangannya penuh memar seperti yang diderita Mallorv sehari sebelumnya, dan matanya dikelilingi lingkaran merah, sepertinya dia baru menangis.
"Well"" tanya ibunya mengharapkan jawaban.
"Aku - aku tidak melakukan ini," kata Jared, memandang ke sekeliling ruangan. Mereka tidak mungkin percaya dia bisa melakukan ini, kan"
Dan di sana, di lantai dapur, di sebelah ceceran sereal dan potongan-potongan kulit jeruk, Jared melihat jejak kecil di tepung. Jejak-jejak itu seukuran kelingkingnya, dan dengan jelas dia bisa melihat bagian tumit kaki dan titik-titik di bagian depannya mungkin jari-jari kaki.
"Lihat," kata Jared, menunjuk "Lihat. Jejak-jejak kecil."
Mallory menatapnya, matanya menyipit karena marah. "Diamlah, Jared. Mom bilang dia melihatmu di bawah sini kemarin malam. Kau yang membuat jejak-jejak itu!"
"Tidak!" teriak Jared.
"Bagaimana kalau kau melihat ke dalam freezer kalau begitu""
"Apa"" tanya Jared.
Simon terisak keras. Ibu mereka mengambil sapu dari tangan Mallory dan mulai menyapu tepung dan sereal.
"Mom, jangan, jejak-jejak itu," kata Jared, tapi ibunya tidak memperhatikannya. Dua sapuan, dan satu-satunya bukti yang dimiliki Jared tersapu menjadi setumpuk sampah.
Mallory membuka pintu freezer. Masing-masing kecebong Simon telah membeku dalam kotak-kotak pencetak es batu. Di sebelahnya ada catatan tertulis dengan tinta pada sepotong kotak sereal:
Tidak lucu membuat tikus-tikus jadi es
"Dan Jeffrey serta Lemondrop hilang!" kata Simon.
"Sekarang bagai mana kalau kau memberi-tahu kami, apa yang telah kaulakukan pada tikus-tikus saudaramu"" kata ibunya.
"Aloni, aku tidak melakukannya. Sungguh!"
Mallory mencengkeram bahu Jared. "Aku tidak tahu kaupikir kau melakukan apa, tapi kau akan mulai menyesalinya."
"Mallory," kata ibu mereka memperingatkan. Mallory melepaskan Jared, tapi tatapannya menjanjikan pembalasan dendam.
"Kurasa bukan Jared yang melakukannya," kata Simon di antara isakan. "Kurasa itu perbuatan si boggart."
Ibu mereka tidak berkata apa-apa. Ekspresi wajahnya menyatakan bahwa memanipulasi Simon adalah tindakan terburuk yang dilaku-kan Jared. "Jared," katanya, "mulailah mem-bawa sampah ini ke halaman depan. Kalau kaupikir mi lucu, mari kita lihat menurutmu seberapa lucunya ini kalau kau menghabiskan sepanjang hari membersihkannya."
Jared menunduk. Dia tidak punya cara untuk membuat ibunya percaya padanya. De-ngan diam, dia berpakaian, lalu mengambil tiga kantong sampah hitam, dan mulai menye-retnya ke bagian depan rumah.
Di luar, cuaca hangat dan langit biru. Udara beraroma pinus jarum dan rumput yang baru dipotong. Tapi cerahnya hari se-pertinya sama sekali tidak membawa ke-nyamanan.
Salah satu kantong terkait cabang pohon dan saat Jared menariknya, plastiknya robek Sambil menggerutu, dia meletakkan kantong-kantong itu dan memperhatikan kerusakannya. Robekannya besar, dan sebagian besar sampah keluar. Saat mulai mengumpulkan sampah itu, Jared sadar apa yang dipegangnya. Isi rumah makhluk itu!
Dia memandang potongan-potongan kain lusuh, kepala boneka, dan jarum dengan kepala mutiara. Dalam cahaya matahari ada beberapa hal yang tidak diperhatikannya sebelumnya. Ada telur burung robin, tapi sudah pecah. Potongan-potongan kecil kertas koran berserakan, setiap potong berisi satu kata aneh. "Bercahaya," kata salah satunya. "Solilokui," kata potongan yang lain.
Setelah mengumpulkan semua bagian sarang itu, Jared memisahkannya dengan hati-hati dari sampah yang lain. Bisakah dia membuat rumah baru bagi si boggart" Apakah ada hasilnya" Bisakah itu menghentikan tingkah laku si boggart" Jared memikirkan Simon yang sedang menangis dan tentang kecebong-kecebong bodoh yang malang membeku dalam es batu. Dia tidak ingin membantu si boggart. Dia ingin menangkapnya, menghajarnya, dan membuatnya menyesal telah keluar dari dinding.
Sambil menyeret sisa kantong sampah ke halaman depan, Jared memandangi barang-barang si boggart. Masih belum yakin akan membakarnya atau mengembalikannya atau apa, dia membawanya ke dalam.
Ibunya berdiri di ambang pintu menunggunya. "Apa itu"" tanyanya.
"Bukan apa-apa," kata Jared.
Kali itu, ibunya tidak bertanya apa-apa. Paling tidak, tidak tentang tumpukan sampah di tangan Jared.
"Jared, aku tahu kau sedih karena ayahmu pergi. Kita semua sedih."
Jared menunduk menatap sepatunya dengan perasaan tidak enak. Hanya karena dia sedih akibat ayahnya pergi bukan berarti dia merusak rumah baru mereka, atau mencubiti saudaranya sampai memar-memar, atau mengikat rambut kakaknya ke kepala tempat tidur. "Jadi"" tanyanya, merasa keheningan ibunya berarti dia menunggu jawaban.
"Jadi"" ulang ibunya. "Jadi kau harus ber-henti membiarkan kemarahanmu mengontrol dirimu, Jared Grace. Kakakmu mengeluarkan kemarahannya saat bermain anggar, dan saudaramu punya binatang-binatangnya se-bagai teman, tapi kau..."
"Aku tidak melakukannya," kata Jared. "Kenapa kau tidak memercayaiku" Apakah karena aku berkelahi di sekolah""
"Aku harus mengakui," kata ibunya, "aku kaget mendengar kau mematahkan hidung seorang anak. Itulah yang kubicarakan. Simon tidak terlibat perkelahian. Dan kau juga tidak sebelum ayahmu pergi."
Jared semakin menunduk, memperhatikan sepatunya dengan semakin cermat. "Bolehkan aku masuk sekarang""
Ibunya mengangguk, tapi kemudian menghentikan Jared dengan menyentuh pundaknya. "Kalau ada lagi yang terjadi di sini, aku terpaksa mencari pertolongan profesional bagimu. Kau mengerti""
Jared mengangguk, tapi merasa aneh. Dia ingat apa yang dikatakannya tentang Bibi Lucy dan rumah sakit jiwa, dan tiba-tiba merasa amat sangat menyesal.
Bab Tujuh KETIKA Nasib Tikus-Tikus Diketahui AKU benar-benar butuh bantuanmu," kata Jared. Simon dan Mallory sedang berbaring di karpet di depan televisi. Keduanya sama-sama memegang joystick, dan dari tempatnya berdiri, Jared bisa melihat warna-warni berpendar menerangi wajah saudara-saudaranya saat gambar di layar berubah-ubah.
Mallory mendengus, tapi tidak menjawab. Jared menganggapnya jawaban positif. Di saat ini, apa pun yang tidak melibatkan tinju bisa dianggap jawaban positif.
"Aku tahu kalian merasa aku yang melakukannya," kata Jared, membuka bukunya pada halaman tentang boggart. "Tapi sumpah deh, bukan aku. Kalian mendengar sesuatu dalam dinding. Ada tulisan di meja itu, dan jejak kaki di tepung. Dan ingat sarang itu" Ingat bagaimana kalian menarik keluar semua isinya""
Mallory berdiri dan merebut buku itu dari tangan Jared.
"Kembalikan," Jared memohon, berusaha meraihnya.
Mallory memegangnya di atas kepala. "Buku inilah yang memulai semua kesulitan."
"Tidak!" kata Jared. "Tidak benar. Aku mendapat buku itu setelah rambutmu terikat. Kembalikan, Mallory. Please, kembalikan."
Sekarang Mallory memegangnya dengan kedua tangan di dua sisi buku itu, siap merobeknya jadi dua.
"Mallory, jangan! Jangan!" Jared nyaris tak bisa bicara karena panik. Kalau dia tidak cepat memikirkan sesuatu, buku itu akan hancur.
"Tunggu, Mal," kata Simon, bangkit dari lantai.
Mallory menunggu. "Kau ingin bantuan apa, Jared""
Jared menarik napas panjang. "Aku berpikir mungkin karena kita merusak sarangnya, dia marah, kalau begitu mungkin kita bisa membuatkan sarang yang baru baginya. Aku-aku mengambil rumah burung dan memasukkan beberapa benda di dalamnya.
"Kupikir - well-kupikir mungkin boggart itu agak mirip kita, karena dia terjebak di sini juga. Maksudku, mungkin dia tidak ingin berada di sini. Mungkin berada di sini membuatnya marah."
"Oke, sebelum aku bilang aku memercayai-mu," kata Mallory, memegang buku itu dengan cara yang tidak begitu mengancam lagi, "katakan apa tepatnya yang harus kami lakukan."
"Aku ingin minta tolong kalian untuk menjalankan lift makanan," kata Jared, "supaya aku bisa membawa rumah burung itu ke perpustakaan. Kupikir dia akan aman di sana."
"Coba perlihatkan rumah burungnya," kata Mallory. Dia dan Simon mengikuti Jared ke lorong, lalu Jared menunjukkan rumah burung itu kepada keduanya.
Rumah burung itu terbuat dari kayu dan cukup besar untuk tempat bersarang gagak. Jared menemukannya di antara berbagai rumah burung yang tergantung di loteng. Membuka bagian belakangnya, Jared menunjukkan kepada saudara-saudaranya bagaimana dia mengatur segalanya, kecuali kecoak-kecoak, dengan rapi di dalamnya. Di dindingnya, dia menempelkan kata-kata dari potongan koran juga beberapa foto dari majalah.
"Apakah kau memotong majalah Mom untuk membuat itu"" tanya Simon.
"Yeah," kata Jared, dan mengangkat bahu.
"Kau benar-benar bekerja keras," kata Mallory.
"Jadi kalian mau membantuku"" Jared sebenarnya ingin meminta bukunya dikembalikan tapi takut kakaknya marah lagi.
Mallory menatap Simon lalu mengangguk.
"Tapi aku ingin naik duluan," kata Simon.
Jared ragu-ragu. "Tentu saja," katanya.
Berjalan pelan-pelan melalui ruang kerja tempat ibu mereka sedang menelepon pekerja konstruksi bangunan, mereka masuk dapur.
Simon ragu-ragu di hadapan lift makanan. "Apakah kaupikir tikus-tikusku masih hidup""
Jared tidak tahu harus mengatakan apa. Dia teringat kecebong-kecebong itu membeku dalam es. Dia ingin Simon membantunya, tapi tidak ingin berbohong.
Simon berlutut dan masuk ke dalam lift makanan. Dalam beberapa saat, Mallory telah mengereknya di lorong dalam dinding. Napas Simon tersentak saat dia mulai bergerak, tapi kemudian mereka tidak mendengar apa-apa lagi, bahkan setelah lift makanannya berhenti.
"Kaubilang di sana ada meja dan kertas-kertas," kata Mallory.
"Yeah." Jared tidak yakin apa yang diinginkan kakaknya. Kalau tidak memercayainya, Mallory bisa bertanya pada Simon saat saudaranya itu turun.
"Well, meja itu kan harus dibawa masuk entah bagaimana. Dan ukurannya tidak kecil, kan" Jadi ada orang dewasa yang bekerja di sana-tapi bagaimana orang dewasa masuk ke san
a"" Jared bingung sejenak, lalu dia mengerti. "Pintu rahasia""
Mallory mengangguk. "Mungkin."
Lift makanan itu turun kembali dan Jared masuk, rumah burung kecil itu dia pangku. Mallory mengereknya naik dalam lorong yang gelap. Perjalanan itu cepat, tapi Jared tetap saja sangat gembira melihat perpustakaan itu.
Simon berdiri di tengah ruangan, melihat-lihat dengan terpesona.
Jared menyeringai. "Percaya sekarang""
"Asyik sekali di sini," kata Simon. "Lihat semua buku tentang binatang ini."
Saat berpikir tentang pintu rahasia, Jared berusaha membayangkan di mana tempat ruangan ini bila dih ubungkan dengan semua ruangan di lantai atas. Dia membayangkan arah mana yang menuju lorong.
"Mallory berpikir ada pintu rahasia," kata Jared.
Simon mendekat. Ada lemari buku, lukisan besar, dan lemari di depan dinding yang sedang dipandangi Jared.
"Lukisan," kata Simon, dan mereka berdua menurunkan lukisan cat minyak besar itu. Lukisan itu menggambarkan pria kurus berkacamata yang duduk tegak di kursi hijau. Jared bertanya-tanya apakah itu Arthur Spiderwick.
Di belakang lukisan itu tidak ada apa-apa kecuali dinding rata.
"Mungkin kita bisa mengeluarkan beberapa buku"" kata Jared, mengeluarkan buku berjudul Jamur-Jamur Misterius, Fungi yang Menakjubkan.
Simon membuka pintu-pintu lemari. "Hei, lihat ini." Mereka membuka lemari baju di lantai atas.
Beberapa menit kemudian, Mallory ikut melihat-lihat ruangan itu.
"Tempat ini menakutkan," kata Mallory.
Simon menyeringai. "Yeah, dan tidak ada yang tahu kecuali kita."
"Dan si boggart," kata Jared.
Dia menggantung rumah burungnya pada kaitan di dinding. Mallory dan Simon membantunya meyakinkan bahwa bagian dalamnya sudah tertata, kemudian masing-masing menambahkan sesuatu ke dalam rumah itu. Jared memasukkan salah satu sarung tangan musim dinginnya, merasa si boggart bisa menggunakannya sebagai kantong tidur. Simon menambahkan mangkuk kecil yang dulu digunakannya untuk tempat minum kadalnya. Dan Mallory pasti lumayan memercayai Jared, karena dia memasukkan medali anggarnya yang terbuat dari perak dengan pita biru.
Saat selesai, mereka memperhatikan-nya sekali lagi. Mereka merasa rumah itu bagus.
"Mari tinggalkan pesan," usul Simon.
"Pesan"" tanya Jared.
"Yeah." Simon membuka-buka laci meja dan menemukan kertas, pena, dan tinta.
"Hei, aku tidak memperhatikan ini sebelumnya," kata Jared. Dia menunjuk lukisan cat air seorang pria dan gadis kecil di meja. Di bawahnya ada tulisan dengan pensil yang mengabur "putriku tersayang Lucinda, usia empat tahun."


The Spiderwick Chronicles 1 Panduan Lapangan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jadi Arthur ayahnya"" tanya Mallory.
"Kurasa begitu," kata Simon, menyingkirkan beberapa benda di meja supaya ada tempat untuk menulis.
"Biar aku saja," kata Mallory. "Kalian terlalu lama. Bilang saja apa yang harus kutulis." Dia mengocok botol tinta dan mencelupkan pena. Garis yang dibuatnya tidak rapi tapi dapat dibaca.
"Dear Boggart," Simon memulai.
"Apakah itu cukup sopan"" tanya Jared.
"Aku sudah menulisnya," kata Mallory.
"Dear Boggart," kata Simon lagi. "Kami menulis pesan ini untuk menyatakan kami menyesal sudah merusak rumahmu. Kami berharap kau menyukai apa yang kami buat dan kalaupun tidak, kau berhenti meng-
ganggu kami-dan benda-benda lain-juga kalau kau menawan Jeffrey serta Lemondrop, tolong rawat mereka karena mereka tikus-tikus yang baik."
"Selesai," kata Mallory.
"Oke deh," kata Jared.
Mereka meletakkan pesan itu di lantai dekat rumah kecil tersebut, kemudian meninggalkan perpustakaan.
Sepanjang minggu berikutnya, mereka tidak punya waktu mengunjungi perpustakaan, meskipun melalui lemari pakaian. Pekerja konstruksi bangunan dan petugas pindahan sibuk mondar-mandir dalam rumah sepanjang hari, dan ibu mereka mengawasi ketiga anak itu dengan ketat di malam hari, meskipun mereka hanya keluar ke lorong.
Sekolah akhirnya mulai, dan tidak seburuk bayangan Jared. Sekolah baru itu kecil, tapi punya tim anggar untuk Mallory, dan tidak ada yang bertindak jahat di beberapa hari pertama mereka. Sejauh ini, Jared berhasil bersikap baik.
Yang terbaik, tidak ada serangan malam hari lagi, tidak ada gemeresik dalam dinding lagi-kecuali rambut Mallory
yang lebih pendek, tidak ada tanda pengingat yang membuat semua itu sepertinya tidak terjadi.
Tapi Simon dan Mallory sama inginnya dengan Jared untuk mengunjungi perpustakaan itu lagi.
Mereka mendapat kesempatan suatu hari Minggu, saat ibu mereka pergi berbelanja dan meninggalkan Mallory untuk mengawasi kedua adiknya. Begitu mobil ibu mereka keluar dari halaman, mereka lari ke lemari.
Di dalam perpustakaan, sedikit sekali yang berubah. Lukisan tersandar di dinding, rumah burung tergantung di kaitan, sepertinya semua tepat sama dengan ketika mereka meninggalkannya.
"Pesannya hilang!" kata Simon.
"Apakah kau mengambilnya"" tanya Mallory kepada Jared.
"Tidak!" kata Jared berkeras.
Ada suara berdeham keras, dan mereka bertiga berpaling ke meja. Berdiri di atasnya, mengenakan celana terusan lusuh dan topi berpinggiran lebar, seorang pria kecil kira-kira seukuran pensil. Matanya sehitam kumbang, hidungnya besar dan merah, dan dia tampak sangat mirip dengan ilustrasi dalam buku Panduan Lapangan. Dia memegang sepasang tali yang tersambung pada dua ekor tikus yang sedang mengendus-ngendus pinggiran meja.
"Jeffrey! Lemondrop!" jerit Simon.
"Thimbletack sangat menyukai rumah barunya," kata pria kecil itu, "tapi bukan itu yang akan dikatakannya."
Jared mengangguk, tidak yakin harus mengatakan apa. Mallory tampak seperti ada yang baru menonjok wajahnya tapi dia belum sadar.
Pria kecil itu melanjutkan. "Buku Arthur Spiderwick bukan untukmu. Terlalu banyak tentang peri untuk kaumengerti. Semua yang menyimpan buku itu akan tertimpa kesialan sewaktu-waktu. Kepadanya bisa ada yang berbuat kejam atau memberi guna-guna seram. Buanglah buku itu, bakarlah buku itu. Kalau kau tidak patuh, kemarahan mereka akan tersentuh."
"Mereka" Siapa mereka"" tanya Jared, tapi pria kecil itu hanya menyentuh topinya dan melompat dari pinggiran meja. Dia mendarat di bawah siraman cahaya matahari di jendela dan menghilang.
Mallory sepertinya baru tersadar. "Bolehkah aku melihat bukunya"" tanyanya.
Jared mengangguk. Dia membawanya ke mana-mana.
Mallory berlutut dan membuka-buka halamannya, lebih cepat daripada kecepatan membaca Jared.
"Hei," kata Jared. "Apa yang kaulakukan""
Suara Mallory terdengar aneh. "Aku hanya melihat-lihat. Maksudku-Ini buku yang besar."
Memang bukan buku yang kecil. "Yeah, kurasa begitu."
"Dan semua data ini... semua hal ini benar" Jared, banyak sekali."
Kemudian, tiba-tiba Jared mengerti apa yang dikatakan Mallory. Kalau kau melihatnya dari sudut pandang itu, ini buku yang besar, benar-benar besar, terlalu besar untuk dimengerti. Dan yang terburuk, mereka baru saja mulai.
Tentang TONY DiTERLIZZI...
Sebagai pengarang best-seller New York Times, Tony DiTerlizzi menciptakan Ted, Jimmy Zangwow's Out-of-This World Moon Pie Adventure yang memenangkan Zena Sutherland Award, juga ilustrasi dalam seri Alien and Possum untuk pembaca awal karangan Tony Johnson. Akhir-akhir ini versi sinematik brilian The Spider and the Fly karya klasik Mary Howitt diberi penghargaan Caldecott Honor. Sebagai tambahan, lukisan Tony telah menghiasi karya-karya fantasi yang sangat terkenal seperti karya-karya J.R.R. Tolkien, Anne McCaffrey, Peter S. Beagle, dan Greg Bear juga Magic The Gathering karya Wizards of the Coast. Dia dan istrinya, Angela, tinggal bersama anjing pug mereka, Goblin, di Amherst, Massachusetts. Kunjungi Tony di World Wide Web di www.diterlizzi.com.
Tentang HOLLY BLACK Kolektor cerita-cerita rakyat, Holly Black menghabiskan masa kecilnya dalam rumah besar gaya Victoria tempat ibunya menceritakan berbagai kisah hantu dan memberinya berbagai buku tentang peri. Tidak heran, novel pertamanya, Tithe: A Modern Faerie Tale, merupakan kisah tentang dunia peri. Diterbitkan musim gugur 2002, buku itu menerima ulasan yang baik dan penghargaan Best Book for Young Adults dari American Library Association. Dia tinggal di West Long Branch, New Jersey, bersama suaminya, Theo, dan sekumpulan binatang liar. Kunjungi Holly di World Wide Web di www.blackholly.com.
Tony dan Holly terus bekerja siang dan malam melawan peri dan goblin yang marah supaya bisa men
ceritakan kisah-kisah anak-anak keluarga Grace kepadamu.
Kau mungkin sudah mengenal anak-anak keluarga Grace dengan baik tapi masih banyak yang bakal bisa dikisahkan dan membuatmu menjerit...
Misalnya, siapa yang berani tinggal dalam sungai di bawah jembatan tunggal tempat pikiran-pikiran jahat terurai"
Dan di mana gigimu yang lepas pergi" Diambil temanmu" Atau musuhmu yang mencuri"
Teruslah membaca dan kau pasti tahu.
BATU PENGLIHATAN Buku Kedua Ucapan Terima Kasih Tony dan Holly ingin berterima kasih kepada Steve dan Dianna untuk ide-ide mereka, Starr untuk kejujurannya, Myles dan Liza untuk berbagi pengalaman, Ellen dan Julie untuk membantu menjadikan ini nyata,
Kevin untuk antusiasmenya yang tak kenal lelah dan kepercayaannya kepada kami, dan terutama kepada Angela dan Theo - tidak ada cukup banyak pujian yang bisa mendeskripsikan kesabaran kalian dalam menjalani malam-malam panjang diskusi tentang Spiderwick.
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
tamat Pergolakan Di Istana Langkat 1 Pasangan Naga Dan Burung Hong Karya S D Liong Darah Dan Cinta Di Kota Medang 14
^